Anda di halaman 1dari 31

Materi Inti

Materi
Pemeriksaan Refraksi Klinis
(Refraction Examination in Clinical Practice)
Pemeriksaan Refraksi Klinis
(Refraction Examination in Clinical Practice)

A. Pendahuluan

Ilmu dalam pendekatannya sering disebut pula sebagai disiplin ilmu. Tersirat dari konsep ini, bahwa :
Teori ilmu merupakan suatu kebenaran yang telah dibuktikan oleh para Pakar ilmu tertentu, akan tetapi
kebenaran dari terapan suatu ilmu baru tercapai bila prosedurnya dilakukan dengan berdisiplin.
Dalam pelayanan refraksi, kita baru bisa meyakini bahwa pemeriksaan refraksi sebagai bagian dari
pelayanan refraksi sudah selesai, atau boleh diakhiri dan hasil dari pemeriksaan dapat diyakini sudah
benar, bila prosedur pemeriksaan refraksi dilakukan dengan benar dan berdisiplin.

1. Fungsi ilmu :
a. Fungsi diskripsi
b. Dimana berbagai fenomena yang merupakan subyek ilmu diteliti sampai dapat dijelaskan
sebab-sebab atau faktor-faktor yang mendasari fenomena tersebut.
c. Fungsi prediksi
d. Dengan mana dibuat ramalan mengenai akibat-akibat atau kelanjutan dari fenomena yang
diteliti, baik bila fenomena itu dibiarkan begitu saja, ataupun bila dilakukan tindakan intervensi.
e. Fungsi kontrol
f. Intervensi kita lakukan agar tercapainya maksud/ tujuan dari terapan yang kita inginkan. Untuk
itu fungsi kontrol dari suatu tindakan/ pemeriksaan sangatlah penting.

2. Ilmu Refraksi
Ilmu Refraksi Teoritis
a. Dalam hal ini yang lebih banyak diperhatikan adalah fungsi deskripsi dan fungsi prediksi,
berupa berbagai penelitian dan pandangan mengenai status refraksi dan berbagai kelainannya.
b. Dalam kesempatan ini kami tidak membahas Refraksi Teoritis, mengingat Refraksi Teoritis
sangatlah luas dan rumit untuk dituangkan dalam tulisan yang sederhana ini.

Ilmu Refraksi Terapan


Dimana dalam hal ini yang lebih banyak diperhatikan adalah fungsi prediksi dan fungsi kontrol, berupa
pelayanan Refraksi atau koreksi kelainan Refraksi.

Refraksi terapan dapat dilihat sebagai rangkaian fase-fase dalam pelayanan refraksi, dan dapat pula
dilihat sebagai modul-modul yang memeriksa unsur-unsur tertentu dari fungsi system penglihatan.

3. Fase-fase dalam Refraksi terapan


Refraksi terapan dapat pula dinyatakan dalam beberapa fase, yaitu :
a. Fase pemeriksaan Refraksi
b. Fase Analisa Refraksi
c. Fase Perencanaan Refraksi
d. Fase Tindakan Refraksi dan Koreksi

Modul-modul dalam Refraksi Terapan


Refraksi terapan dapat pula dinyatakan sebagai modul-modul berikut :
a. Modul Refraksi Statis atau refraksi jauh
b. Modul Refraksi Dinamis atau refraksi dekat
c. Modul Refraksi Binokuler
d. Modul Refraksi Obyektif
e. Modul Refraksi Penglihatan sisa
f. Modul Refraksi Lensa Kontak

Dalam tulisan ini, kami lebih menintik beratkan pada refraksi Statis atau refraksi jauh, karena semua
modul lainnya baru bisa dilaksanakan dengan benar bila visus jauh sudah dikoreksi dengan benar.
Kesalahan pada koreksi visus jauh akan mempengaruhi koreksi visus dekat, koreksi visus binokuler,
koreksi penglihatan sisa dan koreksi dengan lensa kontak.
B. PELAYANAN REFRAKSI
Pemeriksaan refraksi dapat dilihat berupa tahapan-tahapan yang semakin mendekati titik akhir
pemeriksaaan. Tahapan dalam pemeriksaan refraksi misalnya sebagai berikut, meliputi :

1. Anamnesa
2. Pemeriksaan pendahuluan
a. Pemeriksaan Tajam-penglihatan (Visus)
b. Identifikasi Posisi Bola-mata
Kegiatan ini bertujuan mengidentifikasi posisi bola mata, apakah dalam keadaan lurus atau
menyimpang, dengan cara memperhatikan posisi refleks cahaya pada permukaan kornea,
apabila didepan mata dinyalakan suatu sumber cahaya (Metode Hirschberg)
Posisi bola mata :
1) Lurus (Ortho)
2) Menyimpang yang sifatnya tersembunyi (Latent)
3) Menyimpang dalam keadaan nyata (Manifest)
c. Identifikasi Gerak Bola-mata
Melakukan pemeriksaan pergerakan bola mata
1) Pemeriksaan Duksi adalah suatu pemeriksaan untuk menilai fungsi otot luar bola mata
sesuai dengan peran masing-masing otot kearah 9 kardinal posisi.
2) Versi adalah suatu pemeriksaan untuk menilai koordinasi gerak kedua mata dengan arah
yang sama, maupun koordinasi gerak kedua mata dengan arah yang berlawanan
(Vergensi)
d. Skrining Lapang-pandang
3. Pemeriksaan mata
a. Identifikasi segmen depan mata
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menditeksi adanya kelainan segmen depan mata dengan
menggunakan lampu senter + Loupe / lampu Burton / Slip lamp Biomikroskop
1) Kelopak mata
2) Konjungtiva Bulbi
3) Sistem Lakrimalis dan Lapisan air mata
4) Kornea
5) Bilik mata depan
6) Iris
7) Pupil
8) Lensa Mata
b. Identifikasi segmen belakang mata
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menditeksi adanya kelainan segmen belakang mata dengan
menggunakan oftalmoskop direk
1) Badan kaca
2) Fondus mata
c. Idntifikasi Tekanan Bola Mata
Pemeriksaan ini bertujuan untuk memperkirakan tekanan bola mata seseorang dengan
menekan bola mata pasien, menggunakan jari tangan
Test Palpasi

C. Anamnesa Refraksi
Anamnesa adalah informasi yang didapat melalui wawancara, baik langsung dari pasien atau dari
orang lain, mengenai riwayat penyakit pasien pada masa dahulu maupun riwayat penyakit pasien pada
saat sekarang

Pengumpulan data riwayat kesehatan (Anamnesa) dapat dilakukan dengan mengunakan macam-
macam metode, akan tetapi yang paling banyak dipakai wawancara yaitu suatu komunikasi lisan yang
formal

Komunikasi meripakan pertukarn pikiran, perasaan, ide dan informasi dalam bentuk lisan, tertulis
ataupun menggunakan tanda- tanda.
Tujuan membuat anamnesa adalah untuk memperoleh informasi yang relevan sebanyak- banyaknya,
agar kita dapat menentukan suatu tindakan yang tepat atas dasar keluhan tersebut secara rinci, serta
selalu memperhatikan kebutuhan klien/ pasien berdasarkan kebiasaan, pekerjaan maupun hobinya

Sejauh mungkin kata : klien digunakan, mengingat kata tersebut paling informatif karena
menggambarkan pemahaman klien atas situasi, dan maknanya bagi si klien adalah menggambarkan
kemampuan klien untuk mengingt peristiwa, mengorganisir pikiran dan selnjutnya mengkomunkasikan
pengetahuan dan pikirannyan kepada orang lain.

Walaupun kata Pasien lebih dikenal, ia mengandung konotasi penyakit, sedangkan klien lebih luas
artinya dan mencakup semua orang yang menerima jasa/ pelayanan kesehatan.
Klien adalah penerima jasa/ pelayanan. Setiap orang yng menerima jasa/ pelayanan kesehatan tanpa
memandang alasan maupun situasinya, mencakup orang sakit yang dirawat di Rumah sakit maupun
orang ehat yang bermaksud meningkatkan kesehatan ataupun mencegah penyakit di Puskesmas.

1. Alasan permintaan jasa


Komponen riwayat kesehatan yang pertama penyangkut : dsar, motivasi atau alasan yang
menyebabkan klien meminta jasadari personil/ lembaga pelayanan kesehatan.
Pertanyaan yang wajar untuk diajukan agar memperoleh informasi bersangkutan adalah :
Apa yang menyebabkan anda datang ke klinik, Rumah Sakit ini? atau ada masalah apa?
Alasan permintaan jasa :
a. klien meminta pemeriksaan mata/ penglihatan
b. Klien meminta perawatan mata/ penglihatan/ kacamata/ lensa kontak
c. Dan Lain- lain
Dimasa lampau, dan masih sering terjadi hingga saat ini, motivasi utama meminta jas kesehatan
adalah untuk mengobati penakit. Dan tentu saja yang dihubungi adalah dokter.
Dewasa ini, seseorang mendatangi sarana pelayanan kesehatan dengan berbagai tujuan, mungkin
saja berdasarkan keinginan sendiri atau karena dorongan orang lain. Biasanya klien sudah
mempunyai harapan- harapan tertentu dan mersa perlu meminta pelayanan tertentu pula.
2. Bio Data
Bio Data klien mengandung vital statistik klien, antara lain : nama lengkap, alamat/ tempat tinggal,
nomor telp, HP, umur, tempat dan tanggal lahir, jenis kelamin, suku bangsa, agama, bahasa ibu,
status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi kesehatan, nomor dana sosial dan anam orang
tua.
Ini semua memberi gambaran tentang siapa si klien dan bagaimana pengaruh latar belakangnya.
Ia merupakan titik tolak memandang si klien sebagai manusia yang utuh, memberi pedoman
wawancara dan juga dapat mempengaruhi penilaian keadan kesehatannya
3. Keadaan kesehatan sekarang
Komponen keadan kesehatan sekarang merupakan kesan/ gambaran umum tentang kesehatan
klien dewasa ini. Tercakup didalanya detail keluhan spesifik/ utama yang wajar ditampung dalam
Riwayat Kesehatan serta kebiasaan klien sehari- hari.
4. Pengumpulan data keluhan khusus mencakup :
a. Tanggal dan waktu timbulnya keluhan
b. Ciri- ciri keluhan
1) lokasi
2) Sudah berapa lama berlangsungnya keluhan
3) Intensitas keluhan
c. Tanda- tanda yang menyertai (pelengkap)
d. Pengobatan yang pernah dilakukan (dimana, oleh siapai, dan hasilnya bagaimana)

Riwayat Kesehatan yang berotientasi pada problema pasien saat sekarang dan masa lampau,
mengenai :
1. Keluhan utama
a. Penglihatan buram
b. Mata lelah
c. Sakit kepala
d. Sakit kepala ( bukan oleh mata )
2. Keluhan gangguan penglihatan
a. Terlihat adanya bintik
b. Terlihat adanya kilatan cahaya
c. Terlihat ada layar penutup penglihatan
d. Terlihat ada lingkaran cahaya (halo)
e. Penglihatan ganda (diplopia)
f. Perubahan bentuk obyek
g. Mata juling (Strabismus)
h. Mata Menonjol
i. Kesulitan membaca/ belajar
j. Buta sementara
3. Keluhan pada mata
a. Gatal dan panas
b. Rasa sakit, tidak terasa ada benda asing dimata
c. Rasa sakit, terasa benda asing dimata
d. Silau
e. Berair
f. Mata kering
4. Riwayat kesehatan umum (pasien dan keluarga), dan obat- obatab yang sedang digunakan
a. Hypertensi
b. Diabetes mellitus
c. Penyakit jantung
d. Arteriosklerosis
e. Multiplescerosis
f. Migrain/ sakit kepala
5. Riwayat kesehatan mata ( pasien dan keluarga )
a. Refraksi anomali
b. Glaukoma
c. Strabismus

Riwayat kesehatan masa lampau


Mengutarakan informasi tentang :
Kesehatan atau penyakit klien, dan jasa kesehatan yang pernah diterima pada waktu yang sudah-
sudah : Didalamnya tercakup data- data ;

Riwayat perkembangannya sewaktu :


1. Dalam kandungan
2. Saat persalinan
3. Masa bayi
4. Masa kanak- kanak
5. Masa remaja dan dewasa

Tinjauan Sistem
Tinjauan sistem merupakan penilian secara teratur terhadap keadaan organ mata pada masa lampau
dan masa sekarang. Ini merupakan komponen terakhir riwayat kesehatan, dan dapat digunakan sebgai
verifikasi bahwa semua data yang relevan telah diperoleh. Ia juga mengelompokan gejala- gejala agar
mudah melihat saling hubungan diantaranya. Pertanyan spesifik yang diajukan kpda klien mengenai
tiap sistem tubuh akan menimbulkan kesadarannya, betapa penting tiap sistem itu bagi klien, dan
sekaligus membantunya mengingat- ingat data yang relevan. Hal ini dapat merangsang klien
menambahkan informasi yang lebih memperjelas alasan permintaan jasa atau bisa juga menjadi
petunjuk bahwa klien sebenarnya memerlukan pelayanan kesehatan yang lain coraknya dengan yang
sedang dievaluasi.

