Anda di halaman 1dari 167

TASAWUF

Rangkuman ceramah mingguan oleh:


Bp. Achmad Chodjim

http://www.geocities.com/sus_tuntang/hakikat_tasawuf.doc

http://www.geocities.com/sus_tuntang/paradigma_dan_masa_depan_islam.rtf

Bagian ke-1

Di atas tahun 80-an tasawuf atau sufisme menjadi nge-tren di dunia.


Bahkan di Indonesia setelah tahun 90- an tasawuf banyak diminati
orang. Seminar dan kursus-kursus tentang tasawuf diadakan di hotel-
hotel atau di gedung-gedung mewah. Lebih-lebih dalam suasana krisis,
tasawuf semakin dicari orang.

Jika kita melihat di toko-toko buku, semakin hari semakin banyak buku
tasawuf yang dipajang. Buku-buku tasawuf itu meliputi tulisan orang
Indonesia, maupun terjemahan dari buku-buku tasawuf yang
berbahasa asing, khususnya terjemahan dari bahasa Arab. Dan
sekarang bisa kita jumpai buku-buku tasawuf yang ditulis pada masa
700 ? 1000 tahun yang lalu.

Mengapa sekarang ini tasawuf semakin diminati orang? Manusia


modern sebenarnya manusia yang mengalami alienasi (keterasingan)
jiwa. Persaingan dalam berebut benda ternyata melelahkan pikiran.
Ketegangan-ketegangan dalam hidup sering dialami. Dalam kehidupan
modern, manusia sering terperangkap oleh kebahagian-kebahagian
semu. Yaitu, kebahagiaan yang direkayasa, bukan kebahagiaan yang
tumbuh dari dalam diri manusia itu sendiri. Dalam kehidupan modern
manusia diiming-iming dengan status, posisi, sertifikat, merek, dan
berbagai macam simbol. Akhirnya pikiran manusia melekat pada
topeng-topeng ini. Jika sudah terjerat oleh topeng kehidupan, manusia
merasa terjunjung dan tersanjung. Yang dalam keadaan tertentu
menyebabkan lupa diri. Nah, untuk menghadapi problema-problema
psikologis ini ada yang lari ke berbagai macam hiburan dari yang
ringan hingga yang paling berat yaitu “narkoba”; dan ada pula yang
mencari solusi damai dengan mengikuti kegiatan-kegiatan agama.
Ternyata, ternyata....., yang dirasakan bersentuhan langsung dengan
kesejukan hati adalah “tasawuf”. Itulah sebabnya tasawuf sekarang ini
banyak diminati orang, baik oleh orang-orang Islam sendiri, maupun
orang-orang non-muslim. Bahkan di Eropa maupun Amerika sekarang
ini banyak orang non-muslim yang menjadi anggota jamaah tasawuf.
Tentu saja hal ini bisa menimbulkan kecemburuan di kalangan umat
Islam formalis, yaitu orang-orang Islam yang lebih berpegang teguh
pada aturan lahiriah agama atau syariat. Menghadapi perkembangan
yang pesat ini kalangan formalis merasa kehilangan pamor. Karena itu
beberapa orang (tidak banyak) di kalangan formalis ini menulis buku
yang isinya mengecam ajaran tasawuf, bahkan ada yang tega
memfitnah bahwa ajaran tasawuf itu bid’ah dan menyesatkan
manusia.

Orang yang membid’ahkan tasawuf adalah orang-orang yang tidak


memahami ajaran tasawuf, pada pokoknya mereka tidak memahami
ajaran Islam secara menyeluruh. Mereka menganggap tasawuf itu lahir
dari kalangan luar Islam. Untuk membuktikan ini mereka cari-cari
definisi kata tasawuf, yang katanya tidak ada di dalam Al Quran dan Al
Hadis. Jadi, mereka lebih disibukkan mencari kulit daripada mencari isi
atau substansi ajaran. Jika saja mereka sadar bahwa apa yang
diajarkan oleh tasawuf itu budipekerti atau akhlak yang diajarkan oleh
Rasul Allah, maka mereka pasti akan berhenti membid’ahkan para
sufi. Mengapa? Karena apa yang dipraktikkan oleh Rasul dalam
kesederhanaan hidupnya, apa yang diteladani oleh Abu Bakar dalam
menyumbangkan hartanya, apa yang dicontohkan oleh Umar bin
Khaththab dalam istana gubuknya, serta apa yang dilakukan oleh Ali
bin Thalib dalam menegakkan keadilan, itulah yang disebut tasawuf!

Landasan tasawuf adalah kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya,


melakukan zikir sebanyak-banyaknya, dan akhirnya menjadi hamba
manifestasi Ilahi, yang dalam ajaran tasawuf Jawa disebut
“manunggaling kawula klawan Gusti”, kesatuan hamba dan Tuhan.
Marilah kita simak dalil-dalil Qurani dan Al-Hadis di bawah ini.
1. Surat Ali Imran/3:31,
Qul in kuntum tuhibbuunallaaha fattabi-‘uunii yuhbibkumullaahu wa
yaghfirlakum dzunuubakum wallaahu ghafuurun rahiim.
Katakan, “Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah
mencintai kamu dan menutupi dosa-dosa kamu. Allah Maha
Pengampun dan Maha Pemurah,”

2. Surat Al Baqarah/2:115,
Wa lil-laahi l-masyriqu wa l-maghribu fa ainamaa tuwalluu fatsamma
wajhullaahi innallaaha waasi-‘un ‘aliim.
“Dan kepunyaan Allah Dunia Timur dan Barat itu. Karena itu, kemana
saja kamu menghadap, di situlah Wajah Allah. Sesungguhnya Allah
Maha Luas dan Maha Mengetahui.”

3. Surat Al Ahzab/33: 41 ? 43,


Yaa ayyuha l-ladziina aamanu dz-kuru llaaha dzikran katsiira. Wa
sabbihuuhu bukratan wa ashiila. Huwa l-ladzii yushallii ‘alaikum wa
malaa-ikatuhuu li yukhrijakum mina zh-zhuluumati ila n-nuuri wa
kaana bi l-mu’miniina rahiima.
“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah sebanyak-
banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pagi dan petang. Dia-lah
yang melimpahkan rahmat kepadamu, begitu pula para malaikat-Nya,
dengan maksud mengeluarkan kamu dari kegelapan menuju
kehidupan yang bercahaya; dan Dia menyayangi orang-orang yang
beriman.”

4. Surat Qaaf/50:16,
Wa laqad khalaqna l-insaana wa na‘lamu maa tuwaswisu bihi nafsuhu
wa nahnu aqrabu ilaihi min habli l-wariid.
“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui
apa yang dibisikkan oleh jiwanya. Kami lebih dekat kepadanya
daripada urat lehernya.”

Untuk bagian pertama ini, kita cukup mengupas dan mengulas enam
ayat lebih dulu. Enam ayat inilah yang dijadikan landasan awal dalam
hidup bertasawuf. Jika diumpamakan orang naik tangga, maka harus
melalui tangga dasar yang kokoh. Dengan fondamen yang kokoh inilah
para ahli tasawuf mengembangkan Agama Islam. Dan dari sejarah
diketahui bahwa perintis Islam di seantero jagat adalah para sufi,
orang-orang tasawuf. Mereka inilah yang memperkenalkan Islam
dengan hikmat dan pelajaran yang baik.

Baru kemudian diisi oleh kalangan formalis. Umumnya kalangan


formalis menjumpai kegagalan dalam mengembangkan Agama Islam.
Mengapa demikian? Karena oleh kalangan formalis, syariat Islam itu
dikonfrontasikan dengan adat-istiadat atau budaya setempat.
Sehingga mereka dijauhi oleh umat. Lihat saja bulan Ramadhan
kemarin, demi khusyuknya pelaksanaan ibadah puasa, pihak-pihak
yang merasa sangat formalis ini ribut menutup kafe, restoran, dan
intinya meminta orang menghormati puasa. Lho, beragama itu
seharusnya tidak untuk minta dihormati. Orang harus menjalankan
agama dengan santun Sehingga agama itu bisa memikat hati orang
yang melihatnya.

Jika kita memahami landasan pada ayat pertama, maka harapan orang
bertasawuf adalah ‘mahabbah’ atau jatuh cinta kepada Allah. Tentu
saja untuk mencintai Allah Yang Maha Gaib itu, manusia harus
mempunyai pedoman. Dan yang menjadi pedoman itu adalah “ittiba‘”
atau mengikuti Rasul. Ketika Rasul hadir secara fisik di tengah-tengah
umat, maka mengikuti Rasul berarti secara langsung mematuhi
perintah dan larangannya secara aktual. Namun, setelah secara fisik
beliau tidak ada di tengah-tengah umat, beberapa sahabat berusaha
untuk mengajarkan Islam sebagaimana yang diteladankan oleh Rasul.
Abu Bakar tampil sebagai seorang khalifah yang sederhana. Harta-
bendanya didermakan untuk kepentingan umat. Dia tidak menyisakan
kekayaan materi untuk dirinya. Ketika dia dibaiat sebagai khalifah,
dengan sederhana dia mengucapkan, “Taatilah saya selama saya
menaati Allah dan Rasul-Nya. Dan bila tidak taat, maka tak ada
keharusan bagi kalian untuk menaatiku.” Suatu pidato pengukuhan
yang pendek, tetapi tegas. Mungkin setelah itu tak ada keberanian
bagi seorang penguasa mengucapkan demikian. Bahkan kalimat yang
pertamanya adalah, “Saya telah diangkat sebagai pemimpin kalian,
tetapi saya bukanlah orang yang terbaik di antara kalian.” Juga suka
mengganjal perutnya jika kelaparan, sebagaimana yang diteladankan
Nabi. Dia lebih suka memilih demikian daripada makan makanan yang
tidak tahu halal dan haramnya.

Ijtihad mulai dilakukan oleh Umar. Umar menampilkan diri sebagai


seorang khalifah yang amat sederhana. Administrasi militer dan
pemerintahan ditegakkan. Penguasaan Al Quran lebih didorong,
sedangkan catatan-catatan yang disebut Hadis Nabi dimusnahkan. Hal
ini dia lakukan agar umat bersemangat dalam mempelajari Al Quran.
Karena akhlak Rasul Allah s.a.w. adalah Al Quran itu sendiri (Al Hadis,
sumber Aisyah). Meskipun sebagai kepala pemerintahan dia berhak
mendapatkan istana gedung dan pengamanan dirinya, tetapi dia
meilih tinggal di gubuk beratap rumbai. Meskipun malam banyak jaga
untuk berzikir, siangnya tetap bersemengat dalam mengendalikan
pemerintahan.

Utsman diangkat sebagai khalifah yang ke tiga. Di zaman


pemerintahannya berkecamuk berbagai fitnah dan hasudan.
Kelembutan jiwanya tak diragukan lagi. Dia tetap tidak mau
menggunakan tindak kekerasan dan kekuatan bersenjata dalam
menghadapi fitnah. Seandainya harus terjadi pertumpahan darah, dia
memilih darahnya sendiri yang harus tertumpah, dan bukan darah
kaum muslimin. Ketika pemberontak mengepung rumahnya sambil
menghunus pedang, sedangkan baginya terbuka untuk menumpasnya,
dia tetap menolak untuk melakukan pembasmian itu dengan ucapan:
“Saya tak mau menemui Allah sedang di pundak saya ada percikan
darah dari seorang Muslim.”

Khalifah Ali mewarisi pemerintahan yang penuh kekacauan. Namun dia


hadapi semua itu dengan penuh ketenangan. Meskipun para
pejabatnya menyediakan istana negara yang megah dan besar, dia
menolaknya untuk menghuni di istana itu. Ini tidak berarti sekarang
seorang presiden harus meninggalkan istana negara. Tetapi, hal ini
menunjukkan bahwa seorang kepala negara harus memperhatikan
keadaan warganya. Para khalifah adalah orang-orang yang lebih
mementingkan umatnya daripada dirinya. Karena itu Ali pun lebih
memilih cara-cara yang layak sesuai kondisi rakyat. Dia memberi
petunjuk orang-orang yang melakukan kesalahan, dan memberi
bantuan kepada yang lemah. Meskipun sebagai khalifah, suatu saat Ali
tetap membawakan barang kebutuhan orang-orang tua yang dia
jumpai. Ketika sahabat-sahabat yang tahu hal ini hendak mengambil
alih bawaan itu, Ali menolak sambil menyitir Al Quran: “Negeri Akhirat
itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak ingin menyombongkan
diri dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan yang baik
itu bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al Qashash/28:83)

Ketika di Syam, Muawiyah menghasut masyarakat untuk mencaci maki


dan mengutuk Ali, di Kufah khalifah mencegah rakyatnya untuk
membalas mencaci maki Muawiyah, dan menimnta rakyatnya untuk
berdoa: “Ya Allah, peliharalah darah kami dan darah mereka,
persengketaan kami dengan mereka.”

Nah, demikianlah para sahabat besar itu memberikan keteladanan


hidup sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi. Semua bentuk akhlak
yang mereka tampilkan itu sebagai wujud kecintaan mereka kepada
Allah dengan cara mengikuti keteladanan Rasul Allah. Harapan mereka
adalah ampunan atau perlindungan dari Allah, Tuhan semesta alam.
Keteladanan-keteladanan yang mulia inilah yang diwarisi oleh mereka
yang memilih jalan kesufian. Mereka tak mau bid’ah-membid’ahkan
sesama umat. Mereka memberikan contoh yang bisa menentramkan
hati orang yang sedang gundah.

Jalaluddin Rumi mengajar mereka yang non-muslim dengan sepenuh


hati, tanpa meminta mereka pindah agamanya. Mereka, para murid
yang terdiri dari orang-orang Muslim dan non-muslim, diperlakukan
sama baiknya. Ajaran “tidak ada paksaan dalam agama” (QS 2:255)
dipraktikkan dengan benar. Betul-betul tidak ada paksaan! Jika ada
orang yang tertarik dan pindah ke Islam, ya diterima dengan baik. Jika
tetap teguh dengan agamanya ya tetap dipuji. Dengan cara ini, orang-
orang Turki yang semula hanya 20% penduduknya yang beragama
Islam ketika Rumi pindah ke Turki, akhirnya dengan kesadarannya
sendiri rakyat Turki banyak yang pindah ke Agama Islam. Sehingga di
akhir hayatnya, ada 60% penduduk yang beragama Islam.

Sejarah para wali di Jawa sebenarnya juga demikian. Islam diterima di


Jawa dengan penetrasi damai. Walaupun tidak menutup mata bahwa
ditingkat kekuasaan negara, para wali itu pun berebut pengaruh. Dan
hal ini maklum, karena yang asli Jawa itu cuma Sunan Kalijaga.
Namun, di hadapan umat mereka berusaha melakukan akulturasi yang
menyejukkan rakyat. Mereka tetap mencoba memberikan langkah-
langkah dalam kedamaian hidup di dunia ini.
Kesederhanaan masjid-masjid yang di nusantara sebenarnya
menunjukkan bahwa yang membawa ajaran Islam adalah mereka yang
berperilaku hidup tasawuf. Adanya Islam “wetu telu” atau shalat di
tiga waktu yaitu subuh, zuhur dan magrib, di Lombok ke timur dan di
Talaud di Sulut menunjukkan yang memperkenalkan Islam itu para
sufi. Para ahli tasawuf ini tak mau unjuk kesombongan. Jadi, secara
gradual mereka menyemai Islam dengan cara damai.

Hidup bertauhid seperti ayat nomor 2 di atas sangat ditekankan.


Kemana saja manusia itu memalingkan dirinya, niscaya ia tetap
menghadap Wajah Allah. Sekali lagi, menghadap Wajah Allah! Hal ini
harus dipahami benar, mengapa tidak dinyatakan “menghadap Allah”
saja, melainkan menghadap Wajah Allah. Karena, apa saja yang ada di
penjuru mata angin, bukanlah Allah. Islam tidak mengajarkan
pantheisme, bahwa Allah adalah keseluruhan alam ini. Islam
mengajarkan bahwa semua ini ada karena dihadirkan oleh Allah. Dia
Maha Meliputi segala sesuatu. Dengan demikian, kemana saja kita
menghadapkan diri kita, di situlah kita melihat kehadiran Allah. Tanpa
Dia tak akan ada wujud alam semesta ini. Wujud alam ini
menunjukkan kehadiran-Nya. Karena itu kemana kita memandang,
maka yang kita pandang adalah Wajah Allah.

Dengan fundamen yang kokoh itu, layaklah sebagai hamba kita diseru
untuk senantiasa berzikir kepada Allah sebanyak-banyaknya, dan
bertasbih dari pagi hingga petang. Dengan lain kata, berzikir kepada
Allah yang mengiringi aktivitas kita sepanjang hari. Hal ini
dimaksudkan agar nurani kita semakin tajam dalam hidup ini.
Sehingga kita bisa keluar dari kegelapan hidup ini menuju daerah
kehidupan yang terang, yang bercahaya, yang transparan. Jika hidup
ini bisa kita jalani dengan Ajaran yang mulia ini niscaya kita tidak
timbul saling curiga dalam kehidupan bersama, bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara. Berzikir untuk selalu ingat Yang dicintai,
yaitu Allah. Bertasbih adalah tindakan untuk menjauhkan diri dari
segala sifat yang tidak terpuji. Tindakan untuk menjauhkan diri dari
segala yang tidak patut dilakukan sebagai kekasih Allah. Jadi,
bertasbih alias memahasucikan Tuhan, bukanlah cuma mengucap
“subhaanallah”. Tetapi ia merupakan perbuatan yang nyata-nyata
untuk menjauhkan segala sifat yang tidak patut diatributkan kepada
Tuhan. “Subhaana rabbika ammaa yaashifuun,” Mahasuci Tuhan
engkau dari apa yang mereka sifatkan.

Semua perbuatan bajik itu ditunaikan oleh orang-orang yang


mencintai Tuhan karena mereka sadar bahwa Kekasih mereka itu
selalu mengawasi mereka. Mereka merasa hidup ini dalam
pengawasan Tuhan. Para pencinta itu tak ingin ditinggalkan oleh Sang
Kekasih. Mereka sadar bahwa kehadiran Sang Kekasih itu lebih dekat
kepada jiwa-jiwa mereka daripada urat nadi leher mereka. Bisikan
sekecil apa pun kepada jiwa mereka pasti diketahui. Ada prinsip
transparansi dalam akuntansi kehidupan ini.

Bagian ke-2

Pada bagian ke satu, telah dikutipkan surat Aali Imraan/3:31 yang


terjemahannya sebagai berikut, “Jika kamu mencintai Allah maka
ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan menutupi dosa-dosa
kamu. Allah Maha Pengampun dan Maha Pemurah.”

Dalam kehidupan ini banyak orang yang tidak bisa membedakan


antara kata “mengikuti” dan “meniru”. Yang diperintahkan kepada
umat manusia adalah “mengikuti” atau “ittiba‘”, bukan meniru. Hal ini
jelas, karena manusia bukanlah hewan. Manusia adalah sebuah
kepribadian yang bisa tumbuh dan berkembang. Manusia adalah
kepribadian yang dapat tumbuh dewasa. Mula-mula manusia tumbuh
menjadi “kanak-kanak” yang sifatnya hanya meniru. Ia berusaha
meniru perilaku di lingkungannya. Dalam bahasa agama, ia dikatakan
tumbuh secara “taqlid”.

Mengapa peniruan oleh kanak-kanak ini disebut taqlid? Karena tahap


pemikiran kanak-kanak belum berkembang dengan baik. Sedangkan
meniru adalah tahap pertama dalam proses pendewasaan pribadinya.
Kanak-kanak ingin melakukan apa saja yang dilihatnya. Ia belum bisa
mengerti alasan mengapa perbuatan tertentu dilakukan oleh orang-
orang di sekelilingnya. Seandainya kanak-kanak itu bisa berjanggut,
maka ia akan memelihara janggutnya bila orang-orang di sekitarnya
berjanggut. Contoh yang paling konkret dalam bertaklid adalah
“merokok”. Perbuatan merokok yang dilakukan oleh para remaja
adalah produk dari taklid. Akhirnya, perbuatan ini menjadi kebiasaan
sampai dewasa dan tua, mungkin seumur hidupnya.

Banyak sekali perbuatan agamis kita ini juga hasil dari taklid ketika
kita masih kecil atau ketika kita bersentuhan pertama kali dengan
ajaran-ajaran agama. Kalau toh sekarang ini kita mengaji Al-Quran dan
Al-Hadis, lebih banyak ayat-ayat itu sebagai pembenaran atau
“justifikasi” bagi kepercayaan atau perbuatan yang telah kita lakukan.
Sebaliknya, kita ini jarang sekali yang menelaah Al Quran dan Al Hadis
untuk melahirkan suatu produk yang berupa perbuatan etika (sopan-
santun), estetika (keindahan), dan spiritual (semangat hidup) yang
unggul. Semenjak mandegnya kemunculan tokoh-tokoh besar Islam
1.000 tahun yang lalu, praktis umat Islam hanya bertaklid kepada
mereka.
Perbedaan-perbedaan yang muncul dari sikap taklid ini tidak
menghasilkan rahmat bagi umat Islam. Bahkan sering perbedaan ini
menjadi bencana atau mala petaka bagi umat. Mengapa demikian?
Karena perbedaan itu tidak tumbuh dari pencarian. Perbedaan yang
tumbuh dari peniruan, akan melahirkan “claim-claim” kebenaran.
Banyak orang yang beranggapan bahwa apa yang ditirunya (bukan
diikutinya, sekali lagi bukan diikutinya) sebagai yang paling benar.
Akhirnya, orang berebut benar sendiri. Orang lain yang tidak sepaham
atau seperti apa yang ditirunya dianggap berada dalam jalan yang
salah. Ia merasa telah berada di atas dalil yang benar; padahal dalil
tadi hanyalah intepretasi atau paham mursyid, gurunya.

Nah, tasawuf mengajak kita untuk beramal dengan arif. Tasawuf


mengajak kita untuk mencari hikmah Allah. Tak ada kampus atau
sekolahan di dunia ini yang memberikan pelajaran hikmah atau
“wisdom”. Hikmah adalah barang orang mukmin yang hilang, karena
itu marilah kita cari, dan di mana pun ia berada harus kita temukan,
dan kita ambil. Kitasusuri melalui jalur syariat, kita gunakan cara
(tarekat) untuk menemukannya. Lalu kita pahami hakikatnya, dan
lahirlah hikmah. Dengan hikmah yang diberikan kepada kita maka kita
memperoleh kebajikan yang banyak. Akhirnya, dada kita terasa
lapang. Dan, lapang dada adalah sarana untuk mendapatkan hikmah.

Surat Al Baqarah/2:269,

“Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki. Dan


barangsiapa yang menerima hikmah, sungguh ia telah diberi kebajikan
yang banyak. Tak ada yang dapat memahami pelajaran kecuali
kelompok albab.”

Kata “khairan katsiira” pada ayat di atas sebenarnya tidak cukup


diterjemahkan dengan “kebajikan yang banyak”. Makna “khair” yang
lain adalah sesuatu yang sangat baik, rahmat, keistimewaan,
keuntungan, dan kesejahteraan. Sehingga proses untuk mencapai
status “Hamba-Tuhan” atau “Manunggaling kawula-Gusti” adalah
proses pencarian hikmah. Dan seperti yang telah saya jelaskan pada
pelajaran-pelajaran sebelumnya, kalimat “siapa yang dikehendaki-
Nya” tidak berarti Tuhan berbuat sewenang-wenang. Arti yang
sebenarnya kalimat tersebut adalah Dia menghendaki siapa yang
menghendaki-Nya. Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad menjadi
nabi, bukan karena mereka semata-mata dikehendaki menjadi nabi;
tetapi mereka adalah orang-orang yang telah berjuang keras mencari-
Nya.

Kedua ayat tersebut, yaitu 3:31 dan 2:269 merupakan ayat yang
saling melengkapi untuk memahami tasawuf. Pada 3:31 yang
ditekankan adalah kecintaan atau “mahabbah” dari Allah kepada
hamba-Nya yang sungguh-sungguh mencintai-Nya. Jika Allah
mencintai hamba-Nya maka ditutupinya semua dosa hamba-Nya. Jika
Allah menutupi segala dosa hamba-Nya tidak berarti dosa itu dihapus
seperti kita menghapus papan tulis yang kotor, tetapi hamba tersebut
menerima hikmah dari ssi-Nya. Dengan hikmah tersebut hamba dapat
bertindak atau beramal yang mendatangkan keuntungan yang besar.
Sehingga dosa atau kerugian yang ada itu tertutupi atau terlunasi.

Jika ujung ayat 3:31 berbunyi “Allah Maha Pengampun dan Maha
Penyayang”, maka ujung ayat 2:269 adalah “Tak ada yang dapat
memahami pelajaran atau ayat-ayat Tuhan, kecuali kaum albab. Kaum
albab adalah mereka yang mampu menyatukan dada dan kepala, hati
dan otak, atau perasaan dan nalarnya. Karena itu mereka layak
menerima hikmah. Sedangkan pengampun dan penyayang adalah
sifat asli Tuhan. Artinya, Tuhan senantiasa merespon hamba-Nya yang
betul-betul memohon ampun dan kasih-sayang-Nya, yang dalam ayat
di atas disebutkan sebagai “mencintai Tuhan” yang dibuktikan dengan
cara berittiba‘ atau mengikuti Rasul s.a.w.

Dalam QS 3:32 disebutkan bahwa mengikuti Rasul itu harus


diwujudkan dengan tindakan menaati atau mematuhi Allah dan Rasul-
Nya. Namun, kebanyakan orang memiliki pengertian yang salah
tentang kepatuhan kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah sering
disamakan dengan Al Quran, sedangkan Rasul disamakan dengan Al
Hadis. Allah Yang Maha Hidup dan Maha Besar itu dikecilkan menjadi
sekadar sebuah Kitab Suci. Inilah kesalahan yang sangat fatal.

Allah adalah Allah! Allah bukanlah Taurat, Zabur, Injil, atau Al Quran.
Semua kitab suci hanyalah sebagian kecil dari kalam-Nya. Seandainya
lautan itu dijadikan tinta dan pohon-pohon di muka bumi ini dijadikan
pena, maka telah keringlah tinta itu sebelum habis kalam Tuhan.
Kalam-Nya yang ditulis dalam kitab-kitab itu hanyalah miniatur dari
kebenaran Ilahi. Karena kitab suci itu miniatur dari kalam-Nya maka
diperlukan pemahaman pesan-pesan-Nya. Kalau hanya sekadar
membaca kulitnya, selamanya tak akan pernah mengerti isi kitab suci
tersebut.

Surat Al Kahfi/18:109 menyebutkan,

“Qul lau kaana l-bahru midaadal li kalimaati rabbii lanafida l-bahru


qabla antanfada kalimaatu rabbii wa lau ji’naa bi mitslihii madadaa.”
“Katakanlah, seandainya air laut itu sebagai tinta untuk menulis
kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya air laut itu kering sebelum kalimat-
kalimat Tuhanku habis dituliskan; bahkan jika ditambahkan sebanyak
itu.”
Jadi, jelaslah bahwa kalam Allah itu tak terhingga. Karena kalam Allah
itu seluas ilmu-Nya. Dan, keluasan Allah di banyak ayat dinyatakan
dengan iringan kemahatahuan-Nya, yaitu “Innallaaha waasi-‘un
‘aliim”, sesungguhnya Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui. Nah,
belajar tasawuf sebenarnya mempelajari bagaimana caranya
mencintai Allah dan mendekatkan diri ke maqam-Nya atau ke Hadirat-
Nya. Dia adalah Dzat Yang Maha Hidup, sedangkan kitab suci memuat
kalam-Nya. Dia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, sedangkan kitab
suci bersifat kontekstual yang ada di dalam ruang dan waktu. Dan, Al
Quran sebagai salah satu kitab suci, ia berkaitan dengan bahasa dan
budaya Arab, lebih tepatnya Arab Qureisy.

Lalu bagaimana dengan Muhammad Rasul Allah? Rasul adalah


manusia yang diutus untuk mengajarkan kalam Allah tersebut. Seperti
yang dikatakan dalam firman-Nya dalam surat al Ghaasyiyah/88:21-
22, “Fadzakkir innamaa anta mudzakkir, lasta ‘alaihim bi mushaithir”,
Sampaikan ajaran (Tuhan) karena sesungguhnya engkau orang yang
menyampaikan ajaran, dan engkau bukanlah orang yang ditugasi
untuk menguasai mereka. Dan ayat senada ada pada QS 87:9, yaitu
Nabi s.a.w. diperintah untuk menyampaikan ajaran, karena ajaran dari
Tuhan itu bermanfaat bagi manusia.

Kemudian, dimana letak Al Hadis dalam pengajaran kalam Ilahi kepada


umat manusia? Jadi, di dalam mengajarkan kalimat-kalimat Tuhan
kepada manusia, Nabi memberikan contoh-contoh yang pas bagi yang
beliau ajar. Nabi memberikan contoh sesuai dengan daya tangkap dan
tingkat kecerdasan orang-orang yang beliau ajar. Karena itu hadis-
hadis itu sifatnya kasuistis. Al Hadis adalah produk atau jawaban bagi
masalah yang dihadapi oleh umat pada waktu kehidupan Rasul di
bumi. Sehingga Al Hadis harus ditempatkan sebagai referensi dalam
memahami ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi. Masalah dalam
kehidupan manusia terus berkembang karena adanya perubahan
lingkungan hidup manusia. Untuk memberikan solusi yang islami,
umat Islam harus merujuk kepada Nabi, bukan meniru Nabi. Beliau
telah memberikan “uswatun hasanah” atau contoh-contoh yang baik
dalam memberikan solusi.

Masalah yang paling pokok bagi manusia adalah masalah psikologis,


masalah yang terkait dengan faktor kejiwaan. Dapat dikatakan 95%
problem manusia adalah problem yang muncul dari jiwanya. Dan,
agama-agama diturunkan kepada manusia adalah untuk memberikan
jawaban bagi jiwa manusia agar manusia menjadi terarah hidupnya
dan dapat menemukan jalan hidupnya. Oleh karena problema manusia
itu problema jiwanya, dan daya tangkap dan kecerdasan manusia itu
berbeda-beda, maka untuk hal-hal yang bersifat sangat abstrak atau
batiniah, oleh Nabi, diajarkan pada orang-orang tertentu saja. Dan
sumber ajaran tasawuf kalau dirunut hingga akarnya akan dijumpai
pada Abubakar dan Ali bin Abi thalib, dan penghulunya adalah
Muhammad Rasulullah s.a.w.

Dengan demikian mematuhi Allah dan Rasul-Nya tidak sama dengan


meniru yang tersurat dalam Al Quran dan Al Hadis. Meniru yang
tersurat akan melahirkan sikap spekulatif. Dan, akhirnya
mengabsolutkan yang relatif. Hal demikian ini disinggung dalam QS
62:5, Tuhan membuat permisalan bagi orang-orang yang berkewajiban
mempelajari isi Taurat, tetapi mereka tidak mau mempelajarinya
untuk menemukan hikmah yang terkandung di dalamnya, maka
mereka itu diumpamakan sebagai keledai yang mengangkut kitab-
kitab yang tebal. Tentu saja kitab-kitab itu tidak bisa menjadi petunjuk
bagi keledai. Kitab itu tak akan menjadi solusi bagi mereka. Bahkan
kalau cuma dibawa secara fisik, cuma disentuh kulitnya, akan menjadi
beban bagi dirinya. Hasil akhirnya adalah kezaliman. Dan Allah tidak
memberi petunjuk kaum yang lalim, “Wallaahu laa yahdi l-qauma zh-
zhaalimiin,” seperti pada ujung ayat tersebut.

Umat manusia tidak diperintah untuk meniru Rasul atau bertaklid


kepada beliau, maka itu Allah memerintah Rasul untuk menyeru
kepada jalan Tuhan itu dengan menggunakan al-hikmah dan
pengajaran yang baik. Jadi, umat diperintah oleh Allah untuk berittiba‘,
mengikuti ajaran beliau. Dan beliau serta orang-orang yang menjadi
ahli waris ajaran beliau diperintah untuk menyeru ke jalan Tuhan
dengan menggunakan hikmah dan peng-ajaran yang baik. Ayat
selengkapnya pada QS 16:125 sebagai berikut,

“Ud-‘u ilaa sabiili rabbika bi l-hikmati wa l-mau-‘izhati l-hasanati wa


jaadilhum bi l-latii hiya ahsanu inna rabbaka huwa a‘lamu bi man
dhalla ‘an sabiilihi wa huwa a‘lamu bi l-muhtadiin.”

“Serulah mereka itu kepada jalan Tuhan engkau dengan menggunakan


hikmah dan mauizhah yang baik. Dan berargumenlah dengan cara
yang sebaik-baiknya. Sesungguhnya Tuhan engkau lebih mengetahui
orang-orang yang tersesat dari jalan-Nya dan orang-orang yang
mendapat petunjuk.”

Marilah kita rinci pengertian ayat tersebut. Kita pahami kandungannya.

Pertama, Nabi?dan orang-orang yang menjadi ahli waris kenabian?


diperintah untuk mengajak manusia ke jalan Tuhan. Coba perhatikan
makna kata “ajakan”. Jelas bahwa ajakan tidak sama dengan paksaan.
Jika kita melihat tingkah laku umat sekarang ini tampak sekali adanya
paksaan untuk mempraktikkan agama. Sedangkan Al Quran sendiri
menyebut bahwa “tidak ada paksaan dalam beragama”. Lihat kembali
surat ke-88 di atas. Betul-betul kehidupan beragama itu sebagai
ajakan. Di sini harus bisa kita bedakan dengan pelarangan untuk
berbuat kriminal. Untuk mencegah timbulnya kriminalitas atau
kezaliman dalam hidup bernegara ini, pemerintah yang berkewajiban
menegakkan hukum dan keadilan. Sedangkan warga berkewajiban
mematuhinya. Nah, di sini kita harus memahami mana ayat-ayat yang
menunjukkan Muhammad sebagai Nabi, dan Muhammad sebagai
Kepala Negara/Pemerintahan.

Ke dua, diajak menuju jalan Tuhan. Lho, Tuhan punya jalan?


Pengertian ayat itu adalah Tuhan telah menciptakan “sabiil” atau jalan
bagi ciptaan dan ‘amr (kehendak)-Nya. Ciptaan adalah sesuatu yang
menjadi ada melalui sebuah proses, sedangkan kehendak-Nya ada
tanpa proses kejadian. Nah, proses kejadian dan kehendak itu
mengikuti suatu jalan yang telah ditetapkan Tuhan berdasarkan ilmu-
Nya. Dan, jalan yang telah ditentukan Tuhan itu banyak. Karena itu,
kata “sabiil” mempunyai kata pluralnya yaitu “subul”. Jalan-jalan ini
pada akhirnya menjadi satu di jalan yang besar yang disebut
“shiraath”. Dengan demikian, ada satu shiraath yaitu “shiraath al-
mustaqiim”. Dan petunjuk ke jalan yang lurus inilah yang kita minta
dari Tuhan.

Ke tiga, cara mengajak kepada jalan Tuhan itu pun harus


menggunakan “hikmah” atau “wisdom”. Tidak ada sekolahan atau
tempat belajar untuk memperoleh hikmah. Karena hikmah bukan
materi atau sesuatu yang tampak. Hikmah sendiri berasal dari kata
“hukum”, karena itu hikmah merupakan esensi kebenaran yang
tampak. Diceritakan di dalam Al Quran, surat Al Baqarah/2:251, bahwa
Daud sebelum diangkat menjadi Nabi, memperoleh hikmah dari
Tuhan. Sehingga beliau mampu mengalahkan Jalud, yang jauh lebih
kuat, hanya dengan ketapel. Nah, ide menggunakan ketapel untuk
membunuh Jalud itu namanya hikmah. Karena hikmah itu sebuah
esensi sebuah kebenaran yang tampak, maka ia tidak bisa
didentifikasi layaknya sebuah produk. Sebab jika sekarang Anda
bertempur dengan orang yang menggunakan bedil, lalu Anda
menggunakan ketapel, ya Anda akan kalah dan kemungkinan besar
mati. Ketapel ditangan Anda bukan lagi hikmah namanya. Karena itu
hikmah harus digali dan dicari. Tetapi hikmah tak akan kita dapatkan
bila kita berlaku lalim, karena Allah tidak akan memberi petunjuk
kepada orang-orang yang bertindak zalim, aniaya, yang merugikan.

Ke empat, disamping menggunakan hikmah, orang harus kita ajak


dengan menggunakan mau-izhah yang baik. Kata mau-izhah berasal
dari “wa- ‘a-zha” yang artinya memberikan nasihat atau peringatan.
Jadi, mau-izhah artinya pelajaran yang mengandung nasihat dan
peringatan. Dan itu pun harus yang baik, yang tidak menyakitkan hati
orang yang di ajak melalui jalan Tuhan. Lha, kalau mengajaknya itu
bukan dengan cara yang baik, maka yang diajak akan ketakutan atau
malah tidak percaya. Dengan hikmah ajakan itu akan tepat sasaran,
dan dengan mau-izhah yang baik yang diajak akan masuk dengan
puas.

Ke lima, berargumen dengan cara yang sebaik-baiknya. Kadang kala


yang diajak itu minta penjelasan dan bahkan membantah. Dalam
keadaan demikian, ajakan itu harus disertai argumen atau bantahan
yang sebaik-baiknya. Bukan hanya cara yang baik, tetapi yang lebih
baik. Sehingga yang diajak tidak tersinggung hatinya.

Ke enam, ajakan itu harus disertai kewaspadaan. Di ujung ayat


tersebut dikatakan bahwa Tuhan lebih mengetahui orang-orang yang
tersesat dari jalan-Nya. Meskipun dalam ayat itu dinyatakan “Tuhan
lebih mengetahui”, namun dalam praktik, orang yang mengajak
kepada jalan Tuhan itu yang harus waspada. Dengan kewaspadaan itu
amalan untuk mengajak kepada jalan Tuhan tidak menjadi sia-sia,
yaitu kehilangan waktu dan tenaga. Waspada artinya cermat, siapa
yang diajaknya berdebat atau berargumentasi itu. Dengan demikian
tidak timbul debat kusir.

Ke tujuh, kewaspadaan itu harus diikuti dengan persuasi atau


kesantunan. Jika sudah di-cermati bahwa orang yang diajak kepada
jalan Tuhan itu sungguh-sunnguh orang yang mau mengikuti, maka
selanjutnya adalah menyantuninya dengan memberikan binaan dan
bimbingan. Dengan cara ini terbentuklah kehidupan umat yang
harmonis, yang setara dalam pergaulan hidup, sama-sama berada di
jalan Tuhan.

Nah, belajar tasawuf sebenarnya belajar untuk dapat mencari dan


memperoleh hikmah dalam kehidupan ini. Dengan memperoleh
hikmah, kita tidak lagi beribadah untuk mencari surga atau karena
takut neraka. Karena hikmah itu sendiri merupakan kebajikan, rahmat,
keuntungan, “advantage” yang banyak. Sekian pelajaran hari ini,
semoga bermanfaat bagi kita semua, dan kita lanjutkan bagian ke-3.

Bagian ke-3

Telah dijelaskan bahwa ajaran tasawuf adalah untuk menggapai


hikmah Ilahi, yang pada akhirnya mampu kembali kepada Allah. Dia
adalah asal segala keberadaan, baik yang kasat mata maupun yang
gaib. Alam semesta ini tumbuh dari wujud yang paling sederhana,
yang disebut titik singularitas. Pada suatu masa yang sangat mampat,
meledaklah titik singularitas itu. Ilmuwan fisika menamai ledakan ini
dengan “big bang”, atau “ledakan besar”. Segala sesuatu ini memang
berasal dari titik tunggal seperti yang diungkapkan pada QS 21 : 30,
“Dan apakah orang-orang yang ingkar itu tidak mengetahui bahwa
sesungguhnya langit dan bumi itu dahulunya satu yang padu. Lalu
Kami pisahkan keduanya. Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup
dari “zat cair”. Maka apakah mereka tetap tidak beriman?”

Di antara mufasir Al Quran ada yang mengatakan bahwa “samawat”


adalah semua ruang, dan “ardh” adalah materi. Dengan demikian ayat
tersebut di atas diterjemahkan menjadi “sesungguhnya ruang dan
materi itu dahulunya sebagai wujud yang satu”. Lalu, apa
hubungannya ayat ini dengan bahasan tasawuf kita? Ya, ayat ini
sebenarnya mengi-ngatkan kita bahwa semua keberadaan ini berasal
dari “SATU” wujud. Dari situlah adanya matahari, planet-planet,
rembulan, dan semua bintang yang bermilyar-milyar banyaknya itu.
Dan di planetlah tumbuh kehidupan, yang berevolusi dari kehidupan
satu sel hingga menjadi makhluk milyaran sel yang sangat kompleks
yang disebut manusia.

Semua makhluk, kecuali manusia, menempuh kehidupannya sesuai


dengan komando Tuhan semesta alam. Manusia dalam perjalanan
sejarahnya akhirnya menemukan kebe-basan dirinya. Manusia tidak
lagi tunduk kepada hukum alam, tetapi berusaha mengatasi alam.
Karena itu pada akhirnya manusia dipilih menjadi “khalifatullah fil
ardh”, yaitu wakil Tuhan di bumi. Jadi manusia itu bukan “penguasa
bumi”, tetapi wakil-Nya di bumi. Sebagai “wakil” tentu manusia harus
bisa bertemu dengan-Nya untuk mempertanggung-jawabkan amanat
yang diembannya. Dan sudah menjadi “janji” Tuhan bahwa setiap
orang pada akhirnya dapat menemui-Nya!!

Perhatikan QS 84:6-9,
“Hai manusia sesungguhnya engkau telah berusaha sungguh-sungguh
menuju Tuhan engkau, dan engkau niscaya menemui-Nya. Dan orang
yang menerima rekaman pada tangan kanannya, maka ia
mendapatkan penilaian yang baik. Dan ia akan kembali kepada
keluarganya dengan gembira.”

Jadi, kapan seseorang bertemu dengan-Nya? Yaitu, ketika orang itu


sudah bisa menyucikan dirinya, yang pada ayat tersebut dikatakan
sebagai ‘menerima rekaman amalannya pada tangan kanannya’.
Tentang ayat 9 yang menyatakan kembali kepada keluarganya dengan
gembira, tidak kita bahas sekarang ini. Bertahap supaya kita tidak
bingung! Yang jelas, untuk bisa bertemu dengan-Nya, kita harus
sungguh-sungguh mencari-Nya. Agar kita bisa
mempertanggungjawabkan tugas-tugas yang kita emban, yaitu tugas
untuk “hamemayu ayuning bawana”, menciptakan kebaikan dan
keindahan di bumi ini. Sehingga pada QS 21:105 disebutkan oleh
Tuhan bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Nya yang
saleh, hamba yang berbuat kebajikan, yaitu sebagai lawan dari orang-
orang yang membuat kerusakan di bumi. Hal inilah yang disinggung
dalam surat al-Baqarah/2:11, “Dan apabila dikatakan kepada mereka
(orang-orang kafir): ‘Jangan membuat kerusakan di bumi!’ Mereka
menjawab, ‘Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang saleh.’” Jadi,
kesalehan adalah lawan dari kekafiran.

Mencintai-Nya, tentu diikuti dengan tindakan mencari-Nya. Omong


kosong, orang yang mengatakan ‘mencintai’ Dia tanpa ada keinginan
untuk bertemu dengan-Nya! Tapi bagaimana mencari-Nya, wong Dia
itu tak tertangkap oleh indera kita. Dia memang Maha Besar, Allaahu
Akbar, tetapi Dia juga Maha halus, wa huwa lathiif. Dikonfirmasi dalam
surat al-An-‘aam/6:103, “Dia tidak dapat dicapai oleh indera,
sedangkan Dia meliputi indera. Dia Maha Halus dan Maha Menyadari.”
Karena Dia tidak tertangkap oleh indera itulah, Allah memerintahkan
manusia untuk berittiba’ atau mengikuti Rasul-Rasul-Nya, yang untuk
umat Islam berittiba’ kepada Nabi Muhammad s.a.w.

Rasul adalah juga manusia seperti kita. Ia manusia yang makan,


minum, dan bekerja layaknya manusia biasa. Sebagian besar dari rasul
justru memilih kehidupan berkeluarga. Namun mereka itu manusia
yang mempunyai kualitas lebih dari kebanyakan manusia. Yang jelas
semua rasul/nabi tahan menderita. Semangat hidupnya tinggi. Makan,
minum, dan tidurnya relatif sedikit. Mereka terpanggil untuk
mewartakan jalan hidup yang benar. Mereka bahkan tidak hanya
mewartakannya, tetapi membawa dan menggembalakan umat
manusia. Tentu saja sifat jujur, tepercaya, cerdas, dan menyampaikan
kebenaran itu adalah sifat mereka. Nah, di antara para rasul dan yang
menjadi penghulu para nabi adalah Nabi Muhammad s.a.w.

Muhammad memiliki keteladan yang baik bagi umat manusia yang


mendambakan Allah dan Hari Akhir dan banyak berzikir kepada Allah
(QS 33:21). Seperti yang telah dijelaskan di bagian ke-2, mengikuti
keteladanan tidak sama dengan meniru. Meniru adalah proses
pendewasaan tahap awal seorang anak manusia. Sedangkan
mengikuti keteladanan, termuat usaha untuk mengerti apa yang
diteladankan. Mengikuti juga tidak sama dengan “sekadar ikut” atau
menyertai. Dalam tindakan mengikuti, terdapat proses
menyempurnakan diri. Ada upaya untuk mengadopsi dan
mengadaptasi. Mengapa demikian? Karena keteladanan dari
seseorang tak lepas dari budayanya. Pakaian gamis tentu sangat
cocok dengan budaya padang pasir. Namun kata “gamis” tersebut di
negara Spanyol ketika dikuasai oleh Bani Umayyah, berubah menjadi
kamisa dan akhirnya kemeja seperti yang kita kenal di Indonesia.
Untuk mengikuti Nabi, manusia diperintah untuk mematuhi Allah dan
Rasul-Nya. Selama beliau di Mekah, wahyu yang memuat kalimat
perintah “athii-‘uu” hanya ada di surat Thaahaa/20:90. Dan itu pun
mengabarkan perintah Nabi Harun a.s. kepada umatnya. Sedangkan
kalimat perintah “athii-‘uuni”, patuhilah aku, hanya ada di surat asy-
Syu-‘araa, yaitu surat ke-26 pada ayat 108, 110, 126, 131, 144, 150,
163, 179; dan surat ke-43 (az-Zukhruf) ayat 63, serta surat Nuh/71:3.
Dan semua perintah “patuhilah aku” pada semua ayat tersebut adalah
perintah nabi-nabi, seperti Nuh, Shaleh, Hud, Syuaib, Luth dan Isa,
kepada umat beliau masing-masing. Perintah “patuh kepada Allah dan
Rasul” baru muncul pada periode Nabi s.a.w. di Madinah

Ada 13 ayat Madaniyah yang memerintahkan manusia untuk patuh


kepada Allah dan Rasul, yaitu ayat 3:32,132, 4:59, 5:92, 8:1,20,46,
24:54,56,47:33, 58:13, 64:12,16. Jika ayat-ayat Makiyah menegaskan
bahwa Rasul itu sebagai penyampai Ajaran Tuhan, maka ayat-ayat
Madaniyah memberitahukan bahwa Rasul juga Pemimpin umat yang
harus dipatuhi. Apa yang disampaikan di Mekah adalah Ajaran yang
universal dari Islam, sedang yang di Madinah lebih spesifik sebagai
solusi bagi kehidupan masyarakat Arab pada waktu itu. Hal itu jelas
sekali bila kita memperhatikan hukum-hukum yang tertera pada 5:89-
91, yang mendahului perintah ketaatan kepada Allah dan Rasul pada
5:92.

Demikian pula jika kita memperhatikan perintah tentang kepatuhan


kepada Rasul dalam surat al-Anfaal (Rampasan Perang). Perintah itu
sangat erat kaitannya dengan peperangan, agar pasukan tentara yang
dipimpin Nabi tetap solid (bersatu), teguh dan tetap mengikat tali
persaudaraan orang-orang beriman. Pada intinya semua ayat tersebut,
kecuali 64:12-16, menjelaskan kepatuhan umat kepada Rasul ketika
beliau ada di tengah-tengah mereka. Nah, sejak 632 M secara fisik
beliau sudah tidak hadir di tengah-tengah umat. Kehadiran beliau di
tengah-tengah umat bersifat ruhaniyah. Dengan demikian, taat
kepada Allah Yang Maha Gaib itu dan taat kepada Rasul dalam
keadaan gaib, merupakan kepatuhan yang bersifat spiritual.

Kepatuhan spiritual, yang di dalam bahasa tasawuf Jawa sebagai


“Sembah Jiwa”, adalah jalan kepatuhan terakhir untuk memasuki
tingkat kerohanian tertinggi, yaitu alam nubuwat atau “kenabian”
seperti yang dinyatakan pada surat an-Nisa’/4:69. Yang di dalam ayat
itu disebutkan bahwa orang-orang yang mendapat anugerah
kenikmatan dari Tuhan adalah para shalihin, para syuhada’, para
shiddiqin, dan para nabi. Yang dimaksud dengan para nabi, tidak
berarti mereka yang menyatakan dan dinyatakan sebagai “nabi”
dalam bahasa Arab, tetapi semua orang yang menjadi “ahli waris
kenabian” yaitu mereka yang disebut ulama, baik dalam Al Quran
maupun Al Hadis (al-‘ulamaa-u waratsatu l-anbiyaa’, ulama itu ahli
waris para nabi). Yang saya maksud dengan ulama di sini, bukan
sebutan ulama yang ditempelkan pada orang tertentu. Tetapi orang-
orang yang ada di barisan para nabi Allah. Ulama demikian inilah yang
dikabarkan dalam surat ar-Ra’d (guruh)/13 : 7,

“Wa yaquulu l-ladziina kafaruu laulaa unzila ‘alaihi aayatun min


rabbihii innamaa anta mundzirun wa li kulli qaumin haaad.”

Berkatalah orang-orang yang ingkar (kafir) itu, “Mengapa tidak


diturunkan suatu mukjizat dari Tuhannya kepada Muhammad?”
Engkau (Muhammad) sesungguhnya salah seorang yang memberi
peringatan! Dan setiap kaum itu ada orang yang memberi petunjuk
(Haad).

Jadi, jelas bahwa orang yang senantiasa terpanggil untuk memberi


peringatan dan petunjuk tentang jalan hidup yang benar dalam suatu
kaum itu selalu ada. Dan Nabi adalah salah seorang Haad itu. Dengan
demikian, Haad atau orang yang memberi petunjuk untuk berbuat dan
bertindak benar kepada suatu kaum ada di barisan para nabi. Mereka
adalah orang-orang yang menerima tongkat estafet kenabian. Mereka
itulah para ahli waris nabi. Sehingga di dalam suatu Al hadis
disebutkan bahwa para ulama di kalangan umat beliau bagaikan para
nabi Bani Israel. Mereka tidak memerlukan sebutan nabi bagi diri
mereka. Sebab Penghulu para nabi adalah Muhammad s.a.w.

Lalu, apa hubungannya menjadi ulama dengan belajar tasawuf?


Apakah belajar tasawuf itu untuk menjadi wali atau ulama? Tentu saja
tidak! Kodrat dan irodat Tuhan dalam diri setiap manusia itu tidak
sama. Kapasitas manusia untuk mengarungi hidup ini berbeda-beda.
Kita lihat saja di sekolahan, untuk kelas yang sama tak ada orang yang
kepandaiannya sama. Masing-masing memiliki kelebihan dan
kekurangan atas yang lain. Meskipun di sekolah suatu nilai itu ada
standarnya, tetapi sepuluh orang yang mendapat nilai matematika
yang sama, tetap kepandaiannya tak ada yang sama.

Tuhan Maha Mengetahui! Setiap orang mempunyai kodrat dan


iradatnya sendiri. Kapasitas dan kapabilitas usaha manusia berbeda-
beda. Penggolongan pada manusia juga karena adanya perbedaan-
perbedaan itu. Demikian pula penggolongan tentang kesalehan,
seperti shalihin, syuhada’, shiddiqin, dan nabi, adalah karena adanya
kapabilitas yang berbeda-beda. Nah, orang-orang yang memiliki
perbedaan kapabilitas yang tidak berarti biasanya dimasukkan dalam
satu golongan atau tingkatan, maqam, posisi, stasiun atau dengan
sebutan lainnya. Dan Allah pun memerintahkan manusia untuk
bertakwa sesuai dengan kesanggupan atau kapabilitasnya. Dalam
surat at-Taghaabun/64:16 disebutkan, “Bertakwalah kepada Allah
menurut kesanggupanmu. Dengarlah dan patuhilah, serta belanjakan
hartamu, itu yang lebih baik bagi jiwamu. Barangsiapa yang dipelihara
dari kekikiran jiwanya, maka mereka itulah orang-orang yang
beruntung.”

Jika demikian, untuk apa kita belajar tasawuf bila kodrat dan irodat
dan kapabilitas manusia itu berbeda-beda? Di bagian depan telah
disampaikan bahwa belajar tasawuf itu untuk menjadi hamba-hamba
yang mencintai dan dicintai Tuhan. Dengan kata lain untuk bisa
kembali dan bertemu dengan-Nya. Dan jalan kembali untuk bertemu
dengan Tuhan itu bisa kita peroleh bila kita menjadi manusia yang arif
dalam hidup ini. Dan, orang yang arif itu adalah orang-orang yang
memperoleh hikmah atau kesadaran. Seberapa besar hikmah yang
diterima, itulah yang menempatkan orang-orang itu dalam tingkatan
shalihin, syuhada’, shiddiqin, dan para nabi. Tentu saja hikmah yang
diterima syuhada’ lebih besar daripada yang diterima shalihin,
shiddiqin lebih besar dari syuhada’ dan hikmah terbesar yang diterima
para nabi dan ahli warisnya.

Shalihin adalah manusia standar yang diharapkan dalam Islam. Jika


diterjemahkan secara sederhana adalah kelompok orang-orang yang
saleh, yang berbuat kebajikan. Amal saleh dan iman merupakan paket
yang tak terpisahkan. Amal saleh harus lahir dari iman seseorang, dan
iman pun terbentuk karena kesalehan orang itu. Dalam pengertian
yang sederhana, orang saleh adalah orang yang melakukan hal-hal
yang bermanfaat, baik bagi dirinya sendiri maupun lingkungannya.

Syuhada’ adalah orang-orang yang menjadi saksi kebenaran. Orang-


orang yang rela mengorbankan dirinya bagi orang lainnya. Karena itu
orang yang gugur dalam membela kebenaran disebut orang yang
“mati syahid”. Dengan kata lain, syuhada’ bukan cuma mereka yang
mati syahid. Menurut Hadis yang diriwayatkan oleh Malik, Ahmad, Abu
Daud, An Nasaa-i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al Hakim, dan yang
bersumber dari Sahabat Jabir dan Atik, ada tujuh macam orang yang
mati syahid, yaitu orang yang terbunuh di jalan Allah, meninggal
karena kolera, tenggelam, paru-paru, penyakit perut, reruntuhan, dan
melahirkan. Mengapa orang yang meninggal karena berbagai penyakit
atau kecelakaan disebut mati syahid? Hal ini harus dipahami bahwa
standar masyarakat Islam adalah orang-orang saleh. Di tengah
masyarakat yang saleh, orang yang dengan tabah menerima penyakit
yang menimpanya dan mencoba berobat, lalu meninggal, maka
mereka adalah syahid. Tabah dan berobat adalah bentuk kebajikan
yang lebih tinggi dari sekadar amal saleh. Menurut Hadis, orang yang
terserang penyakit menular yang memati-kan harus bersedia
dikarantinakan agar tidak terjadi penularan. Ketabahan dan upaya ber-
obat inilah yang membuat orang yang sakit itu menyelamatkan
banyak orang. Karena itu orang yang terserang jenis-jenis penyakit itu
(waktu itu hanya teridentifikasi kolera, paru-paru dan perut) dan
meninggal disebut syahid. Juga masalah reruntuhan, hal ini menunjuk-
kan kepada kita ada orang yang rela untuk melakukan hal-hal yang
membahayakan dirinya untuk kemaslahatan orang banyak. Kita lihat
saja, ada orang yang rela bekerja sebagai “cleaning service” yang
membersihkan dinding bangunan bertingkat tinggi, yang risiko
kehilangan nyawanya sangat besar. Bayangkan jika setiap orang
hanya menginginkan pekerjaan-pekerjaan yang aman-aman saja,
apakah kita bisa hidup sejahtera?

Orang yang meninggal karena kecelakaan, mungkin saja ia termasuk


orang yang lalai. Mungkin saja, bukan pasti! Yang jelas ada orang-
orang yang sudah berhati-hati dan mengikuti aturan yang benar, tetap
tertimpa kecelakaan hingga meninggal. Terlalu banyak macam
kecelakaan, walaupun dalam hadis disebutkan hanya dua yaitu karena
reruntuhan dan tenggelam. Tetapi, intinya berbagai kecelakaan itu
akan mendorong orang untuk memikirkan cara berbuat dan bertindak
agar tidak terjadi kecelakaan. Dengan demikian meninggal karena
kecelakaan juga mendorong lahirnya undang-undang tentang kesela-
matan dan cara-cara penyelamatannya. Dan, banyak orang yang
selamat dari kecelakaan. Wajar, orang yang meninggal akibat
kecelakaan mendapat status syahid.

Orang yang juga tergolong mati syahid adalah orang yang mati akibat
melahirkan. Ya, melahirkan adalah kesediaan untuk melakukan kodrat
dari Tuhan. Yang menciptakan kodrat adalah Tuhan, dan yang
menerima kodrat adalah wanita. Menurut ilmu ekonomi, besarnya
keuntungan tergantung dengan besarnya risiko. Orang yang hanya
mau menerima keuntungan kecil, risiko yang mungkin ditimbulkannya
juga kecil. Kalau mau mendapat keuntungan yang besar, maka harus
siap dengan risiko yang besar. Nah, kesyahidan adalah imbalan dari
risiko kematian akibat melahirkan.

Syuhada’ tidak hanya bagi mereka yang mati karena gugur di medan
perang, terserang penyakit yang mematikan, kecelakaan maupun
akibat melahirkan. Dari ketujuh macam orang yang mati syahid adalah
orang yang meninggal “di jalan Allah”. Meninggal di jalan Allah
mempunyai pengertian yang luas. Siapa saja yang konsisten berbakti
kepada Tuhan hingga meninggalnya, adalah orang tergolong
syuhada’. Wartawan yang menyam-paikan kebenaran yang
seharusnya disampaikan kepada khalayak ramai, terus dijahati hingga
meninggal, adalah syuhada’. Orang yang berani menasihati penguasa
yang zalim, dan terbunuh, juga syuhada’. Dan banyak lagi yang tidak
disebutkan di sini.

Shiddiqin adalah orang-orang yang berbuat kebenaran, atau orang-


orang yang ucapan dan tindakannya tulus sepenuh hatinya. Untuk
memberikan gambaran tentang orang shiddiqin, saya ambilkan contoh
Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. Cuma satu contoh yang bisa dikembangkan
sendiri! Dari awal beliau menunjukkan ketulusan hidupnya. Beliau
membebaskan budak ketika masih di awal-awal perjuangan Islam.
Rela tinggal di Gua Tsur bersama Rasul Allah ketika hijrah ke Madinah.
Beliau berani tampil untuk dicaci-maki ketika membela Rasul Allah.
Orang-orang yang berkarya besar untuk kesejahteraan manusia
adalah mereka yang ada di kelompok shiddiqin.

Para nabi adalah orang-orang yang menjadi rasul, pemberi petunjuk


(Haad), dan siapa saja yang mengambil jalan para nabi atau ahli waris
para nabi. Mereka bukan hanya mencintai dan menegakkan
kebenaran, tetapi juga mengajarkan kemanusiaan dengan ke-
teladanan dan ajaran. Di dalam Al Quran maupun Hadis, tidak ada
pembedaan definisi antara nabi, rasul, dan haad. Sebutan-sebutan itu
tergantung peran yang dilakukannya. Seperti ayah dan suami. Ia
disebut ayah jika yang diperankan adalah ayah dari anak-anak hasil
perkawinannya. Pada saat yang lain ia disebut sebagai suami jika
peranan yang dimaksud sebagai pasangan sah dalam perkawinan.
Begitu juga dengan kenabian. Dia disebut nabi bila perannya adalah
orang yang menerima berita paripurna dari Tuhan. Dan dia disebut
rasul bila dia mengemban misi penyelematan umat manusia.

Nah, dengan bertasawuf orang dididik untuk bisa kembali kepada


Tuhan, sesuai dengan kemampuannya, dan bertemu dengan-Nya di
maqam masing-masing. Bila tidak mampu menemukan-Nya di stasiun
shiddiqin, ya cukup bertemu di stasiun shalihin. Yang jelas, manusia
harus bisa bertemu dengan-Nya. Karena itu digambarkan dalam Al
Quran bahwa orang yang melihat Tuhan itu dengan wajah berseri-seri.
Sehingga dilukiskan dalam berbagai penjelasan bahwa kenikmatan
yang tertinggi adalah saat manusia menyaksikan Tuhannya. Dalam
surat al-Qiyaamah/25:22-23 dinyatakan, “Wajah-wajah pada hari itu
berseri-seri (bercahaya), kepada Tuhan mereka itu memperhatikan.”

Wajar bila kita bertemu Tuhan itu tampil dengan berseri-seri yang
alami. Keberserian itu muncul dari dalam diri yang senantiasa
mendabakan-Nya. Tidak dibuat-buat atau direkayasa. Seperti
terpancarnya sinar dari sumber cahaya. Kita tidak perlu
membayangkan jauh-jauh, cukup kita lihat orang yang bertemu
dengan orang yang sangat dicintainya. Karena itu bertemu dengan
yang dicintai itu merupakan kenikmatan yang luar biasa. Dan minimal
orang harus bisa bertemu di tangga shalihin. Memang, semakin atas
tangga tempat pertemuan hamba dan Tuhan, semakin nyata dan
nikmat. Namun, manusia toh harus berjuang untuk mendaki ke tangga
yang tertinggi. Di maqam itulah tabir antara hamba dan Tuhan sudah
lenyap. Hilang segala keraguan dan mantab hati memandangnya!

