Anda di halaman 1dari 15

2.

1 Anatomi dan Fisiologis Otak


Sistem saraf dibagi menjadi system saraf pusat yang terdiri atas system saraf di otak dan medulla spinalis, dan
sitem saraf perifer,yang terdiri atas saraf yang mempersarafi bagian tubuh lainnya. Koordinasi system saraf pusat dan
perifer dapat membuat kita melakukan aktivitas seperti bergerak, berpikir, dan berespon terhadap rangsangan.

Konsep Fisiologis
a) Neuron
Neuron atau sel saraf adalah unit fungsional system saraf dan merupakan sel yang khusus.Pematangan
sel saraf terjadi sebelum atau segera setelah lahir.Saat matur, neuron tidak menjalani reproduksi sel dan
tidak dapat diganti. Setiap neuron berfungsi untuk menerima stimulus yang datang dari dan mengirim
stimulus yang keluar ke saraf lain, otot, atau kelenjar. Neuron melewati dan menerima sinyal melalui
perubahan aliran ion bermuatan listrik bolak-balik melintasi membrane sel neuron.
b) Bagian Neuron
Neuron terdiri dari empat bagian, yaitu:
1. Dendrit
Dendrit adalah perluasan saraf dari badan sel yang menerima sinyal yang dating.
2. Badan sel
Badan sel mengandung organel tipikal sel manusia.Nukleus mengandung informasi genetic neuron,
mengarahkan produksi protein, enzim, dan neurotransmitter.Badan sel mengantarkan zat tersebut ke
segmen berikutnya yaitu akson.
3. Akson
Akson atau serabut saraf adalah serabut panjang tempat lewatnya sinyal listrik yang dimulai di dendrit
dan badan sel. Banyak serabut saraf yang melintas bersama di suatu berkas disebut saraf.Pada beberapa
saraf, akson ditutup oleh lapisan lemak yang terisolasi yaitu myelin.Myelin diproduksi ketika sel
penyokong membungkus membrane plasmanya di sekitar akson.Pada system saraf perifer, sel
penyokong adlah sel Schwann.pada system saraf pusat, myelin dihasilkan oleh tipe sel khusus,
oligodendrosit.Myelin meningkatkan kecepatan sinyal listrik yang ditransmisikan melalui akson.
4. Terminal Akson
Percabangan akson yang terakhir di setiap ujung batang akson utama dan kolateral adalah terminal
akson.Melalui terminal akson sinyal listrik disampaikan ke dendrit atau badan sel neuron kedua.Di
system saraf perifer sinyal juga dapat disampaikan ke sel otot atau kelenjar.
Kategori Neuron
Neuron yang membawa informasi dari system saraf perifer ke system saraf pusat disebut neuron
sensorik atau aferen.Sedangkan neuron yang membawa informasi dari system saraf pusat ke system
saraf perifer disebut neuron motoric atau eferen.SinaCP adalah titik pertautan antara dua neuron.
Neurotransmitter dan Neuromodulator
Neuron berkomunikasi satu sama lain dengan melerpaskan zat kimia ke dalam celah kecil (celah sinaCP)
yang memisahkan satu neuron dengan neuron lainnya. Zat kimia tersebut adalah
neurotransmitter.biasanya neurotransmitter dilepaskan dari terminal akson satu neuron, berdifusi
melintasi celah sinaCP, dan berikatan dengan reseptor pada dendrit atau badan sel neuron lain. Sel yang
melepaskan neurotransmitter disebut neuron prasinaCP, dan neuron yang melengkapi sinaCP disebut
neuron pascasinaCP.
Kontransmitter atau neuromodulator adalah tipe zat kimia yang berbeda dengan neurotransmitter karena
membutuhkan waktu yang lebih lama untuk bekerja dan berfungsi untuk meningkatkan atau mengurangi
transkriCPi DNA dan sintesis protein.Neuronmodulator sering mempengaruhi respon sel pascasinaCP
terhadap neurotransmitter dan berkaitan dengan fungsijangka panjang seperti belajar, mood, dan
perkembangan.
Contoh neurotransmitter dan neuromodulator seperti: monoamine-norepinefrin, serotonin, dopamine,
dan histamine; asam amino-asam gama-aminobutirat(GABA),glisin, glutamate, aspartate.
c) Pelindung Otak
Pelindung otak terdiri dari:
Rambut, kulit, tulang tengkorak (cranium)
Darah sinus venosus
Meninges, yang terbagi menjadi durameter, membrane araknoid, pia meter
Otak dan sumsum tulang belakang diselimuti oleh membrane tipis yaitu meninges yang
melindungi struktur saraf, membawa pembuluh darah, dan dengan sekresi sejenis cairan, yaitu
cairan cerebrospinaslis yang berfungsi memperkecil benturan atau goncangan.Pia meter berada
di dalam celah-celah pada otak dan sumsum tulang belakang, karena letaknya sangat erat jadi
berfungsi menyediakan darah pada otak dan sumsum tulang belakang.
Araknoid merupakan selaput halus yang memisahkan pia meter dan durameter. Durameter
padat dan keras, terdiri atas dua lapisan. Lapisan luar yang melapisi tengkorak, dan lapisan
dalam yang bersatu dengan lapisan luar, kecuali ada bagian tertentu, tempat sinus-sinus
terbentuk, dan tempat durameter membentuk falks serebri dan diafragma selae
Cairan serebrospinalis (CSS)
d) Cairan Serebrospinal dan Ventrikel
Cairan serebrospinal bersifat alkali dan tidak berwarna.Walaupun CSS dibentuk dari plasma yang
mengalir melalui otak, konsentrasi elektrolit dan glukosanya berbeda dari konsentrasi plasma.Fungsi CSS
sebagai buffer, melindungi otak dan sumsum tulang belakang dari getaran fisik, menghantarkan
makanan ke jaringan system saraf pusat.CSS dibentuk sebagai hasil filtrasi, difusi, dan transport aktif
yang melintasi kapiler khusus ke dalam ventrikel (rongga) otak, terutama ventrikel lateral.Jaringan
kapiler yang berperan dalam pemebentukan CSS disebut pleksus koroideus.Pleksus koroid dibentuk
jaringan pembuluh darah kapiler yang sangat halus dan ditutupi bagian pia meter yang membelok ke
dalam ventrikel dan menyalurkan cairan serebrospinalis.
Saat berada di dalam ventrikel, CSS mengalir kea rah batang otak.Melalui lubang kecil di batang
otak.CSS bersirkulasi ke permukaan otak dan medulla spinalis.Di permukaan otak, CSS masuk ke system
vena dan kembali ke jantung.Dengan demikian, CSS terus-menerus mengalami resirkulasi pada system
saraf pusat.Apabila jalur kondisi ventrikel untuk CSS mengalami sumbatan, dapat terjadi penimbunan
cairan, yang mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan di dalam dan permukaan otak.

1. Bagian-Bagian Otak
Perkembangan otak terletak di dalam rongga cranium tengkorak. Otak berkembang dari sebuah tabung
yang mulanya memperlihatkan tiga gejala pembesaran: otak awal, yang disebut otak depan, otak tengah, dan
otak belakang.

Belahan otak (hemisferium serebri), korpus striatum dan talami


Otak depan
(thalamus dan hipotalamus)
Otak tengah Diensefalon
Pons varoli, medulla oblongata, batang otak yang akan membentuk
Otak belakang
serebelum
1. Serebrum
Mengisi bagian depan dan atas rongga tengkorak, yang masing-masing disebut fosa kraniali
anterior dan fosa kranialis tengah. Serebrum terdiri atas belahan (hemisfer) besar sel saraf (substansi
kelabu) dan serabut saraf (substansi putih).Lapisan luar substansi kelabu disebut korteks.Kedua
hemisfer otak itu dipisahkan celah yang dalam, tetapi bersatu kembali pada bagian bawahnya melalui
korpus kalosum, yaitu suatu masa substansi putih yang terdiri atasserabut saraf.Di belahan bawahnya
lagi terdapat kelompok-kelompok substansi kelabu atau ganglia basalis.
Korteks serebri yang mengandung pusat-pusat pengontrol mental, tingkah laku, pikiran,
kesadaran, moral, kemauan, kecerdasan, kemampuan berbicara, bahasa, dan beberapa perasaan
khusus.
Fisura-fisura dan ulkus-ulkus membagi hemisfer otak menjadi beberapa daerah.Korteks serebri
bergulung-gulung dan terlipat secara tidak teratur, sehingga memungkinkan luas permukaan substansi
kelabu bertambah.Lekukan diantara gulungan-gulungan disebut sulkus, dan sulkus yang paling dalam
membentuk fisura longitudinal dan lateralis.Fisura dan sulkus membagi otak dalam beberapa daerah
atau lobus yang letaknya sesuai dengan tulang yang berada di atasnya, seperti lobus frontal, temporalis,
parietalis, dan oksipitalis.
Pada orang-orang yang lazim menggunakan anggota badannya yang sebelah kanan, daerah
Broca terletak pada sisi kiri hemisfer, sebaliknya pada orang-prang kidal, Daerah Broca terletak pada sisi
kanan hemisfer. Korteks sensorik terletak persis di belakang sulkus sentralis.Berbagai sifat perasaan
dirasakan dan ditafsirkan pada bagian ini.Daerah auditorik (pendengaran) terletak pada lobus
temporalis, persis di bawah fisura longitudinalis.Di sini kesan atas suara diterima dan ditafsirkan. Daerah
visual (penglihatan)terletak pada ujung lobus oksipitalis yang menerima bayangan serta kesan-kesan
untuk ditafsirkan. Pusat pengecapan dan penciuman terletak agak sebelah depan pada lobus temporalis.

