Anda di halaman 1dari 22

UAS PSIKOLOGI POLITIK

“Analisis Politik dan Gaya Kepemimpinan Pemerintah”

Oleh :
Dinda Fitri Annisa
15011113

Dosen Pengampu :
Zulian Fikry, S.Psi., MA.

JURUSAN PSIKOLOGI
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2018
TUGAS UAS PSIKOLOGI POLITIK

A. Kliping Berita

1. https://www.viva.co.id/berita/nasional/1038567-bondet-meledak-kantor-
polsek-giligenting-sumenep-hancur

VIVA – Kantor Kepolisian Sektor Giligenting, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa


Timur, hancur di beberapa bagian pada Senin siang, 21 Mei 2018. Kantor hancur
diduga karena barang bukti bom ikan atau bondet yang tersimpan di gudang meledak.
Tidak ada korban dalam peristiwa tersebut. "Iya, itu (yang meledak) bondet. Botol isi
potasium untuk (menangkap) ikan. Kejadiannya siang," kata Kepala Bidang
Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Timur, Komisaris Besar Polisi Frans
Barung Mangera, dihubungi VIVA pada Senin malam. Genteng di bagian atap
berjatuhan dan hancur. Begitu pula tembok di beberapa ruangan, rusak. Di bagian
lantai, serpihan genteng dan atap berserakan. Dari informasi yang dihimpun, tidak
ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa itu. Saat ledakan terjadi, tidak ada
siapapun di dalam kantor Polsek Giligenting.

Kombes Barung menegaskan bahwa ledakan itu tidak ada kaitannya dengan aksi
teroris. Murni barang bukti bondet. Ia membantah isu berkembang bahwa ledakan
kantor Polsek itu berhubungan dengan kelompok teroris. "Itu hoax (isu menyebar
ledakan karena bom teroris)," tandasnya.

2. http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/news-
analysis/18/05/21/p91irj440-daftar-200-mubaligh-kemenag-yang-bikin-
gaduh-part1

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Febrianto A Saputro, Novita Intan, Dian Erika,


Muhyidin
Satu lagi kontroversi muncul di jagad politik nasional. Kali ini terkait dengan
pengumuman daftar 200 mubaligh atau penceramah yang dikeluarkan Kementerian
Agama (Kemenag), akhir pekan lalu.

Apalagi, kriteria yang dipakai Kemenag dalam memilih para penceramah/ustaz ini
bisa menimbulkan tafsir negatif yang lebih luas bagi penceramah yang tidak masuk
daftar itu. Label anti-NKRI dan anti-kebangsaan bisa muncul kepada para
penceramah yang berada di luar daftar pilihan Kemenag.

Ketua Lembaga Khusus Dakwah (LDK) PP Muhammadiyah, Muhammad Ziyad,


menilai langkah Kementerian Agama merilis 200 nama mubaligh atau pendakwah
yang direkomendasikan, itu kurang tepat. Hal ini justru akan membuat umat Muslim
terbelah.

Ia berpendapat, dampaknya akan menimbulkan pembelahan di tengah umat dan


sekaligus melahirkan persepsi yang kurang kondusif bagi bangunan soliditas
nasional. Ada kesan bahwa 200 orang yang direkomendasikan Kemenag itu pembela
NKRI dan bervisi kebangsaan, sedangkan yang lainnya, yang tidak termasuk dalam
daftar tersebut, seakan-akan sebaliknya.

Padahal, ribuan mubaligh di luar daftar tersebut tergolong hebat dan memenuhi
ketentuan Kemenag. "Sebaiknya data itu dimatangkan dulu sebelum dirilis. Bahkan,
di antara nama 200 orang itu saja, ada yang kurang valid," kata Ziyad, Ahad (20/5).

Ia memberi contoh, ada pendakwah yang ahli hanya pada bahasa Inggris, tapi di
dalam daftar tertulis mampu berbahasa Arab. Karena itu, menurut Ziyad, wajar bila
daftar 200 mubaligh itu menuai kontroversi.

Sebaiknya, daftar tersebut segera diperbaiki lalu berkomunikasi dengan tokoh dan
ormas Islam. "Bisa dibayangkan sosok Ustaz Abdul Somad, Ustaz Adi Hidayat,
Ustaz Bachtiar Natsir, banyak profesor ahli bidang agama dan kiai-kiai hebat, tidak
termasuk dalam daftar itu," papar dia.
Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, Masduki Baidlowi, menyayangkan daftar nama dai
versi pemerintah menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat, khususnya umat
Islam. Padahal, kaum Muslim Indonesia belum tentu membutuhkan rekomendasi
semacam itu.

Menurut Masduki, Kemenag seharusnya membuat daftar nama penceramah yang


kurang atau tidak memenuhi kriteria, alih-alih menyusun daftar mubaligh yang dinilai
reputasinya baik di Tanah Air.

“Yang bagus itu bukan positive-list, melainkan negative-list. Artinya, siapa yang
bermasalah, khususnya dalam soal kriteria ketiga, (komitmen) kebangsaan dan
keagamaan,” ujar Masduki, Ahad (20/5).

Saat ini masyarakat mulai resah akan kemunculan beberapa penceramah yang
menganjurkan paham kekerasan dan tindakan ekstremis. Mereka itulah yang patut
diragukan komitmen kebangsaan dan keislaman moderatnya.