Bagian ke-4

Di bagian ke-3 diterangkan bahwa kita semua, alam semesta ini,


dihadirkan oleh Tuhan dari “Satu Wujud”. Lalu, dipisahkan-Nya wujud
yang satu itu menjadi triliunan entitas atau wujud. Dari wujud-wujud
itu ada yang menjadi “sarana” kehidupan, seperti planet bumi; dan
ada pula yang menjadi “wahana” kehidupan. Yang pertama adalah
alat, lingkungan atau perlengkapan untuk mencapai tujuan,
sedangkan yang belakangan adalah kendaraan untuk mencapai
tujuan. Jadi, bumi adalah tempat kehidupan dan badan adalah
kendaraan bagi sang hidup untuk kembali kepada Yang Maha Hidup.

Nah, tubuh atau fisik kita sebenarnya hanyalah “kendaraan” atau “alat
transpor” bagi “Diri Sejati” kita, “hidup” kita, atau “sukma” kita. Saya
sengaja tidak menggunakan kata “aku” untuk menghindari
kesalahpahaman dengan “ego” atau ananiyah, keakuan. Jadi, untuk
selanjutnya diri sejati yang ada pada masing-masing diri kita, saya
singkat dengan “DS”. Ya, dialah penunggang kereta yang bernama
badan jasmani ini. Dialah yang disebut “sang hidup”. Baju yang
digunakan DS ini namanya “nafs” atau jiwa. Dan, DS ini roh adanya.
Karena itu, manusia yang hidup ini sebenarnya terdiri dari komponen
yang bersifat fisik (corpus, badan), nafsani (animae, jiwa atau nyawa),
dan rohani (spiri-tus, semangat atau roh).

Fisik, jiwa dan roh adalah kelengkapan bagi DS untuk menjalani hidup
ini. Jika jiwa putus hubungan dengan fisik, maka manusia disebut mati.
Dari komponen badan, jiwa dan roh, maka jiwa adalah tali
penghubungnya. Jiwa yang dalam bahasa Arabnya “nafs” berasal dari
kata kerja “na-fu-sa” yang berarti menginginkan, berhasrat, atau
bernapas. Artinya, jiwalah yang menyebabkan badan jasmani ini
menjadi hidup. Dan jiwa pula yang membuat manusia bisa merasa
duka dan suka. Bila jiwa ini putus hubungan dengan jasmani karena
jasad tersebut tak dapat dioperasikan lagi maka matilah badan.
Dengan kata lain, “jiwa mengalami mati”. Dalam cacah penduduk
dikatakan bahwa di lingkungan itu tinggal sekian jiwa. Bila ada
kecelakaan yang menyebabkan kematian dikatakan “kecelakaan itu
menyebabkan terenggutnya sekian jiwa” atau “sekian jiwa
melayang”. Jadi, peranan jiwa bagi DS sangat penting.
Lalu, dimana fungsi roh bagi DS dalam kehidupan? Di dalam Al Quran
Surat Al Israa’/17:85 dinyatakan, “Mereka bertanya kepada engkau
tentang roh. Katakan, ‘Roh itu amar (kehendak) Tuhanku. Kamu
tidaklah diberi ilmu (tentang roh) kecuali sedikit’.” Banyak orang yang
menerjemahkan ayat tersebut dengan “roh itu urusan Tuhanku”.
Dengan terjemahan tersebut, pintu pemahaman roh telah mereka
tutup. Akibatnya, dunia ilmu pengetahuan kita semakin tertinggal. Roh
berasal dari kata dasar Arab “ra-wa-ha”, artinya mengipasi,
menyegarkan kembali, menghidupkan hati, atau membangkitkan
semangat. Kata yang seakar kata dengan roh adalah “riyah” atau
angin, “raahah” atau senang, nyaman, atau rekreasi, dan “rauhah”
atau perjalanan. Kata “rawaah” berarti pergi atau keberangkatan.
Minuman anggur dalam bahasa Arabnya adalah “raah”. Dan, istirahat
dalam bahasa kita juga berasal dari akar kata yang sama dengan roh.

Kata roh dalam Al Quran selalu dinyatakan dalam bentuk tunggal. Roh
merupakan perlengkapan bagi DS untuk mengembangkan dirinya.
Dengan rohnya manusia bisa meningkatkan dan membedakan dirinya
dari dunia hewan. Dengan roh manusia dapat memberdayakan
akalnya atau “al-qalam” yang ada di dalam dirinya. Perlu diketahui
bahwa dengan al-qalam Tuhan mengajari manusia dari apa-apa yang
belum diketahuinya. Lihat kembali Surat al-‘Alaq/96: 4 ? 5. Nah, DS
yang terampil mempergunakan al-qalam inilah yang dalam Tasawuf
Jawa disebut “Guru Sejati” atau “Sukma Sejati”. Pada tahap inilah
manusia bisa menorehkan keindahan dan kemajuan di bumi ini.
Dengan GS-nya manusia mampu membuahkan “ilmu” yang tidak
diajarkan oleh manusia sebelumnya. Dari manakah ilmu itu? Tentu
saja langsung dari Tuhan. Inilah yang difirmankan dalam Surat al-
Kahfi/18:65, “Kami telah memberikan rahmat kepadanya dan
mengajarkan suatu ilmu dari sisi Kami.” Juga dinyatakan dalam Surat
al-Baqarah/2: 282, “Dan bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah
mengajarmu. Dan Allah itu Maha Mengetahui segala sesuatu.” Dengan
demikian, Allah mengajar DS dengan al-qalam sehingga DS menjadi
GS bagi dirinya.

Lho, apa hubungannya pemahaman GS dengan tasawuf? Apa tidak


terlalu tinggi jika setiap orang harus bisa mengangkat derajat DS-nya
menjadi GS? Bukankah derajat itu untuk sedikit orang di dunia ini?
Bukankah secara umum manusia ini tergolong orang awam? Apa tidak
mubazir belajar demikian ini?

Mari kita ingat lagi ajaran yang telah diberikan pada bagian
sebelumnya. Ajaran tasawuf membawa manusia untuk bisa
mendapatkan hikmah dalam kehidupan ini. Telah dijelaskan bahwa
hikmah itu tak ada kampus atau sekolahannya. Pengajar hikmah
adalah Tuhan Yang Mahaesa! Tuhan mengajar manusia (DS-nya)
dengan al-qalam. DS yang mendapat ilmu dari sisi Tuhan, akhirnya
menjadi guru bagi dirinya. Guru yang ada di dalam diri manusia itulah
sebenarnya guru yang waskita, yang betul-betul awas. Sehingga dia
disebut sebagai “Guru Sejati”. Jika nurani manusia bekerja maka
sesungguhnya yang bekerja adalah GS-nya. Menurut filsafat,
pengetahuan yang sejati pun lahir dari dalam DS seseorang. Jika DS
seseorang tertutup atau tak bekerja, maka orang itu tak akan mampu
menghasilkan ilmu baru. Bila DS seseorang tak bekerja, maka
maksimal ilmu yang didapat oleh orang tersebut adalah sebanyak
yang diajarkan oleh gurunya. Iptek yang dihasilkan oleh orang yang
terdidik adalah “inovasi”, bukan penemuan atau “invention”. Tanpa
penemuan listrik, dunia ini tetap diterangi lampu minyak. Orang naik
haji dari Indonesia masih tetap membutuhkan waktu 3 bulan
perjalanan.

Sedangkan sasaran pokok ajaran tasawuf adalah mengangkat posisi


masyarakat ke tingkatan standar, yaitu masyarakat shalihin. Di dalam
masyarakat shalihin, manusia-manusia di dalamnya saling menolong
dalam kebaikan dan bukan tolong-menolong dalam perbuatan dosa
dan permusuhan. Difirmankan dalam surat al Ma-idah/5:2,

“Dan janganlah kebencianmu terhadap seuatu kaum, karena mereka


menghalangimu berkunjung ke Masjid al-Haram, menyebabkan kamu
ber-buat melanggar batas (kemanusiaan). Dan tolong-menolonglah
dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa
dan permu-suhan. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya
pembalasan dari Allah amat keras.”

Mari kita perhatikan ayat tersebut! Masjid al-Haram adalah pusat


peribadatan orang-orang Islam. Sebelum Mekah ditaklukkan oleh Nabi,
orang-orang Islam mendapat halangan dari orang-orang Qureisy untuk
beribadah di Masjid al-Haram. Tentu saja hal ini membuat orang-orang
Islam benci kepada orang-orang Qureisy Mekah. Namun, sikap benci
atau kebencian harus dikendalikan. Kebencian itu tidak boleh
menyebabkan perilaku yang melanggar batas kemanusiaan. Dalam
istilah sekarang kebencian seseorang terhadap suatu kaum tidak boleh
menyebabkan ia melanggar HAM. Nah, bagaimana se-seorang bisa
mengenal HAM kalau tidak memahami suara nuraninya?

Kita diperintahkan untuk saling menolong dalam kebajikan dan saling


memelihara dalam kedamaian hidup. Kita dilarang untuk saling
menolong dalam kejahatan dan per-musuhan. Bantu-membantu dalam
kebajikan, tolong-menolong dalam memelihara per-damaian adalah
suara nurani. Nurani adalah kerja DS. Bila DS kita kerangkeng dan kita
tutup rapi, maka suara nurani itu tak terdengar lagi. Bila nurani telah
hilang maka tak ada artinya syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji.
Semua ibadah itu hanyalah kulit yang rapuh bila tidak terpancar dari
hati yang tulus.

Memang sekarang ini kita masih jauh dari kehidupan shalihin ini. Kita
masih disi-bukkan oleh kepentingan diri-sendiri. Inilah sebenarnya
yang merupakan wujud dari ego manusia! Manusia tidak mencoba
meniti ke dalam dirinya. Tetapi, ia malah memperturut-kan dorongan
egonya, hanya mau memenangkan kepentingannya. Roh yang
fungsinya untuk menghidupkan hati, tersekat oleh ego manusia.
Manusia yang mestinya mengetuk pintu hatinya, masuk menemuinya
DS-nya, dan bertemu Allah; malah lari tunggang langgang seperti
“dracula” yang takut cahaya matahari. Lari dari jalan yang benar akan
menghadapi risiko yang berat. Inilah sistem kerja semesta! Karena itu
dalam ujung ayat tersebut diperingatkan bahwa “pembalasan dari
Allah itu amat keras”.

Kita jangan sampai menganggap bahwa Allah itu pembalas. Allah


bukanlah pembalas! Dia Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Allah
yang menetapkan sistem pada ciptaan-Nya dan sekaligus memberinya
petunjuk. Namun, jika ciptaan-Nya itu keluar sistem maka sungguh
gawat risikonya. Bayangkan bila rembulan di atas kita itu lepas dari
orbitnya, maka bumi ini bisa meledak. Karena itu manusia
diperingatkan agar tetap men-jaga dirinya di jalan yang benar, jalan
yang telah digariskan. Ada 69 kata perintah “ittaquu” atau lindungi
atau jaga dirimu, dalam Al Quran. Cara untuk melindungi diri itu telah
diinformasikan kepada DS. Sedangkan petanya adalah kitab-kitab suci.
Jadi, orang yang membaca kitab suci sebenarnya adalah orang yang
membuka peta perjalanan hidup. Sedangkan kehendak untuk
melakukan perjalanan ada pada diri manusia itu sendiri. DS tidak
muncul bila pikiran manusia keruh, hatinya kotor.

Karena kebanyakan DS manusia itu tertutup oleh karat hati, maka


manusia diajari untuk membersihkan diri dari bagian luarnya dulu
kemudian semakin ke dalam. Nah, cara membersihkan diri dari bagian
luar inilah yang dinamakan “syariat”. Setiap umat diberikan syariat,
seperti dijelaskan pada 5:48, “Setiap umat di antaramu telah Kami beri
syariat dan minhaaj.” Syariat adalah jalan yang dilalui dalam hidup ini.
Agar tetap hidup, manusia harus makan. Tetapi makanan yang
disyariatkan adalah yang halal lagi baik. Yang halal dan baik ini yang
membedakan kehidupan lahiriah antara agama yang satu dengan
yang lain. Untuk mempertahankan hidupnya, disamping harus makan,
manusia juga harus minum. Minuman yang disyariatkan tentu saja
yang halal dan baik. Dalam surat al-Baqarah/2:168 dinyatakan, “Wahai
manusia makanlah apa-apa yang halal dan baik yang ada di bumi ini.
Dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan, karena
sesungguhnya ia musuhmu yang nyata.”
Jika kita bicara tentang setan maka janganlah membayangkan yang
aneh-aneh. Kata setan yang berasal dari kata Arab “syaa-tha” dan
“sya-ya-tha” mempunyai arti sesuatu yang membakar,
menghanguskan, atau yang menyebabkan hati menjadi keras atau tak
berperasaan. Karena itu setan tidak bertempat di luar manusia. Rumah
setan adalah manusia itu sendiri. Ia bertamasya di seluruh tubuh
manusia melalui peredaran darah. Persinggahannya ada di dalam
perasaan dan pikiran. Inilah yang disebut setan itu berasal dari “al-
jinnah” dan “al-naas” yang ada pada QS 114:6.

Perasaan dan pikiran manusia tumbuh seiring dengan pertumbuhan


manusia dari bayi hingga dewasa. Manusia mengalami suka-duka dan
kenikmatan melalui indera lahir dan batinnya. Seharusnya, manusia
yang mengendalikan perasaan dan pikirannya. Tetapi, kenyataannya
kebanyakan manusia dikendalikan oleh hati dan pikirannya. Bisikan
hati dan pikiran ini bersembunyi di daerah dada manusia. Ia menjadi
setan yang bersembunyi yang disebut khannaas. Nah, manusia yang
hanya memenuhi seruan perasaan dan hatinya adalah manusia yang
mengikuti langkah-langkah setan. Dan, setan itu adalah musuh yang
nyata bagi manusia. Maka musuh yang sebenarnya dari manusia
adalah bisikan perasaan dan pikirannya sendiri! Manusia harus mampu
mengendalikan perasaan dan pikirannya sendiri. Sehingga dengan
demikian ia dapat memilih makanan dan minuman yang halal dan
baik. Dengan kata lain, makanan dan minuman yang sehat bagi badan
jasmaninya. Lha, bagaimana dengan kesehatan jiwanya? Sabar,
sebentar.

Syariat memang ditujukan untuk membangun pertumbuhan fisik yang


sehat. Sesuai dengan ungkapan Arab, “Al ‘aqlu s-saliimu fi l-jismi s-
saliim” atau “Akal yang sehat terletak di dalam jasmani yang sehat”.
Dalam bahasa Itali dikatakan “Mens sana in corpore sano” atau
“Pikiran yang sehat ada di dalam tubuh yang sehat”. Tentu saja hal ini
jangan dipertentangkan dengan adanya kenyataan bahwa ada orang
yang badannya tidak sehat tetapi pikirannya sehat. Kita harus melihat
sehat dari segi kedokteran, yaitu keadaan yang mengintegrasikan
antara impuls masukan dan impuls keluaran oleh saraf pusat. Atau,
terintegrasikannya saraf sensorik dan motorik oleh saraf pusat. Nah,
agar saraf sensorik yaitu saraf penerima yang berhubungan dengan
indera dan saraf motorik yang berhubungan dengan aktivitas
tanggapan bisa bekerja normal (seimbang) maka badan jasmani ini
harus disehatkan lebih dahulu. Jadi, kalau gula itu rasanya manis maka
saraf sensorik itu harus merasakan manis. Dan kalau ada dua
makanan yang manis, maka kemanisannya dapat diperbandingkan. Ini
tandanya sehat, alias normal. Salah satu upaya menjaga kesehatan
jasmani adalah memilih makanan yang sehat (halal dan baik).
Kesehatan jasmani juga dihasilkan melalui kebersihan badan dan
lingkungan. Kulit jasmani ini dapat menjadi tempat
berkembangbiaknya penyakit bila tidak dirawat atau dibersihkan.
Dalam perkembangan evolusi jiwanya, manusia pada akhirnya sadar
bahwa air adalah sarana untuk membersihkan badannya. Minimal
setiap harinya manusia harus membersihkan bagian-bagian yang
penting dari jasmaninya. Dengan demikian, pori-pori yang ada di
seluruh permukaan kulit yang dibersihkan itu tidak tertutup oleh
kotoran. Dalam istilah sekarang semua ventilasi di bagian-bagian
pokok seperti bagian kepala, wajah, tangan dan kaki kita buka.
Sehingga udara segar bisa masuk dengan leluasa, dan badan terasa
segar. Dalam badan yang segar, perasaan dan pikiran terasa segar
pula. Nah, konsep pembersihan bagian tertentu badan jasmani ini
dalam syariat disebut “wudhu”. Kata ini dalam bahasa Indonesianya
adalah memisahkan. Ya, wudhu adalah tindakan untuk memisahkan
kotoran dari badan.

Kesehatan jasmani dipenuhi dengan makanan dan minuman yang


sehat, dan bagian luar jasmani yang dibersihkan dari berbagai macam
kotoran. Disamping itu, badan akan menjadi sehat bila secara teratur
digerak-gerakkan. Dengan gerakan yang teratur, peredaran darah dan
hormon akan berjalan dengan normal. Bukan hanya peredaran darah
dan hormon, peredaran udara dan zat-zat makanan dalam tubuh pun
berjalan dengan baik. Bila metabolisme dalam tubuh ini tidak ada yang
terganggu atau terhambat, maka badan jasmani ini akan bekerja
dengan normal. Badan menjadi sehat! Syariat salat mewakili gerakan-
gerakan tubuh.

Makanan dan minuman harus dipilih yang sehat. Badan harus bersih
dari najis atau kotoran. Kemudian, makanan pun harus dimakan
secara teratur waktu dan banyaknya. Dalam Islam ada syariat yang
mengatur waktu dan banyaknya makanan yang dikonsumsi dalam
setiap tahunnya. Inilah yang dinamakan puasa! Zakat dalam
pengertian sedekah, yaitu mengeluarkan sebagian kekayaan untuk
orang lain yang perlu dibantu, juga merupakan syariat untuk
membersihkan kehidupan lahiriah seseorang. Oleh karena itu, dalam
tasawuf Jawa, pengamalan ibadah yang ragawi ini disebut “Sembah
Raga”. Suatu pengabdian yang harus ditampilkan secara ragawi.

Sembah raga merupakan tingkatan yang terendah dalam peribadatan.


Tetapi, sembah raga adalah dasar untuk membersihkan dan
menyehatkan kehidupan lahiriah seseorang. Karena itu syariat
meliputi semua tindakan lahiriah manusia. Tentu saja yang termasuk
dalam syariat adalah adalah semua tindakan yang bersifat etiket dan
etika dalam kehidupan ini. Agar orang-orang yang beli bahan makanan
di suatu toko tidak saling berebut, maka harus dilakukan antre. Ini pun
syariat!

Dalam surat 5:48 di atas disebutkan bahwa dijadikan syariat bagi


setiap umat, dan juga minhaaj. Kata minhaaj atau manhaaj, yang
bentuk pluralnya manaahij, artinya tata-cara atau prosedur. Jika akan
mendirikan salat disyariatkan ‘berwudhu’ yaitu mengguna-kan air
untuk
membersihkan bagian-bagian tertentu, maka dengan minhaaj bagian-
bagian yang dibersihkan itu dijelaskan secara detil termasuk yang
membatalkannya. Begitu pula puasa yang disyariatkan artinya
menahan diri dari makan, minum, dan bersanggama di siang hari,
maka dengan minhaaj batas-batas itu diterangkan.

Dalam surat al-Maidah/5 : 6 dijelaskan bahwa tujuan syariat itu, “Allah


tidak ber-kehendak untuk menyulitkan kamu, tetapi Dia berkehendak
untuk membersihkan kamu dan menyempurnakan kenikmatan yang
diberikan kepadamu agar kamu menjadi orang yang bersyukur.” Dari
ayat ini jelas sekali bahwa maksud ditetapkannya syariat itu untuk
membersihkan kehidupan lahiriah atau ragawi pelakunya. Bahkan
zakat yang dipungut pun dimaksudkan untuk membersihkan dan
menyucikan harta-harta yang mereka peroleh. Dengan berzakat,
secara lahiriah mereka digolongkan ke dalam orang-orang yang harus
dilindungi kehidupannya, terlepas dari hatinya tidak rela atau malah
menerima dengan ikhlas. Sama dengan orang yang terkena iuran
untuk jaga malam. Yang diutamakan tentu kesediaan secara lahiriah
untuk membayar iuran itu, meskipun yang bersangkutan mungkin saja
kesal hatinya karena dipungut iuran. Namun, dalam hidup
bermasyarakat kepentingan bersama jauh lebih penting daripada
kepentingan kelompok atau pribadi. Lebih-lebih ketika agama Islam
baru pada tahap awal perkembangannya. Sehingga solidaritas yang
tampak secara lahiriah sangat penting.

Kita lihat bahwa ajaran Islam ketika di Mekah bersifat panduan moral
yang universal. Syariat belum diimplementasikan dalam kehidupan
sehari-hari. Solidaritas umat belum terbentuk. Keperkasaan badan
jasmani umat belum dibina dan dilatih. Tetapi, setelah umat Islam
hijrah ke Madinah, dan tetap dikejar-kejar dan ditekan, maka
solidaritas umat perlu digalang, kesatuan perlu dibina, dan
keperkasaan perlu dibentuk.
Karena itu setelah masuk Madinah, perlahan-lahan syariat diterapkan
bagi umat Islam. Yang pertama kali diberlakukan adalah salat wajib,
kemudian puasa Ramadhan pada tahun ke-2 Hijrah, salat Jumat pada
tahun ke-5, haji pada tahun ke-8 dan disusul zakat. Jadi, jelas bahwa
syariat adalah konsep untuk membangun kesehatan umat. Sedangkan
dari tinjauan pribadi, syariat adalah ajaran yang bersifat “zikir”.
“Fadzakkir, lasta alaihim bi mushaithir”, berilah ajaran mereka itu
(Muhammad), dan engkau bukannya orang yang ditugaskan untuk
menguasai mereka.

Dengan syariat itu Islam berkembang dengan pesat. Hal ini


disebabkan syariat Islam itu menunjang keteraturan dan ketertiban
hidup. Dilihat dari aspek jasmani, salat adalah suatu bentuk olah raga
yang walaupun sedikit waktu yang dibutuhkan untuk
melaksanakannya, tetapi aktivitasnya dilakukan cukup sering, minimal
5 kali sehari. Dan, dalam aspek sosialnya, salat mendidik orang untuk
hidup bersama secara disiplin. Tentu saja yang tidak boleh dilupakan
dalam salat adalah pelatihan meditasi atau zikir di dalamnya. Dan
sebenarnya makna batin ini yang paling penting dari salat. Karena itu,
salat yang tidak dijalankan dengan khusyuk dipandang tidak ada
nilainya. Karena tanpa kekusyukan tak akan bisa terbentuk jiwa yang
tenang. Di dalam surat al-Ankabut/29:45 disebutkan bahwa tujuan dari
salat adalah mencegah perbuatan keji dan mungkar. Dan, nilai zikir
dalam salat itu lebih besar dari bentuk peribadatan lainnya.

Memang tidak mudah mempraktikkan zikir sambil bergerak. Karena


gerakan itu sendiri mempengaruhi pikiran pelaksananya. Tetapi, bila
sanggup menjalankan zikir dalam gerakan, maka efek positifnya akan
tampak nyata. Tapi sayang, masyarakat agamis hanya terpaku pada
kewajiban menjalankan salat secara lahiriahnya. Kita mandeg pada
kesehatan lahiriah. Kita tidak mau mempromosikan salat untuk
membangun kesehatan batiniah. Buktinya apa? Ya, dapat dikatakan
tidak adanya guru salat yang mampu mengajar orang salat yang
khusyuk. Padahal kekhusukan inilah yang dapat membuat orang
mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Mengapa? Karena
hatinya sudah tenang. Pikirannya tidak lagi ngaya. Akhirnya tercipta
manusia yang mampu mengenda-likan perasaan dan pikirannya.
Orang demikianlah yang tidak mempan dibisiki oleh khannas yang
senantiasa berbisik di dalam dada.

Tasawuf Jawa mengajarkan bahwa di tingkat syariat, syahadat baru


merupakan ucapan “Asyhadu an laa ilaaha illa llaah wa asyhadu anna
muhammadan rasuulu llah.” Ya, baru sampai pada ucapan “Saya
bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa
Muhammad itu utusan Allah.” Betul-betul baru sebagai tanda identitas
kemusliman seseorang. Jadi, syahadat di tingkat syariat baru pada
pernyataan bahwa seseorang itu masuk kedalam masyarakat atau
agama Islam. Ucapan ini tentu saja terlepas dari apakah ‘syahadat’ itu
lahir dari hati yang tulus atau karena kepentingan lain bagi si
pengucap. Lalu, bagaimana dengan salatnya? Tentu saja masih
sebatas mengisi daftar
hadir sebagai orang muslim. Dalam istilah sekarang, salat yang
dilaksanakan secara syariat itu masih sebatas untuk membebaskan
diri dari kewajiban. Padahal sebenarnya, salat ditegakkan untuk
berzikir!

Puasa pada tingkat syariat juga sebatas mencegah makan-minum dan


sanggama pada siang hari. Ya, masih formalitaslah namanya. Pelaku
menunjukkan bahwa dirinya termasuk orang yang menjalankan ibadah
puasa. Dan puasa semacam ini yang diwariskan dari generasi ke
generasi. Seharusnya umat Islam harus mengajarkan puasa yang lebih
tinggi kualitasnya, yaitu puasa yang efektif untuk mengendalikan
makan dan minum selama hidupnya. Saya yakin, jika mutu puasa
umat meningkat setiap tahun, maka tak ada lagi orang Islam yang
terserang penyakit akibat makanan.

Ringkasnya, semua bentuk syariat terkait erat dengan peribadatan


ragawi. Tujuan pokok syariat adalah untuk membersihkan dan
menyucikan kehidupan lahiriah manusia. Jadi, yang diharapkan adalah
kesehatan individu dan masyarakat secara formal. Aspek
formalitasnya lebih menonjol. Jika kita mandeg atau berhenti di
tataran syariat, maka sulit sekali kita mewujudkan masyarakat adil
dan makmur secara lahir dan batin. Masih jauhlah kita dari
terwujudnya masyarakat standar, yaitu masyarakat shalihin.
Masyarakat yang orang-orangnya saling memberikan
manfaat.

Bagian ke-5

Bumi, rembulan dan planet-planet lain di tatasurya ini beredar dalam


keseimbangan dan pada batas-batas orbit yang tepat. Begitu pula
semua bintang di alam raya ini berjalan dalam keseimbangan. Ini tidak
berarti tidak ada penyimpangan. Ada penyimpangan itu! Seperti
jatuhnya meteor atau komet pada planet. Penyimpangan itu tidak
menghancurkan tatasurya selama “mizan” atau keseimbangan alam
itu tidak terlampaui.

Kehidupan masyarakat manusia di bumi ini juga mengikuti hukum


keseimbangan. Manusia harus menjaga keseimbangan itu. Itulah
sebabnya di dalam Al Quran banyak peringatan untuk tidak merusak
bumi ini. Merusak bumi (termasuk atmosfernya) adalah perbuatan
merusak keseimbangan alam. Akhirnya, proses peretumbuhan dan
perkemba-ngan manusia dalam perjalanan menuju Tuhannya yang
mengalami kerusakan. Alam dibuat Tuhan untuk tidak mentolerir
perbuatan yang merusak. Jika manusia telah rusak perilakunya, maka
alam dengan segera memberi jawabannya yang berupa bencana dan
mala petaka. Dalam surat al- A‘raf/7:55-56 manusia diperingatkan,
55. Ud-‘u rabbakum tadharru-‘an wa khunyatan innahu la yuhibbu l-
mu‘tadin.

56. Wa la tufsidu fi l-ardhi ba‘da islahiha wa d-‘uhu khaufan wa


thama-‘an inna rahmata llahi qaribun mina l-muhsinin.

55. Mohonlah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan dengan


suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-
orangyang melanggar batas.

56. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah


diperbaikinya. Dan mohonlah kepada-Nya dengan penuh kesadaran
dan penuhharapan. Sesungguh-nya rahmat Allah itu dekat dengan
orang-orang yang berbuat ‘ihsan’.

Pada pelajaran sebelumnya telah dijelaskan bahwa “iman dan amal


saleh” [imas] itu satu paket. Sering imas ini dinyatakan sebagai
‘kesalehan’ saja. Kesalehan diartikan dengan segenap tindakan yang
memberikan manfaat bagi kehidupan. Kebalikannya adalah “fasad”
atau kebusukan, kerusakan atau immoralitas. Nah, kebusukan atau
kerusakan inilah yang sebenarnya disebut sebagai kekafiran. Kafir
berasal dari kata “ka-fa-ra” yang artinya menutupi, menyembunyikan
atau mengingkari kebenaran. Ketika Nabi Muhammad Saw di Mekah,
kafir dalam pengertian menutupi atau mengingkari kebenaranlah yang
menjadi sasaran dakwah beliau. Kaum kafir yang menjadi sasaran
peringatan beliau adalah mereka yang melanggar batas seperti dalam
ayat 55 di atas atau mereka yang melakukan kerusakan di bumi (ayat
56). Dan ayat tersebut memang diturun-kan di Mekah.
Jadi, pada mulanya kekafiran itu tak ada kaitannya dengan agama lain.
Ketika beliau masih di Mekah, beliau mengajarkan agama itu kepada
kaum jahil yang hidup di kawasan Mekah dan sekitarnya. Berdasarkan
sejarah, kaum jahil ini tidak mengerti batas-batas tatakrama
kehidupan atau kemanusiaan. Padahal, jika manusia itu tidak mengerti
batas kemanusiaannya, manusia akan mudah terjerumus ke dalam
perbuatan nista atau zalim, aniaya. Konsekuensi perbuatan aniaya
adalah perbuatan yang merusak kehidupan di bumi ini. Cobalah kita
perhatikan ekploitasi sumber daya alam di bumi Indonesia ini. Hutan
gundul, sampah menggunung, limbah beracun tak tertimbun adalah
akibat adanya pelanggaran batas (keseimbangan). Buahnya adalah
kerusakan lingkungan hidup. Dan, akibatnya bencana dan mala petaka
datang silih berganti.

Ketika beliau di Madinah, bangunan umat Islam yang baru berdiri ini
mengalami gempuran dari pihak Kafir Qureisy dari Mekah. Nabi
mampu menyatukan orang Arab Madinah dari klan Aus dan Khajrad
yang senantiasa bertikai, yang digambarkan di dalam Al Quran
sebagai orang-orang yang berada di tepi neraka. Di Madinah pada
waktu itu hidup orang-orang non-Arab yang berkitab (Yahudi, dan
Nasrani dari salah satu sekte agama Kristen). Bahkan orang Yahudi
dapat dikatakan sudah mantap hidup di sana. Semula ajaran Islam ini
disampaikan kepada suku-suku Arab yang tinggal di Madinah dan
sekitarnya. Kemungkinan timbulnya konflik antara mereka dan orang-
orang Islam telah dicermati oleh beliau. Dalam keadaan demikian ini
tentu saja Nabi memberi peringatan kepada semua pihak yang hidup
di Madinah, agar masing-masing pihak bisa menjaga hak-haknya dan
saling melindungi tanpa memperhatikan agamanya. Ajaran ini
dirangkum dalam “Piagam Madinah”.

Orang-orang Yahudi yang semula dipandang tinggi statusnya oleh


orang-orang Arab, dengan datangnya agama baru ini, mereka merasa
kehilangan pengaruhnya. Hasutan-hasutan mulai dilancarkan. Konflik
tak dapat dihindari lagi. Ajaran yang nuansa-nya universal ini harus
diimplementasikan secara riil di Madinah. Kota yang menjadi basis
perkembangan agama Islam ini tentu saja harus dijaga keamanan dan
kedamaiannya agar ajaran Al Quran tetap bisa didakwahkan.
Kelompok-kelompok agama lain yang sudah mapan ini diminta untuk
tetap teguh memegang kebenaran kitabnya [dalam bahasa sekarang,
tidak boleh plin-plan]. Ajakan untuk memelihara hak, menjaga batas,
tak digubris lagi oleh mereka. Akhirnya, lahir kenyataan baru, yaitu
orang-orang yang berkitab yang tidak bisa menerima kebenaran yang
disampaikan oleh Nabi. Inilah yang disebut “orang-orang kafir dari
golongan yang berkitab”.

Jadi, pada mulanya kekafiran itu hanya terbatas bagi mereka yang
melakukan kerusakan di bumi atau mereka yang mengingkari
kebenaran. Selanjutnya kekafiran itu juga diatributkan bagi pemeluk
agama lain yang tidak mau mengerti terhadap hak-hak yang dimiliki
oleh umat Islam. Hal ini bisa dibaca pada surat al-Bayyinah/98:1-7.
Kesimpulannya, orang kafir adalah orang yang mengingkari kebenaran
dan melakukan kerusakan di bumi. Tak peduli agama apa dia.

Kembali kepada ayat di atas. Manusia diperintah untuk memohon


kepada Tuhan dengan cara merendahkan diri, suara yang lembut,
penuh kesadaran dan penuh harapan. Inilah tatakrama dalam
berkomunikasi dengan Tuhan. Merendahkan diri artinya bersikap
rendah hati, merasa tak punya apa-apa. Karena pemilik yang
sebenarnya dari semua ini adalah Allah. Kalau diumpamakan
“gentong” maka kita harus merasa sebagai gentong yang kosong,
yang siap diisi. Suara yang dibunyikan harus lembut! Cuma didengar
oleh telinganya sendiri. Inilah prinsip zikir! Selanjutnya, permohonan
itu harus dikerjakan dengan penuh kesadaran. Artinya, harus tumbuh
dari hati dan pikiran yang jernih. Dan, terakhir ditopang oleh
keyakinan yang kuat akan dikabulkannya permohonan itu.

Ingat, rahmat Tuhan itu akan hinggap pada orang-orang yang berbuat
ihsan. Suatu perbuatan yang tumbuh dari hati yang murni. Suatu
perbuatan yang tidak distimulasi oleh keinginan yang melanggar
batas. Perbuatan yang tidak dilandasi oleh dorongan untuk
mengeksploitasi bumi. Hanya sebatas yang diperlukan! Hanya
mengambil manfaat untuk kehidupan. Bukan untuk kemubaziran atau
pemborosan dalam hidup ini. Memang hal ini tampak seperti
bertentangan terhadap prinsip “pemasaran”. Tetapi sebenarnya kita
ini diingatkan agar menjaga kesejahteraan alam ini demi anak-cucu
dan kemanusiaan kita. Apalah artinya kita sekarang hidup
bergelimang harta, tetapi di masa depan kita menga-lami ketekoran
hidup. Karena energi semesta sudah kita hutang sekarang ini,
sehingga di masa depan kita tekor karena harus membayarnya.

Di dalam surat al-Isra’/17:26-29 dinyatakan,


26. Berikan kepada sanak kerabat akan haknya. Juga kepada orang-
orang miskin dan ibnu sabil. Dan janganlah menghambur-hamburkan
harta secara boros.

27. Sesungguhnya para pemboros (mubazirin) adalah saudara setan,


dan setan itu senantiasa mengingkari Tuhan.

28. Apabila kamu tidak bersedia untuk memberi mereka karena


engkau mengharapkan mendapat rahmat dari Tuhan, maka
katakanlah kepada mereka dengan ucapan yang lemah lembut.

29. Janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu, dan jangan pula


terlalu mengulurkannya sehingga kamu menjadi tercela dan menyesal.

Di bab yang lalu telah diterangkan bahwa syariat itu untuk menjaga
kesehatan dan kesejahteraan manusia lahir dan batin. Syariat atau
sembah raga ini meliputi pelayanan di antara sesama dan pelatihan
pribadi dalam berhubungan dengan Tuhan. Dengan kata lain, sembah
raga itu ada yang berwujud pelayanan riil di antara sesama manusia,
dan ada pula yang berupa pelatihan diri untuk penyatuan diri dengan
Yang Mahaesa. Jangan salah paham lho! Dari segi aspek realitas, kita
itu senantiasa bersama dan berada di dalam Tuhan. “Dan Dia
senantiasa bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS 57:4). Nah,
penyatuan diri adalah upaya untuk kembali kepada Tuhan, wa inna
ilaihi raji-‘un.

Dengan terciptanya masyarakat yang anggota-anggotanya saling


melayani, maka terwujudlah azas manfaat. Syariat atau sembah raga
untuk menuju masyarakat shalihin. Masyarakat yang di dalamnya
merupakan wujud pluralitas sejati. Perbedaan agama, kepercayaan,
dan etnis tidak menghalangi untuk bisa hidup saling melayani dalam
mewujudkan masyarakat yang damai [QS 2:62, dan 5:69]. Semua
pihak dituntut untuk mengutamakan kesalehan dan rendah hati!
Karena itu jangan berisik, kalau bersuara bersuaralah yang lemah
lembut. Kesadaran dalam berzikir [sembahyang] diterapkan dalam
kehidupan sosial. Bila dalam berdoa kepada Tuhan harus dilandasi
dengan harapan, begitu pula dalam kehidupan bersama. Kita harus
punya keyakinan bahwa pelayanan yang tulus di antara sesama akan
berbuah kesejahteraan dan kedamaian bersama. Duri-duri kecurigaan
harus disingkirkan.

Nah, untuk membentuk masyarakat shalihin, kita harus bisa


menghormati hak-hak kerabat kita sendiri, orang-orang miskin dan
ibnu sabil. Ini adalah syariat dasar yang dikumandangkan sejak di
Mekah. Seruan ini di Madinah nantinya diwujudkan dalam bentuk
“zakat” dalam pengertian sedekah. Seperti yang telah dibuktikan oleh
sejarah, masalah ekonomi adalah hal yang menentukan sejarah
manusia dan kemanusiaan. Tak ada agama yang tidak menempatkan
dana atau sedekah sebagai syariat dasarnya. Islam yang diklaim
sebagai agama terakhir pun menempatkannya sebagai salah satu
sendi syariatnya. Sesuai dengan perkembangan agama, implementasi
sedekah atau dana ini tergantung pada keadaan perekonomian
manusia. Mula-mula sedekah itu berupa anjuran untuk memberikan
sebagian harta kepada yang miskin. Kemudian berkembang menjadi
kewajiban, dan yang disedekahkan pun ada takarannya, misalnya 10%
dalam agama Kristen, 2,5% dalam agama Islam. Namun demikian,
banyaknya harta yang harus dizakatkan tidak diatur di dalam Al
Quran. Pihak penerima zakat yang dicantumkan di dalam Al Quran.

Pada ayat-ayat di atas ditekankan sekali agar kita mampu memelihara


harta benda yang dikaruniakan oleh Tuhan dengan sebaik-baiknya.
Pemboros dan kikir sama-sama harus dijauhi. Karena keduanya adalah
perbuatan setan. Keduanya merupakan produk hati yang gelap dan
pikiran yang keruh. Kegelapan dan kekeruhan senantiasa menjauhkan
kita dari Tuhan. Ya, setan itu selalu mengingkari kebenaran. Manusia
harus pandai-pandai untuk mengambil jalan tengah. Boros hakekatnya
menghambur-hamburkan energi yang disediakan Tuhan di alam ini.
Kikir berarti menyembunyikan anugerah Tuhan yang diberi-kan kepada
manusia, yang seharusnya dimanfaatkan untuk kesejahteraan
hidupnya. Baik boros maupun kikir, keduanya adalah perbuatan
tercela , yang pada akhirnya menyebabkan manusia hidup menyesal
alias menderita.
Apa yang diuraikan ini masih pada tahap sembah raga. Landasan
untuk menempuh tingkatan hidup yang lebih tinggi. Kalau dalam
bahasa tasawuf Timur Tengah, ada empat tahapan yang harus
ditempuh manusia untuk bisa kembali kepada Tuhan Yang Mahaesa.
Yaitu, dari syariat, tarekat, hakekat, hingga makrifat. Yang dalam
bahasa tasawuf Jawa disebut sebagai sembah raga, sembah cipta,
sembah jiwa, dan sembah rasa. Yang kesemuanya ini disebut sebagai
catur sembah. Baik makrifat ataupun sembah rasa adalah tahapan
manusia untuk dapat mengenal DS-nya. Dengan mengenal DS-nya
manusia akan kenal dengan Tuhannya. Ingat bunyi Hadis, “Man ‘arafa
nafsahu faqad ‘arafa rabbahu,” barangsiapa yang mengenal dirinya
niscaya akan kenal dengan Tuhannya.

Di tahap syariat, yang dinamakan orang miskin adalah orang yang


kekurangan harta benda. Orang ini mempunyai pekerjaan tetapi tidak
mampu untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Yang lebih rendah dari
orang miskin adalah “fakir”, kaum papa. Orang yang betul-betul tidak
mampu memenuhi keperluan hidupnya. Nah, di banyak ayat sering
miskin dan fakir ini disebut “miskin” saja. Orang Indonesia biasa
menyebutnya fakir-miskin. Agar tidak menimbulkan problema
kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, mereka yang miskin ini
harus ditanggulangi. Ketika struktur ekonomi masih sederhana,
menyantuni mereka dengan zakat sedekah sudah cukup. Namun
ketika struktur ekonomi menjadi semakin kompleks, pemecahannya
tidak cukup dengan zakat sedekah. Artinya, kemiskinan tak akan bisa
dipecahkan hanya di tahap syariat.

Lalu harus dipecahkan dengan cara apa? Di sinilah kita dituntut untuk
meningkatkan kualitas sembah atau ibadat kita. Kita tak boleh
mandeg atau cuma berhenti di syariat. Kita harus memahami sumber
kemiskinan yang lebih dalam. Kita tidak cukup hanya melihat
kemiskinan dari segi tidak adanya pekerjaan, lemahnya ketrampilan,
atau rendahnya pen-didikan. Kemiskinan harus dilihat dari sumbernya
yang lebih dalam, yaitu kemiskinan budi pekerti atau akhlak. Ya,
kemiskinan di tingkat ihsan atau jiwa. Jika di dalam umat ini ter-lalu
banyak orang yang miskin jiwanya, maka jangan heran bila timbul
kemiskinan lahiriah yang luar biasa. Jadi, perintah untuk tidak hidup
boros atau kikir adalah untuk menanggu-langi terjadinya kemiskinan.

Lho, apa hubungannya boros dan kikir dengan kemiskinan? Di atas


telah dijelaskan bahwa boros itu menghambur-hamburkan energi.
Energi itu dihamburkan untuk memenuhi kepentingan sendiri, atau
buat kesenangan egonya. Akibatnya, di tempat atau kelompok lain
akan timbul kekurangan. Muncul kemewahan pada kelompok tertentu,
dan timbul kemiskinan pada banyak kelompok lain. Begitu pula
kekikiran! Kekikiran menyebabkan terakumulasinya energi pada orang
atau kelompok tertentu, tetapi tidak dimanfaatkan. Energi itu tidak
didistribusikan, hanya ditimbun saja. Terjadilah kebuntuan aliran
energi di tengah masyarakat. Yang tidak teraliri mengalami
kemiskinan. Nah, ternyata sumber kemiskinan itu keborosan dan
kekikiran. Sedangkan boros dan kikir itu timbul dari kemiskinan budi
atau jiwa. Boros dan kikir itu setan, perbuatan yang menjauhkan diri
dari kebenaran atau mengingkari Tuhan. Jadi, pemboros dan orang
kikir adalah saudara setan. Orang tidak bertindak boros atau kikir bila
keihsanan telah tumbuh di dalam jiwa orang tersebut.

Ihsan adalah tahap yang lebih tinggi dari Islam dan Iman. Ihsan ada di
wilayah sembah jiwa. Suatu wilayah di tahap akhir sebelum memasuki
tahap sembah rasa. Bila di tahap syariat orang harus bisa
menampilkan kesejahteraan ragawi, di tahap tarekat atau sembah
cipta manusia harus bisa hidup dalam kedamaian hati. Kenikmatan
yang diperoleh tidak lagi pada banyaknya harta benda. Kemudian
masuk ke tahap sembah jiwa atau dunia ihsan, dunia ketulusan hati.
Memasuki alam kesadaran untuk duduk bersimpuh di hadirat Ilahi.
Kenikmatan yang diperoleh berupa kesempurnaan diri. Di tahap ini
manusia mulai mampu menimbang hakikat yang terjadi.

Mengapa sih bicara tentang syariat, keborosan dan kekikiran


dihubungkan dengan energi? Di sinilah kita harus tahu! Bahwa hidup
ini berkaitan dengan aliran energi. Badan kita ini sebenarnya hanyalah
ibarat kabel yang dilalui energi. Sedangkan harta-benda, warna,
cahaya dan lain-lainnya adalah bentuk-bentuk energi. Karena itu
jangan heran bila secara alami manusia tertarik pada harta benda.
Harta benda adalah bentuk energi yang paling kasar. Pintu masuknya
ke dalam diri kita adalah indera jasmani. Kekurangan energi
menimbulkan kelemahan atau penderitaan jasmani, seperti lapar,
haus, sakit, dan derita jasmani lainnya. Bila energi ini kita peroleh,
maka kita terpuaskan atau menjadi sehat.

Bagaimana bila energi kita serap banyak-banyak sehingga melebihi


kapasitas jasmani kita? Jasmani manusia memiliki daya tampung. Jika
daya tampungnya terlampaui, maka akan terjadi penimbunan.
Timbunan-timbunan ini akan menghambat atau menghalangi aliran
energi di dalam tubuh. Akibatnya, timbul sakit pada jasmani. Agar
tidak tertimbun, maka energi ini kita alirkan keluar. Misalnya, berupa
banyak bergerak [pekerjaan fisik, olah raga, salat, dll], marah-marah,
dan aktivitas seksual. Tentu saja penyaluran energi dengan marah-
marah adalah perbuatan negatif. Nah, bila kelebihan energi ini bisa
mengalir keluar dengan mulus, maka manusianya menjadi terpuaskan.

Perlu diperhatikan, kelebihan energi bendawi (selama badan sehat)


akan meningkat-kan aktivitas seksual. Dan ini memang jalur alami
pada makhluk hidup. Hanya saja pada manusia bila kelebihan energi
ini tidak dikontrol dengan baik, penyalurannya menjadi tidak
seimbang, yaitu lebih banyak melalui aktivitas seksual. Akibatnya,
aktivitas seksual yang secara alaminya suci, menjadi terkontaminasi
sehingga menjadi aktivitas yang negatif. Nah, syariat sebenarnya
mengatur masuk-keluarnya energi bendawi secara sehat. Jadi, bila ada
orang yang mudah marah, itu tandanya kelebihan energi bendawi atau
terjadi penyumbatan energi di dalam tubuh.

Secara individual boros berarti menyerap energi harta benda secara


berlebih-lebihan, sehingga banyak pihak yang menderita kekurangan
energi. Orang boros menyebabkan ketekoran energi pada pihak lain,
dan membuat ketekoran energi pada dirinya di masa depannya.
Karena itu orang yang boros akan mengalami penderitaan. Orang kikir
banyak mengumpulkan energi. Karena tak disalurkan, dan cuma
ditimbun, maka akan menim-bulkan sumbatan energi dalam hidupnya.
Penyakit jasmani pun akan timbul. Akibatnya, orang yang kikir juga
mengalami penderitaan. Ia akan menderita karena energi itu tidak
dimanfaatkan dengan benar. Dan dalam masyarakat keborosan dan
kekikiran akan menim-bulkan kemiskinan. Yang pada akhirnya
menimbulkan bencana dan malapetaka.

Zakat sedekah adalah sarana untuk mencegah timbulnya keborosan


dan keki-kiran harta benda. Memang ini merupakan langkah pertama
untuk mengendalikan kemis-kinan dalam suatu negara. Hal ini
diungkapkan dalam surat at-Taubah/9:103,

Pungutlah zakat sedekah dari sebagian harta benda mereka. Dengan


zakat itu engkau membersihkan dan menyucikan. Dan mohonkan
rahmat bagi mereka. Sesungguhnya permohonanmu itu
menentramkan jiwa mereka. Allah Maha Mendengar dan Maha
Mengetahui.

Jadi, dengan zakat itu kemungkinan terjadinya penyumbatan energi


bendawi di dalam masyarakat dicegah. Masyarakat dibersihkan dari
berbagai macam penyakit. Namun, bila serangan penyakit terlalu
berat dan terlalu kompleks, zakat tak akan sanggup menyehatkannya.
Harus ada upaya tarekatnya, atau sembah ciptanya. Mengenai pihak-
pihak yang secara fisikal berhak menerima zakat sedekah akan
dibahas pada materi tasawuf yang akan datang.

Bagian ke-6

Semua ini ternyata diatur dalam keseimbangan. Ada batas-batas yang


telah ditetap-kan oleh Tuhan, baik di alam raya ini maupun di dalam
diri manusia. Di dalam surat Ar Rahman/55:7-9 dinyatakan,
7. Dan Dia tinggikan langit, lalu Dia tetapkan neraca.

8. Agar kamu tidak melampaui batas neraca itu.

9. Tegakkan neraca itu dengan adil, dan janganlah menguranginya.

Wujud alam ini memang dualisme karena itu ada mizan, ada neraca
alias ada ukuran pada setiap benda atau wujud ini. Batas-batas itu
tetap harus dijaga. Batas-batas itu tidak boleh dilampaui. Dalam arti,
tak boleh dilebihi maupun dikurangi sehingga batasnya ambruk. Kita
bisa membayangkan, bila manusia yang menghuni bumi ini berlebihan
pria atau wanitanya. Bukan kedamaian yang kita rasakan. Tetapi
bencana!

Boros maupun kikir [pada bagian ke-5] dilarang, karena keduanya


melampaui batas. Energi yang diserap manusia, baik energi fisik
maupun metafisik, haruslah yang sesuai dengan batas-batas neraca di
dalam dirinya. Dihambur-hamburkan akan mendatangkan bencana.
Bila cuma dideposit juga menimbulkan mala petaka. Siapa yang tahu
batasnya? Apabila berkaitan dengan energi pada tubuh, tentu saja
yang bersangkutan yang tahu. Tapi, bila berhubungan dengan
lingkungan, yang tahu tentu saja para cerdik-pandai. Karena itu,
mereka diharapkan tidak melakukan manipulasi.

Pada tahap awal cara untuk mengenal batas-batas itu dengan syariat.
Cara yang mudah yang bisa dikenali oleh setiap orang. Karena itu kata
syariat dapat diartikan sebagai jalan umum, jalan yang bisa dilewati
oleh siapa saja. Jadi, syariat bisa ditempuh tanpa perlu kepandaian
secara khusus. Bila kita makan dan sudah terasa kenyang, ya kita
hentikan. Dan bila sudah terasa lapar, kita sebaiknya makan. Inilah
syariat! Karena itu dalam surat Al Maidah/5:6 disebutkan, “Ma yuridu
llahu liyaj-‘ala ‘alaikum min harajin walakin yuridu liyuthahhirakum wa
liyutimma ni ‘matahu ‘alaikum la-‘allakum tasykurun.” Allah tidak
bermaksud menjadikan kesulitan bagimu, tetapi Dia berkehendak
untuk membersihkanmu dan menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu
agar kamu menjadi orang-orang yang bersyukur.

Ayat di atas memang berkenaan dengan wudhu. Yang bagi orang


padang pasir waktu itu, enggan menggunakan air untuk kebersihan
badannya. Jadi, syariat berwudhu jelas dimaksudkan untuk membuat
bagian vital tubuh ini bersih (dan sehat tentunya), dan sebagai
penyempurnaan kenikmatan dari Tuhan. Dengan badan dan pikiran
terasa segar, manusia bisa menggunakan akalnya dengan jernih untuk
memberikan nilai tambah dalam kehidupan ini, yang disebut juga
bersyukur.
Mengapa air yang digunakan sebagai sarana untuk membersihkan
badan jasmani ini? Ya, air adalah bahan pelarut universal. Anda masih
ingatkan dengan pernyataan surat Al Anbiya’/21:30. Pada ayat
tersebut dijelaskan bahwa “segala sesuatu yang hidup ini berasal dari
al ma’ atau zat cair”. Memang kata ma’ itu berarti air. Namun dengan
kata sandang “al”, air yang dimaksud bukanlah semata-mata air yang
kita kenal sekarang ini yang berupa “H2O”. Maka al-ma’ bisa berarti
zat cair atau cairan. Bahwa air menjadi wahana bagi berlangsungnya
reaksi kimia bagi kehidupan adalah benar. Metabolisme dalam tubuh
ini berlangsung dengan bantuan air. Karena itu air adalah alat untuk
membersihkan dan menyucikan badan.

Bila badan harus dibersihkan dan disucikan dari kotoran, maka


pemilikan kita pun harus dibersihkan dan disucikan, seperti yang
diutarakan pada bagian ke-5, yaitu pada surat At Taubah/9:103.
Penyucian harta-benda ini adalah bagian dari upaya untuk
menempatkan “yang punya, the have” dalam neraca kepemilikan.
Agar tidak timbul atau terjadi kecemburuan sosial! Dengan kewajiban
bersedekah/zakat bagi yang punya, maka ia telah dibersihkan dari
kotoran sosial, dan batinnya disucikan dari keserakahan terhadap
harta-benda. Dan pada zaman Nabi, mereka yang berzakat ini dengan
sendirinya mendapat jaminan keamanan sosial. Kalau zaman
sekarang, pembayar pajak di negara maju berhak mendapatkan
perlindungan keamanan hidupnya. Ya, syariat di dalam agama
memang bertujuan untuk memberikan jaminan keamanan dan
ketentraman lahiriah. Syariat memang untuk membangun kehidupan
bersama yang teratur dan harmonis.

Jika kita perhatikan aturan sedekah ini, disamping ada pihak yang
berkewajiban mengeluarkan sedekah, ada pula pihak-pihak yang
berhak menerima sedekah tersebut. Surat At Taubah:60 yang
diwahyukan pada 9 H, menjelaskan tentang orang-orang yang berhak
menerima sedekah. Yaitu, orang fakir, orang miskin, fungsionaris
sedekah, mu-allafah, hamba sahaya, orang yang berhutang, orang
yang ada di jalan Tuhan, dan orang yang ada dalam perjalanan.

Orang fakir adalah orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap,


pengangguran, atau orang-orang lemah. Miskin adalah orang yang
mempunyai usaha tetapi hasilnya tidak cukup buat hidupnya.
Termasuk juga dalam kategori miskin adalah orang-orang yang tidak
punya kecakapan berusaha, sehingga tekor terus hidupnya. Kemudian,
yang berhak menerima dan menyalurkan sedekah kepada yang betul-
betul membutuhkan adalah para administratur sedekah itu. Menurut
tafsiran Yusuf Ali, sedekah itu memang hanya bagi yang miskin dan
betul-betul membutuhkan, dan para administratur atau orang-orang
yang kerjanya mengurus sedekah itu seadil-adilnya. Lha, yang disebut
orang fakir-miskin adalah 5 macam penerima yang disebutkan diatas,
yaitu muallafah, hamba sahaya, orang hutang, para sabilillah, dan ibnu
sabil.

Jadi, Yusuf Ali tetap mengacu pada makna sedekah seperti yang
diungkapkan pada ayat-ayat Makiyah, yaitu untuk mereka yang hidup
dalam keadaan fakir-miskin. Bila di Mekah belum ada ‘amilin atau
fungsionaris sedekah, maka di Madinah sedekah itu harus dipungut
dan dimanajemeni dengan baik. Waktu itu yang tergolong manusia
fakir-miskin adalah muallafah [orang yang membutuhkan bantuan
dalam menegakkan kebenaran agama], hamba sahaya (tidak mampu
memerdekakan dirinya bila tidak ditolong), orang yang hidupnya
dalam kebangkrutan atau tergantung pada hutang, fi sabilil-Lah
[mereka yang membangun kebajikan seperti pasukan keamanan dan
ketertiban, membangun rumah-rumah ibadah, sekolah, rumah sakit
dll], dan ibnu sabil [yaitu mereka yang menempuh perjalanan untuk
kebajikan seperti mencari ilmu, spionase, peneliti dls].

Dengan demikian, sedekah atau zakat memang ditujukan untuk


membebaskan manusia dari beban kehidupan yang berat,
ketergantungan, dan kolonial. Inilah jiwa syariat Islam! Yaitu untuk
membersihkan manusia dari beban kehidupannya. Tentu saja praktik
operasional zakat pada waktu itu sesuai dengan keadaan kehidupan
waktu itu. Sistem ekonomi waktu itu, ya, cuma pertanian dan
perdagangan. Belum ada sistem kepegawaian, perburuhan, industri,
dan jasa seperti sekarang ini. Juga belum dikenal perekonomian global
seperti sekarang ini. Karena itu mereka yang masuk kategori penerima
zakat pun sangat sederhana. Dan di zaman Nabi, pajak tidak
diberlakukan!

Sampai bagian ke-6 ini tasawuf kita ini masih membahas tahap
syariat. Suatu tahap dini dalam menjalani kehidupan yang religius,
hidup beragama. Suatu tahap awal untuk mengenal batas-batas
perilaku manusia. Kata “syariat” pada mulanya mempunyai arti “jalan
menuju sumber air”. Jelas bahwa syariat bukanlah bagian “yang ada”
di dalam diri manusia. Syariat adalah aturan yang datangnya dari luar
diri manusia! Ia adalah jalan ke sumber air. Fungsinya, dengan
demikian, untuk menjadi rambu-rambu agar aktivitas “yang ada” di
dalam diri manusia itu tidak melampaui batas-batas, tidak melanggar
neraca atau keseimbangan yang telah ditetapkan Tuhan.

Oleh karena syariat itu datangnya dari luar diri manusia, maka bentuk
syariat itu dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan zamannya. Dengan
demikian, wajar bila tiap-tiap agama mempunyai bentuk syariatnya
sendiri. Inilah yang ditegaskan dalam Surat Al-Maidah/5:48, “li kulli
[ummatin] ja-‘alna minkum syir-‘atan wa minhajan.” Bagi setiap umat
telah Kami jadikan syariat dan tata-caranya. Perhatikan bunyi ayat
tersebut! Di situ dinyatakan bahwa “Kami telah menjadikan”, bukan
Aku telah menciptakan. Dijadikan artinya dibuat dari sesuatu yang
telah ada. Sedangkan “Kami” artinya Tuhan menyertakan sesuatu
untuk menjadikan suatu syariat. Apa sesuatu itu? Semua keadaan
yang meliputi kebangkitan suatu umat pada geografi dan kurun waktu
tertentu. Karena itu, secara normatif syariat itu berkaitan dengan
rambu perintah, halal [yang dibolehkan], dan haram [yang terlarang].

Makna syariat perlu diperjelas dalam pelajaran ini, agar kita tidak
terjebak atau cuma macet di jalan. Apalah artinya kita sudah ada di
jalan yang benar, tetapi terjebak dalam kemacetan di jalan tersebut?
Sudah di jalan yang benar dalam menuju sumber air, tapi tidak sampai
di sumber air, belum lagi mengambil airnya. Kemacetan akan
mendorong orang untuk mengambil jalan pintas. Nah, begitulah
gambaran orang yang menjalani formalitas beragama saat ini. Banyak
orang yang terjebak dalam formalitas keagamaan. Agama tak lebih
dari identitas belaka. Makanya, banyak orang yang tampak sangat
agamis, tetapi budipekertinya tidak mencerminkan kehidupan agama
yang benar. Pemahaman terhadap syariat perlu ditingkatkan.

Banyak orang yang salah paham, dikiranya belajar tasawuf itu


mendangkalkan syariat. Padahal jelas bahwa dengan hidup bertasawuf
manusia semakin kenal dengan rambu-rambu kehidupan. Ia mampu
memahami ayat-ayat itu dari dalam lubuk hatinya, baik ayat-ayat
tentang hubungan manusia dengan sesamanya maupun
lingkungannya. Ia tidak dikendalikan oleh rambu dan marka jalan. Tapi
memang ia tahu batas-batas jalan yang dilaluinya. Syariat harus
disertai “minhaj”, upaya untuk mencapai sumber air, yang dalam
makna spiritual adalah cara untuk mencapai sumber air kehidupan,
“al-ma-ul hayat”. Salat harus dibarengi dengan upaya untuk
menciptakan kondisi zikir. Puasa harus dilakukan untuk membentuk
manusia yang mampu mengendalikan diri. Zakat harus diwujudkan
untuk membebaskan beban kehidupan manusia. Dan haji harus
dijadikan sarana untuk membentuk manusia yang berwatak humanis
dan sosial. Untuk menjadi manusia yang bebas dari kungkungan
etnisitas, golongan, dan keagamaan. Menjadi manusia yang kenal
dengan manusia lain, ta-‘arruf.

Semua upaya itu sebenarnya langkah manusia ke dalam dirinya.


Langkah menuju ke sumber kehidupannya yang sejati! Langkah untuk
menembus “yang ada” di dalam diri manusia agar bisa bertemu
dengan “Yang Maha Ada”. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan
“yang ada” pada diri manusia? “Yang ada” adalah sejumlah
karakteristik atau sifat asal universal yang dimiliki manusia untuk
eksistensi dirinya.
Dengan kata lain, “yang ada” adalah semua yang dipandang sebagai
realitas yang paling fundamental dalam diri manusia. Apa itu? Yang
paling pokok dari “yang ada” adalah kehendak untuk hidup! Begitu
dilahirkan, manusia berusaha mempertahankan hidupnya. Nah, wujud
“yang ada” yang tampak pada waktu bayi adalah makan dan minum.
Selama kesehatannya tidak terganggu manusia perlu makan dan
minum. Dan, bila dibiarkan keinginan makan dan minum ini, tidak
pernah dilatih atau dididik, maka ia akan tumbuh tak terbatas.

