Anda di halaman 1dari 14

Apologetika Kristen berusaha melayani Allah dan Gereja melalui

membantu orang-orang percaya untuk melaksanakan mandate dari I Petrus 3:1516. Kita dapat mendefinisakannya sebagai ilmu yang mengajar orang Kristen
untuk memberi pertanggungan jawab tentang pengharapannya.
Ada tiga aspek dari apologetika yaitu: apologetika sebagai pembuktian;
apologetika sebagai pembelaan; dan apologetika sebagai penyerangan. Ketiga
jenis apologetika ini berhubungan. Dapat dikatakan jika salah satu dikerjakan
secara benar dan lengkap, akan mencakup dua aspek lainnya.
Seorang apologis haruslah orang yang percaya di dalam Kristus, dan
berkomitmen kepada Ketuhanan Kristus. Beberap ateolohg yang menyampaikan
apologetika hamper seolah-olah keberatan pada komitmen ini. Mereka
mengatakan bahwa waktu kita berargumentasi dengan orang yang tidak percaya,
kita harus berargumentasi berdasarkan kepada kriteria atau standar yang
ditentukan dalam Alkitab. Untuk menentang keharusan tersebut, mereka
mengatakan, hal itu akan menjadi berat sebelah. Kita seharusnya menyampaikan
kepada orang yang tidak percaya sebuah argumentasi yang tidak berat sebelah.
Kita seharusnya menyampaikan kepada orang yang tidak percaya sebuah
argumentasi yang tidak berat sebelah. Argumentasi yang tidak menghasilkan
asumsi religius yang pro atau kontra, melainkan argumentasi yang netral. Dalam
pandangan ini, kita harus menggunakan kriteria atau standar yang dapat diterima
oleh orang yang tidak percaya. Sehingga logika, fakta, pengalaman, alas an, dan
lain-lain menjadi sumber kebenaran. Wahyu Ilahi, terutama Alkitab, secara
sistematis dikesampingkan. Jhon M. Frame mengatakan bahwa pada poin yang
tepat mengenai pokok persoalan, pertanyaan tentang kenetralan, ia percaya bahwa
posisi tersebut tidak alkitabiah. Pemikiran Petrus dalam ayat Alkitab sangat
berbeda. Bagi Petrus, apologetika secara pasti bukan keberatan terhadap seluruh
komitmen kita kepada Ketuhanan Yesus; sebaliknya, situasi apologetika adalah
situasi dimana kita terutama harus menguduskan Kristus sebagai Tuhan, untuk
berbicara dan mendorong yang lain untuk berbicara dan bertindak serupa.
Untuk menyampaikan pada orang yang tidak percaya bahwa kita dapat
meyakinkan dia dengan basis yang netral adalah kebohongan, tetapi klaim

mungkin

dapat

membantu

untuk

menarik

perhatiannya.

Sesungguhnya,

kebohongan ini merupakan kebohongan paling serius, karena memalsukan


jantung dari Injil bahwa Yesus adalah Tuhan.
Orang Kristen berargumentasi dengan kriteria yang Alkitabiah bahwa
kebangkitan itu adalah fakta. Orang non-Kristen menjawab bahwa ia ia tidak
dapat menerima kriteria tersebut dan ia tidak akan menerima Kebangkitan kecuali
kita membuktikannya. Orang yang tidak percaya mengatakan bahwa ia tidak dapat
menerima presuposisi kita. Apakah itu menjadi akhir dari percakapan? Tidak,
karena ada beberapa alasan.
Pertama, Alkitab mengatakan kepada kita bahwa Allah telah mewahyukan
diriNya secara jelas kepada orang yang tidak percaya, sampai sedemikian luas
bahwa orang yang tidak percaya mengenal Allah (Roma 1:21). Walaupun ia
menekan pengetahuan tersebut (ayat 21, dst). Pada satu level dari kesadarannya
terdapat ingatan tentang wahyu tersebut. Ia melawan ingatan ini bahwa ia berdosa,
dan ini karena ingatan bahwa ia bertanggung jawab atas dosa-dosa tersebut. Pada
level tersebut, ia tahu bahwa empirisme adalah salah dan bahwa standar Alkitab
adalah benar.
Kedua, kesaksian kita kepada orang lain tidak pernah datang sendiri. Jika Allah
memilih menggunakan bukti untuk tujuanNya, maka Ia selalu menambahkan
elemen supranatural pada kesaksian tersebut yakni Roh Kudus, bekerja melalui
dan memakai perkataan. Jika kita mempunyai keraguan dengan kemampuan kita
berkomunikasi, karena berbagai alas an, kita tidak perlu ragu dengan kemampuan
Roh Kudus. Dan jika kesakssian kita pada dasarnya adalah alatNya, maka strategi
ditentukan oleh FirmanNya, bukan oleh dugaan umum kita.
Ketiga, pada kenyataannya ini adalah apa yang kita lakukan pada kasuskasus yang mirip yang tidak biasanya berkaitan dengan agama. Ketika
menghadapi seorang yang paranoid, kita berargumentasi dengan dia sesuai dengan
kebenaran seperti yang kita ketahui, walaupun kebenaran itu konflik dengan
presuposisinya yang terdalam. Pendekatan presupisisonal pada apologetika
dibenarkan, tidak hanya oleh Alkitab, tetapi juga oleh akal sehat.

