Anda di halaman 1dari 10

PENGKAJIAN TERKAIT PERMASALAHAN OBAT (DRUG

RELATED PROBLEM) DEMAM TIFOID


No. Revisi Halaman
No. Dokumen 00 1/2
RSUD Tugu Koja
Ditetapkan
Jl. Walang Permai No. 39
Jakarta Utara Direktur RSUD Tugu Koja,

PANDUAN Tanggal Terbit


ASUHAN ...../...../2018
dr. Nailah, M.Si
KEFARMASIAN NIP 197710212006042025

Demam tifoid, atau typhoid adalah penyakit yang disebabkan


1. Pengertian oleh bakteri Salmonella enterica, khususnya turunannya
(Definisi) yaitu Salmonella Typhosa. Penyakit ini dapat ditemukan di seluruh dunia,
dan disebarkan melalui makanan dan minuman yang telah tercemar
oleh tinja.

1. Mengumpulkan data dan informasi spesifik (data Subyektif dan


Obyektif) terkait pengobatan pasien
2. Assesmen Seperti suhu, IgM dengue, IgG dengue, riwayat alergi obat,
Kefarmasian
riwayat pengobatan
2. Menentukan problem farmaskoterapi (keluhan seperti demam,
nyeri perut) dan farmakoekonomik pasien
3. Menentukan kebutuhan dan tujuan farmakoterapi pasien
(KEbutuhan antipiretik)
1. Mendesain regimen pengobatan pasien (terapi diberikan sampai
keluhan teratasi, dosis berdasarkan usia dan BB)

1. Pemilihan cairan plasma, elektrolit oral atau infuse berdasar


kondisi klinis (cairan plasma hanya digunakan pada indikasi
3. Identifikasi DRP perdarahan)
(drug Related
2. Pemilihan antipiretik
Problem)
Rekomendasi antipiretik adalah parasetamol

3. Dosis dan lama pemberian antipiretik, cairan plasma dan


elektrolit berdasarkan kondisi klinis dan laboratorium

4. Cara pemberian antipiretik, cairan plasma, dan elektrolit

5. kegagalan terapi obat , dengan monitoring TTV, Laboratorium


Hb,

6. Efek samping obat


7. Kontraindikasi : antipiretik golongan NSAID

8. Kepatuhan Pasien

4. Interval Farmasi 1. Rekomendasi pemilihan antibiotik, perubahan terapi berdasarkan


hasil laboratorium, kondisi klinis, TTV
2. Pemantauan terapi antibiotik empirik selama 3 hari
3. Monitoring efek samping obat
4. Memberikan rekomendasi alternatif terapi jika ada interaksi obat

5. Monitoring dan 1. TTV: Temperatur, Nadi, BP untuk menilai keberhasailan terapi


Evaluasi Obat

6. Edukasi dan 1. Cara, durasi pemberian, nama dan kegunaan antibiotik


Informasi
7. Penelaah Kritis Apoteker Klinis

8. Indikator - Suhu turun


- TTV : Normal
- Kondisi klinis

9. Kepustakaan World Health Organization. 2014. Focus on typhoid fever. EWARN.


Philippines

Priastiputri, Minati Dwi. 2015. Analisis drug related problem (DRPs) pada pasien
demam tifoid rawat inap di Rumah Sakit “Y” Kota Surabaya. Universitas
Surabaya. Surabaya
PENGKAJIAN TERKAIT PERMASALAHAN OBAT (DRUG
RELATED PROBLEM) DHF
No. Revisi Halaman
RSUD Tugu Koja No. Dokumen 00 1/3
Jl. Walang Permai No. 39
Jakarta Utara Ditetapkan
Direktur RSUD Tugu Koja,

Tanggal Terbit
PANDUAN ASUHAN ...../...../2018
KEFARMASIAN dr. Nailah, M.Si
NIP 197710212006042025
Demam berdarah atau demam dengue (disingkat DBD)
adalah infeksi yang disebabkan oleh virus dengue. Nyamuk atau/
1. Pengertian (Definisi) beberapa jenis nyamuk menularkan (atau menyebarkan) virus dengue.
Demam dengue juga disebut sebagai "breakbone fever" atau
"bonebreak fever" (demam sendi), karena demam tersebut dapat
menyebabkan penderitanya mengalami nyeri hebat seakan-akan tulang
mereka patah

1. Mengumpulkan data dan informasi spesifik ( data


Subyektif dan Obyekstif ) terkait pengobatan pasien :
2. Assesmen suhu,riwayat alergi, riwayat pengobatan.
Kefarmasian
2. Menentukan problem farmakoterapi pasien : keluhan dan
problem medik ( nyeri perut,demam)
3. Menentukan kebutuhan dan tujuan farmakoterapi pasien :
kebutuhan antipiretik
4. Mendisain regimen pengobatan pasien : terapi di berikan
sampai dengan keluhan teratasi,dosis berdasarkan usia dan
berat badan

