Anda di halaman 1dari 369

SURAT KUASA

Nomor: 050/SK-PT.BRM/IX/2016

Yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : DONNY PANGABDI


Alamat : Jl. Perintis Kemerdekaan RT.6/III No.63 Barabai Kab. HST
Perusahaan
Jabatan : Direktur CV. BINTANG GEMILANG

Dalam hal ini bertindak dan atas nama perusahaan berdasarkan Akte Perubahan terakhir No. 39.-
Tanggal 24 Januari 2012, Oleh Notaris : RITA NOVITASARI, S.H., M.Kn., yang selanjutnya disebut
Pemberi Kuasa.

Memberi kuasa kepada :

Nama : CUNDRA GUNAWAN


Alamat : Jl. Perintis Kemerdekaan RT.6/III No.63 Barabai Kab. HST
Jabatan : Wakil Direktur CV. BINTANG GEMILANG

Yang selanjutnya disebut sebagai Penerima Kuasa


Penerima Kuasa mewakili Pemberi Kuasa untuk :
1. Menandatangani Surat Penawaran
2. Menandatangani Pakta Integritas
3. Menandatangani Surat Perjanjian
4. Menandatangani Surat Sanggahan
5. Menandatangani Surat Sanggahan Banding
6. Menandatangani Jaminan Penawaran
7. Menandatangani Dokumen Penawaran Untuk Pekerjaan :
Pembangunan Jembatan dengan Konstruksi Baja (DAK Reguler SPP)
Paket : 8 (delapan)
Surat Kuasa ini tidak dapat dilimpahkan lagi kepada orang lain.

Barabai, 16 September 2016


Penerima Kuasa Pemberi Kuasa

CUNDRA GUNAWAN DONNY PANGABDI


Wakil Direktur Direktur
SURAT
PENAWARAN
Nomor : 038/SP-CV.BG/IX/2016 Barabai, 16 September 2016
Lampiran : 1 Berkas

Kepada Yth. :
Pokja 41 ULP Kabupaten Hulu Sungai Tengah
Tahun Anggaran 2016
di
Barabai

Perihal : Penawaran Pekerjaan :


Pembangunan Jembatan dengan Konstruksi Baja (DAK Reguler SPP)
Paket : 8 (delapan)

Sehubungan dengan Pengumuman Pemilihan Langsung dengan Pascakualifikasi dan Dokumen Pengadaan
Nomor : 03-8/KPJB-DAK SPP/ULP-POKJA 41/2016, tanggal 09 September 2016 dan setelah kami pelajari dengan
saksama Dokumen Pengadaan dan Berita Acara Pemberian Penjelasan ( serta adendum Dokumen Pengadaan ), dengan ini
kami mengajukan penawaran untuk :

Pekerjaan : Pembangunan Jembatan dengan Konstruksi Baja (DAK Reguler SPP)


Paket : 8 (delapan)
sebesar : Rp 767.658.000,00
TUJUH RATUS ENAM PULUH TUJUH JUTA ENAM RATUS LIMA PULUH DELAPAN RIBU
( )
RUPIAH

Penawaran ini sudah memperhatikan ketentuan dan persyaratan yang tercantum dalam Dokumen Pengadaan untuk
melaksanakan pekerjaan tersebut di atas.

Penawaran ini berlaku selama 27 (dua puluh tujuh) hari kalender sejak batas akhir pemasukan dokumen penawaran,
yaitu 16 September 2016 sampai dengan tanggal 12 Oktober 2016

Sesuai dengan persyaratan dalam Dokumen Pengadaan, bersama Surat Penawaran ini kami lampirkan :
1. File/scan daftar kuantitas dan harga;
2. File/scan Dokumen penawaran teknis, yang terdiri dari :
a. Metoda Pelaksanaan;
b. Jadwal Waktu Pelaksanaan Pekerjaan;
c. Daftar Personil Inti;
d. Jenis, kapasitas, komposisi, dan jumlah peralatan utama minimal yang dibutuhkan;
e. Spesifikasi Teknis.
f. Analisa harga satuan pekerjaan;
g. Analisa teknis satuan pekerjaan;
h. Daftar harga satuan dasar upah;
i. Daftar harga satuan dasar Bahan;
j. Hasil pemindaian ( scan ) surat keterangan kondisi dan keberadaan alat beserta invoice ( asli, tandatangan dan
cap perusahaan ) untuk alat milik sendiri dan surat keterangan dukungan/sewa untuk alat yang bukan milik
sendiri;
k. Formulir Pra RK3K;
3. Dokumen lainnya yang dipersyaratkan :
a. Hasil pemindaian ( scan ) surat pernyataan telah meninjau lokasi pekerjaan ( asli, tandatangan dan cap
perusahaan );
b. Hasil pemindaian ( scan ) surat pernyataan tidak sedang dalam permasalahan berkaitan dengan pengadilan ( asli,
tandatangan dan cap perusahaan );
c. Hasil pemindaian ( scan ) surat pernyataan Surat pernyataan bukan pegawai negeri sipil ( asli, tandatangan dan cap
perusahaan );
d. Hasil pemindaian ( scan ) Surat pernyataan kinerja baik ( asli, tandatangan dan cap perusahaan );
e. Hasil pemindaian ( scan ) surat pernyataan personil inti yang ditawarkan ( asli, tandatangan dan cap
perusahaan );
f. Hasil Pemindaian (Scan) Asli Dukungan Bank;
4. Dokumen Kualifikasi (diisikan pada SPSE);

Dengan disampaikannya surat penawaran ini, maka kami menyatakan sanggup dan akan tunduk pada semua ketentuan yang
tercantum dalam Dokumen Pengadaan.

Penawar,
CV. BINTANG GEMILANG

CUNDRA GUNAWAN
Wakil Direktur
DAFTAR KUANTITAS
DAN HARGA
REKAPITULASI DAFTAR KUANTITAS DAN HARGA
PROGRAM : Pembangunan Jalan dan Jembatan
KEGIATAN : Pembangunan Jembatan Kab. Hulu Sungai Tengah Tahun Anggaran 2016
PEKERJAAN : Pembangunan Jembatan dengan Konstruksi Baja (DAK Reguler SPP)
PAKET : 8 (delapan)
LOKASI : JEMBATAN BATU TANGGA - NATEH 02

JUMLAH HARGA
NO. URAIAN
( Rp )

I PEKERJAAN PENDAHULUAN 25.000.000,00

II PEKERJAAN TANAH DAN PONDASI -

III PEKERJAAN KONSTRUKSI LAPIS PONDASI BAWAH -


DAN LAPIS PONDASI ATAS

IV PELAPISAN PERMUKAAN PERKERASAN -

V BANGUNAN BAWAH (SUB STRUKTUR) -

VI BANGUNAN ATAS (SUPER STRUKTUR) 667.385.304,20

VII PEKERJAAN CAT DAN LAIN-LAIN 5.486.102,34

(1) JUMLAH - 697.871.406,54

(2) PPN 10% 10% ( 1 ) 69.787.140,65

(3) TOTAL (1)+(2) 767.658.547,19

(4) DIBULATKAN (3) 767.658.000,00 (a)

Terilang : TUJUH RATUS ENAM PULUH TUJUH JUTA ENAM RATUS LIMA PULUH DELAPAN RIBU RUPIAH

Terdiri dari :

Fisik = 100 / 110 x ( a ) = Rp. 697.870.909,09

PPN 10% ( Dipungut ) = 10 / 110 x ( a ) = Rp. 69.787.090,91

Barabai, 16 September 2016

Penawar,
CV. BINTANG GEMILANG

CUNDRA GUNAWAN
Wakil Direktur
DAFTAR KUANTITAS DAN HARGA
PROGRAM : Pembangunan Jalan dan Jembatan
KEGIATAN : Pembangunan Jembatan Kab. Hulu Sungai Tengah Tahun Anggaran 2016
PEKERJAAN : Pembangunan Jembatan dengan Konstruksi Baja (DAK Reguler SPP)
PAKET : 8 (delapan)
LOKASI : JEMBATAN BATU TANGGA - NATEH 02

PERKIRAAN HARGA SATUAN JUMLAH


NO URAIAN PEKERJAAN ANALISA UNIT
VOLUME (Rp) (Rp)

I PEKERJAAN PENDAHULUAN
1 Mobilisasi - Ls 1,00 20.000.000,00 20.000.000,00
2 Pembongkaran Jembatan Lama - Ls 1,00 5.000.000,00 5.000.000,00
SUB JUMLAH 25.000.000,00
II PEKERJAAN TANAH DAN PONDASI
SUB JUMLAH -
III PEKERJAAN KONSTRUKSI LAPIS PONDASI BAWAH
DAN LAPIS PONDASI ATAS
1 Lapis Pondasi Bawah Klas C
- Badan Jalan K.514 m - 188.305,82 -
- Bahu Jalan K.514 m - 188.305,82 -
2 Lapis Pondasi Bawah (LPB) - Telford K.516A m - 262.766,46 -
3 Lapis Pondasi Atas/Makadam Ikat Basah Klas B K.522 m - 251.268,98 -
4 Lapis Pondasi Atas/Makadam Ikat Basah Klas A K.520A m - 352.182,04 -
SUB JUMLAH -
IV PELAPISAN PERMUKAAN PERKERASAN
SUB JUMLAH -
V BANGUNAN BAWAH (SUB STRUKTUR)
SUB JUMLAH -
VI BANGUNAN ATAS (SUPER STRUKTUR)
1 Pengadaan plat bordes (checkered plate) 8 mm - kg 8.509,06 14.090,00 119.892.655,40
2 Pengadaan plat baja t=5 mm - kg 2.842,05 14.090,00 40.044.484,50
3 Pengadaan baja L 100.100.7 - kg 7.909,44 14.090,00 111.444.009,60
4 Pengadaan baja UNP 150x75x6,5x10 - kg 2.968,56 14.090,00 41.827.010,40
5 Pabrikasi/pengolahan baja lantai jembatan - kg 19.260,55 14.090,00 271.381.149,50
6 Erection - kg 22.229,11 3.400,00 75.578.974,00
7 Baut 12 - 2" + Mur + 2 Washer - kg 150,48 47.960,00 7.217.020,80
SUB JUMLAH 667.385.304,20
VII PEKERJAAN CAT DAN LAIN-LAIN
1 Pengecatan baja jembatan 2 K.6 + K.23 m2 131,76 30.252,75 3.986.102,34
2 Pengecatan parapet - Ls 1,00 1.500.000,00 1.500.000,00
SUB JUMLAH 5.486.102,34
DOKUMEN
PENAWARAN TEKNIS
METODE PELAKSANAAN
PROGRAM : Pembangunan Jalan dan Jembatan
KEGIATAN : Pembangunan Jembatan Kab. Hulu Sungai Tengah Tahun Anggaran 2016
PEKERJAAN : Pembangunan Jembatan dengan Konstruksi Baja (DAK Reguler SPP)
PAKET : 8 (delapan)
LOKASI : JEMBATAN BATU TANGGA - NATEH 02

UMUM
Sebelum pelaksanaan pekerjaan dilakukan penyiapan material, peralatan, dan tenaga kerja yang dimobilisasi secara bertahap sesuai urutan pekerjaan yang akan
dilaksanakan, membuat barak sebagai tempat pekerja dan gudang peralatan. Melakukan stack out lapangan dengan memasang STA untuk memastikan panjang
penanganan, membuat rekayasa lapangan dan membuat shop drawing bila diperlukan. Proses mobilisasi mulai pembuatan papan nama sampai mobilisasi pearlatan
serta tenaga kerja diperlukan waktu 7 hari Kerja. ada beberapa persiapan yang kami lakukan sebelum dan pada saat mobilisasi antara lain :

A. URAIAN TUGAS DARI PERSONIL INTI


1 Kepala Pelaksana Pekerjaan Jembatan
- Mengawasi pekerjaan para pelaksana dan mandor apakah sudah sesuai dengan gambar kerja dan kontrak.
- Memeriksa hasil opname borongan dan harian proyek yang telah dibuat oleh pelaksana.
- Melaksanakan pekerjaan proyek sesuai dengan kontrak.
- Memberi laporan semua hasil kegiatan pekerjaan proyek. `
- Memberikan pengarahan dan masalah teknik kepada para pelaksana.
- Membuat schedule pelaksanaan pekerjaan proyek yang bersifat khusus (disesuaikan dengan kondisi dan keadaan dilapangan).

2 Petugas K3
- Melakukan identifikasi, evaluasi, pengendalian resiko, dalam pelaksanaan K3.
- Melaksanakan K3 di tempat kerja, yang mampu menjelaskan teknik pencegahan dan penangulangan kecelakaan kerja.
- Mengelola dan menjalankan organisasi P2K3.

3 Pelaksana Lapangan Pekerjaan Jembatan


- Sebagai teknisi yang harus bertanggung jawab atas pelaksanaan/terlaksananya pekerjaan-pekerjaan dilapangan.
- Harus berada dilapangan pada setiap saat.
- Harus menguasai gambar bestek beserta detailnya.
- Mengawasi pekerjaan para mandor, apakah sudah sesuai bestek dan gambar bestek.
- Memberikan petunjuk/pengarahan kepada para mandor apabila ada masalah-masalah teknik didalam pelaksanaan pekerjaan.
- Mengadakan opname dengan para mandor sesuai dengan volume pekerjaan yang sudah terlaksana.
- Melayani permintaan material sesuai RAB dari para mandor dan mengatur pemakaian/penggunaan material di lapangan.
- Memberikan laporan hasil pekerjaannya kepada kepala pelaksana.

4 Quality/Quantity Engineer
- Membuat rekayasa lapangan agar pekerjaan yang akan di laksanakan dilapangan sesuai dengan konstruksi yang diperlukan.
- Memperkirakan waktu pelaksanaan pekerjaan tiap item pekerjaan agar dapat selesai sesuai dengan waktu pelaksanaan yang telah ditetapkan.
- Memperkirakan segala hal yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan.

5 Administrasi & Keuangan


- Bertanggung jawab atas penyelenggaraan administrasi dilapangan.
- Membuat semua laporan laporan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan secara keseluruhan
- Membuat pelaporan keuangan di lapangan
- Mengurus keuangan kepada pemilik proyek.
- Mengurus tagihan kepada pemilik proyek

6 Logistik
- Mengatur keberadaan material-material proyek yang berada di camp/quarry.
- Menerima pengiriman barang-barang/material dari para supplier.
- Mengirim material dari camp/quarry sesuai bon pengeluaran barang yang telah di tanda tangani pelaksana, mandor dan kepala pelaksana.
- Bertanggung jawab terhadap semua bahan material / peralatan yang diperlukan dilapangan untuk menyelesaikan pekerjaan secara keseluruhan.

B. URAIAN PENYELESAIAN PEKERJAAN


I. PEKERJAAN PENDAHULUAN
1 Mobilisasi
Mobilisasi/pengiriman peralatan di jadwalkan terlebih dahulu yang berisi keterangan lokasi peralatan, usulan cara pengangkutan dan jadwal kedatangan
peralatan dilapangan. Selanjutnya alat ditempatkan pada lokasi yang aman/dalam base camp dan dekat di lokasi proyek agar mudah digunakan dalam
Volume Total = 1,00 Ls

a. JUMLAH HARI :
Jumlah hari yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan
- 1,00 : 1,00 = 1,00 hari
- Dikerjakan 1 Kelompok kerja = 1,00 hari = 1,00 hari = 0,14 minggu 1,00 minggu

b. TENAGA KERJA
Tiap Kelompok Kerja terdiri dari :
Mandor Lapangan 1,00 orang/hari x 1,00 Kelompok Kerja = 1,00 orang/hari
Pekerja - Kasar 3,00 orang/hari x 1,00 Kelompok Kerja = 3,00 orang/hari

c. MATERIAL
Alat-Alat Kerja ( 3 set ) 0,70 Set x 1,00 Kelompok Kerja = 0,70 Set 1,00 Set

d. PERALATAN
2 Pembongkaran Jembatan Lama
Jembatan lama dibongkar terlebih dahulu, bahan bongkaran yang bisa dipergunakan diamankan.
Volume Total = 1,00 Ls

a. URAIAN :
1 Membongkar konstruksi jembatan lama

b. ANGGAPAN / ASUMSI :
1 Pembongkaran dilakukan dengan tenaga manusia

c. JUMLAH HARI :
Jumlah hari yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh peke :
- 1,00 : 36,57 = 0,03 hari
- Dikerjakan 1 Kelompok kerja = 0,03 hari = 1,00 hari = 0,14 minggu 1,00 minggu

d. TENAGA KERJA
Mandor Lapangan 1,00 orang/hari x 1,00 Kelompok Kerja = 1,00 orang/hari
Pekerja - Kasar 5,00 orang/hari x 1,00 Kelompok Kerja = 5,00 orang/hari

e. MATERIAL
Alat-Alat Kerja ( 3 set ) 0,30 set x 1,00 Kelompok Kerja = 0,30 Set 1,00 Set

f. PERALATAN

IV. BANGUNAN ATAS (SUPER STRUKTUR)


1 Pengadaan plat bordes (checkered plate) 8 mm
Volume Total = 8.509,06 kg
Penyediaan bahan Plat bordes (checkered plate) dilokasi pekerjaan

a. URAIAN :
1 Pengiriman material Plat bordes (checkered plate) oleh leveransir.
2 Pekerja menempatkan Plat bordes (checkered plate) ke tempat yang aman dan berdekatan
dengan titik yang akan menggunakan material ini
3 Pekerja memotong dan melas/menyambung bahan Plat bordes (checkered plate)
sebagai bagian dari konstruksi jembatan dengan mengacu pada bestek dan gambar rencana yang ada

b. ANGGAPAN / ASUMSI :
1 Bahan Plat bordes (checkered plate) yang datang kelokasi
sudah sesuai dengan gambar rencana dan spesifikasi teknis yang disyaratkan
2 Jumlah bahan Plat bordes (checkered plate) yang datang
sudah sesuai dengan permintaan dan tidak ada yang dalam kondisi rusak/cacat

c. JUMLAH HARI :
Jumlah hari yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan
- 8.509,06 : 1.215,58 = 7,00 hari
- Dikerjakan 1 Kelompok kerja = 7,00 hari = 7,00 hari = 1,00 minggu 1,00 minggu

d. TENAGA KERJA
Tiap Kelompok Kerja terdiri dari :
Mandor Lapangan 1,00 orang/hari x 1,00 Kelompok Kerja = 1,00 orang/hari
Kepala Tukang 1,00 orang/hari x 1,00 Kelompok Kerja = 1,00 orang/hari
Tukang Besi 5,00 orang/hari x 1,00 Kelompok Kerja = 5,00 orang/hari

e. MATERIAL
Plat lantai kendaraan (Deck) 1.215,58 kg x 1,00 Kelompok Kerja = 1.215,58 kg/hari
Alat-Alat Kerja ( 3 set ) 0,70 Set x 1,00 Kelompok Kerja = 0,70 Set 1,00 Set

f. PERALATAN

2 Pengadaan plat baja t=5 mm


Volume Total = 2.842,05 kg
Penyediaan bahan plat baja t=5 mm dilokasi pekerjaan

a. URAIAN :
1 Pengiriman material plat baja t=5 mm oleh leveransir.
2 Pekerja menempatkan plat baja t=5 mm ke tempat yang aman dan berdekatan
dengan titik yang akan menggunakan material ini
3 Pekerja memotong dan melas/menyambung bahan plat baja t=5 mm
sebagai bagian dari konstruksi jembatan dengan mengacu pada bestek dan gambar rencana yang ada

b. ANGGAPAN / ASUMSI :
1 Bahan plat baja t=5 mm yang datang kelokasi
sudah sesuai dengan gambar rencana dan spesifikasi teknis yang disyaratkan
2 Jumlah bahan plat baja t=5 mm yang datang
sudah sesuai dengan permintaan dan tidak ada yang dalam kondisi rusak/cacat

c. JUMLAH HARI :
Jumlah hari yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan
- 2.842,05 : 406,01 = 7,00 hari
- Dikerjakan 1 Kelompok kerja = 7,00 hari = 7,00 hari = 1,00 minggu 1,00 minggu

d. TENAGA KERJA
Tiap Kelompok Kerja terdiri dari :
Mandor Lapangan 1,00 orang/hari x 1,00 Kelompok Kerja = 1,00 orang/hari
Kepala Tukang 1,00 orang/hari x 1,00 Kelompok Kerja = 1,00 orang/hari
Tukang Besi 5,00 orang/hari x 1,00 Kelompok Kerja = 5,00 orang/hari

e. MATERIAL
Clamp tiang sandaran 10 mm + 2 M 406,01 kg x 1,00 Kelompok Kerja = 406,01 kg/hari
2 Washer
Alat-Alat Kerja ( 3 set ) 0,70 Set x 1,00 Kelompok Kerja = 0,70 Set 1,00 Set

f. PERALATAN
3 Pengadaan baja L 100.100.7
Volume Total = 7.909,44 kg
Penyediaan bahan pipa sandaran 2" (Black & galvanized welded steel pipe MEDIUM + Penutup/Dop) dilokasi pekerjaan

a. URAIAN :
1 Pengiriman material pipa sandaran 2" (Black & galvanized welded steel pipe MEDIUM + Penutup/Dop) oleh leveransir.
2 Pekerja menempatkan pipa sandaran 2" (Black & galvanized welded steel pipe MEDIUM + Penutup/Dop) ke tempat yang aman dan berdekatan
dengan titik yang akan menggunakan material ini
3 Pekerja memotong dan melas/menyambung bahan pipa sandaran 2" (Black & galvanized welded steel pipe MEDIUM + Penutup/Dop)
sebagai bagian dari konstruksi jembatan dengan mengacu pada bestek dan gambar rencana yang ada

b. ANGGAPAN / ASUMSI :
1 Bahan pipa sandaran 2" (Black & galvanized welded steel pipe MEDIUM + Penutup/Dop) yang datang kelokasi
sudah sesuai dengan gambar rencana dan spesifikasi teknis yang disyaratkan
2 Jumlah bahan pipa sandaran 2" (Black & galvanized welded steel pipe MEDIUM + Penutup/Dop) yang datang
sudah sesuai dengan permintaan dan tidak ada yang dalam kondisi rusak/cacat

c. JUMLAH HARI :
Jumlah hari yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan
- 7.909,44 : 1.129,92 = 7,00 hari
- Dikerjakan 1 Kelompok kerja = 7,00 hari = 7,00 hari = 1,00 minggu 1,00 minggu

d. TENAGA KERJA
Tiap Kelompok Kerja terdiri dari :
Mandor Lapangan 1,00 orang/hari x 1,00 Kelompok Kerja = 1,00 orang/hari
Kepala Tukang 1,00 orang/hari x 1,00 Kelompok Kerja = 1,00 orang/hari
Tukang Besi 5,00 orang/hari x 1,00 Kelompok Kerja = 5,00 orang/hari

e. MATERIAL
Pipa sandaran 2" (Black & galvanize 1.129,92 kg x 1,00 Kelompok Kerja = 1.129,92 kg/hari
welded steel pipe MEDIUM + Penutup/Dop)
Alat-Alat Kerja ( 3 set ) 0,70 Set x 1,00 Kelompok Kerja = 0,70 Set 1,00 Set

f. PERALATAN

4 Pengadaan baja UNP 150x75x6,5x10


Volume Total = 2.968,56 kg
Pengadaan baja UNP 150x75x6,5x10

a. URAIAN :
1 Pengiriman material baja UNP 150x75x6,5x10 oleh leveransir.
2 Pekerja menempatkan baja UNP 150x75x6,5x10 ke tempat yang aman dan berdekatan
dengan titik yang akan menggunakan material ini
3 Pekerja memotong dan melas/menyambung bahan baja UNP 150x75x6,5x10
sebagai bagian dari konstruksi jembatan dengan mengacu pada bestek dan gambar rencana yang ada

b. ANGGAPAN / ASUMSI :
1 Bahan baja UNP 150x75x6,5x10 yang datang kelokasi
sudah sesuai dengan gambar rencana dan spesifikasi teknis yang disyaratkan
2 Jumlah bahan baja UNP 150x75x6,5x10 yang datang
sudah sesuai dengan permintaan dan tidak ada yang dalam kondisi rusak/cacat

c. JUMLAH HARI :
Jumlah hari yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan
- 2.968,56 : 424,08 = 7,00 hari
- Dikerjakan 1 Kelompok kerja = 7,00 hari = 7,00 hari = 1,00 minggu 1,00 minggu

d. TENAGA KERJA
Tiap Kelompok Kerja terdiri dari :
Mandor Lapangan 1,00 orang/hari x 1,00 Kelompok Kerja = 1,00 orang/hari
Kepala Tukang 1,00 orang/hari x 1,00 Kelompok Kerja = 1,00 orang/hari
Tukang Besi 5,00 orang/hari x 1,00 Kelompok Kerja = 5,00 orang/hari

e. MATERIAL
Pengadaan baja UNP 150x75x6,5x10 424,08 kg x 1,00 Kelompok Kerja = 424,08 kg/hari
Alat-Alat Kerja ( 3 set ) 0,70 Set x 1,00 Kelompok Kerja = 0,70 Set 1,00 Set

f. PERALATAN

5 Pabrikasi/pengolahan baja lantai jembatan


Volume Total = 19.260,55 kg
6 Erection
Volume Total = 22.229,11 kg
Pabrikasi/pengolahan baja lantai jembatan (erection) dilokasi pekerjaan

a. URAIAN :
1 Semua material profil dan plat baja untuk rangka jembatan termasuk pagar dan tiang pagar, baut-baut dan plat sambungan
sudah dibentuk sesuai dengan bestek dan gambar rencana
2 Pekerja memasang semua elemen struktur jembatan sesuai posisinya pada gambar rencana sehingga
menjadi satu kesatuan sebagai sebuah jembatan
3 Pekerja memasang semua elemen jembatan dengan menggunakan sambungan berupa baut-baut dan plat sambungan
dan juga dengan pekerjaan las-lasan.

b. ANGGAPAN / ASUMSI :
1 Bahan profil dan plat baja untuk rangka jembatan yang datang kelokasi sudah sesuai dengan gambar rencana dan spesifikasi teknis yang disyaratkan
2 Jumlah bahan profil dan plat baja untuk rangka jembatan yang datang sudah sesuai dengan permintaan dan tidak ada yang dalam kondisi rusak/cacat

c. JUMLAH HARI :
Jumlah hari yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan
- 41.489,66 : 829,79 = 50,00 hari
- Dikerjakan 2 Kelompok kerja = 25,00 hari = 25,00 hari = 3,57 minggu 4,00 minggu

d. TENAGA KERJA
Tiap Kelompok Kerja terdiri dari :
Mandor Lapangan 1,00 orang/hari x 2,00 Kelompok Kerja = 2,00 orang/hari
Kepala Tukang 1,00 orang/hari x 2,00 Kelompok Kerja = 2,00 orang/hari
Tukang Besi 5,00 orang/hari x 2,00 Kelompok Kerja = 10,00 orang/hari
e. MATERIAL
Pengadaan plat bordes (checkered pla 1.215,58 kg x 2,00 Kelompok Kerja = 2.431,16 kg/hari
Pengadaan plat baja t=5 mm 406,01 kg / 2,00 Kelompok Kerja = 203,00 kg/hari
Pengadaan baja L 100.100.7 1.129,92 kg / 2,00 Kelompok Kerja = 564,96 kg/hari
Pengadaan baja UNP 150x75x6,5x10 424,08 kg / 2,00 Kelompok Kerja = 212,04 kg/hari
Baut 12 - 2" + Mur + 2 Washer 150,48 kg / 2,00 Kelompok Kerja = 75,24 kg/hari
Alat-Alat Kerja ( 3 set ) 0,70 Set x 2,00 Kelompok Kerja = 1,40 Set 2,00 Set

f. PERALATAN
Alat las 1,00 Buah x 2,00 Kelompok Kerja = 2,00 buah

7 Baut 12 - 2" + Mur + 2 Washer


Volume Total = 150,48 kg

a. URAIAN :
1 Pengiriman material Baut 12 mm - 2" + Mur + 2 Washer oleh leveransir.
2 Pekerja menempatkan Baut 12 mm - 2" + Mur + 2 Washer ke tempat yang aman dan berdekatan
dengan titik yang akan menggunakan material ini
3 Pekerja memotong dan melas/menyambung bahan Baut 12 mm - 2" + Mur + 2 Washer
sebagai bagian dari konstruksi jembatan dengan mengacu pada bestek dan gambar rencana yang ada

b. ANGGAPAN / ASUMSI :
1 Bahan Baut 12 mm - 2" + Mur + 2 Washer yang datang kelokasi
sudah sesuai dengan gambar rencana dan spesifikasi teknis yang disyaratkan
2 Jumlah bahan Baut 12 mm - 2" + Mur + 2 Washer yang datang
sudah sesuai dengan permintaan dan tidak ada yang dalam kondisi rusak/cacat

c. JUMLAH HARI :
Jumlah hari yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan
- 150,48 : 150,48 = 1,00 hari
- Dikerjakan 1 Kelompok kerja = 1,00 hari = 1,00 hari = 0,14 minggu 1,00 minggu

d. TENAGA KERJA
Tiap Kelompok Kerja terdiri dari :
Mandor Lapangan 1,00 orang/hari x 1,00 Kelompok Kerja = 1,00 orang/hari
Kepala Tukang 1,00 orang/hari x 1,00 Kelompok Kerja = 1,00 orang/hari
Tukang Besi 5,00 orang/hari x 1,00 Kelompok Kerja = 5,00 orang/hari

e. MATERIAL
Baut 12 - 2" + Mur + 2 Washer 150,48 kg x 1,00 Kelompok Kerja = 150,48 kg/hari
Alat-Alat Kerja ( 3 set ) 0,70 Set x 1,00 Kelompok Kerja = 0,70 Set 1,00 Set

f. PERALATAN

Gambar Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi Plat Baja Konvensional - Plat Bordes Pada Lantai Kendaraan

V. PEKERJAAN CAT DAN LAIN-LAIN


1 Pengecatan baja jembatan
Volume Total = 131,76 m
a. Uraian
1 Setelah baja jembatan terpasang maka di lakukan proses pengecatan.
2 Sebelum melakukan pekerjaan pengecatan, seluruh permukaan baja jembatan yang akan di cat harus disiapkan / dibersihkan permukaannya, atau
seperti yang diperintahkan oleh Direksi Teknik.
3 Pengecatan harus dilaksanakan hanya bilamana keadaan cuaca yang disetujui direksi teknik, seluruh permukaan tersebut harus kering dan
temperaturnya tidak boleh kurang dari 3 0C diatas titik embun.
b. Anggapan/Asumsi
1 Harus dilakukan pengecatan dasar terlebih dahulu
2 Finishing cat menggunakan cat besi
3 Pekerjaan Pengecatan dinyatakan selesai apabila pelapisan akhir dengan menggunakan cat baja/besi sudah dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi dan
diterima oleh Deriksi Teknik.
c. Jumlah Hari
Jumlah hari yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan
- 131,76 : 15,00 = 8,78 hari
- Dikerjakan 2 Kelompok kerja = 4,39 hari = 5,00 hari = 0,71 minggu 1,00 minggu
d. Tenaga Kerja
Tiap Kelompok Kerja terdiri dari :
Mandor Lapangan 1,00 orang/hari x 2,00 Kelompok Kerja = 2,00 orang/hari
Kepala Tukang 4,00 orang/hari x 2,00 Kelompok Kerja = 8,00 orang/hari
Tukang Cat 5,00 orang/hari x 2,00 Kelompok Kerja = 10,00 orang/hari
e. Material
Cat dasar 15,00 m x 2,00 Kelompok Kerja = 30,00 m/hari
Cat baja/besi 15,00 m x 2,00 Kelompok Kerja = 30,00 m/hari
Alat-Alat Kerja ( 3 set ) 0,70 Set x 2,00 Kelompok Kerja = 1,40 Set 2,00 Set
f. Peralatan
-

2 Pengecatan parapet
Volume Total = 1,00 Ls
a. Uraian
1 Setelah Parapet terpasang maka di lakukan proses pengecatan.
2 Sebelum melakukan pekerjaan pengecatan, seluruh permukaan Parapet yang akan di cat harus disiapkan / dibersihkan permukaannya, atau seperti
yang diperintahkan oleh Direksi Teknik.
3 Pengecatan harus dilaksanakan hanya bilamana keadaan cuaca yang disetujui direksi teknik, seluruh permukaan tersebut harus kering dan
temperaturnya tidak boleh kurang dari 3 0C diatas titik embun.
b. Anggapan/Asumsi
1 Harus dilakukan pengecatan dasar terlebih dahulu
2 Finishing cat menggunakan cat beton
3 Pekerjaan Pengecatan dinyatakan selesai apabila pelapisan akhir dengan menggunakan cat beton sudah dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi dan
diterima oleh Deriksi Teknik.
c. Jumlah Hari
Jumlah hari yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan
- 1,00 : 15,00 = 0,07 hari
- Dikerjakan 2 Kelompok kerja = 0,03 hari = 1,00 hari = 0,14 minggu 1,00 minggu
d. Tenaga Kerja
Tiap Kelompok Kerja terdiri dari :
Mandor Lapangan 1,00 orang/hari x 2,00 Kelompok Kerja = 2,00 orang/hari
Kepala Tukang 4,00 orang/hari x 2,00 Kelompok Kerja = 8,00 orang/hari
Tukang Cat 5,00 orang/hari x 2,00 Kelompok Kerja = 10,00 orang/hari
e. Material
Cat dasar 15,00 m x 2,00 Kelompok Kerja = 30,00 m/hari
Cat beton 15,00 m x 2,00 Kelompok Kerja = 30,00 m/hari
Alat-Alat Kerja ( 3 set ) 0,70 Set x 2,00 Kelompok Kerja = 1,40 Set 2,00 Set
f. Peralatan
-

Demikian usulan Metode Pelaksanaan ini dibuat sebagai pedoman untuk melaksanakan pekerjaan, serta tidak menutup kemungkinan metode ini mengalami
perubahan berdasarkan keadaan dilapangan.

Barabai, 16 September 2016

Penawar,
CV. BINTANG GEMILANG

CUNDRA GUNAWAN
Wakil Direktur
JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN
PROGRAM : Pembangunan Jalan dan Jembatan
KEGIATAN : Pembangunan Jembatan Kab. Hulu Sungai Tengah Tahun Anggaran 2016
PEKERJAAN : Pembangunan Jembatan dengan Konstruksi Baja (DAK Reguler SPP)
PAKET : 8 (delapan)
LOKASI : JEMBATAN BATU TANGGA - NATEH 02

BULAN 1 BULAN 2 BULAN 3


NO. URAIAN BOBOT ( MINGGU ) ( MINGGU ) ( MINGGU ) %
(%) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
100%
I PEKERJAAN PENDAHULUAN 3,58 1,19 1,19 1,19

II PEKERJAAN TANAH DAN PONDASI 0,00

PEKERJAAN KONSTRUKSI LAPIS PONDASI BAWAH DAN LAPIS PONDASI


III 0,00
ATAS

IV PELAPISAN PERMUKAAN PERKERASAN 0,00 50%

V BANGUNAN BAWAH (SUB STRUKTUR) 0,00

11,95 11,95 11,95 11,95 11,95 11,95 11,95 11,95


VI BANGUNAN ATAS (SUPER STRUKTUR) 95,63

0,39 0,39
VII PEKERJAAN CAT DAN LAIN-LAIN 0,79

0%
Jumlah Bobot 100,00 1,19 1,19 11,95 11,95 11,95 11,95 11,95 11,95 11,95 12,35 0,39 1,19
90 Hari
Kemajuan Pekerjaan (%) 1,19 2,39 14,34 26,30 38,25 50,20 62,16 74,11 86,07 98,41 98,81 100,00
Kalender
Kemajuan Pekerjaan Kumulatif ( % ) 1,19 2,39 14,34 26,30 38,25 50,20 62,16 74,11 86,07 98,41 98,81 100,00
Catatan : Kurva - S dan grafik digambarkan.

Barabai, 16 September 2016

Penawar,
CV. BINTANG GEMILANG

CUNDRA GUNAWAN
Wakil Direktur
DAFTAR PERSONIL INTI
Pengalaman
Tempat dan Tanggal Pendidikan dan Jabatan Dalam
No Nama Profesi Keahlian Kerja Nomor SKA/SKT/Ijazah Ket.
Lahir Tahun Kelulusan Proyek
(tahun)
1 2 3 4 5 6 7 8 9

Kepala Pelaksana
Amuntai, 6 September S1 Teknik Sipil, Ahli Teknik Jembatan -
1 RESSI RISMAN Pekerjaan 3 tahun No. 0296908, Tahun 2015 SKA
1988 Tahun 2012 Muda
Jembatan
S1 Sistem Informasi Ahli K3 Konstruksi -
2 SEANDY SUSILO, S.Kom Banjarmasin, 29 Mei 1988 Petugas K3 3 tahun No. 0280041 Tahun 2015 SKA
Tahun 2005 Muda
Pelaksana
Kandangan, 3 Desember S1 Teknik Sipil, Pelaksana Pekerjaan
3 INDAH PUSPITA SARI Lapangan Pek. 5 tahun No. 0169022, Tahun 2015 SKT
1981 Tahun 2006 Jembatan - Kelas I
Jembatan
Ahli Quality/Quantity
Birayang Jati Jangkang, S1 Teknik Sipil, Quality/Quantity
4 SRI ANITA DEWI Engineer Pek. 5 tahun 32832/H8/PS.08/S1/2009 IJAZAH
26 Nopember 1986 Tahun 2009 Engineer
Jembatan
Ahli Administrasi &
Administrasi &
5 M. MUHIDDIN Barabai, 4 Mei 1978 SMEA Tahun 1996 Keuangan Pek. 5 tahun No. 15 OB om 0083361 Tahun 1996 IJAZAH
Keuangan
Jembatan
STM Bangunan, Ahli Logistik Pekerjaan
6 ABDURAHIM Mahela, 10 Maret 1968 Logistik 5 tahun No. 15 OC ou 0010434 Tahun 1987 IJAZAH
Tahun 1987 Jembatan

Barabai, 16 September 2016


Penawar,
CV. BINTANG GEMILANG

CUNDRA GUNAWAN
Wakil Direktur
DAFTAR PERALATAN UTAMA
Tahun Serial Number Kondisi Bukti
No. Jenis Peralatan Jumlah Kapasitas Merk dan tipe Lokasi Alat Ket.
pembuatan (No. Seri Alat) (%) Kepemilikan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

1 Flat bed truck 5 ton 1 5 Ton 120 HP Mitsubishi 2003 DA 9477 EA Baik Barabai BPKB Milik Sendiri

2 - - - - - - - - - -

3 - - - - - - - - - -

4 - - - - - - - - - -

5 - - - - - - - - - -

Barabai, 16 September 2016


Penawar,
CV. BINTANG GEMILANG

CUNDRA GUNAWAN
Wakil Direktur
SPESIFIKASI TEKNIS
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

BAB I

PERSYARATAN UMUM
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

SPESIFIKASI UMUM

BAB 1 PERSYARATAN UMUM

BAB 1.1 RINGKASAN PEKERJAAN

1.1.1 Uraian berbagai pekerjaan yang termasuk dalam Spesifikasi ini.

Ruang lingkup pekerjaan me;iputi semua atau salah satu yang berikut ini :

(1) Perbaikan jalan dan penambahan di tempat yang ditunjukkan pada gambar
rencana atau yang diberi tanda di lapangan termasuk rekonstruksi dan
perbaikan lapisan perkerasan yang dirasa perlu.
(2) Pelapisan ulang atau pembuatan kembali lapis kedap permukaan
perkerasan, termasuk semua pekerjaan persiapan permukaan atau perataan
yang diperlukan.
(3) Pelebaran perkerasan dan pemindahan alinyemen yang ringan, termasuk
pembersihan lapangan dan penyediaan bahu jalan serta saluran tepi yang
baru seperti yang ditunjukkan pada gambar-gambar proyek dan
sebagaimana yang diminta oleh Direksi Teknik di lapangan.
(4) Rekonstruksi perkerasan termasuk membentuk kembali dan membangun
lapis pondasi bawah serta lapis pondasi atas dan memasang lapisan
permukaan aspal yang baru yang sesuai dengan dokumen kontrak.
(5) Rekonstruksi atau penyediaan saluran tepi jalan yang baru baik dengan
lapisan maupun tanpa lapisan dan gorong-gorong..
(6) Perbaikan struktur yang diberi berat maupun yang irngan untuk jembatan-
jembatan dan struktur jalan lainnya yang sesuai dengan dokumen kontrak,
dan menurut pertimbangan Direksi Teknik di lapangan.

BAB 1.2 MOBILISASI

1.2.1 Umum

(1) Mobilisasi sebagaimana ditentukan dalam kontrak ini akan meliputi pekerjaan
persiapan yang diperlukan untuk pengorganisasian dan pengelolaan
pelaksanaan pekerjaan proyek, ini juga akan mencakup demobilisasi setelah
penyelesaian pelaksanaan pekerjaan yang memuaskan.
(2) Kontraktor harus mengerahkan sebanyak mungkin tenaga setempat dari
kebutuhan tenaga pelaksanaan pekerjaan tersebut dan bilamana perlu
memberikan pelatihan yang memadai.
(3) Sejauh mungkin dan berdasarkan petunjuk Direksi, Kontraktor harus
menggunakan rute (jalur) tertentu dan menggunakan kendaraan-kendaraan
yang ukurannya sesuai dengan kelas jalan tersebut serta membatasi
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

muatannya untuk menghindari kerusakan jalan dan jembatan yang


digunakan untuk tujuan pengangkutan ke tempat proyek.
Kontraktor harus bertanggung jawab atas setiap kerusakan pada jalan dan
jembatan, dikarenakan muatan angkutan yang berlebihan serta harus
memperbaiki kerusakan tersebut sampai mendapat persetujuan Direksi.
(4) Mobilisasi peralatan berat dari dan menuju ke lapangan pekerjaan harus
dilaksanakan pada waktu lalu lintas sepi, dan truk-truk angkutan yang
bermuatan harus ditutup dengan terpal

1.2.2 Jangka Waktu Mobilisasi

(1) Mobilisasi harus diselesaikan dalam waktu 30 hari setelah penanda-


tanganan kontrak, terkecuali dinyatakan lain secara tertulis oleh Pimpinan
Proyek.
(2) Pembayaran mobilisasi untuk pekerjaan yang diuraqikan sebelumnya harus
dimasukkan dalam item yang dinyatakan dalam daftar item pembayaran, dan
tidak boleh ada pembayaran terpisah untuk item ini.

1.2.3 Penyiapan Lapangan

(1) Kontraktor akan mengusai lahan yang diperuntukkan bagi kegiatan-kegiatan


pengelolaan dan pelaksanaan pekerjaan di dalam proyek.
(2) Kontraktor harus mengikuti hal-hal berikut:
a. Memenuhi persyaratan Peraturan-Peraturan Nasional dan Peraturan-
Peraturan Provinsi.
b. Mengadakan konsultasi dengan Direksi Teknik sebelum penempatan dan
pembuatan Kantor Proyek dan gudang-gudang serta pemasangan
peralatan produksi (Plant) konstruksi.
c. Mencegah sesuatu polusi terhadap milik di sekitarnya sebagai akibat dari
operasi pelaksanaan.
(3) Pekerjaan tersebut juga akan mencakup demobilisasi dari lapangan
pekerjaan setelah selesai kontrak, meliputi pembongkaran semua instalasi,
plant dan peralatan konstruksi, serta semua bahan-bahan lebihan, semuanya
berdasarkan persetujuan Direksi Teknik.

1.2.4 Pengukuran dan Pembayaran

Pembayaran untuk pekerjaan yang sudah selesai yang didiskusikan di dalam bab
ini harus dimasukkan dalam daftar item pembayaran, dan tidak boleh ada
pembayaran terpisah untuk item ini.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

BAB 1.3 PENGUJIAN LAPANGAN

1.3.1 Umum

(1) Kontraktor harus menyelenggarakan pengujian bahan-bahan dan kecakapan


kerja untuk pengendalian mutu yang dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi
dan menurut perintah DIreksi Teknik
(2) Pengujian-pengujian akan dilaksanakan oleh labolatorium kabupaten atau
Provinsi yang sesuai dengan pengaturan oleh DIreksi Teknik. Pengujian
khusus di labolatorium pusat harus juga dilaksanakan bila diminta demikian
oleh Direksi Teknik.

1.3.2 Pemenuhan terhadap Spesifikasi

Semua pengujian harus memenuhi seperangkat standar di dalam spesifikasi.


Bilamana hasil pengujian tidak memuaskan, Kontraktor harus melakukan
pekerjaan-pekerjaan perbaikan dan peningkatannya bila diperlukan oleh Pimpinan
Proyek atau Direksi Teknik, dan harus melengkapi pengujian-pengujian untuk
menunjukkan terpenuhinya spesifikasi

1.3.3 Pengukuran dan Pembayaran

Kontraktror harus bertanggung jawab membayar biaya-biaya semua pengujian


yang dilaksanakan untuk memenuhi persyaratan spesifikasi. Biaya untuk
pengujian Pengendalian Mutu yang ditetapkan di dalam bab ini, harus
dimasukkan ke dalam item pembayaran yang bersangkutan dan tidak ada
pembayaran terpisah yang akan dibuat pengujian.

BAB 1.4 PELAKSANAAN PEKERJAAN

1.4.1 Umum

(1) Uraian

Untuk menjamin kualitas, ukuran-ukuran dan kinerja pekerjaan yang benar,


kontraktor harus menyediakan staf teknik berpengalam yang cocok
sebagaimana ditentukan dan memuaskan Direksi Teknik. Staf teknik tersebut
jika dan bilamana diminta harus mengatur pekerjaan lapangan, melakukan
pengujian lapangan untuk pengendalian mutu bahan-bahan dan kecakapan
kerja, mengendalikan dan meng-organisasi tenaga kerja kontraktor dan
memelihara catatan-catatan serta dokumentasi proyek.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

(2) Pemeriksaan Lapangan

Sebelum pematokan dan pengukuan di lapangan (setting out). Kontraktor


harus memperlajari gambar-gambar kontrak dan bersama-sama dengan
Direksi Teknik mengadakan pemerikasaan daerah proyek, dan khususnya
mengukur/memasang lebar jalan, daerah milik jalan, alinyemen untuk setiap
pelebaran atau rekonstruksi drainase tepi jalan dan gorong-gorong, serta
melakukan satu pemeriksaan yang terinci semua bangunan jembatan yang
diusulkan. Perubahan tempat/volume dari pemeriksaan tersebut di atas
harus dicatat ada Shop Drawings. Shop Drawings ini harus diserahkan
dalam waktu 30 (tiga puluh) hari pada sesudah Surat Perintah Kerja
ditandatangani, kepada Direksi Teknik untuk persetujuannya.

(3) Patok-patok kilometer dan patok stasiun harus diperiksa dan dipindahkan
bila diperlukan.

(4) Pada lokasi dimana pelebaran harus dilaksanakan, potongan melintang asli
harus direkam dan dijadikan acuan.

(5) Pada daerah-daerah perkerasan dimana satu pekerjaan perataan dan/atau


lapis permukaan harus dibangun, satu profil memanjang sepanjang sumbu
jalan harus diukur, serta penampang melintang diambil pada interval tertentu
untuk menentukan kelandaian dan kemiringan melintang, dan untuk
menentukan pengukuran ketebalan serta lebarnya konstruksi baru.

1.4.2 Pengendalian Mutu Bahan dan Kecakapan Kerja

(1) Semua bahan yang dipasok harus sesuai dengan spesifikasi dan harus
disetujui oleh Direksi Teknik. Sertifikat ujian pabrik pembuat harus
diserahkan untuk semua item-item yang dibuat pabrik termasuk aspal,
semen, kapur, baja konstruksi dan kayu.
Kontraktor harus menyediakan contoh-contoh semua bahan-bahan yang
diperlukan untuk pengujian dan mendapatkan persetujuan sebelu digunakan
di lapangan dan bilamana Direksi Teknik meminta demikian, sertifikasi harus
disediakan atau pengujian-pengujian dilaksanakan untuk menjamin kualitas,
sesuai Tabel Jadwal Frekwensi Minimum Pengujian Pengendalian Mutu,
dalam Prakonstruksi.

Semua kecakapan kerja harus memenuhi uraian dan persyaratan spesifikasi


dokumen kontrak dan harus dilaksanakan sampai memuaskan Direksi
Teknik. Bahan harus diuji di lapangan atau di labolatorium selama konstruksi
dan PHO sesuai jadwal pengujian minimum yang tercantum dalam Jadwal
Frekwensi Minimum Pengujian Pengendalian Mutu, atas permintaan Direksi
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

Teknik dan Kontraktor harus membantu serta menyediakan peralatan dan


tenaga untuk pemeriksaan, pengujian dan pengukuran.

(2) Desain campuran untuk aspal, beton dan stabilisasi tanah harus disiapkan
dan diuji sesuai dengan spesifikasi dan tidak ada campuran boleh digunakan
pada pekerjaan-pekerjaan proyek terkecuali ia memenuhi persyaratan
spesifikasi dan memuaskan Direks Teknik.

(3) Hasil semua pengujian termasuk pemeriksaan kualitas bahan di lapangan


dan desain campuran, harus direkam dengan baik dan dilaporkan kepada
Direksi Teknik.

1.4.3 Pengelola Lapangan dari Kontraktor

(1) Kontraktor harus menunjuk seorang pemimpin lapangan untuk mengarah-


kan dan mengatur pekerjaan kontrak, termasuk pengorganisasian tenaga
dan peralatan Kontraktor serta bertanggung jawab bagi pengadaan bahan-
bahan yang sesuai dengan persyaratan kontrak. Pimpinan lapangan harus
memiliki pengalaman lapangan paling sedikit 10 tahun pada pekerjaan
proyek dan harus Tenaga Ahli bidang sipil yang mampu.
Untuk perbaikan-perbaikan ringan dan pekerjaan pemeliharaan, per-syaratan
ini tidak diharuskan dan tergantung kepada konfirmasi/persetujuan tertulis
Pimpinan Proyek.

(2) Kontraktor harus menyediakan layanan seorang Pelaksana lapangan yang


mampu dan berpengalaman ntuk mengendalikan pekerjaan lapangan dalam
kontrak, termasuk pengawasan lapangan, kualitas dan kecakapan kerja,
sesuai dengan syarat-syarat kontrak.

1.4.4 Pengendalian Lingkungan

(1) Kontraktor harus menjamin bahwa akan diberikan perhatian yang penuh
terhadap pengendalian pengaruh lingkungan dan bahwa semua syarat-
syarat desain serta persyaratan spesifikasi yang berhubungan dengan polusi
lingkungan dan perlindungan lahan serta lintasan air di sekitarnya akan
ditaati.

(2) Kotraktor tidak boleh menggunakan kendaraan-kendaraan yang


memancarkan suara sangat keras (gaduh), dan di dalam daerah pemukiman
suatu peredam kebisingan harus dipasang serta dipelihara selalu dalam
kondisi baik pada semua peralatan dengan motor, di bawah pengendalian
kontraktor.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

(3) Kontraktor harus menghindari penggunaan peralatan berat atau peralatan


yang berisik dalam daerah-daerah tertentu sampai larut malam atau dalam
daerah-daerah rawan seperti dekat rumah sakit.

(4) Untuk mencegah polusi debu selama musim kering, kontraktor harus
melakukan penyiraman secara teratur kepada jalan angkutan tanah atau
jalan angkutan kerikil harus menutupi truk angkutan dengan terpal.

1.4.5 Pematokan dan Pemasangan Pekerjaan di Lapangan

(1) Alinyemen jalan yang ada beserta patok kilometer yang dipasang secara
benar akan dijadikan sebagai acuan untuk pematokan dan pemasangan
pekerjaan-pekerjaan proyek. Bilamana tidak ada patok kilometer yang
ditemukan, patok-patok yang ditandai atau patok-patok referensi akan
didirikan oleh Direksi Teknik sebelum dimulainya pekerjaan-pekerjaan
kontrak.

(2) Jika dianggap perlu oleh Direksi Teknik, kontraktor harus mengadakan survai
secara cermat dan memasang patok beton (Bench Marks) pada lokasi yang
tetap sepanjang proyek untuk memungkinkan desain, survai perkerasan,
atau pematokan dan pemasangan pekerjaan yang harus dibuat, dan juga
untuk maksud sebagai referensi dimasa depan

(3) Kontraktor harus memasang patok-patok konstruksi untuk membuat garis


dan kelandaian pembetulan ujung perkerasan, lebar bahu jalan, ketinggian
perkerasan, drainase samping dan gorong-gorong, sesuai dengan gambar-
gambar proyek dan menurut perintah Direksi Teknik. Persetujuan Direksi
Teknik atas garis dan ketinggian tersebut akan diperoleh sebelum
pelaksanaan pekerjaan konstruksi berikut sesuatu modifikasi (perubahan)
yang mungkin diperlukan oleh Direksi Teknik yang harus dilaksanakan tanpa
penundaan.

(4) Untuk pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan pelebaran dan


pembangunan baru, penampang melintang harus diambil pada setiap jarak
25 meter, atau satu jarak lain yang dianggap perlu oleh Direksi Teknik,
digunakan sebagai satu dasar untuk penghitungan volume pekerjaan yang
dilaksanakan. Penampang melintang tersebut harus digambar pada profil
dengan skala dan ukuran oleh Direksi Teknik. Serta garis-garis dan
permukaan penyelesaian yang diusulkan harus ditunjukkan. Gambar-gambar
profil asli beserta tiga copy harus diserahkan kepada Direksi Teknik untuk
mendapatkan persetujuan dan tanda tangan, serta untuk suatu pengesahan
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

yang diperlukan. Yang asli dan satu copy akan ditahan oleh Direksi Teknik
dan dua copy yang sudah ditanda-tangani dikembalikan kepada Kontraktor.
(5) Pekerjaan-pekerjaan jembatan harus ditata di lapangan di bawah
pengendalian dan pengaturan penuh oleh Direksi Teknik, serta dalam satu
kesesuaian yang tinggi terhadap gambar-gambar dan spesifikasi. Setiap
koreksi atau perubahan dalam alinyemen atau ketinggian harus atas dasar
penyelidikan serta pengujian lapangan lebih lanjut dan harus dilaksanakan
sebagaimana yang diperlukan di bawah pengawasan Direksi Teknik.

(6) Jika diharuskan demikian oleh Direksi Teknik, Kontraktor harus menyediakan
semua instrument yang diperlukan, personil, tenaga dan bahan yang diminta
untuk pemeriksaan pematokan di lapangan atau pekerjaan lapangan yang
relevan.

1.4.6 Pengukuran dan Pembayaran

Semua biaya untuk pekerjaan di dalam bab ini akan dimasukkan dalam harga
satuan yang bersangkutan dalam daftar penawaran yang akan disediakan untuk
semua alat, tenaga dan bahan-bahan yang diperlukan. Tidak aka nada
pembayaran terpisah untuk

BAB 1.5 STANDAR RUJUKAN

1.5.1 Uraian Umum

(1) Peraturan-peraturan dan standar yang dijadikan acuan dalam Dokumen


Kontrak akan menetapkan persyaratan kualitas untuk berbagai jenis pekerjaa
yang harus diselenggarakan beserta cara-cara yang diguna-kan untuk
pengujian-pengujian yang memenuhi persyaratan-persyaratan.

(2) Kontraktor harus bertanggung jawab untuk penyediaan bahan-bahan dan


kecakapan kerja yang diperlukan untuk memenuhi atau melampaui
peraturan-peraturan khusus atau standar-standar yang dinyatakan demikian
dalam sfesifikasi-sfesifikasi atau yang dikehendaki oleh Direksi Teknik

1.5.2 Jaminan Kualitas

(1) Selama Pengadaan

Kontraktor harus bertanggung jawab untuk melakukan pengujian semua


bahan-bahan yang diperlukan dalam pekerjaan, dan menentukan bahwa
bahan-bahan tersebut memenuhi atau melebihi persyaratan yang telah
ditentukan.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

(2) Selama Pelaksanaan

Direksi Teknik mempunyai wewenang untuk menolak bahan-bahan, barang-


barang dan pekrjaan-pekerjaan yang tidak memenuhi persyaratan minimum
yang ditentukan tanpa kompensasi bagi Kontraktor.

(3) Tanggung Jawab Kontraktor

Adalah tanggung jawab kontraktor untuk melengkapi bukti yang diperlukan


mengenai bahan-bahan, kecakapan kerja atau kedua-keduanya
sebagaimana yang diminta oleh Direksi Teknis atau yang ditentukan dalam
Dokumen Kontrak yang memenuhi atau melebihi yang ditentukan dalam
standar-standar yang diminta. Bukti-bukti tersebut harus dalam bentuk yang
dimintakan oleh Direksi Teknik secara tertulis, dan harus termasuk satu copy
hasil-hasil pengujian yang resmi.

(4) Standar-Standar

Standar-standar yang dipakai menjadi acuan termasuk, namun tidak terbatas


pada standar yang icantumkan di bawah:

BUKU-BUKU PETUNJUK PELAKSANAAN BINA MARGA


STANDAR INDUSTRI INDONESIA (SII)
PERSYARATA UMUM BAHAN BANGUNAN DI INDONESIA (PUBI-1982)
PERATURAN BETON BERTULANG INDONESIA (NI-2-1971)
PERATURAN PERENCANAAN BANGUNAN BAJA INDONESIA (PPBBI-
1982)
AASHTO = AMERICAN ASSOCIATE OF STATE HIGHWAY AND
TRANSPORTATION OFFICIAL (BAGIAN 1 DAN 2)
ASTM = AMERICAN SOCIETY FOR TESTING AND MATERIALS
BS = BRITISH STANDARS INSTITUTION
MPBJ = MANUAL PEMERIKSAAN BAHAN JALAN

BAB 1.6 BAHAN-BAHAN DAN PENYIMPANAN

1.6.1 Umum

(1) Uraian

Bahan-bahan yang digunakan dalam pekerjaan harus memenuhi


persyaratan berikut:

a. Mematuhi standard an spesifikasi yang digunakan


PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

b. Untuk kekuatan, ukuran, buatan, tipe dan kualitas harus seperti yang
ditentukan pada gambar rencana atau spesifikasi-spesifikasi lain yang
dikeluarkan atau yang disetujui secara tertulis oleh Direksi Teknik.
c. Semua produksi harus baru, atau dalam kasus tanah, pasir dan agregar
harus diperoleh dari suatu sumber yang disetujui.

(2) Penyerahan
a. Sebelum mengeluarkan satu pesanan atau sebelum perubahan satu
daerah galian untuk suatu bahan, Kontraktor harus menyerahkan
kepada Direksi Teknik contoh-contoh bahan untuk mendapatkan
persetujuan. Contoh tersebut harus disertai informasi mengenai
sumber, lokasi sumber, dan setiap klarifikasi lain yang diperlukan oleh
Direksi Teknik untuk memenuhi persyaratan-persyaratan spesifikasi.
b. Kontraktor harus menyelenggarakan, menempatkan, memperoleh dan
memproses bahan-bahan alam yang sesuai dengan spesifikasi ini serta
harus memberitahu Direksi Teknik paling sedikit 30 hari sebelumnya
atau suatu jangka waktu lain yang dinyatakan oleh Direksi Teknik
secara tertulis abhwa bahan tersebut dapat digunakan dalam
pekerjaan. Laporan ini berisi semua informasi yang diperlukan.
Persetujuan sebuah sumber tidak berarti bahwa semua bahan-bahan
dalam sumber tersebut disetujui.
c. Dalam kasus bahan-bahan aspal, semen, baja dan kayu struktural serta
bahan-bahan buatan pabrik lainnya, sertifikat uji pabrik pembuat
diperlukan sebelum persetujuan dari Direksi Teknik diberikan. Direksi
Teknik memberikan persetujuan ini secara tertulis.

1.6.2 Sumber Bahan-Bahan

(1) Sumber-sumber
a. Lokasi sumber bahan yang mungkin dapat digunakan yang diperlihatkan
dalam Dokumen-dokumen atau yang diberikan oleh Direksi Teknik,
disediakan sebagai satu petunjuk saja. Adalah tanggung jawab
kontraktor untuk mengadakan identifikasi dan memeriksa kecocokan
semua sumber-sumber bahan yang diperlukan untuk pelaksanaan
pekerjaan dan untuk mendapatkan persetujuan Direksi Teknik.
b. Sumber bahan tidak boleh dipilih dari sumber alam dilindungi, hutan
lindung, atau dalam daerah yang mudah terjadi longsoran atau erosi.
c. Kontraktor akan menentukan berapa banyak peralatan dan pekerjaan
yang diperlukan untuk memproduksi bahan-bahan tersebut memenuhi
spesifikasi ini. Direksi Teknik akan menolak atau menerima bahan-
bahan dari sumber-sumber bahan atas dasar persyaratan kualitas yang
ditentukan dalam kontrak.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

d. Tidak boleh ada kegiatan pada lokasi sumber bahan yang akan
menimbulkan erosi atau longsoran tanah, hilangnya tanah produktif
atau secara lain berpengaruh negatif dengan daerah sekelilingnya.

(2) Persetujuan
a. Pemesanan bahan-bahan akan dilakukan jika Direksi Teknik telah
memberikan persetujuan untuk menggunakannya. Bahan-bahan tidak
boleh digunakan untuk maksud-maksud lain dari pada yang telah
disetujui oleh Direksi Teknik.
b. Jika kualitas atau gradasi bahan tersebut tidak sesuai dengan kualitas
yang telah disetujui Direksi, maka Direksi dapat menolak bahan
tersebut dan minta diganti.

1.6.3 Penyimpanan Bahan

(1) Umum

Bahan-bahan harus disimpan dalam cara sedemikian rupa sehingga bahan-


bahan tersebut tidak rusak dan kualitasnya dilindungi, dan sedemikian
sehingga bahan tersebut selalu siap digunakan serta dengan mudah dapat
diperiksa oleh DIreksi Teknik

Penyimpanan di atas hak milik pribadi hanya akan diizinkan jika telah
diperbolehkan secara tertulis oleh pemilik atau penyewa yang diberi kuasa.

Tempat penyimpanan harus bersih dan bebas dari sampah dan air, bebas
pengaliran air dan kalau perlu ditinggikan. Bahan-bahan tidak boleh
bercxampur dengan tanah dasar, dan bila diperlukan satu lapisan alas dasar
pelindung harus disediakan. Tempat penyimpanan berisi semen, kapur dan
bahan-bahan sejenis harus dilindungi sepantasnya dari hujan dan banjir.

(2) Penumpukan Agregat


a. Agregat batu harus ditumpuk dalam satu cara yang disetujui sedemikian
sehinga tidak ada segregasi serta menjamin gradasi yang memadai.
Tinggi tumpukan maksimum adalah lima meter.
b. Masing-masing jenis berbagai agregat harus ditumpuk secara terpisah
atau dipisahkan dengan partisikayu.
c. Penempatan tumpukan material dan peralatan, harus di tempat-tempat
yang memadai serta tidak boleh menimbulkan kemacetan lalu lintas
dan membendung lintasan air.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

d. Kontraktor harus melaksanakan penyiraman yang teratur pada jalan-jalan


angkutan, daerah lalu lintas berat lainnya serta penumpukan material
lainnya, khususnya selama musim kering.

(3) Penyimpanan Bahan-Bahan Aspal

Tempat penimbunan drum-drum aspal harus pada ketinggian yang layak dan
dibersihkan dari tumbuh-tumbuhan rendah dan sampah-sampah.

Cara penumpukan untuk berbagai bahan-bahan aspal adalah sebagai


berikut:

i. Drum-drum yang berisi oli pembersih harus ditumpuk berdiri dengan


lubang pengisian arah ke atas dan dimiringkan (dengan menempatkan
sebuah sisinya ke atas sepotong kayu) untuk mencegah terkumpulnya air
di atas tutup drum.
ii. Drum-drum yang berisi minyak tanah, bensin, dan aspal cut back harus
ditumpuk di atas sisinya dengan lubang pengisian sebelah atas. Penutup
lubang harus diuji mengenai kekencangannya ketika ditumpuk dan pada
selang waktu yang teratur sewaktu penyimpanan.
iii. Drum-drum emulsi aspal dapat ditumpuk di atas ujung atau di atas sisinya
tetapi bila disimpan untuk suatu jangka waktu yang panjang. Drum-drum
tersebut harus digulingkan secara teratur.

(4) Penanganan dan Penyimpanan Semen

Perlu diberikan perhatian sewaktu pengangkutan semen ke tempat


pekerjaan supaya semen tidak menjadi basah atau kantong semen menjadi
rusak.

Di lapangan semen tersebut harus disimpan dalam gudang yang kedap air,
dengan penumpukan yang rapih dan secara sistematis menurut jatuh
temponya, sehingga penggunaan (konsumsi) semen dapat diatur serta
semen tidak berada terlalu lama dalam penyimpanan.

Biasanya jangka waktu akhir penyimpanan semen untuk konstruksi beton


tidak boleh lebih dari 3 bulan. Direksi Teknik secara teratur akan memeriksa
semen yang disimpan di lapangan dan tidak akan mengizinkan setiap semen
digunakan bila didapati dalam kondisi telah mengeras.

(5) Bahan-Bahan yang ditumpuk di Pinggir Jalan

Direksi Teknik akan memberikan etunjuk mengenai lokasi yang tepat untuk
menumpuk bahan-bahan di inggir jalan dan semua tempat yang dipilih harus
keras, tanah dengan drainase yang baik, rata dan kering serta sama sekali
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

tidak boleh melampaui batas jalan tersebut dimana bahan-bahan tersebut


dapat menimbulkan bahaya atau kemacetan lalu lintas.

Tempat penumpukan harus dibersihkan dari semak-semak dan sampah, dan


bila perlu tanah tersebut diratakan dengan grader.

Agregat dan kerikil harus ditumpuk secara rapih menurrut ukuran mal,
dengan sumbu memanjang tumpukan tersebut biasanya sejajar dengan garis
tengah jalan.

Aspal dalam drum-drum harus ditumpuk seperti diuraikan pada item (3) di
atas dan dibentuk kedalam tempat yang teratur (tidak berserakan sepanjang
jalan)

1.6.4 Pengukuran dan Pembayaran

(1) Royalty

Semua biaya untuk kompensasi bagi pemilik lahan dan sumber bahan,
misalnya sewa, royalty (pajak) dan biaya-biaya sejenis, akan dimasukkan
dalam harga satuan bagi bahan-baan yang bersangkutan serta tidak ada
pembayaran terpisah kepada Kontraktor untuk biaya-biaya ini.

(2) Pekerjaan-Pekerjaan Lapangan untuk Sumber Bahan


a. Kontraktor akan menyelenggarakan semua pengaturan untuk membuka
sumber bahan, kecuali diperintahkan lain oleh Direksi Teknis secara
tertulis.
b. Semua biaya yang diperlukan untuk pembukaan sumber-sumber bahan,
seperti pembongkaran tanah selimut dan tanah bagian atas, serta
menimbun kembali lapangan tersebut setelah galian diselesaikan, harus
dimasukkan dalam harga satuan, dan tidak ada pembayaran terpisah bagi
pekerjaan ini.

BAB 1.7 PROSEDUR PERUBAHAN PEKERJAAN

1.7.1 Umum

(1) Uraian

Perubahan-perubahan pekerjaan dapat dirintis oleh Pimpinan Proyek (atau


oleh Direksi Teknik jika dikuasakan demikian oleh Pimpinan Proyek untuk
bertindak atas namanya) atau oleh Kontraktor, dan akan disetujui dengan
cara satu Perintah Perubahan yang ditanda tangani oleh kedua pihak. Jika
dasar pembayaran ditentukan dalam satu perintah perubahan menimbulkan
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

satu perubahan dalam Struktur Harga Satuan Item Pembayaran atau suatu
perubahan dalam Besarnya Kontrak, Perintah Perubahan tersebut akan
dirundingkan dan dirumuskan dalam suatu Addendum.

(2) Perintah Perubahan dan Addenda Harus Mematuhi hal-hal Berikut:


a. Perintah Perubahan

Sebuah perintah tertulis yang dikeluarkan oleh Pimpinan Proyek yang


diparaf oleh Kontraktor, menunjukkan penerimaannya atas perubahan
pekerjaan atau Dokumen Kontrak dan persetujuannya atas dasar
penyesuaian pembayaran dan waktu, jika ada, untuk pelaksanaan
perubahan pekerjaan tersebut. Perintah perubahan harus diterbitkan,
dalam satu formulir standard dan akan mencakup semua instruksi yang
dikeluarkan oleh Pimpinan Proyek yang akan menimbulkan suatu
perubahan dalam Dokumen kontrak atau instruksi-instruksi sebelumnya
yang dikeluarkan oleh Pimpinan Proyek.

b. Addenda

Satu persetujuan tertulis antara Pemilik (Employer) dan Kontraktor


merumuskan satu perubahan dalam pekerjaan atau Dokumen Kontrak
yang telah menghasilkan satu perubahan dalam susunan Harga Satuan
Item Pembayaran atau satu perubahan yang diharapkan dalam besarnya
kontrak dan telah dirundingkan sebelumnya serta disetujui di bawah satu
Perintah Perubahan. Addenda juga akan dibuat pada bagian penutup
Kontrak dan untuk semua perubahan-perubahan kontraktual dan
perubahan teknis yang besar tanpa memandang apakah perubahan-
perubahan tersebut terjadi untuk struktur Harga atau Besarnya Kontrak.

(3) Penyerahan-Penyerahan
a. Kontraktor akan menunjuk wakil perusahaannya secara tertulis yang diberi
kuasa untuk menerima perubahan dalam pekerjaan dan yang
bertanggung jawab untuk memberitahukan karyawan-karyawan kontraktor
lainnya mengenai otorisasi perubahan-perubahan tersebut.
b. Pimpinanproyek akan menunjuk secara tertulis pejabat yang diberi kuasa
untuk mengadministrasikan prosedur perubahan atas nama Pemberi
Tugas.
c. Kontraktor akan membantu setiaqp pengajuan untuk usulan lump sum,
dan untuk setiap Harga Satuan yang tidak ditentukan sebelumnya dengan
data pembuktian yang cukup memungkinkan Direksi Teknik mengevaluasi
usulan tersebut.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

1.7.2 Prosedur Awal

(1) Pimpinan Proyek dapat mengawali Perintah Perubahan (change order)


dengan menyampaikan kepada Kontraktor satu pemberitahuan tertulis yang
berisikan:
a. Satu uraian terinci mengenai perubahan yang diusulkan dan lokasinya
dalam proyek tersebut.
b. Kelengkapan atau gambar-gambar dan spesifikasi-spesifikasi yang
dirubah yang merinci perubahan yang diusulkan.
c. Jangka waktu yang direncanakan untuk mengerjakan perubahan yang
diusulkan tersebut.
d. Apakah perubahan yang diusulkan tersebut dapat dilaksanakan di bawah
struktur Harga Satuan Item Pembayaran yang ada maupun Suatu Harga
Satuan atau Lump Sum tambahan yang diperlukan, harus disetujui dan
dirumuskan dalam suatu Addendum.

Satu pengumuman demikian adalah hanya satu pemberitahuan saja, dan


tidak merupakan satu perintah untuk melaksanakan perubahan-perubahan
tersebut, atau untuk menghentikan pekerjaan yang sedang maju..

(2) Kontraktor dapat meminta satu Perintah Perubahan dengan mengajukan


satu pemberitahuan tertulis kepada Direksi Teknik, berisi
a. Uraian perubahan yang diajukan
b. Pernyataan alas an untuk membuat usulan perubahan
c. Pernyataan pengaruh pada Jadwal Pelaksanaan, jika ada.
d. Pernyataan pengaruh yang ada pada pekerjaan-pekerjaan Sub kontraktor
yang terpisah, jika ada.
e. Perincian apakah semua atau sebagian usulan perubahan harus
dilakukan di bawah struktur Harga Satuan Item Pembayaran yang ada
beserta dengan suatu harga Satuan tambahan atau Lump Sum yang
dipertimbangkan mungkin perlu disetujui.

1.7.3 Pelaksanaan Perintah Perubahan (Change Order)

(1) Isi masalah dalam Perintah Perubahan berdasarkan pada:


a. Permintaan Pimpinan Proyek dan Penerimaan Kontraktor yang disetujui
bersama, atau;
b. Permohonan Kontraktor untuk satu perubahan yang diterima oleh
Pimpinan Proyek.

(2) Pimpinan Proyek akan mempersiapkan Perintah Perubahan tersebut dan


menyediakan satu nomor Perintah Perubahan.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

(3) Perintah Perubahan tersebut akan menguraikan perubahan dalam


pekerjaan-pekerjaan, penambahan maupun penghapusan, dengan lampiran
revisi Dokumen Kontrak yang diperlukan untuk menetapkan perincian
perubahan.

(4) Perintah Perubahan tersebut akan menetapkan dasar pembayaran dan


suatu penyesuaian waktu yang diperlukan, sebagai akibat adanya
perubahan, dan dimana perlu akan menunjukkan setiap tambahan Harga
Satuan ataupun Jumlah yang telah dirundingkan di antara Pimpinan Proyek
dan Kontraktor yang perlu dirumuskan dalam satu Addendum.

(5) Pimpinan Proyek akan menandatangani dan menetapkan tanggal Perintah


Perubahan sebagai otorisasi bagi Kontraktor untuk melaksanakan
perubahan tersebut.

(6) Kontraktor akan menandatangani dan memeri tanggal Perintah Perubahan


untuk menyatakan persetujuan dengan rincian di dalamnya.

1.7.4 Pelaksanaan Addenda

(1) Isi masalah satu addenda berdasarkan:


a. Permintaan Pimpinan Proyek dan jawaban Kontraktor
b. Permohonan Kontraktor untuk perubahan, yang direkomendasi dan
disetujui oleh Pimpinan Proyek.
(2) Pimpinan Proyek akan mempersiapkan Addendum tersebut.
(3) Addendum tersebut akan menguraikan setiap perubahan kontraktual,
perubahan teknik maupun perubahan volume dalam pekerjaan, tambahan
maupun penghapusan beserta revisi Dokumen Kontrak untuk menetapkan
perincian perubahan dimaksud.
(4) Addendum tersebut akan menyediakan satu perhitungan ringkas setiap
tambahan atau penyesuaian Harga Satuan Item Pembayaran beserta satu
perubahan jumlah Kontrak atau penyesuaian dalam jangka waktu kontrak.
(5) Pimpinan Proyek dan Kontraktor akan menandatangani Addendum tersebut
dan melampirkannya dalam Dokumen Kontrak.

BAB 1.8 DOKUMEN REKAMAN PROYEK

1.8.1 Umum

(1) Kontraktor akan menyimpan satu rekaman pekerjaan kontrak dan akan
menyelesaikan rekaman semua perubahan pekerjaan dalam kontrak sejak
dimulai sampai selesainya pekerjaan proyek.
(2) Penyerahan-Penyerahan
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

a. Kontraktor akan menyerahkan kepada Direksi Teknik untuk


persetujuannya rekaman proyek tersebut yang selalu dilaksanakan pada
hari ke 25 tiap-tiap bulan, atau tanggal lain menurut perintah Pimpinan
Proyek.
Persetujuan DIreksi Teknik terhadap dokumen ini diperlukan untuk
persetujuan pembayaran.
b. Kontraktor akan menyerahkan kepada Direksi Teknik untuk mendapatkan
persetujuannya Dokumen Rekaman Proyek Akhir (Final) pada waktu
permohonan untuk Sertifikat Penyelesaian Utajma, dilengkapi dengan
catatan-catatan berikut:
Tanggal
Nomor dan jadwal proyek
Nama dan alamat Kontraktor
Nomor dan judul masing-masing dokumen yang diserahkan adalah
lengkap dan akurat
Tanda tangan Kontraktor atau wakilnya yang diberi kuasa

1.8.2 Dokumen Rekaman Proyek

(1) Perangkat Dokumen Proyek

Dengan memenangkan kontrak, Kontraktor akan mendapatkan seperangkat


lengkap semua Dokumen dari Pimpinan Proyek tanpa beban biaya, yang
berkaitan dengan Kontrak.

Dokumen tersebut akan meliputi:

Persyaratan Umum Kontrak


Gambar Rencana Kontrak
Spesifikasi
Addenda
Modifikasi-modifikasi lain terhadap Kontrak (jika ada)
Catatan Pengujian Lapangan

(2) Penyimpanan Dokumen

Dokumen proyek tersebut harus disimpan di dalam kantor lapangan dalam


satu file dan rak dan Kontraktor harus menjaga serta melindunginya dari
kerusakan dan hilang samapai pekerjaan selesai, serta harus memasukkan
data rekaman tersebut kepada Dokumen Rekaman Prooyek Akhir (final).

Dokumen rekaman (pencatatan) tersebut tidak boleh digunakan untuk tujuan


pelaksanaan dan dokumen itu harus dapat diperoleh setiap waktu untuk
pemeriksaan oleh Direksi Teknik.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

BAB 1.9 PEKERJAAN HARIAN

1.9.1 Umum

(1) Uraian

Pekerjaan ini terdiri dari kegiatan-kegiatan kerja tertentu yang semula tidak
diketahui lebih dulu atau tidak disediakan pada Daftar Penawaran, tetapi
ternyata selama pelaksanaan menjadi jelas diperlukan agar pelaksanaan dan
penyelesaian proyek memuaskan dan dapat diukur dengan baik dalam hal
biaya-biaya, tenaga kerja, peralatan dan bahan-bahan.

Pekerjaan yang harus dilaksanakan di bawah Pekerjaan Harian dapat


termasuk segala sesuatu yang diperintahkan atau dikuasakan oleh Direksi
Teknik dan dapat meliputi stabilisasi, pengujian (testing), perbaikan dari
lapisan perkerasan yang ada, konstruksi lapisan ulang, struktur atau
pekerjaan-pekerjaan lainnya.

(2) Penyerahan
Sebelum memesan material untuk Pekerjaan Harian Kontraktor harus
menyerahkan kepada Direksi Teknik penawaran-penawaran, untuk diminta
persetujuannya, dan sesudah pemesanan material. Kontraktor harus
memberikan kepada Direksi Teknik tanda terima atau kwitansi pembayaran
lainnya yang diperlukan untuk membuktikan jumlah yang dibayar.

Pada akhir dari setiap hari kerja, Kontraktor harus menyerahkan suatu
catatan tertulis mengenai banyaknya jam kerja untuk tenaga kerja dan
peralatan serta volume semua bahan yang digunakan atas dasar suatu
Pekerjaan Harian dan harus memperoleh tanda tangan Direksi Teknik pada
laporan ini, yang menyatakan bahwa Direksi Teknik telah menyetujui
mengenai otem pembayaran dan kuantitas yang diajukan.

Kontraktor harus menyerahkan setiap claim Pekerjaan Harian sesuai dengan


Bab 1.9.3 di bawah ini.

1.9.2 Bahan-Bahan dan Peralatan

(1) Bahan-Bahan

Semua bahan yang digunakan atas dasar Pekerjaan Harian harus memenuhi
persyaratan mutu dan keandalan yang diberikan pada bab-bab yang terkait
pada spesifikasi ini. Untuk bahan-bahan yang ditetapkan secara terinci
dimanapun pada spesifikasi ini, maka mutu material harus seperti yang
diperintahkan atau disetujui oleh Direksi Teknik.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

(2) Peralatan
Peralatan-peralatan yang digunakan atas dasar Pekerjaan Harian harus
memenuhi ketentuan-ketentuan dari bab-bab yang terkait pada spesifikasi ini
dan harus disetujui untuk digunakan oleh Direksi Teknik sebelum pekerjaan
dimulai.

1.9.3 Pelaksanaan Pekerjaan Harian

(1) Pengesahan Pekerjaan Harian


a. Pekerjaan Harian dapat diminta sevara tertulis oleh Kontraktor atau
diperintahkan oleh Direksi Teknik. Pada kedua hal tersebut, pekerjaan
tidak boleh dimulai, sampai Direksi Teknik mengeluarkan sevara tertulis
suatu otorisasi kerja harian.
b. Otorisasi ini akan menguraikan mengenai luas dan sifat pekerjaan yang
diperlukan dengan lampiran-lampiran gambar atau Dokumen Kontrak
yang diperbaiki untuk menentukan rincian pekerjaan, da akan
menunjukkan cara untuk menentukan setiap perubahan jumlah besarnya
kontrak dan setiap perubahan dalam jangka waktu kontrak, jika ada.
c. Direksi Teknik akan menanda tangani dan membubuhi tanggal pada
otorisasi Pekerjaan Harian sebagai pemberian wewenang atau izin
kepada Kontaktoe untuk melanjutkan pekerjaan.

(2) Pelaksanaan Pekerjaan Harian

Operasi Pekerjaan Harian harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan-


ketentuan dari bab-bab yang terkait pada spesifikasi ini menentukan
penempatan bahan-bahan, finishing pekerjaan-pekerjaan, pengujian dari
mjutu pekerjaan, pemeliharaan pekerjaan serta perbaikan setiap pekerjaan
yang tidak memuaskan.

Dalam hal pekerjaan yang diperlukan harus dilaksanakan atas dasar


Pekerjaan Harian yang tidak ditentukan diamanapun pada spesifikasi in,
maka pekerjaan harus dilaksanakan sebagaimana diperintahkan dan
disetujui oleh Direksi Teknik.

(3) Claim (Tagihan) Pekerjaan Harian


a. Pada selesainya Pekerjaan Harian, Kontraktor harus menyerahkan daftar
perhitungan beserta data pendukung untuk mendukung setiap tagihan
pekerjaan harian atas dasar swakelola, ahan-bahan dan waktu termasuk
semua catatan harian yang disetujui oleh Direksi Teknik ditambah
keterangan tambahan seperti:
i. Nama Direksi Teknik yang memerintahkan bekerja, dan tanggal
perintah tersebut.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

ii. Tanggal dan waktu pekerjaan dilaksanakan beserta daftar tenaga


yang dipekerjakan.
iii. Ringkasan mengenai jam-jam kerja yang digunakan, untuk semua
tenaga kerja pada Pekerjaan Harian.
iv. Ringkasan mengenai jam-jam yang digunakan untuk semua
peralatan Konstruksi pada Pekerjaan Harian.
v. Apabila dapat dipakai, invoice dan tanda terima untuk setiap
material, produk atau jasa-jasa yang digunakan dalam pekerjaan
yang disahkan dengan Perintah Perubahan.
b. Konsultan akan memeriksa dan menyatakan bahwa tagihan Pekerjaan
Harian dari Kontraktor sebagai bagian dari permintaan pengajuan
Sertifikat Pembayaran Bulanan sesuai dengan artikel-artikel yang terkait
Persyaratan Umum Kontrak mengenai Sertifikasi (Pengesahan) dan
Pemabayaran.

1.9.4 Cara Pengukuran dan Pembayaran Pekerjaan Harian

(1) Pengukuran dan Pembayaran Bahan-Bahan


a. Material yang diukur untuk pembayaran harus jumlah bahan-ahan yang
sebenarnya dimasukkan pada Pekerjaan Harian yang dibuktikan dengan
tagihan (invoice) dari leveransi dan laporan-laporan Pekerjaan harian yang
telah disetujui.
b. Untuk material yang digunakan pada Pekerjaan Harian, pembayaran
haruslah sesuai harga netto yang dibayarkan oleh Kontraktor untuk
material yang dikirim ke lapangan, sebagaimana yang diperkuat dengan
surat tagihan dari levenasir yang mana harganya ditambah 15%.
Pembayaran semacam ini harus dianggap sebagai kompensasi penuh
untuk penyediaan material, termasuk harga-harga berikut ini:
i. Pengadaan dan pengiriman ke lapangan.
ii. Penerimaan di lapangan, pembongkaran, pemeriksaan, penyimpanan,
perlindungan dan penanganan secara umum.
iii. Yang terbuang
iv. Biaya-biaya administrasi dan akuntansi, dan semua biaya overhead
lainnya yang berhubungan.
v. Keuntungan
c. Pembayaran semua material yang dimasukkan dalam Pekejaan Harian
harus dibuat dari jumlah sementara yang dimasukkan untuk item
pembayaran Material untuk Pekerjaan Harian yang tercatat pada Daftar
Penawaran.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

(2) Pengukuran dan Pembayaran Tenaga Kerja


a. Pengukuran tenaga kerja untuk pembayaran di bawah Pekerjaan Harian
harus dibuat berdasar jam kerja sebenarnya yang dijamin pada Harga
Satuan untuk macam-macam kategori tenaga kerja yang dimasukkan
pada Daftar Penawaran, yang harga dan pembayarannya harus
merupakan kompensasi penuh untuk biaya-biaya berikut.
i. Upah tenaga kerja, pajak, bonus, asuransi, uang cuti, perumahan,
fasilitas kesejahteraan, biaya-biaya lainnya yang ditetapkan pada
Peraturan Tenaga Kerja di Indonesia : Pedoman untuk Investor
Asing (Perundang-undangan Tenaga Kerja di Indonesia), yang
diterbitkan oleh Biro Hukum Departemen Tenaga Kerja.
ii. Pemakaian dan pemeliharaan perkasas manual.
iii. Biaya transportasi ke dan dari lapangan pekerjaan yang harus
dilaksanakan.
iv. Semua biaya administrasi dan akuntansi yang berkaitan, pengawasan
(tidak termasuk mandor) dan semua biaya tambahan lainnya serta
biaya overhead yang diperlukan untuk mobilisasi tenaga kerja di lokasi
pekerjaan.
v. Keuntungan.

