Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH

TINJAUAN EKONOMI DAN ETIKA BISNIS


DALAM ISLAM

Disusun oleh :

PROGRAM STUDI EKONOMI ISLAM


FAKULTAS SYARI’AH
IAIN RADEN INTAN LAMPUNG
2019
KATA PENGANTAR

Puji serta syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanau Wata’ala


yang telah melimpahkan rahmat, karunia dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini dengan baik. Judul makalah yang penulis ambil adalah
“TINJAUAN EKONOMI DAN ETIKA BISNIS DALAM ISLAM”.
Adapun tujuan dari makalah ini adalah dalam rangka memenuhi tugas
mata kuliah Etika Bisnis Islam. Ucapan terima kasih tidak lupa penulis sampaikan
kepada semua pihak yang telah membantu, sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini yang namanya penulis tidak dapat sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari atas kekurangan kemampuan penulis dalam pembuatan
laporan makalah ini, sehingga akan menjadi suatu kehormatan besar bagi penulis
apabila mendapatkan kritikan dan saran yang membangun agar makalah ini
sehingga selanjutnya akan lebih baik dan sempurna serta komprehensif.
Demikian akhir kata dari penulis, semoga makalah ilmiah ini bermanfaat
bagi semua pihak dan sebagai media pembelajaran budaya khususnya dalam segi
teoritis sehingga dapat membuka wawasan ilmu budaya serta akan menghasilkan
yang lebih baik di masa yang akan datang.

Lampung, Februari 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... i


DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang.................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................... 4
1.3 Tujuan Penulisan................................................................................ 4
1.4 Manfaat Penulisan.............................................................................. 5
BAB II PEMBAHASAN....................................................................................... 6
2.1 Teori-teori Pemikiran Kontemporer Tentang Konsep
Ekonomi Islam.................................................................................... 6
2.2 Konsep Dasar dalam Pengembangan Ekonomi Islam dalam
Bisnis dan juga Pengembangan Konsep Konvensional dalam
Etika Bisnis......................................................................................... 10
2.3 Kelebihan dan Kekurangan Konsep Bisnis Syari’ah
Dibanding Konvensional.................................................................... 17
BAB III PENUTUP............................................................................................... 28
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ 29

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam era globalisasi dewasa ini, perkemangan perekonomian dunia
begitu pesat, seiring dengan berkembang dan meningkatnya kebutuhan manusia
akan sandang, pangan, dan teknologi. Kebutuhan tersebut meningkat sebagai
akibat dari jumlah penduduk yang setiap tahun bertambah, sehingga menimbulkan
persaingan bisnis yang makin tinggi. Hal ini terlihat dari upaya-upaya yang
dilakukan masyarakat dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup. Akibat lebih
lanjut dari perkembangan tersebut meningkat hubungan antara masyarakat, tidak
saja dalma penduduk satu negara, akan tetapi antar warga di negara di dunia.
Wujud dan hubungan tersebut terbentuknya organisasi-organisasi bisnis, seperti
AFTA, NAFTA, APEC, dan lembaga perdangan dunia World Trade
Organization (WTO). Pembentukan organisasi tersebut, pada prinsipnya bertujuan
agar jalinan kerjasama di bidang bisnis antar negara adanya kesamaan visi dan
misi. Namun demikian, dalam praktek tidak demikian, karena peluang untuk
terjadi penyimpangan yang mengakibatkan kerugian sesama manusia dan
masyarakat dunia masih terjadi.
Dalam jurnal ekonomi, Ichsan Zulkarnain mengatakan bahwa
perekonomian dunia dewasa ini masih dibayangi oleh ketidakpastian terhadap
kesinambungan perekonomian Amerika Serikat untuk terus menerus sebagai
penggerak ekonomi dunia. Di Indonesia, sejak timbulnya krisis ekonomi yang
dipicu oleh krisis moneter pada pertengahan tahun 1997, pertumbuhan ekonomi
terhenti dan laju inflasi meningkat pesat yang berakibat taraf hidup rakyat
Indonesia merosot tajam. Di mana-mana banyak terjadi pemutusan hubungan
kerja, pengangguran bertambah dan daya beli masyarakatnyapun menjadi
berkurang. Perekonomian nasional tahun 2002 diperkirakan membaik, meskipun
masih terdapat berbagai ketidak pastian yang dapat mengganggu proses
pemulihan ekonomi. Lebih jauh, prioritas pembangunan nasional bidang ekonomi
sesuai dengan UU No. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional

1
(PROPENAS) tahun 2000-2004 adalah mempercepat pemulihan dan memperkuat
landasan pembangunan ekonomi berkelanjutan dan berkeadilan berdasarkan
sistem ekonomi kerakyatan.
Pada dasarnya, etika sangatlah berpengaruh pada etika bisnis, terutama
dalam hal kepribadian, tindakan, dan prilakunya. Jika seorang pengusaha dapat
membentuk karakter dirinya sendiri sesuai dengan akhlak yang mulia, maka dia
akan berhasil mencapai keuntungan dalam hidup ini dan dalam kehidupan yang
akan datang. Pembentukan etika dan karakter sangatlah memiliki ikatan yang kuat
satu sama lain.
Dalam etika, pembentukan karakter mencakup nilai-nilai moral, prilaku,
dan menekankan pada aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh seorang pengusaha
dan suduuut pandang yang dibolehkan oleh seorang pengusaha dari sudut pandang
yang dibolehlan maupun yang dilarang. Termasuk norma-norma yang mengatur
hubungan seorang pengusaha dengan tim kerjanya orang-orang yang berbisnis
dengannya, dan juga para pegawainya. Dalam hal ini, ada perjanjian yang harus
ditentukan oleh seorang pengusaha. Meningkatkan kecakapan penampilan,
memasarkan kualitas barang dagangan, mencatat urusan-urusan, persetujuan-
persetujuan dan kontrak-kontrak, serta menunaikan kewajiban dengan baik seperti
pekerjaan yang dilakukan rekan-rekannya. Dalam lingkungan kerja ini, ada pula
beberapa perbuatan yang harus dijauhi, seperti menghindari adanya kecurigaan
dan pertengkaran. Larangan ini diikuti dengan sejumlah batasan-batasan dan
sanksi-sanksi untuk dijatuhkan kepada para pelaku bisnis dalam kasus
pelanggaran kode etik tersebut.
Sistem ekonomi Islam yang dijiwai ajaran-ajaran agama Islam memang
dapat diamati berjalan dalam masyarakat-masyarakat kecil di negara-negara yang
mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun dalam perekonomian yang
sudah mengglobal dengan persaingan terbuka, bisnis Islam sering terpaksa
menerapkan praktek-praktek bisnis non Islam. Misalnya, perusahaan yang
berbentuk Perseroan Terbatas yang memisahkan kepemilikan dan pengelolaan,
dalam proses meningkatkan pasar modal (bursa efek), sering terpaksa menerima
asas-asas sistem kapitalisme yang tidak Islam.

2
Sistem ekonomi Islam berbeda dari kapitalisme, sosialisme, maupun
Negara Kesejahteraan (Welfare State). Berbeda dari kapitalisme karena Islam
menentang eksploitasi oleh pemilik modal terhadap buruh yang miskin, dan
melarang penumpukan kekayaan.
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan
harta-harta dan menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu
dapat mengekalkannya, sekalikali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar
akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah apa Huthamah itu ?
(yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (naik) sampai
ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat di atas mereka, (sedang
mereka itu) diikatkan pada tiang-tiang yang panjang.” (Q.s. Al-Humazah ,
ayat 1-9).

