Anda di halaman 1dari 30

PRESENTASI KASUS

SPACE OCCUPYING LESSION

DISUSUN OLEH :
Fawzia Devi Fitriani
1102013110

PEMBIMBING :
Dr. Tri Wahyu Pamungkas, Sp. S

KEPANITERAAN KLINIK ILMU NEUROLOGI


RSUD ARJAWINANGUN

FEBUARI 2018
BAB I

STATUS PASIEN

STATUS ILMU PENYAKIT SARAF

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI

SMF NEUROLOGI
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ARJAWINANGUN KABUPATEN
CIREBON

Nama Mahasiswa : Fawzia Devi Fitriani

NPM : 1102013110

Dokter Pembimbing : Dr. Tri Wahyu Pamungkas, Sp. S

I. Identitas
Nama : Tn. T
Umur : 67 Tahun
Pekerjaan : Kuli
Status Perkawinan : Menikah
Agama : Islam
Alamat : Prajawinangun wetan
Tanggal Masuk : 29 Januari 2018

II. Anamnesis

Keluhan Utama :
Nyeri kepala hebat sejak 2 hari SMRS
Keluhan tambahan :
Bicara Pelo dan kelemahan badan sebelah kiri
Riwayat Penyakit Sekarang :
2 Hari Sebelum Masuk Rumah Sakit

Pasien mengeluh sakit kepala hebat sejak 2 hari SMRS. Sakit kepala
dirasakan muncul mendadak seusai pasien menunaikan solat subuh. Pasien
mengatakan kepalanya seperti tertimpa beban berat dan leher juga berat.
Tidak ada riwayat trauma sebelumnya. Sakit kepala muncul saat istirahat
ataupun aktivitas, dan terus-menerus, sakit kepala tidak diperberat dengan
aktivitas dan tidak berkurang dengan istirahat. Pasien tidak mengalami
penurunan kesadaran, tidak ada mual, tidak ada muntah, tidak ada
pengelihatan kabur, terdapat telinga berdengung yang terjadi berbarengan
dengan munculnya sakit kepala. Pasien juga mengeluhkan bicaranya
menjadi pelo dan mulutnya miring kesebelah kiri yang dirasakan sejak
munculnya sakit kepala, disertai tangan kiri dan kaki kiri terasa lemas secara
berbarengan, namun masih dapat digerakkan dan tidak terdapat kesemutan
atau baal, yang timbul sejak merasa kepalanya sakit.

Keluhan lain seperti demam, muntah, kejang, pingsan, gangguan


BAK, gangguan BAB, dan trauma disangkal oleh pasien. perubahan
perilaku tidak ada, gangguan pengecap dan penciuman tidak ada Pasien
memutuskan untuk berobat ke mantri untuk mengobati keluhan sakit kepala,
kelemahan badan, dan bicara pelo. Kemudian diberi obat untuk mengatasi
sakit kepalanya.

1 Hari Sebelum Masuk Rumah Sakit

Pasien mengaku setelah meminum obat dari mantri, keluhan berupa


sakit kepala, kelemahan badan, serta bicara pelo tidak membaik. Sakit
kepala dirasakan semakin memberat dibandingkan satu hari sebelumnya,
badan sebelah kiri masih lemah namun kelemahan tidak bertambah
dibanding satu hari sebelumnya, tangan kiri dan kaki kiri masih dapat
digerakkan. Serta bicara pelo dan mulut miring masih dirasakan. Karena
merasa terganggu dan khawatir dengan penyakitnya, Akhirnya pasien
memutuskan untuk berobat ke poli saraf RSUD Arjawinangun dan
menjalani rawat inap.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien baru pertama kali merasakan seperti ini. riwayat keluar cairan
dari kedua telinga lima (5) bulan yang lalu, namun diabaikan oleh pasien
sehingga belum pernah diobati, riwayat hipertensi disangkal, riwayat DM
disangkal, riwayat pengobatan TB disangkal, riwayat trauma kepala
disangkal, riwayat kejang disangkal, riwayat menderita tumor disangkal.

Riwayat penyakit keluarga

Pasien mengaku tidak ada keluarga yang mengalami hal yang seupa
dengan pasien. Riwayat darah tinggi, kencing manis, dan sakit jantung pada
keluarga disangkal oleh pasien.

Riwayat Pengobatan

Pasien belum pernah menjalani pengobatan terkait keluhan yang


dirasakan sekarang. Pasien hanya mengonsumsi obat-obatan dari mantri
untuk sakit kepala dan kelemahan badan selama 2 hari namun sudah tidak
dikonsumsi lagi saat pasien dirawat di RS. Tidak ada obat-obatan yang rutin
di minum setiap hari sebelum pasien dirawat.

