Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Pecking Order Theory

Teori ini dikenalkan pertama kali oleh Donaldson pada tahun 1961, sedangkan
penamaan pecking order theory dilakukan oleh Myers pada tahun 1984. Teori ini
disebut pecking order karena teori ini menjelaskan mengapa perusahaan akan
menentukan hieraki sumber dana yang paling disukai. Secara ringkas teori tersebut
menyatakan bahwa (Brealey and Myers, 1991 dalam Suad Husnan, 2015)
1. Perusahaan menyukai internal financing (pendanaan dari hasil operasi
perusahaan).
2. Perusahaan mencoba menyesuaikan rasio pembagian deviden yang
ditargetkan dengan berusaha menghindari perubahan pembayaran deviden
secara drastis.
3. Kebijakan deviden yang relatif segan untuk diubah, disertai dengan fluktuasi
profitabilitas dan kesempatan investasi yang tidak bisa diduga, mengakibatkan
bahwa dana hasil operasi kadang-kadang melebihi kebutuhan dana untuk
investasi, meskipun pada kesempatan yang lain, mungkin kurang. Apabila -
dana hasil operasi kurang dari kebutuhan investasi, maka prusahaan akan
mengurangi saldo kas atau menjual sekuritas yang dimiliki.

2.1.2 Trade Off Theory

Dalam kenyataan, ada hal-hal yang membuat perusahaan tidak dapat


menggunakan hutang sebanyak-banyaknya. Satu hal terpenting adalah dengan
semakin tingginya hutang, akan semakin tinggi kemungkinan (probabilitas)
kebangkrutan. Sebagai contoh, semakin tinggi hutang, semakin besar bunga yang

10
11

harus dibayarkan. Kemungkinan tidak membayar bunga yang tinggi akan semakin
besar. Pemberi pinjaman bisa membangkrutkan perusahaan jika perusahaan tidak bisa
membayar hutang.
Kebijakan struktur modal melibatkan perimbangan trade-off antara risiko
dengan tingkat pengembalian. Teori trade-off menerangkan bahwa struktur modal
optimal ditemukan dengan menyeimbangkan keuntungan pajak dengan biaya tekanan
finasial (the cost of financial distress) dari penambahan hutang, sehingga biaya dan
keuntungan dari penambahan hutang di trade-off (saling tukar) satu sama lain.
Menurut Brigham et.al (2001:298) dalam teori trade-off, setiap perusahaan
harus menetapkan target struktur modalnya, yaitu pada posisi keseimbangan biaya
dan keuntungan marginal dari pendanaan dengan hutang, sebab pada posisi itu nilai
perusahaan menjadi maksimum. Berdasarkan teori ini juga, menggunakan semakin
banyak hutang berarti memperbesar risiko yang ditanggung pemegang saham
(ekuitas) dan juga memperbesar tingkat pengembalian yang diharapkan.

2.2 Struktur Modal

Struktur modal adalah topik utama yang terdapat dalam keuangan, baik dibahas
sebagai subtopik dalam keuangan perusahaan maupun dalam keputusan investasi.
Dalam neraca perusahaan (balance sheet) yang terdiri dari sisi aktiva yang
mencerminkan struktur kekayaan dan sisi pasiva sebagai struktur keuangan. Struktur
modal merupakan bauran pendanaan hutang jangka panjang dan ekuitas (Brealey et
al., 2011: 600). Struktur modal sendiri merupakan bagian dari struktur keuangan yang
dapat diartikan sebagi pembelajaran permanen yang mencerminkan perimbangan
antara hutang jangka panjang dengan modal sendiri (Bambang, 2008:22).
Menurut Van Horne dan Wachowicz (2007) struktur modal adalah bauran
(proporsi) pendanaan permanen jangka panjang perusahaan yang dituangkan dalam
hutang, ekuitas saham preferen dan saham biasa. Menurut Weston dan Copeland
12

