Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN

SISTEM HEMATOLOGI 304


“Dengue Haemorraghic Fever”
DHF
DOSEN PEMBIMBING :
FAHRUDDIN KURDI .S.Kep, Ns

DISUSUN OLEH KELOMPOK 1 :


1. Faradelah Sendi (151001013)
2. Mita Febryantrisna (151001024)
3. Tita Heni (151001041)
4. Okvita (151001035)
5. Verra Shintya Putri (151001043)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
(STIKES) PEMKAB JOMBANG
2015 – 2016
KATA PENGANTAR

1
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah serta
karunianya-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat pada
waktunya. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas “ASUHAN KEPERAWATAN
DHF”.
Dengan adanya makalah ini, diharapkan dapat membantu proses pembelajaran dan
dapat menambah pengetahuan bagi para pembaca. Penulis juga tidak lupa mengucapkan
terimakasih kepada semua pihak, atas bantuan, dukungan dan doanya.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membaca makalah ini,
sehingga dapat memperlancar dan mempermudah proses belajar mengajar. Makalah ini
mungkin kurang sempurna, untuk itu kami mengharap kritik dan saran untuk penyempurnaan
makalah ini.

Jombang, 24 Maret 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

2
COVER...............................................................................................1
KATA PENGANTAR.........................................................................2
DAFTAR ISI.......................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.........................................................................4
1.2 Rumusan masalah....................................................................4
1.3 Tujuan………………………………………………………..5
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi.....................................................................................6
2.2 Etiologi.....................................................................................6
2.3 Patofisiologi………………………………………………...6
2.4 Manifestasi klinis.....................................................................7
2.5 Komplikasi...............................................................................7
2.6 Klasifikasi................................................................................7
2.7 Pemeriksaan Penunjang...........................................................8
2.8 Penatalaksanaan.......................................................................8
2.9 Pathway / WOC.......................................................................9
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Pengkajian..............................................................................10
3.2 Keluhan utama.......................................................................10
3.3 Riwayat kesehatan.................................................................10
3.4 Keadaan umum......................................................................10
3.5 Pemeriksaan fisik...................................................................11
3.6 Aktivitas Daily living.............................................................13
3.7 Penunjang...............................................................................14
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan………………………………………………. 22

BAB I
PENDAHULUAN

3
1.1 Latar Belakang
DHF (Dengue Haemorraghic Fever) pada masyarakat awam sering disebut sebagai
demam berdarah.
Menurut para ahli, demam berdarah Dengue disebut sebagai penyakit (terutama sering
dijumpai pada anak) yang disebabkan oleh virus Dengue dengan gejala utama demam,nyeri
otot, dan sendi diikuti dengan gejala pendarahan spontan seperti ; bintik merah pada
kulit,mimisan, bahkan pada keadaan yang parah disertai muntah atau BAB berdarah.
Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah
suatu penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue Famili Flaviviridae,dengan genusnya
adalah flavivirus. Virus ini mempunyai empat serotipe yang dikenal dengan DEN-1, DEN-2,
DEN-3 dan DEN-4. Selama ini secara klinik mempunyai tingkatan manifestasi yang berbeda,
tergantung dari serotipe virus Dengue. Morbiditas penyakit DBD menyebar di negara-negara
Tropis dan Subtropis.
Disetiap negara penyakit DBD mempunyai manifestasi klinik yang berbeda. Di
Indonesia Penyakit DBD pertama kali ditemukan pada tahun 1968 di Surabaya dan sekarang
menyebar keseluruh propinsi di Indonesia. Timbulnya penyakit DBD ditenggarai adanya
korelasi antara strain dan genetik, tetapi akhir-akhir ini ada tendensi agen penyebab DBD
disetiap daerah berbeda. Hal ini kemungkinan adanya faktor geografik, selain faktor genetik
dari hospesnya. Selain itu berdasarkan macam manifestasi klinik yang timbul dan tatalaksana
DBD secara konvensional sudah berubah. Infeksi virus Dengue telah menjadi masalah
kesehatan yang serius pada banyak negara tropis dan sub tropis.

