Anda di halaman 1dari 47

Berer Drruer

TeuBANG

Berven TeNarr

Jl. Soekarno-HCtta'

Durian li;rsawahlilnto

Sumatera Barat

Phone: +627Eq6LAO41; ,

62302

Fax: +62 tSq AZ$t/62g}a

lBataiDik{ats*"

,{e*rrffiii{'Eawa h lina h

Tafrwang, 02-05 SeptemSer 2014

Yemtilasi Tarnbang

Bawaln Taraah

$lli=tlt:Lti tls&

*,-*,"*H

. ",.J, ^:Hi

Eesfusm Fegmnmserm Se$erte

KEMEIUTERIAN ENERGI DAN

SL,MBER DAYA

MINERAL RI

BAEAN DIKI.AT ENERGX DAN SUMBER DAYA MINERAI-

PI"JSDTKLAT" MTIV ER.AL DA$U EATq.JBAR.A

Diklat Pengenalan Tambang Bawah Tanah

K&Y& PffiTqGAh{TAK

Ventilasi Tambang Bawah Tanah

Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas kehendak-Nya penyusun dapat menyelesaikan penyusunan mata diklat ini. Mata diklat yang berjudul "Ventilasi Tambang Bawah Tanah" ini disusun dan disajikan dalam rangka kegiatan Pendidikan

dan Pelatihan Pengenalan Pertambangan Bagi Aparatur Non Teknis di Kabupaten

Sumbawa Barat.

Materi-materi yang disajikan dalam makalah ini adalah membahas tentang

ventilasi tambang, Pengantar ventilasi tambang yang meliputi tujuan dan fungsi ventilasi serta kualitas udara tambang, jenis-jenis ventilasi tambang yang meliputi ventilasi alam

dan ventilasi mekanis, pengukuran aliran udara ventilasi tambang, yang terdiri dari

pengukuran kecepatan aliran udara ventilasi dan kuantitas aliran udara tambang

Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna terutama dalam penjelasan dan pembahasannya, sehingga diperlukan adanya masukan positif

dari semua pihak demi kesempurnaan makalah ini. Akhirnya penyusun mengharapkan materi dalam makalah ini dapat memberikan

manfaat, terutama untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai ventilasi

tambang bawah tanah.

BALAI DIKLAT TAIVBANG BAWAH TANAH Buku Pegangan Peserta Hal i - 37

Taliwang, Agustus 2014 Penyusun,

Harry Wibawa

HarryW-BDTBT-2014

-.'

KATA PENGANTAR

Diklat Pengenalan Tambang Bawah Tanah VENTILASI TAMBANG BAWAH TANAH

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

iii

BAB.

1, PENDAHULUAN

1

2. PENGANTAR VENTI LASI TAMBANG

2

2.1 Pengertian Ventilasi Tambang

2

2.2 Pengertian Mengenai Udara Tambang

J

2.3 Pengendalian Kualitas Udara Tambang

A

-

2.4 Psikometri Udara Tambang

12

3. S ISTEM VENTI LASI TAMBANG

14

3.1 Ventilasi Alam (natural ventilation)

14

3.2 Ventilasi Mekanis (arlificial / mechanical ventilation)

15

3.3 Peralatan Ventilasi Mekanis

22

3.4 Peralatan Pengontrolan Ventilasi

23

4, PENGUKURAN UDARA

26

4.1

Pengukuran Kecepatan Aliran Udara

26

4.2

Pengukuran Kuantitas Aliran Udara

26

4.2

Pengukuran Suhu dan Kelembaban Udara

27

5. DASAR-DASAR PERHITUNGAN JARINGAN VENTILASI TAMBANG

28

5.1 Prinsip Perhitungan Jaringan Ventilasi

5.2 Jaringan Ventilasi Tambang '

DAFTAR PUSTAKA

Hal ii dari 44

Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral Badan Diklat Energi dan Sumberdaya Mineral Pusdiklat Teknologi Mineral dan Batubara

Balai Diklat Tambang tu*un ,unun.,.

,

HarryW-BDTBT-2014

2B

JO

44

[.

BAB I

PENDAHULUAN

Diklat Pengenalan Tambang Bawah Tanah VENTILASI TAMBANG BAWAH TANAH

Ventilasi tambang merupakan salah satu aspek penunjang bagi peningkatan

produktivitas para pekerja tambang bawah tanah. Pada tambang bawah tanah, sistem

ventilasi diperlukan selain untuk menyediakan oksigen guna memenuhi kebutuhan

pernapasan manusia atau pekerja juga dibutuhkan untuk mendilusi gas-gas beracun,

mengurangi konsentrasi debu yang berada di dalam udara tambang dan untuk

menurunkan temperatur udara tambang sehingga memungkinkan tercipta kondisi kerja

yang aman dan nyaman.

Pada dasarnya ventilasi merupakan upaya pengontrolan terhadap kualitas dan kuantitas udara tambang. Pengendalian kualitas udara tambang bertujuan untuk menjaga

agar kondisi udara tambang sesuai dengan persyaratan yang ditentukan antara lain

pengendalian terhadap gas-gas yang berbahaya maupun debu-debu tambang serta pengaturan temperatur dan kelembaban udara tambang. Sedangkan pengendalian

kuantitas udara bertujuan untuk mengatur jumlah udara bersih yang mengalir ke dalam

tambang sehingga udara yang dialirkan tersebut mencukupi sesuai jumlah yang

dibutuhkan.

