Anda di halaman 1dari 112

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah : SMKIT Darussalam Boarding School 01 BATAM


Kelas/Semester : X / Ganjil
Mata Pelajaran : Perbankan Dasar
kok : Sejarah Perbankan Di Indonesia
Kompt. Keahlian : Akuntansi Keuangan
Alokasi Waktu : 3 x 45 Menit

A. Kompetensi Inti
1. Pengetahuan
KI 3 Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang pengetahuan faktual,
konseptual, operasional dasar, dan metakognitif sesuai dengan bidang dan lingkup kerja Akuntansi
dan Keuangan Lembaga pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan dengan ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam konteks pengembangan potensi diri
sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan
internasional.
2. Keterampilan
KI 4 Melaksanakan tugas spesifik dengan menggunakan alat, informasi, dan prosedur kerja yang
lazim dilakukan serta memecahkan masalah sesuai dengan bidang Akuntansi dan Keuangan
Lembaga. Menampilkan kinerja di bawah bimbingan dengan mutu dan kuantitas yang terukur
sesuai dengan standar kompetensi kerja.
Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif, produktif,
kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam ranah abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di
bawah pengawasan langsung.

B. Kompetensi Dasar
1. KD pada KI pengetahuan
3.1 Memahami sejarah perbankan di indonesia
2. KD pada KI keterampilan
4.1 Menyajikan sejarah perbankan di Indonesia

C. Indikator Pencapaian Kompetensi


1. Indikator KD pada KI pengetahuan
3.1.1 Menampilkan sistem moneter di Indonesia
3.1.2 Menampilkan asal mula kegiatan bank di Indonesia
3.1.3 Menerangkan pengertian bank
3.1.4 Mengemukakan sejarah perbankan Indonesia
3.1.5 Mengklasifikasikan sejarah bank pemerintah
3.1.6 Menguraikan kondisi perbankan di Indonesia sebelum dan sesudah deregulasi

2. Indikator KD pada KI keterampilan


4.1.1 Kembali membuat sistem moneter di Indonesia
4.1.2 Mereplikasikan asal mula kegiatan bank di Indonesia
4.1.3 Menunjukan pengertian bank
4.1.4 Menerepkan sejarah perbankan Indonesia
4.1.5 Menyalin sejarah bank pemerintah
4.1.6 Menunjukan kondisi perbankan di Indonesia sebelum dan sesudah deregulasi
D. Tujuan Pembelajaran
Melalui kegiatan ini siswa mampu :
1. Menjelaskan pembahasan sejarah perbankan di Indonesia
2. Menjelaskan asal mula kegiatan bank di Indonesia
3. Menjelaskan pengertian bank
4. Menjelaskan sejarah perbankan Indonesia
5. Menjelaskan sejarah bank pemerintah
6. Menjelaskan kondisi perbankan di Indonesia sebelum dan sesudah deregulasi

E. Materi Pembelajaran

SEJARAH PERBANKAN INDONESI


Sejarah mencatat asal mula dikenalnya kegiatan perbankan adalah pada zaman kerajaan
tempo dulu di daratan Eropa. Kemudian usaha perbankan ini berkembang ke Asia Barat oleh para
pedagang. Perkembangan perbankan di Asia, Afrika dan Amerika dibawa oleh bangsa Eropa pada
saat melakukan penjajahan ke negara jajahannya baik di Asia, Afrika maupun benua Amerika. Bila
ditelusuri, sejarah dikenalnya perbankan dimulai dari jasa penukaran uang. Sehingga dalam sejarah
perbankan, arti bank dikenal sebagai meja tempat penukaran uang. Dalam perjalanan sejarah
kerajaan tempo dulu mungkin penukaran uangnya dilakukan antar kerajaan yang satu dengan
kerajaan yang lain.
Kegiatan penukaran ini sekarang dikenal dengan nama Pedagang Valuta Asing (Money
Changer). Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, kegiatan operasional perbankan
berkembang lagi menjadi tempat penitipan uang atau yang disebut sekarang ini kegiatan simpanan.
Berikutnya kegiatan perbankan bertambah dengan kegiatan peminjaman uang. Uang yang
disimpan oleh masyarakat, oleh perbankan dipinjamkan kembali kepada masyarakatyang
membutuhkannya.
Jasa-jasa bank lainnya menyusul sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan
masyarakat yang semakin beragam.
Sejarah Perbankan di Indonesia
Sejarah perbankan di Indonesia tidak terlepas dari zaman penjajahan Hindia Belanda. Pada
masa itu terdapat beberapa bank yang memegang peranan penting di Hindia Belanda.
Bank-bank yang ada itu antara lain:
1. De Javasce NV.
2. De Post Poar Bank.
3. De Algemenevolks Crediet Bank.
4. Nederland Handles Maatscappi (NHM).
5. Nationale Handles Bank (NHB).
6. De Escompto Bank NV.
Di samping itu, terdapat pula bank-bank milik orang Indonesia dan orang-orang asing
seperti dari Tiongkok, Jepang, dan Eropa. Bank-bank tersebut antara lain:
1. Bank Nasional indonesia.
2. Bank Abuan Saudagar.
3. NV Bank Boemi.
4. The Chartered Bank of India.
5. The Yokohama Species Bank.
6. The Matsui Bank.
7. The Bank of China.
8. Batavia Bank
Di zaman kemerdekaan, perbankan di Indonesia bertambah maju dan berkembang lagi.
Beberapa bank Belanda dinasionalisir oleh pemerintah Indonesia. Bank-bank yang ada di zaman
awal kemerdekaan antara lain:
1. Bank Negara Indonesia, yang didirikan tanggal 5 Juli 1946 yang sekarang dikenal dengan BNI
’46.
2. Bank Rakyat Indonesia yang didirikan tanggal 22 Februari 1946. Bank ini berasal dar De
Algemenevolks Crediet Bank atau Syomin Ginko.
3. Bank Surakarta Maskapai Adil Makmur (MAI) tahun 1945 di Solo.
4. Bank Indonesia di Palembang tahun 1946.
5. Bank Dagang Nasional Indonesia tahun 1946 di Medan.
6. Indonesian Banking Corporation tahun 1947 di Yogyakarta, kemudian menjadi Bank Amerta.
7. NV Bank Sulawesi di Manado tahun 1946.
8. Bank Dagang Indonesia NV di Samarinda
tahun 1950 kemudian merger dengan Bank
Pasifik.
9. Bank Timur NV di Semarang berganti nama menjadi Bank Gemari. Kemudian merger dengan
Bank Central Asia (BCA) tahun 1949.
Di Indonesia, praktek perbankan sudah tersebar sampai ke pelosok pedesaan. Lembaga
keuangan berbentuk bank di Indonesia berupa Bank Umum, Bank Perkreditan Rakyat (BPR), Bank
Umum Syari’ah, dan juga BPR Syari’ah
(BPRS). Masing-masing bentuk lembaga bank tersebut berbeda karakteristik dan fungsinya.

Sejarah Bank Pemerintah


Seperti diketahui bahwa Indonesia mengenal dunia perbankan dari bekas penjajahnya, yaitu
Belanda. Oleh karena itu, sejarah perbankan pun tidak lepas dari pengaruh negara yang
menjajahnya baik untuk bank pemerintah maupun bank swasta nasional. Berikut ini akan
dijelaskan secara singkat sejarah bank-bank
milik pemerintah, yaitu:
1. Bank Sentral
Bank ini sebelumnya berasal dari De Javasche. Bank yang dinasionalkan di tahun 1951.Bank
Sentral di Indonesia adalah Bank Indonesia (BI) berdasarkan UU No 13 Tahun 1968. Kemudian
ditegaskan lagi dengan UU No 23 Tahun 1999 bahwa Bank Indonesia selaku bank sentral adalah
lembaga negara yang independen. Dalam kapasitasnya sebagai bank sentral, Bank
Indonesia mempunyai satu tujuan tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah.
2. Bank Rakyat Indonesia dan Bank Expor Impor
Bank ini berasal dari De Algemene Volkscrediet Bank, kemudian dilebur setelah menjadi bank
tunggal dengan nama Bank Nasional Indonesia (BNI) Unit II yang bergerak di bidang rural dan
expor impor (exim), dipisahkan lagi menjadi:
a. Membidangi rural menjadi Bank RakyatIndonesia dengan UU No 21 Tahun 1968.
b. Membidangi Exim dengan UU No 22 Tahun1968 menjadi Bank Expor Impor Indonesia.
3. Bank Negara Indonesia (BNI ’46)
Bank ini menjalani BNI Unit III dengan UU No 17 Tahun 1968 berubah menjadi Bank Negara
Indonesia ’46.
4. Bank Dagang Negara(BDN)
BDN berasal dari Escompto Bank yang di
nasionalisasikan dengan PP No 13 Tahun 1960, namun PP (Peraturan Pemerintah) ini dicabut
dengan diganti dengan UU No 18 Tahun 1968 menjadi Bank Dagang Negara. BDN merupakan
satu-satunya Bank Pemerintah yang berada diluar Bank Negara Indonesia Unit.
5. Bank Bumi Daya (BBD)
BBD semula berasal dari Nederlandsch Indische Hendles Bank, kemudian menjadi Nationale
Hendles Bank, selanjutnya bank ini menjadi Bank Negara Indonesia Unit IV dan berdasarkan UU
No 19 Tahun 1968 menjadi Bank Bumi Daya.
6. Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo)
7. Bank Pembangunan Daerah (BPD)Bank ini didirikan di daerah-daerah tingkat I.
Dasar hukumnya adalah UU No 13 Tahun 1962.
8. Bank Tabungan Negara (BTN)
BTN berasal dari De Post Paar Bank yang
kemudian menjadi Bank Tabungan Pos tahun 1950. Selanjutnya menjadi Bank Negara Indonesia
Unit V dan terakhir menjadi Bank Tabungan Negara dengan UU No 20 Tahun 1968.
9. Bank Mandiri
Bank Mandiri merupakan hasil merger antara Bank Bumi Daya (BBD), Bank Dagang Negara
(BDN), Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) dan Bank Expor Impor Indonesia (Ban Exim).
Hasil merger keempat bank ini dilaksanakan
pada tahun 1999.
Sistem perbankan pada hakekatnya merupakan bagian dari sistem keuangan yang
mempunyai cakupan luas yaitu lembaga keuangan sebagai lembaga intermediasi, instrumen
keuangan seperti saham, obligasi, surat berharga pasar uang, treasury note, dan pasar sebagai
tempat perdagangan instrumen keuangan seperti bursa saham dan pasar uang antar bank. Lembaga
keuangan memberikan jasa intermediasi berupa jembatan antara surplus unit dengan defisit unit
dalam ekonomi, dan semua bank termasuk golongan ini.
F. Model dan Metode :
1. Metode pembelajaran project based learning ( PJBL )

G. Media, Alat/Bahan Pembelajaran


1. Media
a. Papan tulis
b. Spidol
c. Pengaris
2. Alat/Bahan
a. LCD/OHP.
b. Komputer/Laptop.

H. Sumber Belajar
1. Buku Referensi
2. Elektronik
3. Alam lingkungan
4. SOP DU/DI
5. Modul 1A, Karangan Dwi Harti
I. LAangkah Langkah Pembelajaran
Pertemuan 1
No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
Menit
· Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
· Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
· Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada
peserta didik.
· Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
· Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai sejarah perbankan di indonesia
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
· Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai sejarah perbankan di indonesia
· Peserta didik diminta untuk menyebutkan sejarah perbankan di
indonesia
Elaborasi
· Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai sejarah perbankan di indonesia
· Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi sejarah perbankan di indonesia atau bagian yang belum
dimengerti.
3Penutup 15 menit
· Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.

J. Penilaian Pembelajaran, Remedial dan Pengayaan Aspek yang dinilai

Mengetahui Batam, Juli 2017


Kepala Sekolah SMKIT DBS 01 Guru Mapel Akuntansi
BATAM

Omas Sauludin, S.Pd., M.M. Rozi Gusrianto, S.Pd.


NIY. 200307010157 NIY. 201708010464
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah : SMKIT Darussalam Boarding School 01 BATAM


Kelas/Semester : X / Ganjil
Mata Pelajaran : Perbankan Dasar
kok : Persyaratan dan Pendirian Bentuk Badan Hukum
Kompt. Keahlian : Akuntansi Keuangan
Alokasi Waktu : 3 x 45 Menit

A. Kompetensi Inti
1. Pengetahuan
KI 3 Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang pengetahuan faktual,
konseptual, operasional dasar, dan metakognitif sesuai dengan bidang dan lingkup kerja Akuntansi
dan Keuangan Lembaga pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan dengan ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam konteks pengembangan potensi diri
sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan
internasional.
2. Keterampilan
KI 4 Melaksanakan tugas spesifik dengan menggunakan alat, informasi, dan prosedur kerja yang
lazim dilakukan serta memecahkan masalah sesuai dengan bidang Akuntansi dan Keuangan
Lembaga. Menampilkan kinerja di bawah bimbingan dengan mutu dan kuantitas yang terukur
sesuai dengan standar kompetensi kerja.
Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif, produktif,
kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam ranah abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di
bawah pengawasan langsung.

B. Kompetensi Dasar
1. KD pada KI pengetahuan
3.2 Menganalisis persyaratan dan pendirian bentuk badan hukum
2. KD pada KI keterampilan
4.2 Melakukan identifikasi persyaratan dan pendirian bentuk badan hukum

C. Indikator Pencapaian Kompetensi


1. Indikator KD pada KI pengetahuan
3.2.1 Menata Persyaratan pendirian bank
3.2.2 Menelaah bentuk hukum bank
3.2.3 Menguraikan kerahasian bank
3.2.4 Merinci sanksi pelangaran kerahasian bank

2. Indikator KD pada KI keterampilan


4.2.1 Menunjukan Persyaratan pendirian bank
4.2.2 Menunjukan bentuk hukum bank
4.2.3 Menerapkan kerahasian bank
4.2.4 Mematuhi sanksi pelangaran kerahasian bank

D. Tujuan Pembelajaran
Melalui kegiatan ini siswa mampu :
1. Menjelaskan Persyaratan pendirian bank
2. Menjelaskan bentuk hukum bank
3. Menjelaskan kerahasian bank
4. Menjelaskan sanksi pelangaran kerahasian bank

E. Materi Pembelajaran
Persyaratan Mendirikan Bank
Pendirian suatu perusahaan dalam bentuk apapun harus mendapat izin dari instansi yang
terkait terlebih dulu, demikian pula izin untuk melakukan usaha perbankan.
Bagi perbankan sebelum melakukan kegiatannya harus memperoleh izin dari Bank
Indonesia. Artinya jika ingin mendirikan bank atau pembukaan cabang baru, maka di haruskan
untuk memenuhi berbagai persyaratan yang telah di tentukan Bank Indonesia, Bank Indonesia
mempelajari permohonan tersebut untuk menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan.[2]
Menurut UU No.3 Tahun 2004, Bank Sentral adalah lembaga negara yang mempunyai
wewenang untuk mengeluarkan alat pembayaran yang sah dari suatu negara, merumuskan dan
melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, mengatur
dan mengawasi perbankan serta menjalan fungsi sebagai lender of the last resort. Bank sentral
yang dimaksud adalah Bank Indonesia.
Bank Indonesia adalah lembaga negara yang independen dalam melaksanakan tugas dan
wewenangnya, bebas dari campur tangan pemerintah dan atau pihak lain, kecuali untuk hal-hal
yang secara tegas diatur dalam undang-undang ini. jenis bank indonesia pada perbankan yaitu
syariah, bank umum, bank perkreditan rakyat.
a. Tujuan Bank Indonesia
Menurut UU RI No. 3 Tahun 2004 Pasal 7, dijelaskan tujuan Bank Indonesia adalah
mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Untuk mencapai tujuan yang dimaksud Bank
Indonesia melaksanakan kebijakan moneter secara berkelanjutan, konsisten, transparan, dan harus
mempertimbangkan kebijakan umum pemerintah di bidang perekonomian.
b. Tugas Bank Indonesia
Berdasarkan UU No. 3 Tahun 2004, Bank Indonesia mempunyai tugas sebagai berikut:
(1) Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter.
Dalam rangka menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, Bank Indonesia berwenang:
(a) menetapkan sasaran moneter dengan memerhatikan sasaran laju inflasi;
(b) melakukan pengendalian moneter dengan menggunakan cara-cara yang termasuk tetapi tidak
terbatas pada:
- operasi pasar terbuka di pasar uang baik rupiah maupun valuta asing
- penetapan tingkat diskonto.
- penetapan cadangan wajib minimum
- pengaturan kredit atau pembiayaan
Cara-cara pengendalian moneter dapat dilaksanakan juga berdasarkan prinsip syariah.
Pelaksanaan ketentuan tersebut ditetapkan Peraturan Bank Indonesia..
(2) Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran.
Dalam rangka mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, bank Indonesia berwenang:.
(a) melaksanakan dan memberikan persetujuan dan izin atas penyelenggaraan jasa sistem
pembayaran,
(b) mewajibkan penyelenggara jasa sistem pembayaran untuk menyampaikan laporan
tentangkegiatannya..
Pelaksanaan kewenangan di atas ditetapkan dengan Peraturan Bank Indonesia.
(3) Mengatur dan mengawasi bank.
Dalam rangka melaksanakan tugas mengatur dan mengawasi bank, Bank Indonesia
menetapkan peraturan, memberikan dan mencabut izin atas kelembagaan dan kegiatan usaha
tertentu dari bank, melaksanakan pengawasan bank dan mengenakan sanksi terhadap bank sesuai
dengan peraturan Bank Indonesia.
Dalam kapasitasnya sebagai Bank Sentral, Bank Indonesia mempunyai satu tujuan tunggal,
yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah ini mengandung
dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap
mata uang negara lain. Aspek pertama tercermin pada perkembangan laju inflasi, sementara aspek
kedua tercermin pada perkembangan nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain. Perumusan
tujuan tunggal ini dimaksudkan untuk memperjelas sasaran yang harus dicapai Bank Indonesia
serta batas-batas tanggung jawabnya. Dengan demikian, tercapai atau tidaknya tujuan Bank
Indonesia ini kelak akan dapat diukur dengan mudah.
Untuk mencapai tujuan tersebut Bank Indonesia didukung oleh tiga pilar yang merupakan
tiga bidang tugasnya. Ketiga bidang tugas ini adalah menetapkan dan melaksanakan kebijakan
moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, serta mengatur dan mengawasi
perbankan di Indonesia. Ketiganya perlu diintegrasi agar tujuan mencapai dan memelihara
kestabilan nilai rupiah dapat dicapai secara efektif dan efisien.
A. Status Badan Hukum
Babak baru dalam sejarah Bank Indonesia sebagai Bank Sentral yang independen dimulai
ketika sebuah undang-undang baru, yaitu UU No. 23/1999 tentang Bank Indonesia, dinyatakan
berlaku pada tanggal 17 Mei 1999. Undang-undang ini memberikan status dan kedudukan sebagai
suatu lembaga negara independen dan bebas dari campur tangan pemerintah ataupun pihak
lainnya. Sebagai suatu lembaga negara yang independen, Bank Indonesia mempunyai otonomi
penuh dalam merumuskan dan melaksanakan setiap tugas dan wewenangnya sebagaimana
ditentukan dalam undang-undang tersebut. Pihak luar tidak dibenarkan mencampuri pelaksanaan
tugas Bank Indonesia, dan Bank Indonesia juga berkewajiban untuk menolak atau mengabaikan
intervensi dalam bentuk apapun dari pihak manapun juga.
Untuk lebih menjamin independensi tersebut, undang-undang ini telah memberikan
kedudukan khusus kepada Bank Indonesia dalam struktur ketatanegaraan Republik Indonesia.
Sebagai Lembaga negara yang independen kedudukan Bank Indonesia tidak sejajar dengan
Lembaga Tinggi Negara. Disamping itu, kedudukan Bank Indonesia juga tidak sama dengan
Departemen, karena kedudukan Bank Indonesia berada diluar Pemerintah. Status dan kedudukan
yang khusus tersebut diperlukan agar Bank Indonesia dapat melaksanakan peran dan fungsinya
sebagai otoritas moneter secara lebih efektif dan efisien.
Status Bank Indonesia baik sebagai badan hukum publik maupun badan hukum perdata
ditetapkan dengan undang-undang. Sebagai badan hukum publik Bank Indonesia berwenang
menetapkan peraturan-peraturan hukum yang merupakan pelaksanaan dari undang-undang yang
mengikat seluruh masyarakat luas sesuai dengan tugas dan wewenangnya. Sebagai badan hukum
perdata, Bank Indonesia dapat bertindak untuk dan atas nama sendiri di dalam maupun di luar
pengadilan.
Menurut Pasal 2 PBI No.6/24/PBI/2004, bentuk hukum suatu bank dapat berupa perseroan
terbatas, koperasi, atau perusahaan daerah. Pasal 3 menjelaskan, bahwa bank hanya dapat didirikan
dengan izin Bank Indonesia dalam dua tahap:
a. Persetujuan prinsip, yaitu persetujuan untuk melakukan persiapan pendirian bank; dan
b. Izin usaha, yaitu izin yang di berikan untuk melakukan kegiatan usaha bank setelah persiapan
pendirian bank selesai dilakukan.
Di samping izin yang telah diajukan, maka pemohon dapat memilih bentuk badan hukum
ini tergantung dari jenis bank yang dipilihnya. Masing-masing bentuk badan hukum mempunyai
kelebihan dan kekurangannya.
Ada beberapa bentuk badan hukum bank yang dapat di pilih jika ingin mendirikan bank
sesuai dengan Undang- Undang Nomor 10 Tahun 1998. Bentuk badan hukum Bank Umun dapat
berupa salah satu dari alternative di bawah ini.
- Perseroan Terbatas,
- Koperasi atau,
- Perseroan Daerah(PD)
Sedangkan betnuk bdan hukum Bank Pengkreditan Rakyat sesui dengan Undang – Undang Nomor
7 Tahun 1992 dapat berupa:
- Peusahaan Daerah(PD)
- Koperasi
- Perseroan Terbatas(PT)
- atau bentuk lain yang ditetapkan oleh pemerintah.
B. Pengurus Bank
Menurut Pasal 5 PBI No. 6/24/PBI/2004, bank hanya dapat didirikan oleh warga Negara
Indonesia dan/atau badan hukum Indonesia, atau warga Negara Indonesia dan/atau badan hukum
Indonesia dengan warga negara asing dan/atau badan hukum asing secara kemitraan. Kepemilikan
yang berasal dari warga negaraasing dan/atau badan hokum asing tersebut setinggi-tingginya
sebesar 99% (Sembilan puluh Sembilan perseratus) dari modal di setor bank.
Kepemilikan bank oleh badan hukum Indonesia setinggi-tingginya sebesar modal sendiri
bersih badan hokum yang bersangkutan. Ketentuan modal sendiri bersih wajib dipenuhi pada saat
badan hokum yang bersangkutan melakukan penyetoran modal untuk pendirian bank atau pada
saat bdan hokum yang bersangkutan penambahan modal di setir bank. Sumber dana yang
digunakan dalam rangka kepemilikan bank dilarang:
a. Berasal dari pinjaman atau fasilitas pembiayaan dalam bentuk apapun dari bank dan/atau pihak
lain;/atau
b. Berasal dari sumber yang diharamkan menurut prinsip syariah termasuk dari/dan/untuk tujuan
pencucian uang(money laundering).
Yang dapat menjadi pemilik bank adalah pihak-pihak yang:
a. Tidak termasuk dalam daftar orang-orang yang dilarang menjadi pemegang saham dan/atau
pengurus bank sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia;
b. Menurut penilaian Bank Indonesia yang bersangkutan memiliki integritas yang baik, yaitu
memiliki akhlak dan moral yang baik, mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku,dan
memiliki komitmen yang tinggi terhadap pengembangan operasional bank yang sehat.
Pemegang saham pengendali wajib memenuhi persyaratan, bahwa yang bersangkutan
bersedia untuk mengatasi kesulitan permodalan dan likuiditas yang dihadapi bank dalam
menjalankan kegiatan usahanya. Penggantian dan/atau penambahan pemilik bank dan/atau
pemegang saham pengendali tunduk kepada tata cara penggantian dan/atau penambahan pemilik
bank yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku tentang merger, konsolidasi,
dan akuisisi bank, serta mengenai pembelian saham bank umum.
Beberapa pihak yang dapat mendirikan bank umum dapat dijabarkan sebagai berikut :
warga negara Indonesia dan atau badan hukum Indonesia. warga negara Indonesia dan atau
badan hukum Indonesia dengan warga negara asing dan atau badan hukum asing secara
kemitraanDalam rangka tugas mengatur dan mengawasi perbankan, Bank Indonesia menetapkan
peraturan, memberikan dan mencabut izin atas kelembagaan atau kegiatan usaha tertentu dari
bank, melaksanakan pengawasan atas bank, dan mengenakan sanksi terhadap bank sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Dalam pelaksanaan tugas ini, Bank Indonesia berwenang menetapkan ketentuan-ketentuan
perbankan dengan menjunjung tinggi prinsip kehati-hatian.Berkaitan dengan kewenangan di
bidang perizinan, selain memberikan dan mencabut izin usaha bank, Bank Indonesia juga dapat
memberikan izin pembukaan, penutupan dan pemindahan kantor bank, memberikan persetujuan
atas kepemilikan dan kepengurusan bank, serta memberikan izin kepada bank untuk menjalankan
kegiatan-kegiatan usaha tertentu.
Di bidang pengawasan Bank Indonesia melakukan pengawasan langsung maupun tidak
langsung. Pengawasan langsung dilakukan baik dalam bentuk pemeriksaan secara berkala maupun
sewaktu-waktu bila diperlukan. Pengawasan tidak langsung dilakukan melalui penelitian, analisis
dan evaluasi terhadap laporan yang disampaikan oleh bank.
Sebagai upaya membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan
dan perekonomian Indonesia, Bank Indonesia telah menempuh langkah restrukturisasi perbankan
yang komprehensif. Langkah ini mutlak diperlukan guna memfungsikan kembali perbankan
sebagai lembaga perantara yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi, disamping sekaligus
meningkatkan efektivitas pelaksanaan kebijakan moneter.
Restrukturisasi perbankan tersebut dilakukan melalui upaya memulihkan kepercayaan
masyarakat, program rekapitalisasi, program restrukturisasi kredit, penyempurnaan ketentuan
perbankan, dan peningkatan fungsi pengawasan bank.
Sebagai bank sentral, Bank Indonesia mempunyai wewenang untuk memutuskan dan
melaksanakan kebijakan moneter yang tepat. Kebijakan itu bisa berupa Open Market Operation,
Discount Policy, Sanering, dan Selective Credit.
Menjaga stabilitas nilai tukar rupiah adalah tujuan Bank Indonesia sebagaimana
diamanatkan Undang-Undang No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Untuk menjaga
stabilitas rupiah itu perlu disokong pengaturan dan pengelolaan akan kelancaran Sistem
Pembayaran Nasional (SPN). Kelancaran SPN ini juga perlu didukung oleh infrastruktur yang
handal (robust). Jadi, semakin lancar dan hadal SPN, maka akan semakin lancar pula transmisi
kebijakan moneter yang bersifat time critical. Bila kebijakan moneter berjalan lancar maka
muaranya adalah stabilitas nilai tukar.
BI adalah lembaga yang mengatur dan menjaga kelancaran SPN. Sebagai otoritas moneter,
bank sentral berhak menetapkan dan memberlakukan kebijakan SPN. Selain itu, BI juga memiliki
kewenangan memeberikan persetujuan dan perizinan serta melakukan pengawasan (oversight) atas
SPN. Menyadari kelancaran SPN yang bersifat penting secara sistem (systemically important),
bank sentral memandang perlu menyelenggarakan sistem settlement antar bank melalui
infrastruktur BI-Real Time Gross Settlement (BI-RTGS).
Selain itu masih ada tugas BI dalam SPN, misalnya, peran sebagai penyelenggara sistem
kliring antarbank untuk jenis alat-alat pembayaran tertentu. Bank sentral juga adalah satu-satunya
lembaga yang berhak mengeluarkan dan mengedarkan alat pembayaran tunai seperti uang rupiah.
BI juga berhak mencabut, menarik hingga memusnahkan uang rupiah yang sudah tak berlaku dari
peredaran.
Berbekal kewenangan itu, BI pun menetapkan sejumlah kebijakan dari komponen SPN ini.
Misalnya, alat pembayaran apa yang boleh dipergunakan di Indonesia. BI juga menentukan standar
alat-alat pembayaran tadi serta pihak-pihak yang dapat menerbitkan dan/atau memproses alat-alat
pembayaran tersebut. BI juga berhak menetapkan lembaga-lembaga yang dapat menyelenggarakan
sistem pembayaran. Ambil contoh, sistem kliring atau transfer dana, baik suatu sistem utuh atau
hanya bagian dari sistem saja. Bank sentral juga memiliki kewenangan menunjuk lembaga yang
bisa menyelenggarakan sistem settlement. Pada akhirnya BI juga mesti menetapkan kebijakan
terkait pengendalian risiko, efisiensi serta tata kelola (governance) SPN.
Di sisi alat pembayaran tunai, Bank Indonesia merupakan satu-satunya lembaga yang
berwenang untuk mengeluarkan dan mengedarkan uang Rupiah serta mencabut, menarik dan
memusnahkan uang dari peredaran. Terkait dengan peran BI dalam mengeluarkan dan
mengedarkan uang, Bank Indonesia senantiasa berupaya untuk dapat memenuhi kebutuhan uang
kartal di masyarakat baik dalam nominal yang cukup, jenis pecahan yang sesuai, tepat waktu, dan
dalam kondisi yang layak edar (clean money policy). Untuk mewujudkan clean money policy
tersebut, pengelolaan pengedaran uang yang dilakukan oleh Bank Indonesia dilakukan mulai dari
pengeluaran uang, pengedaran uang, pencabutan dan penarikan uang sampai dengan pemusnahan
uang.
Sebelum melakukan pengeluaran uang Rupiah, terlebih dahulu dilakukan perencanaan agar
uang yang dikeluarkan memiliki kualitas yang baik sehingga kepercayaan masyarakat tetap terjaga.
Perencanaan yang dilakukan Bank Indonesia meliputi perencanaan pengeluaran emisi baru dengan
mempertimbangkan tingkat pemalsuan, nilai intrinsik serta masa edar uang. Selain itu dilakukan
pula perencanaan terhadap jumlah serta komposisi pecahan uang yang akan dicetak selama satu
tahun kedepan. Berdasarkan perencanaan tersebut kemudian dilakukan pengadaan uang baik untuk
pengeluaran uang emisi baru maupun pencetakan rutin terhadap uang emisi lama yang telah
dikeluarkan.
Uang Rupiah yang telah dikeluarkan tadi kemudian didistribusikan atau diedarkan di
seluruh wilayah melalui Kantor Bank Indonesia. Kebutuhan uang Rupiah di setiap kantor Bank
Indonesia didasarkan pada jumlah persediaan, keperluan pembayaran, penukaran dan penggantian
uang selama jangka waktu tertentu. Kegitan distribusi dilakukan melalui sarana angkutan darat,
laut dan udara. Untuk menjamin keamanan jalur distribusi senantiasa dilakukan baik melalui
pengawalan yang memadai maupun dengan peningkatan sarana sistem monitoring.
Kegiatan pengedaran uang juga dilakukan melalui pelayanan kas kepada bank umum
maupun masyarakat umum. Layanan kas kepada bank umum dilakukan melalui penerimaan
setoran dan pembayaran uang Rupiah. Sedangkan kepada masyarakat dilakukan melalui penukaran
secara langsung melalui loket-loket penukaran di seluruh kantor Bank Indonesia atau melalui
kerjasama dengan perusahaan yang menyediakan jasa penukaran uang kecil.
Lebih lanjut, kegiatan pengelolaan uang Rupiah yang dilakukan Bank Indonesia adalah
pencabutan uang terhadap suatu pecahan dengan tahun emisi tertentu yang tidak lagi berlaku
sebagai alat pembayaran yang sah. Pencabutan uang dari peredaran dimaksudkan untuk mencegah
dan meminimalisasi peredaran uang palsu serta menyederhanakan komposisi dan emisi pecahan.
Uang Rupiah yang dicabut tersebut dapat ditarik dengan cara menukarkan ke Bank Indonesia atau
pihak lain yang telah ditunjuk oleh Bank Indonesia.
Sementara itu untuk menjaga menjaga kualitas uang Rupiah dalam kondisi yang layak edar
di masyarakat, Bank Indonesia melakukan kegiatan pemusnahan uang. Uang yang dimusnahkan
tersebut adalah uang yang sudah dicabut dan ditarik dari peredaran, uang hasil cetak kurang
sempurna dan uang yang sudah tidak layak edar. Kegiatan pemusnahan uang diatur melalui
prosedur dan dilaksanakan oleh jasa pihak ketiga yang dengan pengawasan oleh tim Bank
Indonesia (BI).
Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya Bank Indonesia dipimpin oleh Dewan
Gubernur. Dewan ini terdiri atas seorang Gubernur sebagai pemimpin, dibantu oleh seorang Deputi
Gubernur Senior sebagai wakil, dan sekurang-kurangnya empat atau sebanyak-banyaknya tujuh
Deputi Gubernur. Masa jabatan Gubernur dan Deputi Gubernur selama-lamanya lima tahun, dan
mereka hanya dapat dipilih untuk sebanyak-banyaknya dua kali masa tugas.
Gubernur dan Deputi Gubernur Senior diusulkan dan diangkat oleh Presiden dengan
persetujuan DPR. Sementara Deputi Gubernur diusulkan oleh Gubernur dan diangkat oleh
Presiden dengan persetujuan DPR. Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia tidak dapat
diberhentikan oleh Presiden, kecuali bila mengundurkan diri, berhalangan tetap, atau melakukan
tindak pidana kejahatan.
Sebagai suatu forum pengambilan keputusan tertinggi, Rapat Dewan Gubernur (RDG)
diselenggarakan sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan untuk menetapkan kebijakan umum di
bidang moneter, serta sekurang-kurangnya sekali dalam seminggu untuk melakukan evaluasi atas
pelaksanaan kebijakan moneter atau menetapkan kebijakan lain yang bersifat prinsipil dan
strategis. Pengambilan keputusan dilakukan dalam Rapat Dewan Gubernur, atas dasar prinsip
musyawarah demi mufakat. Apabila mufakat tidak tercapai, Gubernur menetapkan keputusan
akhir.[12]
Pembinaan Dan Pengawasan
Kegiatan perbankan yang dilakukan sehari-hari, baik oleh bank umum maupun Bank
Pengkreditan Rakyat tidak terlepas dari berbagai kesalahan. Kesalahan ini dapat dilakukan secara
sengaja maupun tidak sengaja. Oleh karena itu agar dunia perbankan berjalan sesuai dengan
peraturan yang telah ditetapkan, maka perlu dilakukan pembinaan dan pengawasan terhadap segala
aktivitas yang dilakukan oleh dunia perbankan. Pelaksanaan pembinaan dan pengawasan terhadap
dunia perbankan di Indonesia dilakukan oleh Bank Indonesia.
Dalam hal pembinaan dan pengawasan tersebut Bank Indonesia menetapkan kriteria
kesehatan bank yang meliputi aspek kecukupan modal, kualitas aset, kualitas
manajemen,likuiditas, rentabilitas, dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank dan wajib
melakukan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian.
Rahasia Bank
Dikarenakan kegiatan dunia perbankan mengelola uang masyarakat, maka bank wajib pula
menjaga kepercayaan yang diberikan masyarakat. Bank wajib menjamin keamanan uang tersebut
agar benar-benar aman. Agar keamana uang nasabahnya terjamin, pihak perbankan di larang untuk
memberikan keterangan yang tercatat pada bank tentang keadaan keuanganan hal-hal lain dari
nasabahnya. Dengan kata lain bank harus menjaga tentang rahasia tentang keadaan keuangan
nasabah dan apabila melanggar kerahasiaan ini perbankan akan dikenakan sanksi.
Namun dalam kasus tertentu kerahasiaan bank tidak berlaku untuk nasabah. Rahasia bank akan
gugur apabila kondisi:
1. untuk kepentingan perpajakan. Pimpinan Bank Indonesia atas permintaan menteri keuangan
berwenang mengeluarkan perintah tertulis kepada bank agar memberikan keterangan dan
memperlihatkan bukti-bukti tentang keuangan nasabah penyimpanan tertentu kepada pejabat pajak.
2. Untuk penyelesaian piutang bank yang sudah diserahkan kepada Badan Urusan Piutang
Negara/Panitia Urusan Piutang Negara. Pimpinan Bank Indonesia memberikan izin kepada pejabat
Badan Urusan Piutang Negara untuk memperoleh keterangan dari bank mengenai simpanan
nasabah debitur.
3. Untuk kepentingan peradilan dalam perkara pidana, pimpina bank Indonesia dapat memberikan
izin kepada polisi, jaksa atau hakim untuk memperoleh keterangan dari pihak bank mengenai
simpanan tersangka atau terdakwa pada bank.
4. Dalam rangka tukar menukar informasi antar bank, direksi bank dapat memberitahukan keadaan
keuangan nasabahnya kepada bank lain.[14]
C. Perizinan Bank Indonesia
Bank sebagai suatu badan usaha yang mempunyai kegiatan usaha menghimpun dana dari
masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada massyarakat dalam berbagai bentuknya, sudah
tentu membutuhkan persyaratan dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Ini sangat penting untuk
melindungi kepentingan masyarakat, terutama terhadap nasabah penyimpan dan simpanannya.
Untuk maksud tersebut dalam undang- undang Perbakan telah sedemikian rupa diatur
mengenai perizina untuk menjalankan kegiatan usaha bank sebagaimana ditentukan dalam Pasal
16 Ayat (1),(2), dan (3) yaitu:
Pasal 16 Ayat (1):
Setiap pihak yang melakukan kegiatan menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpana
wajib terlebih dahulu memperoleh izin usaha sebagai Bank Umum atau Bank Pengkreditan Rakyat
dari Pimpinan Bank Indonesia,kecuali apabila kegiatan menghimpun dana dari masyarakat
dimaksud diatur dengan undang-undang tersendiri.
1. Proses Perizinan Pada Bank
Izin pendirian bank umum dan BPR biasanya di berikan sesuai dengan persyaratan yang berlaku.
Untuk memperoleh izin usaha bank, persyaratan yang wajib di penuhi menurut Undang- Undang
Nomor 10 Tahun 1998 sekurang-kurangnya adalah:
1. Susunan organisasi dan kepengurusan
2. Permodalan
3. Keahlian di bidang perbankan
4. Kelayakan Rencana Kerja
Semua persyaratan dan tata cara perizinan bank di atas di tetapkan oleh Bank
Indonesia.Menurut Pasal 9 PBI No. 6/24/PBI/2004, permohonan untuk memperoleh izin usaha
diajukan oleh pihak yang telah mendapat persetujuan prinsip kepada Gubernur Bank Indonesia dan
wajib disertai dengan:
a. Akta pendirian badan hokum, yang memuat anggaran dasar yang telah disahkan oleh instansi
berwenang;
b. Data kepemilikan yang masing-masing disertai dengan dokumen yang telah diminta dalam hal
terjadi perubahan;
c. Daftar susunan direksi dewan komisaris, disertai dengan identitas dan dokumen dalam hal
terjadi perubahan
d. Dokumen lainnya yang telah diajukan sebelumnya dalam hal terjadi perubahan;
e. Bukti pelunasan modal disetor minimum
f. Bukti kesiapan operasional; dan
g. Surat pernyataan dari pemegang saham bagi bank, bahwa pelunasan modal disetor tidak berasal
dari pinjaman atau fasilitas pembiayaan dalam bentuk apapun dari bank/atau pihak lain; dan tidak
berasal dari sumber dana yang diharamkan menurut prinsip syariah termasuk dari/dan/untuk tujuan
pencucian uang(money laundering).
Persetujuan atau penolakan atas permohonan izin usaha diberikan selambat-lambatnya
60(enam puluh) hari setelah dokumen permohonan diterima secara lengkap. Dalam rangka
memberikan persetujuan atau penolakan, Bank Indonesia melakukan:

