Anda di halaman 1dari 25

PENGOLAHAN LIMBAH RUMAH SAKIT

OLEH:

WD. FITRIA SAKINAH (F1C1 09 003)

EKA SULISYAWATI (F1C1 09 002)

RACHMAWATI RUSDIN (F1C1 09 012)

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2011

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat limpahan rahmat dan
karunia-Nya sehingga Makalah Pengolahan Limbah Rumah Sakit ini dapat terselesaikan
dengan baik.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas pada matakuliah Pengolahan Limbah
Kimia.Selain itu, makalah ini juga dapat menambah pengetahuan mahasiswa atau pembaca
mengenai teknik dan metode pengolahan limbah yang berasal dari Rumah Sakit.

Penyelesaian makalah ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak.Olehnya itu, penulis
menyampaikan terimakasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah banyak
membantu penulis dalam menyusun makalah ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna.Karenanya,
saran dan kritik yang membangun selalu penyusun harapkan demi perbaikan-perbaikan
selanjutnya.

Kendari, Februari 2011

Penyusun
BAB I

PENGOLAHAN LIMBAH RUMAH SAKIT

1. A. LATAR BELAKANG

Dalam meningkatkan kesehatan masyarakat, sebagai penunjang kesejahteraan masyarakat


banyak, rumah sakit menjadi salah satu tempat dalam mendukung kesehatan dan
kesejahteraan masyarakat. Rumah sakit merupakan salah satu upaya peningkatan kesehatan
yang terdiri dari balai pengobatan dan tempat praktik dokter yang juga ditunjang oleh unit-
unit lainnya, seperti ruang operasi, laboratorium, farmasi, administrasi, dapur, laundry,
pengolahan sampah dan limbah, serta penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan. Selain
membawa dampak positif bagi masyarakat, yaitu sebagai tempat menyembuhkan orang
sakit, rumah sakit juga memiliki kemungkinan membawa dampak negatif. Dampak
negatifnya dapat berupa pencemaran dari suatu proses kegiatan, yaitu bila limbah yang
dihasilkan tidak dikelola dengan baik.

Dalam pengolahan limbah Rumah sakit tidak hanya menghasilkan limbah organik dan
anorganik, tetapi juga limbah infeksius yang mengandung bahan beracun berbahaya
(B3).Dari keseluruhan limbah rumah sakit, sekitar 10 sampai 15 persen di antaranya
merupakan limbah infeksius yang mengandung logam berat, antara lain mercuri
(Hg).Sekitar 40 % lainnya adalah limbah organik yang berasal dari sisa makan, baik dari
pasien dan keluarga pasien maupun dapur gizi.Sisanya merupakan limbah anorganik dalam
bentuk botol bekas infus dan plastik.

Air limbah yang berasal dari rumah sakit merupakan salah satu sumber pencemaran air
yang sangat potensial.Hal ini disebabkan karena air limbah rumah sakit mengandung
senyawa organik yang cukup tinggi, mengandung senyawa-senyawa kimia yang berbahaya
serta mengandung mikroorganisme pathogen yang dapat menyebabkan penyakit (Said,
2003).Pengelolaan limbah RS yang tidak baik akan memicu resiko terjadinya kecelakaan
kerja dan penularan penyakit dari pasien ke pekerja, dari pasien ke pasien, dari pekerja ke
pasien, maupun dari dan kepada masyarakat pengunjung RS. Tentu saja RS sebagai institusi
yang sosioekonomis karena tugasnya memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,
tidak terlepas dari tanggung jawab pengelolaan limbah yang dihasilkan. Untuk menjamin
keselamatan dan kesehatan awak RS maupun orang lain yang berada di lingkungan RS dan
sekitarnya, Pemerintah (Depkes) telah menyiapkan perangkat lunak berupa peraturan,
pedoman dan kebijakan yang mengatur pengelolaan dan peningkatan kesehatan di
lingkungan RS, termasuk pengelolaan limbah RS.

Pada tahun 1999, WHO melaporkan di Perancis pernah terjadi 8 kasus pekerja kesehatan
terinfeksi HIV, 2 di antaranya menimpa petugas yang menangani limbah medis1.Hal ini
menunjukkan bahwa perlunya pengelolaan limbah yang baik tidak hanya pada limbah
medis tajam tetapi meliputi limbah rumah sakit secara keseluruhan. Namun, berdasarkan
hasil Rapid Assessment tahun 2002 yang dilakukan oleh Ditjen P2MPL Direktorat
Penyediaan Air dan Sanitasi yang melibatkan Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota,
menyebutkan bahwa sebanyak 648 rumah sakit dari 1.476 rumah sakit yang ada, yang
memiliki insinerator baru 49% dan yang memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)
sebanyak 36%. Dari jumlah tersebut kualitas limbah cair yang telah melalui proses
pengolahan yang memenuhi syarat baru mencapai 52% 1.

Hasil dari kualitas pengolahan limbah cair tidak terlepas dari dukungan pengelolaan limbah
cairnya. Suatu pengelolaan limbah cair yang baik sangat dibutuhkan dalam mendukung
hasil kualitas effluent sehingga tidak melebihi syarat baku mutu yang ditetapkan oleh
pemerintah dan tidak menimbulkan pencemaran pada lingkungan sekitar. Oleh karena
pentingnya pengelolaan limbah cair rumah sakit maka disusun makalah ini yang akan
membahas mengenai pengolahan limbah Rumah Sakit, meliputi antara lain klasifikasi
limbah rumah sakit, sumber-sumbernya, serta metode-metode pengolahan limbah tersebut.

1. B. RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah, antara lain:

1. Apa yang dimaksud dengan pengolahan limbah rumah sakit.


2. Bagaimana penanganan limbah rumah sakit.
3. Apa saja sumber-sumber limbah rumah sakit.
4. Apa saja dampak yang ditimbulkan dari limbah rumah sakit.
1. C. TUJUAN

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini antara lain:

1. Mengetahui pengertian dari pengolahan limbah rumah sakit.


2. Mengetahui cara pananganan limbah rumah sakit.
3. Mengetahui sumber-sumber limbah rumah sakit.
4. Mengetahui dampak yang ditimbulkan dari limbah rumah sakit.
BAB II

PEMBAHASAN

1. A. PENGERTIAN LIMBAH RUMAH SAKIT

Limbah adalah bagian dari hasil produksi yang pada umumnya dapat menimbulkan dampak
terhadap lingkungan yang kurang baik, namun jika limbah tersebut dapat dimanfaatkan atau
didaur ulang kembali menjadi produk yang sejenis atau jenis produk lainnya maka akan
mempunyai nilai tambah (added value) yang sangat menguntungkan. Dari semua kegiatan-
kegiatanrumah sakit, menghasilkan berbagai macam limbah berupa benda cair, padat dan
gas.Pengelolaan limbah rumah sakit adalah bagian dari kegiatan penyehatan lingkungan di
rumah sakit yang bertujuan untuk melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran
lingkungan yang bersumber dari limbah rumah sakit.

Sesuai dalam UU No. 9 tahun 1990 tentang Pokok-pokok Kesehatan, bahwa setiap warga
berhak memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.Ketentuan tersebut menjadi
dasar bagi pemerintah untuk menyelenggarakan kegiatan yang berupa pencegahan dan
pemberantasan penyakit, pencegahan dan penanggulangan pencemaran, pemulihan
kesehatan, penerangan dan pendidikan kesehatan kepada masyarakat (Siregar, 2001).

Upaya perbaikan kesehatan masyarakat dapat dilakukan melalui berbagai macam cara,
yaitu pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, penyehatan lingkungan, perbaikan
gizi, penyediaan air bersih, penyuluhan kesehatan serta pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Selain itu, perlindungan terhadap bahaya pencemaran lingkungan juga perlu diberi
perhatian khusus.Rumah sakit merupakan sarana upaya perbaikan kesehatan yang
melaksanakan pelayanan kesehatan dan dapat dimanfaatkan pula sebagai lembaga
pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian.Pelayanan kesehatan yang dilakukan rumah
sakit berupa kegiatan penyembuhan penderita dan pemulihan keadaan cacat badan serta
jiwa (Said dan Ineza, 2002).

Kegiatan rumah sakit menghasilkan berbagai macam limbah yang berupa benda cair, padat
dan gas.Pengelolaan limbah rumah sakit adalah bagian dari kegiatan penyehatan
lingkungan di rumah sakit yang bertujuan untuk melindungi masyarakat dari bahaya
pencemaran lingkungan yang bersumber dari limbah rumah sakit. Unsur-unsur yang terkait
dengan penyelenggaraan kegiatan pelayanan rumah sakit (termasuk pengelolaan
limbahnya), yaitu (Giyatmi. 2003) :

 Pemrakarsa atau penanggung jawab rumah sakit.


 Pengguna jasa pelayanan rumah sakit.
 Para ahli, pakar dan lembaga yang dapat memberikan saran-saran.
 Para pengusaha dan swasta yang dapat menyediakan sarana dan fasilitas yang
diperlukan.

Upaya pengelolaan limbah rumah sakit telah dilaksanakan dengan menyiapkan perangkat
lunaknya yang berupa peraturan-peraturan, pedoman-pedoman dan kebijakan-kebijakan
yang mengatur pengelolaan dan peningkatan kesehatan di lingkungan rumah sakit.Di
samping itu secara bertahap dan berkesinambungan Departemen Kesehatan mengupayakan
instalasi pengelolaan limbah rumah sakit.Sehingga sampai saat ini sebagian rumah sakit
pemerintah telah dilengkapi dengan fasilitas pengelolaan limbah, meskipun perlu untuk
disempurnakan.Namun harus disadari bahwa pengelolaan limbah rumah sakit masih perlu
ditingkatkan lagi (Barlin, 1995).