Sistem ventilasi tambang bawah tanah pada dasarnya ada dua macam, yaitu

sistem ventilasi secara alami dan sistem ventilasi secara buatan (mekanik). Penerapan sistem ventilasi secara alami merupakan distribusi udara yang mengalir karena adanya perbedaan tekanan uadara antara jalan udara masuk dengan jalan udara keluar (intake air dan return aft). Sedangkan ventilasi secara buatan menggunakan mesin angin (fan)

untuk membuat tekanan sehingga udara yang tertekan akan terdistribusi ke dalam

tambang.

Dengan terciptanya kondisl tempat kerja yang nyaman untuk bekerja di dalam

tambang bawah tanah, maka hal ini secara langsung maupun tidak langsung dapat

meningkatkan produktivitas para pekerja serta mengurangi angka kecelakaan kerja.

Departemen Enerqi dan Sumberdaya Mineral Badan Diklat Energi dan Sumberdaya Mineral Pusdiklat Teknologi Mineral dan Batubara

Balai Diklat Tambang Bawah Tanah

Lal l

dari 44

HarryW-BDTBT-2414

l

Diklat Pengenalan Tambang Bawah Tanah VENTILASI TAMBANG BAWAH TANAH

BAB II

PENGANTAR VENTILASI TAM BANG

2.1 Pengertian Ventilasi Tambang

Ventilasi tambang merupakan suatu proses pengendalian terhadap pergerakan udara atau aliran udara tambang termasuk di dalamnya adalah jumlah, mutu dan arah alirannya. Adapun tujuan utama dari ventilasi tambang adalah menyediakan udara segar dengan kuantitas dan kualitas yang cukup baik, kemudian mengalirkan serta membagi udara segar tersebut ke dalam tambang sehingga tercipta kondisi kerja yang aman dan

nyaman baik bagi para pekerja tambang maupun proses penambangan.

Ventilasi tambang juga merupakan mekanisme atau proses mempertahankan

atmosfer tambang yang efisien dengan cara menjaga udara agar berada pada suhu efektif, relatif bebas dari zat pencemar yang mudah meledak dan beracun, sehingga

pekerjaan dapat dilakukan secara efisien.

Ventilasi tambang sangat vital dan dapat diibaratkan sebagai sirkulasi darah

dalam tubuh manusia. Kegagalan ventilasi tambang terjadi bila pasokan udara segar tidak sesuai dengan kebutuhan, sehingga kondisi udara tambang memburuk.

2.1.1 Tujuan Ventilasi Tambang

Secara rinci tujuan ventilasi pada tambang bawah tanah adalah :

1. Mengatur penyediaan atau pasokan udara segar (oksigen) yang cukup untuk keperluan pernapasan para pekerja dan proses lainnya dalam tambang yang

memerlukan oksigen.

2. Menurunkan konsentrasi gas-gas berbahaya dan beracun yang ada di dalam udara

tambang hingga tercapai keadaan yang memenuhi syarat bagi pernapasan, sehingga tidak membahayakan bagi para pdkerja tambang.

3. Mengurangi konsentrasi debu yang berada dalam aliran ventilasi ventilasi tambang

bawah tanah hingga batas yang diperkenankan.

4. Mengatur suhu dan kelembaban udara ventilasi tambang bawah tanah, sehingga

tercapai kondisi lingkungan kerja yang nyaman.

dari 44

Departemen Energi dan Sumberdaya l\lineral Badan Diklat Energi dan Sumberdaya l\lineral Pusdiklat Teknologi Mineral dan Batubara

Balai Diklat Tambang Bawah Tanah

HarryW-BDTBT-2014

Diklat Pengenalan Tambang Bawah Tanah VENTILASI TAMBANG BAWAH TANAH

2.1.2 Prinsip Ventilasi Tambang Pada pengaturan aliran udara dalam ventilasi tambang bawah tanah, berlaku

prinsip aliran udara iambang, yaitu ;

1. Aliran udara bergerak dari tekanan yang lebih tinggi ke tekanan yang lebih rendah.

2. Udara akan mengalir dari tempat yang bertemperatur lebih rendah ke tempat yang

bertemperatur lebih tinggi

3. Udara akan lebih banyak mengalir melalui jalur-jalur ventilasi yang memberikan

tahanan yang lebih kecil dibandingkan dengan jalur bertahanan yang lebih besar.

4. Tekanan Ventilasi tetap memperhatikan tekanan atmosfir, bisa positif (Blowing) atau

negatif (Exhausting).

5. Aliran udara mengikuti hukum kuadrat yaitu hubungan antara quantity dan tekanan,

bila quantity diperbesar dua kali lipat maka dibutuhkan tekanan empat kali llpat.

6. Hukum-hukum mekanika fluida akan selalu diikuti dalam perhitungan pada ventilasi

tambang

2.2 Pengertian Mengenai Udara Tambang

Udara tambang meliputi.campuran antara udara atmosfir dengan emisi gas-gas

dalam tambang serta bahan-bahan pengotornya sehingga perlu dijaga kualitasnya.

Standar udara yang bersih adalah udara yang mempunyai komposisi sama atau

mendekati dengan komposisi udara atmosfir pada keadaan normal. Udara segar normal

yang dialirkan pada ventilasi tambang terdiri dari : Nitrogen, Oksigen, Karbondioksida,

Argon dan Gas-gas lain seperti terlihat pada Tabel 2.1 .