Apalagi, belum lama ini aksi terorisme kembali meledak di Tanah Air dan
mengancam kerukunan antarumat beragama. Masduki menyarankan agar daftar
penceramah yang berideologi ekstrem itu, kalaupun nanti dibuat, tidak perlu
diumumkan.

Hal ini untuk menghindari kegaduhan di tengah masyarakat. Langkah selanjutnya,


Kemenag dapat meminta masukan dari organisasi-organisasi yang moderat dan arus
utama.

“Lalu daftarnya dikonfirmasi ke ormas-ormas Islam, semisal Muhammadiyah,


PBNU, Persis, dan lain-lain sebagainya. Kemudian, kita (ormas-ormas) akan
mendekati mereka supaya kehidupan berbangsa dan bernegara ini menjadi tenteram,”
kata Masduki.
Kemenag merilis 200 daftar nama mubaligh. Sejumlah nama mubaligh besar ada di
daftar itu seperti Ustaz Yusuf Mansur, KH Abdullah Gymnastiar, KH Cholil Nafis,
KH Didin Hafidhuddin, Ustaz Hidayat Nur Wahid, Prof Mahfud MD, KH Said Agil
Siraj, dan KH Nasaruddin Umar.

Ada juga Ustaz Arifin Ilham, Prof Quraish Shihab, Ustaz Irfan Syauqi Beik, Emha
Ainun Najib, Alwi Shihab, dan Ustaz Adian Husaini. Beberapa nama besar lain
memang tidak muncul dalam daftar yang menurut Kemenag bersifat dinamis itu,
dalam arti masih bisa berubah.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, Kemenag telah menerima


banyak pertanyaan dari masyarakat terkait nama mubaligh yang bisa mengisi
kegiatan keagamaan. "Belakangan, permintaan itu semakin meningkat sehingga kami
merasa perlu untuk merilis daftar nama mubaligh," kata Lukman dalam siaran
persnya di Jakarta, Jumat (18/05).

Menag menjelaskan ratusan mubaligh ini dipilih karena memenuhi tiga kriteria, yaitu:
mempunyai kompetensi keilmuan agama yang mumpuni, memiliki reputasi dan
pengalaman yang baik, dan berkomitmen kebangsaan yang tinggi.

Masyarakat masih bisa mengundang dan mengusulkan mubaligh yang lain di luar 200
nama ini. Apalagi, sambung Lukman, tidak ada kewajiban pada setiap acara
keagamaan selama Ramadhan harus mengundang ustaz sesuai rekomendasi dari
Kementerian Agama tersebut.

Ada keganjilan pada daftar mubaligh

Anggota Komisi IX DPR menilai, Kementerian Agama tidak semestinya


mengeluarkan rekomendasi 200 nama penceramah yang dinilai layak berceramah di
Indonesia. Sebab, ada banyak keganjilan dalam rekomendasi tersebut.
Wakil Ketua Komisi IX DPR, Saleh Partaonan Daulay, mengatakan jumlah
penceramah dalam rekomendasi itu masih sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah
penduduk Muslim Indonesia. Ketiga indikator penentunya pun, kata dia, masih
potensial dipertanyakan.

Indikator pertama adalah memiliki kompetensi tinggi kepada ajaran agama Islam.
"Yang menguji ini siapa? Apakah ada seleksinya? Jangan sampai ada yang
mengatakan bahwa ada ulama yang ilmunya jauh lebih tinggi dari Pak Lukman
Hakim Saifuddin, Menag kita, tetapi namanya tidak masuk dalam daftar itu," kata
Saleh, Sabtu (19/5).

Indikator kedua tentang pengalaman dan indikator ketiga tentang komitmen


kebangsaan dinilai sangat relatif. "Apakah orang yang sering ceramah sudah
dianggap berpengalaman sekaligus memiliki komitmen kebangsaan? Apa tolok-ukur
untuk menentukan seseorang memiliki komitmen kebangsaan?" Saleh
mempertanyakan.

Rekomendasi terhadap 200 nama muballigh itu dinilai hanya sekedar menarik
perhatian. Sementara, target dan sasaran dari dikeluarkannya rekomendasi itu tidak
jelas.

Saleh memastikan, rekomendasi itu pun tidak efektif. Apalagi, Kemenag mengatakan
jumlahnya masih bisa bertambah dan masyarakat masih tetap boleh memilih
penceramah yang diminati di luar daftar itu.

Peneliti senior LIPI, Syamsuddin Haris menegaskan Kemenag seharusnya tidak


mengeluarkan rekomendasi tersebut. Ia berpendapat ketimbang mengeluarkan
rekomendasi 200 ulama, lebih baik Kemenag mengeluarkan rambu terkait apa saja
yang boleh dan tidak boleh disampaikan oleh para ulama dan ustaz.
Adanya rekomendasi tersebut tidak terlalu efektif sebab jumlah ustaz yang ada terlalu
banyak. "Jadi sekali lagi yang penting rambunya apa yang boleh apa yang tidak
boleh," kata Syamsuddin.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar


Simanjuntak mengungkapkan, pemerintah tak perlu membuat daftar rekomendasi 200
mubaligh tersebut. Sejak dulu, melalui lisannya, para mubaligh merawat semangat
kebangsaan dan nasionalisme warga negara.

