Anda di halaman 1dari 9

.

Cara Memilih Benih Padi Yang Baik

Benih bermutu merupakan salah satu komponen teknologi yang penting untuk meningkatkan produksi
dan pendapatan usahatani padi. Saat ini dapat diperoleh berbagai varietas unggul yang memiliki
karakteristik sesuai dengan kondisi wilayah dan keinginan pasar. Varietas unggul mempunyai
keunggulan sepeti potensi hasil tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit, toleran terhadap cekaman
lingkungan. Dengan menggunakan benih bermutu/varietas unggul akan diperoleh bibit sehat, tegar
(vigor tinggi) dengan perakaran banyak, bibit lebih cepat tumbuh dan bibit tumbuh seragam. Cara
memilih benih yang baik dimana benih direndam dalam larutan ZA 20 gr/liter air, kemudian benih yang
mengambang/mengapung dibuang. Dan benih yang tenggelam adalah benih yang baik untuk
dibudidayakan.

Loading...

B. Persiapan Persemaian dan Cara Menyemai Benih Padi

Cara SEMAI BENIH Padi

Persemaian Bibit Padi

1. Buat bedengan dengan lebar 1,0 -1,2 m dan panjang disesuaikan dengan keperluan.

2. Luas persemaian untuk 1 hektar lahan adalah 400m2 (4 % dari luas tanam), dan drainase harus baik.

3. Tambahkan 2 kg bahan organik seperti kompos, pupuk kandang, serbuk kayu dan sekam yang sudah
melapuk/abu).

4. Persemaian dilakukan 25 hari sebelum masa tanam, persemaian dilakukan pada lahan yang sama atau
berdekatan dengan petakan sawah yang akan ditanami, hal ini dilakukan agar bibit yang sudah siap
dipindah, waktu dicabut dan akan ditanam mudah diangkut dan tetap segar. Bila lokasi jauh maka bibit
yang diangkut dapat stress bahkan jika terlalu lama menunggu akan mati.

5. Benih yang dibutuhkan untuk ditanam pada lahan seluas 1 ha sebanyak 20 Kg.

6. Benih yang hendak disemai sebelumnya harus direndam terlebih dahulu secara sempurna sekitar 2 x
24 jam, dalam ember atau wadah lainnya. Hal ini dilakukan agar benih dapat mengisap air yang
dibutuhkan untuk perkecambahannya.
7. Bedengan persemaian dibuat seluas 100 m2/20 Kg. lahan untuk persemaian ini sebelumnya harus
diolah terlebih dahulu, pengolahan lahan untuk persemaian ini dilakukan dengan cara pencangkulan
hingga tanah menjadi lumpur dan tidak lagi terdapat bongkahan tanah.

8. Lahan yang sudah halus lumpurnya ini kemudian dipetak-petak dan antara petak-petak tersebut
dibuat parit untuk mempernudah pengaturan air.

9. Benih yang sudah direndam selama 2 x 24 jam dan sudah berkecambah ditebar dipersemaian secara
hati-hati dan

merata, hal ini didimaksudkan agar benih yang tumbuh tidak saling bertumpukan.

10. Benih tidak harus terbenam kedalam tanah karena dapat menyebabkan kecambah terinfeksi
pathogen (penyebab penyakit tanaman) yang dapat menyebabkan busuknya kecambah.

11. Pemupukan lahan persemaian dilakukan kira-kira pada umur satu minggu benih setelah ditanam
(tabur). Kebutuhan pupuk yang digunakan yaitu 2,5Kg Urea, 2,5Kg SP36 dan 1Kg KCL.

C. Cara Pengolahan Tanah Untuk Persiapan Lahan BUDIDAYA PADI Sawah

Cara Mengolah LAHAN PADI

Pengolahan lahan padi (Foto by : Asrul arul)

