Anda di halaman 1dari 147

42

BAB III
GEOLOGI DAN KEADAAN ENDAPAN

3.1 Geologi Kabupaten Ketapang


Secara regional di daerah penyelidikan termasuk dalam Peta Geologi Bersistem
Lembar Ketapang – 1411, di mana formasi batuan penyusun dari muda ke tua
adalah sebagai berikut ( E.Rustandi (GRDC) & F. De Keyser (AGSO), 1993):
1. Endapan Aluvium (Qa)
Merupakan endapan permukaan Kuarter yang terdiri dari kerikil, pasir, lanau,
kadangkadang gambut. Bersifat lepas. Umumnya mengisi daerah pantai dan
daerah aliran sungai besar.
2. Rombakan Lereng, Talus (Qs),
Berupa rombakan kerakal dan bongkah batuan yang kasar, berumur Kuarter,
menjemari dengan alluvium dan endapan rawa.
3. Basal Bunga (Kubu)
Terdiri dari batuan basal berwarna hitam sampai kelabu tua dan pejal, selain itu
terdapat dasit, andesit kelabu kehijauan, lava, tufa litik-kristal dan breksi
gunungapi dimana pada alasnya terdapat batupasir sedang sampai halus,
diperkirakan berumur Kapur Akhir – Paleosen. Batuan ini tidak selaras diatas
Komplek Ketapang, Batuan Gunungapi Kerabai dan Granit Sukadana serta
menindih Granit Sangiyang.
4. Formasi Granit Sangiyang (Kusa)
Merupakan batuan beku pluton berkomposisi granitik alkali-feldspar leukokratik.
Batuan ini mengerobos formasi Granit Sukadana (Kus), Batuan Gunung Api
Kerabai (Kuk) dan mungkin juga menerobos Basal Bunga (Kubu).
5. Formasi Granit Sukadana (Kus)
Merupakan batuan pluton; banyak mempunyai banyak jenis/tingkatan: Monzonit
Kuarsa, Monzogranit, Syenogranit dan Granit Alkali-Feldspar, sedikit Syenit
kuarsa, Monzodiorit Kuarsa dan Diorit kuarsa dan syenogranit, langka diorit dan
43

gabro, beberapa mengandung olivin retas dan urat aplit tingkat akhir bersifat
lokal; Macam-macam tingkatan kuarsa feldspar alkali (umumnya pertit atau
mikropertit) plagioklas (biasanya berlajur) biotit, hornblenda, klinopiroksen,
ortopiroksen, dan hasil ubahannya yang umum berupa granit alkali-felspar
mengandung ribekit dan atau arsvendosit; K-felspar setempat-setempat
terkaolinisasikan, terutama syenit kuarsa, dan granit alkali felspar.
Metasomatis potas tingkat lanjut diperlihatkan oleh munculnya K-felsfar dari dua
generasi dalam beberapa batuan (satu yang terkaolinisasi lebih tua, dan yang
muda yang lebih segar yang setempat-setempat mengandung mineral mafik dan
mineral-mineral lainnya); Mineral mafik umumnya dalam gumpalan, dan jelas
adanya macam-macam kandungan mineral dalam satu singkapan memberikan
dugaan bahwa satuan ini berasal dari pencampuran susunan magma.
Formasi ini menerobos dan secara termal mengubah Malihan Pinoh dan Komplek
Ketapang; dianggap menerobos Granit Belaban; menerobos dan menindih batuan
Gunungapi Kerabai, dengan mana kelihatannya berkerabat; diterobos oleh granit
Sangiyang dan oleh retas–retas dan sill–sill mafik sampai felsik, ditindih oleh
Basal Bunga. Formasi ini terbentuk pada Kapur Akhir. Batuan terobosan
metalumina yang mengandung cukup soda dengan sedikit kandungan paralumina
dan jarang perakalin. Batuan Terobosan setelah penunjaman. Jenis 1 kemungkian
terjadi akibat leburan sumber batuan beku basa yang terpecah di bagian bawah
kerak. Penyebarannya meliputi perbukitan dan rangkaian perbukitan di seluruh
wilayah lembar peta termaksuk kepulauan-kepulauan di sekitarnya.
6. Formasi Gunungapi Kerabai (Kuk)
Tersusun dari batuan piroklastik (abu, lapili, kristal, tufa kristal dan litik, breksi
gunung api dan aglomerat) umumnya berkomposisi Basaltik dan Andesitik;
mengandung mineral dolerit, trakhiandesit, krotofir kuarsa; Beberapa
berkomposisi dasitik, riodasitik dan riolitik umumnya terdapat setempat-setempat;
Terdapat terobosan dan lava porfiritik, umumnya pecah-pecah, terubah secara
hidrotermal dan terpotong oleh urat-urat klorit - epidot. Susunan piroklastik tufa
berwarna fresh hijau sampai kelabu, di mana umumnya dalam keadaan lapuk
memberikan bermacam-macam warna yaitu coklat, merah dan kuning, terdapat
44

mineral-mineral pofiroklas dari felspar yang tersausuritisasi, hornblenda, augit,


sedikit kuarsa, hipersten dan biotit, sedikit olivin, fragmen batuan daripada batuan
gunung api berbutir halus. Formasi ini diendapkan secara tidak selaras di atas dan
setempat-setempat berjemari dengan Komplek Ketapang; tidak selaras dengan
Formasi Granit Laur, diterobos dan menindih Formasi Granit Sukadana yang
terlihat berkerabat; diterobos Granit Sangiyang; ditindih oleh Basal Bunga.
Sebagian sama dengan Basal Bunga. Terbentuk oleh proses gunungapi subaerial
yang berumur Kapur akhir-Paleosen; Ketebalan Tidak diketahui; Penyebarannya
meliputi seluruh bagian dataran lembar peta membentuk dataran rendah diselatan
tetapi naik sampai >1000 mdpl di bagian utara. (Pieters & Sanyoto,1987;
termasuk Komplek Mantan dari de Kenser & Rustandi,1989).
7. Komplek Ketapang (JKke)
Tersusun dari Batuan pesamit dan terlapis secara pelitik, terlapis sedang sampai
tipis, terubah secara beraneka ragam oleh malihan termal dan ubahan hidrotermal:
batulempung, batupasir halus-kasar dan lepungan yang serisitan (setempat-
setempat lanauan dan bersilang siur), arenit litik (Beberapa tufaan atau
mengandung pecahan batuan gunung api hasil ‘rework’). Serpih (setempat-
setempat pasiran), dan batusabak; Kadang-kadang gampingan membentuk batuan
kalk-silikat. Batuan terangkat dan terlipat, umumnya dengan kemiringan antara 30
derajat sampai tegak. Terdapat fosil Mikroflora Lanjut Caytonipollenites
(Muller,1968; Albian Akhir-Cenomanian), dan satu conto terlihat kaya akan
sepon litistid yang mungkin berumur Jura. Satuan ini terbentuk secara tidak
selaras di atas Malihan Pinoh tetapi tak terlihat kontaknya; Tidak selaras dan
setempat-setempat berjemari dengan batuan Gunugapi Kerabai; Tidak selaras di
bawah Basal Bunga; Diterobos oleh Granit Sukadana dan Granit Sangiyang;
kontak dengan Granit Belaban tidak terlihat. Mungkin dapat disebandingkan
dengan batupasir Kempari di Ngataman. Berumur Jura- Kapur Akhir. Ketebalan
tidak diketahui; Penyebarannya meliputi wilayah tanah rendah yang secara
topografi tidak jelas bentuknya, tersebar di banyak wilayah lembar peta, termasuk
Pulau Cempedak, (van Bemmelen,1939; de Keyser & Rustandi,1989).
8. Batuan Malihan Pinoh (PzTRp)
45

Terdiri batuan kuarsit berwarna kelabu tua, terhablur ulang mengandung anortit,
kaya turmalin, genes klinopiroksin-hornblende, mengandung klinozoisit dan
skapolit, dan batuan migmatik; sekis mika dan kuarsit mika dengan biotit
porfiroblastik, andalusit, garnet, muskovit sekunder dan turmalin local; sekis
andalusit-mika. Batuan ini diperkirakan berumur Paleozoik – Trias, berada tidak
selaras dibawah Komplek Ketapang, diterobos dan termalihkan secara termal oleh
Granit Sukadana.

(Sumber : Badan Pusat Geologi Kabupaten Ketapang)


Gambar 3.1
Peta Geologi Kabupaten Ketapang (Lampiran III.1)

3.2 Stratigrafi Kabupaten Ketapang


Umumnya batuan dasar di wilayah Ketapang berupa batuan granit dan batuan
gunung api yang tersebar dan terpisah-pisahkan oleh singkapan batuan sedimen
pra-Tersier dan sedikit batuan malihan.Berdasarkan stratigrafinya, batuan tertua
berumur Trias – Jura Awal berupa batuan Malihan Pinoh yang terdiri dari kuarsit,
gneiss, sekis mika dan kuarsit mika. Pembentukan batuan malihan ini
diperkirakan berasosiasi dengan intrusi granit Sukadana pada zaman Kapur Akhir.
Diatas batuan Malihan Pinoh dianggap tidak selaras diendapkan batuan Komplek
Ketapang pada zaman Jura – Kapur Akhir. Satuan batuan ini berkomposisi batuan
46

sedimen dan beberapa bagian terubah menjadi batuan metamorf termal. Batuan
sedimen terdiri atas batulempung, batupasir halus-kasar, arenit litik, serpih dan
batusabak. Satuan batuan ini diterobos oleh granit Sukadana dan Granit
Sangiyang pada Kapur Akhir.

(Sumber : Badan Pusat Geologi Kabupaten Ketapang)


Gambar 3.2
Stratigrafi Kabupaten Ketapang (Lampiran III.2)

Batuan Gunungapi Kerabai berumur Kapur Akhir-Paleosen, diendapkan tidak


selaras diatas dan setempat-setempat menjemari dengan Komplek Ketapang; tidak
selaras diatas Granit Laur yang berumur Kapur Awal. Satuan batuan ini diterobos
dan menindih Granit Sukadana dan Granit Sangiyang. Komposisi batuan
Gunungapi Kerabai umumnya terdiri atas andesit, basal, riolit, dasit dan ridasit,
serta kebanyakan batuan piroklastik berupa tuff litik dan kristal, breksi volkanik
serta aglomerat.
47

Satuan Basal Bunga diendapkan secara tidak selaras diatas Komplek Ketapang,
Batuan Gunungapi Kerabai dan Granit Sukadana serta menindih Granit
Sangiyang. Satuan ini berumur Kapur Akhir – Paleosen dengan komposisi batuan
intrusi : basal, dasit , andesit dan batuan piroklastik lava, tuf litik-kristal, breksi
volkanik dan batupasir sedang-halus.Pada zaman Oligosen - Miosen diendapkan
satuan Batuan Terobosan Sintang dengan komposisi batuan piroklatik berupa tuf
riodasit. Endapan paling muda berumur Kuarter berupa endapan talus, Aluvium
dan Rawa terdiri atas bongkah, kerakal, kerikil, pasir, lanau, dan lumpur.

3.3 Geomorfologi Kabupaten Ketapang


Sebagian besar wilayah Ketapang merupakan suatu peneplain, dan secara
berangsur ke arah timur berubah menjadi morfologi bergelombang dan tanah
tinggi pegunungan. Pembagian morfologi wilayah Ketapang dapat dibedakan
menjadi dataran (pantai) alluvium dan litoral, Dataran rendah bergelombang dan
Dataran tinggi pegunungan.

(Sumber : Badan Pusat Geologi Kabupaten Ketapang)


Gambar 3.3
Peta Morfologi Kabupaten Ketapang (Lampiran III.3)
48

Dataran alluvium dan litoral merupakan dataran yang kurang aliran sungai dan
umumnya berawa dengan elevasi umumnya kurang dari 100 meter diatas muka
laut. Dataran ini melebar dari pantai ke pedalaman sejauh 70 km. Morfologi ini
dicirikan oleh sungai meander dengan potongan-potongan meander dan danau
oxbow, serta bentukan geologi batuan keras seperti granit dan batuan gunungapi.
Bagian dataran yang paling ekstensif terdapat dibagian utara wilayah Ketapang
dibuktikan dengan aktifnya proses sedimentasi di masa lalu. Beberapa bentukan
batuan keras di wilayah dataran menghasilkan morfologi yang menonjol terisolasi
berupa gunung pulau (inselberg) di lingkungan dataran.
Dataran rendah bergelombang memperlihatkan bentang alam bergelombang
terdiri dari bukit-bukit membulat dan peneplain yang tertoreh. Elevasi topografi
berkisar 100 meter hingga 800 meter diatas muka laut. Sungai-sungainya mengalir
membentuk pola aliran dendritik, sungai besar diapit oleh dataran banjir dan rawa-
rawa. Proses pelapukan sangat kuat dan regolit yang tebal meluas di wilayah
dataran rendah. Endapan alluvium tipis dan sedikit-sedikit, hanya terbatas di
daerah dekat sungai-sungai besar.Morfologi Dataran tinggi terdapat dibagian
timur laut dan tenggara Ketapang yang membentuk penonjolan dengan bentang
alam pegunungan dimana puncak-puncaknya mencapai ketinggian lebih dari 800
meter diatas muka laut. Morfologi ini dicirikan oleh lereng yang terjal, relief
tinggi, topografi muda, lembah berbentuk V dan erosi yang kuat. Singkapan
batuan lebih banyak dan lebih segar.

3.4 Genesa Endapan Bauksit


Unsur senyawa yang diperhatikan merupakan ikatan pengayaan unsur tunggal
yang bereaksi terhadap media air dan mengendapkan senyawa baru, dalam
pertambangan bauksit senyawa tersebut adalah Aluminium trihidrat (Al2O3),
Besi trihidrat (Fe2O3), Silikat oksida (SiO2), Titanium oksida (TiO2) dan Total
silikat (R-SiO2). Intensifnya perkembangan laterit di daerah tropis basah
menyebabkan terbentuknya tanah laterit.
Pada umumnya proses laterisasi pada bauksit terdiri dari beberapa tahapan, yaitu
pelarutan, transportasi, dan pengendapan kembali mineral. Faktor yang terpenting
49

pada pelarutan adalah pH, solubility, dan kestabilan mineral. Faktor yang
berpengaruh pada transportasi dan pengendapan kembali mineral adalah iklim,
topografi, morfologi, dan mobilitas unsur. Hasil pelapukan akan ditransportasikan
oleh airtanah atau air hujan, kemudian diendapkan kembali. Proses terjadi dengan
baik pada permukaan tanah landai dengan kemiringan tertentu, keadaan morfologi
dan topografi yang cenderung bergelombang miring.
Beberapa unsur yang sangat penting dalam endapan laterit bauksit adalah Al, Fe,
Si dan Ti. Perbandingan antara nilai Al dan Si merupakan patokan keekonomisan
tambang bauksit. Pada iklim tropis, Ca, Ni, Si dan Ti mengalami pelindian
terlebih dahulu dan lebih mobile dibanding dengan Al dan Fe.Pelarutan dan
penguraian plagioklas, alkali feldspar, besi, aluminium dan silika dalam larutan
akan membentuk suspensi koloid. Pada larutan, besi akan bersenyawa dengan
oksida dan mengendap sebagai ferri hidroksida. Akhirnya endapan ini akan
menghilangkan air dengan membentuk mineral geothit FeO(OH), hematit
(Fe2O3), dan kobalt (Co) dalam jumlah kecil, sedangkan Al akan mengendap
menjadi endapan bauksit Al2O3.2H2O (dalam hal ini bauksit secara umum).
Pengendapan dikontrol pH sebagai penetralisir reaksi kimia oleh tanah. Jika
konsentrasi air berkurang pada saat pengendapan laterit bauksit, maka buhmit dan
diaspor dapat terbentuk.
Selain itu, pengayaan unsur lainnya yang terikat bauksit adalah R-Si. Unsur ini
merupakan unsur terpisah dari Si yang terbentuk pada laterit bauksit, serta usnsur
yang dipertimbangkan dalam penambangan bauksit. Hal ini disebabkan karena
untuk menguraikan senyawa bauksit nantinya, perlunya penambahan NaOH untuk
mendapatkan bauksit murni. Proses pengayaan dan pengendapan laterit bauksit
paling baik pada topografi miring yang mana proses mobilitas unsur yang rendah,
karena pada bagian puncak cenderung untuk mengalirkan hasil erosi dan respirasi
air meteorik. Sedangkan pada bagian lembah, lebih banyak membentuk endapan
laterit Fe seperti hematit dan limonit sebagai hasil akumulasi material sedimen
serta peresapan larutan. Kehadiran kekar ataupun rekahan akan mempercepat
proses respirasi dan penghancuran batuan sehingga mempengaruhi pembentukan
zona deposit. Bauksit yang terbentuk adalah jenis gibsit yang terbentuk pada
50

lapisan tanah andosol dan catena, termasuk endapan bauksit residu hasil
pelapukan batuan (insitu). Setiap batuan dasar memiliki karakteristik bauksit
tertentu diantaranya Granodiorit menghasilkan tanah laterit berwarna merah bata
dengan tekstur bauksit agak kasar terdapat mineral kuarsa berukuran 1-3mm
dengan ketebalan lapisan saprolit 7-10m, Diorit kuarsa membentuk endapan tanah
laterit berwarna kuning keorange-an dengan kondisi batuan/sampel lebih halus
dengan mineral yang cenderung lepas dengan ketebalan lapisan saprolit 4-8m, dan
Diorit menghasil kan warna tanah cenderung coklat hingga coklat gelap dengan
tanah laterit berwarna kuning. Sering ditemukan rembesan air, boulder fresh rock,
lempung dan pasir silika.
3.4.1 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Bauksit
Beberapa faktor yang mempengaruhi pengendapan bauksit seperti yang
disebutkan oleh Alcomin (1974), adalah sebagai berikut:
1. Sumber batuan yang kaya akan unsur-unsur Al.
2. Wilayah Sub tropis dengan lingkungan penguapan yang tinggi.
3. Suhu harian rata-rata >25ºC.
4. Topografi bergelombang.
5. Daerah Stabil (old continental/stadium tua).
6. Formasi batuan yang berada diatas mata air permanen.
Beberapa faktor eksternal juga dapat mempercepat proses pelapukan seperti
struktur geologi, frekuensi curah hujan dan suhu harian yang tinggi (daerah
subtropis), dan juga asam organik. Yang terakhir ini berasal dari tanaman yang
akan menurunkan pH tanah menjadi <4. Pada pH <4 dan pH>9 elemen Al2O3
akan dilepaskan, tetapi SiO2 hanya akan terlepas pada pH> 9 - pH 10. Karena pH
normal air tanah adalah 7 maka pada kedalaman tertentu akan terjadi pelepasan
Al2O3 dan SiO2, hal ini sudah tentu terkait dengan topografi yaitu pada kondisi
slope yang pendek.
Unsur-unsur lain seperti Ca, Na, K dan Mg akan diangkut oleh air tanah melalui
sistem drainase pada daerah rendah ke daerah yang cekung. Sedimentasi residu
Al2O3SiO3 dan garam Fe pada pH antara 4 dan 9 disebabkan oleh normalisasi pH
tanah pada kedalaman tertentu. Pada kondisi pH 4-9, silika dari feldspar alkali
51

akan bercampur dengan air (H2O) membentuk silikat alumina hidrat dengan
Al2O3 SiO3 dan H2O.
Di daerah subtropis, dekomposisi dari kombinasi silikat akan berjalan lebih cepat
sehingga akumulasi dari oksida besi dan aluminium akan membentuk kongkresi
bauksit. Bentuk variasi dari kongkresi diantaranya adalah sub-rounded, tabular,
memperlihatkan bentuk anhedral dalam matriks lempung, serta terkadang berupa
lempung pasiran. Transportasi elemen terlarut dan sedimentasi residu sangat
dipengaruhi oleh topografi. Di daerah dengan morfologi gelombang rendah dan
stadium tua akan menghasilkan sirkulasi air tanah yang baik sebagai media
transportasi elemen, tetapi dengan syarat erosi vertikal tidak terjadi lagi. Jensen
dan Bateman, 1981 menjelaskan bahwa bauksit terbentuk sebagai sisa sedimentasi
pada atau dekat permukaan. Sedimentasi terbentuk dari hasil akumulasi mineral
aluminium silikat yang bebas massa kuarsa. Dalam proses konsentrasi tersebut,
terjadi perubahan volume hingga konsentrasi mencapai nilai komersial untuk
ditambang.

3.4.2 Mineralisasi Selama Proses Pembentukan Bauksit


Dalam bauksit ada preferensi untuk neomineralisasi hidroksida, oksida terhidrasi
dan oksida Al, Fe dan Ti, tetapi dalam hal ini lapisan silikat dan kuarsa pun dapat
terbentuk. Pembebasan unsur-unsur dari mineral atau batuan diatur oleh:
1. Obligasi dalam kisi kristal mineral yang akan hancur;
2. Kelarutan pada fase mineral sekunder;
3. pH dan Eh dari larutan;
4. Pengisian elemen, misalnya, Fe;
5. Suhu dan konsentrasi pelapukan larutan;
6. Ion lain dalam pelapukan larutan.
Bauksit di indonesia pada umumnya terbentuk dari proses sekunder berupa
pelapukan (lateritisasi) pada batuan beku yang kaya akan mineral yang
mengandung alumunium (feldspar) seperti granit, granodiorit, diorit, gabbro, dan
andesit. Syarat bauksit yang bernilai ekonomis adalah mengandung elemen Al2O3
yang tinggi, tetapi rendah total silika (TSiO2) dan rendah reaktif silika (RSiO2).
52

3.4 3 Proses Pembentukan Bauksit Laterit


Endapan Bauksit terbentuk dari proses laterisasi yaitu proses yang terjadi karena
pertukaran suhu secara terus menerus sehingga batuan asal mengalami pelapukan
(weathering) dan terpecah – pecah. Pada musim hujan, air memasuki rekahan –
rekahan dan menghanyutkan unsur – unsur yang mudah larut, sementara unsur –
unsur yang sukar / tidak larut tertinggal dalam batuan induk. Setelah unsur–unsur
yang mudah larut dari batuan induk seperti Na, K , dan Ca dihanyutkan oleh air,
residu yang ditinggalkan (disebut laterit) menjadi kaya dengan hidrooksida
alumunium (Al(OH)3) yang kemudian oleh proses dehidrasi akan mengeras
menjadi bauksit.
Proses pembentukan laterit bauksit memerlukan beberapa syarat antara lain :
1. Harus beriklim tropis atau subtropis. Musim hujan sebagai masa
pembentukan Al2O3 dan Fe2O3. Pada waktu hujan yang banyak berpengaruh
adalah asam humus, CO2 dan pH asam yang dapat merusak batuan. Pada
musim kemarau yaitu masa penghancuran silikat-silikat dan umumnya
terangkut dalam bentuk gel. Air dengan pH asam akan membawa silika dan
oksida besi dalam bentuk larutan, disamping itu silika umumnya mudah
larut dalam air hujan.
2. Batuan asal harus kaya alumina dengan perbandingan tertentu terhadap Fe
oksida (Al2O3 : Fe2O3 = 3 : 1) dan silika bila dalam jumlah besar harus
dalam ukuran sub mikroskopis dan tersebar. Batuan tersebut berada diatas
muka air tanah.
3. Daerah tersebut harus stabil dan landai, sehingga proses pengikisan sudah
tidak berjalan secara aktif. Keadaan demikian merupakan suatu peneplain
dengan bukit-bukit yang perbedaannya tidak mencolok serta mempunyai
pola aliran dendritik dalam stadium tua. Karena apabila terdapat lerenga-
lereng yang terjal, yang terjadi adalah proses pengikisan karena air akan
bergerak secara cepat.
4. Pergerakan air tanah secara horisontal yang lambat dan dalam waktu yang
lama, sehingga bahan-bahan hasil pelindian akan terangkut tanpa terjadi
pengikisan.
53

Batuan yang mengandung


feldspar

Proses pelapukan dan


pelarutan batuan asal oleh air
(batuanasam
beku asam-
Pelarutan dan transportasi
intermediet)
unsur-unsur larut seperti (Ca,
Na, K)

- Pembentukan residu Al2O3,


Pengendapan residu hydrat
SiO2 H2O (Hydrous Alumunium
aluminium silicates dan Fe
Silicate) dan Fe

Pembentukan endapan
bauksit lateritik

(Sumber : Geologinesia Endapan Bauksit)


Gambar 3.4
Bagan Alir Proses Pembentukan Bauksit

3.4.4 Faktor yang mempengaruhi proses pembentukan


Dalam pembentukan bauksit, ada faktor-faktor yang menyebabkan terubahnya
batuan menjadi bauxite ore, antara lain :
a. Batuan asal (source rock)
Batuan asal merupakan hal terpenting dalam terbentuknya bauksit, karena
kandungan mineral yang dibawa oleh batuan asal akan berpengaruh pada
kandungan alumina yang terbentuk pada endapan bauksit. Bauksit di sini
merupakan hasil ubahan dari batuan yang kaya akan felsic dan potash
feldspar yang lapuk dan larut unsur-unsurnya (Ca, Na, K) akibat dari
transportasi air yang mengandung ion H+ yang banyak, dan dalam hal ini
batuan asal yang berupa batuan beku yang memiliki peran penting sebagai
batuan asal yang akan membentuk endapan bauksit, karena pada umunya
batuan beku memiliki kandungan felsic dan potash feldspar yang cukup
tinggi (>40%).
54

Contoh :
Ortochlase (potash feldspar) air asam Residu alumina
Potassium Alumunium Silicates (KAlSiO3O) melarutkan unsur K (Al2O3.3H2O)

Albite (sodium feldspar) air asam Residu alumina


Sodium Alumunium Silicates (NaAlSiO3O8) melarutkan unsur Na (Al2O3.3H2O)

Labradorite (calcium feldspar) air asam Residu alumina


Calcium Alumunium Silicates (CaAlSiO3O8) melarutkan unsur Ca (Al2O3.3H2O)

b. Air yang memiliki kandungan pH rendah atau ion H+ tinggi


Air di sini adalah air yang memiliki ion H+ yang tinggi, karena semakin
tinggi derajat keasaman yang dimiliki akan semakin mempercepat proses
pelapukan batuan asal. Selain melapukan batuan asal, air dengan ion H+
yang tinggi ini melakukan dekomposisi ulang dengan cara melarutkan
unsur terlarut dan membawa unsur Fe ke dalam batuan sehingga memberi
kesan warna kemerahan dalam tanah, seperti warna korosi pada besi.
c. Lingkungan pengendapan yang stabil
Lingkungan pengendapan yang sering mengalami gejala-gejala geologi
akan lebih sulit membentuk endapan bauksit, karena proses pelapukan
yang bisa berjalan dengan lancar, akan terganggu akibat pergeseran dan
penurunan tanah yang membuat proses laterisasi terhambat akibat batuan
asal yang dilapukannya mengalami perubahan sebelum terendapkan dan
terbentuk senyawa alumina.
d. Curah hujan yang tinggi
Meskipun air dengan kandungan pH rendah yang banyak dapat untuk
meninggikan kadar Fe dalam tanah dan mampu untuk melapukkan batuan,
diperlukan juga kuantitas air yang cukup besar untuk membentuk tanah
laterit. Karena air dengan jumlah yang sedikit, kurang baik untuk
melapukan seluruh bagian batuan. Hal ini mengakibatkan batuan asal
belum lapuk seluruhnya, dan jika ore bauksit itu dipecah akan tampak
55

fragmen batuan asal yang mineralnya belum terlapukan sama sekali.


Indonesia memiliki karakteristik yang tropis dan bercurah hujan tinggi
sepanjang tahunnya sehingga mendukung terbentuknya endapan bauksit
laterit.

(Sumber : Eksplorasi Baunsit Kabupaten Ketapang)


Gambar 3.5
Batuan yang mengalami pelapukan tingkat tinggi

e. Berada di daerah stadium tua


Proses pembentukan bauksit memerlukan daerah yang stabil, dimana
proses erosi vertikal sudah tidak aktif lagi. Kondisi yang demikian hanya
terdapat di daerah stadium tua. Namun diperlukan sirkulasi air tanah dalam
rangka transportasi unsur-unsur yang tidak larut.

3.4.5 Kondisi Regional Daerah Yang Berpotensi Terbentuknya Bauksit


3.4.5.1 Dari Segi Litologi
Bauksit terbentuk dari hasil pelapukan intensif dari batuan asal dengan kadar Al
tinggi, kadar Fe rendah dan kadar SiO2 rendah atau tidak ada sama sekali.
Secara geologi endapan bauksit terjadi karena proses pelapukan (residual
56

concentration) dari batuan yang kaya akan mineral felsic feldspar atau
mineral alumina silikat lainnya. Adapun batuan asal dapat membentuk endapan
bauksit berupa antara lain : Granit, Granodiorit, Syenit, Dasit, Trakhit, Monzonit,
Riolit dan “Tuff” Riodasit, serta beberapa di temukan berasal dari batuan
piroklastik yang mengalami proses laterisasi.

3.4.5.2 Dari Segi Morfologi


Pada pembentukan bijih bauksit berproses pada permukaan perbukitan yang
landai (undulating) sehingga akan mempunyai kesempatan untuk mengadakan
penetrasi lebih dalam melalui rekahan-rekahan atau pori-pori batuan. Akumulasi
endapan umumnya terdapat pada daerah-daerah yang landai sampai kemiringan
sedang, hal ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti bentuk
topografi.. Dengan kata lain bila di pandang dari segi morfologi, wilayah yang
dapat terbentuk endapan bauksit diperkirakan pada ketinggian perbukitan landai.
dan tidak curam.
3.4.6 Bentuk Dan Penyebaran Endapan
Bijih bauksit terjadi di daerah tropis dan subtropis yang memungkinkan pelapukan
yang sangat kuat.. Bentuknya menyerupai cellular atau tanah liat dan kadang-
kadang berstruktur pisolitic. Secara makroskopis bauksit berbentuk amorf.
Kekerasan bauksit berkisar antara 1 – 3 skala Mohs dan berat jenis berkisar antara
2,5 – 2,6. Kondisi – kondisi utama yang memungkinkan terjadinya endapan
bauksit secara optimum adalah ;
1. Adanya batuan yang mudah larut dan menghasilkan batuan sisa yang kaya
alumunium
2. Adanya vegetasi dan bakteri yang mempercepat proses pelapukan
3. Porositas batuan yang tinggi, sehingga sirkulasi air berjalan dengan mudah
4. Adanya pergantian musim (cuaca) hujan dan kemarau (kering)
5. Adanya bahan yang tepat untuk pelarutan
6. Relief (bentuk permukaan) yang relatif rata, yang mana memungkinkan
terjadinya pergerakan air dengan tingkat erosi minimum
7. Waktu yang cukup untuk terjadinya proses pelapukan
57

Bauksit terbentuk dari batuan yang mengandung unsur Al. Batuan tersebut antara
lain nepheline, syenit, granit, andesit, dolerite, gabro, basalt, hornfels, schist, slate,
kaolinitic, shale, limestone dan phonolite. Apabila batuan-batuan tersebut
mengalami pelapukan, mineral yang mudah larut akan terlarutkan, seperti mineral
– mineral alkali, sedangkan mineral – mineral yang tahan akan pelapukan akan
terakumulasikan.Di daerah tropis, pada kondisi tertentu batuan yang terbentuk
dari mineral silikat dan lempung akan terpecah-pecah dan silikanya terpisahkan
sedangkan oksida alumunium dan oksida besi terkonsentrasi sebagai residu.
Proses ini berlangsung terus dalam waktu yang cukup dan produk pelapukan
terhindar dari erosi, akan menghasilkan endapan lateritik.Kandungan alumunium
yang tinggi di batuan asal bukan merupakan syarat utama dalam pembentukan
bauksit, tetapi yang lebih penting adalah intensitas dan lamanya proses laterisasi.
Bahan galian ini terdapat pada lapukan (residual soil) dari batuan yang
mengandung oksida alumunium monohidrat dan oksida besi yang membentuk
mineral diaspal (Al2O3OH) dan gipsit (Al2O3H2O) pada formasi Jambu (Ruj).
Secara umum bauksit mengandung Al2O3 sebanyak 45 – 65%, SiO2 1 – 12%,
Fe2O3 2 – 25%, TiO2 >3%,dan H2O 14 – 36%.

3.4.7 Sifat dan Kualitas Endapan


Bauksit (Al2O3.2H2O) bersistem octahedral terdiri dari 35 – 65 % Al2O3 , 2 – 10
% SiO2, 2 - 20 % Fe2O3, 1 - 3 % TiO2 dan 10 - 30 % air. Sebagai bijih alumina,
bauksit mengandung sedikitnya 35 % Al2O3, 5 % SiO2, 6 % Fe2O3, dan 3 %
TiO2.
Ada beberapa mineral Penyusun Bauksit, merupakan mineral heterogen yang
mempunyai mineral dengan susunan utama dari hidroksida alumunium yaitu:
Potensi dan Penyebaran Bauksit menurut, Tim Analisa dan Evaluasi Komoditi
Mineral Internasional Proyek Pengembangan Pusat Informasi Mineral (1984),
memiliki kandungan mineral utama alumunium hidroksida, yaitu berupa gibbsite,
bohmite, dan diaspore. Selain itu terdapat beberapa mineral pengotor lain seperti
silika, oksida besi, dan titanium. Biji bauksit ini kemudian diolah menjadi
alumunium. Sebagian besar alumunium yang dihasilkan digunakan untuk pabrik
58

peleburan alumunium, pemanfaatan lebih lanjutnya yaitu untuk bidang konstruksi,


transportasi, pengemasan dan listrik yang menggunakan bahan-bahan dari
alumunium. Alumunium juga dapat digunakan untuk keperluan lain, misalnya
yaitu untuk pembuatan batu tahan panas (refractories), industri gelas, keramik,
bahan penggosok, dan industri kimia.
3.4.8 Hubungan Kondisi Geologi Dan Genesa Endapan Dengan Teknik
Eksplorasi
Kegiatan eksplorasi dilaksanakan berdasarkan data awal berupa
indikasi/gejala/petunjuk geologi dan proses pembentukan endapan bahan galian,
sehingga diperoleh karakteristik tertentu untuk daerah target tersebut. Indikasi
(gejala) geologi yang diamati merupakan hasil (produk) dari proses geologi
(asosiasi batuan, tektonik, dan siklus geologi) yang mengontrol pembentukan
endapan, yang kemudian dikaji dalam konteks genesa endapan berupa komposisi
mineral, asosiasi mineral, unsur-unsur petunjuk, pola tekstur mineral, ubahan
(alterasi), bentuk badan bijih (tipe endapan), dan lain-lain, menghasilkan
elemen- elemen yang harus ditemukan dan dibuktikan melalui penerapan
metode (teknologi) eksplorasi yang sesuai, sehingga dapat menjadi petunjuk
untuk mendapatkan endapan bijih yang ditargetkan (guide to ore). Secara
skematis hubungan tersebut dapat dilihat pada diagram berikut.

