Anda di halaman 1dari 14

HORMON SITOKININ PADA TUMBUHAN

MAKALAH

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fitohormon

yang dibimbing oleh Ibu Dr. Hj. Dahlia, M.Si

Disusun oleh:

Kelompok 3 / Offering GW

Indah Nur Fadhlina (130342603488)

Sisca Maylindasari (130342603491)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Februari 2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Makhluk hidup selalu mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan


adalah proses kenaikan volume yang bersifat irreversible (tidak dapat balik) karena
adanya penambahan substansi termasuk di dalamnya ada perubahan bentuk yang
menyertai penambahan volume tersebut. Sedangkan perkembangan adalah proses
menuju kedewasaan pada makhluk hidup yang bersifat kualitatif yaitu makhluk hidup
dikatakan dewasa apabila alat perkembangbiakannya telah berfungsi. Seperti pada
tumbuhan apabila telah berbunga maka tumbuhan itu sudah dikatakan dewasa.

Tumbuhan juga mengalami pertumbuhan dan perkembangan seperti


memanjangnya batang, akar dan sebagainya. Pemekaran bunga, pemasakan buah adalah
slaah satu perkembngan yang dialami oleh tumbuhan. Pemekaran bunga dan pemasakan
buah kalau kita teliti lebih lanjut sangatlah bervariasi sesuai dengan lingkungan dan jenis
pohon itu sendiri. Kalau kita amati, pada saat musim-musim tertentu pertumbuhan bunga
sangat pesat dan begitu juga dengan pematangan buahnya. Sebenarnya apa yang
mengatur semua pemekaran bunga, pemanjangan atau pertumbuhan tunas-tunas baru
pada tumbuhan tersebut.

Hormon tumbuhan atau fitohormon, adalah sekumpulan senyawa organik bukan


hara (nutrien), baik yang terbentuk secara alami maupun dibuat oleh manusia, yang dalam
kadar sangat kecil (di bawah satu milimol per liter, bahkan dapat hanya satu mikromol per
liter) mendorong, menghambat, atau mengubah pertumbuhan, perkembangan, dan
pergerakan (taksis) tumbuhan.
Fitohormon merupakan gabungan dari dua kata; yaitu fito dan hormon. Fito berarti
tumbuhan sedangkan hormon berasal dari bahasa Yunani yaitu hormaein ini mempunyai
arti merangsang, membangkitkan atau mendorong timbulnya suatu aktivitas biokimia
sehingga fito-hormon tanaman dapat didefinisikan sebagai senyawa organik tanaman
yang bekerja aktif dalam jumlah sedikit, ditransportasikan ke seluruh bagian tanaman
sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan atau proses-proses fisiologi tanaman. Jadi,
Fitohormon adalah hormon pada tumbuh-tumbuhan, zat yang mengatur segala proses
fisiologis, petumbuhan dan perkembangan, pada tumbuhan. Namun, hormon hanyalah
suatu zat yang kerjanya dikontrol oleh gen karena pada dasarnya semua sistem kerja
makhluk hidup, baik hewan/manusia atau tumbuhan, diatur sepenuhnya oleh gen.
Terdapat banyak hormon tumbuhan atau zat pengatur tumbuh (ZPT) yang telah
dikenal, baik yang endogen maupun yang eksogen. Pada saat ini dikenal lima kelompok
utama hormon tumbuhan, yaitu auksin (auxins), giberelin (gibberellins, GAs), sitokinin
(cytokinins), asam absisat (abscisic acid, ABA), dan etilena (etena, ETH). Makalah ini
akan membahas tentang sitokinin yang merupakan derivat adenin dengan rantai samping
isoprenoid atau aromatik.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalahnya adalah:
1. Bagaimanakah proses biosintesis hormon sitokinin pada tumbuhan?
2. Bagaimanakah proses transport hormon sitokinin ke seluruh tubuh tumbuhan?
3. Bagaimanakah mekanisme hormon sitokinin dalam mengontrol pembelahan sel?
4. Apakah peran dari hormon sitokinin bagi tumbuhan?
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuannya adalah:
1. Untuk mengetahui proses biosintesis hormon sitokinin pada tumbuhan.
2. Untuk mengetahui proses transport hormon sitokinin ke seluruh tubuh tumbuhan.
3. Untuk mengetahui mekanisme hormon sitokinin dalam mengontrol pembelahan
sel.
4. Untuk mengetahui peran dari hormon sitokinin bagi tumbuhan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sitokinin

Sitokinin merupakan zat pengatur tumbuh (ZPT) yang mendorong pembelahan


(sitokinesis). Beberapa macam sitokinin merupakan sitokinin alami (misal : kinetin,
zeatin) dan beberapa lainnya merupakan sitokinin sintetik. Sitokinin alami dihasilkan pada
jaringan yang tumbuh aktif terutama pada akar, embrio dan buah. Sitokinin yang
diproduksi di akar selanjutnya diangkut oleh xilem menuju sel-sel target pada batang.

