Anda di halaman 1dari 14

RESUME DESAIN TEKSTIL

“UNSUR DAN PRINSIP DESAIN”

Nama : Wahyu Robi’ah Nuralhasanah


NPM : 16020009
Dosen : A. I. Makki, S.ST., MT.

POLITEKNIK STTT BANDUNG


2017
Desain adalah sebuah sroses kreatif, baik itu berwujud sbuah rencana, propodal atau
berbentuk objek nyata. Desain juga dapat diartikan membuat pola-pola; proses merencana
suatu karya seni yang terpakai dengan meningdahkan fungsi, komposisi warna,tata letak,
bentuk, harga memenuhi keinginan pasar dan bisa dijual.

Desain tekstil adalah rancangan motif dan corak baik struktur kain maupun permukaan
kain dengan teknik titik,garis,bidang warna.

UNSUR DESAIN
Untuk menghasilkan desain yang menarik mata, ada beberapa unsur yang harus dipelajari
yaitu unsur dalam desain. Semua unsur tersebut tidak harus dimasukkan sekaligus dalam
sebuah karya desain karena ada sebagian desain yang menuntut salah satu dari unsur
tersebut harus diprioritaskan jadi ada penekanan-penekanan dalam setiap unsur. Berikut
ini adalah unsur-unsur dalam desain :
1. Garis (Line)
Sebuah garis adalah unsur desain yang menghubungkan antara satu titik poin
dengan titik poin yang lainnya. Garis dapat diartikan sebagai goresan pensil, pena, atau
mouse dalam komputer dan lain sebagainya. Garis tidak mengenal istilah
kedalaman (depth), dan hanya memiliki ketebalan dan panjang, oleh sebab itu garis
sering dimaknai sebagai elemen satu dimensi. Bentuk garis memiliki banyak variasi,
bentuk garis itu sendiri biasanya dapat memaknai penggunaanya. contoh penggunaan
garis misalnya :

 Garis lurus, garis lurus biasanya diidentikan dengan kesan kaku, variasi ini
biasanya digunakan sebagai simbol formalitas.
 Garis lengkung, penggunaan garis lengkung biasanya memberikan kesan lembut
dan luwes.
 Garis zigzag, garis zigzag sering dimaknai sebagai garis yang keras sekaligus
dinamis.
 Garis tidak beraturan, garis ini bisanya menimbulkan kesan fleksibel dan
informal.
 Garis horizontal, horizontal melambangkan kesan pasif.
 Garis vertikal, vertikal sering dimaknai sebagai bentuk garis yang memiliki kesan
stabil.
 Garis diagonal, garis ini dapat diartikan sebagai makna aktif, dinamis dan
menarik perhatian.

Penggunaan garis sendiri dapat memberikan perbedaan dalam perasaan dan juga
dalam menstimulus ataupun mengeksekusi sebuah gagasan atau ide. Misalnya saja
dengan mengubah tekanan, lekukan, ketebalan, akan menimbulkan hasil yang
berbeda. Penggunaan garis dalam desain komunikasi visual tidak terikat dengan
aturan dam pakem tertentu, karena pada dasarnyagaris merupakan sebuah elemen
visual yang dapat dipakai dimana saja.

Dalam penggunaanya, sebuah garis perlu diperhitungkan secara cermat, sehingga


tidak terkesan asal-asalan dan dipaksakan. Penggunaan variasi garis yang sangat
bagus akan menambah unsur estetika dan kenyamanan untuk orang yang melihat.
Karena tujuan dari desain komunikasi visual sendiri adalah untuk menyajikan
informasi baik verbal maupun visual agar dapat sampai dengan mudah,
menyenangkan, sekaligus mengesankan. Desainer grafis sering kali juga
menggunakan unsur garis sebagai ilustrasi.
2. Bidang (Shape)
Bidang atau biasanya juga disebut shape merupakan segala bentuk apapun yang
memiliki dimensi tinggi dan lebar bidang dapat berupa bentuk-bentuk geometris
seperti (lingkaran, segitiga, segiempat, elips, setengah lingkaran, dan sebagainya) dan
bentuk-bentuk yang tidak beraturan. Bidang geometris memiliki kesan yang formal,
sedangkan bidang non geometris memiliki kesan yang lebih dinamis dan tidak formal.

