Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENGENDALIAN GULMA ALELOPATI

Disusun Oleh : NAMA NIM KELAS : Asep Bahtiar : 115040101111208 : Rabu, 11.00-12.40

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Tumbuhan dapat mengeluarkan senyawa alelopati melalui organ yang berada di atas tanah maupun yang berada di bawah tanah. Demikian juga tumbuhan yang mati pun dapat melepaskan senyawa alelopati melalui organ yang berada di atas tanah meupun yang di bawah tanah. Alang-alang (Imperata cylindrica) dan teki (Cyperus rotundus) yang masih hidup mengeluarkan senyawa alelopati lewat organ di bawah tanah, jika sudah mati beik organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah sama-sama dapat melepaskan senyawa alelopati (Moenandir, 1988), Beberapa pengaruh alelopati terhadap aktivitas tumbuhan antara lain: 1. Senyawa alelopati dapat menghambat penyerapan hara, yaitu dengan menurunkan kecepatan penyerapan ion oleh tumbuhan. 2. Beberapa alelopati menghambat pembelahan sel-sel akar tumbuhan. 3. Beberapa alelopati dapat menghambat pertumbuhan, yaitu dengan mempengaruhi perbesaran sel tumbuhan. 4. Beberapa senyawa alelopati memberikan pengaruh menghambat respirasi akar. 5. Senyawa alelopati memberika pengaruh menghambat sintesis protein. 6. Beberapa senyawa alelopati dapat menurunkan daya permeabilitas membran pada sel tumbuhan. 7. Pengaruh alelopati dapat menghambat aktivitas enzim. Pengaruh alelopati terhadap terhadap pertumbuhan tanaman, yaitu: Keberadaan senyawa alelopati dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Alang-alang menghambat pertumbuhan tanaman jagung dan ini telah dibuktikan dengan menggunakan percobaan pot-pot bertingkat di rumah kaca di Bogor. Mengingat unsur hara, air, dan cahaya bukan merupaka pembatas utama, maka diduga bahwa alang-alang merupakan senyawa beracun yang dapat mempengaruhi pertumbuhan jagung. Tumbuhan yang telah mati dan sisa-sisa tumbuhan yang telah dibenamkan ke dalam tanah juga dapat menghambat pertumbuhan jagung. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak organ tubuh alangalang, semakin besar pengaruh negatifnya terhadap kecambah padi gogo (Hay, 1991). Pada umumnya, terdapat 2 jenis alelopati yang ada di alam, yaitu: 1. Alelopati yang sebenarnya, adalah pelepasan senyawa-senyawa beracun dari tumbuhan ke lingkungan sekitar dalam bentuk senyawa aslinya yang dihasilkan. 2. Alelopati fungsional, adalah pelepasan senyawa kimia oleh tumbuh-tumbuhan ke lingkungan sekitar yang bersifat sebagai racun setelah mengalami perubahan yang disebabkan oleh mikroba tanah (Palungkum, 1992). 1.2 TUJUAN 1. Untuk mempelajari pengaruh alelopati terhadap perkecambahan kedelai. 2. Mengetahui macam zat alelopati. 3. Mengetahui pengertian alelopati. 4. Mampu mengetahui mekanisme alelopati. 5. Mengetahui tumbuhan yang memiliki sumber alelopati.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 PENGERTIAN ALELOPATI Alelopati merupakan sebuah fenomena yang berupa bentuk interaksi antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup lainnya melalui senyawa kimia. (Rohman, 2001) Alelopati diartikan sebagai pengaruh yang merugikan secara langsung maupun tidak langsung dari suatu tumbuhan terhadap tumbuhan lain melalui produksi bahan kimia yang dilepaskan dan dibebaskan ke lingkungan hidup tumbuhan tersebut. Zat-zat kimia yang bersifat alelopati dapat dibagi menjadi dua golongan berdasar pengaruhnya terhadap tumbuhan lain, yaitu autotoxic dan antitoxic. (Indriyanto, 2006) Alelopati merupakan pelepasan senyawa bersifat toksik yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman disekitarnya dan senyawa yang bersifat alelopati disebut alelokimia. (Kurniasih,2002) 2.2 MEKANISME PENGELUARAN ALELOPATI Senyawa-senyawa kimia yang mempunyai potensi alelopati dapat ditemukan di semua jaringan tumbuhan termasuk daun, batang, akar, rizoma, umbi, bunga, buah, dan biji. Senyawa-senyawa alelopati dapat dilepaskan dari jaringan-jaringan tumbuhan dalam berbagai cara termasuk melalui: 1. Penguapan Senyawa alelopati ada yang dilepaskan melalui penguapan. Beberapa genus tumbuhan yang melepaskan senyawa alelopati melalui penguapan adalah Artemisia, Eucalyptus, dan Salvia. Senyawa kimianya termasuk ke dalam golongan terpenoid. Senyawa ini dapat diserap oleh tumbuhan di sekitarnya dalam bentuk uap, bentuk embun, dan dapat pula masuk ke dalam tanah yang akan diserap akar. 2. Eksudat akar Banyak terdapat senyawa kimia yang dapat dilepaskan oleh akar tumbuhan (eksudat akar), yang kebanyakan berasal dari asam-asam benzoat, sinamat, dan fenolat. 3. Pencucian Sejumlah senyawa kimia dapat tercuci dari bagian-bagian tumbuhan yang berada di atas permukaan tanah oleh air hujan atau tetesan embun. Hasil cucian daun tumbuhan Crysanthemum sangat beracun, sehingga tidak ada jenis tumbuhan lain yang dapat hidup di bawah naungan tumbuhan ini. 4. Pembusukan organ tumbuhan Setelah tumbuhan atau bagian-bagian organnya mati, senyawa-senyawa kimia yang mudah larut dapat tercuci dengan cepat. Sel-sel pada bagian-bagian organ yang mati akan kehilangan permeabilitas membrannya dan dengan mudah senyawa-senyawa kimia yang ada didalamnya dilepaskan. Beberapa jenis mulsa dapat meracuni tanaman budidaya atau jenis-jenis tanaman yang ditanam pada musim berikutnya. Tumbuhan yang masih hidup dapat mengeluarkan senyawa alelopati lewat organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah. Demikian juga tumbuhan yang sudah matipun dapat melepaskan senyawa alelopati lewat organ yang berada di atas tanah

