Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PRAKTIKUM PENGOLAHAN PASCA PANEN HASIL HUTAN BUKAN

KAYU (PP4103)

PEMBUATAN PEWARNA ALAMI DENGAN MENGGUNAKAN DAUN JATI


(Tectona grandis)

Penyusun :
Dea Anggraeni A. 11415002
Hasan Nashrullah 11915003
Syifa Akmalia S. 11915007
Siti Atarfa R. 11915009
Eris Septian M. 11915023
M. Riski Gultom 11915024
Rizki Adhitya P. 11915028
Nindya Erni S. 11915037

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PASCA PANEN


SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di Indonesia, terdapat kecenderungan penyalahgunaan pemakaian zat pewarna
untuk bahan pangan, misalnya zat warna tekstil dan kulit dipakai untuk mewarnai
bahan makanan. Oleh karena itu, perlu dicari sumber-sumber bahan alternatif pewarna
alami yang aman bagi pangan dengan harga relatif murah. Salah satu sumber bahan
alami yang memiliki potensi di Indonesia dan dapat dimanfaatkan sebagai pewarna
alami adalah daun jati.
Menurut Ati dkk. (2006), daun jati yang muda memiliki salah satu kandungan
pigmen alami yaitu βkaroten yang termasuk dalam golongan senyawa karotenoid.
Menurut Nurwanti (2012) daun jati muda memiliki kandungan beberapa senyawa
pigmen terutama antosianin yang dapat digunakan sebagai pewarna alami. Pada saat
ini pemanfaatan daun jati biasanya digunakan sebagai pembungkus makanan. Daun
jati muda mengandung pigmen alami antosianin yang cukup tinggi sehingga dapat
memberikan warna merah pada preparat. Menurut penelitian Kembaren (2014), warna
merah yang dihasilkan dari filtrat daun jati muda berasal dari zat warna antosianin
yang terkandung dalam daun jati muda. Salah satu zat warna golongan antosianin
yang terdapat dalam ekstrak daun jati adalah sianidin. Hal tersebut sesuai dengan
penelitian Bisri dkk (2013), hasil karakterisasi zat warna daun jati secara umum
besesuaian dengan salah satu pigmen antosianin yaitu sianidin. Kandungan antosianin
dalam daun jati dapat diperoleh melalui proses ekstraksi.

B. Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah menentukan kadar ekstrak warna pada daun jati
dan menentukan pengaruh pewarnaan alami dari dauh jati pada kain.
BAB II
HASIL PENGAMATAN

Rumus perhitungan kadar ekstrak warna daun jati :


𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑈𝑚𝑝𝑎𝑛 𝐾𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝐸𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 𝑊𝑎𝑟𝑛𝑎 = 𝑋 100%
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑈𝑚𝑝𝑎𝑛 𝐵𝑎𝑠𝑎ℎ

Tabel data perhitungan kadar ekstrak warna daun jati


Berat Umpan Kering Berat Umpan Basah Kadar Ekstrak Warna
4.87 g 14.56 g 33.45%

Dokumentasi hasil percobaan


Gambar Keterangan
Hasil ekstraksi zat warna dari daun jati

Proses pencelupan kain ke dalam ekstrak zat warna daun jati


(bawah) dan ekstrak zat warna kunyit (atas)

Hasil kain yang sudah diwarnai dengan zat warna kunyit

Hasil kain yang sudah diwarnai dengan zat warna daun jati
BAB III
PEMBAHASAN

A. Kadar Ekstrak Warna


Ekstrak zat warna dari daun jati dihasilkan dengan merebus daun jati dengan
menggunakan pelarut air. Perebusan dilakukan hingga warna air berubah menjadi merah
tua dan volume air menjadi setengah dari volume awal. Setelah itu hasil ekstrak
dipisahkan dan dimasukkan kedalam wadah kosong.
Penentuan kadar ekstrak warna di hitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut
:
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑈𝑚𝑝𝑎𝑛 𝐾𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝐸𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 𝑊𝑎𝑟𝑛𝑎 = 𝑋 100%
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑈𝑚𝑝𝑎𝑛 𝐵𝑎𝑠𝑎ℎ