(3) Pengukuran
a. Pengukuran peralatan untuk pembayaran menurut dasar Pekerjaan
harian, baik yang disewa atau kepunyaan Kontraktor, harus dibuat
berdasarkan jam kerja sebenarnya yang sah dari peralatan pada Harga
Satuan untuk bermacam-macam kategori dari peralatan yang dimasukkan
pad Daftar Penawaran, yang harga dan pembayarannya akan merupakan
kompensasi enuh untuk biaya-baiay berikut ini:
i. Sopir, operator dan pembantu, yang harus termasuk semua biaya
yang ditunjukkan di atas untuk tenaga kerja.
ii. Penyimpanan bahan bakar dan kebutuhan-kebutuhan lainnya
iii. Overhauls, perbaikan dan penggantian.
iv. Waktu idle (tidak bekerja)dan waktu perjalanan di lapangan.
v. Biaya-biaya pendirian perusahaan, biaya-biaya akuntansi kantor pusat
dan kantor lapangan dan semua biaya overhead lainnya.
vi. Biaya pengangkutan ked an dari lapangan
vii. Keuntungan.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

KONTRAK NO : ____________________ TANGGAL :

NAMA KONTRAK : ____________________

CLAIM PEKERJAAN HARIAN : MATERIAL

TOTAL
ITEM HARGA
URAIAN SATUAN VOLUME HARGA
PEMBAYARAN SATUAN
Rp.
1.9.1 Material untuk
pekerjaan harian
(yang terdaftar
pada Daftar
Penawaran)
(1) ________
(2) ________
(3) ________
(4) ________
SUB TOTAL

Tambahan 15% atas biaya


(Bab 1.9.4 (1))
Total tagihan untuk
material

Saya menyatakan bahwa materialdi atas sudah dikirim ke lapangan dan


dmasukkan dalam Pekerjaan Harian

Ditanda tangani, Disahkan,

Kontraktor Direksi Teknik

Catatan : Tanda terima dan surat tagihan (invoice) terlampir


PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

KONTRAK NO : ____________________ TANGGAL :

NAMA KONTRAK : ____________________

CLAIM PEKERJAAN HARIAN : MATERIAL

TOTAL
ITEM HARGA
URAIAN SATUAN VOLUME HARGA
PEMBAYARAN SATUAN
Rp.
1.9.1 Daftar Tenaga Kerja
Kontraktor yang
dipekerjakan berdasarkan
Kontrak
(1) Mandor
(2) Tenaga Kerja Trampil
(3) Tenaga Kerja Tidak Trampil
(4) Tukang

Saya menyatakan bahwa materialdi atas sudah dikirim ke lapangan dan dmasukkan
dalam Pekerjaan Harian

Ditanda tangani, Disahkan,

Kontraktor Direksi Teknik


PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

KONTRAK NO : ____________________ TANGGAL :

NAMA KONTRAK : ____________________

CLAIM PEKERJAAN HARIAN : MATERIAL

TOTAL
ITEM HARGA
URAIAN SATUAN VOLUME HARGA
PEMBAYARAN SATUAN
Rp.
DIPINDAHKAN KE DEPAN

1.9.1 PERALATAN UNTUK PEKERJAAN


HARIAN

Jam
(1) Dump truck 3-4 m3 Jam
(2) Flat bed truck 3-4 ton Jam
(3) Water tanker 3.000 4.500 Ltr Jam
(4) Motor grader min 100 HP Jam
(5) Wheel loader 78 100 HP Jam
(6) Track loader 75 100 HP Jam
(7) Excavator 80 140 HP Jam
(8) Crane capacity 10 15 ton Jam
(9) Steel wheel roller 6-9 ton (unballasted) Jam
(10) Vibratory roller 5-8 ton (tanpapembeban) Jam
(11) Vibratory compactor 1.5 3.0 HP Jam
(12) Compressor 4.000 6.000/min Jam
Termasuk pipa-pipa dan perkakas manual
untuk semprot udara
(13) Sand-blasting equipment Jam
(14) Pressure-grouting equipment Jam
(15) Internal concrete vibrator Jam
(16) External concrete vibrator Jam
(17) Concrete mixer 0.3 0.6 m3 Jam
(18) Water pump 70 100 mm Jam

TOTAL HARGA UNTUKPERALATAN


YANG DIGUNAKAN PADA PEKERJAAN
HARIAN

Saya menyatakan bahwa materialdi atas sudah dikirim ke lapangan dan dmasukkan dalam
Pekerjaan Harian

Ditanda tangani, Disahkan,

Kontraktor Direksi Teknik


PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

BAB 2

DRAINASE
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

BAB 2 DRAINASE

BAB 2.1 UMUM

2.1.1 Uraian Pekerjaan Drainase

(1) Pekerjaan drainase jalan yang dimaksudkan disini akan terdiri


daripembangunan saluran tepi jalan dan jalan air, gorong-gorong serta
sarana drainase lainnya.
(2) Adalah satu persyaratan umum bahwa semua pekerjaan drainase tersebut
harus diselesaikan dan harus sudah berfungsi sebelum pelaksanaan struktur
perkerasan dan bahu jalan.

2.1.2 Ruang Lingkup Pekerjaan

(1) Pekerjaan yang dicakup di bawah Bab 2 Drainase akan meliputi saluran-
saluran, gorong-gorong dan sarana drainase lainnya yang dibangun sesuang
dengan Gambar Renacan dan Perencanaan,garis batas, ketinggian dan
ukuran-ukuran yang ditunjukkannya, dan mematuhi spesifikasi in.
(2) Saluran akan merupakan saluran tanah terbuka baik dilapisi ataupun tidak
dilapisi dengan pasangan batu atau beton, yang mana yang ditentukan
dalam kontrak.
(3) Gorong-gorong berupa gorong-gorong pipa bertulang atau gorong-gorong
pipa tidak bertulang, ataupun pipa baja bergelombang, yang mana yang
ditentukan dalam Kontrak.
(4) Sarana-sarana drainase lainnya meliputi dinding kepala, diding sayap, lapis
bantaran, lubang tangkapan, tanggul pemecah aliran, yang dibangun dengan
pasangan batu atau pekerjaan batu dengan siar, beton bertulang, beton tidak
bertulang, atau bronjong, yang mana yang ditentukan dalam Kontrak.

2.1.3 Kepatuhan Kepada Perintah/Petunjuk Direksi Teknik

(1) Volume dan mutu bahan yang harus digunakan untuk pekerjaan ini, dalam
segala hal harus disetujui oleh Direksi Teknik, sebelum digunakan.
Kualitas kecakapan kerja harus berdasarkan kepada pemeriksaan methoda
pelaksanaan dan persetujuan Direksi Teknik terhadap pekerjaan-pekerjaan
yang telah selesai.
(2) Direksi teknik dapat memberikan perintah tambahan untuk jenis saluran atau
gorong-gorong yang khas yang harus dibangun sesuai kontrak.
(3) Dalam hal suatu pekerjaan ditemukan cacat atau tidak sempurna atau
menyimpang dari peraturan dan syarat-syarat yang ditentukan, Kontraktor
harus melakukan suatu koreksi dan perbaikan-perbaikan sebagaimana
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

diperintahkan oleh Direksi Teknik,. Sebagian atau seluruh biaya yangterjadi


untuk memenuhi perintah Direksi teknik dan untuk melaksanakan perbaikan-
perbaikan yang diperlukan harus dipikul oleh Kontraktor.

BAB 2.2 REHABILITASI DRAINASE TEPI JALAN

2.2.1 Umum

Pekerjaan ini akan mencakup pembersihan tumbuh-tumbuhan dan pembungan


benda-benda dari saluran tepi jalan ataupun darikanal-kanal yang ada,
memotong kembali dan membentuk ulang saluran tanah yang ada untuk
periakan atau peningkatan kondisi asli, dan juga perbaikan saluran yang dilapisi
dalam hal saluran pasangan batu atau beton.

2.2.2 Bahan-Bahan
Bahan-bahan yang akan digunakan harus memenuhi persyaratan berikut dalam
spesifikasi ini:

Pasangan batu dengan pasir - Bab 8.1


Konstruksi Beton - Bab 7.1
Timbunan butiran yang dipilih - Bab 3.2
Tanah stabilisasi - Bab 3.4
Drainase Porous - Bab 2.7
Pasangan batu kosong (Rip-Rap) - Bab 8.2
Bronjong - Bab 8.3

2.2.3 Persyaratan Desain Drainase


Saluran tepi jalan harus direhabilitasi dan dipelihara memenuhi potonga
melintang dan standar yang ditunjukkan pada gambar-gambar standar atau
menurut petunjuk lain oleh Direksi teknik untuk mengikuti kondisi setempat.

Persyaratan desain minimum harus memenuhi ketentuan berikut

Lebar dasar saluran minimum 50 cm


Kedalaman minimum sampai dasar saluran di bawah permukaan
formasi perkerasan 50 cm
Kelandaian memanjang minimum 1200

2.2.4 Pelaksanaan Pekerjaan

(1) Saluran tanah

Semua sampah, tumbuh-tumbuhan, endapan dan bahan-bahan yang harus


disingkirkan, harus dibuang dari saluran tanah, termasuk dari saluran yang
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

memotong bahu jalan dan menyambung kepada lubang tangkapan atau


gorong-gorong, dan disingkirkan dari daerah kerja sehingga Direksi teknik
puas. Saluran tanah harus dipotong dan dirapihan mencapai profil yang
diperlukan serta ditingkatkan seperlunya, sampai elevasi dan profil akhir
yang harus diselesaikan sehingga memuaskan Direksi Teknik.

(2) Saluran-Saluran dilapisi

Saluran-saluran dilapisi yang dalam kondisi jelek atau rusak harus diperbaiki.
Pasangan batu atau beton yang pecah-pecah, rusak atau lepas harus
dipotong dan diganti dengan pasangan batu atau beton yang baru yang
dilaksanakan sesuai dengan Gambar Rencana dan menurut petunjuk Direksi
tekik. Pasangan baru harus dibangun menurut spesifikasi dalam Bab 2.4.
Spesifikasi ini dengan dibuatkan persyaratan untuk penyatuan pekerjaan
lama dan pekerjaan baru. Batu-batu dari pasangan lama hanya dapat dipakai
jika disetujui oleh Direksi Teknik.

Rongga di belakang/di bawah pasangan harus diisi denga urugan butiran


terpilih, dipadatkan sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Teknik, lubang
pelepasan yang abru harus dibuatkan seperti dan bilamana diminya oleh
Direksi Teknik.

(3) Perbaikan Kerusakan Saluran karena Gerusan

Kerusakan saluran karena gerusan atau erosi harus diperbaiki sebagai


berikut

i. Daerah rusak harus dipotong kembali sampai tanah dasar yang keras dan
pekerjaan perbaikan yang cocok dengan jenis saluran dilaksanakan
menurut petunjuk umum untuk rehabilitasi di atas
ii. Bagian-bagian saluran yang tergerus harus direkonstruksi mencapai
bentuk dan profil yang disetujui dan sesuai dengan perintah Direksi
Teknik, menggunakan cara-cara alternatif perbaikan sebagai berikut.
Pekerjaan stabilisasi tanah atau pembentukan ulang dengan
bahan-bahan berbutir
Pelapisan baru untuk saluran tersebut
Perbaikan denganpasangan batu kosong atau bronjong

Pekerjaan cetakan dan penunjangan dari kayu harus disediakan menurut


kebutuhan dan semua tanah-tanah serta bahan-bahan lain lebihan dibuang
dari tempat tersebut.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

2.2.5 Cara Pengukuran Pekerjaan

(1) Rehabilitasi drainase tepi jalan harus diukur dalam meter panjang saluran
tanah yang dibersihkan dan direhabilitasiyang disetujui oleh Direksi Teknik.
(2) Rehabilitasi saluran yang dilapisi harusdiukur dalam meter panjang saluran
dilapisi, dibersihkan, diperbaiki dan direhabilitasi sampai disetujui oleh
Direksi Teknik.
Semua pengukuran harus dilakukan di sepanjang sumbu saluran dan harus
disediakan untuk seluruh pekerjaan yang dilakukan bagi rehabilitasi kedua
sisi saluran. Tidak disediakan secara terpisah untuk setiap galian atau
urugan yang dilaksanakan, pekerjaan-pekerjaan ini akan dimasukkan dalam
item pembayaran untuk rehabilitasi atau ke dalam pekerjaan tambahan yang
dicatat dalam item (3) di bawah.
(3) Pekerjaan tambahan yang diperlukan untuk memperbaiki kerusakan saluran
karena gerusan atau erosi akan diukur dan dibayar di bawah bab lain
spesifikasi ini. Pekerjaan-pekerjaan tersebut akan dibatasi hanya sampai
item berikut, dan dalam kecocokan yang benar dengan perintah Direksi
Teknik dan akan mencakup semua galian dan urugan tambahan yang
diperlukan untuk meyelesaikan pekerjaan sehingga memuaskan Direksi
Teknik.
Pekerjaan stabilisasi tanah - item pembayaran 3.4.1
Bahan filler - item pembayaran 2.7.1
Pasangan batu kosong (Rip-rap) - item pembayaran 8.2.1
Bronjong - item pembayaran 8.3.1

2.2.6 Dasar Pembayaran

Volume-colume seperti yang diberikan di atas akan dibayar pada harga-harga


kontrak per satuan pengukuran untuk item-item pembayaran yang tercantum di
bawah. Harga-harga dan pemabayaran ini akan merupakan kompensasi penuh
untuk pelaksanaan semua pekerjaan termasuk pembersihan, pembuangan,
pembentukan kembali saluran dank anal-kanal sampai elevasi, garis dan profil
yang disetujui, beserta pemotongan dan perbaikanlapisan, pasangan-pasangan
dan timbunan rongga-rongga saluran, berikut penyediaan tenaga, bahan-bahan
dan peralatan yang diperlukan untuk pekerjaan rehabilitasi.

Nomor Item
URAIAN Satuan Pengukuran
Pembayaran
2.2.1 Rehabilitasi Saluran Tanah meter panjang

2.2.2 Rehabilitasi Saluran dilapisi meter panjang


PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

BAB 2.3 SALURAN TANAH BARU, TERBUKA

2.3.1 Umum

(1) Uraian

Pekerjaan ini terdiri dari pembangunan saluran tanah baru yang mencapai
garis, tingkat dan profil seperti yang ditunjukkan pada gambar atau di
lapangan.

Pekerjaan tersebut juga meliputi setiap pemindahan lokasi atau menjaga


selokan atau saluran irigasi yang terganggu selama pelaksanaan pekerjaan-
pekerjaan kontrak, memasang gebalan rumput pada dasar saluran untuk
mengurangi kecepatan air dan memperkecil erosi.

(2) Toleransi Ukuran


a. Alinyemen saluran yang jadi dan profil potongan melintang tidak boleh
berbeda dari yang ditentukan atau disetujui lebih dari 5 cm pada setiap titik.
b. Ketinggian terakhir pada dasar salurn tidak boleh berbeda lebih daei 2 cm
pada setiap titik, dan dasar saluran tersebut harus cukup halus serta rata
untuk menjamin aliran air yang bebas tanpa terjadi empangan pada waktu
aliran lambat.

2.3.2 Pelaksanaan Pekerjaan\

(1) Penyiapan Lapangan

Lokasi, panjang, arah dan kemiringan yang diperlukan dari saluran yang
harus digali, beserta dengan semua lubang tangkapan dan kuala yang
bersangkutan, harus dipatok di lapangan oleh kontraktor, sesuai dengan
gambar-gambar kontrak serta petunjuk-petunjuk lainnya yang diberikan oleh
Direksi Teknik.

(2) Galian Saluran


a. Galian untuk saluran, termasuk pembentukan, peningkatan dan perapihan
tebing samping harus dilaksanakan sesuai dengan gambar-gambar
kontrak atau seperti petunjuk yang lain divberikan oleh Direksi teknik di
lapangan.
b. Semua bahan-bahan dari galian harus dipindahkan dari lapangan ke
tempat pembuangan yang disetujui oleh Direksi Teknik. Garis dan profil
akhir saluran harus diselesaikan sampai disetujui oleh Direksi teknik serta
setiap penyesuaian atau setiap perbaikan pekerjaan untuk embetulkan
kerusakan-kerusakan atau penyimpangan-penyimpangan harus
dilaksanakan sesuai dengan perintah Direksi Teknik.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

(3) Jalan Air yang Ada


a. Kali kecil ataukanal asli di sekitar tempat kerja kontrak ini tidak boleh
diganggu tanpa mendapat persetujuan dari Direksi Teknik.
b. Bahan-bahan yang mengendap di dalam kali atau daerah kanal sebagai
hasil dari pekerjaan-pekerjaan drainase harus disingkirkan bila pekerjaan
tersebut telah diselesaikan atau pada waktu seperti yang diminta oleh
Direksi Teknik.
c. Bila jalan air yang ada harusdipindahkan dikarenakan pelaksanaan
pekerjaan dalam kontrak, alinyemen baru jalan air tersebut harus
memelihara kemiringan dasar dan profil yang ada, terkecuali dimintakan
lain oleh Direksi Teknik.

2.3.3 Cara Pengukuran Pekerjaan

a. Galian saluran tanah harus diukur untuk pembayaran dalam meter kubik sebagai
volume tanah yang sebenarnya disingkirkan dan diakui oleh Direksi Teknik,
yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan drainase.
b. Kelebihan galian dari yang ditunjukkan dalam gambar atau dari yang
diperintahkan oleh Direksi Teknik, tidak boleh diukur atau dibayar.
c. Bila ditemukan/digali batu-batu (seperti dinyatakan dalam Bab 3.1.1 (2))., batu
tersebut harus diukur dan dibayar sebagai sebagai Galian batu di bawah item
pembayaran 3.1.2 spesifikasi ini.

2.3.4 Dasar Pembayaran

Volume-volume yang diberikan seperti di atas akan diabayar atas Harga Kontrak
per satuan pengukuran bagi item pembayaran yang tercantum di bawah.

Harga dan pembayaran tersebut merupakan kompensasi penuh untuk


melaksanakan semua pekerjaan-pekerjaan kontrak termasuk pembersihan, galian,
pembentukan kembali dan penyelesaian saluran tanah serta kanal-kanal
mencapai tingkat, gari dan profil akhir.

Nomor Item
Pembayaran URAIAN Satuan Pengukuran
2.3.1 Rehabilitasi Saluran Tanah
meter kubik
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

BAB 2.4 SALURAN DILAPISI

2.4.1 Umum

(1) Uraian

Pekerjaan ini terdiri dari membangun saluran baru atau rekonstruksi saluran
yang ada dan memberikan satu lapisan pasangan batu sebagaimana
ditunjukkan dalam gambar-gambar atau seperti yang diperintahkan oleh
Direksi Teknik di lapangan.

Pekerjaan tersebut juga termasuk setiap pemindahan atau penjagaan aliran


air, kanal irigasi atau jalan air yang ada, yang terganggu selama
pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan kontrak.

(2) Toleransi Ukuran


a. Ketinggian final dasar saluran tidak boleh berbeda lebih dari 1 cm dari
yang ditentutakan pada setiap titik dan harus cukup halus serta bentuknya
rata untuk menjamin aliran air yang bebas.
b. Alinyemen aliran dan profil potongan melintang akhir (final) tidak boleh
berbeda lebih dari 5 cm dari yang ditentukan pada setiap titik.
c. Permukaan masing-masing batu muka pasangan batu pelapisan tidak
boleh berbeda lebih dari 3 cm dari permukaan normal.
d. Ketebalan pasangan batu halus seperti yang ditunjukkan pada gambar
standard an tidak boleh kurang dari 20 cm, terkecuali dinyatakan lain
secara tertulis.

(3) Penjadwalan Pekerjaan

Selokan mula-mula harus dibentuk lebih kecil dari penampang melintang


yang direncanakan. Pembentukan akhir untuk persiapan pembuatan lapisan
serta perbaikan kerusakan yang mungkin terjadi selama pelaksanaan, baru
dikerjakan sesudah tempat-tempat sambungan dan elevasinya sudah
disiapkan.

(4) Contoh-Contoh Bahan

Contoh-contoh bahan yang digunakan, termasuk semen, pasir dan batu


untuk pekerjaan pasangan batu, harus diperiksa dan disetujui Direksi Teknik,
sebelum pekerjaan dimulai.

(5) Perbaikan Pekerjaan yang Tidak Memuaskan

Setiap bagian pekerjaan yang menunjukkan ketidakteraturan atau cacat-


cacat dikarenakan jeleknya penanganan atau gagalnya kontraktor untuk
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

mematuhi persyaratan spesifikasi, harus diperbaiki oleh Kontraktor sampai


memuaskan Direksi Teknik tanpa ada biaya tambahan.

2.4.2 Bahan-Bahan

(1) Urugan kembali dengan bahan terpilih untuk pelapisan saluran

Urugan kembali yang digunakan sebagai bahan dasar dan perbaikan bagian
di bawah pelapisan pasangan batu harus dari pasir, kerikil berpasir atau
bahan berbutir bergradasi baik yang disetujui lainnya dengan ukuran batu
maksimum 20 mm, semuanya seperti ditentukan pada Bab 2.7

(2) Bahan filler

Bahan-bahan untuk membuat lapisan dasar menyerap air, kantong-kantong


filler ataupun lubang pelepasan pada pelapisan pekerjaan batu yang disetujui
harus keras, awet, bahan berbutir yang memenuhi persyaratan gradasi yang
ditentukan pada Bab 2.7

(3) Pasangan batu dengan Siar


a. Batu
Batu tersebut harus batu lapangan dengan permukaan kasar ataubatu
sumber (quarry) kasar yang keras dalam kondisi baik, awet dan mutunya
padat, tahan terhadap daya perusakan air, serta sepenuhnya cocok
digunakan sebagai pasangan batu, semuanya seperti ditentukan pada
Bab 8.1 spesifikasi ini untuk pasangan batu dengan siar.
b. Adonan (Mortar)
Adonan terdiri dari semen Portland (P.C.) dicampur dengan agregat halus
atau pasir kasar dalam satu perbandingan 1 semen dan 3 agregat/pasir,
terkecuali lain oleh Direksi Teknik.
c. Kelas beton K125
Bila diperlukan beton yang digunakan untuk dasar dari pasangan batu
harus dari kelas K125 yang sesuai dengan spesifikasi bab 7.1 spesifikasi
ini.

2.4.3 Pelaksanaan Pekerjaan

(1) Penyiapan Lapangan


Lokasi, panjang, garis batas dan kemiringan yang diperlukan dari semua
saluran-saluran yang harus digali dan dilapisi, bersama-sama dengan semua
lubang tangkapan dan kuala yangberkaitan, harus dipatok di lapangan oleh
Kontraktor sesuai dengan rincian pelaksanaan yang ditunjukkan pada
Gambar Rencana atau seperti yang diperintahkan oleh Direksi teknik, serta
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

harus diperiksa dan mendapat persetujuan Direksi Teknik sebelum


pelaksanaan pekerjaan di mulai.

(2) Pelaksanaan Pelapisan pasangan Batu dengan Siar


a. Persiapan Pondasi
i. Ketinggian permukaan pondasi untuk saluran harus dipasang dan digali
sampai kedalaman yang ditunjukkan pada Gambar rencana atau seperti
diperintahkan oleh Direksi Teknik di lapangan untuk menjamin bahwa satu
permukaan yang baik ddan memadai dapat diperoleh.
ii. Bila diperintahkan demikian oleh Direksi Teknik bahan lantai kerja yang
disetujui harus diletakkan dan diapatkan di tempatnya.
iii. Kecuali ditentukan lain atau ditunjukkan pada Gambar Rencana, dasar
pondfasi untuk pelapisan pekerjaan batu harus nirmal )tegak lurus) atau
dipotong bertangga tegak lurus kepada permukaan dinding.
iv. Bila ditunjukkan pada Gambar Rencana, atau diminta lain oleh Direksi
Teknik, satu pondasi atau alas pondasi dari beton akan diperlukan.
b. Pemasangan dan Penyelesaian Akhir Pekerjaan Batu dengan Siar
Setelah disetujui penyiapan pekerjaan p[ondasi, pelapisan pasangan batu
dengan siar akan dibangun sebagaimana ditentuakn dalam Bab 8.1
spesifikasi ini.
c. Pemasangan Urugan
i. Urugan kembali dengan bahan terpilih sebagaimana ditentukan harus
dipasang dan dipadatkan dalam lapisan yang merata di bawah pasangan
batu atau dimana saja sebagaimana diperintahkan oleh dan mendapat
persetujuan Direksi Teknik.
ii. Bahan alas filler sebagaimana ditentukan harus dipasang dan dipadatkan
dalam lapisan tidak melebihi 15 cm tebvalnya dan sesuai dengan gambar
rencana atau menurut perintah Direksi Teknik.

(3) Penyiapan Jalan Air yang Ada


a. Aliran atau kanal asli di sekitar tempat kerja kontrak ini tidak boleh diganggu
tanpa mendapat persetujuan dari Direksi teknik
b. Jika suatu galian dalam dasar aliran diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan
yang baik, Kontraktor pada selesainya pekerjaan drainase harus mengurug
kembali dan memperbaiki galian tersebut.
c. Bahan-bahan yang mengendap dalam daerah aliran tersebut dari pondasi
atau galian-galian lainnya harus disingkirkan sepenuhnya pada penyelesaian
pembangunan.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

(4) Relokasi Jalan Air


Bila stabilisasi tanggul atau pekerjaan-pekerjaan permanen lainnya
diperlukan untuk kontrak tersebut menyebabkan penyumbatan yang tidak
dapat dihindarkan atau secara sebagian penyumbat suatu jalan air yang ada,
maka jalan air tersebut harus direlokasi (dipindahkan) untuk menjamin
alirantidak terhalangi lewat pekerjaan tersebut pada semua tingkatan aliran
yang biasa. Relokasi jalan air tersebut akan memelihara kemiringan dasar
kanal yang ada dan harus diarahkan sedemikian sehingga tidak terjadi
gerusan terhadap pekerjaan itu atau terhadap hak milik di sekitarnya.

2.4.4 Cara Pengukuran dan Pembayaran

Tidak ada persyaratan yang dibuat untuk pengukuran dan pembayaran saluran
dilapisi di bawah bab ini. Akan tetapi pekerjaan konstruksi untuk saluran dilapisi
harus diukur dan dibayar di bawah item pembayaran dari spesifikasi-spesifikasi
yang terpisah berikut ini.

(1) Galian untuk pembangunan saluran baru dilapisi atau rekonstruksi saluran
yang ada harus diukur dalam meter kubik dan dibayar sebagai Galian
Drainase di bawah item pembayaran 2.3.1 spesifikasi ini.
(2) Pelapisan pasangan batu untuk saluran-saluran harus diukur dalam meter
kubik dan dibayar sebagai pasangan batu dengan siar di bawah item
pembayaran 8.1.1 spesifikasi ini
(3) Bahan-bahan urugan kembali yang porous atau bahan dasar filler harus
diukur dalam meter kubik dan dibayar sebagai bahan drainase porous di
bawah item pembayaran 2.7.1 spesifikasi ini.
(4) Beton dalam pondasi atau penoang pondasi harus diukur dalam meter kubik
dan dibayar sebagai beton tidak bertulang di bawah item pembayaran 7.1.2
spesifikasi ini.

BAB 2.5 GORONG-GORONG PIPA BETON

2.5.1 Umum

(1) Uraian

Pekerjaan ini terdiri dari perbaikan, perpanjangan, penggantian atau


pembangunan baru gorong-gorong pipa beton bertuilang atau tanpa tulang,
termasuk tembok kepala, bangunan inlet (masuk) dan outlet (pelepasan) serta
pekerjaan-pekerjaan pelindung yang berkaitan dengan gerusan, semuanya
sesuai dengan Gambar Rencana dan spesidikasi ini dan lokasnya ditunjuk oleh
Direksi Teknik.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

(2) Pengaturan (pematokan) di lapangan dan lokasi pekerjaan


a. Gorong-gorong baru yang ditempatkan di lapangan ditunjukkan pada
gambar-gambar kontrak. Lokasi dan ketinggian final akan diputuskan oleh
Direksi Teknik di lapangan dan Kontraktor harus melakukan suatu pekerjaan
survai tambahan sebagaimana diminta oleh Direksi Teknik, untuk
menentukan persyaratan gorong-gorong mengenai ketinggian dan garis
batas.
b. Pekerjaan perbaikan gorong-gorong harus dilaksanakan sesuai dengan
jadwal pekerjaan yang ditunjukkan dalam dokumen kontrak dan
sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Teknik, termasuk suatu pekerjaan
perbaikan tambahan yang mungkin ditemukan di lapangan selama pekerjaan
rehabilitasi drainase.

(3) Penjadwalan pekerjaan


a. Tidak ada pekerjaan gorong-gorong boleh dimulai sebelum diberikan
persetujuan oleh Direksi Teknik mengenai lingkup pekerjaan.
b. Tidak ada pekerjaan perkerasan atau bahu jalan akan dilaksanakan sampai
seluruh pekerjaan gorong-gorong untuk bagian proyek tersebut telah
diselesaikan.

(4) Contoh-Contoh Bahan


a. Contoh-contoh bahan yang digunakan, termasuk agregat beton, pasir beton,
penulangan beton, cetakan pipa beton,harus diperiksa dan mendapat
persetujuan dari Direksi Teknik sebelum pekerjaan dimulai
b. Contoh pipa beton bertulang harus diserahkan untuk pemeriksaan dan
pengujian sebagaimana diminta oleh Direksi Teknik dan harus diterima
sampai memuaskan sebelum digunakan di lapangan.

2.5.2 Bahan-Bahan

(1) Beton

Beton yang digunakan setiap pekerjaan structural yang diuraikan dalam bagian
ini harus memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam Bab 7.1 spesifikasi ini
untuk kolom-kolom beton berikut :

Kelas K225 : Struktur dan pipa gorong-gorong beton bertulang


Kelas K175 : Pelat pondasi dan dinding-dinding
Kelas KI125 : Pondasi beton massa dan pembungkus pipa gorong-gorong

(2) Baja Tulangan untuk Beton


PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

Semua baja tulangan yang digunakan dalam pekerjaan harus memenuhi persyaratan
yang ditentukan dalam Bab 7.2 spesifikasi ini.

(3) Pipa Beton

a. Semua pipa-pipa beton harus pracetak dan didapat dari satu pabrik yang disetujui,
terkecuali diperintahkan lain oleh Direksi Teknik untuk pencetakan di lapangan.

b. Pipa beton bertulang secara umum harus memenuhi spesifikasi AASHTO No. M170 dan
disesuaikan dengan gambar-gambar standar.

c. Pipa-pipa beton takbertulang secara umum harus memenuhi spesifikasi AASHTO


No.M86 (Tabel 1A) dan disesuaikan dengan gambar-gambar standar. Pipa beton tak
bertulang harus dibatasi sampai satu diameter dalam maksimum 80 cm.

d. Atas dasar persetujuan Direksi Teknik, kontraktor dapat mencetak pipa beton tidak
bertulang di lapangan, yang kontruksinya harus sepenuhnya sesuai dengan spesifikasi
ini serta dengan cetakan pipa dari baja yang harus diperiksa dan disetujui oleh Direksi
Teknik sebelum digunakan.

(4) Pasangan Batu.

Bahan-bahan pasangan batu yang digunakan untuk dinding dan kepala gorong-gorong
serta struktur tumpuan beban harus memenuhi persyaratan umum untuk pasangan batu
Bab 7.4 spesifikasi ini.

Kualitas batu harus mendapat persetujuan Direksi Teknis sebelum diguanakan di


lapangan.

(5) Bahan Alas (Dasar)

Bahan-bahan berbutir untuk alas atau untuk mengurug kembali gorong-gorong pipa dan,
struktur lainnya terdiri dari, kerikil dan pasir bergradasi yang memenuhi persyaratan Bab
2.7 spesifikasi ini.

(6) Urugan kembali

Bahan timbunan yang digunakan untuk mengurug kembali disekeliling pipa dan di
belakang dinding kepala harus memenuhi persyaratan Bab 3.3 urugan dari spesifikasi
ini.

2.5.3 Pelaksanaan Pekerjaan

(1) Penyiapan lapangan

a. Galian dan penyiapan parit-parit serta pondasi untuk gorong-gorong pipa dan dinding
kepala harus dilaksanakan sesuai dengan persyaratan dalam Bab 3.1. Galian dan
persyaratan-persyaratan selanjutnya yang diberikan dalam spesifikasi ini.

b. Bahan bahan alas (dasar) untuk pipa gorong-gorong harus ditempatkan sesuai dengan
persyaratan Bab 2.7

(2) Pemasangan Pipa Gorong- Gorong


PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

a. Pipa gorong-gorong tersebut harus diletakkan secara hati-hati, dengan ujung alur di
bagian yang tinggi dan ujung lidah sepenuhnya masuk ke dalam alur yang bersangkutan
dan tepat dengan garis dan kemiringan yang diperlukan.

b. Sebelum pipa bagian berikutnya diletakkan, separuh bagian lidah bawah masing-masing
bagian berikutnya harus diplester dipermukaan bagian dalam dengan adukan semen,
dengan ketebalan yang cukup untuk menyatukan permukaan dalam pipayang
berbalasan tepat dan rata. Pada saat yang sama separuh bagian atas lidah dari pipa
berikutnya harus diplester sama dengan adukan.

c. Setelah pipa tersebut diletakkan, sambungan yang masih tersisa harus didisi dengan
adukan dan adukan tambahan yang cukup harus digunakan sehingga rongga
sekelilingnya terisi penuh. Bagian dalam sambungan harus disapu dan diselesaikan
halus. Adukan pada bagian luar harus tetap basah selama 2 hari sampai Direksi Teknik
mengijinkan pelaksanaan urugan kembali.

(3) Pengurugan dan Pemadatan

a. Pengurugan kembali dan pemadatan di sekeliling dan di atas gorong-gorong harus


dilaksanakan sebagaimana ditentukan secara rinci dalam Bab 3.2 urugan
menggunakan bahan bahan yang terpilih yang disetujui oleh Direksi Teknik. Bahan-
bahan tersebut harus terdiri dari tanah atau kerikil bebas dari gumpalan lempung dan
benda tumbuh-tumbuhan serta batu-batu yang tidak tertahan pada saringan 25 mm.

b. Urugan tersebut diberikan dengan ketebalan minimum 0,30 m di atas puncak pipa dan
satu jarak minimum satu setengah diameter dan sumbu pipa pada kedua sisi kecuali
dalam parit. Perhatian khusu harus diberikan untuk urugan kembali di bawah pinggang
pipa dipadatkan dengan baik.

c. Alat pemadatan tanah yang berat tidak boleh beroperasi lebih dekat dari 1,50 meter
kepada gorong-gorong, sampai gorong-gorong tersebut telah selesai ditutup setebal
paling sedikit 60 cm di aatas puncak pipa.

Alat pemadatan ringan boleh dioperasikan di dalam batas-batas di atas, asalkan urugan
kembali tersebut telah dipasang dan dipadatkan dan memberikan penutup minimum 30 cm
di atas puncak pipa. Walaupun demikian kontraktor harus bertanggung jawab untuk
memperbaiki setiap kerusakan akibat dari operasi tersebut.

(4) Beton Pembungkus Pipa

Pipa- pipa harus dibungkus dengan beton yang sesuai dengan rincian yang diberi pada
gambar rencana atau seperti diperintahkan oleh Direksi Teknik. Jika ketebalan penutup
yang harus dipasang lebih besar dari ketebalan maksimum atau kurang dari ketebalan
minimum yang ditunjukkan pada gambar atau dalam spesifikasi pabrik pipa untuk ukuran
dan kelas pipa yang khusus.

(5) Dinding Kepala Gorong-Gorong dan Bangunan Pelengkap

Kecuali secara lain ditunjukkan pada gambar, bangunan lapis lindung pelimpah dan
bangunan pelindung gerusan yang berkaitan dengan bangunan gorong-gorong yang tidak
diperlukan untuk memikul beban structural yang berat harus di bangun dengan pasangan
batu dengan siar (Bab 8.1)

Kepala gorong-gorong dan dinding sayap harus dibangun menggunakan pasangan batu
plesteran (Bab 7.4)

(6) Memperpanjang Gorong-gorong yang Ada


PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

Biala perpanjangan gorong-gorong yang ada memerlukan pemindahan dinding kepala,


dinding sayap atau bangunan bangunan lama lainnya yang berkaitan, bagian bagian
tersebut harus dibongkar dengan hati-hati dengan satu cara untuk menghindari kerusakan
kerusakan pipa atau elemen elemen structural yang harus tinggal. Jika terjadi kerusakan
pada gorong-gorong yang direncanakan untuk tetap ada, bagian-bagian yang rusak harus
diganti atas beban biaya kontraktor.

2.5.4 Cara Pengukuran Pekerjaan.

(1) Volume-volume yang harus diukur untuk pembayaran bagi gorong-gorong pipa beton
berupa jumlah meter panjang gorong-gorong pipa baru yang dipasang atau
diperpanjang diukur dari ujung ke ujung pipa.

(2) Dinding kepala dan dinding sayap serta struktur lainnya yang berkaitan yang dibangun
dengan pasangan batu atau beton akan diukur untuk pembayaran dalam meter kubik
pekerjaan yang selesai dan diterima sesuai dengan item-item pembayaran secara
terpisah yang dimasukkan dalam spesifikasi ini.

(3) Penyediaan untuk galian dalam batu akan dibuatkan di bawah item pembayaran
terpisah nomor 3.1.2. Akan tetapi tidak ada pengukuran terpisah untuk pembayaran
akan dibuat untuk setiap galian lain atau pekerjaan urugan lain. Biaya pekerjaan
tersebut harus dianggap sebagai sudah dimasukkan dalam pelaksanaan pekerjaan
gorong-gorong pipa beton dan harus sudah dimasukkan dalam harga penawaran untuk
gorong-gorong dan untuk berbagai bahan bahan pembangunan yang digunakan.

(4) Penyediaan untuk bahan alas berbutir terpilih atau bahan filter harus dibuat dibawah
item pembayaran yang terpisah nomor 2.7.1

2.6.5 Dasar Pembayaran

Volume gorong-gorong pipa yang diukur sebagaimana diberikan di atas , akan di bayar
pada Harga Kontrak per satuan pengukuran yang bersangkutan bagi masing-masing
item pembayaran yang tercantum di bawah dan ditunjukkan dalam Daftar Penawaran.

Harga-harga dan pembayaran ini akan merupakan kompensasi penuh bagi pengadaan
dan pemasangansemua bahan-bahan dan untuk galian serta pembuangan bahan-
bahan, pemadatan, pekerjaan acuan, urugan kembali, lubang pelepasan dan semua
biaya-biaya lainnya yang diperlukan untuk penyelesaian pekerjaan yang baik yang
diuraikan dalam spesifikasi ini.

Nomor Item URAIAN Satuan


Pembayaran Pengukuran
2.5.1 GORONG-GORONG PIPA BETON BERTULANG
(1) Diameter dalam, 60 cm Meter panjang
(2) Diameter dalam, 80 cm Meter panjang
(3) Diameter dalam, 100 cm Meter panjang
(4) Diameter dalam, 120 cm Meter panjang
2.5.2 GORONG-GORONG PIPA BETON TANPA TULANG
(1) Diameter dalam, 60 cm
(2) Diameter dalam, 80 cm
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

BAB 3

PEKERJAAN TANAH

BAB 3
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

PEKERJAAN TANAH

BAB 3.1 GALIAN

3.1.1. Umum

1) Uraian

a. Pekerjaan ini terdiri dari penggalian, penanganan, pembuangan atau penumpukan tanah
atau batu atau bahan-bahan lainnya dari jalan kendaraan dan sekitarnya yang
diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan kontrak yang memuaskan.

b. Pekerjaan ini biasanya diperlukan untuk pembuatan jalan air dan selokan selokan.
Pembuatan parit atau pondasi pipa, gorong-gorong, saluran-saluran atau bangunan
bangunan lainnya. Untuk pembuangan bahan-bahan yang tidak cocok dan tanah selimut
(bagian atas). Untuk pekerjaan stabilisasi dan pembuangan tanah longsoran, untuk
galian bahan konstruksi atau pun pembuangan bahan-bahan buangan dan pada
umumnya pembentukan kembali daerah jalan, sesuai dengan spesifikasi ini dan dalam
pemenuhan yang sangat bertanggung jawab terhadap garis batas, kelandaian dan
potongan melintang yang ditunjukkan pada gambar rencana atau seperti diperintahkan
oleh Direksi Teknik.

c. Terkecuali untuk tujuan pembayaran persyaratan bab ini berlaku untuk semua pekerjaan
galian yang dilaksanankan dalam hubungan dengan kontrak, termasuk pekerjaan-
pekerjaan yang dilaksanakan dalam bab bab lain dan semua galian diklasifikasikan
dalam satu atau dua kategori:

(i) Galian Biasa

(ii) Galian Batu

2) Definisi

a. Galian batu terdiri dari penggalian batu batu besar dengan volume setengah meter
kubik, atau lebih besar atau macam-macam bahan padat yang menyatu dan keras yang
dalam pendapat direksi teknis tidak praktis untuk digali tanpa menggunakan
peralatanpneumatik, bor atau peledak. Ini tidak termasuk bahan batuan yang dalam
pendapat direksi dapat dibuat lepas dan dipecah-pecah oleh penggaruk hidrolis yang
ditarik atau bulldozer.

b. Semua penggalian lain akan dianggap sebagai galian biasa

3) Toleransi Ukuran

Garis batas dan formasi akhir setelah penggalian tidak boleh berbeda dari yang ditentukan
lebih besar 2 cm pada setiap titik. Pekerjaan yang tidak memenuhi toleransi ini harus
diperbaiki sehingga memuaskan Direksi Teknik sesuai dengan Subbab 3.1.1 (8)

4) Pemeriksaan di Lapangan

Untuk setiap pekerjaan galian yang di bayar di bawah bab ini, ketinggian dan garis
batasnya harus disetujui oleh Direksi Teknis sebelum kontraktor memulai pekerjaan,

Sesudah masing-masing penggalian untuk lapis tanah dasar, formasi atau pondasi
dipadatkan. Kontrkator harus memberikan hal tersebut kepada direksi Teknik, dan tidak
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

ada bahan alas dasar atau bahan lainnya boleh dipasang sampai direksi teknis telah
menyetujui kedalaman penggalian dan kualitas serta kekerasan bahan pondasi.

5) Penjadwalan Pekerjaan

Pembuatan parit atau penggalian lainnya memotong jalan kendaraan harus dilaksanakan
dengan cara menggunakan pelaksanaan setengah lebar atau secara lain diadakan
perlindungan sehingga jalan tersebut dijaga tetap terbuka untuk lalu linjtas pada setiap
waktu.

Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi Teknik gambarrincian semua bangunan


sementara yang diusulkan untuk digunakan, eperti penyanggan, penguatan, cofferdam,
dinding pemutus aliran rembesan (cut off) dan bangunan untuk pembelokan sementara
aliran sungai serta harus mendapatkan persetujuan Direksi Teknik atas gambar-gambar,
sebelum melakukan pekerjaan galian yang akan dilindungi oleh bangunan bangunan yang
diusulkan tersebut.

6) Penggunaan dan Pembuangan Bahan-bahan Galian

Semua bahan-bahan yang cocok yang digali di dalam batas batas dan lingkup kerja
proyek, dimana mungkin akan digunakan dengan cara yang paling efektif, untuk
pembuatan formasi badan jalan atau untuk urugan kembali.

Bahan-bahan galian yang berisikan tanah-tanah sangat organis, gambut, bentukan akar
atau barang-barang tumbuhan yang banyak, dan juga tanah yang mudah mengembang
yang menurut pendapat direksi teknis akan menghalangi pemadatan bahan lapisan di
atasnya atau dapat menimbulkan suatu penurunan yang tidak dikehendaki atau
kehancuran akan diklasifikasikan sebagai tidak cocok digunakan sebagai urugan dalam
pekerjaan permanen.

Setiap bahan galian yang melebihi kebutuhan untuk timbunan, atau setiap bahan yang
tidak disetujui Direksi Teknis menjadi bahan urugan yang cocok, harus dibuang dan
diratakan dalam lapisan-lapisan tipis oleh Kontraktor di luar daerah milik jalan seperti yang
diperintahkan oleh Direksi Teknis.

Kontraktor akan bertanggung jawab untuk semua penyelenggaraan dan biaya-biaya bagi
pembuangan bahan-bahan lebihan atau bahan tidak cocok, termasuk pengangkutannya
dan mendapatkan izin dari pemilik atau penyewa lahan dimana buangan tersebut
ditempatkan.

7) Pengamanan Pekerjaan Galian

Selama pekerjaan penggalian, kemiringan galian yang stabil yang mampu menyangga
bangunan-bangunan, struktur atau mesin-mesin disekitarnya harus dijaga sepenuhnya.
Serta harus dipasang penyangga dan penguat yang memadai bila permukaan galian yang
tidak ditahan dengan cara lain dapat menjadi tidak stabil. Bila diperlukan, kontraktor harus
menopang struktur struktur disekitarnya yang mungkin menjadi tidak stabil atau menjadi
berbahaya oleh pekerjaan galian.

Alat berat untuk pemindahan tanah, pemadatan atau maksud maksud semacam tidak
diijinkan berdiri atau beroperasi lebih dekat dari 1,5 meter dari ujung parit terbuka atau
galian pondasi, terkecuali pipa-pipa atau struktur telah selesai dipasang dan ditutup dengan
paling sedikit 60 cm urugan dipadatkan.

Bendungan sementara, dinding pemotong aliran rembesan (cut off) atau sarana-sarana lain
yang mengeluarkan air dari galian harus didesain secara baik dan cukup kuat untuk
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

menjamin tidak terjadi roboh mendadak, dimungkinkan mampu mengalirkan secara cepat
bahaya banjir pada struktur.

Bilamana kontraktor akan menggunakan bahan peledak yang diperlukan untuk penggalian
batu, bahan peledak harus disimpan, ditangani dan digunakan dengan pengamanan yang
paling tinggidan sesuai dengan peraturan hukum pemerintah. Kontraktor harus
bertanggung jawab untuk mencegah setiap penggunaan peledak yang tidak pada
tempatnya, harus menjamin bahaya penanganan peledak tersebut dipercayakan kepada
orang yang berpengalaman dan bertanggung jawab.

Semua galian terbuka harus dipasang penghalang yang memadai untuk menghindari
tenaga kerja atau lainnya jatuh dengan tidak sengaja ke dalam galian dan setiap galian
terbuka di dalam daerah badan jalan atau bahu jalan, sebagai tambahan harus diberi
marka/tanda peringatan pada malam hari dengan drum di cat putih (atau semacamnya)
dengan lampu merah sehingga memuaskan Direksi Teknik.

Kontraktor harus bertanggung jawab untuk mengadakan perlindungan bagi setiap pipa
bawah tanah yang berfungsi, kabel-kabel, konduit atau struktur lainnya di bawah
permukaan yang ditemukan dan harus bertanggung jawab untuk biaya perbaikan setiap
kerusakan yang disebabkan oleh operasinya.

8) Perbaikan Penggalian yang Tidak Memuaskan

Pekerjaan galian yang tidak memenuhi kriteria toleransi yang diberikan dalam Sub bab
3.1.1 (3) diperbaiki oleh Kontraktor sebagai berikut:

Bahan-bahan lebihan (karena penggalian yang tidak efisien) harus dibuang dengan galian
berikutnya.

Daerah yang terlanjur digali, atau daerah dimana telah bercerai berai atau berjatuhan,
harus diurug kembali dengan urugan terpilih atau bahan pondasi bawah / pondasi atas
yang mana yang dapat diterapkan sehingga memuaskan direktur teknik.

3.1.2 Pelaksanaan Pekerjaan

(1) Prosedur Umum

Pekerjaan galian harus dilaksanakan dengan sekecil mungkin terjadi gangguan terhadap
bahan-bahan di bawah dan diluar batas galian yang ditentukan sebelumnya.

Jika bahan yang terdapat pada permukaan garis formasi atau tanah dasar atau pondasi
adalah lepas-lepas atau lunak secara lain tidak cocok menurut pendapat Direksi Teknik,
bahan itu secara keseluruhan harus dipadatkan atau dibuang seluruhnya dan diganti
dengan urugan yang cocok sepeerti diperintahkan Direksi Teknik.

Dimana batu, lapisan keras atau bahan tidak dapat dihancurkan lainnya ditemukan berada
di atas garis formasi untuk saluran yang dilapisi atau pada ketinggian permukaan untuk
perkerasan dan bahu jalan, atau di atas bagian dasar parit pipa atau galian pondasi
struktur, bahan tersebut harus digali terus sedalam 20 cm sampai satu permukaan yang
merata dan halus. Tidak ada runcingan batu akan ditinggalkan menonjol dari permukaan
dan semua bahan-bahan yang lepas-lepas harus dibuang. Profil galian yang telah
ditetapkan harus dikembalikan dengan pengurugan kembali dan dipadatkan dengan bahan
pilihan yang disetujui oleh Direksi Teknik.

Setiap bahan bahan diatas harus disingkirkan dari tebing yang tidak stabil sebelum
penggalian dan talud tebing harus dipotong menurut sudut rencana talud.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

Untuk tebing yang tinggi harus dibuatkan berm pada setiap ketinggian tebing 5,0 m yang
sesuai dengan gambar standar.

Untuk perlindungan tebing terhadap erosi harus dibuatkan saluran cut off(penutup aliran
rembesan) dan saluran pada kaki tebing sebagaimana ditunjukkan pada gambar rencana
atau sebagaimana diperintahkan oleh Direksi di lapangan. Daerah yang baru selesai digali
secepatnya harus dilindungi juga dengan penempatan lempengan rumput atau tanaman
lain yang disetujui.

Sejauh mungkin dan seperti diperintahkan oleh Direksi Teknik, Kontraktor harus menjaga
galian tersebut bebas air dan harus melengkapi dengan pompa-pompa, peralatan dan
tenaga kerja, serta membuat tempat air mengumpul, saluran sementara atau tanggul
sementara seperlunya untuk mengeluarkan atau membuang air dari daerah-daerah di
sekitar galian.

(2) Galian untuk Struktur dan Pipa

Parit untuk pipa, gorong-gorong atau saluran beton, dan galian-galian untuk pondasi
jembatan dan struktur lainnya, harus dari satu ukuran yang memungkinkan pemasangan
bahan-bahan dengan baik, pemeriksaan pekerjaan dan memadatkan kembali urugan
urugan dibawah dan disekitar pipa atau bangunan yang bersangkutan.

Galian sampai permukaan akhir pondasi untuk mendukung struktur tidak boleh dilakukan
sebelum pendukung (footing tersebut dipasang).

(3) Penggalian untuk Bahan Galian

a. Lubang-lubang bahan galian, apakah berada dalam DMJ (Daerah Milik Jalan) atau
dimana saja, harus digali sesuai dengan ketentuan ketentuan Spesifikasi ini.

b. Persetujuan untuk membuka satu daerah galian baru, atau mengoperasikan daerah
galian yang ada harus diperoleh dari Direksi Teknik secara tertulis sebelum suatu
operasi galian dimulai.

c. Pembuatan lubang-lubang harus dilarang atau dibatasi dimana lubang-lubang tersebut


mungkin menggangu drainase asli atau drainae yang didesain.

d. Di sisi daerah yang miring, lubang-lubang galian bahan di atas sisi jalan yang lebih
tinggi, harus dibuat landai dan dibuat mengalirkan air untuk membawa semua air
permukaan ke saluran tepi dan ke gorong-gorong di dekatnya tanpa terjadi genangan.

e. Ujung dari satu lubang galian bahan tidak boleh lebih dekat dari 2 meter dari kaki satu
tanggul atau 10 meter dari bagian puncak satu galian.

f. Semua lubang galian bahan atau sumber bahan yang digunakan oleh kontraktor harus
ditinggalkan dalam kondisi yang rapih dan teratur dengan sisi dan talud yang stabil
setelah pekerjaan selesai.

(4) Pembuangan Bangunan Sementara.

a. Kecuali diperintahkan lain oleh Direksi Teknik, semua struktur sementara seperti tanggul
sementara atau penyangga penguat harus dibongkar oleh Kontraktor setelah selesainya
struktur permanen atau pekerjaan lain untuk mana galian itu telah dilaksanakan.

b. Bahan-bahan yang dikumpulkan dari bangunan-bangunan sementara tersebut tetap


menjadi milik kontraktor atau mungkin jika disetujui dianggap cocok oleh Direksi Teknik,
disatukan ke dalam pekerjaan permanen dan dibayar dibawah item pembayaran yang
relevan dimasukkan ke dalam Daftar Penawaran.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

c. Setiap bahan galian yang dapat diizinkan sementara dipasang di dalam satu jalan air
harus dibuang dalam satu cara sehingga tidak merusak jalan air (aliran) tersebut.

3.1.3 Cara Pengukuran Pekerjaan

(1) Galian yang dikecualikan dari Pengukuran dan Pembayaran.

Banyak pekerjaan galian di bawah kontrak tersebut tidak akan di ukur atau di bayar
dibawah Bab ini. Dalam banyak kasus (seperti dinyatakan di bawah macam-macam bab
dari spesifikasi ini) pekerjaan tersebut akan dimasukkan ke dalam harga penawaran
untuk item-item konstruksi yang bersangkutan.

Jenis galian yang secara khusus dikecualikan dari pengukuran di bawah bab ini,
diuraikan sebagai berikut:

a. Penggalian yang dilaksanakan diluar garis batas, profil dan potongan melintang yang
disetujui, tidak akan dimasukkan ke dalam volume yang harus diukur untuk
pembayaran, kecuali dimana galian yang kelewat tersebut diperlukan untuk item-item
pekerjaan berikut:

i. Pembuangan bahan-bahan lunak atau tak sesuai


ii. Pembuangan batu atau bahan-bahan sejenis lainnya
iii. Pembuangan tanah dari talud, longsoran, tanggul sementara yang runtuh yang
sebelumnya telah diterima dan memuaskan Direktur Teknik.

b. Galian untuk saluran tanah baru dan pelapisan saluran (bab 2.3) akan diukur secara
terpisah di bawah item pembayaran 2.3.1

3.1.4 Dasar Pembayaran

Volume galian yang diukur seperti di atas akan di bayar per satuan pengukuran pada harga
yang dimasukkan dalam Daftar Penawaran bagi item-item pembayaran yang tercantum di
bawah, yang harga dan pembayarannya merupakan kompensasi penuh untuk semua
pekerjaan dan biaya yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan galian yang diperlukan
seperti diuraikan sebelumnya dalam Bab ini.

Nomor Item URAIAN Satuan


Pembayaran Pengukuran
2.2.1 Rehabilitasi Saluran Tanah Meter panjang
2.2.2 Rehabilitasi Saluran dilapisi Meter panjang

BAB 3.2 URUGAN

3.2.1 Umum

(1) Uraian
a. Pekerjaan ini terdiri dari mendapatkan, mengangkut, penempatan dan memadatkan
tanah atau bahan berbutir yang disetujui untuk pembangunan pematang,
pengurugan kembali parit atau galian disekeliling pipa atau struktur serta
pengurugan sampai kepada garis batas, kemiringan dan ketinggian penampang
melintang yang ditentukan sisi disetujui.
b. Pekerjaan tersebut tidak termasuk pemasangan bahan filler pilihan sebagai alas
dasar untuk pipa-pipa atau saluran beton, atau sebagai bahan drainase porous
yang disediakan untuk drainase di bawah permukaan. Bahan-bahan ini dimasukkan
dalam bab 2.7 spesifikasi-spesifikasi ini.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

(2) Definisi

a. Urugan yang dicakup oleh persyaratan-persyaratan Bab ini diklasifikasikan dalam


satu atau dua kategori.
i. Urugan biasa untuk pematang
ii.Urugan pilihan untuk pematang

b. Urugan pilihan pematang digunakan untuk kondisi tanah lunak seperti rawa-rawa,
tanah payau, atau tanah yang selalu terendam air dimana diperlukan satu tanah
urugan dengan plastisitas rendah (bahan berbutir), dan juga dimana stabilisasi
tanggul, talud yang terjadi atau tanah dasar harus ditimbun sampai ketinggian dan
pemadatan yang tertentu.

Urugan yang diperlukan untuk tutjuan umum seperti diuraikan pada sub bab 2.2.1 (1) di
alas dan tidak termasuk urugan pilihan untuk pematang, harus diperlakukan sebagai
urugan biasa untuk pematang.

(3) Toleransi Ukuran

Ketinggian dan kemiringan akhir pematang tanah dasar dan bahu jalan, setelah
pemadatan tidak boleh ada dua sentimeter lebih tinggi atau tiga sentimeter lebih rendah
dari yang ditentukan atau disetujui.

Semua permukaan akhir urugan yang nampak keluar harus cukup halus dan seragam.
Dan mempunyai kemiringan yang cukup menjamin limpasan air permukaan yang bebas.

Permukaan akhir talud (timbunan) pematang tidak boleh berbeda dari garis profile yang
ditentukan lebih dari 10 cm.

(4) Contoh Bahan

Kontraktor harus mnyerahkan kepada Direksi Teknik hal-hal berikut ini paling sedikit 14
hari sebelum mulai digunakannya setiap bahan sebagi urugan:

i. Dua contoh bahan dengan berat masing-masing 50 kg, salah satu dari padanya
akan ditahan oleh Direksi Teknik sebagai acuan selama jangka waktu kontrak.

ii. Satu pernyataan mengenai asal dan komposisi setiap bahan yang diusulkan
sebagai bahan urugan pilihan, bersama-sama dengan hasil pemeriksaan yang
menyatakan bahwa bahan tersebut memenuhi spesifikasi.

(5) Penjadwalan Pekerjaan.

a. Bagian baru (timbunan) pematang jalan raya atau rekonstruksi harus dibangun
setengah lebar, kecuali disediakan satu pengalihan sehingga jalan tersebut dijaga
terbuka untuk lalu lintas pada setiap waktu.

b. Urugan tidak boleh dipasang, dihampar atau dipadatkan selama hujan atau di
bawah kondisi basah dan pemadatan tidak dapat dikontrol.

(6) Perbaikan Urugan yang tidak Memuaskan atau tidak Stabil

a. Urugan terakhir yang tidak memenuhi penampang melintang yang ditentukan atau
disetujui atau dengan toleransi permukaan yang ditentukan dalam sub bab 3.2.1(3)
di atas harus diperbaiki dengan membuat lepas permukaan tersebut, dan
membuang atau menambah bahan-bahan yang diperlukan diikuti dengan
pembentukan dan pemadatan kembali.

b. Urugan yang terlalu basah untuk pemadatan, dalam hal batas-batas kandungan
kelembaban seperti ditentukan dalam sub Bab 3.2.3 (3) atau seperti diperintahkan
oleh Direksi Teknik, harus diperbaiki dengan menggaruk bahan tersebut sampai
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

kedalaman 15 cm atau seperti yang diperintahkan oleh Direksi Teknis, yang diikuti
dengan penyiraman air yang memadai dan pencampuran secara menyeluruh
dengan alat motor grader atau peralatan lain yang disetujui.

c. Urugan yang terlalu basah untuk pemadatan, seperti yang ditetapkan oleh batas-
batas kandungan kelembaban yang ditentukan dalam sub Bab 3.2.3 (3) atau seperti
diperintahkan oleh Direksi Teknik, harus diperbaiki di bawah kondisi cuaca kering
dengan penggarukkan bahan-bahan tersebut diikuti dengan pekerjaan sebentar-
bentar alat grader atau peralatan lain yang disetujui, dengan waktu istirahat diantara
pekerjaan-pekerjaan tersebut. Secara alternatif atau jika pengeringan yang
cukuptidak dapat dicapai dengan pengerjaan bahan lepas tersebut. Direksi teknik
dapat memerintahkan supaya bahan tersebut dibuang dari tempat pekerjaan dan
diganti dengan bahan yang cocok dan kering.

d. Perbaikan urugan yang tidak memenuhi persyaratan kepadatan atau persyaratan


sifat-sifat bahan spesifikasi ini, dapat meliputi persyaratan pencampuran dengan
bahan lain yang cocok disertai dengan penambahan kebasahan, pemadatan yang
lebih dan atau pembuanagn serta penggantian atas perintah Direksi Teknik.

3.2.2 Bahan- Bahan

(1) Sumber Pengadaan

Bahan-bahan urugan harus dipilih dari sumber-sumber yang disetujui yang sesuai
dengan persyaratan Bab 1.6 Bahan-bahan dan Penyimpanan dari spesifikasi ini.
Pengujian klasifikasi tanah harus dilaksanakan atas perintah Direksi Teknik, yang sesuai
dengan AASHTO M145 untuk menentukan distribusi ukuran partikel dan plastisitas.

(2) Syarat- Syarat Kualitas

Urugan biasa untuk pematang

i. Urugan yang diklasifikasikan sebagai Timbunan Biasa akan terdiri dari galian bahan
tanah atau bahan berbutir-butir yang disetujui oleh Direksi Teknik sebagai bahan
yang cocok untuk digunakan dalam pekerjaan permanen seperti yang diuraikan di
bawah sub Bab 3.2.1(2).
ii. Secara umum, urugan timbunan biasa harus diperiksa secara khusus untuk
menyingkirkan penggunaan tanah expansif atau tanah dengan plastisitas tinggi yang
diklasifikasikan sebagai A5 dan A7 dalam spesifikasi AASHTO M145 atau sebagai
Ch dan OH di bawah sistem klasifikasi Casagrande atau Unified.

(3) Urugan Pilihan untuk Pematang

i. Urugan yang diklasifikasikan sebagai urugan pilihan terdiri dari bahan tanah atau
bahan batu yang memenuhi persyaratan untuk urugan tanggul biasa di atas dan
yang juga jika diuji untuk CBR laboratorium akan memiliki nilai minimum 10 %.
ii. Untuk pekerjaan stabilisasi talud atau pematang atau pekerjaan-pekerjaan lain
dimana diperlukan adanya tegangan geser yang baik, urugan pilihan pematang
akan terdiri dari urugan batu, atau lempung berpasiran bergradasi baik atau
campuran lempung/kerikil dengan indek plastisitas rendah tidak lebih tinggi dari
10%.
iii. Bilamana harus dilakukan pemadatan di bawah kondisi banjir atau kondisi jenuh
urugan pilihan pematang akan berupa pasir atau kerikil atau bahan butiran bersih
lainnya dengan indeks plastisitas tidak lebih besar dari 6 %.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

3.2.3 Pelaksanaan Pekerjaan

(1) Penyiapan Lapangan

a. Sebelum menempatkan urugan di atas suatu lapangan, semua operasi pemotongan


dan pembersihan termasuk pengisian lubang lubang disebabkan pembongkaran
akar-akar harus diselesaikan sesuai dengan spesifikasi dan semua bahan-bahan
yang tidak cocok harus dibuang dari lapangan tersebut seperti diperintahkan oleh
Direksi Teknik.

b. Bilamana tingginya timbunan adalah satu meter atau kurang, tempat pondasi
timbunan harus dipadatkan secara menyeluruh (termasuk membuat lepas-lepas,
mengeringkan atau membasahi jika diperlukan) sampai bagian puncak tanah
setebal 15 cm, memenuhi persyaratan kepadatan yang ditetapkan untuk urugan
yang ditempatkan.

c. Jika timbunan tersebut harus dibuat diatas sisi bukit atau dipasang di atas timbunan
baru atau timbunan lama, kemiringan yang ada harus dipotong untuk membuat
permukaan dudukan yang cukup lebar memikul peralatan pemadatan.

(2) Penimbunan Urugan

a. Urugan harus disiapkan sampai permukaan yang telah dibuat dan dilebarkan dalam
lapisan-lapisan yang rata tidak melebihi ketebalan padat 20 cm, yang memenuhi
toleransi tebal lapisan yang diberikan dalam Sub Bab 3.2.1 (3) spesifikasi ini.
Bilamana lebih dari satu lapisan harus dipasang, lapisan tersebut sedapat mungkin
harus sama ketebalannya.

b. Urugan tanah harus diangkut secara langsung dari daerah galian bahan ketempat
yang sudah disiapkan dan dihampar (dalam cuaca kering). Penumpukan tanah
pada umumnya tidak diizinkan khususnya selama musim hujan.

c. Pengurugan di atas pipa-pipa dan dibelakang struktur harus dilakukan secara


sistematis serta sedapat mungkin segera sesudah pemasangan pipa atau struktur
tersebut. Perhatian nharus diberikan untuk menjamin bahwa telah diberikan waktu
yang cukup kepada sambungan pipa dengan adukan dan struktur beton untuk
mendapatkan kekuatan yang memadai sebelum pengurugan.

Bahan-bahan batuan tidak boleh digunakan sebagai urugan di sekeliling pipa atau
di dalam 30 cm urugan tanah dasar yang langsung di bawah permukaan formasi
perkerasan atau bahu jalan dan tidak ada batu dengan ukuran melebihi 10 cm akan
dimasukkan dalam urugan tersebut

d. Kemiringan tebing harus dibentuk dan dirapihkan menurut sudut talud rencana dan
bagi tebing yang tinggi diberikan berm yang sesuai dengan gambar rencana,serta
dibuatkan pula penyediaan untuk drainase yang memadai.

e. Untuk perlindungan tebing terhadap erosi harus dipasang rumput, dan disusun
dalam posisi di atas talud, atas petunjuk dan sampai memuaskan Direksi teknik.

(3) Pemadatan Urugan

a. Segera setelah penempatan dan penebaran urugan, masing-masing lapisan harus


dipadatkan menyeluruh dengan peralatan pemadatan yang cocok dan memadai
yang disetujui oleh Diraksi teknik sampai kepada persyaratan kepadatan berikut:

i. Lapisan-lapisan yang lebih dari 30 cm di bawah permukaan tanah dasar harus


dipadatkan sampai 45 % kepadatan kering standar maksimum yang ditetapkan
sesuai AASHTO T99. Untuk tanah-tanah yang berisi lebih dari 10 % bahan-
bahan yang tertahan di atas saringan 19 mm, maka kepadatan kering
maksimum yang didapat harus disesuaikan untuk bahan bahan yang oversize
(kelewat besar) tsb seperti diperintahkan oleh direksi teknik.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

ii.Lapisan-lapisan di dalam 30 cm atau kurang, di bawah permukaan tanah dasar,


harus dipadatkan sampai 100% kepadatan kering standar maksimum yang
ditetapkan sesuai AASHTO T99 (PB.0111-78).

iii. Tergantung kepada jenis pelaksanaan dan persyaratan khusus Direksi Teknik,
pengujian kepadatan di lapangan dengan metode kerucut pasir harus dilakukan
terhadap masing-masing lapisan urugan yang telah dipadatkan, sesuai dengan
AASHTO T191 (PB 0103.76) dan jika hasil suatu pengujian menunjukkan
bahwa kepadatannya kurang dari kepadatan yang diminta, kontraktor harus
memperbaiki pekerjaantersebut sesuai dengan sub bab 3.2.1(6). Pengujian
harus dilakukan sampai kedalaman penuh lapisan dan dilokasi yang
ditunjukkan oleh Direksi Teknik, yang tidak boleh berjarak lebih dari 200 m.

b. Pemadatan urugan tanah harus dilakukan hanya bila kadar air bahan tersebut
berada di dalam batas 3% kurang dari kadar air optimum sampai 1% lebih dari
kadar air optimum. Kadar air optimum akan ditetapkan sebagai kadar air dimana
kepadatan kering maksimum dicapai bila tanah tersebut dipadatkan sesuai dengan
AASHTO T99 (PB 0111-76).

c. Urugan timbunan harus dipadatkan dimulai pada ujung paling luar serta masuk ke
tengah dalam satu cara dimana msing-masing bagian menerima desakan
pemadatan yang sama.

d. Jika bahan urugan harus disampaikan pada kedua sisi sebuah pipa atau saluran
beton atau struktur, pelaksanaannya harus sedemikian sehingga urugan tersebut
dibentuk sampai ketinggian yang hampir sama di atas kedua sisi struktur.

e. Terkecuali disetujui oleh Direksi Teknik, urugan disekitar ujung satu jembatan tidak
boleh ditempatkan lebih tinggi dari dasar dinding belakang atau kepala jembatan
sampai bangunan atas dipasang.

f. Urugan ditempat-tempat yang sulit dicapai oleh peralatan pemadatan harus


ditempatkan dalam lapisan-lapisan horisontal dengan bahan-bahan lepas ketebalan
tidak melebihi 15 cm dan dipadatkan menyeluruh menggunakan mesin pemadat
yang disetujui. Harus diberikan perhatian khusus untuk menjamin tercapainya
pemadatan yang memuaskan dibawah dan disamping pipa-pipa, untuk mencegah
terjadinya rongga-rongga dan untuk menjamin pipa-pipa tersebut mendapat
dukungan sepenuhnya.

(4) Persyaratan Pemadatan untuk Urugan Batu

Urugan batu harus ditempatkan dalam lapis-lapis tidak melebihi 30 cm tebalnya atau
ketebalan lain yang diminta oleh Direksi Teknik atas dasar mutu batu dan jenis alat
pemadatan yang digunakan. Pemadatan urugan batu harus dilaksanakan dengan
pemadat berkisi-kisi, pemadat bergetar atau sebuah traktor dengan berat palingsedikit
20 ton atau peralatan berat yang sejenis. Pemadatan harus dilakukan dalam arah
memanjang sepanjang pematang, dimulai dari ujung paling luar dan mengarah ke
tengah dan akan berlanjut sampai tidak ada pergeseran yang nampak di bawah
lindasan peralatan tersebut. Masing-masing lapisan akan terdiri dari batu bergradasi
baik yang dapat diterima dan semua rongga-rongga permukaan harus diisi dengan
pecahan pecahan sebelum dipasang lapis berikutnya. Batu tidak boleh digunakan di
bagian 15 cm puncak pematang dan tidak ada batu dengan ukuran melebihi 10 cm
dimaukkan di dalam lapis bagian atas ini.

Kontraktor harus bertanggung jawab untuk pemilihan cara dan peralatan, mendapatkan
tingkat pemadatan yang sesuai. Dalam hal bahwa dia tidak mampu mendapatkan
kepadatan yang ditentukan, satu pengujian lapangan harus dilaksanakan dimana jumlah
lintasan peralatan pemadatan dan kadar air diubah ubah sampai kepadatan yang
diperlukan didapat sehingga memuaskan Direksi Teknik. Hasil dan pengujian lapangan
ini kemudian harus digunakan untuk menentukan jumlah lintasan jenis alat pemadatan
dan kadar air darisemua peralatan berikutnya bagi urugan batu yang sejenis.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

3.2.4 Pengendalian Mutu

(1) Tes Laboratorium


Tes untuk syarat kualitas bahan urugan harus dilaksanakan kedua duanya untuk
sumber pengadaan dan test di tempat seperti diperintahkan oleh Direksi Teknik, untuk
dapat memenuhi persyaratan-persyaratan spesifikasi ini.

Tabel 3.2.1 TEST LABORATORIUM BAHAN URUGAN


PENGUJIAN RUJUKAN TEST JENIS
AASHTO BINA MARGA
Analisa saringan agregat T27 PB 0201-76 Menentukan distribusi
halus dan kasar ukuran partikel Agregat
kasar dan halus
Penentuan batas cair T80 PB 0109-76 Test plastisitas untuk
dan batas plastik T90 PB 0110-76 batas cair dan indeks
Hubungan kadar air T09 PB 0111-76 plastisitas
kepadatan Test standar
CBR (California Bearing T 103 PB 0113-76 menggunakan palu 2.5 kg
Ratio) Menentukan nilai dukung
relatif urugan padat

(2) Pengendalian Lapangan


Test pengendalian lapangan berikut ini harus dilaksanakan untuk memenuhi
persyaratan spesifikasi. Kontraktor harus menyediakan semua bantuan yang diperlukan
dalam bentuk tenaga kerja, pengangkutan dan pengujian.

Tabel 3.2.2 Persyaratan Pengendalian Lapangan

Test Pengendalian Prosedur


a. Pengujian kerapatan urugan padat - Untuk menentukan hubungan
di lapangan kerapatan dan kadar air pada
(Test Kerucut Pasir) pemasangan
(AASHTO T.191) - Harus dilaksanakan untuk setiap
(PB 0103-76) 1000 m3 bahan timbunan sampai
kedalaman penuh
- Urugan ditempatkan dalam lapisan
di bawah formasi jalan, harus diuji
setiap 200 m panjang jalan
- Untuk urugan kembali di sekeliling
struktur atau di dalam parit gorong-
gorong, paling sedikit satu test
untuk setiap bagian urugan kembali
selesai di pasang.
b. Penentuan CBR lapangan urugan - Dengan menggunakan Dinamic
padat Cone Penetrometer (DCP), di
lokasi yang diminta oleh Direksi
Teknis

3.2.5 Cara Pengukuran Pekerjaan

(1) Apabila dimasukkan dalam daftar penawaran, sebagai satu item pembayaran terpisah,
dan tergantung kepada ketentuan item berikutnya, urugan harus diukur dalam jumlah
meter kubik bahan padat yang dipasang dan diterima serta memuaskan Direksi Teknik.
Dan akan diuraikan sebagai urugan timbunan bahan biasa atau urugan timbunan bahan
pilihan sesuai dengan spesifikasi dan gambar-gambar dan disetujui oleh Direksi Teknik
untuk pekerjaan khusus dibawah kontrak.

(2) Volume yang harus di ukur untuk pembayaran harus atas dasar penampang melintang
dan profil yang disetujui yang ditunjukkan dalam gambar rencana atau diukur dilapangan
sebelum suatu urugan telah disampaikan pada garis batas, kelandaian dan permukaan
yang disetujui atau diterima. Cara perhitungan berupa cara luas rata-rata dan
menggunakan penampang melintang pekerjaan berjarak tidak lebih dari 25 meter,
terkecuali dinyatakan lain untuk kontrak khusus.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

(3) Untuk pengukuran satu urugan sampai menjadi satu pekerjaan timbunan atau pekerjaan
sejenis yang dibangun diatas tanah rawa dimana konsolidasi tanah asli yang baik
diharapkan, marka-marka (patok) penurunan harus dipasang dan di survei bersama-
sama oleh Direksi Teknik dan kontraktor. Volume urugan kemudian akan ditentukan
atas dasar permukaan tanah sebelum dan sesudah penurunan.

(4) Urugan yang ditempatkan di luar garis batas dan penampang melintang yang disetujui,
termasuk setiap tambahan urugan yang diperlukan untuk dudukan atau penguncian ke
dalam talud yang ada sebagai hasil penurunan pondasi tidak boleh dimasukkan dalam
volume yang harus diukur untuk pembayaran, kecuali dimana secara lain disetujui oleh
Direksi Teknik untuk mengganti bahan-bahan lunak atau tidak cocok yang ditemukan
dilapangan selama pelaksanaan.

(5) Urugan porous, bahan filter atau bahan alas dasar untuk pipa gorong-gorong, saluran
beton, saluran dilapisi, saluran porous, dinding kepala dan struktur lainnya, tidak boleh
diukur untuk pembayaran di bawah bab ini, bahan-bahan tersebut harus dimasukkan
dalam harga satuan penawaran untuk bahan-bahan dan item-item konstruksi yang
bersangkutan, yang disediakan dalam item pembayaran di bawah bab 2.7 spesifikasi ini.

(6) Urugan yang digunakan dimana saja di luar batas-batas lapangan kerja untuk mengubur
bahan-bahan buangan atau untuk penutupan dan memperbaiki galian bahan-bahan,
tidak boleh dimasukkan dalam pengukuran urugan.

3.2.6 Dasar Pembayaran

Volume urugan yang diukur sebagaimana diberikan di atas, (betapa pun jaraknya
pengangkutan) akan di bayar per satuan pengukuran pada harga yang bersangkutan
yang dimasukkan dalam daftar penawaran untuk item pembayaran yang tercantum di
bawah, harga-harga dan pembayarannya merupakan kompensasi penuh untuk
mendapatkan, menyerahkan memasang, memadatkan, menyelesaikan dan menguji
bahan-bahan urugan serta semua biaya-biaya lain yang diperlukan dalam penyelesaian
yang baik pekerjaan-pekerjaan yang diuraikan dalam bab ini.

Nomor Item URAIAN Satuan


Pembayaran Pengukuran
3.2.1 Urugan biasa untuk timbunan Meter kubik
3.2.2 Urugan pilihan untuk timbunan Meter kubik

BAB 3.3 PENYIAPAN TANAH DASAR

3.3.1 Umum

(1) Uraian

Pekerjaan ini terdiri dari menyiapkan tanah dasar yang langsung terletak di bawah
pondasi jalan, dalam keadaan siap menerima struktur perkerasan atau bahu jalan.
Tanah dasar tersebut meluas sampai lebar penuh dasar jalan seperti ditunjukkan pada
gambar, dan dapat dibentuk di atas timbunan biasa, timbunan pilihan, galian batu atau
diatas bahan filler porous.

(3) Toleransi Ukuran

a. Kemiringan dan ketinggian akhir setelah pemadatan, tidak boleh berbeda satu
centimeter lebih tinggi atau lebih rendah dari pada yang ditetapkan atau diatur
dilapangan dan disetujui oleh Direksi Teknik.

b. Permukaan akhir tanah dasar akan dibuat miring melintang jalan seperti yang
ditetapkan atau ditunjuk pada gambar dan dibuat cukup rata serta seragan untuk
menjamin limpasan air permukaan yang bebas.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

(4) Penjadwalan Pekerjaan

a. Semua pekerjaan drainase tepi jalan di sebelah tanah dasar harus diselesaikan dan
dapat berfungsi sampai satu tingkat yang dapat menyediakan drainase yang efektif
bagi limpasan air permukaan dari tanah dasar selama hujan lebat atau pun
sebagian hasil banjir dari daerah sekitarnya.

b. Gorong-gorong, pipa porous dan bangunan-bangunan kecil lainnya yang diletakkan


di bawah tanah dasar harus diselesaikan sepenuhnya dengan urugan padat
sebelum penyiapan tanah dasar dimulai.

(5) Pengendalian Lalu Lintas

a. Pengendalian lalu lintas harus dilakukan oleh kontraktor sesuai dengan persyaratan
umum kontrak dan sampai disetujui oleh Direksi Teknik.

b. Kontraktor harus bertanggung jawab terhadap semua konsekwensi lalu lintas yang
diizinkan lewat di atas tanah dasar, selama pelaksanaan pekerjaan dan ia harus
melarang lalu lintas tersebut, bilamana mungkin dengan menyediakan satu jalan
pengalihan atau pembangunan setengah lebar.

(6) Perbaikan Penyiapan Tanah Dasar yang Tidak Memuaskan

a. Persyaratan yang ditetapkan di bawah sub bab 3.1.1 (8) Galian, dan 3.2.1 (6)
Urugan, harus diterapkan untuk semua penyiapan tanah dasar dimana relevan
(berkaitan).

b. Kontraktor akan memperbaiki atas biaya kontraktor sampai disetujui Direksi teknik,
setiap alur bekas roda, gundukan dan kerusakan lain yang diakibatkan oleh lalu
lintas atau tenaga kerja kontraktor terhadap tanah dasar yang sudah selesai.

c. Kontraktor akan memperbaiki sebagaimana diperintahkan oleh Direksi teknik, setiap


kerusakan tanah dasar disebabkan oleh kekeringan dan retak-retak, atau atau dari
kebanjiran ataupun kasus alami lainnya. Pekerjaan tersebut akan dimasukkan untuk
pembayaran di bawah bab ini, terkecuali direksi menganggap kerusakan tersebut
disebabkan oleh kelalaian kontraktor.

3.3.2 Bahan Bahan

Bahan tanah dasar dan kualitasnya harus sesuai dengan persyaratan yang berkaitan
untuk timbunan biasa, timbunan pilihan, atau galian tanah dasar yang ada. Bahan-
bahan yang digunakan dalam masing-masing keadaan harus seperti diperintahkan
Direksi Teknik dan harus dipasang seperti yang ditetapkan pada bab 3.1 dan 3.2

3.3.3 Pelaksanaan Pekerjaan

(1) Penyiapan Lapangan

a. Penggalian dan pengurugan untuk tanah dasar harus seperti yang ditetapkan pada
Bab 3.1 dan 3.2 spesifikasi ini

b. Kontraktor harus menyediakan dan menggunakan mal logam dan mistar logam
untuk memeriksa punggung atau kemiringan melintang. Bilamana diminta oleh
direksi teknik ketinggian lapangan harus diberikan dengan alat survei ketinggian.

(2) Pemadatan tanah

Pemadatan lapisan tanah dibawah permukaan tanah dasar harus dilaksanakan sesuai
dengan persyaratan spesifikasi yang diberikan pada sub bab 3.3.3 spesifikasi ini
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

I. Lapisan lapisan yang lebih dari 30 cm di bawah permukaan tanah dasar harus
dipadatkan sampai 45% kepadatan kering maksimum yang ditetapkan sesuai
dengan AASHTO T99.
II. Lapisan-lapisan yang berada pada 30 cm atau kurang, dan sampai permukaan
tanah dasar harus dipadatkan sampai 100% kepadatan kering maksimum.

3.3.4 Pengendalian Mutu

Pengujian-pengujian kualitas untuk kepadatan dilapangan dan daya dukung harus


dilakukan setiap 200 m panjang jalan sesuai dengan persyaratan spesifikasi sub bab
3.2.4. CBR minimum untuk tanah dasar harus 5% dan bila hal ini tidak dapat dicapai,
perlu dipasang lapis pondasi bawah atau bahan timbunan pilihan sampai ketebalan
yang diperintahkan Direksi Teknik. (lihat Bab 5.1 Lapis Pondasi bawah).

3.3.5 Cara Pengukuran Pekerjaan

Luas penyiapan tanah dasar yang selesai dan disetujui akan diukur sebagai jumlah
meter persegi permukaan yang dipadatkan dan dibentuk.

Tidak ada pembayaran akan dilakukan di bawah bab spesifikasi ini, untuk penyiapan
tanah dasar mengenai pekerjaan pemeliharaan berkala, meliputi perbaikan lubang,
bagian amblas atau pecahnya ujung-ujung (pinggiran) jalan.

3.3.6 Dasar Pembayaran

Volume yang ditentukan diukur seperti dilakukan di atas akan di bayar per satuan
pengukuran harga yang dimasukkan dalam daftar penawaran untuk item pembayaran
yang tercantum di bawah, yang tenaga dan pembayarannya merupakan kompensasi
penuh untuk semua pekerjaan dan biaya biaya yang diperlukan dalam penyelesaian
penyiapan tanah dasar yang seperti di uraikan sebelumnya dalam bab ini.

Nomor Item Pembayaran URAIAN Satuan Pengukuran


3.3.1 Penyiapan Tanah dasar Meter persegi
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

BAB 4

BAHU JALAN
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

BAGIAN 4

BAHU JALAN

BAB 4.1 REHABILITASI BAHU JALAN


4.1.1 Umum

(1) Uraian

Pekerjaan ini terdiri dari peningkatan kembali dan pembentukan kembali bahu jalan
yang ada termasuk pembersihan tumbuhan, pemotongan, perapian, pengurugan
dengan bahan terpilih serta pemadatan untuk mengembalikan bahu jalan mencapai
garis, kemiringan dan dimensi yang benar yang ditunjukkan pada gambar rencana atau
seperti yang diperintahkan Direksi Teknik.

(2) Toleransi Ukuran

a. Permukaan final bahu jalan yang telah dipadatkan tidak boleh berbeda lebih dari 2 cm
di atas atau di bawah permukaan rencana pada setiap titik.

b. Kemiringan melintang bahu jalan direncanakan sebesar 5% dimana perkerasan diberi


lapis lindung dan 6% dimana perkerasan tidak diberi lapis lindung serta sesuai
dengan Gambar Standar. Kemiringan melintang bahu jalan setelah rehabilitasi tidak
boleh berbeda lebih dari 1 % terhadap kemiringan melintang rencana.

(3) Pemeriksaan di Lapangan

Untuk setiap pekerjaan rehabilitasi bahu jalan yang dilaksanakan di bawah bab ini,
garis batas, kelandaian dan dimensi akan di aturdi lapangan dan harus disetujui oleh
Direksi Teknik sebelum kontraktor memulai pekerjaan.

4.1.2 Bahan-Bahan

(1) Sumber Bahan

a. Sumber bahan harus dipilih atas dasar tersedianya bahan dengan memperhitungkan
lokasi, kualitas, dan volume sumber bahan atau quarry.

b. Untuk pembangunan kembali bahu jalan tanah yang ada, bahan yang digunakan
harus bahan urugan tanggul yang dipilih terdiri dari lempung berpasiran atau lempung
kerikil yang memenuhi persyaratan Spesifikasi Sub Bab 3.2.2 (3), tetapi dengan satu
ukuran maksimum 37.5 mm dan dengan satu indeks plastisitas tidak lebih dari 10%
terkecuali diperintahkan lain oleh Direksi teknik.

c. Bilamana urugan berbutir yang cocok tidak dapat diperolehserta tergantung kepada
ketentuan-ketentuan Kontrak dan Instruksi Direksi Teknik. Bahu jalan dapat dibangun
dengan menggunakan urugan tanggul biasa bergradasi padat yang cocok dengan
satu ukuran partikel maksimum 37.5 mm dan dengan kandungan lempung-lumpur
plastisitas rendah, yang mampu menghambat pertumbuhan tumbuhan dan
memberikan satu bahu jalan yang stabil.

(2) Pengujian dan Pemilihan Bahan Bahu Jalan

Contoh-contoh dari sumber bahan yang dipilih untuk rehabilitasi bahu jalan yang ada
harus diuji sampai memenuhi persyaratan-persyaratan spesifikasi ini. Semua bahan
yang digunakan harus mendapat persetujuan Direksi Teknik sebelum pekerjaan dimulai.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

4.1.3 Pelaksanaan Pekerjaan

(1) Penyiapan Lapangan

Semua tumbuh-tumbuhan harus dibongkar dan bahu jalan yang ada, rumput, alang-
alang, semak dan tumbuhan lainnya harus dipotong ulang seperlunya sebelum
pembentukan kembali.

(2) Pembentukan kembali

a. Bahu jalan yang ada harus dibentuk lagi menggunakan tenaga kasar, traktor atau
motorgrader seperti yang diminta oleh Direksi Teknik.

b. Pekerjaan tersebut mencakup pembongkaran daerah-daerah yang tinggi,


pengurugan daerah-daerah rendah dengan bahan lebihan dan pembentukan kembali
bahu jalan tersebut sampai memenuhi kelandaian, garis batas dan ketinggian
menurut permintaan Direksi Teknik, beserta penyelesaian akhir rata dengan tepi
perkerasan, kecuali diperintahkan lain. Peningkatan harus dilaksanakan dengan
motor grader atau traktor yang dipasangi dengan satu pisau grader dan diperlukan
paling sedikit dua lintasan untuk perapihan dan buangan bahan bahan lebihan.

(3) Pemadatan

Seluruh pembentukan kembali dan perataan bahu jalan harus diikuti pemadatan dengan
mesin gilas roda ban atau peralatan pemadatan lain yang cocok yang disetujui oleh
Direksi Teknik. Pemadatan harus dilaksanakan sampai memenuhi persyaratan
kepadatan normal untuk mempersiapkan tanah dasar, sesuai dengan Bab 3.3
Spesifikasi ini, dan harus ditambahkan air seperlunya selama pemadatan untuk
memberikan kandungan air yang cukup bagi pemasangannya.

4.1.4 Cara Pengukuran

(1) Kontraktor harus memenuhi semua pembayaran untuk royalty dan kompensasi lain
karena pengoperasian galian bahan dan pengambilan bahan untuk pekerjaan
rehabilitasi bahu jalan. Pemberi tugas akan terbebas dari biaya-biaya pekerjaan
tersebut.

(2) Volume yang harus dibayar merupakan jumlah meter persegi rehabilitasi bahu jalan,
sesuai dengan gambar dan spesifikasi atau seperti diperintahkan oleh direksi teknik.
Penghitungan total harus atas dasar lebar rata-rata bahu jalan yang direhabilitasi, diukur
dengan selang 100 m dikalikan dengan total panjang pekerjaan dalam meter yang
dilaksanakan, diterima dan disetujui oleh Direksi Teknik.

(3) Penyediaan tambahan urugan terpilih yang dibawa ke lapangan akan diukur dan di
bayar di bawah persyaratan spesifikasi tersebut untuk Bab 3.2 Pekerjaan Tanah,
sebagai urugan tanggul biasa atau dipilih. Urugan tersebut harus disediakan dengan
kesesuaian yang ketat terhadap instruksi Direksi Teknik.

(4) Tidak ada perlakuan tersendiri akan dibuatkan untuk satu galian lain atau pengurugan
yang dilaksanankan, pekerjaan demikian akan dimasukkan ke dalam item pembayaran
untuk rehabilitasi bahu jalan.

4.1.4 Dasar Pembayaran

Volume yang ditentukan seperti di atas akan di bayar pada harga kontrak per satuan
pengukuran untuk item pembayaran terdaftar di bawah. Harga dan pembayaran ini
merupakan kompensasi penuh untuk melaksanakan semua pekerjaan kontrak termasuk
pembersihan tumbuh tumbuhan dan akar-akar, penggalian dan pengurugan,
pembentukan ulang, perataan, pemadatan dan penyelesaian akhir kelandaian, garis
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

batas dan lebar yang disetujui, beserta dengan penyediaan semua tenaga kerja, bahan-
bahan dan peralatan yang diperlukan

Nomor Item Pembayaran URAIAN Satuan Pengukuran

4.1.1 Rehabilitasi Bahu Jalan Meter Persegi

BAB 4.2 BAHU JALAN BARU

4.2.1 Umum

(1) Uraian

Pekerjaan ini terdiri dari pengadaan, pengankutan, penempatan, penebaran dan


pemadatan bahan butiran yang dipilih untuk bahu jalan baru diatas satu lapis tanah
dasar yang sudah disiapkan atau permukaan lain yang disetujui, sesuai dengan garis
batas, kelandaian dan dimensi yang ditunjukkan pada Gambar Rencana atau seperti
yang diperintah oleh Direksi Teknik.

