0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
701 tayangan251 halaman

Tekanan Vertikal dan Hukum Darcy dalam Mekanika Tanah

............

Diunggah oleh

Ful Fik Age
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
701 tayangan251 halaman

Tekanan Vertikal dan Hukum Darcy dalam Mekanika Tanah

............

Diunggah oleh

Ful Fik Age
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

MEKANIKA TANAH

KELOMPOK : GANJIL

NAMA:

ALFIN KURNIAWI (173110505)

ARIFUL F ALGHONI (173110629)

BIMA KHARISMA WARDANI (173110239)

CINTYA RAMADHANI PUTRI (173110009)

DHEA RIZKI ANANDA PRATIWI(173110609)

DONNY ADELINO (173110583)

ELENA FRANSISKA(173110715)

HARDIANSYAH PUTRA (173110517)

HARIS BUANA PUTRA (173110487)

IRFAN RAMANDA (173110481)

LISBETH ELFANI (173110673)

MUHAMMAD GIVARI (173110593)

M FERDI AFERTA (173110601)

RAHMA YANI(173110733)

RAHMAT DERMAWAN (173110489)

RIDHO MAULANA ANSAR(173110393)

TOMI JULIARDI (173110829)

SEPTIAN DWI P (173110643)

YUDHANTO BINTANG SC (173110883)

TEKNIK SIPIL

UNIVERSITAS ISLAM RIAU


7.2 Tekanan, tinggi energi dan energi total
Ada dua metode persamaan untuk menghitung besarnya tekanan vertikal di
bawah beban terpusat, yaitu metode dengan menggunakan persamaan Westergaard
dan metode dengan persamaan Boussinesq. Kedua metode tersebut menggunakan
teori elastisitas, dengan asumsi bahwa besarnya tekanan adalah sebanding dengan
besarnya desakannya. Secara implisit asumsi ini menganggap bahwa tanah
merupakan material-material sejenis (homogen) sedangkan kenyataannya jarang
dijumpai tanah yang sejenis

persamaan 1

7.2.1 Persamaan Westergaard

dengan:
σZ = tekanan vertikal padakedalaman z
P = muatan titik/muatan vertikal
μ = Poisson's ratio (ratio dari tegangan material dalam arah normal terhadap
gayayang sejajar muatan)
R = jarak dari pusat muatan terhadap suatu titik di mana o, akan ditentukan
z = kedalaman

σz. adalah tekanan vertikal pada kedalaman z akibat muatan P. Dengan


persamaan 1 akan menghasilkan nilai σz sebagai fungsi dari ke dalam (z) dan jarak
horizontal dari pusat muatan terhadap suatu titik di mana σz, akan ditentukan. Apabila
nilai p dianggap nol (0), maka persamaan 1 berubah menjadi:
persamaan 2

dengan:
σZ = tekanan vertikal pada kedalaman z
P = muatan titik/muatan vertikal
R = jarak dari pusat muatan terhadap suatu titik di mana o, akan ditentukan
z = kedalaman

7.2.2 Persamaan Boussinesq

Notasi yang terdapat dalam persamaan Boussinesq sama dengan notasi pada
persamaan Westergaard.

persamaan 3

Apabila
persamaan 4

Persamaan Boussinesq juga mendasarkan bahwa besarnya tekanan vertikal


(σz) merupakan fungsi dari jarak vertikal (z) dan jarak horizontal (r). Untuk nilai r/z
rendah dengan persamaan Boussinesq akan memberikan nilai o yang lebih besar
daripada dengan menggunakan Persamaan Westergaard sehingga persamaan
Boussinesq lebih banyak digunakan.

Karena k merupakan fungsi dari r/z, maka dapat dibuat hubungan antara k
Dan r/zdari berbagai nilai sebagai berikut, lihat Tabel 1.
Tabel 1. Hubungan r/z
r/z K r/z K
0.0 0.478 1.5 0.025
0.1 0.466 1.6 0.020
0.2 0.433 1.7 0.016
0.3 0.385 1.8 0.013
0.4 0.329 1.9 0.011
0.5 0.273 2.0 0.009
0.6 0.221 2.1 0.007
Tekanan Vertikal dalam Tanah di Bawah Muatan Telapak (Muatan Merata).
Untuk menghitung besarnya tekanan vertikal di bawah muatan telapak dapat
dilakukan dengan empat metode, yaitu Metode Pendekatan, Metode Boussinesq,
Metode Newmark, dan Metode Fadum.

Metode Pendekatan
Metode pendekatan ini didasarkan pada asumsi bahwa tekanan di bawah
fondasi telapak akan disebarkan ke dalam tanah dengan kemiringan penyebaran 2:l,
lihat Gambar 3. Sesuai dengan ketentuan di atas, maka besarnya tekanan vertikal
pada kedalaman adalah:

Gambar 3 : penyebaran tekanan dengan metode


pendekatan

dengan:
σz = tekanan vertikal pada
z = kedalamanz
P = muatan terpusat
z = kedalaman
L = panjang fondasi
B = lebar fondasi
σ0 = tekanan vertikal di dasar
fondasi

Bila fondasi bangunan didukung oleh sekelompok tiang pancang, pola


penyebarantekanan diasumsikan sebagai berikut, lihat Gambar 4
gambar 4: penyebaran tekanan pada fondasi tiang pancang

7.3 Hukum Darcy

Prinsip yang mengatur bagaimana cairan bergerak di bawah permukaan disebut


hukum Darcy. Hukum Darcy adalah persamaan yang mendefinisikan kemampuan
suatu fluida mengalir melalui media berpori seperti batu. Hal ini bergantung pada
kenyataan bahwa jumlah aliran antara dua titik secara langsung berkaitan dengan
perbedaan tekanan antara titik-titik, jarak antara titik-titik, dan interkonektivitas jalur
aliran dalam batuan antara titik-titik. Pengukuran interkonektivitas disebut
permeabilitas.

di bawah permukaan, batuan diendapkan pada lapisan. Aliran fluida dalam dan di
antara lapisan batuan diatur oleh permeabilitasbatuan. Namun, untuk
memperhitungkan permeabilitas, harusdiukur baik dalam arah vertikal dan
horisontal. Sebagai contoh,serpih biasanya memiliki permeabilitas yang jauh lebih
rendahdaripada vertikal horizontal (dengan asumsi datar berbaring serpihtempat
tidur). Ini berarti bahwa sulit untuk cairan mengalir naik turun melalui tempat
tidur serpih tetapi jauh lebih mudah untuk itumengalir dari sisi ke sisi. Contoh yang
baik dari karakteristik iniditunjukkan pada gambar di sebelah kiri; yang jelas
menunjukkanbahwa akan lebih mudah bagi air
untuk mengalir sepanjangperlapisan horisontal dalam serpih di mana ada aliran
alami jalurbukan vertikal di mana ada beberapa jalur aliran .
Pada akhirnya, jika perbedaan tekanan antara zona hidrolik retakdan akuifer air
tawar tidak besar, jarak antara zona relatif besar,dan ada batuan dengan
permeabilitas vertikal yang rendah diantara lebih dalam dan zona dangkal,
aliran antara zona tidak mungkin terjadi. Pengecualian untuk ini adalah di
mana ada jaluraliran terpisah seperti lubang bor terbuka
atau serangkaiankesalahan atau sendi yang bersinggungan kedua zona retak
danakuifer air tawar. Di bawah salah satu dari keadaan ini, perbedaan tekanan dan
jarak akan menjadi faktor penentu, apakah cairandapat bermigrasi dari bagian bawah
ke zona atas.

Untuk mereka yang memiliki minat lebih besar dalam prinsip-prinsip matematika di
balik aliran fluida di bawah permukaan, berikut ini adalah deskripsi
dari Hukum Darcy:

Hukum Darcy adalah persamaan yang mendefinisikankemampuan suatu


fluida mengalir melalui media berpori sepertibatu. Hal ini bergantung pada prinsip
bahwa jumlah aliran antara dua titik adalah berbanding lurus dengan perbedaan
tekananantara titik-titik dan kemampuan media melalui yang mengaliruntuk
menghambat arus. Berikut tekanan mengacu pada kelebihantekanan lokal atas
tekanan hidrostatik cairan normal yang, karena gravitasi, meningkat
dengan mendalam seperti di kolom berdiriair. Ini faktor impedansi aliran ini disebut
sebagai permeabilitas.Dengan kata lain, hukum Darcy adalah
hubungan proporsionalsederhana antara tingkat debit sesaat melalui media
berpori danpenurunan tekanan lebih dari jarak tertentu.

Dalam format modern, menggunakan konvensi tanda tertentu,


hukum Darcy biasanya ditulis sebagai:
Q =-KA dh / dl

dimana:
Q = laju aliran air (volume per waktu)
K = konduktivitas hidrolik
Sebuah kolom = luas penampang lintang
dh / dl = gradien hidrolik, yaitu, perubahan kepala panjang bunga.

Berikut ini adalah ekspresi diagram Hukum Darcy:

Saat menghitung kemungkinan aliran fluida dari zona hidrolik retak ke zona air tawar
penerapan hukum Darcy sangat penting karena akan menetapkan kondisi spesifik di
mana cairan dapat mengalir dari satu zona ke yang lain dan akhirnya akan
menentukan apakah atau tidak rekah hidrolik cairan dapat mencapai zona air segar.

Darcy direferensikan untuk campuran sistem unit. Sebuah medium dengan


permeabilitas 1 Darcy memungkinkan aliran 1 cm ³ / s dari cairan dengan viskositas 1
cP (1 MPa · s) di bawah gradien tekanan 1 atm / cm akting di seluruh luas 1 cm ².
Sebuah millidarcy (mD) sama dengan 0,001 Darcy.

7.3.1 catatan mengenai hukum darcy

Aliran Air di Kerangka Solid – Hukum Darcy

Hukum Darcy adalah suatu hukum phenomenologic (empirik) dari debit aliran air
yang diformulasikan oleh Henry Darcy berdasarkan hasil eksperimental yang
dilakukannya pada paruh pertama abad ke 19.

Hukum Konstitutif
Hukum konstitutif atau persamaan konstitutif adalah persamaan yang
menghubungkan dua besaran fisika.
Contoh paling sederhana dari hukum konstitutif adalah Hukum Hooke yang
menyatakan bahwa pada kondisi elastis, hubungan tegangan dan regangan satu
dimensi dapat diformulasikan sbb:

Dimana dua besaran yang dihubungkan dalam hukum Hooke diatas adalah tegangan
dan regangan. Hukum konstitutif sangat beragam, dan beberapa hukum konstitutif
sangat sering kita gunakan dalam dunia teknik secara umum.
Bila kita sering menggunakan berbagai program elemen hingga, secara otomatis kita
telah menggunakan berbagai persamaan konstitutif yang tentunya sangat beragam.
Tergantung dari material yang akan digunakan, perilaku material yang ingin
dimodelkan (elastis, plastis, dsb), jenis beban yang diberikan (statik, dinamik), dan
lain sebagainya.
Pada banyak kasus, penggunaan hukum konstitutif yang tepat sangat instrumental
dalam usaha mendapatkan prediksi perilaku struktur/material yang representatif.
Saya sengaja menyinggung hukum konstitutif secara singkat, karena ini berkaitan
dengan proses penurunan di bagian selanjutnya.

Persamaan Navier-Stokes
Persamaan ini dinamai dari dua orang insinyur dan matematikawan, yang masing-
masing bernama Claude Louis Navier dari Prancis dan George Gabriel Stokes dari
Inggris.
Memahami persamaan ini akan membuka pintu dalam memahami berbagai formulasi
dalam mekanika benda padat (solid mechanics), maupun mekanika fluida (fluid
mechanics).
Bila mencermati tulisan saya yang sebelum ini mengenai persamaan Bernoulli.
Sesungguhnya saya telah menurunkan persamaan Navier-Stokes secara umum.
Dimana persamaan Navier-Stokesnya?
Saya akan kembali mengulas posting sebelumnya, pertama-tama tentunya dimulai
dari hukum gerak Newton

Untuk lebih memahami persamaan ini, silakan membaca ulasan saya


mengenai hukum gerak Newton.
Menggunakan teori Gauss/Green/Ostogradsky, kita dapat tuliskan persamaan diatas
menjadi:

Karena kita tahu bahwa tensor tegangan Cauchy terdiri dari bagian spherical dan
deviatoriknya:
Maka persamaan sebelumnya dapat ditulis menjadi

Inilah salah satu bentuk paling umum dari persamaan Navier-Stokes. Saya katakan
umum karena biasanya di turunan persamaan Navier-Stokes kita juga memasukkan
hukum konstitutif dari material yang terkait.

Persamaan Stokes
Kalau persamaan diatas sudah dipahami, sekarang untuk kasus aliran air yang
laminer, alias yang memiliki angka Reynolds rendah, maka kita menyederhanakan
persamaan Navier-Stokes diatas menjadi persamaan Stokes. Cat: Angka Reynolds
merupakan angka tak berdimensi yang menggambarkan perilaku fluida yang
laminer/turbulen.
Pada kasus rembesan (seepage), kecepatan aliran air sangat lambat, oleh karena itu
aliran fluidanya laminer, oleh karena itu kita dapat mengabaikan efek inertia dari
hukum gerak Newton.

Sehingga hanya kesetimbangan gaya saja yang tersisa, ini analog dengan kasus statik
pada problem struktur. Oleh karena itu persamaan Navier-Stokes diatas dapat ditulis
dalam persamaan Stokes berikut:

Fluida Newtonien
Sekarang bayangkan suatu fluida mengalir di suatu permukaan tertentu. Coba
imajinasikan bahwa yang mengalir adalah sup. Sup adalah fluida yang memiliki
viskositas yang terlihat dengan jelas.

Ketidakseragaman kecepatan aliran fluida ini menghasilkan tegangan deviatorik


(geser), yang mana untuk fluida dengan tipe Newtonien (fluida yang memiliki
hubungan linear antara tegangan geser dan kecepatan deformasi) dapat
diformulasikan dengan persamaan konstitutif berikut:
Persamaan diatas terlihat rumit, namun sebenarnya hanya menjelaskan bahwa untuk
fluida Newtonien, tegangan deviatorik di fluida dan kecepatan

deformasinya , memiliki hubungan linear dengan konstanta yang


menyatakan tingkat viskositas dari fluida yang bersangkutan.
Karena pada aliran fluida diatas, hanya kecepatan pada arah paralel permukaan yang
bervariasi pada arah vertikal penampang, maka hanya salah satu arah

dari yang memiliki nilai, sehingga persamaan konstitutifnya seringkali


ditulis menjadi

Dengan adalah arah paralel permukaan


Untuk kasus yang lebih umum, bila kita injeksikan hukum konstitutif diatas ke
persamaan Stokes, maka kita peroleh:

7.3.2 catatan mengenai kecepatan rembesan

Rembesan Air Dalam Tanah

Rembesan air dimaksudkan untuk mengukur kemampuan tanah dilewati oleh air
melalui pori-porinya.

Menurut hukum Darcy, debit air (Q) yang melalui penampang massa tanah (A)
adalah :
Q=kiA
Keterangan
k = koefisien rembesan (coefficient of permeability)

i = gradien hidrolik
Satuan yang biasa dipakai adalah cm/det, dalam sistim cgs dan ft/day dalam
satuan f.p.s
Koefisien Rembesan (k) dalam laboraturium dapat ditentukan sebagai berikut :
a) Pengukuran dalam “Tegangan Tetap” (Constant Head)
b) Pengukuran dalam “Tegangan Berubah” (Variable/Falling Head)
Pengukuran Dalam “Tegangan Tetap”
Sejumlah air di alirkan melalui kumpulan tanah yang akan di selidiki. Debit (Q) dapat
ditentukan dengan isi air yang keluar dibagi jumlah waktu yang digunakan.

Pengukuran dalam “Tegangan Berubah”

Penurunan air dalam jangka waktu dt dan dh.

Dengan hukum Darcy, banyaknya air dalam jangka waktu dt adalah :

dQ = k * h/L * A * dt

dQ = adh ; a = luas pipa

– a*dk = k * h/L * A * dt
– a * dh/h = k * A/L * dt

Integrasi antara batas h1 sampai dengan h2 dan O sampai dengan t

Aliran air yang melalui pori tanah di anggap laminer dan debitnya dapat dinyatakan
sebagai berikut :

Dimana :

Ck = adalah konstanta

D = tergantung pada ukuran butir tanah

µ, ∂w, dan e mempunyai nilai seperti biasanya.


Faktor – faktor yang mempengaruhi koefisien rembesan :
a) Ukuran butiran tanah
Menurut Allen azen, koefisien rembesan pasir dapat dinyatakan sebagai berikut :

D10 dalam cm dan k dalam cm/det


b) Sifat dan pori cairan
Dinyatakan dengan ∂w/µ
c) Kadar pori

Sesuai dengan persamaan barusan d atas, k adalah perbandingan langsung dari

Ck adalah faktor yang tergantung pada ketelitian pemasangan pipa pada tanah.
d) Susunan struktur parikel
Daya Rembesan Dari Tanah yang Berlapis-lapis
Susunan lapisan tanah pada gambar dalam II – 3, masing-masing lapis dari tanah
adalah homogen tersendiri.
7.4 Pengukuran Koefisien Rembasan

Rembesan air dimaksudkan untuk mengukur kemampuan tanah dilewati oleh air
melalui pori-porinya.

Menurut hukum Darcy, debit air (Q) yang melalui penampang massa tanah (A)
adalah :
Q=kiA
Keterangan
k = koefisien rembesan (coefficient of permeability)

i = gradien hidrolik

Satuan yang biasa dipakai adalah cm/det, dalam sistim cgs dan ft/day dalam
satuan f.p.s
Koefisien Rembesan (k) dalam laboraturium dapat ditentukan sebagai berikut :
a) Pengukuran dalam “Tegangan Tetap” (Constant Head)
b) Pengukuran dalam “Tegangan Berubah” (Variable/Falling Head)
Pengukuran Dalam “Tegangan Tetap”
Sejumlah air di alirkan melalui kumpulan tanah yang akan di selidiki. Debit (Q) dapat
ditentukan dengan isi air yang keluar dibagi jumlah waktu yang digunakan.

Pengukuran dalam “Tegangan Berubah”


Penurunan air dalam jangka waktu dt dan dh.

Dengan hukum Darcy, banyaknya air dalam jangka waktu dt adalah :

dQ = k * h/L * A * dt

dQ = adh ; a = luas pipa

– a*dk = k * h/L * A * dt

– a * dh/h = k * A/L * dt

Integrasi antara batas h1 sampai dengan h2 dan O sampai dengan t


Aliran air yang melalui pori
tanah di anggap laminer dan debitnya dapat dinyatakan sebagai berikut :

Dimana :

Ck = adalah konstanta

D = tergantung pada ukuran butir tanah

µ, ∂w, dan e mempunyai nilai seperti biasanya.

Faktor – faktor yang mempengaruhi koefisien rembesan :


a) Ukuran butiran tanah
Menurut Allen azen, koefisien rembesan pasir dapat dinyatakan sebagai berikut :
D10 dalam cm dan k dalam cm/det
b) Sifat dan pori cairan
Dinyatakan dengan ∂w/µ
c) Kadar pori

Sesuai dengan persamaan barusan d atas, k adalah perbandingan langsung dari

Ck adalah faktor yang tergantung pada ketelitian


pemasangan pipa pada tanah.
d) Susunan struktur parikel
Daya Rembesan Dari Tanah yang Berlapis-lapis
Susunan lapisan tanah pada gambar dalam II – 3, masing-masing lapis dari tanah
adalah homogen tersendiri.
a) Aliran sejajar lapisan
Q = V1h1 + V2h2 + V3h3 + . . . . . . . . . . . . . . .
Kecepatan rata-rata
7.5 Persamaan Umum untuk Rembesan Air di Dala Tanah
Abstrak

Pergerakan air dalam tanah merupakan bagian dari siklus hidrologi. Pergerakan
air dalam tanah, pada umumnya air bergerak dengan aliran relatif lambat atau dalam
kondisi laminer dapat dianalisa dengan menggunakan hukum Darcy. Bila hukum
Darcy dan persamaan kontinuitas digabungkan diperoleh persamaan differensial
Laplace sebagai persamaan umum perembesan air ke dalam tanah. Berdasarkan
persamaan differensial Laplace telah dilakukan pemodelan dua dimensi distribusi
tegangan dan distribusi kecepatan perembesan air ke dalam tanah secara analitik
menggunakan metoda pemisahan variabel. Hasil pemodelan distribusi tegangan dan
distribusi kecepatan perembesan menunjukkan bahwa nilai distribusi tegangan dan
distribusi kecepatan mengalami penurunan jika semakin jauh dari sumber
perembesan.

1. Pendahuluan
Semua macam tanah terdiri dari butir-butir dengan ruangan-ruangan yang
disebut pori (voids) antara butir-butir tersebut. Pori-pori ini selalu
berhubungan satu dengan yang lain sehingga air dapat mengalir melalui
ruangan pori tersebut. Proses ini disebut rembesan (seepage) dan kemampuan
tanah untuk dapat dirembes air disebut daya rembesan (permeability).
Sebenarnya bukan hamya tanah yang mempunyai daya rembesan tetapi
banyak bahan bangunan lain seperti beton dan batu juga mengandung pori-
pori sehingga dapat dirembes oleh air. Soal rembesan air dalam tanah cukup
penting dalam bidang geoteknik, misalnya pada soal pembuatan tanggul atau
bendungan untuk menahan air, juga penggalian pondasi dimuka air tanah.

Pergerakan air dalam tanah merupakan bagian dari siklus hidrologi.


Pergerakan air dalam tanah, pada umumnya air bergerak dengan aliran relatif
lambat atau dalam kondisi laminer dapat dianalisa dengan menggunakan
hukum Darcy. Dalam makalah ini, hukum Darcy digunakan pada kondisi
jenuh untuk dua dimensi sebagai dasar pengembangan persamaan dasar aliran
air tanah. Ada dua tujuan utama yang menjadi fokus perhatian dalam
pemodelan perembesan air ke dalam tanah. Pertama, pemodelan dilakukan
untuk mengetahui bagaimana distribusi tegangan air dalam tanah akibat
perembesan itu. Kedua, pemodelan dilakukan untuk mengetahui bagaimana
distribusi laju perembesan dalam tanah berdasarkan model tinjauan yang akan
diselasaikan. Dengan mengetahu distribusi kecepatan perembesan dalam
tanah maka dapat diperhitungkan banyaknya air yang akan merembes dan
kemana arah perembesan air itu. Manfaat dari pemodelan perembesan air
dalam tanah adalah untuk mengetahui banyaknya air dan arah air yang akan
merembes serta tegangan air dalam tanah akibat perembesan itu sehingga
pengguna air dapat memperoleh gambaran bagaimana melakukan konsevasi
sumber daya air dalam tanah agar tetap terpelihara. Jadi kita tidak hanya terus-
menerus menguras air dari dalam tanah tetapi penting sekali ada usaha
bagaimana cara mengisi kembali pori-pori tanah yang kosong untuk diisi
kembali pada musim penghujan.

2. Metoda Penelitian
Secara umum tanah dapat didefinisikan sebagai suatu tubuh alam di
permukaan bumi yang terjadi akibat bekerjanya gaya-gaya alami terhadapa
bahan alami (Wesley, 1977). Rembesan air dalam tanah hampir selalu
berjalan secara linier, yaitu jalan atau garis yang ditempuh merupakan garis
dengan bentuk yang teratur (smooth curva). Dalam hal ini kecepatan
perembesan adalah menurut suatu hukum yang disebut hukum Darcy (Darcy’s
law). Prinsip hukum ini dapat dilihat pada Gambar 1.

h masukan l=40 cm r = 2,75 cm keluaran Pada gambar ini diperlihatkan rembesan air
pada suatu contoh tanah akibat adanya perbedaan tegangan air pada kedua ujung
tersebut. Ketinggian air pada pipa ini disebut hidrolis head (h). Air akan mengalir dari
kiri ke kanan jika terdapat hidrolis head. Darcy dalam eksperimennya menemukan
hubungan proporsional antara kecepatan perembesan (v) dengan gradien hidrolis head
(i =dh/dl) yang dapat dituliskan sebagai berikut :

Gambar 1. Rembesan air dalam tanah akibat gradien hidrolis

Pada gambar ini diperlihatkan rembesan air pada suatu contoh tanah akibat adanya
perbedaan tegangan air pada kedua ujung tersebut. Ketinggian air pada pipa ini
disebut hidrolis head (h). Air akan mengalir dari kiri ke kanan jika terdapat hidrolis
head. Darcy dalam eksperimennya menemukan hubungan proporsional antara
kecepatan perembesan (v) dengan gradien hidrolis head (i =dh/dl) yang dapat
dituliskan sebagai berikut :

v = Ki (1)

Dimana, v = kecepatan perembesan

i = gradien hidrolik
K = konstanta konduktivitas hidrolik

Besarnya harga K dari suatu jenis tanah tergantung antara lain oleh ukuran diameter
butir dan pori. Bila diameter butirnya sangat halus, walupun porositasnya sangat
tinggi, seperti misalnya lempung maka harga K sangat rendah. Di sini yang perlu
diperhatikan adalah ukuran butir, bukan porositasnya. Gambar 2 yang
memperlihatkan kisaran harga K yang lebih lebar untuk beberapa formasi geologis
(Spitz dan Moreno, 1996).

Gambar 2 Kisaran konduktivitas hidrolik (K) untuk beberapa formasi geologi


(sumber: dimodifikasi dari Spitz dan Moreno, 1996)

Rumus atau persamaan yang merupakan dasar untuk pemecahan soal-soal rembesan
dapat ditentukan dengan menghitung banyaknya air yang masuk dan keluar dari suatu
segmen dalam tanah. Air yang masuk dan keluar dari segmen disebut persamaan
kontinuitas ( continuity equation). Persamaan kontinuitas dapat dilihat pada
persamaan
Dengan memasukkan persaman kecepatan dari hukum Darcy ke dalam persamaan
kontinuitas maka diperoleh persamaan sebagai berikut.

Persamaan ini dikenal dengan nama persamaan Laplace (Laplace equation).


Persamaan Laplace ini tidak hanya berlaku untuk perembesan air dalam tanah, tetapi
juga untuk aliran listrik pada bahan konduktot dan perpindahan panas secara
konduksi dalam medium.

Ketinggian tekanan pada suatu titik dapat dinyatakan sebagai hidrolis head (h). Nilai
h tergantung dari x dan y, yaitu h = f(x,y). Kecepatan aliran pada jurusan horisontal
dan vertikal dapat dihitung dari fungsi h dengan memakai rumus Darcy. Pemecahan
soal-soal rembesan dapat dipermudah dengan memakai suatu fungsi U yang
dinamakan “velocity potential”. Defenisi U adalah U = -Kh + d, dimana K adalah
koefisien rembesan dan d adalah konstanta. Pada setiap garis equipotensial nilai h dan
U adalah konstan. Hubungan antara garis equipotensial dengan garis aliran dapat
ditentukan dengan menghitung kemiringan kedua macam garis ini. Pada garis
equipotensial nilai U adalah konstan sehingga turunan parsial U terhadap x dan y
sama dengan nol. Dengan demikian, apabila gradien garis aliran dikalikan dengan
gradien garis equipotensial maka akan didapatkan sama dengan negatif satu (-1)
(Wesley, 1977). Ini berarti bahwa garis equipotensial tegak lurus terhadap garis
aliran. Pada tanah yang homogen atau seragam hal ini selalu benar, sehingga
rembesan air didalam tanah dapat digambarkan sebagai deretan garis equipotensial
dan deretan garis aliran yang saling berpotong-potongan secara tegak.

3. Hasil Penelitian dan Pembahasan Salah satu solusi analitik dari persamaan
differensial Laplace adalah menggunakan metoda pemisahan variabel (MPV).
Misalkan untuk menyelesaiakan persoalan Dirichlet persamaan differensial Laplace
hidrolis head h, penerapan syarat batas tipe Dirichlet h(a,0), h(0,b), h(1,b) sama
dengan nol dan h(a,1) sama dengan f(a) maka diperoleh solusi analitik MPV
(Kreyzig, 1980). Penerapan syarat Dirichlet dalam bidang R dapat dilihat pada
Gambar 3.

Gambar 3 Bidang tinjauan yang dirembes air dan syarat batas


Solusi persamaan Laplace menggunakan metoda pemisahan variabel dengan
menerapkan syarat batas seperti pada Gambar 3 diperoleh persamaan (4) sebagai
berikut.

Di mana n = 1, 2, 3, .., adalah bilangan bulat dan konstanta π = 3,14159. Turunan


persamaan (4) terhadap suku a dan b adalah,

Hasil perhitungan menggunakan persamaan (4) dapat diperoleh distribusi tegangan


dalam bidang tinjauan pada Gambar 3. Distribusi tegangan air dalam tanah bidang
tinjauan R dapat dilihat pada Gambar 4. Tegangan air pada Gambar 4 menunjukkan
bahwa semakin jauh dari dari sumber maka tegangan air akan semakin kecil.
Penurunan tegangan tersebut karena penurunan hidrolis head terhadap jarak yang
dilalui. Bila dikaitkan dengan fakta yang ada dilapangan dapat dipahami bahwa
penurunan tegangan air yang masuk ke dalam tanah disebabkan oleh pergesekan dan
tumbukan antara air dengan butiran-butiran tanah yang dilalui. Sedangkan tanda garis
panah menunjukkan arah perembesan air yang tegak lurus dengan kontur tegangan.
Gambar 4 Distribusi Tegangan dalam tanah

7.6 keadaan Aliran Tetap, Persamaan Laplace, dan Jaringan Aliran

Garis aliran adalah suatu garis sepanjang mana butir-butir akan bergerak dari bagian
hulu ke bagian hilir sungai melalui media tanah yang tembus air (permeable). Garis
ekipotensial adalah suatu garis sepanjang mana tinggi potensial di semua titik pada
garis tersebut adalah sama. Jadi apabila alat-alat piezometer diletakkan di beberapa
titik yang berbeda-beda di sepanjang suatu garis ekipotensial, air di dalam piezometer
tersebut akan naik pada ketinggian yang sama. Gambar 3 a menunjukkan definisi
garis aliran dan garis ekipotensial untuk aliran di dalam lapisan tanah yang tembus air
(permeable layer) di sekeliling jajaran turap yang ditunjukkan pada gambar tersebut
(untuk kx = kz = k)
Kombinasi dari beberapa garis aliran dan garis ekipotensial dinamakan jaringan aliran
(flow net). Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa jaringan aliran dibuat untuk
menghitung aliran air tanah.
Gambar.3 a) Definisi garis aliran dan garis ekipotensial.
b)Gambar jaringan aliran yang lengkap
7.6.1 PENGGAMBARAN JARINGAN ALIRAN

Dalam pembuatan jaringan aliran, garis-garis aliran dan ekipotensial digambar


sedemikian rupa sehingga :

1. Garis ekipotensial memotong tegak lurus aliran


2. Elemen-elemen aliran dibuat kira-kira mendekati bentuk bujur sangkar.
Gambar 3. b adalah suatu contoh jaringan aliran yang lengkap. Contoh lain dari
jaringan aliran dalam lapisan tanah yang tembus air yang isotropic diberikan dalam
gambar.4.

Penggambaran suatu jaringan aliran biasanya harus dicoba berkali-kali. Selama


menggambar jaringan aliran, harus selalu diingat kondisi-kondisi batasnya. Untuk
jaringan aliran yang ditunjukkan dalam gambar.4 , keadaan batas yang dipakai adalah
:

1. Permukaan lapisan tembus air pada bagian hulu dan hilir dari sungai (garis ab
dan de) adalah garis-garis ekipotensial.
2. Karena garis ab dan de adalah garis-garis ekipotensial, semua garis-garis
alirannya memotomh tegak lurus.
3. Batas lapisan kedap air, yaitu garis fg, adalah garis aliran ; begitu juga
permukaan turap kedap air, yaitu garis acd.
4. Garis-garis ekipotensial memotong acd dan fg tegak lurus.
Gambar 4. Jaringan aliran di bawah bendungan.
7.6.2 PERHITUNGAN REMBESAN DARI SUATU JARINGAN ALIRAN

Di dalam jaringan aliran (flow net), daerah di antara dua garis aliran yang berdekatan
dinamakan saluran aliran (flow channel). Untuk memahami perhitungan rembesan
yang melalui saluran aliran per satuan lebar (tegak lurus terhadap bidang gambar)
perhatikan gambar.5. Dengan melihat persegi dengan dimensi a x b. Dapat dilihat
bahwa gradien hidrolik adalah :

h h hL / Nd
i  
l b b

dimana : b  l . Penurunan energi potensial (potential drop) di antara 2 garis adalah


: h  hL / Nd , dimana Nd adalah jumlah total potential drop, dan hL adalah
kehilangan energi total dalam sistem. Dari hukum darcy kita tahu bahwa jumlah
aliran tiap flow channel adalah :

h  hL / Nd 
q  k A  k a
l  b 

dan q total per satuan kedalaman adalah :

 a  Nf 
q  qNf  k hL   
 b  Nd 

di mana :
Nf : jumlah total flow channel dalam flow net.
Nd : jumlah potential drop (banyaknya bidang bagi kehilangan energi
potensial)
k : koefisien permeabilitas tanah
hL : kehilangan energi total (perbedaan tinggi muka air pada bagian hulu
dan hilir)
q : banyaknya air yang mengalir (jumlah total aliran).