Tabel 2.1. Komposisi Udara Segar

Unsur

Nitrogen (N2) Oksigen (02) Karbondioksida (CO2)

Argon (Ar), dll

Persen Volume

Persen Berat

(%)

(%)

78,09

75,53

20,95

23,14

0.03

0,046

0,93

1,284

Dalam perhitungan ventilasi tambang selalu dianggap bahwa udara segar

normal terdiri dari :

Nitrogen =79oh,dan

Oksigen = 21o/o

Hal 3 dari 44

Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral Badan Diklat Energi dan Sumberdaya Mineral Pusdiklat Teknologi Mineral dan Batubara

Balai Diklat Tambang Bawah Tanah

HarryW -BDTBT-2014

Drklat Pengenalan Tambang Bawah Tanah VENTILASI TAMBANG BAWAH TANAH

Disamping itu dianggap bahwa udara segar akan selalu mengandung

karbondioksida (CO2) sebesar 0,03%. Demikian pula perlu diingat bahwa udara dalam ventilasi tambang selalu mengandung uap air dan tidak pernah ada udara yang benar-

benar kering. OIeh karena itu akan selalu ada istilah kelembaban udara.

2.3 Pengendalian Kualitas Udara Tambang

Udara tambang adalah campuran udara bebas (atmosfir) dengan bahan

pengotornya termasuk gas dan padatan sehingga perlu dilakukan pengendalian kualitas

udara tambang. Pengendalian terhadap kualitas udara tambang meliputi pengendalian

kandungan gas dalam udara, debu yang dihasilkan akibat proses penambangan,

temperatur dan kelembaban udara di dalam tambang sehingga udara di dalam tambang

tetap bersih dan segar.

2.3.1 Kebutuhan Udara Segar Di Dalam Tambang

Pada sistem pernapasan manusia, oksigen dihisap dan karbon dioksida

dibebaskan. Jumlah oksigen yang diperlukan akan semakin meningkat sesuai dengan aktivitas fisiknya dan dapat dihitung pula kuantitas udara segar minimum yang dibutuhkan

seseorang untuk proses pernafasan berdasarkan kandungan oksigen minimum yang

diperkenankan dan kandungan karbon dioksida maksimum yang masih diperbolehkan.

Perlu juga dalam hal ini didefinisikan arti angka bagi atau nisbah pernafasan

(respiratori quotient) yang didefiniskan sebagai nisbah antara jumlah karbondioksida yang

dihembuskan terhadap jumlah oksigen yang dihirup pada suatu proses pernafasan. Pada

manusia yang bekerja keras, angka bagi pernafasan ini (resprratori quotienf) sama

dengan satu, yang berarti bahwa jumlah CO2 yang dihembuskan sama dengan jumlah 02 yang dihirup pada pernafasannya. Tabel 2.2 berikul memberikan gambaran mengenai

keperluan oksigen pada pernafasan pada tiga jenis kegiatan manusia secara umum.

Tabel 2.2. Kebuluhan Udara Pernafasan (Haftman, 1982)

Laju

Udara terhirup per

Oksigen ter

Angka bagi

Kegiatan kerja

Pernafasan

menit dalam in3/menit

konsumsi cfm

pernafasan

Per menit

1t o-4 m3/detik)

1t o{ m3/oetit<;

( respiratori

 

quotient)

lstirahat

12-18

300-800 (0,82-2,18)

0,01 (0,47)

0,75

Keria Moderat

30

2800-3600 (7,64-9,83)

0,07 (3,3)

0,9

Keria keras

40

6000 (16,4)

0;10 (4,7)

1,0

Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral Badan Diklat Energi dan Sumberdaya Mineral Pusdiklat Teknologi Mineral dan Batubara

Balai Diklat Tambang Bawah Tanah

F,al4 dari 44

HarryW-BDTBT-2014

Diklat Pengenalan Tambang Bawah Tanah

YENI/LAS/ TAMBANG BAWAH TANAH

Ada dua cara perhitungan untuk menentukan jumlah udara yang diperlukan

perorang untuk pernafasan, yakni ;

a. Berdasarkan kebutuhan 02 minimum, yaitu 19,5 %.

Jumlah udara yang dibutuhkan = Q cfm

Pada pernafasan, jumlah oksigen akan berkurang sebanyak 0,1 cfm;sehingga akan

dihasilkan persamaan untuk jumlah oksigen sebagai berikut;

0,21 Q-0,1 =0,1950

(2-1)

(Kandungan Oksigen) - (Jumlah Oksigen pada pernafasan) = (Kandungan Oksigen

minimum untuk udara

pernapasan )

q = (0,1/ (0,21 - 0,195)) = 6,7 cfm (=J,2 x 10-3 m3/detikl

b. Berdasarkan kandungan GO2 maksimum, yaitu 0,5o/o.

Dengan harga angka bagi pernafasan = 1,0 ; maka jumlah CO2 pada pernafasan akan bertambah sebanyak 1,0 x 0,1 = 0,1 cfm.

Dengan demikian akan didapat persamaan :

0,000-?Q+0,1 = 0,0050

| (KandunganCo2 | -

I

ot, ,orrl nor*r,;

|

|

|

(JumlahCo2- |

hasit p"rnuturrn;

I

=

.

(2-2)

| tkandungan Co2 maksimum I
I

'

ou,urn ,iouru;

I

q = (0;1/(0,005 - 0,0003)) = 21,3 cfm (= 0,01 m3/detik)

Dari kedua cara perhitungan tadi, yaitu atas kandungan oksigen minimum 19,5 o/o

dalam udara pernafasan dan kandungan maksimum karbon dioksida sebesar 0,5 %

dalam udara untuk pernafasan, diperoleh angka kebutuhan udara segar bagi pernafasan seseorang sebesar 6,7 cfm dan 21,3 cfm. Dalam hal ini tentunya angka 2'1,3 cfm yang

digunakan sebagai angka kebutuhan seseorang untuk pernafasan.