Riwayat Kebiasaan

Pasien gemar meminum kopi, setiap hari pasien mengonsumsi kopi


sebanyak 3 kali dan makan goreng-gorengan. Merupakan perokok sejak usia
10 tahun hingga sekarang dan biasanya merokok 1 bungkus perhari, minum
alkohol dan obat-obatan terlarang disangkal oleh pasien

III. PEMERIKSAAN FISIK (tanggal 29-01-2018)

A. Status Pasien
- Keadaan umum : Tampak sakit sedang
- Kesadaran : Komposmentis
- GCS : E4 M6 V5
- Tanda vital :Tekanan darah : 160/90 mmHg
Nadi : 55 x/menit

Pernafasan : 20 x/menit

Suhu : 36,6˚C

- Kepala : Normocephal
- Mata : nystagmus -/-, konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik
-/-, ptosis -/- Pupil bulat, Isokor, reflex cahaya langsung +/+, reflex
cahaya tidak langsung +/+
- Hidung : deformitas (-), nyeri tekan (-), krepitasi (-), deviasi
septum (-)
- Mulut : sudut bibir kiri turun (+), sianosis (-), lidah tidak
deviasi
- Telinga : normotia (+/+), nyeri tekan (-/-), secret (-/-)
- Leher : Pembesaran KGB (-) , kaku kuduk (-), kuduk kaku
(-) nyeri (-).
- Thoraks : Pergerakan dinding dada simetris kiri dan kanan
- Cor : BJ I-II irregular, Gallop (-), Murmur (-)
- Pulmo : VBS ka=ki, Rh (-/-), Wh (-/-)
- Abdomen : Datar, simetris, nyeri tekan - , bising usus +
- Ekstremitas : Akral hangat, edema (-), sianosis (-)

B. Status Neurologis

 Tanda Rangsang Meningeal


Kanan Kiri

Kaku kuduk -

Brudzinski I - -

Laseque >70° >70°


Kernig >135° >135°

Brudzinski II - -

 Saraf Kranial
Kanan Kiri

N. I (olfactorius) - -

N. II(opticus)

 RCL + +

N. III (oculomotorius)
 Ptosis - -
 Refleks cahaya + +
langsung
 Refleks cahaya + +
tidak langsung

N. IV (troklearis) Baik Baik

N. V (trigeminus)
 Mengunyah Simetris
 Sensibilitas wajah Simetris
 Reflek kornea Baik

N. VI(abdusen) Baik Baik

N. VII (facialis)
 Angkat alis Simetris
 Kerut dahi Simetris
 Tersenyum Tidak Simetris (kiri sedikit mendatar)
 Mencucurkan bibir Simetris
 Perasa lidah Tidak dilakukan

N.VIII(vestibulococlearis)
 Tes rhinne
Tidak dilakukan Tidak dilakukan
 Tes weber
pemeriksaan pemeriksaan
 Tes swabach
N. IX (glossofaringeus)
 Posisi uvula
Ditengah
 Pengecapan 1/3
posterior lidah +
 bersuara
Disartria

N. X (vagus)
 Menelan + +
 Reflex muntah + +

N. XI (asesorius)
 Menoleh Baik Baik
 Mengangkat bahu Baik Baik

N. XII (hipoglosus)
 Menjulurkan lidah Deviasi (-)
 Tremor Tidak ada
 Atrofi lidah Tidak ada

 Motorik

Kanan Kiri

Kekuatan
 Ekstremitas atas 5555 4444
 Ekstremitas bawah 5555 4444
Refleks fisiologis
 Biceps + +
 Triceps + +
 Patella + +
 Achilles + +

Refleks patologis
 Hoffman - -
 Tromner - -
 Babinski - -
 Chaddok - -
 Oppenheim - -
 Gordon - -
 Schifer - -
 Gorda - -

 Sensoris
Rasa Raba Kanan=Kiri

Rasa Nyeri Kanan=Kiri

Rasa Suhu Tidak dilakukan

Rasa Gerak dan Sikap Kanan=Kiri

Rasa Getar Kanan=Kiri

 Keseimbangan dan Koordinasi


Kanan Kiri

Romberg Tidak dilakukan Tidak dilakukan


Disdiadokokinesis Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Tes finger to nose Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Heel to knee Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Rebound phenomen Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Tonus Otot
Hipotoni : - / -
Hipertoni : - / -

Sistem Ekstrapiramidal
Tremor : -
Chorea : -
Balismus : -
Tidak ditemukan saat dilakukan pemeriksaan

Fungsi Kortikal
Atensi : Dalam Batas Normal
Konsentrasi : Dalam Batas Normal
Disorientasi : Dalam Batas Normal
Kecerdasan : Tidak Dilakukan Pemeriksaan
Bahasa : Disartria
Memori : Tidak ditemukan gangguan memori
Agnosia : Pasien dapat mengenal objek dengan baik

Susunan Saraf Otonom


Inkontinensia : -
Hipersekresi keringat : +
IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG

IMUNOLOGI (tgl 30-01-2018)

Nama Test Hasil Satuan Nilai Rujukan Metode

HBsAg 0,01 Negative <0,13 ELFA


Kuantitatif

Anti HIV Non Reaktif Non Reaktif Chromatography

CT-SCAN tgl 29/01/2018

Kesan :
Cerebral abscess di occipitoparietal lobe kiri serta frontotemporoparietal
lobe kanan disertai severe finger forming vasogenic edema yang mendesak
bangsal ganglia, sistem ventrikel, dan menyebabkan tanda-tanda mild
subfalcine herniation.