Rumah sakit merupakan salah satu sarana kesehatan sebagai upaya untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan masyarakat tersebut. Rumah sakit sebagai salah satu upaya
peningkatan kesehatan tidak hanya terdiri dari balai pengobatan dan tempat praktik dokter
saja, tetapi juga ditunjang oleh unit-unit lainnya, seperti ruang operasi, laboratorium,
farmasi, administrasi, dapur, laundry, pengolahan sampah dan limbah, serta
penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan.

Air limbah rumah sakit adalah seluruh buangan cair yang berasal dari hasil proses seluruh
kegiatan rumah sakit yang meliputi : limbah domestik cair yakni buangan kamar mandi,
dapur, air bekas pencucian pakaian, limbah cair klinis yakni air limbah yang berasal dari
kegiatan klinis rumah sakit misalnya air bekas cucian luka, cucian darah. dan lainnya, air
limbah laboratorium, dan lain-lain (Said, 2003).

Sampah dan limbah rumah sakit adalah semua sampah dan limbah yang dihasilkan oleh
kegiatan rumah sakit dan kegiatan penunjang lainnya.Secara umum sampah dan limbah
rumah sakit dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu sampah atau limbah klinis dan non
klinis baik padat maupun cair. Bentuk limbah klinis bermacam-macam dan berdasarkan
potensi yang terkandung di dalamnya dapat dikelompokkan sebagai berikut : Limbah benda
tajam adalah obyek atau alat yang memiliki sudut tajam, sisi, ujung atau bagian menonjol
yang dapat memotong atau menusuk kulit seperti jarum hipodermik, perlengkapan
intravena, pipet pasteur, pecahan gelas, pisau bedah. Semua benda tajam ini memiliki
potensi bahaya dan dapat menyebabkan cedera melalui sobekan atau tusukan.Benda-benda
tajam yang terbuang mungkin terkontaminasi oleh darah, cairan tubuh, bahan mikrobiologi,
bahan beracun atau radioaktif.

Limbah infeksius mencakup pengertian sebagai berikut: Limbah yang berkaitan dengan
pasien yang memerlukan isolasi penyakit menular (perawatan intensif). Limbah
laboratorium yang berkaitan dengan pemeriksaan mikrobiologi dari poliklinik dan ruang
perawatan/isolasi penyakit menular.Limbah jaringan tubuh meliputi organ, anggota badan,
darah dan cairan tubuh, biasanya dihasilkan pada saat pembedahan atau otopsi. Limbah
sitotoksik adalah bahan yang terkontaminasi atau mungkin terkontaminasi dengan obat
sitotoksik selama peracikan, pengangkutan atau tindakan terapi sitotoksik.Limbah farmasi
ini dapat berasal dari obat-obat kadaluwarsa, obat-obat yang terbuang karena batch yang
tidak memenuhi spesifikasi atau kemasan yang terkontaminasi, obat- obat yang dibuang
oleh pasien atau dibuang oleh masyarakat, obat-obat yang tidak lagi diperlukan oleh
institusi bersangkutan dan limbah yang dihasilkan selama produksi obat- obatan. Limbah
kimia adalah limbah yang dihasilkan dari penggunaan bahan kimia dalam tindakan medis,
veterinari, laboratorium, proses sterilisasi, dan riset. Limbah radioaktif adalah bahan yang
terkontaminasi dengan radioisotop yang berasal dari penggunaan medis atau riset radio
nukleida.

Selain sampah klinis, dari kegiatan penunjang rumah sakit juga menghasilkan sampah non
klinis atau dapat disebut juga sampah non medis.Sampah non medis ini bisa berasal dari
kantor/administrasi kertas, unit pelayanan (berupa karton, kaleng, botol), sampah dari ruang
pasien, sisa makanan buangan; sampah dapur (sisa pembungkus, sisa makanan/bahan
makanan, sayur dan lain-lain).Limbah cair yang dihasilkan rumah sakit mempunyai
karakteristik tertentu baik fisik, kimia dan biologi.Limbah rumah sakit bisa mengandung
bermacam-macam mikroorganisme, tergantung pada jenis rumah sakit, tingkat pengolahan
yang dilakukan sebelum dibuang dan jenis sarana yang ada (laboratorium, klinik dll).Tentu
saja dari jenis-jenis mikroorganisme tersebut ada yang bersifat patogen. Limbah rumah
sakit seperti halnya limbah lain akan mengandung bahan-bahan organik dan anorganik,
yang tingkat kandungannya dapat ditentukan dengan uji air kotor pada umumnya seperti
BOD, COD, TTS, pH, mikrobiologik, dan lain-lain.

1. B. SUMBER-SUMBER LIMBAH RUMAH SAKIT

Sumber-sumber limbah rumah sakit antara lain:

 Limbah Infeksius: Ekskreta, spesimen lab., bekas balutan, jaringan busuk


 Limbah tajam: jarum bekas alat suntik, pecahan peralatan gelas
 Limbah plastik
 Limbah jaringan tubuh

Jenis-jenis limbah rumah sakit yaitu sebagai berikut.

 Limbah sitotoksik: teratogenik, mutagenik


 Limbah kimia dari Lab. farmasi
 Limbah radioaktif
 Limbah domestik
 Limbah laundry

Limbah rumah Sakit adalah semua limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah sakit dan
kegiatan penunjang lainnya.Mengingat dampak yang mungkin timbul, maka diperlukan
upaya pengelolaan yang baik meliputi pengelolaan sumber daya manusia, alat dan sarana,
keuangan dan tatalaksana pengorganisasian yang ditetapkan dengan tujuan memperoleh
kondisi rumah sakit yang memenuhi persyaratan kesehatan lingkungan (Said,
1999).Limbah rumah Sakit bisa mengandung bermacam-macam mikroorganisme
bergantung pada jenis rumah sakit, tingkat pengolahan yang dilakukan sebelum
dibuang.Limbah cair rumah sakit dapat mengandung bahan organik dan anorganik yang
umumnya diukur dan parameter BOD, COD, TSS, dan lain-lain.Sedangkan limbah padat
rumah sakit terdiri atas sampah mudah membusuk, sampah mudah terbakar, dan lain-lain.
Limbah- limbah tersebut kemungkinan besar mengandung mikroorganisme patogen atau
bahan kimia beracun berbahaya yang menyebabkan penyakit infeksi dan dapat tersebar ke
lingkungan rumah sakit yang disebabkan oleh teknik pelayanan kesehatan yang kurang
memadal, kesalahan penanganan bahan-bahan terkontaminasi dan peralatan, serta
penyediaan dan pemeliharaan sarana sanitasi yang masib buruk (Said, 1999).

Pembuangan limbah yang berjumlah cukup besar ini paling baik jika dilakukan dengan
memilah-milah limbah ke dalam pelbagai kategori. Untuk masing-masing jenis kategori
diterapkan cara pembuangan limbah yang berbeda. Prinsip umum pembuangan limbah
rumah sakit adalah sejauh mungkin menghindari resiko kontaminsai dan trauma
(injury).jenis-jenis limbah rumah sakit meliputi bagian berikut ini (Shahib dan Djustiana,
1998) :

1. Limbah Klinik

Limbah dihasilkan selama pelayanan pasien secara rutin, pembedahan dan di unit-unit
resiko tinggi.Limbah ini mungkin berbahaya dan mengakibatkan resiko tinggi infeksi
kuman dan populasi umum dan staff rumah sakit. Oleh karena itu perlu diberi label yang
jelas sebagai resiko tinggi. contoh limbah jenis tersebut ialah perban atau pembungkus yang
kotor, cairan badan, anggota badan yang diamputasi, jarum-jarum dan semprit bekas,
kantung urin dan produk darah.

1. Limbah Patologi

Limbah ini juga dianggap beresiko tinggi dan sebaiknya diotoklaf sebelum keluar dari unit
patologi. Limbah tersebut harus diberi label biohazard.

1. Limbah Bukan Klinik

Limbah ini meliputi kertas-kertas pembungkus atau kantong dan plastik yang tidak
berkontak dengan cairan badan.Meskipun tidak menimbulkan resiko sakit, limbah tersebut
cukup merepotkan karena memerlukan tempat yang besar untuk mengangkut dan
mambuangnya.

1. Limbah Dapur

Limbah ini mencakup sisa-sisa makanan dan air kotor.Berbagai serangga seperti kecoa,
kutu dan hewan mengerat seperti tikus merupakan gangguan bagi staff maupun pasien di
rumah sakit.

1. Limbah Radioaktif

Walaupun limbah ini tidak menimbulkan persoalan pengendalian infeksi di rumah sakit,
pembuangannya secara aman perlu diatur dengan baik.