Berat ekstrak sebelum di oven (berat umpan basah) di ambil adalah sebesar 14,56
gram. Berat ekstrak setelah di oven (berat umpan kering) adalah sebesar 4,87 gram.
sehingga dari data tersebut diperoleh kadar ekstrak warna pada daun jati adalah sebesar
33,45 %.
Menurut Sulistiawati dan Prima (2017) mengatakan bahwa kadar zat pewarna daun
jati pada ekstraksi dengan menggunakan pelarut organik lebih tinggi dibandingkan
dengan pelarut air. Kadar zat pewarna pada pelarut etanol 60% dan air berturut-turut
adalah 40,31% dan 30.50%. Sehingga kadar zat pewarna pada praktikum kali ini dapat
dikatakan sesuai dengan literatur.
Air digunakan sebagai pelarut dalam proses ekstraksi zat warna alami dari daun jati,
karena bersifat polar sama seperti antosianin dan karotenoid. aquades bahkan mampu
mengekstrak senyawa lain yang memiliki kepolaran rendah (Muhammad dkk, 2014)
Salah satu zat warna pada daun jati adalah antosianin. Antosianin merupakan molekul
polar yang memiliki cincin aromatik yang terkonjugasi dengan kelompok hydroxyl,
methoxy, dan glycosyl (Habibah, 2014). Harborne dan Grayer (1998) menjelaskan bahwa
polaritas molekul antosianin mempengaruhi proses ekstraksi. umumnya pelarut organik
polar lebih cocok untuk melarutkan antosianin.

B. Hasil Pewarnaan
Percobaan kali ini menggunakan daun jati sebagai bahan baku untuk menghasilkan
pewarna alami. Pewarna dari ekstrak daun jati ini kemudian diaplikasikan pada kain.
Ekstrak daun jati mengandung pigmen antosianin yang memberikan warna merah pada
pewarnaan. Sebagai pembanding, digunakan pula pewarna yang didapatkan dari ekstrak
kunyit. Kunyit mengandung kurkumin yang memberikan warna kuning pada pewarnaam.
Hasil yang didapatkan pada percobaan kali ini yakni kain yang diberi pewarna dari
ekstrak kunyit warnanya lebih tahan ketika dilakukan pencucian apabila dibandingkan
dengan kain yang diberi pewarna dari ekstrak daun jati. Kain yang diberi pewarna dari
ekstrak daun jati warnanya luntur ketika dilakukan pencucian sehingga warna pada
kainnya menjadi tidak terlalu pekat. Hal ini dapat disebabkan kurkumin lebih bisa diikat
oleh kain dibandingkan dengan antosianin yang lebih sulit diikat oleh kain (Wahyuni,
2004; Setyaningrum, 2010).
BAB IV
KESIMPULAN

Kadar estrak daun jati sebesar 33,45% dan memiliki warna yang kurang pekat pada
kain karena kandungan antosianin yang sulit diikat oleh kain.

DAFTAR PUSTAKA

Ati, N.H., Rahayu, P., Notosoedarmo, S dan limantara, L. 2006. Komposisi dan Kandungan
Pigmen Tumbuhan Pewarna
Bisri, C, Pantiwati, Y., & Wahyuni, S.(2013). Ekstrak Kelopak Bunga Rosella (Hibiscus
sabdariffa L.) sebagai Pewarnaan Alternatif Alami Preparat Section Tanaman Cabe
Merah Besar (Capsicum annuum L.). Skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Malang, 214-121.
Habibah, F. (2014). Stabilitas Antosianin Ekstrak Daun Jati (Tectna grandis) terhadap
Perlakuan pH dan Suhu. Surakarta: Universitas Sebelas Maret
Harborne, J.B. dan Grayer, R.J. (1998). The Anthocyanins In: Harborne, J.B. (ed). The
Flavonoids. New York: Chapman and Hall. p. 1-20
Kembaren, R.br., Putriliniar, S., Maulana, N.N., Yulianto, K., Ikono, R., et al. (2013).
Ekstraksi dan Karakterisasi Serbuk Nano Pigmen dari Daun Tanaman Jati (Tectona
grandis Linn. F. Departemen Kimia. Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto, 191-
196.
Muhammad, Norlia, and Siti, A.M. (2014). Influence of Solvent Polarity and Conditions on
Extraction of Antioxidant, Flavonoids and Phenolic Content from Averrhoabilimbi.
Malaysia: University Malaysia Pahang.
Nurwanti, M., Budiono, J.D., & Pratiwi, R,. (2012). Pemanfaatan Filtrat Daun Muda Jati
sebagai Bahan Pewarna Alternatif dalam Pembuatan Preparat Jaringan Tumbuhan.
Jurnal Bioedu. Vol.2. No.1, 73-76.
Setyaningrum, E. N. (2010). Efektivitas Penggunaan Jenis Asam dalam Proses Ekstraksi
Pigmen Antosianin Kulit Manggis (Garcinia mangostanal.) dengan Penambahan
Aseton 60%. Skripsi. Surakarta. Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Fakultas
Pertanian Universitas Sebelas Maret.
Sulistiawati, E. dan Prima, S. (2017). Ekstraksi warna alami dari daun jati (Tectona grandis)
dan Kayu Secang (Caesalpinia sappan) dengan metode Ultrasound Assisted
Extraction untuk aplikasi produk tekstil. [Skripsi]. Surabaya: Institut Teknologi
Sepuluh November
Wahyuni .(2004). Ekstrak Kurkumin dari Kunyit. Yogyakarta : Jurusan Teknik Kimia,
Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta.