Anda di halaman 1dari 19

PEDOMAN INTERNAL

PROGRAMER P2

PUSKESMAS PAKUALAMAN

KOTA YOGYAKARTA

TAHUN 2017
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Tujuan Pedoman

C. Ruang Lingkup Pedoman

D. Batasan Operasional

E. Landasan Hukum

BAB II STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifi kasi Sumber Daya Manusia

B. Distribusi Ketenagaan

C. Jadwal Kegiatan

BAB III STANDAR FASILITAS

A. Standar Fasilitas

B. Ruang Pertemuan

BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN

BAB V LOGISTIK

BAB VI KESELAMATAN PELANGGAN

BAB VII KESELAMATAN KERJA

BAB VIII PENGENDALIAN MUTU

BAB IX PENUTUP
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Untuk mendapatkan bangsa yang memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan
hidup sehat dibutuhkan kerjasama masyarakat dalam menciptakan pembangunan
kesehatan, kemauam dan kemampuan untuk hdiup sehat seningga setiap orang dapat
mewujudkan derajat kesehatan yang optimal
Pembangunan kesehatan di Indonesia masih perlu berbenah yang terkonsentrasi
guna mewujudkan pembangunan kesehatan yang memiliki pengaruh signifikan terhadap
tingkat kesehatan masyarakat yang optimal.
Puskesmas merupakan sebuah institusi pelayanan kesehatan yang berbasis
masyarakat yang ikut berperan sebagai perangkat pembangunan milik daerah.Puskesmas
juga merupakan ujung tombak di strata pertama pelayanan kesehatan dan merupakan
Unit pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kota yang bertanggung jawab
menyelenggarakan pembangunan kesehatan di wilayah kerja.
Pencegahan dan pengendalian penyakit merupakan program pelayanan kesehatan
puskesmas untuk mencegah dan mengendalikan penyakit menular / infeksi ( misalnya
TB, DBD, Diare, dll ) dan tidak menular.
B. Tujuan
Tujuan Umum :
Sebagai pedoman petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan pencegahan dan
pengendalian penyakit serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat

Tujuan Khusus :
Menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan akibat penyakit menular dan tidak
menular. Prioritas penyakit menular yang akan ditanggulangi adalah Tuberkulosis,
Demam Berdarah Dengue, Diare, HIV/AIDS, pneumoni , dan penyakit penyakit yang
dapat dicegah dengan imunisasi.

C. Ruang Lingkup
1. Surveilans Epidemiologi
2. Imunisasi
3. TBC
4. DBD
5. Penanggulangan KLB
6. ISPA, Pneumoni
7. AFP
8. Diare
9. HIV/ AIDS
10. Rabies / Gigitan hewan penular Rabies
11. Penyakit Tidak Menular
Kegiatan pokok pencegah dan pengendalian penyakit oleh puskesmas terdiri dari :
1. Pencegahan dan penanggulangan faktor resiko
2. Peningkatan Imunisasi , penemuan dan tatalaksana penderita, peningakatan surveilans
epidemiologi dan penanggulangan wabah
3. Peningkatan komunikasi informasi dan edukasi pencegahan dan pengendalian
penyakit.

D. Batasan operasional

1. Imunisasi

Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan kekebalan


seorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila suatu saat terpajan dengan
penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan sakit ringan .
Pelayanan imunisasi meliputi imunisasi rutin ( dasar dan lanjutan ), imunisasi tambahan,
dan imunisasi khusus

2. Surveilans Penyakit

Surveilans penyakit meliputi surveilans campak, AFP, Tetanus Neonatorum, DBD,


Malaria, TBC, Difteri, Hepatitis, Pneumonia, Hipertensi, dan DM

3. Kunjungan rumah pasien

Kunjungan rumah pasien meliputi kunjungan pasien TB BTA +, pasien mangkir

4. Penelitian Epidemiologi

Penelitian Epidemiologi meliputi KLB diare, DB, Campak, Tetanus, Malaria, Flu
Burung, dan HIV / AIDS

5. Penyuluhan

Penyuluhan adalah gabungan berbagai kegiatan dan kesempatan yang berlandaskan


prinsip prinsip belajar untuk mencapai suatu keadaan, dimana individu, kelompok atau
masyarakat secara keseluruhan ingin hidup sehat, secara perorangan maupun secara
kelompok.

