Anda di halaman 1dari 28

PENGEMBANGAN FASILITAS REST AREA ISTANA MAIMUN

UNTUK MENINGKATKAN PELAYANAN BAGI WISATAWAN

OLEH :

NATANAEL LUMBANTOBING

142204049

PROGRAM STUDI D - III PARIWISATA

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2018
DAFTAR ISI

ABSTRAK………………………………………………………………………

KATAPENGANTAR………………………………………………………….

DAFTAR ISI……………………………………………………………………

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang dan Masalah………………………………………….

1.2 Batasan Masalah……………………………………………………....

1.3 Rumusan Masalah……………………………………………………..

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian……………………………………......

1.5 Metode Penelitian……………………………………………………..

BAB II URAIAN TEORITIS

2.1 Pariwisata…………………………………………………...................

2.2 Wisatawan……………………………………………………………..

2.3 Jenis-jenis Pariwisata…………………………………………………..

2.4 Pengertian Pariwisata Budaya…………………………………………

2.5 Fasilitas Pariwisata…………………………………………………….

2.6 Pengertian Rest Area..............................................................................

2.7 Pengertian Pelayanan………………………………………………….

2.8 Pengertian Pengembangan…………………………………………….


BAB III GAMBARAN UMUM WISATAWAN DAN ISTANA MAIMUN

3.1 Sejarah Dan Bangunan Istana Maimun……………………………….

3.2 Sarana Wisata………………………………………… ………………

3.3 Prasarana Wisata………………………………………………………

3.4 Atraksi Wisata Budaya Istana Maimun……………………………….

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Pengembangan fasilitas istana maimun untuk meningkatkan pelayanan

bagi wisatawan ……………………………………………………….

4.2 Peningkatan pelayanan bagi wisatawan di Istana Maimun .………….

4.3 Peran pemerintah ikut serta dalam pengembangan fasilitas dan

peningkatan pelayanan di Istana Maimun ……………………………

BAB V PENUTUP

5.1Kesimpulan……………………………………………………………..

5.2Saran……………………………………………………………………

5.3DaftarPustaka………………………………………………………….
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pariwisata merupakan suatu keseluruhan elemen-elemen terkait yang didalamnya

terdiri dari wisatawan, daerah tujuan wisata, perjalanan, industri dan lain sebagainya

yang merupakan kegiatan pariwisata. Pariwisata menjadi andalan utama sumber

devisa karena Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki beraneka ragam

jenis pariwisata, misalnya wisata alam, sosial maupun wisata budaya yang tersebar

dari Sabang hingga Merauke. Selain menyimpan berjuta pesona wisata alamnya

begitu indah, Indonesia juga kaya akan wisata budayanya yang terbukti dengan begitu

banyaknya peninggalan-peninggalan sejarah serta keanekaragaman seni dan adat

budaya masyarakat lokal yang menarik wisatawan lokal maupun wisatawan

mancanegara, sehingga dengan banyaknya potensi yang dimiliki menjadikan

Indonesia sebagai salah satu daerah tujuan wisata.


Kota Medan adalah salah satu kota terbesar di Indonesia setelah Jakarta dan

Surabaya. Medan merupakan salah satu kota tujuan wisata yang menyajikan wisata

sejarah dengan bangunan-bangunan tua dan memiliki arti tersendiri bagi masyarakat

nya dan merupakan saksi berdirinya kota Medan. Bangunan-bangunan bersejarah

tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke kota medan

tengah- tengah Kota Medan. Medan berawal dari sebuah kampung yang didirikan

oleh Guru Patimpus di pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura. Hari jadi Kota

Medan ditetapkan pada tanggal 1 Juli 1590. Selanjutnya pada tahun 1632, Medan

dijadikan pusat pemerintahan Kesultanan Deli, sebuah kerajaan Melayu. Seiring


berjalannya waktu kesultanan deli mendirikan salah satu istana yang menjadi tempat

kesultanan deli serta keluarganya tinggal yaitu istana maimun.

Wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan wisata ke suatu daerah dengan

tujuan untuk berlibur dan menginap dalam kurun waktu 24 jam, sedangkan

pengertian wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan perjalanan

tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati

objek dan daya tarik wisata. Banyak wisatawan yang datang ke Kota Medan dengan

tujuan ingin melihat keindahan di kota medan dengan banyaknya bangunan-bangunan

bersejarah yang bediri sejak jaman kolonial. Wisatawan yang datang ke kota Medan

cenderung berwisata ke tempat-tempat sejarah yang memiliki history dan nilai-nilai

penting bagi kemajuan kota Medan.

Istana Maimun didesain oleh arsitek Italia bernama Ferrari dan dibangun

oleh Sultan Deli, Sultan Mahmud Al Rasyid. Pembangunan istana ini dimulai dari 26