Di dalam menggambar flow net , semua alirannya tidak harus dibuat bujur sangkar.
Hanya perhitungan menjadi lebih mudah apabila perbandingan panjang dan lebar
dibuat sama
( a = b)
Gambar 5. Flow net yang mengilustrasikan definisi perhitungan debit

7.6.3 TEKANAN KE ATAS (UPLIFT PRESSURE) PADA DASAR


BANGUNAN AIR.
Jaringan aliran dapat dipakai untuk menghitung besarnya tekanan ke atas yang
bekerja pada dasar sautu bangunan air . Cara perhitungannya dapat ditunjukkan denga
suatu contoh yang sederhana. Gambar .6 menunjukkan sebuah bendungan dimana
dasarnya terletak pada kedalaman 6 ft di bawah muka tanah. Jaringan aliran yang
diperlukan sudah digambar (dianggap kx = ky = k). Gambar distribusi tegangan yang
bekerja pada dasar bendungandapat ditentukan dengan cara mengamati garis-garis
ekipotensial yang telah digambar.

Ada tujuh buah penurunan energi potensial (Nd) dalam jaringan aliran tersebut, dan
perbedaan muka air pada bagian huku dan hilir sungai adalah H = 21 ft. Jadi
kehilangan tinggi energi untuk tiap-tiap penurunan energi potensial adalah H/ 7 =
21/7 = 3. Tekanan ke atas (uplift pressure) pada titik-titik berikut adalah :

Titik a (ujung kiri dasar bendungan) = (tinggi tekanan pada titik a ) x (γw)

= ((21 +6)-3) γw = 24 γw

Dengan cara yang sama, pada b = (27-(2)(3) γw = 21γw

Dan pada f = (27 – (6)(3) γw = 9 γw

tekanan ke atas tersebut yang telah dihitung tersebut kemudian digambar seperti
ditunjukkan dalam gambar .6.b. Gaya ke atas (uplift force) persatuan panjang, yang
diukur sepanjang sumbu bendungan, dapat dihitung dengan menghitung luas diagram
tegangan yang digambar tersebut.
Gambar 6. (a)Bendungan, (b) Gaya angkat ke atas yang bekerja pada dasar suatu
bangunan air
SOAL TUGAS :

1) a) Gambarkan jaringan aliran untuk rembesan di bawah suatu struktur seperti


pada gambar berikut dan hitunglah besarnya rembesan jika koefisien
permeabilitas tanah adalah 5 x 10-5 m/detik.
b) Berapakah gaya angkat (uplift) pada dasar struktur ?
7.7 Gradien Hidrolik Kritis

Apabila suatu tekanan dikerjakan pada lapisan pasir sehingga menimbulkan


aliran air yang cukup memberikan keseimbangan terhadap gaya kearah bawah, maka
muncul kondisi yang tidak stabil. Pasir dalam kondisi ini (pasir lepas dan butiran
pasir bercampur air dalam keadaan kental/liquid tanpa tegangan geser) disebut quick
sand.

Pada bidang dasar pasir, gaya total kearah bawah adalah sama dengan berat pasir
jenuh.
LA = . LA

Gaya tekan keatas adalah dari seliisih tinggi muka air, (h + L) pada luas penampang :

A= ( h + L ). A

Apabila kedua gaya adalah sama, maka gaya kearah bawah dasar tidak ada
efeknya dan berarti tidak ada gaya yang bekerja untuk mencegah mengalirnya pasir
dalam wadah/container.

Jadi : . LA = ( h + L ) A , Atau : LA ( - 1) = hA

= = =

h/L adalah gradient pada tanah, dimana tekanan efektif dalam bidang horizontal
dikurangi sampai nol dan ini disebut gradient hidrolik kritis.

7.7.1 Pasir Hisap

Pasir hisap pada dasarnya pasir biasa yang bercampur air sehingga ikatan
antar partikelnya berkurang dan tidak mampu menahan beban tertentu. Campuran
tersebut seringkali ditemukan di delta atau sekitar sungai-sungai besar. Pasir hisap
juga dapat terbentuk setelah gempa bumi yang menyebabkan air dari reservoir di
dalam tanah merembes ke permukaan tanah. Pasir hisap menjadi sangat berbahaya
karena dapat menyebabkan ambruknya jembatan atau bangunan.

Namun, kemungkinan seseorang tenggelam ke dalam pasir hisap bisa


dikatakan nol. “Gambaran Holywood salah,” kata Thomas Zimmie, seorang ahli
mekanika tanah di Ransellar Polytechnic Institute di Troy, New York. Meskipun
demikian, para ilmuwan tidak letih untuk membuktikan kebenaran mitos tersebut
secara ilmiah. Daniel Bonn berpikir untuk membangun model pasir hisap di
laboratorium sejak berkunjung di Iran. Jatuhnya objek ke pasir hisap menyebabkan
pastikel pasir bercampur air kehilangan kestabilan. Jika terus diberi tekanan,
campuran tersebut akan berubah menjadi lebih cair di permukaan dan sangat padat di
dasarnya. “Semakin besar tekanannya, semakin banyak cairan yang terbentuk di pasir
hisap sehingga gerakan korban membuatnya terperosok semakin dalam,” kata Daniel
Bonn, pemimpin penelitian dari University of Amsterdam

7.7.2 Contoh Soal

1. Kita akan menyelidiki rmbesan pada galian dibawah muka air yang menggunakan
dinding turap (sheet piles) untuk menahan sisi galian. Sheet pile merupakan lembaran
baja khusus yang saling menyambung untuk menjadi penghalang rembesan.
Kedalaman air adalah 2 meter. Tanah tersebut adalah pasir seragam , dibawahnya
terdapat batuan keras. Pangkang dinding turap adalah 20 meter yang dimasukkan
hingga kedalaman 17 meter dibawah dasar danau. Tentukanlah

a. Gradian Hidrolik pada dasar galian dan faktor keamanan terdapat keruntuhan gaya
angkat.

b. Kecepatan aliran ke dalam galian


c. Tinggi energi dan tekanan air pori pada titik P

Penyelesaian :

a. Gradian hidrolik pada dasar galian.

Kehilangan tinggi total = 12 m, Jumlah penurunan energi jalur antara ekipotensial =


12, kehilangan tinggi energiantara ekipotensial = 12/22 = 1,0 m, kita harus
menentukan jarak paling pendek pada kota yang terbentuk pada dasar galian. Karena
aliran yang memasuki dasar galian hamper vertical, keempat lotak disini hamper
sama dengan ukuran sisinya 1,5 m.

Gradian hidrolik keluar menjadi 1/1,5 = 0,67

Gradian hidrolik kritis = 19/9,8 – 1 = 0,94


FA terhadap runtuhan = 0,94/0,67 = 1,4

FA harus diantara 2-2,5 maka FA diatas kurang memnuhi syarat .

b. Kecepatan aliran dalam galian :

kecepatan aliran = 12 x 6 x 10⁻⁷ x 4/12 = 2,4 x 10⁻⁶ m3/dt/m sepanjang galian.

Aliran total = 4,8 x 10⁻⁶ m3/dt

c. Tekanan pori pada titik P :

Kita dapat menghitung dari ujung hulu dan ujung hilir pada jaringan aliran. Kita akan
menggunakan hulu, dari ujung hulu sampai titik P ini jumlah penurunan energi = 2,7
(kira-kira) Kehilangan tinggi energi sampai pada titik P menjadi 2,7 m, dan tinggi
energi tegangan pada titik P adlah 17+2-2,7 = 16,3 m, sehimgga tekanan air pori =
16,3 x 9,8 = 159,7 kPa

7.8 JARINGAN ALIRAN TAKTERKEKANG(TERTEKAN ) DAN AIR


TANAH BEBAS

Menurut Krussman dan Ridder (1970) akuifer dibagi menjadi:

 Bebas (Unconfined Aquifer) yaitu lapisan yang hanya sebagian terisi oleh
air dan berada di atas lapisan kedap air. Permukaan tanah pada akuifer ini
disebut dengan water table, yaitu permukaan air yang mempunyai tekanan
hidrostatik sama dengan atmosfer.
 Tertekan (Confined Aquifer) yaitu akuifer yang jumlah airnya dibatasi oleh
lapisan kedap air, baik di atas maupun di bawah, serta mempunyai tekanan
jenuh lebih besar dari pada tekanan atmosfer.
 Semi tertekan (Semi Confined Aquifer) yaitu akuifer yang seluruhnya
merupakan air jenuh, dimana bagian atasnya dibatasi oleh lapisan semi lolos
air dan dibagian bawahnya merupakan lapisan kedap air.
 Semi Bebas (Semi Unconfined Aquifer) yaitu akuifer yang bagian
bawahnya yang merupakan lapisan kedap air, sedangkan bagian atasnya
merupakan material berbutir halus, sehingga pada lapisan penutupnya masih
memungkinkan adanya gerakan air. Dengan demikian aquifer ini merupakan
peralihan antara aquifer bebas dengan aquifer semi tertekan.

Air tanah akhirnya dapat merembes kembali ke permukaan. Anda bisa melihat air
tanah yang keluar dari bumi, seperti pada mata air dan lahan basah. Biasanya terjadi
pada permukaan bumi yang lebih rendah dari tingkat akuifer.

Para ilmuwan khawatir tentang masalah yang muncul ketika kita mengambil terlalu
banyak air tanah untuk kehidupan sehari-hari, termasuk rumah tangga, industri, dan
pertanian. Salah satu masalahnya adalah bahwa air tanah semakin lama semakin jauh
dari permukaan Bumi.

1. Air tanah bebas (akuifer tak tertekan)

Titik pengambilan contoh air tanah bebas dapat berasal dari sumur gali dan sumur
pantek atau sumur bor dengan penjelasan sebagai berikut:

 di sebelah hulu dan hilir sesuai dengan arah aliran air tanah dari lokasi yang
akan dipantau;
 di daerah pantai dimana terjadi penyusupan air asin dan beberapa titik ke arah
daratan bila diperlukan;
 tempat-tempat lain yang dianggap perlu tergantung pada tujuan pemeriksaan.

2. Air tanah tertekan (akuifer tertekan)

Titik pengambilan contoh air tanah tertekan dapat berasal dari sumur bor yang
berfungsi sebagai:

 sumur produksi untuk pemenuhan kebutuhan perkotaan, pedesaan, pertanian,


industri dan sarana umum.
 sumur-sumur pemantauan kualitas air tanah.
 sumur observasi untuk pengawasan imbuhan.
 sumur observasi di suatu cekungan air tanah artesis.
 sumur observasi di wilayah pesisir dimana terjadi penyusupan air asin.
 sumur observasi penimbunan atau pengolahan limbah domestik atau limbah
industri.
 sumur lainnya yang dianggap perlu.

pada bendungan dibuat dari tanah yang seragam. Pada bendungan ini juga lapisan
drainasi pada ujung hilirnya' Tujuan lapisan drainasi tersebut adalah mencegah
adanyz rembesan yang keluar pada permukaan lereng hilir bendungan. Rembesan
demikian dapat menyebabkan tanah menjadi lunak sehingga terjadi erosi, bahkan
mungkin kelongsoran

Terdapat dua cara untuk menentukan tekanan air pori pada jaringan aliran
tak terkekang, yaitu:

(a) Menggunakan cara yang telah dijelaskan di atas untuk jaringan aliranterkekang.

(b) Menggunakan titik potong dari garis ekipotensial melalui P denganpermukaan


preatik. Titik potong ini secara langsung memberikan tinggi energi total sepanjang
garis itu. Dengan demikian tekanan air pori pada P diperoleh dari uo = y

Penjelasan tentang rembesan tak terkekang mengikuti penerapan biasa pada mekanika
tanah. Bagaimanapun juga, cara biasa ini tidak sepenuhnya tepat dan melanggar
penjelasan yang dibuat pada Bab 4, yairu bahwa permukaanN prcatik pada tanah
berbutir halus bukan batas atas dari daerah rembesan. Garis preatik cuma merupakan
garis tekanan air pori yang bernilai nol.Bendungan seragam, hanya dapat dibangun
dari tanah berbutir halus (biasanya lempung), jadi rembesan air pasti akan terjadi di
atas permukaan preatik memperlihatkan hal ini. Gambar atas menunjukkan keadaan
pada tanah berbutir kasar (pasir atau kerikil); dalam hal ini permukaan
praktik merupakan batas atas dari daerah rembesan. Gambar bawah memperlihatkan
keadaan pada lempung; dalam hal ini permukaan tanggul merupakan batas atas dari
daerah rembesan. Garis preatik adalah garis tekanan air pori sama dengan nol.

Terlihat dari gambar ini bahwa jenis tanah memengaruhi bentuk jaringan aliran
namun hampir tidak ada pengaruhnya pada garis preatik' Ini berarti ada pengaruh
terhadap volume aliran, tetapi hampir tidak ada pengaruh pada kemantapan. lereng
bendungan'
B. KARAKTERISTIK AIR TANAH BEBAS DAN TERKEKANG

CONTOH ALIRAN DALAM TANAH


7.9. PENGGUNAAN LAPISAN SARINGAN DALAM PERENCANAAN
BANGUNAN HIDROLIKA

A. Proses Pengolahan Air


Menurut Reynolds (1982: 1), berdasarkan fungsinya unit-unit operasi dan
unit-unit proses di teknik lingkungan dapat diklasifikasikan menjadi 3 klasifikasi,
yaitu pengolahan fisik, kimia dan biologi.
Unit-unit operasi dan proses yang biasa digunakan dalam proses pengolahan
air terdiri dari :
1. Intake
Intake merupakan bangunan pengambilan air baku. Hal-hal yang perlu
diperhatikan adalah:
a. debit intake jauh lebih kecil dari debit sumber air baku
b. tinggi air minimum, maksimum dan rata-rata dari sumber air baku
c. kecepatan aliran pada iar permukaan/ sungai bila digunakan air sungai
d. Perhatikan kondisi lumpur jangan terbawa

2. Prasedimentasi
Fungsi dari unit ini adalah untuk mengendapkan partikel-partikel tersuspensi
dengan berat jenis yang lebih besar dari berat jenis air. Pengendapan dilakukan
dengan jalan penyimpanan air dalam jangka waktu tertentu. Penggunaan unit ini
tergantung dari karakteristik air bakunya.
Proses yang terjadi pada pengolahan ini adalah penghilangan padatan
tersuspensi secara gravitasi pada sebuah rak. Efisiensi proses bergantung pada ukuran
partikel padatan tersuspensi yang akan dihilangkan dan tingkat pengendapannya
masing-masing (Schulz dan Okun, 1984: 31).

3. Koagulasi dan Flokulasi


Koagulasi adalah penambahan koagulan yang disertai dengan pengadukan cepat
sehingga menghasilkan partikel tersuspensi yang halus, sedangkan flokulasi adalah
pengadukan secara lambat untuk mengumpulkan dan mengendapkan partikel-partikel
atau
flok-flok yang terbentuk. Koagulasi dan flokulasi ini terjadi adanya destabilisasi dan
tumbukan antar partkel bebas (Reynold, 1982: 15).
Pada prinsipnya ada dua aspek yang penting didalam proses koagulasi dan flokulasi
yaitu :
- Pembubuhan bahan kimia koagulan
- Pengadukan bahan kimia tersebut dengan air baku.
Aplikasi dari koagulasi dan flokulasi ini dilakukan dalam dua rector yang berbeda
yaitu
koagulator dan flokulator (Darmasetiawan, 2001: 18). Menurut Darmasetiawan
(2001: 19),
Ada tiga faktor yang menentukan keberhasilan suatu proses koagulan :
- Jenis bahan kimia koagulan
- Dosis pembubuhan bahan kimia
- Pengadukan dari bahan kimia

4. Sedimentasi

Sedimentasi atau pengendapan adalah pemisahan partikel yang ada di dalam


air secara
gravitasi. Keberadaan partikel di dalam air di ukur dengan melihat kekeruhan atau
dengan
mengukur secara langsung berat zat padat yang terlarut (Darmasetiawan, 2001:64).
Menurut Reynold (1982:69), Sedimentasi merupakan pengendapan cairan terurai
dengan menggunakan atau memanfaatkan gaya gravitasi, untuk memindahkan zat
padat yang
tertahan. Hal ini digunakan dalam pengolahan air. Pengendapan partikel sedimentasi
terbagi
menjadi :
a) Pengendapan dengan kecepatan konstan (discrete settling)
b) Pengendapan dengan kecepatan berubah (flocculan settling)
Pemilihan sedimentasi tergantung dari tipe dan ukuran flok yang dihasilkan dari
proses
flokulasi. Jenis sedimentasi yang sering digunakan adalah :
a) Plain sedimentasi
b) Upflow sludge blanket clarifier
c) Inclineed plat/tube sedimentasi
d) Upflow sludge resirculasi sedimentasi
PBPAM / Anissa Rizky Faradilla/ 08211005
13
5. Filtrasi
Menurut Reynolds (1982 : 131), filtrasi adalah pemisahan antara cairan dan padatan
dengan menggunakan medium berpori dan material berpori untuk memisahkan
sebanyak
mungkin partikel halus tersuspensi yang ada dari cairan. Filtrasi ini bertujuan untuk
menyaring air yang sudah melewati proses koagulasi, flokulasi dan sedimentasi agar
dihasilkan air minum yang bermutu tinggi.
Saringan dapat diklasifikasikan menurut media penyaringan yang digunakan menjadi
(Reynold, 1982 : 131):
a) Saringan dengan medium tunggal
Menggunakan satu macam medium, misalnya pasir atau anthrasit.
b) Saringan dengan medium ganda
Menggunakan dua macam medium, misalnya pasir dan anthrasit.
c) Saringan multimedia
Menggunakan tiga macam medium, misalnya pasir, anthrasit dan garnet.
Saringan dengan medium tunggal, yaitu saringan pasir, dapat dibedakan menjadi dua
macam:
a) Saringan pasir lambat
Saringan pasir lambat memiliki beberapa keuntungan bila dibandingkan dengan
saringan pasir cepat, yaitu saringan pasir lambat lebih murah dan sederhana dalam hal
pembuatan maupun pengoperasiannya sehingga tetap dapat dibangun di daerah
pedesaan.
Metode pembersihan media pasir pada saringan pasir lembat adalah dengan cara
mencuci pasir seperti biasa, yaitu dengan pengerukan pada lapisan yang paling atas,
kemudian dicuci di luar bak dan dikembalikan ke filter setelah beberapa waktu.
Biasanya
proses pembersihan pasir ini memakan waktu lebih lama bila dibandingkan dengan
pembersihan pada saringan pasir cepat.
b) Saringan pasir cepat
Pada proses penjernihan air, saringan pasir cepat lebih penting bila dibandingkan
dengan saringan pasir lambat karena teknik dari saringan pasir cepat dapat
menghasilkan
air jernih dalam jumlah besar dan dalam waktu yang relatif lebih singkat.
Air baku yang memiliki tingkat kekeruhan yang cukup tinggi harus ditambahkan
dengan bahan kimia terlebih dahulu pada proses sebelumnya, yaitu pada proses
koagulasi
agar tingkat kekeruhannya menjadi lebih rendah sehingga dapat mengurangi beban
pengotoran pada pasir sewaktu proses berjalan.

Pembersihan saringan pasir cepat dilakukan dengan menggunakan pengaliran


balik
(back washing), yaitu sistem aliran air keatas dari lapisan dasar dengan kecepatan
tinggi
sehingga kotoran yang terakumulasi pada pasir akan terangkat dan dialirkan ke drain
pembuangan. Luas permukaan unit filter pasir cepat lebih kecil dibandingkan dengan
filter pasir lambat.

6. Desinfektan

Desinfeksi diar bertujuan untuk membunuh bakteri, protozoa, dan virus serta
ukuran
partikel disinfeksi yang dikehendaki adalah berukuran kecil dan yang tidak bersifat
racun
terhadap manusia (Al-Layla, 1978:219).
Menurut Reynold (1982:527), klorinasi adalah desinfektan yang paling banyak
digunakan karena cara tersebut murah dan efektif untuk digunakan pad akonsentrasi
rendah.
Klorinasi ini dapat diaplikasikan baik dalam bentuk gas maupun hipoklorit, namun
bentuk
yang paling umum digunakan adalah gas.
7.11 catatan tentang ilmu air tanah dan meknika air tanah

Tanah adalah merupakan susunan butiran padat dan pori-pori yang saling
berhubungan satu sama lain sehingga air dapat mengalir dari satu titik yang
mempunyai energi lebih tinggi ke titik yang mempunyai energi lebih rendah. Studi
mengenai aliran air melalui pori-pori tanah diperlukan dalam mekanika hal ini sangat
berguna didalam menganalisa kestabilan dari suatu bendungan tanah dan konstruksi
dinding penahan tanah yang terkena gaya rembesan.

2.4.1 Gradien Hidrolik


Menurut persamaan Bernaoulli, tinggi energi total pada suatu titik didalam air
yang mengalir dapat dinyatakan sebagai penjumlahan dari tinggi tekanan, tinggi
kecepatan, dan tinggi elevasi, atau

+ +

tinggi tinggi tinggi

tekanan kecepatan elevasi

dimana:

h = tinggi energi total

p = tekanan

v = kecepatan

g = percepatan disebabkan oleh gravitasi

= berat volume air

Apabila persamaan Bernaulli di atas dipakai untuk air yang mengalir melalui pori-
pori tanah, bagian dari persamaan yang mengandung tinggi kecepatan dapat
diabaikan. Hal ini disebabkan karena kecepatan rembesan air didalam tanah adalah
sangat kecil. Maka dari itu, tinggi energi total pada suatu titik dapat dinyatakan
sebagai berikut:

Kehilangan energi antara dua titik, dapat dituliskan dengan persamaan dibawah ini:

Kehilangan energi ∆h, tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan


tanpa dimensi seperti dibawah ini:
Dimana:

i = gradien hidrolik

L= jarak antara titik A dan B, yaitu panjang aliran air dimana kehilangan
tekanan terjadi.

2.4.2 Hukum Darcy

Pada tahun 1856, Darcy memperkenalkan suatu persamaan sederhana yang


digunakan untuk menghitung kecepatan aliran air yang mengalir dalam tanah yang
jenuh, dinyatakan sebagai berikut:

v = ki

Dimana:

v = kecepatan aliran

k = koefisien rembesan

koefisien rembesan mempunyai sstuan yang sama dengan kecepatan. Istilah


koefisien rembesan sebagi besar digunakan oleh para ahli teknik tanah, para ahli
meyebutkan sebagai konduktifitas hidrolik. Bilamana satuan Inggris digunakan,
koefisien rembesan dinyatakan dalam ft/menit atau ft/hari, dan total volume dalam
ft3. Dalam satuan SI, koefisien rembesan dinyatakan dalam cm/detik, dan total
volume dalam cm3.

Koefisien rembesan tanah adalah tergantung pada beberapa faktor, yaitu:


kekentalan cairan, distribusi ukuran pori, distribusi ukuran butir, angka pori,
kekasaran permukaan butiran tanah, dan drajat kejenuhan tanah. Pada tanah
berlempung, struktur tanah konsentrasi ion dan ketebalan lapisan air yang menempel
pada butiran lempung menentukan koefisien rembesan.

Harga koefisien rembesan untuk tiap-tiap tanah adalah berbeda-beda.


Beberapa harga koefisien rembesan diberikan pada tabel dibawah ini:

Jenis tanah

(cm/detik)

(ft/menit)

Kerikil bersih

1,1-100

2,0-200

Pasir kasar

1,0-0,01

2,0-0,02

Pasir halus

0,01-0,001

0,02-0,002

Lanau

0,001-0,00001

0,002-0,00002
lempung

Kurang dari 0,000001

Kurang dari 0,000002

Koefisien rembesan tanah yang tidak jenuh air adalah rendah, harga tersebut
akan bertambah secara cepat dengan bertambahnya drajat kejenuhan tanah yang
bersangkutan.

Koefisien rembesan juga dapat dihubungkan dengan sifat-sifat dari cairan


yang mengalir melalui tanah yang bersangkutan dengan persamaan sebagai berikut:

Dimana:

= berat volume air

= kekentalan air

= rembesan absolut

Rembesan absoulut, mempunyai satuan L2 (yaitu cm2, ft2, dan lain-lain)

2.4.4 Penentuan Koefisien Rembesan di Laboratorium

Ada dua macam uji standar di laboratorium yang digunakan untuk


menentukan harga koefisien rembesan suatu tanah, yaitu: uji tinggi konstan dan uji
tinggi jatuh. Uji tinggi jatuh adalah sangat cocok untuk tanah berbutir halus dengan
koefisien rembesan kecil.
2.4.5 Pengaruh Temperatur Air Terhadap Harga k

Koefisien rembesan merupakan fungsi dari berat volume dan kekentalan air,
yang berarti pula merupakan fungsi dari temperatur selama percobaan dilakukan,
maka dapat dituliskan:

Dimana:

kT1 , kT2 = koefisien rembesan pada temperatur T1 dan T2

ηT1 , ηT2 = kekentalan air pada temperatur T1 dan T2

(T1) , (T2) = berat volume air pada temperatur T1 dan T2

2.4.6 Hubungan Empiris untuk Koefisien Rembesan

Beberapa persamaan empiris untuk memperkirakan harga koefisien rembesan


tanah telah diperkenalkan dimasa lalu.

Untuk tanah pasir dengan ukuran butir yang merata , hazen memperkenalkan
suatu hubungan empiris untuk koefisien rembesan dalam bentuk sebagai berikut:

k (cm/detik) = cD210

dimana:

c = suatu konstanta yang bervariasi dari 1,0 sampai 1,5

D10= ukuran efektif, dalam satuan milimeter.

Persamaan diatas didasarkan pada hasil penyelidikan ynag dilakukan oleh


Hazen pada tanah pasir bersih yang lepas.
2.4.7 Rembesan Ekivalen pada Tanah Berlapis-lapis

Koefisian rembesan suatu tanah mungkin bervariasi menurut arah aliran yang
tergantung pada perilaku tanah dilapangan. Untuk tanah yang berlapis-lapis dimana
koefisien rembesan alirannya dalam suatu arah tertentu akan berubah dari lapis ke
lapis, kiranya perlu ditentukan harga rembesan ekivalen untuk menyederhanakan
perhitungan. Sehingga didapat persamaan sebagai berikut:

2.4.8 Uji Rembesan di Lapangan dengan Cara Pemompaan dari Sumur

Dilapangan, koefisien rembesan rata-rata yang searah dengan arah aliran dari
suatu lapisan tanah dapat ditentukan dengan cara mengadakan uji pemompaan dari
sumur. Koefisien rembesan yang searah dengan aliran dapat dituliskan sebagi berikut:

2.4.9 Koefisien Rembesan dari Lubang Auger

Koefisien rembesan dilapangan dapat juga diestimasi dengan cara membuat


lubang auger. Tipe uji ini biasa disebut sebagai slug test. Lubang dibuat dilapangan
sampai dengan kedalaman L di bawah permukaan air tanah. Pertama-tama air
ditimbang keluar dari lubang. Keadaan ini akan menyebabkan adanya aliran air tanah
ke dalam lubang melalu keliling dan dasar lubang. Penambahan tinggi air didalam
lubang auger dan waktunya dicatat. Koefisien rembesan dapat ditentukan dari data
tersebut.
Dimana:

r = jari-jari lubang auger

y = harga rata-rata dari jarak antara tinggi air dalam lubang auger dengan
muka air tanah selama interval waktu ∆t (menit).

Penentuan koefisien rembesan dari lubang auger biasanya tidak dapat


memberikan hasil yang teliti, tetapi ia dapat memberikan harga pangkat dari k.

2.4.10 Persamaan Kontinuitas

Dalam keadaan sebenarnya, air mengalir di dalam tanah tidak hanya dalam
satu arah dan juga tidak seragam untuk seluruh luasan yang tegak lurus dengan arah
aliran. Untuk permasalahan-permasalahan seperti itu, perhitungan aliran air tanah
pada umumnya dibuat dengan menggunakan grafik-grafik yang dinamakan jaringan
aliran. Konsep jaringan aliran ini didasarkan pada persamaan Kontinuitas Laplace
yang menjelaskan mengenai keadaan aliran tunak untuk suatu titik didalam massa
tanah. Persamaan kontinuitas untuk aliran dalam dua dimensi diatas dapat
disederhanakan menjadi:

2.4.11 Jaringan Air

Kombinasi dari beberapa garis aliran dan garis ekipotensial dinamakan


jaringan aliran. Jaringan aliran dibuat untuk menghitung aliran air tanah, dalam
pembuatan jaringan aliran. Garis-garis aliran dan ekipotensialmdigambar sedemikian
rupa sehingga:

1) Garis ekipotensial memotong tegak lurus garis aliran

2) Elemen-elemen aliran dibuat kira-kira mendekati bentuk bujur sangkar.

2.4.12 Gradien di Tempat Keluar dan Faktor Keamanan Terhadap Boiling

Apabila rembesan dibawah bangunan air tidak dikontrol secara sempurna,


maka keadaan tersebut akan menghasilkan gradien hidrolik yang cukup besar
ditempat keluar dekat konstruksi. Gradien yang tinggi di tempat keluar tersebut,
berati juga bahwa gaya rembes adalah besar, akan menyebabkan menggelembung
keatas atau menyebabkan tanah kehilangan kekuatan. keadaan ini akan
mempengaruhi kestabilan bangunan air yang bersangkutan

BAB III

AIR TANAH, PERMEABILITAS

DAN REMBESAN

3.1. Air Tanah

Air tanah didefinisikan sebagai air yang terdapat di bawah permukaan bumi. Salah
satu sumber utama air ini adalah air hujan yang meresap kebawah lewat ruang pori
diantara butiran tanah. Air biasanya sangat berpengaruh pada sifat-sifat teknis tanah,
khususnya tanah yang berbutir halus. Demikian juga, air merupakan faktor yang
sangat penting dalam masalah-masalah teknis yang berhubungan dengan tanah
seperti: penurunan, stabilitas, pondasi, stabilitas lereng, dan lain-lain.
Terdapat tiga zona penting pada lapisan tanah yang dekat dengan permukaan
bumi, yaitu: zona jenuh air, zona kapiler, zona sebagian. Pada zona jenuh atau zona di
bawah muka air tanah, air mengisi seluruh rongga-rongga air tanah. Pada zona ini
tanah dianggap dalam keadaan jenuh sempurna. Batas atas dari zona penuh adalah
permukaan air tanah atau permukaan freatis. Selanjutnya, air yang berada di dalam
zona ini disebut sebagai air tanah atau air freatis. Pada permukaan air tanah, tekanan
hidrostatis adalah nol. Zona kapiler terletak di atas zona jenuh. Ketebalan zone ini
tergantung dari macam tanahnya. Akibat tekanan kapiler, air mengalami isapan atau
tekanan negative. Zona yang jenuh berkedudukan paling atas, adalah zone didekat
permukaan tanah, dimana air dipengaruhi oleh penguapan dan akar tumbuh-
tumbuhan.

31.1. Tekanan Kapiler.

Tekanan kapiler dapat timbul karena adanya tarikan lapisan tipis permukaan air
sebelah atas. Kejadian ini disebabkan oleh adanya pertemuan antara dua jenis
material yang berbeda sifatnya. Pada prinsipnya, tarikan permukaan adalah hasil
perbedaan gaya tarik antara molekul-molekul pada bidang singgung pertemuan dua
material yang berbeda sifatnya.

Kejadian tarikan permukaan dapat dilihat dari percobaan laboratorium pada pipa
kapiler yang dicelupkan dalam bejana berisi air. Ketinggian air dalam pipa kapiler
akan lebih tinggi dari pada tinggi air dalam bejana (Gambar 3.1.a). Permukaan air
dalam cairan membentuk sudut α terhadap dinding pipa. Tekanan pada permukaan air
dalam pipa dan tekanan pada permukaan air pada bejana akan sama dengan tekanan
atmosfer. Tidak adanya gaya luar yang mencegah air dalam pipa dalam
kedudukannya menunjukan bahwa suatu gaya tarik bekerja pada lapisan tipis
permukaan air dalam pipa kapiler.