3. Tekstur (Texture)

Tekstur adalah nilai halus dan kasarnya sebuah benda, atau juga bisa disebut nilai
raba. Penggunaanya dapat dimayakan untuk memberikan visual yang berkesan dan
berkarakter. Dalam sebuah desain komunikasi visual tekstur sering digunakan untuk
mengatur keseimbangan dan kontras. Pada prakteknya tekstur sering dikategorikan
sebagai corak dari suatu permukaan benda, misalnya permukaan karpet, baju, kulit,
kayu, dan sebagainya. Penggunaan tekstur dalam desain grafis juga biasanya sering
diaplikasikan pada latar desain atau sering kita sebut background desain.
4. Ruang (Space)

Ruang atau space merupakan jarak anatara suatu bentuk dengan bentuk yang
lainnya, yang pada desain grafis biasanya dapat dijadikan sebagai unsur pemberi efek
estetika desain. Dalam pengertian desain grafis area yang kosong yang berada diantara
elemen-elemen visual juga dianggap sebagai elemen desain. Bidang kosong
dimaksudkan untuk menambah kesan nyaman dan “istirahat” serta memberikan kesan
tekanan kepada objek visual yang ada dalam sebuah desain.

5. Ukuran (Size)

Ukuran adalah unsur lain dalam desain grafis yang mendefinisikan besar kecilnya
suatu objek. Unsur ini digunakan untuk memperlihatkan objek manakah yang kita
mau tonjolkan karena dengan menggunakan unsur ini seorang desainer grafis akan
dapat menciptakan kontras dan penekanan (emphasis) pada objek desain sehingga
orang akan tahu skala prioritas objek yang akan dilihat terlebih dahulu dibandingkan
yang lainnya, misalnya saja untuk ukuran suatu judul akan lebih besar dari skala objek
yang lainnya.
6. Warna (Colour)

Warna adalah elemen dari unsur desain grafis yang menjadi penarik perhatian
paling utama. Penggunaan warna yang tepat akan berbanding lurus dengan kualitas,
citra, keterbacaan, dan penyampaian pesan dalam desain tersebut. semisal adalah
untuk penggunaan warna yang lembut akan memancarkan kesan romantis, kedamaian,
dan kenyamanan. Sedangkan warna-warna tegas dan terang akan memberi kesan
dinamis. Menghindari memadukan warna yang salah adalah sangat penting untuk
menjauhi penafsiran yang salah oleh orang yang melihatnya.

Pengelompokan Warna
Ada bermacam-macam teori yang berkembang mengenai warna, di antaranya
teori Oswolk, Mussel, Prang, Buwster, dan lain-lain. Dari bermacam-macam teori
ini yang lazim dipergunakan dalam desain busana dan mudah dalam proses
pencampurannya adalah teori warna Prang karena kesederhanaannya. Prang
mengelompokkan warna menjadi lima bagian, yakni warna primer, sekunder,
intermedier, tertier, dan kuarter.
1) Warna primer, warna ini disebut juga dengan warna dasar atau pokok karena
warna ini tidak dapat diperoleh dengan pencampuran hue lain. Warna primer
terdiri dari merah, kuning, dan biru.

2) Warna sekunder, warna ini merupakan hasil pencampuran dari dua warna primer.
Warna sekunder terdiri terdiri dari orange, hijau, dan ungu.
a) Warna orange merupakan hasil dari pencampuran warna merah dan kuning.
b) Warna hijau merupakan pencampuran dari warna kuning dan biru.
c) Warna ungu adalah hasil pencampuran merah dan biru.