(1996) struktur keuangan merupakan cara bagaimana perusahaan membiayai


aktivanya dan dapat dilihat pada seluruh sisi kanan dari neraca yang terdiri dari
hutang jangka pendek, hutang jangka panjang dan modal pemegang saham. Sehingga,
struktur modal suatu perusahaan hanya merupakan sebagian dari struktur
keuangannya.
Salah satu keputusan terpenting dalam mengelola suatu fungi keuangan adalah
seberapa besar kemampuan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan dana yang akan
digunakan baik untuk kegiatan operasional maupun untuk melakukan ekspansi.
Pemenuhan akan kebutuhan dana dapat diperoleh dengan baik secara internal
perusahaan maupun secara eksternal. Bentuk pendanaan secara internal (internal
financing) adalah laba ditahan dan depresiasi. Sumber pendanaan secara eksternal
dapat dibedakan menjadi pembiayaan hutang (debt finaning) dan pendanaan modal
sendiri (equity financing). Pembiayaan hutang dapat diperoleh dengan melalui
pinjaman, sedangkan modal sendiri melalui penerbitan saham baru.
Struktur Modal dalam penelitian ini diproxykan dengan Debt To Equity Ratio
(DER). Menurut Kasmir (2014:112) yaitu rasio yang digunakan untuk menilai utang
dengan ekuitas, rasio ini berguna untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan
peminjam (kreditor) dengan pemilik perusahaan. Manajer keuangan tidak hanya
fokus pada shareholders namun harus mempertimbangkan kepentingan stakeholders.
Stakeholder di perusahaan yaitu kreditor, karyawan, pemasok, konsumen,
pemerintah, distributor dan lain-lain.
Manager keuangan harus dapat membuat keputusan pendanaan yang memenuhi
kepentingan setiap pihak yang berkepentingan. Manager keuangan harus
mempertimbangkan bentuk struktur modal perusahaan. Struktur modal perusahaan
merupakan kombinasi dari resiko dan tingkat kembalian yang diharapkan oleh setiap
pihak yang berkepentingan. Apabila perusahaan menggunakan hutang yang tinggi
maka akan meningkatkan resiko yang ditanggung oleh perusahaan dan para
13

pemengang saham. Selain itu, hutang yang tinggi akan meningkatkan ekspektasi atas
return yang diharapkan. Struktur modal yang dibentuk oleh manajer keuangan
dipengaruhi oleh beberapa faktor Struktur modal yang dapat memaksimumkan nilai
perusahaan. Yang dimaksud dengan nilai perusahaan adalah harga yang bersedia
dibayar oleh calon pembeli apabila perusahaan tersebut dijual (Gitman, 2012). Teori
mengenai struktur modal telah banyak dibicarakan oleh para peneliti. Berikut ini akan
diuraikan mengenai teori - teori tersebut.

2.3 Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Struktur Modal


2.3.1 Profitabilitas
Profitabilitas menurut (Gitman, 2010) adalah kemampuan perusahaan dalam
memperoleh laba. Para investor menanamkan saham pada perusahaan adalah
untuk mendapatkan return, yang terdiri dari yield dan capital gain. Semakin tinggi
kemampuan memperoleh laba, maka semakin besar return yang diharapkan investor.
Seringkali pengamantan menujukkan bahwa perusahaan dengan tingkat
pengembalian yang tinggi atas investasi menggunakan hutang yang relatif kecil.
Meskipun tidak ada pembenaran teoritis mengenai hal ini, namun penjelasan praktis
atas kenyataan ini adalah bahwa perusahaan yang profitable tidak memerlukan
banyak pembiayaan dengan hutang.
Tingkat pengembaliannya yang sangat tinggi memungkinkan perusahaan
tersebut untuk membiyai sebagian besar kebutuhan pendanaan mereka dengan dana
yang dihasilkan secara internal (Brigham dan Houston, 2011). Sedangkan menurut
Hery (2016:26) pengertian ROE merupakan:
Rasio yang menunjukkan hasil (return) atas penggunaan ekuitas perusahaan
dalam menciptakan laba bersih. Dengan kata lain, rasio ini digunakan untuk
mengukur seberapa besar jumlah laba bersih yang akan dihasilkan dari setiap
rupiah dana yang tertanam dalam total ekuitas.
14

Tingginya profitabilitas yang dimiliki perusahaan mengakibatkan perusahaan


lebih banyak menggunakan pendanaan dari dalam perusahaan, karena jika
profitabilitas semakin tinggi, maka perusahaan dapat menyediakan laba ditahan
dalam jumlah yang lebih besar, sehingga penggunaan hutang dapat ditekan
(Ryanni,2014).