Tinjauan sistem jangan dikacaukan dengan pemeriksaan fisik. Bidang penilaiannya sama, akan tetpi
cara memperoleh bata berbeda. Tinjauan sistem memuat jawaban verbal dari informan, yang
disampaikan melalui pengisian formulir kwesioner atau wawancara atas pertanyaan- pertanyaan
tentang tiap bidang penilaian.

1. Pertanyaan pembuka dalam tiap sistem harus bersifat umum, seperti : Apakah anda merasakan
sesuatu kelainan pada mata anda ?
2. Pertanyan serupa ini akan memberi kemunkinan bagi klien untuk mengutarakan masalah yang
dianggapnya paling penting menyangkut matanya.
3. Apabila jawaban klien tidak memberi informasi tentang bidang yang dimaksud, baru diajukan
pertanyaan spesifik, yang kurang lebih berbunyi sebagai berikut :
Apakah anda merasa penglihatan anda kabur/ buram ?
Apakah anda mengalami kesulitan sewaktu membaca huruf- huruf yang kecil ?
4. Baik jawaban yang negatif maupun positif dicatat agar nantinya tidak timbul keraguan ada tidaknya
gejala tertentu. Kalau ada jawaban positif, ajukan lagi pertanyaan tentang gejala lain yang ada
kaitannya. Corak pertanyaannya sama dengan pertanyaan yang diajukan dalam komponen
keadaan kesehatan sekarang, dan apabila klien sudah memberikan informasi tentang hal itu,
jangan ditanyakan ulang

D. Pemeriksaan visus
Dalam kehidupan sehari-hari, boleh dikatakan hampir seluruh waktu kita dalam melakukan aktifitas,
memerlukan penglihatan. Ternyata untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu, membutuhkan kwalitas
penglihatan yang baik.

Untuk mendapatkan penglihatan yang baik diperlukan beberapa penilaian, antara lain pemeriksaan
Tajam Penglihatan.

1. Tajam Penglihatan
a. Tajam Penglihatan (Acies Visus) adalah kemampuan seseorang untuk mengenal/
menterjemahkan suatu obyek sekecil mungkin, yang diletakan pada jarak baku.
b. Tajam Penglihatan untuk mata kanan tidak selalu sama dengan Tajam Penglihatan untuk mata
kiri. Oleh karena itu pemeriksaan Tajam Penglihatan dilakukan satu persatu, secara bergantian
(Monokuler).
c. Tajam Penglihatan Mata Kanan kita nyatakan sebagai : A.V.O.D. = Acies Visus Oculo Dextra.
d. Tajam Penglihatan Mata Kiri kita nyatakan sebagai : A.V.O.S. = Acies Visus Oculo Sinestra.
e. Tajam Penglihatan kedua mata kita nyatakan sebagai : A.V.O.U. = Acies Visus Oculo Uterique

Untuk menentukan Tajam Penglihatan jauh diperlukan tes obyek berupa Optotype adalah obyek
yang digunakan untuk menentukan/ mengukur Tajam Penglihatan
a. Macam optotype jauh
1) Berupa symbol
2) Huruf
3) Angka
4) Gambar
b. Notasi penulisan
Snellen visual acuity
1) Metrik
2) Feet
3) Decimal
4) Kategori pmeriksaan/ pengukuran visus :
5) Visus tanpa Koreksi ( Visus sine Correctio )

Pengukuran visus tanpa koreksi ( Visus SC ) bertujuan untuk memperkirakan besaran koreksi yang
akan kita berikan pada seseorang yang :
a. Belum atau tidak memakai kacamata ukuran
b. Kacamatanya hilang/ rusak, sehingga kita tidak dapat mengukur visus habitual ( (Habitual V )
c. Tidak menggunakan/ memakai kacamata untuk tujuan/ jarak penglihatan tertentu (hal tersebut
perlu dinyatakan dalam anamnesa refraksi)
d. Memerlukan surat Keterangan Penglihatan
e. Visus Habitual ( Habitual VA ) dengan menggunakan kacamatanya
f. Visus Optimal ( Optimal VA ) visus dengan koreksi ( Visus Cc ) terbaik hasil pemeriksaan
Refraksi Subyektif
Tebel Konfirasi tajam Penglihatan jauh

Snellen Visual Acuities Decimal Log.MAR Visual


5 Meter 6 Meter 20 Feet Fraction Angle(')

5 / 50 6 / 60 20 / 200 0.10 + 1.0 10.0'


5 / 40 6 / 48 20 / 160 0.125 + 0.9 8.0'
5 / 25 6 / 38 20 / 125 0.16 + 0.8 6.3'
5 / 25 6 / 30 20 / 100 0.20 + 0.7 5.0'
5 / 20 6 / 24 20 / 80 0.25 + 0.6 4.0'
4 / 12.6 6 / 20 20 / 63 0.32 + 0.5 3.2'
4 / 10 6 / 15 20 / 50 0.40 + 0.4 2.5'
5 / 10 6 / 12 20 / 40 0.50 + 0.3 2.0'
4 / 6.3 6 / 10 20 / 32 0.63 + 0.2 1.6'
4/5 6 / 7.5 20 / 25 0.80 + 0.1 1.25'
5/5 6/6 20 / 20 1.00 0.0 1.0'
4 / 3.2 6/5 20 / 16 1.25 - 0.1 0.8'
4 / 2.5 6 / 3.75 20 / 12.5 1.60 - 0.2 0.6'
4/2 6/3 20 / 10 2.00 - 0.3 0.5'

Pemeriksaan Visus Jauh


Persiapan alat/ sarana
a. Kartu snellen ditempatkan pada jarak baku, diukur dari tempat responden/ klien/ pasien
b. Kepada responden/ klien/ pasien diperlihatkan kartu snellen yang besar ukuran obyeknya
berbeda- beda, dari yang paling besar ukurannya hingga yang paling kecil
1) Baris paling atas terdiri dari 1 buah obyek, dengan inisial V = 5/50 atau 20/200 atau 0,10
2) Baris ke-2 dari atas terdiri dari 1 buah obyek, dengan inisial V = 6/36 atau 5/30 atau 20/120
atau 0,17
3) Baris ke-3 dari atas terdiri dari 3 buah obyek, dengan inisial V = 6/24 atau 5/20 atau 20/80
atau 0,25
4) Baris ke- 4 dari atas terdiri dari 4 buah obyek, dengan initial V = 6/18 atau 5/15 atau 20/60
atau 0,33
5) Baris ke- 5 dari atas terdiri dari 5 buah obyek, dengan inisial V = 6/12 atau 5/10 atau 20/40
atau 0,50
6) Baris ke- 6 dari atas terdiri dari 6 buah obyek dengan inisial V = 6/9 atau 5/7,5 atau 20/30
atau 0,66
7) Baris ke- 7 atas terdiri dari 7 buah obyek, dengan inisial V = 6/6 atau 5/5 atau 20/20 atai
1.0
8) Baris ke- 8 daria atas terdiri dari 8 buah obyek, dengan inisial V = 6/5 ( 6/48 ) atau 5/4 atau
20/20+ ( 20/16 ) atau 1,25
9) Penerangan kamar periksa = normal ( 80- 320 cd/m 2 )

2. Teknik Persiapan Visus Jauh


a. Persiapan responden/ klien/ pasien
1) Responden diminta menempatkan dirinya menghadap optorip dengan jarak baku
2) Minta kepada responden untuk menutup mata kirinya dengan menggunakan telapak
tangan kiri, tanpa menekan bola mata. Perlu untuk dicermati agar responden tidak
mengintip melalui celah- celah jari tangannya.
3) Dengan menggunakan mata kiri responden yang dalam keadan terbuka, minta kepadanya
untuk mengenali kartu snellen mulai dari baris paling atas dengan obyek yang paling besar
hingga baris dibawahnya dengan obyek yang lebih kecil, semampu responden mengenali
obyek yang paling kecil
4) Catat sampai sejauh mana responden dapat mengenali kartu snellen dengan benar
5) Demikian selanjutnya minta kepada responden untuk menutup mata kanannya dengan
menggunakan telapak tangan kanan, tanpa menekan bola mata kanan
6) Dengan menggunakan mata kanan responden yang dalam keadaan terbuka, minta
kepadanya untuk mengenali kartu snellen mulai dari baris paling atas dengan obyek yang
paling besar hingga baris dibawahnya dengan obyek yang lebih kecil, semampu responden
mengenali obyek yang paling kecil
7) Catat sampai sejauh mana responden dapat mengenali kartu snellen dengan benar
b. Penulisan Visus jauh
1) Minta kepada responden untuk mengenali kartu snellen mulai dari baris paling atas
2) Apabila responden mampu mengenali kartu snellen hingga baris ke- 2 dari atas denga
baik dan benar, maka visus dinyatakan = 6/36 atau 5/30 atau 20/120 atau 0,17
3) Apabila responden mampu menganali kartu snellen baris ke-3 dari atas, akan tetapi
terdapat 1 kesalahan dalam mengenalinya, maka visus dinyatakan = 6/24 atau 5/20 atau
20/80 atau 0,25. tetapi apabila terjadi 2 kesalahan dalam mengenali baris ke- 3 dari atas
tersebut, mka visus dinyatakan = 6/36 atau 5/30 atau 20/120 atau 0,17. dalam hal ini,
kesalahan yang terjadi lebih banyak dari sedangkan yang salah = 2
4) Apabila responden mampu mengenali kartu snellen baris ke- 4 dari atas, akan tetapi
terdapat 2 keslahan dalam mengenalinya, maka visus dinyatakan = 6/12 atau 5/10 atau
20/40 atau 0,50. dalam keadaan seperti ini, yang benar sebanding dengan yang salah,
dimana penulisan visus mengacu filosopi perhitungan optimistis
5) Apabila responden mampu mengenali kartu snellen baris ke- 5 dari atas, akan tetapi
terdapat 3 kesalahan, yang mana berarti juga terdapat 2 yang benar dalam mengenalinya,
maka visus dinyatakan = 6/18 atau 5/15 atau 0,33. Dalam hal ini yang benar lebih sedikit
dibandingkan dengan yang salah
6) Demikian selanjutnya minta kepada responden untuk menenali baris- baris berikutnya.
Apabila responden mampu mengenali > jumlah obyek pada baris yang sama, visus
dinyatakan dengan angka pada baris tersebut

c. Uji Hitung jari tangan


Apabila responden tidak mampu mengenali karti snellen baris paling atas (dengan obyek yang
paling besar), visus ditentukan dengan menggunakan hitungan jari (fingers counting) dengan
D = 60 .
Kepada responden diperhatikan jari- jari tangan dan diminta untuk mengenali dan menghitung
jari tangan pemeriksa yang diperhatikannya, dimulai dengan jarak dekat terlebih dulu.
Apabila responden mampu menghitung jari tangan dengan baik dan benar