Makan dan minum pada manusia berbeda dengan yang ada pada
dunia hewan. Sejak lahir makan-minum pada hewan telah terkontrol
oleh dirinya secara otomatis. Hewan tidak perlu dilatih untuk
membatasi makan-minumnya. Tetapi manusia perlu dilatih dan dididik
untuk mengenal batas dalam makan-minum. Kalau tidak, manusia
akan terdorong makan-minum tanpa batas. Perilaku manusia akan
lebih buruk daripada hewan. Dan tentu saja, akan merusak kehidupan
manusia itu sendiri. Bukan hanya jumlahnya yang perlu dibatasi, tetapi
juga macam makan-minumnya. Nah, dalam agama yang membatasi
ini namanya “syariat”. Tentu saja batas-batas itu dipengaruhi oleh
budaya, geografis dan zamannya. Karena itu di atas disebutkan bahwa
“syariat” adalah bukan dari bagian “yang ada” pada diri manusia. Ia
ada di luar diri manusia dan berfungsi untuk membatasi gerak “yang
ada” agar tidak melampaui batas kehidupannya.

Dalam hal makan-minum ini, marilah kita perhatikan beberapa ayat


yang terkait.

7:31, “Hai manusia, pakailah perhiasanmu ketika kamu bersujud,


makan dan minumlah tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah
tidak mencintai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

2:168, “Hai manusia, makanlah yang halal dan yang baik (thayyib)
apa-apa yang terdapat di bumi. Dan, janganlah kamu mengikuti
langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu musuhmu
yang nyata.”

2:172, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah apa-apa yang baik


yang telah Kami sediakan bagimu. Dan bersyukurlah kepada Allah bila
hanya kepada-Nya kamu beribadah.”

2:173, “Dia hanya mengharamkan kamu makan bangkai, darah,


daging babi, dan daging yang dipersembahkan kepada selain Allah.
Barangsiapa terpaksa bukan karena keinginan, dan tidak melampaui
batas, maka tak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah itu Maha
Pengampun dan Maha Penyayang.”

5:87, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-


apa yang baik yang telah dihalalkan oleh Allah bagimu. Dan, jangan
melampaui (melanggar) batas. Sesungguhnya Allah tidak mencintai
orang-orang yang melampaui batas.”

5:88, “Dan makanlah apa-apa yang halal dan yang baik yang telah
diberikan oleh Tuhan kepadamu. Dan, bertakwalah kepada Allah yang
kamu imani.”

Ayat-ayat di atas cukup untuk dijadikan landasan untuk memahami


syariat tentang makan-minum. Ayat pada surat ke-7 diwahyukan di
Mekah, sedangkan ayat pada surat ke dua dan lima diturunkan di
Madinah yaitu di awal hijrah dan di pertengahan ke dua masa setelah
hijrah.

Pertama-tama manusia dididik untuk makan-minum yang tidak


melampaui batas. Tidak berlebih-lebihan! Jadi, tekanan awalnya
adalah mampu mengendalikan diri dalam makan dan minum. Karena
berlebih-lebihan dalam makan dan minum akan menganggu atau
bahkan merusak kesehatan lahir dan batin. Kemudian diseru untuk
hanya makan yang halal dan yang baik (thayyib). Yang halal artinya
yang dibenarkan menurut hukum, baik dari jenis makanannya maupun
cara mendapatkannya. Sedangkan yang baik adalah yang tidak
merusak kesehatan atau tidak jijik untuk dimakan. Ular, tikus, cacing,
tidak termasuk yang dilarang memakannya. Namun, banyak orang
yang jijik, atau muntah bila makan hewan-hewan tersebut. Bagi orang
yang jijik terhadap hewan tersebut, maka daging hewan tersebut jelas
tidak thayyib.

Dalam tafsir Yusuf Ali, makanan yang thayyib adalah makanan yang
bersih, sehat, bergizi, dan lezat. Dengan demikian, makanan yang
thayyib adalah makanan yang halal dari segi zatnya. Sedangkan
makanan yang halal, belum tentu baik dari segi substansinya. Karena
kehalalan
berkaitan dengan hukum yang berlaku. Minuman kopi pada abad ke-
15 termasuk jenis makanan yang diharamkan [alias tidak halal] di
dunia Islam. Namun, akhirnya dihalalkan, sampai hari ini! Tetapi, kalau
seseorang memandang tidak thayyib, maka dia harus
meninggalkannya.

Meskipun sudah ada batas-batas, atau larangan, kalau toh terpaksa


[bukan karena ingin menikmati kelezatannya], dan tidak melebihi
batas yang diperlukan, boleh-boleh saja makan makanan yang
diharamkan tadi! Inilah prinsip Islam! Suatu syariat ditetapkan bukan
untuk mempersulit manusia, tetapi memberikan kemudahan. Daripada
harus “trial and error”, coba-salah-coba lagi, yang bisa merugikan
manusia, karena kasih-sayang-Nya manusia diberitahu mana-mana
yang dilarang untuk memakannya.

Perlu diketahui bahwa kelahiran agama Islam bukanlah terlepas dari


sejarah. Sebelum ada agama Islam, telah ada dua agama besar, yaitu
Yahudi dan Nasrani, yang telah mapan di luar Mekah maupun di
Madinah dan sekitarnya. Khususnya agama Yahudi, para pemeluknya
menganggap sebagai anak-anak Tuhan dan hidup beradab. Mereka
memandang diri mereka bermartabat tinggi. Sedangkan orang-orang
Arab mereka pandang lebih rendah martabatnya. Orang-orang Yahudi
sangat jijik dan melarang umatnya makan bangkai [Imamat 17:15],
darah [Imamat 7:26], dan daging babi [Imamat 11:7]. Dengan
demikian, pengharaman terhadap makanan tertentu bukanlah aturan
yang sama sekali baru. Melainkan aturan atau syariat itu sudah ada
pada umat Yahudi, dan tetap dipertahankan di dalam agama Islam.
Jadi, wajar bila syariat itu dipengaruhi oleh budaya, agama yang sudah
ada, dan lingkungannya [geografis dan zaman].

Bila kita mau memahami syariat itu dengan pikiran yang jernih,
ternyata syariat itu tidak diberikan oleh Tuhan dengan keharusan
dipegangi secara kaku. Seperti yang dinyatakan dengan tegas pada
2:173, bagi mereka yang terpaksa [idh-thurra] bukan karena ingin
menikmati kelezatannya [ghaira bagh] atau melebihi keperluannya
[la-‘ad], maka tak ada dosa baginya. Hal ini diperkuat oleh surat 5:3.
Dengan redaksi: “Barangsiapa terpaksa karena kelaparan, bukan
cenderung melakukan dosa [melanggar hukum], maka sesungguhnya
Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” Jadi, bunyi ayat ini
begitu pribadi! Mengapa? Karena ayat ini mendidik kejujuran
seseorang dalam mengarungi hidup ini. Yang merasa lapar, yang
merasa terpaksa, yang mengetahui jika perbuatannya itu untuk
mempertahankan hidupnya, dan yang mengetahui berapa banyak
makanan yang diperlukan agar ia tidak merasa lapar adalah orang
yang bersangkutan. Orang lain tidak boleh menajiskan!

Pada kedua ayat ditutup dengan pernyataan “Allah Yang Maha


Pengampun dan Yang Maha Penyanyang”. Maha Pengampun berarti
Maha Menutupi kekurangan atau kesalahan hamba-Nya. Sedangkan
Maha Penyayang berarti Dia niscaya memberikan imbalan terhadap
kebaikan hamba-Nya. Betul-betul suatu pernyataan yang sangat
pribadi! Hanya Allah yang tahu betul apakah hamba-Nya telah berbuat
karena kelemahannya atau berbuat demi kebajikan dirinya.
Tasawuf memang mengajak manusia untuk kembali ke dalam dirinya.
Kita dituntun untuk mengenal syariat dengan arif. Kita tempatkan
syariat sebagai sarana atau jembatan menuju sumber air kehidupan
yang ada di lubuk batin kita. Syariat dalam tasawuf adalah alat untuk
menemukan “yang ada” di dalam diri manusia. Syariat bukanlah
institusi untuk menghakimi dan menghukum manusia. Tetapi ia adalah
sarana untuk menyempurnakan kenikmatan yang diberikan Tuhan
kepada manusia, agar manusia mampu bersyukur. Agar manusia
mampu memberikan nilai tambah terhadap anugerah-Nya.

Dengan syariat diharapkan terwujudnya badan jasmani yang bersih,


sehat, dan segar. Dengan raga yang bersih, sehat, dan segar
diharapkan adanya batin manusia yang bersih dan sehat pula, hatinya
tenang, pikirannya jernih, dan dorongan hawa nafsunya terkendali.
Sehingga manusia dapat melanjutkan perjalanannya dalam
menemukan air kehidupan, “tirta prawita” atau “al-maul hayat”.

Dengan tasawuf manusia diingatkan agar tidak terpeleset menjadi


hamba syariat. Manusia harus terus berusaha menjadi hamba Allah.
Dan, salah satu wujud “yang ada” adalah kecenderungan untuk
menghamba bagi manusia. Entah itu menghamba kepada benda,
pikiran, kepercayaan, atau menghamba kepada Tuhan Pencipta Alam.
Salah satu ayat diatas mengingatkan, bahwa dalam masalah perut,
manusia dilarang mengikuti langkah-langkah setan. Masih ingatkan,
bahwa setan sejati itu bersemayam di dalam diri manusia, dengan
stasiunnya berupa perasaan dan pikiran [jinnah dan nas]. Jadi, jika
manusia memperturutkan perasaan dan pikirannya, maka ia akan
melanggar batas. Ia akan melampaui batas yang telah ditetapkan.
Ingat, setiap ciptaan mempunyai batas-batas eksistensinya. Ada qadar
[kadar] dan taqdir [berdasarkan ukuran yang pas bagi realitas itu
sendiri]. Ada neraca di dalam suatu realitas! Bila batas-batas itu
dilanggar, manusia tak akan bisa melanjutkan perjalanannya.

Syariat dijadikan oleh Tuhan dalam wujud yang indah. Namun, berkali-
kali dalam sejarah, manusia telah salah dalam menempatkan syariat.
Syariat yang seharusnya dipakai sebagai alat atau wahana ke suatu
tujuan, ternyata dijadikan tujuan itu sendiri! Padahal tujuan yang sejati
adalah Tuhan. Bilamana syariat telah menjadi tujuan, maka yang
tampak menonjol adalah formalisme keagamaan. Bukan ilmu yang
dicari, tetapi ijazah! Segala sesuatu bila sudah jatuh ke dalam
formalisme, maka tak akan ada lagi “kemerdekaan”. Yang ada
hanyalah kolonial atau pemasungan kehidupan. Syariat tidak lagi
sebagai alat, tetapi penjara! Inilah yang menyebabkan penampilan
lahiriah umat Islam sekarang ini tampak sangat religius, tetapi
sebenarnya telah kehilangan religiusitasnya.
Nah, dengan memahami syariat secara proporsional, dengan
melihatnya sebagaimana adanya, maka kita bisa melanjutkan
perjalanan tasawuf kita. Kita tidak lagi terjebak di tengah kemacetan
syariat, tetapi kita bisa berjalan secara wajar untuk kembali kepada
Tuhan. Tasawuf berikutnya, yaitu yang ke-7, akan dibahas makna
kembali kepada Tuhan. Insya Allah minggu depan. Wa billahit taufiq
wal hidayah.
Bagian ke-7

Kembali Kepada Allah

Syariat adalah jalan menuju sumber air kehidupan. Ia adalah jalan


umum, jalan yang ditempuh secara bersama-sama oleh suatu
komunitas. Namun, semakin dekat dengan sumber air itu, jalannya
semakin sempit. Jalan yang hanya cukup dilalui oleh dirinya. Jalan
inilah yang disebut “tarekat” [thariqah].

Kalau digambarkan hubungan antara syariat dan tarekat, dapat


diumpamakan seseorang yang mau nonton film di gedung bioskop.
Ada syarat umum yang berlaku bagi yang ingin menonton. Pertama,
umur yang akan menonton, yang dalam bahasa agama ia harus sudah
akil-balig [sudah cukup umur dan berakal sehat]. Kedua, orang
tersebut harus punya karcis atau undangan menonton. Bila yang akan
menonton itu tidak diatur, maka mereka akan berebut beli karcisnya,
atau berebut masuk gedung pertunjukannya. Nah, antre agar bisa beli
karcis dan masuk satu per satu dapat dium-pamakan sebagai tarekat.

Dari syariat ke tarekat tidaklah terputus begitu saja. Kedua jalan ini
bersam-bungan, dari jalan yang lebar kemudian menuju jalan yang
lebih sempit. From the road of life to the path of life. Dari jalan di luar
diri menuju jalan di dalam diri. Dari jalan raya masuk ke gang di mana
rumah “DS” berada. Yaa, sebenarnya kita ini seperti orang-orang yang
hendak pulang ke masing-masing rumahnya. Karena rumah itu ada di
dalam RW yang sama, maka mula-mula kita berjalan di atas jalan raya
yang sama, dan selanjutnya berpisah menuju gang-gang yang
berbeda, akhirnya masuk ke rumahnya sendiri-sendiri. Di rumah itulah
Allah menyambut manusia secara perorangan. Seperti yang
dinyatakan dalam surat Maryam/19 : 93, 95,

93. In kullu man fi s-samawati wa l-ardhi illa ati r-rahmani ‘abda.

95. Wa kullu hum atihi yauma l-qiyamati farda.

93. Sungguh setiap diri, baik yang ada di langit maupun di bumi, akan
datang kepada Yang Maha Pemurah sebagai seorang hamba.

95. Dan, setiap diri datang kepada-Nya pada hari kebangkitan


sendirian.

Jadi, meskipun di dalam syariat kita melakukan peribadatan yang


sama, seperti shalat berjamaah, puasa Ramadhan, dan ibadah Haji,
tetapi jalan kepada-Nya betul-betul kita tempuh sendirian. Syariatnya
sama, tetapi tarekatnya berbeda. Karena tarekat itu harus pas dengan
orang yang menempuhnya. Tarekat harus mengarah dengan tepat
letak rumah yang dituju. Jika diumpamakan dengan orang yang akan
menonton film, kita ada di antrean yang sama, tetapi uang yang kita
gunakan untuk membayarnya atau nomor tempat duduknya berbeda
sesuai dengan kenyamanan diri kita masing-masing. Yang dituntut
dalam syariat adalah keseragaman, sedangkan yang dituntut dalam
tarekat adalah keunikan.

Kembali kepada perumpamaan di atas, setelah orang duduk dan


menyaksikan filmnya, maka penghayatan terhadap film itu pun
berbeda-beda tergantung pada latar belakang sang penonton, yaitu
budaya, pengalaman, pengetahuan, dan kedalaman rasa
yang dimilikinya. Begitu pula ketika kita kembali kepada Tuhan, setiap
orang akan melihat filmnya sendiri. Penghayatan terhadap filmnya
sendiri itu tergantung pada amaliah, kebersihan dan kesucian batin
yang bersangkutan. Dan, pada saat dia menyadari filmnya, berarti dia
sudah ada di tahap hakekat. Tahap bangkitnya ke-sadaran diri. Tahap
“yaum al-qiyamah”! Bila dia sudah hidup di alam “qiyamah” maka dia
sudah hidup di “maqam makrifat”. Dia senantiasa tercerahkan! Dia
tidak hidup lagi tergantung pada orang lain, tidak terkolonisasi, hidup
merdeka. Bahkan dia telah menjadi gantungan bagi orang-orang
lainnya.

Dengan demikian, tasawuf sebenarnya mendidik orang untuk hidup


mandiri, hidup merdeka, hidup yang setara dengan orang lain. Hidup
menjadi sufi sebenarnya adalah hidup yang sepenuhnya
menggantungkan diri kepada Yang Ilahi. Yang dengan kata lain,
disebut “hidup tawakal” atau “tawakkul”. Sebelum kita bisa hidup
hanya dengan menggantungkan diri kepada Tuhan, berarti kita belum
hidup dalam makrifat, meskipun secara teoritis kita sudah
mempelajarinya. Tetapi belajar adalah cara untuk mencapainya! Jadi,
tidak perlu pesimis bila hari ini kita masih dalam perjalanan untuk
memperoleh “tirta prawitasari” atau sari dari air suci, esensi
kehidupan.

Orang yang mampu melihat hakikat dirinya disebut “insan kamil” alias
manusia sempurna. Manusia yang merupakan wujud dari
makrokosmos dan mikrokosmos. Dia adalah miniatur dari Yang Haq,
wujud mini dari Tuhan Yang Mahaesa. Nah, perjalanan kita untuk
menjadi miniatur-Nya adalah perjalanan kembali kepada-Nya. Orang
yang sadar bahwa dirinya dalam hidup ini sesungguhnya kembali
kepada Tuhan, adalah orang yang sadar bahwa dirinya menyongsong
“yaum al-qiyamah”. Banyak orang yang mengira bahwa kebangkitan
itu terjadi setelah hancur-leburnya bumi atau semesta alam. Lalu,
timbullah ilusi dan khayalan tentang kiamat. Akhirnya, muncullah
perilaku yang aneh-aneh. Terjebak di perjalanan! Formalisme!

Kiamat sebenarnya merupakan bagian dari kesadaran kita. “Wa bi l-


akhiratihum yuqinun,” dan mereka yakin terhadap kehadiran Hari
Akhirat. Kapan adanya Hari Akhir atau kiamat itu? Sekarang ini, saat
ini! Tergantung pada yang menyikapinya. Mari kita perhatikan ayat-
ayat berikut ini.

42:17, Allah yang menurunkan Kitab dengan benar dan sebagai


Neraca. Tahukah engkau bahwa mungkin saja kiamat itu dekat?

42:18, Orang-orang yang tidak beriman ingin “Saat Kiamat” itu


disegerakan, dan orang-orang yang beriman justru waspada
terhadapnya karena mereka mengetahui bahwa kiamat itu benar
adanya. Ketahuilah bahwa orang-orang yang bertikai tentang “Saat
Kiamat” adalah dalam kesesatan yang jauh.

16:77, Dan bagi Allah Yang Mahagaib di langit dan di bumi, peristiwa
kiamat itu akan datang dalam sekejap penglihatan atau lebih cepat.
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Pertama, kita harus tahu bahwa Tuhan telah menurunkan Kitab-Nya di


dunia ini dengan benar. Artinya, ada Undang-Undang bagi kehidupan
manusia. Kedua, dan Kitab itu pun berfungsi sebagai Neraca, yaitu
penimbang moralitas manusia. Dengan neraca itu manusia harus
menegakkan keadilan dalam hidup ini, “fairness”. Hidup yang tidak
merugikan diri-sendiri dan orang lain. Cara hidup yang demikian ini
timbul karena orang-orang beriman itu selalu waspada terhadap
kehadiran kiamat pada dirinya. Orang beriman mengetahui bahwa
kiamat benar adanya. Jadi yakin terhadap Hari Akhirat bukanlah
percaya adanya Hari Akhirat, tetapi mengetahuinya. Karena tahu
itulah dia tidak ingin melanggar neraca tersebut, tidak ingin
mencuranginya. Inilah keadilan! Kecurangan akan menghalangi
manusia dalam bertarekat. Perbuatan curang senantiasa
mendatangkan neraka kepada pelakunya.

Datangnya kiamat itu sekejap mata atau lebih cepat. Dan datangnya
pun boleh jadi sudah dekat. Pernyataan surat 42:17 ini bukanlah
sekadar kemungkinan, tetapi betul-betul kenyataan bagi yang
mengetahuinya. Tuhan tidaklah membuat puisi, tapi memberikan
informasi kepada manusia. Orang yang tidak beriman meminta kiamat
itu disegerakan, karena mereka tidak mengetahuinya. Bagaimana
dapat disegerakan, wong mereka itu tidak mengetahuinya?
Bagaimana bisa diperbantahkan wong mereka itu tidak
mengetahuinya. Berbantah atau bertikai masalah datangnya kiamat
adalah mubazir, dan bahkan menyesatkan kita. Hari kiamat harus kita
alami untuk bisa menemui-Nya. Bukankah cepat atau lambat kita pasti
menemui-Nya.

Lalu, bagaimana kalau kita tidak mau menemui-Nya? Sungguh malang


orang yang tidak mau bertemu dengan sumber hidupnya. Bukankah
kita berasal dari-Nya, dan kembali kepada-Nya? Nah, kita harus bisa
kembali kepada-Nya dengan kesadaran dan bukan dengan terpaksa!
Kita harus merdeka dalam menyongsong kehadiran-Nya. Sungguh rugi
orang yang menolak untuk bertemu dengan-Nya. Karena menolak
untuk bertemu dengan Tuhan, berarti dia memilih hidup dalam ilusi
atau impian semata. Hidup di alam kebahagiaan semu! Seperti yang
diungkapkan dalam surat 6:31, “Sungguh merugilah orang-orang yang
mendustakan pertemuan mereka dengan Allah, sehingga apabila
kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka mengatakan:
alangkah besarnya penyesalan kami karena kelalaian kami
kepadanya.”

Coba perhatikan ayat ini, di situ dijelaskan bahwa kiamat datang


kepada mereka [yang mendustakan] dengan tiba-tiba. Begitu mereka
tersingkap dengan tiba-tiba kesadarannya tentang hidup ini, maka
yang ada adalah penyesalan. Yang dipikul adalah kesengsaraan.
Hanya karena lalai tentang hadirnya kiamat yang datang tiba-tiba itu.
Lain dengan orang beriman, dia selalu waspada. Orang-orang yang
selalu hidup murung, menderita dan merasa terus-menerus dalam
kesengsaraan [bahkan ada yang nekat bunuh diri karena tak kuat
menanggung penderitaan hidup ini], adalah contoh orang-orang yang
kedatangan kiamat. Bila kiamat tidak datang selama dia dalam hidup
ini, maka kiamat pun akan datang setelah matinya. Hal ini diungkap
dalam surat 50:22, “Sungguh engkau berada dalam kelalaian tentang
[kematian] ini. Maka Kami singkapkan darimu apa yang menutupimu,
dan penglihatanmu pada hari ini sangat tajam.” Dengan demikian,
tidak ada gunanya melakukan rekayasa, tipudaya, atau “tricky” dalam
hidup ini.

Tobat.

Langkah awal dalam tarekat adalah “tobat” atau adanya kemauan


untuk kembali kepada-Nya. Bukan hanya mau ramai-ramai di jalan
umum, tetapi adanya kemauan untuk menempuh sendirian kepada-
Nya. Bukan hanya menuntut ada teman yang menyertai, tetapi berani
melangkah sendirian. Nah, tahap ini disebut “decondi-tioning” atau
“takhalli”. Berhenti mengikuti arus massa. Bukan melawan arus, tetapi
menancapkan pendirian! Jadi, tobat di sini jangan diartikan dengan
“meninggalkan kejahatan atau kecurangan” yang pernah kita lakukan.
Kita tidak perlu berbuat curang untuk bisa bertobat. Tetapi kita
sengaja untuk memilih cara yang benar, kepatuhan yang benar. Inilah
makna tobat dalam tarekat!

Tobat dalam tarekat berarti berketetapan untuk tidak mencuri, tidak


berzina, tidak menipu, tidak membohongi orang, tidak menganiaya
siapa pun, tidak merugikan orang lain, tidak menyakiti; atau dengan
kata lain, menegasikan segala perbuatan dan tindakan yang buruk
atau jahat. Dalam syariat tobat adalah meninggalkan dan tidak
mengulangi perbuatan jahat yang telah diperbuat. Dalam tarekat tobat
berarti memilih untuk tidak berbuat jahat. Memilih untuk berbuat
lurus! Tidak berpedoman “tujuan menghalalkan segala cara”. Tujuan
harus dicapai dengan cara yang benar dan baik [Jawa, bener lan
pener].

Memang berat godaan bagi yang mengambil jalan lurus. Lebih-lebih


bila kita sudah pernah menikmati “yang bengkok” itu. Bisikan untuk
mencecap dan mencicipi kebengkokan itu datang bertubi-tubi.
Bagaimana jalan keluarnya bila rayuan setan ini berhembus di dalam
hati kita? Bila sugesti setan [bisikan jahat] datang bertubi-tubi ke
dalam diri kita, maka kita harus segera berzikir, bersegera untuk eling
[sadar] dan waspada. Kita harus bebaskan pikiran kita dari bisikan itu
dan kita serahkan diri kita kepada-Nya. Kita harus yakin bahwa Allah
mendengarkan dan memperhatikan seruan kita. Kita harus yakin
bahwa Allah melindungi kita! Mengapa kita harus yakin? Karena kita
telah memilih jalan yang lurus, dan Allah senantiasa di jalan lurus. Di
bawah ini ada beberapa ayat yang menopang keyakinan untuk
berbuat benar.

7:200, Jika setan mengganggu [mensugesti] engkau maka


berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah itu Maha Mendengar
dan Maha Mengetahui.

7:201, Sesungguhnya orang-orang yang menjaga diri, apabila mereka


tertimpa gangguan setan, mereka berzikir kepada Allah, dan ketika itu
pula mereka melihat gangguan itu.

42:13, Berat bagi orang-orang yang menyekutukan Tuhan untuk


menem-puh jalan yang diinformasikan kepada mereka. Allah menarik
orang yang menghendaki jalan-Nya, dan memberi petunjuk kepada
jalan-Nya bagi siapa yang kembali [kepada-Nya].

Dengan berzikir kepada Allah, kita sebut nama-Nya dengan bahasa


kita, bahasa yang kita pahami dan keluar dari hati yang tulus.
Misalnya, “Ya Tuhan, Pelindung diriku, singkirkan gangguan setan itu
dariku. Berilah aku kekuatan untuk menempuh jalan-Mu.
Sesungguhnya Engkaulah pemilik kekuatan yang sebenarnya.” Ini
hanyalah salah satu contoh saja dalam berdoa. Dalam berdoa tak ada
keharusan dalam ucapan bahasa Arab. Doa yang baik adalah doa yang
kita mengerti maksudnya dengan benar. Doa demikianlah yang ces
pleng! Jangan ragu berdoa dalam bahasamu yang keluar dari dalam
lubuk hatimu. Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui!

Namun, bila kita tidak terdidik dalam berdoa dengan menggunakan


bahasa kita sendiri, kita boleh menggunakan contoh-contoh doa dalam
Al Quran atau Al Hadis. Bila kita menggunakan doa dalam bahasa yang
bukan bahasa kita sendiri, maka kita harus belajar memahami makna
dan maksudnya. Yang penting untuk diperhatikan, janganlah pikiran
kita dibebani dengan doa-doa. Pikiran kita harus dibebaskan dari
berbagai macam hal yang tidak diperlukan. Pikiran harus senantiasa
dijaga tetap segar dan jernih. Dalam kejernihan pikiran kita bisa
melihat gangguan setan.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh ayat 42:13, bila pikiran kita


tetap mendua maka beratlah jalan Ilahi yang hendak kita tempuh. Kita
harus yakin bahwa jalan lurus [jalan positif] yang kita pilih dan ikuti itu
adalah jalan yang benar dan tepat. Bila kita sungguh-sungguh
menempuhnya niscaya Allah sendiri yang menarik kita ke tengah jalan
itu. Allah menghendaki orang yang menghendaki jalan-Nya. Inilah
maksud dari “Allahu yajtabi ilaihi man yasya-u” dalam ayat tersebut.
Jadi, kata “man yasya-u” tidak berarti Allah yang aktif dan manusianya
pasif. Tetapi interaktif antara “kawula” dan “Gusti”, hamba dengan
Tuhan.

Wara’.

Kata “wara’” dapat diterjemahkan dengan “hati-hati” atau waspada.


Manusia yang tetap menjaga dirinya di jalan yang benar, atau manusia
bertakwa, adalah orang yang senantiasa sadar dan waspada. Dengan
eling dan waspada itu dia bisa melihat gangguan setan. Bila kita bisa
melihat bisikan setan, tentu kita dapat menghindarinya. Sebaliknya,
jika cuma meraba-raba dalam kegelapan, ada kemungkinan terhanyut
dalam bisikan itu. Dalam syariat wara’ berarti berhati-hati dalam
memilih makanan, dan berhati-hati dalam berbuat dan bertindak.
Sedangkan wara’ dalam tarekat artinya senantiasa sadar dan
waspada.

Baik tobat maupun wara’ adalah tahap “decondioning”, “takhalli”, atau


usaha untuk mengosongkan diri kita dari segala dorongan untuk
berbuat jahat. Pada tahap ini kita dituntut untuk selalu introspeksi
maupun berani mengakui kesalahan yang kita perbuat. Memang sulit
rasanya bagi orang dewasa yang sudah terkontaminasi atau tercemar
kotoran dalam hidupnya, melakukan dekondisioning. Tetapi bagi yang
telah berketetapan hati, langkah awal ini harus dilalui. Harus ada
tekad yang bulat dan kuat. Dalam ayat 7:200 disebutkan, bila ada
bisikan maka segeralah berlindung kepada-Nya. Lalu dalam 7:201
dijelaskan bahwa begitu terkena gangguan setan, maka harus segera
berzikir, segera eling dan waspada! Dan dalam 42:13 disebutkan
bahwa orang yang menghendaki jalan-Nya niscaya ditarik Allah ke
dalamnya. Lihat kembali ayat surat Al-‘Ankabut/29:69, “Dan orang-
orang yang bersungguh-sungguh menempuh jalan Kami, niscaya Kami
tunjuki mereka jalan-jalan Kami.”

Mengamalkan Zikir

Dekondisioning harus dilatih! Bagaimana caranya? Seperti yang


dijelaskan dalam ayat 7:201, dengan berzikir. Ada dua macam zikir,
yaitu zikir dengan berbuat dan zikir dengan bertindak. Pertama, zikir
dengan berbuat artinya zikir tanpa tindakan. Tindakannya hanya
terjadi dalam diri orang yang melakukannya. Dalam zikir ini kita dilatih
untuk mengawasi ucapan kita sendiri dalam keadaan heneng atau
diam.
Dalam zikir ini kita dilatih untuk mengawasi nafas kita sendiri. Zikir
jenis inilah yang dilakukan ketika seseorang melakukan shalat atau
sesudah shalat. Jika di dalam shalat, yang dilakukan adalah
memperhatikan bacaan di dalamnya. Jika di luar shalat zikir ini
dilakukan dengan duduk relaks, atau duduk yang nyaman, dan disertai
ucapan kalimat thayyibat seperti subh?nallah [Mahasuci Allah],
alhamdu lil-Lah [segala puji kepunyaan Allah], dan allahu akbar [Allah
Mahabesar].

Untuk melatih kesadaran dan kewaspadaan kita terhadap kalimat


thayyibat yang diucapkan, dibuatlah pencacahan terhadap kalimat
tersebut. Misalnya dengan meng-ucapkan kalimat subhanallah dan
alhamdulillah masing-masing 33x dan allahu akbar diucapkan 34x
sehingga banyaknya pengucapan kalimat tersebut 100 kali. Dengan
zikir ini kita dilatih untuk tetap sadar dan waspada. Pada tahap
dekondisioning ini semua pikiran yang kotor dikuras. Jadi, cara
mengurasnya bukan dengan jalan mengosongkan pikiran, tetapi
dengan cara mengisinya dengan ucapan kalimat yang baik. Dan,
pengucapannya pun sekadar didengar telinganya sendiri!

Untuk pelatihan tahap dekondisioning ini para murid [orang yang


berkehendak] bisa melatihnya di pagi hari setelah masuk shalat
subuh. Latihannya harus dilakukan dengan teratur, cermat, berhati-
hati, tekun dan rajin. Misalnya, pelaksanaan zikir ini ditetapkan selama
empat puluh hari, setiap pagi. Diusahakan dilatih dalam lingkungan
yang hening, sepi. Atau, jika berbakat 10 hari sudah cukup.
Kedua, zikir dengan bertindak. Artinya, ada aksi, ada tindakan! Begitu
ada orang yang mengajak kolusi dalam pekerjaan kita, ketika itu pula
kita ingat untuk berusaha menghindarinya. Bila desakan ke arah itu
menguat, kita harus berani mengatakan kepadanya: tidak! Memang
berat mengamalkan zikir dengan bertindak. Karena zikir ini
dihadapkan pada kenyataan. Keadaan inilah yang mendorong guru
tarekat mendirikan “jamaah tarekat” atau organisasi tarekat. Dengan
organisasi, kesulitan anggotanya bisa diatasi. Jadi, kita jangan heran
jika di dalam komunitas Islam hadir begitu banyak tarekat. Dalam
agama Kristen hadir banyak “gereja” untuk gembalanya. Di Cina ada
Zhuan Fa Lun atau gerakan meditasi “Fa Lun Qung”. Sehingga buruh-
buruh pabrik yang tadinya biasa “ngutil” produksi pabrik tersebut,
seperti handuk, sabun, sandal dll, setelah terlatih meditasi Fa Lun
mereka sadar dan mengembalikan hasil ngutilnya. Bahkan manajer
pabrik sadar dengan gerakan itu produktivitas pabrik meningkat. Tapi
secara politis, Pemerintah Cina terancam oleh gerakan ini.

Mulai saat ini marilah kita praktikkan tarekat ini, dengan zikir berbuat
dan zikir bertindak. Jangan ada target dulu. Lebih baik kita merasa
berlatih dulu

Bagian ke-8

Antara Syareat dan Tarekat

Telah dijelaskan di bagian sebelumnya bahwa yang dituju dalam


syareat adalah kolektivitas atau kebersamaan. Sedangkan yang dituju
dalam tarekat adalah keunikan. Meskipun demikian antara syareat dan
tarekat tidak bertentangan. Justru yang dibangun adalah
keseimbangan antara hidup secara kolektif dengan ekspresi individual.
Karena kodrat dan iradat Tuhan terhadap makhluk tidak sama. Maka
kebutuhan bersama dan kebutuhan pribadi harus dirajut bersama.

Syareat berfungsi untuk mengikat suatu komunitas dalam jalan hidup


bersama. Syahadat, shalat, puasa Ramadhan, zakat dan haji adalah
jalan umum yang dilalui secara bersama-sama oleh komunitas yang
beragama Islam. Unsur kebersamaan dalam kelompok lebih
ditekankan. Formalitas lebih menonjol daripada tujuannya. Jika dium-
pamakan anak sekolah, mengisi daftar hadir dan duduk di kelas lebih
menonjol daripada keinginan untuk menjadi murid yang pandai dan
trampil. Dalam shalat pun begitu, rasa untuk memenuhi kewajiban
lebih menonjol daripada mencapai “tujuan” shalat. Bahkan kalau saya
amati, saya katakan dengan jujur bahwa sebagian besar orang yang
mela-kukan shalat tidak ingat [atau bahkan tidak tahu] akan tujuan
shalatnya. Mereka hanya merasa “berdosa” bila tidak melakukannya.
Dan, merasa telah bebas dari dosa jikalau telah menunaikannya. Tentu
saja hal ini disebabkan oleh kebiasaan yang membelenggu pikiran.
Sama dengan jenis-jenis kebiasaan yang lain.

Dari segi syareat seseorang yang shalat dianggap sah bila ia telah
bersih dari hadas [yang kecil dengan wudhu, dan yang besar dengan
mandi], dan mencari tempat yang bersih untuk shalat, lalu dilakukan
sesuai dengan syarat dan tertib rukunnya. Bereess! Upacara telah
dikerjakan. Lho, kok dianggap upacara, itukan perintah Tuhan? Shalat
hanyalah sebuah upacara jika yang dipenuhi formalitas lahiriahnya.
Yang di-tuntut dalam kehidupan beragama tentu bukan sekadar
upacaranya. Tetapi, tujuan dari shalat! Apa tujuan shalat? Apa tujuan
puasa, zakat dan haji?

Marilah kita periksa satu persatu. Pertama, Surat Thaha:14.

20:14 Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, dan tidak ada Tuhan kecuali
Aku. Beribadahlah kepada-Ku dan dirikanlah shalat untuk berzikir
kepada-Ku.

29:45 Telaahlah Al Kitab yang diwahyukan kepada engkau, dan dirikan


shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan fahsya’ dan
mungkar. Dan sesungguhnya berzikir kepada Allah itu lebih besar. Dan
Allah mengetahui apa yang kamu (semua) kerjakan.

Dari kedua ayat tersebut dapat diketahui dengan pasti tujuan shalat.
Tujuan utama shalat adalah “berzikir” kepada Tuhan. Dan, efek
berikutnya adalah terjauhkan dari perbuatan fahsya’ dan mungkar.
Karena efek dari zikir itu menjauhkan pelakunya dari perbuatan
fahsya’ dan mungkar, maka nilai zikir itu lebih besar dari ibadah
lainnya. Apalagi zikir tersebut dilakukan dalam shalat. Fahsya’ adalah
segala jenis perbuatan yang tidak normal, yang dibenci masyarakat,
kekejaman, dan yang menjijikkan. Sedang perbuatan mungkar adalah
perbuatan yang ditolak atau dilarang oleh masyarakat. Jadi, tujuan
akhir shalat adalah mencegah perbuatan fahsya’ dan mungkar bagi
penegaknya. Shalat bukan untuk membebaskan diri dari kewajiban.

Masih ingatkan ayat tentang perintah puasa Ramadhan? Yaitu, Surat


Al Baqarah ayat 183. Di situ jelas, bahwa tujuan puasa bukan untuk
melatih diri supaya tahan lapar atau sakti, tetapi untuk menjadi orang
yang bertakwa, yaitu orang yang senantiasa menjaga dirinya di jalan
yang benar [life in the righteous way]. Sedekah atau zakat juga
dimaksudkan untuk membersihkan dirinya dari kedengkian
masyarakat di sekitar-nya, dan juga untuk membersihkan batin dari
sifat loba dan kikir [QS 9:103, sedekah itu untuk “tuthahhiru” dan
“tuzakki”]. Bahkan dengan haji, orang dididik dan dilatih untuk hidup
damai (QS 2:191, 3:97), higienis (22:29), menjauhkan diri dari
pertikaian, percabulan dan kelakuan jahat (2:197), dan hidup sosialis
(22:28).

Nah, sekarang marilah kita melihat fakta di sekeliling kita. Bangsa


Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius. Secara lahiriah masjid,
gereja dan tempat-tempat peribadatan lainnya dipenuhi orang. Dari
segi lahiriah seolah-olah orang-orang yang memenuhi tempat ibadah
ini adalah orang-orang yang saleh, atau orang-orang yang bertakwa.
Kuota untuk jemaah haji pun cepat sekali dipenuhi. Namun demikian,
negeri ini penuh koruptor, tukang kolusi, dan banyak penjahat kelas
berdasi. Kebodohan tak kunjung usai. Kemiskinan malah beraksi
sehingga kita merasa tak bisa melepaskan diri dari hutang
internasional. Apa gerangan penyebabnya? Penyebabnya, kita lebih
suka formalisme. Kita lebih senang mengandalkan “kepercayaan”
daripada pengetahuan. Kita lebih suka kebenaran “visual” daripada
kebenaran yang bersemi di dalam hati yang suci. Kita lebih
mempercayai “dongengan” abad III Hijrah daripada mengkaji Al Quran
dengan hati yang tenang dan pikiran yang jernih.

Sekarang, marilah kita bandingkan dengan etika kehidupan


bermasyarakat dari orang-orang Barat. Mereka dikenal sebagai
masyarakat yang hidup individualistik. Hak pribadi betul-betul
dinomorsatukan. Namun, di jalan mereka tidak melakukan saling
serobot. Fasilitas-fasilitas milik umum (fasum) dijaga dan dihormati.
Makna hidup itu untuk melayani orang lain mereka coba tegakkan.
Mereka betul-betul berusaha menjaga “fairness” dalam
bermasyarakat. Padahal, secara lahiriah mereka tampak tak bergairah
menjalankan agama. Mengapa bisa demikian? Karena mereka telah
melangkah ke tahap kehidupan tarekat. Lho, mereka kan tidak hidup
beragama Islam sedangkan tarekat itu ajaran Islam? Tarekat adalah
perjalanan spiritual kehidupan manusia. Ia ada di dalam setiap agama.
Namanya saja yang berbeda!
Sembah Kalbu

Orang tak akan mengerti arti sebuah kekayaan bila ia tak pernah
menghayati arti sebuah kemiskinan. Tidak perlu harus jatuh miskin
dulu! Tetapi menghayati dalam batin kita bahwa sesungguhnya kita ini
miskin. Wong ketika kita lahir tak ada yang membawa perhiasan.
Orang tak akan mengerti makna kepandaian bagi kesejahteraan bila ia
tak pernah menghayati makna kebodohan. Seandainya generasi
Jepang sekarang tidak menghayati rasanya suatu bangsa yang dibom
atom, tentu mereka akan tetap melakukan penindasan dan
penghancuran negara-negara sekelilingnya yang dipandang lemah.
Jika makna-makna yang negatif [seperti jahat, miskin, bodoh, dan
lemah] itu telah hilang dari mereka, maka mereka pun akan
mengalami hal yang sama seperti yang melanda negeri kita ini.

Nah, tarekat adalah cara untuk melihat diri kita sendiri. Karena itu
tarekat disebut sebagai meniti jalan ke dalam diri. Tanpa mengenal
diri kita sendiri, niscaya kita tak akan pernah bisa mengerti orang lain.
Malah orang lain kita paksa seperti diri kita! Kita nyinyir bila melihat
orang lain tidak melakukan ibadah seperti yang kita lakukan. Kita
memandang orang lain tidak mengikuti sunah Rasul, bila mereka tidak
segolongan dengan kita. Bahkan orang lain yang sudah mendalami Al
Quran dan Hadis, dipandang belum berilmu bila tidak belajar
seperguruan dengan kita. Kepicikan timbul karena tak pernah mau
melihat kepada dirinya sendiri.

Pada bagian yang lalu telah dijelaskan bahwa tahap awal dalam
tarekat adalah dekondisioning, atau “takhalli”, yaitu tahap
pembersihan batin. Kepercayaan yang telah membelenggu, harus
dirantas. Lho, bagaimana ini, hidup beragama kan harus ditopang
dengan kepercayaan? Ha, jangan salah mengerti! Yang harus dirantas
adalah keperca-yaan yang membelenggu. Kepercayaan semacam ini
beretengger di dalam diri kita dari hasil meniru, yaa... meniru seperti
anak kecil. Mungkin meniru dari lingkungannya, atau meniru dari
teman yang mengajaknya. Lain halnya dengan pembersihan batin.
Dengan tobat dan wara’ kita telah melangkah pada kehidupan yang
bersih lahir dan batin. Dengan kondisi batin yang bersih, tumbuhlah
kepercayaan asli yang tumbuh dari dalam. Bukan kepercayaan hasil
meniru.

Hal ini penting sekali untuk dipahami! Iman (kepercayaan) yang benar
adalah yang tumbuh dari dalam hati. Bukan iman yang tumbuh karena
diyakinkan oleh orang lain. Jadi, peran guru-guru agama, ustadz-
ustadz, dan ulama adalah memberikan jalan bagi sang pengembara.
Mereka menjadi pemandu jalan, pembawa obor bagi orang-orang yang
ingin kembali kepada Ilahi. Tugas guru dan ulama bukanlah membuat
mereka menjadi robot hidup. Guru dan ulama adalah orang yang
menunjukkan jalan dan memberikan keteladanan. Mereka bukan untuk
ditiru [to be imitated] tetapi untuk diikuti [to be followed]. Dengan
pemahaman ini bukan orang lain yang mengantarkan kita ke tujuan
hidup, tetapi kita sendiri yang berusaha ke sana.

Mari kita perhatikan ayat berikut ini.

35:18 Sesungguhnya yang bisa engkau berikan ajaran [peringatan]


adalah orang-orang yang awas kepada Tuhannya meskipun tanpa
melihat-Nya, dan mereka mendirikan shalat. Barangsiapa menyucikan
dirinya, sesungguhnya penyucian itu untuk dirinya sendiri. Dan Allah
itu tempat kembali.

Jadi, jelas sekali bahwa Rasul saja tugas mulianya adalah untuk
menyampaikan ajaran keselamatan. Apalagi ustadz atau ulama!
Fungsi Rasul bukan untuk menyelamat-kan tetapi memberikan
petunjuk ke arah keselamatan. Karena itu yang bisa diberi ajaran
adalah mereka yang awas terhadap kehadiran Tuhannya, tanpa
melihat Wujud-Nya. Bila tidak awas, ya sulit untuk dapat menerima
kebenaran ajaran beliau. Itulah sebabnya saya berkali-kali
menekankan kata “mengikuti Rasul” dan “bukan meniru Rasul”.
Mengikuti memerlukan keawasan, sedangkan meniru cuma
mencontoh, atau dalam bahasa sekarang mencontek Rasul. Apa
unggulnya mencontek? Dan dalam ayat itu diringi pula dengan kalimat
“mendirikan shalat” dan bukan mengerjakan shalat. Memang sekarang
ini jadi kabur antara “mendirikan” dan “mengerjakan”. Karena
kepentingan guru-guru agama sebatas formalitas, yaitu mengerjakan.
Mendirikan shalat berarti membangun shalat, suatu bangunan yang di
dalamnya terletak zikir kepada Tuhan. Suatu syareat yang di
dalamnya terkandung tarekat!

Kemudian lanjutan ayat menyebutkan bahwa upaya penyucian diri itu


sepenuhnya untuk dirinya sendiri. Jadi, betul-betul melewati lorong
yang pas bagi dirinya sendiri. Kita masuk ke dalam sel hati yang
terdalam. Di situlah Tuhan bersemayam. Bukankah di dalam sebuah
hadis disebutkan bahwa “Langit dan bumi tak dapat menampung-Ku,
tetapi hati seorang mukmin mampu menjangkau-Ku.” Jadi, hati
terdalam manusia adalah tempat bersemayam-Nya pada tahap
tarekat. Sedangkan Ka’bah di Mekah merupakan Rumah Tuhan di
tahap syareat. Dengan meniti ke dalam diri, berarti kita kembali
kepada Allah, seperti penutup ayat tersebut.

Nah, upaya untuk memasuki wilayah hati (kalbu) dalam pemahaman


tasawuf Jawa disebut sebagai “Sembah Kalbu”. Bila dalam langkah
tobat dan wara’ ada sam-bungan syareat dan tarekat, maka langkah
berikutnya, sabar, adalah tindakan hati. Makin memasuki wilayah
tarekat. Bersucinya tidak lagi dengan material yang dapat dilihat
dengan mata, seperti air dan harta-benda, tetapi mampu
mengendalikan hasrat hati yang selalu menggoda kehidupan ini.

Sabar. Lebih dari lima puluh kata ‘sabar’ dalam berbagai bentuknya
terdapat di dalam Al Quran. Dan kata ini tidak bermakna tunggal
seperti kata ‘sabar’ dalam bahasa Indonesia. Jika kita lihat kamus
Indonesia, kata sabar berarti tidak pemarah, tahan menderita,
menerima saja, dan tidak tergopoh-gopoh dalam bekerja. Hal ini lain
dengan yang diungkap dalam Al Quran.

Kalau kita cermati QS 6:34, sabar mempunyai arti ‘tetap berjuang


meskipun datang berbagai cobaan dan ancaman’. Jadi, di dalam
“sabar” terkandung daya tahan terhadap berbagai macam cobaan,
ancaman dan gangguan. Dalam sabar, juga termuat sikap tidak mudah
lupa diri, seperti lekas bangga bila terlepas dari kesulitan. Sedangkan
dalam QS 37:102 disebutkan bahwa Ismail bersedia untuk disembelih
ayahnya. Dia katakan kepada ayahandanya, Ibrahim: hai bapakku
kerjakan apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu dapati
diriku termasuk orang-orang yang sabar. Dan salah satu fondamen
Islam adalah saling berwasiat tentang hidup sabar.

Jadi, kita tak perlu meringkas dan menyimpulkan kata sabar yang
banyak di dalam Al Quran itu. Tetapi, yang jelas sabar merupakan
tindakan hati. Dan, tindakan hati ini tidak terlihat oleh orang lain. Efek
dari tidak sabar yang bisa dilihat oleh orang lain, seperti mudah
emosional, gampang marah, mudah ketakutan, panik, tergesa-gesa,
dan tak tahan menderita. Untuk bisa hidup sabar, kita harus senantisa
introspeksi, awas, berhati-hati, cermat, tekun dan rajin. Dan, yang
sangat penting bagi pijakan sabar adalah “hati yang tenang”.
Mengapa hati yang tenang diperlukan untuk membangun kesabaran?
Karena dengan hati yang tenang manusia bisa mengontrol perbuatan
dan tindakannya. Dan, agar hati bisa menjadi tenang, kita harus
berzikir [Jawa, semedi]. Kata semedi sendiri berasal dari kata
Sanskerta “Samadhi” yaitu sam + Adhi yang terjemahannya dengan +
Tuhan. Jadi, bersemedi artinya menyatukan diri dengan Tuhan. Tentu
saja bukan persatuan fisik karena fisik alam semesta ini ada di dalam
Tuhan. Tuhan meliputi segala sesuatu [wa kana llahu bi kulli syai-in
muh?tha, 4:126]. Dan pada ayat 41:54 disebutkan sebagai berikut.

Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka [orang-orang kafir] berada


dalam keraguan tentang pertemuan mereka dengan Tuhan. Ingatlah
bahwa sesung-guhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.
Pertama, Tuhan meliputi segala sesuatu. Dia adalah Cahaya di atas
cahaya, seperti dinyatakan dalam Surat An Nur/24:35. Cahaya-Nya
menembus segala sesuatu dari sesuatu yang paling kecil hingga yang
paling besar. Dengan kata lain, Tuhan meliputi alam semesta. Karena
itu di pangkal ayat yang sama Allah dinyatakan sebagai Cahaya [yang
meliputi] langit dan bumi. Jadi, secara fisik makhluk dan Tuhan tidak
dapat dipisahkan. Karena Dia juga disebut tidak di dalam atau di luar
sesuatu. Dia meliputi yang lahir dan yang batin [QS 57:3]. Lalu apanya
yang dikatakan bersatu dalam zikir itu? Iradatnya! Orang yang berzikir
mempersatukan iradatnya dengan iradat Tuhannya. Diinformasikan
dalam QS 2:152, “Berzikirlah kepada-Ku, niscaya Aku berzikir
kepdamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan jangan mengingkari-Ku.”

Kedua, bila kita menyimak beberapa ayat sebelumnya, yaitu ayat 49 ?


51, di situ disebutkan bahwa orang-orang kafir itu senantiasa
terombang-ambing oleh kegalauan pikirannya. Akibatnya jiwanya
rapuh terhadap berbagai tekanan dalam hidupnya. Dan, sumber
utama kegalauan pikiran itu adalah “ragu-ragu tentang pertemuan
dengan Tuhan”. Padahal, zikir adalah landasan bagi pertemuan
dengan Tuhan. Ujung ayat tentang zikir tersebut berbunyi
“bersyukurlah kepada-Ku dan jangan mengingkari-Ku”. Artinya
ciptakan nilai tambah dalam hidup ini karena Dia, bukan karena ego
kita. Bila kita berbuat dan bekerja demi ego [mementingkan diri
sendiri], kita akan mengalami distorsi dalam hidup ini. Karena itu ayat
di atas ditutup dengan penguatan “jangan mengingkari Aku”.

Seperti pada kesempatan lain, telah saya uraikan makna “zikir”.


Namun, untuk mengingatkan kita semua saya sampaikan lagi pada
kesempatan ini. Zikir berasal dari kata dza-ka-ra yang artinya
mengingat atau menuangi. Jadi, orang yang berzikir berarti menuangi
ke dalam jiwanya, pikirannya dan hatinya dengan sesuatu yang di-
ingatnya. Berzikir kepada Allah berarti menuangi diri kita [lahir dan
batin] dengan kata-kata yang baik tentang Allah, seperti menyebut
nama-Nya, mengucapkan nama-nama baik-Nya, menyebut
subhanallah, alhamdulillah, allahuakbar, la ilaha illallah dan lain-
lainnya. Dengan menyebut kata yang baik kita berusaha melakukan
proses dekondisioning dengan cara menuangi kata “thayyibat”. Islam
tidak mengajarkan pengosongan pikiran dengan metode konsentrasi
atau berusaha melenyapkan segala keramaian pikiran. Tetapi, dengan
cara mengisi pikiran dan hati dengan nama-Nya. Dalam perjalanannya
sang pezikir akan semakin cerah. Bak gentong yang berisi air kotor,
pezikir tidak menggulingkan gentong itu sehingga airnya tumpah dan
gentong ditegakkan kembali. Cara demikian bisa memecahkan
gentongnya jika gentongnya tidak kuat. Tetapi dengan cara menuangi
dengan air yang bersih, lama-lama air yang kotor itu habis dengan
sendirinya.
Nah, itulah resp zikir! Dengan cara ini lama-lama hati menjadi tenang.
Hati yang kerjanya berubah-ubah, bergerak kesana-kemari tak tentu
tujuan ini, secara perlahan-lahan dimuati dengan nama-Nya. Pelan-
pelan keberingasan hati menjadi reda dan akhirnya berhenti, dan
muncullah ketenangan. Hal inilah yang ditegaskan dalam Surat Ar
Ra’ad/13: 27 ? 29.
:27 Orang-orang kafir [yang meningkari kebenaran] berkata:
“Mengapa Tuhannya tidak menurunkan mukjizat kepadanya?”
Katakanlah: “ Sesungguhnya Allah menyesatkan orang yang
menghendaki kesesatan dan menunjuki orang-orang yang kembali
kepada-Nya.”

28 Yaitu, orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram


karena berzikir kepada Allah. Perhatikanlah, hanya dengan kepada
Allah hati menjadi tentram.

29 Orang-orang yang beriman dan beramal saleh layak mendapatkan


kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. Pada ayat 27 kata “man
yasya-u” biasa diatributkan kepada Tuhan sehingga artinya, “Tuhan
menyesatkan kepada siapa yang Dia kehendaki”.
Namun, terjemahan yang saya gunakan adalah “Tuhan menyesatkan
orang yang menghendaki kesesatan”. Karena ujung ayat itu
menegaskan : Tuhan menunjuki orang-orang yang kembali kepada-
Nya. Inilah sifat ‘Ar Rahim’ dari Tuhan.

Siapa yang kembali kepada-Nya itu? Yaitu, orang-orang yang beriman


[selalu awas, eling dan waspada] dan beramal saleh [melakukan
tindakan yang berguna, baik bagi orang lain, lingkungan dan dirinya
sendiri]. Jadi, kata kembali kepada Tuhan jangan ditunggu setelah
mati. Kita sadari kehadiran kiamat, dan segera kembali kepada Tuhan
Yang Mahaesa. Untuk bisa beriman dan beramal saleh, salah satu
langkah yang harus ditempuh adalah “hidup sabar”. Itulah sebabnya di
beberapa ayat disebutkan bahwa “Sesungguhnya Allah beserta orang-
orang yang sabar”.

Sabar yang dimaksud di sini adalah maqam, stasiun, atau tingkatan


pencapaian spiritual. Bukan sabar dalam pengertian “sifat sabar”
seperti ‘sabar, dong!’ atau yang sabar ya Pak.., Bu..., dan lain-lain.
Budaya antri, tidak saling menyerobot, menghargai hak orang lain,
rela berjuang bersama dalam membangun bangsa, saling mengerti,
hidup gotong royong adalah bukti tercapainya maqam kesabaran.
Nah, untuk mencapai maqam kesabaran ini mari terus kita lakukan
zikir lahir yang diterangkan di bagian yang lalu.

Bagian ke-9

Antara Sabar dan Tahalli

Ketika kita berjuang untuk hidup benar, lalu menetapkan pendirian


untuk tetap memilih jalan yang benar [istiqamah], berarti kita telah
melakukan dekondisioning [takhalli], yaitu membersihkan diri dari
semua sifat yang tercela yang ada di dalam diri kita. Sifat tercela
meliputi semua sifat yang mengotori jiwa [nafs] manusia, seperti lalim,
bakhil, dusta, ma-lima, mengadu domba, dengki [iri hati], merusak,
berlebih-lebihan dalam hidup, membunuh [diri sendiri maupun orang
lain], menipu, sombong, merendahkan orang lain, mementingkan diri-
sendiri, menjilat [cari muka], dan berbagai sifat negatif lainnya.

Pada tasawuf bagian ke-8 kita telah sampai pada ajaran “sabar”. Kita
telah masuk ke dalam wilayah “kondisioning” atau “tahalli”.
Ketercelaan ditinggalkan, keterpujian diraih. Dengan sabar, kita
mengkondisikan diri kita ke dalam perbuatan-perbuatan yang terpuji.
Tentu saja perbuatan terpuji lahir bila kita telah meninggalkan yang
tercela. Yang termasuk sifat terpuji adalah semua sifa yang positif dan
memberikan keuntungan baik bagi diri-sendiri maupun orang lain,
seperti adil, kasih, sayang, lemah lembut, berani, tegas, bijak,
menolong, membantu kebaikan, dapat dipercaya, memperbanyak
persaudaraan, menyelamatkan jiwa, menutupi aib keluarga, saudara
dan teman-temannya, dan lain-lain.

Setelah kita bongkar sifat-sifat tercela kita, kita cuci dengan zikir jahar
[lahir], maka kita kondisikan batin kita dengan perbuatan-perbuatan
terpuji. Mengkondisikan perbuatan terpuji harus dilandasi kesabaran
[lihat kembali makna sabar pada bag. ke-8]. Ingat, sabar bukan
‘menerima kalah’. Tetapi, kita mempunyai daya tahan untuk berbuat
atau bertindak. Marilah kita uraikan segala sifat terpuji tersebut.

Adil. Kalau kita lihat di kamus Arab, kata ‘adil’ berarti memperlakukan
setiap orang tanpa diskriminasi. Dalam ‘adil’ terkandung makna ‘jujur’
dan ‘fair’. Kata fair sendiri berarti “sesuai dengan aturan”. Terkandung
dalam kata ‘adil’ adalah perlakuan yang proporsional. Contohnya
begini, jika ada orangtua yang memperlakukan tiga orang anaknya
[yang berumur 7, 5 dan 3 tahun], tentu orangtua tersebut harus
memperlakukan mereka secara proporsional [sesuai dengan
kebutuhannya].

Sikap adil ini akan bisa tumbuh pada diri kita bila kita sudah tidak
mementingkan diri-sendiri dan pilih-kasih. Sifat tercela harus
dihilangkan dulu. Lalu, dengan berpijak pada kesabaran kita
menegakkan keadilan. Adil adalah sokoguru bagi ketakwaan. Ya, tanpa
keadilan kita sukar untuk dapat menegakkan kebenaran. Untuk itu
marilah kita simak QS 5:8 berikut ini.

5:8 Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang


selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan
adil. Janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum
[golongan], mendorongmu untuk berbuat tidak adil. Berlaku adillah,
karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Perhatikan ayat tersebut sekali lagi. Keimanan ternyata menuntut


upaya penegakan kebenaran. Keimanan dalam Islam ternyata bukan
hanya sekedar kepercayaan. Iman itu harus didukung “pengetahuan”
sehingga orang yang beriman itu bisa membedakan mana yang benar
dan yang salah. Dengan kesabarannya orang tersebut berani menjadi
saksi yang adil. Dalam kondisi yang semrawut di negara kita ini,
banyak orang yang tidak berani menjadi saksi yang adil. Betapa
beratnya menopang keadilan. Karena itu, untuk bisa bersikap adil
manusia harus dikondisikan lebih dulu. Bahkan sekarang ini, di negara
Indonesia, banyak orang yang bertindak liar tetapi tak ada yang
mengadili. Apa akibatnya? Banyak manusia yang hidup ketakutan di
republik ini.

Adil adalah sikap hidup yang paling dekat kepada ketakwaan.


Meskipun kita benci terhadap suatu kelompok [golongan] masyarakat,
tapi kita harus adil. Kita harus ‘fair’, dan tidak main babat saja.
Sekarang ini bisa kita lihat ada kelompok yang melakukan “sweeping”
terhadap hak hidup orang lain tanpa berpijak pada hukum. Bahkan
mereka berlindung di balik hukum. Na-‘udzu billahi min dzalik! Inilah
pentingnya kita hidup berbudipekerti yang mulia. Kita wajib
menghargai hak orang lain, dan tidak hanya mementingkan hak hidup
kita sendiri. Berlaku adil!

Kasih-sayang. Ar Rahman dan Ar Rahim adalah sifat Tuhan. Orang


beriman harus berusaha menjadi rahmat bagi lingkungan hidupnya.
Yang kuat ikut serta meng-angkat yang lemah. Yang kaya membantu
yang miskin. Harus diciptakan hidup tolong-menolong dalam kebaikan.
Yang kuat mengangkat yang lemah, tidak berarti yang lemah
merongrong yang kuat. Yang miskin tidak boleh membebani yang
kaya. Jikalau yang lemah dan yang miskin merongrong yang kuat dan
yang kaya, ini berarti tidak terjadi kasih-sayang. Dalam kasih-sayang
setiap orang saling memberi. Inilah manusia yang saling berwasiat
kepada hidup sabar [untuk berbuat sabar] dan untuk hidup kasih-
sayang. Hal ini dinyatakan dalam beberapa ayat berikut ini.

90:17 Kemudian mereka itu termasuk orang-orang yang beriman,


yang saling berwasiat untuk hidup sabar dan saling berkasih-sayang.

5:2 Dan janganlah sekali-kali kebencianmu kepada suatu golongan,


karena mereka pernah menghalangimu dari Masjid Al Haram,
menyebabkan kamu bertindak melampaui batas terhadap mereka.
Saling bertolonganlah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan
jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.
Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah amat keras siksanya.

