Anda di halaman 1dari 15

PENDIDIKAN KARAKTER ANAK PADA KELUARGA TKW

DI DESA NGADIREJO, KAWEDANAN


KABUPATEN MAGETAN
Tri Susilowati
Program Studi Magister Pendidikan IPS, Program Pascasarjana Universitas PGRI Madiun
email: trisusilowati046@gmail.com.

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penanaman nilai-nilai pendidikan karakter anak pada
keluarga TKW di Desa Ngadirejo, Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan. Penelitian
dilaksanakan mulai bulan Agustus-Oktober 2017 menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data
meliputi data primer dan sekunder, dikumpulkan dengan teknik wawancara, observasi, dan
dokumentasi. Uji keabsahan data menggunakan teknik triangulasi. Penelitian ini menggunakan analisis
data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanaman nilai-nilai pendidikan karakter anak
pada keluarga TKW di Desa Ngadirejo sudah dilaksanakan dengan baik. Strategi yang dilakukan
melalui pembelajaran, pembiasaan, dan keteladanan. Hambatan-hambatan yang ada meliputi: aspek
internal adalah tidak adanya ibu disamping anak-anak dalam waktu yang lama membuat anak merasa
sedih, anak merasakan kangen kepada ibunya, ayah dalam mendidik terlalu tegas bahkan terkadang
dengan marah dan terkadang acuh tak acuh atau masa bodoh terhadap anak, serta anak banyak
mengalami perubahan perilaku karena kurangnya pembinaan, pendampingan, perhatian, dan kasih
sayang dari ibu. Hambatan dari aspek eksternal berasal dari lingkungan masyarakat maupun
lingkungan pertemanan atau teman sebaya, khususnya yang berkaitan dengan pergaulan dengan
teman, prestasi belajar yang tidak maksimal, dan kesulitan belajar dengan penuh konsentrasi.

Kata Kunci: pendidikan karakter, keluarga TKW

Education Character Children in Female Foreign Workers Family


at Ngadirejo Village, Kawedanan, District Magetan
Abstract
This study aims to determine the cultivation of the values of character education of children in the
family of female foreign workers in the Village Ngadirejo, District Kawedanan, Magetan. The study
was conducted from August to October 2017 using qualitative descriptive approach. Data includes
primary and secondary data, collected by interview, observation, and documentation techniques. Test
data validity using triangulation technique. This research uses qualitative data analysis. The results
showed that the inculcation of educational values of the character of the children in the family of
female foreign workers in Ngadirejo village had been well implemented. Strategies are done through
learning, habituation, and exemplary. The obstacles that exist include: internal aspect is the absence
of mothers in addition to children for a long time to make children feel sad, children feel missed his
mother, father in educating too firmly even sometimes angrily and sometimes indifferent or indifferent
to children, and children experience a lot of behavioral changes due to lack of mentoring, mentoring,
attention, and affection from mothers. Obstacles from external aspects come from the community
environment or the environment of friendship or peers, especially related to the association with
friends, learning achievement is not optimal, and the difficulty of learning with full concentration.

Keywords: character education, female foreign workers family


Pendahuluan bersosialisasi dengan anggota keluarga, ini
Bangsa Indonesia pada saat ini adalah saat yang tepat bagi orang tua untuk
dihadapkan pada krisis karakter yang cukup membentuk karakter seorang anak. Orang
memprihatinkan. Fenomena tentang tualah yang merupakan teladan bagi anak.
meningkatnya kenakalan remaja dalam Menurut Kurniawan (2013: 29)
masyarakat, seperti perkelahian antar pelajar, Karakter seseorang terbentuk karena
perilaku seks pranikah di kalangan remaja, kebiasaan yang dilakukan, sikap yang
dan berbagai kasus dekadensi moral lainnya diambil dalam menanggapi keadaan, dan
merupakan salah saru indikator dari krisis kata-kata yang diucapkan kepada orang lain.
karakter pada masyarakat, khususnya remaja. Keluarga merupakan salah satu media dalam
Untuk itu, krisis karakter sudah waktunya proses sosialisasi bagi anak. Proses
untuk diatasi secara struktural. Penanganan kehidupan dalam sebuah keluarga adalah
krisis karakter haruslah dimulai dari proses belajar pertama bagi anak sebelum
pemahaman akan penyebab krisis itu sendiri mereka hidup dalam lingkungan yang lebih
salah satunya dengan menanamkan luas yaitu sekolah dan masyarakat. Oleh
pendidikan budi pekerti atau karakter mulai karena itu seharusnya setiap orang tua harus
sejak dini. mampu memanfaatkan masa-masa ini untuk
Menurut Kementerian Pendidikan mengembangkan potensi anak sehingga
Nasional (2010: 4): terbentuk pribadi yang sempurna. Keluarga
pendidikan karakter dimaknai sebagai dan rumah tangga merupakan tempat yang
pendidikan yang mengembangkan dan pertama anak mengenal hidup, maka
karakter bangsa pada diri peserta didik pendidikan di sini tidak hanya terbatas pada
sehingga mereka memiliki nilai dan pendidikan yang sengaja diberikan seperti
karakter sebagai karakter dirinya, mengajarkan anak kebiasaan-kebiasaan yang
menerapkan nilai-nilai tersebut dalam baik, sopan santun, pendidikan keagamaan
kehidupan dirinya, sebagai anggota dan lain sebagainya, tetapi yang tidak sengaja
masyarakat, dan warganegara yang sekalipun sangat mempengaruhi anak. Semua
religius, nasionalis, produktif dan kreatif. apa yang terjadi dalam keluarga dan rumah
Fathurrohman, dkk. (2013: 116) tangga misalnya perasaan, perilaku, dan
mengemukakan bahwa Pendidikan karakter pergaulan ibu dan bapak di rumah ataupun di
tidak hanya membuat seorang anak luar rumah akan mempengaruhi anak. Oleh
mempunyai akhlak mulia, akan tetapi juga karena itu orang tua di samping menjadi
dapat meningkatkan kualitas akademiknya. pendidik, juga menjadi teman dan suri
Hubungan antara keberhasilan pendidikan tauladan bagi anak.
karakter dengan keberhasilan akademik dapat Karakter anak dalam keluarga pertama
menumbuhkan suasana sekolah yang kali dibentuk oleh kedua orang tuanya.
menyenangkan dan proses belajar mengajar Menurut Taufik (2014: 1) 80 persen
yang kondusif. Oleh sebab itu, pembentukan karakter anak dibentuk oleh ibu sehingga jika
karakter tidak bisa dipisahkan dari terjadi salah komunikasi ibu terhadap anak
kehidupan. Diperlukan kepedulian oleh karena kurang memahami karakter anak
berbagai pihak baik oleh pemerintah, dapat mempengaruhi kondisi anak ke
sekolah, masyarakat, maupun keluarga. depannya. Hubungan ibu dan anak memiliki
Dalam keluarga, anak dilahirkan, dirawat, kedekatan yang sangat intim, hal ini
dibesarkan dan proses pendidikan berawal. dikarenakan anak pada umumnya lebih
Orang tua adalah guru pertama dan utama banyak menghabiskan waktu bersama ibunya
bagi anak. Sejak anak dilahirkan mulai ketika bayi. Selain itu, ibu dalam kehidupan
belajar berbicara, dan mengenal untuk keluarga mempunyai tugas dan peran pokok
berinteraksi dan bersosialisasi dengan dalam keluarga. Ibu berperan sebagai
anggota keluarga terlebih dahulu. Masa anak- seorang istri yang mempunyai tanggung
anak yang hanya berinteraksi dan jawab untuk mengatur dan mengurusi rumah
tangga. Istri tahu seberapa besar penghasilan luar negeri menyebabkan anak jauh dari
suami, dan juga kebutuhan keluarga. Ketika ibunya. Pilihan untuk bekerja menjadi TKW
istri memutuskan untuk membantu di luar negeri memungkinkan timbulnya
perekonomian keluarga, dengan demikian permasalahan baru yang muncul, terutama
keputusan istri untuk membantu suami tentang dalam pendidikan karakter pada
mencari penghasilan tambahan adalah untuk anak-anak keluarga TKW tersebut.
meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Pendidikan karakter yang seharusnya dimulai
Begitu juga pada masyarakat di Desa dari keluarga terutama ibu di rumah tidak
Ngadirejo, Kecamatan Kawedanan, dapat berjalan optimal, yang menanamkan
Kabupaten Magetan. Dari studi lapangan, di pendidikan karakter pada anak yang
desa ini dengan potensi alamnya berupa areal ditinggalkan ibunya menjadi TKW
persawahan yang luas menyebabkan digantikan oleh anggota keluarga lain.
sebagian besar penduduknya adalah sebagai Berdasarkan pernyataan di atas maka penulis
buruh tani. Sekitar 30% warganya bekerja ke ingin mengadakan penelitian dengan judul
luar negeri untuk menjadi TKW. Hal ini Pendidikan Karakter Anak Pada Keluarga
dilakukan istri untuk memenuhi kebutuhan TKW (Studi Kasus di Desa Ngadirejo,
hidup keluarga. Penghasilan sebagai petani Kecamatan Kawedanan Kabupaten
dan atau buruh tani tidak menentu dan hanya Magetan). Adapun tujuan penelitian ini
cukup untuk biaya hidup sampai panen adalah untuk mengetahui penanaman nilai-
berikutnya, sedangkan kebutuhan hidup nilai pendidikan karakter anak pada keluarga
sehari-hari semakin meningkat. Keadaan TKW di Desa Ngadirejo, Kecamatan
seperti itu menekan para istri untuk Kawedanan Kabupaten Magetan tahun 2017,
membantu menopang perekonomian rumah strategi yang dilakukan dalam memberikan
tangga agar dapat memenuhi kebutuhan pendidikan karakter anak pada keluarga
hidup mereka dan keluarganya, sekaligus TKW di Desa Ngadirejo, Kecamatan
untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Kawedanan Kabupaten Magetan tahun 2017,
Banyak wanita di Desa Ngadirejo, serta hambatan-hambatan yang ada pada
Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan pendidikan karakter anak pada keluarga
yang mencari alternatif pekerjaan lain dengan TKW di Desa Ngadirejo, Kecamatan
mengadu nasib di negeri orang dengan Kawedanan Kabupaten Magetan tahun 2017.
harapan dapat mengubah kondisi sosial Menurut Narwanti (2011: 1) karakter
ekonomi keluarga. berasal dari bahasa Yunani kharakter yang
Pada keluarga tenaga kerja wanita berakar dari diksi kharassein yang berarti
(TKW) yang bekerja di luar negeri, memahat atau mengukir (to inscribe/to
kebersamaan keluarga tentu saja tidak terjadi. engrave), sedangkan dalam bahasa Latin
Hal ini menjadikan lingkungan yang kurang karakter bermakna membedakan tanda.
kondusif dalam pembentukan karakter anak. Dalam Bahasa Indonesia, karakter dapat
Fungsi ibu pada keluarga yang ibunya diartikan sebagai sifat-sifat
bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) kejiwaan/tabiat/watak. Secara istilah terdapat
di luar negeri tidak dapat berjalan ideal. dua pengertian, pertama karakter
Walaupun dalam keluarga tersebut peran ibu menunjukkan bagaimana seseorang
dapat digantikan anggota keluarga lain bertingkah laku, apabila seseorang
seperti ayah, kakak, bibi, atau nenek, namun berperilaku tidak jujur, kejam, atau tidak
fungsi ibu tidak dapat berjalan secara rukun, maka orang tersebut perwujudan
optimal. Sebagai akibat dari kurang sebagai karakter jelek, sebaliknya apabila
optimalnya fungsi ibu, anak kehilangan seseorang berperilaku jujur, suka menolong,
perhatian serta kontrol atas perilaku yang maka orang tersebut perwujudan sebagai
mereka lakukan. Hal ini akan berpengaruh karakter mulia.
terhadap perkembangan anak. Istri yang juga Selanjutnya Kevin Ryan dan Bohlin
sebagai seorang ibu bekerja menjadi TKW di (dalam Fathurrohman, dkk. 2013: 17)
menambahkan, Character so conceived has
threeinterrelated parts: moral knowing, Ada beberapa nilai yang dianggap perlu
moral feeling, and moral behavior. Karakter dalam untuk dijadikan fokus pendidikan
mulia (good character) meliputi pengetahuan karakter. Menurut Deklarasi Aspen (dalam
tentang kebaikan, dan akhirnya benar-benar Mundiri, 2012: 42) dihasilkan enam nilai etik
melakukan kebaikan. Dengan kata lain, utama (core ethical values) yang disepakati
karakter mengacu kepada serangkaian untuk diajarkan dalam sistem pendidikan
pengetahuan (cognitives), sikap (attitudes), karakter, yaitu: (a) dapat dipercaya
dan motivasi (motivations), serta perilaku (trustworty) meliputi sifat jujur (honesty) dan
(behaviors) dan keterampilan (skills). integritas (integrity), (b) memperlakukan
Plato (dalam Koesoema, 2007: 112) orang lain dengan hormat (treats people with
berpendapat bahwa untuk memahami respect), (c) bertanggung jawab, (d) adil
pendidikan karakter merupakan sebuah (fair), (e) kasih sayang (caring), dan (f)
sistem pembinaan dan pembentukan untuk warga negara yang baik (good citizen).
menciptakan sosok pribadi pemimpin yang Strategi dalam pendidikan karakter
akan membawa masyarakat pada suatu menurut Lestari (2013: 54-55) dapat
kebaikan dan keadilan. Ellen G. White dilakukan melalui sikap-sikap berikut ini:
dalam Sarumpaet (dalam Muhdar, 2013: 116) a. Keteladanan
mengemukakan bahwa Pengembangan Orang tua harus menjadi figur yang ideal
karakter adalah usaha paling penting yang bagi anak-anaknya dan harus menjadi
pernah diberikan kepada manusia. Baik panutan yang bisa mereka andalkan bagi
dalam pendidikan rumah tangga ataupun anak-anak dalam mengarungi kehidupan.
dalam sekolah, orang tua dan guru tetap b. Penanaman disiplin
sadar bahwa pembangunan tabiat yang agung Disiplin pada hakikatnya adalah suatu
adalah tugas mereka. ketaatan yang sungguh-sungguh yang
Koesoema (2007: 143) mengemukakan didukung kesadaran untuk menunaikan
bahwa pendidikan karakter sebagai pedagogi tugas kewajiban serta berperilaku menurut
memberikan tiga matra penting setiap aturan atau tata kelakuan yang seharusnya
tindakan edukatif maupun campur tangan berlaku dalam suatu lingkungan tertentu.
internasional bagi kemajuan pendidikan. c. Pembiasaan
Matra itu yaitu sebagai berikut: Anak akan tumbuh dalam lingkungan
a. Matra individu, matra individu dalam yang mengajarinya dan merupakan
pendidikan karakter menyiratkan sesuatu kebiasaan yang dihadapi setiap
dihargainya nilai-nilai kebebasan dan hari. Terbentuknya karakter memerlukan
tanggung jawab. Nilai-nilai inilah yang proses yang relatif lama dan terus menerus
menjadi prasyarat utama sebuah perilaku maka pembiasaan harus dilakukan.
bermoral. Yang menjadi subjek bertindak d. Menciptakan suasana yang kondusif
dan subjek moral adalah pribadi itu Lingkungan dapat dikatakan merupakan
sendiri. proses pembudayaan anak yang
b. Matra sosial, matra sosial mengacu pada dipengaruhi kondisi yang setiap saat
corak relasional antara individu dengan dihadapi dan dialami anak.
individu lain atau dengan lembaga lain e. Integrasi dan internalisasi.
yang menjadi cerminan kebebasan Pendidikan karakter harus terintegrasi dan
individu dalam mengorganisir dirinya terinternalisasi dalam segala aspek
sendiri. kehidupan.
c. Matra moral, matra moral menjadi jiwa Metode pendidikan karakter di sekolah
yang menghidupi gerak dan dinamika yang dikemukakan Koesoema (2007: 212-
masyarakat sehingga masyarakat tersebut 217) adalah bahwa dengan cara sebagai
menjadi semakin berbudaya dan berikut.
