Anda di halaman 1dari 7

ARSITEKTUR PADANG

Keunikan dari Padang Sumatera Barat – Siapa yang tak pernah mendengar Kota Padang?
Mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia mengenal kota Padang dari kulinernya yang sangat
maknyus seperti Rendang yang menjadi makanan khas Indonesia yang terkenal. Tapi dibalik
kulinernya yang sangat lezat itu, Kota dengan legenda Malin Kundang dan Siti Nurbaya ini
memiliki keunikan yang berbeda dari kota-kota lainnya di Indonesia. Apa saja keunikan dari
Padang? Berikut ini informasinya

1. Memiliki Gaya Arsitektur yang Khas


Rumah gadang merupakan rumah adat minangkabau yang merupakan
rumah tradisional. Rumah gadang memiliki arsitektur khas yang terletak
pada bentuk puncak atapnya runcing yang menyerupai tanduk kerbau.
Karena keunikannya ini, gaya arsitektur rumah gadang menjadi inspirasi
bangunan di berbagai dunia. Salah satunya adalah The House of The Five Sense
yang berada di belanda, rumah ini tercatat di Guinness book of records karena
atap jeraminya yang luas.

2. Memiliki Jam yang Mesinnya Cuma Ada Dua di Dunia


Singgah ke Padang tak lengkap rasanya jika tidak mampir ke jam gadang
yang merupakan icon dari Sumatera Barat. Tahukah anda jika mesin yang
digunakan untuk menggerakkan jam ini hanya ada dua di dunia yaitu di
Jam Gadang, Padang dan di Big Ben di Inggris. Dan yang cukup unik
adalah penulisan angka empat pada jam Gadang. Jika biasanya angka 4
dalam romawi di tulis IV maka di jam ini ditulis IIII. Jadi jam gadang ini
menjadi ciri khas kota Padang yang secara tidak langsung menjadi ciri
khas indonesia karena keberadaan Jam tersebut yang hanya ada 2 di Dunia.
Rumah Adat Sumatera Barat

– Sumatera Barat adalah salah satu dari sekian banyak provinsi di Indonesia
dengan menjadikan kota Padang sebagai ibu kotanya. Sesuai dengan namanya, provinsi tersebut terletak di pesisir
barat pulau Sumatera. Dibagian sebelah barat provinsi ini terdapat sebuah kumpulan pulau-pulau kecil yang
bernama Kepulauan Mentawai yang bahkan masih termasuk bagian dari wilayah Sumatera Barat.

Kebanyakan di Sumatera Barat ini dihuni oleh masyarakat Suku Minangkabau dan telah diyakini sebagai penduduk
asli dan sekaligus mayoritas disana. Suku Minangkabau atau lebih dikenal dengan orang Minang, memiliki ikatan
dengan suku Melayu yang kini memiliki berbagai budaya dan karakteristik yang unik. Tak hanya itu, ternyata
penduduk disana terkenal dengan pandai berniaga, gemar merantau, dan pintar memasak

Bangunan adat ini merupakan rumah model panggung yang berukuran besar serta memiliki bentuk persegi panjang.
Hampir sama dengan rumah adat di Indonesia pada umumnya, rumah adat Minangkabau ini terbuat dari dibuat dari
beberapa material yang berasal dari alam. Misalnya pada tiang penyangga, dinding dan lantainya yaitu terbuat dari
papan kayu dan juga bambu, sedangkan pada bagian atapnya yang berbentuk seperti tanduk kerbau ini terbuat dari
ijuk. Selain itu ternyata ada juga yang menyebutkan bahwa pada atap dari bangunan ini diibaratkan seperti bentuk
kapal yaitu dengan ukuran kecil dibawah dan yang besar dibagian atas. Kemudian pada bagian atapnya juga
mempunyai lengkung keatas yang kurang lebih seperti setengah lingkaran. Meskipun rumah adat ini hampir 100%
terbuat dari alam, namun arsitektur dari bangunan ini memiliki desain yang sangat bagus dan juga sangat kuat.
Selain itu rumah adat dari Sumatera Barat ini ternyata memiliki desain yang tahan gempa yang sesuai dengan
kondisi geografis didaerah tersebut yang sangat rawan dengan bencana gempa. Dengan desain yang tahan terhadap
gempa tersebut, pada rumah adat Gadang ini di salah satu tiangnya ada yang menancap di tanah. Kemudian pada
tiang yang lainnya dari rumah adat ini justru menumpang atau bertumpu pada batu-batuan di atas tanah. Sehingga
dengan desain yang seperti itu, pada bangunan tersebut tidak akan tubuh meskipun terjadi gempa yang kuat. Tak
hanya itu, pada setiap pertemuan antara tiang dan kaso besar pada rumah adat ini tidak disatukan dengan paku,
melainkan menggunakan pasak yang terbuat dari kayu. Sehingga dengan teknik sambungan seperti itu bangunan
tersebut akan bergerak dengan fleksibel meski terguncang dengan getaran gempa.
Kemudian ada setiap elemen dari bangunan rumah adat Gadang tersebut juga memiliki makna tersendiri. Ada
beberapa unsur-unsur yang terdapat pada rumah adat Gadang ini diantaranya:

 Gojong yaitu struktur pada atap dari rumah adat ini yang seperti tanduk kerbau.
 Singkok, sebuah dinding yang berbentuk segitiga yang berada di bawah ujung bojong.
 Pereng, yaitu rak yang ada di bawah singkok.
 Anjuang, merupakan sebuah lantai yang mengambang.
 Dindiang ari, merupakan sebuah dinding yang berada di bagian samping dari bangunan rumah adat ini.
 Dindiang tapi, yakni sebuah dinding yang terletak di bagian depan dan belakang.
 Papan banyak, fasad depan.
 Papan sakapiang, adalah sebuah rak yang ada di pinggir rumah.
 Salangko, yaitu merupakan sebuah dinding yang berada di bawah rumah.

Untuk memenuhi fungsi tersebut, bangunan ini


didesain sedemikian rupa yang sesuai dengan aturan-aturan adat yang berlaku sejak lama. Adapun beberapa aturan
tersebut misalnya pada pembagian ruangan berdasarkan kegunaannya, misalnya:

 Seluruh bagian di dalam rumah adat Gadang ini adalah ruangan lepas kecuali kamar tidur.
 Jumlah kamar yang ada di dalam rumah tersebut bergantung pada jumlah perempuan yang tinggal disana.
 Setiap perempuan yang sudah menikah berhak mendapatkan satu kamar.
 Untuk perempuan tua dan yang masih anak-anak mendapatkan satu kamar yang terletak di dekat dapur.
 Kemudian untuk gadis yang masih remaja mendapatkan satu kamar yang berada di ujung dekat dapur.
 Pada halaman depan rumah terdapat 2 buah Rangkiang. Rangkiang yaitu bangunan yang biasanya
digunakan untuk menyimpan padi dan beberapa bahan pangan lainnya.
 Pada sayap kanan dan kiri dari bangunan tersebut terdapat sebuah ruangan anjung (dalam bahasa Minang
disebut anjuang) yang digunakan sebagai tempat pengantin bersanding atau untuk penobatan kepala adat.
 Disekitar rumah adat Gadang ini biasanya terdapat sebuah surau kaum yang memiliki fungsi sebagai
tempat untuk beribadah, pendidikan dan sekaligus untuk tinggal lelaki dewasa yang belum menikah dari
keluarga tersebut.
Nilai Filosofi dan Ciri Khas Rumah Adat dari Sumatera

Pada umumnya Rumah Gadang ini dibangun diatas sebidang tanah milik suatu keluarga induk. Selain itu juga diwariskan secara turun temurun
kepada kaum perempuan saja. Aturan tersebut memiliki filosofi bahwa derajat kaum wanita di Suku Minang ini sangatlah dijunjung tinggi.

Pada bentuk puncak selalu runcing dan tampak menyerupai dengan tanduk kerbau yang memiliki arti yaitu sebagai
lambang kemenangan. Dengan bentuk yang seperti tanduk kerbau tersebut sering dikaitkan dengan kisah Tombo
Alam Minangkabau, yaitu sebuah kisah yang menceritakan kemenangan adu kerbau antara orang Minang dengan
orang Jawa. Pada bagian atap dari rumah adat Minangkabau ini terbuat dari ijuk dan bisa bertahan hingga sampai
puluhan tahun.

Rumah adat ini termasuk dalam model panggung, oleh karena itu untuk memasuki bangunan tersebut kita harus
menaiki tangga kecil dibagian depan. Tangga pada rumah adat Minang ini hanya terdapat satu buah saja, dan tangga
tersebut merupakan simbol bahwa penduduk Minang masyarakat yang religius.

Pada dinding dari bangunan ini biasanya dihiasi dengan beragam motif ukiran yang diberi warna kuning, merah,dan
hitam. Adapun pada ukiran tersebut biasanya juga terdapat berbagai macam motif flora dan fauna, seperti tumbuhan
yang merambat, akar berdaun dan lain sebagainya. Dengan banyaknya motif-motif tersebut diyakini melambangkan
bahwa penduduk Minang adalah masyarakat yang dekat dengan alam.

