Anda di halaman 1dari 3

MODUL 5

PERMEABILITAS KEMASAN PLASTIK TERHADAP UAP AIR (WATER VAPOUR


PERMEABILITY)

4.1 Tujuan Praktikum

1. Mengetahui cara menentukan permeabilitas kemasan terhadap uap air.


2. Menentukan permeabilitas beberapa jenis kemasan plastik terhadap uap air dengan
menggunakan beberapa jenis desikan (silica gel dan garam CaCl2).

4.2 Dasar Teori

Sifat barrier plastik terhadap uap air dan gas ditunjukkan oleh nilai permeabilitasnya,
semakin besar nilai permeabilitas menunjukkan bahwa plastik tersebut semakin mudah
dilewati uap air dan gas. Permeabilitas plastik ditentukan dengan mengukur transmisi uap
air/gas atau permean yang melewati plastik uji. Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap
permeabilitas adalah suhu dan kelembaban.
Permeabilitas uap air adalah kecepatan atau laju transmisi uap air melalui suatu unit
luasan bahan yang permukaannya rata dengan ketebalan tertentu sebagai akibat dari suatu
perbedaan unit tekanan uap antara dua permukaan tertentu pada kondisi suhu dan kelembaban
tertentu. Permeabilitas menyangkut proses pemindahan larutan dan difusi, dimana larutan
berpindah dari satu sisi film dan selanjutnya berdifusi ke sisi lainnya setelah menembus film
tersebut. Pemahaman dasar terhadap proses perembesan gas (permeasi) dapat menjelaskan
sifat barrier dari suatu polimer. Molekul permean akan bergerak melewati barrier dalam
proses yang bertahap. Proses diawali dengan tabrakan antara molekul dan permukaan
polimer. Kemudian molekul tersebut akan menyebar dan beradsorpsi ke dalam polimer. Di
dalam polimer, permean menyebar dan berdifusi secara acak dimana energi kinetik thermal-
nya akan mempertahankan molekul untuk tetap bergerak di antara cabang polimer. Difusi
acak ini menunjukkan bahwa molekul permean akan bergerak dari sisi polimer yang kontak
dengan permean berkonsentrasi tinggi menuju sisi yang kontak dengan permean
berkonsentrasi rendah.
Permeabilitas dipengaruhi oleh kecepatan dan jumlah molekul permean yang
berdifusi di dalam polimer. Semakin rendah kecepatan atau jumlah molekul yang berdifusi,
maka kemampuan molekul untuk melewati cabang polimer akan menurun. Difusi molekul ini
akan mengalami kesetimbangan saat konsentrasi permean di kedua sisi polimer sama.
Molekul-molekul permean yang kecil seperti oksigen, akan mengalami kesetimbangan dalam
waktu yang lebih singkat dibandingkan molekul permean yang berukuran besar. Kondisi
kesetimbangan permeasi ini akan berbeda tergantung pada jenis dan ketebalan polimer.
Permeabilitas plastik terhadap molekul-molekul kecil dipengaruhi oleh densitas.
Semakin panjang, terikat, dan besar bobot molekul polimer plastic, mengharuskan molekul-
molekul kecil seperti oksigen atau air untuk mengambil jalur difusi yang lebih rumit.
Permeabilitas juga menurun dengan peningkatan kristalinitas dan orientasi molekul pada
matriks polimer, dimana kristalinitas dan orientasi molekul akan menghambat lintasan
permean. Polimer yang memiliki struktur molekul regular dan ikatan rantai kuat akan
memiliki derajat kristalinitas yang tinggi dan struktur molekul yang orientasinya mudah.
Kristalinitas tinggi menurunkan kelarutan permean di matriks polimer serta permeabilitasnya.
Sifat permeabilitas plastik terhadap uap air dan udara menyebabkan plastik mampu
berperan memodifikasi ruang kemas selama penyimpanan, Sehubungan dengan sifat plastik
yang memiliki permeabilitas terhadap gas dan uap air sehingga mampu melindungi produk
yang dikemas dengan menjaga agar oksigen dan uap air tetap berada di dalam kemasan, pada
kenyataannya ternyata plastik pengemas tidaklah secara absolut mampu menahan gas dan uap
air tersebut karena film plastik permeabel terhadap gas dan uap air.
Peremeabilitas terhadap gas dan uap air (Gas or water vapor permeability = WVP)
yang banyak digunakan dalam teknologi pengemasan didefinisikan sebagai gram air per hari
per 100 in2 permukaan kemasan, untuk ketebalan dan temperatur tertentu, dan kelembaban
relatif di satu sisi 0% dan pada sisi lainnya 95%. Metode yang umum digunakan untuk
mengukur permeabilitas uap ialah dengan metode gravimetri. Dalam metode ini digunakan
suatu desikan yang bisa menyerap uap air dan menjaga supaya tekanan uap air tetap rendah
disimpan dalam suatu wadah/mangkuk yang kemudian ditutup dengan film plastik yang akan
diukur permeabilitasnya.