Demikian dapat disimpulkan bahwa dalam Islam pemenuhan kebutuhan


materiil dan spiritual benar-benar dijaga keseimbangannya, dan pengaturan oleh
negara, meskipun ada, tidak akan bersifat otoriter. Di Indonesia, meskipun Islam
merupakan agama mayoritas, sistem ekonomi Islam secara penuh sulit diterapkan,
tetapi sistem ekonomi Pancasila yang dapat mencakup warga non Islam dapat
dikembangkan. Merujuk sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, sistem ekonomi
Pancasila menekankan pada moral Pancasila yang menjunjung tinggi asas
keadilan ekonomi dan asas keadilan sosial seperti halnya sistem ekonomi Islam.
Pemikiran etika bisnis muncul ke permukaan, dengan landasan bahwa,
Islam adalah agama yang sempurna. Ia merupakan kumpulan aturan-aturan ajaran
(doktrin) dan nilai-nilai yang dapat mengantarkan manusia dalam kehidupannya
menuju tujuan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Islam
merupakan agama yang memberikan cara hidup terpadu mengenai aturan-aturan
aspek social, budaya, ekonomi, sipil dan politik. Ia juga merupakan suatu system
untuk seluruh aspek kehidupan, termasuk system spiritual maupun system prilaku
ekonomi dan politik.
Adapun hal yang membedakan Islam dengan materialisme adalah bahwa
Islam tidak pernah memisahkan ekonomi dengan etika, sebagaimana tidak pernah
memisahkan ilmu dengan akhlaq, politik dengan etika, perang dengan etika, dan
kerabat sedarah daging dengan kehidupan Islam. Islam adalah risalah yang

3
diturunkan Allah SWT melalui Rasulullah SAW untuk membenahi akhlaq
manusia.
Dengan demikian mengacu pada berbagai penjelasan di atas, maka kami
tertarik untuk membahas “TINJAUAN EKONOMI DAN ETIKA BISNIS
DALAM ISLAM” dalam makalah yang kami tulis. Dengan harapan, kami dapat
menyampaikan dengan baik kepada saudara-saudara kami dan menjadi acuan
untuk melakukan transaksi ekonomi sesuai dengan Syariat Islam.

1.2 Rumusan Masalah


Dari uraian latar belakang penulisan di atas, selanjutnya penulis akan
merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah teori-teori pemikiran kontemporer tentang konsep ekonomi
islam?
2. Bagaimanakah konsep dasar dalam pengembangan ekonomi islam dalam
bisnis dan juga pengembangan konsep konvensional dalam etika bisnis?
3. Bagaimanakah kelebihan dan kekurangan konsep bisnis syari’ah
dibanding konvensional?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penulisan yang akan dilakukan
adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui teori-teori pemikiran kontemporer tentang konsep ekonomi
islam?
2. Untuk mengetahui konsep dasar dalam pengembangan ekonomi islam dalam
bisnis dan juga pengembangan konsep konvensional dalam etika bisnis?
3. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan konsep bisnis syari’ah dibanding
konvensional?

4
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat yang diharapkan secara teoritis dalam penulisan ini adalah sebagai
berikut:
1. Mengembangkan pengetahuan serta menerapkan teori-teori ke dalam
praktek yang penulis peroleh dalam perkuliahan sebagai media latihan dan
proses pembuatan karya ilmiah.
2. Lebih memahami mengembangkan dan mendalami pengetahuan dan
menjadi acuan untuk melakukan transaksi ekonomi sesuai dengan Syariat
Islam.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Teori-teori Pemikiran Kontemporer Tentang Konsep Ekonomi Islam


Ilmu ekonomi lahir sebagai sebuah disiplin ilmiah setelah berpisahnya
aktifitas produksi dan konsumsi. Ekonomi merupakan aktifitas yang boleh
dikatakan sama halnya dengan keberadaan manusia di muka bumi ini, sehingga
kemudian timbul motif ekonomi, yaitu keinginan seseorang untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Prinsip ekonomi adalah langkah yang dilakukan manusia
dalam memenuhi kebutuhannya dengan pengorbanan tertentu untuk memperoleh
hasil yang maksimal.
Dasar-dasar ekonomi Islam adalah:
1) Bertujuan untuk mencapai masyarakat yang sejahtera baik di dunia dan di
akhirat, tercapainya pemuasan optimal berbagai kebutuhan baik jasmani
maupun rohani secara seimbang, baik perorangan maupun masyarakat. Dan
untuk itu alat pemuasdicapai secara optimal dengan pengorbanan tanpa
pemborosan dan kelestarian alam tetap terjaga.
2) Hak milik relatif perorangan diakui sebagai usaha dan kerja secara halal dan
dipergunakan untuk hal-hal yang halal pula.
3) Dilarang menimbun harta benda dan menjadikannya terlentar.
4) Dalam harta benda itu terdapat hak untuk orang lain yang membutuhkan, oleh
karena itu harus dinafkahkan sehingga dicapai pembagian rizki (distribusi
harta).
5) Pada batas tertentu, hak milik relatif tersebut dikenakan zakat.
6) Perniagaan diperkenankan, akan tetapi riba dilarang.
7) Tiada perbedaan suku dan keturunan dalam bekerja sama dan yang menjadi
ukuran perbedaan adalah prestasi kerja.
Kemudian landasan nilai yang menjadi tumpuan tegaknya sistem ekonomi
Islam adalah sebagai berikut:
Nilai dasar sistem ekonomi Islam:
1) Hakikat pemilikan adalah kemanfaatan, bukan penguasaan.

6
2) Keseimbangan ragam aspek dalam diri manusia.
3) Keadilan antar sesama manusia.
Nilai instrumental sistem ekonomi Islam:
1) Kewajiban zakat.
2) Larangan riba.
3) Kerjasama ekonomi.
4) Jaminan sosial.
5) Peranan negara.
Nilai filosofis sistem ekonomi Islam:
1) Sistem ekonomi Islam bersifat terikat yakni nilai.
2) Sistem ekonomi Islam bersifat dinamik, dalam arti penelitian dan
pengembangannya berlangsung terus-menerus.
Nilai normatif sistem ekonomi Islam:
1) Landasan aqidah.
2) Landasan akhlaq.
3) Landasan syari'ah.
4) Al-Qur'anul Karim.
5) Ijtihad (Ra'yu), meliputi qiyas, masalah mursalah, istihsan, istishab, dan urf.
Prinsip ekonomi Islam adalah penerapan asas efisiensi dan produktifitas,
serta asas manfaat dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan alam. Motif
ekonomi Islam adalah mencari keberuntungan di dunia dan di akhirat selaku
khalifatullah dengan jalan beribadah dalam arti yang luas.
Berbicara tentang sistem ekonomi Islam dan sistem ekonomi kapitalis
tidak bisa dilepaskan dari perbedaan pendapat mengenai halal-haramnya bunga
yang oleh sebagian ulama dianggap sebagai riba yang diharamkan oleh al-Qur'an.
Manfaat uang dalam berbagai fungsi baik sebagai alat penukar, alat penyimpan
kekayaan dan pendukung peralihan dari sistem barter ke sistem perekonomian
uang, oleh para penulis Islam telah diakui, tetapi riba mereka sepakati sebagai
konsep yang harus dihindari dalam perekonomian. Sistem bunga dalam perbankan
(rente stelsel) mulai diyakini oleh sebagian ahli sebagai faktor yang
mengakibatkan semakin buruknya situasi perekonomian dan sistem bunga sebagai

