Anda di halaman 1dari 23

RUPTUR PORSIO

A. PENDAHULUAN

Ruptur serviks adalah robekan serviks yang luas yang

menimbulkan perdarahan dan dapat menjalar ke segmen bawah rahim.

Robekan yang terjadi pada persalinan yang kadang-kadang sampai ke

forniks, robekan biasanya terdapat pada pinggir samping serviks malahan

kadang-kadang sampai ke SBR dan membuka parametrium.1,2

Pada kehamilan dan persalinan dapat terjadi perlukaan pada alat

genital. Perlukaan alat genital pada kehamilan dapat terjadi baik pada

uterus, serviks maupun pada vagina, sedangkan pada persalinan disamping

pada tempat diatas perlukaan dapat juga terjadi pada vulva dan perineum.

Derajat luka dapat ringan dapat berupa luka lecet saja sampai dengan berat

berupa luka robekan yang luas disertai perdarahan yang hebat. 1,2

Kematian ibu bersalin dan ibu hamil sekarang sudah mencapai 25-

50% hal ini merupakan masalah besar pada negara berkembang, kematian

ini terjadi pada wanita usia subur. Kematian pada wanita bersalin

merupakan penyebab kematian terbesar kematian pada usia puncak

produktifitasnya. Word Health Organization (WHO) memperkirakan ada

500.000 kematian ibu melahirkan di seluruh dunia setiap tahun, 99 persen

tejadi di negara berkembang, dan salah satu negara berkembang adalah

Indonesia.1,2

1
Perdarahan postpartum merupakan penyebab kematian ibu,

kematian ibu ini disebabkan oleh perdarahan antepartum (plasenta previa,

solusio plasenta, kehamilan ektopik, plasenta previa, solusio plasenta,

ruptur uteri). Salah satu penyebab perdarahan adalah robekan jalan lahir

yaitu ruptur portio.1,2

Pada primigravida yang melahirkan bayi cukup bulan umumnya

perlukaan pada jalan lahir bagian distal (vagina, vulva, dan perineum)

tidak dapat dihindarkan apalagi bila anaknya besar (BB anak >4000 gram).

Perlukaan paling berat pada kehamilan atau persalinan ialah robekan

uterus (ruptura uteri). Umumnya robekan terjadi pada segmen pada

segmen bawah rahim yang dapat meluas ke kiri atau ke kanan sehingga

dapat menyebabkan putusnya arteri uterina. 1,2

Robekan pada segmen atas rahim dapat terjadi pada luka parut

bekas SC klasis atau bekas miomektomi, robekan pada jenis ini dapat

terjadi baik pada kehamilan maupun pada persalinan. Perlukaan alat

genital didalam panggul pada waktu pembedahan genikoligik merupakan

penyulit yang tidak jarang dijumpai. Hal ini terjadi terutama terjadi bila

terdapat banyak perlekatan antara organ genital yang akan dibedah dengan

jaringan sekitar. 1,2

Pada umumnya robekan jalan lahir terjadi pada persalinan dengan

trauma. Pertolongan persalinan yang semakin manipulative dan traumatik

memudahkan robekan jalan lahir dan karena itu dihindarkan memimpin

persalinan pada saat pembukaan serviks belum lengkap. Robekan jalan

2
lahir biasanya akibat episiotomi, robekan spontan perineum, trauma

forceps atau vakum ekstraksi atau karena versi ekstraksi. 1,2

B. ANATOMI

Gambar 1. Anatomi sistem reproduksi wanita

Genitalia interna wanita merupakan organ atau alat kelamin yang

tidak tampak dari luar, terletak di bagian dalam dan dapat dilihat dengan

alat khusus. Genetalia interna terdiri dari atas yaitu vagina, uterus, tuba

fallopi, dan ovarium.2

a. Vagina

Adalah saluran yang berbentuk tabung yang menghubungkan vulva

dan Rahim. Ukuran vagina sekitar 6-7,5 cm meliputi dinding snterior

3
dan 9-11 cm meliputi dinding posterior. PH vagina normal berkisar 4-

5, sehingga menyebabkan cairan menjadi sedikit asam. Hal ini,

memberikan proteksi terhadap penyebaran kuman. Dinding vagina

yang terdiri atas tiga lapisan, yaitu lapisan mukosa yang merupakan

kulit, lapisan otot dan lapisan jaringan ikat. Bagian dari leher Rahim

yang menonjol ke dalam vagina disebut portio. Sedangkan daerah di

sekitar serviks disebut forniks. Forniks dibagi menjadi 4 kuadran,

yaitu forniks anterior, forniks posterior, forniks lateral kanan dan kiri.2

Gambar 2. Genitalia eksterna (vulva)

