Pengertian Rumah Sakit.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang rumah
sakit, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat
inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
Rumah sakit merupakan salah satu dari sarana kesehatan yang juga merupakan
tempat menyelenggarakan upaya kesehatan yaitu setiap kegiatan untuk memelihara
dan meningkatkan kesehatan serta bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan
yang optimal bagi masyarakat.Upaya kesehatan dilakukan dengan pendekatan
pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif),
penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara
serasi dan terpadu serta berkesinambungan.
Fungsi dan Kegunaan Rumah Sakit
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang rumah
sakit, rumah sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan
secara paripurna. Pelayanan kesehatan paripurna adalah pelayanan kesehatan yang
meliputi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Untuk menjalankan tugas sebagaimana yang dimaksud, rumah sakit mempunyai fungsi
:
1. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan
standar pelayanan rumah sakit.
2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan
yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis.
3. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka
peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan
4. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang
kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan
etika ilmu pengetahan bidang kesehatan.
Konsep Rekam Medis
Pengertian Rekam Medis
Menurut Dirjen Yanmed (2006 : 11) Rekam Medis adalah keterangan baik yang tertulis
maupun yang terekam tentang identitas, anamnesa,penentuan fisik
laboraturium,diagnosa segala pelayanan, dan tindakan medis yang diberikan kepada
pasien serta pengobatan baik di rawat inap,rawat jalan, maupun yang mendapatkan
pelayanan darurat.
Rekam Medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas
pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan
kepada pasien. (Peraturan Menteri Kesehatan No.269/Menkes/Per/III/2008).
Rekam Medis adalah fakta yang berkaitan dengan keadaan pasien, riwayat penyakit,
dan pengobatan masa lalu serta saat ini yang ditulis oleh profesi kesehatan yang
memberikan pelayanan kepada pasien tersebut.(Rustiyanto, 2009 : 6).
Kegunaan Rekam Medis
Menurut Dirjen Yanmed (2006 : 13) Kegunaan Rekam Medis dapat dilihat dari
beberapa aspek, antara lain:
1. Aspek Administrasi
Suatu berkas Rekam Medis mempunyai nilai administrasi, karena isinya menyangkut
tindakan berdasarkan wewenang dan tanggung jawab sebagai tenaga medis dan
paramedis dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan.
1. Aspek Medis
Suatu berkas Rekam Medis mempunyai nilai medis, karena catatan tersebut
dipergunakan sebagai dasar untuk merencanakan pengobatan/perawatan yang harus
diberikan kepada seorang pasien.
1. Aspek Hukum
Suatu berkas Rekam Medis mempunyai nilai hukum, karena isinya menyangkut
masalah adanya jaminan kepastian hukum atas dasar keadilan, dalam rangka
penegakan hukum serta penyediaan bahan tanda bukti untuk penegakan keadilan.
1. Aspek Keuangan
Suatu berkas Rekam Medis mempunyai nilai uang, karena
isinya mengandung data/informasi yang dapat dipergunakan sebagai aspek keuangan.
1. Aspek Penelitian
Suatu berkas Rekam Medis Rekam Medis mempunyai nilai penelitian, karena isinya
menyangkut data/informasi yang dapat dipergunakan sebagai aspek penelitian dan
pengembangan ilmu pengetahuan dibidang kesehatan.
1. Aspek Pendidikan
Suatu berkas Rekam Medis mempunyai nilai pendidikan, karena isinya menyangkut
data/informasi tentang perkembangan kronologis dan kegiatan pelayanan medis yang
diberikan kepada pasien dan digunakan sebagai bahan/referensi pengajaran dibidang
profesi pemakai.
1. Aspek Dokumensi
Suatu berkas Rekam Medis mempunyai nilai dokumentasi, karena isinya menyangkut
sumber ingatan yang harus didokumentasikan dan dipakai sebagai bahan
pertanggungjawaban dan laporan Rumah Sakit.
Dasar Hukum Rekam Medis
1. UU No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan
2. UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit
3. PP No. 10 tahun 1966 tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran
4. UU No.29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
5. UU No.36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan
6. PERMENKES No.269/Menkes/Per/III/2008 tentang Rekam Medis
7. Permenkes RI No.134/1978 tentang struktur Organisasi dan Tata kerja Rumah
Sakit Umum dimana antara lain disebutkan bahwa salah satu sub bagian adalah
pencatatan medis
8. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI
No. 30 Tahun 2013 tentang Jabatan Fungsional Perekam Medis dan Angka
kreditanya.