2.3.2 Likuiditas
Likuiditas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
perusahaan didalam membayar kewajiban jangka pendek (Van Horne dan
Wachowicz, 2007). Apabila semakin besar kemampuan perusahaan dalam membayar
hutang jangka pendeknya maka akan mempengaruhi berbagai kemungkinan
perusahaan akan mendapatkan pembiayaan dari para kreditur jangka pendek untuk
mengoprasikan kegiatan usahanya. Menurut Subramanyam dan John J. Wild dalam
Fahmi (2014:66) Alasan digunakannya rasio lancar secara luas sebagai ukuran
likuiditas mencakup kemampuannya untuk mengukur:
1. Kemampuan memenuhi kewajiban lancar. Makin tinggi jumlah (kelipatan)
asset lancar terhadap kewajiban lancar, makin besar keyakinan bahwa
kewajiban lancar tersebut akan dibayar;
2. Penyangga kerugian. Makin besar penyangga, makin kecil risikonya. Rasio
lancar menunjukkan tingkat keamanan yang tersedia untuk menutup
penurunan nilai asset lancar non-kas pada saat asset tersebut dilepas atau
dilikuidasi;
3. Cadangan dana lancar. Rasio lancar merupakan ukuran tingkat keamanan
terhadap ketidakpastian dan kejutan atas arus kas perusahaan.
15

Sedangkan menurut Werner R. Murhadi (2015:57) pengertian rasio lancar


adalah:
Rasio yang biasa digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
memenuhi liabilitas jangka pendek (short run solvency) yang akan jatuh tempo
dalam waktu satu tahun. Liabilitas lancar (current liabilities) digunakan sebagai
penyebut (denominator) karena mencerminkan liabilitas yang segera harus
dibayar dalam waktu satu tahun.
Menurut pecking order theory (Myers, 1984) menyatakan perusahaan yang
memiliki tingkat likuiditas yang tinggi akan mengurangi penggunaan utang.
Perusahaan yang memiliki current assets yang besar cenderung memiliki sumber dana
internal yang besar. Sumber dana internal yang besar ini akan dijadikan sebagai
sumber pembiayaan perusahaan. Sehingga perusahaan yang memiliki likuiditas yang
besar akan mengurangi utang. Perusahaan yang mempunyai tingkat likuiditas yang
tinggi maka akan cenderung tidak menggunakan pendanaan melalui hutang karena
perusahaan akan menggunakan sumber pendanaan internal terlebih dahulu untuk
membiayai investasinya (Seftianne dan Handayani, 2011)

2.3.3 Growth
Brigham (2011) mengatakan perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang
cepat harus lebih banyak mengandalkan pada modal eksternal. Bagi perusahaan yang
memiliki growth opportunity yang tinggi sumber dana internal semakin tidak
mencukupi, sehingga kebutuhan akan utang akan semakin meningkat. Artinya
semakin tinggi growth opportunity perusahaan akan mendorong perusahaan untuk
berutang semakin banyak. Hal ini berarti pengaruh growth opportunity terhadap
utang adalah positif.
Asset merupakan aktiva yang digunakan untuk aktivitas operasional
perusahaan. Semakin besar aset diharapkan semakin besar hasil operasi yang
16

dihasilkan oleh perusahaan. Peningkatan asset yang diikuti peningkatan hasil operasi
akan semakin menambah kepercayaan pihak luar terhadap perusahaan. Dengan
meningkatnya kepercayaan pihak luar terhadap perusahaan, maka proporsi hutang
akan semakin besar dibandingkan modal sendiri. Hal ini didasarkan pada keyakinan
kreditor atas dana yang ditanamkan kedalam perusahaan dijamin oleh besarnya asset
yang dimiliki perusahaan.
Perusahaan yang struktur assetnya fleksibel, cenderung menggunakan
leverage yang fleksibel dimana adanya kecenderungan menggunakan leverage yang
lebih besar daripada perusahaan yang struktur assetnya tidak fleksibel. Perusahaan
dengan tingkat pertumbuhan yang cepat harus lebih banyak mengandalkan pada
modal eksternal. Floating cost pada emisi saham biasa adalah lebih tinggi dibanding
pada emisi obligasi. Dengan demikian perusahaan dengan tingkat pertumbuhan asset
yang tinggi cenderung lebih banyak menggunakan hutang (obligasi) dibanding
perusahaan yang lambat pertumbuhannya.

