Anda di halaman 1dari 22

Pendahuluan

Sistem pernapasan berfungsi sebagai pendistribusi udara dan penukar gas


sehingga oksigen dapat disuplai ke dan karbondioksida dikeluarkan dari sel-sel tubuh
karena sebagian besar dari jutaan sel tubuh kita letaknya terlalu jauh dari tempat
terjadinya pertukaran gas, maka udara pertama-tama harus bertukaran dengan darah, dan
harus bersikulasi, dan akhirnya darah dan sel-sel harus melakukan pertukaran gas.
Peristiwa ini membutuhkan fungsi dari dua system, yaitu system pernapasan dan system
sirkulasi. Semua bagian dari system pernapasan (kecuali sakus mikroskopis yang disebut
alveoli) berfungsi sebagai pendistribusi udara. Hanya alveoli dan saluran kecil yang
terbuka ke dalam alveoli berfungsi sebagai penukar gas.
Selain sebagai pendistribusi dan pertukaran gas, system pernapasan secara efektif
menyaring, menghangatkan, dan melembabkan udara yang kita hirup selama bernapas.
Organ pernapasan juga mempengaruhi pembentukan suara, termasuk berbicara yang kita
gunakan dalam komunikasi verbal. Jaringan epitel khusus dalam saluran pernapasan
memungkinkan berfungsinya indera penghidu (olfaktori). Sistem pernapasan juga
membantu dalam pengaturan atau homeostasis pH dalam tubuh.1
Struktur Sistem Pernapasan
Secara sistematis system pernapasan dibagi menjadi saluran pernapasan atas dan
saluran pernapasan bawah. Organ saluran pernapasan atas terletak di luar toraks atau
rongga dada, sementara saluran pernapasan bawah terletak hamper seluruhnya di dalam
toraks

Gambar 1. Struktur system pernapasan

Saluran pernapasan terdiri atas hidung, nasofaring, orofaring, laringofaring, dan


laring. Saluran pernapasan bawah atau biasa disebut divisi terdiri atas trachea, semua
segmen dari percabangan bronkus, dan paru-paru. Berdasarkan fungsi, system pernapasan
juga mencakup beberapa struktur aksesori, termasuk rongga mulut, sangkar iga, dan
diafragma.

1. Saluran pernapasan atas


a. Hidung
Hidung merupakan pintu masuk pertama udara yang kita hirup. Udara masuk dan
keluar system pernapasan melalui hidung yang terbentuk dari dua tulang hidung dan
beberapa kartilago. Terdapat dua pintu dasar hidung nostril(lubang hidung), atau
nares eksternal yang dipisahkan oleh septum nasal di bagian tengahnya.
Lapisan mukosa hidung adalah sel epitel bersilia dengan sel goblet yang
menghasilkan lender. Udara yang melewati rongga hidung dihangatkan dan
dilembabkan. Bakteri dan partikel polusi udara akan terjebak dalam lender; silia pada
lapisan mukosa secara kontinu menyapu lender ke arah faring. Sebagian besar lender
ini pada akhirnya akan tertelan dan setiap bakteri yang ada akan dihancurkan oleh
asam hidroklorida dalam getah lambung.
Rongga nasal berhubungan dengan beberapa rongga lain yang terdapat dalam tulang
tengkorak, yaitu sinus paranasal yang fungsinya adalah untuk meringankan tulang
tengkorak dan memberikan resonansi suara. Rongga ini berhubungan dengan rongga
nasal melalui saluran kecil yang juga dilapisi oleh membrane mukosa karena saluran
ini sempit, maka ia mudah tersumbat selama proses inflamasi dan infeksi. Lendir dan
cairan lainnya menjadi terperangkat dan meunmpuk di dalam sinus yang tersumbat,
menimbulkan tekanan yang terasa sangat nyeri. Kondisi ini disebut sinusitis.

b. Faring
Faring atau tenggorokan adalah tuba muscular yang terletak di posterior rongga nasal
dan oral dan di anterior vertebra servikalis. Secara deskriptif, faring dapat dibagi
menjadi tiga segmen, setiap segmen dilanjutkan oleh segmen lainnya; nasofaring,
orofaring, dan laringofaring.
Bagian paling atas (superior) adalah nasofaring, yang terletak dibelakang rongga
nasal. Nasofaring berhubungan dengan nares internal dan ostium ke kedua tuba
auditorius, yang memanjang ke telinga tengah. Adenoid atau tonsil faringeal tertelak
pada dinding posterior nasofaring, yaitu nodulus limfe yang mengandung makrofag.
Nasofaring adalah saluran yang hanya dilalui oleh udara, tetapi bagian faring lainnya
dapat dilalui oleh udara maupun makanan, namun tidak untuk keduanya pada saat
yang bersamaan
Bagian faring yang dapat anda lihat ketika anda bercermin dengan mulut terbuka
lebar adalah orofaring, terletak di belakang mulut; mukosa orofaring adalah epitel
skuamosa bertingkat, dilanjutkan dengan epitel yang terdapat pada rongga mulut.
Pada dinding lateralnya terdapat tonsil palatin yang juga nodulus limfe. Tonsil
adenoid dan lingual pada dasar lidah membentuk cincin jaringan limfatik
mengelilingi faring untuk menghancurkan pathogen yang masuk ke dalam mukosa.
Laringofaring merukan bagian paling inferior dari faring. Laringofaring membuka ke
arah anterior ke dalam laring dan ke arah posterior ke dalam esofagus. Kontraksi
dinding muscular orofaring dan laringofaring merupakan bagian dari refleks menelan.