a. Penelitian atas kelengkapan dan kebenaran dokumen; dan


b. Wawancara terhadap pemegang saham pengendali, anggota direksi, dewan komisaris, dan Dewan
Pengawas Syariah dalam hal terdapat penggantian atas calon yang diajukan sebelumnya.
Bank yang telah mendapat izin usaha dari Gubernur Bank Indonesia wajib melakukan
kegiatan usaha perbankan selambat-lambatnya 60(enam puluh) hari terhitung sejak tanggal izin
usaha dikeluarkan. Pelaksanaan kegiatan usaha wajib dilaporkan oleh direksi bank kepada
pelaksanaan kegiatan operational. Apabila setelah jangka waktu yang telah ditentukan bank belum
melakukan kegiatan usaha, Gubernur Bank Indonesia membatalkan izin usaha yang telah
dikeluarkan.
2. Proses Perizinan Pada perusahaan
Dalam Pasal 1 huruf b UU No.3 Tahun 1982 Tentang Wajib Daftar Perusahaan
menjelaskan pengertian dari perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan setiap jenis
usaha yang bersifat tetap dan terus menerus dan didirikan, bekerja, serta berkedudukan dalam
wilayah Negara Indonesia untuk tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba. Dari pengertian
diatas dapat diambil pokok bahasan bahwa perusahaan :
a. Badan usaha berbadan hokum
b. Kegiatan dalam bidang ekonomi
c. Bersifat terus menerus
d. Terang -terangan
e. Keuntungan dan/atau laba
f. Pembukuan
Sebelum melakukan kegiatan ekonomi pada suatu perusahaan, tentunya harus ada suatu proses
perizinan yang mendahuluinya. Proses perizinan inilah yang akan di bahas.
Tahap-tahap perizinan
a. Akta Pendirian perusahaan
Akta pendirian perusahaan adalah akta otentik, yaitu salah satu bentuk legalitas perusahaan
yang di buat di muka notaries, pejabat umum yang di beri wewenang untuk itu oleh Undang-
undang. Pada akta pendirian harus memuat Anggaran Dasar Perusahaan yang berisi beberapa
ketentuan sebagai berikut :
1. secara formal memuat judul, nomor, tempat, hari dan tanggal pembuatan dan penandatanganan
akta pendirian
a. secara materiil memuat tentang :
b. pendiri/pihak-pihak pendiri
c. perusahaan
d. usaha perusahaan
e. hubungan perusahaan
f. cara penyelesaian jika terjadi sengketa
2. Nama PerusahaanDi indonesia menganut beberapa azas tentang pemberian nama suatu perusahaan.
Azas -azas tersebut dapat di jabarkan sebagai berikut :
a. pembauran nama perusahaan dengan nama pribadi
b. pembauran bentuk hukum perusahaan dengan nama pribadi
c. larangan memakai ama perusahaan orang lain
d. larangan memakai merek orang lain
e. larangan memakai nama perusahaan yang menyesatkan
3. hak atas nama perusahaan
Di Indonesia belum adang UU yang mengatur tentang pemberian nama perusahaan, sehingga
banyak sekali kejahatan yang terjadi dengan modus nama perusahaan tersebut. Tetapi di Indonesia
perbuatan ini di kategorikan sebagai perbuatan curang sehingga melanggar pasal 393 KUHP
tentang perbuatan curang.Dalam hal ini perlu diperhatikan masalah pemberian nama agar tidak
terjadi tindak pidana
4. Pengakuan dan pengesahan
Berikut merupakan pernyataan untuk perihal perngakuan dan pengesahan adalah
a. dikatakan ada pengakuan apabila tidak ada pihak yang menyangkal atau keberatan dengan
pemakaian nama perusahaan yang bersangkutan
b. pengusaha atau masyarakat umum mengetahui dan mengakui nama yang dipakai oleh perusahaan
yang bersangkutan dalam menjalankan usahanya
c. dikatakan ada pengesahan apabila nama perusahaan yang dipakai menjalankan usaha itu di buat di
muka notaris, di umumkan dalam Berita negara, dan di daftarkan dalam Daftar Perusahaan, tetapi
tidak ada yang keberatan terhadap nama tersebut
d. dengan terdaftar nama perusahaan dalam Daftar perusahaan maka sudah dianggap sah
e. \ apabila ada pihak yang tidak mengakui nama perusahaan yang di daftarkan maka dapat
mengajukan ke Menteri Perindustrian dan perdagangan mengenai nama yang di daftarkan beserta
alasannya
Untuk memperoleh izin usaha Bank Umum dan Bank Perkreditan rakyat maka wajib di penuhi
persyaratan sekurang-kurangnya tentang :
1. susunan organisasi dan kepengurusan
2. permodalan
3. kepemilikan
4. keahlian di bidang perbankan
5. kelayakan rencana kerja
Dalam memperoleh izin usaha sebagai Bank Umumdan BPR, Bank Indonesia selain
memperhatikan pemenuhan persyaratan, juga wajib memperhatikan tingkat persaingan yang sehat
antar bank, tingkat kejenuhan jumlah bank dalam suatu wilayah tertentu, serta pemerataan
pembangunan ekonomi nasional.
Persyaratan dan tata cara perizinan bank yang di tetapkan oleh Bank Indonesia antara lain
:persyaratan untuk menjadi pengurus bank antara lain menyangkut keahlian di bidang perbankan
dan kondite yang baik
1. larangan adanya hubungan keluarga di antara pengurus bank
2. modal di setor minimum untuk pendirian Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat
3. batas maksimum kepemilikan dan kepengurusan
4. kelayakan rencana kerja
5. batas waktu pemberian izin pendirian bank
Untuk Pokok-pokok persyaratan dan tata cara pembukaan kantor Bank Umum sebagaimana di
tetapkan Bank Indonesia antara lain :
1. persyaratan tingkat kesehatan bank
2. Tingkat persaingan yang sehat antar bank
3. Tingkat kejenuhan jumlah bank dalam suatu wilayah tertentu
4. Pemerataan pembangunan ekonomi nasional
5. Batas waktu pemberian izin pembukaan kantorselambat-lambatnya 60 hari setelah dokumen
permohonandi terima secara lengkap Batas waktu dan alasan penolakan
6. Batas waktu pelaporan pembukaan kantor dibawah kantor cabang
Untuk Pokok-pokok persyaratan dan tata cara pembukaan kantor Bank Perkreditan Rakyat
sebagaimana di tetapkan Bank Indonesia antara lain :
1. persyaratan tingkat kesehatan BPR
2. Tingkat persaingan yang sehat antar BPR
3. Tingkat kejenuhan jumlah BPR dalam suatu wilayah tertentu
4. Pemerataan pembangunan ekonomi nasional
5. Batas waktu pemberian izin pembukaan kantor selambat-lambatnya 30 hari setelah dokumen
permohonan di terima secara lengkap
6. Batas waktu dan alasan penolakan

F. Model dan Metode :


1. Metode pembelajaran project based learning ( PJBL )

G. Media, Alat/Bahan Pembelajaran


1. Media
a. Papan tulis
b. Spidol
c. Pengaris
2. Alat/Bahan
a. LCD/OHP.
b. Komputer/Laptop.
H. Sumber Belajar
1. Buku Referensi
2. Elektronik
3. Alam lingkungan
4. SOP DU/DI
5. Modul Dasar Dasar Perbankan, Karangan Ernawati

I. Langkah Langkah Pembelajaran

Pertemuan 1
No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
· Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
· Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
· Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada
peserta didik.
· Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
· Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai persyaratan dan pendirian bentuk badan hukum
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
· Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai persyaratan dan pendirian bentuk badan hukum
· Peserta didik diminta untuk menyebutkan persyaratan dan pendirian
bentuk badan hukum
Elaborasi
· Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai persyaratan dan pendirian bentuk badan hukum
· Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi persyaratan dan pendirian bentuk badan hukum atau bagian
yang belum dimengerti.
3Penutup 15 menit
· Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.

J. Penilaian Pembelajaran, Remedial dan Pengayaan

Mengetahui Batam, Juli 2017


Kepala Sekolah SMKIT DBS 01 Guru Mapel Akuntansi
BATAM

Omas Sauludin, S.Pd., M.M. Rozi Gusrianto, S.Pd.


NIY. 200307010157 NIY. 201708010464
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah : SMKIT Darussalam Boarding School 01 BATAM


Kelas/Semester : X / Ganjil
Mata Pelajaran : Perbankan Dasar
kok : Berbagai Jenis Lembaga Keuangan
Kompt. Keahlian : Akuntansi Keuangan
Alokasi Waktu : 3 x 45 Menit

A. Kompetensi Inti
1. Pengetahuan
KI 3 Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang pengetahuan faktual,
konseptual, operasional dasar, dan metakognitif sesuai dengan bidang dan lingkup kerja Akuntansi
dan Keuangan Lembaga pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan dengan ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam konteks pengembangan potensi diri
sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan
internasional.
2. Keterampilan
KI 4 Melaksanakan tugas spesifik dengan menggunakan alat, informasi, dan prosedur kerja yang
lazim dilakukan serta memecahkan masalah sesuai dengan bidang Akuntansi dan Keuangan
Lembaga. Menampilkan kinerja di bawah bimbingan dengan mutu dan kuantitas yang terukur
sesuai dengan standar kompetensi kerja.
Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif, produktif,
kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam ranah abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di
bawah pengawasan langsung.

B. Kompetensi Dasar
1. KD pada KI pengetahuan
3.3 Menganalisis berbagai jenis lembaga keuangan
2. KD pada KI keterampilan
4.3 Melakukan klasifikasi lembaga keuangan bank dan non bank

C. Indikator Pencapaian Kompetensi


1. Indikator KD pada KI pengetahuan
3.3.1 Menguraikan pengertian lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan non bank
3.3.2 Menelaah jenis lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan non bank
3.3.3 Menegaskan peran masing masing lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan non bank
3.3.4 Menganalisi kriteria lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan non bank
3.3.5 membeda-bedakan lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan non bank

2. Indikator KD pada KI keterampilan


4.3.1 Kembalimembuat pengertian lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan non bank
4.3.2 Melaksanakan jenis lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan non bank
4.3.3 Menunjukan peran masing masing lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan non bank
4.3.4 Melakukan kriteria lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan non bank
4.3.5 Mereplikasikan lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan non bank

D. Tujuan Pembelajaran
Melalui kegiatan ini siswa mampu :
1. Menjelaskan pengertia lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan non bank
2. Menjelaskan jenis lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan non bank
3. Menjelaskan peran masin masing lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan non bank
4. Mengidentifikasikan kriteria lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan non bank
5. Membedakan lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan non bank

E. Materi Pembelajaran
Jenis - Jenis Lembaga Keuangan Bank Dan Non Bank

Lembaga Keuangan Bank

Jenis-jenis lembaga keuangan bank terdiri dari :


1) Bank Umum (Konvensional dan Syariah), dan;
2) Bank Perkreditan Rakyat (Konvensional dan Syariah).

Bank Umum

Bank Umum menurut Undang-undang RI Nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan


sebagaimana diperbaharui dengan UU nomor 10 Tahun 1998, adalah bank yang melaksanakan
kegiatan usaha secara konvensional dan/atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya
memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Selanjutnya untuk pembahasan tentang Bank
Umum akan dipisahkan menjadi Bank Umum Konvensional dan Bank Umum Syariah sebagai
berikut berikut :

A. Bank Umum Konvensional

Bank umum adalah bank yang dapat memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Sifat jasa
yang diberikan adalah umum, dalam arti dapat memberikan seluruh jasa perbankan yang ada.
Begitu pula dengan wilayah operasinya dapat dilakukan di seluruh wilayah. Bank umum sering
disebut bank komersil (commercial bank).

Usaha utama bank umum adalah funding yaitu menghimpun dana dari masyarakat luas, kemudian
diputarkan kembali atau dijualkan kembali ke masyarakat dalam bentuk pinjaman atau lebih
dikenal dengan istilah kredit. Dalam penghimpunan dana, penabung diberikan jasa dalam bentuk
bunga simpanan. Sementara dalam pemberian kredit, penerima kredit (debitur) dikenakan jasa
pinjaman dalam bentuk bunga dan biaya administrasi.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan :

a) Menghimpun dana dari masyarakat (Funding) dalam bentuk :


1. Simpanan Giro (Demand Deposit)
2. Simpanan Tabungan (Saving Deposit)
3. Simpanan Deposito (Time Deposit)

b) Menyalurkan dana ke masyarakat (Lending) dalam bentuk :


1. Kredit Investasi
2. Kredit Modal Kerja
3. Kredit Konsumsi

c) Memberikan jasa-jasa bank lainnya (Services) seperti :


1. Transfer (Kiriman Uang)
2. Inkaso (Collection)
3. Kliring (Clearing)
4. Save Deposit Box
5. Credit/Debit Card
6. Valas (Bank Notes)
7. Bank Garansi
8. Referensi Bank
9. Bank Draft
10. Letter of Credit (L/C)
11. Traveller’s Cheque
12. Jual beli surat-surat berharga

B. Bank Umum Syariah

Bank Umum Syariah adalah Bank Umum yang melaksanakan kegiatan usahanya
berdasarkan prinsip syariah. Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Syariah adalah BPR yang
melaksanakan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah.
Adapun pengertian prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank
dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan atau pembayaran kegiatan usaha, atau kegiatan lain
yang dinyatakan sesuai dengan syariah.

Kegiatan Usaha Bank Umum Syariah


1. Menerima simpanan dana dari masyarakat dalam bentuk :
a. Giro berdasarkan prinsip wadi’ah;
b. Tabungan berdasarkan prinsip wadi’ah atau mudharabah;
c. Deposito berjangka berdasarkan prinsip mudharabah; atau
d. Bentuk lain berdasarkan prinsip wadi’ah atau mudharabah.

2. Menyalurkan dana dalam bentuk :


a. Piutang dengan prinsip jual beli meliputi :
- mudharabah;
- isthishna;
- ijarah;
- salam.
b. Pembiayaan dengan prinsip bagi hasil meliputi :
- mudharabah;
- musyarakah;
c. Pembiayaan berdasarkan prinsip qardh.

3. Membeli, menjual dan atau menjamin atas risiko sendiri surat-surat berharga pihak ketiga yang
diterbitkan atas dasar transaksi nyata (underlying transaction) berdasarkan prinsip jual-beli atau
hiwalah.
4. Membeli surat-surat berharga Pemerintah dan atau BI yang diterbitkan atas dasar Prinsip
Syariah;
5. Memindahkan uang untuk kepentingan sendiri dan atau nasabah berdasarkan prinsip wakalah;
6. Menerima pembayaran tagihan atas surat berharga yang diterbitkan dan melakukan perhitungan
dengan atau antar pihak ketiga dengan prinsip wakalah;
7. Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat-surat berharga berdasarkan prinsip
wadi’ah yad amanah;
8. Melakukan kegiatan penitipan termasuk penatausahaannya untuk kepentingan pihak lain
berdasarkan suatu kontrak dengan prinsip wakalah;
9. Melakukan penempatan dana dari nasabah kepada nasabah lain dalam bentuk surat berharga
yang tidak tercatat di bursa efek berdasarkan prinsip ujrah;
10. Memberikan fasilitas Letter of Credit (L/C) berdasarkan prinsip walakah, murabahah,
mudharabah, musyarakah, dan wadi’ah, serta memberikan fasilitas garansi bank berdasarkan
prinsip kalafah;
11. Melakukan kegiatan wali amanat berdasarkan prinsip walakah;
12. Melakukan kegiatan usaha kartu debet berdasarkan prinsip ujrah;
13. Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan Bank sepanjang disetujui oleh Dewan Syariah
Nasional;
14. Melakukan kegiatan dalam valuta asing berdasarkan prinsip sharf;
15. Melakukan kegiatan penyertaan modal berdasarkan prinsip musyarakah dan atau mudharabah
16. Bertindak sebagai pendiri dana pensiun dan pengurus dana pensiun berdasarkan Prinsip Syariah
sesuai ketentuan dalam perundang-undangan yang berlaku
17. Bank dapat bertindak sebagai lembaga baitul ma’al yaitu menerima dana yang berasal dari zakat,
infaq, shadaqah, waqaf, hibah atau dana sosial lainnya.

Larangn melakukan kegiatan-kegiatan sbb :

a) Melakukan penyertaan modal, kecuali sebagaimana dimaksud dalam kegiatan usaha Bank
Umum di atas;
b) Melakukan usaha perasuransian;
c) Melakukan kegiatan usaha lain di luar kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam kegiatan
usaha Bank Umum di atas;
d) Melakukan kegiatan usaha secara konvensional.
Berdasarkan bentuk hukumnya bank ini dapat berupa perseroan terbatas, perusahaan daerah atau
koperasi.
Lembaga Keuangan Bukan Bank
Pengertian Lembaga Keuangan Bukan Bank ( LKBB ) :
Lembaga Keuangan Bukan Bank adalah badan usaha yang melakukan kegiatan di bidang
keuangan, secara langsung ataupun tidak langsung, menghimpun dana dari masyarakat dan
menyalurkan kembali kepada masyarakat untuk kegiatan produktif

Usaha – Usaha yang dilakukan LKBB antara lain :


1) Menghimpun dana dengan jalan mengeluarkan kertas berharga
2) Sebagai perantara untuk mendapatkan kompanyon ( dukungan dalam bentuk dana ) dalam usaha
patungan
3) Perantara untuk mendapatkan tenaga ahli

Peran – peran LKBB antara lain :


1) Membantu dunia usaha dalam meningkatkan produktivitas barang / jasa
2) Memperlancar distribusi barang
3) Mendorong terbukanya lapangan pekerjaan

Jenis – Jenis LKBB :


1. Perusahaan Asuransi : perusahaan yang memberikan jasa-jasa dalam penanggulangan resiko
atas kerugian, kehilangan manfaat, dan tanggung jawab hukum pada pihak ketiga karena
peristiwa ketidakpastian
Ø Polis Asuransi : surat kontrak pelaksanaan asuransi yang berupa kesepakatan kedua belah
Pihak
Ø Premi Asuransi : uang pertanggungan yang dibayar tertanggung kepada penanggung

Keuntungan Asuransi :
Bagi Pemilik Asuransi :
Ø keuntungan dari premi yang dibayar nasabah
Ø keuntungan dari hasil penyertaan modal ke perusahaan lain
Ø keuntungan dari hasil bunga investasi surat-surat berharga
2. Bagi Nasabah :
Ø memberi rasa aman
Ø merupakan simpanan yang pada saat jatuh tempo dapat ditarik lagi
Ø terhindar dari resiko kerugian
Ø memperoleh penghasilan di masa datang
Ø memperoleh penggantian akibat kerugian kerusakan atau Kehilangan

2. Perusahaan Dana Pensiun ( TASPEN ) : badan hukum yang mengelola dan


menjalankanprogram yang menjanjikan manfaat pensiun
Manfaat Perusahaan Dana Pensiun :
Ø Bagi perekonomian nasional : dana yang dihimpun dari iuran peserta dapat sebagai modal bagi
dunia usaha
Ø Bagi peserta : dana pensiun akan memberi jaminan pendapatan di hari tua
Manfaat bagi perusahaan :
Ø Loyalitas
Ø Kewajiban moral
Ø Kompetisi pasar tenaga kerja
Manfaat bagi karyawan :
Ø Rasa aman
Ø Kompensasi yang lebih baik

3. Koperasi Simpan Pinjam : menghimpun dana dari masyarakat dan meminjamkan kembali
kepada anggota atau masyarakat
Modal Koperasi :
1. Simpanan Pokok : dibayar sekali pada awal menjadi anggota
2. Simpanan Wajib : dibayar selama menjadi anggota dengan jangka waktu tertentu sesuai
keputusan rapat anggota
Simpanan Sukarela : dibayar dalam jangka waktu yang tidak ditentukan
Landasan Koperasi :
Ø Landasan Idiil : Pancasila
Ø Landasan Struktural : UUD 1945 pasal 33 ayat 1
Ø Landasan Operasional : UU no 25 tahun 1992
Ø Landasan Mental : kesetiakawanan dan kesadaran
Keuntungan :
Tidak memakai jaminan
Angoota terhindar dari rentenir
1. Akhir tahun memperoleh SHU

4) Bursa Efek / Pasar Modal : tempat jual beli surat-surat berharga


· Saham : surat berharga dimana pemiliknya merupakan pemilik perusahaan
· Obligasi : surat berharga yang merupakan instrumen utama perusahaan. Pemiliknya bukan
merupakan pemilik perusahaan
· Keuntungan pasar modal :
1. Menyediakan sumber pembiayaan jangka panjang untuk dunia usaha.
2. Sarana untuk mengalokasikan sumber dana secara optimal bagi investor.
3. Memungkinkan adanya upaya diversifikasi.
· Kelemahan pasar modal :
1. Mekanisme pasar modal yang cukup rumit menyulitkan pihak-pihak tertentu yang akan
terlibat di dalamnya.
2. Saham pasar modal bersifat spekulatif sehingga dapat merugikan pihak tertentu.
3. Jika kurs tidak stabil, maka harga saham ikut terpengaruh.
Manfaat bagi Investor :
1. Memperoleh deviden bagi pemegang saham
2. Memperoleh capital gain jika ada kenaikan harga saham
3. Memperoleh bunga bagi pemegang obligasi
4. Mempunyai hak suara dalam RUPS
5. Dapat dengan mudah mengganti instrumen investasi
Manfaat bagi Emiten :
1. Mendapatkan dana yang lebih besar
2. Perusahaan dapat lebih fleksibel dalam mengolah dana
3. Memperkecil ketergantungan terhadap bank
4. Besar kecilnya deviden tergantung besar kecilnya keuntungan
5. Tidak ada kewajiban yang terikat sebagai jaminan
Manfaat bagi Pemerintah :
1. Membantu pemerintah dalam mendorong perkembangan pembangunan
2. Membantu pemerintah dalam mendorong kegiatan investasi
3. Membantu pemerintah dalam menciptakan kesempatan kerja

5) Perusahaan Anjak Piutang : Badan Usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk
pembelian atau pengalihan serta pengurusan piutang.
Manfaat bagi klien :
1. Peningkatan penjualan
2. Kelancaran modal kerja
3. Memudahkan penagihan hutang
4. Efisiensi usaha
Manfaat bagi factor :
1. Fee dari klien
Manfaat bagi customer :
1. Kesempatan untuk membeli secara kredit
2. Pelayanan penjualan yang lebh baik

6) Perusahaan Modal Ventura : Badan Usaha yang melakukan pembiayaan dalam bentuk
penyertaan modal kedalam perusahaan
keunggulan Modal Ventura :
1. Sumber dana bagi perusahaan baru.
2. Adanya penyertaan manajemen.
3. Keperdulian yang tinggi dari perusahaan modal Ventura.
4. Dengan adanya penyertaan modal,PPU dapat mencari bantuan modal dalam bentuk lain.
5. MV menaikkan pamor PPU.
6. PPU mendapat mitra baru yang dimiliki perusahaan modal ventura
7. Mendukung usaha kecil yg berpotensi berkembang dan memperluas kesempatan kerja

Kelemahan modal ventura :


1. Jangka waktu pembiayaan yang relatif panjang
2. Terlalu selektifnya perusahaan modal ventura dalam mencari perusahaan pasangan usaha
3. Kontrol manajemen perusahaan pasangan usaha dapat diambil alih oleh perusahaan modal
ventura apabila menunjukan gejala kegagalan.

Manfaat modal ventura :


1. Keberhasilan Usaha Meningkat
2. Efisiensi dalam Pendistribusian Barang
3. Menigkatkan Bank-abilitas perusahaan
4. Pemanfaatan Dana Perusahaan Menigkat
5. Likuiditas Menigkat

7) Pegadaian : suatu usaha yang memberikan pinjaman bagi nasabah dengan jaminan barang
bergerak
· Tujuan Pegadaian :
1. Mencegah praktik ijon, riba, dan pinjaman tidak wajar
2. Turut melaksanakan dan menunjang pelaksanaan kebijakan program
pemerintah di bidang ekonomi

8) Perusahaan Sewa Guna : pembelian secara angsuran, namun sebelum angsurannya selesai
(lunas), hak barang yang diperjualbelikan masih dimiliki oleh penjual. Namun demikian, begitu
kontrak leasing ditandatangani, segala fasilitasdan kegunaan barang tersebut boleh digunakan oleh
pembeli
· Manfaat Leasing :
1. Menghemat modal
2. Diversifikasi sumber-sumber pembiayaan
3. Persyaratan lebih mudah dan fleksibel
4. Biaya lebih murah

F. Model dan Metode :


1. Metode pembelajaran project based learning ( PJBL )

G. Media, Alat/Bahan Pembelajaran


1. Media
a. Papan tulis
b. Spidol
c. Pengaris
2. Alat/Bahan
a. LCD/OHP.
b. Komputer/Laptop.

H. Sumber Belajar
1. Buku Referensi
2. Elektronik
3. Alam lingkungan
4. SOP DU/DI
5. Modul Dasar Dasar Perbankan, Karangan Ernawati

I. Langkah Langkah Pembelajaran

Pertemuan 3
No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
· Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
· Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
· Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada
peserta didik.
· Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
· Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai berbagai jenis lembaga keuangan
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
· Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai berbagai jenis lembaga keuangan
· Peserta didik diminta untuk menyebutkan berbagai jenis lembaga
keuangan
Elaborasi
· Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai berbagai jenis lembaga keuangan
· Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi berbagai jenis lembaga keuangan atau bagian yang belum
dimengerti.
3Penutup 15 menit
· Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.

J. Penilaian Pembelajaran, Remedial dan Pengayaan


Aspek yang dinilai

Mengetahui Batam, Juli 2017


Kepala Sekolah SMKIT DBS 01 Guru Mapel Akuntansi
BATAM

Omas Sauludin, S.Pd., M.M. Rozi Gusrianto, S.Pd.


NIY. 200307010157 NIY. 201708010464
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah : SMKIT Darussalam Boarding School 01 BATAM


Kelas/Semester : X / Ganjil
Mata Pelajaran : Perbankan Dasar
kok : Berbagai Jenis Uang
Kompt. Keahlian : Akuntansi Keuangan
Alokasi Waktu : 6 x 45 Menit

A. Kompetensi Inti
1. Pengetahuan
KI 3 Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang pengetahuan faktual,
konseptual, operasional dasar, dan metakognitif sesuai dengan bidang dan lingkup kerja Akuntansi
dan Keuangan Lembaga pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan dengan ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam konteks pengembangan potensi diri
sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan
internasional.
2. Keterampilan
KI 4 Melaksanakan tugas spesifik dengan menggunakan alat, informasi, dan prosedur kerja yang
lazim dilakukan serta memecahkan masalah sesuai dengan bidang Akuntansi dan Keuangan
Lembaga. Menampilkan kinerja di bawah bimbingan dengan mutu dan kuantitas yang terukur
sesuai dengan standar kompetensi kerja.
Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif, produktif,
kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam ranah abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di
bawah pengawasan langsung.

