Anda di halaman 1dari 6

PROPOSAL BANTUAN PELAKSANAAN SISTEM LAYANAN RUJUKAN TERPADU

(SLRT) UNTUK PENANGANAN KEMISKINAN KOTA BIMA TAHUN 2018.

I. LATAR BELAKANG

Peningkatan kesejahteraan dan perlindungan sosial bagi penduduk miskin dan rentan
miskin menjadi salah satu prioritas nasional Pemerintah dalam rangka penanggulangan
kemiskinan. Hal ini telah diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 2 tahun 2015
tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Untuk
menjalankan agenda tersebut, diperlukan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan
yang terdiri dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dunia usaha (sektor swasta), dan
masyarakat.

Dalam prioritas nasional penanggulangan kemiskinan pada tahun 2018, pemerintah


menitikberatkan percepatan penurunan tingkat kemiskinan dan pertumbuhan yang
merata bagi 40 persen penduduk berpendapatan terendah. Upaya ini dilakukan melalui:

(1) pelaksanaan program jaminan dan bantuan sosial tepat sasaran;

(2) pemenuhan kebutuhan dasar; dan

(3) perluasan akses usaha mikro, kecil, dan koperasi.

Beberapa program berskala nasional yang dijalankan untuk mendukung upaya tersebut
antara lain Program Bantuan Sosial Pangan yang terdiri dari Bantuan Pangan Non Tunai
(BPNT) dan Bantuan Sosial Beras, Program Keluarga Harapan (PKH), Program Indonesia
Pintar (PIP) yang disalurkan melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP), Program Indonesia Sehat
(PIS) yang disalurkan melalui Kartu Indonesia Sehat (KIS), serta Program Listrik bagi
Masyarakat Miskin. Pemerintah juga menyelenggarakan program-program pemberdayaan
masyarakat serta penyediaan akses terhadap kredit mikro, inklusi keuangan dan
penciptaan lapangan kerja baru.

Untuk mendukung hal tersebut, Kementerian Sosial Republik Indonesia melalui


Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial, mengembangkan Sistem Layanan dan Rujukan
Terpadu (SLRT) untuk Perlindungan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan guna
mendukung peningkatan kualitas layanan perlindungan sosial yang komprehensif dan
integratif. SLRT memiliki empat fungsi utama yaitu: integrasi layanan dan informasi;
identifikasi keluhan, rujukan dan penanganan keluhan; pencatatan kepesertaan dan
kebutuhan program; dan pemutakhiran Data Terpadu Program Penanganan Fakir Miskin
(DT-PPFM) secara dinamis dan berkala di daerah. Penyelenggara SLRT diharapkan mampu
memperkuat hubungan jejaring kerja antara pusat dan daerah melalui Potensi dan Sumber
Kesejahteraan Sosial (PSKS) atau unit-unit pelayanan sosial yang ada sesuai dengan kondisi
dan kebutuhan daerah.

II. Permasalahan

Menurut hasil Laporan Pencapaian Penanggulangan Kemiskinan Daerah (LP2KD) Kota


Bima Tahun 2014 angka Kemiskinan Kota Bima sebesar 9,68% dari jumlah penduduk Kota
Bima sebanyak 163.337 Jiwa, terkait dengan hal tersebut Pemerintah Daerah Kota Bima
telah merumuskan kebijakan dan strategi penanggulangan kemiskinan yang terintegrasi
dalam sistem perencanaan Pembangunan daerah mulai dari RPJM-daerah 2013-2018,
Rencana Kerja Pemerintah Daerah(RKPD), dan Strategi Penanggulangan Kemiskinan
Daerah(SPKD).

Angka Kemiskinan Kota Bima merupakan yang paling rendah dari seluruh
Kota/Kabupaten Se-NTB namun demikian masih banyak persoalan yang dihadapi terkait
masalah Pemutakhiran data by name by addres penduduk miskin tersebut hampir
diseluruh indonesia mengalami persoalan data yang sangat statis dan belum adanya
standarisasi mekanisme penetapan sasaran yang tepat.

Selanjutnya, banyak kasus keluarga miskin dan rentan miskin tidak menerima layanan
perlindungan sosial secara komprehensif walaupun layak menjadi penerima bantuan.
Pelayanan dan penanganan masalah sosial yang belum optimal bersumber dari cara
pemahaman dalam mengatasi masalah sosial yang mengabaikan keterpaduan dalam
proses penanganannya. Penanganan masalah sosial yang dilakukan berdasarkan
paradigma pelayanan sektoral saat ini belum terarah kepada sasaran pelayanan dan tidak
dilaksanakan secara berkelanjutan. Masih banyak program pelayanan sektoral yang masih
berjalan sendiri-sendiri sesuai dengan bidang tugas pokok dan fungsi masing-masing
lembaga/institusi. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 telah mengamanatkan bahwa
penyelenggaraan kesejahteraan sosial yang dilakukan oleh pemerintah baik pusat maupun
daerah serta masyarakat selain harus terarah dan berkelanjutan, juga harus terpadu.