bermartabat.
a. Mengajarkan, salah satu unsur penting terbentuk karena ikatan perkawinan. Di
dalam pendidikan karakter adalah dalamnya hidup bersama padangan suami
mengajarkan nilai-nilai itu sehingga anak istri secara sah karena pernikahan. Nurihsan
didik memiliki gagasan konseptual, (2009: 99) menyatakan bahwa keluarga
tentang nilai-nilai pemandu perilaku yang merupakan sistem sosial yang alamiah,
bisa dikembangkan dalam berfungsi membentuk aturan-aturan,
mengembangkan karakter pribadinya. komunikasi, dan negosiasi di antara para
b. Keteladanan, anak lebih belajar dari apa anggotanya. Ketiga fungsi keluarga ini
yang mereka lihat. Hal ini lebih mempunyai sejumlah implikasi terhadap
menitikberatkan pada guru sebagai perkembangan dan keberadaan para
pendidik, tidak hanya dalam pembelajaran anggotanya. Keluarga melakukan suatu pola
di kelas tetapi juga dari diri sang guru, dan interaksi yang diulang-ulang melalui
kehidupan nyata di luar kelas. Indikasi partisipasi seluruh anggotanya.
adanya keteladanan dalam pendidikan Menurut Hasbullah (dalam Oktaviana,
karakter adalah terdapat model peran dari dkk., 2014: 3) dasar-dasar tanggung jawab
insan pendidikan (guru, staf, karyawan, orang tua terhadap pendidikan anaknya
kepala sekolah, direktur, orang tua, dan meliputi:
lain-lain). a. Adanya motivasi atau dorongan cinta kasih
c. Menentukan prioritas, pendidikan karakter yang menjiwai hubungan orang tua dan
menghimpun banyak kumpulan nilai yang anak. Kasih sayang orang tua yang ikhlas
dianggap penting bagi pelaksanaan dan dan murni akan mendorong sikap dan
realisasi atas visi lembaga pendidikan, tindakan rela menerima tanggung jawab
lembaga pendidikan mesti menentukan untuk mengorbankan hidupnya dalam
tuntunan standar atas karakter yang akan memberikan pertolongan kepada anaknya.
ditawarkan kepada peserta didik, setiap b. Pemberian motivasi kewajiban moral
pribadi juga harus memahami secara sebagai konsekuensi kedudukan orang tua
jernih apakah prioritas nilai yang ingin terhadap keturunannya. Adanya tanggung
ditekankan dalam pendidikan karakter di jawab moral ini meliputi nilai-nilai agama
dalam lembaga pendidikan di mana atau nilai-nilai spiritual.
tempat mereka bekerja. c. Tanggung jawab sosial adalah bagian dari
d. Praksis prioritas, lembaga pendidikan keluarga yang pada gilirannya akan
harus mampu membuat verifikasi sejauh menjadi tanggung jawab masyarakat,
mana visi sekolah telah dapat bangsa dan negara. Tanggung jawab sosial
direalisasikan dalam lingkup pendidikan itu merupakan perwujudan kesadaran
skolastik melalui berbagai macam unsur tanggung jawab kekeluargaan yang dibina
yang ada dalam lembaga pendidikan itu oleh darah, keturunan dan kesatuan
sendiri. keyakinan.
e. Refleksi, karakter yang ingin dibentuk d. Memelihara dan membesarkan anaknya.
oleh lembaga pendidikan melalui berbagai Tanggung jawab ini merupakan dorongan
macam program dan kebijakan senantiasa alami untuk dilaksanakan, karena anak
perlu dievaluasi dan direfleksikan secara memerlukan makan, minum, dan
berkesinambungan dan kritis. Dengan perawatan, agar ia dapat hidup secara
adanya refleksi manusia dapat mengatasi berkelanjutan. Disamping itu ia
diri dan meningkatkan kualitas hidupnya bertanggung jawab dalam hal melindungi
dengan baik. Refleksi ini dimaksudkan dan menjamin kesehatan anaknya, baik
untuk melihat sejauh mana lembaga secara jasmaniah maupun rohaniah dari
pendidikan telah gagal atau berhasil dalam berbagai gangguan penyakit atau bahaya
melaksanakan pendidikan karakter. lingkungan yang dapat membahayakan
Djamarah (2004: 16) mendefinisikan diri anak tersebut.
keluarga sebagai sebuah institusi yang
e. Memberikan pendidikan dengan berbagai perempuan. Tenaga kerja perempuan adalah
ilmu pengetahuan dan keterampilan yang tiap orang yang mampu melakukan pekerjaan
berguna bagi kehidupan anak kelak, baik di dalam maupun di luar hubungan kerja
sehingga bila ia telah dewasa akan mampu guna menghasilkan barang/jasa untuk
mandiri. memenuhi masyarakat yang secara hukum
Tenaga Kerja Wanita adalah (TKW) berjenis kelamin perempuan.
setiap wanita yang mampu melakukan Peran perempuan dalam ekonomi rumah
pekerjaan, baik di dalam maupun di luar tangga semakin penting sejalan dengan
hubungan kerja, guna menghasilkan sesuatu menurunnya peranan sektor pertanian dalam
yang berupa barang atau jasa untuk perekonomian desa. Keterlibatan
memenuhi kebutuhan masyarakat. Dalam perempuan dalam kegiatan ekonomi keluarga
penelitian ini, TKW merupakan tenaga kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama,
Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri. tekanan ekonomi. Kedua, lingkungan
Menurut Undang-Undang No. 39 Tahun keluarga yang sangat mendukung dalam
2004 tentang Penempatan dan Perlindungan bekerja. Ketiga, tidak ada peluang kerja lain
Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri, pasal sesuai dengan ketrampilannya (Abdullah
1, dinyatakan bahwa Tenaga Kerja dalam Sosan, 2010: 99). Nashih Ulwan
Indonesia yang selanjutnya disebut dengan dalam Djamarah (2004: 29) membagi
TKI adalah setiap warga negara Indonesia tanggung jawab orang tua dalam mendidik
yang memenuhi syarat untuk bekerja di luar bersentuhan langsung dengan (1)
negeri dalam hubungan kerja untuk jangka Pendidikan iman, (2) Pendidikan moral, (3)
waktu tertentu dengan menerima upah. Pendidikan fisik, (4) Pendidikan rasio/akal,
Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 (5) Pendidikan kejiwaan, (5) Pendidikan
tentang Ketenagakerjaan, pasal 1 sosial, dan (6) Pendidikan seksual.
menyebutkan bahwa Tenaga kerja adalah Pujosuwarno (dalam Mahanani, 2015: 12)
setiap orang yang mampu melakukan berpendapat bahwa kewajiban orang tua
pekerjaan guna menghasilkan barang terhadap anak dalam keluarga diantaranya
dan/atau jasa baik untuk memenuhi sebagai berikut:
kebutuhan sendiri maupun untuk a. Perasaan cinta kasih. Perasaan cinta kasih
masyarakat. Oleh karena itu tenaga kerja merupakan tali pengikat yang teguh antara
sedemikian pentingnya bagi kehidupan keluarga, anak, ibu, bapak, dan sanak
bangsa dan merupakan faktor yang saudara, karena tanpa adanya cinta kasih,
menentukan mati hidupnya bangsa itu anak-anak akan menjadi liar dan
sendiri, baik fisik maupun kulturil maka menjauhkan diri dari orang tua.
perlu diadakan peraturan yang sebaik- b. Pengalaman ajaran agama dan pemberian
baiknya yang dimulai sebelum orang menjadi keteladanan.
tenaga kerja sampai ia meninggal dunia. c. Membiasakan kebersihan dan menjaga
Menurut Simanjuntak (dalam kesehatan.