6. Posbindu

Posbindu adalah bentuk peran serta masyarakat dalam melakukan kegiatan deteksi dini
pemantuan faktor resiko penyakit tidak menular yang dilaksanakan secara terpadu ,
rutin, dan periodik

7. P2 TB

P2 TB adalah pengelelolaan dan pemberantasan penyakit menular yang disebabkan


oleh kuman mycobacterium tuberculosa

8. Pengendalian HIV/ AIDS


Pengendalian HIV / AIDS adalah upaya jangka panjang untuk memberikan tata
laksana penyakit yang disebabkan oleh virus human immunodeficiency virus yang
penularannya dimulai saat terinfeksi sampai saat kematian dengan cara melalui hubungan
seksual, cairan darah, dan dari ibu terinfeksi HIV ke janin.

E. Landasan Hukum
1. Peraturan menteri kesehatan RI nomor 951 menkes SK/V/2000, tentang Upaya
keselamatan dasar
2. Kepmenkes RI No. 1479 menkes/sk/x/2003 tentang pedoman penyelengggaraan
sistem surveilans epidemiologi penyakit menular dan penyakit tidak menular
3. Undang-undang Nomer 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional dan Pengelolaan Keuangan Negara.
4. Undang-undang Nomer 36 tahun 2009 tentang Kesehatan (lembaran Negara RI tahun
2009 nomer 144, tambahan lembaran Negara RI nomer 5063) pada pasal 158 sampai
161 tentang PTM.
5. Peraturan pemerintah nomer 65 tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan Penerapan
Standar Pelayanan Minimal.
6. Peraturan pemerintah nomer 58 tahun 2005 tentang pengelolaan keuangan daerah
Republik Indonesia.
7. Peraturan pemerintah nomer 5 tahun 2010 tentang rencana pembangunan jangka
menengah nasional (RPJMN) tahun 2010-2014.
8. Peraturan pemerintah tahun 38 tahun 2007 tentang pembagian urusan pemerintahan
antara pemerintah, pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota
(lembaran Negara RI tahun 2007 nomer 82, tamabahan lembaran Negara RI nomer
4737).
9. Kepmenkes nomer 128 tahun 2004 tentang kebijakan dasar puskesmas.
10. Peraturan menteri kesehatan RI nomor 741/menkes/per/VII/2008 tentang standar
pelayanan minimal bidang kesehatan di kabupaten/kota.
11. Kepmenkes nomor 828/menkes/sk/IX/2008, tentang petunjuk teknis standar
pelayanan minimal.
12. Kepmenkes nomer 374/menkes/sk/V/2009, tentang sistem kesehatan nasional .
13. Kepmenkes nomer 375/menkes/sk/V/2009 tentang rencana pembangunan jangka
panjang kesehatan (RPJPK) 2005-2025.
14. Kepmenkes nomer 882/menkes/sk/X/2009, tentang pedoman penanganan evakuasi
medik.
15. Peraturan menteri kesehatan RI nomor 1144/menkes/per/VII/2010, tentang organisasi
dan tata kerja kementerian kesehatan RI.
16. Peraturan menteri kesehatan RI nomor 2256/menkes/per/XII/2011, tentang petunjuk
teknis bantuan operasional kesehatan.

BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


Kompetensi seorang tenaga programer Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di
Puskesmas yaitu memiliki kemampuan dalam :
1. Perencanaan
2. Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) antar pribadi, kelompok, publik via media
massa termasuk publikasi poster, brosur, profil puskesmas dan program puskesmas,
mengisi acara kesehatan dalam kegiatan lintas program maupun lintas sektoral
3. Perluasan jejaring kemitraan dan jejaring koalisi
4. Advokasi kebijakan publik yang berwawasan kesehatan
5. Pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan
B. Distribusi Ketenagaan
Semua karyawan puskesmas wajib berpartisipasi dalam kegiatan pencegahan dan
pengendalian penyakit mulai dari Kepala Puskesmas, penanggung jawab UKP,
Penanggung jawab UKM, dan seluruh karyawan. Sebagai koordinator dalam
penyelenggaraan kegiatan pencegahan dan pengendalian penyakit di Puskesmas adalah
programmer Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2) .

C. Jadwal Kegiatan
Rencana jadwal kegiatan
2017
NO Kegiatan
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sept Okt Nop Des
1. Desinfo P2
untuk
masyarakat
2. Desinfo TBC
untuk
masyarakat
3. Desiminasi /
Family
Gathering
untuk keluarga
dan penderita
TBC
4. Desinfo DBD
5. Desinfo Diare
Balita
6 Desinfo HIV /
AIDS dan IMS
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Standar Fasilitas
1. Alat dan bahan
a. Tensimeter : 1 buah
b. Pengukur tinggi badan : 1 buah
c. Pengukur lingkar perut : 1 buah
d. Pengukur berat badan : 1 buah
e. Alat ukur gula darah : 1 buah
f. Alat ukur kadar kolesterol total : 1 buah
g. Feakflow meter : 1 buah
h. Tes amfetamin urin kit : 1 buah
2. Alat peraga / bahan kontak
a. Laptop
b. LED
c. Leaflet / brosur
d. Sound sistem
B. Ruang / tempat pertemuan
1. Poli BPU
2. Aula puskesmas pakualaman
3. Balai RW
4. Rumah warga
5. Lapangan

