Anda di halaman 1dari 12

Laporan Kimia Perubahan Entalpi

26 Feb

A. Tujuan

Menentukan perubahan entalpi pada reaksi antara larutan NaOH dengan larutan HCl yang
menghasilkan 1 mol air.

B. Alat dan Bahan

1. Gelas Ukur

2. Kalorimeter

3. Termometer

4. Larutan HCl 50ml

5. Larutan NaOH 50ml

C. Urutan Kerja

1. Memasukkan 50ml larutan NaOH kedalam gelas ukur. Kemudian mengukur dan
mencatat suhu awal larutan NaOH tersebut.

2. Memasukkan 50ml larutan HCl kedalam gelas ukur. Kemudian mengukur dan mencatat
suhu awal larutan HCl tersebut.

3. Mencampurkan kedua larutan tersebut kedalam kalorimeter kemudian mengocoknya.

4. Mencatat suhu akhir campuran larutan tersebut.

5. Menentukan kenaikan suhunya

D. Pengamatan

Suhu larutan NaOH 1 M = 27 C

Suhu larutan HCl 1 M = 27 C

Suhu rata-rata (suhu awal) = 27 C

Suhu akhir = 33 C

Kenaikan suhu = 6 C

E. Analisis Data

1. Menghitung qlarutan dengan rumus q = m x c x DT (kalor yang diserap kalorimeter dapat


diabaikan).

2. Menghitung qreaksi (= -qlarutan).

3. Menghitung jumlah mol NaOH dalam 50 cm3 larutan NaOH 1 M dan jumlah mol HCl
dalam 50 cm3 larutan HCl 1 M.

4. Menghitung qreaksi pada pembentukan 1 mol H2O (jika NaOH dan HCl yang bereaksi
masing-masing 1 mol).
5. Menulis persamaan termokimia untuk reaksi ini (DHreaksi qreaksi pada pembentukan 1 mol
H2O).

6. Mencari data kalor reaksi netralisasi asam-basa dari literatur, kemudian membandingkan
dengan hasil yang diperoleh dari kegiatan ini. Jika terdapat perbedaan yang berarti, kami
akan mencoba mengemukakan penyebabnya.

7. Menarik kesimpulan dari kegiatan ini.

Catatan :

Pada perhitungan perubahan entalpi pada reaksi ini dianggap bahwa :

1. Massa larutan sama dengan air (2 x 50 cm3 larutan dianggap 100 cm3 air).

2. Selama reaksi berlangsung, energy yang berpindah dari sistem ke lingkungan dapat
diabaikan.

3. Kalor jenis air 4,2 J K1 g1, massa jenis air = 1 g cm3.

Jawaban :

1. qlarutan = m x c x DT

= 100 g x 4,2 J K1 g1 x 6 C

= 2520 J

2. qreaksi = -qlarutan

= -2520 J

3. NaOH HCl

M = n/V M = n/V

n =MxV n =MxV

= 1 x 0,05 = 1 x 0,05

= 0,05 mol = 0,05 mol

4. H2O

qreaksi = -qlarutan

= -(m x c x DT)

= -(50 x 4,2 x 6)

= -1260 J

5. H = -q/mol

= -2520/0,05

= -50.400 J/mol -50,4 kJ/mol

Persamaan termokimia menurut hasil pengamatan :

NaOH(aq) + HCl(aq) NaCl(aq) + H2O(l) ; H = -50,4 kJ/mol


Data kalor reaksi netralisasi asam-basa dari literatur :

NaOH(aq) + HCl(aq) NaCl(aq) + H2O(l) ; H = -890.4 kJ/mol

Terdapat perbedaan antara data hasil pengamatan dan data dari literatur kemungkinan
dikarenakan oleh perubahan suhu.

F. Kesimpulan :

Dari reaksi tersebut larutan Natrium Hidroksida (NaOH) dan Asam Klorida (HCl) terjadi reaksi
eksoterm, yaitu reaksi yang membebaskan kalor. Hal tersebut ditandai dengan adanya kenaikan
suhu larutan.

