Anda di halaman 1dari 8

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Financial Distress


Definisi financial distress yang dikemukakan oleh Wruck (1990). Financial distress
is a situation where a firms operating cash flows are not sufficient to satisfy current
obligations (such as trade credits or interest expense) and the firm is forced to take
corrective action Definisi tersebut lebih menekankan pada ketidakmampuan perusahaan
untuk memenuhi kewajiban yang bersifat jangka pendek.
Definisi lain mengenai financial distress adalah dari Blacks law Dictionary yaitu
inability to pay ones debts; lack of means of paying ones debts. Such a condition of a
womans (or mens) assets and liabilities that the former made immediately available
would beinsufferent to discharge the latter. Definisi ini melihat financial distress pada
ketidakmampuan membayar hutang secara umum. Baik jangka pendek dan jangka panjang,
dan juga menyoroti financial distress dari sisi ketidak mampuan aset menutupi liabilitas.

2.2 Apa yang terjadi ketika Perusahaan Mengelami Financial Distress?


Beberapa hal yang mungkin dilakukan oleh perusahaan yang mengalamai Financial
Distress antara lain:
1. Menjual aset-aset utama
2. Merget dengan perusahaan lain
3. Mengurangi belanja modal untuk penelitian dan pengembangan
4. Menerbitkan saham atau obligasi baru
5. Negosiasi dengan bank atau kreditor lainnya
6. Mengkonversi utang menjadi ekuitas
7. Mengajukan permohonan kepalitan
Strategi ketika terjadi Financial Distress:
1. Langka nomor 1,2,dan 3 merupakan langkah-langkah yang terkait dengan aset
perusahaan atau disebut dengan asset restructuring
2. Langkah nomor 4,5,6, dan 7 merupakan langkah terkait sisi kanan laporan posisi
keuangan perusahaan (isi pendanaan) dan merupakan contoh financial restructuring.
Perusahaan yang mengalami Financial Distress dapat sekaligus melakukan asset
restructuring dan financial restructuring.
Manfaat melaksanakan asset restructuring
a. Perusahaan menjual aset-aset yang tidak terkait dengan bisnis utama perusahaan,
misalnya anak perusahaan atau divisi yang tidak berkontribusi kepada keuntungan
perusahaan.
b. Hasil dari asset restructuring adalah perusahaan memiliki struktur organisasi baru
yang lebih ramping dan dapat fokus pada strategi baru yang sesuai dengan core
business perusahaan.

2.3 Kebangkrutan, Likuidasi, dan Reorganisasi


Perusahaan yang tidak memperoleh atau memilih untuk tidak membuat kesepakatan
terkait dengan pembayaran utang kepada kreditor , memiliki dua pilihan, yaitu melakukan
likuidasi atau reorganisasi.
Likuidasi berarti menghentikan kegiatan operasi perusahaan (going concern).
Kegiatan yang dilakukan dalam likuidasi adalah perusahaan menjual aset-aset yang
dimiliki. Hasil dari penjualan tersebut kemudian dibagikan kepada kreditur dan sisanya
(jika ada) kepada pemegang saham perusahaan.
Reoganisasi adalah pilihan untuk mempertahankan kelangsungan usaha (going
concern) perusahaan. Diantaranya dengan menerbitkan efek baru untuk mengantikan efek
lama. Likuiditas dan reorganisasi dapat dilakukan melalui mekanisme kebangkrutan
(bankruptcy).
Kebangkrutan (bankruptcy) adalah sebuah upaya hukum yang permohonannya dapat
diajukan sendiri (voluntary) oleh perusahaan atau dapat diajukan oleh kreditor
(involuntary).

2.4 Likuiditas
Di Amerika Serikat, Langkah-langkah yang harus di tempuh untuk melakukan
straight liquidation tercantum dalam Chapter 7 of the Bangkruptcy Reform Act of 1978.
Langkah-langkah tersebut mencakup :
1. Permohonan diajukan kepada Pengadilan Federal. Permohonan bisa diajukan sendiri
oleh perusahaan (Voluntary) maupun oleh kreditor (Involuntary bankptcy). Kurator
(bankruptcy trustee).kurator (bankruptcy trustee) ditunjuk oleh kreditor untuk
mengambilalih aset debitur. Kurator bertugas melakukan likuidasi aset. Setelah aset
dilikuidasi, dan dikurangi pembayran biaya-biaya administrasi, hasil likuidasi dibagikan
kepada kreditor. Jika aset masih tersisa setelah digunakan untuk membayar biaya biaya
dan pembayaran kepada kreditor , maka sisanya dibagikan kepada pemegang saham.
2. Setelah perusahaan ditetapkan bangkrut , maka proses likuidasi dimulai. Pembagian
hasil likuidasi dilakukan berdasarkan urutan prioritas berikut :
a. Beban administrasi terkait proses likuidasi perusahaan yang bangkrut
b. Klaim-klaim tanpa jaminan (unsecured claims) yang terjadi setelah pengajuan
permohonan involuntary bangkruptcy
c. Upah, gaji, dan komisi
d. Iuran kepada dana pensiun yang terjadi dalam 180 hari sebelum tanggal pengajuan
permohonan kebangkrutan
e. Klaim dari konsumen
f. Klaim pajak
g. Klaim kreditor baik dengan atau tanpa jaminan
h. Klaim dari pemegang saham preferen
i. Klaim dari pemegang saham biasa