c. Laring
Laring sering disebut kotak suara, nama yang menunjukkan salah satu fungsinya yaitu
berbicara adalah saluran pendek yang menghubungkan faring dengan trakhea. Laring
memungkinkan udara mengalir di dalam struktur ini dan mencegah benda padat agar
tidak masuk ke dalam trakhea. Laring menjadi tempat pita suara dengan demikian
laring menjadi sarana pembentukkan suara. Dinding laring terutama dibentuk oleh
tulang rawan (kartilago) dan bagian dalamnya dilapisi oleh membrane mukosa
bersilia. Kartilago laring terdiri atas sembilan buah yang tersusun sedemikian rupa
sehingga membentuk seperti kotak dan satu sama lainnya dihubungkan oleh ligament.
Kartilago laring yang terbesar adalah kartilago tiroid yang teraba pada permukaan
anterior leher. Pada kartilago ini membesar yang disebut Adams apple atau buah
jakun.

Gambar 2. Laring tampak anterior Gmbar 3. Laring tampak posterior


Epiglotis atau kartilago epiglotik adalah kartilago yang paling atas bentuknya seperti
lidah dan keseluruhannya dilapisi oleh membrane mukosa. Selama menelan, laring
bergerak ke atas dan epiglotis tertekan ke bawah menutup glottis. Gerakan ini
mencegah masuknya makan atau cairan ke dalam laring.
Pita suara terletak di kedua sisi glotis. Selama bernapas, pita suara tertahan di kedua
sisi glotis sehingga udara dapat masuk dan keluar dengan bebas dari trakhea. Selama
berbicara otot-otot intrinsik laring menarik pita suara menutupi glotis dan udara yang
dihembuskan akan menggetarkan pita suara untuk menghasilkan bunyi yang
selanjutnya diubah menjadi kata-kata. Saraf cranial motorik yang mempersarafi faring
untuk berbicara adalah nervus vagus dan nervus aksesorius

2. Saluran pernapasan bawah


a. Trakhea
Pipa udara atau trakhea adalah saluran udara tubular yang mempunyai panjang sekitar
10 sampai 13 cm dengan lebar sekitar 2,5 cm. Trakhea terletak di depan esofagus dan
saat palpasi teraba sebagai struktur yang keras kaku tepat di permukaan anterior leher.
Trakhea memanjang dari laring ke arah bawah ke dalam rongga toraks tempatnya
terbagi menjadi bronkhi kanan dan kiri.
Dinding trakhea disangga oleh cincin-cincin kartilago, otot polos, dan serat elastik.
Cincin kartilago ini berujung terbuka yang menghadap belakang seperti huruf C yang
banyaknya sekitar 16 sampai 20 buah. Ujung terbuka dari cincin ini dihubungkan
oleh otot polos dan jaringan ikat memungkinkan pelebaran esofagus ketika makanan
ditelan. Cincin kartilago memberikan bentuk kaku pada trakhea, mencegahnya agar
tidak kolaps dan menutup jalan udara.
Bagian dalam trakhea dilapisi oleh membrane mukosa bersilia. Lapisan mukosa ini
banyak mengandung sel yang menyekresi lender disebut PSCC, pseudostratified
ciliated columnar. Seperti halnya pada laring, silia pada trachea juga menyapu ke
arah atas mengarah ke faring. Ketika mencapai faring, mukus biasanya tertelan atau
dikeluarkan sebagai sputum.
b. Bronkhial dan alveoli
Ujung distal trakhea membagi menjadi bronkhi primer kanan dan kiri yang terletak di
dalam rongga dada. Di dalam paru-paru, masing-masing bronchus primer sedikit
memanjang dari trakhea ke arah paru-paru membentuk cabang menjadi bronchus
sekunder meski perpanjangan ini tidak simetris: cabang bronkhus kiri mempunyai
sudut yang lebih tajam dibanding dengan cabang bronkhus kanan kanan. Sebagai
akibat dari perbedaan anatomi ini adalah bila benda asing secara tidak sengaja
terhirup biasanya akan tersangkut pada bronkhus kanan (bayangkan trakhea sebagai
sebatang pohon yang terbalik dengan cabang-cabangnya yang menjalar yang makin
lama makin kecil; percabangan yang paling kecil ini disebut bronkhiolus). Pada
dinding bronkhiolus tidak terdapat kartilago; keadaan ini menjadi penting secara
klinis dalam asma. Bronkhiolus yang paling kecil berakhir dalam kumpulan alveoli
kantung udara di dalam paru-paru.

