Tekanan Vertikal dan Hukum Darcy dalam Mekanika Tanah
Tekanan Vertikal dan Hukum Darcy dalam Mekanika Tanah
MEKANIKA TANAH
KELOMPOK : GANJIL
NAMA:
ELENA FRANSISKA(173110715)
RAHMA YANI(173110733)
TEKNIK SIPIL
persamaan 1
dengan:
σZ = tekanan vertikal padakedalaman z
P = muatan titik/muatan vertikal
μ = Poisson's ratio (ratio dari tegangan material dalam arah normal terhadap
gayayang sejajar muatan)
R = jarak dari pusat muatan terhadap suatu titik di mana o, akan ditentukan
z = kedalaman
dengan:
σZ = tekanan vertikal pada kedalaman z
P = muatan titik/muatan vertikal
R = jarak dari pusat muatan terhadap suatu titik di mana o, akan ditentukan
z = kedalaman
Notasi yang terdapat dalam persamaan Boussinesq sama dengan notasi pada
persamaan Westergaard.
persamaan 3
Apabila
persamaan 4
Karena k merupakan fungsi dari r/z, maka dapat dibuat hubungan antara k
Dan r/zdari berbagai nilai sebagai berikut, lihat Tabel 1.
Tabel 1. Hubungan r/z
r/z K r/z K
0.0 0.478 1.5 0.025
0.1 0.466 1.6 0.020
0.2 0.433 1.7 0.016
0.3 0.385 1.8 0.013
0.4 0.329 1.9 0.011
0.5 0.273 2.0 0.009
0.6 0.221 2.1 0.007
Tekanan Vertikal dalam Tanah di Bawah Muatan Telapak (Muatan Merata).
Untuk menghitung besarnya tekanan vertikal di bawah muatan telapak dapat
dilakukan dengan empat metode, yaitu Metode Pendekatan, Metode Boussinesq,
Metode Newmark, dan Metode Fadum.
Metode Pendekatan
Metode pendekatan ini didasarkan pada asumsi bahwa tekanan di bawah
fondasi telapak akan disebarkan ke dalam tanah dengan kemiringan penyebaran 2:l,
lihat Gambar 3. Sesuai dengan ketentuan di atas, maka besarnya tekanan vertikal
pada kedalaman adalah:
dengan:
σz = tekanan vertikal pada
z = kedalamanz
P = muatan terpusat
z = kedalaman
L = panjang fondasi
B = lebar fondasi
σ0 = tekanan vertikal di dasar
fondasi
di bawah permukaan, batuan diendapkan pada lapisan. Aliran fluida dalam dan di
antara lapisan batuan diatur oleh permeabilitasbatuan. Namun, untuk
memperhitungkan permeabilitas, harusdiukur baik dalam arah vertikal dan
horisontal. Sebagai contoh,serpih biasanya memiliki permeabilitas yang jauh lebih
rendahdaripada vertikal horizontal (dengan asumsi datar berbaring serpihtempat
tidur). Ini berarti bahwa sulit untuk cairan mengalir naik turun melalui tempat
tidur serpih tetapi jauh lebih mudah untuk itumengalir dari sisi ke sisi. Contoh yang
baik dari karakteristik iniditunjukkan pada gambar di sebelah kiri; yang jelas
menunjukkanbahwa akan lebih mudah bagi air
untuk mengalir sepanjangperlapisan horisontal dalam serpih di mana ada aliran
alami jalurbukan vertikal di mana ada beberapa jalur aliran .
Pada akhirnya, jika perbedaan tekanan antara zona hidrolik retakdan akuifer air
tawar tidak besar, jarak antara zona relatif besar,dan ada batuan dengan
permeabilitas vertikal yang rendah diantara lebih dalam dan zona dangkal,
aliran antara zona tidak mungkin terjadi. Pengecualian untuk ini adalah di
mana ada jaluraliran terpisah seperti lubang bor terbuka
atau serangkaiankesalahan atau sendi yang bersinggungan kedua zona retak
danakuifer air tawar. Di bawah salah satu dari keadaan ini, perbedaan tekanan dan
jarak akan menjadi faktor penentu, apakah cairandapat bermigrasi dari bagian bawah
ke zona atas.
Untuk mereka yang memiliki minat lebih besar dalam prinsip-prinsip matematika di
balik aliran fluida di bawah permukaan, berikut ini adalah deskripsi
dari Hukum Darcy:
dimana:
Q = laju aliran air (volume per waktu)
K = konduktivitas hidrolik
Sebuah kolom = luas penampang lintang
dh / dl = gradien hidrolik, yaitu, perubahan kepala panjang bunga.
Saat menghitung kemungkinan aliran fluida dari zona hidrolik retak ke zona air tawar
penerapan hukum Darcy sangat penting karena akan menetapkan kondisi spesifik di
mana cairan dapat mengalir dari satu zona ke yang lain dan akhirnya akan
menentukan apakah atau tidak rekah hidrolik cairan dapat mencapai zona air segar.
Hukum Darcy adalah suatu hukum phenomenologic (empirik) dari debit aliran air
yang diformulasikan oleh Henry Darcy berdasarkan hasil eksperimental yang
dilakukannya pada paruh pertama abad ke 19.
Hukum Konstitutif
Hukum konstitutif atau persamaan konstitutif adalah persamaan yang
menghubungkan dua besaran fisika.
Contoh paling sederhana dari hukum konstitutif adalah Hukum Hooke yang
menyatakan bahwa pada kondisi elastis, hubungan tegangan dan regangan satu
dimensi dapat diformulasikan sbb:
Dimana dua besaran yang dihubungkan dalam hukum Hooke diatas adalah tegangan
dan regangan. Hukum konstitutif sangat beragam, dan beberapa hukum konstitutif
sangat sering kita gunakan dalam dunia teknik secara umum.
Bila kita sering menggunakan berbagai program elemen hingga, secara otomatis kita
telah menggunakan berbagai persamaan konstitutif yang tentunya sangat beragam.
Tergantung dari material yang akan digunakan, perilaku material yang ingin
dimodelkan (elastis, plastis, dsb), jenis beban yang diberikan (statik, dinamik), dan
lain sebagainya.
Pada banyak kasus, penggunaan hukum konstitutif yang tepat sangat instrumental
dalam usaha mendapatkan prediksi perilaku struktur/material yang representatif.
Saya sengaja menyinggung hukum konstitutif secara singkat, karena ini berkaitan
dengan proses penurunan di bagian selanjutnya.
Persamaan Navier-Stokes
Persamaan ini dinamai dari dua orang insinyur dan matematikawan, yang masing-
masing bernama Claude Louis Navier dari Prancis dan George Gabriel Stokes dari
Inggris.
Memahami persamaan ini akan membuka pintu dalam memahami berbagai formulasi
dalam mekanika benda padat (solid mechanics), maupun mekanika fluida (fluid
mechanics).
Bila mencermati tulisan saya yang sebelum ini mengenai persamaan Bernoulli.
Sesungguhnya saya telah menurunkan persamaan Navier-Stokes secara umum.
Dimana persamaan Navier-Stokesnya?
Saya akan kembali mengulas posting sebelumnya, pertama-tama tentunya dimulai
dari hukum gerak Newton
Karena kita tahu bahwa tensor tegangan Cauchy terdiri dari bagian spherical dan
deviatoriknya:
Maka persamaan sebelumnya dapat ditulis menjadi
Inilah salah satu bentuk paling umum dari persamaan Navier-Stokes. Saya katakan
umum karena biasanya di turunan persamaan Navier-Stokes kita juga memasukkan
hukum konstitutif dari material yang terkait.
Persamaan Stokes
Kalau persamaan diatas sudah dipahami, sekarang untuk kasus aliran air yang
laminer, alias yang memiliki angka Reynolds rendah, maka kita menyederhanakan
persamaan Navier-Stokes diatas menjadi persamaan Stokes. Cat: Angka Reynolds
merupakan angka tak berdimensi yang menggambarkan perilaku fluida yang
laminer/turbulen.
Pada kasus rembesan (seepage), kecepatan aliran air sangat lambat, oleh karena itu
aliran fluidanya laminer, oleh karena itu kita dapat mengabaikan efek inertia dari
hukum gerak Newton.
Sehingga hanya kesetimbangan gaya saja yang tersisa, ini analog dengan kasus statik
pada problem struktur. Oleh karena itu persamaan Navier-Stokes diatas dapat ditulis
dalam persamaan Stokes berikut:
Fluida Newtonien
Sekarang bayangkan suatu fluida mengalir di suatu permukaan tertentu. Coba
imajinasikan bahwa yang mengalir adalah sup. Sup adalah fluida yang memiliki
viskositas yang terlihat dengan jelas.
Rembesan air dimaksudkan untuk mengukur kemampuan tanah dilewati oleh air
melalui pori-porinya.
Menurut hukum Darcy, debit air (Q) yang melalui penampang massa tanah (A)
adalah :
Q=kiA
Keterangan
k = koefisien rembesan (coefficient of permeability)
i = gradien hidrolik
Satuan yang biasa dipakai adalah cm/det, dalam sistim cgs dan ft/day dalam
satuan f.p.s
Koefisien Rembesan (k) dalam laboraturium dapat ditentukan sebagai berikut :
a) Pengukuran dalam “Tegangan Tetap” (Constant Head)
b) Pengukuran dalam “Tegangan Berubah” (Variable/Falling Head)
Pengukuran Dalam “Tegangan Tetap”
Sejumlah air di alirkan melalui kumpulan tanah yang akan di selidiki. Debit (Q) dapat
ditentukan dengan isi air yang keluar dibagi jumlah waktu yang digunakan.
dQ = k * h/L * A * dt
– a*dk = k * h/L * A * dt
– a * dh/h = k * A/L * dt
Aliran air yang melalui pori tanah di anggap laminer dan debitnya dapat dinyatakan
sebagai berikut :
Dimana :
Ck = adalah konstanta
Ck adalah faktor yang tergantung pada ketelitian pemasangan pipa pada tanah.
d) Susunan struktur parikel
Daya Rembesan Dari Tanah yang Berlapis-lapis
Susunan lapisan tanah pada gambar dalam II – 3, masing-masing lapis dari tanah
adalah homogen tersendiri.
7.4 Pengukuran Koefisien Rembasan
Rembesan air dimaksudkan untuk mengukur kemampuan tanah dilewati oleh air
melalui pori-porinya.
Menurut hukum Darcy, debit air (Q) yang melalui penampang massa tanah (A)
adalah :
Q=kiA
Keterangan
k = koefisien rembesan (coefficient of permeability)
i = gradien hidrolik
Satuan yang biasa dipakai adalah cm/det, dalam sistim cgs dan ft/day dalam
satuan f.p.s
Koefisien Rembesan (k) dalam laboraturium dapat ditentukan sebagai berikut :
a) Pengukuran dalam “Tegangan Tetap” (Constant Head)
b) Pengukuran dalam “Tegangan Berubah” (Variable/Falling Head)
Pengukuran Dalam “Tegangan Tetap”
Sejumlah air di alirkan melalui kumpulan tanah yang akan di selidiki. Debit (Q) dapat
ditentukan dengan isi air yang keluar dibagi jumlah waktu yang digunakan.
dQ = k * h/L * A * dt
– a*dk = k * h/L * A * dt
– a * dh/h = k * A/L * dt
Dimana :
Ck = adalah konstanta
Pergerakan air dalam tanah merupakan bagian dari siklus hidrologi. Pergerakan
air dalam tanah, pada umumnya air bergerak dengan aliran relatif lambat atau dalam
kondisi laminer dapat dianalisa dengan menggunakan hukum Darcy. Bila hukum
Darcy dan persamaan kontinuitas digabungkan diperoleh persamaan differensial
Laplace sebagai persamaan umum perembesan air ke dalam tanah. Berdasarkan
persamaan differensial Laplace telah dilakukan pemodelan dua dimensi distribusi
tegangan dan distribusi kecepatan perembesan air ke dalam tanah secara analitik
menggunakan metoda pemisahan variabel. Hasil pemodelan distribusi tegangan dan
distribusi kecepatan perembesan menunjukkan bahwa nilai distribusi tegangan dan
distribusi kecepatan mengalami penurunan jika semakin jauh dari sumber
perembesan.
1. Pendahuluan
Semua macam tanah terdiri dari butir-butir dengan ruangan-ruangan yang
disebut pori (voids) antara butir-butir tersebut. Pori-pori ini selalu
berhubungan satu dengan yang lain sehingga air dapat mengalir melalui
ruangan pori tersebut. Proses ini disebut rembesan (seepage) dan kemampuan
tanah untuk dapat dirembes air disebut daya rembesan (permeability).
Sebenarnya bukan hamya tanah yang mempunyai daya rembesan tetapi
banyak bahan bangunan lain seperti beton dan batu juga mengandung pori-
pori sehingga dapat dirembes oleh air. Soal rembesan air dalam tanah cukup
penting dalam bidang geoteknik, misalnya pada soal pembuatan tanggul atau
bendungan untuk menahan air, juga penggalian pondasi dimuka air tanah.
2. Metoda Penelitian
Secara umum tanah dapat didefinisikan sebagai suatu tubuh alam di
permukaan bumi yang terjadi akibat bekerjanya gaya-gaya alami terhadapa
bahan alami (Wesley, 1977). Rembesan air dalam tanah hampir selalu
berjalan secara linier, yaitu jalan atau garis yang ditempuh merupakan garis
dengan bentuk yang teratur (smooth curva). Dalam hal ini kecepatan
perembesan adalah menurut suatu hukum yang disebut hukum Darcy (Darcy’s
law). Prinsip hukum ini dapat dilihat pada Gambar 1.
h masukan l=40 cm r = 2,75 cm keluaran Pada gambar ini diperlihatkan rembesan air
pada suatu contoh tanah akibat adanya perbedaan tegangan air pada kedua ujung
tersebut. Ketinggian air pada pipa ini disebut hidrolis head (h). Air akan mengalir dari
kiri ke kanan jika terdapat hidrolis head. Darcy dalam eksperimennya menemukan
hubungan proporsional antara kecepatan perembesan (v) dengan gradien hidrolis head
(i =dh/dl) yang dapat dituliskan sebagai berikut :
Pada gambar ini diperlihatkan rembesan air pada suatu contoh tanah akibat adanya
perbedaan tegangan air pada kedua ujung tersebut. Ketinggian air pada pipa ini
disebut hidrolis head (h). Air akan mengalir dari kiri ke kanan jika terdapat hidrolis
head. Darcy dalam eksperimennya menemukan hubungan proporsional antara
kecepatan perembesan (v) dengan gradien hidrolis head (i =dh/dl) yang dapat
dituliskan sebagai berikut :
v = Ki (1)
i = gradien hidrolik
K = konstanta konduktivitas hidrolik
Besarnya harga K dari suatu jenis tanah tergantung antara lain oleh ukuran diameter
butir dan pori. Bila diameter butirnya sangat halus, walupun porositasnya sangat
tinggi, seperti misalnya lempung maka harga K sangat rendah. Di sini yang perlu
diperhatikan adalah ukuran butir, bukan porositasnya. Gambar 2 yang
memperlihatkan kisaran harga K yang lebih lebar untuk beberapa formasi geologis
(Spitz dan Moreno, 1996).
Rumus atau persamaan yang merupakan dasar untuk pemecahan soal-soal rembesan
dapat ditentukan dengan menghitung banyaknya air yang masuk dan keluar dari suatu
segmen dalam tanah. Air yang masuk dan keluar dari segmen disebut persamaan
kontinuitas ( continuity equation). Persamaan kontinuitas dapat dilihat pada
persamaan
Dengan memasukkan persaman kecepatan dari hukum Darcy ke dalam persamaan
kontinuitas maka diperoleh persamaan sebagai berikut.
Ketinggian tekanan pada suatu titik dapat dinyatakan sebagai hidrolis head (h). Nilai
h tergantung dari x dan y, yaitu h = f(x,y). Kecepatan aliran pada jurusan horisontal
dan vertikal dapat dihitung dari fungsi h dengan memakai rumus Darcy. Pemecahan
soal-soal rembesan dapat dipermudah dengan memakai suatu fungsi U yang
dinamakan “velocity potential”. Defenisi U adalah U = -Kh + d, dimana K adalah
koefisien rembesan dan d adalah konstanta. Pada setiap garis equipotensial nilai h dan
U adalah konstan. Hubungan antara garis equipotensial dengan garis aliran dapat
ditentukan dengan menghitung kemiringan kedua macam garis ini. Pada garis
equipotensial nilai U adalah konstan sehingga turunan parsial U terhadap x dan y
sama dengan nol. Dengan demikian, apabila gradien garis aliran dikalikan dengan
gradien garis equipotensial maka akan didapatkan sama dengan negatif satu (-1)
(Wesley, 1977). Ini berarti bahwa garis equipotensial tegak lurus terhadap garis
aliran. Pada tanah yang homogen atau seragam hal ini selalu benar, sehingga
rembesan air didalam tanah dapat digambarkan sebagai deretan garis equipotensial
dan deretan garis aliran yang saling berpotong-potongan secara tegak.
3. Hasil Penelitian dan Pembahasan Salah satu solusi analitik dari persamaan
differensial Laplace adalah menggunakan metoda pemisahan variabel (MPV).
Misalkan untuk menyelesaiakan persoalan Dirichlet persamaan differensial Laplace
hidrolis head h, penerapan syarat batas tipe Dirichlet h(a,0), h(0,b), h(1,b) sama
dengan nol dan h(a,1) sama dengan f(a) maka diperoleh solusi analitik MPV
(Kreyzig, 1980). Penerapan syarat Dirichlet dalam bidang R dapat dilihat pada
Gambar 3.