1. C. DAMPAK LIMBAH RUMAH SAKIT


Limbah Rumah Sakit adalah semua limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah sakit dan
kegiatan penunjang lainnya.Limbah rumah Sakit bisa mengandung bermacam-macam
mikroorganisme bergantung pada jenis rumah sakit, tingkat pengolahan yang dilakukan
sebelum dibuang.Limbah cair rumah sakit dapat mengandung bahan organik dan anorganik
yang umumnya diukur dan parameter BOD, COD, TSS, dan lain-lain.Sedangkan limbah
padat rumah sakit terdiri atas sampah mudah membusuk, sampah mudah terbakar, dan lain-
lain. Limbah- limbah tersebut kemungkinan besar mengandung mikroorganisme patogen
atau bahan kimia beracun berbahaya yang menyebabkan penyakit infeksi dan dapat tersebar
ke lingkungan rumah sakit yang disebabkan oleh teknik pelayanan kesehatan yang kurang
memadai, kesalahan penanganan bahan-bahan terkontaminasi dan peralatan, serta
penyediaan dan pemeliharaan sarana sanitasi yang masib buruk (Said, 1999).

Dalam profil kesehatan Indonesia, Departemen Kesehatan, 1997 diungkapkan seluruh RS


di Indonesia berjumlah 1090 dengan 121.996 tempat tidur. Hasil kajian terhadap 100 RS di
Jawa dan Bali menunjukkan bahwa rata-rata produksi sampah sebesar 3,2 Kg per tempat
tidur per hari. Sedangkan produksi limbah cair sebesar 416,8 liter per tempat tidur per hari.
Analisis lebih jauh menunjukkan, produksi sampah (limbah padat) berupa limbah domestik
sebesar 76,8 persen dan berupa limbah infektius sebesar 23,2 persen. Diperkirakan secara
nasional produksi sampah (limbah padat) RS sebesar 376.089 ton per hari dan produksi air
limbah sebesar 48.985,70 ton per hari.Dari gambaran tersebut dapat dibayangkan betapa
besar potensi RS untuk mencemari lingkungan dan kemungkinannya menimbulkan
kecelakaan serta penularan penyakit (Sebayang dkk, 1996).Rumah sakit menghasilkan
limbah dalam jumlah besar, beberapa diantaranya membahyakan kesehatan di
lingkungannya. Di negara maju, jumlah limbah diperkirakan 0,5 – 0,6 kilogram per tempat
tidur rumah sakit per hari (Sebayang dkk, 1996).

Berdasarkan data dari Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jaktim yang
diterima Pembaruan, dari 26 rumah sakit yang ada di Jaktim, hanya tiga rumah sakit saja
yang memiliki IPAL dan bekerja dengan baik.Selebihnya, ada yang belum memiliki IPAL
dan beberapa rumah sakit IPAL-nya dalam kondisi rusak berat (Sebayang dkk, 1996).Data
tersebut juga menyebutkan, hanya sembilan rumah sakit saja yang memiliki incinerator.Alat
tersebut, digunakan untuk membakar limbah padat berupa limbah sisa-sisa organ tubuh
manusia yang tidak boleh dibuang begitu saja. Menurut Kepala BPLHD Jaktim, Surya
Darma, pihaknya sudah menyampaikan surat edaran yang mengharuskan pihak rumah sakit
melaporkan pengelolaan limbahnya setiap tiga bulan sekali. Sayangnya, sejak
dilayangkannya surat edaran akhir September 2005 lalu, hanya tiga rumah sakit saja yang
memberikan laporan. Menurut Surya, limbah rumah sakit, khususnya limbah medis yang
infeksius, belum dikelola dengan baik. Sebagian besar pengelolaan limbah infeksius
disamakan dengan limbah medis noninfeksius.Selain itu, kerap bercampur limbah medis
dan nonmedis.Percampuran tersebut justru memperbesar permasalahan limbah
medis.Padahal, limbah medis memerlukan pengelolaan khusus yang berbeda dengan
limbah nonmedis.Yang termasuk limbah medis adalah limbah infeksius, limbah radiologi,
limbah sitotoksis, dan limbah laboratorium.Pasalnya, tangki pembuangan seperti itu di
Indonesia sebagian besar tidak memenuhi syarat sebagai tempat pembuangan limbah.
Ironisnya, malah sebagian besar limbah rumah sakit dibuang ke tangki pembuangan seperti
itu (Sebayang dkk, 1996).Sementara itu, Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan Sudin
Kesmas Jaktim menduga, buruknya pengelolaan limbah rumah sakit karena pengelolaan
limbah belum menjadi syarat akreditasi rumah sakit. Sedangkan peraturan proses
pembungkusan limbah padat yang diterbitkan Departemen Kesehatan pada 1992 pun
sebagian besar tidak dijalankan dengan benar. Padahal setiap rumah sakit, selain harus
memiliki IPAL, juga harus memiliki surat pernyataan pengelolaan lingkungan (SPPL) dan
surat izin pengolahan limbah cair. Sementara limbah organ-organ manusia harus di bakar di
incinerator.Persoalannya, harga incinerator itu cukup mahal sehingga tidak semua rumah
sakit bisa memilikinya (Sebayang dkk, 1996).

Beberapa hal yang patut jadi pemikiran bagi pengelola rumah sakit, dan jadi penyebab
tingginya tingkat penurunan kualitas lingkungan dari kegiatan rumah sakit antara lain
disebabkan, kurangnya kepedulian manajemen terhadap pengelolaan lingkungan karena
tidak memahami masalah teknis yang dapat diperoleh dari kegiatan pencegahan
pencemaran, kurangnya komitmen pendanaan bagi upaya pengendalian pencemaran karena
menganggap bahwa pengelolaan rumah sakit untuk menghasilkan uang bukan membuang
uang mengurusi pencemaran, kurang memahami apa yang disebut produk usaha dan masih
banyak lagi kekurangan lainnya (Sebayang dkk, 1996). Untuk itu, upaya-upaya yang harus
dilakukan rumah sakit adalah, mulai dan membiasakan untuk mengidentifikasi dan
memilah jenis limbah berdasarkan teknik pengelolaan (Limbah B3, infeksius, dapat
digunapakai atau guna ulang).Meningkatkan pengelolaan dan pengawasan serta
pengendalian terhadap pembelian dan penggunaan, pembuangan bahan kimia baik B3
maupun non B3.Memantau aliran obat mencakup pembelian dan persediaan serta
meningkatkan pengetahuan karyawan terhadap pengelolaan lingkungan melalui pelatihan
dengan materi pengolahan bahan, pencegahan pencemaran, pemeliharaan peralatan serta
tindak gawat darurat (Sebayang dkk, 1996).

Pembuangan limbah yang berjumlah cukup besar ini paling baik jika dilakukan dengan
memilah-milah limbah ke dalam pelbagai kategori. Untuk masing-masing jenis kategori
diterapkan cara pembuangan limbah yang berbeda. Prinsip umum pembuangan limbah
rumah sakit adalah sejauh mungkin menghindari resiko kontaminsai dan trauma
(injury).jenis-jenis limbah rumah sakit meliputi bagian berikut ini (Shahib dan Djustiana,
1998) :

a. Limbah Klinik
Limbah dihasilkan selama pelayanan pasien secara rutin, pembedahan dan di
unit-unit resiko tinggi.Limbah ini mungkin berbahaya dan mengakibatkan
resiko tinggi infeksi kuman dan populasi umum dan staff rumah sakit. Oleh
karena itu perlu diberi label yang jelas sebagai resiko tinggi. contoh
limbah jenis tersebut ialah perban atau pembungkus yang kotor, cairan
badan, anggota badan yang diamputasi, jarum-jarum dan semprit bekas,
kantung urin dan produk darah.
b. Limbah Patologi
Limbah ini juga dianggap beresiko tinggi dan sebaiknya diotoklaf sebelum
keluar dari unit patologi. Limbah tersebut harus diberi label biohazard.
c. Limbah Bukan Klinik
Limbah ini meliputi kertas-kertas pembungkus atau kantong dan plastik
yang tidak berkontak dengan cairan badan.Meskipun tidak menimbulkan
resiko sakit, limbah tersebut cukup merepotkan karena memerlukan tempat
yang besar untuk mengangkut dan mambuangnya.
d. Limbah Dapur
Limbah ini mencakup sisa-sisa makanan dan air kotor.Berbagai serangga
seperti kecoa, kutu dan hewan mengerat seperti tikus merupakan gangguan
bagi staff maupun pasien di rumah sakit.
e. Limbah Radioaktif
Walaupun limbah ini tidak menimbulkan persoalan pengendalian infeksi di
rumah sakit, pembuangannya secara aman perlu diatur dengan baik.
Ada beberapa kelompok masyarakat yang mempunyai resiko untuk mendapat
gangguan karena buangan rumah sakit.Pertama, pasien yang datang ke Rumah
Sakit untuk memperoleh pertolongan pengobatan dan perawatan Rumah
Sakit.Kelompok ini merupakan kelompok yang paling rentan Kedua, karyawan
Rumah sakit dalam melaksanakan tugas sehari-harinya selalu kontak dengan
orang sakit yang merupakan sumber agen penyakit. Ketiga, pengunjung /
pengantar orang sakit yang berkunjung ke rumah sakit, resiko terkena
gangguan kesehatan akan semakin besar. Keempat, masyarakat yang bermukim
di sekitar Rumah Sakit, lebih-lebih lagi bila Rumah sakit membuang hasil
buangan Rumah Sakit tidak sebagaimana mestinya ke lingkungan
sekitarnya.Akibatnya adalah mutu lingkungan menjadi turun kualitasnya,
dengan akibat lanjutannya adalah menurunnya derajat kesehatan masyarakat
di lingkungan tersebut.Oleh karena itu, rumah sakit wajib melaksanakan
pengelolaan buangan rumah sakit yang baik dan benar dengan melaksanakan
kegiatan Sanitasi Rumah Sakit.