1.2 Rumusan masalah


1. Apa pengertian dari DHF?
2. Bagaimana Etiologi dari DHF?
3. Apa saja manifestasi klinis yang timbul pada pasien DHF?
4. Bagaimana pathofisiologi dari DHF?
5. Apa saja komplikasi yang dapat tejadi pada DHF?
6. Apa saja klasifikasi dari DHF?
7. Apa saja pemeriksaan penunjang yang di lakukan pada pasien DHF?
8. Apa saja penatalaksaan yang dapat di lakukan pada pasien DHF?
9. Apa saja penatalaksaan yang dapat di lakukan pada Asuhan Keperawatan?

4
1.3 Tujuan
Mahasiswa dapat menjelaskan :
1. Definisi penyakit DHF pada anak
2. Etiologi penyakit DHF pada anak
3. Manifestasi klinik penyakit DHF pada anak
4. Pathofisiologi penyakit DHF pada anak
5. Komplikasi penyakit DHF pada anak
6. Klasifikasi penyakit DHF pada anak
7. Pemeriksaan penunjang pada anak
8. Penatalaksaan penyakit DHF pada anak
9. Asuhan Keperawatan

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

5
2.1 Definisi
Dengue Haemorhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue
sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan
nyamuk aedes aegypty (Christantie Efendy,1995).
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan orang
dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa
ruam. DHF sejenis virus yang tergolong arbo virus dan masuk kedalam tubuh penderita
melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (betina) (Seoparman , 1990).
Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa dengue haemorhagic
fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong
arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty yang
terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi
yang disertai ruam atau tanpa ruam.

2.2 Etiologi
Sekurang-kurangnya ada empat tipe antigenik virus dengue yang berbeda. Lagipula,
tiga virus yang dibawa arthopoda (arbo) lain menyebabkan penykit demam serupa atau
identik ruam. Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang dunia ke II,
sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953-1954. Virus
dengue berbentuk batang, bersifat termoragil, sensitif terhadap in aktivitas oleh diatiter dan
natrium diaksikolat, stabil pada suhu 70oC. Keempat serotif tersebut telah di temukan pula di
Indonesia dengan serotif ke 3 sebagai serotif yang paling banyak.
2.3 Patofisiologi
Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty dan kemudian
akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus-antibody. Dalam sirkulasi
akan mengaktivasi system komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan
C5a,dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamine dan merupakan mediator kuat
sebagai factor meningkatnya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan
plasma melalui endotel dinding itu.
Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor
koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan factor penyebab terjadinya perdarahan
hebat , terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.

6
Yang menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding
pembuluh darah , menurunnya volume plasma , terjadinya hipotensi , trombositopenia dan
diathesis hemorrhagic , renjatan terjadi secara akut.
Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel
dinding pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma klien mengalami hipovolemik.
Apabila tidak diatasi bisa terjadi anoxia jaringan, acidosis metabolic dan kematian.

2.4 Manifestasi Klinis


a. Demam tinggi selama 5 – 7 hari
b. Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi.
c. Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis, hematoma.
d. Epistaksis, hematemisis, melena, hematuri.
e. Nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan ulu hati.
f. Sakit kepala.
g. Pembengkakan sekitar mata.
h. Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening.
i. Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun,
gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).

2.5 Komplikasi
Adapun komplikasi dari penyakit demam berdarah diantaranya :
a. Perdarahan luas.
b. Shock atau renjatan.
c. Effuse pleura
d. Penurunan kesadaran.

2.6 Klasifikasi
a. Derajat I :
Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji turniket positi,
trombositopeni dan hemokonsentrasi.
b. Derajat II :
Manifestasi klinik pada derajat I dengan manifestasi perdarahan spontan di bawah
kulit seperti peteki, hematoma dan perdarahan dari lain tempat.

7
c. Derajat III :
Manifestasi klinik pada derajat II ditambah dengan ditemukan manifestasi kegagalan
system sirkulasi berupa nadi yang cepat dan lemah, hipotensi dengan kulit yang
lembab, dingin dan penderita gelisah.
d. Derajat IV :
Manifestasi klinik pada penderita derajat III ditambah dengan ditemukan manifestasi
renjatan yang berat dengan ditandai tensi tak terukur dan nadi tak teraba.