Tektonik
(Struktur geologi)

GEJALA GEOLOGI Pelapukan GENESA ENDAPAN


Tatanan tektonik regional/lokal Metallogenic province
Struktur geologi Erosi & Sedimentasi Kontrol pembentukan bijih
Susunan stratigrafi Komposisi mineral/alterasi

TIPE KARAKTERISTIK ENDAPAN


Geomorfologi-fisiografi Unsur asosiasi/petunjuk
Bentuk, ukuran, dan pola sebaran bijih
Proses dan zona pengkayaanStruktur/tekstur mineral
Jenis batuan
Sifat fisik dan kimia endapan

Karakteristik
PEMILIHAN DANmineralogi
PENERAPAN

Karakteristik(METODA)
TEKNOLOGI batuan induk/samping
EKSPLORASI
(Sumber :Geologinesia Endapan Bauksit)
Gambar 3.6
Diagram Umum Hubungan Antara Genesa Endapan Dengan Pemilihan Metode
Eksplorasi
59

3.5 Eksplorasi
Eksplorasi merupakan pekerjaan-pekerjaan penyelidikan selanjutnya setelah
ditemukannya endapan mineral berharga, yang meliputi pekerjaan-pekerjaan
untuk mengetahui dan mendapatkan ukuran, bentuk, letak (posisi), kadar rata-rata
dan jumlah cadangan dari endapan tersebut. Seluruh kegiatan eksplorasi pada
dasarnya bertujuan untuk meningkatkan potensi sumberdaya mineral (resources)
yang terdapat di bumi menjadi cadangan terukur yang siap untuk ditambang
(mineable reserve).
Tahapan eksplorasi ini mencakup kegiatan untuk mencari dimana keterdapatan
suatu endapan mineral, menghitung berapa banyak dan bagaimana kondisinya,
serta ikut memikirkan bagaimana sistem pendayagunaanya.
Beberapa ilmu penunjang yang mendukung kegiatan eksplorasi ini antara lain:
1. Geologi, mineralogi, genesa bahan galian
2. Teknik eksplorasi
3. Analisis cadangan, geostatistik
4. Ekonomi endapan mineral.
Secara umum aliran kegiatan pencarian/eksplorasi endapan bahan galian dimulai
dengan kegiatan prospeksi atau eksplorasi pendahuluan yang meliputi
kegiatan persiapan di kantor (kompilasi foto udara, citra landsat, SLAR, peta-peta
yang sudah ada, atau laporan yang tersedia) sampai kepada survei geologi
awal yang terdiri dari peninjauan lapangan, pemetaan geologi regional,
pengambilan conto (scout sampling) serta memetakan mineralisasi endapan
untuk mengetahui apakah kegiatan eksplorasi bias dilanjutkan atau tidak.
Kegiatan selanjutnya adalah melakukan eksplorasi detail (rinci) yang meliputi
pemetaan geologi rinci serta pengambilan conto dengan jarak yang relatif rapat
sesuai dengan sifat endapan bahan galian termaksud. Conto-conto yang
diperoleh kemudian dianalisis di laboratorium untuk ditentukan kadar, sifat fisik
lain yang menunjang kegiatan penambangan.
Perhitungan cadangan dilakukan dengan berbagai metode perhitungan yang sesuai
untuk jenis endapan tertentu, antara lain dengan cara area of influence.
60

Berdasarkan pada sifat-sifat endapan, metoda penyelidikan dan pendekatan-


pendekatan teknologi yang digunakan, metoda eksplorasi secara umum dapat
dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu:
1. Eksplorasi tidak langsung dan,
2. Eksplorasi langsung.
Eksplorasi mineral itu tidak hanya berupa kegiatan sesudah penyelidikan
umum itu secara positif menemukan tanda-tanda adanya letakan bahan galian,
tetapi pengertian eksplorasi itu merujuk kepada seluruh urutan golongan besar
pekerjaan yang terdiri dari:
1. Peninjauan (reconnaissance atau prospeksi atau penyelidikan umum)
dengan tujuan mencari prospek,
2. Penilaian ekonomi prospek yang telah diketemukan, dan
3. Tugas-tugas menetapkan bijih tambahan di suatu tambang
Eksplorasi endapan bahan galian adalah penyelidikan yang dilakukan untuk
mendapatkan suatu keterangan mengenai cadangan, bentuk, letak, sifat-sifat, mutu
sertanilai ekonomi dari suatu bahan galian, (J. Rainir Dhadar, 1986). Sedangkan
menurut Nurhakim, eksplorasi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk
mengetahui dan mendapatkan ukuran, bentuk, letak (posisi), kadar rata-rata dan
jumlah cadangan dari endapan mineral berharga (Nurhakim, 2006). Secara garis
besar metode eksplorasi dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar yaitu
metode eksplorasi tak langsung dan metode eksplorasi langsung (Notosiswoyo
Sudarso dkk, 2000). Eksplorasi sebagai usaha ekonomi berisiko tinggi. Berbeda
dengan usaha ekonomi lainnya, eksplorasi adalah suatu aktivitas ekonomi yang
berisiko tinggi sehingga memerlukan perencanaan yang seksama untuk
meminimalkan risiko dan menekan pada manfaat biaya. Risiko ini adalah risiko
geologi, risiko teknologi, risiko ekonomi (pasaran) dan risiko politik. Semua
risiko ini harus diperhitungkan sebelum diputuskan untuk melaksanakan suatu
projek eksplorasi. Risiko geologi adalah resiko yang paling besar karena
merupakan faktor dalam membuat keputusan.
Eksplorasi sebagai suatu sistem pencaharian. Untuk mengetahui sebanyak
mungkin mengenai objek yang dicari, maka berbagai model dari cebakan yang
61

dicari harus dibuatkan semacam model dengan tekanan pada kriteria-kriteria


geologi, sehingga dapat diyakini bahwa objek itu akan dikenali/dapat dilihat jika
dijumpai. Metoda yang paling efekti adalah pemboran, tetapi tidak efisien jika
digunakan secara sistematis di seluruh daerah pencaharian, karena biayanya tidak
akan sesuai dengan nilai dari objek yang dicari. Eksplorasi untuk suatu objek
geologi tidak dapat disamakan dengan suatu sistem pencaharian, tetapi lebih dari
itu. Ini disebabkan karena kita berhubungan dengan suatu objek geologi yang
sedikit diketahui sifat-sifatnya (walaupun dengan menggunakan model geologi
dari objek tersebut) di suatu daerah yang keadaan geologinya juga secara relatif
sedikit diketahui, walaupun menggunakan model geologi dari daerah tersebut.
Eksplorasi sebagai sistem pengumpulan data. Untuk mendapatkan model geologi
regional diperlukan data, dan data geologi yang dicari haruslah yang spesifik yang
relevant terhadap sistem pencaharian. Metoda pengumpulan data dilakukan
dengan berbagai metoda dari survai-survai sampai pemboran. Pengumpulan data
disebut juga akuisisi data (data acquisition), yang kemudian diproses dan
dianalisa. Pada suatu rencana eksplorasi aspek pengumpulan data geologi
merupakan pekerjaan utama.
Eksplorasi sebagai sistem operasi. Kegiatan eksplorasi ini terdiri dari satuan-
satuan aktivitas, dimana setiap satuan aktivitas masing-masing terkait bahkan
sering tergantung pada hasil aktivitas lainnya. Dengan demikian seluruh kegiatan
eksplorasi itu merupakan suatu proses yang terdiri dari langkah-langkah dimana
langkah berikutnya tergantung dari hasil langkah sebelumnya, dan setiap langkah
ini merupakan suatu proses pengambilan keputusan. Namun demikian pengerahan
berbagai aktivitas ini dan terutama pengambilan keputusan itu harus didasarkan
pada penafsiran dan penilaian geologi atas data yang dihasilkan dari berbagai
aktivitas, sehingga pemikiran kreatif diperlukan.

Strategi (eksplorasi) adalah ilmu perencanaan dan pengarahan kegiatan eksplorasi


berskala besar untuk mendapatkan darah yang sangat favorable akan terdapatnya
cebakan mineral atau akumulasi hidrokarbon sebelum pencarian yang
sesungguhnya. Tujuan dari strategi menurut Griffitts (1967) adalah bagaimana
62

mengarahkan semua usaha untuk mencapai sasaran eksplorasi yang dilaksanakan


dengan perencanaan, pengorganisasian dan pengendalian semua unsur dalam
suatu sistem penyerangan (attack).
Namun tujuan penting dalam strategi adalah dari segi ekonomi, yaitu:
Effisiensi, mencapai sasaran dengan biaya dan waktu seminimal mungkin, ini
menyangkut biaya dengan efektivitas dari metoda yang digunakan.
Efektivitas, penggunaan metoda atau teknologi secara efektif. Untuk setiap jenis
cebakan atau akumulasi migas, digunakan petunjuk geologi yang berlainan, dan
demikian juga untuk setiap jenis petunjuk geologi memerlukan metoda eksplorasi
tersendiri. Hal ini adalah untuk mengoptimalkan biaya dalam hubungan
efektivitas metoda yang digunakan untuk menentukan ada-tidak adanya gejala
atau petunjuk yang dipakai dasar sebagai proses seleksi digunakan.
Manfaat biaya dari penggunaan metoda eksplorasi, suatu gejala geologi yang
menjadi petunjuk dapat saja dieksplorasi dengan suatu metoda tertentu secara
akurat, tetapi biayanya sangat mahal. Mungkin saja dipilih metoda yang kuran
akurat tetapi cukup baik dengan biaya yang lebih murah. Hal ini terutama juga
tergantung dari besarnya nilai objektif yang diharapkan. Misalnya dalam
eksplorasi migas, penggunaan seismik yang mahal sering digunakan pada tahap
awal dari suatu program eksplorasi, tetapi dalam eksplorasi batubara yang
menggunakan petunjuk geologi yang sama, survai seismik jarang dilakukan,
kecuali jika hasilnya akan sangat menguntungkan, misalnya menghindari
masalah-masalah dikemudian hari yang dapat mengakibatkan biaya operaso yang
jauh lebih mahal lagi.
Memperkecil risiko, strategi eksplorasi ditujukan untuk memperkecil risiko untuk
menderita kerugian besar. Untuk ini strategi ini harus memberikan kesempatan
untuk mengambil keputusan-keputusan setiap saat apakah usaha ini dilanjutkan
atau tidak atau mengambil alternatif-alternatif lainnya sebelum suatu kerugian
besar terjadi. Penyusunan Strategi Eksplorasi :
1. Penciutan daerah sebagai langkah strategi eksplorasi. Prinsip penciutan
daerah adalah :Penciutan dimulai dari daerah yang luas yang telah dipilih
mempunyai peluang untuk diketemukan cebakan yang dicari.
63

Penciutan dilakukan secara progresif dengan memperkecil luas daerah


yang diselidiki menjadi satu atau beberapa daerah yang terpisah-pisah
yang mempunyai peluang lebih besar lagi dari pada daerah eksplorasi
secara keseluruhan, yang disebut daerah prospektif atau daerah sasaran.
Penciutan berakhir dengan ditentukannya titik-titik yang sangat berpeluang
untuk ditemukannya cebakan mineral dengan melakukan penyontohan
pada singkapan, dengan sumuran/paritan atau dengan pemboran, yang
disebut target atau prospek.
Untuk menciutkan daerah ini harus didasarkan atas kriteria pemilihan yang
berupa gejala-gejala geologiyang merupakan petunjuk akan kehadiran
cebakan mineral atau sasaran geologi yang dicari.
2. Penentuan petunjuk geologi sebagai kriteria penciutan daerah.
Ada dua golongan kriteria pemilihan daerah, yaitu :
a. Petunjuk geologi bersifat expresi dari cebakannya sendiri.
b. Petunjuk geologi yang bersifat pengendali geologi dan bersifat genetis.
Kriteria pemilihan berupa expresi dari cebakannya sendiri tidak ada
hubungannya dengan proses pembentukan dari cebakannya, tetapi merupakan
hasil interaksi dari keberadaan cebakan itu terhadap lingkungan sekelilingnya
terutama pada permukaan sehingga menghasilkan petunjuk pada permukaan,
terutama merupakan gejala geomorfologi, seperti air terjunm punggungan
bukit yang tajam, dsb. Contohnya adalah ditemukannya lempung terbakar
yang menyerupai tembikar berwarna merah yang merupakan petunjuk akan
adanya lapisan bauksit.
Kriteria yang bersifat pengendali geologi adalah gejala geologi yang secara
genetis keberadaannya merupakan syarat untuk terbentuknya cebakan yang
bersangkutan. Petunjuk geologi ini dapat ditafsirkan dari proses geologi yang
bertanggung jawab atas terbentuknya cebakan mineral tersebut (atau genesa
dari cebakan) atau gejala geologi yang mengendalikan terjadinya cebakan itu,
sehingga memungkinkan atau berpeluang (favorable) untuk yang juga disebut
kendali geologi. Kriteria pemilihan (petunjuk geologi) untuk setiap cebakan
adalah berbeda, bahkan untuk setiap daerah pun dapat berbeda.
64

3. Pemilihan metoda eksplorasi sebagai langkah strategi


Metoda harus efektif dapat mendeteksi petunjuk geologi yang telah
ditentukan untuk digunakan pada tahap.
Metoda harus dipilih sesuai dengan luas daerah atau tahapannya.
Metoda harus dipilih dengan mempertimbangkan biaya.
3.5.1 Pengertian Eksplorasi
1. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
Eksplorasi adalah Penjelajahan lapangan dengan tujuan memperoleh
pengetahuan lebih banyak tentang keadaan, terutama sumber-sumber alam
yang terdapat di tempat itu; penyelidikan;penjajakan.
2. Menurut situs Wikipedia berbahasa Inodenisia (id.wikipedia.org)
Eksplorasi adalah tindakan atau mencari atau melakukan perjalanan dengan
tujuan menemukan sesuatu; misalnya daerah yang tak dikenal, termasuk
antariksa (penjelajahan angkasa), minyak bumi (explorasi minyak bumi), gas
alam, batu bara, mineral, gua, air, ataupun informasi.
3. Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI)
Eksplorasi adalah kegiatan penyelidikan geologi yang dilakukan untuk
mengidentifikasi,menetukan lokasi, ukuran, bentuk, letak, sebaran, kuantitas
dan kualitas suatu endapan bahan galian untuk kemudian dapat dilakukan
analisis/kajian kemungkinan dilakukanya penambangan.
Dari ke-tiga pengertian tentang eksplorasi diatas, dapat disimpulkan
bahwa Eksplorasiadalah suatu kegiatan lanjutan dari prospeksi yang meliputi
pekerjaan-pekerjaan untuk mengetahui ukuran,bentuk, posisi, kadar rata-rata dan
besarnya cadangan serta “studi kalayakan” dari endapan bahan galian atau
mineral berharga yang telah diketemukan.
Sedangkan Studi Kelayakan adalah pengkajian mengenai aspek teknik dan
prospek ekonomis dari suatu proyek penambangan dan merupakan dasar
keputusan investasi. Kajian ini merupakan dokumen yang memenuhi syarat dan
dapat diterima untuk keperluan analisa bank/lembaga keungan lainnya dalam
kaitannya dengan pelaksanaan investasi atau pembiayaan proyek. Studi ini
meliputi Pemeriksaanseluruh informasi geologi berdasarkan lkaporan eksplorasi
65

dan factor-faktor ekonomi, penambangan, pengolahan, pemasaran


hokum/perundang-undangan, lingkungan, social serta factor yang terkait.
3.5.2 Tujuan Eksplorasi
Tujuan dilakukannya eksplorasi adalah untuk mengetahui sumber daya cebakan
mineral secara rinci, yaitu unutk mengetahui,menemukan, mengidentifikasi dan
menentukan gambaran geologi dam pemineralaran berdasarkan ukuran, bentuk,
sebaran, kuantitas dan kualitas suatu endapan mineral unruk kemudian dapat
dilakukan pengembangan secara ekonomis.
1. Tahap Eksplorasi
Tahap Eksplorasi dilaksanakan melalui empat tahap,yakni:
Survei tinjau, yaitu kegiatan explorasi awal terdiri dari pemetaan geologi
regional, pemotretan udara,citra satelit dan metode survey tidak langsung
lainnya untuk mengedintifikasi daerah-derah anomial atau meneraliasasi yang
proespektif untuk diselidiki lebih lanjut.
Sasaran utama dari peninjauan ini adalah mengedintifikasi derah-daerah
mineralisasi/cebakan skala regional terutama hasil stud geologi regional dan
analisis pengindraan jarak jauh untuk dilakukannya pekerjaan pemboran.
Lebih jelasnya, pekerjaan yang dilakukan pada tahapan ini adalah :
Pemetaan Geologi dan Topografi skala 1 : 25.000 samapai skala 1 : 10.000.
Penyelidikan geologi yang berkaitan dengan aspek-aspek geologi diantaranya :
pemetaan geologi,parit uji, sumur uji. Pada penyelidikan geologi dilakukan
pemetaan geologi yaitu dengan melakukan pengamatan dan pengambilan
contoh yang berkaitan dengan aspek geologi dilapangan. Adapun pengamatan
yang dilakukan meliputi : jenis litologi, mineralisasi, ubahan dan struktur pada
singkapan, sedangkan pengambilan contoh berupa batuan terpilih.
a. Prospeksi Umum
Prospeksi umum dilakukan untuk mempersempit dearah yang mengandung
cebakan mineral yang potensial.
Kegiatan Penyelidikan dilakukan dengan cara pemetaan geologi dan
pengambilan contoh awal, misalnya puritan dan pemboran yang terbatas, study
geokimia dan geofisika, yang tujuanya adalah untuk mengidentifikasi suatu
66

Sumber Daya Mineral Tereka (Inferred Mineral Resources) yang perkiraan dan
kualitasnya dihitung berdasarkan hasil analisis kegiatan diatas.
Tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap Survei Tinjau. Cakupan derah yang
diselidikii lebih keci dengan skala peta antara 1 : 50.000 sampai dengan 1 :
25.000. Data yang didapat meliputi morfologi (topografi) dan kondisi geologi
(jenis batuan/startigrafi dan struktur geollogi yang berkembang). Pengambilan
contoh pada derah prospek secara alterasi dan mineralisasi dilakukan secara
sistematis dan terperinci untuk analisa laboratorium, sehinga dapat diketahui
kadar/kualitas cebakan mineral suatu daerah yang akan dieksplorasi.
b. Eksplorasi awal
Eksplorasi awal yaitu deliniasi awal dari suatu endapan yang teredintifikasi.
c. Eksplorasi rinci
Eksplorasi rinci yaitu tahap explorasi untuk mendeliniasi secara rinci dalam
tiga dimensi terhadap endapan mineral yang telah diketahui dari dari
percontohan singkapan,puritan, lubang bor, shafts, dan terowongan.
Pada dasarnya pekerjaan yang dilakukan pada tahapan Eksplorasi adalah:
1. Pemetaan geologi dan topografi skala 1 : 5000 sampai 1 : 1000
2. Pengambilan contoh dan analisis contoh
3. Penyelidikan geofisika, yaitu penyelidikan yang berdasarkan sifat fisik
batuan, untuk dapat mengetahui struktur bawah permukaan sefrta geometri
cebakan mineral. Pada survey ini dilakukan pengukuran topografi, IP,
Geomangit, Geolistrik.
4. Pemboran Inti
3.5.3 Program Eksplorasi
Agar eksplorasi dapat dilaksanakan dengan efisien, ekoomis, dan tepat sasaran,
maka diperlukan perencanaan berdasarkan prinsip-prinsip dan konsep-konsep
dasar eksplorasi sebelum program eksplorasi tersebut dilaksanakan.
Prinsip-prinsip konsep dasar eksplorasi tersebut antara lain:
1. Target eksplorasi
2. Jenis bahan galian (spesifikasi kulitas
3. Pencarian model-model geologi yang sesuai
67

4. Pemodelan eksplorasi
5. Mengunakan model geologi regional untuk pemilihan daerah target
eksplorasi
6. Menentukan midel geologi local berdasarkan keadaan lapangan, dan
mendeskripsikan petunjuk-petunjuk geologi yang akan di mamfaatkan.
7. Penentuan metode –metode eksploarasi yang akan dilaksanakan sesuai
dengan petunjuk geologi yang diperlukan.Selain itu, perencanaan program
eksplorasi tersebut harus memenehui kaidah-kaidah dasar dan
perancangan (desain) yaitu :
a. Efektif ; penggunaan alat, individu, dan metode harussesuai dengan
keadaan geologi endapan yang dicari.
b. Efesien ; dengan menggunakan prinsip dasar ekonomi yaitu dengan biaya
serendah-rendahnya untuk memperoleh hasil yang sebesarnya-besarnya
3.5.4 Metode Eksplorasi
3.5.4.1 Metode Geolistrik
Metode geolistrik merupakan salah satu metode geofisika yang mempelajari sifat
aliran listrik di dalam bumi dan bagaimana cara mendeteksinya di permukaan
bumi. Dalam hal ini meliputi pengukuran potensial dan pengukuran arus yang
terjadi baik secara alamiah maupun akibat injeksi arus kedalam bumi.
(Margoworo P., Ayu, 2009).
Terdapat tiga macam metode geolistrik yaitu: self-potential (SP), Earth Resistivity
(ER), dan Induced Polarization (IP).
1. Self-potential (SP)
Metode SP merupakan metode pengukuran berdasarkan perbedaan
potensial alami yang umumnya ada diantara dua elektroda di atas
permukaan. Tujuannya yaitu untuk menganalisis struktur lapisan bumi
berdasarkan sifat kelistrikan batuan dengan tidak memberi medan listrik
eksternal (Parasnis, D. S, 1972).
2. Earth Resistivity (ER),
Resistivitas atau tahanan jenis suatu batuan merupakan suatu kemampuan
batuan untuk menghambat jalannya arus listrik yang mengalir melalui
68

batuan tersebut. Resistivitas rendah apabila batuan mudah untuk


mengalirkan arus listrik dan resistivitas tinggi apabila batuan sulit untuk
mengalirkan arus listrik.
Geolistrik tahanan jenis ini memanfaatkan sifat tahanan jenis batuan untuk
mendeteksi dan memetakan formasi batuan dibawah permukaan. Metode
ini dilakukan melalui pengukuran beda potensial yang ditimbulkan akibat
injeksi arus listrik ke dalam bumi. Berdasarkan pada harga tahanan jenis
batuan, suatu struktur bawah permukaan bumi dapat diketahui material
penyusunnya (Arief dan Hendrajaya, 1988).
Terdapat dua macam pendekatan yang umum digunakan untuk mengukur
tahanan jenis di lapangan. Pertama spasi antar elektroda dibuat tetap dan
susunan elektrodanya dipindah-pindahkan secara lateral sepanjang lintasan
dengan jarak yang sama atau konstan. Hal ini disebut
continuousprofilingdan biasa digunakan untuk pemetaan bawah permukaan
karena tahanan jenisnya terukur secara horisontal. Pada pengukuran tipe
kedua, lebar elektroda yang berada di tengah dibuat tetap sedangkan jarak
elektroda lain yang dipisahkan elektroda tersebut semakin ditingkatkan.
Teknik ini disebut Vertical Electric Sounding (Ves) karena tahanan
jenisnya terukur secara vertikal. (Dobrin, Milton B.,. 1976)
3. Induced Polarization (IP)
Metode IP bertujuan melakukan pengukuran parameter listrik batuan
(resistivitas) berdasarkan potensial polarisasi yang terukur antara dua
elektroda dalam kondisi tanpa polarisasi volume (Parasnis, D. S, 1972).

1. Geolistrik Tahanan Jenis


1. Konsep-konsep Dasar Geolistrik Tahanan Jenis
Pada dasarnya metoda geolistrik tahanan jenis mirip dengan sebuah rangkaian
listrik sederhana dengan sebuah baterai sebagai sumber tegangan dan sebuah
resistor sebagai hambatannya seperti tampak pada gambar berikut.
69

(Sumber : Telford, at.al.,1976 )


Gambar 3.7
Rangkaian listrik sederhana

Beda potensial pada ujung baterai menyebabkan muatan–muatan elektron


mengalir dari kutub positif ke kutub negatif. Pergerakan dari muatan–muatan
elektron melalui kabel perdetik itulah yang disebut arus. Sedangkan besarnya arus
yang mengalir pada suatu luas permukaan disebut sebagai rapat arus.
Hukum Ohm yang dikemukakan pertama kali oleh seorang fisikawan Jerman
yang bernama Georg Simon Ohm menyatakan bahwa Arus (I) berbanding lurus
dengan tegangan (V) dan berbanding terbalik dengan hambatan (R). Resistansi
atau hambatan listrik (R) merupakan perbandingan antara tegangan listrik dari
suatu bahan dengan arus listrik yang melewatinya. Hubungan antara resistivitas
dan luasan material serta panjang bahan dapat dinyatakan sebagai berikut:R
adalah hambatan (ohm), ρ adalah hambatan jenis (ohmmeter), l adalah panjang
bahan (m), dan A adalah luas pemukaan bahan (m²).Namun perlu diingat bahwa
tahanan tidak hanya bergantung pada material namun juga geometri dari material
tersebut. Batuan juga merupakan suatu jenis material sehingga mempunyai sifat
kelistrikan. Sifat kelistrikan batuan adalah karakteristik batuan bila dialirkan arus
listrik kedalamnya. Sifat konduktivitas listrik batuan dekat permukaan bumi
sangat dipengaruhi oleh jumlah air, sanilitas air serta bagaimana cara air
didistribusikan dalam batuan. Konduktivitas listrik batuan yang terkadang sangat
70

ditentukan terutama oleh sifat air, yakni elektrolit. Batuan berpori yang berisi air,
nilai tahanan jenis lisriknya berkurang dengan bertambahnya kandungan air
(Puradimaja, dkk, 2003).Konduktivitas listrik merupakan ukuran dari kemampuan
suatu bahan untuk menghantarkan arus listrik. Konduktivitas listrik  didefinikan
sebagai perbandingan dari rapat arus J terhadap kuat medan listrik E :
Kebalikan dari konduktivitas listrik adalah tahanan jenis listrik  atau biasa
disebut sebagai tahanan jenis saja, yaitu :
2. Kaidah-kaidah Geolistrik Tahanan Jenis
Menurut Taib (1999), terdapat beberapa kaidah dan konsep yang berlaku pada
Eksplorasi Tahanan Jenis :
1) Kaidah Superposisi
Kaidah ini digunakan untuk menghilangkan kerancuan mengenai harga arus
listrik yang terjadi pada beberapa sumber arus listrik. Secara umum telah
disepakati bahwa arus listrik mengalir dari kutub positif (+) ke kutub negatif
(-), di mana besar arus listrik sama besarnya pada kedua kutub tersebut.
Sehingga apabila ada perbedaan (ΔI) maka digunakan perbedaan antara kedua
sumber tersebut.
2) Kaidah Resiprositas
Kaidah ini menjelaskan bahwa potensial yang terukur dari suatu titik M
akibat dari suatu sumber arus pada titik A akan sama bila titik M tersebut
menjadi sumber arus dan titik A menjadi titik amat potensialnya.
3) Kaidah Potensial dan Arus Listrik
Medium homogen isotropik memiliki permukaan bidang isopotensial
berbentuk bola yang berpusat pada sumber arusnya, garis arus merupakan
garis radial tegak lurus terhadap garis isopotensial tadi. Untuk pasangan
sumber arus maka garis isopotensial ini akan menjadi lebih kompleks, namun
tetap berbentuk bola pada bidang dekat dengan sumber arus, sedangkan garis
arus tetap tegak lurus terhadap garis equipotensial tersebut. Namun untuk
lapisan yang anisotropik maka garis arus tidak harus selalu tegak lurus
terhadap garis isopotensial tersebut.
4) Kaidah Kontroversi Kedalaman Penetrasi dan Resolusi
71

Kedalaman penetrasi akan bergantung kepada lebar jarak antara elektroda.


Semakin besar bentangan jarak elektroda maka akan semakin dalam penetrasi
yang diperoleh. Namun apabila semakin besar bentangan jarak antara
elektroda maka akan semakin kecil resolusi yang diperoleh.
5) Kaidah antara Tahanan Jenis dan Facies Batuan
Ada hubungan yang erat antara distribusi tahanan jenis batuan dengan
perubahan fasies geologinya. Harga tahanan jenis biasanya akan mengalami
perubahan yang berangsur–angsur ke arah lateral, hal ini diakibatkan
perubahan porositas dan perubahan larutan pengisi. Perubahan facies geologi
suatu formasi batuan biasanya merubah hubungan besar butir, porositas, dan
salinitas larutan pengisi pori yang terefleksi juga dari data tahanan jenis.
6) Kaidah Media Non-isometri
Eksplorasi tahanan jenis dilakukan dengan pendekatan media isometrik,
anomali dari media non isometri dipecahkan dengan menggunakan asumsi
bahwa perilaku tahanan jenis material bumi didekati dengan asumsi
hubungan isotropi dan anisotropi, homogen dan heterogen. Dengan demikian,
pendekatan teori tahanan jenis akan lebih mudah dikerjakan.
7) Media Isotropi dan Anisotropi
Secara definisi medium isotropi adalah medium yang memiliki harga tahanan
jenis yang sama untuk arah X, Y, Z. Sedangkan medium anisotropi adalah
medium yang konduktivitas maupun harga tahanan jenisnya berubah pada

(Sumber : Telford, at.al.,1976)


Gambar 3.8
Model aliran arus listrik satu titik sumber di permukaan Bumi
72

Pada penerapan praktis, pengukuran dilakukan di dua titik seperti terlihat pada
Gambar berikut:

(Sumber : Telford, at.al.,1976 )


Gambar 3.9
Model aliran arus listrik dua titik sumber di permukaan Bumi

Beda potensial yang terdapat antara P1 dan P2 yang diakibatkan oleh injeksi arus
pada C1 dan C2 dapat dirumuskan sebagai berikut:

I  1 1   1 1 
V  V ( P1 )  V ( P2 )        
2  r1 r2   r3 r4 

Dimana:
r1  jarak C1 ke P1
r2  jarak C2 ke P1

r3  jarak C1 ke P2
r4  jarak C2 ke P2
Dengan gambar konfigurasi seperti pada Gambar 3.10 berikut:
73

(Sumber : Telford, at.al.,1976)


Gambar 3.10
Model dua elektroda arus dan dua elektroda potensial

1. Konfigurasi Elektroda dalam Eksplorasi Geolistrik Tahanan Jenis


Ada 4 bentuk konfigurasi elektroda (potensial dan arus) yang umum digunakan
dalam eksplorasi geolistrik tahanan jenis dengan faktor geometri yang berbeda-
beda yaitu:
1) Pole-Pole
Jarak elektroda konfigurasi ini juga sama dengan “a”, namun elektrodanya
hanya terdiri dari satu elektroda arus dan satu elektroda potensial.Faktor
geometri konfigurasi ini adalah k=2πa. Karena cuma satu elektroda arus dan
satu elektoda potensial, maka tidak membutuhkan buruh yang banyak, akan
tetapi dalam pengukurannya akan terlalu banyak potensial yang tidak
terukur (Loke, 2001).
2) Dipole-Dipole
Konfigurasi ini mempunyai susunan elektroda dengan jarak antara elektroda
arus dengan elektroda potensial sama dengan n kali jarak kedua elektroda
yang sama (P1 ke P2 atau C1 ke C2). Faktor geometri sama dengan
k=πn(n+1)(n+2)a. Kelemahan konfigurasi ini memerlukan buruh yang
banyak, tetapi dapat memberikan informasi secara horisontal yang cukup
jauh (Loke, 2001).
3) Wenner
Wenner memiliki konfigurasi elektroda potensial berada di antara elektroda
arus yang tersusun dari C1–P1–P2–C2. Jarak elektroda yang satu dengan
74

lainnya sama dengan “a” dengan Faktor geometrinya yaitu k=2πa.


Keuntungan dan keterbatasan konfigurasi Wenner (Taib, 2004), adalah:
a. Konfigurasi elektroda Wenner sangat sensitif terhadap perubahan
lateral setempat dan dangkal; seperti gawir, lensa-lensa setempat. Hal
tersebut terjadi karena anomali geologi diamati oleh elektroda Ci dan
Pi berkali-kali. Namun demikian untuk jarak C-P yang lebih pendek,
daya tembus (penetrasi) lebih besar, sehingga berlaku untuk eksplorasi
resistivitas dalam.
b. Karena bidang equipotensial untuk benda homogen berupa bola, maka
data-data lebih mudah diproses dan dimengerti. Disamping itu,
errornya kecil.
c. Karena sensitif terhadap perubahan-perubahan ke arah lateral di
permukaan, konfigurasi ini disukai dan banyak digunakan untuk
penyelidikan Geotermal.
d. Karena pengukuran setiap elektroda harus dipindahkan, maka
memerlukan buruh yang lebih banyak.
4) Schlumberger
Penggunaan geolistrik metode Schlumberger pertama kali dilakukan oleh Condrad
Schlumberger pada tahun 1912. Kelebihan konfigurasi Schlumberger yaitu
kemampuan untuk mendeteksi adanya non-homogenitas lapisan batuan pada
permukaan dengan membandingkan nilai resistivitas semu ketika terjadi
perubahan jarak elektroda potensial (MN/2) dan sangat cocok untuk pengukuran
sounding.
Kelemahannya yaitu pembacaan tegangan pada elektroda potensial (MN) adalah
lebih kecil terutama ketika jarak elektroda arus (AB) yang relatif jauh. Sehingga
diperlukan alat ukur multimeter yang mempunyai karakteristik ‘highimpedance’
dengan akurasi tinggi yaitu yang bisa mendisplay tegangan minimal 4 digit atau 2
digit di belakang koma. Atau dengan cara lain diperlukan peralatan pengirim arus
yang mempunyai tegangan listrik DC yang sangat tinggi. Konfigurasi Elektroda
Schlumberger Konfigurasi ini memiliki susunan elektroda sama dengan
konfigurasi wenner (C1-P1-P2-C2) yang mana memakai dua buah elektroda arus
75

yang dapat disimbolkan dengan A, B yang ditempatkan diantara dan dua buah
elektroda potensial yang dapat disimbolkan dengan M, N. Namun berbeda dalam
hal jarak antar elektroda dengan wenner dimana jarak elektroda arus ke potensial
(C1-P1 atau P2-C2) adalah n kali jarak antar elektroda potensial (P1-P2) seperti
terlihat pada gambar 3.8.