2. Talamus
Thalamus menerima semua informasi sensorik yang dating (kecuali bau) dan secara berturut-
turut menyampaikan informasi tersebut melalui berbagai traktus aferen ke bagian lain korteks
serebri.Serabut desendens dari korteks serebri juga berjalan ke bawah menuju thalamus.fungsi korteks
serebri bergantung pada penyampaian thalamus.Tahalamus juga merupakan bagian dari system aktivasi
reticular (RAS), suatu kelompok neuron yang luas yang penting dalam membuat individu
terjaga.Thalamus menerima informasi nyeri dan menyampaikannya ke korteks serebri.

3. Hipotalamus
Hipotalamus membentuk dasar diensefalon.Hipotalamus merupakan organ saraf dan endokrin
penting yang bertanggung jawab untuk mempertahankan homeostasis (kestabilan lingkungan
internal).Hipotalamus mengintegrasikan dan mengarahkan informasi mengenai pengaturan suhu tubuh,
lapas, dan haus, aktivitas system saraf otonom, dan status emosi. Pengaturan kadar beberapa hormone
termasuk hormone hipofisis.

4. Ganglia Basalis
Beberapa kelompok kecil substansi kelabu yang disebut ganglia atau nuclei basalis terbenam
dalam massa substansi putih pada setiap hemisfer otak. Ganglia basalis tersusun dari beberapa struktur
yang dapat dipisahkan secara anatomis atau fisiologis, yang mencakup nucleus kaudatus dan putamen,
dan globus palidus. Struktur ini berhubungan erat dengan massa substansi kelabu yang lain, yaitu
thalamus yang terletak ditengah-tengah struktur itu. Semua proyeksi ked an dari ganglia basalis melalui
thalamus. Ganglia basalis penting untuk menginhibisi gerakan yang tidak perlu, mengontrol gerakan
yang sangat terampil yang memerlukan pola dan kecepatan respons tanpa pemikiran yang
disengaja.Ada kemungkinan besar sitem nucleus dan serabut ini, yang merupakan system ekstra-
piramidal, mempengaruhi tonus dan sikap tubuh, menyatukan danmenyesuaikan gerakan-gerakan otot
sadar utama, yang merupakan tugas jalur motoric desendens yang besar, atau system pyramidal.
Gangguan pada daerah-daerah ini menyebabkan tremor atau gemetaran pada saat tidak
bergerak, gerakan akan menjadi kaku,contohnya penyakit Parkonson atau paralisis agitans. KaCPula
interna terbentuk oleh berkas-berkas serabut motoric dan sensorik yang menyambung korteks serebri
dengan batang otak dan sumsum tulang belakang. Pada saat melintasi pulau-pulau substansi kelabu,
berkas-berkas saraf ini berpadu satu sama lain dengan eratnya. Thrombosis arteri yang melayani
kaCPula interna dapat menimbulkan kerusakan pada salah satu sisi tubuh (hemiplegia); kerusakan
serebro-vaskuler seperti itu disebut stroke.
5. Batang otak
Batang otak terdiri atas otak tengah (diensefalon), pons Varoli dan medulla Oblongata.Otak
tengah mengandung pusat-pusat yang mengendalikan keseimbangan dan gerakan-gerakan mata.Pons
Varoli memiliki banyak serabut yang berkalan menyilang pons untuk menghubungkan kedua lobus
serebelum dan menghubungkan ke korteks serebri.Medulla oblongata mengandung nucleus atau badan
sel dari berbagai saraf otak yang penting.Selain itu, medulla oblongata mengandung pusat-pusat vital
yang berfungsi mengendalikan pernapasan dan sistem kardiovaskuler.

6. Serebelum
Serebelum adalah bagian terbesar dari otak belakang.Serebelum mempunyai hubungan dengan
berbagai bagian lain system persyarafan. Tetapi hubungannya yang terutama adalah dengan hemisfer
serebri pada sisi yang lain dengan batang otak. Selain itu, serebelum menerima serabut dari sumsum
tulang belakang dan berhubungan dengan pusat-pusat reflex penglihatan pada atap otak tengah
(diensefalon), dengan thalamus, dengan serabut-serabut saraf pendengaran.
Fungsi serebelum adalah mengatur sikap dan aktivitas sikap badan.Serebelum berperan penting
dalam koordinasi otot dan menjaga keseimbagan.Bila serabut kortiko-spinal yang melintas dari korteks
serebri ke sumsum tulang belakang mengalami penyilangan, dan dengan demikian mengendalikan
gerakan sisi lain tubuh, hemisfer, serebeli mengendalikan tonus otot dan sikap pada sisinya sendiri.
Cedera unilateral pada serebelum mengakibatkan gangguan pada sikap dan tonus otot, gerakan
sangat tidak terkoordinasi.Seorang pasien yang mengalami gangguan tersebut mungkin tidak sanggup
memasukkan makanan ke mulutnya sendiri, terombang-ambing sewaktu berjalan, dan cenderung jatuh
kea rah sisi badan yang mendapat cedera. Semua gerakan sadar dan otot-otot anggota badan menjadi
lemah, dan cara bicara pun lambat.

7. System Limbik
System limbic adalah kelompok difus neuron dari area yang berbeda di otak .neuron di system
limbic meliputi serabut dari semua lobu otak depan dan hubungan yang luas dari hipotalamus dan
thalamus. Area otak tengah dan otak belakang juga mengirimkan proyeksi yang membentuk system
limbic, hipokampus dianggap sebagai bagian system limbic dan berperan penting dalam memberi kode
dan mengonsolidasi memori.Amigdala yang juga dianggap sebagia bagian system limbic, terlibat dalam
pembentukan emosi, agresi, dan perilaku seksual.Belajar dan perilaku juga dipengaruhi oleh bebrapa
system limbic dan hubungan saraf-saraf otak.
Penyakit atau kerusakan pada saraf otak menyebabkan timbul gejala-gejala sebagai berikut:
1. Kehilangan daya penciuman
2. Penglihatan kabur atau hilang
3. Penglihatan rangkap, juling
4. Rasa sakit yang persisten (terus-menerus) pada wajah, atau rasa kaku pada wajah bila diadakan
langkah-langkah pembedahan guna meringakan rasa sakit yang persisten itu, sakit gigi dan
pengunyahan lemah.
5. Paralisa otot wajah
6. Tinnitus atau pekak, pusing vestibular, kehilangan keseimbangan
7. Kesulitan menelan
8. Lidah lemah, yang menyebabkan sulit mengunyah dan bicara.

2. Sawar Darah Otak


Sawar darh-otak adalah struktur unik system vascular otak yang mencegah lewatnya material dari darah
ke cairan serebrospinal di otak.Sawar darah-otak terbentuk dari sel endotel yang berikatan erat kapiler otak
dan dari sel yang melapisi ventrikel yang membatasi difusi dan filtrasi. Fungsi transport khusus mengatur
cairan yang keluar dari sirkulasi umum untuk membasahi sel otak. Banyak obat dan sat kimia tidak dapat
menembus sawar darah-otak.

3. Aliran Darah Otak dan Metabolism Otak


Otak menerima sekitar 15% curah jantung. Tingginya kecepatan aliran darah ini diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan otak yang terus-menerus tinggi akan glukosa dan oksigen. Otak bersifat unik karena
otak biasanya hanya menggunakan glukosa sebagai sumber untuk fosforilasi dan produksi ATP. Tidak seperti
sel yang lain. Sel otak tidak menyimpan glukosan sebagai glikogen; dengan demikian otak harus secara terus-
menerus menerima oksigen dan glukosa melalui aliran darah otak.Deprivasi oksigen selama 5 menit dan
deprivasi glukosa selama 15 menit, dapat menyebabkan kerusakan otak yang signifikan. Fungsi otak sangat
bergantung pada aliran darah, sehingga mungkin untuk mengidentifikasi bagian otak mana yang melakukan
tugas apa dengan mengukur aliran darah otak selama aktivitas otak yang spesifik.

4. Tekanan Intrakranial
Tekanan di dalam cranium disebut tekanan intracranial (TIK).TIK ditentukan oleh volume darah di otak,
volume CSS, dan volume jaringan otak.Dalam keadaan normal, TIK berkisar dari 5 sampai 15 mmHG.