Kalau kita membaca QS 90:17 (Surat Al Balad), dan kita baca


beberapa ayat sebelumnya, kita mengetahui bahwa hidup beriman
yang ditopang perbuatan sabar dan kasih-sayang, termasuk dalam
menapaki jalan yang mendaki. Artinya, berbuat sabar dan bertindak
kasih-sayang adalah perbuatan dan tindakan yang berat. Jika kita
masih mau menang sendiri, mau benar sendiri, maka jangan harap
kita bisa menjadi manusia beriman yang sejati. Keimanan tanpa
keadilan, kesabaran dan kasih-sayang jelas-jelas iman gombal alias
iman palsu. Yang perlu di-sweeping lebih dulu adalah rasa mau
menang sendiri, egoisme, dan kebodohan yang ada di batin dan yang
selalu menghantui pikiran. Batin dan pikiran harus di- ‘dekondisioning’
dari sifat tercela.

Setelah batin dan pikiran bersih dari sifat tercela, baru bisa
dikondisikan untuk menerima sifat terpuji. Memang hal ini tidak mudah
dilakukan bila semata-mata diserahkan kepada masing-masing orang.
Pengkondisian harus dibantu dengan institusi atau penegakan hukum.
Manusia tidak boleh dibiarkan sekadar menjadi kerumunan massa,
seperti menonton sepak bola, pertunjukan musik dan lain-lain. Yang
timbul adalah rebutan. Akhirnya jatuh korban! Kekuasaan pun bila
dijadikan rebutan, akhirnya juga timbul korban yang lebih dahsyat.
Harus dikondisikan! Harus ada antre. Penonton harus sesuai dengan
banyaknya bangku. Yang haji pun harus ditertibkan. Sehingga tidak
terulang peristiwa Mina dan yang beberapa kali terjadi dalam
melempar jumrah. Yang menjadi elite pun harus melalui proses,
mengikuti prosedur, dan menaati aturan main. Pikiran yang
mendorong ke arah egoisme, harus di-sweeping lebih dulu. Sehingga
tidak terjadi manipulasi permainan.

Harus sabar, jangan berebut mendahului. Sejak zaman dulu pesan


moral ini sudah dihadirkan Tuhan. Hanya istilahnya saja yang berubah
mengikuti perubahan zaman. Politik sudah ada dalam metafor
pergulatan antara Adam, malaikat dan iblis. Yaitu, ketika malaikat
protes terhadap Tuhan tentang kepemimpinan Adam di muka bumi ini
[QS 2:30]. Malaikat protes, mengapa bukan dirinya yang menjadi
khalifah di bumi. Mengapa manusia yang punya potensi untuk
menumpahkan darah dan menimbulkan kerusakan, yang menjadi
wakil-Nya. Iblis pun tak mau menerima kepemimpinan Adam. Iblis mau
menang sendiri.

Kalau dalam dunia politik, sabar berarti mampu menahan diri untuk
tidak berbuat curang atau manipulasi. Proses, prosedur dan aturan
main harus dipenuhi dengan lapang dada. Dalam pergaulan hidup,
sabar berarti saling menahan diri untuk tidak merugikan diri sendiri
dan orang lain. Dalam bekerja, sabar berarti memiliki dayatahan untuk
menyelesaikan dengan baik dan benar pekerjaannya. Dalam diri
pribadi, sabar berarti ulet dalam meniti tujuan; ada ketegasan untuk
memilih, ada keberanian untuk melaksanakan, dan ulet dalam
menyelesaikannya. Karena itu Tuhan memerintah manusia untuk
saling berpesan untuk hidup sabar.

Kasih-sayang berarti saling memberi. Bukan karena menerima, lalu


memberi; yang dalam bahasa Inggrisnya “take and give”. Kalau ini
masih ada curiga. Artinya, kita tidak bersedia memberi jika belum
menerima lebih dulu. Seperti orang yang ingin mendapatkan tebusan
sandera. Penyandera baru melepaskan sanderanya bila ia sudah
menerima tebusan yang dituntutnya. Orang beragama bukanlah
penyandera. Masing-masing diminta untuk memberi.

Dari asas saling memberi ini lahirlah sikap saling menolong bagi
orang-orang yang beriman. Lho, apa bisa saling menolong bila ada
yang kuat dan ada yang lemah, ada yang kaya dan ada yang miskin.
Tentu saja bisa! Dunia ini memang dicipta “dua warna”. Ada miskin,
ada kaya. Ada lemah, ada kuat. Yang satu memiliki kelebihan dari
yang lain. Kalau sama kuatnya, tak akan ada yang mau diperintah. Jika
sama kayanya, tak akan ada yang mau menjadi buruh atau
pegawainya. Agar roda kehidupan berputar, harus ada yang menjadi
pasivis dan harus ada yang menjadi aktivis. Jika tak ada yang mau
menjadi perempuan, maka tamatlah kehidupan manusia di bumi ini.
Bagaimana jika perempuan semua [katakan teknik kloning sukses
implementasinya]? Apa yang terjadi? Perbuatan saling menolong dan
melindungi akan lenyap. Akhirnya, kehidupan manusia pun hancur!

Ada yang kuat dan ada yang lemah, ada yang pandai dan ada yang
bodoh. Hal ini dimaksudkan untuk saling memanfaatkan atau
mempergunakan. Jika tak ada yang lemah [posisinya], maka tak ada
yang mau menjadi buruh atau pegawai. Tak ada yang mau menjadi
prajurit. Tak ada yang mau menjadi murid. Tak ada yang mau menjadi
tukang batu, gembala, penjual kaki lima, sopir, dan tenaga kasar.
Dinyatakan dalam QS 43:32sebagai berikut.

43:32 Apakah mereka [orang-orang kafir Qureisy itu] yang membagi-


bagi rahmat Tuhan dikau? Kami-lah yang mendistribusikan kehidupan
di antara mereka dalam kehidupan di dunia ini. Kami meninggikan
derajat sebagian orang atas sebagian yang lainnya, supaya yang satu
bisa memerintah yang lain untuk membantunya. Namun demikian,
rahmat Tuhan dikau lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.
Jadi, jelas bahwa perbedaan derajat itu dimaksudkan supaya manusia
bisa bekerja sama dalam kehidupan di dunia ini. Perbedaan itu tidak
dimaksudkan untuk menghisap, atau memperbudak yang lain. Yang
kuat bukan untuk mengalahkan yang lemah. Yang kaya bukan untuk
membuat yang miskin tergantung kepadanya. Semua dimaksudkan
untuk dapat saling menolong, saling membantu.

Perhatikan kembali QS 5:2 di atas. Semua manusia yang beriman


[iman sejati, bukan hanya sebagai identitas] diperintah oleh Tuhan
untuk saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan. Yang kaya
menolong yang miskin dengan menciptakan lapangan kerja. Mereka
meningkatkan ketrampilannya agar bisa hidup layak. Yang miskin
menolong yang kaya dengan membantu mencapai target usahanya.
Yang kuat menolong yang lemah dengan memberikan perlindungan
dan kenyamanan hidup mereka. Sedangkan yang lemah menolong
yang kuat dengan memberikan dukungan. Ya, sebenarnya setiap
orang bisa memberikan apa yang ia punya kepada yang lain. Saling
memberi. Akhirnya terciptalah kesejahteraan hidup bersama.

Untuk menyemaikan kasih-sayang, orang-orang beriman diminta


untuk tidak berbuat aniaya [berbuat melampaui batas] terhadap
orang-orang yang pernah menyakiti. Islam tidak menanam benih
balas-dendam. Mungkin kita tetap menyimpan kebencian terhadap
golongan yang pernah menyakiti kita. Namun kebencian ini tidak boleh
mem-buat kita bertindak aniaya terhadap yang kita benci. Kita harus
tetap bertindak adil, fair, terhadap mereka.

Jika kita mau menelaah hadis-hadis Nabi, maka kita bisa ambil
hikmahnya. Hikmah itu menyatakan: Orang yang kuat di antaramu
bukannya yang mampu menaklukkan orang lain, tetapi orang yang
mampu menahan diri untuk tidak melakukan balas dendam, meskipun
kesempatan untuk itu ada. Orang yang kaya bukannya orang yang
berlimpah harta benda, tetapi orang yang tidak merasa kurang bila
memberi.

Penutup ayat 5:2 di atas adalah “Allah amat keras siksanya!”. Perlu
dipahami bahwa Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia
bukanlah penyiksa. Tapi mengapa diperingatkan bahwa siksa-Nya
amat keras? Perlu diketahui bahwa Allah mencipta alam ini dengan
segala aturan mainnya. Dan orang yang menjaga dirinya di atas
aturan permainan itu disebut “orang yang bertakwa”. Dapat
diumpamakan dengan orang yang berada di jalan raya. Semua pihak
harus mematuhi rambu dan marka yang ada di jalan itu. Jika keluar
dari rambu dan marka akan terjadi kecelakaan. Begitu juga bila
manusia tidak mau mematuhi aturan kehidupan di dunia ini. Ia bisa
jatuh ke dalam jurang, atau tabrakan. Malapetaka di alam ini sangat
dahsyat! Inilah yang diperingatkan oleh Tuhan, bahwa siksa-Nya
sangat keras. Karena hakikat semuanya ini adalah milik Tuhan. Jika
keluar dari rambu-rambu dan marka kehidupan, malapetaka yang
datang pun sebenarnya berasal [dari aturan main] dari Tuhan.

Gandengan kasih-sayang dan lemah lembut.

Jika kasih-sayang berkaitan dengan sikap saling memberi. Maka lemah


lembut lebih terkait dengan tata-cara penyajiannya atau sikapnya.
Dalam memberi pun harus disertai dengan kesantunan. Bukan dengan
cara yang kasar. Sebab pemberian pun jika dilakukan dengan cara
yang kasar, tampak merendahkan yang diberi, akan membuat yang
diberi enggan menerima.

Orang yang dalam posisi lemah, tentu saja senang hatinya bila
mendapat bantuan, pertolongan, atau pemberian dari yang kuat.
Tetapi tatkala pertolongan itu diberikan dengan cara yang
menyakitkan, dengan cara yang kasar, disertai dengan perkataan
yang tidak enak didengar, dengan membangkit-bangkit, maka orang
yang diberi itu bisa bangkit penolakannya, atau kalau toh menerima,
terasa sakit hatinya. Arti pemberian itu menjadi hilang. Dalam QS
2:263 disebutkan, “Perkataan yang baik dan pemberian maaf itu lebih
baik daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan
perasaan si penerima. Sungguh Allah itu Maha Kaya dan Maha
Penyantun.” Nah, kesantunan pun tak lepas dari kesabaran. Dan,
kesabaran itu harus dikon-disikan dalam hidup ini. Jika untuk
“dekondisioning” kita lakukan dengan zikir jahar. Maka untuk
kondisioning [pengkondisian] kita lakukan dengan zikir kalbu.
Membaca kalimat thayyibah setiap waktu subuh. Ada kedisiplinan
bangun setiap subuh. Zikir cukup diucapkan di dalam hati!

Bagian ke-10

Sabar dan Kecerdasan

Seperti yang dijelaskan semula bahwa “sabar” yang kita tuju dalam
tasawuf bukan sifat sabar tetapi maqam, tingkat atau stasiun sabar.
Untuk masuk ke dalam maqam ini, kita sudah mendaki tiga tangga
sebelumnya, yaitu tangga takwa dasar, tobat dan wara’. Tiga tangga
sebelumnya untuk menghilangkan atau “dekondisioning” terhadap
segala sifat yang tercela. Sedangkan maqam sabar ini untuk
mengkondisikan kepada segala sifat yang terpuji, seperti keadilan,
kasih-sayang dan kelembutan [diuraikan pada bagian ke-9]. Dan
berikutnya untuk membangun kecerdasan.
Sejak tahun 1990-an para pakar psikologi Barat mencoba menggali
hubungan antara sabar dan kecerdasan. Akhirnya, ditemukanlah
rumus kecerdasan baru, yang disebut ‘kecerdasan emosi’, yang
dipelopori oleh Daniel Goleman, seorang doktor Psikologi dari Havard
University yang bekerja pada The New York Time. Kecerdasan emosi
[Emotional Intelligence] menentukan potensi seseorang untuk
mempelajari ketrampilan-ketrampilan praktis yang didasarkan pada
kesadaran diri, motivasi, pengaturan diri, empati, dan kecakapan
dalam membina hubungan dengan orang lain. Artinya, meskipun
seseorang telah memiliki IQ yang tinggi, tetapi bila kecerdasan
emosinya rendah, dia tetap akan mengalami hambatan dalam
pergaulan hidup [informal maupun formal (dalam bisnis, pekerjaan,
dan politik)].

Kecerdasan otak bekerja pada bagian otak kiri, yang bersifat sadar,
rasional dan logis [linear]. Jadi, kerjanya otak kiri ini matematis,
berpikir seri. Tentu saja tidaklah keliru berpikir matematis. Fungsi otak
kiri ini untuk mengerjakan segala tugas yang bersifat rasional dan
jelas. Seperti komputer, ia diperintah untuk melakukan pekerjaan yang
jelas, yang dikenal programnya. Ia sekadar memproses! Keunggulan
dari penggunaan otak kiri adalah akurat, tepat, dan dapat dipercaya.
Karena yang dapat dikerjakan oleh otak kiri adalah semua objek yang
dapat diperbandingkan, dianalisis, dan dikalkulasi secara matematis.
Ia selalu dalam keadaan on atau off.

Kecerdasan emosi bekerja pada otak kanan. Ia membangkitkan


potensi dan mengolah informasi bawah-sadar [subconscious], emosi
dan intuisi. Berpikir dengan otak kanan bersifat asosiatif. Sebuah
pemikiran yang mengaitkan antara emosi dan gejala tubuh, emosi dan
lingkungannya. Dengan berpikir asosiatif memungkinkan kita
mengenali pola-pola [wajah, suara, aroma, dan ketrampilan gerak].
Orang yang menyetir kendaraan harus memberdayakan kecerdasan
emosinya. Dengan kecerdasan emosinya seseorang dapat mengubah
transmisi, menginjak kopling, menambah gas, dan menginjak rem
tanpa harus menggunakan pikiran rasional.

Para CEO bekerja dengan menggunakan kecerdasan emosi. Para


panglima perang bekerja dengan kecerdasan emosinya. Dan, dari hasil
penelitian, sebagian besar orang yang yang IQ-nya tinggi tidak sukses
dalam hidupnya. Kebanyakan mereka yang berhasil mengendalikan
perusahaan besar adalah mereka yang EQ-nya lebih tinggi. Tentu saja
mereka yang menjadi CEO perusahaan besar itu IQ-nya juga tinggi,
tetapi EQ-nya yang lebih menonjol. Para pemimpin yang karismatik
adalah mereka yang dikaruniai EQ yang tinggi.
Lalu, apa hubungannya EQ dengan kesabaran? Ya, orang yang EQ-nya
tinggi adalah orang yang mampu mengendalikan emosinya, alias
sabar. Juga sebaliknya! Orang yang sabar memiliki kemampuan untuk
mengendalikan emosinya. Jika IQ dan EQ diinteraksikan dan
diintegrasikan, akan lahir kecerdasan yang lebih tinggi dari masing-
masing kecerdasan yang ada, IQ saja atau EQ saja.

Dalam Al Quran surat ke-103 [surat yang turun pada tahun pertama
kenabian], merupakan landasan bagi pengintegrasian kecerdasan
otak, emosi, dan spiritual [untuk kecerdasan spiritual akan dibahas
pada kajian lebih lanjut]. Marilah kita simak surat yang pendek ini.

1. Demi waktu asar.

2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.

3. Kecuali orang-orang yang beriman dan bertindak saleh, saling ber-


wasiat untuk menempuh hidup yang hak [hidup di jalan yang benar]
dan saling berwasiat untuk hidup sabar.

Sejenak kita mengingat kembali kepada pelajaran tafsir surat ini yang
telah saya berikan. Tuhan bersumpah dengan menggunakan waktu
asar. Kata ‘ashara mempunyai arti memeras. Pada saat asar itulah,
pada waktu itu, manusia berharap memperoleh nafkah hidupnya atau
rezeki yang dikais sejak pagi. Namun demikian, manusia tetap disebut
dalam kondisi berisiko [rugi].
Yang tidak dalam posisi rugi adalah mereka yang beriman dan
beramal saleh. Iman dan amal saleh [imas] pada surat-surat
berikutnya, dapat dikatakan, selalu bergandengan. Ini tidak berarti
pada ayat-ayat berikutnya tidak diperlukan hidup yang hak dan hidup
sabar. Kedua jenis tindakan ini bersifat implisit pada imas. Sebagai
gantinya, dinyatakan secara eksplisit kata sabar dan Allah beserta
orang-orang yang sabar [Inna l-Laha ma-‘a sh-shabir?n] di empat ayat
[2:153, 249, 3:146, 8:46 dan66]. Jadi, tegas sekali bahwa Allah yang
mem-‘back up’ orang-orang yang sabar. Itulah sebabnya sabar disebut
sebagai maqam, posisi, spiritual.

Seperti yang telah dijelaskan di bagian depan pelajaran tasawuf,


bahwa iman itu bukan sekadar percaya. Banyak orang yang salah
tafsir bahwa iman itu hanya sekadar percaya. Kalau sekadar percaya
maka imannya orang dewasa sama dengan anak kecil [bahkan
imannya anak balita]. Iman membutuhkan pengetahuan. Dan iman
pada tingkat yang lebih tinggi membutuhkan pengalaman [ainul yaqin]
dan selanjutnya meningkat pada iman sebagai realita hidup [haqqul
yaqin]. Nah, pengetahuan harus ditimba dengan menggunakan rasio,
menempuh hidup rasional, agar kita tidak melenceng dari objektivitas
kehidupan. Untuk mempertebal keimanan di tingkat ilmu ini, manusia
diseru untuk menggunakan ‘otaknya’ [afala ta‘qilun, la-‘allakum
ta‘qilun]. Karena itu keliru berat bila iman tidak menggunakan logika
sama sekali, kemudian dengan mudah disuruh percaya dan rela
berbaiat.

Amal saleh tidak cukup hanya dengan menggunakan kesadaran, rasio


dan logika. Amal saleh memerlukan ketrampilan praktis agar bisa
hidup produktif. Ketrampilan harus dilatih! Dan pelatihan memerlukan
kedisiplinan dan kesabaran. Dalam berlatih dan bekerja, manusia
harus mampu mengendalikan emosinya. Dengan emosi yang rendah
[EQ-nya tinggi] seseorang dapat membangkitkan potensi dirinya.
Kemampuan mengendalikan emosi dengan cantik, akan membuat
seseorang mampu membangun komunikasi yang baik pula.

Agar tidak terjebak kerugian, maka harus ada upaya ‘saling berwasiat’
untuk hidup yang benar. Pada tindakan ini, sebenarnya sudah
melibatkan kecerdasan yang lainnya, yaitu kecerdasan spiritual
[spiritual quotient]. Meskipun harus memberdayakan kecerdasan
spiritual, tetapi semua tindakan tadi harus diikat dengan kesabaran.
Dan di balik kesabaran itulah berdiri tegak kekuatan Allah. Dengan
demikian, sabar merupakan landasan bagi peningkatan kecerdasan.
Dan, kecerdasan adalah kemampuan untuk memahami, menalar, dan
belajar beradaptasi terhadap situasi yang baru. Orang yang memiliki
EQ tinggi [tingkat kesabarannya tinggi] akan dengan mudah
mengatasi problema dalam kehidupan ini. Perlu diperhatikan kembali,
berwasiat tidaklah sama dengan berpesan. Saling ber-wasiat tidak
sama degan saling berpesan. Berwasiat berarti ada tindakan untuk
memberikan wasiat. Dalam saling berwasiat ada rasa saling memiliki!
Dalam hidup bersama setiap orang harus saling menjaga kebenaran
dan kesabaran. Artinya jika kita berbuat benar, jujur, adil, maka orang
lain pun harus demikian. Bukan yang satu antre dan yang lain
menyerobot, yang satu jujur dan yang lain mereka yasa. Kalau yang
satu jujur dan adil dan yang bohong dan aniaya, maka hal ini akan
menyebabkan yang jujur dan adil tadi kehilangan kesabaran. Akhirnya,
kacau-balau lagi. Karena itu kebenaran [kejujuran dan keadilan] dan
kesabaran saling diwasiatkan.

Imas lebih melibatkan kehidupan pribadi. Tetapi kebenaran dan


kesabaran terkait dengan lingkungannya. Karena itu harus dijaga
saling berwasiat untuk hidup benar dan hidup sabar. Dalam
menegakkan kebenaran dan kesabaran, perilaku orang-orang lain di
sekitar kita sangat mempengaruhi upaya kita. Karena itu, penegakan
kebenaran dan kesabaran dilakukan secara bersama atau berjamaah.
Coba bayangkan, jika kita ini sungguh-sungguh hidup sabar, disiplin
dalam menahan emosi, tetapi orang-orang di sekeliling kita acuh-tak-
acuh, tidak mempedulikan kita, bahkan malah menggoda dan
mengganggu kehidupan kita. Apa jadinya?

“Mahaththu l-khubr”

Di bagian ke-9 telah dijelaskan bahwa sabar berarti memenuhi proses,


prosedur dan aturan main yang benar. Namun, orang tidak akan sabar
untuk memenuhi proses, prosedur dan aturan mainnya bila ia tidak
memiliki pengetahuan [yang ditopang peng-alaman] tentang sesuatu
yang akan dikerjakannya. Wilayah atau pos dari rencana atau desain
tentang sesuatu ini disebut “mahathth al-khubr”. Seseorang mampu
bersabar dalam sesuatu hal bila dia memahami ‘mahathth al-khubr’-
nya.

Misalnya, kita mau menonton musik jazz. Katakanlah pertunjukan


musik itu dua jam. Kita tak akan sabar untuk menonton dan
mendengarkan musik itu bila kita tak memahami desain musik itu.
Mungkin sepuluh menit saja akan terasa lama, dan kita ingin
meninggalkannya. Pertunjukan sepak bola tak akan menarik
seseorang bila orang itu tidak mengerti desain, bangunan rancangan
dari sepak bola tersebut. Dia pasti tak akan sabar jika disuruh
menonton sepak bola. Jadi, kalau kita ingin sabar dalam berbuat atau
bertindak [bekerja, bertugas, menonton, mendengar dll], kita harus
memahami mahathth al-khubr-nya. Sehingga kita bisa mengikuti apa
yang sedang terjadi, kita mampu meneruskan pekerjaan yang kita
emban. Nah, karena itu, sebelum kita berbuat, bertindak, mengerjakan
sesuatu, maka kita harus mengerti lebih dahulu ‘layout’, desain,
rancangan atau “mahathth al-khubr”-nya sesuatu yang akan kita
lakukan.

Di dalam Surat Al Kahfi/18: 68, Khidir mempertanyakan kesanggupan


Nabi Musa dalam menyertai perjalanan spiritual Khidir.
“Wa kaifa tasbiru ‘ala ma lam tukhith bihi khubra”

“Dan bagaimana engkau mampu bersabar terhadap apa yang tidak


engkau ketahui [disertai pengalaman]?”

Jadi, seorang Rasul Allah pun masih dipertanyakan kesabarannya


dalam menuntut suatu ilmu bila dia tidak memahami layout dan
rancangan sesuatu yang dituntutnya. Sifat dari manusia bahwa ia tak
akan sabar terhadap sesuatu yang tidak dimengertinya. Karena itu
sebelum memunaikan sesuatu, kita harus memahami rancang-
bangunnya, layoutnya, atau mahath al-khubrinya.

Landasan bagi pertolongan

Dalam hidup ini seringkali terjadi keberadaan kita ini pada situasi yang
lemah. Kita dalam posisi sebagai manusia kalahan. Sebagai manusia
yang terekploitasi. Bila kita tidak dapat mengatasi situasi ini maka hal
ini bisa menyebabkan kita ‘stres’. Tak perduli dengan jabatan kita.
Kalau tekanan dari luar diri kita ini lebih kuat daripada energi yang kita
punyai, maka kita dalam posisi tertekan. Bila kita tak mampu menahan
tekanan itu, ya timbullah stres.

Jadi, stres itu bisa timbul karena tekanan dari pekerjaan, atasan,
tetangga, rumah tangga, hubungan bisnis, kelompok/golongan lain
dan sebagainya. Manusia berusaha menjauhi konflik atau pertikaian,
karena konflik bisa membebani kehidupan. Manusia berusaha hidup
damai karena ia tidak ingin menumpuk permasalahan. Oleh karena
manusia itu berhubungan dengan manusia lain, maka sering
permasalahan itu tidak dapat dihindarkan. Seperti yang sudah
dijelaskan di atas, manusia berhubungan dengan sesamanya.
Meskipun kita sudah berusaha menahan diri, mungkin saja orang lain
tetap menekan kita. Kalau kita biarkan tekanan itu, boleh jadi semakin
besar tekanannya. Lalu, apa yang harus diperbuat?

Surat Al Baqarah/2: 150-155 memberikan latar belakang kehidupan


bersama, satu kelompok menekan kelompok lainnya. Karena itu,
orang-orang beriman diberi landasan untuk menempuh hidup ini
seperti yang dinyatakan dalam 2:153, “Hai, orang-orang yang
beriman, mintalah pertolongan dengan cara sabar dan shalat
[senantiasa berko-munikasi dengan Tuhan]. Sesungguhnya Allah
beserta orang-orang yang sabar.” Jadi, untuk menangkis tekanan dari
luar itu, kita harus membangun kesabaran. Ingat, sabar tidak berarti
tidak acuh terhadap tekanan. Tetapi, kita berusaha introspeksi dan
mawas diri. Kita coba memperhatikan kejadian demi kejadian di
sekitar kita. Sehingga akhirnya kita bisa memahami jaringan
rancangan yang terjadi di sekeliling kita. Lalu, kita lewati jaringan itu
tanpa harus terperangkap. Kita berkomunikasi dengan Tuhan.
Akhirnya Tuhan sendiri yang mengajar kita, dan Tuhan sendiri yang
memberi petunjuk kita [lihat QS 2:282].

Tak ada Mahaguru ahli di dunia ini kecuali Tuhan. Dan, pengajaran
yang tepat hanya dari Dia sendiri datangnya. Lalu, di mana peran
guru-guru atau ulama? Mereka adalah orang-orang yang membantu
kita agar kita bisa memahami dasar-dasar praktik kehidupan. Mereka
hanyalah memberikan arah kemana kita harus melangkah. Dengan
sabar, akhirnya Tuhan sendiri yang menggandeng tangan dan
menuntun kita. Dia sendiri yang memberikan jalan sehingga kita tahu
kemana kita melanjutkan perjalanan dalam hidup ini. Inna l-Laha ma-‘a
sh-shabirin, Tuhan beserta orang-orang yang sabar. Sabar adalah
landasan bagi pertolongan dari Tuhan!
Orang yang sabar tahan godaan

Gebyarnya dunia ini telah menggoda manusia. Berapa banyak


akhirnya manusia yang terperangkap godaan dalam menempuh
perjalanan hidup ini. Jangankan individu, manusia secara kolektif pun
sering tidak mampu menahan godaan. Manusia tidak lagi sabar untuk
bisa menikmati gebyarnya dunia ini. Sehingga banyak manusia yang
tidak memperhatikan lagi proses, prosedur dan aturan main dalam
meraih kenikmatan dalam kehidupan ini. Jalan pintas yang
membahayakan hidupnya pun dilaluinya.

Marilah kita menengok perjalanan bangsa Indonesia ini. Mula-mula kita


ingin bebas dari penjajahan. Lalu, kita berusaha mengisi kemerdekaan.
Yang pertama kita isi dengan persatuan bangsa dan yang kedua kita
isi dengan pembangunan ekonomi. Kita tidak sabar! Kita ingin cepat-
cepat berhasil dalam pembangunan. Kita lupakan proses, prosedur
dan aturan main yang benar untuk meraih kesuksesan. Kita hutang
sebanyak-banyaknya tanpa mengindahkan lagi perangkap hutang.
Akhirnya, hutangnya sundul-langit. Bukan tinggal landas yang kita
lalui, tapi ‘tinggal bundas’ [Jawa,ungkapan untuk menyatakan kepala
yang tak rata lagi]. Elite bangsa ini tidak tahan menghadapi godaan
dari negara-negara maju. Umpan yang berupa hutang dilahapnya. Kita
tidak mau memahami ‘grand design’, rancangan raksasa sebuah
hutang.

Hutang, pinjaman, bantuan dan pemberian dari negara-negara maju


adalah godaan bagi negara-negara berkembang, atau terbelakang.
Memang hutang adalah sarana untuk membangun demi kemajuan.
Tetapi hutang bukan syarat pokok, melainkan syarat untuk
melancarkan pembangunan. Ya, hutang adalah syarat pelancar! Ia
hanyalah pelumas bagi sebuah roda. Karena itu, kita tidak boleh
menjadikannya bagian yang terpenting bagi pembangunan bangsa
atau rumah tangga. Dengan sabar seseorang dapat menangkis godaan
untuk menikmati sebuah umpan. Untuk masalah ini saya cuplikkan
kisah tentara Thalut dalam perjalanannya untuk bertempur melawan
tentara Jalut [QS 2:249].

Maka tatkala Thalut dan orang-orang beriman menyeberangi sungai


itu, berkatalah orang-orang yang telah minum banyak air sungai itu:
“Pada hari ini tak ada kemampuan kami untuk melawan Jalut dan
tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka bertemu
Allah, berkata: “Berapa banyak golongan yang sedikit dapat menga-
lahkan golongan yang lebih besar dengan izin Allah?” Dan
sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
Dalam kisah di atas, Thalut memimpin tentaranya untuk melawan
tentara Jalut yang telah mengusir mereka dari negeri mereka. Dalam
pasukan itu ikut serta Daud. Dalam strategi melawan Jalut, Thalut
mengajak pasukannya menyeberangi sebuah sungai. Thalut wanti-
wanti agar tidak minum banyak-banyak air sungai itu, kecuali
sesaukan tangan saja [ya, sebagai tamba (semacam obat penenang)
dalam perjalanan]. Bahkan Thalut mengancam tentaranya, yaitu tidak
mau mengakui sebagai golongannya bagi yang banyak minur air
sungai itu.

Bagaimana kenyataannya? Banyak tentaranya yang tidak sabar, alias


tidak tahan ketika kerongkongan terasa kering. Thalut mengizinkan
minum, tetapi hanya sesaukan saja, tak lebih. Tapi, sebagian besar
tentaranya tergoda untuk minum banyak-banyak. Hormon serotonin
dan noradrenalinnya bertambah. Sehingga rasa puas menyelimuti
seluruh tubuhnya. Ada rasa nikmat! Nah, tentara [apalagi orang biasa]
yang telah merasa nikmat ini merasa tak sanggup lagi melawan
tentara Jalut. Mereka merasa takut untuk melawan tentara Jalut yang
lebih besar itu. Tentara Thalut keder!
Tetapi, sebagian kecil tentara Thalut yang patuh [termasuk Daud]
tetap bersemangat dalam menghadapi Jalut. Produksi hormon
androgennya yang meningkat. Sehingga agresivitasnya meningkat.
Karena tidak minum banyak, kecuali sesaukan yang hanya sebagai
faktor sugesti, maka hormon adrenalin dan noradrenalinnya tidak ber-
tambah, sehingga detak jantung pun tidak meningkat. Ya, mereka
tenang menghadapi tentara Jalut. Mereka berkeyakinan [mensugesti
diri] bahwa sering tentara yang sedikit mampu mengalahkan tentara
yang banyak. Karena tidak merasa tergoda terhadap ke-nyamanan
sementara itu, tentara-tentara Thalut tenang dalam bertaktik melawan
Jalut. Bahkan Daud dengan katapelnya mampu membunuh Jalut. Nah,
sikap tenang dan mampu menahan godaan sementara, adalah wujud
sikap sabar.

Bagian ke-11

Kesabaran adalah landasan hidup yang kondusif bagi tumbuhnya sifat


adil, kasih-sayang, lembut. Kesabaran adalah wahana yang baik untuk
membangkitkan kecerdasan. Kesabaran juga merupakan sarana untuk
meminta pertolongan, atau cara untuk menolong diri-sendiri [self
assistance]. Dan ia juga merupakan benteng yang tangguh untuk
menahan berbagai macam godaan yang bisa merontokkan diri.

Dalam hidup ini kita melihat orang yang lemah semangat. Orang yang
lemah semangat adalah orang yang lemah daya juangnya. Orang itu
tak mau lagi melanjutkan usahanya. Dia merasa tak akan bisa
mendapatkan yang diinginkannya. Kadang kita juga mengetahui orang
yang berlemah hati, mudah menyerah dalam menghadapi tantangan
dalam hidup ini. Orang yang lemah hati tidak tabah dalam
menghadapi tekanan hidup. Lemah semangat tidak ada hubungannya
dengan lemah hati. Tetapi, keduanya bisa menyatu pada diri
seseorang. Nah, sabar adalah oposisi dari kedua sifat tersebut.

Jadi, orang yang memiliki kesabaran yang tinggi, adalah orang yang
tidak lemah semangat dan tidak pula berlemah hati. Dengan kata lain,
orang yang sabar adalah orang optimistik. Dia yakin apa yang sudah
direncanakannya dengan matang itu akan diperoleh hasilnya. Orang
yang sabar adalah orang yang telah menyiapkan pekerjaannya dengan
baik. Prinsip manajemen, seperti perencanaan, pengorganisasian, aksi
dan pengendalian dilakukan dengan baik. Tak ada alasan untuk lemah
hati maupun lemah semangat. Usaha lahiriah ditopangnya dengan
doa: Ya Tuhan, teguhkan hati kami dan jadikan kami sabar dalam
menghadapinya.

Ya, tapi itu kan mudah diomongkan! Lha, kenyataannya kan sulit
dilakukan. Mari kita lihat lagi landasan untuk sampai di stasiun sabar.
Bukankah kita telah melewati stasiun takwa dasar [berupaya
meninggalkan perilaku hidup yang tak benar], stasiun tobat [kembali
ke hal-hal yang benar], dan wara’ [sengaja memilih sesuatu yang
benar]. Pada stasiun yang pertama itu, kita sudah berusaha
meninggalkan hal-hal yang tak benar. Umumnya kita bisa lulus
distasiun ini. Wujudnya, ya, kita mencari nafkah secara halal ini.
Mungkin saja ada kesalahan dan keburukan yang kita lakukan, tapi itu
bukan merupakan ‘cap’ bagi kehidupan kita umumnya! Pada
umumnya, manusia itu berusaha menjaga keselamatan hidupnya.
Mereka berada di landasan ketakwaan! Kemudian, sebagian dari
manusia di stasiun pertama ini melanjutkan perjalanannya ke stasiun
tobat. Satu langkah lebih jauh.

Pada stasiun tobat, orang-orang berusaha hidup amar ma‘ruf nahi


munkar. Hidup untuk memenuhi apa-apa yang dipandang baik di
lingkungan hidupnya. Hidup menahan diri dari segala perbuatan yang
ditolak masyarakat. Pada tahap ini subjektivitas masih ikut
berperanan. Artinya, kemakrufan itu masih dipengaruhi oleh golongan
atau kelompoknya. Di tahap ini kita belum mampu membebaskan diri
dari tekanan atau belenggu kelompok. Nurani kita mengatakan bahwa
ini sebetulnya tidak benar, tetapi kita tidak mampu keluar dari
jeratnya. Kita mengetahui bahwa kolusi itu mungkar, tapi kita tidak
mampu membebaskannya. Kita memang kembali ke jalan yang benar.
Tetapi, kotoran masih juga tersangkut. Dalam bahasa syariat mereka
sudah tidak mau berbuat kesalahan yang sama, tapi mungkin berbuat
kesalahan yang lain. Yang ini sudah mampu dihindari, tapi yang itu
masih berat. Inilah stasiun tobat!
Sebagian orang yang ada distasiun tobat ini melanjutkan
perjalanannya ke stasiun wara’. Di stasiun ini orang-orang betul-betul
memilih sesuatu yang benar saja. Mereka melihat mana warna yang
hitam, putih dan yang abu-abu. Mereka lalui yang warnanya putih saja.
Yang hitam jelas ditinggalkan. Bahkan yang abu-abu pun
ditinggalkannya. Memang berat perjalanan di tahap ini! Ini tidak
berarti orang yang sudah berada pada maqam wara’ ini tidak punya
kesalahan. Ya, kesalahan mungkin tetap terjadi, tetapi itu bukan
karena pilihannya. Ia terpeleset!

Nah, ketika orang sudah bisa memasuki stasiun sabar, maka ia


berusaha meraih sifat-sifat yang terpuji. Di dalam batinnya tumbuh
rasa keadilan, senantiasa ingin ‘fair’. Ia tak ingin mendominasi
kehidupan orang lain. Ia berbagi kasih. Ia berusaha lembut dalam
pergaulan. Jika dalam tangga sebelumnya orang bergulat dengan
sikap untung-rugi, maka dalam tangga sabar ia harus optimis untung.
Ia yakin dapat keberuntungan bila ia mampu menahan godaan. Ia
yakin dapat meraih keberuntungan [bukan keun-tungan lho!], bila
semuanya dipersiapkan dengan matang. Ia jalani proses, prosedur,
dan aturan-aturannya dengan benar. Karena memahami proses,
prosedur dan aturan-atauran yang ada itu ia tak mengalami lemah
semangat atau lemah hati. Kalau gagal, tidak berarti tamat
perjuangannya. Sikap optimistik adalah bagian dari hidupnya.

Siapakah mereka yang tidak patah semangat, tidak lemah hati dan
tidak berbudi rendah itu? Kalau zaman dulu, mereka itu adalah orang-
orang yang memahami ketuhan-an dan menyertai para nabi dalam
perjuangannya.

3:146 Dan berapa banyak nabi yang bertempur, yang disertai banyak
‘ribbi’. Mereka tak berlemah hati terhadap apa yang mereka di jalan
Allah, dan mereka pun tak lemah semangat mereka, dan tidak pula
rendah budinya. Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.

Jika kita mau membaca satu ayat sebelumnya, di situ kita membaca
pernyataan Tuhan. Di situ dinyatakan, “Dan sesuatu yang berjiwa tak
akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah
ditentukan. Dan barangsiapa menghendaki ganjaran dunia, Kami
memberikan kepadanya, dan yang menghendaki ganjaran akhirat
niscaya Kami berikan kepadanya. Dan Kami akan mengganjar mereka
yang bersyukur.” Untuk menopang keteguhan hati kita, agar kita
dapat bersabar, kita harus meyakini bahwa semua yang bernyawa
pasti mati. Semua yang bernyawa pasti mati! Ini landasan kita. Kita
resapkan dulu ke dalam batin kita.
Ternyata, makhluk yang bernafas itu mati dengan izin Tuhan. Masih
ingat kan arti kata “izin Tuhan”. Kata ini tidak bermakna seperti ‘kita
mengizinkan’. Kata izin yang kita pergunakan sebenarnya
mengandung ‘sikap otoriter kita’ kepada yang kita izini. Izin Tuhan
tidak bermakna demikian. Dalam izin Tuhan terkandung “kitaban mu-
ajjala” yaitu hukum alam yang telah ditetapkan-Nya. Suatu hukum
yang objektif dan rasional. Jadi, bila ada orang yang ditusuk pisau [dan
energi yang disertakan pada pisau tusuk itu lebih besar daripada
orang yang ditusuk] maka tertusuklah orang itu. Lho, kita kan
menyaksikan di tv bahwa ada orang ditusuk pisau tidak mempan!
Tidak mempan karena energi pada pisau itu lebih sedikit daripada
yang ditusuk. Dalam aras objektif, semua itu hanya permainan energi.
Tak perlu heran!

Ayat 145 ini perlu diingat-ingat. Yang pertama, Allah menggantikan


kata buat diri-Nya dengan ‘Kami’. Sebagaimana yang telah saya
jelaskan, kata ‘Kami’ berarti Allah melibatkan atau menyertakan
ciptaan-Nya untuk terwujudnya suatu kejadian. Karena itu, dalam
menempuh kehidupan ini kita juga harus memperhatikan kehadiran
objek-objek di sekitar kita. Karena objek-objek itu bisa menjadi sarana
atau wahana bagi kita dalam merealisasikan tujuan kita. Dan apa
gongnya ayat tersebut? Gongnya adalah “barangsiapa menghendaki
ganjaran [dunia atau akhirat], Kami berikan kepada dia yang
menghendaki.” Tegas sekali bahwa Tuhan tidak berbuat sewenang-
wenang. Setiap kali ada ayat “Tuhan menghendaki”, artinya
kehendak-Nya itu diberikan kepada orang yang menghendaki. Karena
itu, penutup ayat 145 adalah “Kami mengganjar orang-orang yang
bersyukur”, yaitu orang yang telah memberikan nilai tambah.

Dengan memperhatikan ayat 3:145 tersebut, kita mengetahui bahwa


kesabaran itu merupakan usaha. Kesabaran bukan semata-mata
diberikan sebagai takdir, taken for granted. Ada sejumlah energi yang
didepositokan untuk mewujudkan kesabaran. Dan berikutnya orang
yang telah mendepositokan energinya untuk kesabaran itu
memperoleh pokok dan interesnya. Kloplah pemahaman “Allah
beserta orang-orang yang sabar”. Inilah hukum Ilahi yang digelar di
alam ini.

Pada ayat 146 disebutkan bahwa banyak nabi yang bertempur yang
disertai para “ribbi”. Kata ‘ribbi’ ini biasa diterjemahkan dengan
‘orang-orang yang menyembah Tuhan’. Tentu saja terjemahan
demikian ini lemah. Terjemahan ini dapat diartikan, orang-orang yang
bertempur melawan para nabi bukanlah orang yang menyembah
Tuhan. Orang-orang yang bersama nabi pasti orang yang menyembah
Tuhan. Nyatanya tidak demikian! Di era Nabi Saw, orang-orang kafir
yang mengikat perjanjian damai bersama Nabi, bertempur bersama
Nabi. Dan, sekarang ini pun bisa kita saksikan bahwa sangat banyak
manusia penyembah Tuhan yang lemah hatinya. Jangankan untuk
bertempur melawan musuh fisiknya, untuk menghadapi tekanan
hidupnya sendiri saja tidak berdaya, sehingga hidup terombang-
ambing.

Lalu, apa arti kata ribbi? Ribbi adalah mereka yang memahami makna
ketuhanan. Atau, ribbi adalah manusia yang saleh [tindakannya
bermanfaat/berguna bagi diri dan lingkungannya]. Orang-orang
demikianlah yang menyertai para nabi dalam pertempuran di
zamanya. Karena mereka faham betul asas manfaat yang mereka
lakukan, maka mereka itu tak gentar, tak lemah hati, tak lemah
semangat dalam menghadapi pertem-puran. Para ribbi ini pun tidak
berbudi rendah [lari dari pertempuran].

Para ribbi inilah yang di ayat 3:146 itu dinamakan orang-orang yang
sabar. Bukan semua pengikut nabi yang menyertai dalam
pertempuran disebut ribbi. Tetapi para nabi dalam pertempuran
disertai banyak ribbi. Orang-orang ini tak gentar, tidak lemah hati, dan
tidak pengecut dalam pertempuran. Sifat yang dimiliki para ribbi ini
adalah sifat orang-orang yang sabar. Dan ayat ini turun setelah perang
Uhud, di mana pada waktu itu pasukan Nabi mengalami kekalahan
karena ada kelompok pasukan yang terpancing harta rampasan
perang. Jadi, ayat ini memperkokoh perjuangan para ribbi pada
perang-perang yang terjadi sesudahnya.

Bila kita perhatikan ayat 3:148, maka orang-orang yang sabar ini juga
disebut sebagai orang-orang yang berbuat kebajikan [muhsinin]. Dan
di ayat ini dinyatakan bahwa Tuhan mencintai orang-orang muhsin ini.
Dan, muhsin berasal dari kata yang sama dengan ‘ihsan’. Maka orang-
orang muhsin adalah orang-orang yang senantiasa sadar terhadap
dirinya, yang dalam bahasa hadis, adalah orang yang beribadah dan
merasa ibadahnya itu senantiasa dalam pengawasan Tuhan. Jika
ditarik suatu garis dari ayat 145 hingga 148, dapat disimpulkan bahwa
orang yang sabar adalah orang yang bersyukur, dan karena itu dia
juga disebut orang yang berbuat kebajikan. Jadi, jelas bahwa orang
yang sabar bukan orang yang pasif. Bukan orang yang sekadar
menerima suatu tekanan atau ketidakberdayaan.

Seperti yang telah dijelaskan, bersyukur tidak berarti mengucapkan


‘terima kasih’ kepada Tuhan. Bersyukur merupakan suatu aktivitas
kebajikan. Orang yang bersyukur adalah orang yang menciptakan nilai
tambah dalam kehidupan di bumi ini. Apa yang dimaksud dengan nilai
tambah [added value]? Bertambahnya kegunaan atas sesuatu! Bila
semula besi hanya digunakan sebagai alat semacam pisau, linggis,
dan cangkul, maka nilainya akan bertambah bila besi itu dijadikan
seterika listrik, kerangka mobil dan sejenisnya. Nah, sebenarnya
mereka yang menemukan mesin, motor, mobil, pesawat udara,
komputer adalah orang-orang yang bersyukur. Dan penemuan itu
terjadi berkat kesabaran mereka. Maka, marilah kita ingat QS 14:7,
“La-in syakartum la-azidan nakum, wa la-in kafartum inna ‘adzabi
lasyadid”, jika kamu bersyukur pasti Kami tambah kamu tetapi bila
kamu kufur [menutupi kebenaran] maka sesungguhnya siksa-Ku amat
pedih. Dengan membuat kipas-angin kita merasakan kenyamanannya,
dan bila kita membuat AC maka lebih nyaman lagi. Tetapi bila kita
tidak kreatif, tidak mau menciptakan kipas-angin atau AC, maka
sungguh gerah rasanya. Menciptakan AC hanyalah salah satu bentuk
syukur.

Bersabar = patuh kepada Allah dan Rasul + tidak bertikai

Pada Surat Al Anfal/8:46 ditegaskan bahwa orang yang sabar adalah


orang yang patuh kepada Allah dan Rasul, dan tidak bertikai dengan
teman seiring. Patuh kepada Allah dan rasul hendaknya tidak
diturunkan ‘grade’-nya menjadi mematuhi Al Quran dan Hadis. Ingat
Allah bukanlah Al Quran, begitu pula sebaliknya. Allah adalah Tuhan
pencipta alam semesta. Sedangkan Al Quran adalah salah satu Kitab
Suci-Nya. Patuh kepada Allah adalah mematuhi Al Haqq, Kebenaran.
Kebenaran yang bisa kita saksikan di ufuk langit, di bumi, di kitab suci,
dan pada diri kita sendiri.

Kebenaran di ufuk langit atau di angkasa adalah kejadian awan, angin,


hujan, kilat, petir, cahaya, dan purnama. Kita patuhi hukum-hukum-
Nya sehingga kita selalu dalam lindungan-Nya. Begitu pula hukum-
hukum yang ada di bumi dan diri kita. Segala hukum adalah
kepunyaan-Nya. Karena itu mematuhi-Nya berarti mengikuti hukum-
hukum-Nya [His Law] yang ditetapkan di alam raya ini. Allah jangan
dijadikan sesembahan yang abstrak. Kalau Allah kita abstrakkan maka
itu Allah produk pikiran kita sendiri. Allah Maha Halus [wa huwa lathif],
maka kita dekati dengan kelembutan, yaitu perilaku yang lembut,
penuh kasih. Dan kita latih batin kita dengan zikir kepada-Nya.
Sekarang ini sebagian besar orang-orang Islam mematuhi Allah hanya
dengan sekadar mematuhi teks halal dan haram, dan itu yang
didiskripsikan 1000 tahun yang lalu. Sehingga ‘narkoba’ yang
sebenarnya lebih haram dari sekadar kecampuran daging babi atau
minuman beralkohol, tumbuh merajalela di banyak negeri yang
penduduknya mayoritas Islam. Hal ini terjadi karena mematuhi Tuhan
hanya diwujudkan dengan ibadah mahdhah [ritual] dan mengikuti
teks-teks halal haram.

Dalam mematuhi Rasul pun menjadi abstrak. Secara fisikal Rasul


sudah tidak hadir di tengah-tengah umat manusia sekarang ini [tentu
saja semenjak th 632 M]. Mematuhi Rasul tidak berarti mematuhi
Hadis. Kalau mematuhi beliau berarti mematuhi Hadis, lha bagaimana
dengan generasi sebelum Hadis ditulis! Bukhari saja baru dilahirkan
pada 196 H, artinya dia baru hadir di bumi ini setelah 186 tahun
[seratus delapan puluh enam tahun] sepeninggal Rasul Saw. Lalu buat
apa Hadis? Tentu saja digunakan sebagai alat atau referensi untuk
memahami Al Quran.

Lalu bagaimana caranya mematuhi Rasul itu? Ingat, mematuhi tidak


sama dengan ‘meniru’. Mematuhi beliau tidak sama dengan meniru
bentuk lahiriah beliau, seperti anak-anak meniru perilaku orang
dewasa. Peniruan demikian adalah peniruan kuantitatif yaitu berapa
banyak bentuk lahiriah yang kita tiru. Jika demikian, rendah betul
kualitas umat. Perilaku anak kecil dan orang dewasa tidak ada
bedanya, asal sudah bersorban, bergamis, berjanggut, rambut
dibiarkan sampai bahu, makan selalu bersama-sama dalam satu
tampah dan hanya pakai jari [bagaimana kalau makan bubur ya?] dan
lain sebagainya. Mematuhi atau mengikuti Rasul adalah meneladani
beliau. Kita teladani, bagaimana beliau bisa bersabar menghadapi
tekanan lawan, bagaimana beliau mampu menegakkan keadilan,
bagaimana cara beliau memecahkan suatu persoalan, bagaimana
beliau bersifat lembut tapi tegas, bagaimana beliau bisa ramah tapi
tak dilecehkan, bagaimana beliau menegakkan hukum dan lain-lain.
Bagaimana bisa meneladani beliau? Tentu saja dengan pendidikan
yang baik, dengan meningkatkan kecerdasan [IQ, EQ dan SQ], dan
dengan pematangan diri.

Dalam subtopik ini dinyatakan bahwa sabar merupakan gabungan


kepatuhan kepada Allah dan Rasul, dan tidak bertikai. Tidak bertikai,
tidak berebut kewenangan, tidak berebut kekuasaan, tidak mau
menang-menangan adalah cara untuk membangun kesabaran.
Pernyataan patuh kepada Allah dan Rasul belum cukup, bila kita masih
bertikai. Pertikaian akan memporak-porandakan keutuhan kita.
Akhirnya kita menjadi gentar dalam menghadapi tekanan hidup, dan
lemah posisi kita. Di bawah ini saya kutipkan sebuah ayat QS 8:46.
Ayat ini ada di dalam Surat Al Anfal, surat yang membahas rampasan
perang. Sebagian ayat diturunkan setelah perang Badar, dan yang lain
setelah perang Uhud [terjadi 1 tahun kemudian dari perang Badar].

8:46 Wa athi-‘u l-laha wa rasulahu wa la tanaza-‘u fatafsyalu wa tadz-


haba rihukum washbiru inna l-laha ma-‘a sh-shabirin.

Dan, patuhilah Allah dan Rasul-Nya dan jangan berselisih [bertikai]


agar kamu tidak lemah dan hilang kekuatanmu. Bersabarlah!
Sesungguhnya Tuhan menyertai orang-orang yang sabar.
Di dalam Al Quran perintah bersabar itu selalu didahului dengan
kalimat berita atau perintah. Dengan demikian kita bisa memahami
apa yang dimaksud dengan sabar. Misalnya, pada QS 3:146
pernyataan sabar didahului kalimat berita ‘mereka tak gentar, tak
lemah semangat, tak berbudi rendah. Sedangkan pada ayat barusan,
pernyataan sabar didahului kalimat perintah ‘taat kepada Allah dan
Rasul, dan larangan berselisih’. Jelas, bahwa sabar adalah aksi,
bersifat aktif. Sabar bukan pasifis atau bersifat pasif. Sabar adalah
usaha, ada pengerahan tenaga. Sabar bukan diam, membiarkan
sesuatu menimpa pada dirinya. Sabar bukan kalah, tetapi menang!

Allah itu Maha Sabar!

Sebagai penutup bahasan ‘sabar’ [yang akan datang tentang zuhud],


saya ambilkan asma-ul husna yang ke-99, yaitu “ash-shabur”. Ya,
Allah itu Maha Sabar! Meskipun Dia itu Maha Kuasa, tetapi untuk
menciptakan bumi yang bisa kita tempati ini perlu waktu 4,5 milyar
tahun. Ternyata penciptaan itu bukan bersifat “sim-salabim”. Tuhan
sabar dalam menciptakan. Tuhan penuhi hukum-hukum ciptaan.
Tuhan menciptakan semua ini berlandaskan 5 prinsip [yang Dia
tetapkan], yaitu matematika, fisika, kimia, biologi, dan evolusi.

Dalam bahasa Al Quran dinyatakan “al-ladzi khalaqa fasawwa wa l-


ladzi qaddara fahada wa l-ladzi akhraja l-mar’a faja-‘alahu ghutsa-an
ahwa.” Dia yang menciptakan dan menyempurnakan [lahir sebagai
orok dan tumbuh dan berkembang hingga dewasa], Dia menetapkan
kadar [potensi, ukuran, dan hukum-hukum fisika dan kimia] pada
ciptaan-Nya. Dia memberi petunjuk kepada ciptaan-Nya yang biologis
[sehingga makhluk biologis bisa mempertahankan kehidupannya].
Lalu, Dia putuskan ikatan-ikatan kimia yang ada sehingga makhluk
hidup menjadi layu [tua renta] dan akhirnya punah [ghutsa-an ahwa].
Dan dalam proses penciptaan di Surat ke-87, yaitu ayat 2 ?5 itu,
tumbuhlah dari masyarakat primitif menuju masyarakat madani.
Berlaku hukum evolusi di situ. Dari manusia yang politeis menjadi
manusia yang monoteis. Demikianlah hukum evolusi bekerja.

Jadi, pada akhirnya, orang yang sabar adalah orang yang bekerja
berdasarkan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan Tuhan. Demikian,
pembahasan bab sabar yang telah saya uraikan dari bab ke-8 kajian
tasawuf ini.

Bagian ke-12

[Zuhud]
Kata zuhud seolah sudah berkonotasi hidup anti-dunia. Hal ini terjadi
karena pada masa penjajahan atau pergolakan, banyak ulama yang
mengasingkan diri di daerah terpencil. Ulama-ulama ini hidup dengan
para muridnya atau santrinya di daerah yang terpencil yang tidak
terjangkau penjajah atau terimbas pergolakan. Mereka memang
menarik diri dari kehidupan semacam itu.

Zuhud berasal dari kata ‘za-ha-da’, artinya berpantang, meninggalkan,


melepas-kan, menarik diri dari, atau meninggalkan kesenangan
duniawi. Karena itu zuhud juga diterjemahkan sebagai ‘asketik’. Kata
yang seakar kata dengan ‘zuhud’ ditemukan pada Surat Yusuf/12:20.
Pada ayat ini disebutkan bahwa rombongan kafilah menjual Yusuf
[sebagai budak] dengan harga yang murah. Kafilah itu dikatakan
sebagai ‘zahidin’, yaitu orang-orang yang tidak tertarik kepada Yusuf.
Karena tidak tertarik, maka Yusuf dijual murah. Jadi, zuhud adalah
sikap tidak tertarik pada kehidupan dunia.

Zuhud adalah sebuah maqam, terminal, stasiun atau posisi dalam


tasawuf. Dari uraian di atas, jelas bahwa zuhud bukan anti dunia.
Zuhud juga bukan menarik diri dari kehidupan dunia. Juga tidak berarti
meninggalkan kesenangan duniawi. Seorang zahid, tetap membina
rumah tangga. Orang yang zuhud juga bekerja keras! Hanya saja
dunia ini tidak menarik, baginya. Lho, ada apa sampai tidak tertarik
pada dunia? Karena mereka tahu akan hakikat dunia ini. Mereka
menyadari apa sih makna dunia dalam hidup ini. Mereka tetap
mengelola dunia ini sebaik-baiknya, karena manusia yang hidup ini
adalah bagian dari dunia. Tetapi orang yang zuhud tidak dikendalikan
oleh dunia. Justru dunia ini dikendalikan oleh orang zuhud.

Kalau kita ingin tahu siapa tokoh zuhud di dunia ini, ya Nabi
Muhammad Saw. Beliau bukan hanya mengajarkan agama tetapi juga
menegakkan kehidupan beragama, bermasyarakat, dan bernegara
dengan gigih. Beliau tegakkan sistem perekonomian yang adil.
Sasarannya adalah “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur”, suatu
negara yang penuh kebajikan dan Tuhan melindunginya (QS 34:15).
Umumnya ayat tersebut diterjemahkan dalam bahasa Indonesia,
“negeri yang baik dan Tuhan Maha Pengampun”. Sebenarnya suatu
terjemahan yang kurang sambung. Karena kalimat yang depan
menunjukkan keadaan negara sedang kalimat sambungannya
merupakan sifat Tuhan. Hal ini disebabkan penterjemah kaku dengan
arti kata “ghafur”, yang selama ini diartikan pengampun. Padahal
kalau mau mengembalikan kata tersebut kepada bentuk akarnya
‘gha-fa-ra’, maka salah satu artinya adalah melindungi.

Ayat tersebut ada di Surat Saba’, yang menceritakan kemakmuran


kaum Saba’. Rezeki di negara tersebut berlimpah. Alam negeri itu
dimanajemeni dengan baik, yang disebut negeri penuh kebajikan.
Karena itu Tuhan memberikan perlindungan terhadap negeri yang
penuh kebajikan. Namun, generasi berikutnya tidak melaksanakan
manajemen dengan benar, sehingga malapetaka menimpa Saba’.
Kisah ini diwahyukan kepada Nabi, agar beliau mengambil
keteladanan kisah tersebut. Artinya. Jika ingin mempunyai negeri yang
penuh kebajikan, maka keamanan dan kedamaian [bukan ‘pen-
dekatan keamanan’, atau ‘security approach’ lho] harus menjadi
prioritasnya. Karena itu, peperangan yang dilakukan oleh Nabi di
Madinah, sasarannya adalah mempertahan-kan persatuan dan
perdamaian yang telah digalang pada awal hijrah.

Dengan demikian keterlibatan orang yang zuhud terhadap kehidupan


dunia ini sangat tinggi. Tetapi orang yang zuhud tidak terpengaruh
atau tidak tertarik oleh kenikmatan dunia. Dia tidak dikendalikan oleh
dunia, bahkan dunia dikendalikan untuk menjadi pelayannya. Bukan
cuma Nabi yang menjalani hidup zuhud, para sahabat besar juga
mencontoh Nabi untuk menjalani kehidupan zuhud. Abu Bakar ketika
di Mekah adalah orang yang sangat kaya. Demi penegakan kehidupan
yang damai, Islam, beliau membebaskan perbudakan [yang terkenal
adalah peristiwa pembebasan Bilal]. Ketika hijrah ke Madinah, beliau
tinggalkan kekayaan yang berupa harta-benda. Umar pun orang yang
kaya. Bahkan ketika menjadi khalifah pun beliau cukup berteduh di
dalam rumah gubuk sebagai istananya.

Tentu saja kehidupan zuhud tidak hanya dilakukan beberapa sahabat.


Sebagian besar sahabat menjalani kezuhudan. Mereka mendalami
makna kehidupan dunia. Dunia bukan untuk dimiliki tetapi digunakan
sebagai sarana untuk melayani. Itulah yang sebenarnya diajarkan
Rasul melalui Al Qurannya. Ada 9 kata ‘sakhkhara lakum’ dalam Al
Quran. Kata ini biasa diterjemahkan “Allah menundukkan bagimu
[matahari, bumi, bulan dsb]”. Sepintas terjemahan ini tidak tampak
salah. Tetapi kalau kita memahami penciptaan manusia itu relatif yang
terakhir kehadirannya dari semua ciptaan. Bagaimana mungkin
matahari ditundukkan bagi manusia. Lha wong ketika matahari
diciptakan itu makhluk hidup di bumi belum diciptakan, apalagi
manusia.

Salah satu arti dari ‘sakhkhara’ memang menundukkan atau


menaklukkan. Tetapi, kata ‘sakhkhara’ juga punya arti ‘menjadikan
dapat melayani’. Jadi, bumi, langit dan seisinya ini diciptakan Tuhan
untuk dapat melayani/memenuhi keperluan dan keinginan manusia.
Dalam bahasa bebasnya, semua ini diciptakan untuk menjadi
prasarana dan sarana bagi kehidupan manusia. Di bawah ini saya
ambilkan ayat di Surat Ibrahim yang mengandung kata ‘sakhkhara’.
14:32 Allahu l-ladzi khalaqa s-samawati wa l-ardha wa anzala mina
sama-i ma-an fa akhraja bihi mina ts-tsamarati rizqan lakum wa
sakhkhara lakumu l-fulka li tajriya fi l-bahri bi amrihi wa sakhkhara
lakumu l-anhar.

14:33 Wa sakhkhara lakumu sy-syamsya wa l-qamara da-ibaini wa


sakhkhara lakumu l-laila wa n-nahar.

14:32 Allah yang menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air
dari langit, lalu dengan air itu ditumbuhkan pohon buah-buahan
sebagai rezeki bagi kamu. Dan Dia menjadikan kapal sebagai wahana
bagimu
di laut berdasarkan amar [ketetapan]-Nya. Dia juga menjadikan
sungai-sungai itu sebagai pra-sarana dan sarana bagimu.

14:33 Dan Dia menjadikan matahari dan bulan yang terus-menerus


beredar, dan siang dan malam, untuk menjadi prasarana dan sarana
bagimu.

Jadi, sebagian besar sahabat Nabi memahami apa arti dunia seisinya
ini. Semua ini adalah prasarana dan sarana untuk memenuhi
keperluan hidup manusia. Semua ini diperlukan manusia untuk
melanjutkan perjalanan hidupnya. Kemana? Kembali kepada Tuhan,
wa ilaihi raji-un. Yaitu, kembali ke orde atau tatanan hidup yang benar
yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Hidup seperti apa itu? Ya, hidup
yang saling mengasihi, saling menyayangi, saling menolong, saling
melayani dalam situasi penuh kedamaian. Ya, Allah adalah As-Salam,
Allahumma antas-salam, ya.. Allah sejatinya Engkaulah Kedamaian itu.