B. Kompetensi Dasar
1. KD pada KI pengetahuan
3.4 Menganalisis berbagai jenis uang
2. KD pada KI keterampilan
4.4 Melakukan klasifikasi berbagai jenis uang

C. Indikator Pencapaian Kompetensi


1. Indikator KD pada KI pengetahuan
3.4.1 Menegaskan sejarah adanya uang
3.4.2 Menguraikan pengertian uang
3.4.3 Menelaah kriteria uang
3.4.4 Menganalisis fungsi uang
3.4.5 Mendeteksi jenis jenis uang
3.4.6 Mendianoksis kendala kendala dalam system barter

2. Indikator KD pada KI keterampilan


4.4.1 Kembali membuat sejarah adanya uang
4.4.2 Mereplikasi pengertian uang
4.4.3 Mematuhi kriteria uang
4.4.4 Melakukan fungsi uang
4.4.5 Menerapkan jenis jenis uang
4.4.6 Mematuhi kendala kendala dalam system barter

D. Tujuan Pembelajaran
Melalui kegiatan ini siswa mampu :
1. Menjelaskan pembahasan berbagai jenis uang
2. Menjelaskan pengertian uang
3. Menjelaskan kriteria uang
4. Menjelaskan fungsi uang
5. Menjelaskan jenis jenis uang
6. Mengevaluasi kendala kendala dalam system barter

E. Materi Pembelajaran
Pengertian uang, sejarah, fungsi, syarat, jenis, dan teorinya
Dewasa ini kehidupan manusia bisa dibilang tidak bisa lepas dari uang. Orang sejak
sebelum lahir sampai meninggal pun butuh benda yang mempunyai nama lain duit itu. Meski
hanya lembaran kertas dan logam biasa (bukan emas atau perak), setiap orang mau bekerja dan
sebagian rela melakukan apa saja demi mendapatkannya.

Akhirnya muncul istilah-istilah populer yang menyatakan “sangat berartinya uang”. Seperti
ada uang Abang disayang, tak ada uang Abang ditendang, hampir semua di dunia ini bisa dibeli
pakai uang, mabuk duit (uang), dll.
1. Pengertian uang
Pengertian uang dibagi menjadi dua. Yaitu pengertian dalam ilmu ekonomi tradisional dan
modern.
Pengertian uang dalam ekonomi tradisional didefinisikan sebagai setiap alat tukar yang
diterima secara umum. Alat tukar ini bisa berupa apapun yang diterima orang dalam masyarakat
dalam proses pertukaran barang dan jasa. Uang seperti ini disebut juga uang barang.
Sedangkan dalam ilmu ekonomi modern, uang didefinisikan sebagai sesuatu yang tersedia
dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa
serta kekayaan berharga lainnya bahkan untuk pembayaran hutang. Beberapa ahli juga
menyebutkan fungsi uang sebagai alat penunda pembayaran.
2. Sejarah uang
Jangankan uang, pertukaran barang secara barter pun awalnya belum dikenal manusia.
Kehidupan saat itu belum sekompleks sekarang. Dengan sangat sederhana manusia memenuhi
kebutuhan hidup sendiri-sendiri.
Misalnya pergi berburu jika lapar; butuh pakaian tinggal membuat sendiri dengan bahan
kulit binatang atau pohon; jika ingin makan makanan lain, mereka pergi ke hutan untuk mencari
dan memetik buah yang diinginkan; dan lain sebagainya.
Namun, seiring berjalannya waktu manusia menghadapi kenyataan bahwa yang mereka
peroleh tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri secara menyeluruh. Sehingga dicarilah cara
tukar-menukar barang antara individu satu dengan yang lain. Cara seperti ini dikenal sebagai
sistem barter.
a. Sistem barter
Sistem barter digunakan cukup lama, berabad-abad. Sampai akhirnya manusia mendapati
kendala pada sistem tersebut karena kehidupan lebih kompleks lagi
Kendala pada sistem barter misalnya sulit ketemunya dua orang pemilik barang yang
saling membutuhkan satu sama lain. Misal, Si A punya buah dan butuh ikan, ketemunya dengan B
yang punya ikan tetapi butuhnya bukan buah, melainkan pakaian.
b. Uang barang
Menghadapi masalah seperti di atas, manusia memikirkan lagi hingga menemukan solusi
baru. Yaitu menggunakan benda-benda tertentu sebagai alat tukar. Benda yang ditetapkan biasanya
yang dapat diterima secara umum. Contohnya pada orang Romawi zaman dulu menggunakan
garam.
Kalau diilustrasikan pada si A dan B di atas, maka seperti ini. A menemui penghasil
garam dan menukarnya dengan buah. Setelah garam dimiliki, barulah menemui B yang memiliki
ikan. Meskipun butuhnya pakaian, B menerima garam karena sudah ditetapkan sebagai uang
barang. Sehingga B pun akan lebih mudah lagi menukarnya dengan orang lain yang memiliki
pakaian.
Meski lebih mudah dari sistem barter, seiring perkembangan kehidupan manusia yang
lebih kompleks, sistem uang barang memiliki kelemahan juga. Hal ini karena uang barang tidak
mempunyai pecahan kecil sehingga kesulitan menentukan nilai, penyimpan dan pengangkutan
yang susah, dan mudah hancur atau tidak tahan lama.
Akhirnya dicarilah benda yang mempunyai syarat-syarat sebagai berikut:
 Diterima secara umum
 Lebih mudah dibawa, dan tahan lama
 Benda tersebut ialah uang logam yang bahan pembuatannya dari emas dan perak.
Pada waktu itu pemilik uang logam berhak penuh atas uang tersebut. Ia bebas menimbun
sebanyak-banyaknya bahkan menempa untuk dijadikan perhiasan pun tak ada larangan. Hingga
muncul ketakutan pedagangan makin maju tidak bisa dilayani oleh uang logam. Hal ini mengingat
jumlah emas dan perak yang terbatas.
Lagi pula, uang logam juga akan menemui kendala lain jika dalam transaksi tukar-
menukar menukar berskala besar. Jumlah yang dibutuhkan makin banyak tentu akan menyulitkan
dipindahtangankan. Sampai akhirnya terciptalah uang kertas.
Namun, jangan salah. Uang kertas yang beredar saat itu adalah bukti kepemilikan emas
atau perak. Kertas-kertas itu dijamin seratus persen oleh emas dan perak yang tersimpan pada
pandai. Sewaktu-waktu uang ini dapat ditukar kembali dengan jaminannya secara penuh.
Pada perkembangan selanjutnya, inilah yang menjadi cikal bakal uang yang kita pakai
seperti sekarang ini. Orang-orang tidak lagi menggunakan emas secara langsung untuk transaksi.
Mereka lebih suka memakai kertas-kertas bukti tersebut.
3. Fungsi uang
Sudah dijelaskan di atas, fungsi uang sebagai perantara pertukaran barang dengan barang,
menghindari sistem barter yang banyak menemui kendala, sehingga diharapkan transaksi
perdagangan menjadi lebih mudah. Namun, secara lebih rinci dibedakan menjadi dua. Yaitu fungsi
asli dan fungsi turunan.
Fungsi asli dibagi menjadi tiga:
a. Uang berfungsi sebagai alat tukar atau medium of exchange yang dapat mempermudah pertukaran
b. Uang juga berfungsi sebagai satuan hitung (unit of account) : Menunjukan nilai barang/ jasa (alat
penunjuk harga), dan sebagai satuan hitung yang mempermudah pertukaran.
c. Selain itu, uang berfungsi sebagai alat penyimpan nilai (valuta).
Fungsi turunan dibagi menjadi:
a. Uang sebagai alat pembayaran yang sah.
b. Uang sebagai alat pembayaran utang.
c. Uang sebagai alat penimbun kekayaan.
d. Uang sebagai alat pemindah kekayaan.
e. Uang sebagai alat pendorong kegiatan ekonomi
Syarat-syarat uang
a. Suatu benda dapat dijadikan sebagai uang jika memenuhi syarat-syarat berikut:
b. Benda itu harus diterima secara umum (acceptability)
c. Untuk memenuhi kriteria poin 1, benda tersebut harus bernilai tinggi atau setidaknya dijamin oleh
pemerintah
d. Terbuat dari bahan yang bisa tahan lama (durability)
e. Kualitasnya sama (uniformity)
f. Jumlahnya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan uang tersebut
g. Tidak mudah dipalsukan (scarcity)
h. Mudah dibawa (portable)
i. Mudah dibagi tanpa mengurangi nilai (divisibility)
j. Memiliki cenderung stabil dari waktu ke waktu (stability of value).

4. Jenis uang
Berdasarkan jenisnya, uang dibagi menjadi dua. Yaitu
a. Uang kartal adalah alat bayar yang sah dan wajib digunakan oleh masyarakat dalam melakukan
transaksi jual beli sehari-hari (common money).
b. Uang giral adalah uang yang dimiliki masyarakat dalam bentuk simpanan (deposito) yang dapat
ditarik sesuai kebutuhan, contoh cek.
Uang menurut bahan pembuatannya
a. Uang logam Adalah uang yang terbuat dari logam. Dipilih menggunakan logam karena bisa tahan
lama. Pada awal kemunculannya dibuat dengan bahan emas atau perak. Semakin tinggi kadarnya
semakin tinggi pula daya tukarnya. Dengan begitu uang seperti ini memiliki tiga nilai: Nilai
intrinsik, yaitu nilai bahannya. Nilai nominal, yaitu nilai yang tercetak/tercantum pada uang
tersebut. Nilai tukar, yaitu nilai daya tukarnya. Misal Rp500.00 nilai tukarnya dapat permen,
Rp10.000.00 nilai tukarnya bisa dapat sepiring nasi.
b. Uang kertas Yaitu uang yang terbuat dari bahan kertas. Uang jenis ini hanya memiliki nilai
nominal dan nilai tukar yang tinggi, sedangkan nilai intrinsiknya tidak. Begitu juga pada zaman
sekarang, uang logam dibuat dengan logam biasa sehingga nilai intrinsiknya tidak sebanding
dengan nilai nominal.
Menurut nilainya uang dibedakan menjadi dua:
a. Uang penuh (full bodied money). Nilai uang dikatakan sebagai uang penuh apabila nilai yang
tertera di atas uang tersebut sama nilainya dengan bahan yang digunakan. Dengan kata lain, nilai
nominal yang tercantum sama dengan nilai intrinsik yang terkandung dalam uang tersebut.
b. Uang tanda (token money). Uang tanda adalah apabila nilai yang tertera pada uang lebih tinggi
daripada nilai bahan yang digunakan untuk membuatnya. Dengan kata lain nilai nominal lebih
besar daripada nilai intrinsik. Misal, untuk membuat uang Rp1.000,00 pemerintah mengeluarkan
biaya Rp750,00.

5. Teori nilai uang

Teori nilai uang dibagi menjadi dua. Yaitu teori uang statis dan teori uang dinamis.
a. Teori uang statis Teori ini disebut statis karena tidak mempersoalkan perubahan nilai uang yang
diakibatkan perkembangan ekonomi. Teori ini dibuat dengan tujuan untuk menjawab pertanyaan
seperti: apakah sebenarnya uang? Mengapa uang itu ada harganya? Mengapa uang itu sampai
beredar?
Teori ini meliputi:
a. Teori metalisme. Teori yang hampir sama dengan pengertian nilai intrinsik.
b. Teori konvensi. Teori yang menyatakan uang bisa diterima secara umum di masyarakat karena
atas dasar perjanjian/mufakat.
c. Teori nominalisme. Teori ini menyatakan diterimanya uang berdasarkan nilai daya belinya.
d. Teori negara. Teori ini menyatakan bahwa uang adalah benda yang ditetapkan oleh negara yang
berfungsi sebagai alat tukar dan alat bayar. Jadi nilainya pun ditetapkan oleh pemerintah yang
diatur oleh undang-undang.
b. Teori uang dinamis
Kalau teori diatas tidak mempersoalkan perubahan nilai uang, maka teori uang dinamis ini adalah
sebaliknya.
Teori ini meliputi:
a. Teori kuantitas. Pada teori ini David Ricardo menyatakan kuat atau lemahnya nilai uang sangat
tergantung pada jumlah uang yang beredar. Kemudian Irving Fisher menyempurnakan teori diatas
dengan menyatakan tidak hanya tergantung pada jumlah saja, melainkan juga pada kecepatan
peredaran uang, barang dan jasa sebagai faktor yang memengaruhi nilai uang.
b. Teori persediaan kas. Teori ini menyatakan bahwa perubahan nilai uang tergantung dari jumlah
uang yang tidak dibelikan barang-barang.
c. Teori ongkos produksi. Teori ini menyatakan nilai uang dalam peredaran yang berasal dari logam
dan uang itu dapat dipandang sebagai barang.

F. Model dan Metode :


1. Metode pembelajaran project based learning ( PJBL )

G. Media, Alat/Bahan Pembelajaran


1. Media
a. Papan tulis
b. Spidol
c. Pengaris
2. Alat/Bahan
a. LCD/OHP.
b. Komputer/Laptop.

H. Sumber Belajar
1. Buku Referensi
2. Elektronik
3. Alam lingkungan
4. SOP DU/DI
5. Modul Dasar Dasar Perbankan, Karangan Ernawati

I. Langkah Langkah Pembelajaran

Pertemuan 4
No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai berbagai jenis uang
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai berbagai jenis uang
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan berbagai jenis uang
Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai berbagai jenis uang
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi berbagai jenis uang atau bagian yang belum dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.

Pertemuan 5
No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai berbagai jenis uang
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai berbagai jenis uang
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan berbagai jenis uang
Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai berbagai jenis uang
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi berbagai jenis uang atau bagian yang belum dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.

J. Penilaian Pembelajaran, Remedial dan Pengayaan


Aspek yang dinilai
Mendengarkan/Berbicara:
a. Tercapai tujuan (terhibur atau mendapatkan nilai moral yang disampaikan)
b. Penggunaan ungkapan
c. Pengucapan, intonasi, tata bahasa, kosa kata
d. sikap
Membaca Pemahaman:
a. Mengidentifikasi hubungan keluarga orang-orang yang ada dalam teks

Membaca nyaring:
a. Pengucapan, intonasi, tata bahasa, kosa kata
b. Sikap
Menulis
a. Ketepatan penggunaan sebutan untuk hubungan keluarga sesuai dengan bagan silsilah yang
diberikan.
b. Ejaan, tanda baca, tulisan tangan materi berbagai jenis uang
Cara penilaian:
a. Tes lisan/tertulis
b. Observasi kelas
c. Portofolio.

Contoh Rubrik Penilaian


Format Penilaian ‘Retelling Story’
(Menggunakan Skala Penilaian)

Nama Siswa: ________ Kelas: X Akuntansi


No. Aspek Yang Dinilai Nilai
1 2 3 4
1. Content
2. Fluency
3. Language
a. Pronunciation and intonation
b. Grammar
c. Vocabulary
4. Performance ( eye contact, facial expression, gesture)
Jumlah
Skor Maksimum 20

Keterangan penilaian:
1 = tidak kompeten
2 = cukup kompeten
3 = kompeten
4 = sangat kompeten

Jika seorang siswa memperoleh skor 20 dapat ditetapkan ”sangat kompeten”. Dan seterusnya sesuai dengan jumlah
skor perolehan.

Mengetahui Batam, Juli 2017


Kepala Sekolah SMKIT DBS 01 Guru Mapel Akuntansi
BATAM
Omas Sauludin, S.Pd., M.M. Rozi Gusrianto, S.Pd.
NIY. 200307010157 NIY. 201708010464

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah : SMKIT Darussalam Boarding School 01 BATAM


Kelas/Semester : X / Ganjil
Mata Pelajaran : Perbankan Dasar
kok : Berbagai Jenis Bank Di Indonesia
Kompt. Keahlian : Akuntansi Keuangan
Alokasi Waktu : 6 x 45 Menit

A. Kompetensi Inti
1. Pengetahuan
KI 3 Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang pengetahuan faktual,
konseptual, operasional dasar, dan metakognitif sesuai dengan bidang dan lingkup kerja Akuntansi
dan Keuangan Lembaga pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan dengan ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam konteks pengembangan potensi diri
sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan
internasional.
2. Keterampilan
KI 4 Melaksanakan tugas spesifik dengan menggunakan alat, informasi, dan prosedur kerja yang
lazim dilakukan serta memecahkan masalah sesuai dengan bidang Akuntansi dan Keuangan
Lembaga. Menampilkan kinerja di bawah bimbingan dengan mutu dan kuantitas yang terukur
sesuai dengan standar kompetensi kerja.
Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif, produktif,
kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam ranah abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di
bawah pengawasan langsung.

B. Kompetensi Dasar
1. KD pada KI pengetahuan
3.5 Menganalisis berbagai jenis bank di Indonesia
2. KD pada KI keterampilan
4.5 Melakukan klasifikasi berbagai jenis bank di Indonesia

C. Indikator Pencapaian Kompetensi


1. Indikator KD pada KI pengetahuan
3.5.1 Menelaah jenis jenis bank di lihat dari fungsi, kepemilikan
3.5.2 Menelaah jenis jenis bank di lihat dari statusnya dan cara menentukan harga
3.5.3 Menata jenis jenis kantor bank
3.5.4 Menguraikan kriteria bank umum dan bank BPR
3.5.5 Menganalisi kriteria bank milik pemerintah dan swasta nasional
3.5.6 Menganalisi kriteria bank milik asing dan milik campuran
3.5.7 Mengkorelasikan kriteria bank devisa dan bank nondevisa
3.5.8 Mengkorelasikan kriteria bank konvensional dan bank syariah
3.5.9 Menganalisi kriteria kantor pusat dan kantor cabang penuh
3.5.10 Menganalisi kriteria kantor cabang pembantu dan kantor kas

2. Indikator KD pada KI keterampilan


4.5.1 Kembali membuat jenis jenis bank di lihat dari fungsi, kepemilikan
4.5.2 Melaksanakan jenis jenis bank di lihat dari statusnya dan cara menentukan harga
4.5.3 Melaksanakan jenis jenis kantor bank
4.5.4 Menerapkan kriteria bank umum dan bank BPR
4.5.5 Menerapkan bank milik pemerintah dan swasta nasional
4.5.6 Menerapkan kriteria bank milik asing dan milik campuran
4.5.7 Melakukan kriteria bank devisa dan bank nondevisa
4.5.8 Melakukan kriteria bank konvensional dan bank syariah

4.5.9 Melakukan kriteria kantor pusat dan kantor cabang penuh


4.5.10 Melakukan kriteria kantor cabang pembantu dan kantor kas

D. Tujuan Pembelajaran
Melalui kegiatan ini siswa mampu :
1. Menjelaskan jenis jenis bank di lihat dari fungsi, kepemilikan
2. Menjelaskan jenis jenis bank di lihat dari statusnya dan cara menentukan harga
3. Menjelaskan jenis jenis kantor bank
4. Mengidentifikasi kriteria bank umum dan bank BPR
5. Mengidentifikasi bank milik pemerintah dan swasta nasional
6. Mengidentifikasi kriteria bank milik asing dan milik campuran
7. Mengidentifikasi kriteria bank devisa dan bank nondevisa
8. Mengidentifikasi kriteria bank konvensional dan bank syariah
9. Mengidentifikasi kriteria kantor pusat dan kantor cabang penuh
10. Mengidentifikasi kriteria kantor cabang pembantu dan kantor kas

E. Materi Pembelajaran

Jenis-Jenis Bank di Indonesia

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya pada pengertian bank, dapat diketahui
bahwa ada Jenis-Jenis Bank dapat dibagi ke dalam dua kategori, yaitu:

1. Jenis Jenis Bank Menurut Aktivitas Bidang Usaha

Setelah berlakunya UU No.7/1992, jenis bank yang diakui secara resmi di Indonesia hanya
terdiri dari dua jenis yaitu:
 Bank Umum, dan
 Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
Dalam Pasal 5 ayat 2 dinyatakan bahwa Bank Umum dapat rnengkhususkan diri dalam
melaksanakan aktivitas tertentu atau memberikan perhatian yang lebih besar kepada aktivitas
tertentu. Meskipun jenisnya dibatasi hanya kepada bank umum dan BPR, namun bank umum boleh
saja terlibat dalam bidang dan jenis aktivitas lain tanpa harus terikat dengan satu aspek saja.
Menyederhanakan jenis bank diharapkan dapat memudahkan bank dalam memilih aktivitas-
aktivitas perbankan yang paling sesuai dengan karakter masing-masing tanpa perlu disulitkan
dengan izin tambahan.
Sebagaimana yang tertuang dalam UU No. 10/1998, Bank Umum merupakan bank yang
melaksanakan aktivitas usaha secara konvensional dan/atau berdasarkan prinsip syariah yang
dalam aktivitasnya memberikan pelayanan dalam urusan pembayaran. Adapun aktivitas-aktivitas
yang dapat dilakukan oleh bank umum adalah; menghimpun dana, menyalurkan dana, dan aktivitas
lainnya, sementara aktivitas yang terlarang bagi bank umum adalah:
 Melakukan penyertaan modal, kecuali kepada bank atau perusahaan lain di bidang keuangan yang
menyertakan modal, untuk mengantisipasi kegagalan kredit atau kegagalan pembiayaan
berdasarkan prinsip syariah.
 Melakukan aktivitas pengasuransian.
 Melakukan yang lain di luar aktivitas usaha sebagaimana diuraikan di atas.
Bank Perkreditan Rakyat (BPR) merupakan bank yang melaksanakan aktivitas usaha secara
konvensional dan/atau berdasarkan prinsip syariah (UU No. 21/2008 memakai istilah Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah) yang dalam aktivitasnya tidak memberikan pelayanan dalam urusan
pembayaran. Adapun aktivitas-aktivitas yang dapat dilakukannya ialah menghimpun dana dan
menyalurkan dana, sedangkan aktivitas yang terlarang bagi BPR adalah seperti:
 Menerima simpanan berupa giro dan ikut serta dalam urusan pembayaran.
 Melakukan aktivitas dalam mata uang asing.
 Melakukan penyertaan modal.
 Melakukan aktivitas pengangsuransian.
 Melakukan lain di luar aktivitas sebagaimana dimaksud di atas.
Dari kedua bentuk aktivitas bank umum dan bank perkreditan rakyat di atas, terlihat
perbedaan mendasar di antara keduanya yaitu dalam hal penghimpunan dana secara giro dan ikut
serta dalam urusan pembayaran, aktivitas dalam mata uang asing, serta penyertaan modal kepada
lembaga keuangan dan untuk mengatasi kredit tunggakan. Bagi bank umum, itu semua dibolehkan
sementara bagi bank perkreditan rakyat tidak dibolehkan sama sekali. Untuk melakukan usaha
pengasuransian, kedua-duanya (bank umum dan bank perkreditan rakyat) sama-sama tidak
dibolehkan.

2. Jenis-Jenis Bank Menurut Target Pasar

Dilihat dari sisi target pasar, dalam bentuk fokus pelayanan dan transaksinya terhadap penabung,
maka jenis bank dapat digolongkan menjadi tiga yakni:
a. Retail Bank (bank dalam layanan berskala kecil); Bank jenis ini memfokuskan layanan dan
transaksinya kepada penabung-penabung individual, perusahaan, dan lembaga lain yang berskala
kecil. Dalam usahanya, pelayanan kredit yang diberikan sekitar Rp. 20 juta, walaupun angka ini
tidaklah tetap.
b. Corporate Bank (bank dalam layanan berskala besar); Bank jenis ini memfokuskan layanan dan
transaksinya kepada penabung-penabung yang berskala besar, seperti dalam bentuk perusahaan.
Walaupun demikian, dalam usahanya sering membawa akibat berupa layanan yang harus diberikan
kepada pegawai, direksi, dan komisaris dari perusahaan tersebut secara pribadi, dengan aturan
untuk menjalin kerjasama yang lebih baik dengan pemegang saham perusahaan.
c. Retail-Corporate Bank (bank dalam layanan kecil/besar); Bank jenis ini tidak memfokuskan
layanan dan transaksinya kepada kedua-dua jenis penabung di atas. Bank jenis ini memandang
bahwa potensi pasar, baik ritel maupun perusahaan, harus dimanfaatkan untuk mengoptimalkan
keuntungan, meskipun terdapat kemungkinan penurunan kemampuan. Begitu juga apabila
disebabkan perubahan keadaan pasar, penggantian pengelola, bahkan juga dipengaruhi adanya
program-program tertentu dari pemerintah untuk dijalankan bank tersebut.
Adapun jenis perbankan dewasa ini dapat ditinjau dari berbagai segi antara
lain:

a. Dilihat dari segi fungsinya


Menurut UU Pokok Perbankan nomor 14 Tahun 1967 jenis perbankan menurut
fungsinya terdiri atas: Bank Umum, Bank Pembangunan, Bank Tabungan, Bank Pasar,
Bank Desa, Lumbung Desa, atau Bank Pegawai.
Namun setelah keluar UU Pokok Perbankan Nomor 7 Tahun 1992 dan ditegaskan lagi
dengan keluarnya UU RI nomor 10 tahun 1998, jenis perbankan menjadi Bank Umum
dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
Bank Pembangunan dan Bank Tabungan berubah fungsi menjadi Bank Umum,
sedangkan Bank Desa, Bank Pasar, Lumbungan desa dan Bank Pegawai menjadi Bank
Perkreditan Rakyat (BPR).
Adapun pengertian Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat sesuai denan UU No. 10
tahun 1998 adalah sebagai berikut:
1) Bank Umum
Bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan
atau berdasarkan prinsip-prinsip syariah dalam memberikan jasa dalam lalu
lintas pembayaran. Sifat jasa yang diberikan adalah umum, artinya dapat
memberikan seluruh jasa perbankan yang ada. Wilayah operasi bank umum mencakup
seluruh wilayah. Bank umum sering disebut bank komersil (commercial bank)
2) Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara
konvensional atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya tidak
memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Artinya, kegiatan BPR jauh lebih
sempit jika dibandingkan dengan kegiatan Bank Umum. Dengan demikian, dewasa ini
di Indonesia terdapat tiga macam bank yaitu bank Sentral, Bank Umum, dan Bank
Perkreditan Rakyat.
Tugas pokok Bank Sentral adalah:
1) mengatur, menjaga, dan memelihara kestabilan nilai rupiah
2) mendorong kelancaran produksi dan pembangunan serta memperluas kesempatan
kerja guna meningkatkan taraf hidup rakyat.
b. Dilihat dari segi kepemilikannya
Ditinjau dari segi kepemilikan adalah siapa pun yang turut andil dalam
pendirian suatu bank. Kepemilikan bank dapat dilihat dari akte pendirian dan
penguasaan saham yang dimilikinya.
Jenis bank dilihat dari segi kepemilikannya terdiri atas:
1) Bank milik pemerintah
Pada jenis bank ini, akte pendirian maupun modalnya dimiliki oleh pemerintah,
sehingga seluruh keuntungannya juga dimiliki oleh pemerintah. Contoh bank milik
pemerintah antara lain:
– Bank Negara Indonesia 46 (BNI)
– Bank Rakyat Indonesia (BRI)
– Bank Tabungan Negara (BTN)
Sedangkan bank milik pemerintah daerah (Pemda) terdapat di daerah tingkat I dan
tingkat II. Contoh bank pemerintah daerah adalah BPD DKI Jakarta, BPD Jawa
Barat, BPD Jawa Tengah, BPD Jawa Timur, BPD Sumatera Utara, BPD Sumatra
Selatan, BPD Sulawesi Selatan, dan BPD lainnya:
2) Bank milik swasta nasional
Bank jenis ini, seluruh atau sebagian besar sahamnya dimiliki oleh swasta
nasional. Akte pendiriannya menunjukkan kepemilikan swasta, begitu pula
pembagian keuntungannya untuk pihak swasta. Contoh bank milik swasta nasional
antara lain: Bank Muamalat, Bank Central Asia, Bank Bumi Putra, Bank Danamon,
Bank Duta, Bank Nusa Internasional, Bank Niaga, Bank Universal, Bank
Internasional Indonesia:
3) Bank milik Koperasi
Kepemilikan saham-saham bank ini dimiliki oleh badan hukum koperasi, contohnya
adalah Bank Umum Koperasi Indonesia;
4) Bank milik asing
Bank asing ini merupakan cabang dari bank yang ada di luar negeri, baik milik
swasta asing atau pemerintah asing. Contoh bank asing antara lain: ABN AMR()
Bank, Deutsche Bank, American Express Bank, Bank of Amerika, Bank of Tokyo,
Bangkok Bank, City Bank, Europen Asian Bank, Hongkong Bank, Standard Chartered
Bank, Chase Manhattan Bank:
5) Bank milik campuran
Kepemilikan saham bank campuran dimiliki oleh pihak asing dan pihak swasta
nasional. Saham bank campuran secara mayoritas dimiliki oleh warga negara
Indonesia. Contoh bank campuran antara lain : Sumitono Niaga Bank, Bank
Merincop, Bank Sakura Swadarma, Bank Finconesia, Mitsubishi Buana Bank, Inter
Pacifik Bank, Paribas BBD Indonesia, Ing Bank, Sanwa Indonesia Bank, dan Bank
PDFCI.
c. Dilihat dari segi status
Dilihat dari segi kemampuannya dalam melayani masyarakat, bank umum dapat
diklasifikasikan ke dalam dua macam. Pengklasifikasian ini berdasarkan
kedudukan atau status bank tersebut. Kedudukan atau status ini menunjukkan
ukuran kemampuan bank dalam melayani masyarakat baik dari jumlah produk, modal,
maupun kualitas pelayanannya. Oleh karena itu, untuk memperoleh status tersebut
diperlukan penilaian-penilaian dengan kriteris tertentu.
Status bank yang dimaksud adalah:
1) Bank Devisa
Adalah bank yang dapat melaksanakan transaksi ke luar negeri atau yang
berhubungan dengan mata uang asing secara keseluruhan. Misalnya transfer keluar
negeri, inkaso keluar negeri, traveller cheque, pembukaan dan pembayaran Letter
of Credit dan transaksi lainnya. Persyaratan untuk menjadi bank devisa ini
ditentukan oleh Bank Indonesia.
2) Bank Non-Devisa
Adalah bank yang belum mempunyai izin untuk melaksanakan transaksi sebagai bank
devisa, sehingga tidak dapat melaksanakan kegiatan seperti halnya bank devisa.
Jadi bank non-devisa hanya dapat melakukan transaksi dalam batas-batas negara.
d. Dilihat dari segi cara menentukan harga

Dilihat dari segi atau caranya dalam menentukan harga baik harga jual maupun
harga beli bank terbagi dalam 2 jenis berikut:
1) Bank yang berdasarkan prinsip konvensional
Mayoritas bank yang berkembang di Indonesia dewasa ini adalah bank yang
berorientasi pada prinsip konvensional. Hal ini tidak terlepas dari sejarah
bangsa Indonesia dimana asal mula bank di Indonesia dibawa oleh kolonial
Belanda.
Dalam mencari keuntungan dan menentukan harga bagi para nasabahnya, bank
konvensional menggunakan metode:
a) Menetapkan bunga sebagai harga, baik untuk produk simpanan seperti giro,
tabungan, maupun deposito. Demikian pula, harga untuk produk pinjamannya
(kredit) juga ditentukan berdasarkan tingkat suku bunga tertentu. Penentuan
harga ini dikenal dengan istilah spread based. Apabila suku bunga simpanan
lebih tinggi dari suku bunga pinjaman, dikenal dengan istilah negative spread.
Kondisi ini telah terjadi pada akhir tahun 1998 dan sepanjang tahun 1999.
b) Untuk jasa-jasa bank lainnya, pihak perbankan dapat menggunakan atau menerapkan
berbagai biaya-biaya dalam nominal atau prosentase tertentu. Sistem pengenaan
biaya ini dikenal dengan istilah fee based.
2) Bank yang berdasarkan prinsip syariah
Bank berdasarkan prinsip syariah belum lama berkembang di Indonesia. Namun di
luar negeri terutama di negara timur tengah, bank yang berdasarkan prinsip
syariah sudah berkembang pesat sejak lama.
Bagi bank yang berdasarkan prinsip syariah, penentuan harga produk sangat
berbeda dengan bank berdasarkan prinsip konvensional. Bank berdasarkan prinsip
syariah menerapkan aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam dengan pihak lain
yang ingin menyimpan dana atau pembiayaan usaha atau kegiatan perbankan
lainnya.
Penentuan harga atau keuntungan pada bank yang berdasarkan prinsip syariah
dilakukan dengan cara:
(a) Pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah)
(b) Pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (musharakah)
© Prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (murabahah)
(d) Pembiayaan barang modal berdasarkan sewa murni tanpa pilihan (ijarah)
(e) Atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa
dari pihak bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina).
Penentuan biaya-biaya jasa bank lainnya bagi bank syariah juga dilakukan
sesuai Syariat Islam. Sumber penentuan harga atau pelaksanaan kegiatan bank
syariah dasar hukumnya adalah Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Jenis bank ini
mengharamkan penetapan harga produknya dengan bunga tertentu. Bagi bank yang
berdasarkan prinsip syariah, bunga adalah riba.

F. Model dan Metode :


1. Metode pembelajaran project based learning ( PJBL )

G. Media, Alat/Bahan Pembelajaran


1. Media
a. Papan tulis
b. Spidol
c. Pengaris
2. Alat/Bahan
a. LCD/OHP.
b. Komputer/Laptop.
H. Sumber Belajar
1. Buku Referensi
2. Elektronik
3. Alam lingkungan
4. SOP DU/DI
5. Modul Dasar Dasar Perbankan, Karangan Ernawati

I. Langkah Langkah Pembelajaran

Pertemuan 6
No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai berbagai jenis bank di Indonesia
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai berbagai jenis bank di Indonesia
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan berbagai jenis bank di
Indonesia
Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai berbagai jenis bank di Indonesia
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi berbagai jenis bank di Indonesia atau bagian yang belum
dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.

Pertemuan 7
No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai berbagai jenis bank di Indonesia
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai berbagai jenis bank di Indonesia
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan berbagai jenis bank di
Indonesia
Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai berbagai jenis bank di Indonesia
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi berbagai jenis bank di Indonesia atau bagian yang belum
dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.