7
faktor penggerak investasi dan tabungan dalam perekonomian Indonesia, sudah
teruji bukan satu-satunya cara terbaik mengatasi lemahnya ekonomirakyat.
Larangan riba dalam Islam bertujuan membina suatu bangunan ekonomi yang
menetapkan bahwa modal itu tidak dapat bekerja dengan sendirinya, dan tidak
adakeuntungan bagi modal tanpa kerja dan tanpa penempatan diri pada resiko
samasekali. Karena itu Islam secara tegas menyatakan perang terhadap riba dan
ummat Islam wajib meninggalkannya (Qs.al-Baqarah:278), akan tetapi Islam
menghalalkan mencari keuntungan lewat perniagaan (Qs.83:1-6).
Dalam perkembangan ekonomi global dan semakin meningkatnya minat
masyarakat dengan ekonomi perbankan secara islami, maka ekonomi islam
mempunyai tantangan besar dalam menghadapinya. Diantaranya adalah: pertama,
ujian atas kredibilitas sistem ekonomi dan keuangannya. Kedua, bagaimana
sistem ekonomi islam dapat meningkatkan dan menjamin kelangsungan hidup
serta kesejahteraan umat, dapat menghapus kemiskinan dan pengangguran, serta
dapat memajukan ekonomi dalam negeri. Ketiga, mengenai perangkat peraturan:
hukum dan kebijakan baik dalam skala nasional dan internasional.
Ekonomi islam tidak bisa begitu saja terlepas dari ekonomi konvensional.
Paradigma ekonomi konvensional akan tetap berfungsi dalam membentuk
paradigma ekonomi islam dan pelaksanaannya. Terdapat beberapa
pandangan/madzhab yang populer dalam era kontemporer ini, diantaranya adalah
madzhab iqtishaduna yang dipelopori oleh Baqr as-Sadr. Madzhab ini
memandang bahwa ilmu ekonomi tidak akan pernah sejalan dengan hukum islam
karena keduanya berangkat dari folosofi yang bertolak belakang. Disamping itu
teori-teori yang dikembangkan oleh ekonomi konvesional akan ditolak dan tidak
dipergunakan sama sekali, sebagai gantinya madzhab ini menyusun teori-teori
baru tentang ekonomi yang sumbernya langsung dari al-Quran dan as-Sunnah.
Selanjutnya terdapat satu madzhab yang bertolak belakang dengan
madzhab baqir, yaitu madzhab Mainstream. Madzhab ini tidak meninggalkan teori
konvesional secara sekaligus, karena madzhab ini punya pandangan bahwa semua
permasalahan ekonomi hampir tidak ada bedanya dengan pandangan

8
konvesional. Letak perbedaanya hanya terdapat di cara menyelesaikan masalah
ekonomi tersebut.
Berikutnya terdapat madzhab Alternatif, yang berpandangan bahwa
analitis kritis tidak hanya dilakukan di sistem ekonomi sosialisme dam
kapitalisme saja, bahkan harus dilakukan di ekonomi islam itu sendiri. Madzhab
ini juga mengkritik madzhab-madzhab lainnya, madzhab Baqr dianggap berusaha
menemukan teori baru yang sebenarnya telah ditemukan orang lain. Madzhab
Mainstream dianggap sebagai jiplakan dari ekonomi neo-klasik hanya saja di
madzhab ini menghilangkan unsur riba dan memasukkan variabel zakat serta niat.
Dalam hakikatnya nilai-nilai dasar ekonomi syariah dengan background
tauhid harus meliputi: kepemilikan (ownership), keseimbangan (equilibrium), dan
keadilan (justice). Ketiga nilai dasar tersebut dapat diperincikan sebagai berikut:
1. Kepemilikan (ownership)
a. Pemilikan terletak pada kemanfaatanya dan bukan mengusai secara mutlak
terhadap sumber-sunber ekonomi
b. Pemilikan terbatas sepanjang usia hidup manusia, jika orang itu mati maka
harus didistribusikan kepada ahlu warisnya menurut ketentuan islam.
Sebagaimana firman Allah :
‫ج‬
‫كتب عليكم ارذار حضر ارحدكم ارلومت ارن ترك خيار صصصلى ارلومصية للومارلدين و ارلقاربيص بالعمروفص‬
‫حقا على ارلتقي‬.
Diwajibkan atas kamu, jika seseorang di antara kamu kedatangan (tanda-
tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu
bapak dan karib kerabatnya secara adil dan baik, (ini adalah) kewajiban
atas orang-orang yang bertaqwa.
c. Pemilikan perorangan tidak dibolehkan terhadap sumber-sumber ekonomi
yang menyangkut kepentingan umum atau hajat hidup orang banyak.
Sumber-sumber ini menjadi milik umum atau dikuasai negara.
2. Keseimbangan (equilibrium), yang pengaruhnya terlihat pada berbagai aspek
tingkah laku ekonomi muslim, misalnya kesederhanaan (moderation),
berhemat (parsimory), dan menjauhi keborosan (extravagance).

9
3. Keadilan (justice). Keadilan dalam masalah ekonomi:
a. Keadilan berarti kebebasan yang bersyarat akhlak islam.
b. Keadilan harus ditetapkan disemua fase kegiatan ekonomi. Artinya
keadilan dalam produksi dan konsumsi.

2.2 Konsep Dasar dalam Pengembangan Ekonomi Islam dalam Bisnis dan
juga Pengembangan Konsep Konvensional dalam Etika Bisnis
Fenomena menarik di kalangan umat Islam saat ini adalah terdapat realitas
bahwa masyarakat muslim relatif tertinggal secara ekonomi dari pada masyarakat
nonmuslim sehingga melahirkan stigma berpikir yang kolektif dan cita-cita untuk
membangun tatanan ekonomi yang berdasarkan etika ekonomi Islam. Perumusan
etika ekonomi Islam dalam setiap kegiatan bisnis diperlukan untuk memandu
segala tingkah laku ekonomi di kalangan masyarakat muslim. Etika bisnis Islami
tersebut selanjunya dijadikan sebagai kerangka praktis yang secara fungsional
akan membentuk suatu kesadaran beragama dalam melakukan setiap kegiatan
ekonomi (religiousness economyc practical guidance).
Etika ekonomi Islam, sebagaimana dirumuskan oleh para ahli ekonomi
Islam adalah suatu ilmu yang mempelajari aspek-aspek kemaslahatan dan
kemafsadatan dalam kegiatan ekonomi dengan memperhatikan amal perbuatan
manusia sejauhmana dapat diketahui menurut akal pikiran (rasio) dan bimbingan
wahyu (nash). Etika ekonomi dipandang sama dengan akhlak karena keduanya
sama-sama membahas tentang kebaikan dan keburukan pada tingkah laku
manusia.
Tujuan etika Islam menurut kerangka berpikir filsafat adalah memperoleh
suatu kesamaan ide bagi seluruh manusia di setiap waktu dan tempat tentang
ukuran tingkah laku baik dan buruk sejauhmana dapat dicapai dan diketahui
menurut akal pikiran manusia (An-nabhani, 1996: 52). Namun demikian, untuk
mencapai tujuan tersebut, etika ekonomi Islam mengalami kesulitan karena
pandangan masing-masing golongan di dunia ini berbeda-beda perihal standar
normatif baik dan buruk. Masing-masing mempunyai ukuran dan kriteria yang