2.4 Penelitian Terdahulu

No Nama Peneliti Judul Penelitian Variabel Hasil Penelitian


1 Cekrezi, A. Impact of Firm 1. Tangibility 1. Tangibility
2013. Level Factors on 2. Profitability berpengaruh
Capital. 3. Liquidity negatif terhadap
European 4. Firm Size Struktur modal.
Journal of 2. Profitability
Sustainable berpengaruh
Development negatif terhadap
2(4): 135148. Struktur modal.
3. Liquidity
berpengaruh
negatif terhadap
Struktur modal.
4. Firm Size
berpengaruh
positif terhadap
17

No Nama Peneliti Judul Penelitian Variabel Hasil Penelitian


Struktur modal.

2 Hossain, F., dan Impact of Firm 1. Profitability 1. Profitability


A. Ali. 2012 Specific Factors 2. Tangibility berpengaruh
on Capital 3. Nondebt tax negatif terhadap
Structure shield Capital Structure
Decision : An 4. Growth 2. Tangibility
Empirical Study opportunities berpengaruh
of Bangladeshi 5. Liquidity negatif terhadap
Companies. 6. Size Capital Structure
International 7. Earnings 3. NTS berpengaruh
Journal of Volality psoitif terhadap
Business 8. Dividend Capital Structure
Research and Payment 4. Growth tidak
Management 9. Managerial berpengaruh
(IJBRM) 3(4): Ownership terhadap Capital
163182. 10. Industry Structure
Classfication 5. Liquidity
berpengaruh
negatif terhadap
Capital Structure
6. Size tidak
berpengaruh
terhadap Capital
Structure
7. Eavo tidak
berpengaruh
terhadap Capital
Structure
8. Divident payment
berpengaruh
negatif terhadap
Capital Structure
9. MO berpengaruh
negatif terhadap
Capital Structure
18

No Nama Peneliti Judul Penelitian Variabel Hasil Penelitian


3 Widayanti, Luh Pengaruh 1. Profitabilitas 1. Profitabilitas
Putu dkk. 2016 Profitabilitas, 2. Tingkat tidak
Tingkat Pertumbuhan berpengaruh
Pertumbuhan Perusahaan terhadap Struktur
Perusahaan, 3. Likuiditas Modal
Likuiditas, Dan 4. Pajak 2. Tingkat
Pajak Terhadap Pertumbuhan
Struktur Modal Perusahaan tidak
Pada Sektor berpengaruh
Pariwisata. E- terhadap Struktur
Jurnal Modal
Manajemen 3. Likuiditas
Unud, Vol. 5, berpengaruh
No. 6, 2016: negatif terhadap
3761-3793. ISSN Capital Structure
: 2302-8912 4. Pajak tidak
berpengaruh
terhadap Struktur
Modal

4 Pahuja, A., dan Factors Affecting 1. Size 1. Size tidak


A. Sahi. 2012 Capital Structure 2. Liquidity berpengaruh
Decisions: 3. Profitability terhadap Capital
Empirical 4. Tangibility Structure.
Evidence From 5. Growth 2. Likuiditas
Selected Indian berpengaruh
Firms. positif terhadap
International Capital Structure
Journal of 3. Profitability
Marketing, tidak
Financial berpengaruh
Services dan terhadap Capital
Management Structure.
Reseach 1(3). 4. Tangibility tidak
berpengaruh
terhadap Capital
Structure.
5. Growth
berpengaruh
19

No Nama Peneliti Judul Penelitian Variabel Hasil Penelitian


positif terhadap
Capital
Structure

5 Sansoethan, Faktor Faktor 1. Profitabilitas 1. Profitabilitas


Dithya Kusuma Yang 2. Struktur Aset tidak
dan Bambang Mempengaruhi 3. Pertumbuhan berpengaruh
Suryono. 2016 Struktur Modal Aset terhadap
Pada Perusahaan 4. Size Struktur Modal
Makanan dan 5. Likuiditas 2. Struktur Aset
Minuman. berpengaruh
positif terhadap
Struktur Modal
3. Pertumbuhan
Aset tidak
berpengaruh
terhadap
Struktur Modal