Tujuan Percobaan

Menentukan kalor pelarutan integradi CuSO4 dan CuSO4.5H2O dengan menggunakan


kalorimeter sederhana

Landasan Teore

Kalor adalah suatu bentuk energi yang diterima oleh suatu benda yang menyebabkan benda
tersebut berubah suhu atau bentuk wujudnya. Kalor berbeda dengan suhu, karena suhu adalah
ukuran dalam suatu derajat panas. Kalor merupakan suatu kuantitas atau jumlah panas balik yang
diserap maupun dilipaskan oleh suatu benda (Anonim, 2006).
Kalor, q dapat diartikan sebagai energy yang dipindahkan melalui batas-batas system, sebagian
besar akibat dari adanya perbedaan suhu antara system dan lingkungan. Menurut perjanjian, q
dihitung sebagai positif jika kalor masuk system dan negative jika kalor keluar system (Achmad,
2001; )
Kalor didefenisikan sebagai energy panas yang dimiliki oleh suatu zat. Secara umum untuk
mendeteksi adanya kalor yang dimiliki oleh suatu benda yaitu dengan mengukur suhu benda
tersebut. Jika suhunya tinggi, maka kalor yang dikandung oleh benda sangat besar, begitu juga
sebaliknya jika suhunya rendah, maka kalor yang dikandung sedikit (Anonim, 2008)
Kalor adalah jumlah energi yang dipindahkan dari suatu benda atau tubuh kepada benda lain
akibat suatu perbedaan suhu diantara mereka. Kalor (Q) dinyatakan dalam satuan energi dalam
Joule (J) menurut satuan SI. Kalor umumnya dinyatakan dalam satuan kalori (kal) yaitu suatu
kalori adalah jumlah kalor yang diperlukan untuk meningkatkan suhu 1 gram air sebanyak 1 K
atau 1 oC suhu kamar (293 K). Kapasitas kalor adalah jumlah energi kalor yang diperlukan untuk
menaikkan suhu sejumlah zat tertentu sebesar 1 K atau 1 oC. Jumlah kalor (Q) yang diperlukan
untuk menaikkan suhu suatu zat yang diketahui oleh dari sembarang suhu awal (Ti) sampai
sembarang suhu akhir (Tf) dapat ditentukan melalui pemahaman persamaan kalor :
T\Qkalor = m c
M adalah massa benda, C adalah kapasitas kaor spesifik dari zat tertentu T adalah perubahan
suhu. Panas juga merupakan salah satu bentukdan energi dan perubahan bentuk akibat panas
akan sama dengan yang diakibatkan olehnya. Sebagaimana tarikan gravitasi, potensial listrik,
panas juga mengalir dari temperature yang lebih tinggi ke yang lebih rendah kecuali jika kerja
dilakukan terhadap system (Anonim, 2010).
Perubahan kalor yang terjadi pada reaksi kimia maupun proses fisik dapat diukur dengan suatu
alat yang disebut calorimeter. Setiap calorimeter memilki sifat khas dalam mengukur kalor. Ini
terjadi karena komponen-komponen alat calorimeter sendiri (wdah logam, pengaduk, dan
thermometer) menyerap kalor, sehingga tidak semua kalor yang terjadi terukur. Oleh karena itu,
jumlah kalor yang diserap oleh calorimeter, biasa juga disebut tetapan (kapasitas, k) perlu
diketahui terlebih dahulu ( Tim Dosen Kimia Fisik, 2010: 2).
Alat paling penting unyuk mengukur u adalah calorimeter bamodiabatik. Perubahan keadaan