RONTGEN THORAX tgl 29-01-2018

Kesan :
Pembesaran jantung tanpa bendungan paru
Atherosclerosis aorta
Tidak tampak TB paru aktif
Corakan paru bertambah

EKG tgl 29-01-2018


Kesan : infark pada bagian septal

V. RESUME

Subyektif
Tn.T, usia 67 tahun datang ke Poli Saraf RSUD Arjawinangun dengan
keluhan nyeri kepala hebat sejak 2 hari SMRS dan semakin hari semakin
memberat. Pasien juga mengeluhkan bicaranya menjadi pelo dan mulutnya
miring ke kiri. Keluhan lain berupa kelemahan tangan kiri dan kaki kiri,
namun maih dapat digerakkan. Pasien baru pertama kali merasakan seperti
ini. Riwayat hipertensi tidak diketahui, riwayat Penyakit Jantung (-),
Riwayat pengobatan TB (-), Diabetes Melitus (-).

Obyektif
Status Generalis
Kesadaran : Composmentis
GCS : E4M6V5
Tekanan Darah : 160/90 mmHg
Nadi : 55 x/m
Respirasi : 20 x/m
Suhu : 36,6 0C
Status Neurologis
Kekuatan motorik 5 4
5 4

sensorik : simetris (kanan=kiri)

Reflek fisiologis + +
+ +
nystagmus : -/-
Parese N.VII
Reflek patologis (-)

VI. DIAGNOSIS
1. Diagnosis klinis : Cephalgia akut 3 hari, Hemiparesis sinistra akut 3
hari, Disartria akut 3 hari, tinitus akut 3 hari
2. Diagnosis topis : lesi intracranial
3. Diagnosis etiologis : Space occupying lesion (SOL) multiple abses
4. Diagnosis banding : Tumor serebri

VII. RENCANA DIAGNOSTIK


1. MRI kepala
2. Biopsi

VII. TATALAKSANA
• IVFD NS 20 tpm
• Inj. Citicholine 2x500mg
• Inj. Ranitidin 2x1gr
• Candesartan 1x8mg amp
• Inj. Ceftriaxone 2x2gr
• Inj. Dexametason 2x1 amp
VIII. PROGNOSIS
Quo Ad Vitam : dubia ad malam
Quo Ad Fungtionam : dubia ad malam
Quo Ad Sanationam : dubia ad malam
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Space Occupying Lesions Intracranial (SOL)

2.1.1 Definisi

Space occupying lesion merupakan generalisasi masalah tentang adanyalesi


pada ruang intrakranial khususnya yang mengenai otak. Penyebabnyameliputi
hematoma, abses otak dan tumor otak.
Sol dapat didefinisikan sebagai tumor yang jinak atau ganas baik bersifat
primer atau sekunder, dan juga sebagai massa inflamatorik maupun parasitic yang
berletak pada rongga cranium. Sol juga berupa hematoma, berbagai jenis kista dan
malformasi vaskuler.

2.1.2 Epidemiologi
Berdasarkan penelitian terdapat 42 kasus SOL mempengaruhi rongga intrakranial
dan tulang belakang. 39 kasus berasal dari otak dan selaput-selaput otak dan 3
berasal dari lumbar pinalis. Dari 39 kasus, 26 (67%) adalah akibat tumor dan
13(33%) adalah akibat infeksi, terutama tuberculosis. Dari data tersebut terdapat 6
kasus astrocytoma dan 3 kasus meningioma. Dalam kasus tersebut masing-masing
terdapat 2 kasus lagi yakni, pilocytic astrocytoma and medulloblastoma. Selain itu
juga terdapat kasus pineal tumour, craniopharyngioma, pituitary adenoma,
vestibular schwannoma dan oligodendroglioma dan 6 kasus indeterminate . ada 3
kasus SOL yang mengenai spinal yakni arachnoiditis, subdural abscess dan
tuberculoma

2.1.3. Etiologi

1. Riwayat trauma kepala


Trauma yang berulang menyebabkan terjadinya meningioma (neoplasma
selaput otak). Pengaruh trauma pada patogenesis neoplasma susunan saraf pusat
belum diketahui gejala klinis.

2. Faktor genetik

Tujuan susunan saraf pusat primer merupakan komponen besar dari


beberapa gangguan yang diturunkan sebagai kondisi autosomal, dominan termasuk
sklerasis tuberose, neurofibromatosis.