Gambar 4. Percabangan bronkial dan alveoli

Fungsi percabangan bronkhial untuk memberikan saluran bagi udara antara trakhea
dan alveoli. Sangat penting artinya untuk menjaga agar jalan udara ini tetap terbuka
dan bersih.
Unit fungsi paru atau alveoli berjumlah sekitar 300 sampai 500 juta di dalam paru-
paru pada rata-rata orang dewasa. Fungsinya adalah sebagai satu-satunya tempat
pertukaran gas antara lingkungan eksternal dan aliran darah. Jumlah alveoli yang
sangat banyak memberikan area permukaan yang sangat luas sehingga
memungkinkan terjadinya pertukaran gas ini; setiap paru mempunyai area permukaan
internal sekitar 80 kali lebih besar dari luas permukaan tubuh ekstermal atau sekitar
70 m2 (Thibodeau & Patton, 1996).
Struktur alveoli sangat efisien untuk mendukung terjadinya difusi gas. Setiap alveolus
terdiri atas ruang udara mikroskopik yang dikelilingi oleh dinding yang tipis yang
memisahkan satu alveolus dengan alveolus lainnya, dan dari kapiler didekatnya.
Dinding ini terdiri atas satu lapis epitel skuamosa. Di antara sel epitel terdapat sel-sel
khusus yang menyekresi lapisan molekul lipid seperti deterjen yang disebut
surfaktan. Surfaktan normalnya melapisi permukaan dalam dinding alveolar,
bersamaan dengan selapis tipis cairan encer. Cairan ini dibutuhkan untuk menjaga
agar permukaan alveolar tetap lembab yang penting untuk terjadinya difusi gas
melalui dinding alveolar. Air dalam cairan ini mengeluarkan tenaga atraktif yang kuat
disebut tekanan permukaan yang menyebabkan dinding alveolar tertarik dan kolaps
ketika udara meninggalkan bilik alveolar selama ekspirasi. Surfaktan melawan
tekanan ini dengan memungkinkan alveoli mengembang kembali dengan cepat
setelah ekspirasi.
Tanpa surfaktan, tekanan permukaan akan menjadi demikian besar sehingga
membutuhkan upaya muscular yang sangat besar untuk mengembangkan kembali
alveoli.

c. Paru-paru
Paru-paru terletak di kedua sisi jantung di dalam rongga dada dan dikelilingi serta
dilindungi oleh sangkar iga. Bagian dasar setiap paru terletak di atas diafragma;
bagian apeks paru (ujung superior) terletak setinggi klavikula. Pada permukaan
tengah dari setiap paru terdapat identasi yang disebut hillus, tempat bronkhus primer
dan masuknya arteri serta vena pulmonary ke dalam paru. Bagian kanan dan kiri paru
terdiri atas percabangan saluran yang membentuk pohon bronchial, jutaan alveoli dan
jarring-jaring kapilernya, dan jaringan ikat. Sebagai organ, fungsi paru-paru adalah
tempat terjadinya pertukaran gas antara udara atmosfir dan udara dalam aliran darah.
Setiap paru dibagi menjadi kompartemen yang lebih kecil. Pembagian pertama
disebut lobus. Paru kanan terdiri atas tiga lobus dan lebih besar dari kiri yang hanya
terdiri atas dua lobus. Lapisan yang membatasi antara lobus disebut fisura. Setiap
lobus dipasok oleh cabang utama percabangan bronkhial dan diselaputi oleh jaringan
ikat.
Lobus kemudian membagi lagi menjadi kompartemen yang lebih kecil dan dikenal
sebagai segmen. Setiap segmen terdiri atas banyak lobules yang masing-masing
mempunyai bronkhiole, arteriole, venula, dan pembuluh limfatik.
Dua lapis membran serosa mengelilingi setiap paru dan disebut sebagai pleurae.
Lapisan terluar disebut pleura parietal yang melapisi dinding dada dan mediastinum.
Lapisan dalamnya disebut pleura viseral yang mengelilingi paru dan dengan kuat
melekat pada permukaan luarnya. Rongga pleural ini mengandung cairan yang
dihasilkan oleh sel-sel serosa di dalam pleura. Cairan pleural melicinkan permukaan
kedua membrane pleura untuk mengurangi gesekan ketika paru-paru mengembang
dan berkontraksi selama bernapas. Jika cairan yang dihasilkan berkurang atau
membrane pleura membengkak akan terjadi suatu kondisi yang disebut pleurisy dan
terasa sangat nyeri karena membran pleural saling bergesekan satu sama lain ketika
bernapas.

d. Toraks
Rongga toraks terdiri atas rongga pleura kanan dan kiri bagian tengah yang disebut
mediastinum. Jaringa fibrosa membentuk dinding sekeliling mediastinum yang secara
sempurna memisahkannya dari rongga pleura kanan dimana terletak paru kanan dan
dari rongga pleura kiri yang merupakan tempat dari paru kiri. Satu-satunya organ
dalam rongga toraks yang tidak terletak di dalam mediastinum adalah paru-paru.
Toraks mempunyai peranan penting dalam pernapasan karena bentuk elips dari tulang
rusuk dan sudut perlekatannya ke tulang belakang, toraks menjadi lebih besar ketika
dada dibusungkan dan menjadi lebih kecil ketika dikempiskan. Bahkan perubahan
yang lebih besar lagi terjadi ketika diafragma berkontraksi dan relaksasi. Saat
diafragma berkontraksi, diafragma akan mendatar keluar dan dengan demikian
menarik dasar rongga toraks kea rah bawah sehingga memperbesar volume toraks.
Ketika diafragma rileks, diafragma kembali ke bentuk awalnya yang seperti kubah
sehingga memperkecil volume rongga toraks. Perubahan dalam ukuran toraks inilah
yang memungkinkan terjadinya proses inspirasi dan ekspirasi.1

Mekanisme Pernafasan

a. Pernapasan Dada

Pernapasan dada terjadi karena gerakan otot-otot antartulang rusuk. Bila otot
antartulang rusuk berkontaraksi, tulang rusuk terangkat naik. Akibatnya volume rongga
dada membesar, sehingga tekanan rongga dada turun dan paru-paru mengembang. Pada
saat paru-paru mengembang, tekanan udara di dalam paru-paru lebih rendah daripada
tekanan udara di atsmosfer. Akibatnya udara mengalir dari luar kedalam paru-paru
(inspirasi). Sebaliknya, ketika otot-otot antartulang rusuk relaksasi, tulang rusuk turun.
Akibatnya rongga dada menyempit dan tekanan udara di dalamnya naik. Keadaan ini
membuat paru-paru mengempis. Karena paru-paru mengempis, tekanan udara di dalam
paru-paru lebih tinggi daripada tekanan atsmosfer, sehingga udara keluar (ekspirasi).

b. Pernapasan Perut

Pernapasan perut terjadi akibat gerakan diafragma. Jika otot diafragma


berkontraksi, diafragma yang semula cembung ke atas bergerak turun menjadi agak rata.
Akibatnya rongga dada membesar dan paru-paru mengembang sehingga perut
menggembung, tekanan udara di dalam paru-paru turun dan udara dari luar masuk ke
dalam paru-paru (inspirasi)
Pengertian Pernafasan

Pernafasan mempunyai 2 arti yang sangat berbeda :

1. Pernafasan oksigen (O2 ) dalam matabolisme karbohidrat dan berbagai molekul organik
lainnya,

2. Suatu proses yang melibatkan pertukaran O2 dan CO2 di antara berbagai sel suatu
organisme dan lingkungan luar.

Sebagian besar sel tubuh memperoleh energi dari reaksi kimia yang melibatkan
O2. Sel itu harus mampu melenyapkan CO2 yang merupakan hasil akhir utama dari
metabolisme oksidasi. Organisme bersel satu pertukaran O2 dan CO2 terjadi secara
langsung dengan lingkungan luar, tetapi hal itu sama sekali tidak mungkin untuk
sebagian besar sel organisme yang kompleks seperti manusia maupun hewan/ternak.
Oleh karena itu, evaluasi hewan besar memerlukan perkembangan suatu sistem khusus
yaitu sistem respirasi (pernafasan) untuk pertukaran O2 dan CO2 bagi hewan tersebut
dengan lingkungan sekitarnya meliputi : paru-paru, jalan udara ke paru-paru, dan struktur
dada yang bertanggung jawab terhadap gerakan udara keluar dan masuk ke paru-paru.

Mekanisme Ventilasi (Pertukaran Udara) Pulmonalis

Paru-paru dapat membesar dan berkontraksi dengan 2 jalan : 1). dengan gerakan
turun naik diafragma akan memanjang dan memperpendek rongga dada, dan 2). dengan
pengangkatan dan penekanan tulang rusuk akan mengangkat/memperbesar dan
menurunkan/memperkecil diameter anteroposterior rongga dada.

Pernafasan normal dilakukan hampir sempurna oleh gerakan inspirasi


(menghirup) diafragma. Selama inspirasi diafragma menarik ke bawah permukaan bagian
bawah paru-paru. Selama ekspirasi (menghembus) diafragma berelaksasi dan mendorong
paru-paru ke belakang, dinding dada dan struktur perut mendorong paru-paru. Selama
bernafas berat, dorongan ke belakang tidak cukup kuat untuk menyebabkan respirasi
cepat, hal itu dapat dicapai dengan kontraksi urat perut yang mendorong isi perut ke atas
melawan diafragma bagian bawah. Cara kedua untuk memperbesar paru-paru adalah
dengan meningkatkan/memperbesar ruangan dada melalui rib cage. Hal itu akan
memperbesar paru-paru karena dalam posisi istirahat secara alamiah, tulang rusuk miring
ke bawah, sehingga memungkinkan tulang dada bergerak ke belakang di depan kolumnis
spinalis. Namun, bila rib cage terangkat, tulang rusuk langsung mengarah ke belakang.
Dengan demikian, tulang dada pada waktu itu bergerak ke belakang menjauhi spinosus
yang menyebabkan anteroposterior dada menjadi lebih besar kira-kira 20% selama
respirasi maksimum dibandingkan selama ekspirasi. Oleh karena itu, berbagai otot
tersebut yang mengangkat rongga dada dapat diklasifikasikan sebagai urat daging
inspirasi, dan urat daging yang menekan rongga dada adalah urat daging ekspirasi.