3) Warna intermediet, warna ini dapat diperoleh dengan dua cara, yaitu dengan
mencampurkan warna primer dengan warna sekunder yang berdekatan dalam
lingkaran warna atau dengan cara mencampurkan dua warna primer dengan
perbandingan 1:2.
a) Kuning hijau (KH) adalah hasil pencampuran dari kuning ditambah
hijau atau dua bagian kuning ditambah satu bagian biru (K+K+B)
b) Biru hijau (BH) adalah hasil pencampuran biru ditambah hijau atau dua
bagian biru di tambah satu bagian kuning (B+B+K)
c) Biru ungu (BU) adalah hasil pencampuran biru dengan ungu atau
pencampuran dua bagian biru dengan satu bagian merah (B+B+M).
d) Merah ungu (MU) adalah hasil pencampuran merah dengan ungu atau
pencampuran dua bagian merah dan satu bagian biru (M+M+B)
e) Merah orange (MO) adalah hasil pencampuran merah dengan orange atau
pencampuran dua bagian merah dan satu bagian kuning (M+M+K)
f) Kuning orange (KO) adalah hasil pencampuran kuning dengan orange atau
pencampuran dua bagian kuning dan satu bagian merah (K+K+M)

4) Warna tertier
Warna tertier adalah warna yang terjadi apabila dua warna sekunder dicampur.
Warna tertier ada tiga, yaitu tertier biru, tertier merah, dan tertier kuning.
a) Tertier biru adalah hasil pencampuran ungu dengan hijau.
b) Tertier merah adalah hasil pencampuran orange dengan ungu.
c) Tertier kuning adalah hasil pencampuran hijau dengan orange.

5) Warna kwarter
Warna kwarter adalah warna yang dihasilkan oleh pencampuran dua warna
tertier. Warna kwarter ada tiga, yaitu kwarter hijau, kwarter orange, dan kwarter
ungu.
a) Kwarter hijau terjadi karena percampuran tertier biru dengan tertier kuning.
b) Kwarter orange terjadi karena percampuran tertier merah dengan tertier
kuning.
c) Kwarter ungu terjadi karena percampuran tertier merah dengan tertier biru.

Warna berdasarkan sifat


Warna menurut sifatnya dapat dibagi atas 3 bagian, yaitu sifat panas dan dingin
atau hue dari suatu warna, sifat terang dan gelap atau value warna, serta sifat terang
dan kusam atau intensitas dari warna.

1) Sifat panas dan dingin


Sifat panas dan dingin suatu warna sangat dipengaruhi oleh huenya. Hue
merupakan suatu istilah yang dipakai untuk membedakan suatu warna dengan
warna yang lainnya, seperti merah, kuning, biru, dan lainnya. Perbedaan antara
merah dan kuning ini adalah perbedaan huenya. Hue dari suatu warna
mempunyai sifat panas dan dingin. Warna-warna panas adalah warna yang
berada pada bagian kiri dalam lingkaran warna, yang termasuk dalam warna
panas ini yaitu warna yang mengandung unsur merah, kuning, dan jingga. Warna
panas ini memberi kesan berarti agresif, menyerang, membangkitkan, gembira,
semangat, dan menonjol. Sedangkan warna yang mengandung unsur hijau, biru,
ungu disebut warna dingin. Warna dingin lebih bersifat tenang, pasif, tenggelam,
melankolis, serta kurang menarik perhatian.

2) Sifat terang dan gelap


Sifat terang dan gelap suatu warna disebut dengan value warna. Value warna
ini terdiri atas beberapa tingkat. Untuk mendapatkan value ke arah yang lebih tua
dari warna aslinya disebut dengan shade, dilakukan dengan penambahan warna
hitam. Sedangkan untuk warna yang lebih muda disebut dengan tint, dilakukan
dengan penambahan warna putih.

3) Sifat terang dan kusam


Sifat terang dan kusam suatu warna dipengaruhi oleh kekuatan warna atau
intensitasnya. Warna-warna yang mempunyai intensitas kuat akan kelihatan lebih
terang, sedangkan warna yang mempunyai intensitas lemah akan terlihat kusam.

Kombinasi Warna
Dari berbagai warna yang sudah ada, besar kemungkinan belum ditemui warna
yang diinginkan. Oleh sebab itu, warna ini perlu dikombinasikan.
Mengkombinasikan warna berarti meletakkan dua warna atau lebih secara berjejer
atau bersebelahan. Jenis-jenis kombinasi warna dapat dikelompokkan atas:
1) Kombinasi monokromatis atau kombinasi satu warna yaitu kombinasi satu warna
dengan value yang berbeda. Misalnya merah muda dengan merah, hijau muda
dengan hijau tua, dll. seperti di bawah ini:
2) Kombinasi analogus yaitu kombinasi warna yang berdekatan letaknya dalam
lingkaran warna. Seperti merah dengan merah keorenan, hijau dengan biru
kehijauan, dll.

