Anda di halaman 1dari 8

AKUNTANSI MANAJEMEN BIAYA LANJUTAN

Analisa Kasus : Unitron Corporation

Disusun Oleh :

Agnes Kristiani Ong 1706089671

Fika Ayu Wanditha 1706998403

Kekeu Kirani Firdaus 1706998486

Wandita Nanda Putri 1706998662

Program Magister Akuntansi

Fakultas Ekonomi & Bisnis

Universitas Indonesia

Jakarta

2017
STATEMENT OF AUTHORSHIP

Saya/kami yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa makalah/tugas terlampir adalah
murni hasil pekerjaan saya/kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang saya/kami gunakan
tanpa menyebutkan sumbernya.

Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah/tugas pada
mata ajaran lain, kecuali saya/kami menyatakan dengan jelas bahwa saya/kami meng-
gunakannya.

Saya/kami memahami bahwa tugas yang saya/kami kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau
dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.

Nama Mahasiswa : Agnes Kristiani Ong


Nomor Mahasiswa : 1706089671 ( )

Nama Mahasiswa : Fika Ayu Wandhita


Nomor Mahasiswa : 1706998403 ( )

Nama Mahasiswa : Kekeu Kirani Firdaus


Nomor Mahasiswa : 17066998486 ( )

Nama Mahasiswa : Wandita Nanda Putri


Nomor Mahasiswa : 1706998662 ( )

Kelas : A/17-1P

Mata Ajar : Akuntansi Manajemen Biaya Lanjutan

Judul Makalah/Tugas : Analisa Kasus : Unitron Corporation

Hari, Tanggal : Selasa, 12 September 2017

Nama Pengajar : Prof. Dr. Lindawati Gani, Ak;CA.,FCMA.,CGMA(LG)


UNITRON CORPORATION CASE

Company Profile

Union Corporation adalah perusahaan yang telah sukses menjadi produsen komponen
elektronik berkualitas tinggi yang telah berjalan selama 20 tahun pada tahun 1974. Produk yang
telah dihasilkan antara lain rectifiers, thyristors, zeners, diodes, dan peralatan bertegangan tinggi
lainnya. Dari seluruh produk yang dihasilkan, rectifiers merupakan produk yang signifikan bagi
Unitron Corporation. Rectifiers berfungsi untuk memungkinkan arus listrik melewati satu arah
sambil mencegah gerakan pada arah sebaliknya. Nilai dari produk ini untuk pemakai terakhir,
terutama ditentukan kedalamdua karakter, yaitu: kecepatan respon dalam mengahalangi current
reversals dan surge capacity atau tingkat tegangan maksimum rectifier dapat tahan.
Sekitar 60% dari 100,000 chip dalam satu batch mencapai akhir tahap 3 dan hanya
sebesar sepertiga dari presentase jumlah unit yang dijual sebagai bagian dari lini produk reguler.
5,000 unit lainnya berada di level paling bawah dari distribusi yang memiliki keterbatasan pasar
dan tidak dapat diperbaiki. Walaupun Unitron tidak menyarakankan 5,000 unit tersebut sebagai
bagian dari lini produksi reguler, Unitron menawarkannya sebagai produk kualitas kedua yang
biasanya untuk keperluan komponen yang relatif murah dan dipakai pada mainan atau perlatan
rumah tangga yang kecil.

Problems

Terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi oleh Unitron Company, yaitu :