4.3 Bahan dan Alat

Bahan-bahan: plastic VPC (stretch film), PE, dan PP, silica gel kering, kristal CaCl2, dan
vaselin.

Alat-alat: cawan petridish, timbangan analitik, thermo-hygrometer, micrometer sekrup,


gunting, mistar.

4.4 Prosedur Kerja

1. Cawan petridish dan silica gel terlebih dahulu dikeringkan dalam oven suhu 105oC
selama 1 jam, selanjutnya simpan di dalam desikator.
2. Siapkan 6 buah cawan kering kemudian lakukan pengukuran luas permukaan cawan
(A=cm2). Selanjutnya guntinglah plastic PP dan PE sesuai dengan ukuran permukaan
cawan bagian luar (masing-masing 2 buah cawan).
3. Masukkan ke dalam masing-masing cawan tersebut sebanyak ±2 gram desikan (silica
gel atau garam CaCl2). Berikan vaselin pada bibir permukaan cawan kemudian tutup
permukaan cawan dengan tiga jenis plastik yang berbeda (PP, PE, dan PVC masing-
masing 2 cawan). Penggunaan plastik PVC dilakukan dengan menutup rapat cawan
hingga permukaan plastic meregang. Usahakan tidak terjadi kebocoran agar tidak
terjadi hal-hal yang dapat mengganggu proses perhitungan.
4. Timbang masing-masing cawan yang telah diisi desikan dan ditutup dengan plastic
yang akan diuji nilai permeabilitasnya dengan menggunakan timbangan analitik
(gram). Catat bobot keseluruhan sebagai bobot awal.
5. Simpan cawan di tempat penyimpanan dan ukur suhu (t) serta kelembaban (RH)
ruang penyimpanan tersebut menggunakan thermo-hygrometer.
6. Lakukan penimbangan bobot cawan setiap 24 jam selama 5 hari, dan di setiap
penimbangan dilakukan pula pengukuran suhu dan kelembabannya. Selanjutnya suhu
dan kelembaban dirata-ratakan.
7. Buatlah grafik perubahan bobot untuk masing-masing cawan yang ditutup dengan
jenis plastic yang berbeda. Perubahan bobot tersebut diasumsikan sebagai perubahan
bobot dari desikan yang berada di dalam cawan sebagai hasil perpindahan (migrasi)
uap air dari luar cawan ke dalam cawan melalui permukaan kemasan atau sebaliknya,
sedangkan bobot cawan, vaselin, dan plastic dianggap konstan.
8. Buat persamaan regresinya (y = ax + b) dimana a (slope) menunjukkan pertambahan
bobot (gram H2O) tiap satuan waktu (jam) atau kecepatan transmisi uap air. Dengan
mengetahui kecepatan tranmisinya maka dapat dicari konstanta permeabilitas PVC,
PP dan PE dihitung menggunakan persamaan:

𝑎 (𝑏)
B= 𝐴

Keterangan :
B = WVP (Water Vapor Permeability) = permeabilitas uap air bahan kemasan
(gram H2O untuk tebal bahan kemasan yang diukur persatuan waktu,
persatuan luas pada suhu dan kelembaban pengujian)
a = slope perubahan kadar air desican selama pengujian (gram H2O per waktu)
b = tebal bahan kemasan
A = luas area bahan kemasan yang ditentukan permeabilitasnya (m2)
o
(t C RH) = suhu dan kelembaban relatif pengujian
9. Hitung pula nilai laju transmisi uap air (Water Vapor Transmission Rate/WVTR) yang
menyatakan besarnya laju transmisi uap air pada kondisi setimbang (steady) dalam
satuan gram per hari per m2 luasan (Rizvi dan Mittal, 1992), dengan menggunakan
persamaan:
24.𝑚𝑣
WVTR = 𝑡.𝐴
(g/m2/24 jam)

Keterangan:
mv = pertambahan massa (gram) = slope
t = periode penimbangan (jam)
A = luas permukaan sampel yang diuji (m2)
10. Buat kesimpulan dari percobaan yang telah dilakukan!