2.7 Pemeriksaan penunjang


a. Darah
1) Trombosit menurun.
2) HB meningkat lebih 20 %.
3) HT meningkat lebih 20 %.
4) Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3.
5) Protein darah rendah.
6) Ureum PH bisa meningkat.
7) NA dan CL rendah.
b. Serology : HI (hemaglutination inhibition test).
1) Rontgen thorax : Efusi pleura.
2) Uji test tourniket (+)

2.8 Penatalaksanaan
a. Tirah baring
b. Pemberian makanan lunak .
c. Pemberian cairan melalui infus.
Pemberian cairan intra vena (biasanya ringer lactat, nacl) ringer lactate merupakan
cairan intra vena yang paling sering digunakan , mengandung Na + 130 mEq/liter ,
K+ 4 mEq/liter, korekter basa 28 mEq/liter , Cl 109 mEq/liter dan Ca = 3 mEq/liter.
d. Pemberian obat-obatan: antibiotic, antipiretik,
e. Anti konvulsi jika terjadi kejang
f. Monitor tanda-tanda vital ( T,S,N,RR).
g. Monitor adanya tanda-tanda renjatan
h. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut

8
i. Periksa HB,HT, dan Trombosit setiap hari.

2.9 WOC

BAB III

PEMBAHASAN ASUHAN KEPERAWATAN KASUS DHF

9
1. Pengkajian

Biodata

a. Identitas Pasien

 Nama : An.N
 Umur : 4 tahun
 Jenis Kelamin : Perempuan
 Suku/ Bangsa : Jawa
 Agama : Islam
 Pekerjaan :–
 Pendidikan :–
 Alamat : Ds. Pecalon Timur Gg.Suci No.28Cirebon
 Ruang : 1D PUSPA
 Masuk Tanggal : 06 Februari 2011, Jam 08.24 WIB
 Diagnosa : DHF

b. Identitas Penanggung Jawab

 Nama :Tn.A
 Umur : 38 th
 Jenis Kelamin : Laki – laki
 Suku/ Bangsa : Jawa
 Agama : Islam
 Pekerjaan : Wiraswasta
 Hubungan dengan pasien : Ayah kandung
 Alamat : Ds. Pecalon Timur Gg.Suci no28Cirebon

2.Keluhan Utama/Ruang Lingkup Masalah Keperawatan

Pada saat dilakukan pengkajian keluarga pasien mengeluh demam, Sakit kepala, panas dan
tidak nafsu makan. dan pasien lemah sejak 6 hari yang lalu.

3. Riwayat Kesehatan

 Riwayat kesaehatan sekarang


10
Pasien datang pada tanggal 6 Februari jam 08.24 WIB melalui UGD. Keluarga pasien
mengeluh demam Sakit kepala, panas dan tidak nafsu makan.dan lemah sejak 6 hari yang
lalu, pasien di minumkan obat penurun panas namun tidak ada perbaikan. Keluhan disertai
dengan BAB cair, sulit makan, mual, muntah, batuk dan pilek

 Riwayat kesaehatan masa lalu

Keluarga pasien mengatakan sebelumnya pasien belum pernah dirawat di Rumah Sakit.

 Riwayat kesehaan keluarga

Keluarga pasien mangatakan bahwa dalam keluarganya, tidak ada yang pernah mengalami
penyakit seperti yang diderita oleh pasien sekarang.

4. Keadaan Umum

 Tingkat Kesadaran : Compos metis


 Tanda-tanda Vital (Minggu 6 Februari 2011)

Temperatur : 38֬C

Puls : 98 x/m

Respirasi : 24 x/m

Bera

 Penampilan Umum: Bersih

5. Pemeriksaan Fisik

 Kulit
o Warna Kulit : Sawo Matang

o Tekstur Kulit : Turgor Jelek

 Kuku
o Keadaan kuku :Normaldan bersih

o Warna : Merah muda

 Kepala
o Bentuk : Simetris dan Oval

o Keadaan rambut :Bersih, warna rambut hitam + putih menyebar

o Kulit kepala : Bersih

11
 Mata
o Sklera : Anikterik

o Konjungntifa : Ananemis

o Reflek cahaya : Baik, di tandai dengan bereaksi apabila disoroti


dengan cahaya.
o Pupil : Baik

o Hidung

 Fungsi penciuman : baik, terbukti pasien dapat mencium bau


obat.
 Bentuk : terlihat simetris
 Kelainan : tidak ada
 Serumen : tidak ada

 Telinga
o Fungsi pendengaran : baik, pasien bisa berkomunikasi dengan ibunya

o Bentuk : Simetris

o Keadaan : bersih

o Kelainan : tidak ada

o Serumen : tidak ada

 Mulut
o Fungi pengecapan : baik, terbukti dengan pasien dapat membedakan rasa
asin (garam), manis (gula)
o Kebersihan gigi dan : Bersih dan lembab