Agustus 1888 dan selesai pada 18 Mei 1891. Istana Maimun memiliki luas sebesar

2.772 m2 dan 30 ruangan. Istana Maimun terdiri dari 2 lantai dan memiliki 3 bagian

yaitu bangunan induk, bangunan sayap kiri dan bangunan sayap kanan. Bangunan

istana ini menghadap ke utara dan pada sisi depan terdapat bangunan Masjid Al-

Mashun atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Raya Medan. Istana

Maimun dikenal sebagai salah satu ikonnya di kota medan. Namun, sejak selesai

dibangun pada 1891, Istana Maimun menjadi tujuan wisata bukan hanya karena

usianya yang tua, namun juga didesain dengan interioir yang unik. Dengan

memadukan unsur-unsur warisan kebudayaan Melayu, dengan gaya Islam, Spanyol,

India dan Italia bangunan ini terlihat begitu megah di tengah-tengah Kota Medan.
Tetapi kenyataanya, kawasan wisata Istana Maimun tidak berkembang sesuai

dengan diharapkan. Dari sisi kunjungan wisata dari tahun ke tahun wisatawan yang

berkunjung cenderung menurun. Hal ini di sebabkan kurangnya pemeliharaan

fasilitas dari pihak pengelola Istana Maimun, sehingga banyak wisatawan yang

mengeluh kurangnya tempat rest area (tempat beristirahat untuk wisatawan yang

datang). Jika pada hari-hari besar atau liburan wisatawan yang datang ke istana

maimun meningkat sehingga banyak wisatawan yang duduk di taman, di rumput,

sehingga merusak taman dan rumput-rumput hal ini disebabkan kurangnya

pemeliharaan dan kurangnya tempat istirahat untuk wisatawan. Oleh sebab itu,

fasilitas rest area ditambah atau dibuat demi menjaga kenyamanan bagi para

wisatawan yang akan berkunjung ke Istana Maimun. Rest area yang ditambahkan pun

haruslah banyak agar dapat menampung wisatawan dan harus juga dipelihara agar

tidak dijadikan oleh orang orang yang ingin mencari keuntungan dengan

memanfaatkan fasilitas Istana Maimun. Karena, hal ini sangat dilarang dan sangat

merusak karena mengganggu kenyamanan di Istana Maimun

Selain rest area, kualitas pelayanan pun harus dikembangkan karena wisatawan

tidak hanya merasakan kenyamanan fasilitas. Tetapi, pelayanan juga perlu karena

dengan adanya pelayanan yang bagus dari pihak Istana Maimun, wisatawan pun akan

semakin meningkat dan bertambah karena wisatawan terbayarkan dengan fasilitas

yang memadai serta pelayanan yang bagus. Apalagi ditambah dengan wisatawan yang

meningkat pada hari libur kualitas pelayanan untuk wisatawan sangat dituntut karena

ada hari libur Istana Maimun banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal seperti dari

sekolah-sekolah baik di dalam Kota Medan maupun dari luar Kota Medan juga dari
wisatawan mancanegara terutama dari Negara Malaysia. Istana Maimun menjadi

tujuan wisata karena memiliki nilai historis yang tinggi dan sangat penting bagi

sejarah perkembangan budaya melayu di Kota Medan. Wisatawan dapat berkeliling

istana dan melihat barang peninggalan Kerajaan Deli seperti foto-foto Raja Deli

semasa hidup, senjata, dan perabotan istana.

Pengembangan fasilitas serta peningkatan kualitas pelayanan di Istana Maimun

perlu dilakukan agar dapat meningkatkan wisatawan yang datang ke kota Medan

terutama ke Istana Maimun dan harus di barengi dengan kerjasama antara pengelola

Istana Maimun dengan pemerintah.

1.2 Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang pemilihan judul yang telah di uraikan di atas, maka

penulis memberikan batasan masalah terhadap pembahasan kertas karya ini yaitu :

“Pengembangan Fasilitas Rest Area Istana Maimun untuk menginkatkan Pelayanan

bagi Wisatawan”.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, permasalahan yang akan dibahas

adalah:

1. Bagaimana fasilitas-fasilitas yang dimiliki Istana Maimun untuk

meningkatkan pelayanan bagi wisatawan ?

2. Bagaimana pengembangan rest area di Istana Maimun untuk meningkatkan

pelayanan bagi wisatawan ?


1.4 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam

penelitian ini antara lain :


1. Untuk mengetahui fasilitas di Istana Maimun.
2. Untuk mengetahui fasilitas rest area di istana maimun.

Manfaat Penelitian
1. Manfaat Praktis
Manfaat praktis dalam penelitian ini adalah untuk menjawab dan

memecahkan masalah serta menggunakan apa yang telah dirumuskan yaitu

untuk mengetahui cara pengembangan fasilitas di istana maimun untuk

meningkatkan kualitas pelayanan bagi wisatawan.

2. Manfaat akademis
Manfaat akademisnya adalah daoat dijadikan referensi tambahan dalam

melakukan penelitian yang berkaitan di masa mendatang dan menambah

wawasan serta ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan dunia

pariwisata.

3. Manfaat teoritis
Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca dan kalangan

masyarakat pada umumnya yang nantinya dapat memunculkan ide – ide

baru guna meningkatkan perkembangan kepariwisataan.

1.5 Metode Penilitian

Dalam menyusun kertas karya ini, metode penelitian yang dipakai oleh penulis

adalah:

1. Studi Kepustakaan (Library Reseacrh)


Pengumpulan data yang dilakukan dengan cara membaca dan mempelajari

buku yang berkenan dengan judul karya ilmiah yang dipilih.


2. Studi Lapangan (Field Research)
Pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengadakan penelitian

langsung kelapangan secara obeservasi guna memperoleh informasi lebih

banyak.

1.6 Sistematika Penulisan


Dalam penulisan kertas karya ini secara sistematis dapat diuraikan sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN

Dalam bab ini berisi tentang : Latar belakang masalah, Batasan Masalah,

Rumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Metode penelitian

BAB II : URAIAN TEORITIS


Dalam bab ini berisi tentang uraian teoritis yang mencakup tentang

pengertian pariwisata, pengertian wisatawan, pengertian sarana dan

prasarana pariwisata, pengertian objek wisata, kebijakan pariwisata

nasional

BAB III : GAMBARAN UMUM WISATAWAN DAN ISTANA MAIMUN


Dalam bab ini berisi tentang sejarah istana maimun, sarana wisata,

prasarana wisata, atraksi wisata istana maimun.

BAB IV : PEMABAHASAN
Memaparkan Pengembangan fasilitas istana maimun untuk meningkatkan

pelayanan bagi wisatawan. Peningkatan pelayanan bagi wisatawan di


Istana Maimun. Peran pemerintah ikut serta dalam pengembangan fasilitas

dan peningkatan pelayanan di Istana Maimun .

BAB V : PENUTUP

Berisi Kesimpulan dan Saran.

DAFTAR PUSTAKA

BAB II
URAIAN TEORITIS

2.1 Pariwisata

2.1.1. Pengertian Pariwisata

Menurut Yulianingsih (2010), pariwisata adalah suatu perjalanan yang

dilakukan untuk rekreasi atau liburan. Yang ditunjukkan dengan adanya perjalanan

yang singkat dan sementara dari orang-orang menuju daerah tujuan wisata di luar

tempat kebiasaan mereka hidup dan bekerja dan di luar kegiatan mereka.

Dalam arti modern munurut E. Guyer Freuler (dalam Yulianingsih, 2010),

pariwisata adalah merupakan fenomena dari zaman sekarang yang didasarkan atas

kebutuhan akan kesehatan dan pergantian udara, penilaian yang sadar dan
menumbuhkan (cinta) terhadap keindahan alam dan khususnya disebabkan oleh

bertambahnya pergaulan berbagai bangsa dan kelas masyarakat sebagai hasil daripada

perkembangan perniagaan, industri, perdagangan serta penyempurnaan alat-alat

pengangkutan.

Menurut Ismayanti (2008), pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata

dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat,

pengusaha, dan pemerintah. Pariwisata juga diartikan sebagai kegiatan dinamis yang

melibatkan banyak manusia serta menghidupkan berbagai bidang usaha.

Berdasarkan pengertian para ahli di atas dapat disimpulkan, pariwisata adalah

suatu perjalanan rekreasi atau liburan yang merupakan fenomena dari zaman

sekarang yang didasarkan atas kebutuhan wisatawan yang melibatkan banyak

manusia serta menghidupkan berbagai bidang usaha yang disediakan oleh

masyarakat, pengusaha, dan pemerintah.

2.1.2 Bentuk Pariwisata


Setelah menjelaskan tentang pengertian pariwisata, dibawah ini merupakan

bentuk bentuk wisata agar mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai industri

pariwisata. Bentuk-bentuk pariwisata tersebut dapat dibagi menurut kategori sebagai

berikut:

1. Menurut asal wisatawan


Pertama-tama perlu diketahui apakah wisatawan itu berasal dari dalam
negeri atau luar negeri. Kalau asalnya dari dalam negeri berarti
wisatawan tersebut hanya pindah sementara di dalam lingkungan wilyah
negerinya sendiri dan selama ia mengadakan perjalanan, maka disebut
pariwisata domestic, sedangkan kalau ia datang dari luar negeri disebut
pariwisata internasional.
2. Menurut akibat terhadap neraca pembayaran
Kedatangan wisatawan dari luar negeri adalah membawa mata uang
asing. Pemasukan valuta asing ini berarti memberi dampak positif
terhadap neraca pembayaran luar negeri suatu negara yang
dikunjunginya, yang ini disebut pariwisata aktif. Sedangkan kepergian
seorang warga negara ke luar negeri memberi dampak negatif terhadap
neraca pembayaran luar negerinya, disebut pariwista pasif.
3. Menurut jangka waktu
Kedatangan seorang wisatawan di suatu tempat atau negara
diperhitungkan menurut waktu lamanya ia tinggal di tempat atau negara
yang bersangkutan. Hal ini menimbulkan istilah-istilah pariwisata jangka
pendek dan pariwisata jangka panjang. Istilah ini tergantung kepada
ketentuan-ketentuan yang diberlakukan oleh suatu negara untuk
mengukur pendek atau panjangnya waktu yang dimaksudkan.
4. Menurut jumlah wisatawan
Perbedaan ini diperhitungkan atas jumlah wisatawan yang datang,
apakah wisatawan datang sendiri atau rombongan. Maka timbullah istilah
pariwisata tunggal dan pariwisata rombongan.
5. Menurut alat angkut yang digunakan
Dilihat dari segi penggunaan alat pengangkutan yang dipergunakan oleh
wisatawan, maka kategori ini dapat dibagi menjadi pariwisata udara,
pariwisata laut/air, pariwisata kereta api dan pariwisata mobil.
Pembagian kategori bentuk-bentuk pariwisata ini sifatnya teknis, tetapi dari

segi ekonomi hal ini sangat penting karena klasifikasi ini menentukan sistem

statistik perpajakan dan perhitungan pendapatan industri pariwisata.

