Anda di halaman 1dari 10

Menghitung Kebutuhan Besi pada Pekerjaan Bore Pile dan Strauss Pile

Oleh : Angga Nugraha, ST


Alumni Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB
Email : angganugraha.sil47@gmail.com
Website : angganugraha.com

Hai Salam Semangat !.

Kali ini saya akan membahas mengenai cara menghitung kebutuhan besi dalam
pekerjaan bore pile. Apa itu bore pile dan Strauss Pile?, Bore pile adalah salah satu
jenis pekerjaan pondasi dalam, yang dimana pelaksanaan pekerjaannya dilakukan
langsung di site/lapangan, baik dari mulai tahap pengeboran tanah - tahap bekisting -
tahap pembesian, sampai tahap pengecorannya. Sedangkan Strauss Pile adalah jenis
pondasi dangkal, untuk cara pembuatannya pun hampir sama dengan bore pile akan
tetapi alat yang digunakan lebih sederhana. Umumnya bore pile dan strauss pile ini
berbentuk tabung yaitu alasnya berupa lingkaran dan memiliki tinggi tertentu.
Lalu mengapa saya membahas mengenai cara pembesian untuk bore pile dan
strauss pile ini, yaitu karena umumnya jenis pembesian pada bore pile atau strauss
pile ini, khususnya untuk tulangan sengkang/begel berbentuk seperti spiral / melilit
secara melingkar. Sebetulanya bentuk sengkang seperti ini tidak hanya pada bore pile
atau strauss pile, namun terkadang juga bisa terdapat pada jenis kolom bulat ataupun
jenis pekerjaan lainnya yang bentuknya bulat. Contoh pembesian sengkang yang
seperti spiral / melilit secara melingkar adalah sebagai berikut :

Gambar 1. Bentuk Strauss Pile


Sumber gambar : http://strausspileborpile.blogspot.com/2016/09/borpile-murah.html

Pada gambar tersebut, jenis tulangan pembesian pada strauss pile terdiri dari
tulangan utama (yang memanjang), dan tulangan sengkang/begel (yang melingkar).
Adapun pengertian secara sederhana mengenai tulangan utama yaitu tulangan yang
berfungsi menahan gaya tarik yang terjadi pada beton, sedangkan sengkang/begel
sebagai pengikat tulangan utama serta berfungsi untuk menahan gaya geser yang
terjadi pada beton. Umumnya besi tulangan utama memiliki diameter lebih besar
dibanding besi tulangan sengkang/begel.
Sebelum ke materi perhitungan, terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai hal-hal
dasar berdasarkan SNI 07-2052-2002 tentang Baja Tulangan Beton. Berdasarkan SNI
tersebut, baja tulangan dibagi menjadi 2 jenis yaitu Baja tulangan beton polos (BjTP)
dan Baja tulangan beton sirip (BjTS).
1. BjTP
Baja tulangan beton berpenampang bundar dengan permukaan rata tidak
bersirip.

Gambar 2. BjTP atau Besi Polos


Sumber gambar : http://www.karya-logam.com/51/product-details-of/besi-beton-polos.html

2. BjTS
Baja tulangan beton berpenampang bundar dengan permukaan bersirip yang
berfungsi untuk meningkatkan daya lekat agar dapat menahan gerakan membujur
secara relatif terhadap beton. BjTS ini umumnya dilapangan sering juga disebut
sebagai besi ulir.

Gambar 3. BjTS atau Besi Ulir


Sumber gambar : https://www.indotrading.com/product/besi-ulir-p308966.aspx
Berdasarkan standar berat jenis besi yang didapat dari penelitian dengan sistem
rata-rata yaitu mengambil beberapa sampel besi untuk dicari berapa beratnya dalam
satuan meter kubik, berat standar jenis besi adalah 7850 kg/m3.
Sedangkan berdasarkan tabel SNI, berat besi per meter untuk besi polos dan ulir
adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Berat Besi Polos per Meter untuk Beberapa Ukuran

Sumber : SNI 07-2052-2002

Tabel 2. Berat Besi Polos per Meter untuk Beberapa Ukuran

Sumber : SNI 07-2052-2002


Dari tabel-tabel tersebut, dapat dilihat bahwa ukuran besi yang tersedia di
pabrikan untuk besi tulangan polos memiliki ukuran minimum diameter 6 mm dan
maksimum diameter 50 mm. Sedangkan untuk besi tulangan sirip/ulir memiliki
ukuran minimum diameter 6 mm dan maksimum diameter 57 mm. Pada tabel tersebut
juga dituliskan untuk setiap masing-masing ukuran diameter besi memiliki berat
nominal per meter berbeda-beda. Biasanya dalam pekerjaan konstruksi bangunan,
pelaksana pekerjaan menghitung jumlah kebutuhan total besi dengan cara
mengkalikan total panjang besi yang dibutuhkan dengan nilai berat nominalnya
sehingga didapatlah nilai total akhir dalam satuan kg atau ton.
Mengapa pemesanan besi di pabrikan harus dihitung dalam satuan berat seperti kg
atau ton. Hal ini didasarkan oleh kapasitas alat transportasi yang akan mengangkut
besi tulangan tersebut dari pabrik menuju site/lapangan. Karena dalam peraturan lalu
lintas, setiap kendaraan terutama mobil-mobil angkut memiliki batas kapasitas
maksimum berat barang yang diijinkan untuk dibawa. Lalu, darimana dasar angka-
angka berat nominal tersebut didapat, dan mengapa setiap ukuran diameter besi
memiliki berat nominal yang berbeda.
Pada bahasan sebelumnya, sudah dijelaskan bahwa standar berat jenis besi adalah
7850 kg/m3. Lalu bentuk besi adalah serupa dengan tabung, sehingga dapat digunakan
rumus matematika untuk menghitung volume tabung yaitu :

…….………………….……….(Persamaan 1, Rumus Volume Tabung)


…….………………..(Persamaan 2, Rumus Berat Jenis atau Densitas)
Keterangan : V = Volume (satuan m3)
µ = 22/7 atau 3.14 (tanpa satuan)
d = Diameter Besi (satuan m’)
t = Panjang Besi (satuan m’)
ρ = Berat jenis besi (satuan kg/m3)
m = Berat besi (satuan kg)

Contoh perhitungan :
Diketahui = Sebuah proyek membutuhkan besi ulir berdiameter 10 mm sebanyak
20 batang dan 10 batang besi polos berukuran 6 mm (catatan 1
batang besi adalah 12 m’) untuk memasang kolom utama rumah.
Ditanyakan = Berapa ton besi yang harus dipesan?
Jawabannya =

Cara 1 menggunakan tabel SNI:


Berat besi polos diameter 6 mm = 0.222 kg/m’
Berat besi ulir diameter 10 mm = 0.617 kg/m’
Panjang kebutuhan besi polos 6 mm = 10 batang = 10 batang x 12 m’ = 120 m’
Panjang kebutuhan besi ulir 10 mm = 20 batang = 20 batang x 12 m’ = 240 m’

Sehingga
berat besi polos 6 mm = 0.222 kg/m’ x 120 m’ = 26.64 kg
berat besi ulir 10 mm = 0.617 kg/m’ x 240 m’ = 148.08 kg

Cara 2 tanpa menggunakan tabel SNI (dengan cara berat jenis dan vol tabung):
a. Berat besi polos diameter 6 mm
Diameter besi 6 mm = 0.006 m’
Panjang kebutuhan besi polos 6 mm = 10 batang = 10 batang x 12 m’ = 120 m’
Berat jenis besi = 7850 kg/m3

m3

b. Berat besi polos diameter 10 mm


Diameter besi 10 mm = 0.010 m’
Panjang kebutuhan besi polos 10 mm = 20 batang = 20 batang x 12 m’ = 240 m’
Berat jenis besi = 7850 kg/m3

m3

Dari kedua cara tersebut, didapatlah hasil akhir yang hampir sama, mungkin
hanya ada sedikit perbedaan untuk nilai koma dibelakangnya saja. Apabila cara-cara
tersebut sudah paham, maka dapat dilanjut untuk menghitung kebutuhan besi tulangan
yang lebih komplek, salah satunya adalah menghitung kebutuhan besi pada pekerjaan
bore pile/staruss pile.
Dibawah ini terdapat gambar pembesian strauss pile dengan besi tulangan utama
berdiameter ulir 16 mm dan tulangan sengkang/begel berdiameter ulir 13 mm dengan
cara pemasangan begelnya yaitu dililit seperti spiral.
Gambar 3. Strauss Pile
Sumber gambar : by me

Sebagai catatan, penamaan pada gambar diatas seperti pada tulangan utama 8D16
artinya :
8 = tulangan utama berjumlah 8 buah
D = simbol dari jenis besi ulir
16 = besi yang digunakan berdiameter 16 mm

Apabila tulangan utama bertuliskan 8Ø16 artinya :


8 = tulangan utama berjumlah 8 buah
Ø = simbol dari jenis besi polos
16 = besi yang digunakan berdiameter 16 mm

Lalu penamaan pada gambar diatas untuk tulangan begel/sengkang D13-150 artinya :
D = simbol dari jenis besi ulir
13 = besi yang digunakan berdiameter 13 mm
150 = jarak pemasangan begel adalah per 150 mm

Apabila begel/sengkang bertuliskan Ø13-150 artinya :