5. Hemisfer Otak
1. Gangguan pada serebrum
Penyakit atau kerusakan yang timbul setelah cedera atau yang menyusul kecelakaan
serebrovaskuler pada otak, tergantung daerah dan neuron yang terserang: bias menyerang saraf
motoric dan sensorik yang berjalan melalui kaCPula interna dalam perjalanannya ke dan dari otak.
Paralisa motoric jenis spastic; dengan gejala kaku otot dan reflex meninggi, merupakan akibat
dari neuron atas yang terkena cedera.Hemiplegic hanya dapat menyerang lengan dan tungkai sebelah
saja, sedangkan otot wajah, kepala, leher, dan badan- kendati badan kering tidak terkena mungkin
terserang juga.
Paralisa sensorik sebagai akibat cedera pada jalur sensorik. Gerak reflex tidak normal,
ketidaknormalan ini melibatkan juga reflex organic pupil mata yang mengalami kontraksi atau tidak
dapat berkontraksi, reflex kandung kemih yang terserang menyebabkan paralisa sfingter, dan dinding
kandung kemih mengalami retensi urin yang melebihi daya tampung sehingga meluap; selain itu rectum
dapat terserang juga dengan akibat adanya gangguan reflex defekasi.
2. Spastisitas dan kekakuan
Pada saat keadaan paralisis berlalu, otot mendapat kembali tonusnya, kendati masih
lemah.Anggota gerak yang terserang menjadi spastik dan kaku. Gerak reflex terjadi, khususnya pada
bagian yang mempunyai hubungan dengan kelompok otot fleksor dan abductor, walaupun tidak terdapat
pengendalian sadar atas gerakan ini.Kemampuan pengendalian sadar hilang.Pada tahap ini ada
kemungkinan terjadi deformitas.
3. Ensefalitis
Ensefalitis adalah peradangan pada jaringan otak, yang biasanya disebabkan infeksi virus.
4. Meningitis
Meningitis adalah peradangan pada selaput otak.
5. Kraniotomi
Kraniotomi adalah melubangi tengkorang, yang umumnya dilaksanakan bila terdapat tumor, darah, atau
gumpalan darah, ataupun fraktur yang dapat menekan otak.

2.3 Definisi, Etiologi dan Patogenesis


Menurut consensus internasional 2006 palsi serebral adalah suatu kelainan gerakan dan postur tubuh yang
tidak progresif karena suatu kerusakan/gangguan pada sel-sel motoric di susunan saraf pusat yang sedang
tumbuh/belum selesai pertumbuhannnya.

Cerebral palsy ialah suatu keadaan kerusakan jaringan otak yang kekal dan tidak progresif, terjadi pada
waktu masih muda (sejak dilahirkan) dan merintangi perkembangan otak normal dengan gambaran klinis dapat
berubah selama hidup dan menunjukkan kelainan dalam sikap dan pergerakan, disertai kelainan neurologis berupa
kelumpuhan spastis, gangguan ganglia basal dan sebelum dan kelainan mental.

Didalam kamus keperawatan palsi serebral adalah kelainan kontrol motoric yang disebabkan oleh defek
prenatal, hipoksia atau cedera lahir.

Etiologi yang pasti sulit diketahui, karena kadang-kadang terdapat lebih dari satu etiologi.Karena itu, diperlukan
anamnesis dan pemeriksaan yang teliti.Palsi serebral dapat disebabkan oleh faktor genetic atau pun faktor
lainnya.Apabila ditemukan lebih dari satu anak dalam satu keluarga yang menderita kelainan ini, kemungkinan besar
penyebabnya adalah faktor genetik.

Penyebabnya dapat dibagi dalam 3 bagian, yaitu prenatal, perinatal dan postnatal.

1. Pranatal
Infeksi terjadi dalam masa kandungan, menyebabkan kelainan pada janin, misalnya oleh lues,
toksoplasmosis, rubella dan penyakit inklusi sitomegalik.Kelainan yang menyolok biasanya gangguan
pergerakan dan retardasi mental.Anoksia dalam kandungan, terkena raddiasi sinar-X dan keracunan kehamilan
dapat menimbulkan cerebral palsy.

2. Perinatal
a. Anoksia/ hipoksia
Penyebab yang terbanyak ditemukan dalam masa perinatal ialah brain injury.Keadaan inilah yang
menyebabkan terjadinya anoksia.Hal ini terdapat pada keadaan presentasi bayi abnormal, disproporsi
sefalo-pelvik, partus lama, plasenta previa, infeksi plasenta, partus menggunakan bantuan instrument
tertentu dan lahir dengan seksio sesaria.
b. Perdarahan otak
Perdarahan dan anoksia dapat terjadi bersama-sama, sehingga sukar membedakannya, misalnya
perdarahan yang mengelilingi batang otak, mengganggu pusat pernafasan dan peredaran darah
sehingga terjadi anoksia. Perdarahan dapat terjadi di ruang subarachnoid akan menyebabkan
penyumbatan CSS sehingga mengakibatkan hidrosefalus. Perdarahan di ruang subdural dapat menekan
korteks serebri sehingga timbul kelumpuhan spastis.
c. Prematuritas
Bayi kurang bulan mempunyai kemungkinan menderita perdarahan otak lebih banyak dibandingkan bayi
cukup bulan, karena pembuluh darah, enzim, factor pembekuan darah dan lain-lain masih belum
sempurna.
d. Icterus
Icterus pada masa neonates dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak yang kekal akibat masuknya
bilirubin ke ganglia basal, misalnya pada kelainan inkompatibilitas golongan darah.
e. Meningitis purulenta
Meningitis purulenta pada masa bayi bila terlambat atau tidak tepat pengobatannya akan
mengakibatkan gejala sisa berupa cerebral palsy.

3. Postnatal

Setiap kerusakan pada jaringan otak yang mengganggu perkembangan dapat menyebabkan cerebral
palsy.Misalnya pada trauma kapitis, meningitis, ensefalitis dan luka parut pada otak pasca-operasi.
2.2.1 Faktor risiko palsi serebral
1. Faktor ibu
a. Siklus menstruasi yang panjang
b. Riwayat keguguran sebelumnya
c. Riwayat bayi lahir mati
d. Ibu dengan retardasi mental
e. Ibu dengan penyakit tiroid terutama defisiensi yodium
f. Kejang pada ibu
g. Riwayat melahirkan anak dengan berat badan kurang dari 2000 gram
h. Riwayat melahirkan anak dengan defisit motorik, retardasi mental atau defisit sensori

2. Faktor prenatal
a. Polihidramnoin
b. Ibu dalam pengobatan hormone tiroid, estrogen atau progesteron
c. Ibu dengan proteinuria berat atau hipertensi
d. Ibu terpapar merkuri
e. Multiple/malformasi kongenital mayor pada bayi/ kelainan genetik
f. Bayi laki-laki/kehamilan kembar
g. Perdarahan pada trimester ketiga kehamilan
h. Bayi dengan retardasi pertumbuhan intrauterin (IUGR)
i. Infeksi virus kongenital
j. Radiasi
k. Asfiksia intrauterine (abrupsio plasenta, plasenta previa, maslah lain pada plasenta, anoksia
maternal, kelainan umbilicus, ibu hipertensi, toksemia gravidarum)
l. DIC oleh karena kematian prenatal pada salah satu bayi kembar

3. Faktor perinatal
a. Bayi prematur; umur kehamilan kurang dari 30 minggu
b. Berat badan lahir kurang dari 1500 gram
c. Korioamnionitis
d. Bayi bukan letak kepala
e. Asfiksi perinatal berat
f. Keadaan hipoglikemia lama atau menetap
g. Kelainan jantung bawaan sianosis

4. Faktor pascanatal
a. Infeksi (meningitis, ensefalitis yang terjadi pada 6 bulan pertama kehidupan)
b. Perdarahan intracranial (pada bayi prematur, malformasi pembuluh darah atau trauma kepala)
c. Leukomalasi periventricular
d. Hipoksik-iskemik (pada aspirasi meconium), HIE (hipoksik-iskemik ensefalopati)
e. Kern-ikterus
f. Persistent fetal circulation atau persistent pulmonary hypertention of the newborn
g. Penyakit metabolik
h. Racun: logam berat, gas CO

Sumber: Zeldin dkk, 2011 dan Kini RP, 2009 dengan modifikasi

Kelainan kromosom atau pengaruh zat teratogen, yang terjadi pada 8 minggu pertama kehamilan, dapat
berpengaruh pada proses embryogenesis, sehingga dapat menyebabkan kelainan yang berat. Pengaruh zat teratogen
setelah trimester pertama akan mengganggu maturasi otak. Infeksi pada janin, yang terjadi pada masa pertumbuhan
janin, akan mengakibatkan kerusakan pada otak. Kejadian hipoksik-iskemik dapat mengakibatkan kelainan
mikroanatomi sekunder akibat dari gangguan migrasi neural crest.Komplikasi perinatal tipe hipoksik-iskemik dapat
mengakibatkan iskemik atau infark otak.Bayi prematur sangat rentan terhadap kemungkinan terjadinya kondisi ini.

Semakin canggih unit perawatan intensif neonatal, semakin tinggi angka kejadian palsi serebral, sehingga
dikatakan bahwa palsi serebral adalah produk sampah dari suatu kemajuan unit perawatan intensif neonatal.
Penyebab pascanatal antara lain adalah infeksi, meningoensefalitis, trauma kepala. Racun-racun yang berasal dari
lingkungan seperti gas CO atau logam berat dapat juga mengakibatkan palsi serebral.