yang dapat berupa reaksi kimia berawal di dalam wadah yang bervolume tetap disebut bom.
Bom tersebut direndam dalam air berpengaduk dan keseluruhan alat itulah yang disebut
calorimeter. Calorimeter itu juga direndam dalam bak air luar. Temperature air dalam calorimeter
dan di dalam bak luar dipantau dan diatur sampai nilanya sama. Hal ini dilakukan untuk
memastikan tidak ada kalor yang hilang sedikitpun dari calorimeter ke lingkungannya (bak air).
Sehingga calorimeter tersebut adiabatic (Atkins, 1999; 99)
Penyerapan atau pelepasan kalor yang menyertai suatu reksi dapat diukur secara eksperimen.
Dikenal beberapa macam kalor reaksi, bergantung pada tipe reaksinya, diantaranya adalah kalor
netralisasi, kalor pembentukan, kalor penguraian dan kalor pembakaran ( Tim Dosen Kimia
Fisik, 2010: 1).
Suatu proses dapat berlangsung pada volume tetap, kalor yang menyertai proses tersebut
merupakan perubahan energy dalam, sedangkan pada tekanan tetap adalah perubahan entalpi.
Eksperimen di laboratorium lebih banyak dilakukan pada tekanan tetep sehingga kalor yag
dihasilkan merupakan perubahn entalpi (Rahman, 2004).
Hubungan kedua bebesaran tersebut pada tekanan tetap dinyatakan dengan : H = U + PV
Dan untuk reksi yang berkaitan dengan perubahan jumlah mol gas dengan asumsi gas ideal
persamaan menjadi :
H = + RT
(Tim Dosen Kimia Fisik, 2010: 1 )
Menurut Anonim (2008), dari hasil percobaan yang sering dilakukan besar kecilnya kalor yang
dibutuhkan untuk benda (zat) bergantung pada 3 faktor, yaitu:
Massa zat
Jenis zat (kalor jenis)
Perubahan suhu
Sehingga secara metamatis dapat di rumuskan :
Q = m . c (t2 t1)
Dimana
Q adalah kalor yang dibutuhkan (J)
M adalah massa benda (kg)
C adalah kalo jenis (j/kgOC)
(t1-t2) adalah perubahan suhu (OC)
Kapasitas kalor adalah banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu benda sebesar 1
OC sedangkan kalor jenis adalah banyaknya kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1 kg
zat sebesar 1 OC (Anonim, 2008)
Selain kalor reaksi, penyerapan atau pelepasan kalor dapat terjadi pada proses-proses fisik.
Diantaranya adalah pada proses pelarutan suatu zat di dalam pelarutnya, atau penambahan zat
terlarut ke dalam zat pelarut (Tim Dosen Kimia Fisik, 2010; 1).
Ada dua panas pelarutan yaitu panas pelarutan integral dan panas pelarutan deferensial. Panas
pelarutan integral didefenisikan sebagai perubahan entalpi jika suatu mol zat dilakukan dalam n
mol pelarut. Panas pelarutan diferensial didefenisikan sebagai perubahan antalpi jika suatu mol
zat terlarut dilarutkan dalam jumlah larutan tak terhingga, sehingga konsentrasinya tidak berubah
dalam penambahan 1 mol zat terlarut. Secara matematik didefenisikan sebagaimn d mH/dm ,
yaitu perubahan panas diplot sebagai jumlah mol zat terlarut dan panas pelarutan diferensial
dapat diperoleh dengan mendapatkan kemiringan tergantung pada konsenterasi larutan (Dogra,
1984; 336-337).