Mulut

 Kelainan bibir : tidak ada


 Warna lidah : Merah muda
 Bentuk lidah : Simetris

 Dada dan paru-paru


o Bentuk : Simetris

o Frekuensi nafas : normal (24 x/m)

o Pola nafas : teratur


12
o Kelainan : tidak ada

 Abdomen
o Bentuk : Simetris

o Nyeri Tekan : setelah dipalpasi ada nyeri tekan

 Ekstremitas
o Atas : Terpasang infusan RL ditangan sebelah kiri (20 x/m)

o Bawah : Dapat bergerak secara bebas

 Kekuatan Otot
o Reflek bisep : baik, ketika diberi pukulan refleks hammer langsung
bergerak refleks ke atas.
o Reflek trisep : baik, ketika diberi pukulan refleks hammer langsung
bergerak refleks ke samping
o Reflek patella : baik, ketika diberi pukulan refleks hammer langsung
bergerak refleks ke depan.
o Reflek Babynski : baik, ketika diberi pukulan refleks menarik kaki langsung
bergerak ke arah pasien

6. ACTIFITAS DAILY LIVING

No Jenis aktifitas Dirumah Dirumah sakit


1 Nutrisi Nasi Bubur
 Makan
o Frekuensi 3 x/hari 3x/hari

o Jenis Makanan Nasi Bubur


o Porsi makan
1 porsi 1/3 porsi
o Kesulitan
Tidak ada Mual
 Minum
8 gelas/hari 4 gelas/hari
o Frekuensi
Air putih Air putih
o Jenis air minum
Tidak ada Mual
Kesulitan
o
2 Persona Hyginie 2 x/hari 2 x / hari
 Frekuensi mandi
 Sikat gigi 2 x/hari 2 x / hari

 Frekuensi keramas 3 x/minggu Tidak pernah


13
3 Eliminasi Kuning Kuning
 Eliminasi Fecal
Lembek Lembek
Warna Feses
Tidak ada Tidak ada
Konsistensi Feses
2 x / hari Tidak tentu
Kelainan
Cair Cair
Frekuensi
Tidak ada Tidak ada
 Eliminasi Urine

Konsistensi Urine

Kelainan
4 Istirahat /Tidur Pukul 21.00 WIB Tidak tentu
 Mulai tidur
 Lamanya tidur 8 jam Tidak tentu

 Sering terjaga Tidak terjaga Sering terjaga

7. DATA PENUNJANG

 Pemeriksaan Labolatorium

No Tanggal Jenis Pemeriksaan Hasil Hasil normal


1 6 Februari 2011  Haemoglobin 14,0 gr 12-16 gr %4000-
%5.400/mm3 10000/mm3
 Leukosit
31,2 37-47 %
 Haemotokrit
 Thrombosit 130.000 150000-450000/mm3

 Program Terapy

No. Tanggal Jenis Terapy Ukuran


1 6 Februari 2011 Antrainsanmol 2 x ½ amp2 x ½ oral
Infus RL 20 ggt/menit
2 7 Februari 2011 Antrainsanmol 2 x ½ Amp2 x ½ oral

Ranitidhin 2 x 0.5 cc

Infus RL 20 gtt / menit


3 8 Februari 2011 Antrainsanmol 2 x ½ Amp2 x ½ oral

14
Ranitidhin 2 x 0.5 cc

Infus RL 20 gtt / menit


4 9 Februari 2011 Antrainsanmol 2 x ½ Amp2 x ½ oral

Ranitidhin 2 x 0.5 cc

Infus RL 20 gtt / menit

III.2 Analisa Data

No Data Etilogi Masalah


1 DS:-keluarga pasien mengatakan Proses insfeksi Peningkatan suhu tubuh
badannya panas sudah 6 hari

DO:

– Suhu tubuh 38C pada saat di


palpasi panas
2 DS :-keluarga pasien mengatakan Peningkatan suhu tubuh Kurangnya cairan dan
tidak suka minum. elektrolit

DO :

– pasien terlihat lemas

3 DS :- keluarga pasien mengatakan Menurunya nafsu makan Perubahan nutrisi kurang dari
pasien tidak mau makan dan mual kebutuhan

DO :

