Anda di halaman 1dari 35

STUDI KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.Y


DIAGNOSE OSTEOPOROSIS DI RUMAH SAKIT ISLAM JOMBANG

DOSEN PEMBIMBING :
Alik Septian M, S.kep.,Ns.,M.Kes

Disusun Oleh :

1. DIA FITRIANA . (151001009)


2. MUFARIKHA TRI WAHYUNI (151001026)
3. NELAM ANGGRAINI (151001029)
4. NOVALIANO RABBANI S (151001031)
5. OKVITA TRI SUSANTI (151001035)
6. TITA HENI FEBRIANTI (151001041)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
(STIKES) PEMKAB JOMBANG
2015 / 2016

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karuni, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan TUGASSTUDI KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN Ny.Y DIAGNOSA OSTEOPOROSIS DI RUMAH SAKIT ISLAM
JOMBANG

Kami sangat berharap tugas ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan
dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi
perbaikan tugas yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga tugas sederhana ini dapat di pahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya
laporan praktikum yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang
berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Jombang, 14 November 2016

Penyusun

2
DAFTAR ISI

COVER ............................................................................................................................. I

KATA PENGANTAR ....................................................................................................... II

DAFTAR ISI ..................................................................................................................... III

BAB I PENDAHULAN
1.1 LATAR BELAKANG ......................................................................................... 01
1.2 TUJUAN PENULISAN ....................................................................................... 03

BAB II LAPORAN KASUS


2.1 PENGKAJIAN .................................................................................................... 04
2.2 RUMUSAN MASALAH ................................................................................... 07
2.3 RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN .................................................... 07
2.4 IMPLEMENTASI ............................................................................................... 08
2.5 EVALUASI ......................................................................................................... 09
BAB III PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN
3.1 PEMBAHASAN ................................................................................................. 10
3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN ......................................................................... 15
3.3 RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN ................................................... 16
3.4 IMPLEMENTASI .............................................................................................. 18
3.5 KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................................... 20

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 21

3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.LATAR BELAKANG MASALAH
Kesehatan sangat penting bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, sebagai tugas
kesehatan khususnya perawat memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan pengetahuan
dan keterampilan guna menunjang dan memberikan pelayanan yang baik. Perkembangan saat
ini, juga mempengaruhi gaya hidup atau pada kebawaan sehari – hari, misalnya kurangnya
olah raga dan kurangnya asupan makanan yang mengandung banyak kalsium dan protein
yang dapat menurunkan kepadatan tulang dan mengakibatkan osteoporosis(Sander,2011).
Osteoporosis merupakan masalah kesehatan dunia (global issue). Hal ini dikarenakan,
meskipun prevalensi osteoporosis tertinggi diderita oleh wanita usia lanjut, namun
berdasarkan penelitian ditemukan bahwa prevalensi kejadian osteoporosis pada pria
meningkat dibandingkan sebelumnya. Selain itu, diketahui bahwa osteoporosis kini diderita
pada kelompok usia yang lebih muda (Ilyas,2005).
Osteoporosis mencuri kekuatan mineral dari tulang tanpa disadari. Meninggalkan
lubang – lubang besar di dalam struktur sarang lebah dari bagian dalam atau bagian
trabecular. Tulang pun menjadi lemah dan rapuh, mudah patah jika terkena sedikit benturan,
dan hal ini sama sekali tidak di sadari. Oleh sebab itu, penyakit ini dikenal juga sebagai silent
epidemic (Gomez,2006).
Menurut National Institute of Health (NIH), 2001 Osteoporosis adalah kelainan
kerangka, ditandai dengan kekuatan tulang mengkhawatirkan dan dipengaruhi oleh
meningkatnya risiko patah tulang. Sedangkan kekuatan tulang merefleksikan gabungan dari
dua faktor, yaitu densitas tulang dan kualitas tulang (Junaidi, 2007).
Osteoporosis adalah penyakit tulamg sitemik yang ditandai oleh penurunan
mikroarsitektur tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Pada tahun
2001, National Institute of Health (NIH) mengajukan definisi baru osteoporosis sebagai
penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh compromised bone strength sehingga tulang
mudah patah ( Sudoyo, 2009 ).

4
Osteoporosis kini menjadi salah satu penyebab penderita dan cacat pada kaum lanjut
usia. Bila ditangani, osteoporosis dapat mengakibatkan patah tulang, cacat tubuh, bahkan
timbul kompliksi hingga terjadi kematian. Resiko patah tulang bertambah dengan
meningkatnya usia. Pada usia 80 tahun, satu dari tiga wanita dan satu dari lima pria beresiko
mengalami patah tulang panggul atau tulang belakang. Sementara, mulai usia 50 tahun
kemungkinan mengalami patah tulang bagi wanita adalah 40%, sedangkan pada pria 13%
(Tandra,2009).
Catatan pada tahun 2003 di Amerika, patah tulang belakang setiap tahun mencapai
1.200.000 kasus. Ini jauh melebihi jumlah serangan jantung (410.000), stroke (371.000), dan
kangker payudara (239.300). Bahkan dikatakan bahwa tiap 20 detik, osteoporosis
menimbulkan patah tulang(Tandra,2009)
Berdasarkan data dari Third national health and nutrition examination survey yang
mencangkup pengukuran densitas mineral tulang pada pinggul, 20% wanita dan 5% pria
berusia 50 tahun ke atas di Amerika Serikat menderita osteoporosis. Kira kira 250.000 kasus
patah tulang pinggul terjadi tiap tahunnya. Dari data disimpulkan bahwa pria dan wanita
mengalami patah tulang memiliki tingkat mortalitas tinggi, sedangkan yang berhasil sembuh
setelah dirawat memiliki resiko cacat jangka panjang(Lane,2003)
Di inggris, satu dari tiga wanita dan satu dari dua belas pria di atas umur 50 tahun
akan mengalami fraktur karena osteoporosis sepanjang hidupnya. Di Australia, osteoporosis
bertambah dari 15% pada wanita usia 60 – 64 tahun menjadi 71% pada usia 80 tahun; dan
bagi pria dengan usia yang sama, angka meningkat dari 1,6% menjadi 19%(Tandra,2009).
Menurut hasil analisa data yang dilakukan oleh Puslitbang Gizi Depkes pada 14
provinsi menunjukan bahwa masalah osteoporosis di Indonesia telah mencapai pada tingkat
yang perlu di waspadai yaitu 19,7%. Itulah sebabnya kecenderungan osteoporosis di
Indonesia 6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan negeri Belanda. Lima provinsi dengan
resiko osteoporosis lebih tinggi adalah Sumatra Selatan (27,7%), Jawa Tengah (24,02%),
Yogyakarta (23,5%) Sumatra Utara (22,82%), Jawa Timur (21,42%), dan Kalimantan Timur
(10,5%).(Depkes RI, 27 desember 2004).
Pada tahun 2006, berdasarkan analisis data dan resiko osteoporosis yang dilakukan
Departemen Kesehatan RI bersama PT. Fonterra Brands Indonesia, prevalensi osteoporosis
di Indonesia saat ini telah mencapai 41,75%. Artinya, setiap hari dua dari lima penduduk

5
Indonesia memiliki resiko untuk terkena osteoporosis. Hal ini lebih tinggi dari prevalensi
dunia yang hanya satu dari tiga beresiko osteoporosis(Era Baru News, 03 November 2008).
Osteoporosis seharusnya dapata dicegah dan di obati. Cara yang paling tepat
mencegah osteoporosis adalah dengan membudidayakan prilaku hidup sehat yang yaitu
dengan mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang yang memenuhi kebutuhan nutrisi
dengan unsur kaya serat, rendah lemak, dan kaya kalsium (1,000 – 2,000 mg kalsium per hari
), berolah raga secara teratur , tidak merokok, dan tidak mengkonsumsi alkohol. Merokok dan
mengkonsumsi alkohol yang tinggi dapat meningkatkan resiko osteoporosis 2x lipat (DepKes
RI, 27 September 2004)
Kelalaian atau ketidak waspadaan mengakibatkan banyak kasus patah tulang
bermunculan. Biaya kesehatan untuk masalah yang berkaitan dengan osteoporosis
sangatlah besar. 20 miliar dollar per tahun untuk 250juta penduduk Amerika Serikat dan
940 Poundsterling untuk 60juta pendudk inggris. Angka – angka ini terus meningkat
bersama dengan peningkatan jumlah penderita sebesar 10% pertahun(Gomez,2006)
Dari latar belakang tersebut, penulis tertarik melakukan pengelolahan kasus
keperawatan dalam bentuk Karya Tulis Ilmia dengan judul

1.2.TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan karya tulis ilmia ini, antara lain sebagai berikut :
1. Tujuan Umum
Melaporkan kasus osteoporosis dan mampu menerapkan asuhan keprawatan dengan
menggunakan penekatan proses keprawatan yang utuh dan komprehensif pada Ny.Y
2. Tujuan Khusus
a. Penulis mampu melakukan pengkajian pada Ny.Y
b. Penulis mampu merumuskan diagnose keperawatan pada Ny.Y
c. Penulis mampu menyusun rencana keperawatan pada Ny.Y
d. Penulis mampu melakukan implementasi keprawatan pada Ny.Y
e. Penulis mampu melakukan evaluasi pada Ny. Y
f. Penulis mampu menganalisa kondisi pasien saat menjalani perawatan

6
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1.PENGERTIAN
Osteoporosis berasal dari kata osteo dan porous, osteo artinya tulang,
dan porous berarti berlubang-lubang atau keropos. Jadi, osteoporosis adalah tulang
yang keropos, yaitu penyakit yang mempunyai sifat khas berupa massa tulangnya
rendah atau berkurang, disertai gangguan mikro-arsitektur tulan

g dan penurunan kualitas jaringan tulang yang dapat menimbulkan


kerapuhan tulang (Tandra, 2009).

