Anda di halaman 1dari 12

REFERAT

SINDROM REYE

Penyusun :

Anastasia Mudita Linanda

112016348

Pembimbing :

dr. Sonny K Yuliarso, Sp.A

Bagian Ilmu Kesehatan Anak

Rumah Sakit Bhakti Yudha

Fakultas Kedokteran UKRIDA

Periode 17 Juni 2017-26 Agustus 2017

1
PENDAHULUAN.

Sindrom reye (SR) adalah sindrom kerusakan otak yang akut yang ditandai dengan
ensefalopati dan masalah fungsi hati dengan penyebab tidak diketahui. Sidrom reye terutama
menyerang anak walaupun bisa terjadi pada semua umur. Sindrom ini disebabkan karena
meningkatnya tekanan dalam otak dengan akumulasi massif lemak pada hati dan organ lain.
Sindrom reye berhubungan dengan penyakit virus seperti cacar air dan influenza, biasanya
terjadi saat masa penyembuhan dari infeksi virus btersebut. Sindrom ini sering diinterpretasikan
sebagai ensefalitis, meningitis diabetes, overdosis obat, keracuan, sindrom kematian mendadak,
dan penyakit kejiwaan

Penyakit ini ditemukan oelh R.Douglas Reye. Penyebab sindrom reye ini masih belum diketahui
dengan pasti, diduga ada hubungannya dengan pemakaian aspirin atau asam salisilat pada
penyakit infeksi virus. Diduga juga SR ada hubungannya dengan kelainan metabolik

Pada Sindroma Reye, terdapat juga infiltrasi lemak pada mikrovesikular hepatik
panlobular. Saat ini diketahui bahwa Sindroma Reye bukanlah hanya satu jenis, tetapi mencakup
juga kelainan yang dapat dibagi dua, yaitu Sindroma Reye “Klasik” , The “Reye-like” inherited
metabolic disorder (IMD)

Angka kejadian sindroma Reye di berbagai negara sangat bervariasi. Di Amerika Serikat
(AS), frekuensinya mencapai puncak pada tahun 1970 dan awal 1980 sementara itu di Australia
terdapat 49 kasus sindroma Reye telah terdeteksi. Di Indonesia sindrom ini pertama kali
dilaporkan Wulur dan kawan-kawan pada tahun 1976.

Pada makalah ini penulis akan menjelaskan tentang etiologi, epidemiologi, definisi,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, pengobatan, komplikasi dan pencegahan Sindrom
Reye.

2
PEMBAHASAN

Etiologi

Mekanisme yang tepat untuk menerangkan sindroma Reye masih belum diketahui.
Penyakit serius ini lebih dikenal sebagai „sindroma karena kriteria klinis yang digunakan para
dokter sangat luas. Banyak penelitian klinis menunjukan hubungan yang kuat antara penggunaan
aspirin pada penyakit virus dengan terjadinya sindroma Reye. Beberapa penelitian menyatakan
bahwa acetaminophen (paracetamol) mempunyai resiko yang lebih besar, tetapi studi lain
mengatakan sebaliknya.1

The Centers for disease Control and Prevention (CDC) , the American Academy of
Pediatric (AAP), dan Food and Drug Administration di AS menyarankan untuk tidak
memberikan aspirin dan kombinasi produk yang mengandung aspirin kepada anak di bawah
umur 19 tahun selama demam. Hence (seorang dokter di AS), menyarankan bahwa pendapat
dokter atau apoteker tentang pelarangan penggunaan obat yang mengandung aspirin (seperti
asetil salisilat, salisilat, asam asetil salisilat, atau asam salisilat) pada anak dibawah umur 19
tahun seharusnya dipatuhi.2,3

Epidemiologi

Sindroma Reye adalah suatu penyakit yang berhubungan dengan ensefalopati


noninflamasi akut dan gagal hati. Pada tahun 1963, R. D. K. Reye pertama kali menemukan
sindroma ini di Australia, dan beberapa bulan sesudahnya, G. M. Johnson menemukan sindroma
ini di Amerika.4,5