– makan yang di berikan tidak habis


4 DS :- keluarga pasien mengeluh cemas Gangguan rasa nyaman
pasien tidak bisa tidur

– keluarga pasien mengeluh pasien


cemas

DO :

– pasien nampak gelisah

III. 3 Prioritas Diagnosa Keperawatan

1. Peningkatan suhu tubuh


2. Kurangnya cairan dan elekrolit/ dehidrasi

15
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
4. Gangguan rasa nyaman

III.4 Asuhan Keperawatan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN.N USIA 4 TAHUN DENGAN DIAGNOSA DHF DI


RUANGAN 1 D PUSPA

RUMAH SAKIT TINGKAT III CIREMAI-CIREBON

NO Diagnosa Tujuan Perencanaan Evaluasi


Keperawatan Intervensi Implementasi
1. Gangguan rasa nyaman
berhubungan dengan
peningkatan suhu tubuh
di tandai dengan :

DS:

-keluarga pasien mengatakan badannya panas sudah 6 hari

DO:

– Suhu tubuh 38C pada saat di palpasi panasTU : Suhu tubuh kembali normal

TK : Menunjukkan tanda-tanda vital stabil- observasi TTV

– Anjurkan untuk kompres air hangat

– Anjurkan pasien banyak minum

– Anjurkan untuk memakai pakaian tipis dan menyerap keringat

– Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi- Mengobservasi TTV

– Mengajurkan untuk kompres air hangat

– Menganjurkan untuk banyak minum

– Menganjurkan untuk memakai pakaian tipis dan menyerap keringat

– Berkolaborasi dengan dokterS : Keluarga pasien mengatakan pasien masih panas

O : Suhu masih 38C

A : Masalah belum teratasi

P : Terapi lanjut
16
NO Diagnosa Tujuan Perencanaan Evaluasi
Keperawatan Intervensi Implementasi
2. Kurangnya cairan
elektrolit/ dehidrasi di
tandai dengan :

DS:

-keluarga pasien mengatakan pasien tidak mau minum.

-Keluarga pasien mengatakan BAB cair

DO:

– pasien nampak lemasTU : Kebutuhan cairan dan elektrolit terpenuhi.

TK :

-Menunjukkan tanda-tanda vital stabil

-Turgor kulit baik- Observasi TTV

– Anjurkan pasien banyak minum

– Ukur keluaran urine dengan akurat

– Berikan cairan infus

– Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi- Mengobservasi TTV

– Menganjurkan untuk banyak minum

– Mengatu tetesan infus

– Berkolaborasi dengan dokterS : Keluarga pasien mengatakan pasien masih lemas

O : pasien tampak lemas

A : Masalah belum teratasi

P : Terapi lanjut

NO Diagnosa Tujuan Perencanaan Evaluasi


Keperawatan Intervensi Implementasi
3. Perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan
di tandai dengan :

17
DS:

-.Keluarga pasien mengeluh pasien tidak mau makan dan mual

– DO:

– Makanan yang di berikan tidak habis

– Pasien nampak lemasTU : Kebutuhan Nutrisi terpenuhi.

TK :

-Bebas dari Malnutrisi

-Nafsu makan meningkat

-Pasien tidak lemas- Observasi TTV

– Berikan makanan sesuai diit

– Berikan kebersiha oral

– Sediakan makanan dalam kondisi hangat.

– Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi- Mengobservasi TTV

– Memberikan makanan sesuai diit

– Berkolaborasi dengan dokterS : Keluarga pasien mengatakan pasien masih belum mau
makan

O : pasien nampak lemas

A : Masalah belum teratasi

P : Terapi lanjut

NO Diagnosa Tujuan Perencanaan Evaluasi


Keperawatan Intervensi Implementasi
4. Gangguan istirahat
tidur di tandai dengan :

DS:

-.Keluarga pasien mengeluh pasien tidak bisa tidur

– Keluarga pasien mengeluh pasien cemas

DO:
18
– pasien tampak gelisahTU : Kebutuhan istirahat tidur terpenuhi.