Sejak era otonomi daerah, pemerintah Kabupaten/Kota belum menjadikan


penyelenggaraan kesejahteraan sosial sebagai program dan kegiatan prioritas secara
kelembagaan. Beberapa faktor yang menyebabkan kondisi tersebut meliputi: pertama,
pembinaan/fasilitasi oleh Pemerintah Pusat belum dilakukan secara komprehensif.
Akibatnya, partisipasi Pemerintah Daerah dalam perencanaan, penganggaran dan
pelayanan yang berpihak kepada bagi penyandang masalah sosial masih rendah. Kedua,
upaya pengawasan belum mampu memberikan keyakinan yang memadai atas tercapainya
tujuan penyelenggaraan kesejahteraan sosial melalui kegiatan yang efektif dan efisien
serta taat asas terhadap peraturan perundang-undangan maupun ketentuan lain yang
berlaku; dan ketiga, pendampingan yang dilakukan belum mampu memperkuat dukungan,
membantu memecahkan masalah, memotivasi, memfasilitasi dan menjembatani berbagai
kebutuhan penyandang masalah.

Salah satu upaya dalam memecahkan masalah tersebut adalah melalui Sistem Layanan
Rujukan Terpadu (SLRT). SLRT adalah sistem layanan yang membantu untuk
mengidentifikasi kebutuhan masyarakat miskin dan rentan berdasarkan profil dalam Daftar
Penerima Manfaat dan menghubungkan mereka dengan program- program perlindungan
sosial dan penanggulangan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah (pusat, provinsi,
dan Kabupaten/Kota) sesuai dengan kebutuhan mereka. SLRT juga membantu
mengindentifikasi keluhan masyarakat miskin dan rentan, melakukan rujukan, dan
memantau penanganan keluhan untuk memastikan bahwa keluhan- keluhan tersebut
ditangani dengan baik.

III. TUJUAN DAN SASARAN


A.Tujuan SLRT adalah meningkatkan efektivitas dan efisiensi sistem perlindungan sosial
untuk mengurangi kemiskinan, kerentanan dan kesenjangan. Secara khusus tujuan
yang akan dicapai diantaranya:
1. Meningkatkan akses rumah tangga/keluarga miskin dan rentan terhadap multi-
program/layanan;
2. Meningkatkan akses rumah tangga/keluarga paling miskin dan paling rentan maupun
penyandang masalah sosial lainnya terhadap program-program perlindungan sosial
dan penanggulangan kemiskinan;
3. Meningkatkan integrasi berbagai layanan sosial di daerah sehingga fungsi layanan
tersebut menjadi lebih responsif;
4. Meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dalam “pemutakhiran” Daftar Penerima
Manfaat secara dinamis dan berkala serta pemanfaatannya untuk program-
program perlindungan sosial di daerah;
5. Memberdayakan masyarakat untuk lebih memahami hak-haknya terkait layanan dan
program perlindungan sosial dan penanggulangan kemiskinan;
6. Meningkatkan kapasitas Pemerintah di semua tingkatan dalam mengkoordinasikan
program perlindungan sosial dan penanggulangan kemiskinan; dan
7. Memberikan masukan untuk proses perencanaan dan penganggaran perlindungan
sosial dan penanggulangan kemiskinan agar lebih memihak kepada masyarakat
miskin dan rentan.

B.Sasaran SLRT
Kelompok sasaran utama SLRT adalah:
1. Kelompok masyarakat miskin dan rentan (rumah tangga, keluarga, dan individu).
Kelompok masyarakat miskin adalah orang-orang yang berada di bawah garis
kemiskinan nasional. Kelompok rentan adalah orang-orang yang memiliki status
sosial ekonomi 40% terbawah berdasarkan Data Terpadu (Daftar Penerima
Manfaat).
2. Kelompok masyarakat yang paling miskin dan rentan, termasuk penyandang
disabilitas, perempuan/anak terlantar, lanjut usia, masyarakat adat terpencil, dan
lain lain.