Selain dunia ini sebagai prasarana dan sarana bagi manusia untuk
melanjutkan perjalanan hidupnya, sifat dunia ini sementara. Nah, agar
kita tidak terbelenggu oleh dunia, maka kita harus betul-betul
menyadari kesementaraan dunia. Orang Barat maju karena tokoh-
tokohnya [ilmuwan, politikus, pengusaha, dan elite bangsa]
menghayati kesementaraan dunia ini. Lho, apa tidak terbalik? Tentu
saja tidak! Justru orang-orang yang memperebutkan harta-benda dan
kekuasaan itu terbelenggu oleh bawah sadarnya, bahwa dunia ini
kenyataan satu-satunya. Mereka merasa bahwa hanya dunia
[tegasnya bumi] ini realitas itu. Kalau mereka itu ditanya, apakah
dunia ini akan berakhir dan ada realitas lain yang disebut akhirat?
Dengan segera mereka menjawab, pasti! Ini bukan karena mereka
sadar, tetapi ungkapan bawah-sadar mereka.

Keadilan dan kejujuran di suatu negara bisa ditegakkan bila para


tokohnya amat menyadari kesementaraan dunia ini. Mengapa cukup
para tokohnya saja? Karena umat manusia itu pada umumnya bersifat
“silent majority”, mayoritas diam. Mereka ini hanya berjalan mengikuti
tatanan yang ada, tidak peduli apakah tatanan itu baik atau buruk.
Bila dalam tatanan yang ada itu korupsi merajalela, maka mereka pun
menerima kehidupan korupsi. Meskipun mereka tidak terlibat dalam
korupsi. Meskipun mereka mengumpat atau mencela kehidupan
korupsi. Tapi mereka secara tak berdaya menerima kehidupan korupsi.
Mereka tak ingin campur tangan terhadap sesuatu yang mungkin
malah memperparah kehidupannya.

Apakah perlu banyak tokoh untuk menggerakkan kehidupan yang adil


dan jujur itu? Tidak perlu! Yang penting muncul orang yang
mempunyai kekuatan untuk menggerakkan roda keadilan dan
kejujuran itu. Muncul orang yang mampu menggerak-kan roda
kedamaian. Islam pun mula-mula muncul dari seorang Muhammad.
Indonesia merdeka pun mula-mula digerakkan oleh seorang Soekarno.
India pun merdeka dari seorang Gandhi. RRC muncul dari seorang Mao
Tse Tung. Memang nanti dalam perjalanannya harus didukung banyak
tokoh.

Di atas disebutkan bahwa Barat maju karena kezuhudan tokoh-


tokohnya. Zuhud macam apa yang mereka lakukan? Pernahkan Anda
mendengar bagaimana para ilmuwan itu menghadapi siksaan para
penguasa! Bagaimana Nietzsche memberontak kemapanan dunia
korup dan eksploitasi manusia di Eropa pada abad XIX. Padahal kalau
mau hidup enak, Nietzsche tidak perlu melawan kemapanan. Pada
waktu itu, sarjana bisa memperoleh gaji yang besar.

Soekarno pun setelah lulus dari ITB 1926 sebagai seorang insinyur,
dengan mudah dapat mencari pekerjaan yang berpenghasilan sangat
besar. Hatta yang lulus dan sebagai sarjana ekonomi tamatan Belanda
[kuliah di Belanda], bisa bekerja di dunia internasional yang
memberikan imbalan berlimpah. Tetapi mereka rela meninggalkan
statusnya. Demi Indonesia merdeka, mereka rela dipenjara Belanda.
Memang dalam perjalanannya seorang zahid bisa kandas bila
lingkungan tidak berubah. Dengan kata lain, tidak banyak tokoh yang
muncul untuk mendukungnya. Bahkan yang muncul itu di sekitar
tokoh itu adalah orang-orang yang ‘vested interest’, yang meiliki cita-
cita untuk kepentingannya sendiri atau golongannya.

Kita lihat perjalanan Indonesia. Di dalam negeri, sebelum Indonesia


merdeka, baik ketika menjadi mahasiswa maupun ketika sudah lulus,
Soekarno konsisten untuk memperjuangkan Indonesia merdeka.
Sebagai proklamator, tentu beliau mempunyai visi bagi Indonesia di
masa depan. Wujud dari visi itu adalah ‘Pancasila’ yang sekaligus
digunakan sebagai landasan hidup bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara Indonesia. Tetapi nyatanya, setelah Indonesia dinyatakan
merdeka, beberapa tokoh muncul dan mendekati beliau [dan Hatta].
Bukan untuk mendukung perjuangan beliau berdua, tetapi untuk
membisikkan kepentingan sendiri. Beberapa tokoh Islam, malah
menginginkan Indonesia yang berdasar Islam. Yang komunis ingin
negara yang berhaluan komunisme. Yang nasionalis ingin negara
berdasarkan nasionalisme. Jadi, visi negara Indonesia yang adil dan
makmur berlandaskan Pancasila dikaburkan dikuburkan.

Tokoh-tokoh yang muncul di sekeliling Soekarno-Hatta bukanlah para


zahidin. Mereka adalah orang-orang yang mementingkan golongannya
sendiri. Mereka yang mengaku Islam bukan orang-orang yang
memahami Islam dengan benar. Tetapi orang-orang yang
mementingkan kekuasaan atas nama Islam. Mereka tidak
menginginkan negara Pancasila yang islami. Kekuasaan, dan bukan
kedamaian, yang diutamakan! Keuasaan, dan bukan keadilan dan
kejujuran, yang diprioritaskan. Kekuasaan itu amat sangat duniawi,
karena itu bukan ajaran zuhud, bukan ajaran Islam.

Ingat, Nabi mengajarkan agama [nama agama Islam muncul di


kemudian hari], untuk menegakkan moralitas manusia. Innama
bu-‘itstu liutammima makarima l-akhlaq, saya dibangkitkan untuk
menegakkan budipekerti yang mulia. Nabi diutus untuk membawa
manusia ke dalam kehidupan yamg damai, jalan Tuhan. Serulah
[manusia] ke jalan Tuhan engkau dengan hikmah [bijaksana] dan
ajaran kebaikan, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang
baik [QS 16:125]. Kurang lebih ada 10 kali ajakan ke jalan atau
kampung yang penuh kedamaian. Dan, inilah cita-cita Islam.

Untuk bisa sampai di tempat yang penuh kedamaian itu, dibutuhkan


sikap zuhud. Suatu sikap yang bisa mengiringi perjuangan hidup yang
berat. Suatu perjuangan yang tidak tergesa-gesa mereguk
kenikmatan. Perjuangan berat untuk bisa sampai di ujung sana. Bukan
di sini, sekarang ini! Untuk itu diperlukan hidup bersama yang adil
[fair], jujur, dan saling menolong [bukan saling bertikai/berselisih].
Suatu sikap hidup yang tidak tergiur akan kenikmatan sementara.

Jika kita masih tergiur oleh kenikmatan sementara, kita tak akan
mampu menjadi ilmuwan yang ulung, peneliti yang tangguh,
pemerintah yang adil, elite yang memen-tingkan rakyat, dan
pengusaha yang dermawan. Tanpa zuhud, perusahaan hanya menjadi
tempat pemerasan terhadap karyawan yang lemah. Tanpa zuhud,
negara adalah wilayah eksploitasi kalangan elite terhadap masyarakat
bawah. Kezaliman merajalela yang dibungkus agama. Kezaliman yang
dibungkus agama, dikemas dengan ayat-ayat Tuhan inilah yang
hendak dilenyapkan Islam. Karena itu Islam mengajarkan konsep
ketakwaan, tobat, wara’, sabar, dan zuhud.
Zuhud adalah sebuah maqam yang lebih tinggi dari sabar. Karena
tanpa kesabaran seseorang tak akan mampu menjalani hidup zuhud.
Tidak dapat menjadi seorang zahid. Zuhud adalah maqam. Jadi, sikap
zuhud melekat pada berbagai macam profesi. Seorang peneliti yang
zuhud, berarti orang yang sungguh-sungguh melaksanakan pekerjaan
penelitian hingga bisa menguak rahasia alam. Hingga ia mampu
membuat teknologi baru yang lebih unggul untuk kehidupan manusia
di bumi ini. Seorang pengajar yang zuhud adalah orang yang sungguh-
sungguh mendidik muridnya sehingga lahirlah para murid yang
unggul.

Tapi itu semua harus didukung oleh kalangan pemerintah yang zuhud
pula. Mereka harus menyediakan prasarana dan sarana bagi kegiatan
profesinya. Pemerintah yang zuhud harus didukung oleh pengusaha
dan kalangan profesional yang zuhud pula. Yaitu, dengan membayar
pajak yang proporsional menurut kekayaannya. Nah, pada intinya,
kemakmuran dan keadilan suatu negara bisa dicapai bila sebagian
besar tokoh di segenap profesi berlaku zuhud.

Gambaran kehidupan dunia

Untuk bisa memahami kehidupan dunia ini, Islam memberikan


pelajaran yang berupa perumpamaan atau gambaran. Perumpamaan
diberikan agar manusia tidak sulit dalam memahaminya. Kalau berupa
teori-teori, perlu kecerdasan akal-pikiran untuk bisa mengertinya.
Karena itu ada beberapa gambaran. Untuk bagian mengakhiri
pelajaran sekarang ini, saya kutipkan satu ayat di Surat Yunus.

10:24 Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia itu seperti air


yang Kami turunkan dari langit. Lalu, air itu diserap oleh tumbuh-
tumbuhan di bumi. Kemudian tumbuh-tumbuhan [yang mengandung
air tadi] ada yang dimakan oleh manusia, dan ada yang dimakan
ternak. Sampai suatu ketika bumi tertutupi kesuburan tumbuhannya
dan terhiasi [ter-dekorasi], dan penduduknya mengira menguasinya,
tibalah ketetapan Kami pada waktu malam atau siang. Maka Kami
jadikan itu bagaikan ladang yang telah dituai hasilnya, seolah-olah
pada waktu kemarin tak ada tanaman yang tumbuh di situ.
Demikian Kami jelaskan ayat-ayat kepada kalangan yang berpikir.

Suatu gambaran kehidupan yang bagus sekali. Hidup [urip], live, nafs,
dalam kemunculannya di bumi ini digambarkan bagaikan ‘air’.
Perhatikan diri kita, hidup kita merupakan sesekor sperma [setetes
sperma] yang bergabung dengan sel telur di rahim ibu. Tetesan
sperma itu ada yang terserap telur dalam rahim dan akhirnya tumbuh
menjadi jabang bayi, dan ada yang tidak. Di ayat itu digambarkan air
yang turun di bumi, dan ada yang diserap oleh tumbuhan.

Dengan proses itu bumi menjadi subur. Diri kita pun tidak sendirian.
Kita hidup bersama di suatu tempat. Dan kita menyangka bisa
menguasai tempat itu selamanya. Kita lupa ada ‘ketetapan’ atau
aturan main Tuhan yang telah digelar di alam semesta ini. Kita lupa
bahwa tanaman itu bisa mati oleh berbagai sebab, seperti terkena
banjir, angin topan, kekeringan, terserang hama-penyakit atau oleh
sebab-sebab lainnya. Kita pun lupa bahwa ada ‘ketetapan’ bahwa
jasmani kita ini bisa mati sewaktu-waktu oleh berbagai sebab. Kita
biasanya merasa akan mati bila sudah tua! Karena itu kita merasa bisa
menguasai kenikmatan hidup di dunia ini selamanya. Padahal, ketika
suatu bencana berat datang tiba-tiba, dan bisa menyebabkan
kematian, maka hilanglah kenyataan bahwa kita bisa menguasai
kenikmatan harta-benda dunia itu. Dalam kondisi demikian, kekuasaan
yang pernah kita miliki seolah-olah tidak pernah ada.

Jangankan sudah mati, masih hidup saja ketika manusia sudah tua-
renta, sudah tidak bisa lagi merasakan berbagai kenikmatan duniawi
yang pernah dirasakannya. Hanya kenikmatan batin yang tetap
melekat sampai mati. Orang yang bisa merasakan kenikmatan batin
tidak pernah merasakan kekecewaan atau kesesedihan dalam hidup
ini. Tidak kecewa atau sedih atas berkurangnya atau hilangnya
kenikmatan lahiriyah. Dia telah zuhud! Tidak keluar air liur atas
gebyarnya dunia.

Selama ini banyak orang yang beranggapan bahwa zuhud adalah


meninggalkan kehidupan dunia. Ini salah besar! Meninggalkan
kehidupan dunia itu bukan zuhud, tapi kalah. Ia merasa tak mampu
negatasi dunia. Makanya ia menarik diri dari kehidupan dunia ini.
Kalau sekarang saja sudah kalah, bagaimana mungkin dapat
mengatasi kehidupan akhirat yang memerlukan modal lebih besar.
Bukan modal harta-benda, tetapi modal batin, modal metafisik.
Dengan zuhud energi batin kita tidak terserap oleh dunia. Energi batin
inilah yang menggerakkan pertumbuhan ‘zigot’ menjadi jabang bayi.
Karena rahman dan rahim-Nya, bayi yang hidup di bumi ini bisa
tumbuh dan berkembang dengan energi fisik, yaitu makan dan minum.

Tetapi, energi fisik tidak dapat mendorong orang hidup bersemangat,


orang hidup adil dan jujur, orang hidup damai. Energi fisik hanya
membantu fisik untuk tetap hidup. Dan itu pun terbatas! Yaitu, tidak
bisa mencegah ketuaan dan kematian. Bahkan terlalu banyak energi
fisik menyebabkan kita malas. Energi fisik itu bagaikan air yang
diturunkan dari langit. Ia bisa menyebabkan tumbuhnya kehidupan di
bumi ini, tetapi tak mampu menahan kematian.
Sebaliknya, orang yang mempunyai energi batin tinggi, hidupnya tetap
berse-mangat. Ia tidak mandek pada dunia tampak. Tapi ia tetap
mencari di balik dunia yang tampak ini. Ini bukan berkhayal. Karena
tak ada waktu buat berkhayal. Tapi ia terus berjalan menuju cakrawala
‘dar as-salam’, tempat yang damai. Nah, semua usaha menapaki
maqam-maqam dalam dunia tasawuf adalah upaya untuk
menghimpun energi metafisik, untuk melanjutkan perjalanan hidup ini.
Dan, makin tinggi maqam, makin besarlah bekal yang kita peroleh.

Bagian ke-13
[Lanj. Zuhud]

Di depan telah dijelaskan bahwa mayoritas manusia itu bersikap diam.


Hanya jadi pak turut! Di Barat yang sudah maju pun begitu.
Sampai-sampai mereka punya pepatah “diam itu emas”. Ada
‘tetapinya’ di sina. Di Barat hak untuk berbicara dan berpendapat
telah diberikan. Pendidikan diselenggarakan dengan baik. Komunikasi
politis dibuat. Sehingga ‘diam’ punya makna bebas dari keributan.
Diam beginilah dituntut oleh orang yang berzuhud. Bukan diam karena
tak berdaya!

Jika sabar merupakan bentuk ketahanan terhadap sesuatu, maka


zuhud merupakan sikap untuk berani menolak terhadap tekanan. Jadi,
zuhud memang merupakan mata-rantai dari sabar. Untuk menghadapi
sesuatu, kita harus mempunyai daya tahan dulu. Artinya, harus sabar!
Tetapi tidak boleh berhenti di titik ini. Kalau kita berhenti, artinya kita
tidak berdaya menghadapi tekanan lingkungan. Kita akhirnya
terlindas, dan hanya sebagai permainan penindas. Rasul Saw memberi
contoh kepada umat beliau. Pada awal perjuangan, beliau mengajak
umat beliau untuk bersabar. Hal ini bisa dilihat pada surat-surat yang
turun di awal kenabian beliau.

73:10 Dan bersabarlah [Muhammad] terhadap apa yang mereka


katakan, dan jauhi [uhjur ] mereka dengan cara yang baik.

74:07 Dan untuk [memenuhi petunjuk] Tuhan engkau, bersabarlah!

70:05 Maka bersabarlah [Muhammad] dengan kesabaran yang indah!

Mohon diperhatikan ayat-ayat tersebut. Ada indikasi bahwa pada


saatnya sabar harus ditingkatkan ke dalam bentuk ‘hijrah’, yaitu
mampu mengatasi atau menjauhi tekanan hidup ini. Hijrah bukan
untuk melarikan diri dari persoalan. Tetapi hijrah untuk menemukan
jalan keluar, untuk mengatasi persoalan. Hijrah sebagai solusi. Hijrah
demikian ini yang menjadi landasan berzuhud!
Hijrah sebagai kelanjutan dari sabar, harus dilakukan dengan cara
yang baik, dengan dilandasi kesabaran yang indah. Kesabaran yang
tidak menimbulkan kecurigaan musuh. Kesabaran yang strategis!
Dalam bahasa manajemen, di tengah bangunan kesabaran itu ada
strategi dan taktik untuk berzuhud. Dan zuhud ini meliputi tindakan
berhijrah, berjihad dan beriman. Dan berhijrah ini pun tidak bisa
dilakukan sekali jadi. Harus ada upaya ‘proaktif’ dan aktif. Rasul pun
melakukan tindakan taktis, dengan memerintahkan umat beliau hijrah
[pertama] ke Ethiopia. Kemudian beliau proaktif mencari daerah baru
untuk berhijarah. Misalnya, beliau menjajaki dakwah ke Thaif.
Meskipun di Thaif beliau mendapatkan sambutan yang tidak
mengenakkan. Beliau diusir dan dilempari batu hingga beliau luka-
luka.

Dalam kehidupan sekarang ini pun, kita harus membangun kesabaran


yang indah. Kita harus bangun kesabaran yang strategis dan taktis!
Dalam memecahkan sesuatu kita tidak bisa terburu-buru. Mengapa?
Karena kita bukan hanya menghadapi orang yang menindas dan
memusuhi kita. Kita juga menghadapi kelompok manusia yang
sehaluan dengan kita, tetapi tindakannya merugikan kita. Dua hari
yang lalu saya membaca suatu buletin ‘Dakwah Islam’ yang
dikeluarkan oleh sebuah yayasan Islam. Tulisan dalam buletin itu jelas-
jelas sangat merugikan buruh-buruh Islam. Penulis di buletin itu punya
anggapan bahwa ‘kewajiban’ majikan/pengusaha hanya [sekali lagi,
hanya] membayar buruh tepat pada waktunya’. Berbagai bentuk
keuntungan, benefit, bonus, dan berbagai bentuk tunjangan
kesejahteraan bukan kewajiban majikan/pengusaha. Penulis rupanya
tidak mengerti perubahan “sistem berusaha, atau berekonomi”,
sehingga berbagai bentuk kesejahteraan itu dikatakan sebagai
“kewajiban negara”.

Coba bayangkan saudara-saudara! Di tengah-tengah globalisasi,


ketika manusia [sekali lagi, manusia] berusaha menemukan makna
hidupnya. Manusia berusaha hidup sejahtera dalam kesetaraan
martabat. Manusia berusaha mendapatkan hak-haknya dengan cara
yang benar [sesuai dengan bangunan ekonomi masyarakatnya], ada
da’i yang menulis bahwa perjuangan buruh salah alamat. Ia tulis
“kewajiban majikan” atau pengusaha hanya sebatas membayar upah
[sesuai yang disepakati] tepat pada waktunya. Penulis samakan
kualitas pengusaha sekarang sama dengan pengusaha-pengusaha di
era Nabi Muhammad. Penulis samakan sistem dan bentuk
perekonomian sekarang ini sama dengan sistem perekonomian di era
Nabi Saw. Penulis lupa bahwa sistem perekonomian pada zaman Nabi
adalah pertanian dan perdagangan. Dan sistem pertanian pun masih
subsisten, lebih banyak untuk kebutuhan sendiri. Sedangkan
perekonomian sekarang ini ada di era industri dan informasi.
Celakanya, penulis itu menggunakan hadis yang hanya sesuai dengan
masa itu.

Islam mengajarkan ‘sabar’ dan ‘zuhud’. Kesabaran yang indah! Bukan


asal demo atau melakukan perusakan. Di tengah kesabaran itu harus
dibangun strategi dan taktik untuk mendapatkan kemenangan, yang
dalam bahasa sekarang disebut “win-win solution”. Sistem yang
menang! Bukan pihak tertentu yang menang. Karena itu disebut
‘sama-sama menang’. Dan untuk sama-sama menang, kesabaran
harus ditingkatkan ke tahap zuhud. Zuhud yang bersifat ‘jihadiyah’,
perjuangan, ‘struggle’ untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.
Yaitu, hidup yang lebih baik di dalam negara, masyarakat, dan dalam
institusi, ‘baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur’.

Zuhud sebagai suatu tahapan pencapaian rohani, meliputi tindakan


yang berlandaskan pada keimanan yang teguh, berhijrah, dan ber-
jihad. Surat Makiyah yang memuat pernyataan tentang hijrah adalah
surat ke-16, yaitu surat An Nahl. Pada ayat ini diinformasikan bahwa
mereka yang berhijrah di jalan Tuhan [fi l-Lah] setelah mereka
mengalami tekanan [kezaliman] akan mendapatkan kehidupan yang
baik. Sesungguhnya informasi ini sesuai dengan pernyataan di ayat
lain, yaitu “inna ma-‘a l-‘usri yusra”. Sesungguhnya di balik kesukaran
itu terdapat kemudahan! Di balik kesukaran pasti terdapat
kemudahan, bila disertai tindakan yang proaktif dan aktif. Tetapi
kesukaran akan semakin sukar jikalau dibiarkan, atau dihadapi dengan
pasif.

Tahap awal dalam zuhud adalah mempunyai iman yang teguh! Ingat,
iman tidak sama dengan percaya. Meskipun dalam keimanan ada
unsur kepercayaan. Iman harus dilandasi oleh pengetahuan. Dan ini
merupakan tingkatan keimanan yang paling rendah. Keimanan yang
lebih tinggi harus dilandasi oleh pengalaman. Jadi, bukan iman karena
cuma tahu, tetapi karena mengalaminya. Dan, yang tertinggi adalah
iman karena makrifat, karena memahami hakikat sesuatu yang
dialaminya itu. Iman demikian juga dikenal sebagai “haqqu l-yaqin”.
Tak ada lagi selaput keraguan. Kebenarannya sudah tersingkap. Zuhud
yang demikian ini tentu saja jauh dari upaya mencari pujian atau
kekuasaan, meskipun mungkin saja keduanya didapat. Makin kokoh
keimanan seseorang, makin bersihlah motivasi hijrahnya.

Di samping kesabaran yang indah, hijrah pun harus dilakukan dengan


baik. Sabar ke hijrah merupakan sambungan. Ada 3 macam hijrah,
yaitu hijrah fisik, nafsani, dan rohani [spiritual]. Nah, orang yang hijrah
secara fisik harus rela meninggalkan harta-benda yang dimilikinya.
Hijrah fisik diperlukan bila tidak ada lagi tempat untuk mewujudkan
kehidupan yang manusiawi. Hijrah fisik diperlukan bila usaha untuk
mengembangkan martabat kemanusiaan sudah tidak ada lagi di
tempat itu.

Berikutnya adalah hijrah nafsani, menjauhkan jiwa dari jeratan hawa


nafsu. Fisik tetap tinggal di suatu tempat, tetapi jiwa tak terpengaruh
oleh tarikan-tarikan kehidupan sekelilingnya. Di tengah-tengah orang
ber-KKN, tak ikut terjerat KKN. Dia mampu berdiri tegar di tengah
lingkungan yang busuk tanpa ikut menjadi busuk. Dan jenis hijrah
yang lainnya adalah hijrah spiritual. Dia bukan hanya tak terpengaruh
oleh tarikan lingkungannya, tetapi justru mempengaruhi
lingkungannya. Dia berjuang untuk menghilangkan kebusukan yang
terjadi di sekitarnya. Dia membangun kehidupan di atas puing-puing
kebobrokan. Semua ini bisa dilakukan bila si zahid sudah tidak lagi
tergiur oleh gebyarnya dunia. Jika memang secara fisik diperlukan, dia
lakukan hijrah fisik. Bila ancaman dan gangguan fisik tidak ada, ia
mampu bertahan hidup tanpa terpengaruh lingkungannya. Dan
bilamana ia mampu, dilakukannya perombakan masyarakat kepada
kehidupan yang lebih baik.

Tindakan berikutnya dalam zuhud adalah ‘jihad’. Kata jihad bukan


berarti perang! Perang adalah bagian dari jihad, bila sudah tak ada
cara lain untuk mempertahankan kehidupan ini. Dengan demikian,
orang yang berjihad bukanlah orang yang dari semula sengaja
memerangi orang lain. Perang adalah salah satu taktik dalam berjihad!
Pertama, dilakukan untuk membela diri. Kedua, perang diperlukan
untuk menjaga keamanan wilayah [teritorial]. Ketiga, perang
diperlukan untuk melenyapkan musuh. Seorang zahid tidak boleh
mencari atau menciptakan musuh. Tetapi seorang zahid harus berani
memerangi musuh. Musuh itu apa? Ya apa atau siapa saja yang
menyerang, menganiaya atau menghancurkan kehidupan kita.

Di bawah ini saya kutipkan beberapa ayat yang terkait dengan


rangkaian tindakan dalam zuhud.

16:110 Dan sesungguhnya Tuhan engkau melindungi dan menyayangi


orang-orang yang berhijrah setelah mendapatkan fitnah, kemudian
mereka itu berjihad dan bersabar.

02:218 Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang


yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah; mereka itu mengharapkan
rahmat Allah. Dan Allah Maha Melindungi [Pengampun] dan Maha
Penyayang.

08:072 Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan


berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan orang-orang
yang memberikan tempat perlindungan dan pertolongan; mereka itu
tolong menolong di antara sesamanya.

08:074 Dan orang-orang yang beriman, berhijrah, berjihad di jalan


Allah; dan orang-orang yang memberikan tempat perlindungan dan
pertolongan; maka mereka itulah orang-orang beriman yang
sebenarnya. Mereka memperoleh ‘maghfirah’ dan rezeki yang mulia.

09:020 Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan


Allah dengan harta dan jiwa mereka; di sisi Allah derajat mereka itu
lebih agung, dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keme-
nangan dalam hidup ini.

Nah, marilah kita perhatikan ayat-ayat yang terkait dengan hijrah dan
jihad di atas. Pertama, yang perlu dipahami adalah kalimat ‘di jalan
Allah’. Suatu tindakan disebut berada di jalan Allah, bila tidak ada
motivasi duniawi atau mendahulukan atau mengutamakan
kepentingan diri-sendiri atau kelompok. Dalam bahasa sekulernya,
yang diutamakan adalah kepentingan ‘kemanusiaan’. Jadi, tindakan di
jalan Allah adalah tindakan yang bebas dari ambisi, dan berbagai
macam keuntungan duniawi.

Kedua, beriman harus disertai dengan tindakan, aksi! Beriman tidak


cukup hanya dengan kata-kata. Karena itu zuhud bukanlah tindakan
pasif. Tak ada contohnya dalam Al Quran bahwa zuhud itu merupakan
“no action”, tak ada tindakan. Tidak tertarik terhadap kehidupan
dunia, tidak berarti putus asa karena tidak menguasai dunia. Dalam
Islam orang yang menolak terhadap kehidupan dunia, bukanlah orang
yang tidak berbuat apa-apa, dan mengasingkan diri dari keramaian.
Zuhud dalam Al Quran adalah aktivitas untuk menegakkan
kemanusiaan, membangun dan memperbaiki dunia, dan tidak terjebak
atau terbelenggu dengan hasil usahanya. Untuk itu zuhud harus
dilandasi dengan keimanan yang kokoh.

Ketiga, bila dilihat pembangunan kemanusiaan tidak bisa dilakukan di


suatu daerah, dan bahkan ancaman dan gangguan menyelimutinya,
maka daerah itu harus dijauhi [untuk sementara], dan dicari daerah
lain yang memungkinkan untuk mengem-bangkan misi dan visi
kemanusian, yang mencakup martabat dan kesejahteraannya. Jadi,
bukan membiarkan kemerosotan dan kebobrokan terjadi. Jika
kerusakan dibiarkan terjadi, dan yang terpenting ia bisa hidup tak
diganggu, itu bukan zuhud namanya. Tetapi orang yang tak berdaya!
Hidup harus punya makna. Hidup bukan sekadar bisa makan,
berpakaian, dan bertempat tinggal. Manusia hidup untuk
mengekspresikan dan mengapresiasikan kemanusiaannya. Karena itu,
jika keadaan sudah tidak memungkinkan untuk mewujudkan
kemanusiaan, maka kita harus hijrah.

Keempat, hijrah ternyata bukan hanya mencari tempat perlindungan


yang baru. Hijrah juga bukan hanya meminta pertolongan untuk
keselamatan jiwa-raganya. Hijrah ternyata merupakan suatu strategi.
Karena itu, hijrah harus dilanjutkan ketahap ‘jihad’. Yaitu, jihad dengan
menggunakan harta dan jiwa. Kalimat ‘harta dan jiwa’ ini konsisten di
dalam Al Quran. Tidak ada yang terbalik menjadi ‘jiwa dan harta’.
Mengapa? Karena yang diajarkan adalah perjuangan, bukan mencari
kematian atau bunuh diri. Harta benda yang didapat, digunakan untuk
perjuangan kemanusiaan.

Tentu saja bentuk dan sistem kehidupan sekarang ini tidak sama
dengan di zaman Rasul Saw. Kita sekarang ini hidup di negara yang
‘berdaulat’. Batas-batas daulat suatu negara di era globalisasi ini
sudah jelas, meskipun di beberapa negara masih ada sengketa
perbatasan. Hak-hak asasi manusia diserukan di mana-mana,
walaupun pada beberapa negara HAM masih merupakan pergulatan.
Dalam sistem ‘nation-state’, negara kebangsaan, hijrah secara fisik,
meninggalkan tempat tinggal lama menuju ke tempat tinggal yang
baru untuk membangun kemanusiaan sudah kecil kemungkinannya. Di
era informasi ini, hubungan antar negara semakin rumit. Aktivitas
kemanusiaan murni bisa dituduh sebagai kegiatan politik dan subversi.
Karena itu strategi jihad harus ditempatkan dalam hijrah pemikiran.
Kita tidak perlu lagi mencari suaka. Yang kita perlukan adalah berpikir
benar untuk bisa menegakkan kemanusiaan.

Jihad dengan harta dan jiwa harus ditumbuhkembangkan dalam


pemikiran yang benar. Harta bukan sekadar untuk dibagi-bagikan,
tetapi digunakan untuk membantu meningkatkan pendidikan [kualitas
dan kuantitas]. Jiwa bukan untuk diserahkan kepada pedang atau
peluru, tetapi untuk mencari solusi, untuk mencari alternatif-alternatif
dalam menegakkan martabat manusia. Di zaman dulu perang fisik bisa
menyelesaikan masalah. Tetapi di zaman sekarang, perang hanyalah
untuk melampiaskan hawa nafsu [karena buntu dalam mencari jalan
keluar] dan menghasilkan tragedi kemanusian, hanya balas-membalas
dalam dendam.

Sekarang ini perang fisik hanya jalan terakhir, bila sudah tidak
memungkinkan lagi menggunakan berbagai cara damai. Dan jangan
lupa, cita-cita yang agung adalah menciptakan perdamaian dan
kedamaian dalam hidup ini. Damai adalah salam, selamat, dan
sejahtera. Setiap individu hidup di dalam kesetaraan [hukum, sosial,
ekonomi, dan keamanan]. Itulah sebabnya orang yang zuhud
[beriman, berhijrah, dan berjihad] disebut sebagai orang yang
mendapat perlindungan, rezeki, dan kemenangan. Dan tentunya,
mereka yang memberikan tempat tinggal dan pertolongan, adalah
juga orang-orang zuhud, orang-orang beriman, yang sebenarnya.

Bagian ke-14

(lanj. Zuhud)

Untuk memulai pelajaran yang ke-14 ini, saya mengajak saudara-


saudara untuk mengingat lagi tahapan yang dilalui oleh sufi dalam
perjalanan hidupnya. Ada tiga tahap yang dilaluinya yaitu takhalli
[deconditioning], meninggalkan perilaku yang tidak terpuji, tahalli
[conditioning; reconditioning] yaitu membiasakan diri untuk
melakukan tindakan yang terpuji, dan tajalli [unconditioning; no mind
action] yaitu berbuat dan bertindak yang bebas dari kepentingan
pribadi [kelompok].

Pada posisi “sabar” kita mengisi hidup kita dengan perbuatan dan
tindakan bajik, kita kendalikan emosi kita, dan motivasi hidup kita kita
arahkan ke jalan yang benar, jalan yang dibentangkan oleh Tuhan
semesta alam. Jika jalan ini yang kita titi, maka kita disebut berjalan
menuju Allah. Dan bila kita sudah hidup dijalan-Nya maka kita disebut
berada di jalan Allah, fi sabili l-lah. Inilah tahap ‘tajalli’!

Zuhud adalah usaha memasuki tahap tajalli. Di dalamnya kita melalui


subterminal iman [yang kokoh], hijrah, dan jihad. Di bagian ke-13 yang
lalu, saya utarakan bahwa pada era globalisasi ini kita harus
melakukan hijrah pemikiran kembali. Disamping kita harus melakukan
‘jihad’ pemikiran yang disebut ‘ijtihad’. Kita tidak boleh terjebak dalam
peperangan dan pertempuran fisik. Tetapi kita harus berani
melangkah ke dunia yang penuh ‘trick’ atau jebakan ini. Karena di
dunia macam inilah kita hidup sekarang ini! Lho, bukankah kita ini
ingin hidup damai?

Betul, betul sekali! Manusia, pada umumnya, menginginkan


kedamaian hidup. Yang terselip di dalam hati yang paling dalam
adalah menuju ‘sorga’ yang penuh kedamaian. Dan Tuhanlah
kedamaian itu! Di dalam salah satu doa [dari sebuah Hadis] yang biasa
dibaca setelah sembahyang adalah “Allahumma anta s-salam” [Ya
Tuhan, Engkau-lah kedamaian itu]. Lalu, doa itu dilanjutkan dengan
kalimat “dan kedamaian itu datangnya dari Engkau, dan kepada
Engkau kembalinya kedamaian itu!” Sebagai seorang hamba, kita
diajari Nabi untuk melanjutkan doa itu dengan kalimat “Fa hayyina
rabbana bi s-salam”, ya Tuhan hidupkanlah kami penuh dengan
kedamaian.”
Yang kita tuju adalah kedamaian. Tetapi, damai yang ada di bumi ini
seperti damai yang ada di dalam hati. Jika di dalam hati damai itu
terselip di dalamnya, bahkan di bagian dalam hati; maka di atas bumi
ini ‘damai’ juga terselip di tengah-tengah keributan dan kebusukan
dunia. Karena itu, kedamaian harus dicari! Kedamaian tidak datang
dengan sendirinya. Orang-orang Romawi memiliki semboyan, yang
bahasa Indonesianya “Bila kalian ingin hidup damai, bersiap-siaplah
untuk perang”. Tentu saja berperang secara fisik. Pada zaman dulu,
berperang secara fisik memang jalan satu-satunya untuk memperoleh
kedamaian. Sebab, menang perang adalah keadaan yang menjamin
kesejahteraan warganya. Pada zaman dulu, orang malu kalau ingin
hidup sejahtera dengan cara menyengsarakan rakyat atau bangsanya
sendiri. Ini tidak berarti, untuk memperoleh kedamaian kita harus
berperang untuk menaklukkan negara lain. Pada zaman sekarang ini
kita harus hijrah dan jihad di lapangan pemikiran, ‘ijtihad’. Ijtihad pun
tidak hanya terbatas pada dunia fikih atau agama. Kita harus berijtihad
untuk menemukan solusi bagi kedamaian dan kesejahteraan hidup.

Sekarang ini kita sering dihadapkan pada pengertian yang salah


tentang ‘damai’. Kata damai dikaburkan maknanya menjadi ‘aman’.
Padahal aman hanyalah salah satu keadaan yang ada di dalam kata
‘damai’. Keadaan yang aman, artinya tidak ada gangguan atau
kekerasan [fisik]. Kalau damai yang ini, berarti cukup dengan tunduk
atau takluk pada kekuatan di luar dirinya. Damai yang sejati adalah
wujud dari keseimbangan, keselarasan dan keserasian, yang disebut
hidup harmoni. Di tengah kedamaian yang sejati inilah terletak
kemerdekaan. Damai yang demikian ini yang dilukiskan dalam kamus
“Oxford Advanced Learner’s Dictionary” sebagai keadaan yang bebas
dari peperangan dan kekerasan, suasananya tenang, dan penuh
dengan keharmonisan dan persahabatan.

Nah, ternyata damai harus diperjuangkan. Ingin hidup damai tak


ubahnya kita ini mencari intan di tumpukan sampah. Di sinilah harus
ada hijrah dan jihad [ijtihad] dalam pemikiran. Ketika Nabi Muhammad
Saw [p.b.u.h, peace be unto him] menyebarkan risalah keislaman,
beliau sebenarnya membangun paradigma berpikir yang baru. Beliau
tinggalkan cara-cara berpikir jahiliah dan beliau bangun cara-cara
berpikir yang islami. Ada puluhan, bahkan ratusan, ayat Al Quran yang
menyeru manusia untuk ‘berpikir’. Perintah berpikir ini disampaikan
dalam berbagai bentuk, misalnya tafakkaru, tadzakkaru, nazhara,
ta‘qilun, dan lain-lain.

Satu abad setelah tersebarnya agama Islam, kalangan mu‘tazilah


melanjutkan pembaharuan pemikiran. Para ulama mereka tidak
mandek pada kata-kata yang ada di dalam Al Quran. Mereka
mempelajari metode-metode berpikir filosof Yunani. Mereka
melakukan penalaran dan logika yang islami. Mereka mulai merintis
logika-empiris. Hasilnya, Daulat Abbasiyah di Bagdad dan Daulat
Umayyah di Spanyol mengalami kemakmuran yang berlimpah-limpah.
Sayang, masyarakat Islam pada zaman itu [dan sampai sekarang]
tidak kondusif untuk pembaharuan pemikiran. Pada abad XIII (pada
tahun 1258 M) Daulat Abbasiyah diporakporandakan oleh Kerajaan
Mongol yang sangat terkenal dengan pemerintahannya di atas kuda.
Di Spanyol pun digilas pada akhir abad XV (1492 M). Dan sejak abad
XIII itu pembaharuan pemikiran di dunia Islam ditutup, yang dikenal
dengan “penutupan pintu ijtihad”.

Sekarang, saya melalui pengajaran tasawuf ini mengajak kembali


saudara-saudara untuk menghidupkan hijrah dan jihad dalam
pemikiran. Lho, bagaimana dengan orang-orang yang masih rendah
tingkat pemikirannya, apa dapat diajak untuk melakukan
pembaharuan pemikiran? Tentu saja jangan dibayangkan semua orang
bisa berpikir dalam [deep thinking]. Waktu periode Rasul pun tidak
semua orang diperintah untuk melakukan perang fisik. Hal ini
dijelaskan pada Surat Taubah/9:122. Ada yang ditolak untuk ikut
bertempur karena orang tersebut menanggung kehidupan ibunya yang
janda. Ada yang ditolak karena dianggap belum cukup umur. Yang
perempuan pada waktu itu ditugasi dalam urusan logistik dan palang-
merah. Dalam hal jihad pemikiran pun harus ada yang di barisan
depan [good thinker] sebagai pembuat konsep, pembuat rencana, dan
pengatur strategi. Ada menyebarkan dan memasarkan gagasan. Ada
yang menerap-kannya. Dan ada pula yang mendukungnya.

Ketahanan masyarakat akan kuat bila masyarakat mempunyai


keahlian yang heterogen. Namun semua harus bisa diorganisasi dan
dikerahkan untuk membangun jihad pemikiran. Ulama spiritual, ulama
sains, ulama teknologi, ulama birokrat, petani, pedagang, industrialis,
dan buruh harus merapatkan barisan dalam membangun jihad
pemikiran. Untuk apa jihad pemikiran ini? Untuk membangun
masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Lho, kok tidak untuk
membangun masyarakat Islam yang adil dan makmur? Sebuah
masyarakat itu dapat diibaratkan sebuah rumah-tangga. Rumah-
tangga yang bertanggung jawab adalah rumah-tangga yang berupaya
membangun kesejahteraan para anggotanya, tanpa merugikan rumah-
tangga lainnya. Rumah-tangga yang satu mungkin saja berbeda
agama dengan tetangganya. Tetapi mereka hidup dalam komunitas
yang sama yaitu satu RT/RW.

Kita adalah masyarakat Indonesia. Masyarakat yang dari awalnya


plural [dalam agama, kepercayaan, dan etnis]. Masing-masing adalah
anak ibu pertiwi! Perbedaan tidaklah memisahkan persatuan
Indonesia. Dan, jika kita mau jujur bertanya siapakah kita bangsa
Indonesia ini? Jawabannya adalah kita dahulu etnis-etnis yang
menghuni kepulauan Nusantara dengan agama pribumi masing-
masing. Semenjak abad I masuklah agama dari luar [dalam bahasa
rakyatnya, agama impor] yaitu Hindu, Buddha, Islam, Kristen/Katholik,
dan Kong Huchu.

Sebagai sebuah kenyataan, saya sekarang adalah orang Islam. Ajaran


Islam saya sampaikan dengan menggunakan pendekatan ‘tasawuf’.
Karena tasawuflah yang bisa menembus lintas agama dan menjaga
pluralitas. Kalau kita hobi membaca Hadis, maka kita akan sampai
pada kesimpulan bahwa praktik Rasul dalam menyebarkan agama
Islam pun dengan cara tasawuf. Ayat pertama yang saya gunakan
untuk mengisi bagian yang ke-14 ini adalah Surat Al Baqarah/2:208.
Mari sama-sama memperhatikan bunyi ayat tersebut seperti saya
kutipkan di bawah ini.

2:208 Ya ayyuha l-ladzina amanu d-khulu fi s-silmi kaffah wa la


tattabi-‘u khuthuwati sy-syaithani innahu lakum ‘aduwwun mubin.

2:208 Wahai orang-orang yang beriman masuklah kamu semua ke


dalam kehidupan yang damai, dan janganlah mengikuti langkah-
langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuhmu yang nyata.

Cukup satu ayat dulu! Dan, mari kita kupas pelan-pelan ayat ini. Ayat
ini turun di Madinah setelah perjanjian Hudaibiyah [th 6H]. Pada bulan
Dzul Qa’dah (bulan ke-11) Nabi mengajak kabilah-kabilah yang bukan
Islam untuk bersama-sama menuju Mekah untuk berziarah dan
memuliakannya. Sejak sebelum kedatangan Islam, orang-orang Arab
biasa memuliakan Ka’bah. Mereka biasa lomba berpidato dan
menggantungkan puisi mereka di Ka’bah. Dengan mengajak orang-
orang Arab non-muslim menziarahi dan memuliakan Baitul Haram,
maka keragu-raguan orang Arab terhadap orang-orang muslim hilang.
Dan, dari awal jalur perdamaian lebih dipilih ketimbang peperangan.
Prinsip hidup berdampingan dan damai ditekankan sekali dalam
Piagam Madinah. Tata-cara damai inilah yang menyebabkan Islam
cepat sekali tersebar di Madinah.

Untuk memelihara keharmonisan hidup masyarakat Madinah, seruan


untuk hidup beragama dinyatakan dengan panggilan yang indah
“ayyuhal ladzina amanu”, wahai orang-orang yang beriman. Dengan
panggilan ini orang-orang non-muslim tidaklah tersinggung dalam
kehidupan mereka. Khalifah-khalifah setelah Rasul Saw juga memakai
gelar “amirul mu’minin”, amirnya orang-orang beriman. Sekarang ini
tokoh-tokoh agama juga memanggil pengikutnya dengan sebutan
“orang-orang beriman”. Ini memang panggilan yang manis.
Madinah harus berjaga dan mempertahankan diri dari serangan
musuh. Persatuan sangat dibutuhkan! Terhadap orang-orang yang
menjunjung tinggi Piagam Madinah ini, mereka dipanggil dengan
panggilan orang-orang yang beriman. Mereka semua diseru untuk
masuk dalam perdamaian. Dalam surat Al-Anfal/8:61 dinyatakan
dengan tegas, ”Dan jika mereka condong kepada perdamaian [salm]
maka hendaklah kamu condong pula kepadanya [perdamaian], dan
bertawakallah kepada Allah.”

Berikutnya adalah larangan untuk mengikuti langkah-langkah setan.


Masih ingatkan makna ‘mengikuti’ bukan ‘meniru’ lho! Setan tak
pernah muncul dihadapan kita. Jadi tak ada perbuatannya yang bisa
ditiru. Setan berarti merenggangkan atau menjauhkan [dari perbuatan
bajik]. Semua perbuatan buruk mendapat julukan perbuatan atau
langkah setan. Pertikaian, fitnah, menghasut, adu-domba, hina-
menghina, dan perbuatan sejenisnya disebut langkah-langkah setan.
Karena itu harus ditinggalkan! Semua itu lahir dari pikiran dan emosi
kita. Pikiran dan emosi yang lepas kendali. Hal ini sungguh
membahayakan kehidupan, memporak-porandakan kedamaian.
Karena itu, setan disebut sebagai ‘musuh yang nyata’.

Kita harus memberdayakan pikiran dan emosi kita untuk menciptakan


perdamaian dalam kehidupan ini. Bila ada penawaran hidup damai,
maka kita harus condong pada perdamaian. Kita tak boleh
berprasangka buruk kepada orang-orang yang mengajak hidup damai.
Karena itu kebersediaan hidup damai harus disertai dengan sikap
tawakal kepada Tuhan. Dan menyeru kepada kehidupan damai harus
terus-menerus digiatkan. Ya, mencari kedamaian hidup itu bagaikan
mencari intan di tengah onggokan sampah. Bau sampah itu
menyengat sehingga mengganggu kita dalam menemukan intan di
dalamnya. Sama seperti menyeru hidup damai, bau jejak setan ada di
mana-mana. Tapi kita tak boleh putus asa! “Jangan merasa lemah
dalam menyeru kepada perdamaian [salm] karena kedudukanmu
[yang menyeru damai] itu lebih tinggi. Allah beserta kamu! Dan Allah
tidak menghilangkan amalanmu.” (QS 47:35)

Jadi, bukan hanya condong kepada perdamaian, tetapi memprakarsai


perdamaian! Dan, damai yang diserukan dalam Al Quran ini bukan
‘damai’ seperti yang dilakukan pelanggar lalu lintas dengan polisi
penangkapnya. Kalau yang ini bukan damai namanya tetapi transaksi
untuk membebaskan diri dari jeratan hukum. Ini masalah penegakan
hukum. Dan saya tak hendak berkomentar dalam hal ini. Damai yang
dituju dalam Al Quran adalah keadaan yang aman dan tentram, dan
dalam posisi keseimbangan. Tidak terjadi adu kekuatan dan saling
menekan di dalam perdamaian. Damai bukanlah aman! Tetapi
keamanan terjamin dalam perdamaian.
Peserta kajian tasawuf yang terhormat! Dalam tulisan ini kadang kata
perdamaian yang saya gunakan, lain kali saya memakai kata
‘kedamaian’. Yang saya maksud sama, yaitu keadaan damai.
Keduanya merupakan terjemahan dari ‘salm’ atau ‘silm’. Bila yang
dimaksud adalah cara-cara atau proses dalam kegiatan untuk
berdamai, maka kata ‘perdamaian’ yang saya pergunakan. Tetapi jika
yang dimaksud suasananya yang damai maka kata ‘kedamaian’ yang
ditampilkan. Silm saya terjemahkan perdamaian dalam ayat di atas.
Karena pada ayat itu kita diperintahkan untuk menciptakan keadaan
hidup yang damai. Ada proses, ada aktivitas untuk mencapai hidup
damai. Dalam menyerukan perdamaian kita tidak boleh merasa lemah.
Bukankah lemah itu timbul dari pikiran? Lemah adalah jejak setan,
langkah setan. “Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah
setan, karena setan itu musuhmu yang nyata,” bunyi QS 2:208. Nah,
sebagai konsekuensi bagi orang yang ingin hidup beragama yang
benar, kita harus aktif dalam menyerukan perdamaian.

Menyerukan perdamaian tidak sama dengan menebar slogan dan


ucapan “mari menempuh hidup damai” atau “mari berdamai” atau
“damai itu indah”. Kalau yang ini sih sekadar ungkapan hati, atau tipu
daya. Menyerukan perdamaian berarti berusaha keras, memprakarsai
hidup damai. Karena itu kita dilarang ‘merasa lemah’ dalam
menyerukan perdamaian. Harus ada ijtihad alias jihad pemikiran.
Artinya kita harus memeras otak [bukan memeras keringat karena kita
tidak melakukan perang fisik] untuk mencari langkah-langkah yang
bisa mengantarkan umat manusia menuju hidup damai. Inilah makna
perdamaian!

“Orang-orang yang hidup di negara maju [tentu saja ada yang malas]
bekerja keras, bekerja dengan cermat, berusaha memenuhi komitmen
dalam masyarakat, membuat perjanjian yang melindungi dan
menguntungkan semua pihak, menegakkan hukum [bukan cuma
penegak hukumnya], dan semua aktivitas untuk menyongsong hari
depan yang baik adalah wujud untuk menyerukan perdamaian.”

Orang yang menyerukan perdamaian tidak boleh merasa lemah.


Karena penyeru perdamaian itu lebih tinggi kualitasnya. Baik kualitas
mental, moral, kecerdasan akal, emosional dan spiritualnya. Yang jelas
bukan kualitas fisiknya yang lebih unggul. Kualitas fisik diperlukan,
tetapi bukan hal yang terlalu penting. Kekuatan fisik adalah kekuatan
pendukung, bukan kekuatan utama. Orang yang cerdas dan cerdik
tidak merasa lemah dalam perjuangan hidupnya. Dalam jihad fisik
jelas lemah, tetapi dalam jihad pemikiran dia tidak lemah.
Di ayat 47:35 itu disebutkan bahwa Tuhan beserta orang-orang yang
menyerukan perdamaian. Apa maksudnya Tuhan menyertai orang-
orang yang menyerukan “hidup damai” atau “perdamaian” itu?
Menyeru itu lahir dari kehendak orang yang menyeru. Tuhan adalah
sumber iradah. Maka iradah atau kehendak Tuhanlah yang menyertai
orang-orang yang mnyerukan perdamaian. Dan, Tuhan pun tidak
menghilangkan daya dari amalan orang-orang yang menyerukan
perdamaian. Karena itu, orang yang berniat menyerukan perdamaian
tidak boleh merasa lemah.

Suatu hari pada tahun lalu, saya berpolemik tentang arti ajakan
perdamaian yang ada pada ayat 2:208 tersebut. Pada umumnya
[sekali lagi umumnya] terjemahan ayat tersebut adalah seruan
menjadi orang Islam yang secara total, sempurna. Inilah “main
stream”, arus utama dalam pemikiran Islam yang ada. Tetapi saya
menolaknya! Saya katakan bahwa ayat itu merupakan seruan untuk
memasuki ‘perdamaian’. Kebanyakan ulama, ayat itu hanya diambil
sepotong saja. Mereka tidak mau melihat kaitan ayat itu dengan
beberapa ayat sebelum dan sesudahnya. Akibatnya, ayat itu menjadi
hanya ditujukan kepada orang Islam [yang waktu itu tentunya ada di
Madinah]. Kata “orang-orang yang beriman” di situ menjadi sempit
artinya. Kata ini disamakan artinya dengan kata “mukmin” yang ada di
dalam Al Quran. Padahal dalam arti luas, kata tersebut bisa bermakna
‘mereka yang menerima deklarasi Madinah yang terdiri dari berbagai
suku dan pemeluk agama’.

Kata “kaffah” disebutkan lima kali dalam Al Quran, dan merujuk pada
makna ‘kuantitatif’, jumlah, bukan merujuk pada makna ‘kualitatif’
seperti dalam kata berislam secara totalitas. Lalu, saya tanyakan ‘apa
yang dimaksud dengan menjalankan Islam secara
menyeluruh/sempurna’, berapa persen Islam yang harus dikerjakan
karena perintah itu turun sebelum Islam sendiri selesai sebagai ajaran
yang sempurna [dalam arti kata wahyu belum turun seluruhnya]. Dan
kalau kita melihat berbagai ragam ajaran Islam yang ada sekarang,
Islam yang bagaimana yang disebut Islam totalitas itu. Tentu saja
jawaban dalam polemik itu menjadi berputar-putar seperti debat kusir
atau main kayu dalam permainan sepak bola.

Ya jelas, dalam pemikiran Muhammadiyah Islam totalitasnya tidak


sama dengan yang ada pada NU. Meskipun orang NU menjalankan
Islam yang paling sempurna pun, bagi orang MD, bagi orang LDII, bagi
orang Wahabi, atau lainnya, tetap dipandang ‘belum menjalankan
Islam yang kafah atau menyeluruh’. Begitu pula sebaliknya, orang-
orang lain itu pun belum totalitas menurut NU. Karena itu saya
memilih ‘kafah’ dalam arti kuntitatif, yaitu semua orang.
Terjemahannya menjadi “Wahai orang-orang yang beriman [yang
menerima Piagam Madinah] kamu semua (all of you) masuklah dalam
perdamaian atau kehidupan yang damai. Dan memang, 4 kata kafah
yang berada di luar ayat 2:208 ini diterjemahkan ‘semua ?orang-
manusia’. Misalnya yang ada di 34:28, “Dan Kami tidak mengutus
engkau kecuali menjadi pemberi kabar gembira dan peringatan bagi
semua (kafah) manusia.”

Dengan demikian jelas sekali bahwa perdamaian atau kedamaian


hidup adalah prinsip dibangkitkannya agama Islam. Kalau bukan ini,
apa bedanya agama Islam dengan ajaran jahiliah yang mengutamakan
keunggulan suku dan sikap mau menang sendiri? Rasul Saw dengan
tegas mengatakan: “Sesungguhnya aku ini dibangkitkan untuk
mengutamakan budi pekerti yang mulia.”

Demikian penjelasan ‘zuhud’ lanjutan pada kajian kita hari ini. Kita
sambung zuhud di bagian pelajaran yang akan datang. Wa billahi t-
taufiq wa l-hidayah. Semoga Tuhan melimpahkan taufik dan petunjuk-
Nya kepada kita. Amin.

Bagian ke-15
[Lanj. Zuhud]

Waktu yang lalu telah dijelaskan bahwa jihad harus ditingkatkan


menjadi ‘ijtihad’, jihad pemikiran. Dan yang menjadi dasar bagi
berlangsungnya ijtihad adalah kedamaian dalam hidup ini. Tanpa
kedamaian manusia tidak akan mampu berpikir. Tanpa keadaan damai
tak ada kreativitas dalam diri manusia. Tanpa kreativitas manusia
akan mencari kedamaian itu dari luar dirinya. Dan jika kedamaian itu
harus diperoleh dari luar maka sesungguhnya yang bersangkutan
sudah seperti kecanduan narkoba! Yang diperolehnya kedamaian
semu! Kekayaan dihabiskan untuk membeli sebuah kedamaian, tetapi
yang didapat hanya sesuatu yang semu.

Jihad pemikiran itu menarik garis yang tegas antara dunia manusia
dari dunia binatang. Manusia harus berpikir untuk menemukan solusi
dalam hidupnya. Manusia harus berpikir untuk bisa hidup bersama
secara damai. Binatang hidup damai dengan binatang lainnya dengan
mengandalkan kekuatan [fisik]. Ia taklukkan binatang-binatang
lainnya, baru merasa hidup damai. Lalu, jika manusia tanpa
menggunakan pikirannya dalam hidup ini, apa bedanya dengan
binatang?

Dengan berpikir manusia bisa mengetahui apakah yang dimakan atau


diminum itu membahayakan tubuhnya atau tidak. Dengan berpikir
manusia dapat memahami bahwa judi dan mabuk-mabukan itu tidak
sehat bagi kehidupannya. Dengan berpikir manusia dapat mengerti
apakah langkah yang diambilnya itu membahayakan atau bermanfaat
bagi dirinya. Dengan berpikir pula manusia bisa mengerti manusia
lainnya! Apabila manusia sudah dapat mengerti manusia lainnya,
maka di situlah demokrasi dapat ditegakkan. Di situlah keadilan di
antara manusia bisa diwujudkan.

Ketika Muhammad Saw dibangkitkan sebagai seorang nabi, beliau pun


diperintah oleh Tuhan untuk menyampaikan berita bahwa dirinya
adalah manusia biasa. Mari kita perhatikan ayat berikut.

6: 50 Katakan, “Saya tidak mengatakan kepadamu bahwa saya


mempunyai perbendaharaan Allah. Saya juga tidak mengetahui yang
gaib! Dan saya juga tidak mengatakan kepadamu bahwa saya ini
malaikat. Saya tidak mengikuti, kecuali apa yang diwahyukan kepada
saya.” Katakan, “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang
melihat?” Apakah kamu tidak berpikir (tatafakkarun)?

Ayat ini memberi tahu kita bahwa manusia tidak boleh mengkultuskan
manusia lainnya. Manusia harus diterima dan dihormati sebagai
manusia. Manusia tidak boleh dipandang sebagai malaikat, apalagi
Tuhan. Bahwa manusia yang satu punya kelebihan atas yang lainnya
adalah benar! Dan itu tidak perlu diingkari. Suatu kelompok atau
masyarakat mengangkat mereka yang memiliki kelebihan dari
kebanyakan anggotanya adalah hal yang wajar, dan perlu. Tetapi,
manusia tidak boleh didewakan, dipertuhan, atau sejenisnya.
Rusaknya tatanan pergaulan masyarakat itu karena adanya
pengkultusan terhadap orang-orang tertentu. Demokrasi tidak akan
terwujud di suatu masyarakat bila masih ada manusia di masyarakat
yang bersangkutan didewakan. Karena dasar dari demokrasi adalah
egaliter [persamaan] dan kebebasan [liberti]. Keduanya hanya ada
dalam perdamaian sejati! Untuk dapat mencapai perdamaian sejati
manusia harus terus berpikir. Dan berpikir itu adalah bagian dari
amalan manusia.

Lalu, apa sih yang disebut ‘berpikir’ itu? Bukankah banyak orang
mengatakan bahwa untuk menjalankan agama tidak perlu
menggunakan pikiran? Katanya, banyak hal dalam agama yang tidak
masuk akal. Atau, ada yang mendramatisasi bahwa akal ini tidak
masuk ke dalam wilayah agama!

Manusia punya otak. Binatang [bertulang belakang] pun punya! Tetapi


binatang tidak dapat berpikir. Otak pada binatang hanya sebagai
markas koordinasi syarafnya. Sedangkan otak pada manusia juga
merupakan alat untuk berpikir. Otak dan pikiran adalah dua hal yang
berbeda! Pikiran lebih besar daripada otak, bahkan lebih besar
daripada tubuh manusia itu sendiri. Manusia menggunakan pikirannya
untuk memahami berbagai tanda dan gejala di alam ini. Dan proses
penggunaan pikiran itu ada di otak. Karena itu, jika kita serius berpikir
[dan tidak memperhatikan kondisi kesehatan dan kemampuan otak]
kepala kita bisa terasa pening atau pusing. Otak adalah bagian dari
organ dalam fisik kita, seperti jantung, hati, ginjal dan lain-lain. Berapa
berat beban yang dapat dipikul oleh otak, tidaklah sama antara orang
yang satu dengan yang lainnya. Tetapi setiap otak punya batas
kekuatan. Ingat, segala sesuatu dicipta oleh Tuhan dengan kadar atau
ukuran tertentu.

Perintah berpikir justru untuk mengangkat manusia dari lembah


kebinatangannya. Karena itu, agama tumbuh dan berkembang seiring
dengan perkembangan alam pikiran manusia. Ketika pikiran manusia
belum berkembang, naluri atau ‘insting’ pada manusia yang berfungsi.
Dan, naluri ini masih berfungsi pada dunia kanak-kanak dan tentu saja
pada dunia binatang. Jadi, kalau kita tidak memberdayakan pikiran
kita untuk berpikir, maka tak ubahnya kita ini sebagai kanak-kanak
atau kasarnya tak ada bedanya dengan binatang. Lho, apa bedanya
antara pikiran dan berpikir?

Kalau kita mau membuka dan menyimak kamus, kita akan mengerti
bahwa salah satu makna dari ‘pikiran’ adalah akal. Dan seringkali
diucapkan secara bergandengan menjadi ‘akal pikiran’. Baik akal
maupun pikiran dalam bahasa Indonesia, berasal dari kata Arab ‘aql’
dan ‘fikr’. Akal adalah kata benda Arab yang berasal dari kata kerja
aqala yang berarti mengikat. Sedangkan fikr berasal dari kata fakara
yang berarti merenungkan, merefleksikan, mempertimbangkan,
memperhatikan, dan menduga. Jadi, dengan pikirannya manusia dapat
memahami makna di balik yang kasat mata. Dengan pikirannya
manusia dapat memahami gejala alam. Tetapi dengan pikirannya pula
manusia dapat terjebak sejarah.

Kita tak perlu terjebak dalam definisi ‘apa itu akal [pikiran]’. Tetapi kita
tahu bahwa dengan akalnya manusia dapat mengingat objek-objek
diterima panca indra. Dengan akalnya manusia dapat mengetahui
sesuatu yang tidak dapat dimengerti hewan. Dengan akalnya manusia
dapat memahami hubungan antar objek yang diamatinya dan
menyimpulkannya. Dan bukan sekedar menyimpulkan seperti
komputer. Kesimpulan manusia bisa menembus dunia yang abstrak.
Manusia bisa menghasilkan pendapat atau ‘ide’, yang tentu saja
dibangun dari objek-objek yang diingatnya. Akal pikiran juga bisa
membangkitkan imajinasi. Yang dari sini timbullah seni [tari, pahat,
sastra, musik, rupa, olah raga, perang, kepemimpinan dll], dan
penciptaan teknologi. Tetapi dengan pikirannya pula manusia dapat
‘berprasangka’. Dengan berprasangka, sebenarnya manusia telah
menipu dirinya. Karena ia telah memastikan sesuatu yang tidak
diketahui-nya. Tentu saja kebanyakan prasangka itu meleset dari
kenyataannya.