10
berbeda-beda pula. Sebagai cabang dari filsafat, ajaran etika bertitik tolak dari
akal pikiran dan tidak dari ajaran agama.
Adapun dalam Islam, ilmu akhlak dapat dipahami sebagai pengetahuan
yang mengajarkan tentang kebaikan dan keburukan berdasarkan ajaran Islam yang
bersumber kepada akal dan wahyu. Atas dasar itu, maka etika ekonomi yang
dikehendaki dalam Islam adalah perilaku sosial-ekonomi yang harus sesuai
dengan ketentuan wahyu serta fitrah dan akal pikiran manusia yang lurus.
Di antara nilai-nilai etika ekonomi Islam yang terangkum dalam ajaran
filsafat ekonomi Islam adalah terdapat dua prinsip pokok, yaitu sebagai berikut.
Pertama adalah tauhid. Prinsip tauhid ini mengajarkan manusia tentang
bagaimana mengakui keesaan Allaha sehingga terdapat suatu konsekuensi bahwa
keyakinan terhadap segala sesuatu hendaknya berawal dan berakhir hanya kepada
Allah Swt. Keyakinan yang demikian dapat mengantar seorang muslim untuk
menyatakan bahwa “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku
adalah semata-mata demi Allah, Tuhan seru sekalian alam”. Prinsip ini kemudian
menghasilkan kesatuan-kesatuan sinergis dan saling terkait dalam kerangka
tauhid. Tauhid diumpamakan seperti beredarnya planet-planet dalam tata surya
yang mengelilingi matahari. Kesatuan-kesatuan dalam ajaran tauhid hendaknya
berimplikasi kepada kesatuan manusia dengan Tuhan dan kesatuan manusia
dengan manusia serta kesatuan manusia dengan alam sekitarnya.
Kedua, prinsip keseimbangan mengajarkan manusia tentang bagaimana
meyakini segala sesuatu yang diciptakan Allah dalam keadaan seimbang dan
serasi. Hal ini dapat dipahami dari Alquran yang telah menjelaskan bahwa
“Engkau tidak menemukan sedikit pun ketidakseimbangan dalam ciptaan Yang
Maha Pengasih. Ulang-ulanglah mengamati apakah engkau melihat sedikit
ketimpangan” (QS 67: 3). Prinsip ini menuntut manusia bukan saja hidup
seimbang, serasi, dan selaras dengan dirinya sendiri, tetapi juga menuntun
manusia untuk mengimplementasikan ketiga aspek tersebut dalam kehidupan.
Prinsip tauhid mengantarkan manusia dalam kegiatan ekonomi untuk
meyakini bahwa harta benda yang berada dalam genggamannya adalah milik
Allah Swt. Keberhasilan para pengusaha bukan hanya disebabkan oleh hasil

11
usahanya sendiri, tetapi terdapat partsisipasi orang lain. Tauhid yang akan
menghasilkan keyakinan pada manusia bagi kesatuan dunia dan akhirat. Tauhid
dapat pula mengantarkan seorang pengusaha untuk tidak mengejar keuntungan
materi semata-mata, tetapi juga mendapat keberkahan dan keuntungan yang lebih
kekal.
Oleh karena itu, seorang pengusaha dipandu untuk menghindari segala
bentuk eksploitasi terhadap sesama manusia. Dari sini dapat dimengerti mengapa
Islam melarang segala praktek riba dan pencurian, tetapi juga penipuan yang
terselubung. Bahkan, Islam melarang kegiatan bisnis hingga pada menawarkan
barang pada di saat konsumen menerima tawaran yang sama dari orang lain.
Perbedaan Sudut Pandang/ Pemikiran/ Madzhab Ekonomi Islam
1. Madzhab Iqtisaduna
Aliran ini didasari oleh pandangan bahwa ilmu ekonomi yang sekarang ada
(konvensional) tidak pernah bisa sejalan dengan Islam. Teori-teori dalam
ekonomi Islam seharusnya didapat dari Al-Quran dan Sunnah (konsep
dekonstruksi), dan bukan ekonomi konvensional yang diadaptasikan dengan
ajaran Islam.
Aliran ini menolak masalah ekonomi tentang kelangkaan (scarcity) sumber
daya. Masalah ekonomi terjadi karena keserakahan manusia, distribusi yang
tidak merata dan ketidakadilan.
Islam hendaknya punya konsep sendiri dalam ekonomi, dengan nama Iqtishad.
2. Madzhab Mainstream
Pandangan ini tidak jauh berbeda dengan pandangan ekonomi konvensional,
hanya disesuaikan dengan tuntunan Islam dalam Al-Quran dan As-Sunnah
(konsep rekonstruksi). Aliran ini tetap mengakui adanya “kelangkaan” sebagai
masalah ekonomi.
3. Madzhab Alternatif – Kritis
Analisis kritis bukan saja perlu dilakukan terhadap sosialis dan kapitalis, tetapi
juga terhadap ekonomi Islam itu sendiri. Islam pasti benar, tapi ekonomi Islam
belum tentu benar, karena ekonoi Islam merupakan hasil pemikiran manusia
atas interpretasinya terhadap Al-Quran dan As-Sunnah.

12
Aliran ini mengkritisi dua madzhab sebelumnya. Aliran Iqtisaduna berusaha
menemukan teori yang sudah ditemukan oleh orang lain, atau menghancurkan
teori lama dan mengantikannya dengan yang baru. Madzhab Mainstream
dikritik sebagai jiplakan dari ekonomi neoklasik, dengan menyesuaikannya
dengan ajaran Islam (variabel-variabel riba, zakat, serta niat).
Ekonomi islam mempunyai dua sifat dasar yaitu, Rabbani dan Insani.
Disebut Rabbani karena ekonomi islam sarat dengan tujuan dan nilai-nilai
Ilahiyyah sedang disebut Insani karena sistem ekonomi islam dilaksanakan dan
ditujukan untuk kemaslahatan manusia. Atas dasar hal ini maka muncullah
konsep-konsep. Antara lain:
1. Konsep tauhid
Konsep ini menjelaskan tentang keesaan Allah, yakni bagaimana
hubungan manusia dengan Allah serta hubungan dengan sesamanya dan alam
sekitar. Sebagaiamana firman Allah:

‫و ما خلقت ارلن و ارلناسان ارل ليعمبدون‬.


Dan tidaklah aku jadikan jin dan manusia itu melainkan untuk menyembah
dan beribadah kepaaku.
Dari ayat diatas dapat disimpulkan bahwa hidup manusia penuh
dengan pengabdian kepada Allah SWT, bukan hanya pada ibadah khusus
seperti sholat, zakat, dan haji, bahkan mencakup seluruh aktivitas manusia
termasuk aktivitas dibidang ekonomi.
2. Konsep Rububiyyah
Peraturan yang ditetapkan Allah bertujuan untuk memelihara dan
menjaga kehidupan manusia ke arah kesempurnaan dan kemakmuran. Oleh
karena itu manusia dituntut untuk mencari dan menjaga rezeki yang diberikan
Allah.
3. Konsep Khalifah
Manusia sebagai kholifah di muka bumi adalah sebuah qodrat dari
Allah SWT. Hal ini merupakan rumusan untuk membina konsep ekonomi
islam, dan sekaligus sebagai falsafah ekonomi islam. Manusia yang telah

13
diberi amanah sebagai kholifah haruslah merealisasika kesejahteraan yang
seharusnya menjadi tujuan ekonomi islam.
4. Konsep Tazkiyah
Konsep ini adalah konsep yang membentuk kesucian jiwa dan
ketinggian akhlaq, sebagaimana misi dari dakwah nabi Muhammad adalah
untuk menyempurnakan akhlaq. Rasulullah bersabda:

‫ارنا بعمثت لتام مكارم ارلخلقا‬


Sesungguhnya hanyalah aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang baik.
Dari keempat konsep tersebut seorang tokoh madzhab mainstream yang
bernama Dr. Monzer Kahf, ketua Economist Group Association of Muslim Social
Scientist, USA, dan salah seorang ekonom di Islamic Reserch dan Training
Institute Islamic Devolepment Bank (IRTI-IDB), mempunyai pandangan bahwa
ekonomi adalah sebagai bagian tertentu dari agama. Beliau juga adalah orang
yang pertama mengaktualisasi analisis penggunaan beberapa institusi islam (misal
zakat) terhadap agregat ekonomi, seperti simpanan, investasi, konsumsi, dan
pendapatan.
Beliau mempunyai asumsi dasar yakni tetntang islamic man. Baginya,
semua oarang yang berkeinginan untuk menerima paradigma islam maka dia
dapat disebut sebagai Islamic Man. Jadi orang islam tidak harus muslim. Apabila
seseorang terbiasa menerima tiga pilar ekonomi islam maka pemikiran dan segala
apa yang diputuskan akan berbeda dengan orang yang menjalankan ekonomi
konvesional. Adapun tiga pilar tersebut adalah:
1. Segala sesuatu adalah mutlak milik Allah, dan umat manusia sebagai kholifah-
Nya (memiliki hak / bertanggungjawab)
2. Tuhan itu satu, hanya hukum Allah yang dapat diperlakukan
3. Kerja adalah kebijakan, dan kemalasan adalah sifat buruk; oleh karena itu
diperlukan sikap memperbaiki diri sendiri.
Teori konsumsi dalam ekonomi islam juga mengenal rasionalisme.
Rasionalisme adalah salah satu istilah yang paling bebas digunakan dalam
ekonomi, karena segala sesuatu dapat dirasionalisasikan sekali kita mengacunya

14
kepada beberapa perangkat aksioma yang relevan. Rasionalisme dalam islam
dinyatakan sebagai alternative yang konsisten dengan nilai-nilai Islam.
Seorang dapat dianggap rasional menurut islam apabila dia melakukan
hal-hal berikut:
1. Menghindarkan diri dari sikap israf (berlebih-lebihan melampauhi batas)
2. Mengutamakan akhirat dari pada dunia
3. Konsisten dalam prioritas pemenuhan keperluan
4. Memperhatikan etika dan norma
Adapun konsep asas rasionalisme islam menurut Monzer Kahf adalah
konsep kesuksesan, jangka waktu perilaku konsumen, konsep kekayaan, konsep
barang, etika konsumen. Dan kelima konsep terebut dapat diuraikan sebagai
berikut.
1. Konsep kesuksesan
Dalam dunia islam tidak pernah mengungkiri orang menjadi sukses dalam
perekonomian. Namun kesuksesan tersebut tidak hanya kesuksesan duniawi
saja akan tetapi juga kesuksesan kelak hari kiamat yaitu mencapai ridlo ilahi.
Kesuksesan dalam kehidupan muslim diukur dengan moral agama Islam.
2. Jangka waktu perilaku konsumen
Kehidupan manusia di dunia hanyalah sementara dan ada kehidupan yang
lebih kekal yakni kehidupan akhirat. Maka dalam mencapai kepuasan harus
ada keseimbangan antara dunia dan akhirat. Oleh karena itu, keuntungan di
dunia sanggup dikorbankan demi kepuasan di akhirat.
3. Konsep kekayaan
Dalam islam kekayaan adalah amanah dari Allah SWT untuk mencapai
kesuksesan dan kepuasan di hari kiamat kelak, kebalikannya konvesional
memandang kekayaan sebagai hak individu dan merupakan pengukur tahap
pencapaian mereka di dunia.
4. Konsep barang
Dalam Al-Quran barang dibagi menjadi dua: at-thoyyibah (baik, bersih, dan
suci serta berfaedah) dan al-rizq (rezeki, anugrah, dan hadiah dari Allah) yang
semuanya mengandung halal dan haram. Sedang dalam pandangan ekonomi

15
islam barang di bagi menjadi tiga: dloruriyyat (barang primer), hajiyyat
(barang sekunder), dan tahsiniyyat (barang tersier). Dalam penggunaan
barang-barang tersebut harus memperhatikan maqoshid al-syar’ah (tujuan-
tujuan syariah).
5. Etika konsumen
Agama islam tidak melarang manusia untuk menggunakan barang dalam
mencapai kepuasan selagi manusia itu tidak mengkonsumsi barang yang
haram dan yang merusak dirinya. Tetapi islam melarang menggunakan barang
dengan niat isrof (pembadziran) dan tabdzir (spending in the wrong way)
misal, suap dan berjudi.
Monzer kahf juga mengembangkan pemikirannya di bidang konsumsi
islam dengan memperkenalkan Final Spending (FS) sebagai variable standar
dalam melihat kepuasan maksimum yang diperoleh konsumen muslim. Salah
satunya dimulai dengan melihat adanya asumsi bahwa secara khusus institusi
zakat diasumsikan sebagai sebuah bagian dari struktur sosio-ekonomi. Kahf
berasumsi bahwa zakat merupakan keharusan bagi muzakki. Oleh karena itu,
meskipun zakat sebagai spending yang memberikan keuntungan, namun karena
sifat dari zakat yang tetap, maka diasumsikan di luar Final spending. Rumus Final
Spending bagi individu menurut analisa Kahf adalah:
FS = (Y-S) + (S-SZ)
FS = (Y-SY) + (SY-ZSY) atau
Fs = Y (I-ZS)
Keterangan : FS = Final Spending
s = Presentasi Y yang ditabung
Y = Pendapatan
S = Total tabungan
Z = Presentasi zakat
Semakin tinggi s maka semakin kecil FS.

16
2.3 Kelebihan dan Kekurangan Konsep Bisnis Syari’ah Dibanding
Konvensional
Ilmu ekonomi perusahaan merupakan cabang ilmu ekonomi. Jika ekonomi
mempelajari cara-cara mencapai kemakmuran maka ilmu ekonomi perusahaan
mempelajari cara-cara memenuhi kebutuhan manusia untuk mencapai
kemakmuran.
Ilmu ekonomi berusaha menjelaskan bagaimana manusia (baca: suatu
bangsa) berusaha mencapai kemakmurannya dengan berbagai upaya mengelola
factor-faktor produksi seperti alam, tenaga manusia, dan barang modal dengan
indicator-indikator kemakmuran seperti peningkatan pendapatan nasional,
pendapatan pekapita, laju pertumbuhan ekonomi dll.
Definisi umum dari istilah bisnis atau perusahaan adalah suatu entitas
ekonomi yang diselenggarakan dengan tujuan bersifat ekonomi dan social.
Tercapainya tujuan ekonomi dan sosial dari kegiatan bisnis secara ideal perlu
didukung oleh semua pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung, berjasa
dalam meraih keuntungan bisnis secara layak. Hal ini muncul dengan alasan
bahwa keuntungan yang diperoleh bisnis secara logis disebabkan karena jasa
pihak lain terkait. Dengan kata lain pencapaian tujuan bisnis terwujud karena telah
didukung oleh sumber daya manusia dan non manusia. Sumber daya inilah yang
disebut dengan stakeholder ( versi islam sebagai pemegang amanah dari Allah ).
Proses bisnis adalah suatu kumpulan aktivitas atau pekerjaan terstruktur
yang saling terkait untuk menyelesaikan suatu masalah tertentu atau yang
menghasilkan produk atau layanan (demi meraih tujuan tertentu). Suatu proses
bisnis dapat dipecah menjadi beberapa subproses yang masing-masing memiliki
atribut sendiri, tetapi juga berkontribusi untuk mencapai tujuan dari
superprosesnya. Analisis proses bisnis umumnya melibatkan pemetaan proses dan
subproses di dalamnya hingga tingkatan aktivitas atau kegiatan. Dan sedangkan
Proses Bisnis syariah adalah bisnis yang berlandaskan prinsip-prinsip islam, bisnis
syariah terikat pada moral dan etika sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah
SAW.