Gambar 4. Mekanisme pernapasan

Kapasitas dan Volume Paru-paru

Suatu metode sederhana untuk mempelajari pertukaran udara paru-paru adalah mancatat
volume udara yang bergerak ke dalam dan ke luar paru-paru disebut spirometer. Sebuah alat
spirometer terdiri dari sebuah silinder yang berada dalam sebuah ruangan berisi air yang
keseimbangannya dapat diatur melalui suatu pemberat. Dalam selinder terdapat campuran udara
pernafasan biasanya udara atau O2 ; suatu tabung yang menghubungkan mulut dengan ruang
udara. Karena nafas masuk dan ke luar ruang udara maka silinder terangkat/naik dan turun, dan
suatu grafik akan terlihat pada kertas yang terdapat pada silinder yang berputar. Untuk
memudahkan menjelaskan berbagai kejadian pertukaran udara paru-paru maka udara dalam
paru-paru telah dibagi menjadi 4 volume dan 4 kapasitas. Volume paru-paru bagian kiri terdiri
atas 4 volume yang berbeda dan bila dijumlahkan semuanya sama dengan volume maksimum
paru-paru yang masih dapat diharapkan. Arti penting dari masing-masing volume tersebut adalah
sebagai berikut.

1. Volume tidal (tidal volume = TV) adalah volume udara pada waktu inspirasi atau
ekspirasi normal, dan volumenya kira-kira 500 ml.
2. Volume cadangan inspirasi (inspiratory reserve volume = IRV) adalah volume
ekstra udara yang masih dapat dihirup setelah inspirasi normal sebagai volume
udara tambahan terhadap volume volume tidal, dan biasanya volume udara itu
kira-kira 3000 ml.
3. Volume cadangan ekspirasi (expiratory reseve volume = ERV) adalah jumlah
udara yang masih dapat dikeluarkan dengan berekspirasi sekuat-kuatnya
(maksimum) pada saat akhir ekspirasi normal, biasanya volume ini kira-kira 1100
ml.
4. Volume residu (residual volume = RV) adalah volume udara yang masih tinggal
di dalam paru-paru setelah melakukan respirasi maksimum. Volume residu ini
rata-rata 1200 ml.

Kapasitas paru-paru dalam siklus paru-paru kadang-kadang perlu mempertimbangkan 2


atau lebih volume udara tersebut di atas secara bersama-sama. Penggabungan ini disebut
kapasitas paru-paru. Kapasitas paru-paru berbeda-beda dapat dijelaskan sebagai berikut ini.

1. Kapasitas inspirasi (inspiratory capacity/IC) = volume tidal (TV) + volume cadangan


inspirasi (IRV). Ini adalah sejumlah udara (kira-kira 3500 ml) yang berarti seseorang
bernafas mulai dengan tingkat ekspirasi normal dan memperbesar paru-parunya hingga
maksimum.
2. Kapasitas residu fungsional (functional residual capacity/FRC) = volume cadangan
ekspirasi (ERV) + volume residu (RV). Ini adalah sejumlah udara yang tinggal dalam
paru-paru pada akhir ekspirasi normal (kira-kira 2300 ml).
3. Kapasitas vital (vital capacity/VC) = volume cadangan inspirasi (IRV) + volume tidal
(TV) + volume cadangan ekspirasi (ERV). Ini adalah jumlah udara maksimum yang
dapat dikeluarkan dari paru-paru setelah ekspirasi dan dilanjutkan dengan ekspirasi
maksimum.
4. Kapasita total paru-paru (total lung capacity/TLC) adalah volume maksimum paru-
paru yang masih dapat diperbesar dengan inspirasi sekuat mungkin (kira-kira 5800 ml).
TLC = IRV + TV + ERV + RV.

Sebagai contoh dapat dikemukakan di sini bahwa laki-laki mempunyai VT = 400 ml, VC
= 4800 ml, IRV = 3100 ml, IC = 3600 ml, ERV = 1200 ml, RV = 1200 ml, FRC = 2000 ml, TLC
= 6000 ml. Sapi betina (dalam keadaan tidur) mempunyai TV = 3100 ml; sedangkan dalam
posisi berdiri adalah 3800 ml. Semua volume dan kapasitas paru-paru wanita 20 25% lebih
rendah dibandingkan laki-laki, dan volume serta kapasitasnya lebih besar pada orang yang
bertubuh besar dan olahragawan dibandingkan dengan orang yang bertubuh kecil dan menderita
asma.2

