0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
405 tayangan20 halaman

Panduan Lengkap Infark Miokard Akut

Dokumen tersebut membahas tentang konsep infark miokard akut (IMA), yang merupakan nekrosis miokard akibat gangguan aliran darah ke otot jantung. Dokumen menjelaskan definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, komplikasi, dan penatalaksanaan IMA.

Diunggah oleh

Razio Tjandra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Topik yang dibahas

  • regurgitasi mitral,
  • diet rendah kalori,
  • intervensi keperawatan,
  • bradikardia,
  • asistolik,
  • enzim jantung,
  • analgesik,
  • pengkajian,
  • kecemasan,
  • aneurisma
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
405 tayangan20 halaman

Panduan Lengkap Infark Miokard Akut

Dokumen tersebut membahas tentang konsep infark miokard akut (IMA), yang merupakan nekrosis miokard akibat gangguan aliran darah ke otot jantung. Dokumen menjelaskan definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, komplikasi, dan penatalaksanaan IMA.

Diunggah oleh

Razio Tjandra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Topik yang dibahas

  • regurgitasi mitral,
  • diet rendah kalori,
  • intervensi keperawatan,
  • bradikardia,
  • asistolik,
  • enzim jantung,
  • analgesik,
  • pengkajian,
  • kecemasan,
  • aneurisma

KONSEP MEDIS

INFARK MIOKARD AKUT


1. DEFINISI

Infark Miokard Akut (IMA) adalah nekrosis miokard akibat aliran

darah ke otot jantung terganggu.infark miokard akut atau sering juga

disebut akut miokard infark adalah nekrosis miokard akibat aliran darah ke

otot jantung terganggu (Suyono, 1999).

Infark Miokard Akut (IMA) adalah terjadinya nekrosis miokard

yang cepat disebabkan oleh karena ketidakseimbangan yang kritis antara

aliran darah dan kebutuhan darah miokard. (M.Widiastuti Samekto,13 :

2001).

Infark miokardium mengacu pada proses rusaknya jaringan jantung

akibat suplai darah yang tidak adekuat sehingga aliran darah koroner

berkurang.(Smetzler Suzanne C & Brenda G. Bare, 768 : 2002).

2. ETIOLOGI

A. Faktor penyebab

1. Suplai oksigen ke miokard berkurang yang disebabkan oleh 3 faktor :

a. Factor pembuluh darah :

1. Aterosklerosis

2. Spasme

3. Arteritis.

b. Factor sirkulasi :

1. Hipotensi

2. Stenosis aurta
3. Insufisiensi

c. Factor darah :

1. Anemia

2. Hipoksemia

3. Polisitemia

2. Curah jantung yang meningkat

a. Aktivitas berlebihan

b. Emosi

c. Makan terlalu banyak

d. Hypertiroidisme

3. Kebutuhan oksigen miokard meningkat pada :

a. Kerusakan miokard

b. Hypertropimiokard

c. Hipertensi diastolic

B. Faktor predisposisi

1. Factor biologis yang tidak dapat diubah :

a. Usia lebih dari 40 tahun.

b. Jenis kelamin : insiden pada pria tinggi, sedangkan pada wanita


meningkat setelah menopause

c. Hereditas

d. Ras : lebih tinggi insiden pada kulit hitam.


2. Factor resiko yang dapat diubah :

a. Mayor :

1. Hyperlipidemia

2. Hipertensi

3. Merokok

4. Diabetes

5. Obesitas

6. Diet tinggi lemak jenuh, kalori

b. Minor :

1. Inaktifitas fisik

2. Pola keperibadian Tipe A (emosional, agresif, ambisius, kompetitif)

3. Stress psikologis berlebihan.

3. PATOFISIOLOGI

Penyebab sumbatan tidak diketahui diperkirakan adanya

penyempitan arteri koronaria yang disebabkan karena penebalan dari

dinding pembuluh darah, vasospasme, emboli atau thrombus. Karena

penyempitan dinding pembuluh darah pada arteri koronaria

menyebabakan suplai oksigen yang menuju kejantung berkurang, jantung

yang kekurangan oksigen akan mengubah metabolisme yang bersifat

aerob menjadi anaerob. Perubahan ini menyebabakan penurunan

pembentukan fosfat yang berenergi tinggi diman hasil akhir dari

metabolisme anaerob ini adalah asam laktat, apabila berlangsung lebih

dari 20 menit akan akan terjadi ishemia jantung yang meningkat sehingga
akan menyebabkan nyeri dada yang hebat bahkan karena nyeri dada

yang hebat tersebut terjadi schok kardiogenik.