1) Pada jarak 0,5 meter, maka visus dinyatakan = 0,5/60 atau = 0,01
2) Pada jarak 1 meter, maka visus dinyatakan = 1/60 atau = 0,02
3) Pada jarak 2 meter, maka visus dinyatakan = 2/60 atau = 0,03
4) Pada jarak 3 meter, maka visus dinyatakan = 3/60 atau = 0,05
5) Pada jarak 4 meter, maka visus dinyatakan = 4/60 atau = 0,07
6) Pada jarak 5 meter, maka visus dinyatakan = 5/60 atau = 0,08
7) Pada jarak 6 meter, maka visus dinyatakan = 6/60 atau = 0,10

c. Uji gerakan/ Lambaian Tangan

1) Apabila responden tidak mampu menghitung jari tangan walau dengan jarak
yang sangat dekat ( < 0,5 meter ), maka untuk menentukan visus, kita gunakan gerakan/
lambaian tangan ( hand movement 0 dengan D = 300. Kepada responden diminta untuk
mengenali gerakan tangan pemeriksa yang diperlihatkan kepadanya, dimulai dengan jarak
dekat ( 1 meter )
a) Apabila responden mampu mengenali adanya gerakan tangan dan mampu
menyatakan arah gerakan tangan dengan baik dan benar, maka visus dinyatakan =
1/300 pb (proyeksi benar)
b) Apabila responden hanya mampu mengenali adanya gerakan, tanpa dapat
menyatakan arah gerakan tangan, maka visus dinyatakan = 1/300 proyeksi salah
2) Apabila responden tidak mampu mengenali adanya sumber cahaya dari lampu senter
dan mampu danya gerakan tangan, walau dengan jarak paling dekat, maka untuk
menentukan visus kita gunakan cahaya lampu senter
e. Uji proyeksi sinar
Apabila responden mampu mengenali adanya sumber cahaya dari lampu menyatakan posisi
dari sumber cahaya tadi dengan baik dan benar, maka visus dinyatakan = 1/ proyeksi benar
1) Apabila responden hanya mampu mengenali adanya sumber cahaya dari lampu senter,
akan tetapi tidak mampu menyatakan posisi dari sumber cahaya tadi, maka visus
dinyatakan = 1/ ~
2) Apabila responden tidak mampu mengenali cahaya adanya sumber cahaya dari lampu
senter, maka visus dinyatakan = 0

3. Tajam Penglihatan Dekat


Pemeriksaan/ pengukuran visus dekat umumnya dilakukan untuk mengetahui apakah seseorang
mampu melihat dekat dengan baik sesuai dengan kebutuhan/ kebiasaan sehari-hari. Kartu baca
umumnya berupa kalimat- kalimat yang saling berkaitan dan tidak berdiri sendiri-sendiri ( tidak
seperti halnya kartu pemeriksaan visus jauh ). Standar huruf kecil yang umum digunakan adalah N5
dengan jarak baca 40 cm, walau bebeapa orang masih mampu membaca huruf-huruf yang lebih
kecil dari N5.
Majalah surat/surat kabar umumnya menggunakan N 8.Pengukuran / pemeriksaan visus dekat tidak
mempunyai standar jarak baku, tergantung pada kebutuhan dan kebiasaan masing-masing
individu.
1) Macam Notasi Optotype Dekat
a) Jaeger
Kartu jaeger dalam pelayanan mata internasional sudah mulai ditinggalkan, akan tetapi
masih sering digunakan di indonesia. Hal ini terkait karena kartu jaeger tidak memiliki
standar baku acuan besarnya huruf/ obyek
b) Snellen
Notasi equivalen snellen dapat menimbulkan salah persepsi, apakah pemeriksaan/
pengukuran visus dekat menggunakan kartu baca dengan inisial 20/20 harus digunakan
dengan jarak baca = 20 cm
c) Printers point system
d) System ini mengacu kepada standar yang digunakan pada industri percetakan/ pengolah
kata (word processing) pada dunia komputer modern. Model/ font huruf yang digunakan
adalah ; Times New Roman dimana 1 point percetakan besarnya = 1/72 inch (0,363 mm).
Printers point system merupakan standar pemeriksaan visus dekat di Inggris dan
Australia.

Untuk memeriksa/ menentukan visus CC dengan kacamata lama, terlebih dulu harus dilakukan
pemeriksaan sebagai berikut :
Pengukuran power/ dioptri lensa kacamata
Penentuan pusat optik (Optik Centre) lensa kacamata
Pengukuran jarak pusat optik (Distantia Vitrior)
Pengukuran jarak pupil (Pupil Distance)
Pengukuran visus dengan kacamata lama

2) Pengukuran jarak antara Pupil


Jarak antara pupil (Pupil Distance) diukur mulai dari pusat pupil mata kanan hingga pusat pupil
mata kiri dengan menggunakan penggaris
PD Jauh ; Monokuler nad Binokuler
PD Dekat : Monokuler dan Binokuler
Tabel Konversi Tajam Penglihatan Dekat

Snellen Visual Acuities Jaeger PrintersPoint (Time Roman)


14 Inch(35 Cm) 16 Inch(40 Cm) 20 Feet(6,1 M) s
14 / 140 40 / 400 20 / 200 _ _ Sub
--- --- 20 / 170 J N
14 / 112 40 / 320 20 / 160 _ _
_ _ 20 / 130 J N
14 / 87,5 40 / 250 20 / 125 J N buku anak
14 / 70 40 / 200 20 / 100 J N
_ _ _ J N
_ _ _ J N,
14 / 56 40 / 160 20 / 80 J N buku
_ _ 20 / 70 J N Majalah
_ _ 20 / 65 _ N
_ _ 20 / 60 _ _
14 / 42 40 / 120 20 / 50 J N koran
_ _ _ J N,
_ _ _ J N
14 / 35 40 / 100 20 / 40 J N Buku
14 / 28 40 / 80 20 / 30 _ N Telpon
_ _ _ J N,
14 / 21 40 / 60 20 / 25 _ N Label
14 / 17,5 40 / 50 _ J N, Botol
14 / 14 40 / 40 20 / 20 _ N

4. Pemeriksaan Visus dengan kacamata lama (bagi yang sudah memilikinya)


Untuk memeriksa/menentukan Visus CC dengan kaca mata lama, terlebih dahulu harus dilakukan
pemeriksaan sbb ;
a. Pengukuran Power/ Dioptri Lensa kaca mata
b. Penentuan Pusat Optik (Optic Centre) lensa kaca mata
c. Pengukuran Jarak Pusat Optik (Distantia Vitrior)
d. Pengukuran Jarak Pupil (Pupil Distance)
e. PengukuranVisus dengan kaca mata lama

5. Pengukuran Jarak Antar Pupil


Jarak antar Pupil (Pupil Distance) diukur mulai dari pusat Pupil mata kanan hingga pusat Pupil
mata kiri dengan menggunakan penggaris.
a. PD Jauh
1) Monokuler
2) Binokuler
b. PD Dekat
1) Monokuler
2) Binokuler
6. Identifikasi segmen depan mata
a. Kelopak Mata
Keadaan kelopak mata
1) Bukaan kelopak mata
2) Ketegangan kelopak mata
3) Ekstropion/ Entropion
4) Trichiasis
5) Inflamasi
6) Papilae
7) Kedipan mata
8) Keadaan Puncta lacrimalis
b. Konjungtiva bulbi
Keadaan konjungtiva bulbi
1) Normal
2) Inflamasi
3) Superficial Conjungtiva Injection
4) Adanya benda asing
c. System Lakrimasi dan Lapisan airmata
Keadaan airmata
1) Normal
2) Abnormal
3) Mucin defisiency
4) Aqueous defisiency
5) Lipid abnormalities
6) Penyumbatan saluran airmata
d. Kornea
Identifikasi bentuk kornea
1) Reguler ( with the rule, Against the rule, Obligue )
2) Irreguler ( Keratoconnus, keratoglobus )
Identifikasi Keadan Kornea
1) Normal/ cembung/ datar
2) Epithelial staining
3) Corneal scars
4) Active inflammatory conditions
5) Corneal degenaratios
6) Corneal disposition
7) Pigment desposition
e. Bilik Mata Depan
Estimasi sudut bilik mata depan
1) Dangkal
2) Normal
3) Dalam
f. Iris
Keadaaan/ Bentuk
1) Normal
2) Abnormal
a) Kongenital
b) Aniridia
c) Corectopia
3) Coloboma
a) Didapat
b) Constricted
g. Pupil
Keadaaan/ Bentuk
1) Normal
2) Abnormal
a) Anisocoria
b) Sympathetic pupil Defect
c) Parasympathetic Pupil defect
3) Amaurotic Pupil
a) Mydriasis (pupil lebar)
b) Myosis ( pupil kecil)
Fungsi/ reaksi pupil
1) Direk
2) Indirek/ konsensual
h. Lensa Mata
1) Phakik
a) Keadaan
Jernih
Keruh (katarak)
b) Posisi
Normal
Luxasio
2) Aphakik
Keadaan
Jernih
Keruh (katarak)
3) Pseudo Phakik
a) Keadaan
Jernih
Keruh (katarak)
b) Posisi
Normal
Luxasio
7. Skrining Lapang Pandang
Test Konprontasi
Pemeriksaan Refraksi Obyektif

A. Definisi / Pengertian

Adalah suatu pemeriksaan Refraksi, dimana hasil pemeriksaan ditentukan oleh respons pasien
terhadap pemeriksaan/ tindakan yang dilakukan oleh pemeriksa.

Interaktif positif antara pasien dan pemeriksa merupakan faktor penting untuk mendapatkan hasil
pemeriksaan yang baik dan benar, disamping prosedur/ tehnik pemeriksaan yang baik harus dikuasai
oleh pemeriksa

Dalam pmeriksaan Refraksi dengan metode Subyektif, kita mengenal tahapan-tahapan berikut:

1. Tahap Tentative
Dalam tahap ini, kita dapat memperkirakan status Refraksi seseorang dan besarnya lensa koreksi
yang diperlukan (derajad kelainan Refraksi-nya).
Sebag i contoh : seseorang datang dengan keluhan rabun jauh, maka kita akan dengan segara
berfikir kelainan refraksinya adalah myopia
Selanjutnya apabila tajam penglihatan tanpa korreksi (Visus S.C.) = 6/12 (20/40) maka tentative
atau perkiraan derajat kelainannya adalah = S 0,75 (lihat tabel Bennet & Rabbetts)
Nilai-nilai tenttive tersebut hanya merupakan pegangan untuk pemeriksaan selanjutnya, dan belum
dapat diberikan sebagai koreksi definitif.
Hubungan Visus (Sine Correctio) dengan derajad Refraksi Anomali.