Gambar 3.1.

Bila hc adalah tinggi air dalam pipa kapiler, r adalah radius pipa, γw adalah berat
volume air dan tekanan atmosfer diambil sebagai bidang referensi (yaitu tekanan
udara sama dengan nol), maka dapat dibentuk persamaan gaya vertikal pada puncak
dari kolom air sebagai berikut :

(3.1)

Dari persamaaan tersebut

(3.2)

Seperti yang telah diterangkan, u adalah negative yang berarti air didalam pipa pada
kedudukan tertarik atau terhisap. Nilai tekanan maksimum adalah γwhc, terjadi pada
puncak kolom. Distribusi tekanan sepanjang pipa , dapat dilihat pada Gambar 3.1c.
Persamaan ketinggian air hc di dalam pipa diperoleh dengan cara substitusi u = -γw
hc ke persamaan (3.2):

(3.3)
Dari persamaan (3.2) dan (3.3) dapat dilihat bahwa u dan hc bertambah jika radius
pipa (r) berkurang.

3.1.2. Pengaruh Tekanan Kapiler

Akibat tekanan kapiler, air tanah tertarik keatas melebihi permukaannya. Pori-pori
tanah sebenarnya bukan sistem pipa kapiler, tapi teori kapiler dapat diterapkan guna
mempelajari kelakuan air pada zone kapiler. Air dalam zone kapiler ini dapat
dianggap bertekanan negative, yaitu mempunyai tekanan di bawah tekanan atmosfer.
Digram kapilaritas suatu lapisan tanah, dapat dilihat pada gambar 3.1d. Tinggi
minimum dari hc(min) dipengaruhi oleh ukuran maksimum pori-pori tanah. Di dalam
batas antara hc(min) dan hc(mak), tanah dapat bersifat jenuh sebagian (partially
saturated). Terzaghi dan Peck (1948) memberikan hubungan pendekatan antara
hc(mak) dan diameter butiran, sebagai berikut:

(3.4)

Dengan C adalah konstanta yang bergantung pada bentuk butiran dan sudut kontak (C
bervariasi diantara 10 – 50 mm2), dan D10 adalah diameter efektif yang dinyatakan
dalam millimeter. Tinggi air kapiler untuk berbagai macam tanah diberikan oleh
Hansbo (1975), dapat dilihat dalam table 3.1.

Tabel 3.1. Ketinggian air kapiler (hansbo, 1975)

Macam Tanah

Kondisi Longsor

Konisi padat

Pasir Kasar
Pasir Sedang

Pasir Halus

Lanau

Lempung

0,03 - 0,12 m

0,12 – 0,50 m

0,30 – 2,00 m

1,50 – 10,0 m

0,04 – 0,15 m

0,35 – 1,10 m

0,40 – 3,50 m

2,50 – 12,0 m

> 10 m

Pengaruh tekanan kapiler pada tanah adalah menambah tegangan efektif. Jika
tekanan kapiler membesar, maka tegangan kontak diantara partikel membesar pula.
Akibatnya, ketahanan tanah terhadap geser atau kuat geser tanah bertambah.

3.2. Permeabilitas
Permeabilitas didefinisikan sebagai sifat bahan yang memungkinkan aliran
rembesan dari cairan yang berupa air atau minyak mengalir lewat rongga pori. Pori-
pori tanah saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Sehingga air dapat
mengalir dari titik yang mempunyai tinggi energi lebih tinggi ke titik dengan energi
yang lebih rendah. Untuk tanah permeabilitas dilukiskan sebagai sifat tanah yang
menggambarkan bagaimana air mengalir melalui tanah.

Di dalam tanah, sifat aliran mungkin laminer atau turbulen. Tahanan terhadap
aliran bergantung pada jenis tanah, ukuran butiran, bentuk butiran, rapat masa serta
bentuk geometri rongga pori. Temperatur juga sangat mempengaruhi tahanan aliran
(kekentalan dan tegangan permukaan).

Walaupun secara teoritis, semua jenis tanah lebih atau kurang mempunyai rongga
pori, dalam praktek, istilah mudah meloloskan air (permeable) ditujukan untuk tanah
yang memang benar-benar mempunyai sifat meloloskan air. Sebaliknya, tanah
disebut kedap air (impermeable), bila tanah tersebut mempunyai kemampuan
meloloskan air yang sangat kecil.

3.2.1. Garis Aliran

Aliran air lewat suatu kolom tanah diperlihatkan dalam Gambar 3.2a. Masing-
masing partikel air bergerak dari ketinggian A ke ketinggian B yang lebih rendah,
mengikuti lintasan yang berkelok-kelok (ruang pori) diantara butiran padatnya.

Kecepatan air bervariasi dari titik ke titik tergantung dari ukuran dan konfigurasi
pori. Akan tetapi, dalam praktek, tanah dapat dianggap sebagai satu kesatuan. Tiap
partikel air dianggap melewati sepanjang lintasan lurus yang disebut garis aliran.
(Gambar 3.2b).

Gambar 3.2.
3.2.2. Aliran Air dalam Tanah

Aliran air horizontal yang melewati tabung berisi tanah dilukiskan dalam Gambar
3.3. ketinggian di dalam pipa piezometer menunjukan tekanan air pada titik tersebut.
Elevasi air di dalam pipa disebut elevasi piezometrik (piezometric elevation) atau
tinggi energi elevasi (elevation head), sedang tekanan air pada kedalaman tertentu
disebut tinggi energi tekanan (preasure head), yaitu ketinggian kolom air hA atau hB
di dalam pipa diukur dalam millimeter atau meter di atas titiknya. Hal ini dapat juga
dinyatakan dalam satuan tekanan dengan menggunakan hubungan:

(3.5)

Atau

(3.6)

dengan p adalah tekanan (t/m2, kN/m2), h adalah tinggi tekanan (m) dan γw adalah
berat volume air (t/m3, kN/m3). Tekanan air pori biasanya diukur terhadap tekanan
atmosfer relative. Ketinggian air dengan tekanan atmosfer nol, didefinisikan sebagai
permukaan air tanah atau permukaan freatis. Kondisi artesis dapat terjadi jika lapisan
tanah miring dengan permeabilitas tinggi diapit lapisan tanah dengan permeabilitas
rendah.

Tekanan hidrostatis bergantung pada kedalaman suatu titik di bawah muka air
tanah. Untuk mengetahui besar tekanan air pori, teorama Bernoulli dapat diterapkan.
Menurut Bernoulli, tinggi energi total (total head) pada suatu titik A dapat dinyatakan
oleh persamaan:
(3.7)

= tinggi energi total ( m )

= tekanan ( t/m2, kN/m2 )

= kecepatan ( m/det )

= berat volume air ( t/m3, kN/m3 )

= percepatan gravitasi ( m/dt2 )

= tinggi elevasi ( m )

dengan

γw

Kecepatan rembesan di dalam tanah sangat kecil, maka faktor kecepatan dalam
suku persamaan Bernoulli dapat diabaikan. Sehingga persamaan tinggi energi total
menjadi:

(3.8)
Untuk menghitung banyaknya rembesan lewat tanah pada kondisi tertentu,
ditinjau kondisi tanah seperti dalam gambar 3.3. luas potongan melintang tanah
sebesar A, dengan debit rembesan q.

Gambar 3.3

Dari persamaan Bernoulli, kehilangan energi, Δh, antara dua titik A dan B oleh:

(3.9)

Persamaan (3.9), dapat dituliskan sebagai berikut:

(3.10)

Gradien hidrolik (i), diberikan menurut persamaan:

(3.11)

Dengan L adalah jarak antara potongan A dan B.

Jika kecepatan aliran air dalam tanah nol, semua ketinggian air dalam akan
menunjukan elevasi yang sama dan berimpit dengan permukaan horizontal air tanah.
Dengan adanya aliran air tanah, ketinggian air dalam pipa piezometer akan berkurang
dengan jarak alirannya.
Hukum Darcy

Darcy (1956), memberikan hubungan antara kecepatan dan gradien hidrolik


sebagai berikut:

= kecepatan air cm/det)

= gradient hidrolik

= koefisien permeabilitas (cm/det)

Dengan :

Debit rembesan (q) dapat ditulis dengan persamaan:

Dengan A = luas penampang tanah. Koefisien permeabilitas (k) mempunyai satuam


yang sama dengan satuan kecepatan cm/det atau mm/det, dan menunjukan ukuran
tahanan tanah terhadap aliran air. Bila pengaruh sifat-sifat air dimasukan, maka:

(3.8)
= koefisien absolute (cm2), tergantung dari sifat butiran tanah

= rapat massa air (g/cm3)

= koefisien kekentalan air (g/cm.det)

= percepatan gravitasi (cm/det2)

dengan :

ρw

Perhatikan bahwa kecepatan yang diberikan dalam persamaan (3.12) adalah


kecepatan air yang dihitung berdasarkan luas kotor penampang tanah. Karena air
hanya dapat mengalir lewat ruang pori, maka kecepatan nyata rembesan lewat tanah
(vs), diberikan menurut persamaan:

(3.15)

Atau

(3.16)

Dengan nilai n adalah porositas dari tanah.


Beberapa nilai k dari berbagai jenis tanah diberikan dalam Tabel 3.2. koefisien
permeabilitas tanah biasanya dinyatakan pada temperatur 20º C.

Tabel 3.2. Nilai permeabilitas tanah pada temperatur 20º C.

Jenis Tanah

k (mm/det)

Butiran kasar

Kerikil halus, butiran kasar bercampur pasir butiran sedang

Pasir halus, lanau longgar

Lanau padat, lanau berlempung

Lempung berlanau, lempung

10 – 10 3

10-2 – 10

10-2 – 10-2
10-5 – 10-4

10-8 – 10-5

Pada sembarang temperatur T, koefisien permeabilitas dapat diperoleh dari


persamaan:

(3.17)

Dengan

Kt,k20 = koefisien permeabilitas pada T° dan 20° C

γwT, γw20 = berat volume air pada T° dan 20° C

μT , μ20 = koefisien kekentalan air pada T° dan 20° C

karena nilai γwT/γw20 mendekati 1, maka:

(3.18)

Tabel 3.3. memberikan nilai µT/µ20 untuk berbagai kondisi temperaturnya.

Tabel 3.3. µT/µ20


Temperature

T, ºC

µT/µ20

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24
25

26

27

28

29

30

1,298

1,263

1,228

1,195

1,165

1,135

1,106

1,078

1,031

1,025

1,000

0,975

0,952
0,930

0,908

0,887

0,867

0,847

0,829

0,811

0,793

Ketepatan Hukum Darcy

Ketepatan hukum Darcy v = ki, hanya cocok untuk aliran laminer, yaitu bila
gradien hidrolik hanya sampai gradien hidrolik kritis (icr) dan kecepatannya hanya
sampai kecepatan kritis (vcr). Dalam Gambar 3.4, di luar L, (i > icr), filtrasi berupa
aliran turbulen dengan kecepatan rembesan

v > vcr

Beberapa studi telah dibuat untuk menyelidiki ketepatan hukum ini. Studi yang
cukup dikenal adalah yang dilakukan oleh muskat (1937). Kriteria nilai batas
diberikan oleh bilangan Reynold. Untuk aliran di dalam tanah, bilangan Reynold (Rn)
diberikan menurut hubungan :

(3.19)

= kecepatan air, cm/det


= diameter rata-rata butiran tanah, cm

= berat volume cairan, g/cm

= koefisien kekentalan, g/(cm.det)

dengan :

γw

Gambar 3.4

Untuk aliran laminer di dalam tanah, hasil pengamatan menunjukan hubungan


sebagai berikut:

(3.20)

Gradien hidrolik menurut persamaan Forchheimer (1902)

(3.21)

Leps (1973) memberikan persamaan kecepatan air lewat pori, sebagai berikut:

(3.22)

Dengan
vv = kecepatan rata-rata air lewat pori

C = konstanta yang merupakan fungsi bentuk dan kekasaran partikel batuan

RH = gradien hidrolik rata-rata

i = gradien hidrolik

3.2.3. Uji Permeabilitas di Laboratorium

Ada empat cara pengujian untuk menentukan koefisien permeabilitas di


laboratorium, yaitu:

a. Uji tinggi energi tetap (constant-head)

b. Uji tinggi energi turun (falling-head)

c. Penentuan secara tidak langsung dari pengujian konsolidasi.

d. Penentuan secara tidak lansung dari pengujian kapiler horizontal.

3.2.3.1. Uji energi permeabilitas dengan cara tinggi energi tetap

(constant-head)

Pengujian ini cocok untuk jenis tanah granular. Prinsip pengujian dapat dilihat
dalam Gambar 3.5. tanah benda uji diletakan di dalam silinder. Pada kedudukan ini
tinggi energi hilang adalah h. aliran air lewat tanah diatur. Banyaknya air yang keluar
ditampung di dalam gelas ukuran. Waktu pengumpulan air dicatat. Data yang
diperoleh, kemudian dimasukan kedalam persamaan Darcy:

Dengan A adalah penampang benda uji, karena i = h/L, dengan L adalah panjang
benda uji, maka Q = k(h/L)At.

(3.22a)

Suku persamaan di sebelah kanan diperoleh dari hasil pengujiannya. Dengan


memasukan masing-masing nilainya,maka koefisien permeabilitas (k) dapat
diperoleh.

Gambar 3.5

3.2.3.2. Uji Permeabilitas Tinggi energi Turun (Falling-head)

Uji permeabilitas tinggi energi turun (falling-head) lebih cocok untuk tanah yang
berbutir halus. Gambar.3.6 memperlihatkan prinsip uji permeabilitas falling head.
Tanah benda uji ditempatkan di dalam tabung. Pipa pengukur didirikan di atas benda
uji. Air dituangkan lewat pipa pengukur dan dibiarkan mengalir lewat benda uji.
Ketinggian air keadaan awal pengujian (h1) pada saat waktu t1 = 0 dicatat. Pada
waktu tertentu (t2) setelah pengujian berlangsung, penurunan muka air adalah h2.
debit rembesan dihitung dengan persamaan:

Gambar 3.6

(3.22b)
= perbedaan tinggi pada sembarang waktu t (m)

= Luas potongan melintang benda uji (m2)

= Luas pipa pengukur (m2)

= Panjang benda uji (m)

dengan

3.2.3.3. Penentuan koefisien Permeabilitas dari uji konsolidasi

Koefisien permeabilitas tanah lempung dari 10-6 sampai 10-9 cm/det dapat
ditentukan dalam sebuah falling head permeameter yang direncanakan khusus dari
percobaan konsolidasi. Pada alat ini, luas benda uji dibuat besar. Untuk menghindari
penggunaan pipa yang tinggi, tinggi tekanan dapat dibuat dengan jalan pemberian
tekanan udara. Skema alat ini ditunjukan dalam Gambar 3.7.
Penentuan koefisien permeabilitas diperoleh dari persamaan konsolidasi sebagai
berikut:

(3.23)

= koefisien konsolidasi

= waktu pengaliran

= faktor waktu

= panjang rata-rata lintasan drainase

Dengan

Cv

Tv

Persamaan koefisien konsolidasi:

(3.23)

Dengan

γw = berat volume air


3.2.3.4. Uji Kapiler Horisontal

Prinsip dasar dari uji kapiler horizontal dapat dilihat pada Gambar 3.8. Tanah
dimasukan kedalam tabung dengan posisi mendatar.

Jika katup A dibuka, air dalam bak penampung akan masuk kedalam tabung alat
pengujian melalui silinder tanah secara kapiler. Jarak x dari titik 1 adalah fungsi dari
waktu t.

Pada titik 1, tinggi energi total (total head) adalah nol. Pada titik 2 (dekat dengan
permukaan basah), tinggi energi total adalah – (h + hc).

Dengan menggunakan persamaan Darcy.

(3.28)

= Porositas

= derajat kejenuhan tanah

= kecepatan air rembesan lewat rongga pori

Dengan

vs

Gambar 3.9
Cara pengujian kapiler horizontal sebagai berikut :

1. Buka katup A

2. Segera sesudah air mengalir, dicatat waktu (t) yang dibutuhkan untuk pengaliran
sepanjang x.

3. Ketika air terdepan telah mengalir kira-kira setengah panjang benda uji (x =
L/2), tutup katup A dan buka katup B.

4. Lanjutkan samapai gerakan air mencapai x = L.

5. Tutup katup B. Ambil tanah benda uji dan tentukan besar kadar air dan derajat
kejenuhannya.

6. Gambarkan hubungan nilai x2 terhadap waktu t. gambar 3.10 memperlihatkan


sifat khusus dari grafik yang diperoleh. Bagian Oa adalah hasil plot dari hembacaan
data pada langkah butir (2), dan bagian ab dalam langkah butir (4).

7. Maka diperoleh

(3.31b)

Suku persamaan sebelah kiri menunjukan kemiringan dari garis lurus x2 terhadap t.

8. tentukan kemiringan garis oa dan ab missal m1 dan m2, maka.

Gambar 3.10 :

Dan
Karena n, S, h1, h2, m1 dan m2 ditentukan dari hasil pengujian, maka kedua
persamaan hanya akan mengandung 2 bilangan yang tak diketahui, yaitu k dan hc.
Dari kedua persamaan ini, nilai k dapat dihitung

3.2.4. Uji Permeabilitas di Lapangan

3.2.4.1. Uji Permeabilitas dengan Menggunakan Sumur Uji

Cara pemompaan air dari sumur uji, biasanya dipakai untuk menentukan nilai
koefisien permeabilitas (k) di lapangan. Dalam cara ini, sebuah sumur digali dengan
debit tertentu, secara terus menerus air dipompa keluar dari sumur (gambar 3.11).
bergantung pada sifat tanahm, pengujian dapat berlangsung sampai beberapa hari,
sampai penurunan permukaan air tanah akibat pemompaan menunjukan kedudukan
yang tetap. Permukaan penurunan yang telah stabil, yaitu garis penurunan muka air
tanah yang terendah, diamati dari beberapa sumur pengamat yang digali disekitar
sumur pengujian tersebut. Penurunan muka air terendah terdapat pada sumur uji.

Untuk keperluan menghitung koefisien permeabilitas (k), diperlukan paling sedikit


dua sumur pengamat. Penurunan permukaan air disuatu lokasi, berkurang dengan
bertambahnya jarak dari sumur uji. Bentuk teoritis garis penurunan berupa lingkaran
dengan pusat lingkaran pada sumur ujinya. Jari-jari R dalam teori hidrolika sumuran
disebut jari-jari pengaruh kerucut penurunan (radius of influence of the defression
cone).
Gambar. 3.11

Aliran air ke dalam sumur merupakan aliran gravitasi, dimana muka air tanah
menderita tekanan atmosfer. Debit pemompaan pada kondisi aliran yang telah stabil
dapat dinyatakan dalam persamaan Darcy :

= kecepatan aliran (m3/det)

= luas aliran (m2)

= dy/dx = gradient hidrolik

= ordinat kurva penurunan

= absis kurva penurunan

dengan

v
A

dy

dx

Luas penampang pengaliran A dapat dianggap sebuah tabung vertical dengan


tinggi y dengan jari-jari x. jadi,

Bila kemiringan kurva penurunan air adalah dy/dx = I, maka persamaan debit air
yang masuk ke dalam sumur :

Dengan pemisahan variable dan integrasi, diperoleh:

Atau

(3.32)

Jika penurunan muka air maksimum pad debit Q tertentu adalah Smaks sedang
Smaks = H – h, maka akan diperoleh:

(3.35)

Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh Sichardt (1930), R dapat diestimasi
dengan menggunakan persamaan :

(3.36)
= penurunan muka air maksimum (m)

= koefisien permeabilitas tanah (m/det)

Dengan

Persamaan ini memberikan nilai R yang sangat hati-hati (aman). Bila dalam
praktek R tidak tersedia, nilai R dari Sichardt tersebut dapat dipakai karena tidak
menghasilkan kesalahan yang besar.

Untuk penurunan muka air yang lebih besar, pada sumur-sumur tunggal, Weber (
1928) memberikan persamaan untuk lingkaran pengaruh (R), sebagai berikut:

(3.37)

= koefisien permeabilitas tanah (m/det)

= koefisien yang nilainya mendekati 3

= tebal lapisan air (m)

= waktu penurunan (detik)

= porositas tanah n yang bervariasi dari 0,25 (pasir kasar) sampai

0,34 (pasir Halus). Nilai rata-rata n = 0,30 dapat digunakan.


Dengan

Jumikis (1962) memberikan nilai perkiraan lingkaran pengaruh R hasil


pengumpulan dari beberapa data pada jenis tanah tertentu, seperti yang ditunjukan
dalam Tabel 3.4.

Tabel 3.4. Lingkaran pengaruh R pada berbagai jenis tanah

Tanah

R (m)

Jenis Tanah

Ukuran butiran (mm)

Kerikil kasar

Kerikil sedang

Kerikil halus
Kerikil kasar

Kerikil sedang

Kerikil halus

Pasir sangat halus

Pasir berlanau

> 10

2 – 10

1–2

0,5 – 1

0,25 – 0,50

0,10 – 0,25

0,05 – 0,10

0,025 – 0,05

> 1500

500 – 1500

400 – 500

200 – 400

100 – 200
50 – 100

10 – 50

5 - 10

3.2.4.2. Uji Permeabilitas pada Sumur Artesis

Pada pengujian ini, sumur dibangun menembus lapisan tanah yang mudah
meloloskan air, dimana lapisan ini diapit oleh dua lapisan tanah yang kedap air
disebelah atas bawahnya. Air yang mengalir dipengaruhi oleh tekanan artesis. Sumur
dapat digali sampai menembus dasar, di tengah, maupun pada batas atas lapisan lolos
air. Gambar 3.12

Debit arah radial :

(3.38)

Dengan :

q = debit arah radial (m3/det)

A = 2π x T = luas tegak lurus arah aliran (m2)

T = tebal lapisan lolos air (m)

dy/dx = i = gradient hidrolik

Gambar 3.12
Jika terdapat dua sumur pemeriksaan :

(3.41a)

Jika hanya terdapat satu sumur pemeriksaan :

(3.41b)

Dengan

= penurunan muka air pada sumur pengujian

= penurunan muka air pada sumur pemeriksaan 1

= penurunan muka air pada sumur pemeriksaan 2

= jari –jari pipa sumur pengujian

= jarak dari sumur pengujian ke sumur pemeriksaan

Smak

S1

Smak

ro
r1,r2

3.2.4.3. Uji Permeabilitas dengan menggunakan Lubang Bor

Pengujian lapangan yang lain adalah pengujian dengan menggunakan lubang bor
(USBR, 1961). Cara pertama, air diizinkan mengalir dengan tinggi energi yang tetap,
ke dalam atau ke luar dari lapisan yang diuji, lewat ujung dari lubang pipa bor. Skema
pengujiannya, dapat dilihat pada Gambar 3.13. Ujung terbawah lubang bor harus
lebih dari 5d, diukur dari lapisan atas dan bawah, dengan d adalah diameter lubang
pipa. Ketinggian air di dalam lubang bor dipelihara konstan, pebedaan tinggi air
dalam lubang dan muka air tanah = h. Debit q yang konstan, untuk memelihara
ketinggian air supaya konstan, diukur. Besar koefisien permeabilitas, dihitung dengan
persamaan yang dikembangkan dari percobaan analogi elektris sebagai berikut:

(3.42)

= diameter dalam pipa

= beda tinggi air

= debit untuk memelihara tinggi energi yang sama

Dengan :

q
Gambar 3.13

3.2.4.4. Uji permeabilitas Menggunakan Lubang Bor dengan Cara

Tinggi Energi Berubah-ubah (Variable-head)

Dalam pengujian dengan tinggi energi berubah-ubah (variable-head), debit yang


mengalir dari lapisan ke dalam lubang bor diukur dengan mencatat waktu (t) pada
ketinggian air relative di dalam lubang yang diukur terhadap ketinggian muka air
tanah, pada perubahan tinggi pada h1 ke h2. Hvorslev memberikan rumus untuk
menentukan permeabilitas dalam sejumlah lubang bor, dua contohnya diberikan
dalam persamaan dibawah ini.

Cara pertama, pipa bor dengan diameter dalam d, ditekan pada jarak yang pendek
D (tak lebih dari 1,5 m) di bawah muka air pada lapisan yang dianggap mempunyai
tebal tak terhingga (Gambar 3.14a). Aliran yang terjadi, lewat lubang di ujing pipa
bor. Koefisien permeabilitas untuk kondisi ini diberikan menurut persamaan :

(3.43)

Cara kedua, sebuah lubang bor dengan pipa (casing) yang dilubangi pada bagian
bawahnya, dengan panjang L (biasa dengan pipa atau tanpa pipa), diman L > 4a, di
dalam lapisan yang dianggap berkedalaman yang tak terhingga (Gambar 3,14b).
koefisien permeabilitas dalam kondisi ini diberikan menurut persamaan :

Gambar 3.14
(3.44)

3.2.4.5. Uji Permeabilitas dengan Pengukuran Kecepatan Rembesan

Permeabilitas tanah berbutir kasar, dapat diperoleh dari pengujian kecepatan


rembesan di lapangan. Cara ini meliputi penggalian lubang tanpa pipa (trial-pit) pada
titik A dan B (Gambar 3.15), dimana aliran rembesan berjalan dari A ke B.

Gambar 3.15

Gradien hidrolik (i), ditentukan dari perbedaan muka air yang tetap pada lubang
bor A dan B, dibagi dengan jaraknya AB. Pada lubang A dimasukan bahan warna.
Waktu perjalanan bahan warna dari A ke B dicatat. Kecepatan rembean dihitung dari
panjang AB dibagi dengan waktunya. Selanjutnya porositas tanah dapat ditentukan
dalam percobaan laboratorium. Nilai koefisien permeabilitas dihitung dengan
persamaan:

(3.45)

3.2.5. Hitungan Koefisien Permeabiltas Secara Teoritis

Telah disebutkan bahwa aliran yang menembus lapisan yang lebih halus dari
kerikil kasar adlah laminer. Hubungan antara pori-pori di dalam tanah, dapat
dibayangkan sebagai jumlah pipa-pipa kapiler yang memungkinkan air lewat.
Menurut Hagen dan Poiseuille, banyaknya lairan air dalam satuan waktu (q) yang
lewat pipa dengan jari-jari R, dapat dinyatakan dengan persamaan:

(3.46)

= berat volume air

= koefisien kekentalan absolute

= luas penampang pipa

= gradien hidrolik

Dengan:

γw

Jari-jari hidrolik RH dari pipa kapiler dapat dinyatakan dengan:

(3.47)

Dari persamaan (3.46) dan 3.47), diperoleh hubungan

(3.48)
Jadi, untuk aliran laminer, aliran lewat sembarang penampang dapat dinyatakan oleh
persamaan umum:

(3.49)

Gambar 3.16

Dengan Cs adalah faktor bentuk. Kecepatan rata-rata aliran dinyatakan dengan


persamaan:

(3.50)

Dalam kenyataannya, hubungan antara pori dapat dianggap sebagai sluran yang
berkelok- kelok (Gambar 3.16). pada persamaan (3.49), S dapat dinyatakan sebagai
Δh/ΔL1. Selanjutnya

(3.51a)
Jika volume tanah total adalah V dan porositas = n, maka volume pori Vv = nV.
Dengan mengambil Sv = luas permukaan persatuan volume tanah, dan persamaan
(3.51a),

(3.51b)

Substitusi persamaan (3.51b) ke dalam persamaan (3.50) dengan mengambil va = vs


(dimana vs adalah kecepatan air nyata lewat rongga pori), diperoleh

(3.52)

Gradient hidrolik (i) yang digunakan dalam persamaan ini, adalah gradient
mikroskopis. Faktor S dalam persamaan (3.52) adalah gradien mikroskopis untuk
aliran lewat tanah. Dari Gambar 3.16, i = Δh/ΔL dan S = Δh/ΔL1. maka:

(3.53)

Atau

Dengan T adalah ΔL1/ΔL. Persamaan kecepatan rembesan dalam tanah,

(3.55)

Dengan v = kecepatan aliaran. Substitusi persamaan (3.55) dan (3.54) ke dalam


persamaan (3.52), akan diperoleh:

Dengan vs adalah kecepatan air lewat rongga pori. Bila akan dihitung kecepatan air
lewat luas kotor dari penampang tanah:

(3.56)
Dalam persamaan (3.56), Sv adalah luas permukaan persatuan volume tanah. Jik
didefinisikan Ss sebagai luas permukaan persatuan volume tanah padat, maka

(3.57)

Dengan Vs adalah volume padat tanah dalam volume V, yaitu

(3.57)

maka

(3.58)

Persamaan permeabilitas absolute dinyatakan oleh:

(3.61)

Maka

(3.62)

Persamaan Kozeny-carman baik untuk tanah berbutir kasar seperti pasir dan beberapa
tanah lanau. Ketidakcocokan yang serius terjadi pada penggunaan persamaan ini
untuk tanah lempung. Untuk tanah granuler, faktor bentuk Cs mendekati 2,5 dan
factor belokan T mendekati √2.

2.6. Hubungan Permeabiltas dengan Angka Pori Tanah Pasir

Koefisien permeabilitas dapat didekati dengan persamaan:

(3.63)
Atau

(3.64)

Dimana k1 dan k2 adalah koefisien permeabilitas tanah yang diberikan pada keadaan
e1 dan e2.

Beberapa hubungan yang lain dari koefisien permeabilizas dan angka pori telah
diusulkan, antara lain:

(3.65)

(3.66)

Untuk pembanding ketepatan hubungan tersebut, beberapa hasil penganatan


pengujian laboratorium constand-head, pada tanah pasir seragam dari Madison
diberikan dalam Tabel 3.5.

A.Hasen (1911), memberikan persamaan empiris untuk koefisien permeabilitas,

(3.67)

Dengan k dalam cm/det dan D10 adalah ukuran diameter efektif butir tanah dalam
cm. persamaan diatat diperoleh dari pengujian Hasen, dimana ukuran efektif tanah
bervariasi dari 0,1 – ke 3 mm dan koefisien keseragaman (Cu) untuk tanah yang
kurang dari 5. koefisien 100 adalah nilai rata-ratanya. Pengujian yang tersendiri
memperlihatkan variasi koefisien, dari 41 sampai 146. walaupun persamaan Hazen
hanya pendekatan, tapi memeperlihatkan kesamaan dengan persamaan (3.66).
Tabel 3.5. Koefisien permeabilitas pasir seragam Madison, dari uji constant-head;
D10 = 0,2 mm.

Nomor pengujian

K20 (mm/det)

e3 / 1 + e

e2 / 1 + e

e2

0,797
0,704

0,606

0,804

0,688

0,617

0,755

0,687

0,582

0,504

0,394

0,303

0,539

0,356

0,286

0,490

0,436

0,275

0,282

0,205
0,139

0,288

0,193

0,144

0,245

0,192

0,125

0,353

0.291

0,229

0,358

0,280

0,235

0,325

0,280

0,214

0,635

0,496

0,367
0,646

0,473

0,381

0,570

0,472

0,399

Casagrande juga mengusulkan hubungan empiris untuk nilai k pada tanah pasir
bersih:

k = 1,4 k 0,85 e2
(3.68)

dengan k0,85 adalah koefisien permeabilitas pada e = 0,85.

3. Rembesan

Teori rembesan yang akan dipelajari disini didasarkan pada analisis dua dimensi.
Bila tanah dianggap homogen dan isotropis, maka dalam bidang x-z hukum Darcy
dapat dinyatakan sebagi berikut:

(3.69)

(3.70)

Tinggi h berkurang dalam arah vx dan vz.


Suatu elemen tanah jenuh dengan dimensi dx, dy, dz berturut-turut dalam arah
sumbu x, y dan z dimana aliran terjadi hanya pada bidang x, z diperlihatkan dalam
Gambar 3.17. Komponen kecepatan aliran masuk elemen adalah vx dan vz.
Perubahan kecepatan aliran arah x = δvx / δx dan z = δvz/δz. Volume air masuk ke
elemen persatuan waktu dapat dinyatakan dengan:

dan volume air meninggalkan elemen persatuan waktu adalah:

Gambar 3.17

Jika elemen volume tetap dan air dianggap tidak mudah mampat, selisih antara
volume air masuk dan keluar adlah nol, persamaan diatas akan menjadi:

(3.71)

Persamaan (3.71) adalah persamaan kontinuitas dalam du dimensi. Akan tetapi,


volume elemen berubah, persamaan kontinuitas menjadi:

(3.72)

Dengan δV/δt adalah perubahan volume persatuan waktu.