Dari berbagai jenis sampah/limabah yang dihasilkan oleh rumah sakit sangat berpotensi
untuk menyebabkan gangguan dalam kehidupan dan kesehatan manusia serta
lingkungannya,dan dampak negatif yang dapat terjadi bila sampah rumah sakit tidak di
tangani secara baik dan benar dapat mengakibatkan berbagai macam gangguan-gangguan
antara lain;infeksi silang ( Nosokomial ) dapat terjadi pada pengguna rumah sakit yaitu
pasien,pengunjung,dan karyawan.

v Gangguan kesehatan dan keselamatan kerja,terutama bagi karyawan rumah sakit bila
tidak di lengkapi dengan sistem proteksi yang tepat

v Gangguan estetika dan kenyamanan berupa bau,serat kesan kotor yang dapat
memberikan efek psikologis bagi pengguna rumah sakit

v Pencemaran lingkungan,melalui sampah/limbah yang di buang baik internal maupun


external

v Kerusakan bangunan dapat disebab oleh kimia yang terlarut

v Gangguan kerusakan tanaman dan binatang hidup di sebabkan oleh buangan bahan kimia
dan bahan infeksius

v Gangguan terhadap kesehatan manusia disebabkan oleh virus/bakteri bahan kimia dan
gas

v Gangguan terhadap genetik dan reproduksi manusia dapat disebabkan oleh bahan kimia,
senyawa radio aktif dan lainnya

v Dapat terjadi kerusakan ekosistem yang lebih luas dan berskala besar.

Melihat karakteristik dan dampak-dampak yang dapat


ditimbulkan oleh buangan/limbah rumah sakit seperti tersebut diatas, maka
konsep pengelolaan lingkungan sebagai sebuah sistem dengan berbagai
proses manajemen didalamnya yang dikenal sebagai Sistem Manajemen
Lingkungan (Environmental Managemen System) dan diadopsi Internasional
Organization for Standar (ISO) sebagai salah satu sertifikasi
internasioanal di bidang pengelolaan lingkunan dengan nomor seri ISO
14001 perlu diterapkan di dalam Sistem Manajemen Lingkungan Rumah Sakit.
Dengan pendekatan sistem tersebut, pengelolaan lingkungan itu sendiri
adalah suatu usaha untuk meningkatkan kualitas dengan menghasilkan limbah
yang ramah lingkungan dan aman bagi masyarakat sekitar.
1. D. PEMANFAATAN LIMBAH RUMAH SAKIT
Limbah yang masih bisa dimanfaatkan agar dipisahkan dari limbah yang tercemar oleh
limbah B3 ataupun limbah infeksius. Limbah domestik yang dapat didaur ulang ataupun
dimanfaatkan harus dipisah dalam tempat terpisah. Limbah domestik berupa kertas/karton,
plastik, gelas dan logam masih mempunyai nilai jual untuk di reuse. Begitu pula dengan
limbah domestik berupa sampah organik bisa untuk kompos. Limbah plastik bekas
pengobatan lainnya seperti bekas infus yang tidak terkontaminasi limbah B3 atau limbah
infeksius dapat didaur ulang. Pada saat ini hanya sekitar 19% limbah domestik dari rumah
sakit yang sudah dimanfaatkan untuk didaur ulang. Limbah berbahaya dan beracun sendiri
tidak menutup kemungkinan untuk dapat dimanfaatkan ataupun untuk di-reuse. Beberapa
limbah kimia yang dapat dimanfaatkan kembali antara lain adalah limbah radiologi seperti
fixer dan developer dengan dikirimkan ke pihak ke-3 yang berizin.

1. E. PENANGANAN LIMBAH RUMAH SAKIT

Rumah sakit adalah sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan upaya pelayanan
kesehatan yang meliputi pelayanan rawat jalan, rawat nginap, pelayanan gawat darurat,
pelayanan medik dan non medik yang dalam melakukan proses kegiatan hasilnya dapat
mempengaruhi lingkungan sosial, budaya dan dalam menyelenggarakan upaya dimaksud
dapat mempergunakan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar terhadap
lingkungan (Agustiani dkk, 1998).

Limbah yang dihasilkan rumah sakit dapat membahayakan kesehatan masyarakat, yaitu
limbah berupa virus dan kuman yang berasal dan Laboratorium Virologi dan Mikrobiologi
yang sampai saat ini belum ada alat penangkalnya sehingga sulit untuk dideteksi.Limbah
cair dan Iimbah padat yang berasal dan rumah sakit dapat berfungsi sebagai media
penyebaran gangguan atau penyakit bagi para petugas, penderita maupun
masyarakat.Gangguan tersebut dapat berupa pencemaran udara, pencemaran air, tanah,
pencemaran makanan dan minunian.Pencemaran tersebut merupakan agen agen kesehatan
lingkungan yang dapat mempunyai dampak besar terhadap manusia (Agustiani dkk, 1998).

Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Pokok-Pokok Kesehatan menyebutkan


bahwa setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-
tingginya.Oleh karena itu Pemerintah menyelenggarakan usaha-usaha dalam lapangan
pencegahan dan pemberantasan penyakitpencegahan dan penanggulangan pencemaran,
pemulihan kesehatan, penerangan dan pendidikan kesehatan pada rakyat dan lain
sebagainya (Karmana dkk, 2003).Usaha peningkatan dan pemeliharaan kesehatan harus
dilakukan secara terus menerus, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan di bidang
kesehatan, maka usaha pencegahan dan penanggulangan pencemaran diharapkan
mengalami kemajuan. Adapun cara-cara pencegahan dan penanggulangan pencemaran
limbah rumah sakit antara lain adalah melalui (Karmana dkk, 2003) :

 Proses pengelolaan limbah padat rumah sakit.


 Proses mencegah pencemaran makanan di rumah sakit.

Sarana pengolahan/pembuangan limbah cair rumah sakit pada dasarnya berfungsi


menerima limbah cair yang berasal dari berbagai alat sanitair, menyalurkan melalui
instalasi saluran pembuangan dalam gedung selanjutnya melalui instalasi saluran
pembuangan di luar gedung menuju instalasi pengolahan buangan cair. Dari instalasi
limbah, cairan yang sudah diolah mengalir saluran pembuangan ke perembesan tanah atau
ke saluran pembuangan kota (Sabayang dkk, 1996). Limbah padat yang berasal dari
bangsal-bangsal, dapur, kamar operasi dan lain sebagainya baik yang medis maupun non
medis perlu dikelola sebaik-baiknya sehingga kesehatan petugas, penderita dan masyarakat
di sekitar rumah sakit dapat terhindar dari kemungkinan-kemungkinan dampak pencemaran
limbah rumah sakit tersebut (Sabayang dkk, 1996).

Pengolahan limbah pada dasarnya merupakan upaya mengurangi volume, konsentrasi atau
bahaya limbah, setelah proses produksi atau kegiatan, melalui proses fisika, kimia atau
hayati. Dalam pelaksanaan pengelolaan limbah, upaya pertama yang harus dilakukan
adalah upaya preventif yaitu mengurangi volume bahaya limbah yang dikeluarkan ke
lingkungan yang meliputi upaya mengunangi limbah pada sumbernya, serta upaya
pemanfaatan limbah (Shahib, 1999).Program minimisasi limbah di Indonesia baru mulai
digalakkan, bagi rumah sakit masih merupakan hal baru, yang tujuannya untuk mengurangi
jumlah limbah dan pengolahan limbah yang masih mempunyainilai ekonomi (Shahib,
1999).

Berbagai upaya telah dipergunakan untuk mengungkapkan pilihan teknologi mana yang
terbaik untuk pengolahan limbah, khususnya limbah berbahaya antara lain reduksi limbah
(waste reduction), minimisasi limbah (waste minimization), pemberantasan limbah (waste
abatement), pencegahan pencemaran (waste prevention) dan reduksi pada sumbemya
(source reduction) (Hananto, 1999).

Reduksi limbah pada sumbernya merupakan upaya yang harus dilaksanakan pertama kali
karena upaya ini bersifat preventif yaitu mencegah atau mengurangi terjadinya limbah yang
keluar dan proses produksi. Reduksi limbah pada sumbernya adalah upaya mengurangi
volume, konsentrasi, toksisitas dan tingkat bahaya limbah yang akan keluar ke lingkungan
secara preventif langsung pada sumber pencemar, hal ini banyak memberikan keuntungan
yakni meningkatkan efisiensi kegiatan serta mengurangi biaya pengolahan limbah dan
pelaksanaannya relatif murah (Hananto, 1999). Berbagai cara yang digunakan untuk
reduksi limbah pada sumbernya adalah (Arthono, 2000) :

1. House Keeping yang baik, usaha ini dilakukan oleh rumah sakit dalam menjaga
kebersihan lingkungan dengan mencegah terjadinya ceceran, tumpahan atau
kebocoran bahan serta menangani limbah yang terjadi dengan sebaik mungkin.
2. Segregasi aliran limbah, yakni memisahkan berbagai jenis aliran limbah menurut
jenis komponen, konsentrasi atau keadaanya, sehingga dapat mempermudah,
mengurangi volume, atau mengurangi biaya pengolahan limbah.
3. Pelaksanaan preventive maintenance, yakni pemeliharaan/penggantian alat atau
bagian alat menurut waktu yang telah dijadwalkan.
4. Pengelolaan bahan (material inventory), adalah suatu upaya agar persediaan bahan
selalu cukup untuk menjamin kelancaran proses kegiatan, tetapi tidak berlebihan
sehiugga tidak menimbulkan gangguan lingkungan, sedangkan penyimpanan agar
tetap rapi dan terkontrol.
5. Pengaturan kondisi proses dan operasi yang baik: sesuai dengan petunjuk
pengoperasian/penggunaan alat dapat meningkatkan efisiensi.
6. Penggunaan teknologi bersih yakni pemilikan teknologi proses kegiatan yang
kurang potensi untuk mengeluarkan limbah B3 dengan efisiensi yang cukup tinggi,
sebaiknya dilakukan pada saat pengembangan rumah sakit baru atau penggantian
sebagian unitnya.