2.2.2 Klasifikasi

a. Berdasarkan gejala klinis


Frekuensi
NO Tipe
Subgrup Seluruhnya
1 Spastik 50%
Monoparesis Jarang
Hemiparesis 5:10
Kongenital (3:10)
Pascanatal (1:10)
Diplegia (paraparesis) 2:10
Triplegia Jarang
Kuadriplegia (tetraplegia) 3:10
2 Athetoid (diskinetik, distonik) 20%
3 Rigid 4%
4 Ataksia 1%
5 Tremor Jarang
6 Atonik/hipotonik Jarang
7 Campuran 25%
Spastik-athetoid 2:3
Rigid-spastik 1:3
Spastik-ataksik Jarang

b. Berdasarkan derajat kemampuan fungsional


1. Ringan
Penderita masih dapat melakukan pekerjaan/aktivitas sehari-hari, sehingga hanya sedikit membutuhkan
bantuan.
2. Sedang
Aktivitass sangat terbatas sekali.Penderita membutuhkan bermacam-macam bantuan/pendidikan khusus
agar dapat mengurus dirinya sendiri, bergerak, atau berbicara, sehingga dapat bergaul di tengah
masyarakat dengan baik.
3. Berat
Penderita sama sekali tidak bisa melakukan aktivitas fisik dan tidak mungkin hidup tanpa pertolongan
orang lain. Pendidikan atau latihan khusus sangat sedikit hasilnya. Sebaiknya penderita seperti ini
ditapung pada tempat perawatan khusus, terutama jika disertai dengan retardasi mental atau yang
diperkirakan akan menimbulkan gangguan sosial-emosional, baik bagi keluarga maupun lingkungannya.

Palisano dkk, juga membagi berdasarkan derajat kemampuan fungsional palsi serebral seperti:
Gambaran umum kelompok usia 4-6 tahun
Tingkat I penderita dapat berjalan tanpa batasan
Tingkat II penderita dapat berjalan dengan batasan
Tingkat III penderita dapat berjalan dengan alat bantu tongkat
Tingkat IV penderita dapat memobilisasi diri sendiri dengan batasan, dapat menggunakan
kursi roda otomatis
Tingkat V penderita menggunakan kursi roda yang dikendalikan orang lain

c. Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan palsi serebral dapat dinilai dari fungsi motoric yang dapat
dilakukan oleh penderita (Kuban dkk, 2008). Hal tersebut dilakukan dengan menggunakan gross motor
function classification system-expanded and revised (GMFCS ER). Pada prinsipnya, GMFCS ER melakukan
klasifikasi berdasarkan kemampuan penderita dalam melakukan inisiasi gerak motor sendiri. Klasifikasi
tersebut dibagi menjadi dua kelompok umur, yaitu untuk anak kurang dari 2tahun, dan untuk anak diatas 2
tahun.

2.3 Patologi Anatomi

Kelainan tergantung dari berat ringannya asfiksia yang terjadi pada otak.Pada keadaan yang berat tampak
ensefalomalasia kistik multiple atau iskemia yang menyeluruh. Pada keadaan yang lebih ringan terjadi patchy
necrosis di daerahparaventrikular substansia alba dan dapat terjadi atrofi yang difus pada substansia grisea korteks
serebri. Kelainan tersebut dapat fokal atau menyeluruh tergantung tempat yang terkena.

2.4 Gejala Klinis


Gangguan motoric berupa kelainan fungsi dan lokalisasi motoric yang menyulitkan gambaran klinis cerebral
palsy.

Kelainan fungsi motoric terdiri dari:

1. Spasitisitas
Terdapat peninggian tonus otot dan reflex yang disertai dengan klonus dan reflex Babinski yang
positif. Tonus otot yang meninggi itu menetap dan tidak hilang meskipun penderita dalam keadaan tidur.
Peninggian tonus ini tidak sama derajatnya pada suatu gabungan otot, karena itu tampak sikap yang khas
dengna kecenderungan terjadi kontraktur, misalnya lengan dalam aduksi,fleksi pada sendi siku dan
pergelangan tangan dalam pronasi serta jari-jari dalam fleksi sehingga posisi ibu jari melintang ditelapak
tangan. Tungkai dalam sikap aduksi, fleksi pada sendi paha dan lutut, kaki dalam fleksi plantar dan telapak
kaki berputar ke dalam.
Tonic neck refleks dan reflex neonatal menghilang pada waktunya. Kerusakan biasanya terletak di
traktus kortikospinalis.Golongan spastisitas ini meliputi 2/3 penderita cerebral palsy. Bentuk
kelumpuhan spastisitas tergantung kepada letak dan besarnya kerusakan, yaitu:
Monoplegia/ monoparesis : kelumpuhan keempat anggota gerak, tetapi salah satu anggota gerak
lebih hebat dari yang lainnya.
Hemiplegia/ hemiparesis : kelumpuhan lengan dan tungkai di pihak yang sama.
Diplegia/ diaparesis : kelumpuhan keempat anggota gerak, tetapi tungkai lebih hebat
daripada lengan.
Tetraplegia/ tetraparesis : kelumpuhan keempat anggota gerak, tetapi lengan lebih atau sama
hebatnya dibandingkan dengan tungkai.

2. Tonus otot yang berubah


Bayi pada golongan ini pada usia bulan pertama tampak flasid dan berbaring seperti kodok terlentang,
sehingga tampak seperrti kelainan pada lower motor neuron. Menjelang umur 1 tahun barulah terjadi
perubahan tonus otot dari rendah hingga tinggi.Bila dibiarkan berbariing tampak flasid dan sikapnya seperti
kodok terlentang, tetapi bila dirangsang atau mulai diperiksa tonus ototnya berubah menjadi spastis. Reflex
otot yang normal dan reflex Babimski negative, tetapi yang khas adalah reflex neonatal dan tonic neck
refleks menetap. Kerusakan biasanya terletak di batang otak dan disebabkan oleh asfiksia perinatal atau
icterus.Golongan ini meliputi 10-20% dari kasus cerebral palsy.

3. Koreo-atetosis
Kelainan yang khas ialah sikap yang abnormal dengan pergerakan yang terjadi dengan sendirinya
(involuntary movement). Pada 6 bulan pertama tampak bayi flasid, tapi sesudah itu barulah muncul
kelainan tersebut. Reflex neonatal menetap dan tampak adanya perubahan tonus otot. Dapat timbul juga
gejala spastisitas dan ataksia. Kerusakan terletak di ganglia basal dan disebabkan oleh asfiksia berat atau
icterus kern pada masa neonates. Golongan ini meliputi 5-10% dari kasus cerebral palsy.

4. Ataksia
Ataksia adalah gangguan koordinasi.Bayi dalam golongan ini biasnya flasid dan menunjukkan
perkembangan motoric yang terlambat.Kehilangan keseimbangan tampak bila mulai belajar duduk.Mulai
berjalan sangat lambat dan semu pergerakan canggung dan kaku.Kerusakan terletak di serebelum. Terdapat
kira-kira 5% dari kasus cerebral palsy.

5. Gangguan pendengaran
Terdapat pada 5-10% anak dengan cerebral palsy. Gangguan berupa kelainan neurogen terutama
persepsi nada tinggi, sehingga sulit menangkap kata-kata.Terdapat pada golongan koreo-atetosis.
6. Gangguan bicara
Disebabkan oleh gangguan pendengaran atau retardasi mental.Gerakan yang terjadi dengan
sendirinya di bibir dan lidah menyebabkan sukar mengontrol otot-otot tersebut sehingga anak sulit
membentuk kata-kata dan sering tampak anak berliur.

2.5 Komplikasi
Palsi serebral sering pula disertai adanya kelainan bukan motoric, seperti retardasi mental, stabusmus dan
gangguan pendengaran, serta kelainan tangka laku, misalnya hiperiritabilitas atau gangguan pemusatan perhatian.
Komplikasi atau penyakit penyerta tersebut perlu mendapat perhatian khusus, karena komplikasi dapat
mengakibatkan perburukan kondisi anak. Anak dengan palsi serebral sering mengalami keuslitan belajar yang khusus,
seperti kesulitan membaca (disleksia), matematik, atau masalah khusus lainnya tampak saat anak mencapak usia
sekolah tetapi sering sulit diprediksi.