(Sumber: Lilik Hendrajaya dan Idam Arif, 1990)


Gambar 3.11
Konfigurasi elektroda Schlumberger

Idealnya jarak MN dibuat sekecil-kecilnya, sehingga jarak MN secara teoritis


tidak berubah, namun karena keterbatasan kepekaan alat ukur maka ketika jarak
AB sudah relatif besar maka jarak MN hendaknya dirubah. Agar asumsi
pengukuran gradien potensial berlaku dengan jarak MN berhingga maka MN/2
harus selalu dibuat lebih kecil dari 0,2 AB/2. Dalam menggunakan konfigurasi
Schlumberger pemindahan elekroda arus dilakukan secara logaritmik sedangkan
elektroda potensial tetap (Todd, D.K, 1980).Faktor Geometri konfigurasi
Schlumberger adalah pada Pengukuran dengan metode Schlumberger hanya
dapat digunakan untuk pengukuran kearah vertikal (Vertical Sounding). Metode
inidigunakanuntuktujuanmengetahuidistribusihargaresistivitas padasuatu titik
target sounding (datumpoint )dibawah permukaan bumi secara vertikal, cara ini
biasanya disebut sounding 1D karena resolusi yang dihasilkan hanya bersifat
vertikal.
76

(Sumber: Lean Wijaya, 2009)


Gambar 3.12
Teknik akusisi vertikal sounding
Penambahan panjang elektroda dilakukan secara sistematis dengan panjang
tertentu disesuaikandenganmodelkertaslog-log, Karena hasil pengukuran diplot di
kertas log-log. Besarnya koreksi letak kedua elektroda potensial terhadap letak
kedua elektroda arus disebut Faktor geometri (Geometrical factor). Perhitungan
bilangan konstanta K untuk konfigurasi Schlumberger dapat dilihat dibawah ini.
Secara umum rumus untuk factorgeometri adalah sebagai berikut:
Keterangan :
r1 = jarak antara C1 dan P1 (meter)
r2 = jarak antara C2 dan P1 (meter)
r3 = jarak antara C1 dan P2 (meter)
r4 = jarak antara C2 dan P2 (meter)
Dari persamaan umum diatas maka perhitungan faktor geometri (K) konfigurasi
schlumberger adalah sebagai berikut:
77

(Sumber: Telford dkk., 1976 )


Gambar 3.13
Susunan elektroda arus dan potensial dalam pengukuran resistivitas

Dimana L = dan l = sehingga dapat juga ditulis sebagai berikut:


Keterangan:
= jarak antar elektroda arus dihitung dari datumpoint
= jarak antar elektroda potensial dihitung dari datumpoint
 (Phi) = 3,14
1. Tahanan Jenis Semu (ApparentResistivity)
Pendekatan paling sederhana dalam pembahasan masalah kelistrikan di dalam
bumi adalah dengan menganggap bumi sebagai medium homogen isotropik.
Dengan perlakuan tersebut kemudian medan listrik dari titik sumber di dalam
bumi di anggap memiliki simetri bola.
Tetapi bumi bukanlah suatu medium yang homogen isotropik melainkan terdiri
dari lapisan-lapisan dengan  yang berbeda-beda sehingga harga tahanan jenis
untuk satu lapisan saja. Oleh karena itu tahanan jenis yang terukur bukanlah harga
tahanan jenis yang sebenarnya tetapi merupakan harga tahanan jenis semu ( s).
78

Hal ini disebabkan oleh potensial yang terukur dipengaruhi oleh lapisan yang
berbeda-beda tersebut. Tahanan jenis semu dapat dirumuskan sebagai berikut :
V
s  K
I

Keterangan :
 s = Tahanan jenis semu ( m )
K = Faktor geometri (m)
V = Beda potensial (V)
I = Kuat arus (A)

(Sumber:Telford,dkk. 1990)
Gambar 3.14
Tahanan Jenis Semu

2. Tahanan Jenis sebenarnya


Survei resistivitas akan memberikan gambaran tentang distribusi resistivitas
bawah permukaan. Harga resistivitas tertentu akan berasosiasi dengan kondisi
geologi tertentu. Untuk mengkonversi harga resistivitas ke dalam bentuk geologi
diperlukan pengetahuan tentang tipikal dari harga resistivitas untuk setiap tipe
material dan struktur daerah survey. Harga resistivitas batuan, mineral, tanah dan
unsur kimia secara umum telah diperoleh melalui berbagai pengukuran dan dapat
79

dijadikan sebagai acuan untuk proses konversi untuk mendapatkan nilai


resistivitas sebenarnya (Telford, et al.,1990). Nilai resistivitas sebenarnya dapat
dilakukan dengan cara pencocokan (matching) atau dengan metode inversi. Pada
penelitian ini dilakukan dengan metode inversi, menggunakan program
IPI2WIN.Hubungan Resistivitas (ρ) Dengan Kedalaman (d)Resistivitas semu
yang dihasilkan oleh setiap konfigurasi akan berbeda walaupun jarak antara
elektrodanya sama. Untuk medium berlapis, nilai resistivitas semu ini akan
merupakan jarak bentangan (jarak antara elektroda arus). Untuk jarak elektroda
arus kecil akan memberikan ρa yang nilainya mendekati ρ batuan di dekat
permukaan. Sedangkan untuk jarak bentangan yang besar ρa yang diperoleh akan
mewakili nilai ρ batuan yang lebih dalam. Gambar berikut adalah contoh grafik
resistivitas semu sebagai fungsi jarak antar elektroda arus (bentangan). (Waluyo,
2005)
Dari hasil pengukuran di lapangan yang diperoleh adalah nilai tahanan jenis dan
jarak antar elektroda. Jika nilai tahanan jenis diplot terhadap jarak antar elektroda
dengan menggunakan grafik semilog diperoleh kurva tahanan jenis.
Dengan menggunakan kurva standar yang diturunkan berdasarkan berbagai
variasi perubahan nilai tahanan jenis antar lapisan secara ideal dapat ditafsirkan
variasi nilai tahanan jenis terhadap kedalaman. Dengan cara ini ketebalan lapisan
berdasarkan nilai tahanan jenisnya dapat diduga, dan keadaan lapisan-lapisan
batuan di bawah permukaan dapat ditafsirkan. Contoh kurva tahanan jenis hasil
pengukuran di lapangan dapat dilihat pada Gambar 3.15.
Pada Gambar tersebut juga ditunjukkan hasil penafsiran yang diduga
menghasilkan lengkung kurva tersebut. Dengan menyusun hasil pengukuran dari
berbagai titik lokasi dapat dibuat penampang tahanan jenis sehingga dapat
digunakan untuk keperluan eksplorasi maupun keteknikan. (Djoko Santoso, 2002)
80

(Sumber: Waluyo, 2005)


Gambar 3.15
Resistivitas semu sebagai fungsi bentangan: a) medium homogen semi tak
berhingga, b) medium 2 lapis (ρ2>ρ1), c) medium lapis (ρ1<ρ2), dan d) medium 3
lapis (ρ2>ρ1,ρ3<ρ2).

(Sumber: Djoko Santoso, 2002)


Gambar 3.16
Contoh kurva Tahanan Jenis dan hasil penafsiran ketebalan Lapisannya
81

2. Cara Pengolahan Data Geolistrik


Cara pengolahan data geolistrik dapat dilakukan dalam dua cara yaitu cara
konvensional (curvematching) dan dengan menggunakan software (perangkat
lunak).
1. CurveMatching
Teknik CurveMatching adalah mencocokkan kurva tahanan jenis semu hasil
pengukuran lapangan dengan kurva tahanan jenis semu yang dihitung secara
teoritis. Terdapat dua macam kendala dalam penggunaan curvematching yaitu
1) Diperlukan kurva tahanan jenis semu standar atau baku struktur berlapis yang
banyak dikarenakan struktur berlapis yang mempunyai tahanan jenis dan
ketebalan lapisan yang sangat banyak variasinya
2) Pemilihan kurva bantu yang paling cocok dengan kurva tahanan jenis yang
diperoleh di lapangan, memerlukan waktu yang lama karena variasi kurva
baku yang banyak tersebut.
Untuk menghindari kendala – kendala tersebut, digunakan teknik CurveMatching
struktur medium 2 lapis yang terdiri 2 kurva baku schlumberger dan 4 kurva bantu
. Keempat tipe kurva bantu menurut Orellana E dan Mooney HM. (1966) yaitu:

(Sumber: Patra, H.P dan Nath, S.K., 1999)


Gambar 3.17
Kurva baku Schlumberger.
82

(Sumber: Patra, H.P dan Nath, S.K., 1999)


Gambar 3.18
Macam-macam tipekurvabantu(Auxiliary Graph)

2. Kurva bantu tipe H (Tipe Hummel dengan minimum)


Tipe ini lengkungnya berbentuk pinggan (minimum di tengah). Dibentuk oleh 2
lengkung baku, yaitu depan menurun dan belakang naik. Dan terjadi seperti
ada 3 lapisan dengan ρ1> ρ2< ρ3. Dalam struktur 2 lapis, dianggap lapisan
bawah lebih resistan, sehingga arus mengalir paada lapisan semu rapat arus
berbanding terbalik terhadap tahanan jenisnya. Sehingga total konduktansinya
sama dengan jumlah dari masing – masing konduktan.
3. Kurva bantu tipe A (Ascending)
Kurva ini mencerminkan harga yang selalu naik. Dibentuk oleh 2 kurva baku,
yaitu depan naik dan belakang turun. Sama seperti kurva bantu tipe H, tipe A
ini terjadi seperti ada 3 lapisan dengan ρ1< ρ2< ρ3.

4. Kurva bantu tipe K (K atau DA, Displaced Anisotropic)


Lengkung kurva ini berbentuk bell (maksimum di tengah). Dibentuk 2
lengkung baku, yaitu depan naik dan belakang turun. Seperti 3 lapisan dengan
ρ1 < ρ2 > ρ3 .
5. Kurva bantu tipe Q (Q atau DH, DescendingHummel)
83

Kurva ini mempunyai harga selalu turun. Dibentuk oleh 2 kurva baku, yaitu
depan turun dan belakang juga turun. Seperti 3 lapis dengan ρ1> ρ2> ρ3.
Adapun langkah – langkah interpretasi dengan matchingcurve konfigurasi
Schlumberger menurut Waluyo (2004) adalah sebagai berikut:
1. Plot data lapangan pada kertas transparan dengan skala log – log dengan
absis AB/2 (setengah jarak elektroda arus) dan ordinat ρa (tahanan jenis
semu).
2. Matchingkan lengkung data lapangan dengan lengkung baku. Cari lengkung
baku yang paling cocok ( ρ2/ρ1 ).
3. Plot titik silang P1 (titik potong garis ρa /ρ1 =1 dan AB/2 =1) pada kertas
data lapangan. Titik P1 mempunyai arti yang penting karena ordinatnya
adalah harga tahanan jenis lapisan pertama dan absisnya adalah kedalaman
lapisan pertama.
4. Tentukan tahanan jenis lapisan kedua yaitu ρ2 = ρ1 x ρ2/ρ1.
5. Pilih lengkung bantu yang cocok dengan pola lengkung data. Lalu letakkan
pusat lengkung bantu berhimpit dengan titik silang P1 lalu pilih harga sama
dengan ρ2/ρ1.
6. Plot lengkung bantu diatas lembar data lapangan dengan garis putus–putus.
7. Ganti lengkung bantu dengan lengkung baku. Telusurkan pusat lengkung
baku diatas garis putus – putus yang telah dibuat sampai match dengan data
di belakang data yang telah di interpretasi.
8. Setelah cocok catat harga ρ3/ρ2 , plot titik kedua P2 pada kertas data (letak
pusat lengkung baku).
9. Koordinat titik P2 memberikan harga kedalaman lapisan kedua (absis) dan
tahanan jenis ρ2’ (ordinat).
10. Tentukan tahanan jenis lapisan ketiga ρ3 = ρ2’ x ρ3/ρ2.
11. Bila masih ada data yang belum diinterpretasi, langkah selanjutnya sama
seperti 10 poin diatas. Diteruskan hingga data terakhir yang merupakan
kedalaman lapisan terakhir (dasar).
Perlu diketahui bahwa diantara keempat jenis tipe lengkung bantu yang ada,
lengkung bantu tipe H merupakan lengkung bantu yang paling mudah
84

penggunaannya, karena harga h2/h1 dapat diperoleh langsung dengan


menarik garis sejajar sumbu ordinatnya, dan harga h tidak perlu dikoreksi.
Sedangkan tipe A, K dan Q memerlukan koreksi untuk menentukan
ketebalannya. Harga ketebalan merupakan harga h dikalikan dengan faktor
koreksi.
2. Menggunakan Perangkat Lunak
Pada saat ini telah banyak dikembangkan perangkat lunak untuk membantu
matchingcurve dan perhitungan nilai tahanan jenis yang sesungguhnya. IPI2win
merupakan salah satu perangkat lunak yang didesain untuk mengolah data
verticalelectricsounding (VES) dan atau inducedpolarization secara otomatis dan
semi otomatis dengan berbagai macam variasi dari konfigurasi rentangan yang
umum dikenal dalam pendugaan geolistrik (Asisten Geofisika, 2006). Beberapa
keuntungan yang utama dari softwareIPI2win adalah penafsiran manual dan
berupa parameter model pada metode yang berbeda serta dapat melakukan inversi
secara otomatis.
Perbandingan antara Macthing Curve dengan SoftwareIPI2win jika dilihat dari
perhitungan yang dilakukan secara manual yaitu dengan menggunakan metode
curvematching, parameter ketebalan dan trueresistivity dihitung satu persatu dari
ujung awal kurva dengan memotong bagian kurva menjadi beberapa bagian.
Umumnya hasil perhitungan secara manual memberikan hasil yang kurang
optimal dan bila dilihat angka kesalahannya umumnya di atas 10 % (Surdaryo
Broto dan Rohima Sera Afifah. 2008.).
85

(Sumber: Data Penulis. 2014)


Gambar 3.19
Model dalam IPI2win untuk (a) input data (b) inversi (c) hasil interpretasi
menggunakan pseudo-section dan resistivitysection

3. Parameter Pendukung Interpretasi Data Geolistrik


Beberapa hal yang mempengaruhi nilai resistivitas semu menurut Prasetiawati
(2004) adalah sebagai berikut:
1. Ukuran butir penyusun batuan, semakin kecil besar butir maka kelolosan arus
akan semakin baik, sehingga mereduksi nilai tahanan jenis. Hal ini dapat
terlihat pada gambar berikut. (lihat Tabel 3.1)
2. Kepadatan batuan. Dalam hal ini semakin padat batuan akan meningkatkan
nilai resistivitas. (lihat Tabel 3.1)
3. Adanya fracture atau patahan
Menurut Hendrajaya dan Simpen (1993), bahwa sesar adalah struktur geologi
yang terbentuk karena terdapatnya dislokasi atau patahan yang memotong
bidang-bidang perlapisan antar batuan. Pada umumnya bidang sesar terisi oleh
fluida atau mineral yang relatif lebih kondusif dari batuan sekitarnya. Hal ini
akan mengakibatkan penurunan resistivitas. Jadi pada sesar/patahan akan
mempunyai resistivitas yang relatif lebih rendah dari daerah sekitarnya.
86

Tabel 3.1
Nilai tahanan jenis dari berbagai material dibumi

Material Resistivity
(Ohm-meter)
Udara ~
Pyrite (Pirit) 0,01 - 100
Quartz (Kwarsa) 500 – 800.000
Calcite (Kalsit) 1 x 1012 - 1 x 1013
Rock Salt (Garam
Batu) 30 - 1 x 1013
Granite (Granit) 200 – 100.000
Andesite (Andesit) 1,7 x 102 – 45 x 104
Basalt (Basal) 200- 100.000
Limestones (Gamping) 500 – 10.000
Sandstones (Batu
pasir) 200 – 8.000
Shales (Batu Tulis) 20 – 2.000
Sand (Pasir) 1– 1.000
Clay (Lempung) 1 – 100
Ground Water (Air
tanah) 0.5 – 300
Sea Water (Air asin) 0.2
Magnetite (Magnetit) 0.01 – 1.000
Dry Gravel (Kerikil
kering) 600 – 10.000
Alluvium (Aluvium) 10 – 800
Gravel (Kerikil) 100 – 600

Sumber:Telford, 1990)

3.5.4.2 Metode Geologi


1. Pemetaan Geologi
Secara prosedural pemetaan dilakukan dalam beberapa langkah yaitu :
1. Studi literatur secara prosedural yaitu mengumpulkan data data penunjang
berupa peta geologi, jurnal dan publikasi ilmiah, laporan penelitian geologi,
87

peta dasar, peta rupa bumi, data geokimia tanah, citra satelit pada daerah
eksplorasi.
2. Perizinan pada pemerintahan daerah serta tokoh masyarakat dan adat yang
terkait dengan daerah penelitian serta persiapan akomodasi dan logistik.
3. Delineasi peta yang didapatkan dari studi literatur, meliputi delineasi
geomorfologi, struktur geologi (interpretasi citra satelit dan peta topografi),
dan gambaran sebaran batuan untuk memberikan gambaran kondisi daerah
penelitian secara umum.
4. Pembuatan peta dasar dan jalur eksplorasi.
5. Observasi lapangan, meliputi pengamatan singkapan, deskripsi batuan,
pengukuran struktur geologi, pembuatan profil batuan dan tanah laterit, plot
titik pengamatan, pencatatan dan sketsa , serta dokumentasi dan pengambilan
sampel batuan serta pengambilan sampel tanah .
Dalam pelaksanaan pemetaan tersebut peralatan yang dibutuhkan yaitu:
1. Peta dasar daerah penelitian (skala disesuaikan dengan skala penelitian)
2. Kompas geologi
3. Palu geologi,
4. Panduan manual deskripsi lapangan
5. Loupe dengan pembesaran 10 x dan 20 x
6. HCL 0,1 N
7. Meteran
8. Kamera
9. Kantong sampel
10. GPS
11. Alat penunjang keselamatan, seperti pakaian standar lapangan
12. Alat- alat tulis.

2. Pembuatan Sumur Uji


Dalam eksplorasi nikel laterit, sumur uji umumnya dilakukan berdasarkan nilai
anomali kandungan geokimia tanah serta topografi yang menunjang yaitu
morfologi lembah. Hal tersebut disebabkan karena pada daerah lembah
88

kandungan nikel pada saprolit lebih signifikan karena pola gerakan air
tanah.umumnya dibuat dengan peralatan manual penggalian seperti cangkul dan
lainnya dengan tenaga manusia. Gambar 3.17 menunjukan bentuk umum
penampang sumur uji. Kedalaman sumur dibuat berdasarkan kebutuhan
eksplorasi, bahkan sampai batuan dasar dengan lebar umum 3-5 meter. Spasi dari
setiap titik pembuatan sumur uji juga diperhitungkan dengan plot GPS untuk
mencari kemenerusan secara lateral.

(Sumber:Telford,dkk. 1990)
Gambar 3.20
Variasi penampang sumur uji.

3. Penyelidikan Dengan Parit Uji (Trench)


Pada dasarnya maksud dan tujuannya sama dengan penyelidikan yang
mempergunakan sumur uji. Demikian pula cara penggaliannya. Yang berbeda
adalah bentuknya ; parit uji digali memanjang di permukaan bumi dengan bentuk
penampang trapesium dan kedalamannya 2-3 m, sedang panjangnya tergantung
dari lebar atau tebal singkapan endapan bahan galian yang sedang dicari dan
jumlah (volume) contoh batuan (samples) yang ingin diperoleh. Berbeda dengan
sumur uji, bila jumlah parit uji yang dibuat banyak dan daerahnya mudah
dijangkau oleh peralatan mekanis, maka penggalian parit uji dapat dilakukan
dengandragline atau hydraulic excavator (back hoe).
89

(Sumber:Telford,dkk. 1990)
Gambar 3.21
Bentuk penampang parit uji

Untuk menemukan urat bijih yang tersembunyi di bawah material penutup


sebaiknya digali dua atau lebih parit uji yang saling tegak lurus arahnya agar
kemungkinan untuk menemukan urat bijih itu lebih besar. Bila kebetulan kedua
parit uji itu dapat menemukan singkapan urat bijihnya, maka jurusnya (strike)
dapat segera ditentukan. Selanjutnya untuk menentukan bentuk dan ukuran urat
bijih yang lebih tepat dibuat parit-parit uji yang saling sejajar dan tegak lurus
terhadap jurus urat bijihnya (lihat Gambar 3.22).

(Sumber:Telford,dkk. 1990)
Gambar 3.22
Arah penggalian parit uji
90

Trenching (pembuatan paritan) merupakan salah satu cara dalam observasi


singkapan atau dalam pencarian sumber (badan) bijih/endapan.
Pada pengamatan (observasi) singkapan, paritan uji dilakukan dengan cara
menggali tanah penutup dengan arah relatif tegak lurus bidang perlapisan
(terutama pada endapan berlapis). Informasi yang diperoleh antara lain ; jurus
bidang perlapisan, kemiringan lapisan, ketebalan lapisan, karakteristik perlapisan
(ada split atau sisipan), serta dapat sebagai lokasi sampling.
Sedangkan pada pencarian sumber (badan) bijih, parit uji dibuat berupa series
dengan arah paritan relatif tegak lurus terhadap jurus zona badan bijih, sehingga
batas zona bijih tersebut dapat diketahui. Informasi yang dapat diperoleh antara
lain ; adanya zona alterasi, zona mineralisasi, arah relatif (umum) jurus dan
kemiringan, serta dapat sebagai lokasi sampling. Dengan mengkorelasikan series
paritan uji tersebut diharapkan zona bijih/minerasisasi/badan endapan dapat
diketahui.
Pembuatan trenching (paritan) ini dilakukan dengan kondisi umum sebagai
berikut :

(Sumber:Telford,dkk. 1990)
Gambar 3.23
Parit Uji
91

4. Pemboran Eksplorasi
Salah satu keputusan penting di dalam kegiatan eksplorasi adalah menentukan
kapan kegiatan pemboran dimulai dan diakhiri. Pelaksanaan pemboran sangat
penting jika kegiatan yang dilakukan adalah menentukan zona mineralisasi dari
permukaan. Kegiatan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran mineralisasi dari
permukaan sebaik mungkin, namun demikian kegiatan pemboran dapat dihentikan
jika telah dapat mengetahui gambaran geologi permukaan dan mineralisasi bawah
permukaan secara menyeluruh. Dalam melakukan perencanaan pemboran, hal-hal
yang perlu diperhatikan dan direncanakan dengan baik adalah:
1. Kondisi Geologi Dan Topografi,
2. Tipe Pemboran Yang Akan Digunakan,
3. Spasi Pemboran,
4. Waktu Pemboran, Dan
5. Pelaksana (Kontraktor) Pemboran.
Selain itu aspek logistik juga harus dipikirkan dengan cermat, antara lain :
1. Juru Bor
2. Peralatan Dan Onderdil Yang Dibutuhkan,
3. Alat Transportasi,
4. Konstruksi Peralatan Pemboran .
5. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan alat pemboran :
Tujuan (open hole – coring),
1. Topografi dan geografi (keadaan medan, sumber air),
2. Litologi dan struktur geologi (kedalaman pemboran, pemilihan mata bor),
3. Biaya dan waktu yang tersedia, serta
4. Peralatan dan keterampilan.
Hasil yang diharapkan dari pemboran eksplorasi, antara lain :
1. Identifikasi struktur geologi,
2. Sifat fisik batuan samping dan badan bijih,
3. Mineralogi batuan samping dan badan bijih,
4. Geometri endapan,
92

Umumnya mekanisme pemboran dibagi menjadi tiga jenis, yaitu rotary drilling,
percussive drilling, dan rotary-percussive drilling. Pada mekanisme rotary drilling
terdapat tiga macam penggerak atau pemutar stang bor yaitu spindle, rotary table,
dan top drive. Mesin penggerak yang digunakan dapat bekerja secara mekanik
(dengan bahan bakar) maupun elektrik. Mata bor yang sering digunakan
umumnya berupa tricone bit untuk pemboran open hole (non coring) ataupun
diamond bit untuk pemboran inti (coring). Fluida bor yang sering digunakan
dalam suatu operasi pemboran dapat berupa udara, air, lumpur atau campuran air
dan lumpur. Fluida bor pada umumnya berfungsi untuk : (a) pendingin mata bor,
(b) pelumas, (c) mengangkat sludge ke atas, (d) melindungi dinding lubang bor
dari runtuhan.
5. Pemboran inti
Pada pemboran dengan metode ini sampel diambil dari target dengan diamond bit
atau impregnated bit. Hal ini mengakibatkan conto yang diperoleh pada tabung
dalam (innertube) dari core barrel berbentuk silinder. Mata bor dan core barrel
dihubungkan ke permukaan dengan tali baja yang juga digunakan untuk
menurunkan mata bor dan core barrel ke dalam lubang.

1. Drill bit Bentuk mata bor ini terdiri dari butiran sintetik halus dengan kadar
intan tanpa semen metalik yang memiliki karatan tertentu. Pada umumnya
keseluruhan mata bor ini digunakan untuk batuan yang sangat keras seperti
rijang, sedangkan mata bor intan tunggal digunakan untuk batuan yang lebih
halus seperti batugamping. Diamond bit dapat digunakan untuk batuan
tertentu tetapi karena harganya yang sangat mahal maka perlu pengalaman
dan pemilihan lokasi yang tepat dalam penggunaannya.
2. Core barrel Inti bor diperoleh dari perputaran mata bor dan kemudian
didorong ke core barrel oleh perputaran tabung. Core barrel dapat
diklasifikasikan sesuai panjang inti bor yang ditampung biasanya 1,5–3 m
namun dapat pula mencapai 6 m. Umumnya terdapat dua tabung dimana
tabung luar untuk menangkap inti bor dan tabung dalam dalam posisi tidak
berputar. Triple-tube dapat digunakan untuk tanah yang kurang baik
93

selanjutnya inti bor dapat diangkat dengan menggunakan tali pada stang bor
ke permukaan.
3. Sirkulasi Air disirkulasikan pada bagian dalam dari stang bor dengan tujuan
untuk mencuci sludge, permukaan mata bor dan kemudian dikeluarkan lewat
celah antara antara dinding lubang bor dan stang bor. Tujuan sirkulasi ini juga
untuk memberi pelumasan pada mata bor, mendinginkannya dan melepaskan
hancuran batuan yang menempel pada permukaan mata bor. Air dapat
dikombinasikan dengan lempung atau bahan aditif lainnya untuk memberikan
daya angkat bagi material yang dibor.
4. Casing Casing digunakan untuk menutupi atau menguatkan permukaan
lubang bor. Casing dilengkapi dengan tabung baja sehingga tali baja dapat
dioperasikan dengan aman. Casing dan mata bor telah seukuran sehingga
ukuran yang lebih kecil dari itu (diameter kecil) akan melewati ukuran besar
pada lubang yang akan dibor.
5. Kecepatan dan biaya pemboran Mesin bor yang digunakan dalam eksplorasi
mineral biasanya memiliki kapasitas sampai 2000 m dan dapat diletakan
horisontal atau vertikal. Rata-rata penggunaannya bergantung kepada tipe alat
bor, mata bor, diameter lubang, tipe batuan, kedalaman dan keahlian juru bor.
Seorang juru bor harus mempertimbangkan berapa besar volume fluida yang
akan digunakan, besar tekanan yang akan dipakai, besarnya perubahan
putaran dan pemilihan mata bor yang benar. Sampai sekarang belum ada
kondisi baku untuk menentukan faktor kritis penggunaan mata bor jika kita
menginginkan optimasi pemboran yang efisien. Pemboran sampai kedalaman
10 m/jam mungkin saja terjadi bergantung kepada kemampuan juru bor yang
menanganinya dan juga kondisi batuan yang dibor. Beberapa permasalahan
(kendala) yang muncul dalam pemboran dapat dilihat pada Tabel dibawah

3.5.4.3 Metode Geomagnetik


Metoda Geomagnet adalah salah satu metoda di geofisika yang memanfaatkan sifat
kemagnetan bumi. Menggunakan metoda ini diperoleh kontur yang
menggambarkan distribusi susceptibility batuan di bawah permukaan pada arah
94

horizontal. Dari nilai susceptibility selanjutnya dapat dilokalisir / dipisahkan


batuan yang mengandung sifat kemagnetan dan yang tidak. Mengingat survey ini
hanya bagus untuk pemodelan kearah horizontal, maka untuk mengetahui
informasi kedalamannya diperlukan metoda Resistivity 2D. Jadi, survey
geomagnet diterapkan untuk daerah yang luas, dengan tujuan untuk mencari
daerah prospek. Setelah diperoleh daerah yang prospek selanjutnya dilakukan
survey Resistivity 2D.
Metode Geofisika merupakan ilmu yang mempelajari tentang bumi dengan
menggunakan pengukuran fisis pada atau di atas permukaan. Dari sisi lain,
geofisika mempelajari semua isi bumi baik yang terlihat maupun tidak terlihat
langsung oleh pengukuran sifat fisis dengan penyesuaian pada umumnya pada
permukaan (Dobrin dan Savit, 1988). Secara umum, metode geofisika dibagi
menjadi dua kategori, yaitu:Metode pasif dilakukan dengan mengukur medan
alami yang dipancarkan oleh bumi. Metode aktif dilakukan dengan membuat
medan gangguan kemudian mengukur respon yang dilakukan oleh bumi.Medan
dalam ilmu geofisika terdiri dari Medan alami adalah misalnya radiasi gelombang
gempa bumi, medan gravitasi bumi, medan magnet bumi, medan listrik dan
elektromagnetik bumi serta radiasi radiokativitas bumi.Medan buatan dapat
berupa ledakan dinamit, pemberian arus listrik ke dalam tanah, pengiriman sinyal
radar dan lain sebagainya.
1. Medan Magnet Bumi
Medan magnet bumi terkarakterisasi oleh parameter fisis atau disebut juga elemen
medan magnet bumi, yang dapat diukur yaitu meliputi arah dan intensitas
kemagnetannya. Parameter fisis tersebut meliputi :
1. Deklinasi (D), yaitu sudut antara utara magnetik dengan komponen
horizontal yang dihitung dari utara menuju timur
2. Inklinasi(I), yaitu sudut antara medan magnetik total dengan bidang
horizontal yang dihitung dari bidang horizontal menuju bidang vertikal
ke bawah.
3. Intensitas Horizontal (H), yaitu besar dari medan magnetik total pada
bidang horizontal.
95