Menurut WHO pada International Consensus Development Conference, di


Roma, Itali, 1992 Osteoporosis adalah penyakit dengan sifat-sifat khas berupa
massa tulang yang rendah, disertai perubahan mikroarsitektur tulang, dan
penurunan kualitas jaringan tulang, yang pada akhirnya menimbulkan akibat
meningkatnya kerapuhan tulang dengan resiko terjadinya patah tulang (Suryati,
2006).

Menurut National Institute of Health (NIH), 2001 Osteoporosis adalah


kelainan kerangka, ditandai dengan kekuatan tulang mengkhawatirkan dan
dipengaruhi oleh meningkatnya risiko patah tulang. Sedangkan kekuatan tulang
merefleksikan gabungan dari dua faktor, yaitu densitas tulang dan kualitas tulang
(Junaidi, 2007).

Osteoporosis adalah penyakit tulamg sisitemik yang ditandai oleh


penurunan mikroarsitektur tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah.
Pada tahun 2001, National Institute of Health (NIH) mengajukan definisi baru
osteoporosis sebagai penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh compromised
bone strength sehingga tulang mudah patah ( Sudoyo, 2009 ).

Klasifikasi Osteoporosis dibagi 2 kelompok, yaitu :

a. Osteoporosis Primer

7
Osteoporosis primer berhubungan dengan kelainan pada tulang, yang
menyebabkan peningkatan proses resorpsi di tulang trabekula sehingga
meningkatkan resiko fraktur vertebra dan Colles. Pada usia decade awal pasca
menopause, wanita lebih sering terkena dari pada pria dengan perbandingan 68:1
pada usia rata-rata 53-57 tahun.

a. Tipe I adalah terjadi akibat berkurangnya produksi hormon estrogen. Hormon estrogen
pada wanita memiliki fungsi penting yaitu mengatur dan mendistribusikan kalsium dari
dalam darah. Bentuk osteoporosis ini disebabkan oleh percepatan resorpsi tulang yang
berlebihan dan lama setelah penurunan sekresi hormon estrogen pada masa menopouse.

Osteoporosis pascamenopause terjadi karena kurangnya hormon estrogen (hormon


utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium kedalam tulang.
Biasanya gejala timbul pada perempuan yang berusia antara 51-75 tahun, tetapi dapat
muncul lebih cepat atau lebih lambat. Hormon estrogen produksinya menurun 2-3 tahun
sebelum menopause dan terus berlangsung 3-4 tahun setelah menopause. Hal ini
berakibat menurunnya massa tulang sebanyak 1-3% dalam waktu 5-7 tahun pertama
setelah menopause.

b. Tipe II terjadi pada orang lanjut usia, baik pria mupun wanita.
Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang
berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan antara kecepatan hancurnya
tulang (osteoklas) dan pembentukan tulang baru(osteoblast). Senilis berati bahwa
keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada orang-orang
berusia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering wanita. Wanita sering kali menderita
osteoporosis senilis dan pasca menopause.

b. Osteoporosis Sekunder

Osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit (gagal ginjal kronis dan


kelainan hormonal terutama tiroid, paratiroid dan adrenal) atau sebab lain diluar
tulang (obat-obatan). Osteoporosis sekunder terutama disebabkan oleh penyakit

8
tulang erosif dan akibat obat-obatan yang toksik untuk tulang ( glukokortikoid).
Kurang dari 5% penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis sekunder yang
disebakan oleh keadaan medis lain atau obat-obatan. Penyakit ini bisa disebabkan
oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid, dan
adrenal) serta obat-obatan (mislnya kortikosteroid, barbiturat, anti kejang, dan
hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dapat
memperburuk keadaan ini.

c. Osteoporosis Juvenile idiopatik

Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang


penyebabnya tidak diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang
memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal, dan
tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.

2.2.ETIOLOGI
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengurangan massa tulang pada usia lanjut:
1. Determinan Massa Tulang
a. Faktor genetik
Perbedaan genetik mempunyai pengaruh terhadap derajat kepadatan tulang.
Beberapa orang mempunyai tulang yang cukup besar dan yang lain kecil. Sebagai
contoh, orang kulit hitam pada umumnya mempunyai struktur tulang lebih
kuat/berat dari pada bangsa Kaukasia. Jadi seseorang yang mempunyai tulang kuat
(terutama kulit Hitam Amerika), relatif imun terhadap fraktur karena osteoporosis.
b. Faktor mekanis
Beban mekanis berpengaruh terhadap massa tulang di samping faktor genetik.
Bertambahnya beban akan menambah massa tulang dan berkurangnya beban akan
mengakibatkan berkurangnya massa tulang. Kedua hal tersebut menunjukkan
respons terhadap kerja mekanik Beban mekanik yang berat akan mengakibatkan
massa otot besar dan juga massa tulang yang besar. Sebagai contoh adalah pemain
tenis atau pengayuh becak, akan dijumpai adanya hipertrofi baik pada otot maupun
tulangnya terutama pada lengan atau tungkainya, sebaliknya atrofi baik pada otot

9
maupun tulangnya akan dijumpai pada pasien yang harus istrahat di tempat tidur
dalam waktu yang lama, poliomielitis atau pada penerbangan luar angkasa.
Walaupun demikian belum diketahui dengan pasti berapa besar beban mekanis
yang diperlukan dan berapa lama untuk meningkatkan massa tulang di sampihg
faktor genetik.
c. Faktor makanan dan hormon
Pada seseorang dengan pertumbuhan hormon dengan nutrisi yang cukup
(protein dan mineral), pertumbuhan tulang akan mencapai maksimal sesuai dengan
pengaruh genetik yang bersangkutan. Pemberian makanan yang berlebih (misainya
kalsium) di atas kebutuhan maksimal selama masa pertumbuhan, disangsikan dapat
menghasilkan massa tulang yang melebihi kemampuan pertumbuhan tulang yang
bersangkutan sesuai dengan kemampuan genetiknya.

2. Determinan penurunan Massa Tulang


a. Faktor genetik
Pada seseorang dengan tulang yang kecil akan lebih mudah mendapat
risiko fraktur dari pada seseorang dengan tulang yang besar. Sampai saat ini tidak
ada ukuran universal yang dapat dipakai sebagai ukuran tulang normal. Setiap
individu mempunyai ketentuan normal sesuai dengan sitat genetiknya serta beban
mekanis den besar badannya. Apabila individu dengan tulang yang besar,
kemudian terjadi proses penurunan massa tulang (osteoporosis) sehubungan
dengan lanjutnya usia, maka individu tersebut relatif masih mempunyai tulang
lebih banyak dari pada individu yang mempunyai tulang kecil pada usia yang
sama.
b. Faktor mekanis
Faktor mekanis mungkin merupakan yang terpenting dalarn proses
penurunan massa tulang schubungan dengan lanjutnya usia. Walaupun demikian
telah terbukti bahwa ada interaksi panting antara faktor mekanis dengan faktor
nutrisi hormonal. Pada umumnya aktivitas fisis akan menurun dengan
bertambahnya usia; dan karena massa tulang merupakan fungsi beban mekanis,
massa tulang tersebut pasti akan menurun dengan bertambahnya usia.

