Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN

SOSIALISASI POSBINDU PENYAKIT TIDAK MENULAR (PTM)


PUSKESMAS KINTAP
TAHUN 2017

I. PENDAHULUAN

Saat ini, Penyakit Tidak Menular (PTM) menjadi penyebab kematian utama sebesar 36 juta (63%)
dari seluruh kasus kematian yang terjadi di seluruh dunia, di mana sekitar 29 juta (80%) justru terjadi di
negara yang sedang berkembang (WHO, 2010). Peningkatan kematian akibat PTM di masa mendatang
diproyeksikan akan terus terjadi sebesar 15% ( 44 juta kematian) dengan rentang waktu antara tahun
2010 dan 2020. Kondisi ini timbul akibat perubahan perilaku manusia dan lingkungan yang cenderung
tidak sehat terutama pada negara-negara berkembang.

PTM mengakibatkan 36 juta kematian di dunia, hampir 80% kematian akibat PTM terjadi di
negara- negara berpenghasilan rendah dan sedang. Di Indonesia, proporsi angka kematian penyakit
tidak menular meningkat dari 41,4 % pada tahun 1995 menjadi 59,5 % pada tahun 2007 (Riskesdas
2007). Hasil Riskesdas tahun 2013 menunjukan tingginya prevalensi penyakit tidak menular di
Indonesia, seperti hipertensi (25,8 %), penyakit sendi (24,7 %), cedera lalu lintas darat (47,7 %),
penyakit jantung (1,5 %), asma (4,5 %), diabetes melitus (2,1 %), stroke (12,1 ) dan kanker/tumor (1,4
).

PTM dapat dicegah dengan mengendalikan faktor risikonya, yaitu merokok, diet yang tidak sehat,
kurang aktifitas fisik dan konsumsi minuman beralkohol. Mencegah dan mengendalikan faktor risiko
relatif lebih murah bila dibandingkan dengan biaya pengobatan PTM. Pengendalian faktor risiko PTM
merupakan upaya untuk mencegah agar tidak terjadi faktor risiko bagi yang belum memiliki faktor risiko,
mengembalikan kondisi faktor risiko PTM menjadi normal kembali dan atau mencegah terjadinya PTM
bagi yang mempunyai faktor risiko, selanjutnya bagi yang sudah menyandang PTM, pengendalian
bertujuan untuk mencegah komplikasi, kecacatan dan kematian dini serta meningkatkan kualitas
hidup,.Salah satu strategi pengendalian PTM yang efisien dan efektif adalah pemberdayaan dan
peningkatan peran serta masyarakat. Masyarakat diberikan fasilitas dan bimbingan untuk ikut
berpartisipasi dalam pengendalian faktor risiko PTM dengan dibekali pengetahuan dan keterampilan
untuk melakukan deteksi dini, monitoring faktor risiko PTM serta tindak lanjutnya. Kegiatan ini disebut
dengan Pos pembinaan terpadu (Posbindu) PTM.

Posbindu PTM merupakan wujud peran serta masyarakat dalam melakukan kegiatan deteksi dini
dan monitoring faktor risiko PTM serta tindak lanjutnya yang dilaksanakan secara terpadu, rutin, dan
periodik. Kegiatan Posbindu PTM diharapkan dapat meningkatkan sikap mawas diri masyarakat
terhadap faktor risiko PTM sehingga peningkatan kasus PTM dapat dicegah. Sikap mawas diri ini
ditunjukan dengan adanya perubahan perilaku masyarakat yang lebih sehat dan pemanfaatan fasilitas
pelayanan kesehatantidak hanya pada saat sakit, melainkan juga pada keadaan sehat. Dalam
menyelenggarakan Posbindu PTM diperlukan suatu pedoman yang dapat menjadi panduan bagi
penyelenggaraan kegiatan bagi para pemangku kepentingan serta pelaksana di lapangan.
II. DASAR

1. Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara RI tahun 2009 no.144,
tambahan lembaran Negara RI No. 5063) Pada Pasal 158 sampai 161 tentang PTM.

2. Kepmenkes Nomor 374/Menkes/SK/V/2009 tentang Sistem Kesehatan Nasional.

3. Keputusan Menteri Kesehatan No 1144 Tahun 2010 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Departemen
Kesehatan sebagaimana diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Kesehatan No 439 Tahun 2009

4. Keputusan Menteri Kesehatan No.HK.03.01/160/160/I/2015, tentang Rencana Strategis Kementerian


Kesehatan tahun 2015-2019.

III. TUJUAN

A. TUJUAN UMUM
Mewujudkan Puskesmas yang mampu melaksanakan pengendalian PTM dan mampu menyelenggarakan
pelayanan kesehatan yang efisien, efektif, merata, bermutu, terjangkau dan memenuhi kebutuhan
masyarakat di wilayah kerjanya.

B. TUJUAN KHUSUS
1. Terselenggaranya pelayanan PTM di Puskesmas secara efektif dan efisien.
2. Terkendalinya faktor risiko dan PTM di masyarakat.
3. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pencegahan dan penemuan dini faktor risiko PTM.

IV. PELAKSANAAN
Pertemuan Evaluasi Program Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) akan dilaksanakan pada :
a. Hari : Kamis
b. Tanggal : 13 April 2017
c. Waktu : 09.00 sampai selesai
d. Tempat : Aula Puskesmas Kintap
V. PESERTA
Peserta pertemuan Posbindu Program Pengendalian Penyakit Tidak Menular dihadiri oleh Kader yang
berjumlah 5 orang dari masing-masing desa. Total kader yang hadir dari delapan desa yang dibawahi puskesmas
adalah 40 orang. Beserta pengelola Kegiatan PTM Puskesmas Berjumlah 7 Orang.

VI. NARASUMBER
Narasumber sebanyak 1 orang dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Laut.

VII. METODE PERTEMUAN


Ceramah dan tanya jawab (diskusi).

VIII. SUMBER DANA


Sumber dana pertemuan Evaluasi Program Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) dibebankan pada
DPA-SKPD Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah laut Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Tidak
Menular tahun 2017.

IX. HASIL
Pertemuan Evaluasi Program Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) menghasilkan kesepakatan
sebagai berikut :
Diharapkan para kader desa dapat membantu pelaksanaan Posbindu yang akan dilaksanakan di semua
desa di wilayah kerja Puskesmas Kintap. Para kader juga bisa mensosialisasikan apa itu Posbindu PTM kepada
masyarakat. Agar semakin banyak masyarakat yang sadar akan deteksi dini penyakit tidak menular. Puskesmas
Kintap juga semakin berperan meningatkan kegiatan Posbindu PTM puskesmas agar semakin sering
mengadakan sosialisasi kepada kader agar informasi tentang PTM semakin bisa kenal oleh masyarakat luas.
.
X. PENUTUP
Demikian kerangka acuan pertemuan Evaluasi Program Pengendalian Penyakit Tidak Menular Tingkat
Kabupaten Tanah Laut tahun 2017 ini dibuat, sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan dan semoga
nantinya dapat dilaksanakan dengan baik, tepat waktu dan bermanfaat bagi kita semua.

Mengetahui, Pelaihari, 13 April 2017


Kepala Puskesmas Pengelola PTM

H. Subirin, SKM, MAP Widya Scaisara, AMK


NIP. 19690707 199002 1 002 NIP. 19890510 201101 2 006