Kondisi Komplikasi Perawatan


Control neurologis abnormal Kurangnya control selektif dari Sendi dan jaringan sekitarnya
aktivitas otot dan regulasi antisipasi harus dilindungi selama
pergerakan, termasuk
menghindari cedera kepala
Sensasi dan persepsi abnormal Beberapa anak memiliki gangguan Sarung tangan dibutuhkan untuk
sensai terhadap sentuhan dan nyeri menghindari kerusakan terdapa
dengan atau tanpa astereognosis jari dan tangan
Gangguan gastrointestinal (missal: Disebabkan karena pengosongan Gunakan laksatif. Tingkatkan
muntah, konstipasi,atau obstruksi lambung yang terlambat, control asupan cairan dan serat dengan
usus) autonomi mobilitas gastrointestinal atau tanpa laksatif
abnormal, imobilisasi, asupan oral
tidak adekuat, dan transit kolon
berkepanjangan
Abnormalitas pendengaran dan Anak dapat mengalami strabismus Periksa dari awal dan periodic
penglihatan atau hemianopia. Defek visual
terjadi pada 25-39% pasien dewasa.
8-18% dewasa dengan cerebral
palsy mengalami gangguan
pendengaran
Fungsi oral-motor terganggu Dapat menyebabkan hipoksemia, Untuk kesulitan makan, berikan
kontraktur sendi diet khusus, posisi yang baik,
temporomandibular, muntah, dan teknik memberikan makan baru,
pneumonia aspirasi yang gastrotomi, atau makan melalui
berhubungan dengan refluks selang nasogastric.
gastroesofageal, nutrisi buruk, gagal Pengobatan, operasi, dan
tumbuh, ngiler, dan kesulitan biofeedback telah digunakan
komunikasi untuk mengontrol ngiler.
Terapi wicara dan penggunaan
computer dapat membantu
mengatasi gangguan
komunikasi.
Massa tulang berkurang signifikan Dapat menyebabkan osteopenia, Nilai kondisi klinis dengan
pada dewasa dan anak-anak yang osteoporosis, fraktur, scoliosis, atau pemeriksaan fisik dan radiografi.
tidak dirawat nyeri Gunakan medikasi, vitamin, dan
suplemen untuk mengurangi
penurunan massa tulang.
Lakukan olahraga.
Gunakan alat bantu untuk
memantau nyeri. Nyeri diterapi
secara baik.
Kesehatan mental Gangguan kognitif terdapat pada Usahakan kemandirian dan
2/3 pasien dengan cerebral palsy fungsionalitas dengan
akomodasi, transportasi,
olahraga, bantuan mekanikal,
atau kesempatan kerja.
Sediakan konseling untuk
tantangan emosional dan
psikologis.
Pantau untuk pengobatan yang
diperlukan
Kejang Setengah dari anak-anak dengan Pantau dan control dengan
cerebral palsy mengalami kejang pengobatan
Kontraktur dan spastisitas Spastisitas menyebabkan terjadinya Cegah dengan terapi fisik
peregangan oto dan tendon. dengan atau tanpa alat ortotik
Akibatnya otot tidak berkembang Tatalaksana dengan obat,
sesuai dengan perkembangan operasi, atau stimulasi serebral
tulang, sehingga terjadi kontraktur Nilai kondisi klinis dengan
dan kesulitan pergerakan motoric pemeriksaan fisik dan radiografi
kasar. Nyeri disebabkan oleh Gunakan alat bantu untuk
dislokasi panggul, pemakanian memantau nyeri
terlalu sering, dan penyakit sendi Nyeri diterapi
degenerative.
Inkontinensia urin Disebabkan karena gangguan Olahraga khusus
control otot kandung kemih Biofeedback
Obat-obatan
Operasi
Alatyang diimplantasi secara
bedah untuk mengganti atau
membantu otot
Pakaian yang didesain khusus

2.4 Penatalaksanaan

Menangani anak degnan palsi serebral, harus diperhatikan berbagai aspek dan diperlukann kerjasama
multidisiplin seperti disiplin anak, saraf, mata, THT, bedah ortopedi, bedah saraf, psikologi, rehabilitasi medis, terapis
(fisio, okupasi, wicara), pekerja social, dan guru sekolah luar biasa. Selain itu, disertakan peranan orangtua dan
masyarakat

1. Aspek medis
a. Aspek medis umum :
Gizi yang baik perlu bagi setiap anak, khususnya penderita palsi serebral karena sering mengalami
kelainan pada gigi, kesulitan menelan dan anak sukar menyatakan keinginan untuk makan.Pemantauan
rutin kenaikan berat badan anak sangat perlu.

Kondisi Komplikasi Perawatan


Kontrol neurologis abnormal Kurangnya kontrol selektif dari Sendi dan jaringan sekitarnya
aktivitas otot dan regulasi harus dilindungi selama
antipasi pergerakan, termasuk
menghindari cedera kelapa
Sensasi dan persepsi abnormal Beberapa anak memiliki Sarung tangan dibutuhkan
gangguan sensasi terhadap untuk menghindari kerusakan
sentuhan dan nyeri atau tanpa terhadap jari dan tangan
astereognosis
Gangguan gastrointestinal Disebabkan pengosongan Gunakan laksetif, tingkatkan
(missal : muntah, konstipasi, lambung yang terlambat, asupan cairan dan serat
atau obstruksi usus) kontrol autonomi mobilitas degnan atau tanpa laksatif
gastrointestinal abnormal,
imobilisasi, asupan oral tidak
adekuat, dan transit kolon
berkepanjangan
Abnormalitas pendengan dan Anak dapat mengalami Periksa dari awal dan periodic
penglihatan strabismus atau hernianopia.
Defek visual terjadi pada 25-
39% pasien dewasa, 8-18%
dewasa dengan palsi serebral
mengalami gangguan
pendengaran
Fungsi oral-motor terganggu Menyebabkan hipoksemia, - Untuk kesulitan makan
kontraktur sendi, berikan diet khusus,
temporomandibular, muntah posisi yang baik. Teknik
dan pneumonia aspirasi yang memberikan makan baru,
berhubungan dengan refluks gastrotomi atau makan
gastroesofageal, nutrisi buruk, melalui selang
gagal tumbuh, ngiler dan nasogastric
kesulitan berkomunikasi - Pengobatan, operasi dan
biofeedback telah
digunakan untuk
mengontrol ngiler
- Terapi wicara dan
penggunaan computer
dapat membantu
mengatasi gangguan
komunikasi
Massa tulang berkurang Menyebabkan osteopenia, - Nilai kondisi klinis dengan
signifikan pada dewasa dan osteoporosis, fraktur, scoliosis pemerisaan fisik dan
anak-anak yang tidak dirawat atau nyeri radiografi. Gunakan
medikasi vitamin dan
suplemen mineral untuk
mengurangi penurunan
massa tulang
- Lakukan olahraga
- Gunakan alat bantu untuk
memantau nyeri
Kesehatan mental Gangguan kognitif terdapat - Usahakan kemandirian
pada 2/3 pasien dengan palsi dan fungsionalitas dengan
serebaral. Neurosis dan psikosis akomodasi, transportasi,
dapat terjadi olahraga, bantuan
mekanikal atau
kesempatan kerja
- Sediakan konseling untuk
tantangan emosional dan
psikologis
- Pantau untuk pengobatan
yang diperlukan

Kejang Setengah dari anak-anak - Pantau dan kontrol


dengan palsi serebral dengan pengobatan
mengalami kejang
Kontraktur dan spastisitas Spastisitas menyebabkan - Cegah dengan terapi fisik
terjadinya peregangan otot dan dengan atau tanpa alat
tendon. Akibatnya, otot tidak ortotik
berkembang sesuai dengan - Tatalaksana dengan obat,
perkembangan tulang, sehingga operasi atau stimulasi
terjadi kontraktur dan kesulitan serebral
pergerakan motoric kasar. Nyeri - Nilai kondisi klinis dengan
disebabkan dislokasi panggul, pemeriksaan fisik dan
pemakaian terlalu sering dan radiografi
penyakit sendi degeratif. - Gunakan alat bantu untuk
memantau nyeri
- Nyeri diterapi

Inkontinensia urin Disebabkan gangguan kontrol - Olahraga khusus


kandung kemih - Biofeedback
- Obat-obatan
- Operasi
- Alat yang diimplantasi
secara bedah untuk
mengganti atau
membantu otot
- Pakaian yang didesain
khusus

Perawatan kesehatan rutin perlu dilaksanakan, seperti imunisasi, pengobatan ketika nyeri, menjaga kebersihan
personal dan lainnya.

b. Terapi obat-obatan
Farmakologi untuk pengobatan spastisitas pada palsi serebral diberikan dengan tujuan terapi
local dan umum. Spastisitas local diterapi dengan cara menyuntikkana toksin botulinium tipe A (botox
A). cara kerja botox Aadalah berikatan dengan reseptor terminal di saraf motoric yang kemudian
menghambat pelepasan asetilkolin, sehingga menghambat transmisi impuls pada jaringan
neuromuscular. Penyuntikan botox A pada ekstrimitas atas terbukti dapat mengurangi spastisitas selama
1 sampai 3 bulan, sedangkan ekstrimitas bawah dibutuhkan dosisi lebih besar. Penyuntikan dilakukan
pada otot yang sapstis dan sedekat mungkin dengan motor endplate.Efek samping terapi ini adalah
nyeri pada lokasi penyuntikan, kelemahan yang berlebihan, ketidakstabilan, dan juga bisa terjadi
inkontinensia urin dan disfagi.
Pada anak palsi serebral dengan spastisitas umum, diberikan farmakoterapi, antara lain golonga
antiparkinson, antispastisitas, antikonvulsan, antidopamin, dan antidepresan. Baclofen oral walaupun
asih kontroversial dalam mengurangi spastisitas telah digunakan para klinisi. Efek samping baclofen
antara lain adalah sakit kepala, muntah, disorientasi, agitas, dan irritabilitas.

Golongan Obat Nama Obat Cara Kerja


Muscle relaxants Baclofen dan trolene Analog GAB menghambat
influks Ca dan
menghambat pelepasan
neurotransmitter
Benzodiazepines Diazepam Menekan SSp dengan
terikat pada reseptor GABA
Anticholinergic Agents Trihexyphenidyl Menghambat aktivitas
koligernik pusat, sehingga
dapat mengatasi tremor
Dopamine Prodrugs Levodopa Memblok impuls saraf
koligernik yang berfungsi
langsung pada otot
Anticonvulsant Agents Levitiracetam, Terminasi kejang secara
oxycarbazepine, valproic klinis dan elektrik serta
acid, phenobarbital mencegah berulangnya
kejang
Alpha1 Adrenergic Agonist Tizanidine Inhibisiglisin, menurunkan
Agents eksitasi asam amino dan
substansi P

Diazepam dapat diberikan peroral.Perbaikan terjadi setelah 3 minggu pemberian.Efek samping


pemberian jangka panjang memberikan efek samping mengantuk, hipersalivasi dasn kelemahan secara
umum. Diazepam direkomendasikan untuk pengobatan jangka pendek karena tidak cukup bukti bahwa
pemakaiannya jangka panjang dapat memperbaiki spastisitas

c. Terapi melalui pembedahan ortopedi


Membantu banyak hal, misalnnya tendon yang memendek akibat kekakuan/spastisitas otot, rasa
sakit yang terlalu mengganggu dan tidak dapat diatasi dengan fisioterapi.Tujuannya stabilitas, melemahkan
otot yang terlalu kuat atau memperbaiki fungsi.

d. Fisioterapi
Fisioterapi adalah terapi yang dilakukan dengan prinsip dasar memberikan situmulasi secara terus
menerus pada sel-sel saraf yang masih ada agar membentuk sinap dan selubung myelin selama
pertumbuhan otak yang tersisa, bertujuan agar sel-sel sarag yang tersisa daspat menggantikan fungsi sel-
sel sarag yang telah rusak.

- Teknik tradisional
Meliputi latihan rentang gerak sendi, stretching, latihan penguatan dan peningkatan daya tahan otot,
latihan duduk, latihan berdiri, latihan pindah, dan latihan jalan.
- Motor function training dengan menggunakan sitem khusus, dikelompokkan sebagai neuromuscular
facilitation exercise. Pada Lathan ini digunakan pengetahuan neurofisiologi dan neuropatologi dari
reflex, untuk mencapai suatu postur dan gerak yang dikehendaki. Konsep latihan berdasarkan
beberapa bentuk stimulasi, akan ditimbulkan reaksi otot yang dikehendaki kemduian bila ini dilakukan
berulang-ulang akan berintegrasi ke dalam pola gerak motoric yang bersangkutan.

e. Terapi okupasi
Latihan melakukan aktivitas sehari-hari, evaluasi penggunaan alat-alat bantu, latihan keterampilan tangan
dan aktivitas bimanual, dimaksudnkan agar menghasilkan pola dominan pada salah satu sisi hemisfer otak.

f. Ortotik
Digunakan brace dan bidai (splint), tongkat ketiiak, tripod, walker, kursi roda dan lainnya.
Terdapat pro dan kontra untuk program bracing ini, program ini bertujuan untuk :
- Menstabilkan terutama bracing untuk tungkai dan tubuh
- Mencegah kontraktur
- Mencegah kembalinya deformitas setelah operasi
- Membuat tangan lebih berfungsi

g. Terapi wicara
Terjadi 30-70%, gangguan bicara dapat berupa disfonia, disritmia, disartria, disfasia dan bentuk campuran
dan dilakukan ahli terapi wicara.

2. Aspek nonmedis

a. Pendidikan
Mengingat, selain kecacatan motoric, palsi serebral juga sering disertai kecacatan mental, pada
umumnya pendidikan anak memerlukan pendidikan khusus (SLB D).
b. Pekerjaan
Tujuan ideal suatu usaha rehabilitasi adalah penderita dapat bekerja secara produktif, sehingga dapat
berpenghasilan untuk membiayai hidupnya.Pemberian kesempatan kerja tetap diperlukan, agar dapat
membangkitkan harga diri bagi penderita yang bersangkutan.
c. Problem social
Bila terdapat masalah social, diperlukan pekerja social untuk membantu menyelesaikannya.
d. Lain-lain
Hal-hal lain seperti rekreasi, olahraga, kesenian dan aktivitas-aktivitas kemasyarakatan perlu juga
dilaksanakan oleh penderita palsi serebara..

3. Terapi alternative
Saat ini modalitas terapi yang berkembang adalah terapi sel punca (stem cell)/ Uji klinis dengan hewan
coba memperlihatkan hasil yang sangat menjanjikan. Pada prinsipnya kerusakan sel saraf kan
mengakibatkan terjadinya leukodistrofi yang membuat fungsi mielinasi menghilang, terapi sel puna
diharapkan dapat menggantikan sel-sel mielogenik secara langsung dengan memberikan sel oligodendrosit
dan sel-sel sarag lain yang dapat menunjang kehidupan sel tersebut, terutama untuk memproduksi enzim
dan membuat suasana yang kondusif.
Terapi alternative lain yang saat ini sedang diteliti adalah memberikan tatalaksana hiperbarik pada awal
proses palsi serebral. Diharapkan dapat memperbaiki otak yang rusak akibat terjadinya edem jaringan
akibat proses hipoksia. Pada prinsipnya, terapi ini memberikan kadar oksigen yang terlarut lebih tinggi.
Terapi ini masih banyak diteliti dan hasil didapatkan belum konsisten.

2.5 Prognosis

Menurut Lundi dkk (2009) prognosis anal palsi serebral bergantung pada umur dan tingkat kemampuan pasien
pada saat diagnosis ditegakkan. Anak tidak dapat duduk sampai umur 4 tahun, maka hamper 99% dapat dipastikan
anak tidak akan dpat berdiri atau berjalan. Anak tidak dapat mengontrol kepala sampai umur 1tahun, biasanya tidak
akan dapat berdiri atau berjalan dengan sempurna. Anak dapat duduk pada umur 2 tahun, maka hamper 100% anak
akan dapat duduk dan berjalan nantinya. Prognosis paling baik pada derajat fungsional ringan.Prognosis bertambah
berat apabila disertai retardasi mental, bangkitan kejang, gangguan penglihatan dan pendengaran.
Kesembuhan dalam arti regenerasi otak yang sesungguhnya tidak pernah terjadi pada palsi serebral. Namun,
akan terjadi perbaikan sesuai dengan tingkat maturitas otak yang sehat sebagai kompensasinya. Pada pengamatan
jangka panjang, terdapat tendensi perbaikan fungsi koordinasi dan fungsi motoric mengikuti bertambahnya umur anak
yang mendapat stimulasi dengan baik.
Prognosis anak palsi serebral juga dapat dinilai berdasarkan keberhasilan terapi.Pengukuran keberhasilan terapi
palsi serebral dapat dinilai dengan menurunnya tingkat keparahan penyakit berdasarkan GMFCS RE.

Management of motor problems in cerebral palsy: A critical update for the clinician

Manajemen rehabilitasi

1. Fisioterapi dan terapi okupasi


Fisioterapis dan terapis okupasi memiliki peran dalam meningkatkan kontrol motor pada anak dengan
CP. PT adalah manajemen andalan untuk defisit motor di CP, berfokus pada keterampilan motorik kasar dan
mobilitas fungsional. Positioning, duduk, transisi dari duduk ke berdiri, berjalan dengan atau tanpa alat bantu
dan orthoses.
OT berfokus pada motorik halus, visual-motor, dan pengolahan sensorik keterampilan yang dibutuhkan
untuk kegiatan dasar hidup sehari-hari seperti makan, berpakaian, dandan, toileting dan mandi; itu termasuk
pelatihan dalam keterampilan dan strategi untuk membantu anak-anak sekolah terkait mengkompensasi defisit
tertentu dalam tulisan tangan.Biasanya OT difokuskan pada aktivitas fungsional selektif intensif perkembangan
saraf Pengobatan dan program rumah combined. PL yang efektif pada anak-anak dengan hemiplegi
spastik.Selain itu, OT ditingkatkan fungsional hasil berikut Bont di tungkai atas anak-anak dengan CP15 dan
memberikan kontribusi untuk perbaikan yang signifikan dalam tubuh struktur, partisipasi kegiatan, dan self-
perception.
Namun, penelitian tentang managemen masih belum dipastikan karena miskinnya penelitiannya.

2. Pengobatan perkembangan saraf (NDT) Bobath


Metode tradisional yang paling populer digunakan untuk mengurangi pola abnormal gerakan dan postur
dan mempromosikan yang normal untuk mendapatkan maksimal fungsional, adalah pendekatan Bobath,
dikenal sebagai NDT.Berdasarkan teori hierarki refleks, NDT bertujuan untuk menormalkan nada otot,
menghambat refleks primitif dan abnormal dan memfasilitasi gerakan.Namun, tidak ada bukti ilmiah yang jelas
untuk membuktikan superioritas NDT teknik lebih baik dari yang lainnya. Sebuah penelitian tentang efektivitas
NDT ditunjukkan bahwa tidak memberi keuntungan atau alternatifn dalam mengubah respon motorik yang
abnormal, memperlambat atau mencegah kontraktur, atau memfasilitasiperkembangan motorik normal atau
kegiatan motorik fungsional, atau melakukan hasil NDT lebih intensif secara lebih benefit.