BAB IV
TATALAKSANA PELAYANAN

A. Lingkup Kegiatan
1. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dalam Gedung
a. Tempat Pendaftaran
Semua kunjungan penderita P2 diawali dengan mendaftar dengan pengambilan
nomor urut berdasarkan kebutuhan dan usia pasien
b. Poliklinik
Pelayanan ulang penderita P2 dilakukan secara perjanjian dengan programmer
c. Laboratorium
Dalam rangka mengegakkan diagnose suspek kasus P2 wajib ditunjang dengan
pelayanan laboratorium
2. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Luar Gedung
a. Pencegahan dan Penanggulangan faktor resiko
Selain pasien yang telah terinfeksi penyakit menular , masyarakat yang memiliki
resiko tinggi juga perlu diperhatikan , karena masyarakat yang memiliki risiko
tinggi bias kapan saja terkena penyakit menular. Pencegahan dan
penanggulangan resiko terdiri dari :
1) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan perundang
undangan , dan kebijakan pencegahan dan penanggulangan faktor resiko dan
desiminasinya.
2) Menyiapkan materi dan menyusun rencanan kebutuhan untuk pencegahan
dan penanggulangan faktor resiko
3) Menyediakan kebutuhan pencegahan dan penanggulangan faktor resiko
sebagai stimulant
4) Menyiapkan materi dan menyusun pedoman pencegahan dan
penanggulangan faktor resiko
5) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melakukan
pencegahan dan penanggulangan resiko
6) Melakukan bimbingan dan pemantauan dan evaluasi kegiatan pencegahan
dan penanggulangan faktor resiko
7) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan
komunikasi teknis pencegahan dan penanggulangan faktor resiko
8) Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksana pencegahan
dan penanggulangan penyakit
b. Peningkatan Imunissasi
Imunisasi sangat penting untuk mencegah dan melindungi seoranga terjangkit
penyakit menular. Kegiatan yang dilakukan puskesmas dalam peningakatan
imunisasi yaitu :
1) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan perundang
undangan , dan kebijakan peningkatan imunisasi dan desiminasinya.
2) Menyiapkan materi dan menyusun rencanan kebutuhan untuk peningkatan
imunisasi
3) Menyediakan kebutuhan peningkatan imunisasi sebagai stimulant
4) Menyiapkan materi dan menyusun pedoman peningkatan imunisasi
5) Menyiapkan dan mendistribusikan sarana dan prasarana imunisasi
6) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk
melaksanakan program imunisasi
7) Melakukan bimbingan dan pemantauan dan evaluasi kegiatan imunisasi
8) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan
komunikasi teknis peningkatan imunisasi
9) Melakukan kajian upaya peningkatan imunisasi
10) Membina dan mengembangkan UPT dalam pelaksanaan peningkatan
imunisasi
11) Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan
peningkatan imunisasi
c. Penemuan dan tata laksana penderita
Setelah kunjungan penderita ke puskesmas , puskesmas harus berperan aktif
dalam penemuan dan kunjungan terhadap penderita. Dalam upaya penemuan dan
tatalaksana penderita dibutuhkan kerjasama antara masyarakat dan puskesmas
sebagai contoh kasus TBC yang membutuhkan peran penting puskesmas, apabila
pasien berhenti dalam masa pengobatan akibat halangan tertentu atau lainnya
dalam kunjungan kontrol, maka puskesmas harus aktif mengunjungi rumah
penderita, sebab apabila pasien tersebut berhenti minum obat, maka upaya
pemberantasan TBC dikatakan gagal dan pasien harus mengulangi pengobatan
dari awal, memberhentikan pengobatan maka akan terjadi resistensi dan hal ini
dapat menyebabkan kemungkinan penyebaran penyakit semakin besar. Itulah
sebabnya puskesmas terdekat harus mengunjugi rumah pasien agar dapat
menjangkau pasien dan mensukseskan upaya P2.
d. Peningkatan surveilans Epidemiologi dan Penanggulangan wabah
Kegiatan pokok suveilans meliputi :
1) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan perundang
undangan , dan kebijakan peningkatan surveilans epidemiologi dan
penanggulangan KLB/wabah dan desiminasinya.
2) Menyiapkan materi dan menyusun rencanan surveilans epidemiologi dan
penanggulangan KLB/wabah
3) Menyediakan kebutuhan peningkatan surveilans epidemiologi dan
penanggulangan KLB/wabah sebagai stimulant
4) Menyiapkan materi dan menyusun pedoman surveilans epidemiologi dan
penanggulangan KLB/wabah
5) Meningkatkan sistem kewaspadaan dini dan menanggulangi KLB/Wabah,
termasuk dampak bencana
6) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk
melaksanakan surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah
7) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan
komunikasi teknis surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah
8) Melakukan kajian upaya surveilans epidemiologi dan penanggulangan
KLB/wabah
9) Membina dan mengembangkan UPT dalam pelaksanaan peningkatan
surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah
10) Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan surveilans
epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah
e. Peningkatan komunikasi, informasi, dan edukasi
1) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan perundang
undangan , dan kebijakan peningkatan komunikasi informasi dan edukasi
pencegahan dan pengendalian penyakit dan desiminasinya.
2) Menyiapkan materi dan menyusun rencana peningkatan komunikasi
informasi dan edukasi pencegahan dan pengendalian penyakit
3) Menyediakan kebutuhan peningkatan komunikasi informasi dan edukasi
pencegahan dan pengendalian penyakit
4) Menyiapkan materi dan menyusun pedoman peningkatan komunikasi
informasi dan edukasi pencegahan dan pengendalian penyakit
5) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk
melaksanakan komunikasi informasi dan edukasi pencegahan dan
pengendalian penyakit
6) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan
komunikasi teknis peningkatan komunikasi informasi dan edukasi
pencegahan dan pengendalian penyakit
7) Melakukan kajian upaya peningkatan komunikasi informasi dan edukasi
pencegahan dan pengendalian penyakit
8) Membina dan mengembangkan UPT dalam peningkatan komunikasi
informasi dan edukasi pencegahan dan pengendalian penyakit
9) Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan
komunikasi informasi dan edukasi pencegahan dan pengendalian penyakit