(2) Toleransi Ukuran

a. Permukaan final yang dipadatkan dari bahu jalan tidak boleh berbeda lebih dari 1,50
cm di atas dan di bawah permukaan rencana pada setiap titik.

b. Kemiringan melintang bahu jalan yang direncanakan adalah 5% dimana perkerasan


diberi lapis lindung, dan 6% dimana perkerasan tanpa lapis lindung. Permukaan
akhir bahu jalan tidak boleh berbeda lebih dari 1 % terhadap kemiringan melintang
dan tidak boleh lebih tinggi atau lebih rendah dari 1 cm terhadap permukaan tepi
perkerasan yang berhubungan.

(3) Contoh-contoh Bahan

a. Contoh bahan yang digunakan untuk bahu jalan baru harus diserahkan kepada
Direksi Teknik untuk mendapatkan persetujuan paling sedikit 14 hari sebelum
pekerjaan dimulai dan harus disertai dengan data hasil-hasil pengujian sesuai
dengan persyaratan spesifikasi untuk kualitas bahan seperti yang diuraikan dalam
spesifikasi ini.

b. Tidak ada perubahan dalam sumber pengadaan atau bahan untuk bahu jalan akan
dibuatkan tanpa persetujuan Direksi Teknik dan setiap perubahan demikian harus
disertai penyerahan contoh bahan dan laporan pengujian untuk pemeriksaan dan
mendapatkan persetujuan di atas.

(4) Kondisi Pekerjaan dan Pengendalian Lalu Lintas

a. Kontraktor akan membuat semua pengaturan yang diperlukan untuk mengendalikan


lalu lintas selama pembangunan dan akan melaksanakan hanya pada satu sisi jalan
pada suatu waktu.

b. Bahan-bahan untuk pembangunan bahu jalan harus ditimbun pada tempat diluar
lintasan jalan dan saluran tepi yang sesuai dengan persyaratan spesifikasi ini sub
bab 1.6.3 (5)

(5) Perbaikan Pekerjaan yang tidak Memuaskan

a. Setiap bahan bahu jalan yang tidak memenuhi spesifikasi ini, tidak perduli dipasang
atau belum, akan ditolak dan disingkirkan dari daerah kerja.

b. Setiap bagian pekerjaan bahu jalan yang menunjukkan ketidakteraturan atau cacat
karena penanganan yang jelek atau kegagalan kontraktor untuk mematuhi
persyaratan spesifikasi atau gambar rencana harus dibetulkan dengan perbaikan-
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

perbaikan atau penggantian atas beban biaya kontraktor sehingga memuaskan


Direksi Teknik.

4.2.2 Bahan Bahan

(1) Persyaratan umum

Bahan-bahan yang dipilih dan digunakan untuk pembangunan bahu jalan baru, terdiri
dari bahan pondasi bawah yang disetujui, yang memenuhi persyaratan bahan pondasi
bawah kelas A atau kelas B sesuai dengan Bab 5.1 spesifikasi ini dan seperti yang
diuraikan pada gambar rencana dan termasuk dalam daftar penawaran untuk kontrak
tertentu.

(2) Gradasi

Persyaratan gradasi untuk bahan bahu jalan harus sesuai dengan Tabel 5.1.1
Persyaratan Gradasi untuk pondasi bawah, di bawah sub bab 5.1.2 (2) spesifikasi ini.

(3) Syarat syarat Kualitas

Bahan-bahan yang digunakan untuk pekerjaan bahu jalan baru harus mematuhi
kondisi mutu yang ditetapkan untuk bahan pondasi bawah pada sub bab 5.1.2 (3)
spesifikasi ini.

4.2.3 Pelaksanaan Pekerjaan

(1) Penyiapan Lapangan

a. Penyiapan lapangan untuk menempatkan bahan bahu jalan, termasuk galian bahan
yang ada dan perapihan tepi jalan kendaraaan yang ada, harus dilaksanakan seperti
ditunjukkan pada gambar rencana dan seperti diperintahkan oleh Direksi Teknik.

b. Tanah dasar atau formasi harus disiapkan dan diselesaikan sesuai dengan pekerjaan
pekerjaan yang ditentukan di bawah Bab 3 Pekerjaan Tanah untuk penyiapan tanah
dasar

c. Selama penggalian untuk bahu jalan harus diselenggarakan pengaturan lalu lintas
oleh Kontraktor.

d. Bahu jalan pada kedua sisi jalan tidak boleh di bangun pada waktu yang bersamaan
harus dibangun satu sisi dulu baru berikutnya pada sisi yang lain.

e. Kontraktor harus menjamin bahwa bahan tersebut ditumpuk dalam tempat yang baik,
tidak menimbulkan kemacetan lalu lintas atau membendung aliran air.

(2) Penghamparan dan Pemadatan bahan Bahu Jalan.

a. Bahan bahu jalan harus dihampar dan dipadatkan sesuai dengan persyaratan
spesifikasi untuk penghamparan dan pemadatan bahan pondasi bawah di bawah sub
Bab 5.1.3 spesifikasi ini.

b. Sebagai tambahan kepada persyaratan-persyaratan tersebut di atas, kontraktor harus


membuat lepas-lepas dan menggaruk lapisan tanah bagian atas bahu jalan setebal
10 cm sebelum pemadatan akhir dan akan membuang semua batu dengan satu
ukuran maksimum lebih besar dari 37.5 mm.

4.2.4 Pengendalian Mutu

Pengujian laboratorium dan lapangan harus mematuhi persyaratan umum untuk bahan
pondasi bawah di bawah subbab 5.1.4 Spesifikasi ini dan seperti diperintahkan oleh
Direksi Teknik.
PETUNJUKTEKNISNO.023/T/Bt/1995
SpesifikasiUmumJalanKabupaten

4.2.5 Cara Pengukuran dan Pembayaran

Tidak ada cara pengukuran atau pembayaran terpisah dibuatkan untuk bahu jalan di
bawah bab ini. Galian bahan yang ada, perapihan kembali tepi jalan kendaraan dengan
bahan yang baik, penyiapan formasi tanah dasar, serta pengadaan penempatan,
pemadatan dan penyelesaian bahu jalan, akan dianggap sepenuhnya telah di bayar dan
dimasukkan di bawah berbagai item pembayaran yang dapat digunakan untuk kegiatan-
kegiatan dan bahan-bahan yang digunakan dalam pekerjaan. Item pembayaran ini akan
mencakup:

i. Galian : di bawah item pembayaran 3.1.1/2


ii. Penyiapan tanah dasar : di bawah item pembayaran 3.3.1
iii. Pondasi bawah kelas A/B : di bawah item pembayaran 5.1.1/2
SPESIFIKASI UMUM
BAB V
LAPIS PONDASI BAWAH DAN LAPIS PONDASI ATAS

BAB 5.1 LAPIS PONDASI BAWAH


5.1.1 Umum
(1) Umum
Lapis pondasi bawah adalah lapisan konstruksi yang meneruskan baban dari lapis pondasi atas
kepada tanah dasar yang berupa bahan berbutir diletakkan di atas lapis tanah dasar yang telah
dibentuk dan dipadatkan, serta langsung berada di bawah lapis pondasi atas perkerasan.
Pekerjaan lapis pondasi bawah terdiri dari pengadaan, memproses, mengangkut, menebarkan,
membasahi dan memadatkan bahan lapis pondasi bawah berbutir yang disetujui sesuai dengan
gambar-gambar dan seperti yang diperintahkan oleh Direksi Teknik.
Catatan : Suatau lapisan pondasi bawah tidak diperlukan bilamana CBR lapis tanah dasar
adalah dasar 24% atau lebih.

(2) Toleransi Ukuran


a. Permukaan akhir lapis pondasi bawah harus diberi punggung atau kemiringan melintang
yang ditetapkan atau ditunjukan pada gambar-gambar. Tidak boleh ada ketidak-teraturan
dalam bentuk, dan permukaan tersebut harus rata dan seragam.
b. Kemiringan dan ketinggian akhir sesudah pemadatan tidak boleh lebih dari 1,5 cm kurang
dari yang ditunjukkan pada Gambar atau diatur di lapangan dan disetujui oleh Direksi
Teknik.

(3) Contoh Bahan


a. Contoh bahan yang digunakan untuk lapis pondasi bawah harus diserahkan kepada Direksi
Teknik untuk mendapatkan persetujuan paling sedikit 14 hari sebelum pekerjaan dimulai,
dan harusdisertai dengan hasil-hasil data pengujian sesuai dengan persyaratan Spesifikasi
untuk kualitas dan bahan-bahan seperti diuraikan dalam Spesifikasi ini.
b. Tidak ada perubahan mengenai sumber atau pengadaan bahan lapis pondasi bawah akan
dibuat tanpa persetujuan Direksi Teknik, dan setiap perubahan harus atas dasar
persyaratan contoh-contoh bahan dan laporan pengujian untuk pemeriksaan lebih lanjut
dari persetujuan di atas.

(4) Lalu Lintas


Apabila satu jalan pengalihan (alternative) tidak disediakan, pekerjaan tersebut harus
dilaksanakan sedemikian sehingga dimungkinkan dilewati oleh lalu lintas dalam satu arah
dengan membuat pengaturan pengendalian yang memadai dan dapat disetujui oleh Direksi.
Kontraktor harus bertanggung jawab terhadap terhadap setiap kerusakan yang terjadi pada
Lapis Pondasi Bawah Jalan dikarenakan diizinkannya lalu lintas dimana pelaksanaan pekerjaan
sedang berjalan.

(5) Perbaikan Pekerjaan Yang Tidak Memuaskan


a. Setiap bahan lapis pondasi bawah yang tidak memenuhi spesifikasi ini, apakah dipasang
atau belum, akan ditolak atau dipindahkan dari lapangan kerja atau digunakan sebagai
urugan seperti yang diperintahkan oleh Direksi Teknik.
b. Setiap bagian pekerjaan lapis pondasi bawah yang menunjukan ketidak-teraturan atau
cacat karena penangan yang jelek atau kegagalan Kontraktor untuk mematuhi persyaratan
spesifikasi atau gambar rencana harus dibetulkan dengan perbaikan-perbaikan atau
penggantian atas beban biaya Kontraktor sampai memuaskan Direksi Teknik.

5.1.2 Bahan-Bahan
(1) Persyaratan Umum
a. Bahan-bahan yang dipilih dan digunakan untuk pembangunan Lapis Pondasi Bawah (LPB)
terdiri dari bahan-bahan berbutir dipecah (A), atau bahan berbutir dibelah dan kerikil (B),
atau kerikil, pasir dan lempung alami (C) seperti yang pada gambar rencana dan
dicantumkandalam Daftar Penawaran
1. Lapis Pondasi Bawah (LPB) Kelas A, berupa agregat batu pecah disaring dan digradasi
dan semuanya lolos saringan 3 atau 75,00 mm, memenuhi Tabel 5.1.1 di bawah ini.
2. Lapis Pondasi Bawah (LPB) Kelas B, terdiri dari campuran batu belah dengan kerikil,
pasir dan lempung yang lolos saringan 2,5 atau 62,5 mm, memenuhi Tabel 5.1.1 di
bawah ini.
3. Lapis Pondasi Bawah (LPB) Kelas C, terdiri dari kerikil, pasir dan lempung alami yang
lolos saringan 1,5 atau 37,5 mm, memenuhi Tabel 5.1.1 berikut.

b. Bahan untuk pekerjaan lapis pondasi bawah harus bebas debu, zat organic, serta bahan-
bahan lain yang harus dibuang, dan harus memiliki kualitas, bila bahan tersebut telah
ditempatkan akan siap saling mengikat membentuk satu permukaan yang stabil dan
mantap.

c. Bila perlu dan sesuai dengan perintah Direksi Teknik, bahan-bahan dari berbagai sumber
atau pemasokan dapat disatukan (dicampur) dalam perbandingan yang diminta oleh
Direksi Teknik atau seperti yang ditunjukan dengan pengujian-pengujian, untuk dapat
memenuhi persyaratan Spesifikasi bahan lapis pondasi bawah.
(2) Gradasi Lapis Pondasi Bawah
Persyaratan gradasi untuk bahan lapis pondasi bawah kelas A, kelas B dan Kelas C
diberikandalam Tabel 5.1.1 di bawah ini.

TABEL 5.1.1 PERSYARATAN GRADASI UNTUK LAPIS PONDASI BAWAH


UKURAN % LOLOS ATAS BERAT
SARINGAN KELAS A KELAS B KELAS C
Mm ( <75 mm ) ( < 62,5 mm )
75.0 100 -
62.5 - 100
37.5 60 - 90 67 - 100 Maks. 100
25.0 46 - 78 -
10.0 40 - 70 40 - 100
9.5 24 - 56 25 - 80
4.75 13 - 45 16 - 66
2.30 6 - 36 10 - 55 Maks. 80
1.18 - 6 - 45
0.60 2 - 22 -
0.125 2 - 18 3 - 33
0.075 0 - 10 0 - 20 Maks. 15

(3) Syarat-Syarat Kuantitas


Bahan yang digunakan untuk lapis pondasi bawah harus memenuhi syarat-syarat kualitas
berikut yang diberikan pada Tabel 5.1.2

TABEL 5.1.2 SYARAT KUALITAS UNTUK BAHAN LAPIS PONDASI BAWAH


URAIAN BATAS TEST
Batas Cair Maksimum 35%
Indeks Plastisitas 4% - 12%
Ekivalen Pasir (Bahan Halus Plastis) Minimum 25
CBR terendam Minimum 30%
Kehilangan berat karena Abrasi (500 putaran) Maksimum 40%

5.1.3 Pelaksanaan Pekerjaan


(1) Penyiapan Lapis Tanah Dasar
a. Lapis tanah dasar atau formasi harus disiapkan dan diselesaikan sesuai dengan pekerjaan
yang ditetapkan di bawah Pekerjaan Tanah Bab 3.3. semua bahan sampai kedalaman 30
cm di bawah permukaan lapis tanah dasar harus dipadatkan sampai 100%kepadatkan
kering maksimum yang ditentukan oleh pengujian laboratorium PB-001-78 (AASHTO T99,
Standard Proctor)

b. Bahan lapis pondasi bawah harus ditempatkan dan ditimbun di tempat yang bebas dari lalu
lintas serta aliran dan lintasan air di sekitarnya.

(2) Penampuran dan Pemasangan Lapis Pondasi Bawah


a. Lapis pondasi bawah tersebut harus dicampur di lapangan ruas jalan yang bersangkutan,
terkecuali diperintahkan lain, dengan menggunakan tenaga kerja atau motor grader.
Pengadukan yang merata diperlukan dan bahan tersebut harus dipasang dalam lapisan-
lapisan tidak melebihi 20 cm tebalnya atau ketebalan lain yang diperintahkan oleh Direksi
Teknik agar dapat mencapai tingkat pemadatan yang ditetapkan.

b. Penyiraman dengan air, bila diperlukan demikian selama pencampuran dan pemadatan
harus dikontrol dengan cermat, dan dilaksanakan hanya bila diminta demikian oleh Direksi
Teknik.

c. Ketebalan lapis pondasi bawah terpasang harus sesuai dengan Gambar Rencana dan
seperti dinyatakan dalam Daftar Penawaran, atau seperti yang diperintahkan oleh Direksi
Teknik di lapangan sesuai kondisi tanah dasar yang sebenarnya.

(3) Penghamparan dan Pemadatan


a. Penghamparan akhir LPB sampai sampai ketebalan dan kemiringan melintang jalan yang
diminta harus dilaksanakan dengan kelonggaran penurunan ketebalan kira-kira 15% untuk
pemadatan lapisan-lapisan lapis pondasi bawah. Segera setelah penghamparan dan
pembentukan akhir, masing-masing lapisan harus dipadatkan sampai lebar penuh lapis
pondasi bawah perkerasan, dengan menggunakan mesin gilas roda baja atau mesin gilas
roda ban pneumatic atau peralatan pemadatan lain yang disetujui oleh Direksi Teknik.

b. Penggilasan untuk pembentukan dan pemadatan, bahan lapis pondasi bawah akan
bergerak secara gradual (sedikit demi sedikit) dari pinggir ke tengah, sejajar dengan garis
sumbu jalan sampai seluruh permukaan telah dipadatkan secara merata. Pada bagian-
bagian superelevasi, kemiringan melintang jalan atau kelandaian yang terjal, penggilasan
harus bergerak dari bagian yang lebih rendah ke bagian jalan yang lebih tinggi. Setiap
ketidak-teraturan atau bagian amblas yang mungkin terjadi, harus dibetulkan dengan
menggaru atau meratakan dengan menambahkan bahan lapis pondasi bawah untuk
membuat permukaan tersebut mencapai bentuk dan ketinggian yang benar.
Bagian-bagian yang sempit di sekitar kereb atau dinding yang tidak dapat dipadatkan
dengan mesin gilas, harus dipadatkan dengan pemadat atau mesin tumbuk yang disetujui.

c. Kandungan kelembaban untuk pemasangan harus dijaga di dalam batas-batas 3% kurang


dari kadar air optimum sampai 1% lebih dari kadar air optimum dengan penyemprotan air
atau pengeringan seperlunya, dan bahan lapis pondasi bawah harus dipadatkan untuk
menghasilkan kepadatan yang disyaratkan pada seluruh ketebalan tiap lapisan dan
mencapai 100% kepadatan kering maksimum yang ditetapkan yang sesuai dengan
AASHTO T99 (PB 0111).

(4) Pengendalian Lalu Lintas


a. Kontraktor harus bertanggung jawab atas semua akibat lalu lintas yang diizinkan lewat di
atas permukaan kerikil aelama pelaksanaan pekerjaan dan akan melarang lalu lintas
tesebut bila mungkin dengan menyediakan sebuah jalan pengalihan (alternative) atau
dengan pelaksanaan pekerjaan separuh lebar jalan.

b. Bangunan-bangunan, pohon-pohon atau hak milik lainnya di sekitar jalan tersebut harus
dilindungi terhadap kerusakan karena pengaruh pekerjaan, seperti lembaran batu karena
lalu lintas.

c. Bahan-bahan harus ditumpuk dalam satu tempat yang baik yang menjamin bahwa
tumpukan tersebut tidak menimbulkan kemacetan lalu lintas atau membendung aliran air.

5.1.4 Pengendalian Mutu


(1) Test Laboratorium untuk LPB Batu Pecah
a. Pengujian harus dilakukan terhadap bahan lapis pondasi bawah untuk dapat memenuhi
persyaratan spesifikasi.

b. Dua buah contoh bahan lapis pondasi bawah harus diuji sebelum digunakan di lapangan
(lihat Sub Bab 5.1.1 (3) Spesifikasi ini).

c. Pengujian bahan lapis pondasi bawah harus dilakukan untuk setiap 500 m3 dari bahan-
bahan yang ditumpuk di lapangan atau dipasang, menurut batas ukuran test laboratorium
yang diberikan pada Tabel 5.1.1, untuk memenuhi kondisi kualitas yang diberikan dalam
Spesifikasi ini atau seperti ini atau seperti diperintahkan lain oleh Direksi Teknik.
TABEL 5.1.1 TEST LABORATORIUM BAHAN LAPIS PONDASI BAWAH
RUJUKAN
TEST TIPE
AASHTO BINA MARGA
Analisa saringan Agregat Menentukan distribusi ukuran
T 27 PB 0201 - 76
Halus dan Kasar partikel agregat halus dan kasar
Penentuan Batas Cair dan Test Plastisitas untuk batas cair
T 89 PB 0109 - 76
Batas Plastis dan indeks plastisitas
Hubungan kepadatan kadar Test Standar Proctor
T 90 PB 0110 - 76
air menggunakan pemukul 2,5 kg
Menentukan nilai daya dukung
CBR T 193 PB 0111 - 76
lapis pondasi bawah
Test agregat kasar < 37,5 mm
Ketahanan terhadap Abrasi,
T 96 PB 0206 - 76 dengan menggunakan mesin Los
Agregat Kasar
Angeles
(2) Pengendalian Lapangan
Test pengendalian lapangan berikut ini harus dilaksanakan untuk memenuhi persyaratan
spesifikasi. Galian untuk lubang uji dan penimbunan kembali dengan bahan lapis pondasi
bawah dipadatkan dengan sempurna, harus dikerjakan oleh Kontraktor dibawah pengawasan
Direksi Teknik.

TABEL 5.1.2 PERSYARATAN PENGENDALIAN LAPANGAN


TEST PENGENDALIAN PROSEDUR
a. Ketebalan dan keseragaman lapis Pemeriksaan visual dan pengukuran ketebalan
pondasi bawah setiap hari. Dilakukan untuk setiap 200 m.
dilakukan untuk setiap 200 m, panjang lapisan
pondasi bawah jalan yang dipasang.

b. Test kepadatan di tempat, Lapis Harus dilakukan untuk setiap 200 m panjang lapis
Pondasi Bawah (test kerucut pasir) pondasi bawah jalan untuk menentukan tingkat
AASHTO T 191, PB 0103 - 70 kepadatan dengan membandingkan terhadap test
kepadatan laboratorium untuk kepadatan kering
maksimum

c. Penentuan CBR di tempat lapis tanah Dengan menggunakan DCI, dilaksanakan


dasar minimum setiap 1000 m panjang jalan.

5.1.5 Cara pengukuran


(1) Kontraktor harus menanggung semua biaya untuk pembayaran atau royalty dan
kompensasi lain kepada pemilik lahan atau penyewa untuk operasi lubang galian bahan
dan pengambilan bahan bagi pembangunan lapis pondasi bawah. Pemberi tugas akan
dibebaskan dari semua kewajiban atau biaya untuk operasi tersebut.

(2) Volume yang dibayar merupakan jumlah meter kubik lapis pondasi bawah yang dipasang
dan sesuai dengan Gambar serta Spesifikasi, atau seperti diperintahkan oleh Direksi
Teknik di lapangan yang dipadatkan dan diterima oleh Direksi Teknik. Perhitungan volume
harus atas dasar ketebalan dan lebar lapis pondasi bawah yang diperlukan, sebagaimana
ditunjukan dalam Gambar atau seperti yang disesuaikan oleh Perintah Perubahan
(Change Order), dikalikan dengan panjang sebenarnya yang dipasang. Setiap
penyimpangan dalam bentuk dan ketebalan lapis pondasi bawah tidak boleh melebihi
toleransi ukuran yang ditentukan di bawah Sub Bab 5.1.1 (2).

5.1.6 Dasar pembayaran


Volume yang ditentukan sebagaimana diberikan di atas di bayar per satuan pengukuran pada
harga yang dimasukkan dalam Daftar Penawaran untuk Item pembayaran seperti tercantum di
bawah. Harga dan pembayaran tersebut merupakan kompensasi penuh untuk semua
pekerjaan dan biaya-biaya yang diperlukan dalam penyelesaian lapis pondasi bawah yang
diminta sebagaimana diuraikan sebelumnya dalam bab ini.
Nomor Item Pembayaran URAIAN Satuan Pengukuran
5.1.1 Lapis Pondasi Bawah Kelas A meter kubik
5.1.2 Lapis Pondasi Bawah Kelas B meter kubik
5.1.3 Lapis Pondasi Bawah Kelas C meter kubik

BAB 5.2 LAPIS PONDASI ATAS AGREGAT


5.2.1 Umum
(1) Uraian
Lapis pondasi atas jalan merupakan lapisan struktur utama di tas lapis pondasi bawah (atau di
atas lapis tanah dasar dimana tidak dipasang lapis pondasi bawah). Pembangunan lapis
pondasi atas terdiri dari pengadaan, pemprosesan, pengangkutan, penghamparan penyiraman
dengan air dan pemadatan agregat batu atau kerikil alami pilihan dalam lapis pondasi atas, di
atas satu lapis pondasi bawah atau di atas lapis tanah dasar yang telah disiapkan.

(2) Toleransi Ukuran


a. Bahan agregat lapisn pondasi atas harus dipasang sampai ketebalan padat maksimum 20
cm atau ketebalan kurang, sebagaimana diperlukan untuk memenuhi persyaratan desain
seperti ditunjukan pada Gambar atau diperintahkan oleh Direksi Teknik.
b. Permukaan lapis pondasi atas harus diselesaikan mencapai lebar, kelandaian, punggung
dan kemiringan melintang jalan seperti yang ditunjukan pada Gambar Rencana, tidak boleh
ada ketidak-teraturan dalam bentuk dan permukaan harus rata dan seragam.
c. Kelandaian dan ketinggian akhir sesudah pemadatan tidak boleh lebih dari satu sentimeter
kurang dari yang ditunjukan pada gambar rencana atau seperti yang diatur di lapangan dan
disetujui oleh Direksi Teknik.
d. Penyimpangan maksimum dalam kehalusan permukaan jika diuji dengan satu mistar
panjang 3,0 m yang diletakan sejajar atau melintang terhadap garis sumbu jalan tidak boleh
melebihi 1, 5 cm.

(3) Contoh Bahan


a. Contoh bahan yang digunakan untuk lapis pondasi atas harus diserahkan kepada Direksi
Teknik untuk mendapatkan persetujuan paling sedikit 14 hari sebelum pekerjaan dimulai,
beserta hasil-hasil test laboratorium sesuai dengan persyaratan spesifikasi untuk kualitas
dan bahan sebagaimana diuraikan dalam spesifikasi ini.
b. Tidak boleh ada perubahan sumber pemasokan atau kualitas bahan lapis pondasi atas
yang diizinkan tanpa persetujuan Direksi Teknik, dan setiap perubahan demikian harus
disertai penyerahan tambahan contoh bahan dan hasil-hasil test yang telah dilakukan serta
persetujuan seperti di atas.
c. Bilamana Direksi Teknik mengaanggap perlu, Kontraktor akan diminta untuk melakukan
test tersebut lebih lanjut sebagaimana diperlukannya untuk memastikan bahwa bahan-
bahan tersebut memenuhi persyaratan Spesifikasi, sebelum menempatkan bahan lapis
pondasi atas pada pekerjaan di lapangan.

(4) Lalu Lintas


Apabila satu jalan pengalihan (altenatif) tidak disediakan, pekerjaan tersebut harus
dilaksanakan sedemikian sehingga dimungkinkan dilewati oleh lalau lintas dalam satu arah
dengan membuat pengaturan pengendalian yang memadai dan dapat disetujui oleh Direksi.
Kontraktor harus bertanggung jawab terhadap setiap kerusakan yang terjadi pada Lapis
Pondasi Atas Jalan dikarenakan diizinkannya lalu lintas dimana pelaksanaan pekerjaan sedang
berjalan.

(5) Perbaikan Pekerjaan yang tidak Memuaskan


i. Setiap bahan lapis pondasi atas yang tidak memenuhi spesifikasi ini, apakah dipasang atau
belum, harus ditolak dan diletakkan di samping (pinggir) untuk digunakan sebagai bahan
penimbunan, atau dengan cara lain dibuang seperti diperintahkan oleh Direksi Teknik.
ii. Setiap bagian pekerjaan lapis pondasi atas yang menunjukan ketidakteraturan atau
kerusakan dikarenakan penanganan yang jelek atau kegagalan Kontraktor untuk mematuhi
persyaratan spesifikasi atau gambar rencana harus dibetulkan dengan perbaikan atau
penggantian atas beban biaya Kontraktor sehingga memuaskan Direksi Teknik.

5.2.2 Bahan-Bahan
(1) Persyaratan Umum
a. Bahan-bahan yang dipilih dan digunakan untuk pembangunan lapis pondasi atas agregat
terdiri dari satu atau dua kelas bahan sebagaimana yang diperlukan dalam Kontrak tertentu
dan seperti yang dinyatakan dalam Daftar Penawaran.
b. Semua lapisan lapis pondasi atas harus memenuhi persyaratan spesifikasi ini dan harus
sesuai dengan Gambar Kontrak dan seperti yang diuraikan sebelumnya dalam Daftar
Penawaran.
c. Bahan lapisan lapis pondasi atas terdiri dari potongan batu bersudut tajam yang keras,
awet dan bersih tanpa potongan-potongan yang terlalu tipis atau memanjang dan bebas
dari batu-batu yang lunak, tidak merupakan batuan batu bata pecah atau tercerai berai,
kotor, mengandung zat organik atau zat-zat lain yang harus dibuang. Bahan yang tercerai
berai bila secara alternative dibasahi dan dikeringkan, tidak boleh digunakan.
(2) Macadam Ikat Basah
Bahan lapis pondasi atas kelas B juga meliputi :
a. Agregat kasar yang tertahan pada saringan 4,75 mm, bilamana dihasilkan dari kerikil tidak
kurang dari 50% terhadap berat, merupakan partikel-partikel yang memiliki paling sedikit
satu bidang pecah.
b. Agregat halus lolos saringan 4,75 mm, dan terdiri dari kerikil halus dan pasir alami atau
debu crusher.
c. Prosentase berat agregat tipis/pipih (perbandingan tebal dengan panjang lebih dari 1:5)
maksimum 5%.

(3) Gradasi Lapis Pondasi Atas


Persyaratan gradasi untuk bahan lapis pondasi atas Kelas A dan kelas B diberikan dalam Tabel
5.2.1 dan Tabel 5.2.2 berikut :

TABEL 5.2.1 GRADASI AGREGAT LAPIS TABEL 5.2.2 GRADASI AGREGAT LAPIS
PONDASI ATAS KELAS A PONDASI ATAS KELAS B, MAKADAM
UKURAN IKAT BASAH
LOLOS ATAS BERAT
SARINGAN
% UKURAN
MM LOLOS ATAS
SARINGAN
37,5 100 BERAT
MM
19,0 64 81
Aggr. Kasar/pokok
9,5 42 60
75,0 100
4,75 27 45
62,5 93 100
2,36 18 33
50,0 35 70
1,10 11 25
37,5 0 15
0,60 -
25,0 05
0,425 0 10
19,0 -
0,075 0-8
Aggr. halus/ pengisi
9,5 100
4,75 70 95
2,36 45 65
1,18 33 60
0,425 22 45
0,15 -
0,075 10 - 21

(4) Syarat-Syarat Kualitas


Bahan-bahan yang harus digunakan untuk pekerjaan lapis pondasi atas harus memenuhi
syarat kualitas pada Tabel 5.2.3.
TABEL 5.2.3 SYARAT-SYARAT KUALITAS BAHAN LAPIS PONDASI ATAS
BATAS UJIAN
JENIS PENGUJIAN KELAS B
KELAS A
Agregat Kasar Agregat Halus
Batas cair Mak. 25% Tidak Perlu Maks. 35%
Indeks Plastisitas Mak. 8% Tidak Perlu 4 12%
Ekivalensi Pasir Min. 35% Tidak Perlu Min. 30%
California Bearing Ratio (direndum) Min. 60% Min. 55% Min. 55%
Penyerapan Air Tidak Perlu Tidak Perlu Tidak Perlu
Kehilangan berat karena Abrasi (500 Mak. 40% Mak. 40% Tidak Perlu
putaran)
Catatan : Pengujian di atas adalah jumlah minimum pengujian kualitas yang diperlukan. Bila
direksi menganggap perlu, pengujian yang lebih luas dapat diminta untuk
menentukan kekerasan dan kebagusan kualitas batu dan bagian yang halus.

5.2.3 Pelaksanaan Pekerjaan


(1) Penyiapan Lapis Pondasi Bawah
a. Jika lapis pondasi atas harus diletakan di atas lapis pondasi bawah, permukaan lapis
pondasi bawah harus diselesaikan sesuai dengan pekerjaan yang ditentukan di bawah Bab
5.1 dan harus diatur serta dibersihkan dari kotoran-kotoran dan setiap bahan lain yang
merugikan untuk penghamparan lapis pondasi atas
b. Agregat lapis pondasi atas harus ditempatkan dan ditimbun bebas dari lalu lintas serta
drainase dan lintasan air di sekitarnya.

(2) Pencampuran dan Penghamparan Lapis Pondasi Atas


a. Agregat L.P.A Kelas A
i. Agregat harus ditempatkan pada lokasi di atas L.P.B yang sudah disiapkan dalam
volume yang cukup untuk penghamparan dan pemadatan ketebalan yang diperlukan.
ii. Agregat harus dihampar dengan tangan oleh pekerja atau dengan motor grader
sampai satu campuran yang merata dengan batas kelembaban yang optimum
sebagaimana ditentukan dibawah spesifikasi.
iii. Agregat harus dihampar dalam lapisan yang tidak melebihi ketebalan 20 cm, dalam
satu cara sehingga kepadatan maksimum yang telah ditetapkan dapat dicapai.

b. Macadam Ikat Basah Kelas B


i. Sebelum lapisan Makadam dipasang permukaan yang akan dilapis dengan Makadam
harus diperiksa dan disetujui oleh Tim Supervisi.
ii. Sebelum menghampar batu kasar/pokok, buatlah bangunan penunjang samping
pinggir (lebar 30 cm), misalnya dengan material timbunan bahu jalan, agar
pemadatan batu pokok yang digilas tidak terdorong ke pinggir.
iii. Dengan menggunakan suatu bahan yang ukuran maksimumnya adalah A cm,
ketebalan dari pada lapisan harus dibatasi sampai A+4 cm sebelum pemadatan untuk
memperoleh suatu lapisan kira-kira A+2 cm setelah pemadatan.
iv. Penempatan batu pokok harus dikerjakan dengan hati-hati sekali untuk membentuk
permukaan jalan sedekat mungkin mendekati kemiringan dan tebal yang disyaratkan.
Oleh karena itu tebal lapisan, bentuk dan kehalusan permukaan harus sering sekali
diperiksa selama penghamparan agregat-agreagat. Jika diperlukan bahan harus
ditambah atau dikurangi.

(3) Pembersihan dan Pemadatan


a. Agregat LPA Kelas A
i. Penghamparan akhir sampai ketebalan dan kemiringan melintang yang diperlukan harus
dilaksanakan dengan cadangan pengurangan ketebalan sekitar 10% untuk pemadatan
L.P.A. bahan tersebut harus dipadatkan dengan baik dengan alat pemadat yang sesuai
meliputi mesin gilas roda rata, mesin gilas jenis pneumatic atau mesingilas bergetar.
ii. Penggilasan untuk pembentukan dan pemadatan harus maju secara gradual (sedikit
demi sedikit) dari pinggir ke tengah dari perkerasan, sejajar dengan sumbu jalan dan
harus dilaksanakan dalam operasi yang menerus untuk membuat pemadatan matang
yang merata. Pada bagian superelevasi miring melintang atau kemiringan yang terjal,
penggilasan harus berjalan dari bagian jalan yang lebih rendah menuju ke bagian atas.
Setiap ketidak-teraturan atau penurunan setempat yang mungkin terjadi, harus
diperbaiki dengan membongkar permukaan yang sudah dipadatkan, menggaruk,
menambah atau membuang bahan pondasi, membentuk kembali dan memadatkan
sampai permukaan akhir dan kemiringan melintang yang betul.
Bagian-bagian perkerasan yang sempit di sekitar batu tepi atau dinding-dinding yang
tidak dapat dimasuki mesin gilas, harus dipadatkan dengan kompactor (mesin
pemadat) atau penumbuk mekanikal (stamper).
iii. Kadar air untuk pemasangan harus dijaga di dalam batas-batas 3% lebih rendah dari
kadar air optimum sampai 1% lebih tinggi dari kadar optimum dengan penyiraman air
atau pengeringan bila perlu, dan bahan L.P.A tersebut harus dipadatkan sampai
menghasilkan kepadatan 100% maksimum kepadatan kering yang diperlukan, yang
ditetapkan sesuai dengan AASHTO T99 (PB 0111-75).

b. Makadam Ikat Basah Kelas B


i. Sesudah penghamparan batu pokok, basahi agregat-agregat untuk melumasi
permukaan dari butir-butir untuk mendapatkan sifat saling mengunci yang lebih mudah
dan lebih baik waktu penggilasan.
ii. Padatkanlah lapisan batu pokok dengan cara berikut : Pada jalan lurus penggilasan
harus dimulai dari bagian pinggir, diteruskan kea rah tengah menurut suatu arah
sejajar dengan garis tengah jalan. Pada bagian superelevasi, tikungan dan tanjakan
yang tajam, pamadatan dimulai pada bagian yang rendah sejajar dengan as jalan
menuju bagian tinggi. Mesin harus kembali menggilas pada bagian yang sama
sebelumnya. Setiap gilasan harus menutupi sebagian dari pada yang sebelumnya kira-
kira 20 cm. Kecepatan mesin harus sekitar 1,5 km/jam pada masa permulaan
pemadatan dan dapat ditingkatkan sampai 3 km/jam pada masa akhir pemadatan.
Lapisan Makadam memperoleh kekuatan terutama dari sifat saling mengunci antara
butir yang satu dengan butir yang lainnnya. Oleh karena itu pemadatan harus
dilanjutkan sampai agregat-agregat tidak bergerak lagi di bawah roda-roda mesin gilas.
iii. Bahan pengisi/halus dihamparkan tipis dan rata di atas permukaan batu pokok langsung
dari truk-truk atau dan tempat penimbunan. Untuk membantu bahan halus mengisi
rongga-rongga di antara agregat-agregat batu pokok, maka air disiramkandi atas
bahan pengisi dan bahan halus didorong terus menerus dengan sapu ke dalam rongga
di antara agregat-agregat. Tanggul-tanggul kecil atau gundukan-gundukandari bahan
pengisi dapat ditimbun pada pinggir lapisan agar air di atas tidak hilang melalui alur-
alur selokan.
Penggilasan dengan mesin gilas roda besar dilakukan selama penghamparan bahan
pengisi dan air. Kecepatan mesin gilas dapat dinaikkan sampai 3 km/jam. Bahan
pengisi harus ditambahkan yaitu setiap timbul rongga di antara agregat-agregat.
Penempatan bahan pengisi/halus dan penggilasan harus diteruskan sampai isian
berikut tidak dapat dimasukkan lagi. Pada akhir pekerjaan, permukaan lapisan
Makadam harus menyerupai batu mozaik yang padat dan bebas dari rongga-rongga.
iv. Karena LPA Kelas B mengandung agregat > 50 mm, Sandcone untuk test kepadatan
tidak dapat dilaksanakan. Tabel 5.2.4 akan dipakai sebagai persyaratan pemadatan
dengan mesin gilas.

(4) Pengendalian Lalu Lintas


a. Kontraktor harus bertanggung jawab atas semua akibat lalu lintas yang diizinkan lewat di
atas permukaan kerikil selama pelaksanaan pekerjaan dan akan melarang lalu lintas
tersebut bila mungkin dengan menyediakan sebuah jalan pengalihan (alternatif) atau
dengan pelaksanaan pekerjaan separuh lebar jalan.
b. Bangunan-bangunan, pohon-pohon atau hak milik perseorangan lainnya di sekitar jalan
tersebut harus dilindungi terhadap kerusakan karena pengaruh pekerjaan, seperti lembaran
batu lalu lintas.
c. Bahan-bahan harus ditumpuk dalam satu tempat yang baik yang menjamin bahwa
tumpukan tersebut tidak menimbulkan kemacetan lalu lintas atau membendung aliran air.
TABEL 5.2.4 PERSYARATAN PEMADATAN DENGAN MESIN GILAS
AGREGAT GRADASI BAIK
Tebal maksimum
ALAT PEMADAT KATEGORI Minimum Jumlah
lapisan yang di
Lintasan
padatkan (cm)
Mesin gilas beroda besar Ton/m, lebar
2,25 2,70 12,5 10
2,71 5,50 12,5 8
Lebih dari 5,50 12,0 8
Mesin gilas dengan ban Beban roda (ton)
pneumatic 2,01 2,50 12,5 12
2,51 4,00 12,5 10
4,01 6,00 12,5 10
6,01 8,00 15,0 8
8,01 12,00 15,0 8
Lebih dari 12,00 17,5 8
Mesin gilas bergetar Beban static (ton/m)
0,27 0,45 7,5 16
0,46 0,70 7,5 12
0,71 1,25 12,5 12
1,26 1,80 15,0 8
1,81 2,30 15,0 4
2,31 2,90 17,5 4
2,91 3,6 20,0 4
3,61 4,3 22,5 4
4,31 5,00 25,0 4

5.2.4 Pengendalian Mutu


(1) Persyaratan Pengujian
Jumlah data uji penunjang yang diperlukan untuk persetujuan awal harus sesuai dengan Bab
5.2.1 (3) dan yang lebih lanjut diminta di bawah titik (2) berikut Pengujian Laboratorium.
Sebuah program mengenai pengujian pengendalian kualitas bahan harus dilaksanakan
sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Teknik untuk memenuhi persyaratan uji yang
diberikan di dalam Tabel 5.2.5.

(2) Pengujian Laboratorium


Bahan agregat L.P.A harus diambil contohnya dan diuji untuk setiap 250 meter kubik bahan
yang dipasang, kecuali diperintahkan lain oleh Direksi Teknik yang sesuai dengan batas
perbedaan pengujian berikut untuk memenuhi syarat-syarat kualitas yang ditetepkan pada Sub
Bab 5.2.2 Spesifikasi ini.
TABEL 5.2.5 TEST LABORATORIUM BAHAN LAPIS PONDASI ATAS
RUJUKAN
TEST TIPE
AASHTO BINA MARGA
Analisa Saringan Agregat Memenuhi distribusi ukuran partikel
T 27 PB 0201 - 76
Halus dan Kasar agregat halus dan kasar
Penentuan Batas Cair dan T 89 PB 0109 76 Pengujian plastisitas untuk batas
Batas Plastis T 90 PB 0110 - 76 cair dan Indeks Plastisitas
Bagian Halus Yang Pengujian Ekivalen pasir untuk
Plastis di dalam Agregat T 175 - menunjukan perbandingan bagian
Bergradasi dan Tanah halus dan lempung
Hubungan Kelembaban - Ujian Standar Proctor menggunakan
T 90 PB 0111 - 76
Kepadatan pemukul 2,5 kilogram
California Bearing Ratio Menentukan nilai dukungan tanah
T 193 PB 0113 - 76
(direndam) dan agregat
Berat Jenis dan
Menentukan penyerapan air oleh
Penyerapan Agregat T 85 PB 0103 - 76
agregat kasar kelas B saja
Kasar
Pengujian untuk agregat < 37,5 mm,
Ketahanan Agregat Kasar
T 96 PB 0206 - 76 menggunakan mesin Los Angeles
terhadap Abrasi
(500 putaran)

(3) Pengendalian Lapangan


Pengujian-pengujian lapangan berikut ini harus dilakukan untuk memenuhi persyaratan
Spesifikasi. Membuat lubang uji dan pengisian kembali dengan bahan lapis pondasi atas
dipadatkan dengan baik, harus dilaksanakan oleh Kontraktor di bawah pengawasan Direksi
Teknik.

TABEL 5.2.6 PERSYARATAN PENGENDALIAN LAPANGAN


TEST PENGENDALIAN PROSEDUR
a. Ketebalan dan keseragaman lapis Pemeriksaan Visual setiap hari & pengukuran
pondasi atas ketebalan harus dilakukan untuk setiap 200 m
panjang lapis pondasi yang terpasang

b. i. Test pemadatan lapis pondasi atas Test kepadatan di tempat, untuk menentukan
(dengan cara kerucut pasir) tingkat kepadatan yang dibandingkandengan
AASHTO T 191 test laboratorium untuk hubungan kelembaban
PB 0403 76 kepadatan. Dilaksanakan untuk setiap 200
m panjang jalan.

ii. Test pemadatan dengan penggilasan Pemeriksaan Visual setiap hari dan pengujian
percobaan (dimana test kepadatan dilakukanuntuk setiap 200 m panjang lapis
kerucut pasir tidak dapat dilakukan) pondasi atas yang terpasang (menggunakan
mesin gilas berat).

5.2.5 Cara Pengukuran Pekerjaan


(1) Kontraktor harus membiayai semua pembayaran untuk setiap pungutan dan kompensasi
lainnya dalam memperoleh dan mengambil bahan yang harus digunakan untuk Agregat
Lapis Pondasi Atas. Di bawah keadaan apapun pemberi tugas (Pemilik Proyek) harus
bebas dari setiap kewajiban pembayaran, terkecuali hal-hal yang sudah termasuk dalam
Daftar Penawaran.
(2) Jumlah yang harus dibayar merupakan jumlah meter kubik Lapis Pondasi Atas yang
terpasang yang sesuai dengan Gambar dan Spesifikasi atau sebagaimana yang
diperintahkan oleh Direksi Teknik, sudah dipadatkan dan diterima oleh Direksi Teknik.
Pehitungan volume Lapis Pondasi Atas, harus atas dasar ketebalan dan lebar lapis pondasi
yang diminta, sebagaimana terlihat pada Gambar Rencana, atau yang disesuaikan oleh
perintah perubahan (change order) dikalikan dengan panjang terpasang sebenarnya dan
disetujui oleh Direksi Teknik.
Setiap penyimpangan bentuk dan ketebalan lapis pondasi atas tidak boleh melebihi
toleransi ukuran yang ditetapkan di bawah Sub Bab 5.2.1 (2).

5.2.6 Dasar Pembayaran


Volume yang ditentukan sebagaimana disediakan di atas akan dibayar per satuan pengukuran
pada harga-harga yang dimasukkan dalam Daftar Penawaran untuk item-item pembayaran
yang diberikan di bawah, yang harga dan pembayaran tersebut akan merupakan kompensasi
penuh bagi semua pekerjaan dan biaya-biaya yang diperlukan dalam meyelesaikan lapis
pondasi atas yang diminta, sebagaimana diuraikan dalam bagan ini.
Nomor Item Pembayaran URAIAN Satuan Pengukuran
5.2.1 Lapis Pondasi Atas Kelas A meter kubik
5.2.2 Lapis Pondasi Atas Makadam Ikat meter kubik
Basah Kelas B

BAB 5.3 LAPIS PONDASI BAWAH (TELFORD)


5.3.1 Ketentuan Umum
(1) Lapis pondasi bawah agregat adalah bagian konstruksi perkerasan yang terletak tanah
dasar dan pondasi atas, yang terdiri dari LPB dan Telford (batu pecah).
(2) Dalam kedudukannya sebagai bahan konstruksi pekerjaan jalan, pondasi bawah agregat
mempunyai nilai konstruksi.

5.3.2 Lingkup Pekerjaan


Pemasangan LPB Telford pada seluruh bagian badan jalan.

5.3.3 Persyaratan Bahan


(1) Bahan yang digunakan untuk pondasi bawah harus dapat dipasang sebagaimana yang
tercantum dalam gambar rencana.
(2) Bahan pondasi harus bebas dari kotoran, bahan organik dan bahan-bahan lainnya,
sehingga dapat memberikan lapisan kuat dan mantap. Bahan pondasi bawah yang terdiri
dari LPB batu pecah (20-25 cm).
(3) Batu yang dipilih harus bersih, keras tanpa lapisan yang lemah atau retak dan harus
memiliki daya tahan yang kuat (awet).
(4) Batu-batu tersebut harus berbentuk batu pecah dan harus dapat dilapisi seperlunya untuk
menjamin salning yang rapat bila dipasang bersama-sama dan memberikan satu profil
permukaan di dalam batas-batas ukuran yang telah ditetapkan.

5.3.4 Pedoman Pelaksanaan


(1) Sebelum pemasangan dan penyusunan lapis pondasi bawah dimulai, terlebih dahulu
permukaan dasar harus dipadatkan sesuai ketentuan pemadatan dengan tingkat
kepadatan yang disetujui oleh Direksi Teknik.
(2) Pemasangan lapisan pondasi bawah yang terdiri dari batu belah yang dikerjakan setelah
pasir dihampar di atas lapisan dasar setebal 5 cm kemudian batu belah ukuran 20-25 cm
disusun berdiri dan rapat.
(3) Pemasangan yang berongga di sini dengan batu pecah ukuran 5-7 cm dan pasir urug.
Bagian-bagian pasangan yang tak beraturan disisip kembali agar permukaan menjadi rata.
(4) Setelah pemasangan lapis pondasi bawah selesai dikerjakan lalu dipadatkan atau
diratakan dengan menggunakan mesin sesuai dengan yang disyaratkan. Pada bagian yang
harus dilakukan pemadatan dimulai dari bagian tepi seterusnya bergeser ke bagian tengah
sejajar dengan sumbu jalan dan diusahakan berlangsung terus sampai seluruh permukaan
terpadatkan secara merata.
(5) Pada tikungan, pemadatan dimulai dari bagian yang rendah dan bergeser ke arah bagian
yang tinggi.
(6) Apabila pada suatu tempat terjadi ketidakwajaran atau penurunan, pada tempat tersebut
harus dilakukan pembongkaran, penggantian dan penambahan bahan atas biaya
kontraktor dan dipadatkan kembali sampai mencapai kepadatan yang seragam dan rata
dengan permukaan yang telah sesuai dipadatkan di sekitarnya.
(7) Pengawas dapat memberikan petunjuk tambahan begitu juga dengan mutu dan jumlah.
Mutu pekerjaan juga harus diperiksa kembali oleh pengawas. Bila terjadi ketidaksesuaian
dengan persyaratan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan. Kontraktor diwajibkan
untuk memperbaiki dan menyempurnakan pekerjaan sesuai dengan spesifikasi dan biaya
akan menjadi tanggung jawab Kontraktor.

5.3.5 Pengendalian Mutu


(1) Pengendalian Lapangan
Test pengendalian lapangan berikut ini harus dilaksanakan untuk memenuhi persyaratan
spesifikasi galian untuk lubang uji dan penimbunan kembali dengan bahan lapis pondasi
bawah dipadatkan dengan sempurna, harus dikerjakan oleh kontraktor dibawah
pengawasan Direksi Teknik.
TABEL 5.3.1 PERSYARATAN PENGENDALIAN LAPANGAN
TEST PENGENDALIAN PROSEDUR
a. Ketebalan dan keseragaman jenis lapis Pemeriksaan visual dan pengukuran
pondasi bawah ketebalan setiap hari, dilakukan untuk setiap
200 m panjang lapisan pondasi bawah jalan
yang dipasang

b. Penentuan CBR di tempat lapis tanah Dengan menggunakan DCP, dilaksanakan


dasar minimum setiap 1000 m panjang jalan. (Nilai
CBR sesuai dengan SKBI 2.3.26.1987/SNI 03-
1732-1989)

5.3.6 Cara Pengukuran


(1) Kontraktor harus menanggung semua biaya untuk pembayaran atau royalti dan
kompensasi lain kepada pemilik lahan atau penyewa tanah untuk operasi lubang galian
bahan dan pengambilan bahan bagi pembangunan lapis pondasi bawah. Pemberi tugas
akan dibebaskan dari semua kewajiban atau biaya untuk operasi tersebut.
(2) Volume yang dibayar merupakan jumlah meter kubik lapis pondasi bawah yang dipasang
dan sesuai dengan gambar serta spesifikasi, atau seperti diperintahkan oleh Direksi Teknik
di lapangan yang dipadatkan dan diterima oleh Direksi Teknik.
Perhitungan volume harus atas dasar ketebalan dan lebar lapis pondasi bawah yang
diperlukan sebagaimana ditunjukan dalam Gambar atau seperti yang disesuaikan oleh
Perintah Perubahan (change order) dikalikan dengan panjang sebenarnya yang dipasang.

5.3.7 Dasar Pembayaran


Volume yang ditentukan sebagaimana diberikan di atas dibayar persatuan pengukuran pada
harga yang dimasukkan dalam Daftar Penawaran untuk item pembayaran seperti tercantum di
bawah. Harga dan pembayaran tersebut merupakan kompensasi penuh untuk semua
pekerjaan dan biaya-biaya yang diperlukan dalam menyelesaikan lapis pondasi bawah yang
diminta sebagaimana diuraikan sebelumnya dalam bab ini.
Nomor Item Pembayaran URAIAN Satuan Pengukuran

5.3 Lapis Pondasi Bawah (Telford) Meter Kubik


SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

DIVISI 7

STRUKTUR

SEKSI 7.1

BETON

7.1.1 UMUM

1) Uraian

a) Pekerjaan yang disyaratkan dalam Seksi ini harus mencakup pelaksanaan seluruh
struktur beton, termasuk tulangan, struktur pracetak dan komposit, sesuai dengan
Spesifikasi dan sesuai dengan garis, elevasi, kelandaian dan dimensi yang
ditunjukkan dalam Gambar, dan sebagaimana yang diperlukan oleh Direksi
Pekerjaan.

b) Pekerjaan ini harus meliputi pula penyiapan tempat kerja untuk pengecoran
beton, pemeliharaan pondasi, pengadaan lantai kerja, pemompaan atau tindakan
lain untuk mempertahankan agar pondasi tetap kering.

c) Mutu beton yang akan digunakan pada masing-masing bagian dari pekerjaan
dalam Kontrak haruslah seperti yang ditunjukkan dalam Gambar atau Seksi lain
yang berhubungan dengan Spesifikasi ini, atau sebagaimana diperintahkan oleh
Direksi Pekerjaan.

d) Syarat dari PBI NI-2 1971 harus diterapkan sepenuhnya pada semua pekerjaan
beton yang dilaksanakan dalam Kontrak ini, kecuali bila terdapat pertentangan
dengan ketentuan dalam Spesifikasi ini, dalam hal ini ketentuan dalam Spesi-
fikasi ini yang harus dipakai.

2) Penerbitan Detil Pelaksanaan

Detil pelaksanaan untuk pekerjaan beton yang tidak disertakan dalam Dokumen Kontrak
pada saat pelelangan akan diterbitkan oleh Direksi Pekerjaan setelah peninjauan
rancangan awal telah selesai dilaksanakan sesuai dengan Seksi 1.9 dari Spesifikasi ini.

3) Pekerjaan Seksi Lain Yang Berkaitan Dengan Seksi Ini

a) Pemeliharaan dan Pengaturan Lalu Lintas : Seksi 1.8 :


b) Rekayasa Lapangan Seksi 1.9 :
c) Pasangan batu dengan mortar Seksi 2.2 :
d) Gorong-gorong dan Drainase Beton Seksi 2.3 :
e) Drainase Porous Seksi 2.4 :
f) Excavation Seksi 3.1 :
g) Timbunan Seksi 3.2 :
h) Baja Tulangan Seksi 7.3 :
i) Adukan Semen Seksi 7.8 :
j) Pembongkaran Struktur Seksi 7.15

7-1
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

4) Jaminan Mutu

Mutu bahan yang dipasok dari campuran yang dihasilkan dan cara kerja serta hasil
akhir harus dipantau dan dikendalikan seperti yang disyaratkan dalam Standar
Rujukan dalam Pasal 7.1.1.(6) di bawah ini.

5) Toleransi

a) Toleransi Dimensi :
Panjang keseluruhan sampai dengan 6 m. + 5 mm
Panjang keseluruhan lebih dari 6 m + 15 mm
Panjang balok, pelat dek, kolom dinding, atau antara
kepala jembatan - 0 dan + 10 mm

b) Toleransi Bentuk :
Persegi (selisih dalam panjang diagonal) 10 mm
Kelurusan atau lengkungan (penyimpangan dari garis
yang dimaksud) untuk panjang s/d 3 m 12 mm
Kelurusan atau lengkungan untuk panjang 3 m - 6 m 15 mm
Kelurusan atau lengkungan untuk panjang > 6 m 20 mm

c) Toleransi Kedudukan (dari titik patokan) :

Kedudukan kolom pra-cetak dari rencana 10 mm


Kedudukan permukaan horizontal dari rencana 10 mm
Kedudukan permukaan vertikal dari rencana 20 mm

d) Toleransi Alinyemen Vertikal :


Penyimpangan ketegakan kolom dan dinding 10 mm

e) Toleransi Ketinggian (elevasi) :


Puncak lantai kerja di bawah pondasi 10 mm
Puncak lantai kerja di bawah pelat injak 10 mm
Puncak kolom, tembok kepala, balok melintang 10 mm

f) Toleransi Alinyemen Horisontal : 10 mm dalam 4 m panjang mendatar.

g) Toleransi untuk Penutup / Selimut Beton Tulangan :

Selimut beton sampai 3 cm 0 dan + 5 mm


Selimut beton 3 cm - 5 cm - 0 dan + 10 mm
Selimut beton 5 cm - 10 cm 10 mm

6) Standar Rujukan

Standar Industri Indonesia (SII) :

SII-13-1977 : Semen Portland.


(AASHTO M85 - 75)

7-2
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Standar Nasional Indonesia (SNI) :

PBI 1971 : Peraturan Beton Bertulang Indonesia NI-2.

SK SNI M-02-1994-03 : Metode Pengujian Jumlah bahan Dalam Agregat Yang


(AASHTO T11 - 90) Lolos Saringan No.200 (0,075 mm).

SNI 03-2816-1992 : Metode Pengujian Kotoran Organik Dalam Pasir untuk


(AASHTO T21 - 87) Campuran Mortar dan Beton.

SNI 03-1974-1990 : Metode Pengujian Kuat Tekan Beton.


(AASHTO T22 - 90)

Pd M-16-1996-03 : Metode Pembuatan dan Perawatan Benda Uji Beton di


(AASHTO T23 - 90) Lapangan.

SNI 03-1968-1990 : Metode Pengujian tentang Analisis Saringan Agregat Ha-


(AASHTO T27 - 88) lus dan Kasar.

SNI 03-2417-1991 : Metode Pengujian Keausan Agregat dengan Mesin Los


(AASHTO T96 - 87) Angeles.

SNI 03-3407-1994 : Metode Pengujian Sifat Kekekalan Bentuk Agregat Ter-


(AASHTO T104 - 86) hadap Larutan Natrium Sulfat dan Magnesium Sulfat.

SK SNI M-01-1994-03 : Metode Pengujian Gumpalan Lempung dan Butir-butir


(AASHTO T112 - 87) Mudah Pecah Dalam Agregat.

SNI 03-2493-1991 : Metode Pembuatan dan Perawatan Benda Uji Beton di


(AASHTO T126 - 90) Laboratorium.

SNI 03-2458-1991 : Metode Pengambilan Contoh Untuk Campuran Beton


(AASHTO T141 - 84) Segar.

AASHTO :

AASHTO T26 - 79 : Quality of Water to be used in Concrete.

7) Pengajuan Kesiapan Kerja

a) Kontraktor harus mengirimkan contoh dari seluruh bahan yang hendak


digunakan dengan data pengujian yang memenuhi seluruh sifat bahan yang
disyaratkan dalam Pasal 7.1.2 dari Spesifikasi ini.

b) Kontraktor harus mengirimkan rancangan campuran untuk masing-masing mutu


beton yang diusulkan untuk digunakan 30 hari sebelum pekerjaan pengecoran
beton dimulai.

c) Kontraktor harus segera menyerahkan secara tertulis hasil dari seluruh peng-
ujian pengendalian mutu yang disyaratkan sedemikian hingga data tersebut
selalu tersedia atau bila diperlukan oleh Direksi Pekerjaan.

7-3
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Pengujian kuat tekan beton yang harus dilaksanakan minimum meliputi peng-
ujian kuat tekan beton yang berumur 3 hari, 7 hari, 14 hari, dan 28 hari setelah
tanggal pencampuran.

d) Kontraktor harus mengirim Gambar detil untuk seluruh perancah yang akan
digunakan, dan harus memperoleh persetujuan dari Direksi Pekerjaan sebelum
setiap pekerjaan perancah dimulai.

e) Kontraktor harus memberitahu Direksi Pekerjaan secara tertulis paling sedikit 24


jam sebelum tanggal rencana mulai melakukan pencampuran atau pengecoran
setiap jenis beton, seperti yang disyaratkan dalam Pasal 7.1.4.(1) di bawah.

8) Penyimpanan dan Perlindungan Bahan

Untuk penyimpanan semen, Kontraktor harus menyediakan tempat yang tahan cuaca
yang kedap udara dan mempunyai lantai kayu yang lebih tinggi dari tanah di sekitarnya
dan ditutup dengan lembar polyethylene (plastik). Sepanjang waktu, tumpukan kantung
semen harus ditutup dengan lembar plastik.

9) Kondisi Tempat Kerja

Kontraktor harus menjaga temperatur semua bahan, terutama agregat kasar, dengan
temperatur pada tingkat yang serendah mungkin dan harus dijaga agar selalu di bawah
30oC sepanjang waktu pengecoran. Sebagai tambahan, Kontraktor tidak boleh melaku-
kan pengecoran bilamana :

a) Tingkat penguapan melampaui 1,0 kg / m2 / jam.

b) Lengas nisbi dari udara kurang dari 40 %.

c) Tidak diijinkan oleh Direksi Pekerjaan, selama turun hujan atau bila udara penuh
debu atau tercemar.

10) Perbaikan Atas Pekerjaan Beton Yang Tidak Memenuhi Ketentuan

a) Perbaikan atas pekerjaan beton yang tidak memenuhi kriteria toleransi yang
disyaratkan dalam Pasal 7.1.1.(4), atau yang tidak memiliki permukaan akhir
yang memenuhi ketentuan, atau yang tidak memenuhi sifat-sifat campuran yang
disyaratkan dalam Pasal 7.1.3.(3), harus mengikuti petunjuk yang diperintahkan
oleh Direksi Pekerjaan dan dapat meliputi :

i) Perubahan proporsi campuran beton untuk sisa pekerjaan yang belum


dikerjakan;

ii) Tambahan perawatan pada bagian struktur yang hasil pengujiannya gagal;

iii) Perkuatan atau pembongkaran menyeluruh dan penggantian bagian


pekerjaan yang dipandang tidak memenuhi ketentuan;

b) Bilamana terjadi perbedaan pendapat dalam mutu pekerjaan beton atau adanya
keraguan dari data pengujian yang ada, Direksi Pekerjaan dapat meminta
Kontraktor melakukan pengujian tambahan yang diperlukan untuk menjamin
bahwa mutu pekerjaan yang telah dilaksanakan dapat dinilai dengan adil. Biaya
pengujian tambahan tersebut haruslah menjadi tanggung jawab Kontraktor.

7-4
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

c) Perbaikan atas pekerjaan beton yang retak atau bergeser haruslah sesuai dengan
ketentuan dari Pasal 2.2.1.(8).(b) dari Spesifikasi ini.

7.1.2 BAHAN

1) Semen

a) Semen yang digunakan untuk pekerjaan beton haruslah jenis semen portland
yang memenuhi AASHTO M85 kecuali jenis IA, IIA, IIIA dan IV. Terkecuali
diperkenankan oleh Direksi Pekerjaan, bahan tambahan (aditif) yang dapat
menghasilkan gelembung udara dalam campuran tidak boleh digunakan.

b) Terkecuali diperkenankan oleh Direksi Pekerjaan, hanya satu merk semen


portland yang dapat digunakan di dalam proyek.

2) Air

Air yang digunakan dalam campuran, dalam perawatan, atau pemakaian lainnya harus
bersih, dan bebas dari bahan yang merugikan seperti minyak, garam, asam, basa, gula
atau organik. Air akan diuji sesuai dengan; dan harus memenuhi ketentuan dalam
AASHTO T26. Air yang diketahui dapat diminum dapat digunakan tanpa pengujian.
Bilamana timbul keragu-raguan atas mutu air yang diusulkan dan pengujian air seperti
di atas tidak dapat dilakukan, maka harus diadakan perbandingan pengujian kuat tekan
mortar semen + pasir dengan memakai air yang diusulkan dan dengan memakai air
suling atau minum. Air yang diusulkan dapat digunakan bilamana kuat tekan mortar
dengan air tersebut pada umur 7 hari dan 28 hari minimum 90 % kuat tekan mortar
dengan air suling atau minum pada periode perawatan yang sama.

3) Ketentuan Gradasi Agregat

a) Gradasi agregat kasar dan halus harus memenuhi ketentuan yang diberikan
dalam Tabel 7.1.2.(1), tetapi bahan yang tidak memenuhi ketentuan gradasi
tersebut tidak perlu ditolak bila Kontraktor dapat menunjukkan dengan pengujian
bahwa beton yang dihasilkan memenuhi sifat-sifat campuran yang yang
disyaratkan dalam Pasal 7.1.3.(3).

Tabel 7.1.2 (1) Ketentuan Gradasi Agregat

Ukuran Ayakan Persen Berat Yang Lolos Untuk Agregat


ASTM (mm) Halus Kasar
2 50,8 - 100 - - -
1 1/2 38,1 - 95 -100 100 - -
1 25,4 - - 95 - 100 100 -
3/4 19 - 35 - 70 - 90 - 100 100
1/2 12,7 - - 25 - 60 - 90 - 100
3/8 9,5 100 10 - 30 - 20 - 55 40 - 70
No.4 4,75 95 - 100 0-5 0 -10 0 - 10 0 - 15
No.8 2,36 - ---- 0-5 0-5 0-5
No.16 1,18 45 - 80 --- --- ---
No.50 0,300 10 - 30
No.100 0,150 2 - 10

7-5
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

b) Agregat kasar harus dipilih sedemikian sehingga ukuran partikel terbesar tidak
lebih dari dari jarak minimum antara baja tulangan atau antara baja tulangan
dengan acuan, atau celah-celah lainnya di mana beton harus dicor

4) Sifat-sifat Agregat

a) Agregat untuk pekerjaan beton harus terdiri dari partikel yang bersih, keras, kuat
yang diperoleh dengan pemecahan batu (rock) atau berangkal (boulder), atau
dari pengayakan dan pencucian (jika perlu) dari kerikil dan pasir sungai.

b) Agregat harus bebas dari bahan organik seperti yang ditunjukkan oleh pengujian
SNI 03-2816-1992 dan harus memenuhi sifat-sifat lainnya yang diberikan dalam
Tabel 7.1.2.(2) bila contoh-contoh diambil dan diuji sesuai dengan prosedur SNI/
AASHTO yang berhubungan.

Tabel 7.1.2.(2) Sifat-sifat Agregat

Batas Maksimum yang


Sifat-sifat Metode Pengujian diijinkan untuk Agregat
Halus Kasar
Keausan Agregat dengan Mesin Los SNI 03-2417-1991 - 40 %
Angeles pada 500 putaran
Kekekalan Bentuk Batu terhadap SNI 03-3407-1994 10 % 12 %
Larutan Natrium Sulfat atau Magne-
sium Sulfat setelah 5 siklus
Gumpalan Lempung dan Partikel SK SNI M-01-1994-03 0,5 % 0,25 %
yang Mudah Pecah
Bahan yang Lolos Ayakan No.200 SK SNI M-02-1994-03 3% 1%

5) Batu Untuk Beton Siklop

Batu untuk beton siklop harus terdiri dari batu yang disetujui mutunya, keras dan awet
dan bebas dari retak dan rongga serta tidak rusak oleh pengaruh cuaca.. Batu harus
bersudut runcing, bebas dari kotoran, minyak dan bahan-bahan lain yang mempengaruhi
ikatannya dengan beton.

7.1.3 PENCAMPURAN DAN PENAKARAN

1) Rancangan Campuran

Proporsi bahan dan berat penakaran harus ditentukan dengan menggunakan metode yang
disyaratkan dalam PBI dan sesuai dengan batas-batas yang diberikan dalam Tabel
7.1.3.(1).

2) Campuran Percobaan

Kontraktor harus menentukan proporsi campuran serta bahan yang diusulkan dengan
membuat dan menguji campuran percobaan, dengan disaksikan oleh Direksi Pekerjaan,
yang menggunakan jenis instalasi dan peralatan yang sama seperti yang akan digunakan
untuk pekerjaan.

Campuran percobaan tersebut dapat diterima asalkan memenuhi ketentuan sifat-sifat


campuran yang disyaratkan dalam Pasal 7.1.3.(3) di bawah.

7-6
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Tabel 7.1.3.(1) Batasan Proporsi Takaran Campuran

Mutu Ukuran Agre- Rasio Air / Semen Maks. Kadar Semen Min.
Beton gat Maks.(mm) (terhadap berat) (kg/m3 dari campuran)
K600 - - -
K500 - 0,375 450
37 0,45 356
K400 25 0,45 370
19 0.45 400
37 0,45 315
K350 25 0,45 335
19 0,45 365
37 0,45 300
K300 25 0,45 320
19 0,45 350
37 0,50 290
K250 25 0,50 310
19 0,50 340
K175 - 0,57 300
K125 - 0,60 250

3) Ketentuan Sifat-sifat Campuran

a) Seluruh beton yang digunakan dalam pekerjaan harus memenuhi kuat tekan dan
"slump" yang dibutuhkan seperti yang disyaratkan dalam Tabel 7.1.3.(2), atau
yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan, bila pengambilan contoh, perawatan dan
pengujian sesuai dengan SNI 03-1974-1990 (AASHTO T22), Pd M-16-1996-
03 (AASHTO T23), SNI 03-2493-1991 (AASHTO T126), SNI 03-2458-1991
(AASHTO T141).

Tabel 7.1.3 (2) Ketentuan Sifat Campuran

Kuat Tekan Karakteritik Min. (kg/cm2) SLUMP (mm)


Mutu Benda Uji Kubus Benda Uji Silinder Digetarkan Tidak
Beton 15 x 15 x 15 cm3 15cm x 30 cm Digetarkan
7 hari 28 hari 7 hari 28 hari
K600 390 600 325 500 20 - 50 -
K500 325 500 260 400 20 - 50 -
K400 285 400 240 330 20 - 50 -
K350 250 350 210 290 20 - 50 50 - 100
K300 215 300 180 250 20 - 50 50 - 100
K250 180 250 150 210 20 - 50 50 - 100
K225 150 225 125 190 20 - 50 50 - 100
K175 115 175 95 145 30 - 60 50 - 100
K125 80 125 70 105 20 - 50 50 - 100

Catatan : bila menggunakan concrete pump slump bisa berkisar antara 75 + 25 mm

7-7
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

b) Beton yang tidak memenuhi ketentuan "slump" umumnya tidak boleh diguna-
kan pada pekerjaan, terkecuali bila Direksi Pekerjaan dalam beberapa hal
menyetujui penggunaannya dalam kuantitas kecil untuk bagian tertentu dengan
pembebanan ringan. Kelecakan (workability) dan tekstur campuran harus
sedemikian rupa sehingga beton dapat dicor pada pekerjaan tanpa membentuk
rongga atau celah atau gelembung udara atau gelembung air, dan sedemikian
rupa sehingga pada saat pembongkaran acuan diperoleh permukaan yang rata,
halus dan padat.

c) Bilamana pengujian beton berumur 7 hari menghasilkan kuat beton di bawah


kekuatan yang disyaratkan dalam Tabel 7.1.3.(2), maka Kontraktor tidak
diperkenankan mengecor beton lebih lanjut sampai penyebab dari hasil yang
rendah tersebut dapat diketahui dengan pasti dan sampai telah diambil tindakan-
tindakan yang menjamin bahwa produksi beton memenuhi ketentuan yang
disyaratkan dalam Spesifikasi. Kuat tekan beton berumur 28 hari yang tidak
memenuhi ketentuan yang disyaratkan harus dipandang tidak sebagai pekerjaan
yang tidak dapat diterima dan pekerjaan tersebut harus diperbaiki sebagaimana
disyaratkan dalam Pasal 7.1.1.(10) di atas. Kekuatan beton dianggap lebih kecil
dari yang disyaratkan bilamana hasil pengujian serangkaian benda uji dari suatu
bagian pekerjaan yang dipertanyakan lebih kecil dari kuat tekan karakteristik
yang diperoleh dari rumus yang diuraikan dalam Pasal 7.1.6.(2).(c).

d) Direksi Pekerjaan dapat pula menghentikan pekerjaan dan/atau memerintahkan


Kontraktor mengambil tindakan perbaikan untuk meningkatkan mutu campuran
atas dasar hasil pengujian kuat tekan beton berumur 3 hari. Dalam keadaan
demikian, Kontraktor harus segera menghentikan pengecoran beton yang
dipertanyakan tetapi dapat memilih menunggu sampai hasil pengujian kuat tekan
beton berumur 7 hari diperoleh, sebelum menerapkan tindakan perbaikan, pada
waktu tersebut Direksi Pekerjaan akan menelaah kedua hasil pengujian yang
berumur 3 hari dan 7 hari, dan dapat segera memerintahkan tindakan perbaikan
yang dipandang perlu.

e) Perbaikan atas pekerjaan beton yang tidak memenuhi ketentuan dapat mencakup
pembongkaran dan penggantian seluruh beton tidak boleh berdasarkan pada hasil
pengujian kuat tekan beton berumur 3 hari saja, terkecuali bila Kontraktor dan
Direksi Pekerjaan keduanya sepakat dengan perbaikan tersebut.

4) Penyesuaian Campuran

a) Penyesuaian Sifat Kelecakan (Workability)

Bilamana sulit memperoleh sifat kelecakan beton dengan proporsi yang semula
dirancang oleh Direksi Pekerjaan, maka Kontraktor akan melakukan perubahan
pada berat agregat sebagaimana diperlukan, asalkan dalam hal apapun kadar
semen yang semula dirancang tidak berubah, juga rasio air/semen yang telah
ditentukan berdasarkan pengujian kuat tekan yang menghasilkan kuat tekan yang
memenuhi, tidak dinaikkan.

Pengadukan kembali beton yang telah dicampur dengan cara menambah air atau
oleh cara lain tidak akan diperkenankan. Bahan tambah (aditif) untuk mening-
katkan sifat kelecakan hanya diijinkan bila secara khusus telah disetujui oleh
Direksi Pekerjaan.

7-8
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

b) Penyesuaian Kekuatan

Bilamana beton tidak mencapai kekuatan yang disyaratkan atau disetujui, kadar
semen harus ditingkatkan sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

c) Penyesuaian Untuk Bahan-bahan Baru

Perubahan sumber bahan atau karakteristik bahan tidak boleh dilakukan tanpa
pemberitahuan tertulis kepada Direksi Pekerjaan dan bahan baru tidak boleh
digunakan sampai Direksi Pekerjaan menerima bahan tersebut secara tertulis dan
menetapkan proporsi baru berdasarkan atas hasil pengujian campuran percobaan
baru yang dilakukan oleh Kontraktor.

5) Penakaran Agregat

a) Seluruh komponen beton harus ditakar menurut beratnya. Bila digunakan semen
kemasan dalam zak, kuantitas penakaran harus sedemikian sehingga kuantitas
semen yang digunakan adalah setara dengan satu satuan atau kebulatan dari
jumlah zak semen. Agregat harus diukur beratnya secara terpisah. Ukuran setiap
penakaran tidak boleh melebihi kapasitas alat pencampur.

b) Sebelum penakaran, agregat harus dibasahi sampai jenuh dan dipertahankan


dalam kondisi lembab, pada kadar yang mendekati keadaan jenuh-kering
permukaan, dengan menyemprot tumpukan agregat dengan air secara berkala.
Pada saat penakaran, agregat harus telah dibasahi paling sedikit 12 jam sebe-
lumnya untuk menjamin pengaliran yang memadai dari tumpukan agregat.

6) Pencampuran

a) Beton harus dicampur dalam mesin yang dijalankan secara mekanis dari jenis
dan ukuran yang disetujui sehingga dapat menjamin distribusi yang merata dari
seluruh bahan.

b) Pencampur harus dilengkapi dengan tangki air yang memadai dan alat ukur yang
akurat untuk mengukur dan mengendalikan jumlah air yang digunakan dalam
setiap penakaran.

c) Pertama-tama alat pencampur harus diisi dengan agregat dan semen yang telah
ditakar, dan selanjutnya alat pencampur dijalankan sebelum air ditambahkan.

d) Waktu pencampuran harus diukur pada saat air mulai dimasukkan ke dalam
campuran bahan kering. Seluruh air yang diperlukan harus dimasukkan sebelum
waktu pencampuran telah berlangsung seperempat bagian. Waktu pencampuran
untuk mesin berkapasitas m3 atau kurang haruslah 1,5 menit; untuk mesin
yang lebih besar waktu harus ditingkatkan 15 detik untuk tiap penambahan 0,5
m3.

e) Bila tidak memungkinkan penggunaan mesin pencampur, Direksi Pekerjaan


dapat menyetujui pencampuran beton dengan cara manual, sedekat mungkin
dengan tempat pengecoran. Penggunaan pencampuran beton dengan cara manual
harus dibatasi pada beton non-struktural.

7-9
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

7.1.4 PELAKSANAAN PENGECORAN

1) Penyiapan Tempat Kerja

a) Kontraktor harus membongkar struktur lama yang akan diganti dengan beton
yang baru atau yang harus dibongkar untuk dapat memungkinkan pelaksanaan
pekerjaan beton yang baru. Pembongkaran tersebut harus dilaksanakan sesuai
dengan syarat yang disyaratkan dalam Seksi 7.15 dari Spesifikasi ini.

b) Kontraktor harus menggali atau menimbun kembali pondasi atau formasi untuk
pekerjaan beton sesuai dengan garis yang ditunjukkan dalam Gambar atau
sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan sesuai dengan ketentuan
dalam Seksi 3.1 dan 3.2 dari Spesifikasi ini, dan harus membersihkan dan
menggaru tempat di sekeliling pekerjaan beton yang cukup luas sehingga dapat
menjamin dicapainya seluruh sudut pekerjaan. Jalan kerja yang stabil juga harus
disediakan jika diperlukan untuk menjamin bahwa seluruh sudut pekerjaan dapat
diperiksa dengan mudah dan aman.

c) Seluruh telapak pondasi, pondasi dan galian untuk pekerjaan beton harus dijaga
agar senatiasa kering dan beton tidak boleh dicor di atas tanah yang berlumpur
atau bersampah atau di dalam air. Atas persetujuan Direksi beton dapat dicor di
dalam air dengan cara dan peralatan khusus untuk menutup kebocoran seperti
pada dasar sumuran atau cofferdam.

d) Sebelum pengecoran beton dimulai, seluruh acuan, tulangan dan benda lain yang
harus dimasukkan ke dalam beton (seperti pipa atau selongsong) harus sudah
dipasang dan diikat kuat sehingga tidak bergeser pada saat pengecoran.

e) Bila disyaratkan atau diperlukan oleh Direksi Pekerjaan, bahan landasan untuk
pekerjaan beton harus dihampar sesuai dengan ketentuan dari Seksi 2.4 dari
Spesifikasi ini.

f) Direksi Pekerjaan akan memeriksa seluruh galian yang disiapkan untuk pondasi
sebelum menyetujui pemasangan acuan atau baja tulangan atau pengecoran
beton dan dapat meminta Kontraktor untuk melaksanakan pengujian penetrasi ke
dalaman tanah keras, pengujian kepadatan atau penyelidikan lainnya untuk
memastikan cukup tidaknya daya dukung dari tanah di bawah pondasi.

Bilamana dijumpai kondisi tanah dasar pondasi yang tidak memenuhi ketentuan,
Kontraktor dapat diperintahkan untuk mengubah dimensi atau ke dalaman dari
pondasi dan/atau menggali dan mengganti bahan di tempat yang lunak,
memadatkan tanah pondasi atau melakukan tindakan stabilisasi lainnya sebagai-
mana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

2) Acuan

a) Acuan dari tanah, bilamana disetujui oleh Direksi Pekerjaan, harus dibentuk dari
galian, dan sisi-sisi samping serta dasarnya harus dipangkas secara manual sesuai
dimensi yang diperlukan. Seluruh kotoran tanah yang lepas harus dibuang
sebelum pengecoran beton.

b) Acuan yang dibuat dapat dari kayu atau baja dengan sambungan dari adukan
yang kedap dan kaku untuk mempertahankan posisi yang diperlukan selama
pengecoran, pemadatan dan perawatan.

7 - 10
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

c) Kayu yang tidak diserut permukaannya dapat digunakan untuk permukaan akhir
struktur yang tidak terekspos, tetapi kayu yang diserut dengan tebal yang merata
harus digunakan untuk permukaan beton yang terekspos. Seluruh sudut-sudut
tajam Acuan harus dibulatkan.

d) Acuan harus dibuat sedemikian sehingga dapat dibongkar tanpa merusak beton.

3) Pengecoran

a) Kontraktor harus memberitahukan Direksi Pekerjaan secara tertulis paling sedikit


24 jam sebelum memulai pengecoran beton, atau meneruskan pengecoran beton
bilamana pengecoran beton telah ditunda lebih dari 24 jam. Pemberitahuan harus
meliputi lokasi, kondisi pekerjaan, mutu beton dan tanggal serta waktu
pencampuran beton.

Direksi Pekerjaan akan memberi tanda terima atas pemberitahuan tersebut dan
akan memeriksa acuan, dan tulangan dan dapat mengeluarkan persetujuan
tertulis maupun tidak untuk memulai pelaksanaan pekerjaan seperti yang
direncanakan. Kontraktor tidak boleh melaksanakan pengecoran beton tanpa
persetujuan tertulis dari Direksi Pekerjaan.

b) Tidak bertentangan dengan diterbitkannya suatu persetujuan untuk memulai


pengecoran, pengecoran beton tidak boleh dilaksanakan bilamana Direksi
Pekerjaan atau wakilnya tidak hadir untuk menyaksikan operasi pencampuran
dan pengecoran secara keseluruhan.

c) Segera sebelum pengecoran beton dimulai, acuan harus dibasahi dengan air atau
diolesi minyak di sisi dalamnya dengan minyak yang tidak meninggalkan bekas.

d) Tidak ada campuran beton yang boleh digunakan bilamana beton tidak dicor
sampai posisi akhir dalam cetakan dalam waktu 1 jam setelah pencampuran, atau
dalam waktu yang lebih pendek sebagaimana yang dapat diperintahkan oleh
Direksi Pekerjaan berdasarkan pengamatan karakteristik waktu pengerasan
(setting time) semen yang digunakan, kecuali diberikan bahan tambah (aditif)
untuk memperlambat proses pengerasan (retarder) yang disetujui oleh Direksi.

e) Pengecoran beton harus dilanjutkan tanpa berhenti sampai dengan sambungan


konstruksi (construction joint) yang telah disetujui sebelumnya atau sampai
pekerjaan selesai.

f) Beton harus dicor sedemikian rupa hingga terhindar dari segregasi partikel kasar
dan halus dari campuran. Beton harus dicor dalam cetakan sedekat mungkin
dengan yang dapat dicapai pada posisi akhir beton untuk mencegah pengaliran
yang tidak boleh melampaui satu meter dari tempat awal pengecoran.

g) Bilamana beton dicor ke dalam acuan struktur yang memiliki bentuk yang rumit
dan penulangan yang rapat, maka beton harus dicor dalam lapisan-lapisan
horisontal dengan tebal tidak melampuai 15 cm. Untuk dinding beton, tinggi
pengecoran dapat 30 cm menerus sepanjang seluruh keliling struktur.

h) Beton tidak boleh jatuh bebas ke dalam cetakan dengan ketinggian lebih dari 150
cm. Beton tidak boleh dicor langsung dalam air.

7 - 11
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Bilamana beton dicor di dalam air dan pemompaan tidak dapat dilakukan
dalam waktu 48 jam setelah pengecoran, maka beton harus dicor dengan
metode Tremi atau metode drop-bottom-bucket, dimana bentuk dan jenis yang
khusus digunakan untuk tujuan ini harus disetujui terlebih dahulu oleh Direksi
Pekerjaan.

Tremi harus kedap air dan mempunyai ukuran yang cukup sehingga memung-
kinkan pengaliran beton. Tremi harus selalu diisi penuh selama pengecoran.
Bilamana aliran beton terhambat maka Tremi harus ditarik sedikit dan diisi
penuh terlebih dahulu sebelum pengecoran dilanjutkan.

Baik Tremi atau Drop-Bottom-Bucket harus mengalirkan campuran beton di


bawah permukaan beton yang telah dicor sebelumnya

i) Pengecoran harus dilakukan pada kecepatan sedemikian rupa hingga campuran


beton yang telah dicor masih plastis sehingga dapat menyatu dengan campuran
beton yang baru.

j) Bidang-bidang beton lama yang akan disambung dengan beton yang akan dicor,
harus terlebih dahulu dikasarkan, dibersihkan dari bahan-bahan yang lepas dan
rapuh dan telah disiram dengan air hingga jenuh. Sesaat sebelum pengecoran
beton baru ini, bidang-bidang kontak beton lama harus disapu dengan adukan
semen dengan campuran yang sesuai dengan betonnya

k) Air tidak boleh dialirkan di atas atau dinaikkan ke permukaan pekerjaan beton
dalam waktu 24 jam setelah pengecoran.

4) Sambungan Konstruksi (Construction Joint)

a) Jadwal pengecoran beton yang berkaitan harus disiapkan untuk setiap jenis
struktur yang diusulkan dan Direksi Pekerjaan harus menyetujui lokasi
sambungan konstruksi pada jadwal tersebut, atau sambungan konstruksi tersebut
harus diletakkan seperti yang ditunjukkan pada Gambar. Sambungan konstruksi
tidak boleh ditempatkan pada pertemuan elemen-elemen struktur terkecuali
disyaratkan demikian.

b) Sambungan konstruksi pada tembok sayap harus dihindari. Semua sambungan


konstruksi harus tegak lurus terhadap sumbu memanjang dan pada umumnya
harus diletakkan pada titik dengan gaya geser minimum.

c) Bilamana sambungan vertikal diperlukan, baja tulangan harus menerus melewati


sambungan sedemikian rupa sehingga membuat struktur tetap monolit.

d) Lidah alur harus disediakan pada sambungan konstruksi dengan ke dalaman


paling sedikit 4 cm untuk dinding, pelat dan antara telapak pondasi dan dinding.
Untuk pelat yang terletak di atas permukaan, sambungan konstruksi harus
diletakkan sedemikian sehingga pelat-pelat mempunyai luas tidak melampaui 40
m2, dengan dimensi yang lebih besar tidak melampaui 1,2 kali dimensi yang
lebih kecil.

e) Kontraktor harus menyediakan pekerja dan bahan tambahan sebagaimana yang


diperlukan untuk membuat sambungan konstruksi tambahan bilamana pekerjaan
terpaksa mendadak harus dihentikan akibat hujan atau terhentinya pemasokan
beton atau penghentian pekerjaan oleh Direksi Pekerjaan.

7 - 12
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

f) Atas persetujuan Direksi Pekerjaan, bahan tambah (aditif) dapat digunakan untuk
pelekatan pada sambungan konstruksi, cara pengerjaannya harus sesuai dengan
petunjuk pabrik pembuatnya.

g) Pada air asin atau mengandung garam, sambungan konstruksi tidak


diperkenankan pada tempat-tempat 75 cm di bawah muka air terendah atau 75
cm di atas muka air tertinggi kecuali ditentukan lain dalam Gambar.

5) Konsolidasi

a) Beton harus dipadatkan dengan penggetar mekanis dari dalam atau dari luar yang
telah disetujui. Bilamana diperlukan, dan bilamana disetujui oleh Direksi
Pekerjaan, penggetaran harus disertai penusukan secara manual dengan alat yang
cocok untuk menjamin pemadatan yang tepat dan memadai. Penggetar tidak
boleh digunakan untuk memindahkan campuran beton dari satu titik ke titik lain
di dalam cetakan.

b) Harus dilakukan tindakan hati-hati pada waktu pemadatan untuk menentukan


bahwa semua sudut dan di antara dan sekitar besi tulangan benar-benar diisi
tanpa pemindahan kerangka penulangan, dan setiap rongga udara dan gelembung
udara terisi.

c) Penggetar harus dibatasi waktu penggunaannya, sehingga menghasilkan pema-


datan yang diperlukan tanpa menyebabkan terjadinya segregasi pada agregat.

d) Alat penggetar mekanis dari luar harus mampu menghasilkan sekurang-kurang-


nya 5000 putaran per menit dengan berat efektif 0,25 kg, dan boleh diletakkan di
atas acuan supaya dapat menghasilkan getaran yang merata.

e) Alat penggetar mekanis yang digerakkan dari dalam harus dari jenis pulsating
(berdenyut) dan harus mampu menghasilkan sekurang-kurangnya 5000 putaran
per menit apabila digunakan pada beton yang mempunyai slump 2,5 cm atau
kurang, dengan radius daerah penggetaran tidak kurang dari 45 cm.

f) Setiap alat penggetar mekanis dari dalam harus dimasukkan ke dalam beton
basah secara vertikal sedemikian hingga dapat melakukan penetrasi sampai ke
dasar beton yang baru dicor, dan menghasilkan kepadatan pada seluruh keda-
laman pada bagian tersebut. Alat penggetar kemudian harus ditarik pelan-pelan
dan dimasukkan kembali pada posisi lain tidak lebih dari 45 cm jaraknya. Alat
penggetar tidak boleh berada pada suatu titik lebih dari 30 detik, juga tidak boleh
digunakan untuk memindah campuran beton ke lokasi lain, serta tidak boleh
menyentuh tulangan beton.

g) Jumlah minimum alat penggetar mekanis dari dalam diberikan dalam Tabel
7.1.4.(5).