Out of focus Vision Table

Visus Sine Correctio Besaran Koreksi Lensa Spheris


6/6 20/20 1.00 < 0.50 0.00
6/9 20/30 0.66 0.50
6/12 20/40 0.50 0.75
6/18 20/60 0.33 1.00
6/24 20/80 0.25 1.50
6/36 20/120 0.17 2.00
6/60 20/200 0.10 2.00 - 2.50
Bennet & Rabbetts, 1984

2. Pengukuran
Dalam tahap ini kita mencari ukuran koreksi yang memberikan visus terbaik berdasarkan respons
pasien terhadap lensa-lensa koreksi yang kita berikan, sesuai dengan kriteria tertentu.
Untuk myiopia diberikan koreksi lensa minus terlemah/ terkecil da untuk hipermetropia diberikan
koreksi lensa plus terkuat/ terbesar. Sedangkan untuk presbiopia Addisi baca dengan lensa plus
trlemah/ terkecil

Status Refraksi
a. Emmetropia
b. Ametropia
1) Sperical Ametropia
Hipermetropia
Miopia
2) Astigmatisma
Astigmatisma Hipermetropikus Simpleks
Astigmatisma Hipermetropikus Kompositus
Astigmatisma Mikstus
Astigmatisma Miopikus Simplek
Astigmatisma Miopikus Kompositus
B. Penentuan Status Refraksi Emmetropia
Emmetropia berasal dari kata Yunani : Emmetros adalah ukuran normal atau dalam keseimbangan
yang wajar. Opsis adalah behubungan dengan penglihatan.
Seseorang dikatakan berpenglihatan normal (Emmetropia) apabila sinar-sinar sejajar sumbu utama
mata, tanpa akomodasi dibias tepat pada retina

Dasar pemeriksaan
1. Diklinik, apabila sesorang mampu mengenal/ menterjemahkan obyek kartu Snellen/ Optotype
dengan D = 6 (20) pada jarak baku 6 meter (20 feet) dalam keadaan tanpa Akomodasi, maka orang
tersebut dikatakan berpenglihatan normal.
2. Walaupun Visus = 6/6 belum tentu Status Refraksinya = Emmetropia, masih perlu dilakukan uji
beban akomodasi, untuk memastikan apakah pasien tersebut melihat dengan rileks atau dengan
ekstra Akomodasi.
Emmetropia
Visus S.C = 6/6
Hipermetropia + Akomodasi

Metode coba-coba (Trial and Error) pada Visus = 6/6 (20/20)


1. Acuan
a. Anamnese
b. Memperhatikan tanda-tanda/ keadaan fisik mata pasien
c. Out of Fokus Vision Table (Bennet & Rabbetts)
2. Sarana
a. Kamar Periksa
1) Jarak pemeriksaan yang diperlukan minimal = 5 meter. Sebaiknya menggunakan jarak
pemeriksaan 6 meter
2) Apabila ukuran kamar periksa kurang dari 5 meter, dianjurkan menggunakan optotype
khusus (obyeknya dibuat terbalik) yang dilihat dengan menggunakan cerminpemantul.
3) Penerangan kamar periksa
Penerangan = normal bila menggunakan Kartu Snellen
Penerangan = redup bila menggunakan Chart Proyektor
b. Optotype
1) Kartu Snellen
2) Chart Proyektor
c. Lensa uji coba (Trial Lens Set)
d. Bingkai uji coba (Trial Frame atau Vision Tester/ Phoropter)
3. Teknik Pemeriksaan
a. Kepada pasien diperlihatkan Kartu Snellen dengan jarak pemeriksaan baku
b. Pemeriksaan dilakukan secara monokuler
c. Dicoba dikoreksi dengan lensa S + 0.25 (acuan tabel Bennet & Rabbets)
d. Apabila Visus CC S + 0.25 menurun, berarti Status Refraksi = Emmetropia
e. Apabila Visus CC S + 0.25 tetap,/ bertambah baik, berarti Status Refraksi = Hipermetropia
dengn ekstra Akomodasi
f. Diupayakan koreksi dengan lensa Sphers Plus kuat (terbesar), mencapai Visus terbaik

Visus KOREKSI Visus K E TE RAN GAN


SC Pada Trial Frame Tambahan CC
6/6 --- --- --- Lihat tabel Bennet & Rabbetts
Koreksi diperkirakan < S+0.50
Visus CC S + 0.25 = menurun
6/6 --- S + 025 6/6 f Status Refraksi = Emmetropia
Visus dinyatakan = 6/6 E

Visus KOREKSI Visus K E TE RAN GAN


SC Pada Trial Frame Tambahan CC
6/6 --- --- --- Lihat tabel Bennet & Rabbetts
Koreksi diperkirakan < S+0.50
6/6 --- S + 025 6/6 Visus CC S + 0.25 = tetap 6/6 atau
lebih nyaman
6/6 S + 025 S + 025 6/6 f Visus CC S + 0.50 = menurun
Koreksi yang diperlukan S+0.25
Status Refraksi = Hipermetropia

C. Penentuan Status Refraksi Ametropia


Seseorang dikatakan berpenglihatan tidak normal (Ametropia) apabila sinar-sinar sejajar sumbu utama
mata masuk kedalam mata tanpa Akomodasi, dibiaskan pada satu titik bias, akan tetapi satu titik bias
tersebut tidak terletak di retina (Spherical Ametropia) dan atau dibiaskan lebih dari satu titikbias
(Astigmatisma)

Status Refraksi
1. Emmetropia
2. Ametropia
a. Spherical Ametropia
1) Hipermetropia
2) Miopia
b. Astigmatisma
Spheris berasal dari kata Yunani; Sphaira = bola, dimana bola ini selalu bundar. Jadi kalau mata itu
bundar, berarti mempunyai radius dan sifat/ daya bias yang sama bagi semua meridiannya
Diklinik, apabila seseorang tidak mampu mengenal/ menterjemahkan obyek pada Kartu Snellen dengan
D = 6 (20/20) pada jarak baku 6 meter (20 feet) dalam keadaan tanpa Akomodasi, maka orang tersebut
dikatakan berpenglihatan tidak normal

1. Hipermetropia
Status Refraksi seseorang dikatakan Hipermetropia, apabila sinar-sinar sejajar sumbu utama mata
masuk kedalam mata tanpa Akomodasi, dibiaskan pada satu titik bias, yang terletak dibelakang
retina.
Disebut juga sebagai rabun Dekat

a. Penyebab Hipermetropia
1) Daya bias mata terlalu lemah (Hipermetropia Refraktif)
Pada seseorang yang lensa matanya sudah diangkat karena katarak, daya refraksinya
sangat lemah. Aphakia memerlukan lensa koreksi Spheris Plus yang cukup kuat, sekitar
+ 10.00 hingga + 13.00
Lenkung kornea lebih datar dari normal, sehingga daya bias kornea lebih lemah dari
normal (Hipermetropia Kurvatura)
2) Sumbu bola mata terlalu pendek (Hipermetropia Aksial)
Hipermetropia type ini paling banyak dijumpai
Merupakan disposisi akan terjadinya srangan glaukoma dikemudian hari
o Bilik mata depan : dangkal
o Sudut bilik mata depan : sempit
o Lensa Okuli : relative besar
o Hipertropi Otot Siliaris

Penderita Hipermetropiayang masih muda dapat mengatasi Hipermetropianya dengan


berakomodasi, baik untuk melihat jauh maupun untuk melihat dekat. Hipermetropia yang masih
dapat diatasi sepenuhnya dengan akomodasi disebut : Hipermetrop Latent
Seiring dengan bertambahnya umur, kemampua berakomodasi semakin berkurang, sehingga
Hipermetrop latent akan menjadi manifes yang disebut : Hipermetrop Manifes yaitu
Hipermetrop yang tidak dapat diatasi dengan akomodasi

b. Gejala Hipermetropia
1) Mata lelah
2) Astenopia, terutama sewaktu melihat dekat (astenopia akomodativa)
3) Sakit kepala, biasaya dibagian frontal, yang dipicu oleh kegiatan melihat dekat yang
berkepanjangan. Jarang terjadi di pagi hari, cenderung timbul keluhan di siang hari.
Keluhan bisa hilang secara spontan setelah kegiatan melihat dekat dihentikan
4) Sensitif terhadap cahaya (fotopobia)

Metode coba-coba
a. Metode coba-coba (Trial and Error) pada Hipermetropia dengan V SC <6/6
1) Acuan
a)Anamnese
b)Memperhatikan tanda-tanda/ keadaan fisik mata pasien
c)Out of Fokus Vision Table (Bannet & Rabbetts)
2) Teknik pemeriksaan
a)Kepada pasien diperlihatkan Kartu Snellen dengan jarak pemeriksaan baku
b)Pemeriksaan dilakukan secara monokuler

Hypermetropia
c)Visus S.C. < 6/6 Miopia
Astigmatisma

d)Misalkan Visus SC = 6/9


e)Dicoba dikoreksi dengan lensa S + 0.50 (acuan table Bennet & Rabbetts)
f) Apabila Visus CC S + 0.50 lebih baik, berarti Status refraksi = Hypermetropia

Visus KOREKSI Visus K E TE RAN GAN


SC Pada Trial Frame Tambahan CC
6/9 --- --- Lihat tabel Bennet & Rabbetts
Koreksi diperkirakan =S+0.50
6/9 --- S + 0.50 6/6 Visus CC S + 0.50 = 6/6 dan lebih
nyaman
6/9 S + 0.50 S + 0.25 6/6 Visus CC S + 0.75 = tetap atau
lebih nyaman
6/9 S + 0.75 S + 0.25 6/6 f Visus CC S + 1.00 = leih buram
Koreksi yang diperlukan S+0.75
Status Refraksi = Hipermetropia

b. Metode coba-coba (Trial and Error + Red+Green Test)


1) Acuan
a)Anamnese
b)Memperhatikan tanda-tanda/ keadaan fisik mata pasien
c)Red+Green Test
d)Out of Fokus Vision Table (Bannet & Rabbetts)

2) Teknik pemeriksaan
a)Kepada pasien diperlihatkan Kartu Snellen dengan jarak pemeriksaan baku
b)Pemeriksaan dilakukan secara monokuler

Hypermetropia
c)Visus S.C =. < 6/6 (20/20) Miopia
Astigmatisma

d)Misalkan Visus SC = 6/9


e)Red+Green Test : obyek pada warna dasar Hijau terlihat lebih hitam/ jelas dibandingkan
dengan obyek pada warna dasar Merah
d)Dicoba dikoreksi dengan lensa Spheris Plus, Visus akan bertambah baik/ tetap
e)Diupayakan koreksi dengan Spheris Plus terkuat (terbesar), mencapai Visus Terbaik
Visus KOREKSI Visus K E TE RAN GAN
SC Pada Trial Frame Tambahan CC
6/9 --- --- Lihat tabel Bennet & Rabbetts
Koreksi diperkirakan =S+0.50
Kepada pasien diperlihatkan
Red+Green Test, obyek pada
warna dasar Hijau terlihat lebih
hitam/ jelas dari pada obyek pada
warna dasar Merah
Status Refraksi diduga
hipermetropia
6/9 --- S + 0.50 6/6 Visus CC S + 0.50 = 6/6 lebih baik
dan nyaman
6/9 S + 0.50 S + 0.25 6/6 Visus CC S + 0.75 = tetap atau
lebih nyaman
6/9 S + 0.75 S + 0.25 6/6 f Visus CC S + 1.00 = leih buram
Koreksi yang diperlukan S+0.75
Status Refraksi = Hipermetropia

2. Miopia
Status Refraksi seseorang dikatakan Miopia, fokus sistem optik mata terletak didepan retina,
sehingga apabila sinar-sinar sejajar sumbu utama mata masuk kedalam mata tanpa Akomodasi,
akan dibiaskan pada satu titik bias, yang terletak didepan retina.
Disebut juga sebagai rabun Jauh

a. Penyebab Miopia
1) Daya bias mata terlalu kuat/ lebih dari normal (Miopia Refraktif)
Miopia type ini cukup langka
Perubahan indeks bias lensa mata karena bertambahnya usia, akan mengakibatkan
mata menjadi miopia.
Apabila lensa okuli mengikat banyak air, akan menyebabkan miopia
Kurvatura kornea lebih pendek / cembung dari normal, sehingga daya bias korne
menjadi berlebih (Miopia Kurvatura)
2) Sumbu bola mata terlalu pendek (Miopia Aksial)
Hipermetropia type ini paling banyak dijumpai
Mata biasanya lebih besar dari normal
b. Gejala Miopia
1) Rabun sewaktu melihat jauh
2) Sakit Kepala
3) Keluhan Astheno Vergensi
4) Kecenderungan terjadinya juling keluar sewaktu melihat jauh/ melamun

Metode coba-coba
a. Metode coba-coba (Trial and Error) pada Miopia
1) Acuan
a) Anamnese
b) Memperhatikan tanda-tanda/ keadaan fisik mata pasien
c) Out of Fokus Vision Table (Bannet & Rabbetts)
2) Teknik pemeriksaan
a) Kepada pasien diperlihatkan Kartu Snellen dengan jarak pemeriksaan baku
b) Pemeriksaan dilakukan secara monokuler