Agusmidah, 2010: 5) bahwa Tenaga kerja d. Mengajarkan berbuat baik terhadap
(manpower) adalah penduduk yang sesama manusia dan suka tolong
sudah/sedang bekerja, yang sedang mencari menolong. Anak harus ditanamkan
pekerjaan dan yang melaksanakan kegiatan pengertian bahwa mereka harus suka
lain seperti bersekolah dan mengurus rumah tolong menolong dan tidak dapat berbuat
tangga. Secara praktis, pengertian tenaga semaunya tanpa memperhatikan orang
kerja dan bukan tenaga kerja dibedakan oleh lain.
batas umur. Tenaga kerja (manpower) terdiri e. Mencintai tanah air, bangsa dan negara.
dari angkatan kerja dan bukan angkatan
kerja. Tenaga kerja menurut jenis
kelompoknya terbagi atas dua bagian yaitu
tenaga kerja laki-laki dan tenaga kerja
Berdasarkan pendapat di atas dapat Penelitian ini menggunakan pendekatan
disimpulkan bahwa peran/tanggungjawab kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor
keluarga TKW terhadap pendidikan anak (dalam Moleong, 2010: 4) metode kualitatif
meliputi: adalah prosedur penelitian yang
a. Pendidikan agama. Keluarga merupakan menghasilkan data deskriptif yang berupa
tempat utama dalam mengajarkan kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang
pendidikan agama, atau keluarga dan perilaku yang diamati. Jenis penelitian
berkewajiban untuk mengajarkan untuk ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif,
mengenal Tuhan juga agama yang dianut, yaitu penelitian yang terbatas pada usaha-
keluarga memberikan pemahaman usaha yang mengungkapkan suatu masalah
mengenai kewajiban dan larangan, atau keadaan atau peristiwa sebagaimana
mengajarkan apa yang harus dilakukan adanya sehingga bersifat sekedar
dan harus dihindari sehingga anak mengungkapkan fakta (fact finding). Menurut
menjadi pribadi yang taat terhadap Sugiyono (2010: 14) metode penelitian
agamanya. kualitatif adalah metode penelitian yang
b. Pendidikan sosial. Keluarga penting juga berlandaskan filsafat postpositivisme, yang
mengajarkan pendidikan sosial karena digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek
pada akhirnya seorang anak akan yang alamiah dimana peneliti adalah sebagai
membaur pada masyarakat, dalam instrumen kunci, analisis data bersifat
keluarga anak diajari untuk menganal nilai induktif/kualitatif, dan hasil penelitian
dan norma yang berlaku pada masyarakat. kualitatif lebih menekankan makna daripada
Selain itu anak juga diberi pengertian generalisasi. Penelitian ini bertujuan untuk
mengenai sanksi yang berlaku pada memahami realitas lebih mendalam,
masyarakat jika melanggar peraturan. memiliki cara pandang yang subjektif, dan
Dalam hal ini seperti tindakan berbuat membangun teori berdasarkan logika
baik pada sesama, saling menghormati, induktif.
toleransi dan lain sebagainya. Data yang digunakan dalam penelitian
c. Pendidikan moral. Pendidikan moral ini meliputi data primer dan data sekunder.
penting ditanamkan keluarga karena Sumber data primer diperoleh peneliti
dengan mengenal moralitas seseorang melalui wawancara dengan responden atau
menjadi manusia sesuai dengan hakikat pengamatan. Subyek sebagai sumber data
kemanusiaannya, baik di hadapan Tuhan primer dalam penelitian ini adalah keluarga
maupun sesama manusia, pendidikan TKW atau orang tua pengganti yang
moral juga berisi mengenai nilai yang baik memberikan pendidikan karakter pada anak
dan buruk, hal ini tidak terlepas dari dalam keluarga baik itu ayah, kakak, atau
pendidikan sosial, juga pendidikan agama. kerabat atau anggota keluarga dan juga anak
d. Pendidikan fisik. Pendidikan fisik adalah pada keluarga TKW di Desa Ngadirejo,
mengenai pendidikan yang menyangkut Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan.
fisik manusia diantaranya mengenai Untuk menambah kelengkapan data yang
memberikan kesadaran mengenai dibutuhkan, peneliti juga melakukan
kebersihan, olah raga dan kesehatan fisik wawancara dengan kepala desa dan
lainnya. perangkat desa serta tokoh masyarakat di
Desa Ngadirejo, Kecamatan Kawedanan
Metode Penelitian Kabupaten Magetan. Data sekunder berupa
Penelitian ini dilaksanakan di Desa data-data tertulis mengenai kondisi sosial,
Ngadirejo, Kecamatan Kawedanan budaya dan ekonomi Desa Ngadirejo,
Kabupaten Magetan. Penelitian ini Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan.
dilaksanakan mulai bulan Agustus sampai Data yang diperoleh peneliti secara tertulis
dengan Oktober 2017. adalah dokumen atau arsip dari lembaga
pemerintahan Desa Ngadirejo berupa data
monografi desa tahun 2017 dan dokumen deskriptif. Teknik ini dilakukan dengan
lain untuk menunjang data penelitian yaitu mendeskripsikan data-data di lapangan, data
data tertulis mengenai sejarah Desa tersebut dianalisis dan disimpulkan.
Ngadirejo, Kecamatan Kawedanan
Kabupaten Magetan. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Terdapat beberapa teknik pengumpulan Penanaman Nilai-Nilai Pendidikan
data yang dapat digunakan dalam suatu Karakter Anak Pada Keluarga TKW di
penelitian. Pemilihan teknik pengumpulan Desa Ngadirejo, Kecamatan Kawedanan
data harus relevan dengan kebutuhan data Kabupaten Magetan
penelitian. Pada penelitian ini, teknik Pada aspek religius, diketahui bahwa
pengumpulan data yang digunakan meliputi anak-anak sudah diajari untuk meyakini
wawancara, observasi, dan dokumentasi. keberadaanya adalah karena adanya Tuhan
Teknik wawancara dilakukan dengan cara YME, sehingga dalam agama Islam untuk
mengajukan pertanyaan langsung kepada mengungkapkan rasa syukur salah satunya
informan, khususnya terkait dengan adalah dengan melakukan shalat.
pendidikan karakter anak pada keluarga Berdasarkan hasil wawancara anak-anak
TKW, strategi dalam menanamkan pada keluarga TKW di Desa Ngadirejo sudah
pendidikan karakter, juga hambatan- menyadari hal itu, bagi anak-anak yang
hambatan dalam menanamkan pendidikan sudah besar sekitar sudah mempunyai
karakter anak pada keluarga TKW. Dalam kesadaran sendiri untuk melaksanakan sholat.
penelitian ini menggunakan metode Anak yang masih kecil masih butuh
observasi langsung yaitu pada masyarakat pembinaan dari orang tua yaitu dengan
Desa Ngadirejo, Kecamatan Kawedanan menyuruh anaknya untuk sholat.
Kabupaten Magetan. Peneliti melakukan Mengacu pada pendapat Dachlan (dalam
observasi ini untuk memperoleh data yang Pujosuwarno 1994: 45), penanaman
lengkap dan rinci mengenai pelaksanaan pendidikan agama seharusnya dimulai dari
pendidikan karakter anak pada keluarga keluarga. Kewajiban orang tua yang adalah
TKW di Desa Ngadirejo, Kecamatan menanamkan ajaran dan pengamalan agama.