Pun, sambung dia, mubalighlah yang menyerukan ke-Islaman dan ke-Indonesiaan


sebagai nilai integratif. Juga, menyosialisasikan Pancasila sebagai produk dari
integrasi tersebut.

Adanya sejumlah nama ustaz yang tak masuk daftar rekomendasi, Dahnil meyakini
mereka memiliki komitmen tinggi merawat kebangsaan, seperti Ustaz Abdul Somad.
Menurut dia, ustaz-ustaz berilmu tinggi seperti mereka, pantas didengar ilmunya oleh
umat.

Terkait namanya yang masuk dalam daftar rekomendasi 200 mubaligh itu, Dahnil
merasa kurang pantas berada dalam daftar rekomendasi penceramah. "Karena banyak
sekali yang harus saya pelajari, dan saya bukan ahli agama seperti UAS (Ustaz Abdul
Somad) dan Adi Hidayat," tutur Dahnil.

3. https://ekonomi.kompas.com/read/2018/03/26/120600026/dalam-tiga-bulan-
harga-pertalite-naik-dua-kali

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam selang tidak terlalu lama, PT Pertamina kembali


menaikkan harga jual bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi. Per 24 Maret 2018,
harga Pertalite dan solar non-subsidi naik masing-masing Rp 200 per liter. Harga
solar non-subsidi di Jakarta naik menjadi Rp 7.700 per liter dari sebelumnya Rp
7.500 per liter. Sementara harga Pertalite naik menjadi Rp 7.800 per liter.
Sebelumnya harga Pertalite hanya Rp 7.600 per liter. Sejak Januari 2018 Pertamina
telah menaikkan harga Pertalite sebanyak dua kali. Pada 20 Januari 2018, Pertamina
menaikkan harga Pertalite sebesar Rp 100 per liter menjadi Rp 7.600 per liter.
Alhasil, kenaikan harga pada Maret 2018 ini merupakan kenaikan yang kedua kalinya
dalam tiga bulan terakhir. Sementara bulan lalu, Pertamina menaikkan harga jual
BBM seri Pertamax. Vice President Corporate Communication Pertamina, Adiatma
Sardjito mengatakan, kenaikan harga bahan bakar minyak tersebut merupakan
penyesuaian atas kenaikan harga minyak dunia. Saat ini harga minyak dunia sudah
menembus level 60 dollar AS per barrel. Adiatma membantah kenaikan harga
Pertalite bertujuan demi menutup potensi kerugian Pertamina akibat menanggung
selisih harga solar subsidi dan premium. Sebab, pemerintah melarang Pertamina
menaikkan harga premium dan dan solar subsidi. Menurut dia, perhitungan BBM
penugasan seperti premium ataupun solar subsidi berbeda dengan perhitungan BBM
umum seperti Pertamax series dan Pertalite. "Menghitungnya tidak menyilang
begitu," ucap Adiatma kepada Kontan, Minggu (25/3/2018). Namun di tidak mau
menjelaskan lebih jauh mengenai perhitungan dan formula harga BBM subsidi dan
BBM non-subsidi. Dia juga menolak mengungkapkan proyeksi pendapatan Pertamina
akibat regulasi harga BBM. Baca juga: Konsumsi Pertalite Naik 837 Persen sejak
Dipasarkan Januari 2016 Namun, sepanjang Januari-Februari 2018, Pertamina
mengakui potensi kerugian sebesar Rp 3,9 triliun akibat menanggung selisih harga
solar subsidi dan harga premium. Hingga akhir tahun, Pertamina memproyeksikan
potensi kerugiannya mencapai sekitar Rp 24 triliun. Sementara pemerintah sendiri
menolak dianggap sebagai penyebab potensi kerugian Pertamina. Sekretaris Jenderal
Kementerian ESDM sekaligus Plt Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Ego
Syahrial menyatakan, pemerintah tidak membiarkan Pertamina rugi. Pemerintah
mempunyai sejumlah rencana untuk membantu keuangan Pertamina. Salah satu
caranya adalah dengan memberikan hak pengelolaan Blok Mahakam ke Pertamina.
Ego menyebut, keuntungan yang bisa didapat Pertamina dari Blok Mahakam
termasuk besar. "Keuntungannya Rp 7 triliun. Itu sudah bersih," kata Ego. Oleh
karena itu, dia berharap, potensi kerugian yang akan ditanggung Pertamina
merupakan efek dari regulasi pemerintah dalam tata niaga BBM subsidi. Lagi pula,
"Pemerintah punya banyak untuk Pertamina," kata dia. (Febrina Ratna Iskana).

4. http://www.republika.co.id/berita/nasional/news-
analysis/18/05/29/p9gan4440-gonjangganjing-gaji-selangit-petinggi-bpip

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Teguh Firmansyah, Dessy Suciati Saputri, Ali


Mansur

Masalah gaji tampaknya memang sangat sensitif. Apalagi jika itu menyangkut gaji
pejabat dan pimpinan lembaga negara. Isu gaji pejabat negara ini sekarang
menggelinding bak bola salju, menimbulkan kontroversi di masyarakat.