Dalam merancang kebutuhan udara untuk ventilasi tambang digunakan angka

kurang lebih sepuluh kali lebih besar, yaitu 200 cfm perorang ( = 0,1 m3/detik perorang).

Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral Badan Diklat Energi dan Sumberdaya Mineral Pusdiklat Teknologi Mineral dan Batubara

Bala:,:l:lal Tambans Bawah Tanah

Hal 5 dari 44

HarryW-BDTBT-2A14

Diklat Pengenalan Tambang Bawah Tanah YENTLAS/ TAMBANG BAWAH TANAH

2.3.2 Kandungan Oksigen Dalam Udara Oksigen merupakan unsur yang sangat diperlukan untuk kehidupan manusia.

Pada pernafasannya, manusia akan menghirup oksigen, yang kemudian bereaksi dengan

butir darah (haemoglobine) menjadi oksihaemoglobin yang akan mendukung kehidupan. Dalam udara normal, kandungan oksigen adalah 21 o/o dan udara dianggap layak untuk

suatu pernafasan apabila kandungan oksigen tidak boleh kurang dari 19,5 alo.

Banyak proses-proses dalam alam yang dapat menyebabkan pengurangan

kandungan oksigen dalam udara; terutama untuk udara tambang bawah tanah. Peristiwa

oksidasi, pembakaran pada mesin bakar dan pernafasan oleh manusia merupakan contoh

dari proses kandungan pengurangan oksigen .

Kandungan oksigen dalam udara juga akan berkurang pada keadaan ketinggian

(altitude) yang makin tinggi. Kekurangnan oksigen dalam udara yang digunakan bagi

pernafasan akan berpengaruh terhadap keadaan fisiologi manusia, seperti diperlihatkan

pada Tabel 2.3. berikut;

Tabel 2.3. Pengaruh Kekurangan Oksigen

Kandungan 02

Di Udara

17%

4tr O/

tJ

/o

13%

9%

7 !

0/- lu

6%

Pengaruh

Laju pernapasan meningkat (ekuivalen dengan

ketinggian 1600 m)

Terasa pusing, suara mendesing dalam telinga dan jantung berdetak cepat Kehilangan kesadaran Pucat dan jatuh pingsan

Sangat membahayakan kehidupan Keianq-keianq dan kematian

2.3.3 Gas-Gas Pengotor Pada Udara Tambang

Terdapat beberapa macam gas pengotor dalam udara tambang bawah tanah.

Gas-gas ini berasal baik dari proses-proses yang terjadi dalam tambang maupun berasal

dari batuan ataupun bahan galiannya.

Gas-gas pengotor yang terdapat dalam tambang bawah tanah tersebut, ada yang

bersifat gas racun, yakni; gas yang bereaksi dengan darah dan dapat menyebabkan

kematian. Selain itu juga gas pengotor ini menyebabkan bahaya, baik terhadap kehidupan

manusia maupun dapat menyebabkan peledakan. Tabel 2.4. menunjuKC! bermacam gas

yang dapat berada dalam tambang bawah tanah.

Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral Badan Diklat Energi dan Sumberdaya Mineral Pusdiklat Teknologi Mineral dan Batubara

Balai Diklat Tambang Bawah Tanah

Hal 6 dari 44

HarryW-BDTBT-2014

a. Karbondioksida (COr)

Diklat Pengenalan Tambang Bawah Tanah VENTILASI TAMBANG BAWAH TANAH

Gas ini tidak berwarna dan tidak berbau dan tidak mendukung nyala api dan

bukan merupakan gas racun. Gas ini lebih berat dari pada udara, karenanya selalu

terdapat pada bagian bawah dari suatu jalan udara. Dalam udara normal kandungan

CO2 adalah 0,03 ok. Dalam tambang bawah tanah sering terkumpul pada bagian

bekas-bekas penambangan terutama yang tidak terkena aliran ventilasi, juga pada

dasar sumur-sumur tua. Sumber dari CO2 berasal dari hasil pembakaran, hasil

peledakan atau dari lapisan batuan dan dari hasil pernafasan manusia.

Pada kandungan CO2 = 0,5 % laju pernafasan manusia mulai meningkat, pada

kandungan COz - 3 % lqu pernafasan menjadi dua kali lipat dari keadaan normal, dan pada kandungan CO2 = 5 o/o laju pernafasan meningkat tiga kali lipat dan pada COz -

10 % manusia hanya dapat bertahan beberapa menit. Kombinasi COz dan udara

biasa disebut dengan 'blackdamp'.

b. Metana (CHo) Gas metana ini merupakan gas yang selalu berada dalam tambang batubara

dan sering merupakan sumbe.r dari suatu peledakan tambang. Campuran gas metana

dengan udara disebut 'Firedamp'. Apabila kandungan metana dalam udara tambang

bawah tanah mencapai 1 o/o maka seluruh hubungan mesin listrik harus dimatikan.

Gas ini mempunyai berat jenis yang lebih kecil dari pada udara dan karenanya selalu

berada pada bagian atas darijalan udara.

Metana merupakan gas yang tidak beracun, tidak berwarna, tidak berbau dan

tidak mempunyai rasa. Pada saat prcses pernbatubaraan terjadi maka gas metana

terbentuk bersama-sama dengan gas karbondioksida. Gas metana ini akan tetap

berada dalam lapisan batubara selama tldak ada perubahan tekanan padanya.