Kebijakan kodifikasi penggunaan warna untuk memilah-milah limbah di seluruh rumah


sakit harus memiliki warna yang sesuai, sehingga limbah dapat dipisah-pisahkan di tempat
sumbernya, perlu memperhatikan hal-hal berikut (Haryanto, 2001) :
1. Bangsal harus memiliki dua macam tempat limbah dengan dua warna, satu untuk
limbah klinik dan yang lain untuk bukan klinik.
2. Semua limbah dari kamar operasi dianggap sebagai limbah klinik.
3. Limbah dari kantor, biasanya berupa alat-alat tulis, dianggap sebagai limbah klinik.
4. Semua limbah yang keluar dari unit patologi harus dianggap sebagai limbah klinik
dan perlu dinyatakan aman sebelum dibuang.

Beberapa hal perlu dipertimbangkan dalam merumuskan kebijakan kodifikasi dengan


warna yang menyangkut hal-hal berikut (Sundana, 2000) :

1. Pemisahan limbah

 Limbah harus dipisahkan dari sumbernya


 Semua limbahberesiko tinggi hendaknya diberi label jelas
 Perlu digunakan kantung plastik dengan warna-warna yang berbeda, yang
menunjukkan ke mana plastik harus diangkut untuk insinerasi atau dibuang. Di
beberapa negara, kantung plastik cukup mahal sehingga sebagai ganti dapat
digunakan kantung kertas yang tahan bocor (dibuat secara lokal sehingga dapat
diperoleh dengan mudah). Kantung kertas ini dapat ditempeli dengan strip
berwarna, kemudian ditempatkan di tong dengan kode warna dibangsal dan unit-
unit lain.

2. Penyimpanan limbah

v Kantung-kantung dengan warna harus dibuang jika telah berisi 2/3 bagian. Kemudian
diikat bagian atasnya dan diberi label yang jelas

v Kantung harus diangkut dengan memegang lehernya, sehingga kalau dibawa mengayun
menjauhi badan, dan diletakkan di tempat-tempat tertentu untuk dikumpulkan

v Petugas pengumpul limbah harus memastikan kantung-kantung dengan warna yang


samatelah dijadikan satu dan dikirim ke tempat yang sesuai

v Kantung harus disimpan di kotak-kotak yang kedap terhadap kutu dan hewan perusak
sebelum diangkut ke tempat pembuangannya

3. Penanganan limbah

v Kantung-kantung dengan kode warna hanya boleh diangkut bila telah ditutup

v Kantung dipegang pada lehernya

v Petugas harus mengenakan pakaian pelindung, misalnya dengan memakai sarung tangan
yang kuat dan pakaian terusan (overal), pada waktu mengangkut kantong tersebut

v Jika terjadi kontaminasi diluar kantung diperlukan kantung baru yang bersih untuk
membungkus kantung baru yang kotor tersebut seisinya (double bagging)
v Petugas diharuskan melapor jika menemukan benda-benda tajam yang dapat
mencederainya di dalma kantung yang salah

v Tidak ada seorang pun yang boleh memasukkan tangannya kedalam kantung limbah

4. Pengangkutan limbah

Kantung limbah dikumpulkan dan seklaigus dipisahkan menurut kode warnanya.Limbah


bagian bukan klinik misalnya dibawa ke kompaktor, limbah bagian klinik dibawa ke
insinerator.Pengankutan dengan kendaran khusus (mungkin ada kerjasama dengan Dinas
Pekerjaan Umum) kendaraan yang digunakan untuk mengankut limbah tersebut sebaiknya
dikosongkan dan dibersihkan tiap hari, kalau perlu (misalnya bila ada kebocoran kantung
limbah) dibersihkan dengan menggunakan larutan klorin.

5. Pembuangan limbah

Setelah dimanfaatkan dengan kompaktor, limbah bukan klinik dapat dibuang ditempat
penimbunan sampah (land-fill site), limbah klinik harus dibakar (insinerasi), jika tidak
mungkin harus ditimbun dengan kapur dan ditanam limbah dapur sebaiknya dibuang pada
hari yang sama sehingga tidak sampai membusuk.

Kemudian mengenai limbah gas, upaya pengelolaannya lebih sederhana dibanding dengan
limbah cair, pengelolaan limbah gas tidak dapat terlepas dari upaya penyehatan ruangan
dan bangunan khususnya dalam memelihara kualitas udara ruangan (indoor) yang antara
lain disyaratkan agar (Agustiani dkk, 2000) :

 Tidak berbau (terutania oleh gas H2S dan Anioniak);


 ·Kadar debu tidak melampaui 150 Ug/m3 dalam pengukuran rata-rata selama 24
jam.
 ·Angka kuman. Ruang operasi : kurang dan 350 kalori/m3 udara dan bebas kuman
padao gen (khususnya alpha streptococus haemoliticus) dan spora gas gangrer.
Ruang perawatan dan isolasi : kurang dan 700 kalorilm3 udara dan bebas kuman
patogen. Kadar gas dan bahan berbahaya dalam udara tidak melebihi konsentrasi
maksimum yang telah ditentukan.

Rumah sakit yang besar mungkin mampu membeli insinerator sendiri.insinerator berukuran
kecil atau menengah dapat membakar pada suhu 1300 – 1500o C atau lebih tinggi dan
mungkin dapat mendaur ulang sampai 60% panas yang dihasilkan untuk kebutuhan energi
rumah sakit. Suatu rumah sakit dapat pula memperoleh penghasilan tambahan dengan
melayani insinerasi limbah rumah sakityang berasal dari rumah sakitlain. Insinerator
modern yang baik tentu saja memiliki beberapa keuntungan antara lain kemampuannya
menampung limbah klinik maupun bukan klinik, termasuk benda tajam dan produk farmasi
yang tidak terpakai (Rostiyanti dan Sulaiman, 2001).

Jika fasilitas insinerasi tidak tersedia, limbah klinik dapat ditimbun dengan kapur dan
ditanam. Langkah-langkah pengapuran (liming) tersebut meliputi yang berikut (Djoko,
2001) :

 Menggali lubang, dengan kedalaman sekitar 2,5 meter.


 ·Tebarkan limbah klinik didasar lubang sampai setinggi 75 cm.
 ·Tambahkan lapisan kapur.
 ·Lapisan limbah yang ditimbun lapisan kapur masih bisa ditambahkan sampai
ketinggian 0,5 meter dibawah permukaan tanah.
 ·Akhirnya lubang tersebut harus dituutup dengan tanah.

Ozonisasi Pengolahan Limbah Medis

Limbah cair yang dihasilkan dari sebuah rumah sakit umumnya banyak mengandung
bakteri, virus, senyawa kimia, dan obat-obatan yang dapat membahayakan bagi kesehatan
masyarakat sekitar rumah sakittersebut.Dari sekian banyak sumber limbah di rumah sakit,
limbah dari laboratorium paling perlu diwaspadai. Bahan-bahan kimia yang digunakan
dalam proses uji laboratorium tidak bisa diurai hanya dengan aerasi atau activated sludge.
Bahan-bahan itu mengandung logam berat dan inveksikus, sehingga harus disterilisasi atau
dinormalkan sebelum “dilempar” menjadi limbah tak berbahaya.Untuk foto rontgen
misalnya, ada cairan tertentu yang mengandung radioaktif yang cukup berbahaya.Setelah
bahan ini digunakan.limbahnya dibuang (Suparmin dkk, 2002).

Pengolahan Limbah Medis dengan Insenerasi

Limbah medis termasuk dalam kategori limbah berbahaya dan beracun (LB3) sesuai
dengan PP 18 thn 1999 jo PP 85 thn 1999 lampiran I daftar limbah spesifik dengan kode
limbah D 227. Dalam kode limbah D227 tersebut disebutkan bahwa limbah rumah sakit
dan limbah klinis yang termasuk limbah B3 adalah limbah klinis, produk farmasi
kadaluarsa, peralatan laboratorium terkontaminasi, kemasan produk farmasi, limbah
laboratorium, dan residu dari proses insinerasi.

Dalam pengelolaan limbah padatnya, rumah sakit diwajibkan melakukan pemilahan limbah
dan menyimpannya dalam kantong plastik yang berbeda beda berdasarkan karakteristik
limbahnya. Limbah domestik di masukkan kedalam plastik berwarna hitam, limbah
infeksius kedalam kantong plastik berwarna kuning, limbah sitotoksic kedalam warna
kuning, limbah kimia/farmasi kedalam kantong plastik berwarna coklat dan limbah radio
aktif kedalam kantong warna merah. Disamping itu rumah sakit diwajibkan memiliki
tempat penyimpanan sementara limbahnya sesuai persyaratan yang ditetapkan dalam
Kepdal 01 tahun 1995. Pengelolaan limbah infeksius dengan menggunakan incinerator
harus memenuhi beberapa persyaratan seperti yang tercantum dalam Keputusan Bapedal
No 03 tahun 1995. Peraturan tersebut mengatur tentang kualitas incinerator dan emisi yang
dikeluarkannya. Incinerator yang diperbolehkan untuk digunakan sebagai penghancur
limbah B3 harus memiliki efisiensi pembakaran dan efisiensi penghancuran / penghilangan
(Destruction Reduction Efisience) yang tinggi.