Presiden Joko Widodo baru saja mengeluarkan peraturan presiden yang mengatur
tentang hak keuangan dan fasilitas bagi pimpinan, pejabat, dan pegawai Badan
Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Dalam Perpres Nomor 42 tahun 2018 yang
diunduh dalam laman setneg.go.id pada Senin (28/5), tertulis bahwa Ketua Dewan
Pengarah BPIP, yakni Megawati Soekarnoputri, memperoleh gaji Rp 112,548 juta.

Anggota Dewan Pengarah BPIP mendapat gaji Rp 100,811 juta. Mereka yang masuk
dalam anggota Dewan Pengarah antara lain KH Said Aqil Siradj, Try Sutrisno, KH
Ma'ruf Amin, Ahmad Syafii Ma'arif, Muhammad Mahfud MD, Sudhamek, Andreas
Anangguru Yewangoe, dan Wisnu Bawa Tenaya. Selain itu, Yudi Latif menjabat
sebagai kepala BPIP.

Dalam Perpres 42 Tahun 2018 disebutkan, gaji kepala BPIP sebesar Rp 76,5 juta.
BPIP merupakan organisasi nonstruktural yang berada di bawah dan bertanggung
jawab kepada Presiden. BPIP yang direvitalisasi fungsi dan tugasnya pada 28
Februari 2018 sebelumnya bernama Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi
Pancasila.
Seperti dikutip laman Setkab.go.id, berdasarkan Perpres 7 Tahun 2018, badan ini
mempunyai tugas membantu Presiden dalam merumuskan arah kebijakan pembinaan
ideologi Pancasila. Badan ini melaksanakan koordinasi, sinkronisasi, dan
pengendalian pembinaan ideologi Pancasila secara menyeluruh dan berkelanjutan,
dan melaksanakan penyusunan standardisasi pendidikan serta pelatihan.

BPIP juga berfungsi menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan, serta memberikan


rekomendasi berdasarkan hasil kajian terhadap kebijakan atau regulasi yang
bertentangan dengan Pancasila kepada lembaga tinggi negara, kementerian/lembaga,
pemerintahan daerah, organisasi sosial politik, dan komponen masyarakat lainnya.

Gaji yang dinilai tinggi inilah yang kemudian menimbulkan pro kontra di masyarakat.
Mahfud MD, salah satu anggota Dewan Pengarah, menegaskan selama setahun
bekerja di BPIP tidak pernah membicarakan gaji.

Sejak dibentuk pada 7 Juni 2017, kata Mahfud, Pengarah dan Kepala BPIP belum
pernah digaji dan mereka tidak pernah menanyakan gaji. "Kepres pembentukan UKP
Pancasila, yang kemudian diubah menjadi BPIP, juga tidak menyebut besaran gaji
dan kami tdk pernah mempersoalkan," kata Mahfid seperti tertulis dalam
akun Twitter-nya.

Di kalangan Pimpinan BPIP, sambung dia, sepertinya sudah ada kesepakatan bahwa
tim BPIP tidak akan pernah meminta gaji. "Sampai hari ini pun Dewan Pengarah tak
serupiah pun pernah mendapat bayaran dari kesibukan yang luar biasa di BPIP. Ke
mana-mana kami pergi tidak dibiayai oleh BPIP," kata Mahfud.

Megawati dan Try Sutrisno sering berpesan pada setiap rapat bahwa lembaga ini
menyandang ideologi Pancasila, jangan sampai ada kasus atau kesan tim ini makan
uang negara. Apalagi, kata Mahfud, sampai dipanggil oleh KPK.
Jika sekarang ada Perpres yang berisi besaran gaji, Mahfud menjelaskan, tentu itu
bukan urusan atau upaya pihaknya di BPIP. Yang mereka pahami, jika benar gaji
Pengarah BPIP itu ada sebenarnya dimaksudkan sebagai biaya operasional.

"Tampak lebih besar daripada gaji menteri karena kalau menteri mendapat gaji plus
tunjangan operasional yang juga besar, tapi kalau BPIP gajinya itulah yang menjadi
biaya operasional," Mahfud menerangkan.

Megawati tidak pernah minta gaji

Penjelasan Mahfud diiyakan Wakil Sekjen DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah. Ia
mengungkapkan Ketua Dewan Pengarah BPIP Megawati Soekarnoputri dan sejumlah
pimpinan BPIP belum pernah mendapatkan gaji ataupun hak-hak keuangan dari
negara selama memimpin BPIP.

Meskipun demikian, kata Basarah, para pimpinan ini tidak pernah memikirkan hal-
hal bersifat materi seperti gaji ini. Basarah mengungkapkan para tokoh tersebut
adalah sosok yang memiliki integritas tinggi dan bukan bekerja atas dasar gaji.

Para tokoh tersebut pun menjalankan fungsi sosial-politik dalam menjaga tegaknya
Pancasila dan NKRI. "Ke semua tugasnya tidak diukur dengan sekadar persoalan
gaji," kata Basarah, Senin (28/5).

Pimpinan BPIP tidak pernah mengusulkan berapa besar gaji mereka, apalagi
meminta-minta gaji ke pemerintah. Menurut Basarah, penetapan gaji dan hak-hak
keuangan di lingkungan BPIP yang saat ini beredar tidak mungkin dibuat tidak
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Basarah meminta Mensesneg, Menteri PAN/RB, dan Menteri Keuangan agar segera
memberikan penjelasan kepada publik secara objektif dan proporsional. Penjelasan
para menteri ini sangat penting agar opini publik tidak digiring ke arah penghancuran
wibawa lembaga BPIP yang peran dan tanggung jawabnya sangat vital untuk
pembangunan mental ideologi Pancasila bangsa Indonesia.