1. Pemilihan cairan plasma,elektrolit oral atau infus


berdasarkan kondisi klinis (cairan plasma hanya digunakan
3. Identifikasi DRP pada indikasi pendarahan )
(drug Related
Problem) 2. Pemilihan antipiretik : Rekomendasi antipiretik
paracetamol
3. Dosis dan lama pemberian antipiretik,cairan plasma dan
elektrolit berdasarkan kondisi klinis dan laboratorium
4. Cara pemberian antipiretik, cairan plasma dan elektrolit
5. Kegagalan terapi obat : dengan memonitor TTV,Lab HB,
Hematokrit
6. Efek samping obat
7. Kontraindikasi obat
8. Kepatuhan pasien

1. Rekomendasi pemilihan antipiretik dan cairan elektrolit


2. Pemantauan terapi cairan dan antipiretik
4. Intervensi Farmasi
3. Monitoring efek samping obat : udem
4. Memberikan rekomendasi alternatif terapi jika ada interaksi obat

1. TTV
2. Tanda-tanda perembesan plasma
5. Monitoring dan 3. Trombosit
Evaluasi
4. Hematokrit
5. Hemoglobin
6. Pemeriksaan penunjang : Ro.Thorax

6. Edukasi dan 1. Cara dan durasi pemberian antipiretik


Informasi
2. Cara pemberian cairan elektrolit oral

7. Penelaah Kritis Farmasi Klinis

8. Indikator 1. Demam turun (TTV normal), Kondisi klinis


2. Hematokrit dan trombosit normal

9. Kepustakaan 1. Widyati, Dr. M. Clin. Pharm, Apt Praktek Farmasi Klinik Fokus Pada
Pharmaceutical Care, Brilian Internasional. 2014
2. Kemenkes, Standar Pelayanan Farmasi No. 58. Kemenkes RI. 2015
3. Pusponegoro dkk Neurologi IDAI, Konsesus Penatalaksanaan Kejang
Demam. Badan Penerbit IDAI
4. Kemenkes, Pedoman Pelayanan Kefarmasian untuk Pasien Pediatri.
Kemenkes RI. 2011
5. American Society of Hospital Pharmacist. ASHP Guidelines on a
Standardized Method for Pharmaceutical Care. 1996
WHO, Dengue Guideline For Diagnosis, Treatment, Prevention and
Control. 2009
PENGKAJIAN TERKAIT PERMASALAHAN OBAT (DRUG
RELATED PROBLEM) DEMAM TIFOID PADA ANAK
No. Revisi Halaman
RSUD Tugu Koja No. Dokumen 00 1/3
Jl. Walang Permai No. 39
Jakarta Utara Ditetapkan
Direktur RSUD Tugu Koja,

Tanggal Terbit
PANDUAN ASUHAN ...../...../2018
KEFARMASIAN dr. Nailah, M.Si
NIP 197710212006042025
Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada
saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari satu minggu,
1. Pengertian (Definisi) gangguan pencernaan dan gangguan kesadaran (Anderson et al., 2003).
Masa tunas demam tifoid berlangsung selama 10-14 hari. Gejala-gejala
yang timbul amat bervariasi. Dalam minggu pertama penyakit, keluhan
dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya, yaitu
demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, diare
atau obstipasi, perasaan tidak enak di perut, batuk dan apistaksis. Pada
pemeriksaan fisis hanya didapatkan suhu badan meningkat. Dalam
minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas berupa demam,
bradikardia relatif, lidah yang khas (kotor ditengah, tepi dan ujung
merah dan tremor), hepatomegali, meterokmus, gangguan mental
berupa somnolen, stupor, koma, delirium atau psikosis (Prabu, 1996).

Demam naik secara bertangga pada hari hingga minggu pertama lalu demam
menetap (kontinyu) atau reminten hingga minggu kedua. Demam terutama
2. Assesmen sore/malam hari,disertai nyeri kepala, nyeri otot, anorexia, mual,
Kefarmasian
muntah,obstipasi atau diare

1. Pemilihan antipiretik : Rekomendasi antipiretik


paracetamol
3. Identifikasi DRP
2. Pemilihan antibiotic yang tepat : a. Siprofloksasin Antibiotik
(drug Related
golongan quinolon ini dapat diberikan secara peroral dengan
Problem)
dosis 500 mg, dua kali sehari dan diberikan selama 10 hari.
Tidak dianjurkan pada anak anak karena efek samping pada
pertumbuhan tulang. Antibiotik ini termasuk aktif melawan
bakteri gram negatif seperti Salmonella dan Shigella (Supari,
2006). B. Sefalosporin Antibiotik golongan ini, selain cepat
menurunkan demam, juga aman digunakan untuk anak-anak.
Antibiotik dari golongan ini biasanya digunakan jika bakteri
sudah resisten terhadap antibiotik lain. Seftriakson dan
sefotaksim merupakan obat golongan sefalosporin yang paling
aktif terhadap bakteri yang resisten terhadap penisilin. Selain
itu seftriakson dan sefotaksim lebih efektif dalam mengobati
bakteri gram negatif dibandingkan dengan sefuroksim (Supari,
2006). C. Kloramfenikol adalah antibiotik spektrum luas yang
paling sering digunakan untuk terapi demam tifoid. Selain
efektif, antibiotik ini juga murah dan memiliki sensitivitas yang
masih tinggi, namun karena efek sampingnya yang cukup
berbahaya, antibiotik ini makin jarang digunakan. Kloramfenikol
dapat diberikan secara peroral ataupun intravena dengan dosis
500 mg empat kali sehari dan diberikan selama 14 hari (Supari,
2006).
3. Terapi obat tambahan
4. Terapi obat yang tidak perlu
5. Obat salah
6. Dosisi teralu rendah
7. Reaksi obat yang merugikan
8. Dosis terlalu tinggi
9. Kepatuhan