Gambar alat insenerator


Proses Insinerator :

Insinerator dilengkapi mesin pembakar dengan suhu tinggi yang dalam waktu relatif

singkat mampu membakar habis semua sampah tersebut hingga menjadi abu. Pembakaran
sampah ini digunakan dengan sistem pembakaran bertingkat (double chamber), sehingga
emisi yang melalui cerobong tidak berasap dan tidak berbau, dan menggunakan sitem
cyclon yang pada akhirnya hasil pembakaran tidak memberikan pengaruh polusi pada
lingkungan.

Ruang Bakar Utama :

Dalam ruang bakar utama proses karbonisasi dilakukan dengan “ defisiensi udara “ dimana
udara yang dimasukkan didistribusikan dengan merata kedasar ruang bakar untuk
membakar karbon sisa. Gas buang yang panas dari pembakaran, keluar dari sampah dan
naik memanasinya sehingga mengasilkan pengeringan dan kemudian membentuk gas-gas
karbonisasi.Sisa padat dari pembentukan gas ini yang sebagian besar terdiri atas karbon,
dibakar selama pembakaran normal dalam waktu pembakaran.Pada ruang bakar ini secara
terkontrol dengan suhu 800 – 1.0000C dengan sistem close loop sehingga pembakaran
optimal. Distribusi udara terdiri dari sebuah blower radial digerakan langsung dengan
impeller, dengan casing almunium dan motor listrik, lubang masuk udara dari pipa udara
utama didistribusikan ke koil.

Ruang Bakar Tingkat Kedua :

Ruang bakar tingkat kedua dipasang diatas ruang bakar utama dan terdiri dari ruang
penyalaan dan pembakaran, berfungsi membakar gas-gas karbonisasi yang dihasilkan dari
dalam ruang bakar utama. Gas karbonisasi yang mudah terbakar dari ruang bakar utama
dinyalakan oleh Burner Ruang Bakar Dua, kemudian dimasukan udara pembakar, maka
gas-gas karbonisasi akan terbakar habis.

Selama siklus pembakaran bahan bakar yang mudah terbakar dari gas karbonisasi suhunya
cukup tinggi untuk penyalaan sendiri, dan ketika karbonisasi selesai maka Ruang Bakar
Dua

Bekerja seperti sebuah after burner, yaitu mencari, gas-gas yang belum terbakar kemudian
membawanya kedalam temperatur lebih tinggi sehingga terbakar sampai habis, dimana
suhunya mencapai 1.100 0C dengan sistem close loop sehingga optimal. Pemasukan
sampah ke ruang pembakaran dilakukan secara manual atau menggunakan lift conveyor.

Panel Kontrol Digital :

Diperlukan suatu panel kontrol digital dalam operasionalnya untuk setting suhu minimum
dan maksimum didalam ruang pembakaran dan dapat dikontrol secara “ automatic “ dengan
sistem close loop. Pada panel digital dilengkapi dengan petunjuk suhu, pengatur waktu
(digunakan sesuai kebutuhan), dan dilengkapi dengan tombol pengendali “burner dan
“blower” dengan terdapatnya lampu isyarat yang memadai dan memudahkan operasi.

Cerobong Cyclon :

Cerobong cyclon dipasang setelah ruang bakar dua, yang bagian dalamnya dilengkapi
water spray berguna untuk menahan debu halus yang ikut terbang bersama gas buang,
dengan cara gas buang yang keluar dari Ruang Bakar Dua dimasukan melalui sisi dinding
atas sehingga terjadi aliran siklon di dalam cerobong,. Gas buang yang berputar didalam
cerobong siklon akan menghasilkan gaya sentripetal, sehingga abu yang berat jenisnya
lebih berat dari gas buang akan terlempar kedinding cerobong siklon. Dengan cara
menyemburkan butiran air yang halus kedinding, maka butiran-butiran abu halus tersebut
akan turun kebawah bersama air yang disemburkan dan ditampung dalam bak penampung.
Bak penampung dapat dirancang tiga sekat, dimana pada sekat pertama berfungsi
mengendapkan abu halus, pada bak selanjutnya air abu akan disaring, dan air ditampung
dan didinginkan pada sekat ketiga, siap untuk dipompakan ke cerobong siklon kembali.

Burner dan Blower :

Insinerator dilengkapi dengan 2 sistem pembakaran yang dikendalikan secara otomatis.


Burner yang digunakan dapat menghasilkan panas dengan cepat, serta dilengkapi dengan
blower untuk mempercepat proses pembakaran hingga mampu menghasilkan panas yang
tinggi. Abu pembakaran yang terjadi dalam tungku pembakar utama akan terkumpul dalam
ruang pengumpul abu, dimana abu tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pencampur
pembuatan bataco sedangkan panas yang dihasilkan pembakaran dari ruang bakar dua
dapat dimanfaatkan sebagai pemanas, dengan tambahan unit coverter energi pembangkit
yang akan menghasilkan listrik. Perlu diperhatikan untuk menunjang pembakaran sempurna
yaitu pengumpanan sampah ke ruang bakar harus sesuai prosedur pengoperasian.Dengan
demikian, ratio udara dan bahan bakar sampah dapat tercampur secara homogen, sehingga
pembakaran sampah secara sempurna dapat dilaksanakan dengan baik. Dengan pembakaran
sampah secara sempurna temperatur operasi relatif lebih tinggi, relatif lebih kecil
hidrokarbon yang lolos ke luar cerobong, dan asap berwana bening, sehingga emisi dari gas
buang tersebut ramah terhadap lingkungan.

Keuntungan dan kerugian insinerator mini:

No. Keuntungan Kerugian Solusi


1 Instalasi sangat kompak - Memerlukan temperatur diperlukan tenaga
tinggi 800 – 1.1000C,
diperlukan energi awal yang ahli.
(minyak/ listrik)

- Kesiapan SDM (alih


teknologi)
2 Ukuran unit relatif kecil Bahan terbuat dari plat baja Perlu pemeliharaan
dan sedang, tidak
memerlukan lahan rutin

luas,
3 - Emisi gas buang - Kontrol/ monitoring dilakukan
terkendali operasional
monitoring oleh
- Energi gas buang - Perlu pengangkutan sisa
dapat dimanfaatkan pembakaran/abu kontinyu) BPLHD
sebagai sumber panas

- Residu abu dapat


dimanfaatkan sebagai
batako(nilai ekomonis)

- Meminimalkan
pencemaran udara,
tanah dan air

Baku Mutu DRE untuk Incinerator

No. Parameter Baku mutu DRE


1 POHCs 99.99%
2 Polychlorinated biphenil (PCBs) 99.9999%
3 Polychlorinated dibenzofuran (PCDFs) 99.9999%
4 Polychlorinated dibenzo-p-dioksin 99.9999%

Disamping itu, persyaratan lain yang harus dipenuhi dalam menjalankan incinerator adalah
emisi udara yang dikeluarkannya harus sesuai dengan baku mutu emisi untuk incinerator.

Baku Mutu Emisi Udara untuk Incinerator

No. Parameter Kadar maksimum (mg/Nm2)


1 Partikel 50
2 Sulfur dioksida (SO2) 250
3 Nitrogen dioksida (NO2 300
4 Hidrogen Fluorida (HF) 10
5 Karbon Monoksida (CO) 100
6 Hidrogen Chlorida (HCl) 70
7 Total Hidrocarbon (sbg CH4) 35
8 Arsen (As) 1
9 Kadmiun (Cd) 0,2
10 Kromium (Cr) 1
11 Timbal (Pb) 5
12 Merkuri (Hg) 0,2
13 Talium (Tl) 0,2
14 Opasitas 10%

Dalam penangan limbah medis ini rumah sakit dapat mengelolanya sendiri atau dikelola
oleh rumah sakit lain atau pengelola lain yang sudah memperoleh izin dari Kementerian
Negara Lingkungan Hidup.

1. a. Limbah Cair

Limbah cair (air limbah) merupakan limbah buangan hasil kegiatan manusia sehari-hari
yang berupa cairan dengan segala bentuk polutan di dalamnya, termasuk padatan, bahan
kimia, maupun mikroorganisme pathogen.Salah satu hal penting yang harus diperhatikan
adalah pada pengelolaan limbah cair yang dihasilkan dari pengoperasian rumah sakit
tersebut, karena apabila tidak dikelola dengan prosedur yang benar dikhawatirkan akan
menjadi rantai penyebaran penyakit infeksi di lingkungan masyarakat rumah sakit maupun
masyarakat di luar rumah sakit.