Penjelasan Menkeu Sri Mulyani

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan perincian penghasilan Ketua Dewan


Pengarah BPIP Megawati. Menurut dia, gaji pokok Dewan Pengarah BPIP tidak
berbeda dengan gaji pokok para pejabat negara lainnya, yakni Rp 5 juta.

Sri menyebut tunjangan jabatan pejabat di BPIP lebih kecil dibandingkan lembaga
lainnya. "Tunjangan jabatannya Rp 13 juta," kata Sri di Kantor Presiden, Jakarta,
Senin (28/5).

Untuk sisa hak keuangan lainnya digunakan untuk mendukung berbagai kegiatan
BPIP seperti biaya transportasi, pertemuan, komunikasi, dan lain-lain. Selain itu,
terdapat pula asuransi kesehatan dan juga asuransi jiwa masing-masing sebesar Rp 5
juta.

Lembaga-lembaga negara lain, Sri menjelaskan, yakni eksekutif, legislatif, dan


yudikatif, mendapatkan tunjangan jabatan hingga puluhan juta. BPIP, kata dia,
termasuk paling kecil.

Sri menyampaikan, pemberian hak keuangan tersebut berdasarkan kajian terhadap


beban tugas yang harus dilakukan oleh para pejabat BPIP. Hak keuangan tersebut
diberikan sesuai dengan peraturan presiden nomor 42 tahun 2018 tentang hak
keuangan dan fasilitas lainnya bagi pimpinan, pejabat, dan pegawai BPIP.

Untuk kondisi saat ini, Sri Mulyani menegaskan, gaji Megawati belum dibayarkan
serupiah pun sejak Juni 2017. Padahal, mereka sudah bekerja hampir setahun.

5. http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/18/05/29/p9guw0409-
dahnil-gaji-besar-bpip-justru-rendahkan-ketokohan-megawati
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda
Muhammadiyah, Dahnil Azhar Simajuntak menilai, pemberian gaji berjumlah besar
kepada para pejabat Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sejatinya menghina
integritas dan kapasitas para tokoh. Menurut Dahnil, tidak ada nilai uang yang
sebanding baginya untuk dapat diberikan kepada tokoh BPIP seperti Megawati
maupun sosok lain di BPIP.

"Sebab, mereka pastilah sudah selesai dengan masalah 'gaji-gajian' tersebut," ujarnya
dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Selasa (29/5)

Dahnil menambahkan, dirinya ragu Megawati dan tokoh BPIP lainnya meminta
digaji, terlebih dengan nominal yang besar. Pastilah mereka tidak tahu menahu
mengenai hal tersebut.

Dahnil optimistis, tokoh terkait hanya fokus bekerja merawat ideologi bangsa yang
sudah menjadi panggilang jiwa dan tugas kebangsaan para tokoh. Oleh karena itu,
Dahnil menganjurkan kepada pemerintah maupun pihak lain untuk tidak menghina
tokoh bangsa tersebut dengan uang gaji.

"Mereka menjadi terkesan dipersalahkan oleh publik di tengah keprihatinan bangsa


seperti ini," ucap Dahnil.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menandatangani Peraturan Presiden


Nomor 42 Tahun 2018 tentang Hak Keuangan dan Fasilitas Lainnya bagi Pimpinan,
Pejabat, dan Pegawai BPIP pada Rabu (23/5). Perpres itu mengatur hak keuangan
beserta fasilitas para pimpinan, pejabat, dan pegawai BPIP.

Pada laman resminya, Sekretariat Negara mengumumkan, PP Nomor 42/2018


menuliskan bahwa Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang
menjabat Ketua Dewan BPIP menjadi pemilik gaji terbesar, yakni Rp 112.548.000.
Sementara itu, Anggota Dewan Pengarah masing-masing mendapatkan Rp
100.811.000 per bulan.
Anggota Dewan Pengarah terdiri dari delapan orang, yakni Try Sutrisno, Ahmad
Syafii Maarif, Said Aqil Siradj, Ma'ruf Amin, Mahfud MD, Sudhamek, Andreas
Anangguru Yewangoe, dan Wisnu Bawa Tenaya. Untuk Kepala BPIP yang dijabat
Yudi Latif mendapatkan Rp 76.500.000. Wakil Kepala Rp 63.750.000, Deputi Rp
51.000.000 dan Staf Khusus Rp 36.500.000.

Namun, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menjelaskan data berbeda soal gaji
ini. Gaji pokok Ketua Dewan Pengarah BPIP, kata Menkeu, tidak berbeda dengan
gaji pokok yang diterima para pejabat negara lainnya, yakni sebesar Rp 5 juta.

Bahkan, Menkeu menegaskan tunjangan jabatan pejabat di BPIP lebih kecil


dibandingkan lembaga lainnya, yakni hanya Rp 13 juta. "Lebih kecil dibandingkan
lembaga lain yang bisa mencapai puluhan juta," kata Sri di Kantor Presiden, Jakarta,
Senin (28/5).

