Anda di halaman 1dari 10

1. Modifikasi Dewey dari Klasifikasi Angle.

Dewey memperkenalkan modifikasi dari klasifikasi maloklusi Angle. Dewey membagi Klas I Angle

ke dalam lima tipe, dan Klas III Angle ke dalam 3 tipe :

a. Modifikasi Dewey Klas I

Tipe 1 : maloklusi Klas I dengan gigi anterior yang crowded.

Tipe 2 : maloklusi Klas I dengan insisiv maksila yang protrusif.

Tipe 3 : maloklusi Klas I dengan anterior crossbite.

Tipe 4 : maloklusi Klas I dengan posterior crossbite.

Tipe 5 : maloklusi Klas I dengan molar permanen telah bergerak ke mesial.

b. Modifikasi Dewey Klas III

Tipe 1 : maloklusi Klas III, dengan rahang atas dan bawah yang jika dilihat secara terpisah

terlihat normal. Namun, ketika rahang beroklusi pasien menunjukkan insisiv yang edge to edge,

yang kemudian menyebabkan mandibula bergerak ke depan.

Tipe 2 : maloklusi Klas III, dengan insisiv mandibula crowded dan memiliki lingual relation

terhadap insisiv maksila.

Tipe 3 : maloklusi Klas III, dengan insisiv maksila crowded dan crossbite dengan gigi anterior

mandibula. (Foster. T.D. 1997)

2. Modifikasi Lischer dari Klasifikasi Angle.

Lischer memberikan istilah neutroklusi, distookusi, dan mesiooklusi pada Klas I, Klas II, dan Klas

III Angle. Sebagai tambahan, Lischer juga memberikan beberapa istilah lain, yaitu :

Neutrocclusion : sama dengan maloklusi Klas I Angle.

Distocclusion : sama dengan maloklusi Klas II Angle.

Mesiocclusion : sama dengan maloklusi Klas III Angle.

Buccocclusion : sekelompok gigi atau satu gigi yang terletak lebih ke buccal.

Linguocclusion : sekelompok gigi atau satu gigi yang terletak lebih ke lingual.

Supraocclusion : ketika satu gigi atau sekelompok gigi erupsi diatas batas normal.

Infraocclusion : ketika satu gigi atau sekelompok gigi erupsi dibawah batas normal.

Mesioversion : lebih ke mesial daripada posisi normal.


Distoversion : lebih ke distal daripada posisi normal.

Transversion : transposisi dari dua gigi.

Axiversion : inklinasi aksial yang abnormal dari sebuah gigi.

Torsiversion : rotasi gigi pada sumbu panjang.

a. Klas III tipe 1 : hubungan molar pertama atas dan bawah mesioklusi sedang hubungan anterior

insisal dengan insisal (edge to edge).

b. Klas III tipe 2 : hubungan molar pertama atas dan bawah mesioklusi,sedang gigi anterior

hubungannya normal.

c. Klas III tipe 3 : hubungan gigi anterior seluruhnya bersilang (cross bite) sehingga dagu penderita

menonjol kedepan Foster. (T.D. 1997)

2.3.1 Etiologi Maloklusi Kelas III

Kebanyakan dari maloklusi yang memerlukan perawatan ortodonsia disebabkan oleh karena dua

kemungkinan :

1. Perbedaan antara ukuran gigi-gigi dan ukuran rahang yang menampung gigi tersebut.

2. Pola tulang muka yang tidak selaras.

Untuk mempermudah mengetahui etiologi dari maloklusi dibuat klasifikasi dari penyebab

kelainan maloklusi tersebut. Terdapat dua pembagian pokok klasifikasi maloklusi :

1. Faktor Ekstrinsik atau disebut faktor sistemik atau faktor umum

2. Faktor Intrinsik atau faktor lokal (jones,1975)

Varian utama pada oklusi kelas III adalah sebagai berikut:

1. Derajat hubungan antero-posterior kelas IIIdari lengkung gigi.

2. Derajat penyimpangan lateral pada ukuran lengkung gigi atas dan bawah.

3. Derajat overbite insisal atau gigitan terbuka anterior.

4. Derajat berjejal gigi. (wendell, 1984)


Faktor yang mempengaruhi maloklusi kelas III (sakamoto, 1984)

A. Faktor Skeletal

1. Hubungan skeletal antero- posterior

Hampir semua oklusi kelas III berlandaskan sampai batas tertentu pada hubungan skeletal

kelas III dan overjet terbalik, serta pada beberapa kasus, berhubungan dengan gigitan

terbalik gigi-gigi bukal.