Garis aliran adalah suatu garis sepanjang mana butir-butir akan bergerak dari bagian
hulu ke bagian hilir sungai melalui media tanah yang tembus air (permeable). Garis
ekipotensial adalah suatu garis sepanjang mana tinggi potensial di semua titik pada
garis tersebut adalah sama. Jadi apabila alat-alat piezometer diletakkan di beberapa
titik yang berbeda-beda di sepanjang suatu garis ekipotensial, air di dalam piezometer
tersebut akan naik pada ketinggian yang sama. Gambar 3 a menunjukkan definisi
garis aliran dan garis ekipotensial untuk aliran di dalam lapisan tanah yang tembus air
(permeable layer) di sekeliling jajaran turap yang ditunjukkan pada gambar tersebut
(untuk kx = kz = k)
Kombinasi dari beberapa garis aliran dan garis ekipotensial dinamakan jaringan aliran
(flow net). Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa jaringan aliran dibuat untuk
menghitung aliran air tanah.
Gambar.3 a) Definisi garis aliran dan garis ekipotensial.
b)Gambar jaringan aliran yang lengkap
7.6.1 PENGGAMBARAN JARINGAN ALIRAN
1. Permukaan lapisan tembus air pada bagian hulu dan hilir dari sungai (garis ab
dan de) adalah garis-garis ekipotensial.
2. Karena garis ab dan de adalah garis-garis ekipotensial, semua garis-garis
alirannya memotomh tegak lurus.
3. Batas lapisan kedap air, yaitu garis fg, adalah garis aliran ; begitu juga
permukaan turap kedap air, yaitu garis acd.
4. Garis-garis ekipotensial memotong acd dan fg tegak lurus.
Gambar 4. Jaringan aliran di bawah bendungan.
7.6.2 PERHITUNGAN REMBESAN DARI SUATU JARINGAN ALIRAN
Di dalam jaringan aliran (flow net), daerah di antara dua garis aliran yang berdekatan
dinamakan saluran aliran (flow channel). Untuk memahami perhitungan rembesan
yang melalui saluran aliran per satuan lebar (tegak lurus terhadap bidang gambar)
perhatikan gambar.5. Dengan melihat persegi dengan dimensi a x b. Dapat dilihat
bahwa gradien hidrolik adalah :
h h hL / Nd
i
l b b
h hL / Nd
q k A k a
l b
a Nf
q qNf k hL
b Nd
di mana :
Nf : jumlah total flow channel dalam flow net.
Nd : jumlah potential drop (banyaknya bidang bagi kehilangan energi
potensial)
k : koefisien permeabilitas tanah
hL : kehilangan energi total (perbedaan tinggi muka air pada bagian hulu
dan hilir)
q : banyaknya air yang mengalir (jumlah total aliran).
Di dalam menggambar flow net , semua alirannya tidak harus dibuat bujur sangkar.
Hanya perhitungan menjadi lebih mudah apabila perbandingan panjang dan lebar
dibuat sama
( a = b)
Gambar 5. Flow net yang mengilustrasikan definisi perhitungan debit
Ada tujuh buah penurunan energi potensial (Nd) dalam jaringan aliran tersebut, dan
perbedaan muka air pada bagian huku dan hilir sungai adalah H = 21 ft. Jadi
kehilangan tinggi energi untuk tiap-tiap penurunan energi potensial adalah H/ 7 =
21/7 = 3. Tekanan ke atas (uplift pressure) pada titik-titik berikut adalah :
Titik a (ujung kiri dasar bendungan) = (tinggi tekanan pada titik a ) x (γw)
= ((21 +6)-3) γw = 24 γw
tekanan ke atas tersebut yang telah dihitung tersebut kemudian digambar seperti
ditunjukkan dalam gambar .6.b. Gaya ke atas (uplift force) persatuan panjang, yang
diukur sepanjang sumbu bendungan, dapat dihitung dengan menghitung luas diagram
tegangan yang digambar tersebut.
Gambar 6. (a)Bendungan, (b) Gaya angkat ke atas yang bekerja pada dasar suatu
bangunan air
SOAL TUGAS :
Pada bidang dasar pasir, gaya total kearah bawah adalah sama dengan berat pasir
jenuh.
LA = . LA
Gaya tekan keatas adalah dari seliisih tinggi muka air, (h + L) pada luas penampang :
A= ( h + L ). A
Apabila kedua gaya adalah sama, maka gaya kearah bawah dasar tidak ada
efeknya dan berarti tidak ada gaya yang bekerja untuk mencegah mengalirnya pasir
dalam wadah/container.
Jadi : . LA = ( h + L ) A , Atau : LA ( - 1) = hA
= = =
h/L adalah gradient pada tanah, dimana tekanan efektif dalam bidang horizontal
dikurangi sampai nol dan ini disebut gradient hidrolik kritis.
Pasir hisap pada dasarnya pasir biasa yang bercampur air sehingga ikatan
antar partikelnya berkurang dan tidak mampu menahan beban tertentu. Campuran
tersebut seringkali ditemukan di delta atau sekitar sungai-sungai besar. Pasir hisap
juga dapat terbentuk setelah gempa bumi yang menyebabkan air dari reservoir di
dalam tanah merembes ke permukaan tanah. Pasir hisap menjadi sangat berbahaya
karena dapat menyebabkan ambruknya jembatan atau bangunan.
1. Kita akan menyelidiki rmbesan pada galian dibawah muka air yang menggunakan
dinding turap (sheet piles) untuk menahan sisi galian. Sheet pile merupakan lembaran
baja khusus yang saling menyambung untuk menjadi penghalang rembesan.
Kedalaman air adalah 2 meter. Tanah tersebut adalah pasir seragam , dibawahnya
terdapat batuan keras. Pangkang dinding turap adalah 20 meter yang dimasukkan
hingga kedalaman 17 meter dibawah dasar danau. Tentukanlah
a. Gradian Hidrolik pada dasar galian dan faktor keamanan terdapat keruntuhan gaya
angkat.
Penyelesaian :
Kita dapat menghitung dari ujung hulu dan ujung hilir pada jaringan aliran. Kita akan
menggunakan hulu, dari ujung hulu sampai titik P ini jumlah penurunan energi = 2,7
(kira-kira) Kehilangan tinggi energi sampai pada titik P menjadi 2,7 m, dan tinggi
energi tegangan pada titik P adlah 17+2-2,7 = 16,3 m, sehimgga tekanan air pori =
16,3 x 9,8 = 159,7 kPa
Bebas (Unconfined Aquifer) yaitu lapisan yang hanya sebagian terisi oleh
air dan berada di atas lapisan kedap air. Permukaan tanah pada akuifer ini
disebut dengan water table, yaitu permukaan air yang mempunyai tekanan
hidrostatik sama dengan atmosfer.
Tertekan (Confined Aquifer) yaitu akuifer yang jumlah airnya dibatasi oleh
lapisan kedap air, baik di atas maupun di bawah, serta mempunyai tekanan
jenuh lebih besar dari pada tekanan atmosfer.
Semi tertekan (Semi Confined Aquifer) yaitu akuifer yang seluruhnya
merupakan air jenuh, dimana bagian atasnya dibatasi oleh lapisan semi lolos
air dan dibagian bawahnya merupakan lapisan kedap air.
Semi Bebas (Semi Unconfined Aquifer) yaitu akuifer yang bagian
bawahnya yang merupakan lapisan kedap air, sedangkan bagian atasnya
merupakan material berbutir halus, sehingga pada lapisan penutupnya masih
memungkinkan adanya gerakan air. Dengan demikian aquifer ini merupakan
peralihan antara aquifer bebas dengan aquifer semi tertekan.
Air tanah akhirnya dapat merembes kembali ke permukaan. Anda bisa melihat air
tanah yang keluar dari bumi, seperti pada mata air dan lahan basah. Biasanya terjadi
pada permukaan bumi yang lebih rendah dari tingkat akuifer.
Para ilmuwan khawatir tentang masalah yang muncul ketika kita mengambil terlalu
banyak air tanah untuk kehidupan sehari-hari, termasuk rumah tangga, industri, dan
pertanian. Salah satu masalahnya adalah bahwa air tanah semakin lama semakin jauh
dari permukaan Bumi.
Titik pengambilan contoh air tanah bebas dapat berasal dari sumur gali dan sumur
pantek atau sumur bor dengan penjelasan sebagai berikut:
di sebelah hulu dan hilir sesuai dengan arah aliran air tanah dari lokasi yang
akan dipantau;
di daerah pantai dimana terjadi penyusupan air asin dan beberapa titik ke arah
daratan bila diperlukan;
tempat-tempat lain yang dianggap perlu tergantung pada tujuan pemeriksaan.
Titik pengambilan contoh air tanah tertekan dapat berasal dari sumur bor yang
berfungsi sebagai:
pada bendungan dibuat dari tanah yang seragam. Pada bendungan ini juga lapisan
drainasi pada ujung hilirnya' Tujuan lapisan drainasi tersebut adalah mencegah
adanyz rembesan yang keluar pada permukaan lereng hilir bendungan. Rembesan
demikian dapat menyebabkan tanah menjadi lunak sehingga terjadi erosi, bahkan
mungkin kelongsoran
Terdapat dua cara untuk menentukan tekanan air pori pada jaringan aliran
tak terkekang, yaitu:
(a) Menggunakan cara yang telah dijelaskan di atas untuk jaringan aliranterkekang.
Penjelasan tentang rembesan tak terkekang mengikuti penerapan biasa pada mekanika
tanah. Bagaimanapun juga, cara biasa ini tidak sepenuhnya tepat dan melanggar
penjelasan yang dibuat pada Bab 4, yairu bahwa permukaanN prcatik pada tanah
berbutir halus bukan batas atas dari daerah rembesan. Garis preatik cuma merupakan
garis tekanan air pori yang bernilai nol.Bendungan seragam, hanya dapat dibangun
dari tanah berbutir halus (biasanya lempung), jadi rembesan air pasti akan terjadi di
atas permukaan preatik memperlihatkan hal ini. Gambar atas menunjukkan keadaan
pada tanah berbutir kasar (pasir atau kerikil); dalam hal ini permukaan
praktik merupakan batas atas dari daerah rembesan. Gambar bawah memperlihatkan
keadaan pada lempung; dalam hal ini permukaan tanggul merupakan batas atas dari
daerah rembesan. Garis preatik adalah garis tekanan air pori sama dengan nol.
Terlihat dari gambar ini bahwa jenis tanah memengaruhi bentuk jaringan aliran
namun hampir tidak ada pengaruhnya pada garis preatik' Ini berarti ada pengaruh
terhadap volume aliran, tetapi hampir tidak ada pengaruh pada kemantapan. lereng
bendungan'
B. KARAKTERISTIK AIR TANAH BEBAS DAN TERKEKANG
2. Prasedimentasi
Fungsi dari unit ini adalah untuk mengendapkan partikel-partikel tersuspensi
dengan berat jenis yang lebih besar dari berat jenis air. Pengendapan dilakukan
dengan jalan penyimpanan air dalam jangka waktu tertentu. Penggunaan unit ini
tergantung dari karakteristik air bakunya.
Proses yang terjadi pada pengolahan ini adalah penghilangan padatan
tersuspensi secara gravitasi pada sebuah rak. Efisiensi proses bergantung pada ukuran
partikel padatan tersuspensi yang akan dihilangkan dan tingkat pengendapannya
masing-masing (Schulz dan Okun, 1984: 31).
4. Sedimentasi
6. Desinfektan
Desinfeksi diar bertujuan untuk membunuh bakteri, protozoa, dan virus serta
ukuran
partikel disinfeksi yang dikehendaki adalah berukuran kecil dan yang tidak bersifat
racun
terhadap manusia (Al-Layla, 1978:219).
Menurut Reynold (1982:527), klorinasi adalah desinfektan yang paling banyak
digunakan karena cara tersebut murah dan efektif untuk digunakan pad akonsentrasi
rendah.
Klorinasi ini dapat diaplikasikan baik dalam bentuk gas maupun hipoklorit, namun
bentuk
yang paling umum digunakan adalah gas.
7.11 catatan tentang ilmu air tanah dan meknika air tanah
Tanah adalah merupakan susunan butiran padat dan pori-pori yang saling
berhubungan satu sama lain sehingga air dapat mengalir dari satu titik yang
mempunyai energi lebih tinggi ke titik yang mempunyai energi lebih rendah. Studi
mengenai aliran air melalui pori-pori tanah diperlukan dalam mekanika hal ini sangat
berguna didalam menganalisa kestabilan dari suatu bendungan tanah dan konstruksi
dinding penahan tanah yang terkena gaya rembesan.
+ +
dimana:
p = tekanan
v = kecepatan
Apabila persamaan Bernaulli di atas dipakai untuk air yang mengalir melalui pori-
pori tanah, bagian dari persamaan yang mengandung tinggi kecepatan dapat
diabaikan. Hal ini disebabkan karena kecepatan rembesan air didalam tanah adalah
sangat kecil. Maka dari itu, tinggi energi total pada suatu titik dapat dinyatakan
sebagai berikut:
Kehilangan energi antara dua titik, dapat dituliskan dengan persamaan dibawah ini:
i = gradien hidrolik
L= jarak antara titik A dan B, yaitu panjang aliran air dimana kehilangan
tekanan terjadi.
v = ki
Dimana:
v = kecepatan aliran
k = koefisien rembesan
Jenis tanah
(cm/detik)
(ft/menit)
Kerikil bersih
1,1-100
2,0-200
Pasir kasar
1,0-0,01
2,0-0,02
Pasir halus
0,01-0,001
0,02-0,002
Lanau
0,001-0,00001
0,002-0,00002
lempung
Koefisien rembesan tanah yang tidak jenuh air adalah rendah, harga tersebut
akan bertambah secara cepat dengan bertambahnya drajat kejenuhan tanah yang
bersangkutan.
Dimana:
= kekentalan air
= rembesan absolut
Koefisien rembesan merupakan fungsi dari berat volume dan kekentalan air,
yang berarti pula merupakan fungsi dari temperatur selama percobaan dilakukan,
maka dapat dituliskan:
Dimana:
Untuk tanah pasir dengan ukuran butir yang merata , hazen memperkenalkan
suatu hubungan empiris untuk koefisien rembesan dalam bentuk sebagai berikut:
k (cm/detik) = cD210
dimana:
Koefisian rembesan suatu tanah mungkin bervariasi menurut arah aliran yang
tergantung pada perilaku tanah dilapangan. Untuk tanah yang berlapis-lapis dimana
koefisien rembesan alirannya dalam suatu arah tertentu akan berubah dari lapis ke
lapis, kiranya perlu ditentukan harga rembesan ekivalen untuk menyederhanakan
perhitungan. Sehingga didapat persamaan sebagai berikut:
Dilapangan, koefisien rembesan rata-rata yang searah dengan arah aliran dari
suatu lapisan tanah dapat ditentukan dengan cara mengadakan uji pemompaan dari
sumur. Koefisien rembesan yang searah dengan aliran dapat dituliskan sebagi berikut:
y = harga rata-rata dari jarak antara tinggi air dalam lubang auger dengan
muka air tanah selama interval waktu ∆t (menit).
Dalam keadaan sebenarnya, air mengalir di dalam tanah tidak hanya dalam
satu arah dan juga tidak seragam untuk seluruh luasan yang tegak lurus dengan arah
aliran. Untuk permasalahan-permasalahan seperti itu, perhitungan aliran air tanah
pada umumnya dibuat dengan menggunakan grafik-grafik yang dinamakan jaringan
aliran. Konsep jaringan aliran ini didasarkan pada persamaan Kontinuitas Laplace
yang menjelaskan mengenai keadaan aliran tunak untuk suatu titik didalam massa
tanah. Persamaan kontinuitas untuk aliran dalam dua dimensi diatas dapat
disederhanakan menjadi:
BAB III
DAN REMBESAN
Air tanah didefinisikan sebagai air yang terdapat di bawah permukaan bumi. Salah
satu sumber utama air ini adalah air hujan yang meresap kebawah lewat ruang pori
diantara butiran tanah. Air biasanya sangat berpengaruh pada sifat-sifat teknis tanah,
khususnya tanah yang berbutir halus. Demikian juga, air merupakan faktor yang
sangat penting dalam masalah-masalah teknis yang berhubungan dengan tanah
seperti: penurunan, stabilitas, pondasi, stabilitas lereng, dan lain-lain.
Terdapat tiga zona penting pada lapisan tanah yang dekat dengan permukaan
bumi, yaitu: zona jenuh air, zona kapiler, zona sebagian. Pada zona jenuh atau zona di
bawah muka air tanah, air mengisi seluruh rongga-rongga air tanah. Pada zona ini
tanah dianggap dalam keadaan jenuh sempurna. Batas atas dari zona penuh adalah
permukaan air tanah atau permukaan freatis. Selanjutnya, air yang berada di dalam
zona ini disebut sebagai air tanah atau air freatis. Pada permukaan air tanah, tekanan
hidrostatis adalah nol. Zona kapiler terletak di atas zona jenuh. Ketebalan zone ini
tergantung dari macam tanahnya. Akibat tekanan kapiler, air mengalami isapan atau
tekanan negative. Zona yang jenuh berkedudukan paling atas, adalah zone didekat
permukaan tanah, dimana air dipengaruhi oleh penguapan dan akar tumbuh-
tumbuhan.
Tekanan kapiler dapat timbul karena adanya tarikan lapisan tipis permukaan air
sebelah atas. Kejadian ini disebabkan oleh adanya pertemuan antara dua jenis
material yang berbeda sifatnya. Pada prinsipnya, tarikan permukaan adalah hasil
perbedaan gaya tarik antara molekul-molekul pada bidang singgung pertemuan dua
material yang berbeda sifatnya.
Kejadian tarikan permukaan dapat dilihat dari percobaan laboratorium pada pipa
kapiler yang dicelupkan dalam bejana berisi air. Ketinggian air dalam pipa kapiler
akan lebih tinggi dari pada tinggi air dalam bejana (Gambar 3.1.a). Permukaan air
dalam cairan membentuk sudut α terhadap dinding pipa. Tekanan pada permukaan air
dalam pipa dan tekanan pada permukaan air pada bejana akan sama dengan tekanan
atmosfer. Tidak adanya gaya luar yang mencegah air dalam pipa dalam
kedudukannya menunjukan bahwa suatu gaya tarik bekerja pada lapisan tipis
permukaan air dalam pipa kapiler.