B. Strategi
Merupakan cara bagaimana dalam melaksanakan upaya pencegahan dan pengendalian
penyakit di puskesmas. Ada tiga strategi yaitu:
1. Strategi advokasi
2. Strategi kemitraan
3. Strategi pemberdayaan masyarakat

C. Langkah Kegiatan Promosi Kesehatan


1. Perencanaan
Secara terinci uraian ruang lingkup kegiatan perencanaan Pencegahan dan
Pengendalian Penyakit yaitu :
a. Kajian perilaku tentang masalah kesehatan yang dilakukan oleh lintas program di
puskesmas.
b. Kajian kebijakan publik berwawasan kesehatan yang sudah ada maupun yang
perlu dibuat dalam mengatasi maslah kesehatan yang ada di wilayah kerja
puskesmas.
c. Lokakarya mini di puskesmas yang membahas upaya pencegahan dan
pengendalian penyakit yang terintegrasi secara lintas program maupun lintas
sektoral.
d. Komunikasi, informasi dan edukasi tentang kesehatan di masyarakat, melalui
kegiatan di dalam gedung dan di luar gedung puskesmas dalam upaya
meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat dalam mengatasi
masalah kesehatan serta meningkatkan status kesehatannya.
e. Advokasi kesehatan pada pengambil keputusan di tingkat desa dan kecamatan
untuk mendapatkan dukungan kebijakan publik berwawasan kesehatan dalam
mengatsi masalah kesehatan termasuk penanganan kejadian luar biasa, dengan
mengoptimalkan potrnsi dan peran jejaring kemitraan.
f. Penggerakan peran serta masyarakat melalui upaya pemberdayaan masyarakat
dalam pencegahan dan pengendalian penyakit di wilayah kerja puskesmas.
g. Pengembangan dan pembinaan berbagai jenis upaya kesehatan bersumber daya
masyarakat (UKBM) di tingkat desa dalam mengatasi masalah kesehatan serta
meningkatkan status kesehatan masyarakat.
2. Penyusunan Rencana Usulan Kegiatan (RUK)
Dilaksanakan dengan memperhatikan :
a. Bertujuan untuk mempertahankan kegiatan yang sudah ada pada periode
sebelumnya dan memperbaiki program yang masih bermasalah
b. Menyusun rencana kegiatan baru yang disesuaikan dengan kondisi kesehatan di
wilayah tersebut dan kemampuan puskesmas
3. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK)
Merupakan penetapan rincian rencana pelaksanaan kegiatan pencegahan dan
pengendalian penyakit berdasarkan RUK
4. Pelaksanaan
Melaksanakan kegiatan pencegahan dan pengendalian penyakit sesuai dengan jadwal
yang telah disusun bersama.
Melakukan pencatatan dan pelaporan pelaksanaan kegiatan.
5. Pemantauan
Tindakan pengamatan yang dilakukan secara terus-menerus terhadap pelaksanaan
pencegahan dan pengendalian penyakit dengan tujuan memberikan umpan balik pada
pengelolaan upaya penanggulangan pencegahan dan pengendalian penyakit untuk
perbaikan dan optimalisasi pelaksanaan upaya pencegahan dan pengendalian
penyakit. Dilakukan untuk :
a. Menetapkan masalah dan situasi
b. Menganalisis penyebab dan faktor yang mempengaruhi
c. Merumuskan dan merevisi upaya solusi
6. Penilaian dan Evaluasi
Merupakan proses sistematis yang mempelajari pengalaman pembelajaran upaya
pencegahan dan pengendalian penyakit sebagai upaya meningkatkan kualitas
rancangan perencanaan dan pelaksanaan upaya selanjutnya.

BAB V
LOGISTIK

Kebutuhan dana dan logistik untuk pelaksanaan kegiatan pencegahan dan pengendalian
penyakit direncanakan dalam pertemuan loka karya mini di puskesmas sesuai dengan tahapan
kegiatan Perencanaan Tingkat Puskesmas (PTP) dan metoda pemberdayaan yang akan
dilaksanakan.