4. Medan magnetik total (F), yaitu besar dari vektor medan magnetik total.
Medan magnet utama bumi berubah terhadap waktu. Untuk menyeragamkan nilai-
nilai medan utama magnet bumi, dibuat standar nilai yang disebut International
Geomagnetics Reference Field (IGRF) yang diperbaharui setiap 5 tahun sekali.
Nilai-nilai IGRF tersebut diperoleh dari hasil pengukuran rata-rata pada daerah
luasan sekitar 1 juta km2 yang dilakukan dalam waktu satu tahun. Medan magnet
bumi terdiri dari 3 bagian :
1. Medan magnet utama (main field)Medan magnet utama dapat
didefinisikan sebagai medan rata-rata hasil pengukuran dalam jangka
waktu yang cukup lama mencakup daerah dengan luas lebih dari 106
km2.
2. Medan magnet luar (external field)
Pengaruh medan magnet luar berasal dari pengaruh luar bumi yang
merupakan hasil ionisasi di atmosfer yang ditimbulkan oleh sinar
ultraviolet dari matahari. Karena sumber medan luar ini berhubungan
dengan arus listrik yang mengalir dalam lapisan terionisasi di atmosfer,
maka perubahan medan ini terhadap waktu jauh lebih cepat.
3. Medan magnet anomaly
Medan magnet anomali sering juga disebut medan magnet lokal (crustal
field). Medan magnet ini dihasilkan oleh batuan yang mengandung
mineral bermagnet seperti magnetite (), titanomagnetite () dan lain-lain
yang berada di kerak bumi.
Dalam survei dengan metode magnetik yang menjadi target dari pengukuran
adalah variasi medan magnetik yang terukur di permukaan (anomali magnetik).
Secara garis besar anomali medan magnetik disebabkan oleh medan magnetik
remanen dan medan magnetik induksi. Medan magnet remanen mempunyai
peranan yang besar terhadap magnetisasi batuan yaitu pada besar dan arah medan
magnetiknya serta berkaitan dengan peristiwa kemagnetan sebelumnya sehingga
sangat rumit untuk diamati. Anomali yang diperoleh dari survei merupakan hasil
gabungan medan magnetik remanen dan induksi, bila arah medan magnet
remanen sama dengan arah medan magnet induksi maka anomalinya bertambah
96

besar. Demikian pula sebaliknya. Dalam survei magnetik, efek medan remanen
akan diabaikan apabila anomali medan magnetik kurang dari 25 % medan magnet
utama bumi (Telford, 1976),
1. Metode Pengukuran Data Geomagnetik
Dalam melakukan pengukuran geomagnetik, peralatan paling utama yang
digunakan adalah magnetometer. Peralatan ini digunakan untuk mengukur kuat
medan magnetik di lokasi survei. Salah satu jenisnya adalah Proton Precission
Magnetometer (PPM) yang digunakan untuk mengukur nilai kuat medan
magnetik total. Peralatan lain yang bersifat pendukung di dalam survei magnetik
adalah Global Positioning System (GPS). Peralatan ini digunaka untuk mengukur
posisi titik pengukuran yang meliputi bujur, lintang, ketinggian, dan waktu. GPS
ini dalam penentuan posisi suatu titik lokasi menggunakan bantuan satelit.
Penggunaan sinyal satelit karena sinyal satelit menjangkau daerah yang sangat
luas dan tidak terganggu oleh gunung, bukit, lembah dan jurang.Beberapa
peralatan penunjang lain yang sering digunakan di dalam survei magnetik, antara
lain (Sehan, 2001) :
1. Kompas geologi, untuk mengetahui arah utara dan selatan dari medan
magnet bumi.
2. Peta topografi, untuk menentukan rute perjalanan dan letak titik pengukuran
pada saat survei magnetik di lokasi
3. Sarana transportasi
4. Buku kerja, untuk mencatat data-data selama pengambilan data
5. PC atau laptop dengan software seperti Surfer, Matlab, Mag2DC, dan lain-
lain.
Pengukuran data medan magnetik di lapangan dilakukan menggunakan peralatan
PPM, yang merupakan portable magnetometer. Data yang dicatat selama proses
pengukuran adalah hari, tanggal, waktu, kuat medan magnetik, kondisi cuaca dan
lingkungan.Dalam melakukan akuisisi data magnetik yang pertama dilakukan
adalah menentukan base station dan membuat station – station pengukuran
(usahakan membentuk grid – grid). Ukuran gridnya disesuaikan dengan luasnya
lokasi pengukuran, kemudian dilakukan pengukuran medan magnet di station –
97

station pengukuran di setiap lintasan, pada saat yang bersamaan pula dilakukan
pengukuran variasi harian di base station.
2. Pengaksesan Data IGRF
IGRF singkatan dati TheInternational Geomagnetic Reference Field. Merupakan
medan acuan geomagnetik intenasional. Pada dasarnya nilai IGRF merupakan
nilai kuat medan magnetik utama bumi (H0). Nilai IGRF termasuk nilai yang ikut
terukur pada saat kita melakukan pengukuran medan magnetik di permukaan
bumi, yang merupakan komponen paling besar dalam survei geomagnetik,
sehingga perlu dilakukan koreksi untuk menghilangkannya. Koreksi nilai IGRF
terhadap data medan magnetik hasil pengukuran dilakukan karena nilai yang
menjadi terget survei magnetik adalan anomali medan magnetik (ΔHr0).Nilai
IGRF yang diperoleh dikoreksikan terhadap data kuat medan magnetik total dari
hasil pengukuran di setiap stasiun atau titik lokasi pengukuran. Meskipun nilai
IGRF tidak menjadi target survei, namun nilai ini bersama-sama dengan nilai
sudut inklinasi dan sudut deklinasi sangat diperlukan pada saat memasukkan
pemodelan dan interpretasi.
3. Pengolahan Data Geomagnetik
Untuk memperoleh nilai anomali medan magnetik yang diinginkan, maka
dilakukan koreksi terhadap data medan magnetik total hasil pengukuran pada
setiap titik lokasi atau stasiun pengukuran, yang mencakup koreksi harian, IGRF
dan topografi.
1. Koreksi Harian
Koreksi harian (diurnal correction) merupakan penyimpangan nilai medan
magnetik bumi akibat adanya perbedaan waktu dan efek radiasi matahari
dalam satu hari. Waktu yang dimaksudkan harus mengacu atau sesuai dengan
waktu pengukuran data medan magnetik di setiap titik lokasi (stasiun
pengukuran) yang akan dikoreksi. Apabila nilai variasi harian negatif, maka
koreksi harian dilakukan dengan cara menambahkan nilai variasi harian yang
terekan pada waktu tertentu terhadap data medan magnetik yang akan
dikoreksi. Sebaliknya apabila variasi harian bernilai positif, maka koreksinya
dilakukan dengan cara mengurangkan nilai variasi harian yang terekan pada
98

waktu tertentu terhadap data medan magnetik yang akan dikoreksi, datap
dituliskan dalam persamaan
ΔH = Htotal ± ΔHharian
2. Koreksi IGRF
Data hasil pengukuran medan magnetik pada dasarnya adalah konstribusi dari
tiga komponen dasar, yaitu medan magnetik utama bumi, medan magnetik luar
dan medan anomali. Nilai medan magnetik utama tidak lain adalah niali IGRF.
Jika nilai medan magnetik utama dihilangkan dengan koreksi harian, maka
kontribusi medan magnetik utama dihilangkan dengan koreksi IGRF. Koreksi
IGRFdapat dilakukan dengan cara mengurangkan nilai IGRF terhadap nilai
medan magnetik total yang telah terkoreksi harian pada setiap titik pengukuran
pada posisi geografis yang sesuai. Persamaan koreksinya (setelah dikoreksi
harian) dapat dituliskan sebagai berikut :
ΔH = Htotal ± ΔHharian ± H0
Dimana H0 = IGRF
3. Koreksi Topografi
Koreksi topografi dilakukan jika pengaruh topografi dalam survei megnetik
sangat kuat. Koreksi topografi dalam survei geomagnetik tidak mempunyai
aturan yang jelas. Salah satu metode untuk menentukan nilai koreksinya adalah
dengan membangun suatu model topografi menggunakan pemodelan beberapa
prisma segiempat (Suryanto, 1988). Ketika melakukan pemodelan, nilai
suseptibilitas magnetik (k) batuan topografi harus diketahui, sehingga model
topografi yang dibuat, menghasilkan nilai anomali medan magnetik (ΔHtop)
sesuai dengan fakta. Selanjutnya persamaan koreksinya (setelah dilakukan
koreski harian dan IGRF) dapat dituliska sebagai
ΔH = Htotal ± ΔHharian – H0 – ΔHtop.
Setelah semua koreksi dikenakan pada data-data medan magnetik yang
terukur dilapangan, maka diperoleh data anomali medan magnetik total di
topogafi. Untuk mengetahui pola anomali yang diperoleh, yang akan
digunakan sebagai dasar dalam pendugaan model struktur geologi bawah
permukaan yang mungkin, maka data anomali harus disajikan dalam bentuk
99

peta kontur. Peta kontur terdiri dari garis-garis kontur yang menghubungkan
titik-titik yang memiliki nilai anomali sama, yang diukur dar suatu bidang
pembanding tertentu.
4. Reduksi ke Bidang Data
Untuk mempermudah proses pengolahan dan interpretasi data magnetik, maka
data anomali medan magnetik total yang masih tersebar di topografi harus
direduksi atau dibawa ke bidang datar. Proses transformasi ini mutlak dilakukan,
karena proses pengolahan data berikutnya mensyaratkan input anomali medan
magnetik yang terdistribusi pada biang datar. Beberapa teknik untuk
mentransformasi data anomali medan magnetik ke bidang datar, antara lain :
teknik sumber ekivalen (equivalent source), lapisan ekivalen (equivalent layer)
dan pendekatan deret Taylor (Taylor series approximaion), dimana setiap teknik
mempunyai kelebihan dan kekurangan (Blakely, 1995).
5. Pengangkatan ke Atas
Pengangkatan ke atas atau upward continuation merupakan proses transformasi
data medan potensial dari suatu bidang datar ke bidang datar lainnya yang lebih
tinggi. Pada pengolahan data geomagnetik, proses ini dapat berfungsi sebagai
filter tapis rendah, yaitu untuk menghilangkan suatu mereduksi efek magnetik
lokal yang berasal dari berbagai sumber benda magnetik yang tersebar di
permukaan topografi yang tidak terkait dengan survei. Proses pengangkatan tidak
boleh terlalu tinggi, karena ini dapat mereduksi anomali magnetik lokal yang
bersumber dari benda magnetik atau struktur geologi yang menjadi target survei
magnetik ini.
6. Koreksi Efek Regional
Dalam banyak kasus, data anomali medan magnetik yang menjadi target survei
selalu bersuperposisi atau bercampur dengan anomali magnetik lain yang berasal
dari sumber yang sangat dalam dan luas di bawah permukaan bumi. Anomali
magnetik ini disebut sebagai anomali magnetik regional (Breiner, 1973). Untuk
menginterpretasi anomali medan magnetik yang menjadi target survei, maka
dilakukan koreksi efek regional, yang bertujuan untuk menghilangkan efek
anomali magnetik regioanl dari data anomali medan magnetik hasil pengukuran.
100

Salah satu metode yang dapat digunakan untuk memperoleh anomali regional
adalah pengangakatan ke atas hingga pada ketinggian-ketinggian tertentu, dimana
peta kontur anomali yang dihasilkan sudah cenderung tetap dan tidak mengalami
perubahan pola lagi ketika dilakukan pengangkatan yang lebih tinggi.
7. Interpretasi Data Geomagnetk
Secara umum interpretasi data geomagnetik terbagi menjadi dua, yaitu interpretasi
kualitatif dan kuantitatif. Interpretasi kualitatif didasarkan pada pola kontur
anomali medan magnetik yang bersumber dari distribusi benda-benda
termagnetisasi atau struktur geologi bawah permukaan bumi. Selanjutnya pola
anomali medan magnetik yang dihasilkan ditafsirkan berdasarkan informasi
geologi setempat dalam bentuk distribusi benda magnetik atau struktur geologi,
yang dijadikan dasar pendugaan terhadap keadaan geologi yang
sebenarnya.Interpretasi kuantitatif bertujuan untuk menentukan bentuk atau model
dan kedalaman benda anomali atau strukutr geologi melalui pemodelan
matematis. Untuk melakukan interpretasi kuantitatif, ada beberapa cara dimana
antara satu dengan lainnya mungkin berbeda, tergantung dari bentuk anomali
yang diperoleh, sasaran yang dicapai dan ketelitian hasil pengukuran.

3.5.4.4 Penginderaan Jarak Jauh (Inderaja)


Penginderaan jarak jauh merupakan suatu teknologi dengan memanfaatkan sarana
angkasa (luar angkasa) untuk dapat melakukan observasi pada permukaan bumi.
Penginderaan jauh ini juga akan (dapat) sangat membantu dalam melakukan
interpretasi bawah permukaan tanah terutama pada daerah-daerah yang ditutupi
oleh vegetasi atau lapukan kuarter.
Dengan bantuan penginderaan jarak jauh (terutama foto udara) dapat membantu
juga dalam pembuatan peta-peta topografi maupun peta-peta tematik dengan cepat
dan akurat. Selain itu karena data-data dapat diperoleh dalam bentuk data digital,
maka dapat dilakukan kompilasi maupun manipulasi peta dengan cepat melalui
bantuan teknologi komputer.
Secara umum penginderaan jarak jauh (inderaja) ini dapat dilakukan dengan 3
(tiga) sistem, yaitu :
101

1. Pemotretan dengan kamera atau fotografi dengan menggunakan pesawat


udara yang dikenal dengan Foto Udara (Aerial Photograph).
2. Melakukan scanning melalui gelombang mikro (Radar) yang ditempatkan
pada wahana luar angkasa.
3. Melakukan pemotretan permukaan bumi dengan menggunakan satelit
(Landsat) yang dikenal dengan Citra Satelit.
Beberapa kelebihan yang dapat diperoleh dari penggunaan inderaja ini, antara lain
:
1. Dapat mencakup (meliputi) area permukaan bumi yang cukup luas,
2. Dapat dilakukan pengamatan fenomena geologi yang dinamik dengan cara
melakukan pengamatan dalam range (interval) waktu tertentu, sehingga
proses, pergerakan, maupun perubahan objek dapat diamati.
3. Dapat mengeliminasi kesulitan dalam interpretasi bawah permukaan pada
daerah-daerah yang ditutupi oleh vegetasi yang lebat (terutama melalui
citra satelit).
4. Dapat mengeliminasi kesulitan pengamatan akibat iklim (misalnya
tertutup awan) melalui pengamatan dengan menggunakan citra satelit.
5. Dapat ditampilkan dalam beberapa variasi bentuk antara lain foto hitam-
putih, citra berwarna, citra hitam-putih, serta variasi rona sehingga dapat
dimanfaatkan untuk interpretasi litologi maupun alterasi.
6. Dapat membantu dalam pengamatan struktur geologi lokal sehingga akan
sangat membantu dalam interpretasi kontrol pembentukan zona
mineralisasi.
7. Dapat diformulasikan atau diskenariokan dalam berbagai variasi analisis,
karena semua data berada dalam format digital.
8. Dapat melakukan penghematan biaya, karena secara umum berdasarkan
cakupan areal maka biaya per satuan luas mungkin akan relatif kecil jika
dibandingkan dengan pengamatan langsung di permukaan.
102

1. Foto udara
Merupakan pemotretan permukaan bumi dengan menggunakan kamera foto
dengan menggunakan pesawat udara. Adapun hasil pemotretan yang dapat
diperoleh adalah :
1. Fotograf Hitam & Putih (B & W Film).
2. Fotograf berwarna (Color Film).
3. Inframerah hitam & putih (B & W IR).
4. Inframerah berwarna (Color IR).
Dalam suatu pengamatan foto udara terdapat 7 (tujuh) komponen dasar foto udara
yang perlu diketahui, yaitu :
1. Bentuk, berhubungan dengan kenampakan fisik suatu objek.
2. Ukuran, berhubungan dengan dimensi suatu objek dan umumnya
berfungsi sebagai skala,
3. Pola, berhubungan dengan posisi/sifat/karakteristik spasial suatu objek,
4. Bayangan, dapat menjadi petunjuk interpretasi (sebagai guide untuk
kenampakan suatu objek), namun dapat juga menjadi kendala dalam
interpretasi (jika menghalangi fisik objek yang penting),
5. Rona, merupakan tingkat (gradasi) kecerahan/warna relatif suatu objek
terhadap objek lain,
6. Tekstur, merupakan kombinasi dari bentuk, ukuran, pola, bayangan, atau
rona,
7. Situs/lokasi/indeks, merupakan letak/posisi relatif objek terhadap objek
lain.
Pemotretan untuk pembuatan suatu series foto udara yang meliputi suatu daerah
dapat dilakukan pada jalur terbang dan menghasilkan lembaran-lembaran foto.
Untuk dapat dilakukan penggabungan foto-foto (mosaik) maka masing-masing
lembaran yang dihasilkan (difoto) harus saling overlap (umumnya 30%).
Adapun dalam pengamatan suatu foto udara, secara umum dapat diikhtisarkan
sebagai suatu rangkaian kegiatan yang meliputi : pengamatan foto 
analisis/pengukuran kenampakan suatu objek  pemindahan hasil interpretasi ke
dalam peta dasar. Pengamatan dan analisis suatu foto udara dapat dilakukan
103

secara 3-D, yaitu melalui pengamatan stereografis dengan perantara suatu alat
yaitu stereoskop.
Interpretasi-interpretasi (informasi) yang dapat diperoleh dari hasil pengamatan
(analisis) foto udara adalah :
1. Relief permukaan bumi  peta topografi,
2. Rona muka bumi  interpretasi litologi (batuan) dan alterasi,
3. Tekstur muka bumi (objek)  untuk menginterpretasikan jenis batuan
atau perbedaan kekerasan batuan,
4. Pola aliran sungai,
5. Tingkat erosi permukaan,
6. Tata guna lahan,
7. Kelurusan-kelurusan objek yang bermanfaat untuk interpretasi struktur
geologi.
2. Penginderaan gelombang mikro
Penginderaan jarak jauh dengan menggunakan gelombang mikro dapat dilakukan
dalam segala kondisi alam (kabut, berawan, siang, malam, dll.) tergantung pada
panjang gelombang yang digunakan. Penginderaan dengan gelombang mikro ini
umumnya menggunakan sensor gelombang mikro aktif yang dikenal dengan
RADAR (Radio Detection and Ranging), dimana transmisi berupa ledakan
pendek (pulsa gelombang mikro) dan merekam kekuatan gema/pantulan yang
direspon oleh objek.
Umumnya peralatan sistim Radar ini dipasang pada pesawat terbang maupun
pesawat antariksa (ulang-alik). Sistem Radar yang digunakan pada umumnya
adalah SLR (Side Looking Radar) dan SLAR (Side Looking Airborne Radar).
Karena resolusi spasial yang dihasilkan oleh sistem SLR/SLAR ini relatif lebih
kasar daripada resolusi yang dihasilkan oleh foto udara, maka SLR/SLAR ini
jarang digunakan pada tahapan penelitian (pemetaan) rinci, tapi hanya (umum)
digunakan pada pemetaan awal (survei tinjau  reconnaissance).
104

3. Penginderaan jauh dengan satelit


Penginderaan jarak jauh dengan menggunakan wahana ruang angkasa (satelit)
dengan melakukan pemotretan bumi melalui sistem penginderaan Return Beam
Vidicom (RBV) ataupun dengan Multispectral (MSS) dengan menggunakan satelit
Landsat, dan hasil yang diperoleh disebut dengan Citra Landsat.
Data landsat diperoleh melalui Multispectral Imagery, sehingga dapat
menghasilkan produk-produk sebagai berikut :
1. Landsat CCTs untuk MSS atau TM Imagery, yang cocok untuk
pemrosesan dengan bantuan komputer.
2. Bayangan hitam putih dalam bentuk lembaran berukuran 23 x 23 cm
dengan skala 1 : 1.000.000.
3. Cetak berwarna atau hitam putih dan skala dapat disempurnakan sampai
dengan skala 1 : 100.000.
Jika dibandingkan dengan penginderaan dengan foto udara, maka Citra Satelit ini
mempunyai beberapa kelebihan/kekurangan, seperti terlihat pada Tabel 3.2.
Tabel 3.2
Perbandingan citra landsat dengan foto udara
Citra Landsat Foto Udara
Format
185 x 185 mm 230 x 230 mm
Foto
Skala 1 : 20.000 s/d 1 : 120.000 1 : 1.000.000
Cakupan
21 s/d 760 km2 34.000 km2
areal
Untuk kenampakan geologi
Untuk kenampakan geologi
yang kecil (detail) kurang
yang kecil (detil) cukup teliti
teliti
Untuk kenampakan geologi
Hasil
Untuk kenampakan geologi pada dimensi besar
pada dimensi besar cukup membutuhkan banyak
terlihat lembaran foto (terpotong-
potong)
Interpreta
2 (dua) dimensi 3 (tiga) dimensi
si
Waktu Cepat Lebih lama
Biaya Murah Murah
(Sumber:Telford,dkk. 1990)
105

Oleh sebab itu, maka hasil Citra Landsat umumnya digunakan sebagai pelengkap
dalam melakukan interpretasi penginderaan jarak jauh disamping analisis foto
udara sebagai media interpretasi utama.
Aplikasi yang dapat dilakukan berdasarkan hasil landsat ini adalah :
1. Peta-peta struktur geologi, berdasarkan interpretasi kelurusan-kelurusan
akibat refleksi spektral yang terjadi. Dari pengamatan struktur geologi
tersebut dapat menghasilkan (mengidentifikasi) sesar, rekahan-rekahan,
atau juga jalur mineralisasi.
2. Interpretasi dan pembuktian peta geologi dan peta alterasi berdasarkan
perbedaan warna atau kontras (rona).
Beberapa satelit lain yang sering digunakan dalam penginderaan jarak jauh
adalah
1. Seasat-1 ; umumnya untuk penelitian oseanografi (dari ketinggian 800
km).
2. SPOT ; yang merupakan satelit Perancis (Satelit Proboloire Pour 1
Observation de La Terre).
3. Satelit cuaca, antara lain NOAA/TIROS, GOES, NIMBUS, DMSP.

3.5.4.5 Eksplorasi Geokimia


Prospeksi geokimia dilakukan berdasarkan pengetahuan bahwa mineralisasi
primer lebih banyak terjadi di sekitar endapan mineral dan suatu pola dispersi
sekunder dari unsur-unsur kimia sering terbentuk selama pelapukan dan erosi dari
endapan. Dispersi primer merupakan suatu kenampakan alterasi dan kondisi
zoning yang memiliki dimensi yang sama dari sentimeter sampai meter di sekitar
badan bijih, dan ratusan meter sampai kilometer di sekitar badan bijih yang besar
dan area tambang. Sedangkan pola dispersi sekunder mengandung sisa-sisa
mineralisasi bijih yang dapat ditemukan dalam conto-conto batuan, tanah,
vegetasi, sedimen, dan air yang diambil pada jarak beberapa meter sampai
puluhan kilometer dari sumber.
106

( Sumber :Gocht et al., 1988)


Gambar 3.24
Metode eksplorasi geokimia dan material geologi yang di-sampling untuk
mendeteksi dispersi primer dan sekunder (Gocht et al., 1988)

Eksplorasi geokimia khusus mengkonsentrasikan pada pengukuran kelimpahan,


distribusi, dan migrasi unsur-unsur bijih atau unsur-unsur yang berhubungan erat
dengan bijih, dengan tujuan mendeteksi endapan bijih. Dalam pengertian yang
lebih sempit eksplorasi geokimia adalah pengukuran secara sistematis satu atau
lebih unsur jejak dalam batuan, tanah, sedimen sungai aktif, vegetasi, air atau gas
untuk mendapatkan anomali geokimia yaitu konsentrasi abnormal dari unsur
tertentu yang kontras terhadap lingkungannya (background geokimia).
Prospeksi geokimia pada dasarnya terdiri dari dua metode, yaitu :
1. Metode yang menggunakan pola dispersi mekanis diterapkan pada mineral
yang relatif stabil pada kondisi permukaan bumi (seperti: emas, platina,
kasiterit, kromit, mineral tanah jarang). Cocok digunakan di daerah yang
kondisi iklimnya membatasi pelapukan kimiawi.
2. Metode yang didasarkan pada pengenalan pola dispersi kimiawi. Pola ini
dapat diperoleh baik pada endapan bijih yang tererosi ataupun yang tidak
tererosi, baik yang lapuk ataupun yang tidak lapuk.
107

(Sumber : Chaussier, 1987)


Gambar 3.25
Pola dispersi sekunder dan endapan yang berpindah
dari sumbernya (Chaussier, 1987)

Semua endapan bijih adalah produk dari daur yang sama di dalam proses-proses
geologi yang mengakibatkan terjadinya tanah, sedimen, dan batuan. Dispersi
geokimia tidak terlepas dari daur geologi dan jenis-jenis bijih yang dihasilkan
pada berbagai tingkatan daur .
108

r TERSINGKAP
de
un si
ek Ero
iS Bijih Oksidasi
ers dan Supergen
sp
Di is
i
os
ep CEBAKAN EKSHALASI
D
(VULKANIK)
Ekstrusif

er
SEDIMEN

nd
ku
(PLACER)

Se
rsi
asi

spe
BATUAN BEKU
Litifik

Di
(CEBAKAN HIDROTHERMAL)

Intrusif
BATUAN SEDIMEN
(ENDAPAN SULFIDA SEDIMEN,

r
de
ENDAPAN POSFAT)

n
ku
me

Se
rfis

rsi

er
spe

rim
mo

tan
Di

iP
eta

da
ers
M

pa
sp
Di

di
BATUAN METAMORF

ja
en
(CEBAKAN METAMORFIK)

m
n
da
i
Fu as
si gr
Mi
MAGMA
a l
oth as
erm

MATERIAL BARU
Ge Pan

DARI KERAK BUMI

(Sumber : Chaussier, 1987)


Gambar 3.26
Daur geologi, geokimia dan terbentuknya bijih

Menurut Peters (1978), urutan kegiatan eksplorasi geokimia secara umum terdiri
dari :
1. Seleksi metode, elemen-elemen yang dicari, sensitivitas dan ketelitian
yang diinginkan, serta pola sampling.
2. Kegiatan pendahuluan atau program sampling lapangan dengan mengecek
conto-conto secara umum dan kedalaman conto untuk menentukan level
yang dapat diyakini dan untuk mengevaluasi faktor bising (noise).
3. Analisis conto, di lapangan dan laboratorium dengan analisis cek yang
dibuat pada beberapa metode.
4. Melakukan statistik dan evaluasi geologi dari data, sering berkaitan
dengan ketersediaan data geologi dan geofisika.
109

5. Konfirmasi anomali semu, sampling lanjutan, serta analisis dan evaluasi


pada area yang lebih kecil, menggunakan interval sampling yang lebih
rapat dan penambahan metode geokimia.
6. Penyelidikan target dengan suatu ketentuan untuk sampling ulang dan
penambahan analisis dari conto-conto yang telah ada.

Dua hal dasar yang berkaitan dengan prospeksi geokimia adalah unsur-unsur
penunjuk (indicator element) dan unsur-unsur jejak (pathfinder element). Suatu
penunjuk merupakan salah satu unsur utama bijih dalam badan bijih yang dicari,
sedangkan suatu jejak berasosiasi dengan badan bijih tetapi lebih sulit dideteksi,
lebih bebas dari bising, atau lebih luas penyebarannya dari unsur-unsur penunjuk.
Tabel 3.3 menunjukkan beberapa unsur penunjuk dan jejak yang berkaitan dengan
badan-badan bijih yang umum.
Sedangkan Tabel 3.4 menunjukkan metode-metode utama yang digunakan dalam
prospeksi geokimia. Metode yang sering digunakan pada penyelidikan awal
adalah survei sedimen sungai, sedangkan untuk penyelidikan detil lebih sering
digunakan sampling tanah. Sampling terhadap uap, vegetasi, dan air digunakan
pada kondisi yang khusus.
Tabel 3.3
Contoh asosiasi bijih, unsur-unsur penunjuk dan jejak (Peters, 1978)
Asosiasi bijih Unsur penunjuk Unsur jejak
Tembaga porfiri Cu, Mo Zn, Mn, Au, Rb, Re, Tl, Te
Bijih sulfida kompleks Zn, Cu, Ag, Au Hg, As, S (SO4), Sb, Se, Cd
Urat-urat logam Au, Ag As, Sb, Te, Mn, Hg, I, F, Bi,
berharga Mo, Zn, Cu Co
Endapan skarn U B
Uranium (batupasir) U Se, Mo, V, Rn, He
Uranium (urat) Pt, Cr, Ni Cu, Bi, As, Co, Mo, Ni
Badan bijih ultramafik F Cu, Co, Pd
Urat-urat fluorspar Y, Zn, Rb, Hg
(Sumber : Geologinesia :2015)
110

Tabel 3.4
Metode-metode utama dalam prospeksi geokimia (Peters, 1978)
Sumber conto Penyebab anomali
Batuan Konsentrasi singenetik
Aureole batuan-dinding
“Bocoran atau tirisan”
Dispersi post-mineralisasi
Tanah Akumulasi residual
Abu glasial Dispersi
Sedimen sungai Dispersi
Akumulasi mineral berat
Sedimen danau Akumulasi
Air permukaan Dispersi
Airtanah Dispersi
Salju Akumulasi hidrokimia
Uap Oksidasi dari bijih
Peluruhan radioaktif
Vegetasi Konsentrasi selektif
Air laut Dispersi primer
Sedimen laut Dispersi sekunder
(Sumber : Geologinesia :2015)

Sampling batuan dapat dilakukan pada singkapan, dalam tambang, dan inti bor.
Dalam hal ini permukaan batuan dibersihkan dengan pencucian dan conto chip
diambil dalam area atau interval yang standar. Conto batuan 500 gram umumnya
diambil terhadap batuan berbutir halus, sedangkan batuan yang berbutir sangat
kasar diambil lebih dari 2 kg. Pada metode ini data dapat secara langsung
berhubungan dengan aureole primer dalam sampling detil dan terhadap provinsi
geokimia dalam sampling pengamatan awal. Konteks geologi dari conto batuan
langsung menggambarkan struktur, jenis batuan, mineralisasi, dan alterasi pada
saat conto tersebut diambil.
111

Sampling tanah akan menguntungkan untuk beberapa area dimana jarang


ditemukan singkapan. Lubang untuk sampling tersebut dapat digali secara manual
ataupun mekanis. Setelah conto tanah diambil, terus diayak sampai –80 mesh dan
20-50 gram fraksi halus dikumpulkan untuk analisis. Survei tanah umumnya
dibuat pada suatu pola lintasan dengan jarak lokasi antar titik conto 300-1500 m
pada pengamatan awal dan 15-60 m pada survei selanjutnya.
Sampling sedimen sungai merupakan komposit alami dari material di bagian atas
(hulu) sampai lokasi sampling. Sampling tersebut efektif pada pekerjaan
pengamatan awal dimana lokasi conto tunggal mungkin menunjukkan area
tangkapan (catchment area) yang sangat luas. Dalam survei yang detil, conto
dapat diambil setiap 50-100 m sepanjang aliran, masing-masing sebanyak 50
gram dengan ukuran butir –80 mesh untuk keperluan analisis.
Sampling air merupakan salah satu metode geokimia yang paling lama. Metode
tersebut mudah dilakukan, tetapi conto air tidak stabil untuk waktu yang singkat.
Faktor-faktor yang mengontrol kandungan logam dalam air permukaan seperti
dilusi, pH, temperatur, kompleks organik sulit untuk dievaluasi, dan kandungan
logam biasanya relatif rendah.
Sampling vegetasi diperlukan sebagai koreksi terhadap sampling tanah dan
airtanah untuk analisis kimia. Tumbuhan mengekstrak unsur-unsur logam dari
kedalaman dan mengirimnya ke dedaunan. Interpretasi yang dihasilkan lebih
kompleks dibandingkan dengan metode lainnya. Sampling yang dilakukan sangat
sederhana hanya dengan memotong ranting dan dedaunan. Conto yang diambil
sekitar 100 gram daun atau ranting muda pada setiap pohon, kemudian dikirim ke
laboratorium untuk diabukan dan dianalisis, conto abu akhir umumnya sekitar 10-
30 gram. Idealnya vegetasi disampling pada lintasan yang seragam.
Sampling uap air raksa digunakan sebagai petunjuk badan bijih sulfida sejak
sekitar tahun 1950-an yang diambil dari tanah, udara maupun air. Spektrometer
portabel sering digunakan untuk memompa gas dari lubang bor berdiameter kecil
dalam tanah. Conto yang paling efektif diambil dari tanah dimana konsentrasi gas
ribuan kali lebih banyak daripada di udara. Radon dan helium dikumpulkan dari
112

conto air permukaan dan airtanah yang terbukti efektif sebagai petunjuk
mineralisasi uranium.
Dalam eksplorasi geokimia tidak mengutamakan akurasi yang tinggi, yang
terpenting adalah dapat dilaksanakan dengan cepat, semurah mungkin, dan
sederhana. Metode analisis yang umumnya digunakan dalam prospeksi geokimia
adalah kromatografi, kalorimetri, spektroskopi emisi, XRF (X-Ray Fluoresence),
dan AAS (Atomic Absorption Spectrometry). Metode lain yang juga digunakan
dalam kasus khusus terutama untuk mendeteksi radiasi unsur radioaktif adalah
aktivasi netron, radiometri, dan potensiometri.
Metode AAS paling sering digunakan dalam analisis unsur tunggal standar.
Sedangkan peralatan yang lebih canggih dapat menganalisis multiunsur, seperti :
1. Plasma emission spectrometry menganalisis 12 unsur utama (Cu, Pb, Zn,
Ag, W, Sb, Ba, Ni, Mn, Fe, Cr, Sn) dan 10 unsur jejak baik sebagai unsur
penyerta (V, P, As, Mo, B, Be, Cd, Co, Ni, Y), maupun untuk pemetaan
geologi.
2. Optical emission spectrometry yang langsung dibaca : quantometer, yang
mengukur secara simultan 7 (tujuh) unsur utama dan 26 unsur jejak.
Interpretasi data geokimia melibatkan kesimpulan statistik dan geologi. Perlu
disadari bahwa kesuksesan interpretasi data tergantung pada keberhasilan program
pengambilan conto. Jika mungkin program pengambilan conto dibuat sefleksibel
mungkin sehingga interpretasi dapat dilakukan secara progresif, mulai dari
interpretasi subjektif diteruskan dengan prosedur yang lebih kompleks sampai
kemungkinan anomali ditemukan atau sampai dapat dikenali tanpa ragu jika tidak
terdapat anomali.
Geokimia strategis dan analisis multiunsur dengan data yang banyak (33
unsur/conto) memerlukan pengolahan data dengan komputer. Analisis ini sering
dilakukan di pusat-pusat pengolahan data. Seorang mine-geologist hanya perlu
menyediakan peta lokasi dan data lapangan (buku catatan sampling).
Pengolahan data dimulai dengan mengambil informasi geokimia dari conto yang
dikumpulkan. Hal ini dapat diperoleh dengan cara mengelompokkan conto dengan
indeks yang sama, seperti:
113