Hypermetropia
c) Visus S.C. < 6/6 Miopia
Astigmatisma

d) Misalkan Visus SC = 6/9


e) Dicoba dikoreksi dengan lensa S + 0.50 (acuan table Bennet & Rabbetts)
Apabila Visus CC S + 0.50 menurun, berarti Status refraksi = bukan Hypermetropia
f) Dicoba dikoreksi dengan lensa S - 0.50 (acuan table Bennet & Rabbetts)
Apabila Visus CC S - 0.50 lebih baik, berarti Status refraksi = Miopia
Visus KOREKSI Visus K E TE RAN GAN
SC Pada Trial Frame Tambahan CC
6/9 --- --- --- Lihat tabel Bennet & Rabbetts
Koreksi diperkirakan =S+0.50
6/9 --- S + 0.50 6/12 Visus CC S + 0.50 = 6/12
Status Refraksi = bukan
6/9 --- S - 0.25 6/6 Hipermetropia
Visus CC S - 0.50 = 6/6, lebih baik
6/9 S - 0.75 S - 0.25 6/6f dan jelas
Visus CC S -0.75 = 6/6 f
Koreksi yang diperlukan S-0.50
Status Refraksi = Miopia

Metode coba-coba (Trial and Error + Red+Green Test) Pada Miopia


a. Acuan
1) Anamnese
2) Memperhatikan tanda-tanda/ keadaan fisik mata pasien
3) Red+Green Test
4) Out of Fokus Vision Table (Bannet & Rabbetts)

b. Teknik pemeriksaan
1) Kepada pasien diperlihatkan Kartu Snellen dengan jarak pemeriksaan baku
2) Pemeriksaan dilakukan secara monokuler

Hypermetropia
3) Visus S.C =. < 6/6 (20/20) Miopia
Astigmatisma

4) Misalkan Visus SC = 6/9


5) Red+Green Test : obyek pada warna dasar Merah terlihat lebih hitam/ jelas dibandingkan
dengan obyek pada warna dasar Hijau
6) Dicoba dikoreksi dengan lensa Spheris Minus, Visus akan bertambah baik
7) Diupayakan koreksi dengan Spheris Minus terkuat (terbesar), mencapai Visus terbaik

Visus KOREKSI Visus K E TE RAN GAN


SC Pada Trial Frame Tambahan CC
6/9 --- --- Lihat tabel Bennet & Rabbetts
Koreksi diperkirakan =S+0.50
Kepada pasien diperlihatkan
Red+Green Test, obyek pada
warna dasar Merah terlihat lebih
hitam/ jelas dari pada obyek pada
warna dasar Hijau
Status Refraksi diduga Miopia
6/9 --- S - 0.50 6/6 Visus CC S - 0.50 = 6/6 lebih baik
Visus CC S - 0.75 = lebih buram
6/9 S - 0.50 S - 0.25 6/6 f Koreksi yang diperlukan S-0.50
Status Refraksi = Miopia

3. Astigmatisma
A = tidak, Stigmat = titik ; jadi Astigmatisma berarti tidak mempunyai/ membentuk titik.
Status Refraksi seseorang dikatakan Astigmatisma, apabila sinar-sinar sejajar sumbu utama mata
masuk kedalam mata, akan dibiaskan pada lebih dari satu titik bias. Jadi Astigmatisma adalah
keadaan dari mata dimana tidak terbentuknya titik fokus (melainkan garis-garis Fokus) dikarenakan
perbedaan daya bias pada meridian utama media refrakta mata.
Astigmatisma biasanya keturunan (Hereditair)

a. Jenis-jenis Astigmatisma
1) Astigmatisma ditinjau dari bentuknya ;
a) Reguler
Apabila sinar-sinar sejajar sumbu utama mata, dibiaskan pada dua titik bias, dengan
meridian utama yang saling tegak lurus.
b) Irreguler
Apabila sinar-sinar sejajar sumbu utama mata, dibiaskan pada banyak titik bias.

2) Astigmatisma ditinjau dari letak titik-titik biasnya ;


a) Astigmatisma Hipermetropikus Simpleks
b) Astigmatisma Hipermetropikus Kompositus
c) Astigmatisma Mikstus
d) Astigmatisma Miopikus Simpleks
e) Astigmatisma Miopikus Kompositus.

3) Astigmatisma ditinjau dari daya biasnya


a) Astigmatisma With The Rule (yang umum/ lazim)
Daya bias pada meridian Vertikal lebih besar dibandingkan daya bias meridian
Horizontal.
b) Astigmatisma Againt The Rule (tidak umum/ lazim)
Daya bias pada meridian Horizontal lebih besar dibandingkan daya bias meridian
Vertikal
c) Astigmatisma Oblik
Daya biasnya terletak pada meridian yang miring

b. Gejala Astigmatisma
1) Sakit Kepala
2) Pasien cenderung menyempitkan celah kelopak mata
3) Penglihatan jauh dan dekat buram, tidak terfokus.
4) Mempunyai kesan adanya peubahan bentuk benda-benda yang dilihat.

c. Dasar pemerikasaan Hepermetropia Astigmat.


1) Pada mata Astigmatisma, apabila Circle of least Confusion berada tepat di retina akan
memberikan Visus yang optimal. Keadaan ini terjadi dengan cara memberikan lensa
koreksi Spheris Plus/ Minus hingga mencapai Visus terbaik (Visus CC Spheris terbaik)
2) Lensa pengabur (Fogging Lens) selalu berupa lensa Spheris Plus
3) Besarannya > koreksi lensa Cylinder yang akan diberikan, dimana hal tersebut
tergantung V CC dengan lensa spheris terbaik.
4) Lihat Out of Focus Vision Table

Hubungan Visus Cum Corretion Spheris terbaik dengan derajat Astigmatisma dan besar lensa
pengabur yang diperlukan

Visus Cum Correctio Speris terbaik Koreksi lensa Cylinder Lensa Pengabur
Minimal
6/6 20/20 1.00 C 0.50 S + 0.25
6/9 20/30 0.66 C 1.00 S + 0.50
6/12 20/40 0.50 C 1.50 S + 0.75
6/18 20/60 0.33 C 2.00 S + 1.00
6/24 20/80 0.25 C 3.00 S + 1.50
6/36 20/120 0.17 C 4.00 S + 2.00
6/60 20/200 0.10 > C 4.00 > S + 2.00
Bennet & Rabbetts, 1984
Metode Pengaburan(Fogging Technic) pada Visus SC = < 6/6 (20/20)
a. Acuan
1) Anamnese
2) Memperhatikan tanda-tanda/ keadaan fisik mata pasien
3) Red+Green Test
4) Out of Fokus Vision Table (Bannet & Rabbetts)

b. Teknik pemeriksaan
1) Kepada pasien diperlihatkan Kartu Snellen dengan jarak pemeriksaan baku
2) Pemeriksaan dilakukan secara monokuler
3) Tentukan Visus SC

Emmetropia
4) Visus S.C =. < 6/6 (20/20) Hipermetropia Ringan
Astigmatisma Ringan

5) Visus SC = 6/6 (20/20) masih mengadung beberapa kemungkinan :


a) Apabila dicoba dengan lensa koreksi S + 0.25 penglihatan bertambah buram, Status
Refraksi = Emmetropia
b) Apabila dicoba dengan lensa koreksi S + 0.25 Visus tetap dan terasa lebih nyaman,
Status Refraksi = Hipermetropia Ringan
c) Apabila dicoba dengan lensa koreksi S + 0.25 Apabila dicoba dengan lensa koreksi S
+ 0.25 Visus tetap/ sedikit buram, kemungkinan Status Refraksinya = Astigmatisma
Mikstus, dimana Circle of Least Confusion terletak tepat di retina.
Astigmatisma Mikstus adalah keadaan pada mata Astigmatisma dimana satu titik
biasnya berada didepan retina dan satu titik bias yang lain berada dibelakang retina
d) Red+Green Test : obyek pada warna dasar Merah terlihat sama hitam/ jelas dengan
obyek pada warna dasar Hijau (Circle of Least Confusion berada tepat di retina)
pada kasus Astigmatisma

Visus KOREKSI Visus K E TE R AN G AN


SC Pada Trial Frame Tambahan CC
6/6 --- --- Lihat tabel Bennet & Rabbetts
Koreksi diperkirakan =S+0.25
Kepada pasien diperlihatkan
Red+Green Test, obyek pada warna
dasar Merah terlihat sama hitam/ jelas
dengan obyek pada warna dasar Hijau
Status Refraksi diduga Miopia
6/6 --- S + 0.25 6/6 Visus CC S+ 0.25 = 6/6 lebih buram
sedikit, Status Refraksi = Emmetrop ?
uji Astigmat
6/6 --- --- Lihat tabel Bennet & Rabbetts
Fogging Lens yang diperlukan =S+0.25
--- =S+0.25 Lihat gambar kipas (Clock Dials)
(Fogging Lens) garis yang menunjukan 90 terlihat paling
hitam, koreksi
S + 0.25 C-0.25 X 180 Dengan lensa C 0.25 X 180, gambar
kipas terlihat belum sama hitamnya
S+0.25 C-0.25 X 180 C-0.25 X 180 Gambar kipas terlihat sama hitamnya
koreksi lensa Cylinder sudah tepat
6/6 S+0.25 C-0.50 X 180 --- 6/6 S+0.25 C-0.25 X 180 mencapai 6/6
6/6 S+0.25 C-0.25 X 180 S + 0.25 6/6 f Uji ketepatan titik akhir speris monokuler
6/6 S+0.25 C-0.25 X 180 S 0.25 6/6 f Koreksi yang diperlukan =
S+0.25 C-0.50 X 180
Status Refraksi = Astigmatisma Mikstus

Metode Pengaburan(Fogging Technic) pada Hipermetrop Astigmat


a. Acuan
1) Anamnese
2) Memperhatikan tanda-tanda/ keadaan fisik mata pasien
3) Red+Green Test
4) Out of Fokus Vision Table (Bannet & Rabbetts)

b. Teknik pemeriksaan
1) Kepada pasien diperlihatkan Kartu Snellen dengan jarak pemeriksaan baku
2) Pemeriksaan dilakukan secara monokuler
3) Tentukan Visus SC

Hipermetropia
4) Visus S.C =. < 6/6 (20/20) Miopia
Astigmatisma
5) Visus SC = 6/12 (20/60) masih mengadung beberapa kemungkinan :
a) Apabila dicoba dengan lensa koreksi S + 0.75 penglihatan bertambah baik, Status
Refraksi = Hipermetropia
b) Apabila dicoba dengan lensa koreksi S - 0.75 penglihatan bertambah baik, Visus = 6/6,
Status Refraksi = Miopia
c) Apabila dicoba dengan lensa koreksi S - 0.75 Visus 6/6 6/9, kemungkinan Status
Refraksinya ;
Fogging Lens yang diperlukan = s + 0.50
Diperkirakan koreksi lensa Cylinder = C 1.00

Visus KOREKSI Visus K E TE R AN G AN


SC Pada Trial Frame Tambahan CC
6/12 --- --- Lihat tabel Bennet & Rabbetts
Koreksi diperkirakan =S+0.75
Kepada pasien diperlihatkan
Red+Green Test, obyek pada warna
dasar Hijau terlihat lebih hitam/ jelas
dibandingkan dengan obyek pada warna
dasar Merah
Status Refraksi diduga Hipermetropia
6/12 --- S + 0.75 6/9 Visus CC S+ 0.75 = 6/9 koreksi Speris
6/12 S + 0.75 S + 0.25 6/7.5 terbaik (belum optimal), Status Refraksi
6/12 S + 0.75 S - 0.25 6/7.5 = Hipermetrop Astigmat ? uji
Astigmat
Lihat tabel Bennet & Rabbetts
Fogging Lens yang diperlukan =S+0.50
Koreksi Cylinder diduga = C 1.00
6/12 S + 0.75 =S+0.50 Lihat gambar kipas (Clock Dials)
(Fogging Lens) garis yang menunjukan 90 terlihat paling
hitam, koreksi
S + 1.25 C-0.50 X 180 Dengan lensa C 0.50 X 180, gambar
kipas terlihat belum sama hitamnya
S+1.25 C-0.50 X 180 C-0.25 X 180 Dengan lensa C 0.75 X 180, gambar
kipas terlihat belum sama hitamnya
S+1.25 C-0.75 X 180 C-0.25 X 180 Dengan lensa C 1.00 X 180, gambar
kipas terlihat sama hitamnya koreksi
lensa Cylinder sudah tepat.
6/6 S+1.25 C-1.00 X 180 --- 6/6 Koreksi S + 1.25 C-1.00 X 180
mencapai 6/6
6/6 S+1.25 C-1.00 X 180 S + 0.25 6/6 f Uji ketepatan titik akhir speris monokuler
6/6 S+1.25 C-1.00 X 180 S 0.25 6/6 f Koreksi yang diperlukan =
S+1.25 C-1.00 X 180
Status Refraksi = Astigmatisma
Hipermetropikus Kompositus