Keempat, apologetika dapat mengambil bentuk bermacam-macam. Jika


obyek yang tidak percaya pada kesirkularan argumentasi pembuktian dari
Kekristenan, orang Kristen dapat dengan mudah berganti pada jenis argumentasi
yang lain, seperti apologetika ofensif melawan pandang semesta atau
epistomologi yang dimiliki oleh orang yang tidak percaya. Seperti yang nabi
Natan lakukan terhadap Raja Daud, waktu Daud tidak bertobat dengan cara lain
atas dosanya, kita dapat menceritakan sebuah perumpamaan kepada orang yang
tidak percaya. Mungkin kita dapat menceritakan tentang orang kaya yang bodoh.
Mereka yang percaya bahwa presupisisionalisme menghilangkan komunikasi
antara orang percaya dengan orang yang tidak percaya meremehkan kuasa Allah
untuk menjamah hati yang tidak percaya. Mereka juga meremehkan variasi dan
kekayaan dari apologetika yang Alkitabiah, kreatifitas yang telah Allah berikan
kepada kita sebagai juru bicaraNya, dan banyak bentuk yang dapat diambil oleh
apologetika yang Alkitabiah.
Kelima, Jhon M. Frame membedakan antara argumentasi sirkular yang
sempit dengan argumentasi sirkular yang luas.sebagai contoh ialah, Alkitab
adalah Firman Allah karena Alkitab mengatakan demikian. Terdapat kebenaran
mendasar yang dinyatakan secara jelas dalam argumentasi sempit ini, yaitu bahwa
tidak ada otoritas yang lebih tinggi daripada Alkitab, sehingga kita dapat
menghakimi Alkitab. Dan bahwa pada analisa terakhir kita harus percaya Alkitab
sesuai dengan pernyataannya itu. Walaupun argumentasi sempit mempunyai
beberapa kelemahan yang kelihatan jelas. Khususnya, orang tidak percaya
mungkin meolaknya begitu saja, kecuali diberi penjelasan yang tersusun dengan
sangat baik. Kita dapat menutup kelemahan-kelemahan itu pada beberapa tingkat
melalui beralih kepada argumentasi sirkular yang lebih luas. Argumentasi yang
lebih luas itu mengatakan, Alkitab adalah Firman Allah karena berbagai bukti
dan lalu Alkitab memperincikan bukti-bukti tersebut.
Adalah penting bagi kita untuk memelihara keseimbangan antara
kedaulatan Allah dan ketaatan manusia dalam apologetika. Kita sudah melihat
bahwa apologetika tidak mungkin sukses tanpa elemen supranatural, yaotu
kesaksian Roh Kudus. Dalam pengertian ini, apologetika adalah karya Allah yang

berdaulat. Allah yang meyakinkan rasio dan hati yang tidak percaya. Tetapi ada
tempat bagi apologis. Ia membpunyai tempat sebagai pemberita Injil seperti yang
dinyatakan dalam Roma 10:14.
Apologetika dan pemberitaan Injil bukan merupakan dua hal yang
berbeda. Keduannya bertujuan untuk menarik orang yang tidak percaya kepada
Kristus. Pemeberitaan Injil adalah apologetika karena ia mengarahkan keyakinan.
Apologetika adalah pemberitaan Injil karena ia mengabarkan injil yang mengarah
pada perubahan dan pengudusan. Tetapi kedua aktifitas tersebut mempunyai
persuasif dan penekanan yang berbeda. Apologetika menekankan aspek rasional
dari keyakinan, sedangkan pemberitaan Injil menekankan usaha dari perubahan
ilahi dalam kehidupan manusia. Tetapi jika persuasi rasional adalah dari hati,
maka sama dengan perubahan yang bersifat Ilahi. Allah adalah sang pembuat
keyakinan pengubah tetapu Ia bekerja melalui kesaksian kita.
Roh Kudus adalah Oknum yang mengubah, tetapi secara normal Ia bekerja
melalui Firman. Iman yang dikerjakan oleh Roh Kudus adalah percaya pada berita
dan janji Allah. Roh Kudus adalah penting dan Ia bekerja melalui iluminasi dan
emyakinkan kita untuk mempercayai Firman Tuhan. Selain Roh Kudus,
pemeberita Injil-apologis juga penting. Pekerjaan pemberita Injil-apologis adalah
mengabarkan

Firman,

tidak

hanya

membacanya

saja,

tetapi

memberitakannyamenjelaskannya, menerapkannya kepada para pendengarnya,


menyatakan keindahannya, kebenarannya, dan kerasionalannya. Untuk membela
Alkitab terutama dan secara sederhana adalaah menyatakannya sebagaimana
adanya menyatakan kebenaran, keindahan, dan kebaikannya, aplikasinya bagi
pendengar jaman sekarang, dan tentu saja dasar pemikirannya.
Bagi orang percaya, apologetika memberi pemulihan keyakinan pada iman
seperti apologetika menunjukan dasar pemikiran dari Alkitab sendiri. Dari
pemikiran itu juga memberi orang percaya sebuah pondasi intelektual, sebuah
dasar bagi iman dan bagi pengambilan keputusan yang bijaksana dalam
kehidupan. Apologetika sendiri bukanlah pondasi tersebut, tetapi ia menjelaskan
pondasi yang disampaikan Alkitab, sama seperti kita harus kita bangun di atas
pondasi tersebut sesuai dengan Alkitab.

Bagi orang tidak percaya, Allah memakai pemikiran apologetika untuk


menyingkirkan rasionalisasi, argumntasi-argumrntasi yang melaluinya permasalah
menghalangi perubahan. Apologetika juga memberikan bukti yang kondusif bagi
perubahan dalam pendirian. Kita tidak mengatakan bahwa orang tidak percaya
tidak memiliki bukti. Ia dikelilingi bukti dalam penciptaan dan di dalam dirinya
sendiri untuk eksistensi Allah.
Bagi mereka yang belum percaya, apologetika dapat menjadi pelaksanaan
karya Allah, seperti pemberitaan Injil, juga apologetika menambahkan kutukan
pada mereka. Ketidakmampuan untuk bertobat dan percaya, walaupun dengan
penyajian yang penuh iman tentang kebenaran, mengarahkan pada kutukan yang
lebih hebat.
Petrus mengharuskan para apologis untuk berhati nurani yang murni,
sehingga mereka yang menfitnahnya menjadi malu. Ini menarik karena Petrus
tidak menuntut apologis untuk cerdas dan berpengetahuan luas (walaupun kualitas
seperti itu tentu berguna), tetapi mengarahkan secara konsisten pada kehidupan
yang saleh. Ia memberikan kita standar praktis untuk suatu disiplin yang bagi kita
cenderung dianggap bersifat teoritis.
Faktanya adalah bahwa semua penyajian apologetika memiliki konteks
praktis yang penting. Komunikasi kita dengan orang tidak percaya berisi tidak
hanya apa yang kita katakan, tetapi bagaimana kita hidup di hadapan mereka. Jika
hidup kita dan ajaran kita konsisten dan mereka mencoba untuk menjadikan kita
Nampak buruk akan kehilangan kredibilitasnnya sendiri. Mereka akan, paling
tidak pada akhirnya, menjadi malu.
Berita yang dibawa oleh apologis, bagaimanapun harus benar-benar sama
dengan keseluruhan Alkitab, yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan para
pendengarnya. Tetapi dalam naskah apologetika seperti ini, perlu diberikan
rumusan singkat dari isi Alkitab untuk memberi arah pada kesaksian apologetika.
Hal itu tidaklah sulit karna ajaran Alkitab dapat diringkas, yakni Yoh 3:16; Rm
6:23; I Kor 15:1-11; II Kor 5:17-6:2; Ef 2:8-10; Flp 2:5-11; I Tim 2:5-6; Tit 3:3-8;
I Ptr 3:18.