3. Paparan zat kimia yang bersifat karsinogenik dan virus.

Pada binatang telah ditemukan bahwa karsinogen kimia dan virus


menyebabkan terbentuknya neoplasma primer susunan saraf pusat tetapi
hubungannya dengan tumor pada manusia masih belum jelas.

4. Defisisensi imunologi dan congenital

2.1.4. Klasifikasi

Berdasarkan jenis tumor dapat dibagi menjadi:

1. Jinak

a. Acoustic Neuroma

b. Meningioma

c. Pituitary adenoma

d. Astrocytoma (grade1)

2. Malignant

a. Astrocytoma (grade 2)

b.Oligodendroglioma

c. Apendymoma
Berdasarkan lokasi tumor dapat dibagi menjadi :

1. Tumor Intradural

a. Ekstramedular

b. Cleurofibroma

c. Meningioma Intramedular

d. Apendimoma

e. Astrocytoma

f. Oligodendroglioma

g. Hemangioblastoma

2. Tumor ekstradural

Merupakan metastase dari lesi primer4

2.1.5. Patofisiologi

Peningkatan tekanan intracranial adalah suatu mekanisme yang diakibatkan


oleh beberapa kondisi neurologi. Isi dari cranial adalah jaringan otak, pembuluh
darah dan cairan serebrospinal. Bila terjadi peningkatan satu dari isi cranial
mengakibatkan peningkatan tekanan intracranial, sebab ruang cranial keras,
tertutup tidak bisa berkembang.

Peningkatan satu dari beberapa isi cranial biasanya disertai dengan


pertukaran timbale balik dalam satu volume yang satu dengan yang lain. Jaringan
otak tidak dapat berkembang, tanpa berepengaruh serius pada aliran dan jumlah
cairan serebrospinal dan sirkulasi serebral. Space Occupaying Lesion (SOL)
menggantikan dan merubah jaringan otak sebagai suatu peningkatan tekanan.
Peningkatan tekanan dapat secara lambat (sehari/seminggu) atau secara cepat, hal
ini tergantung pada penyebabnya. Pada pertama kali satu hemisphere akan
dipengaruhi.
Peningkatan tekanan intracranial dalam ruang kranial pada pertama kali
dapat dikompensasi dengan menekan vena dan pemindahan cairan serebrospinal.
Bila tekanan makin lama makin meningkat, aliran darah ke serebral akan menurun
dan perfusi menjadi tidak adekuat, maka akan meningkatkan PCO2 dan
menurunkan PO2 dan PH. Hal ini akan mnyebabkan vasodilatasi dan edema serebri.
Edema lebih lanjut akan meningkatkan tekanan intracranial yang lebih berat dan
akan meyebabkan kompresi jaringan saraf.

Pada saat tekanan melampaui kemampuan otak untuk berkompensasi, maka


untuk meringankan tekanan, otak memindahkan ke bagian kaudal atau herniasi
kebawah. Sebagian akibat dari herniasi, batang otak akan terkena pada berbagai
tingkat, yang mana penekanannya bisa mengenai pusat vasomotor, arteri serebral
posterior, saraf okulomotorik, traktus kortikospinal, dan serabut-serabut saraf
ascending reticular activating system. Akibatnya akan mengganggu mekanisme
kesadaran, pengaturan tekanan darah, denyut nadi pernafasan dan temperature.

2.1.6. Manifestasi Klinis

Nyeri kepala, edema papil dan muntah secara umum dianggap sebagai
karakteristik peninggian TIK. Demikian juga , dua pertiga pasien SOL memiliki
semua gambaran tersebut. Walau demikian, tidak satupun dari ketiganya khas untuk
peninggian tekanan, kecuali edema papil, banyak penyebab lain yang menyebabkan
masing-masing berdiri sendiri dan bila mereka timbul bersama akan memperkuat
dugaan adanya peninggian TIK.

1. Gejala klinik umum timbul karena peningkatan tekanan intracranial, meliputi :

a. Nyeri kepala

Nyeri bersifat dalam, terus menerus, tumpul dan kadang-kadang bersifat


hebat sekali, biasanya paling hebat pada pagi hari dan diperberat saat
beraktivitas yang menyebabkan peningkatan TIK, yaitu batuk,
membungkung, dan mengejan.

b. Nausea atau muntah


muntah yang memancar (projectile voiting) biasanya menyertai
peningkatan tekanan intracranial.

c. Papil edema

titik buta dari retina merupakan ukuran dan bentuk dari papilla optic atau
discus optic.

Karena tekanan intracranial meningkat, tekanan ditransmisi ke mata


melalui cairan cerebrospinal sampai ke discus optic.

Karena meningens memberi reflex kepada seputar bola mata,


memungkinkan transmisi tekanan melalui ruang-ruang oleh cairan
cerebrospinal.