Ahli biologi tumbuhan juga menemukan bahwa sitokinin dapat meningkatkan


pembelahan, pertumbuhan dan perkembangan kultur sel tanaman. Sitokinin juga menunda
penuaan daun, bunga dan buah dengan cara mengontrol dengan baik proses kemunduran
yang menyebabkan kematian sel-sel tanaman. Penuaan pada daun melibatkan penguraian
klorofil dan protein-protein, kemudian produk tersebut diangkut oleh floem ke jaringan
meristem atau bagian lain dari tanaman yang membutuhkannya.

2.2 Penemuan Sitokinin

Pada sekitar tahun 1913, Gottlieb Haberlandt di Austria menemukan suatu


senyawa tak dikenal yang memacu pembelahan sel yang menghasilkan kambium gabus
dan memulihkan luka pada umbi kentang yang terpotong. Senyawa tersebut terdapat
dijaringan pembuluh berbagai jenis tumbuhan. Temuan ini tampaknya merupakan
ungkapan pertama tentang senyawa yang dikandung tumbuhan, yang sekarang
dinamakan senyawa sitokinin, yang memacu sitokinesis.
Pada tahun 1940an, Johannes van Overbeek menemukan bahwa endosperma cair
buah kelapa yang belum matang juga kaya akan senyawa yang dapat memacu
sitokinesis. Pada awal tahun 1950an, Folke Skoog dan beberapa kawannya, yang tertarik
pada auksin yang ternyata mampu memacu pertumbuhan biakan jaringan tumbuhan,
mendapati bahwa sel potongan empuluir batang tembakau membelah jauh lebih cepat
bila sepotong jaringan pembuluh diletakkan diatasnya, hal itu mempertegas hasil yang
didapatkan Haberlandt.
Skoog dan para pembantunya mencoba mengenali faktor kimia jaringan
pembuluh itu dengan menggunakan pertumbuhan sel empulur tembakau sebagai system
uji biologi. Sel biakan dalam medium agar yang mengandung gula, garam mineral,
vitamin, asam amino, dan IAA yang jumlahnya diketahui. IAA sendiri cepat
meningkatkan pertumbuhan, dengan mendorong terbentuknya sejumlah sel yang cukup
banyak, tapi sel itu tidak membelah, sehingga banyak diantaranya poliploid dengan
beberapa inti. Dalam upaya mencari senyawa bisa memacu pembelahan sel, mereka
menemuka senyawa lir-adenin yang sangat aktif dari ekstrak khamir. Salah satu
dilakukan pada tahun 1954 oleh Carlos Miller (waktu itu mahasiswa bimbingan Skoog),
yang menemukan senyawa sangat aktif dari hasil penguraian sebagian DNA yang
diautoklaf. Mereka menamakan senyawa tersebut kinetin (ditelaah oleh Miller, 1961).
Kinetin sendiri memang belum ditemukan pada tumbuhan, dan bukan merupakan
bahan aktif yang ditemukan Haberlandt dari jaringan floem, namun kerabat sitokinin
ditemukan ada dalam tubuhan. FC Steward, dengan menggunakan teknik biakan
jaringan, juga pada tahun 1950an, menemukan berbagai njenis sitokinin dalam air
kelapa, yang mampu mendorong pembelahan sel pada jaringan akar wortel. Yang paling
aktif, berdasarkan hasil pengujian DS Letham (1974), adalah senyawa sebelumnya diberi
nama umum zeatin dan zeatin ribosida.
Pada tahun 1964, untuk pertama kalinya zeatin cirikan pada saat yang hampir
bersamaan oleh letham dan oleh carlos Miller, keduanya menggunakan endosperma cair
jagung (Zea mays) sebagai sumbernya. Sejak itu, sitokinin lain, yang strukturnya lir
adenine, mirip dengan kinetin dan zeatin, berhasil dikenali di berbagai bagian tumbuhan
berbiji. Tak satupun sitokinin terdapat dalam DNA atau dalam produk pecahan DNA,
tapi beberapa terdapat dalam molekul RNA-pemindah (dan kadang dalam RNA-
ribosom) tumbuhan berbiji, khamir, bakteri, dan bahkan primate, dan lebih dari 30 jenis
terdapat sebagai sitokinin-bebas. Satu atau beberapa sitokinin tak terikat yang
menimbulkan respons fisiologi, namun yang terdapat di RNA- pemindah (tRNA) belum
diketahui fungsinya.
Barang kali kinetin tidak dibentuk oleh tumbuhan, namun dua laporan
menyatakan bahwa benzil adenin atau ribosidfanya didapati pada tumbuhan (Ernest dkk,
1983; Nandi dkk, 1989). Perhatikan bahwa semua sitokinin memiliki rantai samping
yang kaya akan karbon dan hydrogen, yang menempel pada nitrogen yang menonjol dari
puncak cincin purin. Setiap sitokinin bisa ditemukan dalam bentuk basa bebas. Pada
beberapa kasus, diperoleh bukti addanya pembentukan nukleosida difosfat dan trifosfat
yang mirip dengan ADP dan ATP, namun semua nukleotida ini tampaknya kurang banyak
disbandingkan dengan jumlahnya dalam bentuk basa bebas atau nukleosida.
Sitokinin juga didapati pada lumut, ganggang coklat dan ganggang merah, serta
tampaknya juga pada diatom; kadang, sitokinin tersebut memacu pertumbuhan
ganggang. Kemungkinan besar sitokinin cukup tersebar luas, bahkan terdapat di dunia
tumbuhan; namun saangat sedikit yang diketahui tentang fungsinya, kecuali pada
angiospermae, beberapa conifer, dan lumut. Bakteri dan cendawan pathogen tertentu
mengandung sitokinin yang diyakini berpengaruh pada proses penyakit yang disebabkan
oleh kedua mikroba ini, dan sitokinin yang dihasilkan oleh cendawan dan bakteri bukan
patogen diperkirakan mempengaruhi hubungan mutualistiknya dengan tumbuhan, seperti
pembentukan mikoriza dan bintil akar (Greene, 1980; Ng dkk, 1982; Sturtevant dan
Taller, 1989).
2.3 Biosintesis Hormon Sitokinin
Sitokinin ditemukan pada tahun 1955 oleh C. O. Miller, F. Skoog, M. H. Von
Saltra, dan F.M. Stong. Mereka mengisolasi suatu zat yang disebut kinetin (6-
furfurilaminopurin, C10H9N5O) dari sprema ikan herring yang diotoklaf (Lukiati, 2001).
Zat ini pada kenyataannya sangat aktif mendorong mitosis kalus tembakau secara in vitro.
Struktur molekul kinetin seperti pada gambar 1 berikut ini.