Gambar 3.1.
Bila hc adalah tinggi air dalam pipa kapiler, r adalah radius pipa, γw adalah berat
volume air dan tekanan atmosfer diambil sebagai bidang referensi (yaitu tekanan
udara sama dengan nol), maka dapat dibentuk persamaan gaya vertikal pada puncak
dari kolom air sebagai berikut :
(3.1)
(3.2)
Seperti yang telah diterangkan, u adalah negative yang berarti air didalam pipa pada
kedudukan tertarik atau terhisap. Nilai tekanan maksimum adalah γwhc, terjadi pada
puncak kolom. Distribusi tekanan sepanjang pipa , dapat dilihat pada Gambar 3.1c.
Persamaan ketinggian air hc di dalam pipa diperoleh dengan cara substitusi u = -γw
hc ke persamaan (3.2):
(3.3)
Dari persamaan (3.2) dan (3.3) dapat dilihat bahwa u dan hc bertambah jika radius
pipa (r) berkurang.
Akibat tekanan kapiler, air tanah tertarik keatas melebihi permukaannya. Pori-pori
tanah sebenarnya bukan sistem pipa kapiler, tapi teori kapiler dapat diterapkan guna
mempelajari kelakuan air pada zone kapiler. Air dalam zone kapiler ini dapat
dianggap bertekanan negative, yaitu mempunyai tekanan di bawah tekanan atmosfer.
Digram kapilaritas suatu lapisan tanah, dapat dilihat pada gambar 3.1d. Tinggi
minimum dari hc(min) dipengaruhi oleh ukuran maksimum pori-pori tanah. Di dalam
batas antara hc(min) dan hc(mak), tanah dapat bersifat jenuh sebagian (partially
saturated). Terzaghi dan Peck (1948) memberikan hubungan pendekatan antara
hc(mak) dan diameter butiran, sebagai berikut:
(3.4)
Dengan C adalah konstanta yang bergantung pada bentuk butiran dan sudut kontak (C
bervariasi diantara 10 – 50 mm2), dan D10 adalah diameter efektif yang dinyatakan
dalam millimeter. Tinggi air kapiler untuk berbagai macam tanah diberikan oleh
Hansbo (1975), dapat dilihat dalam table 3.1.
Macam Tanah
Kondisi Longsor
Konisi padat
Pasir Kasar
Pasir Sedang
Pasir Halus
Lanau
Lempung
0,03 - 0,12 m
0,12 – 0,50 m
0,30 – 2,00 m
1,50 – 10,0 m
0,04 – 0,15 m
0,35 – 1,10 m
0,40 – 3,50 m
2,50 – 12,0 m
> 10 m
Pengaruh tekanan kapiler pada tanah adalah menambah tegangan efektif. Jika
tekanan kapiler membesar, maka tegangan kontak diantara partikel membesar pula.
Akibatnya, ketahanan tanah terhadap geser atau kuat geser tanah bertambah.
3.2. Permeabilitas
Permeabilitas didefinisikan sebagai sifat bahan yang memungkinkan aliran
rembesan dari cairan yang berupa air atau minyak mengalir lewat rongga pori. Pori-
pori tanah saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Sehingga air dapat
mengalir dari titik yang mempunyai tinggi energi lebih tinggi ke titik dengan energi
yang lebih rendah. Untuk tanah permeabilitas dilukiskan sebagai sifat tanah yang
menggambarkan bagaimana air mengalir melalui tanah.
Di dalam tanah, sifat aliran mungkin laminer atau turbulen. Tahanan terhadap
aliran bergantung pada jenis tanah, ukuran butiran, bentuk butiran, rapat masa serta
bentuk geometri rongga pori. Temperatur juga sangat mempengaruhi tahanan aliran
(kekentalan dan tegangan permukaan).
Walaupun secara teoritis, semua jenis tanah lebih atau kurang mempunyai rongga
pori, dalam praktek, istilah mudah meloloskan air (permeable) ditujukan untuk tanah
yang memang benar-benar mempunyai sifat meloloskan air. Sebaliknya, tanah
disebut kedap air (impermeable), bila tanah tersebut mempunyai kemampuan
meloloskan air yang sangat kecil.
Aliran air lewat suatu kolom tanah diperlihatkan dalam Gambar 3.2a. Masing-
masing partikel air bergerak dari ketinggian A ke ketinggian B yang lebih rendah,
mengikuti lintasan yang berkelok-kelok (ruang pori) diantara butiran padatnya.
Kecepatan air bervariasi dari titik ke titik tergantung dari ukuran dan konfigurasi
pori. Akan tetapi, dalam praktek, tanah dapat dianggap sebagai satu kesatuan. Tiap
partikel air dianggap melewati sepanjang lintasan lurus yang disebut garis aliran.
(Gambar 3.2b).
Gambar 3.2.
3.2.2. Aliran Air dalam Tanah
Aliran air horizontal yang melewati tabung berisi tanah dilukiskan dalam Gambar
3.3. ketinggian di dalam pipa piezometer menunjukan tekanan air pada titik tersebut.
Elevasi air di dalam pipa disebut elevasi piezometrik (piezometric elevation) atau
tinggi energi elevasi (elevation head), sedang tekanan air pada kedalaman tertentu
disebut tinggi energi tekanan (preasure head), yaitu ketinggian kolom air hA atau hB
di dalam pipa diukur dalam millimeter atau meter di atas titiknya. Hal ini dapat juga
dinyatakan dalam satuan tekanan dengan menggunakan hubungan:
(3.5)
Atau
(3.6)
dengan p adalah tekanan (t/m2, kN/m2), h adalah tinggi tekanan (m) dan γw adalah
berat volume air (t/m3, kN/m3). Tekanan air pori biasanya diukur terhadap tekanan
atmosfer relative. Ketinggian air dengan tekanan atmosfer nol, didefinisikan sebagai
permukaan air tanah atau permukaan freatis. Kondisi artesis dapat terjadi jika lapisan
tanah miring dengan permeabilitas tinggi diapit lapisan tanah dengan permeabilitas
rendah.
Tekanan hidrostatis bergantung pada kedalaman suatu titik di bawah muka air
tanah. Untuk mengetahui besar tekanan air pori, teorama Bernoulli dapat diterapkan.
Menurut Bernoulli, tinggi energi total (total head) pada suatu titik A dapat dinyatakan
oleh persamaan:
(3.7)
= kecepatan ( m/det )
= tinggi elevasi ( m )
dengan
γw
Kecepatan rembesan di dalam tanah sangat kecil, maka faktor kecepatan dalam
suku persamaan Bernoulli dapat diabaikan. Sehingga persamaan tinggi energi total
menjadi:
(3.8)
Untuk menghitung banyaknya rembesan lewat tanah pada kondisi tertentu,
ditinjau kondisi tanah seperti dalam gambar 3.3. luas potongan melintang tanah
sebesar A, dengan debit rembesan q.
Gambar 3.3
Dari persamaan Bernoulli, kehilangan energi, Δh, antara dua titik A dan B oleh:
(3.9)
(3.10)
(3.11)
Jika kecepatan aliran air dalam tanah nol, semua ketinggian air dalam akan
menunjukan elevasi yang sama dan berimpit dengan permukaan horizontal air tanah.
Dengan adanya aliran air tanah, ketinggian air dalam pipa piezometer akan berkurang
dengan jarak alirannya.
Hukum Darcy
= gradient hidrolik
Dengan :
(3.8)
= koefisien absolute (cm2), tergantung dari sifat butiran tanah
dengan :
ρw
(3.15)
Atau
(3.16)
Jenis Tanah
k (mm/det)
Butiran kasar
10 – 10 3
10-2 – 10
10-2 – 10-2
10-5 – 10-4
10-8 – 10-5
(3.17)
Dengan
(3.18)
T, ºC
µT/µ20
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1,298
1,263
1,228
1,195
1,165
1,135
1,106
1,078
1,031
1,025
1,000
0,975
0,952
0,930
0,908
0,887
0,867
0,847
0,829
0,811
0,793
Ketepatan hukum Darcy v = ki, hanya cocok untuk aliran laminer, yaitu bila
gradien hidrolik hanya sampai gradien hidrolik kritis (icr) dan kecepatannya hanya
sampai kecepatan kritis (vcr). Dalam Gambar 3.4, di luar L, (i > icr), filtrasi berupa
aliran turbulen dengan kecepatan rembesan
v > vcr
Beberapa studi telah dibuat untuk menyelidiki ketepatan hukum ini. Studi yang
cukup dikenal adalah yang dilakukan oleh muskat (1937). Kriteria nilai batas
diberikan oleh bilangan Reynold. Untuk aliran di dalam tanah, bilangan Reynold (Rn)
diberikan menurut hubungan :
(3.19)
dengan :
γw
Gambar 3.4
(3.20)
(3.21)
Leps (1973) memberikan persamaan kecepatan air lewat pori, sebagai berikut:
(3.22)
Dengan
vv = kecepatan rata-rata air lewat pori
i = gradien hidrolik
(constant-head)
Pengujian ini cocok untuk jenis tanah granular. Prinsip pengujian dapat dilihat
dalam Gambar 3.5. tanah benda uji diletakan di dalam silinder. Pada kedudukan ini
tinggi energi hilang adalah h. aliran air lewat tanah diatur. Banyaknya air yang keluar
ditampung di dalam gelas ukuran. Waktu pengumpulan air dicatat. Data yang
diperoleh, kemudian dimasukan kedalam persamaan Darcy:
Dengan A adalah penampang benda uji, karena i = h/L, dengan L adalah panjang
benda uji, maka Q = k(h/L)At.
(3.22a)
Gambar 3.5
Uji permeabilitas tinggi energi turun (falling-head) lebih cocok untuk tanah yang
berbutir halus. Gambar.3.6 memperlihatkan prinsip uji permeabilitas falling head.
Tanah benda uji ditempatkan di dalam tabung. Pipa pengukur didirikan di atas benda
uji. Air dituangkan lewat pipa pengukur dan dibiarkan mengalir lewat benda uji.
Ketinggian air keadaan awal pengujian (h1) pada saat waktu t1 = 0 dicatat. Pada
waktu tertentu (t2) setelah pengujian berlangsung, penurunan muka air adalah h2.
debit rembesan dihitung dengan persamaan:
Gambar 3.6
(3.22b)
= perbedaan tinggi pada sembarang waktu t (m)
dengan
Koefisien permeabilitas tanah lempung dari 10-6 sampai 10-9 cm/det dapat
ditentukan dalam sebuah falling head permeameter yang direncanakan khusus dari
percobaan konsolidasi. Pada alat ini, luas benda uji dibuat besar. Untuk menghindari
penggunaan pipa yang tinggi, tinggi tekanan dapat dibuat dengan jalan pemberian
tekanan udara. Skema alat ini ditunjukan dalam Gambar 3.7.
Penentuan koefisien permeabilitas diperoleh dari persamaan konsolidasi sebagai
berikut:
(3.23)
= koefisien konsolidasi
= waktu pengaliran
= faktor waktu
Dengan
Cv
Tv
(3.23)
Dengan
Prinsip dasar dari uji kapiler horizontal dapat dilihat pada Gambar 3.8. Tanah
dimasukan kedalam tabung dengan posisi mendatar.
Jika katup A dibuka, air dalam bak penampung akan masuk kedalam tabung alat
pengujian melalui silinder tanah secara kapiler. Jarak x dari titik 1 adalah fungsi dari
waktu t.
Pada titik 1, tinggi energi total (total head) adalah nol. Pada titik 2 (dekat dengan
permukaan basah), tinggi energi total adalah – (h + hc).
(3.28)
= Porositas
Dengan
vs
Gambar 3.9
Cara pengujian kapiler horizontal sebagai berikut :
1. Buka katup A
2. Segera sesudah air mengalir, dicatat waktu (t) yang dibutuhkan untuk pengaliran
sepanjang x.
3. Ketika air terdepan telah mengalir kira-kira setengah panjang benda uji (x =
L/2), tutup katup A dan buka katup B.
5. Tutup katup B. Ambil tanah benda uji dan tentukan besar kadar air dan derajat
kejenuhannya.
7. Maka diperoleh
(3.31b)
Suku persamaan sebelah kiri menunjukan kemiringan dari garis lurus x2 terhadap t.
Gambar 3.10 :
Dan
Karena n, S, h1, h2, m1 dan m2 ditentukan dari hasil pengujian, maka kedua
persamaan hanya akan mengandung 2 bilangan yang tak diketahui, yaitu k dan hc.
Dari kedua persamaan ini, nilai k dapat dihitung
Cara pemompaan air dari sumur uji, biasanya dipakai untuk menentukan nilai
koefisien permeabilitas (k) di lapangan. Dalam cara ini, sebuah sumur digali dengan
debit tertentu, secara terus menerus air dipompa keluar dari sumur (gambar 3.11).
bergantung pada sifat tanahm, pengujian dapat berlangsung sampai beberapa hari,
sampai penurunan permukaan air tanah akibat pemompaan menunjukan kedudukan
yang tetap. Permukaan penurunan yang telah stabil, yaitu garis penurunan muka air
tanah yang terendah, diamati dari beberapa sumur pengamat yang digali disekitar
sumur pengujian tersebut. Penurunan muka air terendah terdapat pada sumur uji.
Aliran air ke dalam sumur merupakan aliran gravitasi, dimana muka air tanah
menderita tekanan atmosfer. Debit pemompaan pada kondisi aliran yang telah stabil
dapat dinyatakan dalam persamaan Darcy :
dengan
v
A
dy
dx
Bila kemiringan kurva penurunan air adalah dy/dx = I, maka persamaan debit air
yang masuk ke dalam sumur :
Atau
(3.32)
Jika penurunan muka air maksimum pad debit Q tertentu adalah Smaks sedang
Smaks = H – h, maka akan diperoleh:
(3.35)
Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh Sichardt (1930), R dapat diestimasi
dengan menggunakan persamaan :
(3.36)
= penurunan muka air maksimum (m)
Dengan
Persamaan ini memberikan nilai R yang sangat hati-hati (aman). Bila dalam
praktek R tidak tersedia, nilai R dari Sichardt tersebut dapat dipakai karena tidak
menghasilkan kesalahan yang besar.
Untuk penurunan muka air yang lebih besar, pada sumur-sumur tunggal, Weber (
1928) memberikan persamaan untuk lingkaran pengaruh (R), sebagai berikut:
(3.37)
Tanah
R (m)
Jenis Tanah
Kerikil kasar
Kerikil sedang
Kerikil halus
Kerikil kasar
Kerikil sedang
Kerikil halus
Pasir berlanau
> 10
2 – 10
1–2
0,5 – 1
0,25 – 0,50
0,10 – 0,25
0,05 – 0,10
0,025 – 0,05
> 1500
500 – 1500
400 – 500
200 – 400
100 – 200
50 – 100
10 – 50
5 - 10
Pada pengujian ini, sumur dibangun menembus lapisan tanah yang mudah
meloloskan air, dimana lapisan ini diapit oleh dua lapisan tanah yang kedap air
disebelah atas bawahnya. Air yang mengalir dipengaruhi oleh tekanan artesis. Sumur
dapat digali sampai menembus dasar, di tengah, maupun pada batas atas lapisan lolos
air. Gambar 3.12
(3.38)
Dengan :
Gambar 3.12
Jika terdapat dua sumur pemeriksaan :
(3.41a)
(3.41b)
Dengan
Smak
S1
Smak
ro
r1,r2
Pengujian lapangan yang lain adalah pengujian dengan menggunakan lubang bor
(USBR, 1961). Cara pertama, air diizinkan mengalir dengan tinggi energi yang tetap,
ke dalam atau ke luar dari lapisan yang diuji, lewat ujung dari lubang pipa bor. Skema
pengujiannya, dapat dilihat pada Gambar 3.13. Ujung terbawah lubang bor harus
lebih dari 5d, diukur dari lapisan atas dan bawah, dengan d adalah diameter lubang
pipa. Ketinggian air di dalam lubang bor dipelihara konstan, pebedaan tinggi air
dalam lubang dan muka air tanah = h. Debit q yang konstan, untuk memelihara
ketinggian air supaya konstan, diukur. Besar koefisien permeabilitas, dihitung dengan
persamaan yang dikembangkan dari percobaan analogi elektris sebagai berikut:
(3.42)
Dengan :
q
Gambar 3.13
Cara pertama, pipa bor dengan diameter dalam d, ditekan pada jarak yang pendek
D (tak lebih dari 1,5 m) di bawah muka air pada lapisan yang dianggap mempunyai
tebal tak terhingga (Gambar 3.14a). Aliran yang terjadi, lewat lubang di ujing pipa
bor. Koefisien permeabilitas untuk kondisi ini diberikan menurut persamaan :
(3.43)
Cara kedua, sebuah lubang bor dengan pipa (casing) yang dilubangi pada bagian
bawahnya, dengan panjang L (biasa dengan pipa atau tanpa pipa), diman L > 4a, di
dalam lapisan yang dianggap berkedalaman yang tak terhingga (Gambar 3,14b).
koefisien permeabilitas dalam kondisi ini diberikan menurut persamaan :
Gambar 3.14
(3.44)
Gambar 3.15
Gradien hidrolik (i), ditentukan dari perbedaan muka air yang tetap pada lubang
bor A dan B, dibagi dengan jaraknya AB. Pada lubang A dimasukan bahan warna.