BAB VI
KESELAMATAN PELANGGAN

Dalam perencanaan sampai dengan pelaksanaan kegiatan pencegahan dan pengendalian


penyakit perlu diperhatikan keselamatan pelanggan dengan melakukan identifikasi resiko
terhadap segala kemungkinan yang dapat terjadi pada saat pelaksanaan kegiatan. Upaya
pencegahan risiko terhadap pelanggan harus dilakukan untuk tiap-tiap kegiatan yang akan
dilaksanakan. Tindakan preventif perlu dilakukan meskipun tidak ada kejadian yang bertujuan
memperbaiki suatu sistem agar minimal risiko dengan melakukan analisis efek dan mode
kegagalan atau Failured Mode and Effect Analysis (FMEA).
Langkah- langkah untuk melakukan FMEA :
1. Bentuk tim FMEA sesuai kompetensi
2. Tetapkan tujuan, keterbatasan dan jadwal tim
3. Tetapkan peran dari tiap anggota tim
4. Gambarkan alur proses yang ada sekarang
5. Kenalilah Failure modes pada proses tersebut
6. Kenalilah penyebab terjadinya failure untuk tiap model kesalahan/kegagalan
7. Kenalilah apa akibat dari adanya failure untuk tiap model kesalahan/kegagalan
Contoh dari FMEA saat diwilayah dalam melakukan kegiatan deteksi dini faktor risiko
PTM saat pengukuran Tekanan darah kader belum mahir dalam melakukan pengukuran,
sehingga hasil tidak akurat. Sedangkan tindakan untuk mencari akar masalah dari
kejadian yang telah terjadi menggunakan RCA (Root Cause Analysis) disebut juga
analisa akar masalah.
1. Bentuk tim RCA untuk suatu kejadian
2. Pelajari kejadian
3. Analisis sebab
4. Menyusun rencana tindakan, melaporkan proses analisis dan temuan
Contoh RCA saat diwilayah dalam pengukuran tekanan darah berupa kader yang
bertugas melakukan pengukuran tekanan darah berhalangan hadir sehingga yang
melakukan pengukuran tekanan darah adalah kader lain yang sudah dilatih tapi tidak rutin
melakukan pengukuran tekanan darah.

BAB VII
KESELAMATAN KERJA
Dalam perencanaan sampai dengan pelaksanaan kegiatan upaya pencegahan dan
pengendalian penyakit perlu diperhatikan keselamatan kerja karyawan puskesmas dan lintas
sektor terkait dengan melakukan identifikasi resiko terhadap segala kemungkinan yang dapat
terjadi pada saat pelaksanaan kegiatan. Upaya pencegahan resiko terhadap segala kemungkinan
harus dilakukan untuk tiap-tiap kegiatan yang akan dilaksanakan.

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Pengendalian mutu adalah proses deteksi atau koreksi adanya penyimpangan atau perubahan
segera setelah terjadi, sehingga mutu dapat dipertahankan.
Langkah kegiatan yang dikerjakan
1. Evaluasi kinerja dan kontrol kegiatan
2. Membandingkan kerja aktual terhadap tujuan kegiatan
3. Bertindak terhadap perbedaan dan penyimpangan mutu yang ada

Permasalahan dibahas pada tiap pertemuan lokakarya mini tiap bulannya.

BAB IX
PENUTUP

Pedoman ini sebagai acuan bagi karyawan puskesmas dan lintas sektor terkait dalam
pelaksanaan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit dengan tetap memperhatikan prinsip
proses pembelajaran dan manfaat. Keberhasilan kegiatan upaya pencegahan dan pengendalian
penyakit tergantung pada komitmen yang kuat dari semua pihak terkait dalam upaya
meningkatkan kemandirian masyarakat dan peran serta aktif masyarakat dalam bidang
kesehatan.