Metode Pengaburan(Fogging Technic) pada Miopia Astigmat


a. Acuan
1) Anamnese
2) Memperhatikan tanda-tanda/ keadaan fisik mata pasien
3) Red+Green Test
4) Out of Fokus Vision Table (Bannet & Rabbetts)

b. Teknik pemeriksaan
1) Kepada pasien diperlihatkan Kartu Snellen dengan jarak pemeriksaan baku
2) Pemeriksaan dilakukan secara monokuler
3) Tentukan Visus SC
Hipermetropia
4) S.C =. < 6/6 (20/20) Visus Miopia
Astigmatisma

5) Visus SC = 6/9 (20/60) masih mengadung beberapa kemungkinan :


a) Apabila dicoba dengan lensa koreksi S + 0.50 penglihatan bertambah baik, Visus 6/6,
Status Refraksi = Hipermetropia
b) Apabila dicoba dengan lensa koreksi S - 0.50 penglihatan bertambah baik, Visus = 6/6,
Status Refraksi = Miopia
c) Apabila dicoba dengan lensa koreksi S - 0.50 Visus 6/6 6/6 f, masih ada
kemungkinan Status Refraksinya = Astigmatisma
Fogging Lens yang diperlukan = S + 0.25
Diperkirakan koreksi lensa Cylinder = C 0.50

Visus KOREKSI Visus K E TE R AN G AN


SC Pada Trial Frame Tambahan CC
6/9 --- --- Lihat tabel Bennet & Rabbetts
Koreksi diperkirakan =S+0.50
Kepada pasien diperlihatkan
Red+Green Test, obyek pada warna
dasar Merah terlihat lebih hitam/ jelas
dibandingkan dengan obyek pada warna
dasar Hijau
Status Refraksi diduga Miopia
6/9 --- S - 0.50 6/6 f Visus CC S-0.50 = 6/6 f koreksi
6/9 S - 0.50 S + 0.25 6/7.5 Speris terbaik (belum optimal), Status
6/9 S - 0.50 S - 0.25 6/7.5 Refraksi = Miop Astigmat ? uji
Astigmat
Lihat tabel Bennet & Rabbetts
Fogging Lens yang diperlukan =S+0.25
Koreksi Cylinder diduga = C 0.50
6/9 S - 0.50 S+0.25 (Fogging Lihat gambar kipas (Clock Dials)
Lens) garis yang menunjukan 60 terlihat paling
hitam, koreksi
S-0.25 C-0.25 X 150 Dengan lensa C-0.25 X 150, gambar
kipas terlihat belum sama hitamnya
S-0.25 C-0.25 X 150 C-0.25 X 150 Dengan lensa C 0.50 X 150, gambar
kipas terlihat sama hitamnya koreksi
lensa Cylinder sudah tepat.
6/9 S-0.25 C-0.50 X 150 --- 6/6 Koreksi S - 0.25 C-0.50 X 150
mencapai 6/6
6/6 S-0.25 C-0.50 X 150 --- 6/6 Uji ketepatan titik akhir speris monokuler
6/6 S-0.25 C-0.50 X 150 S + 0.25 6/6 f Koreksi yang diperlukan =
6/6 S-0.25 C-0.50 X 150 S 0.25 6/6 f S-0.25 C-0.50 X 150
Status Refraksi = Astigmatisma
Miopikus Kompositus

D. Penutup

1. Dengan ditentukannya Titik akhir Sferis Binokuler, maka pemeriksaan Refraksi Statis atau koreksi
Visus untuk jauhnya sudah selesai.
2. Untuk menentukan berapa besar lensa koreksi yang akan diberikan dan dalam bentuk apa
sebaiknya, masih diperlukan fase Analisa Refraksi.
3. Untuk pasien yang berusia diatas 40 tahun, pemeriksaan Refraksi tentunya masih harus dilnjutkan
dengan pemeeriksaan Refraksi Dinamis, dimana faktor Akomodasi ikut berperan, karena jarak
pemeriksaan yang biasa dipakai berkisar antara 35 Cm 40 Cm, dan tergantung pula pada jarak
baca kebiasaan pasien dalam kehidupan sehari-hari.
4. Tajam-penglihat dekat beserta koreksinya baru dapat dilakukan setelah Tajam-penglihatan jauhnya
ditentukan dan dikoreksi dengan baik dan benar terlebih dulu. Kesalahan pada koreksi Visus jauh
akan mempengaruhi koreksi Visus dekatnya., koreksi penglihatan Binokuler dan koreksi
penglihatan sisa.
5. Pemberian koreksi/ addisi baca Binokuler baru dapat diberikan dengan mengacu pada Tabel umur,
apabila koreksi Tajam-penglihatan jauhnya menghasilkan Visus C.C. yang sama/ mendekati sama
antara mata kanan dan mata kiri.

Umur Addisi Baca


40 Tahun S + 1.00
45 Tahun S + 1.50
50 Tahun S + 2.00
55 Tahun S + 250
60 Tahun S + 3.00
Analisa Refraksi, Diagnosa dan Rencana Tindakan

Simptomatik Obyektif Assesment Rencana Tindakan


Penglihatan Buram Sewaktu melihat dekat, Hipermetropia Refraksi obyektif
dalam waktu lama, pada yang belum dikoreksi Refraksi Subyektif
pasien usia muda R Km SV Plus

Astigmatismus R Km SV Plus dan


yang belum dikoreksi Cylinder

Amplitudo Pengukuran titik


Akomodasi Rendah dekat Akomodasi
R Km Bifokal /
progresif

Sewaktu melihat dekat, Presbiopia R KM SV baca


pada pasien usia dewasa R Km Bifokal /
> 40 tahun Progresif

Seaktu melihat jauh, pada Miopia yang R Km SV Minus


pasien usia muda pasien belum dikorekso R Km Bifokal /
usia tua Miopia Presbiop Progresif

Simptomatik Obyektif Assesment Rencana Tindakan


Mata Lelah Terutama sewaktu melihat Jarang terjadi Retinoskopi +
dekat, dalam waktu lama. pada mIopia Sikloplegi
Posisi bola mata Ortho Hipermetropia Refraksi Subyektif
Laten R Km SV Plus

Refraksi Obyektif
Hipermetropia Refraksi Subyektif
yang belum dikoreksi R Km SV Plus

5) Walaupun Visus SC = 6/6, masih perlu dilakukan uji beban Akomodasi untuk memastikan apakah
orang tersebut dalam keadaan tanpa Akomodasi dengan cara :
Methoda Trial & Errror ( Methoda Coba-coba) yaitu dengan menambahkan lensa
koreksi berupa S + 025, maka Visus CC akan semakin buruk/ buram
Pemeriksaan Duo-Chrome / Red-Green Test/ Test Bichromatis
Pada pemeriksaan ini, obyek pada warna dasar Merah akan terlihat sama hitamnya/
jelasnya dengan obyek pada warna dasar Hijau.
Apabila setelah kita lakukan Uji beban Akomodasi ternyata orang yang dengan Visus =
6/6 tadi dalam keadaan tanpa Akomodasi, maka kita baru dapat menyatakan Visus =
6/6E (Emmetropia).

Visus KOREKSI Visus K E TE RAN GAN


SC Pada Trial Frame Tambahan CC
6/6 --- S + 025 6/6f Status Refraksi = Emmetropia, Visus
dinyatakan = 6/6 E

6/6 --- --- Pd Tes Bichromatis/ Red-Green,


Pasien akan menyatakan obyek
pada warna dasar Merah akan
terlihat sama hitam/jelasnya
dengan obyek pd warna dasar Hijau
4. Penentuan status Refraksi = Hipermetropia
Merupakan salah satu bentuk dari Ametropia.
Hipermetropia sering disebut juga sebagai rabun dekat.
Visus SC 6/6
Tanpa koreksi, ada yang mampu mengenal dan menterjemahkan Optotype dengan D = 6 pada
jarak 6 Meter, tetapi dengan extra Akomodasi sehingga mengakibatkan mata cepat lelah
Pada pemeriksaan Bichromatis jauh tanpa koreksi, obyek pada warna dasar Hijau akan terlihat
lebih hitam/ jelas dibandingkan obyek yang terletak pada warna dasar Merah.
5. Pemeriksaan Hipermetropia dengan methoda Trial & Error
Pemeriksaan dilakukan secara Monokuler
Tentukan Visus Sine Correctio
Apabila Visus S.C. = 6/6 , tentukan status Refraksi-nya dengan memberikan lensa koreksi S +
0.25 (lihat Out of Focus Vision Table) didepan mata yang diperiksa.
Apabila dengan lensa koreksi S + 0.25 Visus C.C. = 6/6 atau tetap, ini berarti status Refraksi
mata yang diperiksa adalah Hipermetrop.
6. Sarana
Kamar periksa
6) Jarak pemeriksaan yang diperlukan minimal = 5 Meter. Sebaiknya menggunakan jarak
pemeriksaan = 6 Meter
7) Apabila ukuran kamar periksa < 5 Meter, gunakan cermin.
8) Penerangan kamar periksa
Penerangan = normal bila menggunakan kartu Snellen
Penerangan = redup bila menggunakan Chart Projector
Optotype
9) Kartu Snellen
10) Chart Projector
Trial Lens Set
Trial Frame atau Vision Tester/Phoropter

Visus KOREKSI Visus K E TE RAN GAN


SC Pada Trial Frame Tambahan CC
6/6 --- --- Tes Bichromatis, obyek pd warna dasar
Hijau akan terlihat lebih Hitam/ jelas
dibandingkan obyek pd warna Merah

6/6 --- S + 025 6/6 Terlihat lebih jelas


S + 025 S + 025 6/6 Terlihat lebih nyaman
S + 050 S + 025 6/6f S + 050 = koreksi Spheris terbaik
Status Refraksi = Hipermetropia

6/6 S + 050 --- Tes Bichromatis, obyek pd warna dasar


Hijau akan terlihat sama Hitam/ jelas
dengan obyek pd warna dasar Merah

Tehnik pemeriksaan
11) Pemeriksaan dilakukan secara Monokuler
12) Tentukan Visus Sine Correctio
13) Apabila Visus S.C. = 6/6 , tentukan status Refraksi-nya dengan memberikan lensa koreksi S + 0.25
(lihat Out of Focus Vision Table) didepan mata yang diperiksa.
14) Apabila dengan lensa koreksi S + 0.25 Visus C.C. = 6/6 atau tetap, ini berarti status Refraksi mata
yang diperiksa adalah Hipermetrop.
15) Untuk Hipermetropia, berikan koreksi lensa Plus terkuat/ terbesar hingga mencapai Visus CC
terbaik.
Sarana
16) Kamar periksa
Jarak pemeriksaan yang diperlukan minimal = 5 Meter. Sebaiknya menggunakan jarak
pemeriksaan = 6 Meter
Apabila ukuran kamar periksa < 5 Meter, gunakan cermin.
Penerangan kamar periksa
Penerangan = normal bila menggunakan kartu Snellen
Penerangan = redup bila menggunakan Chart Projector
17) Optotype
Kartu Snellen
Chart Projector
18) Trial Lens Set
19) Trial Frame atau Vision Tester/ Phoropter

7. Pemeriksaan Simple Hipermetropia & derajad kelainan Refraksinya, apabila Visus S.C. < 6/6
dengan methoda Trial & Error
Dasar pemeriksaan
Hypermetropia
20) Visus S.C. < 6/6 Miopia
Astigmatismus