Alat dan Bahan

Alat
Calorimeter 1 buah
Termometer 1 buah
Mortar dan Alu 1 buah
Gelas kimia 500 mL 1 buah
Gelas kimia 100 mL 1 buah
Gelas kimia 50 mL 1 buah
Gelas ukur 100 mL 1 buah
Batang pengaduk 1 buah
Lampu spirtus 1 buah
Kassa abses dan kaki tiga 1 buah
Botol semprot 1 buah
Nerasa digital
Cawan penguap 1 buah
Oven

Bahan
Aquades
CuSO4
CuSO4.5H2O
Tissue

Prosedur Kerja

Penentuan Tetapan Kalorimeter


Memasukkan 50 ml air ke dalam kalorimeter dengan gelas ukur. Mencatat temperaturnya
Menyiapkan 50 ml air panas dalam gelas kimia yang suhunya 40 oC
Memasukkan 50 ml air panas ke dalam calorimeter yang berisi air dingin tepat pada waktu menit
ke enam.
Mencatat suhu air dalam calorimeter setiap 1 menit sambil terus di aduk
Mencatat suhu hingga diperoleh suhu relative tetap
Membuat kurva hubungan antara waktu dengan suhu untuk memperoleh suhu campuran yang
tepat

Penentuan kalor pelarutan Integral CuSO4 dan CuSO4.5H2O


Menimbang secara kasar 10 gram Kristal Cuso4 . 5H2O
Menempatkan Kristal tersebut dalam mortar dan Alu
Menghancrkan sampai di dapat serbuk halus
Menimbang secara teliti 5 gram Kristal tersebut dengan neraca analitik
Menyiapkan calorimeter (yang telah ditentukan tetapannya). Kemudian memasukkan 100 ml
aquades
Mencatat suhu setiap 1 menit selama 5 kali pembacaan
Menambahkan serbuk halus Cuso4 . 5H2O yang telah di ketahui pasti massanya ke dalam
calorimeter dan mengaduknya terus.
Mencatat suhu saat Kristal ditambahkan, lalu di lanjutkan dengan pembacaan suhu setiap 1 menit
sampai di peroleh suhu yang relative tetap
Memanaskan 5 gram Kristal halus Cuso4 . 5H2O sisa percobaan sebelumnya.
Mengaduk secara perlahan-lahan sampai semua hidratnya menguap seluruhnya di tandai dengan
berubahnya warna serbuk dai biru menjai putih.
Menyimpan serbuk dalam eksikator sampai dingin.
Dengan menggunakan Cuso4 anhidrat, mengulangi langkah 4-8

Hasil Pengamatan

Penentuan Tetapan Kalorimeter


Volume air dingin = 50 ml
Volume air panas = 50 ml
Suhu air panas = 40 oC
Menit ke- Suhu air dingin (oC Menit Ke- Suhu Campuran (oC)
1 28,5 6 34
2 28,5 7 34
3 28,5 8 33,5
4 28 9 33,5
5 28 10 33
- - 11 33
- - 12 33

Penentuan Kalor Pelarutan Integral CuSO4.5H2O


Volume air dingin = 100 ml
Massa CuSO4.5H2O = 5 gram

Menit ke- Suhu air dingin (oC Menit Ke- Suhu Campuran (oC)
1 28,5 6 28
2 28 7 28
3 28 8 28
4 28 9 28
5 28 10 28

Penentuan Kalor Pelarutan Integral CuSO4 anhidrat


Volume air dingin = 100 ml
Massa CuSO4.5H2O = 5 gram
Menit ke- Suhu air dingin (oC Menit Ke- Suhu Campuran (oC)
1 28 6 29
2 28 7 29
3 28 8 29
4 28 9 28,5
5 28 10 28,5
- - 11 28,5
- - 12 28,5

Analisis Data

Penentuan Tetapan Kalorimeter


Dik : Vair dingin = 50 mL
Vair panas = 50 mL
Tair panas = 40 oC = 313 K
Tair dingin = 28 oC = 301 K
Tcampuran = 33 oC = 306 K
Dit : K?
Peny :

m air panas = m air dingin = x V


= 1 g/mL x 50 mL
= 50 gram

K=(m1 c (T2-Tc)- m2 c (Tc-T1))/(Tc-Ti)

K=(50 gram x 4,2 J/gK (313-306)K- 50gram x (306-301)K)/(306 K-301 K)


K=(1470 J-1050 J)/(5 K)
K=(420 J)/(5 K)=84J/K
Penentuan Kalor Pelarutan Integral CuSO4.5H2O
Dik : Tair dingin = 28 oC = 301 K
Tcampuran = 28 oC = 301 K
Vair = 100 mL
air = 1 gram/mL
Mr CuSO4.5H2O = 246 gram/mol
m CuSO4.5H2O = 5 gram
H1 CuSO4.5H2O?Dit :
Peny :
n CuSO4.5H2O = massa/Mr= (5 gram)/(246 gram/mol)=0,0203 mol
Kalor yang diserap calorimeter (Q1)
TQ1 = K x
= 84 J/K x O K
= 0 J/K

Kalor yang diserap air (Q2)