6. https://fokus.tempo.co/read/1093886/kontroversi-kenaikan-thr-pns-
pemerintah-harus-waspadai-hal-ini

TEMPO.CO, Jakarta - Kontroversi pemberian tunjangan hari raya atau THR dan
gaji ke-13 kepada pegawai negeri sipil (PNS), prajurit TNI, anggota Kepolisian RI,
pejabat negara, penerima pensiun dan penerima tunjangan masih belum selesai.
Salah satu di antaranya karena besar anggaran yang melonjak ketimbang tahun lalu
tak disertai dengan kapasitas ruang fiskal daerah yang mencukupi.

Anggaran untuk pembayaran THR sesuai dengan Undang-undang Nomor 15 Tahun


2017 tentang APBN 2018 dipatok Rp 35,76 triliun. Nilainya meningkat 68,9 persen
dibandingkan dengan tahun lalu karena saat itu pensiunan tidak memperoleh THR.

Angka itu mencakup THR gaji sebesar Rp 5,24 triliun, THR untuk tunjangan
kinerja Rp 5,79 triliun, THR untuk pensiunan Rp 6,85 triliun, dan gaji ke-13 sebesar
Rp 5,24 triliun. Lalu, tunjangan kinerja ke-13 sebesar Rp 5,79 triliun dan pensiun
ke-13 sebanyak Rp 6,85 triliun.
Pemberian THR PNS, TNI, dan Polri saat ini tidak hanya meliputi gaji pokok, tetapi
juga mencakup tunjangan kinerja, tunjangan tambahan, dan tunjangan jabatan.
"Dengan demikian PNS akan mendapat THR hampir sama seperti take home pay
mereka satu bulan," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Istana Negara,
Jakarta, Rabu, 23 Mei 2018.

Baca: Menteri Hanif Wajibkan Posko THR Dibuka di Daerah

Kebijakan itu tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2018 tentang
THR dalam Tahun Anggaran 2018 kepada Pimpinan dan Pegawai Non PNS pada
Lembaga Nonstruktural pada 23 Mei 2018 yang ditandatangani Presiden Jokowi. PP
ini mengatur besaran THR untuk pimpinan lembaga nonstruktural (LNS) dan
pegawai non-PNS di LNS, mulai Rp 3,4 juta hingga Rp 24,9 juta. Berbeda dengan
tahun-tahun sebelumnya, beleid itu mengatur pemberian THR untuk para
pensiunan.

Adapun tujuan pemerintah menaikkan THR dan gaji ke-13 ini dengan PNS, TNI,
Polri, dan pensiunan agar dapat meningkatkan perekonomian pada kuartal kedua.
"Diharapkan ini yang akan menggerakkan. Kami berharap pada kuartal II, konsumsi
lebih baik lagi,” kata Sri Mulyani.

Untuk gaji ke-13, Sri Mulyani menuturkan pengajuan permintaan pembayarannya


oleh satuan kerja kepada kantor pelayanan perbendaharaan negara dilakukan akhir
Juni dan dibayarkan awal Juli. Sehingga, gaji ke-13 baru akan diterima bulan Juli
untuk membantu para PNS, Polri, dan TNI membiayai kebutuhan anak mereka yang
bersekolah.

Sekretaris Jenderal Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Yenny


Sucipto, mempertanyakan alokasi anggaran untuk THR dan gaji ke-13 tersebut.
Pasalnya, THR akan ditanggung oleh Anggaran Pendapatan Daerah atau APBD.
Padahal, faktanya, menurut Yenny, banyak daerah masih memiliki kapasitas
keuangan rendah. "Jika kita lihat kapasitas fisikal pada tahun 2017, dari 34 provinsi
terdapat 17 provinsi yang memiliki ruang fisikal rendah dan sangat rendah,"
katanya.

Sedangkan di tingkat kabupaten, dari 415 kabupaten, sebanyak 207 di antaranya


memiliki ruang fisikal rendah dan sangat rendah. Selanjutnya, dari 93 kota,
sebanyak 47 di antaranya memiliki ruang fisikal rendah dan sangat rendah. "Artinya
masih banyak daerah yang secara ruang fisikal akan kesulitan menerapkan
kebijakan ini. Jika pun diterapkan maka akan menurunkan inovasi daerah dan sektor
belanja publik," kata Yenny.

Baca: Pajak THR PNS 2018 Ditanggung Pemerintah, Bagaimana Swasta?


Sementara itu, ekonom dari The Institute for Development of Economics and
Finance (Indef) Bhima Yudistira, menilai keputusan pamerintah dari sisi fiskal
terlihat sebagai kebijakan populis yang kurang terencana. Pasalnya realisasi belanja
pegawai melebar dan menyebabkan kondisi fiscal kurang produktif dan kredibel.
”Kalau tidak hati-hati, nanti berefek ke kenaikan utang dan turunnya ranking
utang,” ujarnya ketika dihubungi Tempo, Rabu, 30 Mei 2018.

Bhima menjelaskan, di dalam APBN 2018 alokasi belanja pegawai ditetapkan


sebesar Rp 365,7 triliun atau naik dibanding tahun sebesar Rp 313 triliun. Artinya
dalam setahun ada kenaikan belanja pegawai 16,8 persen. “Kalau ditarik lebih
panjang, sejak 2014-2017 belanja pegawai sudah naik 28 persen. Dan porsi belanja
pegawai sendiri 26 persen dari total anggaran pemerintah,” tuturnya.

