Anda di halaman 1dari 8

TUGAS PLANT DESIGN II

PENGOLAHAN LIMBAH RUMAH SAKIT


DENGAN MODIFIKASI ACTIVATED SLUDGE PROCESS

Nama : Wahyu Herlian Perdana


NIM : 16250556
Kelas : Alih Jalur Genap

INSTITUT TEKNOLOGI YOGYAKARTA


YAYASAN LINGKUNGAN HIDUP (YLH)
YOGYAKARTA
2017
Proses Lumpur Aktif
Alat dan bahan yang diperlukan dalam proses lumpur aktif adalah limbah cair, HCl,
NaOH, pH meter, alat ukur BOD, COD, kekeruhan, TDS, bak, dan tangki.
Sebelum dilakukan proses pengolahan limbah cair secara lumpur aktif, terlebih
dahulu dilakukan pengamatan pH, BOD, COD, kekeruhan, dan TDS. Limbah cair diumpankan
ke dalam tangki aerasi yang berisi mikroorganisme aerobik. Tujuan aerasi adalah untuk
mentransfer sejumlah oksigen ke dalam limbah cair. Dalam tangki aerasi ini terjadi
proses perombakan bahan organik kompleks menjadi CO2 dan H2O secara aerobik (Soraya,
dkk). Beberapa proses yang terjadi dalam metode lumpur aktif adalah tangki aerasi, tangki
pengendapan, resirkulasi lumpur, dan penghilangan sisa lumpur. Metode lumpur aktif dapat
diilustrasikan dalam gambar 1.

Gambar 1. Ilustrasi sederhana pengolahan limbah secara lumpur aktif (Pipeline, 2003).

Air limbah terlebih dahulu diendapkan dalam bak pengendap awal yang berfungsi
untuk menurunkan padatan tersuspensi sekitar 30-40% dan BOD sekitar 25%. Air dari bak
pengendap awal ini selanjutnya dialirkan menuju bak aerasi secara overflow. Dalam bak ini, air
limbah dihembuskan dengan udara sehingga zat organik dalam air limbah tersebut diuraikan
oleh mikroorganisme. Mikroba menggunakan energi yang diperoleh untuk melakukan
pertumbuhan sehingga terjadi perkembangan biomassa dalam jumlah besar. Senyawa polutan
dalam air limbah selanjtnya diuraikan oleh mikroorganisme ini (Ningtyas, 2015).
Mikroorganisme yang berperan dalam proses lumpur aktif adalah bakteri aerob (Anderson,
2010). Mikroorganisme memanfaatkan polutan dan partikel organik terlarut sebagai
sumber makanan.
Pengendapan biomassa terjadi dalam tangki pengendapan sekunder dan reaksi biomassa
terjadi dalam reaktor biologi. Bagian padatan dalam tangki selanjutnya disirkulasi dalam tangki
aerasi tujuannya untuk mempertahankan konsentrasi biomassa dalam reaktor. Proses
pengolahan ini menghasilkan lumpur yang selanjutnya menuju tempat pengolahan lumpur.
Adapun jenis lumpur yang dihasilkan ada tiga, yaitu lumpur sisa, lumpur biomassa pada bak
aerasi, dan lumpur sekunder dalam tangki pengendapan (Sperling, 2007). Dalam tangki
pengendapan sekunder, lumpur aktif diendapkan dan dipompa ke bagian inlet bak aerasi
menggunakan pompa sirkulasi lumpur. Selanjutnya limbah dialirkan ke tangki sedimentasi untuk
dilakukan pemisahan lumpur dan air limbah.
Selanjutnya dilakukan pengujian parameter pH, BOD, COD, kekeruhan, dan TDS
terhadap air limbah. Apabila volume lumpur aktif dalam tangki sedimentasi telah mencapai
2,5 L maka ke dalam tangki dialirkan larutan HCl dan NaOH untuk menjaga pH agar dalam
keadaan netral, selanjutnya dilakukan pengujian konsentrasi MLSS terhadap lumpur (Soraya,
dkk). Air limpasan dari tangki pengendapan sekunder dialirkan menuju bak klorinasi sehingga air
limbah kontak dengan khlor dengan tujuan untuk membunuh mikroorganisme patogen.