10
c. Kalsium
Faktor makanan ternyata memegang peranan penting dalam proses
penurunan massa tulang sehubungan dengan bertambahnya usia, terutama pada
wanita post menopause. Osteoporosis primer paling sering terjadi pada wanita,
yang disebabkan kadar hormon estrogennya rendah. Berdasarkan teori, puncak
massa tulang terjadi pada usia 30 tahun baik pada wanita dan pria. Jika puncak
massa tulang tidak tercapai maka wanita rentan terkena penyakit osteoporosis.
Puncak massa tulang pada wanita banyak tidak tercapai karena konsumsi
kalsiumnya rendah (meningkat saat hamil dan masa menyusui). Asupan kalsium
orang Indonesia sangat rendah yaitu tidak sampai 300 mg (hanya 254 mg per hari),
padahal seharusnya setiap hari konsumsi kalsium sebanyak 1000 mg. Kemudian.
setelah puncak massa tulang tercapai pun tetap harus dijaga dengan asupan kalsium
yang cuku kalsium, merupakan nutrisi yang sangat penting. Wanita-wanita pada
masa peri menopause, dengan masukan kalsiumnya rendah dan absorbsinya tidak
bak, akan mengakibatkan keseimbangan kalsiumnya menjadi negatif, sedang
mereka yang masukan kalsiumnya baik dan absorbsinya juga baik, menunjukkan
keseimbangan kalsium positif. Dari keadaan ini jelas, bahwa pada wanita masa
menopause ada hubungan yang erat antara masukan kalsium dengan keseimbangan
kalsium dalam tubuhnya. Pada wanita dalam masa menopause keseimbangan
kalsiumnya akan terganggu akibat masukan serta absorbsinya kurang serta eksresi
melalui urin yang bertambah. Hasil akhir kekurangan/kehilangan estrogen pada
masa menopause adalah pergeseran keseimbangan kalsium yang negatif, sejumiah
25 mg kalsium sehari.
d. Protein
Protein juga merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi penurunan
massa tulang. Makanan yang kaya protein akan mengakibatkan ekskresi asam
amino yang mengandung sulfat melalui urin, hal ini akan meningkatkan ekskresi
kalsium. Pada umumnya protein tidak dimakan secara tersendiri, tetapi bersama
makanan lain. Apabila makanan tersebut mengandung fosfor, maka fosfor tersebut
akan mengurangi ekskresi kalsium melalui urin. Sayangnya fosfor tersebut akan
mengubah pengeluaran kalsium melalui tinja. Hasil akhir dari makanan yang

11
mengandung protein berlebihan akan mengakibatkan kecenderungan untuk terjadi
keseimbangan kalsium yang negative.
e. Estrogen
Berkurangnya/hilangnya estrogen dari dalam tubuh akan mengakibatkan
terjadinya gangguan keseimbangan kalsium. Hal ini disebabkan oleh karena
menurunnya eflsiensi absorbsi kalsium dari makanan dan juga menurunnya
konservasi kalsium di ginjal.
f. Rokok dan kopi
Merokok dan minum kopi dalam jumlah banyak cenderung akan
mengakibatkan penurunan massa tulang, lebih-lebih bila disertai masukan
kalsium yang rendah. Mekanisme pengaruh merokok terhadap penurunan massa
tulang tidak diketahui, akan tetapi kafein dapat memperbanyak ekskresi kalsium
melalui urin maupun tinja.
g. Alkohol
Alkoholisme akhir-akhir ini merupakan masalah yang sering ditemukan.
Individu dengan alkoholisme mempunyai kecenderungan masukan kalsium rendah,
disertai dengan ekskresi lewat urin yang meningkat. Mekanisme yang jelas belum
diketahui dengan pasti .

2.3.PATOFISIOLOGI
Remodeling tulang normal pada orang dewasa akan meningkatkan massa tulang
sampai sekitar usia 35 tahun. Genetik, nutrisis, gaya hidup ( merokok, minum kopi ),
dan aktivitas fisik mempengaruhi puncak massa tulang. Kehilangan karena usia mulai
segera setelah tercapai puncaknya massa tulang. Menghilangnya estrogen pada saat
menopause mengakibatkan percepatan reabsorbsi tulang dan berlangsung terus selama
tahun-tahun pascamenopouse.
Faktor nutrisi mempengaruhi pertumbuhan osteoporosis. Vitamin D penting untuk
absorbsi kalsium dan untuk mineralisasi tulang normal. Diet mengandung kalsium dan
vitamin D harus mencukupi untuk mempertahankan remodeling tulang dan fungsi
tubuh. Asupan kalsium dan vitamin D yang tidak mencukupi selam bertahun-tahun
mengakibatkan pengurangan massa tulang dan pertumbuhan osteoporosis.

12
2.4.MANIFESTASI
Osteoporosis dimanifestasikan dengan :
1. Nyeri dengan atau tanpa fraktur yang nyata
2. Nyeri timbul mendadak
3. Sakit hebat dan terlokalisasi pada vertebra yang terserang
4. Nyeri berkurang pada saat istirahat di tempat tidur
5. Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan akan bertambah jika melakukan
aktivitas
6. Deformitas vertebra thorakalis Penurunan tinggi badan
2.5.KOMPLIKASI
Osteoporosis mengakibatkan tulang secara progresif menjadi panas, rapuh dan
mudah patah. Osteoporosis sering mengakibatkan fraktur. Bisa terjadi fraktur
kompresi vertebra torakalis dan lumbalis, fraktur daerah kolum femoris dan daerah
trokhanter, dan fraktur colles pada pergelangan. Osteoporosis sering mengakibatkan
fraktur kompresi. Fraktur kompresi ganda vertebra mengakibatkan deformitas skelet
tangan.
2.6.PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan Medis
A. Pengobatan

1. Meningkatkan pembentukan tulang, obat-obatan yg dapat meningkatkan


pembentukan tulan adalah Na-fluorida dan steroid anabolik
2. Menghambat resorbsi tulang, obat-obatan yang dapat mengahambat resorbsi
tulang adalah kalsium, kalsitonin, estrogen dan difosfonat.

B. Pencegahan

Pencegahan sebaiknya dilakukan pada usia pertumbuhan/dewasa muda, hal ini


bertujuan:
1. Mencapai massa tulang dewasa (Proses konsolidasi) yang optimal
2. Mengatur makanan dan life style yang menjadikan seseorang tetap bugar
seperti:
a. Diet mengandung tinggi kalsium (1000 mg/hari)

13
b. Latihan teratur setiap hari

c. Hindari :

1. Makanan tinggi protein


2. Minum alkohol
3. Merokok
4. Minum kopi
5. Minum antasida yang mengandung aluminium

2. Penatalaksanaan Keperawatan

a. Membantu klien mengatasi nyeri.


b. Membantu klien dalam mobilitas.
c. Memberikan informasi tentang penyakit yang diderita kepada klien.
d. Memfasilitasikan klien dalam beraktivitas agar tidak terjadi cedera.

2.7.PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK/PENUNJANG
a. Pemeriksaan radiologik
Dilakukan untuk menilai densitas massa tulang sangat tidak sensitif.
Gambaran radiologik yang khas pada osteoporosis adalah penipisan
korteks dan daerah trabekuler yang lebih lusen.Hal ini akan tampak pada
tulang-tulang vertebra yang memberikan gambaran picture-frame
vertebra.
b. Pemeriksaan densitas massa tulang (Densitometri)
Densitometri tulang merupakan pemeriksaan yang akurat dan untuk
menilai densitas massa tulang, seseorang dikatakan menderita
osteoporosis apabila nilai BMD ( Bone Mineral Density ) berada dibawah
-2,5 dan dikatakan mengalami osteopenia (mulai menurunnya kepadatan
tulang) bila nilai BMD berada antara -2,5 dan -1 dan normal apabila nilai
BMD berada diatas nilai -1.

14
Beberapa metode yang digunakan untuk menilai densitas massa tulang:

1. Single-Photon Absortiometry (SPA)


Pada SPA digunakan unsur radioisotop I yang mempunyai energi photon
rendah guna menghasilkan berkas radiasi kolimasi tinggi. SPA digunakan
hanya untuk bagian tulang yang mempunyai jaringan lunak yang tidak
tebalseperti distal radius dan kalkaneus.
2. Dual-Photon Absorptiometry (DPA)
Metode ini mempunyai cara yang sama dengan SPA. Perbedaannya
berupa sumber energi yang mempunyai photon dengan 2 tingkat energi
yang berbeda guna mengatasi tulang dan jaringan lunak yang cukup tebal
sehingga dapat dipakai untuk evaluasi bagian-bagian tubuh dan tulang
yang mempunyai struktur geometri komplek seperti pada daerah leher
femur dan vetrebrata.
3. Quantitative Computer Tomography (QCT)
Merupakan densitometri yang paling ideal karena mengukur densitas
tulang secara volimetrik.

c. Sonodensitometri

Sebuah metode yang digunakan untuk menilai densitas perifer dengan


menggunakan gelombang suara dan tanpa adanya resiko radiasi.

d. Magnetic Resonance Imaging (MRI)

MRI dalam menilai densitas tulang trabekula melalui dua langkah yaitu pertama
T2 sumsum tulang dapat digunakan untuk menilai densitas serta kualitas
jaringan tulang trabekula dan yang kedua untuk menilai arsitektur trabekula.

e. Biopsi tulang dan Histomorfometri

Merupakan pemeriksaan yang sangat penting untuk memeriksa kelainan


metabolisme tulang.

f. Radiologis
Gejala radiologis yang khas adalah densitas atau masa tulang yang menurun
yang dapat dilihat pada vertebra spinalis. Dinding dekat korpus vertebra

15
biasanya merupakan lokasi yang paling berat. Penipisa korteks dan hilangnya
trabekula transfersal merupakan kelainan yang sering ditemukan. Lemahnya
korpus vertebra menyebabkan penonjolan yang menggelembung dari nukleus
pulposus ke dalam ruang intervertebral dan menyebabkan deformitas bikonkaf.
g. CT-Scan
CT-Scan dapat mengukur densitas tulang secara kuantitatif yang
mempunyai nilai penting dalam diagnostik dan terapi follow up. Mineral
vertebra diatas 110 mg/cm3 baisanya tidak menimbulkan fraktur vetebra atau
penonjolan, sedangkan mineral vertebra dibawah 65 mg/cm3 ada pada hampir
semua klien yang mengalami fraktur.
h. Pemeriksaan Laboratorium
2. Kadar Ca, P, Fosfatase alkali tidak menunjukkan kelainan yang nyata.
3. Kadar HPT (pada pascamenoupouse kadar HPT meningkat) dan Ct
(terapi ekstrogen merangsang pembentukkan Ct)
4. Kadar 1,25-(OH)2-D3 absorbsi Ca menurun.
5. Eksresi fosfat dan hidroksipolin terganggu sehingga meningkat kadarnya