17
Islam sangat mengakui desirabilitas “hasrat” dalam aktifitas bisnis. Tidak
seperti agama-agama lain, islam tidak mencela bisnis atau aktifitas duniawi
lainnya. Menurut islam, tidak ada yang salah dalam perdagangan dan
komersialisasi yang adil. Dalam kenyataan, seorang pelaku bisnis yang melakukan
operasi bisnis yang jujur dan sesuai dengan perintah Allah akan dianugrahi pahala
yang setimpal oleh Allah diakhirat. Aktifitas bisnis dapat menjadi satu bagian dari
bentuk peribadatan jika dilaksanakan sesuai dengan perintah Allah dan kode
perilaku islam. Orang bahkan dapat menjalankan aktifitas bisnis ketika haji yang
merupakan bentuk peribadahan tertinggi dalam islam. Jadi tidak ada konflik
inheren antara bisnis yang adil dengan islam. Islam menegaskan bahwa mencari
sumber penghidupan melalui bisnis yang adil adalah seperti mencari anugrah
Allah. Islam memberi nilai tinggi pada kerja keras untuk mencari sumber
penghidupan. Islam “mencela” kecenderungan meminta-minta diantara para
pemeluknya. Ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist berikut ini menjelaskan signifikasi
bisnis dalam islam:
“tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rizki dari hasil perdagangan)
dari tuhanmu (ketika berhaji) “. (Q.S. Al-Baqorah, 2:198)
Dasar filosofi tujuan bisnis syari’ah
Dalam pandangan islam, tujuan memperoleh laba, suatu kegiatan bisnis
diposisikan sebagai kerangka struktur dalam system social dan system ekonomi
secara benar. Oleh Karena itu ada 5 tahap yang perlu dipertimbangkan, yaitu:
1. Bahwa bisnis dilakukan tidak hanya sekedar mencari untung sendirian, tetapi
bisnis juga mencari dan mengiginkan mencapainya tujuan lain yang secara
teori dibutuhkan dalam rangka kelangsungan dan eksistensi bisnis secara
berkelanjutan atau untuk waktu yang panjang.
2. Menfokus pada tujuan keuntungan optimal. Pada tahap ini, orientasi tujuan
keuntungan optimal adalah tujuan jangka panjang dan dilakukan dengan cara
penggunaan sumber daya ekonomi yang benar dan logis setelah memenuhi
kebutuhan dan keinginan pihak-pihak stakeholder.

18
3. Sebagai pendukung tercapainya keuntungan optimal, yaitu untuk memenuhi
kebutuhan dan keinginan masyarakat, tahap ini penting, karena majunya bisnis
ditetapkan oleh masyarakat khususnya masyarakat konsumen.
4. Tahap yang berorientasi pada tujuan untuk menjawab persoalan-persoalan
umat manusia pada umumnya, yaitu mencapai tujuan kesejahteraan hidup
secara ekonomi dan social.
5. Mendirikan bisnis beribadah muamalah, mencari ridha dari Allah, yang sesuai
dengan amanah yang diemban manusia yang dilahirkan dimuka bumi oleh
sang maha pencipta seluruh alam, yaitu manusia dipercaya untuk mengelola
dengan benar dan baik bagi kemaslahatan umat manusia. Kemaslahatan umat
manusia dapat berupa: hidup bersama, berdampingan secara harmonis dan
sama-sama menikmati riski dan karunia yang disediakan oleh Allah dimuka
bumi.
Berdasarkan pengertian dan tujuan bisnis tersebut, maka arah dan maksud
didirikannya bisnis syariah adalah:
1. Untuk ibadah, artinya pengelolaan bisnis diniatkan sebagai ibadah
mualamalah.
2. Untuk kemaslahatan umat manusia.
3. Mendapatkan profit yang layak, artinya: profit = penghasilan – biaya atau
harga – biaya perunit.
4. Menjaga kelangsungan usaha (kontinuitas ) artinya keberlangsungan usaha
sering terjadi.
5. Pertumbuhan, artinya asset berkembang ,tumbuh dan maju dimasa datang.
6. Membangun citra yang baik, artinya citra baik, nama baik, dihargai dan
dihormati dan harum dimasyarakat.
7. Ikut serta memecahkan masalah social.
8. Memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.
9. Menciptakan nilai tambah, artinya nilai yang terbentuk karena bernilai lebih
dibanding nilai input.
10. Memperoleh barokah artinya mendapat kecukupan kenikmatan lahir dan batin
serta manfaar.
11. Mencitakan manfaat dan kesejahteraan.

19
Oleh karena itu, untuk mencapai arah dan maksud tersebut maka yang
harus dilakukan adalah:
1. Memperoleh laba secara layak dan logis atau masuk akal.
2. Mampu mandiri.
3. Memberikan yang terbaik bagi stakeholders.
4. Mampu meminimalkan dan menhilangkan mudharat bagi manusia.
5. Mampu mengelola sumber daya secara adil dan optimal.
6.
Kelebihan dan Kekurangan Sistem Ekonomi Syariah
Sistem ekonomi syariah menjadi salah satu bidang ilmu pengetahuan yang
di jiwai oleh ajaran islam. Sistem ekonomi syariah sangat cocok untuk dikaji
terutama dalam rangka memecahkan masalah-masalah yang melanda
perekonomian dunia saat ini seperti juga kelebiham sistem ekonomi komando .
Sistem ini dianggap paling relavan untuk membangun sistem perekonomian
dalam sebuah negara yang didalamnya didasarkan pada nilai-nilai keislaman.
Tentunya sebagai negara dengan mayoritas muslim penggunaan sistem
perekonomian di Indonesia patut di kaji.
Saat ini telah banyak bank yang mendirikan bank syariah sebagai upaya
untuk membangun sistem perekonomian syariah di Indonesia sebagai contoh
perusahaan industri . Kemampuan ekonomi syariah telah berhasil di tunjukkan
oleh Bank Muamallah. Pada saat krisis 1997 disaat banyak lembaga keuangan dan
perbankan yang gulung tikar, Bank Muamallah tetap dapat bertahan hingga saat
ini. Tentunya hal tersebut karena sistem ekonomi syariah yang digunakan mampu
membuat bank ini mampu bertahan.
Islam melarang segala bentuk riba, namun tidak melarang laba (Return)
sebagai hasil dari usaha seperti juga kelebiham dan kekurangan yayasan . Dalam
islam sistem uang mendapat dukungan yang stabil. Islam memberi keleluasaan
yang luas untuk bentuk uang dan pembayarannya. Seperti sistem ekonomi lainnya
tentunya sistem ekonomi syariah juga memiliki kelebihan dan kekurangan.
Berikut kelebihan dan kekurangan sistem ekonomi syariah yang perlu anda
ketahui. Simak selengkapnya.