1. hasil analisis dari laboratorium,


2. koordinat conto, dan
3. observasi lapangan.
Pengolahan data melibatkan manipulasi sejumlah besar variabel (nilai conto). Ini
dapat menentukan variabilitas dalam dan antara populasi conto. Terdapat tiga
metode statistik yang digunakan, yaitu pertama melibatkan pengolahan variabel
yang diambil satu persatu (analisis univarian), kedua teknik analisis bivarian, dan
ketiga analisis multivarian.
Analisis univarian atau analisis elementer memungkinkan perangkuman
karakteristik dari distribusi unsur baik melalui perhitungan maupun secara grafis.
Grafik yang disajikan untuk distribusi unsur tertentu dapat digunakan untuk
menentukan hukum statistik mana yang sesuai dengan distribusi unsur atau
menentukan populasi yang berbeda (jika ada) dalam conto global.
Analisis bivarian terdiri dari analisis dua karakter dari variasi simultan, baik
secara grafis ataupun perhitungan koefisien korelasi linier.
Analisis multivarian terdiri dari regresi multipel dan analisis faktorial. Regresi
multipel memungkinkan variasi-variasi dari suatu variabel dihubungkan dengan
variasi-variasi dari satu atau beberapa variabel lain. Gunanya untuk membantu
menonjolkan atau mengeliminasi material logam dari endapan primer, sebagai
contoh Cu tinggi yang berasosiasi dengan batuan basa dapat ditekan atau dihapus
dengan studi distribusi Ni, Co dan V. Di lain pihak anomali yang signifikan akan
kelihatan lebih kontras. Sedangkan analisis faktorial bertujuan mendapatkan
informasi dari data numerik yang besar. Sintesis ini memerlukan perhitungan
matematis yang kompleks, sebagai contoh jika satu seri plutonik dipelajari,
dimulai dengan data kimia Fe, Mg dan Ti dikelompokkan pada faktor yang sama;
hal ini dapat mengekspresikan variasi dalam level mineral feromagnesia dalam
conto yang berbeda. Dalam prospeksi geokimia, fakta-fakta tersebut dapat
menggambarkan kehadiran berbagai mineralisasi, kontras antara satuan geologi
utama, dan sebagainya.
Secara umum penyajian hasil disajikan dalam bentuk :
114

1. peta data mentah,


2. peta nilai anomali dengan menggunakan pola yang berbeda, dan
3. peta dari background geokimia lokal.
Analisis statistik elementer dapat membantu memisahkan background dari
anomali. Hal ini dapat dilakukan secara manual melalui perhitungan nilai rata-
rata, deviasi standar dapat pula disajikan dalam bentuk grafis dengan melakukan
langkah-langkah sebagai berikut:
1. Pemilihan data populasi yang tepat, sebesar mungkin dan sehomogen
mungkin.
2. Pengumpulan nilai-nilai menjadi jumlah kelas yang cukup.
3. Menghitung frekuensi tiap kelas kemudian diplot terhadap satuan kelas
untuk mendapatkan histogram.
4. Menghaluskan histogram untuk mendapatkan kurva frekuensi.
5. Pemplotan frekuensi kumulatif sebagai ordinat untuk mendapatkan kurva
frekuensi kumulatif yang merupakan bagian integral dari kurva frekuensi.
6. Dengan mengubah ordinat di atas menjadi skala probabilitas, maka kurva
frekuensi akan menjadi garis lurus.
1. Lingkungan Geokimia
Lingkungan geokimia primer adalah lingkungan di bawah zona pelapukan yang
dicirikan oleh tekanan dan temperatur yang besar, sirkulasi fluida yang terbatas,
dan oksigen bebas yang rendah. Sebaliknya, lingkungan geokimia sekunder
adalah lingkungan pelapukan, erosi, dan sedimentasi, yang dicirikan oleh
temperatur rendah, tekanan rendah, sirkulasi fluida bebas, dan melimpahnya O2,
H2O dan CO2. Pola geokimia primer menjadi dasar dari survey batuan sedangkan
pola geokimia sekunder merupakan target bagi survey tanah dan sedimen.
2. Anomali Geokimia
Bijih mewakili akumulasi dari satu unsur atau lebih diatas kelimpahan yang kita
anggap normal. Kelimpahan dari unsur khusus di dalam batuan barrendisebut
background. Penting untuk disadari bahwa tak ada unsur yang memiliki
background yang seragam, beberapa unsur memiliki variasi yang besar bahkan
dalam jenis batuan yang sama. Contohnya background nikel:
115

a. dalam granitoid kira-kira 8 ppm dan relatif seragam


b. dalam shale berkisar antara 20 – 100 ppm
c. dalam batuan beku mafik Ni rata-rata sekitar 160 ppm dan relatif tidak
seragam
d. dalam batuan beku ultramafik Ni rata-rata sekitar 1200 ppm dengan variasi
yang besar.
Tujuan mencari nilai background adalah untuk mendapatkan anomali geokimia,
yaitu nilai di atas background yang sangat diharapkan berhubungan dengan
endapan bijih. Karena sejumlah besar conto bisa saja memiliki nilai di atas
background, maka ada nilai ambang/nilai batas yang digunakan untuk
menentukan anomali, yang dikenal dengan sebutanthreshold, yaitu nilai rata-rata
plus dua standar deviasi dalam suatu populasi normal. Semua nilai di atas nilai
threshold didefinisikan sebagai anomali.
Teknik-teknik interpretasi baru melibatkan grafik frekuensi kumulatif, analisis
rata-rata yang bergerak, analisis regresi jamak banyak menggantikan konsep
klasik background dan threshold.
3. Perencanaan Eksplorasi Geokimia
Karena eksplorasi mineral makin lama makin sulit, mahal, dan kompetitif, maka
eksplorasi perlu dilakukan seefisien mungkin, dengan biaya yang betul-betul
efektif. Tiap eksplorasi geokimia terdiri dari tiga komponen, yaitu sampling
(pengambilan conto), analisis, dan interpretasi. Ketiganya merupakan fungsi
bebas yang saling terkait. Kegagalan pada tahap yang satu akan mempengaruhi
tahap berikutnya.
4. Pemilihan Metode
Pemilihan teknik tergantung pada mineralogi dan geokimia daerah target.
Komposisi badan bijih akan menentukan unsur yang dapat digunakan. Contohnya
Cu sangat ideal untuk endapan tembaga, tapi As sangat berguna dalam pencarian
mineralisasi emas, dll. Lebih jauh lagi mineralogi daerah target dikombinasikan
dengan lingkungan sekunder (pola dispersinya). Contohnya dispersi Cu bisa
hidromorfik dan mekanis, sedangkan timah putih sangat khas, hampir selalu
116

mekanis sebagai butiran kasiterit, atau terdapat dalam biotit atau mineral asesori
lainnya.
Hal kedua yang perlu dipertimbangkan adalah relatif dari target (badan bijih) yang
dapat dijumpai sebagai : (1) bijih yang tersingkap, (2) tersingkap sebagian, (3)
tertimbun batuan penutup yang lebih muda, atau (4) tertutup dalam batuan
induknya (blind ore)

(Sumber: Mudah Eksplorasi Geokimia )


Gambar 3.27
Posisi relatif badan bijih terhadap permukaan

Penyontoan di permukaan akan efektif untuk tipe 1) dan 2), tapi perlu antisipasi
untuk respon geokimia yang berbeda. Kasus 3) dan 4) perlu teknik yang optimum
yang dapat mendeteksi melalui penutup, bawah penutup, gas bocor dari
mineralisasi, atau mendeteksi halo (lingkaran) sekitar batuan.
Survey geokimia diterapkan pada berbagai tahapan eksplorasi mineral, yaitu:
1. Survey regional dengan tujuan mencari jalur mineralisasi
2. Survey lokal dengan tujuan mengidentifikasi daerah target untuk keperluan
evaluasi
3. Survey kekayaan dengan tujuan menentukan batas daerah termineralisasi
4. Survey deposit dengan tujuan menentukan lokasi dari badan bijih individual
117

Perlu adanya integrasi antara survey geokimia dengan strategi eksplorasi


keseluruhan.
5. Optimasi Teknik Survey
Untuk optimasi survey geokimia perlu dilakukan identifikasi target yang
maksimum. Suatu target perlu jelas terlihat dalam data geokimia, mungkin
dicirikan oleh adanya penambahan atau pengurangan kelimpahan unsur tertentu
atau asosiasinya. Target harus mudah dibedakan dari data survey lainnya. Dengan
kata lain perlu adanya kontras geokimia yang maksimum (anomali). Pengambilan
conto, penyiapan conto, dan pemilihan metode analitis dapat mempengaruhi
kontras.
Pengamatan kontras anomali yang optimum dimulai di lapangan melalui
pengenalan sekitar lingkungan lokal yang akan mempengaruhi proses dispersi,
tempat-tempat yang mungkin mengalami pelindian atau peningkatan akibat
perembesan, kehadiran pengendapan sekunder, perkembangan tanah yang tidak
normal, dan distribusi tanah penutup yang tertranspor. Catatan lapangan
merupakan bagian survey yang penting yang dapat digunakan bersama-sama
dengan analisis data untuk interpretasi.
Pengambilan conto merupakan hal paling penting dalam eksplorasi geokimia.
Preparasi conto yang baik dapat juga menunjang kontras yang baik. Thomson
(1978) mendemonstrasikan bahwa analisis Zn pada fraksi -0+35 mesh dari
material tanah yang diambil pada kedalaman 20 cm dari tanah semi residu di
gurun Saudi Arabia menghasilkan kontras maksimum di atas badan mineralisasi
Zn. Sebaliknya pada fraksi -150 mesh tanah yang sama mengalami dilusi oleh
material barren aeolian sehingga kontras dan dispersinya jauh berkurang.
Pengkayaan sekunder dari logam yang terdispersi hidromorfik cenderung terjadi
pada fraksi halus dari tanah (lempung dan silt) atau tanah los yang myelimuti
partikel kasar. Pemisahan fraksi halus dan kasar dapat meningkatkan anomali.
Jarak pengangkutan logam oleh airtanah dari pelapukan sulfida sangat bervariasi
dan dapat menghasilkan pola geokimia yang sulit untuk diinterpretasikan.
Konsentrasi logam yang tinggi karena pengendapan sekunder mengikuti pola
hidromorfik, scavenging dll. Sering dicirikan oleh bentuk mineral yang lemah dan
118

tidak stabil yang unsur-unsurnya dapat direcovery dengan teknik analisis yang
lemah.

6. Parameter Survey
Tantangan dalam survey geokimia adalah mendesign program yang efektif, pada
prakteknya adalah membuat keputusan tentang pemilihan point-point berikut ini,
1. Material Sample
2. Pola penyontoan
3. Preparasi conto
4. Prosedur Analitis
5. Kriteria interpretasi hasil
Untuk membuat keputusan diperlukan pengetahuan atau asumsi tentang keadaan
daerah survey. Artinya diperlukan rujukan infomasi yang relevan tentang:
a. Dispersi dan karakter mobilitas dari unsur dalam mineral dan batuan induk
b. Pengaruh lingkungan lokal pada proses dispersi
c. Ukuran target, baik ukuran mineralisasi maupun ukuran yang diharapkan
dari lingkaran dispersi sekelilingnya
d. Ketersediaan material conto
e. Kemampuan analitis
f. Kondisi logistik
Lingkungan lokal dapat mempengaruhi proses dispersi. Faktor yang paling
penting yang berhubungan dengan iklim dan topografi adalah material/tanah di
daerah survey, apakah tertranspor atau residu. Jika tertranspor, asalnya dari apa,
kolovium, aluvium? Material eksotis seperti sedimen berlapis, aluvial, pasir
fluvial, abu vulkanik, menutupi batuan dasar, tetapi tidak mengekspresikan
geokimia dari batuan yang berada di bawahnya.
Ukuran target akan mempengaruhi pemilihan interval pengambilan conto. Arah
orientasi tertentu dari target juga harus dipertimbangkan dalam lintasan dan grid
pengambilan conto. Idealnya, grid pengambilan conto dibuat dengan garis dasar
sejajar terhadap sumbu panjang target. Garis lintangnya tegaklurus terhadap garis
dasar tadi untuk mendapatkan kemungkinan irisan maksimum.
119

Survey geokimia yang ideal didasarkan pada penyontoan yang sistematis dan
beraturan untuk memperoleh database yang homogen, agar dapat dilakukan
evaluasi komparatif dari gejala geokimia. Oleh karena itu penting sekali untuk
memilih medium penyontoan yang seragam di seluruh daerah survey. Teknik
preparasi dan teknik analitis harus dipilih yang dapat menghasilkan data yang
dapat dipercaya dan menunjang kontras yang optimum.
Yang terakhir perlu dilakukan evaluasi terhadap hambatan-hambatan logisistik.
Akses, kondisi medan, keterdapatan tenaga, budget dan waktu perlu
dipertimbangkan dengan hati-hati.
7. Studi Orientasi
Studi orientasi digambarkan sebagai suatu seri percobaan pendahuluan untuk
menentukan karakter dispersi geokimi yang berhubungan dengan mineralisasi
pada daerah tertentu. Informasi tadi digunakan untuk:
1. Mendefinisikan bakcground dan respon geokimia yang abnormal
2. Mendefinisikan prosedur survey yang optimum
3. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi dispersi dan kriteria
interpretasi hasil survey
4. Mengenali gejala-gejala yang harus dicatat dan dilaporkan oleh pengambil
conto
Survey orientasi klasik terdiri dari penyontoan dan analisis di lapangan sekitar
badan yang representatif tetapi mineralisasinya tidak dikenal. Idealnya, pekerjaan
ini dimulai dari mineralisasi yang telah dikenal yang secara geologi dan
geomorfologi representatif untuk lokasi penelitian. Kemudian dilanjutkan
menjauhi mineralisasi untuk mendapatkan harga background yang sesuai.
Orientasi sample tanah harus diambil minimal dari dua lintasan melalui
mineralisasi dan dilanjutkan ke dalam background. Spasi pengambilan conto
tergantung pada luas mineralisasi. Minimal empat atau lima contoh di atas
mineralisasi dan juga dari background. Penting agar karakter tanah yang berbeda
dievaluasi. Hasilnya, lintasan ini harus mencakup kondisi fisiografi normal dan
tipe major tanah, seperti daerah yang penirisan baik lereng curam, daerah
rembesan, dan rawa.
120

Berbagai fraksi dari material conto perlu dianalisis . Fraksi yang disarankan
adalah:
Tabel 3.5
Fraksi-fraksi untuk analisis kimia
Mesh (ASTM) Mikron
– 35 + 80 -500-177
-80 -177
-80+140 -177+105
–140+230 -105+63
-230 -63
(Sumber: Modul eksplorasi geokimia)

Bradshaw (1975) juga menyarankan preparasi fraksi mineral berat jika diduga ada
dispersi fragmen yang resisten, apalagi kalau terdapat emas, timah putih dan
tungsten.
Semua contoh harus dianalisis dengan teknik ekstraksi total. Sebagai tambahan
disarankan conto tanah dianalisis dengan teknik hot acisd extractable dan cold
acid extractable dan dengan teknik khusus yang mungkin diinginkan (misalnya
khusus sulfida, khusus timah putih, khusus material organik).
8. Studi Literatur
Tidak praktis untuk mengunjungi lapangan dan melakukan survey orientasi
sebelum program eksplorasi dibuat. Informsi yang berguna dapat diperoleh dari
penyelidikan terdahulu yang telah dilakukan orang. Bisa berupa paper atau
dokumen intern perusahaan. Seringkali dapat dilakukan orientasi terbalik dengan
mengevaluasi survey terdahulu secara kristis. Survey literatur sebaiknya
disertakan dalam diskusi dengan orang yang mengetahui kondisi daerah survey
dan ahli geokimia yang profesional.
1. Metoda Survey Geokimia
Beberapa macam metoda survey geokimia yang dapat dilakukan adalah :
1. Survey Sedimen Sungai Aktif (Stream Sediment)
Saigusa (1975); Rose Et Al (1979) dan Fateh Chand (1981) dalam Ghazali
dkk. (1986) dan Sabtanto dkk (2000) mengemukakan bahwa pengambilan conto
121

endapan sedimen sungai aktif harus mengikuti ketentuan-ketentuan seperti berikut


1. Letak conto harus ditentukan sehingga benar-benar mewakili daerah seluas
yang ditargetkan.
2. Pengambilan conto juga harus dilakukan pada anak sungai, terutarna
sungai orde 1, orde 2 dan orde 3, karena lebih dari itu sudah tidak
mewakili daerah tangkapan atau cacthment area dan tidak memberikan
nilai anomali.
3. Pengambilan conto tidak boleh terlalu dekat dengan muara sungai besar,
hal ini untuk menghindari pengaruh dari sungai utama pada saat banjir
(kontaminasi oleh unsur yang bukan berasal dari hulu anak sungai
tersebut).
4. Tempat Pengambilan conto sebaiknya jauh dari tepi sungai, diambil pada
arus lemah dan pada air yang dangkal. Conto tidak diambil di bagian hilir
dari tempat di mana ada jalan melintas dan longsoran. Conto tidak diambil
pada tempat yang sulit ditentukan lokasinya.

(Sumber: Modul eksplorasi geokimia)


Gambar 3.28
Daerah Lingkungan Berenergi Rendah dan Tinggi

5. Posisi petugas pengambil conto di bagian hilir dari conto yang akan
diambil dan diusahakan sesedikit mungkin conto teracak-acak dari
endapan sungai. Sekop yang digunakan dari aluminium atau plastik.
Bagian permukaan endapan sungai yang teroksidasi dibuang. Sebelum
122

meletakkan di atas ayakan, air dibuang perlahan untuk menghindari


hilangnya fraksi halus. Conto yang disaring dikumpulkan dari daerah
dengan radius 20 meter.
6. Setelah setiap satu atau dua sekop conto endapan sungai telah diambil,
pengayakan dilakukan dengan cara pengayakan basah. Dengan
menuangkan air secara hati-hati, saring conto dengan saringan 80 mesh.
Air yang digunakan untuk menyaring sedikit mungkin dan dengan hati-
hati agar fraksi halus tidak banyak terbuang. Penyaringan fraksi —80
mesh berlangsung hingga terkumpul 150-200 gr berat kering conto
endapan sungai. Di basecamp conto dikumpulkan dan dikeringkan dengan
cara dijemur.
7. Conto endapan sungai dimasukkan ke dalam kantong kertas kraf atau
plastik rangkap dua dan diberi nomor. Nomor conto terdiri dari empat
bagian, yaitu kode daerah, kode petugas, jenis conto, nomor conto.
Penomoran dijelaskan oleh Page dkk (1975).
Survey sedimen sungai aktif banyak digunakan untuk program
penyelidikan pendahuluan, khususnya pada daerah yang medannya sulit.
Di daerah tropis, pengambilan contoh sedimen sungai dapat dilakukan
bersamaan dengan pengamatan geologi dari float dan batuan dasar yang
tersingkap. Ada empat variasi dalam survey sedimen sungai aktif, yaitu:
a. Prospeksi mineral berat tanpa analisis kimia
b. Analisis konsentrasi mineral berat dari sedimen sungai
c. Analisis fraksi halus dari sedimen sungai
d. Analisis beberapa fraksi selain fraksi terhalus dari sedimen sungai
1. Prospeksi Mineral Berat
Teknik ini merupakan metode prospeksi paling tua. Sampai sekarang
masih banyak digunakan untuk prospeksi endapan yang mengandung
mineral resisten seperti: kromit, kasiterit, emas, platina, mineral tanah
jarang, rutil, sirkon, turmalin, garnet, silimanit, kianit dsb. Material contoh
yang optimum adalah kerakal dengan diameter rata-rata 5 cm. Untuk dapat
melakukan pembandingan antar contoh, perlu jumlah contoh yang seragam
123

dengan teknik konsentrasi yang standar.Metode yang paling sederhana


adalah pendulangan atau dengan meja Wilfey. Spasi contoh bervariasi
antara satu per 50 – 100 km2 sampai l satu per 0,5 km2. Waktu yang
diperlukan tergantung ukuran butir contoh, keadaan medan dan metode
konsentrasi. Identifikasi akhir dari mineral dilakukan secara petrografis di
laboratorium.
2. Analisis Konsentrat Mineral Berat Dari Sedimen
Konsentrat mineral berat yang diperoleh dianalisis unsur jejaknya untuk
mengetahui mineral asalnya. Contohnya pirit dipisahkan dari sedimen
sungai dan dianalisis Cu-nya. Pirit yang berasal dari endapan Cu dapat
mengandung 1100– 1700 ppm Cu, pirit dari endapan Au mengandung 40–
480 ppm Cu, dan pirit dari batubara menandung 100 -120 ppm Cu.
3. Analysis fraksi halus sedimen sungai aktif
Jumlah conto sari dulang dikumpulkan sebanyak 20-40% dari jumlah
conto endapan sungai. dan sebelum pengambilan conto, dilakukan
pengaturan agar kerapatannya terjaga keseragamannya.
1. Tempat. Idealnya conto sari dulang dikumpulkan dari tempat dengan
energi tinggi, pada bagian sungai berarus deras.
2. Siapkan dulang dan saringan. Perlu diperhatikan dulang dan saringan
harus dalam keadaan bersih. Saringan yang digunakan mempunyai
diameter lubang 2 mm, bebas dari kotoran. Saringan digunakan untuk
memisahkan batuan dan sampah. Letakkan saringan di atas dulang
pada tempat yang stabil dan tidak terganggu arus.
3. Penyekopan endapan. Pengumpulan endapan mirip dengan cara
pengumpulan endapan sungai, hanya saja hilangnya fraksi halus tidak
menjadi masalah.
4. Penyaringan. Penyaringan dengan menggunakan air sampai dulang
penuh (sekitar 5 kg). Fraksi lebih besar 2 mm dibuang ke arah hilir.
5. Pencucian dan pendulangan. Pendulangan lebih mudah apabila fraksi
halus dihilangkan terlebih dahulu. Penghilangan fraksi halus
dilakukan dengan cara memutar endapan di dulang pada arus yang
124

lemah. Setelah air berlumpur sudah tidak ada, pendulangan sudah bisa
dilaku-kan. Pendulangan dilakukan sampai terkumpul sekitar 50 gr
mineral berat. Apabila hasil pen-dulangan belum mencapai 50 gr, dua
tiga kali pendulangan bisa dilakukan sampai terkumpul mineral berat
yang mencukupi.
6. Pembungkusan. Mineral berat diamati menggunakan kaca pembesar
kemudian dimasukkan ke dalam plastik kantong conto dan diberi
nomor

(Sumber: Modul eksplorasi geokimia)


Gambar 3.29
Sampling Mineral Berat Endapan Sungai Menggunakan Dulang

Pengambilan contoh sedimen aktif fraksi halus banyak digunakan di daerah yang
drainagenya cukup besar dan mengalami erosi aktif. Kerapatan contoh ditentukan
pleh kerapatan drainage, namun secara kasar kerapatan contoh dapat diambil satu
per 2 –10 km2 untuk survey regional, kerapatan contoh satu per 0,5 – 2 km2
digunakan untuk penyontoan pendahuluan yang lebih rinci. Survey sedimen
sungai aktif harus dilakukan pada sungai kecil, sedangkan sungai yang besar
dengan catchment area yang luas tidak sesuai untuk penyontoan.Interval
125

penyontoan tergantung pada keperluan. Teknik yang dilakukan umumnya sebagai


berikut :

a. Contoh diambil dari muatan dasar sungai yang bergerak.


b. Menganalisis fraksi ukuran tertentu (umumnya fraksi pasir halus dan
silt atau fraksi mineral berat).
Deskripsi lapangan perlu dilakukan pada tiap lokasi contoh Informasi harus
mencakup: material organik, sifat sungai dan endapannya, kehadiran singkapan,
apakah dijumpai endapan besi oksida atau mangan oksida sekunder. Pengukuran
pH air sungai akan sangat berguna. Berikut ini adalah contoh lembar
pengamatan lapangan.
Langkah pertama penyajian hasil survey drainage adalah mengeplot semua
sungai yang ada di daerah penyelidikan dan mengeplot nomor contoh dan
nilainya.Setelah dilakukan pengolahan data secara statistik dapat dilakukan
pemilihan backgrounddan threshold.Lokasi contoh dapat ditandai dengan titik
hitam, yang ukurannya menunjukkan kandungan logamnya atau dengan
menebalkan sungai yang kandungannya logamnya lebih tinggi.
Dalam eksplorasi mineral, data sedimen sungai aktif biasanya tidak harus
disajikan dalam bentuk peta kontur, tetapi dalam survey regional bentuk peta
kontur lebih praktis untuk melihat kecenderungan geologi regional,
kemungkinan daerah mineralisasi dan mendala geokimia
Pekerjaan lanjut (Follow-up work ) biasa dilakukan dengan interval contoh yang
lebih rapat. Jika pada survey pendahuluan kerapatan contoh cukup tinggi, maka
survey dapat dilanjutkan dengan pengambilan contoh tanah. Sebagai tahap awal
dari survey tanah detil dapat dilakukan penyontoan tebing sungai dari kedua tepi
sungai yang menunjukkan anomali, sehingga dapat terlihat arah asal dari
anomali. Jika singkapannya bagus, pemetaan geologi dan prospeksi mungkin
sudah cukup untuk melokalisasi sumber unsur anomali, namun umumnya
memerlukan survey tanah.
126

4. Survey Tanah
Warna tanah dan perbedaan komposisi dapat merupakan indikator yang
penting untuk berbagai kandungan logam. Contohnya, tanah organik dan
inorganik reaksinya akan berbeda terhadap logam (kandungan logamnya
berbeda). Dari kedua tipe ini dapat diharapkan perbedaan level background
yang jelas. Mengabaikan perbedaan ini akan mengakibatkan kesalahan dalam
pengambilan keputusan eksplorasi, yaitu anomali yang signifikan tidak
terlihat dan anomali yang salah.
Anomali yang salah umumnya berkaitan erat dengan komponen yang
menunjukkan konsentrasi unsur yang ekstrim, seperti pada material organik
dan mineral lempung, juga unsur jejak dalam airtanah.
Kegagalan mendefinisikan kondisi anomali (yang menunjukkan adanya
mineralisasi) dapat terjadi jika conto tidak berhasil menembus zona
pelindian.Ini sering terjadi pada pengambilan conto yang tergesa-gesa,
sehingga bukti mineralisasi tidak terlihat.
Unsur jejak yang dikandung conto tanah umumnya mewakili daerah
terbatas.Oleh karena itu diperlukan sejumlah conto yang diambil secara
sistematis untuk mengevaluasi sifat-sifat mineralisasi. Perencanaan
penyontoan biasanya mengikuti grid bujur sangkar atau empat persegi
panjang. Conto tambahan diambil dari lingkungan yang berasosiasi dengan
akumulasi unsur jejak, seperti zona depresi atau rembesan untuk menguji
dispersi hidromorfik dari badan mineral yang tertimbun.
Survey tanah terdiri dari analisis conto tanah yang biasanya diambil dari
horizon tanah khusus, kemudian diayak untuk mendapatkan ukuran fraksi
tertentu. Conto umumnya diambil pada pola kisi (grid) yang beraturan. Di
daerah yang terisolir dengan medan yang sulit, akan sulit pula untuk membuat
grid pengambilan conto yang baik.
Metode alternatif yang dapat digunakan adalah penyontoan ridge dan spur.
Metode ini sangat baik dikombinasikan dengan survey sedimen sungai untuk
medan yang sulit. Metode pengambilan conto yang paling ideal adalah
dengan grid yang teratur.Prosedur yang normal adalah menentukan garis
127

dasar kemudian buat lintasan yang tegak lurus terhadap garis dasar.Penentuan
garis dapat dilakukan dengan theodolit atau kompas.
Pemilihan grid yang digunakan tergantung pada tipe target yang dicari. Jika
diketahui bahwa mineralisasi di daerah itu memiliki dimensi panjang searah
dengan jurus, seperti mineralisasi vein atau unit stratigrafi, maka garis dasar harus
diletakan paralel terhadap jurus.Conto diambil sepanjang garis lintang yang tegak
lurus pada garis dasar.Dalam kasus ini interval antar garis bisa lebih besar dari
interval conto sepanjang garis dasar.Jika jurusnya tidak dikenal dan targetnya
diduga equidimensional, maka pengambilan conto dilakukan dengan grid yang
berbentuk bujur sangkar.
Untuk praktisnya sering digunakan grid segi empat panjang, karena penambahan
frekuensi sampling sepanjang garis dasar tidak membutuhkan banyak waktu.
Ukuran grid yang digunakan umumnya 500 m x 100 m atau 200 m x 200 m untuk
survey pendahuluan dan 100 m x 50 m atau 50 m x 50 m untuk survey detil.
Kadang-kadang digunakan juga grid jajaran genjang.
Pengambilan contoh:
a. Conto tanah umumnya diambilpada horizon B, pada kedalaman 30 - 50
cm. Untuk unsur tertentu seperti Ag dan Hg horizon A dapat memberikan
hasil yang lebih baik. Pada daerah yang keras dan kering conto diambil
dengan menggali lubang kecil dengan menggunakan sekop dan cangkul.
Jika tanah lunak dan lembab dapat digunakan sekop kecil atau hand auger.
Conto ditempatkan pada kantong conto standar, diberi nomor dan
keterangan singkat yang mencakup tipe tanah, warna, kandungan
organik.Gejala khusus sepanjang lintasan perlu dicatat, contohnya
singkapan, jalan setapak, sungai.
b. Sistem penomoran tergantung pada pola pengambilan contoh. Untuk pola
grid lebih baik menggunakan sistem koordinat dengan mengambil titik 0
pada garis lintasan dasar, dan memberi nomor rujukan pada tiap garis
lintang.Namun penomoran alfanumerik kurang praktis untuk analisis
laboratorium. Cara penomoran lainmenggunakan kode enam sampai
delapan digit yang merupakan kode proyek, daerah dan nomor conto,
128

misalnya nomor 2040325 bisa berarti proyekk 2, kode daerah 04, conto
0325. Tipe ini lebih baik untuk pengolahan data dengan komputer.
c. Di daerah kering dan banyak matahari, conto dapat dikeringkan di tempat
terbuka di camp, tapi di daerah basah dibutuhkan alat pengering. Jika
conto sudah kering, dapat digerus dan diayak.Di daerah tropis yang
didominasi tanah latosol penggerusan dapat dilakukan dengan mortar agar
agregat oksida besinya hancur.Ayakan dari stainless steel atau dari nilon
dapat digunakan Sebelum mengayak tiap-tiap sampel, ayakan harus bersih.
Ayakan dapat dibersihkan dengan kuas ukuran 3,5 cm atau 5 cm. Hasil
pengayakan dimasukkan ke dalam amplop kertas, kemudian ke dalam
kantong plastik agar tidak bocor atau terkontaminasi pada waktu
pengangkutan. Fraksi ukuran yang umum untuk conto geokimia adalah -80
mesh (0,2 mm), tapi ukuran yang lebih halus atau lebih kasar dapat
digunakan untuk kasus-kasus tertentu.
d. Pada daerah baru yang belum diselidiki dianjurkan untuk melakukan
survey orientasi untuk menentukan fraksi ukuran yang optimum untuk
analisis, kedalaman penyontoan yang terbaik, jika mungkin respons
geokimia dari mineralisasi.
Hasil survey tanah biasanya disajikan dalam bentuk peta kontur yang mengacu
pada isopleth (garis yang konsentrasinya sama). Selang antar kontur dapat
digambarkan dengan warna atau arsir.Tiap titik conto dan harganya harus
diperlihatkan, tapi nomornya tidak perlu diterakan agar tidak
membingungkan.Pola pengambilan conto yang tidak beraturan dapat disajikan
dalam peta dot, atau dengan memberikan warna yang berbeda pada setiap titik
conto.
Survey lanjut (follow-up) dilakukan dengan spasi grid yang lebih rapat.
Contohnya suatu anomali yang terdapat pada grid penyelidikan pendahuluan
500x200 m dapat dipenyontoan lagi dengan grid 250x100 m atau lebih rapat lagi,
tapi grid yang lebih rapat dari 25x25 m umumnya kurang menguntungkan, kecuali
jika target yang diharapkan berupa vein yang sangat kecil atau pegmatit. Jika hasil
129

survey lanjut menjanjikan, maka pada daerah anomali dapat dilanjutkan dengn
survey geofisika sebelum diputuskan dilakukan pemboran.

5. Survey Batuan
Dalam rangka mendapatkan informasi kelimpahan background dari unsur
yang dianalisis dalam survey tanah atau sedimen sungai aktif perlu dilakukan
sedikitnya pengambilan contoh batuan secara terbatas.
Dalam penyelidikan geokimia endapan sungai, conto batuan mempunyai
peranan sebagai pelengkap yang akan berguna untuk menentukan kadar unsur
dalam batuan di daerah anomali geokimia. Nilai unsur yang diperoleh dari
conto batuan akan berguna sebagai nilai latar belakang unsur-unsur guna
membantu dalam mengindikasikan ada atau tidaknya mineralisasi di daerah
penelitian. Cara pengambilan conto batuan ada empat macam, yaitu :
1. Cara suban (chip sampling).
2. Cara alur (channel sampling).
3. Cara comot (grab sampling)
4. Cara meruah (bulk sampling).
Survey batuan dapat dilakukan sendiri untuk mendeteksi kemungkinan
dispersi primer yang berasosiasi dengan bijih. Survey batuan dapat digunakan
untuk prospeksi mineralisasi pada kondisi berikut:
a. Prospeksi bijih yang meghasilkan pola dispersi batuan dasar yang
luas (contohnya seperti Si, K, F, Cl dapat dijumpai pada lingkaran
alterasi yang ekstensif mengitari bijih hidrotermal).
b. Prospeksi untuk endapan yang luas berkadar rendah (contohnya
endapan Cu yang tersebar atau endapan Sn yang tersebar) yang
pengenalannya tidak mungkin dilakukan dari contoh setangan karena
kadarnya rendah atau mineral yang dicari tidak terlihat.
Pengambilan contoh batuan bisa dilakukan dengan chip sampling secara acak
pada singkapan atau dengan pemboran dengan pola grid (bor auger untuk
kedalaman yang kecil, atau denganrotary percussion untuk daerah yang
overburdennya tebal). Contoh batuan, yang diperoleh digerus dan diayak.
130

Fraksi – 80 mesh dianalisis.

5. Metode Analisis
Metode yang banyak digunakan dalam prospeksi geokimia adalah kromatografi,
kolorimetri, spektroskopi emisi, XRF, XRD dan AAS.
1. XRD (X-ray Diffraction)
X-ray Diffraction adalah metode yang digunakan untuk menentukan struktur atom
dan molekul kristal, di mana atom kristal menyebabkan berkas sinar-X untuk
lentur ke banyak arah tertentu. Dengan mengukur sudut dan intensitas dari berkas
difraksi, crystallographer dapat menghasilkan gambar tiga dimensi kepadatan
elektron dalam kristal. Dari kerapatan elektron ini, posisi rata-rata dari atom
dalam kristal dapat ditentukan, serta ikatan kimia mereka, gangguan mereka dan
berbagai informasi lainnya.