Pengolahan bertujuan untuk mengubah sifat fisik tanah agar lapisan yang semula keras menjadi datar
dan melumpur. Dengan begitu gulma akan mati dan membusuk menjadi humus, aerasi tanah menjadi
lebih baik, lapisan bawah tanah menjadi jenuh air sehingga dapat menghemat air. Pada pengolahan
tanah sawah ini, dilakukan juga perbaikan dan pengaturan pematang sawah serta selokan. Pematang
(galengan) sawah diupayakan agar tetap baik untuk mempermudah pengaturan irigasi sehingga tidak
boros air dan mempermudah perawatan tanaman. Tahapan pengolahan tanah sawah pada prinsipnya
mencakup kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

a. Pembersihan
Pematang sawah dibersihkan dari rerumputan, diperbaiki, dan dibuat agak tinggi. Fungsi utama
pematang disaat awal untuk menahan air selama pengolahan tanah agar tidak mengalir keluar petakan.
Fungsi selanjutnya berkaitan erat dengan pengaturan kebutuhan air selama ada tanaman padi.Saluran
atau parit diperbaiki dan dibersihkan dari rerumputan. Kegiatan tersebut bertujuan agar dapat
memperlancar arus air serta menekan jumlah biji gulma yang terbawa masuk ke dalam petakan. Sisa
jerami dan sisa tanaman pada bidang olah dibersihkan sebelum tanah diolah. Jerami tersebut dapat
dibakar atau diangkut ke tempat lain untuk pakan ternak, kompos, atau bahan bakar. Pembersihan sisa–
sisa tanaman dapat dikerjakan dengan tangan dan cangkul

b. Pencangkulan

Setelah dilakukan perbaikan pematang dan saluran, tahap berikutnya adalah pencangkulan. Sudut–
sudut petakan dicangkul untuk memperlancar pekerjaan bajak atau traktor. Pekerjaan tersebut
dilaksanakan bersamaan dengan saat pengolahan

tanah.

c. Pembajakan

Pembajakan dan penggaruan merupakan kegiatan yang berkaitan. Kedua kegiatan tersebut bertujuan
agar tanah sawah melumpur dan siap ditanami padi. Pengolahan tanah dilakukan dengan dengan
menggunakan mesin traktor. Sebelum dibajak, tanah sawah digenangi air agar gembur. Lama
penggenangan sawah dipengaruhi oleh kondisi tanah dan persiapan tanam.

Pembajakan biasanya dilakukan dua kali. Dengan pembajakan ini diharapkan gumpalan–gumpalan tanah
terpecah menjadi kecil–kecil. Gumpalan tanah tersebut kemudian dihancurkan dengan garu sehingga
menjadi lumpur halus yang rata. Keuntungan tanah yang telah diolah tersebut yaitu air irigasi dapat
merata. Pada petakan sawah yang lebar, perlu dibuatkan bedengan–bedengan. Antara bedengan satu
dengan bedeng lainnya berupa saluran kecil. Ujung saluran bertemu dengan parit kecil di tepi pematang
yang berguna untuk memperlancar air irigasi.

D. Pelaksanaan Penanaman Bibit PADI SAWAH

Cara MENANAM BIBIT Padi

Penanaman BIBIT PADI (Foto by : Nurhadiyati)

Setelah persiapan lahan beres maka bibit pun siap ditanam. Bibit dianjurkan untuk ditanam semuda
mungkin, biasanya dipindah saat umur 20 hari. Ciri bibit yang siap dipindah ialah berdaun 5-6 helai,
tinggi 22-25 cm, batang bawah besar dan keras, bebas dari hama dan penyakit sehingga
pertumbuhannya seragam. Bibit ditanam dengan cara dipindah dari bedengan persemaian ke petakan
sawah, dengan cara bibit dicabut dari bedengan persemaian dengan menjaga agar bagian akarnya
terbawa semua dan tidak rusak. Setelah itu bibit dikumpulkan dalam ikatan-ikatan lalu ditaruh disawah
dengan sebagian akar terbenam ke air.

Bibit ditanam cukup satu bibit per lubang tanam, dengan posisi tegak dan apabila petani masih belum
terbiasa dengan menanam satu bibit, pada tahap awal dapat menanam 2-3 bibit per lubang tanam,
dengan kedalaman tanam cukup 2 cm, karena jika kurang dari 2 cm bibit akan gampang hanyut.
Pengaturan jarak tanam dilakukan dengan caplak, Jarak tanam padi model tegel biasanya 20 cm x 20 cm
atau 25 cm x 25 cm. Model sistem tanam jajar legowo juga sudah banyak diterapkan yaitu legowo 2 : 1
(40 x 20 x 10 cm) adalah cara tanam berselang seling 2 baris dan 1 bari kosong. Jarak antar baris
tanaman yang dikosongkan di sebut satu unit.