3) Kombinasi warna komplementer yaitu kombinasi warna yang bertentangan


letaknya dalam lingkaran warna, seperti merah dengan hijau, biru dengan orange
dan kuning dengan ungu.

4) Kombinasi warna split komplementer yaitu kombinasi warna yang terletak pada
semua titik yang membentuk huruf Y pada lingkaran warna. Misalnya kuning
dengan merah keunguan dan biru keunguan, biru dengan merah keorenan dan
kuning keorenan, dan lain-lain.
5) Kombinasi warna double komplementer yaitu kombinasi sepasang warna yang
berdampingan dengan sepasang komplementernya. Misalnya kuning orange dan
biru ungu.
6) Kombinasi warna segitiga yaitu kombinasi warna yang membentuk segitiga
dalam lingkaran warna. Misalnya merah, kuning dan biru. Orange, hijau, dan
ungu. Kombinasi warna monokromatis dan kombinasi warna analogus di atas
disebut kombinasi warna harmonis, sedangkan kombinasi warna komplementer,
split komplementer, double komplementer dan segitiga disebut juga kombinasi
warna kontras.
PRINSIP DESAIN
Desain grafis juga memiliki prinsip seperti halnya manusia, seseorang dikenal karena
prinsipnya, prinsip utama harus ditampilkan dalam sebuah desain grafis sehingga karya
tersebut komunikatif, sedangkan unsur yang lainnya ditampilkan sekedar dan tidak
mengalahkan unsur utama. Semuanya itu tergantung selera desainer grafis, klien dan
khalayak yang menjadi sasaran pesan. Berikut ini adalah prinsip-prinsip dalam desain :

1. Kesederhanaan (Simpliciy)
Kesederhanaan menuntut penciptaan karya yang tidak lebih dan tidak kurang.
Kesederhanaan seing juga diartikan tepat dan tidak berlebihan. Pencapaian
kesederhanaan mendorong penikmat untuk menatap lama dan tidak merasa jenuh.
Dalam penggunaan huruf sebuah berita misalnya. Huruf judul (headline),
subjudul dan tubuh berita (body text) sebaiknya jangan menggunakan jenis font yang
ornamental dan njilimet, seperti huruf blackletter yang sulit dibaca. Prinsip ini bisa
diterapkan dengan penggunaan elemen ruang kosong (white space) dan tidak
menggunakan terlalu banyak unsur-unsur aksesoris. Seperlunya saja.

2. Keseimbangan (Balance)
Keseimbangan adalah keadaan atau kesamaan antara kekuatan yang saling
berhadapan dan menimbulkan adanya kesan seimbang secara visual. Prinsip
keseimbangan ada dua, yaitu: keseimbangan formal (simetris) dan keseimbangan
informal.
Keseimbangan formal memberikan kesan sempurna, resmi, kokoh, yakin dan
bergengsi. Keseimbangan formal juga menyinggung mengenai konsistensi dalam
penggunaan berbagai elemen desain. Semisal wana logo. Dalam desain kartu nama
desain dibuat dengan full color (F/C). Tetapi dengan pertimbangan agar desain lebih
variatif dan tidak membosankan, maka pada media desain yang berbeda Anda
membuat logo tersebut dengan warna duotone. Nah, pada kondisi ini, gagasan variasi
desain sebaiknya tidak diperlukan. Apa jadinya kalau logo tersebut adalah logo sebuah
produk barang. Konsistensi juga sangat diperlukan sebagai kesan identitas yang
melekat pada sebuah merek produk. Kita tidak mau konsumen sampai lupa pada
produk yang dijual. Sedangkan keseimbangan informal bermanfaat menghasilkan
kesan visual yang dinamis, bebas, lepas, pop, meninggalkan sikap kaku, dan
posmodernis.
3. Kesatuan (Unity)
Kesatuan merupakan salah satu prinsip dasar tata rupa yang sangat penting. Tidak
adanya kesatuan dalam sebuah karya rupa akan membuat karya tersebut terlihat cerai-
berai, kacau-balau yang mengakibatkan karya tersebut tidak nyaman dipandang. Prinsip
ini sesungguhnya adalah prinsip hubungan. Jika salah satu atau beberapa unsur rupa
mempunyai hubungan (warna, raut, arah, dll), maka kesatuan telah tercapai.
Kesatuan adalah kohesi, konsistensi, ketunggalan atau keutuhan, yang merupakan
isi pokok dari komposisi. Contohnya adalah ilustrasi, garis dan teks diberi raster
sehingga memberikan kesan kesatuan terhadap pesan yang dimaksud.

