Anda di halaman 1dari 13

BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Manajemen
Kata Manajemen berasal dari bahasa Perancis kuno ménagement,
yang memiliki arti "seni melaksanakan dan mengatur”. Manajemen belum
memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal. Mary Parker
Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan
pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer
bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan
organisasi.
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk memberikan
pengaruh kepada perubahan perilaku orang lain secara langsung maupun
tidak. Gaya kepemimpinan dapat diidentifikasikan berdasarkan perilaku
pimpinan itu sendiri.

B. Manajemen Konflik
Organisasi merupakan tempat manusia berinteraksi yang
mempunyai kemungkinan terjadinya suatu konflik, konflik ini bisa
berhubungan dengan perasaan termasuk perasaan yang diabaikan, tidak
dihargai, atau beban berlebihan dan perasan individu yang menimbulkan
suatu titik kemarahan.
Dahulu konflik dianggap sebagai sesuatu yang berbau negatif
sehingga cara mengelolahnya pun bermula dari yang sederhana seperti dan
membiarkan saja sampai yang bersifat ekstrim yaitu berusaha
menghilangkan sampai ke akar-akarnya (gillies, 1994).
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa
individu dalam suatu interaksi. Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya
adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat,
keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri
individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar
dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah

3
mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat
lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya
masyarakat itu sendiri.
Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik
antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik
hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.

C. Definisi konflik
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling
memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial
antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak
berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau
membuatnya tidak berdaya.

1. Pengertian konflik menurut beberapa ahli :


a. Menurut Taquiri dalam Newstorm dan Davis (1977), konflik
merupakan warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku dalam
berbagai keadaan akibat daripada berbangkitnya keadaan
ketidaksetujuan, kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak
atau lebih pihak secara berterusan.
b. Menurut Gibson, et al (1997: 437), hubungan selain dapat
menciptakan kerjasama, hubungan saling tergantung dapat pula
melahirkan konflik. Hal ini terjadi jika masing – masing komponen
organisasi memiliki kepentingan atau tujuan sendiri – sendiri dan
tidak bekerja sama satu sama lain.
c. Menurut Robbin (1996), keberadaan konflik dalam organisasi
ditentukan oleh persepsi individu atau kelompok. Jika mereka tidak
menyadari adanya konflik di dalam organisasi maka secara umum
konflik tersebut dianggap tidak ada. Sebaliknya, jika mereka
mempersepsikan bahwa di dalam organisasi telah ada konflik maka
konflik tersebut telah menjadi kenyataan.

4
d. Menurut Minnery (1985), Konflik organisasi merupakan interaksi
antara dua atau lebih pihak yang satu sama lain berhubungan dan
saling tergantung, namun terpisahkan oleh perbedaan tujuan.
e. Konflik dalam organisasi sering terjadi tidak simetris terjadi hanya
satu pihak yang sadar dan memberikan respon terhadap konflik
tersebut. Atau, satu pihak mempersepsikan adanya pihak lain yang
telah atau akan menyerang secara negatif (Robbins, 1993).
f. Konflik merupakan ekspresi pertikaian antara individu dengan
individu lain, kelompok dengan kelompok lain karena beberapa
alasan. Dalam pandangan ini, pertikaian menunjukkan adanya
perbedaan antara dua atau lebih individu yang diekspresikan,
diingat, dan dialami (Pace & Faules, 1994:249).
g. Konflik dapat dirasakan, diketahui, diekspresikan melalui perilaku-
perilaku komunikasi (Folger & Poole: 1984).
h. Konflik senantisa berpusat pada beberapa penyebab utama, yakni
tujuan yang ingin dicapai, alokasi sumber – sumber yang
dibagikan, keputusan yang diambil, maupun perilaku setiap pihak
yang terlibat (Myers,1982:234-237; Kreps, 1986:185; Stewart,
1993:341).
i. Interaksi yang disebut komunikasi antara individu yang satu
dengan yang lainnya, tak dapat disangkal akan menimbulkan
konflik dalam level yang berbeda – beda (Devito, 1995:381)

2. Penyebab konflik
Penyebab konflik dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti
berikut:
a. Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan
perasaan.
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap
orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu
dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal
atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab
konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang

5
tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika
berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu
perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa
terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.

b. Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk


pribadi-pribadi yang berbeda.
Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola
pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian
yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan
individu yang dapat memicu konflik.

c. Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.


Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang
kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang
bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki
kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat
melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda.
Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal
pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan
sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan
mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani
menebang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi
mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha
kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna
mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi
pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga
harus dilestarikan. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan
antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan
mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat
perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik,
ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar

6
kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik
antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena
perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh
menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha
menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan
memperbesar bidang serta volume usaha mereka.

d. Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam


masyarakat.
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi
jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak,
perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial.
Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses
industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial
sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya
bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai
masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai
kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan
upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan
kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun
dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan
berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan
waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian
waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia
industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi secara cepat atau
mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di
masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua
bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan
kehidupan masyarakat yang telah ada.