Kerja pikiran itu bagaikan sebuah bola. Begitu digelindingkan bola itu
ingin terus menggelinding. Baru berhenti jika menabrak tanjakan atau
karena bergesekan dengan bidang yang dilewatinya. Pikiran juga
begitu! Mula-mula bayi dilahirkan tidak dapat berpikir. Lalu, orang-
orang di sekelilingnya mendorongnya, entah sengaja atau tidak, untuk
berpikir. Nah, begitu pikiran bekerja sulit pikiran itu berhenti. Bahkan
tatkala kita beristirahat pun pikiran tetap bekerja, yang menghasilkan
‘lamunan’. Ketika tidur pun pikiran bekerja, dan menghasilkan mimpi.

Pikiran yang bekerja tanpa perintah ini bisa menganggu ketenangan


manusianya. Sehingga ada orang yang tidak tenang hidupnya, selalu
gelisah, disebut terlalu banyak pikiran. Bila semula pikiran dipahami
sebagai ‘akal’, bila ia menjadi beban manusia pikiran telah menjadi
negatif bagi kehidupan manusia.

Berpikir, bermenung, berefleksi, berimajinasi, mempertimbangkan,


menduga, dan memperhatikan adalah fungsi pikiran. Sedangkan
berprasangka dan melamun bukanlah fungsi pikiran. Orang melamun
karena pikirannya bekerja di luar kendali kehendaknya. Orang
berprasangka karena perasaannya bekerja tanpa ditunjang dengan
bukti. Bila kita diam atau sembahyang, dan kita tak pernah
mendiamkan pikiran, maka pikiran itu akan berkelana ke mana-mana.
Pikiran yang bekerja tanpa arah ini dapat mendorong orang untuk
curiga, buruk sangka, iri, dengki, dendam, fanatisme, dan berbagai
perbuatan negatif lainnya. Baik perasaan maupun pikiran yang bekerja
tanpa kendali akan menjadi “setan”. Karena itu setan tidak pernah ada
rupanya! Setan (Inggeris, satan) hanyalah atribut bagi perbuatan atau
tindakan yang menjauhkan diri dari kebenaran. Agar tidak
terperangkap setan, manusia harus berpikir.

Berpikir adalah tindakan untuk menghubungkan berbagai objek untuk


menemukan solusi atau jawaban bagi suatu masalah. Berpikir adalah
usaha untuk memahami makna yang terkandung dalam suatu objek.
Dan pada akhirnya, berpikir adalah upaya untuk menemukan
kebenaran. Tanpa berpikir manusia tak akan menemukan jalan
hidupnya! Tanpa berpikir agama menjadi tak berarti bagi
kesejahteraan hidup manusia. Tanpa berpikir manusia akan tetap
primitif dan tak akan menemukan kemanusiaannya. Jadi, wajar jika
agama [Islam] memerintahkan manusia
berpikir.

Di atas telah dijelaskan bahwa pikiran itu bagaikan bola yang


menggelinding. Bila menggelindingnya tanpa arah, tentu tak akan
mengena sasarannya. Karena itu, berpikir harus dilatih. Harus ada
pelatihan untuk kegiatan berpikir. Tanpa ada pelatihan pikiran akan
melompat-lompat tak tentu arah. Imajinasi akan tumbuh menjadi
takhyul. Dugaan akan tumbuh menjadi kecurigaan dan prasangka.
Refleksi dan perhatian akan berwujud kecemburuan dan kedengkian.

Manusia memang harus dilatih berpikir sebelum dapat dan terampil


dalam berpikir. Dan ternyata berpikir itu sendiri bertingkat-tingkat.
Dari tingkat berpikir yang paling rendah hingga yang paling tinggi.
Yang pertama adalah usaha untuk merekam atau mengingat objek-
objek yang diketahuinya. Dengan kata lain, mengingat atau menghafal
asma’ atau nama-nama benda [objek]. Pada tingkat ini kita baru pada
tahap mengetahui nama, ciri dan fungsi dari suatu objek. Pelajaran di
sekolah dari SD hingga SLTA adalah untuk memenuhi fungsi pikiran
yang paling dasar tersebut. Karena itu, tekanannya pada hafalan! Mari
kita perhatikan ayat berikut ini.

16: 10 Dia-lah yang menurunkan air dari langit untukmu. Sebagian


untuk minumanmu, dan sebagian lainnya untuk kehidupan tumbuhan.
Pada tumbuhan itu kamu gembalakan ternak.

16:11 Dengan air itu Dia tumbuhkan bagimu tanaman zaitun, kurma,
anggur, dan berbagai macam buah-buahan. Sesungguhnya yang
demikian itu adalah ayat bagi orang-orang yang berpikir.

Pada tahap dini ini manusia diajar untuk mengerti bahwa air hujan itu
diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Manusia belum dituntut untuk
memahami proses hujan itu sendiri. Manusia diberi tahu bahwa air
hujan yang jatuh di bumi ini sebagian dijadikan minuman oleh
manusia, sebagian lain diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Dan
dari tanaman yang tumbuh itu, ada yang bisa dipakai untuk
menggembalakan ternak. Ayat berikutnya menjelaskan bahwa dari air
hujan tersebut Tuhan menumbuhkan berbagai buah-buahan. Dengan
cara ini pikiran didorong dan dirangsang untuk bekerja secara
sistematik. Otak kiri diaktifkan lebih dulu!

Yang dibangun pada tahap dini ini adalah objektivitas. Manusia diajar
untuk dapat melihat sesuatu apa adanya. Bahasa dasar yang
berkembang pada manusia pada tahap ini adalah bahasa notasi.
Sifatnya masih konkret! Yang disebut hanyalah yang dapat ditangkap
oleh indra dalam ruang manusia berada. Cara ini didahulukan agar
manusia tidak terjebak dalam alam takhyul. Pelajaran matematika
pada tahap dasar adalah untuk melatih ketrampilan berpikir.

Tahap kedua adalah berzikir! Tahap ini adalah menyalakan fungsi otak
kanan yang sangat berperanan dalam mengendalikan emosi. Dengan
didahului oleh pelatihan pikiran, maka manusia tidak terjebak dalam
khayalan yang tanpa arah. Selanjutnya berzikir berfungsi untuk
mengendalikan pikiran dan perasaan. Pikiran tidak berkeliaran lagi.
Perasaan menjadi kalem, tenang, tidak agresif. Berzikir mendorong
manusia untuk dapat menerima bahwa di alam ini hanya ada satu
realitas puncak, hanya ada satu kebenaran. Berzikir itu melatih pikiran
kita bekerja yang terarah dan terfokus. Sifat menerima dalam berzikir
membuat perasaan tumbuh dengan tenang.

Pengertian berzikir sudah diberikan pada awal pelajaran tasawuf. Agar


tidak lupa, saya ulang di pelajaran ini. Kata zikir berasal dari kata
‘dzakara’ artinya mengingat, menghafal, atau menuangi. Tadi telah
disebutkan bahwa berzikir mendorong untuk bisa menerima satu
realitas puncak. Karena itu, dalam berzikir yang disebut-sebut adalah
Sang Realitas Tertinggi itu, yaitu Tuhan. Atau, kalimat-kalimat yang
diyakini berasal dari Tuhan. Dengan berzikir pikiran dan perasaan
senantiasa dituangi atau diisi dengan asma Tuhan atau kata-kata suci.
Rekaman-rekaman pikiran yang tidak bermanfaat secara perlahan-
lahan dibuang, dan digantikan dengan kekuatan kata-kata suci. Hasil
akhirnya adalah hati [tempat tumbuh dan berkembangnya perasaan]
menjadi tenang, atau terpuaskan. Inilah yang disebut dalam Surat Al-
Ra’d/13: 27 ? 28.

13: 27 Orang-orang kafir (orang yang ingkar) berkata: “Mengapa tidak


diturun-kan kepadanya [Muhammad] mukjizat dari Tuhannya?”
Katakan: “Allah niscaya menyesatkan orang yang menghendaki
[kesesatan], dan Dia menunjukkan [jalan] kepada-Nya orang yang
kembali,

13: 28 yaitu orang-orang yang beriman. Dan hati mereka menjadi


tenang dengan berzikir kepada Allah. Perhatikan, hanya dengan
berzikir Allah hati menjadi tenteram.

Dua ayat di atas menunjukkan adanya dikotomi pada manusia. Yang


satu disebut sebagai ‘orang kafir’ dan yang lain dinamakan ‘orang
beriman’. Ayat di atas tergolong sebagai ayat yang diturunkan kepada
Nabi di Madinah, dalam masa transisi hijrah ke Madinah. Dikotomi kafir
dan iman menjadi fokus. Karena hijrah merupakan jalan bagi
pembentukan komunitas baru, yaitu masyarakat madani. Pada tahap
awal perkembangan Islam di Madinah ini, yang dimaksud ‘orang kafir’
yaitu orang-orang Qureisy yang mengingkari kenabian Muhammad.
Jadi, bukan seperti anggapan kita sekarang ini, bahwa orang kafir
adalah para non-muslim. Orang-orang kafir adalah orang-orang yang
mengetahui siapa sebenarnya Muhammad itu, tetapi mereka
mengingkari kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.
Mereka mengingkari kenabian Muhammad karena mereka
beranggapan bahwa seorang nabi itu harus mampu menunjukkan
mukjizat bendawi. Mereka berasumsi bahwa nabi itu tidak sama
dengan manusia umumnya [lihat ayat di halaman depan]. Nabi
haruslah manusia super dan penuh magis. Mereka tidak bisa
menerima bahwa nabi itu juga makan, minum, berumah tangga, dan
bekerja seperti manusia lainnya. Inilah pandangan yang tidak
berdasar! Mereka tidak memikirkan kebenaran yang disampaikan
kepada mereka. Tapi bagaimana bisa berpikir bila hatinya tidak
damai?

Pada tahap awal orang masih bisa berpikir dalam keadaan apa pun.
Tentu saja yang bisa dilakukan adalah berpikir pada tingkat yang
paling rendah. Orang yang terus gelisah, resah, gundah, merasa takut,
bingung dan sejenisnya tak mampu berpikir lebih tinggi. Karena itu
harus dilandasi dengan ‘zikir’. Dalam istilah sekarang, ‘berpikir dengan
tenang’ atau kepala dingin. Untuk itu gejolak batin harus diredakan!
Dengan hati yang tenteram, jalan ke depan akan terbuka lebar. Jalan
menuju ke kebenaran tampak semakin jelas. Dan, orang yang
berjuang untuk kembali kepada kebenaran itulah sebenarnya yang
disebut “orang beriman” dalam ayat tersebut. Jadi, orang beriman
bukanlah orang yang mengaku ‘beragama tertentu’. Jadi, iman
bukanlah percaya pada “katanya”. Orang beriman adalah orang yang
dapat menyaksikan kebenaran itu sendiri. Ingatlah kembali penjelasan
tentang ‘ilmu l-yaqin, ‘ainu l-yaqin dan haqqu l-yaqin yang telah
dijelaskan pada bagian sebelumnya.

Tuhan pasti menunjukkan jalan yang benar bagi orang-orang yang


mau kembali kepada-Nya. Where there is a will there is a way,
begitulah pepatah orang Inggeris. Di mana ada kemauan di situ ada
jalan. Kemauan harus ditopang dengan langkah-langkah yang benar
untuk mencapainya. Kemauan harus didukung dengan batin yang
tenang. Dengan cara demikian pintu ke kebenaran semakin terbuka.
Tapi sayang, kebanyakan manusia [khususnya orang Islam] mandek
sampai pada tahap zikir. Baru pada kelas dua sudah ‘drop out’,
berhenti meningkatkan diri.

Kebanyakan manusia sudah puas dengan berpikir kelas SD dan SLTP.


Setelah tercapai hati yang tenang, tidak tahu lagi kemana akan
melangkah. Atau, tidak mau lagi untuk melanjutkan perjalanan
spiritualnya. Ayat 13:28 ini sudah dijadikan pamungkas dalam hidup.
Dan ini bisa kita dengarkan dalam mimbar subuh di radio-radio, dan
dapat kita lihat dalam mimbar agama di tv-tv setiap hari.

Demikianlah uraian zuhud tentang berpikir kali ini. Penjelasan ‘berpikir


tahap lanjutan akan diberikan, insya Allah, pada bagian ke-16. Dan
untuk tip pada pelajaran kali ini, mari kita berzikir dengan cermat dan
waspada.

Pertama, duduklah yang relaks dengan punggung tegak lurus. Kedua,


pejamkan mata secara ringan [asal tertutup], dan katupkan mulut.
Ketiga, tariklah napas pelan-pelan dengan mengucapkan [dalam hati]
kalimat suci “la ilaha illa l-lah” [tiada tuhan selain Allah]. Tahan
sebentar napas Anda, kemudian hembuskan perlahan-lahan sampai
habis dengan disertai pengucapan [dalam hati] kalimat suci itu lagi.
Lakukan selama lima menit saja untuk melatih zikir ini.

Bagian ke-16
Lanj. Zuhud]

Zuhud adalah tahap tajalli. Manusia dicipta untuk bisa


mengekspresikan dan mengaktualisasikan sebagai manusia yang
berkemanusiaan. Tetapi sejarah manusia tidak linear, tidak berjalan
mengikuti garis lurus. Sejarah manusia berjalan melompat-lompat,
sehingga ada yang tetap di tempat dan ada yang maju. Ada pula yang
berjalan lambat sekali! Bahkan kebanyakan manusia ini terseret arus.
Namanya saja terseret; jangan dikata bisa ada di depan.

Islam yang dibangun oleh Nabi sebagai kehidupan yang beretika sosial
dan individual dengan semangat demokrasi modern, akhirnya menjadi
agama yang penuh kejumudan, kekakuan, kebekuan, atau kebodohan.
Takhyul lama [pra-Islam] dibuang, tetapi didatangkan takhyul baru
berlimpah-limpah masuk ke dalam umat Islam. Takhyul baru ini malah
dibungkus dengan hadis-hadis atau ayat-ayat Al Quran. Dengan
takhyul baru ini sebagian besar umat menjadi terbelenggu. Lebih-lebih
takhyul ini diajarkan dan diwariskan dengan bingkai dogmatik. Agama
yang penuh pencerahan ini akhirnya menjadi agama primitif yang
penuh momok. Bahkan di dalam tasawuf pun tak lepas dari takhyul-
takhyul baru. Namun, saya tetap menggunakan tasawuf sebagai
sarana untuk membangun umat, karena warna takhyul itu tampak
jelas dalam dunia tasawuf daripada dalam dunia komunitas islam
lainnya. Mengapa demikian? Karena tasawuf ada di titik pusat
lingkaran agama.

Takhyul perlu dikupas dalam pembahasan zuhud ini. Karena di dalam


zuhud ada hijrah dan jihad pemikiran. Dalam hijrah pemikiran, kita
tinggalkan pola-pola pikiran lama yang membelenggu langkah
kemajuan manusia. Jika hijrah pemikiran berarti mematahkan
belenggunya, maka dalam jihad pemikiran kita cari jalan baru ke
depan, jalan yang lempang, jalan yang bisa dilalui hingga samai di
maqam Ilahi.
Takhyul adalah keyakinan kosong! Takhyul adalah kepercayaan
kepada yang tidak ada [bukan gaib lho!]. Believe to unreal thing! Pada
mulanya semua agama tauhid didirikan di atas landasan yang nyata,
yang riil, on the real thing. Kemudian dalam perjalanannya, komunitas
agama itu menjumpai kejadian dan peristiwa yang ada di luar
paradigma agama itu. Maka pengikutnya mulai menerima takhyul dari
luar atau malah mengembangkan takhyul itu sendiri dalam agamanya.
Contoh konkret, “meniti suatu jembatan” seperti rambut dibelah tujuh
[tajamnya] adalah kepercayaan yang sudah ada di persia beberapa
abad sebelum masehi. Tak urung, kepercayaan ini merembet ke dalam
agama Islam, dan dibingkai dengan hadis-hadis, dan disahihkan pula.
Baru satu contoh! Kalau kita rajin membaca ajaran-ajaran “mithras,
mani, mitologi Yunani, saman dan pengetahuan kuno di wilayah India
ribuan tahun sebelum masehi”, wah banyak yang masuk menjadi
bagian-bagian hadis.

Takhyul ini pun menjadi bagian dari pendidikan agama Islam.


Bagaimana kita telah dididik takut sama “momok” sejak kecil.
Bagaimana kita dididik untuk dapat mengakui seseorang sebagai ‘wali’
tanpa dididik untuk memahami apa yang dimaksud ‘wali’ dalam Al
Quran. Bagaimana ‘jamaah-jamaah’ tertentu dalam Islam melakukan
indoktrinasi atau pembaiatan yang tidak dilakukan oleh Nabi
Muhammad itu sendiri. Orang-orang direkrut masuk jamaah dan
diwajibkan meyakini bahwa pimpinan jamaah-nya orang mursyid,
sudah dibaiat dari guru ke guru hingga Nabi Muhammad Saw. Lalu,
anggota jamaahnya disebut ‘telah beriman’, sedangkan yang di luar
kelompok [out-group]-nya disebut ‘kafir’. Lhah, ajaran yang seperti ini
membuat orang-orang Islam mandek, alias jumud.

Bagaimana tidak jumud? Wong jamaah-jamaah tadi mengajarkan yang


tidak benar. Misalnya, keadaan sekarang ini disebut zaman ‘jahiliah’
sehingga pencarian dana dengan jalan yang haram dibenarkan. Ada
yang menerima ‘rezeki haram’ dihalalkan asal tidak digunakan untuk
makan. Katanya, kalau dimakan harus berasal dari yang betul-betul
halal, sedangkan yang untuk kebutuhan duniawi boleh menggunakan
uang haram hasil korupsi, komisi, suap dll. Ini sih, bukan jihad
pemikiran tetapi mundur! Islam tidak membuat dikotomi dunia dan
akhirat. Islam mengingatkan, janganlah kita ini terlalu kuat
keduniaannya tetapi lupa akhiratnya. Terjerat kepentingan sesaat
tetapi lupa kebutuhan jangka panjang. Terjebak kehidupan sekarang,
tetapi lupa masa depan! Hal-hal semacam inilah yang diingatkan
dalam Al Quran tentang pemahaman dunia dan akhirat. Jadi, bukan
dikotomi yang konkret dengan yang abstrak.

Nah, marilah meniti kembali ke jalan yang benar, ke pemikiran yang


benar! Yang pertama, kita tinggalkan takhyul. Yang kedua, mari
berpikir berlandaskan hal-hal yang nyata dulu. Yang ketiga, kita
landasi dengan emosi yang kokoh ?dengan berzikir? agar kita tidak
terombang-ambing dalam kehidupan ini. Agar kita bisa hidup tenang
dalam menghadapi badai dalam kehidupan ini. Agar kita tidak
kebablasan sehingga tercipta takhyul yang baru. Nah, dari ketiga
tahap jihad pemikiran ini, yang dua sudah dibabar dalam pelajaran
yang lalu. Sedangkan meninggalkan takhyul pada pelajaran yang lalu
tertinggal. Mari kita simak ayat-ayat tentang ketakhayulan ini.

10:36 Dan kebanyakan mereka mengikuti ‘zhan’ [prasangka] saja.


Sesungguhnya prasangka itu tidak dapat mengantarkan kepada
kebenaran sedikit pun. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentang
perbuatan mereka.

53:28 Dan mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang itu


[malaikat]. Sesungguhnya mereka itu hanya mengikuti prasangka.
Padahal, prasangka [zhan] itu tidak berguna sedikit pun untuk
mencapai kebenaran.

6:116 Dan jika menuruti sebagian besar orang di bumi, niscaya


mereka menyesatkan engkau [Muhammad] dari jalan Allah. Mereka
hanyalah memperturutkan prasangka dan tak lain yang mereka
perbuat adalah kebohongan semata.

6:148 Orang-orang yang menyekutukan Tuhan berkata: “Jika Allah


meng-hendaki niscaya kami dan nenek moyang kami tidak
menyekutukan Tuhan, dan kami tidak mengharamkan sesuatu pun.
Demikianlah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan para
utusan Tuhan hingga mereka tertimpa azab Kami. Katakan: “Apakah
kamu mempunyai pengetahuan [tentang tauhid] lalu kamu keluarkan
hal itu untuk kami. Kamu hanya mengikuti prasangka dan dusta!”

Nah, mari kita telaah dengan jernih ayat-ayat tersebut! Yang pertama
ditegaskan bahwa sebagian besar manusia itu hanya menuruti
prasangka atau ‘zhan’. Kata zhan menunjukkan suatu klaim tanpa
bukti. Ayat 6:148 lebih jelas lagi kata zhan dipasangkan dengan
kebohongan atau dusta. Bohong berarti tidak mengungkapkan yang
sebenarnya! Bohong juga berarti menyembunyikan kebenaran.

Ayat pertama menyebutkan bahwa prasangka itu tidak berguna sedikit


pun untuk mencapai kebenaran. Bagaimana bisa sampai kepada
kebenaran bila landasannya adalah hal yang tidak benar atau tidak
nyata. Di zaman mitologi kebenaran memang belum menjadi tolok
ukur, yang penting tujuannya benar. Dan, hal ini diwariskan dari
nenek-moyang kepada generasi ke generasi berikutnya. Tetapi setelah
pemikiran berkembang, tujuan yang benar harus dilandasi oleh hal-hal
yang benar! Kalau manusia ingin bisa terbang ke angkasa, ya jangan
bermimpi punya sayap. Nanti menjadi takhyul. Manusia harus berpikir
bagaimana membuat wahana yang bisa terbang, dengan mempelajari
objektivitas pada burung. Manusia juga tidak perlu membangun energi
bagi dirinya untuk bisa terbang seperti di dalam cerita atau dalam
film-film. Apakah hal itu tidak bisa diusahakan? Tentu saja bisa! Praktik
debus, melompati rumah, merayap di dinding, bisa dilatih dengan olah
batin yang dalam. Tetapi energi yang seharusnya digunakan untuk
membekali dirinya dalam perjalanan hidup ini hanyalah dibuang untuk
pertunjukan atau ‘show’. Manusia harus belajar pada hal-hal yang
nyata yang telah digelar Tuhan di alam ini. Bukan berpijak pada mitos
dan ‘fancy’ atau takhyul. Dulu boleh, ketika manusia berada di tahap
dinamisme, yaitu ketika alam pikiran manusia belum berkembang.

Bumi terus berputar, dan mengelilingi matahari. Populasi manusia


telah ratusan kali banyaknya bila dibandingkan dengan ketika agama-
agama besar muncul. Macam dan jenis rangsangan yang
mempengaruhi hidup manusia semakin banyak dan semakin berbeda.
Persoalan yang dihadapi manusia semakin kompleks. Ketika saya di
SD belum ada teve di kampung saya, sehingga sehabis maghrib anak-
anak SD bisa belajar dengan nyaman [meskipun pakai lampu minyak,
bukan listrik]. Dalam alam yang demikian, momok, hantu, sundel
bolong [kuntil anak], jurig, wewe gombel, gendruwo, takhyul, dan
berbagai cerita tentang makhluk jadian berkembang pesat.

Sebenarnya takhyul harus sudah dibuang di tahap takhalli, tahap


pengosongan dari berbagai sifat tercela. Tetapi, membebaskan diri
dari belenggu takhyul tidak semudah meninggalkan perilaku yang
tercela. Contoh yang paling konkret, 1400 tahun yang lalu, Nabi
membebaskan takhyul masyarakat Arab yang berupa 360 patung
berhala di sekitar Ka’bah. Tetapi sampai hari ini pun tak terhitung
banyaknya orang yang menjadikan Ka’bah sebagai pengganti patung
berhala. Mengapa bisa terjadi demikian? Karena pikiran tauhid belum
tumbuh baik di kalangan umat.

Membebaskan takhyul memerlukan peningkatan kesadaran. Sadar itu


memahami relasi atau hubungan antara objek dengan subjeknya.
Mampu mengidentifikasi objek-objek yang ada di sekitar dirinya. Agar
tidak terjadi ketakhyulan, kita harus melihat objek secara konkret dulu,
sesuatu yang riil yang diketahui melalui pengalaman secara langsung.
Ini adalah tataran terendah dalam berpikir. Dari pengalaman ini, dapat
ditarik suatu kesimpulan, dan lahirlah pengetahuan dan teori.
Pengetahuan dibentuk dari kata “pe+ke+tahu+an” --> pe + ketahuan.
Ketahuan adalah hal-hal yang diketahui [dipersepsi oleh indera].
Karena itu tingkat keimanan atau keyakinan yang paling rendah
adalah keyakinan berdasarkan pengetahuan [ilmu] dan disebut ‘ilmu l-
yaqin. Sedangkan bagi yang mengalaminya sendiri berada di tahap
‘ainu l-yaqin. Lha, kalau kita sudah memahami, mengerti apa yang kita
alami itu, namanya haqqu l-yaqin. Begitulah tahapan keyakinan dalam
Islam. Jadi, bukan keyakinan yang hanya didasarkan pada
kepercayaan semata-mata.

Kebanyakan manusia yang hidup di bumi ini hidup berdasarkan


prasangka. Ini sangat berbahaya! Kebanyakan orang hidup
berdasarkan prasangka ras, etnis, agama, dan golongan. Ras atau
etnis A merasa lebih unggul daripada ras/etnis lainnya. Orang yang
beragama A menganggap dirinya yang masuk surga, dan orang yang
beragama lain disebut masih kafir dan masuk neraka. Semua ini hasil
prasangka, bukan karena telah mengetahui sendiri. Orang yang
hidupnya terbelenggu prasangka mudah disulut atau diprovokasi.
Karena itu prasangka dikatakan dalam kitab suci sebagai hal yang tak
berguna sedikit pun untuk mencapai kebenaran. Kerusuhan-kerusuhan
yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini menunjukkan bahwa banyak
manusia Indonesia yang hidupnya di atas altar prasangka. Agar tidak
terjerumus ke dalam prasangka, maka kitab-kitab suci itu harus
ditelaah, dipelajari, dan bukan dibaca untuk mendapatkan pahala.
Kerdil betul pikiran kita, bila kita percaya membaca satu huruf sudah
berpahala.

Ayat 6:116 menyebutkan bahwa sebagian besar manusia itu mengikuti


prasangka atau zhan. Lho, ayat ini ngawur atau sesuai fakta?
Berdasarkan penemuan-penemuan, hanya 4 ? 5 % otak manusia
digunakan. Dan, orang jenius hanya menggunakan 5 ? 6 persen saja
dari kapasitas otaknya.
Hanya sekitar 5% dari populasi manusia yang menggunakan
pikirannya dalam kehidupan sehari-hari. Lha, yang 95% bagaimana?
Hidup hanya memenuhi rutinitas pekerjaan. Artinya, tanpa mikir lagi!

Coba kita perhatikan hidup kita sendiri! Dalam sehari kita hidup
selama dua-puluh empat jam atau 1.440 menit. Jika 5% dari hidup ini
kita gunakan untuk berpikir, artinya tujuh-puluh dua menit atau 1,2
jam dalam sehari kita berpikir! Apa iya? Ternyata sebagian besar
waktu dalam hidup ini kita gunakan sebagai pengganti mesin. Kita
kerja mengikuti prosedur yang sudah ada, tanpa mikir lagi. Jadi, wajar
bila ada ungkapan ?yang menurut sebagian ulama, bukan ungkapan
tetapi hadis?berpikir satu jam nilainya lebih besar dari sembahyang
1000 rakaat [dalam teks lainnya disebut beribadah enam-puluh
tahun]. Wajar juga, jika kemauan sebagian besar manusia ini dituruti,
hidup bisa tersesat. Bagaimana tidak tersesat, wong kebanyakan
pandangan itu hasil prasangka! Hanya warisan dari generasi ke
generasi. Hal ini khususnya terjadi di masa ‘iptek’ belum berkembang,
atau di masyarakat yang sedang berkembang.
Di masyarakat yang sedang berkembang, banyak hal yang direkayasa.
Artinya sesuatu dibuat bukan berdasarkan hal-hal yang konkret.
Sesuatu dibuat hanya berdasar akal-akalan pikiran. Partai dan
organisasi dibuat bukan berlandaskan kenyataan dan untuk
kesejahteraan anggotanya. Tetapi, untuk memenuhi kepentingan
pribadi pengurus atau panitianya. Demi ambisi jajaran pimpinannya.
Lalu bagaimana mungkin bisa mencapai keberhasilan, wong
pendiriannya hasil prasangka dan rekayasa.

Nah, sudah waktunya kita memberdayakan pikiran kita. Kita


tingkatkan kapasitas penggunaan otak kita! Bukan 4-5 % tetapi 5-6%.
Jika semula pikiran kita gunakan untuk mengingat asma, atau nama-
nama objek dengan segala ciri dan fungsinya; maka kita tingkatkan
penggunaan pikiran ini untuk memperhatikan relasi-relasi di antara
objek-objek yang ada. Kita gunakan pikiran untuk memahami kaitan
objek dengan ruang dan waktu. Di sini kisah dan sejarah manusia
menjadi perlu! Kita lakukan studi perbandingan [komparatif]. Akhirnya
kita bisa memperoleh sebuah kesimpulan yang sangat berguna bagi
kesejahteraan manusia. Inilah tahap ‘penalaran’, tahapan berpikir
lebih lanjut, setelah kita terlatih dalam berzikir!

Marilah kita perhatikan 4 ayat dalam Surat Al Ghasyiyah [Kejadian


yang dahsyat] yaitu ayat 17 s/d 20 berikut ini.

88:17 Apakah mereka itu tidak menggunakan nalar mereka


bagaimana unta itu diciptakan?
88:18 Dan bagaimana langit ditinggikan?
88:19 Dan bagaimana gunung-gunung ditegakkan?
88:20 Dan bagaimana bumi dibentangkan?

Kata ‘nazhara’ tidak cukup diartikan memperhatikan. Ia mengandung


makna penyelidikan, pendataan dan pengamatan terhadap suatu
objek. Dalam penalaran ini objek kita kupas dan kita bedah. Kita bukan
cuma melihat. Tetapi kita lakukan langkah-langkah untuk
mendapatkan informasi tentang objek yang kita perhatikan. Kita tidak
lagi percaya bahwa hewan diciptakan berdasarkan “sim sala bim”.
Kalau ciptaan itu bersifat “sim sala bim”, perintah tersebut di atas tak
pernah ada!

Jika semula ada kepercayaan bahwa bumi itu datar, maka manusia
diperintahkan untuk mempelajarinya, apakah betul kepercayaan itu.
Manusia harus mempelajari bagaimana bumi ini kok bisa dihuni,
bagaimana riwayatnya, dan lain-lain. Untuk apa itu semua? Ya, untuk
kesejahteraan manusia itu sendiri! Mengapa tidak Tuhan saja yang
membuat kitab ilmu pengetahuan itu lalu diserahkan kepada manusia?
Bukankah Tuhan itu Maha Kuasa? Bukankah dengan adanya kitab suci
‘IPTEK’, manusia tinggal mengikuti instruksi dan proses yang dibabar
di dalamnya, dan tidak perlu berprasangka? Nah, kita mulai menaiki
tangga untuk mengenal Tuhan, siapa sesungguhnya Dia. Kita akhirnya
mengerti mengapa perjalanan hidup ini berujung kepada pernyataan
“kembali kepada Allah”. Tetapi untuk dapat kembali ke Dia, kita harus
berpikir!

Perhatikan kembali ayat 6:148 di atas. Allah menolak pernyataan


orang-orang musyrik “Jika Allah menghendaki niscaya kami dan nenek-
moyang kami tidak menyekutukan Tuhan”. Pernyataan ini disebut
tidak berdasarkan pengetahuan! Ini hanyalah pernyataan yang
diwarisi dari nenek-moyang yang belum berkembang alam pikirannya.
Ini adalah pernyataan yang berdiri di atas prasangka, sesuatu yang
tanpa bukti nyata. Sebenarnya pernyataan ini pun ditujukan kepada
kita yang tidak musyrik, jika kita masih bersikap seperti orang
musyrik, kita berkutat pada masalah “kehendak-menghendaki”.
Sehingga banyak di kalangan umat ini yang meyakini bahwa “sesat
atau mendapat petunjuk” itu atas kehendak Tuhan. Dan itulah yang
dari awal kajian ini saya tegaskan bahwa Allah memberi petunjuk
kepada atau menyesatkan manusia yang menghendakinya [petunjuk
atau kesesatan]. Dan, ternyata petunjuk itu harus diperoleh memalui
usaha yang dilandasi pemikiran yang benar, yang berdiri di atas fakta-
fakta dan bukti nyata. Karena itu sejak awal perkembangan agama
Islam, Tuhan memerintah manusia untuk berpikir dengan
memperhatikan penciptaan unta, penegakan langit, gunung, dan
pembentangan bumi.

Untuk menutup pelajaran tasawuf hari ini, perlu saya mengingatkan


kembali bahwa “Tuhan bukanlah manusia yang maha pandai atau
maha kuasa”. Tuhan adalah Dzat Yang Maha Kuasa dan Maha Tahu.
Penciptaan alam ini merupakan ‘tajalli’ atau manifestasi Tuhan dalam
ruang dan waktu. Jika ‘ruh’-Nya ditiupkan kepada manusia, itu
dimaksudkan agar ruh itu bisa kembali kepada-Nya melalui rentangan
waktu yang panjang. Untuk itu manusia dilengkapi dengan ‘al-qalam’,
suatu alat untuk mengetahui sesuatu yang tidak diketahui
sebelumnya.

Tuhan bertajalli dan manusia pun akhirnya harus bertajalli. Di situlah


kedua tajalli bertemu, manusia telah bertemu dengan Tuhannya. Hal
inilah yang di dalam ajaran tasawuf disebut “wihdatu l-wujud” atau
dalam khazanah ajaran Jawa disebut “Manung-galing kawula klawan
Gusti”, bersatunya hamba dengan Tuhan. “Inna li l-lahi wa inna ilaihi
raji-‘un”, sesungguhnya kita ini berasal dari Tuhan dan akan kembali
kepada-Nya. Nah, dalam bingkai ruang dan waktu ini manusia telah
dibekali daya dan kekuatan untuk kembali kepada-Nya, yaitu dengan
kehendak untuk kembali, bukan menunggu kehendak Tuhan. Kita
bukanlah orang musyrik, jadi tak ada ruang untuk “jika Tuhan
menghendaki diriku” [demi kepentinganku].

Bag. Ke-17
[Lanj. Zuhud]

“La ilaha illa l-lah”, tidak ada tuhan selain Allah. Inilah konsep pokok
yang diajarkan oleh Muhammad Saw. Yang pertama adalah negasi,
yaitu ‘tidak ada tuhan’, tidak ada yang menjadi tujuan akhir. Negasi ini
penting sekali dalam perjalanan hidup ini. Tanpa negasi, manusia akan
terbelenggu oleh berbagai ilah, atau tuhan-tuhan yang sudah menjadi
kepercayaan masyarakat. Selanjutnya, harus dilakukan ‘peneguhan’
atau konfirmasi, bahwa tujuan manusia adalah Allah. Tidak mungkin
hidup tanpa tujuan! Dan satu-satunya tujuan adalah “Yang Maha
Benar”, yaitu Allah. Yang Maha Benar tentunya cuma satu. Dia-lah
Allah atau Tuhan [tuhan dengan ‘T’ besar dalam ejaan bahasa
Indonesia].

Dalam berpikir pun harus didahului oleh ‘negasi’, agar kita dapat
menemukan yang benar. Yaitu, kita harus berpikir yang bebas dari
takhyul. Bila hidup kita masih terbelenggu takhyul maka kita tak akan
dapat menemukan kebenaran. Nah, dari tahapan berpikir, pada
pelajaran zuhud yang terakhir, kita sudah sampai ditangga
‘penalaran’. Dan setiap kali kita menapaki tangga ini harus
berpegangan pada ‘zikir kepada Allah’ atau dzikru l-lah. Jadi, berpikir
dan berzikir itu seperti ‘tangga’. Anak tangganya adalah berpikir, dan
ibu tangganya yang menjadi pegangan ketika menaiki anak tangga
adalah berzikir. Ini penting sekali diperhatikan! Sebab, setiap kali kita
menggunakan pikiran, bisikan takhyul itu
datang.

Lho, dari mana takhyul itu datang jika kita berpegang teguh pada asas
pikiran? Tentu saja dari dorongan emosi kita, dari batin kita, yang
disebut “hawa” dalam bahasa Arab, dan diindonesiakan menjadi ‘hawa
nafsu’. Hawa nafsu adalah dorongan batin yang sangat kuat untuk
bertindak tanpa dilandasi pikiran. Sedangkan ‘nafsu’ adalah dorongan
untuk meredakan ketegangan dalam diri. Hal ini penting untuk
diketahui agar kita bisa memahami arti masing-masing. HS [sexual
intercourse] adalah nafsu. Tetapi jika tindakan HS itu tanpa dilandasi
kebenaran [just do it], maka tindakan HS tersebut berarti hanya untuk
memenuhi hawa nafsu. Salah satu makna ‘hawa’ adalah jatuh. Maka
orang yang memenuhi hawa nafsunya berarti mendorong jatuh
dirinya. Banyak orang yang berbuat dengan memperturutkan hawa
nafsunya. Dan hal ini di dalam Al Quran disebut perbuatan syirik atau
musyrik [orangnya].
Nah, mari kita perhatikan ayat-ayat yang berkaitan dengan hawa
nafsu [baik ayat utuh maupun hanya bagian ayat yang dikutip].

4:135 Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-
benar menegakkan keadilan, menjadi syuhada’-nya meskipun
terhadap dirimu sendiri, ibu-bapakmu, atau kerabatmu; baik ia kaya
atau miskin. Allah lebih [mempunyai hak] atas mereka. Maka
janganlah mengikuti hawa nafsu sehingga kamu berlaku tidak adil.

38:26 “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan engkau khalifah di


bumi. Maka berikan keputusan yang benar di antara manusia, dan
jangan engkau mengikuti hawa nafsu; karena hawa nafsu itu
menyesatkan engkau dari jalan Allah. Barangsiapa yang menyimpang
dari jalan Allah niscaya akan tertimpa azab yang keras. Mereka
sesungguhnya telah melupakan hari perhitungan.”

7:175 Dan bacakan kepada mereka tentang orang-orang yang telah


Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami. Lalu, mereka menarik diri
dari [ayat] itu. Kemudian, setan mengikutinya sehingga ia tersesat.

7:176 Dan bila Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan dia dengan
[ayat] itu. Tetapi, dia ingin menetap di bumi, dan memperturutkan
hawa nafsunya. Perumpamaannya bagaikan anjing, engkau halau atau
biar-kan, tetap menjulurkan lidahnya. Inilah perumpamaan orang yang
mendustakan ayat-ayat Kami. Sampaikan kisah ini untuk mendorong
mereka mau berpikir.

18:28 ... Dan jangan engkau mengikuti orang yang telah Kami lalaikan
hatinya dari berzikir kepada Kami, dan dia [cuma] mengikuti hawa
nafsunya, dan selalu melampaui batas dalam urusannya.

18:29 Kemudian katakan, “Kebenaran itu dari Tuhanmu! Barangssiapa


yang menghendaki keimanan maka hendaklah dia beriman, dan
barangsiapa yang menghendaki kekafiran maka hendaklah dia
kafir. ....

28:50 ... Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang
mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah? Sesungguhnya
Allah tidak mem-berikan petunjuk kepada orang-orang zalim.

25:43 Tahukah engkau orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai


tuhannya? Akah engkau [Muhammad] sebagai pelindungnya?

45:23 Adakah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya


sebagai tuhannya dan Allah membiarkan sesat berdasarkan ilmu? Dan
Dia menutup pendengaran dan hatinya, dan menjadikan sebuah tutup
bagi penglihatan [abshar]-nya. Selain Allah, siapakah yang menunjuki-
nya? Mengapa kamu tidak bertazakur?

Nah, ada sembilan ayat tentang peranan hawa nafsu yang akan
dikupas dan diulas dalam pelajaran hari ini.

Pertama, orang-orang beriman diperintah Tuhan untuk menegakkan


keadilan. Adil, baik terhadap ibu-bapak maupun kerabat! Perhatikan
kaitan antara keimanan dan keadilan. Itulah sebabnya dari awal
pelajaran ini ditegaskan bahwa keimanan bukanlah semata-mata
‘kepercayaan’. Orang beriman harus berusaha hidup adil, termasuk
kepada orangtua dan kerabatnya. Adil dalam kehidupan nyata yang
disebut sebagai syuhada’ Allah. Sengaja kata syuhada’ tidak saya
terjemahkan. Karena syuhada’ adalah orang yang menyaksikan dan
disaksikan Allah. Menyaksikan Allah berarti menyaksikan kebenaran
itu sendiri. Disaksikan oleh Allah berarti disaksikan oleh Yang Maha
Benar, karena itu adil terhadap siapa pun [yang kita cintai dan kita
benci]. Inilah salah satu unsur pokok orang yang beriman!

Kedua, keadilan dipertentangkan dengan hawa nafsu. Orang yang


mengikuti hawa nafsunya akan bertindak atau berbuat tidak adil.
Mengapa demikian? Karena adil itu bersifat ‘fair’, bersikap seimbang
dan proporsional terhadap semua orang. Adil itu tidak berat sebelah!
Adil tidak berpihak kepada seseorang karena hubungan kekerabatan
atau kekayaannya. Dan untuk dapat berlaku adil manusia harus
mampu menimbang dengan benar. Untuk itu diperlukan pikiran!

Sering kita mendengarkan kalimat “kita harus menggunakan akal


sehat” atau “menurut akal sehat” dan lain sebagainya. Kalau kita
perhatikan kalimat tersebut, ada pengertian bahwa ada ‘akal yang
tidak sehat’. Yang benar adalah akal selalu sehat. Akal adalah
representasi Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan adalah Akal Yang Maha
Agung! Karena itu Tuhan bersifat Maha Mengetahui. Orang yang
bodoh, orang yang tidak mampu menimbang sesuatu dengan benar,
tidak berarti akalnya tidak sehat atau sakit. Ia adalah orang yang tidak
mampu menggunakan akalnya. Karena itu orang harus dilatih
menggunakan akalnya. Ia harus diajari bagaimana mengasah
pikirannya. Pikiran yang diasah dengan benar akan menjadi tajam,
mudah tanggap terhadap sesuatu. Lalu, pikiran yang tajam itu harus
digunakan dengan benar, sehingga bisa memberikan solusi yang tepat
dalam kehidupan ini.

Ketiga, berdasarkan ayat 38:26 suatu keputusan yang benar adalah


keputusan yang tidak timbul dari hawa nafsu. Artinya, keputusan akan
benar bila dilandasi dengan pemikiran yang benar. Hawa nafsu akan
menyesatkan manusia dari jalan yang benar, yaitu jalan Allah. Hawa
nafsu adalah tindakan tanpa pikiran. Yang penting keinginan terpenuhi
tanpa peduli cara dan akibatnya. Karena itu hawa nafsu menyesatkan
manusia dari jalan yang benar. Ia membawa manusia ke jalan yang
salah!

Nah, setelah memahami ketiga uraian di atas, sampailah kita pada


kesimpulan bahwa prasangka, takhyul, hawa nafsu, dan setan,
sesungguhnya adalah wajah-wajah dari ‘thaghut’, yaitu sikap yang
melampaui batas! Semuanya adalah sisi-sisi dari thaghut yang sama.
Mengikuti hawa nafsu juga disebut sebagai ‘mengikuti setan’. Dan
pada ayat 38:26 tersebut dikatakan bahwa orang yang mengikuti
hawa nafsu adalah orang yang melupakan hari perhitungan,
melupakan konsekuensi perbuatannya. Orang itu lupa bahwa setiap
perbuatan itu ada akibatnya! Dikiranya suatu perbuatan itu tak ada
bekas-nya dalam perjalanan hidup ini.

Kembali kepada langkah-langkah dalam berpikir. Pertama, harus kita


tinggalkan prasangka [syak]. Kedua, harus kita bebaskan dari takhyul.
Lalu, kita bingkai dengan sabar dan zikir. Agar proses melihat,
mendengar, dan mengingat itu bekerja dengan jernih. Sebab
kegugupan, keraguan, dan ilusi akan mempengaruhi persepsi kita
pada kenyataan yang kita indrawi itu. Ketiga, kita lakukan penalaran,
reasoning. Jangan emosi, atau hanya mengikuti hawa nafsu. Penalaran
adalah upaya memahami sebab-akibat pada objek yang menjadi
perhatian kita. Kita perhatikan relasi antara objek-objek yang ada di
sekitar kita ini. Kemudian, penalaran itu kita bingkai dengan tazakur,
yaitu perenungan dan penjernihan pikiran.

Lho, apa bisa orang awam diajak berpikir? Tentu saja bisa! Yang
penting setiap orang harus dirangsang dan didorong untuk
menggunakan pikirannya sesuai dengan kapasitas otaknya atau
kapabilitasnya. Seseorang tak perlu dibebani melebihi takaran
kemampuannya. Dan, yang paling pokok adalah umat harus
dibebaskan dari belenggu prasangka, takhyul, dan hawa nafsu. Inilah
modal dasar umat untuk berpikir! Dengan bebas dari ‘pth’ umat bisa
dituntun untuk melihat kebenaran. Dengan modal dasar itu umat bisa
dibawa maju, tidak jumud [mandek]. Dengan cara berpikir yang benar,
kesadaran bisa ditingkatkan. Perlu diperhatikan kembali bahwa
tingginya pengetahuan yang dicapai seseorang tak ada kaitannya
dengan kesadaran. Karena pengetahuan didapat dari luar, sedangkan
kesadaran diperoleh dari dalam diri seseorang itu sendiri. Kesadaran
berkaitan dengan keimanan. Sedangkan pengetahuan adalah tahap
awal bagi keimanan. Jadi, setinggi-tingginya pengetahuan tidaklah
sama dengan ‘ain atau telah mengalami sendiri. Tetapi pengetahuan
yang tinggi disertai pengalaman mengantarkan seseorang naik ke
tahap ‘haqq al-yaqin’.

Apa artinya “pengetahuan yang tinggi + pengalaman” => keyakinan


yang haq? Saya tak perlu membuat definisinya. Tetapi Anda bisa
memahami bagaimana sekiranya anak kecil mengalami sesuatu tanpa
pengetahuan atau orang yang berpengetahuan tanpa pengalaman.
Anak kecil tidak mengerti apa yang dialaminya. Berpengetahuan tanpa
pengalaman berarti tak ada penghayatan kebenaran. Kita memiliki
pengetahuan tentang rasa daging, tetapi tanpa mengecapnya,
bagaimana kita mengetahui kebenaran rasa daging itu sendiri? Kita
memiliki pengetahuan tentang khusyu’, tetapi kita tidak pernah
mengalami khusyu’, bagaimana kita bisa mengerti kebenaran
khusyu’?

Sekarang marilah kita perhatikan ayat 7:175-176. Apa saja yang ada
yang bisa kita tangkap dengan indera adalah ayat-ayat Tuhan. Ayat-
ayat yang kasat mata adalah pijakan bagi ayat-ayat kitabiyah. Tanpa
mengerti ayat-ayat kauniyah [kasat mata] sulit untuk dapat mengerti
kandungan ayat-ayat kitabiyah. Jika kita tidak menghayati arti sebuah
kemiskinan atau kekalahan, bagaimana kita bisa menegakkan
keadilan? Bila kita tidak mengerti hukum Tuhan yang digelar di alam
ini bagaimana kita bisa memutuskan kebenaran? Jika kita tidak
mengerti makna sebuah perjanjian, bagaimana kita dapat
menghormati kerja sama?

Memahami ayat-ayat Tuhan, baik yang kauniyah maupun yang


kitabiyah, adalah tangga untuk dapat kembali kepada Tuhan. Jika
seseorang memperturutkan hawa nafsu, tak peduli terhadap
lingkungannya, maka setanlah yang mengikuti tingkah lakunya. Dan
selanjutnya, setanlah yang ada di depan menuntunnya. Jika setan
yang menuntun, ya akan keluar dari jalur yang benar. Apabila
seseorang memalingkan diri dari kebenarn, maka setanlah yang
mengikutinya. Lalu setannya siapa? Ya dirinya sendiri yang terjebak
‘pth’ dalam hidup ini. Jadi, jangan cari-cari bentuknya setan!

Lalu, ayat 176 menyebutkan bahwa Tuhan menghendaki derajat yang


tinggi bagi hamba-Nya yang tidak mau melekat [menetap] di bumi!
Untuk dapat memahami arti “melekat (menetap) di bumi” memerlukan
penalaran dan perenungan. Apa artinya “tetapi ia ingin menetap di
atau cenderung kepada bumi”, wa lakinnahu akhlada ila l-ardhi? Tanpa
menggunakan pikiran, kita tak bisa memahami ayat ini. Yang jelas,
Tuhan tidak meninggikan derajat atau kedudukan orang yang
cenderung kepada bumi atau dunia. Tentu ini pun bukan bermakna
harfiah, dalam arti naik pangkat, menjadi kaya materi dan lain-lain.
Tetapi ini bermakna batiniah, seperti jiwanya tercerahkan, dirinya
terbebas dari jeratan materi atau kesementaraan. Kalimat ingin
menetap di bumi atau cenderung kepada dunia disambung dengan
mengikuti hawa nafsu, artinya lebih memilih kehidupan sementara,
atau kehidupan jangka pendek, ketimbang kehidupan jangka panjang
atau kehidupan di masa depan!

Orang yang lebih mementingkan kehidupan dunia atau jangka pendek


in bagaikan anjing, dihalau atau dibiarkan lidahnya tetap terjulur.
Artinya, diberi pelajaran atau tidak, sama saja. Pelajaran atau
peringatan tak akan mengubah sikap hidupnya. Ayat ini merupakan
rangkaian ayat yang menuturkan kehidupan komunitas Yahudi. Pada
zaman Musa ada seorang hamba yang menguasai pengetahuan
keagamaan [lahir-batin]. Ia adalah Baal Am bin Baura, dan paham
betul tentang kebenaran hidup ini. Tetapi ia iri kepada Musa, ia
merasa tersingkir dengan datangnya Nabi Musa. Sehingga ia bersama
dengan para pengikutnya berusaha menyingkirkan Musa. Mengapa
tindakan itu dia lakukan? Karena Baal Am [atas desakan pengikutnya]
lebih memilih kehidupan jangka pendeknya daripada jangka
panjangnya. Ia tinggalkan kebenaran, dan ia ikuti hawa nafsunya.
Sehingga malanglah nasibnya. Ia tidak lagi menjadi orang yang
tercerahkan, tetapi justru konfrontasi dengan Nabi Musa. Ayat itu
ditutup dengan kalimat “ceritakan kisah itu agar mereka berpikir”.

Jelaslah sudah suatu kisah, hikayat, sejarah, disampaikan kepada


generasi berikut-nya itu bukan hanya untuk dipercaya, tapi dipikirkan
pesan-pesan dan kandungannya agar manusia bisa melangkah dengan
benar ke masa depannya. Apa mutiara hikmah yang ada di dalam
suatu kisah atau sejarah, atau bahkan legenda, itulah yang harus
ditimba. Jadi, dengan berpikir kita tidak hanya terpaku pada fakta.
Tetapi kita lebih melihat makna yang terkandung, sehingga kisah,
sejarah, mitos, legenda itu dapat digunakan sebagai tongkat untuk
menyongsong hari depan kehidupan manusia. Dengan berpikir
manusia dapat mencari makna dan realita di balik fakta-fakta dan
data. Kita bisa memahami kebenaran yang terselubung oleh bentuk
objek-objek yang tercerap oleh indera.

Jika berpikir itu menjadi fungsi pokok manusia, lalau dimana letaknya
intuisi dan wahyu bagi manusia? Lalu, apa artinya kita harus
meningkatkan di ke tingkat kesadaran "zero mind" atau "No-mind"?
Ingat, 'to mind' tidak sama dengan 'to think' apa lagi dengan 'to
contemplate' [merenungkan]. Pada pelajaran kali ini tidak dibahas dulu
perihal wahyu atau intuisi. Tetapi perlu diberikan gambaran agar
konsep 'berpikir' menjadi jelas. Para nabi bukanlah orang-orang yang
bodoh. Bahkan mereka adalah manusia-manusia yang sungguh-
sungguh merenungkan [berpikir mendalam] kebenaran di alam ini.
Mereka merenung agar bisa menemukan solusi dalam kehidupan di
dunia maupun di akhirat. Dan solusi itu untuk kesejahteraan manusia,
baik sebagai individu maupun komunitas.

Sekarang mari kita lanjutkan ulasan ayat 18:28-29. Kita diperingatkan


untuk tidak mengikuti orang-orang yang melalaikan hatinya untuk
berzikir. Dengan kata lain, kita jangan termasuk orang-orang yang
memperturutkan hawa nafsu. Bagaimana kita bisa menjadi tenang dan
berpikir jernih jika yang kita ikuti itu orang-orang yang menjadikan
hawa nafsu sebagai pimpinannya. Orang-orang yang mengedepankan
hawa nafsu mereka itu lebih mementingkan pribadi dan golongan
mereka. Bukan kebenaran yang menjadi perhatian atau kepedulian
mereka, tetapi 'kepentingan'. Karena itu orang demikian disebut
'selalu melampaui batas' dalam urusannya. Orang demikian memang
sudah tidak kenal dan tahu lagi batas-batas yang harus dipatuhi. Nah,
kalau hidup tanpa batas, kemana lagi perginya kalau tidak semakin
melenceng.

Kebenaran sudah pasti datangnya dari Tuhan. Wong semua ini


diciptakan berdasar-kan kebenaran, dan bukan kebatilan. Tentu saja
yang mengetahui hakikat sesuatu adalah Tuhan, karena Dia-lah
pencipta segala sesuatu. Tetapi, di bumi ini, cuma manusia yang
dianugerahi "al-qalam", atau akal. Dengan al qalam manusia dapat
mengetahui sesuatu yang tidak diketahui sebelumnya. Dengan
berbagai kelengkapan yang diberikan Tuhan, manusia diberi
kebebasan untuk menjadi manusia beriman atau kafir. Jadi, manusia
tidak dicetak untuk menjadi beriman atau kafir. Karena itu manusia
diberi amanat dan dituntut tanggungjawab dan akuntabilitasnya. Tak
ada pengertian 'jabariyah' atau paksaan Tuhan dalam agama. Karena
itu, hidup beragama pun tidak dipaksakan.

Dalam ayat 28:50 ditegaskan bahwa orang yang mengikuti hawa


nafsunya tidak akan mendapat petunjuk dari Tuhan. Orang yang
menuruti hawa nafsu disebut juga sebagai 'orang zalim', orang yang
menganiaya. Dan, petunjuk Tuhan tak akan datang pada si zalim.
Celakanya jika si zalim ini menjadi 'penggede', pejabat tinggi, elite,
atau mala'. Petunjuk Tuhan tak akan sampai pada mereka. Akibatnya,
rakyat bawahan akan menjadi sengsara. Tetapi, percayalah, jika di
tengah suatu komunitas masih ada orang-orang yang 'berzikir dan
berpikir' suatu saat pasti ada orang yang menjadi juru ingat! Di tengah
deru kezaliman masyarakat industri di Eropa abad ke-19, muncullah
Nietzsche [meskipun kita dididik keliru dalam melihat dia]. Di tengah
kezaliman komunisme Soviet, muncullah Gorbachov yang
mendengungkan 'glasnost' dan 'perestroika'. Tentu saja, tidak cukup
hanya munculnya sang juru ingat. Tetapi perlu ada tindakan! Dan
tindakan itu harus bisa diterapkan berdasarkan 'POAC', perencanaan,
pengorganisasian, pengaktualisasian, dan pengawasan yang benar.
Penegakan moral dan keadilan tidak cukup hanya dengan modal niat.
Harus disertai kemauan, kehendak, dan kepiawaian. Karena kebenaran
tidaklah berjalan dengan sendirinya.

Puncak dari mengikuti hawa nafsu adalah menjadikannya tuhan. Yaitu,


menjadikan hawa nafsu itu sebagai tuhan yang disembah dan
dipatuhi! Inilah syirik yang tidak tampak rupanya, tetapi lebih dahsyat
dari berhala. Kalau berhala berupa patung, hanya orang bodoh yang
memuja. Tetapi berhala 'hawa nafsu', orang yang berpengetahuan
'sundul langit' [setinggi langit] pun bisa menjadi pengikutnya. Jika
orang memperturutkan hawa nafsu, maka Allah membiarkannya
tersesat. Pendengaran dan hatinya dibiarkan tertutup karat. Nasihat,
petunjuk, petuah tak mempan lagi. Bahkan penglihatannya pun ada
tutupan. Sehingga jerit derita masyarakat tidak tampak lagi.
Semuanya bagaikan angin lalu. Dianggap seperti kentut, bau sebentar
dan hilang. Mau cari petunjuk dari siapa lagi, kalau tidak kembali
kepada Allah? Agar pemikiran kita tidak masuk ke jurang setan, maka
kita harus "berpikir+berzikir". Manakala kita membuang pemikiran,
maka kita tinggal tunggu bencananya!

Kajian kita kali ini merupakan bagian terakhir dari zuhud, dan bagian
ke-18 adalah "topik ridha". Semoga kita bisa berzuhud di tengah
kehidupan modern dan tanpa batas ini, tanpa harus mengasingkan diri
di gua-gua. Wa billahi t-taufiq wa l-hidayah.

Bagian ke-18
(Ridha)

Hari ini kita masuk ke dalam pembahasan “ridha”. Kata ridha sudah
diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi “rela”. Yang artinya
berbuat atau bertindak dengan suka hati tanpa pamrih. Rela juga
berarti dengan kemauan sendiri dan tanpa paksaan. Nah, ‘ridha’
sebenarnya memiliki makna yang lebih dalam daripada ‘rela’. Dengan
kata lain, rela hanyalah bagian dari ‘ridha’. Walaupun dalam kamus
bahasa Indonesia, kata ridha disamakan dengan rela.

Ridha [yang di dalam kamus ditulis juga ‘ridlo’] adalah suatu maqam,
posisi, atau tingkatan dalam perjalanan spiritual (tasawuf). Mengapa
oleh pakar atau ahli tasawuf ‘ridha’ tidak ditempatkan pada tangga
pertama? Jika ridha menjadi tangga pertama, maka ia akan
berkonotasi ‘tindakan yang dilakukan karena kekalahan’. Ridha bukan
lagi sebagai perjuangan untuk mendaki dalam perjalanan spiritual,
tetapi berserah diri karena suatu paksaan. Karena itu, orang yang
ridha bukan orang yang berserah diri karena kekalahan, tetapi orang
yang menang dan berserah diri.
Konteks ridha tidak dapat dipisahkan dengan ‘kecintaan kepada Allah’.
Pada awal pelajaran tasawuf telah saya sampaikan makna dan
perwujudan cinta, yang bersandar pada ayat 3:31, “Katakan
[Muhammad] kepada mereka, ‘jika kalian benar-benar mencintai Allah,
ikutilah (beritibaklah) kepadaku, niscaya Allah mencintai kalian dan
menutupi dosa-dosa kalian. Sesungguhnya Allah itu Maha Pelindung
dan Maha Penyayang.’” Sudah saya jelaskan pula bahwa ‘mengikuti’
tidak sama dengan meniru atau taklid. Mengikuti berarti
memperhatikan keteladanan yang ditampilkan oleh Rasul saw lalu
diterapkan dalam kehidupan sehari. Bukan karena Rasul berjenggot
dan bergamis, terus kita pun ikut berjenggot dan bergamis. Kalau itu,
anak kecil pun dapat mengikutinya, tak perlu memahami ayat-ayat Al
Quran. Padahal banyak ayat di dalam Al Quran yang memerintahkan
kita untuk memperhatikan dan memahami ayat-ayat-Nya yang ada di
dalam kitab-kitab-Nya maupun yang kauniyah, yang digelar oleh
Tuhan di alam raya ini. Jadi, mengikuti Rasul tidak identik dengan
meniru beliau.

Mengikuti keteladannya harus disertai dengan aktif berfikir dan


berzikir. Orang Islam harus pandai menimbang bagaimana
mengimplementasikan ajaran Islam dalam situasi dan kondisi yang
ada sekarang berdasarkan teladan dari beliau. Sehingga orang yang
mengikuti keteladanan beliau betul-betul hidup dalam ‘naungan’ Ilahi.

Dalam pandangan ahli makrifat, ridha adalah buah dari mahabbah,


cinta, yang paling mulia. Apa sebabnya? Karena pecinta [orang yang
sudah jatuh cinta] harus selalu merelakan apa yang diperbuat oleh
kekasihnya. Dan ketahuilah, yang dicinta itu adalah Dia Yang Maha
Agung, yang melindungi para pecintanya. Saya tidak menggunakan
kata “pencinta”, tetapi “pecinta”. Pencinta adalah orang yang
mencintai pada saat tertentu. Sedangkan ‘pecinta’ adalah orang yang
betul-betul mencintai tanpa terikat oleh ruang dan waktu. Jadi, yang
mendapat perlindungan dari Allah adalah para ‘pecinta-Nya’ dan
bukan ‘pencinta-Nya’.

Dalam sebuah Hadis Qudsi disebutkan:

“Man lam yardha bi qadha-i wa lam yashbir ‘ala bala-i falyaltamis


rabban siwaya.”

[Barangsiapa tidak rela terhadap ketetapan-Ku, niscaya dia tidak akan


sabar terhadap ujian dari-Ku. Jika sudah begitu, biarlah dia mencari
Tuhan selain Aku.]

