Anda di halaman 1dari 6

PERDARAHAN SUBKONJUGTIVA

No. Dokumen :
SOP No. Revisi :
TanggalTerbit :
Halaman :

UPTD dr.H.FAISAL, MARS


PUSKESMAS DTP NIP.19760426 200604 1 006
PULO MERAK
Perdarahan subkonjungtiva adalah perdarahan akibat ruptur
1. Pengertian pembuluh darah dibawah lapisan konjungtiva yaitu pembuluh darah
konjungtivalis atau episklera.

2. Tujuan Sebagai acuan bagi petugas di dalam melakukan penatalaksaan kasus


perdarahan subkonjungtiva di UPT Puskesmas Pulomerak.

3. Kebijakan
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
4. Referensi Hk.02.02/Menkes/514/2015 Tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di
Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat Pertama.

1. Petugas melakukan anamnesis.


5. Prosedur/Langkah- Keluhan :
Langkah Pasien datang dengan keluhan adanya darah pada sklera atau mata berwarna
merah terang (tipis) atau merah tua (tebal).
Perdarahan akan terlihat meluas dalam 24 jam pertama setelah itu kemudian
akan berkurang perlahan ukurannya karena diabsorpsi.

Factor Risiko : hipertensi atau aterosklerosis, trauma tumpul atau tajam.


penggunaan obat terutama pengencer darah, manuver valsava, anemia, benda
asing, konjungtivitis

2. Petugas melakukan pemeriksaan fisik.


a. Pemeriksaan status generalis
b. Pemeriksaan oftalmologi:
- Tampak adanya perdarahan di sklera dengan warna merah terang
(tipis) atau merah tua (tebal).
- Melakukan pemeriksaan tajam penglihatan umumnya 6/6, jika visus
<6/6 maka dicurigai terjadi kerusakan selain di konjungtiva
Pemeriksaan Penunjang
Tidak diperlukan
3. Petugas menegakkan diagnosis.
Diagnosis Klinis :
Diagnosis ditegakkan berdasar anamnesis, pemeriksaan fisik.
4. Petugas memberikan terapi.
Penatalaksanaan :
a. Perdarahan subkonjungtiva akan hilang atau diabsorpsi dalam 1-2
minggu tanpa diobati.
b. Pengobatan penyakit yang mendasari bila ada.
Konseling dan Edukasi :
a. Tidak perlu khawatir krena perdarahan akan terlihat meluas pada 24 jam
pertama dan akan berkurang perlahan karena di absorbsi
b. Kondisi hipertensi memiliki hubungan yang cukup tinggi dengan angka
terjadinya perdarahan subkonjungtiva sehingga diperlukan pengontrolan
tekanan darah pada pasien hipertensi
Kriteria rujukan : perdarahan subkonjungtiva harus segera dirujuk ke spesialis
mata jika ditemukan penurunan visus
5.Petugas menuliskan ke dalam status rekam medis semua hasil pemeriksaan
dan terapi.
Poli umum
6. Unit Terkait
PERITONITIS
No. Dokumen :
SOP No. Revisi :
TanggalTerbit :
Halaman :

UPTD dr.H.FAISAL, MARS


PUSKESMAS DTP NIP.19760426 200604 1 006
PULO MERAK
Peritonitis adalah inflamasi dari peritoneum
1. Pengertian

2. Tujuan Sebagai acuan bagi petugas di dalam melakukan penatalaksaan kasus


peritonitis di UPT Puskesmas Pulomerak.

3. Kebijakan
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
4. Referensi Hk.02.02/Menkes/514/2015 Tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di
Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat Pertama.

2. Petugas melakukan anamnesis.


5. Prosedur/Langkah- a. Nyeri hebat pada abdomen yang dirasakan terus-menerus selama
Langkah beberapa jam, dapat hanya di satu tempat atau tersebar di seluruh
abdomen.
b. Bila terjadi peritonitis bakterial suhu badan penderita akan naik dan
terjadi takikardi, hipotensi, dan penderita tampak letargik dan syok.
c. Mual dan muntah
d. Kesulitan bernafas
2. Petugas melakukan pemeriksaan fisik.
a. Pasien tampak letargis dan kesakitan.
b. Dapat ditemukan adanya demam.
c. Distensi abdomen disertai nyeri tekan dan nyeri lepas abdomen.
d. Adanya defans muskuler.
e. Hipertimpani pada perkusi abdomen.
f. Pekak hati dapat menghilang akibat adanya udara bebas dibawah
diafragma.
g. Bising usus menurun atau menghilang.
h. Rigiditas abdomen atau disebut ‘perut papan’
i. Pada rectal toucher akan terasa nyeri di semua arah, dengan tonus
muskulus sfingter ani menurun, dan ampula recti berisi udara.

Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan apus darah tepi, ditemukan leukosistosis dan limfositosis
relatif
b. Kultur

3. Petugas menegakkan diagnosis.


Diagnosis klinis ditegakkan berdasarkan anamnnesis dan pemeriksaan fisik dari
tanda-tanda khas yang ditemukan pada pasien.
Pemeriksaan penunjang tidak dilakukan di layanan primer karena menghindari
keterlambatan dalam melakukan rujukan.
Komplikasi : septikemia dan syok.
4. Petugas memberikan terapi.
Setelah penegakan diagnosis petugas melakukan penatalaksanaan awal seperti
berikut:
a. Memperbaiki keadaan umum pasien.
b. Pasien puasa.
c. Dekompresi saluran cerna dengan pipa nasogastrik.
d. Penggantian cairan elektrolit yang hilang yang dilakukan intravena.
e. Pemberian antibiotika spectrum luas secara intravena.
f. Tindakan-tindakan untuk menghilangkan nyeri dihindari untuk mengindari
tersamarnya gejala.

Pasien segera dirujuk setelah penegakan diagnosis.


Rujukan ke fasilitas kesehatan sekunder yang memiliki ahli bedah.
5.Petugas menuliskan ke dalam status rekam medis semua hasil pemeriksaan
dan terapi.
1. Poli umum
6. Unit Terkait
2. Ruang IGD
PERTUSIS
No. Dokumen :
SOP No. Revisi :
TanggalTerbit :
Halaman :

UPTD dr.H.FAISAL, MARS


PUSKESMAS DTP NIP.19760426 200604 1 006
PULO MERAK
Pertusis adalah penyakit infeksi saluran pernafasan akut yang sangat menular
1. Pengertian ditandai dengan suatu sindrom yang berupa batuk yang bersifat spasmodik dan
paroksismal disertai nada yang meninggi karena penderita berupaya keras untuk
menarik nafas sehingga pada akhir batuk sering disertai bunyi yang khas
(whoop).

2. Tujuan Sebagai acuan bagi petugas di dalam melakukan penatalaksaan kasus pertusis
di UPT Puskesmas Pulomerak.

3. Kebijakan

4. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


Hk.02.02/Menkes/514/2015 Tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di
Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat Pertama.

3. Petugas melakukan anamnesis.


5. Prosedur/Langkah- Keluhan :
Langkah Perjalanan klinis pertusis yang dibagi menjadi 3 stadium yaitu:
a. Stadium Kataralis (stadium prodormal)
Lamanya 1-2 minggu. Gejalanya berupa : infeksi saluran pernafasan atas
ringan, panas ringan, malaise, batuk, lacrimasi, tidak nafsu makan dan
kongesti nasalis.
b. Stadium Akut paroksismal (stadium spasmodik)
Lamanya 2-4 minggu atau lebih. Gejalanya berupa : batuk sering 5-10
kali, selama batuk pada anak tidak dapat bernafas dan pada akhir
serangan batuk pasien menarik nafas dengan cepat dan dalam sehingga
terdengar yang berbunyi melengking (whoop), dan diakhiri dengan
muntah.
c. Stadium konvalesen
Ditandai dengan berhentinya whoop dan muntah. Batuk biasanya
menetap untuk beberapa waktu dan akan menghilang sekitar 2-3
minggu.

2. Petugas melakukan pemeriksaan fisik.


Tanda Patognomonis
a. Batuk berat yang berlangsung lama
b. Batuk disertai bunyi ‘whoop’
c. Muntah
d. Sianosis

Pemeriksaan Penunjang
c. Pemeriksaan apus darah tepi, ditemukan leukosistosis dan limfositosis
relatif
d. Kultur

3. Petugas menegakkan diagnosis.


Diagnosis Klinis :
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
penunjang.
Kriteria :
a. Terdeteksinya Bordatella pertusis dari spesimen nasofaring
b. Kultur swab nasofaring ditemukan Bordatella pertusis

Komplikasi : pneumonia, encephalitis, malnutrisi

4. Petugas memberikan terapi.


Penatalaksanaan :
a. Pemberian makanan yang mudah ditelan, bila pemberian muntah
sebaiknya berikan cairan elektrolit secara parenteral.
b. Pemberian jalan nafas.
c. Oksigen
d. Pemberian farmakoterapi:
1. Antibiotik: Eritromisin 30 – 50 mg/kgBB 4 x sehari
2. Antitusif: Kodein 0,5 mg/tahun/kali dan
3. Salbutamol dengan dosis 0,3-0,5 mg perkg BB/hari 3x sehari.

Konseling dan Edukasi :


a. Edukasi: Edukasi diberikan kepada individu dan keluarga mengenai
pencegahan rekurensi.
b. Pencegahan: Imunisasi dasar lengkap harus diberikan pada anak kurang dari
1 tahun.
5.Petugas menuliskan ke dalam status rekam medis semua hasil pemeriksaan
dan terapi.
1. Poli umum
6. Unit Terkait
2. Ruang IGD