Ada beberapa faktor penyebab konflik yang muncul dalam


organisasi, yaitu:

7
a. Faktor Komunikasi. Salah pengertian yang berkenaan dengan
kalimat, bahasa yang sulit dimengerti, atau informasi yang mendua
dan tidak lengkap, serta gaya individu manajer yang tidak
konsisten.
b. Faktor Struktur. Pertarungan antara departemen, sistem penilaian
yang bertentangan, persaingan memperebutkan sumber daya yang
terbatas, saling ketergantungan dua atau lebih kelompok.
c. Faktor Pribadi. Ketidak sesuaian tujuan atau nilai-nilai sosial
pribadi karyawan dengan perilaku yang diperankan pada jabatan
mereka, dan perbedaan-perbedaan dalam nilai-nilai dan persepsi.

3. Kategori konflik
Di dalam organisasi, konflik dipandang secara vertikal dan
horizontal (Marquis & Huston, 1998). Vertikal terjadi antara atasan
dan bawahan, horizontal terjadi antara staf dengan posisi dan
kedudukan yang sama, misalnya konflik yang meliputi wewenang,
keahlian, dan praktik.
a. Intrapersonal.
Konflik yang terjadi pada individu sendiri. Akibat dari
kompetisi peran, misalnya, manajer mempunyai konflik
intrapersonal dengan loyalitas terhadap profesi keperawatan,
loyalitas terhadap pekaryaan, dan loyalitas kepada pasien.
b. Interpersonal.
Konflik terjadi antara dua orang atau lebih dimana nilai,
tujuan dan keyakinan berbeda. Misal, manajer sering mengalami
konflik dengan teman sesama manajer, atasan, dan bawahan.
c. Antarkelompok.
Konflik terjadi antara dua atau lebih dari kelompok orang,
departemen, atau organisasi. Misalnya, hambatan dalam mencapai
kekuasaan dan otoritas.

4. Proses konflik

8
a. Konflik laten.
Konflik yang terjadi terus menerus dalam suatu organisasi.
Misal, kondisi tentang keterbatasan staf dan perubahan yang cepat.
Memicu ketidakstabilan organisasi dan kualitas produksi, konflik
kadang tidak nampak secara nyata atau tidak pernah terjadi.
b. Konflik yang dirasakan.
Konflik terjadi karena adanya sesuatu yang dirasakan
sebagai ancaman, ketakutan, tidak percaya, dan marah.
c. Konflik yang tampak/sengaja dimunculkan.
Konflik sengaja dimunculkan untuk dicari solusinya.
Tindakan yang dilaksanakan menghindar, kompetisi, debat, atau
mencari penyelesaian konflik.
d. Resolusi konflik.
Suatu penyelesaian masalah dengan cara memuaskan
semua orang yang terlibat didalamnya. Dengan prinsip “win-win
solution”.
e. Konflik “aftermath”.
Konflik yang terjadi akibat dari tidak terselesainya konflik
yang pertama. Konflik ini akan menjadi masalah besar jika tidak
segera diatasi.

5. Langkah-langkah Penyelesaian konflik


a. Pengkajian
1) Analisis situasi.
Identifikasi jenis konflik untuk menentukan waktu yang
diperlukan, lakukan pengumpulan fakta pengkajian lebih
mendalam, siapa yang terlibat dan peran masing-masing,
tentukan situasinya jika dapat diubah.
2) Analisis dan mematikan isu yang berkembang.
Jelaskan masalah dan perioritas fenomena yang terjadi,
tentukan masalah utama yang memerlukan suatu penyelesaian,
hindari penyelesaian semua masalah dalam satu waktu.

9
3) Menyusun tujuan.
Jelasakan tujuan spesifik yang akan dicapai.

b. Identifikasi
1) Mengelola perasaan. Hindari respon emosional : marah, sebab
setiap orang mempunyai respon yang berbeda terhadap kata-
kata, ekspresi, dan tindakan.

c. Intervensi
1) Masuk pada konflik yang diyakini dapat diselesaikan dengan
baik. Identifikasi hasil yang positif yang akan terjadi.
2) Menyelesaikan metode dalam menyelesaikan konflik.
Memerlukan metode yang berbeda-beda. Pilih metode yang
paling sesuai untuk menyelesaikan konflik yang terjadi.
(Vestal, 1994)

6. Kunci Langkah dalam Manajemen Konflik


a. Set the tone: kendalikan diri dan jangan ada ancaman.
b. Get the feeling: beri kesempatan untuk mengekspresikan perasaan.
c. Get the fact: mendengarkan dan mengamati dengan saksama.
d. Ask for help: beri kesempatan karyawan untuk mencari solusi yang
terbaik dan gali konsekuensi dari keputusan yang akan dibuat.
e. Get a commitment: komitmen dan pengorbanan.
f. Follow up: tindak lanjuti secara konsisten.