Kawedanan Kabupaten Magetan. Dalam rumah tangga merupakan tempat yang
Menurut Sugiyono (2015: 89) analisis pertama-tama anak belajar Tuhan, belajar
data adalah proses mencari dan menyusun mengenai cara-cara menjalankan ibadah.
secara sistematis data yang diperoleh dari Anak yang masih kecil belum menyadari
hasil wawancara, catatan lapangan, dan pentingnya beragama dan menjalankan
dokumentasi, dengan cara kewajiban beragama, sehingga mereka masih
mengorganisasikan data ke dalam kategori, butuh untuk mendapat bimbingan dari
menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan keluarga. Seharusnya keluarga yang pertama
sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih kali menanamkan pendidikan agama karena
mana yang penting dan yang akan dipelajari, menyangkut hubungan manusia dengan
dan membuat kesimpulan sehingga mudah Tuhannya. Bapak atau saudara di rumah
difahami oleh diri sendiri maupun orang lain. perlu memberikan pemahaman agama
Penelitian ini menggunakan teknik analisis dengan memberikan pengarahan tentang apa
data yang bersifat kualitatif, yaitu data yang yang baik atau tidak baik, selain itu
diperoleh dari hasil wawancara, observasi, seharusnya keluarga juga yang pertama kali
dan dokumentasi serta dikumpulkan dan mengajari anak untuk melaksanakan ibadah.
dikelompokkan berdasarkan indikator- Menanamkan pemahaman agama sebaiknya
indikator yang ada, serta berdasarkan fakta- sejak dini, sehingga anak akan masih ingat
fakta, dan juga pada pemikiran-pemikiran juga mudah untuk mengajarinya.
yang kritis untuk memperoleh hasil yang Keteladanan dari ayah, seperti
berbobot. Oleh karena itu, dalam melakukan melaksanakan sholat berjamaah bersama
analisis data digunakan teknik analisis anaknya, maka dalam hal ini keteladanan dari
orang tua sudah ada. Hal ini ditunjukkan pengeluaran. Anak yang diberi uang khusus
dengan adanya temuan penelitian bahwa untuk menabung bisa bertanggung jawab
orang tua atau saudara dari anak keluarga untuk menabungkan uangnya, dan bukan
TKW tidak hanya menyuruh anak untuk tidak bertanggungjawab dengan menjajakan
melakukan sholat, tetapi juga dengan uang tersebut. Anak yang tidak mendapat
keteladanan yaitu mencontohkan dengan uang khusus menabung dapat menyisihkan
perbuatan nyata dari ayah/pengasuh sendiri uang jajan tersebut dapat belajar berhemat.
untuk melakukan shalat, khususnya dengan Pola pendidikan yang diberikan kepada
mengajak anak untuk shalat berjamaah. anak tidaklah konsisten. Anak diajari untuk
Pendidikan karakter pada anak juga menabung, tetapi di sisi lain mereka juga
dapat dilakukan melalui pemberian tanggung dimanjakan oleh uang dengan memberi uang
jawab. Dalam mendidik anak sehingga tambahan setelah pulang sekolah. Hal ini
mempunyai tanggung jawab salah satunya akan mengakibatkan tidak maksimalnya
adalah dengan memberikan anak tugas. pendidikan yang diberikan orang tua. Pada
Pemberian tugas ini bertujuan agar anaknya beberapa responden, diketahui terdapat bapak
memelaksanakan dan bertanggung jawab yang selalu menuruti atau memenuhi
terhadap apa yang ditugaskan kepadanya. permintaan anak ketika mereka meminta
Dari pengamatan peneliti, keluarga TKW sesuatu. Pada umumnya, suami TKW
yang mempunyai anak laki-laki tidak mengaku selalu menuruti keinginan anak
membebankan tanggung jawab atau tugas supaya anak tidak rewel. Selalu memenuhi
kepada anak laki-lakinya. Pekerjaan rumah permintaan anak akan mengakibatkan anak
seperti mencuci piring, menyapu dan menjadi manja dan menjadi penuntut.
mengepel lebih sering diberikan kepada anak Seharusnya ayah tidak memanjakan anak
perempuan. untuk selalu menuruti keinginan anaknya.
Pemberian tugas rumah kepada anak Mengajari anak tanggung jawab akan
laki-laki sebenarnya tidak ada salahnya menimbulkan sikap peduli pada anak. Sikap
karena hal tersebut melatih kemandirian dan tanggung jawab yang ditanamkan kepada
tanggung jawab anak kelak sebagai bekal anak adalah contohnya yaitu dengan
hidup dalam keluarga, karena tidak memberikan pekerjaan rumah. Pada keluarga
selamanya peran domestik dipegang oleh TKW di desa Ngadirejo anak-anak
perempuan. Dalam hal ini ada perempuan diberi tugas untuk melakukan
ketidakpercayaan kepada anak untuk pekerjaan rumah. Dan bagi keluarga yang
melakukan pekerjaan rumah. Seharusnya mempunyai anak lebih dari satu, anak tertua
anak diajari mulai dari kecil, tentu saja hal itu atau anak yang lebih besar diberi tanggung
membutuhkan proses yang panjang, karena jawab untuk mengasuh adiknya. Hal ini
anak butuh untuk belajar. Seharusnya mengajari anak untuk mempunyai kepedulian
meskipun tidak bersih dalam hal mencuci, terhadap keluarganya. Anak-anak
ayah atau saudara dari anak keluarga TKW dikemudian hari akan terbiasa dan mengerti
membiarkan anak untuk melakukan tugas jika ayahnya sibuk mencari nafkah, maka
tersebut, karena hal itu merupakan proses untuk membantu meringankan beban ialah
dari pembelajaran. Dengan tidak memberikan dengan membantu menyelesaikan pekerjaan
pekerjaan rumah kepada anak, hal ini pula dalam rumah tangga.
menyebabakan anak tidak bisa mandiri. Cara Disiplin dalam penelitian ini
mengajari bertanggung jawab lainnya adalah dimaksudkan adalah suatu sikap yang
dengan mengajari anak menabung, hal ini menunjukan ketaatan terhadap ketentuan
bertujuan agar anak dapat mengelola yang sudah disepakati bersama baik oleh
keuangan sendiri. Anak diberi tanggung keluarga maupun oleh masyarakat
jawab dalam mengelola uang sendiri selain lingkunganya. Agar anak menjadi pribadi
mengajari anak untuk berhemat juga yang disiplin tentunya orang tua harus
mengajari anak untuk dapat mengontrol bekerja keras dan membiasakan anak
mengendalikan diri dan berusaha menepati Beberapa hasil wawancara menunjukkan
waktu. Idealnya orang tua harus bahwa mengenai kedisiplinan untuk bangun
membiasakan anak-anaknya berdisiplin dari pagi, telah dicontohkan oleh bapak mereka.
hal-hal yang sederhana yaitu mentaati Hasil wawancara menunjukkan bahwa ada
kewajiban anak dalam keluarga. keteladanan dari orang tua untuk bangun
Dachlan (dalam Pujosuwarno 1994: 45- lebih pagi juga keteladanan dalam
46) berpendapat bahwa Kewajiban orang melaksanakan sholat subuh. Ayah atau
tua terhadap anak dalam keluarga saudara juga telah memperhatikan anak
diantaranya yaitu pertama mempunyai untuk belajar. Anak-anak belajar hanya
perasaan cinta kasih, disiplin dan beraturan. kadang-kadang yaitu ketika ujian semester
Perasaan cinta kasih merupakan tali pengikat atau ujian nasional tiba. Dari uraian di atas
yang teguh antara keluarga, anak, ibu, bapak, dapat disimpulkan bahwa penanaman
dan sanak saudara, karena tanpa adanya cinta kedisiplinan anak sudah maksimal. Hal itu
kasih, anak-anak akan menjadi liar dan terlihat dari adanya pengaturan terhadap anak
menjauhkan diri dari orang tua dan keluarga. mengenai pengaturan waktu anak untuk
Akan tetapi kecintaan harus disertai dengan belajar, bermain dan menonton TV.
disiplin tertib dan beraturan, kalau tidak Kebanyakan anak hanya menghabiskan
demikian kecintaan akan menjurus kepada waktu untuk bermain dan menonton TV.
kelemahan, yang membuat anak-anak Selain itu, juga sudah ada keteladanan dari
sewenang-wenang tidak disiplin. orang tua.