b. Uterus

Uterus merupakan suatu organ muscular berbentuk seperti pir yang

terletak di antara kandung kencing dan rectum. Ukuran uterus berbeda-

beda tergantung pada usia, pernah melahirkan atau belum. Ukuran

uterus pada anak-anak 2-3 cm, nulipara 6-8cm, dan multipara 8-9cm.

Uterus terdiri dari dua bagian utama yaitu serviks dan korpus uteri.2

4
Gambar 3. Genitalia interna (Uterus, ovarium, dan serviks )

c. Serviks uteri

Serviks uteri merupakan bagian terbawah uterus, yang terdiri dari pas

vaginalis dan pars supravaginalis. Komponen utama dalam serviks

uteri adalah otot polos, jaringan ikat kolagen dan glikosamin dan

elastin. Bagian luar di dalam rongga vagina yaitu portio cervicis uteri

dengan lubang ostium uteri externum yang dilapisi epitel

skuamokolumnar mukosa serviks dan ostium uteri internum.2

d. Korpus Uteri

Korpus uteri terdiri dari ; paling luar lapisan serosa/peritoneum yang

melekat pada ligamnetum latum uteri di intra abdomen, tengah lapisan

muscular / myometrium berupa otot polos tiga lapis (dari luar kedalam

arah serabut otot longitudinal, anyaman dan sirkular, serta lapisan

dalam lapisan endometrium yang melapisi dinding cavum uteri,

5
menebal dan runtuh sesuai siklus haid akibat pengaruh hormone-

hormon ovarium. Posisi corpus intra abdomen mendatar dengan fleksi

ke anterior, fundus uteri berada di atas vesica urinaria. Hubungan

antara kavum uteri dengan kanalis servicalis ke dalam vagina disebut

ostium uteri eksternum. Isthmus adalah bagian uterus antara korpus

dan serviks uteri yang diliputi oleh peritoneum visceral. Isthmus akan

melebar selama kehamilan dan disebut segmen bawah rahim.

Dinding rahim terdiri atas 3 lapisan, yaitu :

1). Lapisan serosa (perimetrium) terletak paling luar

2). Lapisan otot (myometrium) terletak ditengah

3). Lapisan mukosa (endometrium) terletak paling dalam.2

Sikap dan letak uterus dalam rongga panggul terfiksasi dengan baik

karena disokong dan dipertahankan oleh :

1). Tonus Rahim

2). Tekanan intra abdominal

3). Otot-otot dasar panggul

4).Ligamentum-ligamentum (ligamentum latum, ligamentum

rotundum, ligamentum infundibulo pelvikum, ligamentum kardinale,

ligamnetum sakro uterinum, ligamnetum vesiko uterinum).2

Letak uterus adalah sebagai berikut :

1). Antefleksi (menekan ke depan), merupakan letak fisiologi

2). Retrofleksi (menghadap ke belakang)

3). Anteversio (uterus terdorong kedepan)

6
4). Retroversion (uterus terdorong kebelakang)

5). Torsio (uterus yang berputar).2

e. Tuba Fallopi

Tuba fallopi terdapat pada tepi ligamentum latum, berjalan kearah

lateral, kornu uteri kanan dan kiri. Panjang tuba fallopi adalah 12cm,

dengan diameter 3-8mm. Tuba fallopi terdiri dari 4 bagian, yaitu :

1). Pars interstisialis ; merupakan bagian tuba yang berjalan dari

dinding uterus mulai dari ortium tuba

2). Pars ismika ; pars ismika merupakan bagian tuba setelah keluar

dinding uterus. Pars ismika merupakan bagian yang lurus dan

sempit.

3). Pars ampularis ; merupakan bagian tuba antara pars ismika dengan

infundibulum. Pars ampularis merupakan bagian tuba yang paling

lebar dan berbentuk S. Pars Ampularis merupakan tempat konsepsi.

4). Infundibulum ; merupakan bagian ujung dari tuba dengan umbai-

umbai yang disebut fimbriae untuk menangkap ovum yang matang.