TQ2 = m c
= 100 gram x 4,2 J/g.K (0)
=0J
H1)Kalor pelarutan integral CuSO4.5H2O (
H1 = (Q1+Q2)/(n CuSO4.5H2O)= (0 + 0)/(0,0203 mol)=0 kJ/mol
Penentuan Kalor Pelarutan Integral CuSO4 anhidrat
Dik : Tair dingin = 28 oC = 301 K
Tcampuran = 28,5 oC = 301,5 K
Vair = 100 mL
air = 1 gram/mL
Mr CuSO4 = 161 gram/mol
m CuSO4.5H2O = 5 gram
H1 CuSO4 anhidrat?Dit :
Peny :
n CuSO4 = massa/Mr= (5 gram)/(161 gram/mol)=0,0310 mol
Kalor yang diserap calorimeter (Q1)
TQ1 = K x
= 84 J/K x O,5 K
= 42 J
= 0,042 kJ
Kalor yang diserap air (Q2)
TQ2 = m c
= 5 gram x 4,2 J/g.K (0,5 K)
= 10,5 J
= 0,0105 kJ

H2)Kalor pelarutan integral CuSO4 anhidrat (


H2 = (Q1+Q2)/(n CuSO4)= ((0,042 + 0,0105))/(0,0310 mol)=1,69kJ/mol
Berdasarkan hukum Hess
H1 CuSO4(s) + 5H2OCuSO4.5H2O(s)
H2H3
CuSO4.5H2O(l)
H1H2 - H3 =
= 1,69 kJ/mol 0
= 1,69 kJ/mol

Pembahasan

Pada percobaan ini, digunakan Kristal CuSO4.5H2O dan CuSO4 anhidrat H3 H2O (kalor
integral dari CuSO4.5H2O dan CuSO4untuk menentukan anhidrat), dimana kalor pelarutan
integral merupakan kalor yang diserap dan dilepaskan ketika satu mol zat (CuSO4.5H2O dan
CuSO4 anhidrat) dilarutkan dalam n mol pelarut.
Langkah pertama yang harus dilakukan pada percobaan ini adalah menentukan tetapan
calorimeter (K), karena alat yang digunakan untuk menentukan perubahan kalor adalah
calorimeter. Etatpan calorimeter perlu dilakukan karena adanya sejumlah kalor yang diserap oleh
calorimeter (wadah, thermometer, pengaduk) sehingga tidak semua perubahan suhu dapat diukur.
Pada percobaan selanjutnya, Kristal CuSO4.5H2O yang akan ditentukan kalor pelarutan
integralnya, dilarutkan dengan 100 mL aquadest di dalam calorimeter. Selama proses pelarutan
yang harus diperhatikan adalah perubahan suhu larutan, dimana suhu larutan dibaca setiap menit
sampai diperoleh suhu yang konstan. Perlunya ditentukan suhu larutan konstan adalah untuk
memudahkan dalam perhitungan harga kalor yang diserap atau dilepas karena jika suhunya tidak
konstan maka akan sulit untuk menentukan suhu mana yang akan digunakan dalam perhitungan.
Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah larutan harus terus diaduk di dalam calorimeter agar
semua Kristal CuSO4.5H2O benar-benar larut dan tidak mengendap.
Adapun pada penentuan kalor pelarutan integral CuSO4 anhidrat, hal pertama yang dilakukan
adalah memanaskan Kristal CuSO4.5H2O dalam oven sampai Kristal berubah warna dari biru
menjadi putih. Perubahan warna tersebut menandakan bahwa air yang terikat pada Kristal telah
menguap. Selanjutnya Kristal anhidrat tersebut dilarutkan dengan aquadest di dalam calorimeter,
mengamati perubahan suhu yang terjadi saat Kristal mulai dimasukkan sampai diperoleh suhu
yang konstan
Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh harga tetapan calorimeter (K) sebesar 84 J/K yang
berarti bahwa calorimeter menyerap sebesar 84 J kalor tiap kenaikan suhu satu Kelvin. Adapun
harga kalor pelarutan integral CuSO4.5H2O adalah 0 (nol) yang disebabkan karena pada saat
sebelum dan setelah penambahan Kristal CuSO4.5H2O kedalam calorimeter, T=0).suhu larutan
tetap sama sehingga tidak ada perubahan suhu ( Sedangkan harga kalor pelarutan CuSO4
anhidrat sebesar 1,6 kJ/mol yang berarti bahwa dalam setiap mol zat terlarut yang dilarutkan
dalam satu mol pelarut system menyerap kalor sebesar 1,6 kJ
Dengan berdasarkan perhitungan dengan menggunakan hukum hess, diperoleh nilai pelarutan
CuSO45H2O menjadi CuSO4 sebesar 1,9 kJ/mol. Adapun reaksinya :
CuSO4(l) + 5H2O(aq) CuSO45H2O(s)
H yang positif menandakan bahwa reaksi yang terjadi berlangsungNilai secara endoterm atau
kalor berpindah dari lingkungan ke system.