Naskah ini menunjukan kepada kita bahwa ada beberapa cara yang
berbeda untuk meringkas Alkitab, yang setidaknya masing-masing memiliki
penekanan-penekanan ini sebagai perspektif-perspektif. Perspektif pertama,
Kekristenan sebagai suatu filsafat; dan kedua, sebagai kabar baik.
Sebagai filsafat, kekristenan membicarakan metafisika (teori tentang sifat
dasar dari kenyataan), epistemology (teori tentang pengetahuan), dan nilai (etika,
estetika, ekonomi, dll).
Empat hal yang paling penting untuk diingat tentang pandang semesta
Kristen adalah: pertama, keabsolutan Pribadi Allah; kedua, perbedaan antara
Pencipta dan ciptaan; ketiga, kedaulatan Allah; dan yang keempat, Tritunggal.
allah adalah baik dan adil secara sempurna. Dia merupakan otoritas utama
diatas makhluk-makhluk ciptaanNya. Kita melihat bahwa Allah juga merupakan
standar utama dari kebenaran dan kebohongan. Melalui etika kita harus melihat
bahwa Allah juga merupakan standar utama dai baik dan jahat, benar dan salah.
Dan Ia telah menyatakan standarNya dalam FirmanNya kepada kita.
Kekristenan adanlah Injil, kabar baik. Penginjilan adalah bagian dari
apologetika. Apologis harus siap untuk menyampaikan Injil. Ia tidak boleh
terlalau terlibat dengan argumentasi, pembuktian, pembelaan dan kritik sehingga
ia lalai untuk memberi orang yang tidak percaya apa yang dibutuhkannya.
Kekristenan baik sebagai filsafat dan sebagai kabar baik, adalah alternative
bagi bijaksana konvensional. Keunikan kekristenan ini adalah keunikan dari
kepentingan apologetika itu sendiri. Keunikan itu sendirinya tidak membawa
kebenaran, tetapi ketika semua alternative lain dibandingkan, semua mengklaim
otonomi (maka menolak kedaulatan Allah), semua mengklaim menemukan yang
ultima bukan di dalam Tuhan tetapi di dalam ciptaan, semua menawarkan solusi
bagi kesulitan kita, tetapi tidak ada yang lebih berarti selain berbuat baik
sesungguhnya, tidak ada perbedaan yang berarti di antara ideology-ideologi
konvensional ini hal ini tentunya masuk akal untuk memberikan prioritas yang
tinggi untuk menyelidiki Kekristenan dan klaimnya. Sikap acuh tak acuh terhadap
keunikan demikian bukanlah sikap yang bijaksana.

Cornelius Van Til mengatakan bahwa ada bukti yang benar-benar pasti
bagi eksistensi Allah dan kebenaran Teisme Kristen. Apa yang dimaksud melalui
pembuktian dalam diskusi semacam ini? Contoh-contoh yang paling
kontroversi dari pembuktian adalah di dalam matematika, dimana proposisiproposisi diperoleh dari kesimpulan-kesimpulan yang logis secara ketat

dari

aksioma-aksioma. Aksioma-aksioma adalah proposisi-proposisi yang dianggap


jelas dengan sendirinya atau paling tidak, diasumsikan untuk tujuan diskusi.
Disini, kejujuran Alkitab menjadi satu aksioma, dan ajaran Alkitab bahwa Allah
ada dan menjadi aksioma yang lain. Lalu kesimpulan mengikuti logika yang ketat.
Satu-satunya batasan pada argumentasi apologetika yang timbul adalah (1)
Premis-premis dan logika dari argumentasi harus konsisten dengan ajaran Alkitab
(termasuk epistemology ALkitab). (2) Premis-premis harus benar dan sah secara
logis. (3) Isi khusus dari si penanya: pendidikannya, kepentingan-kepentingannya,
pertanyaan-pertanyaanya, dll. Ketiga poin ini menyatakan bahwa argumentasi
apologetika adalah variable pribadi. Tidak ada argumentasi tunggal yang
dijamin meyakinkan setiap orang percaya atau menghilangkan semua keraguan
dalam hati orang percaya. Tetapi sejauh setiap fakta menyaksikan realitas Allah,
apologis tidak kekurangan sumber-sumber, tetapi justru berlimpah-limpah.
Ketika kita mengerjakan pekerjaan yang sulit untuk memilih strategi yang
sesuai dengan situasi kita, kita ingin menemukan sebuah pendekatan yang 1) akan
dapat dimengerti secara intelektual oleh para penanya kita, 2) akan menimbulkan
dan mempertahankan minatnya, 3) mungkin akan berinteraksi dengan bidang
tertentu dimana mereka mengakui kelemahan atau ketidakpastian, menekannya
secara lebih kuat, 4) akan berisi elemen yang mengejutkan, sehingga tanggapantanggapan yang mereka persiapkan akan dibatalkan dan mereka terpaksa berpikir,
5)

akan

menyampaikan

kebenaran

tanpa

kompromi,

dan

6)

akan

mengkomunikasikan kasih Kristus melalui caranya.