Lubang pada fimbriae disebut ostium abdominale tuba.2

e. Ovarium

Homolog dengan testis pada pria. Ovarium berbentuk oval dan terletak

pada dinding panggul bagian lateral yang disebut fossa ovarium.

Ovarium ada dua yaitu terletak kiri dan kanan uterus. Ovarium

dihubungkan oleh ligamentum ovarii proprium dan dihubungkan

7
dengan panggul dengan perantaranya ligamentum infundibulo

pelvicum.2

Gambar 4. Ovarium

C. FISIOLOGI DAN FUNGSI SERVIKS

Serviks mengeluarkan lendir rahim yang berbeda kadarnya pada

masa-masa tertentu. Fungsi dari lendir ini yaitu sebagai perlindungan

alami tubuh dari bakteri dari luar tubuh. Selain itu lendir rahim juga

berperan dalam membantu sperma menuju ke ovum, lendir dimasa subur

lebih banyak dibandingkan saat masa tidak subur begitu juga pada saat

hamil, serviks akan tertutup rapat dan lendir yang ada akan semakin

banyak karna berfungsi untuk menjaga bayi dari bakteri dari luar. Pada

8
saat proses persalinan serviks yang berbentuk seperti donat dengan lubang

yang sangat kecil ini dapat membuka secara elsatis, serviks akan berubah

bentuk setelah melahirkan dan normal kembali setelah masa nifas.4

D. DEFINISI

Ruptur serviks adalah robekan serviks yang luas yang

menimbulkan perdarahan dan dapat menjalar ke segmen bawah rahim.

Robekan yang terjadi pada persalinan yang kadang-kadang sampai ke

forniks, robekan biasanya terdapat pada pinggir samping serviks bahkan

kadang-kadang sampai ke SBR dan membuka parametrium.1,5

E. KLASIFIKASI

1. Menurut waktu terjadinya, ruptur uteri dapat dibedakan:

a) Ruptur Uteri Gravidarum:

Terjadi waktu sedang hamil, sering berlokasi pada korpus.

b) Ruptur Uteri Durante Partum:

Terjadi waktu melahirkan anak, lokasinya sering pada SBR. Jenis inilah

yang terbanyak. 5,6

2. Menurut lokasinya, ruptur uteri dapat dibedakan:

a) Korpus Uteri

Biasanya terjadi pada rahim yang sudah pernah mengalami operasi,

seperti seksio sesarea klasik (korporal) atau miomektomi. 5,6

b) Segmen Bawah Rahim

9
Biasanya terjadi pada partus yang sulit dan lama (tidak maju). SBR

tambah lama tambah regang dan tipis dan akhirnya terjadilah ruptur

uteri. 5,6

c) Serviks Uteri

Biasanya terjadi pada waktu melakukan ekstraksi forsep atau versi dan

ekstraksi, sedang pembukaan belum lengkap. 5,6

d) Kolpoporeksis - Kolporeksis

Keadaan dimana terjadi robekan memanjang/melintang diatas/didalam

vagina (regio fornics) sehingga sebagian serviks / uterus terlepas dari

vagina. 5,6

F. ETIOPATOGENESIS

1. Persalinan lama

Apabila serviks terjepit diantara kepala bayi dan symphisis pubis, sisi

anterior dapat membengkak, tidak teregang dengan baik dan

kemungkinan akan rupture. Bibir leher rahim (serviks uteri)

merupakan jaringan yang mudah mengalami perlukaan pada saat

persalinan. Akibat perlukaan tersebut pada seseorang dengan multipara

pars vaginalis cervicis uteri (portio uteri) sudah terbagi menjadi bibir

depan dan bibir belakang seriks. Robekan serviks bisa menimbulkan

banyak perdarahan, khususnya bila robekan meluas kearah kranial

sebab ditempat itu terdapat ramus descendens dari arteri uterina.