Kekhawatiran Bhima cukup beralasan karena sebagian anggaran pemerintah


dibiayai lewat utang. “Jadi klaim utang untuk belanja produktif jadi tidak terbukti,
ketika pemerintah justru prioritaskan kenaikan belanja pegawai yang sifatnya
konsumtif. Padahal seharusnya utang digunakan untuk belanja modal, misalnya
infrastruktur,” ucapnya.
Anggota Komisi Pemerintahan Dewan Perwakilan Rakyat, Yandri
Susanto, mengkritik pemerintah yang dinilai cenderung lebih memerhatikan PNS.
"Yang lebih penting lagi di republik ini tak hanya pegawai negeri saja. Yang di
bawah itu jauh lebih menjerit," katanya.

Kritik juga datang dari Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Ia malah menuding kenaikan
anggaran THR ini tak lepas dari tahun politik. “Saya kira pemerintah-pemerintah
yang lalu juga melakukan hal yang sama,” ujarnya pekan lalu. Fadli menyarankan
tunjangan diberikan kepada tenaga honorer yang sudah lama bekerja.

Soal tudingan ini, Menteri Sri Mulyani menyebutkan kenaikan THR untuk PNS,
TNI, Polri, dan pensiunan sudah diketok dalam UU APBN 2018. "Loh beliau
anggota DPR, wakil ketua DPR, UU APBN sudah ditulis dari dulu," ujar dia di
Kompleks Parlemen, Kamis, 24 Mei 2018.

Tuduhan tersebut juga dibantah oleh Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi Asman Abnur. Dia mengatakan kenaikan tersebut dilandasi adanya
perbaikan kinerja dari para PNS dan ditunjukkan dalam Laporan Akuntabilitas
Kinerja Instansi Pemerintahan (LAKIP).

Terlepas dari berbagai kritik soal THR tersebut, pemerintah tetap jalan terus. Sebab,
dari kaca mata yang lebih luas, insentif tersebut diyakini bakal mendongkrak
pertumbuhan ekonomi nasional. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo misalnya,
yakin ekonomi di kuartal kedua tahun ini bakal tumbuh hingga 5,15 persen.

Sebab, pemberian gaji ke-13 serta THR membuat konsumsi rumah tangga akan
meningkat sementara inflasi tetap terkendali di level 3,5 persen. "Karenanya itu
akan menjadi stimulus fiskal, khususnya di kuartal kedua," ucap Perry.
ADAM PRIREZA | YUSUF MANURUNG | FRISKI RIANA | REZKI
ALVIONITASARI | CHITRA PARAMAESTI
B. Analisis Psikologi Politik

Dari permasalahan sebagai berikut :

 Penanganan Terroris
 200 Mubaligh
 Kenaikan BBM
 Gaji BPIP
 Kenaikan THR

Alasan ataupun motif Pemerintah dalam membuat langkah-langkah


politik dalam permasalahan tersebut adalah :

1. Pemenuhan Kebutuhan
Setiap individu maupun kelompok termasuk pemerintah memiliki
kebutuhan-kebutuhan untuk mencapai tujuannya dan untuk
mengaktualisasikan dirinya. Beberapa needs yang akan dibahas seperti Safety
needs, yaitu kebutuhan keamanan meliputi kebutuhan keamanan jiwa maupun
kemanan harta. Seperti Pemerintah berupaya untuk menangani teroris untuk
menjamin keamanan negara. Social needs, yaitu kebutuhan sosial, meliputi
kebutuhan akan perasaan diterima oleh orang lain, kebutuhan akan perasaan
dihormati, kebutuhan akan perasaaan maju atau berprestasi dan kebutuhan
akan perasaaan diikutsertakan (sence of partisipation). Dengan kebijakan yang
diberikan pada permasalahan diatas diharapkan dapat membuat pemerintah
dihargai rakyatnya dan para pengikut setianya (dunia sosial). Contoh dapat
terlihat pada semua kebijakan diatas berguna untuk menarik perhatian para
simpatisan, pendukung, dan rakyatnya. Esteem needs, yaitu kebutuan akan
penghargaan berupa kebutuhan akan harga diri dan pandangan baik dari orang
lain terhadap pemerintah/kelompok tersebut. Dengan memenuhi kebutuhan-
kebutuhan tersebut pemerintah dikatakan dapat mencapai tujuan di dalam
dunia perpolitikkan yang mana pemerintah sekarang ingin maju kembali di
Pilpres 2019.
2. Konflik Politik

Kebijakan-kebijakan politik yang diambil pemerintah menimbulkan


banyaknya kontroversi dari masyarakat. Kontroversi tersebut menyebabkan
konflik di dalam dunia politik. Tujuan konflik ialah mempertahankan dan/atau
mendapatkan sumber-sumber, seperti harga diri, kekayaan, kekuasaan, hingga
wilayah atau tempat tinggal. Dalam hal ini, pemerintah terlihat ingin
mempertahankan kekuasaannya dengan memperlihatkan kebijakan yang
diberikan dan mendapatkan sumber-sumber yang dapat dijadikan isu-isu
untuk dijadikan bahan dalam menjatuhkan lawan politik.