7. Strategi penyelesaian konflik


a. Kompromi atau Negosiasi
Strategi penyelesaian konflik semua yang terlibat saling
menyadari dan sepakat pada keinginan bersama. “lose-lose
situation” kedua unsur yang terlibat menyerah dan menyepakati
hal yang telah dibuat.
b. Kompetisi

10
Strategi “win-lose” sebagai penyelesaian konflik. Hanya
ada satu orang atau kelompok yang menang tanpa
mempertimbangkan yang kalah.
c. Akomodasi
Seseorang berusaha mengakomodasi permasalahan, dan
memberi kesempatan pada orang lain untuk menang.
d. Smoothing
Teknik ini merupakan penyelesaian konflik dengan cara
mengurangi komponen emosional dalam konflik. Individu yang
terlibat berupaya mencapai kebersamaan dari pada perbedaan
dengan penuh kesadaran dan introfeksi diri.
e. Menghindar
Semua yang terlibat dalam konflik ini menyadari tentang
masalah yang dihadapi, tetapi memilih untuk menghindar atau
tidak menyelesaikan masalah. Strategi ini dipilih bila tidak ada
kesepakatan dan membahayakan kedua belah pihak.
f. Kolaborasi
Strategi ini merupakan strategi “win-win solution” dalam
kolaborasi, kedua unsur yang terlibat menentukan tujuan bersama
dan bekerjasama dalam mencapai suatu tujuan.

D. Kolaborasi
Kolaborasi adalah bentuk kerjasama, interaksi, kompromi beberapa
elemen yang terkait baik individu, lembaga dan atau pihak-pihak yang
terlibat secara langsung dan tidak langsung yang menerima akibat dan
manfaat. Nilai-nilai yang mendasari sebuah kolaborasi adalah tujuan yang
sama, kesamaan persepsi, kemauan untuk berproses, saling memberikan
manfaat, kejujuran, kasih sayang serta berbasis masyarakat. (CIFOR/PILI,
2005).

1. Kolaborasi menurut beberapa ahli

11
a. Jonathan (2004) mendefinisikan kolaborasi sebagai proses interaksi
di antara beberapa orang yang berkesinambungan.
b. Menurut Kamus Heritage Amerika (2000), kolaborasi adalah
bekerja bersama khususnya dalam usaha penggabungan pemikiran.
c. Gray (1989) menggambarkan bahwa kolaborasi sebagai suatu
proses berpikir dimana pihak yang terlibat memandang aspek-
aspek perbedaan dari suatu masalah serta menemukan solusi dari
perbedaan tersebut dan keterbatasan pandangan mereka terhadap
apa yang dapat dilakukan.

Dari berbagai definisi yang dikemukakan para ahli, dapat


disimpulkan bahwa kolaborasi adalah suatu proses interaksi yang
kompleks dan beragam, yang melibatkan beberapa orang untuk bekerja
sama dengan menggabungkan pemikiran secara berkesinambungan dalam
menyikapi suatu hal dimana setiap pihak yang terlibat saling
ketergantungan di dalamnya. Apapun bentuk dan tempatnya, kolaborasi
meliputi suatu pertukaran pandangan atau ide yang memberikan perspektif
kepada seluruh kolaborator.

2. Menurut Carpenter (1990), kolaborasi mempunyai 8 karakteristik,


yaitu:
a. Partisipasi tidak dibatasi dan tidak hirarkis.
b. Partisipan bertanggung jawab dalam memastikan pencapaian
kesuksesan.
c. Adanya tujuan yang masuk akal.
d. Ada pendefinisian masalah.
e. Partisipan saling mendidik atau mengajar satu sama lain.
f. Adanya identifikasi dan pengujian terhadap berbagi pilihan.
g. Implementasi solusi dibagi kepada beberapa partisipan yang
terlibat.
h. Partisipan selalu mengetahui perkembangan situasi