9. PERMENKES RI No.129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal
Rumah Sakit.
10. Surat edaran Direktur Jendral pelayanan medik No.HK.00.06.1.5.01160 tanggal
21 Maret 1995 tentang petunjuk teknis pengadaan formulir Rekam Medis dasar
dan pemusnahan Arsip Rekam Medis di Rumah Sakit.
Pertanggung jawaban Terhadap Rekam Medis
Menurut Rustiyanto (2009 : 29 ) mengenai pertanggung jawaban terhadap rekam Medis
yaitu Rumah sakit bertanggung jawab untuk melindungi informasi yang ada di dalam
Rekam Medis terhadap kemungkinan hilangnya keterangan ataupum memasukkan
data yang ada didalam Rekam Medis atau dipergunakan oleh orang yang semestinya
tidak diberi izin. Adapun tanggung jawab itu di beban kan kepada :
1. Tanggung jawab dokter yang merawat
Tanggung jawab utama akan kelengkapan Rekam Medis terletak pada dokter yang
merawat. Dokter mengemban tanggung jawab terakhir akan kelengkapan dan
kebenaran isi Rekam Medis.
1. Tanggung jawab petugas Rekam Medis
Petugas Rekam Medis, membantu dokter yang merawat dalam mempelajari kembali
Rekam Medis. Analisis dari kelengkapan isi Rekam Medis dimaksudkan untuk mencari
hal hal yang kurang dan masih diragukan, dalam rangka membantu dokter dalam
menganalisis kembali Rekam Medis, petugas Rekam Medis harus melakukan analisis
kualitatif dan analisis kuantitatif.
1. Tanggung jawab Pimpinan Rumah Sakit
Pimpinan Rumah Sakit bertanggung jawab menyediakan fasilitas unit rekam Medis
yang meliputi ruangan, peralatan, dan tenaga yang memadai.Dengan demikian petugas
Rekam Medis dapat bekerja secara efektif.
1. Tanggung jawab mahasiswa Praktek
Dalam kegiatan praktek kerja lapangan di wajibkan mahasiswa kesehatan untuk selalu
bertanggung jawab dan menjaga kerahasiaan isi Rekam Medis .
Sistem Penyimpanan Rekam medis
Penyimpanan Rekam Medis
Menurut Sugiarto,ac-Wahyono, (2005:51) sistem penyimpanan adalah sistem yang
digunakan pada penyimpan dokumen agar kemudahan kerja penyimpanan dapat
diciptakan dan penemuan dokumen yang sudah disimpan dapat dilakukan dengan
cepat bilamana dokumen tersebut sewaktuwaktu dibutuhkan.
Kegiatan penyimpanan Rekam Medis merupakan usaha melindungi rekam medis dari
kerusakan fisik dan isi dari rekam medis itu sendiri. Rekam medis harus disimpan dan
dirawat dengan baik karena rekam medis merupakan harta benda rumah sakit yang
sangat berharga. Prosedur penyimpanan adalah langkahlangkah pekerjaan yang
dilakukan sehubungan dengan akan disimpannya suatu dokumen. Sebelum
menentukan suatu sistem yang akan dipakai perlu terlebih dahulu mengetahui bentuk
pengurusan penyimpanan yang ada dalam pengelolaan rekam medis. Ada dua cara
pengurusan penyimpanan dalam penyelenggaraan Rekam medis (Depkes,1997:76)
yaitu :
1. Sentralisasi
Sentralisasi adalah penyimpanan rekam medis pasien dalam satu kesatuan baik
catatan kunjungan poliklinik maupun catatan selama seorang pasien dirawat, disimpan
pada satu tempat yaitu bagian rekam medis.
Kebaikan sistem sentralisasi adalah :
Dapat mengurangi terjadinya duplikasi dalam pemeliharaan dan penyimpanan
rekam medis.
Mudah menyeragamkan tata kerja, peraturan dan alat yang digunakan.
Efisiensi kerja petugas.
Permintaan akan rekam medis mudah dilayani setiap saat.
Kelemahannya adalah :
Perlu waktu dalam pelayanan rekam medis.