4. Penekanan (aksentuasi)
Penekanan dimaksudkan untuk menarik perhatian pembaca, sehingga ia mau
melihat dan membaca bagian desain yang dimaksud. Kalau dalam konteks desain
surat kabar ini bisa dilakukan dengan memberikan kotak raster atas sebuah berita. Hal
ini akan mengesankan pentingnya berita itu untuk dibaca oleh pembaca. Atau juga
membesarkan ukuran huruf pada judul berita, sehingga terlihat jauh berbeda dengan
berita lainnya. Penekanan juga dilakukan melalui perulangan ukuran, serta kontras
antara tekstur, nada warna, garis, ruang, bentuk atau motif.

5. Irama (repetisi/rhytm)
Irama adalah pengulangan gerak yang teratur dan terus menerus. Dalam bentuk
– bentuk alam bisa kita ambil contoh pengulangan gerak pada ombak laut, barisan
semut, gerak dedaunan, dan lain-lain. Prinsip irama sesungguhnya adalah hubungan
pengulangan dari bentuk – bentuk unsur rupa.
Irama merupakan pengulangan unsur-unsur pendukung karya seni. Irama
merupakan selisih antara dua wujud yang terletak pada ruang, serupa dengan interval
waktu antara dua nada musik beruntun yang sama. Desain grafis mementingkan
interval ruang atau kekosongan atau jarak antar obyek. Misalnya jarak antarkolom.
Jarak antar teks dengan tepi kertas, jarak antar 10 foto di dalam satu halaman dan lain
sebagainya.
6. Proporsi (Proportion)
Proporsi termasuk prinsip dasar tata rupa untuk memperoleh keserasian. Untuk
memperoleh keserasian dalam sebuah karya diperlukan perbandingan – perbandingan
yang tepat. Pada dasarnya proporsi adalah perbandingan matematis dalam sebuah
bidang. Proporsi Agung (The Golden Mean) adalah proporsi yang paling populer dan
dipakai hingga saat ini dalam karya seni rupa hingga karya arsitektur. Proporsi ini
menggunakan deret bilangan Fibonacci yang mempunyai perbandingan 1:1,618, sering
juga dipakai 8 : 13. Konon proporsi ini adalah perbandingan yang ditemukan di benda-
benda alam termasuk struktur ukuran tubuh manusia sehingga dianggap proporsi yang
diturunkan oleh Tuhan sendiri. Dalam bidang desain proporsi ini dapat kita lihat dalam
perbandingan ukuran kertas dan layout halaman.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Desain Tekstil. [online]. Tersedia :


http://sen1budaya.blogspot.com/2013/08/desain-tekstil.html [2018, Juli 24]

Badriya, Yaya. Unsur-unsur Desain Grafis dan Prinsipnya. [online]. Tersedia :


https://ilmuseni.com/seni-rupa/seni-grafis/unsur-desain-grafis [2018, Juli 24]

Anonim. (2017). Pengertian, Prinsip Desain Grafis dan Unsur Desain Grafis. [online].
Tersedia : https://blog-definisi.blogspot.com/2017/05/pengertian-prinsip-desain-
grafis-dan.html [2018, Juli 24]

Jenitri, Tyas. (2013). Prinsip & Unsur Desain Grafis. [online]. Tersedia :
https://tyasjenitri.wordpress.com/2013/02/26/prinsip-unsur-desain-grafis/ [2018, Juli
24]

Aristanti, Ana. (2010). Unsur-Unsur Desain Busana. [online]. Tersedia :


http://anaarisanti.blogspot.com/2010/12/unsur-unsur-desain-busana.html [2018, Juli
24]