Ditinjau fungsi θ (x,z) yang disebut fungsi potensial, sedemikian, sehingga:

(3.73)
(3.74)

Dari persamaan (3.71), (3.73) dan (3.74):

(3.75)

Fungsi θ (x,z) memenuhi persamaan Laplace.

Integrasi persamaan diatas akan diperoleh:

(3.76)

Dengan C adalah kontanta. Jadi, jika fungsi θ (x,z) diberikan suatu nilai konstan θ1,
akan menunjukan nilai tinggi h1 konstan. Jika fungsi θ (x,z) diberikan suatu nilai θ1,
θ2, θ3,… dan seterusnya, suatu kurva akan terbentuk dengan tinggi energi total yang
konstan (tapi dengan nilai yang berbeda pada tiap kurvanya). kurva bentuk demikian,
disebut garis ekipotensial.

Selanjutnya, ditinjau dari fungsi kedua Ø (x,z) yang disebut fungsi aliran, dan
dibentuk oleh

(3.77a)

(3.77b)

Dapat diselesaikan dengan substitusi kepersamaan (3.71) bahwa fungsi ini memenuhu
persamaan Laplace. Deferensial total dari fungsi Ø (x,z) ini, menghasilkan:

Jika fungsi Ø (x,z) diberikan suatu nilai konstan Ø1, maka dØ = 0 dan

(3.78)
Jadi kemiringan dari kurva pada tiap titiknya diberikan oleh:

Dengan menetapkan arah dari resultan kecepatan pada setiap titik, kurvanya akan
menunjukan lintasan aliran, jika fungsi Ø (x,z) diberikan beberapa nilai Ø1, Ø2,
Ø3…., kurva bentuk kedua akan membentuk lintasan aliran. Kurva-kurva ini disebut
garis aliran.

Gambar 3.18:

Jadi lairan lewat saluran antara dua garis aliran adalah konstan. Deferensial total
dari fungsi θ (x,z) adalah:

Jika θ(x,z) konstan, maka dθ= 0 dan

Dengan membandingkan persamaan 3.78 dan 3.79 tampak bahwa garis aliran dan
garis ekipotensial berpotongan satu sama lain tegak lurus.

Sekarang ditinjau dua garis aliran Ø1 dan (Ø1 + ΔØ) yang dipisahkan oleh jarak
Δb. Garis aliran berpotongan tegak lurus dengan ekipotensial θ1 dan (θ1 + Δ2) yang
dipisahkan oleh jarak Δ1 (Gambar 3.19). arah l dan b bersudut α terhadap sumbu x
dan z. pada titik A kecepatan dalam arah l adalah vs, dengan komponen vs dalam arah
x dan z adalah :
Gambar 3.19

3.3.1 Jaring Arus ( Flow-net)

Sekelompok garis aliran dan garis ekipotensial disebut jarring arus (flow-net).
Garis ekipotensial adlah garis-garis yang mempunyai tinggi energi potensial yang
sama (h konstan). Gambar 3.20 memperlihatkan contoh sebuah jaring arus pada
struktur turap baja. Permeabilitas lapisan lolos air dianggap isotropis ( kx = kz = k ).
Perhatikan bahwa garis penuh adalah garis aliran dan garis titik-titik adalah garis
ekipotensial. Pada Gambar 3.20, PQ dan TU adlah garis ekipotensial, sedang QRST
dan VW adalah garis aliran. Dalam penggambaran jaring arus , garis aliran dan garis
ekipotensial digambarkan secara coba-coba (trial and error). Pada prinsipnya, fungsi
θ (x,z) dan Ø (x,z) harus diperoleh pada batas kondisi yang relevan. Penyelesaian
diberikan dengan menganalisis hubungan beberapa kelompok garis ekipotensial dan
garis aliran. Prinsip dasar yang harus dipenuhi di dalam cara jaring arus adalah antara
garis ekipotensial dan garis aliran harus berpotongan tegak lurus. Selanjutnya,
penggambaran jaring arus diusahakan sedemikian rupa sehingga ΔØ bernilai sama
antara sembarang du garis aliran yang berdekatan dan Δθ bernilai sama antara
sembarang dua garis ekipotensial berdekatan .

Bila, garis potongan dan garis ekipotensial berbentuk bujur sangkar (Δ1 = Δb). Untuk
sembarang bujur sangkar maka:

Karena ΔØ = Δq dan Δθ = kΔh, maka diperoleh


Gradient hidrolik diberikan menurut persamaan :

Dengan

h = beda tinggi energi antar garis ekipotensial awal dan akhir

Nd = jumlah penurunan garis-garis ekipotensial

Gambar 3.20

Hitungan rembesan dengan cara jaring arus dalam struktur bangunan air (Gambar
3.21), dapat dijelaskan sebgai berikut ini.

Lajur aliran adalah ruang memanjang diantara dua garis aliran yang berdekatan.
Untuk menghitung rembesan di bawah struktur bendung, ditinjau lajur-lajur aliran
seperti yang terlihat dalam gambar 3.22. Pada gambar tersebut, garis-garis
ekipotensial memotong garis aliran dan hubungannya dengan tinggi h, juga
diperlihatkan. Debit Δq, adalah aliran yang lewat satu lajur aliran persatuan lebar
struktur bendung. Menurut hukum Darcy,

(3.83)

Jika elemen aliran digambarkan sebagai bujur sangkar,

l1 = b1
l2 = b2

l3 = b3……… dan seterusnya

maka dari persaman (3.83), diperoleh:

h1 – h2 = h2 – h3 = h3 – h4 = ……..

Gambar 3.21:

Persamaan (3.84) menunjukan bahwa kehilangan tinggi energi antara dua garis
ekipotensial berurutan adlah sama. Kombinasi persamaan (3.83) dan (3.84), diperoleh

(3. 85)

Jika terdapat Nf lajur aliran, debit rembesan (q) persatuan lebar dari struktur
dinyatakan oleh :

(3.86)

Persamaan (3.86) digunakan untuk menghitung debit rembesan lewat bagian


bawah bangunan air. Jaring arus dapat digambarkan dengan berbentuk segiempat.
Dlam hal ini, nilai banding panjang dan lebar jaring arus konstan.

(3.87)

Pada penggambaran jaring arus, sembarang elemen jaring arus harus memenuhi
b1 = n l1

untuk jaring arus bentuk segi empat, untuk satu lajur aliran, debit rembesan persatuan
lebar dari struktur, ditentukan oleh.
Bila dalam jaring arus terdapat Nf lajur aliran, maka debit rembesan :

(3.88)

Gambar 3.22

3.3.2. Tekanan Rembesan

Air pada keadaan statis di dalam tanah, akan mengakibatkan tekanan hidrostatis
yang arahnya ke atas (uplift). Akan tetapi, jika air mengalir lewat lapisan tanah, aliran
air akan mendesak partikel tanah sebesar tekanan rembesan hidrodinamis yang
bekerja menurut arah alirannya. Besarnya tekanan rembesan akan merupakan fungsi
dari gradien hidrolik.

Gambar 3.23

Karena lairan air dlam tanah biasanya lamban, gaya inersian pada air yang bergerak
diabaikan. Dengan menganggap dp/(dA dL) = D, akan diperoleh persamaan gaya
rembesan persatuan volume:

(3.91)

Dengan i = dh/dL adalah gradien hidrolik. Gaya dinamis persatuan volume (D)
bekerja sepanjang arah aliran airnya.

3.3.2.1. Pengaruh Tekanan Air Terhadap Stabilitas Tanah


Tekanan hidrodinamis mempunyai pengaruh yang sanagat besar pada stabilitas
tanah. Tergantung pada arah aliran, tekanan hidrodinamis dapat mempengaruhi berat
volume tanah. Pengaruh D pada berat volume tanah, oleh adanya rembesan, diberikan
dalam Gambar 3.24.

Pada titik l, atau sembarang titik dimana garis aliran berarah vertikal ke bawah, berat
volume efektif (γef) adalah:

(3.92)

dengan adalah berat volum,e tanah terendam/terapung.

Gambar 3.24

Pada titik 2, atau sembarang titik pada garis aliran, dua vektor D dan γ’ bekerja
saling tegak lurus, menghasilkan vektor resultan gaya yang miring.

Pada titik 3, dimana arah aliran vertikal, berat volume efektifnya adalah:

Disini, jika D = γ’, tanah akan nampak kehilangan beratnya, sehingga menjadi
tidak stabil. Hal demikian, disebut kondisi kritis, dimana pada keadaan ini terdapat
gradien hidrolik kritis, dengan konsekuensinya kecepatan yang terjadi juga kritis (vc),
maka kondisi kritis :

kN/m3 (3.94)

Bila kecepatan aliran melampui kecepatan kritis, maka D > γ’ dan γef dalam
persamaan (3.93) menjadi negatif. Hal ini berarti tanah dalam keadaan mengapung
atau terangkat ke atas. Tanah dalam kondisi demikian disebut tanah dalam kondisi
mengapung ( quick – condition).
3.3.2.2. Teori Kondisi Mengapung ( quick-condition)

Telah disebutkan bahwa tekanan hidrodinamis dapat mengubah keseimbangan


lapisan tanah. Pada keadaan seimbang, besarnya gaya yang bekerja kebawah W = γ’
sama dengan gaya rembesan D = γw ic atau

(3.95)

Dengan ic adalah gradien hirolik kritis pada keseimbangan gaya di atas. Besarnya
berat tanah terendam, adalah:

W = γ’ = (1 – n ) ( Gs – 1 ) γw

(kN/m3, t/m3) (3.96)

dengan:

n = porositas

Gs = berat jenis tanah

e = angka pori

γw = berat volume air

substitusi γ’ dan D = γw ic kedalam persamaan ( 3.95),

Persamaan gradien hidrolik kiritis :

(3.97)

atau dapat pula dibentuk persamaan:


(3.98)

Gradien hidrolik kiritis didefinisikan sebagai gradien hidrolik minimum yang


akan menyebabkan kondisi mengapung pada kondisi tanah tertentu. Untuk pasir
dengan (Gs) = 2,65 dan e = 0,65 (yaitu pasair dengan kepadatan sedang), nilai
gradien hidrolik kritis:

dalam perancangan terhadap bahaya mengapung harus dipenuhi:

(3.99)

Dengan faktor keamanan SF = 3 atau 4.

3.3.2.3. Keamanan Bangunan terhadap Bahaya Piping

Telah disebutkan bahwa bila tekanan rembesan ke atas yang terjadi dalam tanah
sama dengan ic, maka akan berakibat tanah mengapung. Keadaan semacam ini juga
dapat terangkutnya butir-butir tanah halus, sehingga terjadi pipa-pipa di dalam
tanahyang disebut piping. Akibat terjadinya pipa-pipa yang berbentuk rongga-rongga,
dapat mengakibatkan fondasi bangunan mengalami penurunan, hingga menggangu
stabilitas bangunan. Harza (1935) memberikan faktor keamanan bangunan air
terhadap bahaiya piping sebagai berikut:

(3.100)

Dengan ic adalah gradien keluar maksimum (maximum exit gradien) dan ic = γ’/γw.
Gradien keluar maksimum tersebut dapat ditentukan dari jarting arus dan besarnya
sama dengan Δh/ l (Δh adalah kehilangan tinggi energi antara dua garis ekipotensial
terakhir, dan l adalah panjang dari elemen aliran). Faktor aman 3 atau 4 cukup untuk
memenuhi angka aman strukturnya. Harza (1935) memberikan grafik gradien keluar
maksimum untuk bendungan yang dibgangun pada lapisan homogen yang dalam
(Gambar 3.25). dengan mempergunakan notasi yang diperlihatkan dalm gambar
tersebut, gradien keluar maksimum diberikan menurut persamaan:

(3.101)

Lane (1935) menyelidikan keamanan struktur bendungan terhadap bahaya piping.


Panjang litasan aiur melalui dasar bendung dengan memperhatikan bahaya pipping
dihitung dengan cara pendekatan empiris, sebagai berikut:

(3.102)

Dengan

Lw = weighted – creep - distance

∑Lh = jumlah jarak horizontal menurut lintasan terpendek

∑Lv = jumlah jarak vertical menurut jarak terpendek

Gambar 3.25.

Setelah weighted – ceep – distance dihitung, weighted – creep – ratio (WCR)


dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan :

(3.103)
Gambar 3.26.

Tabel 3.6. Nilai angka aman untuk weighted – creep – ratio

Tanah

Agka aman WCR

(weighted – creep – ratio)

Pasir sangat halus atau lanau

Pasir halus

Pasir sedang

Pasir kasar

Kerikil halus

Kerikil kasar

Lempung lunak sampai sedang


Lempung keras

Cadas

8,5

7,0

6,0

5,0

4,0

3,0

2,0 – 3,0

1,8

1,6

Nilai WCR harus lebih besar dari nilai yang terdapat dalam tabel 3.6. Lintasan
alirean yang melewati struktur dengan sudut kemiringan > 45° diperhitungkan
sebagai lintasan vertikal (Lv), sedang kemiringan lintasan aliran < 45°,
diperhitungkan sebagai lintasan horisontal (Lh).

Gambar 3.27.

Terzaghi (1922) mengerjakan beberapa pengujian model pada turap tunggal


(Gambar 3.27). Hasilnya, lokasi yang dipengaruhi oleh bahaya piping terjadi sejarak
d/2 dari dinding turap (d = kedalaman penetrasi turap ke tanah). Stabilitas struktur
dapat ditentukan dengan memperhatikan prisma tanah pada sisi hilir menurut tebal
satuan dan dari potongan d x d/2. Dengan menggunakan jaring arus, tekanan ke atas
dapat ditentukan dari persamaan:

(3.104)

Dengan ha = tinggi energi hidrolik rata-rata pada dasar dari prima tanah. Gaya berat
prisma tanah yang terendam bekerja kebawah, dapat dinyatakan dengan berat
mengapung:

(3.105)

Faktor aman dinyatakan dengan:

(3.106)

Nilai perkiraan SF = 4 biasanya cukup memenuhi.

Gambar 3.28

Untuk keamanan struktur turap tunggal pada gambar 3.28, dalam menghitung
faktor aman minimum terhadap piping Terzghi (1943) menyarankan agar
memperhatikan stabilitas prisma tanah berdimensi d/2 x d’ x 1. perhatikan bahwa
o<d’<d. Akan tetapi, bila faktor aman (SF) yang diberikan 4 sampai 5, penggunaan d
= d’ dianggap cukup aman dan memenuhi syarat kesetabilan (Harr, 1962).
3.3.24. Gaya Tekanan Air pada Struktur

Jaring arus dapat digunakan untul menentukan besar gaya tekanan air ke atas di
bawah sebuah struktur, cara hitungannya disjikan dalam contoh hitungan sebagai
berikut.

Kondisi dstruktur bagian bawah dari sebuah bendung digambarkan pada Gambar
3.29. Tinggi tekanan di D adalah (11 + 2,3 m) dikurangi dengan kehilangan tinggi
tekanan. Titik D bertepatan dengan garis ketiga permulaan dengan sisi sebelah hulu,
yang berarti bahwa kehilangan tinggi hidrolis pada titik ini = 2 (h/Nd) = 2 (11/12) =
1,83 m.

Tinggi tekanan di D = (11 + 2,3) – 1,83 = 11,47 m

E = (11 + 2,3) – 3 (11/12) = 10,55 m

F = (11 + 2,3 – 1,65) – 3,5 (11/12) = 8,44 m

Perhatikan bahwa F berada di tengah antara garis ekipotensial nomer 3 dan 4, yang
dihitung dari hulu.

Tinggi tekanan di G = 13,3 – 16,5) – 8,5(11/12) = 3,86 m

H = (11 + 2,3) – 9(11/12) = 5,05 m

I = (11 + 2,3) – 10 (11/12) = 4,13 m

Tinggi tekanan yang telah dihitung, kemudian digambarkan pada gambar 3.29b.
Antar titik F dan G, variasi tinggi tekanan akan mendekati linier, gaya tekanan ke atas
perstuan panjang dari bendungnya (U), dihitung dengan persamaan:

Gambar 3.29
3.3.3. Kondisi Tanah (Anisotropis)

Dalam tinjauan tanah anisotopris, walaupun tanah mungkin homogen, tapi


mempunyai permeabilitas yang berada pada arah vertikal dan horizontalnya.
Kebanyakan tanah pada kondisi alamnya dalam keadaan tak isotropis, artinya
mempunyai nilai koefisien permeabilitas maksimumkearah lapisannya, dan nilai
minimum kearah tegak lurus lapisannya. Arah-arah ini selanjutnya dinyatakan dalam
arah x dan z. Dalam kondisi ini permeabilitas pada arah horizontal dan vertikalnya
dapat dinyatakan dalam bentuk:

nilai koefisien permeabilitas yang diterapkan pada potongan transfomasinya,


diberikan sebagai koefisien isotropik ekivalen, dengan:

(3.113)

Vreendenburgh (1936) telah berhasil membuktikan ketepatan dari persamaan (3.113).


Pada Gambar 3.30, aliran air rembesan bekerja dalam arah sumbu x. Jaring arus
digambarkan dalam dua kondisi, yaitu kondisi transformasi dan kondisi asli.
Kecepatan arah sumbu x (vx) dinyatakan dengan notasi k’ pada potongan yang
ditransformasi, dan kx pada potongan kondisi asli. Cara pembuktian dilakukan
sebagai berikut:

Dengan

Jadi
Gambar 3.30

Langkah-langkah dalam hitungan jari arus pada kondisi tanah anisotropis, dilakukan
dengan cara sebagai berikut:

a. untuk penggambaran potongan melintang strukturnya, gunakan sembarang skala


vertikal.

b. Tentukan

c. Hitunglah skala horizontal, sedemikian sehingga skala horizontal = kali skala


vertikal.

d. Dengan skalayang ada pada butir a dan c, gambarkan potongan melintang dari
strukturnya.

e. Gambarkan jaring arus untuk potongan yang ditransformasi, dengan cara yang
sama seperti keadaan isotropis.

f. Hitung debit rembesan menurut persamaan:

(3.114)

3.3.4. Kondisi Tanah Berlapis


3.3.4.1. menghitung Debit Rembesan Tanah Berlapis dengan Cara jaring

Arus

Cara penggambaran jaring arus yangtelah dipelajari sebelumnya adalah untuk kondisi
tanah yang homogen. Dalam prakteknya, banyak dijumpai keadaan tanah yang tidak
homogen, seperti yang ditunjukan Gambar 3.31. Bila jaring arus akan digambarkan
untuk 2 lapisan yang berbeda, maka pada batas lapisannya gambar jaring arus akan
patah. Kondisi demikian disebut kondisi transfer. Gambar 3.31 memperlihatkan
kondisi umum, dimana lajur jaring arus memotong batas dari 2 lapisan tanah. Lapisan
tanah 1 dan 2 mempunyai koefisien permeabilitas yang tidak sama. Garis patah-patah
yang memotong lajur aliran pada gambar, adalah garis-garis ekipotensial. Pada
Gambar 3.31, Δh adalah tinggi energi hilang di antara dua garis ekipotensial yang
berdekatan. Ditinjau dari suatu panjang satuan yang tegak lurus bidang gambar, debit
rembesan yang melalui lajur aliran adalah:

Atau

(3.115)

Dengan l1 dan b1 adalah panjang lebar dari elemen aliran lapisan tanah 1, sedang l2
dan b2 adalah panjang dan lebar pada lapisan tanah 2. dari Gambar 3.31, terlihat
bahwa:

l1 = AB sin θ1 = AB cos α1 (3.116a)

l2 = AB sin θ2 = AB cos α2 (3.116b)

l1 = AC cos θ1 = AC sin α1 (3.116c)


l2 = AC cos θ2 = AC sin α2 ­
(3.116d)

dari persamaan (3.116ª) dan (3.116c),

b1 / l1 + cos θ1 / sin θ1 = sin α1 / cos α1

atau

b1 / l1 = 1/ tg θ1 = tg α1
(3.117)

Dengan cara persamaan yang sama,

b2 / l2 = 1/ tg θ2 = tg α2
(3.118)

Gambar 3.31

Gabungan dari persamaan (3.115), (3.117), dan (3.118),


(3.119)

Jaring arus untuk tanah yang tidak homogen, dapat digambarkan dengan
menggunakan persamaan (3.119). untuk selanjutnya, pertimbangan berikut ini
mungking sangat penting untuk digunakan dalam penggambaran jaring arus pada
kondisi tanah berlapis.

a. Jika k1 > k2, maka dpat digambarkan elemen jaring arus bujur sangkar pada
lapisan 1. ini berarti bahwa l1 = b1, maka k1/k2 = b2/l2. jadi jaring arus dalam
lapisan 2 akan berupa segi empat dengan nilai banding lebar dan panjangnya = k1/k2
(Gambar 3.32a)

b. Jika k1 < k2, maka dapat digambarkan jaring arus bujur sangkar pada lapisan 1,
yaitu dengan l1 = b1. dari persamaan (3.119), k1/k2 = b2/l2. maka elemen jaring arus
dalam lapisan 2 akan segiempat (Gambar 3.32b)

Gambar 3.32

Contoh penggambaran jaring arus untuk struktur bendungan yang terletak pada 2
kondisi lapisan tanah berbeda, diperlihatkan dalam gambar 3.33

Nilai k1 = 4 x 10-2 mm/det sedang k2 = 2 x 10-2 mm/det, maka:


Maka dalam penggambarannya

Didalam lapisan 1, elemen aliran digambar bujur sangkar, dan karena k1/k2 = 2,
panjang dibagi lebar elemen aliran dari lapisan 2, akan sama dengan ½.

Gambar 3.33.

3.3.4.2. Menghitung Debit rembesan Tanah Berlapis dengan cara

Menganggap Sebagai Lapiasan Tunggal.

Ditinjau dua lapisan tanah dengan tebal H1 dan H2 yang mempunyai koefisien
permeabilitas masing-masing k1 dan k2 (Gambar 3.34). dua lapisan tersebut dianggap
sebagai lapisan tunggal dengan tebal H1 + H2.

Gambar 3.34

Pada tinjauan aliran rembesan satu dimensi arah horizontal, garis-garis


ekipotensial dalam tiap lapisan hádala vertikal. Jika h1 dan h2 adalah tinggi energi
total pada masing-masing lapisan maka untuk sembarang titik pada tiap lapisannya,
h1 = h2. Karena itu, sembarang garis vertikal yang lewat dua lapisan merupakan
ekipotensial untuk kedua lapisan tersebut. Jadi, gradien hidrolis dalam dua lapisan
dan dalam lapisan tunggal ekivalennya adalah sama, yaitu gradien hidrolis ix. Aliran
horizontal total persatuan waktu diberikan oleh:
qx = (H1 + H2) k1ix = (H1 k1 + H2 k2) ix

(3.120)

Untuk aliran rembesan satu dimensi arah vertikal, debit tiap lapisan dan debit
dalam anggapan lapisan tunggal ekivalen harus sama. Jika persyratan kontinuitas,
maka:

qz = vzA = v1A = v2A

dengan iz = gradien hidrolis rata-rata pada kedlaman H1 + H2.

vz = kecepatan arah x

selanjutnya, A = luas

dan

Dalam keadaan yang sekarang, kehilangan tinggi energi pada kedalaman H1 + H2,
sama dengan kehilangan energi total dalam tiap lapisan, yaitu:

iz (H1 + H2) = i1 H1 + i2 H2

(3.121)

Atau

Cara yang sama dapat dilakukan guna menghitung koefisien permeabilitas


ekivalen untuk kx dan kz pada sembarang jumlah lapisan tanahnya. Dapat dilihat
bahwa kx harus selalu lebih besar kz, yaitu rembesan yang terjadi cenderung lebih
besar dalam atau sejajar lapisan, daripada dalam arah tegak lurus lapisannya.

3.3.5. Rembesan pada struktur bendungan

Hukum Darcy dapat juga diterapkan untuk menghitung debit rembesan yang
melalui struktur bendungan. Dalam merencanakan sebuah bendungan, perlu
diperhatikan stabilitasnya terhadap bahaya longsoran, erosi lereng dan kehilangan air
akibat rembesan yang melalui tubuh bendungannya. Beberapa cara diberikan untuk
menentukan besarnya rembesan yang melewati bendungan yang dibangun dari tanah
homogen. Berikut ini disajikan beberapa cara untuk menentukan debit rembesan.

3.3.5.1. Cara Dupuit

Potongan melintang sebuah bendungan disajikan Gambar 3.35. garis AB adalah garis
permukaan freatis, yaitu garis rembesan paling atas. Besarnya rembesan persatuan
panjang arah tegak lurus bidang gambar yang duberikan oleh Darcy, adalah q = kiA.
Dupuit (1863), menganggap bahwa gradien hidrolis (i) adalah sama dengan
kemiringan permukaan freatis dan besarnya konstan dengan kedalamannya yaitu i =
dz/dx, maka :

(3.122)
Persamaan (3.122) memberikan permukaan garis freatis dengan bentuk parabolis.
Akan tetapi, derivatif dari persamaannya tidak mempertimbangkan kondisi masuk
dan keluarnya air rembesan pada tubuh bendungannya. Lagi pula, jika H2 = 0, garis
freatis akan memotong permukaan kedap air.

Gambar 3.35.

3.3.5.2. Cara Schaffernak

Untuk hitungan rembesan yang lewat bendungan, Schaffernak (1917) menganggap


bahwa permukaan garis AB dalam Gambar 3.36, yang memotong garis kemiringan
hilir pada jarak a dari dasarla[pisan kedap[ air. Rembesan persatuan panjang
bendungan dapat ditentukan dengan memperhatikan bentuk segitiga BCD dalam
Gambar 3.36.

Debit rembesan q = kiA

A = BD x 1 = a sin α

Dari anggapan Dupuit, gradien hidrolik i = dz/dx = tg α. Maka

(3.123)

atau
½ (H2 – a2 sin α) = (a sin α)(tg α)(d – a cos α) (3.124)

Dari persamaan (3.124) akan diperoleh:

Diperoleh,

(3.125)

Gambar 3.36

Setelah nilai a diketahui, debit rembesan dap[at ditentukan dari persamaan

q = ka sin α tg α (3.126)

3.3.5.3. Cara A. Casagrande

A.Casagrande (1937) memberikan cara untuk menghitung rembesan lewat tubuh


bendungan yang berasal dari pengujian model. Parabola AB (Gambar 3.36) berawal
dari titik A seperti yang diperlihatkan dalam Gambar 3.37, dengan A’A = 0,3 x (AD).
Pada modifikasi ini, nilai d yang digunakan dalam persamaan (3.125) akan
merupakan jarak horizontal antara titik E dan C.
Gambar 3.37

Persamaan (3.126) diperoleh dengan didasarkan pada cara Dupuit dimana gradien
hidrolik (i) sama dengan dz/dx. A.Casagrande (1932) menyarankan hubungan ini
melalui pendekatan pada kondisi dalam kenyataannya. Dalam kenyataannya
(Gambar3.37),

(3.127)

Untuk kemiringan sebelah hilir α yang lebih besar dari 30°, deviasi dari anggapan
Dupuit menjadi kenyataan. Didasarkan pada persamaan (3.127), debit rembesan q =
kiA

Pada segitiga BCF Gambar 3.38,

Maka

Atau

(3.128)

Dimana s adlah panjang dri kurva A’BC.

Penyelesaian dari persamaan (3.128) akan menghasilkan


(3.129)

Diperoleh

(3.130)

Dengan kesalahan sebesar kira-kira 4-5 %, s dapat dianggap merupakan garis lurus
A’C. Maka,

Gambar 3.38

(3.131)

Kombinasi persaman (3.30) dan (3.131), memberikan

(3.132)

Besarnya debit rembesan, dapat ditentukan dengan persamaan:

Dalam penerapan persamaan (3.132), Taylor (1948) memberikan penyelesaian dalam


bentuk grafik, seperti yang terlihat pada gambar 3.39. prosedur untuk mendapatkan
debit rembesan, aadlah sebagai berikut:

1. tentukan nilai banding d/H.

2. Dengan nilai pada butir (1) dan α, tentukan nilai m.

3. hitunglah oanjang a = mH/sinα.

4. hitunglah debit rembesan, dengan q = ka sin2 α.


Gambar 3.39

3.3.5.4. Penggambaran Garis Rembesan Secara Grafis.

Jika bentuk dan posoisi garis rembesan paling atas B1B2ES pada potongan
melintang bendungan diketahui, besarnya rembesan air dapat dihitung. Bentuk garis
rembesan kecuali dapat ditentukan secara analitis, dpat juga ditentukan secara grafis
atau dari pengamatan laboratorium dari sebuah model bendungan sebagai prototype,
ataupun juga, secara anallogi elektris.

Seperti telah dibicarakan seblumnya, pengamatan menunjukan bahwa garis


rembesan yang melalu bendungan berbentuk kurva parabolis. Akan tetapi,
penyimpangna kurva terjadi pada daerah hulu sdan hilirnya. Bentuk Parabola
rembesan BB2ERAV, disebut dengan parabola dasar. Penggambaran secara grafis
didasarkan pada sifat khusus dari kurva parabola. Untuk itu, harus diketahui satu titik
pada parabola (titik B) dan posisi dari fokus F dari parabolanya. Menurut
A.Casagrande, letak titik B (x,z) dengan z = H, adalah pada pada permukaan air hulu
bendungan dengan jarak 0,3 kali B1D1 dihitung dari titik B1 atau BB1 = 0,3 D1B1
(Gambar 3.40).

Gambar 3.40

Posisi fokus F dari parabolanya, biasanya dipilih pada perpotongan batas terendah
garis alirab (yang dalam hal ini adalah garis horizontal) dan permukaannya. Perlu
diperhatikan bahwa sebelum parabola dapat digambarkan, parameter p harus
diketahui lebih dulu. Gari Geometri Gambar 3.40.

FV = HV = p

Dan

HC = 2p + x (3.134)

Jadi,

(3.135)

dan

(3.136)

Pada x = d dan z = H, maka

Dari persaman (3.136), p dapat dihitung. Untuk menggambar parabola dasar,


persamaan (3.134) dapat diubah menjadi:

(3.137)

Denagn p yang diketahui, nilai x untuk berbagai nilai z dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan (3.137).

1. Penggambaran Parabola Dasar untuk kemiringan Sudut Hilir α > 30°


Perpotongan parabola dasar dengan permukaan hilir bendungan titik R (Gambar)
3.40) dihitung menutut cara Casagrande, yaitu sebesar (a + Δa) dengan a = FS.
Perhatikan bahwa panjang Δa, adalah panjang SR, dengan

Gambar 3.41

Adalah fungsi dari α, dimana α adalah sudut kemiringan bendungan bagian hilir.

Pada bendungan yang terlihat pada Gambar 3.40, air dapat keluar melalui sisi
luar hilir bendungan. Bila dibagian hilir dibangun sistem drainase pada kakinya,
seperti yang diperlihatkan dlam gambar 3.41a dan 3.41b, maka besarnya sudut
kemiringan α dari permukaan air keluar berturut-turut akan sama-sama 90° dan 135°.
Bila bangunan drainase seperti dalam Gambar 3.41c, sudut kemiringan α dari
permuakaan air keluar adalah 180°. Sudut kemiringaan diukur searah jarum jam.
Perhatikan bahwa, tritk F adalah fokus dari parabola.
Nilai c untuk berbagai macam α diberikan oleh Casagrande untuk sembarang
kemiringan α dari 30° sampai 180°. Dengan diketahuinya sudut α yang berasal dari
penampang potongan bendung, nilai c dapat ditentukan dari Gambar 3.42. Adapun
persamaan untuk menghitung besarnya Δa adalah:

Dari Δa yang telah diperoleh ini, kemudian dapat ditentukan posisi titik S, dengan
tinggi ordinat S = a sin α.

Gambar 3.42

2. Penggambaran Parabola dasar untuk Sudut Kemiringan Hilir α < 30°

Untuk α < 30°, posisi titik S dapat ditentukan secara grafis yang didasarkan pada
oersamaan (3.125). menurut Schffernak, untuk menentukan panjang a dilakukan
langkah-langkah sebagai berikut ini (Gambar 3.43).

1. Gambarkan kemiringan hilir bendungan ke arah atas.

2. Gambarkan garis vertikal Ac lewat titik B.

3. Gambarkan setengah lingkaran OJC dengan diameter OC.

4. Gambarkan garis horizontal BG

5. Dengan O sebagai pusat dan OG sebagai jari-jari, gambarkan bagian lingkaran


GJ

6. Dengan C sebagai pusat dan CJ sebagai jari-jari, gambarkan bagian lingkaran JS.

7. ukur panjang OS yang merupakan panjang a.