Perlu ruangan yang luas, alat-alat dan tenaga yang banyak terlebih bila tempat
penyimpanan jauh terpisah dengan lokasi penggunaan rekam medis, misalnya
dengan poliklinik.
1. Desentralisasi
Desentralisasi adalah penyimpanan rekam medis pada masing-masing unit pelayanan.
Terjadi pemisahan antara rekam medis pasien poliklinik dengan rekam medis pasien
dirawat. Rekam medis poliklinik disimpan pada poliklinik yang besangkutan, sedangkan
rekam medis pasien dirawat disimpan dibagian rekam medis.
Kebaikan sistem desentralisasi adalah :
Efisiensi waktu, dimana pasien mendapat pelayanan
lebih cepat.
Beban kerja yang dilaksanakan petugas rekam medis
lebih ringan.
Pengawasan terhadap rekam medis lebih mudah karena lingkungan lebih sempit.
Kelemahannya adalah :
Terjadi duplikasi dalam pembuatan rekam medis sehingga informasi tentang riwayat
penyakit pasien terpisah.
Biaya yang diperlukan untuk pengadaan rekam medis, peralatan dan ruangan lebih
banyak.
Bentuk atau isi rekam medis berbeda.
Menghambat pelayan bila rekam medis dibutuhkan oleh unit lain.
Ketentuan Penyimpanan Rekam Medis
1. Pada saat rekam medis dikembalikan ke unit rekam medis, sebelumnya harus di
sortir menurut nomor rekam medis sebelum di simpan. Hal ini membantu dn
mempermudah petugas penyimpanan pada saat pencarian rekam medis.
2. Hanya petugas rekam medis yang di perbolehkan menangani rekam medis,
pengecualian diberikan kepada pegawai rumah sakit yang bertugas pada sore dan
malam hari. Dokter, staf rumah sakit, pegawai dari bagian lain tidak diperkenankan
mengambil rekam medis dari tempat penyimpanan.
3. Pada waktu sore dan malam hari petugas dibagian poloklinik dan ruang rawat inap
akan mengawasi peraturan dimana harus menyimpan rekam medis pada tempat
yang telah di tentukan di unit rekam medis dan bagian lainnya.
4. Pengamatan terhadap penyimpanan harus dilakukan secara priodik, untuk
menemukan salah simpan dan menemukan kartu pinjam yang rekam medisnya
belum dikembalikan.
5. Petugas penyimpanan harus memelihara kerapian dan keteraturan rakrak
penyimpanan yang menjadi tanggung jawab.
Tujuan Penyimpanan Dokumen Rekam Medis
1. Menjaga kerahasiaan dokumen rekam medis.
2. Mempunyai arti penting sehubungan dengan riwayat penyakit seseorang guna
menjaga kesinambungan rekam medis.
3. Mempermudah pengambilan kembali dokumen.
4. Mempermudah dan mempercepat penemuan kembali dokumen rekam medis yang
di simpan di rak penyimpanan.
5. Melindungi dokumen rekam medis dari bahaya pencuri, kerusakan fisik, kimiawi,
maupun biologi.
Tata Cara Pengambilan Rekam Medis
Pengambilan rekam medis juga memiliki tata cara tertentu. Adapun tata cara
pengambilan rekam medis pasien yang dibutuhkan dari ruang penyimpanan rekam
medis menurut (Dep. Kes, 1991 : 27) adalah sebagai berikut:
1. Pengeluaran rekam medis
Ketentuan pokok yang harus ditaati di tempat penyimpanan adalah :
Rekam medis tidak boleh keluar dari ruangan reka medis, tanpa tanda keluar/kartu
permintaan.
Apabila rekam medis dipinjam, wajib dikembalikan dalam keadaan baik dan tepat
waktunya. Seharusnya setiap rekam medis kembali lagi keraknya pada setiap akhir
kerja pada hari yang bersamaan.
Rekam medis tidak di benarkan diambil dari rumah sakit, kecuali atas perintah
pengadilan
Permintaan rutin terhadap rekam medis yang datang dari poliklinik, dari dokter yang
melakukan riset, harus diajukan kebagian rekam medis setiap hari pada jam yang
telah ditentukan. Petugas harus menulis dengan benar dan jelas nama pasien dan
nomor rekam medisnya.
1. Petunjuk Keluar (Outguide)
Petunjuk keluar adalah suatu alat yang penting untuk mengawasi penggunaan rekam
medis. Petunjuk keluar ini digunakan sebagai pengganti pada tempat rekam medis
yang diambil dari rak penyimpanan dan tetap berada di rak tersebut sampai rekam
medis yang diambil kembali.
1. Kode warna untuk map (sampul) rekam medis
Kode warna adalah untuk memberikan warna tertentu pada sampul, untuk mencegah
keliru simpan dan memudahkan mencari map yang salah simpan. Garis-garis warna
denga posisi yang berbeda pada pinggiran folder, menciptakan bermacam-macam
posisi warna yang berbeda-beda untuk tiap section penyimpanan rekam medis.
Terputusnya kombinasi warna dalam satu seksi penyimpanan menunjukkan adanya
kekeliruan menyimpan. Cara yang digunakan adalah 10 macam warna untuk 10 angka
pertama dari 0 sampai 9.
Ruangan Pengelolaan Rekam Medis
Lokasi ruangan rekam medis harus dapat memberi pelayanan yang cepat kepada
seluruh pasien, mudah dicapai dari segala penjuru dan mudah menunjang
pelayanan administrasi.Alat penyimpanan yang baik, penerangan yang baik,
pengaturan suhu ruangan, pemeliharaan ruangan, perhatian terhadap faktor
keselamatan petugas, bagi suatu ruangan penyimpanan rekam medis sangat membatu
memelihara dan mendorong kegairahan kerja dan produktivitas pegawai.Penerangan
atau lampu yang baik, menghindari kelelahan penglihatan petugas.Perlu diperhatikan
pengaturan suhu ruangan, kelembaban, pencegahan debu dan pencegahan bahaya
kebakaran.
Ruang Penyimpanan Rekam Medis
Ruang penyimpanan rekam medis harus dapat memberi pelayanan yang cepat kepada
seluru pasien, mudah dicapai dari segala tempat dan mudah
menunjang administrasi.Ruang penyimpanan yang baik, pengaturan suhu ruangan,
pemeliharaan ruangan, perhatian terhadap keselamatan petugas.Ruang penyimpanan
rekam medis sangat membantu dalam memelihara dan mendorong kegairahan kerja
dan produktivitas pegawai yang ada di ruang penyimpanan rekam medis. Ruang
penyimpanan harus memperhatikan hal hal sebagai berikut :
1. Untuk suhu udara di ruang penyimpanan rekam medis berkisar antara 18-28 C
sedangkan kelembaban 50 % 65 %, karena Indonesia negara tropis.
Pemasangan air condition (AC) juga bisa mengurangi banyaknya debu.
2. Menurut Kepmenkes No.1405 tahun 2012 tentang pencahayaan, pencahayaan
adalah jumlah penyinaran pada suatu bidang kerja yang diperlukan untuk
melaksanakan kegiatan secara efektif. Intensitas cahaya diruang kerja minimal 100
lux. Agar pencahayaan alami di ruang penyimpanan memenuhi persyaratan
kesehatan perlu dilakukan suatu tindakan sebagai berikut :
Pencahayaan alam maupun buatan diupayakan agar tidak menimbulkan kesilauan
dan memiliki intensitas sesuai dengan kebutuhannya.
Kontras sesuai kebutuhan, hindarkan terjadinya kesilauan atau bayangan.
Penempatan bola lampu dapat menghasilkan penyinaran yang optimum dan bola
lampu sering dibersihkan.
Bola lampu yang mulai tidak berfungsi dengan baik untuk segera diganti.
1. Ruangan hendaknya terhindar dari serangan hama, perusak atau pemakan kertas
arsip, antara lain jamur, rayap, ngengat.
2. Ruangan penyimpanan arsip sebaiknya terpisah dari ruangan kantor lain untuk
menjaga keamanan arsip-arsip tersebut mengingat bahwa arsip tersebut sifatnya
rahasia, mengurangi lalu lintas pegawai lainnya, dan menghindari pegawai lain
memasuki ruangan sehingga pencurian arsip dapat dihindari. (Wursanto, 1991 :
221).