16
BAB III
LAPORAN KASUS

3.1.PENGKAJIAN
Pengkajian penulis menggunakan allonamnesa. Uatonamnesa . serta catatan
keperawatan yang dilakukan pada tanggal 12 November 2015 pukul 08:00 dan didapatkan
data identitas pasien. Pasien bernama Ny.Y yang tinggal di Dusun Sidowaras Rt 002/Rw
006 Desa Sumbermulyo Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang. Usia 58 tahun. Jenis
kelamin perempuan. Bekerja sebagai pedagang pecel pendidikan terahir SD. Ny.Y masuk
RSI Jombang pada tanggal 11 November 2015 melalui IGD dengan diagnose medis
“Osteoporosis”. Selama di rumah sakit. Penanggung jawab dari Ny.Y yaitu saudari Tn.P
yang merupakan suami dari Ny.Y.
Berdasarkan pengkajian riwayat penyakit. Ny .Y mengatakan ngilu yang sering
dirasakannya pada saat sholat terasa nyeri dibagian punggung sejak 3 bulan yang lalu,
namun Ny. Y tidak memperdulikannya. Ketika 2 bulan kemudian pasien memeriksakan
diri ke dokter Ny. Y dianjurkan untuk tes darah dan rongent. Hasil rongent menunjukkan
bahwa Ny. S menderita osteoporosis diperkuat lagi dengan hasil BMD T-score -3. Klien
mengalami menopause sejak 6 tahun yang lalu. Menurut klien dirinya tidak suka minum
susu sejak usia muda dan tidak menyukai makanan laut. Klien beranggapan bahwa
keluhan yang dirasakannya karena usianya yang bertambah tua. Riwayat kesehatan
sebelumnya diketahui bahwa klien tidak pernah mengalami penyakit seperti DM dan
hipertensi dan tidak pernah dirawat di RS.
Pada tanggal 11 November 2016. Ny .Y datang ke IGD Rumah Sakit Islam
Jombang untuk memeriksa keadaannya. Karena Ny.Y mengeluh nyeri skala 4 pada
pinggulnya maka perawat melakukan pertologan pertama setelah di lakukan tindakan.
Ny.Y di bawah ke ruangan rawat inap pada pukul 08:00 perawat melakukan observasi
pada daerah yang nyeri apakah masih terasa dan pada jam 08:45 perawat memindahkan
pasien ke poli tulang untuk di lakukan tindakan CT scant atau X ray apakah pasien
mengalami fraktur yang parah.

17
Pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 12 November 2015 pukul 08:00 WIB.
Ny. Y mengeluh nyeri bagian punggung saat digerakan dengan skala nyeri 4(rentang
nyeri 0-10). Dan nyeri yang dirasakan hilang timbul. Pasien tampak lemah dan meringis
kesakitan kesadaran : compos mentis. Di ruangan bromo III Ny.Y terpasang infus RL 20
tetes per menit pada tangan sebelah kanan. Mendapat terapi injeksi ketrobat 3ml/8jam
untuk mengurangi rasa nyeri (analgetik). Tanda – tanda vital meliputi tekanan darah
130/90 mmHg, nadi 80x/menit, pernafasan 20x/mnt, dan suhu 36,70 C
Pada riwayat penyakit yang pernah dialami, Ny.Y mengatakan tidak mempunyai
penyakit yang spesifik. Belum pernah mengalami kecelakaan, dan belum pernah di rawat
di rumah sakit, maupun menjalani oprasi. Ny.Y mengatakan alergi terhadap makan cepat
saji misalnya : pop mie, sarden kaleng, dan sejenisnya.
Pada riwayat kesehatan keluarga. Ny.Y mengatakan dalam keluarganya tidak ada
yang memiliki penyakit keturunan maupun menular seperti : Hipertensi, Diabetes Militus,
Hepatitis, dan lain lain. Ny. Y merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Sedangkan
suami Ny.Y anak kedua dari sembilan bersaudara. Ny.Y memiliki tiga orang anak.
Menurut Gordon. Pola kesehatan fungsional terdiri dari 11 yang terdiri dari: pola
presepsi dan pemeliharaan kesehatan, pola nutrisi dan eliminasi pola aktivitas dan latian,
pola istirahat tidur, pola kognitif dan perseptul, pola prepepsi dan konsep diri. Pola
hubungan dan peran pola seksualitas dan reproduksi, pola mekanisme koping pola nilai
dan keyakinan.
Pada kasus ini. Ny.Y mengalami masalah pada pola kogitif dan perspetual yaitu
sebelum sakit Ny.Y mengatak an tidak mengalami ganguan fungsi penglihatan,
pendengaran, perasaan, dan pembauan. Pasien mengatakan nyeri pada bagian punggung.
Kualitas nyeri perih dan seperti tulangnya inggin patah. Skala nyeri 4 (0-10). Nyeri
dirasakan hilang timbul. Pasien tampak lemah dan meringis kesakitan.
Pada pemeriksaan fisik. Kesadaran Ny.Y composmentis dengan nilai GCS 15( E4
V5 M6). Tekana darah 130/90 mmHg. Nadi 80x/menit. Pernapasan 20x/mnt. Suhu 36.70C.
pada pemeriksaan musculoskeletal dan integumen dilakukan dengan cara inspeksi,
auskutasi, perkusi, palpasi (IPPA). Inspeksi pasien kifosis atau gibbus, penurunan tinggi
badan, kesulitan berjalan, palpasi nyeri spinal, auskoltasi di dapatkan bunyi krek” saat di
gerakan terlalu keras.

18
Pemeriksaan penunjang yang di lakukan Ny.Y. Meliputi pemeriksaan labolatorium
BMD (Bone Mineral Density) dan rontgen. Hasil dari pemeriksaan labolatorium
tanggal 11 november 2015

Parameter Hasil Satuan Nilai normal interpretas

Darah Lengkap :

N,

Hb 14 gr% 14-16 Normal

AL (angka leukosit) 11 ribu/ul 4-11 Normal

AE (angka eritrosit) 4,76 juta/ul 4,5-5,5 Normal

AT (angka trombosit) 350 ribu/ul 150-450 Normal

HMT 42,4 % 42-52 Normal

Albumin 2,74 mg/dl 3,5-5,5 Normal

Natrium 137,2 mmol/l 135-148 Normal

Kalium 4,32 mmol/l 3,5-5,3 Normal

Klorida 102,0 mmol/l 98-107 Normal

Glukosa Sewaktu 95 gr/dl <105 Normal

 Foto polos sendi (roentgen) :-


 Pemeriksaan cairan sendi : Dijumpai peningkatan kekentalan cairan sendi
 Pemeriksaan BMD (Bone Mineral Density) : T- score - 3 ( Penyusutan massa tulang)
 Terapi medis :

a) Oksigen Canul 4
b) Infus RL 20 tpm
c) Ketorolac
d) Ranitidin

19
3.2.PERUMUSAN MASALAH
Pada kasus Ny.Y dari hasil pengkajian didapatkan data subjektif “pasien mengatakan
nyeri bagian punggung saat digerakan dengan skala nyeri 4(rentang nyeri 0-10). Dan
nyeri yang dirasakan hilang timbul. Tanda – tanda vital meliputi tekanan darah 130/90
mmHg, nadi 80x/menit, pernafasan 20x/mnt, dan suhu 36,70 C. maka penulis melakukan
analisa data sehingga dapat diangkat masalah keperawatan utama nyeri akut. Berdasarkan
hasil perumusan masalah tersebut. Penulis menegakkan diagnose keperawatan utama
nyeri kronis berhubung dengan agen fraktur karena pengikisan tulang

3.3. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


Rencana tindakankeperawatan yang di lakukan pada Ny.Y dengan tujuan dan kriteria
hasil yaitu setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam. Diharapkan nyeri
teratasi dengan kriteria hasil yaitu pasien mengatakan nyeri bagian punggung saat
digerakan dengan skala nyeri 4(rentang nyeri 0-10). Dan nyeri yang dirasakan hilang
timbul. Pasien tampak rileks. Pasien tanpak meringis kesakitan dan tanda tanda vital
dalam batas ada yang normal ada yang menghawatirkan (tekanan darah) 130/90 mmHg,
nadi 60-100 x/mnt, pernapasan 16-24 x/mnt, suhu 36-37,50C.
Perencanaan yang dilakuakan untuk mengatasi masalah keperawatan pada Ny.Y
antara lain obsevasi tanda tanda vital dengan rasional mengetahui perkembangan lebih
lanjut. Kaji karatieristik nyeri dengan rasional dapat menentukan terapi yang akan
dilakukan. Berikan posisi nyaman (suprine atau semi-fowler) dengan rasional agar pasien
rileks dan membantu mengurangi rasa nyeri, batasi pengunjung dengan rasional agar
pasien dapat istirahat sehingga dapat mengurangi rasa nyeri. Ajarkan teknik relaksasi
(nafas dalam) atau distraksi (mendengarkan music, menontn tv, imajinasi pemandangan)
Dengan rasional mengalihkan rasa nyeri dan kolaborasi dengan tim medis lain yaitu
pemberian analgetik dengan rasional mengurangi rasa nyeri dan membantu proses
penyembuhan.