E. Negosiasi

12
Negosiasi pada umumnya sama dengan kolaborasi. Pada
organisasi, negosiasi yaitu suatu pendekatan yang kompetitif (Marquis dan
Huston, 1998). Negosiasi dirancang sebagai suatu pendekatan kompromi
untuk menyelesaikan konflik. Berbagai pihak yang terlibat menyerah dan
lebih menekankan waktu mengakomodasi perbedaan-perbedaan antara
keduanya.
Smeltzer (1991) mengidentifikasi ada dua tipe dasar negosiasi,
yakni kooperatif (setiap orang menang), dan kompetitif (hanya satu orang
yang menang). Satu hal yang penting dalam negosiasi adalah apakah ada
salah satu atau kedua pihak menghendaki adanya perubahan hubungan
yang berlangsung dengan meningkatkan hubungan yang lebih baik. Jika
kedua pihak menghendaki adanya perbaikan hubungan, maka akan muncul
tipe kooperatif. Namun jika hanya salah satu pihak yang menghendaki
perbaikan hubungan, maka yang muncul adalah tipe kompetitif. Meskipun
dalam negosiasi ada pihak yang menang dan kalah, sebagai negosiator
penting untuk memaksimalkan kemenangan kedua pihak untuk mencapai
tujuan bersama, meminimalkan kekalahan dengan membuat pihak yang
kalah tetap dapat tujuan bersama, dan membuat kedua belah pihak merasa
puas terhadap hasil negosiasi.
Terdapat tiga kriteria yang harus dipenuhi sebelum manajer setuju
untuk memulai proses negosiasi :
1) Masalah harus dapat dinegosiasikan.
2) Negotiator harus tertarik terhadap “take and give” selama
proses negosiasi.
3) Harus saling percaya (Smeltzer, 1991)

Langkah-langkah sebelum melaksanakan negosiasi :


1) Mengumpulkan informasi tentang masalah sebanyak mungkin,
karena pengetahuan adalah kekuatan.
2) Dimana manajer harus memulai, karena tugas manajer
melakukan kompromi, mereka harus memilih tujuan yang
utama.

13
3) Memilih alternatif yang terbaik terhadap sarana dan prasarana.
Efektifitas dan efisiensi.
4) Mempunyai agenda yang disembunyikan. Agenda negosiasi
dapat ditawarkan jika alternatif negosiasi tidak dapat
disepakati.

Ada beberapa strategi dan cara yang perlu dilaksanakan dalam


menciptakan kondisi yang persuasif, asertif dan komunikasi terbuka
selama negosiasi berjalan :
a. Pilih fakta-fakta yang rasional dan berdasarkan hasil penelitian.
b. Dengarkan dengan seksama, dan perhatikan respons nonverbal
yang nampak.
c. Berfikirlah positif dan selalu terbuka untuk menerima semua
alternatif informasi yang disampaikan.
d. Upayakan untuk memahami pandangan apa yang disampaikan
lawan bicara anda. Konsentrasi dan perhatikan.
e. Selalu diskusikan tentang konflik yang terjadi. Hindarkan masalah-
masalah pribadi yang disampaikan pada saat negosiasi.
f. Hindarkan untuk menyalahkan orang lain terhadap konflik yang
terjadi.
g. Jujur.
h. Usahakan bersikap bahwa anda memerlukan suatu penyelesaian
yang baik.
i. Jangan langsung menyetujui terhadap solusi yang ditawarkan,
tetapi berfikir dan mintalah waktu untuk menjawabnya.
j. Jika kedua belah pihak menjadi marah atau lelah selama negosiasi
berlangsung, istirahatlah sebentar.
k. Dengarkan dan tanyakan tentang pendapat yang belum begitu anda
pahami.
l. Bersabarlah.
F. Kunci Sukses dalam Melakukan Negosiasi
1. Lakukan

14
a. Jelaskan tujuan negosiasi, bukan posisinya. Pastikan bahwa anda
mengetahui keinginan orang lain.
b. Perlakukanlah orang lain sebagai teman dalam menyelesaikan
masalah bukan sebagai musuh. Hadapi masalah yang ada, bukan
orangnya.
c. Ingat bahwa setiap orang mengharapkan penyelesaian yang dapat
diterima, jika anda dapat menyajikan sesuatu dengan baik dan
menarik.
d. Dengarkan dengan baik-baik apa yang akan dikatakan dan apa yan
tidak. Perhatikan pergerakan tubuhnya.
e. Lakukan sesuatu yang sederhana, tidak berbelit-belit.
f. Antisipasi penolakan.
g. Tahu apa yang dapat anda berikan.
h. Tunjukkan beberapa alternatif pilihan.
i. Tunjukkan keterbukaan dan ketaatan jika orang lain sepakat
dengan pendapat anda.
j. Bersikaplah asertif, bukan agresif.
k. Hati-hati ! anda mempunyai suatu kekuasaan untuk memutuskan.
l. Pergunakan pergerakan tubuh jika anda menyetujui atau tidak
terhadap suatu pendapat.
m. Konsisten terhadap sesuatu yang anda anggap benar.

2. Hindari
a. Sikap yang tidak baik, sinis, kasar dan menyepelekan.
b. Trik yang tidak baik, manipulasi.
c. Distorsi.
d. Tergesa – gesa dalam proses negosiasi.
e. Tidak berurutan.
f. Membuat hanya satu pilihan.
g. Memaksakan kehendak.
h. Berusaha menekankan pada satu pendapat.

15