3.3.5.6. Kondisi Aliran masuk, dan Kondisi Transfer dari Garis rembesan

Melalui Bendungan

Kondisi-kondisi aliran masuk, keluar dan kondisi transfer dari garis rembesan
melalui badan bendungan, telah dianalisis oleh Casagrande (1937).

Maksud dari kondisi aliran air masuk, adalah bila aliran rembesan berasal dari bahan
tanah dengan koefisien permeabilitas sangat besar atau k1 = ∞, menuju bahan dengan
permeabilitas k2. dengan pengertian yang sama, untuk kondisi sebaliknya, yaitu dari
bahan dengan koefisien permeabilitas k1, menuju kebahan dengan 52= ∞, kondisi ini
disebut dengan kondisi aliran air keluar. Kondisi-kondisi tersebut diperlihatkan dalam
Gambar 3.44. Dalam gambar ini, kondisi transfer terjadi bila rembesan melewati
bahan dengan nilai k yang berbeda. Dengan menggunakan Gambar 3.44, dapat
ditentukan kelakuan garis freatis untuk berbagai potongan melintang bendungan.

Gambar 3.44

3.3.5.7. Cara Menggambar jaring Arus pada Struktur Bendungan tanah.


Setelah kondisi-kondisi aliran air masuk, dan kondisi transfer diketahui,
kemudian dapat digambarkan jaring arus pada penampang tubuh bendung. Gambar
3.45 memperlihatkan potongan tubuh bendungan dengankoefisien permeabilitas yang
homogen pada seluruh penampangnya.

Untuk menggambarkan jaring-jaring arus, maka prosedur ini dapat diikuti.

1. gambarkan agris freatis, dengan cara yang telah dipelajari. Perhatikan bahwa
garis AB merupakan garis ekipotensial dan BC garis aliran. Tinggi energi tekanan
pada sembarang titik pada garis freatis adalah nol. Jadi, selisih tinggi energi total
antara garis ekipotensial, harus sama dengan elevasi antara titik-titik dimana garis
ekipotensial berpotongan dengan garis freatis. Karena kehilangan tinggi tekanan
antara dua garis ekipotensial berdekatan sama, maka dapat tentukan penurunan
ekipotensialnya (Nd). Lalu hitung nilai Δh = h/Nd.

2. Gambarkan garis tinggi tekanan pada penampang melintang bendungan. Titik-


titik potong dari garis-garis tinggi tekanan dan garis freatis merupakan titik
kedudukan agris ekipotensial.

3. gambar garis jaring arusnya, dengan mengingat garis ekipotensial dan garis
aliran berpotongan tegak lurus.

4. debit rembesan yang lewat tubuh bendungnya, ditentukan dengan menggunakan


persamaan:

Gambar 3.45.
Dalam gambar 3.45, jumlah lajur aliran (Nf), sama dengan 2,33. dua aliran
sebelah atas mempunyai bentuk elemen aliran bujursangkar, dan bagian bawah jalur
aliran sebelah bawah mempunyai elemen yang lebar dibagi panjangnya 1/3. Nilai Nd
dalam hal ini adalah 10.

Bila permeabilitas arah horizontal tidak sama dengasn permeabilitas vertikalnya


(tanah anisotropis), potongan transformasi harus digunakan dengan cara yan telah
dipelajari sebelumnya. Kemudian jarring arus dapat digambar pada kondisi
transformasinya. Debit rembesan dapat dihitung dengan menggunakan persamaan:

Gambar 3.46 dan 3.47 memperlihatkan memperlihatkan beberapa contoh jaring


arus pada penampang bendungan. Gambar jaring arus pada penampang bendungan
yang mempunyai dua lapisan nilai k yang berbeda pada lapisannya , diperlihatkan
dalam gambar 3.48. pada sisi sebelah hulu mempunyai koefisien permeabilitas k1 dan
sebelah hilirnya k2, dengan k2= 5 k1. Garis yang telah tergambar merukan hasil
coba-coba. Dari persamaan yang telah dipelajari sebelumnya:

Gambar 3.46

Jika b1 = l1 dan 52 = 5 k1, maka b2/l2 = 1/5. Dengan demikian, elemen jaring
arun berbentuk bujur sangkar digambarkan dalam setengah bagian badan bendungan,
dan pada setengah bagian yang lain (hilir badan bendungan), elemen jaring arus
mempunyai lebar dibagi panjang = 1/5. debit rembesan dihitung dengan persamaan:
Dimana Nf(1) adalah jumlah lajur aliran penuh pada tanah dengan permeabilitas k1
dan Nf(2) adlah jumlah lajur aliran penuh pada tanah dengan permeabilitas k2.

Gambar 3.47

Gambar 3.48

3.3.6 Filter

Bila air rembesan dari lapisan dengan butiran yang lebih halus menuju lapisan
yang kasar, kemungkinan terangkutnya bahan butiran lebih halus lolos melewati
bahan yang lebih kasar tersebut dapat terjadi. Pada waktu yang lama, proses ini
mungkin akan menyumbat ruang pori di dalam bahan yang kasarnya, atau juga dapat
terjadi piping pada bagian butiran halusnya.

Erosi butiran ini mengakibatkan turunnya tahanan aliran air dan naiknya gradient
hidrolik. Bila kecepatan aliran membesar akibat dari pengurangan tahanan aliran yang
berangsur-angsur turun, akan terjadi erosi butiran yang lenih besar lagi, sehingga
membentuk pipa-pia di dalam tanah yang dapat mengakibatkan keruntuhan pada
bendungan.

Gambar 3.49.

Contohnya, jika bahan timbunan yang berupa batuan dari bendungan


berhubungan lansung dengan bagian bahan bendungan yang berbutir halus, maka air
rembesan akan dapat mengangkut butiran halusnya. Guna mencegah bahaya ini,
harus diadakan suatu lapisan filter yang diletakan diantar lapisan yang halus dan
kasar tersebut (Gambar 3.49)

Filter atau drainase untuk mengendalikan rembesan, harus memenuhu dua


persyaratan :

1. ukuran pori-pori harus cukup kecil untuk mencegah butir-butir tanah terbawa
aliran

2. permeabilitas harus cukup tinggi untuk mengizinkan kecepatan drainase yang


besar dari air yang masuk filternya.

Persyratan yang harus dipenuhi intuk merencenakan bahan filter seperti yang
disarankan oleh Bertram (1940), adalah sebagai berikut:

Untuk memenuhi kriteri piping, nilai banding ukuran diameter D15 filter harus tidak
lebih dari empat atau lima kali ukuran diameter D85 dari tanah yang dilindungi, atau,

Criteria selanjutnya, untuk meyakinkan permeabilitas bahan filter mempunyai


kemampuan drainase yang cukup tinggi, ukuran butiran D15 dari tanah filter harus
lebih dari 4 atau 5 ukuran butiran D15 dari tanah yang dilindungi. Kelompok teknis
Amerika (U.S Corps of Engineers) menambahkan persyaratan, bahwa nilai banding
D50 dari tanah filter dan tanah yang dilindungi maksimum harus 25.

Ketebalan dari lapisan filter dapat ditentukan dari hukum Darcy. Filtr yang terdiri
dari dua lapisan atau lebih dengan gradasi yang berbeda dapat juga digunakan dengan
lapisan terhalus diletakan pada daerah hulu dari susunan filternya.

materi mekanika tanah 1


Seed, Woodward, dan Lundgren mempelajari sifat plastis dari beberapa macam
tanah yang dibuat sendiri dengan cara mencampur pasir dan lempung dengan
persentase yang berbeda. Mereka menyimpulkan bahwa walupun hubungan antara
indeks plastis dan persentase butiran yang lebih kecil dari 2µ adalah merupakan garis
lurus, seperti diteliti skempton, tetapi garis-garis tidak selalu melalui pusat sumbu.
Oleh karena itu, aktifitas dapat didefinisikan sebagai beikut:

Dimana C’ adalah konstanta dari tanah yang dtinjau.

Untuk hasil percobaan yang dilakukan, C’ = 9

Studi lanjutan dari Seed, Woodward, dan Lundgren menunjukkan bahwa


hubungan antara indeks plastisitas dan persentase dari fraksi berukuran lempung
didalam tanah dapat diwakili oleh dua garis lurus. Untuk tanah yang mengandung
fraksi berukuran lempung lebih besar dari 40%, garis lurus tersebut akan melalui
pusat sumbu apabila diproyeksi kembali.

2.2.7 Struktur Tanah

Struktur tanah didefinisikan sebagai susunan geometrik butiran tanah.


Diantara fakto-faktor yang mempengaruhi struktur tanah adalah bentuk, ukuran, dan
komposisi mineral dari butiran tanah serta sifat dan komposisi dari air tanah. Secara
umum, tanah dapat dimasukkan ke dalam dua kelompok yaitu: tanah tak berkohesi
dan tanah kohesif. Struktur tanah untuk tiap-tiap kelompok akan diterangkan dibawah
ini.
Struktur tanah tak berkohesi pada umumnya dapat dibagi dalam dua katagori
pokok: struktur butir tunggal dan struktur sarang lebah. Pada struktur butir tunggal,
butiran tanah berada dalam posisi stabil dan tiap-tiap butir bersentuahan satu terhadap
yang lain. Bentuk dan pembagian ukuran butiran tanah serta kedudukannya
mempengaruhi sifat kepadatan tanah. Untuk suatu susunan dalam keadaan yang
sangat lepas, angka pori adalah 0,91. Tetapi, angka pori berkurang menjadi 0,35
bilamana butiran bulat dengan ukuran sama tersebut diatur sedemikian rupa hinga
susunan menjadi sangat padat. Keadaan tanah asli berbeda dengan model diatas
karena butiran tanh asli tidak mempunyai bentuk dan ukuran yang sama. Pada tanah
asli, butiran dengan ukuran terkecil menempati rongga diantara butiran besar.
Keadaan ini menunnjukan kecenderungan terhadap pengurangan anka pori tanah.
Tetapi, ketidakrataan bentuk butiran pada umumnya menyebabkan adanya
kecenderungan terhadap penambahan angka pori dari tanah. Sebagai akibat dari dua
faktor tersebut di atas, maka angka pori tanah asli kira-kira masuk dalam rentang
yang sama seperti angka pori yang didapat dari model tanah dimana bentuk dan
ukuran butiran adalah sama.

Pada struktur sarang lebah, pasir halus dan lanau membantu lengkung-
lengkungan kecil hingga merupakan rantai butiran. Tanah yang mempunyai struktur
sarang lebah mempunyai angka pori besar dan biasanya dapat mamikul beban statis
yang tak begitu besar. Tetapi, apabila stuktur tersebut dikenai beban berat atau
apabila dikenai beban getar, struktur tanah akan rusak dan menyebabkan penurunan
yang besar.

2.3 Klasifikasi Tanah


Sistem klasifikasi tanah adalah suatu sistem pengaturan beberapa jenis tanah yang
berbeda-beda tapi mempunyai sifat yang serupa kedalam kelompok-kelompok dan
subkelompok-kelompok berdasarkan pemakaian-pemakaiannya. Sebagian besar
sistem klasifikasi tanah yang telah dikembangkan untuk tujuan rekayasa didasarkan
pada sifat-sifat indeks tanah yang sederhana seperti distribusi ukuran dan plastisitas.

2.3.1 Klasifikasi Berdasarkan Tekstur

Dalam arti umum, yang dimaksud dengan tekstur tanah adalah keadaan
permukaan tanah yang bersangkutan. Tekstur tanah dipengaruhi oleh ukuran tiap-tiap
butir yang ada didalam tanah. Pada umumnya tanah asli merupakan campuran dari
butir-butir yang mempunyai ukuran yang berbeda-beda. Dalam sistem klasifikasi
tanah berdasarkan tekstur , tanah diberi nama atas dasar komponen utama yang
dikandungnya , misalnya lempung berpasir, lempung berlanau dan seterusnya.

2.3.2 Klasifikasi Berdasarkan Pemakaian

Klasifikasi berdasarkan tekstur adalah relatif sederhana karena ia hanya


didasarkan distribusi ukuran tanah saja. Dalam kenyataannya , jumlah dan jenis dari
mineral lempung yang terkandung oleh tanah sangat mempengaruhi sifat fisis tanah
yang bersangkutan. Oleh karena itu, kiranya perlu untuk memperhitungkan sifat
plastisitas tanah yang disebabkan adanya kandungan mineral lempung , agar dapat
menafsirkan ciri-ciri suatu tanah. Karena sistem klasifikasi berdasarkan tekstur tidak
memperhitungkan plastisitas tanah dan secara keseluruhan tidak menunjukkan sifat-
sifat tanah yang penting , maka sistem tersebut dianggap tidak memadai untuk
sebagian besar dari keperluan teknik. Pada saat sekarang ada dua sistem klasifikasi
tanah yang selalu dipakai oleh para ahli teknik sipil. Sistem-sistem tersebut adalah:
Sistem klasifikasi AASHTO dan Sistem klasifikasi Unified.
Pada Sistem Klasifikasi AASHTO dikembangkan dalam tahun 1929 sebagai
Plublic Road Adminis tration Classification Sistem. Sistem ini sudah mengalami
beberapa perbaiakan. Klasifikasi ini didasarkan pada kriteria dibawah ini:

1) Ukuaran butir :

Kerikil: bagian tanah yang lolos ayakan dengan diameter 75 mm dan yang tertahan
di ayakan No.20 (2mm).

Pasir: bagian tanah yang lolos ayakan No 10 (2mm) dan yang tertahan pada
ayakan No. 200 (0,075mm).

Lanau dan lempung: bagian tanah yang lolos ayakan No. 200.

2) Plastisitas:

Nama berlanau dipakai apabila bagian-bagian yang halus dari tanah mempumyai
indeks plastisitas sebesar 10atau kurang. Nama berlempung dipakai bila mana bagian-
bagian yang halus dari tanah mempunyai indeks plastik sebesar 11 atau lebih.

3) Apabila batuan ( ukurannya lebih besar dari 75mm) ditemukan didalam contoh
tanah yang akan ditentukan klasifikasi tanahnya , maka batuan-batuan tersebut harus
dikeluarkan terlebih dahulu. Tetapi persentase dari batuan yang dikeluarkan tersebut
harus dicatat.

Sistem Klasifikasi Unified diperkenalkan oleh Casagrande dalam tahun 1942 untuk
digunakan pasa pekerjakaan pemnuatan lapanagn terbang yang dilaksakan oleh The
Army Corps of Engineering selama perang dunia II. Dalam rangka kerja sama dengan
United States Bureauof Reclamation tahun 1952, sistem ini disempurnakan.Sistem ini
mengelompokkan tanah kedalam dua kelompok besar yaitu:

1) Tanah berbutir kasr (coarse-grained-soil), yaitu: tanah kerikil dan pasir dimana
kurang dari 50% berat total contoh tanah lolos ayakan No.200. Simbol dari kelompok
ini dimulai dengan huruf awal G atau S. G adalah untuk kerikil (gravel)atau tanah
berkerikil dan S adalah untuk pasir (sand) atau tanah berpasir.

2) Tanah berbutir halus (fine-granied-soil), yaitu tanah dimana lebih dari 50% berat
total contoh tanah lolos ayakan No.200. Simbol dari kelompok ini dimulai dengan
huruf awal M untuk lanau (silt) anorganik, C untuk lempung (clay) anorganik, dan O
untuk lanau-organikdan lempung-organik.

Simbol-simbol lain yang digunakan untuk klasifikasi USCS:

W : Well Graded ( tanah dengan gradasi baik )

P : Poorly Graded ( tanah dengan gradasi buruk )

L : Low Plasticity ( plasticitas rendah ) (LL<50)

H : High Plasticity ( plasticitas tinggi ) (LL>50)

2.3.3 Perbandingan antara Sistem AASHTO dengan Sistem Unified

Kedua sistem klasifikasi, AASHTO dan Unified, adalah didasarkan pada


tekstur dan plastisitas tanah. Juga kedua sistem tersebut membagi tanah dalam dua
kategori pokok, yaitu: berbutir kasar (coarse-grained) dan berbutir halus ( fine-
grained), yang dipisahkan oleh ayakan No. 200. Menurut sistem AASHTO, suatu
tanah dianggap sebagai tanah berbutir halus bilamana lebih dari 35% lolos ayakan
No. 200. Menurut sistem Unified, suatu tanah dianggap sebagai tanh berbutir halus
apabila lebih dari 50% lolos ayakan No. 200. Suatu tanah berbutir kasar yang
megandung kira-kira 35% butiran halus akan bersifat seperti material berbutir halus.
2.4 Permeabilitas Dan Rembesan

Tanah adalah merupakan susunan butiran padat dan pori-pori yang saling
berhubungan satu sama lain sehingga air dapat mengalir dari satu titik yang
mempunyai energi lebih tinggi ke titik yang mempunyai energi lebih rendah. Studi
mengenai aliran air melalui pori-pori tanah diperlukan dalam mekanika hal ini sangat
berguna didalam menganalisa kestabilan dari suatu bendungan tanah dan konstruksi
dinding penahan tanah yang terkena gaya rembesan.

2.4.1 Gradien Hidrolik

Menurut persamaan Bernaoulli, tinggi energi total pada suatu titik didalam air
yang mengalir dapat dinyatakan sebagai penjumlahan dari tinggi tekanan, tinggi
kecepatan, dan tinggi elevasi, atau

+ +

tinggi tinggi tinggi

tekanan kecepatan elevasi

dimana:

h = tinggi energi total

p = tekanan

v = kecepatan

g = percepatan disebabkan oleh gravitasi

= berat volume air


Apabila persamaan Bernaulli di atas dipakai untuk air yang mengalir melalui pori-
pori tanah, bagian dari persamaan yang mengandung tinggi kecepatan dapat
diabaikan. Hal ini disebabkan karena kecepatan rembesan air didalam tanah adalah
sangat kecil. Maka dari itu, tinggi energi total pada suatu titik dapat dinyatakan
sebagai berikut:

Kehilangan energi antara dua titik, dapat dituliskan dengan persamaan dibawah ini:

Kehilangan energi ∆h, tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan


tanpa dimensi seperti dibawah ini:

Dimana:

i = gradien hidrolik

L= jarak antara titik A dan B, yaitu panjang aliran air dimana kehilangan
tekanan terjadi.

2.4.2 Hukum Darcy

Pada tahun 1856, Darcy memperkenalkan suatu persamaan sederhana yang


digunakan untuk menghitung kecepatan aliran air yang mengalir dalam tanah yang
jenuh, dinyatakan sebagai berikut:

v = ki

Dimana:

v = kecepatan aliran
k = koefisien rembesan

koefisien rembesan mempunyai sstuan yang sama dengan kecepatan. Istilah


koefisien rembesan sebagi besar digunakan oleh para ahli teknik tanah, para ahli
meyebutkan sebagai konduktifitas hidrolik. Bilamana satuan Inggris digunakan,
koefisien rembesan dinyatakan dalam ft/menit atau ft/hari, dan total volume dalam
ft3. Dalam satuan SI, koefisien rembesan dinyatakan dalam cm/detik, dan total
volume dalam cm3.

Koefisien rembesan tanah adalah tergantung pada beberapa faktor, yaitu:


kekentalan cairan, distribusi ukuran pori, distribusi ukuran butir, angka pori,
kekasaran permukaan butiran tanah, dan drajat kejenuhan tanah. Pada tanah
berlempung, struktur tanah konsentrasi ion dan ketebalan lapisan air yang menempel
pada butiran lempung menentukan koefisien rembesan.

Harga koefisien rembesan untuk tiap-tiap tanah adalah berbeda-beda.


Beberapa harga koefisien rembesan diberikan pada tabel dibawah ini:

Jenis tanah

(cm/detik)

(ft/menit)

Kerikil bersih

1,1-100

2,0-200

Pasir kasar

1,0-0,01
2,0-0,02

Pasir halus

0,01-0,001

0,02-0,002

Lanau

0,001-0,00001

0,002-0,00002

lempung

Kurang dari 0,000001

Kurang dari 0,000002

Koefisien rembesan tanah yang tidak jenuh air adalah rendah, harga tersebut
akan bertambah secara cepat dengan bertambahnya drajat kejenuhan tanah yang
bersangkutan.

Koefisien rembesan juga dapat dihubungkan dengan sifat-sifat dari cairan


yang mengalir melalui tanah yang bersangkutan dengan persamaan sebagai berikut:

Dimana:

= berat volume air

= kekentalan air

= rembesan absolut
Rembesan absoulut, mempunyai satuan L2 (yaitu cm2, ft2, dan lain-lain)

2.4.4 Penentuan Koefisien Rembesan di Laboratorium

Ada dua macam uji standar di laboratorium yang digunakan untuk


menentukan harga koefisien rembesan suatu tanah, yaitu: uji tinggi konstan dan uji
tinggi jatuh. Uji tinggi jatuh adalah sangat cocok untuk tanah berbutir halus dengan
koefisien rembesan kecil.

2.4.5 Pengaruh Temperatur Air Terhadap Harga k

Koefisien rembesan merupakan fungsi dari berat volume dan kekentalan air,
yang berarti pula merupakan fungsi dari temperatur selama percobaan dilakukan,
maka dapat dituliskan:

Dimana:

kT1 , kT2 = koefisien rembesan pada temperatur T1 dan T2

ηT1 , ηT2 = kekentalan air pada temperatur T1 dan T2

(T1) , (T2) = berat volume air pada temperatur T1 dan T2

2.4.6 Hubungan Empiris untuk Koefisien Rembesan

Beberapa persamaan empiris untuk memperkirakan harga koefisien rembesan


tanah telah diperkenalkan dimasa lalu.
Untuk tanah pasir dengan ukuran butir yang merata , hazen memperkenalkan
suatu hubungan empiris untuk koefisien rembesan dalam bentuk sebagai berikut:

k (cm/detik) = cD210

dimana:

c = suatu konstanta yang bervariasi dari 1,0 sampai 1,5

D10= ukuran efektif, dalam satuan milimeter.

Persamaan diatas didasarkan pada hasil penyelidikan ynag dilakukan oleh


Hazen pada tanah pasir bersih yang lepas.

2.4.7 Rembesan Ekivalen pada Tanah Berlapis-lapis

Koefisian rembesan suatu tanah mungkin bervariasi menurut arah aliran yang
tergantung pada perilaku tanah dilapangan. Untuk tanah yang berlapis-lapis dimana
koefisien rembesan alirannya dalam suatu arah tertentu akan berubah dari lapis ke
lapis, kiranya perlu ditentukan harga rembesan ekivalen untuk menyederhanakan
perhitungan. Sehingga didapat persamaan sebagai berikut:

2.4.8 Uji Rembesan di Lapangan dengan Cara Pemompaan dari Sumur

Dilapangan, koefisien rembesan rata-rata yang searah dengan arah aliran dari
suatu lapisan tanah dapat ditentukan dengan cara mengadakan uji pemompaan dari
sumur. Koefisien rembesan yang searah dengan aliran dapat dituliskan sebagi berikut:
2.4.9 Koefisien Rembesan dari Lubang Auger

Koefisien rembesan dilapangan dapat juga diestimasi dengan cara membuat


lubang auger. Tipe uji ini biasa disebut sebagai slug test. Lubang dibuat dilapangan
sampai dengan kedalaman L di bawah permukaan air tanah. Pertama-tama air
ditimbang keluar dari lubang. Keadaan ini akan menyebabkan adanya aliran air tanah
ke dalam lubang melalu keliling dan dasar lubang. Penambahan tinggi air didalam
lubang auger dan waktunya dicatat. Koefisien rembesan dapat ditentukan dari data
tersebut.

Dimana:

r = jari-jari lubang auger

y = harga rata-rata dari jarak antara tinggi air dalam lubang auger dengan
muka air tanah selama interval waktu ∆t (menit).

Penentuan koefisien rembesan dari lubang auger biasanya tidak dapat


memberikan hasil yang teliti, tetapi ia dapat memberikan harga pangkat dari k.

2.4.10 Persamaan Kontinuitas

Dalam keadaan sebenarnya, air mengalir di dalam tanah tidak hanya dalam
satu arah dan juga tidak seragam untuk seluruh luasan yang tegak lurus dengan arah
aliran. Untuk permasalahan-permasalahan seperti itu, perhitungan aliran air tanah
pada umumnya dibuat dengan menggunakan grafik-grafik yang dinamakan jaringan
aliran. Konsep jaringan aliran ini didasarkan pada persamaan Kontinuitas Laplace
yang menjelaskan mengenai keadaan aliran tunak untuk suatu titik didalam massa
tanah. Persamaan kontinuitas untuk aliran dalam dua dimensi diatas dapat
disederhanakan menjadi:

2.4.11 Jaringan Air

Kombinasi dari beberapa garis aliran dan garis ekipotensial dinamakan


jaringan aliran. Jaringan aliran dibuat untuk menghitung aliran air tanah, dalam
pembuatan jaringan aliran. Garis-garis aliran dan ekipotensialmdigambar sedemikian
rupa sehingga:

1) Garis ekipotensial memotong tegak lurus garis aliran

2) Elemen-elemen aliran dibuat kira-kira mendekati bentuk bujur sangkar.

2.4.12 Gradien di Tempat Keluar dan Faktor Keamanan Terhadap Boiling

Apabila rembesan dibawah bangunan air tidak dikontrol secara sempurna,


maka keadaan tersebut akan menghasilkan gradien hidrolik yang cukup besar
ditempat keluar dekat konstruksi. Gradien yang tinggi di tempat keluar tersebut,
berati juga bahwa gaya rembes adalah besar, akan menyebabkan menggelembung
keatas atau menyebabkan tanah kehilangan kekuatan. keadaan ini akan
mempengaruhi kestabilan bangunan air yang bersangkutan.

2.5 Konsep Tegangan Efektif


Dalam suatu tanah dengan volume tertentu, butiran pori tersebut berhubungan
satu sama lain hingga merupakan suatu saluran seperti kemampuan memampat dari
tanah, daya dukung pondasi, kestabilan timbunan, dan tekanan tanah horisontal pada
konstruksi dinding penahan tanah.

2.5.1 Tegangan pada Tanah Jenuh Air tanpa Rembesan

Tegangan total pada titik A dapat dihitung dari berat volume tanah jenuh air
dan berat volume air diatasnya.

= H γw + (HA – H) γsat

Dimana:

= tegangan total pada titik A.

γw = berat volume air.

γsat = berat volume tanah jenuh air.

H = tinggi muka air diukur dari permukaan tanah didalam tabung.

HA = jarak antara titik A dan muka air.

2.5.2 Pada Tanah Jenuh Air dengan Rembesan

Tegangan efektif pada suatu titik di dalam massa tanah akan mengalami
perubahan di karenakan oleh adanya rembesan air yang melaluinya. Tegangan efektif
ini akan bertambah besar atau kecil tergantung pada arah dari rembesan.

1) Rembesan air keatas.


Gambar 5.3a menunjukkan suatu lapisan tanah berbutir didalam silinder
dimana terdapat rembesan air ke atas yang disebabkan oleh adanya penambahan air
melalui saluran pada dasar silinder. Kecepatan penambahan air dibuat tetap.
Kehilangan tekanan yang disebabkan oleh rembesan keatas antara titik A dan B
adalah h. Perlu diingat bahwa tegangan total pada suatu titik didalam massa tanah
adalah disebabkan oleh berat air dan tanah diatas titik bersangkutan.

Pada titik A.

Tegangan total: A = H1 γw

Tegangan air pori: uA = H1 γw

Tegangan efektif: A' = A - uA = 0

Pada titik B.

Tegangan total: B = H1 γw + H2γsat

Tekanan air pori: uB= (H1 + H2 + h )γw

Tegangan efektif: B' = H2γ' - h γw

Dengan cara yang sama , tegangan efektif pada titik C yang terletak pada
kedalaman z dibawah permukaan tanah dapat dihitung sebagai berikut:

Pada titik C.

Tegangan total: C = H1 γw + zγsat

Tekanan air pori: uC = γw

Tegangan efektif: C' = zγ' - z

2) Rembesan Air Kebawah.


Gradien hidrolik yang disebabkan oleh rembesan air kebawah adalah sama
dengan h/H2. Tegangan total, tekanan air pori, dan tegangan efektif pada titik C
adalah:

C = H1 γw + zγsat

uC = (H1 + z – iz )γw

C' = (H1 γw + zγsat ) – (H1 + z – iz )γw

= zγ' - iz γw

2.5.3 Gaya Rembesan

Pada sub-bab terdahulu telah diterangkan bahwa rembesan dapat


mengakibatkan penambahan atau pengurangan tegangan efektif pada suatu titik di
dalam tanah. Yang ditunjukkan bahwa tegangan efektif pada suatu titik yang terletak
pada kedalaman z dari permukaan tanah yang diletakkan didalam silider , dimana
tidak ada rembesan air.adalah sama dengan zγ'. Jadi gaya efektif pada suatu luasan A
adalah

P1' = zγ' A

Apabila terjadi rembesan air arah keatas melalui lapisan tanah pada gambar
5.3, gaya efektif pada luasan A pada kedalaman z dapat ditulis sebagai berikut:

P2' = ( zγ' - iz γw)A

Oleh karena itu , pengurangan gaya total sebagai akibat dari adanya rembesan
adalah:

P1' - P2' = iz γwA


Volume tanah dimana gaya efektif bekerja adalah sama dengan zA. Jadi gaya
efektif per satuan volume tanah adalah

= = i γw

Gaya per satuan volume, iγw, untuk keadaan ini bekerja ke arah atas, yaitu searah
dengan arah aliran. Begitu juga untuk rembesan air kearah bawah, gaya rembesnya
per satuan volume tanah adalah iγw.

Gambar 5.3

2.5.4 Penggelembungan pada Tanah yang Disebabkan oleh Rembesan di Sekaliling


Turap

Gaya rembesan per satuan volume tanah dapat dihitung untuk memeriksa
kemungkinan keruntuhan suatu turap dimana rembesan dalam tanah mungkin dapat
menyebakan penggelembungan (heave) pada daerah hilir. Setelah melakukan banyak
model percobaan, Terzaghi (1922) menyimpulkan bahwa penggelembungan pada
umumnya terjadi pada daerah sampai sejauh D/2 dari turap (dimana D adalah
kedalaman pemancangan turap). Oleh karena itu, kita perlu menyelidiki kesetabilan
tanah didaerah luasan D tersebut).

2.5.5 Tegangan Efektif didalam Tanah Jenuh Sebagian

Didalam tanah yang jenuh sebagian, air tidak mengisi seluruh ruang pori yang ada
dalam tanah. Jadi, dalam hal ini terdapat 3 sistem fase, yaitu butiran padat, air pori
dan udara pori .Maka dari itu, tegangan total pada setiap titik didalam tanah terdiri
dari tegangan antar butir, tegangan air pori, dan tegangan udara pori.Dari hasil
percobaan dilaboratorium, Bishop, Alpan, Blight, dan donal (1960) menyajikan suatu
persamaan tegangan efektif untuk tanah yang jenuh sebagian.

σ' = σ - ua + χ (ua – uw)

Dimana:

σ' = tegangan efektif

σ = tegangan total

ua = tekanan udara pori

uw = tekana air pori

Dalam persamaan diatas , χ merupakan bagian dari luasan penampang melintang


yang ditempati oleh air. Untuk tanah kering χ = 0 dan untuk tanah jenuh air, χ = 1.

Bishop, Alpan, Blight, dan donal telah menunjukkan bahwa harga tengah dari χ
adalah tergantung pada derajat kejenuhan (S) tanah. Tetapi harga tersebut juga
dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti stuktur tanah.

Ruang pori didalam tanah yang berhubungan satu sama lain dapat berperilaku sebagai
kumpulan tabung kapiler dengan luas penampang yang bervariasi. Tinggi kenaikan
air didalam pipa kapiler dapat dituliskan dengan rumus dibawah ini :

hc =

Dimana :

Τ = gaya tarik permukaan

α = sudut sentuh antara permukaan air dan dinding kapiler

d =diameter pipa kapiler


= berat volume air

drai persamaan diatas dapat dilihat bahwa harga-harga Τ α dan γw adalah tetap,
maka:

hc α

Walaupun konsep kenaikan air kapiler yang didemonstrasikan dengan pipa kapiler
yang ideal dapat dipakai tanah, tapi perlu diperhatikan bahwa pipa kapiler yang
terbentuk didalam tanah mempunyai luas penampang yang bervariasi. hasil dari
ketidakseragaman kenaikan air kapiler dapat dilihat apabila suatu tanah berpasir yang
kering didalam silinder diletakkan bersentuhan dengan air.

