Injeksi Locke Ringer A1.3 (REVISI 2)
Injeksi Locke Ringer A1.3 (REVISI 2)
Anggota :
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PANCASILA
JAKARTA
2019
I. PENDAHULUAN
Infus intravenous adalah sediaan steril berupa larutan atau emulsi, bebas pirogen
dan sedapat mungkin dibuat isotonis terhadap darah, disuntikkan langsung ke dalam vena
dalam volume relatif banyak. Pemberian obat secara intravena menghasilkan kerja obat
yang cepat dibandingkan dengan cara-cara pemberian lain. Jumlah optimum obat di
dalam darah dapat dicapai dengan kesegeraan yang tidak mungkin didapat dengan cara-
cara lain. Pada keadaan darurat, pemberian obat melalui intravena menjadi cara yang
mampu menyelamatkan hidup karena penempatan obat langsung ke sirkulasi darah
sehingga efek obat dapat cepat terjadi. Sebaliknya, sekali obat diberikan secara intravena,
maka obat tersebut tidak dapat ditarik lagi, ini merupakan kelemahan pemberian obat
melalui intravena (Ansel, 2008).
Infus Locke Ringer adalah larutan steril Natrium klorida, Kalium klorida,
Kalsium klorida , dekstrosa dan natrium bikarbonat . Kadar ketiga zat tersebut sama
dengan kadar zat-zat dalam larutan fisiologis. Larutan ini digunakan sebagai penambah
cairan elektrolit yang diperlukan tubuh dan menambah kalori dalam tubuh. (Ansel hal
408).
Sediaan Infus harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan yaitu:
1. Sesuai kandungan bahan obat yang dinyatakan didalam etiket dan yang ada dalam
sediaan; terjadi pengurangan efek selama penyimpanan akibat perusakan obat secara
kimia.
2. Penggunaan wadah yang cocok, yang tidak hanya memungkinkan sediaan tetap steril
tetapi juga mencegah terjadinya interaksi bahan obat dengan material dinding wadah.
3. Tersatukan tanpa terjadi reaksi. Untuk itu, beberapa faktor yang paling banyak
menentukan adalah:
a) bebas kuman
b) bebas pirogen
c) bebas pelarut yang secara fisiologis tidak netral
d) bebas bahan melayang
4. Aman, tidak boleh menyebabkan iritasi jaringan atau efek toksis.
5. Jernih, berarti tidak ada partikel padat.
6. Tidak berwarna, kecuali obatnya memang berwarna.
7. Sedapat mungkin isohidris, pH larutan sama dengan darah dan cairan tubuh lain
yakni pH = 7,4.
8. Sedapat mungkin isotonis artinya mempunyai tekanan osmosis yang sama dengan
darah atau cairan tubuh yang lain. Tekanan osmosis cairan tubuh seperti darah, air
mata, cairan lumbal sama dengan tekanan osmosis larutan NaCl 0,9 %.
9. Harus steril, suatu bahan dinyatakan steril bila sama sekali bebas dari
mikroorganisme hidup yang patogen maupun nonpatogen, baik dalam bentuk
vegetativ maupun dalam bentuk tidak vegetatif (spora).
10. Bebas pirogen, karena cairan yang mengandung pirogen dapat menimbulkan demam.
Menurut Co Tui, pirogen adalah senyawa kompleks polisakarida dimana
mengandung radikal yang ada unsur N dan P. Selama radikal masih terikat, selama
itu masih dapat menimbulkan demam dan pirogen bersifat termostabil. (Anief. 1997)
II. PREFORMULASI
A. Zat aktif
B. Bahan Tambahan
C. Teknologi Farmasi
Larutan LVP (sediaan parenteral volume besar) dikemas dalam dosis tunggal
dalam kemasan gelas atau plastik dengan ketentuan harus steril, non-pirogen, dan
bebas dari pertikel [Link] volume pemberian besar, tidak boleh
ditambahkan zat bakteriostatik (pengawet) karena dapat menyebabkan terjadinya
toksisitas akibat pemberian zat/larutan bakteriostatik dalah jumlah besar. Larutan
yang diberikan secara intravena harus jernih dan mengandung zat yang dapat
diasimilasi dan digunakan oleh sistem sirkulasi seperti natrium klorida, asam amino,
dextrose, elektrolit dan vitamin (Agoes,2008).
Selain itu, wadah untuk injeksi termasuk penutup tidak boleh berinteraksi
melalui berbagai cara baik secara fisik maupun kimiawi dengan sediaan, yang dapat
mengubah kekuatan, mutu atau kemurnian diluar persyaratan resmi dalam kondisi
biasa pada waktu penanganan, pengangkatan, penyimpanan, penjualan dan
penggunaan. Wadah yang terbuat dari bahan yang dapat mempermudah pengamatan
terhadap isi (Depkes RI, 1995).