Tabel 7.1.4.(5) Jumlah Minimum Alat Penggetar Mekanis dari Dalam

Kecepatan Pengecoran Beton (m3 / jam) Jumlah Alat


4 2
8 3
12 4
16 5
20 6

7 - 13
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

6) Beton Siklop

Pengecoran beton siklop yang terdiri dari campuran beton kelas K175 dengan batu-batu
pecah ukuran besar. Batu-batu ini diletakkan dengan hati-hati, tidak boleh dijatuhkan dari
tempat yang tinggi atau ditempatkan secara berlebihan yang dikhawatirkan akan merusak
bentuk acuan atau pasangan-pasangan lain yang berdekatan. Semua batu-batu pecah
harus cukup dibasahi sebelum ditempatkan. Volume total batu pecah tidak boleh
melebihi sepertiga dari total volume pekerjaan beton siklop.

Untuk dinding-dinding penahan tanah atau pilar yang lebih tebal dari 60 cm dapat
digunakan batu-batu pecah berukuran maksimum 25 cm, tiap batu harus cukup
dilindungi dengan adukan beton setebal 15 cm; batu pecah tidak boleh lebih dekat dari 30
cm dalam jarak terhadap permukaan atau 15 cm dalam jarak terhadap permukaan yang
akan dilindungi dengan beton penutup (coping).

7.1.5 PENGERJAAN AKHIR

1) Pembongkaran Acuan

a) Acuan tidak boleh dibongkar dari bidang vertikal, dinding, kolom yang tipis dan
struktur yang sejenis lebih awal 30 jam setelah pengecoran beton. Cetakan yang
ditopang oleh perancah di bawah pelat, balok, gelegar, atau struktur busur, tidak
boleh dibongkar hingga pengujian menunjukkan bahwa paling sedikit 85 % dari
kekuatan rancangan beton telah dicapai.

b) Untuk memungkinkan pengerjaan akhir, acuan yang digunakan untuk pekerjaan


ornamen, sandaran (railing), dinding pemisah (parapet), dan permukaan vertikal
yang terekspos harus dibongkar dalam waktu paling sedikit 9 jam setelah penge-
coran dan tidak lebih dari 30 jam, tergantung pada keadaan cuaca.

2) Permukaan (Pengerjaan Akhir Biasa)

a) Terkecuali diperintahkan lain, permukaan beton harus dikerjakan segera setelah


pembongkaran acuan. Seluruh perangkat kawat atau logam yang telah diguna-
kan untuk memegang cetakan, dan cetakan yang melewati badan beton, harus
dibuang atau dipotong kembali paling sedikit 2,5 cm di bawah permukaan beton.
Tonjolan mortar dan ketidakrataan lainnya yang disebabkan oleh sambungan
cetakan harus dibersihkan.

b) Direksi Pekerjaan harus memeriksa permukaan beton segera setelah pembong-


karan acuan dan dapat memerintahkan penambalan atas kekurangsempurnaan
minor yang tidak akan mempengaruhi struktur atau fungsi lain dari pekerjaan
beton. Penambalan harus meliputi pengisian lubang-lubang kecil dan lekukan
dengan adukan semen.

c) Bilaman Direksi Pekerjaan menyetujui pengisian lubang besar akibat keropos,


pekerjaan harus dipahat sampai ke bagian yang utuh (sound), membentuk
permukaan yang tegak lurus terhadap permukaan beton. Lubang harus dibasahi
dengan air dan adukan semen acian (semen dan air, tanpa pasir) harus dioleskan
pada permukaan lubang. Lubang harus selanjutnya diisi dan ditumbuk dengan
adukan yang kental yang terdiri dari satu bagian semen dan dua bagian pasir,
yang harus dibuat menyusut sebelumnya dengan mencampurnya kira-kira 30
menit sebelum dipakai.

7 - 14
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

3) Permukaan (Pekerjaan Akhir Khusus)

Permukaan yang terekspos harus diselesaikan dengan pekerjaan akhir berikut ini, atau
seperti yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan :

a) Bagian atas pelat, kerb, permukaan trotoar, dan permukaan horisontal lainnya
sebagaimana yang diperintahkan Direksi Pekerjaan, harus digaru dengan mistar
bersudut untuk memberikan bentuk serta ketinggian yang diperlukan segera
setelah pengecoran beton dan harus diselesaikan secara manual sampai halus dan
rata dengan menggerakkan perata kayu secara memanjang dan melintang, atau
oleh cara lain yang cocok, sebelum beton mulai mengeras.

b) Perataan permukaan horisontal tidak boleh menjadi licin, seperti untuk trotoar,
harus sedikit kasar tetapi merata dengan penyapuan, atau cara lain sebagaimana
yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, sebelum beton mulai mengeras.

c) Permukaan bukan horisontal yang nampak, yang telah ditambal atau yang masih
belum rata harus digosok dengan batu gurinda yang agak kasar (medium),
dengan menempatkan sedikit adukan semen pada permukaannya. Adukan harus
terdiri dari semen dan pasir halus yang dicampur sesuai dengan proporsi yang
digunakan untuk pengerjaan akhir beton. Penggosokan harus dilaksanakan
sampai seluruh tanda bekas acuan, ketidakrataan, tonjolan hilang, dan seluruh
rongga terisi, serta diperoleh permukaan yang rata. Pasta yang dihasilkan dari
penggosokan ini harus dibiarkan tertinggal di tempat.

4) Perawatan Dengan Pembasahan

a) Segera setelah pengecoran, beton harus dilindungi dari pengeringan dini, tempe-
ratur yang terlalu panas, dan gangguan mekanis. Beton harus dijaga agar
kehilangan kadar air yang terjadi seminimal mungkin dan diperoleh temperatur
yang relatif tetap dalam waktu yang ditentukan untuk menjamin hidrasi yang
sebagaimana mestinya pada semen dan pengerasan beton.

b) Beton harus dirawat, sesegera mungkin setelah beton mulai mengeras, dengan
menyelimutinya dengan bahan yang dapat menyerap air. Lembaran bahan
penyerap air ini yang harus dibuat jenuh dalam waktu paling sedikit 3 hari.
Semua bahan perawat atau lembaran bahan penyerap air harus dibebani atau
diikat ke bawah untuk mencegah permukaan yang terekspos dari aliran udara.

Bilamana digunakan acuan kayu, acuan tersebut harus dipertahankan basah pada
setiap saat sampai dibongkar, untuk mencegah terbukanya sambungan-sam-
bungan dan pengeringan beton. Lalu lintas tidak boleh diperkenankan melewati
permukaan beton dalam 7 hari setelah beton dicor.

c) Lantai beton sebagai lapis aus harus dirawat setelah permukaannya mulai
mengeras dengan cara ditutup oleh lapisan pasir lembab setebal 5 cm paling
sedikit selama 21 hari.

d) Beton yang dibuat dengan semen yang mempunyai sifat kekuatan awal yang
tinggi atau beton yang dibuat dengan semen biasa yang ditambah bahan tambah
(aditif), harus dibasahi sampai kekuatanya mencapai 70 % dari kekuatan
rancangan beton berumur 28 hari.

7 - 15
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

5) Perawatan dengan Uap

a) Beton dirawat dengan uap untuk maksud mendapatkan kekuatan yang tinggi
pada permulaannya. Bahan tambah (aditif) tidak diperkenankan untuk dipakai
dalam hal ini kecuali atas persetujuan Direksi Pekerjaan.

b) Perawatan dengan uap harus dikerjakan secara menerus sampai waktu dimana
beton telah mencapai 70 % dari kekuatan rancangan beton berumur 28 hari.
Perawatan dengan uap untuk beton harus mengikuti ketentuan di bawah ini:

i) Tekanan uap pada ruang uap selama perawatan beton tidak boleh melebihi
tekanan di luar.

ii) Temperatur pada ruang uap selama perawatan beton tidak boleh melebihi
380C selama sampai 2 jam sesudah pengecoran selesai, dan kemudian
temperatur dinaikkan berangsur-angsur sehingga mencapai 65 0C dengan
kenaikan temperatur maksimum 14 0C / jam secara ber-sama-sama.

iii) Beda temperatur yang diukur di antara dua tempat di dalam ruang uap
tidak boleh melampaui 5,5 0C.

iv) Penurunan temperatur selama pendinginan tidak boleh lebih dari 11 0C per
jam.

v) Temperatur beton pada saat dikeluarkan dari penguapan tidak boleh 11 0C


lebih tinggi dari temperatur udara di luar.

vi) Setiap saat selama perawatan dengan uap, di dalam ruangan harus selalu
jenuh dengan uap air.

vii) Semua bagian struktural yang mendapat perawatan dengan uap harus
dibasahi selama 4 hari sesudah selesai perawatan uap tersebut.

c) Kontraktor harus membuktikan bahwa peralatannya bekerja dengan baik dan


temperatur di dalam ruangan perawatan dapat diatur sesuai dengan ketentuan dan
tidak tergantung dari cuaca luar.

d) Pipa uap harus ditempatkan sedemikian atau balok harus dilindungi secukupnya
agar beton tidak terkena langsung semburan uap, yang akan menyebabkan
perbedaan temperatur pada bagian-bagian beton.

7.1.6 PENGENDALIAN MUTU DI LAPANGAN

1) Pengujian Untuk Kelecakan (Workability)

Satu pengujian "slump", atau lebih sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan, harus dilaksanakan pada setiap takaran beton yang dihasilkan, dan pengujian
harus dianggap belum dikerjakan terkecuali disaksikan oleh Direksi Pekerjaan atau
wakilnya.

7 - 16
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

2) Pengujian Kuat Tekan

a) Kontraktor harus melaksanakan tidak kurang dari satu pengujian kuat tekan
untuk setiap 60 meter kubik beton yang dicor dan dalam segala hal tidak kurang
dari satu pengujian untuk setiap mutu beton dan untuk setiap jenis komponen
struktur yang dicor terpisah pada tiap hari pengecoran. Setiap pengujian harus
minimum harus mencakup empat benda uji, yang pertama harus diuji pembe-
banan kuat tekan sesudah 3 hari, yang kedua sesudah 7 hari, yang ketiga sesudah
14 hari dan yang keempat sesudah 28 hari.

b) Bilamana kuantitas total suatu mutu beton dalam Kontrak melebihi 40 meter
kubik dan frekuensi pengujian yang ditetapkan pada butir (a) di atas hanya
menyediakan kurang dari lima pengujian untuk suatu mutu beton tertentu, maka
pengujian harus dilaksanakan dengan mengambil contoh paling sedikit lima buah
dari takaran yang dipilih secara acak (random).

c) Kuat Tekan Karakteristik Beton ( bk) diperoleh dengan rumus berikut ini :

bk = bm - K.S

n

ii =
= adalah kuat tekan rata-rata
l
bm
n

n
( i  bm)
S i=l
= adalah standar deviasi
n 1

i = hasil pengujian masing-masing benda uji


n = jumlah benda uji
K = 1,645 untuk 20 sampel rancangan campuran dan untuk
persetujuan pekerjaan.

d) Pada pengujian kuat tekan beton tidak boleh lebih dari 1 (satu) harga diantara 20
harga (5%) hasil pengujian, terjadi kurang dari bk .

e) Tidak boleh satupun harga pengujian kuat tekan beton rata-rata dari 4 sampel
kubus berturut-turut kurang dari bm,4 (bk + 0.8225 S)

f) Setelah diperoleh 20 hasil pengujian kuat tekan ( misalnya 4 sampel kelompok


pertama hingga 4 sampel kelompok kelima) dan dihitung harga rata-rata bm
dan standar deviasi S maka harus dipenuhi :

bk (bm + 1.645 S)

g) Dalam hal pengedalian di lapangan pengujian kuat tekan dapat dibagi menjadi
beberapa kelompok kecil (misal 4 sampel dari 5 kelompok) dengan
menggunakan grafik kontrol (control chart) yang terdiri dari garis terendah

7 - 17
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

hingga garis tertinggi berturut-turut adalah garis batas spesifikasi, batas kontrol
dan garis tengah.

Batas Spesifikasi adalah garis yang menunjukkan kuat tekan karaketeristik yang
dipersyaratkan. Batas Kontrol adalah kuat tekan karakteristik dalam kelompok
(bk,n = bk + K.S), sedangkan Garis Tengah adalah garis yang menunjukkan
kuat tekan rata-rata.
bm
Garis Tengah

0,8225 S
bm,n bk, n Batas Kontrol

0,8225 S
bk Batas Spesifikasi
1 2 3 4 5
Kelompok

h) Apabila hasil pengujian kuat tekan rata-rata kelompok bm,n < bk,n (sekali)
maka kontraktor harus melakukan upaya untuk memperbaiki mutu beton, bila
hasil pengujian kuat tekan kelompok rata-rata berikutnya bm,n < bk,n (kedua
kali) maka berarti kontraktor tidak mampu mencapai bk yang dipersyaratkan,
dan pekerjaan beton yang sudah dilakukan harus ditolak.

3) Pengujian Tambahan

Kontraktor harus melaksanakan pengujian tambahan yang diperlukan untuk menentukan


mutu bahan atau campuran atau pekerjaan beton akhir, sebagaimana yang diperintahkan
oleh Direksi Pekerjaan. Pengujian tambahan tersebut meliputi :

a) Pengujian yang tidak merusak menggunakan "sclerometer" atau perangkat


penguji lainnya;
b) Pengujian pembebanan struktur atau bagian struktur yang dipertanyakan;
c) Pengambilan dan pengujian benda uji inti (core) beton;
d) Pengujian lainnya sebagaimana ditentukan oleh Direksi Pekerjaan.

7.1.7 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

1) Cara Pengukuran

a) Beton akan diukur dengan jumlah meter kubik pekerjaan beton yang digunakan
dan diterima sesuai dengan dimensi yang ditunjukkan pada Gambar atau yang
diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Tidak ada pengurangan yang akan
dilakukan untuk volume yang ditempati oleh pipa dengan garis tengah kurang
dari 20 cm atau oleh benda lainnya yang tertanam seperti "water-stop", baja
tulangan, selongsong pipa (conduit) atau lubang sulingan (weephole).

b) Tidak ada pengukuran tambahan atau yang lainnya yang akan dilakukan untuk
cetakan, perancah untuk balok dan lantai pemompaan, penyelesaian akhir
permukaan, penyediaan pipa sulingan, pekerjaan pelengkap lainnya untuk
penyelesaian pekerjaan beton, dan biaya dari pekerjaan tersebut telah dianggap
termasuk dalam harga penawaran untuk Pekerjaan Beton.

c) Tidak ada pengukuran dan pembayaran tambahan yang akan dilakukan untuk
pelat (plate) beton pracetak untuk acuan yang terletak di bawah lantai (slab)

7 - 18
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

beton Pekerjaan semacam ini dianggap telah termasuk di dalam harga penawaran
untuk beton sebagai acuan.

d) Kuantitas bahan untuk landasan, bahan drainase porous, baja tulangan dan mata
pembayaran lainnya yang berhubungan dengan struktur yang telah selesai dan
diterima akan diukur untuk dibayarkan seperti disyaratkan dalam pada Seksi lain
dalam Spesifikasi ini.

e) Beton yang telah dicor dan diterima harus diukur dan dibayar sebagai beton
struktur atau beton tidak bertulang. Beton Struktur haruslah beton yang
disyaratkan atau disetujui oleh Direksi Pekerjaan sebagai K250 atau lebih tinggi
dan Beton Tak Bertulang haruslah beton yang disyaratkan atau disetujui untuk
K175 atau K125. Bilamana beton dengan mutu (kekuatan) yang lebih tinggi
diperkenankan untuk digunakan di lokasi untuk mutu (kekuatan) beton yang
lebih rendah, maka volumenya harus diukur sebagai beton dengan mutu
(kekuatan) yang lebih rendah.

2) Pengukuran Untuk Pekerjaan Beton Yang Diperbaiki

a) Bilamana pekerjaan telah diperbaiki menurut Pasal 7.1.1.(10) di atas, kuantitas


yang akan diukur untuk pembayaran haruslah sejumlah yang harus dibayar bila
mana pekerjaan semula telah memenuhi ketentuan.

b) Tidak ada pembayaran tambahan akan dilakukan untuk tiap peningkatan kadar
semen atau setiap bahan tambah (aditif), juga tidak untuk tiap pengujian atau
pekerjaan tambahan atau bahan pelengkap lainnya yang diperlukan untuk
mencapai mutu yang disyaratkan untuk pekerjaan beton.

3) Dasar Pembayaran

a) Kuantitas yang diterima dari berbagai mutu beton yang ditentukan sebagaimana
yang disyaratkan di atas, akan dibayar pada Harga Kontrak untuk Mata Pem-
bayaran dan menggunakan satuan pengukuran yang ditunjukkan di bawah dan
dalam Daftar Kuantitas.

b) Harga dan pembayaran harus merupakan kompensasi penuh untuk seluruh


penyediaan dan pemasangan seluruh bahan yang tidak dibayar dalam Mata
Pembayaran lain, termasuk "water stop", lubang sulingan, acuan, perancah untuk
pencampuran, pengecoran, pekerjaan akhir dan perawatan beton, dan untuk
semua biaya lainnya yang perlu dan lazim untuk penyelesaian pekerjaan yang
sebagaimana mestinya, yang diuraikan dalam Seksi ini.

Nomor Mata Uraian Satuan


Pembayaran Pengukuran

7.1.(1) Beton K500 Meter Kubik


7.1.(2) Beton K400 Meter Kubik
7.1.(3) Beton K350 Meter Kubik
7.1.(4) Beton K300 Meter Kubik
7.1.(5) Beton K250 Meter Kubik
7.1.(6) Beton K175 Meter Kubik
7.1.(7) Beton Siklop K175 Meter Kubik
7.1.(8) Beton K125 Meter Kubik

7 - 19
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

SEKSI 7.2

BETON PRATEKAN

7.2.1 UMUM

1) Umum

Pekerjaan ini harus terdiri dari fabrikasi struktur beton pratekan pracetak, bagian beton
pratekan pracetak dari struktur komposit dan tiang pancang pracetak yang dibuat sesuai
dengan Spesifikasi ini mendekati garis, elevasi, dan dimensi yang ditunjukkan dalam
Gambar. Pekerjaan ini harus mencakup pembuatan, pengangkutan dan penyimpanan
balok, tiang pancang, pelat dan elemen struktur dari beton pracetak, yang dibuat dengan
cara pre-tension (penegangan sebelum pengecoran) maupun post-tension (penegangan
setelah pengecoran). Pekerjaan ini juga termasuk pemasangan semua elemen pratekan
pracetak. Ketentuan dari Seksi 7.1 dan 7.3 harus digunakan pada Seksi ini dengan
tambahan Artikel berikut ini.

2) Pekerjaan Seksi Lain Yang Berkaitan Dengan Seksi Ini

a) Beton : Seksi 7.1


b) Baja Tulangan : Seksi 7.3

3) Jaminan Mutu

Mutu bahan yang dipasok, campuran beton yang dihasilkan, kecakapan kerja dan hasil
akhir harus dipantau dan dikendalikan sebagaimana disyaratkan dalam Pasal 7.1.1.(4)
dan 7.3.1.(5), bersama dengan standar rujukan berikut ini :

AASHTO M203 - 90 : Steel Strand Uncoated Seven-Wire Stress-Relieved for


Prestressed Concrete
AASHTO M204 - 89 : Uncoated Stress-Relieved Wire for Prestressed Concrete.

4) Toleransi

a) Balok dan Papan

i) Toleransi Dimensi

Panjang total setiap unit dari pusat ke pusat perletakan tidak boleh ber-
beda lebih dari 0,06 % panjang yang disyaratkan, dengan perbedaan
maksimum sebesar 15 mm. Jarak lubang dari pusat ke pusat untuk
tulangan melintang, batang atau kabel tidak boleh berbeda lebih dari 6
mm dari posisi yang ditentukan sebagaimana yang diukur dari sumbu
melintang unit tersebut.

ii) Toleransi Bentuk

Lebar total kurang dari 600 mm : 3 mm


Lebar total lebih besar dari 600 mm : 5 mm
Tinggi total : 5 mm

7 - 20
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

iii) Lokasi Rongga

Diukur vertikal dari puncak : 10 mm


Diukur melintang dari sumbu memanjang unit terse- : 5 mm
but

iv) Ketidaksikuan

Penampang melintang : bidang-bidang yang berdampingan tidak boleh


tidak siku lebih dari 5 mm per meter atau total 4 mm.

Penampang memanjang : lereng ujung bidang tidak boleh menyimpang


dari yang disyaratkan berikut ini :

Panjang total bidang : 5 mm


sampai 400 mm

Untuk dimensi lebih : 15 mm per meter sampai maksimum


besar dari 400 mm 12 mm untuk keseluruhan.

v) Lendutan

Nilai kelendutan unit sejenis yang digunakan pada bentang yang sama
harus terletak dalam rentang maksimum 20 mm untuk kondisi dan pera-
watan yang sama, dan sebagainya.

vi) Kelengkungan

Sumbu memanjang tidak boleh menyimpang dalam arah melintang dari


suatu garis lurus yang menghubungkan titik pusat ujung-ujung elemen
lebih dari 6 mm atau 0,06 % panjang yang ditentukan, dipilih yang lebih
besar.

vii) Puntir

Rotasi sudut setiap penampang relatif terhadap suatu penampang ujung


harus tidak boleh lebih dari 5 mm per meter untuk tepi yang sedang
diperiksa.

viii) Kabel

Lubang keluar kabel dalam acuan : 2 mm


Selimut kabel : 5 mm

b) Tiang Pancang

i) Toleransi Dimensi

Dimensi penampang : 6 mm
Panjang total : 25 mm
Penyimpangan dari garis lurus : 1 mm per meter panjang
Ketidaksikuan pangkal : 2 mm dalam lebar pangkal
Selimut tulangan (termasuk kabel) : + 5 mm, - 3 mm
Lubang keluar kabel dalam acuan : 2 mm
dan pelat

7 - 21
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Kabel pada umumnya : 1,5 mm

ii) Sepatu Tiang dan Penghubung Sambungan Pra-fabrikasi

Sepatu dan sambungan tiang, bilamana penghubung tiang diperkenankan,


harus disambung dengan kuat pada tiang pancang, di tengah-tengah dan
segaris dengan sumbu tiang pancang.

iii) Panjang Cetakan

Kecuali ditunjukkan lain dalam Gambar, maka tiang pancang harus dicor
dengan panjang utuh tanpa sambungan.

5) Sistem Pra-tegang

Sistem pra-tegang yang akan digunakan harus dipilih oleh Kontraktor dengan memenuhi
semua ketentuan di dalamnya dan atas persetujuan dari Direksi Pekerjaan. Pada
umumnya tidak terdapat perubahan pada posisi sentroid gaya pra-tegang total sepanjang
elemen tersebut dan pada besar gaya pra-tegang efektif akhir sebagaimana yang
diuraikan dalam Gambar.

6) Pengajuan Kesiapan Kerja

a) Kontraktor harus menyerahkan rincian sistim, peralatan dan bahan yang hendak
digunakan dalam operasi pra-tegang. Rincian tersebut harus meliputi metode dan
urutan penegangan, rincian lengkap untuk baja pra-tegang, perkakas
penjangkaran, jenis selongsong dan setiap data relatif lainnya untuk operasi pra-
tegang. Malahan rincian tersebut harus menunjukkan setiap susunan dari baja
tulangan yang bukan pra-tegang seperti yang ditunjukkan dalam Gambar.

b) Bilamana sistim pra-tegang yang diusulkan oleh Kontraktor memerlukan modi-


fikasi dalam jumlah, bentuk atau ukuran baja tulangan, maka Kontraktor harus
menyerahkan gambar dan perhitungan yang cukup terinci untuk mendapat
persetujuan dari Direksi Pekerjaan. Baja tulangan yang disediakan tidak boleh
kurang dari yang ditunjukkan dalam Gambar.

c) Suatu sertifikat persetujuan (perjanjian) resmi untuk sistim pra-tegang harus


diserahkan dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan sebelum penempatan setiap
kabel prategang. Sertifikat persetujuan ini harus dikeluarkan oleh suatu lembaga
pengujian yang resmi. Sebaliknya Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan
sedemikian hingga diperoleh suatu sertifikat persetujuan dari laboratorium
pilihan Direksi Pekerjaan atas biaya Kontraktor. Semua peraturan yang
berhubungan dengan sertifikat persetujuan ini selanjutnya harus tunduk pada
persetujuan dari Direksi Pekerjaan.

d) Untuk setiap jenis elemen pra-tegang Kontraktor harus menyerahkan 2 set semua
detil gambar kerja, disiapkan secara khusus untuk Kontrak, kepada Direksi
Pekerjaan untuk peninjauan ulang. Setelah peninjauan ulang, 3 set harus
diserahkan kepada Direksi Pekerjaan, untuk digunakan selama pelaksanaan.
Detil gambar kerja harus meliputi judul pekerjaan, nama struktur seperti
ditunjukkan dalam Gambar, dan nomor Kontrak. Kontraktor tidak boleh menge-
cor setiap elemen yang akan dipra-tegangkan sebelum peninjauan ulang detil
gambar kerja terinci selesai.

7 - 22
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

7) Pengawasan

Kontraktor harus menempatkan team khusus sesuai dengan metode pra-tegang yang
diusulkan untuk kepentingan Direksi Pekerjaan, bebas dari biaya, termasuk sekurang-
kurangnya seorang ahli kepala, untuk menyediakan keahlian dan perintah yang
diperlukan selama operasi pra-tegang.

7.2.2 BAHAN

1) Beton

Beton harus dibuat memenuhi ketentuan dalam Seksi 7.1 sesuai dengan mutu yang
digunakan. Mutu beton untuk tiap jenis unit harus sebagaimana yang ditunjukkan dalam
Gambar.

2) Acuan

Acuan untuk unit pracetak harus memenuhi ketentuan dalam Seksi 7.1 dan dengan
ketentuan tambahan dalam seksi ini.

Acuan harus terbuat dari logam atau kayu yang dilapisi logam, atau kayu lapis yang
kedap air, dan harus cukup kuat sehingga tidak akan melendut melebihi batas-batas
toleransi selama pengecoran.

Penutup (seal) harus dipasang pada sambungan acuan untuk mencegah kehilangan pasta
semen.

Penumpulan acuan harus dilakukan pada semua sudut dan harus lurus dan sesuai dengan
bentuk dan garis yang tepat.

Pembentuk rongga harus dipasang dengan kencang dan harus dibungkus dengan pita
penutup berperekat sebagaimana yang diperlukan untuk mencegah masuknya adukan.

3) Grouting

Kecuali diperintahkan lain oleh Direksi Pekerjaan, berdasarkan percobaan penyuntikan


(grouting), maka bahan penyuntikan harus terdiri dari semen portland biasa dan air.
Rasio air - semen haruslah serendah mungkin sesuai dengan sifat kelecakan (workability)
yang diperlukan tetapi tidak akan pernah melebihi 0,45.

Bahan tambah (aditif) dapat digunakan bilamana disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Bahan
plasticizer yang umum diperdagangkan untuk penyuntikan (grouting) harus digunakan
sesuai dengan petunjuk pabrik pembuatnya. Bahan ini tidak boleh mengandung chlorida,
nitrat, sulfat atau sulfida.

4) Baja Tulangan

Batang baja dan tulangan anyaman harus sesuai dengan Seksi 7.3. dari Spesifikasi ini.

7 - 23
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

5) Baja Pra-tegang

a) Untaian kawat (strand) pra-tegang harus terdiri dari 7 kawat (wire) dengan kuat
tarik tinggi, bebas tegangan, relaksasi rendah dengan panjang menerus tanpa
sambungan atau kopel sesuai dengan AASHTO M203 - 90. Untaian kawat
tersebut harus mempunyai kekuatan leleh minimum sebesar 16.000 kg/cm2 dan
kekuatan batas minimum dari 19.000 kg/cm2.

b) Kawat (wire) pra-tegang harus terdiri dari kawat dengan kuat tarik tinggi dengan
panjang menerus tanpa sambungan atau kopel dan harus sesuai dengan
AASHTO M204 - 89.

c) Batang logam campuran dengan kuat tarik tinggi harus bebas tegangan kemu-
dian diregangkan secara dingin minimum sebesar 9.100 kg/cm2.

Setelah peregangan dingin, maka sifat fisiknya akan menjadi sebagai berikut :

Kekuatan batas tarik minimum : 10.000 kg/cm2.

Kekuatan leleh minimum, diukur dengan per-


panjangan 0,7% menurut metode pembebanan
tidak boleh kurang dari : 9.100 kg/cm2.

Modulus elastisitas minimum : 25.000.000 kg/cm2

Pemuluran (elongation) min. setelah runtuh


(rupture) dihitung rata-rata terhadap 20 batang : 4 %.

Toleransi diamater : + 0,76 mm.


- 0,25 mm

i) Pemasokan

Kawat baja kaut tarik tinggi atau batang baja kuat tarik tinggi yang akan
digunakan dalam pekerjaan pra-tegang harus dipasok dalam gulungan
berdiameter cukup besar agar dapat mempertahankan sifat-sifat yang
disyaratkan dan akan tetap lurus bila dibuka dari gulungan tersebut.
Bahan harus dalam kondisi baik, tidak tertekuk atau bengkok.

Bahan tersebut harus bebas dari karat, kotoran, bahan lain yang lepas,
minyak, gemuk, cat, lumpur atau bahan-bahan lainnya yang tidak dike-
hendaki tetapi juga tidak licin karena digosok.

ii) Pemberian Tanda

Kabel harus disimpan dalam kelompok-kelompok menurut ukuran dan


panjangnya, diikat dan diberi label yang menunjukkan ukuran kabel dalm
gulungan.

iii) Penyimpanan

Bahan kabel, kawat, batang baja, jangkar, selongsong harus disimpan di


bawah atap yang kedap air, diletakkan terpisah dari permukan tanah dan
harus dilindungi dari setiap kemungkinan kerusakan.

7 - 24
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

6) Penjangkaran

Penjangkaran harus mampu menahan paling sedikit 95% kuat tarik minimum baja pra-
tegang, dan harus memberikan penyebaran tegangan yang merata dalam beton pada
ujung kabel pra-tegang. Perlengkapan harus disediakan untuk perlindungan jangkar dari
korosi.

Perkakas penjangkaran untuk semua sistem pasca-penegangan (post-tension) akan


dipasang tepat tegak lurus terhadap semua arah sumbu kabel untuk pasca-penegangan.

Jangkar harus dilengkapi dengan selongsong atau penghubung yang cocok lainnya untuk
memungkinkan penyuntikan (grouting).

7) Selongsong

Selongsong yang disediakan untuk kabel pasca-penegangan harus dibentuk dengan


bantuan selongsong berusuk yang lentur atau selongsong logam bergelombang yang
digalvanisasi, dan harus cukup kaku untuk mempertahankan profil yang diinginkan
antara titik-titik penunjang selama pekerjaan penegangan. Ujung selongsong harus dibuat
sedemikian rupa sehingga dapat memberikan gerak bebas pada ujung jangkar.
Sambungan antara ruas-ruas selongsong harus benar-benar merupakan sambungan logam
dan segera harus ditutup sampai rapat dengan menggunakan pita perekat tahan air untuk
mencegah kebocoran adukan.

Selongsong harus bebas dari belahan, retakan, dan sebagainya. Sambungan harus dibuat
dengan hati-hati dengan cara sedemikian hingga saling mengikat rapat dengan adukan.
Selongsong yang rusak harus dikeluarkan dari tempat kerja. Lubang udara harus dise-
diakan pada puncak dan pada tempat lainnya dimana diperlukan sedemikian hingga
penyuntikan adukan semen dapat mengisi semua rongga sepanjang seluruh panjang
selongsong sampai penuh.

8) Pekerjaan Lain-lain

Air yang digunakan untuk pembilasan selongsong harus mengandung baik kapur sirih
(kalsium oksida) maupun kapur tohor (kalsium hidro-oksida) dengan takaran 12 gram per
liter. Udara bertekanan, yang digunakan untuk meniup selongsong, harus bebas dari
minyak.

7.2.3 PENGUJIAN

1) Umum

Kawat, untaian, rakitan jangkar dan batang untuk pekerjaan pra-tegang harus ditandai
dengan sejumlah nomor dan diberi label untuk keperluan identifikasi sebelum diangkut
ke tempat kerja.

Contoh yang diserahkan harus mewakili jumlah bahan yang akan disediakan dan untuk
kawat dan untaian harus mempunyai induk gulungan (master roll) yang sama. Contoh
untuk pengujian harus diserahkan pada waktunya sehingga hasilnya dapat diterima
dengan baik sebelum waktu pekerjaan penegangan yang dijadwalkan.

7 - 25
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

2) Untaian (Strand) Untuk Penegangan Sebelum Pengecoran (Pre-tension)

Contoh dengan panjang sekurang-kurangnya 2,5 meter harus diserahkan, yaitu contoh
yang diambil dari setiap gulungan.

3) Untaian (Strand), Kawat atau Batang Untuk Penegangan Setelah Pengecoran


(Post Ten-sion).

Panjang kawat yang cukup untuk membuat sebuah kabel paralel biasa dengan panjang
1,5 meter, terdiri dari jumlah kawat yang sama sebagaimana kabel yang akan disediakan,
harus diserahkan.

Untaian (strand) dileng- : sebuah untaian dengan panjang 1,5 meter antara
kapi dengan penyetelan ujung-ujung penyetelan, harus diserahkan.

Batang dilengkapi : sebuah batang dengan panjang 1,5 meter antara


dengan ujung berulir ujung-ujung uliran, harus diserahkan.

4) Rakitan Jangkar

Bilamana rakitan jangkar tidak disertakan dalam contoh penulangan, maka dua rakitan
harus diserahkan, lengkap dengan pelat distribusi, untuk setiap jenis dan ukuran yang
akan digunakan.

5) Penerimaan Sebelumnya

Bilamana sistim pra-tegang yang akan digunakan telah diuji sebelumnya dan disetujui
oleh Pemilik atau instansi lain yang dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan, maka contoh
tidak perlu diserahkan asalkan tidak terdapat perubahan dalam bahan, rancangan atau
rincian yang sebelumnya telah disetujui.

7.2.4 PELAKSANAAN UNIT-UNIT

1) Umum

a) Tempat Pencetakan

Lokasi setiap tempat pencetakan harus disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

b) Acuan

Unit Acuan

Pipa acuan untuk membentuk lubang melintang dalam pekerjaan akhir atau
perkakas cetak lainnya yang akan membatasi regangan memanjang dalam
elemen acuan harus dilepas sesegera mungkin setelah pengecoran beton sede-
mikian rupa sehingga pergerakan akibat penyusutan atau perubahan temperatur
beton dapat dikendalikan.

Bilamana diperlukan rongga dalam beton, maka pembentuk rongga beton harus
terpasang kaku dengan cara yang sedemikian hingga tidak terjadi pergeseran
yang cukup besar dalam segala arah selama pelaksanaan pengecoran.

7 - 26
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Bilamana pembentuk rongga beton diikat pada kabel prategang, maka


pencegahan harus dilakukan untuk menjamin bahwa pola untaian tidak
mengalami distorsi akibat gaya apung dari rongga tersebut.

Semua pencegahan harus dilakukan untuk menghindari kerusakan pada acuan


selama pengecoran.

c) Perlengkapan Pra-tegang

Perlengkapan penarik kabel harus disetujui oleh Direksi Pekerjaan sebelum


digunakan dan harus dikalibrasi sebagai unit yang lengkap oleh suatu labora-
torium yang disetujui setiap enam bulan (atau lebih sering jika diperintahkan
oleh Direksi Pekerjaan) agar memberikan korelasi antara gaya yang diberikan
pada kabel dan bacaan yang ditunjukkan oleh alat ukur tekanan. Perlengkapan
penarikan kabel harus disediakan paling sedikit 2 alat pengukur tekanan dengan
permukaan diameter tidak kurang dari 150 mm, satu untuk membaca lendutan
akibat penegangan dan yang satunya untuk membaca pembebanan selama
operasi penegangan akhir. Alat pengukur tekanan harus akurat sampai ketelitian
1 % kapasitas penuh. Sertifikat kalibrasi harus disimpan di kantor kerja pada
tempat pengecoran dan disediakan untuk Direksi Pekerjaan atas permintannya.

d) Perakitan Kabel Pra-tegang

Kabel pra-tegang harus dirakit sesuai dengan petunjuk yang diikutsertakan dalam
sertifikat persetujuan pabrik.

Sebelum perakitan, maka permukaan baja pra-tegang harus diperiksa terhadap


korosi. Karat lepas harus dibuang dengan tangan, yaitu dengan lap kain guni atau
wol baja halus dan setiap jenis minyak harus dibersihkan dengan menggunakan
deterjen. Suatu lapisan karat yang tipis tidak dianggap merusak asalkan baja
tersebut tidak nampak keropos setelah dibersihkan dari karat.

Baja yang sangat berkarat atau baja yang keropos harus ditolak dan dikeluarkan
dari tempat kerja. Benda asing yang melekat pada baja harus dihilangkan sete-
lah pra-tegang atau sebelum penempatan dalam selongsong. Bilamana baja pra-
tegang untuk pekerjaan penegangan sebelum pengecoran (pre-tension) dipasang
sebelum pengecoran pada unit tersebut, atau bilamana tidak disuntik dalam
waktu 10 hari sejak pemasangan, maka baja tersebut harus mengikuti ketentuan
di atas untuk perlindungan terhadap korosi dan ditolak jika berkarat. Dalam hal
ini, bahan penghambat korosi harus digunakan dalam selongsong setelah
pemasangan kabel.

Jangkar harus dirakit dengan kabel dengan cara sedemikian sehingga dapat
mencegah setiap pergeseran posisi, baik selama pemasangan maupun penge-
coran.

e) Selimut Beton

Jika tidak ditentukan lain, maka selimut beton tidak boleh kurang dari 2 kali
diameter kabel atau 3 cm, diambil yang lebih besar. Selimut beton tersebut harus
ditambah 1,5 cm untuk beton yang kontak langsung dengan permukaan tanah
atau 3,0 cm untuk elemen beton yang dipasang dalam air asin.

7 - 27
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

f) Pengecoran Beton

Kontraktor harus memberitahu Direksi Pekerjaan paling tidak 24 jam sebelum


permulaan operasi pengecoran beton yang dijadwalkan agar Direksi Pekerjaan
dapat memeriksa persiapan pekerjaan tersebut.

Beton tidak boleh dicor sampai Direksi Pekerjaan telah memeriksa dan me-
nyetujui pemasangan baja tulangan, selongsong, jangkar, dan baja pra-tegang.
Selongsong yang retak atau robek harus diganti.

Pengecoran harus sesuai dengan ketentuan dalam Seksi 7.1 dari Spesifikasi ini.
Beton harus digetar dengan hati-hati untuk menghindari pergeseran kabel, kawat,
selongsong, atau baja tulangan. Untuk bagian yang lebih dalam dan tipis,
penggetar luar yang ditempelkan pada acuan dapat dilaksanakan untuk menam-
bah getaran di bagian dalam. Baik sebelum pengecoran maupun segera sesudah
pengecoran beton, maka Kontraktor harus dapat menunjukkan bahwa semua
selongsong tidak rusak hingga dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan.

g) Perawatan

Perawatan dengan uap air dapat digunakan sesuai dengan yang disyaratkan
dalam Seksi 7.1.

2) Pra-penegangan (Pre-stressing)

a) Umum

Tidak ada penegangan yang boleh dilaksanakan tanpa persetujuan dari Direksi
Pekerjaan. Operasi penegangan harus dilaksanakan di bawah pengawasan dari
seorang ahli yang disediakan oleh pabrik dari peralatan akan digunakan, oleh
suatu tim sangat berpengalaman dalam menggunakan peralatan tersebut dan
disaksikan oleh Direksi Pekerjaan atau wakilnya.

b) Penegangan Kabel

i) Keselamatan Kerja

Selama proses penarikan kabel tidak diperbolehkan seorangpun berdiri di


muka dongkrak.

Pengukuran atau kegiatan lainnya harus dilaksanakan dari samping dong-


krak atau tempat lainnya yang cukup aman. Sesaat sebelum penarikan
kabel, tanda-tanda yang cukup jelas harus terpasang pada kedua ujung unit
tersebut untuk memperingatkan orang agar tidak mendekati tempat
tersebut.

ii) Peralatan

Sebelum pekerjaan penegangan, peralatan harus diperiksa, dikalibrasi atau


diuji, sebagaimana dipandang perlu oleh Direksi Pekerjaan. Dyna-
mometer dan alat ukur lainnya harus mempunyai toleransi sampai 2 %.
Alat pengukur tekanan harus disesuaikan dengan petunjuk pabrik pem-
buatnya. Alat pengukur tekanan ini juga harus dibuat sedemikian rupa
sehingga tidak akan rusak bila terjadi penurunan tegangan secara menda-
dak.

7 - 28
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Untuk maksud pencatatan, jika dipandang perlu,dapat dipasang lebih dari


satu alat pengukur tekanan.

c) Data-data Yang Harus Dicatat

i) Umum

Baik untuk Penegangan Sebelum Pengecoran (Pre-Tension) maupun


Penegangan Setelah Pengecoran (Post-Tension), harus dilakukan penca-
tatan data-data berikut ini :

Nama dan nomor pekerjaan


Nomor balok/gelagar
Tanggal selesainya pengecoran
Tanggal diberikannya gaya pra-tegang

ii) Kabel Untuk Penegangan Sebelum Pengecoran (Pre-Tension)

Data-data berikut ini harus dicatat :

Pabrik pembuatnya, toleransi dan nomor dynamometer, alat peng-


ukur, pompa dan dongkrak.
Besarnya gaya yang dicatat oleh dynamometer.
Tekanan pompa atau dongkrak dan luas piston.
Pemuluran terakhir segera setelah penjangkaran.

iii) Kabel Untuk Penegangan Setelah Pengecoran (Post-Tension)

Data-data berikut ini yang harus dicatat :

Pabrik pembuatnya, toleransi, jenis dan nomor dynamometer, alat


pengukur, pompa dan dongkrak.
Identifikasi kabel.
Gaya awal pada saat penegangan awal.
Gaya akhir dan pemuluran pada saat penegangan akhir.
Gaya dan pemulura pada selang waktu tertentu jika dan bilamana
diminta oleh Direksi Pekerjaan.
Pemuluran setelah dongkrak dilepas.

Salinan catatan tersebut harus diserahkan kepada Direksi Pekerjaan dalam


waktu 24 jam setelah setiap operasi penegangan.

7.2.5. METODE PENEGANGAN SEBELUM PENGECORAN (PRE-TENSION)

1) Landasan Gaya Pra-tegang

Landasan untuk mendukung gaya pra-tegang selama operasi pra-tegang harus dirancang
dan dibuat untuk menahan gaya-gaya yang timbul selama operasi pra-tegang. Landasan
harus dibuat sedemikian rupa sehingga bila terjadi slip pada jangkar tidak menyebabkan
kerusakan pada landasan.

Landasan harus cukup kuat sehingga tidak terjadi lendutan atau kerusakan akibat beban
terpusat atau beban mati dari unit-unit yang ditunjang.

7 - 29
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

2) Penempatan Kabel

Kabel harus ditempatkan sesuai dengan yang ditunjukkan dalam Gambar, dan harus
dipasang sedemikian hingga tidak bergeser selama pengecoran beton. Pada penempatan
kabel, perhatian khusus harus diberikan agar kabel tidak menyentuh acuan yang telah
diminyaki. Bilamana terlihat tanda-tanda minyak pada kabel, maka kabel harus segera
dibersihkan dengan menggunakan kain yang dibasahi minyak tanah atau bahan yang
cocok lainnya.

Bilamana memungkinkan, penegangan kabel hendaknya dilaksanakan sebelum acuan


diminyaki. Jangkar harus diletakkan pada posisi yang dikehendaki dan tidak bergeser
selama pengecoran beton.

3) Besarnya Gaya Penegangan Yang Dikehendaki

Kecuali ditentukan lain dalam Gambar, gaya penegangan yang diperlukan adalah sisa
gaya kabel pada tengah-tengah setiap unit segera setelah semua kabel dijangkar pada
abutment dari landasan dan berada dalam posisi lendutan akhir. Perbedaan gaya
penegangan adalah 5 persen dari gaya yang diperlukan. Besar gaya penegangan yang
diberikan harus dapat sudah termasuk pengurangan gaya akibat slip pada perkakas
jangkar, masuknya baji (wedge draw-in) dan kehilangan akibat gesekan (friction losses).

Cara penarikan kabel termasuk pemasangan dan penempatan setiap garis lengkung kabel,
perhitungan yang menunjukkan gaya-gaya pada jangkar dan setiap titik lendutan, dan
perkiraan kehilangan gaya akibat gesekan, harus diserahkan kepada Direksi Pekerjaan
untuk mendapat persetujuan sebelum dimulainya pembuatan elemen-elemen.

Kontraktor harus melaksanakan percobaan operasi penegangan untuk memperoleh


besarnya tahanan geser yang diberikan alat pelengkung (hold down) dan juga memas-
tikan bahwa masuknya baji yang disebutkan masih konsisten dengan jenis dongkrak dan
teknik yang diusulkan.

Kabel harus dilengkungkan bilamana ditunjukkan dalam Gambar, dengan perkakas yang
cukup kuat untuk memegang kabel dalam posisi yang sesuai, terutama selama penge-
coran dan operasi penggetaran. Kecuali disebutkan lain oleh Direksi Pekerjaan, maka
alat pelengkung (hold down) harus diletakkan memanjang dalam 200 mm dan vertikal
dalam 5 mm dari lokasi yang ditunjukkan dalam Gambar.

Alat pelengkung (hold down) harus dirancang sedemikian hingga pelengkung (deflec-
tors) yang dalam keadaan kontak langsung dengan untaian (strand) berdiameter tidak
kurang dari diameter kabel atau 15 mm, mana yang lebih besar. Pelengkung (deflectors)
harus dibuat dari bahan yang tidak lebih keras dari baja mutu 36 sesuai dengan ketentuan
dari AASHTO M183.

Kontraktor harus menyerahkan perhitungan yang menunjukkan bahwa alat pelengkung


telah dirancang dan dibuat untuk menahan beban terpusat yang diakibatkan dari gaya pra-
tegang yang diberikan.

Cara penarikan kabel harus dapat menjamin bahwa gaya yang diperlukan dihasilkan dari
semua kabel di tengah-tengah bentang setiap unit, terutama bilamana lebih dari satu kabel
atau satu unit ditarik dalam suatu operasi penarikan.

7 - 30
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Beton tidak boleh dicor lebih dari 12 jam setelah peraikan kabel. Bilamana waktu ini
dilampaui, maka Kontraktor harus memeriksa apakah kebutuhan gaya tarik kabel masih
dipertahankan. Bilamana penegangan ulang diperlukan, maka perpanjangan kabel yang
terjadi harus ditahan dengan menggunakan pelat pengunci (shims) tanpa mengganggu
baji yang telah tertanam.

Pengukuran pemuluran, hanya boleh dilaksanakan setelah Direksi Pekerjaan memeriksa


perhitungan dan menentukan bahwa sistem tersebut telah memenuhi ketentuan. Bacaan
alat pengukur tekanan dari dongkrak harus digunakan sebagai pembanding penguluran
pemuluran. Bilamana bacaan tekanan dongkrak dan pengukuran pemuluran berbeda lebih
dari 3 %, Direksi Pekerjaan harus diberitahu sebelum pengecoran dimulai, dan jika
dipandang perlu, kabel harus diuji ulang dan peralatan dikalibrasi ulang sebagaimana
diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

4) Prosedur Pra-tegang

Operasi penarikan kabel harus dikerjakan oleh tenaga yang terlatih dan berpengalaman di
bidangnya.

Gaya pra-tegang harus diberikan dan dilepas secara bertahap dan merata.

Untuk menghilangkan kekenduran dan menaikkan kabel dari lantai landasan, maka gaya
100 kg atau sebesar yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan harus diberikan pada kabel.
Gaya awal harus diberikan untuk menghitung pemuluran yang diperlukan.

Kabel harus ditandai untuk pengukuran pemuluran setelah tegangan awal diberikan.
Bilamana diperlukan oleh Direksi Pekerjaan, maka kabel harus ditandai pada kedua
ujungnya, ujung yang ditarik dan ujung yang mati serta pada kopel (bila digunakan),
sedemikian hingga slip dan masuknya kabel (draw-in) dapat diukur.

Bilamana terjadi slip pada salah satu kelompok kabel yang ditarik secara bersama-sama,
maka tegangan pada seluruh kabel harus dikendorkan, kabel-kabel diatur lagi dan
kelompok kabel tersebut ditarik kembali. Sebagai alternatif, jika kabel yang slip tidak
lebih dari dua, penarikan kelompok kabel dapat diteruskan sampai selesai dan kabel yang
kendor ditarik kemudian.

Gaya pra-tegang harus dipindahkan dari dongkrak penarik ke abutment landasan pra-
tegang segera setelah gaya yang diperlukan (atau pemuluran) dalam kabel telah tercapai,
dan tekanan dongkrak harus dilepas sebelum setiap operasi berikutnya dimulai.

Bilamana untaian (strand) yang dilengkungkan disyaratkan, maka Direksi Pekerjaan


dapat memerintahkan pengukuran pemuluran atau regangan pada berbagai posisi
sepanjang kabel untuk menentukan gaya pada kabel pada masing-masing posisi.

5) Pemindahan Gaya Pra-tegang

a) Persetujuan

Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi Pekerjaan usulan terinci cara


pemindahan gaya pra-tegang untuk mendapat persetujuan sebelum pemindahan
gaya dimulai.

7 - 31
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

b) Ketentuan Kekuatan Beton

Tidak ada kabel yang dilepas sebelum beton mencapai kuat tekan yang lebih
besar dari 85 % kuat tekan beton berumur 28 hari yang disyaratkan dalam
Gambar dan didukung dengan pengujian benda uji standar yang dibuat dan
dirawat sesuai dengan unit-unit yang dicor.

Bilamana, setelah 28 hari, kuat tekan beton gagal mencapai kekuatan minimum
yang disyaratkan, maka kabel segera dilepaskan dan unit beton tersebut harus
ditolak.

c) Prosedur

Semua kabel harus diperiksa sebelum dilepas untuk memastikan bahwa tidak
terdapat kabel yang kendur. Bilamana terdapat kabel yang kendur, maka Kon-
traktor harus segera memberitahu Direksi Pekerjaan sehingga Direksi Pekerjaan
dapat memeriksa unit tersebut dan menentukan apakah unit tersebut dapat
dipakai terus atau harus diganti.

Semua kabel harus diberi tanda pada kedua ujung balok pratekan, agar dapat
dilakukan pencatatan bilamana terjadi slip atau masuknya kabel (draw-in).

Pelepasan kabel harus secara berangsur-angsur dan tidak boleh terhenti pada
waktu pelepasannya.

Dengan persetujuan dari Direksi Pekerjaan, pelepasan kabel dapat dilakukan


dengan pemanasan, asalkan ketentuan berikut ini dilaksanakan :

i) Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi Pekerjaan rincian cara


pemindahan gaya pra-tegang termasuk panjang kabel bebas di antara unit-
unit, panjang kabel bebas pada kedua ujung landasan, tempat-tempat
dimana kabel akan diberikan pemanasan, rencana pemotongan kabel dan
pelepasan alat untuk kabel yang dilengkungkan, cara pemanasan kabel dan
peralatan yang diusulakan untuk digunakan.

ii) Pemanasan harus dilaksanakan merata pada seluruh panjang kabel dalam
waktu yang cukup untuk menjamin bahwa seluruh kabel telah regang
(relax) sepenuhnya sebelum dilakukan pemotongan. Beton tidak boleh
dipanaskan secara berlebihan, dan pemanasan tidak boleh dilakukan lang-
sung pada setiap bagian kabel yang berjarak kurang dari 10 cm dari
permukaan beton unit tersebut.

iii) Direksi Pekerjaan harus hadir dalam setiap pelepasan kabel dengan
pemanasan. Setelah gaya pra-tegang telah dipindahkan pada unit-unit,
kabel-kabel antara unit-unit harus bekerja baik sepanjang garis dari titik
pelepasan.

Setelah gaya pra-tegang dipindahkan seluruhnya pada beton, kelebihan


panjang kabel harus dipotong sampai ujung permukaan unit dengan
pemotong mekanis. Setiap upaya harus dilakukan untuk mencegah
kerusakan pada beton.

7 - 32
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

6) Masuknya (Draw-in) Kabel Yang Diijinkan.

Masuknya kabel pada setiap kabel tidak boleh melampaui 3 mm pada setiap ujung,
kecuali disebutkan lain dalam Gambar.

Bilamana masuknya kabel melampaui toleransi maksimum maka pekerjaan tersebut


harus ditolak.

7.2.6 METODE PENEGANGAN SETELAH PENGECORAN (POST-TENSION)

1) Persetujuan

Kecuali disebutkan lain dalam Gambar, Kontraktor dapat menentukan prosedur pra-
tegang yang dikehendakinya, dimana prosedur dan rencana pelaksanaan tersebut harus
diserahkan kepada Direksi Pekerjaan untuk mendapat persetujuan sebelum setiap
pekerjaaan untuk unit penegangan setelah pengecoran dimulai.

2) Penempatan Jangkar

Setiap jangkar harus ditempatkan tegak lurus terhadap garis kerja gaya pra-tegang, dan
dipasang sedemikian hingga tidak akan bergeser selama pengecoran beton.

Bilamana ditentukan dalam Gambar bahwa plat baja digunakan sebagai jangkar, maka
bidang permukaan beton yang kontak langsung dengan plat baja tersebut harus rata,
daktil (ducktile) dan diletakkan tegak lurus terhadap arah gaya pra-tegang. Jangkar pelat
baja dapat ditanam pada adukan semen sebagaimana yang disetujui atau diperintahkan
oleh Direksi Pekerjaan.

Sesudah pekerjaan pra-tegang dan penyuntikan selesai, jangkar harus ditutup dengan
beton dengan tebal paling sedikit 3 cm.

3) Penempatan Kabel

Lubang jangkar harus ditutup untuk menjamin bahwa tidak terdapat adukan semen atau
bahan lainnya masuk ke dalam lubang selama pengecoran.

Segera sebelum penarikan kabel, Kontraktor harus menunjukkan bahwa semua kabel
bebas bergerak antara titik-titik penjangkaran dan elemen-elemen tersebut bebas untuk
menampung pergerakan horisontal dan vertikal sehubungan dengan gaya pra-tegang
yang diberikan.

4) Kekuatan Beton Yang Diperlukan

Gaya pra-tegang belum boleh diberikan pada beton sebelum mencapai kekuatan beton
yang diperlukan seperti yang disyaratkan dalam Gambar, dan tidak boleh kurang dari 14
hari setelah pengecoran jika perawatan dengan pembasahan digunakan, atau kurang dari
2 hari setelah pengecoran jika perawatan dengan uap digunakan.

Bilamana unit-unit terdiri dari elemen-elemen yang disambung, kekuatan yang dipindah-
kan ke bahan sambungan paling sedikit harus sama dengan kekuatan yang dipindahkan
pada unit beton.

7 - 33
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

5) Besarnya Gaya Pra-tegang Yang Diperlukan

Pengukuran gaya pra-tegang yang dilakukan dengan cara langsung mengukur tekanan
dongkrak atau tidak langsung dengan mengukur pemuluran. Kecuali disebutkan lain
dalam Gambar, Direksi Pekerjaan akan menentukan prosedur yang diambil setelah
pengamatan kondisi dan ketelitian yang dapat dicapai oleh kedua prosedur tersebut.

Direksi Pekerjaan akan menentukan perkiraan pemuluran dan tekanan dongkrak.

Kontraktor harus menetapkan titik duga untuk mengukur perpanjangan dan tekanan
dongkrak samapai dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan.

Kontraktor harus menambahkan gaya pra-tegang yang diperlukan untuk mengatasi kehi-
langan gaya akibat gesekan dan penjangkaran. Besar gaya total dan perpanjangan yang
dihitung harus disetujui oleh Direksi Pekerjaan sebelum penegangan dimulai.

Segera setelah penjangkaran, maka tegangan dalam kabel pra-tegang tidak boleh melam-
paui 70 % dari beban yang ditetapkan. Selama penegangan, maka nilai tersebut tidak
boleh melampaui 80 %.

Kabel harus ditegangkan secara bertahap dengan kecepatan yang tetap. Gaya dalam kabel
harus diperoleh dari pembacaan pada dua buah arloji atau alat pengukur tekanan yang
menyatu dengan peralatan tersebut. Perpanjangan kabel dalam gaya total yang disetujui
tidak boleh melampaui 5 % dari perhitungan perpanjangan yang disetujui. Bilamana
perpanjangan yang diperlukan tidak dapat dicapai maka gaya dongkrak dapat
ditingkatkan sampai 75 % dan beban yang ditetapkan untuk kabel. Bilamana perbedaan
pemuluran antara yang diukur dengan yang dihitung, lebih dari 5 %, maka tidak perlu
dilakukan penarikan lebih lanjut sampai perhitungan dan peralatan tersebut diperiksa.

Penegangan harus dari salah satu ujung, kecuali disebutkan lain dalam Gambar atau
disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

Bilamana penegangan pada kabel dilakukan dengan pendongkrakan pada kedua ujung-
nya, maka tarikan ke dalam (pull-in) pada ujung yang jauh dari dongkrak harus diukur
dengan akurat dengan memperhitungkan kehilangan gaya untuk perpanjangan yang
diukur pada ujung dongkrak.

Bilamana pekerjaan pra-tegang telah dilakukan sampai diterima oleh Direksi Pekerjaan,
maka kabel harus dijangkarkan. Tekanan dongkrak kemudian harus dilepas dengan
sedemikian rupa sehingga dapat menghindari goncangan terhadap jangkar atau kabel
tersebut.

Bilamana tarikan ke dalam (pull-in) kabel pada penjangkaran akhir lebih besar dari yang
disetujui oleh Direksi Pekerjaan, maka beban harus dilepas secara bertahap dengan
kecepatan tetap dan penarikan kabel dapat diulangi.

6) Prosedur Penarikan Kabel

a) Umum

Semua pekerjaan penarikan kabel harus dihadiri oleh Direksi Pekerjaan atau
wakilnya.

7 - 34
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Pelepasan dongkrak harus bertahap dan menerus. Penarikan kabel harus sesuai
dengan urutan yang telah ditentukan dalam Gambar. Pemberian gaya pra-tegang
sebagian (partially prestressed) hanya boleh diberikan bilamana ditunjukkan
dalam Gambar atau diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Pemberian gaya pra-
tegang yang melampaui gaya maksimum yang telah dirancang untuk mengurangi
gesekan dapat diijinkan asal sepengetahuan dan sesuai dengan petunjuk Direksi
Pekerjaan, untuk mengatasi penurunan gaya yang diperlukan. Dalam keadaan
apapun, perhatian khusus harus diberikan agar kabel tidak ditarik melebihi 85 %
dari kekuatan maksimumnya, dan dongkrak tidak dipaksa sampai melebihi batas
kapasitas maksimumnya.

Sebelum penegangan, kabel harus dibersihkan dengan cara meniupkan udara


bertekanan ke dalam selongsong. Jangkar juga harus dalam keadaan bersih.
Bagian kabel yang menonjol harus dibersihkan dari bahan-bahan yang tidak
dikehendaki, karat/korosi, sisa-sisa adukan semen, gemuk, minyak atau kotoran
debu lainnya yang dapat mempengaruhi perlekatannya dengan pekerjaan pen-
jangkaran. Kabel dicoba untuk ditarik keluar dan masuk ke dalam selongsong
agar dapat kelengketan akibat kebocoran selongsong dapat segera diketahui dan
diambil langkah-langkah seperlunya.

Gaya tarik pendahuluan, untuk menegangkan kabel dari posisi lepasnya, harus
diatur agar besarnya cukup akan tetapi tidak mengganggu besarnya gaya yang
diperlukan yang akan digunakan untuk setiap prosedur.

Setelah kabel ditegangkan, kedua ujungnya diberi tanda untuk memulai peng-
ukuran pemuluran. Bilamana Direksi Pekerjaan menghendaki untuk menentu-
kan kesalahan pembacaan pemuluran (zero error in measuring elongation)
selama proses penegangan, data bacaan dynamometer dan pengukuran pemu-
luran harus dicatat dan dibuat grafiknya untuk setiap tahap penegangan..

Bilamana slip terjadi pada satu kabel atau lebih dari sekelompok kabel, Direksi
Pekerjaan dapat mengijinkan untuk menaikkan pemuluran kabel yang belum
ditegangkan asalkan gaya yang diberikan tidak akan melebihi 85 % kekuatan
maksimumnya.

Bilamana kabel slip atau putus, yang mengakibatkan batas toleransi yang
diijinkan dilampaui, kabel tersebut harus dilepas, atau diganti jika perlu, sebelum
ditarik ulang.

b) Penarikan Kabel Dengan 2 Dongkrak

Umumnya operasi pra-tegang harus dilaksanakan dengan dongkrak pada setiap


ujung secara bersama-sama. Setiap usaha yang dilakukan untuk mencatat semua
gaya pada setiap dongkrak selama operasi penarikan kabel harus diteruskan
sampai gaya yang diperlukan pada dongkrak tercapai atau sampai jumlah pemu-
luran sama dengan jumlah pemuluran yang diperlukan.

Penegangan pada salah satu ujung harus dilakukan untuk menentukan kehi-
langan gesekan (friction loss), jika diperintahkan oleh Direksi Pekejaan. Kedua
dongkrak dihubungkan pada kedua ujung dari setiap kabel. Salah satu dongkrak
diberikan perpanjangan paling tidak 2,5 cm sebelum dongkrak lainnya dihu-
bungkan. Kabel yang masih kendor harus dikencangkan, dan kabel yang per-
tama-tama ditegangkan adalah pada dongkrak yang tidak diberi perpanjangan
(disebut leading jack).

7 - 35
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Dongkrak yang tidak diberi gaya (disebut trailing jack) harus dipasang
sedemikian hingga gaya yang dipindahkan pada ujung ini dapat dicatat.
Penegangan ujung ini harus dilanjutkan sampai pemuluran mendekati 75 % dari
total pemuluran yang diperkirakan pada ujung trailing jack. Penegangan
kemudian dilanjutkan dengan memberi gaya hanya pada trailing jack, sampai
pada kedua dongkrak tersebut tercatat gaya yang sama. Kedua dongkrak
selanjutnya dikerjakan dengan mempertahankan gaya yang sama pada kedua
dongkrak, sampai mencapai besar gaya yang dikehendaki.

c) Penegangan Dengan 1 Dongkrak

Bilamana ditunjukkan dalam Gambar bahwa kabel harus ditarik pada satu ujung
(biasanya bentang pendek), maka hanya satu dongkrak yang digunakan. Setelah
kabel ditegangkan, kedua ujung ditandai untuk mengukur pemuluran masuknya
kabel (draw-in).

7) Lubang Penyuntikan (Grouting Hole)

Lubang penyuntikan harus disediakan pada jangkar, pada titik atas dan bawah profil
kabel dan pada titk-titik lainnya yang cocok. Jumlah dan lokasi titik-titik ini harus
disetujui oleh Direksi Pekerjaan tetapi tidak boleh lebih dari 30 meter pada bagian dari
panjang selongsong. Lubang penyuntikan dan lubang pembuangan udara paling tidak
harus berdiameter 10 mm dan setiap lubang harus ditutup dengan katup atau perleng-
kapan sejenis yang mampu menahan tekanan 10 kg/cm2 tanpa kehilangan air, suntikan
atau udara.

8) Penyuntikan dan Penyelesaian Akhir Setelah Pemberian Gaya Pra-tegang

Kabel harus disuntik dalam waktu 24 jam sesudah penarikan kabel selesai dilakukan
kecuali jika ditentukan lain oleh Direksi Pekerjaan.

Lubang penyuntikan harus diuji dengan diisi air bertekanan 8 kg/cm2 selama satu jam
sebelum penyuntikan. Selanjutnya selongsong harus dibersihkan dengan air dan udara
bertekanan.

Peralatan pencampur harus dapat menghasilkan adukan semen dengan kekentalan yang
homogen dan harus mampu memasok secara menerus pada peralatan penyuntikan.
Peralatan penyuntikan tersebut harus mampu beroperasi secara menerus dengan sedikit
variasi tekanan dan harus mempunyai sistim untuk mengalirkan kembali adukan bila-
mana penyuntikan sedang tidak dijalankan. Udara bertekanan tidak boleh digunakan.
Peralatan tersebut harus mempunyai tekanan tetap yang tidak melebihi 8 kg/cm2. Semua
pipa yang disambungkan ke pompa penyuntikan harus mempunyai suatu lengkung
minimum, katup dan sambungan penyesuai antar diameter. Semua pengatur arus ke
pompa harus disetel dengan saringan 1,0 mm. Semua peralatan, terutama pipa, harus
dicuci sampai bersih dengan air bersih setelah setiap rangkaian operasi dan pada akhir
operasi setiap hari.

Interval waktu antar pencucian tidak boleh melebihi dari 3 jam. Peralatan tersebut harus
mampu mempertahankan tekanan pada selongsong yang telah disuntik sampai penuh dan
harus dilengkapi dengan katup yang dapat terkunci tanpa kehilangan tekanan dalam
selongsong. Pertama-tama air dimasukkan ke dalam alat pencampur, kemudian semen.
Bilamana telah dicampur sampai merata, jika digunakan, maka aditif akan ditambahkan.
Pengadukan harus dilanjutkan sampai diperoleh suatu kekentalan yang merata. Rasio air -
semen pada campuran tidak akan melebihi 0,45 menurut takaran berat kecuali ditentu-
kan lain oleh Direksi Pekerjaan. Pencampuran tidak boleh dilakukan secara manual.

7 - 36
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Penyuntikan harus dikerjakan dengan cukup lambat untuk menghindari timbulnya segre-
gasi adukan. Cara penyuntikan adukan harus sedemikian hingga dapat menjamin bahwa
seluruh selongsong terisi penuh dan penuh di sekeliling kabel. Grouting harus dapat
mengalir dari ujung bebas selongsong sampai kekentalannya ekivalen dengan grouting
yang disuntikkan. Lubang masuk harus ditutup dengan rapat. Setiap lubang grouting
harus ditutup dengan cara yang serupa secara berturut-turut dalam arah aliran. Setelah
suatu jangka waktu yang semestinya, maka penyuntikan selanjutnya harus dilaksanakan
untuk mengisi setiap rongga yang mungkin ada.

Setelah semua lubang ditutup, tekanan penyuntikan harus dipertahankan pada 8 kg/cm2
paling tidak selama satu menit.

Selongsong penyuntikan tidak boleh terpengaruh oleh goncangan atau getaran dalam
waktu 1 hari setelah penyuntikan.

Tidak kurang dari 2 hari setelah penyuntikan, permukaan adukan dalam penyuntikan dan
lubang pembuangan udara harus diperiksa dan diperbaiki sebagaimana diperlukan.

Kabel tidak boleh dipotong dalam waktu 7 hari setelah penyuntikan. Ujung kabel harus
dipotong sedemikian rupa sehingga minimum terdapat selimut beton setebal 3 cm pada
ujung balok (end block).

7.2.7 PENANGANAN, PENGANGKUTAN DAN PENYIMPANAN UNIT-UNIT BE-


TON PRACETAK

1) Pemberian Tanda Unit-unit Beton Pracetak

Segera setelah pembongkaran acuan samping dan melaksanakan perbaikan kecil, maka
unit-unit harus diberi tanda untuk memudahkan indentifikasi di kemudian hari. Cat tahan
cuaca harus digunakan dalam menandai unit-unit tersebut. Data yang ditandakan pada
semua unit harus mencakup nomor rujukan dan tanggal pengecoran. Malahan pelat
pracetak harus mempunyai data yang digoreskan pada permukaan atas segera setelah
pengecoran. Juga tiang pancang harus mempunyai tanda ukuran panjang yang jelas dan
permanen di sepanjang panjang tiang, dengan interval satu meter yang diukur dari ujung
tiang panjang.

2) Penanganan dan Pengangkutan

Perhatian khusus harus diberikan dalam penanganan dan pemindahan unit-unit beton
pracetak. Gelagar dan pelat pracetak harus diangkat dengan alat pengangkat atau melalui
lubang-lubang dibuat pada unit-unit tersebut, dan harus diangkut dalam posisi tegak.
Titik angkat, bentuk dan posisinya harus disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Penyangga dan
penggantung yang cocok harus digunakan setiap saat dan tidak boleh ada unit beton
pracetak yang akan digerakkan sampai sepenuhnya lepas dari permukaan tanah.

Unit-unit beton pracetak yang rusak akibat penyimpanan dan penanganan yang tidak
sebagaimana mestinya harus diganti oleh Kontraktor dengan biaya sendiri.

Bilamana cara pengangkatan dan pengangkutan gelagar tidak disebutkan dalam Gambar,
maka Kontraktor harus menyerahkan cara yang diusulkan kepada Direksi Pekerjaan.
Setelah disetujui oleh Direksi Pekerjaan, maka Kontraktor harus mengikuti cara yang
telah disetujui.

7 - 37
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

3) Penyimpanan

Unit-unit harus ditempatkan bebas dari kontak langsung dengan permukaan tanah dan
ditempatkan pada penyangga kayu di atas tanah keras yang tidak akan turun baik musin
hujan maupun kemarau, akibat beban dari unit-unit tersebut. Bilamana unit-unit tersebut
disusun dalam lapisan-lapisan, maka tidak melebihi dari 3 lapisan dengan penyangga
kayu dipasang di antara tiap lapisan. Penyangga untuk setiap lapisan harus dipasang di
atas lapisan yang terdahulu. Untuk gelagar dan tiang pancang, penyangga harus dipasang
pada jarak tidak lebih dari 20 % dari ukuran panjang unit, yang diukur dari setiap ujung.

4) Baja Pra-tegang (Pre-stressing Steel)

Semua baja pra-tegang harus dilindungi dari kerusakan fisik dan karat atau akibat lain
dari korosi setiap saat dari pembuatan sampai penyuntikan. Baja pra-tegang yang telah
mengalami kerusakan fisik pada setiap saat harus ditolak. Baja pra-tegang harus dibung-
kus dalam peti kemas atau bentuk pengiriman lainnya untuk melindungi baja tersebut
dari kerusakan fisik. Bahan pencegah korosi harus dimasukkan ke dalam kemasan atau
bentuk lainnya, atau bila diijinkan oleh Direksi Pekerjaan, dapat digunakan langsung
pada baja pra-tegang. Bahan pencegah korosi tidak boleh mempunyai pengaruh yang
merusak pada baja pra-tegang atau beton atau kekuatan ikat (bond strength) baja pada
beton. Kemasan atau bentuk lainnya yang rusak oleh berbagai sebab harus segera diganti
atau diperbaiki hingga mencapai kondisi semula. Kemasan atau bentuk lainnya harus
ditandai dengan jelas dengan suatu keterangan bahwa kemasan berisi baja pra-tegang
berkekuatan tinggi, dan perhatian khusus harus diberikan dalam penanganan, jenis
macam dan jumlah bahan pencegah korosi yang digunakan (termasuk tanggal sewaktu
dimasukkan), petunjuk pengamanan dan petunjuk penggunaan.

7.2.8 PELAKSANAAN BALOK BETON PRATEKAN SEGMENTAL

1) Uraian

Pekerjaan ini terdiri dari perakitan, penyambungan dan penegangan segmen-segmen


pracetak di lapangan. Unit-unit ini harus difabrikasi sesuai dengan ketentuan dalam Seksi
ini.

2) Perakitan Segmen Pracetak

Penanganan unit-unit pracetak dalam pelaksanaan balok pracetak segmental selama


operasi pemasangan harus sesuai dengan ketentuan Pasal 7.2.7 dari Spesifikasi ini.

Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi Pekerjaan detil rancangan acuan, metode
pemasangan dan perakitan untuk mendapat persetujuan paling sedikit 4 minggu sebelum
tanggal memulai perakitan segmen-segmen ini.

Segmen-segmen harus dirakit pada acuan atau pada penyangga di atas tanah lapang.
Kontraktor harus merancang sistem penyangga untuk menyalurkan semua beban yang
mungkin terjadi, dan harus menyertakan perlengkapan untuk menyesuaikan posisi setiap
segmen selama perakitan.

Unit harus dirakit dengan ketidaktepatan alinyemen selongsong dan permukaan luar
seminimum mungkin serta harus berada dalam toleransi yang diberikan dalam Pasal
7.2.1.(4) dari Spesifikasi ini.

7 - 38
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

3) Sambungan Beton

Beton yang digunakan untuk sambungan dan diafragma yang terkait atau beton yang
dimasukkan lainnya untuk pelaksanaan penegangan setelah pengecoran (post-tension)
harus sesuai dengan ketentuan Seksi 7.1 dari Spesifikasi kecuali bilamana dimodifikasi di
bawah ini.

Kadar semen tidak kurang dari 450 kg atau tidak lebih dari 500 kg per meter kubik beton.

Kecuali ditentukan lain oleh Direksi Pekerjaan, maka ukuran efektif maksimum harus
10 mm.

Sambungan beton harus mempunyai kekuatan yang sama dengan beton tersebut sebelum
diberi gaya pra-tegang seperti yang diuraikan dalam Pasal 7.2.6.(4) dari Spesifikasi ini.

Bahan untuk beton harus dipilih dengan teliti dan sesuai dengan proporsi rancangan
campuran untuk memperoleh beton sambungan dengan kekuatan yang disyaratkan dan
warna yang serupa dengan segmen-segmen tersebut. Bilamana diminta oleh Direksi
Pekerjaan maka Kontraktor harus menyerahkan contoh usulan sambungan beton yang
telah dirawat untuk membandingkan warna beton sambungan dan beton semula.

Sambungan beton antara segmen-segmen harus ditempatkan dalam cetakan yang me-
menuhi bentuk, garis dan dimensi yang diperlukan dalam penyelesaian pekerjaan ini.
Cetakan harus kaku, kedap air, diperkaku dan diikat bersama agar posisi dan bentuknya
selama pengecoran beton tidak berubah. Ketepatan cetakan terhadap segmen-segmen
harus sedemikian hingga diperoleh sambungan yang kedap air, tepat (pas) dengan
permukaan yang bersebelahan. Cetakan harus sedemikian hingga permukaan yang halus
dan rata dapat diperoleh.

Bilamana diperlukan, pembukaan sementara pada acuan harus dilakukan untuk memu-
dahkan pengecoran dan pemadatan beton yang memadai, terutama di sekeliling dan di
bawah selongsong dan jangkar.

Sambungan antara segmen-segmen harus diisi penuh dengan beton yang dipadatkan
dengan kuat tekan sebagaimana yang ditunjukkan dalam Gambar. Permukaan yang akan
diisi beton harus dikasarkan sampai mencapai permukaan yang padat dan keras. Sebe-
lum pengecoran, permukaan tersebut harus dibersihkan dari semua kotoran dan benda-
benda asing lainnya.

Beton sambungan harus dilaksanakan dengan pengawasan Direksi Pekerjaan dan setiap
beton sambungan yang dilaksanakan tanpa pengawasan Direksi Pekerjaan atau dilak-
sanakan tidak memenuhi ketentuan harus dibongkar oleh Kontraktor dan harus dibuat
lagi tanpa tambahan biaya.

Perhatian khusus harus diberikan selama pengecoran dan pemadatan beton agar setiap
kerusakan pada selongsong dapat dihindarkan. Alat penggetar tidak boleh bersentuhan
langsung dengan selongsosng. Bilamana selongsong rusak selama pengecoran, seluruh
atau sebagian pengecoran beton ini dapat ditolak oleh Direksi Pekerjaan.

Setelah pengecoran beton, permukaan atas dari sambungan harus diratakan sampai sama
dengan permukaan atas segmen-segmen yang bersebelahan dan harus ditutup agar ter-
hindar dari pengeringan dini. Beton sambungan harus dirawat dengan satu cara atau lebih
seperti yang diuraikan dalam Pasal 7.1.5 dari Spesifikasi ini selama minimum 7 hari.

7 - 39
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

4) Pengecoran Ceruk Jangkar

Pengecoran ceruk jangkar pada balok pratekan pracetak segmental harus dilaksanakan
sesuai dengan yang ditunjukkan dalam Gambar dan sesuai dengan ketentuan dalam
Spesifikasi ini.

5) Kerusakan Unit-unit

Bilamana setiap unit yang difabrikasi atau diterima oleh Direksi Pekerjaan, ternyata rusak
seperti retak, mengelupas atau deformasi pada baja tulangan, unit yang demikian harus
disisihkan sampai diperiksa oleh Direksi Pekerjaan, yang akan menentukan apakah unit
tersebut ditolak dan dikeluarkan dari lapangan pekerjaan atau diperbaiki oleh Kontraktor.

Biaya untuk perbaikan ini, atau penyingkiran atas unit-unit yang ditolak, dan semua biaya
untuk mengganti unit-unit ini di lapangan harus menjadi beban Kontraktor.

7.2.9 PEMASANGAN UNIT-UNIT BETON PRATEKAN

1) Penerimaan Unit-unit

Bilamana unit-unit difabrikasi di luar tempat kerja, maka Kontraktor harus memeriksa
mutu dan kondisi pada saat barang tiba di tempat dan harus segera melapor secara tertulis
kepada Direksi Pekerjaan untuk setiap cacat atau kerusakan. Kontraktor bertang-
gungjawab atas semua kerusakan yang terjadi pada unit-unit setelah barang tiba di
tempat.

2) Tumpuan untuk Unit-unit

a) Unit-unit Yang Diletakkan di atas Landasan Neoprene atau Elastomer

Bilamana unit-unit akan diletakkan di atas perletakan neoprene atau elastomer,


maka bantalan tersebut harus diletakkan sebagaimana ditunjukkan dalam
Gambar dan harus ditahan pada posisinya dengan merekatkan permukaan beton
yang berkontak langsung dengan perletakan, menggunakan bahan perekat yang
disetujui untuk mencegah pergeseran perletakan selama pemasangan unit-unit.

b) Unit-unit Yang Ditanamkan Pada Adukan Semen

Bilamana Gambar menunjukkan bahwa unit-unit harus ditanamkan pada adukan


semen, maka suatu lajur adukan semen harus disiapkan di atas struktur bagian
bawah jembatan segera sebelum pemasangan unit-unit beton pratekan. Adukan
semen harus dibuat dengan campuran 1 semen portland dan 3 pasir ditambah
dengan bahan aditif yang disetujui, ditempatkan dengan lebar yang ditunjukkan
dalam Gambar dan tebal sekitar 10 mm, sehingga membentuk lajur tumpuan
yang rata. Unit-unit beton pratekan harus diletakkan pada bangunan bawah
jembatan yang telah disiapkan dalam posisi yang ditunjukkan dalam Gambar.
Setiap kelebihan adukan semen harus dibuang.

3) Pengaturan Posisi Unit-unit

Semua baut yang tertanam dan lubang untuk tulangan melintang, dan sebagainya harus
diluruskan dengan hati-hati selama pemasangan unit-unit tersebut. Batang baja harus
dipasang pada lubang untuk tulangan melintang sewaktu perakitan berlangsung, agar
dapat menjamin penempatan lubang dengan tepat.

7 - 40
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

7.2.10 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

1) Cara Pengukuran

a) Unit Beton Pratekan Pracetak

Kuantitas yang diukur untuk pembayaran, harus merupakan jumlah aktual unit-
unit beton struktur pracetak pratekan, kecuali tiang pancang, dari berbagai jenis
dan ukuran yang dipasang di tempat, selesai dikerjakan dan diterima. Setiap unit
harus mencakup beton, baja tulangan, acuan dan baja pra-tegang bersama dengan
selongsong, jangkar, pelat, mur, alat pengangkat, dan bahan-bahan lain yang
terdapat di dalamnya atau disertakan pada unit-unit tersebut. Fabrikasi dan
pemancangan tiang pancang harus diukur terpisah sesuai dengan Seksi 7.6 dari
Spesifikasi ini

b) Pekerjaan Cor Langsung Di Tempat Dengan Penegangan Setelah Pengecoran


(post-tension)

Beton harus diukur sesuai dengan Seksi 7.1. dan baja tulangan harus diukur
sesuai dengan Seksi 7.3. serta baja pra-tegang harus diukur sebagai berat baja
pra-tegang teoritis dalam kilogram yang ditunjukkan dalam Gambar. Peng-
ukuran ini harus diambil sebagai berat dari untaian (strand) atau batang (bar)
yang diukur antara tepi luar penjangkaran, dan tidak boleh mencakup berat
selongsong, jangkar, dan sebagainya.

c) Unit-unit yang Ditolak

Unit-unit yang telah ditolak karena beton tidak memenuhi ketentuan, rusak
selama penanganan, penyimpanan, pengangkutan atau pemasangan, atau untuk
setiap alasan lainnya tidak boleh diukur untuk pembayaran.

2) Pembayaran

a) Unit Beton Pratekan Pracetak

Kuantitas unit beton pratekan yang diterima, selesai dikerjakan dan di tempat,
diukur sebagaimana ditentukan di atas, harus dibayar dengan Harga Penawaran
untuk Mata Pembayaran yang terdaftar di bawah dan ditunjukkan dalam Daftar
Kuantitas dan Harga. Harga dan pembayaran tersebut harus dianggap
kompensasi penuh untuk penyediaan dan pemasangan semua bahan termasuk
beton, acuan, baja tulangan, baja prategang, selongsong, jangkar, kopel, spiral,
pembagi (spacers), penyangga kabel pra-tegang, penarikan kabel, penyuntikan
dan pekerjaan penyelesaian akhir, dan semua penanganan, penyimpanan,
penandaan, pengangkutan dan pemasangan dari unit-unit, termasuk semua
tenaga kerja, peralatan, perkakas, pengujian dan semua biaya lainnya yang
diperlukan atau biasa untuk penyelesaian yang sebagaimana mestinya atas
pekerjaan yang diuraikan dalam Seksi ini.

b) Beton Cor Di Tempat, Penegangan Setelah Pengecoran

Beton harus dibayar menurut Seksi 7.1. dan Baja Tulangan harus dibayar
menurut Seksi 7.3 dari Spesifikasi ini

7 - 41
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Untaian kawat (strand) atau batang pra-tegang, yang diukur seperti disyarat-
kan di atas, harus dibayar dengan Harga Penawaran untuk Mata Pembayaran,
per kilogram di tempat, ditarik dan diterima, sebagaimana yang terdapat di
bawah dan ditunjukkan dalam Daftar Kuantitas dan Harga.

Harga dan pembayaran tersebut harus dianggap kompensasi penuh untuk baja
prategang, selongsong, jangkar, kopel, spiral, penyangga untuk kabel pra-tegang,
penarikan kabel, penyuntikan dan pekerjaan penyelesaian akhir, termasuk semua
tenaga kerja, peralatan, perkakas, pengujian dan semua biaya lainnya yang
diperlukan atau biasa untuk penyelesaian yang sebagaimana mestinya atas peker-
jaan yang diuraikan dalam Seksi ini.

Nomor Mata Uraian Satuan


Pembayaran Pengukuran

7.2.(1) Unit Pracetak Gelagar Tipe I bentang 16 meter Buah

7.2.(2) Unit Pracetak Gelagar Tipe I bentang 20 meter Buah

7.2.(3) Unit Pracetak Gelagar Tipe I bentang 22 meter Buah

7.2.(4) Unit Pracetak Gelagar Tipe I bentang 25 meter Buah

7.2.(5) Unit Pracetak Gelagar Tipe I bentang 28 meter Buah

7.2.(6) Unit Pracetak Gelagar Tipe I bentang 30 meter Buah

7.2.(7) Unit Pracetak Gelagar Tipe I bentang 31 meter Buah

7.2.(8) Unit Pracetak Gelagar Tipe I bentang 35 meter Buah

7.2.(9) Baja Prategang Kilogram

7.2.(10) Pelat Berongga (Hollow Slab) Pracetak bentang Buah


21 meter

7.2.(11) Beton Diafragma K350 termasuk pekerjaan Meter Kubik


penegangan setelah pengecoran (post-tension)

7 - 42
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

SEKSI 7.3

BAJA TULANGAN

7.3.1 UMUM

1) Uraian

Pekerjaan ini harus mencakup pengadaan dan pemasangan baja tulangan sesuai dengan
Spesifikasi dan Gambar, atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

2) Penerbitan Detil Pelaksanaan

Detail pelaksanaan untuk baja tulangan yang tidak termasuk dalam Dokumen Kontrak
pada saat pelelangan akan diterbitkan oleh Direksi Pekerjaan setelah peninjauan kembali
rancangan awal telah selesai menurut Seksi 1.9 dari Spesifikasi ini.

3) Pekerjaan Seksi Lain Yang Berkaitan Dengan Seksi Ini

a) Rekayasa Lapangan : Seksi 1.9


b) Beton : Seksi 7.1

4) Standar Rujukan

A.C.I. 315 : Manual of Standard Practice for Detailing Reinforced


Concrete Structures, American Concrete Institute.
AASHTO M31M - 90 : Deformed and Plain Billet-Steel Bar for Concrete Rein-
forcement.
AASHTO M32 - 90 : Cold Drawn Steel Wire for Concrete Reinforcement.
AASHTO M55 - 89 : Welded Steel Wire Fabrics for Concrete Reinforcement.
AWS D 2.0 : Standards Specifications for Welded Highway and Railway
Bridges.

5) Toleransi

a) Toleransi untuk fabrikasi harus seperti yang disyaratkan dalam ACI 315.

b) Baja tulangan harus dipasang sedemikian sehingga selimut beton yang menutup
bagian luar baja tulangan adalah sebagai berikut :

i) 3,5 cm untuk beton yang tidak terekspos langsung dengan udara atau
terhadap air tanah atau terhadap bahaya kebakaran;

ii) Seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 7.3.1 untuk beton yang terendam/
tertanam atau terekspos langsung dengan cuaca atau timbunan tanah tetapi
masih dapat diamati untuk pemeriksaan;

iii) 7,5 cm untuk seluruh beton yang terendam/tertanam dan tidak bisa
dicapai, atau untuk beton yang tak dapat dicapai yang bila keruntuhan
akibat karat pada baja tulangan dapat menyebabkan berkurangnya umur
atau struktur, atau untuk beton yang ditempatkan langsung di atas tanah
atau batu, atau untuk beton yang berhubungan langsung dengan kotoran
pada selokan atau cairan korosif lainnya.