2.1.2 Jenis – jenis Pariwisata

Jenis pariwisata perlu dibicarakan untuk menyusun statistic atau data-data

penelitian dan peninjauan yang lebih akurat dalam bidang ini. Setiap orang telah

memaklumi bahwa pembangunan ekonomi modern saat ini tanpa penelitian dan

peninjauan yang sistematik akan menemui kegagalan dan berakibat kerugian serta

pemborosan yang tidak sedikit. Ini berarti jenis jenis pariwisata harus kita ketahui dan

diperhitungkan supaya dapat memberikan pengertian dan tempat wajar dalam

pembangunan. Menurut Pendit (1994), pariwisata dapat dibedakan menurut motif


wisatawan untuk mengunjungi suatu tempat. Jenis-jenis pariwisata tersebut adalah

sebagai berikut

1. Wisata Budaya
Yaitu perjalanan yang dilakukan atas dasar keinginan untuk memperluas
pandangan hidup seseorang dengan jalan mengadakan kunjungan atau
peninjauan ketempat lain atau ke luar negeri, mempelajari keadaan rakyat,
kebiasaan adat istiadat mereka, cara hidup mereka, budaya dan seni mereka.
Seiring perjalanan serupa ini disatukan dengan kesempatan–kesempatan
mengambil bagian dalam kegiatan–kegiatan budaya, seperti eksposisi seni
(seni tari, seni drama, seni musik, dan seni suara), atau kegiatan yang
bermotif kesejarahan dan sebagainya.
2. Wisata Maritim atau Bahari
Jenis wisata ini banyak dikaitkan dengan kegiatan olah raga di air, lebih–
lebih di danau, pantai, teluk, atau laut seperti memancing, berlayar,
menyelam sambil melakukan pemotretan, kompetisi berselancar, balapan
mendayung, melihat–lihat taman laut dengan pemandangan indah di bawah
permukaan air serta berbagai rekreasi perairan yang banyak dilakukan
didaerah–daerah atau negara–negara maritim, di Laut Karibia, Hawaii,
Tahiti, Fiji dan sebagainya. Di Indonesia banyak tempat dan daerah yang
memiliki potensi wisata maritim ini, seperti misalnya Pulau–pulau Seribu
di Teluk Jakarta, Danau Toba, pantai Pulau Bali dan pulau–pulau kecil
disekitarnya, taman laut di Kepulauan Maluku dan sebagainya. Jenis ini
disebut pula wisata tirta.
3. Wisata Cagar Alam (Taman Konservasi)
Untuk jenis wisata ini biasanya banyak diselenggarakan oleh agen atau
biro perjalanan yang mengkhususkan usaha–usaha dengan jalan mengatur
wisata ke tempat atau daerah cagar alam, taman lindung, hutan daerah
pegunungan dan sebagainya yang kelestariannya dilindungi oleh undang–
undang. Wisata ini banyak dikaitkan dengan kegemaran akan keindahan
alam, kesegaran hawa udara di pegunungan, keajaiban hidup binatang dan
marga satwa yang langka serta tumbuh–tumbuhan yang jarang terdapat di
tempat–tempat lain. Di Bali wisata Cagar Alam yang telah berkembang
seperti Taman Nasional Bali Barat dan Kebun Raya Eka Karya
4. Wisata Konvensi
Berbagai negara pada dewasa ini membangun wisata konvensi ini dengan
menyediakan fasilitas bangunan dengan ruangan–ruangan tempat
bersidang bagi para peserta suatu konfrensi, musyawarah, konvensi atau
pertemuan lainnya baik yang bersifat nasional maupun internasional.
Jerman Barat misalnya memiliki Pusat Kongres Internasiona
(International Convention Center) di Berlin, Philipina mempunyai PICC
(Philippine International Convention Center) di Manila dan Indonesia
mempunyai Balai Sidang Senayan di Jakarta untuk tempat
penyelenggaraan sidang–sidang pertemuan besar dengan perlengkapan
modern.
5. Wisata Pertanian (Agrowisata)
Sebagai halnya wisata industri, wisata pertanian ini adalah
pengorganisasian perjalanan yang dilakukan ke proyek–proyek pertanian,
perkebunan, ladang pembibitan dan sebagainya dimana wisatawan
rombongan dapat mengadakan kunjungan dan peninjauan untuk tujuan
studi maupun melihat–lihat keliling sambil menikmati segarnya tanaman
beraneka warna dan suburnya pembibitan berbagai jenis sayur–mayur dan
palawija di sekitar perkebunan yang dikunjungi.
6. Wisata Buru
Jenis ini banyak dilakukan di negeri–negeri yang memang memiliki daerah
atau hutan tempat berburu yang dibenarkan oleh pemerintah dan digalakan
oleh berbagai agen atau biro perjalanan. Wisata buru ini diatur dalam
bentuk safari buru ke daerah atau hutan yang telah ditetapkan oleh
pemerintah negara yang bersangkutan, seperti berbagai negeri di Afrika
untuk berburu gajah, singa, ziraf, dan sebagainya.
7. Wisata Ziarah
Jenis wisata ini sedikit banyak dikaitkan dengan agama, sejarah, adat
istiadat dan kepercayaan umat atau kelompok dalam masyarakat. Wisata
ziarah banyak dilakukan oleh perorangan atau rombongan ke tempat–
tempat suci, ke makam–makam orang besar atau pemimpin yang
diagungkan, ke bukit atau gunung yang dianggap keramat, tempat
pemakaman tokoh atau pemimpin sebagai manusia ajaib penuh legenda.
Wisata ziarah ini banyak dihubungkan dengan niat atau hasrat sang
wisatawan untuk memperoleh restu, kekuatan batin, keteguhan iman dan
tidak jarang pula untuk tujuan memperoleh berkah dan kekayaan
melimpah.