Hazen (1930) memberikan perumusan untuk menentukan tinggi kenaikan air kapiler
secara pendekatan, yaitu:

h1(mm) =

dimana:

= ukuran efektif (dalam mm)

e = angka pori

C = konstanta yang bervariasi dari 10 mm2 sampai dengan 50 mm2

Teganagan efektif di dalam zona kenaikan air kapiler

Hubungan umum antara tegangan total, tegangan efektif, dan tekanan air pori
diberikan pada persamaan berikut:

='+u

Tekanan air pori u pada suatu titik dalam lapisan tanah yang 100% jenuh oleh air
kapiler sama dengan - γwh ( h= tinggi suatu titikyang ditinjau dari muka air tanah )
dengan tekanan atmosfir diambil sebagai datum. Apabila terdapat lapisan jenuh air
sebagian yang disebabkan oleh kapilaritas, maka tegangan air porinya dapat
dituliskan sebagai berikut:

u= -

dimana

S = derajat kejenuhan, dalam persen.

2.6 Tegangan-Tegangan Pada Suatu Massa Tanah

Pada tanah yang harus mendukung pondasi dengan berbagai bentuk umumnya
terjadi kenaikan tegangan. Kenaikan tegangan pada tanah tersebut tergantung pada
beban persatuan luas dimana pondasi berada, kedalaman tanah dibawah podasi
dimana tegangan tersebut ditinjau, dan faktor-faktor lainnya.

2.6.1 Tegangan Normal dan Teganagan Geser pada Sebuah Bidang

Teganagan normal dan tegangan geser yang bekerja pada sembarang bidang
dapat ditentukan dengan mengambar sebuah lingkaran Mohr. Perjanjian tanda yang
dipakai dalam lingkaran Mohr disini adalah: tegangan normal tekan dianggap positif,
tegangan geser dianggap positif apabila tegangan geser tersebut yang bekerja pada
sisi-sisi yang berhadapan dari elemen tegangan bujur sangkar berotasi dengan arah
yang berlawanan arah perputaran jarum jam.
Masih ada cara penting yang lain untuk menentukan tegangan-tegangan pada
sebuah bidang dengan menggunakan lingkaran Mohr yaitu metode kutub, atau
metode pusat bidang

2.6.2 Tegangan-tegangan yang Diakibatkan oleh Beban Terspusat

Boussinesq telah memecahkan masalah yang berhubungan dengan penentuan


tegangan-tegangan pada sembarang titik pada suatu medium yang homogen, elastis,
dan isotropis dimana medium tersebut adalah berupa uang yang luas tak terhingga
dan pada permukaannya bekerja sebuah beban terpusat. Rumus Boussinesq untuk
tegangan normal pada titik A yang diakibatkan oleh beban terpusat P adalah:

Dan

Harus diingat bahwa persamaan-persamaan, yang merupakan tegangan-


tegangan normal dalam arah horisontal, adalah tergantungnpada angka poisson
mediumnya. Sebaliknya, tegangan vertikal, ∆pz seperi persamaan diatas tidak
tergantung pada angka poisson.

2.6.3 Tegangan Vertikal yang Diakibatkan oleh Beban Garis

Kenaikan tegangan vertikal, ∆p, didalam massa tanah tersebut dapat dihitung
dengan menggunakan dasar-dasar teori elastis sebagai berikut:
Persamaan diatas dapat ditulis dalam bentuk berikut:

atau

Persamaan diatas adalah suatu bentuk persamaan tanpa dimensi. Dengan persamaan
tersebut, variasi ∆p /(q/z) terhadap x/z dapat dihitung. Harga ∆p yang dihitung dari
persamaan diatas adalah merupakan tambahan tegangan pada tanah yang disebabkan
oleh beban garis.

2.6.4 Tegangan Vertikal yang Diakibatkan oleh Beban Lajur

Persamaan dasar untuk kenaikan tegangan vertikal pada sebuah titik dalam
suatu massa tanah yang diakibatkan oleh beban garis dapat digunakan juga untuk
menentukan tegangan vertikal pada sebuah titik akibat beban lajur yang lentur.

2.6.5 Teganagn Vertikal di Bawak Titik Pusat Beban Merata Berbentuk Lingkaran

Dengan mengunakan penyelesaian Boussinesq untuk tegangan vertikal ∆pz


yang diakibatkan oleh beban terpusat, kita juga dapat menentukan besarnya tegangan
vertikal di bawah titik pusat lingkaran lentur yang mendapat beban terbagi rata.

2.6.6 Tegangan Vertikal yang Diakibatkan oleh Beban Berbentuk Empat Persegi
Panjang

Rumus Boussnesq dapat juga digunakan untuk menghitung penambahan


tegangan vertikal dibawah beban lentur berbentuk empat persegi panjang
2.6.7 Diagram Pengaruh untuk Tegangan

Prosedur yang dipakai untuk mendapatkan tegangan vertikal pada setiap titik
dibawah sebuah luasan beban ialah sebagai berikut:

1) Tentuakan kedalaman titik z dibawah luasan yang mendapat beban terbagi rata
dimana kenaikan tegangan vertikal pada titik tersebut ingin ditentukan.

2) Gambarkan luasan beban tersebut dengan panjang suatu grafik (AB).

3) Letakkan denah tersebut pada diagram pengaruh sedemikian rupa sehingga


proyeksi titik yang akan dicari kenaikan tegangannya berimpit dengan titik pusat
diagram pengaruh.

4) Hitung jumlah total elemen luasan dari diagram yang tercakup didalam denah
luasan beban.

Harga kenaikan tegangan pada titik yang ditinjau dapat dicari dengan rumus:

∆p = (AP)qM

Dimana:

AP = angka pengaruh

q = beban merata pada luasan yang ditinjau (satuan beban/satuan luas)

2.7. Kemampumampatan Tanah

Penambahan beban diatas suatu permukaan tanah dapat menyebabkan lapisan


tanah dibawahnya mengalami pemampatan. Pemampatan tersebut disebabkan oleh
adanya deformasi partikel tanah, relokasi partikel, keluarnya air atau udara dari dalam
pori, dan sebab-sebab lain. Secara umum, penurunan pada tanah yang disebabkan
oleh pembebanan dapat dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu:

1) Penurunan konsolidasi (consolidation settlement), yang merupakan hasil dari


perubahan volume tanah jenuh air sebagai akibat dari keluarnya air yang menempati
pori-pori tanah.

2) Penurunan segera (immediate settlement), yang merupakan hasil dari


deformasi elastis tanah kering, basah, dan jenuh air tanpa adanya perubahan kadar air.

2.7.1 Dasar-dasar Konsilidasi

Bilamana suatu lapisan tanah jenuh air diberi penambahan beban, angka
tekanan air pori akan naik secara mendadak. Pada tanah berpasir yang sangat tembus
air (permeable), air dapat mengalir dengan cepat. Keluarnya air dari dalam pori selalu
disertai dengan berkurangnya volume tanah, berkurangnya volume tanah tersebut
dapat menyebabkan penurunan lapisan tanah tersebut.Karena air pori didalam tanah
berpasir dapat mengalir keluar dengan cepat maka penurunan segera dan penurunan
konsolidasi terjadi bersamaan.

Bilamana suatu lapisan tanah lempung jenuh air yang mampumampat diberi
penambahan tegangan , maka penurunan akan terjadi dengan segera. Koefisien
rembesan lempung adalah sangat kecil dibandingkan dengan koefisien rembesan
pasir sehingga penambahan tekanan air pori yang disebabkan oleh pembebanan akan
berkurang secara lambat laun dalam waktu yang sangat lama. Jadi untuk tanah
lempung lembek perubahan volume yang disebabkan oleh keluarnya air dari dalam
pori (yaitu konsolidasi) akan terjadi sesudah penurunan segera.Penurunan konsolidasi
tersebut biasanya jauh lebih besar dan lebih lambat serta lama dibandingkan dengan
penurunan segera.
Deformasi sebagai fungsi waktu dari tanah lempung yang jenuh air dapat
dipahami dengan mudah apabila digunakan suatu model reologis yang sederhana.
Model reologis tersebut terdiri dari suatu pegas elastis linier yang dihubungkan secara
paralel dengan sebuah dashpot. Hubungan tegangan-tegangan dari pegas dan dashpot
dapat diberikan sebagai berikut:

Pegas : σ =

Dashpot : σ = η

Diamana :

= teganagan

= regangan

= konstanta pegas

η = konstanta dashpot

t = waktu

2.7.2 Grafik Angka Pori

Berikut ini adalah langkah demi langkah urutan pelaksanaannya:

1) Hitung tinggi butiran padat Hs

Dimana :

= berat kering contoh tanah


A = luas penampang contoh tanah

= berat spesifik contoh tanah

= berat volume air

2) Hitung tinggi awal dari ruang pori Hv

Hv = H – Hs

Dimana : H = tinggi awal contoh tanah

3) Hitung angka pori awal :

4) Untuk penambahan beban pertama p1 ( beban total/ luas penampang contoh


tanah), yang menyebabkan penurunan ΔH1, hitung perubahan angka pori , Δe1 :

ΔH1 didapatkan dari pembacaan awal dan akhir pada skala ukur untuk beban sebesar
p1.

5) Hitung angka pori yang baru, e1 setelah konsolidasi yang disebabkan oleh
penambahan tekanan p1 :

= -

2.7.3 Lempung yang Terkonsolidasi Secara Normal atau Terlalu Terkonsolidasi

Suatu tanah dilapangan pada suatu kedalaman tertentu telah mengalami


“tekanan efek tif maksimum akibat berat tanah diatasnya” dalam sejarah geologisnya.
Tekanan efektif overburden maksimum ini mungkin sama dengan atau lebih kecil
dari tekanan overburden yang ada pada saat pengambilan contoh tanah. Berkurangnya
tekanan dilapangan tersebut mungkin disebabkan oleh proses geologi alamiah atau
proses yang disebabkan oleh makhluk hidup. Pada selama ini, sebagai akibatnya
tanah tersebut akan mengembang. Pada saat terhadap contoh tanah tersebut dilakukan
uji konsolidasi, suatu pemampatan yang kecil akan terjadi bila beban total yang
diberikan pada saat percobaan adalah lebih kecil dari tekanan efektif overburden
maksimum yang pernah dialami sebelumnya oleh tanah yang bersangkutan. Apabila,
beban total yang diberikan pada saat percobaan adalah lebih besar dari tekanan efektif
overburden maksimum yang pernah dialami oleh tanah yang bersangkutan, maka
perubahan angka pori yang terjadi adalah lebih besar , dan hubungan antara e versus
log p menjadi linier dan memiliki kemiringan yang tajam.

Keadaan ini dapat dibuktikan di laboratorium dengan cara membebani contoh


tanah melebihi tekanan overburden maksimumnya, lalu beban tersebut diangkat dan
diberikan lagi.

Keadaan ini mengarahkan kita kepada dua definisi dasar yang didasarkan
pada sejarah tegangan:

1) Terkonsolidasi secara normal, dimana tekanan efektif overburden pada saat ini
adalah merupakan tekanan maksimum yang pernah dialami oleh tanah itu.

2) Terlalu terkonsolidasi, dimana tekanan efektif overburden pada saat ini adalah
lebih kecil dari tekanan yang pernah dialami tanah itu sebelumnya. Tekanan efektif
overburden maksimum yang pernah dialami sebelumnya dinamakan tekanan tekanan
prakonsolidasi.

2.7.4 Pengaruh Kerusakan Struktur Tanah Pada Hubungan Antara Angka Pori Dan
Tekanan
Suatu contoh tanah dikatakan “ berbentuk kembali ” apabila struktur dari
tanah itu terganggu . Keadaan ini akan mempengaruhi bentuk grafik yang
menunjukkan antara angka pori dan tekanan dari tanah yang bersangkutan.Untuk
suatu tanah lempung yang terkonsolidasi secara normal dengan derajat sensivitas
rendah sampai sedang serta angka pori eo dan tekanan efektif overburden po,
perubahan angka pori sebagai akibat dari penambahan tegangan dilapangan secara
kasar.

Untuk tanah lempung yang telalu terkonsolidasi dengan derajat sensivitas


rendah sampai sedang dan sudah pernah mengalami tekanan prakonsolidasi pc serta
angka pori eo dan tekanan efektif overburden po.

Dengan pengetahuan yang didapat dari analisis hasil uji konsolidasi , sekarang
kita dapat menghitung kemungkinan penurunan yang disebabkan oleh konsolidasi
primer dilapangan dengan menganggap bahwa konsolidasi tersebut satu dimensi.

Sekarang mari kita tinjau suatu lapisan lempung jenuh dengan tebal H dan
luasan penampang melintang A serta tekanan efektif overburden rata-rata sebesar po.
Disebabkan oleh suatu penambahan tekanan sebesar Δp, anggaplah penurunan
konsolidasi primer yang terjadi adlah S. Jadi perubahan volume dapat diberikan
sebagai berikut :

ΔV = Vo – V1 = H . A – (H – S) . A = S . A

Dimana : Vo dan V1 berturut-turut adalah volume awal dan volume akhir


dari pori , ΔVv jadi :

ΔV = S . A = Vv0 – Vv1 = ΔVv

Dimana : V v0 dan V v1 berturut-turut adalah volume awal dan volume akhir


dari pori.
2.7.5 Indeks Pemampatan

Indeks pemampatan yang digunakan untuk menghitung besarnya penurunan


yang terjadi dilapangan sebagai akibat dari konsolidasi dapat ditentukan dari kurva
yang menunjukkan hubungan antara angka pori dan tekanan yang didapat dari uji
konsolidasi di laboratorium.

1) Indeks pemuaian

Indeks pemuaian adalah lebih kecil daripada indeks pemampatan dan biasanya dapat
ditentukan dilaboratorium, pada umumnya. Batas cair, batas plastis, indeks
pemampatan, dan indeks pemuaian untuk tanah yang masih belum rusak strukturnya

2) Penurunan yang mengkibatkan oleh konsolidasi sekunder.

Pada akhir dari konsolidasi primer, penurunan masih tetap terjadi sebagai akibat dari
penyesuaian plastis butiran tanah. Tahap konsolidasi ini dinamakan konsolidasi
sekunder. Selama konsolidasi sekunder berlangsung, kurva hubungan antara
deformasi dan log waktu adalah merupakan garis lurus. Variasi dari angka pori dan
waktu untuk suatu penambahan beban akan sama. Indeks pemampatan sekunder
dapat didefinisikan sebagai.

Dimana :

= indeks pemampatan sekunder

= perubahan angka pori

t1 . t2 = waktu

2.7.6 Kecepatan Waktu Konsolidasi


Penurunan total akibat konsolidasi primer yang disebabkan oleh adanya
penambahan tegangan diatas permukaan tanah dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan-persamaan.

Penurunan matematis dari persamaan didasarkan pada anggapan-anggapan


berikut ini :

1) Tanah ( sistem lempung air ) adalah homogen.

2) Tanah benar-benar jenuh.

3) Kemampumampatan air diabaikan.

4) Kemampumampatan butiran tanah diabaikan.

5) Aliran air hanya satu arah saja.

6) Hukum darcy berlaku.

2.7.7 Koefisien Konsolidasi

Koefisien konsolidasi, biasanya akan berkurang dengan bertambahnya batas


cair dari tanah. Rentang dari variasi harga cv untuk suatu batas cair tanah tertentu
adalah agak lebar.

Untuk suatu penambahan beban yang diberikan pada suatu contoh tanah ada
dua metode grafis yang umum dipakai untuk menentukan harga cv dari uji
konsolidasi satu dimensi dilaboratorium. Salah satu dari dua metode tersebut
dinamakan metode logaritma waktu yang diperkenalkan oleh Casagrande dan
Fadum,sedangkan metode yang satunya dinamakan metode akar waktu yang
diperkenalkan oleh taylor.
Penambahan tegangan vertikal didalam tanah yang disebabkan oleh beban
dengan luasan yang terbatas akan bertambah kecil dengan bertambahnya kedalaman z
yang diukur dari permukaan tanah kebawah. Perhitungan penambahan Δp pada
persamaan-persamaan tersebut seharusnya merupakan penambahan tekanan rata-rata ,
yaitu:

2.7.8 Perhitungan Penurunan Segera Berdasarkan Teori Elastis

Penurunan segera untuk pondasi yang berada diatas meterial yang elastis
dapat dihitung dari persamaan-persamaan yang diturunkan dengan menggunakan
prinsip dasar teori elastis. Bentuk persamaannya sebagai berikut :

Dimana :

= penurunan elastis

= tekanan bersih yang dibebankan

B = lebar pondasi ( = diameter pondasi yang berbentuk lingkaran )

= angka Poisson

= modulus elastisitas tanah (modulus young)

= faktor pengaruh yang tidak memounyai dimensi

2.7.9 Penurunan Pondasi Total


Penurunan total suatu pondasi dapat diberikan sebagai berikut:

ST = S + Ss + ρi

Dimana :

ST = penurunan total

S = penurunan akibat konsolidasi primer

Ss = penurunan akibat konsolidasi sekunder

ρi = penurunan segera

contoh kejadian penurunan dilapangan

pada saat ini banyak tersedialiteratur contoh-contoh kejadian dimana prinsip


dasar kemampumampatan tanah yang digunakan untuk memperkaya besarnya
penurunan yang terjadi pada suatu lapisan tanah di lapangan yang diberi penambahan
beban. Dalam beberapa kejadian, besarnya penurunan yang terjadi dilapangan adalah
satu atau hampir sama dengan besarnya penurunan yang diperkirakan. Dalam
kejadian yang lain, perkiraan penurunan ternyata jauh menyimpang dari penurunan
yang terjadi sebenarnya dilapangan. Ketidak cocokan antara penurunan yang
diperkirakan dengan penurunan yang terjadi sesungguhnya dilapangan mungkin
disebabkan oleh beberapa sebab, antara lain :

1) evaluasi sifat-sifat tanah yang dilakukan ternyata kurang benar.

2) lapisan tanahnya ternyata tidak homogen dan tidak teratur.

3) kesalahan dalam mengevaluasi penambahan tegangan bersih terhadap


kedalaman, yang ternyata sangat mempengaruhi besarnya penurunan.
2.8 Pemadatan Tanah

Pada pemadatan timbunan tanah untuk jalan raya, dam tanah, dan banyak
struktur teknik lainnya, tanah yang lepas haruslah dipadatkan untuk meningkatkan
berat volumenya. Pemadatan tersebut berfungsi untuk meningkatkan kekuatan tanah,
sehingga denagn demikian meningkatkan daya dukung pondasi diatasnya. Pemadatan
juga dapat mengurangi besarnya penurunan tanah yang tidak diinginkan dan
meningkatkan kemampatan lereng timbunan.

2.8.1 Pemadatan dan Prinsip-prinsip Umum

Tingkat pemadatan tanah di ukur dari berat volume kering tanah yang
dipadatkan. Bila air ditambahkan kepada suatu tanah yang sedang dipadatkan, air
tersebut akan berfungsi sebagia unsur pembasah pada partikel-partikel tanah. Untuk
usaha pemadatan yang sama, berat volume kering dari tanah akan naik bila kadar air
dalam tanah meningkat. Harap dicatat bahwa pada saat kadar air w = 0, berat volume
basah dari tanah adalah sama dengan berat volume keringnya.

Bila kadar airnya ditingkatkan terus secara bertahap pada usaha pemadatan
yang sama, maka berat dari jumlah bahan padat dalam tanah persatuan volume juga
meningkat secar bertahapmpula. Berat volume kering dari tanah pada kadar air dapat
dinyatakan:

Setelah mencapai kadar air tertentu w = w2, adanya penambahan kadar air justru
cenderung menurunkan berat volume kering dari tanah. Hal ini disebabkan karena air
tersebut kemudian menempati ruang-ruang pori dalam tanah yang sebetulnya dapat
ditempati oleh partikel-partikel padat dari tanah. Kadar air dimana harga berat
volume kering maksimum tanah dicapai tersebut kadar air optimim.

Percobaan-percobaan di laboratorium yang umum dilakukan untuk


mendapatkan berat volume kering maksimum dan kadar air optimum adalah proctor
compaction (uji pemadatan Proctor).

2.8.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhu Peadatan

Kadar air mempunyai pengaruh yang besar terhadap tingkat kemadatan yang
dapat dicapai oleh suatu tanah. Disamping kadar air, faktor-faktor lain yang juga
mempengaruhi pemadatan adalah jenis tanah dan usaha pemadatan.

Lee dan Sedkamp (1972) telah mempelajari kurva-kurva pemadatan dari 35


jenis tanah. Mereka menyimpulkan bahwa kurva pemadatan tanah-tanah tersebut
dapat dibedakan hanya menjadi empat tipe umum.

Energi yang dibutuhkan untuk pemadatan pada uji Proctor Standart, dapat
dituliskan sebagai berikut:

Dari kurva pemadatan untuk empat jenis tanah (ASTM D-698) terlihat bahwa:

1) Bila energi pemadatan bertambah, harga berat volume kering maksimum tanah
hasil pemadatan juga bertambah, dan

2) Bila energi pemadatan bertambah, harga kadar air optimum berkurang.

2.8.3 Uji protector Dimodifikasi


Denagnberkembangnya alat-alat penggilas berat yang digunakan pada
pemadatan dilapangan, uji proctor standart harus dimodifikasi untuk dapat lebih
mewakili kondisi lapangan. Uji proctor yang dimodifikasi ini disebut Uji proctor
Dimodifikasi. Energi pemadatan yang dilakukan dalam uji dimodifikasi dapat
dihitung sebagi berikut:

= 56.250 ft-1b/ft3(≈2693,3 kJ/m3)

Karena energi pemadatannya lebih besar, uji proctor dimodifikasi juga


menghasilkan suatu harga berat volume kering maksimum yang lebih besar.
Peningkatan berat volume kering maksimum ini disertai dengan penurunan kadar air
optimum.

2.8.4 Spesifikasi ASTM dan AASHTO untuk Uji Pemadatan

Spesifikasi yang diberikan untuk uji Proctor menurut ASTM dan AASHTO
dengan volume cetakan sebesar 1/30 ft3 dn jumlah tumbukan 25 kali per lapisan pada
umumnya dipakai untuk tanah-tanah berbutir halus yang lolos ayakan Amerika No. 4.
Sebenarya, pada masing-masing ukuran cetakan masih ada empat metode lain yang
disarankan, yang berbeda-beda menurut ukuran cetakan, jumlah tumbukan perlapis,
dan ukuran partikel tanah maksimum pada agregat tanah yang dipadatkan.

2.8.5 Strutur dari Tanah Kohesi yang Dipadatkan

Lambe telah menyelidiki pengaruh pemadatan terhadap struktur tanah


lempung. Pada suatu kadar air tertentu, usaha pemadatan yang lebih tinggi cenderung
menghasilkan lebih banyak partikel-partikel lempung dengan orientasi yang sejajar,
sehingga lebih banyak struktur tanah yang terdispersi. Partikel-partikel tanah lebih
dekat satu sama lain dan dengan dirinya didapatkan berat volume yang lebih tinggi.
Penyelidikan yang dilakukan oleh Seed dan Chand juga memberikan hasil yang
serupa untuk tanah lempung kaolin yang dipadatkan.

2.8.6 Pengaruh Pemadatan pada Sifat-sifat Tanah Berkohesi

Pemadatan menimbulkan perubahan-perubahan pada struktur tanah berkohesi.


Perubahan-perubahan tersebut meliputi perubahan pada daya rembes,
kemampumampatan, dan kekuatan tanah.

Sifat-sifat kemampumampatan satu dimensi tanah lempung yang dipadatkan


pada sisi kering dan sisi basah dari kadar optimum adalah pada tekanan rendah, suatu
tanah yang dipadatkan pada sisi basah dari kadar optimum akan lebih mudah
memampat dibanding tanah yang dipadatkan pada sisi kering dari kadar air optimum.
Kekuatan tanah lempung yang dipadatkan umumnya berkurang dengan bertambahnya
kadar air. Harapdiperhatikan bahwa kira-kira kadar air optimum, terjadi penurunan
kekuatan tanah yang besar.

2.8.7 Pemadatan di Lapangan

Hampir semua pemadatan di lapangan dilakukan dengan penggilas. Jenis


penggilas yang umum digunakan adalah:

1) Penggilas besi berpermukaan halus

2) Penggilas ban-karet (angin)

3) Penggilas kaki kambing, dan


4) Penggilas getar.

Penggilas besi berpermukaan halus cocok untuk meratakan permukaan tanah


dasar dan untuk pekerjaan penggilasan akhir pada timbunan tanah pasir atau
lempung.

Penggilas ban-karet dalam banyak hal lebih baik daripada penggilas besi
bermukaan halus. Penggilas ban-karet pada dasarnya merupakan sebuah kereta
bermuatan berat dan beroda karet yang tersusun dalam beberapa baris yang berjarak
dekat.

Penggilas kaki kambing adalah berupa selinder yang mempunyai banyak kai-
kaki yang menjulur ke luar dari drum. Alat ini sangat efektif untuk memadatkan tanah
lempung.

Penggilas getar sangat berfaedah untuk pemadatan tanah berbutir (pasir,


kerikil, dan sebaginya) alat getas apa saja dipasangkan pada penggilas besi
permukaan halus, penggilas ban-karet, atau pada penggilas kaki kambing untuk
menghasilkan getaran pada tanah.

2.8.8 Spesifikasi untuk Pemadatan di Lapangan

Pada hampir semua spesifikasi untuk pekerjaan tnah, kontraktor diharuskan


untuk mencapai suatu kepadatan lapangan yang berupa berat volume kering sebesar
90 sampai 95% berat volume kering maksimum tanah tersebut.

Pada pemadatan tanah berbutir, spesifikasi pemadatan kadang-kadang


diberikan dalam bentuk istilah kerapatan relatif Dr. Kepadatan relatif harap jangan
disamakan dengan pemadatan relatif. Definisi dari Dr adalah:
Didapat:

Dimana:

Berdasarkan pengamatan terhadap 47 buah contoh tanah, Lee dan Singh


memberikan korelasi antara R dan Dr dari tanah berbutir:

R = 80 + 0,2Dr

2.8.9 Pemadatan Tanah Organik

Adanya bahan-bahan organikpada suatu tanh cenderung mengurangi kekuatan


tanah tersebut. Dibanyak hal pada umumnya, tanah dengan kadar bahan organik yang
tinggi tidak dipakai sebagai tanah urug.. akan ttapi, karena alasan-alasan ekonomis
tertentu, kadang-kadang tanah dengan kadar organik rendah terpaksa harus dipakai
dalam pemadatan. Kadar organik (OC) dari suatu tanah didefinisikan sebagi berikut:

Pada penyelidikan yang dilakukan oleh Franklin, Orozco, dan Semrau di


laboratorium untuk menyelidiki pengaruh kadar organik terhadap sifat komposisi
tanah, dapat disimpulkan bahwa tanah dengan kadar organik lebih tinggi dari10%
adalah tidak baik untu pekerjaan pemadatan.

2.8.10 Penentu Berat Volume Akibat Pemadatan di Lapangan


Pada waktu pekerjaan pemadatan berlangsung, tentunya perlu diketahui
apakah berat volume yang ditentukan dalam spesifikasi dapat dicapai atau tidak.
Prosedur standar untuk menentukan berat volume dilapangan akibat pemadatan
adalah:

1) Metode kerucut pasir

2) Metode balon karet

3) Penggunaan alat ukur kepadatan nuklir

Kerucut pasir terdiri atas sebuah botol plastik atau kaca dengan sebuah
kerucut logam dipasang diatasnya. Botol plastik dan kerucut ini diisi dengan pasir
ottawa kering bergradasi buruk. Di lapangan, sebuah lubang kecil digali pada
permukaan tanah yang telah dipadatkan. Bila berat tanah basah yang digali dari
lubang tersebut dapat ditentkan dan kadar air dari tanah galian itu juga diketahui.
Setelah lubang tersebut digali, kerucut dengan botol berisi pasir diletakkan di atas
lubang itu.Pasirnya dibiarkan mengalir keluar dari botol mengisi seluruh lubang dan
kerucut. Sesudah itu, berat dari tabung, kerucut, dan sisa pasir dalam botol ditimbang.
Jadi,

W5 = W1 – W4

Dimana:

Ws = berat dari pasiryang mengisi lubang dan krucut volume dari lubang yang
digali dapat ditentukan sebagai berikut:

Dimana:

Wc = berat pasir yang mengisi kerucut saja


= berat volume kering dari pasir ottawa

Harga-harga Wc dan ᵧd(pasir) ditentukan denagn kalibrasi yang dilakukan


dilaboratorium. Jadi berat volume kering hasil pemadatan dilapangan sekarang dapat
sitentukan sebagai berikut:

Prosedur pelaksanaan metode balon karet sama dengan metode kerucut pasir,
yaitu sebuah lubang uji digali dan tanah asli diambil dari lubang tersebut dan
ditimbang beratnya. Tetapi volume lubang ditentukan dengan memasang balon karet
yang berisi air pada lubang tersebut. Air ini berasal dari suatu bejana yang sudah
terkalibrasi , sehingga volume air yang mengisi lubang ( sama dengan volume lubang
) dapat langsung dibaca. Berat volume kering dari tanah yang dipadatkan dapat
ditentukan dengan persamaan diatas.

Alat ukur pemadatan nuklir sekarang telah digunakan pada beberapa untuk
menentukan berat volume kering dari tanah yang dipadatkan. Alat ini dapat
dioprasikan didalam sebuah lubang galian atau permukaan tana.Alat ini dapat
mengukur berat tanah basah persatuan volumedan juga berat air yang ada pada suatu
satuan volume tanah.Berat volume kering dari tanah dapat ditentukan dengan cara
mengurangi berat basah tanah dengan cara mengutangi berat basah tanah dengan
barat air per satuan volume tanah.

2.8.11 Teknik-teknik Pemadatan khusus

Beberapa tipe teknik pemadaatan khusus akhir-akhir ini telah dikembangkan,


dan tipe-tipe khusus tersebut telah dilaksanakan di lapangan untuk pekerjaan-
pekerjaan pemadatan skala besar. Diantaranya metode yang terkenal adalah
pemadatan getar apung, pemadatan dinamis, ledakan, pembebanan, dan pemompa air
dari dalam tanah.

BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1) Tanah didefinisikan sebagai material yang terdiri dari agregat (butiran) mineral-
mineral padat yang tidak tersementasikan (terikat secara kimia) satu sama lain dari
bahan-bahan organik yang telah melapuk (yang berpartikel padat) disertai dengan zat
cair dan gas mengisi ruang-ruang kosong di antara partikel-partikel padat tersebut.
Tanah berasal dari pelapukan batuan dengan bantuan organisme, membentuk tubuh
unik yang menutupi batuan. Proses pembentukan tanah dikenal sebagai pedogenesis.
Dua cara yang umum digunakan untuk mendapat distribusi ukuran partikel-partikel
tanah, yaitu: analisisi ayakan dan analisis hidrometer.

2) Apabila tanah berbutir halus mengandung mineral lempung, maka tanah


tersebut dapat diremas-remas tanpa menimbulkan retakan. Sifat kohesi ini disebabkan
karena adanya air yang terserap disekelilng permukaan dari partikel lempung. Indeks
plastis suatu tanah bertambah menurut garis sesuai dengan bertambahnya persentase
dari fraksi berukuran lempung yang dikandung oleh tanah.

3) Sistem klasifikasi tanah berdasarkan tekstur dianggap tidak memadai untuk


sebagian besar dari keperluan teknik. Pada saat sekarang ada dua sistem klasifikasi
tanah yaitu sistem klasifikasi AASHTO dan Sistem klasifikasi Unified.

4) Koefisien rembesan tanah adalah tergantung pada beberapa faktor yaitu


kekentalan cairan, distribusi ukuran pori, distribusi ukuran butir, angka pori,
kekasaran permukaan butiran tanah, dan drajat kejenuhan tanah. Koefisien rembesan
merupakan fungsi dari berat volume dan kekentalan air, yang berarti pula merupakan
fungsi dari temperatur selama percobaan dilakukan.

5) Tegangan efektif pada suatu titik di dalam massa tanah akan mengalami
perubahan di karenakan oleh adanya rembesan air yang melaluinya. Tegangan efektif
ini akan bertambah besar atau kecil tergantung pada arah dari rembesan

6) Kenaikan tegangan pada tanah tergantung pada beban persatuan luas dimana
pondasi berada, kedalaman tanah dibawah pondasi podasi dimana tegangan tersebut
ditinjau, dan faktor-faktor lainnya.