3. Pendidikan konduktif (CE)


CE adalah pendidikan dan terapi, berorientasi gabungan pendekatan untuk anak-anak dengan CP
dirancang oleh Andreas Peto di Hungaria sebagai metode terapi intensif dengan berbeda filsafat.Kelompok
homogen anak dengan motoric.Sebuah studi yang membandingkan PT individu atau OT dengan CE,
menunjukkan bahwa CE meningkatkan fungsi tangan koordinatif dan kegiatan sehari-hari.
4. Latihan terapi
Beberapa jenis olahraga terapi dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan motorik anak. Pasif
peregangan, dilakukan secara manual atau dengan perangkat eksternal seperti splints, gips atau tilt-meja.
Kurangnya bukti yang menunjukkan efektivitas dan dasar pemikiran teknik berbasis peregangan untuk
spastisiti dan bukti-bukti yang terbatas dengan mengenai peningkatan jangkauan gerakan, mengurangi
spastisitas, atau meningkatkan efisiensi berjalan pada anak-anak dengan kelenturan, perlu dipertimbangkan
kembali.Latihan menahan beban statis biasanya digunakan untuk merangsang kekuatan otot anti-gravitasi,
mencegah dislokasi hip, meningkatkan kepadatan mineral tulang, meningkatkan harga diri, meningkatkan
makan, membantu usus dan kencing fungsi, mengurangispastisitas, dan meningkatkan fungsi tangan.
Praktek ini harus didukung dan dimotivasi keluarga. Latihan kekuatan bertujuan untuk meningkatkan
kekuatan lemah otot antagonis dan agonis dari kejang; manfaat fungsional penguatan pada anak dengan CP
adalah berkisar antara 19,6% dengan strengthening31 isokinetic. Latihan kekuatan menahan beban untuk
anak-anak dengan CP efektif dalam meningkatkan kekuatan dan kinerja fungsional.Program pelatihan tentang
sepeda statis atau treadmill yang menguntungkan perkembangan motorik kasar tanpa meningkatkan
spastisitas dan kejang.Terapi ini lebih menyenangkan bagi anak-anak dengan CP spastik dari perawatan
tradisional.

5. Pilihan pengobatan lain


Sejauh ini, kebanyakan studi kurang memadai kekuatan statistik untuk menentukan kemanjuran
pengobatan tersebut; uji coba terkontrol menyimpulkan bahwa lebih banyak bukti yang diperlukan untuk
menunjukkan kemanjuran stimulasi listrik neuromuskuler dan ambang stimulasi listrik dalam memperkuat otot
paha depan pada anak rawat jalan dengan diplegia yang menemukan program penguatan resistif difficult.
Pendekatan ini masih kontroversial.Kendala yang disebabkan terapi (CIT) melibatkan kendala fisik dari lengan
yang tidak terlibat atau kurang terpengaruh dalam rangka meningkatkan penggunaan tangan lebih terlibat dan
lengan pada anak-anak dengan hemiplegia atau kesulitan motorik ekstremitas atas asimetris menunjukkan
tidak ada perkembangan.Kami menyimpulkan bahwa pendekatan individual yang terbaik untuk memenuhi
kebutuhan khusus pasien, tergantung pada ketersediaan terapis dan sumber daya yang tersedia dari terlatih.

6. Orthoses
Istilah ini mencakup semua perangkat upaya penerapan kekuatan eksternal untuk memperbaiki kelainan
tubuh postur baik antara segmen tubuh dan sehubungan dengan gravitasi disebabkan terutama oleh
kelenturan.Gips, terbuat dari plester atau fiberglass, splints terbuat dari plastik untuk penggunaan jangka
pendek dan orthoses custom-made dari plastik tahan lama untuk penggunaan jangka panjang, masuk kategori
ini.Orthoses membantu untuk mencegah atau memperbaiki cacat, menjaga tubuh dalam posisi tertentu
dan/ataumembantu anak-anak mengatasi keterbatasan aktivitas, seperti kesulitan berdiri dan berjalan.
Orthoses statis mendukung sendi, menjaga meningkatkan jangkauan gerak dan mencegah
cacat.Orthoses dinamis tidak hanya menyelaraskan sendi, tetapi juga membantu gerakan atau alternatif
menolak atau merangsang gerakan.Bukti pada efektivitas dari orthoses ekstremitas atas pada anak dengan CP
adalah belum terbukti; penelitian lebih lanjut yang dirancang dengan baik diperlukan.Orthoses membatasi
ankle plantar fleksi memiliki efek menguntungkan pada equinus berjalan, tetapi efek jangka panjang tidak
jelas.Selain itu, sulit untuk menentukan efek yang tepat dari orthoses karena pasien biasanya menerima
banyak intervensi bersamaan.

Perawatan Farmakologi

a. Obat oral

Benzodiazepin, baclofen, natrium dantrolen, Tizanidine dan alpha-2 agonis adrenergik lainnya,
gabapentin dan tiagabin adalah obat-obat yang secara lisan digunakan untuk kontrol spastisitas.Bukti tentang
khasiat agen oral terhadap spastisitas agak lemah; sebagian besar uji coba adalah dari ukuran kecil, durasi
pendek dan kualitas metodelogi yang tidak memadai.Diazepam, agonis pasca-sinaptik dari GABAA reseptor,
adalah yang paling berguna lisan agen anti-spastisitas di CP, membantu untuk kekakuan otot fleksor dan
ekstensor kejang yang dapat menyebabkan nyeri, lekas marah dan insomnia pada anak kejang.Ini dapat
dikombinasikan dengan baclofen dan dapat digunakan sepanjang waktu, meskipun sebaiknya diberikan pada
waktu tidur karena mengantuk.

b. Obat intramuskular

Agen ini menghasilkan blokade neuromuskular.Fenol dan alkohol adalah agen neurolytic dan penyebab
toksin botulinum chemodenervation.

c. Toksin botulinum

Di antara pengobatan farmakologis kelenturan, Bont memiliki mengakuisisi peran penting. Bont tipe A
adalah yang paling sering digunakan dalam CP. Bont dikombinasikan dengan orthoses dan PT intensif, Bont
memungkinkan peregangan dan meningkatkan gerak, dengan manfaat yang berlangsung 3-6 bulan.

d. Pengobatan komplementer atau alternatif


Metode (CAM)sampai saat ini, ada sedikit ilmiah studi tentang efektivitas dan keselamatan.24 Sebuah
studi dari Inggris melaporkan bahwa secara keseluruhan, 21% dari anak-anak dengan CP telah menggunakan
metode alternatif pada sebagian besar CE.Hippotherapy dikategorikan sebagai CAM atau sebagai
rekreasipengobatan.Uji coba terkontrol dan dikendalikan menunjukkanefek menguntungkan dari hippotherapy
pada struktur tubuh dan fungsi.Sebuah tinjauan dari 11 penelitian kuantitatif yang moderatuntuk kualitas yang
baik metodologis menunjukkan bahwa rekreasimenunggang terapi berkuda dan berlisensi-
therapistdirectedhippotherapy meningkatkan fungsi motorik kasar.Penelitian lainnya menunjukkan bahwa
hippotherapy adalah efektif untuk mengobati simetri otot di bagasi dan pinggul dan dalam meningkatkan fungsi
motoric.

Perawatan ini, diterapkan dalam kondisi medis tertentu, dipandu oleh Undersea dan Hiperbarik Medis
Masyarakatorganisasi profesional internasional yang menetapkan pedoman untuk aplikasi dan penggunaan
etika. Penelitian menunjukkan bahwa terapi ini tidak membuat perbedaan dengan kapasitas fungsional dari
anak-anak dengan CP. Oleh karena itu, tidak saat ini direkomendasikan oleh para ahli di lapangan karena
kurangnya bukti ilmiah untuk kemanjuran dan karena tidak bebas risiko.

Program Gugatan Adeli di Polandia membutuhkan anggota keluarga untuk menghabiskan 4 minggu di
kontak dekat dengan anak mereka, jauh dari gangguan dari rumah dan anggota keluarga lainnya.Ini
menunjukkan bahwa peningkatan keterlibatan orang tua memiliki efek menguntungkan pada anak dengan CP
jika dibandingkan dengan kelompok yang menerima NDT.

Studi akupunktur yang menjanjikan; Data lebih banyak diperlukan sebelum rekomendasi dapat
dibuat.Kebanyakan penelitian dari pola telah negatif dan penggunaannya tidak bisa direkomendasikan.