Proses Karbon Aktif


Bahan dan peralatan yang diperlukan antara lain kayu glugu atau tempurung kelapa atau
arang batubara sebagai bahan baku sebanyak 150 gram, air limbah, H3PO4 3% sebanyak
800 mL sebagai aktivator, gelas beker, stirrer, kertas saring, mesh 60 dan pemanas
(Kusniati, 2008).
Karbon aktif dapat dibuat bahan baku tempurung kelapa, cangkang kelapa sawit, limbah
kulit hewan, tempurung kemiri. Karbon aktif dapat dimanfaatkan sebagai adsorben gas-gas dan
uap-uap dari gas dan dapat mengurangi zat-zat dari liquida (Kurniati, 2008). Alat yang
digunakan pun bermacam-macam, seperti tanah, kiln bata, kiln portable, kiln arang limbah, dan
lain-lain (Sudrajat, 1994). Tahapan pembuatan karbon aktif adalah karbonisasi dan aktivasi.
Karbon yang dihasilkan selanjutnya digunakan untuk pengolahan limbah cair.
Karbonisasi merupakan proses penguraian selulosa menjadi karbon pada suhu berkisar
275 ºC (Kurniati, 2008). Selanjutnya dilakukan aktivasi menggunakan asam fosfat. Aktivasi
merupakan perubahan secara fisik, dimana terjadi peningkatan luas permukaan dari karbon
akibat penghilangan senyawa tar dan sisa-sisa pengarangan (Shreve, 1997).
Karbon aktif yang digunakan oleh Kusmiyati (2012) dalam penelitiannya berasal dari
limbah pembakaran batubara. Arang tersebut diayak dengan ukuran 60 mesh merk Steve Shaker
(AG-515 MBT), kemudian dimasukkan ke dalam gelas beker dan ditambahkan 250 mL
H2O2 0,2 N diaduk dan didiamkan selama 60 menit. Selanjutnya dicuci dengan aquades
demineralisasi, lalu dikeringkan dalam oven suhu 140 ºC selama 15 menit dan
dipanaskan dalam furnace suhu 500 ºC selama 15 menit.
Aktivasi karbon dapat dilakukan secara fisis maupun kimiawi. Aktivasi secara fisis dapat
dilakukan dengan cara pemanasan untuk mengeluarkan produk tar atau pemanasan dalam suatu
bahan inert. Aktivasi secara kimiawi dapat dilakukan melalui ekstraksi menggunakan pelarut
yang sesuai atau melalui proses reaksi kimia (Gani, 2011). Gani (2011), dalam penelitiannya
dilakukan aktivasi menggunakan uap air pada suhu 700 ºC dalam waktu 120 menit.
Selanjutnya dilakukan treatment terhadap limbah cair melalui adsorpsi. Proses adsorpsi
dilakukan dengan cara batch seperti pada gambar 2 dan ditambahkan limbah serta diaduk
menggunakan stirrer dengan kecepatan 700 rpm dan disaring menggunakan kertas saring.

Gambar 2. Alat Adsorpsi (Kusmiyati, 2012)

Keterangan:
1. Gelas beker
2. Larutan logam, adsorben, magnetic stirrer
3. Kompor Listrik

Kemudian dilakukan analisis kadar COD air hasil treatment dan dilakukan analisis
menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) untuk mengetahui nilai konsentrasi
ion logam berat. Hasil analisis dibandingkan dengan data sebelum dilakukan treatment terhadap
air limbah.

