Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

Dibuat dalam rangka perkuliahan Gangguan Sistem Respirasi


Dari dosen Ibu Ria Ambaryani,S.Apt

Di susun oleh : Arif Kurnaiawan


Siti Delis
Waren Herlin
Kelas :IKP A2
Semester 3

Jurusan S1 Keperawatan
STIKES Bina Putera Banjar
Tahun 2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wataala,
karena berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Asuhan keperawatan pada pasien trauma dada/thoraks. Makalah ini diajukan guna
memenuhi tugas mata kuliah gangguan sistem respirasi (farmakoerapi).
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya.
Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik
dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi dan bermanfaat untuk
pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Banjar, Oktober 2013


Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Trauma thorax adalah semua ruda paksa pada thorax dan dinding
thorax, baik trauma atau ruda paksa tajam atau tumpul. (Hudak, 1999).
Di dalam toraks terdapat dua organ yang sangat vital bagi kehidupan
manusia, yaitu paru-paru dan jantung. Paru-paru sebagai alat pernapasan dan
jantung sebagai alat pemompa darah. Jika terjadi benturan atau trauma pada
dada, kedua organ tersebut bisa mengalami gangguan atau bahkan kerusakan
(www.iwansain.wordpress.com).
Banyak penyebab terjadinya trauma thoraks tersebut diantaranya benturan.
Benturan yang keras di bagian dada ternyata bisa menyebabkan adanya
ganguan pada sistem respirasi kita.
B. Tujuan
1. Supaya lebih mengetahui penyebab penyabab terjadinya trauma dada
2. Lebih mengetahui bagaimana cara asuhan keperawatanya.

BAB II
ISI

ASKEP TRAUMA DADA


TRAUMA THORAX / DADA
1. PENGERTIAN
Trauma adalah cedera/rudapaksa atau kerugian psikologis atau
emosional (Dorland, 2002).
Trauma adalah luka atau cedera fisik lainnya atau cedera fisiologis
akibat gangguan emosional yang hebat (Brooker, 2001).
Trauma adalah penyebab kematian utama pada anak dan orang dewasa
kurang dari 44 tahun. Penyalahgunaan alkohol dan obat telah menjadi faktor
implikasi pada trauma tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atau
tidak disengaja (Smeltzer, 2001).
Trauma dada adalah trauma tajam atau tembus thoraks yang dapat
menyebabkan

tamponade

jantung,

perdarahan,

pneumothoraks,

hematothoraks,hematompneumothoraks (FKUI, 1995).


Trauma thorax adalah semua ruda paksa pada thorax dan dinding
thorax, baik trauma atau ruda paksa tajam atau tumpul. (Hudak, 1999). Di
dalam toraks terdapat dua organ yang sangat vital bagi kehidupan manusia,
yaitu paru-paru dan jantung. Paru-paru sebagai alat pernapasan dan jantung
sebagai alat pemompa darah. Jika terjadi benturan atau trauma pada dada,
kedua organ tersebut bisa mengalami gangguan atau bahkan kerusakan.
2. ANATOMI FISIOLOGI
Kerangka rongga toraks, merincing pada bagian atas torak dan
berbentuk kerucut, terdiri dari sternum, 12 vertebra, 10 pasang iga yang
terakhir di anterior dalam segmen tulang rawan, dan 2 pasang iga yang
melayang. Kartilago dari enam iga pertama memisahkan artikulaso dari
sternum; katilago ketujuh sampai sepuluh berfungsi membentuk kostal-kostal
sebelum menyambung pada tepi bawah sternum. Perluasan rongga pleura di
atas klavikula dan atas organ dalam abdomen penting untuk dievaluasi pada
luka tusuk.
Muskulatur. Muskulus-muskulus pektoralis mayor dan minor merupakan
muskulus utama dinding anterior toraks. Muskulus latisimus dorsi, trapezius,