4. Size tidak
berpengaruh
terhadap
Struktur Modal
5. Likuiditas
berpengaruh
negatif terhadap
Struktur Modal

2.5 Kerangka Pemikiran

Tujuan perusahaan adalah ingin memakmurkan para pemiliknya melalui


pencapaian laba yang maksimal. Untuk mencapai laba maksimal, perusahaan akan
berusaha untuk mengefisienkan semua dana yang diperoleh dari berbagai sumber
dana, baik dari internal maupun eksternal perusahaan. Manajer perusahaan, terutama
manajer keuangan akan berusaha untuk mencari keseimbangan keuangan yang
20

dibutuhkan serta mencari susunan kualitatif dari laporan keuangan berupa neraca
sebaik-baiknya. Keputusan pendanaan suatu perusahaan adalah keputusan yang harus
dilakukan oleh manajer keuangan yang berkaitan dengan dimana dana perusahaan
dipenuhi, berkaitan dengan analisis biaya dana atau modal yang digunakan
perusahaan (Wiagustini, 2010:207).
Untuk mencapai tujuan perusahaan diperlukan keseimbangan antara keputusan
pendanaan, keputusan investasi, dan kebijakan deviden. Dalam keputusan pendanaan,
dapat dilihat dari struktur modalnya. Struktur modal berbeda dengan stuktur
keuangan. Struktur keuangan mencakup semua pembelanjaan, baik jangka
pendek maupun jangka panjang perusahaan, sedangkan struktur modal hanya
menyangkut jangka panjang saja dan tidak termasuk pembelanjaan jangka pendek.
Struktur modal merupakan bauran pendanaan hutang jangka panjang dan
ekuitas (Brealey et al., 2011: 600). Menurut Van Horne dan Wachowicz (2007)
struktur modal adalah bauran (proporsi) pendanaan permanen jangka panjang
perusahaan yang dituangkan dalam hutang, ekuitas saham preferen dan saham biasa..
Tidak seperti debt ratio atau leverage ratio yang hanya mengambarkan ratio hutang
dan ekuitas pada suatu saat tertentu, struktur modal lebih mengambarkan target
komposisi hutang dan ekuitas dalam jangka panjang pada suatu perusahaan.
Struktur Modal ini sangat dekat dengan fungsi keuangan, yaitu ada tiga fungsi
keuangan, yaitu keputusan pendanaan, keputusan investasi, dan keputusan kebijakan
deviden. Berdasarkan dengan penelitiannya tentang fungsi keuangan yaitu keputusan
pendanaan atau biasa disebut Struktur Modal memiliki beberapa variabel yang di
teliti, di antaranya profitabilitas, likuiditas, dan growth.

2.5.1 Pengaruh Profitabilitas Terhadap Struktur Modal

Profitabilitas menurut (Gitman, 2010) adalah kemampuan perusahaan dalam


memperoleh laba. Para investor menanamkan saham pada perusahaan adalah
21

untuk mendapatkan return, yang terdiri dari yield dan capital gain. Semakin tinggi
kemampuan memperoleh laba, maka semakin besar return yang diharapkan investor.
Seringkali pengamantan menujukkan bahwa perusahaan dengan tingkat
pengembalian yang tinggi atas investasi menggunakan hutang yang relatif kecil.
Meskipun tidak ada pembenaran teoritis mengenai hal ini, namun penjelasan praktis
atas kenyataan ini adalah bahwa perusahaan yang profitable tidak memerlukan
banyak pembiayaan dengan hutang.
Tingkat pengembaliannya yang sangat tinggi memungkinkan perusahaan
tersebut untuk membiyai sebagian besar kebutuhan pendanaan mereka dengan dana
yang dihasilkan secara internal (Brigham dan Houston, 2011). Sedangkan menurut
Hery (2016:26) pengertian ROE merupakan:
Rasio yang menunjukkan hasil (return) atas penggunaan ekuitas perusahaan
dalam menciptakan laba bersih. Dengan kata lain, rasio ini digunakan untuk
mengukur seberapa besar jumlah laba bersih yang akan dihasilkan dari setiap
rupiah dana yang tertanam dalam total ekuitas.
Tingginya profitabilitas yang dimiliki perusahaan mengakibatkan perusahaan
lebih banyak menggunakan pendanaan dari dalam perusahaan, karena jika
profitabilitas semakin tinggi, maka perusahaan dapat menyediakan laba ditahan
dalam jumlah yang lebih besar, sehingga penggunaan hutang dapat ditekan
(Ryanni,2014). Hal ini sesuai dengan pecking order theory bahwa perusahaan lebih
cenderung memilih menggunakan pendanaan dari internal perusahaan. Maka
semakin tinggi profitabilitas semakin rendah tingkat leverage perusahaan. Dugaan
tersebut juga didukung oleh hasil penelitian terdahulu yang diteliti oleh Cekrezi,
(2013) dan Hossain dan Ali (2012) yang menyatakan bahwa profitabilitas
berpengaruh negatif terhadap struktur modal.
22