Waktu perjalanan bahan warna dari A ke B dicatat. Kecepatan rembean dihitung dari
panjang AB dibagi dengan waktunya. Selanjutnya porositas tanah dapat ditentukan
dalam percobaan laboratorium. Nilai koefisien permeabilitas dihitung dengan
persamaan:
(3.45)
Telah disebutkan bahwa aliran yang menembus lapisan yang lebih halus dari
kerikil kasar adlah laminer. Hubungan antara pori-pori di dalam tanah, dapat
dibayangkan sebagai jumlah pipa-pipa kapiler yang memungkinkan air lewat.
Menurut Hagen dan Poiseuille, banyaknya lairan air dalam satuan waktu (q) yang
lewat pipa dengan jari-jari R, dapat dinyatakan dengan persamaan:
(3.46)
= gradien hidrolik
Dengan:
γw
(3.47)
(3.48)
Jadi, untuk aliran laminer, aliran lewat sembarang penampang dapat dinyatakan oleh
persamaan umum:
(3.49)
Gambar 3.16
(3.50)
Dalam kenyataannya, hubungan antara pori dapat dianggap sebagai sluran yang
berkelok- kelok (Gambar 3.16). pada persamaan (3.49), S dapat dinyatakan sebagai
Δh/ΔL1. Selanjutnya
(3.51a)
Jika volume tanah total adalah V dan porositas = n, maka volume pori Vv = nV.
Dengan mengambil Sv = luas permukaan persatuan volume tanah, dan persamaan
(3.51a),
(3.51b)
(3.52)
Gradient hidrolik (i) yang digunakan dalam persamaan ini, adalah gradient
mikroskopis. Faktor S dalam persamaan (3.52) adalah gradien mikroskopis untuk
aliran lewat tanah. Dari Gambar 3.16, i = Δh/ΔL dan S = Δh/ΔL1. maka:
(3.53)
Atau
(3.55)
Dengan vs adalah kecepatan air lewat rongga pori. Bila akan dihitung kecepatan air
lewat luas kotor dari penampang tanah:
(3.56)
Dalam persamaan (3.56), Sv adalah luas permukaan persatuan volume tanah. Jik
didefinisikan Ss sebagai luas permukaan persatuan volume tanah padat, maka
(3.57)
(3.57)
maka
(3.58)
(3.61)
Maka
(3.62)
Persamaan Kozeny-carman baik untuk tanah berbutir kasar seperti pasir dan beberapa
tanah lanau. Ketidakcocokan yang serius terjadi pada penggunaan persamaan ini
untuk tanah lempung. Untuk tanah granuler, faktor bentuk Cs mendekati 2,5 dan
factor belokan T mendekati √2.
(3.63)
Atau
(3.64)
Dimana k1 dan k2 adalah koefisien permeabilitas tanah yang diberikan pada keadaan
e1 dan e2.
Beberapa hubungan yang lain dari koefisien permeabilizas dan angka pori telah
diusulkan, antara lain:
(3.65)
(3.66)
(3.67)
Dengan k dalam cm/det dan D10 adalah ukuran diameter efektif butir tanah dalam
cm. persamaan diatat diperoleh dari pengujian Hasen, dimana ukuran efektif tanah
bervariasi dari 0,1 – ke 3 mm dan koefisien keseragaman (Cu) untuk tanah yang
kurang dari 5. koefisien 100 adalah nilai rata-ratanya. Pengujian yang tersendiri
memperlihatkan variasi koefisien, dari 41 sampai 146. walaupun persamaan Hazen
hanya pendekatan, tapi memeperlihatkan kesamaan dengan persamaan (3.66).
Tabel 3.5. Koefisien permeabilitas pasir seragam Madison, dari uji constant-head;
D10 = 0,2 mm.
Nomor pengujian
K20 (mm/det)
e3 / 1 + e
e2 / 1 + e
e2
0,797
0,704
0,606
0,804
0,688
0,617
0,755
0,687
0,582
0,504
0,394
0,303
0,539
0,356
0,286
0,490
0,436
0,275
0,282
0,205
0,139
0,288
0,193
0,144
0,245
0,192
0,125
0,353
0.291
0,229
0,358
0,280
0,235
0,325
0,280
0,214
0,635
0,496
0,367
0,646
0,473
0,381
0,570
0,472
0,399
Casagrande juga mengusulkan hubungan empiris untuk nilai k pada tanah pasir
bersih:
k = 1,4 k 0,85 e2
(3.68)
3. Rembesan
Teori rembesan yang akan dipelajari disini didasarkan pada analisis dua dimensi.
Bila tanah dianggap homogen dan isotropis, maka dalam bidang x-z hukum Darcy
dapat dinyatakan sebagi berikut:
(3.69)
(3.70)
Gambar 3.17
Jika elemen volume tetap dan air dianggap tidak mudah mampat, selisih antara
volume air masuk dan keluar adlah nol, persamaan diatas akan menjadi:
(3.71)
(3.72)
(3.73)
(3.74)
(3.75)
(3.76)
Dengan C adalah kontanta. Jadi, jika fungsi θ (x,z) diberikan suatu nilai konstan θ1,
akan menunjukan nilai tinggi h1 konstan. Jika fungsi θ (x,z) diberikan suatu nilai θ1,
θ2, θ3,… dan seterusnya, suatu kurva akan terbentuk dengan tinggi energi total yang
konstan (tapi dengan nilai yang berbeda pada tiap kurvanya). kurva bentuk demikian,
disebut garis ekipotensial.
Selanjutnya, ditinjau dari fungsi kedua Ø (x,z) yang disebut fungsi aliran, dan
dibentuk oleh
(3.77a)
(3.77b)
Dapat diselesaikan dengan substitusi kepersamaan (3.71) bahwa fungsi ini memenuhu
persamaan Laplace. Deferensial total dari fungsi Ø (x,z) ini, menghasilkan:
Jika fungsi Ø (x,z) diberikan suatu nilai konstan Ø1, maka dØ = 0 dan
(3.78)
Jadi kemiringan dari kurva pada tiap titiknya diberikan oleh:
Dengan menetapkan arah dari resultan kecepatan pada setiap titik, kurvanya akan
menunjukan lintasan aliran, jika fungsi Ø (x,z) diberikan beberapa nilai Ø1, Ø2,
Ø3…., kurva bentuk kedua akan membentuk lintasan aliran. Kurva-kurva ini disebut
garis aliran.
Gambar 3.18:
Jadi lairan lewat saluran antara dua garis aliran adalah konstan. Deferensial total
dari fungsi θ (x,z) adalah:
Dengan membandingkan persamaan 3.78 dan 3.79 tampak bahwa garis aliran dan
garis ekipotensial berpotongan satu sama lain tegak lurus.
Sekarang ditinjau dua garis aliran Ø1 dan (Ø1 + ΔØ) yang dipisahkan oleh jarak
Δb. Garis aliran berpotongan tegak lurus dengan ekipotensial θ1 dan (θ1 + Δ2) yang
dipisahkan oleh jarak Δ1 (Gambar 3.19). arah l dan b bersudut α terhadap sumbu x
dan z. pada titik A kecepatan dalam arah l adalah vs, dengan komponen vs dalam arah
x dan z adalah :
Gambar 3.19
Sekelompok garis aliran dan garis ekipotensial disebut jarring arus (flow-net).
Garis ekipotensial adlah garis-garis yang mempunyai tinggi energi potensial yang
sama (h konstan). Gambar 3.20 memperlihatkan contoh sebuah jaring arus pada
struktur turap baja. Permeabilitas lapisan lolos air dianggap isotropis ( kx = kz = k ).
Perhatikan bahwa garis penuh adalah garis aliran dan garis titik-titik adalah garis
ekipotensial. Pada Gambar 3.20, PQ dan TU adlah garis ekipotensial, sedang QRST
dan VW adalah garis aliran. Dalam penggambaran jaring arus , garis aliran dan garis
ekipotensial digambarkan secara coba-coba (trial and error). Pada prinsipnya, fungsi
θ (x,z) dan Ø (x,z) harus diperoleh pada batas kondisi yang relevan. Penyelesaian
diberikan dengan menganalisis hubungan beberapa kelompok garis ekipotensial dan
garis aliran. Prinsip dasar yang harus dipenuhi di dalam cara jaring arus adalah antara
garis ekipotensial dan garis aliran harus berpotongan tegak lurus. Selanjutnya,
penggambaran jaring arus diusahakan sedemikian rupa sehingga ΔØ bernilai sama
antara sembarang du garis aliran yang berdekatan dan Δθ bernilai sama antara
sembarang dua garis ekipotensial berdekatan .
Bila, garis potongan dan garis ekipotensial berbentuk bujur sangkar (Δ1 = Δb). Untuk
sembarang bujur sangkar maka:
Dengan
Gambar 3.20
Hitungan rembesan dengan cara jaring arus dalam struktur bangunan air (Gambar
3.21), dapat dijelaskan sebgai berikut ini.
Lajur aliran adalah ruang memanjang diantara dua garis aliran yang berdekatan.
Untuk menghitung rembesan di bawah struktur bendung, ditinjau lajur-lajur aliran
seperti yang terlihat dalam gambar 3.22. Pada gambar tersebut, garis-garis
ekipotensial memotong garis aliran dan hubungannya dengan tinggi h, juga
diperlihatkan. Debit Δq, adalah aliran yang lewat satu lajur aliran persatuan lebar
struktur bendung. Menurut hukum Darcy,
(3.83)
l1 = b1
l2 = b2
h1 – h2 = h2 – h3 = h3 – h4 = ……..
Gambar 3.21:
Persamaan (3.84) menunjukan bahwa kehilangan tinggi energi antara dua garis
ekipotensial berurutan adlah sama. Kombinasi persamaan (3.83) dan (3.84), diperoleh
(3. 85)
Jika terdapat Nf lajur aliran, debit rembesan (q) persatuan lebar dari struktur
dinyatakan oleh :
(3.86)
(3.87)
Pada penggambaran jaring arus, sembarang elemen jaring arus harus memenuhi
b1 = n l1
untuk jaring arus bentuk segi empat, untuk satu lajur aliran, debit rembesan persatuan
lebar dari struktur, ditentukan oleh.
Bila dalam jaring arus terdapat Nf lajur aliran, maka debit rembesan :
(3.88)
Gambar 3.22
Air pada keadaan statis di dalam tanah, akan mengakibatkan tekanan hidrostatis
yang arahnya ke atas (uplift). Akan tetapi, jika air mengalir lewat lapisan tanah, aliran
air akan mendesak partikel tanah sebesar tekanan rembesan hidrodinamis yang
bekerja menurut arah alirannya. Besarnya tekanan rembesan akan merupakan fungsi
dari gradien hidrolik.
Gambar 3.23
Karena lairan air dlam tanah biasanya lamban, gaya inersian pada air yang bergerak
diabaikan. Dengan menganggap dp/(dA dL) = D, akan diperoleh persamaan gaya
rembesan persatuan volume:
(3.91)
Dengan i = dh/dL adalah gradien hidrolik. Gaya dinamis persatuan volume (D)
bekerja sepanjang arah aliran airnya.
Pada titik l, atau sembarang titik dimana garis aliran berarah vertikal ke bawah, berat
volume efektif (γef) adalah:
(3.92)
Gambar 3.24
Pada titik 2, atau sembarang titik pada garis aliran, dua vektor D dan γ’ bekerja
saling tegak lurus, menghasilkan vektor resultan gaya yang miring.
Pada titik 3, dimana arah aliran vertikal, berat volume efektifnya adalah:
Disini, jika D = γ’, tanah akan nampak kehilangan beratnya, sehingga menjadi
tidak stabil. Hal demikian, disebut kondisi kritis, dimana pada keadaan ini terdapat
gradien hidrolik kritis, dengan konsekuensinya kecepatan yang terjadi juga kritis (vc),
maka kondisi kritis :
kN/m3 (3.94)
Bila kecepatan aliran melampui kecepatan kritis, maka D > γ’ dan γef dalam
persamaan (3.93) menjadi negatif. Hal ini berarti tanah dalam keadaan mengapung
atau terangkat ke atas. Tanah dalam kondisi demikian disebut tanah dalam kondisi
mengapung ( quick – condition).
3.3.2.2. Teori Kondisi Mengapung ( quick-condition)
(3.95)
Dengan ic adalah gradien hirolik kritis pada keseimbangan gaya di atas. Besarnya
berat tanah terendam, adalah:
W = γ’ = (1 – n ) ( Gs – 1 ) γw
dengan:
n = porositas
e = angka pori
(3.97)
(3.99)
Telah disebutkan bahwa bila tekanan rembesan ke atas yang terjadi dalam tanah
sama dengan ic, maka akan berakibat tanah mengapung. Keadaan semacam ini juga
dapat terangkutnya butir-butir tanah halus, sehingga terjadi pipa-pipa di dalam
tanahyang disebut piping. Akibat terjadinya pipa-pipa yang berbentuk rongga-rongga,
dapat mengakibatkan fondasi bangunan mengalami penurunan, hingga menggangu
stabilitas bangunan. Harza (1935) memberikan faktor keamanan bangunan air
terhadap bahaiya piping sebagai berikut:
(3.100)
Dengan ic adalah gradien keluar maksimum (maximum exit gradien) dan ic = γ’/γw.
Gradien keluar maksimum tersebut dapat ditentukan dari jarting arus dan besarnya
sama dengan Δh/ l (Δh adalah kehilangan tinggi energi antara dua garis ekipotensial
terakhir, dan l adalah panjang dari elemen aliran). Faktor aman 3 atau 4 cukup untuk
memenuhi angka aman strukturnya. Harza (1935) memberikan grafik gradien keluar
maksimum untuk bendungan yang dibgangun pada lapisan homogen yang dalam
(Gambar 3.25). dengan mempergunakan notasi yang diperlihatkan dalm gambar
tersebut, gradien keluar maksimum diberikan menurut persamaan:
(3.101)
(3.102)
Dengan
Gambar 3.25.
(3.103)
Gambar 3.26.
Tanah
Pasir halus
Pasir sedang
Pasir kasar
Kerikil halus
Kerikil kasar
Cadas
8,5
7,0
6,0
5,0
4,0
3,0
2,0 – 3,0
1,8
1,6
Nilai WCR harus lebih besar dari nilai yang terdapat dalam tabel 3.6. Lintasan
alirean yang melewati struktur dengan sudut kemiringan > 45° diperhitungkan
sebagai lintasan vertikal (Lv), sedang kemiringan lintasan aliran < 45°,
diperhitungkan sebagai lintasan horisontal (Lh).
Gambar 3.27.
(3.104)
Dengan ha = tinggi energi hidrolik rata-rata pada dasar dari prima tanah. Gaya berat
prisma tanah yang terendam bekerja kebawah, dapat dinyatakan dengan berat
mengapung:
(3.105)
(3.106)
Gambar 3.28
Untuk keamanan struktur turap tunggal pada gambar 3.28, dalam menghitung
faktor aman minimum terhadap piping Terzghi (1943) menyarankan agar
memperhatikan stabilitas prisma tanah berdimensi d/2 x d’ x 1. perhatikan bahwa
o<d’<d. Akan tetapi, bila faktor aman (SF) yang diberikan 4 sampai 5, penggunaan d
= d’ dianggap cukup aman dan memenuhi syarat kesetabilan (Harr, 1962).
3.3.24. Gaya Tekanan Air pada Struktur
Jaring arus dapat digunakan untul menentukan besar gaya tekanan air ke atas di
bawah sebuah struktur, cara hitungannya disjikan dalam contoh hitungan sebagai
berikut.
Kondisi dstruktur bagian bawah dari sebuah bendung digambarkan pada Gambar
3.29. Tinggi tekanan di D adalah (11 + 2,3 m) dikurangi dengan kehilangan tinggi
tekanan. Titik D bertepatan dengan garis ketiga permulaan dengan sisi sebelah hulu,
yang berarti bahwa kehilangan tinggi hidrolis pada titik ini = 2 (h/Nd) = 2 (11/12) =
1,83 m.
Perhatikan bahwa F berada di tengah antara garis ekipotensial nomer 3 dan 4, yang
dihitung dari hulu.
Tinggi tekanan yang telah dihitung, kemudian digambarkan pada gambar 3.29b.
Antar titik F dan G, variasi tinggi tekanan akan mendekati linier, gaya tekanan ke atas
perstuan panjang dari bendungnya (U), dihitung dengan persamaan:
Gambar 3.29
3.3.3. Kondisi Tanah (Anisotropis)
(3.113)
Dengan
Jadi
Gambar 3.30
Langkah-langkah dalam hitungan jari arus pada kondisi tanah anisotropis, dilakukan
dengan cara sebagai berikut:
b. Tentukan
d. Dengan skalayang ada pada butir a dan c, gambarkan potongan melintang dari
strukturnya.
e. Gambarkan jaring arus untuk potongan yang ditransformasi, dengan cara yang
sama seperti keadaan isotropis.