7 - 43
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Tabel 7.3.1 Tebal Selimut Beton Minimum dari Baja Tulangan untuk
Beton Yang Tidak Terekspos Tetapi Mudah Dicapai

Ukuran Batang Tulangan Tebal Selimut Beton


yang akan diselimuti (mm) Minimum (cm)
Batang 16 mm dan lebih kecil 3,5
Batang 19 mm dan 22 mm 5,0
Batang 25 mm dan lebih besar 6,0

6) Penyimpanan dan Penanganan

a) Kontraktor harus mengangkut tulangan ke tempat kerja dalam ikatan, diberi


label, dan ditandai dengan label logam yang menunjukkan ukuran batang,
panjang dan informasi lainnya sehubungan dengan tanda yang ditunjukkan pada
diagram tulangan.

b) Kontraktor harus menangani serta menyimpan seluruh baja tulangan sedemikian


untuk mencegah distorsi, kontaminasi, korosi, atau kerusakan.

7) Pengajuan Kesiapan Kerja

a) Sebelum memesan bahan, seluruh daftar pesanan dan diagram pembengkokan


harus disediakan oleh Kontraktor untuk mendapatkan persetujuan dari Direksi
Pekerjaan, dan tidak ada bahan yang boleh dipesan sebelum daftar tersebut serta
diagram pembengkokan disetujui.

b) Sebelum memulai pekerjaan baja tulangan, Kontraktor harus menyerahkan


kepada Direksi Pekerjaan daftar yang disahkan pabrik baja yang memberikan
berat satuan nominal dalam kilogram untuk setiap ukuran dan mutu baja
tulangan atau anyaman baja dilas yang akan digunakan dalam pekerjaan.

8) Mutu Pekerjaan dan Perbaikan Atas Pekerjaan Yang Tidak Memenuhi Ketentuan

a) Persetujuan atas daftar pesanan dan diagram pembengkokan dalam segala hal
tidak membebaskan Kontraktor atas tanggung jawabnya untuk memastikan
ketelitian dari daftar dan diagram tersebut. Revisi bahan yang disediakan sesuai
dengan daftar dan diagram, untuk memenuhi rancangan dalam Gambar, harus
atas biaya Kontraktor.

b) Baja tulangan yang cacat sebagai berikut tidak akan diijinkan dalam pekerjaan :

i) Panjang batang, ketebalan dan bengkokan yang melebihi toleransi


pembuatan yang disyaratkan dalam ACI 315;

ii) Bengkokan atau tekukan yang tidak ditunjukkan pada Gambar atau
Gambar Kerja Akhir (Final Shop Drawing);

iii) Batang dengan penampang yang mengecil karena karat yang berlebih atau
oleh sebab lain.

7 - 44
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

c) Bilamana terjadi kesalahan dalam membengkokkan baja tulangan, batang


tulangan tidak boleh dibengkokkan kembali atau diluruskan tanpa persetujuan
Direksi Pekerjaan atau yang sedemikian sehingga akan merusak atau
melemahkan bahan. Pembengkokan kembali dari batang tulangan harus
dilakukan dalam keadaan dingin terkecuali disetujui lain oleh Direksi Pekerjaan.
Dalam segala hal batang tulangan yang telah dibengkokkan kembali lebih dari
satu kali pada tempat yang sama tidak diijinkan digunakan pada Pekerjaan.
Kesalahan yang tidak dapat diperbaiki oleh pembengkokan kembali, atau
bilamana pembengkokan kembali tidak disetujui oleh Direksi Pekerjaan, harus
diperbaiki dengan mengganti seluruh batang tersebut dengan batang baru yang
dibengkokkan dengan benar dan sesuai dengan bentuk dan dimensi yang
disyaratkan.

d) Kontraktor harus menyediakan fasilitas di tempat kerja untuk pemotongan dan


pembengkokan tulangan, baik jika melakukan pemesanan tulangan yang telah
dibengkokan maupun tidak, dan harus menyediakan persediaan (stok) batang
lurus yang cukup di tempat, untuk pembengkokan sebagaimana yang diperlukan
dalam memperbaiki kesalahan atau kelalaian.

9) Penggantian Ukuran Batang

Penggantian batang dari ukuran berbeda akan hanya diijinkan bila secara jelas disahkan
oleh Direksi Pekerjaan. Bilamana baja diganti haruslah dengan luas penampang yang
sama dengan ukuran rancangan awal, atau lebih besar.

7.3.2 BAHAN

1) Baja Tulangan

a) Baja tulangan harus baja polos atau berulir dengan mutu yang sesuai dengan
Gambar dan memenuhi Tabel 7.3.2.(1) berikut ini :

Tabel 7.3.2 (1) Tegangan Leleh Karakteristik Baja Tulangan

Tegangan Leleh Karakteristik atau


Mutu Sebutan Tegangan Karakteristik yang memberikan
regangan tetap 0,2 (kg/cm2)
U24 Baja Lunak 2.400
U32 Baja Sedang 3.200
U39 Baja Keras 3.900
U48 Baja Keras 4.800

b) Bila anyaman baja tulangan diperlukan, seperti untuk tulangan pelat, anyaman
tulangan yang di las yang memenuhi AASHTO M55 dapat digunakan.

2) Tumpuan untuk Tulangan

Tumpuan untuk tulangan harus dibentuk dari batang besi ringan atau bantalan beton
pracetak dengan mutu K250 seperti yang disyaratkan dalam Seksi 7.1 dari Spesifikasi ini,
terkecuali disetujui lain oleh Direksi Pekerjaan. Kayu, bata, batu atau bahan lain tidak
boleh diijinkan sebagai tumpuan.

7 - 45
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

3) Pengikat untuk Tulangan

Kawat pengikat untuk mengikat tulangan harus kawat baja lunak yang memenuhi
AASHTO M32 - 90.

7.3.3 PEMBUATAN DAN PENEMPATAN

1) Pembengkokan

a) Terkecuali ditentukan lain oleh Direksi Pekerjaan, seluruh baja tulangan harus
dibengkokkan secara dingin dan sesuai dengan prosedur ACI 315, menggunakan
batang yang pada awalnya lurus dan bebas dari lekukan-lekukan, bengkokan-
bengkokan atau kerusakan. Bila pembengkokan secara panas di lapangan
disetujui oleh Direksi Pekerjaan, tindakan pengamanan harus diambil untuk
menjamin bahwa sifat-sifat fisik baja tidak terlalu berubah banyak.

b) Batang tulangan dengan diameter 2 cm dan yang lebih besar harus dibengkok-
kan dengan mesin pembengkok.

2) Penempatan dan Pengikatan

a) Tulangan harus dibersihkan sesaat sebelum pemasangan untuk menghilangkan


kotoran, lumpur, oli, cat, karat dan kerak, percikan adukan atau lapisan lain yang
dapat mengurangi atau merusak pelekatan dengan beton.

b) Tulangan harus ditempatkan akurat sesuai dengan Gambar dan dengan kebu-
tuhan selimut beton minimum yang disyaratkan dalam Pasal 7.3.1.(5) di atas,
atau seperti yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

c) Batang tulangan harus diikat kencang dengan menggunakan kawat pengikat


sehingga tidak tergeser pada saat pengecoran. Pengelasan tulangan pembagi atau
pengikat (stirrup) terhadap tulangan baja tarik utama tidak diperkenankan.

d) Seluruh tulangan harus disediakan sesuai dengan panjang total yang ditunjukkan
pada Gambar. Penyambungan (splicing) batang tulangan, terkecuali ditunjukkan
pada Gambar, tidak akan diijinkan tanpa persetujuan tertulis dari Direksi
Pekerjaan. Setiap penyambungan yang dapat disetujui harus dibuat sedemikian
hingga penyambungan setiap batang tidak terjadi pada penampang beton yang
sama dan harus diletakkan pada titik dengan tegangan tarik minimum.

e) Bilamana penyambungan dengan tumpang tindih disetujui, maka panjang


tumpang tindih minimum haruslah 40 diameter batang dan batang tersebut harus
diberikan kait pada ujungnya.

f) Pengelasan pada baja tulangan tidak diperkenankan, terkecuali terinci dalam


Gambar atau secara khusus diijinkan oleh Direksi Pekerjaan secara tertulis.
Bilamana Direksi Pekerjaan menyetujui pengelasan untuk sambungan, maka
sambungan dalam hal ini adalah sambungan dengan panjang penyaluran penuh
yang memenuhi ketentuan dari AWS D 2.0. Pendinginan terhadap pengelasan
dengan air tidak diperkenankan.

g) Simpul dari kawat pengikat harus diarahkan membelakangi permukaan beton


sehingga tidak akan terekspos.

7 - 46
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

h) Anyaman baja tulangan yang dilas harus dipasang sepanjang mungkin, dengan
bagian tumpang tindih dalam sambungan paling sedikit satu kali jarak anyaman.
Anyaman harus dipotong untuk mengikuti bentuk pada kerb dan bukaan, dan
harus dihentikan pada sambungan antara pelat.

i) Bilamana baja tulangan tetap dibiarkan terekspos untuk suatu waktu yang cukup
lama, maka seluruh baja tulangan harus dibersihkan dan diolesi dengan adukan
semen acian (semen dan air saja).

j) Tidak boleh ada bagian baja tulangan yang telah dipasang boleh digunakan untuk
memikul perlengkapan pemasok beton, jalan kerja, lantai untuk kegiatan bekerja
atau beban konstruksi lainnya.

7.3.4 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

1) Cara Pengukuran

a) Baja tulangan akan diukur dalam jumlah kilogram terpasang dan diterima oleh
Direksi Pekerjaan. Jumlah kilogram yang dipasang harus dihitung dari panjang
aktual yang dipasang, atau luas anyaman baja yang dihampar, dan satuan berat
dalam kilogram per meter panjang untuk batang atau kilogram per meter persegi
luas anyaman. Satuan berat yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan akan
didasarkan atas berat nominal yang disediakan oleh pabrik baja, atau bila Direksi
Pekerjaan memerintahkan, atas dasar pengujian penimbangan yang dilakukan
Kontraktor pada contoh yang dipilih oleh Direksi Pekerjaan.

b) Penjepit, pengikat, pemisah atau bahan lain yang digunakan untuk penempatan
atau pengikatan baja tulangan pada tempatnya tidak akan dimasukkan dalam
berat untuk pembayaran.

c) Penulangan yang digunakan untuk gorong-gorong beton bertulang atau struktur


lain di mana pembayaran terpisah untuk struktur yang lengkap telah disediakan
dalam Seksi lain dari Spesifikasi ini, tidak boleh diukur untuk pembayaran
menurut Seksi ini.

2) Dasar Pembayaran

Jumlah baja tulangan yang diterima, yang ditentukan seperti yang diuraikan di atas, harus
dibayar pada Harga Penawaran Kontrak untuk Mata Pembayaran yang ditunjukkan di
bawah ini, dan terdaftar dalam Daftar Kuantitas, dimana pembayaran tersebut merupa-
kan kompensasi penuh untuk pemasokan, pembuatan dan pemasangan bahan, termasuk
semua pekerja, peralatan, perkakas, pengujian dan pekerjaan pelengkap lain untuk
menghasilkan pekerjaan yang memenuhi ketentuan.

7 - 47
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Nomor Mata Uraian Satuan


Pembayaran Pengukuran

7.3.(1) Baja Tulangan U24 Polos Kilogram

7.3.(2) Baja Tulangan U32 Polos Kilogram

7.3.(3) Baja Tulangan U32 Ulir Kilogram

7.3.(4) Baja Tulangan U39 Ulir Kilogram

7.3.(5) Baja Tulangan U48 Ulir Kilogram

7.3.(6) Anyaman Kawat Yang Dilas Kilogram


(Welded Wire Mesh)

7 - 48
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

SEKSI 7.4

BAJA STRUKTUR

7.4.1 UMUM

1) Uraian

Pekerjaan ini mencakup struktur baja dan bagian baja dari struktur baja komposit, yang
dilaksanakan memenuhi garis, kelandaian dan dimensi yang ditunjukkan dalam Gambar
atau yang ditetapkan oleh Direksi Pekerjaan. Pekerjaan ini terdiri dari pelaksanaan
struktur baja baru, pelebaran dan perbaikan dari struktur. Pekerjaan akan mencakup
penyediaan, fabrikasi, pemasangan, galvanisasi dan pengecatan logam struktur sebagai-
mana yang disyaratkan dalam Spesifikasi ini atau sebagaimana yang ditunjukkan dalam
Gambar. Logam struktur harus meliputi baja struktur, paku keling, pengelasan, baja
khusus dan campuran, elektroda logam dan penempaan dan pengecoran baja. Pekerjaan
ini harus juga terdiri dari setiap pelaksanaan logam tambahan yang tidak disyaratkan lain,
semua sesuai dengan Spesifikasi ini dan dengan Gambar.

2) Pekerjaan Seksi Lain Yang Berkaitan Dengan Seksi Ini.

a) Beton : Seksi 7.1


b) Baja Tulangan : Seksi 7.3
c) Pemasangan Jembatan Rangka Baja : Seksi 7.5
d) Sambungan Ekspansi : Seksi 7.11
e) Perletakan : Seksi 7.12
f) Pembongkaran Struktur : Seksi 7.15
g) Pengembalian Kondisi Jembatan : Seksi 8.5

3) Pengendalian Mutu

Mutu bahan yang dipasok, kecakapan kerja dan hasil akhir harus dipantau dan dikendali-
kan sebagaimana yang disyaratkan dalam Standar Rujukan dalam Pasal 7.4.1.(5) di
bawah.

4) Toleransi

a) Diameter Lubang

Lubang pada elemen utama : + 1,2 mm - 0,4 mm


Lubang pada elemen sekunder : + 1,8 mm - 0,4 mm

b) Alinyemen Lubang

Elemen utama, dibuat di bengkel : + 0,4 mm


Elemen sekunder, dibuat di lapangan : + 0,6 mm

c) Gelagar

Lendutan Balik : penyimpangan dari lendutan balik (camber) yang disyaratkan


+ 0,2 mm per meter panjang balok atau + 6 mm, dipilih yang
lebih kecil.

7 - 49
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Penyimpangan lateral dari garis lurus di antara pusat-pusat perletakan 0,1 mm


per meter panjang balok sampai suatu maksimum sebesar 3 mm.

Penyimpangan lateral antara sumbu badan (web) dan sumbu flens dalam gelagar
susun : maksimum 3 mm.

Kombinasi kelengkungan dan kemiringan flens pada gelagar atau balok yang
dilas akan ditentukan dengan pengukuran penyimpangan pangkal flens terhadap
bidang badan (web) pada pertemuan sumbu badan (web) dengan permukaan luar
dari pelat flens. Penyimpangan ini tidak boleh melebihi 1/200 dari lebar flens
total atau 3 mm. dipilih yang lebih besar.

Ketidakrataan dari landasan atau dudukan :

Ditempatkan pada penyuntikan (grouting) : maksimum 3,0 mm.


Ditempatkan di atas baja, adukan liat : maksimum 0,25 mm.

Penyimpangan maksimum dari ketinggian yang disyaratkan untuk balok dan


gelagar yang dilas, diukur pada sumbu badan (web), harus sebagaimana beri-
kut ini :

Untuk ketinggian hingga 90 cm : + 3 mm


Untuk ketinggian di atas 90 cm hingga 180 cm : + 5 mm.
Untuk ketinggian di atas 180 cm : + 8 mm.
- 5 mm.

d) Batang Desak Panjang (Struts)

Penyimpangan maksimum terhadap garis lurus, termasuk dari masing-masing


flens ke segala arah : panjang / 1000 atau 3 mm, dipilih yang lebih besar.

e) Permukaan Yang Dikerjakan Dengan Mesin

Penyimpangan permukaan bidang kontak yang dikerjakan dengan mesin tidak


boleh lebih dari 0,25 mm untuk permukaan yang dapat dipahat dalam suatu
segiempat dengan sisi 0,5 m

5) Standar Rujukan

AASHTO M160M - 90 : General Requirements for Rolled Steel Plates, Shapes,


Sheet Piling and Bar for Structural Use.
AASHTO M164M - 90 : High Strength Bolts for Structural Steel Joints.
AASHTO M169 - 83 : Steel Bars, Carbon, Cold Finished, Standard Quality.
AASHTO M183M - 90 : Structural Steel
ASTM A233 : Mild Steel, Arc Welding Electrode
ASTM A307 : Mild Steel Bolts and Nuts (Grade A)
AWS D20 : Standard Specification for Welded Highway and
Railway Bridges

7 - 50
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

6) Pengajuan Kesiapan Kerja

a) Kontraktor harus menyerahkan laporan pengujian pabrik yang menunjukkan


kadar bahan kimia dan pengujian fisik untuk setiap mutu baja yang digunakan
dalam pekerjaan. Bilamana laporan pengujian pabrik ini tidak tersedia maka
Direksi Pekerjaan harus memerintahkan Kontraktor untuk melaksanakan peng-
ujian yang diperlukan untuk menetapkan mutu dan sifat-sifat lain dari baja pada
suatu lembaga pengujian yang disetujui. Laporan pengujian ini harus diserahkan
dengan atau sebagai pengganti sertifikat pabrik.

b) 3 (tiga) salinan dari semua gambar kerja terinci yang disiapkan oleh atau atas
nama Kontraktor harus diserahkan kepada Direksi Pekerjaan untuk disetujui.
Persetujuan ini tidak membebaskan tanggung jawab Kontraktor terhadap peker-
jaan dalam Kontrak ini.

c) Kontraktor harus menyerahkan program dan metode pelaksanaan yang diusul-


kan termasuk semua gambar kerja dan rancangan untuk pekerjaan sementara
yang diperlukan. Data yang diserahkan sebagaimana yang diperlukan harus
meliputi tanggal untuk kunjungan bengkel, pengiriman dan pemasangan, usulan
pembongkar struktur lama, metode pemasangan, penunjang dan pengaku
sementara untuk gelagar selama pemasangan, detil sambungan dan penghubung,
pengalihan lalu lintas pada atau di luar jembatan lama dan setiap keterangan
yang berkaitan lainnya untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.

d) Kontraktor harus memberitahu kepada Direksi Pekerjaan secara tertulis seku-


rang-kurangnya 24 jam sebelum memulai pembongkaran struktur lama atau
pemasangan struktur baja yang baru.

7) Penyimpanan Dan Perlindungan Bahan

Pekerjaan baja, baik fabrikasi di bengkel dan di lapangan, harus ditumpuk di atas balok
pengganjal atau landasan sedemikian rupa sehingga tidak bersentuhan dengan tanah dan
dengan suatu cara yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Bilamana pekerjaan baja
ditumpuk dalam beberapa lapis, maka pengganjal untuk semua lapis harus berada dalam
satu garis. Bahan harus dilindungi dari korosi dan kerusakan lainnya dan harus tetap
bebas dari kotoran, minyak, gemuk, dan benda-benda asing lainnya. Permukaan yang
akan dicat harus dilindungi dengan seksama baik di bengkel pabrik maupun di lapangan.
Uliran untuk penyetelan harus dilindungi dari kerusakan.

8) Perbaikan Terhadap Pekerjaan Yang Tidak Memenuhi Ketentuan

a) Pekerjaan baja yang rusak selama penyimpanan, penanganan atau pemasangan


harus diperbaiki sampai disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Setiap bahan atau
sambungan yang rusak sebelum diperbaiki harus ditolak dan segera disingkirkan
dari pekerjaan.

b) Elemen baja dengan dimensi di luar toleransi yang disyaratkan dalam Pasal
7.4.1.(4) tidak akan diterima untuk digunakan dalam pekerjaan.

7 - 51
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

9) Pemeliharaan Pekerjaan Yang Telah Diterima

Tanpa mengurangi kewajiban Kontraktor untuk melaksanakan perbaikan terhadap


pekerjaan yang tidak memenuhi ketentuan atau gagal sebagaimana disyaratkan dalam
Pasal 7.4.1.(8) di atas, Kontraktor juga harus bertanggungjawab atas pemeliharaan
rutin dari semua pekerjaan baja struktur yang telah selesai dan diterima selama
Periode Kontrak termasuk Periode Pemeliharaan. Pekerjaan pemeliharaan rutin
tersebut harus dilaksanakan sesuai dengan Seksi 10.1 dari Spesifikasi ini dan harus
dibayar terpisah menurut Pasal 10.1.7

7.4.2 BAHAN

1) Baja Struktur

Kecuali ditunjukkan lain dalam Gambar, baja karbon untuk paku keling, baut atau dilas
harus sesuai dengan ketentuan AASHTO M183M - 90 : Structural Steel. Baja lainnya
harus mempunyai tegangan leleh minimum sebesar 2500 kg/cm2 dan tegangan tarik
minimum sebesar 4000 kg/cm2. Baja struktur untuk gelagar komposit harus mempunyai
tegangan leleh minimum sebesar 3500 kg/cm2 dan tegangan tarik minimum sebesar 4950
kg/cm2.

Mutu baja, dan data yang berkaitan lainnya harus ditandai dengan jelas pada unit-unit
yang menunjukkan identifikasi selama fabrikasi dan pemasangan.

2) Baut, Mur dan Ring

a) Baut dan mur harus memenuhi ketentuan dari ASTM A307 Grade A, dan
mempunyai kepala baut dan mur berbentuk segienam (hexagonal).

b) Baut, Mur dan Ring dari Baja Geser Tegangan Tinggi

Baut, mur dan ring dari baja tegangan tinggi harus difabrikasi dari baja karbon
yang dikerjakan secara panas memenuhi ketentuan dari AASHTO M164M - 90
dengan tegangan leleh minimum 5700 kg/cm2 dan pemuluran (elongation)
minimum 12 %.

c) Baut dan mur harus ditandai untuk identifikasi sesuai dengan ketentuan dari
AASHTO M164M - 90. Ukuran baut harus sebagaimana ditunjukkan dalam
Gambar.

3) Paku Penghubung Geser Yang Dilas

Paku penghubung geser (shear connector studs) harus memenuhi ketentuan dari
AASHTO M169 - 83 : Steel Bars, Carbon, Cold Finished, Standard Quality. Grade 1015,
1018 atau 1020, baik baja "semi-killed" maupun "fully killed".

4) Bahan Untuk Keperluan Pengelasan

Bahan untuk keperluan pengelasan yang digunakan dalam pengelasan logam dari kelas
baja yang memenuhi ketentuan dari AASHTO M183 - 90, harus memenuhi ketentuan
dari ASTM A233.

7 - 52
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

5) Sertifikat

Semua bahan baku atau cetakan yang dipasok untuk pekerjaan, bilamana diminta oleh
Direksi Pekerjaan, harus disertai sertifikat dari pabrik pembuatnya yang menyatakan
bahwa bahan tersebut telah di produksi sesuai dengan formula standar dan memenuhi
semua ketentuan dalam pengendalian mutu dari pabrik pembuatanya. Sertifikat harus
menunjukkan semua hasil pengujian sifat-sifat fisik bahan baku, dan diserahkan kepada
Direksi Pekerjaan tanpa biaya tambahan.

Ketentuan ini harus digunakan, tetapi tidak terbatas pada produk-produk atau bagian-
bagian yang dirol, baut, bahan dan pembuatan landasan (bearing) jembatan dan galva-
nisasi.

7.4.3 KECAKAPAN KERJA

1) Fabrikasi

Semua elemen yang dirakit harus cocok dan tepat dalam toleransi yang disyaratkan
dalam Pasal 7.4.1.(4).

Sambungan dengan baut harus dilengkapi dengan pelat paking, jika diperlukan, untuk
menjamin agar celah yang mungkin timbul antar permukaan bidang yang berdampingan
yang tidak melampaui 1 mm untuk baut geser tegangan tinggi dan 2 mm untuk jenis
sambungan lainnya.

Untuk sambungan las, maka setiap penyimpangan yang tidak dikehendaki akibat kesa-
lahan penjajaran bagian-bagian yang akan disambung tidak melampaui 0,15 kali kete-
balan pada bagian yang lebih tipis atau 3 mm. Akan tetapi, baik perbedaan ketebalan
yang timbul dari toleransi akibat proses rolling maupun kombinasi toleransi akibat proses
rolling dan kesalahan penjajaran yang diijinkan di atas, maka penyimpangan yang
melampaui 3 mm harus diperhalus dengan suatu kelandaian yang tidak curam dari 1 : 4.

2) Pemotongan

Pemotongan harus dilaksanakan dengan akurat, hati-hati dan rapi. Setiap deformasi yang
terjadi akibat pemotongan harus diluruskan kembali. Sudut tepi-tepi potongan pada
elemen utama yang merupakan tepi bebas setelah selesai dikerjakan, harus dibulatkan
dengan suatu radius kira-kira 0,5 mm atau ditumpulkan. Pengisi, pelat penyambung,
batang pengikat dan pengaku lateral dapat dibentuk dengan pemotongan cara geser
(shearing), tetapi setiap bagian yang tajam seperti duri akibat pemotongan harus dibuang.
Setiap kerusakan yang terjadi akibat pemotongan harus diperbaiki. Sudut-sudut ini
umumnya dibulatkan dengan suatu radius 1,0 mm.

3) Lubang Untuk Paku Keling dan Baut

a) Lubang untuk Paku Keling, Baut Anti-Benam (counter-sunk) dan Baut Hitam
(tidak termasuk toleransi rapat, baut silinder (turned barrel bolt) dan baut geser
tegangan tinggi) :

Diameter lubang tidak boleh lebih besar 2 mm dari diameter nominal paku keling
atau baut. Semua lubang harus dibor atau dibor kecil dahulu kemudian
diperbesar atau dilubangi kecil dengan alat pons kemudian diperbesar.

7 - 53
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Bilamana beberapa pelat atau komponen membentuk suatu elemen majemuk,


pelat-pelat tersebut harus digabung menjadi satu dengan menggunakan klem atau
baut penyetel dan lubang harus dibor sampai seluruh ketebalan dalam satu kali
operasi, atau sebagai alternatif, pada pekerjaan yang sama dan dikerjakan
berulang-ulang, pelat atau komponen dapat dilubangi secara terpisah dengan
menggunakan jig atau mal. Semua bagian tepi lubang yang tajam seperti duri
akibat pelubangan harus dibuang.

b) Lubang Untuk Toleransi Rapat dan Baut Silinder.

Diameter lubang harus sama dengan diameter nominal baut batang (shank) atau
silinder (barrel), memenuhi toleransi + 0,15 mm dan 0,0 mm.

Bagian-bagian yang akan dihubungkan dengan baut toleransi rapat atau silinder
harus digabung menjadi satu dengan baut penyetel atau klem dan lubang harus
dibor sampai seluruh ketebalan dalam satu kali operasi dan selanjutnya diper-
besar setelah perakitan. Bilamana cara ini tidak dapat dilakukan maka bagian-
bagian yang terpisah harus dibor melalui jig baja dan diperbesar jika diperlukan.
Semua bagian tepi lubang yang tajam seperti duri akibat pelubangan harus
dibuang.

c) Lubang Untuk Baut Geser Tegangan Tinggi.

Lubang harus silindris dan tegak lurus pada permukaan pelat kecuali disyaratkan
lain.

Pada umumnya diameter lubang 1 mm lebih besar dari diamater nominal untuk
baut sampai diameter 16 mm dan 1,5 mm lebih besar dari diameter nominal
untuk baut yang lebih besar.

Jarak dari pusat lubang ke tepi pelat tergantung pada ketebalan pelat. Jarak
minimum dari pusat lubang sampai tepi pelat hasil pemotongan cara geser harus
1,7 kali diameter nominal baut, sedangkan untuk tepi pelat yang diroll atau
dipotong dengan las, harus 1,5 kali diameter nominal baut.

Lubang persiapan harus dibor terlebih dahulu, kemudian bagian-bagian baja


dirakit dan lubang diperbesar sampai diameter yang ditentukan. Bagian tepi
lubang yang tajam seperti duri akibat pelubangan harus dibuang dengan alat
pengupas (scraper). Tepi lubang harus ditumpulkan sampai 0,5 mm. Setiap
bekas tanda pada tepi permukaan bidang kontak dari ring, baut dan mur harus
dihilangkan. Pasak pengungkit (drift) dapat dimasukkan ke dalam lubang untuk
memudahkan pengaturan posisi dari elemen-elemen baja, tetapi tenaga yang
berlebihan tidak boleh digunakan selama operasi tersebut dan perhatian khusus
harus diberikan agar lubang-lubang tersebut tidak rusak.

4) Pengaku (Stiffer)

Pengaku ujung pada gelagar dan pengaku yang dimaksudkan sebagai penunjang beban
terpusat harus mempunyai bidang kontak sepenuhnya (baik yang dirakit di pabrik, di
lapangan atau baja yang dapat dilas dan terletak di daerah tekan dari flens, dilas
sebagaimana yang ditunjukkan dalam rancangan atau disyaratkan) pada flens dimana
beban tersebut diteruskan atau dari mana diterimanya beban. Pengaku yang tidak dimak-
sudkan untuk menunjang beban terpusat, kecuali ditunjukkan atau disyaratkan lain,
dipasang dengan cukup rapat untuk menahan air setelah digalvanisasi.

7 - 54
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

7.4.4 PELAKSANAAN

1) Perakitan di Bengkel

Bilamana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan maka unit-unit harus dirakit di bengkel
sebelum dikirim ke lapangan.

2) Sambungan Dengan Baut Standar (selain Baut Geser Tegangan Tinggi)

Baut yang tidak dikencangkan terhadap beban percobaan (proof load) harus mempunyai
mur tunggal yang dapat mengunci sendiri. Ring serong harus digunakan dimana bidang
kontak mempunyai sudut lebih dari 1 : 20 dengan salah satu bidang yang tegak lurus
sumbu baut. Baut harus mempunyai panjang sedemikian hingga seluruh mur dapat
dimasukkan ke dalam baut tetapi panjang baut tidak boleh melebihi 6 mm di luar mur.

Baut harus dimasukkan ke dalam lubang tanpa adanya kerusakan pada uliran. Suatu
"snap" harus digunakan untuk mencegah kerusakan kepala baut.

Kepala baut dan mur harus dikencangkan sampai rapat pada pekerjaan dengan tenaga
manusia yang menggunakan sebuah kunci yang cocok dengan panjang tidak kurang dari
38 cm untuk diameter nominal baut 19 mm atau lebih. Kepala baut harus diketuk dengan
palu pada saat mur sedang dikencangkan.

Seluruh uliran baut harus berada di luar lubang. Ring harus digunakan kecuali ditentu-
kan lain.

3) Baut Geser Tegangan Tinggi

a) Umum

Kelandaian permukaan bidang kontak dengan kepala baut dan mur tidak boleh
melebihi 1 : 20 terhadap suatu bidang yang tegak lurus sumbu baut. Bagian-
bagian yang akan dibaut harus dijadikan satu bilamana dirakit dan tidak boleh
diberi gasket (lem paking mesin) atau setiap bahan yang dapat didesak lainnya.

Bilamana dirakit, maka semua permukaan yang akan disambung, termasuk yang
berdekatan dengan kepala baut, mur, atau ring harus bebas kerak kecuali kerak
pabrik yang keras dan juga harus bebas dari bagian yang tajam seperti duri akibat
pemotongan atau pelubangan dan benda-benda asing lainnya, yang menghambat
elemen-elemen tersebut untuk dapat duduk sebagaimana mestinya.

b) Penyelesaian Permukaan Bidang Kontak

Permukaan bidang kontak dan tempat-tempat yang berdekatan dengan sekeliling


elemen-elemen baja harus dibersihkan dari semua karat, kerak pabrik, cat,
gemuk, cat dasar, dempul atau benda-benda asing lainnya. Setiap bagian yang
tajam seperti duri akibat pemotongan atau pelubangan, atau kerusakan lain yang
akan menghambat elemen-elemen tersebut untuk duduk sebagaimana mestinya
atau akan mempengaruhi gaya geser di antara elemen-elemen tersebut harus
dihilangkan.

Permukaan bidang kontak harus dikerjakan sampai mencapai suatu kekasaran


yang cocok. Tidak ada sambungan yang akan dibuat sampai permukaan yang
akan dihubungkan telah diperiksa dan diterima oleh Direksi Pekerjaan.

7 - 55
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

c) Baut Tarik

Perhatian khusus harus diberikan bilamana terdapat perbedaan ketebalan pelat


pada elemen-elemen yang akan dipasang untuk menjamin bahwa tidak terjadi
pembengkokan dan bahwa elemen dasar dan pelat penyambung mempunyai
bidang kontrak yang rapat.
Perkakas pengencang baik kunci torsi maupun mekanis, sebagaimana disetujui
oleh Direksi Pekerjaan, harus digunakan untuk mengencangkan baut-baut.

Setiap peralatan yang digunakan untuk pengencangan baut harus dikalibrasi


secara teratur hingga dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan. Nilai torsi yang
diberikan pemasok harus disesuaikan sebelum setiap baut digunakan dalam
pekerjaan.

Pengencangan dapat dilaksanakan baik dengan cara putar separuh maupun cara
pengendalian dengan torsi sebagaimana yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

4) Pengelasan

Prosedur pengelasan baik di bengkel maupun di lapangan, termasuk keterangan tentang


persiapan pemukaan-permukaan yang akan disambung harus diserahkan secara tertulis,
untuk persetujuan dari Direksi Pekerjaan sebelum memulai fabrikasi. Tidak ada prosedur
pengelasan yang disetujui atau detil yang ditunjukkan dalam Gambar yang harus dibuat
tanpa persetujuan dari Direksi Pekerjaan.

Cara menandai setiap pelengkap sementara harus disetujui terlebih dajulu oleh Direksi
Pekerjaan. Setiap goresan pada pelengkap sementara harus diperbaiki sampai diterima
oleh Direksi Pekerjaan. Bilamana perbaikan dengan pengelasan diperlukan, maka per-
baikan ini harus dilaksanakan atas persetujuan Direksi Pekerjaan.

Permukaan las yang tampak harus dibersihkan dari residu kerak. Semua percikan penge-
lasan yang mengenai permukaan harus dibersihkan.

Agar dapat memperoleh ketebalan elemen baja yang penuh pada sambungan dengan
pengelasan maka harus digunakan pelat penyambung run-on dan run-off pada
bagian ujung elemen.

5) Pengecatan dan Galvanisasi

Semua permukaan baja lainnya harus dicat sesuai dengan ketentuan dari Seksi 8.5 dari
Spesifikasi ini. Semua komponen Gelagar Baja Komposit termasuk balok, pelat, baut,
ring, diafragma dan sejenisnya harus digalvanisasi dengan sistem pencelupan panas
sesuai dengan ASTM A123 89.

6) Pengangkutan

Setiap elemen harus dicat atau ditandai dengan suatu tanda pemasangan untuk identi-
fikasi dan suatu diagram pemasangan harus disediakan oleh Kontraktor dengan tanda-
tanda pemasangan yang ditunjukkan di dalamnya.

Elemen struktur harus diangkat dengan cara sedemikian hingga dapat diangkut dan
dibongkar di tempat tujuannya tanpa mengalami tegangan, deformasi, atau kerusakan
lainnya yang berlebihan.

7 - 56
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Baut dengan panjang dan diamater yang sama, dan mur yang trelepas dari baut atau ring
harus dikemas terpisah. Pen (pin), bagian-bagian yang kecil, dan paket baut, ring dan mur
harus dikirim dalam kotak, krat atau tong, tetapi berat kotor dari setiap kemasan tidak
boleh melebihi 150 kg. Daftar dan uraian dari bahan-bahan tersebut harus ditandai secara
sederhana pada bagian luar dari setiap kemasan.

7) Peralatan dan Perancah

Kontraktor harus menyediakan setiap perkakas dan perancah yang diperlukan untuk
penanganan pekerjaan yang sebagaimana mestinya. Perlengkapan ini termasuk pengaku
sementara, semua perkakas, mesin, dan peralatan termasuk pasak pengungkit (drift) dan
baut penyetel.

Perancah dan pengaku sementara harus dirancang, dibuat dan dipelihara sebagaimana
mestinya agar dapat melaksanakan pemasangan elemen-elemen dengan tenaga yang
permanen.

8) Perakitan Pekerjaan Baja

a) Komponen Yang Difabrikasi Oleh Kontraktor

Setiap bagian harus dirakit dengan akurat sebagaimana yang ditunjukkan dalam
Gambar dan setiap tanda yang sesuai harus diikuti. Bahan harus dikerjakan
dengan hati-hati sedemikian hingga tidak terdapat bagian-bagian yang bengkok,
patah, atau kerusakan lainnya. Penggunaan palu yang dapat melukai atau meng-
ubah posisi elemen-elemen tidak boleh dilakukan. Permukaan bidang kontak dan
permukaan yang akan berada dalam kontak permanen harus dibersihkan sebelum
bagian-bagian tersebut dirakit. Kecuali dipasang dengan cara kantilever, maka
ruas-ruas rangka baja harus dipasang dengan suatu cara sedemikian hingga dapat
memperoleh lendutan balik (camber) yang sebagaimana mestinya. Setiap
penguncian sementara harus dibiarkan sampai sambungan tarik telah dibaut dan
semua lubang pada titik buhul telah dijepit dan dibaut. Baut permanen untuk
sambungan elemen-elemen tekan tidak boleh dimasukkan atau dikencangkan
sampai seluruh bentangan berayun. Sambungan (splices) dan penyambungan di
lapangan (field connections) harus mempunyai setengah jumlah lubang yang
diisi dengan baut dan pen (pin) silindris untuk pemasangan (setengah baut dan
setengah pin) sebelum dibaut dengan baut tegangan tinggi. Sambungan (splices)
dan penyambung (connections) yang akan dilewati lalu-lintas selama
pemasangan harus mempunyai lubang diisi sebanyak 3/4-nya.

b) Komponen Yang Disediakan Pemilik

Komponen yang disediakan oleh pemilik harus dipasang dengan ketat sesuai
dengan buku petunjuk dan Gambar yang disediakan pabrik pembuatnya.

7.4.5 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

1) Pengukuran

a) Kuantitas baja struktur yang akan diukur untuk pembayaran sebagai jumlah
dalam kilogram pekerjaan yang telah selesai di tempat dan diterima. Untuk
menghitung berat nominal dari baja roll atau besi tuang, maka bahan-bahan
tersebut dianggap mempunyai berat volume 7.850 kilogram per meter kubik.

7 - 57
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Berat logam lainnya harus sebagaimana yang ditunjukkan dalam Gambar atau
disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

Berat bahan yang dihitung harus merupakan berat nominal dari pekerjaan baja
yang telah selesai dikerjakan, terdiri dari pelat, bagian-bagian yang dirol,
penghubung geser (shear connector), pengaku, penjepit, paking, pelat sam-
bungan dan semua perlengkapan, tanpa adanya kelonggaran untuk keuntungan
sampingan dan penyimpangan yang diijinkan lainnya atas berat standar atau
dimensi nominal dan termasuk berat las, fillet, baut, mur, ring, kepala paku
keliling dan lapisan pelindung. Tidak ada pengurangan yang dibuat untuk pena-
kikan, lubang baut dan lubang paku keling dan sebagainya dengan luas kurang
dari 0,03 m2.

b) Pengecatan atau lapisan pelindung lainnya tidak akan dibayar, biaya pekerjaan
ini dianggap telah termasuk dalam harga penawaran untuk pekerjaan baja
struktur.

2) Pembayaran

Kuantitas pekerjaan baja struktur akan ditentukan sebagaimana disyaratkan di atas, akan
dibayar pada Harga Penawaran per satuan pengukuran untuk Mata Pembayaran yang
terdaftar di bawah dan ditunjukkan dalam Daftar Kuantitas dan Harga. Harga dan
pembayaran ini harus dianggap sebagai kompensasi penuh untuk pemasokan, fabrikasi
dan pemasangan bahan, termasuk semua tenaga kerja, peralatan, perkakas, pengujian dan
biaya tambahan lainnya yang diperlukan atau biasa untuk penyelesaian pekerjaan yang
sebagaimana mestinya dalam Seksi ini.

Nomor Mata Uraian Satuan


Pembayaran Pengukuran

7.4.(1) Baja Struktur, Titik Leleh 2500 kg/cm2, Kilogram


penyediaan dan pemasangan.

7.4.(2) Baja Struktur, Titik Leleh 2800 kg/cm2, Kilogram


penyediaan dan pemasangan.

7.4.(3) Baja Struktur, Titik Leleh 3500 kg/cm2, Kilogram


penyediaan dan pemasangan.

7 - 58
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

SEKSI 7.5

PEMASANGAN JEMBATAN RANGKA BAJA

7.5.1 UMUM

1) Uraian

Pekerjaan yang tercakup dalam Seksi dari Spesifikasi ini akan terdiri dari pemasangan
struktur jembatan rangka baja hasil rancangan patent, seperti jembatan rangka (truss)
baja, gelagar komposit, Bailey atau sistem rancangan lainnya yang dibeli sebelumnya
oleh Pemilik, di atas pondasi yang telah dipersiapkan di tempat yang telah dirancang
oleh Direksi Pekerjaan. Pekerjaan pemasangan akan mencakup sebagaimana yang
diperlukan, penanganan, pemeriksaan, identifikasi dan penyimpanan semua bahan
pokok lepas, pemasangan perletakan, pra-perakitan, peluncuran dan penempatan
posisi akhir struktur jembatan, pencocokan komponen lantai jembatan (deck) dan
operasi lainnya yang diperlukan untuk pemasangan struktur jembatan rangka baja
sesuai dengan ketentuan dalam Spesifikasi ini.

Pekerjaan dapat juga mencakup, jika diperintahkan demikian oleh Direksi Pekerjaan,
pencatatan bahan pokok lepas dari suatu lokasi penyimpanan yang ditentukan. dan
penyediaan bahan lantai dari kayu yang cocok jika komponen lantai tidak merupakan
bagian dari bahan yang dipasok oleh Pemilik.

2) Penerbitan Detil Pelaksanaan

Detil perakitan dan pemasangan, termasuk semua manual, denah penandaan dan
daftar komponen yang diperlukan, untuk setiap struktur jembatan rangka baja yang
termasuk dalam cakupan kerja dalam Kontrak di mana tidak terdapat detil yang dima-
sukkan dalam Dokumen Lelang, akan diterbitkan untuk Kontraktor setelah penin-
jauan rancangan awal selesai dikerjakan sesuai dengan Seksi 1.9 dari Spesifikasi ini.

3) Pekerjaan Seksi Lain Yang Berkaitan Dengan Seksi Ini

a) Mobilisasi dan Demobilisasi : Seksi 1.2


b) Pemeliharaan dan Pengaturan Lalu Lintas : Seksi 1.8
c) Rekayasa Lapangan : Seksi 1.9
d) Bahan dan Penyimpanan : Seksi 1.11
e) Jadwal Pelaksanaan : Seksi 1.12
f) Beton : Seksi 7.1
g) Baja Tulangan : Seksi 7.3
h) Adukan Semen : Seksi 7.8
i) Pasangan Batu : Seksi 7.9
j) Pembongkaran Struktur : Seksi 7.15
k) Pengembalian Kondisi Jembatan : Seksi 8.5
l) Pemeliharaan Rutin Perkerasan, Bahu Jalan, Drainase, : Seksi 10.1
Perlengkapan Jalan dan Jembatan

4) Pengajuan Kesiapan Kerja

a) Kontraktor harus menyerahkan rincian jadwal pekerjaan dan perlengkapan


pengendalian lalu lintas untuk semua jembatan rangka rangka baja yang akan
dipasang dan harus mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjan sebelum
memulai operasi pemasangan.

7 - 59
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

b) Bilamana Direksi Pekerjaan memerintahkan bahwa pemasokan kayu untuk


lantai jembatan, termasuk dalam cakupan pekerjaan dari Kontraktor, maka
Kontraktor harus menyerahkan contoh semua bahan yang diusulkan kepada
Direksi Pekerjaan untuk mendapat persetujuan. Akan tetapi, setiap perse-
tujuan yang diberikan oleh Direksi tidak membebaskan tanggung jawab
Kontraktor untuk memasok semua bahan yang baru sesuai dengan ketentuan
bahan dari Spesifikasi ini.

5) Perbaikan Terhadap Komponen Jembatan Yang Tidak Memenuhi Ketentuan

Komponen struktur jembatan yang menurut pendapat Direksi Pekerjaan tidak dirakit
dan/atau dipasang sesuai ketentuan dari Spesifikasi ini atau dianggap tidak memenuhi
ketentuan dalam hal lainnya, harus diperbaiki sebagaimana yang diperintahkan oleh
Direksi Pekerjaan. Perbaikan dapat termasuk penggantian komponen yang rusak atau
hilang dan pemasangannya, pelurusan pelat yang bengkok, perbaikan pelapisan per-
mukaan yang rusak atau hal-hal lainnya yang dianggap perlu oleh Direksi Pekerjan.

Pekerjaan perbaikan yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan sebagai akibat adanya
komponen yang rusak atau hilang karena kelalaian Kontraktor, seluruhnya harus
dimasukkan sebagai beban Kontrator.

6) Pemeliharaan Komponen Jembatan Yang Memenuhi Ketentuan

Tanpa mengurangi kewajiban Kontraktor untuk melaksanakan perbaikan terhadap


komponen jembatan yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana disyaratkan dalam
Pasal 7.5.1.(5) di atas, Kontraktor juga harus bertanggungjawab atas pemeliharaan
rutin dari semua struktur jembatan rangka baja yang telah selesai dan diterima selama
Periode Kontrak termasuk Periode Pemeliharaan. Pekerjaan pemeliharaan rutin
tersebut harus dilaksanakan sesuai dengan Seksi 10.1 dari Spesifikasi ini dan harus
dibayar terpisah menurut Pasal 10.1.7

7) Jadwal Pekerjaan

Setelah penerbitan detil pelaksanaan untuk tiap jembatan rangka baja yang termasuk
dalam cakupan Kontrak, Kontraktor harus menjadwalkan program pekerjaannya
sedini mungkin dalam Periode Pelaksanaan. Urutan dan waktu yang sangat terinci
dari operasi pemasangan untuk setiap jembatan harus digabungkan dalam jadwal
pelaksanaan Kontraktor, revisinya harus diserahkan kepada Direksi Pekerjaan untuk
mendapat persetujuan resmi sesuai dengan ketentuan Seksi 1.12 dari Spesifikasi ini.

8) Pengendalian Lalu Lintas

Pengendalian lalu lintas harus sesuai dengan ketentuan pada Seksi 1.8, Pemeliharaan
dan Pengaturan Lalu Lintas, dengan ketentuan tambahan berikut ini :

Bilamana pemasangan struktur jembatan rangka baja memerlukan pembongkaran atau


penutupan seluruh jembatan lama, maka program penutupan harus dikoordinasikan
dengan Direksi Pekerjaan agar pengalihan lalu lintas (detour) atau perlengkapan
alternatif lainnya dapat disediakan untuk memperkecil gangguan terhadap lalu lintas.

7 - 60
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

7.5.2 BAHAN

1) Umum

Semua bahan atau komponen baja untuk pemasangan struktur jembatan rangka baja
yang telah dibeli sebelumnya oleh Pemilik dan disimpan dalam satu depot
penyimpanan berbagai peralatan Pemilik atau lebih. Bahan untuk setiap struktur
jembatan yang diberikan dapat baru atau pernah dipasang sebelumnya pada lokasi
lain.

Ketentuan bahan dan prosedur pemasangan untuk setiap stukrtur jembatan yang
diberikan dapat berbeda-beda menurut sumber sistem patent bahan yang telah dibeli
sebelumnya oleh Pemilik. Sistem tersebut dapat termasuk atau tidak termasuk
komponen lantai jembatan dan dapat dipasang dengan salah satu cara pelaksanaan
kantilever berikut ini :

a) Perakitan awal seluruh komponen utama struktur jembatan termasuk beban


pengimbang (counter-balance) yang cocok, pada penyangga sementara yang
telah disiapkan, dengan demikian struktur yang terpasang dapat secara
bertahap diluncurkan dari satu ujung jembatan ke ujung jembatan lainnya.

b) Perakitan bertahap komponen utama struktur jembatan dimulai dari struktur


rangka jangkar yang telah dipersiapkan sebelumnya pada satu ujung jembatan.

2) Bahan Yang Disediakan oleh Pemilik

Bahan yang disediakan oleh Pemilik akan mencakup seluruh elemen, komponen,
perletakan, perkakas dan peralatan yang memungkinkan Kontraktor untuk merakit dan
memasang struktur jembatan rangka baja menurut prosedur yang disarankan oleh
pabrik pembuatnya.

Bahan-bahan yang disediakan untuk jembatan akan dipasang dengan dua prosedur
pokok pemasangan jembatan akan termasuk, tapi tidak boleh dibatasi, seperti berikut
ini :

a) Pemasangan Dengan Cara Peluncuran

Seluruh panel rangka utama termasuk batang-batang penulangan jika diperlu-


kan, semua trasom, ikatan angin, pengaku vertikal, alat penggaru, patok dan
perletakan sendi bersama dengan semua perlengkapan pengaku, pengangkat,
penyambung, perangkat penyambung antar struktur rangka (linking steel),
perkakas kecil untuk merakit dan komponen peluncuran tambahan seperti rol
perakitan, rol peluncur, rol pendaratan, peralatan dongkrak hidrolik dan bahan
untuk perakitan kerangka pengimbang dan ujung peluncuran (launching nose).

b) Pemasangan Dengan Perakitan Bertahap

Seluruh kerangka utama termasuk bagian elemen-elemen batang, diagonal,


gelagar melintang, pengaku (bracing), patok, balok (stringer), pelat buhul,
pelat sambungan, sandaran (railing), perletakan jenis neoprene, bersama
dengan seluruh penyambung yang diperlukan, perangkat penyambung antar
struktur rangka, dongkrak hidrolik, perkakas kecil untuk merakit dan bahan
untuk perakitan struktur rangka jangkar.

7 - 61
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Tergantung pada rancangan patent dari struktur jembatan rangka baja yang
akan dipasang, Pemilik juga dapat menyediakan bahan untuk pemasangan
seluruh lantai jembatan, termasuk semua unit lantai pra-fabrikasi, kerb, klem,
baut dan perlengkapan lainnya, atau dapat menyediakan semua balok
(stringer) baja yang diperlukan, perletakan dan perlengkapan untuk
pelaksanaan acuan lantai untuk penempatan lantai kayu yang akan dilintasi
kendaraan. Bilamana suatu lantai kayu untuk lintasan kendaraan disediakan,
maka papan dan kerb dari kayu akan dipasok oleh Kontraktor.

3) Pemeriksaan, Pengumpulan, Pengangkutan dan Pengiriman Bahan Jembatan

Seluruh bahan yang disediakan oleh Pemilik akan diperoleh Kontraktor pada satu
depot penyimpanan peralatan atau lebih yang telah ditentukan dan disebutkan dalam
dokumen lelang.

Kontraktor harus membuat seluruh pengaturan yang diperlukan untuk serah terima
yang tepat pada waktunya, pengangkutan dan pengiriman yang aman ke lokasi peker-
jaan atas seluruh bahan yang disediakan oleh Pemilik. Kontraktor harus memeriksa
dan mengawasi kuantitas dan kondisi seluruh bahan yang akan disediakan oleh Pemi-
lik terhadap daftar pengapalan dari pabrik pembuatnya sebelum menerima bahan
tersebut dan harus melaporkan dan mendapatkan kepastian dari wakil Pemilik di depot
penyimpanan bahan atas setiap kerusakan atau kehilangan setiap bahan yang
ditemukan. Kontraktor harus menandatangani surat pengiriman begitu selesai peme-
riksaan dan pencatatan, dan selanjutnya harus bertanggung jawab atas kehilangan
setiap bahan dalam penanganannya.

Bahan yang disediakan oleh Pemilik yang hanya digunakan untuk sementara selama
operasi pemasangan, seperti bahan untuk struktur rangka jangkar (anchor frame),
struktur rangka pengimbang (counter-balance frame), perancah ujung peluncuran
(launching nose framework), rol perakitan, rol peluncuran, rol pendaratan, peralatan
dongkrak hidrolik dan perkakas perakitan lainnya, harus diinventarisasikan secara
terpisah pada saat diserahterimakan kepada Kontraktor. Kontraktor harus mengem-
balikan semua bahan tersebut pada Pemilik dalam keadaan baik setelah operasi
pemasangan selesai.

4) Penanganan dan Penyimpanan

Seluruh bahan harus disimpan sesuai dengan ketentuan Seksi 1.11 Spesifikasi ini
dengan ketentuan tambahan berikut :

a) Seluruh bagian struktur baja dan bentuk lainnya harus ditempatkan di atas
penyangga kayu atau penahan gelincir di atas gudang atau tempat penyim-
panan ayng mempunyai drainase yang memadai.

b) Bagian struktur berbentuk balok I atau profil kanal harus disimpan dengan
bagian badan (web) balok dalam posisi tegak untuk mencegah tergenangnya
air dan tertahannya kotoran pada bagian badan (web) balok tersebut.

c) Semua komponen sejenis harus disimpan di suatu tempat untuk kemudahan


pengenalan dan selama penyimpanan semua komponen harus diletakkan
sedemikian rupa sehingga semua tanda pengapalan pada komponen tersebut
dapat ditemukan tanpa menggeser atau memindah komponen yang berse-
belahan.

7 - 62
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

d) Seluruh baut dan perlengkapan kecil harus disimpan dalam penampung atau
kaleng di lokasi yang kering dan tidak terekspos cuaca.

5) Penggantian Komponen Yang Hilang Atau Rusak Berat

Bilamana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, komponen yang hilang atau rusak
berat seperti yang dicatat menurut Pasal 7.5.2.(3) belum diterima dari Pemilik, maka
harus disediakan oleh Kontraktor. Dalam hal ini, Kontraktor harus menjamin bahwa
semua komponen baru yang dipasok terdiri dari bahan yang setara atau lebih baik dari
spesifikasi pabrik aslinya, dan semua komponen fabrikasi dibuat, diselesaikan dan
ditandai dengan teliti sesuai dengan dimensi dan toleransi seperti ditunjukkan dalam
gambar kerja dari pabrik aslinya.

Penggantian komponen harus dilaksanakan sesuai dengan hasil pemeriksaan dan


diterima oleh Direksi Pekerjaan. Sebagai tambahan, Direksi Pekerjaan dapat meminta
sertifikat bahan atau bukti pendukung lainnya atas sifat-sifat bahan yang dipasok bila
dianggap perlu.

6) Perbaikan Komponen Yang Agak Rusak

Bilamana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, maka komponen yang dicatat menu-
rut Pasal 7.5.2.(3) di atas dalam keadaan agak rusak saat diterima dari Pemilik harus
diperbaiki oleh Kontraktor. Perbaikan yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan
harus dibatasi pada pelurusan pelat-pelat yang bengkok dan komponen minor lainnya,
perbaikan retak yang bukan karena kelelahan di bengkel dengan pengelasan dan
pengembalian kondisi lapisan permukaan yang rusak. Pekerjaan perbaikan tersebut
harus dilaksanakan pada bengkel yang disetujui sesuai dengan petunjuk dari Direksi
Pekerjaan dengan ketentuan berikut ini :

a) Pelurusan Bahan Yang Bengkok

Pelurusan pelat dan komponen minor dari bentuk-bentuk lainnya harus dilak-
sanakan menurut cara yang tidak akan menyebabkan keretakan atau kerusakan
lainnya. Logam tidak boleh dipanaskan kecuali kalau diijinkan oleh Direksi
Pekerjaan. Bilamana dilakukan pemanasan maka temperatur tidak boleh lebih
tinggi dari warna merah cherry tua yang dihasilkan.

Bilamana pemanasan telah disetujui untuk pelurusan komponen yang meleng-


kung atau bengkok, logam harus didinginkan selambat mungkin setelah peker-
jaan pelurusan selesai. Setelah pendinginan selesai permukaan logam harus
diperiksa dengan teliti apakah terjadi keretakan akibat pelurusan tersebut.
Bahan yang retak tidak boleh digunakan dan seluruh bahan harus diganti
sampai diterima oleh Direksi Pekerjaan.

b) Perbaikan Hasil Pengelasan Yang Retak

Hasil pengelasan yang retak atau rusak pada komponen yang dilas di bengkel
harus dikupas, disiapkan dan dilas ulang dengan teliti menurut standar
pengelasan yang ditentukan pabrik pembuatnya sesuai dengan mutu atau
mutu-mutu bahan yang akan dilas. Prosedur pengelasan yang akan dipakai
untuk pekerjaan perbaikan harus dirancang sedemikian hingga dapat mem-
perkecil setiap distorsi pada elemen komponen yang sedang diperbaiki, agar
toleransi fabrikasi yang ditentukan pabrik pembuatnya dapat dipertahankan.

7 - 63
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

c) Perbaikan Lapisan Permukaan Yang Rusak

Sebagian besar komponen baja yang disediakan oleh Pemilik mempunyai


penyelesaian akhir pada permukaan dengan galvanisasi celup panas. Bila-
mana permukaan bahan yang dipasok terdapat lapisan yang dalam keadaan
rusak, maka pengembalian kondisi pada tempat-tempat yang rusak harus
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan penyiapan permukaan dan pengecatan
yang diuraikan dalam Pasal 8.5.5 dari Spesifikasi ini, untuk perbaikan per-
mukaan yang digalvanisasi dengan proses celup panas.

7) Pemasokan Bahan Lantai Kayu

Jika disebutkan dalam gambar pabrik pembuat jembatan atau diperintahkan oleh
Direksi Pekerjaan, Kontraktor harus melengkapi semua bahan kayu seperti papan
lantai, papan lintasan kendaraan dan kerb.

Kayu gergajian yang utuh untuk bahan lantai jembatan secara umum harus memenuhi
ketentuan bahan, penyimpanan dan kecakapan kerja untuk batang kayu (lumber) dan
kayu (timber) sebagaimana yang disyaratkan dalam Pasal 8.5.4.(4), 8.5.4.(5) dan
8.5.4.(6) dari Spesifikasi ini. Semua kayu harus dipasok dalam keadaan sudah
dipotong dan sudah dilubangi menurut ukuran yang diberikan dalam gambar kerja
dari pabrik pembuat jembatan. Kecuali diperintah lain menurut Pasal 7.5.2.(5) di atas,
baut, pasak, ring penutup dan perangkat keras penghubung lainnya untuk memasang
lantai kayu tidak boleh dipasok oleh Kontraktor.

7.5.3 PELAKSANAAN

1) Umum

Perakitan dan pemasangan struktur jembatan rangka baja, baik dengan peluncuran
maupun dengan prosedur pelaksanaan pemasangan bertahap, harus dilaksanakan oleh
Kontraktor dengan teliti sesuai dengan prosedur yang ditetapkan oleh masing-masing
buku petunjuk perakitan dan pemasangan dari pabrik pembuat jembatan dan ketentuan
umum yang disyaratkan di sini.

Atas permintaan Kontraktor, dukungan teknis tambahan oleh personil Pemilik yang
berpengalaman, dapat dikirim ke lapangan dalam periode terbatas, untuk memberi
pengarahan kepada insinyur dan teknisi pemasangan dari Kontraktor tentang prinsip-
prinsip perakitan dan pemasangan struktur jembatan rangka baja.

Struktur jembatan rangka baja yang disediakan oleh Pemilik dirancang untuk dirakit
dan dipasang di lapangan hanya dengan menggunakan baut penghubung. Pengelasan
di lapangan yang tidak diijinkan kecuali secara jelas diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan.

2) Pekerjaan Sipil

Pekerjaan sipil untuk abutment dan pier yang mungkin terbuat dari kayu, pasangan
batu atau beton sesuai dengan Gambar atau yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan
harus dikerjakan sesuai dengan Seksi yang berkaitan dengan Spesifikasi ini atau
spesifikasi lainnya yang diterbitkan oleh Direksi Pekerjaan. Semua pekerjaan sipil
harus selesai di tempat dan diterima oleh Direksi Pekerjaan sebelum operasi perakitan
dimulai.

7 - 64
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

3) Penentuan Titik Pengukuran dan Pekerjaan Sementara

Kontraktor harus menyiapkan dan menentukan titik pengukuran pada salah satu oprit
jembatan yang cocok untuk merakit suatu rangka jangkar untuk pengimbang dimana
pemasangan dengan cara perakitan bertahap akan dikerjakan, atau, bilamana pema-
sangan dengan cara peluncuran, struktur jembatan rangka baja yang telah lengkap
bersama dengan struktur rangka pengimbang dan ujung peluncur.

Semua penyangga dan kumpulan balok-balok kayu sementara dan/atau pondasi beton
yang disediakan oleh Kontraktor untuk pemasangan rol perakit, rol peluncuran, rol
pendaratan atau jangkar dan penyangga struktur rangka jangkar harus ditentukan titik
pengukurannya dengan akurat dan dipasang pada garis dan elevasi yang benar
sebagaimana yang ditunjukkan dalam gambar pemasangan dari pabrik pembuatnya.
Perhatian khusus harus diberikan untuk memastikan bahwa seluruh rol dan penyangga
sementara terpasang pada elevasi yang benar agar sesuai dengan bidang peluncuran
yang telah dihitung sebelumnya dan/atau karakteristik lendutan untuk panjang ben-
tang jembatan yang akan dipasang.

4) Pemasangan Perletakan Jembatan

Perletakan jembatan dapat berupa jenis perletakan elastomerik atau perletakan sendi
yang terpasang pada plat perletakan dan balok kisi-kisi. Tiap jenis perletakan harus
dipasang pada elevasi dan posisi yang benar dan harus pada perletakan yang rata dan
benar di atas seluruh bidang kontak. Untuk perletakan jembatan yang dipasang di atas
adukan semen, tidak boleh terdapat beban apapun yang diletakkan di atas perletakan
setelah adukan semen terpasang dalam periode paling sedikit 96 jam, perlengkapan
yang memadai harus diberikan untuk menjaga agar adukan semen dapat dipelihara
kelembabannya selama periode ini. Adukan semen harus terdiri dari satu bagian
semen portland dan satu bagian pasir berbutir halus.

5) Perakitan Komponen Baja

Komponen baja harus dirakit dengan akurat sesuai dengan tanda yang ditunjukkan
pada gambar kerja pabrik pembuat jembatan dan sesuai dengan prosedur urutan
pemasangan yang benar yang dirinci dalam prosedur pemasangan. Selama perakitan
bahan-bahan harus ditangani dengan hati-hati sedemikian rupa sehingga tidak terdapat
bagian yang melengkung, retak atau kerusakan lainnya. Pemaluan yang dapat melukai
atau menyebabkan distorsi terhadap elemen-elemen tidak diijinkan.

Sebelum perakitan semua bidang kontak harus dibersihkan, bebas dari kotoran,
minyak, kerak yang lepas, bagian yang tajam seperti duri akibat pemotongan atau
pelubangan, bintik-bintik, dan cacat lainnya yang akan menghambat pemasangan yang
rapat atas komponen-komponen yang dirakit.

Baut penghubung harus dipasang dengan panjang dan diameter yang benar sebagai-
mana yang ditunjukkan dalam daftar baut dari pabrik pembuat jembatan. Ring harus
ditempatkan di bawah elemen-elemen (mur atau kepala baut) yang berputar dalam
pengencangan. Bilamana permukaan luar bagian yang dibaut mempunyai kelandaian
1 : 20 terhadap bidang tegak lurus sumbu baut, maka ring serong yang halus harus
dipakai untuk mengatasi ketidaksejajarannya. Dalam segala hal, hanya boleh terdapat
satu permukaan tanpa kelandaian, elemen yang diputar harus berbatasan dengan
permukaan ini.

7 - 65
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

6) Prosedur Pemasangan

Urutan pemasangan harus dilaksanakan dengan teliti sesuai dengan prosedur pema-
sangan yang diberikan dalam buku petunjuk dari pabrik pembuat jembatan. Kontrak-
tor harus melaksanakan operasi pemasangan dengan memperhatikan seluruh keten-
tuan keselamatan umum dan harus memastikan bahwa struktur jembatan stabil dalam
setiap tahap dalam proses pemasangan.

Untuk jembatan yang dipasang dengan prosedur peluncuran, Kontraktor harus meng-
ambil seluruh langkah pengamanan yang diperlukan untuk memastikan bahwa selama
seluruh tahap pemasangan struktur jembatan aman dari pergerakan bebas pada rol.
Pergerakan melintasi rol selama operasi peluncuran harus dikendalikan setiap saat.

Seluruh bahan pengimbang (counter-weight) dan perancah sementara pekerjaan baja


atau kayu untuk rangka pendukung pengimbang harus dipasok oleh Kontraktor.
Beban pengimbang harus diletakkan dengan berat sedemikian rupa sehingga faktor
keamanan untuk stabilitas yang benar seperti yang diasumsikan dalam perhitungan
pemasangan dari pabrik pembuat jembatan dicapai pada tiap tahap perakitan dan
pemasangan.

Operasi pemasangan dengan peluncuran atau perakitan bertahap harus dilaksanakan


sampai struktur jembatan rangka baja terletak di atas lokasi perletakan akhir.
Kontraktor kemudian harus memulai operasi pendongkrakan dengan menggunakan
peralatan dongkrak hidrolik dan kerangka dongkrak yang disediakan oleh Pemilik.
Struktur jembatan harus didongkrak sampai elevasi yang cukup untuk memungkinkan
penyingkiran seluruh balol-balok kayu sementara, rol penyangga dan penyambung
antar struktur rangka (link sets) sebelum diturunkan sampai kedudukan akhir jem-
batan.

Operasi pendongkrakan harus dilaksanakan denagn teliti sesuai dengan prosedur


pemasangan dari pabrik pembuat jembatan dan Kontraktor harus mengikuti urutan
dengan benar dari pemasangan dan penggabungan komponen-komponen khusus
selama operasi ini.

7.5.4 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

1) Cara Pengukuran

a) Pemasangan Struktur Jembatan Rangka Baja

Pemasangan struktur jembatan rangka baja harus diukur untuk pembayaran


dalam jumlah total kilogram struktur baja yang selesai dikerjakan di tempat
dan diterima oleh Direksi Pekerjaan. Berat masing-masing komponen harus
diambil dari gambar kerja dan daftar komponen dari pabrik pembuat
jembatan.

Berat total struktur yang diukur untuk pembayaran harus dihitung sebagai
berat semua komponen masing-masing baja yang digunakan dalam pema-
sangan struktur akhir, termasuk bagian-bagian baja fabrikasi, pelat, perletakan
jembatan semi permanen, baut, mur, ring dan pengencang lainnya, dan lantai
pra-fabrikasi lainnya, bilamana lantai ini termasuk dalam rancangan. Berat
komponen baja yang digunakan selama operasi pemasangan yang bukan
berasal dari bagian struktur akhir, termasuk komponen dan perlengkapan
untuk struktur rangka pengimbang, rangka penjangkaran, kerangka pendong-

7 - 66
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

krak, ujung peluncur, rol perakit dan sejenisnya tidak boleh dimasukkan
dalam berat yang diukur untuk pembayaran.

Bilaman lantai kayu disebutkan dalam gambar pelaksanaan atau oleh Direksi
Pekerjaan, berat perlengkapan perangkat keras untuk lantai kayu tidak boleh
dimasukkan dalam pengukuran untuk pemasangan.

b) Pengangkutan dan Pengiriman Bahan

Pengangkutan dan pengiriman dari semua bahan yang disediakan oleh Pemilik
harus diukur dan dibayar dalam jumlah total kilogram. Pengukuran dan
pembayaran tersebut harus merupakan kompensasi penuh kepada Kontraktor
untuk pemeriksaan dan pencatatan seluruh bahan pada satu depot penyim-
panan yang disebutkan dalam dokumen lelang atau lebih, untuk pengangkutan
dan pengiriman bahan ke lokasi pekerjaan, termasuk semua operasi pemuatan
dan penanganan selama pengangkutan, dan untuk pengembalian komponen
yang hanya digunakan untuk sementara dalam kondisi yang baik ke depot
penyimpanan yang ditentukan oleh Direksi Pekerjaan setelah pemasangan
struktur jembatan rangka baja selesai.

c) Pemasokan Komponen Pengganti

Penggantian komponen yang hilang atau yang sangat rusak berat, jika diten-
tukan oleh Direksi Pekerjaan sesuai dengan Pasal 7.5.2.(5), tidak boleh diukur
untuk pembayaran menurut Seksi ini. Kompensasi untuk pemasokan setiap
komponen pengganti harus dibuat berdasarkan Baja Struktur sesuai dengan
ketentuan Seksi 7.4 dari Spesifikadi ini.

d) Perbaikan Komponen Yang Rusak

Perbaikan komponen yang rusak, bilamana ditentukan oleh Direksi Pekerjaan


sesuai dengan Pasal 7.5.2.(6), tidak boleh diukur untuk pembayaran menurut
Seksi ini. Kontraktor akan menerima kompensasi untuk setiap pekerjaan
perbaikan komponen yang rusak sesuai dengan ketentuan pengukuran dan
pembayaran untuk pengembalian kondisi komponen baja sebagaimana yang
diuraikan dalam Pasal 8.5.6 dari Spesifikasi ini.

e) Lantai Kayu Jembatan

Lantai kayu jembatan, bilamana diperlukan dalam gambar pelaksanaan atau


diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, tidak boleh diukur untuk pembayaran
menurut Seksi ini. Kompensasi untuk penyediaan, pemotongan, pengeboran,
perawatan, penempatan, pemasangan dan penyelesaian lantai kayu harus
sesuai dengan ketentuan dari Pasal 8.5.6 pada Spesifikasi ini.

2) Dasar Pembayaran

Kuantitas untuk pengangkutan dan pemasangan struktur jembatan rangka baja


sebagaimana yang ditentukan di atas harus dibayarkan menurut Harga Kontrak per
satuan pengukuran untuk Mata Pembayaran yang terdaftar di bawah dan ditunjukkan
dalam Daftar Kuantitas dan Harga, dimana harga dan pembayaran harus merupakan
kompensasi penuh untuk pemeriksaan, pencatatan, pengangkutan, pengiriman,
pembongkaran, penanganan dan penyimpanan semua bahan yang dipasok oleh
Pemilik, untuk perlengkapan dan penentuan titik pengukuran pekerjaan sementara,
pemasangan perletakan jembatan semi permanen, perakitan dan pemasangan

7 - 67
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

komponen baja untuk struktur jembatan, pembongkaran kembali dan pengembalian ke


tempat penyimpanan Pemilik untuk pemasangan pekerjaan baja sementara, rol,
dongkrak dan perkakas khusus dan untuk penyediaan semua pekerja, peralatan,
perkakas lain dan keperluan lainnya yang diperlukan atau yang biasa untuk
penyelesaian pekerjaan pemasangan yang sebagaimana mestinya sesuai dengan
ketentuan dalam Seksi dari Spesisfikasi ini.

Nomor Mata Uraian Satuan


Pembayaran Pengukuran

7.5.(1) Pemasangan Jembatan Rangka Baja Kg

7.5.(2) Pengangkutan Bahan Jembatan Kg

7 - 68
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

SEKSI 7.6

TIANG PANCANG

7.6.1 UMUM

1) Uraian

Pekerjaan yang diuraikan dalam Seksi ini akan mencakup tiang pancang yang disediakan
dan dipancang atau ditempatkan sesuai dengan Spesifikasi ini, dan sedapat mungkin
mendekati Gambar menurut penetrasi atau ke dalamannya sebagaimana yang diperintah-
kan oleh Direksi Pekerjaan. Tiang pancang uji dan/atau pengujian pembebanan diperlu-
kan untuk menentukan jumlah dan panjang tiang pancang yang akan dilaksanakan.

Pekerjaan ini mencakup jenis-jenis tiang pancang berikut ini :


Tiang Kayu, termasuk Cerucuk.
Tiang Baja Struktur
Tiang Pipa Baja
Tiang Beton Bertulang Pracetak
Tiang Beton Pratekan, Pracetak
Tiang Bor Beton Cor Langsung Di Tempat
Tiang Turap

Jenis tiang pancang yang akan digunakan harus seperti yang ditunjukkan dalam Gambar.

2) Tiang Uji (Test Pile)

Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan untuk melaksanakan tiang uji, bilamana diang-
gap perlu untuk mengetahui dengan pasti daya dukung dari jenis pondasi pada setiap
jembatan. Kontraktor akan melengkapi dan melaksanakan tiang uji pada lokasi yang
ditentukan oleh Direksi Pekerjaan. Semua pengujian tiang uji harus dilaksanakan dengan
pengawasan Direksi Pekerjaan.

Bilamana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, tiang uji harus diuji dengan pengujian
pembebanan sesuai dengan ketentuan dari Pasal 7.6.1.(3) dari Spesifikasi ini.

Setelah mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan, pemancangan tiang uji harus
dilanjutkan sampai diperintahkan untuk dihentikan. Pemancangan tiang uji melampaui ke
dalaman telah ditentukan diperlukan untuk menunjukkan bahwa daya dukung tiang
pancang masih terus meningkat. Kontraktor selanjutnya harus melengkapi sisa tiang
pancang dalam struktur yang belum diselesaikan. Dalam menentukan panjang tiang
pancang, Kontraktor harus mengikuti daftar panjang tiang pancang yang diperkirakan
untuk sisa panjang yang harus diselesaikan dalam struktur.

Jumlah tiang pancang yang diuji akan ditentukan oleh Direksi Pekerjaan, tetapi jumlah
ini tidak kurang dari satu atau tidak lebih dari empat untuk setiap jembatan. Tiang uji
dapat dilaksanakan di dalam atau di luar keliling pondasi, dan dapat menjadi bagian dari
pekerjaan yang permanen.

7 - 69
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

3) Pengujian Pembebanan (Loading Test)

Percobaan pembebanan harus dilakukan dengan cara yang disetujui oleh Direksi Peker-
jaan. Kontraktor harus menyerahkan detil gambar peralatan pembebanan yang akan
digunakannya kepada Direksi Pekerjaan untuk mendapat persetujuan.
Peralatan tersebut harus dibuat sedemikian hingga memungkinkan penambahan beban
tanpa menyebabkan getaran terhadap tiang uji.

Bilamana cara yang disetujui ini membutuhkan tiang (jangkar) tarik, tiang tarik semacam
ini harus dari jenis dan diameter yang sama dengan pipa yang permanen dan harus
dilaksanakan di lokasi pipa permanen tersebut. Tiang dan selongsong pipa yang dinding-
dindingnya tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk menahan beban percobaan bila
dalam keadaan kosong, harus diberi penulangan yang diperlukan dan beton yang dicor
sebelum dilakukan pembebanan. Beban-beban untuk pengujian pembebanan tidak boleh
diberikan sampai beton memcapai kuat tekan minimum 95 % dari kuat tekan beton
berumur 28 hari. Bilamana Kontraktor menghendaki lain, Kontraktor dapat meng-
gunakan semen dengan kekuatan awal yang tinggi (high-early-strength-cement), jenis III
atau IIIA untuk beton dalam tiang pengujian pembebanan dan untuk tiang tarik.

Peralatn yang disetujui dan cocok untuk mengukur beban tiang dan penurunan tiang
pancang dengan akurat dalam setiap peningkatan beban harus disediakan oleh Kon-
traktor

Peralatan tersebut harus mempunyai kapasitas kerja tiga kali beban rancangan untuk tiang
yang akan diuji yang ditunjukkan dalam Gambar. Titik referensi untuk mengukur
penurunan (settlement) tiang pancang harus dipindahkan dari tiang uji untuk meng-
hindari semua kemungkinan gangguan yang akan terjadi. Semua penurunan tiang
pancang yang dibebani harus diukur dengan peralatan yang memadai, seperti alat peng-
ukur (gauges) tekanan, dan harus diperiksa dengan alat pengukur elevasi.

Peningkatan lendutan akan dibaca segera setelah setiap penambahan beban diberikan dan
setiap interval 15 menit setelah penambahan beban tersebut. Beban yang aman dan
diijinkan adalah 50 % beban yang telah diberikan selama 48 jam secara terus menerus
menyebabkan penurunan tetap (permanent settlement) tidak lebih dari 6,5 mm yang
diukur pada puncak tiang. Beban pengujian harus dua kali beban rancangan yang
ditunjukkan dalam Gambar.

Beban pertama yang harus diberikan pada tiang percobaan adalah beban rancangan tiang
pancang. Beban pada tiang pancang dinaikkan sampai mencapai dua kali beban ran-
cangan dengan interval tiga kali penambahan beban yang sama. Setiap penambahan
beban harus dalam interval waktu minimum 2 jam, kecuali jika tidak terdapat penam-
bahan penurunan kurang dari 0,12 mm dalam interval waktu 15 menit akibat penam-
bahan beban sebelumnya. Bilamana kekuatan tiang uji untuk mendukung beban
pengujian diragukan, penambahan beban harus dikurangi sampai 50 % masing-masing
beban pengujian, sesuai dengan perintah Direksi Pekerjaan agar kurva keruntuhan yang
halus dapat digambar. Beban pengujian penuh harus dipertahankan pada tiang uji dalam
waktu tidak kurang dari 48 jam. Kemudian beban ditiadakan dan penurunan permanen
dibaca. Bilamana diminta oleh Direksi Pekerjaan, pembebanan diteruskan melebihi 2 kali
beban rancangan dengan penambahan beban setiap kali 10 ton sampai tiang runtuh atau
kapasitas peralatan pembebanan ini dilampaui. Tiang pancang dapat dianggap runtuh bila
penurunan total akibat beban melebihi 2,5 cm atau penurunan permanen melebihi 6,5
mm.

7 - 70
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Setelah pengujian pembebanan selesai dilaksanakan, beban-beban yang digunakan harus


disingkirkan, dan tiang pancang, termasuk tiang tarik dapat digunakan untuk struktur
bilamana oleh Direksi Pekerjaan dianggap masih memenuhi ketentuan untuk digunakan.
Tiang uji yang tidak dibebani harus digunakan seperti di atas. Jika setiap tiang pancang
setelah digunakan sebagai tiang uji atau tiang tarik dianggap tidak memenuhi ketentuan
untuk digunakan dalam struktur, harus segera disingkirkan bilamana diperintahkan oleh
Direksi Pekerjaan, atau harus dipotong sampai di bawah permukaan tanah atau dasar
pondasi telapak, mana yang dapat dilaksanakan.

Jumlah dan lokasi tiang uji untuk pengujian pembebanan akan ditentukan oleh Direksi
Pekerjaan. Untuk tiang dengan diameter lebih dari 600 mm jumlah ini tidak boleh kurang
dari satu dan tidak lebih dari tiga untuk setiap jembatan; untuk tiang dengan diameter
kurang dari dan sampai dengan 600 mm jumlah tiang tidak boleh kurang dari satu untuk
setiap 30 tiang.

Kontraktor harus membuat laporan untuk setiap pengujian pembebanan. Laporan ini
harus meliputi dokumen-dokumen berikut ini :
Denah pondasi
Lapisan (stratifikasi) tanah
Kurva kalibrasi alat pengukur tekanan
Gambar diameter piston dongkrak
Grafik pengujian dengan absis untuk beban dalam ton dan ordinat untuk penu-
runan (settlement) dalam desimal mm.
Tabel yang menunjukkan pembacaan alat pengukur tekanan dalam atmosfir,
beban dalam ton, penurunan dan penurunan rata-rata dimana semua itu
merupakan fungsi dari waktu (tanggal dan jam).

Bilamana kapasitas daya dukung yang aman dari setiap tiang pancang, diketahui kurang
dari beban rancangan, maka tiang pancang harus diperpanjang atau diperbanyak sesuai
dengan yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

4) Pekerjaan Seksi Lain Yang Berkaitan dengan Seksi Ini

a) Galian : Seksi 3.1 :


b) Urugan Seksi 3.2 :
c) Beton Seksi 7.1 :
d) Beton Pratekan Seksi 7.2 :
e) Baja Tulangan Seksi 7.3 :
f) Baja Struktur Seksi 7.4 :
g) Pembongkaran Struktur Seksi 7.15

5) Jaminan Mutu

Mutu bahan yang dipasok, kecakapan kerja dan hasil penyelesaian harus dipantau dan
dikendalikan seperti yang ditetapkan dalam Standar Rujukan dalam Seksi 7.1, 7.2, 7.3
dan 7.4 dari Spesifikasi ini.

6) Toleransi

a) Lokasi Kepala Tiang Pancang

Tiang pancang harus ditempatkan sebagaimana yang ditunjukkan dalam Gam-


bar. Penggeseran lateral kepala tiang pancang dari posisi yang ditentukan tidak
boleh melampaui 75 mm dalam segala arah.

7 - 71
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

b) Kemiringan Tiang Pancang

Penyimpangan arah vertikal atau kemiringan yang disyaratkan tidak boleh lebih
melampaui 20 mm per meter (yaitu 1 dalam 50).

c) Kelengkungan (Bow)

i) Kelengkungan tiang pancang beton cor langsung di tempat harus tidak


boleh melampaui 0,01 dari panjang suatu tiang pancang dalam segala
arah.

ii) Kelengkungan lateral tiang pancang baja tidak boleh melampaui 0,0007
dari panjang total tiang pancang.

d) Tiang Bor Beton Cor Langsung Di Tempat

Garis tengah lubang bor tanpa selubung (casing) harus 0 sampai + 5% dari
diameter nominal pada setiap posisi.

e) Tiang Pancang Beton Pracetak

Toleransi harus sesuai dengan Pasal 7.2.1.(4).(b) dari Spesifikasi ini

7) Standar Rujukan

AASHTO M133 - 86 : Preservatives and Pressure Treatment Process for Timber.


AASHTO M168 - 84 : Wood Products
AASHTO M183 - 90 : Structural Steel.
AASHTO M202 - 90 : Steel Sheet Piling.
ASTM A252 : Steel Pipe

8) Pengajuan Kesiapan Kerja

Sebelum memulai suatu pekerjaan pemancangan, Kontraktor harus mengajukan kepada


Direksi Pekerjaan hal-hal sebagai berikut :

a) Program yang terinci untuk pekerjaan pemancangan.

b) Rincian metode yang diusulkan untuk pemancangan atau penurunan tiang ber-
sama dengan peralatan yang akan digunakan.

c) Perhitungan rancangan, termasuk rumus penumbukan, yang menunjukkan kapa-


sitas tiang pancang bilamana penumbukan menggunakan peralatan yang diusul-
kan oleh Kontraktor.

d) Usulan untuk pengujian pembebanan tiang pancang. Usulan ini mencakup


metode pemberian beban, pengukuran beban dan penurunan serta penyajian data
yang diusulkan.

Persetujuan tertulis dari Direksi Pekerjaan untuk pengajuan tersebut di atas harus diper-
oleh terlebih dahulu sebelum memulai setiap pekerjaan pemancangan.

7 - 72
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

9) Penyimpanan dan Perlindungan Bahan

Semen, agregat dan baja tulangan harus disimpan sebagaimana yang disyaratkan dalam
Seksi 7.1 dan 7.3 dari Spesifikasi ini. Unit-unit beton bertulang atau pratekan dan unit-
unit baja harus ditempatkan bebas dari kontak langsung dengan permukaan tanah dan
ditempatkan pada penyangga kayu di atas tanah keras yang tidak akan turun baik musin
hujan maupun kemarau, akibat beban dari unit-unit tersebut. Bilamana unit-unit tersebut
disusun dalam lapisan-lapisan, maka tidak melebihi dari 3 lapisan dengan penyangga
kayu dipasang di antara tiap lapisan. Penyangga untuk setiap lapisan harus dipasang di
atas lapisan yang terdahulu. Untuk gelagar dan tiang pancang, penyangga harus dipasang
pada jarak tidak lebih dari 20 % dari ukuran panjang unit, yang diukur dari setiap ujung.

10) Mutu Pekerjaan dan Perbaikan Atas Pekerjaan Yang Tidak Memenuhi Ketentuan

a) Bilamana toleransi yang diberikan dalam Pasal 7.6.1.(6) telah dilampaui, maka
Kontraktor harus menyelesaikan setiap langkah perbaikan yang dianggap perlu
oleh Direksi Pekerjaan dengan biaya sendiri.

b) Setiap tiang pancang yang rusak akibat cacat dalam (internal) atau pemancangan
tidak sebagaimana mestinya, dipancang keluar dari lokasi yang semestinya atau
dipancang di bawah elevasi yang ditunjukkan dalam Gambar atau ditetapkan
oleh Direksi Pekerjaan, harus diperbaiki atas biaya Kontraktor.

c) Pekerjaan perbaikan, seperti yang telah ditentukan oleh Direksi Pekerjaan dan
dikerjakan atas biaya Kontraktor, akan mencakup, tetapi tidak perlu dibatasi
berikut ini :

i) Penarikan kembali tiang pancang yang rusak dan penggantian dengan


tiang pancang baru atau lebih panjang, sesuai dengan yang diperlukan.

ii) Pemancangan tiang pancang kedua sepanjang sisi tiang pancang yang
cacat atau pendek. Perpanjangan tiang pancang dengan cara penyam-
bungan, seperti yang telah disyaratkan di bagian lain dari Seksi ini, untuk
memungkinkan penempatan kepala tiang pancang yang sebagaimana
mestinya dalam pur (pile cap).

7.6.2 BAHAN

1) Kayu

Kayu untuk tiang turap, kecuali ditunjukkan lain dalam Gambar, harus diberi bahan
pengawet. Tiang turap harus terbuat dari kayu yang digergaji atau ditebang, dengan
sudut-sudut persegi.

Kayu untuk tiang pancang penahan beban (bukan cerucuk) dapat diawetkan atau tidak
diawetkan, dan dapat dipangkas sampai membentuk penampang yang tegak lurus
terhadap panjangnya atau berupa batang pohon lurus sesuai bentuk aslinya. Selanjutnya
semua kulit kayu harus dibuang.

Tiang pancang kayu harus seluruhnya keras (sound) dan bebas dari kerusakan, mata
kayu, bagian yang tidak keras atau akibat serangan serangga. Pengawetan harus sesuai
dengan AASHTO M133 - 86.

7 - 73
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Cerucuk kayu harus terbuat dari jenis, diameter dan mutu yang ditunjukkan dalam
Gambar.

2) Beton

Beton harus memenuhi ketentuan dari Seksi 7.1. Bilamana beton akan dicor di dalam air,
seperti halnya dengan tiang beton cor langsung di tempat, maka beton harus dicor dengan
cara tremie dan harus mempunyai slump yang tidak kurang dari 15 cm serta kadar semen
minimum 400 kg per meter kubik beton.

3) Baja Tulangan

Baja tulangan harus memenuhi ketentuan dari Seksi 7.3

4) Tiang Pancang Beton Pratekan Pracetak

Tiang pancang beton pratekan pracetak harus memnuhi ketentuan dari Seksi 7.3.

5) Tiang Pancang Baja Struktur

Baja harus memenuhi ketentuan dari Seksi 7.4 dan AASHTO M183 - 90.

6) Pipa Baja

Pipa baja yang akan diisi dengan beton harus memenuhi ketentuan dari ASTM A252
Grade 2. Pelat penutup untuk menutup ujung tiang pancang harus memenuhi ketentuan
dari AASHTO M183 - 90 (ASTM A36).

Pipa baja harus mempunyai garis tengah sebagaimana yang ditunjukkan dalam Gambar.
Kecuali ditunjukkan lain dalam Gambar, tebal dinding tidak boleh kurang dari 4,8 mm.
Pipa baja termasuk penutup ujung, harus mempunyai kekuatan yang cukup untuk dipan-
cang dengan metode yang ditentukan tanpa distorsi.

Pelat penutup dan las penyambung tidak boleh menonjol ke luar dari keliling ujung tiang
pancang.

7) Sepatu dan Sambungan Tiang Pancang

Sepatu dan sambungan tiang pancang harus seperti yang ditunjukkan dalam Gambar atau
sebagaimana yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

8) Turap Baja

Turap baja harus memenuhi ketntuan dari AASHTO M202 - 90.