Gambar 1. Struktur kinetin (6-furfurilaminopurin) sitokinin yang pertama kali ditemukan.


(Hopkins, 2008)
Isolasi sitokinin alami pertama kali dikerjakan oleh D. S. Letham dan C. O.
Miller pada tahun 1963. Sitokinin ini diisolasi dari biji jagung muda dan disebut zeatin
yang struktur kimianya adalah 6-(4-hidroksi-3-metil-2butenilaminopurin). Pada tahun
1968, Letham mengidentifikasikan zeatin ribosida sebagai substansi utama yang
merangsang pembelahan sel dan terdapat dalam air kelapa. Setelah penemuan zeatin,
pada tahun berikutnya beberapa sitokinin yang lain berhasil diisolasi dari berbagai
sumber, substansi ini secara kimiawi telah berhasil diidentifikasi strukturnya. Semua
sitokinin alami merupakan turunan isopentenil adenin (Lukiati, 2001).
Sitokinin adalah turunan dari adenin. Pada tumbuhan berada dalam keadaan bebas
dan merupakan komponen tRNA untuk asam amino serin dan tirosin. Sitokinin juga
dapat ditemukan pada embrio dan endosprem biji yang sedang tumbuh, meristem apikal,
biji akar, dan berbagai jaringan yang sedang aktif membelah. Kandungan sitokinin akan
menurun pada jaringan yang bersifat nonmeristematik.
Kinetin adalah suatu sitokinin sintetik yang tidak ditemukan dalam tumbuhan,
selanjutnya sejumlah sitokinin sintetik yang lain secara berturut-turut juga ditemukan,
diantaranya yang aktif adalah senyawa benzyladenin (BA) dan
tetrahidropiranilbenziladenin (PBA).
Biosintesis dari sitokinin alami terjadi melalui substitusi dari rantai samping pada
karbon ke enam dari adenin adalah umum terjadi dalam sel tumbuhan. Rantai samping
dari sitokinin alami mengandung 5 atom karbon yang diturunkan dari jalur biosintesis
isoprenoid. Pada tahun belakangan diketahui bahwa kelompok sitokinin terjadi dalam
spesies tertentu dari tRNA, hal ini memperlihatkan bahwa mevalonat yang berlabel
radioaktif terkait pada kelompok adenin spesifik dalam tRNA untuk memberi rantai
samping dimetilalil dari sitokinin, IPA.
Jaringan tembakau mengandung enzim yang membentuk isopentenil adenosin-5-
fosfat atau isopentenil AMP dari AMP dan suatu isomer pentenil pirofosfat. Isopentenil
pirofosfat yang dihasilkan dari jalur mevalonat, merupakan prekursor penting untuk
senyawa-senyawa sterol, giberelin, karotenoid, dan isoprenoid. Isomer ini juga dikenal
dengan 2 isopentenil pirofosfat, imbuhan 2 menunjukkan molekul tersebut mempunyai
ikatan rangkap diantara atom karbon 2 dan 3. Pirofosfat (Ppi) dilepas dari gugus
isopentenil dan selanjutnya ditambahkan pada amino nitron yang melekat pada C-6
cincin purin.
Isopentenil AMP yang terbentuk dalam reaksi diubah secara hidrolisis dengan
melepaskan gugus fosfat menjadi isopentenil adenosin. Selanjutnya adenosin pentenil
diubah menjadi isopentenil adenosin secara hidrolisis dengan melepaskan gugus ribosa.
Isopentenil adenin mengalami oksidasi dengan cara menggantikan satu atom hidrogen
dengan OH pada gugus metil dari rantai samping isopentenil, menghasilkan zeatin. Jika
ikatan rangkap rantai samping zeatin mengalami reduksi, maka hasilnya adalah molekul
dihidroksi zeatin. Reaksi-reaksi semacam ini dianggap sebagai reaksi utama
pembentukan tiga kelompok basa sitokionin, meskipun demikian kemungkinan
biosintesis sitokinin dengan jalur yang lain masih tetap dipertimbangkan oleh banyak
ahli (Lukiati, 2001).
Untuk mempermudah dalam mempelajari jalur biosintesis sitokinin dari
isopentenil pirofosfat dapat disingkat dalam bentuk bagan sebagai berikut.