Nah, ridha ternyata terkait dengan kerelaan untuk menerima “qadha”


atau ketetapan Tuhan. Ketetapan yang mana? Bukankah Tuhan itu
Maha adil? Tuhan jelas Maha Adil. Tetapi keadilan Tuhan tidak
sewenang-wenang, atau bersifat zalim. Hal ini sudah kita pelajari pada
bagian yang lalu. Jadi, ketetapan yang harus kita terima dengan rela
hati adalah ketetapan yang sudah kita setujui sebelum kita lahir.

Contohnya seperti apa ketetapan yang kita setujui sebelum kelahiran


kita? Ya, kita dikandung oleh ibu yang melahirkan kita. Itu pilihan kita!
Meskipun kita tidak mampu mengingatnya. Sehingga ada orang yang
protes, ‘salahnya siapa mau melahirkanku, kan bukan aku yang minta
dilahirkan’. Protes itu benar bagi orang-orang yang hanya mampu
memahami kulit sebuah objek. Tetapi protes itu salah bagi mereka
yang mampu memahami makna yang terkandung dalam suatu objek.
Bagi anak kecil, suatu benda hanya dikenal kulitnya atau bentuk
luarnya. Dia tidak mengerti bahwa suatu benda itu mengandung
energi potensial dan energi kinetik jika bergerak.

Seperti yang telah saya uraikan, seseorang tidak akan sabar terhadap
sesuatu jika dia tidak mengerti rancangan atau program yang
terkandung dalam sesuatu yang sedang dihadapinya itu. Sama halnya
dengan kehidupan kita ini. Bila kita tidak memahami bahwa dahulu
sebelum kita lahir ini sudah teken kontrak dengan Tuhan, kita pun tak
akan rela dengan ketetapan yang ada. Dan akhirnya, kita pun tak akan
sabar terhadap berbagai hal yang menimpa kita. Karena itu, disindir
oleh Tuhan, “jika begitu yaa biar-lah dia mencari Tuhan selain Aku”.

Setiap manusia yang dilahirkan di dunia ini, sebenarnya sudah teken


kontrak sebelumnya. Yaitu, di ‘alam nafs’ atau ‘alam jiwa’. Dalam
kalimat Al Quran hal ini dinyatakan cukup sederhana, hanya dengan
kalimat “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”. Di alam nyata, meskipun
berupa alam nafsani, ya betul-betul suatu kerelaan untuk menempuh
kehidupan di dunia ini dengan segenap pertanggungjawabannya.
Namun hal ini tidak bisa saya ceritakan di tulisan ini. Mengapa sulit?
Karena yang diceritakan ini sebuah kenyataan yang hanya bisa
dialami.

Untuk memudahkan, saya berikan gambaran tentang keyakinan. Yang


kita terapkan pada hal yang nyata. Telah kita ketahui bahwa ada tiga
tingkatan keyakinan, yaitu, ilmu l-yaqin, ‘ainu l-yaqin, dan haqqu l-
yaqin. Banyak orang yang secara teoritis hafal tahapan ini. Tetapi, bila
diminta untuk menunjukkan perbedaannya dalam kehidupan sehari-
hari, dia mengalami kesulitan. Hal ini terjadi, karena dia tidak
memahami apa yang dimaksud dengan tahap ilmu, ‘ain, dan haq.
Terutama, biasanya kesulitan membedakan antara yang ‘ain dengan
yang haq. Nah, sekarang saya beri contohnya dalam kehidupan sehari-
hari. Berdasarkan pengetahuan yang ada kita tahu adanya minuman
kopi. Tetapi, berdasarkan pengetahuan semata-mata, kita dapat salah
dalam memastikan suatu minuman itu kopi atau bukan. Nah, setelah
kita meminumnya, kita bertambah yakin bahwa yang diminumnya itu
kopi atau bukan. Pengalaman minum kopi ini disebut ‘ainul-yaqin.
Hanya pernah minum kopi, dan tidak pernah menghayati dalam
meminumnya, kita tidak akan mengetahui jenis kopi apa yang
diminum itu. Kita pun tidak mengetahui kopi tersebut berasal dari
daerah mana. Seseorang yang sudah dapat membedakan ini jenis
robusta, atau arabika, dari Indonesia atau dari Afrika, maka dia disebut
sudah ada di tahap haqqul-yaqin.

Hidup juga melalui tahapan demikian. Ketika kita mengetahui ayat-


ayat Tuhan hanya karena diajar oleh orang lain, maka keyakinan kita
baru pada tahap ‘ilmul-yaqin. Setelah kita merasakan pahit getirnya
hidup ini, maka kita masuk ke tahap ‘ainul-yaqin. Nah, apabila kita
sudah sanggup mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan yang
akan terjadi pada diri kita, kita bisa merasakan hal-hal yang terjadi
pada diri kita, maka kita sebenarnya ada di tahap haqqul-yaqin.
Masing-masing mempunyai jangkauan atau kedalaman tertertentu.
Misalnya, ada orang yang tahu sedikit ilmu. Tetapi, ada pula orang
yang tahu banyak ilmu. Selama belum merasakan atau
mempraktikkan sendiri, kedua orang itu ada pada tahap yang sama,
yaitu ilmul-yaqin.

Al-Quran memberitahu kita bahwa kita telah teken kontrak dengan


Tuhan. Hal ini dikemukakan pada Surat Al-A’raf/7:172 dan Surat
Rum/30:30.

7:172 Dan ketika Tuhan dikau menjadikan lahirnya keturunan bani


Adam, dari zuhur mereka, dan membuat persaksian atas diri mereka
sendiri: “Bukankah Aku ini Tuhan kalian?” Mereka menjawab: “Ya,
kami menyaksikan Engkau.” Kita semua bersaksi. [Persaksian itu
dibuat] agar pada Hari Kiamat kalian tak berkata: “Sesungguhnya
kami telah lalai tentang hal ini.”

7:173 Atau, kalian tak berkata: “Sesungguhnya orangtua-orangtua


kami dulu juga menyekutukan Engkau. Sedangkan kami ini hanya
mereka. Apakah Engkau membinasakan kami lantaran perbuatan
[orangtua-orangtua kami] yang batil itu?”

30:30 Maka hadapkan wajah engkau kepada landasan yang benar.


Allah telah menciptakan manusia berdasarkan fitrah. Tak ada
perubahan dalam ciptaan Allah. Itulah landasan yang benar! Tetapi
sebagian besar manusia tidak mengetahui.
30:31 [Hakikatnya] manusia kembali kepada-Nya. Karena itu,
bertakwalah kepada-Nya, dan tegakkan salat dan jangan menjadi
orang-orang musyrik.

30:40 Allah adalah Yang telah menciptakan kalian. Kemudian memberi


kalian rezeki. Kemudian membuatmu mati. Kemudian membuatmu
hidup lagi. Adakah sekutu kalian yang dapat berbuat sesuatu yang
demikian ini? Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka
sekutukan.

Ayat pertama memberitahu kita bahwa sebelum manusia lahir, jiwa-


jiwa mereka telah mengadakan persaksian dengan Tuhan. Kapan itu?
Ketika jiwa-jiwa itu bangkit dari [jalur tulang] punggung. Dalam
agama-agama India atau Cina, jalur tempat bangkit jiwa ini dikenal
sebagai jalur “qi”, chi. Jalur ini memanjang dari tulang ekor hingga
ubun-ubun. Bagi mereka yang menguasai pusat-pusat energi yang
disebut “chakra”, maka tulang punggung [tulang belakang] adalah
letak titikpusat-titikpusat chakra. Dari jalur itulah tumbuhnya
kehidupan. Al-Quran hanya memberitahukan globalnya saja. Dan
kitalah yang harus berusaha menyelaminya, sehingga kita mengerti
peranan dari tulang punggung tersebut dalam kehidupan ini.

Tuhan membuat persaksian atas diri mereka, atas nafs-nafs mereka.


Dengan kata lain, Tuhan membuat nafs manusia bersaksi atas dirinya
ketika sudah bangkit dari tulang punggung kedua orangtua mereka,
yaitu ketika embrio terbentuk. Nafs-nafs itu bersaksi, mengakui
adanya Satu Kekuatan, yaitu Allah. Nafs-nafs itu bersaksi atas
ketetapan yang harus mereka penuhi ketika sudah lahir sebagai
manusia. Dan, kita semua, nafs-nafs dan Tuhan bersaksi atas ikrar
tersebut. Untuk apa? Agar manusia tak melakukan pengingkaran
terhadap kesaksian itu pada Hari Kebangkitan. Kalau Anda
mencermati ayat berikutnya, tahulah Anda bahwa yang dimaksudkan
dengan kata “Hari Kebangkitan” adalah saat bangkitnya kita di alam
kematian. Ingatlah kembali Hadis Nabi, “Sesungguhnya manusia itu
dalam keadaan tidur, dan ketika mati sesungguhnya dia bangun.” Mari
kita simak lagi Surat Qaf/50:22, “Sesungguhnya engkau telah
melalaikan hal [kematian] ini. Kini Kami membuka tabir yang menutupi
engkau, maka pada hari ini penglihatan engkau menjadi tajam.”

Ketika mati pandangan manusia menjadi tajam. Persaksian yang telah


dibuat pada saat jiwa memasuki embrio tampak kembali. Manusia
melihat dirinya sebagai pemain sandiwara dalam kehidupan ini. Jadi,
manusia tak bisa mengelak lagi. Manusia tidak bisa menyandarkan
perbuatannya pada orangtuanya. Dan ayat 7:173 menunjukkan
dengan jelas bahwa peristiwa kebangkitan itu pada saat kematian.
Perhatikan kalimat akhirnya, “apakah Engkau membinasakan kami
lantaran perbuatan orangtua yang batil?” Kalau peristiwa ini terjadi
setelah kiamat semesta, tentu saja ucapan ini menjadi berantai dari
orang berdosa ke orangtua berdosa ke orangtuanya orangtua berdosa
dan seterusnya tak ada akhir. Hal ini memang sulit sekali untuk
diterangkan jika kita masih ada di tahap ‘ilmul-yaqin.

Ayat 30:30 mempertegas proses kehidupan manusia. Manusia


diperintah untuk melihat landasan yang benar dalam kehidupan ini.
Yaitu, landasan bagi penciptaan dirinya yang disebut ‘fitrah’. Ada
kekeliruan dalam mengartikan ‘fitrah’. Seringkali fitrah diartikan
“suci”. Fitrah diartikan sebagai kehidupan tanpa noda. Jika manusia
semua lahir suci, tanpa noda, maka hasil yang diperoleh dari suatu
pengaruh kehidupan yang sama, seharusnya sama. Misalnya, kalau
ada seratus bayi, dididik dalam ruang yang sama dan cara yang sama,
seharusnya hasilnya pun sama. Ini namanya suci! Jika hasilnya tidak
sama berarti kualitas asalnya tidak sama. Wong perlakuannya sama
kok hasilnya berbeda. Berarti bibitnya tidak sama kualitasnya.

Lalu apa fitrah itu? Fitrah berasal dari kata “fa-tha-ra”, yang artinya
membuat sesuatu terjadi. Contohnya demikian, ada tepung terigu,
gula, telor, air, soda, lalu kita campur dan kita lakukan adukan dan
setelah dioven terbentuklah “roti”. Dengan bahan yang sama tetapi
dengan komposisi kandungan yang berbeda, terjadilah roti yang
berbeda. Nah, fitrah adalah sifat-sifat dasar yang dimiliki oleh
komposisi bahan tadi. Dan bahan untuk penciptaan manusia tidak
berubah. Yaitu, fisiknya terdiri dari tanah, air, udara, api dan cahaya.
Kemudian dimasukkan nafs dan ruh kedalamnya. Nafs yang tekor
energi metafisiknya [akibat hutang sebelumnya] bersaksi untuk
memilih lahir di tengah-tengah keluarga miskin. Ingat, Tuhan tidak
pernah menzalimi hamba-Nya! Dan, hal ini sudah saya jelaskan pada
bagian sebelumnya.

Agar Anda tidak lupa, maka saya tampilkan kembali beberapa ayat
yang jelas-jelas menyatakan bahwa Allah tidak menzalimi manusia. 1)
Sesungguhnya Tuhan tidak berbuat zalim terhadap manusia sedikit
pun, tetapi manusialah yang berbuat zalim terhadap dirinya [QS
10:44]. 2) Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seorang pun
meskipun sebesar debu, dan jika ada kebaikan sebesar debu niscaya
Dia melipatganda-kan dan memberikan pahala yang besar dari sisi-
Nya [QS 4:40]. 3) Dan Tuhan engkau tidak menganiaya seorang
juapun [QS 18:49]. Jadi, jelas sekali yang menyebabkan seseorang itu
lahir dalam kehidupan yang penuh kesusahan itu berasal dari dirinya
sendiri. Justru Tuhan dengan kasih-Nya melipatgandakan kebaikan
yang dilakukan oleh manusia. Tuhan tak pernah korup terhadap
kebaikan manusia.
Lho, kalau kita pernah berbuat sebelum ini, mengapa kita tidak ingat?
Justru manusia tidak ingat itu Tuhan memberi kabar tentang hal ini di
7:172-173. Dan tentu saja, meyakini kebenaran ayat tersebut baru
pada tahap ‘ilmul-yaqin. Wong baru tahu karena membaca sendiri
ayatnya atau diberi tahu orang lain. Dan, penutup ayat itu pun
menyebutkan bahwa “sebagian besar manusia tidak mengetahui
[tentang landasan penciptaan yang benar itu]”. Kalau masih pada
tahap ‘ilmul-yaqin’, manusia sulit untuk bisa memasuki maqam ridha.

Kita sering mendengar orang yang mengatakan “semuanya ini takdir


Tuhan”. Kaya atau miskin, selamat atau tertimpa musibah, semuanya
merupakan takdir Tuhan. Manusia lupa bahwa Tuhan tidak berbuat
zalim sedikit pun terhadap manusia. Ucapan tersebut lahir dari
kekalahan manusia dalam menghadapi tantangan hidupnya. Akhirnya,
Tuhan menjadi kambing hitam dalam kenestapaan hidup manusia.
Manusia lupa bahwa Tuhan telah membuat semua organnya berfungsi
dengan baik ketika dilahirkan. Manusia lupa bahwa lahir sebagai orang
Indonesia, Cina, India, Arab, atau Barat, itu adalah pilihan hidupnya.
Manusia lupa bahwa sambil menjalani peran hidupnya yang sudah
dipersaksikan itu, seharusnya dia menyiapkan masa depannya,
akhiratnya. Baik itu untuk dinikmati dalam kehidupan sekarang ini,
maupun kehidupan nanti.!!

Nah, kita jangan mudah mengklaim bahwa apa yang terjadi pada kita
adalah takdir Tuhan. Padahal itu semua adalah our destiny, takdir kita
sendiri. Tuhan justru memfasilitasi kehidupan manusia, supaya ia
dapat hidup sejahtera. Itulah sebabnya, disebutkan bahwa “kebaikan
sebesar debu [zarah]” akan dilipatgandakan nilainya, dan mendapat
pahala yang besar. Dan, sistem inilah yang disebut fitrah itu! Jadi,
Tuhan tidak merugikan manusia walaupun sebesar debu. Tetapi, bila
ada kebaikan, nilainya dilipatgandakan 10 kali lipat hingga 700 kali,
tergantung kualitas perbuatannya.

Perhatikanlah ayat 30:31, dinyatakan dengan tegas bahwa hakikatnya


manusia itu kembali kepada Allah, kembali kepada jalan Allah, jalan
yang benar. Inilah jalan yang ditempuh manusia dari zaman ketika
manusia belum bisa disebut manusia hingga jadi manusia Homo
sapiens sapiens. Dan agar dapat kembali kepada-Nya manusia
diperintah untuk selalu bertakwa, selalu memelihara dirinya di jalan
yang benar. Manusia harus menegakkan salat, selalu berhubungan
dengan Tuhan Yang Mahaesa, dan tidak menjadi manusia musyrik,
manusia yang mementingkan egonya. Ingat, mengabdi kepada
berhala?berupa apapun?adalah akibat manusia mementingkan
egonya. Apa yang disebut ‘ibadah’ pun bisa menjadi berhala bila itu
lahir dari dorongan hawa nafsu untuk dirinya sendiri, dan memutuskan
hubungannya dengan lingkungannya [biotik dan abiotik, baik yang
hidup maupun lingkungan bukan-hidup].

Manusia harus ingat siklus hidupnya! Ada kehidupan, ada kematian,


dan kembali hidup lagi. Dengan adanya sistem rezeki yang dibuat
Tuhan, manusia terfasilitasi untuk menempuh proses hidup dan mati
hingga menemukan jalan Tuhan. Dengan proses hidup dan mati itu
manusia mampu menapaki keyakinannya dari tingkatan ilmu hingga
yang haq, hingga yang hakikat dalam hidup ini.

Jika kita belum bisa menapaki keyakinan hingga puncaknya maka kita
masih mungkin mengalami hidup dalam kejiwaan yang terbelah. Di
satu sisi, kita yakin akan adanya kehidupan di masa depan. Di sisi lain,
kita berbuat zalim. Padahal Tuhan tidak akan mau menunjuki orang-
orang yang berbuat kezaliman. Bahkan, jika kita melihat keadaan
bangsa kita yang mudah diprovokasi, mudah terseret ke dalam krisis,
gampang ikutan dalam beraksi negatif; menunjukkan kurangnya
orang-orang kuat yang berada di maqam ridha. Padahal adanya elite-
elite di maqam ini kita dambakan sekali, sehingga mereka betul-betul
tanpa pamrih membangun negeri ini.

Demikianlah pelajaran awal mengenai ridha. Semoga pelajaran ini


memotivasi diri kita untuk meningkatkan posisi spiritual kita. Bi l-lahi t-
taufiq wa l-hidayah.

Bagian ke-19
[lanj. Ridha]

Ridha adalah buah dari pohon mahabbah, pohon cinta. Artinya, ridha
tak akan ada bila tidak didahului oleh rasa cinta. Orang yang mencintai
kekasihnya, ia akan rela melakukan dan memenuhi apa yang diminta
oleh sang kekasih. Tetapi, ridha bukanlah hasil dari cinta buta. Ia
adalah hasil dari suatu prestasi spiritual!

Orang yang ridha telah menapaki jalan objektif rasional. Ia tidak


berangkat dari tataran subjektif, semata-mata terhanyut oleh
perasaannya. Ya, menapaki kehidupan tasawuf memang harus sehat
pikirannya. Tak ada dualisme dalam menapaki tasawuf. Jangan dibuat
dikotomi antara kehidupan dunia dan tasawuf. Kita sekarang ini
memang hidup di dunia. Dengan semua komponen intelegensi [IQ, EQ
dan SQ] kita menapaki kehidupan yang objektif dan rasional.
Keyakinan yang kita bangun pun berasal dari keyakinan yang objektif
rasional, yaitu diawali dengan keyakinan berdasarkan ilmu, ilmu l-
yaqin. Lalu, ditingkatkan ke ‘ainu l-yaqin, dan selanjutnya ke haqqu l-
yaqin. Jadi, pendekatan yang dilakukan dalam kehidupan beragama,
khususnya tasawuf, harus dimulai dari tahu dulu, dan bukan yakin
dulu!

Memang, sudah menjadi pendapat umum bahwa dalam kehidupan


beragama orang harus yakin dulu. Inilah pendapat yang salah kaprah!
Bahkan ada yang menganalogkan dengan naik kapal atau pesawat
terbang; yang penting yakin selamat dulu, dan bukan cari tahu kapal
atau pesawat itu akan selamat atau tidak. Ini adalah analog yang
sama sekali tidak benar. Sadar atau tidak, sebenarnya calon
penumpang itu sudah menyimpul-kan bahwa kapal yang akan
ditumpanginya itu aman. Darimana kesimpulan itu datang? Tentu saja
dari keberadaan kapal yang akan ditumpanginya itu. Coba Anda
pikirkan, bagamaina sekiranya lebih banyak pesawat yang jatuh
daripada yang selamat hingga di tujuan. Tentu lebih banyak orang
yang takut naik pesawat daripada yang berani. Hal ini lain dengan
hidup beragama. Hampir semua orang tidak tahu [dengan pasti] apa
yang sesungguhnya terjadi di balik kematian.

Nah, hidup ini ternyata menyongsong suatu misteri. Orang hidup ini
[hampir semuanya] antri memasuki dunia yang tidak diketahuinya,
dunia yang masih gelap! Jika orang beragama itu yakin akan masuk
surga [menurut keyakinan agamanya], terus terang itu hasil dari
keyakinan buta. Lho, hidup beragama kan mengikuti nabi dan rasul
[yang membawa agama], bagaimana mungkin dikatakan mengikuti
keyakinan buta? Nah, nah, di sini yang perlu diluruskan! Ketika nabi,
rasul atau utusan Tuhan itu masih hidup, maka benarlah pernyataan
“mengikuti nabi”. Tetapi setelah nabi atau rasulnya tidak lagi di
tengah-tengah umatnya, maka pemeluk suatu agama sebenarnya
mengikuti “katanya”. Agar tidak masuk dalam kategori “katanya”,
maka kita dituntut untuk mempelajari ajaran yang dibawa nabi itu
secara objektif rasional. Untuk menjadi pengikut seorang nabi, tidak
cukup hanya yakin, tetapi harus menelaah, merenungkan, dan
mencoba memahami makna yang terkandung di dalam ayat-ayat kitab
sucinya. Dan, ini baru tahap ilmu l-yaqin, suatu keyakinan berdasarkan
pengetahuan.

Pengetahuan agama yang diperolehnya itu digunakan sebagai


landasan beramal. Baik amalan itu untuk dirinya dan keluarganya,
maupun untuk orang lain. Tentu saja amalan itu harus bermanfaat
kepada lingkungan hidupnya, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Amalan yang demikianlah yang disebut “amal saleh”.
Kebiasaan beramal saleh ini akan membawa manusia kepada tahap
‘ainu l-yaqin. Ditopang dengan sikap sabar dan zuhud, insya Allah kita
bisa memasuki dunia yang terang, bukan dunia yang gelap lagi. Dunia
yang dimasuki ini tidak misteri lagi, sudah terbuka selubungnya.
Keyakinan pada tahap ini adalah haqqu l-yaqin.
Ketika seseorang sudah mencapai keyakinan yang haq, maka
runtuhlah tembok penyekat diri dan Tuhannya. Iri dan dengki telah
terkelupas dari hatinya. Baku hantam karena berebut kebenaran tidak
ada lagi. Bukan karena dibuat-buat, tetapi memang sudah kasyaf.
Hakikat objek-objek di sekeliling kita telah tersingkap! Pohon cinta,
atau sajaratul mahabbah, tumbuh dengan suburnya. Dari pohon cinta
inilah lahir “ridha”! Orang rela untuk memenuhi permintaan Sang
Kekasih, karena dia yakin dengan haq bahwa Kekasihnya itu tidak
membawa ke alam derita atau alam neraka.

Sebaliknya, jika kita masih berebut kebenaran, berebut “agamaku”


yang benar dan bukan “agamamu” yang benar, berarti kita masih di
tahap keyakinan buta. Wujud dari keyakinan buta adalah menganggap
praktik keagamaannya yang paling benar. Orang semacam ini, paling
tinggi masih berada di tahap keyakinan berdasarkan ilmu atau
katanya. Pada tahap ini agama tidak dijadikan pegangan hidup, tetapi
hanya sebagai identitas. Pada tahap ini orang menjalankan salat,
puasa, zakat dan haji hanya untuk membangun identitas diri. Yang
dalam bahasa sehari-hari disebut menjalankan kewajiban agama.
Dengan telah memenuhi kewajibannya itu, biasanya dia yakin akan
masuk surga. Karena dia telah merasa menjadi kekasih Tuhan! Dan
terus terang, di milis-milis agama sekarang ini, kita masih berkutat
pada klaim-klaim kebenaran agama. Kita tak mempedulikan lagi
apakah praktik keagamaan kita ini sudah bisa mengantarkan ke
tingkat haqqu l-yaqin atau belum.

Marilah kita menelaah dua butir ayat di bawah ini, agar kita tidak
mudah saling klaim terhadap kebenaran agama.

2:94 Katakanlah [Muhammad], “Jika tempat tinggal di akhirat, di sisi


Allah itu, khusus buat kalian dan bukan buat orang lain, maka carilah
kematian bila kalian orang yang benar.”

62:6 Katakanlah: “Hai orang-orang Yahudi, jika kamu mengira bahwa


kamu kekasih Allah, dan bukan orang lain, maka carilah kematian bila
kamu adalah orang-orang yang benar.”

Kedua ayat tersebut ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang


tinggal di Jazirah Arab, di Madinah khususnya. Dan, ini tidak berarti
hanya buat orang Yahudi. Ayat ini hakikatnya ditujukan kepada
seluruh manusia yang bersikap seperti Yahudi tersebut. Nabi
diperintah Tuhan untuk menyampaikan bantahan kepada mereka.
Pada waktu itu, orang-orang Yahudi mengklaim bahwa merekalah
manusia-manusia yang benar, yang menjadi kekasih Allah. Sehingga
mereka mengklaim sebagai manusia yang paling layak menghuni
surga. Bagaimana dengan orang lain? Mereka menganggap orang lain
itu berada di jalan yang salah, dan bukan kekasih Tuhan.

Bantahan apa yang perlu disampaikan oleh Nabi Muhammad?


Bantahannya: jika memang hidupnya benar di dunia ini, ya cari saja
kematian. Buat apa hidup di dunia yang penuh derita ini jika sudah
pasti masuk surga di akhirat nanti. Kan lebih baik buru-buru ke sana,
buat apa menunggu ajal menjemput? Tapi nyatanya mereka tidak
berani mati segera. Mengapa tidak berani mati? Ya, karena kebenaran
yang diakui itu hanya sebatas “katanya”. Coba kalau kita tahu bahwa
kalau kita mati pasti masuk surga, wah kita mungkin tak perlu nunggu
hari esok untuk mati. Coba kalau kita tahu dengan pasti ada juru
selamat bagi kita yang menyelamatkan kita di balik kematian, tentu
kita lomba cepat-cepatan untuk dapat mati.

Makanya, dalam kehidupan beragama ini kita dididik dan dilatih untuk
dapat meningkatkan kemampuan spiritual kita. Untuk apa? Agar kita
bisa lolos dari kegelapan di dunia yang akan datang. Ibadah tidak lagi
dilakukan untuk membangun identitas. Justru ibadah dilakukan untuk
berlatih, riyadhah, untuk meningkatkan kecerdasan kita [IQ, EQ dan
SQ]. Untuk apa kecerdasan perlu ditingkatkan? Ya, untuk memecahkan
persoalan hidup, baik hidup di dunia sekarang ini maupun dalam
kehidupan nanti! Kita tidak boleh spekulasi. Ingat, spekulasi itu
‘gambling’, judi, jauh dari kebenaran. Tanpa berbekal kecerdasan kita
tak akan mampu menjawab teka-teki kehidupan ini.

Dalam kehidupan tasawuf, kita tidak dididik untuk menghafal teori


“wajib, sunat, haram, makruh dan mubah”. Salat dilakukan bukan
untuk membebaskan dari kewajiban dan juga bukan untuk
membebaskan diri dari dosa. Salat dilakukan seperti yang dinyata-kan
dalam Surat Thaha/20:14, “Dirikanlah salat untuk berzikir kepada-Ku”.
Jadi, jelas sekali bahwa salat itu merupakan pelatihan diri untuk
berzikir kepada Tuhan. Kembali pada pelajaran sebelumnya, berzikir
itu untuk meningkatkan?baik kualitas maupun kuantitas?energi kita.
Dan, salah satu bentuk energi adalah kecerdasan. Juga ditegaskan
dalam Surat Al-Ankabut/29:45, “...dan dirikanlah salat, sesungguhnya
salat itu mencegah perbuatan keji dan munkar. Sungguh berzikir
kepada Allah itu paling besar nilainya. Dan Allah mengetahui apa saja
yang kamu lakukan.” Jadi, jelaslah bahwa sasaran salat: pertama,
untuk berzikir kepada Tuhan; kedua, untuk mencegah perbuatan keji
dan munkar. Artinya apa? Salat kita efektif bila ada buahnya!

Karena itu, dalam hidup bertasawuf, bukan pencerahan yang kita


harapkan, tetapi kemampuan kita untuk “bertindak yang
mencerahkan”. Ya, tindakan yang membuat kita cerah dalam hidup
ini, dan juga orang lain menjadi cerah karena perbuatan dan tindakan
kita. Kalau tak ada lagi kekejian dan kemungkaran yang kita lakukan,
tentu saja sisi positifnya yang akan muncul, yaitu amal saleh dan
syukur.

Di atas telah disebutkan bahwa kecerdasan diperlukan dalam hidup


sekarang ini dan nanti, dunia dan akhirat. Dengan kecerdasannya
manusia mampu mempelajari dan memahami realita alam raya ini.
Dengan kecerdasannya manusia dapat memahami cara-cara dunia ini
bekerja, mekanisme alam ini bekerja. Jika kita tidak dapat memahami
di alam sekarang ini, maka jangan berharap bisa memahami cara
kerjanya alam di hari nanti. Marilah kita simak ayat-ayat berikut ini.

17:72 Wa man kana fi hadzihi a‘ma fa huwa fi l-akhirati a‘ma wa


adhallu sabila.

[Barangsiapa buta batinnya di dunia ini, niscaya di akhirat lebih buta


lagi, dan bahkan jalan yang ditempuhnya lebih sesat]

30:07 Mereka itu hanya mengetahui yang lahir dari kehidupan dunia
ini, tetapi mereka lalai tentang kehidupan akhirat.

Manusia terdiri dari unsur lahiri dan batini. Pancaindra adalah


komponen lahiri bagi manusia untuk menangkap kesan-kesan objek di
sekitarnya. Tetapi, apa yang dapat ditangkap oleh pancaindra tak akan
mempunyai arti apa-apa bila tidak dipahami oleh komponen batini
[hati, pikiran, dan lubuk hati] manusia. Bagi anak kecil yang umurnya
di bawah dua tahun, tak akan mengerti bahayanya menyeberangi
jalan raya, meskipun dia tahu di jalan banyak mobil lalu-lalang. Orang
yang tidak memahami akibat berbuat keji dan munkar, seperti berbuat
zalim, menyakiti orang lain, membuat orang lain hidup menderita,
akan seenaknya bertindak dalam kehidupan ini.

Jika sekarang orang itu sudah buta batinnya, maka di alam akhirat
akan lebih buta lagi. Jika sekarang sudah bertindak bodoh dalam
kehidupan ini, maka di akhirat akan lebih bodoh lagi jadinya. Ia tidak
tahu lagi jalan mana yang harus ditempuh. Salat, haji, puasa dan zakat
tak ada artinya bila kekejian dan kemunkaran menjadi kebiasaannya.
Dunia dan akhirat adalah garis kontinum. Dunia dan akhirat bukan dua
hal yang terpisah. Tak ada dikotomi, yang ini buat kehidupan di dunia
dan yang ini buat yang di akhirat. Dikotomi ini yang membuat orang
hidup dengan kepribadian terbelah. Di satu sisi rajin ke rumah ibadah,
tetapi di sisi lain turut berkiprah dalam kemunkaran. Lalu ditimbang
sendiri bahwa ibadahnya lebih banyak daripada kemunkarannya. Ini
namanya spekulasi! Bukan tahu, tapi cuma prasangka.
Coba kita perhatikan kehidupan umat Islam di dunia sekarang ini.
Kemiskinan merajalela di mana-mana, tetapi orang pergi haji semakin
tahun menyebabkan Padang Arafah semakin tak mampu menampung.
Jurang antara si kaya dan si miskin di dunia Islam semakin lebar.
Kebekuan atau kejumudan dalam berpikir melanda umat Islam.
Anarkisme banyak terjadi di negara-negara yang mayoritas
penduduknya beragama Islam. Negara-negara Islam hanya menjadi
objek konsumerisme negara-negara maju. Mengapa hal ini terjadi?
Karena umat Islam lalai tentang kehidupan akhiratnya! Umat Islam
lalai terhadap masa depannya. Umat Islam hanya terpaku pada
kehidupan formal lahiriah. Syariat agama hanya dipahami secara
mentah.

Umat telah kehilangan pijakan. Kehidupan akhirat dipisahkan dari


kehidupan dunia. Kehidupan batiniah dipisahkan dari kehidupan
lahiriah. Seakan-akan dunia dan akhirat merupakan dua jalan yang
berbeda. Dunia fisik dan dunia spiritual dipandang terpisah. Masing-
masing didekati dengan cara yang berbeda. Akhirnya lahirlah sosok-
sosok dengan kepribadian yang terbelah. Dan, runtuhnya peradaban
Islam disebabkan oleh dikotomi-dikotomi. Seolah-olah ada ilmu akhirat
yang sifatnya ‘fardhu ain’, dan ada ilmu dunia yang sifatnya ‘fardhu
kifayah’. Sehingga jika ada orang yang belajar ilmu listrik atau
pertanian dipandang remeh bila dibandingkan belajar Al Quran dan
Hadis. Sungguh berbahaya cara pandang demikian!

Jika kita masih terjebak dikotomi dunia dan akhirat, maka jangan
harap kita bisa meraih maqam ridha. Bukankah kita ini adalah khalifah
di bumi? Bagaimana mungkin kita cuma menghargai ilmu-ilmu untuk
hidup di bumi ini sebagai kewajiban kifayah, atau kewajiban yang bisa
ditinggalkan bila sudah ada seseorang yang mengerjakannya? Lha
bagaimana kalau orang yang mengerjakan itu bodoh? Apa tidak
babak-belur kehidupan umat? Sedangkan ilmu-ilmu agama dihargai
sebagai fardhu ain, yaitu yang harus dilakukan oleh setiap orang.
Seolah-olah dengan belajar ilmu agama terus kita bisa masuk surga!
Dan dengan gampangnya ilmu-ilmu kealaman dinyatakan bukan ilmu
agama. Inilah dikotomi!

Jika kita mau menyimak Surat At-Taubah/9:122, maka tahulah kita


bahwa orang-orang mukmin diseru untuk memperdalam pengetahuan
agama. Tetapi ternyata yang dimaksud dengan pengetahuan agama
pada masa itu berbeda dengan yang dipahami sekarang ini.
Pengetahuan agama, ketika Al Quran masih diturunkan kepada Nabi,
dimaksudkan untuk menjaga diri dalam kehidupan ini. Sekali lagi,
untuk menjaga diri! Menjaga diri di mana? Di bumi ini untuk memenuhi
peranannya sebagai khalifah, wakil Tuhan di bumi ini.
Manusia harus memperdalam ilmu sesuai dengan bakatnya. Kemudian
diintegrasi-kan dalam kehidupan agamanya. Sehingga kehidupan
masyarakat terjaga! Inilah pesan ayat tersebut. Karena itu ketika
perang berkecamuk hebat, setiap golongan masyarakat [firqah]
diperintah untuk mengirimkan serombongan warganya guna menuntut
ilmu agama. Ilmu yang bisa difungsikan untuk menjaga kehidupan
masyarakat.
Memang jenis ilmu pada waktu itu sangat terbatas, cuma berupa
ketrampilan menunggang kuda, memanah, berenang, dan menyulam
[bagi perempuan]. Sedangkan ilmu humaniora baru berupa
pemahaman hukum-hukum agama untuk kehidupan bersama. Nah, Al
Quran sebenarnya adalah pelita. Ia pelita bagi orang yang mencari
ilmu.

Sejak awal pelajaran tasawuf ini telah saya jelaskan bahwa Al Quran
adalah peta bagi perjalanan hidup. Ia merupakan lampu dalam
perjalanan hidup. Peta atau lampu tak ada gunanya jika kita tidak
membacanya dengan seksama. Meskipun petanya jelas, lampunya
terang, tetap tidak ada gunanya jika kita sendiri tidak mau menempuh
per-jalanan. Lihatlah kembali dalil “inna li l-lahi wa inna ilaihi raji-‘un”,
sesungguhnya kita ini berasal dari [atau, kepunyaan] Allah, dan
sesungguhnya kita ini kembali kepada-Nya. Lha, kalau kita tidak mau
ambil pusing dengan khitah kita dulu, kita tidak mau melakukan
perjalanan, ya apa kita bisa sampai yang dituju?

Lalu, apa hubungannya kita mencari ilmu dengan ridha? Ilmu adalah
cahaya bagi kita untuk berbuat atau bertindak. Ilmu adalah petunjuk
pelaksanaan [juklak] bagi kita untuk bekerja yang benar dalam hidup
ini. Supaya kita tidak bekerja secara ngawur atau sembarangan. Jika
kita ngawur dalam menjalankan pekerjaan, tidak akan membuahkan
hasil [seperti yang diharapkan]. Atau, kalau toh ada hasilnya, amat
jauh dari memadai. Karena itu kita mencari ilmu! Dan, itu harus
terintegrasikan dalam kehidupan beragama seperti yang dipesankan
pada ayat 9:122.

Dengan demikian, ilmu merupakan cahaya bagi kita dalam menjalani


kehidupan bertasawuf yang benar. Dengan ilmu itu kita dapat
bersabar, berzuhud yang didalamnya terkandung iman, hijrah dan
jihad. Bila yang kita lakukan itu benar maka kita akan sampai pada
puncak keyakinan yaitu haqqu l-yaqin. Tak ada lagi keraguan! Tidak
syak lagi terhadap permintaan Sang Kekasih. Kita rela, ridha. Pada
saat kita ridha itu cahaya kesadaran memancar di dalam diri kita. Ya,
kita menjadi sadar bahwa kita sebenarnya berdiri dan bergerak di
hadapan Ilahi.
Untuk itu, marilah kita simak ayat penutup pelajaran hari ini. Yaitu
Surat Fathir, ayat 27 ? 28. Ayat ini biasanya dipenggal ujungnya,
sehingga berbunyi “yang paling takut di antara hamba-Nya adalah
ulama”. Kenyataannya sangat banyak ulama yang tidak takut, alias
tidak menyadari Tuhannya. Bagaimana bisa disebut takut, bila mereka
tetap berkolaborasi dengan kekuasaan demi kesejahteraan hidup
mereka sendiri?

35:27 Apakah engkau tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya


Allah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu dengan air itu Kami
tumbuhkan buah-buahan yang beraneka macam warnanya. Dan, di
antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang
beraneka warna. Dan, ada yang sangat hitam.

35:28 Demikian pula yang terjadi pada manusia, hewan melata, dan
binatang ternak, beraneka macam warna dan bentuknya.
Sesungguhnya yang betul-betul sadar [takut] terhadap Allah di antara
hamba-Nya adalah para orang yang berilmu. Sesungguhnya Allah
Maha Perkasa dan Maha Melindungi.

Perhatikan ayat-ayat tersebut dengan seksama. Manusia dituntut


untuk memahami tanda-tanda dan gejala-gejala di alam. Untuk apa?
Agar kita mengetahui dengan pasti bagaimana alam itu bekerja.
Sehingga kita tidak ngawur dalam bertindak. Sehingga kecintaan kita
pada Sang Kekasih berbuah ridha. Nah, ujung ayat itu memberi tahu
bagi pencari ilmu, pencari kebenaran, bahwa sesungguhnya
merekalah orang-orang yang sadar terhadap keberadaan Allah. Yang
sadar terhadap Allah itu bukan para “ulama” yang kita kenal sekarang
ini. Yang dimaksud ayat ini bukan “ulama” sebagai jabatan, tetapi
orang-orang yang dikaruniai ilmu oleh Tuhan.

Bagian ke-20,
[lanj. Ridha]

Sampai pada pelajaran ke-20 ini kita perlu ambil jeda dulu. Kita perlu
menyadari bahwa setiap pelajaran yang telah diberikan tidak boleh
dipisah-pisahkan. Pelajaran tasawuf seperti anak tangga, tangga yang
bawah merupakan landasan bagi tangga yang lebih atas. Karena itu
pelajaran pertama harus dibaca lagi dan dicermati, sehingga kita
dapat mengamalkan tasawuf dengan arif.

Pada bagian ke-19 ditegaskan bahwa orang-orang beriman harus


mencari ilmu, hingga diperoleh keyakinan yang benar, haqqu l-yaqin.
Yang disebut ilmu, bukanlah sebatas apa yang kita pelajari dari kitab-
kitab suci dan hadis. Ingat, kitab suci adalah pelita, bukan obyek yang
kita amati. Ia cuma petunjuk! Yang dengan petunjuk itu kita dapat
melangkah untuk memahami semua obyek. Nah, selanjutnya yang kita
pelajari itu adalah gejala-gejala, sifat-sifat dan ciri-ciri alam. Baik alam
itu ada di luar maupun di dalam diri kita! Dengan cara demikian kita
bisa berjalan di atas jalan yang benar.

Jika kita sudah berjalan di atas jalan yang benar, maka kita akan
sampai pada tujuan yang benar. Tujuan yang benar, itulah Allah! Inna
li l-lahi wa inna ilaihi raji-‘un, “sesungguhnya kita ini berasal
[kepunyaan] Allah dan sesungguhnya kita kembali kepada-Nya”. Jadi,
jelas sekali bahwa cepat atau lambat kita pasti kembali kepada-Nya.
Dan kembali kepada-Nya tidak berarti kembali kepada “sosok” di
suatu tempat. Yang membutuhkan tempat itu bukan Allah. Ia cuma
makhluk seperti kita, meskipun mungkin jauh lebih hebat daripada
manusia.

Dalam kalangan sufi, kalimat tauhid “la ilaha illa l-lah”, tiada tuhan
keculai Allah diuraikan menjadi 3 ungkapan kalimat thayyibah.

Pertama, “la maujuda illa l-lah”, eksistensi yang sebenarnya adalah


Allah. Jadi, kenyataan yang sebenarnya adalah Allah. Lalu, kita,
makhluk hidup lainnya dan benda-benda yang ada ini apa? Bukankah
kita ini sebuah ‘kenyataan’? Semua wujud di alam ini adalah
manifestasi dari kenyataan dan bukan kenyataan itu sendiri. Segala
sesuatu ini hanya ‘nyata’ sesaat, kemudian berubah menjadi
‘kenyataan’ yang lain. Meskipun Anda mengenali wajah saya saat ini,
tetapi sebenarnya wajah saya terus berubah. Hanya saja perubahan
saya ini tak terdeteksi dalam waktu yang relatif pendek. Walaupun
Anda tidak mampu mendeteksi perubahan wujud saya, tetapi 10 tahun
kemudian Anda akan mengenali adanya gurat-gurat ketuaan di wajah
saya.

Jadi, apa yang nyata saat ini sebenarnya sesaat lagi telah berubah,
tidak lagi persis sama dengan sesaat yang lalu. Karena itu, tiada yang
maujud, tiada yang betul-betul eksis di alam ini, kecuali Tuhan. Orang
Buddha menggambarkan alam ini seperti pikiran. Ia selalu datang dan
pergi! Ia tak kekal. Artinya, tak punya wujud yang kekal. Nah,
menapaki jalan tasawuf sebenarnya melangkah ke depan untuk
menemukan yang Maha Kekal, yang benar-benar Maujud.

Kedua, “la ma’buda illa l-lah”, tak ada yang patut diibadahi [diabdi]
kecuali Allah. Jadi, hidup yang sebenarnya itu cuma untuk mengabdi
kepada Tuhan. Karena itu, di Al Fatihah dinyatakan dengan tegas
‘hanya kepada Engkau kami mengabdi’. Dan, ayat ini dirangkai
dengan ‘dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan’. Lho,
kenyataannya kita ini saling menolong, jadi tidak benar dong jika
hanya kepada Tuhan kita minta pertolongan?
Petunjuk yang kita peroleh dari Al Fatihah adalah “kami” dan bukan
“aku”. Jadi, pengabdian kepada Allah itu ada dalam bentuk komunitas,
dan bukan sendirian. Islam mengajarkan bahwa pengabdian itu
bersifat ‘jamaah’ bukan perorangan. Lalu, apa yang dimaksud dengan
pengabdian kepada Allah? Ingat, makna mengabdi adalah melayani.
Mengabdi kepada Allah berarti melayani Allah. Jangan diartikan secara
harfiah! Karena hakikatnya Allah tidak membutuhkan apa-apa
[termasuk pelayanan] dari hamba-hamba-Nya. Yang memerlukan
pelayanan, ya kita-kita ini! Nah, agar kita bisa saling melayani, maka
kita harus mengerti aturan dan mekanisme yang telah dibangun oleh
Allah. Aturan dan mekanisme itu telah ditetapkan-Nya di alam raya ini.
Bukan aturan yang dihasilkan oleh hawa nafsu atau kepentingan
seseorang/sekelompok orang! Untuk itu marilah kita baca ayat-ayat di
bawah ini.

28:88 Dan jangan memohon [menyeru] ilah-ilah selain Allah. Tak ada
ilah selain Dia. Segala sesuatu bersifat binasa [fana] kecuali Wajah-
Nya. Hukum itu kepunyaan-Nya, dan kepada-Nya kamu semua
dikembalikan.

55:26 Dan segala sesuatu yang ada di bumi bersifat fana.

27 Dan Yang Kekal adalah Wajah Tuhan engkau. Tuhan yang memiliki
keperkasaan dan kemuliaan.

29 Semua yang ada di langit dan di bumi memerlukan-Nya. Setiap saat


Dia ada dalam urusan [kesibukan].

28:83 Itulah negeri akhirat! Kami menyediakan negeri akhirat itu bagi
orang-orang yang tidak berkehendak untuk menyombongkan diri
[arogan], dan tidak pula menghendaki kerusakan di bumi. Dan akibat
yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa.

10:101 Katakanlah: “Perhatikanlah apa-apa yang ada di langit dan di


bumi. Dan ayat-ayat serta peringatan itu tidak berguna bagi orang-
orang yang tidak beriman.”

Perhatikan ayat-ayat tersebut dengan seksama! Pada 28:88


diinformasikan bahwa hukum [law] itu kepunyaan-Nya. Dia yang
menciptakan dan Dia pula yang menetapkan aturan dan kadarnya.
Dan ternyata segala sesuatu itu bersifat fana, tidak tetap [kekal],
tetapi terus berubah dan akhirnya lenyap. Semua sel yang
membangun tubuh kita pada waktu bayi, sudah lenyap. Tak satu pun
sel kita pada waktu bayi yang masih hidup sekarang ini. Apa yang
kekal di alam ini? Wajah-Nya! Mengapa tidak dinyatakan saja “yang
kekal Diri-Nya”? Karena Wujud Allah itu Maha Abstrak! Tak ada yang
serupa dengan-Nya. Dia tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Semua yang tampak eksis ini sebenarnya manifestasi-Nya. Apa yang


eksis ini adalah wujud dari Cipta-Nya, atau Amar (Kehendak)-Nya [QS
7:54]. Hanya Tuhan yang mempunyai kemampuan untuk mencipta
dan beramar. Semua wujud yang dicipta melalui suatu proses
kejadian. Sedangkan semua eksistensi yang mewujud karena amar-
Nya, tanpa melalui proses. Malaikat dan ruh adalah contoh amar-Nya.
Namun, toh, semua itu fana. Semua ada hanya untuk menunjukkan
“keberadaan-Nya”. Karena itu yang kekal adalah Wajah-Nya! Karena
itu Eksistensi sejati hanyalah Dia. Dan pelayanan di antara sesama
makhluk seharusnya hanya karena Dia.

Setiap saat Dia sibuk melayani hamba-hamba-Nya. Jantung kita


bekerja karena pelayanan-Nya. Kita merasa mempunyai jantung itu,
tetapi kita tak pernah merasa merawatnya. Paru-paru kita bekerja di
luar kontrol kita. Malah Dia yang bekerja untuk kita ini. Karena itu, kita
harus berusaha menjadi hamba yang “ridha”. Dengan kata lain, kita
harus ridha menjadi hamba, atau abdi-Nya! Ungkapan tasawuf ini
tentu saja jangan dipertentangkan dengan lagu “padamu negeri kami
mengabdi”. Karena kata-kata dalam lagu itu sifatnya emosional,
membangkitkan emosi penyanyinya, bukan hakiki. Jadi, kita harus
dewasa dalam menimbangnya. Jangan karena “hanya kepada Tuhan
kita mengabdi”, lantas kita memandang syirik lagu tersebut.

Nah, ternyata untuk mencapai keridhaan-Nya kita tidak boleh


bertingkah laku arogan, dan tidak boleh pula membuat kerusakan di
bumi ini. Kita harus perhatikan dengan seksama gejala-gejala dan
peringatan yang ada di langit dan di bumi. Untuk apa? Untuk
memahami rahasia dan hukum-hukum-Nya. Agar kita bisa berjalan
sesuai dengan hukum-Nya. Agar kita bisa kembali kepada-Nya!

Tetapi sekarang lihatlah lingkungan hidup kita. Bagaimana hutan kita


bisa menjadi gundul. Sungai-sungai menjadi dangkal. Asap menebal
dan merusak atmosfer. Di Timur Tengah perebutan tanah melibatkan
emosi keagamaan. Kelaparan menyebabkan pertikaian antar suku.
Semua ini menunjukkan bahwa sedikit sekali [dapat diabaikan] orang
yang ridha menjadi hamba Tuhan. Seharusnya kalau kita tahu bahwa
kita ini sama-sama hamba Tuhan, sama-sama manusia maka kita tidak
perlu saling menguasai. Akibat saling menguasai adalah kerusakan.

Ketiga, “la maqshuda illa l-lah”, tujuan itu hanyalah Allah. Jadi, tujuan,
aim at, intended, intensional bagi orang-orang mukmin adalah Allah.
Yang lain-lain itu adalah jembatan menuju Allah. Orang berbuat bajik
kepada orang lain, tolong-menolong dalam kebajikan, berkasih-sayang
sesama manusia, memberikan perlindungan kepada mereka yang
lemah, bertutur kata yang arif, dll, semuanya itu adalah jalan-jalan
menuju Allah. Karena tujuan akhir itu hanya kepada Allah maka kita
dilarang menjadi ilah selain-Nya. Apa artinya ini? Ya, kita jangan
menghakimi keimanan seseorang atau kita jangan memaksakan
kehendak dan pendapat kita.

Dalam tasawuf ada kalimat thayyibah yang senantiasa dilakukan oleh


orang-orang yang berzikir. Kalimat ini dibaca ketika memulai zikir.
Bunyinya demikian: “Ya ilahi anta maqshudi wa ridhaka mathlubi”,
Wahai Tuhanku, Engkaulah yang menjadi tujuanku, dan keridhaan
Engkau yang aku cari.

Yang dicari adalah Allah. Tetapi Allah bukanlah obyek! Dia adalah
subyek yang meliputi segala sesuatu, omni present. Ya, Dia memang
hadir di mana-mana. Tetapi kita tak menyadari kehadiran-Nya. Karena
itu kita harus melatih diri untuk mencari-Nya. Untuk apa? Bukankah
berbuat baik [beramal saleh] sudah cukup? Mari kita tengok lagi
landasan hidup ini. Apa itu? Paduan iman dan amal saleh [imas]!
Dengan kata lain, iman dan amal saleh tak dapat dipisahkan. Ia
merupakan satu paket. Perbuatan boleh jadi baik, tetapi motif yang
melandasinya buruk. Orang Jawa memberikan contoh tentang
perbuatan bajik tapi motifnya buruk, yaitu “tulung menthung”.
Kelihatannya dia menolong seseorang, tetapi tujuannya untuk
menjatuhkan orang yang ditolongnya itu. Seperti orang yang
meminjami uang kepada seseorang, tetapi bunganya membuat orang
itu semakin miskin.

Begitu pula iman yang tidak pernah diwujudkan dalam bentuk amal
saleh, bukan iman namanya. Itu cuma kepercayaan! Iman tidak sama
dengan kepercayaan. Kata “iman” memiliki unsur yang sama dengan
“aman” dan “amin”. Yang diharapkan dari keimnan adalah rasa aman
di dalam diri. Dan puncak dari keimanan adalah menemukan Allah!
Buah dari haqqu l-yaqin adalah ma’rifatullah, mengenal Allah. Karena
itu, pernyataan sufi adalah “Engkau tujuanku, dan keridhaan
[kerelaan]-Mu yang aku cari”. Jadi, tujuan hidup itu sejalan dengan
“inna li l-lahi wa inna ilaihi raji-‘un”.

Pada bagian sebelumnya telah diterangkan bahwa kata ‘ridha’ yang


biasa juga diterjemahkan menjadi ‘rela’, juga mempunyai arti pasrah
atau berserah-diri. Ridha menjadi hamba Tuhan, berarti rela untuk
melayani-Nya. Yang juga berarti ‘berserah diri’ kepada-Nya. Anda
tentunya kenal dengan istilah “islam, iman, dan ihsan”. Secara
mudahnya, ihsan adalah perbuatan yang lahir dari sikap merasa terus-
menerus diawasi oleh Tuhan. Singkatnya, ihsan adalah perbuatan
yang lahir dari kewaspadaan. Jika kita telah mampu melakukan
‘waskat’ [pengawasan melekat], maka kita memilih hidup ridha. Dan
jiwa orang yang bersikap ridha ini disebut juga ‘jiwa muthma-innah’.
Nah, di sini kita bertemu dengan ayat QS 89:27-30.

89:27 Hai jiwa yang damai,


28 kembalilah kepada Tuhan dikau dengan ridha dan diridhai.
29 Masuklah ke dalam hamba-hamba-Ku,
30 Dan masuklah ke dalam taman-Ku.

Inilah panggilan terhadap jiwa yang sudah damai, tenang. Ini bukan
panggilan sesudah kiamat nanti. Tetapi sekarang! Pencarian Tuhan
bukan setelah kita mati. Tetapi sekarang ini, ketika hayat masih
dikandung badan. Ingat, Al Quran adalah pelita bagi orang yang hidup
di dunia ini. Ia bukan petunjuk untuk hidup di akhirat nanti. Ia benar-
benar petunjuk untuk manusia yang hidup di dunia ini, dan
implikasinya di alam yang akan datang. Karena itu, jangan menunggu
di sapa atau dipanggil Tuhan nanti setelah mati. Kita harus temukan
Tuhan sekarang, di dunia ini. Anta maqshudi wa ridhaka mathlubi! Di
awal pelajaran ini telah dijelaskan bahwa “dengan berzikir hati
menjadi damai”. Bilamana hati kita telah damai, maka panggilan
Tuhan itu akan terdengar semakin nyaring. Panggilan untuk kembali
kepada-Nya dengan rela, dan akhirnya pun Tuhan merelai. Tuhan rela
agar yang dipanggil itu masuk ke dalam komunitas hamba-hamba-Nya
[jamaah pelayan-Nya]. Lalu, jiwa dituntun-Nya memasuki taman-Nya!
Taman yang penuh kedamaian dan kekekalan.

Nabi Isa as datang ke bumi bukan untuk dilayani, tetapi dia datang
untuk melayani. Muhammad saw datang dengan memproklamirkan
diri bahwa dia adalah hamba-Nya, ‘abduhu. Muhammadan ‘abduhu wa
rasuluh, Muhammad hamba dan pesuruh-Nya. Baik Isa maupun
Muhammad tidak segan untuk memproklamirkan dirinya sebagai
hamba, abdi, atau pelayan! Sekarang ini malahan kita tidak mau
menjadi abdi. Kita malah
berebut menjadi majikan ‘agama’. Kita ingin agama kita paksakan
untuk diterima oleh orang lain. Jadi, kita bukan datang untuk melayani
orang sehingga orang pada tertarik kepada agama kita. Tetapi orang
kita paksa untuk menerima syariat yang kita tawarkan. Kita lupa
bahwa “la ik-raha fi d-din”, tidak ada paksaan dalam agama [QS
2:256]. Agama memang bukan untuk dipaksakan. Agama adalah
nasihat, petuah. Agama adalah jalan yang benar! Sesuatu yang benar
itu jelas batasnya dengan yang salah. Karena itu agama tak perlu
dipaksakan.

Sekarang ini banyak orang yang mencoba memaksakan agama. Ayat


tersebut diberi footnote [catatan kaki]: tidak dipaksakan mengikuti
agama, tetapi bila sudah menga-nutnya harus dipaksa
melaksanakannya. Aha....., ini dia catatan yang melanggar makna
kebebasan yang diberikan Tuhan. Padahal Nabi sendiri datang untuk
menjadi abdi dan pesuruh-Nya. Sebagai abdi Nabi diperintah Tuhan
untuk memberikan teladan yang luhur. Sebagai pesuruh Nabi
diperintah untuk menebarkan rahmat, kasih-sayang. Biarkan orang
meneladani beliau dengan sepenuh kesadarannya.

Ayat 2:256 itu sebenarnya mengajak manusia untuk bersikap ridha.


Agar kita bisa memahami secara utuh ayat tersebut, saya cuplikkan
ayat
tersebut di bawah ini.

Tidak ada paksaan dalam agama. Sungguh telah jelas jalan yang
benar dari jalan kegelapan. Barangsiapa yang mengingkari ‘tagut’, dan
beriman kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang teguh pada
tali yang kuat dan tak akan putus. Allah Maha Mendengar dan Maha
Mengetahui.

Mengapa agama tidak boleh dipaksakan? Agama adalah jalan! Jalan


yang benar itu jelas bedanya dari yang salah, jalan kegelapan. Orang
yang mengingkari tagut, hal-hal yang melampaui batas, dengan kata
lain orang yang beramal saleh, dan beriman kepada Tuhan, maka dia
sebenarnya telah berpegangan pada tali yang kuat, yang tak akan
putus. ‘Tagut’ dari kata ‘thagha’, melampaui. Jadi, tagut adalah
perbuatan atau tindakan yang melampaui batas. Juga biasa
diterjemahkan ‘setan’. Jadi, kalau orang tidak memperturutkan hawa
nafsunya, tidak berlebihan, tidak melampaui batas-batas
kemanusiaan, tidak menyelewengkan amanat, tidak sewenang-
wenang, tidak mau menang sendiri, tidak berbuat demi
kepentingannya sendiri/kelompoknya; maka orang itu telah
mengingkari tagut. Tak perlu lagi agama dipaksakan kepada-Nya.

Lho, bagaimana kalau dia tidak menjalankan syariat? Bukankah dia


harus dipaksa karena telah menerima Islam? Di sini kita harus hati-
hati! Islam bukanlah sesuatu yang harus diterima atau tidak. Islam
adalah jalan, penyerahan diri, submission. Ia diwujud-kan dengan cara
mengingkari tagut dan beriman kepada Tuhan. Atau dengan kata lain,
Islam diwujudkan melalaui iman dan amal saleh. Syariat adalah bentuk
riyadhah atau training untuk mewujudkan imas tadi. Karena ia
merupakan program pelatihan, maka syariat tak pernah lepas dari
pendapat ulama. Syariat yang dijalankan oleh warga LDII ya mengikuti
pendapat tokoh-tokohnya. Yang NU ya mengikuti ulamanya. Muham-
madiyah, Persis, Syi’ah dll juga begitu. Di dalam masyarakat Islam
yang plural, pemaksaan syariat akan menimbulkan gaduh. Bahkan
mungkin malah terjadi pertikaian. Masing-masing pihak akan
mengklaim syariatnya yang benar! Kalau sudah demikian, syariat
bukan lagi sebagai program pelatihan untuk hidup beragama, tetapi
menjadi berhala. Tuhan telah disingkirkan, dan diganti dengan
paksaan manusia.

Sekali lagi, mari kita jadikan agama sebagai jalan, din, landasan untuk
hidup kita. Agama bukan Tuhan, dan bukan pula suku atau
kerangkeng kehidupan. Bila kita sudah mampu menempatkan agama
sebagai jalan, maka ikatan emosional dengan agama akan hilang.
Sehingga suatu peristiwa atau kejadian tidak dikaitkan dengan agama.
Misalnya, kejadian yang menimpa WTC dan Pentagon, jangan
dikaitkan dengan Islam. Itu semua akibat perseteruan antar manusia,
karena mereka yang ber-seteru itu belum ridha menjadi manusia,
hamba Tuhan. Kata arif dari Jawa, ‘manungsa iku manunggaling rasa’,
manusia itu bila dapat menyatukan rasa sama-sama sebagai manusia.
Sama-sama ridha sebagai manusia!

Manusia harus banyak berzikir agar hatinya damai, pikirannya tenang.


Dengan hati yang damai manusia akan ridha memenuhi panggilan
Tuhannya. Nah, sebagai tips hari ini mari kita tingkatkan mutu zikir
kita.

1. Cari waktu yang sepi, misalnya bangun pagi sebelum masuk subuh.

2. Duduk di tempat yang nyaman, dan lakukan duduk yang relaks.

3. Lakukan istighfar [astaghfirullah] secukupnya, 3 atau 7 kali.

4. Baca tasbih, tahmid, dan takbir.

5. Pejamkan mata yang relaks.

6. Ucapkan ya ilahi anta maqshudi.....

7. Sekarang katupkan kedua bibir dengan ujung bawah lidah


menempel ke langit-langit.

8. Pusatkan perhatian pada kedua ujung lubang hidung sambil menarik


napas, disertai ucapan dalam hati “la ilaha illa l-lah”, dan tahan
sejenak di dalam perut Anda.

9. Kemudian lepas pelan-pelan napas tersebut dibarengi ucapan tahlil


dalam hati, dan kita awasi napas tersebut sampai ujung lubang
hidung.

Lakukan tarik dan hembus napas itu minimal 17 kali.


Bagian ke-21
[akhir ridha]

Pada awalnya, ridha berarti rela menerima “qadha”, ketentuan Tuhan.


Kemudian ridha kita ini, kita tingkatkan menjadi rela sebagai “hamba,
abdi Tuhan”. Nah, puncak dari ridha adalah bangkitnya kesadaran
bahwa dunia ini hanyalah “perhiasan”, “sandi wara”, dan “permainan”.
Jadi, ada 3 hal yang perlu kita kupas dan ulas, yaitu dunia sebagai
perhiasan, permainan, dan sandiwara.

Pertama, dunia sebagai perhiasan. Kita semua ini adalah perhiasan.