Cairan infus intravena biasanya mengandung zat-zat seperti asam amino,
dekstrosa, elektrolit dan [Link] intravena adalah sediaan steril berupa larutan
atau emulsi, bebas pirogen dan sedapat mungkin dibuat isotonus terhadap darah,
disuntikkan langsung ke dalam vena dalam volume relatif banyak. Emulsi dibuat
dengan air sebagai fase luar. Diameter fase dalam tidak lebih dari 5µm. Kecuali
dinyatakan lain, infus intravena tidak diperbolehkan mengandung bakterisida dan zat
dapar. Larutan untuk infus intravena harus jernih dan praktis bebas [Link]
untuk intravena, setelah dikocok harus homogen dan tidak menunjukkan pemisahan
fase.
D. Farmakologi, Farmakokinetik, dan Farmakodinamik
Fungsi NaCl, KCl, dan CaCl2 untuk keseimbangan elektrolit dan tekanan
osmotik cairan tubuh.
a) Natrium
Farmakologi :
merupakan kation mayor dalam cairan ekstraselular. Fungsinya adalah
pengontrol distribusi air, cairan keseimbangan elektrolit dan osmotik dari cairan
tubuh. NaCl digunakan karena larut dalam air dan digunakan sebagai pengganti
Natrium yang hilang (Drug Information 88 hal.1415)
Farmakokinetika :
Natrium klorida dapat diabsorbsikan dengan baik dari sistem gastrointestinal.
Kelebihan natrium biasanya di eksresikan oleh ginjal dan sebagian kecilnya
terdapat pada feses dan keringat. (Martindale 36 hal 1686)
Farmakodinamik :
Natrium klorida mengatur sirkulasi sistemik dengan infus intravena. Penyerapan
komponen aktif ialah sempurna (100%). (Medsafe, 2014)
b) Kalium
Farmakologi
merupakan kation utama dalam cairan instraseluler, dan lebih penting dalam
mengatur keseimbangan asam basa, tonisitas, elektrodinersitas. Untuk
menggantikan Kalium yang hilang, digunakan KCl yang mudah larut dalam air.
(Drug Information 2010 hal. 2725)
Farmakokinetika :
Garam kalium (selain fosfat, sulfat, dan tartrat) umunya mudah diabsorpsi dari
sistem pencernaan. Kalium di eksresikan terutama di ginjal, dimana pada
tubulus ginjal terjadi pertukaran ion natrium atau hidrogen. Beberapa
kalsium di eksresi di feses dan keringat (Martindale 36 hal 1685)
Farmakodinamika :
Kalium menjaga aktifitas neuromuskular; oleh karena itu kadar kalium
sreum harus dipantau ketat. (Joyce hal 181)
c) Kalsium
Farmakologi
merupakan kation yang penting sebagai activator dan berbagai macam reaksi
enzimatis, dipakai dalam bentuk CaCl2 yang lebih mudah larut dalam air. (Drug
Information 88 hal. 1398)
Farmakokinetika :
Kalsium absorbsi umumnya dari usus kecil oleh difusi transport aktif dan
pasif. Pengeluaran kalsium umunya melalui ginjal. Kalsium yang tidak di
absorbsi akan dieleminasi di feses bersama dengan di eksresi di empedu
dan pankreas. (Martindale 36 hal 1677)
Farmakodinamik :
Pemberian yang cepat dari kalsium intravena dapat menimbulkan rasa
kesemutan dan hangat dan pengecapan seperti rasa logam. Kalsium perlu
diberikan dengan kecepatan yang sedang dan harus dihindari terjadinya
infiltrasi. (Joyce hal 185)
d) Klorida merupakan anion utama, mengatur keseimbangan asam dan basa dalam
[Link] MgCl2 berkhasiat sebagai sumber ion Mg untuk aktivitas
neuromuskuler sebagai koenzim pada metabolism karbohidrat dan protein.(Drug
Information 2010 hal. 2725)
e) Natrium bikarbonat
Farmakologi
Natrium bikarbonat menyediakan bikarbonat yang mudah dieksresi dalam urin,
pemberian obat akan meningkatkan pH urin pada pasien dengan fungsi ginjal
normal. Zat basa urin dapat meningkatkan kelarutan asam lemah (cystine, asam
urat) tertentu dan dapat meningkatkan ionisasi dan ekskresi asam organik
(fenobarbital, salisilat) larut lemak yang diserap di ginjal melalui difusi tak
terion. (DI 2010 hal. 2706)
Farmakodinamik
Terapi natrium bikarbonat melalui jalur intravena meningkatkan plasma
bikarbonat, buffer menghasilkan ion hidrogen berlebih, meningkatkan pH darah
dan membalikkan manifestasi klinis asidosis. ([Link])
Farmakokinetik :
NaCl, KCl, CaCl2, MgCl2, didistribusikan secara luas pada jaringan tubuh.
Kelebihan Na+, K+, Ca+,Cl-, Mg2+ sebagian besar dieksresi oleh ginjal, sedikit pada
feses dan keringat (Martindale Ed. 36)
Indikasi :
Mengembalikan keseimbangan elektrolit pada dehidrasi dan penderita diare berat
(ISO vol 48 hal 415)
Kontraindikasi :
Hiperhidrasi, hipematremia, gangguan fungsi ginjal, kerusakan sel hati, laktat
asidosis. (ISO vol 48 hal 415).
Penyimpanan
Penyimpanan pada suhu 20 -25o C, terlindung dari sinar matahari (McEvoy,
2002).
Efek samping :
Kelebihan Na dapat menyebabkan resistensi air, kelebihan kalium dapat
menyebabkan hyperkalemia, Kelebihan kalsium dapat menyebabkan seringnya
bersendawa, Kelebihan magnesium dapat menyebabkan diare, Kelebihan kalsium
karbonat menyebabkan hipertensi
III. FORMULA
I. Rancangan Formulasi
Natrium klorida 4,5 gram
Kalium klorida 0,21 gram
Kalsium klorida 0,12 gram
Magnesium klorida 0,1 gram
Natrium bikarbonat 0,25 gram
Dekstrosa 0,25 gram
Aqua [Link] ad. 500 mL
B. Bahan:
NaCl
KCL
CaCl2
MgCl2
NaHCO3
Dekstrosa
Carbo adsorben
H2O2
Aqua p.i
C. Cara sterilisasi
Desinfection,
Batang pengaduk, spatula,
sterilization and
3. pinset, kaca arloji, Direndam dalam etanol selama 30 menit
preservation hal.
penjepit besi
233
Sediaan Farmasi
Karet pipet tetes, karet
4. Direbus dalam air suling selama 30 menit Steril (SFI-4) hal
tutup tetes mata
144
Sterilisasi dengan autoklaf pada suhu 1210C Martindale 28 hal
5. Sterilisasi akhir
selama 15 menit 301
V. PEMBUATAN
A. Perhitungan Isotonis
Kesetaraan equivalen elektrolit (Martindale 28 hal. 640, Sprowls )
1 g NaCl ~ 17,1 mEq Na+ E1 = 1
1 g KCl ~ 13,4 mEq K+ E2 = 0,76
1 g CaCl2 ~ 13,6 mEq Ca2+ E3 = 0,51
1 g MgCl2 ~9.8 mEq Mg2+ E4 = 0,48
1 g NaHCO3 ~ 11.9 mEq Na2+ E5 = 0,65
Dexstrosa E6 = 0,16
V = {(W1 x E1) + (W2 x E2) + (W3 x E3) + (W4 x E4) + (W5 X E5) + (W6 X
E6)} x 111,11 mL
= {(4.5 x 1) + (0.21 x 0,76) + (0,12 x 0.51)+ (0.1 x 0.48) + (0,25 x 0,65)
+(0,25 x 0,16)} x 111,11 mL
= {4.5 + 0.1596 + 0.0612 + 0.048 + 0,1625 + 0,04)} x 111,11
= 4,9713 x 111,11 mL
= 552,37mL
552,37 ml
% Tonisitas = x 0,9% = 0,9943% (Hipertonis)
500 ml
0,9%
Laju Tetes permenit = 500 x 40 tetes = 36,2064 tetes ~ 36 tetes
ml
B. Penimbangan bahan
Penimbangan untuk 2 botol infus masing-masing 500 ml
V = {(2 x 500 ml) + (10%(2 x 500 ml)} = 1100 ml
NaCl = (4,5 g x 1100 / 1000 ml) = 4,95 g
KCl = (0,21 g x 1100 / 1000ml) = 0,231 g
CaCl2 = (0,12 g x 1100 / 1000ml) = 0,132 g
MgCl2 = (0,1 g x 1100 / 1000ml) = 0,11 g
NaHCO3 = (0,25 g x 1100 / 1000ml) = 0,275 g
Dekstrose = (0,25 g x 1100 / 1000ml) = 0,275 g
Aqua pi ad 500 mL
Penimbangan ditambah 5% untuk diserap carbo adsorben
NaCl = 4,95gram + (5% x 4,95gram) = 5,1975 gram
KCl = 0,231 gram + (5% x 0,231 gram) = 0,2425 gram
CaCl2 := 0,132 gram + (5% x 0,132 gram) = 0,1386 gram
MgCl2 = 0,11 gram + (5% x 0,11 gram) = 0,1155 gram
NaHCO3 = 0,275 gram + (5% x 0,275 gram) = 0,2888 gram
Dekstrosa = 0,275 gram + (5% x 0,275 gram) = 0,2888 gram
Norit = 0,1 gram/100 ml x 550 ml = 0,5500 gram
H2O2 = 0,1 gram/100 ml x 550 ml = 0,5500 gram
C. Penimbangan
Bahan Teoritis (g) Praktek (g)
NaCl 5,1975 g
KCl 0,2425 g
CaCl2 0,1386 g
MgCl2 0.1155 g
NaHCO3 0.2888 g
Dekstrosa 0.2888 g
Carboadsorben 0,5500 g
H202 0,5500 g
Aqua p.i Ad 500 ml
D. Cara kerja
Cara pembuatan
Prinsip sterilisasi akhir : menggunakan autoklaf dengan suhu 121oC selama 15 menit.