Gambar 2. Bagan jalur biosintesis sitokinin (2-IPP= isopentenil pirofosfat), (AMP=
Adenosin monofosfat), (PPi= Pirofosfat). (Hopkins, 2008)
Pada tumbuhan sitokinin banyak ditemukan pada organ-organ muda seperti pada
biji, buah dan daun, disamping itu sitokinin juga ditemukan dalam ujung akar.
Berdasarkan penemuan ini sangat logis bahwa sitokinin disintesis dalam organ-organ
tersebut, tetapi dalam banyak hal kita dapat memperhitungkan kemungkinan transportasi
sitokinin dari satu tempat ke tempat lain. Pada ujung akar, sintesis sitokinin memang
berlangsung di tempat ini, sebab jika ujung akar diletakkan secara horisontal, maka
sitokinin akan disebarkan secara perlahan-lahan melalui xilem dari ujung akar yang lebih
bawah selama beberapa saat sampai beberapa hari. Kenyataan ini menjadi tidak sesuai
juka bagian akar yang lebih bawah dapat menyimpan sejumlah sitokinin berasal dari
tempat lain yang berperan sebagai pemasok (Lukiati, 2001).
2.4 Transport Sitokinin
Telah diketahui kalau ujung akar sebagai salah satu tempat untuk sintesis
sitokinin, kemudian diangkut melalui xilem ke berbagai organ tumbuhan yang lain. Hal
ini dapat menjelaskan transportasi sitokinin melalui xilem untuk diakumulasikan di
jaringan daun muda, buah, dan biji. Namun demikian floem merupakan jalan transport
sitokinin yang lebih efektif dibandingkan dengan xilem yang dipengaruhi oleh proses
transpirasi.
Transport sitokinin khususnya zeatin dan zeatin ribosida dapat dipastikan
berlangsung dalam xilem, tetapi dalam floem juga berisi sitokinin khususnya zeatin
ribosida. Bukti yang menunjukkan bahwa transport sitokinin melalui tidak hanya lewat
xilem dilakukan melalui eksperimen dengan menggunakan potongan daun dikotil. Jika
potongan daun dewasa dari berbagai tumbuhan disimpan di tempat yang lembab, maka
sitokinin akan bergerak ke bagian basal petiol dan akan terkumpul di tempat tersebut.
Akumulasi sitokinin di daerah petiol memberikan suatu kesimpulan bahwa lembar daun
yang dewasa berperan sebagai pemasok sitokinin untuk daun yang lebih muda dan
jaringan muda lainnya melalui floem. Daun seperti yang sudah kita bicarakan ini mampu
mensintesis dan sekaligus menerima sitokinin dari akar. Kesimpulan sementara adalah
selain diangkut dari akar melalui xilem, sitokinin dari tunas juga diangkut melalui floem
dan sifatnya terbatas (Lukiati, 2001).
2.5 Mekanisme Hormon Sitokinin dalam Mengontrol Pembelahan Sel
Peran sitokinin dalam mengatur pembelahan sel dibuktikan melalui kultur wortel
dan tembakau jaringan pada media yang terisolasi. Proliferasi sel terjadi hanya ketika
auxin ditambah beberapa ''faktor pembelahan sel'' yang berada dalam satu medium. ''
Faktor divisi sel tersebut tentu saja adalah kinetin. Tidak lama kemudian diketahui
bahwa kinetin dan sitokinin lainnya selalu bersama dengan auksin dalam merangsang
pembelahan sel di berbagai jaringan (Hopkins, 2008)
Arti penting dari studi ini adalah bahwa tidak ada kambium atau jaringan
meristematik lain yang ada dalam suatu proses pengkulturan. Hal ini pun juga
menunjukkan bahwa sitokinin memiliki kapasitas untuk memulai pembelahan pada sel-
sel yang tenang (nondividing cells). Pada pembelahan sel, hormon sitokinin bersinergis
dengan hormon auksin dalam mengontrol pembelahan sel (gambar 3). Secara skematis
dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 3. Skema pengendalian pembelahan sel oleh hormon sitokinin dan auksin.
(Hopkins, 2008)