TK :

-pasien bias tidur

-pasien tidak gelisah- Observasi TTV

– Atur posisi pasien sesuai kebutuhan

– Batasi pengunjung pada waktu istirahat

– Ciptakan suasana yang kondusif- Mengobservasi TTV

– Mengatur posisi pasien sesuai kebutuhan

– Membatasi pengunjung pada waktu istirahat

– Menciptakan suasana yang kondusif

S : Keluarga pasien mengatakan pasien masih lema belum bias tidur

O : pasien tampak gelisah

A : Masalah belum teratasi

PEMBAHASAN ASUHAN KEPERAWATAN KASUS DHF

1. Pengkajian

Biodata

a. Identitas Pasien
Nama : An.N
Umur : 4 Tahun
Jenis : Perempuan
Suku/bangsa : Jawa
Agama : Islam
Pekerjaan :-
Pendidikan :-
Alamat : Ds.Pecalon Timur Gg.Suci No.28Cirebon
Ruang : 1D PUSPA
Masuk Tanggal : 06 Februari 2011 Jam 08.24 WIB
19
Diagnosa : DHF

b. Identitas Penanggung Jawab


Nama : Tn.A
Umur : 38 th
Jenis kelamin : Laki laki
Suku / Bangsa : Jawa
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Hubungan dengan pasien: Ayah kandung

2. Keluhan Utama/Ruang Lingkup Masalah Keperawatan

Panas tinggi dan pusing

3. Riwayat Kesehatan

 Riwayat Kesehatan Sekarang

Pasien datang pada tanggal 6 februari jam 08.24 WIB melalui UGD. Keluarga
pasien mengeluh demam sakit kepala, panas dan tidak nafsu makan. Dan
lemah sejak 6 hari yang lalu, pasien di minumkan obat penurun panas namun
tidak ada perbaikan. Keluhan disertai dengan BAB cair, sulit makan, mual,
muntah,batuk dan pilek. Sehingga pasien dirawat di rumah sakit

 Riwayat Kesehatan Masa lalu

Keluarga pasien mengatakan sebelumnya pasien belum pernah dirawat di


Rumah Sakit.

 Riwayat Kesehatan Keluarga

Keluarga pasien mengatakan bahw daalaam keluarganya, tidak ada yang


menderita DHF

 Riwayat Kesehatan Lingkungan

Daerah yang masih kumuh, membuang sampah masih sembarangan banyak


genangan air.

4. PEMERIKSAAN FISIK

20
Tingkat kesadaran : Compos metis
TTV (Minggu 6 Februari 2011)
TD :
N : 98x/menit
RR: 24x/menit
S : 38 o C

5. PEMERIKSAAN PERSISTEM

A. Sistem Pernafasan

Hidung

Inspeksi :tidak ada pernafasan cuping hidung, tidak epistaksis (mimisan)

Palpasi :tidak nyeri tekan

Mulut

Inspeksi :mukosa bibir tidak sianosis

Leher

Inspeksi :tidak terdapat trakheostomi

Palpasi :nyeri tekan(-), massa(-)

Faring

Inspeksi :tidak terdapat odema

Area dada

Inspeksi :pergerakan dada simetris, pola nafas iregular

Palpasi :nyeri tekan pada epigastrik

Perkusi :pada seluruh lapang paru terdengar bunyi sonor

21
BAB IV

PENUTUP

IV.I KESIMPULAN

Dari hasil asuhan keperawatan yang telah di berikan pada An.N usia 4 tahun dengan diagnosa
DHF di ruang 1D puspa RST III ciremaicirebon.

Penulis dapat mengambil kesimpulan :

1. DHF adalah suatu infeksi arbovirus akut yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan
nyamuk spesies aides. Penyakit ini sering menyerang anak, remaja, dan dewasa yang
ditandai dengan demam, nyeri otot dan sendi.
2. Penulis menemukan 4 diagnosa keperawatan.
3. Dalam membuat rencana keperawatan penulis mengikuti konsep teori yaitu
perencanaan dibuat sesuai dengan kemampuan pasien akan tetapi rencana tidak
dilakukan secara sempurna karena disesuaikan dengan situasi, sarana, dan prasarana
yang ada.
4. Implementasi dilakukan sesuai dengan prioritas masalah dan pelaksanaannya
melibatkan pasien, keluarga, perawat ruangan dan tenaga kesehatan lain dan
disesuaikan dengan kondisi situasi.
5. pada tahap evaluasi, penulis mengevaluasi pasien hanya beberapa saat setelah diberi
tindakan karena disesuaikan dengan waktu yang tersedia.

22
6. pentingnya mendokumentasikan asuhan keperawatan sebagai responsibilitasi dan
akuntabilitas seorang perawat.

23