Sesungguhnya daftar jenis–jenis wisata lain dapat saja ditambahkan di sini,

tergantung kapada kondisi dan situasi perkembangan dunia kepariwisataan di suatu

daerah atau negeri yang memang mendambakan industri pariwisatanya dapat meju

berkembang. Pada hakekatnya semua ini tergantung kepada selera atau daya

kreativitas para ahli profesional yang berkecimpung dalam bisnis industri pariwisata

ini.

Makin kreatif dan banyak gagasan–gagasan yang dimiliki oleh mereka yang

mendedikasikan hidup mereka bagi perkembangan dunia kepariwisataan di dunia


ini, makin bertambah pula bentuk dan jenis wisata yang dapat diciptakan bagi

kemajuan industri ini, karena industri pariwisata pada hakikatnya kalau ditangani

dengan kesungguhan hati mempunyai prospektif dan kemungkinan sangat luas,

seluas cakrawala pemikiran manusia yang melahirkan gagasan–gagasan baru dari

waktu–kewaktu. Termasuk gagasan–gagasan untuk menciptakan bentuk dan jenis

wisata baru tentunya.

2.2 Pengertian Wisatawan

Wisatawan adalah orang yang melakukan perjalanan untuk sementara waktu ke

tempat atau daerah yang sama sekal masih asing baginya. Karena jauh dari tempat

tinggalnya, maka ia memerlukan pelayanan sesuai kebutuhan dan keinginannya, yaitu

semenjak ia berangkat sampai di tempat tujuan hingga ia kembali kerumahnya. (Oka

A. Yoeti, 1996:184)

Wisatawan adalah orang yang mengadakan perjalanan dari tempat kediamannya

tanpa menetap di tempat yang didatanginya atau hanya untuk sementara waktu

tinggal di tempat yang didatanginya. Organisasi Wisata Dunia (WTO), menyebut

wisatawan sebagai pelancong yang melakukan perjalanan pendek. Menurut organisasi

ini, wisatawan adalah orang yang melakukan perjalanan ke sebuah daerah atau negara

asing dan menginap minimal 24 jam atau maksimal enam bulan di tempat tersebut

Adapun banyak definisi atau batasan tentang wisatawan yang dikemukakan oleh

para ahli, antara lain :

Soekadijo: 1997 mendefinisikan sebagai berikut.


Wisatawan adalah konsumen atau pengguna produk dan layanan. Perubahan-
perubahan yang terjadi dalam kehidupan mereka berdampak langsung pada
kebutuhan wisata, yang dalam hal ini permintaan wisata.

F. W. Oglivie mendefinisikan wisatawan sebagai berikut:

Wisatawan adalah semua yang memenuhi syarat, yaitu pertama bahwa mereka
meninggalkan rumah kediaman mereka untuk jangka waktu kurang dari satu
tahun dan kedua bahwa sementara mereka berpergian mereke mengeluarkan
uang di tempat yang mereka kunjungi tanpa dengan maksud mencari nafkah
ditempat tersebut.

2.2.1Ciri-ciri wisatawan

Melakukan suatu perjalanan di luar tempat tinggal, sehubungan dengan

berbagai keperluan seperti rekreasi, liburan, kesehatan, pendidikan, tugas-tugas,

pekerjaan, usaha bisnis, kesenian, ilmu pengetahuan, ibadah, olahraga dan

pameran.

Melakukan perjalanan dan persinggahan di tempat lain untuk sementara

waktu tanpa bermaksud untuk memperoleh pengasilan tetap ditempat yang

dikunjungi.

Pengertian wisatawan menurut Pendit (2002) yaitu :

1. Orang-orang yang sedang mengadakan perjalanan untuk bersenang-senang, untuk

keperluan pribadi, untuk keperluan kesehatan dan sebagainya.

2. Orang-orang yang sedang mengadakan perjalanan untuk maksud menghadiri

pertemuan, konferensi, musyawarah, atau di dalam hubungan sebagai utusan

berbagai badan/organisasi (ilmu pengetahuan, administrasi, diplomatik, olahraga,

keagamaan, dan sebagainya).

3. Orang-orang yang sedang mengadakan perjalanan dengan maksud bisnis.


4. Pejabat pemerintah dan orang-orang militer beserta keluarganya yang

mengadakan perjalanan ke negeri lain.

2.2.2. Tipologi Wisatawan

Wisatawan dapat diklasifikasikan dengan menggunakan berbagai dasar, yaitu

atas dasar interaksi dan atas dasar kognitif normatif (Murphy: 1985). Pada

tipologi atas dasar interaksi, penekanannya adalah sifat-sifat interaksi antara

wisatawan dengan masyarakat lokal. Sedangkan tipologi atas dasar konitif-

normatif lebih menekankan pada motivasi yang melatarbelakangi perjalanan.

1. Interaksi (interactional type)

Cohen (1972) mengklasifikasikan wisatawan atas tingkat familiarisasi dari daerah

yang akan dikunjungi, serta tingkat pengorganisasian perjalanan wisatanya. Atas

dasar ini, Cohen menggolongkan wisatawan menjadi empat, yaitu :

1. Drifter, adalah wisatawan yang ingin mengunjungi daerah yang sama


sekali belum diketahuinya, yang berpergian dalam jumlah kecil.
2. Explorer, adalah wisatawan yang melakukan perjalanan dengan mengatur
perjalanannya sendiri, tidak mau mengikuti jalan-jalan wisata yang sudah
umum melainkan mencari hal yang tidak umum.
3. Individual mass tourist, adalah wisatawan yang menyerahkan pengaturan
perjalanannya kepada agen perjalanan, dan mengunjungi daerah tujuan
wisata yang sudah terkenal.
4. Organized mass tourist, adalah wisatawan yang hanya mau mengunjungi
daerah tujuan wisata yang sudah terkenal, dengan fasilitas seperti yang
dapat ditemuinya di tempat tinggalnya, dan dalam perjalanan selalu
dipandu oleh pemandu wisat

1. Kognitif-normatif (cognitive-normative)
Penekanan yang menjadi focus utama adalah pada motivasi yang

melatarbelakangi perjalanan.