20
Kelebihan Ekonomi Syariah
Sistem ekonomi syariah dipandang memiliki kelebihan yang akan di
uraiakan pada poin 1-5 dibawah ini :
1. Adanya Kebebasan Bagi Setiap Individu Untuk Membuat Keputusan
Dalam islam, kebebasan manusia didasarkan atas nilai-nilai tauhid. Nilai
tauhid inilah yang membut manusia memiliki keberanian dan kepercayaan
diri. Dalam sistem ekonomi syariah mensyaratkan setiap individu memiliki
kepebabas dalam mengutarakan pikirannya. Kebebasan ini akan mampu
mengoptimalkan kemampuan manusia dalam bertahan hidup simak juga ciri-
ciri yayasan . Selain itu, setiap individu juga bebas dalam membuat keputisan
yang berhubungan dengan ekonominya tanpa didasari paksaan dari siapapun.
2. Adanya Pengakuan Tehadap Hak Kepemilikan Individu terhadap Harta
dan Hak Untuk Memiliki Harta
Dalam sistem ekonomi ini, pengakuan terhadap hak kepemilikan dan untuk
memiliki harta sangat diakui. Namun, tentunya kepemilikan dan cara
memilikinya harus sesuai dengan cara-cara islam simak juga ciri-ciri firma .
Dalam islam pengaturan kepemilikan harta didasarkan atas kemaslahatan.
Sehingga dengan begitu maka kepemilikan atas harta ersebut akan
menimbulkan sikap saling menghormati dan menghargai antar sesama.
Kesadaran bahwa harta tersebut hanyalah titipan dari Allah SWT, juga
merupakan nilai dasar yang harus di tanamkan.
3. Adanya Ketidaksamaan Ekonomi Dalam Batas yang Wajar
Dalam islam memang diakui adanya perbedaan ekonomi pada setiap
perorangan. Akan tetapi, pada kenyataannya ketidaksamaan tersebut bukan
didasari karena ketetapan Allah seperti juga bentuk-bentuk yayasan .
Melainkan karena ulah manusia sendiri, yang memandang bahwa seorang
yang memiliki jabatan dan harta memiliki derajat yang lebih tinggi di
bandingkan orang lain. Sehingga menimbulkan sebuah paradigma “Bahwa
Allah SWT tidak adil”. Pandangan inilah yang harus di buang, karena
dihadapan sang pencipta setiap manusia itu derajatnya sama.

21
4. Adanya Jaminan Sosial dan Hak untuk Hidup bagi Individu dalam
Sebuah Negara
Setiap individu memiliki hak untuk dapat hidup dan mempertahakan hidupnya
dalam sebuah negara. Setiap warga negara juga dijamin hak sosialnya untuk
mendapatkan kebutuhannya. Tugas pokok ini menjadi tanggung jawab bagi
setiap pemerintahan dalam sebuah negara simak juga transaksi keuangan
perusahaan jasa . Dalam sistem ekonomi syariah, negara memiliki tanggung
jawab untuk mengalokasikan sumber daya alam guna menungkatnya
kesejahteraan rakyatnya secara umum.
5. Adanya Distribusi Kekayaan Islam
Dalam islam tidak dianjurkan untuk menumpuk kekayaan pada srkolompok
masyarakat kecil. Islam menganjurkan untuk mendistribusikan kekayaan
kepada semua lapisan masyarakat sebagai ciri-ciri administrasi usaha. Sumber
daya alam bukanlah merupakan milik pribadi atau kelompok orang tertentu.
Sumber daya alam harus di gunakan untuk kemaslahatan umat. Upaya ini
bukan menjadi hal yang dipermasalahkan jika jika tidak ada usaha untuk
mengoptimslkan melalui jalan ekonomi syariah.

Kekurangan Sistem Ekonomi Syariah


Selain kelebihan yang dimiliki, sistem ekonomi syariah juga tidak lepas
dari adanya kekurangan seperti yang akan di jelaskan pada poin 6-10 di bawah ini:
1. Lambatnya Perkembangan Literatur Ekonomi Islam
Literatur islam yang berasal dari teks teks arab, tidak mengalamai
perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun belakangan ini. Selain
itu, kemunculan berbagai literatur ekonomi konvensional menyebabkan
pandangan masyarakat yang tidak berubah. Dimana mereka memandang
bahwa penyelesaian maalah ekonomi adalah dengan jalan penggunaan sistem
ekonomi konvensional. Tentunya hal ini menimbulkan jusdifikasi di dalam
masyarakat untuk mengesampingkan ide dan pengetahuan lain, termasuk juga
ekonomi syariah. Sehingga sistem ekonomi konvensional hampir

22
mempengaruhi seluruh prilaku manusia simak juga ciri-ciri perusahaan abal-
abal.
2. Lebih Dikenalnya Praktek Ekonomi Konvensional
Praktek ekonomi konvensional juga telah jauh dikenal lebih dahulu ketimbang
ekonomi syariah. Ekonomi konvensional telah menyentuh setiap aspek
kehidupan manusia mulai dari produksi, distribusi hingga konsumsi.
Sedangkan sistem ekonomi syariah merupakam sistem ekonomi baru,
tentunya akan sedikit sulit untuk memaksakan paham ini masuk. Secara
tersirat kita tidak bisa melupakan bahwa sistem ekonomi konvensional
merupakan sistem ekonomi yang diadopsi dari sistem ekonomis sosialis. Nah,
tentunya pada poin inilah sebenarnya kelemahan dari sistem ekonomi syariah
seperti dalam ciri-ciri perusahaan yang akan bangkrut .
3. Kurangnya Pengetahuan Sejarah Tentang Ekonomi Islam
Pada dasarnya sejarah menunjukkan bahwa perkembangan pengetahuan di
Eropa tidak lepas dari pengetahuan islam sebagai contoh bumdes yang telah
berhasil . Namun, masa transformasi yang terjadi di abad pertengahan ini
kurang dikenal oleh masyarakat. Sehingga hal ini, menyebabkan pemahaman
bahwa perkembangam pengetahuan berasal dari eropa. Selain itu, beberapa
informasi juga mengarah kepada pemikiran-pemikiran tokoh eropa. Sebut saja
Adam Smith, Robert Malthus, David Ricardo, JM Keynes yang lebih popular
ketimbang tokoh islam seperti Ibnu Ubaid, Ibnu Tamiyah, Ibny Khaldu, Abu
Yusuf dan masih banyak lagi lainnya.
4. Pendidikan Masyarakat yang Masih Mengedepankan Matrealism
Banyaknya pengangguran yang terjadi bukanlah sekadar didasari oleh
kemalasan individunya. Namun, saat ini fenomena pengangguran lebih
disebabkan karena pemahaman masyarakat mengenai makna dan jenis
pendapatan atau penghasilan yang belum tepat. Setidaknya kita harus berani
mengatakan bahwa ekonomi syariah masih belum dapat membantu ekonomi
kerakyatan sebagai contoh tenaga kerja tidak langsung . Contoh nyatanya
adalah masyarakat lebih senang meminjam modal dari rentenir ketimbang
harus mengajukan pinjaman ke BMT. Hal ini disebabkan oleh sebagian

23
masyarakat kita malas dalam mengurus persyaratan untuk pengajuan pinjaman
ke BMT. Sedangkan jika meminjam pada rentenir tidak memeprlukam
persyaratan dan dana dapat langsung di terima meskipun bunga yang di
tawarkan sangat besar.
5. Tidak Adanya Representasi Ideal Negara Yang Menggunakan Sistem
Ekonomi Ini
Beberapa negara seperti negara islam Timur Tengah yang menggunakan islam
sebagai pedoman pemerintahannya ternyata belum mampu dalam
menjalankam sistem ekonomi syariah secara profesional. Hal inilah yang
kemudian menyebabkan tingkat kesejahteran di negara tersebut kalah cepat di
bandingkan dengan dataran eropa. Kondisi ini tentu sangat berpengaruh dan
menjadi pertimbangan berat ketika harus memilih menggunakan sistem
ekonomi ini simak juga peran humas dalam organisasi .
Kelebihan dan kekurangan sistem ekonomi syariah yang perlu anda ketahui
tentu dapat menjadi sumber referensi bagi anda untuk mengetahui lebih dalam
tentang sistem ekonomi yang satu ini. Meskipun tidak banyak digunakan
namun, pada dasarnya sistem ini memiliki kebaikan dan dapat diterapkan bagi
seluruh bangsa dengan mayoritas penduduk muslim. Namun, tentunys masih
perlu peningkatan pemahaman untuk mendalami lebih jauh tentang sistem
ekonomi syariah. Semoga artikel in dapat membantu.