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan
Nilai tetapan calorimeter pada percobaan ini adalah 84 J/K
Kalor pelarutan integral CuSO45H2O adalah 0 kJ/mol yang artinya tidak terjadi pelepasan
ataupun penyerapan kalor
KAlor pelarutan ntegral CuSO4 anhidrat adalah 1,6 kJ/mol yang berarti dibutuhkan kalor sebesar
1,6 kJ untuk melarutkan tiap mol CuSO4 anhidrat.
Kalor pelarutan CuSO4 menjadi CuSO45H2O sebesar 1,69 kJ/mol

Saran
Sebaiknya praktikan lebih teliti dan focus pada saat melakukan praktikum agar hadil yang
diperoleh dapat lebih baik dan diaharapkan kepada asisten untuk memberikan pemahaman
kepada praktikan tentang prosedur kerja sebelum praktikum dimulai.

Daftar Pustaka

Achmad, hiskia. 2001. Stoikiometri Energetika Kimia. Bandung : PT Citra Aditya Bakti.
Anonim. 2006. Pengertian/Definisi Kalor dan Teori Kalor Umum Dasar.
Http://organisasi.org/pengertian-definisi-kalor-dan-teori-kalor-umum-dasar-kuantitas-jumlah-
panas/ diakses pada 14 April 2010.
Anonim. 2010. Kalorimeter Larutan. http://id.wikipedia.org/wiki/kalorimeter/ diakses pada 13
April 2010.
Atkins, P.W. 1999. Kimia Fisik Edisi Keenam Jilid Keempat. Jakarta : Erlangga.
Dogra. 1990. Kimia Fisik dan Soal-Soal. Jakarta : UI-Press.
Rohman, Ijang. 2004. Kimia Fisik I. Malang : JICA.
Tim Dosen Kimia Fisik. 2010. Penuntun Praktikum Kimia Fisik 1. Makassar : Laboratorium
Kimia, FMIPA, UNM

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


Suhu larutan NaOH 1m 310 C
Suhu larutan Hcl 1m 330 C
Suhu awal (rata-rata) 320 C
Suhu tetinggi (akhir) TNaOH + THcl= 640 C
Perubahan suhu 33,20 C - 320 C = 1,20 C
Berdasarkan peraktiku diatas kalor yang berpindah dari system kedalam lingkungan agar
suhu larutan kembali turun dan menjadi sama dengan suhu kembali turun dan menjadi sama
dengan suhu awal larutan (rata-rata)
q larutan =mc
= T1 - T2

q reaksi = -q larutan
BAB V
KESIMPULAN

Perubahan entalpi reaksi yang di lepaskan atau diserap hanya bergantung kepada keadaan
awal dan keadaan akhir. Semakin tinggi temperature reaksi makin cepat laju reaksinya.
Perubahan kalor pada suatu zat atau system di tentukan oleh perubhan suhu, masa zat dan
kalor jenis, kalor jenis adalah kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1 gram zat setinggi 1
k.
Menghitung banyaknya kalor yang dibebaskan atau diserap berdsarkan suhu pada larutan
yang masa dan kapasitas panas bahan kalori ternyata ditentukan.
TINJAUAN PUSTAKA