Terbebasnya gas metana dari suatu lapisan batubara dapat dinyatakan dalam suatu

volume per satuan luas lapisan batubara, tetapi dapat juga dinyatakan dalam satuan

volume per satuan waktu. Terhadap kandungan gas metana yang masih terperangkap

dalam suatu lapisan batubara dapat dilakukan penyedotan dari gas metana tersebut

dengan pompa untuk dimanfaatkan. Proyek ini dikenal dengan nama 'seam methane

drainage'.

c. Karbon Monoksida (CO)

Gas karbon monoksida merupakan gas yang tidak berwarna; tidak berbau dan

tidak ada rasa, dapat terbakar dan sangat beracun. Gas ini banyak dihasilkan pada

saat terjadi kebakaran pada tambang bawah tanah dan menyebabkan tingkat

Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral Badan Diklat Energi dan Sumberdaya Mineral Pusdiklat Teknologi Mineral dan Batubara

Balai Diklat Tambang Bawah Tanah

LalT dari 44

HarryW-BDTBT-2014

Diklat Pengenalan Tambang Bawah Tanah VENTILASI TAMBANG BAWAH TANAH

kematian yang tinggi. Gas ini mempunyai afinitas yang tinggi terhadap haemoglobin

darah, sehingga sedikit saja kandungan gas co

dalam udara akan segera

bersenyawa dengan butir-butir haemoglobin (COHb)yang akan meracuni tubuh lewat

darah. Afinitas CO terhadap haemoglobin menurut penelitian (Forbes and Grove,

1954) mempunyai kekuatan 300 kali lebih besar dari pada oksigen dengan

haemoglobin. Gas CO dihasilkan dari hasil pembakaran, operasi motor bakar, proses

peledakan dan oksidasi lapisan batubara.

Karbon monoksida merupakan gas beracun yang sangat mematikan karena

sifatnya yang kumulatif. Misalnya gas Co pada kandungan 0,04 % dalam udara

apabila terhirup selama satu jam baru memberikan sedikit perasaan tidak enak,

namun dalam waktu 2 jam dapat menyebabkan rasa pusing dan setelah 3 jam akan

menyebabkan pingsan/ tidak sadarkan diri dan pada waktu lewat 5 jam dapat

menyebabkan kematian. Kandungan CO sering juga dinyatakan dalam ppm (part per milion). Sumber CO yang sering menyebabkan kematian adalah gas buangan dari mobil dan kadang-kadang juga gas pemanas air. Gas CO mempunyai berat jenis

0,9672 sehingga selalu terapung dalam udara.

d. Hidrogen Sulfida (H2S)

Gas ini sering disebut juga 'stinkdamp' (gas busuk) karena baunya seperti bau

telur busuk. Gas ini tidak berwarna, merupkan gas racun dan dapat meledak,

merupakan hasil dekomposisi dari senyawa belerang. Gas ini mempunyai berat jenis

yang sedikit lebih berat dari udara. Merupakan gas yang sangat beracun dengan ambang batas (ILV-TWA) sebesar 10 ppm pada waktu selama B jam terdedah

(exposed) dan untuk waktu singkat (TLV-STEL) adalah 15 ppm. Walaupun gas H2S

mempunyai bau yang sangat jelas, namun kepekaan terhadap bau ini akan dapat

rusak akibat reaksi gas H2S terhadap syaraf penciuman. Pada kandungan H2S = 0,01 % untuk selama waktu'15 menit, maka kepekaan manusia akan bau ini sudah akan

hilang.

6 Sulfur Dioksida (SOr)

Sulfur dioksida merupakan gas yang tidak berwarna dan tidak bisa terbakar.

Merupakan gas racun yag terjadi apabila ada senyawa belerang yang terbakar, Lebih

berat dari pada udara, dan akan sangat membantu pada mata, hidung dan

tenggorokan. Harga ambang batas ditetapkan pada keadaan gas = 2 ppm (TLV-TWA) atau pada waktu terdedah yang singkat (TLV'STEL) = 5 ppm.

Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral Badan Diklat Energi dan Sumberdaya Mineral Pusdiklat Teknologi Mineral dan Batubara

Balai Diklat Tambang Bawah Tanah

B dari 44

HarryW-BDTBT-2014

Diklat Pengenalan Tambang Bawah Tanah VENTILASI TAMBANG BAWAH TANAH

Nitrogen Oksida NOx) Gas nitrogen oksida sebenarnya merupakan gas yang 'inert', namun pada

keadaan tekanan tertentu dapat teroksidasi dan dapat menghasilkan gas yang sangat

beracun. Terbentuknya dalam tambang bawah tanah sebagai hasil peledakan dan gas

buang dari motor bakar. NO2 merupakan gas yang lebih sering terdapat dalam

tambang dan merupakan gas racun. Harga ambang batas ditetapkan 5 ppm, baik

untuk waktu terdedah singkat maupun untuk waktu 8 jam kerja. Oksida notrogen yang

merupakan gas racun ini akan bersenyawa dengan kandungan air dalam udara

membentuk asam nitrat, yang dapat merusak paru-paru apabila terhirup oleh manusia.

g. Gas Pengotor Lain

Gas yang dapat dikelompokkan dalam gas pengotor lain adalah gas Hidrogen

yang dapat berasal dari proses pengisian aki (battery) dan gas-gas yang biasa

terdapat pada tambang bahan galian radioaktif seperti gas radon.