rhomboideus, dan muskulus gelang bahu lainnya membentuk palisan muskulus


posterior dinding toraks. Tepi bawah muskulus pektoralis mayor membentuk
lipatan/plika aksilaris anterior, lengkungan dan muskulus latisimus dorsi dan teres
mayor membentuk lipatan/plika aksilaris posterior.
Pleura. Pleura adalah membrane aktif serosa dengan jaringan pembuluh
arah dan limfatik. Di sana selalu ada pergerakan cairan, fagositosis
debris,menambal kebocoran udara dan kapier. pleura viseralis menutup paru dan
sifatnya tidak sensitive. pleura berlanjut sampai ke hilus dan mediastinum
bersama pleura parietali, yang melapisi dinding dalam toraks dan diafragma.
Kebalikan dengan pleura viseralis, pleura parietalis mendapatkan persarafan dari
ujung saraf (nerveending); ketika terjadi penyakit atau cedera, mak timbul nyeri.
Pleura parietalis memiliki ujung saraf untuk nyeri; hanya bila penyaki-penyakit
menyebar ke pleura ini maka akan timbul. Pleura sedikit melebih tepi paru pada
tiap arah dan sepenuhnya terisi dengan ekspansi paru-paru normal; hanya ruang
potensial yang masih ada.
Ruang interkostal. Pleura parietalis hampir semua merupakan lapisan
dalam, diikuti oleh tiga lapis muskulus-muskulus yang mengangkat iga selama
respirasi tenang/normal. Vena, arteri nervus dari tiap rongga interkostal berada di
belakang tepi bawah iga. Karena jarum torakosentetis atau klein yang digunakan
untuk masuk ke pleura harus dipasang melewati bagian atas iga yang lebih bawah
dari sela iga yang dipilih.
Diafragma. Bagian muskular perifer berasal dari bagian bawah iga
keenam dan kartilagokosta, dari vertebra lumbalis, dan dari lengkung
lumbokostal; bagian muskular melengkung membentuk tendo sentral. Nervis
frenikus mempersarafi motorik, interkostal bahwa mempersarafi sensorik.
Diafragma yang naik setinggi putung susu, turut berperan sekitar 75% dari
ventilasi paru-paru selama respirasi biasa/tenang.
3. ETIOLOGI DAN KLASIFIKASI
a. Tension pneumothorak-trauma dada pada selang dada, penggunaan
therapy ventilasi mekanik yang berlebihan, penggunaan balutan tekan
pada luka dada tanpa pelonggaran balutan.

b. Pneumothorak tertutup-tusukan pada paru oleh patahan tulang iga, ruptur


oleh vesikel flaksid yang seterjadi sebagai sequele dari PPOM. Tusukan
paru dengan prosedur invasif.
c. Kontusio paru-cedera tumpul dada akibat kecelakaan kendaraan atau
d.
e.
f.
g.

tertimpa benda berat.


pneumothoraks terbuka akibat kekerasan (tikaman atau luka tembak)
Fraktu tulang iga
Tindakan medis (operasi)
Pukulan daerah torak.

4. PATOFISIOLOGI
Rongga dada terdiri dari sternum, 12 verebra torakal, 10 pasang iga
yang berakhir di anterior dalam segmen tulang rawan dan 2 pasang iga yang
melayang. Di dalam rongga dada terdapat paru-paru yang berfungsi dalam
sistem pernafasan. Apabila rongga dada mengalami kelainan, maka akan
terjadi masalah paru-paru dan akan berpengaruh juga bagi sistem pernafasan.
Akibat trauma dada disebabkan karena: Tension pneumothorak cedera pada
paru memungkinkan masuknya udara (tetapi tidak keluar) ke dalam rongga
pleura, tekanan meningkat, menyebabkan pergeseran mediastinum dan
kompresi paru kontralateral demikian juga penurunan aliran baik venosa
mengakibatkan kolapnya paru. Pneumothorak tertutup dikarenakan adanya
tusukan pada paru seperti patahan tulang iga dan tusukan paru akibat prosedur
infasif penyebabkan terjadinya perdarahan pada rongga pleural meningkat
mengakibatkan

paru-paru

akan

menjadi

kolaps.

Kontusio

pasru

mengakibatkan tekanan pada rongga dada akibatnya paru-paru tidak dapat


mengembang dengan sempurna dan ventilasi menjadi terhambat akibat
terjadinya sesak nafas. Sianosis dan tidak menutup kemungkinan akan terjadi
syok.
5. MANIFESTASI KLINIS
a. Tamponade jantung :
Trauma tajam didaerah perikardium atau yang diperkirakan menembus
jantung.
Gelisah.