Pada keluarga TKW menerapkan Mandiri berarti dapat memecahkan
disiplin disini khususnya mengenai persoalan atau kepentingan sendiri dengan
pengaturan waktu bermain dan pergaulan penuh tanggung jawab. Kemandirian pada
anak-anaknya. Pada beberapa ayah dari anak seseorang sangat mutlak diperlukan, oleh
keluarga TKW menyatakan bahwa tidak sebab itu sikap kemandirian harus dibiasakan
membatasi pergaulan anaknya, karena pada anak sedini mungkin. Kemandirian
anaknya hanya bermain dengan teman penting agar membentuk karakter, sehingga
sekelasnya saja. Pada umumnya keluarga anak tidak terlalu menggantungkan diri pada
TKW ayah atau pengasuh membebaskan orang lain, manusia pada saatnya pasti akan
anak untuk bergaul, tetapi bukan berarti ayah terpisah dengan keluarganya dan harus
tidak melakukan pengawasan terhadap mampu hidup sendiri tanpa bantuan orang
anaknya. Dari pengamatan dan hasil lain. Salah satu kebanggaan dambaan setiap
wawancara menunjukan bahwa responden orang tua adalah memiliki anak-anak
tidak mengatur bagaimana anaknya harus mandiri. Kemandirian dalam aspek berpikir
bermain, dengan siapa harus bermain, tetapi ,ataupun dalam tindakan sehari-hari
yang pasti anaknya masih berlaku baik dan merupakan suatu sikap yang diharapkan
tidak melakukan penyimpangan dan orang tua. Meskipun demikian, kemandirian
melakukan hal-hal yang merugikan. bukanlah suatu hal yang akan terbentuk
Kedisiplinan lain yang diterapkan pada dengan sendirinya dalam jiwa anak-anak.
keluarga TKW yaitu adalah mengenai Kemandirian bukanlah suatu hal yang terjadi
peraturan jam malam. Anak diberi peraturan secara instan, melainkan hasil suatu proses
jam malam ketika bermain di malam hari. yang membutuhkan waktu.
Kedisiplinan yang seharusnya diterapkan Baik dan disiplinya sikap anak
kepada anak yang paling dasar adalah merupakan suatu bentuk keberhasilan orang
mengenai waktu bangun tidur. Untuk bangun tua dalam mengurus dan mendidik anak-
pagi, anak-anak TKW di Desa Ngadirejo ini anaknya. Buruk atau rendahnya sikap atau
pada umumnya sudah menyadari, karena sifat disiplin anak-anak merupakan cerminan
mereka mempersiapkan diri untuk berangkat kegagalan orang tua untuk mendidik anak-
sekolah. Pada umumnya, anak anaknya. Untuk memperoleh kemandirian
mengungkapkan kalau bangun tepat waktu. yang matang dalam aspek berpikir maupun
berbuat, tentunya penanaman kemandirian ibunya ketika akan berangkat sekolah seperti
tersebut membutuhkan waktu yang tidak memandikan, memakaikan baju dan
sebentar. Kemandirian harus ditanamkan memakai sepatu. Tetapi anak TKW yang
pada anak-anak sejak dini, sehingga akan ditinggalkan ibunya sudah bisa melayani
melekat erat dalam kehidupannya kelak. dirinya sendiri. Kadang-kadang ayah tidak
Pada tahap perkembangan tertentu, begitu telaten dalam mengurus anak. dalam
kemandirian yang dimiliki anak juga hal-hal seperti menyuapi, memandikan, atau
berbeda. Orang tua harus mengajarkan mendandani anak, sehingga anak pada
kemandirian kepada anak sesuai dengan keluarga TKW dituntut lebih mandiri karena
usianya. Menurut hasil penelitian, pada ibunya tidak ada.
umumnya anak keluarga TKW di Desa Mengajarkan anak untuk peduli
Ngadirejo sudah punya kemandirian, anak- sangatlah penting, sehingga anak mempunyai
anak yang umurnya 6-8 tahun sudah tidak kepekaan terhadap sesamanya terutama
didandani lagi kalau sekolah. Sebelum teman sebaya. Hormat kepada orang lain
berangkat sekolah mereka memenuhi (hormat kepada yang lebih tua, dan
kebutuhan sekolahnya sendiri. menyayani kepada yang lebih muda). Ketika
Jadi secara umum anak pada keluarga anak di ajari untuk peduli, maka anak tidak
TKW sudah punya kemandirian. Anak-anak akan melanggar hak-hak orang lain, sayang
pada keluarga TKW lebih cakap ketika terhadap temannya, bekerjasama dengan
ditinggal ibunya, karena mau tidak mau teman, membantu dan menolong orang lain.
karena keadaan mereka harus bisa melakukan Mengajarkan tanggung jawab pada anak juga
dan memenuhi kebutuhan pribadinya sendiri. sebenarnya akan menimbulkan sikap peduli
Hal tersebut terjadi karena ayah tidak terlalu pada orang lain. Kepedulian yang diajarkan
cakap dan telaten dalam mengurus anak. oleh ayah keluarga TKW pada anaknya
Berbeda ketika ada ibunya, bagi keluarga adalah yaitu dengan mengajarkan tanggung
yang Istrinya sudah berangkat lebih dari dua jawab pada anaknya, sehingga menimbulkan
kali ke luar negeri mengaku kalau ada ibunya kepedulian pada sesama. Seperti yang telah
anak-anak lebih dimanjakan, begitu pula diuraikan di atas bahwa pemberian tanggung
anak-anak lebih manja kepada ibunya. Hal jawab yang dilakukan keluarga TKW adalah
itu terjadi karena waktu yang ditinggalkan dengan memberikan pekerjaan rumah pada
ibu untuk anaknya selama bekerja, bisa anak. Ketika ayah sibuk bekerja anak diberi
digantikan ketika kehadiran ibu di rumah tanggung jawab untuk melaksanakan
sebelum berangkat lagi. pekerjaan rumah, sehingga anak mengerti
Kemandirian adalah kemamapuan untuk bahwa ayahnya juga sedang mencari nafkah
melakukan tugas atau kegiatan sehari-hari pulang kerja tentu capek kalau ayah masih
sendiri atau dengan sedikit bimbingan, sesuai juga harus mengerjakan pekerjaan rumah dan
dengan tahapan perkembangan dan anak-anak peduli sehingga sudah punya
kapasitasnya (Lie, 2004: 2). Anak-anak pada kesadaran sendiri untuk melakukan pekerjaan
keluarga TKW di Desa Ngadirejo pada rumah dengan tujuan meringankan pekerjaan
umumnya sudah mempunyai kemandirian. ayahnya.
Mereka dituntut lebih mandiri daripada Kepedulian yang diajarkan para ayah
keluarga yang ibunya bekerja di rumah. atau saudara dari anak keluarga TKW adalah
Anak-anak yang ibunya berada di rumah agar anaknya ikut mengasuh adiknya, hal ini
tentu saja segala keperluan pribadinya tujuannya adalah agar anak peka terhadap
dilayani, tetapi pada anak yang ibunya lingkungannya terutama dalam lingkungan
bekerja menjadi TKW harus bisa keluarga. Anak yang dimintai untuk
mengerjakan segalanya sendiri. Anak yang mengasuh adiknya tentu tidak akan
masih kecil kadang-kadang ketika makan mementingkan dirinya sendiri, sehingga
masih di suapi, atau anak yang baru mengajarkan anak untuk peduli kepada orang
menginjak kelas 1 SD masih didandani lain. Menurut beberapa hasil wawancara
dapat disimpulkan bahwa, sebagian besar Strategi yang Dilakukan dalam
anak TKW mempunyai kepedulian terhadap Memberikan Pendidikan Karakter Anak
sesamanya atau keluarganya. Mereka pada Keluarga TKW di Desa Ngadirejo,
mengerti apa yang seharusnya mereka Kecamatan Kawedanan Kabupaten
lakukan ketika ayah atau pengasuhnya sakit. Magetan
Karakter lainnya yang perlu dimiliki Penanaman pendidikan karakter pada
oleh seorang anak adalah sikap peduli. anak keluarga TKW memerlukan diperlukan
Caring atau peduli di sini meliputi sikap strategi atau cara agar nilai tersebut dapat
saling menghormati, menghargai. Kehidupan dilaksanakan dengan baik dalam kehidupan
masyarakat yang kompleks perlu untuk oleh anak. Keluarga dapat memberikan
saling menghormati dan menghargai pengertian mengenai pendidikan karakter
(Hidayatullah, 2010: 34). Mengajari anak tersebut yaitu dengan cara memberikan
untuk mengasuh adiknya juga akan pembelajaran, pembiasaan, dan keteladanan.
menimbulkan kepedulian, hal ini selaras Hal ini sesuai dengan pendapat Lestari
dengan pendapat Lee (2004: 74) yang (2013: 54-55) bahwa strategi dalam
menyatakan bahwa mengajak anak yang pendidikan karakter dapat dilakukan melalui
lebih besar untuk menjaga adiknya sikap-sikap pembelajaran, keteladanan, dan
memberinya kesempatan untuk menjadi pembiasaan.