20
3.4.IMPLEMENTASI
Pada tanggal 12 November 2015 penulis melakuakan beberapa implementasi yaitu
mengobservasi tanda tanda vital pada pukul 08:00 WIB dengan respon subjektif yaitu
Ny.Y mengatakan bersedia dan respon objektif Ny.Y tampak lemah, tekanan darah
130/90 mmHg, Nadi 80 x/mnt, pernapasan 20x/mnt, dan suhu 36,70C. mengkaji
karakteristik nyeri pada pukul 08:00 WIB dengan respon subjektif yaitu Ny.Y
mengatakan nyeri bagian punggung saat digerakan dengan skala nyeri 4(rentang nyeri 0-
10) nyeri hilang timbul dan respon objektif Ny.Y tampak meringis kesakitan terhadap
punggung belakang saat digerakan terlalu lama. Memberikan posisi yang nyaman
(supine). Pada pukul 08:20 WIB dengan respon subjektif Ny.Y mengataan masih nyeri
tapi tersa lebih nyaman dan respon objektif Ny.Y tampak meringis kesakitan posisi Ny.Y
supine ; mengajarkan teknik relaksasi. Pada pukul 08:45 WIB dengan respon subjektif
Ny.Y mengatakn nyeri terasa berkurang dan respon objektif Ny.Y dapat melakukan
teknik relaksasi (nafas dalam) dengan benar.
13 November 2015 penulis melakukan beberapa implementasi yaitu: mengkaji
tanda tanda vital. Pada pukul 07:35 WIB dengan respon subjrktif Ny.Y mengatakan
bersedia dan respon objektif Ny.Y tampak lemah tekanan darah 120/70 mmHg, nadi
80 x/mnt pernapasan 20 x/mnt suhu 36,40C mengkaji karakteristik nyeri. Pada pukul
07:45 WIB dengan respond subjektif Ny.Y mengatakan masih nyeri pada punggung jika
di gerakan spontan skala nyeri 3nyeri hilang timbul dan respon objektif Ny.Y tampak
lemah dan kadang meringis kesakitan memberikan posisi yang nyaman (supine). Pada
pukul 08:00 WIB dengan respon subjektif Ny.Y mengatakan tanpak lebih nyaman dan
respon objektif Ny.Y tanpak meringis kesakitan Ny.Y tampak melakukan teknik relaksasi
(nafas dalam) untuk mengatasi nyerinya mengkolaborasi dengan tim medis lain yaitu
untuk pemberian analgetik. Pada pukul 08:05 WIB dengan respon Ny.Y mengatakan
bersedia untuk di suntik dan respon objektif injeksi. Pada pukul 09:00 WIB dengan respon
subjektif Ny.Y mengatakan bersedia dan respon subjektif Ny.Y tampak meringis
kesakitan saat di terapi. Saat di chek di laboratorium foto rongtrn terdapat fraktur pada
tulang lumbalis karena kropos. Membatasi pengunjung pada pukul 13:00 WIB dengan
respon sunjektif Ny.Y mengatakan bersedia apabila saudara yang mengunjunginya masuk

21
ke kamar secara bergantian dan respon objektif keluarga yang berkunjung tampak
bergantian menemui Ny.Y.
3.5.EVALUASI
Evaluasi yang dilakuakan selama dua hari yaitu pada tanggal 12 November 2015
dan 13 November 2015 dengan metode SOAP. Pada tanggal 12 November 2015 pukul
08:00 WIB evaluasi yang diperoleh yaitu Ny.Y mengatakan masih nyeri pada punggung
belakang kualitas nyeri terasa seperti tulangnya mau patah dengan skala nyeri 4 (0-10)
dan dirasakan hilang timbul. Ny.Y tampak lemah dan posisi supine tekanan darah 130/90
mmHg nadi 80 x/mnt pernafpasan 20 x/mnt suhu 36.70C. terdapat fraktur pada bagian
tulang lumbalis karena keropos. Masalah keperawatan nyeri akut belum teratasi.
Interverensi di lakukan meliputi kaji tanda tanda vital, kaji karakteristik nyeri. Berikan
posisi yang nyaman (supine atau semi fowler), kolaborasi dengan tim medis lain yaitu
pemberian analgesic.
Pada tanggal 13 November 2015 pukul 14:30 WIB evaliasi yang di peroleh yitu
Ny.Y mengatakan nyeri pada bagian punggung belakang berkurang dengan skala nyeri 3
(0-10) nyeri terasa seperti tulang mau patah nyeri hilang timbul Ny.Y tanpak rileks posisis
supine tekanan darah 120/90 mmHg nadi 80 x/mnt pernapasan 20 x/mnt suhu 36,40C
terdapat fraktur pada tulang lumbal karena kropos. Masalah keperawatan nyeri akut
sedikit teratasi sebagaian interverensi dilanjutkan meliputi mengkaji tanda tanda vital,
kaji karakteristik nyeri, berikan posisi nyaman (supine atau semi fowler), kolabrasi
dengan tim medis lain yaitu pemberian analgetik

22
BAB III
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN
3.1. PEMBAHASAN
Pada BAB ini penulis akan membahas tentang kesenjangan teori dan tindakan proses
asuhan keperawatan yang dilakukan pada tanggal 12 – 13 November 2015 di ruangan
bromo III Rumah Sakit Islam Jombang. Pembahasan tentang peroses asuan keperawatan
ini meliputi pengkajian,diagnosa atau rumusan keperawatan,rencana tindkan
keperawatan,implementasi keperawatan,dan evaluasi

1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan.untuk
itu di perlukan kecermatan dan ketelitian dalam menangani masalah-masalah klien
sehingga dapat menentukan tindakan keperawatan yang tepat (Muttaqin.2006).
Sumber data didapatkan dari klien.keluarga,teman dekat,anggota tim perawatan
kesehatan. Catatan kesehatan.pemeriksaan fisik.hasil dari pemeriksaan diagnostik dan
laboratorium (Potter & Perry.2005)
Berdasrkan Tortora dalam buku Priciples of anatomi and physiiology (2009) ,
osteoporosis merupakan penyakit kelinis yang dicirikan dengan masa tulang yang
rendah dan abnormal serta terjadi defek pada struktur tulang. Sebuah kombinasi yang
menyebabkan tulang menjadi rapuh dan resiko fraktur menjadi lebih besar di
bandingkan dengan orang pada usia, jenis kelamin, dan ras yang sama. Pada kasus
Ny.Y. Ny.Y mengeluh nyeri pada bagian punggung(2015). Riwayat nyeri pada bagian
punggung yag lebih dari 3 bulan di diagnosis sebagai osteoporosis di mana hal ini di
akibatkan karena masa tulang pada umur 30 – 45 tahun proses rebsopsi dan
pembentukan tulang menjadi tidak seimbang dan proses rebsobsi melebihi proses
pembentukanya. Pada saat melakukan pengkajian penulis tidak mengkaji apakah Ny.Y
sebelum perwatan lebih lanjut apakah mengeluh pusing, mual, muntah maupun
hilangnya nafsu makan. Ini merupakan kekurangan penulisan saat melakuakan

23
pengkajian. Adapun faktor risiko terjadinya osteoporosis dapat digolongkan menjadi
dua kelompok yaitu faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan seperti jenis kelamin,
umur, ras, riwayat keluarga, tipe tubuh dan menopause. Sedangkan faktor risiko yang
dapat dikendalikan yaitu aktivitas fisik (olahraga), diet, kebiasaan merokok dan minum
minuman beralkohol (Wirakusumah, 2007).
Untuk menurunkan angaka kesalahan diagnosis osteoporosis bila di agnosa
meragukan sebaikanya penderita di observasi di rumah sakit dengan frekuensi setiap
1- 2 jam. Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan radiologi,
radioisotop, MRI(magnetic Resonance imaging), serta pemeriksaan dengan
densitometer (untuk mengetahui kepadatan tulang). Untuk mendiagnosis osteoporosis
sebelum terjadinya patah tulang dilakukan pemeriksaan yang menilai kepadatan
tulang. Pemeriksaan yang paling akurat adalah DXA (dual-energy x-ray
absorptiometry). Pemeriksaan ini aman dan tidak menimbulkan nyeri, serta dapat
dilakukan dalam waktu 5-15 menit. Ny.Y menjalani pemeriksaan penunjang pada
tanggal 11 November 2015 dengan hasil yang menyongkong gambaran osteoporosis.
Pada seseorang yang mengalami patah tulang, diagnosis pasti ditegakkan
bedasarkan gejala, pemeriksaan fisik, dan rontgen tulang. Pemeriksaan lebih lanjut
mungkin diperlukan untuk menyingkirkan keadaan lain yang dapat menyebabkan
osteoporosis. Bila diagnose klinis sudah jelas tindakan paling tepat dan merupakan
satu satunya pilihan yang baik adalah osteoporosis.
Berdasarkan tanda gejala serta hasil pemeriksaan penunjang yang ada kemudian
sokter mendiagnosa Ny.Y degan dignosa medis “osteoporosis postmenopausal” dan
dilakuakan tindakan observasi dan pemerisaan fisik pada tanggal 11 November 2015.
Osteoporosis adalah salah satu masalah kesehatan di dunia. Pada orang yang
menderita penyakit ini, tulang menjadi tipis dan rapuh yang pada akhirnya bisa
menyebabkan patah. Penyakit ini ditandai hilangnya masa tulang, sehingga tulang
menjadi mudah patah dan tidak tahan tekanan dan benturan (Hartono, 2001).Menurut
kutipan jurnal FRAKTUR AKIBAT OSTEOPOROSIS yang di susun oleh
Yulianingsih Syam, Djarot Noersasongko, Haryanto Sunaryo Kandidat Skripsi
Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Bagian Bedah Fakultas
Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Gejala yang berhubungan dengan