Van Til mengerti perlunya menyampaikan kebenaran tanpa kompromi
menuntut argumentasi yang khusus, yang ia sebut presuposisional tetapi oleh
beberapa pengikutnya disebut transcendental. Van Til tidak hanya menekankan
penggunaan dari argumentasi transcendental atau presuposisional. Ia juga

menekankan bahwa jika argumentasi-argumentasi harus bersifat presuposisional


secara otentik, mereka harus negative daripada positif. Sebuah argumentasi
negative atau tidak langsung: kadang-kadang disebut sebagai sebuah reuctio ad
absurdum. Suatu pembuktian tidak langsung atau reductio dalam matematika
merupakan pembuktian dimana seseorang mengasumsikan sebuah proposisi untuk
disangkal. Seseorang memakainya sementara, misalnya proposisi A lalu menatik
kesimpulan darinya sebuah kontradiksi logis atau suatu proposisi yang jelas salah.
Van Til mempunyai mata yang luar biasa terhadap permasalahanpermasalahan spiritual dalam perdebatan apologetika. Ia melihat perlunya
menegur kesombongan intelektual, menolak semangat otonomi, memegang erat
Ketuhanan Kristus yang bersifat universal di atas semua susunan arti. Tetapi, Van
Til cenderung berpikir bahwa masalah-masalah ini paling baik ditangani dengan
membatasi apologetika pada metode-metode tertentu yang diformulasikan.
Sayangnya, metode-metode yang disarankannya, walaupun terpisah dari
kesulitan-kesulitan mereka yang lain, tidak berarti menghilangkan, masalah
spiritual, yakni sikap berdosa dengan hanya menjadi bersifat intelektual. Sikapsikap berdosa dapat hadir, tidak peduli jenis argumentasi apa yang kita gunakan.
Sesungguhnya kita hrus tekun meolak dosa-dosa ini. Ketuhanan Kristus harus
dinyatakan secara jelas dalam perkataan dan dalam perbuatan. Tetapi hasil
spiritual itu tidak dijamin oleh sebuah perhatian transendental atau sebuah
argumentasi negative. Mempercayai buluh yang lemah seperti itu adalah mencari
bencana. Seluruh perlengkapan senjata Allah akan memberi kita kemenangan atas
perlengkapan-perlengkapan intelektual setan.
Kepastian aadalah sebuah konsep yang agaknya problematik. Kita
seharusnya memulai dengan keyakinan Alkitab bahwa Alkitab ingin kita merasa
pasti akan kebenaran dan keselamatan kita. Memperbaharui pengetahuan yang,
seperti yang telah kita lihat, berpresuposisi Firman Allah. Sebuah presuposisi
dipegang dengan kepastian melalui definisi, karena definisi merupakan standar
bagi kepastian. Di samping fakta logis ini, orang percaya dijamin oleh factor
supranatural dari Roh Allah, mengenai kebenaran Injil dan relasinya dengan
Kristus. Benar bahwa orang-orang percaya kadang-kadang meragukan kebenaran

Allah dan keselamatannya sendiri, tetapi mereka mempunyai sumber-sumber dan


hak, baik secara logis maupun supranatural, untuk memperoleh jaminan penuh,
sedikitnya pada poin-poin utama dari berita Injil.
Ini adalah kepastian yang diusahakan untuk kita sampaikan dalam
apologetika, seperti dalam pemberitaan Injil dan kesaksian. Ini adalah kepastian
dari seorang mengenai wahyu Allah.
Tetapi kata pasti, mengikat tidak hanya orang-orang tetapi bukti. Bukti
yang pasti adalah bukti yang menjamin kepastian tentang kepercayaan. Bukti
yang mungkin menjamin suatu tingkat atau derajat kepercayaan yang kurang
dari kepastian dari bukti kebenaran Allah yang telah Ia berikan kepada kita.
Wahyu umum begitu terang dan jelas bahwa ia menuntut kepercayaan dan
ketaatan menjadikan kita tidak dapat berdalih. Yohanes berbicara tentang
mukjizat Yesus yamng menjamin iman, dan Lukas berbicara tentang
pembuktian-pembuktian yang meyakinkan yang disampaikan Yesus kepada
para murid setelah kebangkitan.
Kita melihat bahwa keapstian dapat berlaku pada manusia dan bukti.
Tetapi Van Til juga memakainya untuk argumentasi. Apa yang dimaksud oleh
sebuah argumentasi yang benar-benar pasti? Mungkin, kita cenderung
menerima fase tersebut pada salah satu dari dua penggunaannya yang lain: Sebuah
argumentasi yang membawa bukti yang pasti atau yang harus menciptakan
kepastian pada semua pendengarnya. Dan jika kita memodifikasi konsep kita
dengan mengatakan bahwa argumentasi seharusnyamembawa kepastian, kita
harus ingat bahwa manusia mempunyai kewajiban untuk percaya pada Allah
sesungguhnya, pada suatu tingkat mereka percaya kepadaNya dari bukti saja,
terlepas dari formulasi argumentasi apapun tentang bukti. Jadi tidak argumentasi
yang menciptakan kewajiban untuk percaya. Maka, dalam pengerttian subyektif,
tidak ada argumentasi yang pasti.
Berkenaan dengan argumentasi, seseorang mungkin menggambarkan
sebagai mungkin bagi argumentasi-argumentasi yang gagal menjadi benar-benar
pasti, karena penyajiannya yang berkenaan dengan bukti tidak cukup atau tidak
lengkap. Ketidakcukupan mungkin disebabkan oleh dosa atau kurangnya