2. Lebar relatif dari rahang atas dan bawah

Gigitan terbalik unilateral maupun bilateral bisa disebabkan oleh penyimpangan pada lebar

rahang. Seperti juga, karena segmen bukal divergen kearah belakang, penyimpangan pada

hubungan antero- posterior bisa menyebabkan terjadinya gigitan terbalik.

3. Dimensi vertikal dari wajah

Tinggi wajah bagian bawah dientuk dari tinggi gigi-gigi dan rahang. Tinggi wajah juga

dipengaruhi oleh sudut gonium dari mandibula, dengan sudut gonium tinggi cendrung

menimbulkan wajah panjang, sedangkan sudut gonium yang kecil cendrung menghasilkan

wajah yang pendek pada dimensi vertikal.

B. Otot-otot Rongga Mulut

Lidah yang melekat pada tepi bagian dalam rahang bawah, biasanya sesuai dengan ukuran

lengkung gigi bawah. Jika lengkung atas lebih kecil dari pada lengkung bawah lidah. Karena

bentuk dan fungsinya, akan memengaruhi terbentuknya gigitan terbuka anterior. Juga bisa

membatasi perawatan korektif.

C. Ukuran Gigi-geligi

Ini adalah varian yang kontinu, seperti pada semua oklusi lainya, pada hubungan klas 3, gigi-

gigi bawah jarang jarang tampak berjejal karena rahang bawah lazimnya tidak kecil. Pada

rahang bawah yang lebih besar, gigi-gigi bawah sering kali akan tersusun renggang, berjejalnya

lengkung gigi atasm sebaliknya adalah umum meskipun hal ini bervariasi
2.4 Rencana Perawatan Maloklusi Kelas III

2.4.1 Tujuan perawatan

a. Memperbaiki Overjet yang Terbalik

Faktor pembatas utama dalam mengoreksi overjet terbalik adalah hubungan skeletal antero

posterior dari rahang, adanya gigitan terbuka anterior, dan lidah. Overjet terbalik hanya bisa

diperbaiki dengan menggerakan insisivus ke atas depan atau insisivus bawah kebelakang. Pada

penyimpangan kelas III skeletal yang lebih parah gigi-gigi insisivus tidak bisa digerakan agar cukup

untuk menahan efek hubungan basis gigi. Bahkan meskipun gigi-gigi tidak bisa digerakan cukup

besar untuk mendapatkan hubungan antero- posterior yang tepat, gigi-gigi tidak akan dipertahankan

pada posisi tersebut tanpa overbite insisal yang positif. Akhirnya, lidah bisa mencegah retroklinasi

dari insisivus bawah selama perawatan, dan karena itu, membatasi perawatan korektif.

b. Memperbaiki Overbite Insisal

Overbite insisal bisa saja terlalu dalam atau pada kasus ekstreme yang lain, terdapat gigitan

terbuka anterior. Perbaikan overbite yang dalam tergantung sepenuhnya pada perbaikan overjet

yang terbalik. Jika gigi-gigi insisivus bisa diletakan pada hubungan antero-posterior yang tepat

selama periode pertumbuhan, perkembangan vertikal dari segmen dento-alveolar bukal akan bisa

menghasilkan hubungan overbite yang normal. Pada akhir periode pertumbuhan, keadaan ini akan

kurang bisa terjadi dan pasien bisa saja memiliki kontak insisal saja, dengan gigi-gigi bukal yang

tetap tidak beroklusi.