Energi mekanik akibat gerakan partikel materi dan dapat dipindah dari satu tempat ke
tempat lain disebut kalor.
Pengukuran jumlah kalor reaksi yang diserap atau dilepaskan pada suatu reaksi kimia
dengan eksperimen disebut kalorimetri. Dengan menggunakan hukum Hess, kalor reaksi suatu
reaksi kimia dapat ditentukan berdasarkan data perubahan entalpi pembentukan standar, energi
ikatan dan secara eksperimen. Proses dalam kalorimetri berlangsung secara adiabatik, yaitu tidak
ada energi yang lepas atau masuk dari luar ke dalam kalorimeter.
Kalor yag dibutuhkan untuk menaikan suhu kalorimeter sebesar 10oC pada air dengan
massa 1 gram disebut tetapan kalorimetri.
Dalam proses ini berlaku azas Black, yaitu:
Qlepas=Qterima
Qair panas= Qair dingin+ Qkalorimetri
m1 c (Tp-Tc)= m2 c (Tc-Td)+ C (Tc-Td)
Keterangan:
m1= massa air panas
m2= massa air dingin
c = kalor jenis air
C = kapasitas kalorimeter
Tp = suhu air panas
Tc = suhu air campuran
Td = suhu air dingin

Sedang hubungan kuantitatif antara kalor dan bentuk lain energi disebut termodinamika.
Termodinamika dapat didefinisikan sebagai cabang kimia yang menangani hubungan kalor,
kerja, dan bentuk lain energi dengan kesetimbangan dalam reaksi kimia dan dalam perubahan
keadaan.
Hukum pertama termodinamika menghubungkan perubahan energi dalam suatu proses
termodinamika dengan jumlah kerja yang dilakukan pada sistem dan jumlah kalor yang
dipindahkan ke sistem (Keenan, 1980).
Hukum kedua termodinamika yaitu membahas tentang reaksi spontan dan tidak spontan.
Proses spontan yaitu reaksi yang berlangsung tanpa pengaruh luar. Sedangkan reaksi tidak
spontan tidak terjadi tanpa bantuan luar.
Hukum ketiga termodinamika menyatakan bahwa entropi dari Kristal sempurna murni
pada suhu nol mutlak ialah nol. Kristal sempurna murni pada suhu nol mutlak menunjukan
keteraturan tertinggi yang dimungkinkan dalam sistem termodinamika. Jika suhu ditingkatkan
sedikit di atas 0 K, entropi meningkat. Entropi mutlak selalu mempunyai nilai positif.
Kalor reaksi dapat diperoleh dari hubungan maka zat (m), kalor jenis zat (c) dan
perubahan suhu (T), yang dinyatakan dengan persamaan berikut

q = m.c.T
Keterangan:
q= jumlah kalor (Joule)
m= massa zat (gram)
T= perubahan suhu (takhir-tawal)
C= kalor jenis