2.5 Reorganisasi
Di Amerika Serikat, reorgansasi diatur dalam Chapter 11 of the Federal Bankruptcy
Reform Act of 1978. Langkah-langkah reorganisasi adalah sebagai berikut:
a. Permohonan dapat diajukan oleh perusahaan (voluntary petition) atau oleh 3 atau lebih
kreditur (bisa diajukan 1 kreditur jika jumlah kreditur kurang dari 12). Permohonan
kepailitan oleh kreditur (involuntary puetition) harus disertai keterangan bahwa
perusahaan tidak membayar utangnya. Pada umumnya, hakim federal menerima
permohonan dan menetapkan waktu untuk menyampaikan bukti dari klaim kreditur dan
pemegang saham. Pada umumnya, perusahaan masih tetap beroperasi.
b. Waktu untuk menyiapkan rencana reorganisasi adalah 120 hari. Setelah diajukan,
perusahaan diberi waktu 180 hari untuk meminta persetujuan terhadap rencana tersebut.
c. Kreditur dan pemegang saham dibagi ke dalam kelompok-kelompok. Sekelompok
kreditur dianggap menerima rencana jika 2/3 dari kelompok tersebut (berdasarkan
jumlah kredit) dan dari kelompok tersebut (berdasarkan jumlah kreditur) menyetujui
rencana reorganisasi.
d. Setelah disetujui kreditur, rencana reorganisasi disahkan oleh pengadilan
e. Pembayaran dalam bentuk kas, aset properti, dan efek dilakukan kepada kreditur dan
pemegang saham. Rencana reorganisasi bisa juga mencakup penerbitan efek baru.

2.6 Private Workout atau Kepailitan?


Perusahaan yang mengalami financial distress memiliki 2 pilihan untuk formal
bankcruptcy atau private workout. Kedua pilihan tersebut sama-sama memberikan efek
baru untuk menggantikan efek lama. Biasanya, senior debt diganti dengan junior debt,
junior debt digantikan dengan ekuitas. Sejumlah penelitian membandingkan private
workout dengan formal bankcruptcies, dan hasilnya antara lain:
a. Berdasarkan data historis, setengah dari financial restructurings dilakukan dengan
meggunakan skema private workout, walaupun akhir-akhir ini formal bankcruptcies
mulai banyak digunakan
b. Perusahaan yang mampu bangkit dari financial distress dengan menggunakan skema
private workouts mengalami kenaikan harga saham yang jauh lebih tinggi daripada
perusahaan yang bangkit dari financial distress dengan skema formal bankcruptcies
c. Biaya langsung (direct cost) skema private workouts jauh lebih murah daripada biaya
formal bankcruptcies
d. Top management biasanya sama-sama mengalami penurunan gaji bahkan kehilangan
jabatan baik dalam private workouts maupun formal bankcruptcies
Alasan perusahaan menggunakan formal bankcruptcies adalah:
a. Marginal Firm
Dengan menggunakan skeme formal bankcruptcy, perusahaan dapat menerbitkan
surat utang debtor in possession (DIP). Di Amerika Serikat, surat utang ini hanya
dapat diterbitkan oleh perusahaan yang mengajukan permohonan kebangkrutan.
Bagi perusahaan yang membutuhkan injeksi kas dalam jangka pendek, surat utang
DIP merupakan alternatif yang cukup menarik. Dengan mekanisme tersebut, perusahaan
memperoleh sejumlah keuntungan pajak (tax advantages). Perusahaan tidak kehilangan
tax carry forward (kompensasi kerugian) karena mengajukan kebangkrutan. Selain itu,
perlakuan pajak untuk pembatalan utang juga lebih menguntungkan bagi perusahaan
yang mengajukan permohonan kebangkrutan.
b. Holdouts
Sebagian besar formal bankcruptcies mengabaikan absolute priority rule,
sehingga memberikan keuntungan bagi pemegang saham. Pemegang saham yang
tadinya berada pada prioritas terakhir bisa memperoleh lebih banyak dari yang
seharusnya. Oleh karena itu, pemegang saham akan mendorong perusahaan untuk
menggunakan mekanisme formal bankcruptcies.
c. Complexity
Perusahaan yang memiliki struktur modal yang kompleks biasanya akan
mengalami kesulitan untuk melakukan private workout. Jenis utang yang bermacam-
macam membuat negosiasi dengan pihak kreditur semakin rumit.
d. Lack of Information
Pada saat perusahaan mengalami kekurangan kas (cash flow shortfall), tidak dapat
diprediksi apakah hal ini hanya sementara atau akan terus berlanjut. Jika kekurangan
terjadi terus menerus, maka kreditur akan mendorong agar dilakukan proses formal
bankcruptcy.
Jika kekurangan terjadi sementara, maka formal bankcruptcy belum diperlukan.
Apabila perusahaan mengetahui informasi tersebut dengan akurat, maka perusahaan
dapat menentukan alternatif mana yang sebetulnya lebih murah biayanya bagi
perusahaan.