(Sumber: Modul eksplorasi geokimia)


Gambar 3.30
Alat yang di gunakan dalam metode XRD (X-ray Diffraction)
131

Karena banyak bahan dapat membentuk kristal-seperti garam, logam, mineral,


semikonduktor, serta berbagai anorganik, organik dan biologi molekul-
kristalografi sinar-X telah mendasar dalam pengembangan berbagai bidang
ilmiah. Pada dekade pertama penggunaan, metode ini menentukan ukuran atom,
panjang dan jenis ikatan kimia, dan perbedaan skala atom antara berbagai bahan,
terutama mineral dan paduan.Metode ini juga mengungkapkan struktur dan fungsi
dari banyak molekul biologis, termasuk vitamin, obat-obatan, protein dan asam
nukleat seperti DNA. X-ray kristalografi masih merupakan metode utama untuk
mencirikan struktur atom bahan baru dan bahan cerdas yang muncul mirip dengan
eksperimen lain. X-ray struktur kristal juga dapat menjelaskan sifat elektronik
atau biasa elastis material, menjelaskan interaksi dan proses kimia, atau melayani
sebagai dasar untuk merancang obat-obatan terhadap penyakit.
Dalam pengukuran difraksi sinar-X, kristal dipasang pada goniometer dan secara
bertahap diputar ketika dibombardir dengan sinar-X, menghasilkan pola difraksi
bintik-bintik jarak teratur dikenal sebagai refleksi. Gambar dua dimensi yang
diambil pada rotasi yang berbeda diubah menjadi model tiga dimensi dari
kepadatan elektron dalam kristal menggunakan metode matematika transformasi
Fourier, dikombinasikan dengan data kimia yang dikenal sebagai sampel.
Resolusi miskin (ketidakjelasan) atau bahkan kesalahan dapat terjadi jika kristal
terlalu kecil, atau tidak cukup seragam dalam riasan internal mereka.
X-ray kristalografi berhubungan dengan beberapa metode lain untuk menentukan
struktur atom. Pola difraksi yang serupa dapat diproduksi oleh hamburan elektron
atau neutron, yang juga diartikan sebagai Transformasi Fourier. Jika kristal
tunggal ukuran yang cukup tidak dapat diperoleh, berbagai metode X-ray lainnya
dapat digunakan untuk memperoleh informasi lebih rinci, metode tersebut
meliputi difraksi serat, difraksi bubuk dan kecil-sudut hamburan sinar-X (SAXS).
Jika bahan dalam penyelidikan hanya tersedia dalam bentuk bubuk nanokristalin
atau menderita kristalinitas miskin, metode kristalografi elektron dapat diterapkan
untuk menentukan struktur atom.
Untuk semua metode difraksi sinar-X yang disebutkan di atas, hamburan elastis,
yang tersebar sinar-X memiliki panjang gelombang yang sama dengan masuk X-
132

ray. Sebaliknya, metode hamburan sinar-X inelastis berguna dalam mempelajari


Eksitasi sampel, daripada distribusi atom nya.
Analisa ayakan adalah mengayak dan menggetarkan contoh tanah melalui satu set
ayakan dimana lubanag-lubang ayakan tersebut makin kecil secara berurutan.
Untuk standar ayakan di amerika, nomor ayakan dan ukuran lubang di berikan
dalam table di bawah ini :

Tabel 3.6
Ukuran Ayakan Standard di Amerika

Ayakan No. Lubang (mm)


4 4.750
6 3.350
8 2.360
10 2.000
16 1.180
Ayakan No. Lubang (mm)
20 0.850
30 0.600
40 0.425
50 0.300
60 0.250
80 0.180
100 0.150
200 0.75
Sumber : Panduan praktikum mekanika tanah

Untuk menganalisis tanah-tanah kohesif, agar sukar untuk memecahkan


gumpalan-gumpalan tanahnya menjadi partikel-partikel lepas yang berdiri sendiri,
untuk itu tanah tersebut perlu dicampur dengan air sampai menjadi lumpur encer
dan kemudian dibasuh seluruhnya melewati ayakan-ayakan tersebut.
Untuk mengetahui jenis kelompok yang terkandung pada suatu tanah, maka harus
dilakukan analisa ukuran butiran. Ada 2 cara yang sering dipakai untuk
menganalisa butiran tanah itu :
a. Metode penyaringan (Sieve analisis)
133

Digunakan untuk mempunyai diameter lebih besar dari 0,075 mm atau tertahan
pada saringan No.200.
b. Metode Hidrometer
Digunakan untuk butiran yang mempunyai diameter lebih kecil dari 0,075 mm
atau yang lolos saringan No.200.

2. XRF (X-ray fluorescence)


X-ray fluorescence (XRF) adalah emisi karakteristik "sekunder" (atau neon)
sinar-X dari materi yang telah gembira dengan membombardir dengan sinar-X
berenergi tinggi atau sinar gamma. Fenomena ini banyak digunakan untuk analisis
unsur dan analisis kimia, terutama dalam penyelidikan logam, kaca, keramik dan
bahan bangunan, dan untuk penelitian dalam geokimia, ilmu forensik dan
arkeologi.

(Sumber: Modul eksplorasi geokimia)


Gambar 3.31
Alat yang di gunakan dalam metode XRF (X-ray fluorescence)
134

Dalam analisis energi dispersif, dispersi dan deteksi adalah operasi tunggal,
seperti yang sudah disebutkan di atas. Counter proporsional atau berbagai jenis
solid-state detektor (dioda PIN, Si (Li), Ge (Li), Silicon Drift Detector SDD)
digunakan. Mereka semua berbagi sama deteksi prinsip: An X-ray foton masuk
ionises sejumlah besar atom detektor dengan jumlah muatan yang dihasilkan yang
sebanding dengan energi foton yang masuk. Tuduhan ini kemudian dikumpulkan
dan proses berulang untuk foton berikutnya. Kecepatan Detector jelas penting,
karena semua pembawa muatan diukur harus datang dari foton yang sama untuk
mengukur energi foton dengan benar (diskriminasi panjang puncak digunakan
untuk menghilangkan peristiwa yang tampaknya telah diproduksi oleh dua foton
sinar-X tiba hampir bersamaan).
Spektrum ini kemudian dibangun dengan membagi spektrum energi ke sampah
diskrit dan menghitung jumlah pulsa yang terdaftar dalam setiap bin energi. Jenis
detektor EDXRF bervariasi dalam resolusi, kecepatan dan sarana pendingin
(rendahnya jumlah pembawa muatan bebas sangat penting dalam detektor solid
state): counter proporsional dengan resolusi beberapa ratus eV menutupi low end
dari spektrum kinerja, diikuti dengan PIN detektor dioda, sedangkan Si (Li), Ge
(Li) dan Detektor Drift Silicon (SDD) menduduki high end dari skala kinerja.
Dalam analisis dispersif gelombang, radiasi panjang gelombang tunggal yang
dihasilkan oleh monokromator dilewatkan ke photomultiplier, detektor mirip
dengan Geiger counter, yang menghitung foton individu ketika mereka melalui.
Counter adalah ruang yang berisi gas yang terionisasi oleh X-ray foton. Sebuah
pusat elektroda dikenakan biaya (biasanya) 1700 V sehubungan dengan dinding
ruang melakukan, dan masing-masing foton memicu kaskade pulsa-seperti saat ini
di bidang ini.Sinyal diperkuat dan diubah menjadi mengumpulkan hitung
digital.Hitungan ini kemudian diproses untuk mendapatkan data analitis.
EDX spektrometer lebih unggul spektrometer WDX dalam bahwa mereka lebih
kecil, sederhana dalam desain dan memiliki bagian rekayasa sedikit.Mereka juga
dapat menggunakan tabung sinar-X miniatur atau sumber gamma.Hal ini
membuat mereka lebih murah dan memungkinkan miniaturisasi dan
portabilitas.Jenis instrumen ini umumnya digunakan untuk aplikasi penyaringan
135

kontrol kualitas portabel, seperti pengujian mainan untuk timbal (Pb), menyortir
potongan logam, dan mengukur kandungan timbal cat perumahan. Di sisi lain,
resolusi rendah dan masalah dengan menghitung tingkat rendah dan lama mati-
waktu membuat mereka rendah untuk analisis presisi tinggi. Mereka adalah,
bagaimanapun, sangat efektif untuk kecepatan tinggi, analisis multi-unsur.
Lapangan portabel XRF analisis saat ini di pasar berat kurang dari 2 kg, dan
memiliki batas deteksi pada urutan 2 bagian per juta timbal (Pb) dalam pasir
murni.
3. AAS (Atomic absorption spectroscopy)
Atomic absorption spectroscopy (AAS) adalah prosedur spectroanalytical untuk
penentuan kuantitatif unsur kimia menggunakan penyerapan radiasi optik
(cahaya) oleh atom-atom bebas dalam keadaan gas.
Dalam kimia analitik teknik ini digunakan untuk menentukan konsentrasi elemen
tertentu (analit) dalam sampel yang akan dianalisis. AAS dapat digunakan untuk
menentukan lebih dari 70 elemen yang berbeda dalam larutan atau langsung
dalam sampel padat digunakan dalam farmakologi, biofisika dan penelitian
toksikologi.

(Sumber: Modul eksplorasi geokimia)


Gambar 3.32
Alat yang di gunakan dalam metodeAAS (Atomic absorption spectroscopy)

Spektrometri serapan atom pertama kali digunakan sebagai teknik analitis, dan
prinsip-prinsip dasar yang didirikan pada paruh kedua abad ke-19 oleh Robert
Wilhelm Bunsen dan Gustav Robert Kirchhoff, baik profesor di Universitas
Heidelberg, Jerman.Bentuk modern AAS sebagian besar dikembangkan selama
136

tahun 1950 oleh sebuah tim ahli kimia Australia. Mereka dipimpin oleh Sir Alan
Walsh pada CSIRO (Commonwealth Scientific and Industrial Research
Organization), Divisi Kimia Fisika, di Melbourne, Australia.
Teknik ini memanfaatkan spektrometri serapan untuk menentukan konsentrasi
suatu analit dalam sampel.Hal ini membutuhkan standar dengan kandungan analit
dikenal untuk membangun hubungan antara absorbansi diukur dan konsentrasi
analit dan karenanya bergantung pada hukum Beer-Lambert.Singkatnya elektron
dari atom dalam alat penyemprot dapat dipromosikan ke orbital yang lebih tinggi
(keadaan tereksitasi) untuk waktu singkat (nanodetik) dengan menyerap kuantitas
didefinisikan energi (radiasi dari panjang gelombang tertentu).Ini jumlah energi,
yaitu panjang gelombang, adalah khusus untuk transisi elektron tertentu dalam
elemen tertentu.
Secara umum, setiap panjang gelombang sesuai dengan hanya satu elemen, dan
lebar jalur penyerapan hanya dari urutan dari beberapa picometers (pm), yang
memberikan teknik selektivitas unsurnya. Radiasi fluks tanpa sampel dan dengan
sampel dalam atomizer yang diukur dengan menggunakan detektor, dan rasio
antara dua nilai (absorbansi) dikonversi menjadi analit konsentrasi atau massa
menggunakan hukum Beer-Lambert.

6. Interpretasi Data Geokimia


Interpretasi data geokimia melibatkan kesimpulan statistik dan geologi. Perlu
disadari bahwa kesuksesan interpretasi data tergantung pada keberhasilan porgram
pengambilan conto. Jika mungkin program pengambilan conto dibuat fleksibel
sehingga interpretasi dapat dilakukan secara progresif, mulai dari interpretasi
subyektif, diteruskan dengan prosedur yang lebih kompleks sampai kemungkinan
anomali ditemukan atau sampai dapat dikenali tanpa ragu jika tidak terdapat
anomali.

7. Pengolahan Data Geokimia


Geokimia strategis dan analisis multi unsur dengan data yang banyak (33 unsur/
conto) membutuhkan pengolahan data dengan komputer. Analisis ini sering
137

dilakukan di pusat-pusat pengolahan data. Prospektor hanya perlu menyediakan


peta lokasi dan data lapangan (buku catatan penyontoan).
Pengolahan data dimulai dengan mengambil informasi geokimia dari conto yang
dikumpulkan. Hal ini dapat diperoleh dengan cara mengelompokkan conto dengan
indeks yang sama, sebagai berikut:

a. Hasil analisis dari laboratorium


b. Koordinat conto
c. Observasi lapangan
Pengolahan data melibatkan manipulasi sejumlah besar variabel (nilai conto). Ini
dapat menentukan variabilitas dalam dan antara populasi conto. Ada tiga metode
statistik yang digunakan: pertama melibatkan pengolahan variabel yang diambil
satu persatu (analisis univariate), kedua teknik analisis bivariate, dan ketiga
analisis multivariate.
1. Analisis univariate atau analisis elementer memungkinkan perangkuman
karakteristik dari distribusi unsur baik melalui penghitungan maupun secara
grafis. Grafik yang disajikan untuk distribusi unsur tertentu dapat digunakan
untuk menentukan hukum statistik mana yang sesuai dengan distribusi unsur
atau menentukan populasi yang berbeda (jika ada) dalam conto global.
2. Analisis statistik bivariate terdiri dari analisis dua karakter dari variasi
simultan, baik dengan grafik ataupun perhitungan koefisien korelasi linier.
3. Analisis multivariate terdiri dari: regresi multiple dan analisis faktorial. Regresi
multiple memungkinkan variasi-variasi dari suatu variabel dihubungkan
dengan variasi-variasi dari satu atau beberapa variabel lain. Gunanya untuk
membantu menonjolkan atau mengeliminasi material logam dari endapan
primer. Contohnya Cu yang tinggi yang berasosiasi dengan batuan basa dapat
ditekan atau dihapus dengan studi distribusi Ni, Co dan V. Di lain pihak
anomali yang signifikan akan kelihatan lebih kontras. Analisis faktorial
bertujuan mendapatkan informasi dari data numerik yang besar. Sintesis ini
membutuhkan perhitungan matematis yang kompleks. Contohnya jika satu seri
plutonik dipelajari, dimulai dengan data kimia Fe, Mg dan Ti dikelompokkan
pada faktor yang sama., ini dapat mengekspresikan variasi dalam level mineral
138

feromagnesia dalam conto yang berbeda. Dalam prospeksi geokimia, fakta-


fakta ini dapat dapat menggambarkan kehadiran berbagai mineralisasi, kontras
antara unit geologi utama, fenomena pedologi, dan sebagainya.
Penyajian hasil disajikan dalam bentuk:

a. peta data mentah


b. peta nilai anomali dengan menggunakan pola yang berbeda
c. peta dari background geokimia lokal

8. Analisis Geostatistik
Geostatistik merupakan suatu jembatan antara statistik dan Ordinary Kriging.
Analisis geostatistik merupakan teknik geostatistik yang terfokus pada variable
spasial, yaitu hubungan antara variable yang diukur pada titik tertentu dengan
variabel yang sama diukur pada titik dengan jarak tertentu dari titik pertama.
Proses yang dilakukan dalam analisis geostatistik adalah meregister seluruh data
dalam bentuk data base. Dalam aplikasi yang akan dijadikan pemodelan badan biji
emas yaitu penyebaran kadar sumber daya yang meliputi data singkapan dan data
hasil analisa kadar.
Dalam proses analisis yang pertama perlu dilakukan adalah meregister seluruh
data Pemboran dan data hasil analisa kadar dalam bentuk data base. Hal ini sagat
penting dilakukan untuk dapat menggunakan data – data tersebut pada tahapan
selanjutnya. Kompatibilitas data untuk dapat dianalisis lebih lanjut saat
menggunakan metode Ordinary Kriging.
1. Variogram
a. Pengertian Variogram Dan Semivariogram
Variogram merupakan alat dalam geostatistik yang berguna untuk menunjukkan
korelasi spasial antara data yang diukur. Jika memetakan hasil pengukuran nilai
densitas suatu batuan, maka dapat terlihat bahwa nilai yang rendah akan berada
dekat dengan nilai rendah lainnya begitu pula dengan nilai yang besar cenderung
berada di dekat nilai yang besar lainnya. Perbedaan data tersebut dapat dituangkan
delam suatu grafik varriogram sebagai fungsi jarak. semivariogram adalah
setengah dari variogram, dengan simbol γ. Variogram digunakan untuk
139

menentukan jarak dimana nilai-nilai data pengamatan menjadi tidak saling


tergantung atau tidak ada korelasinya. Simbol dari variogram adalah
2γ.Semivariogram ini digunakan untuk mengukur korelasi spasial.
Delfiner mendefinisikan bahwa perbedaan kuadrat tersebut diasumsikan sebagai
ekspektasi [z(xi) - z(xi+h)], sehingga definisi variogram menjadi :

2g(h) = var [z(xi) - z(xi+h)]


dimana : 2g(h) = variogram
var = varians.

b. Jenis-jenis variogram
Jenis- Jenis Variogram dibagi atas :
1. Variogram Eksperimental
1. Variogram eksperimental Sangat berguna menganalisis struktur bahan
galian dan tidak dapat langsung digunakan dalam estimasi cadangan,
untuk itu perlu adanya model variogram teoritis untuk difitkan dengan
di variogram eksperimental. Tujuan utama dari fitting adalah untuk
mengetahui parameter geostatistik seperti a,c,dan c0.
2. C adalah sill, nilai variogram untuk jarak pada saat besartanya konstan
atau tetap.
3. A = range, yaitu jarak pada saat nilai variogram mencapai sill.

1 𝑁(ℎ)
[𝑍(𝑥𝑖 + ℎ) − 𝑍 ( 𝑋𝑖 )] 2
𝑌(ℎ) = +∑
2𝑁(ℎ) 𝑖=1

Dimana : Z ( Xi) adalah nilai data di titik Xi.


Z ( Xi + h ) adalah nilai data di titik Xi + h.
N(h) adalah banyaknya pasangan titik yang memiliki jarak h.

b. Variogram Teoritis
Variogram teoritis mempunyai bentuk kurva yang paling
mendekati variogram eksperimental.Sehingga, untuk keperluan analisis
140

lebih lanjut variogram ekperimental harus diganti dengan variogram


teoritis. Terdapat beberapa jenis variogram yang sering digunakan, yaitu :
1. Model bola (spherical mode)
2. Model ekponensial (Exponential Model)
3. Model gauss (gaussion model)

Komponen Variogram
1. Variance adalah data/sampel yan didapatkan dilapangan.
2. Sill adalah titik jenuh dimana data/sampel yang didapatkan tidak
mempunyai korelasi. Data/sampel yang cenderung horizontal tidak
memiliki korelasi yang sama (konstan).
3. Range adalah titik jarak dimana variogram memiliki korelasi yan
sama. Semakin kecil range yang dibuat maka semakin bagus/akurat
data yang didapatkan.
4. Nugget secara teori nilai awal semivariogram adalah nol. ketika lag
mendekati nol nilai semivariogram disebut sebagai nugget. Nugget
mewakili variasi pada jarak (lag) yang sangat kecil, rmasuk eror
dalam pengukuran

2. Ordinary Kriging
Orinary kriging adalah salah satu metode yang terdapat pada metode kriging yang
sering digunakan pada geostatistika.Pada metode ini, memiliki asumsi khas untuk
penerapan yang mudah digunakan dari ordinary kriging adalah intrinsic stationary
dari bidang dan pengamatan yang cukup untuk mengestimasi variogram.Pada
Cressie (1993: 120) dijelaskan bahwa ordinary kriging berhubungan dengan
prediksi spasial dengan dua asumsi.
Metode kriging digunakan oleh G.Matheron 𝜆pada tahun 1960-an, untuk
menonjolkan metode khusus dalam moving average terbobot (weigthed moving
average) yang meminimalkan variasi dari hasil estimasi. Kriging adalah suatu
teknik perhitungan untuk estimasi dari suatu variabel terregional yang
menggunakan pendekatan bahwa data yang di analisis dianggap sebagai suatu
realisasi dari suatu variabel acak dan keseluruhan variabel acak yang dianalisis
141

tersebut akan membentuk suatu fungsi acak menggunakan model struktural


variogram.
Secara umum kriging merupakan suatu metode yang digunakan untuk
menganalisis data geostatistik, yaitu untuk menginterpolasi suatu nilai kandungan
mineral berdasarkan data sampel. Data sampel pad ilmu kebumian biasanya
diambil di lokasi-lokasi atau titik-titik yang tidak beraturan. Dengan kata lai,
metode ini digunakan untuk mengestimasi besarnya nilai karakterikstik Ź pada
titik-titik tersamperl bardasarkan informasi dari karakterikstik titik tersampel Z
yang berada disekitarnya dengan mempertimpangkan korelasi spasial yang ada
dalam data tersebut.
γ(h) = 1,0 + 0,01h untuk h ≤ 300 m

γ(h) = 4,0 untuk h > 300 m

γ(h) = 0,0 untuk h = 0

1. Hitung kovariansi antar titik sampel

γ(h)  h>0

γ(h)  h≤a

γ(h)  h>a

γ(h) = 1,0 + 0,01 h≤ 300 m

γ(h) = 4,0 h> 300 m

γ(h) = 0,0 h= 0

C(h) = C(0) - γ(h)

2. Hitung kovariansi antara titik sampel dan titik yang ditaksir

C(1,Z0) = C (2,Z0) = C (3,Z0)

3. Isikan elemen matrik


142

[𝐴][𝑊] = [𝐵]

Jadi,

Keterangan : [𝐴] = Matrik kovarian sampel (Cij)


[𝑊] = Matrik bobot
[𝐵] = Matrik kovarian antar sampel sampai sampel yang ditaksir

Perhitungan invers matrik dengan menggunakan excel adalah sebagai berikut :

[𝐴][𝑊] = [𝐵]

[𝑊] = [𝐴]-1[𝐵]

4. Pecahkan sistem kriging pada persamaan tersebut sehingga diperoleh bobot


kriging dan pengali Lagrange

5. Variansi kriging yang dihitung

𝝈2OK = C(0) – [ Σ(wi Cij) + μ]


6. Hitung taksiran kadar di titik Z0
n

zo = Σ wi zi = w1 (Z1) + w2 (Z2) + w3 (Z3)


i=1

3. Analisa Kadar
Pembobotan kadar merupakan suatu hal yang penting pada perhitungan cadangan
karena digunakan untuk menghitung kadar rata-rata suatu blok.

1. Rata-rata Hitung.
Pembobotan dengan asumsi bahwa semua blok mempunyai dimensi yang sama

ĝ1 + ĝ2 + ĝ3 + ...... + ĝn
Kadar rata-rata ĝ = ----------------------------------
n
ĝn : kadar ke n
143

2. Rata-rata pembobotan Ketebalan (t).


Pembobotan dengan asumsi bahwa semua blok mempunyai luas dan berat jenis
yang sama.

t1.ĝ1 + t2.ĝ2 + t3.ĝ3 + ...... + tn.ĝn


Kadar rata-rata ĝ = --------------------------------------------
t1 + t2 + t3 + ....... + tn

3. Rata-rata pembobotan Luas (A).


Pembobotan dengan asumsi bahwa semua blok mempunyai ketebalan dan berat
jenis yang sama, tetapi luas blok bervariasi.

A1.ĝ1 + A2.ĝ2 + A3.ĝ3 + ...... + Anĝn


Kadar rata-rata ĝ = -------------------------------------------------
A1 + A2 + A3 + …… + An

4. Rata-rata pembobotan Volume (V).


Pembobotan dengan asumsi bahwa semua blok mempunyai berat jenis yang sama.

V1.ĝ1 + V2.ĝ2 + V3.ĝ3 + ...... + Vn.ĝn


Kadar rata-rata ĝ = -------------------------------------------------
V1 + V2 + V3 + ......... + Vn

5. Rata-rata pembobotan Tonase (T).


T1.ĝ1 + T2.ĝ2 + T3.ĝ3 + ...... + Tn.ĝn
Kadar rata-rata ĝ = ------------------------------------------------
T1 + T2 + T3 + .......... + Tn

3.5.4.6 Pola Pengambilan Conto


1. Pola Eksplorasi
Secara umum pola dasar eksplorasi bekerja dari lokasi yang sudah diketahui
(known area) menuju lokasi (tempat) yang belum diketahui (unknown area).
Akibat adanya faktor mineralisasi dan kondisi topografi, maka bentuk pola-
pola eksplorasi dapat dikelompokkan menjadi empat.
144

(Sumber: Modul eksplorasi mineral)


Gambar 3.33
Bentuk pola-pola eksplorasi
2. Pola bujursangkar (square), digunakan untuk;
Endapan-endapan yang mempunyai penyebaran isotrop (mineralisasi
homogen), atau isotrop topografi landai
3. Pola empat persegi panjang, digunakan untuk:
Endapan-endapan yang mempunyai penyebaran (mineralisasi) yang
mempunyai variasi bijih/kadar ke arah (p) lebih besar daripada variasi
kadar ke arah (q). topografi landai
4. Pola segitiga, digunakan untuk:
Endapan-endapan yang mempunyai penyebaran (mineralisasi) yang tidak
homogen. topografi bergelombang
5. Pola rhombohedron, digunakan untuk kondisi mineralisasi antara (a) dan
(b) Pola bujursangkar merupakan pola awal dalam eksplorasi, dengan
asumsi bahwa penyebaran mineral (mineralisasi) dalam arah Utara-Selatan
sama dengan arah Barat-Timur. Jika informasi tentang penyebaran
mineralisasi telah diperoleh dengan lebih detil, maka pola dasar
bujursangkar tersebut dapat berubah menjadi pola-pola lain sesuai dengan
kebutuhan (arah mineralisasi, topografi, dll)
4 Grid Density
Derajad kerapatan (jarak) interval antar titik observasi di dalam eksplorasi disebut
dengan Grid Density. Ada dua keadaan kontradiksi dalam pembahasan grid
density ini, yaitu:
Jika grid density rendah, berarti interval/jarak antara titik observasi besar, berarti
mineralisasi bersifat homogen.
145

Jika grid density tinggi, berarti interval/jarak antara titik observasi kecil, berarti
mineralisasi bersifat non-homogen.Peningkatan grid density ini perlu dilakukan
untuk antisipasi adanya struktur dan perbedaan keadaan mineralisasi antara titik
pengamatan. Begitu juga dengan meningkatnya tahapan eksplorasi, maka grid
density juga akan bertambah besar. Dengan bertambahnya kerapatan titik
observasi (titik bor, atau sumuran uji) maka tingkat derajad kepercayaan dan
ketelitian bertambah tinggi.

(Sumber: Modul eksplorasi mineral)


Gambar 3.34
Peningkatan griddensity untuk mengantisipasi adanya struktur dan perubahan
mineralisasi

(Sumber: Modul eksplorasi mineral)


Gambar 3.35
Peningkatan grid density dengan meningkatnya tahapan kegiatan eksplorasi
146

5 Teori Pengambilan Conto


Di dalam eksplorasi, pengambilan conto (sampling) merupakan suatu pekerjaan
yang sangat penting. Yang disebut sampling adalah suatu proses untuk
(mendapatkan sebagian kecil dari suatu massa yang besar (endapan) yang cukup
representatif untuk mewakili massa tersebut.Persoalan yang dihadapi di dalam hal
ini adalah bagaimana supaya dicapai suatu hasil yang representatif dengan cara
yang seekonomis mungkin.Pengambilan conto penting untuk :
1. Mengetahui kadar dari bijih dan penyebarannya.
2. Menghitung besarnya cadangan.
3. Perencanaan dan operasi penambangan yang sesuai.
4. Menentukan metoda pengolahan yang cocok.
Metoda dan jumlah dari conto sangat bergantung pada tipe endapan dan derajat
ketelitian yang dikehendaki.

6 Prosedur Pengambilan Conto


Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
1. Penentuan metoda pengambilan conto.
2. Jumlah conto yang harus diambil. Hal ini bergantung pada:
a. Keteraturan (dari distribusi mineral).
b. Ukuran dari endapan (ore body).
c. Keadaan keuangan dan waktu yang tersedia.
d. Derajat ketelitian yang dibutuhkan.
3. Ukuran sample.
4. Penentuan lokasi yang tepat.
5. Conto diambil pada permukaan yang bersih dan segar.
6. Kantong-kantong conto harus bersih dan diberi nomor yang sesuai.

Sumber-sumber kesalahan di dalam sampling adalah :


1. Salting.
2. Jumlah conto yang tidak mencukupi.
3. Pemberian lokasi yang salah pada sample yang diambil.
147

4. Kesalahan pada analisa-analisa kimia.


5. Cara weighting yang salah.

7 Metoda-Metoda Pengambilan Conto


1. Chip Sampling
Metoda ini dipakai untuk mengambil conto dari suatu singkapan. Alat-alat yang
dipakai adalah palu dan pahat. Conto diambil pada permukaan yang segar dan
bersih. Cara ini dipakai hanya dalam suatu penyelidikan preliminer. Hasilnya
tidak representatif untuk mewakili keadaan mineralisasi yang sebenarnya.

Chip sampling di dalam tambang bawah tanah:

titik pengambilan
conto

a) b)
(Sumber: Modul eksplorasi mineral)
Gambar 3.36
Conto diambil pada titik-titik yang didesign sesuai dengan pola eksplorasi
tertentu. Lihat gambar (a) dan (b), Pada a) pola yang dipakai - bujur sangkar
(b) pola yang dipakai – rhomboid
2. Grab Sampling
Metoda ini dapat digunakan pada suatu stope sesudah peledakan dilakukan atau
pada suatu mine car dalam transportasi bijih. Pekerjaan ini lebih cepat
dibandingkan dengan chip sampling. Sample diambil secara random. Cara ini pun
148

tidak memberikan gambaran yang teliti yang dapat mewakili endapan bijih yang
ada.
3. Bulk Sampling
Dalam bulk sampling, conto diambil dalam jumlah yang besar. Conto bisa berupa
inti bor yang berukuran besar, atau sejumlah material tertentu yang diambil dari
suatu trench dengan mempergunakan buldoser.
4. Channel Sampling
Metoda ini dapat digunakan pada endapan yang terdapat di permukaan dan juga di
dalam suatu tambang bawah tanah. Untuk endapan yang dangkal, metoda ini
dipakai dalam suatu sumur uji. Alur (channel) dibuat pada sisi sumur uji. Pada
suatu endapan hidrotermal yang ditambang dengan sistem tambang bawah tanah,
channel dibuat dari hanging wall ke foot wall.Aplikasi dari metoda-metoda yang
ada harus disertai pula dengan suatu design yang tepat.
5. Channel sampling dalam sumur uji
Dipakai untuk endapan permukaan.
permukaan

overburden

ore body channel ore body

bed rock bed rock


sumur uji dasar sumur uji

a) b)

(Sumber: Modul eksplorasi mineral)


Gambar 3.37
a) Sumur uji dibuat menembus ore body yang mempunyai posisi yang horisontal.
b) Posisi channel yang vertikal pada dinding sumur uji.
149

6. Untuk suatu endapan permukaan yang tidak homogen, maka channel dibagi
menjadi beberapa sub channels sesuai kondisi mineralisasi.

channel

t1 K1

t2 K2
zone
mineralisasi
t3 K3

t4 K4

bed rock
(Sumber: Modul eksplorasi mineral)
Gambar 3.38
Channel endapan permukaan tidak homogen
Keterangan:
t = tebal lapisan
K= kadar bijih

7. Channel sampling dalam tambang bawah tanah


Channel sampling pada drift.

..........
.....
.....
..... ..........
..... .....
..........
...... .....
.....
..........
A.....B.....
........
C Channel dibagi oleh karena bentuk
a
...
... b geometri yang kompleks dari drift
....
..... top. Keadaan mineralisasi homogen.
......
........ c
.........
........... .....
...........
......
vein ......

(Sumber: Modul eksplorasi mineral)


Gambar 3.40
Channel sampling pada drift
150

..../
ll ....
a....
w.... / /
/ // //
g.... / / / / / / all
gin.... / // / // / / / /
an
h ....
....
.... /
/ / // // / o tw
/
A / / /B/ / / / / / fo
C
...
...
a
b
Channel dibagi oleh karena keadaan
....
.... mineralisasi yang berbeda-beda
....
.... // c antara A, B, C.
.... / / / /
....
//
// //
// /
/

(Sumber: Modul eksplorasi mineral)


Gambar 3.41
Channel sampling pada drift
8 Preparasi Conto Dan Pengolahan Data
Conto yang dibawa dari lapangan dalam jumlah yang besar perlu diolah dalam
rangka analisa kimia untuk penentuan kadar.Hal-hal yang perlu dilakukan adalah
crushing, grinding, sieving, coning, dan quartering.

1 2

3 4

(Sumber: Modul eksplorasi mineral)


Gambar 3.42
Coning dan quartering
151

Bagian 1 dan 4 diambil untuk analisis kimia, sedangkan bagian 2 dan 3


disimpan sebagai arsip.Data hasil analisa kimia kemudian diplot pada suatu
grafik (sample histogram). Sample histogram ini sangat bermanfaat untuk
menginterpretasi keadaan mineralisasi di lapangan.