Robekan servisk yang meluas ke arah kranial dan mencapai dinding

10
vagina kearah forniks lateralis perlu diwaspadai sebagai ruptur uteri

karena robekan dapat terus meluas keatas dan menyebabkan putusnya

arteri uterina. Perlukaan ini dapat terjadi pada persalinan normal, tetapi

yang paling sering adalah akibat upaya untuk melahirkan anak maupun

persalinan buatan pervaginam pada pembukaan yang belum lengkap.1,6

2. Kelahiran dengan bantuan

Dapat pula terjadi robekan pada persalinan buatan dengan vakum

ekstraktor akibat terjeptnya serviks antara mangkok vakum dengan

kepala anak yang tidak terdeteksi sehingga serviks robek pada saat

dilakukan tarikan pada mangkok vakum ekstraktor. Penyebab lain

robekan serviks adalah partus presipitatus dimana pada partus ini kuat

dan sering, sehingga janin didorong keluar dengan kuat dan cepat

sebelum pembukaan lengkap. Diagnosa pembukaan serviks dapat

diketahui dengan pemeriksaan inspekulo.1.6

3. Kegagalan serviks untuk berdilatasi karena kelainan kongenital atau

jaringan parut akibat luka terdahulu.6

G. DIAGNOSIS

Diagnosa perlukaan serviks dilakukan dengan speculum bibir

serviks dapat di jepit dengan cunam atromatik kemudian diperiksa secara

cermat sifat-sifat dari robekan tersebut. Bila ditemukan robekan serviks

yang memanjang, maka luka dijahit dari ujung yang paling atas, terus ke

bawah. 6

11
Perdarahan pasca persalinan pada uterus yang berkontraksi baik,

maka lakukan pemeriksaan speculum untuk memeriksa serviks uteri,

kemudian dilakukan pengamatan untuk mencari sumber perdarahan pada

serviks.6

H. PENATALAKSANAAN

Apabila ada robekan memanjang, serviks perlu ditarik

keluar dengan beberapa cunam ovum, supaya batas antara robekan

dapat dilihat dengan baik. Robekan serviks harus dijahit jika perdarahan

atau luka lebih dari 1cm. Pada robekan serviks yang berbentuk melingkar,

diperiksa dahulu apakah sebagian besar dari serviks sudah lepas atau tidak.

Jika belum lepas, bagian yang belum lepas itu, dipotong dari serviks; jika

yang lepas hanya sebagian kecil saja itu dijahit lagi pada serviks. Perlukaan

dirawat untuk menghentikan perdarahan.. 1,6

Robekan serviks harus dilakukan penjahitan jika perdarahan

atau luka lebih dari 1cm. Kadang bibir rahim depan serviks tertekan antara

kepala anak dan simfisis, terjadi nekrosis dan terlepas. Biasanya pada

robekan serviks terjadi pada bagian kiri tengah atau kanan tengah (posisi

jam 3 atau 9), dan akan terlihat saat dilakukan inspeksi vagina dan serviks,

robekan serviks juga dapat terjadi pada persalinan spontan, itulah sebabnya

pemeriksaan serviks dan vagina harus dilakukan secara teliti. Pada robekan

ringan akan cepat sembuh, jika robekan meluas harus dijahit.6

12
1. Penjahitan robekan serviks

Tinjau kembali prinsip perawatan umum dan oleskan larutan anti

septik ke vagina dan serviks. Berikan dukungan dan penguatan emosional.

Anastesi tidak dibutuhkan pada sebagian besar robekan serviks. Berikan

petidin dan diazepam melalui IV secara perlahan (jangan mencampur obat

tersebut dalam spoit yang sama) atau gunakan ketamin untuk robekan

serviks yang tinggi dan lebar. Minta asisten memberikan tekanan pada

fundus dengan lembut untuk membantu mendorong serviks jadi terlihat.1,6

Gunakan retraktor vagina untuk membuka serviks, jika perlu

pegang serviks dengan forcep cincin atau forcep spons dengan hati–hati.