2.6 Peran Fisiologis Sitokinin

Seperti halnya dengan hormon tumbuhan yang lain sitokinin juga sangat
berpengaruh selama proses pertumbuhan dan perkembangan dari tumbuhan, dalam
bekerja mengatur proses ini sitokinin dapat bekerja sama dengan hormon yang lain
secara sinergis maupun secara antagonis (Lukiati, 2001).
1) Pembelahan sel dan pembentukan organ
Sitokinin mempunyai fungsi utama dalam mendorong pembelahan sel.
Skoog dan kawan-kawannya menemukan jika potongan empulur tembakau
ditumbuhkan dalam medium agar yang mengandung sitokinin secara aseptik
maka sel-sel empulur tersebut akan mengalami pembelahan yang cukup berarti
dan membentuk sekumpulan sel yang belum mengalami spesialisasi, dan tersusun
dari sel-sel diploid yang disebut kalus.
Skoog juga menemukan jika dalam medium agar tersebut ditambahkan
auksin dan sitokinin dengan perimbangan sitokinin terhadap auksin tetap tinggi,
maka sel-sel penyusun kalus akan berkembang menjadi tunas, batang dan daun.
Tetapi jika perimbangan sitokinin terhadap auksin rendah, maka akan terbentuk
akar (gambar 4). Pembentukan tunas atau akar yang berasal dari kalus ini dikenal
dengan organogenesis. Kadang-kadang perimbangan antara auksin dan sitokinin
dalam medium dapat menyebabkan kalus menjadi bersifat embrionik dan
berkembang menjadi embrio, yang selanjutnya akan membentuk tunas dan akar.
Pembentukan tunas dan akar yang berasal dari embrio ini disebut embriogenesis.
Gambar 4. Pemberian hormon sitokinin yang lebih tinggi menyebabkan
tumbuhnya batang dan daun (kiri), pemberian auksin yang
tinggi menyebabkan pertumbuhan akar pada kalus (kanan)
(Hopkins, 2008).
2) Menghambat penuaan daun
Dalam proses penuaan daun, kandungan klorofil; protein dan RNA akan
cepat mengalami penurunan. Penuaan dapat dipercepat jika daun yang dilepas
diletakkan pada tempat yang gelap, tetapi pada tumbuhan dikotil agar adventif
seringkali dapat tumbuh pada bagian dasar petiol daun yang dilepas tadi dan hal
ini dapat menghambat terjadinya proses penuaan pada daun tersebut. Dari fakta
ini diduga ada sesuatu yang berasal dari akar yang diangkut ke daun sehingga
menyebabkan daun tetap dapat dipertahankan daun muda secara fisiologis.
Sesuatu ini diyakini sebagai sitokinin yang berasal dari xilem. Bukti yang
menunjukkan bahwa sitokinin terlibat dalam menunda penuaan ini adalah
ditemukannya kandungan sitokinin dalam lembar daun secara substansial
meningkat pada saat akar adventif terbentuk.
Potongan daun yang diletakkan dalam air akan mengalami penuaan
dengan gejala yang nampak terjadi penguningan, kehilangan klorofil. Hal ini
dapat ditunda dengan menambahkan sitokinin dalam air yang digunakan untuk
merendam potongan daun tersebut. Daun yang diberi kinetin dapat bertahan tetap
hijau dalam jangka waktu yang lama, sitokinin yang lain seperti benziladenin dan
zeatin memberikan pengaruh yang sama dengan kinetin.
3) Dominansi apikal
Pemakaian sitokinin dapat mereduksi dominansi apikal, dengan
menyemprotkan kinetin pada tunas lateral yang sedang dalam keadaan dorman
dapat menyebabkan tunas lateral tersebut tumbuh memanjang. Sitokinin sintetik
seperti benziladenin dapat memberikan efek pemanjangan tunas lateral lebih
efektif dibandingkan kinetin. Pemakaian benziladenin dan zeatin menyebabkan
pemanjangan tunas lateral dapat berlangsung selama dua minggu.
Pada kajian yang lain juga menyebutkan bahwa rasio dari sitokinin dan
auksin dapat mengontrol inisiasi pertumbuhan ujung akar dan kuncup aksilar
(gambar 5).