Atas dasar ini, plog (1972) Mengembangkan tipologi wisatawan sebagai berikut:

1. Allocentric

Wisatawan yang ingin mengunjungi tempat tempat yang belum

diketahui, bersifat petualang, dan memanfaatkan fasilitas disediakan

oleh masyarakat sekitar.

2. Psychocentric

Wisatawan yang hanya mau mengunjungi daerah tujuan wisata yang

sudah mempumyai fasilitas dengan standart yang sama dengan

negaranya sendiri.

2. Mid-centric

Terletak diantara allocentric dan psychocentric.

2.2.3 Motivasi wisatawan

Pada dasarnya seseorang melakukan perjalanan dimotivasi oleh beberapa hal.

Dari berbagai motivasi yang mendorong perjalanan, McIntosh (1977) dan Murphy

(1985, ef. Sharply, 1994) mengatakan bahwa motivasi dapat dikelompokkan menjadi

empat kelompok besar yaitu sebagai berikut:

1. Physical or physiological motivation (motivasi yang bersifat fisik atau

fisiologis), antara lain unt`uk relaksasi, kesehatan, kenyamanan,

berpartisipasi dalam kegiatan olah raga, bersantai dan sebagainya.


2. Cultural motivation (motivasi budaya), yaitu keinginan untuk mengetahui

budaya, adat, tradisi dan kesenian daerah lain. Termasuk juga ketertarikan

akan berbagai objek tinggalan budaya (banggunan bersejarah).


3. Social motivation atau interpersonal motivation (motivasi yang bersifat

sosial), seperti mengunjungi teman dan keluarga, menemui mitra kerja,

melakukan hal yang dianggap mendatangkan gengsi (nilai prestise),

melakukan ziarah, pelarian dari situasi-situasi yang membosankan dan

sebagainya.
4. Fantasy motivation (motivasi karena fantasi), yaitu adanya fantasi bahwa

di daerah lain seseorang kan bisa lepas dari rutinitas keseharian yang

menjemukan, dan ego-enhancement yang memberikan kepuasan

psikologis. Disebut juga sebagai status and prestige motivation.


Motivasi perjalanan seseorang dipengaruhi oleh faktor internal wisatawan itu

sendiri dan faktor eksternal. Secara intrinsik, motivasi terbentuk karena adanya

kebutuhan dan/atau keinginan manusia itu sendiri, sesuai dengan teori hirarki

kebutuhan Maslow. Kebutuhan tersebut dimulai dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan

keamanan, kebutuhan sosial, kebutuhan prestise dan kebutuhan akan aktualisasi diri.
Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang terbentuknya dipengaruhi oleh faktor-

faktor eksternal, seperti norma sosial, pengaruh atau tekanan keluarga dan situasi

kerja yang terinternalisasi dan kemudian berkembang menjadi kebutuhan psikologis.

Motivasi wisatawan untuk melepaskn diri sejenak dari kegiatan rutin berfungsi untuk

melepaskan diri sejenak dari kegiatan rutinuntuk mengembalikan harmoni di

masyarakat, sehingga pariwisata dapat dipandang sebagai salah satu bentuk terapi

sosial.
Motivasi merupakan faktor penting bagi calan wisatawan di dalam mengambil

keputusan mengenai daerah tujuan wisata yang akan dikunjungi. Calon wisatawan

akan mempersepsi daerah tujuan wisata yang memungkinkan, di mana persepsi ini

dihasilkan oleh preferensi individual, pengalaman sebelumnya dan informasi yang

didapatkannya.
Apapun motivasi seseorang melakukan perjalanan wisata, maka bagi seorang

wisatawan perjalanan tersebut akan mempunyai beberapa manfaat, antara lain sebagai

berikut:
1. Perjalanan wisata merupakan wahana penyegaran dan regenerasi fisik dan

mental.
2. Perjalanan wisata merupakan kompensasi terhadap berbagai hal yang

melelahkan, sekaligus juga sebagai wahana integrasi sosial bagi mereka yang

di rumahnya merasa teralienasi.


3. Perjalanan wisata merupakan pelarian dari situasi keseharian yang penuh

ketegangan, rutinitas yang menjemukan, atau kejenuhan-kejenuhan karena

beban kerja.
4. Perjalanan wisata merupakan mekanisme bagi seseorang untuk dapat

mengeluarkan perasaannya, melalui komunikasi dengan orang lain termasuk

dengan masyarakat lokal.


5. Perjalanan wisata merupakan wahana untuk mengembangkan wawasan.
6. Perjalanan wisata merupakan wahana untuk mendapatkan kebebasan.
7. Perjalanan wisata merupakan wahana untuk realisasi diri.
8. Perjalanan wisata memang merupakan sesuatu yang menyenagkan,

membuat hidup lebih bahagia.

2.2.4 Jenis – Jenis Wisatawan


Banyak wisatawan yang datang ke Indonesia dengan tujuan untuk berlibur

menikmati keindahan alam. Wisatawan juga memiliki karateristik dan dapat dibagi

dalam berbagai jenis yaitu:


1. Wisatawan asing

Adalah orang asing yang melakukan perjalanan wisata, yang datang

memasuki Negara lain yang bukan merupakan Negara dimana dia tinggal.