E. Cara PEMUPUKAN PADI Sawah

Tanah yang dibudidayakan secara terus menerus cenderung kekurangan unsur hara bagi tanaman, oleh
karena itu diperlukan penambahan unsur hara yang berasal dari pupuk organik maupun pupuk
anorganik. Agar efektif dan efisien penggunaan pupuk disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan
ketersediaan hara dalam tanah. Kebutuhan N tanaman dapat diketahui dengan cara mengukur tingkat
kehijauan warna daun padi dengan menggunakan Bagan Warna Daun (BWD).

Cara menentukan waktu aplikasi pupuk N dengan menggunakan BWD dapat dilakukan dengan 2 cara
sebagai berikut :

1. Cara pertama adalah waktu tetap, yaitu waktu pemupukan di tetapkan lebih dahulu berdasarkan
tahap

pertumbuhan tanaman, antara lain fase pada saat anakan akif dan pembentukan malai dan saat
primordia

2. Cara kedua adalah waku pemberian pupuk berdasarkan nilai pembacaan BWD yang sebenarnya yaitu
penggunaan BWD dimulai ketika tanaman 14 HST, kemudian secara periodik diulangi 7-10 hari sekali
sampai diketahui nilai kritis saat pupuk N harus diaplikasikan.

F. Perawatan dan Pemeliharaan PADI SAWAH

Perawatan dan pemeliharaan tanaman sangat penting dalam pelaksanaan budidaya padi sawah. Hal-hal
yang sering dilakukan oleh para petani adalah penyiangan (pengendalian gulma). Gulma merupakan
tumbuhan pengganggu yang hidup bersama tanaman yang dibudidayakan dan pada umumnya sangat
merugikan tanaman padi . Disamping dapat menjadi tanaman inang beberapa hama dan penyebab
penyakit, gulma merupakan pesaing untuk unsur hara air, tempat dan sinar matahari. Apalagi gulma
memiliki sistem perakaran yang sama dengan padi sehingga unsur makanan yang diperlukan oleh gulma
dan padi berasal dari lapisan tanah yang sama. Penyiangan gulma dilakukan 2 tahap, dimana tahap
pertama penyiangan dilakukan pada saat umur tanaman kurang lebih 15 hari dan tahap kedua pada saat
umur tanaman berumur 30-35 hari. Penyiangan yang dilakukan dengan cara mencabut gulma dan
dimatikan dengan atau tanpa menggunakan alat, biasanya penyiangan ini dilakukan bersamaan dengan
dengan kegiatan penyulaman.

G. Tanda-tanda Padi Siap Panen dan Cara Panen Padi

Ciri-ciri PADI Siap Panen

Padi siap panen (Foto by : Alief Adja)

Tujuan pemanenan padi adalah untuk mendapatkan gabah dari lapangan pada tingkat kematangan
optimal, mencegah kerusakan dan kehilangan hasil seminimal mungkin. Pemanenan padi tidak akan
menguntungkan dan memuaskan jika prosesnya dilakukan dengan cara yang kurang benar dan pada
umur panen yang tidak tepat. Cara panen yang tidak baik akan menurunkan kehilangan hasil secara
kuantitatif, sedang saat panen yang tepat akan menentukan kualitas gabah dan beras. Panen harus
dilakukan bila bulir padi sudah cukup dianggap masak. Panen yang kurang tepat dapat menurunkan
kualitas dari gabah maupun beras.

1. Ciri-ciri Padi Siap Panen ;

> Daun bendera telah mengering dan 95% gabah sudah menguning

> Umur optimal malai 30 – 35 hari terhitung sejak hari sesudah berbunga (HSB). Tergantung varietas
yang dibudidayakan

> Kadar air gabah berkisar antara 21 – 26%

> Kerontokan gabah sekitar 16 – 30 % (Cara mengukurnya dengan meremas malai dengan tangan)

2. Peralatan Panen Padi

Ada beberapa peralatan yang dibutuhkan dalam memanen padi, antara lain sebagai berikut :

