Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

Saksi Yehovah tidak percaya pada Allah Tritunggal, tidak dapat

disangkal bahwa Doktrin Kekristenan yang sulit dijelaskan adalah tentang Tritunggal. Pribadi

Sang Pencipta yang maha besar, maha kuasa yang telah menciptakan bumi dengan semua

planet dan bintang, disimpulkan dengan kata-kata manusia.

Pribadi yang sedemikian besar dan agung, Pencipta yang dalam

segala-galanya adalah maha, maka dengan otak sederhana yang diberikan-Nya kepada kita,

seharusnya kita dapat sebuah kebenaran bahwa Sang Pencipta itu pasti pribadi yang sangat

luar biasa. Dengan ciptaan-Nya yang penuh keajaiban, sama sekali tidak heran jika kita

katakan bahwa Sang Pencipta itu sendiri pasti adalah yang paling ajaib.
BAB II

PEMBAHASAN

Keberatan-keberatan Saksi Yehovah

Saksi Yehovah, karena tidak percaya pada konsep Tritunggal,

mengatakan bahwa konsep Tritunggal Kekristenan berasal dari penyembahan berhala atau

panagisme. Mereka menuduh Gereja Roma Katolik telah memasukan konsep Tritunggal ke

dalam Kekristenan.

Pada sistem penyembahan Babilon kuno memang ada semacam

rangkaian tritunggal : Nimrod, Tammuz, Semiramis (ibu). Selain di Babilon di wilayah lain

juga dikenal tritunggal yaitu: Shamasah, Sin dan Ishtar. Di dalam sistem penyembahan Mesir

kuno juga dikenal oknum tritunggal yaitu: Osiris, Horus, dan Isis. Demikian juga didalam

susunan dewaYunani, terdapat semacam tritunggal yaitu: Zeus, Apollo, dan Athena.

Agama Hindu juga memiliki komposisi tritunggal yaitu: Brahma,

Wishnu, dan Shiva. Sedangkan dalam penyembahan horoskop orang Roma, mereka memiliki

semacam tritunggal antara lain: Jupiter, Mars, dan Venus.

Saksi Yehovah menuduh Kekristenan di bawah Gereja Roma Katolik

telah menjiplak konsep tritunggal dari berbagai kepercayaan kuno. Apakah itu benar?

Tuduhan ini serius karena kalau tritunggal itu bukan original dari Alkitab maka orang Kristen

telah menyembah Allah yang salah. Sebaliknya kalau Tritunggal itu benar Alkitabiah maka

saksi Yehovah telah melakukan kesalahan fatal.


Argumentasi

Sejumlah gagasan penting mengenai doktrin tersebar telah tersebar

secara jelas dan luas, baik didalam Perjanjian Lama (Kej. 1:26; 3:22; 11:7; Yes.6:8) maupun

dalam Perjanjian Baru (Yoh. 14:23; 17:21-22). Dengan demikian istilah Tritunggal sangat

didukung oleh data dan fakta Alkitab, meskipun terminologi itu tidak ditemukan itu tidak

ditemukan dalam kitab Suci. Sebab itu pemakaian kata Tritunggal secara teologis dianggap

bermanfaat dan sangat menolong untuk menjelaskan dan menguraikan kebenaran ajaran

Allah Tritunggal di dalam Alkitab.

Norman L. Geisler juga menyatakan bahwa, meskipun kata Trinitas

atau Tritunggal tidak ditemukan dalam Alkitab, tetapi konsep ajaran tersebut secara jelas dan

logis yang diajarkan di dalam kitab Suci. Dua aspek kebenaran yang diajarkan Teologi yang

diajarkan Alkitab tentang Trinitas, antara lain : Allah adalah Esa dan Allah itu memiliki tiga

Pribadi yang berbeda, yaitu: Bapa, Anak dan Roh Kudus. Ketiga Pribadi tersebut adalah

Allah yang Esa, sebagaimana konsep tentang Allah yang Esa menurut pandangan yang

dikenal oleh kaum Yahudi (Ul.6:4).