Gambar 5. Kapasitas paru


Difusi Gas Melalui Membrana Respirasi

Unit alat pernafasan terdiri dari bronkhiolus, berbagai saluran alveoli, atrium dan alveoli
(kira-kira 300 juta pada kedua paru-paru, masing-masing alveolus mempunyai diameter kira-kira
0,25 mm). Dinding alveoli sangat tipis, dan di antara banyak dinding itu terdapat berbagai
kapiler yang cukup kuat. Aliran darah pada dinding kapiler merupakan suatu sheet dari peredaran
darah. Jadi jelaslah bahwa gas alveoli hampir sama dengan gas darah kapiler. Konsekwensinya
pertukaran gas antara udara alveoli dan darah volmonaris terjadi di seluruh membrana terminal
paru-paru. Membrana ini disebut membrana respirasi atau membrana vulmonarTransportasi O2
dan CO2. Gas dapat mengaliri suatu tempat ke tempat lain dengan jalan difusi dan hal ini selalu
disebabkan oleh adanya perbedaan tekanan dari satu tempat terhadap tempat lainnya. Jadi, O2
berdifusi dari alveoli ke dalam pembuluh darah kapiler pulmonaris karena perbedaan tekanan
yang dalam hal ini tekanan O2 (PO2) di dalam alveoli lebih besar dibandingkan dengan PO2 di
dalam darah pulmonaris. Darah pulmonaris diangkut melalui sirkulasi darah menuju berbagai
jaringan perifir. Di sana PO2 lebih rendah dalam sel dibandingkan dengan yang di dalam darah
arteri yang masuk ke dalam berbagai pembuluh darah kapiler. Di situ lagi PO2 jauh lebih tinggi
dalam darah kapiler menyebabkan O2 berdifusi ke luar dari pembuluh kapiler dan seluruh cairan
interstisial menuju sel. Karena O2 dimetabolisasikan dengan makanan dalam sel untuk
membentuk CO2 maka tekanan CO2 (PCO2) meningkat mencapai nilai tinggi dalam sel yang
menyebabkan CO2 berdifusi dari sel ke dalam jaringan kapiler. CO2 dalam darah diangkut ke
kapiler pulmonaris. CO2 itu berdifusi ke luar dari darah dan menuju ke dalam alveoli karena
PCO2 di dalam alveoli lebih rendah dibandingkan dengan yang di dalam darah. Hal yang
mendasar di sini adalah bahwa angkutan O2 dan CO2 ke dan dari berbagai jaringan tergantung
dari difusi dan aliran darah secara berturut-turut.

Faktor yang Mempengaruhi Difusi Gas

Prinsip dan formula terjadinya difusi gas melalui membrana respirasi sama dengan difusi
gas melalui air dan berbagai jaringan. Jadi, faktor yang menentukan betapa cepat suatu gas
melalui membrana tersebut adalah : 1). ketebalan membrana, 2).luas permukaan membrana,
3).koefisien difusi gas dalam substansi membrana, dan 4). perbedaan tekanan antara kedua sisi
membrana. Sering terjadi kecepatan difusi melalui membrana tidak proporsional terhadap
ketebalan membrana sehingga setiap faktor yang meningkatkan ketebalan melebihi 2 3 kali
dibandingkan dengan yang normal dapat mempengaruhi secara sangat nyata pertukaran gas
pernafasan normal. Khusus pada olahragawan, luas permukaan membrana respirasi sangat
mempengaruhi prestasi dalam pertandingan maupun latihan. Luas permukaan paru-paru yang
berkurang dapat berpengaruh serius terhadap pertukaran gas pernafasan. Dalam hal koefisien
difusi masing-masing gas kaitannya dengan perbedaan tekanan ternyata CO2 berdifusi melalui
membrana kira-kira 20 kali lebih cepat dari O2, dan O2 dua kali lebih cepat dari N2. Dalam hal
perbedaan tekanan gas, tekanan gas parsial menyebabkan gas mengalir melalui membrana
respirasi. Dengan demikian, bila tekanan parsial suatu gas dalam alveoli lebih besar
dibandingkan dengan tekanan gas dalam darah seperti halnya O2 , difusi terjadi dari alveoli ke
arah dalam, tetapi bila tekanan gas dalam darah lebih besar dibandingkan dengan dalam alveoli
seperti halnya CO2 maka difusis. terjadi dari darah ke dalam alveoli.

Transportasi Gas

a. Transportasi O2

Oksigen dapat ditranspor dari pulmo ke jaringan melalui dua jalan :