Pucat, keringat dingin.


Peninggian TVJ (tekanan vena jugularis).
Pekak jantung melebar.
Bunyi jantung melemah.
Terdapat tanda-tanda paradoxical pulse pressure.
ECG terdapat low voltage seluruh lead.
Perikardiosentesis keluar darah (FKUI, 1995).
b. Hematotoraks :
Pada WSD darah yang keluar cukup banyak dari WSD. Gangguan
pernapasan (FKUI, 1995).
c. Pneumothoraks :
Nyeri dada mendadak dan sesak napas.
Gagal pernapasan dengan sianosis.
Kolaps sirkulasi.
Dada atau sisi yang terkena lebih resonan pada perkusi dan suara
napas yang terdengar jauh atau tidak terdengar sama sekali.

pada auskultasi terdengar bunyi klik (Ovedoff, 2002).


Jarang terdapat luka rongga dada, walaupun terdapat luka internal
hebat seperti aorta yang ruptur. Luka tikaman dapat penetrasi
melewati

diafragma

dan

menimbulkan

luka

intra-abdominal

(Mowschenson, 1990).
6. KOMPLIKASI
a. Surgical Emfisema Subcutis
Kerusakan pada paru dan pleura oleh ujung patahan iga yang tajam
memungkinkan keluarnya udara ke dalam cavitas pleura dari jaringan
dinding dada, paru. Tanda-tanda khas: penmbengkakan kaki, krepitasi.
b. Cedera Vaskuler
Di antaranya adalah cedera pada perikardium dapat membuat kantong
tertutup sehingga menyulitkan jantung untuk mengembang dan
menampung darah vena yang kembali. Pembulu vena leher akan
mengembung dan denyut nadi cepat serta lemah yang akhirnya
membawa kematian akibat penekanan pada jantung.
c. Pneumothorak

Adanya udara dalam kavum pleura. Begitu udara masuk ke dalam tapi
keluar lagi sehingga volume pneumothorak meningkat dan mendorong
mediastinim menekan paru sisi lain.
d. Pleura Effusion
Adanya udara, cairan, darah dalam kavum pleura, sama dengan efusi
pleura yaitu sesak nafas pada waktu bergerak atau istirahat tetapi nyeri
dada lebih mencolok. Bila kejadian mendadak maka pasien akan syok.
Akibat adanya cairan udara dan darah yang berlebihan dalam rongga
pleura maka terjadi tanda tanda :

Dypsnea sewaktu bergerak/ kalau efusinya luas pada waktu istirahatpun

bisa terjadi dypsnea.


Sedikit nyeri pada dada ketika bernafas.
Gerakan pada sisi yang sakit sedikit berkurang.
Dapat terjadi pyrexia (peningkatan suhu badan di atas normal).
e. Plail Chest
Pada trauma yang hebat dapat terjadi multiple fraktur iga dan bagian tersebut.
Pada saat insprirasi bagian tersebut masuk sedangkan saat ekspirasi keluar, ini
menunjukan adanya paroxicqalmution (gerakan pernafasan yang berlawanan)
f. Hemopneumothorak
Yaitu penimbunan udara dan darah pada kavum pleura.
7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. Radiologi : foto thorax (AP).
b. Gas darah arteri (GDA), mungkin normal atau menurun.
c. Torasentesis : menyatakan darah/cairan serosanguinosa.
d. Hemoglobin : mungkin menurun.
e. Pa Co2 kadang-kadang menurun.
f. Pa O2 normal / menurun.
g. Saturasi O2 menurun (biasanya).
h. Toraksentesis : menyatakan darah/cairan,
8. PENATALAKSANAAN
a. Konservatif
Pemberian analgetik
Pemasangan plak/plester
Jika perlu antibiotika
Fisiotherapy

b. Operatif/invasif
Pamasangan Water Seal Drainage (WSD).
Pemasangan alat bantu nafas.
Pemasangan drain.
Aspirasi (thoracosintesis).
Operasi (bedah thoraxis)
Tindakan untuk menstabilkan dada:
1) Miring pasien pada daerah yang terkena.
2) Gunakan bantal pasien pada dada yang terkena

Gunakan ventilasi mekanis dengan tekanan ekspirai akhir positif,


didasarkan pada kriteria sebagai berikut:
1) Gejala contusio paru
2) Syok atau cedera kepala berat.
3) Fraktur delapan atau lebih tulang iga.
4) Umur diatas 65 tahun.
5) Riwayat penyakit paru-paru kronis.