J. Media, Alat/Bahan, dan Sumber Belajar


3. Media
d. Papan tulis
e. Spidol
f. Pengaris
4. Alat/Bahan
c. LCD/OHP.
d. Komputer/Laptop.

5. Sumber Belajar
a. Buku referensi.
b. SOP DU/DI
c. Modul Akuntansi 1A, karangan Dwi Harti, hal 47 - 66.\

K. Penilaian Pembelajaran, Remedial dan Pengayaan


Aspek yang dinilai
Mendengarkan/Berbicara:
a. Tercapai tujuan (terhibur atau mendapatkan nilai moral yang disampaikan)
b. Penggunaan ungkapan
c. Pengucapan, intonasi, tata bahasa, kosa kata
d. sikap
Membaca Pemahaman:
a. Mengidentifikasi hubungan keluarga orang-orang yang ada dalam teks
Membaca nyaring:
a. Pengucapan, intonasi, tata bahasa, kosa kata
b. Sikap
Menulis
a. Ketepatan penggunaan sebutan untuk hubungan keluarga sesuai dengan bagan silsilah yang
diberikan.
b. Ejaan, tanda baca, tulisan tangan materi berbagai jenis bank di Indonesia
Cara penilaian:
a. Tes lisan/tertulis
b. Observasi kelas
c. Portofolio.

Contoh Rubrik Penilaian


Format Penilaian ‘Retelling Story’
(Menggunakan Skala Penilaian)

Nama Siswa: ________ Kelas: X Akuntansi


No. Aspek Yang Dinilai Nilai
1 2 3 4
1. Content
2. Fluency
3. Language
a. Pronunciation and intonation
b. Grammar
c. Vocabulary
4. Performance ( eye contact, facial expression, gesture)
Jumlah
Skor Maksimum 20

Keterangan penilaian:
1 = tidak kompeten
2 = cukup kompeten
3 = kompeten
4 = sangat kompeten

Jika seorang siswa memperoleh skor 20 dapat ditetapkan ”sangat kompeten”. Dan seterusnya sesuai dengan jumlah
skor perolehan.

Mengetahui Batam, Juli 2017


Kepala Sekolah SMKIT DBS 01 Guru Mapel Akuntansi
BATAM

Omas Sauludin, S.Pd., M.M. Rozi Gusrianto, S.Pd.


NIY. 200307010157 NIY. 201708010464
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah : SMKIT Darussalam Boarding School 01 BATAM


Kelas/Semester : X / Ganjil
Mata Pelajaran : Perbankan Dasar
kok : Kegiatan Usaha Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat
Kompt. Keahlian : Akuntansi Keuangan
Alokasi Waktu : 15 x 45 Menit

A. Kompetensi Inti
1. Pengetahuan
KI 3 Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang pengetahuan faktual,
konseptual, operasional dasar, dan metakognitif sesuai dengan bidang dan lingkup kerja Akuntansi
dan Keuangan Lembaga pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan dengan ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam konteks pengembangan potensi diri
sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan
internasional.
2. Keterampilan
KI 4 Melaksanakan tugas spesifik dengan menggunakan alat, informasi, dan prosedur kerja yang
lazim dilakukan serta memecahkan masalah sesuai dengan bidang Akuntansi dan Keuangan
Lembaga. Menampilkan kinerja di bawah bimbingan dengan mutu dan kuantitas yang terukur
sesuai dengan standar kompetensi kerja.
Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif, produktif,
kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam ranah abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di
bawah pengawasan langsung.

B. Kompetensi Dasar
1. KD pada KI pengetahuan
3.6 Menganalisis kegiatan usaha bank umum dan bank perkreditan rakyat
2. KD pada KI keterampilan
4.6 Mengklasifikasikan kegiatan usaha bank umum dan bank perkreditan rakyat

C. Indikator Pencapaian Kompetensi


1. Indikator KD pada KI pengetahuan
3.6.1 Menguraikan kegiatan usaha bank umum, BPR dan bank campuran dalam menghimpun
dana (funding)
3.6.2 Menguraikan kegiatan usaha bank umum, BPR dan bank campuran dalam
menyalurkan dana (leanding)
3.6.3 Menguraikan kegiatan usaha bank umum, BPR dan bank campuran dalam pelayanan jasa(services)
3.6.4 Menelaah kegiatan yang dilakukan BPR
3.6.5 Menganalisi kegiatan yang dilakukan bank umum
3.6.6 Menata kegiatan yang dilakukan bank campuran

2. Indikator KD pada KI keterampilan


4.6.1 Melakukan kegiatan usaha bank umum, BPR dan bank campuran dalam menghimpun
dana(funding)
4.6.2 Melakukan kegiatan usaha bank umum, BPR dan bank campuran dalam
menyalurkan dana (leanding)
4.6.3 Melakukan kegiatan usaha bank umum, BPR dan bank campuran dalam pelayanan jasa(services)
4.6.4 Melaksanakan kegiatan yang dilakukan BPR
4.6.5 Menerapkan kegiatan yang dilakukan bank umum
4.6.6 Membangun kegiatan yang dilakukan bank campuran

D. Tujuan Pembelajaran
Melalui kegiatan ini siswa mampu :
1. Menjelaskan kegiatan usaha bank umum, BPR dan bank campuran dalam menghimpun
dana(funding)
2. Menjelaskan kegiatan usaha bank umum, BPR dan bank campuran dalam
menyalurkan dana(leanding)
3. Menjelaskan kegiatan usaha bank umum, BPR dan bank campuran dalam pelayanan
jasa(services)
4. Menjelaskan kegiatan yang dilakukan BPR
5. Menjelaskan kegiatan bank umum dan bank BPR

E. Materi Pembelajaran

P engertian Bank Umum


Bank umum atau yang lebih dikenal dengan nama bank komersil merupakan bank yang
paling banyak beredar di Indonesia. Bank umum juga memiliki berbagai keunggulan jika
dibandingkan dengan BPR, baik dalam bidang ragam pelayanan maupun jangkauan wilayah ope-
rasinya. Artinya bank umum memiliki kegiatan pemberian jasa yang paling lengkap dan dapat
beroperasi diseluruh wilayah Indonesia.
Kegiatan Bank Umum
1. Menghimpun Dana (Funding)
Kegiatan menghimpun dana merupakan kegiatan membeli dana dari masyarakat. Kegiatan ini
dikenal juga dengan kegiatan funding. Kegiatan membeli dana dapat dilakukan dengan cara
menawarkan berbagai jenis simpanan. Simpanan sering disebut dengan nama rekening atau
account.
Jenis-jenis simpanan yang ada dewasa ini adalah:
a. Simpanan Giro (Demand Deposit)
Simpanan giro merupakan simpanan pada bank yang penarikannya dapat dilakukan dengan
menggunakan cek atau bilyet giro. Kepada setiap pemegang rekening giro akan diberikan bunga
yang dikenal dengan nama jasa giro. Besarnya jasa giro tergantung dari bank yang bersangkutan.
Rekening giro biasa digunakan oleh para usahawan, baik untuk perorangan maupun
perusahaannya. Bagi bank jasa giro merupakan dana murah karena bunga yang diberikan kepada
nasabah relatif lebih rendah dari bunga simpanan lainnya.

b. Simpanan Tabungan (Saving Deposit)


Merupakan simpanan pada bank yang penarikan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan oleh
bank. Penarikan tabungan dilakukan menggunakan buku tabungan, slip penarikan, kuitansi atau
kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Kepada pemegang rekening tabungan akan diberikan
bunga tabungan yang merupakan jasa atas tabungannya. Sama seperti halnya dengan rekening giro,
besarnya bunga tabungan tergantung dari bank yang bersangkutan. Dalam praktiknya bunga
tabungan lebih besar dari jasa giro.
c. Simpanan Deposito (Time Deposit)
Deposito merupakan simpanan yang memiliki jangka waktu tertentu (jatuh tempo).
Penarikannyapun dilakukan sesuai jangka waktu tersebut. Namun saat ini sudah ada bank yang
memberikan fasilitas deposito yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat. jenis depositopun
beragam sesuai dengan keinginan nasabah. Dalam praktiknya jenis deposito terdiri dari deposito
berjangka, sertifikat deposito dan deposit on call.

2. Menyalurkan Dana (Lending)


Menyalurkan dana merupakan kegiatan menjual dana yang berhasil dihimpun dari
masyarakat. Kegiatan ini dikenal dengan nama kegiatan Lending. Penyaluran dana yang dilakukan
oleh bank dilakukan melalui pemberian pinjaman yang dalam masyarakat lebih dikenal dengan
nama kredit. Kredit yang diberikan oleh bank terdiri dari beragam jenis, tergantung dari
kemampuan bank yang menyalurkannya. Demikian pula dengan jumlah serta tingkat suku bunga
yang ditawarkan.Sebelum kredit dikucurkan bank terlebih dulu menilai kelayakan kredit yang
diajukan oleh nasabah. Kelayakan ini meliputi berbagai aspek penilaian. Penerima kredit akan
dikenakan bunga kredit yang besarnya tergantung dari bank yang menyalurkannya. Besar kecilnya
bunga kredit sangat mempengaruhi keuntungan bank, mengingat keuntungan utama bank adalah
dari selisih bunga kredit dengan bunga simpanan.
Secara umum jenis-jenis kredit yang ditawarkan meliputi :
a. Kredit Investasi
Yaitu merupakan kredit yang diberikan kepada pengusaha yang melakukan investasi atau
penanaman modal. Biasanya kredit jenis ini memiliki jangka waktu yang relatif panjang yaitu di
atas 1(satu) tahun. Contoh jenis kredit ini adalah kredit untuk membangun pabrik atau membeh
peralatan pabrik seperti mesin-mesin.
b. Kedit Modal Kerja
Merupakan kredit yang digunakan sebagai modal usaha. Biasanya kredit jenis ini berjangka waktu
pendek yaitu tidak.lebih dari 1 (satu) tahun. Contoh kredit ini adalah untuk membeli bahan baku,
membayar gaji karyawan dan modal kerja lainnya.
c. Kredit Perdagangan
Merupakan kredit yang diberikan kepada para pedagang dalam rangka memperlancar atau
memperluas atau memperbesar kegiatan perdagangannya. Contoh jenis-kredit ini adalah kredit
untuk membeli barang dagangan yang diberikan kepada para suplier atau agen.
d. Kredit Produktif
Merupakan kredit yang dapat berupa investasi, modal keda atau perdagangan. Dalam arti kredit ini
diberikan untuk diusahakan kembali sehingga pengembalian kredit diharapkan dari hasil usaha
yang dibiayai.
e. Kredit Konsumtif
Merupakan kredit yang digunakan untuk keperluan pribadi misalnya keperluan konsumsi, baik
pangan, sandang maupun papan. Contoh jenis kredit ini adalah kredit perumahan, kredit kendaraan
bermotor yang kesemuanya untuk dipakai sendiri.
f. Kredit Profesi
Merupakan kredit yang diberikan kepada para kalangan profesional seperti dosen, dokter atau
pengacara.

3. Memberikan jasa- jasa Bank Lainnya (Services)


Jasa-jasa bank lainnya merupakan kegiatan penunjang untuk mendukung kelancaran kegiatan
menghimpun dan menyalurkan dana. Sekalipun sebagai kegiatan penunjang, kegiatan ini sangat
banyak memberikan keuntungan bagi bank dan nasabah, bahkan dewasa ini kegiatan ini
memberikan kontribusi keuntungan yang tidak sedikit bagi keuntungan bank, apalagi keuntungan
dari spread based semakin mengecil, bahkan cenderung negatif spread (bunga simpanan lebih
besar dari bunga kredit).Semakin lengkap jasa-jasa bank yang dapat dilayani oleh suatu bank maka
akan semakin baik. Kelengkapan ini ditentukan dari permodalan bank serta kesiapan bank dalam
menyediakan SDM yang handal. Disamping itu ,juga perlu didukung oleh kecanggihan teknologi
yang dimilikinya. Dalam praktiknya jasa-jasa bank yang ditawarkan meliputi :
a. Kiriman Uang (Transfer)
Merupakan jasa pengiriman uang lewat bank. Pengiriman uang dapat dilakukan pada bank yang
sama atau bank yang berlainan. Pengiriman uang juga dapat dilakukan derigan tujuan dalam kota,
luar kota atau luar negeri. Khusus untuk pengiriman uang keluar negeri harus melalui bank devisa.
Kepada nasabah pengirim dikenakan biaya kirim yang besarnya tergantung dari bank yang
bersangkutan. Pertimbangannya adalah nasabah bank yang bersangkutan (memiliki rekening di
bank yang bersangkutan) atau bukan. Kemudian juga jarak pengiriman antar bank tersebut.
b. Kliring (Clearing)
Merupakan penagihan warkat (surat-surat berharga seperti cek, bilyet giro) yang berasal dari dalam
kota. Proses penagihan lewat kliring hanya memakan waktu 1 (satu) hari. Besarnya biaya
penagihan tergantung dari bank yang bersangkutan.
c. Inkaso (Collection)
Merupakan penagihan warkat (surat-surat berharga seperti cek, bilyet giro) yang berasal dari luar
kota atau luar negeri. Proses penagihan lewat inkaso tergantung dari jarak lokasi penagihan dan
biasanya memakan waktu 1 (satu) minggu sampai 1 (satu) bulan. Besarnya biaya penagihan
tergantung dari bank yang bersangkutan dengan pertimbangan jarak serta pertimbangan lainnya.
d. Safe Deposit Box
Safe Deposit Box atau dikenal dengan istilah safe loket jasa pelayanan ini memberikan layanan
penyewaan box atau kotak pengaman tempat menyimpan surat-surat berharga atau barang-barang
berharga milik nasabah. Biasanya surat-surat atau barang-barang berharga yang disimpan di dalam
box tersebut aman dari pencurian dan kebakaran. Kepada nasabah penyewa box dikenakan biaya
sewa yang besarnya tergantung dari ukuran box serta jangka waktu penyewaan.
e. Bank Card (Kartu kredit)
Bank card atau lebih populer dengan sebutan kartu kredit atau juga uang plastik. Kartu ini dapat
dibelanjakan di berbagaf tempat perbelanjaan atau tempat-tempat hiburan. Kartu ini juga dapat
digunakan untuk mengambil uang tunai di ATM-ATM yang tersebar diberbagai, tempat yang
strategis. Kepada pemegang kartu kredit dikenakan biaya iuran tahunan yang besarnya tergantung
dari bank yang mengeluarkan. Setiap pembelanjaan memiliki tenggang waktu pembayaran dan
akan dikenakan bunga dari jumlah uang yang telah dibelanjakan jika melewati tenggang waktu
yang telah ditetapkan.
f. Bank Notes
Merupakan jasa penukaran valuta asing. Dalam jual beli bank notes bank menggunakan kurs (nilai
tukar rupiah dengan mata uang asing).
g. Bank Garansi
Merupakan jaminan bank yang diberikan kepada nasabah dalam rangka membiayai suatu usaha.
Dengan jaminan bank ini si pengusaha memperoleh fasilitas untuk melaksanakan kegiatannya
dengan pihak lain. Tentu sebelum jaminan bank dikeluarkan bank terlebih dulu mempelajari
kredibilitas nasabahnya.
h. Bank Draft
Merupakan wesel yang dikeluarkan oleh bank kepada para nasabahnya. Wesel ini dapat
diperjualbelikan apabila nasabah membutuhkannya.
i. Letter of Credit (L/C)
Merupakan surat kredit yang diberikan kepada para eksportir dan importir yang digunakan untuk
melakukan pembayaran atas transaksi ekspor-impor yang mereka lakukan. Dalam transaksi ini
terdapat berbagai macam jenis L/C, sehingga nasabah dapat meminta sesuai dengan kondisi yang
diinginkannya.
j. Cek Wisata (Travellers Cheque)
Merupakan cek perjalanan yang biasa digunakan oleh turis atau wisatawan. Cek Wisata dapat
dipergunakan sebagai alat pembayaran diberbagai tempat pembelanjaan atau hiburan seperti hotel,
supermarket. Cek Wisata juga bisa digunakan sebagai hadiah kepada para relasinya.
k. Menerima setoran-setoran.
Dalam hal ini bank membantu nasabahnya dalam rangka menampung setoran dari berbagai tempat
antara lain :
 Pembayaran pajak
 Pembayaran telepon
 Pembayaran air
 Pembayaran listrik
 Pembayaran uang kuliah
l. Melayani pembayaran-pembayaran.
Sama halnya seperti dalam hal menerima setoran, bank juga melakukan pembayaran seperti yang
diperintahkan oleh nasabahnya antara lain :
 Membayar Gaji/Pensiun/honorarium
 Pembayaran deviden Pembayaran kupon
 Pembayaran bonus/hadiah
m. Bermain di dalam pasar modal.
Kegiatan bank dapat memberikan atau bermain surat-surat berharga di pasar modal. Bank dapat
berperan dalam berbagai kegiatan seperti menjadi :
 Penjamin emisi (underwriter)
 Penjamin (guarantor)
 Wali amanat (trustee)
 Perantara perdagangan efek (pialang/broker)
 Pedagang efek (dealer)
 Perusahaan pengelola dana (invesment company)

Bank Perkreditan Rakyat (Bpr)


Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara
controversial atau berdasar prinsip syariah yang dalam kegiatan tidak memberikan jasa dalam lalu
lintas pembayaran. Ini artinya, bahwa dalam jumlah kegiatan bpr lebih sempit dibandingkan
dengan kegiatan bank umum.Sejarah terbentuknya Bank Perkreditan Rakyat (BPR) berakar sejak
jaman penjajahan Belanda, Perkreditan Rakyat di Indonesia dimulai sejak abad 19 dengan
berdirinya Bank Kredit Rakyat (BKR) dan Lumbung Desa, yang dibangun dengan tujuan
membantu para petani, pegawai, dan buruh agar dapat melepaskan diri dari jeratan para lintah darat
(rentenir) yang membebankan dengan bunga sangat tinggi
Pada masa Pemerintahan Koloni Belanda, Perkreditan Rakyat dikenal masyarakat dengan
istilah Lumbung Desa, Bank Desa, Bank Tani, dan Bank Dagang Desa, yang saat itu hanya ada di
Jawa dan Bali.
Th.1929 berdiri badan yang menangani kredit di pedesaan yaitu, Badan Kredit Desa
(BKD) yang terdapat di pulau Jawa & Bali, sementara untuk Pengawasan dan Pembinaan,
Pemerintah Kolonial Belanda membentuk Kas Pusat dan Dinas Perkreditan Rakyat, dengan nama
lembaga yaitu Instansi Kas Pusat (IKP).
Setelah Indonesia merdeka, Pemerintah mendorong pendirian bank-bank Pasar yang
terutama sangat dikenal karena didirikan dilingkungan pasar dan bertujuan untuk memberikan
pelayanan jasa keuangan kepada para pedagang pasar. Bank-bank Pasar tersebut kemudian
berdasarkan Pakto 1988 dikukuhkan menjadi Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Sejak itu BPR di
Indonesia tumbuh dengan subur.Bank-bank yang didirikan antara 1950-1970 didaftarkan sebagai
Perseroan Terbatas (PT), CV, KOPERASI, MASKAPAI ANDIL INDONESIA (MAI),
YAYASAN, DAN PERKUMPULAN.
Pada masa tersebut berdiri beberapa lembaga keUangan yang dibentuk oleh Pemerintah
Daerah ; Bank Karya Produksi Desa (BKPD) di Jawa barat, Badan Kredit Kecamatan (BKK) di
Jawa Tengah, Kredit Usaha Rakyat Kecil (KURK) di Jawa Timur, Lumbung Pitih Nagari (LPN) di
Sumatera Barat, dan Lembagai Perkreditan Desa (LPD) di Bali.
Pada tangal 27 Oktober 1988 Pemerintah menetapkan kebijakan diregulasi PerBankan
yang dikenal sebagai Pakto 88, sebagai kelanjutan dari Pakto 88, Pemerintah mengeluarkan
beberapa Paket ketentuan dibidang perbankan yang merupakan penyempurnaan ketentuan
sebelumnya. Sejalan dengan itu, Pemerintah menyempurnakan UU No.14 Th.1967, .
Tentang pokok-pokok perbankan, dengan mengeluarkan undang-undang No.7 Th.1992
tentang perbankan.Undang-undang tersebut disempurnakan lebih lanjut dalam Undang-undang
No.10 th.1998. Dalam undang-undang ini secara tegas ditetapkan bahwa jenis Bank di Indonesia
adalah Bank Umum & Bank Perkreditan Rakyat (BPR).
 Bank ; Badan Usaha yang menghimpun Dana dari Masyarakat dalam bentuk simpanan dan
menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam
rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
 Bank Umum ; Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan/atau berdasarkan
prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran
 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) ; Bank yang melaksanakn kegiatan usaha secara konvensional
dan/atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu
lintas pembayaran
Sekitar tahun 1987 – 1988, terjadi urbanisasi besar besaran, hal ini diakibatkan
perkembangan ekonomi di Ibukota Jakarta sangat pesat ,sedangkan didaerah sangatlah lambat dan
hampir tidak berkembang.Dari Kondisi diatas, PT. Nusamba mempunyai niat membantu
pemerintah dan masyarakat dalam upaya pemerataan ekonomi dengan cara mendirikan Bank –
bank Rakyat kecil di daerah, guna membantu meningkatkan Perekonomi mayarakat kecil
Pada awal Februari tahun 1990 BPR Nusamba didirikan serentak di pulau Jawa dan Bali
sebanyak 20 kantor pusat.Pada akhir Th.2005 terdapat 38 Kantor Pelayanan, dan pada Th.2006
akan bertambah menjadi + 70 Kantor Pelayanan, sedangkan target Th. 2007-2008 adalah lebih dari
100 Kantor Pelayanan.
Visi
► Menjadi Perusahaan Jasa PerBankan yang dapat dipercaya dan
menjadi Primadona bagi Nasabah.
► Menjadi Perusahaan Jasa PerBankan Mandiri, terdepan
dalam kreatifitas, inovasi, dan prestasi
► Menjadi Perusahaan Jasa PerBankan yang mampu
memberdayakan ekonomi masyarakat
Misi
♠ Memberikan Pelayanan Profesional terbaik dan memasyarakatkan
jasa-jasa perbankan kepada masyarakat luas, khususnya masyarakat
pedesaan.
♠ Membantu meningkatkan taraf hidup golongan ekonomi kecil dan
menengah melalui peningkatan usaha dan bantuan modal kerja
MOTO : (BPR. Nusamba Ja-Bar)
Mitra usaha Masyarakat Jawa barat
Kegiatan BPR
Pada dasarnya sama dengan kegiatan Bank umum, hanya yang menjadi perbedaan adalah jumlah
jasa Bank yang dilakukan BPR jauh lebih sempit. BPR dibatasi oleh berbagai persyaratan,
sehingga tidak dapat berbuat seleluasa Bank umum. Keterbatasan kegiatan BPR juga di kaitkan
dengan misi penirian BPR itu sendiri.
Dalam praktiknya kegiatan BPR adalah sebagai berikut :
1. Menghimpun dana hanya dalam bentuk :
- Simpanan tabungan
Merupakan simpanan pada bank yang penarikan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan oleh
bank. Penarikan tabungan dilakukan menggunakan buku tabungan, slip penarikan, kuitansi atau
kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Kepada pemegang rekening tabungan akan diberikan
bunga tabungan yang merupakan jasa atas tabungannya. Sama seperti halnya dengan rekening giro,
besarnya bunga tabungan tergantung dari bank yang bersangkutan. Dalam praktiknya bunga
tabungan lebih besar dari jasa giro.
- Simpanan deposito
Deposito merupakan simpanan yang memiliki jangka waktu tertentu (jatuh tempo).
Penarikannyapun dilakukan sesuai jangka waktu tersebut. Namun saat ini sudah ada bank yang
memberikan fasilitas deposito yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat. jenis depositopun
beragam sesuai dengan keinginan nasabah. Dalam praktiknya jenis deposito terdiri dari deposito
berjangka, sertifikat deposito dan deposit on call.
2. Menyalurkan dana dalam bentuk :
- Kredit investasi
Kredit investasi adalahkredit yang didapatkan baik buat kepentingan penambahan modal fungsi
mengadakan rehabilitasi, perluasan usaha atau bisnis dan buat membangun satu proyek baru.
Dengan kata lain, kredit investasi yaitu kredit yang dipakai buat membiayai barang modal
perusahaan yang berjangka waktu menengah dan panjang. perubahan barang modal bisa berupa
pembelian barang modal dan barang layanan yang berguna buat merehabilitasi usaha atau
pendirian usaha baru yang seluruhnya bermuara pada tujuan peningkatan produktivitas.
- Kredit Modal kerja
Kredit Modal Kerja (KMK) adalah fasilitas kredit modal kerja yang diberikan baik dalam rupiah
maupun valuta asing untuk memenuhi modal kerja yang habis dalam satu siklus usaha dengan
jangka waktu maksimal 1 tahun.
- Kredit Perdagangan
merupakan kredit yang diberikan kepada pedagang dan digunakan untuk membeli aktivitas
perdagangannya seperti untuk membeli barang dagangan yang pembayarannya diharapkan dari
hasil penjualan barang dagangan tersebut. kredit ini sering diberikan kepada suplier atau agen-agen
perdagangan yang akan membeli barang dalam jumlah besar. contoh kredit ini misalnya kredit
ekspor dan impor.

F. Model dan Metode :


1. Metode pembelajaran project based learning ( PJBL )

G. Media, Alat/Bahan Pembelajaran


1. Media
a. Papan tulis
b. Spidol
c. Pengaris
2. Alat/Bahan
a. LCD/OHP.
b. Komputer/Laptop.

H. Sumber Belajar
1. Buku Referensi
2. Elektronik
3. Alam lingkungan
4. SOP DU/DI
5. Modul Dasar Dasar Perbankan, Karangan Ernawati

I. Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan 8
No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai kegiatan usaha bank umum dan bank
perkreditan rakyat
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai kegiatan usaha bank umum dan bank perkreditan rakyat
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan berbagai kegiatan usaha bank
umum dan bank perkreditan rakyat
Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai kegiatan usaha bank umum dan bank perkreditan rakyat
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi kegiatan usaha bank umum dan bank perkreditan
rakyat atau bagian yang belum dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.

Pertemuan 9
No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai kegiatan usaha bank umum dan bank
perkreditan rakyat
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai kegiatan usaha bank umum dan bank perkreditan rakyat
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan berbagai kegiatan usaha bank
umum dan bank perkreditan rakyat
Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai kegiatan usaha bank umum dan bank perkreditan rakyat
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi kegiatan usaha bank umum dan bank perkreditan
rakyat atau bagian yang belum dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.

Pertemuan 10
No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai kegiatan usaha bank umum dan bank
perkreditan rakyat
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai kegiatan usaha bank umum dan bank perkreditan rakyat
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan berbagai kegiatan usaha bank
umum dan bank perkreditan rakyat
Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai kegiatan usaha bank umum dan bank perkreditan rakyat
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi kegiatan usaha bank umum dan bank perkreditan
rakyat atau bagian yang belum dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.

Pertemuan 11
No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai kegiatan usaha bank umum dan bank
perkreditan rakyat
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai kegiatan usaha bank umum dan bank perkreditan rakyat
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan berbagai kegiatan usaha bank
umum dan bank perkreditan rakyat
Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai kegiatan usaha bank umum dan bank perkreditan rakyat
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi kegiatan usaha bank umum dan bank perkreditan
rakyat atau bagian yang belum dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.

Pertemuan 12
No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai kegiatan usaha bank umum dan bank
perkreditan rakyat
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai kegiatan usaha bank umum dan bank perkreditan rakyat
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan berbagai kegiatan usaha bank
umum dan bank perkreditan rakyat
Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai kegiatan usaha bank umum dan bank perkreditan rakyat
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi kegiatan usaha bank umum dan bank perkreditan
rakyat atau bagian yang belum dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.

J. Penilaian Pembelajaran, Remedial dan Pengayaan


Aspek yang dinilai
Mendengarkan/Berbicara:
a. Tercapai tujuan (terhibur atau mendapatkan nilai moral yang disampaikan)
b. Penggunaan ungkapan
c. Pengucapan, intonasi, tata bahasa, kosa kata
d. sikap
Membaca Pemahaman:
a. Mengidentifikasi hubungan keluarga orang-orang yang ada dalam teks
Membaca nyaring:
a. Pengucapan, intonasi, tata bahasa, kosa kata
b. Sikap
Menulis
a. Ketepatan penggunaan sebutan untuk hubungan keluarga sesuai dengan bagan silsilah yang
diberikan.
b. Ejaan, tanda baca, tulisan tangan materi kegiatan usaha bank umum dan bank perkreditan rakyat
Cara penilaian:
a. Tes lisan/tertulis
b. Observasi kelas
c. Portofolio.
Contoh Rubrik Penilaian
Format Penilaian ‘Retelling Story’
(Menggunakan Skala Penilaian)

Nama Siswa: ________ Kelas: X Akuntansi


No. Aspek Yang Dinilai Nilai
1 2 3 4
1. Content
2. Fluency
3. Language
a. Pronunciation and intonation
b. Grammar
c. Vocabulary
4. Performance ( eye contact, facial expression, gesture)
Jumlah
Skor Maksimum 20

Keterangan penilaian:
1 = tidak kompeten
2 = cukup kompeten
3 = kompeten
4 = sangat kompeten

Jika seorang siswa memperoleh skor 20 dapat ditetapkan ”sangat kompeten”. Dan seterusnya sesuai dengan jumlah
skor perolehan.

Mengetahui Batam, Juli 2017


Kepala Sekolah SMKIT DBS 01 Guru Mapel Akuntansi
BATAM

Omas Sauludin, S.Pd., M.M. Rozi Gusrianto, S.Pd.


NIY. 200307010157 NIY. 201708010464
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah : SMKIT Darussalam Boarding School 01 BATAM


Kelas/Semester : X / Ganjil
Mata Pelajaran : Perbankan Dasar
kok : Simpanan Dana Giro
Kompt. Keahlian : Akuntansi Keuangan
Alokasi Waktu : 18 x 45 Menit

A. Kompetensi Inti
1. Pengetahuan
KI 3 Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang pengetahuan faktual,
konseptual, operasional dasar, dan metakognitif sesuai dengan bidang dan lingkup kerja Akuntansi
dan Keuangan Lembaga pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan dengan ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam konteks pengembangan potensi diri
sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan
internasional.
2. Keterampilan
KI 4 Melaksanakan tugas spesifik dengan menggunakan alat, informasi, dan prosedur kerja yang
lazim dilakukan serta memecahkan masalah sesuai dengan bidang Akuntansi dan Keuangan
Lembaga. Menampilkan kinerja di bawah bimbingan dengan mutu dan kuantitas yang terukur
sesuai dengan standar kompetensi kerja.
Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif, produktif,
kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam ranah abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di
bawah pengawasan langsung.

B. Kompetensi Dasar
1. KD pada KI pengetahuan
3.7 Menganalisis simpanan dana giro
2. KD pada KI keterampilan
4.7 Menghitung simpanan dana giro

C. Indikator Pencapaian Kompetensi


1. Indikator KD pada KI pengetahuan
3.7.1 Menjelaskan pengertian simpanan dana giro
3.7.2 Menjelaskan sarana penarikan simpanan dana giro
3.7.3 Menghitung jasa giro
3.7.4 Menerapkan kerahasian simpanan dana giro

2. Indikator KD pada KI keterampilan


4.7.1 Kembali membuat simpanan dana giro
4.7.2 Mengikuti sarana penarikan simpanan giro
4.7.3 Melakukan cara menghitung simpanan jasa giro
4.7.4 Menerapkan kerahasian simpanan dana giro

D. Tujuan Pembelajaran
Melalui kegiatan ini siswa mampu :
1. Menjelaskan pengertian simpanan dana giro
2. Menjelaskan sarana penarikan simpanan dana giro
3. Menjelaskan cara menghitung sarana simpanan giro
4. Menjelaskan kerahasian simpanan dana giro

E. Materi Pembelajaran

1. Pengertian Giro (Demand Deposit)


Pengertian simpanan giro atau yang lebih populer disebut rekening giro menurut UU
Perbankan No. 10 Tahun 1998, Giro adalah Simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap
saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, saran perintah pembayaran lainnya atau dengan cara
pemindahbukuan.
Sedangkan pengertian simpanan adalah dana yang dipercayakan oleh masyarakat kepada
bank dalam bentuk giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan atau yang dapat
dipersamakan dengan itu.
Berdasarkan beberapa pengertian giro diatas maka dapat disimpulkan bahwa giro adalah
simpanan masyarakat dalam rupiah atau valuta asing pada bank yang transaksinya dapat dilakukan
setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, kartu ATM, dan cara pembayaran lainnya.
Karena sifat penarikannya yang dapat dilakukan setiap saat, Artinya adalah bahwa uang
yang disimpan di rekening giro dapat diambil setiap waktu setelah memenuhi berbagai persyaratan
yang ditetapkan misalnya waktu jam kantor, keabsahan dan kesempurnaan cek serta saldonya yang
tersedia, maka sumber dana dari rekening giro ini merupakan sumber dana jangka pendek yang
jumlahnya relatif lebih dinamis tau berfluktuasi dari waktu ke waktu. Dengan kata lain giro ini
sebagai dana yang sensitif atau peka terhadap perubahan sehingga disebut pula sebagai dana yang
labil yang sewaktu waktu dapat ditarik atau disetor oleh nasabah. Bagi nasabah pemegang rekening
giro (girant), sifat penarikan tersebut sangat membantu dalam membiayai nasabah secara lebih
efisien. Biasanya simpanan giro ini digunakan untuk kepentingan bisnis, yaitu untuk menampung
hasil penerimaan dan untuk pembayaran dari dan kepada para relasi bisnis.
Penarikan uang direkening giro dapat menggunakan sarana penarikan yaitu cek dan bilyet
giro. Apabila penarikan yang dilakukan secara tunai maka sarana penarikannya adalah dengan
menggunakan cek. Sedangkan untuk penarikan non tunai adalah dengan menggunakan bilyet giro.
Di samping itu jika kedua penarikan sarana tersebut hilang maka nasabah dapat menggunakan
sarana penarikan lainnya, seperti surat pernyataan atau surat kuasa yang ditandatangani diatas
materai.
Menurut Kasmir (2006:67) bahwa dalam pelaksanaannya, setiap pemilik giro (girant) akan
memperoleh buku cek dan bilyet giro sebagai instrumen untuk melakukan penarikan dana atau
pembayaran atas suatu transaksi.
1. Persyaratan Umum Giro
Persyaratan yang harus dipenuhi oleh perorangan dan badan usaha untuk menjadi pemegang
rekening Giro adalah sebagai berikut:
1. Nama calon pemegang rekening Giro tidak tercantum di dalam Daftar Hitam yang dikeluarkan
oleh Bank Indonesia.
2. Menyetujui setiap pasal yang tercantum dalam “Syarat – syarat Umum Pembukaan Rekening
Koran pada Bank”.
3. Mengisi formulir “Permohonan Membuka Rekening pada Bank”.