3.1 Penyesuaian Psikologis Orangtua Dengan Anak Cerebral Palsy

Orangtua awalnya tidak mengetahui bahwa anaknya mengalami cerebral palsy sehingga cenderung
membiarkan saja, dalam arti tidak mendapatkan penanganan secara menyeluruh dari dokter ataupun
fisioterapis.Mereka merasa takut dan cemas, terkejut dan stres.Menerima kondisi anak dengan cerebral palsy ataupun
disabilitas tertentu bukanlah hal yang mudah. Hal ini sejalan dengan temuan yang diperoleh Logar (2012) bahwa
orangtua dengan anak disabilitas pada awalnya akan menunjukkan reaksi kedukaan yang kemudian diikuti dengan
terkejut, menyangkal, barulah kemudian belajar untuk menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut. Penyesuaian
tersebut terjadi sepanjang kehidupan orangtua dengan anak disabilitas.Tidak ada alat atau metode yang tepat untuk
meningkatkan kekuatan emosi orangtua dengan anak disabilitas.
Chiarello dkk (2010) menemukan bahwa prioritas orangtua bagi anak-anak ataupun remaja yang mengalami
cerebral palsy akan berbeda, tergantung pada usia dan level dari kemampuan fungsi motorik kasar anak, dan prioritas
utama orangtua biasanya adalah dalam aktivitas sehari-hari. Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa
orangtua berusaha untuk membantu anaknya agar dapat self-care. Meski demikian, pada anak dengan tingkat
disabilitas yang parah dan fungsi motorik kasar yang lemah, orangtua akan menyediakan lebih banyak waktu dan
perhatian dalam pengasuhan anaknya. Situasi ini mengakibatkan kelelahan dan munculnya stres pada waktu-waktu
tertentu.
Penyesuaian orangtua dengan anak cerebral palsy juga ditunjang oleh dukungan emosional yang diterima dari
lingkungannya, seperti dari keluarga besar, tetangga, pihak yayasan yang menyelenggarakan terapi bagi anak-
anaknya, dan juga diskusi-diskusi bersama dengan orangtua lain yang anaknya juga mengalami cerebral palsy.
Dukungan tersebut membuat orangtua mampu bertahan, memahami hal-hal apa yang perlu mereka lakukan dalam
pengasuhan di rumah, bagaimana menangani anak ketika ada bagian tubuhnya yang kaku dan otot-otot mengencang,
termasuk juga dalam melatih anak untuk dapat self-care, khususnya pada anak cerebral palsy dengan tingkat
disabilitas yang ringan.
Penyesuaian yang terus menerus dengan kondisi anaknya yang mengalami disabilitas membangun resiliensi
orangtua atas tantangan yang dihadapi sehari-hari dalam merawat anaknya.Lustig (dalam Frain dkk, 2007)
mengatakan bahwa resiliensi terkait dengan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan disabilitas. Resiliensi yang
ditampilkan orangtua akan membuat orangtua lebih efektif dalam merawat anaknya yang mengalami disabilitas dan
membuatnya mampu mengatasi stress atau tekanan yang muncul karena kelelahan ataupun karena banyaknya waktu
yang digunakan untuk merawat anaknya.
Penelitian ini memberikan gambaran tentang beberapa faktor yang mendukung penyesuaian psikologis
orangtua dengan disabilitas. Empat faktor yang dimaksud adalah :
1. karakteristik disabilitas anak,
2. dukungan sosial,
3. sudut pandang terhadap masalah dan
4. strategi koping.

Temuan di atas tidak menggambarkan secara jelas strategi koping yang ditampilkan orangtua, namun diketahui
bahwa usaha orangtua untuk beradaptasi dengan kondisi disabilitas anaknya merupakan usaha yang terus menerus
dan membangun resiliensi orangtua. Stres dan takut tidak hanya muncul sebagai reaksi awal orangtua atas diagnose
yang diberikan, namun juga dapat muncul karena kelelahan merawat anaknya setiap hari. Dukungan sosial dari
lingkungan tetangga, keluarga besar, penyedia layanan kesehatan juga menjadi salah satu faktor yang membantu
orangtua mampu melakukan penyesuaian terhadap disabilitas anaknya.

2.4 Model Pembelajaran Langsung Bermedia Pantograf Terhadap


Kemampuan Motorik Halus Anak Cerebral Palsy
Kemampuan motoric halus anak cerebral palsy di SDLB-D1 YPAC Surabaya perlu dilatih dan dikembangkan
melalui kegiatan pembelajaran khusus dan rangsangan yang kontinu sehingga dapat meningkatkan kepekaan daya
sensoriknya. Hal ini yang dimaksud adalah pembelajaran motorik halus yang berguna untuk membantu melenturkan
otototot yang kaku, memberikan kekuatan untuk otot yang lemas, menambah konsentrasi dalam koordinasi gerak
dengan penglihatannya (sensomotorik) sehingga diharapkan gerakan anak dapat lebih optimal menuju sasaran sesuai
tujuan dengan fungsi utama untuk melemaskan otot, sendi, dan untuk mendapatkan rangsangan khusus yang dapat
menambah kepekaan daya sensoriknya.

Latihan kemampuan motorik anak cerebral palsy dapat diawali dengan latihan yang paling sederhana, salah
satunya dapat melalui pembelajaran motorik halus pada tangan.Pembelajaran yang dimaksud dalam hal ini adalah
penerapan model pembelajaran langsung bermedia pantograf yang pada kenyataanya belum pernah diberikan di
SDLB-D1 YPAC Surabaya dalam upaya meningkatkan kemampuan motoric halus anak cerebral palsy.

Model pembelajaran langsung merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang dirancang khusus untuk
menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural,
terstruktur dengan baik, dapat diajarkan dengan pola bertahap (Trianto, 2012:41). Alur pelaksanaannya sesuai
dengan pemikiran Jauhar, yang menyatakan bahwa pembelajaran langsung merupakan model pembelajaran yang
menekankan pada penguasaan konsep dan perubahan perilaku dengan mengutamakan pendekatan deduktif melalui
pengajaran setahap demi setahap (Jauhar, 2011:45-46).

Dengan pembelajaran langsung, guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran agar dapat
mengetahui sejauh mana siswa menguasai materi yang disampaikan.Selain siswa dapat mendengar tentang materi
pelajaran sekaligus juga siswa dapat melihat (melalui pelaksanaan demonstrasi) yang dilakukan secara bertahap.Salah
satu ketentuan dalam pembelajaran langsung adalah ada media yang didemonstrasikan. Pembelajaran akan lebih
efektif jika didukung adanya media terutama pada anak cerebral palsy yang memiliki hambatan motoric halus. Anak
cerebral palsy dalam melakukan halhal sederhana seperti memegang benda, sejalan dengan benda bergerak dan
bermain dengan mainan itu sendiri sangat sulit.Cerebral palsy memerlukan media yang dibentuk sedemikian rupa
sehingga mereka tidak hanya belajar dengan ditunjang media untuk suatu aktivitas yang menarik tetapi juga
meningkatkan keterampilan motorik anak (Salim, 1996:148-149).

Miarso (dalam Susilana & Riyana, 2008:6) menyatakan bahwa media merupakan segala sesuatu yang dapat
menyalurkan pesan,merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa untuk belajar. Media pembelajaran
dalam penelitian ini berfungsi sebagai alat bantu melatih motorik halus anak cerebral palsy pada jari-jari tangan,
telapak tangan, dan pergelangan tangan. Media yang digunakan adalah pantograf. Pantograf disebut juga
planimeter, yaitu suatu alat yang dapat digunakan untuk memperbesar gambar-gambar (Prihandoko: 2008). Hal ini
ditegaskan pula oleh Waluya (2009:17-18) yang memberikan definisi pantograph sebagai alat yang berfungsi untuk
memperbesar atau memperkecil sebuah peta atau gambar. Pantograf dalam penelitian ini yang dimaksud adalah
pantograf yang terbuat dari kayu dan memodifikasi ukuran serta bentuknya dengan cara memperbesar alat,
menghilangkan skala, menukar posisi pensil ke posisi pasak, menggunakan warna yang cerah, dilengkapi sabuk
tangan dan pasak sebagai pegangan, sehingga tangan anak dapat menggenggam pasak pantograf.

Pantograf dapat membantu melatih motorik halus ketika tangan menggerakkan pasak yang berada pada posisi
kanan, untuk menggerakkan pasak diperlukan keseimbangan pada pensil yang berada di sebelah kiri.Selain itu
melatih konsentrasi anak saat menggerakkan ujung pantograf.Cara menggunakannya dengan meletakkan paku pada
gambar dan pensil pantograf pada kertas gambar kosong. Kemudian menggerakkan paku sesuai gambar maka pada
kertas kosong akan didapat gambar yang sesuai dengan gambar asli (Waluya, 2009:18). Upaya mengembalikan fungsi
motoric halus anak cerebral palsy dapat dilakukan dengan pembelajaran yang terencana, dengan memperhatikan
kondisi mereka sehingga dapat mandiri dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat. Keterampilan motorik halus
ternyata memang harus melalui proses pembelajaran yang rutin, berkelanjutan dan tepat sasaran. Hal ini bisa
dibuktikan karena tidak semua anak pandai menggerakkan tangannya seperti pada anak cerebral palsy.

Ditegaskan pula oleh Rahyubi (2012:265) yang menyatakan bahwa untuk penguasaan gerak motorik (dalam
hal ini motorik halus) diperlukan suatu proses pembelajaran, guna mencapai tingkat terampil yang dilakukan
bertahap. Suatu keterampilan biasanya menggambarkan tingkat kemahiran seseorang dalam menguasai gerak
motorik tertentu, atau kecekatan seseorang dalam melaksanakan suatu tugas. Pada model pembelajaran langsung
terdapat lima fase.

Setiap anak mampu mencapai tahap perkembangan motorik halus yang optimal asal mendapatkan stimulasi
tepat.Kegiatan-kegitan tersebut dapat ditunjang dengan media yang dijadikan sebagai salah satu perlakuan/treatment
okupasi.Perlakuan tersebut dapat menolong anak dalam kondisi cerebral palsy untuk mengendalikan gerak motorik
halus yang meliputi gerakan jari-jari tangan, telapak tangan dan pergelangan tangan.Perlakuan/treatment dilakukan
dalam upaya menciptakan lingkungan yang memungkinkan anak dapat belajar secara efektif, agar dapat mencapai
perkembangan optimal sejalan dengan potensi yang dimilikinya.

Namun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan model pembelajaran
langsung bermedia pantograf terhadap kemampuan motorik halus anak cerebral palsy di SLBD-D1 YPAC Surabaya.
Faktor-faktor yang menyebabkan hasil analisis tidak signifikan yaitu: kurangnya motivasi anak untuk berlatih
kemampuan motorik halus, faktor perbedaan derajat kecacatan anak cerebral palsy, intensitas kehadiran kurang,
subyek yang terlalu sedikit dan karena keterbatasan waktu perlakuan.