Menurut tradisi yang ada, tiang utama pada Rumah Gadang atau yang biasa disebut tonggak tuo berjumlah empat
buah/batang ini diambil dari hutan secara gotong royong oleh anak nagari, terutama oleh kaum kerabat, dan
melibatkan puluhan orang. Pada umumnya batang pohon yang ditebang adalah pohon juha yang telah tua dan lurus
(karena dipakai sebagai tiang) dengan diameter antara 40cm hingga 60cm. Pohon juha ini dipilih sebagai bahan
tiang karena terkenal akan kayunya yang keras dan kuat. Setelah dapat dan ditebang kemudian batang pohon juha di
bawa ke dalam nigari. Namun batang pohon juha tersebut tidak langsung digunakan melainkan harus direndam
dalam kolam milik kaum atau keluarga besar terlebih dulu selama bertahun-tahun sebelum akhirnya digunakan.
Setelah kurun waktu yang telah ditentukan batang pohon juha tersebut lalu diangkat untuk digunakan sebagai
tonggak tuo. Prosesi pengangkatan pohon juha yang telah direndam ini disebut sebagai mambangkit batang
tarandam atau membangkitkan pohon yang direndam.Kemudian proses pembangunan Rumah Gadang berlanjut ke
proses berikutnya yaitu mendirikan tonggak tuo atau tiang utama sebanyak empat tiang yang dipandang untuk
menegakkan kebesaran. Sebagai catatan: Batang pohon yang telah direndam selama bertahun-tahun kemudian akan
menjadi sangat keras dan tidak bisa dimakan oleh rayap. Sehingga batang pohon tersebut dapat bertahan sebagai
tonggak tuo (tiang utama) selama ratusan tahun. Perendaman batang pohon juha yang akan diguakan sebagai
tonggak tuo selama bertahun-tahun tersebut adalah salah satu kunci yang membuat Rumah Adat Minangkabau atau
Rumah Gadang tradisional ini mampu bertahan sampai ratusan tahun melintasi zaman.

Masjid Raya Sumatera Barat: Terbesar-Termegah dan Tahan Gempa

Masjid Raya Sumatera Barat adalah masjid terbesar dan termegah dan tahan gempa ini
berlokasi di tempat paling stategis, persis di jantung ibu kota. Tepatnya, di persimpangan antara
Jalan Khatib Sulaiman dan Jalan KH Ahmad Dahlan, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang.

Lokasi yang sangat strategis ini, tentu sangat menguntungkan, bila kelak bangunan megah
ini,siap untuk menjadi tujuan wisata religi di Sumatera Barat. Dibagian barat bangunan ini,
tampak belasan pekerja ,sedang merampungkan anak tangga untuk menuju ke bangunan utama.

Peletakkan batu pertama, dilakukan 21 Desember 2007.,namun baru mulai dibangun pada tahun
2008 . Pertama kalinya, Masjid Raya Sumatera Barat digunakan untuk ibadah pada Februari
tahun lalu,

Pembangunan masjid raya ini telah melewati empat tahap. Tahap pertama untuk menyelesaikan
struktur bangunan menghabiskan waktu dua tahun sejak dimulai pada awal tahun 2008. Tahap
kedua dilanjutkan dengan pengerjaan ruang salat dan tempat wudu pada 2010. Tahap ketiga
selama tahun berikutnya meliputi pemasangan keramik lantai dan eksterior masjid.

Tiga tahap pertama berjalan dengan mengandalkan akomodasi APBD Sumatera Barat sebesar
Rp103,871 miliar, Rp15,288 miliar, dan Rp31 miliar. Memasuki tahap keempat yang dimulai
pada pertengahan 2012, pengerjaan menggunakan kontrak tahun jamak. Tahap keempat
menggandalkan anggaran sebesar Rp25,5 miliar untuk menyelesaikan ramp, teras terbuka yang
melandai ke jalan. Pekerjaan pembangunan sempat terhenti selama tahun 2013 karena ketiadaan
anggaran dari provinsi.
Megah dan Tahan Gempa, Namun Terkendala Dana

Konstruksi masjid terdiri dari tiga lantai. Ruang utama yang dipergunakan sebagai ruang sholat
terletak di lantai dua, yang terhubung dengan teras terbuka .Kendati dirancang dan didisain tahan
gempa,namun tidak mengurangi kemegahan Masjid Raya Sumatera Barat ini.Walaupun
pembangunan,maish butuh perjalanan panjang, sebelum masuk ke finishing touch..

Warga Sumatera Barat patut berbangga,karena punya masjid besar dan megah yang memiliki
gaya arsitektur yang menawan .. Meski belum rampung sepenuhnya, masjid ini,sudah jadi tujuan
wisata religi di Ranah Minang ini.

Bangunan utama terdiri dari tiga lantai dengan luas area sekitar 40.000 meter persegi yang
mampu menampung sekitar 20.000 jamaah. Tak hanya itu, masjid ini dirancang mampu
menahan gempa hingga 10 SR sekaligus shelter lokasi evakuasi bila terjadi tsunami