Anda di halaman 1dari 4

LATIHAN 1

Suatu enzim protease diisolasi dari pankreas sapi. Reaksi enzim dilakukan pada suhu 37oC dan
pH 5,0 selama 60 menit. Jika substrat semula ada sebanyak 0,050 g dan sesudah reaksi sisa 0,045
g. Tentukanlah aktifitas enzim jika dalam preparat enzim ada protein sebanyak 0,020 g

JAWAB

Dik: T = 37oC

pH =5

t = 60 menit

msubstratawal = 0,050 gr

msubtratsisa = 0,045 gr

mprotein = 0,020 gr

Dit: Aktifitas enzim = ………..?

JAWAB
𝑠𝑒𝑙𝑖𝑠𝑖ℎ 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑠𝑢𝑏𝑡𝑟𝑎𝑡 0,050−0,045
Aktifitas Unit (IU) = = = 8x10-5 gram/menit
𝑡 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡) 60

8𝑥10−5
Aktiitas Spesifik (AS) = 2 𝑥 10−2 = 4x10-3 menit

LATIHAN 2

1. Mengapa suatu enzim rusak? Jelaskan beberapa faktor yang mungkin dapat merusak enzim

JAWAB

Enzim adalah merupakan protein yang bersifat termolabil atau sifat mudah rusak karena
pengaruh suhu yang terlalu tinggi ataupun dibawah 0oC. Jika suhu enzim terlalu tinggi dapat
mengakibatkan denaturasi protein atau kerusakan pada protein, demikian sebaliknya jika
suhu terlalu rendah akan menghambat kinerja/aktifitas enzim. Tinggi rendahnya suhu
lingkungan menimbulkan perubahan pH dan jumlah konsentrasi pada enzim tidak seimbang
dengan jumlah substrat sehingga reaksi yang berlangsung menjadi lambat.
Faktor-faktor yang mungkin dapat merusak enzim:
1. Pengaruh Temperatur
Karena enzim adalah zat yang tersusun atas protein, maka enzim juga memiliki sifat
thermolabil atau sifat mudah rusak karena pengaruh suhu. Oleh karena itu, suhu atau
temperatur termasuk salah satu faktor yang mempengaruhi kerja enzim. Suhu terlalu tinggi
akan membuat enzim mengalami denaturasi protein atau kerusakan, sementara suhu yang
terlalu rendah akan membuat reaksi kerja enzim terhambat.
2. Pengaruh pH

Selain suhu, pH juga termasuk salah satu faktor yang mempengaruhi kerja enzim.
Perubahan pH pada lingkungan sekitar enzim akan membuat perubahan asam amino kunci
di sisi aktif enzim. Hal ini membuat sisi aktif enzim terhalangi untuk dapat bergabung dengan
substrat. pH optimum yang diperlukan masing-masing enzim mempunyai kisaran yang
berbeda, tergantung dari jenis enzimnya. Secara sederhana, grafik pengaruh pH terhadap
laju reaksi enzim dapat dilihat pada gambar di samping.
3. Pengaruh Konsentrasi Substrat dan Enzim

Reaksi kerja enzim dapat optimum jika perbandingan antara konsentrasi substrat dan enzim
berada dalam jumlah yang seimbang. Bila jumlah enzim lebih sedikit dibanding jumlah
substratnya, maka reaksi hanya akan berjalan lambat sehingga ada beberapa substrat yang
tidak terkatalisasi. Sementara, bila jumlah enzim lebih banyak dibanding jumlah substratnya,
maka reaksi akan berjalan sangat cepat.