Karena discus mata membengkak retina menjadi tertekan juga. Retina


yang rusak tidak dapat mendeteksi sinar.6

2. False localizing signs dan tanda lateralisasi

False localizing signs ini melibatkan neuroaksis kecil dari lokasi tumor yang
sebenarnya. Sering disebabkan karena peningkatan tekanan intrakaranial,
peregeseran dari struktur-struktur intracranial atau iskemi. Lesi pada salah satu
kompartemen otak dapat menginduksi pergeseran dan kompresi dibagian otak yang
jauh dari lesi primer. Suatu tumor intra cranial dpat menimbulkan manifestasi yang
tidak sesuai dengan fungsi area yang ditempatinya. Tanda tersebut adalah:

a. Kelumpuhan saraf otak. Karena desakan tumor, saraf dapat tertarik atau
tertekan. Desakan itu tidak harus langsung terhadap saraf otak. Saraf
yang sering terkena tidak langsung adalah saraf III dan IV

b. Refleks patologis yang positif pada kedua sisi, dapat ditemukan pada
tumor yang terdapat di dalam salah satu hemisferium saja.

c. Gangguan mental

d. Gangguan endokrin dapat juga timbul SOL di daerah hipofise.


3. Gejala klinik local

Manifestasi local terjadi pada tumor yang meneyebabkan destruksi


parenkim, infark atau edema. Juga akibat pelepasan faktor-faktor kedaerah sekitar
tumor (contohnya: peroksidase, ion hydrogen, enzim proteolitik dan sitokin),
semuanya dapat meyebabkan disfungsi fokal yang reversibel.

a. Tumor Lobus Frontal

Tumor lobus frontal menyebabkan terjadinya kejang umum yang diikuti


paralisis pos- iktal.

b. Tumor Lobus Temporalis

Gejala tumor lobus temporalis antara lain disfungsi traktus kortikospinal


kontralateral, deficit lapangan pandang homonim perubahan
kepribadian, disfungsi memori dan kejang parsial kompleks

c. Lobus Parietal

dapat menimbulkan gejala modalitas sensori, kortikal hemianoksi


homonym

d. Tumor Lobus Oksipital

Tumor lobus oksipital sering menyebabkan hemianopsia homonym yang


kongruen.

e. Tumor pada Ventrikel Tiga

Tumor didalam atau yang dekat dengan ventrikel tiga menghambat


ventrikel atau aquaduktus dan menyebabkan hidrosepalus.

f. Tumor Batang Otak

terutama ditandai oleh disfungsi saraf kranialis, defek lapangan pandang,


nistagmus, ataksia dan kelemahan ekstremitas
g. Tumor Serebellar

Muntah Berulang dan sakit kepala dibagian oksiput merupakan gejala


yang sering ditemukan pada tumor serebellar.

h. Tumor Hipotalamus

Gangguan perkembangan seksual pada anak-anak, gangguan cairan


cerebrospinal.

i. Tumor Fosa Posterior

Gangguan berjalan nyeri kepala dan muntah disertai dengan nistagmus.5

2.1.7. Diagnosis

Untuk menegakkan diagnosis pada penderita yaitu melalui anamnesis,


pemeriksaan fisik neurologik yang teliti serta pemeriksaan penunjang. Dari
anamnesis kita dapat mengetahui gejala-gejala yang dirasakan seperti ada tidaknya
nyeri kepala, muntah dan kejang. Sedangkan melalui pemeriksaan fisik neurologik
ditemukana adanya gejala seperti edema papil dan defisit lapangan pandang.

Perubahan tanda vital pada kasus SOL intrakranial meliputi:

1. Denyut nadi
Denyut nadi relatif stabil selama stadium awal dari peningkatan TIK,
terutama pada anak-anak. Bradikardi merupakan mekanisme yang mungkin
terjadi untuk mensuplai darah ke otak dan mekanisme ini dikontrol oleh tekanan
pada mekanisme refleks vagal yang terdapat dimedulla.
2. Pernapasan
Pada saat kesadaran menurun, korteks serebri akan lebih tertekan daripada
batang otak pada pasien dewasa, perubahan pernapasan ini normalnya akan
diikuti dengan penurunan level dari kesadaran. Perubahan pola pernapasan
adalah hasil dari tekanan langsung pada batang otak.
3. Tekanan darah
Tekanan darah dan denyut nadi relatif stabil selama stadium awal dari
peningkatan tekanan intrakranial, terutama pada anak-anak. Dengan terjadinya
peningkatan tekanan intrakranial, tekanan darah akan meningkat sebagai
mekanisme kompensasi, sehingga terjadi penurunan dari denyut nadi disertai
dengan perubahan pola pernapasan. Apabila kondisi ini terus berlangsung,
maka tekanan darah akan mulai turun.
4. Suhu tubuh
Selama mekanisme kompensasi dari peningkatan TIK, suhu tubuh akaN
tetap stabil. Ketika mekanisme dekompensasi berubah, peningkatan suhu tubuh
akan muncul akibat dari disfungsi dari hipotalamus atau edema pada traktus
yang menghubungkannya.
5. Reaksi pupil
Serabut saraf simpatis menyebabkan otot pupil berdilatasi. Reaksi pupil
yang lebih lambat dari normalnya dapat ditemukan pada kondisi yang
menyebabkan penekanan pada nervus okulomotorius, seperti edema otak atau
lesi pada otak.

2.1.8. Pemeriksaan Penunjang

1. Head CT-Scan
CT-Scan merupakan merupakan alat diagnostik yang penting dalam
evaluasi pasien yang diduga menderita tumor otak. CT-Scan merupakan
pemeriksaan yang mudah, sederhana, non invasif, tidak berbahaya, dan waktu
pemeriksaan lebih singkat. Ketika kita menggunakan CT-Scan dengan kontras,
kita dapat mendeteksi tumor yang ada. CT-Scan tidak hanya dapat mendeteksi
tumor, tetapi dapat menunjukkkan jenis tumor apa, karena setiap tumor
intrakranial menunjukkan gambar yang berbeda pad CT-Scan.
Gambaran CT-Scan pada tumor otak, umumnya tampak sebagai lesi
abnormal berupa massa yang mendorong struktur otak disekitarnya. Biasanya
tumor otak dikelilingi jaringan oedem yang terlihat jelas karena densitasnya
lebih rendah. Adanya kalsifikasi, perdarahan atau invasi mudah dibedakan
dengan jaringan sekitarnya karena sifatnya hiperdens. Beberapa jenis tumor
akan terlihat lebih nyata bila pada waktu pemeriksaan CT-Scan disertai dengan
pemberian zat kontras. Kekurangan CT-Scan adalah kurang peka dalam
mendeteksi massa tumor yang kecil, massa yang berdekatan dengan struktur
tulang kranium, maupun massa di batang otak.9
Pada subdural akut CT-Scan kepala (non kontras) tampak sebagai suatu
massa hiperdens (putih) ekstra-aksial berbentuk bulan sabit sepanjang bagian
dalam (inner table) tengkorak dan paling banyak terdapat pada konveksitas otak
didaerah parietal. Terdapat dalam jumlah yang lebih sedikit didaerah bagian
atas tentorium serebeli. Perdarahan subdural yang sedikit (small SDH) dapat
berbaur dengan gambaran tulang tengkorak dan hanya akan tampak dengan
menyesuaikan CT window width. Pegeseran garis tengah (middle shift) akan
tampak pada perdarahan subdural yang sedang atau besar volumenya. Bila tidak
ada middle shift harus dicurigai adanya massa kontralateral dan bila middle shift
hebat harus dicurigai adanya edema serebral yang mendasarinya.
Pada fase akut subdural menjadi isodens terhadap jaringan otak sehingga
lebih sulit dinilai pada gambaran CT-Scan, oleh karena itu pemeriksaan CT-
Scan dengan kontras atau MRI sering dipergunakan pada kasus perdarahan
subdural dalam waktu 48-72 jam setelah trauma. Pada pemeriksaan CT dengan
kontras, vena-vena kortikal akan tampak jelas dipermukaan otak dan membatasi
subdural hematoma dan jaringan otak. Perdarahan subdural akut sering juga
berbentuk lensa (bikonveks) sehingga membingungkan dalam membedakannya
dengan epidural hematoma.
Pada fase kronik lesi subdural pada gambaran CT-Scan tanpa kontras
menjadi hipodens dan sangat mudal dilihat. Bila pada CT-Scan kepala telah
ditemukan perdarahan subdural, sangat penting untuk memeriksa kemungkinan
adanya lesi lain yang berhubungan seperti fraktur tengkorak, kontusio jaringan
otak dan perdarahan subarakhnoid.8
Pada abses, CT-Scan dapat digunakan sebagai pemandu untuk dilakukannya
biopsi. Biopsi aspirasi abses ini dilakukan untuk keperluan diagnostik maupun
terapi.
2. MRI
MRI merupakan pemeriksaan yang paling baik terutama untuk mendeteksi
tumor yang berukuran kecil ataupun tumor yang berada dibasis kranium, batang
otak dan di fossa posterior. MRI juga lebih baik dalam memberikan gambaran
lesi perdarahan, kistik, atau, massa padat tumor intrakranial.