24
patah tulang osteoporosis biasanya adalah nyeri. Lokasi nyeri tergantung pada lokasi
fraktur. Gejala osteoporosis pada pria mirip dengan gejala osteoporosis pada wanita.8
Kepadatan tulang berkurang secara perlahan, sehingga pada awalnya osteoporosis
tidak menimbulkan gejala. Beberapa penderita tidak memiliki gejala. Biasanya gejala
timbul pada wanita berusia 51-75 tahun, meski bisa lebih cepat ataupun lambat. Jika
kepadatan berkurang sehingga tulang menjadi kolaps atau hancur, maka akan timbul
nyeri tulang dan kelainan bentuk. International Association for the Study of Pain
(IASP) mendefinisikan nyeri sebagai suatu sensori subyektif dan pengalaman
emosional yang tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau
potensial atau yang dirasakan dalam kejadian-kejadian dimna terjadi kerusakan.Ny.Y
di dapatkan nyeri secsrs teori termasuk dalam kategori nyeri akut.Hal ini di sebabkan
oleh karena pelapukan pada tulang belakang yg di sebabkan hilangnya massa tulang
adapun proses terjadinya nyeri. menurut kutipan jurnal FAKTOR-FAKTOR RESIKO
OSTEOPOROSIS DAN UPAYA PENCEGAHANNYA disusun oleh Meri Ramadani.
Pada osteoporosis didapat massa tulang yang rendah dan kerusakan mikroarsitektur
jaringan tulang dengan akibat peningkatan fragilitas tulang dan resiko fraktur.
Bertambahnya kehilangan tulang dapat disebabkan oleh umur, menopause, dan
beberapa faktor sporadic.
Pada pola kongnitif dan perceptual di jelaskan bahwa pasien dengan fraktur tulang
belakang osteoporosis pada umumnya tidak mengalami gangguan pendengaran,
pengelihatan, maupun pembau biasanya pada pola kognitif dan perceptual muncul
adanya nyeri dengan menggunakan metode Provocate. Quality Region Severe
(PQRST). Provocate (P) merupakan penyebab terjadinya nyeri dari penderita. Karena
traktur pada bagian punggung merupakan penyebab terjadinya nyeri karena adanya
kurangnya masa tulang yg menjadi kropos pembedahan Quality (Q) merupakan
kualitas nyeri yang di ungkapkan secara subyektif oleh pasien. Kualitas nyeri yang di
ungkapkan secara subyektif oleh pasien. Kualitas nyeri pada pasien pembedahan
biasanya terasa panas dan tertusuk-tusuk karena adanya insisi.Region (R) merupakan
area dimana nyeri dirasakan.Pada pembedahan abdomen nyeri dirasakan pada letak
anatomi yg mengalami fraktur.Severe (S) merupakan parameter dari tingkatan nyeri
dimana pada tulang belakang nyeri akan terasa sedang setelah di lakukan pemberian

25
posisi dan observasi dengan pemberian analgesic. Pengukuran skala nyeri terdiri dari
verbal Description Sale (VSD) Numerical Rating Scale (NRS) dan visual nyeri pada
Ny. Y ke dalam data subyektif karena penulis menggunakan skala nyeri numeric dimna
hasil dari skala numeric merupakan apa yang di ungkapkan oleh pasien (Potter.2006)
Time (T) merupakan waktu saat nyeri muncul pada nyeri akan terasa terus-menerus
setelah efek anestesis menghilang kemudian akan berkurang secara periodik. Pada
kasus Ny.Y nyeri yang dirasakan karena fraktur tulang belakang nyeri yang dirasakan
skala 4 nyeri dirasakan hilang timbul pada kasus Ny.Y dirasakan berkurang karena
pasien telah mendapat tindakan keperawatan.
Menurut Potter (2006) nyeri merupakn kejadian yang menekan atau stress dan
dapat mengubah gaya hidup dan kesejahteraan psikolos\gi individu saat nyeri akut
denyut jantung tekanan darah dan frekuensi pernafasan meningkat pada kasus Ny.Y
terjadi peningkatan tekanan darah yaitu 130/90mmhg. Ini sesuai dengan teori yang ada
yaitu pada awal awitan nyeri akaut. Respon fisiologi dapat meliputi peningkatan
tekanan dara nadi dan pernafasan akibat terstimulasi sistem saraf simpatis
(Mubarak.2008) sedangkan pada denyut jantung atau nadi pernafasan dan suhu tidak
terjadi peningkatan dengan hasil nadi 80 kali per menit pernafasan 20 kali per menit
dan suhu 36.70C. Hal ini dikarenakanpada kasus Ny.Y pembedahan apendiktomi
sudah berlangsng dua hari yang lalu dan Ny.Y sudah mendapatkan terapi seperti
analgesi sebelumnya sehungga tidak terjadi perubahan tanda-tanda vital yang signifika
(Potter.2006)
Pada pengkajian fisik muskulukeletal dan intergumen perawatan memerlukan
pengkajian fisik dan neurologis berdasarkan riwayat nyeri klien .Daerah yang sangat
nyeri harus di periksa untuk melihat apakah palpasi atau menipulasipada daerah
tersebut meningkatkan sensasi nyeri Sealama melakukan pemeriksaan umum,perawat
memperhatikan adanya petunjuk-petunjuk yang mengindikasikan nyeri (Potter.(2006).
Pada kasus Ny.y mengatakan nyeri pada bagian punggung belakang pemeriksaan fisik
musukuloskeletal dilakukan dengan cara inspeksi, auskultasi, perkusi, dan palpasi
(IAPPP).
Pada pemeriksaan penunjang laboratorium dan rongsen pada tanggal 11 November
2015 menunjukan hasil siknifikan yang menyongkong gambaran osteoporosis.Pada

26
Ny.Y menjalani pemeriksaan Beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mengukur
kepadatan mineral tulang adalah sebagai berikut (Nissl, 2004) :
a. Dual-energy X-ray absorptiometry (DEXA), menggunakan dua sinar-X
berbeda, dapat digunakan untuk mengukur kepadatan tulang belakang dan
pangkal paha. Sejumlah sinar-X dipancarkan pada bagian tulang dan jaringan
lunak yangdibandingkan dengan bagian yang lain. Tulang yang mempunyai
kepadatan tulang tertinggi hanya mengizinkan sedikit sinar-X yang
melewatinya. DEXA merupakan metode yang paling akurat untuk mengukur
kepadatan mineral tulang. DEXA dapat mengukur sampai 2% mineral tulang
yang hilang tiap tahun. Penggunaan alat ini sangat cepat dan hanya
menggunakan radiasi dengan dosis yang rendah tetapi lebih mahal dibandingan
dengan metode ultrasounds.
b. Peripheral dual-energy X-ray absorptiometry (P-DEXA), merupakan hasil
modifikasi dari DEXA. Alat ini mengukur kepadatan tulang anggota badan
seperti pergelangan tangan, tetapi tidak dapat mengukur kepadatan tulang yang
berisiko patah tulang seperti tulang belakang atau pangkal paha. Jika kepadatan
tulang belakang dan pangkal paha sudah diukur maka pengukuran dengan
PDEXA tidak diperlukan. Mesin P-DEXA mudah dibawa, menggunakan
radiasi sinar-X dengan dosis yang sangat kecil, dan hasilnya lebih cepat dan
konvensional dibandingkan DEXA.
c. Dual photon absorptiometry (DPA), menggunakan zat radioaktif untuk
menghasilkan radiasi. Dapat mengukur kepadatan mineral tulang belakang dan
pangkal paha, juga menggunakan radiasi sinar dengan dosis yang sangat rendah
tetapi memerlukan waktu yang cukup lama.
d. Ultrasounds, pada umumnya digunakan untuk tes pendahuluan. Jika hasilnya
mengindikasikan kepadatan mineral tulang rendah maka dianjurkan untuk tes
menggunakan DEXA. Ultrasounds menggunakan gelombang suara untuk
mengukur kepadatan mineral tulang, biasanya pada telapak kaki. Sebagian
mesin melewatkan gelombang suara melalui udara dan sebagian lagi melalui
air.
Ultrasounds dalam penggunaannya cepat, mudah dan tidak menggunakan

27
radiasi seperti sinar-X. Salah satu kelemahan Ultrasounds tidak dapat
menunjukkan kepadatan mineral tulang yang berisiko patah tulang karena
osteoporosis. Penggunaan Ultrasounds juga lebih terbatas dibandingkan
DEXA.
e. Quantitative computed tomography (QTC), adalah suatu model dari CT-scan
yang dapat mengukur kepadatan tulang belakang. Salah satu model dari QTC
disebut peripheral QCT (pQCT) yang dapat mengukur kepadatan tulang
anggota badan seperti pergelangan tangan. Pada umumnya pengukuran dengan
QCT jarang dianjurkan karena sangat mahal, menggunakan radiasi dengan
dosis tinggi, dan kurang akurat dibandingkan dengan DEXA, PDEXA,atau DPA
(Kosnayani,2007).