7.6.3 TURAP

1) Umum

Umumnya ketentuan yang mengatur pemancangan tiang pancang penahan beban harus
berlaku juga untuk turap. Jenis tiang pancang yang akan digunakan harus seperti yang
ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan

7 - 74
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

2) Turap Kayu

Tiang pancang kayu sesuai dengan dimensi yang ditunjukkan dalam Gambar baik yang
dipotong dari bahan yang utuh (solid) maupun dibuat dari tiga papan yang diikat jadi satu
dengan kokoh. Ujung bagian bawah tiang pancang harus diruncingkan agar dapat
mendesak ke dalam sedemikian hingga tiang-tiang yang berdekatan mempunyai ikatan
yang rapat. Puncak tiang pancang harus dipotong pada suatu garis lurus pada elevasi
yang telah ditunjukkan dan harus diperkaku dengan balok yang ditumpang-tindihkan dan
disambung pada semua sambungan dan sudut-sudut. Balok-balok pengaku sebaik-nya
dipasang untuh antara sudut-sudut dan harus dibaut di dekat puncak tiang pancang.

3) Turap Beton

Dinding turap beton harus dilaksanakan sesuai dengan Gambar.

4) Turap Baja

Turap baja harus mempunyai jenis dan berat seperti yang ditunjukkan dalam Gambar.
Bilamana dipasang dalam struktur yang telah selesai, turap baja harus kedap air pada
sambungannya.

Pengecatan turap baja harus memenuhi ketentuan Pasal 8.5.5 dari Spesifikasi ini.

7.6.4 TIANG PANCANG KAYU

1) Umum

Semula tiang pancang kayu harus diperiksa terlebih dahulu sebelum dipancang untuk
memastikan bahwa tiang pancang kayu tersebut memenuhi ketentuan dari bahan dan
toleransi yang diijinkan.

2) Pengawetan

Semua kayu lunak yang digunakan untuk tiang pancang memerlukan pengawetan, yang
harus dilaksanakan sesuai dengan AASHTO M133 - 86 dengan menggunakan instalasi
peresapan bertekanan. Bilamana instalasi semacam ini tidak tersedia, pengawetan dengan
tangki terbuka secara panas dan dingin, harus digunakan. Beberapa kayu keras dapat
digunakan tanpa pengawetan, tetapi pada umumnya, kebutuhan untuk mengawetkan
kayu keras tergantung pada jenis kayu dan beratnya kondisi pelayanan.

Persetujuan dari Direksi Pekerjaan secara tertulis harus diperoleh sebelum pemancangan
tiang pancang yang tidak diawetkan.

3) Kepala Tiang Pancang

Sebelum pemancangan, tindakan pencegahan kerusakan pada kepala tiang pancang harus
diambil. Pencegahan ini dapat dilakukan dengan pemangkasan kepala tiang pancang
sampai penampang melintang menjadi bulat dan tegak lurus terhadap panjangnya dan
memasang cincin baja atau besi yang kuat atau dengan metode lainnya yang lebih efektif.

Setelah pemancangan, kepala tiang pancang harus dipotong tegak lurus terhadap
panjangnya sampai bagian kayu yang keras dan diberi bahan pengawet sebelum pur (pile
cap) dipasang.

7 - 75
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Bilamana tiang pancang kayu lunak membentuk pondasi struktur permanen dan akan
dipotong sampai di bawah permukaan tanah, maka perhatian khusus harus diberikan
untuk memastikan bahwa tiang pancang tersebut telah dipotong pada atau di bawah
permukaan air tanah yang terendah yang diperkirakan.

Bilamana digunakan pur (pile cap) dari beton, kepala tiang pancang harus tertanam
dalam pur dengan ke dalaman yang cukup sehingga dapat memindahkan gaya. Tebal
beton di sekeliling tiang pancang paling sedikit 15 cm dan harus diberi baja tulangan
untuk mencegah terjadinya keretakan.

4) Sepatu Tiang Pancang

Tiang pancang harus dilengkapi dengan sepatu yang cocok untuk melindungi ujung tiang
selama pemancangan, kecuali bilamana seluruh pemancangan dilakukan pada tanah yang
lunak. Sepatu harus benar-benar konsentris (pusat sepatu sama dengan pusat tiang
pancang) dan dipasang dengan kuat pada ujung tiang. Bidang kontak antara sepatu dan
kayu harus cukup untuk menghindari tekanan yang berlebihan selama pemancangan.

5) Pemancangan

Pemancangan berat yang mungkin merusak kepala tiang pancang, memecah ujung dan
menyebabkan retak tiang pancang harus dihindari dengan membatasi tinggi jatuh palu
dan jumlah penumbukan pada tiang pancang. Umumnya, berat palu harus sama dengan
beratnya tiang untuk memudahkan pemancangan. Perhatian khusus harus diberikan
selama pemancangan untuk memastikan bahwa kepala tiang pancang harus selalu berada
sesumbu dengan palu dan tegak lurus terhadap panjang tiang pancang dan bahwa tiang
pancang dalam posisi yang relatif pada tempatnya.

6) Penyambungan

Bilamana diperlukan untuk menggunakan tiang pancang yang terdiri dari dua batang atau
lebih, permukaan ujung tiang pancang harus dipotong sampai tegak lurus terhadapa
panjangnya untuk menjamin bidang kontak seluas seluruh penampang tiang pancang.
Pada tiang pancang yang digergaji, sambungannya harus diperkuat dengan kayu atau
pelat penyambung baja, atau profil baja seperti profil kanal atau profil siku yang dilas
menjadi satu membentuk kotak yang dirancang untuk memberikan kekuatan yang diper-
lukan. Tiang pancang bulat harus diperkuat dengan pipa penyambung. Sambungan di
dekat titik-titik yang mempunyai lendutan maksimum harus dihindarkan.

7.6.5 TIANG PANCANG BETON PRACETAK

1) Umum

Tiang pancang harus dirancang, dicor dan dirawat untuk memperoleh kekuatan yang
diperlukan sehingga tahan terhadap pengangkutan, penanganan, dan tekanan akibat
pemancangan tanpa kerusakan. Tiang pancang segi empat harus mempunyai sudut-sudut
yang ditumpulkan. Pipa pancang berongga (hollow piles) harus digunakan bilamana
panjang tiang pancang yang luar biasa diperlukan.

Baja tulangan harus disediakan untuk menahan tegangan yang terjadi akibat pengang-
katan, penyusunan dan pengangkutan tiang pancang maupun tegangan yang terjadi akibat
pemancangan dan beban-beban yang didukung. Selimut beton tidak boleh kurang dari 40
mm dan bilamana tiang pancang terekspos terhadap air laut atau pengaruh korosi lainnya,
selimut beton tidak boleh kurang dari 50 mm.

7 - 76
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

2) Penyambungan

Penyambungan tiang pancang harus dihindarkan bilamana memungkinkan. Bilamana


perpanjangan tiang pancang tidak dapat dihindarkan, Kontraktor harus menyerahkan
metode penyambungan kepada Direksi Pekerjaan untuk mendapat persetujuan. Tidak ada
penyambungan tiang pancang sampai metode penyambungan disetujui secara tertulis dari
Direksi Pekerjaan.

3) Perpanjangan Tiang Pancang

Perpanjangan tiang pancang beton pracetak dilaksanakan dengan penyambungan tum-


pang tindih (overlap) baja tulangan. Beton pada kepala tiang pancang akan dipotong
hingga baja tulangan yang tertinggal mempunyai panjang paling sedikit 40 kali diameter
tulangan.

Perpanjangan tiang pancang beton harus dilaksanakan dengan menggunakan baja tu-
langan yang sama (mutu dan diameternya) seperti pada tiang pancang yang akan diper-
panjang. Baja spiral harus dibuat dengan tumpang tindih sepanjang 2 kali lingkaran
penuh dan baja tulangan memanjang harus mempunyai tumpang tindih minimum 40 kali
diameter.

Bilamana perpanjangan melebihi 1,50 m, acuan harus dibuat sedemikian hingga tinggi
jatuh pengecoran beton tak melebihi 1,50 m.

Sebelum pengecoran beton, kepala tiang pancang harus dibersihkan dari semua bahan
lepas atau pecahan, dibasahi sampai merata dan diberi adukan semen yang tipis. Mutu
beton yang digunakan sekurang-kurangnya harus beton K400. Semen yang digunakan
haruslah dari mutu yang sama dengan yang dipakai pada tiang panjang yang akan
disambung, kecuali diperintahkan lain oleh Direksi Pekerjaan.

Acuan tidak boleh dibuka sekurang-kurangnya 7 hari setelah pengecoran. Perpanjangan


tiang pancang akan dirawat dan dilindungi dengan cara yang sama seperti tiang pancang
yang akan disambung. Bilamana tiang pancang akan diperpanjang setelah operasi
pemancangan sedang berjalan, kepala tiang pancang direncanakan tertanam dalam pur
(pile cap), maka perpanjangan baja tulangan yang diperlukan harus seperti yang
ditunjukkan dalam Gambar. Bilamana tidak disebutkan dalam Gambar, maka panjang
tumpang tindih baja tulangan harus 40 kali diameter untuk tulangan memanjang, kecuali
diperintahkan lain oleh Direksi Pekerjaan.

4) Sepatu Tiang Pancang

Tiang pancang harus dilengkapi dengan sepatu yang datar atau mempunyai sumbu yang
sama (co-axial), jika dipancang masuk ke dalam atau menembus jenis tanah seperti batu,
kerikil kasar, tanah liat dengan berangkal, dan tanah jenis lainnya yang mungkin dapat
merusak ujung tiang pancang beton. Sepatu tersebut dapat terbuat dari baja atau besi
tuang. Untuk tanah liat atau pasir yang seragam, sepatu tersebut dapat ditiadakan. Luas
ujung sepatu harus sedemikian rupa sehingga tegangan dalam beton pada bagian tiang
pancang ini masih dalam batas yang aman seperti yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

7 - 77
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

5) Pembuatan dan Perawatan

Tiang pancang dibuat dan dirawat sesuai dengan ketentuan dari Seksi 7.1 dan Seksi 7.3
dari Spesifikasi ini. Waktu yang diijinkan untuk memindahkan tiang pancang harus
ditentukan dengan menguji empat buah benda uji yang telah dibuat dari campuran yang
sama dan dirawat dengan cara yang sama seperti tiang pancang tersebut. Tiang pancang
tersebut dapat dipindahkan bilamana pengujian kuat tekan pada keempat benda uji
menunjukkan kekuatan yang lebih besar dari tegangan yang terjadi pada tiang pancang
yang dipindahkan, ditambah dampak dinamis yang diperkirakan dan dikalikan dengan
faktor keamanan, semuanya harus berdasarkan persetujuan dari Direksi Pekerjaan.

Ruas tiang pancang yang akan terekspos untuk pemandangan yaitu tiang-tiang rangka
pendukung, harus diselesaikan sesuai dengan Pasal 7.1.5.(3).

Tidak ada tiang pancang yang akan dipancang sebelum berumur paling sedikit 28 hari
atau telah mencapai kekuatan minimum yang disyaratkan.

Acuan samping dapat dibuka 24 jam setelah pengecoran beton, tetapi seluruh tiang
pancang tidak boleh digeser dalam waktu 7 hari setelah pengecoran beton, atau lebih
lama sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Perawatan harus
dilaksanakan selama 7 hari setelah dicor dengan mempertahankan tiang pancang dalam
kondisi basah selama jangka waktu tersebut.

Selama operasi pengangkatan, tiang pancang harus didukung pada titik seperempat
panjangnya atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Bilamana tiang
pancang tersebut akan dibuat 1,5 m lebih panjang dari pada panjang yang disebutkan
dalam Gambar, Direksi Pekerjaan akan memerintahkan menggunakan baja tulangan
dengan diameter yang lebih besar dan/atau memakai tiang pancang dengan ukuran yang
lebih besar dari yang ditunjukkan dalam Gambar.

Setiap tiang harus ditandai dengan tanggal pengecoran dan panjangnya, ditulis dengan
jelas dekat dekat kepala tiang pancang.

Kontraktor dapat menggunakan semen yang cepat mengeras untuk membuat tiang
pencang. Kontraktor harus memberitahu secara tertulis kepada Direksi Pekerjaan atas
penggunaan jenis dan pabrik pembuat semen yang diusulkan. Semen yang demikian
tidak boleh digunakan sebelum disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Periode dan ketentuan
perlindungan sebelum pemancangan harus sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan.

6) Pengupasan Kepala Tiang Pancang

Beton harus dikupas sampai pada elevasi yang sedemikian sehingga beton yang terting-
gal akan masuk ke dalam pur (pile cap) sedalam 50 mm sampai 75 mm atau sebagaimana
ditunjukkan di dalam Gambar. Untuk tiang pancang beton bertulang, baja tulangan yang
tertinggal setelah pengupasan harus cukup panjang sehingga dapat diikat ke dalam pur
(pile cap) dengan baik seperti yang ditunjuk-kan dalam Gambar. Untuk tiang pancang
beton pratekan, kawat pra-tegang yang tertinggal setelah pengupasan harus dimasukkan
ke dalam pur (pile cap) paling sedikit 600 mm. Penjangkaran ini harus dilengkapi, jika
perlu, dengan baja tulangan yang dicor ke dalam bagian atas tiang pancang. Sebagai
alternatif, pengikatan dapat dihasilkan dengan baja tulangan lunak yang dicor ke dalam
bagian atas dari tiang pancang pada saat pembuatan. Pengupasan tiang pancang beton
harus dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah pecahnya atau kerusakan lainnya pada
sisa tiang pancang. Setiap beton yang retak atau cacat harus dipotong dan diperbaiki
dengan beton baru yang direkatkan sebagaimana mestinya dengan beton yang lama.

7 - 78
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Sisa bahan potongan tiang pancang, yang menurut pendapat Direksi Pekerjaan, tidak
perlu diamankan, harus dibuang sampai diterima oleh Direksi Pekerjaan.

7.6.6 TIANG PANCANG BAJA STRUKTUR

1) Umum

Pada umumnya, tiang pancang baja struktur harus berupa profil baja gilas biasa, tetapi
tiang pancang pipa dan kotak dapat digunakan. Bilamana tiang pancang pipa atau kotak
digunakan, dan akan diisi dengan beton, mutu beton tersebut minimum harus K250
dengan kadar semen seperti yang diuraikan dalam Pasal 7.1.3.(1).

2) Perlindungan Terhadap Korosi

Bilamana korosi pada tiang pancang baja mungkin dapat terjadi, maka panjang atau ruas-
ruasnya yang mungkin terkena korosi harus dilindungi dengan pengecatan menggunakan
lapisan pelindung yang telah disetujui dan/atau digunakan logam yang lebih tebal
bilamana daya korosi dapat diperkirakan dengan akurat dan beralasan. Umumnya seluruh
panjang tiang baja yang terekspos, dan setiap panjang yang terpasang dalam tanah yang
terganggu di atas muka air terendah, harus dilindungi dari korosi.

3) Kepala Tiang Pancang

Sebelum pemancangan, kepala tiang pancang harus dipotong tegak lurus terhadap
panjangnya dan topi pemancang (driving cap) harus dipasang untuk mempertahankan
sumbu tiang pancang segaris dengan sumbu palu. Setelah pemancangan, pelat topi,
batang baja atau pantek harus ditambatkan pada pur, atau tiang pancang dengan panjang
yang cukup harus ditanamkan ke dalam pur (pile cap).

4) Perpanjangan Tiang Pancang

Perpanjangan tiang pancang baja harus dilakukan dengan pengelasan. Pengelasan harus
dikerjakan sedemikian rupa hingga kekuatan penampang baja semula dapat ditingkat-
kan. Sambungan harus dirancang dan dilaksanakan dengan cara sedemikian hingga dapat
menjaga alinyemen dan posisi yang benar pada ruas-ruas tiang pancang. Bilamana tiang
pancang pipa atau kotak akan diisi dengan beton setelah pemancangan, sambungan yang
dilas harus kedap air.

5) Sepatu Tiang Pancang

Pada umumnya sepatu tiang pancang tidak diperlukan pada profil H atau profil baja gilas
lainnya. Namun bilamana tiang pancang akan dipancang di tanah keras, maka ujungnya
dapat diperkuat dengan menggunakan pelat baja tuang atau dengan mengelaskan pelat
atau siku baja untuk menambah ketebalan baja. Tiang pancang pipa atau kotak dapat juga
dipancang tanpa sepatu, tetapi bilamana ujung dasar tertutup diperlukan, maka penutup
ini dapat dikerjakan dengan cara mengelaskan pelat datar, atau sepatu yang telah
dibentuk dari besi tuang, baja tuang atau baja fabrikasi.

7 - 79
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

7.6.7 PEMANCANGAN TIANG

1) Umum

Tiang pancang dapat dipancang dengan setiap jenis palu, asalkan tiang pancang tersebut
dapat menembus masuk pada ke dalaman yang telah ditentukan atau mencapai daya
dukung yang telah ditentukan, tanpa kerusakan.

Bilamana elevasi akhir kepala tiang pancang berada di bawah permukaan tanah asli,
maka galian harus dilaksanakan terlebih dahulu sebelum pemancangan. Perhatian khusus
harus diberikan agar dasar pondasi tidak terganggu oleh penggalian di luar batas-batas
yang ditunjukkan dalam Gambar.

Kepala tiang pancang baja harus dilindungi dengan bantalan topi atau mandrel dan kepala
tiang kayu harus dilindungi dengan cincin besi tempa atau besi non-magnetik
sebagaimana yang disyaratkan dalam Spesifikasi ini. Palu, topi baja, bantalan topi, katrol
dan tiang pancang harus mempunyai sumbu yang sama dan harus terletak dengan tepat
satu di atas lainnya. Tiang pancang termasuk tiang pancang miring harus dipancang
secara sentris dan diarahkan dan dijaga dalam posisi yang tepat. Semua pekerjaan
pemancangan harus dihadiri oleh Direksi Pekerjaan atau wakilnya, dan palu pancang
tidak boleh diganti dan dipindahkan dari kepala tiang pancang tanpa persetujuan dari
Direksi Pekerjaan atau wakilnya.

Tiang pancang harus dipancang sampai penetrasi maksimum atau penetrasi tertentu,
sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, atau ditentukan dengan peng-
ujian pembebanan sampai mencapai ke dalaman penetrasi akibat beban pengujian tidak
kurang dari dua kali beban yang dirancang, yang diberikan menerus untuk sekurang-
kurangnya 60 mm. Dalam hal tersebut, posisi akhir kepala tiang pancang tidak boleh
lebih tinggi dari yang ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan
oleh Direksi Pekerjaan setelah pemancangan tiang pancang uji. Posisi tersebut dapat
lebih tinggi jika disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

Bilamana ketentuan rancangan tidak dapat dipenuhi, maka Direksi Pekerjaan dapat
memerintahkan untuk menambah jumlah tiang pancang dalam kelompok tersebut
sehingga beban yang dapat didukung setiap tiang pancang tidak melampaui kapasitas
daya dukung yang aman, atau Direksi Pekerjaan dapat mengubah rancangan bangunan
bawah jembatan bilamana dianggap perlu.

Alat pancang yang digunakan dapat dari jenis gravitasi, uap atau diesel. Untuk tiang
pancang beton, umumnya digunakan jenis uap atau diesel. Berat palu pada jenis gravi-
tasi sebaiknya tidak kurang dari jumlah berat tiang beserta topi pancangnya, tetapi sama
sekali tidak boleh kurang dari setengah jumlah berat tiang beserta topi pancangnya, dan
minimum 2 ton untuk tiang pancang beton. Untuk tiang pancang baja, berat palu harus
dua kali berat tiang beserta topi pancangnya.

Tinggi jatuh palu tidak boleh melampaui 2,5 meter atau sebagaimana yang diperintahkan
oleh Direksi Pekerjaan. Alat pancang dengan jenis gravitasi, uap atau diesel yang
disetujui, harus mampu memasukkan tiang pancang tidak kurang dari 3 mm untuk setiap
pukulan pada 15 cm dari akhir pemancangan dengan daya dukung yang diinginkan
sebagaimana yang ditentukan dari rumus pemancangan yang disetujui, yang digunakan
oleh Kontraktor. Enerji total alat pancang tidak boleh kurang dari 970 kgm per pukulan,
kecuali untuk tiang pancang beton sebagaimana disyaratkan di bawah ini.

7 - 80
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Alat pancang uap, angin atau diesel yang dipakai memancang tiang pancang beton harus
mempunyai enerji per pukulan, untuk setiap gerakan penuh dari pistonnya tidak kurang
dari 635 kgm untuk setiap meter kubik beton tiang pancang tersebut.

Penumbukan dengan gerakan tunggal (single acting) atau palu yang dijatuhkan harus
dibatasi sampai 1,2 meter dan lebih baik 1 meter. Penumbukan dengan tinggi jatuh yang
lebih kecil harus digunakan bilamana terdapat kerusakan pada tiang pancang. Contoh-
contoh berikut ini adalah kondisi yang dimaksud :

Bilamana terdapat lapisan tanah keras dekat permukaan tanah yang harus ditem-
bus pada saat awal pemancangan untuk tiang pancang yang panjang.

Bilamana terdapat lapisan tanah lunak yang dalam sedemikian hingga penetrasi
yang dalam terjadi pada setiap penumbukan.

Bilamana tiang pancang diperkirakan sekonyong-konyongnya akan mendapat


penolakan akibat batu atau tanah yang benar-benar tak dapat ditembus lainnya.

Bilamana serangkaian penumbukan tiang pancang untuk 10 kali pukulan terakhir telah
mencapai hasil yang memenuhi ketentuan, penumbukan ulangan harus dilaksanakan
dengan hati-hati, dan pemancangan yang terus menerus setelah tiang pancang hampir
berhenti penetrasi harus dicegah, terutama jika digunakan palu berukuran sedang. Suatu
catatan pemancangan yang lengkap harus dilakukan sesuai dengan Pasal 7.6.7.(7).

Setiap perubahan yang mendadak dari kecepatan penetrasi yang tidak dapat dianggap
sebagai perubahan biasa dari sifat alamiah tanah harus dicatat dan penyebabnya harus
dapat diketahui, bila memungkinkan, sebelum pemancangan dilanjutkan.

Tidak diperkenankan memancang tiang pancang dalam jarak 6 m dari beton yang
berumur kurang dari 7 hari. Bilamana pemancangan dengan menggunakan palu yang
memenuhi ketentuan minimum, tidak dapat memenuhi Spesifikasi, maka Kontraktor
harus menyediakan palu yang lebih besar dan/atau menggunakan water jet atas biaya
sendiri.

2) Penghantar Tiang Pancang (Leads)

Penghantar tiang pancang harus dibuat sedemikian hingga dapat memberikan kebebasan
bergerak untuk palu dan penghantar ini harus diperkaku dengan tali atau palang yang
kaku agar dapat memegang tiang pancang selama pemancangan. Kecuali jika tiang
pancang dipancang dalam air, penghantar tiang pancang, sebaiknya mempunyai panjang
yang cukup sehingga penggunaan bantalan topi tiang pancang panjang tidak diperlukan.
Penghantar tiang pancang miring sebaiknya digunakan untuk pemancangan tiang
pancang miring.

3) Bantalan Topi Tiang Pancang Panjang (Followers)

Pemancangan tiang pancang dengan bantalan topi tiang pancang panjang sedapat mung-
kin harus dihindari, dan hanya akan dilakukan dengan persetujuan tertulis dari Direksi
Pekerjaan.

7 - 81
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

4) Tiang Pancang Yang Naik

Bilamana tiang pancang mungkin naik akibat naiknya dasar tanah, maka elevasi kepala
tiang pancang harus diukur dalam interval waktu dimana tiang pancang yang berdekatan
sedang dipancang. Tiang pancang yang naik sebagai akibat pemancangan tiang pancang
yang berdekatan, harus dipancang kembali sampai ke dalaman atau ketahanan semula,
kecuali jika pengujian pemancangan kembali pada tiang pancang yang berdekatan
menunjukkan bahwa pemancangan ulang ini tidak diperlukan.

5) Pemancangan Dengan Pancar Air (Water Jet)

Pemancangan dengan pancar air dilaksanakan hanya seijin Direksi Pekerjaan dan de-
ngan cara yang sedemikian rupa hingga tidak mengurangi kapasitas daya dukung tiang
pancang yang telah selesai dikerjakan, stabilitas tanah atau keamanan setiap struktur yang
berdekatan.

Banyaknya pancaran, volume dan tekanan air pada nosel semprot haruslah sekedar cukup
untuk melonggarkan bahan yang berdekatan dengan tiang pancang, bukan untuk
membongkar bahan tersebut. Tekanan air harus 5 kg/cm2 sampai 10 kg/cm2 tergantung
pada kepadatan tanah. Perlengkapan harus dibuat, jika diperlukan, untuk mengalirkan air
yang tergenang pada permukaan tanah. Sebelum penetrasi yang diperlukan tercapai,
maka pancaran harus dihentikan dan tiang pancang dipancang dengan palu sampai
penetrasi akhir. Lubang-lubang bekas pancaran di samping tiang pancang harus diisi
dengan adukan semen setelah pemancangan selesai.

6) Tiang Pancang Yang Cacat

Prosedur pemancangan tidak mengijinkan tiang pancang mengalami tegangan yang


berlebihan sehingga dapat mengakibatkan pengelupasan dan pecahnya beton, pembe-
lahan, pecahnya dan kerusakan kayu, atau deformasi baja. Manipulasi tiang pancang
dengan memaksa tiang pancang kembali ke posisi yang sebagaimana mestinya, menurut
pendapat Direksi Pekerjaan, adalah keterlaluan, dan tak akan diijinkan. Tiang pancang
yang cacat harus diperbaiki atas biaya Kontraktor sebagaimana disyaratkan dalam Pasal
7.6.1.(10) dan sebagaimana yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

Bilamana pemancangan ulang untuk mengembalikan ke posisi semula tidak memungkin-


kan, tiang pancang harus dipancang sedekat mungkin dengan posisi semula, atau tiang
pancang tambahan harus dipancang sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan.

7) Catatan Pemancangan (Calendering)

Sebuah catatan yang detil dan akurat tentang pemancangan harus disimpan oleh Direksi
Pekerjaan dan Kontraktor harus membantu Direksi Pekerjaan dalam menyimpan catatan
ini yang meliputi berikut ini : jumlah tiang pancang, posisi, jenis, ukuran, panjang aktual,
tanggal pemancangan, panjang dalam pondasi telapak, penetrasi pada saat penumbukan
terakhir, enerji pukulan palu, panjang perpanjangan, panjang pemotongan dan panjang
akhir yang dapat dibayar.

8) Rumus Dinamis untuk Perkiraan Kapasitas Tiang Pancang

Kapasitas daya dukung tiang pancang harus diperkirakan dengan menggunakan rumus
dinamis (Hiley). Kontraktor dapat mengajukan rumus lain untuk mendapat persetujuan
dari Direksi Pekerjaan.

7 - 82
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

efWH W + n2Wp
Pu = --------------------------- X -------------
S + (C1 + C2 + C3)/2 W+P

dimana :

Pu : Kapasitas daya dukung batas (ton)


Pa : Kapasitas daya dukung yang diijinkan (ton)
ef : Efisiensi palu
ef = 1,00 untuk palu diesel
ef = 0,75 untuk palu yang dijatuhkan dengan tali dan gesekan katrol
W : Berat palu atau ram (ton)
Wp : Berat tiang pancang (ton)
n : Koefisien restitusi
n = 0,25 untuk tiang pancang beton
H : Tinggi jatuh palu (m)
H = 2 H untuk palu diesel (H = tinggi jatuh ram)
S : Penetrasi tiang pancang pada saat penumbukan terakhir, atau set (m)
C1 : Tekanan sementara yang diijinkan untuk kepala tiang dan pur (m)
C2 : Tekanan sementara yang diijinkan untuk deformasi elastis dari batang tiang
pancang (m)
C3 : Tekanan sementara yang diijinkan untuk gempa pada lapangan (m)
N : Faktor Keamanan

Nilai C1 + C2 + C3 harus diukur selama pemancangan.

7.6.8 TIANG BOR BETON COR LANGSUNG DI TEMPAT

1) Umum

Contoh bahan yang digali harus disimpan untuk semua tiang bor. Pengujian penetro-
meter untuk bahan di lapangan harus dilakukan selama penggalian dan pada dasar tiang
bor sesuai dengan yang diminta oleh Direksi Pekerjaan. Pengambilan contoh bahan ini
harus selalu dilakukan pada tiang bor pertama dari tiap kelompok.

2) Pengeboran Tiang Bor Beton

Lubang-lubang harus dibor sampai ke dalaman seperti yang ditunjukkan dalam Gambar
atau ditentukan berdasarkan pengujian hasil pengeboran. Semua lubang harus diperiksa,
bilamana diameter dasar lubang kurang dari setengah diameter yang ditentukan, peker-
jaan tersebut akan ditolak.

Sebelum pengecoran beton, semua lubang tersebut harus ditutup sedemikian rupa hingga
keutuhan lubang dapat terjamin. Dasar selubung (casing) harus dipertahankan tidak lebih
dari 150 cm dan tidak kurang dari 30 cm di bawah permukaan beton selama penarikan
dan operasi penempatan, kecuali ditentukan lain oleh Direksi Pekerjaan.

Sampai ke dalaman 3 m dari permukaan beton yang dicor harus digetarkan dengan alat
penggetar. Sebelum pengecoran, semua bahan lepas yang terdapat di dalam lubang bor
harus dibersihkan. Air bekas pengeboran tidak diperbolehkan masuk ke dalam lubang.

7 - 83
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Sebelum pengecoran, semua air yang terdapat dalam lubang bor harus dipompa keluar.
Selubung (casing) harus digetarkan pada saat pencabutan untuk menghindari menempel-
nya beton pada dinding casing. Pengecoran beton dan pemasangan baja tulangan tidak
diijinkan sebelum mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan.

3) Pengecoran Beton

Pengecoran beton harus dilaksanakan sesuai dengan Seksi 7.1 Dimanapun beton digu-
nakan harus dicor ke dalam suatu lubang yang kering dan bersih. Beton harus dicor
melalui sebuah corong dengan panjang pipa, seperti yang telah diuraikan dalam Pasal
7.1.4.(3).(h). Pengaliran harus diarahkan sedemikian rupa hingga beton tidak menimpa
baja tulangan atau sisi-sisi lubang. Beton harus dicor secepat mungkin setelah penge-
boran dimana kondisi tanah kemungkinan besar akan memburuk akibat terekspos.
Bilamana elevasi akhir pemotongan berada di bawah elevasi muka air tanah, tekanan
harus dipertahankan pada beton yang belum mengeras, sama dengan atau lebih besar dari
tekanan air tanah, sampai beton tersebut selesai mengeras.

4) Pengecoran Beton di Bawah Air

Bilamana pengecoran beton di dalam air atau lumpur pengeboran, semua bahan lunak
dan bahan lepas pada dasar lubang harus dihilangkan dan cara tremie yang telah dise-
tujui harus digunakan.

Cara tremie harus mencakup sebuah pipa yang diisi dari sebuah corong di atasnya. Pipa
harus diperpanjang sedikit di bawah permukaan beton baru dalam tiang bor sampai di
atas elevasi air/lumpur.

Bilamana beton mengalir keluar dari dasar pipa, maka corong harus diisi lagi dengan
beton sehingga pipa selalu penuh dengan beton baru. Pipa tremie harus kedap air, dan
harus berdiameter paling sedikit 15 cm. Sebuah sumbat harus ditempatkan di depan beton
yang dimasukkan pertama kali dalam pipa untuk mencegah pencampuran beton dan air.

5) Penanganan Kepala Tiang Bor Beton

Tiang bor umumnya harus dicor sampai kira-kira satu meter di atas elevasi yang akan
dipotong. Semua beton yang lepas, kelebihan dan lemah harus dikupas dari bagian
puncak tiang bor dan baja tulangan yang tertinggal harus mempunyai panjang yang
cukup sehingga memungkinkan pengikatan yang sempurna ke dalam pur atau struktur di
atasnya.

6) Tiang Bor Beton Yang Cacat

Tiang bor harus dibentuk dengan cara dan urutan sedemikian rupa hingga dapat dipasti-
kan bahwa tidak terdapat kerusakan yang terjadi pada tiang bor yang dibentuk
sebelumnya. Tiang bor yang cacat dan di luar toleransi harus diperbaiki atas biaya
Kontraktor sesuai dengan Pasal 7.6.(10)

7 - 84
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

7.6.9 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

1) Pengukuran

a) Cerucuk

Cerucuk harus diukur untuk pembayaran dalam jumlah meter panjang untuk
penyediaan dan pemancangan cerucuk memenuhi garis dan elevasi yang
ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan.

b) Dinding Turap

Dinding turap kayu, baja atau beton yang permanen, harus diukur sebagai jumlah
dalam meter persegi yang dipasang memenuhi garis dan elevasi yang
ditunjukkan pada Gambar atau sebagaimana diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan. Luas dinding turap merupakan panjang turap yang diukur dari ujung
turap sampai elevasi bagian pucak turap yang dipotong, dikalikan dengan
panjang struktur yang diukur pada elevasi bagian puncak turap yang dipotong.
Batang tarik, tiang jangkar atau balok, balok ganjal dasar dan sebagainya yang
ditunjukkan dalam Gambar tidak akan diukur untuk pembayaran.

Dinding turap sementara, dalam bahan apapun untuk cofferdam, pengendalian


drainase, penahan lereng galian atau penggunaan tidak permanen lainnya tidak
akan diukur untuk pembayaran, tetapi harus dianggap telah dicakup dalam
berbagai mata pembayaran untuk galian, drainase, struktur dan lain-lain.

c) Penyediaan Tiang Pancang

Satuan pengukuran untuk pembayaran tiang pancang kayu dan beton pracetak
(bertulang atau pratekan) harus diukur dalam meter kubik dari tiang pancang
yang disediakan dalam berbagai panjang dari setiap ukuran dan jenisnya. Tiang
pancang baja diukur dalam kilogram dari tiang pancang yang disediakan dalam
berbagai panjang dari setiap ukuran dan jenisnya. Dalam segala hal, jenis dan
panjang yang diukur adalah sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan, disediakan sesuai dengan ketentuan bahan dari Spesifikasi ini dan
disusun dalam kondisi baik di lapangan dan diterima oleh Direksi Pekerjaan.
Kuantitas dalam meter kubik atau kilogram yang akan dibayar, termasuk panjang
tiang uji dan tiang tarik yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, tetapi tidak
termasuk panjang yang disediakan menurut pendapat Kontraktor.

Tiang pancang yang disediakan oleh Kontraktor, termasuk tiang uji tidak diijin-
kan untuk menggantikan tiang pancang yang telah diterima sebelumnya oleh
Direksi Pekerjaan, yang ternyata kemudian hilang atau rusak sebelum penye-
lesaian Kontrak selama penumpukan atau penanganan atau pemancangan, dan
akan yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan untuk disingkirkan dari tempat
pekerjaan atau dibuang dengan cara lain.

Bilamana perpanjangan tiang pancang diperlukan, panjang perpanjangan akan


dihitung dalam meter kubik atau kilogram, dan akan diukur untuk pembayaran.

Baja tulangan dalam beton, penyetelan, sepatu dan penyambungan bilamana


diperlukan, acuan tidak akan diukur untuk pembayaran.

7 - 85
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Bilamana Kontraktor mengecor tiang pancang beton pracetak lebih panjang dari
yang diperlukan, sebagaimana seluruh panjang baja tulangan untuk memudah-
kan pemancangan, maka tidak ada pengukuran untuk bagian beton yang harus
dibongkar agar supaya batang baja tulangan itu dapat dimasukkan ke dalam
struktur yang mengikatnya.

d) Pemancangan Tiang Pancang

Tiang pancang kayu, baja dan beton akan diukur untuk pemancangan sebagai
jumlah meter panjang dari tiang pancang yang diterima dan tertinggal dalam
struktur yang telah selesai. Panjang dari masing-masing tiang pancang harus
diukur dari ujung tiang pancang sampai sisi bawah pur (pile cap) untuk tiang
pancang yang seluruh panjangnya masuk ke dalam tanah, atau dari ujung tiang
pancang sampai permukaan tanah untuk tiang pancang yang hanya sebagian
panjangnya masuk ke dalam tanah.

e) Tiang Bor Beton Cor Langsung Di Tempat

Pengukuran tiang bor beton cor langsung di tempat harus merupakan jumlah
aktual dalam meter panjang tiang bor yang telah selesai dibuat dan diterima
sebagai suatu struktur. Panjang untuk pembayaran harus diukur dari ujung tiang
bor sebagaimana yang dibuat atau disetujui lain oleh Direksi Pekerjaan, sampai
elevasi bagian atas tiang bor yang akan dipotong seperti ditunjukkan dalam
Gambar atau sebagaimana yang dirancang oleh Direksi Pekerjaan.

f) Pelaksanaan Tiang Bor Beton Cor Langsung Di Tempat Yang Berair

Pengukuran untuk biaya tambahan terhadap tiang bor beton cor langsung di
tempat yang dilaksanakan di bawah air harus dihitung dalam meter panjang, dari
ujung tiang bor yang dirancang atau disetujui sampai elevasi bagian atas tiang
bor yang akan dipotong bilamana kepala tiang bor berada di bawah permukaan
air normal. Bilamana elevasi bagian atas tiang bor yang akan dipotong di atas
permukaan air normal, panjang yang dihitung harus dari ujung tiang bor yang
dirancang atau disetujui sampai elevasi permukaan air normal.

g) Tiang Uji

Tiang uji akan diukur dengan cara yang sama, untuk penyediaan dan peman-
cangan seperti yang diuraikan dalam Pasal 7.6.9.(1).(c) dan 7.6.9.(1).(d) di atas.

2) Pembayaran

Kuantitas yang ditentukan seperti diuraikan di atas, akan dibayar dengan Harga Kontrak
per satuan pengukuran, untuk Mata Pembayaran yang terdaftar di bawah dan ditunjuk-
kan dalam Daftar Kuantitas dan Harga, dimana harga dan pembayaran tersebut harus
merupakan kompensasi penuh untuk penyediaan, penanganan, pemancangan, penyam-
bungan, perpanjangan, pemotongan kepala tiang, pengecatan, perawatan, pengujian, baja
tulangan atau baja pra-tegang dalam beton, penggunaan peledakan, pengeboran atau
peralatan lainnya yang diperlukan untuk penetrasi ke dalam lapisan keras, dan juga
termasuk hilangnya selubung (casing), semua tenaga kerja dan setiap peralatan yang
diperlukan dan semua biaya lain yang perlu dan biasa untuk penyelesaian yang
sebagaimana mestinya dari pekerjaan yang diuraikan dalam Seksi ini.

7 - 86
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Nomor Mata Satuan


Uraian
Pembayaran Pengukuran

7.6.(1) Pondasi Cerucuk, Penyediaan & Pemancangan Meter Panjang

7.6.(2) Dinding Turap Kayu Tanpa Pengawetan Meter Persegi

7.6.(3) Dinding Turap Kayu Dengan Pengawetan Meter Persegi

7.6.(4) Dinding Turap Baja Meter Persegi

7.6.(5) Dinding Turap Beton Meter Persegi

7.6.(6) Penyediaan Tiang Pancang Kayu Tanpa Meter Kubik


Pengawetan.

7.6.(7) Penyediaan Tiang Pancang Kayu Dengan Meter Kubik


Pengawetan.

7.6.(8) Penyediaan Tiang Pancang Baja Kilogram

7.6.(9) Penyediaan Tiang Pancang Beton Bertulang Meter Kubik


Pracetak

7.6.(10) Penyediaan Tiang Pancang Beton Pratekan Meter Kubik


Pracetak

7.6.(11) Pemancangan Tiang Pancang Kayu Meter Panjang

7.6.(12) Pemancangan Tiang Pancang Pipa Baja : Meter Panjang


Diameter 400 mm

7.6.(13) Pemancangan Tiang Pancang Pipa Baja : Meter Panjang


Diameter 500 mm

7.6.(14) Pemancangan Tiang Pancang Pipa Baja : Meter Panjang


Diameter 600 mm

7.6.(15) Pemancangan Tiang Pancang Beton Pracetak : Meter Panjang


30 cm x 30 cm atau diameter 300 mm

7.6.(16) Pemancangan Tiang Pancang Beton : Meter Panjang


40 cm x 40 cm atau diameter 400 mm

7.6.(17) Pemancangan Tiang Pancang Beton : Meter Panjang


50 cm x 50 cm atau diameter 500 mm

7.6.(18) Tiang Bor Beton, diameter 600 mm Meter Panjang

7.6.(19) Tiang Bor Beton, diameter 800 mm Meter Panjang

7.6.(20) Tiang Bor Beton, diameter 1000 mm Meter Panjang

7 - 87
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Nomor Mata Satuan


Uraian
Pembayaran Pengukuran

7.6.(21) Tiang Bor Beton, diameter 1200 mm Meter Panjang

7.6.(22) Tiang Bor Beton, diameter 1500 mm Meter Panjang

7.6.(23) Tambahan Biaya untuk Nomor Mata Meter Panjang


Pembayaran 7.6.(11) s/d 7.6.(17) bila Tiang
Pancang Beton dikerjakan di Tempat Yang
Berair.

7.6.(24) Tambahan Biaya untuk Nomor Mata Meter Panjang


Pembayaran 7.6.(18) s/d 7.6.(22) bila Tiang
Bor Beton dikerjakan di Tempat Yang Berair.

7.6.(25) Pengujian Pembebanan Pada Tiang Dengan Buah


Diameter sampai 600 mm.

7.6.(26) Pengujian Pembebanan Pada Tiang Dengan Buah


Diameter di atas 600 mm.

7 - 88
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

SEKSI 7.7

PONDASI SUMURAN

7.7.1 UMUM

1) Uraian

Pekerjaan ini harus mencakup penyediaan dan penurunan dinding sumuran yang dicor di
tempat atau pracetak yang terdiri unit-unit beton pracetak, sesuai dengan Spesifikasi ini
dan sebagaimana yang ditunjukkan dalam Gambar, atau diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan. Jenis dan dimensi sumuran terbuka yang digunakan akan ditunjukkan dalam
Gambar.

2) Penerbitan Detil Pelaksanaan

Detil pelaksanaan untuk pondasi sumuran terbuka dari beton bertulang yang tidak
termasuk dalam Dokumen Lelang akan disiapkan oleh Direksi Pekerjaan dan diterbitkan
untuk Kontraktor setelah peninjauan kembali rancangan telah selesai dikerjakan sesuai
dengan Seksi 1.9 dari Spesifikasi ini

3) Pekerjaan Seksi Lain Yang Berkaitan Dengan Seksi Ini

a) Rekayasa Lapangan : Seksi 1.9


b) Galian : Seksi 3.1
c) Beton : Seksi 7.1
d) Baja Tulangan : Seksi 7.3

4) Toleransi

Pekerjaan pondasi sumuran terbuka harus memenuhi kriteria toleransi yang disyaratkan
dalam Pasal 7.1.1.(4) dari Spesifikasi ini.

5) Standar Rujukan

Standar Rujukan seperti yang disyaratkan dalam Pasal 7.1.1.(6) dari Spesifikasi ini
digunakan.

6) Pengajuan Kesiapan Kerja

Pengajuan kesiapan kerja seperti yang disyaratkan dalam Seksi 7.1 dan 7.3 dari Spesi-
fikasi ini, digunakan.

7) Penyimpanan dan Perlindungan Bahan

Penyimpanan dan perlindungan bahan seperti yang disyaratkan dalam Seksi 7.1 dan 7.3
dari Spesifikasi ini, digunakan.

8) Kondisi Tempat Kerja

Kondisi tempat kerja seperti disyaratkan dalam Seksi 7.1 dan 7.3 dari Spesifikasi ini,
digunakan.

7 - 89
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

7.7.2 BAHAN

Bahan yang digunakan harus sama dengan yang ditunjukkan dalam Gambar. Dinding
sumuran dibuat dari beton bertulang. Pekerjaan beton dan baja tulangan harus memenuhi
ketentuan yang disyaratkan dalam Pasal 7.1.2 dan 7.3.2. Kecuali jika ditunjukkan lain
dalam Gambar, maka mutu beton adalah K250 dan mutu baja U-24. Kecuali jika
ditunjukkan lain dalam Gambar, maka bahan pengisi pondasi sumuran adalah beton
siklop yang harus memenuhi ketentuan dalam Seksi 7.1

7.7.3 PELAKSANAAN

Pondasi sumuran harus dibuat memenuhi ketentuan dimensi dan fungsinya, dengan
mempertimbangkan kondisi pelaksanaan yang diberikan.

1) Unit Beton Pracetak

Unit beton pracetak harus dicor pada landasan pengecoran yang sebagaimana mestinya.
Cetakan harus memenuhi garis dan elevasi yang tepat dan terbuat dari logam. Cetakan
harus kedap air dan tidak boleh dibuka paling sedikit 3 hari setelah pengecoran. Unit
beton pracetak yang telah selesai dikerjakan harus bebas dari segregasi, keropos, atau
cacat lainnya dan harus memenuhi dimensi yang disyaratkan.

Unit beton pracetak tidak boleh digeser paling sedikit 7 hari setelah pengecoran, atau
sampai pengujian menunjukkan bahwa kuat tekan beton telah mencapai 70 persen dari
kuat tekan beton rancangan dalam 28 hari.

Unit beton pracetak tidak boleh diangkut atau dipasang sampai beton tersebut mengeras
paling sedikit 14 hari setelah pengecoran, atau sampai pengujian menunjukkan kuat tekan
mencapai 85 persen dari kuat tekan rancangan dalam 28 hari.

2) Dinding Sumuran dari Unit Beton Pracetak

Beton pracetak yang pertama dibuat harus ditempatkan sebagai unit yang terbawah.
Bilamana beton pracetak yang pertama dibuat telah diturunkan, beton pracetak berikut-
nya harus dipasang di atasnya dan disambung sebagimana mestinya dengan adukan
semen untuk memperoleh kekakuan dan stabilitas yang diperlukan. Penurunan dapat
dilanjutkan 24 jam setelah penyambungan selesai dikerjakan.

3) Dinding Sumuran Cor Di Tempat

Cetakan untuk dinding sumuran yang dicor di tempat harus memenuhi garis dan elevasi
yang tepat, kedap air dan tidak boleh dibuka laing sedikit 3 hari setelah pengecoran.
Beton harus dicor dan dirawat sesuai dengan ketentuan dari Spesifikasi ini. Penurunan
tidak boleh dimulai paling sedikit 7 hari setelah pengecoran atau sampai pengujian
menunjukkan bahwa kuat tekan beton mencapai 70 persen dari kuat tekan rancangan
dalam 28 hari.

4) Galian dan Penurunan

Bilamana penggalian dan penurunan pondasi sumuran dilaksanakan, perhatian khusus


harus diberikan untuk hal-hal berikut ini :

a) Semua pekerjaan harus dilaksanakan dengan aman, teliti, mematuhi undang-


undang keselamatan kerja, dan sebagainya.

7 - 90
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

b) Penggalian hanya boleh dilanjutkan bilamana penurunan telah dilaksanakan


dengan tepat dengan memperhatikan pelaksanaan dan kondisi tanah. Gangguan,
pergeseran dan gonjangan pada dinding sumuran harus dihindarkan selama
penggalian.

c) Dinding sumuran umumnya diturunkan dengan cara akibat beratnya sendiri,


dengan menggunakan beban berlapis (superimposed loads), dan mengurangi
ketahanan geser (frictional resistance), dan sebagainya.

d) Cara mengurangi ketahanan geser :

Bilamana ketahanan geser diperkirakan cukup besar pada saat penurunan din-
ding sumuran, maka disarankan untuk melakukan upaya untuk mengurangi
geseran antara dinding luar sumuran dengan tanah di sekelilingnya.

e) Sumbat Dasar Sumuran

Dalam pembuatan sumbat dasar sumuran, perhatian khusus harus diberikan


untuk hal-hal berikut ini :

i) Pengecoran beton dalam air umumnya harus dilaksanakan dengan cara


tremies atau pompa beton setelah yakin bahwa tidak terdapat fluktuasi
muka air dalam sumuran.

ii) Air dalam sumuran umumnya tidak boleh dikeluarkan setelah pengecoran
beton untuk sumbat dasar sumuran.

f) Pengisian Sumuran

Sumuran harus diisi dengan beton siklop K175 sampai elevasi satu meter di
bawah pondasi telapak. Sisa satu meter tersebut harus diisi dengan beton K250,
atau sebagaimana yang ditunjukkan dalam Gambar.

g) Pekerjaan Dinding Penahan Rembesan (Cut-Off Wall Work)

Dinding penahan rembesan (cut-off wall) harus kedap air dan harus mampu
menahan gaya-gaya dari luar seperti tekanan tanah dan air selama proses
penurunan dinding sumuran, dan harus ditarik setelah pelaksanaan sumuran
selesai dikerjakan.

h) Pembongkaran Bagian Atas Sumuran Terbuka

Bagian atas dinding sumuran yang telah terpasang yang lebih tinggi dari sisi
dasar pondasi telapak harus dibongkar. Pembongkaran harus dilaksanakan
dengan menggunakan alat pemecah bertekanan (pneumatic breakers). Peledakan
tidak boleh digunakan dalam setiap pembongkaran ini.

Baja tulangan yang diperpanjang masuk ke dalam pondasi telapak harus mem-
punyai panjang paling sedikit 40 kali diameter tulanagan.

i) Pengendalian Keselamatan

Dalam melaksanakan pembuatan pondasi sumuran, standar keselamatan yang


tinggi harus digunakan untuk para pekerja dengan ketat mematuhi undang-
undang dan peraturan yang berkaitan.

7 - 91
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

7.7.4 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

1) Cara Pengukuran

Kuantitas sumuran yang disediakan sesuai dengan ketentuan bahan dalam Spesifikasi ini
diukur untuk pembayaran, haruslah jumlah panjang sumuran dalam meter seperti yang
ditunjukkan dalam Gambar dan diperintahkan secara tertulis oleh Direksi Pekerjaan.
Satuan pengukuran untuk penurunan sumuran haruslah jumlah meter panjang penurunan
yang diterima, diukur dari tumit sumuran sampai sisi dasar pondasi telapak.

Tidak ada pengukuran terpisah untuk pembayaran yang akan dilakukan untuk peng-
galian, pemompaan, acuan dan setiap pekerjaan sementara untuk pembuatan sumuran,
dimana semua pekerjaan tersebut dipandang telah termasuk dalam pengukuran dan
pembayaran sumuran.

2) Pembayaran

Pembayaran untuk yang disebutkan di atas harus dilakukan dengan Harga Satuan
Kontrak menurut Mata Pembayaran yang terdafatar di bawh dan ditunjukkan dalam
Daftar Kuantitas dan Harga, dimana harga dan pembayaran tersebut merupakan
kompensasi penuh untuk penyediaan semua pekerja, bahan, peralatan, perkakas, galian
untuk penurunan termasuk pembuangan bahan yang digali, pembongkaran (jika
diperlukan) bagian atas sumuran untuk memperoleh elevasi yang disyaratkan,
penghubung, sambungan dan semua pekerjaan kecil dan sementara yang diperlukan
untuk menyelesaikan pekerjaan ini.

Nomor Mata Uraian Satuan


Pembayaran Pengukuran

7.7.(1) Penyediaan Dinding Sumuran Silinder, Meter Panjang


Diameter 250 cm

7.7.(2) Penyediaan Dinding Sumuran Silinder, Meter Panjang


Diameter 300 cm

7.7.(3) Penyediaan Dinding Sumuran Silinder, Meter Panjang


Diameter 350 cm

7.7.(4) Penyediaan Dinding Sumuran Silinder, Meter Panjang


Diameter 400 cm

7.7.(5) Penurunan Dinding Sumuran Silinder, Meter Panjang


Diameter 250 cm

7.7.(6) Penurunan Dinding Sumuran Silinder, Meter Panjang


Diameter 300 cm

7.7.(7) Penurunan Dinding Sumuran Silinder, Meter Panjang


Diameter 350 cm

7.7.(8) Penurunan Dinding Sumuran Silinder, Meter Panjang


Diameter 400 cm

7 - 92
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

SEKSI 7.8

ADUKAN SEMEN

7.8.1 UMUM

1) Uraian

Pekrejaan ini harus mencakup pembuatan dan pemasangan adukan untuk peng-
gunaan dalam beberapa pekerjaan dan sebagai pekerjaan akhir permukaan pada
pasangan batu atau struktur lain sesuai dengan Spesifikasi ini.

2) Pekerjaan Seksi Lain Yang Berkaitan Dengan Seksi Ini

a) Pasangan Batu Dengan Mortar : Seksi 2.2 :


b) Gorong-gorong dan Drainase Beton Seksi 2.3 :
c) Beton Seksi 7.1 :
d) Pasangan Batu Seksi 7.9 :
e) Pasangan Batu Kosong dan Bronjong Seksi 7.10

3) Standar Rujukan

AASHTO M45 - 89 : Aggregate for Masonry Mortar


AASHTO M85 - 89 : Portland Cement
ASTM C207 : Hydrated Lime
ASTM C476 : Mortar and Grout for Reinforcement of Masonry

7.8.2 BAHAN DAN CAMPURAN

1) Bahan

a) Semen harus memenuhi ketentuan dalam AASHTO M85.

b) Agregat halus harus memenuhi ketentuan dalam AASHTO M45

c) Kapur tohor harus memenuhi ketentuan dalam jumlah residu, letupan dan
lekukan (popping & pitting), dan penahan air sisa untuk kapur jenis N dalam
ASTM C207

d) Air harus memenuhi ketentuan dalam Pasal 7.1.2.(2) dari Spesifikasi ini

2) Campuran

a) Adukan Semen
Adukan yang digunakan untuk pekerjaan akhir atau perbaikan kerusakan pada
pekerjaan beton, sesuai dengan Pasal yang bersangkutan dari Spesifikasi ini,
harus terdiri dari semen dan pasir halus yang dicampur dalam proporsi yang
sama dalam beton yang sedang dikerjakan atau diperbaiki. Adukan yang
disiapkan harus memiliki kuat tekan yang memenuhi ketentuan yang disya-
ratkan untuk beton dimana adukan semen dipakai.

7 - 93
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

b) Adukan Semen untuk Pasangan


Kecuali diperintahkan lain oleh Direksi Pekerjaan, adukan semen untuk
pasangan harus mempunyai kuat tekan paling sedikit 50 kg/cm2 pada umur 28
hari. Dalam adukan semen tersebut kapur tohor dapat ditambahkan sebanyak
10% berat semen.

7.8.3 PENCAMPURAN DAN PEMASANGAN

1) Pencampuran

a) Seluruh bahan kecuali air harus dicampur, baik dalam kotak yang rapat atau
dalam alat pencampur adukan yang disetujui, sampai campuran menunjukkan
warna yang merata, kemudian air ditambahkan dan pencampuran dilanjutkan
lima sampai sepuluh menit. Jumlah air harus sedemikian sehingga menghasil-
kan adukan dengan konsistensi (kekentalan) yang diperlukan tetapi tidak
boleh melebihi 70 % dari berat semen yang digunakan.

b) Adukan semen dicampur hanya dalam kuantitas yang diperlukan untuk peng-
gunaan langsung. Bilamana diperlukan, adukan semen boleh diaduk kembali
dengan air dalam waktu 30 menit dari proses pengadukan awal. Pengadukan
kembali setelah waktu tersebut tidak diperbolehkan.

c) Adukan semen yang tidak digunakan dalam 45 menit setelah air ditambahkan
harus dibuang.

2) Pemasangan

a) Permukaan yang akan menerima adukan semen harus dibersihkan dari minyak
atau lempung atau bahan terkontaminasi lainnya dan telah dibasahi sampai
merata sebelum adukan semen ditempatkan. Air yang tergenang pada permu-
kaan harus dikeringkan sebelum penempatan adukan semen.

b) Bilamana digunakan sebagai lapis permukaan, adukan semen harus ditempat-


kan pada permukaan yang bersih dan lembab dengan jumlah yang cukup
sehingga menghasilkan tebal adukan minimum 1,5 cm, dan harus dibentuk
menjadi permukaan yang halus dan rata.

7.8.4 DASAR PEMBAYARAN

Adukan semen tidak akan diukur untuk pembayaran yang terpisah. Pekerjaan ini harus
dianggap sebagai pelengkap terhadap berbagai jenis pekerjaan yang diuraikan dalam
Spesifikasi ini dan biaya dari pekerjaan telah termasuk dalam Harga Kontrak yang
telah dimasukan dalam berbagai mata pembayaran.

7 - 94
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

SEKSI 7.9

PASANGAN BATU

7.9.1 UMUM

1) Uraian

a) Pekerjaan ini harus mencakup pembuatan struktur yang ditunjukkan dalam


Gambar atau seperti yang diperintahkan Direksi Pekerjaan, yang dibuat dari
Pasangan Batu. Pekerjaan harus meliputi pemasokan semua bahan, galian,
penyiapan pondasi dan seluruh pekerjaan yang diperlukan untuk menyelesaikan
struktur sesuai dengan Spesifikasi ini dan memenuhi garis, ketinggian, potongan
dan dimensi seperti yang ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana yang
diperintahkan secara tertulis oleh Direksi Pekerjaan.

b) Umumnya, pasangan batu harus digunakan hanya untuk struktur seperti dinding
penahan, gorong-gorong pelat, dan tembok kepala gorong-gorong besar dari
pasangan batu yang digunakan untuk menahan beban luar yang cukup besar.
Bilamana fungsi utama suatu pekerjaan sebagai penahan gerusan, bukan sebagai
penahan beban, seperti lapisan selokan, lubang penangkap, lantai gorong-gorong
(spillway apron) atau pekerjaan pelindung lainnya pada lereng atau di sekitar
ujung gorong-gorong, maka kelas pekerjaan di bawah Pasangan Batu (Stone
Masonry) dapat digunakan seperti Pasangan Batu dengan Mortar (Mortared
Stonework) atau pasangan batu kosong yang diisi (grouted rip rap) seperti yang
disyaratkan masing-masing dalam Seksi 2.2 dan 7.10.

2) Penerbitan Detil Pelaksanaan

Detil pelaksanaan untuk pasangan batu yang tidak disertakan dalam Dokumen Kontrak
pada saat pelelangan akan diterbitkankan oleh Direksi Pekerjaan setelah peninjauan
kembali rancangan awal atau revisi desain telah selesai dikerjakan sesuai dengan Seksi
1.9 dari Spesifikasi ini.

3) Pekerjaan Seksi Lain Yang Berkaitan Dengan Seksi Ini

a) Rekayasa Lapangan : Seksi 1.9


b) Selokan dan Saluran Air : Seksi 2.1
c) Pasangan Batu Dengan Mortar : Seksi 2.2
d) Gorong-gorong dan Drainase Beton : Seksi 2.3
e) Drainase Porous : Seksi 2.4
f) Galian : Seksi 3.1
g) Timbunan : Seksi 3.2
h) Beton : Seksi 7.1
i) Adukan Semen : Seksi 7.8
j) Pasangan Batu Kosong dan Bronjong : Seksi 7.10
k) Pemeliharaan Rutin untuk Perkerasan, Bahu Jalan, Drai- : Seksi 10.1
nase, Perlengkapan Jalan dan Jembatan

7 - 95
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

4) Toleransi Dimensi, Pengajuan Kesiapan Kerja, Persetujuan, Jadwal Kerja, Kondisi


Tempat Kerja, Perbaikan Atas Pekerjaan Yang Tidak Memenuhi Ketentuan atau Rusak

Ketentuan yang disyaratkan untuk pekerjaan pasangan batu dengan mortar dalam Seksi
2.2 dari Spesifikasi ini harus digunakan.

7.9.2 BAHAN

1) Batu

a) Batu harus bersih, keras, tanpa bagian yang tipis atau retak dan harus dari jenis
yang diketahui awet. Bila perlu, batu harus dibentuk untuk menghilangkan
bagian yang tipis atau lemah.

b) Batu harus rata, lancip atau lonjong bentuknya dan dapat ditempatkan saling
mengunci bila dipasang bersama-sama.

c) Terkecuali diperintahkan lain oleh Direksi Pekerjaan, batu harus memiliki


ketebalan yang tidak kurang dari 15 cm, lebar tidak kurang dari satu setengah
kali tebalnya dan panjang yang tidak kurang dari satu setengah kali lebarnya.

2) Adukan

Adukan haruslah adukan semen yang memenuhi kebutuhan dari Seksi 7.8 dari Spesi-
fikasi ini.

3) Drainase Porous

Bahan untuk membentuk landasan, lubang sulingan atau kantung penyaring untuk
pekerjaan pasangan batu harus memenuhi kebutuhan dari Seksi 2.4 dari Spesifikasi ini.

7.9.3 PELAKSANAAN PASANGAN BATU

1) Persiapan Pondasi

a) Pondasi untuk struktur pasangan batu harus disiapkan sesuai dengan syarat untuk
Seksi 3.1, Galian.

b) Terkecuali disyaratkan lain atau ditunjukkan pada Gambar, dasar pondasi untuk
struktur dinding penahan harus tegak lurus, atau bertangga yang juga tegak lurus
terhadap muka dari dinding. Untuk struktur lain, dasar pondasi harus mendatar
atau bertangga yang juga horisontal.

c) Lapis landasan yang rembes air (permeable) dan kantung penyaring harus
disediakan bilamana disyaratkan sesuai dengan ketentuan dalam Seksi 2.4,
Drainase Porous.

d) Bilamana ditunjukkan dalam Gambar, atau yang diminta lain oleh Direksi
Pekerjaan, suatu pondasi beton mungkin diperlukan. Beton yang digunakan
harus memenuhi ketentuan dari Seksi 7.1 dari Spesifikasi ini.

7 - 96
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

2) Pemasangan Batu

a) Landasan dari adukan baru paling sedikit 3 cm tebalnya harus dipasang pada
pondasi yang disiapkan sesaat sebelum penempatan masing-masing batu pada
lapisan pertama. Batu besar pilihan harus digunakan untuk lapis dasar dan pada
sudut-sudut. Perhatian harus diberikan untuk menghindarkan pengelompokkan
batu yang berukuran sama.

b) Batu harus dipasang dengan muka yang terpanjang mendatar dan muka yang
tampak harus dipasang sejajar dengan muka dinding dari batu yang terpasang.

c) Batu harus ditangani sedemikian hingga tidak menggeser atau memindahkan


batu yang telah terpasang. Peralatan yang cocok harus disediakan untuk mema-
sang batu yang lebih besar dari ukuran yang dapat ditangani oleh dua orang.
Menggelindingkan atau menggulingkan batu pada pekejaan yang baru dipasang
tidak diperkenankan.

3) Penempatan Adukan

a) Sebelum pemasangan, batu harus dibersihkan dan dibasahi sampai merata dan
dalam waktu yang cukup untuk memungkinkan penyerapan air mendekati titik
jenuh. Landasan yang akan menerima setiap batu juga harus dibasahi dan
selanjutnya landasan dari adukan harus disebar pada sisi batu yang bersebelahan
dengan batu yang akan dipasang.

b) Tebal dari landasan adukan harus pada rentang antara 2 cm sampai 5 cm dan
merupakan kebutuhan minimum untuk menjamin bahwa seluruh rongga antara
batu yang dipasang terisi penuh.

c) Banyaknya adukan untuk landasan yang ditempatkan pada suatu waktu haruslah
dibatasi sehingga batu hanya dipasang pada adukan baru yang belum mengeras.
Bilamana batu menjadi longgar atau lepas setelah adukan mencapai pengerasan
awal, maka batu tersebut harus dibongkar, dan adukannya dibersihkan dan batu
tersebut dipasang lagi dengan adukan yang baru.

4) Ketentuan Lubang Sulingan dan Delatasi

a) Dinding dari pasangan batu harus dilengkapi dengan lubang sulingan. Kecuali
ditunjukkan lain pada Gambar atau diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, lubang
sulingan harus ditempatkan dengan jarak antara tidak lebih dari 2 m dari sumbu
satu ke sumbu lainnya dan harus berdiameter 50 mm.

b) Pada struktur panjang yang menerus seperti dinding penahan tanah, maka
delatasi harus dibentuk untuk panjang struktur tidak lebih dari 20 m. Delatasi
harus 30 mm lebarnya dan harus diteruskan sampai seluruh tinggi dinding. Batu
yang digunakan untuk pembentukan sambungan harus dipilih sedemikian rupa
sehingga membentuk sambungan tegak yang bersih dengan dimensi yang
disyaratkan di atas.

c) Timbunan di belakang delatasi haruslah dari bahan Drainase Porous berbutir


kasar dengan gradasi menerus yang dipilih sedemikian hingga tanah yang
ditahan tidak dapat hanyut jika melewatinya, juga bahan Drainase Porous tidak
hanyut melewati sambungan.

7 - 97
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

5) Pekerjaan Akhir Pasangan Batu

a) Sambungan antar batu pada permukaan harus dikerjakan hampir rata dengan
permukaan pekerjaan, tetapi tidak sampai menutup batu, sebagaimana pekerjaan
dilaksanakan.

b) Terkecuali disyaratkan lain, permukaan horisontal dari seluruh pasangan batu


harus dikerjakan dengan tambahan adukan tahan cuaca setebal 2 cm, dan
dikerjakan sampai permukaan tersebut rata, mempunyai lereng melintang yang
dapat menjamin pengaliran air hujan, dan sudut yang dibulatkan. Lapisan tahan
cuaca tersebut harus dimasukkan ke dalam dimensi struktur yang disyaratkan.

c) Segera setelah batu ditempatkan, dan sewaktu adukan masih baru, seluruh
permukaan batu harus dibersihkan dari bekas adukan.

d) Permukaan yang telah selesai harus dirawat seperti yang disyaratkan untuk
Pekerjaan Beton dalam Pasal 7.1.5.(4) dari Spesifikasi ini.

e) Bilamana pekerjaan pasangan batu yang dihasilkan cukup kuat, dan dalam waktu
yang tidak lebih dini dari 14 hari setelah pekerjaan pasangan selesai dikerjakan,
penimbunan kembali harus dilaksanakan seperti disyaratkan, atau seperti
diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, sesuai dengan ketentuan yang berkaitan
dengan Seksi 3.2, Timbunan, atau Seksi 2.4, Drainase Porous.

f) Lereng yang bersebelahan dengan bahu jalan harus dipangkas dan untuk
memperoleh bidang antar muka rapat dan halus dengan pasangan batu sehingga
akan memberikan drainase yang lancar dan mencegah gerusan pada tepi
pekerjaan pasangan batu.

7.9.4 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

1) Pengukuran untuk Pembayaran

a) Pasangan batu harus diukur untuk pembayaran dalam meter kubik sebagai
volume pekerjaan yang diselesaikan dan diterima, dihitung sebagai volume
teoritis yang ditentukan oleh garis dan penampang yang disyaratkan dan
disetujui.

b) Setiap bahan yang dipasang sampai melebihi volume teoritis yang disetujui harus
tidak diukur atau dibayar.

c) Landasan rembes air (permeable bedding), penimbunan kembali dengan bahan


porous atau kantung penyaring harus diukur dan dibayar sebagai Drainase
Porous, seperti yang disebutkan dalam Pasal 2.4.4 dari Spesifikasi ini. Tidak ada
pengukuran atau pembayaran terpisah yang harus dilakukan untuk penyediaan
atau pemasangan lubang sulingan atau pipa, juga tidak untuk acuan lainnya atau
untuk galian dan penimbunan kembali yang diperlukan.

7 - 98
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

2) Dasar Pembayaran

Kuantitas, ditentukan sebagaimana diuraikan di atas, harus dibayar dengan Harga


Kontrak per satuan dari pengukuran untuk Mata Pembayaran yang terdaftar di bawah dan
ditunjukkan dalam Daftar Kuantitas dan Harga, dimana harga dan pembayaran tersebut
harus merupakan kompensasi penuh untuk penyediaan dan pemasangan semua bahan,
untuk galian yang diperlukan dan penyiapan seluruh formasi atau pondasi, untuk
pembuatan lubang sulingan dan sambungan konstruksi, untuk pemompaan air, untuk
penimbunan kembali sampai elevasi tanah asli dan pekerjaan akhir dan untuk semua
pekerjaan lainnya atau biaya lain yang diperlukan atau lazim untuk penyelesaian yang
sebagaimana mestinya dari pekerjaan yang diuraikan dalam Pasal ini.

Nomor Mata Uraian Satuan


Pembayaran Pengukuran

7.9 Pasangan Batu Meter Kubik

7 - 99
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

SEKSI 7.10

PASANGAN BATU KOSONG DAN BRONJONG

7.10.1 UMUM

1) Uraian

Pekerjaan ini harus mencakup penyediaan baik batu yang diisikan ke dalam bronjong
kawat (gabion) maupun pasangan batu kosong pada landasan yang disetujui sesuai
dengan detil yang ditunjukkan dalam pada Gambar dan memenuhi Spesifikasi ini.

Pemasangan harus dilakukan pada tebing sungai, lereng timbunan, lereng galian, dan
permukaan lain yang terdiri dari bahan yang mudah tererosi di mana perlindungan
terhadap erosi dikehendaki.

2) Penerbitan Detil Pelaksanaan

Detil pelaksanaan untuk pasangan batu kosong dan bronjong yang tidak termasuk dalam
Dokumen Kontrak pada saat pelelangan akan diterbitkan oleh Direksi Pekerjaan setelah
peninjauan kembali rancangan awal selesai dikerjakan menurut Seksi 1.9 Spesifikasi ini.

3) Pekerjaan Seksi Lain Yang Berkaitan Dengan Seksi Ini

a) Rekayasa Lapangan : Seksi 1.9


b) Selokan dan Saluran Air : Seksi 2.1
c) Drainase Porous : Seksi 2.4
d) Galian : Seksi 3.1
e) Timbunan : Seksi 3.2

4) Standar Rujukan

Standar Nasional Indonesia (SNI) :

SNI 03-2417-1991 : Metode Pengujian Keausan Agregat Dengan Mersin Abrasi


Los Angeles.

AASHTO :

AASHTO M279 - 89 : Zinc Coated Wire Fencing


ASTM A 239 : Uniformity of Coating, Dreece Test
ASTM B 117 : Salt Spray Exposure Test

5) Pengajuan Kesiapan Kerja

a) Dua contoh batu untuk pasangan batu kosong (rip rap) dengan lampiran hasil
pengujian seperti yang disyaratkan dalam Pasal 7.10.2.(2) di bawah.

b) Contoh dari keranjang kawat dengan sertifikat dari pabrik bila ada.

7 - 100
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

7.10.2 BAHAN

1) Kawat Bronjong

a) Haruslah baja berlapis seng yang memenuhi AASHTO M279 Kelas 1, dan
ASTM A239. Lapisan galvanisasi minimum haruslah 0,26 kg/m2.

b) Karakteristik kawat bronjong adalah :

Tulangan tepi, diameter : 5,0 mm, 6 SWG


Jaringan, diameter : 4,0 mm, 8 SWG
Pengikat, diameter : 2,1 mm, 14 SWG
Kuat Tarik : 4200 kg/cm2
Perpanjangan diameter : 10% (minimum)

c) Anyaman : Anyaman haruslah merata berbentuk segi enam yang teranyam


dengan tiga lilitan dengan lubang kira-kira 80 mm x 60 mm yang dibuat
sedemikian rupa hingga tidak lepas-lepas dan dirancang untuk diperoleh
kelenturan dan kekuatan yang diperlukan. Keliling tepi dari anyaman kawat
harus diikat pada kerangka bronjong sehingga sambungan-sambungan yang
diikatkan pada kerangka harus sama kuatnya seperti pada badan anyaman.

d) Keranjang haruslah merupakan unit tunggal dan disediakan dengan dimensi yang
disyaratkan dalam Gambar dan dibuat sedemikian sehingga dapat dikirim ke
lapangan sebelum diisi dengan batu.

2) Batu

Batu untuk pasangan batu kosong dan bronjong harus terdiri dari batu yang keras dan
awet dengan sifat sebagai berikut :

a) Keausan agregat dengan mesin Los Angeles harus kurang dari 35 %.

b) Berat isi kering oven lebih besar dari 2,3.

c) Peyerapan Air tidak lebih besar dari 4 %.

d) Kekekalan bentuk agregat terhadap natrium sulfat atau magnesium sulfat dalam
pengujian 5 siklus (daur) kehilangannya harus kurang dari 10 %.

Batu untuk pasangan batu kosong haruslah bersudut tajam, berat tidak kurang dari 40 kg
dan memiliki dimensi minimum 300 mm. Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan batu
yang ukurannya lebih besar jika kecepatan aliran sungai cukup tinggi.

3) Landasan

Landasan haruslah dari bahan drainase porous seperti yang disyaratkan dalam Pasal
2.4.2.(1), dengan gradasi yang dipilih sedemikian hingga tanah pondasi tidak dapat
hanyut melewati bahan landasan dan juga bahan landasan tidak hanyut melewati
pasangan batu kosong atau bronjong.

4) Adukan Pengisi (Grout)

Adukan pengisi untuk pasangan batu kosong yang diberikan harus beton K175 seperti
yang disyaratkan dalam Seksi 7.1 dari Spesifikasi ini.

7 - 101
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

7.10.3 PELAKSANAAN

1) Persiapan

Galian harus memenuhi ketentuan dari Seksi 3.1, Galian, termasuk kunci pada tumit
yang diperlukan untuk pasangan batu kosong dan bronjong. Landasan harus dipasang
sesuai dengan Pasal 2.4.3 dari Spesifikasi ini. Seluruh permukaan yang disiapkan harus
disetujui oleh Direksi Pekerjaan sebelum penempatan pasangan batu kosong atau
bronjong.

2) Penempatan Bronjong

a) Keranjang bronjong harus dibentangkan dengan kuat untuk memperoleh bentuk


serta posisi yang benar dengan menggunakan batang penarik atau ulir penarik
kecil sebelum pengisian batu ke dalam kawat bronjong. Sambungan antara
keranjang haruslah sekuat seperti anyaman itu sendiri. Setiap segi enam harus
menerima paling sedikit dua lilitan kawat pengikat dan kerangka bronjong antara
segi enam tepi paling sedikit satu lilitan. Paling sedikit 15 cm kawat pengikat
harus ditinggalkan sesudah pengikatan terakhir dan dibengkokkan ke dalam
keranjang.

b) Batu harus dimasukkan satu demi satu sehingga diperoleh kepadatan maksimum
dan rongga seminimal mungkin. Bilamana tiap bronjong telah diisi setengah dari
tingginya, dua kawat pengaku horinsontal dari muka ke belakang harus dipasang.
Keranjang selanjutnya diisi sedikit berlebihan agar terjadi penurunan
(settlement). Sisi luar batu yang berhadapan dengan kawat harus mempunyai
permukaan yang rata dan bertumpu pada anyaman.

c) Setelah pengisian, tepi dari tutup harus dibentangkan dengan batang penarik atau
ulir penarik pada permukaan atasnya dan diikat.

d) Bilamana keranjang dipasang satu di atas yang lainnya, sambungan vertikal


harus dibuat berselang seling.

3) Penempatan Pasangan Batu Kosong

Terkecuali diletakkan untuk membentuk lantai (apron) mendatar, pasangan batu kosong
harus dimulai dengan penempatan lapis pertama dari batu yang paling besar dalam galian
parit di tumit lereng. Batu harus ditempatkan dengan mobil derek (crane) atau dengan
tangan sesuai dengan panjang, tebal dan ke dalaman yang diperlukan. Selanjutnya batu
harus ditempatkan pada lereng sedemikian hingga dimensi yang paling besar tegak lurus
terhadap permukaan lereng, jika tidak maka dimensi yang demikian akan lebih besar dari
tebal dinding yang disyaratkan. Pembentukan batu tidak diperlukan bilamana batu-batu
tersebut telah bersudut, tetapi pemasangan harus menjamin bahwa struktur dibuat sepadat
mungkin dan batu terbesar berada di bawah permukaan air tertinggi. Batu yang lebih
besar harus juga ditempatkan pada bagian luar dari permukaan pasangan batu kosong
yang telah selesai.

4) Penimbunan Kembali

Seperti ketentuan dari Seksi 3.2, Timbunan.

7 - 102
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

5) Penempatan Pasangan Batu Kosong yang Diisi Adukan

Seluruh permukaan batu harus dibersihkan dan dibasahi sampai jenuh sebelum ditem-
patkan. Beton harus diletakkan di atas batu yang telah dipasang sebelumnya selanjutnya
batu yang baru akan diletakkan di atasnya. Batu harus ditanamkan secara kokoh pada
lereng dan dipadatkan sehingga bersinggungan dengan batu-batu yang berdekatan sampai
membentuk ketebalan pasangan batu kosong yang diperlukan.

Celah-celah antar batu dapat diisi sebagian dengan batu baji atau batu-batu kecil,
sedemikian hingga sisa dari rongga-rongga tersebut harus diisi dengan beton sampai
padat dan rapi dengan ketebalan tidak lebih dari 10 mm dari permukaan batu-batu
tersebut.

Lubang sulingan (weep holes) harus dibuat sesuai dengan yang diperintahkan oleh
Direksi Pekerjaan.

Pekerjaan ini harus dilengkapi peneduh dan dilembabi selama tidak kurang dari 3 hari
setelah selesai dikerjakan.

7.10.4 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

1) Cara Pengukuran

Kuantitas yang diukur untuk pembayaran haruslah jumlah meter kubik dari bronjong
atau pasangan batu kosong lengkap di tempat dan diterima. Dimensi yang digunakan
untuk menghitung kuantitas ini haruslah dimensi nominal dari masing-masing keranjang
bronjong atau pasangan batu kosong seperti yang diuraikan dalam Gambar atau
sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

2) Dasar Pembayaran

Kuantitas, yang ditentukan seperti diuraikan di atas, harus dibayar pada Harga Kontrak
per satuan pengukuran, untuk Mata Pembayaran yang terdaftar di bawah dan ditunjukkan
dalam Daftar Kuantitas dan Harga dimana harga dan pembayaran tersebut haruslah
merupakan kompensasi penuh untuk seluruh galian dan penimbunan kembali, untuk
pemasokan, pembuatan, penempatan semua bahan, termasuk semua pekerja, peralatan,
perkakas, pengujian dan pekerjaan lain yang diperlukan untuk penyelesaian yang
memenuhi ketentuan dari pekerjaan seperti yang diuraikan dalam Gambar dan
Spesifikasi ini.

Nomor Mata Uraian Satuan


Pembayaran Pengukuran

7.10.(1) Pasangan Batu Kosong yang Diisi Adukan Meter Kubik

7.10.(2) Pasangan Batu Kosong Meter Kubik

7.10.(3) Bronjong Meter Kubik

7 - 103
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

SEKSI 7.11

SAMBUNGAN EKSPANSI (EXPANSION JOINT)

7.11.1 UMUM

1) Uraian

Pekerjaan ini akan terdiri dari pemasokan dan pemasangan sambungan lantai yang
terbuat dari logam atau elastomer, dan setiap bahan pengisi (filler) dan penutup (sealer),
untuk sambungan antar struktur sesuai dengan Gambar dan sebagaimana diperintahkan
oleh Direksi Pekerjaan.

2) Pekerjaan Seksi Lain Yang Berkaitan Dengan Seksi Ini

a) Beton : Seksi 7.1


b) Beton Pratekan : Seksi 7.2
c) Baja Struktur : Seksi 7.4

3) Jaminan Mutu

Mutu bahan yang dipasok, kecakapan kerja dan hasil akhir harus dipantau dan diawasi
seperti yang dirinci dalam Standar Rujukan dalam Pasal 7.11.1.(4).

4) Standar Rujukan

AASHTO M120 - 80 : Steel for Expansion Joint Class A.


AASHTO M153 - 84 : Preformed Sponge Rubber Expansion Joint Fillers for
Concrete Paving and Strucrural Construction.
AASHTO M173 - 84 : Concrete Joint Sealer, Hot Poured Elastic Type.
AASHTO M213 - 81 : Preformed Expansion Joint Fillers for Concrete Paving and
Structural Construction (nonextruding and resilient
bituminous type)
AASHTO M220 - 84 : Preformed Elastomeric Compression Joint Seals for
Concrete.

5) Pengajuan Kesiapan Kerja

a) Kontraktor harus menyerahkan rincian dari semua bahan pengisi (filler)


sambungan dan penutup (seal) yang diusulkan untuk digunakan untuk mendapat
persetujuan dari Direksi Pekerjaan.

b) Bilamana sambungan jenis patent yang diusulkan, maka Kontraktor harus


menyerahkan rincian sambungan yang lengkap untuk mendapat persetujuan dari
Direksi Pekerjaan, termasuk gambar kerja dan sertifikat pabrik pembuatnya
untuk produk dan bahan yang digunakan di dalamnya. Rincian setiap modifikasi
terhadap pekerjaan struktur harus juga diserahkan.

6) Perbaikan Atas Pekerjaan Yang Tidak Memenuhi Ketentuan

a) Bahan pengisi sambungan (joint filler) yang belum mengisi celah sambungan
sampai penuh sebelum penutupan (sealing) harus dikeluarkan dan diisi kembali
dengan bahan pengisi sampai penuh.

7 - 104
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

b) Penutup (sealer) yang gagal mengeras, mengalir atau bergelembung harus


dikeluarkan dan diganti.

c) Sambungan jenis patent yang dan rusak sebelum, selama atau sesudah pema-
sangan yang disebabkan oleh kelalaian dalam penanganan, penyimpanan,
pemasangan atau operasi selanjutnya di lapangan harus dikeluarkan dan diganti.
Semua sambungan tersebut harus diperiksa pada saat tiba di tempat kerja dan
setiap kerusakan harus dilaporkan secara tertulis kepada Direksi Pekerjaan.
Bagaimanapun juga, Kontraktor harus bertanggungjawab untuk melindungi dan
menjaga keamanan sambungan tersebut selama periode Kontrak.

7) Pemeliharaan Pekerjaan Yang Telah Diterima

Tanpa mengurangi kewajiban Kontraktor untuk melaksanakan perbaikan terhadap


pekerjaan yang tidak memenuhi ketentuan atau gagal sebagaimana disyaratkan dalam
Pasal 7.11.1.(6) di atas, Kontraktor juga harus bertanggungjawab atas pemeliharaan
rutin dari semua sambungan ekspansi yang telah selesai dan diterima selama Periode
Kontrak termasuk Periode Pemeliharaan. Pekerjaan pemeliharaan rutin tersebut harus
dilaksanakan sesuai dengan Seksi 10.1 dari Spesifikasi ini dan harus dibayar terpisah
menurut Pasal 10.1.7

7.11.2 BAHAN

1) Struktur Sambungan Ekspansi (Expansion Joint Structure)

Jenis struktur sambungan ekspansi tergantung pada jumlah pergerakan lantai yang
diperlukan dan sebagaimana yang ditunjukkan dalam Gambar. Sambungan pelat atau
siku, sambungan baja bergerigi (steel finger joint) dan sambungan berpenutup neoprene
harus mempunyai bentuk yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Bagian baja dan baut
jangkar harus sesuai dengan AASHTO M120 Kelas A. Bagian logam harus dilindungi
terhadap korosi.

2) Bahan Pengisi Sambungan (Joint Filler)

Bahan pengisi sambungan harus dari jenis kenyal yang tidak dikeluarkan pracetak
(premoulded non-extruding resilient type), sesuai dengan AASHTO M153 - 84 atau
AASHTO M213 - 81.

3) Penutup Sambungan (Joint Sealer)

Bahan untuk penutup sambungan horisontal harus sesuai dengan AASHTO M173 - 84 :
Hot Poured Elastic Sealer, Sebagai alternatif, penutup dari bitumen karet yang dicor
panas seperti Expandite Plastic Grade 99 atau yang sejenis dapat digunakan dengan
persetujuan dari Direksi Pekerjaan. Sambungan vertikal dan miring harus ditutup dengan
sambungan Expandite Plastic, dempul bitumen, Thioflex 600 dua bagian persenyawaan
polysulfida, atau bahan sejenis yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

Persenyawaan dasar sambungan (joint priming compound) harus sebagaimana yang


disarankan oleh pabrik bahan penutup yang dipilih untuk digunakan.

Bahan sambungan untuk dasar (primer) dan penutup (sealer) sambungan harus dicampur
dan digunakan sesuai dengan petunjuk pabrik pembuatnya.

7 - 105
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

4) Waterstops

Jenis dan bahan waterstops harus terinci dalam Gambar atau sebagaimana yang disetujui
oleh Direksi Pekerjaan.

5) Bahan-bahan Lain

Semua bahan lainnya yang diperlukan untuk sambungan harus sesuai dengan Gambar
dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

7.11.3 PELAKSANAAN

1) Penyimpanan Bahan

Bahan sambungan yang dikirim ke lapangan harus disimpan, ditutupi, pada landasan di
atas permukaan tanah. Bahan ini harus selalu dilindungi dari kerusakan dan bilamana
ditempatkan harus bebas dari kotoran, minyak, gemuk atau benda-benda asing lainnya.

2) Pengisi Sambungan Pracetak dan Penutup Sambungan Elastis

Sambungan pada lantai, dinding dan sebagainya harus dibentuk dengan akurat meme-
nuhi garis dan elevasi sebagaimana yang ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana
yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Bahan pengisi sambungan harus digunakan dalam
lembaran yang sebesar mungkin. Luas yang lebih kecil dari 0,25 m2 harus dibuat dalam
satu lembaran. Bahan tersebut harus dipotong dengan perkakas yang tajam untuk
memberikan tepi yang rapi. Tepi yang kasar atau tidak teratur tidak diperkenankan.
Bahan tersebut harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga terpasang dengan kokoh
dalam rongga dan terekat dengan baik pada satu tepi dari beton, menggunakan paku
tembaga, jika perlu, untuk memastikan bahwa bahan tidak terlepas selama operasi
pelaksanaan berikutnya atau pergerakan dari struktur. Bahan pengisi (filler) sambungan
tidak boleh diisi sampai melebihi rongga yang seharusnya diisi dengan penutup (sealer)
kecuali bilamana lembaran bahan pengisi yang terpisah digunakan sebagai cetakan.
Ukuran celah sambungan ekspansi harus sesuai dengan temperatur rata-rata jembatan
pada saat pemasangan. Temperatur ini harus ditentukan sesuai dengan pengaturan yang
disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Penutup sambungan harus sedikit cembung atau sedikit
cekung terhadap permukaan sambungan pada saat mengeras. Penutup sambungan harus
dikerjakan sampai penyelesaian yang halus dengan menggunakan sebuah spatula atau
alat yang sejenis. Pencampuran, penggunaan dan perawatan semua bahan jenis patent
harus memenuhi ketentuan pabrik pembuatnya.

3) Struktur Sambungan Ekspansi

Sambungan harus dapat meredam gonjangan dan suara dan merupakan struktur yang
kedap air. Struktur sambungan ekspansi harus dipasang sesuai dengan Gambar dan
petunjuk pabrik pembuatnya. Ukuran celah harus sesuai (compatible) dengan temperatur
jembatan rata-rata pada saat pemasangan. Temperatur ini harus ditentukan sesuai dengan
pengaturan yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Posisi semua baut yang dicor di dalam
beton atau semua lubang bor yang dibuat dalam beton harus ditentukan dengan akurat
dengan menggunakan mal. Uliran skrup harus dijaga agar tetap bersih dan bebas dari
karat. Jalan alih harus disediakan dan dipelihara untuk melindungi semua sambungan
ekspansi dari beban kendaraan sampai sambungan ini diterima dan Direksi Pekerjaan
mengijinkan pembongkaran jalan alih tersebut.

7 - 106
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

7.11.4 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

1) Cara Pengukuran

Suatu pengukuran struktur sambungan ekspansi akan berupa jumlah meter panjang
sambungan yang selesai dipasang di tempat dan diterima. Waterstops, bahan pengisi
sambungan ekspansi pracetak, penutup sambungan pracetak, dan penutup sambungan
elastis yang dituang tidak akan diukur jika tidak ditentukan dalam mata pembayaran yang
terpisah dalam Daftar Kuantitas dan Harga.