Angka kejadian sindroma Reye di berbagai negara sangat bervariasi. Di Amerika Serikat
(AS), frekuensinya mencapai puncak pada tahun 1970 dan awal 1980. Laporan kasus sindrom
reye adalah sporadic sampai tahun 1974, ketika hampir 400 kasus dilaporkan di Amerika Serikat,
dengan angka kemtian lebih dari 40%. Insidennya meningkat dalam arah hubungan sementara
dan geografis dengn epidemic virus, terutama mereka yang disebabkan oleh influenza B dan
varisela. Pada tahun 1988 insiden telah menurun secara dramatis, hanya 20 kasus yang
dilaporkan.5 Sekarang berkisar antara <0,03-1 kasus per 100.000 orang yang berumur kurang
dari 18 tahun.3 Di Australia, 49 kasus sindroma Reye dideteksi menggunakan sistem skoring

3
yang dikembangkan Gauthier dan Hall. Secara umum, frekuensinya telah menurun, tetapi tidak
sepenuhnya berhubungan dengan penurunan penggunaan aspirin pada anak. Angka kematian
menurun dari 50% menjadi kurang dari 20% sebagai hasil dari diagnosis dini, deteksi pada kasus
ringan, dan terapi yang agresif. Kematian biasanya terjadi karena edema serebral atau
peningkatan tekanan intrakranial, tetapi dapat juga karena disfungsi miokard, kolaps dari
kardiovaskular, gagal nafas, gagal ginjal, perdarahan saluran cerna, status epileptikus, atau
sepsis. Distribusi secara ras di AS, menurut statistik surveilance CDC pada tahun 1980-1997
adalah 93% orang kulit putih, 5% afro-amerika, dan sisanya orang asia, indian, atau alaska asli.

Di Indonesia sindrom ini pertama kali dilaporkan Wulur dan kawan-kawan pada tahun
1976.4 Data catatan medik bagian IKA-RSCM selama tahun 1984-1994 didapatkan 12 kasus
dengan diagnosis sindrom Reye, 8 kasus berumur di bawah 3 tahun, dengan kematian 50%. Data
catatan medik bagian IKA-RSCM selama tahun 2006-2010 terdapat 1 pasien tersangka sindrom
reye diantara 15 pasien ensefalopati dengue. Dilaporkan satu kasus sindroma Reye di RS H.
Adam Malik pada tahun 2005. 5,6

Patofisiologi

Patogenesis dari sindrom Reye masih belum jelas, tetapi diperkirakan melibatkan
disfungsi dari mitokondria yang menghambat fosforilase oksidatif dan oksidase asam lemak beta
pada penyakit infeksi virus yang mensensitisasi orang yang terinfeksi. Mitokondria yang ada di
sel hati (hepatosit) mengalami kerusakan. Kita tahu bahwa mitokondria berguna untuk
menghasilkan energi berupa ATP bagi sel. Kalau mitokondriamya rusak maka tidak bisa
menghasilkan ATP dan akan menyebabkan sel mati. Sejak ditemukannya edema otak, dan
peubahan mikrovaskuler hati yang mirip dengan temuan pada sindrom reye pada penderita yang
mati karena intoksikasi salisilat, maka mulai dihubungkan antara salisilat dan patogenesis
penyakit ini. Diduga salisilat mengganggu fungsi respirasi mitokondria dengan merusakan
formasi ATP dan menyebabkan pembengkakkan mitokondria.1

Dikarenakan hati rusak maka fungsi hati akan menurun, detoksifikasi obat dan racun
tidak terjadi, Sintesa urea tidak terjadi, terjadinya katabolisme protein menyebabkan pelepasan
nitrogen dan toksin yang berlebihan. Pelepasan nitrogen berlebihan tersebut akan menyebabkan
peningkatan amonia pada darah.1,5,6

4
Amonia tersebut akan melewati sawar darah otak lalu menyerang astrosit (sel glial di
dalam otak yang berguna untuk memberi makam bagian neuron yang ada di dekatnya). Kadar
Amonia yang tinggi menyebabkan edema pada astrosit, sehingga terjadi edema serebral dan
peningkatan tekanan intrakranial

Manifestasi Klinis

Pada Sindroma Reye, terdapat juga infiltrasi lemak pada mikrovesikular hepatik
panlobular. Saat ini diketahui bahwa Sindroma Reye bukanlah hanya satu jenis, tetapi mencakup
juga kelainan yang dapat dibagi dua, yaitu:

- Sindroma Reye “Klasik” atau “idiopatik” atau “tipe Amerika utara”, yang secara khas
(walaupun tidak eksklusif) muncul pada anak umur 5 tahun atau lebih dan pada usia
remaja. Sindroma ini sering kali berhubungan dengan influenza atau penyakit cacar dan
penggunaan aspirin pada dosis terapeutik.1
- The “Reye-like” inherited metabolic disorder (IMD), kategori utama berhubungan
dengan kelainan oksidasi lemak, gangguan siklus urea, dan gangguan metabolisme asam
amino. Tipe ini tidak ditemukan pada anak-anak dengan sindroma Reye “klasik” dan
sering muncul pada bayi dan anak-anak umur kurang dari 5 tahun.