1. Sesuai indikasi
2. Memberikan rekomendasi alternative terapi jika ada
4. Intervensi Farmasi interaksi obat
1. Pemantauan terapi obat pasien
2. Memantau terapi cairan
5. Monitoring dan 3. Memonitor efek samping obat
Evaluasi
6. Edukasi dan Memberikan informasi cara pemakaian dan kegunaan antibiotik
Informasi
7. Penelaah Kritis Farmasi Klinis

8. Indikator 1. Tidak ada efeksamping dan kontraindikasi yang tdk


diinginkan
2. Interaksi obat dapat dikendalikan jika ada

9. Kepustakaan
PENGKAJIAN TERKAIT PERMASALAHAN OBAT (DRUG
RELATED PROBLEM) BRONKOPNEUMONIA PADA ANAK
No. Revisi Halaman
RSUD Tugu Koja No. Dokumen 00 1/3
Jl. Walang Permai No. 39
Jakarta Utara Ditetapkan
Direktur RSUD Tugu Koja,

Tanggal Terbit
PANDUAN ASUHAN ...../...../2018
KEFARMASIAN dr. Nailah, M.Si
NIP 197710212006042025

1. Pengertian (Definisi)

2. Assesmen
Kefarmasian

3. Identifikasi DRP
(drug Related
Problem)

4. Intervensi Farmasi

5. Monitoring dan
Evaluasi
6. Edukasi dan
Informasi
7. Penelaah Kritis

8. Indikator

9. Kepustakaan

PENGKAJIAN TERKAIT PERMASALAHAN OBAT (DRUG


RELATED PROBLEM) PNEUMONIA PADA PASIEN PARU
No. Revisi Halaman
RSUD Tugu Koja No. Dokumen 00 1/3
Jl. Walang Permai No. 39
Jakarta Utara Ditetapkan
Direktur RSUD Tugu Koja,

Tanggal Terbit
PANDUAN ASUHAN ...../...../2018
KEFARMASIAN dr. Nailah, M.Si
NIP 197710212006042025

1. Pengertian (Definisi)

2. Assesmen
Kefarmasian

3. Identifikasi DRP
(drug Related
Problem)

4. Intervensi Farmasi

5. Edukasi dan
Informasi

6. Penelaah Kritis
7. Indikator

8. Kepustakaan

PENGKAJIAN TERKAIT PERMASALAHAN OBAT (DRUG


RELATED PROBLEM) TB PARU PADA PASIEN PARU
No. Revisi Halaman
RSUD Tugu Koja No. Dokumen 00 1/3
Jl. Walang Permai No. 39
Jakarta Utara Ditetapkan
Direktur RSUD Tugu Koja,

Tanggal Terbit
PANDUAN ASUHAN ...../...../2018
KEFARMASIAN dr. Nailah, M.Si
NIP 197710212006042025
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan
parenchym paru, tidak termasuk pleura (selaput paru). Berdasarkan
1. Pengertian (Definisi) hasil pemeriksaan dahak, TB Paru dibagi dalam: 1) Tuberkulosis Paru
BTA Positif. ¾ Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS
hasilnya BTA positif. ¾ 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan
foto rontgen dada menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif. 2)
Tuberkulosis Paru BTA Negatif Pemeriksaan 3 spesimen dahak SPS
hasilnya BTA negatif dan foto rontgen dada menunjukkan gambaran
tuberkulosis aktif. TB Paru BTA Negatif Rontgen Positif dibagi
berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat dan
ringan. Bentuk berat bila gambaran foto rontgen dada memperlihatkan
gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses "far advanced"
atau millier), dan/atau keadaan umum penderita buruk.

Gejala TB pada orang dewasa umumnya penderita mengalami batuk


dan berdahak terus-menerus selama 3 minggu atau lebih, batuk darah
2. Assesmen atau pernah batuk darah. Adapun gejala-gejala lain dari TB pada orang
Kefarmasian
dewasa adalah sesak nafas dan nyeri dada, badan lemah, nafsu makan
dan berat badan menurun, rasa kurang enak badan (malaise),
berkeringat malam, walaupun tanpa kegiatan,
3. Identifikasi DRP
(drug Related
Problem)

4. Intervensi Farmasi

5. Monitoring dan
Evaluasi
6. Edukasi dan
Informasi

7. Penelaah Kritis

8. Indikator

9. Kepustakaan