3.2. DIAGNOSA KEPERAWATAN


Diagnosa keperawatan adalah kenyataan yang menguraikan respon actual atau
potensial klien terhadap masalah kesehatan yang perawat mempunyai izin dan
turkopetan untuk mengatasinya (Pottor.2005).diagnosa keperawatan yang muncul
adalah nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik fraktur pada tulang belakang
kasus Ny.Y ditemukan diagnose nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik
fraktur pada tulang belakang. Hal ini sesuai teori bahwa pada kasus osteoporosis.
Diagnose nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik fraktur tulang belakang
sebagai priorits diagnose keperawatan karena massa tulang hilang dan menyebabkan
nyeri serius yang mengancam proses aktivitas klien. Yang harus menjadi prioritas
perawatan. Selain itu apabila diagnose itu tidak di atasi dapat mengakibatkan ancaman
klien atau orang lain mempunyai prioritas tertinggi (potter.2005). hal ini mendukung
dengan hasil pengkajaian pada tanggal 12 November 2015 di dapatkan data subjektif
“pasien mengatakan nyeri pada bagian tulang belakang nyerih seperti tulang mau
patah. Sklaa nyeri 4 (0-10) nyeri yang dirasakan hilang timbul” dan data objektif
berupa “ pasien tampak lemah dan meringis kesakitan. Tekanan darah 130/90 mmHg,
nadi 80x/mnt, pernafasan 20x/mnt, dan suhu 36,70C.
Etologi dari diagnose keperawatan adalah nyeri akut (NANDA. 2015-
2017). Pada osteoporosis didapat massa tulang yang rendah dan kerusakan

28
mikroarsitektur jaringan tulang dengan akibat peningkatan fragilitas tulang dan resiko
fraktur. Bertambahnya kehilangan tulang dapat disebabkan oleh umur, menopause,
dan beberapa faktor sporadic. Di tunjang dengan adanya nyeri yang hilang timbul.

3.3. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


Inteverensi adalah rencana keperawatan yang akan penulis rencanakan kepada
klien sesui dengan diagnose yang ditegakkan sehingga kebutuhan klien dapat
terpenuhi (Judith M.Wikinson, 2016). Dalam kategori teori inteverensi ditulis secara
sesuai dengan rencana dan kriteria hasil berdasarkan Nursing Interverensi
Classification (NIC) dan Nursing Outcome classification (NOC).
Inteverensi keprawatan disesuaikan dengan kondisi klien dan fasilitas yang ada
sehingga rencana tindakan dapat di selesaikan dengan Spesifik Mearsure Archievable
Rasional Time (SMART) selanjutnya kakan diuraikan rencana keperawatan dari
diagnose yang di tegakkan (NANDA.2009)
Menurut Muttaqin (2011).rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi nyeri
akut dengan tujuan dan kriteria hasil yaitu setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 1x24 jam nyeri berkurang /hilang atau teradaptasi dengan kriteria hasil pasien
melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi skala nyeri 0-1 dapat
mengidentifikasi yang meningkat atau menurunkan nyeri pasien tidak gelisah
intervensi yang dilakukan meliputi Observasi .Nursing Planning Enducation
colaboration (ONEC)
Pada kasus Ny.Y penulis melakukan rencana tindakan keperawatan selama
3x24 jam karena nyeri tidak dapat di atasi dalam waktu singkat dan perlu penanganan
terlebih dahulu karena nyeri berhubungan dengan kebutuhan fisiologi .rasa nyaman
dan harus di penuhi (Patricia A. Potter.2006) dan kriteria hasil yang ditulis penulis
yaitu pasien mengatakan nyeri berkurang atau hilang dengan skala nyeri 0-1(0-1):
tanda-tanda vital dalam batas normal karena tanda-tanda vital di lakukan untuk
mendeteksi adanya perubahan sistem baik keadaan metabolisme. Perubahan pada
sistem kardiovaskuler.fungsih pernafasan maupun menilai kemampuan sistem
kardiovaskuler (Hidayat.2005)pasien tampak rilex dan pasien tidak tampak meringis
kesakitan karena meringis atau expresi wajah yang menyeringi,menggeretak

29
gigi,memegang bagian tubuh yang terasa nyeri menekuk salah satu bagian tubuh dan
postur tubuh yang tidak lazim atau membengkak merupakan contoh expresi atau
respon perilaku nyeri secara nonverbal (Potter,2006)
Menurut mutaqin (2011) observasi pada interverensi yang di lakukan yaitu
kaji respon nyeri pendekatan PQRST ini di lakukan dengan rasional yaitu pendekatan
komprehensi untuk merencanakan intervensi selain itu kaji kraktritisn nyeri dilakukan
dengan rasionl data membantu mengevaluasi nyeri dan peredaran nyeri serta
Mengidentifikasi sumber - sumber mutiple dan jenis nyeri
(Brunner&Suddart).2002). Pada kasus Ny. Y observasi pada intervensi yang dilakukan
yaitu observasi tanda-tanda Vital dan kaji karakterristik nyeri dengan rasional dapat
menentukan terapi yang akan dilakukan.
Menurut Hidayat(2015). Pemeriksaan tanda-tanda vitaldilakukan untuk mendeteksi
adanya perubahan sistem tubuh baik keadaan metabolisme. Perubahan pada sistem
kardiovaskuler. Fungsi pernafasan maupun menilai kemampuan sistem
kardiovaskuler. Pada Ny Y kaji tanda-tanda vital dilakukan dengan rasional
mengetahui perkembangan dengan lanjut. Perkembangan lebih lanjut ini dimaksudkan
yaitu pada keadaan umum pasien.
Pada kasus Ny Y penulis memberikan rencana tindakan keperawatan yaitu berikan
posisi yang nyaman (supine atau semi fowler) dengan rasional agar pasien rileks dan
membantu mengurangi rasa nyeri. Posisi ini dipilih karena penulis belum mengetahui
keadaan pasien. Selain itu, setelah pembedahan pasien mungkin dibaringkan dalam
berbagai posisi untuk meningkatkan rasa nyaman dan menghilangkan nyeri
(Brunner&Suddart 2002).
Menurut Brunner & Suddarth (2002). Relaksasi otot skeletal dipercaya dapat
menurunkan nyeri dengan merelaksasikan ketegangan otot yang menunjang nyeri.
Beberapa penelitian. Bagaimanapun telah menunjukkan bahwa relaksasi efektif dalam
menurunkan nyeri
Menurut Muttaqin(2005).menejemen lingkungan tenang.batasi pengunjung
dan istirahatkan pasien dapat mengurangi rasa nyeri secara rasional lingkungan
tenang akan menurunkan stimulasi nyeri eksternal dan pembatasan pengunjung akan
membantu meningkatkan kondisi oksigen ruangan yang akan berkurang apabila

30
banyak pengunjung yang berada diruangan. Istirahat akan menurunkan kebutuhan
oksigen jaringan perifer. Pada kasus Ny Y penulis memberikan rencana tindakan
keperawatan yaitu batasi pengunjung dengan rasional agara pasien dapat istirahat
sehinggah dapat membantu mengurangi rasa nyeri.
Kolaborasi dengan tim medis pemberian analgesik. Menurut Muttaqin (2005).
Analgesik memblok lintasan nyeri sehingga nyeri berkurang. Pada kasus Ny Y
penulis memberikan rencana tindakan keperawatan yaitu kolaborasi dengan tim
medis lain pemberian dengan analgesik rasional mengurangi nyeri dan membantu
proses penyembuhan.
Pada kasus Ny Y penulis melakukan tindakan keperawatan selama 3X24 jam
karena penulis melaksanakan praktek selama 3 hari dan sudah termasuk pengkajian
dan memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Namun menurut teori yang ada
masalah nyeri tidak dapat diatasi dalam waktu singkat dan perlu penanganan terlebih
dahulu karena nyeri berhubungan dengan kebutuhan fisiologis rasa nyaman dan
harus dipenuhi (Patricia A,Potter.2006)