Departemen Energi dan Sumberdaya lrlineral Badan Diklat Energi dan Sumberdaya Mineral Pusdiklat Teknologi Mineral dan Batubara

Balai Diklat Tambang Bawah Tanah

Hal 9 dari 44

HarryW-BDTBT-2014

Nama

Simbol

Oksigen

v2

Nitrogen

Nz

Karbon

 

COz

Dioksida

Karbon

 

CO

Monoksida

Hidrogen

 

HzS

sulfida

Metana

CH+

Nitrogen

NOz

Dioksida

Sulfur

CA

UIUKSIUA

Radon

Rn

Diklat Pengenalan Tambang Bawah Tanah VENTILASI TAMBANG BAWAH TANAH

Tabel 2.4. SifalSifat Gas Tambang

 

Berat

Max.

Jenis

Sifat fisik

Pengaruh

Sumber

Allowable

Fatal Point

(Udara = 1)

 

Conc. (%)

tidak berbau,

 

zno

 

1 ,106

tidak berwarna,

tidak beracun

udara

normal

(minimum)

6

 

tidak ada rasa

tidak berbau,

 

0,967

tidak berwarna,

menyesakkan

udara normal,

80,0

 

tidak berasa

napas

lapisan

tidak berbau,

pernapasan,

 
 

1 4rO

tidak berwarna,

m enyesakkan

Iapisan,

0,5

1B

 

terasa agak asam

napas

pembakaran

 

tidak berbau,

peledakan,

 

0,03

0,967

tidak berwarna,

racun,

dapat meledak

motor bakar,

pembakaran tidak

0,005

(12,74

tidak ada rasa

explosive)

 

sem purna

 
 

bau telur busuk,

0, 1

 

1

191

tidak berwarna,

TACUN,

lapisan air

0,00'1

(4,46

 

terasa asam

dapat meledak

tanah

explosive)

tidak berbau,

dapat meledak,

0,555

tidak berwarna,

menyesakkan

lapisan batubara

1,0

(5 -

15)

tidak ada rasa

napas

explosive

 

peledakan,

 
 

bau mangganggu,

1,s90

warna merah

coklat, terasa pahit

racun

motor bakar,

pembakaran iidak

0,0005

0,005

 

sem purna

 
 

bau mangganggu,

oksidasi sulfida,

1

'191

tidak berwarna,

rACUN

0.0005

0, 1

 
 

motor bakar

 
 

rasa asam

tidak berbau,

7,665

tidak berwarna,

radioaktif

lapisan

tidak ada rasa

2.3.4 Debu Pada Udara Tambang '

Debu merupakan pengotor udara tambang yang juga berbahaya bila

konsentrasinya cukup tinggi, karena dapat mengganggu lingkungan kerja dan merusak kesehatan. Secara garis besar, sumber debu pada tambang bawah tanah berasal dari

aktivitas penambangan yang meliputi operasi pemboran, peledakan, pemuatan, dan

pengangkutan bijih atau batubara .

Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral Badan Diklat Energi dan Sumberdaya Mineral Pusdiklat Teknologi Mineral dan Batubara

Balai Diklat Tambang Bawah Tanah

10 dari 4L

HarryW-BDTBT-2414

Diklat Pengenalan Tambang Bawah Tanah VENTILASI TAMBANG BAWAH TANAH

Partikel debu dapat digolongkan berdasarkan kandungan material solid dan ukuran diameter rata-rata partikelnya. Karakteristik partikel debu berdasarkan ukuran

diameter rata-rata adalah :

a. Partikel debu yang sering dijumpai di alam biasanya terdiri dari partikel-partikel yang berukuran lebih besar daripada 40 mikron.

b. Partikel terkecil yang dapat dilihat dengan mata adalah sekitar 25 mikron.

c. Partikel debu yang sangat sulit untuk tersuspensi di udara dalam waktu yang lama,

kecuali kecepatan udara sangat tinggi, yaitu partikel debu dengan ukuran lebih

besar dari 10 mikron.

d. Partikel debu baik yang dapat menimbulkan efek patologis atau terbakar umumnya

berukuran lebih kecil dari 10 mikron.

e. Partikel debu yang diklasifikasikan sebagai debu yang terhisap (respirable dust),

yaitu partikel debu yang berukuran lebih kecil dari 5 mikron. f. Partikel debu yang sering dijumpai di tambang dalam mempunyai ukuran rata-

rata 0,5 - 3 mikron dan kurang lebih B0% debu hasil dari operasi tambang

mempunyai ukuran partikel sekitar dibawah 1 mikron.

Partikel debu dengan ukuran di bawah 10 mikron, yang berbahaya bagi kesehatan, tidak mempunyai berat jenis dan gaya inertia sehingga akan selalu

tersuspensi di aliran udara. OIeh karenanya kontrol debu selalu berhubungan dengan

debu yang berukuran tersebut.