maupun yang di bawah tanah. Alang-alang (Imperata cyndrica) dan teki (Cyperus rotundus) yang masih hidup mengeluarkan senyawa alelopati lewat organ di bawah tanah, jika sudah mati baik organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah sama-sama dapat melepaskan senyawa alelopati. Selain melalui cara-cara di atas, pada tumbuhan yang masih hidup dapat mengeluarkan senyawa alelopati lewat organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah. Demikian juga tumbuhan yang sudah matipun dapat melepaskan senyawa alelopati lewat organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah Tumbuhan yang bersifat sebagai alelopat mempunyai kemampuan bersaing yang lebih hebat sehingga pertumbuhan tanaman pokok lebih terhambat, dan hasilnya semakin menurun (Anonim, tanpa tahun). Namun kuantitas dan kualitas senyawa alelopati yang dikeluarkan oleh tumbuhan dapat dipengaruhi oleh kerapatan tumbuhan alelopat, macam tumbuhan alelopat, saat kemunculan saat kemunculan tumbuhan alelopat, lama keberadaan tumbuhan alelopat, habitus tumbuhan alelopat, kecepatan tumbuh tumbuhan alelopat, dan jalur fotosintesis tumbuhan alelopat (C3 atau C4). (Anonymous, 2013) 2.3 TUMBUHAN YANG MENGELUARKAN SENYAWA ALELOPAT Beberapa jenis gulma yang telah diketahui mempunyai potensi mengeluarkan senyawa alelopati dapat dilihat pada tabel berikut ini. Jenis gulma yang mempunyai aktivitas alelopati : JENIS GULMA JENIS TANAMAN PERTANIAN YANG PEKA Abutilon theoprasti Berbagai jenis Agropyron repens Berbagai jenis Agrostemma githago Gandum Allium vineale Oat Amaranthus spinosus Kopi Ambrosia artemisifolia Berbagai jenis A. trifida Kacang pea, Gandum Artemisia vulgaris Mentimun Asclepias syriaca Sorgum Avena fatua Berbagai jenis Celosia argentea Bajra Chenopodium album Mentimun, Oat, Jaagung Cynodon dactylon Kopi Cyperus esculentus Jagung C. rotundus Sorgum, Kedelai Euporbia esula Kacang pea, Gandum Holcus mollis Barli Imperata cylindrica Berbagai Jenis Poa spp. Tomat Polygonum persicaria Kentang Rumex crisparus Jagung, Sorgum Setaria faberii Jagung Stellaria media Barli (Putnam, 1995)