(a) secara fisik larut dalam plasma.
(b) secara kimia berikatan dengan hemoglobin sebagai oksihemoglobin (HbO2),ikatan
kimia oksigen dan hemoglobin ini bersifat reversibel.
Jumlah sungguhnya yang diangkut dalam bentuk ini mempunyai hubungan nonlinear
dengan PA O2 (tekanan parsial oksigen dalam darah arteri), yang ditentukan oleh jumlah
oksigen yang secara fisik larut dalam plasma darah. Sebaliknya, jumlah oksigen yang
secara fisik larut dalam plasma mempunyai hubungan langsung dengan tekanan parsial
oksigen dalam alveolus (Pal O2). Dan tergantung dari daya larut oksigen dalam plasma.
Jumlah oksigen yang dalam keadaan normal larut secara fisik sangat kecil karena daya
larut oksigen dalam plasma yang rendah. Hanya sekitar 1% dari jumlah oksigen total ang
ditranspor ke jaringan-jaringan ditranspor dengan cara ini. Cara transpor seperti ini tidak
mempertahankan hidup walaupun dalam keadaan istirahat sekalipun. Sebagian besar
oksigen diangkut oleh hemoglobin yang terdapat dalam sel darah merah. Dalam keadaan
tertentu (misalnya : keracunan karbon monoksida atau hemolisis masif di mana terjadi
insufisiensi hemoglobin maka oksigen yang cukup untuk mempertahankan hidup dapat
ditranspor dalam bentuk larutan fisik dengan memberikan oksigen dengan tekanan yang
lebih tinggi dari tekanan atmosfir (ruang oksigen hiperbarik).
Satu gram hemoglobin dapat berikatan dengan 1,34 ml oksigen. Karena konsentrasi
hemoglobin rata-rata dalam darah pada pria dewasa besarnya sekitair 15gr/100 ml, maka
100 ml darah dapat mengangkut (15 x 1,34 = 20,1) 20,1 ml oksigen kalau darah jenuh
sekali (Sa O2 = 100%). Tetapi darah yang sudah teroksigenisasi dan meninggalkan
kapiler pulmo mendapatkan sedikit tambahan darah vena yang merupakan darah
campuran, dari sirkulasi bronchial. Proses pengenceran ini yang menjadi penyebab
sehingga darah yang meninggalkan pulmo hanya jenuh 97%, dan 19,5% volume diangkut
ke jaringan. Pada tingkat jaringan, oksigen mengalami disosiasi dari hemoglobin dan
berdifusi ke dalam plasma.
Dari plasma, oksigen masuk ke sel-sel jaringan tubuh untuk memenuhi kebutuhan
jaringan-jaringan yang bersangkutan. Meskipun sekitar 75% dari hemoglobin masih
berikatan dengan oksigen pada waktu hemoglobin kembali ke pulmo dalam bentuk darah
vena campuran. Jadi sesungguhnya hanya sekitar 25% oksigen dalam darah arteri yang
digunakan untuk keperluan jaringan. Hemoglobin yang melepaskan oksigen pada tingkat
jaringan disebut hemoglobin tereduksi (Hb). Hemoglobin tereduksi berwarna ungu dan
menyebabkan warna kebiruan pada darah vena, seperti yang kita lihat pada vena
superfisial, misalnya pada tangan. Sedangkan oksihemoglobin (hemoglobin yang
berikatan dengan oksigen) berwarna merah terang dan menyebabkan warna kemerahhan
pada darah arteri.

b. Transportasi CO2
Transport CO2 dari jaringan kepulmo melalui tiga cara berikut:
(a) Secara fisik larut dalam plasma (10 %).
(b) Berikatan dengan gugus amino pada Hb dalam sel darah merah (20%).
(c) Ditransport sebagai bikarbonat plasma (70%).
Karbon dioksida berikatan dengan air dengan reaksi seperti dibawah ini:
CO2 + H2O = H2CO3 = H+ + HCO3-
Reaksi ini reversibel dan dikenal dengan nama persamaan dapa asam bikarbonat-asam
karbonik. Hiperventilasi adalah ventilasi alveolus dalam keadaan kebutuhan metabolisme
berlebihan alkalosis sebagai akibat eksresi CO2 berlebihan ke pulmo. Hipoventilasi
adalah ventilasi alveoli yang tak dapat memenuhi kebutuhan metabolisme, sebagai akibat
dari retensi CO2 oleh pulmo.6

Kapasitas Difusi Membrana Respirasi

Kemampuan seluruh membrana respirasi untuk terjadinya pertukaran gas antara alveoli
dan darah pulmonaris dapat diekspresikan dengan istilah kapasitas difusinya, yang dapat
didefinisikan sebagai volume gas yang berdifusi melalui membrana tadi setiap menit untuk setiap
perbedaan tekanan 1 mm Hg. Kapasitas difusi O2 laki-laki muda dewasa pada waktu istirahat
rata-rata 21 ml per menit per mm Hg. Rata-rata perbedaan tekanan O2 menembus membrana
respirasi selama dalam keadaan normal yaitu dalam keadaan bernafas tenang kira-kira 11 mm
Hg. Peningkatan tekanan itu menghasilkan kira-kira 230 ml O2 berdifusi normal melalui
membrana respirasi setiap menit; dan itu sama dengan kecepatan tubuh menggunakan O2. Di lain
pihak, kapasitas difusi CO2 belum pernah dihitung karena kesukaran teknis. Sebenarnya sangat
penting diketahui kapasitas difusi yang tinggi dari CO2 itu. Bila tidak demikian maka membrana
respirasi banyak mengalami kerusakan. Akibatnya, kapasitasnya membawa O2 ke dalam darah
sering tidak cukup sehingga menyebabkan kematian seseorang jauh lebih cepat daripada
ketidakseimbangan yang serius dari difusi CO2.3

Mekanisme Respirasi

Selama respirasi, terjadi gerakan dada (thorax) dan perut. Pada inspirasi sternum
coracoid , furcula, dan rusuk bergerak ke depan dan ke bawah. Rusuk vertebral ditarik ke depan
dan ke dalam. Jadi, pada inspirasi diameter vertikal dada bertambah besar dan diameter
melintangnya bertambah kecil. Paru-paru membesar pada saat inspirasi, dan tulang rusuk serta
dada tertarik ke arah dalam.3
Mekanisme pernafasan secara singkat

1. Mekanisme Inspirasi

Otot-otot interkostal berkontraksi akibatnya tulang rusuk terangkat.


