Anda di halaman 1dari 31

GANGGUAN DARAH dan IMUNOLOGI

(4-10%)
Outline:

Anemia
Gangguan Pembekuan Darah
Alergi dan Pseudoalergi akibat obat

ANEMIA
Klasifikasi Anemia:

Klasifikasi Definisi

- Sel lebih besar daripada ukuran normal

- Berkaitan dengan defisiensi b12 dan asam folat.


Makrositik
Asam folat dan b12 berperan dalam proses

maturasi sel darah merah.

- Sel lebih kecil dari normal

- Berkaitan dengan defisiensi besi.


Mikrositik
Besi bereperan dalam proses produksi sel darah

merah.

- Berkaitan dengan kehilangan jumlah darah


Normositik
dalam jumlah yang banyak atau penyakit kronis.

Penyebab Defisiensi Besi, B12 dan Asam Folat:


Defisiensi Penyebab

- Nutrisi Inadekuat

- Absorbsi bermasalah

- Peningkatan kebutuhan besi (pada ibu


Defisiensi Besi
hamil)

- Kehilangan darah

- Penyakit kronis

Defisiensi B12 - Nutrisi inadekuat

dan Asam Folat - Penurunan Absorbsi


- Penggunaan yang inadekuat (penggunaan

asam folat untuk ibu hamil, dan penyakit

kronis, inflamasi kronis, penggunaan obat

antagonis folat co/ metrotreksat)

Algoritma ANEMIA:
Klasifikasi anemia berdasarkan kondisi:
Parameter dan Tatalaksana
Kondisi
keterangan
Nilai MCV besar, nilai
Anemia kadar B12 rendah, Sianokobalamin,
Megaloblastik atau nilai kadar asam Asam Folat
folat rendah.
- Agen
imunosupres-an:
Kelemahan, MP, Siklosporin
perdarahan gusi, - Hemapoetic
Growth Factor :
bengkak pada kaki,
Anemia Aplastik Filgastrim
serta nilai rendah
- Agen
pada retikulosit dan
antineoplastik :
WBC. Fludarabin
- Kelator :
Deferoxamin
Nilai MCV rendah dan Fe Sulfat, Fe
Anemia
serum feritrin Fumarat
Defisiensi Besi
rendah.
RBC transfusions
are effective but
should be limited to
episodes of
inadequate oxygen
transport and Hb of
Supply besi tidak 8 to 10 g/dL (80100
Anemia g/L; 4.976.21
efektif dalam kondisi
Inflamasi mmol/L).
inflamasi.
Epoetin alfa is 50 to
100 units/kg three
times weekly and
darbepoetin alfa
0.45 mcg/kg once
weekly.

Prematur Transfusi RBC


Iron sulfat, b12,
Anemia pada asam folat di
9-12 bulan observasi sesuai
pediatri
hasil klinis dan lab.

sickle cell trait (SCT); Rekomendasi:


Imunisasi influenza,
meningokokus,
pneunomia.
Profilaksis: penisilin
Sickle cell sickle cell disease sampai usia 5 tahun.
(SCD); Asam folat, perhari
untuk dewasa, ibu
hamil, dan pasien
dengan penyakit
kronis.

Sumber: Dipiro edisi 9


GANGGUAN PEMBEKUAN DARAH

Hemofilia gangguan pembekuan darah akibat kekurangan faktor pembekuan darah.


Terjadi akibat kelainan genetik. Gejala yang khas adalah timbulnya lebam-lebam dan
pembengkakan sendi. Terjadi spontan (tanpa sebab yang jelas) atau akibat benturan
ringan.

Jenis Hemofilia:

1. Hemofilia A (kekurangan faktor VIII): tatalaksana berikan konsentrat faktor VIII


setiap 12 jam/transfusi kriopresipitat
2. Hemofilia B (kekurangan faktor IX): tatalaksana berikan konsentrat faktor IX
setiap 24 jam/transfusi kriopresipitat

PERTOLONGAN PERTAMA HEMOFILIA RICE!