2.5.2 Pengaruh Likuiditas Terhadap Struktur Modal

Likuiditas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan


perusahaan didalam membayar kewajiban jangka pendek (Van Horne dan
Wachowicz, 2007). Apabila semakin besar kemampuan perusahaan dalam membayar
hutang jangka pendeknya maka akan mempengaruhi berbagai kemungkinan
perusahaan akan mendapatkan pembiayaan dari para kreditur jangka pendek untuk
mengoprasikan kegiatan usahanya. Menurut Subramanyam dan John J. Wild dalam
Irham Fahmi (2014:66) Alasan digunakannya rasio lancar secara luas sebagai ukuran
likuiditas mencakup kemampuannya untuk mengukur:
1. Kemampuan memenuhi kewajiban lancar. Makin tinggi jumlah (kelipatan)
asset lancar terhadap kewajiban lancar, makin besar keyakinan bahwa
kewajiban lancar tersebut akan dibayar;
2. Penyangga kerugian. Makin besar penyangga, makin kecil risikonya. Rasio
lancar menunjukkan tingkat keamanan yang tersedia untuk menutup
penurunan nilai asset lancar non-kas pada saat asset tersebut dilepas atau
dilikuidasi;
3. Cadangan dana lancar. Rasio lancar merupakan ukuran tingkat keamanan
terhadap ketidakpastian dan kejutan atas arus kas perusahaan.
Menurut pecking order theory (Myers, 1984) menyatakan perusahaan yang
memiliki tingkat likuiditas yang tinggi akan mengurangi penggunaan utang.
Perusahaan yang memiliki current assets yang besar cenderung memiliki sumber dana
internal yang besar. Sumber dana internal yang besar ini akan dijadikan sebagai
sumber pembiayaan perusahaan. Perusahaan yang mempunyai tingkat likuiditas yang
tinggi maka akan cenderung tidak menggunakan pendanaan melalui hutang karena
perusahaan akan menggunakan sumber pendanaan internal terlebih dahulu untuk
membiayai investasinya (Seftianne dan Handayani, 2011)
23

Sehingga perusahaan yang memiliki likuiditas yang besar akan mengurangi


utang. Maka semakin tinggi likuiditas perusahaan maka semakin rendah tingkat
leverage. Hal ini juga didukung oleh penelitian terdahulu bahwa likuiditas
berpengaruh negatif terhadap struktur modal yang dilakukan oleh Widayanti, Luh
Putu dkk. 2016, Cekrezi (2013), Hossain dan Ali (2012). Sansotean dan Bambang
(2016).

2.5.3 Pengaruh Growth Terhadap Struktur Modal


Brigham dan Houston (2011) mengatakan perusahaan dengan tingkat
pertumbuhan yang cepat harus lebih banyak mengandalkan pada modal eksternal.
Bagi perusahaan yang memiliki growth opportunity yang tinggi sumber dana internal
semakin tidak mencukupi, sehingga kebutuhan akan utang akan semakin meningkat.
Artinya semakin tinggi growth opportunity perusahaan akan mendorong perusahaan
untuk berutang semakin banyak. Hal ini berarti pengaruh growth opportunity
terhadap utang adalah positif. Hasil ini pun didukung dengan penelitian terdahulu
yang dilakukan oleh Hossain dan Ali (2012) dan Pahuja dan Sahi (2012).
24

2.6 Hipotesis Penelitian

Dari kerangka pemikiran yang telah diuraikan oleh peneliti, maka peneliti menarik
hipotesis untuk diteliti sebagai berikut :

H4

H1: (-)
ROE

H2: (-)
CR DER

H3: (+)
GROWTH

Gambar 2.1
Kerangka Penelitian

H1 : Return on Equity secara parsial berpengaruh negatif terhadap Struktur Modal.


H2 : Likuiditas secara parsial berpengaruh negatif terhadap Struktur Modal.
H3 : Growth secara parsial berpengaruh positif terhadap Struktur Modal.
H4 : ROE, Likuiditas, dan Growth berpengaruh secara simultan terhadap Struktur
Modal.