1. Perusahaan menggunakan metode joint cost. Dengan kata lain masing-masing biaya dari
komponen yang diproduksi dalam satu batch tidak dapat ditentukan. Biaya produksi tidak
dapat secara langsung ditetapkan untuk unit tertentu karena sistem akuntansi biaya
bergantung pada peraturan alokasi biaya ke tiap unit. Exhibit 3 menunjukkan
permasalahan joint cost dan contoh mengenai dua metode akuntansi.
2. Tidak ada mettode yang diketahui dapat mengendalikan prosedur produksi rectifiers guna
mendapatkan karakteristik listrik yang sama. Selain itu, masing-masing produk dalam
satu batch tidak memiliki karakteristik yang persis sama. Dari setiap produk yang
berjalan, distribusi karakteristik unit hampir sama dengan standar “bell curve”.
3. Orderan yang diterima oleh Unitron berupa 6,000 unit rectifier seri 401. Saat ini hanya
sedikit 401 yang tersedia di persediaan. Pelanggan bersedia menerima rectifier yang
paling tidak memenuhi minimum standar, namun mereka tidak bersedia membayar lebih
untuk kualitas yang lebih baik. Exhibit 4 menjelaskan mengenai harga penjualan dan
tingkat persediaan sekarang untuk Rectifiers seri 400, terkait dengan penjualan dan
produksi rutin.

Proposed Solutions

Terdapat beberapa alternatif solusi yang diminta oleh sales manager Unitron, Jim Jacoby
untuk direview oleh Helen Barnes, seorang karyawan baru yang merupakan lulusan MBA :
- Memenuhi order tersebut dengan rectifier 402
- Men-trigger produksi agar bisa memenuhi order dengan 401
- Menolak order karena kondisi kehabisan barang (out of stock)
- Menerima tawaran dari perusahaan lokal untuk membeli 4,000 unit produk seconds seri
400 setiap bulan dengan harga $0.15 per unit.

Analysis & Discussion


1. Matriks produced as / sold as :
Annual sales order Unit Annual productions
100,000 401 90,000 90,000 401
402 10,000
140,000 402 110,000 120,000 402
403 30,000
100,000 403 60,000 90,000 403
404 40,000
40,000 404 20,000 60,000 404
405 20,000
20,000 405 20,000 40,000 405
400,000 400,000
2. Biaya per unit untuk rectifiers seri 400
Average Cost Method
Cost Per Unit = Total Manufacturing Cost/Total Output Produced
= $200.000/ 400.000 unit = $0.5/unit
product cost / unit ($)
401 0.5
402 0.5
403 0.5
404 0.5
405 0.5

Relative Cost Method


A B C D=BxC E = D/total D F = E x total cost ($200,000)
product Unit Ordered Price/unit ($) Sales Value ($) % Sales Value Cost Allocation ($)

401 100,000 0.4 40,000 16% 32,520

402 140,000 0.6 84,000 34% 68,293

403 100,000 0.7 70,000 28% 56,911

404 40,000 0.8 32,000 13% 26,016

405 20,000 1 20,000 8% 16,260

400,000 246,000 100% 200,000

A B C D=B:C
product Cost Allocation ($) Unit Produced Cost/unit ($)
401 32,520 90,000 0.36
402 68,293 120,000 0.57
403 56,911 90,000 0.63
404 26,016 60,000 0.43
405 16,260 40,000 0.41
200,000 400,000

3. Jika pesanan sebanyak 6.000 unit untuk seri 401, maka perhitungan pendapatan, biaya, dan
profit adalah sebagai berikut:
Physical Unit Costing System
Sales = Sales Price seri 401 x Unit Ordered = $0.40 x 6.000 unit = $2.400
Cost (cost 3.000 unit pertama berasal dari current inventory on hand) :
Cost Per Unit x Current Inventory = $0.5 x 3.000 = $1.500
(Order Unit – Current Inventory) x Cost per unit = (6.000 – 3.000)x$0.32= $960
Total Cost = $1.500 + $960 = $2.460
Profit = Sales – Cost = $2.400 - $2.460 = -$60

Relative Sales Value Costing System


Sales = price per unit x unit ordered = $0.4 x 6.000 = $2.400
Cost = cost per unit x unit ordered = $0.36 x 6.000 = $2.160
Profit = sales – cost = $2.400- $2.160 = $240