Hemodinamik mengalami perubahan yang menyebabakan

berkurangnya curah jantung meningkatkan tekanan ventrikel kiri, retensi

air dan garam sehingga dapat menimbulkan kelebihan cairan dalam

tubuh. Perubahan hemodinamik ini bila berlangsung lama akan

menyebabkan jaringan rusak bahkan kematian pada otot jantung.

4. MANIFESTASI KLINIS

Keluhan yang khas ialah nyeri dada retrosternal, seperti diremas-

remas, ditekan, ditusuk, panas atau ditindih barang berat.Nyeri dapat

menjalar ke lengan (umumnya kiri), bahu, leher, rahang bahkan ke

punggung dan epigastrium.Nyeri berlangsung lebih lama dari angina

pectoris dan tak responsif terhadap nitrogliserin. Kadang-kadang,

terutama pada pasien diabetes dan orang tua, tidak ditemukan nyeri

sama sekali. Nyeri dapat disertai perasaan mual, muntah, sesak, pusing,

keringat dingin, berdebar-debar atau sinkope. Pasien sering tampak

ketakutan.Walaupun IMA dapat merupakan manifestasi pertama penyakit

jantung koroner namun bila anamnesis dilakukan teliti hal ini sering

sebenarnya sudah didahului keluhan-keluhan angina.perasaan tidak enak

di dada atau epigastrium.

Kelainan pada pemeriksaan fisik tidak ada yang spesifik dan dapat

normal.Dapat ditemui BJ yakni S2 yang pecah, paradoksal dan irama

gallop.Adanya krepitasi basal menunjukkan adanya bendungan paru-

paru.Takikardia, kulit yang pucat, dingin dan hipotensi ditemukan pada


kasus yang relatif lebih berat, kadang-kadang ditemukan pulsasi diskinetik

yang tampak atau berada di dinding dada pada IMA inferior.

5. PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. EKG : Untuk mengetahui fungsi jantung : T. Inverted, ST depresi, Q.


patologis

b. enzim Jantung : CPKMB, LDH, AST.

c. Elektrolit :Ketidakseimbangan dapat mempengaruhi konduksi dan


kontraktilitas, missal hipokalemi, hyperkalemia.

d. Sel darah putih : Leukosit ( 10.000 20.000 ) biasanya tampak pada


hari ke-2 setelah IMA berhubungan dengan proses inflamasi

e. Kecepatan sedimentasi :Meningkat pada ke-2 dan ke-3 setelah AMI ,


menunjukkan inflamasi.

f. Kimia : Mungkin normal, tergantung abnormalitas fungsi atau


perfusi organ akut atau kronis

g. GDA :Dapat menunjukkan hypoksia atau proses penyakit paru akut


atau kronis.

h. Kolesterol atau Trigliserida serum :Meningkat, menunjukkan


arteriosclerosis sebagai penyebab AMI.

i. Foto dada :Mungkin normal atau menunjukkan pembesaran jantung


diduga GJK atau aneurisma ventrikuler.

j. Ekokardiogram :Dilakukan untuk menentukan dimensi serambi,


gerakan katup atau dinding ventrikuler dan konfigurasi atau fungsi katup.