Berdasarkan Ulangan 6:4, maka orang Yahudi percaya bahwa Allah itu

Esa atau Tuhan Allah itu adalah satu. Di sisi lain Alkitab menjelaskan nama Allah atau kata

ganti untuk Allah dalam bentuk jamak, misalnya Elohim (Kej. 1:1) dengan sunfiks, yaitu

menunjuk pada gagasan jamak. Demikian juga kata ganti berbentuk jamak, yakni Kita atau

Kami yang digunakan di dalam Alkitab (Kej. 1:26; 3:22; 11:7; Yoh.14: 23; 17:21-22)

bertujuan untuk mengungkapkan konsep kejamakan pribadi Allah Tritunggal. Yesus sendiri

juga telah mengajarkan bahwa Dia dan Bapa adalah Pribadi yang berbeda, maksudnya Yesus

bukan Bapa, dan sebaliknya Bapa bukan Yesus, namun Bapa dan Anak adalah satu dalam

hakekat, tujuan dan keilahian atau ke-Allahan (Yoh. 10:30). Secara teologis, semua gagasan
kata ganti jamak tersebut hanya menyatakan tentang kebenaran Allah Tritunggal, secara

khusus menekankan pada tiga Pribadi Allah yang berbeda antara satu dengan yang lain,

namun ketiganya adalah Allah yang satu.

Teologi Kristen menggunakan istilah Tritunggal untuk menjelaskan

konsep tiga Pribadi yang berbeda, yaitu: Bapa, Anak dan Roh Kudus sebagai Allah yang Esa.

Istilah Pribadi digunakan untuk Allah Tritunggal bukan menjelaskan tentang keterbatasan dari

masing-masing Pesona, melainkan mengungkapkan hubungan antar Pribadi Ilahi tersebut di

dalam kasih, keilahian dan kekekalan. Karena itu doktrin Tritunggal secara jelas berasal dari

wahyu Allah di dalam sejarah penyelamatan manusia berdasarkan kebenaran Alkitab.

Ajaran Trinitas atau ke Tritunggalan Allah bukanlah suatu kebenaran

yang diperoleh melalui akal budi atau yang dikenal dengan istilah teologi natural, tetapi suatu

kebenaran yang dapat diketahui melalui penyataan atau wahyu. Akal manusia mungkin dapat

menunjukkan kepada kita keesaan Allah, tetapi tentang ajaran Trinitas langsung berasal dari

penyataan khusus. Sekalipun istilah Trinitas tidak ada dalam Alkitab, tetapi istilah ini dipakai

sejak awal di dalam Gereja. Bentuk Yunaninya, trias, nampaknya pertama kali dipakai oleh

Teofilus dari Antiokhia (wafat tahun 181 M), sedangkan bentuk Latinnya, Trinitas, pertama

kali dipakai oleh Tertualianus ( wafat tahun 220 M). Dalam Teologi Kristen, istilah Trinitas

atau Tritunggal berarti bahwa ada tiga oknum kekal dalam hakikat ilahi yang satu itu, yang

masing-masing dikenal sebagai Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus.
BAB III

KESIMPULAN

Doktrin Allah Tritunggal sesungguhnya merupakan fakta Alkitabiah

yang mengajarkan bahwa Allah yang Esa adalah tiga Pribadi Ilahi yang berbeda, yaitu Bapa,

Anak dan Roh Kudus. Masing-masing Pribadi tidak sama antara satu dengan yang lainnya,

namun ketiga-tiganya adalah satu dan setara sebagai Allah yang maha kuasa (Flp. 2:6). Bapa

bukan Yesus dan Yesus bukan Bapa. Demikian juga Bapa bukan Roh Kudus, sebaliknya Roh

Kudus bukan Yesus atau Bapa, tetapi ketiga-tiganya adalah Allah yang Esa. Demikianlah

fakta dan kebenaran tentang ajaran Allah Tritunggal yang diungkapkan dan disaksikan oleh

Alkitab sebagai Firman Allah yang tanpa salah. Kebenaran tersebut bersifat sempurna dan

absolut serta tidak dapat didugat, karena Alkitab yang menyaksikannya adalah sempurna,

berasal dari Allah yang maha tahu dan benar (2Tim. 3:16).