Perbaikan gigitan terbuka anterior jauh lebih sulit dilakukan dan terbatas karena ukuran serta

fungsi lidah dan karena dimensi vertikal wajah. Gigitan terbuka anterior derajat ringan bisa

diperbaiki dengan melakukan pergerakan vertikal dari gigi- gigi insisivus atas dan bawah, tetapi

untuk penyimpangan yang besar, perawatan ortodonsi tidak cukup untuk menghilangkan faktor

pencetus.

c. Memperbaiki hubungan segmen bukal

Hubungan antero-posterior dari segmen bukal bisa diperbaiki, jika dianggap perlu, dengan

menggerakan segmen atau gigi individual keruang bekas pencabutan, mirip seperti cara hubungan

kelas II. Perbedaanya pada hubungan kelas III adalah bahwa gigi-gigi bukal atas perlu digerakan
kedepan dan gigi-gigi bukal bawah perlu digerakan kebelakang. Sekali lagi, faktor yang membatasi

keberhasilan adalah derajat penyimpangan skeletal antero-posterior dan sering kali dianggap

tidaklah perlu memperbaiki segmen bukal.

Perbaikan hubungan segmen bukal lateral, dan gigitan terbalik baik unilateral maupun

bilateral, tidak selalu dianggap perlu. Secara umum, memang gigitan terbalik unilateral yang

melibatkan kontak dini dan pola penutupan translokasi dari mandibula dianggap perlu diperbaiki,

dan perbaikan ini bisa dengan mudah dilakukan dengan melebarkan lengkung gigi atas. Gigitan

terbalik bilateral, yang simetris dan pada pola penutupan mandibula yang tidak menyimpang,

umumnya dibiarkan saja. Faktor pembatas dari perbaikan ini adalah relatif sempitnya basis gigi

atas, meskipun teknik pelebaran maksila yang cepat kadang-kadang digunakan untuk menangani hal

ini, jika dianggap perlu.

2.4.2 Prinsip-prinsip Perawatan

a. Perawatan pada Hubungan Kelas III Postural yang Ringan

Jika penyimpangan skletal ringan, dan overbite insisal positif, proklinasi dari gigi-gigi

anterior atas dan penghilangan susunan yang berjejal sering merupakan satu-satunya tindakan

perawatan ortodonsi yang perlu dilakukan. Ini biasanya berlaku pada oklusi klas tiga postural,

dengan gigi-gigi insisivus atas menghilangkan kontak awal selama penutupan mandibula dan

memungkinkan mandibula mencapai hubungan oklusal yang benar dengan maksila. Oklusi

insisivus harus dibuka untuk memungkinkan gigi-gigi insisivus atas digerakkan melintasi garis

lengkung gigi bawah. Ini bisa dilakukan dengan menambah bite plane posterior pada pesawat.

Pada beberapa situasi, tergantung pada inklinasi aksial dari gigi-gigi insisivus, retroklinasi

insisivus bawah barangkali merupakan bentuk perawatan yang lebih tepat daripada proklinasi

insisivus atas. Di sini harus ada cukup ruang pada lengkung gigi agar bisa dilakukan gerakan

tersebut, dan keterbatasan akibat lidah harus selalu diingat.


b. Perawatan pada hubungan Klas III yang Sedang

Jika penyimpangan skletal lebih parah, menggerakkan satu segmen anterior tidak akan

menimbulkan cukup gerakkan untuk memperbaiki hubungan insisivus. Di sini barangkali perlu

menggerakkan gigi-gigi atas ke arah depan dan gigi-gigi bawah ke belakang. Gerak ini bisa di

peroleh dengan menggunakan traksi intermaksilaris, pada kasus ini biasanya disebut sebagai traksi

intermaksilaris terbalik atau traksi Klas tiga. Walaupun bisa dilakukan dengan pesawat lepasan,

keadaan ini lebih baik dirawat dengan pesawat cekat, yang juga berfungsi untuk memperbaiki

overbite insisal jika diperlukan.

Gerak bodily dari gigi-gigi anterior diperlukan untuk menghilangkan penyimpangan skletal,

baik secara langsung maupun dengan bantuan gerak tipping diikuti dengan torque apikal.