seseorang yang tidak hanya mementingkan Berdasarkan hasil wawancara dengan
dirinya sendiri saja. Mengajarkan anak anak-anak dari keluarga TKW diketahui
berbuat baik terhadap sesama manusia dan bahwa anak-anak dari keluarga TKW sudah
suka tolong menolong. Manusia tidak dapat diajari beribadah oleh orangtuanya. Selain
hidup terasing dan terpisah dari masyarakat, dari orang tua, pembelajaran tentang
karena kehidupan sosial selalu menghendaki keyakinan beragama juga diperoleh dari
pertalian manusia sesamanya. Anak harus guru, sekolah, dan orang-orang terdekat yang
ditanamkan pengertian bahwa mereka harus ada di sekitarnya. Adapun cara mengajari
suka tolong menolong dan tidak dapat anak untuk mandiri dapat dilakukan orang
berbuat semaunya tanpa memperhatikan tua dengan memberikan tugas dan tanggung
orang lain (Pujosuwarno, 1994: 46). jawab kepada anak, diberikan contoh tentang
Hal ini sesuai dengan apa yang perilaku mandiri, dilakukan pengawasan
dikemukakan Pujosuwarno (1994:47) yang terhadap pelaksanaan tugas dan tanggung
menyatakan bahwa anak mempunyai jawab. Rata-rata pengawasan kedisiplinan
kewajiban dalam keluarga, pertama-tama pada anak dari keluarga TKW tidak terlalu
hormat dan patuh pada orang tua, menolong ketat. Hal ini dimungkinkan karena keluarga
dan meringankan pekerjaan mereka sehari- lebih memberikan kesempatan kepada anak
hari. Jika mereka sudah tua kewajiban anak untuk disiplin berdasarkan kesadaran diri.
menolong dan memelihara sebagai Anak juga sudah dilatih peduli kepada
pengabdian suci manusia kepada orang tua sesama melalui berbagai tindakan yang dapat
yang melahirkan dan membesarkan. dilakukan dalam berinteraksi dengan orang-
Kepedulian yang sudah dimiliki anak TKW orang yang ada di dekatnya. Misalnya,
di Desa Ngadirejo adalah ditunjukkan dengan berbagi dengan teman atau membantu
mencurahkan perhatian ketika anggota saudara dan teman yang membutuhkan
keluarga mereka sakit. Mereka tanggap dan bantuan.
mengerti apa yang harus mereka lakukan Pendidikan karakter harus dilakukan
baik itu memberi bantuan dengan memijat, melalui keteladanan dari orang tua. Menurut
atau membelikan obat. hasil wawancara dengan anak-anak yang
orang tuanya menjadi TKW, ayah atau
anggota keluarga yang lain selalu memberi
contoh atau teladan tentang perilaku yang
baik bagi anak-anak. Hal ini dapat dilihat
dari penilaian anak-anak terhadap karakter diuraikan di atas, contohnya adalah dalam
ayah masing-masing serta kebersamaan yang menanamkan pendidikan mengenai
dijalani setiap anggota keluarga selama kepercayaan kepada Tuhan, tidak dilakukan
beraktivitas, khususnya di rumah. oleh keluarga sendiri, tetapi oleh TPQ/TPA
Keteladanan untuk anak dapat dilakukan setempat atau kepada guru mengaji. Hal ini
melalui beragam cara. Orang tua perlu karena pengetahuan mengenai agama yang
memberikan teladan bagi anak-anaknya minim sekali dari ayah atau orang tua selaku
melalui berbagai kegiatan, seperti rajin pendidik. Dalam hal ini, faktor utama dalam
beribadah, mengerjakan sesuatu dengan tepat memberikan pendidikan karakter kepada
waktu, segera bangun pagi, bekerja giat dan anak adalah adanya sikap yang acuh tak acuh
menjaga sikap baik di depan anak-anaknya. atau masa bodoh dari ayah sehingga anak
menjadi bersikap seenaknya sendiri. Waktu
Hambatan-hambatan yang Ada pada yang dimiliki ayah untuk anak juga terlalu
Pendidikan Karakter Anak pada sedikit. Kedekatan ayah dengan anak yang
Keluarga TKW di Desa Ngadirejo, tidak terlalu intens dan tidak ada waktu untuk
Kecamatan Kawedanan Kabupaten bersenda gurau atau bersantai bersama. Hal
Magetan ini menyebabakan anak menarik diri dari
Orang tua sangat berperan dalam ayah atau pengasuhnya. Dari diri anak sendiri
perkembangan anak. Keluarga yang terdiri mereka merasa kehilangan sosok ibunya,
dari ayah, ibu, dan anak-anak merupakan dengan ketidakhadiran ibu ini menyebabkan
cerminan dari keluarga yang lengkap. mereka memberontak dan tidak menurut
Kehadiran ayah dan ibu sangat berpengaruh terhadap ayahnya.
terhadap perkembangan anak, adanya ketidak Hambatan ekternal adalah hambatan
hadiran ibu dalam jangka waktu yang lama yang berasal dari lingkungan atau masyarakat
menyebabkan banyak sekali hambatan- setempat. Interaksi atau pergaulan dengan
hambatan yang dilalui karena beban masyarakat atau teman sepergaulan tentu saja
pendidikan dalam keluarga yang seharusnya tidak lepas membawa hal yang negatif dan
dilakukan oleh ayah dan ibu secara positif. Hambatan yang terjadi dalam
bersamaan dilakukan hanya satu orang saja memberikan pendidikan kepada anak TKW
dan anak kehilangan peran ibu pada masa adalah yang paling utama adalah teman
perkembangannya. sebaya. Pada masa awal menginjak remaja,
Dalam memberikan atau menanamkan anak kadang-kadang lebih dekat dengan
pendidikan kepada anak tentu tidak lepas dari teman. Hal ini tentu saja sangat berpengaruh
adanya faktor yang menyebabkan terhadap perilakunya contohnya ketika anak
terhambatnya pendidikan itu terhadap anak. disuruh melakukan sholat oleh ayahnya,
Hambatan dalam menanamkan pendidikan tetapi karena dihampiri temannya yang tidak
karekter pada anak berasal hambatan internal sholat, maka ia lebih memilih bermain.
dan juga hambatan secara eksternal. Berikut Kedua adanya pandangan negatif dari
ini merupakan faktor penghambat dari masyarakat tentang keluarga yang istrinya
terlaksananya pendidikan karakter dalam berangkat menjadi TKW. Hal ini
keluarga pada keluarga TKW. berpengaruh terhadap psikologis anak
Hambatan internal yaitu hambatan yang sehingga menyebabkan terhambatnya
berasal dari dalam keluarga itu sendiri, baik penanaman nilai-nilai karakter pada anak.
itu dari orang yang memberikan pendidikan Hidup dan bergaul dalam bermasyarakat
karakter tersebut ataupun dari dalam diri tidaklah mudah, banyak nilai-nilai dalam
anak. Pendidikan yang dimiliki oleh masyarakat yang sedikit banyak tentu saja
pengasuh juga penting dalam mendidik anak. akan berpengaruh terhadap perkembangan
Dengan pengetahuan yang cukup yang dan kepribadian anak. Pergaulan yang baik
dimiliki oleh orang tua akan membantu untuk akan menciptakan suasana kehidupan yang
mendidik anaknya sendiri. Seperti yang telah berbudi pekerti luhur, sedangkan pergaulan
yang tidak baik justru akan merusak kepedulian yang beragam, naum rata-rata
kepribadian dan moral anak, sehingga sudah memiliki rasa kepedulian terhadap
menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. lingkungan di sekitarnya. (2) Strategi yang
Dalam usia anak yang menginjak masa dilakukan dalam memberikan pendidikan
remaja masih dalam masa yang menggebu- karakter anak pada keluarga TKW di Desa
gebu, serba ingin tahu dan mencoba-coba, Ngadirejo, Kecamatan Kawedanan
sehingga mereka butuh pengawasan yang Kabupaten Magetan dilakukan melalui
ketat baik dalam keluarga maupun dalam pembelajaran, pembiasaan, dan keteladanan.