R REST I ICE C Compression E Elevation


Alergi dan Pseudoalergi akibat obat

Klasifikasi alergi dari reaksi obat-obatan:

Obat yang menyebabkan alergi pada kulit:

1. Amoksisilin (turunan penisilin)

2. Klotrimoksazol

3. Transfusi darah

4. Sefalosporin

5. Eritomisin

6. Hydralazine

7. Sianokobalamin (B12)
Tipe erupsi kutanis karena obat:

Tatalaksana:

Kondisi Tatalaksana

Anafilaksis - Monitoring parameter vital

- Berikan epinefrin (adult: 0.01 [mg] mL/kg up to a maximum


of 0.20.5 [mg]). (children: 0.01 [mg] mL/kg up to a maximum
dose of 0.3 [mg] mL)

- Berikan Oksigen 8-10L/min

- Antihistamin Difenhidramin (adults 2550 mg; children 1


mg/kg, up to 50 mg)

- Ranitidin (50 mg in adults and 12.5 to 50 mg (1 mg/kg) in


children)

- hidrokortison (prednison untuk kasus sedang) dapat


diberikan per 6 jam.

Anafilaksis disertai hipotensi IV cairan elektrolit, koloid, dopamine (vasopressor).

Resisten epinefrin Beta agonis (albuterol) 2-6 puffs.

Desensitisasi Tappering up zat obat suspek alergen


GANGGUAN SALURAN KEMIH & GINEKOLOGI

(3-5%)
Outline:

Benign Prostate Hyperthropy (BPH)


KONTRASEPSI
GANGGUAN MENSTRUASI

Benign Prostate Hyperthropy (BPH)

Parameter Patofisiologi: intraprostatic dihydrotestosterone (DHT) dan type II 5-


reductase

BPH statik: Pembesaran prostat gradual


BPH Dinamik: peningkatan alfa adrenergic dan konstriksi dari otot halus kelenjar prostat.

Obat-obatan yang mempengaruhi kelenjar prostat:


1. hormon testosteron
2. -adrenergic agonists (eg decongestants)
3. efek anticholinergik (antihistamines, phenothiazines, tricyclic anti- depressants,
antispasmodics, and antiparkinsonian agents).
Tatalaksana

Mekanisme kerja
Golongan Contoh Obat Mekanisme Keterangan
Penurun faktor Prazosin, terazosin, Alfa adrenergik Dilakukan titrasi dosis
dinamis doxazosin antagonis di jaringan untuk meminimalisir
stromal prostat efek samping
ortostatik hipotensi
Tamsulosin, silodosin Alfa adrenergik Interaksi: menurunkan
antagonis di prostat metabolisme dari
diltiazem, ranitidin,
meningkatkan
metabolisme dari
karbamazepin,
fenitoin.
Tadalafil (cialis) Relaksasi otot prostat,
kandung kemih, dan
uretra, (vasodilatasi)
Penurun faktor statik finasteride Blocks 5-reductase Kategori X untuk ibu
enzyme hamil
Dutasteride Blocks
dihydrotestosterone
Flutamide Blokade pituitari
mensekresikan LH
Megestrol acetate, Blokade pituitari
Goserelin mensekresikan LH dan
blokade reseptor
androgen
antikolinergik Oxybutinin, tolterodine -adrenergic
antagonists
Agen Uroselektif Darifenacin, Antikolinergik selektif Digunakan jika
solifenacin antikolinergik non
selektif memberikan
efek samping yang
tidak bisa di toleransi

KONTRASEPSI

Jenis Definisi Keterangan


Oral Berisi hormon estrogen, progesteron, Keterangan: harus pap
atau kombinasi. smear minimal 1 kali
1. pil kombinasi (monofasik, trifasik, pertahun
bifasik)
2. pil progestin/mini pil (levonegestrel,
desogestrel, noretindron)

Efek samping :
pendarahan, berkurangnya kesuburan
secara permanen, depresi, dan kesulitan
tidur.

Teknik Barrier 1. kondom pria


2. Kondom wanita
3. Diafragma dengan spermisida
4. Cap Serviks
5. Spermisida (nonoxynol-9:
menghancurkan dinding sel sperma,
dan memblokade sperma masuk
kedalam serviks)
6. Sponge

Metde Kalender Mengikuti fase dan kalender


Ritmik menstruasi (masa fertil)
KONDISI KHUSUS

KONDISI Tatalaksana Keterangan


Ibu Menyusui - Hanya syarat: tidak menghalangi
mengandung Progestin produksi ASI
- Rekomendasi
pneggunaan teknik
Barrier
Ibu Lebih dari 35 - Gunakan estrogen Hindari penggunaan untuk
tahun dosis kecil (<50mg) pasien migrain, hipertensi,
untuk pasien sehat merokok dan DM
- Hindar
Wanita Merokok - Prefer Gunakan
Progestin
Wanita dengan - gunakan dosis
Hipertensi hormon yang lebih
rendah (pada pasien
dibawah 35 tahun)
- pasien dengan
tekanan >= 100/160
mmHg
dikontraindikasikan
mengunakan
kontrasepsi hormonal