7,0

6,0

5,0
Kadar (%)

4,0

3,0

2,0

1,0

Jarak Jarak
(Sumber: Modul eksplorasi mineral)
Gambar 3.43
Grafik penyebaran Kadar

3.5.5 Dasar Pelaporan Eksplorasi Menurut SNI


1. Pendahuluan
Dalam bab ini dikemukakan informasi umum mengenai daerah penyelidikan
yang diperoleh dari literatur dan latar belakang pemilihan daerah. Selain itu
perlu dijelaskan maksud dan tujuan, lokasi dan kesampaian daerah, geografi,
waktu penyelidikan, pelaksana dan peralatan yang digunakan, hasil penyelidikan
terdahulu dan geologi umum. Judul masing-masing sub bab tidak mengikat,
akan tetapi hal-hal yang bersifat umum seperti disebutkan di atas harus
dicantumkan.
152

1.1. Latar belakang


Dalam sub bab ini diuraikan alasan pemilihan daerah penyelidikan dan
komoditas yang diselidiki baik berdasarkan pertimbangan geologi, kebutuhan
pasar maupun sosio -ekonomi ada saat eksplorasi dilakukan. Aspek legalitas,
seperti kepemilikan, hak guna lahan, izin usaha pertambangan, serta masa
berlakunya dan lain sebagainya harus dicantumkan.
1.2. Maksud dan tujuan
Maksud dan tujuan penyelidikan harus dikemukakan secara jelas sehingga
terlihat keterkaitannya dengan tahap eksplorasi. Daerah serta bahan galian utama
dan ikutannya yang menjadi target eksplorasi juga harus diuraikan. Maksud dari
kegiatan penyelidikan atau survey tinjau adalah mencari dan menemukan
mineral/bijih logam dalam wilayah konsesi serta bertujuan untuk menilai
kualitas dan kuantitas mineral/bijih logam sebagai sumberdaya tereka.
1.3. Lokasi daerah penyelidikan
Lokasi daerah penyelidikan harus diuraikan, baik secara administratif maupun
geografis, dan harus disertai gambar atau peta berskala beserta keterangannya
dengan jelas. Disamping itu luas daerah, cara pencapaian daerah, sarana dan
prasarana perhubungan juga harus dikemukakan dalam sub bab ini.
1.4. Keadaan lingkungan
Dalam sub bab ini diuraikan tentang demografi daerah penelitian atau kondisi
sosial budaya dan mata pencaharian penduduk setempat, termasuk informasi
rona lingkungan pada saat kegiatan eksplorasi dilakukan, seperti iklim,
topografi, vegetasi dan tata guna lingkungan.
1.5. Waktu penyelidikan
Waktu berlangsungnya penyelidikan mulai dari persiapan, kegiatan
pengumpulan data, pengolahan data sampai dengan penyusunan laporan harus
dikemukakan dengan jelas.
1.6. Pelaksana dan peralatan
Sub bab ini menguraikan jumlah tenaga kerja, terutama yang terlibat dalam
kegiatan ekplorasi, termasuk kualifikasi atau keahliannya. Peralatan yang
digunakan seperti alat-alat geofisika, pengeboran, alat ukur, dan lain sebagainya
153

juga harus dicantumkan. Bila peralatan yang dipakai cukup banyak dan
bervariasi daftarnya dicantumkan dalam lampiran. Apabila pekerjaan
dikerjakan oleh pihak ketiga, sebutkan jenis pekerjaan yang dikontrakkan dan
nama perusahaan.
1.7. Penyelidikan terdahulu
Penyelidikan terdahulu menguraikan secara singkat mengenai para penyelidik
terdahulu dan hasilnya. Selain itu diuraikan pula secara ringkas informasi hasil
penyelidikan geologi, geofisika, geokimia atau metode lain yang pernah
dilakukan di daerah tersebut, baik oleh instansi atau organisasi yang sama atau
pihak lain. Dalam hal keterdapatan endapan bahan galian di daerah penyelidikan
sudah diketahui, agar diuraikan mengenai jenis, tipe endapan, bentuk, sebaran,
dan pemanfaatannya. Selain itu diuraikan juga perkiraan mengenai terbentuknya
endapan bahan galian dalam kaitannya dengan lingkungan geologi tertentu.
1.8. Geologi umum
Geologi umum menguraikan tentang keadaan geologi secara regional
disesuaikan dengan tujuan penyelidikan. Data geologi umum tersebut dapat
mengacu dari literatur atau penyelidikan terdahulu. Pada peta geologi umum
yang digunakan harus digambarkan lokasi daerah penyelidikan.
2. Kegiatan Penyelidikan
Dalam bab ini harus dikemukakan seluruh rangkaian kegiatan yang dilakukan
selama penyelidikan, mulai dari persiapan, pengumpulan data, kegiatan di
lapangan sampai pengolahan data, termasuk analisis laboratorium, dan
penyusunan laporan. Metoda pengumpulan dan pengolahan data harus
dicantumkan. Jenis kegiatan tersebut pada umumnya sesuai dengan tahap
eksplorasi dan berkaitan erat dengan maksud dan tujuan penyelidikan. Oleh
karena itu kegiatan dalam suatu laporan prospeksi akan berbeda dengan kegiatan
dalam laporan eksplorasi umum. Isi pokok masing-masing kegiatan tersebut
akan dijelaskan secara berurutan di bawah ini.
2.1. Persiapan
Dalam membahas sub bab ini hendaknya diuraikan mengenai penyediaan peta
dasar untuk kegiatan lapangan, misalnya peta topografi, peta geologi atau peta-
154

peta hasil penafsiran data penginderaan jauh (foto udara, foto satelit dan foto
radar). Selain itu diuraikan juga peralatan yang akan digunakan.
2.2. Pemetaan geologi
Sub bab ini membahas mengenai cara-cara yang digunakan dalam pemetaan
geologi, misalnya pengukuran lintasan (lintasan sungai, creek/alur, spur &
ridge/lereng & punggungan), pengamatan singkapan, pengambilan conto,
penelusuran bongkah, dan sebagainya. Untuk pemetaan geologi yang lebih
terperinci, harus dicantumkan batas wilayah yang dilengkapi dengan koordinat
geografis atau UTM, skala dan luasnya. Harus dijelaskan juga mengenai cara
pengambilan conto batuan atau bahan galian seperti chip, grab, bulk, channel,
dsb. Daftar conto yang mencakup lokasi, koordinat, nomor conto dan pemerian
agar dilampirkan dalam bentuk tabel.
2.3. Penyelidikan geokimia
Dalam sub bab ini harus diuraikan mengenai metode yang digunakan seperti
geokimia endapan sungai, tanah, batuan, pendulangan, dan atau bulk leached
extractable gold (BLEG), sesuai dengan tahap eksplorasi yang dilakukan. Pola
dan kerapatan pengambilan conto serta jumlahnya dibahas dengan rinci. Lokasi
conto harus diperlihatkan dalam bentuk peta secara jelas dan disertai daftar
conto geokimia yang menunjukkan koordinat, jenis conto, dan hasil analisisnya.
Dalam hal pencontoan yang tidak dilakukan di seluruh wilayah penyelidikan,
harus diuraikan mengenai daerah mana saja yang diselidiki, batas wilayah,
koordinat, dan luasnya.
2.4. Penyelidikan geofisika
Penyelidikan geofisika harus disertai penjelasan mengenai metode geofisika
yang digunakan, seperti polarisasi terimbas (IP), potensial diri, geomagnet,
seismik, gaya berat, dsb. Pola dan kerapatan titik pengamatan serta pengukuran
lintasan harus dikemukakan secara rinci. Khusus untuk penyelidikan bahan
galian radioaktif (nuklir) perlu dilengkapi dengan metoda radiometri. Dalam hal
pengamatan yang tidak dilakukan di seluruh wilayah penyelidikan, harus
diuraikan mengenai daerah mana saja yang diselidiki, batas wiayah, dilengkapi
dengan koordinat, dan luasnya.
155

2.5. Sumur-uji, parit-uji, pengeboran


Maksud dan tujuan pembutan sumur-uji, parit-uji, dan pengeboran harus
dijelaskan. Cara pembuatan sumur atau parit-uji harus dijelaskan dengan rinci
secara manual atau mekanis. Pola dan kerapatan lokasi pengeboran, parit dan
atau sumur-uji harus dikemukakan dalam laporan dan disertai peta lokasi. Data
setiap sumur dan parit- uji, serta pengeboran, yang menunjukkan kedalaman,
jenis batuan dan bahan galian, serta informasi lain disusun dalam bentuk tabel
dan dimasukkan sebagai lampiran. Untuk pengeboran harus dijelaskan jenis
conto yang diambil, yaitu inti atau bukan inti (cutting). Cara pencontoan dan
jumlah conto hendaknya juga dikemukakan dengan rinci.
2.6. Pengukuran topografi
Pengukuran topografi diuraikan dengan rinci, meliputi metode pengukuran,
peralatan ukur yang digunakan, proses pengolahan data, dan luas daerah yang
diukur, dilengkapi dengan data koordinat dan hasil pengukuran.
2.7. Penyelidikan lain
Untuk eksplorasi yang sudah memasuki tahap rinci , penyelidikan lainnya seperti
geoteknik, hidrogeologi, hidrologi, lingkungan, uji coba penambangan,
pengolahan dan sebagainya harus dilaporkan.
2.8. Analisis laboratorium
Nama laboratoium tempat analisis kimia dan fisika harus disebutkan dan sedapat
mungkin menggunakan laboratorium yang telah terakreditasi.
a. Analisis kimia
Harus dijelaskan mengenai metode analisis dan pelarutan conto yang digunakan.
Penggunaan kontrol analisis juga dibahas. Jenis unsur dan jumlah conto yang
dianalisis hendaknya dibahas dan disertai hasil analisisnya. Sertifikat hasil
analisis sedapat mungkin dilampirkan.
b. Analisis fisika
Analisis fisika harus menguraikan jensi analisis fisika yang dilakukan, misalnya
petrografi, mineragrafi, mineral berat, dan lainnya, serta jumlah conto yang
dianalisis. Khusus untuk komoditas batubara yang digunakan sebagai steaming
156

coal harus menyajikan hasil analisis titik leleh abu batubara. Hasil analisis dapat
disajikan sebagai tabel atau uraian, dalam laporan atau lampiran.
2.9. Pengolahan data
Dalam sub bab ini harus diuraikan secara rinci mengenai metode dan teknik
pengolahan data yang digunakan, misalnya dengan cara statistik, menggunakan
komputer atau manual, jenis dan nama perangkat lunak. Dasar penafsiran yang
dibuat untuk menemukan anomali geofisika, geokimia maupun data mineral
berat dan estimasi sumber daya juga harus dijelaskan. Demikian pula cara
penggambaran peta anomali untuk geofisika, geokimia, radioaktif dan peta
isopah juga harus diterangkan.
2.10. Pengelolaan conto
Dalam sub bab ini, selain metode pencontoan hendaknya juga dijelaskan
mengenai pencontoan duplikat, cara preparasi, prosedur pengiriman dari
lapangan ke laboratorium dan tempat penyimpanan. Selain itu agar dijelaskan
pula mengenai pengarsipan conto dan penyimpanannya.
3. Hasil Penyelidikan
Bab ini menguraikan seluruh hasil kegiatan penyelidikan yang telah dilakukan,
mulai dari pemetaan geologi, penyelidikan geokimia, penyelidikan geofisika dan
metode lain yang dilakukan. Uraian dapat dipisahkan dalam bab, sub bab atau
alinea tersendiri. Hasil penyelidikan bukan hanya mengemukakan data tetapi
harus disertai analisis berdasarkan acuan yang ada dan data infrastruktur.
3.1. Geologi
Sub bab geologi menguraikan mengenai geomorfologi, karasteristik litologi,
struktur geologi, endapan bahan galian, mineralogi, ubahan batuan di daerah
penyelidikan dan keterkaitannya satu sama lain, termasuk model pembentukan
bahan galian. Selain itu model geologi bawah permukaan dan penarikan
kesimpulan yang dilakukan berdasarkan model ini juga harus diuraikan. Sesuai
dengan jenis komoditas dan tahap penyelidikannya, hasil penyelidikan geologi
harus disertai peta-peta seperti peta geomorfologi, peta geologi, peta ubahan, dan
peta mineralisasi sebagai lampiran. Skala peta harus disesuaikan dengan tahap
eksplorasi. Sedangkan penggambaran peta sejauh mungkin mengacu pada
157

tatacara yang sudah baku (SNI 13-4691-1998 dan SNI 13 -4688-9-1998).


Model-model dan penampang dapat disajikan sebagai gambar tersendiri atau
disertakan dalam peta geologi.
3.2. Geokimia
dalam sub bab ini harus diuraikan mengenai keterdapatan dan pola anomali
masing-masing unsur, keterkaitan atau hubungan antar unsur dan asosiasinya.
Statistik hasil assay: kadar minimum, kadar maksimum, kadar rerata, kadar
anomali, treshold/cutoff grade, batasan kadar tinggi/ekonomis, matriks korelasi,
ternary diagram. Harus dijelaskan pula mengenai penafsiran daerah anomali
dalam kaitannya dengan keadaan geologi, sehingga jelas hubungan antara
anomali dengan kondisi geologi atau pembentukan bahan galian. Peta anomali
geokimia dan hasil analisis conto harus dilampirkan.
3.3. Geofisika
Sub bab ini menguraikan secara rinci mengenai pengolahan data dan dasar
penafsiran yang dibuat untuk menentukan anomali. Kemungkinan mengenai
adanya kesalahan dalam penafsiran juga harus dijelaskan termasuk mengenai
penafsiran geologi dan bahan galian yang dilakukan untuk mengontrol anomali
geofisika. Peta anomali geofisika dan penampangnya harus dilampirkan.
3.4. Sumur-uji, parit-uji, pengeboran
Hasil sumur-uji, parit-uji, dan pengeboran harus disusun dalam bentuk korelasi
satu sama lain. Berdasarkan data tersebut hendaknya diuraikan mengenai
geologi dan bahan galiannya sehingga jelas terlihat gambaran bentuk endapan,
penyebaran dan kesinambungannya (continuity) di bawah permukaan. Informasi
mengenai jumlah lubang bor, sumur-uji, parit-uji yang memotong endapan
bahan galian harus dikemukakan dengan jelas. Hasil analisis conto, peta korelasi
antar lubang bor, sumur-uji, dan parit-uji, harus dilampirkan.
3.5. Endapan bahan galian
Dalam sub bab ini dikemukakan dengan rinci mengenai keadaan endapan bahan
galian seperti tipe, jurus dan kemiringan, sebaran, kesinambungan, bentuk, dan
ukurannya. Harus dikemukakan juga cara perolehan data, misalnya dari
pengeboran, sumur-uji, parit-uji, dsb. Dijelaskan pula mengenai kualitas bahan
158

galian yang didasarkan dari data lubang bor dan informasi conto lain yang
digunakan dalam penafsiran sebaran bahan galian. Sejauh mungkin harus
dijelaskan hubungannya dengan zona pembentukan bahan galian yang sudah
diketahui. Peta sebaran endapan bahan galian yang menggambarkan bentuk,
sebaran, kesinambungan dan ukuran endapan bahan galian harus dilampirkan.
3.6. Estimasi sumberdaya bahan galian
Dalam sub bab ini diuraikan cara membatasi endapan bahan galian yang akan
dihitung sumberdayanya. Agar dijelaskan cara pembatasan endapan bahan galian
tersebut, baik secara interpolasi atau ekstrapolasi. Disamping itu juga dibahas
mengenai kerapatan titik pengamatan dan conto untuk meyakinkan
kesinambungan endapan bahan galian dan untuk menyediakan data dasar yang
memadai bagi keperluan korelasi. Harus dijelaskan pula metode estimasi
sumberdaya bahan galian dan cadangan yang digunakan dan alasan
penggunaannya. Klasifikasi sumber daya bahan galian dan cadangan, harus
mengacu kepada tata cara yang sudah baku (SNI No. 13-4726-1998 dan SNI No.
13-5014-1998). Peta sumber daya atau cadangan harus dilampirkan.
4. Kesimpulan
Pada bab ini dikemukakan kesimpulan mengenai hasil penyelidikan dilihat dari
hasil penafsiran data lapangan di wilayah tersebut serta pemecahan masalah. Jika
dianggap perlu dapat dicantumkan juga saran dan atau rencana tindak lanjut.
Kesimpulan bukan merupakan ringkasan laporan, akan tetapi lebih merupakan
hasil analisis dan sintesa dari penelitian yang dilakukan.
5. Lampiran
Berisi fact sheet data-data yang dibahas dalam draft laporan yang ukuran atau
volumenya tidak memungkinkan diselipkan diantara text draft. Urutan fact sheet
dalam lampiran disusun secara sistematis sesuai tahapan eksplorasi.
1. Tabulasi data survey dan pemetaan
2. Sertifikat laboratorium geokimia dan hasil assay (FA, AAS, ICP, XRF)
3. Hasil analisis petrografi, petrografi bijih, mineragrafi, uji liberasi ,mineral
berat, inklusi fluida, PIMA, dsb
159

4. Tabulasi data geofisika: ground magnetic, resistivity, IP, mise ala mase,
EM, GPR, dsb
5. Tabulasi data pengukuran topografi
6. Penampang parit uji, sumur uji
7. Log bor dan core assay
8. Peta dasar daerah konsesi KP eksplorasi, area/blok prospek/target,
indeksasi peta-peta area prospek, skala 1:10.000 atau 1:5000
9. Peta lokasi pengamatan, titik pengambilan conto, titik sumur uji, lokasi
parit uji, titik pemboran dan arah pemboran, di daerah konsesi, skala
1:10.000 atau 1:5000
10. Peta anomali geokimia unsur logam utama (target) dan unsur logam ikutan
di daerah konsesi skala 1:10.000 atau 1:5000 (overlay dengan zona
mineralisasi)
11. Peta anomali geofisika daerah konsesi (metode geomagnet, resistivity
sounding atau IP sounding) skala 1:10.000 atau 1:5000 (overlay dengan
zona mineralisasi) jika dilakukan
12. Peta geologi dan zona mineralisasi permukaan daerah konsesi skala
1:10.000 atau 1:5000 dan penampang geologi
13. Topografi detail untuk masing-masing area mineralisasi atau area/blok
prospek berskala 1:5000 atau 1:2000 (yang telah diindeksasi pada peta
dasar daerah prospek), dilengkapi dengan grid survey, baseline, crossline
dan section (grid based exploration)
14. Peta lokasi pengamatan, titik pengambilan conto, titik sumur uji,
lokasi parit uji, titik pemboran dan arah pemboran, diplot pada grid
survey, untuk masing-masing area/blok prospek, skala 1:5000 atau
1:2000, diplot dengan peta topografi detail
15. Peta anomali geokimia detail untuk masing-masing area/blok prospek
skala1:5000 atau 1:2000, hasil percontoan sistematis rockchip maupun
soil dengan spasi rapat, diplot dengan peta topografi detail
16. Peta anomali geofisika detail (metode IP mapping atau GPR, VLF, mise
ala mase) untuk masing-masing area/blok prospek skala1:5000 atau
160

1:2000, pada grid survey, disertakan penampang geofisika dan interpretasi


zona mineralisasi bawah permukaan, diplot dengan peta topografi detail
17. Peta geologi dan zona mineralisasi detail untuk masing-masing area/blok
prospek skala 1:5000 atau 1:2000 dan penampang geologi serta
interpretasi zona mineralisasi bawah permukaan, diplot dengan peta
topografi detail
18. Visualisasi model 3D geometri tubuh bijih
Susunan dan isi laporan eksplorasi bahan galian meliputi ringkasan, tubuh
utama laporan dan informasi pendukung.
4.1 Ringkasan
Dalam ringkasan dituliskan uraian singkat mengenai gambaran umum
pokok bahasan laporan secara informatif dan indikatif.
4.2 Tubuh utama laporan
Tubuh utama laporan eksplorasi bahan galian meliputi Pendahuluan,
Kegiatan Penyelidikan, Hasil Penyelidikan dan Kesimpulan.
4.3 Informasi pendukung
Informasi pendukung seperti gambar, foto, tabel, peta dan atau daftar
pustaka berdasarkan keterkaitannya dapat masuk ke dalam tubuh laporan
atau lampiran. Daftar masing-masing informasi pendukung, judul dan
nomor halamannya harus dicantumkan secara berurutan setelah Daftar Isi.
Gambar yang dimasukkan dalam tubuh utama laporan maksimal berukuran
satu halaman, sedangkan gambar yang berukuran lebih besar dimasukkan
ke dalam lampiran. Gambar beserta keterangannya harus jelas terbaca.
Gambar yang berupa peta harus disertai peta indeks dan atau koordinat.
Judul gambar dan nomor urutnya diletakkan di bawah gambar bagian
tengah, penomoran dimulai dengan angka 1 (satu).
4.3.2 Foto
Foto harus jelas terkait dengan uraian dalam teks, keterangan foto dan
lokasinya harus jelas. Foto juga harus disertai skala atau benda berukuran
tertentu sebagai pembanding. Judul foto dan nomor urutnya diletakkan
dibawah foto bagian tengah, penomoran dimulai dengan angka 1 (satu).
161

4.3.3 Tabel
Tabel harus dibuat dengan jelas. Tabel yang berjumlah banyak (misalnya
hasil analisis laboratorium) diletakkan di dalam lampiran Judul diletakkan di
atas tabel dan diberi nomor urut dimulai dengan angka 1 (satu).
4.3.4 Daftar pustaka
Daftar pustaka disusun berdasarkan abjad penyusun. Penulisan pustaka
dimulai dengan nama penyusun, tahun, judul, tempat artikel (majalah), dan
penerbit.
4.3.5 Lampiran
Lampiran disusun berurutan secara alfabetik dengan menggunakan huruf
capital. Bila lampiran berupa peta yang harus dilipat, judul peta hendaknya
dapat terbaca atau terlihat tanpa membuka lipatan.
5. Persyaratan Khusus
Laporan Eksplorasi harus disusun oleh tenaga ahli yang berkompeten.
Tenaga ahli yang berkompeten ini harus mempunyai pengalaman di bidang
eksplorasi minimal selama 5 (lima) tahun dan atau telah mengikuti pelatihan
penulisan laporan eksplorasi yang diselenggar kan oleh instansi yang diberi
wewenang untuk itu.
6. Persyaratan Tambahan
Secara berurutan laporan eksplorasi berturut-turut terdiri dari halaman judul,
ringkasan, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, daftar foto, daftar lampiran,
tubuh utama laporan, daftar pustaka, dan lampiran-lampiran.
Halaman judul laporan harus jelas menunjukkan komoditas dan daerah yang
diselidiki, penyusun laporan, nama perusahaan atau instansi pelapor, dan
tahun pelaporan.
Daftar Isi harus memuat daftar seluruh judul dan halamannya, mulai dari
ringkasan, daftar Isi, daftar-daftar lain, judul bab dan sub-bab dalam tubuh
laporan.
Demikian pula Daftar Tabel, Daftar Gambar, Daftar Foto, dan Daftar
Lampiran sebaiknya disertai dengan nomor, judul dan halaman, dan
diletakkan setelah daftar Isi.
162

Mulai ringkasan, daftar isi sampai daftar lainnya diberi nomor halaman
dengan angka Romawi kecil.

8.5 Kegiatan Eksplorasi Dilapangan


3.6.1 Eksplorasi Awal
Dalam tahap ini termasuk dalam eksplorasi pendahuluan ini tingkat ketelitian
yang diperlukan masih kecil sehingga peta-peta yang digunakan dalam eksplorasi
pendahuluan juga mempunyai skala yang relatif kecil, yaitu 1 : 50.000 sampai 1 :
25.000. Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah :
1. Studi literatur
Dalam tahap ini, sebelum memilih lokasi-lokasi eksplorasi dilakukan studi
terhadap data dan peta-peta yang sudah ada (dari survei-survei terdahulu), catatan-
catatan lama, laporan-laporan temuan dll, lalu dipilih daerah yang akan disurvei.
Setelah pemilihan lokasi ditentukan langkah berikutnya, studi faktor-faktor
geologi regional dan provinsi metalografi dari peta geologi regional sangat
penting untuk memilih daerah eksplorasi, karena pembentukan endapan bahan
galian dipengaruhi dan tergantung pada proses-proses geologi yang pernah terjadi,
dan tanda-tandanya dapat dilihat di lapangan.
2. Survei dan pemetaan
Jika peta dasar (peta topografi) dari daerah eksplorasi sudah tersedia, maka survei
dan pemetaan singkapan (outcrop) atau gejala geologi lainnya sudah dapat
dimulai (peta topografi skala 1 : 50.000 atau 1 : 25.000). Tetapi jika belum ada,
maka perlu dilakukan pemetaan topografi lebih dahulu. Kalau di daerah tersebut
sudah ada peta geologi, maka hal ini sangat menguntungkan, karena survei bisa
langsung ditujukan untuk mencari tanda-tanda endapan yang dicari (singkapan),
melengkapi peta geologi dan mengambil conto dari singkapan-singkapan yang
penting.
3. Orientasi Lapangan
Orientasi lapangan merupakan kegiatan pengamatan dan pengenalan keadaaan
lapangan baik secara morfologi, tataguna lahan, dan keadaan lapangan lainnya.
Pengamatan dapat langsung dilakukan pada saat kegiatan eksplorasi. Pada daerah
163

penelitian yang terletak di desa batang belian kecamatan air upas kabupaten
ketapang kalimantan barat berdasarkan pengamatan orientasi lapangan,
geomorfologi daerah penelitian termasuk dalam dataran rendah yang didominasi
perbukitan landai. Pada ekosistem flora terdapat hayati berupa hutan subtropis
yang didominasi pepohonan hutan dan semak belukar. Sedangkan jenis fauna
berdasarkan pengamatan lapangan terdapat hewan-hewan hutan seperti orang
utan, babi hutan, burung-burung, rusa, dan hewan lainnya.

(Sumber : hasil pengolahan data topografi menggunakan Autocad 2007)


Gambar 3.44
Peta topografi Kabupaten Ketapang

Selain singkapan-singkapan batuan pembawa bahan galian (sasaran langsung),


yang perlu juga diperhatikan adalah perubahan/batas batuan, orientasi lapisan
batuan sedimen (jurus dan kemiringan), orientasi sesar dan tanda-tanda lainnya.
Hal-hal penting tersebut harus diplot pada peta dasar dengan bantuan alat-alat
seperti kompas geologi, inklinometer, altimeter, serta tanda-tanda alami seperti
bukit, lembah, belokan sungai, jalan, kampung, dll. Dengan demikian peta geologi
dapat dilengkapi atau dibuat baru (peta singkapan).
Tanda-tanda yang sudah diplot pada peta tersebut kemudian digabungkan dan
dibuat penampang tegak atau model penyebarannya (model geologi). Dengan
model geologi hepatitik tersebut kemudian dirancang pengambilan conto dengan
cara acak, pembuatan sumur uji (test pit), pembuatan paritan (trenching), dan jika
164

diperlukan dilakukan pemboran. Lokasi-lokasi tersebut kemudian harus diplot


dengan tepat di peta (dengan bantuan alat ukur, teodolit, BTM, dll.).
Dari kegiatan ini akan dihasilkan model geologi, model penyebaran endapan,
gambaran mengenai cadangan geologi, kadar awal, dll. dipakai untuk menetapkan
apakah daerah survei yang bersangkutan memberikan harapan baik (prospek) atau
tidak. Kalau daerah tersebut mempunyai prospek yang baik maka dapat diteruskan
dengan tahap eksplorasi selanjutnya.

(Sumber : Eksplorasi Bauksit Ketapang)


Gambar 3.45
Hasil Pengamatan sampel dilapangan

2.1 Peralatan Lapangan


Pada kegiatan eksplorasi, khususnya pada saat survei dan pemetaan diperlukan
beberapa peralatan penunjang untuk memenuhi target kegiatan. Adapun peralatan
yang dibutuhkan antara lain :
1. Peta dasar daerah penelitian (skala disesuaikan dengan skala penelitian)
2. Kompas geologi
3. Palu geologi,
4. Panduan manual deskripsi lapangan
165

5. Loupe dengan pembesaran 10 x dan 20 x


6. HCL 0,1 N
7. Meteran
8. Kamera
9. Kantong sampel
10. GPS
11. Alat penunjang keselamatan, seperti pakaian standar lapangan
12. Alat- alat tulis.

3.6.2 Eksplorasi Rinci


Eksplorasi endapan bauksit dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui letak
penyebaran, jumlah, kadar bijih, dan faktor-faktor lain yang berpengaruh pada
pekerjaan penambangan selanjutnya antara lain menyangkut kemudahan
pengangkutan, tebal lapisan penutup, kondisi batuan dan lain sebagainya.
Data hasil eksplorasi ini digunakan sebagai dasar untuk menentukan lokasi bijih
yang layak tambang, cara penambangan, proses pengolahan, dan kemudahan cara
trasportasi.
1. Perencanaan Eksplorasi
Perencanaan eksplorasi akan dilakukan pada daerah indikasi atau yang telah ada
data-data sebelumnya. Eksplorasi dilakukan di desa Batang Belian Kecamatan
Air Upas Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat.
2. Metode Eksplorasi
Metode eksplorasi yang digunakan dengan membuat sumur uji (test pit), yang
disesuaikan dengan genesa yang mempengaruhi kondisi endapan bijih, di mana
bijih mempunyai penyebaran yang luas pada daerah yang relatif datar hingga
sedikit bergelombang, homogenitas tinggi serta distribusi kadar yang tidak jauh
berbeda. Metode sumur uji ini dianggap paling rendah biayanya, mudah dan
sederhana cara pengerjaannya dan masih representatif hasilnya untuk perhitungan
cadangan.
166

Metode ini berguna untuk menemukan bahan galian dan untuk memperoleh data-
data mengenai keadaan tubuh batuan (orebody) yang bersangkutan, seperti
ketebalan, sifat-sifat fisik, keadaan batuan di sekitarnya, dan kedudukannya.
Cara pengambilan contoh dengan metode ini paling cocok dilakukan pada tubuh
bahan galian yang terletak dangkal di bawah permukaan tanah, yaitu dimana
lapisan penutup (over burden) kurang dari setengah meter. Trench yang dibuat
sebaiknya diusahakan dengan cara-cara berikut :
1. Dasar selokan dibuat miring, sehingga jika ada air dapat mengalir dan
mengeringkan sendiri (shelf drained) dengan demikian tidak diperlukan
adanya pompa.
2. Kedalaman selokan (trench) diusahakan sedemikian rupa sehingga para
pekerja masih sanggup mengeluarkan bahan galian cukup dengan lemparan.
3. Untuk menemukan urat bijih yang tersembunyi di bawah material penutup
sebaiknya digali dua atau lebih parit uji yang saling tegak lurus arahnya agar
kemungkinan untuk menemukan urat bijih itu lebih besar. Bila kebetulan
kedua parit uji itu dapat menemukan singkapan urat bijihnya, maka jurusnya
(strike) dapat segera ditentukan. Selanjutnya untuk menentukan bentuk dan
ukuran urat bijih yang lebih tepat dibuat parit-parit uji yang saling sejajar
dan tegak lurus terhadap jurus urat bijihnya

1. Penggalian Test Pit


1. Menentukan daerah/areal yang akan dieksplorasi, yaitu pada bukit-bukit
yang relatif landai dengan puncak yang luas
2. Pengukuran topografi dengan skala 1 : 2500 sampai dengan 1 : 1000,
dengan pemasangan patok-patok batas sekaligus nantinya digunakan
sebagai titik ikat
3. Penentuan titik sumur uji menggunakan Grid System, dari titik awal
dibuat dengan arah utara – selatan, pada jarak tertentu dibuat arah timur
barat, sehingga didapat pola tertentu.Titik awal ditempatkan di puncak
bukit, dari titik ini ditarik garis menyelusuri lereng-lereng bukit terus ke
167

bawah, dan pada ketinggian atau jarak tertentu dari puncak tersebut,
ditentukan titik-titik sumur uji lainnya.

(Sumber : Teknik Eksplorasi (Ign Sudarno, Iman Wahyono Sumarinda,


1981)
Gambar 3.46
Bentuk Penampang Sumur uji (test pit)

Pemasangan patok-patok di titik/tempat di mana akan digali sumur uji (test pit).
Jarak antara sumur uji diambil 200 meter, bila analisa menunjukkan kadar yang
ekonomis, maka jaraknya diperkecil menjadi 100 m, 50 m, dan 25 m, untuk
mendapatkan data cadangan dengan kualifikasi “possible”, “probable” dan
‘prove”. Karena lapisan bauksit adalah horizontal dengan ketebalan rata-rata
sama, maka pola penempatan patok tersebut membentuk bujur sangkar. Setiap
patok diberi nomor sesuai dengan nomor sumur uji yang akan digali dan digambar
di peta .

(Sumber : Test pit bauksit Ketapang)


Gambar 3.47
Penggalian Sumur Uji (test pit)
168

Penggalian sumur uji sesuai dengan patok yang telah dibuat, dengan alat seperti :
cangkul papan, blencong, linggis, pungkis, tali dengan pengait untuk menarik
pungkis dari dalam lubang ke permukaan, pita ukur untuk mengukur kedalaman
sumur uji dan ketebalan lapisan korelasi bauksit.
Tenaga kerja 2 atau 3 orang bergantung keadaan, seorang sebagai penggali di
dalam sumur dan yang lainnya mengangkat bahan galian dari dalam sumur.
Bentuk sumur uji tersebut adalah empat persegi panjang dengan ukuran 1.20 x
0.80 meter persegi dengan arah panjangnya dibuat arah utara – selatan.
Penggalian dihentikan bila mencapai :
1. Batuan dasar ialah batu lempung
2. Bertemu bongkah batuan keras, yang biasanya adalah lensa hidroksida
besi. Penggalian biasanya dipindahkan ke tempat lain di dekat sumur uji
tersebut
3. Bila penggalian telah mencapai kedalaman 1.5 meter tetapi belum juga
ditemukan indikasi akan adanya bauksit
4. Bila penggalian mencapai air tanah sehingga akan menyulitkan pada
pekerjaan pembuatan sumur uji tersebut dan juga pada saat
penambangannya nanti.

5. Sebaran dan Pola Test pit


Pada kegiatan pembuatan test pit, pekerjaan yang tidak kalah penting dan sangat
krusial antara lain menentukan sebaran dan pola pembuatan test pit. Tentu dalam
hal ini banyak faktor yang harus diperhatikan, seperti keadaan arah dan
kemiringan endapan bauksit. Keadaan endapan (arah dan kemiringan) dapat
diketahui pada saat survei dan pemetaan dengan melakukan pengukuran
menggunakan kompas. Untuk mengetahui keadaan endapan secara detail,
dilanjutkan dengan melakukan pekerjaan pembuatan lubang test pit. Pada kegiatan
inilah, arah dan kemiringan endapan dapat dikethui secara lebih detail dan akurat.
Pada kegiatan eksplorasi rinci pembuatan test pit didaerah penelitian, sebaran da
pola test pit yaitu menggunakan pola bujur sangkar. Pemilihan pola ini
dikarenakan sesuai dengan kondisi morfologi daerah penelitian yang didominasi
169

dataran rendah dengan sedikit morfologi pegunungan. Sebaran test pit, tentu juga
memperhatikan arah kemenerusan endapan bauksit.