Bahan pengisi sambungan untuk sambungan konstruksi pada pelebaran lantai jembatan
akan diukur dan dibayar secara terpisah pada Mata Pembayaran 7.11.(5).

2) Pembayaran

Kuantitas yang diukur sebagaimana disyaratkan di atas akan dibayar dengan Harga
Kontrak untuk Mata Pembayaran yang terdaftar di bawah dan ditunjukkan dalam Daftar
Kuantitas dan Harga. Harga dan pembayaran ini harus dianggap kompensasi penuh untuk
penyediaan dan pemasangan semua bahan, tenaga kerja, perkakas, peralatan dan biaya
tambahan yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan yang diuraikan. Semua jenis
sambungan lainnya akan dibayar dengan memasukkannya ke dalam harga satuan untuk
mata pembayaran lainnya dimana sambungan tersebut dikerjakan atau dimana
sambungan itu dihubungkan dan tidak dibayar dalam mata pembayaran yang terpisah.

Nomor Mata Uraian Satuan


Pembayaran Pengukuran

7.11.(1) Expansion Joint Tipe Asphaltic Plug Meter Panjang

7.11.(2) Expansion Joint Tipe Rubber 1 Meter Panjang


(celah 21 - 41 mm)

7.11.(3) Expansion Joint Tipe Rubber 2 Meter Panjang


(celah 32 - 62 mm)

7.11.(4) Expansion Joint Tipe Rubber 3 Meter Panjang


(celah 42 - 82 mm)

7.11.(5) Joint Filler untuk Sambungan Konstruksi Meter Panjang

7.11.(6) Expansion Joint Tipe Baja Bersudut Meter Panjang

7 - 107
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

SEKSI 7.12

PERLETAKAN (BEARING)

7.12.1 UMUM

1) Uraian

Pekerjaan ini akan terdiri dari penyediaan dan pemasangan landasan logam atau
elastrometrik untuk menopang gelagar atau pelat seperti yang ditunjukkan pada Gambar
dan disyaratkan dalam Spesifikasi ini.

2) Pekerjaan Seksi Lain Yang Bekaitan Dengan Seksi Ini

a) Beton : Seksi 7.1


b) Beton Pratekan : Seksi 7.2
c) Baja Struktur : Seksi 7.4

3) Jaminan Mutu

Mutu bahan yang dipasok, kecakapan kerja dan hasil akhir harus sesuai dengan Standar
Rujukan dalam Pasal 7.12.1.(5) di bawah ini.

4) Toleransi

a) Penempatan Perletakan

Perletakan, baut pengunci dan dowel pelengkap harus diletakkan sedemikian


hingga sumbunya berada dalam rentang + 3 mm dari posisi yang seharusnya.
Elevasi permukaan perletakan tunggal atau permukaan rata-rata dari perletakan
yang lebih dari satu pada setiap penyangga harus berada dalam rentang toleransi
+ 0,0001 kali jumlah bentang-bentang yang bersebelahan dari suatu gelagar
menerus tetapi tidak melebihi + 5 mm.

b) Permukaan Beton

Permukaan beton untuk penempatan langsung dari perletakan tidak boleh


melampaui lebih dari 1/200 dari sebuah bidang datar rencana untuk perletakan
dan ketidakrataan setempat tersebut tidak boleh melampaui 1 mm tingginya.

c) Landasan Perletakan

Perletakan harus dilandasi pada seluruh bidang dasarnya sebagaimana yang


ditunjukkan dalam Gambar atau disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Setelah pema-
sangan, tidak boleh terdapat rongga atau bintik-bintik yang nyata pada landasan.

Bahan landasan harus mampu meneruskan beban yang diberikan struktur tanpa
kerusakan. Permukaan yang akan diberi adukan semen untuk landasan harus
disiapkan sebagaimana mestinya sampai suatu keadaan yang sesuai (compa-
tible) dengan adukan semen yang dipilih. Permukaan atas dari setiap bidang
landasan di luar perletakan harus mempunyai kelandaian yang menurun dari
perletakan.

7 - 108
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

d) Penyetel Berulir

Penyetel berulir harus dikencangkan sampai merata untuk menghindari tegangan


berlebihan pada suatu bagian perletakan. Bilamana terdapat getaran yang cukup
berarti, maka pengencang yang digunakan haruslah dari jenis yang tahan getaran

e) Ukuran Perletakan

Toleransi dimensi perletakan harus memenuhi Tabel 7.12.1.(1).

Tabel 7.12.1.(1) Toleransi Dimensi Total Perletakan Yang Diijinkan

Jenis Perletakan Toleransi Ukuran Total


Bidang Datar Tebal atau Tinggi
Elastomer dengan ketebalan atau + 6 mm + 1 mm
tinggi sampai 200 mm - 3 mm
Elastomer dengan ketebalan atau + 6 mm + 5%
tinggi di atas 200 mm - 3 mm
Selain Elastomer + 3 mm + 3 mm

f) Sifat Sejajar Permukaan Luar

Bilamana dirancang sejajar, maka toleransi bagian atas perletakan yang sejajar,
sebagai titik duga, harus 0,2 % dari diameter untuk permukaan bundar dalam
bidang datar dan 0,2 % dari sisi yang lebih panjang untuk permukaan segi
panjang dalam bidang datar.

g) Perletakan Rol (Roller Bearing)

i) Umum

Toleransi mendatar pelat rol diukur dari segala arah harus 0,025 mm untuk
panjang sampai dengan dan termasuk 250 mm dan 0,01 % dari panjang
dalam arah pengukuran untuk panjang di atas 250 mm. Kekasaran
permukaan permukaan rol tidak boleh melampaui 0,8 mikron.

ii) Rol Silinder

Toleransi kesilinderan harus 0,025 mm. Toleransi ukuran rol tunggal


terhadap diamater nominalnya harus + 0,5 mm dan - 0,0 mm. Toleransi
ukuran rol berganda terhadap diamater nominalnya harus + 0,08 mm
dan - 0,0 mm.

iii) Rol Bukan Silinder

Permukaan kurva harus mempunyai toleransi profil atau permukaan 0,3 %


dari radius yang dimaksudkan. Toleransi ukuran terhadap tinggi pada
sumbu perletakan harus + 0,5 mm dan - 0,0 mm. Toleransi sifat sejajar
antara garis lengkung (chord line) yang menghubungkan ujung-ujung
dasar permukaan rol sebagai titik duga harus 1 mm. Toleransi kepersegian
antara bidang yang melewati pusat-pusat permukaan rol sebagai titik duga
dan, puncak dan dasar garis penghubung yang menghubungkan ujung-
ujung permukaan rol harus 1 mm.

7 - 109
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

h) Perletakan Goyang (Rocker Bearing)

Toleransi mendatar pelat yang berpasangan dengan rocker harus 0,075 mm


untuk ukuran panjang sampai dengan dan termasuk 250 mm dan 0,03 % dari
panjang untuk ukuran panjang di atas 250 mm. Toleransi profil dan permukaan
untuk panjang permukaan dimana dapat terjadi kontak harus 0,025 mm.
Kekasaran permukaan untuk permukaan yang bergoyang (rocking surface) harus
tidak melebihi 0,8 mikron.

i) Perletakan Sendi (Knuckle Bearing)

Perletakan sendi silinder dan berbentuk bola : Toleransi mendatar dan profil
permukaan untuk perletakan sendi silinder dan toleransi profil permukaan untuk
perletakan sendi berbentuk bola harus 0,0002 x h mm atau 0,24 mm, dipilih yang
lebih besar, dimana x adalah panjang tali (chord) (dalam mm) antara ujung-ujung
dari permukaan PTFE (dalam mm) dalam arah rotasi dan h adalah proyeksi dari
PTFE (dalam mm) di atas puncak ceruk (recess) yang mengikat, untuk PTFE
yang terikat, atau ketebalan (dalam mm) untuk PTFE yang direkat. Toleransi
ukuran terhadap radius permukaan kurva pada perletakan yang telah selesai
harus 3 % dari radius yang dimaksudkan. Kekasaran permukaan dari permukaan
geser logam yang melengkung tidak boleh melebihi 0,5 mikron. Bilamana PTFE
membentuk salah satu permukaan kontak maka harus memenuhi ketentuan-
ketentuan yang diberikan dalam (j).

j) Perletakan Bidang Geser (Plane Sliding Bearing)

Toleransi mendatar dari lembaran PTFE harus 0,2 mm untuk diamater atau
diagonal adalah kurang dari 800 mm dan 0,025 % dari diamater atau diagonal
tersebut untuk dimensi yang lebih besar atau sama dengan 800 mm. Pada
permukaan PTFE yang terbuat lebih dari satu lapis PTFE maka ketentuan-
ketentuan tersebut di atas akan berlaku untuk diameter diagonal dari dimensi
lingkaran atau empat persegi panjang sekeliling PTFE yang digoreskan. Tole-
ransi dimensi pada lembaran PTFE disyaratakan dalam Tabel 7.12.1.(2).

Tabel 7.12.1.(2) Toleransi Dimensi pada Lembaran PTFE

Diamater atau Toleransi pada Toleransi Ketebalan (mm)


Diagonal Dimensi Bidang PTFE yang dice- PTFE yang
(mm) (mm) ruk (recessed) direkat
< 600 + 1,0 + 0,5 + 0,1
- 0,0 - 0,0
> 600 dan < + 1,5 + 0,6 + 0,2
1200 - 0,0 - 0,0
> 1200 + 2,0 + 0,7 Tidak digunakan
- 0,0

Celah antara tepi lembaran PTFE dan tepi ceruk (recess) yang diikat dalam
segala hal tidak boleh melebihi 0,5 mm atau 0,1 % dari dimensi bidang datar
lembaran PTFE yang sesuai, dalam arah yang diukur, dipilih yang lebih besar.

Toleransi profil pada proyeksi yang ditetapkan dari PTFE di atas ceruk (recess)
diikat harus memenuhi Tabel 7.12.1.(3).

7 - 110
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Tabel 7.12.1.(3) Toleransi Profil.

Dimensi Maksimum dari PTFE Toleransi pada Proyeksi yang


(diamater atau diagonal) ditetapkan di atas Ceruk (recess)
(mm) (mm)
> 600 + 0,5
-0
> 600 dan < 1200 + 0,6
-0
> 1200 dan < 1500 + 0,8
-0

Semua pengukuran atas lembaran PTFE harus dilakukan pada temperatur 20 oC


sampai 25 oC.

Permukaan-permukaan Yang Berpasangan :

Untuk permukaan-permukaan yang berpasangan dengan PTFE, maka toleransi


mendatar dalam semua arah harus 0,0002.L.h mm, dimana L adalah panjang
(dalam mm) permukaan PTFE dalam arah yang diukur dan h adalah proyeksi
PTFE (dalam mm) di atas puncak ceruk (recess) yang terikat untuk PTFE yang
terikat, atau ketebalan (dalam mm) untuk PTFE yang terikat, atau tebal (dalam
mm) untuk PTFE yang direkat.

Kekasaran lajur permukaan geser logam tidak boleh melebihi 0,15 mikron.

k) Perletakan Elastomer (Elastomeric Bearing)

i) Sifat Sejajar

Toleransi sifat sejajar untuk sumbu penulangan pelat terhadap dasar per-
letakan sebagai titik duga harus 1% dari diamater, untuk pelat bulat dalam
bidang datar, atau 1% dari sisi yang lebih pendek untuk pelat empat
persegi panjang dalam bidang datar.

ii) Ukuran

Toleransi ukuran terhadap dimensi bidang datar pelat untuk perletakan


elastomer dengan penulangan pelat harus + 3 mm dan - 1 mm. Toleransi
ukuran terhadap ketebalan lapisan penutup bagian atas dan bawah untuk
membungkus perletakan elastomer harus antara + 20 % dan - 0 % dari
ketebalan nominal, atau 1 mm, dipilih yang lebih kecil. Toleransi ukuran
terhadap masing-masing ketebalan lapisan dalam perletakan elastomer
harus + 20% dari nilai ketebalan nominalnya, atau 3 mm, dipilih yang
lebih kecil. Toleransi ukuran terhadap ketebalan lapisan penutup sisi yang
membungkus perletakan elastomer harus + 3 mm dan - 0 mm.

l) Perletakan Blok Berongga (Pot Bearing)

Toleransi ketepatan antara piston dan blok berongga harus + 0,75 mm


sampai + 1,25 mm.

Pedoman kekasaran permukaan geser logam tidak boleh melebihi 0,5


mikron.

7 - 111
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Lubang penyetelan pada pelat perletakan. Bilamana toleransi yang


diperlukan pada posisi untuk titik pusat lubang-lubang penyetelan harus
sebagaimana dirinci atau disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

5) Standar Rujukan

AASHTO M102 - 88 : Carbon Steel forging or General Industrial Use.


AASHTO M105 - 85 : Gray Iron Castings.
AASHTO M163 - 89 : Corrosion-resistant Iron-Chromium, Iron-Chromium-Nickel
and Nickel-based Castings for General Application.
AASHTO M169 - 83 : Cold-finished Carbon Steel Bars and Shafting.
AASHTO M183 - 90 : Structural Steel.

AASHTO M192 - 86 : Steel Castings for Highway Bridges.


AASHTO M251 - 90 : Laminated Elastomeric Bridge Bearings.
ASTM A47 : Mild Castings (Grade No 35019).
ASTM D3183 : Elastomeric Bearings.

6) Pengajuan Kesiapan Kerja

a) Kontraktor harus menyerahkan rincian jenis perletakan yang diusulkan untuk


digunakan bersama dengan sertifikat pabrik yang menunjukkan bahwa bahan
yang digunakan sesuai dengan Spesifikasi ini. Bilamana bahan Jika ini disetujui
oleh Direksi Pekerjaan, maka Kontraktor harus membuat gambar kerja yang
menunjukkan cara penempatan dan pemasangan, dengan memperhitungkan
ketentuan toleransi dan temperatur pemasangan. Rincian juga harus menunjuk-
kan setiap perubahan detil pada bangunan bawah (sub-structure) dan bangunan
atas jembatan dimana perletakan tersebut akan ditempatkan, untuk menentukan
lokasi dan menyetel perletakan tersebut.

b) Kontraktor harus menyerahkan contoh bahan yang diusulkan pada Direksi


Pekerjaan untuk disetujui. Bahan yang dipasok akan dibandingkan dengan bahan
yang telah disetujui. Setiap perubahan mutu, bentuk atau sifat-sifat fisik dari
bahan yang telah disetujui akan mengakibatkan ditolaknya bahan tersebut oleh
Direksi Pekerjaan.

7) Penyimpanan dan Pengamanan Bahan

Setelah pengiriman perletakan tiba di tempat maka perletakan tersebut harus diperiksa
untuk menjamin bahwa perletakan tersebut sesuai dengan yang diperlukan dan tidak
mengalami kerusakan selama pengiriman dan penanganan. Kerusakan pada perletakan
harus segera diberitahukan kepada Direksi Pekerjaan secara tertulis.

Perletakan harus disimpan di gudang lapangan yang kedap di atas permukaan tanah dan
harus selalu dilindungi dari kerusakan akibat cuaca maupun fisik serta harus bebas dari
akumulasi debu, kotoran, minyak, gemuk, kelembaban dan benda-benda lainnya yang
tidak dikehendaki.

Untuk menghindari terjadinya resiko elektrolisis, maka kontak antara bahan-bahan yang
tidak sejenis harus dihindarkan. Dalam hal ini, baja lunak dan baja tahan karat adalah
tidak sejenis. Kontak langsung antara tembaga, nikel dan logam paduannya (misalnya
kuningan dan perunggu) dengan aluminium, dan aluminium dengan baja harus dihin-
darkan. Tembaga dapat dipengaruhi oleh kontak langsung dengan beton.

7 - 112
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

8) Perbaikan Atas Pekerjaan Yang Tidak Memenuhi Ketentuan

a) Perletakan yang tidak memenuhi toleransi dimensi tidak boleh dipasang dalam
pekerjaan, kecuali dapat ditunjukkan dengan pengujian dan perhitungan yang
dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan, bahwa kinerja perletakan tidak terganggu
dengan dimensi di luar toleransi yang diijinkan dan tidak ada beban tambahan
yang dilimpahkan pada bangunan atas atau bagian bangunan bawah jembatan.
Bilamana pengujian dan perhitungan ini tidak dapat dibuktikan, maka perle-
takan yang tidak memenuhi toleransi dimensi harus disingkirkan dari tempat
kerja dan diganti.

b) Perletakan yang dipasang tidak memenuhi toleransi pemasangan yang memper-


hitungkan pengaruh temperatur, harus dibongkar dan bilamana tidak mengalami
kerusakan dapat dipasang kembali atas persetujuan dari Direksi Pekerjaan.

c) Perletakan yang rusak selama penanganan, pemasangan, termasuk pelepasan dan


pemasangan kembali sesuai dengan (b) di atas, atau selama operasi lanjutan,
harus disingkirkan dari tempat kerja dan diganti.

9) Pemeliharaan Pekerjaan Yang Telah Diterima

Tanpa mengurangi kewajiban Kontraktor untuk melaksanakan perbaikan terhadap


pekerjaan yang tidak memenuhi ketentuan atau gagal sebagaimana disyaratkan dalam
Pasal 7.12.1.(8) di atas, Kontraktor juga harus bertanggungjawab atas pemeliharaan
rutin dari semua perletakan yang telah selesai dan diterima selama Periode Kontrak
termasuk Periode Pemeliharaan. Pekerjaan pemeliharaan rutin tersebut harus
dilaksanakan sesuai dengan Seksi 10.1 dari Spesifikasi ini dan harus dibayar terpisah
menurut Pasal 10.1.7

7.12.2 BAHAN

1) Baja untuk Perletakan

a) Lapisan Pelat Baja

Lapisan penulangan pelat baja untuk bantalan perletakan harus memenuhi


AASHTO M183 - 90. Tepi-tepi pelat harus dikerjakan dengan rapi untuk meng-
hindari penakikan. Pelat harus terbungkus penuh dalam elastomer untuk men-
cegah korosi.

b) Perletakan Logam

Perletakan logam harus berupa perletakan blok berongga (pot), geser (sliding),
rol (roller), sendi (knuckle), goyang (rocker), yang disetel atau perletakan lainnya
sebagaimana yang ditunjukkan dalam Gambar dan disetujui oleh Direksi
Pekerjaan. Bahan harus memenuhi spesifikasi AASHTO yang berkaitan.

2) Elastomer untuk Perletakan

Elastomer yang digunakan dalam perletakan jembatan harus mengandung baik karet
alam maupun karet chloroprene sebagai bahan baku polymer. Karet yang diolah kem-
bali atau karet vulkanisir tidak boleh digunakan. Bahan elastomer, sebagaimana yang
ditentukan dari pengujian, harus memenuhi ketentuan Tabel 7.12.2.(1) berikut ini.

7 - 113
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Tabel 7.12.2.(1) Ketentuan Bahan Elastomer

Pengujian Metode ASTM Ketentuan


Kuat Tarik D 412 min.169 kg/mm2
Pemuluran sampai putus D 412 min.350 %
Pengaturan Tekan, 22 jam pada 67oC D 395 maks.25 %
(metode B)
Kuat Sobek D 624 min.13 kg/cm2
(Die C)
Kekerasan (Shore A) D 2240 65 + 5
Ketahanan terhadap Ozone, D 1149 Tidak ada keretakan
regangan 20 %, 100 jam pada 38 + (kecuali 100 + 20 ba-
10 C gian per 100.000.000)
Kekakuan pada temperatur rendah, D 797 maks.350 kg/cm2
Modulus Young pada 35 oC
Kerapuhan pada temperatur rendah, D 736 Memenuhi
5 jam pada - 40 oC

Setelah pengujian percepatan penuaan (aging) sesuai dengan ASTM D573 selama 70
jam pada 100oC, maka elastrometer tidak boleh menunjukkan kemunduran yang melebihi
Tabel 7.12.2.(2) berikut ini :

Tabel 7.12.2.(2) Kemunduran Elastomer Setelah Pengujian Percepatan Penuaan

Kuat tarik, % perubahan maks.15


Pemuluran sampai putus 50 % (tetapi tidak kurang dari 300 % pemuluran total
bahan)
Kekerasan maks.10 angka

Pelekatan antara elastomer dengan logam harus sedemikian rupa hingga bilamana diuji
untuk pemisahan, tidak terjadi kerusakan pada elastomer atau antara elastomer dengan
logam. Bahan polymer dalam paduan elastomer harus berupa neoprene dan tidak boleh
kurang dari 60 % volume total perletakan.

7.12.3 PEMASANGAN

1) Umum

Perletakan harus ditandai dengan jelas tentang jenis dan tempat pemasangan pada saat
tiba di tempat kerja. Alat-alat penanganan yang cocok harus disediakan sebagaimana
diperlukan. Alat-alat penjepit sementara harus digunakan untuk menjaga orientasi
bagian-bagian dengan tepat, tetapi tidak boleh digunakan untuk menyandang atau
menggantung perletakan kecuali dirancang khusus untuk maksud tersebut.

Agar permukaan yang bergerak tidak terkena kotoran, maka umumnya perletakan tidak
akan dilepas setelah keluar dari pabrik. Akan tetapi, bilamana oleh suatu alasan,
perletakan tersebut perlu dilepas, maka pelepasan ini hanya boleh dilaksanakan di bawah
pengawasan seorang ahli dan bantuan dari pabrik pembuatnya harus didatangkan.
Perletakan jenis elastomer tidak boleh dilepas.

7 - 114
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Pemindahan beban bangunan atas jembatan pada perletakan tidak akan diperkenankan
sampai kekuatan landasan telah cukup untuk menahan beban yang diberikan. Alat-alat
pengjepit sementara harus disingkirkan pada waktu yang cocok sebelum perletakan
tersebut diperlukan untuk menahan gerakan. Perhatian khusus harus diberikan pada
setiap penanganan yang diperlukan untuk lubang-lubang yang terekspos pada saat
pelepasan penjepit transit sementara. Bilamana lubang-lubang penyetelan akan
digunakan kembali, maka bahan yang dipilih untuk mengisinya tidak hanya memberikan
perlindungan terhadap kerusakan, tetapi juga merupakan bahan yang mudah dapat
dikeluarkan tanpa merusak uliran manapun.

Bilamana diperlukan, pengaturan yang cocok harus dilaksanakan untuk menampung


pergerakan termal dan deformasi elastis dari bangunan atas jembatan yang belum selesai.
Bilamana penyangga sementara di bawah pelat dasar perletakan disediakan, maka
penyangga tersebut harus tahan tekanan menurut beban rancangan atau dikeluarkan
sewaktu bahan landasan telah mencapai kekuatan yang diperlukan. Setiap rongga yang
ditinggalkan sebagai akibat dari pengeluaran tersebut harus diperbaiki dengan
menggunakan bahan yang sejenis dengan bahan landasan.

Baji perancah baja dan bantalan karet cocok untuk penyangga sementara di bawah pelat
dasar perletakan.

Untuk menampung rangkak dan penyusutan beton ditambah pergerakan akibat terpe-
ratur pada bangunan atas jembatan, maka perletakan harus disetel sebelumnya sesuai
dengan petunjuk Direksi Pekerjaan.

2) Landasan Perletakan

Pemilihan bahan landasan harus berdasarkan cara pemasangan perletakan, ukuran celah
yang akan diisi, kekuatan yang diperlukan dan waktu pengerasan (setting time) yang
diperlukan. Dalam pemilihan bahan landasan, maka faktor-faktor berikut harus diper-
timbangkan : jenis perletakan; ukuran peletakan; pembebanan pada perletakan; urutan
dan waktu pelaksanaan; pembebanan dini; ketentuan geser (friction); pengaturan dowel;
ruangan untuk mencapai perletakan; tebal bahan yang diperlukan; rancangan dan kondisi
permukaan pada lokasi perletakan; penyusutan bahan landasan.

Komposisi dan kelecakan (workability) bahan landasan harus dirancang berdasarkan


pengujian dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas. Dalam beberapa hal, mung-
kin perlu melakukan percobaan untuk memastikan bahan yang paling cocok. Bahan yang
umum digunakan adalah adukan semen atau resin kimiawi, adukan encer (grout) dan
kemasan kering. Penggunaan bahan seperti timbal, yang cenderung meleleh di bawah
tekanan beban, meninggalkan bintik-bintik besar, harus dihindarkan.

Untuk menjamin agar pembebanan yang merata pada perletakan dan struktur penyangga,
maka perlu digarisbawahi bahwa adalah setiap bahan landasan, baik di atas maupun di
bawah perletakan, harus diperluas ke seluruh daerah perletakan.

3) Penyetelan Perletakan Selain Elastomer

Untuk mengatasi getaran dan benturan yang kebetulan, maka penyetelan harus dilak-
sanakan. Sambungan geser atau baut jangkar harus dipasang dengan akurat dalam ceruk
yang dicetak di dalam struktur dengan menggunakan mal dan rongga yang tertinggal
dalam ceruk harus diisi dengan suatu bahan yang mampu menahan beban yang berkaitan.
Baut toleransi rapat harus dipasang dengan menggunakan perletakan sebagai mal. Dalam
hal yang khusus ini, pencegahan harus diambil untuk mencegah pengotoran perletakan
selama pemasangan baut.

7 - 115
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Perletakan yang akan dipasang pada penyangga sementara harus ditanam dengan kokoh
pada struktur dengan baut jangkar atau cara lain untuk mencegah gangguan selama
operasi-operasi berikutnya. Cara pengencangan baut harus sedemikian rupa sehingga
tidak mengubah bentuk perletakan. Akhirnya, rongga di bawah perletakan harus diisi
sepenuhnya dengan bahan landasan.

Tempat-tempat yang sulit harus dihindari, misalnya paking sementara penahan getaran
harus dikeluarkan dan digunakan ring pegas. Sebagai alternatif, perletakan dapat disetel
langsung pada pelat landasan logam yang ditempatkan ke dalam atau ditanamkan pada
permukaan struktur penyangga. Hanya adukan semen tipis untuk landasan yang boleh
digunakan dan jika selain adukan resin sintesis yang digunakan untuk maksud ini, maka
adukan resin sintesis harus ditempatkan dalam suatu ceruk yang cocok untuk ditulangi
pada semua sisi.

Bilamana bangunan bawah jembatan terbuat dari baja maka perletakan dapat langsung
dibaut padanya. Dalam hal ini, perlengkapan harus disediakan untuk menjamin bahwa
garis dan elevasi berada dalam rentang toleransi yang diijinkan.

Bilamana perletakan telah dipasang sebelumnya (pre-setting) maka pabrik pembuatnya


harus diberitahu pada waktu pemesanan sedemikian hingga perlengkapan lainnya dapat
disediakan untuk pergerakan dari bagian-bagian yang berkaitan. Bilamana memung-
kinkan, maka pemasangan sebelumnya harus dihindarkan.

4) Penyetelan Perletakan Elastomer

Perletakan elastomer dapat diletakkan langsung pada beton, asalkan berada dalam tole-
ransi yang disyaratkan untuk kedataran dan kerataan. Sebagai alternatif, perletakan
tersebut harus diletakkan pada suatu lapisan bahan landasan.

5) Perletakan Yang Menunjang Lantai Beton Cor Langsung Di Tempat

Bilamana perletakan dipasang sebelum pengecoran langsung lantai beton, maka acuan
sekitar perletakan harus ditutup dengan rapi untuk mencegah kebocoran adukan encer.
Perletakan, terutama permukaan bidang kontak, harus dilindungi sepenuhnya selama
operasi pengecoran. Pelat geser harus ditunjang sepenuhnya dan perhatian khusus harus
diberikan untuk mencegah pergeseran, pemindahan atau distorsi perletakan akibat beban
beton yang masih basah di atas perletakan. Setiap adukan semen yang mengotori per-
letakan harus dibuang sampai bersih sebelum mengeras.

6) Perletakan Yang Menyangga Unit-unit Beton Pracetak atau Baja

Suatu lapisan tipis adukan resin sistesis harus ditempatkan antara perletakan dan balok.
Sebagai alternatif, perletakan dengan pelat perletakan sisi luar dapat dibaut pada pelat
jangkar, pada soket yang tertanam dalam elemen pracetak, atau pada pelat tunggal yang
dibuat dengan mesin di atas elemen baja.

7.12.4 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

1) Cara Pengukuran

Kuantitas perletakan logam akan dihitung berdasarkan jumlah setiap jenis perletakan
yang dipasang dan diterima.

7 - 116
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Kuantitas bantalan perletakan akan dihitung berdasarkan jumlah tiap jenis, ukuran dan
ketebalan bantalan yang selesai dikerjakan di tempat dan diterima. Perletakan strip akan
diukur sebagai jumlah meter panjang yang selesai dikerjakan di tempat dan diterima.

2) Pembayaran

Kuantitas yang diukur sebagaimana disyaratkan di atas untuk jenis tertentu yang
ditentukan harus dibayar dengan harga satuan Kontrak untuk Mata Pembayaran yang
terdaftar di bawah dan ditunjukkan dalam Daftar Kuantitas dan Harga. Harga dan
pembayaran tersebut harus merupakan kompensasi penuh untuk penyediaan dan
penempatan semua bahan termasuk pelat baja penahan getaran, plin beton, landasan
adukan semen, lapisan perekat epoxy, dowel, batang jangkar, semua tenaga kerja,
perkakas, peralatan, biaya tak terduga dan lainnya yang diperlukan atau yang lazim untuk
penyelesaian yang memenuhi ketentuan dari pekerjaan yang diuraikan dalam Seksi ini.

Nomor Mata Uraian Satuan


Pembayaran Pengukuran

7.12.(1) Perletakan Logam Buah

7.12.(2) Perletakan Elastomerik Jenis 1 Buah


(300 x 350 x 36)

7.12.(3) Perletakan Elastomerik Jenis 2 Buah


(350 x 400 x 39)

7.12.(4) Perletakan Elastomerik Jenis 3 Buah


(400 x 450 x 45)

7.12.(5) Perletakan Strip Meter Panjang

7 - 117
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

SEKSI 7.13

SANDARAN (RAILING)

7.13.1 UMUM

1) Uraian

Pekerjaan ini terdiri dari penyediaan, fabrikasi dan pemasangan sandaran baja untuk
jembatan dan pekerjaan lainnya seperti galvanisasi, pengecatan, tiang sandaran, pelat
dasar, baut pemegang, dan sebagainya, sebagaimana yang ditunjukkan dalam Gambar
atau diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan dan memenuhi Spesifikasi ini.

2) Pekerjaan Seksi Lain Yang Bekaitan Dengan Seksi Ini

a) Beton : Seksi 7.1


b) Baja Struktur : Seksi 7.4
c) Adukan Semen : Seksi 7.8

3) Jaminan Mutu

Mutu bahan yang dipasok, kecakapan kerja dan hasil akhir harus dipantau dan diken-
dalikan sebagaimana yang disyaratkan dalam Standar Rujukan dalam Pasal 7.13.1.(5)

4) Toleransi

Diameter lubang : + 1 mm, - 0,4 mm


Tiang Sandaran : Akan dipasang baris demi baris serta ketinggian, tiang-tiang
harus tegak dengan toleransi tidak melampaui 3 mm per
meter tinggi.
Sandaran (railing) : Panel sandaran yang berbatasan harus segaris satu dengan
lainnya dalam rentang 3 mm.
Kelengkungan : Sandaran harus memenuhi kurva jembatan. Kurva ini dapat
dibentuk dengan serangkaian tali antara tiang.
Tampak : Sandaran harus menunjukkan penampilan yang halus dan
seragam jika dalam posisi akhir.

5) Standar Rujukan

AASHTO M111 - 87 : Galvanizing..


AASHTO M160 - 90 : General Requirement for Delivery of Structural Steel.
AASHTO M183 - 90 : Structural Steel.
ASTM A307 : Mild Steel Nuts and Dolts.
AWS D210 : Welded Highway and Steel Bridges.

6) Pengajuan Kesiapan Kerja

a) Kontraktor harus menyerahkan gambar kerja untuk disetujui Direksi Pekerjaan


untuk setiap jenis sandaran baja yang akan dipasang. Fabrikasi tidak boleh
dimulai sebelum gambar kerja disetujui.

b) Kontraktor harus menyerahkan sertifikat pabrik pembuat sandaran baja yang


menunjukkan mutu baja, pengelasan, dan sebagainya.

7 - 118
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

7) Penyimpanan dan Penanganan Bahan

Bagian-bagian baja harus ditangani dan disimpan dengan hati-hati dalam tempat ter-
tentu, rak atau landasan, dan tidak boleh bersentuhan langsung dengan permukaan tanah
serta harus dilindungi dari korosi. Bahan harus dijaga agar bebas dari debu, minyak,
gemuk dan benda-benda asing lainnya. Permukaan yang dicat harus dilindungi baik di
bengkel maupun di lapangan. Sekrup-sekrup harus dilindungi dari kerusakan.

8) Perbaikan Terhadap Pekerjaan Yang Tidak Memenuhi Ketentuan

a) Selama pengangkutan, penyimpanan, penanganan atau pemasangan, setiap san-


daran yang mengalami kerusakan berat seperti melengkung atau penyok, harus
diganti. Sandaran yang mengalami kerusakan pada pengelasan harus dikem-
balikan ke bengkel untuk diperbaiki pengelasannya dan digalvanisasi ulang.

b) Sandaran yang mengalami kerusakan pada galvanisasi atau pengecatan harus


dikembalikan ke bengkel dan diperbaiki sampai baik. Kerusakan kecil pada
pekerjaan cat mungkin dapat diperbaiki di lapangan, sesuai dengan persetujuan
dari Direksi Pekerjaan.

9) Pemeliharaan Pekerjaan Yang Telah Diterima

Tanpa mengurangi kewajiban Kontraktor untuk melaksanakan perbaikan terhadap


pekerjaan yang tidak memenuhi ketentuan atau gagal sebagaimana disyaratkan dalam
Pasal 7.13.1.(8) di atas, Kontraktor juga harus bertanggungjawab atas pemeliharaan
rutin dari semua sandaran jembatan yang telah selesai dan diterima selama Periode
Kontrak termasuk Periode Pemeliharaan. Pekerjaan pemeliharaan rutin tersebut harus
dilaksanakan sesuai dengan Seksi 10.1 dari Spesifikasi ini dan harus dibayar terpisah
menurut Pasal 10.1.7

7.13.2 BAHAN

1) Baja

Bahan untuk sandaran jembatan harus baja rol dengan tegangan leleh 2800 kg/cm2
memenuhi AASHTO M183 - 90 atau standar lain yang disetujui oleh Direksi Peker-
jaan. Atas perintah Direksi Pekerjaan, Kontraktor harus menguji baja rol di instasi
pengujian yang disetujui bilamana tidak terdapat sertifikat pabrik pembuatnya.

2) Baut Pemegang (Holding Down Bolt)

Baut pemegang harus berbentuk U dan berdiameter 25 mm memenuhi ASTM A307


atau, bila disetujui oleh Direksi Pekerjaan, setara dengan Baut Jangkar Dengan
Perekat Epoxy (Epoxy Bonded Stud Anchor Bolts). Paku jangkar jenis lainnya tidak
diijinkan. Semua baut pemegang harus diproteksi terhadap korosi atau digalvanisasi.

7.13.3 PERALATAN

1) Umum

Fabrikasi umumnya harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dari Seksi 7.4 Baja
Struktur. Sandaran harus difabrikasi di bengkel yang disetujui. Sambungan pada panel
yang berbatasan harus sangat tepat (match-marked) untuk maksud pemasangan.

7 - 119
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

2) Pengelasan

Pengelasan harus dilaksanakan oleh tenaga yang trampil, dengan cara yang ahli,
mengetahui detil semua sifat-sifat bahan. Lapisan yang terekspos harus dikupas,
digosok, dikikir dan dibersihkan untuk mendapatkan penampilan yang bersih sebelum
digalvanisasi.

Pelat dasar harus dilas ke tiang-tiang untuk menghitung setiap ketinggian yang diberi-
kan dalam Gambar dan dengan cara yang sedemikian hingga tiang-tiang ini akan
tegak jika dalam posisi akhir.

3) Galvanisasi

Semua bagian baja harus digalvanisasi sesuai dengan AASHTO M111 - 90 Galva-
nizing., kecuali jika galvanisasi ini telah mempunyai tebal minimum 80 mikron.
Pekerjaan pengeboran dan pengelasan harus sudah selesai sebelum galvanisasi. Agar
kondensasi uap air dapat lolos setelah fabrikasi sebelum galavanisasi, pipa harus
dilengkapi dengan lubang yang ditunjukkan dalam Gambar. Setiap penambahan
lubang yang diperlukan untuk pengaliran atau diperlukan untuk galvanisasi harus
diletakkan dalam posisi yang sedemikian hingga tidak langsung tampak dan tidak
mengurangi kapasitas pipa terhadap beban. Pipa harus digalvanisasi luar dan dalam.
Setelah galvanisasi elemen-elemen sandaran selesai, pengelasan atau pengeboran tidak
boleh dilakukan tanpa persetujuan Direksi Pekerjaan. Perbaikan galvanisasi,
selanjutnya akan dilaksanakan (setelah semua karat, uap air, galvanisasi yang
mengelupas, minyak dan benda-benda asing lainnya telah dibersihkan) dengan 3 lapis
cat dasar serbuk seng (zinc dust) yang bermutu tinggi dan awet seperti yang disetujui
oleh Direksi Pekerjaan.

7.13.4 PELAKSANAAN

Pemasangan harus sesuai dengan Seksi 7.4 Baja Struktur. Sandaran harus dipasang
dengan hati-hati sesuai dengan garis dan ketinggian yang ditunjukkan dalam Gambar.
Sandaran harus disetel dengan hati-hati sebelum dimatikan agar dapat memperoleh
sambungan yang tepat, alinyemen yang benar dan lendutan balik (camber) pada
seluruh panjang. Persetujuan dari Direksi Pekerjaan harus diperoleh sebelum sandaran
dimatikan. Kontraktor akan memberitahukan Direksi Pekerjaan bilamana pemeriksaan
dan persetujuannya diperlukan.

7.13.5 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

1) Cara Pengukuran

Sandaran baja harus diukur untuk pembayaran dalam jumlah meter panjang sandaran dari
jenis yang ditunjukkan dalam Gambar, selesai di tempat dan diterima. Pengukuran harus
dilaksanakan sepanjang permukaan elemen-elemen sandaraan antara pusat-pusat tiang
tepi dan harus termasuk semua tiang-tiang bagian tengah, penyangga sandaran dan
elemen-elemen ujung. Tidak ada pembayaran tersendiri yang dibuat untuk pelat dasar,
baut pemegang, panel-panel yang dimasukkan dan setiap perlengkapan lain yang
diperlukan untuk menyelesaikan sandaran. Untuk tangga, pengukuran dilaksanakan
dalam meter panjang yang diambil sepanjang permukaan atas pegangan (hand rail).

7 - 120
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

2) Dasar Pembayaran

Kuantitas sandaran baja diukur seperti yang disyaratkan di atas akan dibayar dengan
Harga Kontrak per satuan pengukuran untuk Mata Pembayaran yang tercantum di bawah
dan ditunjukkan dalam Daftar Kuantitas dan Harga. Harga dan pembayaran yang
demikian harus dipandang sebagai kompensasi penuh untuk penyediaan sandaran, tiang-
tiang tepi dan bagian tengah, penyangga sandaran, pelat dasar, baut pemegang, panel-
panel yang dimasukkan, panel dan perlengkapan ujung, ditambah pengiriman, pema-
sangan, penanganan permukaan dan penyediaan semua pekerja, peralatan, perkakas dan
lain-lain yang diperlukan untuk penyelesaian yang sebagaimana mestinya dari pekerjaan
yang diuraikan dalam Seksi ini.

Nomor Mata Uraian Satuan


Pembayaran Pengukuran

7.13 Sandaran (Railing) meter panjang

7 - 121
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

SEKSI 7.14

PAPAN NAMA JEMBATAN

7.14.1 UMUM

1) Uraian

Arti dari papan nama jembatan dalam Spesifikasi ini adalah papan monumen yang
menerangkan nama, jumlah, lokasi jembatan yang dipasang di parapet jembatan.
Pekerjaan ini terdiri dari penyediaan dan pemasangan papan nama jembatan dalam
bentuk dan dimensi yang ditunjukkan dalam Gambar.

2) Pekerjaan Seksi Lain Yang Bekaitan Dengan Seksi Ini

a) Adukan Semen : Seksi 7.8


b) Pasangan Batu : Seksi 7.9

7.14.2 BAHAN

Bahan yang digunakan adalah marmer. Marmer ini harus diukir lambang Departemen
Permukiman dan Prasarana Wilayah, dan nama jembatan yang telah disetujui secara
tertulis, jumlah dan lokasi jembatan yang telah disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

7.14.3 PERALATAN

Peralatan yang digunakan untuk memasang papan nama jembatan harus disetujui terlebih
dahulu oleh Direksi Pekerjaan.

7.14.4 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

1) Pengukuran

Kuantitas yang dibayar adalah jumlah aktual papan nama jembatan yang telah selesai
dipasang dan diterima oleh Direksi Pekerjaan.

2) Dasar Pembayaran

Kuantitas yang diukur seperti disyaratkan di atas harus dibayar berdasarkan Harga
Kontrak per satuan pengukuran untuk Mata Pembayaran yang tercantum di bawah dan
ditunjukkan dalam Daftar Kuantitas dan Harga, dimana harga dan pembayaran tersebut
sudah merupakan kompensasi penuh untuk penyediaan bahan, pekerja, peralatan,
perkakas dan semua keperluan lainnya atau biaya untuk menyelesaikan pekerjaan yang
sebagaimana mestinya seperti disyaratkan dalam Seksi ini.

Nomor Mata Uraian Satuan


Pembayaran Pengukuran

7.14 Papan Nama Jembatan Buah

7 - 122
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

SEKSI 7.15

PEMBONGKARAN STRUKTUR

7.15.1 UMUM

1) Uraian

a) Pekerjaan ini harus mencakup pembongkaran, baik keseluruhan ataupun


sebagian, dan pembuangan, jembatan lama, gorong-gorong, tembok kepala
dan apron, bangunan dan struktur lain yang dibongkar sehingga memungkin-
kan pembangunan atau perluasan atau perbaikan struktur yang mempunyai
fungsi yang sama seperti struktur yang lama (atau bagian dari struktur) yang
akan dibongkar.

b) Pekerjaan harus juga meliputi pembuangan bahan ke tempat yang ditunjuk


oleh Direski Pekerjaan menurut Pasal 7.15.1.(1).(a) di atas, yang meliputi baik
pembuangan atau pengamanan, penanganan, pengangkutan, penyimpanan dan
pengamanan dari kerusakan atas bahan yang ditentukan oleh Direksi
Pekerjaan.

2) Pekerjaan Seksi Lain Yang Bekaitan Dengan Seksi Ini

a) Pemeliharaan Lalu Lintas : Seksi 1.8


b) Rekayasa Lapangan : Seksi 1.9
c) Beton : Seksi 7.1
d) Pasangan Batu : Seksi 7.9
e) Pengembalian Kondisi Jembatan Lama : Seksi 8.5

3) Pengajuan Kesiapan Kerja

Seluruh bahan bongkaran yang ditentukan oleh Direksi Pekerjaan untuk diamankan
harus segera diukur segera setelah pekerjaan pembongkaran dan suatu catatan tertulis
yang memberikan data lokasi semula, sifat, kondisi dan kuantitas bahan harus dila-
porkan kepada Direksi Pekerjaan.

4) Kewajiban Kontraktor untuk Mengamankan Bahan dan Struktur Lama

Bilamana pelebaran, perpanjangan atau peningkatan lain terhadap jembatan atau


gorong-gorong memerlukan pembongkaran lantai, gelegar, tembok kepala, atau
bagian struktur lainnya, pembongkaran semacam ini harus dilaksanakan tanpa
menimbulkan kerusakan pada bagian struktur yang akan dipertahankan. Setiap
kerusakan atau, kehilangan, bagian yang diamankan atau dilepas sementara, atau
setiap kerusakan pada bagian struktur yang akan dipertahankan akibat kelalaian
Kontraktor, harus diperbaiki kembali atas biaya Kontraktor.

5) Pengaturan Pembuangan Sisa Bahan Bangunan

Kontraktor harus melakukan seluruh pengaturan yang diperlukan dengan Pemilik


Tanah dan menanggung semua biaya, untuk memperoleh lokasi yang sesuai untuk
pembuangan akhir sisa bahan bangunan dan penyimpanan sementara untuk bahan
yang diamankan.

7 - 123
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

6) Pengaturan Lalu Lintas

Jembatan, gorong-gorong dan struktur lain yang digunakan oleh lalu lintas tidak boleh
dibongkar sampai pengaturan untuk memperlancar arus lalu lintas dapat diterima oleh
Direksi Pekerjaan sesuai dengan ketentuan Seksi 1.8, Pemeliharaan Lalu Lintas.

7.15.2 PROSEDUR PEMBONGKARAN

1) Pelepasan Struktur

a) Jembatan baja dan jembatan kayu, bila disyaratkan oleh Direksi Pekerjaan
untuk diamankan, harus dilepas dengan hati-hati tanpa menimbulkan keru-
sakan.

b) Jembatan kayu dengan bentang lebih besar dari 2,0 m atau bagian yang perlu
disesuaikan atau terganggu karena Pekerjaan harus dilepas seperlunya dengan
dan dipasang kembali dengan bahan semula. Struktur kayu di atas dua
tumpuan dengan bentang kurang dari 2,0 m yang yang menghalangi kegiatan
Pekerjaan harus dibongkar dengan hati-hati dan diserahkan kepada Pemilik
atau dipindahkan sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

2) Pembongkaran Struktur

a) Terkecuali diperintahkan lain, bangunan bawah jembatan dari struktur lama


harus dibongkar sampai dasar sungai asli dan bagian yang tidak terletak pada
sungai harus dibongkar paling sedikit 30 cm di bawah permukaan tanah
aslinya. Bilamana bagian struktur lama semacam ini terletak seluruhnya atau
sebagian dalam batas-batas untuk struktur baru, maka bagian tersebut harus
dibongkar seperlunya untuk memudahkan pembangunan struktur yang
diusulkan dan setiap lubang atau rongga harus ditimbun kembali dan
dipadatkan sampai dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan.

b) Peledakan atau operasi lainnya yang diperlukan untuk pembongkaran terhadap


struktur lama atau penghalang, yang dapat merusak struktur baru, harus selesai
dikerjakan sebelum penempatan setiap pekerjaan baru di sekitarnya, terkecuali
diperintahkan lain oleh Direksi Pekerjaan.

7.15.3 PEMBUANGAN BAHAN BONGKARAN

1) Bahan Yang Diamankan

a) Semua bahan yang diamankan tetap menjadi milik Pemilik yang sah sebelum
pekerjaan pembongkaran dilakukan. Tidak ada bahan bongkaran yang akan
menjadi milik Kontraktor.

b) Semua bahan yang diamankan harus disimpan sebagaimana yang diminta oleh
Direksi Pekerjaan.

c) Terkecuali tidak dituntut secara tertulis oleh Direksi Pekerjaan, semua beton
yang dibongkar yang ukuran bahannya cocok untuk pasangan batu kosong
(rip rap) dan tidak diperlukan untuk digunakan dalam proyek, harus ditumpuk
pada lokasi yang ditunjuk oleh Direksi Pekerjaan.

7 - 124
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

2) Bahan Yang Dibuang

Bahan dan sampah yang tidak ditetapkan untuk dipertahankan atau diamanakan dapat
dibakar atau dikubur atau dibuang seperti yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

7.15.4 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

1) Cara Pengukuran

Kuantitas yang dihitung untuk pembongkaran untuk semua jenis bahan harus berda-
sarkan jumlah aktual dari hasil pembongkaran dalam meter kubik, kecuali untuk
pembongkaran bangunan gedung, pembongkaran rangka baja, pembongkaran lantai
jembatan kayu, pembongkaran jembatan kayu dalam meter persegi dan pembongkaran
batangan baja dalam meter panjang.

Untuk pengangkutan hasil bongkaran ke tempat penyimpanan atau pembuangan yang


melebihi 5 km harus dibayar per kubik meter per kilometer.

2) Dasar Pembayaran

Pekerjaan diukur seperti ditentukan di atas harus dibayar berdasarkan Harga Kontrak per
satuan pengukuran untuk Mata Pembayaran yang terdaftar di bawah dan ditunjukkan
dalam Daftar Kuantitas dan Harga, dimana harga dan pembayaran tersebut harus
merupakan kompensasi penuh untuk pembuangan atau pengamanan, penanganan,
pengangkutan, penyimpanan dan pengamanan dari kerusakan, untuk semua pekerja,
peralatan, perkakas, dan semua pekerjaan lainnya yang diperlukan untuk menyelesaikan
pekerjaan yang sebagaimana mestinya seperti disyaratkan dalam Seksi ini.

Nomor Mata Uraian Satuan


Pembayaran Pengukuran

7.15.(1) Pembongkaran Pasangan Batu Meter Kubik

7.15.(2) Pembongkaran Beton Meter Kubik

7.15.(3) Pembongkaran Beton Pratekan Meter Kubik

7.15.(4) Pembongkaran Bangunan Gedung Meter Persegi

7.15.(5) Pembongkaran Rangka Baja Meter Persegi

7.15.(6) Pembongkaran Balok Baja (Steel Stringers) Meter Panjang

7.15.(7) Pembongkaran Lantai Jembatan Kayu Meter Persegi

7.15.(8) Pembongkaran Jembatan Kayu Meter Persegi

7.15.(9) Pengangkutan Hasil Bongkaran yang melebihi Meter Kubik per


5 km km

7 - 125
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

SEKSI 7. 16

PERKERASAN JALAN BETON

7.16.1 UMUM

(1) Uraian

a) Pekerjaan yang ditetapkan dalam Pasal ini terdiri dari Konstruksi Perkerasan
jalan Beton semen portland diberi tulangan sebagaimana disyaratkan, diatas
badan jalan yang telah dipersiapkan dan diterima sesuai dengan spesifikasi ini,
menurut garis-garis ketinggian, kelandaian, ukuran, penampang melintang dan
penyelesaian akhir yang diperlihatkan dalam gambar atau sebagaimana diarahkan
oleh Direksi Pekerjaan.

b) Kelas beton yang digunakan minimal harus K-350 sesuai dengan Seksi 7.1.

c) Persyaratan-persyaratan Seksi 7.1 Pekerjaan Beton harus berlaku pada bab ini.
Tetapi bila berlawanan dengan persyaratan-persyaratan bab ini, maka
persyaratan-persyaratan ini yang berlaku.

(2) Pekerjaan Seksi Lain Yang Berkaitan Dengan Seksi Ini

(a) Persiapan Tanah Dasar (Subgrade Preparation) : Seksi 3.3


(b) Lapis Pondasi Agregat : Seksi 5.1
(c) Wet Lean Concrete : Seksi 7.17
(d) Pekerjaan Beton : Seksi 7.1
(e) Baja Tulangan : Seksi 7.3

(3) Toleransi

(a) Toleransi-toleransi untuk perkerasan jalan beton harus dimonitor oleh


Kontraktor dibawah pengawasan Direksi Pekerjaan. Pada umumnya hal ini
harus dilakukan dengan pengukuran ketinggian (levelling) dan penggunaan
Crown template dan straight edge berukuran panjang 3 meter. Pemeriksaan
ketinggian untuk menetapkan ketebalan plat (slab) harus diadakan dengan jarak
antara maksimum 10 meter dari poros ke poros.

Tabel 7.16.1 Variasi yang diperkenankan dalam Pelat Perkerasan jalan Beton

Pemeriksaan Pelat perkerasan jalan sebagai Pelat perkerasan sebagai


Wearing Course Base Course
(lapis aus) (lapis pondasi atas)
+ 6 mm + 10 mm
Ketebalan
- 0 mm - 0 mm
Dari Ketinggian rencana + 10 mm 15 mm
- 5 mm - 5 mm
Diukur dengan straight edge
4 mm 6 mm
Panjang 3 m
Camber 6 mm 10 mm

% Kelandaian dalam 30 m 0,1 0,1

7 - 126
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

(4) Jaminan Kualitas

Kualitas dari bahan-bahan yang disediakan, campuran yang dihasilkan, kualitas pekerjaan
dan hasil akhir harus dimonitor dan diawasi sebagaimana ditetapkan dalam Standar
Rujukan dalam Seksi 7.16.1.(5) dibawah ini.

(5) Standar Rujukan

Standar Rujukan yang terdaftar dalam Seksi 7.1.1.(6) dan 7.3.1.(4) harus berlaku pada
Seksi ini dengan tambahan tambahan berikut.

AASHTO T 97 : Kekuatan Lentur Beton


AASHTO M 54 : Batang Baja. Jaring Batang Baja Tulangan yang difabrikasi
untuk beton
AASHTO M 254 : Batang Dowel berlapis Plastik, Jenis A

(6) Pengajuan

Persyaratan-persyaratan Pasal 7.1.1(7) harus berlaku.

(7) Penyimpanan dan Pengamanan Bahan Bahan

Persyaratan-persyaratan Pasal 7.1.1(8) harus berlaku.

(8) Kondisi Tempat Pekerjaan

Persyaratan-persyaratan Pasal 7.1.1(9) harus berlaku.

(9) Perbaikan Atas Pekerjaan Beton Yang Tidak Memenuhi Ketentuan

Persyaratan-persyaratan Pasal 7.1.1(10) harus berlaku.

7.16.2 BAHAN - BAHAN

(1) Semen

(a) Semen harus merupakan semen portland Jenis I, II atau III sesuai dengan
AASHTO M 85.

(b) Kecuali diperkenankan lain oleh Direksi Pekerjaan maka hanya produk dari
pabrik untuk satu jenis merek semen portland tertentu harus digunakan di proyek.

(2) Air

Air yang digunakan dalam pencampuran, perawatan, atau penggunaanpenggunaan


tertentu lainnya harus bersih dan bebas dari bahanbahan yang merugikan seperti minyak,
garam, asam, alkali, gula atau bahan-bahan organik. Air harus diuji sesuai dengan dan
harus memenuhi persyaratan-persyaratan AASHTO T 26. Air yang diketahui bermutu
dapat diminum dapat dipakai dengan tanpa pengujian.

(3) Persyaratan Gradasi Agregat

7 - 127
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Agregat kasar dan halus harus memenuhi persyaratan-persyaratan Seksi 7.1.2 (3)
Spesifikasi ini. Sekali cocok gradasi yang sesuai, termasuk daerah gradasi agregat
halus, telah ditentukan dan disetujui, maka gradasi tersebut hanya boleh diubah
dengan izin tertulis dari Direksi Pekerjaan.

(4) Sifat Agregat

Persyaratan persyaratan Pasal 7.1.2 (4) harus berlaku pada Seksi ini.

(5) Bahan Tambahan

Penggunaan Plastisator, bahan-bahan tambahan untuk mengurangi air atau bahan


tambahan lainnya tidak akan diijinkan kecuali dengan izin tertulis dari Direksi Pekerjaan.
Jika digunakan, bahan yang bersangkutan harus memenuhi AASHTO M 154 atau M 194.
Bahan tambahan yang bersifat mempercepat dan yang mengandung Calsium Chlorida
tidak boleh digunakan.

(6) Membran Kedap Air

Lapisan bawah yang kedap air harus terdiri dari lembaran plastik yang kedap setebal 125
mikron. Dimana diperlukan tumpang tindih (overlap) antar lapis bawah tersebut, maka
tumpang tindih ini harus sekurang-kurangnya 300 mm. Air tidak boleh tergenang diatas
membran, dan membran harus kedap air waktu beton dicor. Suatu lapisan bawah yang
kedap air tidak boleh digunakan di bawah perkerasan jalan beton bertulang yang
menerus.

(7) Tulangan Baja

(a) Tulangan baja untuk jalur kendaraan harus berupa anyaman baja berprofil/berulir
sebagaimana diperlihatkan dalam gambar. Pada umumnya tulangan baja harus
memenuhi Seksi 7.3 Spesikasi ini.
(b) Tulangan anyaman kawat baja harus memenuhi persyaratan-persyaratan
ASSHTO M 55. Tulangan ini harus disediakan dalam bentuk lembaran-lembaran
datar dan merupakan jenis yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan..
(c) Jaringan batang baja harus memenuhi persyaratan ASSHTO M 54. Bagian-
bagiannya harus berukuran dan berjarak antara sebagaimana diperlihatkan dalam
Gambar.
(d) Batang baja untuk Dowel harus berupa batang bulat biasa sesuai dengan
ASSHTO M 31. Batang-batang Dowel berlapis plastik yang memenuhi
ASSHTO M 254 dapat digunakan.
(e) Batang pengikat (Tie-Bar) harus berupa batang-batang baja berulir sesuai dengan
ASSHTO M 31.

(8) BahanBahan Untuk Sambungan

(a) Bahan-bahan pengisi siar muai harus sesuai dengan persyaratan-persyaratan


ASSHTO M 153 atau M 213. Bahan-bahan tersebut harus dilubangi untuk
dilalui dowel-dowel sebagaimana diperlihatkan dalam Gambar. Bahan-bahan
pengisi untuk setiap sambungan harus disediakan dalam bentuk satu kesatuan
utuh untuk tebal dan lebar penuh yang diperlukan untuk sambungan yang
bersangkutan kecuali jika diijinkan lain oleh Direksi Pekerjaan. Dimana ujung-
ujung yang berbatasan diperkenankan, maka ujung-ujung tersebut harus diikat
satu sama lainnya dan dipertahankan dengan kokoh dan tepat ditempatnya

7 - 128
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

dengan jepretan kawat (Stapling) atau penyambung/pengikat yang baik lainnya


yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

(b) Bahan penutup sambungan (joint sealent) harus berupa Expandite Plastic,
senyawa gabungan bitumen karet grade 99 yang dituangkan dalam keadaan
panas, atau bahan serupa yang disetujui. Bahan primer sambungan harus
sebagaimana dianjurkan oleh pabrik pembuat bahan penyegel yang
bersangkutan.

7.16.3 PENCAMPURAN DAN PENAKARAN

(1) Disain Campuran

Perbandingan bahan dan berat penakaran harus menggunakan cara yang ditetapkan dalam
B.S P.114. Untuk beton K-350 batasan kadar semen yang diberikan dalam Tabel
7.1.3.(1) harus ditetapkan.

Perbandingan sebenarnya antara air bebas terhadap semen untuk agregat dalam keadaan
permukaan kering harus ditentukan berdasarkan syarat-syarat kekuatan dan kemudahan
pengerjaan tetapi dalam hal apapun tidak boleh melebihi 0,55 berdasarkan massa.

(2) Campuran Percobaan

Kontraktor harus memastikan perbandingan campuran dan bahan yang diusulkan dengan
membuat dan menguji campuran-campuran percobaan, dengan disaksikan Direksi
Pekerjaan. Dengan menggunakan jenis instalasi dan peralatan yang sama seperti yang
akan digunakan dalam pekerjaan. Campuran percobaan dapat dianggap dapat diterima
asal memenuhi semua persyaratan sifat campuran yang ditetapkan dalam Pasal 7.16.3 (3)
dibawah ini.

(3) Persyaratan Sifat Campuran

(a) Mutu beton minimal harus dari kelas K-350 kecuali jika ditunjukkan lain dalam
Gambar atau diarahkan lain oleh Direksi Pekerjaan.

(b) Kuat tekan karakteristik beton harus sesuai dengan persyaratan-persyaratan Tabel
7.1.3.(3). Sebagai kemungkinan lain, jika disetujui oleh Direksi Pekerjaan, maka
kekuatan beton harus diawasi dengan menggunakan cara pengujian the third-
point dalam hal mana kuat lentur karakteristik harus tidak boleh kurang dari 45
kg/cm2.

(c) Beton tersebut harus merupakan jenis yang memiliki sifat kemudahan pengerjaan
yang sesuai untuk mencapai pemadatan penuh dengan instalasi yang digunakan,
dengan tanpa pengaliran yang tak semestinya. Slump optimum sebagaimana
diukur dengan cara pengujian ASSHTO T 199 harus tidak kurang dari 20 mm
dan tidak lebih besar dari 60 mm. Slump tersebut harus dipertahankan dalam
batas toleransi 20 mm dari slump optimum yang disetujui oleh Direksi
Pekerjaan. Beton yang tidak memenuhi persyaratan slump tersebut tidak boleh
digunakan untuk pelat-pelat perkerasan beton.

7 - 129
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

(4) Kekuatan Beton

Beton harus mempunyai suatu kekuatan lentur karakteristik sebesar minimal 45 kg/cm2
pada umur 28 hari bila diuji sesuai dengan ASSHTO T 97. Bila pengujian dilakukan pada
kubus 15 cm, kekuatan beton karakteristik minimal harus sebesar 350 kg/cm2 pada umur
28 hari. Persyaratan Seksi 7.1.3.(c) sampai 7.1.3.(e) juga termasuk harus berlaku pada
Seksi ini kecuali persyaratan Tabel 7.1.3.(3) pada Pasal 7.1.3.(e) harus dihilangkan.
Kekuatan beton 7 hari harus sebesar 0,7 x kekuatan lentur karakteristik.

(5) Penyesuaian Campuran

Persyaratan-persyaratan Seksi 7.1.3 (4) harus berlaku pada Seksi ini.

(6) Penakaran Agregat

Persyaratan-persyaratan Seksi 7.1.3 (5) harus berlaku pada Seksi ini.

(7) Pencampuran

Persyaratan-persyaratan Seksi 7.1.3 (6) harus berlaku pada Seksi ini dengan pengecualian
ayat (e). Beton yang dicampur secara manual tidak boleh digunakan.

7.16.4 METODE KONSTRUKSI

(1) Persiapan Lokasi Pekerjaan

Badan jalan harus diperiksa kesesuaiannya dengan bentuk kemiringan melintang dan
elevasi-elevasi yang diperlihatkan dalam Gambar dengan bantuan suatu pola/template
bergigi yang berjalan pada acuan tepi perkerasan. Bahan harus disisihkan/dibuang atau
ditambah, sebagaimana diperlukan, agar semua bagian badan jalan memiliki elevasi yang
benar. Badan jalan tersebut kemudian dipadatkan secara seksama dan diperiksa kembali
dengan pola/template tersebut. Beton tidak boleh ditempatkan/dihampar pada bagian
badan jalan yang belum diperiksa dan disetujui secara tertulis oleh Direksi Pekerjaan.

Jika badan jalan terganggu setelah penerimaan, maka badan jalan tersebut harus dibentuk
kembali dan dipadatkan tanpa pembayaran tambahan untuk operasi ini.

Badan jalan yang telah selesai harus dalam kondisi halus dan padat sewaktu beton
ditempatkan. Badan jalan tersebut harus bebas dari lumpur dan bahan lepas atau bahan
yang merusak lainnya. Jika beton tersebut tidak ditempatkan diatas suatu membran kedap
air dan jika badan jalan tersebut kering pada waktu beton tersebut akan ditempatkan,
maka badan jalan tersebut harus disiram sedikit dengan air, untuk mendapatkan suatu
permukaan yang lembab. Cara penyiraman tersebut sedemikian rupa sehingga tidak
terbentuk genangan-genangan air. Jika suatu membran kedap air digunakan maka
membran tersebut harus ditempatkan setelah badan jalan yang bersangkutan telah
diperiksa dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Setiap membran yang digelar sebelum
memperoleh persetujuan Direksi Pekerjaan harus disingkirkan untuk memungkinkan
pengecekan dan pemeriksaan badan jalan oleh Direksi Pekerjaan.

(2) Acuan dan Rel Sisi

7 - 130
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Semua acuan sisi harus dipasang segaris dan dipegang/dimantapkan dengan


menggunakan tidak kurang dari 3 paku penjepit untuk setiap 3 meter panjang, 1 penjepit
dipasang pada setiap sisi dari setiap sambungan. Bagian-bagian acuan harus disambung
menjadi satu dengan kokoh dengan suatu sambungan terkunci yang bebas dari gerakan
segala arah. Sambungan-sambungan antara bagian-bagian acuan harus dibuat tanpa
terputus-putus di permukaan puncaknya. Acuan-acuan harus dibersihkan dan diminyaki
segera sebelum setiap penggunaan. Rel-rel atau permukaan lewatan harus dijaga tetap
bersih didepan roda-roda dari setiap mesin penyelesai/finishing.

Roda-roda mesin penghampar dan penyelesai tidak boleh langsung berjalan pada
permukaan atas acuan-acuan sisi. Rel-rel harus diikatkan pada acuan-acuan tersebut, atau
harus ditunjang secara terpisah.

Acuan dan rel sisi harus dipasang dan ditunjang sedemikian rupa sehingga permukaan
akhir pelat yang diselesaikan memenuhi Pasal 7.16.5.(4) dan pinggiran pelat tersebut
dimanapun tidak boleh lebih dari 5 mm diluar alinyemen vertikal. Acuan-acuan dan rel
harus dipasang pada posisinya selambat-lambatnya tengah hari kerja sebelum
pembetonan berlangsung. Pada waktu tersebut Kontraktor harus memberi tahu Direksi
Pekerjaan panjang acuan dan rel yang telah dipasang. Direksi Pekerjaan akan memberi
informasi kepada Kontraktor mengenai segala kekurangan dalam acuan.

Jika tidak ada pemberitahuan mengenai adanya kekurangan-kekurangan maka Kontraktor


berhak untuk meneruskan pekerjaan yang bersangkutan dengan pembetonan untuk
sepanjang acuan tersebut setiap waktu setelah jam 6 (enam) pagi pada hari berikutnya.
Dalam kejadian diketemukan adanya kekurangan-kekurangan oleh Direksi Pekerjaan
maka Kontraktor harus memperbaiki dan mengulangi pemberitahuan tersebut. Setelah
pemberitahuan ulang diberikan sebelum hari kerja yang bersangkutan berakhir dan
dengan persetujuan dari Direksi Pekerjaan, Kontraktor dapat diizinkan untuk mulai
melaksanakan pekerjaan perkerasan yang bersangkutan pada jam 10 pagi hari berikutnya.
Setiap pemberitahuan kembali yang diberikan setelah jam 6 pagi harus diberlakukan
sebagai pemberitahuan permulaan, kecuali Direksi Pekerjaan atas kebijaksanaannya
memperkenankan pelaksanaan perkerasan tersebut lebih awal. Kegagalan memberitahu
Direksi Pekerjaan mengenai kesiapan acuan pada tengah hari sehari sebelum hari
pembetonan yang diusulkan dapat mengakibatkan Direksi Pekerjaan menangguhkan izin
untuk memulai pembetonan.

(3) Tulangan Baja

Tulangan baja harus sedemikian rupa sehingga luas penampang melintang efektif
tulangan baja dalam arah membujur tidak kurang dari yang diperlihatkan dalam Gambar.

Kuantitas dan distribusi tulangan harus dimodifikasi sebagaimana disetujui oleh Direksi
Pekerjaan disesuaikan dengan adanya bak kontrol, kotak permukaan, persimpangan atau
pelat-pelat yang berukuran lebar atau panjang yang tidak normal.

Tulangan baja harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga setelah pemadatan beton
tebal selimut pelat beton yang bersangkutan adalah 60 10 mm dari permukaan akhir
pelat dan ini berakhir sekurang-kurangnya 40 mm dan tidak lebih dari 80 mm dari tepi
pelat-pelat yang bersangkutan pada semua sambungan beton kecuali pada sambungan
membujur dan sambungan konstruksi. Tulangan baja harus dipasang diatas batang-batang
Dowel dan batang-batang Tie-bar terlepas dari toleransi-toleransi penempatan tulangan
baja.

Pada sambungan-sambungan melintang antara lembar-lembar anyaman tulangan baja,


batang tulangan melintang dari lembar yang satu harus terletak dalam anyaman yang

7 - 131
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

telah diselesaikan/dipasang sebelumnya dan panjang lewatan (panjang bagian yang


tumpang tindih) harus tidak kurang dari 450 mm. Penunjang-penunjang kedudukan
tulangan logam yang dipabrikasi yang telah disetujui harus dipasang pada badan jalan
tegak lurus terhadap garis sumbu jalan yang bersangkutan, dan batang-batang
tulangan melintang harus diikat, dijepit atau dilas pada penunjang tersebut bila saling
berpotongan. Panjang lewatan pada ujung-ujung batang tulangan harus tidak kurang
dari 40 kali diameter tulangan atau seperti diperlihatkan dalam Gambar.

(4) Penempatan Beton

(a) Pembatasan Pencampuran

Beton tidak boleh dicampur, ditempatkan atau diselesaikan kalau penerangan


alamiah tidak mencukupi, kecuali suatu sistem penerangan buatan yang cocok
dan disetujui dioperasikan.

Beton harus hanya dicampur sejumlah yang diperlukan untuk penggunaan saat
itu. Kontraktor harus bertanggung jawab dalam membuat beton dengan
konsistensi yang disyaratkan.

Mengencerkan kembali beton dengan menambah air atau dengan cara lain
biasanya tidak diperkenankan. Tetapi bila beton dikirim dalam truk pencampur
atau truk pengaduk, maka penambahan air dapat diberikan pada bahan-bahan
takaran (batch materials) dan pencampuran tambahan dilaksanakan untuk
menaikkan slump guna memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditetapkan, bila
diizinkan oleh Direksi Pekerjaan, asalkan semua operasi ini dilaksanakan dalam
waktu tidak lebih dari 45 menit sejak dimulainya pencampuran agregat dan
semen yang bersangkutan serta perbandingan (ratio) air semennya tidak
dilampaui.

(b) Penakaran , Pengangkutan , dan Pencampuran Beton

Penakaran, pengangkutan dan pencampuran beton harus dilaksanakan sesuai


dengan persyaratan persyaratan Seksi 7.1.

(c) Pengecoran

(i) Sebagai tambahan persyaratan Pasal 7.16.4(2), Kontraktor harus memberi


tahu Direksi Pekerjaan secara tertulis sekurang-kurangnya 24 jam
sebelum ia bermaksud untuk memulai suatu pengecoran beton atau
meneruskan pengecoran beton jika operasi-operasi telah ditunda lebih dari
24 jam. Pemberitahuan tertulis tersebut harus termasuk lokasi pekerjaan,
sifat pekerjaan, kelas beton, dan tanggal serta waktu pengecoran beton.

(ii) Meskipun ada pemberitahuan persetujuan untuk melaksanakan, tidak ada


beton boleh dicor, bila Direksi Pekerjaan atau wakilnya tidak hadir
menyaksikan seluruh operasi pencampuran dan pengecoran.
(iii) Beton yang tidak dicor pada posisi akhirnya dalam acuan setelah 30 menit
sejak air ditambahkan pada campuran yang bersangkutan tidak boleh
digunakan.

(iv) Pengecoran beton harus diteruskan dengan tanpa berhenti sampai pada
suatu sambungan konstruksi yang telah ditentukan dan disetujui
sebelumnya atau sampai pekerjaan tersebut diselesaikan.

7 - 132
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

(v) Beton harus dicor dengan cara sedemikian rupa untuk menghindari
segregasi/pemisahan partikel-partikel halus dan kasar dalam campuran.
Beton harus dicor ke dalam acuan sedekat mungkin dengan posisi
akhirnya untuk menghindari pengaliran campuran beton dan tidak
diijinkan untuk mengalirkan campuran beton lebih dari satu meter setelah
pengecoran.

(vi) Beton harus dicor dengan kecepatan sedemikian rupa sehingga beton yang
baru dicor menyatu dengan beton yang dicor sebelumnya sementara yang
baru dicor masih plastis.

(5) Penghamparan Beton dengan Mesin

Pada umumnya beton harus dihampar dengan mesin beralat penggetar, yang dirancang
untuk menghilangkan pra-pemadatan sebagai akibat pengendapan beton dari berbagai
ketinggian atau ketebalan. Mesin tersebut harus dirancang untuk mencegah segregasi dari
beton yang dicampur. Beton tersebut harus diendapkan secara merata sampai suatu
ketinggian sedikit lebih tinggi dari ketebalan yang disyaratkan dan kemudian harus
dicetak secara mekanis menjadi sesuai dengan permukaan yang benar.

Rancangan mesin penghampar dengan corong curah, yang dipasang pada rel harus
sedemikian rupa sehingga elevasi permukaan beton yang dicetak adalah sama untuk
kedua arah lintasan. Perlengkapan juga harus dibuat untuk penghamparan dengan
ketebalan yang berbeda dalam arah lebar perkerasan jalan, dan untuk menyesuaikan
penghamparan dengan cepat akibat adanya variasi-variasi ini.

Mesin penghampar harus mampu mencetak beton dengan tinggi/elevasi permukaan yang
tepat untuk konstruksi berlapis tunggal atau dua.

Beton untuk pelat-pelat bertulang harus dihampar dalam satu atau dua lapisan mengikuti
persyaratan-persyaratan berikut :

(a) Beton dihampar dalam satu lapisan

(i) Suatu pola (jig) berjalan harus digunakan untuk mempertahankan tulangan
pada posisinya atau tulangan tersebut harus ditunjang dengan penunjang-
penunjang logam pabrikasi atau ditanamkan dalam beton yang belum
dipadatkan dengan cara mekanis.

(ii) Cara penunjangan tulangan harus mempertahankan tulangan yang


bersangkutan dalam pelat beton padat pada suatu kedalaman dibawah
permukaan akhir seperti yang ditetapkan dalam Pasal 7.16.4(3) dan beton
tersebut harus dipadatkan secara seksama di sekeliling tulangan tersebut.

(b) Beton dihampar dalam dua lapisan

(i) Lapisan pertama harus dihampar dengan suatu elevasi sedemikian rupa
sehingga setelah pemadatan selanjutnya lapisan yang bersangkutan akan
menunjang tulangan pada beton yang telah dipadatkan pada suatu
kedalaman dibawah permukaan akhir.

(ii) Setelah tulangan ditempatkan pada posisinya harus ditutup dengan beton.

7 - 133
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

(6) Pemadatan dan Penyelesaian dengan Mesin

Mesin pencetak perkerasan jalan beton dengan menggunakan vibrasi permukaan, harus
mencetak beton yang bersangkutan sehingga memiliki elevasi yang tepat dengan sebilah
pisau perata, kayuh berputar atau perlengkapan berputar, dan kemudian harus
memadatkan beton tersebut dengan vibrasi atau dengan suatu kombinasi vibrasi dan
penumbukan mekanis. Peralatan tersebut kemudian harus menyelesaikan permukaan
beton tersebut dengan menggunakan suatu batang perata yang bergoyang melintang atau
miring. Suatu batang perata lain untuk pekerjaan penyelesaian yang bergoyang secara
melintang atau miring harus disediakan setelah setiap mesin pembentuk sambungan
melintang dalam keadaan basah. Batang perata bergoyang tersebut harus berpenampang
melintang persegi dan harus membentangi seluruh lebar pelat yang bersangkutan dan
berbobot tidak kurang dari 170 kg/m. Batang ini harus ditunjang pada suatu kereta, yang
ketinggiannya harus dikontrol berdasarkan tinggi rata-rata dari sekurang-kurangnya 4 titik
yang ditempatkan secara merata dengan jarak antara sekurang-kurangnya 3,5 meter dari
rel penunjang, balok, atau pelat, pada setiap sisi dari pelat beton yang sedang diperkeras.

Bilamana perkerasan jalan beton dibangun dengan lebih dari satu lintasan menggunakan
mesin dengan roda-roda ber-flens, maka pelat-pelat yang berdampingan berikutnya harus
dibangun dengan menyangga mesin tersebut pada rel-rel yang beralas rata yang berbobot
tidak kurang dari 15 kg/meter diletakkan diatas beton yang telah diselesaikan untuk
menunjang roda-roda ber-flens, atau menggantikan roda-roda ber-flens tersebut pada satu
sisi mesin dengan roda-roda tanpa flens bertapal karet. Rel (track) bertapal karet, yang
dapat berjalan diatas permukaan beton yang telah diselesaikan juga dapat diterima.

Bilamana digunakan roda-roda tanpa flens atau rel bertapal karet, maka permukaan pelat
beton yang dilewati harus segera dibersihkan dan disikat secara seksama di depan mesin
untuk membersihkan semua lumpur dan serpihan pasir/kerikil. Roda-roda tanpa flens
harus berjalan cukup jauh dari tepi pelat untuk menghindari kerusakan pada pinggiran
pelat yang bersangkutan.

(7) Pemadatan dan Penyelesaian dengan Balok Vibrasi Terkendali

Bilamana pelat-pelat berukuran kecil atau tidak beraturan, atau bila tempat kerja yang
bersangkutan sedemikian terbatas sehingga menyebabkan penggunaan cara-cara yang
tetapkan dalam Pasal 7.16.4(3) dan 7.16.4(4) menjadi tidak praktis, dan dengan
persetujuan Direksi Pekerjaan, maka beton harus dicor secara merata tanpa pra-
pemadatan atau segregasi dan dipadatkan dengan cara berikut ini.

Beton yang akan dipadatkan dengan balok vibrasi harus dicetak dengan suatu permukaan
sedemikian sehingga permukaan setelah semua udara yang terkandung dikeluarkan
dengan pemadatan berada di atas acuan-acuan sisi. Beton tersebut harus dipadatkan
dengan menggunakan sebuah balok penggetar/pemadat dari kayu bertapal baja berukuran
tidak kurang dari lebar 75 mm dan tebal 225 mm, dengan suatu masukan energi tidak
kurang daripada 250 watt/meter lebar pelat, balok penggetar tersebut diangkat dan
digerakkan maju ke muka dengan sedikit demi sedikit tidak melebihi ukuran lebar balok
tersebut. Kalau tidak, suatu alat pemadat balok kembar bervibrasi dengan kekuatan tenaga
yang ekivalen dapat digunakan. Bila tebal lapisan beton yang dipadatkan melebihi 200
mm, maka tambahan vibrasi bagian dalam (internal vibrating) secukupnya harus
diberikan meliputi seluruh lebar pelat untuk menghasilkan pemadatan sepenuhnya.
Setelah setiap 1,5 m panjang pelat dipadatkan, balok vibrasi harus ditarik kembali 1,5 m,
kemudian perlahan-lahan didorong maju sambil melakukan penggetaran diatas
permukaan yang telah dipadatkan untuk memberikan suatu permukaan akhir yang halus.

7 - 134
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Kemudian permukaan tersebut harus diratakan menggunakan sebuah alat straight-edge


penggaruk dengan panjang mata pisau tidak kurang dari 1,8 m sekurang-kurangnya 2
lintasan. Jika permukaan tergaruk secara meluas oleh alat straight-edge tersebut, yang
menunjukkan ketidakrataan permukaan, maka suatu lintasan balok bervibrasi harus
dilakukan, diikuti dengan lintasan lanjutan menggunakan alat straight-edge penggaruk.

7.16.5 PEKERJAAN PENYELESAIAN

(1) Penyelesaian Permukaan Selama Konstruksi Awal Perkerasan Jalan Beton

Setelah penyelesaian sambungan-sambungan dan lintasan terakhir dari balok finishing


dan sebelum penerapan media perawat, permukaan perkerasan beton yang akan
digunakan sebagai permukaan jalan harus diberi alur (groove) atau disikat dalam arah
tegak lurus terhadap garis sumbu jalan yang bersangkutan.

Penyelesaian dengan penyikatan harus dilaksanakan dengan sebuah sapu kawat yang
lebarnya kurang dari 450 mm. Berkas kawat sapu yang digunakan harus pada mulanya
berukuran panjang 100 mm terbuat dari kawat berukuran 32 gauge. Sapu tersebut harus
tediri dari 2 baris berkas-berkas kawat yang berjarak antar sumbu 20 mm dan berkas-
berkas dalam satu baris harus berjarak 10 mm pusat ke pusat dan dipasang ditengah-
tengah celah antara berkas-berkas pada baris lainnya. Berkas-berkas tersebut masing-
masing harus diganti bila berkas yang terpendek telah aus menjadi 90 mm.

(2) Perawatan

Segera setelah penyapuan dan perapian tepi selesai, perawatan beton harus dimulai.

Permukaan terbuka dari beton yang baru dicor harus dilindungi terhadap pengaruh
matahari, angin, dan hujan dengan menggunakan rangka-rangka yang ditutup dengan
bahan-bahan yang bersifat merefleksi panas dan hujan. Setiap rangka harus dipasang
segera setelah penyelesaian perlakuan permukaan beton yang bersangkutan dan dengan
suatu cara sedemikian rupa sehingga permukaan beton tidak terganggu.

Permukaan tersebut harus diperiksa secara teratur untuk memastikan waktu


tercepat/terawal pada saat mana permukaan tersebut dapat menahan penghamparan bahan
yang bersifat menyimpan lengas. Bahan ini harus berupa dua lapisan kain goni (burlap)
atau dua lembaran katun, atau selapis pasir atau bahan bersifat sangat menyerap lainnya
yang disetujui. Bahan apapun yang digunakan harus dijaga agar tetap basah untuk jangka
waktu tidak kurang dari 5 hari, sampai suatu tingkat yang menjamin bahwa 100 %
kelembaban dipertahankan pada permukaan beton. Kegiatan pengecoran beton harus
ditunda jika penyediaan air tidak cukup baik untuk perawatan dan pengecoran, atau bila
bahan perawatan lainnya tidak cukup tersedia dilokasi pekerjaan.

Bila penggunaan suatu membran (suatu lapisan tipis) senyawa perawat disetujui oleh
Direksi Pekerjaan maka harus sesuai dengan ASSHTO M 148, jenis 2. Senyawa tersebut
harus digunakan pada permukaan yang telah diselesaikan dengan menggunakan mesin
penyemprot yang telah disetujui.

(3) Pembongkaran Acuan

Acuan tidak boleh dibongkar sampai beton yang baru dicor telah mengeras dalam waktu
sekurang-kurangnya 12 jam. Acuan tersebut harus dibongkar dengan hati-hati untuk
menghindarkan kerusakan pada perkerasan jalan.

7 - 135
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Segera setelah acuan dibongkar, maka ujung-ujung semua siar muai (sambungan
ekspansi) dan seluruh lebar bagian yang akan terbuka harus dibersihkan dari beton untuk
seluruh tebal pelat yang bersangkutan. Setiap daerah yang menunjukkan adanya sedikit
keropos harus ditambal dengan adukan yang terdiri dari satu bagian semen dan dua
bagian agregat halus berdasarkan berat. Bila Direksi Pekerjaan menganggap bahwa
tingkat keropos yang ada sedemikian rupa sehingga pekerjaan tersebut tidak dapat
diterima, maka Kontraktor harus membongkar bahan yang rusak dan menggantikannya
dengan bahan yang dapat diterima atas biayanya sendiri. Bagian yang dibongkar tersebut
harus untuk seluruh tebal dan lebar pelat yang bersangkutan dan sekurang-kurangnya
sepanjang 3 meter.

(4) Persyaratan Permukaan

Setelah beton cukup mengeras, permukaan yang bersangkutan selanjutnya harus diuji
untuk diperiksa kebenarannya (trueness), dengan menggunakan straight-edge berukuran
3 meter yang disetujui dan diletakkan diatas permukaan yang bersangkutan pada posisi
yang berurutan dan saling meliputi (overlap) 1,5 meter melintasi seluruh permukaan.
Setiap bagian permukaan yang jika diuji dalam arah membujur, menunjukkan suatu
perbedaan atau menyimpang dari alat pengujian lebih dari 4 mm tetapi tidak lebih dari 8
mm harus diberi tanda dan segera digerinda dengan suatu alat gerinda yang disetujui
sampai perbedaan tersebut tidak lebih dari 4 mm. Perhatian khusus harus diberikan bila
memeriksa sambungan melintang untuk menjamin bahwa kriteria ini terpenuhi. Bila
perbedaan atau penyimpangan terhadap alat pengujian lebih dari 8 mm, maka perkerasan
harus dibongkar dan diganti oleh Kontraktor atas biayanya sendiri. Bagian-bagian yang
dibongkar tersebut harus sekurang-kurangnya sepanjang 3 meter dan untuk seluruh tebal
dan lebar pelat yang bersangkutan.

Penyimpangan permukaan maksimum yang diperbolehkan dibawah alat sraight-edge 3


meter yang ditempatkan dalam segala arah beton yang akan dilapis ulang dengan suatu
lapisan aspal tidak boleh melebihi 10 mm.

(5) Pengamanan Perkerasan Jalan

Kontraktor harus memasang dan memelihara perintang-perintang yang sesuai dan harus
memperkerjakan tenaga pengawas untuk mencegah lalu lintas umum serta para
pegawainya, dan wakil-wakilnya melintasi perkerasan yang baru dibangun sampai
perkerasan tersebut dibuka untuk penggunaan. Perintang-perintang ini harus diatur
sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu lalu lintas umum pada setiap jalur yang
dimaksudkan untuk tetap dibuka. Kontraktor harus memelihara rambu-rambu dan lampu-
lampu pengatur yang secara jelas menunjukkan setiap jalur yang terbuka untuk umum.
Dimana lalu lintas perlu melintasi perkerasan jalan tersebut, Kontraktor harus
membangun penyeberangan yang sesuai untuk menjembatani beton yang bersangkutan
atas biayanya sendiri, sebagaimana disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

Dimana suatu jalur lalu lintas umum yang telah ditetapkan bersambungan dengan pelat
atau jalur yang sedang ditempatkan, Kontraktor harus menyediakan, memasang dan
kemudian memindahkan pagar pengaman sementara sepanjang garis pembagi yang telah
ditetapkan yang harus dipertahankan disitu sampai pelat beton yang bersangkutan dibuka
untuk lalu lintas. Perencanaan operasi Kontraktor harus sedemikian rupa untuk
meniadakan setiap gangguan terhadap jalur atau jalur-jalur lalu lintas umum.

Bila ruang bebas antar jalur-jalur lalu lintas umum dan peralatan operasional Kontraktor
terbatas, maka harus digunakan peralatan khusus yang dirancang untuk mengirim ke dan
meninggalkan daerah dalam lebar pelat beton yang sedang ditempatkan tanpa
mengganggu jalur umum manapun.

7 - 136
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

(6) Pembukaan Untuk Lalu-lintas

Direksi Pekerjaan akan menentukan pada saat mana perkerasan boleh dibuka untuk lalu
lintas. Dalam segala hal, jalan tidak boleh dibuka untuk lalu lintas sebelum hasil terhadap
sampel yang dicetak dan dilapisi pengawet menurut AASHTO T 23 mencapai kekuatan
lentur minimum tidak kurang dari 90 % kekuatan minimum umur 28 hari, sebagaimana
ditentukan pada Spesifikasi ini, ketika ditest dengan third point method. Bila tidak ada
test, perkerasan tak boleh dibuka untuk lalu lintas sebelum 14 hari dari saat beton
dihamparkan. Sebelum lalu lintas dibuka, perkerasan harus dibersihkan dan penutup
(sealing) sambungan sudah sempurna.

7.16.6. SAMBUNGAN (JOINT)

Sambungan harus dibuat dengan tipe, ukuran dan pada lokasi seperti yang ditentukan
dalam Gambar. Semua sambungan harus dilindungi agar tidak kemasukan material yang
tidak dikehendaki sebelum ditutup dengan bahan pengisi.

(1) Sambungan Memanjang (longitudinal joints)

Batang baja ulir (deformed) dengan panjang, ukuran, dan jarak seperti yang ditentukan
harus diletakkan tegak lurus dengan sambungan memanjang memakai alat mekanik atau
dipasang dengan besi penahan (chair) atau penahan lainnya yang disetujui, untuk
mencegah perubahan atau dimasukkan tabung kecuali untuk keperluan pelebaran
nantinya. Bila tertera dalam Gambar dan bila lajur perkerasan yang berdekatan
dilaksanakan terpisah, acuan baja harus digunakan untuk membentuk "keyway"
(takikan) sepanjang sambungan konstruksi. Tie bars, kecuali yang terbuat dari baja
rel, dapat dibengkokkan dengan sudut tegak lurus acuan dari lajur yang dilaksanakan
dan diluruskan kembali sampai posisi tertentu sebelum beton pada lajur yang
berdekatan dihamparkan atau sebagai pengganti tie bars yang dibengkokkan dapat
digunakan 2 batang tie bar yang disambung (two-piece connectors).