Tanda-tanda dan gejala dari sindroma Reye biasanya berupa muntah yang terus menerus,
dengan atau tanpa dehidrasi yang signifikan secara klinis, ensefalopati pada pasien yang tidak
demam dengan sedikit atau tanpa jaundice, dan hepatomegali pada 50% pasien. Beberapa ahli
berpendapat bahwa penggunaan obat antiemetik dapat menyamarkan gejala awal dan beberapa
ahli juga berpendapat obat antiemetik sendiri dapat menyebabkan terjadinya sindroma Reye.2

Gejala gejala dan tanda sindrom reye adalah:3


Tahap 1 : ruam pada lengan dan tangan dan kaki, muntah yang menetap, letargi, bingung, sulit
tidur, demam, sakit kepala.
Tahap 2 :stupor disebabkan adanya ensefalitis, hiperventilasi, perlemakan hati, refleks
meningkat.
Tahap 3 :tahap 1 dan 2 disertai koma, edema otak, dan bisa gagal napas (jarang), kekakuan
dekortikasi

5
Tahap 4 : koma yang dalam, dilatasi pupil dengan respons cahaya minimal, disfungsi hati,
kekakuan deserebrasi
Tahap 5 ; tahap 4 teriadinya cepat sekali, koma yang dalam, kejang, dan gagal organ multipel,
kekakuan. hiperammonemia ( diatas 300 mg/dL) dan kematian,

Anamnesis

Sindrom reye klasik menunjukan gejala yang sterotipik, perjalanan bifasik. Biasanya
terjadi pada anak yang sebelumnya sehat. Penyakit demam prodromal, infeksi saluran . napas
bagian atas (pada 90% kasus), atau cacar air (pada 57%) disertai oleh suatu interval yang seakan-
akan anak sembuh. Timbulnya serangan muntah yang lama, biasanya dalam 5-7 hari setelah
mulai sakit virus. Delirium, perilaku agitasi, dan stupor bisa terjadi bersamaan atau dalam
beberapa jam setelah mulai muntah. Gejala neurologis bisa menjelek dengan cepat menjadi
kejang, koma, dan mati; tanda neurologis fokal tidak ada.5,6 Untuk menegakkan diagnosis
sindroma Reye, secara anamnesis perlu didapatkan riwayat terkena penyakit prodormal
sebelumnya, seperti influenza, atau varisela, yang diikuti dengan adanya muntah berulang,
ditanyakan juga riwayat penggunaan aspirin sebelumnya saat sedang terkena penyakit influenza
atau varisela.

Pemeriksaan fisik

Jika dilihat dari keadaan umumnya, tingkat 1 sampai 3 menggambarkan sakit ringan
sampai sedang, tingkat 4 dan 5 menggambarkan sakit berat. Kebanyakan anak yang terkena akan
sakit ringan tanpa penjelekan. Pada tahap pertama ditemukan ruam pada lengan dan tangan dan
kaki. Tahap 1 : ruam pada kulit; tahap 2 : kesadaran delirium; tahap 3 : koma, refleks pupil
terhadap cahaya utuh; tahap 4 : koma yang dalam, dilatasi pupil dengan respons cahaya minimal

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk mengetahui penyebab dari SR dan tingkat


keparahannya., yaitu tes kimia darah, CT scan atau MRI scan kepala, biopsi hati,tes fungsi hati,
tes amonia serum dan pungsi lumbal.3