Letakkan forcep pada kedua sisi robekan dan tarik dalam berbagai arah

secara perlahan untuk melihat seluruh serviks. Mungkin terdapat beberapa

robekan. Tutup robekan serviks dengan jahitan jelujur menggunakan

benang catgut kromik atau poliglokolik 0 yang dimulai pada apeks (tepi

atas robekan) yang seringkali menjadi sumber pendarahan.1,6

2. Tehnik Penjahitan Pada Ruptur Serviks

Terlebih dahulu dilakukan pemasangan sims spekulum, porsio

dilihat secara avue. Selanjutnya bibir serviks yang utuh (bila mungkin

sebaiknya pada arah jam 6 dan jam 12) dijepit dengan cuman atraumatik

atau fenster klem, portio ditarik dengan hati-hati keluar, kemudian

diperiksa secara cermat, tempat dan sifat robekan yang terjadi. Bila

diperlukan penjahitan pada serviks, maka luka dijahit mulai 1 cm

proksimal dari ujung robekan yang paling atas, dibuat simpul mati,

13
kemudian jahitan dibuat secara jelujur interlocking kebawah sampai

pinggir serviks dan dibuat simpul mati pada ujung jahitan.1,6

3. Perawatan lanjutan

a) Periksa tanda vital 2-4 jam

b) Perhatikan jika ada robekan atau terjadinya hematoma

c) Beri cairan IV dan atau donor sesuai keadaan pasien

d) Beri antibiotic profilaksis selama 5 hari

e) Tindak lanjuti selama 10 hari, dan dalam 6 minggu untuk memastikan

bahwa luka benar-benar sembuh.6

Gambar 5. Tehnik penjahitan pada ruptur serviks

I. KOMPLIKASI

a. Komplikasi awal

1) Perdarahan

14
Perdarahan dapat terjadi jika pembuluh darah tidak diikat dengan

baik. Pencegahannya adalah dengan mengikat titik perdarahan ketika

sedang menjahit, pastikan bahwa perdarahan tidak berasal dari uterus

yang atonik.6

2) Hematoma

Hematoma adalah mengumpulnya darah pada dinding vagina yang

biasanya terjadi akibat komplikasi luka pada vagina. Hematoma

terlihat adanya pembengkakan vagina atau nyeri hebat dan retensi

urine.6

3) Retensi urine

Maternal harus sering dianjurkan untuk sering berkemih. Jika ibu

tidak mampu maka pasang kateter untuk menghindari ketegangan

kandung kemih.6

4) Infeksi

Komplikasi paling umum dan dapat dihindari dengan memberikan

antibiotic profilaktik pada maternal dan gunakan teknik aspetik saat

menjahit robekan. Jika terjadi infeksi, jahitan harus segera dilepas

dan diganti dengan jahitan kedua kali, jika diperlukan hanya setelah

infeksi teratasi.6

b. Komplikasi Lanjut

Jaringan parut dan stenosis (penyempitan) vagina dapat

menyebabkan nyeri selama bersenggama dan persalinan lama pada

kelahirn berikutnya, jika robekan yang terjadi tidak diperbaiki, vesiko

15
vagina, vesiko serviks atau fistula dapat terjadi apabila robekan vagina

atau serviks meluas terkandung kemih atau rectum.6

J. KESIMPULAN

Robekan serviks dapat menimbulkan perdarahan banyak

khususnya bila jauh ke lateral sebab di tempat terdapat ramus desenden

dari arateria uterina. Perlukaan ini dapat terjadi pada persalinan normal

tapi lebih sering terjadi pada persalinan dengan tindakan–tindakan pada

pembukaan persalinan belum lengkap. Selain itu penyebab lain robekan

serviks adalah persalinan presipitatus. Pada partus ini kontraksi rahim kuat

dan sering didorong keluar dan pembukaan belum lengkap.

K. KAJIAN ISLAM

‫يرا‬ َ ‫ان ِمن نُّ ْطفَ ٍة أ َ ْمشَاجٍ نَّ ْبت َ ِلي ِه فَ َجعَ ْلنَاه‬
ً ‫س ِميعًا بَ ِص‬ َ ‫س‬ ِ ْ ‫نَّا َخلَ ْقنَا‬
َ ‫اْلن‬
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang

bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan

larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat." (QS. Al-

Insan ayat 2)

16
“Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan

kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan

segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya” (QS Ar-ra’d: 8)

Adapun beberapa kemuliaan wanita yang sedang hamil dan melahirkan adalah :

1. Apabila seseorang perempuan mengandung dalam rahimnya, maka

beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah SWT mencatatkan baginya

setiap hari dengan 1,000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1,000

kejahatan.

2. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah

SWT mencatatkan baginya pahala orang berjihad di jalan Allah SWT.

3. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, hilanglah dosanya seperti

keadaan ia baru dilahirkan.

4. Apabila telah lahir anaknya lalu disusuinya, maka bagi ibu itu setiap

setegukan dari pada susunya diberi 1 kebajikan.

