Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Para pemilik usaha senantiasa berupaya untuk mengurangi biaya-biaya

usaha, termasuk beban pajak. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengurangi

beban pajak inilah yang disebut sebagai penghindaran pajak (tax avoidance).

Penghindaran pajak dilakukan dengan menggunakan strategi, seperti

memanfaatkan pengecualian dan potongan yang diperkenankan dalam

ketentuan, maupun memanfaatkan hal-hal yang belum diatur dalam peraturan

perpajakan yang berlaku. Penghindaran pajak (tax avoidance) terjadi apabila

perusahaan berusaha mengurangi beban pajaknya dengan cara legal dan tidak

bertentangan dengan undang-undang perpajakan yang berlaku (Reza, 2012).

Kasus mengenai tax avoidance di Indonesia maupun luar negeri cukup

banyak. Salah satu kasus yang berhasil terungkap di tahun 2016 yang lalu

adalah Konsorsium Jurnalis Investigasi Internasional (ICIJ) yang

mempublikasikan Panama Papers yang merupakan jutaan dokumen mengenai

individu dan entitas bisnis yang memanfaatkan perusahaan offshore yang

melibatkan firma hukum Mossack Foncesa. Sebanyak 11,5 juta dokumen milik

Mossack Fonseca mengungkap sejumlah perusahaan bayangan yang digunakan

untuk aktivitas penghindaran pajak. ICIJ menyatakan bahwa kasus trasfer

kekayaaan pengusaha Indonesia ke perusahaan bayangan ini sudah terjadi sejak

tahun 1970-an. Salah satu alasan pengusaha di Indonesia mentransfer uangnya

1
2

ke luar negeri adalah menghindari kewajiban pajak (www.kompasiana.com.,

07 April 2016).

Persoalan tax avoidance merupakan persoalan yang rumit dan unik

karena di satu sisi tax avoidance tidak melanggar hukum (legal), tetapi di sisi

yang lain tax avoidance tidak diinginkan oleh pemerintah. Tindakan

penghindaran pajak akan mengurangi kas negara atau mempengaruhi

penerimaan negara dalam APBN. Dari sudut pandang pemerintah, wajib pajak

diharapkan melaksanakan kewajiban perpajakan semaksimal mungkin. Namun,

dari sisi pengusaha atau wajib pajak, pajak merupakan salah satu faktor

pengurang pendapatan atau penghasilan dan apabila pajak yang dibayar lebih

besar dari jumlah yang semestinya maka akan mengalami kerugian, karena

salah satu tujuan pengusaha adalah memaksimalkan kesejahteraan pemegang

saham atau investor dengan cara memaksimalkan nilai perusahaan dengan cara

memperoleh laba maksimum. Oleh sebab itu, di dalam melaksanakan

kewajiban perpajakan sangat dibutuhkan manajemen perpajakan yang baik.

Manajemen pajak perusahaan yang baik dapat dipengaruhi mekanisme

corporate governance yang ada. Desai dan Dharmapala (dalam Minnick dan

Noga, 2010) menemukan bahwa penghindaran pajak sesungguhnya dihargai

oleh para pemegang saham. Mekanisme corporate governance diciptakan

untuk mengawasi tax planning ataupun tax management agar mampu berjalan

dibawah hukum yang berlaku bagi perusahaan sebagai wajib pajak. Mekanisme

corporate governance memastikan agar tata kelola perusahaan dalam

perpajakan tetap berada pada koridor penghindaran pajak (tax avoidance) yang
3

bersifat legal bukan penggelapan pajak (tax evasion) yang bersifat ilegal.

Menurut Haruman (2008), corporate governance dalam perusahaan akan

menentukan arah kinerja perusahaan. Ketika suatu perusahaan telah

menerapkan corporate governance dengan baik, maka akan tercipta kinerja

perusahaan yang lebih efektif dan berdampak pada keputusan yang efektif

dalam menentukan kebijakan terkait besaran tarif pajak efektif perusahaan

(Hanum & Zulaikha, 2013).