(3.114)
Arus
Cara penggambaran jaring arus yangtelah dipelajari sebelumnya adalah untuk kondisi
tanah yang homogen. Dalam prakteknya, banyak dijumpai keadaan tanah yang tidak
homogen, seperti yang ditunjukan Gambar 3.31. Bila jaring arus akan digambarkan
untuk 2 lapisan yang berbeda, maka pada batas lapisannya gambar jaring arus akan
patah. Kondisi demikian disebut kondisi transfer. Gambar 3.31 memperlihatkan
kondisi umum, dimana lajur jaring arus memotong batas dari 2 lapisan tanah. Lapisan
tanah 1 dan 2 mempunyai koefisien permeabilitas yang tidak sama. Garis patah-patah
yang memotong lajur aliran pada gambar, adalah garis-garis ekipotensial. Pada
Gambar 3.31, Δh adalah tinggi energi hilang di antara dua garis ekipotensial yang
berdekatan. Ditinjau dari suatu panjang satuan yang tegak lurus bidang gambar, debit
rembesan yang melalui lajur aliran adalah:
Atau
(3.115)
Dengan l1 dan b1 adalah panjang lebar dari elemen aliran lapisan tanah 1, sedang l2
dan b2 adalah panjang dan lebar pada lapisan tanah 2. dari Gambar 3.31, terlihat
bahwa:
atau
b1 / l1 = 1/ tg θ1 = tg α1
(3.117)
b2 / l2 = 1/ tg θ2 = tg α2
(3.118)
Gambar 3.31
Jaring arus untuk tanah yang tidak homogen, dapat digambarkan dengan
menggunakan persamaan (3.119). untuk selanjutnya, pertimbangan berikut ini
mungking sangat penting untuk digunakan dalam penggambaran jaring arus pada
kondisi tanah berlapis.
a. Jika k1 > k2, maka dpat digambarkan elemen jaring arus bujur sangkar pada
lapisan 1. ini berarti bahwa l1 = b1, maka k1/k2 = b2/l2. jadi jaring arus dalam
lapisan 2 akan berupa segi empat dengan nilai banding lebar dan panjangnya = k1/k2
(Gambar 3.32a)
b. Jika k1 < k2, maka dapat digambarkan jaring arus bujur sangkar pada lapisan 1,
yaitu dengan l1 = b1. dari persamaan (3.119), k1/k2 = b2/l2. maka elemen jaring arus
dalam lapisan 2 akan segiempat (Gambar 3.32b)
Gambar 3.32
Contoh penggambaran jaring arus untuk struktur bendungan yang terletak pada 2
kondisi lapisan tanah berbeda, diperlihatkan dalam gambar 3.33
Didalam lapisan 1, elemen aliran digambar bujur sangkar, dan karena k1/k2 = 2,
panjang dibagi lebar elemen aliran dari lapisan 2, akan sama dengan ½.
Gambar 3.33.
Ditinjau dua lapisan tanah dengan tebal H1 dan H2 yang mempunyai koefisien
permeabilitas masing-masing k1 dan k2 (Gambar 3.34). dua lapisan tersebut dianggap
sebagai lapisan tunggal dengan tebal H1 + H2.
Gambar 3.34
(3.120)
Untuk aliran rembesan satu dimensi arah vertikal, debit tiap lapisan dan debit
dalam anggapan lapisan tunggal ekivalen harus sama. Jika persyratan kontinuitas,
maka:
vz = kecepatan arah x
selanjutnya, A = luas
dan
Dalam keadaan yang sekarang, kehilangan tinggi energi pada kedalaman H1 + H2,
sama dengan kehilangan energi total dalam tiap lapisan, yaitu:
iz (H1 + H2) = i1 H1 + i2 H2
(3.121)
Atau
Hukum Darcy dapat juga diterapkan untuk menghitung debit rembesan yang
melalui struktur bendungan. Dalam merencanakan sebuah bendungan, perlu
diperhatikan stabilitasnya terhadap bahaya longsoran, erosi lereng dan kehilangan air
akibat rembesan yang melalui tubuh bendungannya. Beberapa cara diberikan untuk
menentukan besarnya rembesan yang melewati bendungan yang dibangun dari tanah
homogen. Berikut ini disajikan beberapa cara untuk menentukan debit rembesan.
Potongan melintang sebuah bendungan disajikan Gambar 3.35. garis AB adalah garis
permukaan freatis, yaitu garis rembesan paling atas. Besarnya rembesan persatuan
panjang arah tegak lurus bidang gambar yang duberikan oleh Darcy, adalah q = kiA.
Dupuit (1863), menganggap bahwa gradien hidrolis (i) adalah sama dengan
kemiringan permukaan freatis dan besarnya konstan dengan kedalamannya yaitu i =
dz/dx, maka :
(3.122)
Persamaan (3.122) memberikan permukaan garis freatis dengan bentuk parabolis.
Akan tetapi, derivatif dari persamaannya tidak mempertimbangkan kondisi masuk
dan keluarnya air rembesan pada tubuh bendungannya. Lagi pula, jika H2 = 0, garis
freatis akan memotong permukaan kedap air.
Gambar 3.35.
A = BD x 1 = a sin α
(3.123)
atau
½ (H2 – a2 sin α) = (a sin α)(tg α)(d – a cos α) (3.124)
Diperoleh,
(3.125)
Gambar 3.36
q = ka sin α tg α (3.126)
Persamaan (3.126) diperoleh dengan didasarkan pada cara Dupuit dimana gradien
hidrolik (i) sama dengan dz/dx. A.Casagrande (1932) menyarankan hubungan ini
melalui pendekatan pada kondisi dalam kenyataannya. Dalam kenyataannya
(Gambar3.37),
(3.127)
Untuk kemiringan sebelah hilir α yang lebih besar dari 30°, deviasi dari anggapan
Dupuit menjadi kenyataan. Didasarkan pada persamaan (3.127), debit rembesan q =
kiA
Maka
Atau
(3.128)
Diperoleh
(3.130)
Dengan kesalahan sebesar kira-kira 4-5 %, s dapat dianggap merupakan garis lurus
A’C. Maka,
Gambar 3.38
(3.131)
(3.132)
Jika bentuk dan posoisi garis rembesan paling atas B1B2ES pada potongan
melintang bendungan diketahui, besarnya rembesan air dapat dihitung. Bentuk garis
rembesan kecuali dapat ditentukan secara analitis, dpat juga ditentukan secara grafis
atau dari pengamatan laboratorium dari sebuah model bendungan sebagai prototype,
ataupun juga, secara anallogi elektris.
Gambar 3.40
Posisi fokus F dari parabolanya, biasanya dipilih pada perpotongan batas terendah
garis alirab (yang dalam hal ini adalah garis horizontal) dan permukaannya. Perlu
diperhatikan bahwa sebelum parabola dapat digambarkan, parameter p harus
diketahui lebih dulu. Gari Geometri Gambar 3.40.
FV = HV = p
Dan
HC = 2p + x (3.134)
Jadi,
(3.135)
dan
(3.136)
(3.137)
Denagn p yang diketahui, nilai x untuk berbagai nilai z dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan (3.137).
Gambar 3.41
Adalah fungsi dari α, dimana α adalah sudut kemiringan bendungan bagian hilir.
Pada bendungan yang terlihat pada Gambar 3.40, air dapat keluar melalui sisi
luar hilir bendungan. Bila dibagian hilir dibangun sistem drainase pada kakinya,
seperti yang diperlihatkan dlam gambar 3.41a dan 3.41b, maka besarnya sudut
kemiringan α dari permukaan air keluar berturut-turut akan sama-sama 90° dan 135°.
Bila bangunan drainase seperti dalam Gambar 3.41c, sudut kemiringan α dari
permuakaan air keluar adalah 180°. Sudut kemiringaan diukur searah jarum jam.
Perhatikan bahwa, tritk F adalah fokus dari parabola.
Nilai c untuk berbagai macam α diberikan oleh Casagrande untuk sembarang
kemiringan α dari 30° sampai 180°. Dengan diketahuinya sudut α yang berasal dari
penampang potongan bendung, nilai c dapat ditentukan dari Gambar 3.42. Adapun
persamaan untuk menghitung besarnya Δa adalah:
Dari Δa yang telah diperoleh ini, kemudian dapat ditentukan posisi titik S, dengan
tinggi ordinat S = a sin α.
Gambar 3.42
Untuk α < 30°, posisi titik S dapat ditentukan secara grafis yang didasarkan pada
oersamaan (3.125). menurut Schffernak, untuk menentukan panjang a dilakukan
langkah-langkah sebagai berikut ini (Gambar 3.43).
6. Dengan C sebagai pusat dan CJ sebagai jari-jari, gambarkan bagian lingkaran JS.
Melalui Bendungan
Kondisi-kondisi aliran masuk, keluar dan kondisi transfer dari garis rembesan
melalui badan bendungan, telah dianalisis oleh Casagrande (1937).
Maksud dari kondisi aliran air masuk, adalah bila aliran rembesan berasal dari bahan
tanah dengan koefisien permeabilitas sangat besar atau k1 = ∞, menuju bahan dengan
permeabilitas k2. dengan pengertian yang sama, untuk kondisi sebaliknya, yaitu dari
bahan dengan koefisien permeabilitas k1, menuju kebahan dengan 52= ∞, kondisi ini
disebut dengan kondisi aliran air keluar. Kondisi-kondisi tersebut diperlihatkan dalam
Gambar 3.44. Dalam gambar ini, kondisi transfer terjadi bila rembesan melewati
bahan dengan nilai k yang berbeda. Dengan menggunakan Gambar 3.44, dapat
ditentukan kelakuan garis freatis untuk berbagai potongan melintang bendungan.
Gambar 3.44
1. gambarkan agris freatis, dengan cara yang telah dipelajari. Perhatikan bahwa
garis AB merupakan garis ekipotensial dan BC garis aliran. Tinggi energi tekanan
pada sembarang titik pada garis freatis adalah nol. Jadi, selisih tinggi energi total
antara garis ekipotensial, harus sama dengan elevasi antara titik-titik dimana garis
ekipotensial berpotongan dengan garis freatis. Karena kehilangan tinggi tekanan
antara dua garis ekipotensial berdekatan sama, maka dapat tentukan penurunan
ekipotensialnya (Nd). Lalu hitung nilai Δh = h/Nd.
3. gambar garis jaring arusnya, dengan mengingat garis ekipotensial dan garis
aliran berpotongan tegak lurus.
Gambar 3.45.
Dalam gambar 3.45, jumlah lajur aliran (Nf), sama dengan 2,33. dua aliran
sebelah atas mempunyai bentuk elemen aliran bujursangkar, dan bagian bawah jalur
aliran sebelah bawah mempunyai elemen yang lebar dibagi panjangnya 1/3. Nilai Nd
dalam hal ini adalah 10.
Gambar 3.46
Jika b1 = l1 dan 52 = 5 k1, maka b2/l2 = 1/5. Dengan demikian, elemen jaring
arun berbentuk bujur sangkar digambarkan dalam setengah bagian badan bendungan,
dan pada setengah bagian yang lain (hilir badan bendungan), elemen jaring arus
mempunyai lebar dibagi panjang = 1/5. debit rembesan dihitung dengan persamaan:
Dimana Nf(1) adalah jumlah lajur aliran penuh pada tanah dengan permeabilitas k1
dan Nf(2) adlah jumlah lajur aliran penuh pada tanah dengan permeabilitas k2.
Gambar 3.47
Gambar 3.48
3.3.6 Filter
Bila air rembesan dari lapisan dengan butiran yang lebih halus menuju lapisan
yang kasar, kemungkinan terangkutnya bahan butiran lebih halus lolos melewati
bahan yang lebih kasar tersebut dapat terjadi. Pada waktu yang lama, proses ini
mungkin akan menyumbat ruang pori di dalam bahan yang kasarnya, atau juga dapat
terjadi piping pada bagian butiran halusnya.
Erosi butiran ini mengakibatkan turunnya tahanan aliran air dan naiknya gradient
hidrolik. Bila kecepatan aliran membesar akibat dari pengurangan tahanan aliran yang
berangsur-angsur turun, akan terjadi erosi butiran yang lenih besar lagi, sehingga
membentuk pipa-pia di dalam tanah yang dapat mengakibatkan keruntuhan pada
bendungan.
Gambar 3.49.
1. ukuran pori-pori harus cukup kecil untuk mencegah butir-butir tanah terbawa
aliran
Persyratan yang harus dipenuhi intuk merencenakan bahan filter seperti yang
disarankan oleh Bertram (1940), adalah sebagai berikut:
Untuk memenuhi kriteri piping, nilai banding ukuran diameter D15 filter harus tidak
lebih dari empat atau lima kali ukuran diameter D85 dari tanah yang dilindungi, atau,
Ketebalan dari lapisan filter dapat ditentukan dari hukum Darcy. Filtr yang terdiri
dari dua lapisan atau lebih dengan gradasi yang berbeda dapat juga digunakan dengan
lapisan terhalus diletakan pada daerah hulu dari susunan filternya.
Pada struktur sarang lebah, pasir halus dan lanau membantu lengkung-
lengkungan kecil hingga merupakan rantai butiran. Tanah yang mempunyai struktur
sarang lebah mempunyai angka pori besar dan biasanya dapat mamikul beban statis
yang tak begitu besar. Tetapi, apabila stuktur tersebut dikenai beban berat atau
apabila dikenai beban getar, struktur tanah akan rusak dan menyebabkan penurunan
yang besar.
Dalam arti umum, yang dimaksud dengan tekstur tanah adalah keadaan
permukaan tanah yang bersangkutan. Tekstur tanah dipengaruhi oleh ukuran tiap-tiap
butir yang ada didalam tanah. Pada umumnya tanah asli merupakan campuran dari
butir-butir yang mempunyai ukuran yang berbeda-beda. Dalam sistem klasifikasi
tanah berdasarkan tekstur , tanah diberi nama atas dasar komponen utama yang
dikandungnya , misalnya lempung berpasir, lempung berlanau dan seterusnya.
1) Ukuaran butir :
Kerikil: bagian tanah yang lolos ayakan dengan diameter 75 mm dan yang tertahan
di ayakan No.20 (2mm).
Pasir: bagian tanah yang lolos ayakan No 10 (2mm) dan yang tertahan pada
ayakan No. 200 (0,075mm).
Lanau dan lempung: bagian tanah yang lolos ayakan No. 200.
2) Plastisitas:
Nama berlanau dipakai apabila bagian-bagian yang halus dari tanah mempumyai
indeks plastisitas sebesar 10atau kurang. Nama berlempung dipakai bila mana bagian-
bagian yang halus dari tanah mempunyai indeks plastik sebesar 11 atau lebih.
3) Apabila batuan ( ukurannya lebih besar dari 75mm) ditemukan didalam contoh
tanah yang akan ditentukan klasifikasi tanahnya , maka batuan-batuan tersebut harus
dikeluarkan terlebih dahulu. Tetapi persentase dari batuan yang dikeluarkan tersebut
harus dicatat.
Sistem Klasifikasi Unified diperkenalkan oleh Casagrande dalam tahun 1942 untuk
digunakan pasa pekerjakaan pemnuatan lapanagn terbang yang dilaksakan oleh The
Army Corps of Engineering selama perang dunia II. Dalam rangka kerja sama dengan
United States Bureauof Reclamation tahun 1952, sistem ini disempurnakan.Sistem ini
mengelompokkan tanah kedalam dua kelompok besar yaitu:
1) Tanah berbutir kasr (coarse-grained-soil), yaitu: tanah kerikil dan pasir dimana
kurang dari 50% berat total contoh tanah lolos ayakan No.200. Simbol dari kelompok
ini dimulai dengan huruf awal G atau S. G adalah untuk kerikil (gravel)atau tanah
berkerikil dan S adalah untuk pasir (sand) atau tanah berpasir.
2) Tanah berbutir halus (fine-granied-soil), yaitu tanah dimana lebih dari 50% berat
total contoh tanah lolos ayakan No.200. Simbol dari kelompok ini dimulai dengan
huruf awal M untuk lanau (silt) anorganik, C untuk lempung (clay) anorganik, dan O
untuk lanau-organikdan lempung-organik.
Tanah adalah merupakan susunan butiran padat dan pori-pori yang saling
berhubungan satu sama lain sehingga air dapat mengalir dari satu titik yang
mempunyai energi lebih tinggi ke titik yang mempunyai energi lebih rendah. Studi
mengenai aliran air melalui pori-pori tanah diperlukan dalam mekanika hal ini sangat
berguna didalam menganalisa kestabilan dari suatu bendungan tanah dan konstruksi
dinding penahan tanah yang terkena gaya rembesan.
Menurut persamaan Bernaoulli, tinggi energi total pada suatu titik didalam air
yang mengalir dapat dinyatakan sebagai penjumlahan dari tinggi tekanan, tinggi
kecepatan, dan tinggi elevasi, atau
+ +
dimana:
p = tekanan
v = kecepatan
Kehilangan energi antara dua titik, dapat dituliskan dengan persamaan dibawah ini:
Dimana:
i = gradien hidrolik
L= jarak antara titik A dan B, yaitu panjang aliran air dimana kehilangan
tekanan terjadi.
v = ki
Dimana:
v = kecepatan aliran
k = koefisien rembesan
Jenis tanah
(cm/detik)
(ft/menit)
Kerikil bersih
1,1-100
2,0-200
Pasir kasar
1,0-0,01
2,0-0,02
Pasir halus
0,01-0,001
0,02-0,002
Lanau
0,001-0,00001
0,002-0,00002
lempung
Koefisien rembesan tanah yang tidak jenuh air adalah rendah, harga tersebut
akan bertambah secara cepat dengan bertambahnya drajat kejenuhan tanah yang
bersangkutan.
Dimana:
= kekentalan air
= rembesan absolut
Rembesan absoulut, mempunyai satuan L2 (yaitu cm2, ft2, dan lain-lain)
Koefisien rembesan merupakan fungsi dari berat volume dan kekentalan air,
yang berarti pula merupakan fungsi dari temperatur selama percobaan dilakukan,
maka dapat dituliskan:
Dimana:
k (cm/detik) = cD210
dimana:
Koefisian rembesan suatu tanah mungkin bervariasi menurut arah aliran yang
tergantung pada perilaku tanah dilapangan. Untuk tanah yang berlapis-lapis dimana
koefisien rembesan alirannya dalam suatu arah tertentu akan berubah dari lapis ke
lapis, kiranya perlu ditentukan harga rembesan ekivalen untuk menyederhanakan
perhitungan. Sehingga didapat persamaan sebagai berikut:
Dilapangan, koefisien rembesan rata-rata yang searah dengan arah aliran dari
suatu lapisan tanah dapat ditentukan dengan cara mengadakan uji pemompaan dari
sumur. Koefisien rembesan yang searah dengan aliran dapat dituliskan sebagi berikut:
2.4.9 Koefisien Rembesan dari Lubang Auger
Dimana:
y = harga rata-rata dari jarak antara tinggi air dalam lubang auger dengan
muka air tanah selama interval waktu ∆t (menit).