Gambar 5. Pada bagian kiri adalah ilustrasi tanaman dengan sitokinin yang cukup,
pertumbuhan kuncup normal. Sedangkan yang kanan adalah tanaman
dengan sitokinin yang kurang, pertumbuhan kuncup terhambat (Hopkins,
2008).
4) Diferensiasi batang dan akar
Dalam uraian sebelumnya telah dibahas tentang pengaruh pemakaian
sitokinin dan auksin dalam medium agar dapat menyebabkan diferensiasi embrio
maupun kalus menjadi tunas dan akar. Dalam pengaturan proses diferensiasi
batang dan akar ini sitokinin bekerja sama dengan auksin, sebab fakta
menunjukkan jika medium hanya ditambahkan sitokinin saja atau auksin saja
tidak akan terjadi diferensiasi batang dan akar pada kalus.
5) Mematahkan Dormansi
Dari hasil percobaan menunjukkn kinetin juga dapat mematahkan
dormansi pada tumbuhan tertentu. Perkembangan biji sawi varietas Grand rapids
memerlukan cahaya tambahan disamping kelembaban, udara, dan suhu yang
sesuai. Perkecambahan biji sawi ini dapat terjadi di tempat yang gelap asalkan
diperlakukan dengan kinetin, berarti sinar yang diperlukan untuk perkecambahan
dapat digantikan dengan sitokinin. Pengaruh sinar dan sitokinin bersifat sinergis,
artinya jika ke dua faktor itu berpegaruh secara individual (berdiri sendiri) kurang
efektif daripada pengaruh kombinasi kedua faktor tersebut.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang ada diatas, maka dapat ditarik kesimpulan mengenai
hormon sitokinin sebagai berikut:
1. Hormon Sitokinin disintesis didalam akar tumbuhan, melalui penambahan AMP
(Adenosine monophosphate) dan isopentenyl phyrophosphate yang nantinya akan
membentuk kinetin.
2. Hormon sitokinin ditransport ke seluruh bagian tumbuhan melalui xylem. Namun
juga dapat melalui floem dan sifatnya sangat terbatas.
3. Pembelahan sel dapat dikontrol oleh hormon sitokinin yang bersinergis dengan
hormon auksin.
4. Peranan dari hormon sitokinin bagi tumbuhan antara lain: mengontrol pembelahan
sel, menghambat penuaan daun, dominansi apikal, diferensiasi akar dan batang serta
dapat mematahkan dormansi pada biji.
DAFTAR PUSTAKA

Hopkins, W. & Huner, N. 2008. Introduction to Plant Physiology. USA: The University of
Western Ontario

Lukiati, Betty. 2001. Pertumbuhan dan Perkembangan. Malang: Universitas Negeri Malang