5. Apabila semalaman si ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit,

maka Allah SWT memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang

hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah SWT.

6. Rakaat shalat wanita yang sedang hamil adalah lebih baik dari pada 80

rakaat shalat wanita yang tidak hamil.

7. Wanita yang memberi minum air susu ibu (ASI) kepada anaknya dari diri

nya sendiri akan mendapat 1 pahala pada tiap tetes susu yang

diberikannya.

17
8. Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari karena menjaga anaknya

yang sakit akan diampunkan oleh Allah SWT seluruh dosanya dan bila ia

menghibur hati anaknya Allah memberi 12 tahun pahala ibadah.

9. Wanita yang hamil akan dapat pahala terus berpuasa pada siang hari.

10. Wanita yang hamil akan dapat pahala terus beribadah pada malam hari.

11. Wanita yang bersalin akan mendapat pahala 70 tahun shalat dan puasa,

serta setiap kesakitan pada 1 uratnya Allah SWT mengkurniakan 1 pahala

haji.

12. Sekiranya wanita mati di masa 40 hari selepas bersalin, dia akan dianggap

sebagai mati syahid.

13. Jika wanita menyusui anaknya sampai cukup tempo (2,5 tahun), maka

malaikat dilangit akan kabarkan berita bahwa syurga wajib baginya.

Dalam Al-Quran ditegaskan bahwa seorang ibu harus menyusui anaknya

secara baik dan mencukupi dengan batas waktu hingga 2 tahun,

sebagaimana firman Allah swt:

Artinya: “Dan Ibu-ibu hendaklah menyusui anaknya dua tahun penuh,

bagi yang ingin menyusui secara sempurna……….(QS:al-Baqarah 233)

14. Jika wanita memberi susu dirinya pada anaknya yang menangis, Allah

SWT akan memberi pahala 1 tahun shalat dan berpuasa.7

Persalinan

Dari rahim seorang ibu akan lahir generasi penerus yang akan

menjaga kelestarian manusia dalam membangun peradaban. Mengingat

18
persalinan dan masa nifas sangatlah penting, maka ketersediaan layanan

berkualitas dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat merupakan

kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi. Pelayanan dasar dan lanjutan

merupakan cakupan dari pelayanan kehamilan, persalinan dan masa nifas.

Pelayanan dasar ditujukan untuk menangani kasus-kasus normal, sedangkan

pelayanan lanjutan atau rujukan diberikan kepada mereka yang mengalami

kasus-kasus beresiko, gawat darurat, dan komplikasi yang memerlukan

sarana dan prasarana yang lebih lengkap seperti di Rumah Sakit. Kedua

pelayanan tersebut harus tersedia dan terjangkau oleh seluruh lapisan

masyarkat, baik dari aspek finansial maupun teknis terkait dengan jarak dan

sarana transportasi.7

Di Indonesia manajemen pelayanan kesehatan terkait persalinan masih

sangat buruk dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Angka Kematian

Ibu (AKI) saat ini 228 per 100.000 kelahiran hidup sedangkan Angka

Kematian Bayi (AKB) sebesar 34 per 1000 kelahiran hidup. Menurut survei

Kesehatan dan Rumah Tangga 2001 penyebab langsung kematian ibu

diantaranya: 90% terjadi pada saat persalinan dan segera setelah persalinan,

yaitu endarahan (28%), eklamsia (24%), infeksi (11%), komplikasi

pueperium (8%), partus macet (5%), abortus (5%), trauma obstertik (5%),

emboli (3%), dan lain-lain (11%). Oleh karena itu pelayanan kesehatan ibu

dan perjuangan ibu dalam proses kehamilan dan persalinan sangatlah

berharga. Dalam surat Lukman ayat 14 Al Qur’an mengabadikan perjuangan

ibu selama kehamilan,

19
“Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan yang lemah dan

bertambah-tambah…”. Allah memberikan kemuliaan kepada ibu melahirkan

melaui sabda Rasulullah saw yang artinya,”…wanita yang meninggal karena

melahirkan adalah syahid…” (HR. Ahmad)

Wajar bila Islam mewajibkan Negara untuk memberikan pelayanan

yang berkualitas dan dapat dijangkau oleh semua kaum ibu sejak masa

kehamilan sampai persalinan bahkan hingga masa nifas dan menyusui.