(Sumber: Hasil pengolahan data topografi dan sebaran test pit dengan Autocad 2007)
Gambar 3.48
Peta Sebaran test pit Daerah Ketapang

6. Pemerian/Diskripsi Bauksit
Pemerian bauksit dilakukan sebelum pengambilan contoh. Pada awalnya di
dalam pemerian bauksit ada penggunaan istilah “nodule” dan “konkresi”. Namun
dengan pertimbangan bahwa genesa bauksit berasal dari proses pelapukan
kimiawi, maka penggunaan istilah “konkresi” adalah yang lebih tepat daripada
instilah “nodule”. Oleh karena itu, dalam pemerian selanjutnya hanya
menggunakan istilah “konkresi” dan mengingat bentuk fisik dari “konkresi” ini
mempunyai variasi ukuran, maka dalam pemeriannya perlu dibuatkan standar
pemerian.
170

(Sumber : Uji test pit eksplorasi Bauksit Ketapang)


Gambar 3.49
Litologi Uji test pit endapan bauksit

Pada gambar 3.49 menunjukan bahwa litologi test pit memiliki tiga lapisan
berupa soil, endapan bauksit, dan clay. Lapisan clay merupakan tanda batas akhir
kedalaman pada saat penggalian pembuatan sumur uji (test pit). Pada contoh
deskripsi diatas (gambar 3.31), lapisan clay ditunjkan warna kuning dengan
kedalaman 1 meter, sedangkan lapisan endapan bauksit ditunjukan warna merah
kecoklatan dengan kedalaman 1,5-2 meter. Pada umumnya, untuk mencapai
kedalaman lapisan endapan, penggalian dilakukan hingga kedalaman 5 – 7 meter,
tergantung tebal lapisan endapan bauksit. Apabila telah mencapai lapisan clay,
maka penggalian tidak diteruskan. Pada kegiatan eksplorasi didaerah penelitian
ini, yang berada didesa batang belian kecamatan air upas kabupaten ketapang
kalimantan barat, pada umumnya kedalaman test pit hanya berkisar 2-7 meter.
Dilokasi penelitianmenunjukan bahwa keterdapatan endapan bauksit hanya pada
171

kedalaman 1,5 – 2 meter dari lapisan bawah soil. Setiap lubang test pit tentu
mempunyai kedalaman endapan masing-masing yang berbeda-beda.

Pada kegiatan eksplorasi pembuatan test pit ini, dilakukan pembuatan lubang
sumur uji dan sebarannya sebanyak 1.727 lubang test pit yang tersebar didalam
wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) Pt. Harita Prima Abadi Mineral
(HPAM) yang terletak di Desa Batang Belian Kecamatan Air Upas Kabupaten
Ketapang Kalimntan Barat. Berikut data test pit hasil eksplorasi rinci pada daerah
penelitian.

7. Sampling atau Pengambilan Conto


Pada kegiatan ini dilakukan pengambilan conto (sampling) dan pembuatan profil,
adapun metode yang dilakukan dalam sampling sebagai berikut:
1. Mengukur kedalaman sumur uji.
2. Menentukan batas antara zona-zona pada bauksit, yaitu OB (over burden),
ore bauksitdan zona lapuk lanjut (kong).
3. Mengukur kedalaman OB, ketebalan ore, dan batas antara ore dan kong.
4. Melakukan pemerian bijih bauksit dilapangan (bauxite discription).
5. Cara pengambilan conto pada dinding sumur uji adalah, setelah mengukur
tebal ore bauksit, maka ore tersebut dibagi pada setiap ketebalan 2 meter
dari batas atas ore. Tiap-tiap ketebalan 2 meter dilakukan pengambilan
conto sebanyak 4 buah ember pada satu sisi dinding sumur uji.
Pengambilan conto pada dinding sumur uji memanjang dari atas ke
bawah jadi tiap ember diisi sampel tiap 50 cm dengan berat sampel per
ember  5 kg. Kemudian apabila tebal ore 3 m maka 2 m bagian atas
diberi notasi A dan 1 meter ke bawah diberi notasi B. Pada notasi A
dilakukan pengambilan sampel sebanyak 4 ember kemudian diletakkan
dalam satu karung, dan notasi B dilakukan pengambilan conto sebanyak
2 ember dan diletakkan pada satu karung yang lain.
6. Pada masing-masing karung conto diberi pita yang telah dicantumkan
kode sumur uji, koordinat sumur uji, notasi dan kedalaman notasi, serta
172

tanggal pengambilan conto. Tujuan penyertaan pita tersebut agar conto


dapat dikenali dalam melakukan pencucian dan analisa laboratorium.

Lebar bukaan test pit

Tanah penutup

Lapisan Bauksit

Kong (penggalian dihentikan)

(Sumber: Eksplorasi Bauksit Kabupaten Ketapang)


Gambar 3.50
Sketsa Cara Pengambilan Conto Bauksit Dengan Sumur Uji

8. Metode Preparasi Conto


Kegiatan preparasi meliputi kegiatan pencucian, penirisan dan penimbangan
conto. Pencucian dilakukan dengan metode penyemprotan air dan dibantu
pembersihan dengan sikat kawat hingga kandungan clay yang ada dapat
dipisahkan. Penirisan dilakukan dengan bantuan sinar matahari hingga kondisi
bauksit kering. Penimbangan dilakukan 2 kali yaitu pada saat pengambilan conto
dari lubang test pit (sebelum dicuci) dan setelah pencucian, hingga diperoleh
harga concretion factor.Concretion factor adalah persen berat bauksit bersih tanpa
pengotor atau perbandingan berat bauksit setelah dicuci dan sebelum dicuci.
Tahapan preparasi conto yang dilakukan adalah sebagai berikut:
173

1. Conto dari lokasi ditimbang untuk mengetahui berat kotor.


2. Conto kotor dicuci dengan ayakan berukuran pada ayakan dengan bukaan
1cmdan5mm secara manual hingga bersih, agar butiran yang lolos
(matriks ) dan bahan pengotornya hilang.
3. Dilakukan pengeringan dengan diangin-anginkan atau dengan
menggunakan oven sampai 24 jam.
4. Conto kering yang bersih ditimbang, untuk mengetahui berat bersih.
5. Menghitung faktor konkresi (CF = berat bersih/berat kotor x 100 ).
6. Conto yang telah dikeringkan kemudian dihaluskan hingga ukuran < 0,5
cm.
7. Conto di mixing dan quartering (pencampuran 4 bagian). Setelah itu
diambil 3 - 3,5 kg dari contoyang tersisa.
8. Dari 3 - 3,5 kg tersebut kemudian dilakukan quartering lagi agar menjadi
lebih homogen.
9. Dilakukan penghalusan, kemudian conto tersebut diayak dengan ukuran
mess 200.
10. Sampel yang lolos kemudian diambil 1 kg, yang 0,5 kg dianalisis di
laboratorium dan sisanya menjadi duplikat.
Conto yang sudah dipreparasi tersebut, selanjutnya dikirim ke laboratorium
untuk dilakukan analisis unsur-unsur Al2O3, Fe2O3, SiO2, TiO2, dan LOI. Untuk
sampel permukaan (out crop) mendapat perlakuan yang sama pada saat preparasi,
tetapi tanpa melalui proses quartering. Berikut merupakan bagan alir tahapan
preparasi conto.

Conto kotor

Ditimbang

Dicuci dengan ayakan #1 cm dan 1 mm

Pengeringan 24 jam
174

Conto bersih ditimbang

CF = (Berat bersih : berat kotor) x 100%

Conto dipecah ukuran <1 cm

Maxing dan Quatering

Conto diambil 1 kg

0,5 kg (duplikat) 0,5 kg (analisis lab)

(Sumber : Prosiding Hasil Kegiatan Pusat Sumber Daya Geologi Tahun 2011)
Gambar 3.51
Bagan Alir Tahapan Preparasi Conto

3.7 Sumberdaya dan Cadangan


Pengertian sumber daya mineral dan cadangan menurut Badan Standarisasi
Nasional dalam draft Amandemen I SNI 13-4726-1998, adalah sebagai berikut:
a. Sumber Daya Mineral (Mineral Resource)
Sumber daya mineral adalah endapan mineral yang diharapkan dapat
dimanfaatkan secara nyata. Sumber daya mineral dengan keyakinan geologi
tertentu dapat berubah menjadi cadangan setelah dilakukan pengkajian kelayakan
tambang dan memenuhi kriteria layak tambang. Pembagian sumber daya mineral
adalah sebagai berikut:
1. Sumber Daya Mineral Hipotetik (Hypothetical Mineral Resource) adalah
Sumber Daya Mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh berdasarkan
perkiraan pada tahap Survai Tinjau.
175

2. Sumber Daya Mineral Tereka (Inferred Mineral Resource) adalah Sumber


Daya Mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh berdasarkan hasil
tahap Prospeksi.
3.Sumber Daya Mineral Terunjuk (Indicated Mineral Resource) adalah
Sumber Daya Mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh berdasarkan
hasil tahap Eksplorasi Umum.
4.Sumber Daya Mineral Terukur (Measured Mineral Resource) adalah Sumber
Daya Mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh berdasarkan hasil
tahap Eksplorasi Rinci.
Menurut Kode-KCMI(Komite Cadangan Mineral Indonesia)diklasifikasikan
kedalam tiga kategori yaitu:
1. Sumberdaya Tereka
Merupakan bagian dari sumberdaya dimana tonase, kadar, dan kandungan mineral
dapat diestimasi dengan tingkat kepercayaan rendah. Hal ini direka dan
diasumsikan dari adanya bukti geologi, tetapi tidak diverifikasi kemenerusan
geologi dan/ atau kadarnya.Hal ini hanya berdasarkan dari informasi yang
diperoleh melalui teknik yang memadai dari lokasi mineralisasi singkapan, puritan
uji, sumuran uji dan lubang bor tetapi kualitas dan tingkat kepercayaannya
terbatas atau tidak jelas. Batas kesalahan dari estimasi baik kuantitas maupun
kualitas adalah lebih dari 40%.
2. Sumberdaya Tertunjuk
Merupakan bagian dari sumberdaya mineral dimana tonase, densitas, bentuk,
karakteristik fisik, kadar dan kandungan mineral dapat diestimasi dengan tingkat
kepercayaan yang wajar. Hal ini didasarkan pada hasil eksplorasi, dan informasi
pengambilan dan pengujian conto yang didapatkan melalui teknik yang tepat dari
lokasi-lokasi mineralisasi seperti singkapan, puritan uji, sumuran uji, “
terowongan uji “ dan lubang bor. Lokasi pengambilan data masih terlalu jarang
atau spasinya belum tepat untuk memastikan kemenerusan geologi dan/atau kadar,
tetapi secara meruang cukup untuk mengasumsikan kemenerusannya.Batas
kesalahan kualitas maupun kuantitas adalah antara 20%– 40%.
3. Sumberdaya Terukur
176

Merupakan bagian dari sumberdaya mineral dimana tonase, densitas, bentuk,


karakteristik fisik, kadar dan kandungan mineral dapat diestimasi dengan tingkat
kepercayaan yang tinggi. Hal ini didasarkan pada hasil eksplorasi rinci dan
terpercaya, dan informasi mengenai pengambilan dan pengujian conto yang
diperoleh dengan teknik yang tepat dari lokasi- lokasi mineralisaiseperti
singkapan, puritan uji, sumuran uji, “terowongan uji” dan lubang bor. Lokasi
informasi pada kategori ini secara meruang adalah cukup rapat untuk memastikan
kemenerusan geologi dan kadar.Batas kesalahan ini adalah kurang dari 20%.
b. Cadangan (Reserve)
Cadangan adalah endapan mineral yang telah diketahui ukuran, bentuk, sebaran,
kuantitas dan kualitasnya dan yang secara ekonomis, teknis, hukum, lingkungan
dan sosial dapat ditambang pada saat perhitungan dilakukan.
1. Cadangan Terkira (Probable Reserve) adalah Sumber Daya Mineral
Terunjuk dan sebagian Sumber Daya Mineral Terukur yang tingkat
keyakinan geologinya masih lebih rendah, yang berdasarkan studi kelayakan
tambang semua faktor yang terkait telah terpenuhi, sehingga penambangan
dapat dilakukan secara ekonomik.
2.Cadangan Terbukti (Proved Reserve) adalah Sumber Daya Mineral Terukur
yang berdasarkan studi kelayakan tambang semua faktor yang terkait telah
terpenuhi, sehingga penambangan dapat dilakukan secara ekonomik. Secara
sistematik hubungan antara sumberdaya dan cadangan.
Parameter-parameter yang penting dalam estimasi dan perhitungan cadangan
meliputi:
1. Ketebalan endapan
Ketebalan endapan dapat diukur dari hasil pengamatan langsung, perhitungan
skala pada peta dan penampang, data pemboran dan logging atau perhitungan
yang kemudian ditentukan rata-ratanya.
2. Luas endapan
177

Luas endapan meliputi luas vertikal maupun horisontal. Pengukuran luas dapat
menggunakan planimeter dan dibaca paling sedikit dua kali kemudian diambil
rata-ratanya.
3. Berat jenis
Berat jenis sangat berpengaruh pada perhitungan tonase. Semakin besar berat
jenis, maka semakin besar pula yang akan didapat sumberdaya dengan tonase
dalam jumlah besar, akan tetapi tetap memperhatikan apakah berat jenis yang
digunakan adalah berat jenis pada saat material basah (wet tonage factor) atau
material kering (dry tonage factor).
4. Kadar
Penentuan kadar suatu endapan bijih merupakan kegiatan yang kritis dan penting,
sehingga memerlukan banyak pertimbangan karena kandungan kadar suatu
endapan mineral tidak selalu sama. Dalam estimasi dan perhitungan cadangan
diperhitungkan kadar rata-ratanya yang diperoleh dibandingkan dengan cut off
grade yang berlaku.
5. Variabilitas kadar endapan
Keanekaragaman kadar pada bijih akan mempengaruhi distribusi kadar, semakin
tinggi proporsi mineralnya, maka homogenitas kadar semakin rendah. Dengan
kata lain tidak ada endapan berkadar tinggi dengan variasi tinggi. Besar
variabilitas dari nilai produk sampel besar, standar deviasi dapat memberi harga
tinggi terhadap koefisien variasi.
6. Faktor Looses
a. Geological Looses, yaitu faktor kehilangan pada saat eksplorasi/ pemetaan
akibat adanya variasi ketebalan, struktur.
b. Mining Looses, yaitu faktor kehilangan akibat teknis penambangan, ataupun
dari lokasi penambangan ke pabrik pengolahan seperti faktor alat, faktor
safety, dll.
c. Processing Looses, yaitu faktor kehilangan (recovery) akibat proses atau
kehilangan pada proses lanjut seperti pada proses peleburan (furnace).
178

Dalam konteks ini sumberdaya (Resource) baik itu mineral dan batubara, menurut
Standar Nasional Indonesia (SNI) sumberdaya adalah endapan mineral yang
diharapkan dapat dimanfaatkan secara nyata. Sumber daya mineral dengan
keyakinan geologi tertentu dapat berubah menjadi cadangan setelah dilakukan
pengkajian kelayakan tambang dan memenuhi kriteria layak tambang.
Cadangan mineral bijih merupakan hal penting dalam menentukan penambangan
endapan dengan ekonomis. Tingkat kepastian cadangan terestimasi menentukan
resiko kelayakan ekonomi tambang dan garansi bagi pengembalian modal (capital
investment). Estimasi sumberdaya dan cadangan meliputi klasifikasi (kategorisasi)
dari kalkulasi sumberdaya dan cadangan. Perhitungan cadangan ini merupakan hal
yang paling vital dalam kegiatan eksplorasi.
Perhitungan yang dimaksud di sini dimulai dari sumberdaya sampai pada
cadangan yang dapat di tambang yang merupakan tahapan akhir dari proses
eksplorasi. Hasil perhitungan cadangan tertambang kemudian akan digunakan
untuk mengevaluasi apakah sebuah kegiatan penambangan yang direncanakan
layak untuk di tambang atau tidak. Adapun metode perhitungan cadangan antara
lain :
1. Metode Poligon (area of influence) ; Metoda poligon ini merupakan metoda
perhitungan yang konvensional. Metoda ini umum diterapkan pada
endapan-endapan yang relatif homogen dan mempunyai geometri yang
sederhana. Kadar pada suatu luasan di dalam poligon ditaksir dengan nilai
conto yang berada di tengah-tengah poligon sehingga metoda ini sering
disebut dengan metoda poligon daerah pengaruh (area of influence). Daerah
pengaruh dibuat dengan membagi dua jarak antara dua titik conto dengan
satu garis sumbu
2. Metode Modelling ; Block Modelling adalah suatu metode dimana
penentuan ore resource berdasarkan batasan-batasan geological dan
morfologi dengan cara menentukan cut off grade
3. Metode Inverse Distance ; Diterapkan untuk memprediksi kadar dan
ketebalan suatu blok berdasarkan data titik contoh disekitarnya yang
terdekat.
179

4. Metode Kriging ; Metode Geostatistik adalah suatu metode untuk


mendapatkan gambaran mengenai penyebaran data, baik secara vertikal
maupun lateral, dengan analisis semi-variogram serta perkiraan
kadar/ketebalan suatu endapan bahan galian dengan metode kriging.
Dalam perhitungannya pembobotan Inverse distence didasarkan pada jarak
conto terhadap blok yang akan diprediksi kadarnya. Metode Inverse
Ditance dapat dibagi menjadi tiga bagian antara lain (gambar 3.3) :
1. Metode Inverse Distance ( ID )
Untuk menghitung kadar
(1/d1) g1 + (1/d2) g2 + ..........+ (1/dn) gn
Gavb =
(1/d1) + ( 1/d2) + .......... + (1/dn2)
Untuk menghitung tebal bijih
(1/d1) t1 + (1/d2) t2 + ..........+ (1/dn) tn
Tavb =
(1/d1) + ( 1/d2) + .......... + (1/dn)

TB1 TB2 TB3

C1
d1

TB4 TB5 TB6


d4 d2
C4 C2

d3

C3

TB7 TB8 TB9

(Sumber: Infogeosains, 2018)


Gambar 3.52
Penyebaran titik conto pada suatu blok yang diestimasi
180

Dimana :
TB = Titik bor, d1 = Jarak daerah pengaruh setiap titik bor, C1 =
Kadar setiap titik bor, TB5 = Titik bor yang diprediksi kadarnya
2. Metode Inverse Distance Squared ( IDS )

Untuk menghitung kadar


(1/d12) g1 + (1/d22) g2 + ..........+ (1/dn2) gn
Gavb =
(1/d12) + ( 1/d22) + .......... + (1/dn2)
Untuk menghitung tebal bijih
(1/d12) t1 + (1/d22) t2 + ..........+ (1/dn2) tn
Tavb =
(1/d12) + ( 1/d22) + .......... + (1/dn2)

3. Metode Inverse Distance Cubed ( IDC atau ID3 )

Untuk menghitung kadar


(1/d13) g1 + (1/d23) g2 + ..........+ (1/dn3) gn
Gavb =
(1/d13) + ( 1/d23) + .......... + (1/dn3)
Untuk menghitung tebal bijih
(1/d13) t1 + (1/d23) t2 + ..........+ (1/dn3) tn
Tavb =
(1/d13) + ( 1/d23) + .......... + (1/dn3)
Dimana :
G & Gavb = kadar setiap lubang bor & kadar rata – rata blok
T & Tavb = kadar setiap lubang bor & kadar rata – rata blok
d = jarak pusat blok terhadap titik conto
t = tebal kadar setiap lubang bor
181

3.7.1 Manfaat Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan


Manfaat melakukan perhitungan sumberdaya ataupun cadangan adalah
diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Memberikan hasil perhitungan kuantitas maupun kualitas (kadar) endapan.
Memberikan perkiraan geometri 3 dimensi dari endapan serta distribusi ruang
(spasial) dari nilainya. Hal ini penting untuk menentukan urutan penambangan
yang pada gilirannya akan mempengaruhi pemilihan peralatan.
2. Jumlah cadangan menentukan umur tambang, hal ini penting dalam kaitannya
dengan perancangan pabrik pengolahan dan kebutuhan infrastruktur yang lain.
(Sudarto Notosiswojo dan Agus Haris,2005).

3.7.2 Permodelan Sumberdaya Menggunakan Softwere Surpac 6.5.1


Surpac merupakan salah satu perangkat lunak yang digunakan dalam permodelan
geologi dan pertambangan yang sangat membantu dalam perancangan tambang.
Aplikasi surpac membantu dalam perancangan geometri yang meiliki keakuratan
pengolahan data dan permodelan endapan bahan galian. Dalam permodelan
sumberdaya dan cadangan, aplikasi surpac sangat membantu dalam pembuatan
perancangan geometri serta informasi numerik serta statistik.
Adapun database input yang digunakan dalam permodelan endapan dalam
aplikasi surpac antara lain data topografi (hole id, x,y,z, dan depth), data survey
(hole id, depth, dip, dan azimuth), data geologi (hole id, from, to, dan litologi),
data assay (hole id, from, to, dan kadar) dan data collar (hole id, x, y, z, dan
depth).

3.7.2.1 Pentingnya Permodelan dan Estimasi Sumberdaya


Permodelan merupakan tahap awal untuk melakukan estimasi kadar yang
berlanjut ke estimasi sumberdaya. Hasil dari estimasi sumberdaya tersebut akan
dapat dijadikan sebagai cadangan jika memenuhi beberapa ketentuan. Metode
perhitungan yang digunakan harus memberikan hasil yang dapat diuji ulang atau
diverifikasi. Setelah perhitungan sumberdaya selesai, yang harus dilakukan adalah
memeriksa atau mengecek taksiran kualitas blok yang dibuat setelah proses
permodelan. Hal ini dilakukan dengan menggunakan data pemboran yang ada
182

disekitarnya. Satu aspek penting yang harus sangat diperhatikan sebelum dan
setelah permodelan dan estimasi selesai yaitu model dan taksiran kadar dari model
sumberdaya tersebut harus dicek ulang kualitas dan kuantitasnya yang disebut
dengan Verifikasi Data. Suatu data dapat dikatakan valid / benar jika di dalam
verifikasi data tersebut tidak terdapat adanya kesalahan, sehingga hasil dari
permodelan dan estimasi yang dilakukan mendekati nilai yang sesungguhnya.
Verifikasi Data ini akan dibahas di bab selanjutnya yaitu di bab Penyusunan dan
Pengolahan Data dan bab Pembahasan. Estimasi sumberdaya mineral diperlukan
karena :
1. Kandungan logam dalam cebakan mineral sedikit, hanya dalam ppm atau %
kecil sehingga harus ditentukan nilai kadar sekitarnya untuk menentukan
jumlah sumberdaya (volume dan tonnase).
2. Adanya keterbatasan data dalam sampling untuk analisis kadar maupun
interpretasi geologi.
3. Belum ada prosedur yang tepat untuk menghitung kadar dan volume.

Pentingnya permodelan dan estimasi sumberdaya bermanfaat untuk hal – hal


berikut ini :
1. Memberikan besaran kuantitas (tonase) dan kualitas terhadap suatu
endapan bahan galian.
2. Memberikan perkiraan bentuk 3 dimensi dari endapan bahan galian serta
distribusi ruang (spatial) dari nilainya. Hal ini penting untuk menentukan
sumberdaya ke tahap cadangan dan selanjutnya menentukan
urutan/tahapan penambangan, yang pada giliran nya akan mempengaruhi
pemilihan peralatan.
3. Jumlah sumberdaya menentukan umur tambang setelah diklasifikasikan ke
cadangan. Hal ini penting dalam perancangan pabrik pengolahan dan
kebutuhan infrastruktur lainnya.
4. Batas – batas kegiatan penambangan (pit limit) ke tahap cadangan dibuat
berdasarkan besaran sumberdaya.
183

Dalam melakukan estimasi sumberdaya bijih harus memperhatikan persyaratan


tertentu, antara lain :
1. Suatu taksiran sumberdaya harus mencerminkan secara tepat kondisi
geologi dan karakter/sifat dari endapan bahan galian.
2. Selain itu harus sesuai dengan tujuan evaluasi. Suatu model sumberdaya
yang akan digunakan untuk perancangan tambang harus konsisten dengan
metode penambangan dan teknik perencanaan tambang yang akan
diterapkan.
3. Taksiran yang baik harus didasarkan pada data aktual yang
diolah/diperlakukan secara objektif. Keputusan dipakai tidaknya suatu data
dalam penaksiran harus diambil dengan pedoman yang jelas dan konsisten.
Tidak boleh ada pembobotan data yang berbeda dan harus dilakukan
dengan data yang kuat dan akurat.
3.7.2.2 Basis Data Komputer dan Konsep Model Blok
1. Basis data komputer
Pembuatan suatu model sumberdaya/cadangan yang representatif dan cukup detail
tentunya membutuhkan tingkat ketelitian yang tinggi dan waktu pengerjaan yang
lama. Dengan adanya teknologi komputer pada saat ini maka sangat membantu
untuk mempermudah pekerjaan tersebut dalam pengolahan, klasifikasi, dan
interpretasi data. Data pada umumnya bisa diperoleh dari populasi cebakan bijih
dengan cara pengeboran, surface sampling, dan tunnel/stope sampling dengan
berbagai metode percontohan batuan. Pada awal pekerjaan pemodelan yang harus
dilakukan adalah mengolah data-data awal dari proses percontohan ke dalam
suatu basis data komputer sebagai input data dalam pemodelan sumberdaya secara
komputerisasi. Pada tahap ini dibutuhkan ketelitian dan waktu yang cukup lama
dalam pemasukan data. Pengecekan data / verifikasi dilakukan setelah semua data
dimasukkan ke dalam file perangkat lunak. Data- data awal ini meliputi :
a. Data collar, memberikan informasi koordinat xyz dari lokasi
pengambilan data.
b. Data assay, memuat informasi nilai kadar pada penembusan/interval
tertentu.
184

c. Data survey, memuat data azimuth, dip, dan deviasi arah pengambilan
data.
d. Data litologi, memuat tentang jenis batuan pada tiap selang
penembusan/interval tertentu.
3.7.2.3 Konsep Model Blok
Pemakaian model blok untuk memodelkan suatu cebakan mineral telah umum
dilakukan dalam industri pertambangan. Hal ini dimulai pada akhir tahun 60-an,
ketika komputer mulai digunakan di dalam pekerjaan perhitungan sumberdaya
cadangan dan perencanaan tambang. Volume 3-dimensi cebakan mineral yang
akan ditambang dibagi ke dalam unit-unit yang lebih kecil (blok/unit
penambangan terkecil). Dalam kerangka model blok inilah semua tahap pekerjaan
dilakukan, mulai dari penaksiran kadar, perancangan batas penambangan hingga
ke perencanaan tambang jangka panjang dan jangka pendek.
Model blok memudahkan dalam menaksirkan kualitas dan kuantitas di dalam
estimasi sumberdaya yang digambarkan secara lebih terperinci/spesifik detail
lokasi. Selain itu juga dapat digunakan untuk menentukan volume satuan blok
yang disesuaikan dengan dimensi penambangan. Pada umumnya dimensi ukuran
– ukuran blok pada model blok merupakan fungsi geometri endapan dan
disesuaikan dengan sistem penambangan yang digunakan.
Tergantung pada jenis cebakan mineral yang dihadapi, tujuan pembuatan model
serta metode penambangan, ukuran blok dapat berkisar dari 3 x 3 x 2 m (x,y,z)
atau lebih kecil untuk cebakan emas tipe vein, hingga 25 x 25 x 15 m atau lebih
besar untuk cebakan-cebakan berukuran masif seperti tembaga porfiri. Tiap-tiap
blok akan memiliki atribut (variabel model) misalnya topografi atau volume blok
(utuh/tidak utuh), jenis batuan, berat jenis, taksiran kadar, klasifikasi hasil
taksiran, aspek pengolahan/metalurgi dll. Semakin banyak jumlah blok dan
jumlah variabel dalam model, semakin besar pula kebutuhan memori dan mass
storage (disk space) komputer kita. Didalam estimasi sumberdaya nikel ini
digunakan model blok yang berukuran X = ½ Jarak Spasi Antar Titik Bor (1/2 x
25 m), Y = ½ Jarak Spasi Antar Titik Bor (1/2 x 25 m) dan Z = 2 m sehingga
185

ukuran blok 12,5 x 12,5 x 2 m (Berdasarkan Konvensi) untuk klasifikasi


sumberdaya terukur.
Dalam model blok ada yang dinamakan Parent Cell dan Sub Cell. Parent Cell
adalah blok yang paling utama dan paling besar dibentuk. Sedangkan Sub Cell
adalah blok – blok yang dibuat menjadi lebih kecil yang berfungsi untuk mengisi
dimensi detail pada batas tepi badan bijih / dekat boundary badan bijih yang
bertujuan untuk meningkatkan ketelitian pada perhitungan volume sumberdaya
dan estimasi kadar. Sub Cell ini mengisi dari daerah badan bijih yang tidak bisa
dicapai oleh Parent Cell. Kemudian Sub Cell ini memberikan hasil kualitas yang
sebenarnya pada badan bijih berdasarkan pendekatan terhadap kondisi badan bijih
yang sebenarnya.

3.7.3 Metode Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan


Daerah yang akan direncanakan untuk ditambang adalah berupa perbukitan yang
kenampakan topografinya ditunjukan pada peta. Metode yang digunakan untuk
penghitungan cadangan adalah Metode Poligon (area of influence), berdasarkan
kepada data penyebaran bauksit, ketebalan endapan bauksit yang relatif homogen,
dan jarak antar test pit.
1. Prinsip Daerah Pengaruh
Ada dua bentuk daerah pengaruh titik bor yaitu :
1. Daerah pengaruh keluar (Ekstended Area) adalah batas luar dari
daerah pengaruh suatu titik bor.
2. Daerah pengaruh kedalam (Included Area) adalah batas kedalam
dari daerah pengaruh suatu titik bor yang merupakan ½ dari
spacing titik bor.
Adapun faktor–faktor yang mendasari perhitungan cadangan dengan
metode daerah pengaruh adalah :
1. Pemboran yang dilakukan menggunakan pola yang tidak beraturan.
2. Bentuk dari tubuh bijih yang tidak beraturan.
2. Perhitungan Cadangan Dengan Metode Daerah Pengaruh
186

Dalam perhitungan ini yang ditinjau adalah cadangan blok dan cadangan
total, dimana untuk menghitung cadangan blok dan cadangan total rumus
yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Rumus Menghitung Cadangan Blok ;
Pb = Ab x tb x ∂
Dimana :
Ab = Luas Blok (m2)
Tb = Tebal Kadar (m)
∂ = Berat Jenis Bijih (ton/m3
Pb = Jumlah cadangan tiap blok
2. Cadangan Total :
P = ∑ Pb i

Dimana :
Pb = Jumlah cadangan tiap blok (ton)
i = 1.2.3.4…….dst
Untuk menghitung cadangan blok maka volume blok harus diketahui
dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
3. Rumus Volume Blok ;
Vb = Ab x tb
Dimana :
Vb = Volume blok (m3)
Ab = Luas blok (m2)
tb = Ketebalan kadar pada setiap blok titik bor (m)
4. Rumus Volume Total :
N

 A.T 1 = v total
I 0

Dimana :
A = luas daerah pengaruh pada setiap titik bor dalam meter (m2)
T = tabel kadar setiap lapisan pada setiap lubang bor dalam
meter bujur sangkar (m2)
187

v total = volume total (m3)


Rumus perhitungan sebagai berikut :
Volume (m³) = Luas Area (m²) × Tebal Lapisan (m)
Tonase (ton) = Volum (m³) × Density (ton/m³)
Untuk mendapatkan sumberdaya, digunakan software Surpac dengan input data
Collar, Assay, Survey, Geologi dan Topografi, sehingga didapat permodelan
sumberdaya bauksit. Berikut hasil report data jumlah sumberdaya:

Tabel 3.7
Volume dan tonnase sumberdaya menggunakan softwere surpac
Z Volume Tonnes Al
45.0 -> 47.0 27.590,63 1.468.749.37 53.37
47.0 -> 49.0 173.67,.88 9.284.582.81 53.62
49.0 -> 51.0 90.365,63 4.828.481.52 53.59
51.0 -> 53.0 76.837,50 4.060.078.65 52.97
53.0 -> 55.0 118.434,38 6.293.271.96 53.26
55.0 -> 57.0 29.896,88 1.573.502.94 52.74
57.0 -> 59.0 201.600.00 10.721.607.00 53.29
59.0 -> 61.0 79.256.25 4.210.894.94 53.24
61.0 -> 63.0 93.993.75 5.079.346.02 54.16
63.0 -> 65.0 147.600.00 7.965.515.59 54.09
65.0 -> 67.0 20.868.75 1.125.786.43 54.07
67.0 -> 69.0 16.818.75 873.990.38 52.10
69.0 -> 71.0 6.862.50 357.541.30 52.23
71.0 -> 73.0 1.378.13 70.607.72 51.24
73.0 -> 75.0 1.434.38 73.712.53 51.39
75.0 -> 77.0 871.88 4.5098.33 51.73
77.0 -> 79.0 6.975.00 382.186.28 54.94
79.0 -> 81.0 4.162.50 221.028.36 53.25
81.0 -> 83.0 5.090.63 288.496.21 57.01
83.0 -> 85.0 5.596.88 319.290.39 57.36
85.0 -> 87.0 534.38 30.535.10 57.41
87.0 -> 89.0 2.728.13 137.833.73 50.53
89.0 -> 91.0 1.828.13 92.714.16 50.73
91.0 -> 93.0 2.390.63 121.897.48 50.99
93.0 -> 95.0 1.828.13 93.227.84 51.00
Total 1.118.615.63 59.719.977.05 53.52
188

(Sumber: Hasil pengolahan data menggunakan softwere surpac)

Dari data diatas dapat dilihat jumlah volume sumberdaya 1.118.615,63 m3 dan
tonase sebesar 59.719.977,05 ton.