Dalam keadaan sebenarnya, air mengalir di dalam tanah tidak hanya dalam
satu arah dan juga tidak seragam untuk seluruh luasan yang tegak lurus dengan arah
aliran. Untuk permasalahan-permasalahan seperti itu, perhitungan aliran air tanah
pada umumnya dibuat dengan menggunakan grafik-grafik yang dinamakan jaringan
aliran. Konsep jaringan aliran ini didasarkan pada persamaan Kontinuitas Laplace
yang menjelaskan mengenai keadaan aliran tunak untuk suatu titik didalam massa
tanah. Persamaan kontinuitas untuk aliran dalam dua dimensi diatas dapat
disederhanakan menjadi:
Tegangan total pada titik A dapat dihitung dari berat volume tanah jenuh air
dan berat volume air diatasnya.
= H γw + (HA – H) γsat
Dimana:
Tegangan efektif pada suatu titik di dalam massa tanah akan mengalami
perubahan di karenakan oleh adanya rembesan air yang melaluinya. Tegangan efektif
ini akan bertambah besar atau kecil tergantung pada arah dari rembesan.
Pada titik A.
Tegangan total: A = H1 γw
Pada titik B.
Dengan cara yang sama , tegangan efektif pada titik C yang terletak pada
kedalaman z dibawah permukaan tanah dapat dihitung sebagai berikut:
Pada titik C.
C = H1 γw + zγsat
uC = (H1 + z – iz )γw
= zγ' - iz γw
P1' = zγ' A
Apabila terjadi rembesan air arah keatas melalui lapisan tanah pada gambar
5.3, gaya efektif pada luasan A pada kedalaman z dapat ditulis sebagai berikut:
Oleh karena itu , pengurangan gaya total sebagai akibat dari adanya rembesan
adalah:
= = i γw
Gaya per satuan volume, iγw, untuk keadaan ini bekerja ke arah atas, yaitu searah
dengan arah aliran. Begitu juga untuk rembesan air kearah bawah, gaya rembesnya
per satuan volume tanah adalah iγw.
Gambar 5.3
Gaya rembesan per satuan volume tanah dapat dihitung untuk memeriksa
kemungkinan keruntuhan suatu turap dimana rembesan dalam tanah mungkin dapat
menyebakan penggelembungan (heave) pada daerah hilir. Setelah melakukan banyak
model percobaan, Terzaghi (1922) menyimpulkan bahwa penggelembungan pada
umumnya terjadi pada daerah sampai sejauh D/2 dari turap (dimana D adalah
kedalaman pemancangan turap). Oleh karena itu, kita perlu menyelidiki kesetabilan
tanah didaerah luasan D tersebut).
Didalam tanah yang jenuh sebagian, air tidak mengisi seluruh ruang pori yang ada
dalam tanah. Jadi, dalam hal ini terdapat 3 sistem fase, yaitu butiran padat, air pori
dan udara pori .Maka dari itu, tegangan total pada setiap titik didalam tanah terdiri
dari tegangan antar butir, tegangan air pori, dan tegangan udara pori.Dari hasil
percobaan dilaboratorium, Bishop, Alpan, Blight, dan donal (1960) menyajikan suatu
persamaan tegangan efektif untuk tanah yang jenuh sebagian.
Dimana:
σ = tegangan total
Bishop, Alpan, Blight, dan donal telah menunjukkan bahwa harga tengah dari χ
adalah tergantung pada derajat kejenuhan (S) tanah. Tetapi harga tersebut juga
dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti stuktur tanah.
Ruang pori didalam tanah yang berhubungan satu sama lain dapat berperilaku sebagai
kumpulan tabung kapiler dengan luas penampang yang bervariasi. Tinggi kenaikan
air didalam pipa kapiler dapat dituliskan dengan rumus dibawah ini :
hc =
Dimana :
drai persamaan diatas dapat dilihat bahwa harga-harga Τ α dan γw adalah tetap,
maka:
hc α
Walaupun konsep kenaikan air kapiler yang didemonstrasikan dengan pipa kapiler
yang ideal dapat dipakai tanah, tapi perlu diperhatikan bahwa pipa kapiler yang
terbentuk didalam tanah mempunyai luas penampang yang bervariasi. hasil dari
ketidakseragaman kenaikan air kapiler dapat dilihat apabila suatu tanah berpasir yang
kering didalam silinder diletakkan bersentuhan dengan air.
Hazen (1930) memberikan perumusan untuk menentukan tinggi kenaikan air kapiler
secara pendekatan, yaitu:
h1(mm) =
dimana:
e = angka pori
Hubungan umum antara tegangan total, tegangan efektif, dan tekanan air pori
diberikan pada persamaan berikut:
='+u
Tekanan air pori u pada suatu titik dalam lapisan tanah yang 100% jenuh oleh air
kapiler sama dengan - γwh ( h= tinggi suatu titikyang ditinjau dari muka air tanah )
dengan tekanan atmosfir diambil sebagai datum. Apabila terdapat lapisan jenuh air
sebagian yang disebabkan oleh kapilaritas, maka tegangan air porinya dapat
dituliskan sebagai berikut:
u= -
dimana
Pada tanah yang harus mendukung pondasi dengan berbagai bentuk umumnya
terjadi kenaikan tegangan. Kenaikan tegangan pada tanah tersebut tergantung pada
beban persatuan luas dimana pondasi berada, kedalaman tanah dibawah podasi
dimana tegangan tersebut ditinjau, dan faktor-faktor lainnya.
Teganagan normal dan tegangan geser yang bekerja pada sembarang bidang
dapat ditentukan dengan mengambar sebuah lingkaran Mohr. Perjanjian tanda yang
dipakai dalam lingkaran Mohr disini adalah: tegangan normal tekan dianggap positif,
tegangan geser dianggap positif apabila tegangan geser tersebut yang bekerja pada
sisi-sisi yang berhadapan dari elemen tegangan bujur sangkar berotasi dengan arah
yang berlawanan arah perputaran jarum jam.
Masih ada cara penting yang lain untuk menentukan tegangan-tegangan pada
sebuah bidang dengan menggunakan lingkaran Mohr yaitu metode kutub, atau
metode pusat bidang
Dan
Kenaikan tegangan vertikal, ∆p, didalam massa tanah tersebut dapat dihitung
dengan menggunakan dasar-dasar teori elastis sebagai berikut:
Persamaan diatas dapat ditulis dalam bentuk berikut:
atau
Persamaan diatas adalah suatu bentuk persamaan tanpa dimensi. Dengan persamaan
tersebut, variasi ∆p /(q/z) terhadap x/z dapat dihitung. Harga ∆p yang dihitung dari
persamaan diatas adalah merupakan tambahan tegangan pada tanah yang disebabkan
oleh beban garis.
Persamaan dasar untuk kenaikan tegangan vertikal pada sebuah titik dalam
suatu massa tanah yang diakibatkan oleh beban garis dapat digunakan juga untuk
menentukan tegangan vertikal pada sebuah titik akibat beban lajur yang lentur.
2.6.5 Teganagn Vertikal di Bawak Titik Pusat Beban Merata Berbentuk Lingkaran
2.6.6 Tegangan Vertikal yang Diakibatkan oleh Beban Berbentuk Empat Persegi
Panjang
Prosedur yang dipakai untuk mendapatkan tegangan vertikal pada setiap titik
dibawah sebuah luasan beban ialah sebagai berikut:
1) Tentuakan kedalaman titik z dibawah luasan yang mendapat beban terbagi rata
dimana kenaikan tegangan vertikal pada titik tersebut ingin ditentukan.
4) Hitung jumlah total elemen luasan dari diagram yang tercakup didalam denah
luasan beban.
Harga kenaikan tegangan pada titik yang ditinjau dapat dicari dengan rumus:
∆p = (AP)qM
Dimana:
AP = angka pengaruh
Bilamana suatu lapisan tanah jenuh air diberi penambahan beban, angka
tekanan air pori akan naik secara mendadak. Pada tanah berpasir yang sangat tembus
air (permeable), air dapat mengalir dengan cepat. Keluarnya air dari dalam pori selalu
disertai dengan berkurangnya volume tanah, berkurangnya volume tanah tersebut
dapat menyebabkan penurunan lapisan tanah tersebut.Karena air pori didalam tanah
berpasir dapat mengalir keluar dengan cepat maka penurunan segera dan penurunan
konsolidasi terjadi bersamaan.
Bilamana suatu lapisan tanah lempung jenuh air yang mampumampat diberi
penambahan tegangan , maka penurunan akan terjadi dengan segera. Koefisien
rembesan lempung adalah sangat kecil dibandingkan dengan koefisien rembesan
pasir sehingga penambahan tekanan air pori yang disebabkan oleh pembebanan akan
berkurang secara lambat laun dalam waktu yang sangat lama. Jadi untuk tanah
lempung lembek perubahan volume yang disebabkan oleh keluarnya air dari dalam
pori (yaitu konsolidasi) akan terjadi sesudah penurunan segera.Penurunan konsolidasi
tersebut biasanya jauh lebih besar dan lebih lambat serta lama dibandingkan dengan
penurunan segera.
Deformasi sebagai fungsi waktu dari tanah lempung yang jenuh air dapat
dipahami dengan mudah apabila digunakan suatu model reologis yang sederhana.
Model reologis tersebut terdiri dari suatu pegas elastis linier yang dihubungkan secara
paralel dengan sebuah dashpot. Hubungan tegangan-tegangan dari pegas dan dashpot
dapat diberikan sebagai berikut:
Pegas : σ =
Dashpot : σ = η
Diamana :
= teganagan
= regangan
= konstanta pegas
η = konstanta dashpot
t = waktu
Dimana :
Hv = H – Hs
ΔH1 didapatkan dari pembacaan awal dan akhir pada skala ukur untuk beban sebesar
p1.
5) Hitung angka pori yang baru, e1 setelah konsolidasi yang disebabkan oleh
penambahan tekanan p1 :
= -
Keadaan ini mengarahkan kita kepada dua definisi dasar yang didasarkan
pada sejarah tegangan:
1) Terkonsolidasi secara normal, dimana tekanan efektif overburden pada saat ini
adalah merupakan tekanan maksimum yang pernah dialami oleh tanah itu.
2) Terlalu terkonsolidasi, dimana tekanan efektif overburden pada saat ini adalah
lebih kecil dari tekanan yang pernah dialami tanah itu sebelumnya. Tekanan efektif
overburden maksimum yang pernah dialami sebelumnya dinamakan tekanan tekanan
prakonsolidasi.
2.7.4 Pengaruh Kerusakan Struktur Tanah Pada Hubungan Antara Angka Pori Dan
Tekanan
Suatu contoh tanah dikatakan “ berbentuk kembali ” apabila struktur dari
tanah itu terganggu . Keadaan ini akan mempengaruhi bentuk grafik yang
menunjukkan antara angka pori dan tekanan dari tanah yang bersangkutan.Untuk
suatu tanah lempung yang terkonsolidasi secara normal dengan derajat sensivitas
rendah sampai sedang serta angka pori eo dan tekanan efektif overburden po,
perubahan angka pori sebagai akibat dari penambahan tegangan dilapangan secara
kasar.
Dengan pengetahuan yang didapat dari analisis hasil uji konsolidasi , sekarang
kita dapat menghitung kemungkinan penurunan yang disebabkan oleh konsolidasi
primer dilapangan dengan menganggap bahwa konsolidasi tersebut satu dimensi.
Sekarang mari kita tinjau suatu lapisan lempung jenuh dengan tebal H dan
luasan penampang melintang A serta tekanan efektif overburden rata-rata sebesar po.
Disebabkan oleh suatu penambahan tekanan sebesar Δp, anggaplah penurunan
konsolidasi primer yang terjadi adlah S. Jadi perubahan volume dapat diberikan
sebagai berikut :
ΔV = Vo – V1 = H . A – (H – S) . A = S . A
1) Indeks pemuaian
Indeks pemuaian adalah lebih kecil daripada indeks pemampatan dan biasanya dapat
ditentukan dilaboratorium, pada umumnya. Batas cair, batas plastis, indeks
pemampatan, dan indeks pemuaian untuk tanah yang masih belum rusak strukturnya
Pada akhir dari konsolidasi primer, penurunan masih tetap terjadi sebagai akibat dari
penyesuaian plastis butiran tanah. Tahap konsolidasi ini dinamakan konsolidasi
sekunder. Selama konsolidasi sekunder berlangsung, kurva hubungan antara
deformasi dan log waktu adalah merupakan garis lurus. Variasi dari angka pori dan
waktu untuk suatu penambahan beban akan sama. Indeks pemampatan sekunder
dapat didefinisikan sebagai.
Dimana :
t1 . t2 = waktu
Untuk suatu penambahan beban yang diberikan pada suatu contoh tanah ada
dua metode grafis yang umum dipakai untuk menentukan harga cv dari uji
konsolidasi satu dimensi dilaboratorium. Salah satu dari dua metode tersebut
dinamakan metode logaritma waktu yang diperkenalkan oleh Casagrande dan
Fadum,sedangkan metode yang satunya dinamakan metode akar waktu yang
diperkenalkan oleh taylor.
Penambahan tegangan vertikal didalam tanah yang disebabkan oleh beban
dengan luasan yang terbatas akan bertambah kecil dengan bertambahnya kedalaman z
yang diukur dari permukaan tanah kebawah. Perhitungan penambahan Δp pada
persamaan-persamaan tersebut seharusnya merupakan penambahan tekanan rata-rata ,
yaitu:
Penurunan segera untuk pondasi yang berada diatas meterial yang elastis
dapat dihitung dari persamaan-persamaan yang diturunkan dengan menggunakan
prinsip dasar teori elastis. Bentuk persamaannya sebagai berikut :
Dimana :
= penurunan elastis
= angka Poisson
ST = S + Ss + ρi
Dimana :
ST = penurunan total
ρi = penurunan segera
Pada pemadatan timbunan tanah untuk jalan raya, dam tanah, dan banyak
struktur teknik lainnya, tanah yang lepas haruslah dipadatkan untuk meningkatkan
berat volumenya. Pemadatan tersebut berfungsi untuk meningkatkan kekuatan tanah,
sehingga denagn demikian meningkatkan daya dukung pondasi diatasnya. Pemadatan
juga dapat mengurangi besarnya penurunan tanah yang tidak diinginkan dan
meningkatkan kemampatan lereng timbunan.
Tingkat pemadatan tanah di ukur dari berat volume kering tanah yang
dipadatkan. Bila air ditambahkan kepada suatu tanah yang sedang dipadatkan, air
tersebut akan berfungsi sebagia unsur pembasah pada partikel-partikel tanah. Untuk
usaha pemadatan yang sama, berat volume kering dari tanah akan naik bila kadar air
dalam tanah meningkat. Harap dicatat bahwa pada saat kadar air w = 0, berat volume
basah dari tanah adalah sama dengan berat volume keringnya.
Bila kadar airnya ditingkatkan terus secara bertahap pada usaha pemadatan
yang sama, maka berat dari jumlah bahan padat dalam tanah persatuan volume juga
meningkat secar bertahapmpula. Berat volume kering dari tanah pada kadar air dapat
dinyatakan:
Setelah mencapai kadar air tertentu w = w2, adanya penambahan kadar air justru
cenderung menurunkan berat volume kering dari tanah. Hal ini disebabkan karena air
tersebut kemudian menempati ruang-ruang pori dalam tanah yang sebetulnya dapat
ditempati oleh partikel-partikel padat dari tanah. Kadar air dimana harga berat
volume kering maksimum tanah dicapai tersebut kadar air optimim.
Kadar air mempunyai pengaruh yang besar terhadap tingkat kemadatan yang
dapat dicapai oleh suatu tanah. Disamping kadar air, faktor-faktor lain yang juga
mempengaruhi pemadatan adalah jenis tanah dan usaha pemadatan.
Energi yang dibutuhkan untuk pemadatan pada uji Proctor Standart, dapat
dituliskan sebagai berikut:
Dari kurva pemadatan untuk empat jenis tanah (ASTM D-698) terlihat bahwa:
1) Bila energi pemadatan bertambah, harga berat volume kering maksimum tanah
hasil pemadatan juga bertambah, dan
Spesifikasi yang diberikan untuk uji Proctor menurut ASTM dan AASHTO
dengan volume cetakan sebesar 1/30 ft3 dn jumlah tumbukan 25 kali per lapisan pada
umumnya dipakai untuk tanah-tanah berbutir halus yang lolos ayakan Amerika No. 4.
Sebenarya, pada masing-masing ukuran cetakan masih ada empat metode lain yang
disarankan, yang berbeda-beda menurut ukuran cetakan, jumlah tumbukan perlapis,
dan ukuran partikel tanah maksimum pada agregat tanah yang dipadatkan.
Penggilas ban-karet dalam banyak hal lebih baik daripada penggilas besi
bermukaan halus. Penggilas ban-karet pada dasarnya merupakan sebuah kereta
bermuatan berat dan beroda karet yang tersusun dalam beberapa baris yang berjarak
dekat.
Penggilas kaki kambing adalah berupa selinder yang mempunyai banyak kai-
kaki yang menjulur ke luar dari drum. Alat ini sangat efektif untuk memadatkan tanah
lempung.
Dimana:
R = 80 + 0,2Dr
Kerucut pasir terdiri atas sebuah botol plastik atau kaca dengan sebuah
kerucut logam dipasang diatasnya. Botol plastik dan kerucut ini diisi dengan pasir
ottawa kering bergradasi buruk. Di lapangan, sebuah lubang kecil digali pada
permukaan tanah yang telah dipadatkan. Bila berat tanah basah yang digali dari
lubang tersebut dapat ditentkan dan kadar air dari tanah galian itu juga diketahui.
Setelah lubang tersebut digali, kerucut dengan botol berisi pasir diletakkan di atas
lubang itu.Pasirnya dibiarkan mengalir keluar dari botol mengisi seluruh lubang dan
kerucut. Sesudah itu, berat dari tabung, kerucut, dan sisa pasir dalam botol ditimbang.