Wanita dengan - gunakan progestin wanita dibawah 35 tahun,


Diabetes tidak merokok, dan tidak
memiliki penyakit vaskular
Wanita dengan - Wanita dengan
Dislipidemia hiperlipidemia yang
stabil kontrasepsi
hormonal dosis rendah
dengan monitoring ketat
profil lipid.
- Wanita dengan
hiperlipidemia tidak
terkontrol alternatif
kontrasepsi lainnya.
-
Wanita dengan - desogestrel, Transdermal patch and
Tromboemboli drospirenone, and vaginal ring
norgestimate dikontraindikasikan untuk
menaikkan resiko pasien ini
tromboemboli dengan
persentase lebih kecil
dibandingkan hormonal
lainnya
Wanita dengan - Gunakan Progestin
migrain
Wanita dengan - Kontraindikasi
kanker payudara menggunakan
kontrasepsi hormon
Wanita dengan SLE - Gunakan progestin - Kontraindikasi untuk pasien
SLE yang memiliki antibodi
antiphospolipid atau
komplikasi vaskular

Pasien Obesitas - Gunakan Progestin - The American Congress of


Obstetrics and Gynecology
recommends that the
transdermal contraceptive
patches should not be used as
a first choice in women
weighing greater than 90 kg
GANGGUAN MENSTRUASI

Menstruasi Normal:
siklus: 21-35 hari (28+-7 hari)
lama haid: 2-6 hari (4+-2 hari)
banyak darah: 20-60 mL (40+-20 mL)

Gangguan Keterangan Manifestasi Tatalaksana


Menoragia Keluhan menstruasi Mioma, endometriosis, Non hormonal: asam
dengan jumlah darah polip, hiperplasia, tranexamat, NSAID
yang lebih banyak, kanker endometrium hormonal: KB
terdapat bekuan dan kanker serviks kontrasepsi,
darah, berlangsung progesteron selama 3
lebih lama siklus.
Oligomenorea Interval PCOS (Policystic ovary Hormonal; pil KB, LH
intermenstruasi > 35 syndrome)
hari
Metroragia Interval menses Pendarahan ovulatoar: Progesteron tunggal,
iregular, durasi > 7 hari hematuria, vulvar, dan Levonorgetrel-
cervical. Releasing IUD
Pendarahan dari
uterus:
berhubungan dengan
kehamilan (abortus),
polip, mioma,
endometriosis
Amenorea Tidak terjadinya Tumor ovarium, Hormonal: estradiol
menstruasi, sedikitnya adrenal, hiperplasia transdermal,
tiga bulan berturut- adrenal. Tumor progesteron, GH
turut selama masa hipofisis,PCOS, hormon treatment, LH
produktif. sindrom turner, Non hormonal:
kalsium, vitamin D,
olahraga fisik

tergantung penyebab
amenorea
Dismenorea Keluhan nyeri panggul NSAID, analgesik
saat menstruasi opioid, oral
kontrasepsi

Source:
American family physician
KULIT
(3-5 %)