6. KOMPLIKASI

a. Aritmia

b. Bradikardia sinus

c. Irama noda

d. Gangguan hantaran atrioventrikular

e. Gangguan hantaran intraventrikel


f. Asistolik

g. Takikardia sinus

h. Kontraksi atrium premature

i. Takikardia supraventrikel

j. Flutter atrium

k. Fibrilasi atrium

l. Takikardia atrium multifocal

m. Kontraksi prematur ventrikel

n. Takikardia ventrikel

o. Takikardia idioventrikel

p. Flutter dan Fibrilasi ventrikel

q. Renjatan kardiogenik

r. Tromboembolisme

s. Perikarditis

t. Aneurisme ventrikel

u. Regurgitasi mitral akut

v. Ruptur jantung dan septum

7. PENATALAKSANAAN

a. Rawat ICCU, puasa 8 jam

b. Tirah baring, posisi semi fowler.

c. Monitor EKG

d. Infus D5% 10 12 tetes/ menit

e. Oksigen 2 4 lt/menit

f. Analgesik : morphin 5 mg atau petidin 25 50 mg

g. Obat sedatif : diazepam 2 5 mg

h. Bowel care : laksadin


i. Antikoagulan : heparin tiap 4 6 jam /infus

j. Diet rendah kalori dan mudah dicerna

k. Psikoterapi untuk mengurangi cemas

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN

A. Pengkajian Primer

1. Airways

a. Sumbatan atau penumpukan secret

b. Wheezing atau krekles

2. Breathing

a. Sesak dengan aktifitas ringan atau istirahat

b. RR lebih dari 24 kali/menit, irama ireguler dangkal

c. Ronchi, krekles

d. Ekspansi dada tidak penuh

e. Penggunaan otot bantu nafas

3. Circulation

a. Nadi lemah , tidak teratur

b. Takikardi

c. TD meningkat / menurun

d. Edema

e. Gelisah

f. Akral dingin

g. Kulit pucat, sianosis

h. Output urine menurun


B. Pengkajian Sekunder

1. Aktifitas

Gejala :

a. Kelemahan

b. Kelelahan

c. Tidak dapat tidur

d. Pola hidup menetap

e. Jadwal olah raga tidak teratur

Tanda :

a. Takikardi

b. Dispnea pada istirahat atau aaktifitas

2. Sirkulasi
Gejala : riwayat IMA sebelumnya, penyakit arteri koroner, masalah
tekanan darah, diabetes mellitus.

Tanda :

a. Tekanan darah

1. Dapat normal / naik / turun

2. Perubahan postural dicatat dari tidur sampai duduk atau berdiri

b. Nadi

Dapat normal , penuh atau tidak kuat atau lemah / kuat kualitasnya
dengan pengisian kapiler lambat, tidak teratus (disritmia)

b. Bunyi jantung

Bunyi jantung ekstra : S3 atau S4 mungkin menunjukkan gagal jantung


atau penurunan kontraktilits atau komplain ventrikel

c. Murmur

Bila ada menunjukkan gagal katup atau disfungsi otot jantung


e. Friksi ; dicurigai Perikarditis

f. Irama jantung dapat teratur atau tidak teratur

g. Edema

Distensi vena juguler, edema dependent , perifer, edema umum,krekles


mungkin ada dengan gagal jantung atau ventrikel

i. Warna

Pucat atau sianosis, kuku datar , pada membran mukossa atau bibir

3. Integritas ego

Gejala : menyangkal gejala penting atau adanya kondisi takut mati,


perasaan ajal sudah dekat, marah pada penyakit atau perawatan,
khawatir tentang keuangan , kerja , keluarga

Tanda : menoleh, menyangkal, cemas, kurang kontak mata, gelisah,


marah, perilaku menyerang, focus pada diri sendiri, koma nyeri

4. Eliminasi
Tanda :normal, bunyi usus menurun.

5. Makanan atau cairan

Gejala : mual, anoreksia, bersendawa, nyeri ulu hati atau terbakar


Tanda : penurunan turgor kulit, kulit kering, berkeringat, muntah,
perubahan berat badan

6. Hygiene
Gejala atau tanda : lesulitan melakukan tugas perawatan

7. Neurosensori
Gejala : pusing, berdenyut selama tidur atau saat bangun (duduk atau
istrahat )
Tanda : perubahan mental, kelemahan