Visus KOREKSI Visus K E TE RAN GAN


SC Pada Trial Frame Tambahan CC
6/9 --- S + 050 6/6
6/6 --- S 050 6/12

6/9 S + 050 --- 6/6 Pemberian lensa koreksi S + 050


memberikan perbaikan Visus
Status Refraksi = Hipermetropia
6/9 S + 050 S + 025 6/6
S + 075 S + 025 6/6f S + 075 merupakan koreksi terbaik
Status Refraksi = Hipermetropia

Tehnik pemeriksaan
21) Pemeriksaan dilakukan secara Monokuler
22) Tentukan Visus Sine Correctio
23) Apabila Visus S.C. = 6/9 , tentukan status Refraksi-nya dengan memberikan lensa koreksi Sph
0.50 (lihat Out of Focus Vision Table) didepan mata yang diperiksa.
24) Apabila dengan lensa koreksi S + 0.50 Visus C.C. menjadi lebih baik ( = 6/6 ), ini berarti status
Refraksi mata yang diperiksa adalah Hipermetrop.
25) Untuk Hipermetropia, berikan koreksi lensa Plus terkuat/ terbesar hingga mencapai Visus CC
terbaik.
Sarana
26) Kamar periksa
Jarak pemeriksaan yang diperlukan minimal = 5 Meter. Sebaiknya menggunakan jarak
pemeriksaan = 6 Meter
Apabila ukuran kamar periksa < 5 Meter, gunakan cermin.
Penerangan kamar periksa
Penerangan = normal bila menggunakan kartu Snellen
Penerangan = redup bila menggunakan Chart Projector
27) Optotype
Kartu Snellen
Chart Projector
28) Trial Lens Set
29) Trial Frame atau Vision Tester/Phoropter

8. Pemeriksaan Simple Miopia & derajad kelainan Refraksinya, apabila Visus S.C. < 6/6 dengan
methoda Trial & Error
Dasar pemeriksaan
Hypermetropia
30) Visus S.C. < 6/6 Miopia
Astigmatismus

Visus KOREKSI Visus K E TE RAN GAN


SC Pada Trial Frame Tambahan CC
6/9 --- S + 050 6/12
6/9 --- S 050 6/6 Pemberian lensa koreksi S 050
memberikan perbaikan Visus
Status Refraksi = Miopia
6/9 S 050 --- 6/6
6/9 S 050 S 025 6/6f S 050 merupakan koreksi terbaik
Tehnik pemeriksaan
31) Pemeriksaan dilakukan secara Monokuler
32) Tentukan Visus Sine Correctio
33) Apabila Visus S.C. = 6/9 , tentukan status Refraksi-nya dengan memberikan lensa koreksi Sph
0.50 (lihat Out of Focus Vision Table) didepan mata yang diperiksa.
34) Apabila dengan lensa koreksi S 050 Visus C.C. menjadi lebih baik
( = 6/6 ), ini berarti status Refraksi mata yang diperiksa adalah Miopia.
35) Untuk Miopia, berikan koreksi lensa Minus terlemah/ terkecil, hingga mencapai Visus CC terbaik.
Sarana
36) Kamar periksa
Jarak pemeriksaan yang diperlukan minimal = 5 Meter Sebaiknya menggunakan jarak
pemeriksaan = 6 Meter
Apabila ukuran kamar periksa < 5 Meter, gunakan cermin.
Penerangan kamar periksa
Penerangan = normal bila menggunakan kartu Snellen
Penerangan = redup bila menggunakan Chart Projector
37) Optotip
Kartu Snellen
Chart Projector
38) Trial Lens Set
39) Trial Frame atau Vision Tester/Phoropter
Kelebihan/ kelemahan methoda Trial & Error
40) Methoda Trial & Error merupakan methoda pemeriksaan Refraksi yang cukup sederhana dan
mudah untuk dilakukannya.
41) Akomodasi merupakan faktor penyulit bagi pemeriksaan Refraksi Subyektif, dimana diperlukan
kepekaan pemeriksa dalam mengantisipasi respons pasien terhadap setiap pemberian lensa
koreksi. Oleh karena itu pada methoda Trial & Error selalu dicobakan dengan pemberian lensa
koreksi Sferis Plus terlebih dulu dalam rangka mengeliminer/ menghilangkan Akomodasi.
42) Apabila methoda Trial & Error dilakukan pada kelainan Refraksi Miopia, terkesan pemeriksa
melakukan pemeriksaan secara coba-coba. Secara psychologis kurang menguntung pemeriksa,
karena dapat dianggap kurang profesional.
43) Untuk menanggulangi hal tersebut, hendaknya dilakukan pemeriksaan Duo-Chromatis/ Red-Green
Test/ Bichromatis Test dalam rangka menentukan status Refraksi, sebelum memberikan lensa
koreksi.

9. Penentuan status Refraksi Astigmatismus & derajad kelainan Refraksinya, apabila Visus S.C. = 6/6
Dasar pemeriksaan
44) Menurut Out of Focus Vision Table dari Bennet & Rabbetts, Visus = 6/6 memiliki 3 kemungkinan :
Emmetropia
Hipermetropia
Astigmatismus rendah ( 050 D )
Pada Astigmatismus Mixtus dengan derajad Astigmat sebesar 050 D berpeluang
memiliki Visus SC = 6/6.

Koreksi lensa Silinder Fogging


yang diperlukan Lens
Minimal
6/6 20/20 1.00 0.50 S + 0.25
6/9 20/30 0.66 1.00 S + 0.50
6/12 20/40 0.50 1.50 S + 0.75
6/18 20/60 0.33 2.00 S + 1.00
6/24 20/80 0.25 3.00 S + 1.50
6/36 20/120 0.17 4.00 S + 2.00
6/60 20/200 0.10 > 4.00 > S + 2.00
Visus KOREKSI Visus K E TE RAN GAN
SC Pada Trial Frame Tambahan CC
6/6 --- S + 025 6/6 Terlihat lebih buram
6/6 --- S 025 6/6 Terlihat lebih buram
6/6 --- Pin Hole 6/6 Terlihat lebih jelas/ tajam

6/6 --- --- 6/6 Circle of least Confusion terletak


tepat di Retina (Ast. Mixtus)
--- S + 025 Fogging Lens, kemudian perlihatkan
Clock Dials/ gambar Kipas,
pasien menyatakan garis yang
menunjuk 90 terlihat paling
Hitam/ jelas.
S + 025 C 025 X 180 Koreksi lensa Silinder,Gambar Kipas
belum terlihat sama Hitam/ jelasnya
S + 025 C 025 X 180 C 025 X 180 Gambar Kipas terlihat sama hitam/
sama jelasnya
S + 025 C 050 X 180 --- 6/6 Baca Optotype

10. Pemeriksaan Hipermetropia Astigmat & derajad kelaianan Refraksinya, apabila Visus S.C. < 6/6
dengan tehnik pengaburan (Fogging Technique).
Dasar Pemeriksaan
Hypermetropia
45) Visus S.C. < 6/6 Miopia
Astigmatismus
46) Lensa pengabur (Fogging Lens) selalu berupa lensa Sferis Plus
47) Besar lensa pengabur koreksi lensa Silinder yang akan diberikan, dimana hal tersebut
tergantung pada Visus CC lensa Spheris terbaik
48) Lihat Out of Focus Vision Table diatas

Visus KOREKSI Visus K E TE RAN GAN


SC Pada Trial Frame Tambahan CC
6/12 --- S + 050 6/9 Pemberian lensa koreksi S + 050
memberikan perbaikan Visus
6/12 S + 050 S + 025 6/9f Visus menurun

6/12 S + 050 --- 6/9 S + 050 merupakan koreksi terbaik


S + 050 Pin Hole 6/6 Terlihat lebih jelas/ perbaikan Visus
Kemungkinan terdapat Astigmat yg
belum dikoreksi !

6/12 S + 050 S + 050 Berikan Fogging Lens (lihat Tabel)


Koreksi tambahan S + 050 = Fogging
Lens, perlihatkan Clock Dials, Pasien
menyatakan garis yang menunjuk 90
terlihat palingHitam/ jelas.
S + 100 C 050 X180 Berikan Koreksi lensa Cyl Minus
dengan As Tegak-Lurus clock Dials
yang terlihat paling hitam/ jelas
Apabila dengan koreksi C 050 X 180
Clock Dials terlihat belum sama
hitam/sama jelasnya., kemudian
perbesar Power lensa Cyl - dengan
As yang sama, sehingga Clock
Dials terlihat sama hitam/ sama jelas

S + 100 C 050 X 180 C 025 X 180 Clock Dials terlihat belum sama
hitam/sama jelasnya

S + 100 C 075 X 180 C 025 X 180 Clock Dials sudah terlihat sama
hitam/sama jelasnya Power
koreksi lensa Cyl sudah memadai.

6/12 S + 100 C 100 X 180 --- 6/6 Pasien diminta baca Optotype
S + 100 C 100 X 180 = hasil
pengukuran Refraksi yang masih
harus diuji ketepatannya

11. Pemeriksaan Miopia Astigmat & derajad kelaianan Refraksinya, apabila Visus S.C. < 6/6 dengan
tehnik pengaburan (Fogging Technique).
Dasar Pemeriksaan
Hypermetropia
49) Visus S.C. < 6/6 Miopia
Astigmatismus
50) Lensa pengabur (Fogging Lens) selalu berupa lensa Sferis Plus
51) Besar lensa pengabur koreksi lensa Silinder yang akan diberikan, dimana hal tersebut
tergantung pada Visus CC lensa Sferis terbaik
52) Lihat Out of Focus Vision Table diatas

Visus KOREKSI Visus K E TE RAN GAN


SC Pada Trial Frame Tambahan CC
6/12 --- S + 050 6/18 Pemberian lensa koreksi S + 050
memberikan penurunan Visus
6/12 --- S 050 6/9 Visus bertambah baik/ jelas

6/12 S 050 S 025 6/9f

6/12 S 050 --- 6/9 S 050 merupakan koreksi terbaik


Terlihat lebih jelas/ perbaikan Visus
6/12 S 050 Pin Hole 6/6 Kemungkinan terdapat Astigmat yg
belum dikoreksi !

Berikan Fogging Lens (lihat Tabel)


S 050 S + 050 Koreksi tambahan S + 050 = Fogging
Lens, perlihatkan Clock Dials, Pasien
menyatakan garis yang menunjuk 180
terlihat palingHitam/ jelas.
Plano C 050 X 90 Berikan Koreksi lensa Cyl Minus
dengan As Tegak-Lurus clock Dials
yang terlihat paling hitam/ jelas
Apabila dengan koreksi C 050 X 90
Clock Dials terlihat belum sama
hitam/sama jelasnya., kemudian
perbesar Power lensa Cyl - dengan
As yang sama, sehingga Clock
Dials terlihat sama hitam/ sama jelas

Plano C 050 X 90 C 025 X 90 Clock Dials terlihat belum sama


hitam/sama jelasnya

Plano C 075 X 90 C 025 X 90 Clock Dials sudah terlihat sama


hitam/sama jelasnya Power
koreksi lensa Cyl sudah memadai.