Kepunyaan siapa? Ya, kepunyaan Tuhan! Lho, Tuhan koq perlu
perhiasan? Katanya, Tuhan tidak memerlukan apa-apa. Dia Maha
Kaya. Betul, betul sekali... bahwa Tuhan tidak perlu apa-apa. Dia tidak
perlu perhiasan, karena Dia itu indah. Dia itu indah! Karena itu, Dia
mencintai keindahan.

Dia ciptakan perhiasan untuk memenuhi kecintaan-Nya terhadap


keindahan. Dan, perhiasan itu berupa dunia, bumi-langit dengan
segala isinya. Tetapi, ternyata yang paling indah....adalah “perempuan
yang saleh”! Nah lho, ada diskriminasi. Lha, kalau saya laki-laki kan
tidak bisa menjadi perhiasan yang terindah bagi Tuhan? Lha wong,
cuma perempuan yang saleh yang menjadi perhiasan terindah. Apa
nggak diskriminasi namanya?

Dalam bahasa Arab, perempuan juga melambangkan kelembutan,


atau bagian yang halus. Jiwa atau “nafs” juga merupakan kata benda
perempuan. Bumi juga diberi status perempuan. Bulan yang
cahayanya terasa teduh bila dipandang, disebut berwatak perempuan.
Nah, perhiasan terindah adalah makhluk Tuhan yang bertabiat
perempuan! Kita tak akan sanggup menerima “qadha” bila tidak
tumbuh kelembutan di dalam diri kita ini. Kita belum bisa menjadi
“Islam”, berserah diri, bila kita belum mampu me-nundukkan
kepentingan-kepentingan pribadi kita. Ya, tapi kan langka, orang yang
dapat mengesampingkan kepentingan dirinya. Justru pada kelangkaan
itu letaknya sebuah nilai! Perhiasan dalam pengertian yang
sesungguhnya, seperti emas, mutiara, permata, dan lain sebagainya
itu mahal karena kelangkaannya.

Dunia ini perhiasan! Kadangkala mempesona. Kadangkala


memperdaya. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Kalau kita
menyadari bahwa nilai perhiasan itu bersifat ekstrinsik, cuma nilai
yang dilekatkan dari luar, maka kita tak akan teperdaya. Jika kita
melihat suatu perhiasan itu indah, sebenarnya karena kita ini
dipengaruhi oleh orang lain yang mengatakan itu indah. Penilaian
terjadi karena pikiran kita dipengaruhi oleh pikiran orang lain sejak
kecil. Sehingga jika kita disuguhi makanan dengan tempurung kelapa
[bathok], sedangkan yang lain dengan piring, maka kita merasa
terhina dan tidak bisa makan. Tapi bagi orang yang minta-minta, dia
tetap bisa makan dengan tempurung atau selembar daun sekalipun.
Bagi si peminta, kelaparan tak ada hubungannya dengan sebuah nilai.
Jadi, ridha menerima Allah berarti menyadari sepenuhnya bahwa dunia
ini cuma sebuah perhiasan, bukan hakiki.

Mari kita perhatikan beberapa ayat yang berkaitan dengan nilai dunia
ini:

3:185 Setiap jiwa merasakan mati. Dan sesungguhnya imbalan


untukmu disempurnakan pada saat kebangkitan. Barangsiapa yang
dijauhkan dari api, dan dimasukkan taman, maka menanglah dia.
Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah perhiasan yang
memperdayakan.
186 Sungguh kalian semuanya diberikan cobaan berupa harta dan
nafs kalian. Dan, kamu akan mendengar banyak caci-maki dari ahli
kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar
dan bertakwa, maka ini adalah perkara yang perlu keteguhan hati.

57:20 Ketahuilah, sebenarnya kehidupan dunia itu permainan,


sandiwara, perhiasan, saling menyombongkan diri di antara kamu, dan
berlomba banyak harta dan anak. Itu ibarat hujan yang menyebabkan
lebatnya tanaman sehingga menyenangkan para petaninya. Lalu,
tanaman itu layu dan tampak kuning, dan akhirnya sirna. Dan, di
akhirat ada azab yang keras dan ada juga perlindungan dari Allah,
serta keridhaan-Nya. Dan, tiadalah kehidupan dunia itu kecuali
perhiasan yang memperda-yakan.

Ayat yang pertama, 3:185, adalah kaidah umum. Apa itu? Setiap diri
merasakan mati. Jika makna mati diperluas, termasuk juga tidur, maka
siapa yang masih memakai raga jasmani dunia ini pasti mengalami
kematian. Dan, suatu imbalan pasti dirasakan bila kesadaran kita ini
bangkit. Anak kecil [kurang dari 2 tahun] tidak terlalu mengerti makna
suatu imbalan. Kesadarannya belum bangkit. Lain dengan manusia
dewasa yang sehat lahir dan batin, kesempurnaan imbalan dari Tuhan
itu akan dirasakan. Jika hidup-nya penuh dengan keridhaan, maka
jauhlah dia dari neraka. Dekatlah dia dari surga. Imbalan surga itu
dirasakan di dalam dirinya. Ia menang! Ia realistis menempuhnya
hidupnya. Ia ridha, rela!

Untuk menopang dan mengukuhkan sikap ridha itu, Tuhan memberi


tahu bahwa kehidupan dunia itu hanyalah perhiasan, kesenangan,
yang sifatnya memperdayakan mereka yang tertarik. Lho, apa tidak
boleh orang bersenang-senang? Tentu saja boleh! Tetapi, jangan
sampai lengah, lalai. Jika kita berekreasi mencari kesenangan, maka
kita pun harus tahu batas. Kita harus “rela” meninggalkan tempat
rekreasi itu bila waktunya habis. Kita kembali! Karena itu dunia ini pun
dikenal sebagai kesenangan sementara. Tidak kekal! Segala sesuatu
yang terus berubah memang tidak kekal.

Konsekuensi hidup di dunia adalah senantiasa berhadapan dengan


berbagai cobaan hidup. Cobaan itu berupa harta benda dan nafs.
Harta benda adalah semua benda yang diberi nilai, diberi “aji”. Kita
belum berebut udara untuk bernapas, karena kita belum memberikan
nilai, harga pada udara. Tetapi jika udara sudah menjadi barang
langka, maka kita akan berlomba untuk mendapatkannya, dan
mengumpulkannya. Nah, apa yang disebut “cobaan berupa nafs”.
Yang terkandung dalam cobaan nafs adalah rasa dan keinginan.
Dalam menghadapi hidup ini manusia sering mengalami rasa takut,
rasa cemas, rasa khawatir, rasa hampa, dan berbagai rasa yang
sifatnya membuat hidup menderita. Sedangkan berbagai rasa senang
mendorong manusia untuk memenuhi semua keinginannya. Seakan-
akan hidup ini hanya untuk memenuhi keinginan. Padahal keinginan
yang dituruti terus-menerus akan menghasilkan dilusi!

Dan, yang harus diingat, bila kita ingin hidup benar, maka datanglah
cemoohan justru dari orang-orang yang telah membaca kitab. Itulah
sebabnya mengapa di negara yang mayoritas penduduknya beragama
banyak sekali orang yang tidak berani menem-puh hidup benar. Tidak
kuat menghadapi cobaan harta-benda dan nafs! Korupsi meraja lela,
karena tidak tahan menghadapi cemoohan para pembaca kitab dan
orang-orang yang mengalami disorientasi dalam hidup ini. Agar tidak
tergoda dan tahan menghadapi caci maki, maka diperlukan kesabaran
dan ketakwaan. Dan, hal ini perlu keteguhan!

Pada ayat ketiga, ditegaskan bahwa hidup ini pun merupakan kondisi
saling me-nyombongkan, lomba banyak harta dan banyak anak.
Memang, setting ayat ini ketika manusia bangga bila banyak anak.
Kalau sekarang justru orang merasa enggan untuk mempunyai banyak
anak. Tetapi lomba banyak harta semakin meraja lela, khususnya di
Indonesia. Karena yang dijadikan perlombaan itu tentang banyaknya
harta, maka jangan heran bila korupsi yang berkecamuk.

Berbangga, menyombongkan diri, dan berlomba banyaknya harta, itu


diibaratkan “hujan”. Ketika hujan turun maka tumbuh suburlah
tanaman milik petani itu. Tanaman yang tumbuh lebat ini
menyenangkan petaninya. Petaninya merasa senang karena dalam
angan-angannya, tanaman itu pun akan berbuah lebat, akan
memberikan hasil besar. Tetapi, tak disangka-sangka datanglah hama
yang menyerang tanaman itu. Tanaman yang tadinya segar bugar,
meranalah seketika. Serangan hama yang hebat, hanya dalam
semalam sudah membuat tanaman layu dan mati.

“Lho, di tengah krisis ini kok orang-orang kaya tidak menjadi merana.
Bahkan mereka tampak jaya saja. Malah yang melarat yang tambah
menderita!” Tentu..., mereka tidak seperti tanaman. Tetapi, dalam
keadaan krisis yang melanda negeri kita ini mereka tampak “layu”.
Coba perhatikan wajah mereka di tv! Pandanglah wajahnya dengan
tenang, tanpa terbuai kekayaan mereka. Sorot matanya, cahaya yang
terpancar dari wajahnya, itu lho yang redup, layu!

Dunia ini hanyalah kesenangan sementara. Kesadaran tentang hal ini


harus kita tumbuhkan. Agar, jika kita menerima anugerah-Nya kita
tidak lupa. Kita tidak terlalu berbangga. Kesenangan itu hanyalah
gelombang pikiran. Ia datang, dan pergi! Karena itu jangan
terperangkap.
Kedua, dunia sebagai permainan. Tahukah Anda bahwa permainan itu
dalam diri-nya sendiri tidak mempunyai tujuan. Sepak bola, misalnya.
Permainannya sendiri tidak meminta pemainnya terdiri dari dua
kesatuan yang bertanding, dan masing-masing 11 orang. Tetapi ada
orang yang menciptakan aturan mainnya, dan diterima oleh mereka
yang bertanding.

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari permainan? Yang bisa kita
ambil sebagai pelajaran adalah “aturan main”. Aturan main itu lahir
dari kesepakatan, konvensi. Aturan itu berubah sesuai dengan
perubahan pengetahuan manusia-manusianya yang terlibat dalam
permainan itu. Aturan permainan sepak bola sekarang ini sudah pasti
sangat jauh berbeda dengan aturan ketika permainan ini baru
diciptakan.

Manusia juga begitu. Aturan manusia zaman berburu berbeda dengan


manusia peramu [pengumpul buah]. Ketika masyarakat manusia
berubah menjadi masyarakat pertanian, aturannya berubah. Tatkala
masyarakat manusia berubah menjadi masyarakat pedagang, ada
transaksi hutang-piutang. Pedagang membuat aturan laba-rugi! Lalu,
muncullah masyarakat industri. Dan sekarang kita berada di tengah-
tengah masyarakat informasi. Semua ini akan mengubah aturan
permainan dalam kehidupan ini.

Sistem pekerjaan, peribadatan, perkawinan, pergaulan, dan


pembernegaraan, itu semua berubah sesuai dengan perkembangan
kehidupan masyarakat. Dalam masyarakat agraris, peribadatan
ditujukan untuk memuja tuhan kesuburan, tuhan matahari, tuhan
sungai, tuhan halilintar dan sebagainya. Ketika masyarakat pedagang
berkembang, maka sistem ketuhanan juga berubah menjadi tuhan
yang menjamin rezeki, keuntungan, kekayaan dan lain sebagainya.
Ketika pertanian dan perdagangan bertemu dan menjadi satu sistem,
maka tumbuhlah agama “tauhid”.

Bagi masyarakat pertanian, munculnya masyarakat perdagangan


mereka anggap sebagai datangnya malapetaka. Nasib petani biasa
dipelintir pedagang. Masyarakat pedagang dipelintir masyarakat
industri. Dan masyarakat industri dikuasai oleh mereka yang
memegang supremasi informasi! Aturan main dalam agama tauhid
yang muncul pada masyarakat petani+pedagang, harus ditafsirkan
kembali, dilakukan re-thinking. Kita bukan hanya rela menjadi abdi,
tetapi bersedia meningkatkan diri untuk mengikuti aturan main di
dalam taman-Nya.
Di mana lokasi taman Tuhan itu? Ada di dalam diri Anda yang
terdalam. Ada di lubuk hati Anda yang mukmin. Di situlah Anda
menjumpai taman, surga Tuhan itu seluas langit dan bumi. Bukankah
bumi dan langit itu tak mampu menjangkau Tuhan? Tetapi, hati
seorang mukmin, hati seorang yang beriman, hati orang yang aman
jiwanya, dapat menjangkaunya. Bumi dan langit, atau alam semesta
tidak mampu me-nampung Tuhan. Tetapi, hati seorang yang aman
dapat menjadi Singgasana-Nya!

Relakah kita mengikuti permainan di taman-Nya? Aha..., rupanya kita


belum siap. Kita belum rela meninggalkan aturan lama yang sudah
tidak fit, tidak cocok lagi. Permainan baru telah digelindingkan Tuhan,
misalnya bioteknologi, kultur jaringan, rekayasa genetika, dan kloning.
Kita tidak rela mengikutinya bahkan kita mengutuknya. Kita lupa
bahwa semua itu tak akan terjadi tanpa kodrat dan iradat Tuhan. Kita
cuma bisa menuduh bahwa itu ulah dari para orang kafir. Akhirnya,
kita sendiri yang “kufr bi n-ni‘mah”, kafir terhadap kenikmatan dari
Tuhan.

Nah, marilah kita sadar bahwa kehidupan dunia ini ternyata hanyalah
permainan. Pemilik permainan itu Tuhan Yang Mahaesa. Karena itu,
mari kita ikuti permainan ini dengan sebaik-baiknya. Jangan dilanggar!
Jika demokrasi yang menjadi permainan kita, maka jangan cari-cari
dan curi-curi dalil agama untuk kepentingan golongan, atau
kepentingan pribadi dengan stempel agama.

Di bawah ini ada ayat-ayat yang menyebutkan bahwa dunia ini


permainan, dan juga sandiwara.

6: 32 Dan tiadalah kehidupan dunia ini kecuali permainan dan sandi


wara. Sungguh negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang
bertakwa. Apakah kamu tidak menggunakan akalmu untuk
memahami?

29: 64 Dan tiadalah kehidupan dunia ini kecuali sandiwara dan


permainan. Dan sungguh negeri akhirat itulah kehidupan yang
sebenarnya kalau mereka menggunakan akal untuk memahami.

Ketiga, disamping sebagai permainan, kehidupan dunia ini ibarat


sandiwara. “Lho, kok demikian? Lha, kalau cuma sandiwara, buat apa
kita hadapi dengan serius?” Jangan gusar dulu. Tuhan
memberitahukan yang sebenarnya. Kalau seseorang menjadi presiden
sekarang ini, itu hanyalah peran. Yang sesungguhnya, dia ini cuma
seorang hamba. Tapi, peran kepresidenannya itu harus disyukuri.
Peran itu harus dijalani dengan sebaik-baiknya. Sehingga timbul
apresiasi terhadap perannya.
Bagaimana orang berperilaku jahat? Itu juga peran! Konsekuensi orang
yang berperan kejahatan adalah menerima hukuman. Lihatlah
sandiwara di atas panggung. Agar penonton tidak kecewa, yang salah,
yang berbuat jahat, menerima hukuman atau dibuat kalah. Lho, kok
mau menjadi pemeran kejahatan? Di sini memang ada “blue print”
bagi orang yang terlahir di bumi. Pernahkah Anda mendengar bahwa
racun itu harus ditangkal dengan racun? Begitulah, sebenarnya “blue
print” kejahatan pada diri seseorang itu untuk menangkal kejahatan.
Namun, tidak semua orang bisa menjalankan peran yang diterimanya.
Akhirnya ia bukan menjadi penangkal kejahatan, tetapi betul-betul
menjadi pelaku kejahatan.

Peran positif mudah dipahami. Sedangkan peran negatif sulit sekali


dipahami dengan cara berpikir normatif. Untuk memahami kejahatan
sebagai peran, tidak cukup dikaji secara teoritis. Ia harus dikaji secara
filosofis, bahkan dipahami dengan spiritual yang tinggi seperti yang
digambarkan oleh Khidir di depan Musa. Pada tingkatan objektif
rasionalnya Musa, Khidir telah bertindak salah karena telah membunuh
seorang anak yang tidak bersalah. Secara lahiriah Khidir telah
bertindak salah. Ia pembunuh. Tapi pada level yang lebih tinggi, Khidir
telah menolak kejahatan yang akan datang. Tidak perlu bingung dan
menjadi beban pikiran. Yang penting kita sekarang ini ambil peran
yang positif, dan kita pentaskan yang sebaik-baiknya.

Anda tak perlu memaksa pikiran Anda untuk mengerti hal-hal yang
belum bisa Anda jangkau. Yang wajar-wajar saja! Laluilah semampu
Anda. Jangan berandai-andai melampaui kemampuan Anda. Nanti
malah terjatuh. Yang perlu kita sadari sekarang ini adalah kita ini
sedang bermain sandiwara. Dan kita terpanggil untuk ambil peran
yang positif. Maka kepositifan peran kita itu kita tingkatkan. Hingga
timbul apresiasi. Bukan apresiasi dari pemain sandiwara lainnya, tetapi
apresiasi dari sang keberadaan. Dalam bahasa spiritualnya, kita
mendapat apresiasi dari Tuhan, Sang Sutradara Agung!

Jika kita bukan penjahat, maka jangan coba-coba berperan sebagai


penjahat. Dan bila kita merasa peran kita sebagai penjahat, maka
peran itu kita optimalkan untuk bisa menolak kejahatan yang lebih
besar. Kalau kita ambil contoh secara nalar, memata-matai orang itu
sebuah kejahatan. Tetapi bila peran itu kita optimalkan sebagai intel
negara, demi keselamatan orang banyak [seluruh negara], maka
pujian yang datang dan bukan sumpah serapah. Mencuri adalah
perbuatan jahat. Tetapi banyak pemerintah, dan kelompok agama
mencuri rahasia negara atau golongan lain. Dan, masih banyak contoh
lainnya yang Anda sendiri bisa mencarinya.
Jika dunia merupakan permainan dan sandiwara. Maka akhirat adalah
kehidupan yang sebenar-benarnya. Hanya saja orang telah
mengecilkan dan menyempitkan makna akhirat. Jika dunia yang
sangat terbatas ini punya fungsi perhiasan [kesenangan], sandi- wara
dan permainan; maka akhirat juga harus kita pahami yang seluas-
luasnya. Yang melampaui pemahaman kita tentang dunia. Selama ini
akhirat hanya diartikan sebagai alam yang akan datang, yang adanya
setelah dunia ini musnah! Ini sebenarnya hanya salah satu makna bagi
akhirat. Padahal dunia dan akhirat itu satu adanya. Perhatikan kembali
“surga” yang seluas langit dan bumi [QS 3: 133, 57:21]. Perhatikan
keberadaan surga dan neraka selama ada semua langit dan bumi [QS
11:107, 108].

Akhirat juga sisi lain dari alam semesta. Bila dunia kita lihat sebagai
kenyatan lahiriah, maka sisi yang tersembunyi, yang batiniah itu juga
merupakan akhirat. Bila dunia itu adalah “kenyataan yang sekarang”
maka akhirat adalah keberadaan yang akan datang. Bila dunia
mewakili pengalaman hidup di bumi ini maka akhirat adalah sebuah
kehidupan di tempat lain.

Dengan memahaminya dalam pengertian yang luas, maka kita akan


bisa mengerti arti bahwa dunia itu hanyalah perhiasan, permainan,
dan sandiwara. Dunia sebagai perhiasan karena nilainya bukanlah nilai
intrinsik. Bukan nilai asli yang terkandung di dalamnya. Emas itu
menyenangkan kita karena ada nilai yang diatributkan kepadanya.
Tetapi, bagi salah satu suku di Irian Jaya [Papua], yang bernilai itu
bukan emas, intan dan berlian melainkan tulang dan gigi babi. Bagi
kanak-kanak, mainan lebih berharga daripada satu ton emas!

Sebagai permainan, kehidupan dunia terus berubah. Aturannya pun


terus berubah sesuai dengan perubahan dunia itu sendiri. Dulu dengan
alasan pasutri tidak punya anak maka suami harus diizinkan kawin
lagi. Tetapi, sekarang ada bayi tabung, ada kloning. Sehingga alasan
itu menjadi usang nantinya jika bayi tabung dan kloning sudah murah
harganya. Sehingga terjangkau oleh mereka yang biasa-biasa saja
kekayaannya. Nah, rela tidak, ridha tidak, kita menyambut perubahan
aturan main itu?

Kehidupan juga sandiwara. Sehingga kita ini adalah pemain di


dalamnya. Tentu harus kita optimalkan pentas kita di panggung
sandiwara ini. Pentas kita harus mampu melahirkan prestasi dan
apresiasi. Bukan apreasi dari sesama pemain sandiwara. Tetapi
apreasiasi dari Sang Sutradara. Sepi ing pamrih rame ing gawe, sunyi
dari pamrih terhadap sesama, tetapi menonjol dalam karya. Sudahkah
kita ridha?
Bagian Ke-22
[Tawakal]

Pada akhir pelajaran tentang ridha, disebutkan bahwa dunia ini adalah
perhiasan, permainan, dan sandiwara. Pada tahap ini pelaku sufi
sebenarnya sudah tumbuh suatu penghayatan. Dan, bukan masih
berada pada tahap awal, yaitu pada tataran objektif dan normatif. Jika
kita masih pada tingkat normatif, maka kita akan terjebak pada paham
jabariah. Suatu paham yang mendefinisikan bahwa hidup ini “jabbar”,
terpaksa. Dalam paham ini manusia tidak mempunyai kuasa apa-apa,
ia hanya berbuat sebagaimana yang ditetapkan di “lauhu l mahfuzh”,
kitab induk semesta.

Pemahaman dan penghayatan di maqam ridha, sudah melampaui


dualisme. Hidup itu bukan jabariah dan bukan pula ‘qadariyah’ [paham
yang meyakini bahwa Tuhan tidak menentukan apa-apa, dan manusia
berkehendak dan bertindak bebas]. Ridha adalah sikap yang seimbang
antara keyakinan predestinasi [jabbar, takdir] dan kehendak bebas,
free will. Praktik birokrasi dan sentralisasi di negara-negara
berkembang dise-babkan oleh masih suburnya keyakinan jabariyah,
meskipun mereka tidak mengerti ‘apa itu jabariyah’.

Pemahaman adanya ‘blue print’, cetak biru pada diri manusia


sebenarnya hanya untuk mengingatkan kembali bahwa manusia telah
berjanji untuk memenuhi ‘qadha’nya. Bukankah kita ini telah
melakukan kontrak dengan Tuhan, seperti yang dinyatakan dalam QS
7:172? Dan, mengoptimalkan penggunaan cetak biru secara positif
adalah untuk menunjukkan hadirnya kehendak bebas yang diberikan
pada manusia.

Pemahaman yang benar tentang kodrat dan iradat, ketetapan dan


kehendak, akan mengantarkan manusia hidup seimbang di dunia ini.
Bukan materialis dan bukan pula immaterialis. Menjadi manusia yang
harmonis di tengah taman-Nya. Itulah sebabnya, saya selalu mewanti-
wanti, mengingatkan bahwa setiap tahap dalam pelajaran tasawuf ini
merupakan lanjutan dari pemahaman tasawuf sebelumnya. Jadi,
pemahaman yang ada dalam setiap pelajaran tidak berdiri sendiri-
sendiri.

Semula manusia tasawuf diangkat dari kehidupan subjektifnya menuju


ke kehi-dupan yang objektif dan rasional. Dari ilmu l-yaqin menuju ke
kehidupan ainu l-yaqin. Dari takwa pada tangga dasar hingga menjadi
manusia wara’ adalah manusia yang hidup mengikuti keyakinan
berdasarkan ilmu, berdasarkan pengetahuan yang benar. Lalu
manusia sufi meningkatkan dirinya ke tahap penghayatan dan
pengalaman hidup, tahap ainu l-yaqin. Tahap sabar dan zuhud. Tahap
tahalli. Tahap kondisioning.

Nah, ridha dan tawakal adalah tahap haqqu l-yaqin. Tahap tajalli.
Tahap manusia yang mewujudkan citra Ilahi. Manusia yang mengasihi
tetapi bukan karena meminta dikasihi. Manusia terhormat bukan
karena dihormati. Manusia kaya bukan karena melimpahnya materi.
Manusia cinta, sebagai manifestasi cinta Ilahi. Tajalli! Karena itu, teori
tasawuf hendaknya tidak dipahami sebagai teori semata-mata.
Penghayatan dan pengalaman ditingkatkan menjadi pemahaman.

Pada tahap awal orang beramal karena diberi tahu. Ada orang lain
yang melang-kah dengan benar, lalu diteorikan. Teori itu
disebarluaskan, untuk dipraktikkan bareng-bareng. Lahirlah manusia
kolektif. Ada aturan buat hidup bersama. Ada sentralisasi dan birokrasi
untuk kehidupan bersama. Penampilan individu amat lemah karena
kuatnya hidup kolektif. Sebaliknya, individu yang kuat, akan merajai
banyak manusia. Inilah ciri manusia di tahap takhalli, syariat. Individu
tidak kuasa mengatur dirinya, tetapi diatur oleh kekuatan dari luar
dirinya.

Kemudian mereka berusaha meningkatkan diri mereka ke tahap


tahalli. Tidak ingin lagi dibelenggu oleh kekuatan kolektif. Mereka ingin
membuat improvisasi. Bukan dikuasai tetapi merasa andil, share,
berperan serta dalam kehidupan ini. Aturan main bukan demi yang
kuat, tetapi demi kehidupan bersama. Orang menyebutnya hidup
dalam alam demokrasi. Hidup bukan hanya dituntut memenuhi
kewajiban, tetapi juga mendapatkan haknya. Faktor inilah yang
ditempakan dalam maqam sabar dan zuhud. Jika individu yang
bertahalli semakin banyak, maka muncullah kehidupan demokrasi
yang dicita-citakan bersama. Di sinilah peranan tasawuf! Bukan hanya
untuk meraih kebahagiaan pribadi, diri sendiri, tetapi kebahagiaan
bersama.

Nah, ridha dan tawakal adalah tahapan puncak kemanusiaan.


Masyarakat bukan lagi merupakan kumpulan individu yang dikuasai
oleh kekuatan di luar dirinya. Tetapi masyarakat yang individu-
individunya mampu beraktualisasi. Individu-individu yang mampu
berbuat dan bertindak dengan kekuatan yang tumbuh dari dalam
dirinya. Mereka adalah individu-individu yang sudah memahami peran
dirinya dalam kehidupan ini. Kalau individu-individu itu diibaratkan “sel
dan jaringan sel tubuh”, ia tidak akan mengganggu yang lain. Mereka
semua tumbuh dalam keharmonisan. Mereka mengerti akan nilai dan
estetika perannya masing-masing. Bagi sel yang hidup di jaringan
organ otak dan sel yang hidup di jaringan organ dubur, sama-sama
menerima perannya dengan rela, ridha. Sudahkah kita mengenal
peran kita masing-masing?

Pada tahap tawakal, yang sedang kita bahas ini, manusia tidak
memandang dirinya dan Tuhannya sebagai ‘dualisme’. Manusia tidak
lagi memandang dirinya dikuasai oleh faktor luar. Tuhan pun tidak lagi
dipandang ada “di luar sana”. Anda masih ingatkan dengan dalil “Dia
bersama kamu di mana saja kamu berada”. Dalam Hadis dinyatakan,
“langit dan bumi tak dapat menjangkau-Ku, tetapi hati seorang
mukmin dapat menjangkau-Ku.” Dia ada di dalam diri sekaligus di luar
diri. Bagi yang belum mukmin, Tuhan tidak ada di dalam diri sekaligus
tidak ada di luar diri.

Nah, untuk bisa memahami aspek kesatuan hamba dan Tuhan,


manunggalnya kawula dan Gusti, “tauhidu l-wujud”, marilah kita simak
beberapa ayat di bawah ini.

“Tuhanmu adalah Dia yang melayarkan kapal di laut untukmu agar


kamu dapat mencari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penyayang
terhadapmu.”1)

“Dan peliharalah dirimu dari bencana yang tidak hanya menimpa


orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Sesungguhnya Allah
sangat keras dalam memberikan balasan.”2)

“Padahal Allah menciptakan kamu dan apa-apa yang kamu


kerjakan.”3)

Mari kita simak! Pertama adalah ayat pertama tentang berlayarnya


kapal di lautan. Kapal yang dikemudikan oleh manusia disebut
dilayarkan oleh Tuhan. Kapal terbang yang terbang di angkasa dengan
menggunakan mesin, juga disebut dijalankan oleh Tuhan. Jadi,
memang tak ada dualisme itu. Meskipun manusia membuat mesin
sehingga pesawat bisa terbang, tetapi bekerjanya mesin itu mengikuti
hukum Tuhan.

Jadi, apa yang kita buat akan terwujud, maujud, bila kita membuatnya
berdasar-kan hukum Tuhan. Cangkok ginjal, cangkok jantung, dan
berbagai macam cangkok organ manusia terjadi mengikuti hukum
Tuhan. Nah, pelajaran apa yang bisa kita petik dari ayat pertama
tersebut?

Ayat tersebut sebenarnya memberi tahu kita tentang proses tawakal


dalam hidup ini. Kata tawakal atau dalam bahasa Arabnya “tawakkul”,
artinya percaya sepenuhnya kepada Tuhan, mewakilkan kepada
Tuhan. Jadi, orang yang bertawakal sebenarnya adalah orang yang
menggantungkan diri 100 % kepada Tuhan. Bukan hanya rela, tetapi
pasrah total kepada-Nya. Persoalannya, apakah pasrah total itu =
pasif? Pasif itu sama dengan benda tak hidup, seperti batu, tanah, dan
lain sebagainya.

Lha, tawakal itu di dalam Hadis digambarkan seperti “burung yang


pagi-pagi meninggalkan sarangnya, dan sore hari kembali ke
sarangnya dengan tembolok penuh dengan makanan”. Itulah tawakal!
Kalau kita melihat dunia safari di Afrika [melihat di tv], kita
mengetahui bagaimana hewan-hewan itu mempertahankan hidupnya.
Singa, misalnya, mencoba menggiring kawanan kijang, atau banteng
hutan. Melihat ada singa yang menggiringnya, kawanan binatang
mangsa itu berlari kesana-kemari. Akhirnya, ada satu ekor yang
kepayahan. Nah, yang loyo itulah yang ditangkap!

Jadi, dalam tawakal, perlu juga keseimbangan alam ini dijaga. Coba
bayangkan kalau seekor singa membunuhi banyak hewan mangsa.
Maka keseimbangan alam akan terganggu. Nah, tawakal tidak
mengganggu alam, bahkan menjaga keseimbangan alam. Dan,
ternyata singa tersebut tidak pasif, tetapi sangat aktif dan betul-betul
mengikuti hukum alam. Menggantungkan diri kepada Tuhan ternyata
sangat aktif, dengan tepat sasaran. Dinamis dan keseimbangan
terjaga. Itulah tawakal!

Dulu orang bertawakal kepada Tuhan dengan dilandasi doa yang


khusyuk. Doa dan mantra sebenarnya sisa-sisa alam mitos yang
dipertahankan dalam agama. Orang yang berdoa, bukan orang yang
pasif, bila doanya sungguh-sungguh. Dengan doa yang sungguh-
sungguh itu kekuatan doa [mantra] terbentuk. Karena itu, pada waktu
itu doa bisa digunakan untuk pengobatan, perlindungan dari berbagai
macam kejahatan dan gangguan orang lain, pencegahan penyakit,
tolak bala [mencegah bencana], dan banyak keperluan lainnya.

Dulu doa bisa digunakan seperti yang disebut di atas, karena waktu itu
konsentrasi pikiran manusia dialirkan ke kalimat-kalimat doa. Bahkan
sihir, tenung, santet, dan bebagai macam kekuatan gelap, kekuatan
negatif adalah wujud dari doa. Tentu saja doa yang negatif. Doa untuk
kejahatan.

Ada perbedaan antara doa sebagai wahana tawakal dan doa untuk
kejahatan. Doa dalam tawakal berarti mengembalikan semua
kekuatan yang ada pada diri ini kepada yang empunya kekuatan, yaitu
Allah. ambil contoh, doa akan bepergian: “Bismillahi tawakaltu ‘ala
llahi, la haula wa la quwwata illa billah.” [Dengan nama Allah, aku
bertawakal kepada Allah, yang tiada daya dan kekuatan kecuali pada-
Nya]. Di sini ada kesadaran bahwa pemilik daya dan kekuatan itu
hanya Allah. sedangkan kita manusia ini hanya mendapatkan rahmat-
Nya. Dalam wujudnya, tentu saja doa tersebut diiringi dengan aktivitas
yang optimal dan benar.

Waktu terus berjalan! Dalam perjalanan alam ini perubahan-


perubahan terus ter-jadi. Jika semula kekusyukan itu mengalir melalui
ucapan yang indah dan lembut yang disebut doa. Maka manusia
memindahkan manfaat konsentrasi itu dari mulut ke otak. Sehingga
terjadi perubahan dari manusia mitos menjadi manusia yang berpikir.
Manusia yang memberdayakan akalnya semaksimal mungkin. Bentuk
doa pun berubah dari “ucapan” ke “perenungan”, dari usaha magis ke
usaha rasional.

Jika dalam usaha magis kekuatan itu hanya dimiliki oleh sedikit orang,
maka dalam usaha rasional kekuatan magisnya bisa didistribusikan ke
banyak orang. Kekuatan rasio bisa diajarkan secara terbuka dan
berkelas. Jika satu orang bertahun-tahun berpuasa dan berdoa mantra
untuk bisa terbang, maka dengan rasio seseorang bisa membuat kapal
terbang dan bisa mengangkut ratusan ribu orang dalam usia
ekonomisnya. Jika seseorang berpuasa dan berdoa mantra selama
bertahun-tahun untuk tidak mempan ditembus peluru, maka dengan
rasio manusia dapat belajar secara massal untuk membuat baju anti
peluru. Nah, di sini kekuatan doa mantra akhirnya dapat di-kalahkan
oleh kekuatan doa pikiran.

Umat secara umum salah mengerti. Dikiranya doa itu hanya tersusun
dari kalimat. Apa akibatnya? Perintah dalam Al Quran “ud-‘uni astajib
lakum” [berdoalah kepada-Ku niscaya Aku memperkenankanmu,” QS
40:60], akhirnya hanya menjadi retorika belaka. Padahal, orang yang
sungguh-sungguh berpikir untuk membuat atau menjadikan sesuatu
itu juga doa. Di tataran konkret sama! Bila ada doa mantra untuk
kebaikan atau untuk kejahatan, maka doa pikiran juga begitu.

Seperti yang telah saya terangkan pada pelajaran ‘ridha’ yang lalu,
perubahan yang terjadi di alam mengakibatkan terjadinya perubahan
aturan main. Jika di masyara-rakat yang mengalami perdagangan
barter tidak terjadi hutang-piutang, maka pada sistem perdagangan
terbuka timbullah hutang-piutang. Bila di dalam zaman datangnya
agama Islam ada hukum “bayi sepersusuan”, lalu sekarang bagaimana
dengan sistem donor susu ibu? Sekarang ada donor darah, cangkok
organ, bayi tabung, kloning, dan lain sebagainya. Ini semua membawa
perubahan pola berpikir manusia. Ahli hukum Islam pun akhirnya
pontang-panting dibuatnya. Dan, makin lama makin pontang-panting
dibuatnya, jika para pemikir Islam tidak mau memberdayakan
pikirannya untuk mengantisipasi dan melakukan peramalan [ilmiah]
kemungkinan yang terjadi di masa depan. Hal ini berbeda dengan Nabi
saw. Wahyu yang diturunkan kepada beliau ber-sifat ke depan
[futuristik]. Misalnya, pembagian waris bagi wanita, wanita bisa
menjadi saksi, wanita boleh berkiprah dalam kehidupan sosial,
penghapusan perbudakan, pene-gakan keadilan sosial, dan lain
sebagainya.

Hanya ulama Islam saja yang tertinggal dalam memahami wahyu


Allah. Sehingga terjadi kebekuan berpikir dalam umat Islam. Bila di
zaman dulu kita terampil berdoa, maka sekarang ini kita harus
terampil berpikir. Nah, konsep tawakal pun harus di-rethingking,
dilakukan pemikiran ulang. Konsepnya yang harus diubah, walaupun
maknanya tetap tak berubah! Tawakal, ya tetap digambarkan seperti
burung yang pergi meninggalkan sarangnya di pagi hari dengan
tembolok kosong, balik sore hari dengan tembolok penuh makanan.

Dulu, orang bertawakal dilandasi kerja keras disertai doa mantra dan
dipasrahkan kepada Allah. Maka, sekarang orang bertawakal harus
dilandasi ketrampilan kerja, disiplin, dan disertai dengan berpikir
jenius. Jika dulu, orang berjamaah dalam salat, puasa, dan haji; maka,
sekarang orang bertawakal dengan pemberdayaan “teamwork”. Dan,
teamwork itu pun seperti kapal yang dilayarkan oleh Tuhan!

Pada ayat kedua, umat Islam diperingatkan. Umat agar menjaga diri
dari bencana yang tidak hanya menimpa kepada orang-orang zalim.
Jika dulu orang yang mengikuti Nuh, Luth, Ibrahim, Musa, Isa, dan Nabi
Muhammad langsung bisa lolos dari bencana, jika bencana datang.
Tetapi, umat Islam diperingatkan bahwa terjadinya perubahan di alam,
mengakibatkan bencana itu tidak pilih kasih. Karena itu umat harus
pandai-pandai bertawakal. Segala macam jenis kejeniusan harus
diberdayakan untuk mengantisipasi masa depan. Nah, hasilnya, apa
yang kita peroleh, itu yang harus kita terima dengan ridha. Tetapi,
tawakal sendiri harus merupakan jihad dan ijtihad yang maksimal.
Jihad bukan perang fisik! Walaupun in a certain extent, sampai pada
tingkat tertentu, fisik digunakan dalam pertempuran.

Ayat kedua itu sebenarnya memberikan antisipasi bagi kenyataan di


masa depan. Manusia tidak lagi hidup dalam sekat-sekat geografi
seperti zaman dulu. Orang zalim maupun yang alim hidup dalam
daerah, bahkan kotak yang sama. Sehingga bila terjadi bencana akan
terhempas semua. Nah, kemungkinan bencana ini harus diantisipasi.
Baru saja kita menyaksikan berbagai bencana yang menimpa negeri
ini, bahkan berbagai macam gempa yang melanda tempat tinggal,
baik di dalam dan di luar negeri. Lalu, kita saksikan secara langsung
bagaimana gedung WTC dihantam hingga hancur. Siapa yang terkena
bencana itu? Manusia dalam segenap kemanusiaannya.
Itulah sebabnya, dari awal kita telah diperintah untuk bertakwa,
beramal saleh, dan saling “ta-arruf”, saling bekerja sama antar
bangsa, budaya dan agama. Jadi, dalam re-thinking konsep tawakal,
ta-arruf tidak cukup diartikan saling mengenal [dalam arti sempit,
konservatif]. Saling kenal, tidak lagi dalam pengertian statis, dan
tertutup. Tapi, sudah menjadi dinamik dan terbuka. Manusia harus
pandai melakukan kerja sama dan “teamwork” yang handal. Inilah
jihad! Kemudian harus ditunjang dengan ijtihad, jihad pemikiran
sehingga kita mampu memberikan solusi bagi masyarakat di masa
depan. Maka lahirhal umat Islam yang ‘rahmatan lil alamin’, rahmat
bagi semua.

Pada ayat ketiga disebutkan bahwa Allah dan manusia adalah


keberadaan yang tunggal. Karena itu jangan cari Allah di luar dirimu,
tetapi carilah di dalam dirimu. Memang ada simbol-simbol bagi rumah
Tuhan, seperti tempat ibadah dan Ka’bah. Tapi, itu hanya simbol.
Awas, jangan keliru persepsi dalam melihat simbol. Bendera ‘Merah
Putih’, adalah simbol bagi kehadiran negara Indonesia. Tetapi, bukan
negara Indonesia itu sendiri. Dengan demikian bendera bisa
diperlakukan secara rasional, dan bukan mitos lagi. Bila kotor, ya
dicuci, kemudian diseterika, dan di simpan di almari. Jika diperlukan,
ya diambil dan dikibarkan.

Ka’bah pun hanya merupakan simbol bagi kehadiran Allah. Ia


dikunjungi, dan dihormati. Bila kotor, ya dicuci. Bila sudah aus ya
diperbaiki! Karena itu Ka’bah dalam sepanjang sejarahnya telah
direnovasi beberapa kali. Hikmah dari kunjungan yang digali dan
dipetik. Kemudian dengan jihad dan ijtihad haji diwujudkan untuk
membangun masyarakat yang berkeadilan sosial. Jadi, haji tidak lagi
merupakan kewajiban tanpa isi. Tapi, ia memberikan inspirasi untuk
pembangunan umat.

Kebaikan apapun yang kita lakukan datangnya dari Allah. Dan, apa
saja yang kita lakukan tak akan terjadi, kecuali dengan izin-Nya. Allah
memang pencipta diri dan apa yang kita kerjakan. Namun, inisiatif
tetap harus lahir dari kita. Kata orang sufi, “aku dan Dia sebenarnya
satu, walaupun aku bukan Dia dan Dia bukanlah aku.” Ingat, Hadis di
atas, langit, bumi dan seisinya tak mampu menjangkau-Ku, tapi hati
orang beriman [yang sudah aman] yang dapat menampung-Ku.
Bagian ke-23
[Tawakal]

Orang yang bertawakal adalah orang yang berpijak pada kebenaran


yang nyata. Tawakal bukanlah teori. Tetapi praktik kehidupan seperti
yang dijalani oleh burung yang pagi-pagi meninggalkan sarangnya
untuk mencari makan. Sehingga tawakal juga terkait erat dengan
tekad dan keteguhan hati. Orang yang bertawakal bukanlah orang
yang bekerja setengah hati.

Ada satu ayat dalam Al Quran yang bahasa Indonesianya:

“Maafkan mereka, mohonkan perlindungan bagi mereka, dan


bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan [hidupmu].
Apabila engkau telah teguh pendirian, maka bertawakallah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”1)

Ayat diatas adalah bagian dari ayat 3:159. Pada ayat tersebut
dinyatakan bahwa budi pekerti Nabi sangat mulia. Dengan kasih-
sayang-Nya, Nabi senantiasa berlaku lemah lembut kepada semua
orang yang ada di sekelilingnya. Sikap yang lemah lembut terhadap
sesamanya itu wujud dari ketawakalan Nabi.

Sikap yang lemah lembut itu ditunjukkan dengan sifatnya yang


pemaaf. Ingat, seorang pemaaf bukanlah orang yang tak berdaya.
Seorang pemaaf adalah orang yang mampu untuk membalas dendam
terhadap orang yang menimpakan penderitaan, tetapi karena
kebesaran jiwanya, dendam itu tidak ia lakukan. Bahkan
memaafkannya. Hal ini telah dibuktikan oleh Nabi ketika beliau
menaklukkan kota Mekah. Ketika rombongan Nabi memasuki kota itu,
betapa takutnya penduduk Mekah. Wajah-wajah mereka pucat pasi,
mereka takut terhadap pembalasan yang dilakukan oleh Muhammad
beserta rombongan yang dibawanya. Tetapi, mereka kecelik, salah
duga. Ternyata Muhammad memberikan permaafan dan pembebasan.

Ayat di atas sebenarnya menerangkan sifat pribadi Nabi yang tampak


sehabis perang Uhud. Dari sejarah kita mengetahui bahwa pada
perang Uhud tentara Islam mengalami kekalahan yang berat.
Disebabkan sebagian regu penempur itu tidak mema-tuhi Nabi sebagai
panglima perangnya. Mereka [para tentara itu] berbuat kesalahan fatal
dalam peperangan. Sehingga pasukan Islam bisa dikalahkan dan
diporak-porandakan. Namun, Nabi selaku panglima perang tidak
menghukum mereka yang desersi itu. Justru Nabi menghadapi mereka
yang membangkang itu dengan penuh kelembutan. Sehingga mereka
merasa malu dan menyesal. Mereka bertambah setia dan tidak kabur
dari Nabi. Bahkan kesalahan itu harus segera dimaafkan. Cara-cara
demikian ini adalah cara-cara orang yang bertawakal kepada Tuhan.

Dalam kehidupan berorganisasi, bermasyarakat, bernegara, ataupun


bersahabat, dibutuhkan seorang pemimpin yang lemah lembut. Bukan
pemimpin yang lemah! Pemimpin yang dipatuhi, dan bukan yang
ditakuti. Hal ini bisa dipenuhi bila orang itu menerapkan asas kasih
sayang terhadap sesamanya. Bisa membetulkan yang salah. Tetapi
bukan mencari-cari kesalahan. Kemudian memberikan maaf bila
bawahan atau rekannya itu ada kemauan untuk tidak mengulangi
kesalahan.

Dalam kehidupan tawakal tidak dibenarkan seseorang mau menang


sendiri. Justru ia harus bisa menjadi kampiun demokrasi. Mampu
berunding, sehingga tercapai win-win solution, solusi yang
menguntungkan semua pihak. Ingat, manusia tawakal adalah orang
yang menang, orang yang tidak bergantung kepada orang lain. Tetapi
ia bersedia menjadi gantungan bagi bawahan atau orang-orang
lainnya. Ia adalah manusia yang kaya, karena itu ia mampu berbagi.
Jadi, sangatlah wajar bila dipenghujung ayat itu dinyatakan bahwa
Allah mencintai [sekali lagi, mencintai] orang-orang yang bertawakal
atau bertawakul. Karena sandaran orang tawakal itu hanyalah Tuhan.

Orang yang bertawakal adalah orang yang condong pada perdamaian.


Mengapa? Karena dalam kehidupan yang damai akan lahir
keharmonisan dan keindahan hidup. Betapa sulitnya menegakkan
keteraturan dan keamanan dalam kehidupan yang penuh pergolakan.
Betapa sukarnya menegakkan dan memberdayakan hukum dalam
nuansa yang centang-perenang. Karena itu dibutuhkan orang yang
bertawakal. Orang yang cinta damai. Bukan orang yang terpaksa mau
diajak damai! Orang yang cinta damai adalah orang yang bersedia
memberikan perdamaian, meskipun ia dapat menolak damai bila ia
mau. Karena posisinya menang. Tetapi orang yang bertawakal
sepenuhnya sadar bahwa yang memiliki kekuatan hanyalah Tuhan. Ia
tidak mau bersaing dengan Tuhan. Bahkan ia sepenuhnya bersandar
kepada-Nya.

“Jika mereka [yang memusuhimu] condong kepada perdamaian, maka


condoglah kepadanya. Dan, bertawakallah kepada Allah.
Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar dan Maha
Mengetahui.”2)

Dalam kehidupan ini banyak orang yang dangkal pemikirannya.


Sehingga siapa saja yang di luar grup atau kelompoknya dianggapnya
sebagai musuhnya. Entah itu karena sentimen golongan, bangsa, ras,
etnis, agama, partai, ataupun lainnya. Sehingga kerja sama yang
dibangun bagaikan sarang laba-laba. Kelihatan rapi, tetapi rapuh. Hal
itu disebabkan karena semua yang diluar golongannya, outgroup,
dipandangnya sebagai musuh. Jadi, jalinan kerjasamanya semu. Itulah
sebabnya persahabatan antar partai atau negara tidak langgeng.
Karena pertimbangannya bukan ketawakalan, tetapi kepentingan.
Tentu saja bukan “WWS” [win-win solution] yang dihasilkan.

Jika bukan karena ketawakalan, rundingan yang terjadi bukan untuk


WWS, tetapi untuk adu kuat. Mereka tawarkan apa yang paling
maksimum bagi kelompoknya. Lalu, karena tarik-ulur waktu, akhirnya
mereka bersedia menurunkan targetnya, sampai pihak yang dianggap
lemah itu dapat menerimanya. Inilah tipe musyawarat, rundingan,
atau negosiasi yang tidak berasas pada ketawakalan. Tak ada
keinginan untuk hidup damai. Yang diinginkan adalah kemenangan
semu. Disebut semu karena itu sebenarnya wujud dari sebuah
penindasan. Golongan yang kuat ingin menunjukkan bahwa damai itu
ada bila kemauannya dituruti.

Dalam suatu organisasi perusahaan pun terjadi kerja sama dalam


permusuhan. Dan bukan kerja sama dalam perdamaian. Bukan asas
ketawakalan, partnership, tetapi asas adu kekuatan dan kekuasaan.
Ada kelompok yang merasa kuat [karena etnis, atau agama] yang
bekerja sama dengan kelompok yang lemah. Kerja sama yang
dibangun karena adanya kepentingan, bukan ketawakalan. Sehingga
mereka yang memiliki posisi tawar yang kuat mempermainkan yang
posisi tawarnya lemah.

Ketika kita dalam posisi yang lemah, kita tak akan bisa melihat
kelemahan orang lain. Pijakan kita sangat lemah, yaitu
ketergantungan dan bukan ketawakalan. Karena itu tasawuf
mengajarkan fondasi yang kuat pada kesabaran dan ridha. Selama
masih dalam posisi yang lemah, kita harus memiliki emosi yang tegar
dan tahan terhadap tekanan-tekanan yang mereka lakukan. Kita tetap
ulet untuk mencari jalan keluar. Kita harus yakin bahwa keuletan itu
adalah sumber untuk mendapatkan kejayaan. Dan bila telah jaya,
jangan balas dendam [ganti menindas]. Justru kita harus menciptakan
nuansa kehidupan yang penuh damai. Inilah asas ketawakalan!

Kemampuan sabar, zuhud, dan ridha akan mendorong seseorang


benar-benar meyakini bahwa Tuhanlah yang menjadi pelindungnya.
Bahkan hidupnya pun dirasakan sebagai jatah yang ia terima dari
Tuhannya. Ia pekerja keras, ulet, dan cermat [smart]. Tak ada keluh
kesah! Tetapi, dia tetap peduli terhadap rekan-rekannya yang merasa
menderita dalam hidup ini. Semboyannya, “lebih baik aku yang
berpuasa daripada dia yang merasa lapar”. Lho, koq mau? Ya, inilah
prinsip deposit. Jadi, ketawakalan adalah wujud dari kasihnya manusia.
Di bawah ini ada dua ayat yang bersambungan, yaitu yang tertera
dalam Surat Ath Thalaq/65: 2-3.3) Sebenarnya jika ayat ini dibaca dari
awal kalimatnya, maka kita mengetahui bahwa dalam kehidupan
bersama, bila terjadi perselisihan, mereka yang posisi tawarnya lebih
kuat harus memberikan jalan keluar yang lebih baik. Inilah watak
orang yang bertakwa, yang maqamnya pada tingkat tawakal.

Jelas bahwa orang yang bertawakal itu orang yang tidak mau menang
sendiri. Meskipun dia berada di atas angin, dia dalam kedudukan yang
lebih kuat, dia tidak mau mengambil keuntungan dari kelemahan
orang lain. Justru dia menawarkan jalan keluar yang lebih baik bagi
sekutunya atau pihak-pihak yang berkaitan dengannya tetapi posisi-
nya lebih lemah. Dia yakin bahwa kebaikan yang diberikan itu tak akan
merugikan dirinya. Bahkan dia akan mendapatkan anugerah dengan
cara memberi. Bukan menda-patkan keuntungan dengan cara
meminta, melainkan dengan cara membari!

Orang-orang yang bertawakal yakin, haqqul yakin, bahwa alam ini


bekerja dengan jujur. Yang dalam bahasa tauhid dinyatakan “Allah
melaksanakan urusan-Nya”. Kalau dia menanam benih yang baik dan
merawatnya, niscaya akan memanen hasilnya yang berlimpah. Karena
itu dia tak pernah ragu dengan kebaikan yang diberikannya. Tuhan
pasti memenuhinya. Mungkin saja tidak dalam bentuk materi, tetapi
dalam bentuk ke-kayaan batin. Atau, dalam bentuk kekayaan lahir dan
batin.

Orang bertawakal tak pernah berdagang dengan Tuhan. Dia tak


pernah hitung-hitungan untung rugi dengan Tuhan. Apa yang
diamalkan tak terkait dengan angan-angan surga. Ia berjalan bukan
untuk menemui sosok Tuhan. Justru ia yakin bahwa dalam perjalanan
hidupnya ia senantiasa disertai Tuhan. Bukankah insan kamil adalah
manusia yang mampu meneladani budi pekerti Tuhan, seperti yang
diungkapkan dalam Hadis? Bukankah hati orang yang bertawakal itu
bait Allah, rumah Tuhan? Karena itu, barangsiapa yang bertawakal
kepada Tuhan, niscaya Dia mencukupinya!

Tawakal adalah landasan pokok dalam kehidupan para nabi. Karena itu
seorang nabi siap menempuh hidupnya, meskipun seorang diri.
Seorang nabi membangun umat dengan dimulai dari dirinya sendiri. Ia
tidak menampilkan diri dengan mengikuti status quo, sistem yang ada.
Ia justru bangkit dan membangkitkan sistem yang baru. Tentu saja
tidak baru sama sekali. Tetapi memperbarui, merenovasi sistem yang
ada.
Nabi, yang berasal dari kata “naba”, berita, adalah orang yang
menerima berita. Ia menerima berita dari dunia ketuhanan. Pada saat
dia mengemban amanat yang diterimanya itu dan menyampaikannya
kepada masyarakat sekelilingnya, dia disebut rasul. Setiap umat ada
rasulnya.4) Dan, setiap rasul hadir di tengah-tengah umat untuk
menyeru kehidupan yang hanya berorientasi kepada Tuhan Yang Maha
Esa.5) Hidup yang menjauhi “thaghut”, segala jenis tindakan yang
melampaui batas. Masih ingatkan, bahwa semua yang tercipta di dunia
ini, termasuk diri kita, ada batas-batasnya, ada mizannya, ada
ketetapan-ketetapannya, ada kadarnya.

Untuk mempertahankan hidup didunia ini, manusia perlu makan.


Ternyata pada sejumlah tertentu makanan yang masuk perut, akan
terasa kenyang. Timbulnya rasa kenyang menandakan apa yang
dimakan itu telah menyentuh batasnya. Kalau perut terus diisi,
padahal rasa kenyang sudah timbul, maka perut akan terasa sakit. Jika
diteruskan, rusaklah perut itu. Dalam kehidupan sosial pun ada batas-
batasnya. Jika dilanggar akan rusaklah tatanan sosialnya. Nah, rasul
diutus sebenarnya untuk mengingatkan kembali batas-batas itu. Agar
tatanan sosial tidak rusak!

Keberanian yang ditempuh oleh seorang rasul dalam memperingatkan


masyarakat, adalah keberanian yang timbul dari maqam tawakal.
Karena dengan tawakal itu sese-orang telah percaya penuh dan
pasrah secara total kepada-Nya. Ya, kata tawakal, atau tawakkul,
berasal dari kata “wa-ka-la”, yang artinya mewakilkan. Orang
bertawakal sebenarnya adalah orang yang mewakilkan dirinya kepada
Tuhan.

Ingat kita sudah ada di maqam tawakal! Mewakilkan diri kepada Tuhan
tidak berarti kita pasif total. Kita bukan jabbariyah [lihat bag. ke-22].
Tawakal itu bagaikan burung yang pagi-pagi meninggalkan sarangnya
dengan tembolok kosong, dan kembali pada sore hari ke sarangnya
dengan tembolok penuh. Nah, yang perlu dicermati adalah keberanian
untuk meninggalkan sarang dan keyakinan bahwa dengan cara itu kita
akan dapat mempertahankan hidup. Dalam bahasa Siti Jenar, kita
makan dan minum ini bukan untuk mempertahankan hidup. Tak ada
gunanya kerja keras untuk mempertahan-kan hidup, karena hidup
manusia di bumi ini tak bisa dipertahankan. Dengan makanan kita
seperti sekarang ini manusia tak akan dapat mempertahankan hidup.
Manusia pasti mengalami kematian.

Menurut Siti Jenar, berbuat bajik di dunia, bertawakal, adalah untuk


melakukan deposit sehingga kita bisa menemukan jalan hidup yang
sejati. Karena itu, orang yang beratawakal adalah orang yang sudah
naik tangga puncak dan akhirnya menyerahkan diri secara total
kepada Tuhannya. Ia yang hidup dan terperangkap raga yang dapat
mati ini, ternyata tidak mampu menemukan kunci kekekalan hidup. Ia
harus pasrah total seperti seorang bayi. Seorang bayi yang memiliki
kharisma, sehingga orang yang melahirkan dan yang ada di
sekelilingnya jatuh cinta untuk merawatnya.

Wah, ternyata tawakal itu gampang diucapkan tetapi sulit dikerjakan.


Memang, karena tasawuf itu bukan teori. Tasawuf adalah cara hidup.
Ada tangga-tangga kehi-dupan yang harus dipraktikkan. Begitu kita
berada di tahap ridha, rasanya goyah jiwa kita. Kita mulai
mempertanyakan diri ini, bagaimana kita bisa rela dalam menjalani
hidup ini. Bagaimana kita bisa ikhlas dalam berkehidupan ini? Lha
wong orang lain saja sering pamrih dalam berhubungan dengan kita,
apa ya bisa kita hidup tanpa pamrih kepada orang lain? Begitulah
pertanyaan yang mencuat di dalam hati.

Lebih-lebih pada tahap tawakal. Bukan saja ikhlas menjalani hidup,


tetapi harus pasrah, harus percaya bahwa Tuhan mengurus diri kita.
Secara teoritis memang sulit kita membayangkan kehidupan tawakal.
Tetapi, dalam praktik kita telah menyaksikan. Kita menyaksikan
binatang di sekitar kita yang mencari karunia Tuhan. Kita mendengar
para nabi dan rasul berjuang dari dirinya sendiri. Bukan membangun
jaringan lebih dulu seperti orang-orang yang membangun partai untuk
merebut kekuasaan. Tetapi, diemban lebih dulu amanatnya.
Diingatkannya masyarakat agar menempuh hidup yang benar.
Diajaknya keluarga, saudara, dan teman-temannya untuk komit
menegakkan kebenaran dalam hidup ini. Bukan untuk keuntungan
dirinya, tetapi untuk kesejahteraan bersama. Dengan cara demikian
umat terbentuk.

Seperti telah diterangkan di depan. Kebenaran tidak ada artinya, jika


hanya di-tegakkan seorang diri. Tak ada implikasi sosialnya. Karena itu
kebenaran harus dipikul bersama-sama agar terwujud kehidupan
sosial yang harmonis. Agar masyarakat tidak bodoh, maka harus
didirikan sekolahan-sekolahan. Biayanya harus dipikul bersama. Nah,
negara sebenarnya adalah alat untuk mengorganisasikan kehidupan
bersama. Pajak atau zakat dipungut untuk kesejahteraan bersama.
Bukan untuk menjalankan kekuasaan. Karena kekuasaan yang
sebenarnya adalah kepunyaan Tuhan.

Setiap manusia adalah khalifah-Nya, wakil-Nya untuk mengurus bumi


ini. Lalu, orang-orang yang merasa mengemban perwakilan-Nya ini
harus bertawakal kepada-Nya, pasrah total kepada-Nya. Tak ada
manipulasi di antara sesamanya. Yang kuat bersedia memberikan atau
berbagi keuntungan kepada yang lemah. Bagaikan musik, yang
bunyinya keras tidak mendominasi semua bunyi. Sehingga akhirnya
timbul alunan bunyi yang selaras dan seimbang.

Dunia pun terwujud karena keseimbangan, bukan karena dominasi


oleh sesuatu pihak. Negara maju pun menyadari hal ini. Karena itu,
mereka membangun perusahaan dengan sistem kerjasama karyawan,
majikan, dan manajemen dengan baik. Yang di tingkat manajemen
sejahtera, yang di tingkat buruh dan staf sejahtera, pemilik pun hidup
sejahtera. Tak ada pihak-pihak yang terkait dengan perusahaan
[stakeholders] dirugikan. Semua mendapatkan keuntungan dari
perusahaan yang dibangunnya. Itulah sebenarnya konsep tawakal!

Jadi, intinya dalam kehidupan tawakal, semua pihak saling percaya,


dan secara total mempercayakan eksistensinya. Manusia yang
bertawakal percaya dan pasrah secara total kepada Tuhan. Dia pun
percaya sepenuhnya kepada manusia yang menjadi khalifah-Nya.
Karena itu, Dia menjamin bahwa manusia yang benar-benar tawakal
akan mendapat rezeki dari arah yang tak terduga.

Demikianlah akhir dari pelajaran tawakal. Yang sekaligus mengakhiri


pelajaran tasawuf kita. Tetapi tidak untuk mengakhiri upaya menaiki
tangga-tangga tasawuf. Manusia harus terus mencari jalan-Nya selama
hayat di kandung badan. Hingga akhirnya bisa ditemukan ‘subul’,
jalan-jalan Tuhan yang digelar di alam raya ini. Bukan hanya untuk
pencerahan dirinya, tetapi turut serta mencerahkan orang lain.
Seorang sufi bukanlah orang yang mencari teman untuk membangun
golongan atau mendirikan sistem kepercayaan bersama.

Seorang sufi sejati adalah orang yang sungguh-sungguh mencari air


minum sejati, ma-ul hayyat, air kehidupan, tirta prawitasari.6) Setelah
menemukannya dan meminum-nya, maka ia pun memberikan air
minum itu kepada orang lain. Sehingga orang lain pun bisa hidup,
turut tercerahkan. Itulah sebabnya, dalam beribadah dan memohon
pertolongan kepada Tuhan, dinyatakan dalam bentuk kebersamaam:
“Iyya ka na ‘budu wa iyya ka nasta-‘in”, hanya kepada Engkau kami
beribadah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan
dalam hidup ini.

Sekian, wa billahit taufiq wal hidayah.

Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wabarakatuh.