8. Nyeri atau ketidaknyamanan

Gejala :

a. Nyeri dada yang timbulnya mendadak (dapat atau tidak


berhubungan dengan aktifitas ), tidak hilang dengan istirahat atau
nitrogliserin (meskipun kebanyakan nyeri dalam dan viseral)
b. Lokasi :
Tipikal pada dada anterior, substernal , prekordial, dapat menyebar ke
tangan, ranhang, wajah. Tidak tertentu lokasinya seperti epigastrium,
siku, rahang, abdomen, punggung, leher.

c. Kualitas :
Crushing , menyempit, berat, menetap, tertekan, seperti dapat dilihat

d. Intensitas :
Biasanya 10(pada skala 1 -10), mungkin pengalaman nyeri paling buruk
yang pernah dialami.

e. Catatan : nyeri mungkin tidak ada pada pasien pasca operasi,


diabetes mellitus , hipertensi, lansia

9. Pernafasan:
Gejala :

a. dispnea tanpa atau dengan kerja

b. dispnea nocturnal

c. batuk dengan atau tanpa produksi sputum

d. riwayat merokok, penyakit pernafasan kronis.

Tanda :

a. peningkatan frekuensi pernafasan

b. nafas sesak / kuat

c. pucat, sianosis

d. bunyi nafas ( bersih, krekles, mengi ), sputum

10. Interkasi social

Gejala :

a. Stress

b. Kesulitan koping dengan stressor yang ada missal : penyakit,


perawatan di RS

Tanda :

a. Kesulitan istirahat dengan tenang


b. Respon terlalu emosi ( marah terus-menerus, takut )

c. Menarik diri

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN

a. Nyeri akut b/d iskemia miokard akibat sumbatan arteri koroner.

b. Intoleransi aktivitas b/d ketidakseimbangan suplai oksigen miokard


dengan kebutuhan tubuh.

c. (Risiko tinggi) Penurunan curah jantung b/d perubahan frekuensi,


irama dan konduksi listrik jantung; penurunan preload/peningkatan
tahanan vaskuler sistemik; infark/diskinetik miokard, kerusakan
struktuaral seperti aneurisma ventrikel dan kerusakan septum.

d. (Risiko tinggi) Perubahan perfusi jaringan b/d penurunan/sumbatan


aliran darah koroner.

e. (Risiko tinggi) Kelebihan volume cairan b/d penurunan perfusi ginjal;


peningkatan natrium/retensi air; peningkatan tekanan hidrostatik atau
penurunan protein plasma.

f. Kecemasan (uraikan tingkatannya) b/d ancaman/perubahan


kesehatan-status sosio-ekonomi; ancaman kematian.

g. Kurang pengetahuan (tentang kondisi dan kebutuhan terapi) b/d


kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi tentang fungsi
jantung/implikasi penyakit jantung dan perubahan status kesehatan yang
akandatang.

3. INTERVENSI KEPERAWATAN

A. Nyeri akut b/d iskemia miokard akibat sumbatan arteri koroner.

Intervensi :

1. Pantau nyeri (karakteristik, lokasi, intensitas, durasi), catat setiap


respon verbal/non verbal, perubahan hemo-dinamik

Rasional :Menurunkan rangsang eksternal yang dapat memperburuk


keadaan nyeri yang terjadi

2. Berikan lingkungan yang tenang dan tunjukkan perhatian yang tulus


kepada klien.
Rasional :Membantu menurunkan persepsi-respon nyeri dengan
memanipulasi adaptasi fisiologis tubuh terhadap nyeri

3. Bantu melakukan teknik relaksasi (napas dalam/perlahan, distraksi,


visualisasi, bimbingan imajinasi

Rasional :Nitrat mengontrol nyeri melalui efek vasodilatasi koroner yang


meningkatkan sirkulasi koroner dan perfusi miokard.

4. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi:

a. Antiangina seperti nitogliserin (Nitro-Bid, Nitrostat, Nitro-Dur)


Beta-Bloker seperti atenolol (Tenormin), pindolol (Visken), propanolol
(Inderal)

b. Analgetik seperti morfin, meperidin (Demerol)

c. Penyekat saluran kalsium seperti verapamil (Calan), diltiazem


(Prokardia).