Sedangkan seberapa jauh bahaya Can pengaruh debu ter"sebut terhadap

kesehatan manusia tergantung pada :

a. Komposisi kimia dan mineralogi debu, silika bebas (Si) lebih berbahaya daripada

senyawa silika (Si02) terhadap paru-paru.

b. Konsentrasi yaitu banyaknya butir atau partikel debu dalam satuan volume udara, biasanya dinyatakan dalam millions of particles per cuftof air(mppcf).

c. Ukuran parlikel, partikel debu yang berukuran lebih kecil dari 5 mikron berbahaya

bagi paru-paru.

d. Waktu kontak, yaitu lamanya seseorang berhubungan dengan lingkungan yang

mengandung debu.

e. Daya tahan tubuh perorangan.

al 11 dari 44

Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral Badan Diklat Energi dan Sumberdaya Mineral Pusdiklat Teknologi Mineral dan Batubara

Balai Diklat Tambang Bawah Tanah

HarryW-BDTBT-2414

Diklat Pengenalan Tambang Bawah Tanah VENTILASI TAMBANG BAWAH TANAH

Untuk mengurangi konsentrasi debu dan mencegah timbulnya debu secara

berlebihan pada kegiatan penambangan, perlu dilakukan langkah-langkah pengendalian debu diantaranya'.

a. Melakukan pengukuran kadar debu.

b. Menggunakan penyemprot air (water sprayer) pada saat penggalian.

c. Melakukan operasi penambangan yang baik dan benar serta mencegah

terbentuknya debu secara berlebihan.

d. Mengurangi debu dengan membersihkan debu yang mengendap dan

membersihkan udara dari debu dengan alat pengumpul debu (dust collector).

e. Pengenceran (dilution) dengan memasukkan udara segar secukupnya ke tempat- tempat sumber debu menggunakan kipas angin bantu.

2.4 Psikometri Udara Tambang

2.4.1 Pengertian Psikometri Udara Tambang

Udara segar yang dialirkan kedalam tambang bawah tanah akan mengalami

beberapa proses seperli penekanan atau pengembangan, pemanasan atau pendinginan,

pelembaban atau pengawalembaban.

Oleh karena itu maka volume, tekanan, kandungan

energi panas dan kandungan airnya juga akan mengalami perubahan. llmu yang mempelajari proses perubahan sifat-sifat udara seperli temperatur dan kelembaban

disebut psikrometri.

2.4.2 Temperatur dan Kelembaban Udara Tambang

Pengaturan temperatur dan kelembaban udara tambang bertujuan untuk

menghasilkan udara segar dan nyaman. Temperatur udara tambang harus dipertahankan

pada batas tertentu, sehingga manusia dapat bekerja dengan efisiensi kerja yang tinggi.

Temperatur udara sangat mempengaruhi kenyamanan bagi para pekerja yang berada di dalam tambang, karena udara tidak hanya untuk pernafasan tetapi juga untuk

pendinginan panas tubuh. Temperatur udara yang baik untuk kenyamanan bekerja adalah

tidak kurang dari 18'C dan tidak melebihi 24"C.

Kelembaban udara tambang merupakan banyaknya kandungan uap air yang ada

di udara tambang yang biasanya dinyatakan dengan "relatif humidity fiHf

Batas

kelembaban relatif yang diperkenankan untuk tambang bawah tanah adalah 65% - 95%

dan nilai ini dapat ditentukan secara grafis dengan menggunakan grafik psychrometrik.

Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral Badan Diklat Energi dan Sumberdaya It/ineral Pusdiklat Teknologi Mineral dan Batubara

Balai Diklat Tambang Bawah Tanah

dari 4

HanyW-BDTBT-2414

Diklat Pengenalan Tambang Bawah Tanah VENTILASI TAMBANG BAWAH TANAH

Untuk mengetahui kenyamanan lingkungan kerja di dalam tambang, diperlukan

standar tertentu yaitu penggunaan temperatur efektif (Te). Temperatur efektif ini dapat

diperoleh dengan menggunakan grafik dengan variabel sebagai berikut :

a. Temperatur cembung basah (wet-bulb temperatur, Tw) adalah temperatur dimana

terjadi proses penguapan air di udara tambang.

b. Temperatur cembung kering (dry-bulb temperatur, Td) adalah temperatur yang

menunjukkan keadaan panas dari udara tambang. c. Kecepatan aliran udara (V) adalah kecepatan aliran udara di dalam tambang.

Perbedaan antara temperatur cembung kering dan cembung basah menyatakan

faktor kenyamanan di dalam udara lembab. Agar seseorang dapat bekerja dengan

nyaman di lingkungan udara dengan kelembaban relatif 80 % diperlukan perbedaan t6-t* sebesar 5 "F (2,8 "C).

Kecepatan aliran udara merupakan faktor utama dalam mengatur kenyamanan

lingkungan kerja. Kecepatan aliran udara sebesar 150 - 500 fpm ( 0,8 - 2,5 m/detik) dapat memperbaiki tingkat kenyamanan ruang kerja yang panas dan lembab. Dalam

menduga temperatur efektif dari suatu kondisi t6-1," serta kecepatan aliran udara tertentu

dapat menggunakan grafik yang ditunjukkan pada Gamb ar 1.1. berikut:

L

5

)

:

!-

s

a

Gambar 1.1. Grafik Temperatur Efektif

Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral Badan Diklat Energi dan Sumberdaya Mineral Pusdiklat Teknoiogi Mineral dan Batubara

Balai Diklat Tambang Bawah Tanah

^t tc

{^"i An

HarryW-BDTBT-2414

Diklat Pengenalan Tambang Bawah Tanah YENI/LAS/ TAMBANG BAWAH TANAH

BAB III

SISTEM VENTI LASI TAM BANG

Untuk ventilasi tambang, selalu diperlukan lebih dari satu Iubang yang

berhubungan dengan udara luar yang disebut mulut tambang (pit mouth). Aliran udara akan terjadi bila terdapat perbedaan tekanan antara dua mulut tambang tersebut. Hal ini dapat terjadi bila diantara kedua mulut tersebut terdapat perbedaan suhu atau apabila

pada salah satunya dipasang kipas angin (fan).