4. Calon pemegang rekening harus mengisi Kartu Contoh Tanda Tangan.


5. Mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
6. Menyerahkan fotocopy bukti diri (KTP/SIM/Paspor dan KITAS bagi WNA) dan kuasanya (bila
dikuasakan).
7. Khusus calon nasabah yang merupakan badan usaha harus menyerahkan :
a. Akte Pendirian dan/atau Akte Perubahan yang terakhir.
b. Pengesahan dari Departemen Kehakiman khusus untuk badan usaha berbentuk PT.
c. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Tanda Daftar Perusahaan (TDP) dan perizinan lainnya.

2. Pembukaan Giro
Proses pembukaan rekening Giro dilaksanakan bila calon nasabah telah memenuhi
persyaratan yang ditetapkan. Rekening Giro hanya bisa dibuka bila seluruh dokumen pembukaan
Giro telah lengkap dan disetujui oleh Pemimpin Seksi Customer Service dan Pemimpin Bagian
Pelayanan.
3. Pengadaan dan Penatausahaan Cek/Bilyet Giro
Untuk tujuan standarisasi dan kontrol, pengadaan Cek/Bilyet Giro dikoordinir dan
disentralisasi di Kantor Pusat. Persediaan blanko Cek/Bilyet Giro pada Customer Service masing-
masing Kantor Cabang harus diberikan dengan batasan jumlah yang diperkirakan cukup untuk
keperluan 1 (satu) minggu. Persediaan Cek/Bilyet Giro pada Customer Service harus dapat
diketahui setiap saat, yaitu dengan cara mengadministrasikan penerimaan dan pengeluaran
Cek/Bilyet Giro di dalam “Buku Register Cek/Bilyet Giro” atau dalam aplikasi yang tersedia
dalam sistem.
Penerbitan buku Cek/Bilyet Giro untuk nasabah dikenakan biaya sesuai dengan ketentuan
bank, serta memenuhi penggunaan materai. Cek/Bilyet Giro hanya dapat diberikan kepada nasabah
setelah rekening Giro dibuka dan nomor Cek/Bilyet Giro didaftarkan ke dalam sistem. Setiap buku
Cek/Bilyet Giro yang diambil oleh nasabah atau kuasanya harus dimintakan tanda terima/resi.
Pada bagian depan setiap lembar Cek dan Bilyet Giro harus tercantum nomor rekening Giro.
4. Saldo Minimum
Setiap nasabah wajib memelihara saldo minimum yang jumlahnya sesuai dengan ketentuan
bank. Apabila terjadi pelanggaran atas ketentuan tersebut, maka nasabah harus dikenakan denda
yang besarnya sesuai dengan ketentuan bank. Proses pembebanan denda atas rekening yang
memiliki saldo di bawah minimal harus dilakukan pada setiap transaksi.
5. Transaksi Rekening Giro
Setiap transaksi yang dibukukan ke dalam rekening Giro harus memuat informasi, antara
lain: tanggal transaksi, nomor Cek/Bilyet Giro yang ditarik atau keterangan lainnya, debet atau
kredit dan nominal transaksi. Total saldo seluruh rekening Giro yang ada harus sama dengan saldo
perkiraan Giro dalam Neraca Harian pada hari yang sama. Semua bukti transaksi rekening Giro
yang sudah dibukukan harus diperiksa kembali oleh masing-masing unit kerja bersangkutan dan
dilakukan verifikasi ulang oleh Seksi Akuntansi.

6. Setoran Giro
Setoran awal sekurang-kurangnya adalah sebesar jumlah tertentu sesuai dengan ketentuan
bank, sedangkan penyetoran selanjutnya tanpa batasan nominal dapat dilakukan secara tunai,
pemindahbukuan, transfer dan kliring. Media yang digunakan untuk transaksi penyetoran secara
tunai adalah slip setoran. Penyetoran yang bersifat pemindahbukuan dilakukan dengan
menggunakan media pemindahbukuan.
7. Penarikan Giro
Media yang digunakan untuk transaksi penarikan adalah penarikan tunai menggunakan cek.
Penarikan non tunai, untuk dikliringkan menggunakan Bilyet Giro/Cross Cek. Untuk
pemindahbukuan antar rekening, menggunakan Cross Cek, Bilyet Giro atau media lainnya sesuai
ketentuan bank.Tidak ada batasan frekuensi penarikan dan jumlah pengambilan selama saldo
masih mencukupi (kecuali untuk rekening/saldo blokir, apabila ada).
Apabila nasabah menarik Cek/Bilyet Giro kosong melalui kliring, maka akan diberikan
Surat Peringatan kepada nasabah yang bersangkutan sesuai ketentuan yang berlaku. Penarikan giro
antar cabang dapat dilakukan dengan memperhatikan verifikasi tandatangan dan limit transaksi
sesuai ketentuan bank.
8. Jasa Giro
a. Jasa giro Kasda Pemerintah Daerah Provinsi, Kota dan Kabupaten (PKD) :
- Saldo < Rp 5.000.000, tidak memperoleh jasa 0,00% (2009)
- Saldo ≥ Rp 5.000.000 memperoleh jasa sebesar 3,00% (2009)
b. Jasa giro lainnya :
- Saldo < Rp 5.000.000, tidak memperoleh jasa 0,00% (2009)
- Saldo ≥ Rp 5.000.000 memperoleh jasa 1,00% (2009)
- Saldo ≥ Rp 25.000.000 memperoleh jasa 1,50% (2009)
- Saldo ≥ Rp 100.000.000 memperoleh jasa 2,00% (2009)
c. Jasa giro bank lain :
- Saldo < Rp 10.000.000, tidak memperoleh jasa 0,00% (2009)
- Saldo ≥ Rp 10.000.000 memperoleh jasa 0,25% (2009)
- Saldo ≥ Rp 50.000.000 memperoleh jasa 0,50% (2009)
9. Pajak Penghasilan atas Jasa Giro
Pajak penghasilan (PPh) atas jasa giro dikenakan sesuai dengan ketentuan pajak yang
berlaku yaitu 20% dari saldo terakhir dan dibebankan pada saat pembayaran jasa giro dengan cara
menyajikan pemotongan PPh secara terpisah dari jumlah jasa giro.
Penyetoran PPh atas jasa giro ke Kantor Kas Negara dilakukan sesuai peraturan yang
berlaku. Apabila terdapat perubahan peraturan pemerintah yang berkenaan dengan PPh atas jasa
giro, maka peraturan tersebut secara otomatis bersifat mengikat pada saat peraturan tersebut
diberlakukan.

10. Salinan Rekening Giro


Salinan rekening giro (rekening koran) dicetak sebulan sekali untuk diberikan/dikirim
kepada alamat masing-masing nasabah, sesuai dengan permintaan nasabah yang bersangkutan.
Salinan rekening giro juga dapat dicetak sewaktu-waktu apabila terdapat permintaan dari nasabah.
Biaya pencetakan salinan rekening giro karena permintaan nasabah dibebankan secara langsung
pada hari yang sama. Pengiriman salinan rekening giro dilaksanakan oleh Unit Kerja Administrasi
dan Umum.
11. Kehilangan Cek/Bilyet Giro
Dalam hal kehilangan Cek/Bilyet Giro, nasabah harus membuat Surat Pernyataan Hilang
disertai dengan Laporan Kehilangan dari Kepolisian yang ditujukan kepada Kantor Cabang dimana
rekening giro dibuka.
Berdasarkan Surat Pernyataan Hilang tersebut, harus segera dilakukan pembatalan
pembayaran (Stop Payment Order) atau pemblokiran atas Cek/Bilyet Giro yang dinyatakan hilang,
ke dalam sistem. Cek/Bilyet Giro yang telah diblokir tidak dapat digunakan lagi atau dianggap
tidak sah.
12. Rekening Pasif
Rekening pasif merupakan rekening giro yang mempunyai mutasi/transaksi sesuai dengan
ketentuan bank. Rekening pasif dikenakan biaya administrasi rekening pasif yang besarnya sesuai
dengan ketentuan bank.
Pada setiap akhir bulan, harus dicetak daftar rekening giro yang tergolong dalam rekening
pasif. Bank berhak melakukan penutupan rekening pasif sesuai dengan ketentuan bank
13 Penutupan Rekening Giro
Penutupan rekening giro hanya dapat dilakukan pada kantor di mana rekening giro tersebut
dibuka. Penutupan rekening giro dapat dilakukan berdasarkan permintaan nasabah sendiri,
kepentingan bank atau atas perintah Bank Indonesia secara tertulis.
Bank harus membebankan biaya penutupan rekening giro yang besarnya sesuai dengan
ketentuan bank. Proses penutupan rekening giro pada sistem harus dilakukan secara dual control
antara staf pelaksanaan dengan pejabat yang berwenang. Untuk setiap rekening giro yang ditutup
sisa buku cek/bilyet giro yang belum digunakan oleh nasabah harus ditarik kembali.
14. Pemindahbukuan
Pemindahbukuan merupakan bentuk ringkas dari dua transaksi yaitu penerimaan dan
pengeluaran dengan mendebet suatu rekening kas atau setara kas dan mengkredit rekening kas atau
setara kas lainnya. Namun kita cukup mencatat transaksinya sekali saja selanjutnya tugas
komputer. Prosedur ini tidak berhubungan dengan buku utang dan buku piutang seperti jurnal
penerimaan dan pengeluaran kas. Pemindahbukuan tidak mempengaruhi total asset perusahaan
dalam bentuk kas dan setara kas. Karena itu tidak digolongkan ke dalam transaksi penerimaan kas
atau pengeluran kas.

2. Pengertian Cek (Cheque)


Pengertian cek adalah surat perintah tanpa syarat dari nasabah kepada bank yang
memelihara rekening giro nasabah tersebut, untuk membayar sejumlah uang kepada pihak yang
disebutkan didalam cek atau kepada pembawa cek tersebut.
Cek dapat digunakan untuk suatu pembayaran transaksi secara tunai. Cek dapat ditarik atas
unjuk atau atas nama dan tidak dapat dibatalkan oleh penarik, kecuali cek tersebut hilang, atau
dicuri dengan dibuktikannya oleh laporan hilang dari kepolisian. Jangka waktu pengunjukan agar
mendapatkan pembayaran dari bank atas cek tersebut adalah selama 70 hari sejak tanggal
penarikannya. Cek merupakan surat perintah tanpa syarat dari nasabah kepada bank yang
memelihara rekening giro nasabah tersebut, untuk membayar sejumlah uang kepada pihak yang
disebutkan didalamnya atau kepada pemegang cek tersebut. Artinya bank harus membayar kepada
siapa saja yang membawa cek ke bank yang memelihara rekening nasabah untuk diuangkan sesuai
dengan persyaratan yang telah ditetapkan baik secara tunai atau secara pemindahbukuan.
Syarat hukum dan penggunaan cek sebagai alat pembayaran giral seperti yang diatur
didalam KUH Dagang pasal 178 dengan syarat yaitu :
 Pada surat cek harus tertulis perkataan “CEK”
 Surat cek harus berisi perintah tak bersyarat untuk membayar sejumlah uang tertentu.
 Nama bank yang harus membayar (tertarik)
 Penyambutan tanggal dan tempat cek dikeluarkan
 Tanda tangan penarik
Syarat lainnya yang dapat ditetapkan oleh bank untuk menarik sejumlah uang yang
diinginkanan adalah sebagai berikut :
 Tersedianya dana
 Ada materai yang cukup
 Jika ada coretan atau perubahan harus ditandatangani oleh si pemberi cek
 Jumlah uang yang tertulis diangka dengan huruf haruslah sama
 Memperlihatkan masa kadaluarsa cek yaitu 70 hari setelah dikeluarkannya cek tersebut
 Tanda tangan atau stempel perusahaan harus sama dengan yang di specimen (contoh tanda
tangan)
 Tidak diblokir pihak berwenang
 Kondisi cek sempurna
 Rekening belum ditutup
 Dan syarat-syarat lainnya
Penarikan dana dengan menggunakan sarana cek disamping persyaratan diatas juga sangat
tergantung dari jenis-jenis cek yang dikeluarkan oleh pemberi cek.
Adapun jenis-jenis cek yang dimaksud antara lain :
 Cek Atas Nama Merupakan cek yang diterbitkan atas nama orang atau badan tertentu yang
tertulis jelas di dalam cek tersebut, misalnya bayarlah kepada Tn. Dede Royana sejumlah Rp.
7.000.000,-
 Cek Atas Unjuk Yaitu cek yang tidak tertulis nama seseorang atau badan tertentu didalam cek
tersebut. Sebagai contoh didalam cek tersebut bayarlah tunai, atau cash atau tidak ditulis kata-kata
apapun.

 Cek silang Jika suatu yang dipojok kiri atas diberi dua tanda silang sehingga cek tersebut
berfungsi sebagai pemindahbukuan bukan tunai.
 Cek Mundur Yang merupakan cek yang diberi tanggal mundur dari tanggal sekarang, misalnya
hari ini tanggal 10 mei 2007, Tn. Dede Royana bermaksud mencairkan ceknya dimana dalam cek
tersebut tertulis tanggal 12 Mei 2007. Jenis cek inilah yang disebut dengan cek mundur, hal ini
biasanya terjadi karena ada kesepakatan antara pemberi cek dengan penerima cek.
 Cek Kosong Yaitu cek yang dananya tidak tersedia, sebagai contoh misalnya nasabah menarik cek
senilai 77 juta rupiah tertulis didalam cek tersebut, akan tetapi dana yang tersedia di rekening giro
tersebut hanya ada 30 juta rupiah. Jelas cek tersebut kurang jumlahnya dibandingkan jumlah dana
yang ada.
Apabila nasabah melakukan penarikan dengan cek kosong sampai 3 kali, maka nasabah
tersebut akan di black list atau masuk daftar hitam yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia,
kemudian disebarkan keseluruh perbankan, sehingga yang bersangkutan tidak dapat berhubungan
dengan bank manapun. Namun tentunya sebelum masuk daftar hitam terlebih dulu nasabah diberi
peringatan baik lisan maupun tertulis sebalumnya.
Keterangan yang ada dalam suatu cek :
 Ada tertulis kata-kata Cek atau Cheque
 Ada tertulis Bank Penerbit (Bank Monas Indonesia)
 Ada nomor cek
 Ada tanggal penulisan cek
 Ada perintah membayar “bayarlah kepada …. Atau pembawa”
 Ada jumlah uang (nominal angka dan huruf)
 Ada tanda tangan atau cap perusahaan pemilik cek
3. Pengertian Bilyet Giro (BG)
Bilyet Giro merupakan surat perintah dari nasabah kepada bank yang memelihara rekening
giro nasabah tersebut untuk memindahbukukan sejumlah uang dari rekening yang bersangkutan
kepada pihak penerima yang disebutkan namanya pada bank yang sama atau bank lainnya.
Syarat-syarat yang berlaku untuk BG agar pemindahbukuannya dapat dilakukan antara lain :
 Ada nama bilyet giro dan nomor serinya
 Perintah tanpa syarat untuk memindahbukukan sejumlah uang atas beban rekening yang
bersangkutan
 Nama dan tempat bank tertarik
 Jumlah dana yang dipindahkan dalam angka dan huruf
 Nama pihak penerima
 Tanda tangan penarik atau stempel penarik jika penarik merupakan perusahaan
 Tanggal dan tempat penarikan
 Nama bank yang menerima pemindahbukuan tersebut
Masa berlaku dan tanggal berlakunya BG juga diatur sesuai persyaratan yang telah
ditentukan seperti :
 Masa berlaku bilyet giro adalah 70 hari terhitung mulai dari tanggal penarikannya
 Bila tanggal efektif tidak dicantumkan maka tanggal penarikan berlaku pula sebagai tanggal
efektif

 Bila tanggal efektif tidak dicantumkan, maka tanggal efektif dianggap sebagai tanggal penarikan
 Dan persyaratan lainnya.
Keterangan yang ada didalam suatu Bilyet Giro :
 Ada tertulis kata-kata Bilyet Giro
 Ada bank penerbit (Bank Monas Indonesia)
 Ada nomor Bilyet Giro
 Ada tanggal penulisan Bilyet Giro ( dibawah nomor BG )
 Ada perintahpemindahbukuan
 Ada jumlah uang ( nominal angka dan huruf )
 Ada tanda tangan pemilik Bilyet Giro
F. Model dan Metode :
1. Metode pembelajaran project based learning ( PJBL )
G. Media, Alat/Bahan Pembelajaran
1. Media
a. Papan tulis
b. Spidol
c. Pengaris
2. Alat/Bahan
a. LCD/OHP.
b. Komputer/Laptop.

H. Sumber Belajar
1. Buku Referensi
2. Elektronik
3. Alam lingkungan
4. SOP DU/DI
5. Modul Dasar Dasar Perbankan, Karangan Ernawati

I. Langkah Langkah Pembelajaran

Pertemuan 1 (3 JP) Tanggal 4 Januari 2018


No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai kegiatan usaha bank umum dan bank
perkreditan rakyat
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai pengertian simpanan dana giro
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan sarana penarikan simpanan
dana giro
Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai sarana penarikan simpanan dana giro
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi sarana penarikan simpanan dana giroatau bagian yang
belum dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.
 Mengengatkan kembali pelajaran besoknya
 Salam

Pertemuan 2 (3 JP) Tanggal 11 Januari 2018


No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai sarana penarikan simpanan dana giro
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya tata cara
menghitung simpanan giro
 Peserta didik diminta untuk menghitung jasa giro metode saldo terendah
Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai menghitung jasa giro metode saldo terendah
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi menghitung jasa giro metode saldo terendah atau bagian
yang belum dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.
 Mencek kembali catatan siswa yang menulis
 Salam

Pertemuan 3 (3 JP) Tanggal 18 Januari 2018


No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu menghitung jasa giro metode saldo terendah
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai menghitung jasa giro metode saldo rat-rata
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan berbagai contohmenghitung
jasa giro metode saldo terendah dan rata rata
Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai menghitung jasa giro metode saldo terendah dan rata rata
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi menghitung jasa giro metode saldo terendah dan rata
rataatau bagian yang belum dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.
 Mencek kembali tugas yang di kerjakan siswa
 Salam

Pertemuan 4 (3 JP) 25 Januari 2018


No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai menghitung jasa giro metode saldo terendah
dan rata rata
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai menghitung jasa giro metode saldo terendah rata rata
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan cara menghitung jasa giro
metode saldo terendah rata rata
Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai menghitung jasa giro metode saldo terendah dan rata rata
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi menghitung jasa giro metode saldo terendah atau bagian
yang belum dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.
 Melihat kembali tugas siswa yg belum mengerti cara menghitung jasa
giro
 Salam

Pertemuan 5 (3 JP) Tanggal 1 Februari 2018


No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai menghitung jasa giro metode saldo terendah
dan rata rata
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai menghitung jasa giro metode saldo terendah dan rata rata
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan cara menerapkan kerahasian
bank
Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai cara menerapkan kerahasian bank
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi cara menerapkan kerahasian bank atau bagian yang belum
dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.
 Guru memeriksa catatan siswa dan mengingatkan siswa untuk minggu
depan ada UH 1

Pertemuan 6 (3 JP) Tanggal 8 Februari 2018, ( Ulangan Harian I)


No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai cara menerapkan kerahasian bank
2Kegiatan Inti 90 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai kegiatan usaha bank umum dan bank perkreditan rakyat
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan berbagai kegiatan usaha bank
umum dan bank perkreditan rakyat
Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai jasa simpanan giro
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi jasa simpanan giro atau bagian yang belum dimengerti.
 Guru memberi waktu pada siswa untuk mempersiapkan perlengkapan
ujian dan waktu membaca ulang pelajaran yg bersangkutan
 Guru mempersiapkan soal tentang UH I untuk dibagikan
 Guru menjelakan metode UH I yg akan dilaksakan, dimulai dari
waktunya, dan ketentuan lainnya (waktunya 50 menit)
3Penutup 30 menit
 Peserta didik memperiksa kembali jawaban sebelum di kumpulakan
 Peserta didik mengumpulkan sesuai dengan waktu yg di berikan
 Guru membahas hasil UH I secara bersama dengan siswa
 Guru membahas pelajaran untuk minggu depan supaya siswa bisa
mengetahui kegiatan atau pelajaran berikutnya
 Mengucapkan salam pertanda berakhirnya pelajaran.

J. Penilaian Pembelajaran, Remedial dan Pengayaan


Aspek yang dinilai
Cara penilaian:
1. Teslisan atau Tertulis
2. Observasi kelas
3. Portofolio

Penilaian Pembelajaran

No Soal Analisi Pembagian Skor (1- KKM


Soal nilai/Soal 5)
1 Tulis dan jelaskan pengertian simpanan Mudah 10 70
giro?

2 Tulis dan jelaskan sarana penarikan Sedang 10 70


simpanan giro?
3 Tulis dan jelaskan syarat hokum dalam Sulit 20 70
pengunaan cek
4 Tulis dan jelaskan syarat hokum dalam Sulit 20 70
pengunaan bilyet giro
5 Transaksi yg terjadi pada rekening giro Tn. Sulit 40
Ray selama bulan juni 2017
Nama nasabah : Tn. Ray
No rekening : 10.04.2017.10
- 1 Setoran Tunai Rp
10.000.000
- 7 Tarik dengan Cek Rp
2.000.000
- 10 Setor tunai Rp
5.000.000
- 14 Setor kliring Rp
12.000.000
- 16 Tarik Dengan BG Rp
5.000.000
- 18 Transfer keluar beban rek Rp
3.000.000
- 23 Kliring masuk Rp
7.000.000
- 29 setor dengan cek Bank Lain Rp
8.000.000

Keterangan
Skor 5 (85-100) : Sangat jelas
Skor 4 (75-84) : Jelas
Skor 3 (67-74) : Cukup jelas
Skor 4 (50-66) : Kurang jelas
Skor 5 (0-49) : Tidak jelas

Program Remedial
No. Jenis Tugas Kegiatan Nilai KKM
1. Kelompok Diskusi tentang Simpanan Jasa Giro
2. Individu  Mengerjakan soal yang telah disiapkan
guru
 Mengulang soal yang diangap sulit waktu
UH 1

Program Pengayaan
No. Jenis Tugas Kegiatan Nilai KKM
1. Kelompok -
2. Individu Merangkum materi yang berkaitan
dengan Simpanan Dana Giro.

Mengetahui Batam, Januari 2018


Kepala Sekolah SMKIT DBS 01 Guru Mapel Akuntansi
BATAM

Omas Sauludin, S.Pd., M.M. Rozi Gusrianto, S.Pd.


NIY. 200307010157 NIY. 201708010464
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah : SMKIT Darussalam Boarding School 01 BATAM


Kelas/Semester : X / Genab
Mata Pelajaran : Perbankan Dasar
kok : Simpanan Dana Tabungan
Kompt. Keahlian : Akuntansi Keuangan
Alokasi Waktu : 18 x 45 Menit

A. Kompetensi Inti
1. Pengetahuan
KI 3 Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang pengetahuan faktual,
konseptual, operasional dasar, dan metakognitif sesuai dengan bidang dan lingkup kerja Akuntansi
dan Keuangan Lembaga pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan dengan ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam konteks pengembangan potensi diri
sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan
internasional.
2. Keterampilan
KI 4 Melaksanakan tugas spesifik dengan menggunakan alat, informasi, dan prosedur kerja yang
lazim dilakukan serta memecahkan masalah sesuai dengan bidang Akuntansi dan Keuangan
Lembaga. Menampilkan kinerja di bawah bimbingan dengan mutu dan kuantitas yang terukur
sesuai dengan standar kompetensi kerja.
Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif, produktif,
kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam ranah abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di
bawah pengawasan langsung.
B. Kompetensi Dasar
1. KD pada KI pengetahuan
3.8 Menganalisis simpanan dana tabungan
2. KD pada KI keterampilan
4.8 Menghitung simpanan dana tabungan

C. Indikator Pencapaian Kompetensi


1. Indikator KD pada KI pengetahuan
3.8.1 Menelaah pengertian simpanan dana tabungan
3.8.2 Menganalisis sarana penarikan simpanan tabungan
3.8.3 Menguraikan persyratan bagi penabung
3.8.4 Merinci perbedaan tabungan konvensional dengan tabungan syariah
3.8.5 Menganalisis macam macam tabungan
3.8.6 Melatih menghitung bunga tabungan

2. Indikator KD pada KI keterampilan


4.8.1 Menyalin pengertian simpanan dana tabungan
4.8.2 Melakukan sarana penarikan simpanan tabungan
4.8.3 Menerapkan persyratan bagi penabung
4.8.4 Melaksanakan perbedaan tabungan konvensional dengan tabungan syariah
4.8.5 Menunjukan macam macam tabungan
4.8.6 Melakukan perhitungan bunga tabungan

D. Tujuan Pembelajaran
Melalui kegiatan ini siswa mampu :
1. Menjelaskan pembahasan simpanan dana tabungan
2. Menjelaskan sarana penarikan simpanan tabungan
3. Menjelaskan persyratan bagi penabung
4. Menjelaskan perbedaan tabungan konvensional dengan tabungan syariah
5. Menjelaskan macam macam tabungan
6. Menjelaskan perhitungan bunga tabungan

E. Materi Pembelajaran

Tabungan
Menurut Undang-undang No 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan, Tabungan adalah
simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati,
tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan /atau alat lainnya yang dipersamakan
dengan itu. Tabungan juga adalah bagian dari pendapatan yang tidak dikonsumsikan. Jadi
disimpan dan akan digunakan di masa yang akan datang.
Pendapatan merupakan faktor utama yang terpenting untuk menentukan konsumsi dan
tabungan. Keluarga-keluarga yang tidak mampu akan membelanjakan sebagian besar bahkan
seluruh pendapatannya untuk keperluan hidupnya. Individu yang berpendapatan tinggi akan
melakukan tabungan lebih besar daripada individu yang berpendapatan rendah. Tabungan dapat
dilakukan oleh seorang pedagang dengan membeli barang dagangan dengan maksud untuk
mengkonsumsi lebih besar pada waktu yang akan datang.
Usaha perbankan dalam usaha meningkatkan pengerahan sumber dana dari masyarakat
salah satunya dengan menghimpun sumber dana tabungan. Tabungan adalah simpanan pihak
ketiga pada bank yang penarikannya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu. Biasanya
suatu bank menyelenggarakan suatu produk tabungan lebih dari satu jenis.
Dengan diperkenalkannya tabungan pada masyarakat hal ini akan memupuk kesadaran
masyarakat seberapa jauh pentingnya tabungan, karena dengan menabung berarti kita menyimpan
uang di bank dengan rasa aman, yang dapat diambil setiap saat apabila kita membutuhkannya juga
dengan menabung berarti menyisihkan sebagian dari pendapatan yang tidak dipakai untuk
konsumsi.
Pengertian tabungan menurut Undang-undang no. 10 tahun 1998 tentang perbankan atas
undang-undang no. 7 tahun 1992 tentang perbankan pasal 1 ayat 9: “Merupakan simpanan yang
penarikannya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati tetapi tidak dapat ditarik
dengan cek atau alat yang diupersamakan dengan itu”.
Menurut Dumairy dalam bukunya yang berjudul “Perekonomian Indonesia” (1996:125)
tabungan adalah bagian dari “pendapatan dapat dibelanjakan” (disposable income) yang tidak
dikeluarkan untuk konsumsi.Pengertian tabungan menurut Thomas Suyatno (2001:71) Tabungan
adalah “Simpanan dari pihak ketiga kepada bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan
menurut syarat-syarat tertentu”.
Sedangkan menurut Mandala Manarung dan Pratama Rahardja dalam bukunya yang berjudul
“Uang Perbankan, dan Ekonomi Moneter”, tabungan merupakan simpanan pihak ketiga yang
penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat
ditarik dengan cek, bilyet giro dan alat laiinya yang dipersamakan dengan itu.
Pedapat lain mengungkapkan bahwa, tabungan juga didefinisikan sebagai menyimpan uang
di Bank. Bank akan menyimpan uang dalam periode tertentu sesuai keinginan. Kreditur bebas
mengambilnya kapan saja baik itu secara langsung di teller atau melalui transaksi elektronis. Nilai
dalam tabungan bisa cepat habis karena sering diambil untuk keperluan.
Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa tabungan adalah sebagian dari pendapatan
yang tidak digunakan untuk belanja atau tidak digunakan untuk kegiatan konsumsi. Tabungan
merupakan investasi paling mudah, paling tidak beresiko, namun memiliki keuntungan yang
sangat sedikit. Ada resiko, ada profit. Jika resiko kecil, profit juga kecil.Mungkin malah berkurang
karena mendapatkan segudang fasilitas dari Bank yang memudahkan dalam mengatur uang.

Tujuan Menabung dibank adalah :


1) Penyisihan sebagian hasil pendapatan nasabah untuk dikumpulkan sebagai cadangan hari
depan
2) Sebagai alat untuk melakukan transaksi bisnis atau usaha individu / kelompok
Perbedaan Tabungan Bank Konvensional dan Bank Syariah

 Konvensional
Merupakan simpanan pada bank yang penarikan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan
oleh bank. Penarikan tabungan dilakukan menggunakan buku tabungan, slip penarikan, kuitansi,
atau Kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Kepada pemegang rekening tabungan akan diberikan
bunga tabungan yang merupakan jasa atas tabungannya. Sama seperti halnya dengan rekening giro,
besarnya bunga tabungan tergantung dari bank yang bersangkutan. Dalam praktiknya bunga
tabungan lebih besar dari jasa giro.
 Syariah
Bank syariah menerapkan dua akad tabungan, yaitu wadi’ahdan mudharabah. Tabungan
yang menerapkan akad wadi’ahmengikuti prinsip wadi’ah yad adh-dhamanah, artinya tabungan
ini tidak mendapatkan keuntungan karena ia titipan dan dapat diambil sewaktu-waktu dengan
menggunakan buku tabungan atau media lain seperti kartu ATM. Tabungan yang berdasarkan
akadwadi’ah ini tidak mendapatkan keuntungan dari bank karena sifatnya titipan. Akan tetapi,
bank tidak dilarang jika ingin memberikan semacam bonus/hadiah. Tabungan yangmenerapkan
akad mudharabah mengikuti prinsip-prinsip akad mudharabah. Diantaranya sebagai berikut,
 keuntungan dari dana yang digunakan harus dibagi antara shahibul maal (dalam hal ini nasabah)
dan mudharib (dalam hal ini bank).
 adanya tenggang waktu antara dana yang diberikan dan pembagian keuntungan, karena untuk
melakukan investasi dengan memutar dana itu diperlukan waktu yang cukup.
 Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI tentang Tabungan adalah sebagai berikut

Tabungan ada dua jenis:


 Tabungan yang tidak dibenarkan secara syari’ah, yaitu tabungan yang berdasarkan perhitungan
bunga.
 b. Tabungan yang dibenarkan, yaitu tabungan yang berdasarkan
prinsip Mudharabah dan Wadi’ah.
Ketentuan Umum Tabungan berdasarkan Mudharabah:
 Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul mal atau pemilik dana, dan bank bertindak
sebagai mudharib atau pengelola dana.
 Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak
bertentangan dengan prinsip syari’ah dan mengembangkannya, termasuk di dalamnya mudharabah
dengan pihak lain.
 Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya, dalam bentuk tunai dan bukan piutang.
 Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam akad
pembukaan rekening.
 Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional tabungan dengan menggunakan nisbah
keuntungan yang menjadi haknya.
 Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang
bersangkutan.
Ketentuan Umum Tabungan berdasarkan Wadi’ah :
 Bersifat simpanan.
 Simpanan bisa diambil kapan saja (on call) atau berdasarkan kesepakatan.
 Tidak ada imbalan yang disyaratkan, kecuali dalam bentuk pemberian (‘athaya) yang bersifat
sukarela dari pihak bank.