Sambungan memanjang acuan (longitudinal form joint) terdiri dari takikan 1 alur ke
bawah memanjang pada permukaan jalan. Sambungan tersebut harus dibentuk dengan
alat mekanikal atau dibuat secara manual dengan ukuran dan garis sesuai Gambar,
sewaktu beton masih mudah dibentuk. Alur ini harus diisi dengan kepingan (filler)
material yang telah tercetak (premolded) atau dicor (poured) dengan material penutup
sesuai yang disyaratkan.

Sambungan memanjang tengah (longitudinal centre joint) harus dibuat sedemikian


rupa sehingga ujungnya berhubungan dengan sambungan melintang (transverse
joint), bila ada.

Sambungan memanjang gergajian (longitudinal sawn joint) harus dibuat dengan


pemotongan beton dengan gergaji beton yang disetujui sampai kedalaman, lebar dan
garis sesuai Gambar. Untuk menjamin pemotongan sesuai dengan garis pada Gambar,
harus digunakan alat bantu atau garis bantu yang memadai. Sambungan memanjang
ini harus digergaji sebelum berakhimya masa perawatan beton, atau segera
sesudahnya sebelum peralatan atau kendaraan diperbolehkan memasuki perkerasan
beton baru tersebut. Daerah yang akan digergaji harus dibersihkan dan sambungan
harus segera diisi dengan material penutup (sealer) sesuai dengan yang disyaratkan.

7 - 137
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Sambungan memanjang tipe sisip permanen (longitudnal permanent nsert type


jonts) harus dibentuk dengan menempatkan lembaran plastik yang tidak akan
bereaksi secara kimiawi dengan bahan kimia beton. Lebar lembaran ini harus cukup
untuk membentuk bidang yang diperlemah dengan kedalaman sesuai Gambar.
Sambungan dengan bentuk bidang lemah (weaken plane type joint) tidak perlu
dipotong (digergaji). Ketebalan kepingan tidak boleh kurang dari 0,5 mm dan harus
disisipkan memakai alat mekanik sehingga dijamin tetap berada pada posisi yang
tepat. Ujung atas lembaran ini harus berada dibawah permukaan akhir (fnshed
surface) perkerasan sesuai yang tertera pada Gambar.

Kepingan sisipan ini tidak boleh rusak selama pemasangan atau karena pekerjaan
fnshng pada beton. Garis sambungan harus sejajar dengan garis sumbu (centre lne)
jalan dan jangan terlalu besar perbedaan kerataannya. Alat pemasangan mekanik
harus menggetarkan beton selama kepingan itu disisipkan sedemikian rupa agar beton
yang terganggu kembali rata sepanjang pnggiran kepingan tanpa menimbulkan
segregasi.

(2) Sambungan Ekspansi Melintang (transverse expansion joints)

Filler (bahan pengisi) untuk sambungan ekspansi (expansion joint filler) harus
menerus dari acuan ke acuan, dibentuk sesuai dengan subgrade dan takikan sepanjang
acuan. Filler sambungan pracetak (pre-form joint filler) harus disediakan dengan
panjang yang sama dengan lebar jalan atau sama dengan lebar satu lajur. Filler yang
rusak atau yang sudah diperbaiki tidak boleh digunakan, kecuali bila disetujui Direksi
Pekerjaan.

Filler sambungan ini harus ditempatkan pada posisi vertikal. Alat bantu atau
pemegang yang disetujui harus digunakan untuk menjaga agar filler tetap pada garis
dan alinyemen yang semestinya, selama penghamparan dan penyelesaian beton.
Perubahan posisi akhir sambungan tidak boleh lebih dari 5 mm pada alinyemen
horisontalnya menurut garis lurus. Bila filler dipasang berupa bagian-bagian, maka
diantara unit-unit yang berdekatan tidak boleh ada celah. Pada sambungan ekspansi
itu tidak boleh ada sumbatan atau gumpalan beton.

7 - 138
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

(3) Sambungan Kontraksi Melintang (transverse contraction joints)

Sambungan ini terdiri dari bidang-bidang yang diperlemah dengan membuat


takikan/alur dengan pemotongan permukaan perkerasan, disamping itu bila tertera
pada Gambar juga harus mencakup pasangan alat transfer beban (load transfer
assemblies).

(a) Sambungan kontraksi kepingan melintang (transverse strip contraction joints)

Sambungan ini harus dibentuk dengan memasang kepingan sebagaimana tertera


pada Gambar.

(b) Takikan/alur (formed grooves)

Takikan ini harus dibuat dengan menekankan alat kedalam beton yang masih
plastis. Alat tersebut harus tetap ditempat sekurang-kurangnya sampai beton
mencapai pengerasan awal, dan kemudian harus dilepas tanpa merusak beton
didekatnya, kecuali bila alat itu memang dirancang untuk tetap terpasang pada
sambungan.

(c) Sambungan gergajian (sawn contraction joints)

Sambungan ini harus dibuat dengan membuat alur dengan gergaji pada
permukaan perkerasan dengan lebar, kedalaman, jarak dan garis sesuai yang
tercantum pada Gambar, dengan gergaji beton yang disetujui. Setelah sambungan
digergaji, bekas gergajian dan permukaan beton yang berdekatan harus
dibersihkan.

Penggergajian harus dilakukan secepatnya setelah beton cukup keras agar


penggergajian tidak menimbulkan keretakan, dan jangan lebih dari 18 jam
setelah pemadatan akhir beton. Sambungan harus dibuat/dipotong sebelum
terjadi retakan karena susut. Bila perlu, penggergajian dapat dilakukan pada
waktu siang dan malam dalam cuaca apapun.

Penggergajian harus ditangguhkan bila didekat tempat sambungan ada retakan.


Penggergajian harus dihentikan bila retakan terjadi didepan gergajian. Bila
retakan sulit dicegah ketika dimulai penggergajian, maka pembuatan sambungan
kontraks harus dibuat dengan takkan/alur sebelum beton mencapai pengeringan
tahap awal sebagaimana dijelaskan di atas. Secara umum, penggergajian harus
dilakukan berurutan.

(d) Sambungan kontraksi acuan melintang (transverse formed contraction joints)

Sambungan ini harus sesuai dengan ketentuan Pasal 7.16.6(1) untuk sambungan
memanjang acuan (longitudnal form jonts).

(4) Sambungan Konstruksi Melintang (transverse construction joints)

(a) Perkerasan jalan beton bertulang biasa

Sambungan-sambungan darurat pada perkerasan beton hanya boleh dipasang bila


terjadi kerusakan mesin atau cuaca yang merugikan dan tidak boleh
dibangun/dibuat kurang dari 3 m dari suatu sambungan ekspansi atau kontraksi.
Sambungan-sambungan darurat tersebut harus dibentuk dengan bantuan suatu
bagian acuan yang dibor dan dibelah (splt cross) melalui mana tulangan biasa

7 - 139
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

dan batang-batang pengikat harus lewat.

Tulangan biasa harus diperpanjang melewati sambungan sekurang-kurangnya


sepanjang 500 mm. Batang-batang pengikat harus berdiameter 12 mm dan
sepanjang 1 m, dipasang berjarak antara 600 mm pada tengah tebal pelat.
Sebagai tambahan tulangan biasa harus diperpanjang secukupnya untuk
memungkinkan tulangan panel berikutnya saling melewati dan terikat
sepenuhnya. Sebagai pilihan, sambungan-sambungan darurat dalam bentuk
sambungan-sambungan kontraksi dapat diadakan tidak kurang 2,5 m dari suatu
sambungan melintang yang dikonstruksi sebelumnya di mana tidak ada beton
yang berdampingan telah dihampar/dicor. Setiap pelat berdampingan berikutnya
yang diikat harus mempunyai suatu sambungan segaris dengan sambungan
darurat tersebut. Jika beton yang berdampingan telah dihampar maka setiap
sambungan darurat harus segaris dan sesuai dengan sambungan dalam beton itu.

Sambungan-sambungan yang dibuat pada akhir kerja, yang bukan sambungan-


sambungan darurat, harus merupakan sambungan kontraksi atau sambungan
ekspansi.

(b) Perkerasan beton bertulang menerus

Lokasi sambungan-sambungan konstruksi harus diusulkan oleh kontraktor dan


mendapat persetujuan Direksi Pekerjaan. Sambungan-sambungan tersebut harus
dibuat dalam suatu garis lurus, tegak lurus atau sejajar dengan sumbu memanjang
jalur kendaraan dan di konstruksi sebagaimana diperlihatkan dalam Gambar.

(5) Sambungan Membujur

Sambungan-sambungan membujur harus dibuat antara tepi-tepi jalur lalu lintas atau
sebagaimana diperlihatkan dalam Gambar.

Lebar maksimum pelat tidak boleh lebih dari 4,50 m antara sambungan-sambungan
membujur atau antara sambungan membujur dan tepi perkerasan.

Batang-batang pengikat harus dipasang atau disisipkan tegak lurus terhadap garis
sambungan membujur, dan sambungan tersebut disegel sebagaimana ditetapkan dalam
Pasal 6.3.6(7). Batang-batang tersebut harus berdiameter 12 mm, 1 meter panjang berupa
batang berulir yang bertegangan leleh tinggi. Batang-batang tersebut harus dipasang
secara horizontal pada tengah-tengah tebal pelat dengan jarak antara 600 mm.

Bila perkerasan dibangun dengan lebar lebih dari lebar satu jalur dalam satu operasi,
maka suatu crack inducer berupa batang tipis dari kayu atau bahan sintetis atau pelat tipis
yang disetujui harus dipasang dengan kokoh pada badan jalan sepanjang garis sambungan
dalam batas toleransi horizontal 5 mm, dan dicetak kedalam dasar pelat yang
bersangkutan. Suatu alur harus dibuat pada puncak pelat tersebut, dan ditempatkan
vertikal diatas sumbu pelat tipis tersebut dengan suatu batas toleransi horizontal 12 mm.
Alur ini tidak boleh menyimpang dari garis umum sambungan-sambungan yang
bersangkutan. Kedalaman gabungan alur dan crack inducer harus berada pada
seperempat dan sepertiga ketebalan pelat yang bersangkutan dan perbedaan antara
kedalaman alur puncak dan tinggi crack inducer pada dasar harus tidak lebih besar dari
12 mm. Jika alur-alur dibuat dengan menggergaji, maka kedalaman alur tersebut harus
antara seperempat dan sepertiga ketebalan pelat, dan puncak batang pengikat harus
sekurang-kurangnya 20 mm dibawah dasar alur tersebut, crack inducer dapat ditiadakan.

Bila suatu crack inducer digunakan dalam perkerasan beton bertulang yang dikonstruksi

7 - 140
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

dalam 2 atau 3 lebar jalur dalam satu operasi, maka Kontraktor dapat menggantikan
batang-batang pengikat dan tulangan biasa dengan lembar-lembar anyaman baja tulangan
khusus yang diperpanjang paling sedikit 600 mm pada tiap sisi sambungan yang
bersangkutan, membentuk tulangan memanjang sebagaimana yang disyaratkan dalam
kontrak dan tulangan melintang berdiameter 8 mm dengan jarak antara 200 mm.
Lembaran anyaman tulangan tersebut harus diletakkan pada elevasi tulangan lainnya.

Bila suatu jalur kendaraan beton bertulang 3 jalur dikonstruksi dalam 2 lebar pelat, maka
sambungan membujur antara pelat-pelat tersebut harus berada pada sumbu jalur
kendaraan dan harus dikonstruksi dengan batang-batang pengikat sebagaimana ditetapkan
diatas. Setiap pelat yang dikonstruksi harus mempunyai lembar anyaman baja tulangan
khusus yang ditempatkan secara sentral dari jenis yang ditetapkan untuk perkerasan yang
dikonstruksi selebar 2 atau 3 jalur dalam satu operasi. Panjang tulangan melintang dalam
lembar anyaman baja tulangan khusus tersebut harus 600 mm lebih panjang dari pada
sepertiga lebar pelat .

(6) Alur Pada Sambungan

Alur-alur dipermukaan beton pada sambungan-sambungan harus dibentuk dengan cara


yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Alur-alur tersebut dapat dibentuk pada waktu
beton masih dalam keadaan plastis atau digergaji setelah beton mengeras. Bagian alur
yang akan ditutup/disegel harus mempunyai sisi yang benar-benar vertikal dan sejajar,
kecuali jika cetakan-cetakan khusus digunakan pada waktu beton dalam keadaan plastis,
untuk ini garis sumbu cetakan harus vertikal.

Alur-alur harus ditutup/disegel sesuai dengan Pasal 7.16.6 (7).

Jika alur-alur tersebut dibuat dengan digergaji, maka kontraktor harus membentuknya
sebagai berikut :

(a) Sambungan kontraksi

Celah-celah harus digergaji sampai kedalaman yang disyaratkan oleh Pasal


7.16.6 (3) dan harus mempunyai lebar yang memadai tidak lebih dari 20 mm.

(b) Sambungan ekspansi

(i) Celah-celah harus digergaji sampai kedalaman dan lebar penuh yang
diperlukan untuk segel seperti diperlihatkan dalam Gambar, atau

(ii) Dua celah digergaji, masing-masing satu sepanjang tiap tepi dari bahan
pengisi sambungan sampai kedalaman segel, dan bahan diantara celah-
celah tersebut dibuang. Jarak keseluruhan antara tepi-tepi bagian luar dari
kedua celah tersebut harus merupakan lebar segel yang disyaratkan.

Penggergajian awal harus diselesaikan secepat mungkin dan selalu dalam batas
waktu 18 jam dari setelah pemadatan akhir beton.

Alur-alur sambungan ekspansi dan sambungan konstruksi yang lebih lebar dari 5
mm harus disegel permanen atau sementara sebelum lalu lintas menggunakan
perkerasan yang bersangkutan. Celah-celah yang kurang lebar harus digergaji
sampai lebar dan kedalaman penuh yang disyaratkan dan segera dipasangi segel
permanen.

Bila alur dibentuk/dicetak, Kontraktor harus memperagakan hingga memuaskan

7 - 141
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Direksi Pekerjaan bahwa permukaan akhir yang melalui sambungan tersebut


dapat diperoleh dalam batas toleransi yang bersangkutan. Alat pembentukan
harus meliputi sebuah pelat vibrasi horizontal dengan lebar sekurang-kurangnya
300 mm melintasi garis sambungan, atau alat yang sejenis, untuk menjamin
bahwa beton sepenuhnya dipadatkan kembali pada tempatnya, dan menggunakan
sebuah batang perata yang cukup lebar untuk menjamin permukaan akhir akan
memuaskan. Bila alur-alur yang dibentuk lebih lebar dari 12 mm, maka cara
pembentukan yang dipakai adalah dengan menyisihkan dari pelat volume beton
yang perlu dipindahkan untuk membentuk alur tersebut. Alat pembentuk tidak
boleh dipasang pada mesin penghampar beton beracuan geser, jika mesin
tersebut harus berhenti untuk membentuk sambungan tersebut. Jika timbul
tonjolan-tonjolan kasar pada waktu alur-alur dibuat, maka bagian-bagian tersebut
harus digerinda untuk membentuk suatu radius kira-kira 6 mm atau suatu
pembulatan sudut tepi pelat selebar kira-kira 6 mm.

Bila perkerasan dikonstruksi selebar dua atau tiga jalur dalam satu operasi, maka
sambungan atau sambungan-sambungan membujur dapat dibentuk dengan
menyisipkan didepan batang perata alat pelapis beton, suatu batang tipis yang
dibentuk sebelumnya yang disetujui dari suatu alat penyalur yang diperlengkapi
alat pemadat bervibrasi. Batang tipis tersebut harus cukup kaku untuk
memungkinkan batang tersebut ditempatkan secara vertikal dan cukup dalam
sehingga kedalaman total batang tipis dan crack inducer akan berada antara
seperempat dan sepertiga ketebalan pelat yang bersangkutan. Cara penempatan
batang tipis tersebut harus menjamin bahwa letaknya vertikal, sesuai dengan
alinyemen yang benar, pada kedalaman yang cukup untuk memungkinkan
dilintasi oleh balok finishing atau mesin pengalur beton plastis, dan dalam posisi
yang benar. Beton yang dipindahkan oleh batang tipis tersebut harus dipadatkan
dengan layak kedalam pelat dalam batas toleransi-toleransi permukaan yang
diizinkan dalam Pasal 7.16.5.(4). Bila pelat-pelat tepinya berbatasan, maka suatu
batang tipis yang dibentuk sebelumnya yang disetujui harus dipasang pada tepi
pelat beton yang telah mengeras membentuk sambungan membujur.

Bila perkerasan dari bahan lentur dan pelat beton berbatasan dalam arah
membujur pada elevasi permukaan jalan, maka suatu alur selebar 10 mm dan
sedalam 20 sampai 25 mm harus dibentuk atau digergaji, kemudian
disegel/ditutup sesuai dengan Pasal 7.16.4(7) dengan menuang suatu bahan segel
yang cocok untuk kedua perkerasan tersebut.

(7) Penyegelan (Penutup Alur)


Sebelum lalu lintas diperkenankan mempergunakan perkerasan jalan dan sebelum
penyegelan permanen, alur-alur harus dibersihkan dari setiap kotoran atau bahan lepas
dan harus dilindungi dengan memasukkan suatu kepingan penyegel sementara
sebagaimana disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Sebagai alternatif dalam hal sambungan
dibentuk dimana suatu bahan pengisi sementara atau pembentuk digunakan, maka bahan
tersebut dapat dibiarkan pada posisinya sampai sambungan-sambungan siap untuk
penyegelan permanen.

Penyegelan permanen sambungan-sambungan harus dilaksanakan dalam waktu 28 hari


sejak pengecoran beton. Segera sebelum penyegelan permanen, sambungan harus
dibersihkan dari segala kotoran, bahan lepas, penyegelan sementara atau bahan pengisi
lainnya harus dibuang. Sisi-sisi dari bagian alur yang akan disegel harus dikikis/dirapikan
dengan gerinda, gergaji atau semprotan pasir kering (dry sand blasting). Alur tersebut
harus didempul sementara sebelum penyemprotan pasir. Sebagai tambahan atau untuk
membuang senyawa penyegel yang lama, pancaran air bertekanan tinggi atau
penyemprotan air dan pasir dapat digunakan. Permukaan-permukaan alur tersebut harus

7 - 142
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

kering pada waktu penyegelan. Ketebalan minimum segel-segel harus sesuai dengan
rincian-rincian dalam gambar. Jika dalamnya alur melampaui ketebalan segel, alur
tersebut dapat didempul sampai kedalaman yang disyaratkan dengan suatu bahan dempul
yang dapat dipadatkan dari jenis yang tidak mempengaruhi dan tidak dipengaruhi oleh
senyawa penyegel yang akan digunakan. Setiap tepi-tepi alur-alur tersebut yang pecah
harus diperbaiki sehingga memuaskan Direksi Pekerjaan dengan menggunakan suatu
bahan yang disetujui, yang cocok harmonis dengan bahan penyegel, sebelum bahan
penyegel tersebut digunakan.

Alur-alur yang dipersiapkan kemudian harus diberi lapisan awal dan disegel dengan
senyawa-senyawa yang dituangkan sesuai dengan Pasal 7.16.2(8). Senyawa penyegel
yang harus dituang panas harus dipanaskan secara tidak langsung dan dikendalikan
dengan thermostat serta dilengkapi dengan sebuah pengaduk sampai suatu temperatur
tidak lebih tinggi dari temperatur pemanasan yang aman yang disarankan oleh pabrik
pembuat yang bersangkutan. Senyawa penyegel ini tidak boleh dipanaskan pada
temperatur tersebut untuk suatu perioda waktu lebih lama dari waktu pemanasan yang
aman yang dinyatakan oleh pabrik pembuatnya. Alat pelebur penuang harus dibersihkan
setiap akhir hari kerja dan setiap bahan yang telah dipanaskan dan tidak dipakai harus
dibuang. Bahan penyegel harus dituang sampai pada suatu permukaan antara 3 mm dan 6
mm dibawah permukaan beton yang bersangkutan, kecuali jika ditentukan lain dalam
kontrak.

(8) Perawatan Bak Kontrol dan Selokan

Tutup-tutup bak kontrol, selokan/saluran dan rangka-rangkanya harus dipisahkan dari


pelat perkerasan utama dan ditempatkan pada pelat-pelat yang terpisah. Pelat-pelat
tersebut harus lebih besar dari bagian luar lubang bak kontrol ditambah suatu beton yang
mengelilinginya yang kurang dari 150 mm di bawah dasar perkerasan jalan beton.

Posisi dari bak kontrol, selokan dan sambungan-sambungan pada perkerasan jalan beton
harus disesuaikan relatif satu sama lainnya sedemikian rupa sehingga pelat-pelat bak
kontrol dan selokan harus berdampingan dengan suatu sambungan, atau tepi dari pelat
perkerasan, atau kalau tidak terletak dalam batas tengah-tengah pelat. Bila ini tidak
mungkin, maka tulangan khusus harus ditempatkan di sekeliling ceruk (recess) selokan
atau bak kontrol.

Ceruk-ceruk bak kontrol dan selokan harus dibentuk dengan pengecoran pelat utama
terhadap kotak acuan. Tepi-tepi kotak harus vertikal dan mengikuti elevasi dan ketebalan
pelat. Acuan tersebut harus dibongkar bila beton di sekeliling tutup bak kontrol atau
selokan akan dicor.

Bahan pengisi sambungan setebal 20 mm yang dibentuk sebelumnya harus dipasang pada
tepi pelat yang terbuka, tebal pelat disediakan untuk kesempatan bagi kedalaman alur
penyegel, kalau tidak ceruk-ceruk (recesses) tersebut dapat digergaji setelah beton
tersebut mengeras.

Suatu alur penyegel harus dibuat langsung di atas bahan pengisi sambungan pra-bentuk
dan disegel sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 7.16.6.(8).

Tulangan harus ditempatkan pada posisi yang diperlihatkan dan beton dicor dengan
tangan dalam ruang antara pelat utama dan kerangka bak kontrol. Beton harus memenuhi
persyaratan-persyaratan kekuatan yang diberikan dalam Pasal 7.16.3.(3), dan campuran
tersebut harus dimodifikasi untuk memungkinkan pemadatan penuh dengan cara-cara
yang dipakai.

7 - 143
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

(9) Alat Transfer Beban (load transfer devices)

Bila digunakan dowel (batang baja polos), maka harus dipasang sejajar dengan
perrnukaan dan garis sumbu perkerasan beton, dengan memakai pengikat/penahan logam
yang dibiarkan terpendam dalam perkerasan.

Ujung dowel harus dipotong agar permukaannya rata. Ukuran bagian dowel yang harus
dilapisi aspal atau pelumas lain harus sesuai yang tertera pada Gambar, agar bagian
tersebut tidak ada lekatan dengan beton, penutup (selubung) dowel dari PVC atau logam
yang disetujui Direksi Pekerjaan harus dipasang pada setiap batang dowel pada
sambungan ekspansi. Penutup itu harus berukuran pas dengan dowel dan bagian ujung
yang tertutup harus tahan air.

Sebagai pengganti dowel pada sambungan kontraksi, batang dowel bsa diletakkan dalam
seluruh ketebalan perkerasan dengan alat mekanik yang disetujui Direksi Pekerjaan.

(10) Menutup Sambungan (sealing joint)

Sambungan harus ditutup segera sesudah selesai proses perawatan (curing) beton dan
sebelum jalan terbuka untuk lalu lintas, termasuk kendaraan Kontraktor. Sebelum ditutup,
setiap sambungan harus dibersihkan dari material yang tidak dikehendaki, termasuk
bahan perawatan (membrane curing compound) dan permukaan sambungan harus bersih
dan kering ketika diisi dengan material penutup.

Material penutup (joint sealer) yang digunakan pada setiap sambungan harus sesuai
dengan yang tertera pada Gambar atau perintah Direksi Pekerjaan.

Material penutup harus diaduk selama pemanasan untuk mencegah pemanasan yang
berlebihan secara tidak merata. Waktu dituangkan, jangan sampai material ini tumpah
pada permukaan beton yang terbuka. Kelebihan material pada permukaan beton harus
segera dbersihkan. Penggunaan pasir atau material lain sebagai pelindung material
penutup tidak diperbolehkan.

7.16.7 PENGENDALIAN KUALITAS DILAPANGAN

(1) Umum

Kontraktor harus bertanggung jawab penuh untuk menjamin bahwa kualitas beton
memenuhi Spesifikasi dan tanggung jawab ini tidak dapat dihilangkan dengan pengujian
yang telah dilaksanakan dan disetujui Direksi Pekerjaan.

(2) Pengujian Untuk Sifat Kemudahan Pengerjaan

Satu atau lebih pengujian Slump sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan,
harus dilaksanakan untuk setiap takaran beton yang dihasilkan, dan pengujian tersebut
tidak akan dianggap telah dilaksanakan kecuali telah disaksikan oleh Direksi Pekerjaan
atau wakilwakilnya.

(3) Pengujian Kekuatan

Kontraktor harus melaksanakan tidak kurang dari satu pengujian kekuatan untuk setiap
20 meter kubik atau sebagian dari padanya, beton yang dicor. Setiap pengujian harus

7 - 144
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

termasuk pembuatan tiga contoh yang identik untuk diuji pada umur 3, 7, dan 28 hari.
Tetapi bila jumlah beton yang dicor dalam satu hari memberikan kurang dari 5 contoh
untuk diuji, maka contoh-contoh harus diambil dari 5 takaran yang dipilih secara
sembarangan. Contoh pertama dari contoh-contoh ini harus diuji pada umur 3 hari disusul
dua oleh pengujian lebih lanjut pada umur 7 dan 28 hari.

(4) Pengujian Tambahan

Kontraktor harus melaksanakan suatu pengujian tambahan yang mungkin diperlukan


untuk menetapkan kualitas bahan-bahan, campuran atau pekerjaan beton yang telah
selesai, sebagaimana diarahkan oleh Direksi Pekerjaan. Pengujian tambahan ini dapat
meliputi :

(i) Pengujian yang bersifat tidak merusak dengan menggunakan sclerometer atau
alat penguji lainnya.
(ii) Pengambilan dan pengujian inti beton.
(iii) Pengujian lain semacam itu sebagaimana ditetapkan Direksi Pekerjaan.

7.16.8 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

(1) Pengukuran

(a) Perkerasan jalan beton

(i) Beton untuk perkerasan jalan harus diukur dalam jumlah meter kubik yang
telah ditempatkan dan diterima dalam pekerjaan sesuai dengan ukuran-
ukuran sebagaimana diperlihatkan dalam gambar. Volume yang diukur
harus merupakan hasil perkalian dari lebar jalur kendaraan yang diukur
tegak lurus terhadap garis sumbu jalur kendaraan yang bersangkutan,
dikalikan dengan panjang jalur kendaraan yang diukur sepanjang garis
sumbunya dikalikan dengan tebal lapis perkerasan tegak lurus dasar badan
jalan. Tidak ada pengurangan akan diadakan untuk lubang-lubang yang
luasnya kurang dari satu meter persegi.

(ii) Kuantitas yang diukur tidak termasuk daerah dimana perkerasan jalan
beton lebih tipis dari ketebalan yang ditetapkan, daerah pelat yang sudut
tepinya pecah atau retak yang tidak dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan
atau daerah-daerah dimana beton tidak mencapai kekuatan
karakteristiknya.

(iii) Ketebalan perkerasan jalan beton yang diukur untuk pembayaran dalam
segala hal harus merupakan ketebalan nominal rencana sebagaimana
diperlihatkan dalam Gambar. Dalam hal Direksi Pekerjaan menyetujui
atau menerima suatu lapisan yang lebih tipis yang cukup menurut alasan-
alasan teknis, maka pembayaran untuk perkerasan jalan beton tersebut
diadakan dengan menggunakan suatu harga satuan yang diubah sama
dengan :

Harga satuan penawaran x Ketebalan nominal yang diterima


Ketebalan nominal rencana

Tidak ada penyesuaian harga satuan semacam itu dapat diadakan untuk
perkerasan yang diterima dengan ketebalan-ketebalan melebihi ketebalan

7 - 145
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

nominal rencana yang diperlihatkan dalam Gambar, kecuali jika


penambahan ketebalan tersebut telah diperintahkan secara khusus atau
disetujui oleh Direksi Pekerjaan secara tertulis sebelum perkerasan jalan
beton yang bersangkutan dihampar.

(iv) Di mana pembetulan terhadap perkerasan jalan beton yang tidak


memuaskan telah diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan sesuai dengan
Pasal 7.16.1(9) dan 7.1.1(9), maka kuantitas yang diukur untuk
pembayaran harus sesuai dengan apa yang seharusnya akan dibayar
seandainya pekerjaan semula telah dapat diterima. Tidak ada pembayaran
yang diperlukan untuk pembetulan tersebut.

(b) Tulangan

(i) Tulangan baja akan diukur untuk pembayaran sebagai jumlah kilogram
yang dipasang ditempat yang bersangkutan dan diterima oleh Direksi
Pekerjaan. Jumlah kilogram tersebut harus dihitung dari panjang batang
yang sebenarnya dipasang, atau luas sebenarnya dari anyaman baja
tulangan yang dipasang, dan berat satuan dalam kilogram per meter
panjang untuk batang atau kilogram per meter persegi untuk luas anyaman
yang disetujui. Berat satuan yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan harus
berdasarkan berat nominal yang diberikan oleh pabrik baja yang
bersangkutan atau, jika Direksi Pekerjaan memerintahkan demikian,
berdasarkan pengujian-pengujian penimbangan sebenarnya yang
dilaksanakan oleh Kontraktor terhadap contoh-contoh yang dipilih oleh
Direksi Pekerjaan.

Bila batang-batang berukuran lebih besar dipakai sebagai pengganti atas


permintaan Kontraktor, maka batang-batang tersebut harus diukur seakan-
akan batang tersebut sama dengan yang diperlihatkan dalam Gambar.
Sambungan-sambungan yang ditambahkan oleh Kontraktor demi
kepentingannya tidak akan diukur.

(ii) Jepitan, ikatan dudukan, penunjang, batang dowel, batang pengikat (tie-
bar), pemisah atau bahan lainnya yang digunakan untuk menempatkan
atau mengikat baja tulangan supaya tetap ditempat, tidak boleh termasuk
dalam berat untuk pembayaran.

(iii)Panjang lewatan dan sambungan-sambungan kecuali secara khusus


diperlihatkan dalam Gambar, tidak akan diukur untuk pembayaran.
(c) Sambungan

Sambungan-sambungan pada perkerasan jalan beton termasuk batang dowel dan


batang pengikat (tie-bar), tidak boleh diukur untuk pembayaran, biayanya
dianggap telah termasuk dalam harga Penawaran untuk Beton.

(d) Membran kedap air

Membran kedap air, bila digunakan harus diukur untuk pembayaran sebagai
jumlah meter persegi yang sesungguhnya dihampar dibawah perkerasan jalan
beton. Luas yang diukur harus sama dengan luas untuk beton yang dihampar
diatasnya sebagaimana ditetapkan dalam pasal 7.16.8.(1) (a)-(i). Panjang lewatan
dan bahan yang ditempatkan diluar daerah perkerasan jalan beton tidak akan
diukur untuk pembayaran.

7 - 146
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

(2) Pembayaran

Kuantitas beton yang ditentukan sebagaimana diberikan diatas, dibayar menurut harga
penawaran per satuan pengukuran untuk jenis pembayaran yang diberikan dibawah ini
dan tercantum dalam daftar harga penawaran. Harga-harga dan pembayaran tersebut
harus dianggap merupakan kompensasi penuh untuk penyediaan semua beton mutu K-
350, besi tulangan sambungan melintang dan memanjang, membran kedap air, agregat
dan semen, untuk pencampuran, penempatan, perataan, penyelesaian, perawatan dan
perlindungan beton, untuk menyediakan, menempatkan, dan membongkar acuan-acuan
serta perisai-perisai batang pengikat, untuk melengkapi dan menempatkan semua bahan-
bahan untuk pembuatan sambungan, untuk menggergaji dan menyegel sambungan-
sambungan dan sebagainya, dan semua tenaga kerja, peralatan serta pengeluaran
tambahan lainnya.

Nomor Mata Satuan


Uraian
Pembayaran Pengukuran

7.16.(1) Perkerasan Jalan Beton Meter Kubik

7 - 147
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

SEKSI 7. 17

WET LEAN CONCRETE

7.17.1 UMUM

(1) Uraian

Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, peralatan, material, dan pelaksanaan
semua pekerjaan yang berkaitan dengan pembuatan lapisan perata (leveling course)
dan pekerjaan pelebaran perkerasan dengan wet lean concrete, termasuk persiapan
lapisan alas, pengangkutan dan penyiapan agregat, pencampuran, pengadukan,
pengangkutan, penuangan, pemadatan, finishing, pengawetan, pemeliharaan dan
pekerjaan insidental yang berkaitan. Semua pekerjaan harus dilaksanakan sesuai
dengan Gambar Rencana, Spesifikasi, dan instruksi Direksi Pekerjaan.

(2) Pekerjaan Seksi Lain Yang Berkaitan Dengan Seksi Ini

(a) Persiapan Tanah Dasar (Subgrade Preparation) : Seksi 3.3


(b) Lapis Pondasi Agregat : Seksi 5.1
(c) Pekerjaan Beton : Seksi 7.1
(d) Perkerasan Jalan Beton : Seksi 7.16

(3) Lapisan Alas

Bila wet lean concrete ini ditentukan untuk levelling course, maka sebelum
dilaksanakan, lapisan alas harus bersih dari kotoran, lumpur, batu lepas, atau bahan
asing lainnya, dan diperiksa kepadatannya, kerataan finishing dan permukaannya oleh
Direksi Pekerjaan. Daerah yang tidak memenuhi ketentuan Spesifikasi harus
dibongkar, diperbaiki atau direkonstruksi sebagaimana perintah Direksi Pekerjaan.
Tidak ada pembayaran langsung untuk pekerjaan pembongkaran, perbaikan, atau
rekonstruksi ini, karena merupakan tanggung jawab Kontraktor.

(4) Lapisan Alas Pasir (sand bedding)

Bila wet lean concrete ditentukan untuk pekerjaan pelebaran jalan, maka beton itu
harus diletakkan di atas alas yang sudah rata terdiri pasir alam setebal 4 cm. Pasir
alam yang tertinggal (tidak lolos) saringan No.200 dan yang fraksi halusnya
nonplastis, dapat digunakan. Pasir dengan kadar air yang memadai dihamparkan
diatas subgrade dan diratakan. Alas yang sudah rata harus dapat dipadatkan dengan
roller yang paling besar yang dapat dipakai. Sebelum pengerjaan wet lean concrete,
alas pasir harus dibasahi dengan air.

7.17.2 BAHAN

Agregat, semen dan air harus memenuhi ketentuan minimal mutu beton K-125 pada
Pasal 7.1.2 dalam Spesifikasi ini. Ukuran maksimum agregat harus dipilih oleh
Kontraktor dan disesuaikan dengan kebutuhan pemakaian wet lean concrete, dan
harus disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

7.17.3 PENCAMPURAN DAN PENAKARAN

7 - 148
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

Perbandingan jumlah semen dan agregat dalam kondisi kering jenuh (saturated
surface dry condition) harus memadai untuk memenuhi ketentuan kuat pecah beton
menurut Seksi ini, dan untuk menjaga konsistensi campuran. Perbandingan itu tidak
boleh kurang dari 1 : 2 : 4.

7.17.4 METODE KONSTRUKSI

(1) Cetakan (acuan)

Wet lean concrete untuk levelling course harus dituang dalam cetakan baja atau kayu
secara cut off screeding, dengan landai dan elevasi tertentu.

(2) Sambungan

Sambungan memanjang harus berjarak sekurang-kurangnya 20 cm dari sambungan


memanjang perkerasan beton yang akan dihampar diatasnya.

Sambungan konstruksi melintang dibuat pada akhir setiap pekerjaan pada hari itu, dan
harus membentuk permukaan vertikal melintang yang benar.

(3) Pencampuran, Pengangkutan, Penghamparan dan Pemadatan

Wet lean concrete harus dicampur, diangkut, dituang, disebar dan dipadatkan menurut
ketentuan Pasal 7.1.3 dan 7.1.4.

7.17.5 PEKERJAAN PENYELESAIAN

(1) Finishing

Setelah pemadatan dan diratakan sampai bidang dan elevasi yang benar, wet lean
concrete harus dilepas (floating) sampai permukaan rata dan tidak ada permukaan
yang lebih rendah atau pun daerah yang terbuka. Kemudian permukaan harus diuji
dengan paling sedikit dua kali geseran mal datar (straight-egde) dengan panjang mal
tidak kurang dari 1,8 m.

(2) Perawatan Beton (Curing)

Wet lean concrete harus segera dirawat, setelah finishing selesai, untuk jangka waktu
tidak kurang dari 7 hari. Perawatan untuk permukaan harus dilakukan dengan salah
satu metode berikut :

(a) Dilapisi penutup sampai lapisan perkerasan berikutnya dihamparkan dengan


lembaran plastik kedap air, dijaga tidak lepas dari permukaan, dan dengan
sambungan yang saling menindih (overlap) sekurang-kurangnya 300 mm dan
dijaga sedemikian rupa untuk mencegah penguapan.

(b) Seluruh permukaan disemprot merata dengan bahan white pigmented curing
compound.

(c) Seluruh permukaan disemprot air merata kontinyu, dan kondisi kelembaban
dijaga agar tetap selama masa perawatan.

7 - 149
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

7.17.6 PENGENDALIAN KUALITAS DILAPANGAN

(1) Pengujian Kekuatan

Untuk ini harus disediakan silinder uji tekan beton (compressive strength), dengan
diameter 15 cm dan tinggi 30 cm, yang dibuat dari beton material wet lean concrete
yang diambil di lapangan.

Satu silinder mewakili 50 m kubik wet lean concrete yang dihamparkan, dan tidak
kurang dari tiga silinder harus dibuat setiap hari.

(2) Ketentuan Kuat Pecah Beton (crushing strength)

Kuat pecah beton rata-rata pada umur 7 hari dari setiap kelompok (group) contoh
(specimen) yang diambil pada setiap pelaksanaan pekerjaan tidak boleh kurang dari
30 kg/cm2.

Bila rata-rata kuat pecah beton pada lebih dari satu kelompok diantara lima kelompok
yang berurutan ternyata kurang dari 30 kg/cm2, maka kadar semen harus ditambah
sesuai dengan persetujuan Direksi Pekerjaan, sampai hasilnya menunjukkan bahwa
campuran tersebut memenuhi syarat.

Bila ketentuan-ketentuan kuat pecah beton diikuti, nilai kuat pecah beton yang rendah
belum tentu menyebabkan hasil pekerjaan ditolak.

(3) Kerataan Permukaan

Wet lean concrete harus dibentuk dan diselesaikan sesuai dengan garis, landai dan
penampang permukaan seperti tertera pada Gambar Rencana. Penyimpangan pada
permukaan yang sudah selesai tidak boleh lebih dari 3 cm dari elevasi yang
direncanakan. Penyimpangan permukaan ini juga tidak boleh lebih dari 1 cm pada mal
datar (straight edge) 3 m ketika diterapkan sejajar dengan dan tegak lurus dari garis
sumbu (centre line) badan jalan.

Mal datar harus dipergunakan dengan cara overlap dari panjangnya. Perbedaan
penyimpangan dari elevasi yang dikehendaki untuk lapisan perata (levelling course)
untuk perkerasan beton antara dua titik dalam 20 m, tidak boleh lebih dari 1,5 cm.

(4) Pemeliharaan

Peralatan atau pun kendaraan lalu lintas, termasuk kendaraan untuk keperluan
pelaksanaan, tidak boleh memasuki permukaan yang sudah selesai, selama 7 hari
pertama masa perawatan.

Setelah masa perawatan, peralatan dan kendaraan yang diperlukan untuk meneruskan
pekerjaan diperbolehkan memasuki daerah wet lean concrete.

Wet lean concrete harus dijaga agar selalu dalam kondisi baik, sebelum
menghamparkan lapisan berikutnya. Kerusakan akibat apa pun harus diperbaiki
dengan mengganti lapisan pada daerah itu, atas tanggungan biaya Kontraktor sendiri.

7.17.7 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

7 - 150
SPESIFIKASI UMUM DESEMBER 2006

(1) Metode Pengukuran

Jumlah wet lean concrete untuk levelling course akan dibayar berdasarkan jumlah
meter persegi dari levelling course itu, yang telah diselesaikan dan disetujui sesuai
dengan Gambar Rencana, Spesifikasi dan petunjuk Direksi Pekerjaan.

Alas pasir akan dibayar berdasarkan jumlah meter persegi lapisan alas yang sudah
selesai dan setujui.

Untuk penambahan kandungan semen atau untuk kelebihan ketebalan lapisan dari
ketebalan minimum tidak ada tambahan pembayaran.

(2) Dasar Pembayaran

Jumlah wet lean concrete dan lapisan alas pasir, yang telah ditentukan di atas, akan
dibayar menurut Harga Kontrak untuk masing-masing butir pembayaran di bawah ini.
Pembayaran ini merupakan kompensasi penuh untuk penyediaan seluruh tenaga kerja,
peralatan dan material yang diperlukan, termasuk pembuatan lapisan alas pasir,
pencampuran, persiapan, pengangkutan, penghamparan, pemadatan, pekerjaan
penyelesaian (finishing), pengawetan, pemeliharaan dan pekerjaan lain yang
diperlukan, sesuai dengan Gambar Rencana, Spesifikasi dan petunjuk Direksi
Pekerjaan.

Nomor Mata Satuan


Uraian
Pembayaran Pengukuran

7.17 (1) Wet Lean Concrete Meter Persegi

7.17 (2) Sand Bedding (t = 4 cm) Meter Persegi

7 - 151
BAB 8
PEKERJAAN KONSTRUKSI KAYU

8.1 KONSTRUKSI KAYU BARU

8.1.2 Uraian

Pekerjaan terdiri dari pelaksanaan semua konstruksi kayun baru yang berhubungan dengan jembatan kecuali
untuk pekerjaan pancang kayu yang diuraikan pada bab 5.2 dan dinding tiang turap kayu yang diuraikan pada
bab 4.5.

8.1.3 Bahan

a. Mutu Kayu

Semua kayu yang digunakan untuk pekerjaan jembatan harus sesuai dengan Peraturan Konstruksi
Kayu Indonesia (PKKI) Tahun 1961dan disetujui oleh Direksi Teknik. Kayu harus klas I atau klas II (
seperti disyaratkan dalam gambar). Kayu yang ditetapkan diatas tidak boleh digunakan pada lokasi
permanen yang terbuka tanpa pengawetan yang cukup kecuali disetujui oleh Direksi Teknik.
Untuk konstruksi sementara, kayu tidak memenuhi Spesifikasi boleh digunakan, dengan persetujuan
lebih dahulu oleh Direksi Teknik.

b. Penyimpanan

Kayu yang dikirim ke lokasi pekerjaan harus ditumpuk dan diatur pada tempat tertentu dan tidak
diperbolehkan menyentuh tanah.
Kayu bulat harus ditimbun dengan cara sedemikian sehingga setiap batang kayu bebas terhadap
batang yang berdekatan dengan suatu jarak tidak kurang dari 7 cm.
Kayu gergajian harus ditimbun serupa dengan kayu bulat atau diatur tegak lurus pada lapis bawahnya
atau dipisahkan dengan tumpukan untuk mencegah perubahan bentuk kayu.
Kayu pada setiap lapis dipisahkan dari kayu-kayu yang berdampingan dengan jarask horizontal
paling sedikit 2 cm. Semua kayu yang ditumpuk pada tempat pekerjaan harus dilindungi dengan baik
dan jika kayu tersebut rusak atau tidak sesuai untuk digunakan, kayu tersebut akan ditolak dan harus
diganti atas biaya Kontraktor.

8.1.4 Pelaksanaan

a. Pelaksanaan

Semua pekerjaan kayu jembatan harus dilaksanakan dengan cara yang sebaik-baiknya. Kayu bulat
tidak boleh diberikan atau ditentukan mengenai banyaknya pemotongan, serutan, atau sambungan-
sambungan, maka masalah tersebut harus dikemukakan pada Direksi Teknik untuk penentuannya.
Semua sambungan harus dibuat dengan rapi agar diperoleh suatu sambungan yang tepat tanpa
menggunakan pasak atau pengikat.
Kecuali disyaratkan atau ditunjukkan pada Gambar Rencana, maka sepotong kayu tidak boleh ada
sambungan, ujung-ujungnya harus dipotong tegak dan bidang kontak harus berhubungan dengan
baik.
Semua lubang untuk baut dan sambungan-sambungan lain harus dibor dengan teliti. Semua lubang
pen dan sambungan-sambungan kayu harus dibentuk dengan tepat dan rapat.
Lubang-lubang untuk baut harus dilubangai dengan mata bor yang diameternya 1 mm lebih besar
dari diameter baut, kecuali lubang-lubang untuk bautpada lantai jembatan yang harus mempunyai
diameter yang sama dengan baut-bautb yang digunakan.
Lubang-lubang untuk paku jembatan yang berbentuk bujur sangkar harus mempunyai diameter yang
ukurannyasama dengan tebal tangkai paku. Dalam hal ini gambar rencana menunjukkan penggunaan
alur, maka baut harus ditempatkan sedemikian sehinggaalur dapat bergerak mengikuti arah susutnya
kayu.
Balok dengan penampang bujur sangkar/persegi panjang harus dipasang sedemikian sehingga bagian-
bangian yang paling jauh dari galihn harus menghadap keluar. Galih semua balok persegi/ bujur
sangkar harus ditempatkan sehingga menghadap kebawah.
Semua tebal lantai jembatan yang tidak rata harus diratakan sampai seluruhnya rata (level) sepanjang
sisi kiri dan kanan jembatan, sehingga pemasangan yang kokoh dapat dicapai untuk masing-masing
balok kerb. Tepi gelagar yang bulat harus dibuat rata untuk mendapatkan suatu permukaan yang datar
paling sediki8t 15 cm pada papan lantai atau gelagar-gelagar melintang.

b. Sambungan yang diikat dengan besi

Kecuali diisyaratkan lain pada Gambar Rencana maka semua baut, paku-paku jalur, plat, cincin
penutup baut dan pekerjaan besi lainnya harus berup baja lunak yang digalvanisasi.
Semua pekerjaan besi sebelum digunakan, harus disapu dan dibersihkan dan dicelup dengan minyak
atau bahan lain seperti yang disetujui oleh Direksi Teknik.
Baut harus mempunyai kepala yang bentuknya baik, bujur sangkar atau bulat, dengan mur berbentuk
bujur sangkar mempunyain ulir whitworth dengan ukuran standart. Dimana panjang ulir paling
sedikit 4 kali diameter bautnya. Semua mur harus cocok betul-betul tanpa toleransi. Panjang baut
seperti yang ditunjukkan pada Gambar Rencana harus menunjukkan panjang yang diperkirakan dan
Kontraktor harus menyediakan baut dengan panjang yang tepat seperti yang diperlukan. Ujung-ujung
baut tidak boleh lebih dari setengah diameter yang tertanam melampaui mur.
Cincin penutup bujur sangkar harus digunakan dibawah semua mur dan baut.
Jika baut ditempatkan dalam lubang yang bulat atau bujur sangkar, baut harus dilengkapi juga dengan
cincin penutup. Semua lekuk kepala baut yang terbenam harus diisi dengan campuran aspal pasir untuk
mencegah masuknya air. Ukuran cincin penutup baut harus sesuai dengan table berikut :

Tabel 8.1
UKURAN BAUT DAN RING
DIAMETER TEBAL DIAMETER
(INCHI) LUAR LUBANG
1/8 1 9/16
5/8 3/16 2 11/16
3/16 2 13/16
7/8 3 1
1 3 1 1/8
1 5/16 4 1 3/8

Catatan pemasangan ganjalan kayu di bawah baut atau maur tidak diizinkan

c. Perlindungan di daerah pasang surut

Kolom-kolom pada daerah pasang surut harus dilindungi seperti yaqng ditunjukkan pada Gambar
Rencana terhadap organisme laut dengan menggunakan pembungkus beton atau menggunakan bahan
pencegah lain yang telah disetujui oleh Direksi Teknik.
d. Perlindungan dengan Petroleum Jelly

Ujung-ujung semua pekerjaan jembatan kayu harus dilapisi dengan Petrolium Jelly yang dipanaskan
dengan bahan-bahan lain yang disetujui oleh Direksi Teknik sesudah setelah kayu diserahkan ditempat
pekerjaan. Ujung-ujung setiap batang yang telah dipotong menurut ukuran yang diperlukan pada
pelaksanaan pekerjaan juga harus diperlakukan dengan cara yuang sama seperti yang tersebut diatas.

e. Minyak pengawet kayu

Kecuali pada bagian-bagian yang memerlukan pengecatan, pelapisan dengan tir atau pengawet dengan
petroleum jelly maka semua permukaan kayu harus diberi 2 lapis creosote sebelum pemasangan pada
posisinya.
Setiap pekerjaan penyelesaian pada sambungan kayu harus diberi perhatian khusus dengan
mengawetkan kedua ujung sambungan itu dengan minyak creosote. Semua bagian yang ditutup dengan
minyak creosote harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum pekerjaan pengecatan dan masing-masing
bagian tidak boleh diminyaki selama atau segera sesudah hujan atau selama permukaan kayu masih
lembeb/ basah. Setiap pemakaian minyak creosote pada bagian yang sama harus diberi waktu selang
paling sedikit 48 jam.
Semua lubang baut yang dibor sesudah pengawetan harus diawetkan dengan minyak creosote dengan
menggunakan alat penyemprot lubang bor bertekanan yang telah disetujui. Setiap lubang yang belum
terisi, sesudah diberi minyak creosote, harus disumbat dengan sumbat creosote.

f. Penggunaan ter pada lantai kayu

Permukaan atas lantai jembatan harus diberi lapis terbatubara (keolter), yang akan dipakai pada kondisi
panas, sesudah itu disiram dengan lapisan tipis pasir kasar dan bersih. Pengecatan dan ter tidak boleh
dipakai selama atau segera sesudah hujan atau selain permukaan kayu masih basah.

8.1.5 Cara Pengukuran

Kuantitas pekerjaan kayu yang dibayar ialah jumlah meter kubik pekerjaan kayu yang sudah dipasang,
diawetkan dan telah diselesaikan sesuai dengan spesifikasi serta diterima oleh Direksi Teknik.

8.1.6 Cara Pembayaran

Jumlah yang ditentukan seperti yang telah diuraikan diatas, harus dibayar dengan harga satuan pada
kontrak tiap satuan yang diukur untuk mata persyaratan seperti daftar dibawah yang harga dan
pembayarannya harus dibayar penuh untuk gaji, bahan, alat/ peralatan dan lain-lain yang perlu untuk
mencapai pekerjaan berkualitas terbaik.

KONSTRUKSI KAYU BARU


NOMOR MATA PEMBAYARAN DAN URAIAN SATUAN PENGUKURAN
8.1.1 Menyediakan, membuat dan memasang gelaga atau rangka Meter Kubik
jembatan kayu kelas I (mutu kayu awet)
Menyediakan, membuat dan memasang papan lantai kayu dan
8.1.2 jalur roda kelas I (mutu kayu awet) Meter Kubik
Menyediakan, membuat dan memasang kepala jembatan,
dinding sayap dan pilar kelas I (mutu kayu awet)
8.1.3 Kayu untuk pagar pengaman dan tonggak kelas I (mutu kayu Meter Kubik
awet)

8.14 Meter Kubik


8.2 PERBAIKAN KONSTRUKSI KAYU

8.2.1 Uraian

Pekerjaan yang tercakup pada bab ini berupa perbaikan kerusakan/ cacat pada konstruksi jembatan kayu
yang ada (sebagian dari pengawetan ulang yang diuraikan pada bab 8.3), sperti perbaikan setempat pada
bagian-bagian kayu yang rusak atau busuk (bagian-bagian lainnya atau seluruh batang).
Akan dimasukkan pada hal-hal mengenai pembuangan bagian-bagian yang rusak, penggantian dan
penyedian kayu yang baru serta pemasungan semua sengkang baja yang diperlukan, plat dan baut. Untuk
seluruh perbaikan setempat lain-lainnya semacam itu. Direksi Teknis akan mengeluarkan instruksi
termasuk semua gambar yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan.

8.2.2 Bahan

Bahan dan pelaksanaan pekerjaan harus sesuai dengan uraian untuk konstruksi kayu baru di dalam
spesifikasi ini.

8.2.3 Pelaksanaan

a. Cara Memperbaiki

Pemakaian konstruksi kayu yang ada harus dilaksanakan sesuai dengan persyaratan umum dan
keterampilan kerja yang diuraikan dalam bab 8.1
Semua komponen kayub yang rusak termasuk baut, ring, dan perangkat perangkat keras lainnya harus
diganti seperti yang ditunjukkan pada gambar khusus atau petunjuk Direksi Teknis.

b. Tindakan Pencegahan Keamanan

Kontraktor harus sepenuhnya mengambil tindakan pencegahan melindungi stabilitas konstruksi dan
kekuatan konstruksi jembatan selama pekerjaan perbaikan termasuk keamanan setiap lalu lintas yang
menggunakan jembatan, apabila perlu perhitungan konstruksi harus dibuat untuk menentukan
kekuatan dan kemampuan bermacam-macam batang-batang jembatan.

c. Pekerjaan Sementara

Perancah sementara yang digunakan untuk pekerjaan perbaikan biasanya termasuk pada pekerjaan
pengawetan ulang. Semua pekerjaan sementara seperti penyokong sementara dan lain-lain harus
disediakan oleh Kontraktor sebagai bagian pekerjaan ini.

8.2.4 Cara Pengukuran

Kuantitas dari komponen kayu yang diganti dan diukur untuk pembayaran ialah jumlah meter kubik kayu
yang dipasang ditempat dan selesai. Perangkat keras seperti paku, baut, pasak, cincin penutup, plat, dan
sengkang baja skrup log harus diukur secara terpisah untuk pembayaran dan berdasarkan berat dalam
kilogram yang dipasang. Semua harus sesuai dengan spesifikasi dan telah diterima oleh Direksi Teknik.

8.2.5 Cara Pembayaran


Jumlah yang ditentukan seperti yang diuraikan diatas, harus dibayar dengan harga satuan pada kontrak
tiap satuan yang diukur untuk mata pembayaran seperti daftar dibawah yang harga dan pembayaran harus
dibayar penuh untuk gaji, bahan, alat/ peralatan dan pekerjaan lain-lain yang perlu untuk mencapai
pekerjaan berkualitas baik.
PERBAIKAN KONSTRUKSI KAYU
NOMOR MATA PEMBAYARAN DAN URAIAN SATUAN PENGUKURAN
8.2.1 Mengganti komponen kayu (mutu kayu awet) Meter Kubik
8.2.2 Perangkat-perangkat untuk perbaikan kayu (di galvanis) Kilogram

8.3 PENGAWETAN ULANG KONSTRUKSI KAYU YANG ADA

8.3.1 Uraian

Pekerjaan yang tercakup pada bab ini termasuk pembersihan dan persiapan permukaan untuk pengawetan
guna melindungi terhadap cuaca dan penggunaan suatu lapisan baru bahan pengawet baru pada
konstruksi jembatan kayu lama, termasuk semua perancah yang diperlukan.

8.3.2 Bahan

Bahan yang digunakan sebagai pengawet kayu harus :


Untuk permukaan kayu konstruksi umumnya mutu yang disetujui
Untuk permukaan lantai

8.3.3 Persiapan Permukaan

Permukaan yang ada akan dirawat harus dibersihkan seluruhnya dengan membuang semua debu dan
benda-benda lepas serta benda-benda asing lainnya sampai Direksi Teknik merasa puas. Semua belahan-
belahan dan lubang-lubang yang dapat menahan air harus disumbat dengan sumbat creosote (potongan-
potongan kayu yang direndam dengan minyak creosote). Banyaknya pekerjaan penyumbatan yang
diperlukan pada setiap lokasi yang diberikan akan berbeda-beda dan oleh karena itu Kontraktor sebelum
memasukkan penawaran harus memeriksa jembatan sendiri untuk menentukan banyaknya pekerjaan
yang diperlukan.

8.3.4 Penggunaan Bahan Pengawet

Semua permukaan kayu(kecuali permukaan atas lantai jembatan) harus disikat dan dilapisi dengan dua
kali pemberian minyak creosote panas. Permukaan atas lantai jembatan harus diberi lapisan ter batubara
panas (koolter) yang setelah itu disiram dengan lapisan tipis lapisan pasir kasar yang bersih.
Bahan pengawet (minyak creosote dan ter) harus dioleskan dengan menggunakan sikat serta kayu yang
diawetkan harus betul-betul kering. Tidak boleh melapisi dengan bahan pengawet pada waktu cuaca
berawan, lembab dan hujan.

8.3.5 Pekerjaan Sementara

Semua pekerjaan pembersihan, persiapan, pengecatan dan pekerjaan-pekerjaan lainnya hrus dilaksanakan
dengan aman, efisien, dan teratur serta gangguan terhadap lalu lintas seminim mungkin. Perancah atau
pekerjaan sementara lainnya harus disediakan oleh Kontraktoruntuk memberikan jalan masuk yang
menyenangkan dan aman ke semua bagian konstruksi yang memerlukan pengawetan. Pekerjaan
semacam itu harus dipasang oleh Kontraktor sesuai dengan praktek semua pelaksanan yang biasa
dilakukan sehubungan dengan ketentuan-ketentuan mengenai keamanan staff pelaksana dan masyarakat
yang menggunakan jembatan, dan harus dalam segala hal memuaskan Direksi Teknik.
8.3.6 Cara Pengukuran

Kuantitas dan permukaan yang diawetkan yang akan dibayar ialah jumlah meter persegi permukaan kayu
yang telah diawetkan dan diselesaikan sesuai dengan spesifikasi dan diterima oleh Direksi Teknik.
8.3.7 Cara Pembayaran
Jumlah yang ditentukan seperti diuraikan diatas harus dibayar dengan harga satuan pada bagi tiap satuan
yang diukur untuk mata pembayaran seperti daftar dibawah dimana harga merupakan pembayaranpenuh
untuk gaji, bahan, alat/ peralatan dan pekerjaan lain-lain yang perlu untuk mencapai pekerjaan
berkualitas baik.

NOMOR MATA PEMABAYARAN DAN URAIAN SATUAN PENGUKURAN


8.3.1 Pengawetan ulang kayu dengan dua lapis minyak creosote Meter persegi
panas
8.3.2 Pengawetan ulang lantai kayu dengan ter batubara panas Meter persegi
dan pasir

8.3 JEMBATAN DARURAT


Apabila memang diperlukan untuk suatu proyek tertentu, Kontraktor harus membuat sebuah jembatan
darurat yang disetujui oleh Direksi dengan lebar minimal 3,50 meter, dari konsturksi dan bahan yang tahan
dan cukup kuat untuk beban dan apabila bentangnya lebih panjang dari 10 meter diperhitungkan atsa beban
dengan memperhatikan jarak berderet minimal 5 meter.
Pemeliharaan jembatan darurat tersebut menjadi tanggung jawab kontraktor untuk selama digunakan.

8.4 JALAN SIMPANG SEMENTARA

Kontraktor harus membuat, memelihara , dan membongkar kembali pada akhir kegunaannya apabila
memang diperlukan jalan simpang yang cukup baik untuk dilewati lalu lintas selama jembatan baru belum
bias dilewati.
Persiapan-persiapan sehubungan dengan pembuatan jalan simpang tersebut harus dikerjakan oleh
Kontraktor, termasuk izin/ ganti rugi/ sewa tanah (bila ada) dan gangguan fasilitas umum lainnya dimana
Direksi harus diberi tahu dan memberikan izin pada tiap tahap dari pekerjaan itu.

8.5 PENGATURAN LALU LINTAS SEMENTARA

Agar lalu lintas umum ataupun yang ketempat pekerjaan berjlan lancar dan aman, Kontraktor harus
mengusahakan dan memelihara pada tempat-tempat yang tepat didalam maupun disekitar proyek : tanda-
tanda lalu lintas, lampu-lampu, papan-papan peringatan, rintangan-rintangan dan kelengkapan lain
termasuk tenaga yang diperlukan untuk mengatur lalu lintas sehari 24 jam, sesuai dengan petunjuk Direksi
untuk mengarahkan lalu lintas dan demi keselamatannya.

8.6 PERKUATAN KONSTRUKSI

Yang dimaksud dengan perkuatan konstruksi adalah usaha untuk memberikan konstruksi tambahan pada
konstruksi yang telah ada agar dalam rangka pengangkatan alat-alat berat, perlengkapan material untuk
pelaksanaan proyek (bila dianggap perlu/ membahayakan) konstruksi tersebut tetap berfungsi sebagaimana
mestinya.

8.13 GAMBAR RENCANA

Gambar rencana untuk proyek ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Dokumen Kontrak. Harus
juga disadari bahwa revisi pada alignment, seksi, dan detail-detail gambar mungkin akan diadakan dalam
masa pelaksanaan.
Kontraktor wajib melaksanakan pekerjaan sesuai dengan Gambar Rencana dan spesifikasi-spesifikasi lain
yang berhubungan dengan itu, tidak dibenarkan untuk menarik keuntungan dari kesalahan-kesalahan,
kekurangan-kekurangan pada gambar atau perbedaan ketentuan antara gambar dan spesifikasi-spesifikasi.
Apabila ternyata terdapat kekurangan dan hal lain yang meragukan Kontraktor diharuskan mengajukan
kepada Direksi secara tertulis. Direksi akan mengoreksi dan menjelaskan gambar-gambar rencana tersebut
untuk kelengkapan yang telah disebut dalam spesifikasi.
Dimana dimensi-dimensi dalam gambar dapat dihitung dengan teliti, tidak dibenarkan untuk menganggap
bahwa gambar-gambar rencana tersebut pada skala yang benar, kecuali atas petunjuk Direksi.
Penyimpangan keadaan lapangan terhadap gambar rencana akan ditentukan selanjutnya oleh Direksi dan
akan disampaikan kepada Kontraktor secara tertulis. Kedudukan permukaan jalan/ jembatan yang telah
selesai harus sesuai dengan kedataran, kemiringan, penampang dan dimensi seperti yang tercantum dalam
gambar rencana, kecuali bila Direksi menentukan lain. Perubahan/ perbaikan tersebut akan diberikan
secara tertulis/ digambar oleh Direksi.

8.14 PEMATOKAN

a. Kontraktor mengerjakan pematokan untuk menentukan as dan peil jembatan sesuai dengan Gambar
Rencana. Pekerjaan ini harus seluruhnya telah disetujui oleh Direksi sebelum memulai pekerjaan
selanjutnya.
Direksi dapat melakukan revisi pemasangan patok tersebut bila dipandang perlu, dan kontraktor harus
mengerjakan revisi tersebut sesuai dengan petunjuk Direksi.
Sebelum memulai pekerjaan pemasangan patok tersebut, kontraktor harus memberitahukan kepada
Direksi dalam waktu tidak kurang dari 48 jam sebelumnya, sehingga Direksi dapat mempersiapkan
segala peralatan yang perlu untuk melakukan pengawasan. Pekerjaan pematokan yang telah selesai,
diukur oleh Kontraktoruntuk kemudian disetujui oleh Direksi.
Hanya hasil pengukuran yang telah disetujui oleh Direksi dapat digunakan sebagai dasar pembayaran.

b. Kontraktor wajib : seperti yang disebut dalam kontrak untuk menyediakan alat-alat ukur dengan
perlengkapannya, juru-juru ukur dan pekerja-pekerja yang diperlukan oleh Direksi untuk melakukan
pengawasan/ pengujian hasil pematokan atau pekerjaan lain yang serupa semua tanda-tanda dilapangan
yang diberikan oleh Direksi atau dipasang sendiri oleh Kontraktor harus tetap dipelihara dan dijaga
dengan baik.
Apabila ada tanda-tanda yang rusak segera diganti dengan yang baru dan yang disetujui pemasangannya
kembali oelh Direksi. Tidak suatu pekerjaan lainpun boleh dimulai pada bagian itu sampai semua
pematokan yang diperlukan telah selesai dan disetujui oleh Direksi.

c. Pada keadaan dimana ada penyimpangan dari Gambar Rencana, Kontraktor harus mengajukan 3 lembar
gambar Penampang dari daerah yang dipatok itu. Direksi akan membubuihkan tanda tangan persetujuan
atau pendapat/ revisi pada satun lembar gambar tersebut dan mengembalikannya kepada Kontraktor.
Ukuran maupun huruf yang dipakai pada gambar tersebut harus sesuai dengan ketentuan Direksi.

8.15 PEMBERITAHUAN UNTUK MEMULAI PEKERJAAN

a. Kontraktor diharuskan untuk memberikan penjelasan tertulis selengkapnya apabila Direksi memerlukan
tentang tempat tempat asal material yang didatangkan untuk suatu tahap pekerjaan yang akan dimulai
pelaksanaannya.

b. Dalam keadaan apapuntidak dibenarkan untuk memulai pekerjaan yang sifatnya permanen tanpa
terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari Direksi. Pemberitahuan yang lengkap dan jelas harus
terlebih dahulu disampaikan kepda Direksi dalam waktu yang cukup sebelum dimulainya pelaksanaan
pekerjaan itu agar Direksi mempunyai waktu yang cukup apabila dipertimbangkan bahwa perlu
mengadakan penelitian dan pengujian terlebih dahulu persiapan pekerjaan tersebut.
PELAKSANAAN PONDASI CERUCUK KAYU

8.2.1 UMUM
Tata cara ini mencakup ketentuan bahan, dan cara-cara pelaksanaan pembuatan pondasi
cerucuk mini pile :
Pengertian
1) Cerucuk Kayu adalah susunan tiang kayu dengan ukuran sisi antara 8 dan 15 cm yang
dimasukkan ke dalam tanah sehingga berfungsi sebagai pondasi.

8.2.2 KETENTUAN

8.2.2.1 Bahan

1) Kulit kayu untuk bahan cerucuk tidak perlu dikupas


2) Cerucuk kayu yang digunakan dapat berupa batang kayu atau hasil olahan dengan
spesifikasi pada :

Tabel 1 Persyaratan Cerucuk Kayu


Uraian Persyaratan
Diameter Minimum 8 cm, maksimum 15 cm
Panjang Minimum 3,5 m, maksimum 6 m
Kelurusan Cukup lurus, tidak belok dan bercabang
Kekuatan Minimum kelas kuat III PKKI 1973
Tegangan Minimum Was kuat III untuk mutu A PKKI 1973

8.2.2.2 Pelaksanaan

1) Pemancangan cerucuk kayu menggunakan alat pancang cerucuk (minimal 100 kg)
2) Pasang patok-patok ukur untuk menentukan lebar dan panjang pondasi
3) Tentukan tempat kedudukan tiang-tiang cerucuk yang akan dipancang dan diberi tanda
dengan menggunakan patok-patok

8.2.2.3 Penyiapan Tanah Dasar

Lakukan penyiapan tanah dasar sesuai dengan gambar rencana dan lakukan hal-hal sebagai
berikut:
1) Bersihkan tanah dasar yang dapat mengganggu pelaksanaan
2) Ratakan lahan dengan cara Penyiapan lahan Tanpa Bakar (PLTB)

8.2.2.4 Pemancangan Cerucuk dengan Alat Pancang

1) Runcingkan bagian ujung bawah cerucuk kayu agar mudah menembus kedalam tanah
2) Siapkan alat pancang tiang cerucuk dengan kedudukan yang dapat menjangkau
pekerjaan pemancangan seefektip mungkin
3) Siapkan tiang cerucuk pada kedudukan rencana
4) Pasang tiang cerucuk berikut topi pemukulnya pada alat pancang, dan pastikan
tiang berdiri tegak lurus agar dapat dipukul dengan stabil
5) Pukul tiang dengan alat pancang pada ujung atas cerucuk yang sudah diberi topi
sampai kedalaman rencana
8.2.3 CARA PENGUKURAN

8.2.3.1 Kontraktor harus menanggung semua biaya untuk pengambilan bahan bagi pelaksanaan pondasi
cerucuk. Pemberi tugas akan dibebaskan dari semua kewajiban atau biaya untuk operasi tersebut.

8.2.3.2 Volume yang dibayar merupakan jumlah meter panjang yang dipancang masuk ke dalam tanah dan
sesuai dengan gambar serta spesifikasi, atau seperti diperintahkan oleh Direksi Teknik dilapangan.

8.2.4 DASAR PEMBAYARAN

Volume yang ditentukan sebagaimana diberikan di atas dibayar per satuan pengukuran pada harga yang
dimasukan dalam Daftar Penawaran untuk item pembayaran seperti tercantum dibawah. Harga dan
pembayaran tersebut merupakan kompensasi penuh untuk semua pekerjaan dan biaya-biaya yang
diperlukan dalam penyelesaian pelaksanaan pondasi cerucuk yang diminta sebagaimana diuraikan
sebelumnya dalam bab ini.
NOMOR ITEM PEMBAYARAN URAIAN SATUAN PENGUKURAN
8.2 Pelaksanaan pondasi Meter Panjang
cerucuk/pancangan galam

1 PEKERJAAN PENGECATAN
1.1 Umum

Pekerjaan ini mencakup pelaksanaan seluruh pelapisan permukaan baja struktur termasuk penyiapan/
pembersihan permukaan, pelapisan cat dasar dan pelapisan cat akhir sesuai spesifikasi dan sebagaimana
ditunjukkan dalam gambar atau seperti yang diperintahkan oleh Direksi Teknik di lapangan.
1.2 Pekerjaan Pengecatan

a. Sebelum baja struktur dirakit lakukan proses pengecatan


b. Sebelum melakukan pekerjaan pengecatan, seluruh permukaan baja struktur yang akan dicat harus
disiapkan/ dibersihkan permukaannya atau seperti yang diperintahkan oleh Direksi Teknik
c. Pengecatan harus dilaksanakan hanya bilamana keadaan cuaca yang disetujuai Direksi Teknik, seluruh
permukaan tersebut harus kering dan temperaturnya tidak boleh kurang lebih dari 3 C diatas titik
ombun
d. Setelah seluruh permukaan baja struktur yang akan dicat harus disiapkan/ dibersihkan permukaannya
sesegera mungkin diberi lapisan cat dasar (cat meni) lapisan pertama
e. Bila lapisan cat dasar (cat meni) selesai dikeringkan, konstruksi baja struktur dapat dirakit
f. Bilamana perakitan konstruksibaja struktur selesai dirakit, seluruh permukaan baja struktur yang akan
dicat harus disiapkan/ dibersihkan permukaannya kembali.
g. Bila disetujui Direksi Teknis, segera dilakukan pelapisan akhir dengan menggunakan cat anti karat
sejenis MARINE COAT
h. Pekerjaan pengecatan dinyatakan selesai apabila pelapisan akhir dengan menggunakan cat anti karat
sejenis MARINE COAT sudah dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi dan diterima oleh DIreksi
Teknik.
i. Untuk pengecatan struktur kayu tahapan pelaksanaannya seperti diatas pelapisan akhir menggunakan
cat kllap.

VII. PEDOMAN/ PETUNJUK LAINNYA SEBAGAI ACUAN PELAKSANAAN PEKERJAAN

Selain petunjuk pelaksanaan diatas, acuan lainnya yang perlu diketahui dan pahami sebagai bahan referensi
dalam tahapan-tahapan pelaksanaan adalah sebai berikut :
1.2 Buku Petunjuk Teknis No. 016/T/Bt/1995 dari Departemen Pekerjaan Umum Dirjen Bina Marga

1.3 Buku Peraturan Muatan Indonesia 1970 NI 18


1.4 Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia NI-5 PPKI 1961

Buku acuan tersebut diatas juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari petunjuk pelaksanaan yang telah
diuraikan diatas untuk kelancaran pelaksanaan dilapangan.
7.18 PELAKSANAAN PONDASI CERUCUK MINI PILE

7.18.1. UMUM

Tata cara ini mencakup ketentuan bahan, dan cara-cara pelaksanaan pembuatan pondasi
cerucuk mini pile :
Pengertian
1) Cerucuk Mini pile adalah susunan tiang mini pile dengan ukuran sisi 20 x 20 cm (type kotak)
yang dimasukkan ke dalam tanah sehingga berfungsi sebagai pondasi.

7.18.2 KETENTUAN

7.18.2.1 Bahan
Cerucuk mini pile yang digunakan memiliki persyaratan mutu beton minimal
K-350

7.18.2.2 Pelaksanaan
1) Pemancangan cerucuk mini pile menggunakan alat pancang cerucuk (minimal 100
kg)
2) Pasang patok-patok ukur untuk menentukan lebar dan panjang pondasi.
3) Tentukan tempat kedudukan tiang-tiang cerucuk yang akan dipancang dan diberi
tanda dengan menggunakan patok-patok.

7.18.2.3 Penyiapan Tanah Dasar


Lakukan penyiapan tanah dasar sesuai dengan gambar rencana dan lakukan hal-hal
sebagai berikut:
1) Bersihkan tanah dasar yang dapat mengganggu pelaksanaan.
2) Ratakan lahan dengan cara Penyiapan lahan Tanpa Bakar (PLTB)
.
7.18.2.4 Pemancangan Cerucuk dengan Alat Pancang
1) Siapkan alat pancang tiang cerucuk dengan kedudukan yang dapat menjangkau
pekerjaan pemancangan seefektip mungkin.
2) Siapkan tiang cerucuk pada kedudukan rencana.
3) Pasang tiang cerucuk berikut topi pemukulnya pada alat pancang, dan pastikan
tiang berdiri tegak lurus agar dapat dipukul dengan stabil.
4) Pukul tiang dengan alat pancang pada ujung atas cerucuk yang sudah diberi topi
sampai kedalaman rencana.

7.18.3 CARA PENGUKURAN


7.18.3.1 Kontraktor harus menanggung semua biaya untuk pengambilan bahan bagi pelaksanaan
pondasi cerucuk. Pemberi tugas akan dibebaskan dari semua kewajiban atau biaya
untuk operasi tersebut.

7.18.3.2 Volume yang dibayar merupakan jumlah meter panjang yang dipancang masuk ke
dalam tanah dan sesuai dengan gambar serta spesifikasi, atau seperti diperintahkan
oleh Direksi Teknik dilapangan.

7.18.4. DASAR PEMBAYARAN


Volume yang ditentukan sebagaimana diberikan di atas dibayar per satuan pengukuran pada
harga yang dimasukan dalam Daftar Penawaran untuk item pembayaran seperti tercantum di
bawah. Harga dan pembayaran tersebut merupakan kompensasi penuh untuk semua pekerjaan
dan biaya-biaya yang diperlukan dalam penyelesaian pelaksanaan pondasi cerucuk yang diminta
sebagaimana diuraikan sebelumnya dalam bab ini.

NOMOR ITEM PEMBAYARAN URAIAN SATUAN PENGUKURAN


Pelaksanaan pondasi cerucuk
7.18 Meter Panjang
mini pile
ANALISA
HARGA SATUAN JADI PEKERJAAN

PROPINSI : KALIMANTAN SELATAN Tahun 2016


KABUPATEN : HULU SUNGAI TENGAH

HARGA SATUAN
No. JENIS ALAT KODE UNIT
(Rp)

1 PENYEDIAAN KERIKIL SUNGAI (TAK DISARING) (MENGGUNAKAN ALAT) K.012 m3 108.635,16

2 MENYEDIAKAN KERIKIL SUNGAI (TERSARING) (MENGGUNAKAN ALAT) K.016 A m3 162.853,37

3 PRODUKSI KERIKIL PECAH TERSARING (ALAT) MEMPERGUNAKAN KERIKIL K.017 m3 261.387,82


SUNGAI (MENGGUNAKAN ALAT)

4 LAPIS TIPIS ASPAL PASIR (LATASIR) PRODUKSI DAN SUPLAI K.020 A tonne 843.587,06
(MENGGUNAKAN BURUH)

5 GALIAN TANAH UNTUK KONSTRUKSI (MENGGUNAKAN BURUH) K.224 m3 49.426,00


6 PENIMBUNAN DAN PEMADATAN (UNTUK JEMBATAN & GORONG-GORONG) K.225 m3 211.901,87
(MENGGUNAKAN BURUH)

7 KONSTRUKSI LAPIS PONDASI BAWAH (LPB) KELAS C (MENGGUNAKAN ALAT) K.514 m3 188.305,82

8 LAPIS PONDASI ATAS KLAS A AGREGAT PECAH TERSARING ( K.520 A M3 352.182,04


MENGGUNAKAN ALAT )

9 KONSTRUKSI LAPIS PONDASI ATAS (LPA) KELAS B (MENGGUNAKAN ALAT) K.522 m3 251.268,98

10 LAPIS PENETRASI MAKADAM 5 CM (LAPEN) (MENGGUNAKAN BURUH) K.618 A m2 70.007,21

11 PERANCAH (BEGISTING) UNTUK BETON BERTULANG (MENGGUNAKAN K.710 m2 88.664,00


BURUH)

12 PENULANGAN BETON (MEMOTONG, MEMBENGKOK DAN MEMASANG BESI K.715 kg 12.952,20


TULANGAN) (MENGGUNAKAN BURUH)

13 BETON NON STRUKTUR KELAS K.125 K.720 m3 699.648,89


14 BETON STRUKTUR/UNTUK KONSTRUKSI KELAS K.175 (KELAS A) K.725 m3 794.843,83
15 KONTRUKSI PASANGAN BATU (MENGGUNAKAN BURUH) K.810 m3 577.425,70
16 BETON STRUKTUR KELAS K.225 (MENGGUNAKAN ALAT) K.722 m3 808.131,09
17 MENGHAMPAR DAN MEMADATKAN LATASIR (MENGGUNAKAN BURUH) K.638 B m 58.678,22

18 PASANGAN GORONG-GORONG PIPA BETON D= 60 CM (PRACETAK TAK K.122 M 722.638,87


BERTULANG, TANPA DINDING KEPALA) (MENGGUNAKAN BURUH)

19 PEMBUATAN PIPA BETON BERTULANG DIAMETER 60 CM X 1.0 M, K.115 M 377.538,70


(MENGGUNAKAN BURUH)

20 DINDING SAYAP GORONG-GORONG PASANGAN BATU (SATU PASANG) K.139 M3 732.606,76


(MENGGUNAKAN BURUH)

21 GALIAN TEBING DAN PENYIAPAN TANAH DASAR (MENGGUNAKAN ALAT) K.321 A M3 49.415,65

22 MEMBENTUK BAHU JALAN KERAS (MENGGUNAKAN BURUH) K.410 A M3 210.737,45


23 PENYEDIAAN KERIKIL SUNGAI (TAK DISARING) (MENGGUNAKAN BURUH) K.013 A M3 158.238,58

24 MEMBERSIHKAN PARIT SAMPING (MENGGUNAKAN BURUH) K.424 M 7.653,64


25 KONSTRUKSI LAPIS PONDASI BAWAH (LPB) - TELFORD (MENGGUNAKAN K.516 A M3 262.766,46
BURUH)
HARGA SATUAN
No. JENIS ALAT KODE UNIT
(Rp)

26 MEMPRODUKSI LAPIS TIPIS ASPAL BETON (LATASTON) K.035 tonne 1.088.600,66


(MENGGUNAKAN ALAT/MESIN)

27 MEMPRODUKSI DAN MENGANGKUT ASPAL BETON (MENGGUNAKAN K.040 tonne 860.597,09


ALAT/AMP)

28 PENGHAMPARAN DAN PEMADATAN LATASTON (LASBUTAG) K.636 M2 80.538,65


(MENGGUNAKAN ALAT)

29 MENGHAMPAR LAPIS PERMUKAAN ASPAL BETON (LASTON) K.641 M2 108.966,21


(MENGGUNAKAN ALAT)

30 MEMPRODUKSI CAMPURAN ASPAL BETON UNTUK LAPIS PONDASI ATAS K.026 tonne 800.619,29
(LASTON ATAS) (MENGGUNAKAN ALAT)

31 MEMBUAT PARIT GALIAN TANAH (MENGGUNAKAN BURUH) K.110 A M3 53.361,11


32 MENGHAMPAR LAPIS PONDASI ATAS ASPAL BETON (LASTON ATAS) K.528 m3 1.942.967,22
(MENGGUNAKAN ALAT)

33 PENIMBUNAN DAN PEMADATAN (UNTUK JEMBATAN & GORONG-GORONG) K.225 A m3 161.321,66


(MENGGUNAKAN BURUH)

34 PENYIAPAN TANAH DASAR (MENGGUNAKAN ALAT) K.342 A m2 811,23


35 PENIMBUNAN BADAN JALAN (MENGGUNAKAN ALAT) K.311 A m3 112.412,66
36 PENIMBUNAN DAERAH RAWA (MENGGUNAKAN ALAT) K.230 A m3 21.701,93
37 MENGHAMPAR DAN MEMADATKAN LATASIR (MENGGUNAKAN BURUH) K.638 A m 37.945,05

38 BRONJONG PENAHAN (MENGGUNAKAN BURUH) K.815 A m3 264.805,20


39 PENAMBALAN JALAN ASPAL (MENGGUNAKAN BURUH) K.880 A m2 143.822,89
40 PERATAAN KEMBALI BADAN/PERMUKAAN JALAN (MENGGUNAKAN ALAT) K.860 A m2 3.559,75

41 PENIMBUNAN DAN PEMADATAN (UNTUK BRONJONG) (MENGGUNAKAN K.225 B m3 150.974,67


BURUH)

42 GALIAN TANAH (MENGGUNAKAN ALAT) K.111 m2 29.461,47


43 LAPIS PENETRASI MAKADAM 5 CM (LAPEN) (MENGGUNAKAN BURUH) K.618 D m2 73.535,21

44 LAPIS PENETRASI MAKADAM 5 CM (LAPEN) (MENGGUNAKAN BURUH) K.618 E m2 73.774,96

Barabai, 16 September 2016

Penawar,
CV. BINTANG GEMILANG

CUNDRA GUNAWAN
Wakil Direktur
HARGA SATUAN ALAT

PROPINSI : KALIMANTAN SELATAN Tahun 2016


KABUPATEN : HULU SUNGAI TENGAH

HARGA SATUAN
No. JENIS ALAT KODE UNIT
(Rp)

1 Bulldozer E.001 Jam 354.416,61


2 Motor grader E.010 Jam 466.292,50
3 Hydolic excavator 0,9 m3 E.020 Jam 378.166,20
4 Stone Crusher 50 T/H E.031 Jam 588.447,24
5 Screening plant 80 HP E.040 Jam 211.103,87
6 Loader wheeled E.052 Jam 320.766,04
7 Roller 3 wheel 8 T E.080 Jam 209.754,66
8 Tandem roller 8 T E.081 Jam 189.270,56
9 Self Vibrator Roller 10 T E.082 Jam 274.528,04
10 Vibrator roller 1 T E.087 Jam 31.040,96
11 Plate vibrator tamper 0,8 T E.088 Jam 9.956,01
12 Concrete vibrator E.089 Jam 10.626,54
13 Asphalt sprayer towed 350 L E.154 Jam 26.775,53
14 Water tank truck 4000L E.182 Jam 173.006,18
15 Asphalt mixing plant 50 T/H E.155 Jam 828.615,00
16 Dump truck 5 ton E.212 Jam 224.910,40
17 Flat bed truck 5 ton E.221 Jam 180.528,19
18 Concrete mixer 250 L E.251 Jam 16.751,02
19 Pneumatic roller 8 - 15 T E.084 Jam 192.550,98
20 Asphalt sprayer 1000 L E.153 Jam 73.883,96
21 Asphalt finisher 6 T E.157 Jam 225.985,41
22 Compressor 125 CFM E.301 Jam 84.712,29
23 Pump water 2L/M E.341 Jam 17.854,24

Barabai, 16 September 2016

Penawar,
CV. BINTANG GEMILANG

CUNDRA GUNAWAN
Wakil Direktur
DINAS PEKERJAAN UMUM KODE
KAB. HULU SUNGAI TENGAH BIAYA ALAT UNTUK PERHITUNGAN
BIDANG BINA MARGA ANALISA BIAYA PEKERJAAN E.001

PROPINSI KODE KABUPATEN KODE DISIAPKAN OLEH TANGGAL


KALIMANTAN SELATAN | 63 | HST | 07 | CV. BINTANG GEMILANG 16 September 2016

JENIS ALAT : Bulldozer TENAGA ( HP ) : 105

HARGA : 850.000.000
FAKTOR ( CRF ) : 0,20483
UMUR KERJA : 8 Tahun 9.600 jam
(1 tahun : 300 hari ; 1 hari : 4 jam kerja)

A. BIAYA PEMILIKAN (OWNERSHIP COSTS) : (Rp./jam)


1
1. Depresiasi :( 90% x Harga alat x Faktor CRF x Jam / Thn

:( 0,9 x 850.000.000 x 0,20483 x 0,000833333 ) = 130.579,13

22. Lain - lain :


Harga
Asuransi 3% tahun + PPn 10% = 0,033 x Jam/thn

850.000.000
= 0,033 x 1.200 = 23.375,00

Sub TOTAL = 153.954,13

B. BIAYA OPERASI (OPERATION COSTS) : (Rp./jam)

Kebutuhan bahan bakar dan pelumas tiap HP :


Diesel = 0,158 liter/HP/jam
Bensin = 0,167 liter/HP/jam
Pelumas = 0,006 liter/HP/jam

Harga : Solar/Minyak Diesel = Rp 6.400,00 /liter


Bensin = Rp 6.400,00 /liter
Pelumas = Rp 25.300,00 /liter

Bahan bakar 0,158 x 105,00 x 6.400,00 = 106.176,00


Pelumas 0,006 x 105,00 x 25.300,00 = 15.939,00
Perbaikan & spareparts 0,600 x 130.579,13 = 78.347,48
( 60% x depresiasi )
Sub TOTAL = 200.462,48

TOTAL BIAYA PEMILIKAN DAN OPERASI ALAT :

A +B = 153.954,13 + 200.462,48 = 354.416,61 /jam

Atau = 4,00 x 354.416,61 = 1.417.666,44 /hari


DINAS PEKERJAAN UMUM KODE
KAB. HULU SUNGAI TENGAH BIAYA ALAT UNTUK PERHITUNGAN
BIDANG BINA MARGA ANALISA BIAYA PEKERJAAN E.010

PROPINSI KODE KABUPATEN KODE DISIAPKAN OLEH TANGGAL


KALIMANTAN SELATAN | 63 | HST | 07 | CV. BINTANG GEMILANG 16-Sep-16

JENIS ALAT : Motor grader TENAGA ( HP ) : 125

HARGA : 940.000.000
FAKTOR ( CRF ) : 0,33271
UMUR KERJA : 4 Tahun 6.000 jam
(1 tahun : 300 hari ; 1 hari : 5 jam kerja)

A. BIAYA PEMILIKAN (OWNERSHIP COSTS) : (Rp./jam)


1
1. Depresiasi :( 90% x Harga alat x Faktor CRF x Jam / Thn

:( 0,9 x 940.000.000 x 0,33271 x 0,000666667 ) = 187.648,44

22. Lain - lain :


Harga
Asuransi 3% tahun + PPn 10% = 0,033 x Jam/thn

940.000.000
= 0,033 x 1.500 = 20.680,00

Sub TOTAL = 208.328,44

B. BIAYA OPERASI (OPERA