Kalorimeter adalah jenis zat dalam pengukuran panas dari reaksi kimia atau perubahan
fisik. Kalorimetri termasuk penggunaan kalorimeter. Kata kalormetri berasal dari bahasa latin
yaitu calor, yang berarti panas. Kalorimetri tidak langsung (indirect calorimetry) menghitung
panas pada makhluk hidup yang memproduksi karbon dioksida dan buangan nitrogen (ammonia,
untuk organisme perairan, urea, untuk organisme darat) atau konsumsi oksigen. Lavoisier (1780)
menyatakan bahwa produksi panas dapat diperkirakan dari konsumsi oksigen dengan
menggunakan regresi acak. Hal ini membenarkan teori energi dinamik. Pengeluaran panas oleh
makhluk hidup ditempatkan di dalam kalorimeter untuk dilakukan langsung, di mana makhluk
hidup ditempatkan di dalam kalorimeter untuk dilakukan pengukuran. Jika benda atau sistem
diisolasi dari alam, maka temperatur harus tetap konstan. Jika energi masuk atau keluar,
temperatur akan berubah. Energi akan berpindah dari satu tempat ke tempat yang disebut dengan
panas dan kalorimetri mengukur perubahan suatu tersebut. Bersamaan dengan kapasitas dengan
kapasitas panasnya, untuk menghitung perpindahan panas.
Kalor adalah berbentuk energi yang menyebabkan suatu zat memiliki suhu. Jika zat
menerima kalor, maka zat itu akan mengalami suhu hingga tingkat tertentu sehingga zat tersebut
akan mengalami perubahan wujud, seperti perubahan wujud dari padat menjadi cair. Sebaliknya
jika suatu zat mengalami perubahan wujud dari cair menjadi padat maka zat tersebut akan
melepaskan sejumlah kalor. Dalam Sistem Internasional (SI) satuan untuk kalor dinyatakan
dalam satuan kalori (kal), kilokalori (kkal), atau joule (J) dan kilojoule (kj).
1 kilokalori= 1000 kalori
1 kilojoule= 1000 joule
1 kalori = 4,18 joule
1 kalori adalah banyaknya kalor yang diperlukan untuk memanaskan 1 gram air sehingga
suhunya naik sebesar 1oC atau 1K. jumlah kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1oC atau
1K dari 1 gram zat disebut kalor jenis Q=m.c. T, satuan untuk kalor jenis adalah joule pergram
perderajat Celcius (Jg-1oC-1) atau joule pergram per Kelvin (Jg-1oK-1) (Petrucci, 1987).
Pengukuran kalorimetri suatu reaksi dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut
kalorimeter. Ada beberapa jenis kalorimeter seperti: kalorimeter termos, kalorimeter bom,
kalorimeter thienman, dan lain-lain. Kalorimeter yang lebih sederhana dapat dibuat dari sebuah
bejana plastik yang ditutup rapat sehingga bejana ini merupakan sistim yang terisolasi.
Cara kerjanya adalah sebagai berikut:
Sebelum zat-zat pereaksi direaksikan di dalam kalorimeter, terlebih dahulu suhunya diukur, dan
usahakan agar masing-masing pereaksi ini memiliki suhu yang sama. Setelah suhunya diukur
kedua larutan tersebut dimasukkan ke dalam kalorimeter sambil diaduk agar zat-zat bereaksi
dengan baik, kemudian suhu akhir diukur.
Jika reaksi dalam kalorimeter berlangsung secara eksoterm maka kalor yang timbul akan
dibebaskan ke dalam larutan itu sehingga suhu larutan akan naik, dan jika reaksi dalam
kalorimeter berlangsung secara endoterm maka reaksi itu akan menyerap kalor dari larutan itu
sendiri, sehingga suhu larutan akan turun. Besarnya kalor yang diserap atau dibebaskan reaksi itu
adalah sebanding dengan perubahan suhu dan massa larutan jadi,
Qreaksi= mlarutan. Clarutan. T
Kalorimetri yang lebih teliti adalah yang lebih terisolasi serta memperhitungkan kalor
yang diserap oleh perangkat kalorimeter (wadah, pengaduk, termometer). Jumlah kalor yang
diserap/dibebaskan kalorimeter dapat ditentukan jika kapasiatas kalor dari kalorimeter diketahui.
Dalam hal ini jumlah kalor yang dibebaskan /diserap oleh reaksi sama dengan jumlah kalor yang
diserap/dibebaskan oleh kalorimeter ditambah dengan jumlah kalor yang diserap/dibebaskan
oleh larutan di dalam kalorimeter. Oleh karena energi tidak dapat dimusnahkan atau diciptakan,
maka
Qreaksi= (-Qkalorimeter- Qlarutan)
Kalorimeter sederhana
Pengukuran kalor reaksi, setara kalor reaksi pembakaran dapat dilakukan dengan
menggunakan kalorimeter pada tekanan tetap yaitu dengan kalorimeter sederhana yang dibuat
dan gelas stirofoam. Kalorimeter ini biasanya dipakai untuk mengukur kalor reaksi yang
reaksinya berlangsung dalam fase larutan (misalnya reaksi netralisasi asam-basa/netralisasi,
pelarutan dan pengendapan) (Syukri, 1999).
DAFTAR PUSTAKA

Keenan. 1980. Kimia untuk Universitas Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Petrucci, Ralph H. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Jilid 2 Edisi 4. Jakarta: Erlangga.
Syukri, S. 1999. Kimia Dasar 1. Bandung: ITB.