2.7 Prepackaged Bankcruptcy


Prepackaged bankcruptcy adalah kombinasi antara private workout dengan legal
bankcruptcy. Sebelum perusahaan mengajukan permohonan kebangkrutan, perusahaan
terlebih dahulu melakukan pendekatan dengan kreditur serta membawa rencana
reorganisasi perusahaan. Kedua belah pihak kemudian melakukan negosiasi untuk mencari
kesepakatan mengenai rincian bagaimana keuangan perusahaan direstrukturisasi.
Kemudian perusahaan dan kreditur sekaligus menyiapkan dokumen administrasi yang
diperlukan sebelum mengajukan permohonan kebangkrutan. Permohonan disebut
prepackaged jika pada perusahaan mengajukan permohonan ke pengadian, namun pada
saat yang sama, juga sudah melampirkan rencana reorganisasi lengkap dengan persetujuan
dari kreditur.

2.8 Prediksi Kebangkrutan Perusahaan: Model Z Score


Edward Altman menciptakan model dengan menggunakan sejumlah rasio dalam
laporan keuangan dan menganalisis beberapa diskriminan untuk memprediksi
kebangkrutan perusahaan manufaktur yang sahamnya diperdagangkan di bursa (publicly
traded manufacturing firms). Model tersebut adalah sebagai berikut:
EBIT Net Working Capital Sales
3,3 1,2 1,0
Z= Total Assets + Total Assets + Total Assets

Market Value of Equity Accumulated Retained Earnings


0,6 1,4
+ Book Valueof Debt + Total Assets

Dimana:
a. Z adalah indeks kebangkrutan (index of bankcruptcy)
b. Jika ZScore kurang dari 2,675, hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan memiliki
kemungkinan 95% untuk bangkrut dalam waktu 1 tahun
c. Akan tetapi, hasil Altman Z-Score menunjukkan bahwa skor 1,81 sampai 2,99 merupakan
grey area. Dalam penerapannya, kebangkrutan diprediksi akan terjadi jika Z 1,81 dan

perusahaan diprediksi tidak bangkrut jika Z 2,99


d. Pada mulanya Altman Z-Score, hanya dapat diterapkan pada perusahaan manufaktur yang
sahamnya diperdagangkan di bursa.
e. Altman kemudian merevisi modelnya agar dapat diterapkan untuk perusahaan non publik
bukan perusahaan manufaktur. Model tersebut adalah sebagai berikut:

Net Working Capital Accumulated Retained Earnings


6,56 3,26
Z= Total Assets + Total Assets
EBIT Book Value of Equity
1,05 6,72
+ Total Assets + Total Liabilities

Dimana jika:
a. Z < 1,23 adalah indikasi perusahaan diprediksi akan bangkrut
b. 1,23 Z 2,90 adalah grey area
c. Z > 2,90 adalah indikasi perusahaan tidak bangkrut

2.9 Contoh Perhitungan Z-Score


U.S. Composite Corporation berusaha untuk meningkatkan lini kredit melalui First
National State Bank. Direktur departemen perkreditan First National State Bank
menggunakan model Z-score untuk menentukan kelayakan kredit. U.S. Composite
Corporation merupakan perusahaan private, jadi model revisi Z-score yang digunakan.
Net Workin g Capital 275
0.146
Total Assets 1.879

Accumulate d Retained Earnings 390


0.208
Total Assets 1.879

EBIT 219
0.117
Total Assets 1.879

Book Value Of Equity 805


1.369
Total Liabilitie s 588
Z (6.56 0.146) (3.26 0.208) (1.05 0.117) (6.72 1.369)

= 10.96

Kesimpulannya, Z score diatas 2.9, maka U.S. Composition Corporation dianggap aman
dan layak dalam kredit.