Perbedaan Bisnis Syari’ah dan Bisnis Konvensional


Terdapat 3 jenis proses bisnis secara syari’ah dan secara konvensional,
yaitu:
1. Proses manajemen, yakni proses yang mengendalikan operasional dari sebuah
sistem. Contohnya: Manajemen Strategis.
a. Syari’ah
Pertama, manajemen ini mementingkan perilaku yang terkait denga
nilai-nilai keimanan dan ketauhidan.
Kedua, manajemen syariah pun mementingkan adanya struktur
organisasi. Ini bisa dilihat pada surat Al An'aam: 65, "Allah meninggikan

24
seseorang di atas orang lain beberapa derajat". Ini menjelaskan bahwa
dalam mengatur dunia, peranan manusi tidak akan sama.
Ketiga, manajemen syariah membahas soal sistem. Sistem ini
disusun agar perilaku pelaku di dalamnya berjalan dengan baik.
b. Konvensional
Di dalam manajemen ini, manajer di saat menghadapi masalah
memecahkannya berdasarkan kepada tindakan-tindakannya yang terdahulu
atau dengan kata lain didasarkan pada masa lalu.
2. Proses Operasional yakni proses yang meliputi bisnis inti dan menciptakan
aliran nilai utama. Contohnya proses pembelian, manufaktur, pengiklanan dan
pemasaran, dan penjualan.
a. Syari’ah, didalam proses operasional ini, proses secara syari’ah dibagi
menjadi 5 macam, yaitu:
1) Mudharabah (perkongsian untung) ialah pengaturan atau perjanjian di
antara pemberi modal dan pengusaha projek di mana pengusaha projek
boleh menggunakan dana bagi menjalankan aktiviti perniagaan beliau.
Sebarang keuntungan yang diperoleh akan dibahagi di antara pemberi
modal dan pengusaha projek tersebut mengikut nisbah yang telah
dipersetujui sementara kerugian akan ditanggung seluruhnya oleh
pemberi modal.
2) Musyarakah (usaha sama) merupakan konsep perbankan Islam yang
biasanya diguna pakai bagi perniagaan perkongsian atau perniagaan
usaha sama untuk sesuatu perusahaan perniagaan. Keuntungan yang
diperoleh akan dikongsi bersama berdasarkan nisbah yang telah
dipersetujui manakala kerugian akan ditanggung berdasarkan nisbah
sumbangan modal.
3) Murabahah ((kos tokok) (bahasa Arab: ‫ ))مرابحححه‬ditakrifkan sebagai
penjualan barangan, yang tidak melanggar syariah, pada harga yang
termasuk margin keuntungan yang dipersetujui oleh kedua-dua penjual
dan pembeli. Antara syarat adalalah harga belian dan jualan, kos-kos

25
lain serta margin keuntungan hendaklah dinyatakan dengan jelas
semasa perjanjian jualan dilaksanakan.
4) Ijarah (pure leasing) adalah pemberian kesempatan kepada penyewa
untuk mengambil kesempatan dari barang sewaan untuk jangka waktu
tertentu dengan imbalan yang besarnya telah disepakati bersama.
Sebagai contoh adalah pembiayaan mobil, pelanggan akan memasuki
kontrak pertama dan memberikan harga sewa mobil tersebut pada
kadar sewa yang telah dipersetujui untuk suatu tempo tertentu. Pada
akhir tempo pembayaran, kontrak kedua akan dikuatkuasakan bagi
pelanggan untuk membeli kendaraan tersebut pada harga yang telah
dipersetujui.
5) Wadiah adalah jasa penitipan dana dimana penitip dapat mengambil
dana tersebut sewaktu-waktu. Dengan sistem wadiah Bank tidak
berkewajiban, namun diperbolehkan, untuk memberikan bonus kepada
nasabah.
b. Konvensional
1) Penciptaan kredit
2) Fungsi giral
3) Penanaman dan penagihan
4) Akumulasi tabungan dan investasi
5) Jasa-jasa trust
6) Jasa-jasa lain
7) Perolehan laba untuk imbalan para pemegang saham
c. Proses pendukung, yaitu yang mendukung proses inti. Contohnya semisal
akunting, rekruitmen, dan pusat bantuan.
Tidak ada perbedaan proses pendukung antara bank syariah dan
bank Non syariah (konvensional), karena baik bank syariah dan bank
konvensional sama-sama membutuhkan akunting, rekruitmen, dan pusat
bantuan.

26
Berikut ini table tentang perbedaaan yang mendasari perbedaan prosess
bisnis syariah dan konvensional.
No. Proses Bisnis Syariah No. Proses Bisnis Konvensional
1. Kegiatan Ekonomi diorientasikan1. Motovasi dalam kegiatan berbisnis
untuk kebahagiaan dunia dan didasari oleh keinginan dunia
akhirat tanpa memperhatikan akhirat
2. Memiliki Pemahaman Terhadap2. Tidak Memiliki Pemahaman
Bisnis yang Halal dan Terhadap Bisnis Yang Halal dan
Haram(Modal, Proses,dll) Haram (Modal,Proses,dll)
3. Benar secara Syar'i dalam3. Proses pemasaran bisnis
Implementasi konvensional menghalalkan segala
cara
4. Proses Bisnis Syariah selalu4. Proses Konvensional Tidak Selalu
didahului akad/perjanjian didahului akad/perjanjian dalam
pelaksanaanya

27
BAB III
PENUTUP

Dengan tersusunnya makalah ini dan terpenuhilah tugas penulis dalam


rangka menambah nilai tugas khususnya mata kuliah “Ekonomi Bisnis Syari’ah”
ini. Penulis menyadari bahwa dalam makalah yang telah disusun ini masih belum
sempurna dan masih banyak kekurangan-kekurangan. Dan tak lupa pula penulis
berterima kasih kepada bapak dosen mata kuliah Ekonomi Bisnis atas bimbingan
dan keikhlasannya dalam membimbing kami serta pihak-pihak yang telah
membantu penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan
baik.
Pada kesempatan ini penulis meminta maaf yang sebesar-besarnya apabila
dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan-kekurangan yang
perlu ditambahkan. Penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi
pembaca.

28
DAFTAR PUSTAKA

Muslich, bisnis syari’ah perspektif mu’amalah dan manajemen, unit penerbit dan
percetakan sekolah tinggi ilmu manajamen YKPN, 2007

Jabir Al-Alwani Taha, Bisnis Islam, AK GROUP, 2005

Ranupandojo, Heidjrachman, Dasar-dasar Ekonomi Perusahaan, UPP AMP


YKPN, 1990

http://unknown-alones.blogspot.com/2012/09/proses-bisnis-syariah-dan-non-
syariah.html

29