2.4 ALELOPAT SEBAGAI BIOHERBISIDA Saat ini kebutuhan dan penggunaan herbisida kimia sintetis untuk tanaman perkebunan sangat tinggi. Dalam rangka mendukung gerakan pertanian organik di Indonesia, diperlukan herbisida organik yang efektif berskala komersial yang dapat menekan pertumbuhan gulma. Ada tiga jenis rumput yaitu masing-masing Dicanthium annulatum Stapf, Cenchruspennisetiformis Hochest and Sorghum halepense Pers., yang bersifat alelopatik dan mampu berperan dan potensial sebagai bioherbisida (Javaid dan Anjum 2006). Dilaporkan pula bahwa ekstrak terna dan akar dengan air dari ketiga jenis rumput tadi mampu menekan perkecambahan gulma Parthenium hysterophorus L. Selanjutnya ditambahkan pula bahwa ekstrak terna dari rumput D. annulatum Stapf, dan C. pennisetiformis Hochest mempunyai daya bunuh yang lebih kuat terhadap gulma P. hysteriporus dibandingkan dengan S. halepense. Beberapa jenis senyawa alelopati yang cukup potensial antara lain berasal dari ekstrak tumbuhan alang-alang (Imperata cylindrica), akasia (Acacia mangium), jagung (Zea mays) dan pinus (Pinus merkussi). Penggunaan senyawa alelopati dari keempat tumbuhan cukup prospektif karena relatif mudah didapat, murah dan dengan jumlah biomas yang cukup memadai. Ekstrak ini bisa didapat dari semua bagian alang-alang mulai dari akar, batang dan bagian lainnya. Namun menurut penelitian, allelopathy paling banyak ditemukan pada bagian akarnya dan ekstrak tersebut akan banyak jumlahnya jika akar yang digunakan banyak pula. 1. Alang-alang Alang-alang juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bioherbisida yang cukup efektif dan potensial. Ekstrak Rhizome alang-alang dan daun akasia mampu menekan panjang tunas jagung. Lebih lanjut dilaporkan pula bahwa eksudat rhizome alang-alang sangat efektif untuk menghambat pertumbuhan gulma daun lebar. Namun demikian, penggunaan ekstrak rhizome alang-alang perlu dibatasi mengingat ekstrak alang-alang tersebut juga dapat menghambat pertumbuhan tanaman semusim. 2. Akasia Telah dilaporkan bahwa dari hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak alelopati dari daun, kulit batang dan akar dari akasia (Acacia mangium Wild) berpengaruh negatif terhadap perkecambahan benih kacang hijau (Phaseolus radiatus L) dan benih jagung (Zea mays). Selanjutnya ditambahkan pula bahwa

daya hambat senyawa alelopati yang ada di Acacia mangium Wild pada benih jagung lebih tinggi dibanding pada benih kacang hijau. Selanjutnya dilaporkan pula bahwa allelokimia yang berasal dari ekstrak Imperata cylindrica dan A. mangium mungkin bekerja mengganggu proses fotosintesis atau proses pembelahan sel. Penekanan pertumbuhan dan perkembangan karena ekstrak alang-alang dan akasia ditandai dengan penurunan tinggi tanaman, penurunan panjang akar, perubahan warna daun. 3. Pinus Dari beberapa kajian ekologis pada daerah pertumbuhan pohon pinus menunjukkan tidak ada pertumbuhan tanaman herba, hal tersebut diduga karena serasah daun pinus yang terdapat pada tanah mengeluarkan zat alelopati yang menghambat pertumbuhan herba. Hal tersebut diperkuat dengan hasil uji efektivitas ektrak daun pinus menunjukkan bahwa senyawa alelopati yang terdapat dalam ekstrak daun pinus dapat menghambat perkecambahan benih Amaranthus viridis. Lebih lanjut Noguchi et al. 2009 melaporkan pula bahwa ektrak metanol daun pinus merah dapat menghambat pertumbuha akar dan batang tanaman seledri (Lepidium sativum), selada (Lactuca sativa), alfalfa (Medicago sativa), dan gandum hitam (Lolium multiforum), Hal tersebut menunjukkan bahwa kandungan senyawa pada daun pinus merkusii mempunyai potensi sebagai bahan bioherbisida untuk mengkontrol

pertumbuhan gulma yang dapat menganggu pertumbuhan produksi tanaman pangan antara lain tanaman padi. Salah satu gulma yang mengganggu pertumbuhan tanaman padi adalah Echinochloa colonum dan Amaranthus viridis. Pinus merkusii memiliki saluran resin yang dapat menghasilkan suatu metabolit sekunder bersifat alelopati. Alelokimia pada resin tersebut termasuk pada kelompok senyawa terpenoid, yaitu monoterpen -pinene dan -pinene dan senyawa tersebut diketahui bersifat toksik baik terhadap serangga maupun tumbuhan (Taiz dan Zeiger, 1991).. Selain itu, senyawa tersebut merupakan bahan utama pada pembuatan terpentin. Monoterpen (C10) merupakan minyak tumbuh-tumbuhan yang terpenting yang juga bersifat racun. (Muhamaa Djazuli, 2011)

BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 ALAT DAN BAHAN Alat : Cawan Petri Alat tulis Kamera : untuk tempat perkecambahan. : untuk mencatat label perlakuan. : untuk mendokumentasikan.

Bahan : Biji kedelai Kertas merang Air : sebagai bahan praktikum alelopati (sebagai tanaman utama). Ekstrak daun dan umbi teki : sebagai bahan praktikum alelopati (sebagai gulma). : sebagai media tanam kedelai. : untuk membasahi kertas merang.

3.2 ALUR KERJA Adapun cara kerja dalam pengamatan alelopati ini antara alain: 1. Persiapan bahan ekstrak teki Membuat ekstrak daun dan umbi teki serta tanah bekas teki. Daun 100 g, umbi 200 g dicuci bersih kemudian dihaluskan, ditambah dengan 100 ml aquades. Larutan disaring dengan kertas whatman. Tanah ditimbang 100 g kemudian ditambah 100 ml aquades dan disaring dengan kertas whatman. Larutan disimpan 24 jam sebelum digunakan. 2. Menanam tanaman pada petridish dengan perlakuan: - K0 = tanpa penambahan ekstrak teki - K1 = penambahan 1 ml ekstrak teki - K2 = penambahan 5 ml ekstrak teki - K3 = penambahan 10 ml ekstrak teki 3. Pengamatan
Ukur sesuai dengan perlakuan praktikum masing-masing kelompok Siramkan ekstrak daun tersebut pada kedelai dan teki yang ada di petridish

Siapkan 5 biji kedelai

Potong kertas merang secukupnya dan Letakkan kertas merang pada petridish

Masukkan ekstrak daun dalam gelas ukur

Diamkan selama 1 minggu

Basahi kertas merang yang ada di petridish dengan air dengan cara dipercikan

Letakkan 5 biji kedelai di petridish

Amati 2 hari sekali

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 HASIL PENGAMATAN 4.1 Hasil Pengamatan Penga matan ke Hari Perlakuan Keterangan Dokumentasi

K0

Tidak Tumbuh

K1

Tidak Tumbuh

Rabu

K2

Tidak Tumbuh

K3

Tidak Tumbuh

K0

Tumbuh ( 0,5 cm)

K1

Tumbuh ( 0,3 cm)

Jumat K2 Tumbuh ( 0,5 cm)

K3

Tidak tumbuh

K0

Tumbuh ( 1 cm)

Senin

K1

Tumbuh ( 1 cm)

K2

Tumbuh ( 1 cm)

K3

Tumbuh ( 0,2 cm)