Perawatan tahap awal dengan pesawat fungsional sering kali berhasil ( loh, &kerr, 1985)

c. Oklusi klas 3 yang parah

Ada sejumlah kecil oklusi klas 3 yang tidak bisa diperbaiki dengan perawatan orthodonti

saja. Kasus-kasus ini biasanya berada pada posisi yang ekstrem dari suatu Kisaran normal

prognatisme mandibula, retrognatisme maksila atau tinggi wajah . Jika dirasakan perlu untuk

mengaplikasikan perawatan korektif pada kasus ini, reposisi rahang secara bedah bisa dilakukan.

Penyimpangan yang ada disini cenderung tiga dimensi, misalnya bidang antero- posterior,

transversal, dan vertikal, dan elernen jaringan lunak melekat pada rahang, bahkan otot lidah dan

mastikasi juga terlibat. Oleh karena itu, perbaikan susunan elemen tulang diperlukan jika ingin

diperoleh keberhasilan dari perawatan, dan dasar dari perbaikan susunan adalah oklusi gigi.

Perawatan orthodonti sering merupakan bagian penting dari perawatan korektif keseluruhan, pada

kasus-kasus ini.

Jika hubungan klas 3 dianggap tidak perlu dikoreksi, perawatan orthodonti harus dibatasi

hanya sampai menghilangkan susunan yang berjejal dan memperbaiki ketidakteraturan setempat

pada lengkung gigi.


2.4.3 Pengaruh Pertumbuhan pada Perawatan Klas III

Secara umum dianggap bahwa perubahan pertumbuhan pada hubungan oklusi klas 3 lebih

cenderung membuat kondisi tersebut memburuk daripada membaik. Meskipun ada variasi

individual, hasil pengalaman klinis menunjukkan bahwa selama pertumbuhan, mandibula

cenderung menjadi lebih menonjol daripada maksila, dan pada beberapa klas 3, perubahan

pertumbuhan ini sangat nyata. Anggapan ini diperkuat dengan hasil penelitian Silviera (1985),

sedang Lewis dan Roche (1988) melaporkan bahwa pertumbuhan mandibula dalam kaitannya

dengan basis cranium akan berkembang pesat sesudah usia 17 tahun.

Ini disebabkan oleh perubahan pertumbuhan progresif dimana ada kecenderungan bagi

perawatan klas 3 untuk dimulai pada tahap gigi-geligi campuran. Beberapa operator merasa bahwa

jika hubungan gigi insisivus bisa diperbaiki pada tahap dini, pertumbuhan lebih lanjut dari

mandibula akan menyebabkan gigi-gigi insisivus atas digerakkan ke depan melalui kontak oklusal.

Belum ada bukti positif yang mendukung alasan perawatan ini, tetapi cara perawatan ini mungkin

efektif untuk perubahan pertumbuhan yang kecil. Namun perbedaan utama dari pertumbuhan

rahang atas dan bawah akan bisa mengendalikan hasil setiap perawatan dini, dan tidak jarang

ditemukan overjetyang normal selama tahap gigi-geligi campuran kan hilang sewaktu mandibula

bertumbuh lebih dari maksila semasa remaja.

Alasan lain untuk perawatan dini adalah anjuran bahwa bentuk mandibula yang sedang

bertumbuh bisa diubah baik dengan tekanan dari oklusi normal maupun dengan tekanan eksternal

yang diaplikasikan pada tahap awal.

2.4.4 Prinsip-prinsip Perawatan

Pada penyimpangan Klas III yang ringan, gerak tipping dari gigi-gigi insisivus atas bawah

sudah cukup untuk memperbaiki overjet, asalkan overbite insisal cukup besar untuk

mempertahankan kestabilan.
Oklusi klass III yang lebih parah membutuhkan gerak tipping dari segmen anterior atas dan

bawah, atau gerak bodily dari gigi-gigi anterior. Hubungan vertical dari insisivus perlu diperbaiki

dengan pesawat cekat untuk mendapatkan gerak vertikal.