6/12 Plano C 100 X 90 --- 6/6 Pasien diminta baca Optotype


Plano C 100 X 90 = hasil
pengukuran Refraksi yang masih
harus diuji ketepatannya

12. Tahap pengujian


Hasil pemeriksaan atau pengukuran Refraksi Subyektif berupa koreksi monokuler yang menghasilkan
Visus terbaik pada tahap pengukuran seperti tersebut diatas masih perlu dilakukan pengujian antara
lain dengan :
13. Tes ketepatan Titik akhir Sferis Monokuler
14. Tes ketepatan Titik akhir Sferis Binokuler

Ketepatan Titik akhir Sferis Monokuler


_____________________________________________
Hasil pemeriksaan atau pengukuran Refraksi, berupa koreksi monokuler yang menghasilkan
Visus terbaik harus diyakini tidak ada over maupun under koreksi, dan masih perlu untuk diuji
lebih lanjut yaitu berupa :
53) Pemeriksaan keseimbangan Duochrome (Red-Green Balance Test)
Dasar pemeriksaan
Pada Emetropia, sinar merah akan dibiaskan dibelakang Retina, sedangkan sinar hijau
akan dibiaskan didepan Retina, dengan jarak yang sama jauhnya. Akibatnya obyek
yang berwarna hitam yang terletak pada dasar warna Merah, akan terlihat sama
hitamnya dengan obyek yang juga berwarna hitam yang terletak pada dasar warna
Hijau.
Hal yang sama seperti yang tersebut diatas, juga terjadi pada mata dengan kelainan
Refraksi yang telah dikoreksi seoptimal mungkin.
Sarana :
Kamar periksa
Jarak pemeriksaan yang diperlukan minimal = 5 Meter Sebaiknya menggunakan
jarak pemeriksaan = 6 Meter
Apabila ukuran kamar periksa < 5 Meter, gunakan cermin.
Penerangan kamar periksa
- Penerangan = redup bila menggunakan Chart Projector
Obyek
Verhoefs Circles
Berupa lingkaran-lingkaran (cincin) berwarna hitam, terletak pada septum warna
dasar merah-hijau, atau obyek yang sejenis (angka, huruf, dll.).
Test Obyek ini terdapat pada Chart Projector.
Tehnik pemeriksaan :
Pemeriksaan dilakukan secara monokuler, dengan lensa koreksi yang masih
terpasang.
Berikan tambahan lensa pengabur (Fogging lens sebesar S + 0.50 atau S + 0.75),
didepan lensa koreksi, dan perlihatkan kepada pasien Test Obyek berupa Verhoefs
Circles atau yang sejenis.
Dalam keadaan ini, tentu Visus pasien akan menurun sekitar 6/9 atau 6/12 dan obyek
diatas warna dasar merah akan terlihat lebih hitam/ jelas dibandingkan dengan obyek
yang terletak diatas warna dasar hijau.
Lakukan Defogging (ambil/ kurangi lensa pengabur secara bertahap), sehingga
penderita menyatakan bahwa obyek diatas warna dasar merah terlihat sama
hitamnya/jelasnya dengan obyek yang ada diatas warna dasar hijau.
Koreksi pada keadaan tersebut dinyatakan sebagai Titik Akhir pemeriksaan Refraksi
Monokuler.
Pengurangan berikutnya sebesar S + 0.25 diharapakan akan menyebabkan obyek
pada sisi hijau akan terlihat lebih hitam/ lebih jelas.
Bila hasil koreksi Refraksi Subyektif dengan tes Titik Akhir Spheris Monokuler menghasilkan
Visus terbaik sama-sama mencapai 6/6 untuk mata kanan dan mata kirinya, maka untuk
mendeteksi apakah Visus terbaik ini tercapai dengan beban Akomodasi yang seimbang pada
kedua matanya, maka pengujian dapat dipakai dengan tehnik yang berdasarkan Tajam
Penglihatan yang menggunakan target Optotip Snellen.
Akan tetapi bila Visus terbaiknya ternyata tidak sama pada kedua mata, maka pengujian harus
dilakukan dengan tehnik yang tidak berdasarkan pada peningkatan Visus, misalnya dengan
Test Duochrome atau dengan tehnik Cross Cylinder Statis.

Uji Titik Akhir Sferis Binokuler


_______________________________________
Duke Elder Test
54) Pada test ini, over-koreksi (koreksi yang berlebih) diuji dengan pemberian S + 025 didepan lensa
koreksi yang telah diketemukan pada kedua mata.
55) Duke Elder Test baru dapat dilakukan apabila Visus Cum Correctio kedua mata mencapai Visus
yang sama/ mendekati sama.
56) Apabila dengan penambahan S + 025 pada kedua mata visus menjadi kurang nyaman, maka
dapat dianggap koreksi yang telah diberikan sudah tepat dan Titik akhir Sferis Binokuler sudah
tercapai.
57) Apabila dengan penambahan S + 025 pada kedua mata visus tetap nyaman, berarti koreksi yang
kita berikan belum tepat.

Fogging-defogging dari Grosvenor


58) Pada test ini, over-koreksi (koreksi yang berlebih) diuji dengan pemberian S + 025 didepan koreksi
yang telah diketemukan pada kedua mata, sebanyak 3 (tiga) kali.
59) Fogging-defogging dari Grosvenor baru dapat dilakukan apabila Visus Cum Correctio kedua mata
mencapai Visus yang sama/ mendekati sama.
60) Apabila lensa koreksi yang kita berikan sudah tepat, maka penambahan lensa S + 025 yang
pertama, maka pasien akan melaporkan penglihatan pada target 6/6 menjadi semakin buram. Pada
penambahan yang kedua, pasien melaporkan penglihatan pada target 6/6 menjadi sangat buram.
Dan pada penambahan yang ketiga, pasien melaporkan target penglihatan = 6/6 sudah tidak bisa
terbaca sama sekali.
61) Apaabila pada penambahan yang pertama target masih dapat terlihat dengan jelas, pada
penambahan yang kedua baru mulai terlihat buram dan pada penambahan yang ketiga, target
masih dapat terbaca walaupun sangat buram, maka ini berarti koreksi belumlah tepat.

Penutup
_____________

Emmetropia
Seseorang disebut berpenglihatan normal (Emmetropia), apabila sinar-sinar sejajar sumbu
utama mata, tanpa Akomodasi dibiaskan pada satu titik bias yang terletak tepat pada Retina.
Ametropia
Seseorang disebut berpenglihatan tidak normal (Ametropia), apabila sinar-sinar sejajar sumbu
utama mata, tanpa Akomodasi dibiaskan pada satu titik bias, akan tetapi titik bias tersebut
tidak terletak pada Retina.atau dibiaskan pada lebih dari satu titik bias,
62) Hipermetropia
Tanpa Astigmat (Simple Hipermetropia)
Adalah keadaan pembiasan/ Refraksi dari mata kita, dimana sinar-sinar sejajar sumbu
utama mata, tanpa Akomodasi dibiaskan pada satu titik bias yang terletak dibelakang
Retina.
Koreksi kelainan Refraksi Hipermetropia tanpa Astigmat dengan metoda Trial &
Error
Dikoreksi dengan lensa Sferis Plus terkuat (terbesar),
mencapai Visus terbaik
Dengan Astigmat (Astigmatismus Hypermetropicus)
Astigmatismus Reguler (Astigmat yang beraturan)
Adalah keadaan pembiasan/ Refraksi dari mata kita, dimana sinar- sinar sejajar
sumbu utama mata, dibiaskan pada dua buah titik bias. Hal tersebut dikarenakan
perbedaan daya bias dari dua buah Meridian utama mata yang saling tegak-lurus
sesamanya.
Klasifikasi :
Astigmatismus Hypermetropicus Simplex
Adalah keadaan pembiasan/ Refraksi dari mata kita, dimana sinar-sinar
sejajar sumbu utama mata, tanpa Akomodasi dibiaskan pada dua buah titik
bias, dimana salah satu titik bias berada tepat pada Retina, sedangkan titik
bias lainnya berada dibelakang Retina.
Astigmatismus Hypermetropicus Compositus
Adalah keadaan pembiasan/ Refraksi dari mata kita, dimana sinar-sinar
sejajar sumbu utama mata, tanpa Akomodasi dibiaskan pada dua buah titik
bias, dimana kedua titik bias tersebut terletak dibelakang Retina.
Astigmatismus Mixtus
Adalah keadaan pembiasan/ Refraksi dari mata kita, dimana sinar-sinar
sejajar sumbu utama mata, tanpa Akomodasi dibiaskan pada dua buah titik
bias, dimana salah satu titik bias terletak dibelakang Retina dan titik bias
lainnya terletak didepan Retina.
Astigmatismus Irreguler (Astigmat yang tidak beraturan)
Adalah keadaan pembiasan/ Refraksi dari mata kita, dimana sinar-sinar sejajar
sumbu utama mata, dibiaskan pada lebih dari dua/ banyak titik bias.
Astigmatismus Irreguler dapat dideteksi dengan menggunakan Placidoscope.
Kelainan Refraksi Hipermetropia Astigmat, dikoreksi dengan menggunakan lensa
Silinder/ Sfero-Silinder.
Tehnik Pengaburan (Fogging Tehnique)
Tehnik Silinder Silang Primer (Cross Cylinder Primer Tehnique)

63) Miopia
Tanpa Astigmat (Simple Miopia)
Adalah keadaan pembiasan/ Refraksi dari mata kita, dimana sinar-sinar sejajar sumbu
utama mata, tanpa Akomodasi dibiaskan pada satu titik bias yang terletak didepan
Retina.
Koreksi kelainan Refraksi Miopia tanpa Astigmat dengan metoda Trial & Error
Dikoreksi dengan lensa Sferis Minus terlemah/ terkecil,
mencapai Visus terbaik.
Dengan Astigmat (Astigmatismus Myopicus)
Astigmatismus Reguler (Astigmat yang beraturan)
Adalah keadaan pembiasan/ Refraksi dari mata kita, dimana sinar-sinar sejajar
sumbu utama mata, dibiaskan pada dua buah titik bias. Hal tersebut dikarenakan
perbedaan daya bias dari dua buah Meridian Utama Mata yang saling tegak-lurus
sesamanya.
Klasifikasi :
Astigmatismus Myopicus Simplex
Adalah keadaan pembiasan/ Refraksi dari mata kita, dimana sinar-sinar
sejajar sumbu utama mata, tanpa Akomodasi dibiaskan pada dua buah titik
bias, dimana salah satu titik bias berada tepat pada Retina, sedangkan titik
bias lainnya berada didepan Retina.
Astigmatismus Myopicus Compositus
Adalah keadaan pembiasan/ Refraksi dari mata kita, dimana sinar-sinar
sejajar sumbu utama mata, tanpa Akomodasi dibiaskan pada dua buah titik
bias, dimana kedua titik bias tersebut terletak didepan Retina.
Astigmatismus Mixtus
Adalah keadaan pembiasan/ Refraksi dari mata kita, dimana sinar-sinar
sejajar sumbu utama mata, tanpa Akomodasi dibiaskan pada dua buah titik
bias, dimana salah satu titik bias terletak didepan Retina dan titik bias lainnya
terletak dibelakang Retina.
Astigmatismus Irreguler (Astigmat yang tidak beraturan)
Adalah keadaan pembiasan/ Refraksi dari mata kita, dimana sinar-sinar sejajar
sumbu utama mata, dibiaskan pada lebih dari dua/ banyak titik bias
Astigmatismus Irreguler dapat dideteksi dengan menggunakan Placidoscope.
Kelainan Refraksi Miopia Astigmat dikoreksi dengan lensa Silinder/ Sfero-Silinder.
Tehnik Pengaburan (Fogging Tehnique)
Tehnik Silinder Silang Primer (Cross Cylinder Primer Tehnique)
Emmetropia
Visus S.C = 6/6
Hipermetropia + Akomodasi

64) Visus 6/6 belum tentu = Emmetropia, masih perlu untuk diuji lebih lanjut.
65) Hipermetropia ringan masih ada kemungkinan memiliki Visus 6/6, akan tetapi mata dalam keadaan
extra ber-Akomodasi.
.
Hipermetropia
Visus S.C. 6/6 Miopia
Astigmatismus
66) Bila penderita kelainan Refraksi datang dengan keluhan rabun jauh, maka kita akan dengan segera
berpikir kelainannya adalah Miopia. Selanjutnya bila Tajam-penglihatan (Visus) tanpa koreksinya =
6/12, maka tentatif atau perkiraan derajad kelainannya adalah = - 0.75
6. Hubungan Visus (Cum Correctio Spheris terbaik) dengan koreksi lensa Silinder yang diperlukan

Visus Cum Correctio Spheris terbaik Koreksi Silinder yang diperlukan

6/6 20/20 1.00 0.50


6/9 20/30 0.66 1.00
6/12 20/40 0.50 1.50
6/18 20/60 0.33 2.00
6/24 20/80 0.25 3.00
6/36 20/120 0.17 4.00
6/60 20/200 0.10 > 4.00

Bennet & Rabbetts, 1984