Dalam menyelesaikan konflik politik merupakan enjadi salah satu


melihat apakah pemerintah dianggap layak untuk melanjutkan Pilpres 2019.
Terdapat tiga tahap dalam penyelesaian, yaitu tahap politisasi atau koalisi,
tahap pembuatan keputusan, dan tahap pelaksanaan dan integrasi. Akan tetapi,
pemerintah dianggap kurang baik dalam menyelesaian konflik.

3. Pencitraan melalui Media Sosial


Pemerintah yang dianggap kurang baik dalam menetapkan kebijakan
maka perlu pencitraan-pencitraan untuk menutupi hal tersebut. Pencitraan
tersebut disampaikan oleh media atau komunikator politik dengan
memberikan pesan-pesan politik kepada rakyat. Pesan politik menyangkut
pembicaraan dan aneka informasi politik tentang kekuasaan, pengaruhnya
dalam masyarakat, otoritas yang dimiliki dan konflik politik dalam persaingan
yang melibatkan masyarakat, lembaga politik, pemerintah dan entirtas lain
yang bergerak dalam kegiatan politik. Pembicaraan politik merupakan
kegiatan simbolik yang dihubungkan dengan (1) lambang, (2) bahasa dan (3)
opini publik. Ketiga faktor itu selalu melekat pada pesan-pesan politik yang
disebarkan oleh komunikator politik kepada masyarakat dalam upaya untuk
mencapai tujuan politik. Sedangkan opini publik dalam konteks pembicaraan
politik ditekankan kepada peran komunkator dalam menciptakan opini public
untuk mempengaruhi masyarakat. Opini publik adalah kumpulan pendapat
orang tentang suatu peristiwa, kasus, masalah yang mempengaruhi,
melibatkan dan menarik minat khalayak, komunitas maupun masyarakat.
Walter Lippman menyatakan, opini umum dipopulerkan lewat pidato-pidato,
headline surat kabar, dll.
C. Gaya Kepemimpinan Pemerintah
Pemimpin yang otokratik adalah pemimpin yang menghendaki segala
kebijakan dan keputusan dari sebuah organisasi ada di tangannya. Bawahan
hanyalah sebatas pelaksana tugas atau pelaksana seluruh perintah atasan yang
bersifat harus di taati; dan tanpa ketaatan dapat dikatakan sebagai bentuk
pembangkangan.
Tipe pemimpin seperti itu dikategorikan sebagai pemimpin yang
otoriter, sangat mengedepankan otoritas pribadi & egositas dirinya sebagai
penguasa organisasi. Dampak dari sebuah kepemimpinan yang otokratik
sangatlah berbahaya bagi keberlangsungan kehidupan sebuah organisasi :

 Menimbulkan sebuah rasa kebencian bawahan bilamana terjadi


ketidakadilan seorang atasan terhadap perlakuan yang berbeda diantara
bawahannya; dan berakibat pada tercerai-berainya koordinasi yang
fatalnya tentu akan membawa kehancuran bagi orgnasisai tersebut

 Menumbuhkan rasa ketakutan yang berlebihan / sebuah bentuk


pemasungan atas ide-ide kreatifitas bawahan, dan atau menumbuhkan
rasa ketakutan dalam mengungkapkan pendapat / pembunuhan karakter
yang seharusnya ini tidak terjadi bilamana idealnya sebuah organisasi
menghendaki kemajuani; serta pengabaian atas fakta / kebenaran atas
penyelesaian konflik bilamana terjadi perselisihan atau sengketa di tubuh
organisasi tersebut yang fatalnya tentu berakibat kepada adanya
pemberontakan-pemberontakan terhadap atasan, dan permusuhan diantara
bawahan.

Ciri-ciri Tipe pemimpin Otokratik :


 Tidak memiliki planing yang kuat, karena segala bidang dicakupinya,

 Cenderung tidak manusiawi/semena-mena, karena memperlakukan


bawahan hanya sebagai alat untuk kepentingan pribadinya

 Cenderung lebih banyak melakukan penyelewengan atas pelaksanaan


peraturan-peraturan organisasi yang telah menjadi landasan organisasi,
karena tidak adanya control, dan lebih parahnya bilamana sampai
melakukan korupsi
Daftar Pustaka

Fadil, Muhammad. 2007. Konflik Daerah Sebagai Budaya Politik Masyarakat. Jurnal
Madani Edisi II, 21-27

Kamarudin. 2013. Konflik Internal Partai Politik: Studi Kasus Partai Kebangkitan
Bangsa. Jurnal Penelitian Politik, 3, 29-39

Prayudi, 2007. Internet Politik: Analisis Historis Peran Teknologi Media Baru dalam
Demokrasi di Indonesia. Jurnal Masalah Sosial, Politik, dan Kebijakan, 11,
141-149

Surbakti, Ramlan. 2013. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: PT Grasindo

Suripto. 2016. Analisis Penyelesaian Sengketa Atau Konflik Politik. Jurnal


Politikologi, 3,81-87

Susanto,Eko Harry. 2014. Komunikasi manusia esensi dan Aplikasi dalam dinamika
sosial Ekonomi Politik. Jakarta : Mitra Wacana Media.