Gigitan terbalik unilateral bisa diperbaiki dengan melebarkan lengkung atas jika ada

penyimpangan mandibula. Gigitan terbalik yang bilateral biasanya dibiarkan jika keadaan ini

simetris, atau bisa digunakan teknik pelebaran cepat.

Perawatan dengan pesawat fungsional pada tahap gigi-geligi campuran atau gigi-geligi

permanen tahap awal sering digunakan pada oklusi Klas III.

Hubungan Klas 3 yang lebi parah kadang-kadang di luar lingkup perawatan ortodonsi saja,

dan membutuhkan perawatan bedah. (foster, 2008)


BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

Maloklusi adalah bentuk hubungan rahang atas dan bawah yang menyimpang dari bentuk standar

yang diterima sebagai bentuk yang normal. Maloklusi dapat disebabkan karena tidak ada

keseimbangan dentofasial yang dipengaruhi faktor keturunan, lingkungan, pertumbuhan dan

perkembangan, etnik, fungsional, patologi. Maloklusi diklasifikasikan menurut klasifikasi Angle

menjadi 3 kelas maloklusi. Maloklusi dapat dikoreksi dengan perawatan ortodontik. Pemeriksaan

subyektif dan obyektif termasuk studi pada model serta analisis sefalometri diperlukan sebelum

perawatan ortodontik dilakukan.

3.2 Saran

1. Perlu pelatihan khusus bagi doktrgigi umum umtuk dapat melakukan pemeriksaan diagnostik dalam

rangka menentukan diagnosa dan rencana perawatan yang tepat bagi penderita maloklusi. Hal ini

dikarenakan analisis sefalometri serta analisis model yang menjadi dasar acuan bagi perawatan

maloklusi membutuhkan ketrampilan yang tersendiri.

2. Sebaiknya pasien dengan kasus maloklusi berat dirujuk ke tenaga spesialistik yang dalam hal

ortodontik adalah doktergigi spesialis ortodontia sehingga kasus kesalahan perawatan pada pasien

dapat dihindari.
DAFTAR PUSTAKA

Ardhana W. 2008. Manajemen Perawatan Ortodontik Praktis. Yogyakarta: Majalah Kedokteran Gigi;

Juni;2008;15(1):95-98 diunduh dari http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/151089598.pdf pada

tanggal 28 April 2012.

Ardhana. 2011. Sefalometri. Yogyakarta: FKG Universitas Gadjah Mada

Bagio B.S. 2003. Perubahan dan Karakteristik Lengkung Gigi Selama Periode Tumbuh Kembang serta

Faktor yang Mempengaruhi, Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi FKG UPDM

Basavaraj S.P. 2011. Orthodontic principles and practice. Jaypee Brother Medical Publishers Ltd

Foster. T.D. 1997. Buku Ajar Ortodonti. Jakarta : EGC

Graber TM. 1985. Orthodontics. St Louis Toronto: WB Saunders.

Magalhaes IB, Pereira LJ, Marques LS, Gameiro GH. 2010. The influence of maloccusion on masticatory

performance. Angle Orthodontist

Mitchell L. 2007. An introduction to orthodontics. 3rd edition. Oxford University Press

Murtia, Metalita. 2011. Pencabutan Gigi Molar Ketiga Untuk Mencegah Terjadinya Gigi Berdesakan

Anterior Rahang Bawah (Extraction of Mandibular Third Molars In Case of Anticipation of

Anterior Lower Jaw Crowding). Universitas Airlangga: Surabaya. Available at :

http://www.pdgi-online.com/v2/index.php?option=com.

Rahardjo P. 2009. Ortodonti Dasar. Surabaya: Airlangga University Press.

Proffit W.R. 2007. Contemporary orthodontics. 4th edition. Mosby Elsevier

Rahardjo, Pambudi. 2009. Ortodonti Dasar. Surabaya: Airlangga University Press.

Rahardjo, Pambudi. 2012. Diagnosis Ortodontik. Surabaya : Airlannga University Press..

Staley R.N. 2011. Essentials of orthodontics. Blackwell Publishing Ltd