Anda di halaman 1dari 4

Nama : Gita Lestari

NIM : 1405025048
Kelas : 3B Gizi

HEPATITIS D

A. Definisi Hepatitis

Suatu kondisi medis yang ditandai dengan peradangan pada hati dan hanya mengenai
orang-orang yang pernah terinfeksi oleh virus hepatitis B. Hal ini biasanya memperburuk kondisi
penderita yang sudah terlebih dahulu terinfeksi oleh virus hepatitis B. Ketika seseorang terinfeksi
oleh virus hepatitis B dan D, virus mampu memasuki sel hati dan menggunakan sel-sel tersebut
untuk memperbanyak virus hepatitis D. Karena semakin banyaknya virus hepatitis D yang
terbentuk di dalam sel hati, sel-sel hati tersebut dapat mengalami kerusakan dan bahkan mati.

Hepatitis D biasanya menyebar melalui transfusi darah yang terkontaminasi, sewaktu


persalinan dari ibu ke bayi atau melalui kontak seksual. Ada dua tipe hepatitis D tergantung dari
durasi infeksi. Infeksi mula-mula dikenal sebagai hepatitis D Akut, sedangkan infeksi yang
berlangsung lebih dari enam bulan dikenal dengan hepatitis D Kronis. Hepatitis D Kronis dapat
menyebabkan kerusakan hati, kanker hati, dan bahkan kematian.

B.Penyebab

Penyebab penyakit hepatitis D adalah virus hepatitis tipe D atau antigen Delta yang
berukuran 35-37 nm dan merupakan virus RNA yang tidak sempurna. Virus tersebut dari nukleo
protein RNA merupakan hybrid DNA virus Hepatitis B. Virus ini juga memerlukan selubung
HBSAg. Virus hepatitis D tidak terdapat dalam serum atau darah tetapi anti HVD Ig M dapat
ditemukan dalam sirkulasi (Selamihardja/G.Sujayanto (2007).

C. Patofisiologi

Virus hepatitis yang menyerang hati menyebabkan peradangan dan infiltrat pada
hepatocytes oleh sel mononukleous. Proses ini menyebabkan degrenerasi dan nekrosis sel
perenchyn hati.
Respon peradangan menyebabkan pembekakan dalam memblokir sistem drainage hati,
sehingga terjadi destruksi pada sel hati. Keadaan ini menjadi statis empedu (biliary) dan empedu
tidak dapat diekresikan kedalam kantong empedu bahkan kedalam usus, sehingga meningkat
dalam darah sebagai hiperbilirubinemia, dalam urine sebagai urobilinogen dan kulit
hapatoceluler jaundice.

Hepatitis terjadi dari yang asimptomatik sampai dengan timbunya sakit dengan gejala ringan.
Sel hati mengalami regenerasi secara komplit dalam 2 sampai 3 bulan lebih gawat bila dengan
nekrosis hati dan bahkan kematian. Hepattis dengan sub akut dan kronik dapat permanen dan
terjadinya gangguan pada fungsi hati. Individu yang dengan kronik akan sebagai karier penyakit
dan resiko berkembang biak menjadi penyakit kronik hati atau kanker hati.

D. Gejala

Gejala penyakit hepatitis D bervariasi, dapat muncul sebagai gejala yang ringan (ko-
infeksi) atau amat progresif. Masa inkubasi 1-90 hari atau 4-7 minggu. Gejalanya biasanya
muncul secara tiba-tiba gejala seperti flu, demam, penyakit kuning, urin berwarna hitam dan
feses berwarna hitam kemerahan, Pembengkakan pada hati.

Tanda dan gejala Hepatitis D yang mungkin timbul:

 Air seni berwarna pekat


 Kehilangan selera makan
 Kelelahan
 Mual
 Muntah-muntah
 Sakit perut

Resiko Hepatitis D

 Melakukan hubungan seks dengan orang yang terinfeksi


 Menerima Transfusi Darah atau produk darah sebelum 1987
Komplikasi

 Mungkin memiliki resiko yang lebih tinggi untuk Kanker Hati


 Mungkin memiliki resiko yang lebih tinggi untuk Sirosis Hati

Pencegahan

 Berhubungan seks dengan perlindungan


 Hindari berbagi barang-barang pribadi dengan orang yang terinfeksi
 Hindari paparan terhadap darah orang yang terinfeksi
 Hindari penyalahgunaan obat intravena
 Ibu yang terinfeksi harus diimunisasi terhadap virus tersebut pada waktu kelahiran
 Jangan berbagi jarum suntik, gunting dan pisau cukur dengan orang lain
 Pergi untuk melakukan Vaksinasi Hepatitis B

Penanganan dan pengobatan

 Antivirus
 Istirahat Tidur
 Transplantasi Hari

E. Insiden dan Diagnosa

1. Insiden

Insiden hepatitis D sulit ditetapkan karena muncul bersamaan dengan hepatitis B dan
tidak mudah didiagnosis. Tingkat keparahan mencapai 2-70% (Cecily, 2002).

2. Diagnosa
Ditanyakan gejalanya bila ternyata ditemukan hepatitis virus maka akan dilakukan tes
darah untuk memastikan diagnosis dan jenis virus. Bila terjadi hepatitis kronis, maka dianjurkan
dilakukan biopsi. Diagnosis secara pasti diperoleh jika ada VHD pada bagian jaringan hati.
Diagnosis infeksi hepatitis D kronis dan akut yang terjadinya bersamaan ditandai dengan
ditemukannya Ig M anti HBC yang merupakan tanda serologis untuk hepatitis B akut dan IgM
anti HVD. Diagnosis hepatitis D akut pada pengidap VHB adalah terdeteksinya HbsAg (+), dan
IgM anti VHD dengan titer tinggi dan Ig anti HBC (-). (Markum ,1999).

Pemeriksaan Diagnostik yang lainnya:

1. Tes fungsi hati : abnormal (4-10 kali dari normal). Catatan : merupakan batasan nilai
untuk membedakan hepatitis virus dengan nonvirus
2. AST(SGOT atau ALT(SGPT) : awalnya meningkat. Dapat meningkat satu sampai dua
minggu sebelum ikterik kemudian tampak menurun
3. Darah lengkap : SDM menurun sehubungan dengan penurunan hidup SDM (gangguan
enzim hati atau mengakibatkan perdarahan)
4. Leucopenia : trombositopenia mungkin ada (splenomegali)
5. Diferensial darah lengkap : lekositosis, monositosis, limfosit atipikal, dan sel plasma
6. Alkali fosfatase : agak meningkat (kecuali ada kolestasis berat)
7. Fesses : warna tanak liat, steatorea (penurunan fungsi hati)
8. Albumin serum : menurun
9. Gula darah : hiperglikemia transien/hipoglikemia (gangguan fusngsi hati)
10. Anti-HAV IGM : Positif pada tipe A
11. HBSAG : dapat positif (tipe B) atau negative (tipe A). catatan : merupakan diagnostic
sebelum terjadi gejala kinik
12. Massa protrombin : mungkin memanjang (disfungsi hati)
13. Bilirubin serum : diatas 2,5 mg/100mm (bila diatas 200mg/mm, prognosis buruk
mungkin berhubungan dengan peningkatan nekrosis seluler)
14. Tes eksresi BSP : kadar darah meningkat
15. Biaosi hati : menentukan diagnosis dan luasnya nekrosis
16. Scan hati : membantu dalam perkiraan beratnya ketrusakan parenkim
17. Urinalisa : peninggian kadar bilirubin;protein/hematuria dapat terjadi.