Jadi,
W5 = W1 – W4
Dimana:
Ws = berat dari pasiryang mengisi lubang dan krucut volume dari lubang yang
digali dapat ditentukan sebagai berikut:
Dimana:
Prosedur pelaksanaan metode balon karet sama dengan metode kerucut pasir,
yaitu sebuah lubang uji digali dan tanah asli diambil dari lubang tersebut dan
ditimbang beratnya. Tetapi volume lubang ditentukan dengan memasang balon karet
yang berisi air pada lubang tersebut. Air ini berasal dari suatu bejana yang sudah
terkalibrasi , sehingga volume air yang mengisi lubang ( sama dengan volume lubang
) dapat langsung dibaca. Berat volume kering dari tanah yang dipadatkan dapat
ditentukan dengan persamaan diatas.
Alat ukur pemadatan nuklir sekarang telah digunakan pada beberapa untuk
menentukan berat volume kering dari tanah yang dipadatkan. Alat ini dapat
dioprasikan didalam sebuah lubang galian atau permukaan tana.Alat ini dapat
mengukur berat tanah basah persatuan volumedan juga berat air yang ada pada suatu
satuan volume tanah.Berat volume kering dari tanah dapat ditentukan dengan cara
mengurangi berat basah tanah dengan cara mengutangi berat basah tanah dengan
barat air per satuan volume tanah.
BAB 3. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1) Tanah didefinisikan sebagai material yang terdiri dari agregat (butiran) mineral-
mineral padat yang tidak tersementasikan (terikat secara kimia) satu sama lain dari
bahan-bahan organik yang telah melapuk (yang berpartikel padat) disertai dengan zat
cair dan gas mengisi ruang-ruang kosong di antara partikel-partikel padat tersebut.
Tanah berasal dari pelapukan batuan dengan bantuan organisme, membentuk tubuh
unik yang menutupi batuan. Proses pembentukan tanah dikenal sebagai pedogenesis.
Dua cara yang umum digunakan untuk mendapat distribusi ukuran partikel-partikel
tanah, yaitu: analisisi ayakan dan analisis hidrometer.
5) Tegangan efektif pada suatu titik di dalam massa tanah akan mengalami
perubahan di karenakan oleh adanya rembesan air yang melaluinya. Tegangan efektif
ini akan bertambah besar atau kecil tergantung pada arah dari rembesan
6) Kenaikan tegangan pada tanah tergantung pada beban persatuan luas dimana
pondasi berada, kedalaman tanah dibawah pondasi podasi dimana tegangan tersebut
ditinjau, dan faktor-faktor lainnya.
8) Untuk usaha pemadatan yang sama, berat volume kering dari tanah akan naik
bila kadar air dalam tanah meningkat. Kadar air mempunyai pengaruh yang besar
terhadap tingkat kemadatan yang dapat dicapai oleh suatu tanah. Pemadatan
menimbulkan perubahan-perubahan pada struktur tanah berkohesi. Perubahan-
perubahan tersebut meliputi perubahan pada daya rembes, kemampumampatan, dan
kekuatan tanah.
1 Comment Tweet
Ilmu Mekanika Tanah adalah ilmu alam yang perkembangan selanjutnya akan
mendasari dalam analisis dan desain perencanaan suatu pondasi. Sehingga disini
dituntut untuk dapat membedakan antara mekanika tanah dengan teknik pondasi.
Mekanika tanah adalah suatu cabang dari ilmu teknik yang mempelajari perilaku
tanah dan sifatnya yang diakibatkan oleh tegangan dan regangan yang disebabkan
oleh gaya-gaya yang bekerja. Sedangkan Teknik Pondasi merupakan aplikasi prinsip-
prinsip Mekanika Tanah dan Geologi. , yang digunakan dalam perencanaan dan
pembangunan pondasi seperti gedung, jembatan, jalan, bendung clan lain-lain. Oleh
karena itu perkiraan dan pendugaan terhadap kemungkinan adanya penyimpangan
dilapangan dari kondisi ideal pada mekanika tanah sangat penting dalam perencanaan
pondasi yang benar.
Agar suatu bangunan dapat berfungsi secara sempurna, maka seorang insinyur
harus bisa membuat perkiraan dan pendugaan yang tepat tentang kondisi tanah
dilapangan.
Mekanika tanah adalah bagian dari geoteknik yang merupakan salah satu cabang dari
ilmu teknik sipil, dalam bahasa Inggris mekanika tanah berarti soil mechanics atau
soil engineering dan Bodenmechanik dalam bahasa Jerman.
Istilah mekanika tanah diberikan oleh Karl von Terzaghi pada tahun 1925 melalui
bukunya "Erdbaumechanik auf bodenphysikalicher Grundlage" (Mekanika Tanah
berdasar pada Sifat-Sifat Dasar Fisik Tanah), yang membahas prinsip-prinsip dasar
dari ilmu mekanika tanah modern, dan menjadi dasar studi-studi lanjutan ilmu ini,
sehingga Terzaghi disebut sebagai "Bapak Mekanika Tanah".
· Agregat (butiran) mineral-mineral padat yang tidak terikat secara kimia satu sama
lain
· Zat Cair
Tanah berguna sebagai pendukung pondasi bangunan dan juga tentunya sebagai
bahan bangunan itu sendiri (contoh: batu bata).
Sejarah terjadinya tanah, pada mulanya bumi berupa bola magma cair yang sangat
panas.Karena pendinginan, permukaannya membeku maka terjadi batuan beku.
Karena proses fisika (panas, ding in, membeku dan mencair) batuan tersebut hancur
menjadi butiran-butiran tanah (sifat-sifatnya tetap seperti batu aslinya : pasir, kerikil,
dan lanau.) Oleh proses kimia (hidrasi, oksidasi) batuan menjadi lapuk sehingga
menjadi tanah dengan sifat berubah dari batu aslinya.
Disini dikenal Transported Soil: adalah tanah yang lokasinya pindah dari tempat
terjadinya yang disebabkan oleh Miran air, angin, dan es dan Residual Soil adalah
tanah yang tidak pindah dari tempat terjadinya.
Oleh proses alam, proses perubahan dapat bermacam-macam dan berulang. Batu
menjadi tanah karena pelapukan dan penghancuran, dan tanah bisa menjadi batu
karena proses pemadatan, sementasi. Batu bisa menjadi batu jenis lain karena panas,
tekanan, dan larutan.
Batuan dibedakan :
Tanah terdiri atas butir-butir diantaranya berupa ruang pori. Ruang pori dapat terisi
udara atau air. Tanah juga dapat mengandung bahan-bahan organik sisa pelapukan
tumbuhan atau hewan. Tanah semacam ini disebut tanah organik.
(1). Tanah berbutir kasar adalah tanah yang sebagian besar butir-butir tanahnya
berupa pasir dan kerikil.
(2). Tanah berbutir halus adalah tanah yang sebagian besar butir-butir tanahnya
berupa lempung dan lanau.
(3). Tanah organik adalah tanah yang cukup banyak mengandung bahan-bahan
organik.
(1). Tanah Kohesif : adalah tanah yang mempunyai sifat lekatan antara butir-butirnya.
(tanah lempungan = mengandung lempung cukup banyak).
(2) Tanah Non Kohesif : adalah tanah yang tidak mempunyai atau sedikit sekali
lekatan antara butir-
(3). Tanah Organik : adalah tanah yang sifatnya sangat dipengaruhi oleh bahan-bahan
organik.
Mekanika tanah adalah cabang dari ilmu teknik yang mempelajari prilaku tanah dan
sifatnya dikarenakan adanya gaya regangan dan tegangan. Sedangkan teknik podasi
adalah aplikasi prinisp-prinsip mekanika tanah dan geologi, yang umum digunakan
pada perencanaan pembangunan pondasi seperti gedung, jembatan, jalan, bendung
dan lain-lain. Prinsip dasar ilmu mekanika tanah juga erat kaitannya dengan ilmu
perkiraan terhadap kemungkinan adanya penyimpangan dari kondisi tanah ideal
dilapangan.
Bumi terdiri atas batuan dan tanah dengan butir-butir berupa ruang pori yang terisi
udara dan air. Tanah juga dapat mengandung bahan-bahan sisa pelapukan tumbuhan
maupun hewan yang disebut tanah organik. Sedangkan batuan dibedakan atas batuan
beku (granit, basalt), batuan sedimen (gamping, batu pasir), batuan metamorf
(marmer). Batuan merupakan kumpulan butir-butir mineral alam yang saling terikat
erat dan kuat, sehingga sukar untuk dilepaskan. Sedangkan tanah merupakan
kumpulan butir butir minal alam yang tidak melekat atau melekat tidak erat, sehingga
sangat mudah untuk dipisah. Ada juga tanah jenis Cadas yang merupakan peralihan
antara batu dan tanah. Berikut jenis tanah berdasrkan fraksi dan ukuran butir :
1. Tanah berbutir kasar adalah tanah yang sebagian besar butir tanahnya berupa pasir
dan kerikil.
2. Tanah berbutir halus adalah tanah yang sebagian besar butir-butir tanahnya
berupa lempung dan lanau.
3. Tanah organik adalah tanah yang cukup banyak mengandung bahan-bahan sisa
tumbuhan dan hewan.
1. Tanah Kohesif adalah tanah yang mempunyai sifat lekatan antara butir-butimya.
(tanah lempungan = mengandung lempung cukup banyak).
2. Tanah Non Kohesif adalah tanah yang tidak mempunyai atau sedikit sekali lekatan
antara butir-butimya. (hampir tidak mengandung lempung dan pasir).
3. Tanah Organik adalah tanah yang sifatnya sangat dipengaruhi oleh bahan-bahan
organik. (bersifat tidak baik).
Pada prinsipnya, ilmu ini bisa dikatakan susah-susah gampang. Didasarkan pada
analisa jenis dan spesifikasi tanah. Dikatakan susah karena begitu banyak rumus
kompleks dan statis yang harus diakumulasikan berdasarkan klasifikasi jenis dan
sifatnya. Namun gampang karena praktis, tidak seperti mekanika teknik, dimana
engineer menganalisa setiap bentuk dan gaya-gaya dalam yang merepotkan. Apapun
jenis perhitungan dalam mekanika tanah tidak akan lepas dari prinsip dasar
persamaan tanah seperti diawah ini.
4. Kadar Air
Suatu percobaan lab terhadap suatu contoh tanah asli seberat 1.74 kg dan mempunyai
isi 0.001 m3. Berat jenis butir 2.6, kerapatan kering tanah 1500 kg/m3. Ditanyakan.
a. Kadar air.
d. Derajat kejenuhan
Jawab : 1
a. Kadar air.
Keterangan :
Keterangan :
Keterangan :
d. Derajat kejenuhan
Keterangan :
Soal : 2
Suatu tanah jenuh air mempunyai berat volume kering sebesar 16.2 kn/m3. Kadar air
20 %. Tentukan berat jenis spesifik (Gs), angka pori (e), berat volume jenuh (Ysat).
Jawab : 2
Angka pori.
Berat volume jenuh
Soal : 3
Suatu contoh tanah seberat 30.6 kg, mempunyai isi 0.0183 m3. Bila dikeringkan
dalam tungku beratnya menjadi 27.2 kg, dan berat jenis butirnya (Gs) diketahui 2.65,
tentukan :
c. Kadar air
d. Angka pori
e. Porositas
f. Derajat kejenuhan
Jawab : 3
a. Kerapatan tanah
b. Kerapatan butir
c. Kadar air
d. Angka pori
e. Porositas
f. Derajat kejenuhan
Soal : 4
Daata suatu tanah diketahui sebagai berikut : angka pori 0.75, kadar air 22%. Berat
spesifik tanah 2.66, hitunglah.
a. Porositas
Jawab : 4
a. Porositas
b. Berat volume basah
Soal : 5
Data suatu tanah diketahui sebagai berikut : Porositas tanah 0.45, berat spesifik 2.68,
kadar air 10 %. Tentukan masa air yang harus ditambahkan agar tanah mempunyai
volume 10 m3 menjadi jenuh.
Jawab : 5
Soal jawab diatas merupakan contoh umum design tanah pada laboratorium. Tidak
menutup kemungkinan jenis, sifat dan karakteristik dari unsur tanah berubah,
tentunya perhitugan diatas juga dapat berkembang mengikuti pola yang ada. Namun
dasar dan penerapan perhitungan diatas adalah rumus tetap yang baku pada prisip-
prinsip tanah dan merupakan metode perhitungan umum.
7.12 Aliran ke Dalam Galian, Selokan, dan Sumuran
Pondasi Caisson atau Pondasi Sumuran Pondasi sumuran adalah suatu bentuk
peralihan antara pondasi dangkal dan pondasi tiang dan digunakan apabila tanah
dasar (tanah keras) terletak pada kedalaman yang relative dalam. Persyaratan agar
Pondasi Sumuran dapat digunakan adalah sebagai berikut: · Daya dukung Pondasi
harus lebih besar dari pada beban yang dipikul oleh tersebut · Penurunan yang
terjadi harus sesuai batas yang diizinkan (toleransi) yaitu sebesar 1 inci (2,54cm) Ada
beberapa alasan pondasi sumuran digunakan dibandingkan pondasi dangkal yaitu: ·
Bila tanah keras terletak lebih dari 3 meter, maka jika digunakan pondasi plat kaki
atau jenis pondasi langsung lainnya akan menjadi tidak hemat (galian tanahnya terlalu
dalam dan lebar) · Bila air dipermukaan tana terletak tinggi, konstruksi pada pelat
beton akan sulit dilaksanakan karena air harus di ppompa keluar lubang galian. Ada
beberapa metode pelaksanaan pondasi dilapangan, salah satunya adalah metode
dengan menggunakan cincin. Dengan metode ini sumuran terdiri dari pipa / cincin-
cincin besar yang terbuat dari beton biasa atau beton bertulang dan biasa dikenal
sebagai gorong-gorong. Tebal cincin umumnya 8-12 cm. Ukuran garis tengah bagian
dalam cincin bervariasi antara 70-150 cm. Ukuran yang digunakan tergantung
kebutuhan luas dasar pondasi hasil perhitungan beban bangunan dan kekuatan tanah.
Ada pipa/cincin beton pada siap pakai dengan ukuran tinggi -+ 100cm dengan garis
tengah bermacam-macam. Jumlah cincin pada satu titik tergantung pada kedalaman
tanah kerasnya. Cincin beton dapat pula dibuat sendiri. Bila dibuat sendiri, sebaiknya
dinding bagian bawah dibuat runcing untuk memudahkan penurunan pipa kedalam
tanah. Berikut adalah langkah-langkah memasang pondasi sumuran :
Metode ini berguna untuk menemukan bahan galian dan untuk memperoleh data-data
mengenai keadaan tubuh batuan (orebody) yang bersangkutan, seperti ketebalan,
sifat-sifat fisik, keadaan batuan di sekitarnya, dan kedudukannya.
Cara pengambilan contoh dengan metode ini paling cocok dilakukan pada tubuh
bahan galian yang terletak dangkal di bawah permukaan tanah, yaitu dimana lapisan
penutup (over burden) kurang dari setengah meter. Trench yang dibuat sebaiknya
diusahakan dengan cara-cara berikut :
· Dasar selokan dibuat miring, sehingga jika ada air dapat mengalir dan
mengeringkan sendiri (shelf drained) dengan demikian tidak diperlukan
adanya pompa.
· Kedalaman selokan (trench) diusahakan sedemikian rupa sehingga para
pekerja masih sanggup mengeluarkan bahan galian cukup dengan
lemparan.
7.12.2 Galian
Galian untuk pipa, gorong-gorong atau drainase beton dan galian untuk pondasi
jembatan atau struktur lain, harus cukup ukurannya sehingga memungkinkan
pemasangan bahan dengan benar, pemadatan harus dilakukan setelah penimbunan
kembali di bawah dan di sekeliling pekerjaan.
• Bila galian parit untuk gorong-gorong atau lainnya dilakukan pada timbunan
baru, maka timbunan harus dikerjakan sampai ketinggian yang diperlukan
dengan jarak masing-masing lokasi galian parit tidak kurang dari 5 kali lebar
galian parit tersebut, selanjutnya galian parit tersebut dilaksanakan dengan
sisi-sisi yang setegak mungkin sebagaimana kondisi tanahnya mengijinkan.
• Galian sampai elevasi akhir pondasi untuk telapak pondasi struktur tidak
boleh dilaksanakan sampai sesaat sebelum pondasi akan dicor.
• Sumber bahan (borrow pits), apakah di dalam Daerah Milik Jalan atau di
tempat lain, harus digali sesuai dengan ketentuan.
• Sumber bahan (borrow pits) di atas tanah yang mungkin digunakan untuk
pelebaran jalan mendatang atau keperluan pemerintah lainnya, tidak
diperkenankan.
• Penggalian sumber bahan harus dilarang atau dibatasi bilamana penggalian
ini dapat mengganggu drainase alam atau yang direncanakan.
• Pada daerah yang lebih tinggi dari permukaan jalan, sumber bahan harus
diratakan sedemikian rupa sehingga mengalirkan seluruh air permukaan ke
sistem drainase berikutnya tanpa genangan.
• Tepi galian pada sumber bahan tidak boleh berjarak lebih dekat dari 2 m dari kaki
setiap timbunan atau 10 m dari puncak setiap galian.
Suatu lapisan tanah yang mengalami tambahan beban di atasnya, maka air
pori akan keluar dari dalam pori, sehingga isi (volume) tanah akan mengecil.
(lihat gambar)
Umumnya konsolidasi berlangsung hanya satu jurusan saja, yaitu jurusan
vertical, karena lapisan yang kena tambahan beban itu tidak dapat bergerak
dalam jurusan horizontal (ditahan oleh tanah di sekelilingnya). Penurunan
merupakan peristiwa yang menyebabkan lapisan tanah mengalami
pemampatan (kompresi/pemadatan) akibat penambahan beban diatas
permukaan tanah .