Beda Tabungan Bank Konvensional dengan Bank Syariah

Berikut perbedaan antara Tabungan Bank Konvensional dengan Bank Syariah. Mungkin ini
bisa menjadi sebuah jawaban yang bisa warga Nagan jadikan referensi ketika ingin mengetahui
bagaimana prinsip-prinsip dan perbedaan yang ada diantara dua jenis bank yang saling bertolak
belakang ini.dari ruang konsultasi bank di website Okezone.com. berikut jawaban yang diberikan
oleh S Iman Santoso Consumer Portfolio Management Division Head Bank NISP.
Untuk menjawab "manakah yang lebih menguntungkan", kita lihat perbedaan tujuan dari
bank konvensional dengan bank syariah. Bank konvensional didirikan untuk mendapatkan
keuntungan material sebesar-besarnya, sedangkan bank syariah didirikan untuk memberikan
kesejahteraan material dan spiritual. Kesejahteraan material dan spiritual tersebut didapat melalui
usaha pengumpulan dan penyaluran dana yang halal. Artinya, bank syariah tidak akan
menyalurkan dana untuk usaha pabrik minuman keras atau usaha lain yang tidak bisa dijamin
bahwa hasilnya berasal dari kegiatan yang halal.
Karena itu dapat dikatakan bahwa konsep keuntungan pada bank konvensional lebih
cenderung, berfokus pada sudut keuntungan materi, sedangkan konsep keuntungan pada bank
syariah harus memperhatikan keuntungan dari sudut duniawi dan ukhrawi (akhirat).
Jika memang tujuan nasabah sesuai dengan tujuan bank syariah, maka secara prinsip tidak
ada kekurangan dari menabung di bank syariah karena adanya keseimbangan antara duniawi dan
ukhrawi. Namun apabila tujuan nasabah lebih ke aspek-aspek material, maka bisa jadi benefit yang
diperoleh akan kurang sesuai dengan harapan.Untuk lebih jelasnya, kita coba bandingkan antara
tabungan di bank konvensional dengan tabungan syariah yang menerapkan prinsip mudharabah
atau bagi hasil, sebagai berikut:

Tabungan Konvensional:
 Bunga sudah ditentukan besarnya terlebih dahulu oleh bank tanpa memperhitungkan apakah bank
sedang mendapatkan keuntungan atau tidak.
 Besarnya bunga adalah tetap baik bank sedang rugi atau laba. Walaupun ekonomi sedang booming
dan bank sedang mendapatkan banyak laba, akan tetapi tetap bunga yang diberikan kepada
nasabah tidak bertambah.

Tabungan Syariah (dengan prinsip bagi hasil):

 Tidak menawarkan bunga tetapi bagi hasil dan yang ditetapkan terlebih dahulu adalah rasio
(nisbah) antara bagian keuntungan yang didapat nasabah dan bagian keuntungan yang didapat oleh
bank, misalnya 60:40 artinya 60 persen keuntungan bagi nasabah dan 40 persen keuntungan bagi
bank. Karena itu bagian keuntungan yang diterima nasabah tergantung dari keuntungan yang
didapat oleh bank.
 Besarnya keuntungan yang diterima oleh nasabah akan meningkat apabila keuntungan bank
sedang booming.
 Di bank syariah tidak berlaku sistem bunga karena bunga adalah riba, dengan kata lain bank
syariah menghindari adanya pihak yang dizalimi ataupun menzalimi.
 Misalnya kita lihat nasabah tabungan dengan bunga (bank konvensional), pada saat krisis ekonomi
maka nasabah tabungan mendapatkan bunga tinggi dan bank menjadi pihak yang "dizalimi" karena
bank sedang sangat merugi tetapi harus membayar bunga tinggi kepada nasabah.
Macam Macam Tabungan

1. Sumber Tabungan Dalam Negeri


Jumlah tabungan yang tersedia di suatu negara secara sederhana merupakan hasil
akumulasi atas jumlah tabungan domestik dan tabungan luar negeri. Tabungan domestik dapat
dibagi menjadi dua komponen, yaitu tabungan pemerintah dan tabungan swasta. Tabungan
pemerintah itu sendiri terdiri dari tabungan anggaran yang diperoleh dari surplus penerimaan
pemerintah atas konsumsinya, di mana konsumsi pemerintah dapat didefinisikan sebagai
keseluruhan pengeluaran pemerintah dalam bentuk uang plus semua aliran modal keluar (capital
outflows) untuk pembelian peralatan-peralatan militer.
Dalam menganalisis komponen-komponen tabungan, perlu untuk dicatat bahwa bisa saja
pemerintah suatu negara mempunyai tingkat tabungan yang positif meskipun anggaran pemerintah
secara keseluruhannya sedang defisit, karena di dalam anggaran pengeluaran tersebut termasuk
juga aliran modal keluar, atau investasi, yang menggambarkan penggunaan-penggunaan tabungan
pemerintah. Di sisi lain, tabungan swasta domestik juga diperoleh dari dua sumber, yaitu tabungan
perusahaan dan tabungan rumah tangga. Tabungan perusahaan dapat didefinisikan sebagai laba
yang ditahan oleh perusahaan-perusahaan (pendapatan perusahaan setelah pajak dikurangi dividen
yang dibayarkan kepada para pemegang saham). Tabungan rumah tangga adalah bagian dari
pendapatan rumah tangga yang tidak dibelanjakan. Tabungan ini berasal dari dari perusahaan-
perusahaan bukan korporasi (usaha-usaha pribadi, partnership, dan bentuk-bentuk usaha bisnis no
korporasi lainnya).
Tabungan luar negeri juga berasal dari dua sumber utama, yaitu tabungan pemerintah
asing atau bantuan luar negeri dan tabungan swasta asing, terutama oleh perusahaan-perusahaan
transnasional dan pinjaman komersial eksternal. Sumber tabungan yang diandalkan berbeda-beda
antar NSB, tidak saja tergantung pada faktor-faktor seperti tingkat pendapatan per kapita, kekayaan
sumber daya alam, dan komposisi sektoral GDP, namun juga tergantung pada sifat dari kebijakan-
kebijakan mobilisasi tabungan yang dianut oleh pemerintah masing-masing NSB tersebut.

2. Tabungan Domestik
Kebijakan-kebijakan pemerintah juga mempunyai dampak yang cukup besar bagi
kemampuan NSB dalam memobilisasi tabungan domestik mereka. Di beberapa negara, yang
pemerintahannya secara aktif berusaha menetapkan kebijakan fiskal dan moneter untuk
mendorong pertumbuhan tabungan dengan menggunakan instrumen-instrumen kebijakan yang
cocok untuk mencapai tujuan tersebut. Selain itu, banyak juga pemerintah di beberapa NSB yang
memperhatikan peningkatan tabungan domestik mereka, tetapi masih mengandalkan pada
instrumen-instrumen kebijakan yang kurang tepat dalam memobilisasi tabungan. Di sisi lain, pada
sekelompok negara tertentu , kebijakan fiskal dan moneter dari pemerintah nampaknya dirancang
memang tanpa memperhatikan implikasinya terhadap tabungan domestik. Seperti kita ketahui,
pada umumnya serangkaian kebijakan pemerintah akan mempunyai respons positif terhadap
tabungan di kelompok negara A, namun respons tersebut mungkin saja akan berbeda jika
kebijakan yang sama diterapkan di negara B, dan seterusnya.
3. Tabungan Pemerintah
Tabungan pemerintah merupakan kelebihan pendapatan pemerintah dari sektor pajak dan
sumber- sumber lainnya, setelah pendapatan ini digunakan untuk pengeluaran rutin. Pendapatan ini
diperoleh terutama dari sektor pajak. Pajak sebagai pendapatan pemerintah ini memiliki dua jenis
pejak yang dipungut yakni pajak langsung (direct taxes) dan pajak tidak langsung (indirect taxes).
Pajak langsung ini merupakan pajak yang dikenakan atas pendapatan yang diterima atau kekayaan
yang dimilki. Sedangkan pajak tidak langsung merupakan pajak yang dikenakan kepada para
pembeli yang menggunakan barang dan jasa yang ada dalam masyarakat.
Untuk memaksimalkan pendapatan dari sektor pajak demi pertumbuhan ekonomi suatu
negara perlu dilakukan beberapa langkah strategi, langkah mempercepat tabungan pemerintah ini
dilakaukan dengan 2 langkah: (i) mencari sumber penerimaan pajak yang baru, dan (ii)
memperbaiki administrasi pemungutan pajak.

4. Sumber Penerimaan Pajak Baru


Sumber penerimman pajak baru ini salah satunya bisa diperoleh dari peningkatan
penerimaan pajak dari sektor pertanian. Untuk mencapai tujuan dari sektor pajak ini untuk
mencapai tujuan ini bisa dilakukan dengan dua pilihan: yamg pertama dengan menggunakan pajak
tanah yang dimiliki. Tanah-tanah ypertanian dapat dipajak tanpa memendang apakah tanah akan
ditanami atau tidak. Cara yang kedua, adalah penggenakan pajak atas hasil dari tanah tersebut.

5. Memperbaiki Administrasi Pemungutan Pajak


Cara yang bisa ditempuh untuk mempertinggi efisiensi administrasi pemungutan pajak,
kegiatan pengumpulannya haruslah disesuaikan dengan keadaan setempat, serta perlu diadakan
koordinasi antara perumusan struktur pajak dan administrasi pemungutan pajak.

6. Tabungan Swasta
Tabungan Swasta adalah jumlah pendapatan yang tersisa setelah rumah tangga
membayar pajak dan konsumsi mereka, dijelaskan dengan persamaan :
Tabungan swasta = Y – C
Tabungan swasta terdiri atas tabungan, yaitu tabungan perusahaan (corporate saving) dan
tabungan rumah tangga (household saving). Di Negara-negara berkembang, tabungan swasta
domestik mempunyai peranan yang besar dalam mendukung pembentukan modal, dimana
utamanya berasal dari tabungan rumah tangga, selain dari tabungan perusahaan. Sumber tabungan
swasta domestik ini diperoleh dari dua tabungan yakni berasal dari (i) tabungan perusahaan dan (ii)
tabungan rumah tangga.

7. Tabungan Perusahan
Tabungan perusahaan adalah laba yang ditahan oleh perusahaan-perusahaan (pendapatan
perusahaan setelah pajak dikurangi deviden yang dibayarkan kepada pemegang saham).

8. Tabungan rumah tangga


Tabungan rumah tangga adalah bagian dari pendapatn rumah tangga yang tidak
dibelanjakan. Tabungan ini meliputi tabungan yang berasal dari hasil perusahan-perusahaan bukan
korporasi (usaha-usaha pribadi, partnership, dan bentuk-bentuk usaha bisnis non korporasi
lainnya).
F. Model dan Metode :
1. Metode pembelajaran project based learning ( PJBL )

G. Media, Alat/Bahan Pembelajaran


1. Media
a. Papan tulis
b. Spidol
c. Pengaris
2. Alat/Bahan
a. LCD/OHP.
b. Komputer/Laptop.
H. Sumber Belajar
1. Buku Referensi
2. Elektronik
3. Alam lingkungan
4. SOP DU/DI
5. Modul Dasar Dasar Perbankan, Karangan Ernawati

I. Langkah Langkah Pembelajaran

Pertemuan 1 (3 JP) Tanggal 4 Januari 2018


No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai Jasa simpanan giro
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai pengertian simpanan dana tabungan
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan sarana penarikan simpanan
dana tabungan
Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai sarana penarikan simpanan dana tabungan
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi sarana penarikan simpanan dana tabungan atau bagian
yang belum dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.
 Mengingatkan kembali pelajaran besoknya tentang persyaratan bagi
penabung
 Salam

Pertemuan 2 (3 JP) Tanggal 11 Januari 2018


No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15 menit

 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan


menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai persyaratan bagi penabung
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan
pengetahuannya tentangpersyaratan bagi penabung
 Peserta didik diminta untuk menguraikan persyaratan bagi penabung
Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai persyaratan bagi penabung
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi persyaratan bagi penabung atau bagian yang belum
dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.
 Mencek kembali catatan siswa yang menulis
 Guru memberi tahu pelajaran berikutnya tentang perbedaan tabungan
konvensional dengan tabungan syariah
 Salam

Pertemuan 3 (3 JP) Tanggal 18 Januari 2018


No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu persyaratan bagi penabung
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai perbedaan tabungan konvensional dengan tabungan syariah
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan berbagai perbedaan tabungan
konvensional dengan tabungan syariah
Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai perbedaan tabungan konvensional dengan tabungan syariah
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi perbedaan tabungan konvensional dengan tabungan
syariah atau bagian yang belum dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.
 Guru Mencek kembali tugas yang di kerjakan siswa
 Guru memberi tahu pelajaran berikutnya tentang macam macam
tabungan
 Salam

Pertemuan 4 (3 JP) 25 Januari 2018


No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai perbedaan tabungan konvensional dengan
tabungan syariah
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai macam macam tabungan
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan macam macam tabungan
Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai macam macam tabungan
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi macam macam tabungan atau bagian yang belum
dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.
 Guru Melihat kembali tugas siswa yg belum mengerti macam macam
tabungan
 Guru memberi tahu pelajaran berikutnya tentang tata cara perhitungan
bunga tabungan
 Salam

Pertemuan 5 (3 JP) Tanggal 1 Februari 2018


No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai macam macam tabungan
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya mengenai tata
cara perhitungan bunga tabungan
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan tata cara perhitungan bunga
tabungan
Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai tata cara perhitungan bunga tabungan
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi tata cara perhitungan bunga tabunganatau bagian yang
belum dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.
 Guru memeriksa catatan siswa dan mengingatkan siswa untuk minggu
depan ada UH 1
Pertemuan 6 (3 JP) Tanggal 8 Februari 2018, ( Ulangan Harian I)
No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai simpanan dana tabungan
2Kegiatan Inti 90 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai simpanan dana tabungan
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan simpanan dana tabungan
Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai simpanan dana tabungan
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi simpanan dana tabungan atau bagian yang belum
dimengerti.
 Guru memberi waktu pada siswa untuk mempersiapkan perlengkapan
ujian dan waktu membaca ulang pelajaran yg bersangkutan
 Guru mempersiapkan soal tentang UH I untuk dibagikan
 Guru menjelakan metode UH I yg akan dilaksakan, dimulai dari
waktunya, dan ketentuan lainnya (waktunya 45 menit)
3Penutup 30 menit
 Peserta didik memperiksa kembali jawaban sebelum di kumpulakan
 Peserta didik mengumpulkan sesuai dengan waktu yg di berikan
 Guru membahas hasil UH I secara bersama dengan siswa
 Guru membahas pelajaran untuk minggu depan supaya siswa bisa
mengetahui kegiatan atau pelajaran berikutnya
 Mengucapkan salam pertanda berakhirnya pelajaran.

J. Penilaian Pembelajaran, Remedial dan Pengayaan


Aspek yang dinilai
Cara penilaian:
1. Teslisan atau Tertulis
2. Observasi kelas
3. Portofolio

Penilaian Pembelajaran
No Soal Waktu Analisi Pembagian Skor KKM
(45) Soal nilai/Soal
1 Tulis dan jelaskan pengertian 3 Mudah 10 70
simpanan dana tabungan?

2 Tulis dan jelaskan sarana penarikan 5 Sedang 15 70


simpanan dana tabungan?
3 Tulis dan jelaskan persyaratan bagi 5 Sedang 15 70
penabung?
4 Tulis dan jelaskan perbedaan tabungan 7 Sulit 15 70
konvensional dan tabungan syariah?
5 Tulis dan jelaskan macam macam 5 Sedang 15
tabungan?
6 Transaksi yg terjadi pada rekening 20 Sulit 30
giro Tn. Ray selama bulan juni 2017
Nama nasabah : Tn. Ray
No rekening : 10.04.2017.10
- 1 Setoran Tunai Rp
10.000.000
- 7 Tarik dengan Cek Rp
2.000.000
- 10 Setor tunai Rp
5.000.000
- 14 Setor kliring Rp
12.000.000
- 16 Tarik Dengan BG Rp
5.000.000
- 18 Transfer keluar beban Rp
3.000.000
- 23 Kliring masuk Rp
7.000.000
- 29 setor dengan cek Rp
8.000.000

Keterangan
Skor 5 (85-100) : Sangat jelas
Skor 4 (75-84) : Jelas
Skor 3 (67-74) : Cukup jelas
Skor 4 (50-66) : Kurang jelas
Skor 5 (0-49) : Tidak jelas

Program Remedial
No. Jenis Tugas Kegiatan Nilai KKM
1. Kelompok Diskusi tentang Simpanan Dana Tabungan
2. Individu  Mengerjakan soal yang telah disiapkan
guru
 Mengulang soal yang diangap sulit waktu
UH 1

Program Pengayaan
No. Jenis Tugas Kegiatan Nilai KKM
1. Kelompok -
2. Individu Merangkum materi yang berkaitan
dengan Simpanan Dana tabungan.

Mengetahui Batam, Januari 2018


Kepala Sekolah SMKIT DBS 01 Guru Mapel Akuntansi
BATAM

Omas Sauludin, S.Pd., M.M. Rozi Gusrianto, S.Pd.


NIY. 200307010157 NIY. 201708010464

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah : SMKIT Darussalam Boarding School 01 BATAM


Kelas/Semester : X / Genab
Mata Pelajaran : Perbankan Dasar
kok : Simpanan Dana Deposito
Kompt. Keahlian : Akuntansi Keuangan
Alokasi Waktu : 18 x 45 Menit

A. Kompetensi Inti
1. Pengetahuan
KI 3 Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang pengetahuan faktual,
konseptual, operasional dasar, dan metakognitif sesuai dengan bidang dan lingkup kerja Akuntansi
dan Keuangan Lembaga pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan dengan ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam konteks pengembangan potensi diri
sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan
internasional.
2. Keterampilan
KI 4 Melaksanakan tugas spesifik dengan menggunakan alat, informasi, dan prosedur kerja yang
lazim dilakukan serta memecahkan masalah sesuai dengan bidang Akuntansi dan Keuangan
Lembaga. Menampilkan kinerja di bawah bimbingan dengan mutu dan kuantitas yang terukur
sesuai dengan standar kompetensi kerja.
Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif, produktif,
kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam ranah abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di
bawah pengawasan langsung.
B. Kompetensi Dasar
1. KD pada KI pengetahuan
3.9 Menganalisis simpanan dana deposito
2. KD pada KI keterampilan
4.9 Menghitung simpanan dana deposito

C. Indikator Pencapaian Kompetensi


1. Indikator KD pada KI pengetahuan
3.9.1 Menelaah pengertian simpanan dana deposito
3.9.2 Membeda-bedakan jenis jenis simpanan dana deposito
3.9.3 Menelaah ciri ciri simpanan dana deposito
3.9.4 Menata fungsi simpanan dana deposito
3.9.5 Mengurai Manfaat simpanan dana deposito
3.9.6 Melatih menghitung bunga simpanan dana deposito

2. Indikator KD pada KI keterampilan


4.9.1 Kembali membuat pengertian simpanan dana deposito
4.9.2 Menunjukan jenis jenis simpanan dana deposito
4.9.3 Merumuskan ciri ciri simpanan dana depasito
4.9.4 Melaksanakan fungsi simpanan dana deposito
4.9.5 Menunjukan Manfaat simpanan dana deposito
4.9.6 Menerapkan cara menghitung bunga simpanan dana deposito

D. Tujuan Pembelajaran
Melalui kegiatan ini siswa mampu :
1. Menjelaskan pengertian simpanan dana deposito
2. Menjelaskan jenis jenis simpanan dana deposito
3. Menjelaskan ciri ciri simpanan dana deposito
4. Menjelaskan fungsi simpanan dana deposito
5. Menjelaskan Manfaat simpanan dana deposito
6. Menjelaskan cara menghitung bunga simpanan dana deposito

E. Materi Pembelajaran
Pengertian Deposito
Deposito adalah produk simpanan di bank yang penyetorannya maupun penarikannya
hanya bisa dilakukan pada waktu tertentu saja. Tidak seperti tabungan yang bisa ditarik kapan saja,
maka dalam deposito tidaklah demikian. Kalau kamu memaksa untuk menarik uang atau dana
tersebut sebelum waktu jatuh tempo maka biasanya kan dikenakan potongan.
Bunga deposito umumnya lebih tinggi jika dibandingkan dengan bunga tabungan. Ini
karena uang kamu akan dikunci selama jangka waktu tertentu, sehingga pihak bank merasa perlu
untuk menjanjikan suku bunga yang lebih tinggi dibanding suku bunga pada rekening tabungan.
Hal inilah yang menjadi daya tarik dari deposito.

Ciri Khas Deposito


Hal lain yang perlu Anda ketahui dari deposito adalah ciri-ciri deposito. Hal ini diperlukan
untuk mengenali manfaat serta resiko yang mungkin terjadi ketika Anda nanti sudah memutuskan
untuk berinvestasi pada produk jenis ini.
Berikut ini adalah ciri khas deposito yang harus Anda ketahui :

 Minimal SetoranPertama, pada umumnya, ketika Anda membuka rekening di Bank, maka ada
batas setoran minimal yang harus dibayar pertama kali. Begitu juga dengan deposito, ada setoran
minimal yang harus dibayarkan. Perbedaan dengan tabungan biasa, deposito mensyaratkan setoran
minimal berkisar Rp5 juta. Akan tetapi setiap bank mempunyai kebijakan masing-masing.
 Jangka Waktu Simpanan Seperti yang telah diuraikan di awal tadi, deposito memiliki jangka
waktu simpanan. Dan simpanan tidak bisa diambil sebelum jangka waktu tersebut. Biasanya
nasabah akan diberikan beberapa opsi untuk jangka waktu ini mulai dari 1, 3, 6, 12 atau 24 bulan.
Mengenai jangka waktu ini sangat penting untuk diperhatikan karena ini akan menentukan
bagaimana Anda menggunakan simpanan tersebut.
Misalnya, ketika Anda memfungsikan simpanan deposito ini sebagai dana darurat maka Anda
jangan memilih jangka waktu 24 bulan. Karena bila sewaktu-waktu anda membutuhkan akan sulit
untuk mengambil simpanan tersebut (ada biaya penalti). Maka dari itu jika simpanan deposito ini
anda fungsikan sebagai dana darurat, maka pilih jangka waktu yang paling pendek misalnya 1
bulan.
Deposito ini sangat cocok bagi Anda yang kesulitan untuk menabung. Dengan memanfaatkan
deposito maka Anda akan kesulitan jika ingin ‘boros’ karena ada aturan jangka waktu tersebut dan
tidak bisa mengambil simpanan seenaknya.

 Pencairan Dana Berhubungan dengan jangka waktu seperti dijelaskan di atas, pencairan dana
deposito tidak bisa sembarangan seperti tabungan. Setelah Anda menentukan atas pilihan jangka
waktu yang telah ditawarkan, maka pencairan dana deposito harus sesuai dengan jangka waktu
tersebut. Kalau tidak, Anda akan dikenakan sejumlah denda penalti yang membuat keuntungan
menjadi tidak maksimal.

 Bunga Deposito Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa bunga deposito relatif lebih
tinggi dibanding tabungan. Hal tersebut sangat masuk akal karena adanya limitasi jangka waktu
yang diberikan. Dan hal inilah yang dimaksudkan bahwa deposito merupakan produk investasi
yang menguntungkan selain obligasi, saham dan emas.
Meskipun demikian, hal yang perlu diingat adalah suku bunga yang ditetapkan. Untuk itu bunga
harus disesuaikan dengan kebijakan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Pasalnya, besaran suku
bunga tertentu ditetapkan dan dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan.

 Risiko Rendah Deposito dikatakan menjadi produk simpanan yang memiliki risiko rendah karena
deposito memiliki jaminan LPS dengan syarat tertentu. Dan bank yang Anda pilih merupakan bank
yang tercatat sebagai anggota LPS. Jaminan dari LPS tersebut berlaku jika deposito yang
dijaminkan kurang dari Rp2 miliar dan suku bunganya maksimal 7,5%. Oleh karena itu, jika Anda
mempunyai deposito yang nilainya lebih dari Rp2 miliar atau bunganya melewati persentase, maka
LPS tidak akan menjamin dana deposito milik Anda.

 Deposito Sebagai Jaminan Mungkin untuk poin yang ini banyak orang yang belum mengetahui.
Ya, deposito ternyata tergolong dalam salah satu aset yang bisa jadi jaminan untuk pinjaman ke
bank. Namun, tidak semua bank mau dan bersedia menerima jaminan dalam bentuk deposito ini.
Meskipun demikian, jaminan deposito ini bisa menjadi alternatif jaminan selain aset yang biasa
kita ketahui seperti tanah atau rumah.

 Produk Kena PajakDeposito merupakan produk kena pajak. Jadi, keuntungan yang Anda terima
terlebih dahulu harus berurusan dengan potongan pajak yang besarnya sampai 20 persen.
Meskipun begitu, masih ada 80 persen keuntungan yang bisa Anda terima kan?

 Deposito Berjangka (Time Deposit)Deposito berjangka adalah simpanan yang penarikannya


hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu sesuai tanggal yang duiperjanjikan antara deposan dan
bank. Deposito berjangka merupakan deposito yang diterbitkan dengan jenis jangka waktu
tertentu. Jangka waktu deposito berjangka biasanya bervariasi mulai dari 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan,
12 bulan s/d 24 bulan. Deposito berjangka diterbitkan atas nama baik perorangan maupun
lembaga. Artinya di dalam bilyet deposito tercantum nama seseorang atau lembaga sipemilik
deposito berjangka. Penarikan bunga deposito berjangka dapat dilakukan secara tunai maupun
pemindahbukuan dan setiap bunga deposito dikenakan pajak dari jumlah bunga yang diterimanya.
Untuk menarik minat masyarakat, pihak bank dapat memberikan berbagai insentif seperti hadiah
atau ransangan. Insentif biasanya diberikan untuk jumlah nominal yang besar baik berupa bunga
khusus maupun insentif seperti hadiah atau cendera mata lainnya. Insentif juga dapat diberikan
kepada nasabah yang loyal terhadap bank tersebut. Artinya deposito berjangka dengan nominal
besar dan terus dipertahankan untuk jangka waktu yang relatif lama.

 Deposito Automatic Roll OverDeposito automatic roll over adalah suatu bentuk lain dari deposito
berjangka dimana simpanan masyarakat (dalam bentuk deposito) yang telah jatuh tempo sesuai
dengan jangka waktu yang diperjanjikan, namun pihak deposan belum mengambilnya maka secara
otomatis terhadap simpanan tadi dilakukan perpanjangan waktu tanpa menunggu persetujuan dari
deposan.
 Sertifikat DepositoSertifikat deposito merupakan hasil pengembangan dari deposito berjangka.
Sertifikat deposito adalah deposito berjangka yang bukti simpanannya dapat diperjualbelikan. Agar
simpanan ini dapat diperjualbelikan dengan mudah maka penarikan pada saat jatuh tempo dapat
dilakukan atas unjuk, sehingga siapapun yang memegang bukti simpanan tersebut dapat
menguangkannya pada saat jatuh tempo.
 Deposit on Call Deposit on call adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan
dengan pemberitahuan lebih dahulu dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan antara
pihak bank dengan nasabah. Deposit on call biasanya digunakan oleh nasabah yang tidak setiap
saat perlu menarik dananya dan keperluan penarikan dana itu dapat diprediksi oleh nasabah dalam
jangka waktu tertentu.
Fungsi dan Manfaat Deposito
 Fungsi Intern
Maksudnya fungsi deposito ini sangat strategis dalam membantu kegiatan operasional bank
khususnya ruang lingkup bank itu sendiri. Jenis simpanan ini merupakan salah satu sumber utama
modal bank yang praktis penggunaannya karena mempunyai limit waktu. Deposito ini bagi suatu
bank berfungsi untuk memenuhi kebutuhan modal suatu bank, dan disamping itu juga membantu
menjaga posisi likuiditas bank. Kebutuhan akan modal kerja suatu bank harus selalu dipenuhi
setiap saat sehubungan dengan salah satu fungsi utamanya yakni sebagai lembaga yang
menyalurkan dana dari masyarakat dalam bentuk kredit atau sebagai lembaga pemberi kredit.
 Fungsi Ekstern
Fungsi ekstern ini dikaitkan dengan fungsi yang ada diluar perusahaan bank yakni sebagai lembaga
yang bergerak dalam bidang jasa yang memeperlancar arus pembayaran uang. Dalam upaya
mencapai tujuan pembangunan nasional diharapkan lembaga perbankan dapat berperan dalam
mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional kearah peningkatan
perkembangan erekonomian nasional maupun internasional yang senantiasa bergerak cepat disertai
tantangan yang semakin luas, untuk itu bank harus mampu menghadapi persaingan yang sehat dan
efisien. Depositi ini merupakan sarana penghimpunan dana dalam jumlah yang besar, dengan
demikian pemerintah sangat mengharapkan inisiatif dari masyarakat untuk menanamkan dana yang
lebih ini melalui deposito demi meununjang pembangunan yang senantiasa membutuhkan dana
yang relatif besar.

Manfaat Deposito
Setiap bank tentunya menginginkan memperoleh simpanan masyarakat dalam jumlah yang
besar, dengan banyaknya simpanan masyarakat di bank, maka bank akan dapat memenuhi
kebutuhan dari nasabah yang dapat memberikan lebih banyak pinjaman kepada mereka yang
membutuhkan.
Persaingan yang tajam menuntut setiap bank dapat mencari dan memperoleh cara yang
khusus serta menarik simpanan masyarakat ini. Dana deposito ini disamping bermanfaat dalam
pembiayaan aktifitas bank, juga berguna untuk memenuhi kebutuhan dana pembangunan yang
ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

F. Model dan Metode :


1. Metode pembelajaran project based learning ( PJBL )

G. Media, Alat/Bahan Pembelajaran


1. Media
a. Papan tulis
b. Spidol
c. Pengaris
2. Alat/Bahan
a. LCD/OHP.
b. Komputer/Laptop.
H. Sumber Belajar
1. Buku Referensi
2. Elektronik
3. Alam lingkungan
4. SOP DU/DI
5. Modul Dasar Dasar Perbankan, Karangan Ernawati

I. Langkah Langkah Pembelajaran

Pertemuan 1 (3 JP) Tanggal 15 Februari 2018


No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai simpanan dana tabungan
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai pengertian simpanan dana deposito
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan jenis jenis simpanan dana
deposito
Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai jenis jenis simpanan dana deposito
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi jenis jenis simpanan dana deposito atau bagian yang belum
dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.
 Mengengatkan kembali pelajaran besoknya ciri ciri
simpanandana deposito
 Salam

Pertemuan 2 (3 JP) Tanggal 22 Februari 2018


No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai jenis jenis simpanan dana deposito
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya ciri ciri
simpanan dana deposito
 Peserta didik diminta untuk menjelaskan ciri ciri simpanan danadeposito
Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai ciri ciri simpanan danadeposito
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi ciri ciri simpanan dana deposito atau bagian yang belum
dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.
 Mencek kembali catatan siswa yang menulis
 Guru memberi tahu pelajaran untuk besoknya tentang fungsi simpanan
dana deposito
 Salam

Pertemuan 3 (3 JP) Tanggal 1 Maret 2018


No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu ciri ciri dana simpanan dana deposito
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai fungsi simpanan dana deposito
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan berbagai contoh fungsi
simpanan dana deposito

Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai fungsi simpanan dana deposito
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi fungsi simpanan dana deposito bagian yang belum
dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.
 Guru Mencek kembali tugas yang di kerjakan siswa
 Guru mengasih tahu materi untuk pertemuan berikutnya tentang manfaat
simpanan dana deposito
 Salam

Pertemuan 4 (3 JP) 8 Maret 2018


No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai fungsi simpanan dana deposito
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai manfaat simpanan deposito
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan manfaat simpanan deposito

Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai manfaat simpanan dana deposito
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi manfaat simpanan dana deposito atau bagian yang belum
dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.
 Guru melihat kembali tugas siswa yang dikerjakan
 Guru mengasih tahu materi untuk pertemuan berikutnya tentang cara
menghitung simpanan dana deposito
 Salam

Pertemuan 5 (3 JP) Tanggal 8 Maret 2018


No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai Manfaat simpanan dana deposito
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya mengenai cara
menghitung simpanan dana deposito
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan cara menghitung simpanan
dana deposito

Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai cara menghitung simpanan dana deposito
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi cara menghitung simpanan dana deposito
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.
 Guru memeriksa catatan siswa dan mengingatkan siswa untuk minggu
depan ada UH 1
 Salam

Pertemuan 6 (3 JP) Tanggal 5 April 2018, ( Ulangan Harian II)


No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai simpanan dana deposito
2Kegiatan Inti 90 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai simpanan dana deposito
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan simpanan dana deposito

Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai simpanan dana deposito
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi simpanan dana deposito atau bagian yang belum
dimengerti.
 Guru memberi waktu pada siswa untuk mempersiapkan perlengkapan
ujian dan waktu membaca ulang pelajaran yg bersangkutan
 Guru mempersiapkan soal tentang UH II untuk dibagikan
 Guru menjelakan metode UH II yg akan dilaksakan, dimulai dari
waktunya, dan ketentuan lainnya (waktunya 50 menit)
3Penutup 30 menit
 Peserta didik memperiksa kembali jawaban sebelum di kumpulakan
 Peserta didik mengumpulkan sesuai dengan waktu yg di berikan
 Guru membahas hasil UH II secara bersama dengan siswa
 Guru membahas pelajaran untuk minggu depan supaya siswa bisa
mengetahui kegiatan atau pelajaran berikutnya
 Mengucapkan salam pertanda berakhirnya pelajaran.