1. Disiapkan alat dan bahan yang digunakan
2. Dibuat aqua proinjeksi
Air suling dipanaskan sampai mendidih, dibiarkan mendidih sampai 30 menit
ditambahkan H2O2, dipanaskan selama 15 menit, kemudian didinginkan.
3. Dikalibrasi botol infus sampai 500 ml dan dikalibrasi Erlenmeyer sampai
1100 ml
4. Disterilkan alat-alat yang akan digunakan
5. Ditimbang masing-masing bahan dan dilarutkan dengan aqua proinjeksi
Ditimbang NaCl dan dilarutkan dengan aqua proinjeksi q.s
Ditimbang KCL dan dilarutkan dengan aqua proinjeksi q.s
Ditimbang CaCl3 dilarutkan dengan aqua proinjeksi q.s
Ditimbang MgCl2 dan dilarutkan dengan aqua proinjeksi q.s
Ditimbang NaHCO3 dan dilarutkan dengan aqua proinjeksi q.s
Ditimbang dextrose dan dilarutkan dengan aqua proinjeksi q.s
6. Dicampur masing-masing bahan dan dihomogenkan
7. Dicek pH (7,4) sebelum di tambahkan hingga 1100 ml kemudian
ditambahkan aqua proinjeksi ad 1100 ml
8. Ditambahkan carbo adsorben kemudian dipanaskan sambil diaduk selama 15
menit pada suhu 50˚C -60˚C (tidak mendidih).
9. Disaring dengan kertas saring steril 2 lapis sampai jernih
10. Dimasukkan ke botol infus sampai tanda, lalu ditutup rapat.
11. Disterilkan dalam otoklaf suhu 121˚C selama 15 menit.
12. Diberi etiket dan dikemas
13. Dilakukan uji evaluasi “in process control” ( uji kejernihan , uji pH, uji
keseragaman volume) dan Quality control (uji kejernihan, uji sterilitas, uji
keseragaman volume, uji ketetapan kadar, uji pirogenitas.
VI. EVALUASI
A. In Process Control
Uji kejernihan (Farmakope Indonesia Edisi V Hal 1521)
Lakukan penetapan menggunakan tabung reaksi alas datar dengan diameter dalam 15 –
25 mm, tidak berwarna, transparan dan terbuat dari kaca netral. Bandingkan larutan uji
dengan larutan suspensi padanan yang dibuat segar, setinggi 40 mm. Bandingkan kedua
larutan di bawah cahaya yang terdifusi 5 menit setelah pembuatan suspensi padanan
dengan tegak lurus ke arah bawah tabung menggunakan latar belakang hitam. Difusi
cahaya harus sedemikian rupa sehingga suspensi padanan I dapat dibedakan dari air dan
suspensi padanan II dapat dibedakan dari suspensi padanan I.
Syarat :Larutan dianggap jernih apabila sama dengan air atau larutan yang digunakan
dalam pengujian dengan kondisi yang dipersyaratkan, atau jika opalesan tidak lebih dari
suspensi padanan.
B. Quality Control
Lakukan penetapan menggunakan tabung reaksi alas datar dengan diameter dalam 15 –
25 mm, tidak berwarna, transparan dan terbuat dari kaca netral. Bandingkan larutan uji
dengan larutan suspensi padanan yang dibuat segar, setinggi 40 mm. Bandingkan kedua
larutan di bawah cahaya yang terdifusi 5 menit setelah pembuatan suspensi padanan
dengan tegak lurus ke arah bawah tabung menggunakan latar belakang hitam. Difusi
cahaya harus sedemikian rupa sehingga suspensi padanan I dapat dibedakan dari air dan
suspensi padanan II dapat dibedakan dari suspensi padanan I.
Syarat : Larutan dianggap jernih apabila sama dengan air atau larutan yang digunakan
dalam pengujian dengan kondisi yang dipersyaratkan, atau jika opalesan tidak lebih dari
suspensi padanan.
VII. PENGEMASAN
TERLAMPIR
VIII. DAFTAR PUSTAKA