pemahaman. Sebagai contoh, ketika kita bermaksud merumuskan sebuah


argumentasi tentang eksistensi Allah berdasarkan hukum termodinamika yang
kedua. Tetapi karena pemahaman akan hukum tersebut sangat tidak sempurna,
pada situasi tersebut kita tidak yakin pada diri kita untuk menyampaikan
kebenaran mutlak dari bukti Allah secara cukup. Sehingga dalam kasus tersebut
kita cenderung untuk sangat sering mengatakan kata mungkin. Saya tidak
percaya bahwa Alkitab melarang kita untuk menyelidiki wilayah-wilayah yang
tidak kita mengerti seluruhnya; benar-benar bertentangan (Kej 1:28 dst). Alkitab
tidak melarang kita untuk merumuskan ide-ide sementara yang berkaitan dengan
fenomena yang relative tidak diketahui berhubungan dengan Allah. Untuk
melakukan hal tersebut, dan untuk menggunakan kata mungkin dalam hal ini,
tidak berarti mengatakan bahwa bukti tentang Allah yang dinyatakan tersebut
hanya mungkin. Tetapi lebih cenderung mengatakan bahwa satu bagian dari bukti,
yang tidak dimengerti dengan baik oleh apologis tersebut, memberikan kepadanya
sebuah argumentasi yang mungkin dan barangkali yang terbaik. Van Til sendiri
mengakui sesuatu seperti perbedaan ini: Kita tidak seharusnya menurunkan
validitas argumentasi ini pada tingkat kemungkinan. Argumentasi mungkin
dinyatakan dengan kurang baik, dan mungkin tidak pernah dinyatakan dengan
kurang baik, dan mungkin tidak pernah dinyatakan dengan cukup. Tetapi dalam
dirinya sendiri argumentasi tersebut benar-benar masuk akal.
Seperti apa argumentasi yang benar-benar masuk akal ini, bahkan
walaupun pernyataan-pernyataannya mungkin semuanya tidak mencukupi? Kita
lebih suka mengatakan bahwa bukti benar-benar masuk akal, sedangkan
argumentasi memuat bukti tersebut secara lebih atau kurang cukup. Sejauh
argumentasi memuat bukti dengan benar, ia juga memuat kepastian mutlak yang
melekat pada bukti.
Frase titik pertemuan agak membingungkan. Beberapa pembaca
mungkin mengasumsikan bahwa frase itu hanya mengacu pada suatu perhatian
umum yang mungkin dibagikan oleh apologis kepada seorang penanya untuk
kepentingan persahabatan dan percakapan. Sebuah perhatian yang pada akhirnya