Limbah cair rumah sakit berpotensi menurunkan kualitas lingkungan hidup, dan merupakan
sumber utama penyebab gangguan kesehatan.Mengingat pentingnya limbah cair terutama
dalam penyebab gangguan kesehatan maka limbah cair tersebut perlu mendapatkan
perhatian yang lebih didalam pengelolaannya. Limbah cair rumah sakit dihasilkan dari
kegiatan-kegiatan pemeriksaan, perawatan, bedah, laboratorium, radiologi, poliklinik,
gawat darurat dan farmasi, limbah cair yang dihasilkan tersebut sifatnya variatif dan
umumnya bersifat infeksius, seperti limbah yang berasal dari penderita rawat inap antara
lain salmonella, staphilococcus, streptococcus, virus hepatitis. Sifat lain dari limbah cair
rumah sakit yaitu toksik, iritatif, korosif kumulatif dan karsinogenik, temperatur tinggi,
berbau, berwarna, dan organis. Selain itu limbah cair rumah sakit juga dihasilkan dari
aktifitas pasien, tenaga kesehatan, maupun kegiatan belajar siswa yang sedang praktek.
Rumah sakit merupakan penghasil limbah cair terbesar dibandingkan dengan sarana
kesehatan yang lain seperti Puskesmas, Poliklinik, Laboratorium dan Balai Pengobatan.

Sistem extended aeration termasuk dalam proses pertumbuhan biomassa tersuspensi. Pada
proses pertumbuhan biomassa tersuspensi, mikroorganisme bertanggung jawab atas
kelangsungan jalannya proses dalam kondisi suspensi liquid dengan metode
pengadukan/pencampuran yang tepat.Biomassa yang ada dinamakan dengan lumpur aktif,
karena adanya mikroorganisme aktif yang dikembalikan ke bak/unit aerasi untuk
melanjutkan biodegradasi zat organik yang masuk sebagai influen (Tchobanoglous, 2003).

Proses extended aeration mirip dengan proses konvensional plug-flow, hanya saja extended
aeration beroperasi dalam fase respirasi endogenous pada kurva pertumbuhan, yang
membutuhkan beban organik (organic loading) yang rendah dengan waktu aerasi yang
lebih lama (Reynolds, 1982). Diagram Extended Aeration disajikan pada Gambar berikut.

.
Pengolahan limbah cair di Rumah Sakit menggunakan sistem extended aeration. Pada
awalnya air limbah dialirkan ke dalam influent chamber. Dalam proses penyaluran ke
influent chamber ini bahan padat dapat masuk ke sistem penyaluran. Jika bahan padat
masuk ke sistem penyaluran dan mencapai unit pengolahan maka proses pengolahan
limbah cair dapat terganggu. Oleh karena itu, pada influent chamber dilakukan pengolahan
pendahuluan yaitu melalui proses penyaringan dengan bar screen. Air limbah dialirkan
melalui saringan besi untuk menyaring sampah yang berukuran besar.Sampah yang tertahan
oleh saringan besi secara rutin diangkut untuk menghindari terjadinya penyumbatan.

Selanjutnya air limbah diolah dalam equalizing tank.Di dalam equalizing tank, air limbah
dibuat menjadi homogen dan alirannya diatur dengan flow regulator.Flow regulator yang
terdapat pada bak ekualisasi ini dan dapat mengendalikan fluktuasi jumlah air limbah yang
tidak merata, yaitu selama jam kerja air diperlukan dalam jumlah banyak, dan sedikit sekali
pada malam hari. Flow regulator juga dapat mengendalikan fluktuasi kualitas air limbah
yang tidak sama selama 24 jam dengan menggunakan teknik mencampur dan
mengencerkan. Dengan dibantu oleh diffuser, air limbah dari berbagai sumber teraduk dan
bercampur menjadi homogen dan siap diolah.Selain itu, diffuser juga dapat menghilangkan
bau busuk pada air limbah.

Setelah itu, proses pengolahan secara biologis terjadi di dalam aeration tank dengan bahan-
bahan organik yang terdapat dalam air limbah didekomposisikan oleh microorganisme
menjadi produk yang lebih sederhana sehingga menyebabkan bahan organik semakin lama
semakin berkurang. Dalam hal ini bahan buangan organik diubah dan digunakan untuk
perkembangan sel baru (protoplasma) serta diubah dalam bentuk bahanbahan lainnya
seperti karbondioksida, air, dan ammonia. Massa dari protoplasma dan bahan organik baru
yang dihasilkan, mengendap bersama-sama dengan endapan dalam activated sludge.

Proses oksidasi yang terjadi adalah:

bakteri
CHONS + O2 + nutrient CO2 + H2O + NH3 +sel-sel mikrobial
bertambah

NH3 + O2 + sel-sel nitrat NO2 NO3 + H2O +


sel-sel nitrat bertambah

Kemudian air limbah beserta lumpur hasil proses biologis tadi dialirkan kedalam clarifier
tank agar dapat mengendap. Lumpur yang sudah mengendap di bagian paling bawah
dipompakan kembali ke bak aerasi dan lumpur pada air limbah yang baru datang dibiarkan
turun mengendap ke bawah sehingga terjadi pergantian.

Lumpur yang telah mengendap pada dasar bak clarifier dikembalikan ke bak aerasi tanpa
ada yang diambil keluar atau dilakukan pengolahan lumpur lebih lanjut.

Air limbah dari bak clarifier yang sudah lebih jernih dialirkan ke bak effluent.Sebelum
masuk ke effluent tank, air limbah diberikan khlorin untuk mengendalikan jumlah populasi
bakteri pada ambang yang tidak membahayakan. Sebagai mata rantai terakhir, air limbah
ditampung di dalam effluent tank yang pada akhirnya akan dibuang ke parit dan bermuara
ke sungai.

Pemeliharaan IPAL di Rumah Sakit pada prinsipnya relatif mudah dilakukan. Yang
terpenting adalah menjaga agar limbah padat tidak masuk ke dalam system dan mencegah
penyumbatan-penyumbatan.Untuk mencegah limbah padat masuk dan mencegah terjadinya
penyumbatan-penyumbatan, maka perlu selalu dilakukan pembersihan pada bar screen dari
sampah padat secara rutin.

Peralatan yang digunakan adalah serok, garu, bak sampah, dan senter.Sedangkan material
yang digunakan adalah kaporit berupa khlorin sebagai disinfektan.Pengawasan dilakukan
pada kualitas serta alat-alat dan mesin. Pengawasan kualitas air limbah terolah dilakukan
tiap 3 bulan sekali. Sedangkan pengawasan terhadap alat-alat dan mesin dilakukan secara
rutin 6 kali dalam sebulan.

Saluran air limbah di Rumah sakit harus sesuai dengan ketentuan Kepmenkes
No.1204/Menkes/SK/X/ 2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit,
yaitu bersifat tertutup dan berhubungan langsung dengan instalasi pengolahan air limbah
yaitu air limbah wc atau kamar mandi langsung disalurkan melalui pipa ke influent
chamber. Selain itu salurannya juga kedap air dan limbah mengalir dengan lancar serta
terpisah dengan saluran air hujan.

Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 58 tahun 1995 tanggal 21
Desember 1995 mengenai baku mutu limbah cair bagi kegiatan rumah sakit, adalah sebagai
berikut.

Parameter Kadar maksimum (mg/L)


BOD 75
COD 100
TSS 100
pH 6,0 – 9,0

Teknologi Pengolahan Limbah

Teknologi pengolahan limbah medis yang sekarang jamak dioperasikan hanya berkisar
antara masalah tangki septik dan insinerator.Keduanya sekarang terbukti memiliki nilai
negatif besar.Tangki septik banyak dipersoalkan lantaran rembesan air dari tangki yang
dikhawatirkan dapat mencemari tanah.Terkadang ada beberapa rumah sakit yang
membuang hasil akhir dari tangki septik tersebut langsung ke sungai-sungai, sehingga dapat
dipastikan sungai tersebut mulai mengandung zat medis (Suparmin dkk, 2002).

Sedangkan insinerator, yang menerapkan teknik pembakaran pada sampah medis, juga
bukan berarti tanpa cacat.Badan Perlindungan Lingkungan AS menemukan teknik
insenerasi merupakan sumber utama zat dioksin yang sangat beracun.Penelitian terakhir
menunjukkan zat dioksin inilah yang menjadi pemicu tumbuhnya kanker pada tubuh
(Suparmin dkk, 2002).Yang sangat menarik dari permasalahan ini adalah ditemukannya
teknologi pengolahan limbah dengan metode ozonisasi.Salah satu metode sterilisasi limbah
cair rumah sakit yang direkomendasikan United States Environmental Protection Agency
(USEPA) pada tahun 1999.Teknologi ini sebenarnya dapat juga diterapkan untuk mengelola
limbah pabrik tekstil, cat, kulit, dan lain-lain (Christiani, 2002).

Ozonisasi

Proses ozonisasi telah dikenal lebih dari seratus tahun yang lalu. Proses ozonisasi atau
proses dengan menggunakan ozon pertama kali diperkenalkan Nies dari Prancis sebagai
metode sterilisasi pada air minum pada tahun 1906. Penggunaan proses ozonisasi kemudian
berkembang sangat pesat. Dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun terdapat kurang lebih
300 lokasi pengolahan air minum menggunakan ozonisasi untuk proses sterilisasinya di
Amerika (Berlanga, 1998).