Berkaitan dengan pengaruh corporate governance terhadap tax

avoidance, terdapat beberapa penelitian terdahulu yang menguji pengaruh

corporate governance terhadap tax avoidance. Fadhillah (2014) dalam

penelitiannya yang menggunakan kepemilikan institusional sebagai proksi dari

mekanisme corporate governance, menemukan bahwa ada atau tidaknya

kepemilikan institusional tetap saja tax avoidance terjadi. Dewi dan Jati (2014)

menyebutkan terdapat pengaruh signifikan antara corporate governance yang

diproksikan proporsi dewan komisaris terhadap tax avoidance, ini berarti

keberadaan dewan komisaris independen efektif dalam usaha mencegah

tindakan penghindaran pajak. Menurut penelitian yang dilakukan Marfirah dan

Syam (2016) diketahui bahwa proksi-proksi pengukuran corporate governance

yang berpengaruh positif terhadap tax avoidance adalah kepemilikan

institusional, dewan komisaris independen, kualitas audit, dan komite audit.

Hal ini juga didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan Wibawa,

Wilopo, dan Abdillah (2016) bahwa persentase dewan komisaris independen


4

dan komite audit perusahaan berpengaruh signifikan terhadap penghindaran

pajak.

Beberapa penelitian terdahulu di atas menggunakan proksi-proksi

pengukuran corporate governance yang berbeda, ada yang menggunakan

proksi kepemilikan institusional, dewan komisaris independen, kualitas audit,

dan komite audit. Hasil beberapa penelitian Fadhillah (2014) membuktikan

bahwa kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap tax avoidance.

Sedangkan Marfirah dan Syam (2016) menemukan bahwa kepemilikan

institusional berpengaruh positif terhadap tax avoidance. Dewi dan Jati (2014)

menemukan bahwa proporsi dewan komisaris berpengaruh terhadap tax

avoidance. Hal ini relevan dengan temuan penelitian Marfirah dan Syam

(2016) dan Wibawa, dkk. (2016) yang juga menemukan bahwa dewan

komisaris independen berpengaruh signifikan terhadap penghindaran pajak.

Marfirah dan Syam (2016) dan Wibawa, dkk. (2016) juga menemukan bahwa

kualitas audit komite audit berpengaruh signifikan terhadap penghindaran

pajak.

Kerugian besar dalam penerimaan pajak karena pengurangan pajak atas

tingkat utang yang tinggi telah mendorong banyak negara maju untuk

mengadopsi thin capitalization rules untuk melindungi dasar pengenaan pajak

dalam negeri mereka (Dahlby, 2008). Thin capitalization itu sendiri adalah

praktik membiayai cabang atau anak perusahaan lebih besar dengan utang

berbunga daripada dengan modal saham. Thin capitalization ini merupakan


5

pinjaman berupa uang atau modal dari pemegang saham atau pihak-pihak yang

memiliki hubungan istimewa dengan pihak peminjam.

Menurut Ningrahayu (2010) praktik-praktik penghindaran pajak (tax

avoidance) yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah skema transfer