Rasional :Nitrat mengontrol nyeri melalui efek vasodilatasi koroner yang


meningkatkan sirkulasi koroner dan perfusi miokard

B. Intoleransi aktivitas b/d ketidakseimbangan suplai oksigen miokard


dengan kebutuhan tubuh.

Intervensi :

1. Pantau HR, irama, dan perubahan TD sebelum, selama dan sesudah


aktivitas sesuai indikasi.

Rasional :Menentukan respon klien terhadap aktivitas

2. Tingkatkan istirahat, batasi aktivitas

Rasional :Menurunkan kerja miokard/konsumsi oksigen, menurunkan risiko


komplikasi.

3. Anjurkan klien untuk menghindari peningkatan tekanan abdominal.

Rasional :Manuver Valsava seperti menahan napas, menunduk, batuk


keras dan mengedan dapat mengakibatkan bradikardia, penurunan curah
jantung yang kemudian disusul dengan takikardia dan peningkatan
tekanan darah

4. Batasi pengunjung sesuai dengan keadaan klinis klien.


Rasional :Keterlibatan dalam pembicaraan panjang dapat melelahkan
klien tetapi kunjungan orang penting dalam suasana tenang bersifat
terapeutik

5. Bantu aktivitas sesuai dengan keadaan klien dan jelaskan pola


peningkatan aktivitas bertahap.

Rasional :Mencegah aktivitas berlebihan; sesuai dengan kemampuan kerja


jantung.

6. Kolaborasi pelaksanaan program rehabilitasi pasca serangan IMA.

Rasional :Menggalang kerjasama tim kesehatan dalam proses


penyembuhan klien.

C. (Risiko tinggi) Penurunan curah jantung b/d perubahan frekuensi,


irama dan konduksi listrik jantung; penurunan preload/peningkatan
tahanan vaskuler sistemik; infark/diskinetik miokard, kerusakan
struktuaral seperti aneurisma ventrikel dan kerusakan septum.

Intervensi :

1. Pantau TD, HR dan DN, periksa dalam keadaan baring, duduk dan
berdiri (bila memungkinkan)

Rasional :Hipotensi dapat terjadi sebagai akibat dari disfungsi ventrikel,


hipoperfusi miokard dan rangsang vagal. Sebaliknya, hipertensi juga
banyak terjadi yang mungkin berhubungan dengan nyeri, cemas,
peningkatan katekolamin dan atau masalah vaskuler
sebelumnya.Hipotensi ortostatik berhubungan dengan komplikasi
GJK.Penurunanan curah jantung ditunjukkan oleh denyut nadi yang lemah
dan HR yang meningkat.

2. Auskultasi adanya S3, S4 dan adanya murmur.

Rasional :S3 dihubungkan dengan GJK, regurgitasi mitral, peningkatan


kerja ventrikel kiri yang disertai infark yang berat. S4 mungkin
berhubungan dengan iskemia miokardia, kekakuan ventrikel dan
hipertensi. Murmur menunjukkan gangguan aliran darah normal dalam
jantung seperti pada kelainan katup, kerusakan septum atau vibrasi otot
papilar.

3. Auskultasi bunyi napas.


Rasional :Krekels menunjukkan kongesti paru yang mungkin terjadi karena
penurunan fungsi miokard.

4. Berikan makanan dalam porsi kecil dan mudah dikunyah.

Rasional :Makan dalam volume yang besar dapat meningkatkan kerja


miokard dan memicu rangsang vagal yang mengakibatkan terjadinya
bradikardia.

5. Kolaborasi pemberian oksigen sesuai kebutuhan klien.

Rasional :Meningkatkan suplai oksigen untuk kebutuhan miokard dan


menurunkan iskemia.

6. Pertahankan patensi IV-lines/heparin-lok sesuai indikasi.

Rasional :Jalur IV yang paten penting untuk pemberian obat darurat bila
terjadi disritmia atau nyeri dada berulang

7. Bantu pemasangan/pertahankan paten-si pacu jantung bila


digunakan.

Rasional :Pacu jantung mungkin merupakan tindakan dukungan


sementara selama fase akut atau mungkin diperlukan secara permanen
pada infark luas/kerusakan sistem konduksi.