7) Untuk tanah lempung lembek perubahan volume yang disebabkan oleh


keluarnya air dari dalam pori (yaitu konsolidasi) akan terjadi sesudah penurunan
segera. Penurunan konsolidasi tersebut biasanya jauh lebih besar dan lebih lambat
serta lama dibandingkan dengan penurunan segera. Indeks pemampatan yang
digunakan untuk menghitung besarnya penurunan yang terjadi dilapangan sebagai
akibat dari konsolidasi dapat ditentukan dari kurva yang menunjukkan hubungan
antara angka pori dan tekanan yang didapat dari uji konsolidasi di laboratorium.

8) Untuk usaha pemadatan yang sama, berat volume kering dari tanah akan naik
bila kadar air dalam tanah meningkat. Kadar air mempunyai pengaruh yang besar
terhadap tingkat kemadatan yang dapat dicapai oleh suatu tanah. Pemadatan
menimbulkan perubahan-perubahan pada struktur tanah berkohesi. Perubahan-
perubahan tersebut meliputi perubahan pada daya rembes, kemampumampatan, dan
kekuatan tanah.

Ilmu Mekanika Tanah

1 Comment Tweet

Ilmu Mekanika Tanah adalah ilmu alam yang perkembangan selanjutnya akan
mendasari dalam analisis dan desain perencanaan suatu pondasi. Sehingga disini
dituntut untuk dapat membedakan antara mekanika tanah dengan teknik pondasi.

Mekanika tanah adalah suatu cabang dari ilmu teknik yang mempelajari perilaku
tanah dan sifatnya yang diakibatkan oleh tegangan dan regangan yang disebabkan
oleh gaya-gaya yang bekerja. Sedangkan Teknik Pondasi merupakan aplikasi prinsip-
prinsip Mekanika Tanah dan Geologi. , yang digunakan dalam perencanaan dan
pembangunan pondasi seperti gedung, jembatan, jalan, bendung clan lain-lain. Oleh
karena itu perkiraan dan pendugaan terhadap kemungkinan adanya penyimpangan
dilapangan dari kondisi ideal pada mekanika tanah sangat penting dalam perencanaan
pondasi yang benar.

Agar suatu bangunan dapat berfungsi secara sempurna, maka seorang insinyur
harus bisa membuat perkiraan dan pendugaan yang tepat tentang kondisi tanah
dilapangan.
Mekanika tanah adalah bagian dari geoteknik yang merupakan salah satu cabang dari
ilmu teknik sipil, dalam bahasa Inggris mekanika tanah berarti soil mechanics atau
soil engineering dan Bodenmechanik dalam bahasa Jerman.

Istilah mekanika tanah diberikan oleh Karl von Terzaghi pada tahun 1925 melalui
bukunya "Erdbaumechanik auf bodenphysikalicher Grundlage" (Mekanika Tanah
berdasar pada Sifat-Sifat Dasar Fisik Tanah), yang membahas prinsip-prinsip dasar
dari ilmu mekanika tanah modern, dan menjadi dasar studi-studi lanjutan ilmu ini,
sehingga Terzaghi disebut sebagai "Bapak Mekanika Tanah".

DEFINISI MEKANIKA TANAH

Tanah didefinisikan sebagai material yang terdiri dari:

· Agregat (butiran) mineral-mineral padat yang tidak terikat secara kimia satu sama
lain

· Zat Cair

· Gas yang mengisi ruang-ruang kosong di antara butiran mineral-mineral padat


tersebut

Tanah berguna sebagai pendukung pondasi bangunan dan juga tentunya sebagai
bahan bangunan itu sendiri (contoh: batu bata).

Sejarah terjadinya tanah, pada mulanya bumi berupa bola magma cair yang sangat
panas.Karena pendinginan, permukaannya membeku maka terjadi batuan beku.
Karena proses fisika (panas, ding in, membeku dan mencair) batuan tersebut hancur
menjadi butiran-butiran tanah (sifat-sifatnya tetap seperti batu aslinya : pasir, kerikil,
dan lanau.) Oleh proses kimia (hidrasi, oksidasi) batuan menjadi lapuk sehingga
menjadi tanah dengan sifat berubah dari batu aslinya.

Disini dikenal Transported Soil: adalah tanah yang lokasinya pindah dari tempat
terjadinya yang disebabkan oleh Miran air, angin, dan es dan Residual Soil adalah
tanah yang tidak pindah dari tempat terjadinya.

Oleh proses alam, proses perubahan dapat bermacam-macam dan berulang. Batu
menjadi tanah karena pelapukan dan penghancuran, dan tanah bisa menjadi batu
karena proses pemadatan, sementasi. Batu bisa menjadi batu jenis lain karena panas,
tekanan, dan larutan.

Batuan dibedakan :

- Batuan beku (granit, basalt).

- Batuan sedimen (gamping, batu pasir).

- Batuan metamorf (marmer).

Tanah terdiri atas butir-butir diantaranya berupa ruang pori. Ruang pori dapat terisi
udara atau air. Tanah juga dapat mengandung bahan-bahan organik sisa pelapukan
tumbuhan atau hewan. Tanah semacam ini disebut tanah organik.

a. Perbedaan Batu dan Tanah


Batu merupakan kumpulan butir butirmineral alam yang saling terikat erat dan kuat.
Sehingga sukar untuk dilepaskan. Sedangkan tanah merupakan kumpulan butir butir
min al alam yang tidak melekat atau melekat tidak erat, sehingga sangat mudah untuk
dipisahkan. Sedangkan Cadas adalah merupakan peralihan antara batu dan tanah.

b. Jenis-Jenis Tanah Fraksi-fraksi tanah (Jenis tanah berdasarkan ukuran butir)

(1). kerikil (gravel) : > 2.00 mm

(2). pasir (sand) : 2.00 — 0.06 mm

(3). lanau (silt) : 0.06 — 0.002 mm

(4). lempung (clay) : < 0.002 mm

Pengelompokan jenis tanah dalam praktek berdasarkan campuran butir

(1). Tanah berbutir kasar adalah tanah yang sebagian besar butir-butir tanahnya
berupa pasir dan kerikil.

(2). Tanah berbutir halus adalah tanah yang sebagian besar butir-butir tanahnya
berupa lempung dan lanau.

(3). Tanah organik adalah tanah yang cukup banyak mengandung bahan-bahan
organik.

Pengelompokan tanah berdasarkan sifat lekatannya

(1). Tanah Kohesif : adalah tanah yang mempunyai sifat lekatan antara butir-butirnya.
(tanah lempungan = mengandung lempung cukup banyak).

(2) Tanah Non Kohesif : adalah tanah yang tidak mempunyai atau sedikit sekali
lekatan antara butir-

butirnya. (hampir tidak mengandung lempung misal pasir).

(3). Tanah Organik : adalah tanah yang sifatnya sangat dipengaruhi oleh bahan-bahan
organik.

(sifat tidak baik)

Prinsip Dasar Ilmu Mekanika Tanah

Mekanika tanah adalah cabang dari ilmu teknik yang mempelajari prilaku tanah dan
sifatnya dikarenakan adanya gaya regangan dan tegangan. Sedangkan teknik podasi
adalah aplikasi prinisp-prinsip mekanika tanah dan geologi, yang umum digunakan
pada perencanaan pembangunan pondasi seperti gedung, jembatan, jalan, bendung
dan lain-lain. Prinsip dasar ilmu mekanika tanah juga erat kaitannya dengan ilmu
perkiraan terhadap kemungkinan adanya penyimpangan dari kondisi tanah ideal
dilapangan.

Prinsip Dasar Ilmu Mekanika Tanah

Bumi terdiri atas batuan dan tanah dengan butir-butir berupa ruang pori yang terisi
udara dan air. Tanah juga dapat mengandung bahan-bahan sisa pelapukan tumbuhan
maupun hewan yang disebut tanah organik. Sedangkan batuan dibedakan atas batuan
beku (granit, basalt), batuan sedimen (gamping, batu pasir), batuan metamorf
(marmer). Batuan merupakan kumpulan butir-butir mineral alam yang saling terikat
erat dan kuat, sehingga sukar untuk dilepaskan. Sedangkan tanah merupakan
kumpulan butir butir minal alam yang tidak melekat atau melekat tidak erat, sehingga
sangat mudah untuk dipisah. Ada juga tanah jenis Cadas yang merupakan peralihan
antara batu dan tanah. Berikut jenis tanah berdasrkan fraksi dan ukuran butir :

1. Kerikil (gravel) > 2.00 mm

2. Pasir (sand) 2.00 - 0.06 mm

3. Lanau ( silt) 0.06 - 0.002 mm

4. Lempung (clay) < 0.002 mm

Tanah berdasarkan campuran butir

1. Tanah berbutir kasar adalah tanah yang sebagian besar butir tanahnya berupa pasir
dan kerikil.

2. Tanah berbutir halus adalah tanah yang sebagian besar butir-butir tanahnya
berupa lempung dan lanau.

3. Tanah organik adalah tanah yang cukup banyak mengandung bahan-bahan sisa
tumbuhan dan hewan.

Tanah berdasarkan sifat lekatannya.

1. Tanah Kohesif adalah tanah yang mempunyai sifat lekatan antara butir-butimya.
(tanah lempungan = mengandung lempung cukup banyak).

2. Tanah Non Kohesif adalah tanah yang tidak mempunyai atau sedikit sekali lekatan
antara butir-butimya. (hampir tidak mengandung lempung dan pasir).
3. Tanah Organik adalah tanah yang sifatnya sangat dipengaruhi oleh bahan-bahan
organik. (bersifat tidak baik).

Pada prinsipnya, ilmu ini bisa dikatakan susah-susah gampang. Didasarkan pada
analisa jenis dan spesifikasi tanah. Dikatakan susah karena begitu banyak rumus
kompleks dan statis yang harus diakumulasikan berdasarkan klasifikasi jenis dan
sifatnya. Namun gampang karena praktis, tidak seperti mekanika teknik, dimana
engineer menganalisa setiap bentuk dan gaya-gaya dalam yang merepotkan. Apapun
jenis perhitungan dalam mekanika tanah tidak akan lepas dari prinsip dasar
persamaan tanah seperti diawah ini.

1. Berat Volume Tanah Kering

2. Berat Volume Tanah Basah

3. Berat Volume Jenuh Air

4. Kadar Air

5. Kadar Air Jenuh

Rumus diatas akan dicoba pada beberapa contoh soal berikut.


Soal : 1

Suatu percobaan lab terhadap suatu contoh tanah asli seberat 1.74 kg dan mempunyai
isi 0.001 m3. Berat jenis butir 2.6, kerapatan kering tanah 1500 kg/m3. Ditanyakan.

a. Kadar air.

b. Angka pori dan porositas

c. Kerapatan jenuh dan terendam

d. Derajat kejenuhan

Jawab : 1

a. Kadar air.

Keterangan :

Ws = Berat jenis kerapatan tanah kering

Ww = Berat jenis kerapatan tanah basah

b. Angka pori dan porositas (factor pembanding).

Keterangan :

Vs = Volume berat jenis butir tanah asli


Vv = Volume tanah asli

c. Kerapatan jenuh dan terendam

Keterangan :

Ysat = Berat volume jenuh

d. Derajat kejenuhan

Keterangan :

Vw = Volume berat tanah kering

Soal : 2

Suatu tanah jenuh air mempunyai berat volume kering sebesar 16.2 kn/m3. Kadar air
20 %. Tentukan berat jenis spesifik (Gs), angka pori (e), berat volume jenuh (Ysat).

Jawab : 2

Berat jenis spesifik

Angka pori.
Berat volume jenuh

Soal : 3

Suatu contoh tanah seberat 30.6 kg, mempunyai isi 0.0183 m3. Bila dikeringkan
dalam tungku beratnya menjadi 27.2 kg, dan berat jenis butirnya (Gs) diketahui 2.65,
tentukan :

a. Kerapatan tanah (berat volume basah)

b. Kerapatan butir (berat volume kering)

c. Kadar air

d. Angka pori

e. Porositas

f. Derajat kejenuhan

Jawab : 3

a. Kerapatan tanah

b. Kerapatan butir
c. Kadar air

d. Angka pori

e. Porositas

f. Derajat kejenuhan

Soal : 4

Daata suatu tanah diketahui sebagai berikut : angka pori 0.75, kadar air 22%. Berat
spesifik tanah 2.66, hitunglah.

a. Porositas

b. Berat volume basah

c. Berat volume kering

Jawab : 4

a. Porositas
b. Berat volume basah

c. Berat volume kering

Soal : 5

Data suatu tanah diketahui sebagai berikut : Porositas tanah 0.45, berat spesifik 2.68,
kadar air 10 %. Tentukan masa air yang harus ditambahkan agar tanah mempunyai
volume 10 m3 menjadi jenuh.

Jawab : 5

Dalam 1 m3 air yang dibutuhkan = keadaan jenuh – keadaan basah

Jadi dalam 10 m3 tanah dibutuhkan massa air sebesar 3032 kg.

Soal jawab diatas merupakan contoh umum design tanah pada laboratorium. Tidak
menutup kemungkinan jenis, sifat dan karakteristik dari unsur tanah berubah,
tentunya perhitugan diatas juga dapat berkembang mengikuti pola yang ada. Namun
dasar dan penerapan perhitungan diatas adalah rumus tetap yang baku pada prisip-
prinsip tanah dan merupakan metode perhitungan umum.
7.12 Aliran ke Dalam Galian, Selokan, dan Sumuran

7.12.1 Pondasi Sumuran

Pondasi Caisson atau Pondasi Sumuran Pondasi sumuran adalah suatu bentuk
peralihan antara pondasi dangkal dan pondasi tiang dan digunakan apabila tanah
dasar (tanah keras) terletak pada kedalaman yang relative dalam. Persyaratan agar
Pondasi Sumuran dapat digunakan adalah sebagai berikut: · Daya dukung Pondasi
harus lebih besar dari pada beban yang dipikul oleh tersebut · Penurunan yang
terjadi harus sesuai batas yang diizinkan (toleransi) yaitu sebesar 1 inci (2,54cm) Ada
beberapa alasan pondasi sumuran digunakan dibandingkan pondasi dangkal yaitu: ·
Bila tanah keras terletak lebih dari 3 meter, maka jika digunakan pondasi plat kaki
atau jenis pondasi langsung lainnya akan menjadi tidak hemat (galian tanahnya terlalu
dalam dan lebar) · Bila air dipermukaan tana terletak tinggi, konstruksi pada pelat
beton akan sulit dilaksanakan karena air harus di ppompa keluar lubang galian. Ada
beberapa metode pelaksanaan pondasi dilapangan, salah satunya adalah metode
dengan menggunakan cincin. Dengan metode ini sumuran terdiri dari pipa / cincin-
cincin besar yang terbuat dari beton biasa atau beton bertulang dan biasa dikenal
sebagai gorong-gorong. Tebal cincin umumnya 8-12 cm. Ukuran garis tengah bagian
dalam cincin bervariasi antara 70-150 cm. Ukuran yang digunakan tergantung
kebutuhan luas dasar pondasi hasil perhitungan beban bangunan dan kekuatan tanah.
Ada pipa/cincin beton pada siap pakai dengan ukuran tinggi -+ 100cm dengan garis
tengah bermacam-macam. Jumlah cincin pada satu titik tergantung pada kedalaman
tanah kerasnya. Cincin beton dapat pula dibuat sendiri. Bila dibuat sendiri, sebaiknya
dinding bagian bawah dibuat runcing untuk memudahkan penurunan pipa kedalam
tanah. Berikut adalah langkah-langkah memasang pondasi sumuran :

1. Pembersihan area pengerjaan


2. Gali tanah sedalam 30-50cm masukkan cincin pertama. Letakkan dengan
benar (jangan miring agar tidak terjadi penjepitan)
3. Bila tepi atas cincin telah rata dengan tanah, tumpangi dengan cincin
perlahan-lahan melesak menusuk
4. Bila tanah berair, air dibuang keluar (dipompa)
5. Bila telah mencapai tanah keras, bagian bawah sumuran diisi dengan
pasir yang di padatkan setebal 5-10cm, lalu kemudian diisi dengan
cyclopen dan batu kali dimana cyclopen adalah beton yang menggunakan
batu-batu besar atau puing bangunan (pecahan beton) untuk
meminimalkan area permukaan dan menghemat pemakaian semen.
6. Untuk bangunan-bangunan yang ringan sumuran cukup diisi dengan pasir
padat.
7. Pada bagian atas pondasi yang mendekati sloof. Dibeli pembesian untuk
mengikat sloof. Ada metode lain yang digunakan dalam penggunaan
pondasi sumuran. Metode ini tetap menggunakan cincin beton sebagai
sumurannya.

Metode Selokan Uji (Trenching)

Metode ini berguna untuk menemukan bahan galian dan untuk memperoleh data-data
mengenai keadaan tubuh batuan (orebody) yang bersangkutan, seperti ketebalan,
sifat-sifat fisik, keadaan batuan di sekitarnya, dan kedudukannya.

Cara pengambilan contoh dengan metode ini paling cocok dilakukan pada tubuh
bahan galian yang terletak dangkal di bawah permukaan tanah, yaitu dimana lapisan
penutup (over burden) kurang dari setengah meter. Trench yang dibuat sebaiknya
diusahakan dengan cara-cara berikut :

· Dasar selokan dibuat miring, sehingga jika ada air dapat mengalir dan
mengeringkan sendiri (shelf drained) dengan demikian tidak diperlukan
adanya pompa.
· Kedalaman selokan (trench) diusahakan sedemikian rupa sehingga para
pekerja masih sanggup mengeluarkan bahan galian cukup dengan
lemparan.

· Untuk menemukan urat bijih yang tersembunyi di bawah material penutup


sebaiknya digali dua atau lebih parit uji yang saling tegak lurus arahnya
agar kemungkinan untuk menemukan urat bijih itu lebih besar. Bila
kebetulan kedua parit uji itu dapat menemukan singkapan urat bijihnya,
maka jurusnya (strike) dapat segera ditentukan. Selanjutnya untuk
menentukan bentuk dan ukuran urat bijih yang lebih tepat dibuat parit-
parit uji yang saling sejajar dan tegak lurus terhadap jurus urat bijihnya.

7.12.2 Galian

Galian untuk pipa, gorong-gorong atau drainase beton dan galian untuk pondasi
jembatan atau struktur lain, harus cukup ukurannya sehingga memungkinkan
pemasangan bahan dengan benar, pemadatan harus dilakukan setelah penimbunan
kembali di bawah dan di sekeliling pekerjaan.

• Cofferdam, penyokong (shoring) dan pengaku (bracing) atau tindakan lain


untuk mengeluarkan air harus dipasang untuk pembuatan dan pemeriksaan
kerangka acuan dan untuk memungkinkan pemompaan dari luar
acuan. Cofferdam atau penyokong atau pengaku yang tergeser atau bergerak
ke samping selama pekerjaan galian harus diperbaiki, dikembalikan posisinya
dan diperkuat untuk menjamin kebebasan ruang gerak yang diperlukan selama
pelaksanaan.
Cofferdam, penyokong dan pengaku (bracing) yang dibuat untuk pondasi
jembatan atau struktur lainnya harus diletakkan sedemikian hingga tidak
menyebabkan terjadinya penggerusan dasar, tebing atau bantaran sungai.

• Bila galian parit untuk gorong-gorong atau lainnya dilakukan pada timbunan
baru, maka timbunan harus dikerjakan sampai ketinggian yang diperlukan
dengan jarak masing-masing lokasi galian parit tidak kurang dari 5 kali lebar
galian parit tersebut, selanjutnya galian parit tersebut dilaksanakan dengan
sisi-sisi yang setegak mungkin sebagaimana kondisi tanahnya mengijinkan.

• Setiap pemompaan pada galian harus dilaksanakan sedemikian, sehingga


dapat menghindarkan kemungkinan terbawanya setiap bagian bahan yang
baru terpasang. Setiap pemompaan yang diperlukan selama pengecoran beton,
atau untuk suatu periode paling sedikit 24 jam sesudahnya, harus
dilaksanakan dengan pompa yang diletakkan di luar acuan beton tersebut.

• Galian sampai elevasi akhir pondasi untuk telapak pondasi struktur tidak
boleh dilaksanakan sampai sesaat sebelum pondasi akan dicor.

Galian pada borrow pits

• Sumber bahan (borrow pits), apakah di dalam Daerah Milik Jalan atau di
tempat lain, harus digali sesuai dengan ketentuan.

• Persetujuan untuk membuka sumber galian baru atau mengoperasikan


sumber galian lama harus mendapat ijin terlebih dahulu sebelum setiap
operasi penggalian dimulai.

• Sumber bahan (borrow pits) di atas tanah yang mungkin digunakan untuk
pelebaran jalan mendatang atau keperluan pemerintah lainnya, tidak
diperkenankan.
• Penggalian sumber bahan harus dilarang atau dibatasi bilamana penggalian
ini dapat mengganggu drainase alam atau yang direncanakan.

• Pada daerah yang lebih tinggi dari permukaan jalan, sumber bahan harus
diratakan sedemikian rupa sehingga mengalirkan seluruh air permukaan ke
sistem drainase berikutnya tanpa genangan.

• Tepi galian pada sumber bahan tidak boleh berjarak lebih dekat dari 2 m dari kaki
setiap timbunan atau 10 m dari puncak setiap galian.

Galian pada perkerasan aspal yang ada

• Pekerjaan galian pada perkerasan aspal dengan menggunakan mesin Cold


Milling dengan pengrusakan sedikit mungkin terhadap material diatas atau
dibawah batas galian yang ditentukan. Bilamana material pada permukaan
dasar hasil galian terlepas atau rusak akibat dari pelaksanaan penggalian
tersebut, maka material yang rusak atau terlepas tersebut harus dipadatkan
dengan merata atau dibuang seluruhnya dan diganti dengan material yang
cocok. Setiap lubang pada permukaan dasar galian harus diisi dengan material
yang cocok lalu dipadatkan dengan merata.

• Pekerjaan galian pada perkerasan aspal yang ada tanpa menggunakan


mesin Cold Milling, material yang terdapat pada permukaan dasar galian,
material yang lepas, lunak atau tergumpal atau hal-hal lain yang tidak
memenuhi syarat, maka material tersebut harus dipadatkan dengan merata
atau dibuang seluruhnya dan diganti dengan material yang cocok.
BAB 8 PEMAMPATAN, KOSOLIDASI, DAN PENURUNAN
8.1 Konsep pemampatan, konsilidasi, dan penurunan

Suatu lapisan tanah yang mengalami tambahan beban di atasnya, maka air
pori akan keluar dari dalam pori, sehingga isi (volume) tanah akan mengecil.
(lihat gambar)
Umumnya konsolidasi berlangsung hanya satu jurusan saja, yaitu jurusan
vertical, karena lapisan yang kena tambahan beban itu tidak dapat bergerak
dalam jurusan horizontal (ditahan oleh tanah di sekelilingnya). Penurunan
merupakan peristiwa yang menyebabkan lapisan tanah mengalami
pemampatan (kompresi/pemadatan) akibat penambahan beban diatas
permukaan tanah .
Dalam keadaan ini pengaliran air juga berjalan satu jurusan, yaitu jurusan
vertical atau disebut “one dimensional consolidation” (konsolidasi satu
jurusan), dan perhitungan konsolidasi hampir selalu berdasarkan teori “one
dimensional consolidation” ini.
Pada waktu konsolidasi berlangsung, bangunan di atasnya akan menurun
(settle). Dalam bidang teknik sipil ada dua hal yang perlu diketahui mengenai
penurunan ini, yaitu :
a. Besarnya penurunan yang akan terjadi
b. Kecepatan penurunan
Pada lapisan pasir, penurunan berlangsung cepat (segera) dan menyeluruh,
serta penurunan yang terjadi kecil, karena pasir mempunyai sifat “low
compressibility”
Pada lapisan tanah lempung, penurunan yang terjadi berjalan agak lambat
(memerlukan waktu lama) dan penurunan yang terjadi juga besar. Oleh karena
itu penelitian konsolidasi umumnya hanya pada tanah lempung (butir halus).
Karena lempung mempunyai sifat “high compressibility”.

8.2 Perkiraan Penurunan Berdasarkan Teori Elastisitas

TEORI PENURUNAN

Bila suatu lapisan tanah mengalami pembebanan akibat beban di atasnya,


maka tanah di dibawah beban yang bekerja tersebut akan mengalami kenaikan
tegangan, ekses dari kenaikan tegangan ini adalah terjadinya penurunan elevasi tanah
dasar (settlement). Pembebanan ini mengakibatkan adanya deformasi partikel tanah,
relokasi partikel tanah, dan keluarnya air pori dari tanah yang disertai berkurangnya
volume tanah. Hal inilah yang mengakibatkan terjadinya penurunan tanah.

Pada umumnya tanah, dalam bidang geoteknik, dibagi menjadi 2 jenis, yaitu tanah
berbutir dan tanah kohesif. Pada tanah berbutir (pasir/sand), air pori dapat mengalir
keluar struktur tanah dengan mudah, karena tanah berbutir memiliki permeabilitas
yang tinggi. Sedangkan pada tanah kohesif (clay), air pori memerlukan waktu yang
lama untuk mengalir keluar seluruhnya. Hal ini disebabkan karena tanah kohesif
memiliki permeabilitas yang rendah.

Secara umum, penurunan dapat diklasifikasikan menjadi 3 tahap, yaitu :

1. Immediate Settlement (penurunan seketika), diakibatkan dari deformasi


elastis tanah kering, basah, dan jenuh air, tanpa adanya perubahan kadar air.
Umumnya, penurunan ini diturunkan dari teori elastisitas. Immediate
settlement ini biasanya terjadi selama proses konstruksi berlangsung.
Parameter tanah yang dibutuhkan untuk perhitungan adalah undrained
modulus dengan uji coba tanah yang diperlukan seperti SPT, Sondir (dutch
cone penetration test), dan Pressuremeter test.
2. Primary Consolidation Settlement (penurunan konsolidasi primer), yaitu
penurunan yang disebabkan perubahan volume tanah selama periode
keluarnya air pori dari tanah. Pada penurunan ini, tegangan air pori secara
kontinyu berpindah ke dalam tegangan efektif sebagai akibat dari keluarnya
air pori. Penurunan konsolidasi ini umumnya terjadi pada lapisan tanah
kohesif (clay / lempung)
3. Secondary Consolidation Settlement (penurunan konsolidasi sekunder),
adalah penurunan setelah tekanan air pori hilang seluruhnya. Hal ini lebih
disebabkan oleh proses pemampatan akibat penyesuaian yang bersifat plastis
dari butir-butir tanah.

8.2.1 Immediate Settlement – Penurunan Seketika

Penurunan seketika / penurunan elastic terjadi dalam kondisi undrained (tidak ada
perubahan volume). Penurunan ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat saat
dibebani secara cepat. Besarnya penurunan elastic ini tergantung dari besarnya
modulus elastisitas kekakuan tanah dan beban timbunan diatas tanah.
Dimana :

Sc = Immediate settlement

Δσ = Beban timbunan (kN/m2)

Es = Modulus elastisitas tanah

μs = Poisson’s Ratio

B = Lebar / diameter timbunan (m)

Ip = non-dimensional influence factor

Schleicher (1926) mendefinisikan factor Ip ini sebagai :

Dimana m1 = L/B (panjang/lebar


beban yang bekerja)
8.2.2 Primary Consolidation – Konsolidasi Primer

Pada tanah lempung jenuh air, penambahan total tegangan akan diteruskan ke air pori
dan butiran tanah. Hal ini berarti penambahan tegangan total (Δσ) akan terbagi ke
tegangan efektif dan tegangan air pori. Dari prinsip tegangan efektif, dapat diambil
korelasi :

Δσ = Δσ’ + Δu

Dimana :

Δσ’ = penambahan tegangan efektif

Δu = penambahan tegangan air pori

Karena lempung mempunyai daya rembes yang sangat rendah dan air adalah tidak
termampatkan (incompressible) dibandingkan butiran tanah, maka pada saat t = 0,
seluruh penambahan tegangan, Δσ, akan dipikul oleh air (Δu = Δσ) pada seluruh
kedalaman lapisan tanah.

Penambahan tegangan tersebut tidak dipikul oleh butiran tanah (Δσ’ = 0).Sesaat
setelah pemberian penambahan tegangan, Δσ, pada lapisan lempung, air dalam pori
mulai tertekan dan akan mengalir keluar. Dengan proses ini, tekanan air pori pada
tiap-tiap kedalaman pada lapisan lempung akan berkurang secara perlahan-lahan, dan
tegangan yang dipikul oleh butiran tanah keseluruhan (tegangan efektif / Δσ’) akan
bertambah. Jadi pada saat 0 < t < ∞

Δσ = Δσ’+ Δu (Δσ’ > 0 dan Δu < Δσ)

Tetapi, besarnya Δσ’ dan Δu pada setiap kedalaman tidak sama, tergantung pada
jarak minimum yang harus ditempuh air pori untuk mengalir keluar lapisan pasir
yang berada di bawah atau di atas lapisan lempung.

Pada saat t = ∞, seluruh kelebihan air pori sudah hilang dari lapisan lempung, jadi Δu
= 0. Pada saar ini tegangan total, Δσ, akan dipikul seluruhnya oleh butiran tanah
seluruhnya (tegangan efektif, Δσ’). Jadi Δσ = Δσ’.

Berikut adalah variasi tegangan total, tegangan air pori, dan tegangan efektif pada
suatu lapisan lempung dimana air dapat mengalir keluar struktur tanah akibat
penambahan tegangan, Δσ, yang ditunjukan gambar dibawah.
Proses terdisipasinya air pori secara perlahan, sebagai akibat pembebanan yang
disertai dengan pemindahan kelebihan tegangan air pori ke tegangan efektif, akan
menyebabkan terjadinya penurunan yang merupakan fungsi dari waktu (time-
dependent settlement) pada lapisan lempung. Suatu tanah di lapangan pada
kedalaman tertentu telah mengalami tegangan efektif maksimum akibat beban tanah
diatasnya (maximum effective overburden pressure) dalam sejarah geologisnya.
Tegangan ini mungkin sama, atau lebih kecil dari tegangan overburden pada saat
pengambilan sample.

Berkurangnya tegangan di lapangan tersebut bisa diakibatkan oleh beban hidup. Pada
saat diambil, contoh tanah tersebut terlepas dari tegangan overburden yang telah
membebani selama ini. Sebagai akibatnya, tanah tersebut akang mengalami
pengembangan. Pada saat dilakukan uji konsolidasi pada tanah tersebut, suatu
pemampatan yang kecil (perubahan angka pori yang kecil) akan terjadi bila beban
total yang diberikan pada saat percobaan adalah lebih kecil dari tegangan efektif
overburden maksimum (maximum effective overburden pressure) yang pernah
dialami sebelumnya.

Apabila beban total yang dialami pada saar percobaan lebih besar dari maximum
effective overburden pressure, maka perubahan angka pori yang terjadi akan lebih
besar. Ada 3 definisi dasar yang didasarkan pada riwayat geologis dan sejarah
tegangan pada tanah, yaitu :

1. Normally consolidated (Terkonsolidasi secara normal), dimana tegangan


efektif overburden saat ini merupakan tegangan maksimum yang pernah
dialami oleh tanah selama dia ada.
2. Overconsolidated, dimana tegangan efektif overburden saat ini lebih kecil
daripada tegangan yang pernah dialami oleh tanag tersebut. Tegangan efektif
overburden maksimum yang pernah dialami sebelumnya dinamakan tegangan
prakonsolidasi. (preconsolidation pressure / PC).
3. Underconsolidated, dimana tegangan efektif overburden saat ini belum
mencapai maksimum, sehingga peristiwa konsolidasi masih berlangsung pada
saat sample tanah diambil.

Ada 2 hal penting yang perlu diperhatikan dalam penurunan konsolidasi ini, yaitu :

1. Besarnya penurunan yang terjadi.


2. Kecepatan penurunan terjadi.

8.2.3 Secondary Consolidation – Konsolidasi Sekunder

Pada akhir konsolidasi primer (setelah tegangan air pori U = 0), penurunan pada
tanah masih tetap terjadi sebagai akibat dari penyesuaian plastis butiran tanah.
Tahapan konsolidasi ini dinamakan konsolidasi sekunder. Variasi angka pori dan
waktu untuk penambahan beban akan sama seperti yang ditunjukkan pada gambar
berikut.