Dewasa ini, metode ozonisasi mulai banyak dipergunakan untuk sterilisasi bahan makanan,
pencucian peralatan kedokteran, hingga sterilisasi udara pada ruangan kerja di
perkantoran.Luasnya penggunaan ozon ini tidak terlepas dari sifat ozon yang dikenal
memiliki sifat radikal (mudah bereaksi dengan senyawa disekitarnya) serta memiliki
oksidasi potential 2.07 V. Selain itu, ozon telah dapat dengan mudah dibuat dengan
menggunakan plasma seperti corona discharge (Berlanga, 1998). Melalui proses
oksidasinya pula ozon mampu membunuh berbagai macam mikroorganisma seperti bakteri
Escherichia coli, Salmonella enteriditis, Hepatitis A Virus serta berbagai mikroorganisma
patogen lainnya (Crites, 1998). Melalui proses oksidasi langsung ozon akan merusak
dinding bagian luar sel mikroorganisma (cell lysis) sekaligus membunuhnya. Juga melalui
proses oksidasi oleh radikal bebas seperti hydrogen peroxy (HO2) dan hydroxyl radical
(OH) yang terbentuk ketika ozon terurai dalam air. Seiring dengan perkembangan
teknologi, dewasa ini ozon mulai banyak diaplikasikan dalam mengolah limbah cair
domestik dan industri (Akers, 1993).
Ozonisasi Limbah cair rumah sakit

Limbah cair yang berasal dari berbagai kegiatan laboratorium, dapur, laundry, toilet, dan
lain sebagainya dikumpulkan pada sebuah kolam equalisasi lalu dipompakan ke tangki
reaktor untuk dicampurkan dengan gas ozon. Gas ozon yang masuk dalam tangki reaktor
bereaksi mengoksidasi senyawa organik dan membunuh bakteri patogen pada limbah cair
(Harper, 1986).

Limbah cair yang sudah teroksidasi kemudian dialirkan ke tangki koagulasi untuk
dicampurkan koagulan. Lantas proses sedimentasi pada tangki berikutnya. Pada proses ini,
polutan mikro, logam berat dan lain-lain sisa hasil proses oksidasi dalam tangki reaktor
dapat diendapkan (Harper, 1986).

Selanjutnya dilakukan proses penyaringan pada tangki filtrasi. Pada tangki ini terjadi proses
adsorpsi, yaitu proses penyerapan zat-zat pollutan yang terlewatkan pada proses koagulasi.
Zat-zat polutan akan dihilangkan permukaan karbon aktif. Apabila seluruh permukaan
karbon aktif ini sudah jenuh, atau tidak mampu lagi menyerap maka proses penyerapan
akan berhenti, dan pada saat ini karbon aktif harus diganti dengan karbon aktif baru atau
didaur ulang dengan cara dicuci. Air yang keluar dari filter karbon aktif untuk selanjutnya
dapat dibuang dengan aman ke sungai (Harper, 1986).

Ozon akan larut dalam air untuk menghasilkan hidroksil radikal (-OH), sebuah radikal
bebas yang memiliki potential oksidasi yang sangat tinggi (2.8 V), jauh melebihi ozon (1.7
V) dan chlorine (1.36 V). Hidroksil radikal adalah bahan oksidator yang dapat
mengoksidasi berbagai senyawa organik (fenol, pestisida, atrazine, TNT, dan
sebagainya).Sebagai contoh, fenol yang teroksidasi oleh hidroksil radikalakan berubah
menjadi hydroquinone, resorcinol, cathecol untuk kemudian teroksidasi kembali menjadi
asam oxalic dan asam formic, senyawa organik asam yang lebih kecil yang mudah
teroksidasi dengan kandungan oksigen yang di sekitarnya. Sebagai hasil akhir dari proses
oksidasi hanya akan didapatkan karbon dioksida dan air (Harper, 1986). Hidroksil radikal
berkekuatan untuk mengoksidasi senyawa organik juga dapat dipergunakan dalam proses
sterilisasi berbagai jenis mikroorganisma, menghilangkan bau, dan menghilangkan warna
pada limbah cair. Dengan demikian akan dapat mengoksidasi senyawa organik serta
membunuh bakteri patogen, yang banyak terkandung dalam limbah cair rumah sakit
(Wilson, 1986). Pada saringan karbon aktif akan terjadi proses adsorpsi, yaitu proses
penyerapan zat-zat yang akan diserap oleh permukaan karbon aktif. Apabila seluruh
permukaan karbon aktif ini sudah jenuh, proses penyerapan akan berhenti. Maka, karbon
aktif harus diganti baru atau didaur ulang dengan cara dicuci (Wilson, 1986).

Dalam aplikasi sistem ozonisasi sering dikombinasikan dengan lampu ultraviolet atau
hidrogen peroksida.Dengan melakukan kombinasi ini akan didapatkan dengan mudah
hidroksil radikal dalam air yang sangat dibutuhkan dalam proses oksidasi senyawa organik.
Teknologi oksidasi ini tidak hanya dapat menguraikan senyawa kimia beracun yang berada
dalam air, tapi juga sekaligus menghilangkannya sehingga limbah padat (sludge) dapat
diminimalisasi hingga mendekati 100%. Dengan pemanfaatan sistem ozonisasi ini dapat
pihak rumah sakittidak hanya dapat mengolah limbahnya tapi juga akan dapat
menggunakan kembali air limbah yang telah terproses (daur ulang). Teknologi ini, selain
efisiensi waktu juga cukup ekonomis, karena tidak memerlukan tempat instalasi yang luas
(Wilson, 1986).
Kegiatan rumah sakit yang sangat kompleks tidak saja memberikan dampak positif bagi
masyarakat sekitarnya, tetapi juga mungkin dampak negatif. Dampak negatif itu berupa
cemaran akibat proses kegiatan maupun limbah yang dibuang tanpa pengelolaan yang
benar. Pengelolaan limbah rumah sakityang tidak baik akan memicu resiko terjadinya
kecelakaan kerja dan penularan penyakit darin pasien ke pekerja, dari pasien ke pasien dari
pekerja ke pasien maupun dari dan kepada masyarakat pengunjung rumah sakit. Oleh sebab
itu untuk menjamin keselamatan dan kesehatan tenaga kerja maupun orang lain yang
berada di lingkungan rumah sakit dana sekitarnya, perlu penerapan kebijakan sistem
manajemen keselamatan dan kesehatan kerja, dengan melaksanakan kegiatan pengelolaan
dan monitoring limbah rumah sakitsebagai salah astu indikator penting yang perlu
diperhatikan. Rumah sakit sebagai institusi yang sosioekonomis karena tugasnya
memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, tidak terlepas dari tanggung jawab
pengelolaan limbah yang dihasilkan (Wilson, 1986).

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, M., 2008, ‘Pengaruh Limbah Rumah Sakit Terhadap Kesehatan’,


Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Kalimantan Barat

Djaja, I.M., Maniksulistya, D., 2006,’ Gambaran Pengelolaan Limbah Cair Di Rumah Sakit
X Jakarta Februari 2006’, Makara, Kesehatan, Vol. 10, No. 2, Depok

http://www.Blog at WordPress.com.Diakses tanggal 25 Februari 2010.

http://kompas.com/kompas-cetak/0005/13/IPTEK/limb10.htm. Diakses tanggal 25 Februari


2010.

http://www.suarapembaruan.com/News/2003/10/20/index.html. Diakses tanggal 25


Februari 2010.

http://www.dhanajournal.blogspot.com.Diakses tanggal 25 Februari 2010.

http://www.wikipedia.org. Diakses tanggal 25 Februari 2010.

http://www.klinikmedis.com/index.php?
option=com_content&view=article&id=7:pencegahan-penanganan-pengolahan-limbah-
rumah-sakit&catid=1:latest-news. Diakses tanggal 25 Februari 2010.

http://www.suarapembaruan.com/News/2003/10/20/index.html. Diakses tanggal 25


Februari 2010.
Kusminarno, K., 2004, ‘Manajemen Limbah Rumah Sakit’, Jakarta

Nainggolan, R., Elsa, Musadad A., 2008, ‘Kajian Pengelolaan Limbah Padat Medis Rumah
Sakit’, Jakarta

Paramita, N., 2007, ‘Evaluasi Pengelolaan Sampah Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat
Gatot Soebroto’, Jurnal Presipitasi Vol. 2 No.1 Maret 2007, Issn 1907-187x, Semarang

Shofyan, M., 2010, ‘Jenis Limbah Rumah Sakit Dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Serta
Lingkungan’, UPI

Sudiyanto, S., 2002, ‘Analisis Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Medis Di RSU
Banyumas Tahun 2002’, Skripsi, Banyumas

Sumiyati, S., Imaniar, 2007, ‘Analisis Kinerja Pengolahan Air Limbah Pavilyun Kartika
RSPAD Gatot Soebroto Jakarta’, Jurnal PRESIPITASI Vol. 2 No.1, ISSN 1907-187X,
Jakarta

Suripto, A., 2002, ‘Pengelolaan Limbah Radioterapi Eksternal Rumah Sakit’, Buletin Alara,
Volume 4 (Edisi Khusus), Serpong

Wikantadhi, D. A., 2006, ‘Faktor-Faktor Lingkungan Yang Mempengaruhi Pengelolaan


Sampah Di Rumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati Kabupaten Bantul’, Tesis,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Wulandari, L. N. I., Sulastini, N. P. E., Siskayanti, N. K., Mirah, T. I. A., Wulandari, N. M.


P., 2009, ‘Pengolahan Limbah Padat Rumah Sakit’, Jurusan Farmasi Fakultas Matematika
Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana, Bali

Zaenab, 2009, ’Teknologi Pengolahan Limbah


“Medis” Cair’, Makassar
Zaman, B., Sutrisno, E., 2006, ‘Kemampuan Penyerapan Eceng Gondok Terhadap Amoniak
Dalam Limbah Rumah Sakit Berdasarkan Umur Dan Lama Kontak (Studi Kasus: RS Panti
Wilasa, Semarang)’, Jurnal PRESIPITASI Vol.1 No.1, ISSN