D. (Risiko tinggi) Perubahan perfusi jaringan b/d penurunan/sumbatan


aliran darah coroner.

Intervensi :

1. Pantau perubahan kesadaran/keadaan mental yang tiba-tiba seperti


bingung, letargi, gelisah, syok.

Rasional :Perfusi serebral sangat dipengaruhi oleh curah jantung di


samping kadar elektrolit dan variasi asam basa, hipoksia atau emboli
sistemik.

2. Pantau tanda-tanda sianosis, kulit dingin/lembab dan catat kekuatan


nadi perifer.

Rasional :Penurunan curah jantung menyebabkan vasokonstriksi sistemik


yang dibuktikan oleh penurunan perfusi perifer (kulit) dan penurunan
denyut nadi.

3. Pantau fungsi pernapasan (frekuensi, kedalaman, kerja otot aksesori,


bunyi napas)
Rasional :Kegagalan pompa jantung dapat menimbulkan distres
pernapasan. Di samping itu dispnea tiba-tiba atau berlanjut menunjukkan
komplokasi tromboemboli paru

4. Pantau fungsi gastrointestinal (anorksia, penurunan bising usus,


mual-muntah, distensi abdomen dan konstipasi)

Rasional :Penurunan sirkulasi ke mesentrium dapat menimbulkan


disfungsi gastrointestinal

5. Pantau asupan caiaran dan haluaran urine, catat berat jenis

Rasional :Asupan cairan yang tidak adekuat dapat menurunkan volume


sirkulasi yang berdampak negatif terhadap perfusi dan fungsi ginjal dan
organ lainnya. BJ urine merupakan indikator status hidrsi dan fungsi ginjal.

6. Kolaborasi pemeriksaan laboratorium (gas darah, BUN, kretinin,


elektrolit)

Rasional :Penting sebagai indikator perfusi/fungsi organ.

7. Kolaborasi pemberian agen terapeutik yang diperlukan:

a. Hepari / Natrium Warfarin (Couma-din)

b. Simetidin (Tagamet), Ranitidin (Zantac), Antasida.

c. Trombolitik (t-PA, Streptokinase).

Rasional :Heparin dosis rendah mungkin diberikan mungkin diberikan


secara profilaksis pada klien yang berisiko tinggi seperti fibrilasi atrial,
kegemukan, anerisma ventrikel atau riwayat tromboplebitis. Coumadin
merupakan antikoagulan jangka panjang.

E. (Risiko tinggi) Kelebihan volume cairan b/d penurunan perfusi ginjal;


peningkatan natrium/retensi air; peningkatan tekanan hidrostatik atau
penurunan protein plasma

Intervensi :

1. Auskultasi bunyi napas terhadap adanya krekels.

rasional :Indikasi terjadinya edema paru sekunder akibat dekompensasi


jantung

2. Pantau adanya DVJ dan edema anasarka


Rasional :Dicurigai adanya GJK atau kelebihan volume cairan (overhidrasi)

3. Hitung keseimbangan cairan dan timbang berat badan setiap hari


bila tidak kontraindikasi.

Rasional :Penurunan curah jantung mengakibatkan gangguan perfusi


ginjal, retensi natrium/air dan penurunan haluaran urine. Keseimbangan
cairan positif yang ditunjang gejala lain (peningkatan BB yang tiba-tiba)
menunjukkan kelebihan volume cairan/gagal jantung.

4. Pertahankan asupan cairan total 2000 ml/24 jam dalam batas


toleransi kardiovaskuler.

Rasional :Memenuhi kebutuhan cairan tubuh orang dewasa tetapi tetap


disesuaikan dengan adanya dekompensasi jantung.

5. Kolaborasi pemberian diet rendah natrium.

Rasional :Natrium mengakibatkan retensi cairan sehingga harus dibatasi.

6. Kolaborasi pemberian diuretik sesuia indikasi (Furosemid/Lasix,


Hidralazin/ Apresoline, Spironlakton/ Hidronolak-ton/Aldactone)

Rasional :Diuretik mungkin diperlukan untuk mengoreksi kelebihan


volume cairan

7. Pantau kadar kalium sesuai indikasi.

Rasional :Hipokalemia dapat terjadi pada terapi diuretik yang juga


meningkatkan pengeluaran kalium.