4. Pengaruh Inhibitor
Laju reaksi enzim sebagai biokatalisator suatu substrat juga dipengaruhi adanya zat
penghambat atau inhibitor. Bila inhibitor ditambahkan atau muncul dalam lingkungan reaksi,
maka kecepatan kerja enzim akan menurun.
Secara umum, ada 2 jenis inhibitor dalam faktor yang mempengaruhi kerja enzim. Keduanya
yaitu inhibitor kompetitif dan inhibitor non kompetitif.
a. Inhibitor kompetitif
Inhibitor kompetitif adalah inhibitor yang mempunyai struktur mirip dengan substrat. Oleh
karenanya, antara inhibitor dan substrat akan saling bersaing dalam melakukan ikatan dan
bergabung dengan sisi aktif enzim. Bila inhibitor yang lebih dulu berikatan, maka substrat tidak
akan terkatalis, begitupun sebaliknya. Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar ilustrasi
mekanisme penghambatan oleh inhibitor kompetitif pada gambar di bawah ini.

b. Inhibitor non kompetitif


Inhibitor non kompetitif adalah inhibitor yang jika telah melakukan ikatan pada suatu bagian
enzim mampu mengubah sisi aktif enzim menjadi tidak sesuai dengan struktur substrat. Untuk
lebih jelasnya, perhatikan gambar ilustrasi mekanisme penghambatan oleh inhibitor non
kompetitif pada gambar di atas.
2. Seorang ibu rumah tangga memasak ekstrak nenas untuk membuat kue. Apakah nama enzim
dalam nenas, lalu bagaimana kah nasib enzim kandungannya?
JAWAB
Enzim pada buah nenas yaitu enzim bromelain. Bromelain juga mengandung amylase,
selulosa, asam fosfatase, dan asam peroksidase dalam jumlah yang sangat kecil.
3. Apa beda enzim terdenaturasi dengan enzim terhidrolisis? Jelaskan
JAWAB
Perbedaan enzim terdenaturasi dengan enzim terhidrolisis:
Peningkatan suhu di atas suhu optimum menyebabkan putusnya ikatan hydrogen dan ikatan
lain yang merangkai molekul enzim, sehingga enzim mengalami denaturasi. Denaturasi
adalah rusaknya bentuk tiga dimensi enzim yang menyebabkan enzim tidak dapat lagi
berikatan dengan substratnya. Sedangkan enzim yang terhidrolisis adalah proses pemecahan
polimer menjadi monomer penyusunnya dengan bantuan wnzim.
LATIHAN 4

Bagaimana NADH dapat digunakan sebagai analisis kuantitatif enzim laktat dehidregenase?

Jawaban:

Koenzim yang mampu berdifusi secara bebas umumnya berfungsi sebagai unsur pembawa
(yang didaur ulang secara kontinu) hydrogen (FADH), hidrida (NADH dan NADPH), atau
unit-unit kimia seperti gugus asil (koenzim A) atau gugus metil (folat), membawanya bolak-
balik antara tempat pembentukannya dan pemakaiannya. Oleh karena itu, koenzim yang
disebut belakangan ini dapat dianggap sebagai substrat sekunder.

Untuk dua laasan penting, akan sering kali membantu untuk menganggap koenzim sebagai
substrat sekunder. Alasan pertama, perubahan kimia di dalam koenzim terjadi tepat
mengimbangi perubahan kimia yang berlangsung di dalam substrat. Sebagai contoh, dalam
reaksi oksideruduksi, jika satu molekul substrat dioksidasi, satu molekul koenzim akan
direduksi.

Aalsan kedua untuk memberi koenzim penghargaan yang sama adalah bahwa aspek reaksi ini
mungkin mempunyai makna fisiologik mendasar yang lebih besar. Sebagai contoh, peran
penting kmampuan otot yang bekerja secara anaerob untuk mengubah piruvat menjadi laktat
tidak terletak pada piruvat ataupun laktat. Reaksi tersebut semata-mata bertujuan
mengoksidasi koenzin NADH yang tereduksi menjadi NAD+. Tanpa NAD+ glikolisis tidak
dapat berlanjut dan sintesis ATP Anaerob (dan dengan demikian, aktivitas kerjannya) akan
terhenti. Di bawah keadaan anaerob, reduksi piruvat menjadi laktat menghasilkan oksidasi
ulang NADH dan memunkinkan sintesis ATP. Reaksi lain dapat melakukan funsi ini sama
baiknya. Sebagai contoh pada bakteri atau ragi yang tumbuh secara anaerob, metabolit yang
berasal dari piruvat bertindak secara oksidan bagi NADH dan mereka sendiri berada dalam
keadaan tereduksi.

Gambar : NAD+ bekerja sebagai kosubstrat dalam reaksi laktat hidrogenase.