Dalam keadaan ini pengaliran air juga berjalan satu jurusan, yaitu jurusan
vertical atau disebut “one dimensional consolidation” (konsolidasi satu
jurusan), dan perhitungan konsolidasi hampir selalu berdasarkan teori “one
dimensional consolidation” ini.
Pada waktu konsolidasi berlangsung, bangunan di atasnya akan menurun
(settle). Dalam bidang teknik sipil ada dua hal yang perlu diketahui mengenai
penurunan ini, yaitu :
a. Besarnya penurunan yang akan terjadi
b. Kecepatan penurunan
Pada lapisan pasir, penurunan berlangsung cepat (segera) dan menyeluruh,
serta penurunan yang terjadi kecil, karena pasir mempunyai sifat “low
compressibility”
Pada lapisan tanah lempung, penurunan yang terjadi berjalan agak lambat
(memerlukan waktu lama) dan penurunan yang terjadi juga besar. Oleh karena
itu penelitian konsolidasi umumnya hanya pada tanah lempung (butir halus).
Karena lempung mempunyai sifat “high compressibility”.
TEORI PENURUNAN
Pada umumnya tanah, dalam bidang geoteknik, dibagi menjadi 2 jenis, yaitu tanah
berbutir dan tanah kohesif. Pada tanah berbutir (pasir/sand), air pori dapat mengalir
keluar struktur tanah dengan mudah, karena tanah berbutir memiliki permeabilitas
yang tinggi. Sedangkan pada tanah kohesif (clay), air pori memerlukan waktu yang
lama untuk mengalir keluar seluruhnya. Hal ini disebabkan karena tanah kohesif
memiliki permeabilitas yang rendah.
Penurunan seketika / penurunan elastic terjadi dalam kondisi undrained (tidak ada
perubahan volume). Penurunan ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat saat
dibebani secara cepat. Besarnya penurunan elastic ini tergantung dari besarnya
modulus elastisitas kekakuan tanah dan beban timbunan diatas tanah.
Dimana :
Sc = Immediate settlement
μs = Poisson’s Ratio
Pada tanah lempung jenuh air, penambahan total tegangan akan diteruskan ke air pori
dan butiran tanah. Hal ini berarti penambahan tegangan total (Δσ) akan terbagi ke
tegangan efektif dan tegangan air pori. Dari prinsip tegangan efektif, dapat diambil
korelasi :
Δσ = Δσ’ + Δu
Dimana :
Karena lempung mempunyai daya rembes yang sangat rendah dan air adalah tidak
termampatkan (incompressible) dibandingkan butiran tanah, maka pada saat t = 0,
seluruh penambahan tegangan, Δσ, akan dipikul oleh air (Δu = Δσ) pada seluruh
kedalaman lapisan tanah.
Penambahan tegangan tersebut tidak dipikul oleh butiran tanah (Δσ’ = 0).Sesaat
setelah pemberian penambahan tegangan, Δσ, pada lapisan lempung, air dalam pori
mulai tertekan dan akan mengalir keluar. Dengan proses ini, tekanan air pori pada
tiap-tiap kedalaman pada lapisan lempung akan berkurang secara perlahan-lahan, dan
tegangan yang dipikul oleh butiran tanah keseluruhan (tegangan efektif / Δσ’) akan
bertambah. Jadi pada saat 0 < t < ∞
Tetapi, besarnya Δσ’ dan Δu pada setiap kedalaman tidak sama, tergantung pada
jarak minimum yang harus ditempuh air pori untuk mengalir keluar lapisan pasir
yang berada di bawah atau di atas lapisan lempung.
Pada saat t = ∞, seluruh kelebihan air pori sudah hilang dari lapisan lempung, jadi Δu
= 0. Pada saar ini tegangan total, Δσ, akan dipikul seluruhnya oleh butiran tanah
seluruhnya (tegangan efektif, Δσ’). Jadi Δσ = Δσ’.
Berikut adalah variasi tegangan total, tegangan air pori, dan tegangan efektif pada
suatu lapisan lempung dimana air dapat mengalir keluar struktur tanah akibat
penambahan tegangan, Δσ, yang ditunjukan gambar dibawah.
Proses terdisipasinya air pori secara perlahan, sebagai akibat pembebanan yang
disertai dengan pemindahan kelebihan tegangan air pori ke tegangan efektif, akan
menyebabkan terjadinya penurunan yang merupakan fungsi dari waktu (time-
dependent settlement) pada lapisan lempung. Suatu tanah di lapangan pada
kedalaman tertentu telah mengalami tegangan efektif maksimum akibat beban tanah
diatasnya (maximum effective overburden pressure) dalam sejarah geologisnya.
Tegangan ini mungkin sama, atau lebih kecil dari tegangan overburden pada saat
pengambilan sample.
Berkurangnya tegangan di lapangan tersebut bisa diakibatkan oleh beban hidup. Pada
saat diambil, contoh tanah tersebut terlepas dari tegangan overburden yang telah
membebani selama ini. Sebagai akibatnya, tanah tersebut akang mengalami
pengembangan. Pada saat dilakukan uji konsolidasi pada tanah tersebut, suatu
pemampatan yang kecil (perubahan angka pori yang kecil) akan terjadi bila beban
total yang diberikan pada saat percobaan adalah lebih kecil dari tegangan efektif
overburden maksimum (maximum effective overburden pressure) yang pernah
dialami sebelumnya.
Apabila beban total yang dialami pada saar percobaan lebih besar dari maximum
effective overburden pressure, maka perubahan angka pori yang terjadi akan lebih
besar. Ada 3 definisi dasar yang didasarkan pada riwayat geologis dan sejarah
tegangan pada tanah, yaitu :
Ada 2 hal penting yang perlu diperhatikan dalam penurunan konsolidasi ini, yaitu :
Pada akhir konsolidasi primer (setelah tegangan air pori U = 0), penurunan pada
tanah masih tetap terjadi sebagai akibat dari penyesuaian plastis butiran tanah.
Tahapan konsolidasi ini dinamakan konsolidasi sekunder. Variasi angka pori dan
waktu untuk penambahan beban akan sama seperti yang ditunjukkan pada gambar
berikut.
t = Waktu
Penurunan yang diakibatkan konsolidasi sekunder sangat penting untuk semua jenis
tanag organic dan tanah anorganik yang sangat mampu mampat (compressible).
Untuk lempung anorganik yang terlalu terkonsolidasi, indeks pemampatan sekunder
sangat kecil sehingga dapat diabaikan.
TEORI PENURUNAN
Bila suatu lapisan tanah mengalami pembebanan akibat beban di atasnya, maka tanah
di dibawah beban yang bekerja tersebut akan mengalami kenaikan tegangan, ekses
dari kenaikan tegangan ini adalah terjadinya penurunan elevasi tanah dasar
(settlement). Pembebanan ini mengakibatkan adanya deformasi partikel tanah,
relokasi partikel tanah, dan keluarnya air pori dari tanah yang disertai berkurangnya
volume tanah. Hal inilah yang mengakibatkan terjadinya penurunan tanah.
Pada umumnya tanah, dalam bidang geoteknik, dibagi menjadi 2 jenis, yaitu tanah
berbutir dan tanah kohesif. Pada tanah berbutir (pasir/sand), air pori dapat mengalir
keluar struktur tanah dengan mudah, karena tanah berbutir memiliki permeabilitas
yang tinggi. Sedangkan pada tanah kohesif (clay), air pori memerlukan waktu yang
lama untuk mengalir keluar seluruhnya. Hal ini disebabkan karena tanah kohesif
memiliki permeabilitas yang rendah.
Sc = Immediate settlement
μs = Poisson’s Ratio
Δσ = Δσ’ + Δu
Dimana :
Karena lempung mempunyai daya rembes yang sangat rendah dan air adalah tidak
termampatkan (incompressible) dibandingkan butiran tanah, maka pada saat t = 0,
seluruh penambahan tegangan, Δσ, akan dipikul oleh air (Δu = Δσ) pada seluruh
kedalaman lapisan tanah.
Penambahan tegangan tersebut tidak dipikul oleh butiran tanah (Δσ’ = 0).Sesaat
setelah pemberian penambahan tegangan, Δσ, pada lapisan lempung, air dalam pori
mulai tertekan dan akan mengalir keluar. Dengan proses ini, tekanan air pori pada
tiap-tiap kedalaman pada lapisan lempung akan berkurang secara perlahan-lahan, dan
tegangan yang dipikul oleh butiran tanah keseluruhan (tegangan efektif / Δσ’) akan
bertambah. Jadi pada saat 0 < t < ∞
Tetapi, besarnya Δσ’ dan Δu pada setiap kedalaman tidak sama, tergantung pada
jarak minimum yang harus ditempuh air pori untuk mengalir keluar lapisan pasir
yang berada di bawah atau di atas lapisan lempung.
Pada saat t = ∞, seluruh kelebihan air pori sudah hilang dari lapisan lempung, jadi Δu
= 0. Pada saar ini tegangan total, Δσ, akan dipikul seluruhnya oleh butiran tanah
seluruhnya (tegangan efektif, Δσ’). Jadi Δσ = Δσ’.
Berikut adalah variasi tegangan total, tegangan air pori, dan tegangan efektif pada
suatu lapisan lempung dimana air dapat mengalir keluar struktur tanah akibat
penambahan tegangan, Δσ, yang ditunjukan gambar dibawah.
Proses terdisipasinya air pori secara perlahan, sebagai akibat pembebanan yang
disertai dengan pemindahan kelebihan tegangan air pori ke tegangan efektif, akan
menyebabkan terjadinya penurunan yang merupakan fungsi dari waktu (time-
dependent settlement) pada lapisan lempung. Suatu tanah di lapangan pada
kedalaman tertentu telah mengalami tegangan efektif maksimum akibat beban tanah
diatasnya (maximum effective overburden pressure) dalam sejarah geologisnya.
Tegangan ini mungkin sama, atau lebih kecil dari tegangan overburden pada saat
pengambilan sample.
Berkurangnya tegangan di lapangan tersebut bisa diakibatkan oleh beban hidup. Pada
saat diambil, contoh tanah tersebut terlepas dari tegangan overburden yang telah
membebani selama ini. Sebagai akibatnya, tanah tersebut akang mengalami
pengembangan. Pada saat dilakukan uji konsolidasi pada tanah tersebut, suatu
pemampatan yang kecil (perubahan angka pori yang kecil) akan terjadi bila beban
total yang diberikan pada saat percobaan adalah lebih kecil dari tegangan efektif
overburden maksimum (maximum effective overburden pressure) yang pernah
dialami sebelumnya.
Apabila beban total yang dialami pada saar percobaan lebih besar dari maximum
effective overburden pressure, maka perubahan angka pori yang terjadi akan lebih
besar. Ada 3 definisi dasar yang didasarkan pada riwayat geologis dan sejarah
tegangan pada tanah, yaitu :
Ada 2 hal penting yang perlu diperhatikan dalam penurunan konsolidasi ini, yaitu :
Pada akhir konsolidasi primer (setelah tegangan air pori U = 0), penurunan pada
tanah masih tetap terjadi sebagai akibat dari penyesuaian plastis butiran tanah.
Tahapan konsolidasi ini dinamakan konsolidasi sekunder. Variasi angka pori dan
waktu untuk penambahan beban akan sama seperti yang ditunjukkan pada gambar
berikut.
Besarnya konsolidasi sekunder dapat dihitung dengan rumus :
dimana :
t = Waktu
ep = angka pori pada akhir konsolidasi primer
Penurunan yang diakibatkan konsolidasi sekunder sangat penting untuk semua jenis
tanag organic dan tanah anorganik yang sangat mampu mampat (compressible).
Untuk lempung anorganik yang terlalu terkonsolidasi, indeks pemampatan sekunder
sangat kecil sehingga dapat diabaikan.
Suatu lapisan tanah yang mengalami tambahan beban di atasnya, maka air pori akan
keluar dari dalam pori, sehingga isi (volume) tanah akan mengecil. (lihat gambar)
Umumnya konsolidasi berlangsung hanya satu jurusan saja, yaitu jurusan vertical,
karena lapisan yang kena tambahan beban itu tidak dapat bergerak dalam jurusan
horizontal (ditahan oleh tanah di sekelilingnya).
Dalam keadaan ini pengaliran air juga berjalan satu jurusan, yaitu jurusan vertical
atau disebut “one dimensional consolidation” (konsolidasi satu jurusan), dan
perhitungan konsolidasi hampir selalu berdasarkan teori “one dimensional
consolidation” ini.
b. Kecepatan penurunan
Pada lapisan pasir, penurunan berlangsung cepat (segera) dan menyeluruh, serta
penurunan yang terjadi kecil, karena pasir mempunyai sifat “low compressibility”
Pada lapisan tanah lempung, penurunan yang terjadi berjalan agak lambat
(memerlukan waktu lama) dan penurunan yang terjadi juga besar. Oleh karena itu
penelitian konsolidasi umumnya hanya pada tanah lempung (butir halus). Karena
lempung mempunyai sifat “high compressibility”.
Istilah ini adalah tekanan pada suatu lapisan tanah pada waktu dahulu pernah
mengalami pembebanan. Misalnya lapisan endapan, oleh sebab geologis endapan
tersebut hilang, saehingga lapisan tanah tersebut pernah mengalami tekanan lebih
tinggi dari pada tekanan yang berlaku di atasnya saat ini.
b. Normally Consolidated
Istilah ini adalah menyatakan suatu lapisan tanah yang belum pernah mengalami
tekanan di atasnya lebih tinggi dari pada tekanan yang berlaku saat ini.
3. Pengukuran Konsolidasi
Beban ditambah setiap 24 jam, dengan harga tegangan : 0,25 ; 0,5 ; 1,0 ; 2,0; 4,0; 8,0
kg/cm2. Setelah mencapai 8,0 kg/cm2, beban dikurangi lagi sampai mencapai 0,25
kg/cm2.
Besarnya penurunan yang terjadi pada setiap tegangan diambil dari pembacaan
arloji petunjuk yang terakhir untuk tegangan tersebut. Angka-angka penurunan ini
dipakai untuk membuat grafik penurunan terhadap tegangan sebagai absis (dengan
skala logaritma) dan angka pori sebagai ordinat (dengan skala biasa).
Cv =
mv =
av = = =
dimana :
= koefisien pemampatan
= tekanan tambahan
= = . = .
Dimana :
= tebal contoh tanah sebelum penambahan beban
eo = =
= .
Tekanan pre consolidation dan angka pori mempunyai hubungan sebagai berikut :
- e = Cc (logp – logpo)
S = mv . h .
Teori ini merupakan dasar yang telah disederhanakan untuk menentukan distribusi
tekanan hidrostatis yang bekerja dalam lapisan-lapisan yang berkonsolidasi di dalam
waktu tertentu sesudah bekerjanya beban/muatan dan ini disebut derajat
konsolidasi (U)
Penentuan distribusi tekanan hidrostatis yang bekrja dalam lapisan tanah pada
interval waktu yang berbeda dapat dilakukan sebagai berikut :
U = f (Tv) -------------- Tv =
U = derajat konsolidasi
Cv =
Derajat konsolidasi :
U=
Harga U dapat diperoleh dari rumus Terzaghi U = f (Tv), atau dapat diperkirakan
dengan persamaan :
U 50 % ; U2 = .
U 50 % ;U=1- . .
U% 20 40 60 80 90
Contoh :
U = 90 % ----- Tv =
0,848 =
=
Jadi dalam waktu t90, konsolidasi sudah mencapai 90 % dari keseluruhan. Untuk
mencapai konsolidasi seluruhnya memerlukan waktu lama ( t100), yaitu untuk
menyelesaikan Secondary Consolidation.
Menurut teori konsolidasi Terzaghi, konsolidasi seluruhnya terdiri dari dua bagian,
yaitu :
1. Primary Consolidation
Adalah penurunan yang berjalan akibat pengaliran air dari tanah dengan demikian
penurunan ini adalah akibat penurunan tegangan efektif.
2. Secondary Consolidation
Penurunan yang amsih berjalan setelah primary consolidation selesai, yaitu setelah
tidak terdapat lagi tegangan air pori. Dan berlangsung dalam waktu yang lama serta
nilainya kecil.
sistem lempung-air homogen, Proses penjenuhan selesai, Pemampatan air dan butir
tanah diabaikan (tapi butir tanah rearrange), Aliran air hanya satu arah (arah
pemampatan) dan Hukum Darcy masih relevan.
• Tiap penambahan beban selama pengujian, tegangan yang terjadi berupa tegangan
efektif
• Bila berat jenis tanah (specific gravity), dimensi awal dan penurunan pada tiap
pembebanan dicatat, maka nilai angka pori e dapat diperoleh.
• Perubahan tinggi (∆H) per satuan dari tinggi awal (H) adalah sama dengan
perubahan volume (∆V) per satuan volume awal (V), atau
Koefisien pemampatan (av) Dan Koefisien perubahan volume (mv)
Dengan :
e1 = angka pori padategangan p1’
e2 = angka pori padategangan p2’
V1= volume pada teganganp1’
V2= volume pada teganganp2’
Penyelesaian :
Dari kurva diperoleh hubungan angka pori & tegangan
Untuk :
Jadi,
Hasil uji terakhir stlh 24 jam, kadar air = 24,5 % dan Gs = 2,70.
Gambarkan hubungan angka pori vs tegangan efektif dan
tentukan av dan mv
• Contoh tanah jenuh berlaku hubungan, e = wGs
maka angka pori akhir pengujian : e1 = 0,254 x 2,70 = 0,662
• Tebal contoh kondisi akhir : H1 = 19,25 mm
• Angka pori awal pengujian e0 = e1 + ∆e
• Umumnya hubungan antara ∆e dan ∆H dinyatakan :