Outline:
Dermatitis, Dermatitis akibat obat, hiperpigmentasi jerawat

DERMATITIS

Jenis Definisi Tatalaksana


Contact Dermatitis Inflamasi yang kalamin lotio, larutan burow
disebabkan oleh (aluminum asetat), topikal
iritasi/alergi. kortikosteroid, generasi
pertama antihistamin,
Iritasi: Biasanya moisturizers.
disebabkan oleh
paparan senyawa
organik yang
menyebabkan adanya
reaksi waktu beberapa
jam setelah paparan
Alergi: terdapat
stimulasi terhadap
respon imun
Diaper Dermatitis Inflamasi di lokasi Zinc Oksida, Imidazole,
genital Topikal Kortikosteroid
Atopic Dermatitis Karena genetik, lubrikan/moisturizers, oral
lingkungan maupun histamin, topikal
mekanisme imun. kortikosteroid
Biasanya disebabkan (betametason valerate,
adanya pelepasan betametason dipropionat,
proinflamasi sitokin dari clobetason propionat),
keratinosit. topikal imunomodulator
(tacrolimus), oral/sistemik
(kortikosteroid, siklosporin,
interferon, metotreksat,
biologic modifiers).
HIPERPIGMENTASI
Definisi Penyebab Tatalaksana
Muncul Bercak Hitam Paparan Sinar Matahari 1. Vitamin C dan asam kojik.
karena penumpukan - Penggunaan (kandungan vitamin C dan
melanin. Obat Obatan asam kojik mampu
Contoh: misal KB menghambat enzim
1. Obat yang - Penyakit tirosinase yang berperan
menyebabkan Endokrin, di dalam pembentukan
peningkatan melanin addison. melanin kulit gelap)
2. Paparan Langsung 2. Chemical peeling (KI
senyawa (Perak, untuk pasien melasma)
merkuri, tetrasiklin, 3. Penggunaan pelembab
antimalaria dan mengandung retinol
fluorourasil. (regenerasi sel kulit)
JERAWAT (ACNE VULGARIS)
Definisi Penyebab Tatalaksana
Inflamasi dari folikel - Hormonal 1. antibiotik:
sebasea yang berada di terkait dengan membunuh bakteri P.
wajah sampai leher, maturasi acne (benzoyl
punggung, bahu, dada kelenjar gonad. peroksida,
atas. - Tahapan: eritromisin,
keratinisasi klindamisin, asam
folikel- azelaik) topikal, dan
peningkatan oral (eritromisin,
sebum-lipolisis tetrasiklin dan
oleh bakteri dari turunannya)
bentuk 2. Exfoliant: agen
trigliserdia ke peeling (resorsinol,
asam lemak- asam salisilat, sulfur)
inflamasi. 3. kombinasi retinoid
topikal (adaplanae,
tretinoin)
4. antisebum
(isoretinon)
5. antiinflamasi
(kortikosteroid oral)

TATALAKSANA
GINJAL

(3-5%)
Outline:

Gagal Ginjal Akut


Gangguan Ginjal akibat obat

Gagal Ginjal Akut

Fungsi ginjal yang menurun secara akut


Parameter: BUN, SrCr, Output urin, GFR, serum elektrolit
Patofisiologi:
pre renal- penurunan perfusi ginjal yang disebabkan pencegahan dari kerusakan jaringan
parenkim
intrinsik- kerusakan dari struktur ginjal, seperti kerusakan tubulus disebabkan iskemia.
Toksik
post renal- obstruksi aliran urin dari ginjal

Stage GGA:

tatalaksana preventif
1. asam askorbat dan N asetil sistein ~ keduanya berperan untuk menjadi
antioksidan dan mencegah Contrast induced Nephropaty
2. hidrasi yang cukup
3. sodium bikarbonat, salin infus.
Tatalaksana kuratif
1. manajemen kardiak output, tekanan darah, perfusi jaringan.
2. Hemodialisis interminten
3. hemofiltrasi
4. mannitol monitoring urin output, serum elektrolit (osmolaritas)
5. loop diuretik (furosemid, torsemide)
6. diuretik hemat kalium spironolakton

Kondisi khusus tatalaksana


Komplikasi gagal jantung Tingkatkan dosis diuretik/ganti dengan diuretik
loop yang lebih mudah di absorbsi
Sirosis hati Parasintesis (volume besar): memasukkan
suatu kanula ke dalam rongga peritoneum
untuk mengeluarkan cairan
Tubular nekrosis akut Dosis diuretik yang lebih tinggi, diuretik
dikombinasikan, ditambahkan dengan
dopamin dosis rendah

elektrolit penting di pasien GGA


1. hiperkalemia
2. hipernatremia
3. fosfor
Gangguan Ginjal Akibat Obat

Sindrom yang terkait dengan drug-induced kidney:


1. akut glomerulanefritis
2. ketidaknormalan sekresi ADH
3. diabetes insipidus

Obat dan manifestasinya terhadap ginjal


Golongan Obat Manifestasi terhadap Mekanisme singkat Keterangan
ginjal
Aminoglikosida Akut tubular nekrosis; Obat terkonsentrasi Nefrotoksik menjadi
disfungi tubulus penuh di korteks rean ES pada golongan obat
proksimal, enzimuria, dan tubulus praksimul. ini.
proteinuria, glikosuria, Terjadi dampak dari
hipoelektrolit. toksisitasnya adalah
deplesi natrium
kalium, renal iskemik
Betalaktam dan Akut interstitial nefritis Formulasi (terkait Nefrotoksik klasifikasi
vankomisin kemurnian) dari jarang, kombinasi
vankomisin memiliki vankomisin dengan
efek substansial aminoglikosida
terhadap nefrotoksik. memiliki efek sinergis
Betalaktam spesifik terhadap nefrotoksik
metisilin memiliki efek
yang jelas terhadap
nefrotoksik
Sulfonamid Akut interstitial Sulfadiazin: kristaluria Dose-related side
nefritis, nekrosis arteri, dan GA; terjadi ketika effect
GGA (anemia hemolitik dosis sudah
pada pasien defisiensi terakumulasi dalam
G6PD), GGA darah (terasilasi
(kristaluria) dengan produk)

Klortimoksazol:
menghasilkan
konsentrasi yang tinggi
di korteks renal
dibandingkan di serum
darah, menyebabkan
peningkatan
Creatinine Rater.
Kejadian hiperkalemia
karena adanya inhibisi
kanal natrium
berkaitan dengan
trimetroprim.
Asiklovir Obstruktif uropati dan Inflamasi interstitial Doses > 500 mg/m2
hematuria menyebabkan adanya given i.v. leads to
area obstruksi pada nephrotoxicity
intertubular. Resiko:
volume depletion, pre-
existing renal
insufficiency and rapid
bolus infusion
Amfoterisin B Penurunan GFR akut, Terdapat region Terjadi ketika dosis
GGA, oligourik, iskemia hidrofilik dan lipofilik terakumulasi, bersifat
(disebabkan oleh yang menyebabkan reversibel. Tatalaksana:
sudden mudahnya melebur penggunaan dopamin,
vasocontriction), dengan membran sel nutrisi garam yang
kerusakan tubulus, dan menyebabkan cukup.
gangguan tingginya
keseimbangan permeabilitas. Hal ini
elektrolit, asidosis. bermanifestasi pada
kerusakan endotelial
(didukung oleh kondisi
vasokonstriksi).
Rifampisin GGA, anemia Resiko meningkat
hemolitik, dengan kombinasi
glomerulanefritis, bersama isoniazid dan
proteinuria, pirazinamid
NSAID GGA, hipertensi, NSAID menginduksi Tatalaksana: hindari
hiperkalemia, retensi penurunan NSAID (ganti dengan
Na dan air, tubular hemodinamis dari steroid). pemberian
interstitial nefritis. fungsi ginjal (pre-renal diuretik.
dan akut tubular
nekrosis).

NSAID merubah sistem


imun (akut interstitial
nefritis)
Antineoplastik acute tubular necrosis Radikal bebas Irreversible.
atau tubulointerstitial menyebabkan
kerusakan proksimal Gunakan diuretik
(cisplatin) setelah perngobatan
Abnormalitas eksresi (manitol), sodium
air menyebabkan tiosulfat,
hiponatremia metilpredisolon da n
(siklofosfamid) acetil sistein
Intratubular deposisi (menurunkan
menyebabkan nefrotoksisitas)
kristaluria dan gagal
ginjal. Toksisitas dari
tubular juga terkait
dengan asam folat.
Antihipertensi GGA Terkait dengan oliguria
karena adanya retensi
cairan (ACEI dan ARB)
Immunosupresan acute reversible Vasospasme sebagai Tatalaksana: CCB,
nephrotoxicity, chronic produk dari analog prostaglandin.
irreversible metabolisme
nephrotoxicity arakidonat,
manifestasi dari
hipertensi yang terjadi
ketika sedang
berlangsungnya
transplantasi .
Diuretik Hipokalemia, Menyebabkan Nutrisi elektrolit,
interstitial nefritis, turunnya GFR dengan alkalinisasi digunakan
poliuria. kontraksi volume sebagai profilaksis
cairan ekstraselular obstruksi uropati.
http://japi.org/october2003/R-970.pdf
PERNAFASAN

(3-5%)
Outline:

Asma
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)

ASMA

Algoritma:

Berdasarkan bentuk:

1. Difus: Pembesaran kelenjar merata


2. Nodul: benjolan seperti bola, dapat berupa tumor jinak/ganas

Berdasarkan kelainan fungsi:


1. Hipertiroid: Tirotoksisitas, kelebihan hormon tiroid
2. Hipotiroid: kekurangan atau berhentinya hormon tiroid
3. Eutiroid: bentuk kelenjar tidak normal, tapi fungsi normal

Obat yang digunakan dalam terapi asma adalah sebagai berikut :

Obat Keterangan

LABA (Long Acting Beta-2 Agonis) : Digunakan rutin dalam pengobatan

Salmeterol, Formoterol asma

SABA (Short Acting Beta-2 Agonis) : Digunakan apabila merasa akan

salbutamol (Albuterol) sesak


Harus ada mekanisme tappring.