Layanan tersebut adalah bagian integral dari sistem kehidupan Islam. Islam

membebankan terpenuhinya kebutuhan tersebut pada Khalifah sebagai

pemimpin umat. Negara wajib menyelenggarakan pelayanan bersalin

(atenatal, bersalin, nifas) berkualitas bagi semua ibu bersalin secara gratis.7

Bila keuangan Negara tidak cukup, maka Khalifah akan menarik

sejumlah uang dari orang-orang kaya saja sesuai kebutuhan. Strategi

penyelenggaraan layanan bersalin mengacu pada 3 prinsip dasar: 1).

kesederhanaan aturan, 2). Kecepatan pelayanan, 3). Standar layanan bersalin

bersalin berkalitas sesuai syariat.7

Negara wajib menyediakan semua sarana dan prasarana yang

berkualitas termasuk tenaga medis baik dokter spesialis kebidanan dan

kandungan maupun bidan secara merata di seluruh wilayah Negara baik pada

pelayanan dasar (puskesmas) maupun lanjutan (Rumah Sakit). Dalam ranah

fikih, menjadi tenaga medis (dokter kadungan, bidan, perawat) adalah fardu

20
kifayah. Sehingga harus ada sebagian kaum muslimin yang memilih profesi

tersebut. Karena itu Negara akan memudahkan penyediaan fasilitas

pendidikan untuk menghasilkan tenaga medis yang berkualitas dan memiliki

integritas yang kuat.7

Dalam sejarah Masa Keemasan Islam layanan bersalin yang memadai

terlihat dari banyaknya Rumah Sakit. Hampir semua kota besar memiliki

rumah sakit yang disertai dengan lembaga pendidikan dokter. Rumah sakit

tersebut memiliki ruang pemeriksaan kandungan dan ruang untuk layanan

persalinan. Belum lagi adanya rumah sakit keliling yang disediakan oleh

Negara yang menelusuri pelosok negeri, sehingga layanan bersalin bagi

semua ibu benar-benar direalisasikan secara nyata.7

Pada zaman keemasan Islam, ilmu kedokteran kebidanan termasyur

ada di Harran, Baghdad, dan Jundi Syahpur. Lembaga pendidikan menengah

dan tinggi ilmu kedokteran merata ada di setiap kota besar seperti Damsyiq,

Isfahan, Rayy, Baghdad, Al Qahirah, Tunis, Marakisy (Maroko), dan Qurtuba

(Kordoba) Juga terdapat Al Jami’ah (universitas) yang memiliki fakultas

kedokteran.7

Salah satu fakta di Baghdad, masa Khalifah Harun Al Rasyid (170-

193 H), disamping didirikan Rumah Sakit terbesar di kota Baghad, dan

beberapa Rumah Sakit kecil, juga didirikan rumah sakit bersalin terbesar yang

disampingnya didirikan sekolah pendidikan kebidanan. Kedua sarana tersebut

berdiri atas perintah Khalifah Harun Al Rasyid kepada Al Musawaih yang

menjabat menteri kesehatan dan dokter kekhilafahan.7

21
Begitulah cara Islam dalam masa keemasannya dulu untuk menjawab

proses (permasalahan) persalinan yang kurang memadai dewasa ini. Oleh

karena itu, untuk menyelesaikan problem ini dibutuhkan solusi yang

komprehensif dari segala aspek yang terkait, baik medis maupun non medis,

termasuk ketersediaan SDM berkualitas secara merata.7

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Darmawan, Budi. 2013. Trauma Robek Jalan Lahir.

2. Dr. Sofian,Amru Sp.OG (K) Onk, MWALS. 2012. Sinopsis Obstetri Jilid

I. Jakarta ; EGC

3. Leveno, Kenneth J. Cunningham, F Gary. F Gant,Norman. Bloom, Steven

L. dkk. 2012. Obstetri Williams Panduan Ringkas. Jakarta ; EGC

4. Modul Robekan Jalan Lahir. 2001. Jakarta ; EGC

5. Modul Unpad Episiotomi dan Penjahitan Robekan Jalan Lahir. Jakarta ;

EGC

6. Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta ; PT. Bina

Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

7. http://ibuhamil.com/ngobrol-apa-saja/33690-14-kemuliaan-wanita-yang-

sedang-hamil-maaf-bagi-yang-nonmuslim.html. diakses tanggal 20

September 2017.

23