J. Penilaian Pembelajaran, Remedial dan Pengayaan


Aspek yang dinilai
Cara penilaian:
1. Teslisan atau Tertulis
2. Observasi kelas
3. Portofolio

Penilaian Pembelajaran

No Soal Waktu Analisi Pembagian Skor KKM


(45) Soal nilai/Soal (1-5)
1 Tulis dan 3 Mudah 10 70
jelaskan pengertiansimpanan dana
deposito?
2 Tulis dan jelaskan jenis jenis 5 Sedang 15 70
simpanan dana deposito?
3 Tulis dan jelaskan ciri ciri 5 Sedang 15 70
simpanan dana deposito?
4 Tulis dan jelaskan fungsi simpanan 7 Sedang 15 70
dana deposito?
5 Tulis dan jelaskan Manfaat 5 sedang 15 70
simpanan dana deposito?
61. Deposito berjangka dan jelaskan 20 Sulit 30 70
cara penghitungan dibawah ini “
Pak rudi Menerbitkan deposito
berjangka selama 9 bualan dengan
simpanan Rp 80.000.000,00 dengan
bunga 15 % pertahun dicairkan
setiap bulan, pajak 15 %. Hitunglah
bunga bersih perbulan?
2. Sertifikat deposito dan jelaskan
cara penghitungannya” Tuan
Yan ingin membeli sertifikat
deposito sebanyak 20 lembar
dengan harga @ Rp 15.000.000,00
bunga 15 % dengan jangka 6 bulan,
pajak 15 % hitunglah jumlah yg
harus dibayar tuan yan?
3. Deposit on call dan perhitungannya
“ tuan Rifqi memiliki uang Rp
1.000.000.000,00 ingin
menerbitkan DOC dimulai tanggal
3 Januari 2018 samapai 28 Januari
2018 dengan bunga 5 % dan pajak
15 % hitunglah jumlah uang yang
diterima

Keterangan
Skor 5 (85-100) : Sangat jelas
Skor 4 (75-84) : Jelas
Skor 3 (67-74) : Cukup jelas
Skor 4 (50-66) : Kurang jelas
Skor 5 (0-49) : Tidak jelas

Program Remedial
No. Jenis Tugas Kegiatan Nilai KKM
1. Kelompok Diskusi tentang Simpanan dana deposito
2. Individu  Mengerjakan soal yang telah disiapkan
guru
 Mengulang soal yang diangap sulit waktu
UH II

Program Pengayaan
No. Jenis Tugas Kegiatan Nilai KKM
1. Kelompok Simpanan dana deposito
2. Individu Merangkum materi yang berkaitan
dengan Simpanan Dana deposito.

Mengetahui Batam, Februari 2018


Kepala Sekolah SMKIT DBS 01 Guru Mapel Akuntansi
BATAM

Omas Sauludin, S.Pd., M.M. Rozi Gusrianto, S.Pd.


NIY. 200307010157 NIY. 201708010464
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah : SMKIT Darussalam Boarding School 01 BATAM


Kelas/Semester : X / Genab
Mata Pelajaran : Perbankan Dasar
Materi Pokok : Kredit Perbankan
Kompt. Keahlian : Akuntansi Keuangan
Alokasi Waktu : 18 x 45 Menit

A. Kompetensi Inti
1. Pengetahuan
KI 3 Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang pengetahuan faktual,
konseptual, operasional dasar, dan metakognitif sesuai dengan bidang dan lingkup kerja Akuntansi
dan Keuangan Lembaga pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan dengan ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam konteks pengembangan potensi diri
sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan
internasional.
2. Keterampilan
KI 4 Melaksanakan tugas spesifik dengan menggunakan alat, informasi, dan prosedur kerja yang
lazim dilakukan serta memecahkan masalah sesuai dengan bidang Akuntansi dan Keuangan
Lembaga. Menampilkan kinerja di bawah bimbingan dengan mutu dan kuantitas yang terukur
sesuai dengan standar kompetensi kerja.
Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif, produktif,
kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam ranah abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di
bawah pengawasan langsung.
B. Kompetensi Dasar
1. KD pada KI pengetahuan
3.10 Menganalisis kredit perbankan
2. KD pada KI keterampilan
4.10 Menghitung kredit perbankan

C. Indikator Pencapaian Kompetensi


1. Indikator KD pada KI pengetahuan
3.10.1 Menegaskan pengertian kredit perbankan
3.10.2 Menegaskan fungsi kredit perbankan
3.10.3 Menguraikan jenis jenis kredit perbankan
3.10.4 Merinci perkreditan yang dijalankan Bank Indonesia (BI)
3.10.5 Menganalisis perjanjian kredit perbankan
3.10.6 Menelaah jaminan atau angunan kredit perbankan
3.10.7 Mengkorelasikan prinsip prinsip pemberian kredit perbankan
3.10.8 Menegaskan asuransi yang ditawarkan kredit perbankan
3.10.9 Mendeteksi penangaan kredit perbankan bermasaalah

2. Indikator KD pada KI keterampilan


4.10.1 Kembali membuat pengertian kredit perbankan
4.10.2 Melaksanakan fungsi kredit perbankan
4.10.3 Melaksanakan jenis jenis kredit perbankan
4.10.4 Menerapkan perkreditan yang dijalankan Bank Indonesia (BI)
4.10.5 Melakukan perjanjian kredit perbankan
4.10.6 Menunjukan jaminan atau angunan kredit perbankan
4.10.7 Menerapkan prinsip prinsip pemberian kredit perbankan
4.10.8 Melakukan asuransi yang ditawarkan kredit perbankan
4.10.9 Menunjukan penangaan kredit perbankan bermasaalah

D. Tujuan Pembelajaran
Melalui kegiatan ini siswa mampu :
1. Menjelaskan pengertian kredit perbankan
2. Menjelaskan fungsi kredit perbankan
3. Menjelaskan jenis jenis kredit perbankan
4. Menjelaskan perkreditan yang dijalankan Bank Indonesia (BI)
5. Menjelaskan perjanjian kredit perbankan
6. Menjelaskan jaminan atau angunan kredit perbankan
7. Menjelaskan prinsip prinsip pemberian kredit perbankan
8. Menjelaskan asuransi yang ditawarkan kredit perbankan
9. Menjelaskan penangaan kredit perbankan bermasaalah

E. Materi Pembelajaran

Kredit Perbankan
A. Pengertian Kredit
Dalam bahasa sehari-hari kata kredit sering diartikan memperoleh barang dengan
membayar cicilan atau angsuran di kemudian hari atau memperoleh pinjaman uang yang
pembayarannya dilakukan di kemudian hari dengan cicilan atau angsuran sesuai dengan perjanjian.
Kata ‘kredit’ berasal dari bahasa Latin creditur yang merupakan bentuk past participle dari
kata credere (lihat pula credoadedidikirawan dan creditum, yang berarti to trust atau faith). Kata
trust berarti ‘kepercayaan’. Dapat dikatakan dalam hubungan ini bahwa kreditur (yang memberi
kredit, lazim bank) dalam hubungan perkreditan dengan debitur (nasabah, penerima kredit)
mempunyai kepercayaan, bahwa debitur dalam waktu dan dengan syarat-syarat yang telah
disetujui bersama, dapat mengembalikan (membayar kembali) kredit yang bersangkutan.
Dalam KBBI, kata kredit antara lain diartikan : pertama, pinjaman uang dengan
pembayaran pengembalian secara mengangsur, dan kedua, pinjaman sampai batas jumlah tertentu
yang diizinkan oleh bank atau badan lain.
Secara yuridis Undang-Undangadedidikirawan Nomor 10 Tahun 1998 menggunakan dua
istilah yang berbeda, namun mengandung makna yang sama untuk pengertian kredit. Kedua istilah
itu, yaitu pertama, kata ‘kredit’, istilah yang digunakan pada bank konvensional dalam
menjalankan kegiatan usahanya, dan kedua, kata ‘pembiayaan’ berdasarkan Prinsip Syariah, istilah
yang digunakan pada bank syariah.
Istilah kredit banyak dipakai dalam sistem perbankan konvensional yang berbasis pasar
bunga (interest based), sedangkan dalam hukum perbankan syariah lebih dikenal dengan istilah
pembiayaan (financing) yang berbasis pada keuntungan riil yang dikehendaki (margin) ataupun
bagi hasil (profit sharing).
Pengertian kredit disebutkan dalam Pasal 1 angka 11 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998,
yang berbunyi :
“Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berddasarkan
persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan
pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian
bunga.”

Sementara itu pengertian pembiayaan disebutkan dalam ketentuan Pasal 1 angka 12 Undang-
Undang Nomor 10 Tahun 1998 yang berbunyi :
“Pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah adalah penyediaan uang atau tagihan yang
dipersamakan dengan ituadedidikirawan berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank
dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan
tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.”
Pengertian pembiayaan tersebut lebih diperjelas lagi dalam ketentuan Pasal 1 angka 3 PBI
No.9/19/PBI/2007, dan juga dirumuskan dalam ketentuan Pasal 1 angka 25 Undang-Undang
Nomor 21 Tahun 2008.
Dari rumusan kedua istilah kredit dan pembiayaan tersebut, perbedaannya terletak pada
bentuk kontraprestasi yang akan diberikan nasabah peminjam dana (debitur) kepada bank
(kreditur) atas pemberian kredit atau pembiayaan. Pada bank konvensional, kontraprestasinya
berupa bunga sebagai keuntungan, sedangkan pada bank syariah, kontraprestasinya dapat berupa
imbalan ujrah, bagi hasil, atau bahkan tanpa imbalan sesuai dengan persetujuan atau kesepakatan
bersama bank syariah dengan debiturnya. Baik kredit maupunadedidikirawan pembiayaan, sama-
sama merupakan penyediaan dana atau tagihan / piutang yang nilainya diukur dengan uang.
Kemudian adanya persetujuan atau kesepakatan bersama antara pihak bank (kreditur) dan pihak
lain nasabah peminjam dana (debitur), dengan perjanjian yang telah dibuatnya. Dalam perjanjian
kredit itu mencakup kewajiban nasabah peminjam dana atau pihak yang dibiayai melunasi
utangnya atau mengembalikan pinjamannya beserta dengan bunga, imbalan, atau bagi hasil dalam
tenggang waktu yang disepakati bersama.
Dalam perbankan konvensional penyaluran dana kepada nasabah selalu dalam bentuk uang
yang kemudian terserah bagi nasabah debitur untuk memakainya. Sedangkan dalam perbankan
syariah biasanya bank menyediakan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang nyata (asset)
baik yang didasarkan pada konsep jual-beli, sewa-menyewa, ataupun bagi hasil.
Adapun unsur-unsur yang terkandung dalam makna kredit, yaitu :
 Kepercayaan, yaitu adanya keyakinan dari pihak bank atas prestasi yang diberikannya kepada
nasabah peminjam dana yang akan dilunasinya sesuai dengan diperjanjikan pada waktu tertentu.
 Waktu, yaitu adanya jangka waktu tertentuadedidikirawan antara pemberian dan pelunasan
kreditnya,
 Risiko, yaitu adanya risiko yang mungkin akan terjadi selama jangka waktu antara pemberian dan
pelunasan kredit tersebut, sehingga untuk mengamankan pemberian kredit dan menutup
kemungkinan terjadinya wanprestasi dari nasabah peminjam dana, diadakan pengikatan jaminan
(agunan).
B. Fungsi Kredit
Kredit pada awal perkembangannya mengarahkan fungsinya untuk merangsang bagi kedua
belah pihak untuk saling menolong untuk tujuan pencapaian kebutuhan, baik dalam bidang usaha
maupun kebutuhan sehari-hari.
Suatu kredit mencapai fungsinya apabila secara sosial ekonomis, baik bagi debitur,
kreditur, maupun masyarakat membawa pengaruh padaadedidikirawan tahapan yang lebih baik.
Dari manfaat nyata dan manfaat yang diharapkan maka sekarang ini kredit dalam kehidupan
perekonomian dan perdagangan mempunyai fungsi :
 Meningkatkan daya guna uang.
 Meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang.
 Meningkatkan daya guna dan peredaran barang.
 Salah satu alat stabilitas ekonomi.
 Meningkatkan kegairahan berusaha.
 Meningkatkan emerataan pendapatan.
 Meningkatkan hubungan internasional.
C. Jenis-Jenis Kredit
Jenis-jenis kredit berdasarkan klasifikasinya terdiri atas :
 Jenis kredit menurut kelembagaan;
 Jenis kredit menurut jangka waktu;
 Jenis kredit menurut penggunaannya;
 Jenis kredit menurut kelengkapan dan keterikatannya dengan dokumen yang dibutuhkannya;
 Jenis kredit menurut aktivitas perputaran usaha;
 Jenis kredit menurut jaminannya;
 Jenis kredit dari berbagai kriteria lainnya.
1. Jenis Kredit Menurut Kelembagaan
Jenis kredit menurut kelembagaan terdiri atas :
 Kredit perbankan adalah kredit yang diberikan oleh bank milik negara atau bank swasta kepada
masyarakat untuk kegiatan usaha dan atau konsumsi.
 Kredit likuiditas adalah kredit yang adedidikirawandiberikan oleh bank sentral kepada bank-bank
yang beroperasi di Indonesia, yang selanjutnya digunakan sebagai dana untuk membiayai kegiatan
perkreditannya.
 Kredit langsung adalah kredit yang diberikan oleh BI kepada lembaga pemerintah atau
semipemerintah (kredit program). Adapun kredit program adalah kredit atau pembiayaan yang
disalurkan bank pelaksana dengan dukungan Kredit Likuiditas BI (KLBI) dalam rangka
mendukung program pemerintah.
 Kredit pinjaman antarbank adalah kredit yang diberikan oleh bank yang kelebihan dana kepada
bank yang kekurangan dana. Bilateral loan adedidikirawanadalah transaksi pinjaman dua pihak
secara langsung antara bank yang meminjamkan dan bank peminjam, sedangkan kredit sindikasi
adalah pinjaman yang diberikan sekelompok. Kredit konsorsium adalah pembiayaan secara
bersama-sama, maksudnya beberapa bank secara bersama-sama berdasarkan perjanjian terentu
memberikan kredit kepada suatu perusahaan.
2. Jenis Kredit Menurut Jangka Waktu
Dari segi jangka waktunya jenis kredit meliputi :
 Kredit jangka pendek adalah kredit yang berjangka waktu maksimum satu tahun. Bentuknya dapat
berupa kredit rekening koran, kredit penjualan, kredit pembeli, dan kredit wesel, serta kredit modal
kerja.
 Kredit jangka menengah adalah kredit berjangka waktu antara satu tahun sampai tiga tahun.
Bentuknya dapat berupa kredit investasi jangka menengah.
 Kredit jangka panjang adalah kredit yang berjangka waktu lebih dari tiga tahun. Bentuknya pada
umumnya berupa kredit investasi yangadedidikirawan bertujuan menambah modal perusahaan
dalam rangka untuk melakukan rehabilitasi, ekspansi (perluasan), dan pendirian proyek baru.

Jangka waktu kredit kepada pemerintah daerah ditetapkan dalam PP 54 / 2005 tentang Pinjaman
Daerah, yang terdiri atas :
 Pinjaman jangka pendek, merupakan pinjaman daerah dalam jangka waktu kurang atau sama
dengan satu tahun anggaran dan kewajiban pembayaran kembali pinjaman meliputi pokok
pinjaman, bunga, dan biaya lain seluruhnya harus dilunasi dalam tahu anggaran yang
bersangkutan.
 Pinjaman jangka menengah, merupakan pinjaman daerah dalam jangka waktu lebih dari satu
tahun anggaran dan kewajiban pembayaran kembali pinjaman yang meliputi pokok pinjaman,
bunga, dan biaya lain harus dilunasi dalam kurun waktu yang tidak melebihi sisa masa jabatan
kepala daerah yang bersangkutan.
 Pinjaman jangka panjang, merupakanadedidikirawan suatu pinjaman daerah dalam jangka waktu
lebih dari satu tahun anggaran dan kewajiban pembayaran kembali pinjaman yang meliputi pokok
pinjaman, bunga, dan biaya lain harus dilunasi pada tahun-tahun anggaran berikutnya sesuai
dengan persyaratan perjanjian pinjaman yang bersangkutan.
3. Jenis Kredit Menurut Penggunaannya
Dari segi tujuan kredit, jenis kredit terdiri atas :
 Kredit konsumtif;
 Kredit produktif, baik kredit investasi maupun kredit eksploitasi;
 Perpaduan antara kredit konsumtif dan kredit produktif.
Kredit konsumtif adalah kredit yang diberikan oleh bank pemerintah atau swasta yang
diberikan kepada perseorangan untuk membiayai keperluan konsumsinya untuk kebutuhan sehari-
hari.
Kredit investasi adalah kredit yang ditujukan untuk penggunaan sebagai pembiayaan
modal tetap, yaitu peralatan produksi, gedung, dan mesin-mesin, juga untuk membiayai
rehabilitasi, ekspansi, relokasi proyek, atau pendirian proyek baru, sedangkan jangka waktunya
dapat berjangka waktu menengah atau berjangka waktu panjang. Adapun kredit eksploitasi adalah
kredit yang ditujukan untuk penggunaan pembiayaan adedidikirawankebutuhan dunia usaha akan
modal kerja berupa persediaan bahan baku, persediaan produk akhir, barang dalam proses
produksi, serta piutang, sedangkan jangka waktunya berlaku pendek.
4. Jenis Kredit Menurut Keterikatannya dengan Dokumen
Jenis kredit ini terdiri atas :
 Kredit ekspor adalah semua kredit sebagai sumber pembiayaan bagi usaha ekspor. DPL,
 kredit ekspor adalah kredit untuk membiayai kegiatan investasi dan modal kerja yang diberikan
dalam rupiah dan atau valuta asing kepada eksportir dan atau pemasok.
5. Jenis Kredit Menurut Aktivitas Perputaran Usaha
Jenis kredit ini terdiri atas :
 Kredit kecil adalah kredit yang diberikan kepada pengusaha yang digolongkan sebagai pengusaha
kecil. Kredit Usaha Kecil (KUK) adalah kredit investasi dan atau kredit modal kerja, yang
diberikan dalam rupiah atau valuta asing kepada nasabah usaha kecil dengan plafon kredit
keseluruhan maksimum Rp.350.000.000,00 adedidikirawanuntuk membiayai usaha yang produktif.
 Kredit menengah adalah kredit yang diberikan kepada pengusaha yang asetnya lebih dari daripada
pengusaha kecil.
 Kredit besar pada dasarnya ditinjau dari segi jumlah kredit yang diterima oleh debitur.
6. Jenis Kredit Menurut Jaminannya
Dari segi jaminanya, kredit dapat dibedakan antara lain :
 Kredit tanpa jaminan adalah pemberian kredit tanpa jaminan materiil (agunan fisik),
pemberiannya sangat selektif dan ditujukan kepada nasabah besar yang telah teruji bonafiditas,
kejujuran, dan ketaatannya, baik dalam traksaksi perbankan maupun kegiatan usaha yang
dijalaninya.
 Kredit dengan jaminan adalah kredit yang diberikan kepada debitur selain didasarkan adanya
keyakinan atas kemampuan debitur juga disandarkan pada adanya agunan atau jaminan ang berupa
fisik (collateral) sebagai jaminan tambahan.
D. Perkreditan yang Dijalankan Bank Indonesia (BI)
Menurut Ketentuan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1968 Pasal 29, BI betugas untuk
memajukan perkembangan yang sehat mengenai urusan kredit, sekaligus bertindak mengadakan
pengawasan terhadap urusan kredit tersebut. Dengan demikian, BI mempunyai wewenang untuk
menetapkan batas-batas kuantitatif dan kualitatif di bidang perkreditan bagi perbankan.
Selanjutnya sesuai dengan Pasal 32 ayat (2)-nya, adedidikirawanbahwa BI dalam
pemberian kredit likuditas bertindak dengan cara menerima penggadaian ulang, menerima sebagai
jaminan surat-surat berharga; dan menerima aksep dengan syarat yang ditetapkan BI.
Ketentuan di atas sejalan dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 Pasal
11, di mana dalam fungsinya sebagai bankers bank atau sebagai lender of de last resort, BI dapat
bertindak memberikan kredit dan pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah untuk jangka waktu
paling lama sembilan puluh hari kepada bank untuk mengatasi kesulitan pendanaan jangka pendek
bank yang bersangkutan.
Menurut jenisnya, kredit likuiditas darurat dibedakan dalam dua jenis, yaitu :
 Kredit Likuiditas Umum, yaitu kredit yang disediakan oleh BI kepada bank-bank yang mengalami
kesulitan likuiditas sebagai akibat dari perubahan yang mendadak di luar kekuasaan bank dan
bersifat jangka pendek. Melihat karakteristik dari Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek yang
selanjutnya disebut FPJP adalah fasilitas pendanaan dari BI kepada bank, yang kiranya dapat
dikelompokkan pada kredit likuiditas umum.
 Kredit Likuiditas Darurat Khusus, yaitu kredit yang diberikan oleh BI kepada bank-bank yang
mengalami kesulitan di dalam faktor-faktor intern. Istilah kredit likuiditas darurat, saat ini dikenal
dengan Fasilitas Pembiayaan Darurat yang selanjutnya disebut FPD adalah fasilitas pembiayaan
dari BI kepada bank bermasalah yang mengalami kesulitan likuiditas, tetapi masih memenuhi
tingkat solvabilitas yang ditetapkan BI, serta berdampak sistemik yang pemberiannya didasarkan
pada keputusan rapat Menkeu dan Gubernur BI dan pendanaannya menjadi beban pemerintah.
Sejalan dengan perkembangan zaman serta perubahan perundang-undangan di bidang
perbankan, khususnya peraturan mengenai bank sentral maka kebijakan pengetatan pemberian
kredit likuiditas dan pembiayaan dari BI kepada perbankan nasional merupakan bagian dari upaya
BI untuk menyehatkan perbankan nasional. Namun begitu, BI dalam memberikan bantuan
likuiditas tersebut hanya tertuju pada bank yang memenuhi persyaratan.

E. Perjanjian Kredit
Setiap kredit yang telah disetujui dan disepakati antara pihak kreditur dan debitur maka
wajib dituangkan dalam perjanjian kredit (akad kredit) secara tertulis.
Perjanjian kredit menurut Hukum Perdata Indonesia merupakan salah satu bentuk
perjanjian pinjam-meminjam yang diatur dalam Buku Ketiga KUHPerdata Pasal 1754 – 1769.
Namun, dalam praktik perbankan yang modern, hubungan hukum dalam kreditadedidikirawan
bukan lagi semata-mata berbentuk perjanjian pinjam-meminjam, melainkan adanya campuran
dengan bentuk perjanjian yang lainnya, seperti perjanjian pemberian kuasa dan perjanjian lainnya.
Dalam bentuk yang campuran demikian maka selalu tampil adanya suatu jalinan di antara
perjanjian yang terkait tersebut. Akan tetapi, dalam praktik perbankan pada dasarnya bentuk dan
pelaksanaan perjanjian pinjam-meminjam yang ada dalam KUHPerdata tidaklah sepenuhnya
identik dengan bentuk dan pelaksanaan suatu perjanjian kredit perbankan, di antar keduanya ada
perbedaan-perbedaan yang gradual, bahkan dapat pula merupakan perbedaan yang pokok.
Sesuai dengan asas yang utama dari suau perikatan atau perjanjian, yaitu asas kebebasan
berkontrak, maka pihak-pihak yang akan mengikatkan diri dalam perjanjian kredit tersebut dapat
mendasarkan pada ketentuan-ketentuan yang ada pada KUHPerdata, tetapi dapat pula
mendasarkan pada kesepakatan bersama.
Dalam perkembangannya kebebasan berkontrak ini mendapat pengaruh dari peraturan
ekonomi yang memuat ketentuan yang bersifat memaksa, yang ditujukan untuk menyeimbangkan
kemampuan pihak-pihak pelaku ekonomi secara lebih adil dalam rangka pelaksanaan pembagunan
nasional yang berdasarkan asas pemerataan.
Dalam praktik, bentuk dan materi perjanjian kredit antara satu bank dan bank yang lainnya
tidaklah sama. Hal tersebut terjadi dalam rangka menyesuaikan diri dengan kebutuhannya masing-
masing. Dengan demikian, perjanjian kredit tersebut tidak mempunyai bentuk yang berlaku
umum, hanya saja dalam praktik ada banyak hal yang biasanya dicantumkan dlaam perjanjian
kredit, misalnya berupa definisi istilah-istilah yang akan dipakai dalam perjanjian ini (terutama
dalam perjanjian kredit dengn pihak asing / loan agreement), jumlah dan batas waktu peminjaman,
pembayaran kembali pinjaman (repayment) apakah si peminjam berhak mengembalikan dana
pinjaman lebih cepat dari ketentuan yang ada, penetapan bunga pinjaman dan dendanya jika
debitur lalai membayar bunga, dan dicantumkannya berbagai klausul.
Dalam praktiknya perjanjian kredit sering kali mengakomodasi hal-hal seperti di atas
sehingga semuanya dilakukan dan akhirnya terbentuklah perjanjian baku untuk perjanjian kredit
tersebut. Rumusan perjanjian baku tersebut harus terhindar dari kandungan unsur-unsur yang akan
mengakibatkan kecurangan yang sangat berlebihan dan terjadi suatu pemaksaan kaaena adanya
ketidakseimbangan kekuatan para pihak, juga harus dihindarkan pula syarat perjanjian yang hanya
menguntungkan sepihak, atau risiko yang hanya dibebankan kepada sepihak pula, serta
pembatasan hak dalam menggunakan upaya hukum.
Larangan demikian tercantum dalam Pasal 18 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun
1999, yaitu bahwa pelaku usaha dilarang memcantumkan klausula baku yang letak dan bentuknya
sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas, atau pengungkapannya sulit dimengerti. Apabila
ternyata perjanjian tersebut memuat klausul-klausul atau rumusannya kabur atau
tidakadedidikirawan mudah dimengerti serta tidak jelas arti rumusannya, berlaku asas the promise
to vague to be enforce dan a contract meaningless, sehingga selanjutnya perjanjian demikian tidak
mempunyai daya mengikat, bahkan menurut Pasal 18 ayat (3)-nya, perjanjian tersebut dinyatakan
batal demi hukum.
Dalam ruang lingkup pembahasan perjanjian kredit ini, sering pula dalam praktiknya
peminjam diminta memberikan representations, warranties, dan covenants. Adapun yang dimaksud
dengan representations adalah keterangan-keterangan yang diberikan oleh debitur guna
pemrosesan pemberian kredit. Sedangkan yang dimaksud dengan warranties adalah suatu janji,
misalnya, janji bahwa debitur akan melindungi kekayaan perusahaannya atau aset yang telah
dijadikan jaminan untuk mendapatkan kredit tersebut. Sementara yang dimaksud dengan covenants
adalah janji untuk tidak melakukan sesuatu.
Perjanjian kredit mempunyai beberapa fungsi, di antaranya :
 Perjanjian kredit berfungsi sebagai perjanjian pokok.
 Perjanjian kredit berfungsi sebagai alat bukti mengenai batasan-batasan hak dan kewajiban di
antara kreditur dan debitur.
 Perjanjian kredit berfungsi sebagai alat untuk melakukan monitoring kredit.
Beberapa klausul yang selalu dan perlu dicantumkan dalam setiap perjanjian kredit, di antaranya :
 Klausul mengenai syarat-syarat penarikan kredit pertama kali (predisbursement clause).
 Klausul mengenai maksimum kredit (amount clause).
 Klausul mengenai jangka waktu kredit.
 Klausul mengenai bunga pinjaman (interest clause).
 Klausul mengenai barang agunan kredit.
 Klausul mengenai asuransi (insurance clause).
 Klausul mengenai tindakan yang dilarang oleh bank (negative clause).
 Klausul mengenaiadedidikirawan hak bank untuk mengakhiri perjanjian kredit secara sepihak
walaupun jangka waktu perjanjian kredit tersebut belum berakhir (tigger clause / opeisbaar clause).
 Klausul mengenai denda (penalty clause).
 Klausul mengenai beban biaya dan ongkos yang timbul sebagai akibat pemberian kredit (expence
clause).
 Klausul mengenai pendebetan rekening pinjaman debitur harus dengan seizin debitur (debet
authorization clause).
 Klausul mengenai debitur menjanjikan dan menjamin bahwa semua data dan informasi yang
diberikan kepada bank adalah benar dan tidak diputarbalikkan (representation an warranties clause
/ materiil adverse change clause).
 Klausul mengenai ketaatan pada ketentuan bank.
 Klausul mengenai pasal-pasal tambahan (miscellaneous / boiler plate provision clause).
 Klausul mengenai metode penyelesaian perselisihan antara kreditur dan debitur, jika terjadi
(dispute settlement / alternatif dispute resolution clause).
 Pasal penutup.
F. Jaminan dan Agunan Kredit
Dalam memberikan kreditnya bank wajib melakukan analisis terhadap kemampuan debitur
untuk membayar kembali kewajibannya. Setelah kredit diberikan, bank perlu melakukan
pemantauan terhadap penggunaan kredit serta kemampuan dan kepatuhan debitur dalam memenuhi
kewajibannya. Selain itu, bank juga dituntut untuk melakukan peninjauan, penilaian, dan
pengikatan terhadap agunan yang disodorkan oleh debitur sehingga agunan yang diterima dapat
memenuhi persyaratan ketentuan yang berlaku. Hal tersebut harus ditaati karena telah dijadikan
asas dari Pasal 8 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998.

Dari ketentuan tersebut di atas yangadedidikirawan paling penting, yaitu bahwa bank dalam
menyalurkan dana untuk kredit harus didasarkan pada adanya suatu jaminan. Adapun yang
dimaksud dengan jaminan dalam pemberian kredit, yaitu keyakinan bank atas kesanggupan debitur
untuk melunasi kredit sesuai dengan yang diperjanjikan. (Pasal 2 ayat (1) SK Dir BI No.
23/69/KEP/DIR tanggal 28 Februari 1991 tentang Jaminan Pemberian Kredit). Sedangkan guna
memperoleh keyakinan tersebut maka bank sebelum memberikan kreditnya harus melakukan
penilaian yang saksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan, dan prospek usaha tersebut.
Menurut Subekti, jaminan yang ideal adalah jaminan yang :
 Dapat secara mudah membantu perolehan kredit oleh pihak yang membutuhnya.
 Tidak melemahkan posisi (kekuatan) si penerima kredit untuk meneruskan usahanya.
 Memberikan kepastian kepada kreditur dalam arti bahwa apabila perlu, mudah diuangkan untuk
melunasi utang debitur.
Agunan merupakan jaminan tambahan yang diperlukan dalam hal pemberian fasilitas
kredit. Menurut Pasal 1 angka 23 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998, bahwa agunan adalah
jaminan tambahan yang diserahkan nasabah debitur kepada bank dalam rangka pemberian fasilitas
kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah.
Menurut Penjelasan Pasal 8 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998, bentuk agunan dapat
berupa barang, proyek, atau hak tagih yang dibiayai dengan kredit yang bersangkutan. Tanah yang
kepemilikannya didasarkan pada hukum adat,adedidikirawan yaitu tanah yang bukti
kepemilikannya berupa girik, petuk, dan lain-lain yang sejenis dapat juga digunakan sebagai
agunan. Bank tidak wajib meminta agunan berupa barang yang tidak berkaitan langsung dengan
objek yang dibiayai, yang lazim dikenal dengan agunan tambahan.
Meskipun adanya kemudahan, agunan tersebut harus tetap ideal karena agunan mempunyai tugas
melancarkan dan mengamankan pemberian kredit, yaitu dengan memnberikan hak dan kekuasaan
kepada bank untuk mendapatkan pelunasan dari barang-barang yang diagunkan tersebut apabila
debitur wanprestasi.
Dalam pemberian fasilits kredit ini pada praktiknya agunan bahkan lebih dominan atau
diutamakan, sehingga agunan lebih dipentingkan daripada hanya sekedar jaminan yang berupa
keyakinan atas kemampuan debitur untuk melunasi utangnya.
Dalam rangka menambah keyakinan atas watak dan kemampuan debitur, bank selalu
meminta jaminan pemberian kredit dari pihak lain, seperti jaminan pribadi, garansi dari bank lain,
atau jaminan dari induk perusahaan. Jaminan perorangan atau jaminan pribadi (personal guaranty),
yaitu jaminan seseorang pihak ketiga yang bertindak untuk menjamin dipenuhinya kewajiban-
kewajiban dari debitur. Jaminan ini dapat dilakukan tanpa sepengetahuan debitur.
Avalist, pada praktik yang sebenarnya jaminan kebendaan (persoonlijke en zekerheid) yang
lebih banyak dipraktikkan. Jaminan kebendaan adedidikirawanmerupakan suatu tindakan berupa
suatu penjaminan yang dilakukan oleh kreditur dengan debiturnya ataupun antara kreditur dan
seseorang pihak ketiga guna menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban debitur.
Dalam konteks perkreditan istilah jaminan sangat sering bertukar dengan istilah agunan.
Menurut Pasal 2 ayat (1) SK Dir BI No. 23/KEP/DIR tanggal 28 Februari 1991 tentang Jaminan
Pemberian Kredit, yang dimaksud dengan jaminan adalah suatu keyakinan bank atas kesanggupan
debitur untuk melunasi kredit sesuai dengan yang diperjanjikan.