4.2 Pembahasan Pada praktikum alelopati ini bahan yang digunakan adalah biji kedelai dan ekstrak daun sebagai bahan alelokimianya agar terjadi proses alelopati. Terdapat 4 perlakuan yaitu K0, K1, K2, dan K3. Dimana K0 adalah perlakuan dengan menggunakan 5 biji kedelai dan air sebanyak 4 ml tanpa menggunakan ekstrak daun. K1 adalah perlakuan yang menggunakan 5 biji kedelai ditambah dengan ekstrak daun sebanyak 10 ml. K2 adalah perlakuan yang menggunakan 5 biji kedelai ditambah dengan ekstrak daun sebanyak 15 ml. K3 adalah perlakuan yang menggunakan 5 biji kedelai ditambah dengan ekstrak daun sebanyak 20 ml. Pada awal pengamatan yaitu sehari setelah praktikum tepatnya hari rabu, biji kedelai dari perlakuan K0, K1, K2, dan K3 ini terlihat belum ada yang tumbuh sama sekali. Dan belum terlihat tanda-tanda biji kedelai mulai merekah untuk tumbuh. Pada pengamatan kedua yaitu pada hari Jumat terdapat tiga perlakuan yang mengalami perubahan dari pengamatan sebelumnya, yaitu perlakuan K0, K1, dan K2. Pada perlakuan K0, keempat biji kedelai tumbuh berkecambah sepanjang 0,5 cm sedangkan satu biji tidak mengalami pertumbuhan. Pada perlakuan K1, kedua biji kedelai mulai tumbuh kecambah sepanjang 0,3 cm sedangkan ketiga biji lainnya tidak tumbuh. Pada perlakuan K2, kelima-limanya biji kedelai tumbuh berkecambah sepanjang 0,5 cm. Pada perlakuan K3, belum ada biji kedelai yang tumbuh. Pada pengamatan ketiga yang merupakan pengamatan terakhir dan dilaksanakan pada hari senin menunjukkan perubahan yang cukup meningkat dari yang pengamatan kedua. Pada perlakuan K0, keempat biji kedelai mengalami pertambahan kecambah, sehingga menjadi 1 cm, sedangkan yang satu biji kedelai tetap tidak tumbuh. Pada

perlakuan K1, yang semula hanya dua biji kedelai yang tumbuh tetapi pada pengamatan ketiga menjadi tiga biji kedelai yang tumbuh. Ketiga biji kedelai mengalami pertambahan panjang kecambah hingga menjadi 1 cm, sedangkan yang satu biji lain tetap tidak tumbuh. Pada perlakuan K2, kelima biji kedelai juga mengalami pertambahan panjang kecambah menjadi sepanjang 1 cm. Pada perlakuan K3, mulai mengalami pertumbuhan kecambah sepanjang 0,2 cm.

BAB V PENUTUP 5.1 KESIMPULAN Alelopati merupakan pelepasan senyawa bersifat toksik yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman disekitarnya dan senyawa yang bersifat alelopati disebut alelokimia. Mekanisme alelopati ada 4 yaitu: 1. Penguapan 2. Eksudut akar 3. Pencucian 4. Pembusukkan organ tanaman Ada tiga jenis rumput yaitu masing-masing Dicanthium annulatum Stapf, Cenchruspennisetiformis Hochest and Sorghum halepense Pers., yang bersifat alelopatik dan mampu berperan dan potensial sebagai bioherbisida. 5.2 KRITIK DAN SARAN Tidak ada

DAFTAR PUSTAKA Anonymousa.2011.Alelopati.http://iqbalali.com/2008/01/23/alelopati/ (Diakses 6 Desember 2013) Anonymousb.2011.AlelopatiTanaman.http://www.scribd.com/doc/24927261/alelopatitanaman. (Diakses 6 Desember 2013) Anonymousc.2011.Allelopaty.http://arenlovesu.blogspot.com/2010/04/allelopaty.html. (Diakses 6 Desember 2013) Anonymousd.2011.Alelopati. http://id.wikipedia.org/wiki/Alelopati. (Diakses 6 Desember 2013) Einhellig FA. 1995a. Allelopathy: Current status and future goals. Dalam Inderjit, Dakhsini. KMM, Einhellig FA (Eds). Allelopathy. Organism, Processes and Applications. Washington DC: American Chemical Society. Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Balai Pustaka : Jakarta. Widaryanto, Dr. Ir. Eko. 2009. Diktat Kuliah Teknik Pengendalian Gulma. FPUB : Malang.