Helen Barnes sebaiknya merekomendasikan kepada Jim Jacoby untuk menggunakan


relative sales value dalam menghitung profit dari pesanan 6.000 unit seri 401 ini. Relative sales
value method mengalokasikan cost secara lebih proper karena mempertimbangkan persantase
penjualan relative (kontribusi dari suatu produk) ketika mengalokasikan cost nya, sehingga
didapatkan hasil yang jauh berbeda dengan menggunakan physical unit. Jika menggunakan
physical unit method, maka didapatkan nilai profit minus (rugi) sehingga akan membawa
perusahaan pada keputusan yang salah yaitu menolak project ini (karena rugi).
Selain itu dari alternatif yang tersedia, Helen Barnes sebaiknya menyarankan untuk men-
trigger produksi agar tetap memproduksi 401 lebih banyak dibandingkan dengan
menggantikannya dengan seri 402. Seri 401 memiliki profit/unit yang lebih baik ($0.04 = $0.4-
$0.36) dibandingkan seri 402 ($0.03 = $0.60-$0.57), sehingga dengan memproduksi seri 401
akan lebih menguntungkan.

4. Terhadap tawaran dari perusahaan mainan Helen Barnes sebaiknya merekomendasikan untuk
menerimanya. Dengan harga $0.15 per unit lebih rendah dari cost/unit jika memproduksi
sendiri baik dengan metode physical unit maupun relative sales value. Namun perlu
diperhatikan di sini bahwa produk yang dibeli adalah second class, perlu diteliti kembali
apakah kualitas yang ditawarkan jauh berbeda dengan barang yang biasanya diproduksi
sendiri. Jika kualitasnya tidak jauh berbeda, maka perusahaan bisa menerima tawaran
tersebut. Namun jika jauh berbeda, dikhawatirkan konsumen akan kecewa dengan kualitas
barang dan tidak melakukan repurchase lagi. Jika terjadi demikian, maka cost saving yang
sudah dilakukan perusahaan akan menjadi tidak berarti (kehilangan penjualan).

5. Metode alokasi biaya yang sebaiknya digunakan Unitron adalah metode relative sales value.
Metode relative sales value mempertimbangkan kontribusi sales dari masing-masing seri,
sementara dengan metode physical unit tidak mempertimbangkan hal ini. Dengan metode
physical unit, cost/unit menjadi sama untuk semua seri sehingga alokasi menjadi kurang
akurat.

6. Agen pembelian pemerintah menawarkan “cost plus purchase contract” untuk 100.000 unit
seri 404. Kontraknya menyatakan margin laba 10% diperbolehkan jika harganya “benar”
($0.75).

CURRENT
A B C = B-A
cost/unit ($) Current price/unit Current profit margin
physical unit $ 0.50 $ 0.80 $ 0.30
relative sales $ 0.43 $ 0.80 $ 0.37

BIDDING SCENARIO
D E = A+(AxD) F=E-A G=F-C H = G/C
profit allowed Profit margin Profit margin
margin price become reduce by Reduction %
$ $ $
physical unit 10% 0.55 0.05 (0.25) -83%
$ $ $
relative sales 10% 0.48 0.04 (0.32) -88%

Dengan menerima bidding tersebut, maka profit margin berkurang sebesar 83-88% dari profit
margin sebelumnya (dengan harga sebelumnya yaitu $0.80 per unit). Jika perusahaan dapat
menerima pengurangan profit sebesar itu, maka perusahaan dapat menerima project tersebut.
Namun jika margin yang didapatkan ($0.05 dan $0.04 menggunakan kedua metode) di bawah
batas toleransi perusahaan, maka sebaiknya perusahaan tidak menerimanya.
Hal ini juga berlaku jika perusahaan ingin memanfaatkan excess kapasitas yang dimiliki. Jika
perusahaan menerima project tersebut maka perusahaan akan mendapatkan tambahan income
walaupun dengan profit yang jauh lebih kecil. Harga yang dapat dipakai sebaiknya $0.55 per unit
(menggunakan physical unit karena unit cost nya lebih besar dari relative sales - $0.50 > $0.43,
sehingga lebih menguntungkan menggunakan physical unit).