Kontraksi otot interkostal diikuti oleh kontraksi otot diafragma.
Akibat kontraksi kedua otot ini, rongga dada menjadi membesar.
Rongga dada yang bertambah besar menyebabkan tekanan udara di paru-paru menjadi kecil.
Akibatnya udara masuk ke dalam paru-paru.

2. Mekanisme Eskpirasi

Otot-otot interkostal berelaksasi akibatnya tulang rusuk turun.


Relaksasi otot interkostal diikuti oleh berelaksasinya otot diafragma
Akibat relaksasi kedua otot ini, rongga dada menjadi menjadi mengecil.
Rongga dada yang mengecil menyebabkan tekanan udara di paru-paru menjadi besar.
Akibatnya udara keluar dari dalam paru-paru ke lingkungan.4

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan respirasi adalah :

1. Usia
Saat lahir terjadi perubahan respirasi yang besar yaitu paru-paru yang sebelumnya
berisi cairan menjadi berisi udara. Bayi memiliki dada yang kecil dan jalan nafas
yang pendek. Bentuk dada bulat pada waktu bayi dan masa kanak-kanak, diameter
dari depan ke belakang berkurang dengan proporsi terhadap diameter transversal.
Pada orang dewasa thorak diasumsikan berbentuk oval. Pada lanjut usia juga terjadi
perubahan pada bentuk thorak dan pola napas.

2. Suhu

Sebagai respon terhadap panas, pembuluh darah perifer akan berdilatasi, sehingga
darah akan mengalir ke kulit. Meningkatnya jumlah panas yang hilang dari
permukaan tubuh akan mengakibatkan curah jantung meningkat sehingga kebutuhan
oksigen juga akan meningkat. Pada lingkungan yang dingin sebaliknya terjadi
kontriksi pembuluh darah perifer, akibatnya meningkatkan tekanan darah yang akan
menurunkan kegiatan-kegiatan jantung sehingga mengurangi kebutuhan akan
oksigen.

3. GayaHidup

Aktifitas dan latihan fisik meningkatkan laju dan kedalaman pernapasan dan denyut
jantung, demikian juga suplay oksigen dalam tubuh. Merokok dan pekerjaan tertentu
pada tempat yang berdebu dapat menjadi predisposisi penyakit paru.

4. StatusKKesehatan

Pada orang yang sehat sistem kardiovaskuler dan pernapasan dapat menyediakan
oksigen yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Akan tetapi penyakit pada
sistem kardiovaskuler kadang berakibat pada terganggunya pengiriman oksigen ke
sel-sel tubuh. Selain itu penyakit-penyakit pada sistem pernapasan dapat mempunyai
efek sebaliknya terhadap oksigen darah. Salah satu contoh kondisi kardiovaskuler
yang mempengaruhi oksigen adalah anemia, karena hemoglobin berfungsi membawa
oksigen dan karbondioksida maka anemia dapat mempengaruhi transportasi gas-gas
tersebut ke dan dari sel.

5. Narkotika

Narkotika seperti morfin dan dapat menurunkan laju dan kedalam pernapasan ketika
depresi pusat pernapasan dimedula. Oleh karena itu bila memberikan obat-obat
narkotik analgetik, perawat harus memantau laju dan kedalaman pernapasan.

6. Ketinggian

Ketinggian mempengaruhi pernapasan. Makin tinggi daratan, makin rendah O2,


sehingga makin sedikit O2 yang dapat dihirup belalang. Sebagai akibatnya belalang
pada daerah ketinggian memiliki laju pernapasan yang meningkat, juga kedalaman
pernapasan yang meningkat
7. Polusi udara
Dengan adanya polusi udara, kecepatan pernapasan kita terganggu. Bernapas menjadi
lebih menyesakkan sehingga kecepatan pernapasan menurun, jumlah oksigen yang
dihisap menurun, kita pun menjadi lemas.5
Kesimpulan
Sesak napas disebabkan oleh adanya gangguan pada sistem pernapasan. Oleh karena itu
sistem pernapasan kita harus dijaga dan dipelihara karena apabila salah satu organ pernapasan
kita rusak, maka akan menimbulkan gangguan pada sistem pernapasan kita.
Daftar Pustaka
1. Asih NGY, Effendy C.Sistem pernapasan. Jakarta : EGC; 2002. hal 2
2. Gunadi S, Wibawani N, Tirtarahardja H, dkk. Respirasi-1. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Ukrida; 2011
3. R.Putz dan R.Pabst. Atlas anatomi manusia, Sobotta, tabel otot dan saraf. Jakarta:
EGC; 2006. ed 22
4. Guyton & Hall. Buku Ajar, Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC; 2007
5. Susilowarno RG, Hartono RS, Mulyadi, Umiyati, Murtiningsih TEM. Biologi.
Jakarta: Grasindo; 2007
6. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Jakarta: EGC; 2011. ed. 6. h.
497

Anda mungkin juga menyukai