Apabila digunakan secara inhalasi


Kortikosteroid
harus kumur untuk menghindari

jamur di mulut

Sebaiknya digunakan di jam yang

Teofilin sama dan waspada terhadap obat

induser maupun inhibitor enzim

Keterangan: obat adrenergik seperti albuterol dan formoterol serta

kortikosteroid inhalasi seperti budesonide menjadi pilihan dalam manajemen

asma jangka panjang pada wanita hamil (Global Initiative for Asthma 2012)

PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK)

Adanya inflamasi kronis yang mengarahkan pada terjadinya destruksi dan limitasi aliran
udara untuk pernafasan.

Prinsip PPOK:
1. kronik bronkitis: sekresi mukus berlebih dengan disertai batuk yang terjadi
sekurang-kurangnya 3 bulan dalam 2 tahun berturut-turut.
2. Emfisema: abnormalitas, pelebaran permanen dari jalur pernafasan hingga
terminal bronkioli, disertai dengan adanya destruksi pada dinding tanpa adanya
fibrosis

Patofisiologi singkat:
1. inflamasi kronik menyebabkan destruksi dinding dan limitasi jalur pernafasan
2. inhalasi senyawa penstimulus mediator inflamasi
3. stress oksidatif menyababkan adanya respon pertahanan yang agresif dari paru
Parameter:
spirometer: menunjukkan FEV postbronkial kurang dari 80%, dan perbandingan
rasio FEV:FVC kurang dari 70%
Gas dalam Arteri ; partial pressure of O2 [Pao2 ] 4560 mm Hg , partial pressure
of CO2 [Paco2 ] 5060 mm Hg

Tatalaksana Empiris antibiotik Keterangan


PPOK
Doxycycline 100 bid Lama Terapi 5 Hari
Azithromycin 500 qd Lama Terapi 3 Hari
Co-amoxiclav 875 bid Lama Terapi 5 Hari
Cefpodoxime 200 bid Lama Terapi 5 Hari
Eksaserbasi PPOK Cefdinir 300 bid Lama Terapi 5 Hari
M.catarrhalis Short acting bronkodilator (Low
S.penumoniae Risk) Grup A
Long acting bronkodilator
(persisten- severe) Terapi koreksi
Inhalasi kortikosteroid (high risk) airflow
Ipratrorium bromida
(antikolinergik)
metilxanthin
GAWAT DARURAT

(2-5%)
Outline:

Keracunan dan tatalaksana kegawatdaruratan

Keracunan dan tatalaksana kegawatdaruratan

Substrat Racun Antidot

Parasetamol Asetilsistein

Logam berat (As, Hg, Cu) BAL (dimecaprol)

Logam berat (Pb) EDTA

Ferrum Deferoksamin

Opioid, Dextromethorphan Nalokson

Antikolinesterase (Insektisida) Atropin, Pralidoksim

Sianida Nitrit, Nitrat

Metanol, Etilen Glikol Etanol

Beta Bloker (Atenolol, Propanolol) Adrenalin, Isoprenalin

Benzodiazepin Flumazenil

TCA Diazpam

Kumarin, Warfarin Vitamin K

Digoksin Fenitoin, MgSO4, Atropin

Heparin Protamin

INH Piridoksin

Nitrit Metilen Blue

Karbonmonoksida Oksigen

Organofosfat Antmuskarinik: atropin, skopolamin


MALNUTRISI

(1-3%)

Malnutrisi konsekuensi dari ketidak seimbangan nutrisi berkaitan dengan intake,


absorpsi, dan pemakaian.