6
a Pemeriksaan laboratorium :
 Pada tes fungsi hati, yang tersering adalah peningkatan kadar ammonia 1,5 x diatas
normal (sampai 1200 mcg/dl) 24-48 jam setelah terjadinya perubahan tingkat kesadaran.
Kadar ammonia mungkin kembali pada level normal stadium 4 dan 5. Level
transaminase, ALT dan AST meningkat 3x normal tapi dapat kembali normal pada
stadium 4 dan 5.1
 Kadar bilirubin >2mg/dl (biasanya <3 mg/dl) pada 10-15% pasien. Jika bilirubin direk
meningkat lebih dari 15% bilirubin total, atau jika bilirubin total >3 mg/dl, pikirkan
diagnosis lain.
 Prothrombin time (PT) dan activated Partial Thromboplastin Time (aPTT) memanjang
>1,5 x pada >50% pasien.
 Kadar amilase dan lipase meningkat.
 Serum bikarbonat menurun setelah muntah.
 BUN dan kadar kreatinin meningkat.
 Terjadi hipoglikemia, biasanya pada anak-anak berumur < 1 tahun. Pemeriksaan glukosa
serum diindikasikan pada anak-anak dengan perubahan tingkat kesadaran.
 Laktat dehidrogenase (LDH) mungkin dapat naik atau turun.
 Terdapat perbedaan anion pada tes untuk asidosis metabolik.
 BJ urine meningkat; 80% pasien terjadi ketonuria
 Tes laboratorium yang abnormal ini mungkin saja terjadi.

b Pemeriksaan radiologis :
 CT scan kepala dapat menunjukan edema cerebral, tapi dapat juga normal.

c Pemeriksaan lain :
 Kadar asam lemak bebas dan asam amino (contoh; glutamine, alanine, lysine) mungkin
meningkat.
 Terjadi penurunan faktor II, VII, IX, dan X dan fibrinogen karena gangguan sintesis di
hepar.
 Hasil EEG (elektroencephalogram) mungkin memperlihatkan aktivitas gelombang pelan
pada stadium awal dan gelombang datar/flat pada stadium lanjut.

7
 Pada tes LCS, bisa terjadi peningkatan tekanan intrakranial. Sel darah putih (biasanya
limfosit) berjumlah 9x109/L (<9/mm3).
 Perlu dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui ada/tidaknya Inborn Error of Metabolism
(IEM) termasuk pemeriksaan defek dari oksidasi asam lemak, asam amino dan asiduria
organik, defek siklus urea, dan gangguan metabolisme karbohidrat.

d. pemeriksaan patologi anatomi : gambaran patologi kasar yang mencolok dan khas pada
sindrom reye adalah warna hati yang kuning sampai putih, menggambarkan kandungan
trigliderida yang tinggi. Mikroskop cahaya menunjukkan adanya keseragaman sitoplasma sel
hati yang berbusa, dengan penumpukan lemak mikrovaskuler.5

Diagnosis Banding

Penyakit yang menyajikan gambaran klinis/patologis menyerupai sindrom reye :

a. Penyakit metabolic (defek siklus urea, defek pada metabolisme asam lemak) dapat
dibedakan dengan sindrom reye lewat pemeriksaan Inborn Error of Metabolism (IEM).5
b. Infeksi system saraf pusat (meningitis, ensefalitis).
Meningitis adalah infeksi pada meninges (selaput pelindung) yang menyelimuti otak dan
saraf tulang belakang. Seringkali didahului infeksi pada saluran napas atas atau saluran
cerna seperti demam, batuk, pilek, diare dan muntah. Gejalanya adalah demam, nyeri
kepala, letargi, malaise, kejang, muntah. Pada pemeriksaan fisik terdapat kaku kuduk dan
tanda rangsang meningeal lain (bruzinski dan kernig)
Ensefalitis adalah infeksi jaringan otak yang dapat disebabkan oleh berbagai macam
mikroorganisme. Penyebab tersering dan terpenting adalah virus. Gejalanya dalah demam
tinggi mendadak, penurunan kesadaran dengan cepat, nyeri kepala, kejang, dan kesadaran
menurun, terdapat juga gejala peningkatan tekanan intracranial.3

Penatalaksanaan.

Tidak ada pengobatan khusus untuk sindroma Reye. Keberhasilan terapi bergantung pada
diagnosis dini. Penatalaksaanaan sindroma Reye bertujuan untuk mencegah kerusakan otak,
mengupayakan gangguan seminimal mungkin serta mengoreksi gangguan metabolik yang ada,

8
dan mengontrol adanya edema otak. Dalam hal ini yang terpenting adalah mengobati penderita
sebelum terjadi kerusakan otak yang ireversibel.1,3

Penatalaksanaan biasanya bersifat suportif. Pengawasan yang terus menerus dari tekanan
intrakranial, analisis gas darah dan pH darah sangat diperlukan. Yang termasuk dalam
penatalaksanaannya adalah:

- SR harus dirawat di rumah sakit dan jika berat di perawatan intensif

- Dukungan pernapasan (mesin ventilator untuk yang koma). Ventilasi mekanik


dibutuhkan jika pernafasan berhenti atau tidak teratur dan menurun.