Berdasarkan kekuatan (force) yang dapat menyebabkan terjadinya aliran udara, maka ventilasi dibagi menjadi dua, yaitu ventilasi alam dan ventilasi mekanik. Ventilasi

mekanik dibagi menjadi dua kategori, yaitu ventilasi utama dan ventilasi tambahan,

sedangkan ventilasi utama dibagi lagi menjadi beberapa cara berdasarkan :

a. Penempatan kipas angin

o

Ventilasi hembus (forcing ventilation)

e

Ventilasi hisap (exhausting ventilation)

b. Jarak antara saluran udara bersih (intake) dan saluran udara kotor (return)

.

Ventilasiterpusat (centralized ventilation)

.

Ventilasi Diagonal (diagonal ventilation)

c. Cara mengalirkan udara bersih

e

Ventilasi menaik (ascensional ventilation)

o

Ventilasi Menurun (descensional ventilation)

3.1 Ventilasi Alam (natural ventilation)

Jika suatu tambang memiliki dua shaft yang saling berhubungan pada kedalaman tertentu, sejumlah udara akan mengalir masuk ke dalam tambang meskipun tanpa alat mekanis. Ventilasi alam disebabkan udara pada downcast shaft lebih dingin dari udara pada upcasf shaft. Dan juga dipengaruhi oleh perbedaan tekanan dan densitas udara

antara dua shaft yang saling berhubungan tersebut. Ventilasi alam terutama terjadi karena perbedaan temperatur di dalam dan luar pit.

Temperatur di dalam pit akan mempengaruhi terjadinya ventilasi alam, sehingga apabila terdapat perbedaan temperatur intake airway dan return air:way yang ketinggian mulut pit

intake dan out takenya berbeda, akan timbul perbedaan kerapatan udara di dalam dan di

Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral Badan Diklat Energi dan Sumberdaya Mineral Pusdiklat Teknologi Mineral dan Batubara

Balai Diklat Tambang Bawah Tanah

al 1 4 de:i

HarryW - BDTBT - 2414

'' -(f; ifi:;lf P;;;[i 3'3ffr[il#i;!,

luar plt atau udara di intake airway dan return airway akibat perbedaan temperatur, dan

akan membangkitkan daya ventilasi.

Pada suatu pit yang mempunyai dua buah mulut pit yang ketinggiannya berbeda

seperti pada Gambar 3.1. dimana pada musim hujan, udara di dalam tambang lebih

panas dari pada udara di luar. Karena berat udara panas untuk suatu volume yang sama akan lebih kecil daripada berat udara dingin, maka berat total udara di atas titik A lebih

kecil daripada berat total udara di titik B. Jadi tekanan di titik B akan lebih besar, sehingga

udara akan mengalir dari titik B ke titik A. Sebaliknya bila udara dalam tambang lebih

berat dari pada udara di luar tambang (misalnya pada musim kemarau), maka berat total

udara di titik A akan lebih besar daripada berat total udara dititik B. Jadi tekanan di A

akan lebih besar, sehingga udara mengalir dari titik A ke titik B. Berdasarkan hal diatas maka peranginan alam akan berpengaruh pada peranginan buatan. Pengaruhnya bisa positif bila peranginan alam membantu aliran dari peranginan buatan dah negatif bila

peranginan alam berlawanan arahnya dengan peranginan buatan.

Musim Panas

Gambar 3.1. Kondisi Ventiiasi Aiam

3.2 Ventilasi Mekanis (artificial / mechanical ventilation) Ventilasi mekanis adalah jenis ventilasi dimana aliran udara masuk ke dalam

tambang disebabkan oleh perbedaan.tekanan yang ditimbulkan oleh alat mekanis.

3.2.1 Ventilasi Utama (main ventilationl

Ventilasi utama adalah salah satu jenis dari ventilasi mekanik (jenis lainnya adalah

ventilasi bantulauxitiary ventilation), yang mengEunakan kipas angin utama (main fan) untuk menggerakkan aliran udara ke seluruh bagian tambang bawah tanah. Ventilasi

mekanik itu sendiri adalah ventilasi tambang bawah tanah ang menggunakan peralatan

mekanik, biasanya kipas angin (fan), untuk menimbulkan tekanan ventilasi sehingga

terjadi aliran udara dia dalam tambang tersebut.

Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral Badan Dlklat Energi dan Sumberdaya Mineral Pusdiklat Teknologi Mineral dan Batubara

Balai Diklat Tambang Bawah Tanah

al 15 dari 44

HarryW-BDTBT-2014

Dtklat Pengenalan Tambang Bawah Tanah YENILAS/ TAMBANG BAWAH TANAH

Udara segar masuk ke dalam sistem ventilasi melalui satu atau lebih sumuran

turun (down cast shaft) atau saluran lain yang berhubungan dengan permukaan. Udara mengalir melalui jalan udara segar {intake airways) ke tempat kerja/medan kerja, yang sebagian besar zal-zat pencemarnya terbawa ke dalam udara tersebut, termasuk debu, gas-gas beracun atau yang mudah meledak, lembab, panas dan beradiasi (radioaktif). Udara yang tercemar masuk ke dalam sistem tersebut melalui jalan udara kotor (return

airway) dan dikeluarkan dari tambang. Pada umumnya, konsentrasi zaI-zat pencemar tidak boleh melebihi ambang batas

yang telah ditetapkan di dalam peraturan dan aman bagi m