Klasifikasi malnutrisi di Indonesia:


Tinggi Badan Terhadap Berat Badan
>90% Malnutrisi Ringan (Grade 1)
90 75 % Malnutrisi Sedang (Grade 2)
< 60% Malnutrisi Berat (Grade 3)
Tinggi Badan Terhadap Usia
85 80% Malnutrisi Sedang
<80% Malnutrisi Akut

Definisi malnutrisi pada anak


1. Marasmus: defisiensi protein-kalori, manifestasi retardasi pertumbuhan dan
atrofi otot
2. Kwashiorkor: defisiensi protein-energi, manifestasi retardasi pertumbuhan,
defisiensi imun dan patologi hati
3. Kombinasi: defisiensi protein kalori dan energi, manifestsai hilangnya lemak
subkutan dan dehidrasi

Tatalaksana:
Dibagi menjadi 4 fase :
stabilisasi; asupan nutrisi cukup, pencegahan dan atasi hipoglikemia, hipotermia,
dehidrasi
transisi; atasi gangguan keseimbangan elektrolit, infeksi, perbaiki kekurangan zat
gizi (belum termasuk besi)
rehabilitasi; perbaiki kekurangan zat gizi (sudah termasuk besi), pemberian nutrisi
untuk tubuh kejar
tindak lanjut; nutrisi untuk tumbuh kembang

Warning!
1. Fe tidak boleh diberikan pada fase stabilisasi
2. jangan meberikan cairan intravena kecuali syok/dehidrasi berat
3. jangan berikan protein terlalu tinggi pada fase stabilisasi
4. jangan berikan diuretik pada pasien kwashiorkor
ONKOLOGI

(1-3%)

OVERVIEW:
1. pertumbuhan sel yang tidak terkontrol dan abnormal.
2. Hasil pertumbuhan yang abnormal ini memunculkan tumor (benign), atau
kanker (mallignant)
3. kanker dapat menyebar ke seluruh tubuh dengan media sistem limfatik, ini yang
dikenal dengan istilah metastesis
4. rules of metastesis: dimanapun, kemanapun metastesis, sel kanker tetap sama.
Misal, kanker paru dengan metastesis tulang, diagnosa pasien tetap kanker paru.

Faktor resiko kanker:


tergantung pada spesifik situsnya, secara general;
1. smoking
2. alcohol consumption
3. diet
4. physical inactivity and obesity
5. genetic susceptibility
6. hormonal factors
7. chronic infections, including the human papillomavirus (HPV) and hepatitis B or C
8. exposure to UV radiation (e.g. sunlight or solarium tanning beds)
9. other environmental factors, such as exposure to hazardous substances like
asbestos, uranium and certain chemicals

3 PRINSIP TATALAKSANA KURATIF KANKER


1. pembedahan (mayor-invasif/minor)
2. kemoterapi (agen sitotoksik)
3. radioterapi (target terapi)
Overview dan prinsip terapi kanker:
1. Mengenal Fase pembelahan dan siklus sel dan kegiatan sel pada masing-masing
fase;

2. Aksi dari agen kemoterapi;

Golongan Proses yang diganggu Agen Kemoterapi Inhibisi fase Sel


Antimetabolit Sintesis purin dan Analog folat S
pirimidin (asam (metotreksat), purin
nukleat) analog (, pirimidin
analog, adenosin
analog
Agen alkilasi dan DNA sintesis dan Nitrosurea Cell-cycle-nonspecific
golongan lainnya binding (carmustine), platina agent
(carboplatin, cisplatin),
others (doxorubicin,
etoposide)
Alkaloid Vinka Sintesis mikrotubul Vinblastin, vinkristin M
Agen Mikrotubul Sintesis mikrotubul Paklitaksel, docetaxel M

3. Antibodi monoklonal:
mengikat antigen spesifik dari kanker dan memberikan respon imun untuk
membunuh sel. (contoh transtuzumab, rituximab)

4. Terapi endokrin
untuk kanker yang terkait dengan perubahan hormonal seksual (contoh;
antiestrogen untuk kanker payudara)
5. Gen terapi
kanker yang disebabkan oleh adanya perubahan susunan genetik, dapat di terapi
dengan mentrasnfer material genetik yang normal untuk membentuk selular fenotif
normal yang permanen

Cancer Diagnosis and Treatment: An Overview for the General Practitioner


Josephine Emole University of Texas Health Center at Houston, Houston, Texas, USA
http://nt.cancer.org.au/content/about_cancer/factsheets/cancer-an-overview-april-
2014.pdf