Anda di halaman 1dari 3

Tetap Tenang Menangani Kejang Demam pada Anak

alodokter.com /tetap-tenang-menangani-kejang-demam-pada-anak

8/4/2015

Kejang demam adalah salah satu kondisi yang paling ditakuti orang tua bila anaknya sedang demam.
Situasi ini sering dihubung-hubungkan dengan epilepsi dan risiko keterbelakangan mental sebagai
efeknya. Benarkah demikian?

Kejang demam adalah kondisi yang terjadi diduga oleh karena kenaikan drastis pada temperatur tubuh yang
umumnya disebabkan oleh infeksi dan merupakan respons khusus dari otak terhadap demam yang biasanya
terjadi di hari pertama demam.

Pada umumnya anak yang kejang demam mengalami kondisi sebagai berikut:

Hilang kesadaran dan berkeringat.


Tangan dan kakinya kejang.
Demam tinggi.
Terkadang keluar busa dari mulutnya atau muntah.
Matanya terkadang juga akan terbalik.
Setelah reda, dia akan terlihat mengantuk dan tertidur.

Gejala-gejala kejang demam pada anak dapat beragam, mulai dari yang ringan, seperti menatap dengan melotot,
hingga yang berat, seperti tubuh yang bergetar parah atau otot-otot menjadi kencang dan kaku. Berdasarkan
durasinya, kejang demam dikategorikan sebagai berikut:
1/3
Kejang demam sederhana: paling umum terjadi, dengan durasi kejang beberapa detik hingga kurang dari 15
menit. Kejang yang terjadi pada seluruh bagian tubuh ini tidak akan terulang dalam periode 24 jam.
Kejang demam kompleks: terjadi lebih dari 15 menit pada salah satu bagian tubuh dan dapat terulang dalam
24 jam.

Pada umumnya sebagian besar kejang demam dialami bayi usia 6 bulan hingga anak umur 5 tahun. Kejang demam
jarang dimulai pada anak dibawah 6 bulan ataupun setelah 3 tahun.

Penyebab kejang demam yang sebenarnya belum diketahui. Tapi pada sebagian besar kasus, kejang demam
berhubungan erat dengan demam tinggi akibat infeksi virus flu, infeksi telinga, cacar air, atau tonsilitis (yang dikenal
sebagai radang amandel).

Selain itu, kejang demam pada anak juga relatif sering terjadi pascaimunisasi, seperti DPT/PT ( Diphteri-Pertussis-
Tetanus/vaksin ulangannya), MMR (Mumps-Measles-Rubella). Meski demikian, bukan vaksinnya yang menjadi
penyebab kejang demam, melainkan karena demam yang dialami anak. Faktor genetik juga meningkatkan
kecenderungan terjadinya kejang demam. Satu dari empat anak yang mengalami kejang demam kompleks memiliki
riwayat anggota keluarga yang pernah mengalami kondisi ini.

Setelah terjadi sekali, kejang demam bisa saja terulang, terutama jika:

Terdapat anggota keluarga dekat yang memiliki riwayat kejang demam.


Kejang demam terjadi pertama kali sebelum anak berusia 1 tahun.
Anak Anda mengalami kejang padahal suhu tubuhnya saat demam tidak begitu tinggi.
Periode antara anak mulai demam dengan waktu kejangnya tergolong singkat.

Kabar baiknya, hampir semua anak dapat pulih seperti semula setelah mengalami kejang demam.

Bagaimana Cara Menanganinya?

Penting untuk tetap tenang saat menangani kejang demam pada anak. Pada umumnya kejang terjadi di awal masa
demam anak, sehingga memberikan obat penurun panas kepadanya, seperti parasetamol atau ibuprofen, hanya
bermanfaat membuat anak lebih nyaman dengan suhu tubuh yang tidak terlalu tinggi, tapi tidak mencegah
timbulnya kejang demam itu sendiri.

Hindari pemberian aspirin karena dapat berisiko memicu terjadinya Reye’s syndrome pada sebagian anak dan
dapat berujung kematian. Obat diazepam, lorazepam, dan clonazepam dapat diresepkan oleh dokter anak Anda
jika Anak mengalami kejang demam kompleks atau kejang berulang.

Jika kejang demam pada anak terjadi untuk kedua kalinya saat Anda belum berada di rumah sakit atau ke dokter:

Jangan tahan gerakan kejang anak Anda. Namun letakkan ia di permukaan yang aman seperti pada karpet
di lantai.
Untuk menghindari tersedak, segera keluarkan jika ada sesuatu di dalam mulutnya saat ia kejang. Jangan
taruh obat dalam bentuk apa pun di dalam mulutnya saat anak sedang kejang.
Untuk mencegah agar ia tak menelan muntahnya sendiri (jika terjadi), letakkan ia menyamping, bukan
telentang, dengan salah satu lengan berada di bawah kepala yang juga ditengokkan ke salah satu sisi.
Hitung durasi kejang demam. Panggil ambulans atau larikan ke instalasi gawat darurat (IGD) jika kejang
terjadi lebih dari 10 menit.
Tetaplah berada di dekatnya untuk menenangkannya.

2/3
Pindahkan benda tajam di sekitarnya.
Longgarkan pakaiannya.

Untuk mendiagnosis penyebab kejang demam, dokter biasanya akan melakukan beberapa pemeriksaan berikut: tes
urin, tes darah, atau pemeriksaan cairan tulang belakang (lumbar puncture) untuk mengetahui apakah terjadi infeksi
sistem saraf pusat seperti meningitis.

Dokter bisa saja menyarankan electroencephalogram (EEG) jika anak mengalami kejang demam kompleks. EEG
adalah tes untuk mengukur aktivitas otak. Selain itu, jika kejang hanya terjadi pada salah satu sisi tubuh, maka
kemungkinan dokter akan merekomendasikan pemeriksaan MRI untuk memeriksa otak anak Anda. Jika kejang
diiringi dengan infeksi serius, apalagi sumber infeksi belum terdeteksi, maka si Kecil mungkin akan diminta untuk
beristirahat di rumah sakit untuk observasi lebih lanjut.

Apakah Berbahaya?

Kejang demam kompleks sering dihubungkan dengan meningkatnya risiko epilepsi, juga hubungannya dengan
kematian mendadak yang tidak terjelaskan pada anak (sudden unexplained death in childhood/SUDC). Tapi ini tidak
terbukti. Faktanya, sebagian besar kejang demam pada anak tidak mengalami peningkatan risiko kematian di masa
kanak-kanak ataupun dewasa.

Sebagian besar kasus kejang demam tidak memiliki dampak jangka panjang. Kejang demam sederhana tidak akan
menyebabkan kerusakan otak, kesulitan belajar, ataupun gangguan mental. Selain itu, kejang demam juga tidak
menjadi indikasi penyakit epilepsi, yaitu kecenderungan kejang berulang akibat sinyal elektrik abnormal dalam otak.

Segera periksakan si Kecil ke dokter jika dia mengalami kejang demam, meski jika hanya berlangsung beberapa
detik. Bawa dirinya ke IGD secepat mungkin jika kejangnya terjadi lebih dari 10 menit atau diiringi gejala sesak
napas, leher kaku, muntah, dan sangat mengantuk.

Kejang juga dapat menjadi tanda dari penyakit yang lebih serius, seperti meningitis. Segera bawa anak Anda ke
rumah sakit bila Anda menduga ini bukan sekadar kejang demam.

3/3