pricing, thin capitalization, dan treaty shopping. Praktik penghindaran pajak

tersebut dilakukan dengan memanfaatkan peluang-peluang yang terdapat

dalam ketentuan perpajakan yang berlaku. Hal tersebut juga diperkuat dengan

adanya karakteristik hubungan antara anak perusahaan (subsidiary company) di

Indonesia dengan induk perusahaan (parent company) di luar negeri yang

menurut kacamata pajak dianggap sebagai entitas terpisah. Dengan demikian,

induk perusahaan membentuk struktur modal bagi anak perusahaan dengan

kontribusi hutang sebanyak mungkin dan modal sesedikit mungkin. Praktik

thin capitalization didasarkan pada adanya perbedaan perlakuan perpajakan

atas bunga (sebagai imbalan atas hutang) dan dividen (sebagai imbalan atas

modal). Biaya bunga merupakan unsur pengurang dalam penghitungan

Penghasilan Kena Pajak. Sedangkan dividen bukan merupakan unsur

pengurang dalam penghitungan Penghasilan Kena Pajak. Dengan praktik thin

capitalization ini, yang biasanya melibatkan holding company di negara

dengan tarif pajak rendah, pajak yang seharusnya menjadi hak suatu negara

dapat dialihkan ke negara lain. Modusnya adalah bahwa dalam membiayai

subsidiary-nya, suatu holding company akan memberikan kontribusi berupa

hutang (bukan modal). Dengan demikian subsidiary akan terbebani biaya

bunga yang merupakan unsur pengurang dalam penghitungan Penghasilan


6

Kena Pajak, sehingga pajak yang ditanggung oleh subsidiary tersebut dapat

ikut mengecil.

Beberapa negara membatasi struktur modal dengan cara pembatasan

utang berbunga, atau disebut sebagai thinly capitalization. Taylor dan

Richardson (2012) meneliti thinly capitalization sebagai salah satu variabel

independen dalam mekanisme penghindaran pajak international. Disebut thinly

capitalization karena perusahaan umumnya akan memperbesar utang berbasis

bunga sehingga modal atau capital menjadi kecil. Hasil penelitian mereka

membuktikan bahwa perusahaan dengan struktur utang besar cenderung

melakukan penghindaran pajak.

Berdasarkan uraian tentang corporate governance, thin capitalization

yang dilakukan perusahaan, serta adanya kecenderungan penghindaran pajan

dan didukung beberapa hasil penelitian terdahulumaka peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian tentang: “Pengaruh Corporate Governance dan Thin

Capitalization terhadap Tax Avoidance pada Perusahaan yang terdaftar di

Indeks LQ 45 Periode 2012-2016.”

B. Batasan Masalah

Penelitian ini dibatasi pada hal-hal sebagai berikut:

1. Variabel penelitian dibatasi pada corporate governance, thin capitalization,

dan tax avoidance perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Indeks LQ 45

periode 2012-2016. Corporate governance diproksikan dari kepemilikan

institusional, dewan komisaris independen, dan komite audit. Thin

capitalization diproksikan dari rasi MAD (Maximum Amount Debt) yang


7

dihitung dari persamaan rata-rata utang perusahaan dibagi SHDA (Safe

Harbor Debt Amount). Tax avoidance diproksikan dari nilai Cash Effective

Tax Rate (CETR).

2. Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang masuk dalam

kategori LQ 45 selama 10 periode berturut-turut, yaitu Februari 2012

sampai dengan Juli 2012, Agustus 2012 sampai dengan Januari 2013,

Februari 2013 sampai dengan Juli 2013, Agustus 2013 sampai dengan

Januari 2014, Februari 2014 sampai dengan Juli 2014, Agustus 2014

sampai dengan Januari 2015, Februari 2015 sampai dengan Juli 2015,

Agustus 2015 sampai dengan Januari 2016, Februari 2016 sampai dengan

Juli 2016, dan Agustus 2016 sampai dengan Januari 2017.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat disusun rumusan

masalah penelitian sebagai berikut:

1. Apakah kepemilikan institusional berpengaruh terhadap tax avoidance pada

perusahaan yang terdaftar di Indeks LQ 45 periode 2012-2016?

2. Apakah dewan komisaris independen berpengaruh terhadap tax avoidance

pada perusahaan yang terdaftar di Indeks LQ 45 periode 2012-2016?

3. Apakah komite audit berpengaruh terhadap tax avoidance pada perusahaan

yang terdaftar di Indeks LQ 45 periode 2012-2016?

4. Apakah thin capitalization berpengaruh terhadap tax avoidance pada

perusahaan yang terdaftar di Indeks LQ 45 periode 2012-2016?


8

5. Apakah kepemilikan institusional, dewan komisaris independen, komite

audit, dan thin capitalization secara simultan berpengaruh terhadap tax

avoidance pada perusahaan yang terdaftar di Indeks LQ 45 periode 2012-

2016?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang diuraikan di atas, maka tujuan

penelitian ini adalah:

1. Untuk memberikan bukti empiris pengaruh antara kepemilikan institusional

terhadap tax avoidance pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar di

Indeks LQ 45 periode 2012-2016.