Pasang selang dada dihubungkan dengan WSD, bila tension

Pneumothorak mengancam.
Oksigen tambahan.

MANAJEMEN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan
secara menyeluruh (Boedihartono, 1994 : 10). Pengkajian pasien dengan
trauma thoraks (. Doenges, 1999) meliputi :
1. Aktivitas / istirahat:
Gejala : dipnea dengan aktivitas ataupun istirahat.
2. Sirkulasi:
Tanda : Takikardia ; disritmia ; irama jantunng gallops, nadi apical
berpindah, tanda Homman , TD , hipotensi/hipertensi , DVJ.
3. Integritas ego:
Tanda : ketakutan atau gelisah.
4. Makanan dan cairan
Tanda : adanya pemasangan IV vena sentral/infuse tekanan.
5. Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala : nyeri uni laterl, timbul tiba-tiba selama batuk atau regangan, tajam
dan

nyeri,

menusuk-nusuk

yang

diperberat

oleh

napas

dalam,

kemungkinan menyebar ke leher, bahu dan abdomen.


Tanda : berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi, mengkerutkan
wajah.
6. Pernapasan
Gejala : kesulitan bernapas ; batuk ; riwayat bedah dada/trauma, penyakit
paru kronis, inflamasi,/infeksi paaru, penyakit interstitial menyebar,
keganasan ; pneumothoraks spontan sebelumnya, PPOM.
Tanda : Takipnea ; peningkatan kerja napas ; bunyi napas turun atau tak
ada ; fremitus menurun ; perkusi dada hipersonan ; gerakkkan dada tidak
sama ; kulit pucat, sianosis, berkeringat, krepitasi subkutan ; mental
ansietas, bingung, gelisah, pingsan ; penggunaan ventilasi mekanik
tekanan positif.

7. Keamanan
Geajala : adanya trauma dada ; radiasi/kemoterapi untuk kkeganasan.
Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : riwayat factor risiko keluarga, TBC, kanker ; adanya bedah
intratorakal/biopsy paru.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekpansi paru yang
tidak maksimal karena akumulasi udara/cairan.
2. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi
sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.
3. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan
dan reflek spasme otot sekunder.
4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik terpasang
bullow drainage.
5. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan
dan ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal.
6. Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme
sekunder terhadap trauma.
C. INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI
Intervensi adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan
dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa
keperawatan (Boedihartono, 1994:20)
Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana
keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi, 1995:40).
Intervensi dan implementasi keperawatan yang muncul pada pasien dengan
trauma thorax (Wilkinson, 2006) meliputi :
1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekspansi paru yang
tidak maksimal karena trauma.
Tujuan : Pola pernapasan efektive.
Kriteria hasil :
Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektive.
Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru.
Adaptive
mengatasi
faktor-faktor

Intervensi :

penyebab.

a. Berikan posisi yang nyaman, biasanya dnegan peninggian kepala tempat


tidur. Balik ke sisi yang sakit.
b. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin.
c. Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi
pada sisi yang tidak sakit.
d. Obsservasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau
perubahan tanda-tanda vital.
e. Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebgai
akibat stress fifiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock
sehubungan dengan hipoksia.
f. Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin
keamanan.
g. Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan
mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
h. Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps
paru-paru.
i. Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien
terhadap rencana teraupetik. Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk
kontrol diri dnegan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam.
j. Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat
dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas.
Perhatikan alat bullow drainase berfungsi baik, cek setiap 1 2 jam :
1. Periksa pengontrol penghisap untuk jumlah hisapan yang benar.
Mempertahankan tekanan negatif intrapleural sesuai yang diberikan,
yang meningkatkan ekspansi paru optimum/drainase cairan.
2.

Periksa batas cairan pada botol penghisap, pertahankan pada batas


yang ditentukan. Air penampung/botol bertindak sebagai pelindung

yang mencegah udara atmosfir masuk ke area pleural.