> Ani-ani

> Sabit biasa


> Sabit bergerigi

> Mesin pemanen padi seperti Reaper

> Karung goni/ sak

> Tali

3. Cara Panen Padi

Cara Memanen Padi

Cara panen padi (Foto by : Nurhadiyati)

Dalam melakukan pemanenan padi dapat dilakukan dengan berbagai cara, tergantung dari alat yang
digunakan, varietas padi dan cara merontokkan gabah yang akan dilakukan. Berikut ini beberapa cara
dalam memanen padi;

> Ani-ani umumnya digunakan petani untuk memanen padi lokal yang tahan rontok dan tanaman padi
berpostur tinggi dengan cara memotong pada tangkainya.

> Cara panen padi varietas unggul baru dengan sabit dapat dilakukan dengan cara potong atas, potong
tengah atau potong bawah tergantung cara perontokannya.

> Cara panen dengan potong bawah, umumnya dilakukan bila perontokannya dengan cara
dibanting/digebot atau menggunakan pedal thresher

> Panen padi dengan cara potong atas atau potong tengah bila dilakukan perontokannya menggunakan
mesin perontok.

H. Paska Panen Padi

Padi setelah dilakukan pemanenen segera dilakukan pengumpulan ke suatu tempat yang dekat dengan
alat perontokan. Ditempat pengumpulan diberi alas dengan menggunakan terpal dengan tujuan untuk
menekan kehilangan hasil. Perontokan padi merupakan tahapan pasca panen padi setelah pemotongan
atau memanen. Tujuan tahapan ini adalah melepaskan bulir-bulir gabah dari malainya. Pada saat
dilakukan perontokan gabah ada beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu sebagai berikut :

> Pelaksanaan perontokan harus dilakukan sesegera mungkin setelah panen.

> Untuk menghindari banyaknya gabah yang tercecer sebaiknya digunakan alas, untuk alas dapat dipakai
plastic, terpal, anyaman bambu atau tikar.
Cara Merontokkan Gabah

Perontokan gabah menggunakan mesin perontok (Foto by : Nurhadiyati)

Setelah padi dipanen gabah harus segera dirontokkan malainya. Tempat perontokan dapat dilakukan di
lahan atau di halaman rumah. Perontokan ini dapat dilakukan dengan tenaga manusia atau dengan alat
mesin. Perontokan padi merupakan salah satu tahapan pasca panen yang memberikan kontribusi cukup
berarti bagi kehilangan hasil dan mutu padi secara keseluruhan, untuk itu diperlukan suatu usaha
mencari alternative perontokan yang tepat sehingga hasil perontokan padi menghasilkan gabah
bermutu dan kehilangan hasil yang kecil.

1. Cara Perontokan Gabah

Perontokan padi dapat dilakukan secara manual maupun dengan mesin. Cara perontokan padi dapat
dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :

> diiles/diinjak,

> pukul (gedig),

> banting (gebot),

> pedal tresher/ mesin perontok/power tresher

2. Pembersihan Gabah

Pembersihan adalah proses pemisahan padi atau gabah dari benda asing atau kotoran lainnya yang akan
merusak benih/gabah saat disimpan. Maksud dan tujuan dari pembersihan gabah/padi adalah sebagai
berikut ;

> Mempercepat waktu pengeringan

> Memperkecil biaya pengeringan

> Menghindari memburuknya atau kerusakan gabah selama penyimpanan

> Menghindari bahan dari kerusakan conveying dan penggilingan

> Menghindari bahan dari penurunan grade

> Memperkecil kebutuhan ruang dan tempat penyimpanan


3. Pengeringan Gabah

Cara Mengeringkan Gabah Padi

Pengeringan / penjemuran gabah (Foto by : Nurhadiyati)

Kegiatan pengeringan merupakan salah satu kegiatan yang penting dalam usaha mempertahankan mutu
gabah. Kadar air gabah yang baru dipanen berkisar antara 20 – 25 %, sehingga perlu diturunkan kadar
airnya dengan cara pengeringan sampai gabah mencapai kadar air maksimum 14 %. Tujuan pengeringan
adalah agar gabah tidak mudah rusak sewaktu disimpan, rendeman giling dan mutu tetap baik. Untuk
mencapai tujuan tersebut sebaiknya pengeringan dilakukan segera setelah pemanenan dan perontokan
untuk mencegah butir kuning. Pengeringan gabah umumnya dilakukan dengan memanfaatkan panas
sinar matahari, tetapi jika panen terjadi musim hujan disarankan menggunakan alat pengering buatan
seperti mesin pengering (drayer) atau silo pengering.