Dengan adanya Sistem Layanan Rujukan Terpadu (SLRT) yang kelembagaannya


terorganisir mulai dari tingkat Desa/Kelurahan sampai pada tingkat Pusat yang
berbasiskan tekhnologi Informasi yang dilaksanakan oleh Potensi Sumber Kesejahteraan
Sosial yang handal diharapkan dapat lebih meningkatkan Efektivitas dan Efisiensi sistem
perlindungan sosial untuk mengurangi kemiskinan, kerentanan dan kesenjangan di Kota
Bima.
Terkait hal tersebut diatas diperlukan beberapa aspek untuk mendukung
terlaksananya program SLRT sehingga tercapainya sasaran dan tujuan program :
1) Komitmen pimpinan daerah yang didukung semua elemen baik birokrat, dunia
usaha dan lembaga sosial kemasyarakatan untuk membangun pelayanan
terpadu;
2) Regulasi penyelenggaraan pelayanan terpadu yang mengatur keterlibatan
pemerintah, dunia usaha, dan lembaga sosial kemasyarakatan;
3) Ketersediaan sarana dan prasarana penyelenggaraan pelayanan terpadu
termasuk keberadaan UPT (Unit Pelayanan Terpadu);
4) Kesiapan dukungan anggaran untuk pelaksanaan program;
5) Adanya mekanisme monitoring dan evaluasi terpadu untuk pengembangan dan
keberhasilan program;
6) Keterpaduan pusat dan daerah terkait pengelolaan dan penetapan sasaran,
penanganan keluhan dan pelayanan;
7) Penjangkauan dan fasilitasi untuk masyarakat miskin dan rentan oleh Potensi
dan Sumber Kesejahteraan Sosial;
8) Sistem aplikasi (MIS) berbasis Android dan Web yang real time;
9) Pemutakhiran Data Terpadu ) secara dinamis dan berkelanjutan oleh pemerintah
daerah;
10) Adanya dashboard di tingkat daerah dan pusat yang merangkum dan
menganalisis data dan informasi untuk mengetahui cakupan dan irisan
kepesertaan program perlindungan sosial serta jenis keluhan dan
penanganannya; dan
11) Partisipasi aktif masyarakat terutama warga miskin dan rentan miskin
IV. RENCANA ANGGARAN BIAYA
Mengingat terbatasnya anggaran APBD Kota Bima tahun 2018 yang belum dapat
mengakomodir semua kebutuhan dalam penyelenggaraan SLRT maka dibutuhkan
bantuan dana hibah dari APBN sebesar Rp. 500.000.000,- ( Lima Ratus Juta Rupiah )
dengan rincian sebagai berikut :
NO - RENCANA JUMLAH ANGGARAN
KEGIATAN
1 - Rehab Ruang Rp 150,000,000
Sekretariat
- Pengadaan Meubler Rp 50,000,000

2 - Pembentukan 38 Kelurahan x3 ORG x12 BLNx 100.000 Rp 138,800,000


Puskesos
5 Kecamatan x 3 ORG X 12 BLN x Rp. 100000 Rp 17,720,000

3 Tambahan Insentif Manajer X 1 X 12 BLN X Rp. 150.000 Rp 180,000

Staf Sekret 3 ORG X 12 BLN X Rp. 100.000 Rp 3,600,000

supervisor dan Fasilitator X 56 ORG x 12 BLN x Rp. 100.000 Rp 67,200,000

4 Biaya Operasional Rp 72,500,000


Lainnya
JUMLAH Rp 500,000,000

V. PENUTUP
Demikian proposal ini dibuat untuk disampaikan kepada Bapak Direktorat
Pemberdayaan Sosial untuk penerapan Sistem Layanan dan Rujukan Terpadu (SLRT) di
Kota Bima.
Kota-Bima, 7 Maret 2018
Kepala Dinas Sosial

Drs. H. Muhidin, MM
Pembina Utama Muda ( IV/ c )
NIP. 19631231 199003 1 209
PROPOSAL
PROGRAM SISTEM LAYANAN
DAN
RUJUKAN TERPADU (SLRT)

DINAS SOSIAL KOTA BIMA

TAHUN 2018
PEMERINTAH KOTA BIMA
DINAS SOSIAL
Jln. Duku No. 1 Raba – Bima Tlp. ( 0374 ) 42788

Kota-Bima, 7 Maret 2108

Nomor : 465 / / III/2108


Lampiran : 1 (satu) Gabung
Perihal : Proposal Sistem Layanan
Rujukan Terpadu (SLRT)
Kota Bima Tahun 2018

Kepada :
Yth. Direktorat Pemberdayaan Sosial
Direktur PSPKKM Kementrian
Sosial Jalan Salemba Raya No. 25
Jakarta
di-
Jakarta

Salah satu upaya dalam Penanggulangan Kemiskinan adalah dengan


diterapkannya Sistem Layanan dan Rujukan Terpadu (SLRT) yang merupakan
sistem layanan yang membantu untuk mengidentifikasi kebutuhan masyarakat
miskin dan rentan berdasarkan profil dalam Daftar Penerima Manfaat dan
menghubungkan mereka dengan program- program perlindungan sosial dan
penanggulangan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah (pusat, provinsi,
dan Kabupaten/Kota) sesuai dengan kebutuhan mereka. SLRT juga membantu
mengindentifikasi keluhan masyarakat miskin dan rentan, melakukan rujukan,
dan memantau penanganan keluhan untuk memastikan bahwa keluhan-
keluhan tersebut ditangani dengan baik.

Maka untuk mendukung hal tersebut dibutuhkan dana untuk pelaksanaan


Sistem tersebut, dengan ini kami mengajukan proposal permohonan dana
bantuan hibah keuangan dari Pemerintah Pusat melalui anggaran APBN TA
anggaran 2018 sebesar Rp.500.000.000,- sesuai proposal dan RAB terlampir.

Demikian untuk maklum dan atas bantuannya kami sampaikan terima kasih.

Kepala Dinas Sosial

Drs. H. Muhidin, MM
Pembina Utama Muda ( IV/ c )
Tembusan: disampaikan dengan hormat kepada NIP. 19631231 199003 1 209
1. Walikota Bima (sebagai Laporan) di Raba-Bima;
2. Kepala BAPPEDA Kota Bima di Raba-Bima.