3. Observasi
gelembung
udara
botol
penempung.
gelembung udara selama ekspirasi menunjukkan lubang angin dari
penumotoraks/kerja yang diharapka. Gelembung biasanya menurun
seiring dnegan ekspansi paru dimana area pleural menurun. Tak
adanya

gelembung

dapat

lengkap/normal atau slang buntu.

menunjukkan

ekpsnsi

paru

4. Posisikan sistem drainage slang untuk fungsi optimal, yakinkan


slang tidak terlipat, atau menggantung di bawah saluran masuknya
ke tempat drainage. Alirkan akumulasi dranase bela perlu.
Posisi tak tepat, terlipat atau pengumpulan bekuan/cairan pada
selang mengubah tekanan negative yang diinginkan.
5. Catat
karakter/jumlah
drainage
selang
Berguna

untuk

mengevaluasi

perbaikan

dada.

kondisi/terjasinya

perdarahan yang memerlukan upaya intervensi.


Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :
1. Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi.
a. Pemberian antibiotika.
b. Pemberian analgetika.
c. Fisioterapi dada.
d. Konsul photo toraks.
Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.
2. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi
sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.
Tujuan : Jalan napas lancar/normal
Kriteria hasil :
Menunjukkan batuk yang efektif.
Tidak ada lagi penumpukan sekret di sal. pernapasan.
Klien nyaman.
Intervensi :
Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat
penumpukan sekret di sal. pernapasan.
Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan
kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk.
Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak efektif,
menyebabkan frustasi.
1. Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin.
Memungkinkan ekspansi paru lebih luas.

2.

Lakukan pernapasan diafragma.


Pernapasan diafragma menurunkan frek. napas dan meningkatkan

ventilasi alveolar.
3. Tahan napas selama 3 - 5 detik kemudian secara perlahan-lahan,
4.

keluarkan sebanyak mungkin melalui mulut.


Lakukan napas ke dua , tahan dan batukkan dari dada dengan
melakukan 2 batuk pendek dan kuat.
Meningkatkan volume udara dalam paru mempermudah pengeluaran
sekresi sekret.
Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk.
Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk
klien.
Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi :
mempertahankan hidrasi yang adekuat; meningkatkan masukan cairan
1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi.
Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan
sumbatan mukus, yang mengarah pada atelektasis.
Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk.
Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan
mencegah bau mulut.
Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :
Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi.
Pemberian expectoran.
Pemberian antibiotika.
Fisioterapi dada.
Konsul photo toraks.
Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan
menevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan

3.

parunya.
Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan
dan reflek spasme otot sekunder.
Tujuan : Nyeri berkurang/hilang.
Kriteria hasil :
Nyeri berkurang/ dapat diadaptasi.

Dapat mengindentifikasi aktivitas yang meningkatkan/ menurunkan


nyeri.
Pasien tidak gelisah.
Intervensi :
Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi
dan non invasif.
Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya
telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri.
1. Ajarkan Relaksasi : Tehnik-tehnik untuk menurunkan ketegangan otot
rangka, yang dapat menurunkan intensitas nyeri dan juga tingkatkan
relaksasi masase.
Akan melancarkan peredaran darah, sehingga kebutuhan O2 oleh
jaringan akan terpenuhi, sehingga akan mengurangi nyerinya.
2. Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut.
Mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-hal yang menyenangkan.
Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan
posisi yang nyaman ; misal waktu tidur, belakangnya dipasang bantal
kecil.
Istirahat akan merelaksasi semua jaringan sehingga akan
meningkatkan kenyamanan.
Tingkatkan pengetahuan tentang : sebab-sebab nyeri, dan
menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung.
Pengetahuan yang akan dirasakan membantu mengurangi nyerinya.
Dan dapat membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap
rencana teraupetik.
Kolaborasi denmgan dokter, pemberian analgetik.
Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga nyeri akan berkurang.
Observasi tingkat nyeri, dan respon motorik klien, 30 menit setelah
pemberian obat analgetik untuk mengkaji efektivitasnya. Serta setiap 1
- 2 jam setelah tindakan perawatan selama 1 - 2 hari.
Pengkajian yang optimal akan memberikan perawat data yang

obyektif untuk mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan


3.

intervensi yang tepat.


Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik
terpasang bullow drainage.
Tujuan : Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai.
Kriteria Hasil :
tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.
luka bersih tidak lembab dan tidak kotor.
Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.
Intervensi :
Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka.
mengetahui sejauh mana perkembangan luka mempermudah dalam
melakukan tindakan yang tepat.
Kaji lokasi, ukuran, warna, bau, serta jumlah dan tipe cairan luka.
mengidentifikasi tingkat keparahan luka akan mempermudah
intervensi.
Pantau peningkatan suhu tubuh.
suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasikan sebagai adanya
proses peradangan.
Berikan perawatan luka dengan tehnik aseptik. Balut luka dengan kasa
kering dan steril, gunakan plester kertas.
tehnik aseptik membantu mempercepat penyembuhan luka dan
mencegah terjadinya infeksi.
Jika pemulihan tidak terjadi kolaborasi tindakan lanjutan, misalnya
debridement.
agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi tidak menyebar luas
pada area kulit normal lainnya.
Setelah debridement, ganti balutan sesuai kebutuhan.
balutan dapat diganti satu atau dua kali sehari tergantung kondisi
parah/ tidak nya luka, agar tidak terjadi infeksi.
Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.

antibiotik berguna untuk mematikan mikroorganisme pathogen pada


4.

daerah yang berisiko terjadi infeksi.


Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakcukupan
kekuatan dan ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal.
Tujuan : pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal.
Kriteria hasil :
penampilan yang seimbang..
melakukan pergerakkan dan perpindahan.
mempertahankan mobilitas optimal yang dapat di toleransi, dengan
karakteristik :
0 = mandiri penuh
1 = memerlukan alat Bantu.
2 = memerlukan bantuan dari orang lain untuk bantuan, pengawasan,
dan pengajaran.
3 = membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat Bantu.
4 = ketergantungan; tidak berpartisipasi dalam aktivitas.
Intervensi :
Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan
peralatan.
mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.
Tentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas.
mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan aktivitas apakah
karena ketidakmampuan ataukah ketidakmauan.
Ajarkan dan pantau pasien dalam hal penggunaan alat bantu.
menilai batasan kemampuan aktivitas optimal.
Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif.
mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot.
Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau okupasi.
sebagai suaatu sumber untuk mengembangkan perencanaan dan

5.

mempertahankan/meningkatkan mobilitas pasien.


Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya
organisme sekunder terhadap trauma.

Tujuan : infeksi tidak terjadi / terkontrol.


Kriteria hasil :
tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.
luka bersih tidak lembab dan tidak kotor.
Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.
Intervensi :
Pantau tanda-tanda vital.
mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutama bila suhu tubuh
meningkat.
Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik.
mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen.
Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus, kateter,
drainase luka, dll. Untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial.
Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah,
seperti Hb dan leukosit. penurunan Hb dan peningkatan jumlah
leukosit dari normal bisa terjadi akibat terjadinya proses infeksi.
Kolaborasi untuk pemberian antibiotik. Antibiotik mencegah
perkembangan mikroorganisme patogen.
D. EVALUASI
Evaluasi addalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf
keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan
untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker,
Christine. 2001).
Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan trauma thorax/dada adalah :
1) Pola pernapasan efektive.
2) Jalan napas lancar/normal
3) Nyeri berkurang/hilang.
4) Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai.
5) pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal
6) infeksi tidak terjadi / terkontrol.

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Ada banyak cara mengatasi faktor-faktor penyebab diantaranya adalah:
a. Berikan posisi yang nyaman, biasanya dnegan peninggian kepala
tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit.
b. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin.
c. Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan
ventilasi pada sisi yang tidak sakit.
d. Obsservasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau
perubahan tanda-tanda vital.
e. Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi
sebgai akibat stress fifiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan
terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia.
f. Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk
menjamin keamanan.
g. Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan
mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
h. Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau
kolaps paru-paru.
i. Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan
klien terhadap rencana teraupetik. Pertahankan perilaku tenang, bantu
pasien untuk kontrol diri dnegan menggunakan pernapasan lebih
lambat dan dalam.
j. Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat
dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas.
2. Saran
a. Gunakan pendekatan non farmakologi untuk mengurangi rasa sakit
seperti relaksasi dan distraksi.
b. Menghilangkan sekret di dada agar tidak terlalu sesak.