2. Domestic foreign tourist

Adalah orang asing yang berdiam pada suatu Negara, yang melakukan

perjalanan wisata di wilayah Negara dimana dia tinggal.

3. Domestic tourist

Adalah orang yang melakukan perjalanan wisata dalam batas wilayah

Negaranya sendiri tanpa melewati batas.

4. Indigenous foreign tourist

Adalah warga Negara suatu Negara tertentu karena tugasnya atau

jabatannya di luar negeri, pulang ke Negara asal dan melakukan

perjalanan wisata di wilayah Negara sendiri.

5. Transit tourist

Adalah wisatawan yang sedang melakukan perjalanan wisata ke suatu

Negara tertentu, yang menumpang kapal udara atau laut atau kereta api,

yang terpaksa singgah ke suatu pelabuhan / airport / stasiun bukan atas

kemauannya sendiri.

6. Business tourist

Adalah orang yang melakukan perjalanan wisata setelah tujuan utamanya

selesai.

Tujuan dari para wisatawan tersebut adalah sebagai berikut:


Untuk menggunakan waktu senggang, baik dipergunakan untuk rekreasi

(berlibur), keperluan kesehatan, pelajaran dan pengetahuan, serta untuk menjalankan

ibadah maupun olahraga.Untuk keperluan usaha atau bisnis, kunjungan keluarga,

menjalankan tugas-tugas serta meghandiri konferensi. Jika seseorang mengadakan

perjalanan kurang dari dua puluh empat jam, digolongkan kedalam kategori

Pelancong. Para wisatawan ini dibedakan menjadi wisatawan domestik atau

wisatawan nusantara (Wisdom atau Wisnus) dan wisatawan mancanegara atau

wisatawan asing (wisman).

2.3 Pengertian Prasaran dan sarana Pariwisata

2.3.1 Prasarana Pariwisata

Prasarana pariwisata adalah semua fasilitas utama atau dasar yang

memungkinkan sarana kepariwisataan dapat hidup dan berkembang dalam rangka

memberikan pelayanan kepada para wisatawan.

Termasuk prasarana pariwisata:

1. Prasarana perhubungan, meliputi: jalan raya, jembatan dan terminal bus, rel

kereta api dan stasiun, pelabuhan udara (air-port) dan pelabuhan laut (sea

port/harbour)

2. Instalasi pembangkit listrik dan instalasi air bersih.

3. Instalasi penyulingan bahan bakar minyak.

4. Sistem pengairan atau irigasi untuk kepentingan pertanian, peternakan dan

perkebunan.

5. Sistem perbankan dan moneter.


6. Sistem telekomunikasi seperti telepon, pos, telegraf, faksimili, telex,

email, dan lain.

7. Prasarana kesehatan seperti rumah sakit dan pusat kesehatan masyarakat.

8. Prasarana, keamanan, pendidikan dan hiburan.

2.3.2 Sarana Pariwisata

Sarana Pariwisata adalah fasilitas dan perusahaan yang memberikan

pelayanan kepada wisatawan baik secara langsung maupun tidak langsung. Maju

mundurnya sarana kepariwisataan tergantung pada jumlah kunjungan wisatawan.

Sarana pariwisata meliputi:

1. Perusahaan perjalanan seperti travel agent, dan tour operator

2. Perusahaan transportasi, terutama transportasi angkutan wisata

3. Biro perjalanan wisata

1. Biro perjalanan wisata

Perusahaan yang menyelenggarakan kegiatan paket wisata. Kegiatan usaha

biro perjalanan wisata:

1. Menyusun dan menjual paket wisata luar negeri atas dasar permintaan.

2. Menyelenggarakan atau menjual pelayaran wisata (cruise).

3. Menyusun dan menjual paket wisata dalam negeri kepada umum atau atas

dasar permintaan.

4. Menyelenggarakan pemanduan wisata.

5. Menyediakan fasilitas untuk wisatawan.

6. Menjual tiket/karcis sarana angkutan, dan lain-lain.

7. Mengadakan pemesanan sarana wisata.


8. Mengurus dokumen-dokumen perjalanan sesuai dengan peraturan yang

berlaku.

2. Agen perjalanan wisata

Perusahaan yang melakukan kegiatan penjualan tiket (karcis), sarana

angkutan, dan lain-lain serta pemesanan sarana wisata

Kegiatan Agen perjalanan wisata:

1.Menjual tiket, dan lain-lain

2.Mengadakan pemesanan sarana wisata

3.Mengurus dokumen-dokumen perjalanan sesuai dengan peraturan yang

berlaku.

3. Cabang biro perjalanan umum

Satuan-satuan usaha dari suatu Biro Perjalanan Umum Wisata yang

berkedudukan di tempat yang sama atau ditempat lain yang memberikan pelayanan

yang berhubungan dengan perjalanan umum.

2.4 Pengertian Objek Wisata

Dalam dunia pariwisata, objek wisata merupakan suatu hal yang spesifik yang

dipilih seseorang pengunjung untuk dikunjungi atau menetap selama waktu tertentu.

Dalam hal ini objek wisata adalah salah satu alasan pengunjung melakukan

perjalanan something to see.

Mengenai pengertian objek wisata dapat kita liat dari beberapa acuan diantaranya:

1. Peraturan pemerintah No.24/1979


Menjelaskan : “…objek wisata adalah perwujudan dari ciptaan manusia, tata

hidup, senibudaya serta sejarah bangsa dan tempat keadaan alam yang

mempunyai daya tari untuk dikunjungi”.