3. Alat penyimpanan rekam medis yang umum dipakai adalah rak terbuka (open self
file unit), lemari lima laci (five-drawer file cabinet), dan roll opack. Alat ini hanya
mampu dimiliki oleh rumah sakit tertentu karena harganya yang sangat mahal. Rak
terbuka dianjurkan
4. karena harganya lebih murah, petugas dapat mengambil dan menyimpan rekam
medis lebih cepat, dan menghemat ruangan dengan menampung lebih banyak
rekam medis dan tidak terlalu makan tempat. Harus tersedia rak-rak penyimpanan
yang dapat diangkat dengan mudah atau rak-rak beroda .
5. Jarak antara dua buah rak untuk lalu lalang, dianjurkan selebar 90 cm. Jika
menggunakan lemari lima laci dijejer satu baris, ruangan lowong didepannya harus
90 cm, jika diletakkan saling berhadapan harus disediakan ruang lowong paling
tidak 150 cm, untuk memungkinkan membuka laci-laci tersebut. Lemari lima laci
memang tampak lebih rapi dan rekam medis terlindungdari debu dan kotoran dari
luar. Pemeliharaan kebersihan yang baik, akan memelihara rekam medis tetap rapi
dalam hal penggunaan rak-rak terbuka. Faktor-faktor keselamatan harus
diutamakan pada bagian penyimpanan rekam medis. (Dep.Kes, 1991 : 24).
Luas Ruangan Penyimpanan Rekam Medis
Kebanyakan di Indonesia untuk beberapa rumah sakit, didalam ruang penyimpanan
berkas rekam medis masih banyak memanfaatkan ruangan bekas atau bangunan lama,
sehingga luas tempat ruangan penyimpanan tidak diperhitungkan, untuk beberapa rak
atau almari yang nantinya akan digunakan didalam ruang penyimpanan berkas rekam
medis.
Luas ruang penyimpanan harus memadai (baik untuk rak berkas rekam medis aktif dan
in-aktif). Ruangan penyimpanan berkas rekam medis aktif dan in-aktif sebaiknya
dipisahkan, karena hal ini akan lebih memudahkan petugas didalam pengambilan
rekam medis yang masih aktif dan akan lebih memudahkan didalam melaksanakan
pemusnahan berkas rekam medis.(Ery Rustiyanto,Warih Ambar)
Persyaratan ruangan khusus dibagian penyimpanan rekam medis yaitu :
1. Struktur bangunan harus kuat, terpelihara, bersih, dan tidak memungkinkan
terjadinya gangguan kesehatan dan kecelakaan bagi petugas di ruang
penyimpanan.
2. Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan rata, tidak licin dan
bersih.
3. Setiap petugas diruang penyimpanan mendapatkan ruang udara minimal / petugas.
4. Dinding bersih dan berwarna terang, langit-langit kuat, bersih, berwarna terang,
ketinggian minimal 2,5 sampai 3 meter dari lantai.
5. Atap kuat dan tidak bocor.
6. Luas jendela, kisi-kisi atau dinding gelas kaca untuk masuknya cahaya minimal 1/6
kali luas lantai.
Pelayanan Rawat Jalan
Menurut Huffman (Ekardius,1999:90) Pelayanan Rawat jalan (ambulatory
service) adalah pelayanan yang diberikan kepada pasien yang tidak di rawat sebagai
pasien rawat inap.
Konsep Tata Ruang dan Ergonomi
Teori Tata Ruang
Menurut George Terry Tata Ruang adalah penentuan mengenai kebutuhan
kebutuhan ruang dan tentang penggunaannya secara rinci dari ruang tersebut untuk
menyiapkan suatu susunan praktis dari faktor faktor fisik yang di anggap perlu bagi
pelaksanaan kerja perkantoran dengan biaya yang layak.
Menurut Sedarmayanti (1996:92) Tata ruang adalah pengaturan dan penyusunan
seluruh mesin,alat perlengkapan kantor,serta perabotan kantor pada tempat yang tepat
sehingga petugas dapat bekerja dengan baik,nyaman,leluasa dan bebas untuk
bergerak guna mencapai efisiensi kerja.
Tujuan Tata Ruang
Menurut Sedarmayanti (1996 : 2) Pengaturan tata ruang yang baik akan mengakibatkan
pelaksanaan pekerjaan kantor dapat di atur secara tertib dan lancar.Dengan demikian
komunikasi kerja pegawai akan semakin lancar, sehingga koordinasi dan pengawasan
semakin mudah, akhirnya dapat mencapai efisiensi kerja.