Besarnya konsolidasi sekunder dapat dihitung dengan rumus :


dimana :

Ca = Indeks pemampatan sekunder

Δe = Perubahan angka pori

t = Waktu

ep = angka pori pada akhir konsolidasi primer

H = tebal lapisan lempung, m

Penurunan yang diakibatkan konsolidasi sekunder sangat penting untuk semua jenis
tanag organic dan tanah anorganik yang sangat mampu mampat (compressible).
Untuk lempung anorganik yang terlalu terkonsolidasi, indeks pemampatan sekunder
sangat kecil sehingga dapat diabaikan.

8.3. PERKIRAAN PENURUNAN BERDASARKAN KOSNLOIDASI 1-D

TEORI PENURUNAN

Bila suatu lapisan tanah mengalami pembebanan akibat beban di atasnya, maka tanah
di dibawah beban yang bekerja tersebut akan mengalami kenaikan tegangan, ekses
dari kenaikan tegangan ini adalah terjadinya penurunan elevasi tanah dasar
(settlement). Pembebanan ini mengakibatkan adanya deformasi partikel tanah,
relokasi partikel tanah, dan keluarnya air pori dari tanah yang disertai berkurangnya
volume tanah. Hal inilah yang mengakibatkan terjadinya penurunan tanah.

Pada umumnya tanah, dalam bidang geoteknik, dibagi menjadi 2 jenis, yaitu tanah
berbutir dan tanah kohesif. Pada tanah berbutir (pasir/sand), air pori dapat mengalir
keluar struktur tanah dengan mudah, karena tanah berbutir memiliki permeabilitas
yang tinggi. Sedangkan pada tanah kohesif (clay), air pori memerlukan waktu yang
lama untuk mengalir keluar seluruhnya. Hal ini disebabkan karena tanah kohesif
memiliki permeabilitas yang rendah.

Secara umum, penurunan dapat diklasifikasikan menjadi 3 tahap, yaitu :

1. Immediate Settlement (penurunan seketika), diakibatkan dari deformasi


elastis tanah kering, basah, dan jenuh air, tanpa adanya perubahan kadar air.
Umumnya, penurunan ini diturunkan dari teori elastisitas. Immediate
settlement ini biasanya terjadi selama proses konstruksi berlangsung.
Parameter tanah yang dibutuhkan untuk perhitungan adalah undrained
modulus dengan uji coba tanah yang diperlukan seperti SPT, Sondir (dutch
cone penetration test), dan Pressuremeter test.
2. Primary Consolidation Settlement (penurunan konsolidasi primer), yaitu
penurunan yang disebabkan perubahan volume tanah selama periode
keluarnya air pori dari tanah. Pada penurunan ini, tegangan air pori secara
kontinyu berpindah ke dalam tegangan efektif sebagai akibat dari keluarnya
air pori. Penurunan konsolidasi ini umumnya terjadi pada lapisan tanah
kohesif (clay / lempung)
3. Secondary Consolidation Settlement (penurunan konsolidasi sekunder),
adalah penurunan setelah tekanan air pori hilang seluruhnya. Hal ini lebih
disebabkan oleh proses pemampatan akibat penyesuaian yang bersifat plastis
dari butir-butir tanah.

1. Immediate Settlement – Penurunan Seketika


Penurunan seketika / penurunan elastic terjadi dalam kondisi undrained (tidak
ada perubahan volume). Penurunan ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat
saat dibebani secara cepat. Besarnya penurunan elastic ini tergantung dari
besarnya modulus elastisitas kekakuan tanah dan beban timbunan diatas tanah.
Dimana :

Sc = Immediate settlement

Δσ = Beban timbunan (kN/m2)

Es = Modulus elastisitas tanah

μs = Poisson’s Ratio

B = Lebar / diameter timbunan (m)

Ip = non-dimensional influence factor

Schleicher (1926) mendefinisikan factor Ip ini sebagai :


Dimana m1 = L/B (panjang/lebar beban yang bekerja)

2. Primary Consolidation – Konsolidasi Primer


Pada tanah lempung jenuh air, penambahan total tegangan akan diteruskan ke air
pori dan butiran tanah. Hal ini berarti penambahan tegangan total (Δσ) akan
terbagi ke tegangan efektif dan tegangan air pori. Dari prinsip tegangan efektif,
dapat diambil korelasi :

Δσ = Δσ’ + Δu

Dimana :

Δσ’ = penambahan tegangan efektif

Δu = penambahan tegangan air pori

Karena lempung mempunyai daya rembes yang sangat rendah dan air adalah tidak
termampatkan (incompressible) dibandingkan butiran tanah, maka pada saat t = 0,
seluruh penambahan tegangan, Δσ, akan dipikul oleh air (Δu = Δσ) pada seluruh
kedalaman lapisan tanah.

Penambahan tegangan tersebut tidak dipikul oleh butiran tanah (Δσ’ = 0).Sesaat
setelah pemberian penambahan tegangan, Δσ, pada lapisan lempung, air dalam pori
mulai tertekan dan akan mengalir keluar. Dengan proses ini, tekanan air pori pada
tiap-tiap kedalaman pada lapisan lempung akan berkurang secara perlahan-lahan, dan
tegangan yang dipikul oleh butiran tanah keseluruhan (tegangan efektif / Δσ’) akan
bertambah. Jadi pada saat 0 < t < ∞

Δσ = Δσ’+ Δu (Δσ’ > 0 dan Δu < Δσ)

Tetapi, besarnya Δσ’ dan Δu pada setiap kedalaman tidak sama, tergantung pada
jarak minimum yang harus ditempuh air pori untuk mengalir keluar lapisan pasir
yang berada di bawah atau di atas lapisan lempung.
Pada saat t = ∞, seluruh kelebihan air pori sudah hilang dari lapisan lempung, jadi Δu
= 0. Pada saar ini tegangan total, Δσ, akan dipikul seluruhnya oleh butiran tanah
seluruhnya (tegangan efektif, Δσ’). Jadi Δσ = Δσ’.

Berikut adalah variasi tegangan total, tegangan air pori, dan tegangan efektif pada
suatu lapisan lempung dimana air dapat mengalir keluar struktur tanah akibat
penambahan tegangan, Δσ, yang ditunjukan gambar dibawah.
Proses terdisipasinya air pori secara perlahan, sebagai akibat pembebanan yang
disertai dengan pemindahan kelebihan tegangan air pori ke tegangan efektif, akan
menyebabkan terjadinya penurunan yang merupakan fungsi dari waktu (time-
dependent settlement) pada lapisan lempung. Suatu tanah di lapangan pada
kedalaman tertentu telah mengalami tegangan efektif maksimum akibat beban tanah
diatasnya (maximum effective overburden pressure) dalam sejarah geologisnya.
Tegangan ini mungkin sama, atau lebih kecil dari tegangan overburden pada saat
pengambilan sample.

Berkurangnya tegangan di lapangan tersebut bisa diakibatkan oleh beban hidup. Pada
saat diambil, contoh tanah tersebut terlepas dari tegangan overburden yang telah
membebani selama ini. Sebagai akibatnya, tanah tersebut akang mengalami
pengembangan. Pada saat dilakukan uji konsolidasi pada tanah tersebut, suatu
pemampatan yang kecil (perubahan angka pori yang kecil) akan terjadi bila beban
total yang diberikan pada saat percobaan adalah lebih kecil dari tegangan efektif
overburden maksimum (maximum effective overburden pressure) yang pernah
dialami sebelumnya.

Apabila beban total yang dialami pada saar percobaan lebih besar dari maximum
effective overburden pressure, maka perubahan angka pori yang terjadi akan lebih
besar. Ada 3 definisi dasar yang didasarkan pada riwayat geologis dan sejarah
tegangan pada tanah, yaitu :

1. Normally consolidated (Terkonsolidasi secara normal), dimana tegangan


efektif overburden saat ini merupakan tegangan maksimum yang pernah
dialami oleh tanah selama dia ada.
2. Overconsolidated, dimana tegangan efektif overburden saat ini lebih kecil
daripada tegangan yang pernah dialami oleh tanag tersebut. Tegangan efektif
overburden maksimum yang pernah dialami sebelumnya dinamakan
tegangan prakonsolidasi. (preconsolidation pressure / PC).
3. Underconsolidated, dimana tegangan efektif overburden saat ini belum
mencapai maksimum, sehingga peristiwa konsolidasi masih berlangsung
pada saat sample tanah diambil.

Ada 2 hal penting yang perlu diperhatikan dalam penurunan konsolidasi ini, yaitu :

1. Besarnya penurunan yang terjadi.


2. Kecepatan penurunan terjadi.

3.Secondary Consolidation – Konsolidasi Sekunder

Pada akhir konsolidasi primer (setelah tegangan air pori U = 0), penurunan pada
tanah masih tetap terjadi sebagai akibat dari penyesuaian plastis butiran tanah.
Tahapan konsolidasi ini dinamakan konsolidasi sekunder. Variasi angka pori dan
waktu untuk penambahan beban akan sama seperti yang ditunjukkan pada gambar
berikut.
Besarnya konsolidasi sekunder dapat dihitung dengan rumus :

dimana :

Ca = Indeks pemampatan sekunder

Δe = Perubahan angka pori

t = Waktu
ep = angka pori pada akhir konsolidasi primer

H = tebal lapisan lempung, m

Penurunan yang diakibatkan konsolidasi sekunder sangat penting untuk semua jenis
tanag organic dan tanah anorganik yang sangat mampu mampat (compressible).
Untuk lempung anorganik yang terlalu terkonsolidasi, indeks pemampatan sekunder
sangat kecil sehingga dapat diabaikan.

8.4 PENURUNAN SEKETIKA DAN PENURUNAN KONSOLIDASI

Suatu lapisan tanah yang mengalami tambahan beban di atasnya, maka air pori akan
keluar dari dalam pori, sehingga isi (volume) tanah akan mengecil. (lihat gambar)
Umumnya konsolidasi berlangsung hanya satu jurusan saja, yaitu jurusan vertical,
karena lapisan yang kena tambahan beban itu tidak dapat bergerak dalam jurusan
horizontal (ditahan oleh tanah di sekelilingnya).

Dalam keadaan ini pengaliran air juga berjalan satu jurusan, yaitu jurusan vertical
atau disebut “one dimensional consolidation” (konsolidasi satu jurusan), dan
perhitungan konsolidasi hampir selalu berdasarkan teori “one dimensional
consolidation” ini.

Pada waktu konsolidasi berlangsung, bangunan di atasnya akan menurun (settle).


Dalam bidang teknik sipil ada dua hal yang perlu diketahui mengenai penurunan ini,
yaitu :

a. Besarnya penurunan yang akan terjadi

b. Kecepatan penurunan

Pada lapisan pasir, penurunan berlangsung cepat (segera) dan menyeluruh, serta
penurunan yang terjadi kecil, karena pasir mempunyai sifat “low compressibility”

Pada lapisan tanah lempung, penurunan yang terjadi berjalan agak lambat
(memerlukan waktu lama) dan penurunan yang terjadi juga besar. Oleh karena itu
penelitian konsolidasi umumnya hanya pada tanah lempung (butir halus). Karena
lempung mempunyai sifat “high compressibility”.

2. Istilah Normally Consolidated dan Over Consolidated

a. Over Consolidated (Pre Consolidation)

Istilah ini adalah tekanan pada suatu lapisan tanah pada waktu dahulu pernah
mengalami pembebanan. Misalnya lapisan endapan, oleh sebab geologis endapan
tersebut hilang, saehingga lapisan tanah tersebut pernah mengalami tekanan lebih
tinggi dari pada tekanan yang berlaku di atasnya saat ini.

b. Normally Consolidated

Istilah ini adalah menyatakan suatu lapisan tanah yang belum pernah mengalami
tekanan di atasnya lebih tinggi dari pada tekanan yang berlaku saat ini.

3. Pengukuran Konsolidasi

Pengukuran konsolidasi di laboratorium menggunakan alat konsolidasi (consolidated


apparatus ) atau Oedometer. Prinsif alat tersebut dapat di lihat pada gambar.

Beban ditambah setiap 24 jam, dengan harga tegangan : 0,25 ; 0,5 ; 1,0 ; 2,0; 4,0; 8,0
kg/cm2. Setelah mencapai 8,0 kg/cm2, beban dikurangi lagi sampai mencapai 0,25
kg/cm2.

Besarnya penurunan yang terjadi pada setiap tegangan diambil dari pembacaan
arloji petunjuk yang terakhir untuk tegangan tersebut. Angka-angka penurunan ini
dipakai untuk membuat grafik penurunan terhadap tegangan sebagai absis (dengan
skala logaritma) dan angka pori sebagai ordinat (dengan skala biasa).

4. Persamaan Umum Konsolidasi

Cv =

mv =

av = = =
dimana :

Cv = koefisien konsolidasi (cm2/det)

K = koefisien rembesan (permeabilitas)

= berat isi air

= koefisien kompresibilitas volume (pengecilan isi)

= koefisien pemampatan

= angka pori sebelum ada tambahan tekanan ( )

= angka pori sesudah adanya tambahan tekanan ( )

= tekanan tambahan

Atau dapat ditulis :

= = . = .

Dimana :
= tebal contoh tanah sebelum penambahan beban

= selisih tebal contoh sebelum dan sesudah adanya penambahan beban

5. Hubungan Antara Angka Pori dan Tebal Contoh

eo = =

Perubahan angka pori :

= .

6. Hubungan Antara Tekanan dan Angka Pori

Tekanan pre consolidation dan angka pori mempunyai hubungan sebagai berikut :

- e = Cc (logp – logpo)

Cc = Compression Index (indek pemampatan)

Menurut Terzaghi harga Cc dapat ditentukan :

Cc = 0,009 (LL – 10)

LL = Batas air dari tanah (dalam %)


7. Persamaan Penurunan

S = mv . h .

S= log -------------- S = penurunan (m, cm)

8. Teori Konsolidasi Terzaghi

Teori ini merupakan dasar yang telah disederhanakan untuk menentukan distribusi
tekanan hidrostatis yang bekerja dalam lapisan-lapisan yang berkonsolidasi di dalam
waktu tertentu sesudah bekerjanya beban/muatan dan ini disebut derajat
konsolidasi (U)

U adalah tekanan hidrostatis pada suatu titik dalam lapisan lempung.

Penentuan distribusi tekanan hidrostatis yang bekrja dalam lapisan tanah pada
interval waktu yang berbeda dapat dilakukan sebagai berikut :

U = f (Tv) -------------- Tv =
U = derajat konsolidasi

Tv = Faktor waktu (Time Faktor)

Cv =

h = jalan air terpanjang tanah yang berkonsolidasi

Derajat konsolidasi :

U=

Harga U dapat diperoleh dari rumus Terzaghi U = f (Tv), atau dapat diperkirakan
dengan persamaan :

U 50 % ; U2 = .
U 50 % ;U=1- . .

h = jalan air terpanjang

dari persamaan di atas dapat dihitung harga-harga U dan Tv sebagai berikut :

U% 20 40 60 80 90

Tv 0,031 0,126 0,287 0,567 0,848

Contoh :

Waktu yang diperlukan lapisan tanah untuk penurunan 90 % selesai adalah :

U = 90 % ----- Tv =

0,848 =

=
Jadi dalam waktu t90, konsolidasi sudah mencapai 90 % dari keseluruhan. Untuk
mencapai konsolidasi seluruhnya memerlukan waktu lama ( t100), yaitu untuk
menyelesaikan Secondary Consolidation.

Menurut teori konsolidasi Terzaghi, konsolidasi seluruhnya terdiri dari dua bagian,
yaitu :

1. Primary Consolidation

Adalah penurunan yang berjalan akibat pengaliran air dari tanah dengan demikian
penurunan ini adalah akibat penurunan tegangan efektif.

2. Secondary Consolidation

Penurunan yang amsih berjalan setelah primary consolidation selesai, yaitu setelah
tidak terdapat lagi tegangan air pori. Dan berlangsung dalam waktu yang lama serta
nilainya kecil.

8.5 perilaku konsolidasi lempung dan lanau

8.5.1. uji odometer


Alat pengujian konsolidasi yang populer
digunakan di Indonesia adalah Oedometer. Oedometer pertama kali diciptakan oleh
Terzaghi pada tahun 1936, untuk mewujudkan teorinya tentang kompressibilitas pada
tanah lunak. Alat ini bekerja sesuai dengan anggapan yang diambil oleh Terzaghi
dalam teorinya tersebut.
Di Indonesia Oedometer ini merupakan alat uji konsolidasi yang paling populer
digunakan.
Perilaku tanah terpengaruh oleh faktor pembentuk, batuan induk dan tegangan
terbesar yang pernah dialaminya. Faktor pembentuk tanah di daerah berikiim tropis
akan berbeda dengan faktor pembentuk tanah didaerah yang berikLim empat musim.
Dari pernyataan ini, timbul pertanyaan benarkah tanah di Indonesia akan berperilaku
seperti pada anggapan Terzaghi saat diuji dengan alat Oedometer?
Untuk mengetahui dan mencari parameter konsolidasi yang sesuai dengan teori yang
dibuat oleh Terzaghi, maka dilakukan uji konsolidasi dengan menggunakan alat uji
konsolidasi Rowe, dimana pada alat ini di engkapi oleh alat pengukur perubahan
tegangan air pori serta sistim. tekanan untuk penjenuhan sehingga akan bisa
mengkondisikan tanah ;eperti pada anggapan Terzaghi.
Agar Oedometer dapat digunakan untuk menghasilkan parameter ,onsolidasi seperti
yang diperoleh pada alat konsolidasi Rowe, maka Lkan dilakukan pengujian
menggunakan alat Oedometer path tiga jenis anah dengan LIR yang berfariasi. Hasil
pengujian berupa nilai LIR yang akan digunakan untuk prosedur uji konsolidasi pada
Oedometer.

Uji Konsolidasi Konsolidasi di Laboratorium Laboratorium

1. Pemampatan : benda uj dibebani secara bertahap (incremental) mulai 7 kPa, 16


kPa, 32 kPa, 64 kPa, 128 kPa, 256 kPa.

2. Pengembangan : beban dikurangi menjadi 128 kPa, 32 kPa, 7 kPa.

3. Pemampatan kembali : benda uji dibebani kembali

8.5.2. besaran konsolidasi

Koefisien Konsolidasi (Cv). Koefisien pemampatan (av) adalah koefisien yang


menyatakan kemiringan kurva e-p. Jika tanah dengan volume V1 mampat sehingga
volumenya menjadi V2, dan mampatnya tanah dianggap hanya sebagai akibat
pengurangan rongga pori.

8.5.3 perilaku konsolidasi dan kecepatan konsolidasi

Kecepatan Konsolidasi Konsolidasi • Pendekatan matematika didasarkan pada asumsi


:

sistem lempung-air homogen, Proses penjenuhan selesai, Pemampatan air dan butir
tanah diabaikan (tapi butir tanah rearrange), Aliran air hanya satu arah (arah
pemampatan) dan Hukum Darcy masih relevan.

Kecepatan konsolidasi, dipengaruhi oleh :


1.permeabilitas tanah
2.tebal tanah kompresibel
3.kondisi drainase diatas dan dibawah lapisan tanah kompresibel.
8.6 Perkiraan Penurunan dari Hasil Ordometer
Pada saat ini banyak kendaraan bermotor yang mengalami kerusakan, pada
umumnya kerusakan yang terjadi akibat kurangnya perawatan. Bagian kendaraan
yang dirawat pada
umumnya adalah mesin. Mesin merupakan penggerak utama dari kendaraan
bermotor.
Mesin membutuhkan pelumas. Fungsi dari pelumas yaitu mengurangi gesekan yang
terjadi
pada mesin akibat dari putaran mesin. Pelumas memiliki kadar kekentalan. Kadar
kekentalan
pada pelumas dapat berkurang akibat gesekan. Apabila kadar kekentalan pelumas
sudah tidak baik, maka mesin akan cepat panas, hal ini disebabkan karena gesekan
yang ditimbulkan semakin besar. Apabila hal ini dibiarkan terus menerus maka mesin
bisa pecah, sehingga sering terjadi kebocoran pada mesin. Untuk menghindari
terjadinya kerusakan mesin maka kendaraan harus dirawat. Pada umumnya waktu
perawatan
kendaraan dilihat berdasarkan jarak tempuh dan waktu pemakaian. Dengan kesibukan
yang ada, seringkali pengguna kendaraan melupakan jadwal perawatan yang
harus dilakukan. Untuk itu diperlukan suatu sistem yang dapat mengingatkan
pengguna
kendaraan, apabila kendaraan yang dipakai sudah waktunya untuk dirawat.
perencanaan dan desain, kemudian diikuti oleh
pengujian sistem dan kesimpulan.
2. Sistem Odometer Mekanis
Dibawah ini adalah gambar odometer mekanis dengan satuan jarak mil. Bila
diketahui
odometer mekanis memiliki reduksi roda N:1. Itu berarti poros input pada odometer
ini harus
berputar N kali untuk mencatat 1 mil. Gambar 1. Odometer Mekanik Odometer
mekanis diputar oleh sebuah kabel fleksibel yang terbuat dari sebuah per yang dililit
secara ketat. Kabel itu biasanya berputar didalam sebuah tabung logam protektif
dengan
sebuah blok karet. Pada sebuah sepeda, sebuah roda kecil yang menggulirkan roda
sepeda
memutar kabel, dan rasio roda gigi terhadap odometer harus diukur ke ukuran roda
kecil ini.
Pada sebuah mobil, sebuah roda gigi mengaktifkan poros output transmisi, memutar
kabel. Kabel ini melingkar pada panel instrumen, dimana ini dihubungkan pada poros
input
odometer. Odometer ini menggunakan serangkaian dari tiga worm gear untuk
mencapai
reduksi roda giginya. Poros input menggerakkan ulir pertama, yang menggerakkan
sebuah
roda gigi. Setiap putaran penuh roda gigi hanya memutar roda gigi dengan satu gigi.
Roda gigi itu memutar ulir lainnya, yang memutar roda gigi lainnya, yang memutar
ulir terakhir dan akhirnya roda gigi terakhir, yang dikaitkan pada indikator
sepersepuluh dari satu km. Tiap indikator memiliki sebuah deret pasak yang
menonjol keluar dari satu sisi, dan sebuah
range yang tunggal 2 pasak pada sisi lainnya. Ketika rangkaian dua pasak sampai ke
roda
gigi plastik putih, salah satu dari roda gigi berada diantara pasak-pasak dan berputar
dengan indikator sampai pasak-pasak melewati. Roda gigi ini juga melibatkan salah
satu dari
pasak-pasak pada indikator berikutnya yang lebih besar memutarnya sepersepuluh
dari
sebuah putaran.Apabila kendaraan berjalan mundur, maka odometer mekanis juga
akan berputar terbalik.Hal ini terjadi karena odometer ini benar-benar merupakan
sebuah rangkaian roda gigi. Untuk memutar kembali odometer mekanik dapat juga
dilakukan dengan cara mengaitkan kabel odometer pada sebuah drill dan
menjalankannya
ke arah belakang untuk memutar kembali odometer.
8.7. Ketidakpastian Perkiraan Penurunan Berdasarkn Uji Odometer
Untuk bisa mampat, air yang
ada didalam pori tanah harus dikeluarkan. Kecepatan
pemampatan di pengaruhi oleh proseskeluamya air
dari dalam pori tanah dan sifat kompresibelitas tanah.
Pasir adalah tanah yang sangat permeabel dan tanah yangtidak kompresibel,
sehingga proses penurunan terjadi sangat cepat dan penurunanya kecil.
Lempung yang kenyang air adalah tanah yang rapat air danbersifat sangat ko
mpresibel sehingga penurunan yang terjadibisa bertahun-
tahun dan penurunan yang terjadi besar.

8.7.1. Analogi konsolidasi satu dimensi.


• Pegas divisualisasikan sebagai tanah zyang mudah mampat, air dalam piston sebagai
air pori dan lubang pada piston dilukiskan sebagai kemampuan tanah meloloskan air.
• Pada sembarang waktu, tekanan yang terjadi pada pegas identik dengan kondisi
tegangan efektif di dalam tanah.
• Tekanan air dalam silinder identik dengan tekanan air pori.
• Kenaikan tekanan akibat penerapan beban (∆p) identik dengan tambahan tegangan
normal yang bekerja.
• Gerakan piston menggambarkan perubahan volume tanah yang dipengaruhi oleh
kompresibilitas (kemudahmampatan) pegas.
• Permodelan menggambarkan apa yang terjadi bila tanah kohesif jenuh dibebani di
laboratorium maupun lapangan.

8.7.2. Proses Konsolidasi Di Lapangan


• Pondasi dibangun di atas tanah lempung jenuh yang diapit oleh lapisan pasir.
• Segera setelah pembebanan, lapisan lempung mengalami kenaikan tegangan sebesar
∆p
• Air pori dalam lapisan lempung mudah mengalir ke lapisan pasir
• Tinggi air dalam pipa piezometer menyatakan besarnya kelebihan tekanan air pori
(excess pore water pressure) di lokasi pipa dipasang.
• Akibat tambahan tegangan ∆p, tinggi air dalam pipa naik : h = ∆p/γw yang
dinyatakan oleh garis DE yang menunjukkan tekanan air pori awal.
• Kurva K1 menunjukkan dalam waktu tertentu, tekanan air pori lapisan lempung
masih tetap dibandingkan dekat dengan lapisan pasir yang cepat berkurang.
Sesudahnya sesuai kurva yang ditunjukkan K2
• kedudukan garis AC menunjukkan proses konsolidasi telah selesai, yaitu ketika
kelebihan tekanan air pori (∆u) telah nol.

8.7.3. Lempung Normally Dan Overconsolidated

Lempung normally consolidated adalah jika tegangan efektifpada suatu titi


k dalam tanah lempung yang berlaku sekarangmerupakan tegangan maksimumnya.
Lempung Over Consolidated adalah jika tegangan efektif padasuatu titik dala
m tanah
lempung karena sejarah geologinya pernah mengalami tegangan yang lebih besa
r dari tegangan yangsekarang.

• Menggambarkan sifat penting dari tanah lempung


• Tanah lempung yang biasanya terjadi dari proses pengendapan dan akibat tanah di
atasnya lempung mengalami konsolidasi atau penurunan, suatu ketika tanah di atas
mungkin kemudian hilang karena proses alam sehingga tanah pernah mengalami
tekanan yang lebih besar dari tekanan sekarang yang biasa disebut overconsolidated.
• Tanah yang tidak pernah mengalami tekanan yang lebih besar dari sekarang di sebut
tanah normally consolidated.
• Nilai banding overconsolidation (overconsolidation ratio, OCR) didefinisikan
sebagai nilai banding tekanan prakonsolidasi terhadap tegangan efektif yang ada,
dalam persamaan :

• Tanah normally consolidated mempunyai OCR = 1, overconsolidated mempunyai


OCR > 1.
• Tanah dalam proses konsolidasi (underconsolidated) mempunyai OCR < 1, tanah
yang belum seimbang.

8.7.4. Uji Konsolidasi


Beban P diterapkan di atas benda uji, penurunan diukur dengan arloji pembacaan
(dial gauge)
Beban diterapkan dalam periode 24 jam dan benda uji selalu terendam air.

8.7.5. Sifat Khusus Grafik Hubungan ∆H Atau E Terhadap Log T


Kedudukan 1 kompresi awal akibat beban awal terhadapbenda uji
Kedudukan 2 bagian garis lurus, menunjukan proseskonsolidasiawal .
Kedudukan 3 menunjukan proses konsolidasi sekunder.

• Tiap penambahan beban selama pengujian, tegangan yang terjadi berupa tegangan
efektif
• Bila berat jenis tanah (specific gravity), dimensi awal dan penurunan pada tiap
pembebanan dicatat, maka nilai angka pori e dapat diperoleh.

8.7.6. Interpretasi Hasil Uji Konsolidasi

• Perubahan tinggi (∆H) per satuan dari tinggi awal (H) adalah sama dengan
perubahan volume (∆V) per satuan volume awal (V), atau
Koefisien pemampatan (av) Dan Koefisien perubahan volume (mv)

Koefisien pemampatan (av) adalah koefisien yang menyatakankemiringan


kurva e-
p’, jika volume awal V1 mampat menjadi V2, maka terjadi pengurangan a
ngka pori, perubahan volume menjadi ;

Dengan :
e1 = angka pori padategangan p1’
e2 = angka pori padategangan p2’
V1= volume pada teganganp1’
V2= volume pada teganganp2’

Kemiringan kurva e – p’ (av) didefinisikan sebagai :

• Koefisien perubahan volume (mv) didefinisikan sebagai perubahan volume persatuan


penambahan tegangan efektif.
• Jika terjadi kenaikan tegangan efektif dari p1’ ke p2’ maka angka pori akan
berkurang dari e1 dan ke e2 dengan perubahan tebal∆H.
• Satuan dari mv adalah m2/kN
• Karena mv adalah perubahan volume per satuan penam - bahan tegangan, maka :
Contoh soal :
Hitunglah av dan mv untuk kenaikan tegangan dari 20 sampai 40 kN/m2dari kurva uji
Konsolidasi.

Penyelesaian :
Dari kurva diperoleh hubungan angka pori & tegangan

Untuk :

Jadi,

Dari kurva, untuk :


Contoh soal 2
Hasil uji konsolidasi pada lempung jenuh :

Hasil uji terakhir stlh 24 jam, kadar air = 24,5 % dan Gs = 2,70.
Gambarkan hubungan angka pori vs tegangan efektif dan
tentukan av dan mv
• Contoh tanah jenuh berlaku hubungan, e = wGs
maka angka pori akhir pengujian : e1 = 0,254 x 2,70 = 0,662
• Tebal contoh kondisi akhir : H1 = 19,25 mm
• Angka pori awal pengujian e0 = e1 + ∆e
• Umumnya hubungan antara ∆e dan ∆H dinyatakan :

• Persamaan digunakan menentukan angka pori, dalam tabel :


Dari grafik :
8.7.7. Indeks Pemampatan (Cc)

Indeks kompresi adalah kemiringan dari bagian lurus grafik e – log p’


dinyatakan persamaan
•Penelitian Terzaghi & Peck untuk tanah normally consolidation :

Dimana : LL = liquid limit

8.7.8. Indeks Pemampatan Kembali (Cr )


Indeks rekompresi adalah kemiringan dari kurva pelepasan beban dan pembebanan
kembali pada grafik e – log p’
8.7.9. “oedometer”

Alat pengujian konsolidasi yang populer digunakan di Indonesia adalah


Oedometer. Oedometer pertama kali diciptakan oleh Terzaghi pada tahun 1936, untuk
mewujudkan teorinya tentang kompressibilitas pada tanah lunak. Alat ini bekerja
sesuai dengan anggapan yang diambil oleh Terzaghi dalam teorinya tersebut.

Di Indonesia Oedometer ini merupakan alat uji konsolidasi yang paling


populer digunakan. Perilaku tanah terpengaruh oleh faktor pembentuk, batuan induk
dan tegangan terbesar yang pernah dialaminya. Faktor pembentuk tanah di daerah
berikiim tropis akan berbeda dengan faktor pembentuk tanah didaerah yang berikLim
empat musim. Dari pernyataan ini, timbul pertanyaan benarkah tanah
di Indonesia akan berperilaku seperti pada anggapan Terzaghi saat diuji dengan alat
Oedometer?

Untuk mengetahui dan mencari parameter konsolidasi yang sesuai dengan


teori yang dibuat oleh Terzaghi, maka dilakukan uji konsolidasi dengan
menggunakan alat uji konsolidasi Rowe, dimana pada alat ini di engkapi oleh alat
pengukur perubahan tegangan air pori serta sistim. tekanan untuk penjenuhan
sehingga akan bisa mengkondisikan tanah ;eperti pada anggapan Terzaghi.

Agar Oedometer dapat digunakan untuk menghasilkan parameter ,onsolidasi


seperti yang diperoleh pada alat konsolidasi Rowe, maka Lkan dilakukan pengujian
menggunakan alat Oedometer path tiga jenis anah dengan LIR yang berfariasi. Hasil
pengujian berupa nilai LIR yang akan digunakan untuk prosedur uji konsolidasi pada
Oedometer.
PEMBAGIAN TUGAS
7.2 Ariful Falghoni
7.3 Elena fransiska
7.4 Irfan ramanda
7.5 Septian dwi p
7.6 Yudhanto bintang sc
7.7 Hardiansyah putra
7.8 M ferdi aferta
7.9 Alfin kurniawi
7.11 cintya ramadhani putri
7.12 ridho maulana ansar

8.1 Rahmat dermawan


8.2 M givari
8.3 Haris Buana Putra
8.4 Bima kharisma Wardani
8.5 Donny adellino
8.6 Rahma Yani
8.7 Tomi Juliardi

Penyusun makalah : Lisbeth Elfani


Penyusun ppt : Dhea Rizki Ananda

Anda mungkin juga menyukai