3. Darah Lengkap
Pemeriksaan darah lengkap dapat dijadikan salah satu kunci untuk
menemukan kelainan dalam tubuh. kelainan sitemik biasanya jarang terjadi,
walaupun terkadang pada abses otak sedikit peningkatan leukosit.
4. Foto Thoraks
Dilakukan untuk mengetahui apakah ada tumor dibagian tubuh lain,
terutama paru yang merupakan tempat tersering untuk terjadinya metastasis
primer paru. Pada hematoma, mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur),
perubahan struktur garis (perdarahan /edema), dan fragmen tulang.
5. USG Abdomen
Dilakukan untuk mengetahui aakah ada tumor dibagian tubuh lain. Pada
orang dewasa. Tumor otak yang merupakan metastase dari tumor lain lebih
sering daripada tumor primer otak.
6. Biopsi
Untuk tumor otak, biopsi dilakukan untuk mengetahui jenis sel tumor
tersebut, sehingga dapat membantu dokter untuk mengidentifikasi tipe dan
stadium tumor dan menentukan pengobatan yang tepat seperti apakah akan
dilakukan pengangkatan seluruh tumor ataupun dilakukan radioterapi.
7. Lumbal Pungsi
Pemeriksaan ini hanya dilakukan untuk beberpa jenis tumor otak tertentu.
Dengan mengambil cairan serebro spinal, diharapkan dapat diketahui jenis sel
dari tumor otak tersebut. Jika tekanan intrakranial terlalu tinggi, pemeriksaan
ini kontraindikasi untuk dilakukan.
8. Analisa Gas Darah
Untuk mendeteksi ventilasi atau masalah pernapasan jika terjadi
peningkatan tekanan intrakranial.
9. Angiography
Angiography tidak sealu dilakukan, tetapi pemeriksaan ini perlu dilakukan
untuk beberapa jenis tumor. pemeriksaan ini membantu ahli bedah untuk
mengetahui pembuluh darah mana saja yang mensuplai area tumor, terutama
apabila terlibat embuluh darah besar. Pemeriksaan ini penting dilakukan
terutama untuk tumor yang tumbuh ke bagian sangat dalam dari otak.

2.1.9. Penatalaksanaan

1. Pembedahan
Jika hasil CT-Scan didapati adanya tumor, dapat dilakukan pembedahan.
Ada pembedahan total dan parsial, hal ini tergantung jenis tumornya. Pada
kasus abses seperti loculated abscess, pembesran abses walaupun sudah diberi
antibiotik yang sesuai, ataupun terjadi impending herniation. Sedangkan pada
subdural hematoma, operasi dekompresi harus segera dilakukan jika terdapat
subdural hematoma akut dengan middle shift > 5 mm. Operasi juga
direkomendasikan pada subdural hematoma akut dengan ketebalan lebih dari 1
cm.
2. Radioterapi
Ada beberapa jenis tumor yang sensitif terhadap radioterapi, seperti low
grade glioma. Selain itu radioterapi juga digunakan sebagai lanjutan terapi dari
pembedahan parsial.
3. Kemoterapi
Terapi utama jenis limpoma adalah kemoterapi. Tetapi untuk
oligodendroglioma dan beberapa astrocytoma yang berat, kemoterapi hanya
digunakan sebagai terapi tambahan.
4. Antikolvusan
Mengontrol kejang merupakan bagian terapi yang penting pada pasien
dengan gejala klinis kejang. Pasien SOL sering mengalami peningkatan tekanan
intrakranial, yang salah satu gejala klinis yang sering terjadi adalah kejang.
Phenytoin (300-400mg/kali) adalah yang paling umum digunakan. Selain
itu dapat juga digunakan carbamazepine (600-1000mg/hari), phenobarbital (90-
150mg/hari) dan asam valproat (750-1500mg/hari).

5. Antibiotik
Jika dari hasil pemeriksaan diketahui adanya abses, maka antibiotik
merupakan salah satu terapi yang harus diberikan. Berikan antibiotik intravena,
sesuai kultur ataupun sesuai data empiris yang ada. Antibiotik diberikan 4-6
minggu atau lebih, hal ini disesuaikan dengan hasil pencitraan, apakah ukuran
abses sudah berkurang atau belum. Carbapenem, fluorokuinolon, aztreonam
memiliki penetrasi yang bagus ke sistem saraf pusat, tetapi harus
memperhatikan dosis yang diberikan (tergantung berat badan dan fungsi ginjal)
untuk mencegah toksisitas.

6. Kortikosteroid
Kortikosteroid mengurangi edema peritumoral dan mengurangu tekana
intrakranial. Efeknya mengurangi sakit kepala dengan cepat. Dexamethasone
adalah kortikosteroid yang dipilh karena aktivitas mineralkortikoid yang
minimal. Dosisnya dapat diberikan mulai dari 16mg/hari, tetapi dosisnya dapat
ditambahkan maupun dikurangi untuk mencapai dosis yang dibutuhkan untuk
mengontrol gejala neurologik.