Ø = simbol dari jenis besi polos
13 = besi yang digunakan berdiameter 13 mm
150 = jarak pemasangan begel adalah per 150 mm
Pada gambar 3 tersebut, kedalaman strauss pile adalah 6000 mm atau 6 m’,
dengan diameter strauss pile adalah 500 mm atau 0.5 m’ dan jarak tahu beton / beton
decking 50 mm atau 0.05 m’. Beton decking adalah beton yang digunakan sebagai
spesi/pemisah antara permukaan luar beton dengan besi, sehingga dapat menghindari
interaksi langsung antara besi dengan udara luar sehingga dapat meminimalisir
terjadinya karat / korosi pada besi tulangan.
Jenis pembesian pada gambar tersebut terutama pada bagian sengkang/begel
adalah spiral sehingga cara perhitungan panjangnya harus menggunakan rumus
panjang lilitan spiral yaitu :

Gambar 4. Bentuk Spiral


Sumber gambar : https://brilliantfantasy.wordpress.com/2016/09/26/rumus-panjang-lilitan-spiral/

√( ) ………..(Persamaan 3, Rumus Panjang Lilitan Spiral)

Keterangan : L = Panjang Lilitan (satuan m’)


µ = 22/7 atau 3.14 (tanpa satuan)
D = Diameter Beton dikurangi beton decking (satuan m’)
h = Kedalaman Cor (satuan m’)
h1 = Jarak antar Begel (satuan m’)

Contoh perhitungan untuk menghitung jumlah besi strauss pile pada gambar 3:
Diketahui = a. Tulangan Utama (8D16)
 Diameter besi = 16 mm atau 0.016 m’
 Jenis Besi = ulir
 Jumlah = 8 buah
 Berat D16 per meter = 1.58 kg/m’
b. Tulangan Sengkang (D13-150)
 Diameter besi = 13 mm atau 0.013 m’
 Jenis Besi = ulir
 Jarak antar begel = 150 mm atau 0.15 m’
 Berat D13 per meter = 1.04 kg/m’
 Jumlah = 1 bh

c. Ukuran beton Strauss Pile


 Kedalaman = 6 m’
 Diameter Beton = 500 mm atau 0.5 m’
 Ukuran Decking = 50 mm atau 0.05 m’
 Jumlah beton strauss = 1 bh

d. Persyaratan Pembesian
 Overlap antar besi = 40D atau
(40 x ukuran diameter besi)
 Panjang Lewatan Ujung Atas = 50D atau
(50 x ukuran diameter besi)
 Tekukan Ujung Atas 90° = 12D atau
(12 x ukuran diameter besi)
Tekukan Ujung Atas 90°
Panjang Lewatan Ujung Atas

Overlap antar besi itu jika panjang besi


Lebih dari 12 m’, maka perlu disambung
dengan besi lainnya sehingga penyambungan
tersebut diperlukan overlap sambungan agar
kuat dan saling mengikat

Ditanyakan = Berapa berat total besi yang dibutuhkan untuk strauss pile tersebut?
Jawabannya =
a. Panjang Besi Tulangan Utama
Panjang 1 buah besi = Kedalaman Beton + Panjang Lewatan Ujung Atas +
Tekukan Ujung 90°
= 6 m’ + 50D + 12D
= 6 m’ + (50 x 0.016) m’ + (12 x 0.016) m’
= 6 m’ + 0.8 m’ + 0.192 m’
= 6.992 m’

Berat 1 buah besi = 6.992 m’ x 1.58 kg/m’


= 11.05 kg

Berat 8 buah besi = 8 buah x 11.05 kg/buah


= 88.40 kg

b. Panjang Besi Begel / Sengkang


Panjang 1 buah besi = √( )

= √( )

= √

= √

= √

= √

Catatan karena panjang besi tersebut adalah 50.60 m’, maka besi tersebut perlu
ditambahkan overlap sambungan, karena panjang maksimumbesi 1 batang adalah 12
m’. Sehingga jumlah overlapnya sebanyak :

Banyaknya overlap = (Panjang total besi awal /12 m’) – 1 bh

= ((50.60 m’/12 m’) – 1 bh)

= 3.2 bh

= 4 bh
(dibulatkan ke atas untuk menghitung jumlah overlap)

Panjang total overlap = Banyaknya overlap x 40D

= 4 bh x (40 x 0.013)

= 4 x 0.52

= 4.52 m’

Sehingga panjang 1 buah besi begel = panjang overlap + panjang besi awal

= 4.52 m’ + 50.60 m’

= 55.12 m’

Berat 1 buah begel = 55.12 m’ x 1.04 kg/m’

= 57.32 kg

Kesimpulan :

Jumlah kebutuhan besi untuk strauss pile pada gambar 3 adalah :

Besi Tulangan Utama (D16) = 88.40 kg

Besi Begel / Sengkang (D13) = 57.32 kg