3.4. IMPLEMNTASI
Implementasi yang merupakan koponen dari keperawaran adalah katagori dari
perilaku keperawatan dimana tindakan yang diperlukan untuk mencapai tindakan dan
hasil yang diperikan dari asuhan keperawatan dilakukan dan diselesaikan (potter &
perry.2005).
Imlpementasi mencakup melakukan, membantu, atau mengarahkan kinerja
aktivitas kehidupan sehari hari memberikan arahan perawatan untuk mencapai tujuan
yang berpusat pada klien menglihat dan mengevaluasi kerja anggota staf dan mencatat
serta melakukan pertukaran informasi yang relevan dengan perawtan kesehatan
berkelanjutan dari klien. Implementasi menuangkan rencana asuhan kedalam tindakan.
Setelah rencana di kembangkan,sesuai kebutuhan dan prioritas klien.perawat
melakukan intervensi keperawatan inter spesifik.yang mencangkup tindakan
keperawatan dan tindakan (Bulechek & McCloskey.1995 di kutip dari potter 2005)
Implementasi pada Ny.Y. dapat dilakukan penulis sesuai rencana tindakan
keperawatan yang ada.saat melakukan tindakan keperawatan penulis tidak mengalami

31
kesulitan karena pasien koomperatif.Ada berapa tindakan keperawatan yang dilakukan
penulis diluar rencana tinda(misalnya bekerja dan aktifitas yang di sukai kan
keperawatan antara lain mengkaji tanda-tanda vital,memberikan posisi
supine,merawat luka apenditomi dan melepas drainage
Pada tanggal 12-13 November 2015 penulis melakukan implementasi mengkaji
tanda-tanda vital dan memberikan posisi supine pertama mengkaji tanda-tanda vital.ini
dilakukan karena pada nyeri akut denyut jantung, tekanan darah dan frekuensi
pernafasan meningkat (Potter 2006) hasil yang di dapatkan pada tanggal 12 November
2015 yaitu tekanan darah 130/90 mmHg,nadi 84 kali permenit.pernafasan 20 kali per
menit dan suhu 36,40C kedua memberikan posisi supine menurut musttaqin (2005)
sedangkan kasus Ny.Y. penulis memberikan posisi supine karena posisi supine
merupakan posisi yang nyaman bagi pasien sesuaikeadaanya bagi pasien sesuai
keadaanya.
Pada tanggal 13 November 2015 penulis melakukan tindakan keperawatan yaitu
mengurangi rasa nyeri pada pasien menurut mutaqin (2005) intervensi pada
osteoporosis melihat kebutuhan perawat melakukan pertimbangkan kemampuan klien
dalam beratisipasi melalui aktivitas spesifik,berkaroborasi dengan (ahli) terapis fisik
okupasi dan terapis rekreasional dalam perencanaan dan pemantauan program aktifitas
jika memang di perlukan,bantu klien untuk mengoplorasi tujuan personal dari
aktifitas-aktifitas yang di biasa di lakukan (misalnya bekerja) dan aktifitas –aktifitas
yang di sukai,drong katiffitas kreatif yang tepat,bantu klien dan keluarga untuk
mengidentifikasi kelemah’an dan level aktifitas tertentu,identifikasi strategi untuk
meningkatkan partisifasi terkait dengan aktivitas yang di inginkan,instruksi klien dan
keluarga untuk mempetahankan fungsih dan kesehatan terkait peran dalam aktifitas
secara fisik social spiritual dan kogmisi.
Pada tanggal 14 November 2015 penulist tidak melakukan implementasi apapun
kepada pasien karena dokter yang merawat Ny.Y. memperboleh pasien untuk rawat
jalan pasien pulang pada tnggal 13 November 2015 pada pukul 16.45 WIB
Evaluasi adalah proses keperawatan mengukur respon klien terhadapap tindakan
keperawatan dan kemajuan klien kearah pencapaian tujuan (Carnevaria& Thomas
1993:kutip dari potter2005)

32
Evaluasi pada Ny.Y. dilakukan dengan metode SOAP pada evaluasi hari pertama
pengelolah an penulis belum mampu mengatasi masalah keperawatan nyeri akut
pasien terlambat untiuk periksa memerlukan waktu dank arena keterbatasan waktu
penulis tidak dapat mengobservasi pasien selama 24 jam sehingga rencana tindakan
keperawatan di lanjutkan pada hari kedua kelolaan penulis tanggal 13 November 2015
atau ke III Rawat sedangkan pada evaluasi hari kedua pengelolah,pasien mengatakan
masih merupakan nyeri walaupun skala nyeri berkurang ini menandakan adanya
masalah keperawatan nyeri akut teratasi sbgaian oleh karena belum sesuai dengan
kriteria hasil yang telah ditetapkan oleh penulis sehingga intervensi perlu dilanjutkan
kekurangan pada kasus ini,penulis tidak dapat mengatasi masalah nyyeri akut secara
sempurna atau dengan sekala 0 atau melanjutkan rencana tindakan keperawatan.Hal
ini dikarenakan pasien diijinkan pulang atau rawat jalan pada hari ke III

3.5. KESIMPULAN DAN SARAN


1. Kesimpulan
Berdasarkan data di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
a. Pada pengkajian pasien didiagnosa osteoporosis hari ke 2 didapatkan data
subjektif pada bagian tulang belakang terdapat skala nyeri 4 dan nyerinya hilang
timbul
b. Diagnose yang muncul nyeri akut behubungan dengan agen cedera fisik
(penurunan massa tulang ). Nyeri merupakan pengalaman sensorik emosional
yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan actual atau
pontensial atau yang di gambarkan sebagai kerusakan ( International
Associtation For The Study Of Pain ); awitan yang tiba tiba atau lambat dari
intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau
diprediksi. Menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang actual dan potensial
( Smeltzer & Bare.2002).
c. Rencana tindakan keperawatan yang diberikan untuk mengatasi nyeri yaitu
observasi tanda-tanda vital. Kaji karakteristik nyeri. berikan posisi yang
nyaman ( Supine atau semi fowle) batasi pengunjung, ajarkan teknik relaksasi

33
nafas dalam atau distraksi, menonton Tv imajinasi pemandangan dan kolaborasi
dengan tim medis lain yaitu pemberian analgesic.
d. Tindakan keperawatan yang dilakukan untuk mengurangi nyeri pada Ny Y
antara lain mengobservasi tanda tanda vital. Mengkaji karakteristik,
memberikan posisi yang nyaman, (supinase). Mengajarkan teknik relaksasi
(nafas dalam) atau distraksi ( mendengarkan music, menonton Tv, imajinasi
pemandangan). Membatasi pengunjung. Kolaborasi dengan tim medis lain
yaitu pemberian analgesic.
e. Evaluasi menggunakan metode SOAP, ,asalah nyeri belum teratasi secara
maksimal,( skala 0-1) atau masalah teratasi sebagian dan intervensi dihentikan
karena pasien dinyatakan boleh pulang atau boleh pulang atau diperbolehkan
rawat jalan oleh dokter yang merawat.
f. Analisa nyeri pada Ny Y yaitu pada hari pertama pengelolaan, nyeri pada
bagian tulang belakang, nyeri terasa perih dan seperti tulang mau patah. sklala
nyeri 4 dan hilang timbul,
2. Saran
Dengan adanya uraian di atas maka penulis memberikan saran sebagi berikut :
a. Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan
Diharapkan institusi pelayanan kesehatan dapat meningkatkan kualitas
pelayanan kesehatan sesuai Standart Operasional Prosedur (SOP)
diberbagai rumah sakit.
b. Bagi Tenaga Kesehatan
Diharapkan tenaga kesehatan menyadari pentingnya penerapan asuhan
keperawatan yang konsisten dan sesuai dengan teori dalam memberi asuhan
keperawatan kepada pasien sehingga pasien akan mendapatkan perawatan
yang holistic dan komprehensif.
c. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan agar dapat meningkatkan mutu pelayanan pendidikan yang
berkualitas dan professional guna terciptanya perawat perawat yang
preposional, terampil, cekatan, dan handal dalam memberikan asuhan
keperawatan.

34
DAFTAR PUSTAKA
Utomo Margo, Meikawati Wulandari , Kusuma Putri Zilfa (2010)’’ FAKTOR – FAKTOR
YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPADATAN TULANG PADA WANITA
POSTMENOPAUSE”.06,07,2010
Sugiarto Wahyu Ricky,(2015)’’ LATIHAN BEBAN BAGI PENDERITA
OSTEOPOROSIS’’02, Juli,2015
SyamYulianingsih,Noersasongko Djarot, Sunaryo Haryanto, “FRAKTUR AKIBAT
OSTEOPOROSIS”
Tamsuri Anas, Hareni Dwi Risti , “HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG
OSTEOPOROSIS DENGANPENCEGAHAN OSTEOPOROSIS PADA LANJUT USIA
DI DUSUN PUHREJO DESA TULUNGREJO KECAMATAN PARE KABUPATEN
KEDIRI”

Renidayati, Clara, Sunardi, ”Faktor Risiko Terjadinya Osteoporosis Pada Wanita


Menopause”

Doengoes E. Marilyn, Geissler C. Alice, and Moorhouse F. Mary. 1993. Rencana Asuhan
Keperawatan (Edisi 3). Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
Wardhana Wisnu ,” FAKTOR – FAKTOR RISIKO OSTEOPOROSIS PADA
PASIEN DENGAN USIA DI ATAS 50 TAHUN”
Doenges E Mailyn, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian perawatan pasien. Ed3. Jakarta, EGC. 1999
NANDA,NIC,NOC. Edisi 10, penerbit buku kedokteran EGC.

35