2. Untuk memberikan bukti empiris pengaruh antara dewan komisaris

independen terhadap tax avoidance pada perusahaan-perusahaan yang

terdaftar di Indeks LQ 45 periode 2012-2016.

3. Untuk memberikan bukti empiris pengaruh antara komite audit terhadap tax

avoidance pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Indeks LQ 45

periode 2012-2016.

4. Untuk memberikan bukti empiris pengaruh antara thin capitalization

terhadap tax avoidance pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar di

Indeks LQ 45 periode 2012-2016.

5. Untuk memberikan bukti empiris pengaruh kepemilikan institusional,

dewan komisaris independen, komite audit, dan thin capitalization secara

simultan berpengaruh terhadap tax avoidance pada perusahaan yang

terdaftar di Indeks LQ 45 periode 2012-2016.


9

E. Kegunaan Penelitian

Bertolak dari tujuan penelitian tersebut, maka penelitian ini diharapkan

dapat memberikan manfaat bagi bidang ilmu yang diteliti. Kegunaan yang

diperoleh dari penelitian ini adalah:

1. Kegunaan Teoritis

a. Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan, wawasan, serta

informasi mengenai pengaruh mekanisme corporate governance serta

thin capitalization terhadap penghindaran pajak (tax avoidance) yang

dilakukan perusahaan-perusahaan yang termasuk dalam kategori LQ 45.

b. Penilaian ini diharapkan dapat menjadi referensi dan memberikan

sumbangan konseptual bagi peneliti sejenis maupun civitas akademik

lainnya dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan untuk

kemajuan dunia pendidikan.

2. Kegunaan Praktis

a. Bagi perusahaan

Penelitian ini dapat menjadi masukan bagi manajemen perusahaan-

perusahaan di Indonesia, khususnya perusahaan-perusahaan

multinasional, tentang betapa pentingnya terkait penerapan good

corporate governance terhadap kegiatan tax avoidance dalam kegiatan

operasional perusahaan, sehingga manajemen dapat merancang suatu

mekanisme good corporate governance yang sesuai dengan

perusahaannya dan dapat terhindar dari penyimpangan hukum pajak


10

dalam kegiatan menentukan besarnya pajak yang harus dibayarkan pada

negara.

b. Bagi akademik

Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan penelitian lebih menambah

wawasan dan pengetahuan tentang pengaruh corporate governance yang

meliputi kepemilikan institusional, dewan komisaris independen, dan

komite audit serta thin capitalization terhadap penghindaran pajak (tax

avoidance).

c. Bagi peneliti yang akan datang

Hasil penelitian diharapkan dapat menambah referensi, informasi dan

wawasan untuk mendukung penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan

faktor-faktor yang mempengaruhi penghindaran pajak (tax avoidance)

yang dilakukan perusahaan atau sebagai bahan kepustakaan serta sumber

pengetahuan.

F. Definisi Operasional

Berikut adalah definisi-definisi operasional pada masing-masing variabel

yang akan diteliti.

1. Corporate Governance

Corporate governance adalah seperangkat aturan yang mengatur hubungan

antara pemegang saham, manajer, kreditur, pemerintah, karyawan, dan

pihak-pihak yang berkepentingan lainnya baik internal maupun eksternal

lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka (Fahmi,

2013).
11

2. Thin Capitalization

Thin capitalization adalah pembentukan struktur permodalan suatu

perusahaan dengan kontribusi hutang sebanyak mungkin dan modal

sesedikit mungkin (Nuraini, 2014).

3. Tax Avoidance

Tax avoidance atau penghindaran pajak ialah usaha pengurang pajak dengan

memanfaatkan pengecualian dan potongan yang diperkenankan (Budiman,

2012). Penghindaran pajak dianggap mengurangi pajak secara eksplisit dan

merefleksikan semua transaksi yang memiliki pengaruh pada utang pajak

eksplisit perusahaan (Puspita, 2014).