- Cairan intravena untuk memberikan eiektrolit dan glukosa, pemberian mannitol 0.5
mg/kg tiap 46 jam membantu mengurangi udem otak

- Kortikosteroid tidak terbukti bermanfaat untuk mengurangi edema otak, sehingga tidak
dianjurkan

- 'Pemberian insulin dosis rendah bisa dilakukan untuk membantu meningkatkan


metabolisme glukosa. Regular insulin bisa diberikan dengan dosis mulai 0,25 unit kg,
kemudian bisa diberikan setiap 6 jam tergantung dari kadar gula urin dan darah. Target
kadar glukosa sampai l20-I50 mg/dL.

- Pemberian diuresis untuk meningkatkan pengeluaran cairan. Pemberian furosemide l-2


mg/KgBB i.v, kemudian di pantau diuresisnya.

- Pengobatan spesifik tidak ada dan suportif Iain tidak terbukti membantu
menyembuhkan SR. Klinisi harus fokus pada menjaga kecukupan cairan dan elektroiit,
nutrisi yang cukup, dan keadaan kardiorespirasinya. Perbaikan yang bermakna akan
tercapai jika hal di atas dilakukan dengan seksama dan seimbang.

9
Prognosis

Prognosis anak dengan sindrom Reye tergantung pada waktu tdiagnosis. Semakin
dini diagnosis,semakin baik pengelolaannya dan akan menaikkan angka harapan hidup sampai
80%. Anak yang datang pada periode akut pronosisnya baik.Anak yang datang pada keadaan
terlambat maka kemungkinan terjadi kerusakan otak dan kelumpuhan_sangat besar. Kesembuhan
setelah di rumah sakit erat hubungannya dengan berat edem otak. Sebagian akan sembuh total
tapi sebagian akan meninggalkan kerusakan otak dalam tingkat yang beragam bahkan bisa tetap
koma.3

Komplikasi:

- Koma
- kerusakan otak permanen
- kejang kejang

Pencegahan

Pemakatan aspirin dan obat-obatan dari derivat salisilat tidak boleh diberikan pada cacar air,
influenza, dan penyakit virus yang lain. jika akan memakai aspirin dan derivatnya, harus dengan
petunjuk dokter

10
KESIMPULAN

Sindroma Reye merupakan masalah klinis yang penting, meskipun angka kejadiannya
cenderung menurun dari tahun ke tahun, tetapi mortalitasnya masih tinggi. Penyebab sindroma
Reye masih belum diketahui secara pasti sampai saat ini, tetapi diduga berhubungan dengan
kejadian infeksi virus tertentu dan konsumsi aspirin yang lama. Untuk menegakkan diagnosis
sindroma Reye, secara anamnesis perlu didapatkan riwayat terkena penyakit prodormal
sebelumnya, seperti influenza, atau varisela, yang diikuti dengan adanya muntah berulang,
perubahan kesadaran, peninggian kadar SGOT/SGPT, hiperamonemia, pemanjangan PT dan
aPTT, hipoglikemia, serta adanya perubahan mikrovesikuler hati, ginjal dan otak. Prognosis
penyakit ini tergantung dari derajat kesadaran dan kadar amonia dalam serum.

11
DAFTAR PUSTAKA

1. Rusli BH. Sindrom Reye : dari Etiologi hingga Penatalaksanaan. Jurnal Kedokteran
Maranatha 2010;8(2):188-197
2. Suchy, Frederick J, Sokol RJ, Balistreri WF. Liver Disease in Children, Cambridge
University Press; 2007.
3. Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S. Pedoman pelayanan medis. Edisi ke-2. Jakarta:
Ikatan Dokter Anak Indonesia;2011.h.277-9
4. Wulur H, Kho KL. Treatment of Reye’s Syndrome at Sumber Waras Hospital. Acta
Paediatr Japon 1990;32:435-42
5. Behrman, Kliegman, Arvin. Nelson ilmu kesehatan anak. Edisi 15. Jakarta : EGC;
2000.h. 1404-7
6. Supriatmo. Reye’s Syndrome in Children. Majalah Kedokteran Nusantara
2006;39(4):443-447

12