Pembahasan
Permasalahan yang sering ditemukan dalam metode lumpur aktif diantaranya adalah
bulking. Bulking merupakan fenomena ketika lumpur aktif berubah menjadi keputih-putihan dan
sulit mengendap. Bulking terjadi ketika mikroorganisme berfilamen tumbuh dalam jumlah besar.
Kerugian fenomena ni diantaranya adalah kehilangan lumpur aktif yang besar sehingga
mengurangi efektivitas pengolahan limbah, menyebabkan permasalahan lingkungan, kerusakan
alat, dan menyebabkan cairan supernatan yang dihasilkan memiliki kekeruhan yang cukup tinggi.
Proses ini juga menyebabkan foaming dan tidak hilang dengan percikan air maupun
antifoam. Foarming dapat disebabkan oleh kurangnya nutrien pada limbah, rendahnya DO dan
rasio F/M, dan pH < 6 (Anderson,2010).
Hasil penelitian tentang pengolahan limbah cair yang dilakukan oleh Soraya, dkk di
PT X secara lumpur aktif, dapat menurunkan kadar COD dan TDS. Hasil pengolahan limbah
didasarkan pada paraameter pH, BOD, COD, kekeruhan, dan TDS telah memenuhi standar baku
mutu yang sesuai dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor: KEP-
03/MENLH/2010 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Kawasan Industri.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa air limbah yang diolah dengan metode lumpur
aktif memiliki nilai pH berkisar antara 7,12-7,38 dan telah memenuhi baku mutu nilai pH yang
berkisar antara 6,0-9,0. Hal ini memungkinkan kehidupan biologis dalam air limbah tersebut
berjalan dengan baik. Apabila air limbah tidak netral, maka kehidupan biologis akan
terhambat (Soraya, dkk).
Jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan zat organik terlarut
dan tersuspensi dalam air dikenal dengan istilah BOD. Penelitian yang dilakukan oleh Soraya,
dkk didapatkan BOD berkisar antara 55-125 ppm dengan nilai rata-rata efisiensi sebesar 72,6%
dan telah memenuhi baku mutu stanar yaitu tidak lebih kecil dari 150 ppm. Analisis ini
didasarkan pada reaksi oksidasi zat organik dengan oksigen dalam air. Proses tersebut
berlangsung karena adanya bakteri aerobik sehingga hasil oksidasi akan membentuk CO2, H2O,
dan NH3. Analisis BOD dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat pencemaran akibat
zat-zat organik yang biodegradable dalam limbah. Semakin tinggi kadar BOD, maka tingkat
pencemarannya semakin tinggi (Fardiaz,
1992).
Air limbah melalui proses klorinasi mampu membunuh mikroba patogen. Melalui proses
ini, air limbah dengan konsentrasi BOD 25-300 mg/L dapat diturunkan kadarnya menjadi 20-30
mg/L. Surplus lumpur dari keseluruhan proses ditampung dalam bak pengering lumpur dan air
resapannya ditampung kembali di bak penampung air limbah (Solichin, 2012).
Sementara itu, nilai COD menyatakan jumlah senyawa organik yang terdapat dalam air
limbah. pH netral dibutuhkan dalam pengolahan limbah secara biologi menggunakan lumpur
aktif. Hasil penelitian Soraya, dkk didapatkan nilai COD yang bervariasi akibat beban limbah
yang masuk bervariasi dan telah memenuhi mutu baku standar dengan nilai COD tertinggi
sebesar 173 ppm dan efisiensi yang didapatkan sebesar 93,5%.
Hasil pengukuran Mixed Liquor Suspended Solid (MLSS) menunjukkan nilai dengan
kisaran antara 2000-2000 mg/L dan telah sesuai baku mutu standar. Apabila lebih dari 3500
mg/L menunjukkan bahwa mikroorganisme yang ada dalam bak aerasi kekurangan nutrisi dan
jika nilai MTSS kurang dari 2000 mg/L menunjukkan bahwa pengolahan kurang baik karena
sedikitnya mikroorganisme untuk menggunakan substansi organik (Soraya, dkk).
Selain melalui lumpur aktif, pengolahan limbah cair dapat dilakukan secara karbon aktif.
Beberaga kegunaan karbon aktif untuk gas, diantaranya untuk pemurnian gas
(desulfurisasi, menghilangkan gas racun, bau busuk, asap, menyerap racun), pengolahan
LNG (desulfurisasi dan penyaringan berbagai bahan mentah dan reaksi gas), katalisator,
penghilang bau, dan lain-lain. Kegunaan karbon aktif untuk zat cair antara lain dalam
industri obat dan makanan dan minuman (menyaring dan menghilangkan warna, bau, rasa
yang tidak enak dalam makanan dan minuman), kimia perminyakan (penyulingan
bahan mentah dan sebagai zat perantara), pembersih air (menghilangkan bau, warna dan
zat pencemar dalam air sebagai pelindung atau penukar resin dalam penyulingan air),
pembersih air buangan, pelarut yang digunakan kembali reuse (Kurniati, 2008). Kusmiyati
(2012) melakukan penelitian tentang karbon aktif dari arang batubara sebagai adsorben

logam Cu2+ dan Ag+. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ion logam

berat Cu2+ yang teradsorpsi (%) pada pH 4 dan pH 7 semakin meningkat dengan
peningkatan waktu adsorpsi hingga tercapai titik kesetimbangan. Hal ini ditunjukkan
dengan gambar 3.

Gambar 3 Pengaruh waktu adsorpsi terhadap persentase ion logam Cu2+ dalam limbah cair (a)
pH 4, (b) pH 7 (Kusmiyati, 2012)

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Gani, dkk (2011) tentang daya serap limbah COD
menunjukkan bahwa semakin lama waktu pengadukan dan semakin banyak massa karbon aktif
yang digunakaan, maka pengurangan limbah juga semakin besar. Dengan lamanya
pengadukan, maka larutan limbah yang mengandung COD dapat melewati pori- pori lebih lama.
Kontak larutan limbah dengan karbon aktif sebanding dengan banyaknya pori yang dapat
terlewati. Penyerapan limbah dengan massa karbon aktif 2,5 dan 9 gram dapat menyerap
limbah sebesar 67,3% dan 87,0% secara berturut-turut.
Metode pengolahan limbah cair dengan cara karbon aktif (activated carbon) lebih
mudah dilakukan daripada melalui metode lumpur aktif (activated sludge). Metode karbon aktif
lebih praktis daripada lumpur aktif yang lebih rumit karena proses lumpur aktif memanfaatkan
bakteri dan apabila terjadi kesalahan treatment, maka jauh lebih merugikan daripada metode
karbon aktif. Karbon aktif ini didapatkan dari arang batubara yang banyak ditemukan di
Indonesia dan berdasarkan penelitian batubara merupakan material yang memiliki syarat untuk
digunakan sebagai karbon aktif.