membawa pada suatu kesempatan untuk memberitakan Injil. Tetapi dalam teologi
frase tersebut mempunyai arti yang agak lebih bersifat teknis.
Bagaimana kita dapat mengatkan apakah seorang apologis sedang
menggunakan sebuah titik pertemuan yang benar atau yang salah? Ketika seorang
berargumentasi Penyebab, karena itu Allah, apakah ia sedang mengacu pada
dalih orang tidak percaya berkenaan dengan pengetahuannya yang bersifat
otonomi, atau apakah ia sedang berbicara pada pengetahuan tentang kebenaran
yang ditindas oleh orang yang tidak percaya? Tidak mudah untuk mengatakannya,
tanpa mengetahu lebih lanjut tentang pekerjaan apologis itu. Tentu saja jika ia
mengatakan kepada kita, maka kita tahu, asumsikan bahwa ia dapat dipercaya.
Jika kita tahu tentang sesuatu mengenai pandangan epismtemologinya, setidaknya
kita bisa membuat suatu perkiraan yang baik. Dapatkah kita mengatakannya
melalui apa yang ia katakana pada orang yang tidak percaya? Ya, jika ia
mengatakan kepada orang yang tidak percaya apa yang mjerupakan titik
pertemuannya. Tetapi mungkin ia tidak pernah melakukan hal itu.
Mungkin tidak lagi dapat dibedakan antara apologetika presuposisional
dangan apologetika tradisional hanya melalui hal-hal yang eksternal melalui
bentuk argumentasi, klaim secara eksplisit mengenai kepastian atau kemungkinan,
dll. Mungkin presuposisionalisme lebih merupakan suatu sikap hati, suatu kondisi
spiritual, daripada suatu yang dapat dideskripsikan dengan mudah, fenomena
empiris. Menyebutnya spiritual tentu saja tidak berarti mengataknnya tidak
penting sangat bertentangan. Kebutuhan kita yang tersebar dalam apologetika
selalu adalah spiritual pada pusatnya. Dan presuposisionalisme dari hati kita
bukan sesuatu yang samar-samar dan tidak dapat ditentukan. Presuposisionalisme
kita berbicara tentang (1) sebuah pengertian yang jelas tentang dimana kesetiankesetian tersebut mempengaruhi epistemology kita, (2) sebuah penentuan di atas
semua untuk menyampaikan ajaran Alkitab yang lengkap dalam apologetika tanpa
kompromi, dalam kemenarikannya dan dalam ketegasannya, (3) terutama suatu
penentuan untuk menyampaikan Tuhan sebagai yang berdaulat penuh, sebagai
sumber dari semua arti, kejelasan, kerasionalan, sebagai sebagai otoritas ultimat
bagi semua pemikiran manusia, dan (4) sebuah pemahaman tentang pengetahuan

orang tidak percaya tentang Allah dan pemberontakannya melawan Allah,


terutama sebagaimana hal itu mempengaruhi pemikirannya.
Argumetasi moral yang mengintegrasikan kepercayaan-kepercayaan dan
nilai-nilai moral pada suatu cara yang akan dijelaskan secara lebih lengkap dalam
bagian-bagian berikutnya. Nilai-nilai kita menentukan kepercayaan kita dengan
cara yang sama seperti mereka menentukan sikap kita yang lain.
Orang kadang-kadang memiliki kepercayaan-kepercayaan yang konflik
dalam pikiran mereka. Tetapi serangan yang mungkin, harus bersifat logis. Dalam
hal-hal yang demikian, kita sering cenderung untuk bertanya, misalnya, Apa
yang sebenarnya dipercayai? satu tes untuk meninjau sikap. Kepercayaan yang
dominan dari seseorang akan paling sering atau paling banyak mengatur sikap
seseorang. Seperti Alkitab mengatakan, Melalui buahnya engkau dapat
mengenali mereka. (Mat 7:20).\
Banyak orang yang mengklaim bukan Teis atau juga bukan Ateis, tetapi
Agnostik. Mereka mengklaim mereka tidak tahu apakah Allah eksis atau tidak.
Tentu saja, Alkitab menyangkal bahwa seorang dapat menjadi agnostic: Allah
secara jelas dinyatakan kepada semua orang (Roma 1:18-20), jadi mereka semua
mengetahui Dia (ay.21), walaupun mereka menindas kebenaran (ay.21 dst). Di
satu pengertian, setiap orang adalah teis, karena mereka mengetahui Allah. Tetapi
pada pengertian lain, orang-orang yang tidak percaya adalah ateis, karena mereka
berusaha menghilangkan, menolak, pengetahuan ini dan hidup di atas presuposisi
ateis. Menurut model ini, tidak ada yang agnostic.
Tidak ada agnostisisme melalui tes sikap menurut Alkitab. Jika seorang
benar-benar agnostic, dia dengan penuh kekalutan akan mencoba untuk
menemukan cara-cara membatasi taruhan: Paling tidak sekedar memberikan
pengakuan tentang Allah, yang setelah semuanya ini berlalu mungkin suatu hari
akan menghakimi dia. Tetapi, seperti fakta permasalahannya, hampir semua yang
mengaku agnostic tidak membatasi taruhan mereka menurut cara tersebut. Tetapi,
mereka benar-benar menolak Firman Allah dalam pengambilan keputusan mereka.
Mereka tidak pernah pergi ke gereja, tidak pernah mencari Allah, tidak pernah

berdoa. Dengan kata lain, mereka sesungguhnya seperti ateis, bukan seakan-akan
mereka berada di suatu posisi separuh jalan antara ateis dan teis.
Terdapat beberapa pengecualian. Saya sangat ingin membiarkan pintu
tetap terbuka untuk kasus-kasus ini dimana Roh Kudus memimpin seseorang
kepada