2. Menurut SK MENPARPOSTEL No.: KM. 98/PW.102/MPPT-87, objek wisata

adalah semua tempat atau keadaan alam yang memiliki sumber daya wisata

yang dibangun dan dikembangkan sehingga mempunyai daya tarik dan

diusahakan sebagai tempat yang dikunjungi wisatawan.

Seorang wisatawan yang dating berkunjung ke suatu daerah objek wisata

dengan alasan dan tujuan tertentu demi mencapai kepuaswan dan mencari

manfaat dari kunjungannya. Manfaat dan kepuasaan itu ditentukan oleh dua factor

yang saling berkaitan, yaitu tourism resource sama dengan objek dan atraksi

wisata.

Suatu obyek daya tarik wisata pada pinsipnya harus memenuhi tiga persyaratan

berikut:

1. Something to see (ada yang dilihat)

2. Something to do (ada yang dikerjakan)

3. Something to buy (ada yang dibeli/suvenir)

2.4.1 Jenis objek wisata

Kegiatan pengunjung atau wisatawan melakukan perjalanan atau wisata sudah

tentu terdapat objek, dalam hal objek wisata, wisatawan banyak memilih jenis objek

wisata apa yang menjadi tujuan untuk berwisata. Dibawah ini adalah pembagian
beberapa objek wusata yang di jelaskan oleh P.Warpani dan Suwardjoko dalam buku

pariwisata dalam Tata Ruang (2007: 76), diantaranya adalah :

1. Objek Wisata Alam

Objek wisata alam adalah sumber daya alam yang berpotensi serta memiliki

daya tarik bagi pengunjung baik dalam keadaan alami maupun setelah ada

usaha budi daya. Potensi onjek wisata alam dapat dibagi menjadi empat

kawasam yaitu:

1. Flora dan fauna

2. Keunikan dan kekhasan ekosistem, misalnya ekosistem pantai dan

ekosistem hutan bakau

3. Gejala alam, misalnya kawah, sumber air panas, air terjun dan

danau.

4. Budidaya sumber daya alam, misalnya sawah, perkebunan,

peternakan, dan usaha perikanan

2. Objek Wisata Sosial Budaya

Objek wisata sosial budaya dapat dimanfaatkan dan dikembangkan sebagai

objek dan daya tarik wisata meliputi museum, peninggalan sejarah, situs

arkeologi, upacara adat, kerajinan dan seni pertunjukkan.

3. Objek Wisata Minat Khusus


Objek wisata minat khusus merupakan jenis wisata yang baru

dikembangkan di indonesia. Wisata ini lebih diutamakan pada wisatawan

yang mempunyai motivasi khusus.

2.4.2 Faktor Pendukung Objek Wisata

Pengunjung atau wisatawan yang dating ke objek wisata merupakan hal

terpenting dalam perkembangan suatu objek wisata. Jumlah kunjungan

wisatawan yang tinggi menunjukkan ketertarikan wisatawan akan suatu objek

begitu bagus, begitu pula sebaliknya. Maka dari pada itu, Oka A. Yoeti

(1997:165) berpendapat bahwa berhasilnya suatu tempat wisata hingga

tercapainya industry wisata sangat bergantung pada tiga A (3A), yaitu atraksi,

akses, dan fasilitas

1. Atraksi (Atrraction)
Atraksi wisata yaitu sesuatu yang dipersiapakan terlebih dahulu agar dapat
dilihat, dinikmati dan yang termasuk dalam hal ini adalah : tari tarian, lagu
kesenian rakyat, upacara adat, dan lain lain. Dalam Oka A. Yoeti
(1997:172) tourism disebut attractive spontance, segala sesuatu yang
terdapat di daerah tujuan wisata yang merupakan daya tarik agar orang
mau datang berkunjung ke suatu tempat tujuan wisata diantaranya adalah :
1. Benda-benda yang tersedia dan terdapat di alam semesta, yang
dalam istilah Natural Aminities.
 Iklim contohnya curah hujan, sinar matahari, panas
 Hutan belukar
 Flora dan fauna yang tersedia di cagar alam dan gunung api
2. Hasil ciptaan manusia (man made supply). Kelompok ini dapat
dibagi menjadi empat produk wisata yang berkaitan dengan tiga
unsure penting yaitu historical (sejarah), cultural(budaya), dan
religious(agama)
 Monument bersejarah dan sisa peradaban masa lampau
 Acara tradisional, pameran, festival
2. Aksesibilitas (accessibility)
Aktivitas kepariwisataan banyak tergantung pada transportasi dan
komunikasi karena factor jarak dan waktu yang sangat mempengaruhi
keinginan seseorang untuk melakukan perjalan wisata. Unsur yang
terpenting dalam aksesibilitas adalah tranportasi
3. Fasilitas (amanities)
Fasilitas kepariwisataan tidak akan terpisah dari akomodasi perhotelan.
Karena pariwisata tidak akan pernah berkembang tanpa penginapan.
Fasilitas wisata merupakan hal hal penunjang terciptanya kenyamanan
wisatawan untuk dapat mengunjungi suatu daerah tujuan wisata. Adapun
sarana terpenting yang berkaitan dengan perkembangan pariwisata adalah
sebagai berikut:
1. Akomodasi perhotelan
2. Restoran
3. Air bersih
4. Komunikasi
5. Hiburan
6. keamanan