G. Prinsip-Prinsip Pemberian Kredit


Bisnis bank merupakan bisnis konservatif. Kecenderungan kepada sifat yang konservatif
tersebut, maka bank harus hati-hati dalam menjalankan usahanya. Bank dalam memberikan kredit
harus melakukannya berdasarkan analisis pemberian kredit yang memadai, agar kredit-kredit yang
diberikan oleh bank itu merupakan kredit-kredit yang tidak mudah menjadi kredit-kredit macet.
Berdasarkan kepada prinsip kehati-hatian ini, maka bank dalam memberikan kredit tersebut
harus memperhatikan jaminan pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah,
dalam arti keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan nasabah debitur untuk melunasi
kewajibannya sesuai dengan yang diperjanjikan. Oleh karena itu, sebelum memberikan kredit,
bank harus mempunyai keyakinan berdasarkan analisis yang mendalamadedidikirawan atas iktikad
dan kemampuan serta kesanggupan nasabah debitur untuk melunasi utangnya atau mengembalikan
pembiayaan dimaksud sesuai dengan yang diperjanjikan. Dalam hal ini bank harus melakukan
penelitian secara saksama terhadap berbagai aspek. Selain itu bank juga diwajibkan untuk
memiliki dan menerapkan pedoman perkreditan atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah,
sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh BI.
Keyakinan bank didapat setelah dilakukan analisis yang mendalam terhadap apa yang
disebut dengan Prinsip 5C, 5P, dan 3R.
Penilaian terhadap Prinsip 5C ini meliputi atas :
 Character (watak / kepribadian). Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kejujuran dan iktikad
baik calon debitur untuk melunasi atau mengembalikan pinjamannya, sehingga tidak akan
menyulitkan bank di kemudian hari.
 Capacity (kemampuan). Bank harus meneliti tentang keahlian calon debitur dalam bidang
usahanya dan kemampuan manajerialnya, sehingga bank yakin bahwa usaha yang akan
dibiayainya dikelola oleh orang-orang yang tepat, sehingga calon debiturnya dalam jangka waktu
tertentu mampu melunasi atau mengembalikan pinjamannya.
 Capital (modal). Bank harus melakukan analisis terhadap posisi keuangan secara menyeluruh
mengenai masa lalu dan yang akan datang, sehingga dapat diketahui kemampuan permodalan
calon debitur dalam menunjang pembiayaan proyek atau usaha calon debiutr yang bersangkutan.
 Collateral (agunan). Bank wajib meminta agunan tambahan dengan maksud jika calon debitur
tidak dapat meluansi kreditnya, adedidikirawanmaka agunan tambahan tersebut dapat dicairkan
guna menutupi pelunasan atau pengembangan kredit atau pembiayaan yang tersisa.
 Condition of economy (prospek usaha nasabah debitur). Bank harus menganalisis keadaan pasar
di dalam dan di luar negeri, baik masa lalu maupun yang akan datang, sehingga masa depan
pemasaran dari hasil proyek atau usaha calon debitur yang dibiayai dapat pula diketahui.
Adapun penilaian terhadap Prinsip 5P meliputi atas :
 Personality (kepribadian). Dalam hal ini bank perlu mengumpulkan data-data mengenai calon
debitur.
 Purpose (tujuan). Bank wajib menyoroti tujuan penggunaan dari kredit tersebut.
 Payment (pembayaran). Bank wajib memperhatikan kelancaran aliran dana (cash flow).
 Prospect (masa depan). Bank wajib memperhatikan masa depan kegiatan yang mendapatkan
pembiayaan kredit tersebut.
 Protection (perlindungan). Diperlukan suatu perlindungan terhadap kredit oleh perusahaan
debitur.
Sementara penilaian terhadap Prinsip 3R meliputi atas :
 Return (balikan). Maksudnya hasil yang akan dicapai dari kegiatan yang mendapatkan
pembiayaan tersebut.
 Repayment (pembayaran kembali).
 Risk Bearing Ability (kemampuan menanggung risiko).
Prinsip macthing, maksudnya harus match antara pinjaman dengan aset perseroan.
 Prinsip kesamaan valuta, maksudnyaadedidikirawan penggunaan dana yang didapat dari sutu
kredit sedapat-dapatnya harus digunakan untuk membiayai atau investasi dalam mata uang yang
sama, sehingga risiko nilai valuta dapat dihindari.
 Prinsip perbandingan antara pinjaman dan modal, maksudnya harus ada hubungan yang prudent
antara jumlah pinjaman dengan besarnya modal.
 Prinsip perbandingan antara pinjaman dan aset.
Di samping dengan menggunakan prinsip penilaian dalam pemberian kredit, prinsip penilaian
kredit dapat pula dengan studi kelayakan, yang meliputi :
 Aspek Hukum. Merupakan aspek untuk menilai keabsahan dan keaslian dokumen-dokumen atau
surat-surat yang dimiliki oleh calon debitur.
 Aspek Pasar dan Pemasaran. Merupakan aspek untuk menilai prospek usaha nasabah sekarang
dan di masa yang akan datang.
 Aspek Keuangan. Merupakan aspek adedidikirawanuntuk menilai kemampuan calon nasabahnya
dalam membiayai dan mengelola usahanya.
 Aspek Operasi / Teknis. Merupakan aspek untuk menilai tata letak ruangan, lokasi usaha dan
kapasitas produksi suatu usaha yang tercermin dari sarana dan prasarana yang dimilikinya.
 Aspek Manajemen. Merupakan aspek untuk menilai sumber daya manusia yang dimiliki oleh
perusahaan, baik dari segi kuantitas maupun segi kualitas.
 Aspek Ekonomi / Sosial. Merupakan aspek untuk menilai dampak ekonomi dan sosial yang
ditimbulkan dengan adanya usaha terutama terhadap masyarakat.
 Aspek AMDAL. Merupakan aspek yang menilai dampak lingkungan yang akan timbul dengan
adanya suatu usaha, kemudian cara pencegahan terhadap dampak tersebut.
H. Asuransi Kredit
Sesuai dengan tujuan perbankan Indonesia yang tercantum dalam ketentuan Pasal 4
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, bahwa Perbankan Indonesia bertujuan
menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan,
pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak.
Pemerintah sebelumnya telah mengeluarkan kebijakan kredit, yaitu berupa ketentuan yang
secara otomatis terutama bagi kredit kadedidikirawanecil yang disalurkan akan mendapat
perlindungan asuransi. Asuransi ini merupakan asuransi wajib (compulsory insurance) yang
ditangani oleh PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) yang didirikan pada tanggal 6 April 1971.
Pendirian perusahaan tersebut dilandasi pertimbangan perlunya usaha untuk mengarahkan dan
mengamankan kebijakan dalam bidang perkreditan.
Dalam menutup asuransi terhadap suatu pinjaman, PT Askrindo menetapkan beberapa
persyaratan yang harus dipenuhi oleh bank, di antaranya membayar premi asuransi yang
jumlahnya ditentukan berdasarkan perjanjian. Sewaktu adedidikirawanmasih ada program kredit
investasi kecil, dan kredit kerja modal permanen (KIK/KMKP), maka PT Askrindo secara
langsung mengamankannya dengan asuransi dan preminya yang besarnya 3% dibayar oleh bank
pelaksana serta BI.
Ada dua tata cara pertanggungan yaitu secara kasus demi kasus dan penutupan pertanggungan
secara otomatis, yang langkah-langkahnya sebagai berikut :
1) Penutupan Pertanggungan Secara Kasus demi Kasus
 Pengusaha mengajukan permintaan kredit kepada bank.
 Bank mempelajari dan mempertimbangkan permintaan kredit tersebut.
 Dalam hal (tidak selalu) bank memerlukan jasa penutupan pertanggungan atas kredit-kredit yang
akan diberikan kepada pengusaha yang bersangkutan, bank mengajukan permintaan penutupan
pertanggungan kepada PT Askrindo.
 PT Askrindo mempelajari dan mempertimbangkan permintaan bank.
 Bila PT Askrindo dapat menutup pertanggungan, ia mengajukan penawaran penutupan
pertanggungan kepada bank.
 Jika bank menyetujui penawaran penutupan.
 Pertanggungan dari PT Askrindo. Kemudian, PT Askrindo menerbitkan nota penutupan
pertanggungan untuk bank. Dengan demikian, adedidikirawanterjadi penutupan poertanggungan
dan bank dapat merealiasi fasilitas kredit kepada pengusaha yang bersangkutan.
2) Penutupan Pertanggungan secara Otomatis
 Pengusaha mengajukan permintaan kredit kepada bank.
 Bank mempelajari dan mempertimbangkan permintaan kredit tersebut.
 Untuk memberikan fasilitas kepada pengusaha tersebut, jika bank memerlukan jasa
pertanggungan PT Askrindo, bank dapat langsung memberikan fasilitas kredit kepada pengusaha
tanpa terlebih dahulu mengajukan permintaan penutupan pertanggungan kepada PT Askrindo.
 Pada waktu-waktu tertentu, bank menyampaikan Deklarasi Jumlah Pertanggungan kepada PT
Askrindo yang memuat fasilitas yang telah diberikan selama jangka waktu deklarasi.
 Deklarasi jumlah pertanggungan diteliti oleh PT Askrindo. Jika fasilitas di dalam deklarasi sesuai
dengan ketentuan klausula penutupan secara otomatis, PT Askrindo kemudian segera menerbitkan
nota penutupan pertanggungan untuk Deklarasi Jumlah Pertanggungan yang bersangkutan.
I. Penanganan Kredit Bermasalah
Bank tidak mungkin terhindar dari kredit bermasalah. Kredit yang bermasalah merupakan
penyebab kesulitan terhadap bank itu sendiri, yaitu berupa kesulitan terutama yang menyangkut
tingkat kesehatan bank. Karenanya, bank wajib menghindarkan diri dari kredit bermasalah.
Dalam kebijakan penanganan kredit bermasalah, hal-hal yang harus diperhatikan di
antaranya : administrasi kredit, kredit yang tunggakan bunganya dikapitalisasi (kredit
plafondering), prosedur penyelesaian kredit bermasalah, dan proseduradedidikirawan
menghapusbukukan kredit macet, serta tata cara pelaporan kredit macet dan tata cara penyelesaian
barang agunan kredit yang telah dikuasai bank yang diperoleh dari hasil penyelesaian kredit. Dari
kebijakan di atas, yang paling penting pula, yaitu pelaksana dan institusinya itu sendiri
Penggolongan Kredit Bermasalah
Pengaturan penggolongan kolektibilitas kredit terakhir terdapat dalam Peraturan BI No.
7/2/PBI/2005 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum, yang telah diubah oleh PBI
No.8/2/PBI/2006.

Berdasarkan Pasal 10 PBI No.7/2/PBI/2005, maka kualitas kredit ditetapka menurut faktor
penilaian yang meliputi prospek adedidikirawanusaha, kinerja (performance) debitur, dan
kemampuan membayar. Dengan memperhatikan ketiga faktor penilaian tersebut, berdasarkan
Pasal 12 ayat (3) PBI No.7/2/PBI/2005, maka kualitas kredit ditetapkan menjadi :
 lancar;
 dalam perhatian khusus;
 kurang lancar;
 diragukan; aau
 macet.
Penyelesaian Kredit Bermasalah Secara Administrasi Perkreditan
Secara operasional penanganan penyelesaian kredit bermasalah dapat ditempuh melalui beberapa
cara, yaitu :
 Penjadwalan kembali (reschedulling), yaitu perubahan syarat kredit yang menyangkut jadwal
pembayaran dan atau jangka waktu termasuk masa tenggang, baik meliputi perubahan besarnya
angsuran maupun tidak.
 Persyaratan kembali (reconditioning), yaitu perubahan sebagian atau seluruh syarat-syarat kredit
yang tidak terbatas pada perubahan jadwal pembayaran, jangka waktu, dan atau persyaratan
lainnya sepanjang tidak menyangkut adedidikirawanperubahan maksimum saldo kredit dan
konversi seluruh atau sebagian dari pinjaman menjadi penyertaan bank.
 Penataan kembali (restructuring), yaitu perubahan syarat-syarat kredit berupa penambahan dana
bank, dan/atau konversi seluruh atau sebagian dari kredit menjadi penyertaan daam perusahaan.
Penyelesaian di atas merupakan langkah yang merupakan alternatif sebelum dilakukan
penyelesaian melalui lembaga yang lebih bersifat yudisial.
Pengaturan bentuk penanganan dan penyelesaian adedidikirawanmasalah perkreditan
tersebut ditetapkan dengan melihat jenis pembiayaan. Beberapa aturan yang memuat materi
ketentuan penanganan dan penyelesaian masalah kredit, di antaranya :
 PBI No. 6/18/PBI/2004 tentang Kualitas Aktiva Produktif bagi Bank Perkreditan Rakyat Syariah.
 PBI No. 7/2/PBI/2005 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum, diubah oleh PBI
No.8/2/PBI/2006.
Pengertian restrukturisasi diatur dalam Pasal 1 angka 25 PBI No. 7/2/PBI/2005, yang berbunyi :
“Restrukturisasi kredit adalah upaya perbaikan yang dilakukan bank dalam kegiatan perkreditan
terhadap debitur yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kewajibannya yang dilakukan, antara
lain, melalui :
 penurunan suku bunga kredit;
 perpanjangan jangka waktu kredit;
 pengurangan tunggakan bunga kredit;
 pengurangan tunggakan pokok kredit;
 penambahan fasilitas kredit; dan atau
 konvensi kredit menjadi penyertaan modal sementara.”

Konsep restrukturisasi dapat juga diterapkan untuk pembiayaan berdasarkan prinsip


syariah, sebagaimana diatur dalam Pasal 20 ayat (3) KepDir BI No. 31/150/KEP/DIR tentang
Restrukturisasi Kredit, yaitu bentuknya berupa penurunan imbalan atau bagi hasil, pengurangan
tunggakan imbalan atau bagi hasil, pengurangan pokok pembiayaan, perpanjangan jangka waktu
pembiayaan, penambahan fasilitas pembiayaan, adedidikirawanpengambilalihan aset debitur sesuai
dengan ketentuan yang berlaku, atau dengan konversi pembiayaan menjadi penyertaan pada
perusahaan debitur.
Menurut Pasal 57 PBI No.7/2/PBI/2005, proses selanjutnya dari langkah-langkah yang
telah ditempuh suatu bank dalam rangka restrukturisasi kredit, yaitu penetapan kualitas kredit yang
direstrukturisasi. Kualitas kredit setelah dilakukan restrukturisasi dapat ditetapkan sebagai berikut :
 b. Setinggi-tingginya kurang lancar untuk kredit yang sebelum dilakukan restruktirisasi
tergolong diragukan atau macet.
 c. Kualitas tidak berubah untuk kredit yang sebelum dilakukan restrukturisasi tergolong
lancar, dalam perhatian khusus, atau kurang lancar.
Penggolongan kualitas kredit dapat berubah :
 Menjadi lancar apabila tidak terdapat tunggakan selama tiga kali periode pembayaran angsuran
pokok dan atau bunga secara berturut-turut sesuai dengan perjanjian restrukturisasi kredit; atau
 Kembali sesuai dengan kualitas kredit sebelum dilakukan restrukturisasi kredit atau kualitas yang
sebenarnya apabila lebih buruk sesuai dengan kriteria yang ditetapkan berdasarkan faktor penilaian
prospek usaha, kinerja (performance) debitur, adedidikirawandan kemampuan membayar.
Restrukturtisasi kredit dapat pula dilakukan melalui penyertaan modal sementara yang ketentuan
dan tahapannya sebagai berikut :
 Penyertaan modal sementara hanya dapat dilalkukan untuk kredit yang memiliki kualitas kurang
lancar, diragukan, atau macet.
 Penyertaan modal sementara wajib ditarik kembali apabila :
 telah melampaui jangka waktu paling lama lima tahun; atau
 perusahaan debitur tempat penyertaan telah memperoleh laba kumulatif.
 Penyertaan modal sementara wajib dihapusbukukan dari neraca bank apabila telah melampaui
jangka waktu lima tahun.
Dalam penyelesaian kredit bermasalah dalam lingkup administrasi tidak berlebihan pula
apabila difungsikan lembaga alternatif penyelesaian sengketa karena melalui lembaga tersebut
dimungkinkan perbedaan pendapat dapat direduksi sedemikian rupa sehingga mendapatkan jalan
keluar yang saling menguntungkan (win win solution).adedidikirawan Langkah-langkah tersebut
dapat dicapai melalui cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli, yang
diatur dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Alternatif Penyelesaian Sengketa dan
Arbitrase. Langkah ini dilakukan apabila para pihak mendasarkan ada iktikad baik.
Penyelesaian Kredit Bermasalah Melalui Jalur Hukum
Beberapa upaya penanganan penyelesaian kredit bermasalah yang lebih bersifat pemakaian
kelembagaan hukum, di antaranya :
 Melalui Panitia Urusan Piutang Negara dan Badan Urusan Piutang Negara (PUPN dan BUPN).
 Melalui badan peradilan.
 Melalui arbitrase atau Badan Alternatif Penyelesaian Sengketa.
Selain melalui lembaga sebagaimana tersebut di atas, penanganan kredit macet yang
dimiliki oleh bank dalam kondisi penyehatan ditangani langsung oleh lembaga Badan Penyehatan
Perbankan Nasional (selanjutnya disingkat BPPN), di antaranya melalui penyertaan modal
sementara.
BPPN dalam menangani kredit bank dalam penyehatan sesuai dengan Pasal 53 Peraturan
Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999, dilakukan adedidikirawanmelalui antara lain : tindakan
pemantauan kredit, peninjauan ulang, poengubahan, pembatalan, pengakhiran, dan penyempurnaan
dokumen kredit dan jaminan, restrukturisasi kredit, penagihan utang, penyertaan modal pada
debitur, memberikan jaminan atau penanggungan, pemberian atau penambahan fasilitas
pembiayaan, dan atau penghapusbukuan piutang.
a. Melalui Panitia Urusan Piutang Negara dan Badan Urusan Piutang Negara (PUPN dan BUPN)
Sesuai dengan Pasal 12 PERPU No. 49 Tahun 1960 tentang Panitia Urusan Piutang
Negara, penyelesaian kredit bank milik negara dapat diusahakan melalui PUPN. Panitia ini
merupakan suatu panitia interdepartemental, yang anggotanya tediri atas wakil dari Depkeu, Dep
Hankam, Kejagung, dan dari BI. Sedangkan struktur organisasinya terdiri atas PUPN pusat,
wilayah, dan cabang,
Dalam menjalankan tugasnya, PUPN berpedoman pada ketentuan Pasal 2 Keppres No. 11 Tahun
1976 tentang PUPN dan BUPN. Adapun tugas PUPN sebagai berikut :
 Membahas pengurusan piutang negara, yaitu utang kepada negara yang harus dibayar kepada
negara, yakni instansi-instansi pemerintah/badan-badanadedidikirawan negara yang modal atau
kekayaannya sebagian atau seluruhnya milik negara, baik di pusat maupun di daerah.
 Melakukan pengawasan terhadap piutang-piutang, kredit-kredit yang telah dikeluarkan oleh
instansi-instansi pemerintah/badan-badan usaha negara, baik di pusat maupun di daerah.
Dalam masalah piutang negara ini selain penanganan secara interdepartemental oleh
PUPN, juga dilakukan oleh suatu badan yang khusus di bawah Departemen Keuangan, yaitu
BUPN yang diganti nama dan fungsinya dengan Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara
(BUPLN) sebagaimana diatur dalam Keppres No. 21 Tahun 1991 tentang BUPLN. Adapun
tugasnya adalah sebagai pelaksana teknis, operasional dari keputusan-keputusan yang diambil oleh
PUPN sebagaimana ditentukan oleh Pasal 2 ayat (5) Kepmenkeu No. 294/KMK.09/1993 tentang
PUPN. BUPLN sebagai badan dipimpin oleh seorang kepala yang mempunyai kedudukan
setingkat dengan dirjen.
Menurut Pasal 2 Keppres No. 21 Tahun 1991, BUPLN adalah suatu badan yang
mempunyai tugas menyelenggarakan pengurusan piutang negara dan lelang, baik yang berasal dari
penyelenggaraan pelaksanaan tugas PUPN mapunadedidikirawan pelaksanaan kebijaksanaan yang
ditetapkan oleh Menkeu dan peraturan perundang-udnangan yang berlaku.
Pelimpahan pengurusan penyelesaian kredit macet kepada BUPLN selambat-lambat tiga
bulan setelah tanggal jatuh tempo yang tercantu, dalam dokumen-dokumen perpanjangan jangka
waktu pelunasan kredit macet. Pengurusan penyelesaian kredit ini dapat juga karena inisiatif
BUPLN sendiri, atas dasar pemikiran bahwa sifat pengurusan dan penagihan piutang macet adalah
untuk maksud mengamankan keuangan atau kekayaan negara, maka BUPLN wajar untuk
mengurus dan menagih piutangadedidikirawan tersebut. Sebagai akibat dari pola
pemikiran tersebut, maka dalam menghadapi debitur, BUPLN bertindak sebagai penguasa yang
melaksanakan wewenang yang bersifat hukum publik. Oleh karena itu, kedudukan debitur dan
BUPLN tidak dalam posisi yang sejajar serta tidak bersifat hukum perdata.
Dalam hal si penanggung utang mempunyai kekayaan yang tersimpan pada bank, maka
BUPLN berwenang untuk melakukan pemblokiran atas kekayaan tersebut. Dalam pelaksanaan
pemblokiran BUPLN harus membuat berita acara pemblokiran yang disaksikan oleh pimpinan
bank atau pejabat yang berwenang dan tindakan dari berita acara dimaksud disampaikan pula
kepada pimpinan bank yang bersangkutan. Pemblokiran dapat dicabut dan untuk itu perlu
dituangkan pula dalam berita acara. BUPLN dalam menjalankan kewenangan untuk pemblokiran
ini tetap harus memerhatikan kerahasiaan bank. Namun, untuk pelaksanaan kewenangannya
diberikan pengecualian, yaitu bahwa untuk penyelesaian piutang bank yang sudah diserahkan
keapda BUPLN, kerahasiaan bank tersebut dikecualikan.
b. Penyelesaian Kredit Bermasalah Melalui Badan Peradilan
Dalam hal debitur tidak memenuhi kewajibannya, setiap kreditur dapat mengajukan
gugatan untuk memperoleh keputusan pengadilan. Peradilan yang dapat menyelesaikan dan
menangani kredit bermasalah, yaitu peradilan umum melalui gugatan perdata dan peradilan niaga
melalui gugatan kepailitan.
Apabila sudah ditetapkan keputusan pengadilan yang kemudian mempunyai kekuatan
hukum untuk dilaksanakan, tetapi debitur tetap tidak melunasi utangnya, pelaksanaan keputusan
tersebut dilaksanakan atas dasar perintah dan denaganadedidikirawan pimpinan ketua pengadilan
negeri yang memeriksa gugatannya pada tingkat pertama, menurut ketentuan-ketentuan Pasal 195
HIR, dan selanjutnya. Atas dasar perintah ketua pengadilan tersebut dilakukanlah penyitaan harta
kekayaan debitur, untuk kemudian dilelang dengan perantara kantor lelang. Dari hasil pelelangan
itu kreditur memperoleh pelunasan piutangnya.
c. Penyelesaian Kredit Bermasalah Melalui Arbitrase
Penyelesaian sengketa melalui arbitrase (perwasitan) dahulu didasarkan pada ketentuan
Pasal 615 R.v (Reglement op de Rechtsvordering). Dasar penyelesaian sengketa melalui arbitrase
sekarang telah mempunyai landasan yang kuat, yaitu berupa peraturan perundang-undangan
mengenai arbitrase yang dimuat dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase
dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.
Menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999, yang dimaksud dengan arbitrase
adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar pengadilan umum yang didasarkan pada
perjanjian arbitrase yang dibuat adedidikirawansecara tertulis oleh para pihak yang bersengketa.
Penyelesaian melalui arbitrase ini dapat dilakukan apabila dalam perjanjian kredit sebelum timbul
sengketa (sebelum timbulnya kredit bermasalah) telah dimuat klausul arbitrase atau suatu
perjanjian arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbulnya kredit bermasalah tersebut.
Hal-hal yang berkaitan dengan cara penyelesaian sengketa arbitrase, menurut Undang-Undang
Nomor 30 Tahun 1999, di antaranya :
 Penyelesaian sengketa melalui arbitrse dapat dilakukan dengan menggunakan lembaga arbitrease
nasional atau internasional berdasarkan keseakatan para pihak dan dilakukan menurut peraturan
dan acara dari lembaga tersebut, kecuali ditetapkan lain oleh para pihak (Pasal 34).

 Pemeriksaan sengketa dalam arbitrase harus diajukan secara tertulis, tetapi dapat juga secara lisan
apabila disetujui oleh para pihak atau dianggap perlu oleh arbiter atau majelis arbitrase (Pasal 36).
 Arbiter atau majelis arbitrase terlebih dahulu mengusahakan perdamaian antara para pihak yang
bersengketa (Pasal 45 ayat (1)).
 Pemeriksaan atas sengketa harus diselesaikan dalam waktu paling lama 180 hari sejak arbiter atau
majelis arbitrase terbentuk, tetapi dapat diperpanjang apabila diperlukan dan disetujui para pihak
(Pasal 48).
 Putusan arbitrase harus memuat kepala putusan yang berbunyi “DEMI KEADILAN
BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”, nama singkat sengketa, uraian singkat
sengketa, pendirian para pihak, nama lengkap dan alamat arbiter, pertimbangan dan kesimpulan
arbiter atau majelis arbitraseadedidikirawan mengenai keseluruhan sengketa, pendapat tiap-tiap
arbitrase dalam hal terdapat perbedaan pendapat dalam majelis arbitrase, amar putusan,tempat dan
tanggal putusan, dan tanda tangan arbiter atau mejelis arbitrase (Pasal 54 ayat (1)).
 Dalam putusan ditetapkan suatu jangka waktu putusan tersebut harus dilaksanakan (Pasal 54 ayat
(1)).
 Apabila pemeriksaan sengketa telah selesai, pemeriksaan segera ditutup dan ditetapkan hari
sidang untuk mengucapkan putusan arbitrase (Pasal 55) dan diucapkan dalam waktu paling lama
tiga puluh hari setelah pemeriksaan ditutup (Pasal 57).
 Dalam waktu paling lama empat belas hari setelah putusan diterima, para pihak
dapat mengajukan permohonan kepada arbiter atau majelis arbitrase untuk melakukan koreksi
terhadap kekeliruan administratif dan atau menambah atau mengurangi sesuatu tuntutan putusan
(Pasal 58).
d. Penyelesaian Kredit Bermasalah Melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN)
Penanganan piutang negara oleh BPPN terbatas pada piutang yang terjadi karena proses
penyehatan perbankan.
BPPN dalam menanganai piutang negara dapat melakukan penagihan piutang yang sudah
pasti yang berasal dari bank dalam penyehatan. Yang dimaksud piutang bank dalam penyehatan
termasuk juga piutang yang sudah dialihkan kepada BPPN, piutang yang timbul sehubungan
dengan penanggungan utang, atau penyerahan kekayaan oleh pihak lain kepada bank dalam
penyehatan dan atau BPPN. Pelaksanaan penagihan melalui cara-cara sebgai berikut :
 Penerbitan surat paksa;
 Penyitaan;
 Pelelangan.
Kewenangan yang dimiliki oleh BPPN seperti dalam penanganan kredit bermasalah ini
merupakan sesuatu yang bersifat lex specialis terhadap peraturan perundang-undangan lainnya,
maka penerapannya perlu dilandasi dengan kehati-hatian serta menjunjung asas keterbukaan.

F. Model dan Metode :


1. Metode pembelajaran project based learning ( PJBL )

G. Media, Alat/Bahan Pembelajaran


1. Media
a. Papan tulis
b. Spidol
c. Pengaris

2. Alat/Bahan
a. LCD/OHP.
b. Komputer/Laptop.
H. Sumber Belajar
1. Buku Referensi
2. Elektronik
3. Alam lingkungan
4. SOP DU/DI
5. Modul Dasar Dasar Perbankan, Karangan Ernawati

I. Langkah Langkah Pembelajaran

Pertemuan 1 (3 JP) Tanggal 19 April 2018


No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai simpanan dana deposito
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai pengertian kredit perbankan
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan fungsi kredit perbankan

Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai fungsi kredit perbankan
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi fungsi kredit perbankan atau bagian yang belum
dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.
 Mengengatkan kembali pelajaran besoknya Jenis jenis kredit perbankan
dan perkreditan yang dijalan Bank Indonesia
 Salam

Pertemuan 2 (3 JP) Tanggal 26 April 2018


No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai fungsi kredit perbankan
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya Jenis jenis
kredit perbankan dan perkreditan yang dijalan Bank Indonesia
 Peserta didik diminta untuk menjelaskan Jenis jenis kredit perbankan
danperkreditan yang dijalan Bank Indonesia
Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai Jenis jenis kredit perbankan dan perkreditan yang dijalan Bank
Indonesia
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi Jenis jenis kredit perbankan dan perkreditan yang
dijalan Bank Indonesia atau bagian yang belum dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.
 Mencek kembali catatan siswa yang menulis
 Guru memberi tahu pelajaran untuk besoknya tentang perjanjian kredit
perbankan dan jamianan atau angunan kredit perbankan
 Salam

Pertemuan 3 (3 JP) Tangga 3 Mei 2018


No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu Jenis jenis kredit perbankan dan perkreditan yang
dijalan Bank Indonesia
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai perjanjian kredit perbankan dan jamianan atau angunan kredit
perbankan
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan berbagai perjanjian kredit
perbankan dan jamianan atau angunan kredit perbankan

Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai perjanjian kredit perbankan dan jamianan atau angunan kredit
perbankan
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi perjanjian kredit perbankan dan jamianan atau angunan
kredit perbankan bagian yang belum dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.
 Guru Mencek kembali tugas yang di kerjakan siswa
 Guru mengasih tahu materi untuk pertemuan berikutnya tentang prinsip
prinsip pemberian kredit perbankan
 Salam

Pertemuan 4 (3 JP) 10 Mei 2018


No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai perjanjian kredit perbankan dan jamianan atau
angunan kredit perbankan
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai prinsip prinsip pemberian kredit perbankan
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan prinsip prinsip pemberian
kredit perbankan

Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai prinsip prinsip pemberian kredit perbankan
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi prinsip prinsip pemberian kredit perbankan atau bagian
yang belum dimengerti.
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.
 Guru melihat kembali tugas siswa yang dikerjakan
 Guru mengasih tahu materi untuk pertemuan berikutnya tentang asuransi
dan penanganan kredit perbankkan bermasaalah
 Salam

Pertemuan 5 (3 JP) Tanggal 17 Mei 2018


No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai prinsip prinsip pemberian kredit perbankan
2Kegiatan Inti 105 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai asuransi dan penanganan kredit perbankkan bermasaalah
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan asuransi dan penanganan kredit
perbankkan bermasaalah

Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai asuransi dan penanganan kredit perbankkan bermasaalah
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi asuransi dan penanganan kredit perbankkan bermasaalah
3Penutup 15 menit
 Peserta didik menuliskan kembali materi yang di pelajari.
 Guru memeriksa catatan siswa dan mengingatkan siswa untuk minggu
depan ada UH 1
 Salam

Pertemuan 6 (3 JP) Tanggal 24 Mei 2018, ( Ulangan Harian III)


No Langkah-langkah Pembelajaran Waktu
1Pendahuluan 15
menit
 Guru mengkondisikan kelas mulai dari mengabsen, menyapa dan
menanyakan kabar kepada peserta didik.
 Guru membacakan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
 Guru membacakan serta menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta
didik.
 Guru meningkatkan motivasi peserta didik dengan cara memberikan
kisah-kisah inspiratif atau dengan cara merelevansikan materi pelajaran
dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
 Guru melakukan kegiatan apersepsi untuk merelevansikan materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan, yaitu mengenai asuransi dan penanganan kredit perbankkan
bermasaalah
2Kegiatan Inti 90 Menit
Eksplorasi
 Peserta didik diminta untuk memaparkan pengetahuannya
mengenai kredit perbankan
 Peserta didik diminta untuk menyebutkan kredit perbankan
Elaborasi
 Guru membimbing dan memfasilitasi peserta didik guna meningkatkan
pengetahuan dan pemahamamnya dengan memberikan penjelasan
mengenai kredit perbankan
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi
tentang materi kredit perbankan atau bagian yang belum dimengerti.
 Guru memberi waktu pada siswa untuk mempersiapkan perlengkapan
ujian dan waktu membaca ulang pelajaran yg bersangkutan
 Guru mempersiapkan soal tentang UH III untuk dibagikan
 Guru menjelakan metode UH III yg akan dilaksakan, dimulai dari
waktunya, dan ketentuan lainnya (waktunya 50 menit)
3Penutup 30 menit
 Peserta didik memperiksa kembali jawaban sebelum di kumpulakan
 Peserta didik mengumpulkan sesuai dengan waktu yg di berikan
 Guru membahas hasil UH III secara bersama dengan siswa
 Guru membahas pelajaran untuk minggu depan supaya siswa bisa
mengetahui kegiatan atau pelajaran berikutnya
 Mengucapkan salam pertanda berakhirnya pelajaran.

J. Penilaian Pembelajaran, Remedial dan Pengayaan


Aspek yang dinilai
Cara penilaian:
1. Teslisan atau Tertulis
2. Observasi kelas
3. Portofolio
Penilaian Pembelajaran

No Soal Waktu Analisi Pembagian Skor KKM


(50) Soal nilai/Soal (1-5)
1 Tulis dan jelaskan pengertiankredit 3 Mudah 10 70
perbankan?
2 Tulis dan jelaskan fungsi kredit 5 Sedang 10 70
perbankan?
3 Tulis dan jelaskanjenis jenis kredit 5 Sedang 10 70
perbankan?
4 Tulis dan jelaskan perkreditan 7 Sedang 13 70
yang dijalankan Bank Indonesia?
5 Tulis dan jelaskan perjanjian kredit 5 Sedang 10 70
perbankan?
6 Tulis dan jelaskan jaminan atau 5 Sedang 10 70
anggunan kredit perbankan?
7 Tulis dan jelaskan prisip prinsip 8 Sulit 14 70
pemberian kredit perbankan?
8 Tulis dan jelaskan asuransi kredit 5 Sedang 10 70
perbankan?
9 Tulis dan jelaskan penanganan 7 Sulit 13 70
kredit perbankan yang bermasalah?
Keterangan
Skor 5 (85-100) : Sangat jelas
Skor 4 (75-84) : Jelas
Skor 3 (67-74) : Cukup jelas
Skor 4 (50-66) : Kurang jelas
Skor 5 (0-49) : Tidak jelas

Program Remedial
No. Jenis Tugas Kegiatan Nilai KKM
1. Kelompok Diskusi tentang Kredit Perbankan
2. Individu  Mengerjakan soal yang telah disiapkan
guru
 Mengulang soal yang diangap sulit waktu
UH III

Program Pengayaan
No. Jenis Tugas Kegiatan Nilai KKM
1. Kelompok Kredit Perbankan
2. Individu Merangkum materi yang berkaitan
dengan Simpanan Dana deposito.

Mengetahui Batam, Februari 2018


Kepala Sekolah SMKIT DBS 01 Guru Mapel Akuntansi
BATAM

Omas Sauludin, S.Pd., M.M. Rozi Gusrianto, S.Pd.


NIY. 200307010157 NIY. 201708010464