Apabila dirinci, maka tujuan tata ruang kantor antara lain, adalah :
1. Mencegah penghamburan tenaga dan waktu pegawai karena prosedur kerja dapat
dipersingkat.
2. Menjamin kelancaran proses pekerjaan.
3. Memungkinkan pemakaian ruang kerja agar lebih efisien.
4. Mencegah pegawai di bagian lain terganggu oleh publik yang akan menemui bagian
tertentu, atau mencegah terganggu oleh suara bising lainnya.
5. Menciptakan kenyamanan kerja pegawai.
6. Memberi kesan yang baik terhadap para pengunjung kantor.
7. Mengusahakan adanya keleluasaan bagi :
Gerak pegawai yang sedang bekerja
Kemungkinan untuk pegawai memanfaatkan ruangan bagi keperluan lain pada wktu
tertentu.
Perkembangan dan perluasan kegiatan kantor di kemudian hari.
Teori Ergonomi
Menurut Sedarmayanti (1996 : 1) Ergonomi adalah cabang ilmu yang sistematis untuk
memanfaatkan informasi mengenai sifat kemampuan dan keterbatasan manusia untuk
merancang suatu sistem kerja, sehingga orang dapat bekerja pada sistem termaksud
dengan baik, guna mencapai tujuan melalui pekerjaan yang dilakukan dengan efisien,
aman dan nyaman.
Lingkungan dan Kondisi Fisik Tata Ruang
Kantor
Suatu kondisi lingkungan dikatakan baik atau sesuai apabila manusia dapat
melaksanakan kegiatannya secara optimal, sehat, aman, nyaman.Ketidaksesuaian
lingkungan kerja dapat dilihat akibatnya dalam jangka waktu yang lama. Keadaan
lingkungan yang kurag baik dapat menuntut tenaga dan waktu yang lebih banyak dan
tidak mendukung diperolehnya waktu yang lebih banyak dan tidak mendukung
diperolehnya rencangan sistem kerja yang efisien (Sedarmayanti, 1996 : 23).
Berikut ini beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terbentuknya suatu kondisi
lingkungan kerja dikaitkan dengan kemampuan manusia atau pegawai menurut
Sedarmayanti (1996 : 23) diantaranya adalah :
1. Penerangan atau pencahayaan di tempat kerja
Penerangan atau pencahayaan sangat berpengaruh dengan keselamatan dan
kelancaran kerja, oleh sabab itu perlu diperhatikan adanya penerangan atau cahaya
yang baik. Cahaya yang kurang baik dapat mengakibatkkan penglihatan menjadi
kurang jelas, sehingga pekerjaan akan lambat dan banyak mengalami kesalahan dan
pada akhirnya menyebabkan kurang efisien dalam melaksanakan pekerjaan.
1. Temperatur atau suhu di tempat kerja
Temperatur atau suhu di tempat kerja harus diperhatikan karena dalam keadaan normal
,tiap anggota tubuh manusia mempunyai temperatur yang berbeda. Temperatur yang
terlampau dingin akan mengakibatkan gairah kerja menurun, sedangkan terlampau
panas, akan mengakibatkan cepat timbul kelelahan dalam bekerja dan cenderung
membuat banyak kesalahan.
1. Kelembaban di tempat kerja
Kelembaban adalah banyaknya air yang terkandung dalam udara, biasa dinyatakan
dalam persentase. Kelembaban ini berhubungan atau dipengaruhi oleh temperatur
udara, dan secara bersama-sama antara temperatur udara, dan secara bersama-sama
antara temperatur, kelembaban, kecepatan udara bergerak dan radiasi panas dari
udara tersebut akan mempengaruhi keadaan tubuh manusia pada saat menerima atau
melepaskan panas dari tubuhnya.
1. Sirkulasi udara di tempat kerja
Sirkulasi udara di tempat kerja harus di perhatikan karena jika udara yang dihirup oleh
pekerja di ruangan itu kotor bisa mengakibatkan kesehatan menurun seperti sesak
nafas.
1. Kebisingan di tempat kerja
Kebisingan di tempat kerja sebaiknya dihindari agar pelaksanaan pekerjaan dapat
dilakukan dengan efisien sehingga produktiitas kerja meningkat.