7. Head up 30-45˚
Berfungsi untuk mengoptimalkan venous return dari kepala, sehingga akan
membantu mengurangi TIK.

8. Menghindari Terjadinya Hiperkapnia


PaCO2 harus dipertahankan dibawah 40 mmHg, karena hiperkapnia dapat
menyebabkan terjadinya peningkatan aliran darah ke otak sehingga terjadi
peningkatan TIK, dengan cara hiperventilasi ringan disertai dengan analisa gas
darah untuk menghindari global iskemia pada otak.
9. Diuretika Osmosis
Manitol 20% dengan dosis 0,25-1 gr/kgBB diberikan cepat dalam 30-60
menit untuk membantu mengurangi peningakatan TIK dan dapat mencegah
edema serebri.

3.1.10. Komplikasi

1. Gangguan fungsi neurologis


2. Gangguan kognitif
3. Gangguan tidur dan mood
4. Gangguan disfungsi seksual.
BAB III
PEMBAHASAN

Tn. T, usia 67 tahun datang dengan keluhan utama nyeri kepala hebat yang
dialami 2 hari sebelum masuk rumah sakit, yang dialami secara tiba-tiba saat
beraktivitas ringan. Keluhan disertai dengan kelemahan tangan kiri dan kaki kiri
serta bicara pelo. pada pemeriksaan fisik dan radiologis os didiagnosa dengan
cephalgia akut + disartria akut + hemiparese sinistra ec. SOL intracranial. Sol
didefinisikan sebagai tumor yang jinak atau ganas baik bersifat primer atau
sekunder, dan juga sebagai massa inflamatorik maupun parasitic yang berletak pada
rongga cranium.

Tanda-tanda dan gejala SOL yang dapat dijumpai pada pasien ini berupa
tanda-tanda peningkatan intracranial berupa nyeri kepala hebat. Setelah dilakukan
CT Scan didapati lesi berupa abses di occipitoparietal lobus kiri serta fronto
temporoparietal lobus kanan, disertai vasogenic edema yang mendesak basal
ganglia dan menyebabkan tanda-tanda herniation. Tatalaksana pada pasien ini
berupa pemberian, anti-biotik, kortikosteroid dan penanganan suportif lainnya.
Pemantauan setelah tatalaksana di atas harus dilakukan terus selama beberapa
waktu untuk melihat perbaikan dan perkembangan penyakit pada os.
BAB IV

KESIMPULAN

Sol pada otak umumnya berhubungan dengan malignansi namun keadaan


patologi lain meliputi abses otak atau hematom. Adanya sol dalam otak akan
menyebabkan gambaran seperti tumor, yang meliputi gejala umum yang
berhubungan dengan peningkatan tekanan intera cranial, perubahan tingkah laku,
false localizing signserta kelainan tergantung pada lokasi tumor. Tumor juga dapat
menyebabkan infiltrasi dan kerusakan pada struktur organ yang penting seperti
terjadinya obstruksi pada aliran cairan serebrospinalis yang menyebabkan hidrose
falus dan menginduksi angiogenesis dan edema paru.
DAFTAR PUSTAKA

1. Ejaz M, Saeed A, Naseer A, Chaudrhy, Qureshi G.R, 2005. Intra-cranial


Space Occupying Lesions A Morphological Analysis. Department of
Pathology, Postgraduate Medical Institute, Lahore – Pakistan. Biomedica
Vol. 21
2. Kaptigau, W. Matui ,Ke Liu. Space-occupying lesions in Papua New
Guinea – the CT era. Port Moresby General Hospital, Papua New Guinea
and Chongqing Emergency Medical Centre, Chongqing City, China. PNG
Med J 2007 Mar-Jun;50(1-2):33-43
3. Wulandari, A., 2012. Space Occupaying Lesion (SOL). Available from:
http://www.scribd.com/doc/181664046/Sol [Last accessed 7th December
2014]
4. Ningrum, F.Y., 2013. Space Occupaying Lesion ( SOL). Available from:
http://www.scribd.com/doc/123949291/referat-SOL [Last accessed 7th
December 2014]
5. Widyalaksono, A., 2012. SOL Space Occupayimg Lesion. Available from:
http://www.scribd.com/doc/129372631/CR-SOL [Last accessed 7th
December 2014]
6. Lombardo MC. 2006. Cedera Sistem Saraf Pusat. Dalam: Price SA, Wilson
LM, eds. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 6.
Volume 2. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
7. Wilkinson, Iain. 2005. Brain Tumour. Essential Neurology, 4th Edition.
Page 50-52.
8. Meagher, R.J., & Lutsep, H.L. 2013. Subdural Hematoma. Dipetik
Desember 10, 2013, dari http://emedicine.medscape.com/article/113720.
[Last accessed 7th Desember 2014]
9. Japardi, I. 2004 Cedera Kepala: Memahami Aspek-Aspek Penting dalam
Pengelolaan Penderita Cedera Kepala. Jakarta Barat: Bhuana Ilmu Populer