F. Kecemasan (uraikan tingkatannya) b/d ancaman/perubahan


kesehatan-status sosio-ekonomi; ancaman kematian.

Intervensi :

1. Pantau respon verbal dan non verbal yang menunjukkan kecemasan


klien.

Rasional :Respon klien terhadap situasi IMA bervariasi, dapat berupa


cemas/takut terhadap ancaman kematian, cemas terhadap ancaman
kehilangan pekerjaan, perubahan peran sosial dan sebagainya.

2. Dorong klien untuk mengekspresikan perasaan marah, cemas/takut


terhadap situasi krisis yang dialaminya.
Rasional :Informasi yang tepat tentang situasi yang dihadapi klien dapat
menurunkan kecemasan/rasa asing terhadap lingkungan sekitar dan
membantu klien mengantisipasi dan menerima situasi yang terjadi.

3. Kolaborasi pemberian agen terapeutik anti cemas/sedativa sesuai


indikasi (Diazepam/Valium, Flurazepam/Dal-mane, Lorazepam/Ativan).
Klien mungkin tidak menunjukkan keluhan secara langsung tetapi
kecemasan dapat dinilai dari perilaku verbal dan non verbal yang dapat
menunjukkan adanya kegelisahan, kemarahan, penolakan dan
sebagainya.

Rasional :Meningkatkan relaksasi dan menurunkan kecemasan.

G. Kurang pengetahuan (tentang kondisi dan kebutuhan terapi) b/d


kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi tentang fungsi
jantung/implikasi penyakit jantung dan perubahan status kesehatan yang
akan datang.

Intervensi :

1. Kaji tingkat pengetahuan klien/orang terdekat dan


kemampuan/kesiapan belajar klien.

Rasional :Proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan


mental klien.

2. Berikan informasi dalam berbagai variasi proses pembelajaran.


(Tanya jawab, leaflet instruksi ringkas, aktivitas kelompok)

Rasional :Meningkatkan penyerapan materi pembelajaran.

3. Berikan penekanan penjelasan tentang faktor risiko, pembatasan


diet/aktivitas, obat dan gejala yang memerlukan perhatian cepat/darurat.

Rasional :Memberikan informasi terlalu luas tidak lebih bermanfaat


daripada penjelasan ringkas dengan penekanan pada hal-hal penting yang
signifikan bagi kesehatan klien.

4. Peringatkan untuk menghindari aktivitas isometrik, manuver Valsava


dan aktivitas yang memerlukan tangan diposisikan di atas kepala.

Rasional :Aktivitas ini sangat meningkatkan beban kerja miokard dan


meningkatkan kebutuhan oksigen serta dapat merugikan kontraktilitas
yang dapat memicu serangan ulang.

5. Jelaskan program peningkatan aktivitas bertahap (Contoh: duduk,


berdiri, jalan, kerja ringan, kerja sedang).
Rasional :Meningkatkan aktivitas secara bertahap meningkatkan kekuatan
dan mencegah aktivitas yang berlebihan. Di samping itu juga dapat
meningkatkan sirkulasi kolateral dan memungkinkan kembalinya pola
hidup normal.

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marilyn G. dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan :


Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.
Edisi 3. Jakarta : EGC.

Hinchliff, Sue. 1999. Kamus Keperawatan. Edisi 17. Jakarta. EGC.

Mansjoer Arief, Suprohaita. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ke-3,


Jilid 2 Jakarta : Media Aesscuilpius Fakultas Kedokteran University.
Reeves, Charlenes S. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 1. Jakarta :
Salemba Medika.

ASUHAN KEPERAWATAN
INFARK MIOKARD AKUT
Nama Kelompok :
Kelompok 4
1. Apin Oktomi
2. Kiki Hendra
3. Roli
4. Wulan Farida
5. Roza Saputra

Dosen Pembimbing :
Ns. IBRAHIM S.Kep.M.BIOMED
SYEDZA SAINTIKA
TAHUN 2016

Anda mungkin juga menyukai