1. Getaran mekanisme di tempat kerja
Getaran mekanisme adalah getaran yang di timbulkan oleh alat mekanis, yang
sebagian dari getaran ini sampai ke tubuh pegawai dan dapat menimbulkan akibat yang
tidak di inginkan.Getaran mekanisme dapat menganggu tubuh manusia seperti
konsentrasi bekerja berkurang, mudah lelah, kesesahan tubuh menurun.
1. Bau-bauan di tempat kerja
Bau-bauan di sekitar tempat kerja dapat dianggap pencemaran, karena dapat
mengganggu konseentrasi bekerja. Pemakaian air conditioner adalah salah satu cara
yang dapat di gunakan untuk menghilangkan baubauan yang mengganggu di sekitar
tempat kerja.
1. Dekorasi di tempat kerja
Dekorasi di tempat kerja adalah kegiatan yang berkaitan dengan menghias ruang kerja,
mengatur tata letak dan perlengkapan dan lainnya untuk bekerja .
1. Musik di tempat kerja
Menurut para pakar, musik yang bernada lembut sesuai dengan suasana, waktu dan
tempat dapat membangun semangat pekerja untuk bekerja.
1. Keamanan ditempat kerja
Guna menjaga tempat dan kondisi lingkungan kerja tetap dalam keadaan aman maka
perlu diperhatikan adanya keamanan dalam bekerja.Faktor keamanan
perlu diwujudkan.Salah satu upaya untuk menjaga keamanannya adalah dengan
memanfaatkan tenaga satuan petugas keamanan.
Konsep Efektivitas Pelayanan
Pengertian Efektivitas
Menurut Handayaninggrat(2007 : 16) Efektivitas adalah pengukuran dalam arti
tercapaimya sasaran atau tujuan yang telah di tentukan sebelumnya.
Pengertian di atas dapat diartikan bahwa efektivitas yaitu bila sasaran atau tujuan telah
tercapai sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya adalah efektif, tetapi jika
tujuan atau sasaran itu tidak selesai sesuai dengan waktu yang telah ditentukan maka
pekerjaan itu tidak efektif. Atau dengan kata lain efektivitas dapat diartikan sebagai
suatu upaya peningkatan untuk mencapai suatu tujuan secara tepat yang ditimbulkan
dari pengaruh suatu hal tertentu.
Tujuan dan Upaya-upaya Dalam Efektivitas
Menurut Handayaninggrat (2007 : 16) dalam mencapai efektivitas ada beberapa
tujuan dan sasaran yang harus dicapai.
1. Tujuan dari efektivitas yaitu :
Mencegah dan mengurangi terjadinya tindakan-tindakan yang tidak diharapkan dari
karyawan yang dapat mengganggu jalannya pekerjaan.
Mencapai produktivitas yang tinggi, perusahaan harus dapat menimbulkan
semangat kerja yang tinggi dari karyawan.
Memproduksi lebih banyak keluaran (nilai rupiah dan unit jasa) dari setiap masukan.
Mengembangkan rencana-rencana untuk mencapai tujuan-tujuan.
1. Upaya-upaya dalam meningkatkan efektivitas kerja antara lain :
Menetapkan standar-standar pelaksanaan kerja
Standar-standar pelaksanaan kerja harus ditetapkan untuk semua pekerjaan, agar
tanggung jawab dan apa yang diharapkan para karyawan jelas.
Merumuskan secara jelas tanggung jawab perusahaan
Bila tanggungjawab pekerjaan tidak jelas dan berubah-ubah, para karyawan akan
frustasi, hasilnya dapat berupa kualitas rendah.
Komitmen dengan implementasi
Harus mengimplementasikan segala yang akan menghasilkan peningkatan
produktivitas.
Menurut Sedarmayanti (2009 : 59) Efektivitas merupakan suatu ukuran yang
memberikan gambaran seberapa jauh target dapat dicapai. Pengertian efektivitas ini
lebih berorientasi kepada keluaran sedangkan masalah penggunaan masukan kurang
menjadi perhatian utama.Apabila efisiensi dikaitkan dengan efektivitas maka walaupun
terjadi peningkatan efektivitas belum tentu efisiensi meningkat.
Pengertian Pelayanan
Menurut Kotler (2002:83) pelayanan adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat
ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan
tidak mengakibatkan kepemilikan apapun.
Menurut Manroe (1995 : 766) Pelayanan addalah pelayanan jasa,ada timbal baliknya
sehingga menimbulkan ikatan, tuntutan dan kepuasan pemakai jasa.