pergaulannya, karena pada usia anak-anak Anak-anak keluarga TKW sudah diajari
justru pembentukan pribadi anak akan dapat beribadah oleh orangtuanya. Adapun cara
dibentuk dengan mudah diserap dan mengajari anak untuk mandiri dapat
diterapkan dalam kesehariannya. dilakukan orang tua dengan memberikan
Hambatan yang paling utama adalah tugas dan tanggung jawab kepada anak,
pengaruh dari pergaulan atau teman sebaya. diberikan contoh tentang perilaku mandiri,
Masa remaja merupakan masa sulit, dan Anak juga sudah dilatih peduli kepada
ingin memberontak. Mereka cenderung lebih sesama. Ayah atau saudara dari anak-anak
dekat dengan teman daripada orang tua. keluarga TKW juga membiasakan anak-
Perilaku anak tentu akan lebih banyak anaknya untuk disiplin melalui pemberian
terpengaruh oleh oleh pergaulannya dengan tugas pekerjaan rumah, dan sanksi yang
teman-temannya. Tentu saja hal ini lebih sulit diberikan jika melakukan pelanggaran. ayah
lagi dengan tidak adanya kehadiran ibu di atau anggota keluarga yang lain selalu
rumah, dan waktu ayah yang terbatas karena memberi contoh atau teladan tentang perilaku
harus mencari nafkah. yang baik bagi anak-anak. Hal ini dapat
dilihat dari penilaian anak-anak terhadap
Kesimpulan karakter ayah masing-masing serta
Berdasarkan data temuan penelitian dan kebersamaan yang dijalani setiap anggota
pembahasan yang disampaikan sebelumnya, keluarga selama beraktivitas, khususnya di
pada penelitian ini dapat disimpulkan rumah. (3) Hambatan-hambatan yang ada
beberapa hal sebagai berikut. (1) Penanaman pada pendidikan karakter anak pada keluarga
nilai-nilai pendidikan karakter anak pada TKW di Desa Ngadirejo, Kecamatan
keluarga TKW di Desa Ngadirejo, Kawedanan Kabupaten Magetan berasal dari
Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan aspek internal dan eksternal. Hambatan dari
sudah dilaksanakan dengan baik. Pada aspek aspek internal adalah tidak adanya ibu
religius, ditemukan bahwa anak telah disamping anak-anak dalam waktu yang lama
mengerjakan sholat dan mengaji yang membuat anak merasa sedih, anak merasakan
dilaksanakan di rumah maupun di masjid. kangen kepada ibunya, ayah dalam mendidik
Anak sudah memiliki tanggung jawab, terlalu tegas bahkan terkadang dengan marah
meskipun masih terbatas. Rata-rata anak dan terkadang acuh tak acuh atau masa
keluarga TKW masih memerlukan bantuan bodoh terhadap anak, serta anak banyak
ayah atau keluarga yang lain dalam mengatur mengalami perubahan perilaku karena
waktu, namun anak juga sudah terbiasa kurangnya pembinaan, pendampingan,
dengan jadwal kegiatan yang telah ditetapkan perhatian, dan kasih sayang dari ibu.
ayah atau keluarga yang lain dan rata-rata Hambatan dari aspek eksternal berasal dari
sudah memiliki keinginan untuk lingkungan masyarakat maupun lingkungan
menepatinya. Anak sudah memiliki pertemanan atau teman sebaya, khususnya
kemandirian, tercermin dari anak sudah yang berkaitan dengan pergaulan dengan
mengerjakan kegiatan sehari-hari sendiri atau teman, prestasi belajar yang tidak maksimal,
dengan sedikit bimbingan, sesuai dengan dan kesulitan belajar dengan penuh
tahapan perkembangan dan kapasitasnya. konsentrasi.
Anak keluarga TKW memiliki tingkat
Berdasarkan hasil pembahasan dan Kurniawan, Syamsul. (2013). Pendidikan
simpulan, dalam penelitian penelitian ini Karakter. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
dapat disampaikan beberapa saran sebagai Lestari, Dwi Yuni. (2013). Pembinaan
berikut: (1) Sebaiknya ayah atau kerabat Karakter Siswa di SMP Nasional Pati.
sebagai orang tua bersikap konsisten dalam Jurnal Ilmiah PPKN IKIP Veteran
memberikan pendidikan karakter pada anak. Semarang, 1(2), 51-64.
Ayah atau kerabat seharusnya tidak selalu
memenuhi tuntutan anak, karena hal itu akan Mahanani, Mamik. (2015). Hubungan
menyebabkan anak menjadi manja. (2) Perhatian Orang Tua dengan
Dalam memberikan pendidikan kepada anak Perkembangan Sosial Anak Usia 4-5
sebaiknya ada keteladanan dari orang tua Tahun di Desa Birit Kecamatan Wedi
untuk memberikan contoh sikap dan perilaku Kabupaten Klaten Tahun 2017. Skripsi.
yang baik. Tidak hanya menyuruh tetapi Yogyakarta: FIP UNY.
tidak memberikan contoh seperti melakukan Moleong, Lexy J. (2010). Metodologi
sholat berjamaah bersama, tidak bangun Penelitian Kualitatif. Bandung: PT.
kesiangan untuk berdisiplin, berhemat dan Remaja Rosdakarya.
saling menghormati, dengan keteladanan dari
pengasuh akan lebih mudah untuk Muhdar, H. M. (2013). Pendidikan Karakter
menginternalisasi nilai-nilai karakter Menuju SDM Paripurna. Jurnal Al-
tersebut. (3) Bagi lingkungan di sekitar Ulum, (13)1, 103-128.
tempat tinggal anak dari keluarga TKW, Mundiri, Akmal. (2012). Pendidikan
sebaiknya turut mengawasi pergaulan anak- Teknohumanistik Berbasis Core Ethical
anak dari keluarga TKW agar tidak Values. Jurnal At-Tajdid, 1(1), 37-47.
terjerumus ke dalam bentuk-bentuk
pergaulan yang negatif dan terhindar dari Narwanti, Sri. (2011). Pendidikan Karakter
kenakalan remaja. Pengintegrasian 18 Nilai Pembentuk
Karakter dalam Mata Pelajaran.
DAFTAR PUSTAKA Yogyakarta: Familia.
Nurihsan, Achmad Juntika. (2009).
Agusmidah. (2010). Dinamika Hukum
Bimbingan dan Konseling. Bandung:
Ketenagakerjaan Indonesia. Medan:
Refika Aditama.
USU Press.
Oktaviana, Yohanes Bahari, dan Gusti
Djamarah, Syaiful Bahri. (2004). Pola
Budjang. (2014). Tanggung Jawab
Komunikasi Orang Tua dan Anak dalam
Orang Tua dalam Pendidikan Anak Studi
Keluarga Sebuah Perspektif Pendidikan
Kasus Keluarga Nelayan Kelurahan
Islam. Jakarta: Rineka Cipta.
Tengah. Jurnal online.
Fathurrohman, Pupuh H., AA Suryana, dan http://download.portalgaruda.org/article.
Fenny Fatriany. (2013). Pengembangan php. Diakses pada Agustus 2017.
Pendidikan Karakter. Bandung: Refika
Sosan, Isna. (2010). Peran Ganda Ibu Rumah
Aditama.
Tangga Yang Bekerja Sebagai Tukang
Kementerian Pendidikan Nasional. (2010). Amplas Kerajinan Ukir Kayu. Jurnal
Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Komunitas, 2(2), 94-105.
Pembelajaran Berdasarkan Nilai-Nilai
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian
Budaya untuk Membentuk Daya Saing
Pendekatan Kuantitatif. Kualitatif. R &
dan Karakter Bangsa. Jakarta: Balitbang
D. Bandung: Alfabeta.
Puskur Kemendiknas.
_____. (2015). Metode Penelitian
Koesoema, Doni. (2007). Pendidikan
Pendekatan Kualitatif. Bandung:
Karakter Strategi Mendidik Anak di
Alfabeta.
Zaman Global. Jakarta: Grasindo.