Kristus

yang

belum

menyelesaikan

permasalahan-permasalahan

intelektual tertentu. Orang-orang pada posisi sedemikan yang mungkin disebut


agnostic yang asli. Tetapi keterbukaan mereka terhadap Firman Allah tidak
mengijinkan mereka untuk menjadi agnostic terus-menerus. Mereka juga mungkin
menjadi seorang agnostic yang benar-benar sangat membatasi taruhan mereka.
Salah satu dari koresponden saya mengklaim bahwa ia adalah jenis agnostic
seperti itu sebelum ia menjadi Kristen yang eksplisit. Apakah pembatasan seperti
itu adalah sikap munafik sorang yang tidak percaya atau langkah pertama dari
seorang percaya, hal ini tidak selalu jelas pada pengamatan manusia, walaupun hal
ini jelas bagi Allah. Fenomena ini tidak membatas antithesis utama, bahwa setiap
orang jika tidak taat pada Allah maka melawan Allah. Tetapi jika sebuah
argumentasi berhasil dalam menghadapi ateisme, argumentasi tersebut akan
berhasil dengan agnostic bahkan yang sungguh-sungguh agnostic.
Tetapi, kita harus ingat bahwa tisak ada posisi tengah antara menjadi
sahabat Allah dan menjadi musuh Allah. Pilihlah pada hari ini kepada siapa
kamu akan beribadah, kata Yosua (Yos 24:15). Tidak seorangpun dapat
mengabdi pada dua tuan, kata Yesus (Mat 6:24). Dan, Siapa tidak bersama Aku
ia melawan Aku. (Mat 12:30). Karena itu, argumentasi berikut ini ditunjukan
kepada ateis. Tetapi, yang lain dipersilahkan untuk terus membaca.
Membuktikan kebenaran dari sebuah narasi sejarah agak berbeda dangan
membuktikan kebenaran dari suatu pandang semesta umum. Dalam kasus yang
terakhir, kita dapat berhubungan dengan ciri-ciri umum dari pengalaman kita,
seperti nilai-nilai, kebenaran, penyebab dan tujuan. Tetapi pada yang pertama, kita
agak banyak dibatasi oleh bukti yang berhubungan dengan suatu periode sejarah
di masa lampau. Sumber utamanya adalah Alkitab sendiri. Sumber-sumber di luar
Alkitab menegaskan apa yang dipercaya oleh orang-orang Kristen awal, tetapi

mereka tidak menambahkan banyak pada kesaksian Alkitab mengenai kejadiankejadian itu sendiri.
Jika eksistensi dan beberapa sifat Allah jelas terlihat dalam ciptaan,
berita Injil tidak Nampak di dunia seperti itu. Seorang pemberita Injil diperlukan
untuk memberitakan Injil.
Tentu saja ini tidak berarti bahwa kita semata-mata harus menerima
tanggung

jawab

Alkitabiah

dengan

iman

yang

buta.

Alkitab

sendiri

berargumentasi untuk pernyataannya; ia menghadirkan apa yang pernah kita sebut


dasar pemikiran. Ia menghadirkan bukti untuk kebenaran beritanya.
Jadi, tugas utama kita adalah mengkhususkan argumentasi Alkitab sendiri
untuk kebenaran berita Injil. Argumentasi baik yang secara eksplisit (seperti
waktu Paulus mengatakan Kristus yang bangkit disaksikan oleh lima ratus orang
sekaligus) maupun yang secara implisit. Begitulah bahwa kadang-kadang Alkitab
memberikan sebuah argumentasi verbal yang actual bagielemen-elemen ini, tetapi
dalam suatu cara dan kondisi sedemikian rupa dimana pembaca menemukan
pernyataan yang persuasive.
Titik awal kita harus pandang semesta Kristen sendiri, seperti yang telah
kita diskusikan dalam bab sebelumnya. Kita telah melihat bahwa Allah eksis
sebagai Pribadi yang absolut, dan mengutip Westmins Shorter Catechism, sebagai
Roh, tak terbatas, kekal, dan tidak berubah, dalam keberadaan, bijaksana, kuasa,
kesucian, keadilan, kebaikan dan kebenaranNya. Konsep ini mensyaratkan suatu
perbedaan, bukan suatu rangkaian kesatuan, antara Allah dan dunia, dengan Allah
sebagai yang berdaulat mutlak. Walaupun mungkin tidak pernah berargumentasi
mengenai doktrin Tritunggal, ada penjelasan doktrin tersebut memperkuat
elemen-elemen lain dari doktrin Kristen tentang Allah. Sedangkan menolak
Tritunggal, mengarah pada pendistorsian dan mengkompromikan elemen-elemen
tersebut. 157-246