Sebelum melakukan penjemuran dengan sinar matahari perlu diperhatikan bahwa tempat penjemuran
bebas dari genangan air, terlindung dari gangguan unggas dan binatang lainnya. Faktor lain yang perlu
diperhatikan adalah sebagai berikut:

> Penjemuran dilakukan ditempat yang leluasa menerima sinar matahari, bebas dari genangan air,
terlindung dari gangguan unggas dan binatang lainnya.

> Membuat lantai jemur dengan permukaan dari semen dan dibuat gelombang.

> Jika terjadi cuaca cerah penjemuran gabah sebaiknya dengan ketebalan 5 – 7 cm dan dibolak balik 1 –
2 jam sekali dengan menggunakan alat yang terbuat dari kayu atau bambu. Bila menggunakan alas
jemur, jangan menggunakan terpal berbahan plastik karena dapat mempengaruhi peningkatan kadar
air.

> Waktu penjemuran dianjurkan mulai pukul 08.00 pagi sampai jam 16.00

> Jika pengeringan gabah dalam jumlah besar maka pada malam hari tetap dibiarkan diatas jemuran
dengan cara digundukkan dan ditutupi dengan plastic, terpal, untuk menghindari hujan dan embun. Jika
gabah-gabah yang dikeringkan dalam jumlah kecil, sebaiknya gabah diusahakan dalam ruangan dengan
memakai alas tikar atau plastic.

Setelah dijemur selesai (pukul 16.00) gabah dapat dimasukkan ke karung dan disimpan dalam ruangan
jika volumenya tidak banyak. Namun jika volumenya besar gabah dapat dibiarkan di luar, tetapi harus
ditumpuk dan ditutupi dengan plastic agar tidak terkena embun dan hujan. Dengan cara penjemuran
seperti ini selama 2 – 3 hari pada cuaca baik akan diperoleh gabah dengan kadar air kurang lebih 14 %.
Penjemuran yang terlalu lama dapat berakibat gabah banyak yang pecah saat penggilingan. Ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengeringan, antara lain sebagai berikut ;
> Pengeringan dilakukan sesegera mungkin setelah perontokan

> Tempat pengeringan harus memperoleh penyinaran matahari serta bebas dari gangguan ayam atau
unggas lainnya.

> Jika kondisi cuaca tidak memungkinkan untuk penjemuran, gabah dapat dipanaskan pada ruangan di
dalam rumah. Untuk menggantikan panas dapat digunakan lampu petromaks atau sumber panas yang
lain. Tebal hamparannya antara 2 – 3 cm dan pembalikan juga harus tetap dilakukan

4. Penyimpanan Gabah Kering

Tujuan penyimpanan adalah untuk memperpanjang masa penyediaan bahan pangan. Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam penyimpanan adalah sebagai berikut :

> Gabah yang disimpan dengan kadar air maksimum 14 % bersih dari kotoran, gabah hampa maksimal 3
%.

> Menggunakan wadah karung yang bersih dan bebas hama.

> Gudang atau lumbung penyimpanan diusahakan agar dibangun memanjang dari arah timur barat.
Untuk menghindari luasnya dinding yang terkena sinar matahari terlalu lama, sehingga gudang cukup
sejuk.

> Gudang atau lumbung harus dibersihkan dari hama gudang dan disemprot dengan insektisida yang
telah dianjurkan, termasuk dari serangan tikus.

> Sirkulasi udara cukup baik guna menjaga kelembaban dan suhu yang seragam.

> Jika lantai gudang dibuat dari semen, maka harus menggunakan alas kayu, guna menghindari kontak
langsung antara wadah gabah dengan lantai semen.

> Dinding gudang dibuat sedemikian rupa, sehingga dapat menghindari hama bersembunyi

Demikian “Panduan Lengkap BUDIDAYA PADI Sawah Untuk Menghasilkan Gabah Berkualitas“. Semoga
bermanfaat…

Salam mitalom !!!